PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • ”Bagi Yehuwa, Tidak Masalah”
    Tirulah Iman Mereka
    • Yonatan

      TIRULAH IMAN MEREKA | YONATAN

      ”Bagi Yehuwa, Tidak Masalah”

      Bayangkan pasukan Filistin berada di pos militer di tempat yang tinggi dan terpencil. Dari situ, terlihat daerah yang berbatu-batu dan gersang. Tiba-tiba, mereka melihat sesuatu yang aneh di kejauhan. Ada dua orang Israel yang berdiri di tebing seberang. Bagi pasukan Filistin, ini bukanlah ancaman. Mereka sudah lama menguasai orang Israel. Mereka tahu pasukan Israel tidak punya senjata, bahkan untuk mengasah alat-alat pertanian saja, orang Israel harus pergi kepada mereka. Selain itu, para pasukan itu hanya melihat dua orang! Kalaupun dua orang itu punya senjata, tidak mungkin mereka bisa menang. Pasukan Filistin pun mulai mengejek, ”Naiklah ke sini. Kami akan memberi kalian pelajaran!”—1 Samuel 13:19-23; 14:11, 12.

      Orang-orang Filistin itu tidak tahu bahwa merekalah yang justru akan mendapat pelajaran. Dua orang itu lari menuruni tebing, melintasi jurang, dan mulai mendaki tebing tempat pos Filistin berada. Tebingnya sangat terjal sehingga mereka harus memanjat dengan tangan dan kaki mereka. Tapi, mereka tidak menyerah, mereka mencengkeram batu demi batu, terus naik ke arah pos itu! (1 Samuel 14:13) Sekarang, orang Filistin bisa melihat bahwa pria yang berada di depan membawa senjata, dan dia diikuti oleh pembawa senjatanya. Apa pria itu memang mau menyerang seluruh pasukan di pos itu? Apa dia sudah gila?

      Dia tidak gila. Pria ini punya iman yang besar. Dia bernama Yonatan. Kita, sebagai orang Kristen, bisa belajar dari kehidupannya. Kita memang tidak berperang, tapi kita bisa banyak belajar dari Yonatan tentang keberanian, kesetiaan, dan sikapnya yang tidak mementingkan diri. Sifat-sifat itu penting agar iman kita bisa semakin kuat.​—Yesaya 2:4; Matius 26:51, 52.

      Putra yang Setia dan Prajurit yang Berani

      Mengapa Yonatan menyerang pos pasukan Filistin itu? Pertama-tama, kita perlu tahu latar belakang kehidupan Yonatan. Dia adalah putra sulung Saul, raja Israel yang pertama. Sewaktu Saul dilantik sebagai raja, Yonatan sudah dewasa, mungkin berusia 20 tahun atau lebih. Saul sering menceritakan hal-hal penting kepada Yonatan, jadi kelihatannya Yonatan akrab dengan ayahnya. Bagi Yonatan, ayahnya bukan hanya seorang pria yang tinggi dan tampan serta prajurit yang gagah berani, tapi dia adalah orang yang beriman dan rendah hati. Yonatan paham itulah alasannya Yehuwa melantik Saul sebagai raja. Nabi Samuel bahkan mengatakan bahwa tidak ada orang yang seperti Saul di Israel!​—1 Samuel 9:​1, 2, 21; 10:20-​24; 20:2.

      Yonatan pasti bangga bisa bertempur melawan musuh-musuh umat Yehuwa di bawah kepemimpinan ayahnya. Peperangan pada zaman dulu berbeda dengan perang pada zaman sekarang yang bertujuan untuk membela negara. Dulu, Yehuwa memilih bangsa Israel untuk mewakili Dia, dan mereka selalu diserang oleh bangsa-bangsa lain yang menyembah para dewa. Orang Filistin, yang menyembah dewa-dewa seperti Dagon, sering menindas atau bahkan berusaha memusnahkan bangsa pilihan Allah.

      Jadi, bagi para pria, termasuk Yonatan, berperang adalah bentuk kesetiaan kepada Allah Yehuwa. Yehuwa memberkati keberanian Yonatan. Tidak lama setelah Saul menjadi raja, dia melantik putranya untuk memimpin 1.000 prajurit, dan Yonatan memimpin mereka sewaktu menyerang pasukan Filistin di Geba. Meski prajurit Israel hanya punya sedikit senjata, Yonatan bisa menang berkat bantuan Yehuwa. Tapi orang Filistin tidak tinggal diam, mereka mengumpulkan lebih banyak prajurit. Para prajurit Saul pun ketakutan. Ada yang kabur dan bersembunyi, dan ada yang malah membelot kepada orang Filistin! Tapi, keberanian Yonatan tidak pernah padam.​—1 Samuel 13:​2-7; 14:21.

      Pada hari yang disebutkan di awal kisah ini, Yonatan memutuskan untuk pergi diam-diam bersama dengan pembawa senjatanya. Sewaktu mereka mendekati pos pasukan Filistin di Mikhmash, Yonatan memberitahukan rencananya kepada si pembawa senjata. Mereka akan berdiri di tempat yang terlihat oleh pasukan Filistin. Kalau mereka berdua ditantang untuk melawan orang Filistin, itu tandanya Yehuwa akan menolong mereka. Si pembawa senjata langsung setuju, mungkin karena dia yakin dengan kata-kata Yonatan: ”Bagi Yehuwa, tidak masalah untuk menyelamatkan melalui banyak orang atau sedikit orang.” (1 Samuel 14:6-10) Apa maksud Yonatan?

      Yonatan pasti mengenal baik Yehuwa. Dia pasti tahu bahwa Yehuwa dulu pernah menolong umat-Nya untuk mengalahkan musuh yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada mereka. Kadang, Yehuwa bahkan hanya menggunakan satu orang untuk mengalahkan musuh. (Hakim 3:31; 4:1-23; 16:23-30) Jadi, Yonatan tahu bahwa yang penting itu bukan seberapa banyak pasukan, kekuatan, atau senjata yang dimiliki, tapi iman kepada Allah. Itulah sebabnya Yonatan meminta tanda dari Yehuwa untuk memutuskan apakah dia dan pembawa senjatanya akan menyerang pos pasukan Filistin atau tidak. Setelah Yonatan tahu bahwa rencananya akan diberkati Yehuwa, dia pun dengan berani maju melawan mereka.

      Perhatikan dua hal penting dari iman Yonatan. Pertama, dia sangat takjub dengan kuasa Allah Yehuwa. Dia tahu bahwa Allah yang Mahakuasa sebenarnya tidak membutuhkan kekuatan manusia untuk melaksanakan kehendak-Nya, tapi Yehuwa senang memberkati orang-orang yang setia melayani-Nya. (2 Tawarikh 16:9) Kedua, Yonatan berupaya meminta petunjuk Yehuwa sebelum bertindak. Memang, kita sekarang tidak mencari tanda-tanda ajaib dari Allah sebelum melakukan sesuatu. Tapi kita punya Firman Allah, yang dapat membantu kita memahami kehendak-Nya. (2 Timotius 3:16, 17) Apa kita memeriksa isi Alkitab sebelum membuat keputusan penting? Jika ya, itu artinya kita lebih mengutamakan kehendak Allah daripada keinginan kita sendiri, sama seperti Yonatan.

      Yonatan dan si pembawa senjata dengan gesit mendaki tebing yang terjal dan makin dekat dengan pos pasukan Filistin. Para musuh itu sadar bahwa mereka sedang dalam bahaya, jadi mereka pun mengutus orang untuk menahan serangan kedua pria itu. Orang Filistin lebih banyak jumlahnya dan berada di tempat yang lebih tinggi, jadi mereka seharusnya dapat menghabisi kedua pria itu dengan mudah. Tapi, Yonatan berhasil menumbangkan lawan satu per satu. Si pembawa senjata menyusul di belakangnya dan membunuh orang-orang yang berjatuhan itu. Hanya dalam waktu singkat, 20 prajurit musuh pun tewas! Tapi, ada lagi yang Yehuwa lakukan. ”Seluruh pasukan di perkemahan di luar kota dan di pos Filistin mulai ketakutan, dan bahkan para penjarah merasa ngeri. Bumi mulai berguncang, dan rasa takut dari Allah meliputi mereka.”—1 Samuel 14:15.

      Yonatan dan pembawa senjatanya memanjat tebing yang terjal untuk menyerang pos pasukan Filistin

      Yonatan berdua saja dengan pembawa senjatanya menyerang pos pasukan Filistin

      Dari kejauhan, Saul dan pasukannya melihat orang Filistin kebingungan dan ketakutan. Para musuh itu bahkan mulai saling menyerang! (1 Samuel 14:16, 20) Orang Israel pun menjadi berani dan bangkit untuk menyerang. Mereka mungkin mengambil senjata milik orang Filistin yang bergeletakan. Yehuwa memberi umat-Nya kemenangan telak pada hari itu. Yehuwa belum berubah. Jika kita beriman kepada-Nya, seperti yang dilakukan Yonatan dan pembawa senjatanya, Yehuwa tidak akan pernah mengecewakan kita.​—Maleakhi 3:6; Roma 10:11.

      ”Dia Bertindak dengan Bantuan Allah”

      Sayangnya, apa yang dilakukan Saul bertolak belakang dengan yang dilakukan Yonatan. Saul melakukan beberapa kesalahan besar. Dia tidak menaati Nabi Samuel yang dilantik Yehuwa. Saul mempersembahkan korban yang seharusnya dipersembahkan oleh Nabi Samuel, yang adalah seorang Lewi. Sewaktu Samuel tiba, dia memberi tahu Saul bahwa karena dia tidak taat, akibatnya kerajaannya akan berakhir. Selain itu, sebelum Saul mengirim pasukannya ke medan perang, dia dengan sembarangan bersumpah, ”Terkutuklah orang yang makan apa pun sebelum malam tiba dan sebelum saya membalas musuh-musuh saya!”​—1 Samuel 13:10-​14; 14:24.

      Kata-kata itu menunjukkan bahwa Saul telah berubah. Tampaknya, Saul yang tadinya rendah hati dan rohani telah berubah menjadi orang yang berambisi dan egois. Para prajurit yang berani itu telah bekerja keras, dan Yehuwa tidak pernah memberikan larangan yang tidak masuk akal seperti itu. Perhatikan lagi kata-kata Saul. Dia berkata, ”Sebelum saya membalas musuh-musuh saya!” Apa Saul berpikir bahwa ini adalah perangnya sendiri? Apa dia sudah lupa bahwa ini adalah perang untuk membela keadilan Yehuwa, bukan demi memuaskan ambisi Saul untuk membalas dendam, mendapat kemuliaan, atau menaklukkan musuh?

      Yonatan tidak tahu bahwa ayahnya telah dengan sembarangan bersumpah. Karena lelah setelah pertempuran yang sengit, dia mencelupkan ujung tongkatnya ke sarang madu dan memakan sedikit madu. Yonatan pun langsung merasa kuat lagi. Tapi, salah satu prajurit memberi tahu dia bahwa ayahnya melarang siapa pun untuk makan. Yonatan menjawab, ”Ayah saya sudah membuat negeri ini susah. Lihat, tenaga saya pulih karena saya makan sedikit madu. Kalau saja hari ini semua prajurit makan dengan bebas dari jarahan yang mereka temukan dari musuh, kekalahan orang Filistin pasti lebih besar lagi!” (1 Samuel 14:25-30) Yonatan memang benar. Meski dia setia kepada ayahnya, dia tidak langsung setuju dengan apa pun yang dikatakan atau dilakukan ayahnya. Cara berpikir Yonatan yang masuk akal membuat orang lain merespek dia.

      Ketika Saul mendengar bahwa Yonatan telah melanggar larangannya, dia masih tidak menyadari bahwa perintahnya tidak masuk akal. Malah, dia merasa kalau putranya perlu dihukum mati! Yonatan tidak berdalih atau meminta dikasihani. Dia dengan berani menjawab, ”Aku siap untuk mati!” Tapi, orang-orang Israel membelanya, ”Haruskah Yonatan mati? Bukankah dia sudah memberikan kemenangan besar ini kepada Israel? Tidak bisa! Demi Yehuwa yang hidup, dia tidak akan kehilangan sehelai rambut pun dari kepalanya, karena hari ini, dia bertindak dengan bantuan Allah.” Hasilnya? Saul tidak jadi membunuh Yonatan. Alkitab mengatakan, ”Maka para prajurit menyelamatkan Yonatan, dan dia tidak mati.”​—1 Samuel 14:43-45.

      Yonatan memberi tahu ayahnya, Raja Saul, bahwa dia siap untuk mati

      ”Aku siap untuk mati!”

      Karena Yonatan berani, bekerja keras, dan tidak mementingkan diri sendiri, dia mendapat reputasi yang baik. Saat dalam bahaya, nama baiknya menyelamatkan dia. Kita juga perlu memikirkan nama, atau reputasi, apa yang kita buat setiap hari. Alkitab memberi tahu kita bahwa nama baik itu sangat berharga. (Pengkhotbah 7:1) Kita perlu meniru Yonatan untuk berupaya memiliki nama baik di hadapan Yehuwa karena hal itu adalah harta yang sangat bernilai.

      Kegelapan Mulai Meliputi

      Meski Saul terus melakukan kesalahan, Yonatan tetap setia kepadanya dengan terus berperang di pihaknya. Bayangkan perasaan kecewa Yonatan ketika melihat ayahnya semakin tidak taat dan sombong. Kegelapan mulai meliputi hati ayahnya, dan Yonatan tidak berdaya untuk menghentikannya.

      Masalahnya semakin parah ketika Yehuwa menugasi Saul untuk berperang melawan orang Amalek. Mereka sangat jahat sehingga pada zaman Musa, Yehuwa bernubuat bahwa seluruh bangsa itu akan dibinasakan. (Keluaran 17:14) Saul mendapat perintah untuk melenyapkan semua ternak dan membunuh raja mereka, Agag. Saul menang dalam pertempuran itu, dan Yonatan pasti juga dengan berani ikut berperang. Tapi, Saul sengaja tidak menaati Yehuwa. Dia tidak membunuh Agag dan tidak memusnahkan ternak dan harta orang Amalek. Nabi Samuel pun menyampaikan hukuman dari Yehuwa, ”Karena kamu sudah menolak firman Yehuwa, Dia menolak kamu sebagai raja.”—1 Samuel 15:2, 3, 9, 10, 23.

      Tak lama kemudian, Yehuwa menarik kuasa kudus-Nya dari Saul. Tanpa bantuan Yehuwa yang pengasih, Saul sering gelisah, gampang marah, dan sangat ketakutan. Allah seolah-olah membiarkan pikiran yang jahat menguasai Saul. (1 Samuel 16:14; 18:10-​12) Yonatan pasti sangat sedih melihat ayahnya telah sangat berubah! Meski begitu, Yonatan selalu setia kepada Yehuwa. Dia mendukung ayahnya sebaik mungkin, bahkan kadang bicara terus terang kepadanya. Tapi, hal yang terpenting bagi Yonatan adalah kesetiaannya kepada Allah dan Bapaknya yang tidak pernah berubah, Yehuwa.​—1 Samuel 19:​4, 5.

      Apakah ada orang yang Saudara sayangi, misalnya anggota keluarga, yang juga berubah menjadi tidak setia? Hal itu pasti sangat menyedihkan. Teladan Yonatan mengingatkan kita akan kata-kata sang pemazmur: ”Kalaupun ayah dan ibuku sendiri meninggalkan aku, Yehuwa akan menerima aku.” (Mazmur 27:10) Yehuwa itu setia. Manusia yang tidak sempurna mungkin meninggalkan atau mengecewakan Saudara. Tapi, Yehuwa pasti akan menerima Saudara dan menjadi Bapak terbaik bagi Saudara.

      Yonatan mungkin tahu bahwa Yehuwa akan menurunkan Saul dari kedudukannya sebagai raja. Bagaimana tanggapan Yonatan? Apa dia sempat berpikir bahwa dia bisa menjadi raja yang lebih baik? Apa dia berharap bisa memperbaiki kesalahan ayahnya, dan menjadi contoh yang baik bagi rakyat dengan tetap setia dan taat? Kita tidak tahu apa yang Yonatan pikirkan. Yang kita tahu, semua harapan itu tidak pernah menjadi kenyataan. Apakah ini artinya Yehuwa meninggalkan pria yang setia ini? Tidak. Yonatan digunakan Yehuwa untuk memberi teladan dalam hal persahabatan. Kisahnya dilestarikan dalam Alkitab dan akan kita bahas di artikel berikutnya.

  • ”Sahabat yang Akrab”
    Tirulah Iman Mereka
    • Yonatan

      TIRULAH IMAN MEREKA | YONATAN

      ”Sahabat yang Akrab”

      Pertempuran telah usai, dan keheningan pun meliputi Lembah Elah. Angin sepoi-sepoi berembus menerpa perkemahan pasukan Israel. Siang itu, Raja Saul berkumpul bersama beberapa anak buahnya dan putra sulungnya, Yonatan. Di antara mereka, seorang gembala muda sedang bercerita dengan sangat seru. Anak muda yang penuh semangat itu bernama Daud. Saul terkagum-kagum dengan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Tapi bagaimana dengan Yonatan? Selama ini, dialah pahlawan yang membawa kemenangan bagi umat Allah. Namun kali ini, pahlawannya adalah Daud yang masih muda. Dia baru saja membunuh si raksasa Goliat! Apakah Yonatan iri karena semua mata tertuju kepada Daud?

      Reaksi Yonatan mungkin di luar dugaan Saudara. Alkitab mencatat, ”Begitu Daud selesai berbicara kepada Saul, Yonatan dan Daud menjadi sahabat yang akrab, dan Yonatan mulai menyayangi Daud seperti dirinya sendiri.” Yonatan memberikan baju perangnya kepada Daud. Dia bahkan menghadiahkan busur panahnya, sesuatu yang berharga baginya karena dia seorang pemanah yang hebat. Tak hanya itu saja, Yonatan dan Daud membuat perjanjian untuk bersahabat dan mendukung satu sama lain.​—1 Samuel 18:​1-5.

      Inilah awal dari salah satu persahabatan terindah yang pernah dicatat dalam Alkitab. Hamba-hamba Allah sangat menghargai persahabatan. Kita semua perlu memilih teman dengan bijak. Kita juga perlu menjadi teman yang setia dalam suka dan duka. Persahabatan seperti itu bisa menguatkan iman kita di dunia yang egois ini. (Amsal 27:17) Itulah yang akan kita pelajari dari Yonatan.

      Persahabatan dengan Fondasi yang Kuat

      Kenapa Yonatan bisa langsung akrab dengan Daud? Ini ada hubungannya dengan fondasi persahabatan mereka. Coba pikirkan latar belakang Yonatan. Dia sedang mengalami saat-saat yang sulit dalam kehidupannya. Raja Saul, ayahnya, tidak lagi seperti yang dulu. Tadinya Saul seorang yang rendah hati dan taat. Tapi, dia telah berubah menjadi raja yang sombong dan tidak taat kepada Allah.​—1 Samuel 15:17-​19, 26.

      Perubahan sifat Saul ini pasti sangat menyusahkan hati Yonatan karena dia akrab dengan ayahnya. (1 Samuel 20:2) Bisa jadi, Yonatan juga khawatir bahwa hal ini akan berdampak buruk atas umat pilihan Allah. Mungkinkah rakyat Israel akan ikut-ikutan tidak taat sehingga mengecewakan Allah Yehuwa? Pastilah, itu menjadi masa-masa yang sulit bagi orang yang beriman seperti Yonatan.

      Sekarang, kita mengerti kenapa Yonatan langsung akrab dengan Daud yang masih muda. Yonatan melihat bahwa Daud punya iman yang kuat. Tidak seperti pasukan Saul, Daud tidak gentar sewaktu melihat si raksasa Goliat. Daud tahu bahwa jika dia berperang dengan nama Yehuwa, Goliat dengan segala senjatanya bukanlah lawan yang sebanding.​—1 Samuel 17:45-​47.

      Bertahun-tahun sebelumnya, Yonatan pernah punya sikap yang sama. Meski hanya berdua dengan pembawa senjatanya, Yonatan yakin bahwa mereka bisa menyerang dan mengalahkan sekelompok prajurit yang bersenjata. Kenapa? Yonatan berpikir, ”Bagi Yehuwa, tidak masalah untuk menyelamatkan melalui . . . sedikit orang.” (1 Samuel 14:6) Jadi, Yonatan dan Daud punya kesamaan, yaitu iman yang kuat dan kasih yang dalam kepada Yehuwa. Fondasi yang kokoh itulah yang menjadi dasar persahabatan mereka meski Yonatan dan Daud punya banyak perbedaan. Yonatan adalah seorang pangeran yang hebat dan berumur hampir 50 tahun, sedangkan Daud hanyalah seorang gembala sederhana yang tampaknya belum menginjak usia 20 tahun. Tapi bagi mereka, semua perbedaan itu tidak menjadi masalah.a

      Ada satu hal lagi yang bisa mengancam persahabatan mereka. Apa itu? Nah, Daud tahu bahwa Yehuwa akan menjadikan dia sebagai raja Israel berikutnya. Apakah dia menutup-nutupi hal itu dari Yonatan? Pasti tidak! Sebagai sahabat yang baik, mereka pasti bercerita apa adanya dan tidak saling membohongi. Bayangkan bagaimana perasaan Yonatan saat tahu bahwa Daud-lah yang akan menjadi raja berikutnya. Mungkin, Yonatan pernah berharap akan mewarisi takhta kerajaan dan memperbaiki perbuatan salah Saul ayahnya. Tapi, Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa Yonatan kesal karena tidak akan menjadi raja. Yang Alkitab catat hanyalah kesetiaan dan iman Yonatan, dan memang itulah yang terpenting. Yonatan bisa melihat bahwa kuasa kudus Yehuwa menyertai Daud. (1 Samuel 16:​1, 11-​13) Jadi, Yonatan pun memenuhi perjanjian yang pernah dibuatnya bersama Daud dan terus menganggap Daud sebagai kawan, bukan lawan. Yonatan ingin agar kehendak Yehuwa terjadi.

      Yonatan dan Daud punya kesamaan, yaitu iman yang kuat dan kasih yang dalam kepada Yehuwa

      Apa yang bisa kita pelajari dari Yonatan? Dari persahabatannya dengan Daud, setiap hamba Allah bisa belajar apa yang sebenarnya penting dalam sebuah persahabatan. Sahabat kita tidak perlu berasal dari latar belakang dan umur yang sama, tapi yang penting mereka punya iman yang kuat kepada Allah. Persahabatan seperti itulah yang bisa menghasilkan banyak berkat. Kita bisa melihat buktinya dari persahabatan Yonatan dan Daud. Mereka sering menyemangati dan menghibur satu sama lain. Ini khususnya penting karena persahabatan mereka akan menghadapi ujian yang lebih sulit.

      Di Antara Dua Pilihan yang Sulit

      Awalnya, Saul sangat menyayangi Daud. Dia mengangkat Daud sebagai kepala prajuritnya. Tapi tak lama kemudian, tidak seperti putranya Yonatan, Saul malah terbakar oleh rasa iri. Daud berhasil meraih kemenangan demi kemenangan sewaktu berperang melawan bangsa Filistin, musuh Israel. Banyak yang memuji dan menyanjungnya. Ada wanita-wanita Israel yang bahkan bernyanyi, ”Saul membunuh ribuan, dan Daud puluhan ribu.” Telinga Saul panas mendengarnya. Alkitab mencatat, ”Sejak hari itu, Saul selalu mencurigai Daud.” (1 Samuel 18:7, 9) Dia takut kalau-kalau Daud akan merebut kekuasaannya sebagai raja. Ini benar-benar konyol! Daud memang tahu bahwa dia akan menjadi penerus Saul. Tapi, Daud tidak pernah berpikir untuk menggulingkan raja yang dipilih Yehuwa selagi orang itu masih berkuasa!

      Saul menyusun siasat agar Daud terbunuh di medan perang, tapi tidak berhasil. Daud malah terus memenangkan berbagai pertempuran sehingga orang-orang semakin menyukai dan menghormati Daud. Belakangan, Saul mengatakan di depan semua hambanya dan Yonatan bahwa dia ingin membunuh Daud. Dia berharap bahwa mereka akan mendukungnya. Bayangkan betapa kecewanya Yonatan saat mendengar kata-kata ayahnya! (1 Samuel 18:25-​30; 19:1) Yonatan ingin setia kepada ayahnya, tapi dia juga ingin setia kepada sahabatnya. Dia dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Siapa yang akan dia pilih?

      Yonatan membela Daud dan berkata, ”Janganlah Raja berdosa kepada Daud hambanya, karena dia tidak berdosa terhadap Raja, dan dia sudah melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi Raja. Dia mempertaruhkan nyawanya untuk membunuh orang Filistin itu, sehingga Yehuwa memberi Israel kemenangan besar. Raja sendiri melihatnya, dan Raja senang sekali. Jadi kenapa Raja ingin membunuh Daud tanpa alasan, sehingga berdosa karena darah orang yang tidak bersalah?” Tak disangka-sangka, Saul mendengarkan permintaan Yonatan, bahkan bersumpah bahwa dia tidak akan membunuh Daud. Tapi itu hanya sekadar ucapan di bibir. Belakangan, Daud kembali menang melawan orang Filistin. Saul pun merasa sangat iri dan marah sampai-sampai dia melemparkan tombak ke arah Daud! (1 Samuel 19:​4-6, 9, 10) Syukurlah, Daud berhasil lolos dan segera melarikan diri dari istana Saul.

      Pernahkah Saudara menghadapi dilema seperti yang dialami Yonatan? Saudara mungkin bingung harus lebih setia kepada siapa. Orang biasanya mengatakan bahwa keluarga harus selalu diutamakan. Tapi, Yonatan punya pendapat yang berbeda. Mana mungkin dia berpihak kepada ayahnya? Yonatan adalah hamba Yehuwa yang setia dan taat, dan Daud pun seperti itu. Itulah sebabnya dia memutuskan untuk membela Daud dengan berani. Meski begitu, dia sebenarnya tetap setia kepada ayahnya dengan cara yang benar. Dia mengoreksi ayahnya dengan terus terang dan tidak hanya mengatakan hal-hal yang ingin didengar Saul. Kita semua juga bisa menikmati banyak berkat jika kita meniru kesetiaan Yonatan.

      Mahalnya Harga Sebuah Persahabatan

      Yonatan kembali berupaya mendamaikan Saul dengan Daud, tapi situasinya malah semakin panas. Daud menemui Yonatan diam-diam dan menceritakan ketakutannya. Dia berkata, ”Hanya ada selangkah di antara aku dan kematian!” Setelah itu, Daud bersembunyi. Tapi sebelumnya, Yonatan berjanji untuk mencari tahu apakah ayahnya ingin berdamai dengan Daud atau tidak. Lalu, dia akan memberi tahu Daud apa reaksi ayahnya dengan menembakkan panah sebagai kode. Yonatan juga meminta Daud bersumpah untuk melakukan satu hal. Yonatan berkata, ”Jangan pernah berhenti menunjukkan kasih setia kepada rumah tanggaku, bahkan setelah Yehuwa melenyapkan semua musuh Daud dari bumi.” Daud berjanji bahwa dia akan selalu menjaga dan melindungi keluarga Yonatan.​—1 Samuel 20:​3, 13-​27.

      Yonatan berupaya membela Daud, tapi Raja Saul langsung naik darah! Dia menyebut Yonatan ”anak wanita pemberontak” dan mengatakan bahwa kesetiaan Yonatan kepada Daud mencoreng nama baik keluarga. Dia berupaya memanas-manasi Yonatan dengan berkata, ”Selama anak Isai itu masih hidup di bumi, kamu dan kekuasaanmu sebagai raja tidak akan kokoh.” Namun, Yonatan tidak terpancing. Malah, dia memohon lagi kepada ayahnya, ”Kenapa dia harus dibunuh? Apa yang dia lakukan?” Emosi Saul pun meledak! Si pejuang tua ini melemparkan tombak ke arah putranya sendiri! Tapi tombak itu meleset. Meski begitu, hati Yonatan sangat sakit dan terluka, dan dia pun pergi dengan panas hati.​—1 Samuel 20:24-​34.

      Dalam keadaan yang sulit, Yonatan terbukti sebagai orang yang tidak egois

      Keesokan paginya, Yonatan bersama hambanya pergi ke dekat tempat Daud bersembunyi. Yonatan menembakkan panah, seperti yang sudah disepakati, untuk memberi tahu Daud bahwa Saul masih berniat membunuhnya. Lalu, Yonatan menyuruh hambanya pulang ke kota agar dia bisa mengobrol sebentar dengan Daud. Kedua pria itu menangis tersedu-sedu. Kemudian, Yonatan dengan berat hati meninggalkan Daud yang akan memulai babak baru dalam hidupnya sebagai buronan.​—1 Samuel 20:35-​42.

      Dalam keadaan yang sulit itu, Yonatan terbukti sebagai orang yang setia dan tidak egois. Musuh kita, Setan, pasti tidak senang melihat hal ini. Dia pasti ingin agar Yonatan mengikuti jejak Saul yang haus kekuasaan dan gila hormat. Ingatlah, Setan suka menggoda kita untuk lebih mementingkan diri sendiri. Dia berhasil menaklukkan orang tua pertama kita, Adam dan Hawa. (Kejadian 3:​1-6) Tapi, dia tidak berhasil menjatuhkan Yonatan. Setan pasti kesal sekali! Kalau Saudara digoda Setan seperti itu, apakah Saudara akan menolaknya? Teladan Yonatan penting bagi kita, karena kita hidup di dunia yang egois. (2 Timotius 3:​1-5) Maukah kita belajar dari Yonatan yang tetap setia dan tidak egois?

      JYonatan sedang menarik busur untuk menembakkan panah sebagai kode untuk Daud

      Sebagai sahabat yang setia, Yonatan memberi kode kepada Daud agar dia terhindar dari bahaya

      ”Aku Sangat Kehilangan Kamu”

      Kebencian Saul terhadap Daud semakin memuncak. Yonatan sama sekali tidak berdaya melihat ayahnya yang bertingkah seperti orang gila. Saul bersama pasukannya mengelilingi seluruh negeri hanya untuk memburu satu pria yang tidak bersalah. (1 Samuel 24:​1, 2, 12-​15; 26:20) Apakah Yonatan ikut-ikutan? Alkitab tidak pernah mencatat bahwa Yonatan terlibat dalam misi pencarian yang aneh itu. Yonatan tidak mungkin seperti itu karena dia setia kepada Yehuwa dan Daud serta pada perjanjian yang telah dia buat.

      Kesetiaan Yonatan kepada Daud tidak pernah berubah. Belakangan, dia berhasil menemui Daud lagi. Mereka bertemu di Hores, yang artinya ”Hutan”. Hores terletak di daerah pegunungan yang terpencil, sepertinya berjarak hampir sepuluh kilometer dari sebelah tenggara Hebron. Kenapa Yonatan nekat menemui buronan ini? Alkitab mengatakan bahwa Yonatan ingin ”memperkuat keyakinan [Daud] kepada Yehuwa”. (1 Samuel 23:16) Bagaimana caranya?

      Yonatan meyakinkan Daud, ”Jangan takut, Saul ayahku tidak akan menemukan kamu.” Kenapa Yonatan bisa begitu yakin? Dia sangat beriman bahwa kehendak Yehuwa pasti akan terwujud. Lalu, Yonatan berkata, ”Kamu akan menjadi raja Israel.” Dulu, Nabi Samuel pernah ditugaskan Yehuwa untuk mengatakan yang sama. Kata-kata Yonatan tentu mengingatkan Daud bahwa apa yang Yehuwa ucapkan pasti akan terjadi. Lalu, bagaimana dengan masa depan Yonatan sendiri? Dia berkata, ”Aku akan menjadi orang kedua setelah kamu.” Yonatan sungguh rendah hati! Dia tidak keberatan menjadi bawahan Daud, yang 30 tahun lebih muda darinya! Dia rela melayani sebagai tangan kanan Daud. Di akhir percakapan mereka, Yonatan berkata, ”Saul ayahku juga tahu tentang ini.” (1 Samuel 23:17, 18) Jadi di lubuk hati Saul, dia sebenarnya tahu bahwa dia tidak mungkin bisa mengalahkan pria yang telah dipilih Yehuwa sebagai raja berikutnya!

      Yonatan berbicara kepada Daud

      Yonatan menguatkan Daud saat sahabatnya itu sedang susah

      Bertahun-tahun setelah itu, Daud pasti sering mengenang pertemuan itu dengan rasa rindu. Itulah pertemuan terakhir mereka. Harapan Yonatan untuk menjadi tangan kanan Daud takkan pernah menjadi kenyataan.

      Yonatan kembali bertempur bersama ayahnya melawan orang Filistin, musuh bebuyutan Israel. Tidak soal apa yang sudah ayahnya lakukan, dia mau berperang bersama ayahnya karena ini adalah pertempuran demi umat Yehuwa. Seperti biasa, Yonatan berperang dengan gagah berani dan pantang menyerah. Meski begitu, orang Israel berada di ambang kekalahan. Yehuwa tidak lagi memberkati Saul, karena dia semakin tidak taat. Saul bahkan terlibat dalam hal-hal gaib yang sangat dikutuk Hukum Allah. Ketiga putra Saul, termasuk Yonatan, tewas di medan perang. Saul terluka parah dan akhirnya bunuh diri.​—1 Samuel 28:​6-​14; 31:​2-6.

      ”Kamu akan menjadi raja Israel,” kata Yonatan, ”dan aku akan menjadi orang kedua setelah kamu.”—1 Samuel 23:17

      Daud sangat terpukul. Pria yang baik hati ini bahkan berduka untuk Saul yang sudah membuat hidupnya sangat merana! Dia juga menulis sebuah lagu perkabungan tentang Saul dan Yonatan. Dalam salah satu bagian nyanyian itu, Daud melantunkan kata-kata yang sangat menyayat hati tentang Yonatan, pembimbing sekaligus sahabatnya. Dia meratap, ”Aku sangat kehilangan kamu, Yonatan saudaraku, aku sayang sekali kepadamu. Kasihmu kepadaku lebih dalam daripada cinta wanita.”​—2 Samuel 1:​26.

      Daud tidak pernah melupakan sumpahnya kepada Yonatan. Bertahun-tahun kemudian, dia mencari dan mengurus kebutuhan putra Yonatan yang cacat, yaitu Mefibosyet. (2 Samuel 9:​1-​13) Jelaslah, Daud belajar banyak dari sifat-sifat baik dan kesetiaan Yonatan. Meski harga persahabatan mereka sangat mahal, Yonatan tetap setia kepada Daud. Bisakah kita meniru hal itu? Maukah kita punya sahabat seperti Yonatan? Bisakah kita menjadi sahabat seperti Yonatan? Ya, kita bisa meniru Yonatan jika kita membantu teman kita untuk semakin beriman kepada Yehuwa, tetap setia kepada Yehuwa dan mengutamakan-Nya, dan tetap setia kepada sahabat kita meski keadaan kita sulit. Jika kita melakukannya, kita sedang meniru iman Yonatan.

      Apakah Hubungan Mereka Lebih dari Sebatas Teman?

      Menurut beberapa pakar, Yonatan dan Daud terlibat dalam hubungan homoseksual. Bagaimana menurut Alkitab? Perhatikan tiga hal berikut.

      • Ayat-ayat Alkitab yang dianggap mendukung pandangan itu sebenarnya tidak menyiratkan hubungan seksual. Salah satu ayat yang sering dipakai untuk mendukung pandangan itu adalah kata-kata Daud tentang Yonatan: ”Kasihmu kepadaku lebih dalam daripada cinta wanita.” (2 Samuel 1:​26) Ada juga yang mengutip ayat yang menyebutkan bahwa kedua pria ini saling mencium. (1 Samuel 20:41) Tapi, pernyataan sayang melalui kata-kata dan kebiasaan seperti itu cukup umum pada zaman dulu di Timur Tengah. Kebudayaan seperti itu sama sekali tidak memiliki konotasi seksual.​—1 Samuel 10:1; 2 Samuel 19:39.

      • Kedua pria itu menikah dengan wanita dan punya anak-anak. Daud punya beberapa istri dan banyak anak. (2 Samuel 5:​13-​16) Meski nama istri Yonatan tidak dicatat dalam Alkitab, Yonatan punya seorang putra yang bernama Mefibosyet, atau Merib-baal.​—2 Samuel 4:4; 1 Tawarikh 8:​34.

      • Kedua pria itu taat pada Hukum Allah. Fondasi persahabatan Yonatan dan Daud adalah iman dan kasih mereka kepada Allah Yehuwa. Mereka bahkan mengikat persahabatan mereka dengan sumpah atas ”nama Yehuwa”. (1 Samuel 20:41, 42) Jelaslah, kedua pria ini sangat menaati Yehuwa. Hukum Allah mengutuk segala jenis percabulan, termasuk perbuatan homoseksual. (Imamat 18:22; 20:13) Jadi, tidaklah masuk akal jika kita merasa bahwa mereka punya hubungan homoseksual, karena itu tidak sejalan dengan fondasi utama dari persahabatan mereka.

      Alkitab tidak pernah menyiratkan bahwa Yonatan atau Daud menyukai sesama jenis dan bahwa hubungan mereka lebih dari sebatas teman. Jadi, jika kita menyimpulkan bahwa persahabatan mereka punya makna lain, kita sebenarnya menambahkan sesuatu yang tidak ada dalam Alkitab.

      a Nama Yonatan pertama kali disebutkan dalam Alkitab pada awal pemerintahan Saul. Waktu itu, Yonatan setidaknya berumur 20 tahun karena dia sudah menjabat sebagai komandan militer. (Bilangan 1:3; 1 Samuel 13:2) Saul memerintah selama 40 tahun. Jadi sewaktu Saul meninggal, Yonatan berumur sekitar 60 tahun. Dan Alkitab mencatat bahwa Daud berumur 30 tahun sewaktu Saul meninggal. (1 Samuel 31:2; 2 Samuel 5:4) Jadi sepertinya, Yonatan lebih tua sekitar 30 tahun daripada Daud.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan