-
BenihPemahaman Alkitab, Jilid 1
-
-
Berbagai corak rahasia Allah tentang ’benih’ wanita yang dijanjikan disingkapkan secara bertahap. Pertanyaan yang harus dijawab adalah: Apakah benih itu surgawi atau bumiah? Jika rohani atau surgawi, apakah benih itu juga akan menjalani kehidupan di bumi? Apakah benih itu satu atau banyak? Bagaimana benih itu akan membinasakan Ular dan membebaskan umat manusia?
-
-
BenihPemahaman Alkitab, Jilid 1
-
-
’Benih wanita’ bersifat rohani. Maka tidak soal pandangan orang-orang yang setia pada zaman dahulu tentang hal tersebut, berdasarkan Kitab-Kitab Kristen jelas bahwa ’benih wanita’ yang dijanjikan tidak mungkin hanya manusia belaka karena ia harus dapat ’meremukkan kepala’ musuh rohani itu, yaitu pribadi malaikat itu, si Iblis. ’Benih’ itu haruslah suatu pribadi roh yang perkasa. Bagaimana caranya pribadi itu dihasilkan, dan siapa gerangan ’ibunya’, yang adalah ”wanita” itu?
Selanjutnya, ’benih’ yang dijanjikan itu disebutkan lagi dalam catatan Alkitab lebih dari 2.000 tahun kemudian, kepada Abraham yang setia. Abraham adalah keturunan Sem, dan dalam nubuat sebelumnya, Nuh pernah menyebut Yehuwa sebagai ”Allah Sem”. (Kej 9:26) Hal itu menunjukkan bahwa Allah berkenan kepada Sem. Pada zaman Abraham, ’benih’ yang dijanjikan itu dinubuatkan akan datang melalui Abraham. (Kej 15:5; 22:15-18) Berkat yang diberikan imam Melkhizedek kepada Abraham lebih meneguhkan hal itu. (Kej 14:18-20) Pernyataan Allah kepada Abraham tidak hanya menyingkapkan bahwa Abraham akan mempunyai keturunan, tetapi juga bahwa ’benih’ yang dijanjikan dalam nubuat itu, sang pembebas, akan datang melalui garis keturunan manusia di bumi.
Hanya satu orang yang dinubuatkan. Sewaktu membahas tentang keturunan Abraham dan orang-orang lain, kata Ibrani dan kata Yunani yang digunakan adalah dalam bentuk tunggal, dan biasanya kata itu menunjuk ke keturunan dalam arti kolektif. Tampaknya ada satu alasan yang kuat mengapa kata yang begitu sering digunakan sehubungan dengan keturunan Abraham adalah kata kolektif zeʹraʽ, ”benih”, dan bukan ba·nimʹ, ”putra-putra” (tunggal ben), yang jelas-jelas berbentuk jamak. Rasul Paulus khusus menyebutkan fakta tersebut ketika ia menjelaskan bahwa ketika Allah berbicara tentang berkat yang akan datang melalui benih Abraham, Ia terutama memaksudkan satu orang, yaitu Kristus. Paulus mengatakan, ”Janji-janji itu telah disampaikan kepada Abraham dan kepada benihnya. Tidak dikatakan [atau, Ia tidak mengatakan]: ’Dan kepada benih-benih [Yn., sperʹma·sin]’, seperti kepada banyak benih, tetapi seperti kepada satu: ’Dan kepada benihmu [Yn., sperʹma·tiʹ]’, yang adalah Kristus.”—Gal 3:16, Rbi8, ctk.
Beberapa pakar mengajukan keberatan atas pernyataan Paulus tentang penggunaan ”benih” dalam bentuk tunggal dan jamak. Mereka menyatakan bahwa kata Ibrani untuk ”benih” (zeʹraʽ), apabila digunakan untuk keturunan, tidak pernah berubah bentuknya; hal ini mirip dengan kata bahasa Indonesia ”gandum”. Selain itu, kata kerja dan kata sifat yang menyertainya tidak menunjukkan bahwa kata untuk ”benih” itu mengandung arti tunggal atau jamak. Walaupun argumen itu benar, ada faktor lain yang menunjukkan bahwa penjelasan Paulus akurat dari sudut tata bahasa maupun doktrin. Sewaktu menjelaskan faktor tersebut, Cyclopædia karya M’Clintock dan Strong (1894, Jil. IX, hlm. 506) menyatakan, ”Sehubungan dengan pronomina, strukturnya sama sekali berbeda dengan kedua kata yang mendahuluinya [maksudnya, kata kerja dan kata sifat yang digunakan bersama kata ”benih”]. Pronomina tunggal [yang digunakan dengan zeʹraʽ] menandai suatu individu, pribadi tunggal, atau satu di antara banyak; sedangkan pronomina jamak menyatakan semua keturunan. Peraturan itu selalu diikuti oleh Sept[uaginta] . . . Petrus memahami struktur kalimat tersebut, sebab kita melihat bahwa dia menyebutkan suatu benih tunggal sebagai kesimpulan dari Kej. xxii, 17, 18, ketika ia berbicara kepada orang-orang Yahudi asli di kota Yerusalem sebelum pertobatan Paulus (Kisah iii, 26), sesuai dengan contoh Daud seribu tahun sebelumnya (Mz. lxxii, 17).”
Karya referensi itu menambahkan, ”Perbedaan yang Paulus buat bukanlah antara satu benih dan benih yang lain, melainkan antara satu benih itu dan banyak benih; dan jika kita mempertimbangkan bahwa ia mengutip ayat yang sama dengan yang Petrus kutip [yang disebutkan sebelumnya], argumennya sangat didukung oleh pronomina ’-nya’ dalam ’musuh-musuhnya [bukan musuh-musuh mereka]’. Benih dengan pronomina tunggal persis sepadan dengan putra.”
Sebagai ilustrasi dalam bahasa Indonesia, istilah ”keturunanku” bisa memaksudkan satu atau banyak anak. Tetapi jika istilah itu kemudian diikuti oleh kata ”dia” yang menunjuk kepada keturunan tersebut, jelas bahwa yang dimaksudkan adalah satu anak.
Janji kepada Abraham bahwa semua keluarga di bumi akan memperoleh berkat melalui ’benihnya’, tidak mungkin memaksudkan melalui semua keturunan Abraham, karena keturunan Ismael, putranya, dan juga keturunan putra-putra Abraham melalui Ketura tidak digunakan untuk memberkati umat manusia. Benih yang membawa berkat itu akan datang melalui Ishak. ”Karena melalui Ishak-lah apa yang disebut benihmu akan muncul,” firman Yehuwa. (Kej 21:12; Ibr 11:18) Janji itu kemudian dipersempit lagi ketika, dari antara kedua putra Ishak, yaitu Yakub dan Esau, Yakub mendapat berkat khusus. (Kej 25:23, 31-34; 27:18-29, 37; 28:14) Selanjutnya, Yakub lebih membatasi janji itu dengan menunjukkan bahwa orang-orang akan dikumpulkan ke Syilo (yang artinya ”Dia yang Empunya; Dia yang Memiliki”) dari suku Yehuda. (Kej 49:10) Lalu, dari seluruh suku Yehuda, garis keturunan Daud saja yang dipilih untuk menurunkan benih yang akan datang. (2Sam 7:12-16) Pembatasan tersebut diketahui oleh orang Yahudi pada abad pertama M, yang benar-benar mengharapkan satu orang akan datang sebagai Mesias atau Kristus, sebagai pembebas (Yoh 1:25; 7:41, 42), meskipun mereka juga berpikir bahwa mereka, sebagai keturunan, atau benih, Abraham adalah bangsa yang diperkenan itu dan, dengan demikian adalah anak-anak Allah.—Yoh 8:39-41.
-