PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Perubahan Sikap Mengangkat Permasalahan Baru
    Sedarlah!—1997 | 8 Juni
    • Perubahan Sikap Mengangkat Permasalahan Baru

      ”REVOLUSI SEKS”, ”ledakan seks”, ”revolusi moral”. Istilah-istilah semacam itu mempopulerkan perubahan sikap terhadap seksualitas, khususnya pada pertengahan tahun 1960-an dan sesudahnya. Banyak orang menerima slogan ”seks bebas”, yang mencirikan gaya hidup yang tak kenal perkawinan dan keperawanan.

      Ernest Hemingway, sang pengarang, membuat suatu manifesto, ”Moral adalah apa yang Anda rasakan enak setelah melakukannya, dan amoral adalah apa yang Anda rasakan tidak enak setelah melakukannya”. Ini dengan tepat menyimpulkan sikap orang-orang yang terpukau oleh janji-janji kebebasan dan pemuasan seksual. Diterimanya filsafat ini membenarkan hubungan seksual jangka pendek dengan beberapa pasangan, hubungan yang di dalamnya masing-masing individu, pria dan wanita, bereksperimen dengan hasrat seksualnya sendiri. ”Pemuasan” seksual tidak mengenal batasan. Pil KB, yang diperkenalkan pada dekade yang sama, turut mendukung eksperimen seksual yang tanpa pengekangan.

      Akan tetapi, AIDS dan penyakit-penyakit hubungan seksual lainnya adalah warisan dari gaya hidup promiskuitas ini. Sikap berkenaan hubungan seksual dari generasi serbabebas ini sedang mengalami guncangan. Beberapa tahun yang lalu, majalah Time menampilkan kepala berita ”Sex in the ’80s​—The Revolution Is Over”. (”Seks Tahun ’80-an​—Revolusi Telah Berakhir”.) Pengumuman ini khususnya didasarkan atas merajalelanya penyakit hubungan seksual yang telah menjangkiti banyak orang Amerika. Hingga sekarang, jumlah seluruh kasus AIDS di seluruh dunia telah mencapai angka yang mencengangkan, yakni hampir 30 juta kasus!

      Ketakutan akan penyakit hubungan seksual mendorong perubahan lebih lanjut dalam sikap banyak orang berkenaan hubungan seksual jangka pendek. Pada tahun 1992, majalah hiburan US, sewaktu melaporkan sebuah survei pemerintah, menyatakan, ”Kira-kira 6,8 juta wanita lajang telah mengubah perilaku seksual mereka sebagai tanggapan terhadap AIDS dan penyakit-penyakit hubungan seksual lainnya.” Menurut artikel tersebut, pesannya jelas, ”Seks bukan persoalan sepele. Risikonya tanggung sendiri.”

      Bagaimana dekade-dekade yang bergolak ini telah mempengaruhi sikap berkenaan hubungan seksual? Apakah orang-orang telah menarik pelajaran dari sikap masa bodoh yang dicirikan oleh seks bebas pada dekade-dekade baru-baru ini dan dari kenyataan yang menyedihkan berupa penyakit hubungan seksual pada tahun ’80-an? Apakah diperkenalkannya pendidikan seks di sekolah negeri telah membantu pria dan wanita muda berhasil mengatasi problem seksualitas mereka? Apa jalan terbaik untuk menghadapi tantangan sehubungan dengan perubahan sikap dewasa ini terhadap seksualitas?

  • Apa yang Membentuk Sikap Anda?
    Sedarlah!—1997 | 8 Juni
    • Apa yang Membentuk Sikap Anda?

      KIRA-KIRA 2.700 tahun yang lalu, seorang penulis yang terilham menuliskan peribahasa yang menggugah pikiran, ”Bagi orang bebal terus bertingkah laku bebas adalah seperti permainan.” (Amsal 10:23, NW) Kebenaran dari peribahasa ini benar-benar terbukti sejak revolusi seksual. Sebelum adanya ketakutan akan AIDS, sikap yang meluas adalah bahwa seks itu adalah ’permainan interaktif’ dan bahwa dorongan seks harus dipenuhi ’apa pun konsekuensinya’. Apakah sikap ini telah berubah? Boleh dikata belum.

      Dewasa ini, obsesi akan seks terus menghasilkan ”pecandu asmara”, ’poligami beranting, dan ”pemangsa seksual”, yang berpendapat bahwa moral adalah urusan pribadi dan bahwa seks bebas dengan mitra seksual majemuk adalah hal yang normal. (Lihat kotak ”Gaya Hidup Seksual”, pada halaman 6.) Mereka menyatakan bahwa ’tidak ada yang dirugikan’ oleh seks bebas, asalkan itu dilakukan di kalangan orang dewasa yang suka sama suka. Pada tahun 1964, Ira Reiss, sosiolog dari State University of Iowa, menjuluki seks bebas ini sebagai ”sikap permisif dengan kasih sayang”.

      Uskup Anglikan dari Edinburgh, Skotlandia, tampaknya merasakan hal yang sama, karena ia mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk memiliki banyak kekasih. Dalam ceramah tentang seks dan kekristenan, ia menyatakan, ”Sewaktu menciptakan kita, Allah sadar bahwa Ia telah memberikan kepada kita dorongan seks yang bersifat permanen untuk berupaya memuaskan hasrat seksual kita. Ia telah memberikan kepada kita gen-gen promiskuitas. Saya pikir adalah salah bila gereja mengutuk orang-orang yang mengikuti naluri mereka.”

      Apakah ini pandangan yang sehat? Apa akibat dari seks bebas? Apakah hubungan jangka pendek dengan serangkaian pasangan seksual menghasilkan kepuasan dan kebahagiaan?

      Epidemi global dari penyakit hubungan seksual dan realitas berupa jutaan kehamilan di luar nikah, khususnya di antara para remaja, membuktikan kegagalan filsafat semacam itu. Menurut majalah Newsweek, di Amerika Serikat saja, penyakit hubungan seksual menimpa kira-kira tiga juta remaja setiap tahunnya. Lagi pula, banyak dari antara ”orang dewasa yang suka sama suka” ini tampaknya ”tidak memiliki kasih sayang alami” atau perasaan bertanggung jawab atas kehamilan yang diakibatkan olehnya, dan mereka segera mengupayakan aborsi. (2 Timotius 3:3) Ini mengakibatkan hilangnya nyawa anak yang belum lahir, yang dengan kejam direnggut dari ibunya. Bagi sang ibu yang masih muda, ini boleh jadi mengakibatkan depresi dan perasaan bersalah yang dalam yang dapat menghantui dia sepanjang hidupnya.

      Pada pertengahan tahun ’90-an di Inggris saja, dampak moneter dari akibat-akibat revolusi seksual mencapai angka yang mencengangkan senilai 20 miliar dolar AS per tahun, menurut perhitungan dr. Patrick Dixon. Dalam bukunya The Rising Price of Love, dr. Dixon memperoleh angka ini dengan mendokumentasikan biaya perawatan penyakit hubungan seksual, termasuk AIDS; biaya perceraian hubungan jangka panjang; biaya yang ditanggung masyarakat bagi orang-tua tunggal; dan biaya terapi keluarga dan anak-anak. Sebagaimana dilaporkan dalam The Globe and Mail, sebuah surat kabar harian Kanada, dr. Dixon menyimpulkan, ”Sebuah revolusi hubungan seksual yang menjanjikan kebebasan telah memperbudak banyak orang, dalam suatu dunia yang dihancurkan oleh kekacauan seksual, tragedi, perasaan sepi, kepedihan emosi, kekerasan, dan penganiayaan.”

      Tetapi mengapa obsesi akan seks, kecenderungan kepada hubungan jangka pendek, dan sikap berkeras pada seks bebas yang tak bertanggung jawab terus berlanjut? Mengingat hasil yang jelas-jelas buruk selama tiga dekade terakhir ini, apa yang menjadi bahan bakar dari obsesi yang membinasakan ini?

      Pornografi Menyimpangkan Seks

      Pornografi telah disorot sebagai salah satu bahan bakar obsesi akan seks. Seorang pecandu seks menuangkan pengakuannya dalam tulisan di surat kabar The Toronto Star, ”Saya berhenti merokok lima tahun yang lalu, alkohol dua tahun yang lalu, tetapi tidak ada yang lebih sulit daripada menghentikan kecanduan saya akan seks dan pornografi.”

      Ia juga yakin bahwa para remaja yang terus-menerus mengkonsumsi pornografi mengembangkan pandangan yang menyimpang berkenaan perilaku seksual. Mereka mempraktekkan fantasi seksual mereka dan menganggap hubungan dalam dunia nyata sesuatu yang rumit serta sukar. Ini mengakibatkan pengasingan diri dan problem-problem lain, salah satu yang terbesar adalah kesulitan membentuk ikatan kasih yang langgeng.

      Dunia Hiburan Mengeksploitasi Seks

      Gaya hidup promiskuitas yang melibatkan mitra seksual majemuk, baik yang resmi maupun tidak, telah dipraktekkan secara luas dan dipertunjukkan secara terang-terangan dalam dunia hiburan. Adegan intim yang bejat dan tidak didasari cinta menjadi bahan bakar untuk obsesi akan seks, memberikan kepada generasi ini pandangan yang menyimpang berkenaan seksualitas manusia. Sering kali, media hiburan dengan keliru menyetarakan seks di luar nikah dengan keintiman yang pengasih. Para penggemar yang mengidolakan karakter dalam dunia hiburan tampaknya tidak dapat membedakan antara hawa nafsu dan cinta, antara perselingkuhan jangka pendek dan komitmen jangka panjang, atau antara fantasi dan realitas.

      Demikian pula, sering kali dunia periklanan mengeksploitasi seks sebagai sarana pemasaran. Seks telah menjadi ”komoditi yang tidak manusiawi yang bertujuan menarik perhatian kepada suatu produk”, demikian seorang ahli terapi seks mengatakan. Para pengiklan mengeksploitasi seks dan mengasosiasikan pemuasan seksual dengan kehidupan yang nikmat, namun ini hanyalah salah satu ”penyimpangan perspektif seksual” dari abad ke-20, demikian pengamatan jurnal Family Relations.

      Perubahan Peranan Memutarbalikkan Sikap

      Perubahan lingkungan sosial dan diperkenalkannya pil KB pada tahun 1960 mengubah perilaku seksual dari jutaan wanita. Pil tersebut membuat para wanita berpikir bahwa kedudukan seksual mereka kini setara dengan pria, merasa memiliki semacam kebebasan atau kemerdekaan seksual yang tidak pernah disadari sebelumnya. Sebagaimana pria, sekarang mereka dapat bereksperimen dengan hubungan jangka pendek, tidak dikekang oleh rasa takut akan kehamilan yang tidak diinginkan. Dalam memuaskan kebebasan seksual mereka, baik pria maupun wanita mengenyahkan kehidupan keluarga yang wajar dan peranan seksual.

      Seorang penulis Alkitab pada abad pertama mengatakan berkenaan orang-orang demikian, ”Mereka mempunyai mata yang penuh perzinaan dan tidak dapat berhenti dari dosa . . . Mereka mempunyai hati yang terlatih dalam ketamakan akan milik orang lain. . . . Dengan meninggalkan jalan yang lurus, mereka telah disesatkan.”​—2 Petrus 2:14, 15.

      Pendidikan Seks di Sekolah

      Sebuah penelitian di AS atas kira-kira 10.000 wanita lajang usia sekolah menengah umum menyingkapkan bahwa ”pengetahuan, sebagaimana diindikasikan oleh mata pelajaran pendidikan seks dan pengetahuan mengenai pencegahan kehamilan yang dimiliki para remaja”, tidak berpengaruh terhadap tingkat kehamilan remaja di luar nikah. Meskipun demikian, beberapa sekolah negeri mengatasi epidemi ini dengan menawarkan kondom gratis kepada murid-murid mereka, meskipun praktek ini sedang hangat diperdebatkan.

      Seorang siswi SMU berusia 17 tahun yang diwawancarai oleh surat kabar Calgary Herald menyatakan, ”Kenyataannya, mayoritas remaja SMU mengadakan hubungan seks . . . , bahkan beberapa di antaranya sewaktu masih berusia 12 tahun.”

      Apakah Cinta dan Komitmen Itu?

      Cinta, kepercayaan, dan kebersamaan yang saling menyayangi bukan produk sampingan otomatis dari daya tarik seksual yang spontan maupun pemuasan dorongan seksual. Hubungan seksual saja tidak dapat menciptakan cinta sejati. Cinta dan keintiman timbul dalam hati dua pribadi yang saling menyayangi yang membuat komitmen untuk membangun suatu hubungan yang permanen.

      Hubungan jangka pendek pada akhirnya mengakibatkan seseorang merasa tidak aman, sendirian, dan mungkin ditimpa penyakit hubungan seksual seperti AIDS. Orang-orang yang menganjurkan seks bebas dengan tepat dilukiskan oleh kata-kata dalam 2 Petrus 2:19, ”Meskipun mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang-orang itu, mereka sendiri adalah budak kefanaan. Sebab barangsiapa dikalahkan oleh orang lain diperbudak oleh orang ini.”

      Badan penanggung jawab sosial dari Gereja Inggris menerbitkan laporannya pada bulan Juni 1995, dengan judul ”Sesuatu untuk Dirayakan”. Sangat kontras dengan nasihat Alkitab, dewan itu mendesak gereja untuk ”menghapus ungkapan ’hidup dalam dosa’ dan meninggalkan sikapnya yang menghakimi terhadap orang-orang yang tinggal bersama tanpa menikah”, demikian menurut The Toronto Star. Laporan tersebut merekomendasikan bahwa ”jemaat hendaknya menyambut orang-orang demikian, mendengarkan mereka, belajar dari mereka, . . . sehingga kita semua dapat menemukan kehadiran Allah dalam kehidupan mereka”.

      Bagaimana Yesus akan menjuluki para pemimpin agama semacam itu? Tidak diragukan, ”penuntun buta”. Dan bagaimana dengan orang-orang yang mengikuti penuntun semacam itu? Yesus mengemukakan, ”Maka, jika seorang pria buta menuntun pria buta, keduanya akan jatuh ke dalam lubang.” Tidak ada keragu-raguan, Yesus menyatakan dengan jelas bahwa ”perzinaan” dan ”percabulan” termasuk di antara ”perkara-perkara yang mencemarkan seseorang”.​—Matius 15:14, 18-20.

      Mengingat berbagai faktor yang menyimpangkan dan mengeksploitasi seks ini, bagaimana seseorang, dan khususnya kaum muda, dapat membebaskan diri dari obsesi akan seks? Apa rahasia untuk hubungan jangka panjang yang membawa sukacita? Artikel berikut akan menyoroti hal-hal yang dapat orang-tua lakukan untuk membantu kaum muda mempersiapkan diri menyongsong masa depan.

  • Apa yang Membentuk Sikap Anda?
    Sedarlah!—1997 | 8 Juni
    • Gaya Hidup Seksual

      Pecandu asmara: Mereka gemar jatuh cinta, jadi mereka berpindah dari satu perselingkuhan ke perselingkuhan lain segera setelah gejolak awal mereda. Istilah ini (dalam bahasa Inggris attraction junkies) diciptakan oleh Dr. Michael Liebowitz, dari New York State Psychiatric Institute.

      Poligami beranting: Para sosiolog mendefinisikan ini sebagai orang-orang yang menjalani serangkaian percintaan yang terdiri dari pernikahan secara resmi, bercerai, dan menikah kembali.

      Pemangsa seksual: Orang-orang yang berupaya mempertunjukkan keberanian seksual mereka dengan memiliki mitra seksual majemuk, demikian pengamatan Luther Baker, profesor di bidang penelitian keluarga dan ahli terapi seks berijazah. Istilah ini juga digunakan untuk para penganiaya anak.

  • Menghadapi Tantangannya
    Sedarlah!—1997 | 8 Juni
    • Menghadapi Tantangannya

      SERANGAN atas moralitas seksual dimulai segera setelah tersedianya televisi, buku, majalah, film, dan musik yang menyajikan seks. Kaum muda didorong untuk menerima pola perilaku seksual orang dewasa tanpa pengamanan terhadap kestabilan emosi. Beberapa orang-tua bahkan menambah dorongan seksual dengan membiarkan kencan pada usia muda. Tekanan teman sebaya menganjurkan kencan, dan banyak kaum muda memiliki pacar tetap dan tak lama kemudian menjadi lengah kemudian aktif berhubungan seksual. ”Sungguh lazim . . . bagi seorang remaja putri yang merasa tidak dikasihi oleh orang-tuanya . . . untuk jatuh ke dalam pelukan seksual pacarnya dengan keyakinan yang salah bahwa ini akan mendatangkan kasih dan keintiman,” demikian pengamatan Luther Baker, profesor di bidang penelitian keluarga.

      Kaum muda cenderung menjalani kehidupan remaja mereka seolah-olah itu kesempatan terakhir untuk bersenang-senang, bukannya sebagai persiapan untuk masa depan. ”Didorong oleh kesanggupan seksual mereka yang baru dan diyakinkan oleh teman-teman sebaya bahwa keberanian seksual adalah cara untuk membuktikan kedewasaan, banyak kaum muda menjadi pemangsa seksual” pada masa remajanya, demikian Profesor Baker mengatakan. Kira-kira 30 tahun yang lalu, sejarawan Arnold Toynbee meratapi kelicikan yang menyusup dalam kaum muda kita, karena ia yakin sejarah telah memperlihatkan bahwa bagian dari intelektualitas dunia Barat yang modern merupakan hasil dari kesanggupan menangguhkan ’aktivitas seksual’ pada masa remaja sehingga mereka dapat memusatkan perhatian kepada memperoleh pengetahuan.

      Orang-tua yang Memberikan Pengaruh Positif

      Para orang-tua yang tidak memperbolehkan para remaja berkencan sebagai rekreasi memperlihatkan keprihatinan yang tulus demi kesehatan dan kebahagiaan anak-anak mereka di masa depan. Dengan memiliki standar moral yang tinggi dan memelihara komunikasi yang baik, mereka dapat mempengaruhi kehidupan anak-anak mereka. Penelitian terhadap perilaku seksual kaum muda menunjukkan bahwa ”pengaruh ini dapat membuat anak-anak menangguhkan aktivitas seksual”, demikian menurut Journal of Marriage and the Family.

      Para orang-tua yang menanamkan perasaan yang kuat sehubungan dengan disiplin diri dan tanggung jawab dalam anak-anak mereka memperoleh hasil terbaik. ”Apabila remaja dan orang-tua mereka memelihara nilai-nilai yang menekankan tanggung jawab, kemungkinan remaja tersebut mengalami kehamilan di luar nikah berkurang drastis,” demikian pernyataan sebuah penelitian. Ini menuntut keterlibatan yang responsif dalam aktivitas anak-anak​—memonitor pekerjaan rumah mereka; mengetahui di mana mereka berada dan siapa teman-teman mereka; menetapkan tujuan pendidikan yang realistis; dan membagikan nilai-nilai rohani. Anak-anak yang bertumbuh dengan interaksi yang intim dengan orang-tua ini akan merasa lebih baik mengenai diri mereka sendiri dan akan tidak merasa berkekurangan sehubungan dengan seksualitas mereka.

      Nasihat terbaik bagi kedua orang-tua serta anak adalah hikmat yang ditemukan dalam Alkitab. Orang-tua di Israel diperintahkan untuk mengajarkan nilai-nilai moral yang pantas kepada anak-anak mereka. Yehuwa mengajukan pertanyaan kepada mereka, ”Bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan [”peraturan-peraturan yang adil-benar”, NW] dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum ini, yang kubentangkan kepadamu pada hari ini?” ”Peraturan-peraturan yang adil-benar” inilah yang harus mereka ajarkan kepada anak-anak mereka dalam suasana kehangatan dan keintiman keluarga. ”Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Anak-anak diperingatkan, ”Peliharalah perintah ayahmu, dan janganlah menyia-nyiakan ajaran ibumu.” Komunikasi dan pengajaran yang sedemikian hangat dan intim dari ayah maupun ibu adalah blok bangunan untuk sikap yang seimbang terhadap kehidupan dan seksualitas, yang ’akan menjaga’ seorang muda sepanjang hidupnya.​—Ulangan 4:8, 6:7; Amsal 6:20, 22.

      Kaum muda, mengapa merusak masa depan kalian dengan menyerah kepada dorongan seksual? Masa remaja kalian kira-kira hanya tujuh tahun saja. Ini hendaknya digunakan untuk bertumbuh secara mental, emosi, dan rohani, dan untuk mengembangkan sikap yang seimbang berkenaan seksualitas, sebagai persiapan untuk kehidupan kalian 50 atau 60 tahun berikutnya. Orang-tua, pikullah dengan serius tanggung jawab yang diberikan Allah kepada Anda dan lindungilah anak-anak Anda dari kesedihan hati akibat penyakit hubungan seksual dan kehamilan yang tidak diinginkan. (Pengkhotbah 11:10) Biarkan anak-anak Anda melihat dalam kehidupan Anda sehari-hari bagaimana kasih dan timbang rasa bagi orang-orang lain membangun hubungan yang langgeng.

      Menghadapi Tantangan dengan Berhasil

      Jangan biarkan pandangan modern sehubungan dengan obsesi akan seks menyimpangkan pandangan Anda berkenaan kehidupan dan merusak kesempatan Anda untuk masa depan yang memuaskan dan bahagia. Renungkan banyak contoh dari hubungan manusia dalam Alkitab. Yakinlah bahwa kehidupan dan kasih tidak akan memudar atau tidak akan kehilangan makna setelah melewati usia belasan tahun. Bila kenyataan ini dipertimbangkan dengan serius selaras dengan kehendak ilahi bagi pria dan wanita Kristen, ini menjadi fondasi bagi perkawinan yang intim dan langgeng antara dua orang dalam kasih.

      Seraya Anda memeriksa pasangan-pasangan suami-istri dalam Alkitab seperti Yakub dan Rahel, Boas dan Rut, dan anak lelaki gembala dan gadis Sulamit, Anda akan melihat elemen daya tarik seksual dalam hubungan mereka. Akan tetapi, seraya Anda dengan cermat membaca Kejadian pasal 28 dan 29, kitab Rut, dan Kidung Agung, Anda akan memperhatikan bahwa ada elemen penting lain yang memperkaya hubungan semacam itu.a

      Terimalah Persediaan Yehuwa untuk Kehidupan

      Yehuwa, sang Pencipta umat manusia, memahami seksualitas manusia serta dorongannya. Dengan penuh kasih, ia telah menciptakan kita menurut gambar-Nya, bukan dengan ”gen-gen promiskuitas”, tetapi dengan kesanggupan untuk mengendalikan emosi kita selaras dengan kehendak ilahi. ”Sebab inilah yang Allah kehendaki, . . . agar kamu menjauhkan diri dari percabulan; agar kamu masing-masing mengetahui caranya dapat memiliki bejananya sendiri dalam kesucian dan kehormatan, bukan dengan nafsu seksual yang tamak akan milik orang lain seperti halnya bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; agar tidak seorang pun bertindak sampai mencelakakan dan melanggar hak-hak saudaranya dalam perkara ini.”​—1 Tesalonika 4:3-6.

      Ini dipertunjukkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia. Mereka merespek standar Allah yang tinggi bagi pria dan wanita Kristen. Pria-pria yang lebih tua dipandang sebagai bapak, ”pria-pria yang lebih muda seperti saudara laki-laki, wanita-wanita yang lebih tua seperti ibu, wanita-wanita yang lebih muda seperti saudara perempuan dengan segala kemurnian”. (1 Timotius 5:1, 2) Benar-benar lingkungan yang sehat bagi pria dan wanita muda untuk dinikmati seraya mereka mencapai potensi mereka sepenuhnya, tanpa dibebani oleh tekanan untuk berkencan dan menikah sebelum waktunya atau oleh penyakit hubungan seksual! Keluarga Kristen yang aktif, yang diperkuat oleh sidang Kristen, merupakan perlindungan yang aman di tengah-tengah dunia yang gila seks.

      Dengan menerapkan prinsip Alkitab dalam kehidupan mereka, kaum muda Kristen bebas dari obsesi akan seks dan memperoleh sukacita dari memberikan perhatian kepada peringatan yang diberikan dalam Firman Allah, ”Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu, karena kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan.”​—Pengkhotbah 11:9, 10.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan