-
Spiritisme—Bagaimana Pandangan Allah?Menara Pengawal—1987 (Seri 40) | Menara Pengawal—1987 (Seri 40)
-
-
Bagaimana jika saudara sudah mengambil langkah-langkah pertama menempuh jalan menuju spiritisme? Maka ada baiknya saudara segera berhenti dan berpaling. Ikuti nasihat yang diilhami ilahi yang diberikan oleh nabi Allah Yesaya kepada orang-orang Israel purba. Keadaan mereka serupa dengan orang-orang dewasa ini yang terlibat dalam praktek-praktek yang najis namun berpikir bahwa mereka pada waktu yang sama menyembah Allah. Jadi, ada pelajaran-pelajaran penting dalam pengalaman mereka. Pelajaran apa?
Indahkan Peringatan Yesaya
Pasal pertama dari buku Yesaya memperlihatkan bahwa orang-orang Israel telah ”meninggalkan [Yehuwa]” dan ”berpaling membelakangi Dia.” (Ayat 4) Meskipun mereka telah tersesat, mereka tetap mempersembahkan korban-korban, merayakan hari-hari raya, dan memanjatkan doa. Tetapi sia-sia! Karena mereka tidak mempunyai keinginan dari hati untuk menyenangkan Pencipta mereka, Yehuwa mengatakan, ”Aku akan memalingkan mukaKu, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya.” Orang-orang Israel itu telah memberontak melawan Dia dengan melakukan praktek-praktek yang najis, bahkan sampai sejauh ’memenuhi tangan mereka dengan darah’.—Ayat 11-15.
Di bawah keadaan apa Yehuwa akan menerima mereka kembali? Perhatikan tuntutan yang diuraikan di Yesaya 1:16. Ia mengatakan, ”Basuhlah, bersihkanlah dirimu.” Jadi jika kita menganggap serius nasihat itu, kita akan berhenti atau tidak lagi melakukan praktek-praktek yang najis, termasuk spiritisme, salah satu ”perbuatan daging.” Karena kita tahu bahwa pikiran yang jahat di belakang spiritisme adalah milik Setan si Iblis, kita akan memperkembangkan kebencian untuk itu.
Kemudian kita harus menyingkirkan semua benda-benda yang ada hubungannya dengan spiritisme. Izaak melakukan hal itu. Ia mengatakan, ”Pada suatu hari saya mengumpulkan semua milik saya yang ada hubungannya dengan spiritisme di depan rumah saya, mengambil sebuah kapak, dan memecah-mecahnya sampai berkeping-keping. Tetangga saya berteriak bahwa saya akan menyesali apa yang saya lakukan. Sementara ia berteriak, saya menyiram bensin ke atas kepingan-kepingan itu dan membakar semuanya. Tidak ada satu pun yang tersisa.”
Itu 28 tahun yang lalu. Apakah Izaak menyesali tindakannya? Sebaliknya. Sekarang, ia melayani Yehuwa dengan bahagia sebagai seorang rohaniwan di salah satu sidang dari Saksi-Saksi Yehuwa.
Yesaya 1:17 memberikan nasihat selanjutnya, ”Belajarlah berbuat baik.” Hal itu menuntut kita mempelajari Firman Yehuwa, Alkitab, untuk mengetahui apa yang ”baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”. (Roma 12:2) Dan dengan menerapkan pengetahuan yang baru didapatkan itu kita akan menghasilkan berkat-berkat yang menyegarkan. Itulah yang dialami oleh Asamaja.
-
-
Melepaskan Diri dari Kuk SpiritismeMenara Pengawal—1987 (Seri 40) | Menara Pengawal—1987 (Seri 40)
-
-
Perjuangan Terakhir
Beberapa minggu berlalu. Meena, seorang wanita tetangga yang menjadi rohaniwan sepenuh waktu dari Saksi-Saksi Yehuwa, bertanya kepada putri saya mengenai keadaan saya dan mengatakan, ”Ibumu dapat ditolong tetapi hanya dengan Alkitab.” Mendengar percakapan itu, saya pergi ke tempat mereka. Tetapi, sebelum sampai di sana, saya terlempar ke tanah. Meena dengan tergesa-gesa datang dan mengatakan, ”Hantu itu tidak akan membiarkanmu. Satu-satunya yang dapat membantumu ialah Yehuwa, dan tidak ada yang lain.” Kemudian ia berdoa bersama saya kepada Allah Yehuwa dan mulai mengunjungi saya. Tetapi makin sering ia berkunjung, makin keji serangan hantu-hantu itu. Pada malam hari, tubuh saya bergetar begitu keras sehingga tidak seorang pun dalam rumah dapat tidur. Saya berhenti makan dan ada saat-saat saya sama sekali hilang ingatan.
Keadaan saya menjadi begitu serius sehingga putra-putra saya datang dari pedalaman guna membawa saya kembali ke desa saya untuk mati di sana. Karena terlalu lemah untuk melakukan perjalanan, saya menolak. Tapi karena merasa maut kian mendekat, saya memanggil Saksi itu untuk mengatakan selamat tinggal. Meena menjelaskan dari Alkitab bahwa meskipun saya mati, ada harapan kebangkitan.
”Kebangkitan? Apa maksudmu?”
”Allah dapat membangkitkan anda kepada kehidupan dalam Firdaus,” ia menjawab. Seberkas harapan!
Tetapi pada malam itu juga hantu itu merasuki saya. Dalam keadaan kesurupan, saya seolah-olah melihat koenoe itu diikuti oleh segerombolan orang. Ia mengejek, ”Ia pikir ia akan mendapat kebangkitan.” Kemudian orang banyak itu tertawa dan tertawa. Namun kemudian saya melakukan sesuatu yang tidak pernah saya lakukan. Saya berseru, ”Yehuwa! Yehuwa!” Hanya itu saja yang saya ketahui harus saya ucapkan. Dan hantu itu pergi!
Putra-putra saya datang lagi dan memohon, ”Mama, jangan meninggal di kota. Biarlah kami membawa mama ke desa.” Saya menolak karena saya ingin belajar lebih banyak tentang Yehuwa. ”Memang, saya mungkin tetap akan mati,” kata saya kepada mereka, ”tetapi sedikitnya saya telah melayani sang Pencipta.”
Seperti Sebuah Menara yang Kuat
Meena dan Saksi-Saksi lain tetap mengunjungi saya. Mereka mengajar saya berdoa kepada Yehuwa. Antara lain, mereka memberitahu saya tentang sengketa antara Yehuwa dan Setan dan bagaimana si Iblis mendatangkan penderitaan atas Ayub agar ia menyangkal Allah. Mempelajari hal-hal ini telah menguatkan keyakinan saya untuk sekali-kali tidak menyembah hantu itu. Saksi-Saksi itu membacakan ayat yang menjadi ayat kesayangan saya, ”Nama [Yehuwa] adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat.”—Amsal 18:10.
Pelan-pelan kekuatan saya pulih kembali. Ketika putra saya kembali, saya mengatakan kepadanya untuk menunggu di luar. Saya berpakaian dan mengenakan sebuah blus yang saya masukkan ke dalam rok saya untuk menunjukkan bahwa pembengkakan pada perut saya hampir hilang. Kemudian saya berjalan ke luar.
”Apakah ini Mama Lintina?” putra saya berseru.
”Ya, benar—syukur kepada Yehuwa, Allah saya!”
Mengambil Pendirian
Sejak saya dapat berjalan sedikit, saya pergi ke Balai Kerajaan dari Saksi-Saksi Yehuwa. Di sana saya mendapat begitu banyak anjuran dari teman-teman sehingga saya tidak pernah absen menghadiri perhimpunan-perhimpunan. Beberapa bulan kemudian, saya menyertai Saksi-Saksi itu dalam pekerjaan pengabaran kepada umum. Tidak lama kemudian, saya dibaptis dan menjadi seorang hamba Yehuwa, Penyelamat saya yang pengasih. Saya berumur 58 tahun.
Tetapi, ada sesuatu yang masih harus dilakukan. Bertahun-tahun sebelumnya, di pondok saya di desa, saya telah mendirikan sebuah altar untuk mempersembahkan korban-korban kepada nenek moyang saya. Agar bersih secara rohani, saya harus memusnahkannya. Saya memohon bantuan Yehuwa, karena tindakan saya dapat menimbulkan kegemparan di kalangan penduduk desa. Ketika saya sampai di pondok saya dan membuka pintu, ada yang berteriak, ”Pingos!” (Babi-babi liar!) Sekawanan babi melintasi pulau itu dan melompat ke dalam sungai untuk berenang ke seberang. Segera, tua dan muda meninggalkan desa untuk menangkap babi-babi itu, suatu tangkapan yang mudah. Dengan bergetar, saya sujud dan bersyukur kepada Yehuwa atas perkembangan ini. Dengan cepat saya mengeluarkan altar itu, menyiramnya dengan minyak tanah dan membakarnya. Altar itu musnah sebelum gerombolan orang-orang kembali. Memang, mereka akhirnya tahu, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Jadi, dengan tentram, saya kembali ke ibukota.
-