-
Ampunilah dengan Segenap Hati SaudaraMenara Pengawal—1999 | 15 Oktober
-
-
9, 10. Mengapa seharusnya kita tidak heran jika ada masalah-masalah yang timbul di antara saudara-saudara?
9 Di dalam Alkitab, Allah dengan sungguh-sungguh memberi tahu kita bahwa ketidaksempurnaan selalu saja ada di sidang, di kalangan saudara-saudari kita. Misalnya, perhatikan kata-kata Paulus yang dicatat di Kolose 3:13, ”Teruslah bersabar seorang terhadap yang lain dan ampuni satu sama lain dengan lapang hati jika ada yang mempunyai alasan untuk mengeluh sehubungan dengan orang lain. Sama seperti Yehuwa dengan lapang hati mengampuni kamu, lakukan itu juga.”
10 Menarik, ayat Alkitab ini mengingatkan kita tentang hubungan antara pengampunan Allah kepada kita dengan kewajiban serta kebutuhan kita untuk mengampuni orang lain. Mengapa mengampuni tidak mudah? Karena, sebagaimana Paulus akui, ada orang yang mungkin ”mempunyai alasan untuk mengeluh sehubungan dengan orang lain”. Ia menyadari bahwa alasan-alasan itu memang ada. Itu benar-benar terjadi pada abad pertama, bahkan di antara ”orang-orang kudus” Kristen, yang mempunyai ’harapan yang disediakan bagi mereka di surga’. (Kolose 1:2, 5) Jadi, masuk akalkah bila kita mengharapkan keadaan yang sebaliknya di zaman sekarang ini, sementara sebagian besar orang Kristen sejati tidak mendapat peneguhan roh sebagai ”orang-orang pilihan Allah, yang kudus dan dikasihi”? (Kolose 3:12) Oleh karena itu, janganlah kita langsung berkesimpulan bahwa pasti telah terjadi suatu pelanggaran serius apabila di sidang kita timbul alasan-alasan untuk mengeluh—rasa tersinggung atas perbuatan salah yang sudah nyata atau yang baru prasangka.
11. Terhadap apa sang murid Yakobus memperingatkan kita?
11 Kata-kata saudara tiri Yesus, Yakobus, juga memperlihatkan bahwa kita harus siap bila sekali waktu menghadapi situasi yang menuntut kita mengampuni saudara kita. ”Siapa yang berhikmat dan berpengertian di antara kamu? Dari tingkah lakunya yang baik, biarlah ia memperlihatkan perbuatannya yang disertai kelemah-lembutan yang berkaitan dengan hikmat. Akan tetapi, jika ada kecemburuan yang pahit dan sifat suka bertengkar dalam hatimu, janganlah membual dan berdusta menentang kebenaran.” (Yakobus 3:13, 14) ”Kecemburuan yang pahit dan sifat suka bertengkar” di hati orang Kristen sejati? Ya, kata-kata Yakobus menunjukkan dengan jelas bahwa sifat-sifat itu memang timbul di sidang pada abad pertama, demikian pula dewasa ini.
12. Masalah apa timbul di sidang Filipi zaman dahulu?
12 Sebagai contoh, perhatikan kasus yang benar-benar terjadi antara dua orang Kristen terurap yang bereputasi baik sebagai rekan-rekan sekerja Paulus yang giat. Saudara mungkin ingat akan Euodia dan Sintikhe, anggota-anggota sidang Filipi. Meskipun tidak diceritakan secara terperinci, Filipi 4:2, 3 memperlihatkan bahwa di antara mereka timbul masalah. Apakah masalahnya bermula dari kata-kata yang tidak berperasaan dan tidak ramah, perlakuan yang tidak hormat dari sang kerabat, atau bukti-bukti adanya persaingan yang menimbulkan kecemburuan? Apa pun penyebabnya, masalah itu menjadi begitu serius hingga beritanya sampai ke telinga Paulus yang berada jauh di Roma. Perang dingin mungkin telah berkembang antara dua saudari rohani ini, sehingga mereka saling menjaga jarak di perhimpunan atau saling menjelek-jelekkan sewaktu berbicara dengan teman-teman mereka.
13. Apa yang kemungkinan berhasil diterapkan oleh Euodia dan Sintikhe, dan hikmah apa yang dapat kita peroleh?
13 Bukankah keadaan-keadaan seperti itu sering kita jumpai, mirip dengan yang timbul di antara anggota-anggota sidang saudara atau yang mungkin saudara sendiri hadapi? Masalah semacam itu mungkin timbul sekarang ini secara kecil-kecilan. Apa yang dapat kita lakukan? Dalam kasus di abad pertama itu, Paulus mendesak kedua saudari yang berbakti ini ”memiliki pikiran yang sama dalam Tuan”. Mereka mungkin setuju untuk membicarakan masalahnya, meluruskan duduk persoalannya, saling menyatakan kesediaan untuk mengampuni, dan kemudian meniru sikap pemaaf Yehuwa. Tidak ada alasan untuk berpikir bahwa Euodia dan Sintikhe tidak berhasil; oleh karena itu, kita pun dapat berhasil. Sikap pemaaf seperti itu dapat juga diterapkan dengan berhasil pada zaman sekarang.
Berdamai—Mengampuni
14. Sering kali, mengapa mengabaikan perselisihan pribadi merupakan tindakan yang terbaik?
14 Apa yang harus kita perbuat untuk dapat mengampuni sewaktu timbul masalah dengan rekan Kristen kita? Terus-terang, tidak ada cara yang mudah, tetapi Alkitab memberi kita contoh yang berguna dan nasihat yang realistis. Kunci yang disarankan—meskipun ini tidak mudah diterima dan diterapkan—adalah melupakan masalahnya, membiarkannya berlalu dari ingatan kita. Sering kali, sewaktu timbul masalah, seperti yang terjadi antara Euodia dan Sintikhe, kedua belah pihak merasa bahwa pihak lainlah yang bersalah atau yang paling banyak salahnya. Jadi, dalam situasi seperti itu, saudara mungkin berpikir bahwa rekan Kristen itulah yang lebih pantas disalahkan atau yang telah banyak menyusahkan. Meskipun demikian, bisakah masalah itu saudara tuntaskan saja dengan cara mengampuni? Sadarilah bahwa kalaupun rekan Kristen saudaralah yang bersalah atau yang paling banyak salahnya, saudaralah yang berada dalam posisi untuk mengabaikan dan menuntaskan masalahnya dengan mengampuni.
15, 16. (a) Bagaimana Mikha menggambarkan Yehuwa? (b) Apa artinya Allah ”mengabaikan pelanggaran”?
15 Hendaknya kita tidak pernah lupa bahwa Allah adalah teladan kita dalam mengampuni. (Efesus 4:32–5:1) Tentang pola Allah dalam melupakan kesalahan, nabi Mikha menulis, ”Siapakah Allah seperti engkau, pribadi yang mengampuni kesalahan dan mengabaikan pelanggaran dari sisa milik pusakanya? Ia pasti tidak akan bertahan dalam kemarahannya untuk selama-lamanya, sebab ia senang akan kebaikan hati yang penuh kasih.”—Mikha 7:18.
16 Dengan menggambarkan Yehuwa sebagai Pribadi yang ”mengabaikan pelanggaran”, Alkitab tidak memaksudkan bahwa Allah tidak sanggup mengingat kesalahan, seolah-olah Ia mempunyai semacam amnesia selektif. Perhatikan contoh tentang Simson dan Daud, pria-pria yang melakukan kesalahan serius. Allah dapat mengingat dosa-dosa itu lama berselang; bahkan kita mengetahui beberapa dosa mereka karena Yehuwa mencatatnya dalam Alkitab. Namun, Allah kita yang pemaaf memperlihatkan belas kasihan kepada keduanya, menjadikan mereka teladan iman untuk kita tiru.—Ibrani 11:32; 12:1.
17. (a) Dengan cara bagaimana kita dapat mengabaikan kesalahan orang lain, atau perasaan tersinggung yang disebabkan orang lain? (b) Jika kita berupaya melakukan itu, mengapa dapat dikatakan bahwa kita meniru Yehuwa? (Lihat catatan kaki.)
17 Ya, Yehuwa sanggup ”mengabaikan”a pelanggaran, seberapa kali pun Daud memohonkannya. (2 Samuel 12:13; 24:10) Dapatkah kita meniru Allah dalam hal ini, bersedia mengabaikan perasaan tersinggung dan sakit hati yang ditimbulkan rekan seiman kita karena ketidaksempurnaan manusiawinya? Bayangkan diri saudara berada di pesawat terbang yang sedang melesat di landasan pacu. Ketika melihat ke luar jendela, saudara melihat seorang kenalan dengan konyol dan kekanak-kanakan menjulurkan lidahnya kepada saudara. Saudara tahu bahwa ia sedang marah dan masih menyimpan kekesalan terhadap saudara. Atau, mungkin juga ia sama sekali tidak memikirkan saudara. Yang pasti, sewaktu pesawat tinggal landas, saudara terbang tinggi di atas orang itu, yang sekarang tampak sebesar titik. Satu jam kemudian, saudara telah meninggalkan dia ratusan kilometer jauhnya, dan isyarat konyolnya itu telah lama berlalu. Demikian pula, sering kali kita dapat terbantu untuk mengampuni jika kita berupaya meniru Yehuwa dan dengan bijaksana mengabaikan hal-hal yang menyakiti hati. (Amsal 19:11) Bukankah perasaan sakit hati itu akan tampak sangat kecil sepuluh tahun mendatang atau dua ratus tahun mendatang di Milenium? Mengapa tidak melupakannya saja?
18. Jika kita merasa tidak sanggup melupakan pelanggaran itu, nasihat apa yang dapat kita terapkan?
18 Namun, adakalanya saudara mungkin sudah membawakan masalah ini dalam doa dan berupaya mengampuni, tetapi saudara merasa tidak sanggup. Lalu, apa yang harus saudara perbuat? Yesus menganjurkan agar saudara menemui orang yang bersangkutan dan berupaya menyelesaikan masalahnya secara pribadi untuk berdamai. ”Maka, jika engkau membawa pemberianmu ke mezbah dan di sana engkau mengingat bahwa ada sesuatu yang membuat saudaramu tidak senang, tinggalkan pemberianmu di sana di depan mezbah, dan pergilah; berdamailah dahulu dengan saudaramu, dan kemudian, pada waktu engkau kembali, persembahkanlah pemberianmu.”—Matius 5:23, 24.
19. Sikap apa yang hendaknya kita miliki dan sikap apa yang hendaknya kita hindari sewaktu hendak berdamai dengan saudara kita?
19 Menarik, Yesus tidak mengatakan bahwa tujuan kita menemui saudara kita adalah untuk meyakinkan dia bahwa saudaralah yang benar dan dialah yang salah. Mungkin, memang dialah yang salah. Mungkin juga, kedua belah pihak melakukan kesalahan. Apa pun situasinya, tujuan kedatangan saudara bukanlah untuk membuat pihak lain mengakui kesalahannya, atau seolah-olah membuatnya menyembah-nyembah minta ampun. Jika seperti itu sikap saudara sewaktu berunding, kemungkinan besar perundingan itu akan gagal. Tujuan pertemuan itu juga bukan untuk mengulas setiap perincian pelanggaran yang sudah nyata atau yang masih prasangka. Apabila perundingan yang dilakukan dengan tenang dalam suasana kasih Kristen itu menyingkapkan adanya kesalahpahaman sebagai inti permasalahannya, kalian berdua dapat mencoba untuk menuntaskannya. Tetapi, sekalipun perundingan itu gagal membuahkan kesepakatan penuh, apakah kesepakatan itu selalu perlu? Bukankah lebih baik jika setidaknya kalian berdua sependapat bahwa masing-masing dengan setulus hati ingin melayani Allah kita yang pemaaf? Jika saudara mempertimbangkan kenyataan itu, mungkin lebih mudah bagi masing-masing untuk mengatakan dengan sepenuh hati, ”Saya menyesal bahwa ketidaksempurnaan kita sampai menimbulkan masalah di antara kita. Saya mohon, mari kita kubur saja masalah ini.”
20. Apa yang dapat kita pelajari dari teladan para rasul?
20 Ingatlah, perselisihan juga timbul di antara para rasul, seperti sewaktu beberapa dari antara mereka berupaya mengejar kemuliaan yang lebih tinggi. (Markus 10:35-39; Lukas 9:46; 22:24-26) Ini menimbulkan ketegangan, barangkali perasaan tersinggung, atau bahkan sakit hati yang dalam. Tetapi, mereka sanggup mengabaikan perselisihan itu dan tetap bekerja sama. Salah seorang dari antara mereka belakangan menulis, ”Ia yang mengasihi kehidupan dan ingin melihat hari-hari baik, biarlah ia menahan lidahnya terhadap apa yang jahat dan bibirnya terhadap perkataan yang bersifat menipu, tetapi biarlah ia menjauhi apa yang jahat dan melakukan apa yang baik; biarlah ia mencari perdamaian dan mengejarnya.”—1 Petrus 3:10, 11.
21. Nasihat apa yang Yesus berikan secara mendalam tentang mengampuni?
21 Kita telah mengamati satu fase dari sebuah siklus: Allah mengampuni banyak dosa yang kita lakukan di masa lalu, jadi kita seharusnya meniru Dia dan mengampuni saudara-saudara kita. (Mazmur 103:12; Yesaya 43:25) Tetapi, ada lagi fase lain dari siklus ini. Setelah menyampaikan contoh doa, Yesus mengatakan, ”Jika kamu mengampuni orang-orang atas pelanggaran mereka, Bapak surgawimu juga akan mengampuni kamu.” Setahun kemudian, ia menyatakan lagi inti pernyataan itu, mengajar murid-muridnya untuk berdoa, ”Ampunilah kami atas dosa-dosa kami, karena kami sendiri juga mengampuni setiap orang yang berdosa, yang disamakan dengan orang yang berutang kepada kami.” (Matius 6:12, 14; Lukas 11:4) Kemudian, beberapa hari sebelum kematiannya, Yesus menambahkan, ”Apabila kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah apa pun yang ada antara kamu dengan seseorang; supaya Bapakmu yang di surga juga mengampuni pelanggaran-pelanggaranmu.”—Markus 11:25.
22, 23. Bagaimana kesediaan kita untuk mengampuni berpengaruh terhadap masa depan kita?
22 Ya, prospek kita untuk terus menerima pengampunan Allah sangat ditentukan oleh kesediaan kita untuk mengampuni saudara-saudara kita. Apabila timbul masalah pribadi di antara orang-orang Kristen, tanyakan diri saudara, ’Bukankah memperoleh pengampunan Allah jauh lebih penting daripada berupaya membuktikan kesalahan seorang saudara atau saudari yang agak menyinggung perasaan, yang melakukan pelanggaran kecil, atau yang memperlihatkan ketidaksempurnaan manusianya?’ Saudara tahu jawabannya.
23 Namun, bagaimana jika masalahnya lebih serius daripada masalah pribadi atau pelanggaran sepele? Dan, kapan kita harus menerapkan nasihat Yesus yang dicatat di Matius 18:15-18? Mari kita bahas pertanyaan-pertanyaan ini di artikel berikut.
-
-
Kita Dapat Memperoleh Kembali Saudara KitaMenara Pengawal—1999 | 15 Oktober
-
-
Kita Dapat Memperoleh Kembali Saudara Kita
”Pergilah dan ungkapkan kesalahannya antara engkau dan dia saja. Jika dia mendengarkan engkau, engkau telah memperoleh saudaramu.”—MATIUS 18:15.
1, 2. Saran praktis apa yang Yesus berikan tentang menangani perbuatan salah?
BEBERAPA bulan menjelang akhir masa pelayanannya, Yesus menyampaikan pelajaran berharga kepada murid-muridnya. Saudara dapat membacanya di Matius pasal 18. Salah satunya adalah bahwa kita perlu bersikap rendah hati, seperti anak-anak. Kemudian, ia menandaskan bahwa kita tidak boleh menjadi sandungan bagi ”salah seorang dari mereka yang kecil ini” dan bahwa kita harus berupaya memulihkan yang tersesat itu agar mereka tidak binasa. Kemudian, Yesus menambahkan saran praktis tentang mengatasi perselisihan antara orang-orang Kristen.
2 Saudara mungkin ingat akan kata-kata ini, ”Jika saudaramu berbuat dosa, pergilah dan ungkapkan kesalahannya antara engkau dan dia saja. Jika dia mendengarkan engkau, engkau telah memperoleh saudaramu. Tetapi jika dia tidak mendengarkan, bawalah serta bersamamu satu atau dua orang lagi, agar berdasarkan keterangan dari mulut dua atau tiga orang saksi, setiap perkara dapat diteguhkan. Jika dia tidak mendengarkan kepada mereka, berbicaralah kepada sidang jemaat. Jika dia tidak mendengarkan bahkan kepada sidang jemaat, biarlah dia bagimu menjadi sama seperti orang dari bangsa-bangsa dan seperti seorang pemungut pajak.” (Matius 18:15-17) Dalam situasi apa kita hendaknya menerapkan nasihat ini, dan bagaimana seharusnya sikap kita sewaktu melakukan itu?
3. Pada umumnya, bagaimana seharusnya cara kita menghadapi kesalahan orang lain?
3 Artikel sebelumnya menandaskan bahwa karena kita tidak sempurna dan cenderung berbuat salah, kita perlu berupaya untuk selalu mengampuni. Khususnya apabila timbul sakit hati terhadap kata-kata atau perbuatan rekan Kristen kita. (1 Petrus 4:8) Sering kali, yang terbaik adalah mengabaikan pelanggaran itu—dengan mengampuni lalu melupakannya. Hal itu dapat kita pandang sebagai sumbangsih kita untuk menciptakan kedamaian di sidang Kristen. (Mazmur 133:1; Amsal 19:11) Namun, adakalanya saudara merasa harus menuntaskan masalahnya bersama saudara atau saudari yang telah menyinggung atau menyakiti hati saudara. Dalam hal ini, kata-kata Yesus di atas merupakan pedomannya.
4. Pada prinsipnya, bagaimana kita dapat menerapkan Matius 18:15 dalam menghadapi kesalahan orang lain?
4 Yesus menasihati agar saudara ’mengungkapkan kesalahannya antara saudara dan dia saja’. Itu memang bijaksana. Menurut Alkitab Terjemahan Baru, pertemuan itu dilakukan ”di bawah empat mata”. Apabila saudara dengan ramah mengemukakan permasalahannya secara pribadi, ini biasanya akan memudahkan pemecahannya. Seorang saudara yang melakukan atau mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaan atau yang kasar mungkin lebih leluasa untuk mengakui kesalahannya di hadapan saudara sendiri. Jika ada orang lain yang ikut mendengarkan, ketidaksempurnaan manusiawinya dapat mendorong dia untuk menyangkal atau membenarkan perbuatannya. Tetapi, apabila saudara mengemukakan masalahnya ”di bawah empat mata”, saudara mungkin akan memahami bahwa ternyata permasalahannya hanyalah kesalahpahaman dan bukannya suatu dosa atau kesalahan yang disengaja. Begitu saudara berdua melihat bahwa masalahnya hanya kesalahpahaman, saudara dapat menuntaskannya, tidak membiarkan masalah sepele bertumbuh dan meracuni hubungan kalian. Oleh karena itu, prinsip di Matius 18:15 dapat diterapkan bahkan terhadap pelanggaran-pelanggaran kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Apa Maksud yang Sesungguhnya?
5, 6. Menurut ikatan kalimatnya, dosa-dosa yang bagaimana yang dimaksud di Matius 18:15, dan mengapa kita dapat mengatakan demikian?
5 Terus terang, nasihat Yesus di atas berhubungan dengan masalah-masalah yang lebih serius. Yesus berkata, ”Jika saudaramu berbuat dosa.” Secara umum, ”dosa” bisa memaksudkan kekeliruan atau kesalahan apa saja. (Ayub 2:10; Amsal 21:4; Yakobus 4:17) Akan tetapi, ikatan kalimatnya menunjukkan bahwa dosa yang Yesus maksudkan pastilah tergolong serius. Sebegitu seriusnya dosa itu sehingga yang melakukannya dapat dipandang sebagai ”orang dari bangsa-bangsa dan seperti seorang pemungut pajak”. Apa sebenarnya maksud ungkapan itu?
6 Murid-murid Yesus yang mendengar kata-kata itu tahu bahwa masyarakat di negeri mereka tidak bergaul dengan Orang-Orang Kafir. (Yohanes 4:9; 18:28; Kisah 10:28) Dan, mereka jelas-jelas menghindari para pemungut pajak, orang-orang yang terlahir sebagai Yahudi tetapi belakangan memeras bangsanya sendiri. Jadi, referensi di Matius 18:15-17 sebenarnya ditujukan untuk dosa-dosa serius, bukannya kesalahan pribadi atau perasaan sakit hati yang dapat saudara ampuni dan lupakan begitu saja.—Matius 18:21, 22.a
7, 8. (a) Dosa-dosa macam apa yang perlu ditangani oleh para penatua? (b) Dosa-dosa jenis apakah yang dapat ditangani antara dua orang Kristen, selaras dengan Matius 18:15-17?
7 Di bawah Hukum, dosa-dosa tertentu membutuhkan lebih daripada sekadar pengampunan dari orang yang tersakiti. Hujah, kemurtadan, penyembahan berhala, dan dosa-dosa seksual berupa percabulan, perzinaan, dan homoseksualitas harus dilaporkan dan ditangani oleh para tua-tua (atau imam). Hal yang sama juga berlaku di dalam sidang Kristen. (Imamat 5:1; 20:10-13; Bilangan 5:30; 35:12; Ulangan 17:9; 19:16-19; Amsal 29:24) Namun, perhatikan bahwa jenis dosa yang Yesus bicarakan di sini dapat dituntaskan antara dua orang. Misalnya: Karena didorong oleh kemarahan atau kecemburuan, seseorang memfitnah sesamanya. Seorang Kristen mengikat kontrak untuk melakukan pekerjaan konstruksi dengan menggunakan bahan bangunan tertentu dan merampungkannya pada tanggal tertentu. Seseorang setuju untuk membayar utang secara mengangsur atau melunasinya pada tanggal tertentu. Seseorang berjanji bahwa jika sang majikan bersedia melatihnya, ia tidak akan (bahkan jika ia pindah kerja) bersaing atau merebut klien majikannya selama jangka waktu tertentu atau di bidang tertentu.b Jika seorang saudara tidak menepati janjinya dan tidak bertobat atas kesalahan tersebut, itu merupakan kesalahan serius. (Penyingkapan 21:8) Tetapi, kesalahan-kesalahan itu dapat diselesaikan di antara kedua belah pihak.
8 Namun, apa yang hendaknya saudara perbuat untuk menyelesaikan masalahnya? Kata-kata Yesus dapat dibagi menjadi tiga langkah. Mari kita perhatikan satu per satu. Daripada memandang langkah-langkah ini sebagai prosedur hukum yang kaku, berupayalah memahami maknanya dan jangan sampai tujuan saudara yang pengasih terlupakan.
Berupayalah Memperoleh Kembali Saudara Kita
9. Apa yang seharusnya kita ingat dalam menerapkan Matius 18:15?
9 Pedoman Yesus diawali dengan kata-kata, ”Jika saudaramu berbuat dosa, pergilah dan ungkapkan kesalahannya antara engkau dan dia saja. Jika dia mendengarkan engkau, engkau telah memperoleh saudaramu.” Jelaslah, langkah ini bukanlah didasari atas kecurigaan. Saudara harus mempunyai bukti atau informasi spesifik yang dapat saudara gunakan untuk membantu rekan saudara melihat bahwa ia berbuat salah dan perlu membereskan masalahnya. Saudara perlu bertindak segera, bukannya menunggu hingga masalahnya berlarut-larut atau membiarkan sikapnya kian menjadi-jadi. Dan, jangan lupa bahwa bila masalah ini terus dipendam, saudara sendiri yang akan rugi. Karena pembahasan ini hanya antara saudara dan dia saja, saudara tidak boleh menggembar-gemborkan hal ini kepada siapa pun untuk mencari simpati atau untuk memperbaiki citra diri saudara. (Amsal 12:25; 17:9) Mengapa? Demi tercapainya sasaran pembahasan itu.
10. Apa yang akan membantu kita untuk memperoleh kembali saudara kita?
10 Tujuan saudara hendaknya untuk memperoleh kembali saudara kita, bukan untuk menghukum, mempermalukan, atau menghancurkan dia. Jika ia memang berbuat salah, hubungannya dengan Yehuwa sedang terancam. Tentulah saudara ingin agar dia tetap menjadi rekan Kristen saudara. Peluang keberhasilan saudara akan semakin besar jika saudara tetap tenang selama pembahasan empat mata berlangsung, menghindari kata-kata kasar atau nada suara menuduh. Dalam suasana yang penuh kasih, ingatlah bahwa kalian berdua adalah manusia-manusia berdosa yang tidak sempurna. (Roma 3:23, 24) Jika ia tahu bahwa saudara tidak menggosipkan dia dan bahwa saudara dengan setulus hati ingin membantu, jalan keluarnya akan lebih mudah dicari. Pendekatan yang baik hati dan ramah ini akan mencerminkan hikmat jika ternyata kalian berdua sama-sama mengakui kesalahan atau jika ternyata akar permasalahannya adalah kesalahpahaman.—Amsal 25:9, 10; 26:20; Yakobus 3:5, 6.
11. Bahkan sekalipun seseorang yang bersalah tidak mau mendengarkan kita, apa yang dapat kita lakukan?
11 Jika saudara dapat membantunya melihat bahwa telah terjadi perbuatan salah dan bahwa hal itu serius, ia mungkin akan tergerak untuk bertobat. Namun, pada kenyataannya, gengsi dapat menjadi penghalang. (Amsal 16:18; 17:19) Oleh karena itu, meskipun pada mulanya ia tidak mengakui kesalahannya dan bertobat, saudara dapat bersabar sebelum meneruskan pembicaraan. Yesus tidak mengatakan ’pergilah sekali saja dan ungkapkan kesalahannya’. Karena itu adalah dosa yang dapat saudara tuntaskan, temuilah saudara itu kembali dengan sikap yang dinyatakan Galatia 6:1 dan ”di bawah empat mata”. Saudara dapat berhasil. (Bandingkan Yudas 22, 23.) Namun, bagaimana jika saudara yakin bahwa ia telah berbuat dosa, tetapi malah bersikap tidak peduli?
Carilah Bantuan dari Orang-Orang yang Matang
12, 13. (a) Sebagai langkah kedua, apa yang Yesus kemukakan dalam menangani perbuatan salah? (b) Dalam menerapkan nasihat ini, kita hendaknya menahan diri untuk tidak berbuat apa?
12 Apakah saudara ingin agar orang lain cepat-cepat menyerah dalam menghadapi saudara seandainya saudara melakukan kesalahan serius? Tentu tidak. Oleh karena itu, Yesus memperlihatkan bahwa, setelah melewati langkah pertama, saudara sebaiknya tidak menyerah untuk memperoleh kembali saudara kita, untuk membuatnya tetap berada bersama kita dan rekan-rekan lain dalam mempersembahkan ibadat yang diperkenan Allah. Yesus selanjutnya memberitahukan langkah kedua, ”Jika dia tidak mendengarkan, bawalah serta bersamamu satu atau dua orang lagi, agar berdasarkan keterangan dari mulut dua atau tiga orang saksi, setiap perkara dapat diteguhkan.”
13 Kata Yesus, bawalah ”satu atau dua orang lagi”. Yesus tidak mengatakan bahwa setelah mengambil langkah pertama, saudara bebas membicarakan masalah itu kepada banyak orang, melaporkannya kepada pengawas wilayah, atau menyurati saudara-saudara lain tentang masalah ini. Seyakin-yakinnya saudara bahwa rekan kita telah berbuat salah, hal itu belum diteguhkan sepenuhnya. Saudara tentunya tidak ingin menyebarkan berita negatif sehingga hal ini dapat menjadikan saudara sebagai pemfitnah. (Amsal 16:28; 18:8) Tetapi, Yesus mengatakan untuk membawa satu atau dua orang lagi. Mengapa? Dan, siapakah mereka?
14. Siapa saja yang dapat kita bawa dalam langkah kedua ini?
14 Saudara sedang berupaya memperoleh kembali saudara kita dengan meyakinkan dia bahwa perbuatan dosa telah dilakukan dan dengan menggerakkan dia untuk bertobat supaya dapat berdamai dengan saudara dan dengan Allah. Untuk itu, alangkah lebih baik jika ”satu atau dua orang” itu adalah pihak-pihak yang menyaksikan perbuatan salah itu. Mungkin, mereka hadir pada waktu peristiwa itu terjadi, atau mereka mempunyai informasi yang sah tentang apa yang terjadi (atau yang tidak terjadi) dalam suatu urusan bisnis. Jika saksi-saksi seperti itu tidak ada, saudara sebaiknya membawa seseorang yang sudah berpengalaman dalam permasalahan tersebut sehingga dapat meneguhkan apakah yang terjadi itu merupakan pelanggaran. Lagi pula, jika dibutuhkan di kemudian hari, mereka dapat menjadi saksi terhadap apa yang telah dikatakan, meneguhkan fakta yang diajukan dan upaya yang dilakukan. (Bilangan 35:30; Ulangan 17:6) Jadi, keberadaan mereka bukan sekadar sebagai pihak yang netral, bukan pula sebagai wasit; melainkan untuk membantu memperoleh kembali rekan kita semua.
15. Mengapa bantuan para penatua Kristen dibutuhkan sewaktu mengambil langkah kedua?
15 Orang-orang yang saudara bawa itu memang tidak harus pria-pria yang melayani sebagai penatua. Akan tetapi, kecakapan rohani pria-pria yang matang ini dapat turut membantu. Penatua-penatua ini ”seperti tempat perlindungan dari angin dan tempat persembunyian dari badai hujan, seperti aliran air di negeri yang gersang, seperti naungan tebing batu yang besar di tanah yang tandus”. (Yesaya 32:1, 2) Mereka telah berpengalaman dalam bernalar bersama saudara-saudari dan meluruskan cara berpikir mereka. Dan, sudah sepantasnya orang yang berbuat salah memperlihatkan keyakinan pada ”pemberian berupa manusia” itu.c (Efesus 4:8, 11, 12) Mengemukakan permasalahannya di hadapan pria-pria matang ini dan berdoa bersama mereka dapat menciptakan suasana baru dan menuntaskan apa yang semula tampak seperti jalan buntu.—Bandingkan Yakobus 5:14, 15.
Upaya Terakhir untuk Memperoleh Dia Kembali
16. Apa langkah ketiga yang Yesus gariskan?
16 Jika langkah kedua dalam menangani masalah ini gagal, para pengawas di sidang tentu turun tangan dalam langkah ketiga ini. ”Jika dia tidak mendengarkan kepada [satu atau dua orang itu], berbicaralah kepada sidang jemaat. Jika dia tidak mendengarkan bahkan kepada sidang jemaat, biarlah dia bagimu menjadi sama seperti orang dari bangsa-bangsa dan seperti seorang pemungut pajak.” Apa maksudnya?
17, 18. (a) Pola apa yang membantu kita memahami maksudnya ’berbicara kepada sidang jemaat’? (b) Bagaimana kita dapat menerapkan langkah ini di zaman sekarang?
17 Kita hendaknya tidak memandang hal ini sebagai petunjuk supaya dosa atau perbuatan salah itu dibeberkan di semacam pertemuan khusus atau perhimpunan umum di hadapan seluruh jemaat. Prosedurnya dapat kita temukan dalam Firman Allah. Perhatikan apa yang dilakukan di Israel purba dalam kasus-kasus pemberontakan, kegelojohan, dan kemabukan, ”Apabila seorang pria mempunyai seorang putra yang keras kepala dan suka memberontak, yang tidak mendengarkan perkataan bapaknya atau perkataan ibunya, dan mereka telah mengoreksi dia, tetapi dia tidak juga mendengarkan mereka, maka bapaknya dan ibunya harus memegang dia dan membawanya kepada para tua-tua kotanya dan ke gerbang kota tempat tinggalnya, dan mereka harus mengatakan kepada para tua-tua kotanya, ’Putra kami ini keras kepala dan suka memberontak; dia tidak mendengarkan perkataan kami, dia gelojoh dan suka mabuk.’ Maka semua orang di kotanya harus melontari dia dengan batu.”—Ulangan 21:18-21.
18 Proses penanganan dan pengadilan pedosa itu bukannya dilakukan oleh seluruh bangsa, bukan pula oleh seluruh anggota sukunya. Sebaliknya, ”para tua-tua” yang disegani akan menangani kasus ini, mewakili jemaat. (Bandingkan Ulangan 19:16, 17 tentang kasus yang ditangani oleh ”para imam dan para hakim yang melayani pada waktu itu”.) Demikian pula dewasa ini, jika langkah ketiga ini harus diambil, para penatualah, yang mewakili sidang jemaat, yang menangani kasus itu. Tujuan mereka sama, untuk memperoleh kembali saudara Kristen kita, jika mungkin. Tujuan itu mereka cerminkan dengan memperlihatkan keadilan, tidak menghakimi dahulu sebelum mendengar, tidak pula berlaku berat sebelah.
19. Apa yang akan diupayakan oleh para penatua yang ditunjuk untuk menangani kasus?
19 Mereka berupaya menimbang fakta-faktanya dan mendengar saksi-saksi yang dibutuhkan untuk menentukan apakah perbuatan dosa itu benar-benar dilakukan (atau terus dilakukan). Mereka ingin melindungi sidang dari kebejatan dan menyingkirkan semangat duniawi. (1 Korintus 2:12; 5:7) Sesuai dengan kecakapan Alkitab mereka, mereka akan berupaya ”memberi nasihat melalui ajaran yang sehat dan menegur orang-orang yang menentang”. (Titus 1:9) Semoga, para pelaku kesalahan tidak akan seperti orang-orang Israel yang tentangnya nabi Yehuwa menulis, ”Aku memanggil, kamu tidak menjawab; aku berbicara, tetapi kamu tidak mendengarkan; dan kamu terus melakukan apa yang jahat di mataku, dan memilih perkara yang tidak kusenangi.”—Yesaya 65:12.
20. Berdasarkan kata-kata Yesus, apa yang harus dilakukan jika si pedosa tidak mau mendengar dan bertobat?
20 Akan tetapi, dalam beberapa kasus saja, si pedosa memang bersikap seperti itu. Jika demikian, Yesus memberi petunjuk yang jelas, ”Biarlah dia bagimu menjadi sama seperti orang dari bangsa-bangsa dan seperti seorang pemungut pajak.” Tuan bukannya menganjurkan kita untuk bersikap tidak manusiawi atau berhasrat menyakiti siapa pun. Namun, petunjuk rasul Paulus sudah jelas agar para pedosa yang tidak mau bertobat disingkirkan dari sidang. (1 Korintus 5:11-13) Malahan, hal ini akhirnya akan bertujuan untuk memperoleh kembali si pedosa.
21. Kemungkinan apa tetap terbuka bagi orang-orang yang dikeluarkan dari sidang?
21 Kita dapat melihat kemungkinan itu dari perumpamaan Yesus tentang anak yang hilang. Sebagaimana diilustrasikan, setelah melewatkan suatu periode di luar lingkungan pengasih di rumah ayahnya, pedosa itu mulai ”sadar”. (Lukas 15:11-18) Paulus menyebutkan kepada Timotius bahwa beberapa pedosa pada akhirnya bertobat dan ”sadar kembali, keluar dari jerat si Iblis”. (2 Timotius 2:24-26) Kita tentulah berharap agar siapa pun yang melakukan dosa tanpa bertobat dan terpaksa disingkirkan dari sidang akan merasa kehilangan—baik perkenan Allah, persaudaraan, maupun kontak yang hangat dengan orang-orang Kristen yang loyal—dan kemudian mulai sadar kembali.
22. Bagaimana kita bisa memperoleh kembali saudara kita?
22 Yesus tidak beranggapan bahwa orang dari bangsa-bangsa lain dan pemungut pajak itu mustahil ditolong. Salah seorang pemungut pajak, Matius Lewi, bertobat, ’mengikuti Yesus’ dengan setulus hati, dan bahkan terpilih sebagai seorang rasul. (Markus 2:15; Lukas 15:1) Oleh karena itu, jika dewasa ini seorang pedosa ”tidak mendengarkan bahkan kepada sidang jemaat” dan ia dikeluarkan dari sidang, kita dapat menunggu apakah dia, pada waktunya, akan bertobat dan kembali menempuh jalan yang lurus. Jika ia melakukannya dan kembali menjadi anggota sidang, maka kita akan senang untuk memperoleh kembali saudara kita di lingkungan ibadat yang sejati.
-