PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Rahasia yang Tersimpan Rapat
    Sedarlah!—2000 | 8 Maret
    • Rahasia yang Tersimpan Rapat

      ”Tidak seorang pun boleh diperbudak atau diperhambakan: perhambaan dan perdagangan budak dalam bentuk apa pun harus dilarang.”​—Deklarasi Universal Tentang Hak Asasi Manusia.

      KALAU Anda hendak membubuhkan gula ke dalam kopi, ingatlah Prevot, seorang pria Haiti yang dijanjikan pekerjaan yang layak di negara Karibia lainnya. Ternyata, ia malah dijual seharga delapan dolar (AS).

      Prevot bernasib sama dengan ribuan rekan senegaranya yang dipaksa untuk menebas tebu selama enam atau tujuh bulan dengan sedikit atau tanpa imbalan uang. Para tawanan ini tinggal di lingkungan yang sesak dan kotor. Setelah barang mereka dilucuti, mereka diberi parang. Untuk memperoleh sesuap makanan, mereka harus bekerja. Jika mereka coba-coba lari, mereka bisa dipukuli.

      Perhatikan kasus Lin-Lin, seorang gadis Asia Tenggara. Ia berusia 13 tahun ketika ditinggal mati ibunya. Sebuah agen tenaga kerja membeli Lin-Lin dari ayahnya seharga 480 dolar, dan menjanjikan Lin-Lin pekerjaan yang baik. Uang yang dibayarkan kepada ayah Lin-Lin itu ternyata adalah ”uang muka dari gaji Lin-Lin”​—dengan demikian, Lin-Lin terikat secara permanen dengan majikan barunya. Bukannya diberi pekerjaan yang layak, Lin-Lin malah dimasukkan ke rumah bordil, dengan tarif kencan 4 dolar per jam. Lin-Lin tidak ubahnya seperti tahanan karena dia tidak dapat pergi dari tempat itu sampai utang-utangnya lunas terbayar. Ini termasuk biaya pembelian Lin-Lin, belum lagi bunga dan biaya-biaya lainnya. Jika Lin-Lin mencoba melawan, ia bisa dipukuli atau disiksa oleh majikannya. Lebih parah lagi, kalau ia mencoba untuk kabur, ia bisa dibunuh.

      Kebebasan untuk Setiap Orang?

      Banyak orang berpendapat bahwa perbudakan sudah tidak ada lagi. Memang, banyak konvensi, deklarasi, dan ketetapan menyatakan secara resmi bahwa perbudakan ditiadakan di kebanyakan negeri. Di mana-mana perbudakan dibenci. Hukum-hukum negara melarang perbudakan, dan dokumen-dokumen hukum internasional menjunjung tinggi dihapuskannya perbudakan​—khususnya Butir 4 dari Deklarasi Universal Tentang Hak Asasi Manusia tahun 1948, yang dikutip di atas.

      Namun, perbudakan masih hidup dan kian marak​—walaupun di beberapa tempat praktek ini merupakan rahasia yang tersimpan rapat. Dari Phnom Penh sampai Paris, dari Mumbai sampai Brasília, jutaan manusia​—pria, wanita, dan anak-anak​—terpaksa hidup dan bekerja sebagai budak atau dalam kondisi diperbudak. Lembaga Anti-Perbudakan Internasional yang bermarkas di London, suatu lembaga tertua di dunia yang memonitor kegiatan kerja paksa, memperkirakan bahwa jumlah budak telah mencapai ratusan juta jiwa. Sebenarnya, sekarang ini angkanya telah lebih besar lagi!

      Memang, perbudakan zaman sekarang tidak lagi bercirikan belenggu, cambuk, dan pelelangan. Kerja paksa, kawin paksa, ikatan utang, buruh anak, dan pelacuran hanyalah beberapa dari semakin banyaknya bentuk perbudakan modern yang dikenal. Gundik, joki unta, pemanen tebu, penenun permadani, atau buruh pembangun jalan dapat pula disebut budak. Memang, mereka tidak dilelang, namun keadaan mereka tak ubahnya seperti budak-budak zaman dahulu. Bahkan, dalam beberapa kasus, mereka mengalami perlakuan yang lebih tragis.

      Siapakah budak-budak modern? Bagaimana mereka sampai menjadi budak? Apa yang sedang dilakukan untuk menolong mereka? Apakah akan ada penghapusan perbudakan besar-besaran?

      [Kotak/Gambar di hlm. 4]

      APAKAH PERBUDAKAN MODERN ITU?

      Ini adalah pertanyaan yang sulit dijawab, bahkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sendiri yang telah bertahun-tahun berupaya mengatasi masalah perbudakan. Sebuah definisi perbudakan dirumuskan oleh Konvensi Perbudakan tahun 1926, yang bunyinya, “Perbudakan adalah status atau kondisi seseorang yang terhadapnya semua atau salah satu kuasa pada hak kepemilikan diberlakukan.” Namun, istilah ‘perbudakan’ tetap saja menimbulkan berbagai macam tafsiran. Menurut seorang wartawati bernama Barbara Crossette, “perbudakan adalah istilah untuk menggambarkan para pekerja yang diupah rendah pada industri garmen dan sepatu olahraga di Amerika maupun di luar negeri. Istilah itu juga digunakan untuk mengutuk industri seks dan penjara kerja paksa”.

      Mike Dottridge, direktur lembaga Anti-Perbudakan Internasional, berpendapat bahwa “karena perbudakan tampaknya telah berganti wajah​—atau karena istilah tersebut dapat berlaku atas lebih banyak kondisi​—bahayanya adalah makna istilah itu akan diencerkan atau bahkan dikurangi”. Ia berpendapat bahwa “perbudakan bercirikan kepemilikan atau kendali terhadap kehidupan orang lain”. Ini mencakup pemaksaan dan pembatasan ruang gerak​—faktanya adalah bahwa “orang yang bersangkutan tidak bebas untuk berhenti kerja dan untuk berganti majikan”.

      A. M. Rosenthal, dalam tulisannya di The New York Times, mengatakan, “Budak hidup sebagai budak​—kerja keras di bawah penindasan, pemerkosaan, kelaparan, penyiksaan, dan penghinaan habis-habisan.” Ia menambahkan, “Dengan harga lima puluh dolar untuk satu budak, tidaklah masalah [bagi si pemilik] untuk berapa lama budaknya hidup sebelum akhirnya, tak bernyawa lagi, dan dibuang ke sungai.”

      [Keterangan]

      Ricardo Funari

  • Siapakah Budak Zaman Sekarang?
    Sedarlah!—2000 | 8 Maret
    • Siapakah Budak Zaman Sekarang?

      COBA pikirkan angka-angka berikut ini. Kira-kira 200 sampai 250 juta anak di bawah usia 15 tahun bekerja sehari suntuk. Pada tahun 1995 dan 1996 saja, seperempat juta anak, termasuk yang baru berusia tujuh tahun, direkrut dalam angkatan bersenjata dan dijadikan budak perang. Wanita dan anak-anak yang dijual sebagai budak diperkirakan berjumlah lebih dari sejuta tiap tahunnya.

      Tetapi, angka-angka itu tidak dapat mengungkapkan keputusasaan insan-insan itu. Misalnya, di sebuah negara di Afrika bagian utara, penulis Elinor Burkett bertemu dengan Fatma, gadis belian yang berhasil kabur dari majikannya yang kejam. Akan tetapi, setelah berbincang-bincang dengannya, Burkett sadar bahwa Fatma ”akan selamanya menjadi budak, dalam pikirannya sendiri”. Dapatkah Fatma membayangkan seperti apa masa depan yang lebih baik itu? ”Ia tidak bisa memproyeksikan apa yang hendak dia kerjakan esok hari,” kata Burkett. ”Masa depan barulah satu dari banyak konsep abstrak yang tidak dimilikinya.”

      Benar, sekarang ini, jutaan sesama kita adalah budak yang putus asa. Mengapa dan bagaimana mereka dapat menjadi budak? Bentuk-bentuk perbudakan macam apa yang mereka derita?

      Berdagang Manusia

      Brosur wisata yang beredar di Amerika Serikat secara terang-terangan berpromosi, ”Wisata seks ke Thailand. Gadis perawan. Memuaskan. Murah. . . . Tahukah Anda bahwa anak perawan dapat Anda beli hanya dengan $200?” Tetapi, tidak disebutkan di brosur itu bahwa ”anak perawan” itu diculik dulu sebelum dijual secara paksa ke rumah bordil, lalu melayani 10 sampai 20 tamu sehari. Jika mereka berani menolak, mereka akan dipukuli. Ketika suatu kebakaran melalap sebuah rumah bordil di Pulau Puket, sebuah tempat wisata di selatan Thailand, lima pelacur tewas terbakar. Mengapa? Karena mereka dirantai oleh mucikari mereka di tempat tidur supaya tidak kabur.

      Dari mana datangnya gadis-gadis ini? Menurut laporan, sektor industri seks ini dipenuhi dengan jutaan gadis dan wanita dari seluruh dunia yang diculik, dipaksa, dan dijual sebagai pelacur. Perdagangan seks internasional berkembang pesat karena adanya kombinasi antara kemiskinan di negara-negara berkembang, kemakmuran di negara-negara maju, serta hukum yang seolah-olah tutup mata terhadap masalah-masalah perdagangan tenaga kerja internasional serta buruh anak.

      Organisasi-organisasi wanita di Asia Tenggara memperkirakan bahwa sejak pertengahan dekade 70-an sampai awal dekade 90-an, 30 juta wanita telah dijual di seluruh dunia. Para pedagang manusia ini berkeliaran di stasiun kereta api, desa miskin, dan di jalanan kota, mencari gadis-gadis dan wanita yang masih lugu. Biasanya, para korban tidak berpendidikan, tidak punya orang-tua, telantar, atau kekurangan. Mereka diiming-imingi pekerjaan, diangkut ke luar negeri, dan akhirnya dijual ke rumah bordil.

      Setelah runtuhnya blok Komunis pada tahun 1991, terbentuklah populasi baru gadis dan wanita miskin. Deregulasi, swastanisasi, dan melebarnya kesenjangan sosial mengakibatkan meningkatnya kejahatan, kemiskinan, dan pengangguran. Gadis serta wanita asal Rusia dan Eropa Timur sekarang telah menjadi lahan bisnis pelacuran internasional yang terorganisasi. ”Berdagang manusia lebih kecil risikonya ketimbang berdagang obat bius,” kata mantan Komisaris Kehakiman Eropa, Anita Gradin.

      Masa Kecil yang Hilang

      Di sebuah pabrik karpet kecil di Asia, anak-anak berusia lima tahun bekerja sejak pukul 4 pagi sampai pukul 11 malam tanpa dibayar. Dalam banyak kasus, buruh anak ini menghadapi ancaman kesehatan serius: mesin-mesin yang membahayakan kesehatan, jam kerja yang panjang di dalam ruangan yang redup dan pengap, serta sarat dengan bahan kimia yang berbahaya.a

      Mengapa anak-anak sangat diminati untuk dijadikan buruh? Karena buruh anak itu murah dan karena secara alami anak-anak itu penurut, mudah untuk didisiplin, dan tidak berani mengeluh. Bagi majikan yang tidak bermoral, tubuh yang kecil dan jari-jari yang cekatan amat menguntungkan untuk pekerjaan tertentu, misalnya menenun karpet. Sering kali, anak-anak tersebut bekerja membanting tulang sementara orang-tuanya hanya duduk-duduk di rumah, menganggur.

      Lebih buruk lagi, pembantu rumah tangga anak-anak biasanya rentan terhadap penganiayaan seksual dan fisik. Banyak anak diculik, ditawan di kamp yang terpencil, dan dirantai pada malam hari supaya tidak kabur. Pada siang hari, mereka dipaksa bekerja membangun jalan dan menambang batu.

      Hilangnya masa kecil juga disebabkan oleh kawin paksa. Anti-Slavery International menjelaskan sebuah kasus yang sering terjadi, ”Seorang gadis berusia 12 tahun diberi tahu bahwa ia akan dinikahkan dengan pria berusia 60 tahun. Meski ia berhak menolak, namun kenyataannya ia tidak diberi kesempatan menggunakan haknya dan bahkan tidak tahu bahwa ia bisa menggunakan haknya.”

      Budak Utang

      Ratusan ribu buruh tetap terikat dengan majikannya dan tempat kerjanya karena mereka atau orang-tua mereka punya utang. Biasanya, budak utang terdapat di daerah-daerah tani tempat buruh bekerja sebagai pembantu atau petani. Dalam beberapa kasus, utang diwarisi dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga anggota keluarga berada dalam ikatan permanen. Dalam kasus lain, majikan yang memiutangi menjual piutangnya ke majikan lain. Dalam kasus ekstrem, buruh utang tidak dibayar sama sekali. Atau, buruh hanya menerima sebagian kecil dari upahnya, yang terus-menerus begitu, sehingga mereka tetap terikat dengan majikannya.

      Perbudakan Ritual

      Binti, dari Afrika Barat, berusia 12 tahun dan salah seorang dari ribuan gadis yang melayani sebagai trocosi, yang dalam bahasa Ewe berarti ”budak para dewa”. Ia dipaksa untuk menjadi budak agar dapat menebus dosa suatu kejahatan yang tidak pernah ia lakukan​—pemerkosaan yang membuatnya hamil! Sekarang ini, tugasnya hanyalah melakukan pekerjaan rumah tangga seorang pendeta berhala. Kemudian, tugas Binti bertambah yakni melayani nafsu berahi sang pendeta, yang kini adalah pemiliknya. Setelah Binti berusia setengah baya, ia akan diganti​—pendeta itu akan mencari gadis-gadis menarik lainnya untuk melayani dia sebagai trocosi.

      Seperti Binti, ribuan korban perbudakan ritual diserahkan oleh keluarganya sendiri untuk dijadikan budak sungguhan sebagai penebus perbuatan yang ditafsirkan sebagai dosa atau pelanggaran titah suci. Di beberapa bagian dunia, gadis atau wanita diwajibkan melaksanakan tugas keagamaan dan melayani nafsu berahi para pendeta atau lainnya​—dengan dalih bahwa wanita tersebut kawin dengan dewa. Dalam banyak kasus, kaum wanita melaksanakan pekerjaan tanpa upah. Mereka tidak boleh pindah rumah atau pindah kerja dan sering kali harus bekerja selama bertahun-tahun.

      Perbudakan Tradisional

      Meskipun sebagian besar negara mengklaim telah menghapuskan perbudakan secara legal, ternyata di beberapa daerah perbudakan tradisional bangkit kembali. Ini biasanya terjadi di daerah yang dilanda pertikaian sipil atau konflik bersenjata. ”Di daerah konflik, hukum tidak berlaku,” lapor Anti-Slavery International, ”dan tentara atau milisi bersenjata dapat memaksa orang untuk bekerja tanpa upah . . . tanpa ada hukum yang melarang hal itu; hal ini dilaporkan umum terjadi di wilayah yang dikendalikan kelompok bersenjata dan yang belum mendapat pengakuan internasional.” Namun, menurut organisasi tersebut, ”terdapat juga laporan baru bahwa tentara pemerintah memaksa orang sipil untuk bekerja sebagai budak di luar kerangka hukum. Tentara dan milisi juga dilaporkan terlibat dalam perdagangan budak, dengan menjual orang yang mereka tangkap kepada pihak lain”.

      Sungguh menyedihkan, kutuk perbudakan tetap menghantui kehidupan manusia dalam banyak bentuk dan kamuflase. Mari pikirkan kembali jumlah korbannya​—jutaan orang menderita sebagai budak di seluruh dunia. Lalu, pikirkan tentang satu atau dua budak modern yang ceritanya telah Anda baca di sini​—mungkin Lin-Lin, atau Binti. Inginkah Anda melihat kejahatan perbudakan modern diakhiri? Apakah penghapusan perbudakan akan menjadi kenyataan? Sebelum ini terjadi, perubahan radikal harus dilakukan. Bacalah tentang hal ini di artikel berikutnya.

      [Catatan Kaki]

      a Lihat ”Buruh Anak​—Akan Segera Berakhir!” dalam Sedarlah! edisi 22 Mei 1999.

      [Kotak/Gambar di hlm. 6]

      MENCARI SOLUSINYA

      Berbagai badan resmi, seperti Dana Anak-Anak Internasional PBB dan Organisasi Buruh Internasional, dengan giat merumuskan dan melaksanakan strategi pemberantasan perbudakan modern. Selain itu, banyak lembaga swadaya masyarakat, seperti Anti-Slavery International dan Human Rights Watch, telah berupaya meningkatkan kesadaran publik terhadap perbudakan modern dan berupaya membebaskan korbannya. Beberapa organisasi berupaya memperkenalkan label khusus yang menyatakan bahwa suatu barang telah diproduksi tanpa budak atau buruh anak. Agar para pelaku hubungan seks dengan anak-anak dapat diseret ke meja hijau sekembalinya mereka ke negara asalnya, lembaga-lembaga lainnya menghubungi lembaga legislatif negara-negara tempat ”wisata seks” diselenggarakan. Beberapa aktivis hak asasi manusia bahkan sampai menebus sebanyak mungkin budak dari majikan mereka. Hal ini telah menimbulkan pro dan kontra, karena praktek-praktek ini malah menghasilkan pasar budak yang menggiurkan dan meningkatkan harga budak.

  • Perbudakan Modern​—Segera Berakhir!
    Sedarlah!—2000 | 8 Maret
    • Perbudakan Modern​—Segera Berakhir!

      ”Kemerdekaan pribadi adalah inti kemerdekaan universal. Jika kemerdekaan pribadi terancam, kemerdekaan universal turut terancam.” Victor Schoelcher, Wartawan Dan Politikus Prancis, 1848.

      ”SISI gelap macam apakah ini yang selalu menyebabkan manusia menghina, menaklukkan dan merendahkan sesamanya?” tanya redaksi The UNESCO Courier. ”Dan, mengapa kejahatan terhadap kemanusiaan ini terus dibiarkan sementara kesadaran masyarakat akan Hak Asasi Manusia telah begitu tinggi?”

      Jawabannya memang pelik. Ketamakanlah yang memotivasi digunakannya buruh anak yang murah serta fenomena buruh utang. Karena kemiskinan dan kurangnya pendidikanlah gadis-gadis menjadi pelacur dan dipaksa kawin. Nilai keagamaan dan konsep kebudayaan ikut menyebabkan perbudakan ritual. Sehubungan dengan para lelaki yang datang ke Bangkok atau Manila untuk mencari anak lelaki atau perempuan bau kencur dan bebas AIDS, jelas motifnya adalah penyimpangan dan perbuatan seksual yang amoral. Semua ini merupakan bagian dari dunia yang sarat dengan para ”pencinta diri sendiri, pencinta uang, . . . [mereka] tidak memiliki kasih sayang alami, . . . tidak mempunyai pengendalian diri, garang”, seperti kata rasul Paulus, seorang peneliti hukum dari abad pertama. (2 Timotius 3:1-5) Ini merupakan bagian dari dunia tempat apa ”yang dibengkokkan tidak dapat diluruskan, dan yang tidak ada tidak mungkin dapat dihitung”, seperti kata Salomo, seorang negarawan zaman dahulu.​—Pengkhotbah 1:15.

      Perubahan Pikiran

      Apakah ini berarti bahwa perbudakan tidak dapat atau tidak akan diakhiri secara permanen​—baik dalam bentuk tradisionalnya maupun dalam bentuk modernnya? Sama sekali tidak!

      Kantor Komisaris Tinggi Urusan Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) menyatakan bahwa perbudakan adalah semacam ”keadaan pikiran”, dan menambahkan, ”Meskipun telah dihapuskan, perbudakan meninggalkan jejak. Begitu lekatnya sehingga membentuk keadaan pikiran​—bagi para korbannya maupun keturunannya dan bagi keturunan pihak-pihak yang mempraktekkannya​—lama setelah perbudakan dinyatakan terlarang.”

      Maka, salah satu cara memberantas perbudakan adalah dengan mengubah cara berpikir​—mengubah hati​—dalam skala global. Dan, hal ini berarti mengubah pendidikan​—mengajar orang untuk saling mengasihi serta merespek martabat. Ini berarti membantu orang mencabut ketamakan sampai ke akar-akarnya dari hati mereka dan berpegang pada standar moral yang tinggi. Siapa yang dapat menyediakan pendidikan semacam itu? OHCHR mengatakan bahwa ”setiap orang mempunyai andil dalam menciptakan tatanan dunia yang tidak lagi mentoleransi eksploitasi yang tidak berperikemanusiaan”.

      Pertimbangkan program pendidikan yang telah dilaksanakan di seluruh dunia oleh masyarakat Kristen Saksi-Saksi Yehuwa. Program ini telah berhasil mengajar orang-orang berhati jujur untuk tidak mentoleransi atau memperbolehkan eksploitasi yang tidak berperikemanusiaan. Melalui program ini, jutaan orang di lebih dari 230 negeri telah diajar untuk memperlakukan sesamanya secara bermartabat. Mengapa program ini berhasil?

      Karena pengajarannya didasarkan atas Alkitab, buku yang diilhami Pencipta manusia. Buku ini menjunjung martabat manusia. Orang-orang yang diberi pengajaran Alkitab melalui program pendidikan Saksi-Saksi Yehuwa belajar bahwa Pencipta kita, Yehuwa, adalah Allah yang bermartabat. (1 Tawarikh 16:27) Dia menganugerahi martabat kepada semua ciptaan-Nya. Itu mencakup pria dan wanita dari semua latar belakang ras, sosial, dan ekonomi.​—Lihat kotak ”Kemerdekaan dan Martabat Manusia​—Sumbernya?”

      Martabat Menuntut Persamaan Hak dan Respek

      Alkitab mengajarkan bahwa ”dari satu orang [Allah] menjadikan setiap bangsa manusia, untuk tinggal di atas seluruh permukaan bumi”. (Kisah 17:26) Maka, tidak seorang pun dapat mengklaim diri lebih unggul daripada sesamanya ataupun berhak menindas atau mengeksploitasi orang lain. Orang-orang yang rela belajar mulai mengakui bahwa ”Allah tidak berat sebelah, tetapi orang dari bangsa mana pun yang takut kepadanya dan mengerjakan keadilbenaran diperkenan olehnya”. (Kisah 10:34, 35) Mereka sadar bahwa kasih Allah tertuju kepada semua orang, karena hak istimewa untuk menjalin hubungan persahabatan dengan Allah terbuka bagi semua orang. Sebenarnya, ”Allah begitu mengasihi dunia ini, ia memberikan Putra satu-satunya yang diperanakkan, agar setiap orang yang memperlihatkan iman akan dia tidak akan dibinasakan melainkan memperoleh kehidupan abadi.”​—Yohanes 3:16.

      Pendidikan yang berdasarkan Alkitab ini dapat sangat mempengaruhi kepribadian. Melaluinya, hati dan pikiran dapat ”diperbaharui seluruhnya”. (Efesus 4:22-24, Bahasa Indonesia Sehari-hari) Pendidikan ini menggerakkan mereka untuk memperlakukan sesama manusia secara bermartabat dan penuh respek. Mereka bertekad untuk ”melakukan apa yang baik untuk semua orang”. (Galatia 6:10) Orang Kristen sejati tidak dibenarkan mengeksploitasi sesamanya secara tidak manusiawi dan menindas mereka. Saksi-Saksi Yehuwa merasa bahagia karena menjadi masyarakat Kristen seperti sidang Kristen pada abad pertama, yang pada waktu itu ’tidak ada orang Yahudi ataupun orang Yunani, tidak ada budak ataupun orang merdeka. Semua adalah satu dalam persatuan dengan Kristus Yesus’.​—Galatia 3:28.

      Perubahan Pemerintahan

      Akan tetapi, agar semua bentuk perbudakan dapat diakhiri untuk selama-lamanya, dibutuhkan perubahan drastis dalam masyarakat. Organisasi Buruh Internasional (ILO) mengatakan bahwa untuk mengakhiri eksploitasi manusia, yang dibutuhkan adalah ”mengubah lingkungan yang membolehkan dan menyepelekan” praktek demikian. ILO juga menyarankan adanya tindakan internasional, kerja sama internasional, dan komitmen masyarakat sedunia.

      Ini tentu saja membutuhkan suatu kekuasaan yang dapat mengendalikan planet kita seluas-luasnya, kekuasaan yang dapat menjamin kemerdekaan universal. Boutros Boutros-Ghali, mantan sekretaris jendral PBB, mengatakan bahwa problem sesungguhnya yang menimpa planet kita harus dipecahkan ”secara global”. Namun, tidak semua orang merasa yakin hal ini bisa dilakukan. Pengalaman yang sudah-sudah menunjukkan bahwa banyak penguasa terlalu memikirkan diri dan kepentingannya sendiri sehingga kerja sama internasional tersebut mustahil tercapai.

      Akan tetapi, Alkitab—buku yang telah mengajar jutaan orang untuk merespek martabat sesamanya—menunjukkan bahwa Allah bermaksud untuk mendirikan pemerintahan dunia semacam itu. Di dalam Alkitab, Anda dapat menemukan banyak janji tentang suatu dunia baru keadilbenaran. (Yesaya 65:17; 2 Petrus 3:13) Allah bermaksud-tujuan untuk membersihkan bumi dari orang-orang yang tidak mengasihi Allah dan sesama. Allah telah menyingkapkan maksud-tujuan-Nya, yaitu untuk mendirikan pemerintahan seluas dunia atas umat manusia, pemerintahan yang akan memerintah bumi dengan keadilbenaran. Yesus menganjurkan kita untuk berdoa demi kedatangan pemerintahan tersebut melalui apa yang umumnya disebut Doa Bapak Kami.—Matius 6:9, 10.

      Eksploitasi manusia dan segala bentuk perbudakan akan dilenyapkan di bawah pemerintahan ini sebab Yesus Sang Raja akan memerintah ”dengan keadilan dan dengan keadilbenaran”. (Yesaya 9:7) Orang yang tertindas akan menemukan kelegaan di bawah pemerintahannya yang adil, seperti yang dikatakan Alkitab, ”Karena ia akan membebaskan orang miskin yang berseru meminta tolong, juga orang yang menderita dan siapa pun yang tidak mempunyai penolong. Ia akan merasa kasihan terhadap orang kecil dan orang miskin, dan jiwa orang-orang miskin akan ia selamatkan. Ia akan menebus jiwa mereka dari penindasan dan tindak kekerasan.”—Mazmur 72:12-14.

      Jika Anda sangat ingin melihat berakhirnya perbudakan—dalam bentuk apa pun—kami mengundang Anda belajar lebih banyak tentang maksud-tujuan Allah untuk mendirikan pemerintahan dunia yang membebaskan ini. Saksi-Saksi Yehuwa di lingkungan Anda senang membantu Anda mempelajarinya.

      [Kotak/Gambar di hlm. 11]

      KEMERDEKAAN DAN MARTABAT MANUSIA—SUMBERNYA?

      Sejak lahir, kita telah memiliki hasrat dan kebutuhan akan martabat dan kemerdekaan. Kofi Annan, sekretaris jenderal PBB, mendengungkan perasaan yang bersifat universal ini dalam pertanyaannya, ”Siapa yang dapat membantah bahwa kita semua menginginkan kehidupan yang bebas dari rasa takut, penyiksaan, dan diskriminasi? . . . Pernahkah Anda mendengar orang menuntut agar kebebasan diakhiri? Pernahkah Anda mendengar seorang budak menuntut agar ia diperbudak?”

      Pemikiran tersebut bukanlah hal baru. Ketika menyanggah gagasan bahwa orang-orang tertentu memang terlahir untuk menjadi budak, Seneca, filsuf Roma pada abad pertama, dalam Letters to Lucillus, menulis, ”Renungkanlah, orang yang Anda sebut budak itu lahir dari benih yang sama seperti Anda, dinaungi oleh langit yang sama seperti halnya Anda, bernapas seperti Anda, hidup seperti Anda, dan mati seperti Anda!”

      Imam Alī, yang oleh beberapa orang disebut sebagai khalifah keempat setelah Muhammad, mengatakan bahwa semua manusia ”diciptakan sederajat”. Saʽdī, seorang penyair Persia abad ke-13, menyatakan, ”Anak-anak Adam adalah anggota tubuh bagi satu sama lain dan diciptakan dari satu sumber. Ketika satu anggota tubuh disakiti oleh dunia, anggota tubuh yang lain ikut merasakannya.”

      Catatan sejarah terilham yang terdapat dalam Alkitab menekankan martabat semua manusia. Misalnya, Kejadian 1:27 menceritakan penciptaan manusia, dengan mengatakan, ”Allah menciptakan manusia menurut gambarnya, menurut gambar Allah diciptakannya dia; laki-laki dan perempuan diciptakannya mereka.” Pencipta kita adalah Allah kemerdekaan. ”Di mana roh Yehuwa berada, di situ ada kemerdekaan,” kata rasul Paulus. (2 Korintus 3:17) Dalam menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, Yehuwa memberikan kepada manusia harga diri dan martabat. Dengan memerdekakan ciptaan-Nya dari ”keadaan sebagai budak kefanaan”, Ia juga akan memastikan agar setiap orang menikmati kemerdekaan dan martabat untuk selama-lamanya.—Roma 8:21.

      [Gambar di hlm. 9]

      Setiap orang berhak memiliki martabat dan kemerdekaan

      [Gambar di hlm. 10]

      PENDIDIKAN ALKITAB MENEKANKAN RESPEK TERHADAP MARTABAT MANUSIA DAN MENYAJIKAN HARAPAN MASA DEPAN

      Pelajaran Alkitab keluarga di Benin

      Keindahan Air Terjun Blue Nile di Etiopia ini memberikan gambaran sekilas tentang firdaus yang dipulihkan

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan