-
Apakah Jiwa Tidak Berkematian?Menara Pengawal—1996 | 1 Agustus
-
-
Apakah Jiwa Tidak Berkematian?
DENGAN senyap, teman-teman serta keluarga berjalan mengelilingi peti jenazah yang terbuka. Mereka menatap jenazah, seorang anak lelaki berusia 17 tahun. Teman-teman sekolahnya tidak dapat mengenalinya sama sekali. Kemoterapi telah merontokkan rambutnya; kanker telah menggerogoti tubuhnya. Inikah teman mereka? Baru beberapa minggu yang lalu, ia begitu kaya akan gagasan, pertanyaan, kekuatan—semangat hidup! Sambil meneteskan air mata ibunya terus-menerus mengatakan, ”Tommy sudah lebih bahagia sekarang. Allah ingin agar Tommy berada di surga bersamanya.”
Ibu yang berdukacita ini menemukan secercah harapan dan penghiburan dalam gagasan bahwa entah bagaimana putranya masih hidup. Di gereja ia telah diajarkan bahwa jiwa tidak berkematian, bahwa itu adalah inti kepribadian, pikiran, dan ingatan—”diri sendiri”. Ia percaya bahwa jiwa putranya sama sekali tidak mati; karena jiwa adalah suatu roh yang hidup, yang meninggalkan tubuh putranya sewaktu mati dan pergi ke surga untuk tinggal bersama Allah dan para malaikat.
Sewaktu ditimpa musibah, hati manusia berpaut erat kepada harapan sekecil apa pun, sehingga tidaklah sulit untuk mengerti mengapa kepercayaan ini memiliki daya tarik yang besar. Misalnya, perhatikan cara teolog J. Paterson-Smyth mengekspresikan dirinya dalam The Gospel of the Hereafter, ”Kematian adalah sesuatu yang tidak penting jika dibandingkan dengan apa yang terjadi setelah itu—suatu dunia yang benar-benar indah yang diperkenalkan Maut kepada kita.”
Di seluruh dunia dan dalam banyak agama serta kebudayaan, orang-orang percaya bahwa manusia memiliki suatu jiwa yang tidak berkematian dalam tubuhnya, roh yang sadar yang terus hidup setelah tubuh mati. Kepercayaan tersebut hampir bersifat universal dalam ribuan agama dan sekte Susunan Kristen. Ini juga merupakan doktrin resmi dalam Yudaisme. Orang-orang Hindu percaya bahwa atma, atau jiwa, diciptakan terlebih dahulu, terperangkap dalam tubuh pada saat kelahiran, dan sewaktu mati berpindah ke tubuh lain dalam siklus reinkarnasi. Orang-orang Muslim percaya bahwa jiwa dan tubuh membentuk makhluk hidup dan terus hidup setelah tubuh mati. Agama lainnya—animisme di Afrika, Shinto, bahkan Buddha dengan caranya masing-masing—mengajarkan beragam kepercayaan dengan tema yang sama ini.
Beberapa Pertanyaan yang Membingungkan
Meskipun konsep tentang suatu jiwa yang tidak berkematian memiliki daya tarik yang tidak dapat disangkal dan hampir bersifat universal, namun ia menimbulkan beberapa pertanyaan yang mengganggu. Misalnya, orang-orang bertanya-tanya ke mana perginya jiwa orang-orang yang dikasihi apabila semasa hidupnya ia tidak dapat diteladani. Apakah ia akan bereinkarnasi menjadi suatu bentuk kehidupan yang lebih rendah? Atau apakah ia dikirim ke api penyucian, tempat ia akan dibersihkan melalui semacam proses pembakaran sampai dinyatakan layak untuk pergi ke surga? Namun kemungkinan buruknya, apakah ia akan disiksa selama-lamanya dalam neraka yang bernyala-nyala? Atau apakah ia, sebagaimana diajarkan oleh banyak agama animisme, menjadi suatu roh yang harus ditenangkan?
Konsep-konsep demikian kemungkinan mendatangkan beban atas orang-orang yang masih hidup. Haruskah kita menenangkan roh dari orang-orang yang kita kasihi tersebut kalau-kalau mereka mengadakan pembalasan terhadap kita? Haruskah kita membantu mereka keluar dari suatu api penyucian yang mengerikan? Atau haruskah kita merasa ngeri tak berdaya karena membayangkan penderitaan mereka di neraka? Atau haruskah kita memperlakukan hewan-hewan tertentu seolah-olah mereka membawa jiwa orang-orang yang telah meninggal?
Pertanyaan-pertanyaan yang timbul sehubungan dengan Allah kemungkinan tidak lebih menghibur. Misalnya, banyak orang-tua, seperti ibu yang disebutkan di awal, sejak semula dihibur oleh anggapan bahwa Allah ”mengambil” jiwa anaknya yang tidak berkematian ke surga untuk tinggal bersama-Nya. Namun, bagi banyak orang, akan tiba saatnya mereka mulai bertanya-tanya Allah macam apa yang tega memberi penyakit yang mengerikan kepada seorang anak kecil yang lugu, sekonyong-konyong merampas sang belahan jiwa dari orang-tua yang berdukacita sekadar untuk memindahkan anak tersebut ke surga sebelum waktunya. Di manakah keadilan, kasih, belas kasihan pada Allah semacam itu? Beberapa bahkan meragukan hikmat Allah sedemikian. Mereka bertanya mengapa Allah yang berhikmat menaruh jiwa-jiwa ini di bumi sejak semula jika mereka semua akhirnya akan hidup di surga? Bukankah itu berarti bahwa penciptaan bumi sebenarnya suatu upaya yang sia-sia?—Bandingkan Ulangan 32:4; Mazmur 103:8; Yesaya 45:18; 1 Yohanes 4:8.
Jadi, jelaslah bahwa doktrin tentang jiwa manusia yang tidak berkematian, dalam bentuk apa pun itu diajarkan, menimbulkan pertanyaan yang membingungkan, bahkan doktrin ini pun tidak konsisten. Mengapa? Kebanyakan dari kebingungan tersebut ada hubungannya dengan asal mula dari ajaran ini. Pikiran saudara segera akan terbuka dengan mencari tahu akarnya; dan saudara mungkin akan terkejut mengetahui apa yang Alkitab sendiri katakan tentang jiwa. Alkitab memberikan harapan yang jauh lebih baik untuk kehidupan setelah kematian dibandingkan dengan yang umum diajarkan oleh agama-agama dunia ini.
-
-
Harapan yang Lebih Baik bagi JiwaMenara Pengawal—1996 | 1 Agustus
-
-
Harapan yang Lebih Baik bagi Jiwa
PRAJURIT-PRAJURIT Romawi tidak menyangka hasilnya akan seperti ini. Sewaktu mereka menggempur benteng gunung di Masada, pertahanan terakhir dari pasukan pemberontak Yahudi, mereka telah siap mental untuk menghadapi perlawanan dari musuh mereka, pekik para pejuang, jeritan para wanita dan anak-anak. Ternyata, yang mereka dengar hanyalah bunyi gemericik nyala api. Sewaktu mereka menggeledah benteng yang terbakar tersebut, prajurit-prajurit Romawi ini mendapati suatu kenyataan yang mengerikan: musuh mereka—sekitar 960 orang—telah tewas! Secara sistematis, pejuang-pejuang Yahudi telah membantai keluarga mereka sendiri, kemudian saling membantai satu sama lain. Orang yang terakhir membunuh dirinya sendiri.a Apa yang menuntun mereka kepada pembunuhan massal dan bunuh diri yang menakutkan ini?
Menurut Josephus sejarawan yang hidup pada waktu itu, satu faktor penting adalah kepercayaan akan jiwa yang tidak berkematian. Eleazar Ben Jair, pemimpin kaum Zealot di Masada, pertama-tama berupaya meyakinkan anak buahnya bahwa bunuh diri jauh lebih terhormat daripada kematian atau perbudakan di tangan orang-orang Romawi. Karena melihat mereka ragu-ragu, ia mulai menyampaikan sebuah pidato yang berapi-api tentang jiwa. Ia memberi tahu mereka bahwa tubuh hanyalah sebuah penghalang, sebuah penjara bagi jiwa. ”Tetapi pada saat jiwa terbebas dari tubuh yang menariknya turun ke bumi dan yang menyangganya,” ia melanjutkan, ”jiwa kembali ke tempatnya sendiri, kemudian sesungguhnya ia ambil bagian dalam tenaga yang diberkati dan kekuatan tak terbatas yang mutlak, menjadi tidak tampak oleh mata manusia seperti halnya Allah Sendiri.”
Sambutannya? Josephus melaporkan bahwa setelah Eleazar berbicara dengan gaya seperti itu secara panjang lebar, ”seluruh pendengarnya menginterupsi pidatonya dan dengan penuh rasa antusias yang tak terkendali mereka segera beraksi”. Josephus menambahkan, ”Seperti orang kerasukan, mereka bergegas, setiap orang ingin lebih cepat daripada orang berikutnya, . . . sebuah hasrat yang tak terbendung telah mendorong mereka untuk membantai istri, anak-anak dan diri mereka sendiri.”
Contoh tidak menyenangkan ini dapat mengilustrasikan betapa hebatnya doktrin tentang jiwa yang tidak berkematian dapat mengubah pandangan manusia yang normal terhadap kematian. Orang-orang yang mempercayainya diajar untuk memandang kematian, bukan sebagai musuh terburuk manusia, tetapi hanya seperti sebuah gerbang yang membebaskan jiwa untuk menikmati suatu keberadaan yang lebih luhur. Tetapi mengapa kaum Zealot Yahudi tersebut mempercayainya? Banyak orang mungkin beranggapan bahwa tulisan-tulisan suci mereka, Kitab-Kitab Ibrani, mengajarkan bahwa manusia memiliki roh yang sadar di dalam dirinya, suatu jiwa yang meluputkan diri untuk hidup setelah kematian. Apakah benar demikian?
Jiwa Dalam Kitab-Kitab Ibrani
Singkatnya, jawabannya adalah tidak. Tepat di dalam buku yang pertama dari Alkitab, Kejadian, kita diberi tahu bahwa jiwa bukan sesuatu yang saudara miliki, itu adalah diri saudara. Kita membaca tentang penciptaan Adam, manusia pertama, ”Manusia itu menjadi makhluk [”jiwa”, NW] yang hidup.” (Kejadian 2:7) Kata Ibrani untuk jiwa yang digunakan di sini, neʹphesh, muncul dengan jelas sebanyak lebih dari 700 kali dalam Kitab-Kitab Ibrani, tidak satu kali pun menyampaikan gagasan tentang bagian yang bersifat roh, terpisah, tidak tampak dari manusia. Sebaliknya, jiwa itu berwujud, konkret, bersifat jasmani.
Periksalah kutipan ayat-ayat berikut ini dalam Alkitab saudara sendiri, karena kata Ibrani neʹphesh ditemukan dalam masing-masing ayat tersebut. Ayat-ayat ini dengan jelas memperlihatkan bahwa jiwa dapat menghadapi risiko, bahaya, dan bahkan dapat diculik (Ulangan 24:7, NW; Hakim 9:17, NW; 1 Samuel 19:11, NW); menjamah sesuatu (Ayub 6:7, NW); dibelenggu dalam besi (Mazmur 105:18, NW); sangat menginginkan makanan, menderita karena puasa, lemas karena lapar dan haus; dan menderita karena penyakit paru-paru atau bahkan sulit tidur karena dukacita. (Ulangan 12:20, NW; Mazmur 35:13, NW; 69:10, NW; 106:15, NW; 107:9; 119:28) Dengan kata lain, karena jiwa saudara adalah saudara, diri saudara sendiri, jiwa saudara dapat mengalami apa pun yang dapat saudara alami.b
Kalau begitu, apakah itu berarti bahwa jiwa bisa mati? Ya. Sebaliknya daripada bersifat tak berkematian, jiwa manusia dikatakan dalam Kitab-Kitab Ibrani dapat ”dimusnahkan”, atau dihukum mati, karena perbuatan salah, diserang sampai mati, dibunuh, dibinasakan, dan dihancurkan. (Keluaran 31:14, NW; Ulangan 19:6, NW; 22:26, NW; Mazmur 7:2, NW) ”Orang [”jiwa”, NW] yang berbuat dosa, itu yang harus mati,” kata Yehezkiel 18:4. Jelaslah, kematian adalah akhir yang wajar bagi jiwa manusia, karena kita semua berdosa. (Mazmur 51:7) Manusia pertama, Adam, diberi tahu bahwa hukuman atas dosa adalah kematian—bukan peralihan kepada dunia roh atau keadaan tak berkematian. (Kejadian 2:17) Dan ketika ia berdosa, vonis dijatuhkan, ”Sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” (Kejadian 3:19) Sewaktu Adam dan Hawa mati, mereka akhirnya menjadi apa yang sering Alkitab katakan sebagai ”jiwa yang mati” atau ”jiwa yang meninggal”.—Bilangan 5:2, NW; 6:6, NW.
Menarik bahwa The Encyclopedia Americana mengatakan tentang jiwa dalam Kitab-Kitab Ibrani, ”Konsep Perjanjian Lama tentang manusia adalah sebagai suatu kesatuan, bukan sebagai gabungan antara jiwa dan tubuh.” Ia menambahkan, ”Nefesh . . . tidak pernah dipahami sebagai sesuatu yang bertindak terpisah dari tubuh.”
Jadi, apa yang dipercayai orang-orang Yahudi yang setia berkenaan kematian? Sederhana saja, mereka percaya bahwa kematian adalah lawan dari kehidupan. Mazmur 146:4 memberi tahu tentang apa yang terjadi saat roh, atau daya hidup, meninggalkan manusia, ”Apabila nyawanya [”rohnya”, NW] melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya.”c Demikian pula, Raja Salomo menulis bahwa orang mati ”tak tahu apa-apa”.—Pengkhotbah 9:5.
Jadi, mengapa banyak orang Yahudi abad pertama, seperti misalnya kaum Zealot di Masada, begitu yakin akan keadaan jiwa yang tidak berkematian?
Pengaruh Yunani
Orang-orang Yahudi memperoleh gagasan ini, bukan dari Alkitab, tetapi dari orang-orang Yunani. Antara abad ketujuh dan kelima SM, konsep tersebut tampaknya menyusup dari kultus-kultus religius Yunani yang misterius ke dalam filsafat Yunani. Gagasan tentang akhirat tempat jiwa-jiwa yang jahat menerima hukuman yang menyakitkan telah lama menjadi daya tarik yang besar, kemudian gagasan tersebut mulai berkembang dan meluas. Para filsuf tidak habis-habisnya berdebat mengenai kodrat yang pasti dari jiwa. Homer berpendapat bahwa jiwa berpindah segera setelah mati, menimbulkan suara dengungan, ciapan, atau desauan yang dapat didengar. Epikuros mengatakan bahwa jiwa sebenarnya memiliki massa dan, dengan demikian, merupakan jasad renik.d
Tetapi kemungkinan pembela terbesar dari jiwa yang tidak berkematian adalah filsuf Yunani Plato, dari abad keempat SM. Uraiannya tentang kematian Sokrates, gurunya, menyingkapkan keyakinan yang sangat serupa dengan kepercayaan kaum Zealot dari Masada berabad-abad kemudian. Sebagaimana dikatakan oleh Oscar Cullmann seorang teolog Protestan Prancis, ”Plato memperlihatkan kepada kita bagaimana Sokrates meninggal dalam kedamaian dan ketenangan. Kematian Sokrates adalah kematian yang indah. Tidak tampak di sini adanya teror kematian. Sokrates tidak takut mati, karena sesungguhnya kematian melepaskan kita dari tubuh. . . . Kematian adalah sahabat yang terbaik bagi jiwa. Itulah yang ia ajarkan; jadi, dalam keselarasan yang menakjubkan dari pengajarannya, ia mati.”
Bukti-bukti menunjukkan bahwa selama periode Makabe, pada abad kedua sebelum Masehi, orang-orang Yahudi mulai menyerap ajaran Yunani ini. Pada abad pertama M, Josephus memberi tahu kita bahwa orang-orang Farisi dan Essen—kelompok religius Yahudi yang berpengaruh—mengadopsi doktrin ini. Beberapa puisi yang disusun pada zaman itu mencerminkan kepercayaan yang sama.
Akan tetapi, bagaimana dengan Yesus Kristus? Apakah ia dan para pengikutnya juga mengajarkan gagasan yang berasal dari agama Yunani ini?
Pandangan Orang-Orang Kristen Masa Awal tentang Jiwa
Orang-orang Kristen abad pertama tidak memandang jiwa sebagaimana orang-orang Yunani memandangnya. Misalnya, pertimbangkan kematian sahabat Yesus, Lazarus. Jika Lazarus memiliki jiwa yang tidak berkematian yang melompat ke luar dalam keadaan bebas dan bahagia pada waktu kematian, tidakkah catatan dalam Yohanes pasal 11 akan lain ceritanya? Tentulah Yesus akan memberi tahu pengikut-pengikutnya andaikan Lazarus masih hidup, sejahtera, serta sadar di surga; sebaliknya, Yesus sependapat dengan Kitab-Kitab Ibrani dan memberi tahu mereka bahwa Lazarus tertidur, tidak sadar. (Ayat 11) Tentulah Yesus akan bergirang andaikan sahabatnya sedang menikmati hidup baru yang menyenangkan; sebaliknya, kita mendapati ia menangis di hadapan umum atas kematian Lazarus. (Ayat 35) Pastilah, jika jiwa Lazarus telah berada di surga, bersukaria dalam keadaan tidak berkematian yang menakjubkan, Yesus tidak akan pernah begitu kejam dengan memanggilnya kembali untuk hidup beberapa tahun lagi dalam ”penjara” tubuh jasmani yang tidak sempurna di tengah-tengah umat manusia yang sakit dan sekarat.
Apakah Lazarus kembali dari kematian dengan kisah-kisah menarik selama empat hari yang menakjubkan sebagai makhluk roh yang merdeka, terlepas dari tubuh? Tidak. Orang-orang yang mempercayai jiwa yang tidak berkematian akan menanggapi bahwa hal ini disebabkan karena pengalaman manusia terlalu dahsyat untuk diungkapkan dengan kata-kata. Tetapi, argumen tersebut gagal untuk meyakinkan; bagaimanapun juga, tidak dapatkah Lazarus menceritakan kepada orang-orang yang ia kasihi setidak-tidaknya hal tersebut—yaitu bahwa ia telah mengalami sesuatu yang terlalu menakjubkan untuk diceritakan? Sebaliknya, Lazarus tidak mengatakan apa-apa sehubungan dengan pengalaman apa pun yang ia miliki sewaktu mati. Pikirkan hal itu—berdiam diri terhadap subjek yang paling banyak mengundang keingintahuan orang: seperti apa kematian itu! Keadaan berdiam diri tersebut dapat dijelaskan hanya dengan satu cara. Tak ada yang perlu diceritakan. Orang mati tertidur, tidak sadar.
Jadi, apakah Alkitab menunjukkan bahwa kematian adalah sahabat jiwa, sekadar lintasan ritual antara tahap-tahap kehidupan? Tidak! Bagi orang Kristen sejati seperti rasul Paulus, kematian bukan sahabat; ia adalah ”musuh terakhir”. (1 Korintus 15:26) Orang-orang Kristen memandang kematian, bukan sebagai kewajaran, tetapi sesuatu yang mengerikan, sesuatu yang tidak wajar, karena kematian merupakan akibat langsung dari dosa dan pemberontakan melawan Allah. (Roma 5:12; 6:23) Kematian tidak pernah menjadi bagian dari maksud-tujuan Allah yang semula bagi umat manusia.
Namun, orang-orang Kristen sejati bukannya tanpa harapan sehubungan dengan kematian dari jiwa. Kebangkitan Lazarus adalah satu di antara kisah-kisah Alkitab yang dengan jelas menunjukkan kepada kita harapan Alkitab yang benar untuk jiwa yang mati—kebangkitan. Alkitab mengajarkan tentang dua jenis kebangkitan. Bagi mayoritas umat manusia yang tertidur dalam kuburan, yang adil-benar maupun yang tidak adil-benar, ada harapan kebangkitan untuk kehidupan kekal dalam Firdaus di sini di atas bumi. (Lukas 23:43; Yohanes 5:28, 29; Kisah 24:15) Bagi kelompok kecil yang Yesus sebut sebagai ”kawanan kecil”nya, ada harapan kebangkitan untuk kehidupan yang tak berkematian sebagai makhluk roh di surga. Mereka ini, termasuk rasul-rasul Kristus, akan memerintah bersama Kristus Yesus atas umat manusia dan memulihkan mereka kepada kesempurnaan.—Lukas 12:32; 1 Korintus 15:53, 54; Penyingkapan 20:6.
Kalau begitu, mengapa kita mendapati gereja-gereja Susunan Kristen mengajarkan, bukan kebangkitan, tetapi jiwa manusia yang tidak berkematian? Perhatikan jawaban yang diberikan oleh teolog Werner Jaeger dalam The Harvard Theological Review tahun 1959, ”Fakta yang terpenting dalam sejarah dari doktrin Kristen adalah bahwa bapak dari teologi Kristen, Origen, adalah seorang filsuf Plato di sekolah Aleksandria. Ia menambahkan kepada doktrin Kristen seluruh drama kosmik tentang jiwa, yang diambilnya dari ajaran Plato.” Jadi gereja melakukan persis seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi berabad-abad sebelumnya! Mereka mengabaikan pengajaran Alkitab demi filsafat Yunani.
Asal Mula yang Sebenarnya dari Doktrin Tersebut
Mungkin, ada yang bertanya, dalam membela doktrin jiwa yang tidak berkematian: Mengapa doktrin yang sama diajarkan, dalam satu atau lain bentuk, oleh begitu banyak agama di dunia? Alkitab memberikan alasan yang masuk akal mengapa ajaran ini begitu dominan di kalangan agama di dunia ini.
Alkitab memberi tahu kita bahwa ”seluruh dunia terletak dalam kuasa si fasik”, dan secara spesifik mengidentifikasi Setan sebagai ”penguasa dunia ini”. (1 Yohanes 5:19; Yohanes 12:31) Jelaslah, agama-agama dunia tidak kebal terhadap pengaruh Setan. Sebaliknya, mereka telah sangat banyak menyumbang kepada kesusahan dan pertikaian dunia dewasa ini. Dan sehubungan dengan jiwa, mereka tampaknya mencerminkan pikiran Setan dengan sangat jelas. Mengapa demikian?
Ingatlah dusta pertama yang pernah diucapkan. Allah telah mengatakan kepada Adam dan Hawa bahwa mereka akan mati jika berbuat dosa melawan Dia. Tetapi Setan meyakinkan Hawa, ”Sekali-kali kamu tidak akan mati.” (Kejadian 3:4) Kenyataannya, Adam dan Hawa mati; mereka kembali menjadi debu seperti yang telah Allah katakan. Setan, ”bapak dari dusta”, tidak pernah mengabaikan dustanya yang pertama. (Yohanes 8:44) Dalam sekian banyaknya agama yang menyimpang dari doktrin Alkitab atau mengabaikan keabsahannya, gagasan yang sama tetap ada, ’Sekali-kali Anda tidak akan mati. Tubuh Anda dapat lenyap, tetapi jiwa Anda akan terus hidup, selama-lamanya—seperti Allah!’ Menarik, Setan juga memberi tahu Hawa bahwa ia akan menjadi ”seperti Allah”!—Kejadian 3:5.
Betapa jauh lebih baik untuk memiliki harapan yang didasarkan, bukan atas dusta atau filsafat manusia, tetapi atas kebenaran. Betapa jauh lebih baik untuk yakin bahwa orang-orang yang kita kasihi yang meninggal tidak sadar dalam kuburan, sebaliknya daripada khawatir tentang di mana gerangan jiwa-jiwa yang tak berkematian berada! Keadaan orang-orang mati yang seperti tidur tidak perlu membuat kita takut atau susah. Namun, kita dapat memandang orang-orang mati seolah-olah berada di tempat peristirahatan yang aman. Mengapa aman? Karena Alkitab meyakinkan kita bahwa orang-orang mati yang dikasihi Yehuwa hidup dalam arti khusus. (Lukas 20:38) Mereka hidup dalam ingatan-Nya. Hal tersebut merupakan gagasan yang benar-benar menghibur karena ingatan-Nya tidak terbatas. Ia ingin menghidupkan kembali manusia yang Ia kasihi yang tak terhitung jumlahnya dan memberikan kepada mereka kesempatan untuk hidup selama-lamanya dalam suatu firdaus di bumi.—Bandingkan Ayub 14:14, 15.
Hari yang mulia dari kebangkitan akan tiba, seraya semua janji Yehuwa pasti digenapi. (Yesaya 55:10, 11) Coba pikirkan nubuat ini sejenak, ”Tetapi orang-orang-Mu yang mati menjadi hidup, tubuh mereka bangkit kembali. Mereka yang tidur di dalam bumi akan bangun dan berseru dengan sukacita; sebab embun-Mu ialah embun cahaya yang bersinar, dan bumi akan menghidupkan orang-orang yang telah lama mati untuk lahir kembali.” (Yesaya 26:19, The New English Bible) Jadi orang mati yang sedang tidur dalam kuburan sama amannya dengan seorang bayi dalam rahim ibunya. Mereka akan segera ”dilahirkan”, dihidupkan kembali dalam suatu bumi firdaus!
Adakah harapan yang lebih baik dari itu?
-