PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Halaman Judul/Halaman Penerbit
    Saksi-Saksi Yehuwa dan Pendidikan
    • Halaman Judul/Halaman Penerbit

      Saksi-Saksi Yehuwa dan Pendidikan

      Publikasi ini tidak diperjualbelikan, dan disediakan sebagai bagian dari pekerjaan pendidikan Alkitab sedunia yang didukung sumbangan sukarela.

      Untuk memberi sumbangan, silakan buka donate.jw.org.

      Kecuali bila disebutkan yang lain, kutipan ayat dari Kitab-Kitab Yunani Kristen diambil dari Kitab-Kitab Yunani Kristen Terjemahan Dunia Baru, dan kutipan ayat dari Kitab-Kitab Ibrani diambil dari Terjemahan Baru terbitan Lembaga Alkitab Indonesia.

      Cetakan Januari 2020

      Indonesian (ed-IN)

      © 1995, 2004, 2020 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania

  • Daftar Isi
    Saksi-Saksi Yehuwa dan Pendidikan
    • Daftar Isi

      HALAMAN

      4 Bagaimana Saksi-Saksi Yehuwa Memandang Pendidikan

      10 Program-Program Pendidikan

      14 Tantangan dari Keragaman Agama

      19 Nilai-Nilai Moral yang Layak Dihormati

      27 Peranan Orang-Tua

      31 Penutup

  • Tujuan dari Brosur Ini
    Saksi-Saksi Yehuwa dan Pendidikan
    • Tujuan dari Brosur Ini

      Gambar di hlm. 3

      SPINOZA seorang filsuf Belanda menulis, ”Saya telah berupaya untuk tidak menertawakan tindakan-tindakan manusia, tidak menangisi mereka, dan juga tidak membenci mereka, tetapi memahami mereka.” Sebagai seorang pendidik, Anda dihadapkan pada tantangan untuk mencoba memahami pandangan, latar belakang, dan keyakinan dari para siswa yang ada dalam asuhan Anda, termasuk murid-murid yang adalah anak dari Saksi-Saksi Yehuwa. Kadang-kadang, siswa-siswa demikian mungkin mengambil pendirian yang tampaknya tidak lazim berkenaan persoalan-persoalan tertentu. Tetapi jika tindakan-tindakan semacam itu jelas-jelas muncul karena keyakinan moral dan agama seorang siswa, hal itu layak mendapat perhatian Anda. Brosur ini dibuat oleh Lembaga Alkitab dan Risalah Menara Pengawal (badan penerbit dari Saksi-Saksi Yehuwa) dan dirancang untuk membantu Anda lebih memahami siswa-siswa Saksi. Kami harap Anda akan meluangkan waktu untuk membacanya dengan teliti.

      Memahami kepercayaan agama orang lain tidak mengharuskan Anda menerima atau mengikuti kepercayaan agama mereka, dan memberi informasi tidak sama dengan menobatkan. Brosur ini tidak bermaksud memaksakan pandangan agama dari Saksi-Saksi atas diri Anda atau atas siswa-siswa Anda. Keinginan kami hanyalah memberi informasi kepada Anda tentang prinsip dan kepercayaan yang sedang diajarkan oleh orang-tua dari beberapa siswa Anda sehingga Anda dapat lebih mudah memahami anak-anak Saksi maupun bekerja sama dengan mereka. Tentu saja, apa yang diajarkan kepada anak-anak dan apa yang mereka lakukan tidak selalu sejalan, karena setiap anak sedang belajar memperkembangkan hati nuraninya sendiri.

      Seperti kebanyakan orang-tua, Saksi-Saksi Yehuwa ingin agar anak-anak mereka memperoleh manfaat sebanyak-banyaknya dari pendidikan mereka di sekolah. Untuk mencapai tujuan itu, mereka mengajar anak-anak mereka untuk bekerja sama dengan para guru. Sebaliknya, orang-tua Saksi dan anak-anak mereka sangat menghargai jika para pendidik memperlakukan mereka dengan penuh pengertian dan respek.

      Saksi-Saksi Yehuwa adalah orang-orang Kristen yang dikenal di seluas dunia. Akan tetapi, kadang-kadang mereka disalah mengerti. Karena itu, kami berharap semoga brosur ini akan membantu Anda lebih memahami anak-anak Saksi yang ada dalam asuhan Anda. Khususnya, kami harap Anda akan melihat mengapa, dalam situasi-situasi spesifik tertentu, mereka menuntut hak untuk berbeda.

  • Bagaimana Saksi-Saksi Yehuwa Memandang Pendidikan
    Saksi-Saksi Yehuwa dan Pendidikan
    • Gambar di hlm. 4

      Bagaimana Saksi-Saksi Yehuwa Memandang Pendidikan

      Seperti semua orang-tua, Saksi-Saksi Yehuwa memperhatikan masa depan anak-anak mereka. Karena itu mereka menganggap pendidikan sangat penting. ”Pendidikan seharusnya membantu orang-orang menjadi anggota masyarakat yang berguna. Itu seharusnya juga membantu mereka memperkembangkan penghargaan atas warisan budaya mereka dan menempuh kehidupan yang lebih memuaskan.”

      SEBAGAIMANA disarankan oleh kutipan dari The World Book Encyclopedia ini, salah satu tujuan utama pendidikan di sekolah adalah melatih anak-anak untuk kehidupan sehari-hari, yang mencakup membuat mereka sanggup memenuhi kebutuhan sebuah keluarga pada suatu hari kelak. Saksi-Saksi Yehuwa menganggap hal ini sebagai suatu tanggung jawab yang suci. Alkitab sendiri mengatakan, ”Tentu jika seseorang tidak menyediakan kebutuhan bagi mereka yang adalah miliknya, dan teristimewa bagi mereka yang adalah anggota rumah tangganya, ia telah menyangkal iman dan lebih buruk daripada seseorang yang tanpa iman.” (1 Timotius 5:8) Tahun-tahun yang dilalui di sekolah mempersiapkan anak-anak untuk tanggung jawab yang akan mereka pikul dalam kehidupan. Selaras dengan itu, Saksi-Saksi merasa bahwa pendidikan seharusnya dipandang dengan sangat serius.

      “Pendidikan seharusnya membantu orang-orang menjadi anggota masyarakat yang berguna. Itu seharusnya juga membantu mereka memperkembangkan penghargaan atas warisan budaya mereka dan menempuh kehidupan yang lebih memuaskan.”​—The World Book Encyclopedia

      Saksi-Saksi berupaya hidup selaras dengan perintah Alkitab, ”Apa pun yang kamu lakukan, kerjakanlah dengan segenap hatimu, seolah-olah kamu sedang bekerja untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23, Today’s English Version) Prinsip ini berlaku untuk semua aspek kehidupan sehari-hari, termasuk sekolah. Oleh karena itu, Saksi-Saksi menganjurkan anak-anak mereka untuk giat belajar dan menganggap serius tugas-tugas yang diberikan kepada mereka di sekolah.

      “Apa pun yang kamu lakukan, kerjakanlah dengan segenap hatimu, seolah-olah kamu sedang bekerja untuk Tuhan.”​—Kolose 3:23, Today’s English Version

      Alkitab juga mengajarkan ketaatan kepada hukum negara tempat seseorang tinggal. Maka, jika pendidikan di sekolah diwajibkan hingga usia tertentu, Saksi-Saksi Yehuwa menaati hukum ini.​—Roma 13:1-7.

      Gambar di hlm. 6-7

      Hiburan yang sehat, musik, hobi, olahraga, kunjungan ke perpustakaan dan museum, semuanya memainkan peranan penting dalam pendidikan

      Dengan tidak meremehkan pentingnya pelatihan untuk kehidupan sehari-hari, Alkitab memperlihatkan bahwa hal ini bukan tujuan utama dan satu-satunya dari pendidikan. Pendidikan yang berhasil hendaknya juga memperkembangkan pada diri anak-anak sukacita dalam kehidupan dan membantu mereka menempatkan diri dalam masyarakat sebagai pribadi-pribadi yang benar-benar seimbang. Jadi, Saksi-Saksi Yehuwa merasa bahwa pilihan untuk kegiatan-kegiatan di luar kelas sangat penting. Mereka menganggap bahwa hiburan yang sehat, musik, hobi, olahraga, kunjungan ke perpustakaan dan museum, dan sebagainya, memainkan peranan penting dalam pendidikan yang seimbang. Selain itu, mereka mengajar anak-anak mereka untuk menghormati orang yang lebih tua dan mencari kesempatan untuk menolong mereka.

      Bagaimana Dengan Pendidikan Tambahan?

      Karena teknologi baru, lapangan pekerjaan terus berubah. Sebagai akibatnya, banyak pemuda harus bekerja dalam bidang atau dalam pekerjaan yang untuknya mereka belum pernah mendapatkan pelatihan yang spesifik. Dengan demikian, kebiasaan kerja dan pelatihan kepribadian mereka, khususnya kesanggupan mereka untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan, bahkan akan lebih berharga bagi mereka. Karena itu, adalah lebih baik jika para siswa menjadi orang-orang dewasa yang, sebagaimana pengarang esai zaman Renaissance Montaigne menyatakannya, mempunyai ’kepala yang dibentuk dengan baik sebaliknya daripada kepala yang diisi dengan baik’.

      Pengangguran, yang mempengaruhi negara-negara kaya maupun miskin, sering mengancam kaum muda yang kurang memenuhi syarat. Karena itu, jika lapangan pekerjaan menuntut adanya pelatihan sebagai tambahan bagi pelatihan minimum yang diwajibkan oleh hukum, orang-tua bertanggung jawab untuk membimbing anak-anak mereka dalam membuat keputusan tentang pendidikan tambahan, dengan mempertimbangkan manfaat yang bisa diperoleh maupun pengorbanan yang menyangkut pendidikan tambahan semacam itu.

      Akan tetapi, kemungkinan besar Anda akan setuju bahwa keberhasilan dalam hidup mencakup lebih daripada sekadar kemakmuran materi. Pada masa-masa belakangan ini, pria dan wanita yang seluruh kehidupannya telah dicurahkan kepada karier mereka, kehilangan tujuan hidup pada waktu mereka kehilangan pekerjaan. Beberapa orang-tua telah mengorbankan kehidupan keluarga serta waktu yang seharusnya dapat mereka gunakan bersama anak-anak mereka, dan kehilangan kesempatan berharga untuk membantu anak-anak bertumbuh, karena mereka terlalu sibuk bekerja.

      Jelaslah, pendidikan yang seimbang hendaknya memperhatikan bahwa untuk membuat kita benar-benar bahagia diperlukan lebih daripada kemakmuran materi. Yesus Kristus menyatakan, ”Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4, Terjemahan Baru) Sebagai orang-orang Kristen, Saksi-Saksi Yehuwa menghargai pentingnya memperkembangkan sifat-sifat moral dan rohani serta mempersiapkan diri mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan materi.

      Pendidikan Pada Zaman Alkitab

      ALKITAB mengajarkan bahwa pendidikan sangat penting. Alkitab menggambarkan Allah sebagai ”Instruktur Agung” umat-Nya, dan melalui halaman-halamannya, Alkitab mengundang hamba-hamba Allah untuk memperdalam pengetahuan mereka akan Dia.​—Yesaya 30:20, NW.

      Gambar di hlm. 8-9

      Pada zaman Alkitab, hanya kelompok istimewa tertentu saja yang melek huruf, seperti misalnya para ahli kitab di Mesopotamia dan Mesir. Berbeda sekali dengan keadaan ini, setiap orang di Israel purba dianjurkan untuk belajar membaca dan menulis. ”Perbedaannya tidak diragukan disebabkan sistem menulis menurut abjad yang lebih sederhana yang digunakan oleh orang-orang Ibrani. . . . Pentingnya penulisan menurut abjad bagi sejarah pendidikan tidak boleh diabaikan. Ini memperkenalkan suatu pemutusan dengan tradisi kebudayaan menulis dari Mesir, Mesopotamia, dan Kanaan pada milenium kedua. Menjadi melek huruf bukan lagi merupakan ciri khas pengenal dan eksklusif dari suatu kelompok ahli kitab dan imam yang profesional, yang ahli dalam tulisan huruf paku dan hieroglif yang sulit dimengerti.”​—Encyclopaedia Judaica.

      Metode-Metode Pengajaran

      Gambar di hlm. 9

      Di Israel purba, anak-anak diajar sejak usia yang sangat dini oleh ayah maupun ibu. (Ulangan 11:18, 19; Amsal 1:8; 31:26) Dalam Dictionnaire de la Bible, sarjana Alkitab E. Mangenot menulis, ”Segera setelah ia dapat berbicara, seorang anak belajar beberapa ayat dari Taurat. Ibunya akan mengulangi satu ayat; bila ia telah menghafalnya, sang ibu akan memberikan ayat yang lain. Selanjutnya, teks tertulis dari ayat-ayat yang sudah dapat mereka ulangi di luar kepala akan ditaruh di tangan anak-anak tersebut. Dengan demikian, mereka diperkenalkan untuk membaca, dan ketika mereka lebih dewasa, mereka dapat melanjutkan pengajaran agama mereka dengan membaca dan merenungkan hukum dari Tuhan.”

      Untuk membantu orang tua dan muda dalam mengingat, berbagai bantuan mengingat digunakan. Ini termasuk akrostik menurut abjad (bait-bait yang berurutan dalam sebuah syair yang dimulai dengan huruf yang berbeda menurut urutan abjad), aliterasi, dan penggunaan angka. Yang menarik, Kalender Gezer (Museum Arkeologi Istambul), salah satu contoh tertua dari tulisan Ibrani purba, diperkirakan oleh beberapa sarjana sebagai latihan hafalan murid sekolah.

      Kurikulumnya

      Pendidikan dari orang-tua pada zaman Alkitab mencakup pelatihan yang praktis. Anak-anak gadis diajarkan keterampilan rumah tangga. Pasal penutup dari buku Amsal memperlihatkan bahwa keterampilan ini ada banyak dan bervariasi; termasuk menangani transaksi tanah dan rumah serta menjalankan bisnis kecil, demikian juga memintal, merajut, memasak, berdagang, dan pengaturan rumah tangga yang umum. Anak-anak lelaki biasanya diajarkan pekerjaan duniawi ayah mereka, baik dalam bidang pertanian ataupun keterampilan atau pekerjaan tangan. Dalam kalangan agama Yahudi, ungkapan berikut sangat umum, ”Ia yang tidak mengajarkan keterampilan yang bermanfaat kepada anaknya, membesarkannya untuk menjadi seorang pencuri.”

      Jadi, pada zaman Alkitab, pendidikan dijunjung tinggi.

  • Program-Program Pendidikan
    Saksi-Saksi Yehuwa dan Pendidikan
    • Gambar di hlm. 10

      Program-Program Pendidikan

      Saksi-Saksi Yehuwa dikenal di seluas dunia karena pekerjaan pendidikan Alkitab mereka.

      KARENA mereka menganggap penting pekerjaan pendidikan Alkitab mereka, beberapa orang mungkin berpikir bahwa Saksi-Saksi tidak berminat akan pendidikan duniawi. Namun hal ini tidak benar. Untuk mengajar orang lain, seorang guru harus terlebih dahulu belajar, dan hal ini menuntut adanya pelatihan dan pengajaran yang tepat. Maka, selain memanfaatkan sebaik-baiknya pendidikan di sekolah duniawi, selama bertahun-tahun Saksi-Saksi Yehuwa telah menarik manfaat dari berbagai program pendidikan dan sekolah yang diadakan oleh Lembaga Menara Pengawal. Ini semua telah membantu Saksi-Saksi dan yang lain-lain untuk memperbaiki diri mereka sendiri secara mental, moral, dan rohani.

      Sebagai contoh, di banyak negeri, Saksi-Saksi menghadapi suatu tantangan yang istimewa—bagaimana caranya mengajar orang-orang yang mendapat sedikit atau sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk menerima pendidikan sekolah yang layak sehingga tidak dapat membaca atau menulis. Untuk memenuhi kebutuhan ini, Lembaga Menara Pengawal telah mengorganisasi program-program pemberantasan buta huruf.

      Di Nigeria, misalnya, kelas-kelas pemberantasan buta huruf telah diselenggarakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa sejak tahun 1949. Ribuan orang Nigeria telah belajar membaca dengan cara ini. Suatu survei memperlihatkan bahwa lebih dari 90 persen Saksi-Saksi Yehuwa di Nigeria melek huruf, dibandingkan dengan kurang dari 50 persen penduduk lainnya. Di Meksiko, Saksi-Saksi Yehuwa telah menyelenggarakan kelas-kelas pemberantasan buta huruf sejak tahun 1946. Dalam satu tahun, lebih dari 6.500 orang telah diajar membaca dan menulis. Bahkan, lebih dari 100.000 orang telah dibantu untuk menjadi melek huruf. Selama bertahun-tahun, kelas-kelas pemberantasan buta huruf juga telah diorganisasi di banyak negeri lain, seperti Bolivia, Kamerun, Nepal, dan Zambia. Saksi-Saksi Yehuwa juga sudah menerbitkan lebih dari tujuh juta buku pelajaran berjudul Kerahkan Diri Saudara dalam Membaca dan Menulis, yang tersedia dalam lebih dari 100 bahasa.

      Program-program pemberantasan buta huruf demikian telah sering mendapat pengakuan dari kalangan berwenang pendidikan di negeri-negeri tempat itu diadakan. Di Meksiko misalnya, seorang pegawai negeri menulis, ”Saya menghargai kerja sama Anda, dan atas nama pemerintah negara bagian, saya menyampaikan ucapan selamat mereka yang setulusnya kepada Anda untuk pekerjaan luhur yang terus berkembang demi kefaedahan orang-orang dalam membawa terang pengetahuan kepada mereka yang buta huruf. . . . Saya berharap agar Anda berhasil dalam pekerjaan pendidikan Anda.”

      Pelatihan Tambahan

      Picture on page 12

      Para siswa dilatih untuk membaca dan berbicara di hadapan umum

      Karena mereka menganggap pekerjaan pendidikan Alkitab mereka sangat penting, Saksi-Saksi Yehuwa berupaya memperbaiki kesanggupan mereka untuk menjelaskan ajaran-ajaran Alkitab kepada orang lain. Misalnya, di lebih dari 119.000 sidang di seluas dunia, para siswa dilatih untuk membaca dan berbicara di hadapan umum. Bahkan anak-anak yang paling kecil, segera setelah mereka dapat membaca, bisa mendaftarkan diri dan menerima pelatihan ini, yang terbukti berguna bagi mereka dalam bidang-bidang lain juga, termasuk pendidikan mereka di sekolah duniawi. Banyak pendidik telah berkomentar bahwa para siswa Saksi cenderung dapat menyatakan diri mereka dengan sangat baik.

      Gambar di hlm. 13

      Pembacaan dianjurkan dengan hangat dalam sidang-sidang mereka, dan setiap keluarga juga dianjurkan untuk memiliki sebuar perpustakaan keluarga dengan bermacam-macam publikasi

      Selain itu, setiap sidang Saksi-Saksi Yehuwa dianjurkan untuk memiliki sebuah perpustakaan yang terdiri dari alat-alat bantu pelajaran Alkitab, kamus-kamus, dan karya-karya acuan lainnya di Balai Kerajaan, atau tempat perhimpunan mereka. Perpustakaan ini tersedia bagi semua orang yang menghadiri perhimpunan di Balai Kerajaan. Pembacaan dianjurkan dengan hangat dalam sidang-sidang mereka, dan setiap keluarga juga dianjurkan untuk memiliki sebuah perpustakaan keluarga dengan bermacam-macam publikasi untuk memuaskan kebutuhan anak-anak dan orang dewasa.

      Pelatihan Lanjutan

      Lembaga Menara Pengawal juga mengadakan sekolah-sekolah untuk melatih pria dan wanita menjadi utusan injil, demikian juga sekolah-sekolah untuk melatih pria-pria yang mempunyai tanggung jawab pelayanan di sidang setempat. Sekolah-sekolah ini adalah bukti tambahan bahwa Saksi-Saksi Yehuwa menganggap penting pendidikan.

  • Tantangan dari Keragaman Agama
    Saksi-Saksi Yehuwa dan Pendidikan
    • Tantangan dari Keragaman Agama

      Sebagai seorang pendidik, Anda dihadapkan pada tantangan yang jarang dihadapi oleh para pendidik pada abad-abad yang lalu—keragaman agama.

      SEPANJANG Abad Pertengahan, warga negara dari negeri yang sama biasanya mempraktekkan agama yang sama. Baru pada akhir abad ke-19, Eropa terbiasa hanya dengan beberapa agama utama: Katolik dan Protestan di barat, Ortodoksi dan Islam di timur, dan Yudaisme. Tidak diragukan, keragaman agama jauh lebih umum dewasa ini di Eropa dan di seluruh dunia. Agama-agama yang kurang kita kenal telah berdiri, baik karena dianut oleh beberapa orang di antara penduduk aslinya sendiri atau diperkenalkan oleh para imigran dan pengungsi.

      Maka dewasa ini, di negeri-negeri seperti Australia, Inggris, Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat, kita menemukan banyak penganut agama Islam, Buddha, dan Hindu. Pada waktu yang sama, Saksi-Saksi Yehuwa, sebagai orang Kristen, melayani dengan aktif di 239 negeri. Di masing-masing dari 14 negeri, Saksi yang aktif berjumlah lebih dari 150.000 orang.​—Lihat kotak “Saksi-Saksi Yehuwa Agama Seluas Dunia.”

      Saksi-Saksi Yehuwa​—Agama Seluas Dunia

      Gambar di hlm. 15

      Negara

      Saksi Aktif

      Amerika Serikat

      1.243.387

      Argentina

      150.171

      Brasil

      794.766

      Filipina

      196.249

      Italia

      251.650

      Jepang

      215.703

      Jerman

      166.262

      Kolombia

      166.049

      Meksiko

      829.523

      Nigeria

      362.462

      Republik Demokratik Kongo

      216.024

      Ukraina

      150.906

      Zambia

      178.481

      Keragaman dari praktek-praktek agama setempat bisa menimbulkan tantangan kepada para pendidik. Sebagai contoh, beberapa pertanyaan penting mungkin diajukan mengenai perayaan-perayaan yang populer: Haruskah setiap peringatan diikuti oleh setiap siswa—tidak soal agamanya? Kebanyakan mungkin tidak mempunyai keberatan dengan perayaan-perayaan demikian. Akan tetapi, tidakkah sudut pandangan dari keluarga yang termasuk kelompok minoritas hendaknya juga dihormati? Dan ada faktor lain yang harus dipertimbangkan: Di negeri-negeri yang hukumnya memisahkan agama dari Negara dan pelajaran agama tidak boleh dimasukkan ke dalam kurikulum, tidakkah beberapa orang akan mendapatinya tidak konsisten jika sekolah mewajibkan perayaan-perayaan demikian?

      Hari Ulang Tahun

      Salah pengertian bahkan dapat timbul sehubungan perayaan-perayaan yang tampaknya mempunyai sedikit, kalau pun ada, keterkaitan dengan agama. Halnya demikian berkenaan hari ulang tahun, yang dirayakan di banyak sekolah. Walaupun Saksi-Saksi Yehuwa menghargai hak orang lain untuk merayakan hari ulang tahun, Anda tentu mengetahui bahwa mereka memilih untuk tidak ikut dalam perayaan demikian. Tetapi mungkin Anda tidak mengetahui alasan-alasan mengapa mereka dan anak-anak mereka memutuskan untuk tidak berpartisipasi dalam perayaan ini.

      Le livre des religions (Buku Agama-Agama), sebuah ensiklopedia yang beredar luas di Prancis, menyebutkan kebiasaan ini sebagai suatu upacara dan mendaftarkannya di antara ”upacara-upacara duniawi”. Walaupun dewasa ini dianggap sebagai kebiasaan duniawi yang tidak berbahaya, perayaan hari ulang tahun sebenarnya berasal dari kekafiran.

      The Encyclopedia Americana (edisi tahun 1991) menyatakan, ”Dunia purba dari Mesir, Yunani, Romawi, dan Persia merayakan hari ulang tahun para dewa, raja, dan bangsawan.” Pengarang bernama Ralph dan Adelin Linton menyingkapkan alasan yang mendukung hal ini. Dalam buku mereka The Lore of Birthdays, mereka menulis, ”Mesopotamia dan Mesir, tempat lahirnya peradaban, adalah juga negeri-negeri pertama yang orang-orangnya mengingat dan menghormati hari ulang tahun mereka. Dipeliharanya catatan-catatan tanggal kelahiran penting di zaman purba terutama karena tanggal kelahiran sangat diperlukan untuk pembuatan sebuah horoskop.” Keterkaitan langsung dengan astrologi ini menjadi alasan untuk pertimbangan yang penting bagi siapa pun yang menjauhi astrologi mengingat apa yang Alkitab katakan tentangnya.​—Yesaya 47:13-15.

      Maka tidaklah mengherankan, kita membaca dalam The World Book Encyclopedia, ”Orang-orang Kristen masa awal tidak merayakan kelahiran-Nya [Kristus] karena mereka menganggap perayaan kelahiran seseorang sebagai kebiasaan kafir.”​—Jilid 3, halaman 416.

      Gambar di hlm. 16

      Saksi-Saksi senang bersukaria bersama

      Mengingat keterangan di atas, Saksi-Saksi Yehuwa memilih untuk tidak ikut dalam pesta-pesta hari ulang tahun. Sudah pasti, kelahiran seorang anak adalah peristiwa yang membahagiakan dan menakjubkan. Secara wajar, semua orang-tua merasa girang melihat anak-anak mereka bertumbuh dan berkembang seraya tahun-tahun berlalu. Saksi-Saksi Yehuwa juga merasakan sukacita besar dalam mempertunjukkan kasih mereka kepada keluarga dan teman-teman dengan memberi hadiah dan bersukaria bersama. Akan tetapi, mengingat asal usul perayaan hari ulang tahun, mereka lebih suka melakukannya pada waktu-waktu lain sepanjang tahun.​—Lukas 15:22-25; Kisah 20:35.

      Natal

      Natal dirayakan di seluas dunia, bahkan di negeri-negeri yang bukan Kristen. Karena hari raya ini diterima oleh kebanyakan agama dari Susunan Kristen, mungkin tampaknya agak mengejutkan bahwa Saksi-Saksi Yehuwa memilih untuk tidak merayakannya. Mengapa demikian?

      Sebagaimana dinyatakan dengan jelas oleh banyak ensiklopedia, hari kelahiran Yesus ditetapkan dengan sesuka hati sehingga bersamaan waktu dengan sebuah festival kafir Romawi. Perhatikanlah pernyataan-pernyataan berikut yang diambil dari berbagai karya acuan:

      ”Tanggal kelahiran Kristus tidak diketahui. Injil tidak menunjukkan hari maupun bulannya.”​—New Catholic Encyclopedia, Jilid III, halaman 656.

      Gambar di hlm. 17

      ”Saturnalia di roma menyediakan model bagi kebanyakan kebiasaan bersukaria pada waktu natal.”​—Encyclopædia of Religion and Ethics

      ”Kebanyakan kebiasaan Natal yang kini umum di Eropa, atau yang dicatat sejak masa silam, bukanlah kebiasaan-kebiasaan asli Kristen, melainkan kebiasaan-kebiasaan kafir yang telah diterima atau ditoleransi oleh Gereja. . . . Saturnalia di Roma menyediakan model bagi kebanyakan kebiasaan bersukaria pada waktu Natal.”​—Encyclopædia of Religion and Ethics (Edinburgh, 1910), diedit oleh James Hastings, Jilid III, halaman 608-9.

      ”Natal telah dirayakan pada tanggal 25 Desember di semua gereja Kristen sejak abad keempat. Pada waktu itu, ini adalah tanggal dari festival kafir yang merayakan titik balik matahari di musim dingin yang disebut ’Kelahiran (Latin, natale) Matahari’, karena matahari tampaknya lahir kembali seraya hari-hari kembali menjadi lebih panjang. Di Roma, Gereja mengadopsi kebiasaan yang sangat populer ini . . . dengan memberinya suatu arti baru.”​—Encyclopædia Universalis, 1968, (Prancis) Jilid 19, halaman 1375.

      ”Perkembangan festival Natal dipengaruhi oleh perbandingan dengan perayaan kafir Sol Invictus (Matahari yang Tidak Terkalahkan atau Mitra). Di lain pihak, tanggal 25 Desember, sebagai hari titik balik matahari di musim dingin, ditandai dengan terang yang terbit ke dalam dunia melalui Kristus, dan simbolisme Sol Invictus kemudian dialihkan kepada Kristus.”​—Brockhaus Enzyklopädie, (Jerman) Jilid 20, halaman 125.

      Pada waktu mengetahui fakta-fakta tentang Natal, bagaimana reaksi beberapa orang? The Encyclopædia Britannica menyatakan, ”Pada tahun 1644, kaum puritan Inggris melarang pesta atau kebaktian agama apa pun dengan undang-undang dari Parlemen, dengan alasan bahwa hari itu [Natal] adalah festival kafir, dan memerintahkan agar hari itu diperingati sebagai hari puasa. Charles II menghidupkan kembali kegiatan-kegiatan meriah tersebut, tetapi orang-orang Skotlandia berpaut pada pandangan kaum Puritan.” Orang-orang Kristen masa awal tidak merayakan Natal, demikian pula Saksi-Saksi Yehuwa dewasa ini tidak merayakannya ataupun berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan Natal.

      Akan tetapi, Alkitab memperbolehkan memberi hadiah atau mengundang keluarga dan teman-teman untuk suatu perjamuan makan yang menyenangkan pada kesempatan-kesempatan lain. Alkitab menganjurkan orang-tua untuk melatih anak-anak mereka agar bermurah hati dengan tulus, sebaliknya daripada memberi hadiah hanya jika secara sosial kita diharapkan untuk melakukannya. (Matius 6:2, 3) Anak-anak dari Saksi-Saksi Yehuwa diajar untuk bersikap toleran dan penuh hormat, dan hal ini termasuk mengakui hak orang lain untuk merayakan Natal. Maka, mereka menghargai jika keputusan mereka untuk tidak ikut dalam perayaan Natal dihormati.

      Perayaan-Perayaan Lain

      Saksi-Saksi Yehuwa mengambil pendirian yang sama terhadap hari-hari raya lain yang bersifat keagamaan atau yang berbau keagamaan yang diadakan selama tahun pelajaran sekolah di berbagai negeri, seperti festival-festival bulan Juni di Brasil, Epiphany di Prancis, Carnival di Jerman, Setsubun di Jepang, dan Halloween di Amerika Serikat. Sehubungan hari-hari raya ini atau perayaan spesifik lainnya yang tidak disebutkan di sini, orang-tua Saksi atau anak-anak mereka pasti akan senang menjawab pertanyaan apa pun yang mungkin Anda miliki.

      Apa yang Anak-Anak Katakan

      ”Meskipun saya tidak mendapat hadiah pada hari ulang tahun, orang-tua saya tetap membelikan hadiah untuk saya pada kesempatan-kesempatan lain. Saya lebih senang begitu sebab saya mendapat kejutan.”​—Gregory, 11 tahun.

      ”Kebanyakan anak menganggap Natal sekadar waktu untuk menerima banyak hadiah. Tetapi saya menerima hadiah-hadiah dan bepergian sepanjang tahun. Keluarga saya mengajak saya ke negeri-negeri lain, seperti Fiji, Selandia Baru, dan Brasil.”​—Caleb, 10 tahun.

      ”Saya bergembira bersama sahabat-sahabat saya, dan kami saling memberi kejutan dengan memberi hadiah pada waktu-waktu tertentu.”​—Nicole, 14 tahun.

      ”Banyak teman di sekolah bertanya kepada saya bagaimana saya dapat tahan tidak mengikuti Natal dan hari-hari raya lainnya. Saya tidak kehilangan kegembiraan. Saya dan keluarga sering melakukan berbagai hal bersama-sama. Kami memiliki sahabat-sahabat yang menyenangkan untuk pergi berlibur bersama. Kami pergi berkemah dan bermain ski, dan kami sering berkumpul di rumah. Saya pikir andaikan orang-orang lain tahu betapa banyak kegembiraan yang kami nikmati, mereka pasti terkejut!”​—Andriana, 13 tahun.

      ”Saya tidak pernah merasa diabaikan karena saya tidak merayakan Natal atau hari-hari raya lainnya. Selama liburan, sewaktu kami tidak bersekolah dan Ayah tidak bekerja, kami mengadakan permainan, nonton bioskop, nonton TV. Kami melakukan banyak hal bersama-sama sebagai satu keluarga.”​—Brian, 10 tahun.

  • Nilai-Nilai Moral yang Layak Dihormati
    Saksi-Saksi Yehuwa dan Pendidikan
    • Gambar di hlm. 19

      Saksi-Saksi Yehuwa mencoba menanamkan nilai-nilai Kristen yang sejati dalam diri anak-anak mereka

      Nilai-Nilai Moral yang Layak Dihormati

      Sepanjang sejarah, pria dan wanita yang berani telah mengambil pendirian yang berlawanan dengan pemikiran yang populer pada zaman mereka. Mereka telah menanggung penindasan politik, agama, dan rasial, sering menyerahkan kehidupan mereka demi prinsip yang mereka anut.

      ORANG-ORANG Kristen masa awal memang berani. Pada waktu penganiayaan yang kejam selama tiga abad pertama, banyak dari antara mereka dibunuh oleh orang Romawi kafir karena menolak menyembah kaisar. Kadang-kadang, sebuah altar didirikan di sebuah arena. Untuk dapat bebas, orang-orang Kristen hanya harus membakar sejumput kemenyan sebagai pengakuan terhadap sifat keilahian kaisar. Akan tetapi, hanya sedikit yang berkompromi. Sebagian besar lebih memilih mati daripada menyangkal iman mereka.

      Pada zaman modern, Saksi-Saksi Kristen dari Yehuwa mengambil pendirian serupa sehubungan kenetralan politik. Sebagai contoh, pendirian mereka yang teguh dalam menghadapi Nazisme diteguhkan oleh catatan sejarah. Sebelum dan sepanjang perang dunia kedua, kira-kira seperempat Saksi-Saksi Jerman kehilangan nyawa mereka, terutama dalam kamp-kamp konsentrasi, karena mereka tetap netral dan menolak untuk mengucapkan ”Heil Hitler”. Anak-anak kecil dengan paksa dipisahkan dari orang-tua Saksi mereka. Meskipun mendapat tekanan, anak-anak muda tetap teguh dan menolak dicemari oleh ajaran-ajaran yang tidak berdasarkan Alkitab yang orang lain coba paksakan kepada mereka.

      Salut Kepada Bendera

      Saksi-Saksi Yehuwa pada umumnya bukan sasaran dari penganiayaan kejam demikian dewasa ini. Meskipun demikian, salah pengertian kadang-kadang timbul karena keputusan berdasarkan hati nurani dari seorang Saksi muda untuk tidak berpartisipasi dalam upacara-upacara patriotik, misalnya salut kepada bendera.

      Gambar di hlm. 21

      ”Berilah kepada Kaisar apa yang milik Kaisar,dan kepada Allah apa yang milik Allah”—Matius 22:21, Bahasa Indonesia Sehari-hari

      Anak-anak dari Saksi-Saksi Yehuwa tidak diajarkan untuk menghalangi anak-anak lain salut kepada bendera; hal itu adalah keputusan setiap pribadi. Akan tetapi, pendirian dari Saksi-Saksi sendiri teguh: Mereka tidak memberi salut kepada bendera dari negara mana pun. Hal ini tentunya tidak dimaksudkan untuk menunjukkan sikap tidak hormat. Mereka menghormati bendera dari negara mana pun tempat mereka tinggal, dan mereka memperlihatkan hormat ini dengan menaati hukum negara tersebut. Mereka tidak pernah terlibat dalam kegiatan antipemerintah dalam bentuk apa pun. Sebenarnya, Saksi-Saksi percaya bahwa pemerintahan manusia sekarang ini merupakan ”pengaturan Allah” yang keberadaannya Ia izinkan. Jadi mereka mengganggap diri mereka berada di bawah perintah ilahi untuk membayar pajak dan menghormati ”kalangan berwenang yang lebih tinggi” demikian. (Roma 13:1-7) Hal ini selaras dengan pernyataan Kristus yang terkenal, ”Berilah kepada Kaisar apa yang milik Kaisar, dan kepada Allah apa yang milik Allah.”​—Matius 22:21, Bahasa Indonesia Sehari-hari.

      ’Tetapi, mengapa,’ beberapa orang mungkin bertanya, ’Saksi-Saksi Yehuwa tidak menghormati bendera dengan memberi salut kepadanya?’ Karena mereka menganggap salut kepada bendera adalah suatu tindakan penyembahan, dan penyembahan adalah kepunyaan Allah; berdasarkan hati nurani mereka tidak dapat memberikan penyembahan kepada siapa pun atau apa pun selain Allah. (Matius 4:10; Kisah 5:29) Karena itu, mereka menghargai jika para pendidik menghormati keyakinan ini dan mengizinkan anak-anak Saksi menaati kepercayaan mereka.

      Tidak mengherankan, Saksi-Saksi Yehuwa bukan satu-satunya kelompok yang menganggap bahwa salut kepada bendera ada hubungannya dengan ibadat, seperti diperlihatkan komentar-komentar berikut ini:

      ”Bendera yang mula-mula, hampir secara murni bersifat keagamaan. . . . Bantuan dari agama tampaknya selalu dicari untuk menyucikan bendera-bendera nasional.” (Cetak miring red.)—Encyclopædia Britannica.

      ”Bendera, seperti salib, adalah keramat. . . . Ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan sikap manusia terhadap lambang-lambang nasional menggunakan kata-kata yang tegas dan ekspresif seperti, ’Dinas bagi Bendera’, . . . ’Hormat kepada Bendera’, ’Mengabdi kepada Bendera’.” (Cetak miring red.)—The Encyclopedia Americana.

      ”Umat Kristen menolak untuk . . . mempersembahkan korban kepada dewa penjaga kaisar [Romawi]—dewasa ini hampir sama seperti menolak untuk memberi salut kepada bendera atau mengucapkan sumpah setia.”​—Those About to Die (1958), oleh Daniel P. Mannix, halaman 135.

      Gambar di hlm. 22

      Tiga pemuda Ibrani menolak untuk membungkuk di hadapan patung yang didirikan oleh Nebukadnezar, raja Babilon

      Sekali lagi, Saksi-Saksi Yehuwa tidak bermaksud tidak menghormati pemerintah mana pun atau para penguasanya dengan menolak memberi salut kepada bendera. Persoalannya hanyalah bahwa mereka tidak akan, dengan suatu tindakan penyembahan, membungkuk atau memberi salut kepada suatu tanda yang menggambarkan Negara. Mereka memandang hal ini serupa dengan pendirian yang diambil oleh tiga pemuda Ibrani pada zaman Alkitab yang menolak untuk membungkuk di hadapan patung yang didirikan di Dataran Dura oleh Nebukadnezar, raja Babilon. (Daniel, pasal 3) Maka, sementara yang lain memberi salut dan mengucapkan sumpah setia, anak-anak dari Saksi-Saksi Yehuwa diajar untuk mengikuti hati nurani mereka yang terlatih oleh Alkitab. Jadi, dengan senyap dan penuh hormat mereka tidak ikut berpartisipasi. Untuk alasan-alasan serupa, anak-anak Saksi memilih untuk tidak berpartisipasi ketika lagu kebangsaan dinyanyikan atau diperdengarkan.

      Menghormati, Bukan Menyembah

      Suatu pagi di sebuah sekolah di Kanada, seorang gadis Saksi berusia 11 tahun yang bernama Terra melihat gurunya membawa seorang siswa sekelasnya ke luar beberapa saat. Tidak lama kemudian, bapak guru dengan tenang meminta Terra untuk pergi bersama dia ke kantor kepala sekolah.

      Seraya ia memasuki kantor, Terra langsung melihat bendera Kanada dihamparkan di meja kepala sekolah. Kemudian bapak guru menyuruh Terra meludahi bendera itu. Ia menyatakan bahwa karena Terra tidak menyanyikan lagu kebangsaan dan tidak memberi salut kepada bendera, tidak ada alasan mengapa ia tidak akan meludahi bendera itu bila diperintahkan untuk melakukannya. Terra menolak, sambil menjelaskan bahwa walaupun Saksi-Saksi Yehuwa tidak menyembah bendera, mereka menghormatinya.

      Sesampainya di kelas, bapak guru mengumumkan bahwa ia baru saja mengadakan suatu percobaan dengan dua orang siswa, dengan menyuruh mereka untuk meludahi bendera. Walaupun siswa pertama memang berpartisipasi dalam upacara-upacara patriotik, ia meludahi bendera pada waktu diperintahkan untuk melakukannya. Akan tetapi, meskipun Terra tidak menyanyikan lagu kebangsaan atau memberi salut kepada bendera, ia menolak untuk menghinanya dengan cara ini. Sang guru menunjukkan bahwa dari antara dua siswa itu, Terra-lah siswa yang memperlihatkan respek yang sepatutnya.

      Hak Orang-Tua

      Dewasa ini, kebanyakan negara menghormati hak orang-tua untuk memberikan pengajaran agama kepada anak-anak mereka sesuai dengan keyakinan mereka. Semua agama mendukung hak ini, seperti digambarkan oleh undang-undang gereja yang masih berlaku di Gereja Katolik: ”Karena telah memberikan kehidupan kepada anak-anak mereka, orang-tua berada di bawah kewajiban yang keras untuk mendidik mereka, dan memiliki hak untuk melakukannya; itulah sebabnya merupakan hal penting bagi orang-tua terutama untuk memberikan kepada anak-anak mereka pendidikan Kristen sesuai dengan doktrin Gereja.”​—Kanon 226.

      Gambar di hlm. 25

      Anak-anak dianjurkan untuk menaruh minat akan orang-orang lain

      Saksi-Saksi Yehuwa tidak menuntut hal lain. Sebagai orang-tua yang penuh perhatian, mereka mencoba menanamkan nilai-nilai Kristen yang sejati dalam diri anak-anak mereka dan berulang-ulang mengajarkan kepada mereka kasih akan sesama dan hormat akan milik orang-orang lain. Mereka ingin mengikuti nasihat yang rasul Paulus berikan kepada orang-orang Kristen di Efesus, ”Saudara-saudara yang menjadi ayah! Janganlah memperlakukan anak-anakmu sedemikian rupa sehingga mereka menjadi marah. Sebaliknya, besarkanlah mereka dengan tata tertib dan pengajaran Tuhan.”​—Efesus 6:4, Bahasa Indonesia Sehari-hari.

      Beberapa Prinsip Moral yang Diikuti Saksi-Saksi Yehuwa

      Sehubungan dengan nilai-nilai moral, Saksi-Saksi Yehuwa mengajar anak-anak mereka untuk tetap terpisah dari tingkah laku, praktek, atau bahkan sikap yang, walaupun umum di dunia dewasa ini, dapat membahayakan diri mereka atau orang-orang lain. (Yakobus 1:27) Maka mereka memberi tahu anak-anak mereka tentang bahaya dari obat-obat bius dan praktek-praktek lain, seperti misalnya merokok dan penyalahgunaan alkohol. (Amsal 20:1; 2 Korintus 7:1) Mereka percaya akan pentingnya kejujuran dan kerajinan. (Efesus 4:28) Mereka mengajar anak-anak mereka untuk menghindari bahasa kotor. (Efesus 5:3, 4) Mereka juga mengajar anak-anak untuk hidup selaras dengan prinsip-prinsip Alkitab sehubungan moralitas seksual serta menghormati wewenang dan pribadi serta milik orang lain. (1 Korintus 6:9, 10; Titus 3:1, 2; Ibrani 13:4) Mereka benar-benar percaya bahwa hidup selaras dengan prinsip-prinsip itu adalah yang terbaik bagi anak-anak mereka.

      Rumah Tangga yang Terbagi Secara Agama

      Dalam beberapa keluarga, hanya salah satu dari orang-tua adalah Saksi dari Yehuwa. Dalam keadaan demikian, orang-tua Saksi dianjurkan untuk mengakui hak dari orang-tua yang bukan Saksi juga untuk mengajar anak-anak sesuai dengan keyakinan agamanya. Anak-anak yang dihadapkan kepada pandangan agama yang berbeda hanya mengalami sedikit, kalaupun ada, pengaruh yang tidak baik.a Pada prakteknya, semua anak harus memutuskan agama apa yang akan mereka ikuti. Secara wajar, tidak semua anak muda memilih untuk mengikuti prinsip agama dari orang-tua mereka, apakah itu Saksi-Saksi Yehuwa atau bukan.

      Hak Anak-Anak Mendapat Kebebasan Berhati Nurani

      Anda hendaknya juga mengetahui bahwa Saksi-Saksi Yehuwa menganggap penting hati nurani Kristen setiap pribadi. (Roma, pasal 14) Konvensi Tentang Hak Anak, yang disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1989, mengakui hak seorang anak untuk mendapat ”kebebasan berpikir, berhati nurani dan beragama” dan hak untuk menyatakan pendapatnya dengan bebas dan pendapat-pendapat tersebut dipertimbangkan dalam persoalan atau prosedur apa pun yang mempengaruhi anak itu.

      Tidak ada dua anak yang persis sama. Karena itu, secara masuk akal Anda dapat mengharapkan beberapa perbedaan dalam keputusan yang dibuat oleh Saksi-Saksi muda atau siswa-siswa lain berkenaan kegiatan atau penugasan tertentu di sekolah. Kami percaya bahwa Anda juga menyetujui prinsip kebebasan berhati nurani itu.

      a Berkenaan anak-anak dari perkawinan antar agama, Steven Carr Reuben, Ph.D., dalam bukunya Raising Jewish Children in a Contemporary World, menyatakan, ”Anak-anak bingung jika orang-tua menyangkal kepercayaan mereka yang sesungguhnya, menghadapi kebingungan, menutup-nutupi, dan menghindari hal-hal keagamaan. Apabila orang-tua terbuka, jujur, terus terang tentang kepercayaan, nilai, dan pola-pola perayaan mereka sendiri, anak-anak akan tumbuh dengan semacam rasa aman dan merasa diri bernilai dalam wawasan keagamaan dan hal ini sangat penting bagi perkembangan harga diri mereka secara keseluruhan dan pengetahuan sehubungan tempat mereka di dunia ini.”

  • Peranan Orang-Tua
    Saksi-Saksi Yehuwa dan Pendidikan
    • Gambar di hlm. 26-27

      Peranan Orang-Tua

      Tidak diragukan, membesarkan anak-anak menjadi orang dewasa yang seimbang dalam masyarakat dewasa ini bukanlah tugas yang mudah.

      BADAN Kesehatan Mental Nasional AS menerbitkan hasil dari suatu survei tentang orang-tua yang dianggap berhasil​—mereka yang anak-anaknya, dengan usia lebih dari 21 tahun, ”semua adalah orang-orang dewasa yang produktif yang tampaknya dapat menyesuaikan diri dengan baik kepada masyarakat kita”. Para orang-tua ini ditanya, ’Berdasarkan pengalaman pribadi Anda, saran terbaik apa yang dapat Anda berikan kepada orang-tua lainnya?’ Jawaban yang paling sering disebutkan adalah: ’Limpahi mereka dengan kasih’, ’berilah disiplin yang membangun’, ’gunakan waktu bersama anak-anak’, ’ajar anak-anak Anda untuk membedakan yang benar dan yang salah’, ’kembangkan respek timbal balik’, ’dengarkan mereka dengan sungguh-sungguh’, ’berikan bimbingan bukan pidato’, dan ’hendaklah realistis’.

      Gambar di hlm. 28

      Para pendidik memainkan peranan penting dalam menghasilkan kaum muda yang dapat menyesuaikan diri dengan baik

      Akan tetapi, orang-tua tidak sendirian dalam upaya menghasilkan kaum muda yang dapat menyesuaikan diri dengan baik. Para pendidik juga memainkan peranan penting dalam hal ini. Seorang penasihat sekolah yang berpengalaman menyatakan, ”Tujuan utama dari pendidikan formal adalah mendukung orang-tua dalam menghasilkan kaum muda yang penuh tanggung jawab yang berkembang baik secara intelektual, fisik, dan emosi.”

      Jadi orang-tua dan pendidik mempunyai tujuan yang sama​—menghasilkan remaja-remaja yang kelak menjadi orang dewasa yang matang dan seimbang yang menikmati kehidupan dan sanggup menemukan tempat mereka di masyarakat yang di dalamnya mereka hidup.

      Rekan Sekerja, Bukan Saingan

      Akan tetapi, problem-problem timbul jika orang-tua gagal bekerja sama dengan para pendidik. Sebagai contoh, beberapa orang-tua sama sekali tidak memedulikan pendidikan anak mereka; yang lain berupaya bersaing dengan para guru. Ketika membahas keadaan ini, sebuah jurnal dalam bahasa Prancis mengatakan, ”Guru bukan lagi satu-satunya kapten kapal. Orang-tua, yang terobsesi akan keberhasilan anak mereka, memeriksa buku-buku sekolah, menghakimi dan mengkritik metode-metode pengajaran, dan langsung bereaksi pada waktu anak mereka pertama kali mendapat nilai buruk.” Tindakan-tindakan seperti itu dapat melanggar hak-hak istimewa para guru.

      Gambar di hlm. 29

      Saksi-Saksi Yehuwa merasa bahwa anak-anak mereka akan mendapat lebih banyak manfaat jika orang-tua bekerja sama dengan para pendidik, memberi perhatian yang aktif serta bermanfaat bagi pendidikan anak mereka

      Saksi-Saksi Yehuwa merasa bahwa anak-anak mereka akan mendapat lebih banyak manfaat jika orang-tua bekerja sama dengan para pendidik, memberi perhatian yang aktif serta bermanfaat bagi pendidikan anak mereka. Mereka percaya bahwa kerja sama demikian khususnya penting karena pekerjaan Anda sebagai pendidik telah menjadi semakin sulit.

      Problem-Problem Sekolah Dewasa Ini

      Karena sekolah merupakan bagian dari masyarakat yang dicerminkan olehnya, sekolah tidak terlindung dari problem-problem masyarakat pada umumnya. Problem sosial telah meningkat dengan cepat tahun demi tahun. Ketika melukiskan keadaan sebuah sekolah di Amerika Serikat, The New York Times melaporkan, ”Para siswa tidur di dalam kelas, mereka saling mengancam di koridor-koridor sekolah yang penuh coretan, mereka meremehkan siswa-siswa yang baik. . . . Hampir semua siswa menghadapi problem-problem seperti mengurus bayi, berurusan dengan orang-tua yang dipenjarakan dan menyelamatkan diri dari kekerasan geng. Pada hari-hari tertentu, hampir seperlima siswa absen.”

      Yang khususnya mengkhawatirkan adalah bertambahnya problem kekerasan di sekolah secara internasional. Perkelahian yang timbul sekali-kali dengan saling dorong dan saling pukul telah digantikan dengan saling tembak dan saling tusuk secara rutin. Senjata menjadi semakin umum, serangan semakin kejam, dan anak-anak semakin cepat menggunakan kekerasan sebagai jalan keluar pada usia yang semakin lebih muda.

      Tentunya, tidak semua negara menghadapi keadaan suram demikian. Akan tetapi, banyak pendidik di seluas dunia menghadapi situasi yang disebutkan dalam majalah mingguan bahasa Prancis Le Point, ”Guru tidak lagi dihormati; ia tidak memiliki wewenang.”

      Gambar di hlm. 30

      Orang-tua yang berhasil menggunakan waktu bersama anak-anak mereka

      Rasa tidak hormat terhadap wewenang demikian menghadirkan bahaya yang nyata kepada semua anak. Jadi Saksi-Saksi Yehuwa mencoba menanamkan dalam diri anak-anak mereka ketaatan dan hormat kepada wewenang, sifat-sifat yang sering kali sangat kurang dalam kehidupan sekolah dewasa ini.

  • Penutup
    Saksi-Saksi Yehuwa dan Pendidikan
    • Gambar di hlm. 31

      Penutup

      SUATU pembahasan lengkap mengenai kepercayaan agama dari Saksi-Saksi Yehuwa bukanlah tujuan dari brosur ini. Sebaliknya, kami telah berupaya menjelaskan beberapa prinsip yang dipercayai Saksi-Saksi dan memperlihatkan dengan jelas jenis pengaruh keluarga yang mempengaruhi siswa Anda jika salah satu atau kedua orang-tuanya adalah Saksi-Saksi.

      Saksi-Saksi Yehuwa memberikan prioritas besar pada perkembangan rohani anak-anak mereka. Dan mereka merasa yakin bahwa hal ini akan memperbaiki perkembangan anak-anak mereka dalam bidang-bidang lain. Kepercayaan yang mereka anut dan prinsip yang mereka ikuti memberikan arti kepada kehidupan mereka dan membantu mereka untuk mengatasi problem sehari-hari. Selain itu, kepercayaan dan prinsip tersebut seharusnya menggerakkan mereka untuk berupaya menjadi siswa yang bergairah dan warga negara yang baik sepanjang hidup mereka.

      Saksi-Saksi berupaya untuk realistis mengenai kehidupan, maka mereka menganggap penting pendidikan. Karena itu, adalah harapan mereka untuk sedapat mungkin bekerja sama dengan Anda. Di pihak mereka sendiri, di rumah dan di tempat ibadat mereka di seputar dunia, mereka akan terus menganjurkan anak-anak mereka memenuhi peranannya dalam kerja sama yang bermanfaat ini.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan