PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Dapatkah Sains Menjawab Tantangan Abad Ke-21?
    Sedarlah!—1993 | 8 April
    • Dapatkah Sains Menjawab Tantangan Abad Ke-21?

      ”Sekarang terdapat banyak sekali bukti ilmiah untuk menyimpulkan bahwa Bunda Bumi tidak dapat lebih lama lagi mengendalikan anak-anaknya yang tidak peduli dan tidak tahu aturan.”​—The European, 19-25 Maret 1992.

      PARA ahli ekologi semakin gencar mengemukakan pendapat bahwa ancaman terhadap bumi sama sekali bukan sekadar gertak sambal, tetapi serius dan pantas mendapat perhatian. Sesungguhnya, mereka mengatakan bahwa sangatlah penting untuk segera bertindak jika ingin terhindar dari bencana. Presiden Worldwatch Institute pada akhir tahun 1980-an berkata, ”Kita tidak memiliki generasi-generasi, kita hanya memiliki tahun-tahun, untuk berupaya membalikkan keadaan.”

      Para penyunting buku berjudul 5000 Days to Save the Planet (5000 Hari untuk Menyelamatkan Planet Ini) lebih spesifik sewaktu mereka menerbitkan buku tersebut pada tahun 1990. Sejak saat itu, penghitungan mundur mereka berjalan terus. Waktu yang tersisa untuk menyelamatkan planet ini, menurut batas waktu mereka, sekarang bergerak mendekati batas akhir 4.000 hari. Dan menjelang tibanya abad ke-21, kecuali bila terjadi sesuatu yang luar biasa dalam waktu itu, angka tersebut akan berkurang menjadi sekitar 1.500 hari.

      Keadaan luar biasa apa telah menimbulkan krisis yang nyata ini? Tantangan-tantangan apa yang diajukan oleh abad mendatang?

      Tidak Kekurangan Problem

      Para pencinta damai bersukacita bahwa Perang Dingin berakhir. Namun tantangan untuk mencapai dan mempertahankan perdamaian dunia tetap suatu kenyataan. Presiden Mitterrand dari Perancis, yang berbicara pada bulan Januari 1990 mengenai masalah-masalah sehubungan Eropa bersatu, mengatakan, ”Kita sedang meninggalkan dunia yang tidak adil namun stabil, menuju suatu dunia yang kita harapkan akan lebih adil, namun yang pasti akan lebih tidak stabil.” Dan surat kabar The European menulis, ”Harga kebebasan [di negara-negara bekas blok Soviet] semakin tidak stabil, sehingga memperbesar risiko perang nuklir, meskipun sedikit namun tetap ada.”

      Sebenarnya, sebagian tantangan yang sekarang dihadapkan kepada dunia praktis tidak dikenal pada waktu Perang Dingin mulai. Sebagaimana dinyatakan dalam 5000 Days to Save the Planet, ”Tidak sampai lima puluh tahun yang lalu, lingkungan dunia sebagian besar masih dalam keadaan seimbang. . . . Dunia ketika itu tempat yang luas, indah, dan kuat; bagaimana mungkin kita dapat merusaknya? Sekarang, kita diberi tahu bahwa planet kita berada dalam krisis, bahwa kita sedang menghancurkan dan mencemari jalan kita menuju ke suatu malapetaka global.”

      Apa yang dinamakan bencana alam​—banjir, badai, gempa bumi, letusan gunung berapi—​terjadi di mana-mana. Sampai sejauh mana perusakan lingkungan oleh manusia menyebabkan bencana tersebut masih diperdebatkan. Ada bukti bahwa lapisan ozon pelindung bumi di beberapa tempat telah menipis sehingga membahayakan. Perubahan iklim yang dapat menyebabkan tragedi, sebagaimana diperingatkan beberapa ilmuwan zaman sekarang, dapat menghantam secara tiba-tiba, sebaliknya daripada berlangsung secara bertahap.

      Kanker, penyakit jantung, masalah-masalah peredaran darah, dan banyak penyakit lain telah lama menantang keterampilan profesi kedokteran. Meskipun kemajuan medis telah dicapai selama bertahun-tahun, penyakit-penyakit ini masih memautkan. Di Eropa saja, diperkirakan setiap tahun 1.200.000 orang meninggal karena kanker, hampir 65 persen lebih banyak daripada satu dekade yang lalu. Karena ketakutan akan malapetaka baru​—AIDS, yang telah menelan korban jauh lebih sedikit—​angka kematian yang besar ini tidak dipedulikan.

      Tantangan lain: Dalam waktu kurang dari 200 tahun, penduduk dunia telah bertambah dari satu miliar orang menjadi kira-kira lima setengah miliar. Meskipun baru-baru ini terjadi penurunan dalam kecepatan pertumbuhan tahunan, beberapa sumber memperkirakan bahwa pada tahun 2025, penduduk dunia kemungkinan akan melampaui angka delapan miliar, dan pada tahun 2050, penduduk dunia akan mendekati angka sepuluh miliar. Di mana semua orang ini akan tinggal? Apa yang akan mereka makan? Sebuah laporan PBB yang dikeluarkan pada tahun 1991 memperkirakan bahwa satu miliar orang hidup dalam kemiskinan mutlak, kehidupan mereka ”sedemikian dicirikan oleh malnutrisi, buta huruf, dan penyakit sehingga berada di bawah standar normal dari definisi apa pun sehubungan martabat manusia”.

      Paul R. Ehrlich, profesor studi kependudukan di Universitas Stanford, Amerika Serikat, menyatakan besarnya masalah ini, dengan mengatakan, ”Sementara kelebihan penduduk di negara-negara miskin cenderung membuat mereka tetap miskin, kelebihan penduduk di negara-negara kaya cenderung merongrong kapasitas penunjang kehidupan seluruh planet ini.”

      Kemungkinan bahwa faktor-faktor yang disebutkan di atas​—atau faktor-faktor lain seperti penyalahgunaan obat bius, perumahan yang tidak memadai, kejahatan, dan konflik-konflik rasial—​dalam waktu dekat ini dapat menyulut malapetaka global, memberi alasan untuk benar-benar prihatin. Tantangannya jelas. Cara menghadapinya yang belum jelas.

      Mencari Cara-Cara untuk Menanggulanginya

      Meskipun demikian, karena seriusnya problem-problem ini, pemerintah-pemerintah, dengan berbagai tingkat urgensi, sedang mencari jalan keluarnya. Misalnya, dalam bidang lingkungan hidup, pertemuan ekologi terbesar yang pernah diselenggarakan bersidang pada bulan Juni yang lalu di Rio de Janeiro. KTT Bumi yang disponsori PBB ini adalah yang kedua, menyusul yang pertama yang diadakan pada tahun 1972 di Stockholm, Swedia. Pada waktu itu, seorang politisi Jerman ternama mengatakan, ”Konferensi ini dapat menjadi suatu titik balik bagi nasib planet ini.”

      Jelaslah, pertemuan tahun 1972 gagal memenuhi harapan. Maurice F. Strong, ketua panitia dari konferensi tahun 1972 dan juga tahun 1992, mengakui, ”Kita telah belajar dalam 20 tahun ini semenjak pertemuan di Stockholm bahwa peraturan lingkungan, yang merupakan satu-satunya dukungan nyata yang dimiliki lembaga-lembaga lingkungan hidup, memang penting tetapi tidak memadai. Peraturan itu harus disertai perubahan-perubahan yang penting dalam melandasi motivasi perilaku ekonomi kita.”

      Akan tetapi, apakah konferensi tahun 1992 ini terbukti lebih berhasil dalam mencapai ”perubahan-perubahan yang penting” dibandingkan konferensi pada tahun 1972? Dan jika tidak, apakah planet kita masih akan dapat bertahan dalam 20 tahun lagi, hingga tahun 2012, untuk menyelenggarakan KTT Bumi, barangkali yang ketiga?

      Dihadapkan pada Tantangannya yang Terbesar

      Masyarakat pada umumnya menjadi semakin skeptis akan kesanggupan agama dan politik untuk menyelesaikan problem-problem dunia. Tetapi jika bukan agama, jika bukan politik, apa yang dapat menjawab tantangan yang serius dari abad ke-21?

      Sebuah brosur yang diterbitkan oleh Departemen Riset dan Teknologi Republik Federal Jerman memperjelas pertanyaan ini. ”Menangani problem-problem ini menuntut strategi politik yang dapat membantu bukan hanya untuk menghindari perubahan lebih lanjut apa pun yang disebabkan manusia tetapi juga untuk mencegah dampak negatif dari perubahan global. Karena rumitnya problem-problem yang kita hadapi, keputusan politik yang penuh arti hanya akan mungkin bila didasarkan atas penemuan-penemuan ilmiah yang dapat dipercaya dan contoh-contoh peramalan yang dapat diandalkan. Tampaknya, ini menjadi satu-satunya cara untuk menghindari perkembangan-perkembangan yang mahal atau bahkan yang tidak diinginkan dan membawa malapetaka. Penyediaan informasi ini menjadi tantangan terbesar bagi masyarakat ilmiah sekarang ini.”

      Sains telah menghadapi tantangan yang hebat sebelumnya dan telah mengatasinya, setidaknya hingga taraf tertentu. Namun, tidak salah untuk mempertanyakan apakah sains dapat menjawab tantangan unik yang terbentang pada abad ke-21 mendatang. Apakah ada dasar untuk bersikap optimis?

      Dengan senang hati, Sedarlah! memuat serangkaian pembahasan tentang masalah-masalah yang serius ini, yang disajikan dalam sebuah seri artikel yang dimulai pada edisi ini. Berikut ini adalah bagian yang pertama.

      [Gambar di hlm. 4]

      Apa yang dapat dilakukan sains sehubungan polusi, penyakit, dan kelebihan penduduk?

      [Keterangan]

      Foto WHO oleh P. Almasy

      Foto WHO oleh P. Almasy

  • Sains—Pencarian yang Terus-menerus akan Kebenaran
    Sedarlah!—1993 | 8 April
    • Bagian 1

      Sains—Pencarian yang Terus-menerus akan Kebenaran

      ”KAMU akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yohanes 8:32) Kata-kata berhikmat yang sering dikutip ini diucapkan oleh seorang pria yang menurut jutaan orang adalah tokoh terbesar sepanjang masa.a Meskipun sang pembicara mengacu kepada kebenaran secara religius, dalam hal-hal tertentu, kebenaran dalam bidang apa pun dapat memerdekakan orang.

      Kebenaran ilmiah, misalnya, telah memerdekakan orang dari banyak gagasan yang salah, seperti bahwa bumi itu datar, bahwa bumi adalah pusat alam semesta, bahwa panas adalah semacam cairan yang disebut kalori, bahwa udara yang tercemar menyebabkan epidemi penyakit, dan bahwa atom adalah partikel terkecil dari sebuah benda. Penerapan praktis dari kebenaran ilmiah dalam industri, maupun dalam bidang komunikasi dan transportasi, telah memerdekakan orang dari urusan-urusan yang tidak perlu dan, hingga taraf tertentu, dari terbatasnya waktu dan jarak. Kebenaran ilmiah yang diterapkan dalam pengobatan preventif dan perawatan kesehatan telah membantu memerdekakan orang dari kematian sebelum waktunya atau ketakutan yang berlebihan akan penyakit.

      Sains​—Apakah Itu?

      Menurut The World Book Encyclopedia, ”sains meliputi bidang yang luas dari pengetahuan manusia mengenai fakta-fakta yang dijalin oleh prinsip-prinsip (dalil)”. Dapat dimengerti, terdapat berbagai jenis sains. Buku The Scientist mengatakan, ”Dalam teori, hampir setiap jenis ilmu pengetahuan dapat dijadikan ilmiah, karena menurut definisi sebuah cabang ilmu pengetahuan menjadi suatu sains apabila ilmu tersebut dikejar menggunakan metode ilmiah.”

      Ini menimbulkan sedikit kesulitan dalam mendefinisikan secara tepat, di mana suatu sains mulai dan sains yang lain berakhir. Sebenarnya, menurut The World Book Encyclopedia, ”dalam beberapa kasus, sains dapat begitu bertumpang tindih sehingga bidang-bidang antar-disiplin ilmu terbentuk yang merupakan gabungan bagian-bagian dari dua sains atau lebih”. Meskipun demikian, kebanyakan karya referensi menyebutkan empat pembagian utama: ilmu fisika, ilmu biologi, ilmu sosial, serta ilmu matematika dan logika.

      Matematika adalah suatu sains? Ya, jika tidak ada metode pengukuran yang terpadu, cara tertentu untuk menentukan berapa besar, berapa kecil, berapa banyak, berapa sedikit, berapa jauh, berapa dekat, berapa panas, dan berapa dingin, penyelidikan ilmiah yang produktif mustahil dilakukan. Jadi bukan tanpa alasan, matematika telah disebut ”Ratu dan Hamba Sains”.

      Mengenai ilmu fisika, bidang ini mencakup kimia, fisika, dan astronomi. Bagian utama ilmu biologi adalah botani dan zoologi, sedangkan ilmu sosial mencakup antropologi, sosiologi, ekonomi, ilmu politik, dan psikologi. (Lihat kotak pada halaman 8.)

      Suatu pembedaan harus dibuat antara ilmu murni dan ilmu terapan. Ilmu murni sepenuhnya berhubungan dengan fakta dan prinsip ilmiah itu sendiri; sedangkan ilmu terapan berhubungan dengan penerapan praktis. Dewasa ini, ilmu terapan juga dikenal sebagai teknologi.

      Belajar Dengan Sistem Coba-dan-Ralat

      Agama dan sains keduanya adalah contoh-contoh keinginan manusia untuk mengetahui kebenaran. Namun ada perbedaan yang jelas antara cara yang digunakan dalam pencarian akan kebenaran agama dan pencarian akan kebenaran ilmiah. Seorang pencari kebenaran agama mungkin akan berpaling ke Alkitab, Qur’an, Talmud, Wedha, atau Tripitaka, bergantung apakah orang tersebut kristiani, muslim, Yahudi, Hindu, atau Budhis. Di dalamnya, ia akan menemukan apa yang dianggap oleh agamanya sebagai suatu penyingkapan kebenaran agama, kemungkinan berasal dari sumber ilahi dan oleh karenanya dipandang sebagai wewenang akhir.

      Akan tetapi, pencari kebenaran ilmiah tidak mempunyai semacam wewenang akhir untuk berpaling​—berupa buku ataupun pribadi. Kebenaran ilmiah tidak disingkapkan; melainkan ditemukan. Ini menandaskan kebutuhan akan semacam sistem coba-dan-ralat (trial and error), dan sering kali sang pencari kebenaran ilmiah mendapati bahwa upayanya sia-sia belaka. Namun dengan mengikuti empat langkah secara sistematis, ia mengejar suatu pencarian yang berhasil. (Lihat kotak ”Menemukan Kebenaran dengan Cara Ilmiah”.) Meskipun demikian, kemenangan ilmiah dirayakan di atas puing-puing kekalahan ilmiah karena pandangan yang dulunya diterima kini ditolak untuk membuka jalan bagi gagasan-gagasan baru yang dipandang lebih mendekati akurat.

      Meskipun dengan metode untung-untungan ini, para ilmuwan selama berabad-abad membangun sejumlah besar pengetahuan ilmiah yang mengagumkan. Meskipun sering kali keliru, mereka dapat mengoreksi banyak kesimpulan yang tidak akurat sebelum kesalahan yang serius terjadi. Sebenarnya, sepanjang pengetahuan yang salah tetap berada dalam kawasan ilmu murni, bahaya timbulnya kerugian yang serius adalah minim. Namun bila upaya-upaya dibuat untuk mentransformasikan ilmu murni yang sangat keliru ke dalam ilmu terapan, hasilnya dapat mendatangkan malapetaka.

      Sebagai contoh, perhatikan teknologi ilmiah yang memungkinkan dikembangkannya insektisida. Ini dianggap bernilai tinggi sampai riset ilmiah lebih lanjut menyingkapkan bahwa beberapa dari antaranya menyisakan residu yang membahayakan kesehatan manusia. Dalam komunitas tertentu dekat Laut Aral, yang terletak di Uzbekistan dan Kazakhstan, ternyata penggunaan yang meluas dari insektisida demikian berhubungan dengan angka kanker saluran pernapasan sebesar tujuh kali dari rata-rata nasional.

      Karena kemudahan yang ditawarkannya, semprotan aerosol menjadi cukup populer​—sampai penyelidikan ilmiah menyimpulkan bahwa bahan-bahan ini menyumbang kepada kerusakan lapisan ozon pelindung bumi, sesungguhnya, lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya. Karenanya, pencarian akan kebenaran ilmiah adalah proses yang terus-menerus. ”Kebenaran” ilmiah masa sekarang mungkin dianggap gagasan-gagasan yang keliru di masa depan, dan bahkan mungkin gagasan-gagasan masa lalu yang berbahaya.

      Mengapa Sains Seharusnya Membuat Kita Tertarik

      Sains dan teknologi telah banyak berperan dalam menciptakan struktur dunia modern kita. Frederick Seitz, mantan presiden Lembaga Sains Nasional A.S. mengatakan, ”Sains yang berawal pada mulanya sebagai petualangan pikiran, sekarang menjadi salah satu pilar yang terutama dalam gaya hidup kita.” Dengan demikian, riset ilmiah dewasa ini berpadanan dengan kemajuan. Siapa pun yang meragukan perkembangan sains yang terbaru mengambil risiko dicap sebagai ”anti-kemajuan”. Akhirnya, apa yang orang sebut kemajuan sains bagi mereka adalah apa yang memisahkan orang-orang yang beradab dari yang tidak beradab.

      Maka, tidak mengherankan bahwa penyair Inggris abad ke-20 bernama W. H. Auden menyatakan, ”Orang-orang yang penuh inisiatif dalam arti yang sesungguhnya di zaman kita, mereka yang mengubah dunia, bukanlah politikus dan negarawan, melainkan para ilmuwan.”

      Segelintir orang yang menyangkal bahwa dunia membutuhkan perubahan. Namun apakah sains sanggup menjalankan tugas itu? Dapatkah sains menemukan kebenaran ilmiah yang diperlukan untuk mengatasi tantangan unik yang terbentang pada abad ke-21? Dan dapatkah kebenaran-kebenaran ini dipelajari agar dapat membebaskan umat manusia dari rasa takut akan suatu malapetaka sedunia yang mendatang?

      Linus Pauling, memenangkan hadiah Nobel dua kali, mengatakan, ”Setiap orang yang hidup di dunia ini perlu memiliki tingkat pengetahuan tentang alam dan dampak sains.” Dengan tujuan menyediakan tingkat pengertian yang penting demikian kepada para pembaca, kami mempersembahkan seri ”Sains​—Pencarian yang Terus-Menerus akan Kebenaran”. Pastikan untuk membaca artikel kami berikut ini.

      [Catatan Kaki]

      a Kristus Yesus. Lihat buku Tokoh Terbesar Sepanjang Masa, diterbitkan tahun 1991 oleh Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.

      [Kotak/Gambar di hlm. 7]

      MENEMUKAN KEBENARAN DENGAN CARA ILMIAH

      1. Amati apa yang terjadi.

      2. Berdasarkan pengamatan tersebut, susunlah suatu teori yang kemungkinan mendekati kebenaran.

      3. Ujilah teori itu dengan pengamatan lebih lanjut dan dengan eksperimen.

      4. Perhatikan untuk mengetahui apakah dugaan yang didasarkan atas teori terbukti benar.

      [Kotak/Gambar di hlm. 8]

      DEFINISI SAINS

      ANTROPOLOGI adalah studi tentang manusia ditinjau dari sudut pandangan biologis, sosial, dan kebudayaan.

      ASTRONOMI adalah studi tentang bintang, planet, dan benda-benda alam lainnya di ruang angkasa.

      BIOLOGI adalah studi tentang cara kerja mahkluk hidup dan klasifikasi tanaman serta binatang.

      BOTANI, salah satu dari dua cabang utama biologi, yaitu studi tentang dunia tumbuhan.

      KIMIA adalah studi tentang sifat dan komposisi zat serta bagaimana mereka bereaksi terhadap satu sama lain.

      MATEMATIKA adalah studi tentang angka, jumlah, bentuk, dan hubungan

      FISIKA adalah studi tentang daya dan sifat seperti cahaya, suara, tekanan, dan gravitasi.

      PSIKOLOGI adalah studi tentang pikiran manusia dan alasan perilaku manusia.

      ZOOLOGI, cabang utama biologi yang kedua, yaitu studi tentang kehidupan binatang.

  • Sains—Pencarian yang Terus-menerus akan Kebenaran
    Sedarlah!—1993 | 8 April
    • Bagian 2

      Sains—Pencarian yang Terus-menerus akan Kebenaran

      Pencarian Mulai

      ”TAK seorang pun tahu siapa yang pertama menemukan api, menciptakan roda, mengembangkan busur dan anak panah, atau mencoba menjelaskan terbit dan tenggelamnya matahari,” kata The World Book Encyclopedia. Namun penemuan, penciptaan, pengembangan, dan penjelasan telah dilakukan, sehingga dunia tidak pernah lagi seperti sediakala.

      Prestasi-prestasi ini merupakan langkah-langkah awal dalam perjalanan mencari kebenaran yang hingga sekarang telah berlangsung selama kira-kira enam ribu tahun. Manusia selalu ingin tahu, ingin memahami benda-benda hidup dan mati di dunia sekitar mereka. Mereka juga berminat untuk menerapkan apa yang mereka pelajari, menggunakannya dengan cara yang praktis demi manfaat mereka sendiri. Rasa haus akan pengetahuan yang bersifat kodrati ini, dan keinginan untuk menerapkannya telah menjadi daya penggerak dalam pencarian yang terus-menerus akan kebenaran ilmiah.

      Tentu saja, upaya yang mula-mula dalam menerapkan pengetahuan ilmiah secara praktis demikian tidak disebut teknologi, sebagaimana yang dikenal dewasa ini. Demikian pula, orang yang melakukan upaya tersebut tidak disebut ilmuwan. Malahan, sains dalam pengertian modern bahkan belum ada selama bagian yang lebih besar dari keberadaan umat manusia. Baru abad ke-14, manakala Chaucer, penyair Inggris menggunakan kata ”sains”, ia hanya memaksudkan segala jenis pengetahuan yang berbeda-beda. Ini selaras dengan etimologi kata tersebut, yang berasal dari istilah bahasa Latin yang artinya ”mengetahui”.

      Ahli Zoologi yang Pertama Membuka Jalan

      Tidak soal apa sebutannya semula, sains berawal di taman Eden segera setelah manusia mulai menyelidiki dunia sekitar mereka. Bahkan sebelum Hawa diciptakan, Adam diberi tugas untuk memberi nama kepada binatang-binatang. Agar dapat memberi nama yang cocok kepada mereka, ia dituntut mempelajari karakter dan kebiasaan binatang-binatang itu dengan saksama. Kita sekarang menyebut hal ini ilmu zoologi.​—Kejadian 2:19.

      Kain, putra sulung Adam dan Hawa, ”mendirikan suatu kota”, jadi ia pasti memiliki pengetahuan ilmiah yang memadai untuk mengembangkan alat-alat yang dibutuhkan. Belakangan, salah seorang keturunannya, Tubal-Kain, dijuluki ”bapa semua tukang tembaga dan tukang besi”. Sejak itu, pengetahuan ilmiah dan teknologi nyata terus berkembang.​—Kejadian 4:17-22.

      Pada waktu Mesir menjadi kuasa dunia​—yang pertama, yang disebutkan Alkitab—​pengetahuan ilmiah telah sedemikian maju sehingga bangsa Mesir mampu membangun piramida-piramida raksasa. Rancangan piramida ini, kata The New Encyclopædia Britannica, ”dicapai dengan sukses hanya setelah diadakan banyak eksperimen, yang di dalamnya masalah-masalah teknik yang besar telah dapat dipecahkan”. Memecahkan masalah-masalah ini membutuhkan pengetahuan matematika yang kuat dan menunjukkan adanya berbagai keterampilan ilmiah tertentu yang saling berkaitan.

      Tentu saja, keingintahuan ilmiah tidak terbatas hanya pada bangsa Mesir. Orang-orang Babilonia, selain mengembangkan kalender, juga menyusun sistem bilangan dan ukuran. Di Timur Jauh, peradaban Cina memberi sumbangan ilmiah yang berharga. Dan nenek moyang masa awal suku Inka dan suku Maya di benua Amerika mengembangkan suatu peradaban maju yang belakangan mengejutkan para penjelajah Eropa, yang sama sekali tidak menyangka bahwa prestasi demikian dihasilkan oleh ”penduduk asli yang terbelakang”.

      Akan tetapi, tidak semua hal yang pada mulanya dipandang sebagai kebenaran ilmiah oleh orang-orang zaman dulu ini, terbukti tepat secara ilmiah. The World Book Encyclopedia memberi tahu kita bahwa seraya mengembangkan alat-alat yang bermanfaat yang dihasilkan orang-orang Babilonia untuk riset ilmiah, ”mereka juga mengembangkan ilmu pseudo (semu) yaitu astrologi”.a

      Babilon Ada di Mana-Mana

      Bagi siswa-siswa Alkitab, Babilon (Babel) purba identik dengan ibadat palsu. Dalam astrologi yang dipraktikkan di sana, dipercayai bahwa masing-masing bagian di langit dikuasai oleh dewa-dewa yang berbeda. Alkitab, yang mengajarkan bahwa hanya ada satu Allah yang sejati, benar secara ilmiah sewaktu menolak ilmu pseudo yang dikenal sebagai astrologi.​—Ulangan 18:10-12; 1 Korintus 8:6; 12:6; Efesus 4:6.

      Agama merupakan bagian integral dari kehidupan manusia masa awal. Maka dapat dimengerti bahwa pengetahuan ilmiah tidak berkembang terpisah dari kepercayaan dan gagasan agama. Ini khususnya terlihat dalam dunia ilmu kedokteran.

      ”Dokumen-dokumen purba yang menggambarkan masyarakat dan kedokteran Mesir pada masa Kerajaan Tua,” kata The New Encyclopædia Britannica, ”memperlihatkan bahwa ilmu gaib dan agama berhubungan secara integral dengan praktik kedokteran yang dipelajari secara empiris dan rasional dan bahwa kepala ahli sihir dari istana firaun juga sering bertindak sebagai kepala tabib negara.”

      Selama dinasti yang ketiga di Mesir, seorang arsitek kenamaan bernama Imhotep mendapat kedudukan terkemuka sebagai tabib yang sangat mahir. Kurang dari satu abad setelah kematiannya, ia disembah sebagai dewa obat Mesir. Menjelang akhir abad keenam S.M., ia telah ditinggikan menjadi salah satu dewa utama. Britannica mengatakan bahwa kuil-kuil yang dibaktikan kepadanya ”sering kali dipadati orang-orang sakit yang berdoa dan tidur di sana dengan keyakinan bahwa sang dewa akan menyingkapkan cara pengobatan kepada mereka melalui mimpi mereka”.

      Dukun-dukun dari Mesir dan Babilonia sangat dipengaruhi oleh gagasan-gagasan agama. ”Teori tentang penyakit yang ada pada waktu itu, dan bagi generasi-generasi berikutnya,” kata The Book of Popular Science, ”adalah bahwa demam, infeksi, rasa sakit dan nyeri disebabkan oleh roh-roh jahat, atau hantu-hantu, yang merasuki tubuh.” Untuk alasan itu, perawatan medis pada umumnya mencakup persembahan keagamaan, mantera-mantera, atau jampi-jampi.

      Pada waktunya, selama abad keempat dan kelima S.M., seorang tabib Yunani bernama Hipokrates menantang pandangan ini. Ia khususnya terkenal karena sumpah Hipokrates, yang masih secara luas dipandang sebagai perwujudan dari kode etik kedokteran. Buku berjudul Moments of Discovery​—The Origins of Science menyatakan bahwa Hipokrates juga termasuk ”di antara orang-orang pertama yang bersaing dengan para imam dalam mencari penjelasan tentang penyakit-penyakit manusia”. Dengan mempraktikkan kedokteran dalam semangat ilmiah, ia mencari penyebab alami dari penyakit-penyakit. Alasan dan pengalaman mulai mengambil alih takhayul dan reka-rekaan agama.

      Dengan menolak gagasan yang salah dari agama palsu, Hipokrates mengambil langkah ke arah yang benar. Meskipun demikian, bahkan dewasa ini kita diingatkan akan latar belakang religius dari ilmu kedokteran. Lambangnya sendiri, yaitu tongkat berlilitkan ular milik Asclepius, dewa obat Yunani, dapat ditelusuri kembali ke kuil-kuil penyembuhan purba tempat ular-ular suci dipelihara. Menurut The Encyclopedia of Religion, ular-ular ini melambangkan ”kapasitas untuk memperbarui kehidupan dan kelahiran kembali dalam kesehatan”.

      Hipokrates belakangan menjadi terkenal sebagai bapak ilmu kedokteran. Namun ini tidak menghalanginya untuk sekali-kali membuat kesalahan ilmiah. The Book of Popular Science memberi tahu kita bahwa beberapa dugaannya yang tidak masuk akal ”kelihatannya sangat fantastis bagi kita dewasa ini” namun memperingatkan kesombongan dunia kedokteran, dengan mengatakan, ”Beberapa teori kedokteran yang sekarang paling terbukti benar kemungkinan akan dipandang fantastis oleh manusia yang hidup pada generasi yang akan datang.”

      Maju Selangkah demi Selangkah

      Jadi, penemuan kebenaran ilmiah telah dicapai secara bertahap, membutuhkan pemisahan fakta-fakta dari teori-teori yang keliru selama berabad-abad. Namun untuk memungkinkan hal ini, penemuan dari satu generasi harus diteruskan secara saksama kepada generasi berikutnya. Jelaslah, satu cara untuk melakukan ini adalah dari mulut-ke-mulut, karena manusia diciptakan dengan kesanggupan berbicara.​—Bandingkan Kejadian 2:23.

      Akan tetapi, meneruskan pengamatan dengan metode tersebut, tidak akan pernah dapat diandalkan secara memadai agar dapat menyediakan kesaksamaan yang dituntut untuk mendapatkan kemajuan ilmiah dan teknologi. Jelaslah ada kebutuhan untuk menyimpan informasi dalam bentuk tulisan.

      Kapan persisnya umat manusia mulai menulis tidak diketahui. Namun begitu mereka mulai menulis, tersedialah bagi mereka suatu proses yang menakjubkan untuk meneruskan informasi yang dapat digunakan orang lain sebagai landasan pengembangan. Sebelum kertas diciptakan​—kemungkinan di Cina sekitar tahun 105 M.​—menulis dilakukan di atas bahan-bahan seperti lempeng tanah liat, papirus, dan perkamen.

      Kemajuan ilmiah yang berarti tidak akan mungkin dicapai tanpa sistem bilangan dan ukuran. Pentingnya pengembangan sistem-sistem ini tidak dibesar-besarkan. Menyebut penerapan matematika mempunyai ”ruang lingkup universal”, The Book of Popular Science mengingatkan kita bahwa ”analisanya telah menuntun kepada banyak kemajuan ilmiah yang paling penting”. Matematika juga berfungsi ”sebagai alat yang sangat berharga bagi ahli kimia, ahli fisika, ahli astronomi, insinyur, dan lain-lain”.

      Selama berabad-abad, faktor-faktor lain telah menambahkan momentum kepada pencarian akan kebenaran ilmiah. Perjalanan, misalnya. The Book of Popular Science menjelaskan, ”Manusia yang pergi mengunjungi negeri-negeri asing kemungkinan besar akan mempertajam rasa ingin tahunya akibat pemandangan, suara, aroma, dan rasa yang baru. Ia akan tergugah untuk bertanya mengapa segala sesuatu begitu berbeda di negeri asing; dan dalam upaya memuaskan keingintahuannya, ia akan memperoleh hikmat. Demikianlah halnya dengan bangsa Yunani purba.”

      Ya, Pengaruh Yunani yang Terus Ada

      Bacalah sejarah agama, politik, atau perdagangan dan Anda akan mendapati bahwa Yunani lebih dari sekadar disebutkan secara sekilas. Dan siapa yang belum pernah mendengar tentang tokoh-tokoh terkenal mereka yang disebut para filsuf, suatu istilah yang berasal dari kata Yunani phi·lo·so·phiʹa, yang berarti ”kasih akan hikmat”? Perasaan kasih akan hikmat dan haus akan ilmu pengetahuan bangsa Yunani begitu terkenal di abad pertama ketika rasul Kristen Paulus mengunjungi negeri mereka. Ia mengacu kepada filsuf-filsuf Epikuros dan Stoa, yang seperti ”orang-orang Atena dan orang-orang asing yang tinggal di situ tidak mempunyai waktu untuk sesuatu selain untuk mengatakan atau mendengar segala sesuatu yang baru”.​—Kisah 17:​18-21.

      Jadi, sama sekali tidak mengherankan bahwa dari semua masyarakat purba, bangsa Yunani meninggalkan warisan yang terbesar bagi sains. The New Encyclopædia Britannica menguraikan, ”Upaya filsafat Yunani untuk menyediakan sebuah teori tentang alam semesta guna menggantikan kosmologi berdasarkan mitos akhirnya mengarah kepada penemuan-penemuan ilmiah praktis.”

      Sebenarnya, beberapa filsuf Yunani memberikan sumbangan yang berharga kepada pencarian akan kebenaran ilmiah. Mereka berjuang untuk membabat gagasan dan teori yang salah dari para pendahulu mereka, seraya pada waktu yang sama membangun di atas landasan yang mereka anggap benar. (Lihat kotak untuk contoh-contoh.) Jadi, para filsuf Yunani masa lalu mempunyai cara berpikir paling mirip dengan ilmuwan masa kini dibandingkan dengan bangsa purba mana pun. Secara kebetulan, hingga relatif baru-baru ini, istilah ”filsafat alam” digunakan untuk menggambarkan cabang-cabang sains yang berbeda-beda.

      Pada waktunya, bangsa Yunani pencinta filsafat ditaklukkan secara politik oleh Imperium Roma yang baru berdiri. Apakah ini memberi dampak atas kemajuan ilmiah? Ataukah munculnya kekristenan membuat perbedaan? Bagian 3 dalam terbitan kami berikutnya akan menjawab pertanyaan ini.

      [Catatan Kaki]

      a Astrologi, suatu studi tentang pergerakan benda-benda langit karena percaya bahwa benda-benda tersebut mempengaruhi kehidupan manusia atau meramalkan masa depan, hendaknya tidak dikacaukan dengan astronomi, yang adalah studi ilmiah tentang bintang, planet, dan benda-benda alam lain di ruang angkasa tanpa konotasi spiritisme apa pun.

      [Kotak di hlm. 11]

      ”Para Ilmuwan” Yunani Pra-Kristen

      THALES dari Miletus (abad keenam), khususnya dikenal karena karyanya di bidang matematika dan karena keyakinannya bahwa air adalah inti segala benda, memiliki pendekatan kritis terhadap kerangka kosmik yang dikatakan oleh The New Encyclopædia Britannica sebagai hal yang ”penting dalam pengembangan gagasan ilmiah”.

      Socrates (abad kelima) disebut oleh The Book of Popular Science sebagai ”pencipta metode penelitian​—dialektika—​yang sangat mendekati metode ilmiah yang benar”.

      Democritus dari Abdera (abad kelima hingga keempat) turut meletakkan dasar bagi teori atom dari alam semesta serta teori-teori tentang kekekalan materi (zat) dan konservasi energi.

      Plato (abad kelima hingga keempat) mendirikan Akademi di Atena sebagai suatu lembaga untuk mengadakan riset filsafat dan sains secara sistematis.

      Aristoteles (abad keempat), ahli biologi terkenal, membentuk Lyceum, sebuah lembaga ilmiah yang mengadakan penelitian dalam banyak bidang. Selama lebih dari 1.500 tahun, gagasan-gagasannya mendominasi pemikiran ilmiah, dan ia dianggap sebagai pakar ilmiah yang tertinggi.

      Euclid (abad keempat), ahli matematika yang terkemuka pada zaman dulu, sangat terkenal karena pengumpulan pengetahuan tentang ”geometri”, yang berasal dari sebuah kata Yunani yang berarti ”pengukuran tanah”.

      Hiparkhus dari Nicaea (abad kedua), astronom terbaik dan penemu trigonometri, mengklasifikasikan ukuran bintang-bintang menurut kecemerlangannya, suatu sistem yang pada dasarnya masih digunakan. Ia adalah pendahulu Ptolemeus, ahli geografi dan astronom terkenal dari abad kedua M., yang mengembangkan penemuan Hiparkhus dan mengajarkan bahwa bumi adalah pusat alam semesta.

      [Gambar di hlm. 12]

      Tongkat berlilitkan ular milik Asclepius, suatu pengingat bahwa sains tidak berkembang terpisah dari pengaruh agama

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan