-
Membela Kebenaran dalam Dunia Yang Tak BertuhanMenara Pengawal—1986 (Seri 23) | Menara Pengawal—1986 (Seri 23)
-
-
1. (a) Bilamana dan bagaimana kebenaran menjadi sengketa? (b) Kebenaran baru yang mulia apa dinyatakan di Eden?
KEBENARAN sudah lama menjadi sengketa! Sengketa ini, yang sudah berlangsung sejak awal sejarah umat manusia, dulu diajukan di Eden ketika Ular yang semula meragukan hak dari Tuhan Yang Berdaulat, Yehuwa. Di bawah godaan, orangtua kita yang pertama memutuskan untuk berpikir independen dan menempuh jalan mereka sendiri yang mementingkan diri. Mereka bukan pembela kebenaran yang memelihara integritas. Tetapi Allah di sana memberitahukan kebenaran-kebenaran baru yang paling mulia, bahwa suatu ”benih” (Klinkert) Kerajaan akan muncul untuk menghancurkan pekerjaan-pekerjaan si Iblis.—Kejadian 3:1-6, 14, 15.
2. (a) Bagaimana kebenaran diserang di dunia sebelum Air Bah? (b) Mengapa Nuh dan keluarganya mendapat perkenan Yehuwa?
2 Kebenaran mulai diserang. Penipu Besar itu mendapat dukungan dari putra-putra rohani Allah lain yang memberontak untuk merusak bumi.
-
-
Membela Kebenaran dalam Dunia Yang Tak BertuhanMenara Pengawal—1986 (Seri 23) | Menara Pengawal—1986 (Seri 23)
-
-
Akibat-Akibat Yang Merusak dari Kepalsuan
3. Apa Babel Besar itu, dan bagaimana mulainya?
3 Namun, Ular tua itu, si Iblis, melanjutkan usahanya untuk mengeruhkan air kebenaran. Tidak diragukan, Babel purba dibangun di bawah bimbingan Setan. ’Misteri-misteri Babilon’ menjadi dasar dari suatu imperium agama palsu sedunia, yang dilukiskan di Wahyu 17:5 sebagai ”Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi.” Golongan-golongannya yang banyak jumlahnya, dengan ajaran-ajaran sektenya yang saling bertentangan, sampai sekarang masih ada sebagai gudang besar dari kekeliruan agama.—Kejadian 10:8-10; Yeremia 51:6.
4. Bagaimana Yesus membela kebenaran, dan apa hasilnya?
4 Ketika Yesus Kristus berada di bumi, ia membela kebenaran dengan berani. Kepada orang-orang beragama yang munafik pada jamannya, ia mengatakan, ”Iblislah yang menjadi bapamu . . . [ia] tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran.”
-
-
Membela Kebenaran dalam Dunia Yang Tak BertuhanMenara Pengawal—1986 (Seri 23) | Menara Pengawal—1986 (Seri 23)
-
-
5, 6. (a) Bagaimana Setan melanjutkan perjuangannya melawan kebenaran? (b) Pencemaran apakah yang terjadi, dan kepalsuan-kepalsuan apa berasal dari padanya? (c) Mengapa seharusnya kita ingin menjadi pembela kebenaran yang bergairah?
5 Kepalsuan berjalan bersisi-sisian dengan kejahatan. Karena itu, tidak mengherankan bahwa Setan, dalam melanjutkan perjuangannya melawan kebenaran, membentuk suatu golongan ulama yang murtad, yang dilukiskan di 2 Tesalonika 2:3 sebagai ”manusia durhaka.” Setelah kematian rasul-rasul Yesus Kristus, orang-orang yang murtad dan jahat ini meninggikan diri di atas kaum awam dan mencemarkan ajaran Kristen yang murni dengan memasukkan ke dalamnya ”misteri-misteri” Babilon dan filsafat Yunani, terutama teori Plato bahwa jiwa manusia tidak berkematian.
6 Kepalsuan ini merupakan dasar dari kepalsuan-kepalsuan lain, seperti ’semua orang baik pergi ke surga,’ ’orang-orang yang kurang baik masuk ke dalam api penyucian,’ dan ’orang-orang jahat dipanggang untuk selama-lamanya dalam neraka siksaan.’
-
-
Membela Kebenaran dalam Dunia Yang Tak BertuhanMenara Pengawal—1986 (Seri 23) | Menara Pengawal—1986 (Seri 23)
-
-
Mencetuskan Kepalsuan Besar
7. (a) Apa tujuan Setan, dan bagaimana ia berusaha mencapainya? (b) Ajaran palsu apa muncul pada abad ke-19?
7 Namun, si Iblis menggunakan segala macam cara untuk menentang kebenaran. Ia marah sekali karena ada orang-orang yang betul-betul berpegang kepada Firman kebenaran Allah, Alkitab. Tujuannya ialah untuk ’membutakan pikiran dari orang-orang yang tidak percaya sehingga mereka tidak melihat cahaya injil yang mulia tentang Kristus.’ Si Iblis bertujuan untuk menghilangkan kepercayaan kepada kebenaran tidak hanya dengan menggerakkan ”manusia durhaka” dari Susunan Kristen untuk menambahkan ajaran-ajaran agama palsu ke dalam Alkitab tetapi juga dengan mengatakan bahwa Alkitab didasarkan atas dongeng dan legenda. Jadi, selama abad ke-19, Ular tua itu mencetuskan suatu ajaran lain yang palsu dan memperdayakan. Ajaran itu disebut teori evolusi.—2 Korintus 4:4.
-