-
Spiritisme—Bagaimana Pandangan Allah?Menara Pengawal—1987 (Seri 40) | Menara Pengawal—1987 (Seri 40)
-
-
Tenung, Gangguan, dan Kematian
Asamaja Amelia, seorang wanita setengah baya di Suriname, berumur 17 tahun ketika ia pertama kali terlibat dalam tenung, atau ilmu meramal, suatu bentuk spiritisme. Karena ramalan-ramalannya benar-benar terjadi dan orang-orang yang bertanya mendapat manfaat dari nasihatnya, ia sangat dihormati di masyarakat. (Bandingkan Kisah 16:16.) Tetapi ada satu hal yang mengganggunya.
”Roh-roh yang berbicara melalui saya berlaku baik kepada orang-orang yang meminta bantuan mereka,” katanya, ”tetapi pada waktu yang sama mereka membuat kehidupan saya sengsara. Tiap kali setelah meramal, saya merasa lelah sekali dan hampir-hampir tidak dapat bergerak. Bila malam tiba, saya ingin beristirahat, tetapi roh-roh itu tidak mendiamkan saya. Mereka terus mengganggu saya, berbicara kepada saya, dan membuat saya terus bangun. Dan hal-hal yang mereka katakan!” Ia menarik napas dan memandang ke bawah, menggeleng-gelengkan kepala dengan perasaan jijik. ”Mereka senang berbicara tentang seks dan mendesak untuk mengadakan hubungan dengan saya. Hal itu sangat mengejutkan. Saya sudah menikah. Saya tidak ingin berlaku tidak setia dan telah mengatakan hal itu kepada mereka. Tetapi sia-sia. Pernah suatu kekuatan yang tidak kelihatan menyergap saya, menyentuh dan menekan tubuh saya, dan bahkan menggigit saya. Saya merasa sedih sekali.”
’Roh-roh menganjurkan imoralitas seks? Itu tidak masuk akal!’ mungkin saudara berkata. Apakah roh-roh itu benar-benar sehina itu?
”Mereka bahkan lebih buruk lagi!” kata Izaak, yang disebutkan sebelumnya. ”Pada suatu malam kami dipanggil untuk membantu seorang wanita yang sakit karena diganggu oleh suatu roh. Pemimpin kelompok—dukun dari roh yang lebih kuat—berusaha untuk mengusir roh itu. Sepanjang hari kami memohonkan bantuan dari roh yang dihubungi dukun itu. Kami menari dan memukul gendang, dan sedikit demi sedikit wanita itu menjadi lebih baik. Ia memerintahkan agar roh dalam diri wanita itu keluar, dan ini berhasil. ’Kami menang,’ kata pemimpin itu dengan berseri-seri. Kemudian kami duduk dan beristirahat.”
Lengan Izaak yang digerak-gerakkan diam sebentar ketika ia berhenti untuk berpikir. Kemudian ia melanjutkan, ”Untuk sementara semua nampaknya berjalan dengan baik, tetapi kemudian suatu jeritan memecah kesunyian. Kami segera lari ke rumah dari mana jeritan itu berasal dan melihat istri pemimpin itu. Ia menangis histeris. Di dalam rumah kami menemukan anak perempuannya yang masih kecil—kepalanya menghadap ke belakang! Suatu kekuatan telah memutar dan mematahkan lehernya, membunuhnya seperti seekor ayam —rupanya, pembalasan dari roh yang diusir itu. Memuakkan! Roh-roh itu adalah pembunuh-pembunuh yang sadis.”
-
-
Spiritisme—Bagaimana Pandangan Allah?Menara Pengawal—1987 (Seri 40) | Menara Pengawal—1987 (Seri 40)
-
-
Kemudian kita harus menyingkirkan semua benda-benda yang ada hubungannya dengan spiritisme. Izaak melakukan hal itu. Ia mengatakan, ”Pada suatu hari saya mengumpulkan semua milik saya yang ada hubungannya dengan spiritisme di depan rumah saya, mengambil sebuah kapak, dan memecah-mecahnya sampai berkeping-keping. Tetangga saya berteriak bahwa saya akan menyesali apa yang saya lakukan. Sementara ia berteriak, saya menyiram bensin ke atas kepingan-kepingan itu dan membakar semuanya. Tidak ada satu pun yang tersisa.”
Itu 28 tahun yang lalu. Apakah Izaak menyesali tindakannya? Sebaliknya. Sekarang, ia melayani Yehuwa dengan bahagia sebagai seorang rohaniwan di salah satu sidang dari Saksi-Saksi Yehuwa.
Yesaya 1:17 memberikan nasihat selanjutnya, ”Belajarlah berbuat baik.” Hal itu menuntut kita mempelajari Firman Yehuwa, Alkitab, untuk mengetahui apa yang ”baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”. (Roma 12:2) Dan dengan menerapkan pengetahuan yang baru didapatkan itu kita akan menghasilkan berkat-berkat yang menyegarkan. Itulah yang dialami oleh Asamaja.
Meskipun mendapat tantangan yang keras dari sanak keluarga dan tetangga-tetangga, Asamaja dengan teguh belajar Alkitab bersama Saksi-Saksi Yehuwa dan tidak lama setelah itu melepaskan diri dari spiritisme. Kemudian ia membaktikan kehidupannya kepada Allah Yehuwa dan dibaptis pada suatu kebaktian. Sekarang, kira-kira 12 tahun kemudian, ia mengatakan dengan penuh syukur, ”Sejak saya dibaptis, saya tidak pernah diganggu oleh roh-roh.” Dan sambil tersenyum ia mengingat, ”Pada malam setelah saya dibaptis, saya tidur begitu nyenyak dan tanpa gangguan sehingga saya terlambat datang pada acara kebaktian esok paginya.”
Manfaat-Manfaat yang Kekal
Dewasa ini, Izaak maupun Asamaja dengan sungguh-sungguh dapat mengatakan bersama dengan pemazmur Asaf, ”Bagiku sungguh baiklah berada dekat Allah.” (Mazmur 73:28, BIS) Memang, dengan mendekat kepada Yehuwa mereka telah mendapat manfaat-manfaat secara fisik dan emosi. Tetapi yang terutama, hal itu telah memberi mereka ketenangan batin dan hubungan yang akrab dengan Yehuwa.
-