-
Hamba-Hamba Yehuwa yang BerbahagiaMenara Pengawal—2004 | 1 November
-
-
Hamba-Hamba Yehuwa yang Berbahagia
”Berbahagialah mereka yang sadar akan kebutuhan rohani mereka.”—MATIUS 5:3.
1. Apa kebahagiaan sejati itu, dan apa yang dicerminkan olehnya?
KEBAHAGIAAN adalah harta yang tak ternilai bagi umat Yehuwa. Sang pemazmur Daud berseru, ”Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah Yehuwa!” (Mazmur 144:15) Kebahagiaan adalah perasaan sejahtera. Kebahagiaan terdalam—yang menjangkau setiap sudut batin kita—timbul dari kesadaran bahwa kita diberkati oleh Yehuwa. (Amsal 10:22) Kebahagiaan tersebut mencerminkan hubungan yang akrab dengan Bapak surgawi kita dan kepuasan karena tahu bahwa kita sedang melakukan kehendak-Nya. (Mazmur 112:1; 119:1, 2) Menarik bahwa Yesus menyebutkan sembilan alasan bagi kita untuk berbahagia. Dengan meninjau satu per satu apa yang sering disebut sabda bahagia itu, dalam artikel ini dan berikutnya, kita akan menyadari betapa bahagianya kita jika kita dengan setia melayani ”Allah yang bahagia”, Yehuwa.—1 Timotius 1:11.
Kesadaran akan Kebutuhan Rohani Kita
2. Pada peristiwa apa Yesus berbicara tentang kebahagiaan, dan apa kata-kata pembukaannya?
2 Pada tahun 31 M, Yesus menyampaikan salah satu ceramah yang paling terkenal sepanjang masa. Ceramah itu disebut Khotbah di Gunung karena Yesus menyampaikannya di lereng gunung yang menghadap ke Laut Galilea. Injil Matius mengisahkan, ”Ketika [Yesus] melihat kumpulan orang itu, ia naik ke gunung; dan setelah ia duduk, murid-muridnya datang kepadanya; dan ia membuka mulutnya dan mulai mengajar mereka, demikian, ’Berbahagialah mereka yang sadar akan kebutuhan rohani mereka, karena kerajaan surga milik mereka.’” Jika diterjemahkan secara harfiah, kata-kata pembukaan Yesus itu berbunyi, ”Berbahagialah orang-orang yang adalah pengemis roh.” (Matius 5:1-3; Rbi8, catatan kaki) Terjemahan Baru berbunyi, ”Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah.”
3. Bagaimana kerendahan hati turut membuat kita bahagia?
3 Dalam ceramahnya di lereng gunung itu, Yesus menunjukkan bahwa kita akan jauh lebih berbahagia jika kita sadar bahwa diri kita berkekurangan secara rohani. Karena sepenuhnya menyadari keadaannya yang berdosa, orang Kristen yang rendah hati memohon pengampunan dari Yehuwa berdasarkan korban tebusan Kristus. (1 Yohanes 1:9) Dengan demikian, mereka memperoleh kedamaian pikiran dan kebahagiaan sejati. ”Berbahagialah orang yang pemberontakannya diampuni, yang dosanya ditutup.”—Mazmur 32:1; 119:165.
4. (a) Dengan cara apa saja kita memperlihatkan bahwa kita menyadari kebutuhan rohani kita dan orang lain? (b) Mengapa kita semakin berbahagia sewaktu kita menyadari kebutuhan rohani kita?
4 Kesadaran akan kebutuhan rohani menggerakkan kita untuk membaca Alkitab setiap hari, menyantap makanan rohani yang dibagikan ”pada waktu yang tepat” oleh ”budak yang setia dan bijaksana”, dan menghadiri perhimpunan secara teratur. (Matius 24:45; Mazmur 1:1, 2; 119:111; Ibrani 10:25) Kasih kepada sesama membuat kita sadar akan kebutuhan rohani orang lain dan menggugah kita untuk bersemangat dalam memberitakan dan mengajarkan kabar baik Kerajaan. (Markus 13:10; Roma 1:14-16) Dengan membagikan kebenaran Alkitab kepada orang lain, kita akan berbahagia. (Kisah 20:20, 35) Kebahagiaan kita semakin dalam sewaktu kita merenungkan harapan Kerajaan yang menakjubkan dan berkat-berkat yang akan dihasilkannya. Bagi ”kawanan kecil” orang Kristen terurap, harapan Kerajaan itu berarti kehidupan yang tak berkematian di surga sebagai bagian dari pemerintahan Kerajaan Kristus. (Lukas 12:32; 1 Korintus 15:50, 54) Bagi ”domba-domba lain”, itu berarti kehidupan abadi dalam bumi firdaus di bawah pemerintahan Kerajaan itu.—Yohanes 10:16; Mazmur 37:11; Matius 25:34, 46.
Bagaimana Orang yang Berkabung Dapat Berbahagia
5. (a) Apa maksud ungkapan ”mereka yang berkabung”? (b) Bagaimana mereka yang berkabung itu terhibur?
5 Kata-kata Yesus berikutnya tentang alasan untuk berbahagia tampaknya saling bertentangan. Ia mengatakan, ”Berbahagialah mereka yang berkabung, karena mereka akan dihibur.” (Matius 5:4) Bagaimana seseorang dapat berkabung sekaligus berbahagia? Untuk memahami makna pernyataan Yesus, kita perlu membahas perkabungan macam apa yang ia bicarakan. Sang murid Yakobus menjelaskan bahwa keadaan kita yang berdosa semestinya menjadi alasan untuk berkabung. Ia menulis, ”Tahirkanlah tanganmu, hai, orang-orang berdosa, dan murnikan hatimu, hai, kamu yang bimbang. Bersedihlah, berkabunglah, dan menangislah. Biarlah tertawamu menjadi perkabungan dan sukacitamu menjadi kemurungan. Hendaklah kamu merendahkan diri di hadapan Yehuwa, dan ia akan meninggikan kamu.” (Yakobus 4:8-10) Mereka yang benar-benar sedih karena keadaannya yang berdosa merasa terhibur sewaktu mereka tahu bahwa dosa-dosa mereka dapat diampuni jika mereka memperlihatkan iman akan korban tebusan Kristus dan menunjukkan pertobatan sejati dengan melakukan kehendak Yehuwa. (Yohanes 3:16; 2 Korintus 7:9, 10) Dengan demikian, mereka dapat menjalin hubungan yang berharga dengan Yehuwa dan memiliki harapan untuk hidup selama-lamanya guna melayani dan memuji Dia. Hal ini mendatangkan kebahagiaan batin yang dalam.—Roma 4:7, 8.
6. Dalam pengertian apa beberapa orang berkabung, dan bagaimana mereka dihibur?
6 Pernyataan Yesus juga mencakup mereka yang berkabung karena keadaan memuakkan yang merajalela di bumi. Yesus menerapkan atas dirinya sendiri nubuat di Yesaya 61:1, 2, yang menyatakan, ”Roh Tuan Yang Berdaulat Yehuwa ada padaku, karena Yehuwa telah mengurapi aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang yang lembut hati. Ia telah mengutus aku untuk membalut orang yang patah hati, . . . untuk menghibur semua orang yang berkabung.” Amanat itu juga berlaku atas orang Kristen terurap yang masih ada di bumi, yang melaksanakannya dengan bantuan rekan-rekan mereka, ”domba-domba lain”. Semua ambil bagian dalam pekerjaan membubuhkan tanda secara simbolis pada dahi ”orang-orang yang berkeluh kesah dan mengerang karena semua perkara memuakkan yang dilakukan di tengah-tengahnya [Yerusalem yang murtad, menggambarkan Susunan Kristen]”. (Yehezkiel 9:4) Mereka yang berkabung ini dihibur oleh ”kabar baik kerajaan”. (Matius 24:14) Mereka berbahagia sewaktu mengetahui bahwa sistem Setan yang fasik akan segera diganti dengan dunia baru Allah yang adil-benar.
Berbahagialah yang Berwatak Lembut
7. Istilah ”berwatak lembut” tidak memaksudkan apa?
7 Yesus melanjutkan Khotbah di Gunung dengan mengatakan, ”Berbahagialah orang-orang yang berwatak lembut, karena mereka akan mewarisi bumi.” (Matius 5:5) Orang yang berwatak lembut adakalanya dianggap lemah. Namun, anggapan itu tidak benar. Sewaktu menjelaskan makna dari kata yang diterjemahkan menjadi ”berwatak lembut”, seorang pakar Alkitab menulis, ”Sifat terunggul orang yang [berwatak lembut] adalah ia dapat mengendalikan dirinya secara sempurna. Kata itu tidak memaksudkan kelembutan yang lemah, kasih sayang yang sentimental, ketenangan yang pasif. Itu adalah kekuatan yang terkendali.” Yesus menyatakan tentang dirinya, ”Aku berwatak lembut dan rendah hati.” (Matius 11:29) Namun, Yesus berani membela prinsip-prinsip yang adil-benar.—Matius 21:12, 13; 23:13-33.
8. Watak lembut berkaitan erat dengan apa, dan mengapa kita membutuhkan sifat ini dalam hubungan kita dengan orang lain?
8 Oleh karena itu, watak lembut, atau kelemahlembutan, berkaitan erat dengan pengendalian diri. Sesungguhnya, kelemahlembutan dan pengendalian diri dicantumkan bersama-sama oleh rasul Paulus sewaktu ia menguraikan ”buah roh”. (Galatia 5:22, 23) Kelemahlembutan harus dipupuk dengan bantuan roh kudus. Ini adalah sifat Kristen yang turut menghasilkan perdamaian dengan orang di luar dan di dalam sidang. Paulus menulis, ”Kenakanlah keibaan hati yang lembut, kebaikan hati, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kepanjangsabaran. Teruslah bersabar seorang terhadap yang lain dan ampuni satu sama lain dengan lapang hati.”—Kolose 3:12, 13.
9. (a) Mengapa watak lembut bukan hanya soal hubungan kita dengan orang lain? (b) Bagaimana orang yang berwatak lembut ”mewarisi bumi”?
9 Namun, watak lembut bukan hanya soal hubungan kita dengan sesama manusia. Dengan bersedia menundukkan diri pada kedaulatan Yehuwa, kita mempertunjukkan bahwa kita berwatak lembut. Teladan terbaik dalam hal ini adalah Yesus Kristus, yang sewaktu berada di bumi memperlihatkan watak yang lembut dan ketundukan yang sepenuhnya kepada kehendak Bapaknya. (Yohanes 5:19, 30) Yesus adalah pribadi utama yang mewarisi bumi, karena ia adalah Penguasanya yang terlantik. (Mazmur 2:6-8; Daniel 7:13, 14) Ia berbagi warisan ini dengan 144.000 ”sesama ahli waris”, yang dipilih dari ”antara umat manusia” untuk ”memerintah sebagai raja-raja atas bumi”. (Roma 8:17; Penyingkapan 5:9, 10; 14:1, 3, 4; Daniel 7:27) Kristus dan rekan-rekan penguasanya akan memerintah atas jutaan pria dan wanita yang berwatak seperti domba, yang mengalami penggenapan nubuat mazmur yang membahagiakan ini, ”Orang-orang yang lembut hati akan memiliki bumi, dan mereka akan benar-benar mendapatkan kesenangan yang besar atas limpahnya kedamaian.”—Mazmur 37:11; Matius 25:33, 34, 46.
Berbahagialah Mereka yang Lapar akan Keadilbenaran
10. Dengan salah satu cara apa mereka yang ”lapar dan haus akan keadilbenaran” dapat dikenyangkan?
10 Kebahagiaan berikutnya yang diuraikan oleh Yesus sewaktu ia berbicara di lereng gunung di Galilea adalah, ”Berbahagialah mereka yang lapar dan haus akan keadilbenaran, karena mereka akan dikenyangkan.” (Matius 5:6) Bagi orang Kristen, Yehuwa-lah yang menetapkan standar keadilbenaran. Oleh karena itu, mereka yang lapar dan haus akan keadilbenaran dapat dikatakan lapar dan haus akan bimbingan ilahi. Mereka ini sangat menyadari dosa serta ketidaksempurnaan mereka dan berhasrat untuk mendapatkan kedudukan yang diperkenan Yehuwa. Betapa bahagianya mereka sewaktu belajar dari Firman Allah bahwa jika mereka bertobat dan mengupayakan pengampunan berdasarkan korban tebusan Kristus, mereka bisa memperoleh kedudukan yang adil-benar di hadapan Allah!—Kisah 2:38; 10:43; 13:38, 39; Roma 5:19.
11, 12. (a) Bagaimana orang Kristen terurap memperoleh keadilbenaran? (b) Bagaimana rasa haus akan keadilbenaran dalam diri rekan-rekan kaum terurap dipuaskan?
11 Yesus mengatakan bahwa mereka ini akan berbahagia, karena mereka akan ”dipuaskan”. (Matius 5:6, Terjemahan Baru) Orang Kristen terurap yang dipanggil untuk ”memerintah sebagai raja-raja” bersama Kristus di surga dinyatakan ”adil-benar untuk kehidupan”. (Roma 5:1, 9, 16-18) Yehuwa memperanakkan mereka, mengangkat mereka sebagai putra-putra rohani. Mereka menjadi sesama ahli waris bersama Kristus, dipanggil untuk menjadi raja dan imam dalam pemerintahan Kerajaan surgawinya.—Yohanes 3:3; 1 Petrus 2:9.
12 Rekan-rekan kaum terurap belum dinyatakan adil-benar untuk kehidupan. Namun, Allah menganggap mereka adil-benar hingga taraf tertentu berdasarkan iman mereka akan darah Yesus yang dicurahkan. (Yakobus 2:22-25; Penyingkapan 7:9, 10) Mereka diperhitungkan adil-benar sebagai sahabat Yehuwa yang memiliki prospek untuk diselamatkan pada waktu ”kesengsaraan besar”. (Penyingkapan 7:14) Rasa haus mereka akan keadilbenaran bakal lebih dipuaskan lagi sewaktu, di bawah ”langit baru”, mereka menjadi bagian dari bumi baru ’yang di dalamnya keadilbenaran akan tinggal’.—2 Petrus 3:13; Mazmur 37:29.
Berbahagialah yang Berbelaskasihan
13, 14. Dengan cara praktis apa saja kita hendaknya memperlihatkan bahwa kita berbelas kasihan, dan apa manfaatnya bagi kita?
13 Yesus selanjutnya mengatakan dalam Khotbah di Gunung itu, ”Berbahagialah yang berbelaskasihan, karena mereka akan mendapat belas kasihan.” (Matius 5:7) Dalam dunia hukum, belas kasihan dianggap memaksudkan kelonggaran di pihak seorang hakim sehingga tidak memvonis seorang pelaku kesalahan dengan hukuman terberat menurut undang-undang. Namun, apabila digunakan dalam Alkitab, kata asli yang diterjemahkan menjadi ”belas kasihan” terutama memaksudkan pernyataan perhatian yang baik hati atau rasa kasihan yang memberikan kelegaan kepada orang-orang yang tidak beruntung. Jadi, mereka yang berbelaskasihan memperlihatkan keibaan hati yang aktif. Ilustrasi Yesus tentang orang Samaria yang baik hati merupakan contoh bagus orang yang ”bertindak dengan penuh belas kasihan” kepada orang yang membutuhkan.—Lukas 10:29-37.
14 Untuk merasakan kebahagiaan karena berbelaskasihan, kita perlu melakukan tindakan kebaikan hati yang positif terhadap mereka yang membutuhkan. (Galatia 6:10) Yesus beriba hati terhadap orang-orang yang ia lihat. ”Ia tergerak oleh rasa kasihan kepada mereka, karena mereka bagaikan domba tanpa gembala. Lalu ia mulai mengajarkan banyak hal kepada mereka.” (Markus 6:34) Yesus sadar bahwa kebutuhan terbesar umat manusia adalah kebutuhan rohani. Kita pun dapat membuktikan bahwa kita beriba hati dan berbelas kasihan dengan membagikan apa yang paling dibutuhkan orang-orang—”kabar baik kerajaan”. (Matius 24:14) Kita juga dapat menawarkan bantuan praktis kepada rekan Kristen yang sudah berumur, janda, serta yatim piatu dan ’menghibur jiwa-jiwa yang tertekan’. (1 Tesalonika 5:14; Amsal 12:25; Yakobus 1:27) Hal ini tidak saja membuat kita bahagia, tetapi juga membuat kita menerima belas kasihan Yehuwa.—Kisah 20:35; Yakobus 2:13.
Berhati Murni dan Suka Damai
15. Bagaimana kita dapat berhati murni dan suka damai?
15 Yesus menguraikan kebahagiaan yang keenam dan ketujuh sebagai berikut, ”Berbahagialah yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah yang suka damai, karena mereka akan disebut ’putra-putra Allah’.” (Matius 5:8, 9) Hati yang murni adalah hati yang tidak hanya bersih secara moral tetapi juga tidak ternoda secara rohani dan tidak bercabang dalam mengabdi kepada Yehuwa. (1 Tawarikh 28:9; Mazmur 86:11) Kata dalam bahasa asli yang diterjemahkan menjadi ”suka damai” secara harfiah berarti ”pembawa damai”. Orang yang suka damai hidup berdamai dengan saudara-saudari Kristen mereka dan, sejauh itu bergantung pada mereka, dengan orang lain. (Roma 12:17-21) Mereka ”mencari perdamaian dan mengejarnya”.—1 Petrus 3:11.
16, 17. (a) Mengapa kaum terurap disebut ”putra-putra Allah”, dan bagaimana mereka ”melihat Allah”? (b) Bagaimana ”domba-domba lain” ”melihat Allah”? (c) Dalam pengertian yang sepenuhnya, bagaimana dan kapan ”domba-domba lain” menjadi ”putra-putra Allah”?
16 Yehuwa berjanji kepada mereka yang suka damai dan berhati murni bahwa mereka ”akan disebut ’putra-putra Allah’” dan ”akan melihat Allah”. Orang Kristen terurap diperanakkan oleh roh dan diangkat oleh Yehuwa sebagai ”putra-putra” sewaktu mereka masih di bumi. (Roma 8:14-17) Sewaktu mereka dibangkitkan untuk berada bersama Kristus di surga, mereka melayani di hadirat Yehuwa dan benar-benar melihat Dia.—1 Yohanes 3:1, 2; Penyingkapan 4:9-11.
17 ”Domba-domba lain” yang suka damai melayani Yehuwa di bawah Gembala yang Baik, Kristus Yesus, yang menjadi ”Bapak yang Kekal” bagi mereka. (Yohanes 10:14, 16; Yesaya 9:6) Mereka yang berhasil melewati ujian akhir setelah Pemerintahan Milenium Kristus akan diangkat sebagai putra-putra Yehuwa di bumi dan ”mendapat kemerdekaan yang mulia sebagai anak-anak Allah”. (Roma 8:21; Penyingkapan 20:7, 9) Seraya mereka menanti-nantikan hal ini, mereka memanggil Yehuwa sebagai Bapak, karena mereka membaktikan kehidupan mereka kepada-Nya, mengakui Dia sebagai Pemberi Kehidupan. (Yesaya 64:8) Seperti Ayub dan Musa di zaman dahulu, mereka dapat ”melihat Allah” dengan mata iman. (Ayub 42:5; Ibrani 11:27) Dengan ’mata hati mereka’ dan melalui pengetahuan yang saksama tentang Allah, mereka memahami sifat-sifat Yehuwa yang mengagumkan dan berupaya keras meniru Dia dengan melakukan kehendak-Nya.—Efesus 1:18; Roma 1:19, 20; 3 Yohanes 11.
18. Berdasarkan tujuh kebahagiaan pertama yang diuraikan oleh Yesus, siapa yang menemukan kebahagiaan sejati dewasa ini?
18 Kita telah melihat bahwa orang-orang yang sadar akan kebutuhan rohani mereka, yang berkabung, yang berwatak lembut, yang lapar dan haus akan keadilbenaran, yang berbelaskasihan, yang murni hatinya, dan yang suka damai menemukan kebahagiaan sejati dalam melayani Yehuwa. Namun, sejak dahulu, orang-orang demikian selalu menghadapi tentangan, bahkan penganiayaan. Apakah hal ini mengusik kebahagiaan mereka? Pertanyaan itu akan dibahas dalam artikel berikut.
-
-
Dianiaya namun BahagiaMenara Pengawal—2004 | 1 November
-
-
Dianiaya namun Bahagia
”Berbahagialah kamu apabila orang mencela kamu dan menganiaya kamu dan dengan berdusta mengatakan segala macam hal yang fasik mengenai kamu demi aku.”—MATIUS 5:11.
1. Jaminan apa yang Yesus berikan kepada para pengikutnya sehubungan dengan kebahagiaan dan penganiayaan?
KETIKA pertama kali mengutus para rasulnya untuk memberitakan Kerajaan, Yesus memperingatkan bahwa mereka akan menghadapi tentangan. Ia memberi tahu mereka, ”Kamu akan menjadi sasaran kebencian semua orang oleh karena namaku.” (Matius 10:5-18, 22) Namun, sebelumnya dalam Khotbah di Gunung, ia memberikan jaminan kepada para rasulnya dan murid-murid lain bahwa tentangan tersebut tidak akan mengancam kebahagiaan batin mereka. Yesus malah menghubungkan kebahagiaan dengan keadaan dianiaya sebagai orang Kristen! Bagaimana mungkin orang yang dianiaya bisa bahagia?
Menderita demi Keadilbenaran
2. Menurut Yesus dan rasul Petrus, penderitaan yang bagaimana yang menghasilkan kebahagiaan?
2 Kebahagiaan kedelapan yang Yesus nyatakan adalah, ”Berbahagialah mereka yang telah dianiaya demi keadilbenaran, karena kerajaan surga milik mereka.” (Matius 5:10) Penderitaan itu sendiri bukan sesuatu yang baik. Rasul Petrus menulis, ”Apa kebaikannya jika, pada waktu kamu berbuat dosa dan ditampar, kamu bertekun menahannya? Tetapi jika, pada waktu kamu melakukan kebaikan dan kamu menderita, kamu bertekun menahannya, ini adalah hal yang diperkenan Allah.” Ia selanjutnya menyatakan, ”Akan tetapi, jangan seorang pun dari antara kamu menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau pelaku kejahatan atau sebagai orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Tetapi jika ia menderita sebagai orang Kristen, janganlah ia merasa malu, tetapi biarlah ia terus memuliakan Allah dengan nama ini.” (1 Petrus 2:20; 4:15, 16) Menurut kata-kata Yesus, penderitaan menghasilkan kebahagiaan jika dialami demi keadilbenaran.
3. (a) Apa artinya dianiaya demi keadilbenaran? (b) Apa dampak penganiayaan atas orang Kristen masa awal?
3 Keadilbenaran sejati diukur berdasarkan tindakan yang selaras dengan kehendak Allah dan perintah-perintah-Nya. Karena itu, menderita demi keadilbenaran berarti menderita karena menolak tekanan untuk melanggar standar atau tuntutan Allah. Para rasul dianiaya oleh para pemimpin Yahudi karena tidak mau berhenti mengabar dengan nama Yesus. (Kisah 4:18-20; 5:27-29, 40) Apakah penganiayaan itu merongrong sukacita mereka atau menghentikan pengabaran mereka? Sama sekali tidak! ”Mereka pergi dari hadapan Sanhedrin, dengan bersukacita karena mereka telah dinilai layak untuk dihina demi namanya. Dan setiap hari di bait dan dari rumah ke rumah, mereka tanpa henti terus mengajar dan menyatakan kabar baik tentang Kristus, yaitu Yesus.” (Kisah 5:41, 42) Penganiayaan itu membuat mereka bersukacita dan semakin bersemangat dalam pekerjaan pengabaran. Belakangan, orang Kristen masa awal dianiaya oleh orang Romawi karena tidak mau menyembah kaisar.
4. Apa beberapa alasan orang Kristen dianiaya?
4 Di zaman modern ini, Saksi-Saksi Yehuwa telah dianiaya karena tidak mau berhenti memberitakan ”kabar baik kerajaan ini”. (Matius 24:14) Sewaktu dilarang berhimpun, mereka rela menderita ketimbang berhenti berkumpul sebagaimana diperintahkan Alkitab. (Ibrani 10:24, 25) Mereka telah dianiaya karena bersikap netral atau karena tidak mau menyalahgunakan darah. (Yohanes 17:14; Kisah 15:28, 29) Meskipun demikian, pendirian demi keadilbenaran ini menghasilkan kedamaian dan kebahagiaan batin yang besar bagi umat Allah dewasa ini.—1 Petrus 3:14.
Dicela demi Kristus
5. Untuk alasan dasar apa umat Yehuwa dianiaya dewasa ini?
5 Kebahagiaan kesembilan yang Yesus bahas dalam Khotbah di Gunung juga ada hubungannya dengan penganiayaan. Ia menyatakan, ”Berbahagialah kamu apabila orang mencela kamu dan menganiaya kamu dan dengan berdusta mengatakan segala macam hal yang fasik mengenai kamu demi aku.” (Matius 5:11) Alasan dasar umat Yehuwa dianiaya adalah karena mereka bukan bagian dari sistem fasik sekarang ini. Yesus memberi tahu murid-muridnya, ”Jika kamu bagian dari dunia, dunia akan mencintai apa yang adalah miliknya. Karena kamu bukan bagian dari dunia, tetapi aku telah memilih kamu dari dunia, itulah sebabnya dunia membenci kamu.” (Yohanes 15:19) Dengan nada serupa, rasul Petrus menyatakan, ”Karena kamu tidak terus berlari bersama mereka, mengikuti haluan ini menuju pelimbahan pelampiasan nafsu yang sama, mereka merasa heran dan terus mencaci kamu.”—1 Petrus 4:4.
6. (a) Mengapa kaum sisa dan rekan-rekan mereka dicela dan dianiaya? (b) Apakah celaan demikian mengurangi kebahagiaan kita?
6 Kita telah melihat bahwa orang Kristen masa awal dianiaya karena tidak mau berhenti mengabar dengan nama Yesus. Kristus mengamanatkan para pengikutnya, ”Kamu akan menjadi saksiku . . . sampai ke bagian yang paling jauh di bumi.” (Kisah 1:8) Kaum sisa yang setia dari saudara-saudara Kristus yang terurap, dengan bantuan rekan-rekan mereka yang loyal yaitu ”kumpulan besar”, telah dengan bersemangat melaksanakan amanat tersebut. (Penyingkapan 7:9) Karena itu, Setan memerangi ”orang-orang yang masih tersisa dari antara benihnya [benih ”wanita” itu, bagian surgawi dari organisasi Allah], yang menjalankan perintah-perintah Allah dan mempunyai pekerjaan memberikan kesaksian tentang Yesus.” (Penyingkapan 12:9, 17) Sebagai Saksi-Saksi Yehuwa, kita memberikan kesaksian tentang Yesus, Raja yang kini bertakhta dalam pemerintahan Kerajaan, yang akan membinasakan pemerintahan-pemerintahan manusia yang menghalangi terwujudnya dunia baru Allah yang adil-benar. (Daniel 2:44; 2 Petrus 3:13) Karena kegiatan itulah kita dicela dan dianiaya, tetapi kita merasa bahagia untuk menderita demi nama Kristus.—1 Petrus 4:14.
7, 8. Dusta apa saja yang dilontarkan oleh para penentang mengenai orang Kristen masa awal?
7 Yesus menyatakan bahwa para pengikutnya hendaknya merasa bahagia sekalipun orang-orang ”dengan berdusta mengatakan segala macam hal yang fasik” tentang mereka demi Yesus. (Matius 5:11) Itulah yang dialami orang-orang Kristen masa awal. Ketika rasul Paulus dipenjarakan di Roma, sekitar tahun 59-61 M, para pemimpin Yahudi di kota itu mengatakan tentang orang Kristen, ”Sesungguhnya sehubungan dengan sekte ini, kami tahu bahwa di mana-mana itu ditentang.” (Kisah 28:22) Paulus dan Silas dituduh ”mengacaukan bumi yang berpenduduk” dan ”menentang ketetapan-ketetapan Kaisar”.—Kisah 17:6, 7.
8 Sehubungan dengan orang Kristen pada zaman Imperium Romawi, sejarawan K. S. Latourette menulis, ”Tuduhannya bermacam-macam. Karena tidak mau ikut dalam upacara kafir, orang Kristen dicap ateis. Karena menjauhi sebagian besar kegiatan masyarakat—perayaan kafir, hiburan rakyat . . .—mereka dicemooh sebagai pembenci ras manusia. . . . Ada yang mengatakan bahwa anggota yang berlawanan jenis bertemu pada malam hari . . . lalu melakukan hubungan seks bebas. . . . Fakta bahwa perayaan [Peringatan kematian Kristus] hanya dihadiri oleh para penganutnya dijadikan bahan desas-desus bahwa orang Kristen biasa mengorbankan bayi lalu meminum darah dan memakan dagingnya.” Selain itu, karena orang Kristen masa awal tidak mau menyembah kaisar, mereka dituduh sebagai musuh Negara.
9. Bagaimana tanggapan orang Kristen abad pertama sewaktu mendapat tuduhan palsu, dan bagaimana situasinya sekarang?
9 Segala tuduhan palsu itu tidak menghalangi orang Kristen masa awal untuk melaksanakan amanat memberitakan kabar baik Kerajaan. Pada tahun 60-61 M, Paulus dapat mengatakan bahwa ”kabar baik” telah ”menghasilkan buah dan makin berkembang di seluruh dunia” dan telah ”diberitakan di antara semua ciptaan yang ada di bawah langit”. (Kolose 1:5, 6, 23) Demikian pula dewasa ini, Saksi-Saksi Yehuwa sering mendapat tuduhan palsu, sama seperti orang Kristen masa awal. Namun, pekerjaan pengabaran berita Kerajaan kini berkembang pesat dan mendatangkan kebahagiaan besar bagi mereka yang berperan serta.
Berbahagia karena Dianiaya seperti Para Nabi
10, 11. (a) Bagaimana Yesus mengakhiri pembahasannya tentang kebahagiaan yang kesembilan? (b) Mengapa para nabi dianiaya? Berikan contoh.
10 Yesus mengakhiri pembahasannya tentang kebahagiaan kesembilan dengan mengatakan, ”Bergembiralah . . . , sebab dengan cara itu mereka menganiaya nabi-nabi sebelum kamu.” (Matius 5:12) Nabi-nabi yang Yehuwa utus untuk memperingatkan orang Israel yang tidak setia tidak disambut dengan baik dan sering kali dianiaya. (Yeremia 7:25, 26) Rasul Paulus membenarkan fakta ini dengan menulis, ”Apa lagi yang akan kukatakan? Karena waktunya tidak akan cukup jika aku terus bercerita tentang . . . nabi-nabi lain, yang karena beriman . . . mendapat cobaan melalui cemoohan dan penyesahan, sesungguhnya, lebih daripada itu, dibelenggu dan dipenjarakan.”—Ibrani 11:32-38.
11 Selama pemerintahan Raja Ahab dan istrinya, Izebel, yang jahat, banyak nabi Yehuwa dibunuh dengan pedang. (1 Raja 18:4, 13; 19:10) Nabi Yeremia dipasung dan belakangan dilemparkan ke dalam perigi berlumpur. (Yeremia 20:1, 2; 38:6) Nabi Daniel dijebloskan ke dalam lubang singa. (Daniel 6:16, 17) Semua nabi pra-Kristen ini dianiaya karena membela ibadat yang murni kepada Yehuwa. Banyak nabi dianiaya oleh para pemimpin agama Yahudi. Yesus menyebut para penulis dan orang Farisi sebagai ”putra dari orang-orang yang membunuh para nabi”.—Matius 23:31.
12. Bagi kita sebagai Saksi-Saksi Yehuwa, mengapa dianiaya seperti nabi-nabi zaman dahulu merupakan suatu kehormatan?
12 Dewasa ini, kita sebagai Saksi-Saksi Yehuwa sering dianiaya karena kita bersemangat memberitakan kabar baik Kerajaan. Musuh-musuh menuduh kita ”mencari umat secara agresif”, tetapi kita tahu bahwa para penyembah Yehuwa yang setia sebelum kita pun menghadapi kritik serupa. (Yeremia 11:21; 20:8, 11) Bagi kita, menderita karena alasan yang sama dengan alasan penderitaan nabi-nabi yang setia pada zaman dahulu merupakan suatu kehormatan. Yakobus, sang murid, menulis, ”Saudara-saudara, jadikanlah para nabi yang berbicara dengan nama Yehuwa sebagai pola dalam menanggung penderitaan dan menerapkan kesabaran. Lihat! Orang yang telah bertekun kami nyatakan bahagia.”—Yakobus 5:10, 11.
Alasan-Alasan yang Kuat untuk Berbahagia
13. (a) Mengapa kita tidak menjadi tawar hati karena penganiayaan? (b) Apa yang membuat kita sanggup berdiri teguh, dan hal itu membuktikan apa?
13 Kita sama sekali tidak menjadi tawar hati karena penganiayaan, tetapi kita terhibur karena mengetahui bahwa kita sedang mengikuti jejak para nabi, orang Kristen masa awal, dan Kristus Yesus sendiri. (1 Petrus 2:21) Kita memperoleh kepuasan yang dalam dari ayat-ayat Alkitab, seperti kata-kata rasul Petrus berikut ini, ”Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah heran akan api yang membakar di antara kamu, yang kamu alami sebagai cobaan, seolah-olah hal yang aneh menimpamu. Jika kamu dicela karena nama Kristus, kamu berbahagia, karena roh kemuliaan, yaitu roh Allah, ada padamu.” (1 Petrus 4:12, 14) Dari pengalaman, kita tahu bahwa kita sanggup berdiri teguh walaupun dianiaya hanya karena roh Yehuwa ada pada kita dan menguatkan kita. Dukungan roh kudus membuktikan bahwa Yehuwa memberkati kita, dan hal ini membuat kita sangat berbahagia.—Mazmur 5:12; Filipi 1:27-29.
14. Alasan apa saja yang kita miliki untuk bersukacita walaupun dianiaya demi keadilbenaran?
14 Alasan lain mengapa tentangan dan penganiayaan demi keadilbenaran membuat kita bahagia adalah karena hal itu membuktikan bahwa kita sedang hidup sebagai orang Kristen sejati dengan pengabdian yang saleh. Rasul Paulus menulis, ”Semua orang yang ingin hidup dengan pengabdian yang saleh dalam persekutuan dengan Kristus Yesus juga akan dianiaya.” (2 Timotius 3:12) Kita merasakan kebahagiaan yang terbesar karena mengetahui bahwa dengan mempertahankan integritas di bawah cobaan, kita menyediakan jawaban tambahan untuk tuduhan Setan, bahwa semua makhluk ciptaan Yehuwa melayani Dia hanya demi keuntungan yang mementingkan diri. (Ayub 1:9-11; 2:3, 4) Kita bergembira bahwa kita memiliki andil, meskipun kecil, dalam pembenaran kedaulatan Yehuwa yang adil-benar.—Amsal 27:11.
Melompat karena Sukacita Mengingat Upahnya
15, 16. (a) Alasan apa yang Yesus berikan kepada kita untuk ’bergembira dan melompat karena sukacita’? (b) Upah apa yang tersimpan di surga bagi orang-orang Kristen terurap, dan bagaimana rekan-rekan mereka ”domba-domba lain” juga akan memperoleh upah?
15 Yesus menambahkan alasan lain untuk bersukacita walaupun kita difitnah dan dianiaya seperti nabi-nabi zaman dahulu. Sewaktu mengakhiri uraiannya tentang kebahagiaan kesembilan, ia mengatakan, ”Bergembiralah dan melompatlah karena sukacita, mengingat upahmu besar di surga.” (Matius 5:12) Rasul Paulus menulis, ”Upah yang dibayarkan oleh dosa adalah kematian, tetapi karunia yang Allah berikan adalah kehidupan abadi melalui Kristus Yesus, Tuan kita.” (Roma 6:23) Ya, ’upah yang besar’ itu adalah kehidupan, tapi itu bukan upah yang kita peroleh sebagai imbalan. Itu adalah karunia cuma-cuma. Yesus mengatakan bahwa upah itu ada ”di surga” karena asalnya dari Yehuwa.
16 Kaum terurap menerima ”mahkota kehidupan”, yang berarti kehidupan tak berkematian yang akan mereka nikmati bersama Kristus di surga. (Yakobus 1:12, 17) Sedangkan ”domba-domba lain” menantikan warisan berupa kehidupan abadi dalam firdaus di bumi. (Yohanes 10:16; Penyingkapan 21:3-5) Bagi kedua golongan itu, ”upah” bukan imbalan atas upaya mereka. Baik kaum terurap maupun ”domba-domba lain” menerima upah mereka karena ’keunggulan kebaikan hati Yehuwa yang tidak selayaknya diperoleh’, yang menggerakkan rasul Paulus untuk mengatakan, ”Syukur kepada Allah untuk karunia cuma-cuma yang diberikannya dan yang tidak terlukiskan itu.”—2 Korintus 9:14, 15.
17. Mengapa kita dapat berbahagia sewaktu dianiaya dan seolah-olah ’melompat karena sukacita’?
17 Bagi orang Kristen, yang beberapa di antaranya akan segera dianiaya dengan kejam oleh Kaisar Nero, rasul Paulus menulis, ”Biarlah kita bersukaria selama menderita kesengsaraan, karena kita mengetahui bahwa kesengsaraan menghasilkan ketekunan; selanjutnya, ketekunan akan menghasilkan keadaan diperkenan; selanjutnya, keadaan diperkenan akan menghasilkan harapan, dan harapan tidak akan mengecewakan.” Ia juga mengatakan, ”Bersukacitalah dalam harapan. Bertahanlah di bawah kesengsaraan.” (Roma 5:3-5; 12:12) Tidak soal harapan kita di surga atau di bumi, upah atas kesetiaan kita di bawah cobaan sungguh besar dan tak dapat dibandingkan dengan apa pun yang pantas kita peroleh. Sukacita kita meluap sewaktu membayangkan prospek kehidupan kekal untuk melayani dan memuji Bapak kita yang pengasih, Yehuwa, di bawah raja kita, Yesus Kristus. Kita seolah-olah ’melompat karena sukacita’.
18. Seraya akhir itu mendekat, apa yang akan dilakukan oleh bangsa-bangsa, dan apa yang akan Yehuwa lakukan?
18 Di beberapa negeri, Saksi-Saksi Yehuwa telah dan masih dianiaya. Dalam nubuat tentang penutup sistem ini, Yesus memperingatkan orang-orang Kristen sejati, ”Kamu akan menjadi sasaran kebencian semua bangsa oleh karena namaku.” (Matius 24:9) Seraya kita mendekati akhirnya, Setan akan menyebabkan bangsa-bangsa melampiaskan kebenciannya terhadap umat Yehuwa. (Yehezkiel 38:10-12, 14-16) Hal ini akan menandai saatnya Yehuwa bertindak. ”Aku pasti akan mengagungkan diriku dan menyucikan diriku dan menyatakan diriku di hadapan mata banyak bangsa; dan mereka akan mengetahui bahwa akulah Yehuwa.” (Yehezkiel 38:23) Dengan demikian, Yehuwa akan menyucikan nama besar-Nya dan membebaskan umat-Nya dari penganiayaan. Oleh karena itu, ”berbahagialah orang yang terus bertekun”.—Yakobus 1:12.
19. Sambil menantikan ’hari besar Yehuwa’, apa yang hendaknya kita lakukan?
19 Seraya ’hari besar Yehuwa’ semakin mendekat, marilah kita bersukacita karena kita ”dinilai layak untuk dihina” demi nama Yesus. (2 Petrus 3:10-13; Kisah 5:41) Seperti orang Kristen masa awal, semoga kita ”tanpa henti terus mengajar dan menyatakan kabar baik tentang Kristus” dan pemerintahan Kerajaannya sambil menantikan upah kita dalam dunia baru Yehuwa yang adil-benar.—Kisah 5:42; Yakobus 5:11.
-