-
Sains—Pencarian yang Terus-menerus akan KebenaranSedarlah!—1993 | 8 Juni
-
-
Bagian 5
Sains—Pencarian yang Terus-menerus akan Kebenaran
Melakukan ”Keajaiban” Abad Ke-20
APA yang dianggap ”keajaiban” yang mustahil pada abad ke-19 telah menjadi kenyataan pada abad ke-20 ini. Hanya dalam satu generasi, manusia mulai dengan mengendarai mobil Ford Model T milik sendiri sampai kepada tergetar menyaksikan manusia berjalan di bulan yang ditayangkan melalui pesawat TV berwarna. Sebaliknya daripada dipandang sebagai keistimewaan, ”mukjizat” yang dihasilkan secara ilmiah kini dianggap sudah semestinya.
The New Encyclopædia Britannica mengatakan, ”Prestasi-prestasi ilmiah pada awal abad ke-20 terlalu banyak bahkan untuk disusun dalam katalog.” Akan tetapi, itu menunjuk kepada ”pola umum kemajuan”, yang mengatakan bahwa ”dalam setiap bidang utama, kemajuan didasarkan atas karya deskriptif yang berhasil pada abad ke-19”. Ini menandaskan fakta bahwa sains merupakan pencarian yang terus-menerus akan kebenaran.
Digantikan oleh Kelompok
Masyarakat ilmiah, kelompok ilmuwan yang bertemu untuk bertukar gagasan dan informasi, dibentuk di Eropa pada awal abad ke-17. Dalam rangka memperkenalkan penemuan-penemuan mereka yang terbaru, masyarakat ini bahkan mulai menerbitkan jurnal mereka sendiri. Ini mengarah kepada pertukaran informasi secara luas yang bertujuan untuk menggalang dasar yang di atasnya kemajuan ilmiah lebih lanjut dapat dihasilkan.
Menjelang abad ke-19, universitas-universitas telah terlibat sepenuhnya dalam riset ilmiah, dan pada tahun-tahun berikutnya, laboratorium-laboratorium mereka menghasilkan penemuan-penemuan yang penting.a Menjelang permulaan abad ke-20, perusahaan-perusahaan bisnis juga membangun laboratorium riset, yang pada waktunya mengembangkan obat-obatan baru, bahan-bahan sintetis (termasuk plastik), dan produk-produk lain. Dari penemuan ini, masyarakat telah mendapat manfaat, dan perusahaan-perusahaan riset telah mendapat keuntungan jutaan dolar.
Didirikannya laboratorium-laboratorium dan kelompok-kelompok riset ini menimbulkan suatu kecenderungan riset yang terorganisasi dibanding dengan upaya pribadi. Beberapa ilmuwan bertanya-tanya apakah ini merupakan pendekatan yang terbaik. Pada tahun 1939, John D. Bernal, ahli fisika dan ahli kristalografi Sinar Rontgen dari Irlandia, mengajukan pertanyaan, ”Haruskah sains dikembangkan dalam koordinasi pekerjaan secara acak dari pribadi-pribadi yang berbakat, masing-masing mengikuti pemahamannya sendiri, ataukah dalam kelompok-kelompok atau kumpulan-kumpulan pekerja yang saling membantu dan mengintegrasikan pekerjaan mereka menurut suatu rencana yang telah disepakati sebelumnya meskipun tetap fleksibel?”
Karena kerumitan dan biaya riset yang tinggi, Bernal yang mengusulkan bekerja dalam kelompok, mengatakan bahwa masalahnya hanyalah bagaimana mengorganisasi kegiatan dengan sepatutnya. Ia meramalkan, ”Kerja tim akan semakin cenderung menjadi mode dalam riset ilmiah.” Sekarang, lebih dari setengah abad kemudian, kelihatannya pendapat Bernal benar. Kecenderungan tersebut terus berlanjut, mempercepat proses ”keajaiban” ilmiah abad ke-20.
”Keajaiban yang Diperbuat Allah”!
Pada tanggal 24 Mei 1844, empat kata yang merupakan seruan ini dengan sukses disampaikan melalui telegraf oleh Samuel Morse, penemu kode Morse, melampaui jarak sejauh 50 kilometer. Pada waktu itu akar ”keajaiban” telekomunikasi abad ke-19 yang berlanjut ke abad ke-20 sedang ditanam.
Sekitar 30 tahun kemudian, pada tahun 1876, Alexander Graham Bell sedang bersiap-siap untuk mengetes sebuah transmiter bersama Thomas Watson, asistennya, ketika Bell menumpahkan sedikit larutan asam. Teriakannya, ”Tuan Watson, mari ke sini. Saya butuh bantuan Anda,” menjadi lebih daripada sekadar seruan minta tolong. Watson, yang berada di ruangan terpisah, mendengar pesan itu, mengenalinya sebagai kalimat pertama yang dapat didengar sepenuhnya dengan sangat jelas yang pernah ditransmisikan melalui telepon, dan ia pun bergegas menghampirinya. Sejak itu, dering telepon masih tetap membuat orang bergegas menjawabnya.
Selama 93 tahun silam, pengetahuan ilmiah disertai teknologi telah melengkapi orang-orang dengan suatu standar kehidupan yang bahkan belum pernah dicapai sebelumnya, dalam jumlah yang sangat besar. Dunia terasa sempit karena komunikasi dan transportasi yang cepat. Perkara-perkara yang ”mustahil” telah menjadi norma. Sebenarnya, telepon, televisi, mobil, dan pesawat udara—serta sejumlah ”mukjizat” abad ke-20 lainnya—telah menjadi bagian umum dari dunia kita sehingga kita cenderung lupa bahwa manusia telah hidup tanpa hal-hal itu selama bagian terbesar dari masa keberadaannya.
Seraya abad ini dimulai, The New Encyclopædia Britannica berkata, ”kejayaan sains kelihatannya menjanjikan pengetahuan dan kekuasaan yang luar biasa besar”. Namun kemajuan teknologi yang dibuat dalam jangka waktu tersebut belum dapat dinikmati di semua tempat dalam ukuran yang seimbang. Juga, tidak semua kemajuan tersebut dapat digolongkan pasti bermanfaat. Ditambahkannya, ”Sedikit orang yang dapat meramalkan problem-problem sebagai dampak kesuksesan demikian atas lingkungan sosial dan alamnya.”
Apa Penyebab Problem-Problem?
Kesalahan tidak dapat ditemukan pada fakta-fakta ilmiah yang membantu kita memahami alam semesta ini dengan lebih baik, ataupun pada teknologi yang secara praktis memanfaatkan fakta-fakta ilmiah demi keuntungan umat manusia.
Keduanya—sains dan teknologi—telah lama menikmati hubungan erat. Namun menurut buku Science and the Rise of Technology Since 1800, ”hubungan erat mereka, yang sekarang sudah umum, belum sepenuhnya terbentuk hingga baru-baru ini”. Rupanya, bahkan selama permulaan revolusi industri, hubungan mereka tidak begitu erat. Seraya pengetahuan ilmiah yang baru diperoleh ini menyumbang kepada perkembangan produk baru, demikian juga halnya pengalaman dalam bidang keterampilan, kerajinan tangan, dan keahlian mekanik.
Akan tetapi, setelah mulainya revolusi industri, jumlah pengetahuan ilmiah bertambah banyak, dengan demikian menciptakan landasan yang lebih luas bagi teknologi untuk berfungsi. Diilhami pengetahuan baru, teknologi ditampilkan untuk menguji cara-cara yang dirancang untuk mengurangi pekerjaan yang menjemukan, memperbaiki kesehatan, dan memajukan suatu dunia yang lebih baik dan lebih bahagia.
Namun teknologi tidak dapat lebih baik daripada pengetahuan ilmiah yang mendasarinya. Jika pengetahuan ilmiah keliru, perkembangan teknologi apa pun yang didasarkan atasnya tampaknya akan rusak. Sering kali, efek sampingannya akan terlihat setelah timbul kerusakan berat. Misalnya, siapa yang dapat meramalkan bahwa diperkenalkannya semprotan aerosol dengan menggunakan klorofluorokarbon atau hidrokarbon suatu ketika akan membahayakan lapisan ozon pelindung bumi?
Sesuatu yang lain juga terlibat—motif. Seorang ilmuwan yang berdedikasi mungkin berminat akan pengetahuan itu sendiri dan mungkin rela menghabiskan waktu puluhan tahun dalam kehidupannya untuk mengadakan riset. Namun, seorang pengusaha yang mungkin lebih berminat untuk mengejar keuntungan, sangat ingin menerapkan pengetahuan untuk digunakan sesegera mungkin. Dan politisi mana yang mau dengan sabar menunggu puluhan tahun untuk dapat menggunakan teknologi yang menurutnya mungkin akan memberi keuntungan politis baginya seandainya itu langsung dimanfaatkan.
Ahli fisika Albert Einstein menunjuk problemnya sewaktu ia berkata, ”Kekuatan yang belum dilepaskan dari atom telah mengubah segala sesuatu kecuali cara berpikir kita dan oleh karenanya kita hanyut dalam bencana yang tiada bandingnya.” (Cetak miring red.) Ya, banyak dari problem-problem yang diciptakan oleh ”keajaiban” abad ke-20 ini telah timbul bukan semata-mata karena kekeliruan pengetahuan ilmiah tetapi juga karena ketergesa-gesaan teknologi yang dimotivasi oleh kepentingan-kepentingan yang egois.
Sebagai buktinya, sains menemukan bahwa suara dan visi dapat ditransmisikan ke tempat-tempat yang jauh—televisi. Teknologi mengembangkan teknik-teknik yang diperlukan untuk melakukannya. Namun, yang salah adalah pola berpikir pihak perdagangan yang tamak dan konsumen yang banyak menuntut, sehingga pengetahuan dan teknologi yang hebat ini digunakan untuk menayangkan gambar-gambar porno dan adegan-adegan kekerasan yang berlumuran darah ke ruang-ruang keluarga yang tenteram.
Demikian pula, sains menemukan bahwa materi dapat diubah menjadi energi. Teknologi mengembangkan penguasaan teknik yang diperlukan untuk melakukannya. Namun karena pola berpikir yang salah di pihak politik nasionalistis, maka pengetahuan dan teknologi ini digunakan untuk membuat bom-bom nuklir yang masih terhunus bagaikan Pedang Maut menebas kepala masyarakat dunia.
Memanfaatkan Sains dengan Sepatutnya
Suatu pola berpikir yang salah lebih jauh disingkapkan apabila orang-orang melalui teknologi membiarkan alat-alat yang dirancang sebagai budak, dijadikan majikan. Majalah Time memperingatkan bahaya ini pada tahun 1983 sewaktu ia memilih, bukan individu terbaik sepanjang tahun sebagaimana biasanya, melainkan suatu ”mesin terbaik sepanjang tahun”, komputer.
Time memberikan alasannya, ”Seraya orang-orang mengandalkan komputer untuk melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan dalam kepala mereka, apa yang terjadi dengan kepala mereka? . . . Jika sebuah kamus disimpan dalam memori komputer dapat dengan mudah mengoreksi ejaan yang salah, apa gunanya belajar mengeja? Dan jika pikiran dibebaskan dari rutin intelektual, apakah pikiran akan memacu dalam mengejar gagasan penting atau dengan malas menghamburkan waktunya di depan video game? . . . Apakah komputer benar-benar merangsang kegiatan otak atau, dengan terlalu banyak mengandalkan kerja komputer, membuat otak menjadi malas?”
Meskipun demikian, beberapa orang begitu terkesan dengan prestasi-prestasi ilmiah sehingga mereka meninggikan sains sebagai ilah yang nyata. Ilmuwan Anthony Standen membahas ini dalam bukunya yang diterbitkan tahun 1950 berjudul Science Is a Sacred Cow. Bahkan meskipun kita mungkin cenderung membesar-besarkannya, kata-kata Standen ini patut dipertimbangkan, ”Sewaktu ilmuwan dengan toga putihnya . . . membuat suatu pernyataan kepada khalayak ramai, ia mungkin tidak dimengerti, namun setidaknya ia yakin untuk dipercaya. . . . Negarawan, kaum industri, tokoh-tokoh agama, pemimpin masyarakat, filsuf, semuanya diragukan dan dikritik, namun ilmuwan—tidak pernah. Ilmuwan-ilmuwan adalah pribadi-pribadi yang ditinggikan yang berdiri di atas puncak tertinggi dari gengsi yang populer, karena mereka memiliki monopoli rumus ’Telah dibuktikan secara ilmiah . . . ’ yang tampaknya memadamkan segala kemungkinan bantahan.”
Karena pola berpikir yang salah ini, ada orang yang memanfaatkan apa yang tampaknya merupakan pertentangan antara sains dan Alkitab, sebagai bukti ”hikmat” ilmiah dibandingkan dengan ”takhayul” agama. Ada yang bahkan memandang dalam apa yang disebut kontradiksi ini suatu bukti bahwa Allah tidak ada. Akan tetapi, dalam kenyataannya, Allah bukannya tidak ada melainkan sebaliknya, gagasan yang kontradiksi itu diciptakan kaum pemimpin agama dengan secara salah menafsirkan Firman-Nya. Dengan demikian, mereka menghina Pengarang ilahi dari Alkitab dan pada waktu yang sama mendatangkan kerugian atas pencarian yang terus-menerus akan kebenaran ilmiah.
Selain itu, karena gagal melatih jemaat mereka untuk mempraktekkan buah-buah roh Allah, para pemimpin agama ini menciptakan suasana yang mementingkan diri yang menyebabkan orang-orang memikirkan terutama keinginan mereka sendiri untuk kenyamanan dan keleluasaan pribadi. Ini sering kali dicapai dengan mengorbankan orang-orang lain, bahkan sampai menyalahgunakan pengetahuan ilmiah untuk membantai sesama manusia.—Galatia 5:19-23.
Agama palsu, politik manusia yang tidak sempurna, dan perdagangan yang tamak telah membentuk masyarakat dewasa ini yang ciri-cirinya sebagai berikut, ”mencintai dirinya sendiri . . . tidak tahu berterima kasih, . . . tidak dapat mengekang diri”, orang-orang egois yang didorong oleh pola berpikir yang salah.—2 Timotius 3:1-3.
Inilah orang-orang dan organisasi-organisasi yang telah menimbulkan tantangan pada abad ke-21 yang sekarang harus dijawab oleh sains. Apakah sains akan berhasil? Bacalah jawabannya pada bagian akhir dari rangkaian ini dalam artikel berikut.
[Catatan Kaki]
a Misalnya, kebanyakan riset untuk Manhattan Project, program kilat AS yang mengembangkan bom atom, dilakukan di laboratorium riset Universitas Chicago dan Universitas California di Berkeley.
[Blurb di hlm. 22]
Jika pengetahuan ilmiah keliru, perkembangan yang berlandaskannya akan rusak
[Blurb di hlm. 24]
Tidak semua prestasi ilmiah mendatangkan manfaat
[Keterangan Gambar di hlm. 21]
Dari koleksi Henry Ford Museum & Greenfield Village
Foto NASA
-
-
Sains—Pencarian yang Terus-menerus akan KebenaranSedarlah!—1993 | 8 Juni
-
-
Bagian 6
Sains—Pencarian yang Terus-menerus akan Kebenaran
Menjawab Tantangan Abad Ke-21
SEMBILAN, delapan, tujuh, dan seterusnya! Penghitungan mundur peluncuran roket? Bukan, sebaliknya, penghitungan mundur jumlah tahun yang masih tersisa sebelum umat manusia memasuki abad ke-21 yang penuh ketidakpastian.a
Berdasarkan prestasi-prestasi ilmiah pada abad yang silam, banyak orang mungkin benar-benar percaya bahwa sains dapat mengatasi tantangan apa pun yang akan terjadi pada abad ke-21.b Mereka mungkin merasa sebagaimana halnya seorang penulis Prancis pada awal abad ke-20. ”Sains kini ditakdirkan untuk memerintah dunia,” tulisnya. ”Mulai sekarang, pemerintahan dunia bukan milik dewa, melainkan milik sains, karena sains adalah penolong masyarakat dan pembebas umat manusia.”
Agar dapat memenuhi harapan-harapan ini, sains harus dapat mengatasi banyak problem yang turut diciptakannya.
Kehancuran lingkungan yang atasnya sains bertanggung jawab benar-benar luar biasa. Buku 5000 Days to Save the Planet menyatakan, ”Jika kita meneruskan haluan kita sekarang yaitu mengeksploitasi lingkungan, permasalahannya bukanlah apakah masyarakat modern akan selamat melampaui abad berikutnya, melainkan apakah masyarakat tersebut akan musnah dengan suatu suara ledakan atau dengan senyap?”
Ini kelihatannya sama sekali bukan pilihan yang menyenangkan.
Keterbatasan Sains
”Banyak ilmuwan abad ke-19 . . . sering kali merasa bahwa suatu ketika mereka akan mencapai kebenaran mutlak dan pemahaman yang tertinggi,” kata buku The Scientist. Selanjutnya, buku itu mengatakan, ”Penerus mereka hanya berbicara tentang pencapaian ’pemahaman sebagian’, berupa pendekatan yang berkesinambungan kepada kebenaran namun tidak pernah meraihnya secara tuntas.” Kurangnya pengetahuan yang mutlak ini secara serius membatasi apa yang dapat dilakukan sains.
Fakta-fakta ilmiah tidak pernah berubah selama bertahun-tahun, sedangkan teori-teori ilmiah terus berubah—dan ini terjadi berulang-ulang. Malahan, kadang-kadang teori-teori telah beralih dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya. Sebagai contoh, para ilmuwan medis pernah menyangka bahwa mengambil darah dari tubuh orang yang sakit parah merupakan hal ilmiah yang harus dilakukan. Belakangan, mereka menyangka bahwa menginfus darah ke dalam tubuh adalah jawabannya. Sekarang, beberapa orang mulai menyadari hikmat untuk tidak melakukan kedua-duanya dan mencari pengobatan alternatif yang mengandung risiko yang lebih kecil.
Jelaslah, yang diketahui para ilmuwan jauh lebih sedikit daripada yang tidak mereka ketahui. The World Book Encyclopedia menyatakan, ”Para ahli botani masih tidak mengetahui secara persis bagaimana cara bekerjanya proses fotosintesis. Para ahli biologi dan biokimia masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan tentang asal-mula kehidupan. Para astronom masih belum dapat membuat penjelasan yang memuaskan tentang asal-mula alam semesta. Ilmuwan dan psikolog medis tidak mengetahui penyebab atau pengobatan kanker atau cara mengobati berbagai penyakit yang disebabkan virus. . . . Para psikolog tidak mengetahui semua penyebab penyakit mental.”
Sains juga terbatas dalam arti bahwa ia tidak dapat lebih baik daripada orang-orang yang mengejarnya. Dengan kata lain, kurangnya pengetahuan seorang ilmuwan diperbesar oleh ketidaksempurnaannya. Pengarang 5000 Days to Save the Planet mendapati bahwa ”berulang-kali . . . organisasi dengan tujuan khusus telah memanipulasi riset, mengubah analisis biaya-manfaat dan menyembunyikan informasi agar dapat menjual produk-produk yang berbahaya atau meneruskan kegiatan yang merusak lingkungan”.
Bahkan meskipun mayoritas ilmuwan bersifat jujur, ini tetap bukan alasan untuk menempatkan mereka atau kegiatan mereka di atas segala-galanya. ”Mereka pun sama seperti orang-orang lain,” debat Edward Bowen, seorang ilmuwan kelahiran Inggris. ”Mereka semua memiliki kelemahan. Ada yang berdedikasi, ada yang tak bermoral, ada yang berotak cemerlang, ada pula yang bodoh. Saya kenal beberapa ilmuwan ternama, pria-pria yang telah melakukan kebaikan yang luar biasa besar bagi dunia. Dan meskipun saya belum pernah mengenal seorang ilmuwan pun yang pernah dipenjara, saya kenal beberapa ilmuwan yang sebenarnya sangat pantas untuk itu.”
Jelaslah, karena banyaknya keterbatasan, sains zaman modern tidak dapat menjawab tantangan abad ke-21 secara memuaskan. Ini terutama karena kegagalannya dalam melindungi lingkungan, dan sebaliknya daripada menyingkirkan perang dari bumi, sains turut merancang senjata yang dapat membinasakan secara besar-besaran.
Tindakan Urgen Dibutuhkan
Setiap orang setuju bahwa suatu tindakan harus segera diambil. Pada bulan November yang lalu, sebuah kelompok terdiri dari 1.575 ilmuwan, termasuk 99 pemenang hadiah Nobel, mengeluarkan pernyataan berjudul ”Peringatan Ilmuwan Sedunia kepada Umat Manusia” yang di dalamnya mereka menulis, ”Tinggal satu atau beberapa dekade lagi sebelum kesempatan untuk mencegah ancaman yang sekarang kita hadapi akan hilang dan prospek bagi umat manusia akan musnah sama sekali.” Mereka menambahkan, ”Umat manusia dan dunia ini berada dalam haluan yang saling bertentangan.”
Peringatan serupa pernah dikumandangkan sebelumnya. Sebenarnya, pada tahun 1952, Bertrand Russell, seorang filsuf Inggris abad ke-20 sekaligus pelopor sains, mengatakan, ”Jika kehidupan manusia ingin berlanjut meskipun ada sains, umat manusia harus belajar mendisiplin nafsu yang, di masa lalu, tidak perlu. Manusia harus tunduk kepada hukum, meskipun bila mereka menganggap bahwa hukum itu tidak adil dan tidak jujur. . . . Jika itu tidak terjadi, umat manusia akan musnah, dan akan musnah sebagai akibat sains. Pilihan yang jelas harus dibuat dalam waktu lima puluh tahun, pilihan antara Nalar dan Maut. Melalui kata ’Nalar’, saya memaksudkan kerelaan untuk tunduk kepada hukum yang dinyatakan oleh suatu wewenang internasional. Saya khawatir bahwa umat manusia kemungkinan akan memilih Maut. Saya harap saya keliru.”
Kenyataannya adalah bahwa orang-orang yang bersedia diatur oleh standar-standar yang adil-benar sekarang ini sangat langka. Almarhum tokoh hak-hak sipil bernama Martin Luther King dengan tepat berkata, ”Kekuatan ilmiah kita telah melampaui kekuatan rohani kita. Kita telah mengarahkan peluru-peluru kendali dan salah mengarahkan orang.” Namun, Russell tanpa ia sadari sebenarnya telah menemukan jalan keluar atas problem-problem dunia ketika ia mengatakan bahwa umat manusia harus ”tunduk kepada hukum yang dinyatakan oleh suatu wewenang internasional”.
Siapa yang Dapat Memecahkan Problem Itu?
Memang, Bertrand Russell tidak mengacu kepada suatu wewenang ilahi sewaktu ia berbicara mengenai hukum dengan menyatakannya sebagai wewenang internasional. Namun, kepatuhan kepada hukum dari wewenang semacam itu adalah yang benar-benar dibutuhkan. Hukum dan wewenang manusia jelas bukan jalan keluarnya. Mereka tidak akan pernah dapat mengubah dunia dan mencegah bencana. Catatan suram dari sejarah membuktikan bahwa umat manusia membutuhkan pemerintahan ilahi.c
Sesungguhnya, hanya Allah Yang Mahakuasa, yang bernama Yehuwa, dapat menyediakan suatu wewenang internasional dengan kekuatan dan kesanggupan untuk menjawab tantangan abad ke-21. (Mazmur 83:18) Wewenang yang harus ditaati semua orang jika mereka ingin memperoleh kehidupan adalah Kerajaan Allah, yang adalah pemerintahan surgawi atas dunia yang didirikan oleh sang Pencipta, Allah Yehuwa.
Lama berselang, Alkitab telah memberi tahu sebelumnya sehubungan pemerintahan ini, ”Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang . . . Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan.” (Yesaya 9:5, 6) Anak yang dinubuatkan ini, Yesus Kristus, dikandung secara mukjizat oleh perawan Maria dan dilahirkan di Betlehem Yudea.—Lukas 1:30-33.
Semasa di bumi, Yesus mengajar para pengikutnya untuk mendoakan pemerintahan Allah sewaktu ia berkata, ”Karena itu berdoalah demikian: . . . Datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga.” (Matius 6:9, 10) Hanya roh kudus, atau tenaga aktif yang berkuasa dari Allah Yehuwa yang dapat membantu orang-orang yang rela untuk membuat perubahan yang dibutuhkan dalam kehidupan mereka agar selaras dengan hukum yang adil-benar dari pemerintahan-Nya. Sains tidak dapat melakukannya. Perselisihan dan kebingungan selama ribuan tahun membuktikan bahwa sains tidak dapat melakukannya.
Allah Yehuwa, yang tanpa batas memiliki pengetahuan ilmiah yang saksama, akan memastikan bahwa bumi menikmati keadaan-keadaan Firdaus, bahkan sebagaimana yang pernah ada di taman Eden, sewaktu Ia menciptakan pasangan manusia pertama. Pada waktu itu Ia menginstruksikan mereka, ”Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu.” (Kejadian 1:28) Meskipun mereka gagal untuk patuh dan tidak melaksanakan penugasan mereka, Allah Yehuwa akan memastikan bahwa maksud-tujuan-Nya yang semula untuk menjadikan bumi ini firdaus akan digenapi. ”Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya,” kata-Nya. (Yesaya 46:11) Namun kapan maksud-tujuan Allah yang semula bagi bumi ini akan digenapi?
Yesus Kristus dan para rasulnya melukiskan keadaan-keadaan yang akan terjadi di bumi pada ”hari-hari terakhir”, sesaat sebelum Kerajaan Allah menggantikan semua pemerintahan manusia. (2 Timotius 3:1-5; Matius 24:3-14, 37-39; 2 Petrus 3:3, 4) Apabila seseorang membaca nubuat-nubuat Alkitab yang dikutip di sini dan membandingkannya dengan peristiwa-peristiwa dunia, maka jelas bahwa kita sedang hidup pada masa manakala Kerajaan Allah akan bertindak sebagaimana dilukiskan di dalam Alkitab di Daniel 2:44, ”Pada zaman raja-raja [pemerintahan manusia yang sekarang memerintah], Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya.”
Kehidupan di Masa Depan yang Mendekat
Bayangkanlah apa artinya hal itu bagi masa depan yang sudah dekat ini! Alangkah menakjubkan hal-hal yang tersedia bagi umat manusia pada abad yang mendatang, atau bahkan sebelumnya! Pengaruh-pengaruh buruk selama ribuan tahun dari pemerintahan manusia yang tidak sempurna, agama yang munafik, perdagangan yang tamak, dan sains dunia ini akan digantikan oleh pemerintahan ilahi, yang akan memberkati umat manusia melampaui apa yang dapat mereka bayangkan.
Beginilah Alkitab menggambarkan peristiwa-peristiwa yang pasti akan berlangsung dalam dunia baru Allah yang adil-benar, ”Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umatNya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”—Wahyu 21:3, 4.
Oleh karena itu, hal yang terpenting bagi Anda adalah sadar akan penghitungan mundur yang berakhir dengan cepat pada kebinasaan sistem dunia ini yang ada di bawah kendali penguasa dunia yang tidak kelihatan dan berkuasa, Setan si Iblis. (Yohanes 12:31; 2 Korintus 4:3, 4) Alangkah penting bagi Anda untuk mempelajari kehendak Allah dan melakukannya, karena Alkitab menjanjikan, ”Dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.”—1 Yohanes 2:17.
Maka, selagi masih ada waktu, semoga Anda dengan bijaksana memanfaatkan persediaan Yehuwa untuk keselamatan. Dengan demikian, Anda akan mendapat hak istimewa untuk menikmati kehidupan di masa depan, ya, selama abad ke-21 yang mendatang—juga selama abad ke-22, ke-23, dan abad-abad selanjutnya, selama-lamanya.
[Catatan Kaki]
a Berbicara secara teknik, abad ke-21 akan dimulai pada tanggal 1 Januari 2001. Akan tetapi, pemakaian secara umum menganggap abad pertama dimulai dari tahun 1 hingga tahun 99 (tidak ada tahun 0); abad ke-2, dari tahun 100 hingga 199; dan selaras dengan itu, abad ke-21, dimulai tahun 2000 hingga 2099.
b Ini adalah bagian terakhir dari enam seri artikel yang membahas sains pada majalah Sedarlah!.
c Ketidakefektifan pemerintahan manusia ditonjolkan dalam rangkaian dari sepuluh artikel di Awake! (8 Agustus hingga 22 Desember 1990) berjudul ”Human Rule Weighed in the Balances (Pemerintahan Manusia Ditimbang dalam Neraca)”.
[Kotak di hlm. 27]
Di Tengah-Tengah Kabar Buruk, Kabar Baik
Meskipun terdapat kemajuan ilmiah, masih terdapat begitu banyak anak yang kelaparan dan orang dewasa yang kurus-kering. Tetapi, tak lama lagi di bawah Kerajaan Mesias Allah, akan terdapat ”tanaman gandum berlimpah-limpah di negeri, bergelombang di puncak pegunungan”.—Mazmur 72:16.
Meskipun terdapat kemajuan ilmiah, penindasan dan kekerasan masih merupakan masalah bagi jutaan orang. Tetapi, tak lama lagi Raja dari Kerajaan Mesias Allah ”akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong. . . . Ia akan menebus nyawa mereka dari penindasan dan kekerasan”.—Mazmur 72:12-14.
Meskipun terdapat kemajuan ilmiah, jumlah tuna wisma, tidak adanya perumahan dan makanan yang memadai, semakin meningkat di seluas dunia. Tetapi tak lama lagi, di bawah Kerajaan Mesias Allah, orang-orang ”akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminya juga . . . Mereka tidak akan mendirikan sesuatu, supaya orang lain mendiaminya, dan mereka tidak akan menanam sesuatu, supaya orang lain memakan buahnya”.—Yesaya 65:21, 22.
Meskipun terdapat kemajuan medis, penyakit yang sebenarnya dapat dicegah terus membunuh jutaan orang. Tetapi, tak lama lagi di bawah Kerajaan Mesias Allah, ”tidak seorangpun yang tinggal di situ akan berkata: ’Aku sakit.’”—Yesaya 33:24.
[Gambar di hlm. 28]
Di mana-mana di seluas bumi, kehidupan akan menjadi kesenangan
[Keterangan]
Atas kebaikan Hartebeespoortdam Snake and Animal Park
-