-
Kepulauan SolomonBuku Kegiatan 1992
-
-
Kebiasaan yang Aneh
Di dalam banyak daerah yang belum terjamah di Malaita, khususnya di pegunungan-pegunungan, maupun di pulau-pulau lain, ada suku-suku yang hanya memiliki sedikit hubungan dengan Susunan Kristen atau Kekristenan sejati. Pada umumnya mereka merupakan penyembah-penyembah nenek moyang, beberapa adalah orang-orang animis.
Elson Site, dulunya pengawas wilayah dan kini seorang perintis istimewa dengan keluarga yang terdiri dari delapan anak, menjelaskan bagaimana keadaan di beberapa daerah, ”Merupakan kebiasaan di antara suku-suku itu untuk mengenakan sedikit pakaian atau tidak memakai pakaian sama sekali, dan siapa pun yang mengenakan pakaian yang mengunjungi kampung tersebut dipandang dengan rasa curiga dan sering kali dihalangi untuk memasuki kampung itu.”
Bagaimana mereka akan menanggulangi situasi yang peka ini? Elson melanjutkan, ”Di suatu ketika sekelompok saudara-saudara dari sebuah sidang kecil tiba di sebuah kampung untuk memberitakan dan kepala kampung menentang karena saudara-saudara dan saudari-saudari mengenakan pakaian sewaktu berada di kampung itu. Saudara-saudara menjelaskan bahwa bukan merupakan suatu kebiasaan Kristen untuk telanjang. Karena mereka telah menempuh perjalanan demikian jauh untuk menyampaikan keterangan yang penting ini dari Firman Allah, mereka ingin sekali untuk menanggulangi problem kecil ini yang menghalangi orang-orang ini untuk mendengarkan kabar baik. Kepala kampung berunding dengan orang-orang tua dari kampung itu dalam waktu yang lama dan akhirnya memutuskan bahwa tidak mungkin bagi saudara-saudara untuk memberitakan kepada orang-orang kampung pada hari itu. Namun penyelenggaraan-penyelenggaraan dibuat agar kunjungan selanjutnya lebih berhasil. Orang-orang kampung itu berjanji membangun sebuah rumah dari daun rumbia tepat di luar batas kampung sehingga saudara-saudara dan saudari-saudari berpakaian lengkap dapat menggunakan rumah itu untuk menemui siapa pun dari orang kampung itu yang ingin berkunjung untuk mendengarkan apa yang diajarkan Alkitab. Sistem ini berjalan lancar, karena orang-orang kampung senang berbicara tentang hal-hal rohani.”
Selain harus menghormati pembatasan berkenaan pakaian di beberapa kampung, saudara-saudara juga harus mematuhi pembatasan-pembatasan lain yang berlaku di antara orang-orang ini karena kepercayaan mereka. Arturo Villasin, kini pengawas wilayah melaporkan, ”Saudara-saudara yang memimpin kelompok pengabaran mana pun sangat berhati-hati untuk menghormati kenyataan bahwa orang-orang kampung memiliki perasaan yang sangat kuat tentang melakukan apa pun yang akan membuat marah roh-roh. Di beberapa kampung sama sekali dilarang untuk menyebutkan kata-kata atau nama-nama tertentu, seperti mengucapkan nama pribadi dari seorang leluhur yang telah meninggal yang dianggap memiliki kekuatan atas kampung itu. Beberapa pohon juga dianggap suci dan hanya orang-orang pria yang boleh duduk di bawah naungan pohon-pohon itu. Di suatu kampung di tepi pantai tertentu, digunakannya warna-warna tertentu bersifat menyinggung, pakaian berwarna merah atau hitam tidak dapat dikenakan. Maka dengan bijaksana, sebuah buku atau Alkitab yang sampulnya berwarna merah atau hitam tidak akan digunakan sewaktu mengabar.
”Seorang wanita juga dilarang keras memasuki beberapa daerah di suatu kampung. Seorang pria tidak boleh menduduki tempat duduk yang sama dengan seorang wanita yang bukan istrinya. Jikalau adat istiadat ini dilanggar, suatu denda harus segera dibayar. Maka penting sekali agar saudara-saudara dan saudari-saudari memiliki pengetahuan yang rinci tentang peraturan-peraturan, undang-undang, dan pembatasan-pembatasan dari setiap kampung tertentu bila ingin memberikan kesaksian yang berhasil. Maka sebelum memasuki sebuah kampung, saudara yang memimpin kelompok penyiar itu akan membahas secara rinci apa yang harus dan tidak boleh dilakukan sewaktu berada di kampung itu oleh mereka di kelompok tersebut, khususnya saudari-saudari yang kemungkinan melanggar tanpa sadar adat istiadat yang berorientasi pada pria. Penyesuaian-penyesuaian yang tidak mengkompromikan prinsip-prinsip Yehuwa yang adil-benar dengan senang hati dibuat sehingga orang-orang di kampung itu memperoleh cukup kesempatan untuk mendengar kabar baik. Banyak orang kampung telah menyambut dan dengan senang hati membuang praktik-praktik yang tidak menyenangkan Allah sejati.”
Dikelilingi Hantu-Hantu
Di daerah pegunungan distrik dari Kwaio di Malatia terletak kampung Aiolo. Kampung ini penduduknya sebagian besar keluarga Saksi-Saksi Yehuwa.
Aiolo seperti surga bagi umat Yehuwa, namun dikelilingi ibadat hantu. Seraya saudara memandang kampung itu saudara dapat melihat banyak daerah yang merupakan tempat-tempat suci, semak-semak yang lebat di puncak bukit-bukit, dengan lereng-lereng bukit itu ditebang pohon-pohonnya untuk membedakan tanah yang suci dengan daerah netral. Ada imam yang mengorbankan babi kepada ilah-ilah. Sebagian dari korban-korban itu dimakan oleh imam tersebut dan kadang-kadang oleh pria-pria lain. Akan tetapi, tidak ada wanita yang diizinkan memakan bagian dari korban itu ataupun ikut serta dalam persembahan yang sesungguhnya dari korban itu, dengan ancaman hukuman mati, meskipun dia mempunyai peranan besar dalam memelihara babi tersebut. Setelah korban dipersembahkan, imam dan orang-orang lain yang mempersembahkan korban harus tinggal dalam sebuah rumah suci di lingkungan kampung itu selama beberapa hari yang telah ditentukan sebelum kembali kepada keluarga mereka.
Sebuah rumah yang dibangun dengan cepat yang terbuat dari bambu dan bahan-bahan dari hutan didirikan di Aiolo. Seorang Saksi menyediakan rumah baru ini untuk apa yang disebut pelarian-pelarian. Mereka ini adalah orang-orang berminat, bahkan keluarga-keluarga yang telah melarikan diri dari ibadat hantu. Mereka telah melarikan diri dari kampung penyembahan hantu untuk berlindung di Aiolo. Pada suatu waktu sebuah keluarga yang melarikan diri, seorang suami, istrinya, dan beberapa saudara laki-laki dan saudara perempuan, tiba di sana karena orang-orang kampung berusaha membunuh mereka karena membuat marah hantu-hantu mereka dengan tidak mempersembahkan seekor babi kepadanya. Hukumannya—kematian!
Beberapa hari kemudian pengawas wilayah berkunjung ke Aiolo. Dengarkan apa yang dikatakannya, ”Istriku dan saya diundang makan di rumah salah seorang dari saudara-saudara. Di tengah-tengah mereka duduklah keluarga pelarian. Kami dengan segera jatuh cinta kepada mereka, namun mereka merasa takut dan membelakangi kami. Akan tetapi, sewaktu selesai makan, mereka semuanya tersenyum lebar dan duduk menghadap kami. Mereka akhirnya menyadari bahwa kami persis sama seperti semua saudara-saudara dan saudari-saudari yang mengasihi Yehuwa dan yang juga dikasihi oleh-Nya!”
Tidak Ada Celana Panjang
Namun marilah kita kembali kepada Saudara Villasin dan bertanya kepadanya mengapa sekarang ia menggunakan celana pendek dan bukan celana panjang. Ia berkata, ”Di sebuah kampung, kelompok penyiar-penyiar kami telah memberi kesaksian kepada semua orang di kampung itu. Akan tetapi seorang saudara telah berbicara panjang lebar kepada kepala kampung. Akhirnya, saudara itu keluar dari rumah kepala kampung. Wajahnya kelihatan khawatir. Kepala kampung memberi tahu saudara itu bahwa dia menginginkan celana panjang saya! Sekarang saya yang kelihatannya khawatir! Saya tidak membawa celana panjang cadangan, dan tidaklah layak bagi seorang pengawas wilayah untuk berjalan ke mana-mana tanpa celana panjang. Saya meminta saudara itu kembali segera dan meyakinkan kepala kampung bahwa seraya ia dan orang-orangnya mungkin merasa nyaman tidak mengenakan apa-apa, saya seorang dari negeri lain yang mempunyai adat istiadat yang sama sekali berbeda, dan salah satu dari kebiasaan itu bahwa dalam keadaan apa pun kami tidak muncul telanjang di depan umum. Meskipun demikian, kepala kampung sungguh menginginkan celana panjang saya. Akan tetapi, setelah percakapan panjang, saudara itu meyakinkan kepala kampung untuk membiarkan saya tetap memiliki celana panjang saya. Saya merasa lega! Sejak saat itu, saya tidak mengenakan celana panjang kalau mengunjungi kampung mana pun. Saya mengenakan celana pendek sama seperti saudara-saudara lain!”
Seorang pengawas keliling asing lainnya merasakan suatu pengalaman yang mendirikan bulu roma. Di sebuah kampung, seseorang tidak boleh menggunakan kata-kata Inggris yang dilarang yaitu ”wicked” dan ”war”. Dua kata itu adalah nama dari dua hantu mereka. Mengucapkan kata-kata ini merupakan pelanggaran dan suatu denda yang besar harus dibayar bagi mereka yang melanggarnya. Sewaktu Saksi-Saksi setempat pergi memberitakan di sana, pengawas keliling yang baru memberitahukan saudara-saudara bahwa ia sebaiknya mendengar saja di setiap pintu rumah. Saudara-saudara tidak setuju; mereka berkukuh bahwa pengawas wilayah hendaknya berbicara di sebuah pintu, karena dia telah diberi tahu secara rinci mengenai adat istiadat setempat. Pengawas keliling itu akhirnya setuju. Seraya ia berjalan menaiki dan menuruni bukit-bukit melewati jalan-jalan kecil, ia terus menggumam kepada dirinya sendiri, ”Jangan sebut WAR, jangan bilang WICKED.”
Sewaktu akhirnya mereka mencapai daerah itu, salah seorang pria mengundang pengawas keliling dan dua saudara lain memasuki rumahnya. Dua saudara memulai percakapan dan memperkenalkan pengawas keliling yang gugup. Dia menyampaikan sebuah persembahan Alkitab singkat, dan segala sesuatunya berjalan lancar. Penghuni rumah kelihatannya senang akan apa yang didengarnya. Pengawas keliling juga merasa lega dan membuka buku Saudara Dapat Hidup Kekal Dalam Bumi Firdaus dan mulai menunjukkan gambar-gambar tentang Firdaus. Namun kemudian dengan rasa ngeri ia menambahkan, ”Dan Allah akan segera melenyapkan war (peperangan).”
Mata orang itu melebar, demikian pula mata pengawas wilayah. Dengan cepat ia memandang kepada dua saudara lain untuk bantuan dan menarik nafas panjang, tetapi mereka memandang kepada penghuni rumah seolah-olah berkata, ’Dia tidak menyebut war (perang) bukan?” Penghuni rumah memandang kembali kepada mereka seolah-olah berkata, ”Tidak, saya rasa tidak.” Maka percakapan berakhir tanpa adanya denda yang harus dibayar. Tapi, mengenai pengawas keliling itu, ia tidak sabar menunggu untuk segera kembali ke Aiolo.
Bukan hanya adat istiadat dan cara berpakaian orang-orang dari Kepulauan Solomon berbeda dari orang-orang Barat tetapi metode-metode pembangunan juga berbeda. Namun demikian, dua proyek pembangunan yang besar telah membantu banyak orang setempat untuk melihat bahwa roh Allah Yehuwa menyertai para penyembah-Nya. Pada tahun 1989 orang-orang Auki di Malaita merasa takjub sewaktu mereka memperhatikan sebuah sidang dari 60 penyiar membangun sebuah Balai Kebaktian yang bisa menampung seribu hadirin. Kemudian, pada bulan Juni 1991, orang-orang dari Honiara memandang dengan mata lebar Balai Kebaktian dengan 1.200 tempat duduk seolah-olah bertumbuh dari fondasinya hanya dalam waktu dua minggu, balai pertama dengan ukuran ini yang dibangun dengan cepat di daerah Pasifik. Persinggahan kita yang pertama dalam perjalanan peninjauan ke lokasi pembangunan adalah Pulau Malaita.
”Balai yang Dibangun Yehuwa”
Dimulai dengan dua palu dan dua pahat sebagai perkakas. Ditambahkan sejumlah pekerja-pekerja sukarela dan semua kayu yang dapat ditebang dari hutan berawa-rawa di sekelilingnya. Kini saudara memiliki bahan-bahan untuk membangun sebuah Balai Kebaktian dengan 1.500 tempat duduk, dengan gaya Kepulauan Solomon. Keajaiban pembangunan demikian telah menyumbang kepada seruan kuat untuk memuji nama Yehuwa di Malaita. Begitu banyak problem yang kelihatannya tidak dapat ditanggulangi harus diatasi dalam pembangunan fasilitas berukuran 930 meter persegi itu sehingga menjadi terkenal sebagai ”balai yang dibangun Yehuwa”.
Pada bulan Juni 1982 para utusan injil yang ditugaskan ke Malaita mengadakan suatu pertemuan di kota propinsi utama Auki dan sampai kepada kesimpulan ini: Sebuah Balai Kerajaan baru untuk sidang setempat yang terdiri dari 65 penyiar sangat dibutuhkan. Hadir pada pertemuan itu Roger Allan dan dua utusan injil Filipina, Pepito Pagal dan Arturo Villasin.
Balai Kerajaan yang lama telah dimakan rayap. Bangunan itu telah menjadi demikian rapuh sehingga bahkan hembusan angin yang ringan saja dapat merobohkannya. Bangunan tersebut yang mula-mula dibangun untuk menyediakan pernaungan sementara dari matahari dan hujan bagi 400 orang yang telah menghadiri kebaktian di Auki 15 tahun sebelumnya, kini hampir roboh.
Sidang Auki hanya mempunyai dua saudara yang bekerja sepenuh waktu, dan penghasilan mereka masing-masing kira-kira $50 [Rp 100.000] per bulan. Maka semua anggota sidang setuju untuk mula-mula memusatkan perhatian kepada pengumpulan uang guna memulai proyek tersebut. Saudara Pagal dan Saudara Villasin ditugaskan untuk mengorganisasi ”suatu persatuan” sidang—sekelompok tenaga sukarela dari sidang yang akan berusaha mencari dana yang dibutuhkan.
Sidang menanam ubi jalar dan kubis sendiri. Hasilnya kemudian dibungkus dalam keranjang-keranjang dari daun kelapa dan dikirim dengan perahu ke Honiara. Di sana, seorang saudara perintis yang sudah lanjut usia, Cleopass Laubina, menjual sayuran-sayuran itu dengan harga terbaik dan mengirimkan uangnya kembali ke Sidang Auki. Juga, setiap hari Senin, 40 sampai 50 saudara dan saudari membanting tulang untuk mengumpulkan dana, dengan bekerja sebagai penggali parit, membersihkan perkebunan kelapa dari tanaman-tanaman di bawahnya, dan mengaduk semen dengan tangan. Maka, menjelang tahun 1985, setelah bekerja selama 3 1/2 tahun, sidang telah mengumpulkan dana pembangunan sebesar $2.000. [Rp 4.000.000].
Memperluas Proyek
Sementara itu, telah diputuskan memperluas proyek pembangunan secara lebih besar untuk mendatangkan manfaat bagi seluruh 23 sidang di Malaita. ”Sebaliknya dari membangun Balai Kerajaan hanya untuk 70 penyiar, mengapa tidak membangun sebuah Balai Kebaktian untuk 1.500 orang?” demikian pikir Saksi-Saksi setempat. Maka sebuah bangunan besar direncanakan yang dapat menampung 1.500 orang dan menyediakan pernaungan bukan hanya dari matahari khatulistiwa yang terik tetapi juga dari siraman hujan yang merupakan ciri dari Kepulauan Solomon.
Sebuah rencana sketsa dibuat, yang melukiskan sebuah balai dengan panjang 30 meter, lebar 32 meter, dengan atap yang miring ke bawah agar dapat menghilangkan udara panas melalui langit-langit. Balai itu dirancang tanpa tiang-tiang utama apa pun sehingga pemandangan dari hadirin tidak akan terhalang. Itu dibangun di atas sebidang tanah milik sidang seluas lima are.
Pada tahun 1985 panitia pembangunan sidang memperoleh pinjaman dengan bunga rendah. Tidak lama kemudian, Saksi-Saksi di Swedia memberikan sumbangan yang cukup besar, sehingga dana Balai Kebaktian menjadi sebesar $13.500 [Rp 27.000.000] sehingga pekerjaan pembangunan dapat dimulai.
Manajer dari sebuah penggergajian kayu di Honiara juga berjanji untuk mengirim seluruh 300 balok yang telah digergaji yang dibutuhkan sebagai tiang-tiang penyangga utama dan tiang-tiang serambi dan teras maupun kuda-kuda atap beserta balok-balok penyangga dan kasau-kasaunya. Kuda-kuda atap itu akan dibuat di Honiara dan kemudian dilepaskan dan dikirimkan dengan tongkang ke Auki, di mana itu kemudian dipasang kembali dan didirikan di atas tiang-tiang penyangga utama.
Regu pekerja pembangunan bergairah dan siap untuk mulai! Akan tetapi, satu-satunya peralatan yang mereka miliki hanyalah dua palu dan dua pahat. Tentu saja, ada banyak pekerja-pekerja sukarela yang siap membantu melaksanakan pekerjaan itu. Namun, tidak ada seorang Saksi pun di Malaita yang memiliki pengalaman pembangunan komersial. ”Saudara-saudara dan saudari-saudari meminta saya untuk mengawasi pekerjaan pembangunan, namun saya bahkan belum pernah membangun sebuah kandang ayam!” kata Saudara Allan.
Bagaimana caranya para Saksi dapat mengangkat kuda-kuda atap—masing-masing terdiri dari delapan balok besar yang dibaut satu sama lain yang beratnya dua sampai lima ton—dari tanah ke atas tiang-tiang penyangga setinggi enam meter? Dan selain itu, bagaimana mereka dapat mengangkat penutup puncak atap sepanjang 12 meter ke atas tanpa menggunakan derek konstruksi yang besar?
”Saya tidak tahu,” demikian pengakuan Saudara Allan pada waktu itu. ”Kita hanya dapat bersandar kepada Yehuwa untuk membantu kita.”
Bantuan Diharapkan
Bantuan tenaga terampil datang dari jauh di seberang lautan pada bulan Oktober 1986. Jon dan Margaret Clarke, yang telah ambil bagian dalam pembangunan kantor cabang Selandia Baru, mendengar imbauan dari Sidang Auki dan berhasil memperoleh visa tiga bulan untuk mengunjungi Malaita.
Dengan sebuah alat pengaduk semen yang diterima sebagai hadiah, sidang melanjutkan dengan membangun sebuah panggung yang besar dan dinding beton dengan sayap-sayap samping di belakang panggung. Dengan menggunakan tangan mereka sebagai sekop, mereka menggali lubang-lubang yang dalam dan memenuhinya dengan beton, di atas mana mereka mendirikan 18 tiang penyangga utama untuk dinding, atap dan serambi.
Setelah menerima pelatihan dari Saudara Clarke, saudara-saudara setempat memasang kembali kuda-kuda atap ruang utama dan tiga buah kuda-kuda atap serambi. Namun mereka masih harus memasang kuda-kuda atap yang berat ini di tempatnya. Merupakan suatu tantangan rekayasa karena kuda-kuda atap itu dibuat dengan memasang delapan balok bersama-sama dengan baut menjadi suatu segi tiga yang besar. Tekad yang penuh gairah dari saudara-saudara dan kecerdikan mereka sungguh tak terlukiskan.
Suatu Balet Balok
Satu-satunya peralatan yang tersedia untuk pekerjaan pengangkatan raksasa demikian hanyalah sebuah katrol pada derek darurat. Derek itu sendiri terbuat dari delapan balok. Kuda-kuda atap pertama yang beratnya dua ton harus diangkat melewati dinding beton yang baru dibangun dan dinaikkan ke atas dua tiang penyangga di belakangnya. Sewaktu derek mengangkat kuda-kuda atap itu melalui puncaknya dalam posisi tegak, dengan cemas saudara-saudara menyadari bahwa derek itu tidak dapat mengangkat kuda-kuda atap cukup tinggi untuk melewati dinding. Itu satu meter lebih rendah! Selama dua hari kuda-kuda atap itu dibiarkan bergantung pada derek—disangga oleh balok-balok di bawahnya—seraya saudara-saudara merasa sedih dan memikirkan problem tersebut.
Orang-orang yang lewat akan mengolok-olok, sambil berkata, ”Tidak dapatkah Yehuwa mengangkat kuda-kuda itu bagi kalian?”
”Bagus!” seru saudara-saudara. ”Kini Yehuwa pasti akan membantu kita!”
Suatu dorongan kreatif yang tiba-tiba mengilhami para pekerja. Sebuah dongkrak dari truk pick up disisipkan di bawah salah satu ujung kuda-kuda atap yang terletak pada balok-balok, mengangkatnya beberapa sentimeter lebih tinggi. Kemudian ujung kuda-kuda atap itu disangga oleh beberapa balok. Lalu dongkrak itu dipindahkan ke ujung yang lain dari kuda-kuda itu untuk mengangkat ujung itu, dan ujung itu pun ditinggikan dan disangga oleh balok-balok. Prosedur ini diulangi beberapa kali sampai setelah bergulat selama empat hari, kuda-kuda atap yang pertama dapat dinaikkan dan melewati dinding beton dan ditempatkan pada tiang-tiang penyangga yang ditentukan. Hasil yang menakjubkan ini menggerakkan saudara-saudara menari-nari di sekeliling lokasi proyek itu, membentuk lingkaran besar, seraya bertepuk tangan dan menyanyikan lagu-lagu riang gembira.
Baru setelah proyek diselesaikan dan dongkrak itu telah digunakan dengan berhasil untuk mengangkat tiga kuda-kuda atap—satunya beratnya sampai lima ton—saudara-saudara menyadari bahwa tulisan yang buram yang tercetak pada sisi dongkrak itu yang menunjukkan kapasitas mengangkatnya sebenarnya tidak berbunyi ”15 ton”, seperti yang mereka anggap semula, tetapi sesungguhnya, hanya ”1,5 ton”!
”Bila dikenang kembali, apa yang saudara-saudari lakukan sungguh tidak masuk akal,” kata Saudara Allan. ”Sambil memperhatikan kuda-kuda atap yang besar itu terangkat ke udara sama seperti melihat balet balok!”
”Tidak Dapatkah Yehuwa Membangun Sebuah Balai?”
Pada bulan Januari 1987 dua saudara setempat yang berusaha di bidang bangunan mengunjungi Auki dari Honiara dan setelah memeriksa kuda-kuda atap itu berkata bahwa penggergajian kayu itu dengan tidak sengaja telah mengirimkan balok-balok dari pohon buah yang tidak sesuai dan bahwa balok-balok ini akan menjadi lapuk dari dalam tanpa kelihatan. Mereka percaya bahwa kelapukan telah mulai di bagian dalam dan bahwa balok-balok itu harus diganti. Empat bulan kemudian diagnosis yang mencelakakan ini diteguhkan—sebagian besar dari balok-balok yang dikirimkan itu telah menjadi lapuk dan sebagian besar dari pekerjaan pembangunan yang besar yang telah dicapai itu harus diulang kembali.
Saudara dan Saudari Clarke tiba kembali di Auki pada bulan Juli, disertai oleh Steven dan Allan Brown dari Auckland. Mereka membawa serta peralatan yang disumbangkan dari lokasi pembangunan kantor cabang Selandia Baru yang telah rampung. Saudara-saudara dari Selandia Baru itu merencanakan kunjungan mereka dengan niat untuk menyelesaikan struktur atap dari balai itu. Namun, ternyata pekerjaan mereka dipusatkan untuk menghancurkan sebagian besar dari struktur yang dibangun tahun-tahun sebelumnya.
Akan tetapi, kesulitan terbesar yang harus ditanggung saudara-saudara adalah ejekan terus-menerus yang diteriakkan oleh penumpang-penumpang dalam truk-truk terbuka, yang melewati lokasi proyek itu maupun komentar-komentar yang menghina dari orang-orang di pasar-pasar atau di jalan-jalan Auki.
”Tidak dapatkah Yehuwa membangun sebuah balai?” seru mereka. ”Ini membuktikan bahwa kalian memeluk agama palsu,” olok-olok mereka. ”Hanya orang-orang yang tidak waras membangun sebuah balai dan merobohkannya lagi.” Seraya orang-orang dari agama lain melewati lokasi bangunan, mereka menari-nari dan bernyanyi di depan saudara-saudara yang kecewa—bersukacita karena kemalangan mereka. Saudara-saudara setempat begitu patah semangat sampai-sampai mereka memberi tahu utusan injil bahwa mereka ”akan meninggalkan balai sekarang juga seandainya nama Yehuwa tidak berada di situ”.
Olok-Olok Hanya Berumur Pendek
Olok-olok dari pengejek itu kadang-kadang berumur pendek. Misalnya, sekelompok penyanyi yang sedang menuju ke suatu acara gereja khusus yang enam belas kilometer jauhnya, meneriakkan hinaan dan menertawakan pekerja-pekerja bangunan seraya mereka melewati lokasi itu dalam sebuah truk. Satu setengah kilometer setelah melewati lokasi bangunan, truk mereka mogok dan tidak bisa melanjutkan perjalanan sehingga mereka tidak bisa sampai ke tempat tujuan mereka.
Sewaktu berita mengenai mogoknya kendaraan itu sampai ke lokasi bangunan, nasihat diberikan supaya tidak ’membalas kejahatan dengan kejahatan.’ (Rm. 12:17) Namun seraya beberapa saudara menaiki truk proyek melewati penyanyi-penyanyi yang sudah tidak dapat bergerak itu tidak lama kemudian, mereka tidak dapat menahan diri untuk secara diam-diam menari kecil karena keriangan!
Kampung Kona Datang Memberi Bantuan
Hanya 38 balok dari penggergajian itu yang tidak lapuk, jadi sisa yang dibutuhkan 300 balok harus diambil dari tempat yang lain. Tetapi dari mana? Saksi-Saksi dari kampung Kona yang terletak lima kilometer dari lokasi proyek, menghampiri para pekerja bangunan dan menawarkan untuk menyumbangkan pohon-pohon hardwood [jenis pohon yang besar dan berdaun lebar yang kayunya keras] dari tanah mereka sendiri. Kayu-kayunya dapat menggantikan tiang-tiang penyangga utama, tiang-tiang serambi, dan teras dan kuda-kuda atap dari ruang utama. Ini merupakan pengorbanan besar dari Saksi-Saksi di kampung Kona, karena Malaita telah rusak oleh Cyclone Namu, dan pohon-pohon ini secara khusus telah disisihkan untuk membangun kembali rumah-rumah mereka yang rusak.
Untuk memperoleh balok-balok tersebut, saudari-saudari dari Sidang Auki membangun jalan selebar enam meter, membuat celah sepanjang 0,8 kilometer menembus hutan lebat dari tempat pemotongan kayu ke jalan utama. Mereka mengerahkan segenap tenaga mereka untuk menebang pohon-pohon, membangun jembatan-jembatan, melewati parit-parit dan menyingkirkan perintang-perintang di jalan yang baru ini. Kemudian pohon-pohon yang dipilih dapat ditebang, dibuang ranting-rantingnya, dan digergaji agar dapat menjadi balok dengan gergaji rantai.
”Kami seperti Semut-Semut”
Kayu-kayu yang baru ini telah dipotong persegi dengan ukuran 36 sentimeter pada setiap sisinya sepanjang 6,4 meter. Tetapi bagaimana balok-balok besar ini dapat sampai di jalan utama sejauh 0,8 kilometer?
Anggota-anggota sidang menanggapi, ”Kami seperti semut-semut! Dengan banyak tangan kita dapat menggerakkan apa saja!” (Bandingkan Amsal 6:6.) Bila lebih banyak saudara dan saudari dibutuhkan untuk mengangkut balok-balok itu, seruan yang menggema di daerah penebangan pohon, ”Semut! Semut! Semut!” Saudara-saudara dan saudari-saudari akan berduyun-duyun menghampiri dari segala arah untuk ikut membantu. Empat puluh saudara dan saudari akan mengangkat balok seberat setengah ton dengan tangan dan mengangkutnya melewati jalan itu menuju ke jalan raya utama, untuk diangkut ke lokasi pembangunan dengan truk.
Menegakkan tiang-tiang utama dan tiang-tiang lain di tempatnya merupakan pekerjaan yang penuh risiko. Sekali lagi, cara penduduk asli melakukan perkara-perkara terbukti paling berhasil. Setibanya di lokasi bangunan, setiap tiang ditempatkan kira-kira tiga meter jauhnya dari lobang yang dalam, di mana tiang-tiang itu akan diturunkan dan disemen.
Tiga puluh saudara dan saudari mengangkat ujung atas dari tiang itu ke atas dua balok yang disilangkan. Kemudian mereka mendorong tiang itu dengan cepat di tanah di mana ujung bawahnya meluncur menuju lobang yang ditentukan. Dua dari empat saudara-saudara yang paling berani berdiri dengan menahan lembaran papan yang tebal di sisi yang berlawanan dari lobang tersebut, dan sewaktu balok yang meluncur itu mengenai papan-papan, maka itu akan berhenti sehingga gerakan maju akan mengangkat tiang tersebut agar dapat berdiri tegak seraya tiang itu masuk ke dalam lobang fondasi.
Suatu Kekeliruan Berubah Menjadi Berkat
Selanjutnya, dijadwalkan bahwa atap akan dipasang pada balai itu. Akan tetapi, pada waktu itu dana pembangunan telah habis terpakai, dan sidang tidak mampu membeli atap seng untuk bangunan tersebut. Syukurlah, sewaktu Badan Pimpinan dari Saksi-Saksi Yehuwa diberi tahu mengenai imbauan saudara-saudara, suatu pemberian senilai $10.000 [Rp 20.000.000] tersedia. Bukan hanya cukup untuk membeli atap tetapi untuk menyelesaikan ruang utama Balai Kebaktian.
Uang muka sebesar $6.000 dibayarkan kepada sebuah perusahaan sheet metal untuk atap-atap logam, yang dicat abu-abu muda. Meskipun ini bukan warna yang dikehendaki dan bukan dengan ketebalan atau kualitas yang diinginkan panitia pembangunan, namun hanya itu yang mampu mereka sediakan. Akan tetapi, para pekerja pembangunan menjadi tidak senang, sewaktu mendengar bahwa atap-atap logam itu telah dijual kepada kelompok agama lain di Honiara untuk pembangunan gereja baru mereka. Perusahaan yang seharusnya mengirimkan atap tersebut meminta maaf atas kekeliruan tersebut, namun mereka tidak lagi memiliki persediaan bahan atap sedemikian.
Seminggu kemudian, perusahaan itu memberi tahu para Saksi bahwa persediaan bahan atap dengan kualitas yang lebih baik dan ketebalan yang lebih besar tiba. Namun karena kekeliruan dari perusahaan itu, mereka membiarkan sidang membelinya dengan harga yang jauh lebih rendah—jauh di bawah kemampuan dana pembangunan. Bahkan yang lebih menakjubkan, atap logam yang baru ini telah dicat lebih dahulu dengan warna hijau tua yang lebih menarik, yang mula-mula diinginkan oleh sidang tetapi tidak mampu mereka beli.
Pada bulan Desember 1987, Saudara Henry Donaldson, seorang kontraktor atap dari Selandia Baru tiba. Proyek itu disempurnakan dengan atap indah seluas 1.100 meter persegi. Kini seraya penumpang-penumpang truk yang membawa para pengejek melewati lokasi bangunan, saudara-saudara dan saudari-saudari paling sedikit dapat menyanyi dan menari—sambil dengan penuh sukacita menunjuk ke bangunan yang hampir rampung tersebut!
Bayangkan sukacita mereka sewaktu, beberapa hari kemudian, balai tersebut untuk pertama kalinya digunakan. Viv Mouritz dari cabang Australia, yang melayani sebagai pengawas zone, menyampaikan khotbah kepada hadirin sebanyak 593 orang. Dia memuji semua sukarelawan yang telah bekerja demikian keras pada proyek besar ini atas semangat pengorbanan diri dan ketekunan mereka.
Berbuat Sebisa-bisanya
Balai Kebaktian di Malaita ini merupakan suatu contoh bagaimana hal besar dapat dilaksanakan tanpa peralatan konstruksi modern dan bahan-bahan komersial. Itu merupakan bukti bagaimana Yehuwa memberkati usaha-usaha dari mereka yang menaruh kepercayaan penuh kepada-Nya. Sering kali pekerjaan berjalan maju bahkan tanpa peralatan-peralatan yang sangat mendasar seperti sekop, yang dianggap suatu kebutuhan mutlak di negara-negara yang lebih maju.
Ketika batu-batu kerikil perlu dikumpulkan dan dimuat ke dalam karung-karung untuk diangkut ke lokasi bangunan, saudari-saudari akan menggali batu-batu karang dari suatu bukit karang dengan batang-batang kayu yang tajam dan memasukkan batu-batu kerikil yang tajam dan runcing itu ke dalam kantong-kantong dengan tangan kosong mereka. Dalam waktu hanya satu hari saudari-saudari menggali dan memuat tiga ton karang pada truk-truk!
Suatu contoh lain untuk berbuat sebisa-bisanya dengan apa yang tersedia terjadi sewaktu roda dari satu-satunya gerobak dorong pengangkut semen di lokasi bangunan itu rusak, tanpa bisa diperbaiki dan tidak ada suku cadang pengganti di mana pun di Kepulauan Solomon. Ini tidak menghalangi Saksi-Saksi sedikit pun. Setelah memenuhi gerobak dorong itu dengan semen, mereka hanya mengangkatnya dan membawanya ke lokasi sampai roda pengganti tiba dari Selandia Baru lima minggu kemudian.
Akhirnya, setelah banyak pekerjaan tambahan dilakukan, Balai Kebaktian digunakan untuk Kebaktian Distrik, ”Keadilan Ilahi” selama bulan Oktober tahun 1988.
-
-
Kepulauan SolomonBuku Kegiatan 1992
-
-
[Gambar di hlm. 243]
Balok-balok yang diangkut dari rawa-rawa dan dipotong persegi dengan gergaji rantai dimuat ke sebuah truk. Balok-balok persegi (tiang-tiang dinding) dimasukkan ke lubang fondasi untuk Balai Kebaktian di Auki
[Gambar di hlm. 244]
Kuda-kuda atap yang besar seberat sampai lima ton dibuat dengan membaut delapan balok jadi satu. Kuda-kuda diletakkan di atas tiang penyangga setinggi enam meter tanpa bantuan peralatan konstruksi berat
[Gambar di hlm. 245]
Balai Kebaktian dengan 1.500 tempat duduk yang telah rampung di Auki, Malaita
-