-
Kehabisan Tenaga—Andakah Korban Berikutnya?Sedarlah!—1995 | 8 Januari
-
-
Kehabisan Tenaga—Andakah Korban Berikutnya?
OLEH KORESPONDEN SEDARLAH! DI JEPANG
”Para pramusaji wanita di Swedia, guru-guru di Jepang, pegawai kantor pos di Amerika, pengemudi bus di Eropa dan para pekerja pada rangkaian perakitan di mana-mana semuanya menunjukkan adanya peningkatan gejala terhadap stres akibat pekerjaan.”—MAINICHI DAILY NEWS.
NOBUAKI begitu letih. Dengan bekerja siang dan malam, ia telah merekrut 130 karyawan dalam waktu empat bulan. Ia adalah manajer penjualan untuk sebuah cabang baru dari mata rantai pasar swalayan besar di Jepang, dan dengan upaya keras, ia telah mempekerjakan orang-orang yang gagal memenuhi standar yang ia harapkan. Mereka bertengkar satu sama lain dan mengeluh tentang situasi kerja mereka. Selain itu, seorang karyawan kabur bersama seorang karyawati. Nobuaki sakit kepala setiap hari. Tak lama kemudian, ia tidak sanggup pergi bekerja, dan pada hari-hari ia memaksakan diri untuk bekerja, ia tidak tahan dan segera pulang ke rumah. Ia kehabisan tenaga, bagaikan sebatang korek api yang akhirnya padam.
Ibu-ibu yang hanya mengurus rumah tangga juga mengalami kehabisan tenaga. Setelah dua tahun berada di rumah dengan ketiga anaknya, Sarah menjadi sangat tidak sabar dengan mereka. ”Saya merasa seolah-olah saya hanya bekerja dan bekerja dan bekerja, namun tidak pernah selesai,” katanya. Bila seorang ibu bekerja duniawi sambil membesarkan anak-anak, kemungkinan kehabisan tenaga semakin besar. Betty, berusia sekitar 40-an, berada dalam situasi mengimbangkan peranannya sebagai ibu dan wanita karier, dan berupaya memenuhi kedua peranan tersebut sesempurna mungkin. Ia berupaya menyenangkan setiap orang—suaminya, anak-anaknya, majikannya, dan koleganya. Tekanan darahnya naik, dan insiden kecil saja membuatnya tersinggung. Ia menderita kehabisan tenaga.
Kehabisan tenaga juga dapat dialami oleh orang yang tidak disangka akan mengalaminya. Shinzo, seorang rohaniwan Kristen yang cakap, adalah orang yang sangat bersemangat dan idealis. Ia pergi untuk membantu di suatu daerah yang sangat membutuhkan guru-guru Kristen. Akan tetapi, dalam waktu beberapa bulan, ia merasa letih, dan ia mengurung diri dalam kamar tidurnya sepanjang hari. Ia merasa seolah-olah masuk ke sebuah terowongan yang tidak ada jalan keluarnya. Ia merasa sulit untuk membuat keputusan, bahkan mengenai hendak makan apa untuk siang hari. Ia merasa tidak ada keinginan melakukan apa pun. Ia sama sekali kehabisan tenaga.
Apa Kehabisan Tenaga Itu?
Kalau begitu, apa kehabisan tenaga itu? Herbert Freudenberger dan peneliti-peneliti lain mulai menggunakan istilah ini pada pertengahan tahun 70-an, dan ini menjadi kata yang melukiskan ”suatu keadaan yang sangat letih yang diakibatkan oleh keterlibatan dengan orang-orang dalam situasi yang menguras emosi”. Juga, ”keletihan fisik atau emosi, terutama sebagai akibat stres yang menahun atau sesuatu yang berlebihan”. (American Heritage Dictionary) Akan tetapi, bergantung pada masing-masing peneliti, ada sedikit variasi perbedaan dalam definisi dari istilah ini.
Walaupun kehabisan tenaga tidak memiliki definisi kedokteran yang tepat, para korban dikenali dengan gejala-gejala seperti kelelahan, kurangnya semangat, tidak berdaya, putus asa, dan rasa tidak enak badan. Sang korban merasa sangat lelah dan menjadi tersinggung atas insiden-insiden kecil. Tidak ada yang dapat membujuknya untuk bertindak. Segala sesuatu tampak terlalu berat, dan ia mungkin dengan putus asa mencari bantuan dari siapa saja yang ia jumpai. Segala upaya di tempat kerja dan di rumah mungkin tampak sia-sia. Yang ada hanyalah rasa putus asa. Jika Anda merasakan gejala-gejala ini ditambah dengan rasa tidak enak badan, tidak merasa sukacita dalam segala sesuatu, maka kemungkinan besar Anda mengalami kehabisan tenaga.
Kehabisan tenaga dapat mempengaruhi pekerjaan dan kehidupan keluarga. Anda ingin menghindarinya. Namun bagaimana? Untuk mengetahuinya, mari kita terlebih dahulu melihat siapa yang cenderung kehabisan tenaga dan mengapa.
[Kotak di hlm. 4]
Gejala-Gejala Kehabisan Tenaga
”Kehabisan tenaga dalam pekerjaan menunjuk pada suatu kelumpuhan kondisi psikologis yang disebabkan oleh stres yang tak kunjung padam akibat pekerjaan, sehingga mengakibatkan:
1. Terkurasnya persediaan tenaga
2. Berkurangnya daya tahan tubuh terhadap penyakit
3. Meningkatnya rasa ketidakpuasan dan pesimisme
4. Sering absen dari pekerjaan dan tidak efisien dalam pekerjaan.
”Kondisi ini bersifat merusak karena memiliki kecenderungan untuk melemahkan, bahkan menghancurkan, orang-orang yang biasanya sehat, penuh semangat, serta cakap. Penyebab utamanya adalah stres yang tak kunjung padam, yang terus berlangsung dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun.”—The Work/Stress Connection: How to Cope With Job Burnout, oleh Robert L. Veninga dan James P. Spradley.
-
-
Kehabisan Tenaga—Siapa Mangsa Empuknya dan Mengapa?Sedarlah!—1995 | 8 Januari
-
-
Kehabisan Tenaga—Siapa Mangsa Empuknya dan Mengapa?
BAYANGKAN diri Anda sebagai pegawai kantor yang sudah berkeluarga—atau mungkin memang Andalah orangnya. Pekerjaan menumpuk di atas meja Anda. Telepon berdering tak putus-putusnya dari para pelanggan yang permintaannya hampir mustahil untuk dipenuhi. Penyelia Anda merasa tidak senang karena Anda tidak mencapai target. Putra Anda membuat ulah di sekolah. Bapak gurunya meminta Anda segera menghadap. Permohonan Anda untuk meminta bantuan teman hidup Anda ditanggapi dengan sikap acuh tak acuh. Sewaktu situasi tampaknya tidak terkendali lagi, stres berubah menjadi perasaan kecil hati, mengarah kepada kehabisan tenaga.
Apakah kehabisan tenaga disebabkan oleh terlalu banyak bekerja? Ann McGee-Cooper, seorang peneliti otak, mengatakan bahwa kehabisan tenaga adalah ”akibat dari hidup yang tidak seimbang, khususnya karena bekerja terlampau banyak dan sedikit waktu untuk bersantai”. Akan tetapi, terlalu banyak bekerja bukanlah faktor satu-satunya; di bawah tekanan dan keadaan yang sama, beberapa orang kehabisan tenaga sedangkan yang lain tidak.
Orang yang Kemungkinan Menjadi Korban Kehabisan Tenaga
Sebagaimana ada orang-orang yang kemungkinan lebih mudah tertular penyakit tertentu, demikian juga ada orang-orang tertentu yang kemungkinan lebih mudah kehabisan tenaga. ”Kalau ingin menderita karena kehabisan tenaga,” kata Elliot Aronson, profesor psikologi sosial di University of California, ”pertama-tama Anda harus berapi-api akan segala sesuatu.” Maka, orang-orang yang cenderung kehabisan tenaga adalah orang yang sangat berapi-api mengejar cita-cita dan idealisme yang tinggi. Konon orang-orang yang menderita kehabisan tenaga kebanyakan adalah karyawan terbaik perusahaan.
Profesor Fumiaki Inaoka dari Japanese Red Cross College of Nursing, yang meringkaskan ciri-ciri kepribadian dari orang yang kemungkinan menjadi korban kehabisan tenaga menulis dalam buku, Moetsukishokogun (Sindroma Kehabisan Tenaga), ”Orang-orang yang cenderung kehabisan tenaga mempunyai tendensi kuat untuk bersikap simpati, manusiawi, lembut, berdedikasi, dan idealis. Ibaratnya, mereka lebih suka ’berinteraksi dengan manusia’, daripada bekerja dengan mesin.”
Sewaktu diminta mengadakan semacam tes untuk menyaring orang-orang yang kemungkinan kehabisan tenaga, seorang spesialis mengatakan bahwa tes tersebut sebaliknya harus digunakan sebagai standar penerimaan karyawan. ”Apa yang perlu dilakukan perusahaan,” katanya, ”adalah mencari orang-orang yang bersedia kehabisan tenaga . . . kemudian mengembangkan program memberantas kehabisan tenaga.”
Orang-orang yang rentan terhadap kehabisan tenaga khususnya adalah orang-orang yang terlibat dalam jasa pelayanan umum seperti para pekerja sosial, dokter, juru rawat, dan guru. Mereka dengan penuh semangat berupaya membantu orang-orang, rela membaktikan waktu, energi dan sumber daya mereka untuk meningkatkan kehidupan orang lain, dan bisa jadi kehabisan tenaga ketika menyadari bahwa mereka tidak mencapai tujuan-tujuan yang kadang-kadang mustahil diraih yang telah mereka tetapkan bagi diri mereka. Ibu-ibu yang penuh perhatian juga dapat kehabisan tenaga karena alasan yang sama.
Mengapa Orang-Orang Kehabisan Tenaga
Suatu survei yang diadakan di antara para juru rawat mengungkapkan tiga faktor yang menyebabkan kehabisan tenaga. Faktor pertama adalah banyaknya permasalahan penyebab frustrasi yang dihadapi setiap hari. Misalnya, mayoritas dari mereka harus menjalankan tanggung jawab yang berat, menangani kesulitan-kesulitan dalam menghadapi para pasien, menyesuaikan diri dengan peralatan baru, menghadapi biaya-biaya yang melambung, dan bertahan menghadapi gaya hidup yang tidak tentu. ”Permasalahan sehari-hari ini merupakan pengaruh terbesar terhadap kehabisan tenaga mereka,” kata buku Moetsukishokogun. Bila problem-problem tetap tidak terpecahkan, frustrasi malahan menumpuk dan mengarah kepada kehabisan tenaga.
Faktor kedua yang dicatat adalah kurangnya dukungan mental dan emosi, tidak mempunyai seseorang untuk mencurahkan perasaan. Maka, seorang ibu yang mengasingkan diri dari ibu-ibu lain di lingkungannya kemungkinan lebih mudah kehabisan tenaga. Survei yang disebutkan di atas mendapati bahwa para juru rawat yang belum menikah lebih cenderung kehabisan tenaga dibandingkan yang sudah menikah. Akan tetapi, menikah dapat menambah permasalahan setiap hari jika tidak ada komunikasi yang terbuka antara suami-istri. Bahkan bila semua anggota keluarga ada di rumah, seseorang mungkin merasa kesepian karena keluarganya asyik menonton televisi.
Faktor ketiga adalah perasaan tidak berdaya. Misalnya, para juru rawat lebih mudah mengalami perasaan tidak berdaya daripada dokter karena mereka tidak memiliki wewenang untuk membuat perubahan. Orang-orang yang menempati posisi sebagai manajer madya mungkin akan kehabisan tenaga apabila mereka merasa upaya terbaiknya tidak menghasilkan apa-apa. Seorang manajer personalia mengatakan, kehabisan tenaga disebabkan oleh perasaan ”frustrasi karena berupaya memberikan yang terbaik namun tidak diperhatikan”.
Perasaan tidak berdaya dalam diri manusia tumbuh dalam lingkungan yang tidak memiliki sikap menghargai dan membuahkan kehabisan tenaga. Para istri kehabisan tenaga bila suami mereka tidak menyadari banyaknya pekerjaan yang tersangkut dalam mengurus rumah dan merawat anak-anak. Para manajer madya kehabisan tenaga bila seorang bos menyepelekan pekerjaan yang dilakukan dengan sebaik-baiknya dan mencaci mereka atas kesalahan-kesalahan kecil. ”Pokoknya yang kita butuhkan adalah agar upaya kita dihargai dan diakui,” kata majalah Parents, ”dan jika kita bekerja di tempat yang tidak menghargai upaya kita—entah itu di rumah atau di kantor—maka kita kemungkinan lebih mudah menderita karena kehabisan tenaga.”
Menarik sekali, sementara banyak juru rawat mengalami kehabisan tenaga, sedikit sekali bidan yang mengalami kehabisan tenaga. Umumnya, pekerjaan bidan meliputi membantu kehidupan baru lahir ke dunia. Ayah dan ibu berterima kasih kepada mereka atas pekerjaan mereka. Bila dihargai, orang akan merasa bahwa mereka berguna dan dimotivasi.
Bila seseorang tahu siapa yang cenderung kehabisan tenaga dan mengapa, hal ini lebih memudahkannya untuk menghadapi masalah. Artikel berikut ini dapat membantu korban kehabisan tenaga untuk memandang kehidupan dengan seimbang.
[Blurb di hlm. 6]
Kehabisan tenaga merupakan akibat dari bekerja terlampau banyak dan sedikit waktu untuk bersantai
-
-
Kehabisan Tenaga−Bagaimana Anda Dapat Mengatasinya?Sedarlah!—1995 | 8 Januari
-
-
Kehabisan Tenaga−Bagaimana Anda Dapat Mengatasinya?
DIBEBANI stres karena kekhawatiran dan masalah sehari-hari, banyak orang mencoba untuk melupakan frustrasi mereka dengan menenggak minuman keras. Alkohol, zat yang paling luas disalahgunakan dewasa ini, digunakan oleh banyak orang dalam upaya melarikan diri dari kenyataan yang sukar. Orang-orang lain bergantung pada obat-obat yang populer untuk mengatasi kekhawatiran. Sedangkan yang lain menggunakan obat penenang pikiran seperti mariyuana, methamphetamine, dan kokain. Bahkan anak-anak kecil telah ketahuan menggunakan obat-obatan untuk melarikan diri dari kenyataan hidup. Dilaporkan bahwa 95 persen dari muda-mudi di Amerika diperkirakan akan menggunakan sedikitnya satu obat terlarang sebelum mereka tamat sekolah menengah.
Kemudian, ada orang-orang yang mencoba melarikan diri dari stres sehari-hari dengan cara berhura-hura bersama teman-teman mereka atau dengan berpura-pura gembira, padahal batin mereka tertekan. Atau untuk alasan-alasan yang salah, mereka mencari kasih sayang dan kelembutan dari lawan jenis. Namun menggunakan langkah-langkah pelarian untuk menghadapi stres hanya akan menambah frustrasi. Bila orang-orang mencoba mengurangi stres dengan alkohol atau obat penenang pikiran lain sebaliknya daripada menghidupkan kembali energi, semangat dan motivasi mereka, mereka mempercepat proses kehabisan tenaga. Kalau begitu, apa yang dapat Anda lakukan bila lambat laun Anda kehabisan tenaga?
Cara untuk Memulihkan
Sedarlah! tidak merekomendasikan terapi atau pengobatan tertentu. Meskipun demikian, majalah ini menyajikan beberapa saran yang berguna berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab yang mungkin membantu Anda dalam menghidupkan kembali gairah Anda yang padam. Dr. Yutaka Ono, seorang direktur dari Keio University School of Medicine mengusulkan ”tiga K” untuk menghadapi kehabisan tenaga. Ia menjelaskan, ”’Tiga K’ ini adalah kendali, komunikasi, dan kenal.”
Agar dapat mengatasi perasaan tidak berdaya, Anda harus sanggup merasa bahwa perasaan dan perilaku Anda ada di bawah kendali Anda. Apabila setiap hari frustrasi menguasai emosi Anda dan menghancurkan kemampuan Anda untuk memecahkan problem-problem, maka mudah untuk percaya bahwa segala sesuatunya di luar kendali Anda. Akan tetapi, janganlah hanya berpangku tangan dan terus-menerus memikirkan problem-problem yang meresahkan. Cobalah memecahkan problem Anda secara bertahap. (Lihat kotak, halaman 8.) Janganlah menunda-nunda. Hanya dengan mengambil tindakan yang positif, Anda akan mulai merasa lebih baik dan terkendali.
Cobalah untuk mengurangi perasaan tersinggung yang dapat mengakibatkan perasaan pesimis. Misalnya, beberapa orang cenderung merasa jengkel oleh setiap hal sepele dalam kehidupan. Mereka bersikeras melakukan segala sesuatu dalam cara tertentu dan merasa tersinggung bila orang lain tidak menurut, atau mereka mungkin menjadi frustrasi oleh kegagalan mereka sendiri. ”Janganlah terlalu saleh,” kata seorang pria bijaksana di zaman dahulu, ”janganlah perilakumu terlalu berhikmat; mengapa engkau akan membinasakan dirimu sendiri?” (Pengkhotbah 7:16) Berpaut pada standar-standar yang terlalu tinggi dan terus-menerus merasa bahwa Anda tidak memenuhinya merupakan langkah pasti menuju kehabisan tenaga.
Nasihat berguna lebih jauh dari Alkitab adalah ”bersahaja dalam berjalan dengan Allahmu”. (Mikha 6:8, NW) Bersahaja berarti sadar akan keterbatasan seseorang atau menempatkan ”penilaian yang sederhana pada kesanggupan seseorang”. Hal ini mungkin berarti tidak mau menerima tuntutan yang tidak masuk akal di tempat kerja.
Orang-orang yang mengetahui keterbatasannya senang menerima bantuan. Seorang manajer wanita yang pernah mengalami kehabisan tenaga mengatakan bahwa kunci untuk menghindarinya adalah meminta bantuan. Namun, seperti yang dikatakannya, ”banyak orang takut meminta bantuan karena bisa jadi mereka dianggap gagal dalam pekerjaan”. Entah pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau pekerjaan duniawi—apa pun yang berpotensi membuat Anda kehabisan tenaga—delegasikan pekerjaan yang bisa Anda delegasikan. Anda akan terkejut mengetahui bagaimana segala sesuatu terlaksana tanpa pengarahan Anda secara langsung.—Bandingkan Keluaran 18:13-27.
Anda mungkin perlu sedikit beristirahat. Cuti dari pekerjaan dapat sangat bermanfaat bagi calon korban kehabisan tenaga. Akan tetapi, jika keadaan Anda tidak memungkinkan hal itu, ”jika Anda tahu caranya bergembira, hal ini akan ada manfaatnya”, kata peneliti Ann McGee-Cooper. Beristirahat sejenak untuk mengambil ancang-ancang mungkin bahkan dapat menambah produktivitas, merangsang pikiran Anda terhadap cara berpikir yang kreatif. Apa yang disarankan Raja Salomo bertahun-tahun yang lalu masih terbukti benar, ”Segenggam ketenangan [”istirahat”, NW] lebih baik dari pada dua genggam jerih payah [”kerja keras”, NW] dan usaha menjaring angin.”—Pengkhotbah 4:6.
Lingkungan yang Mendukung Komunikasi
”K” yang kedua yang disebutkan Dr. Ono menyangkut komunikasi. Menarik bahwa petugas pemadam kebakaran jarang mengalami kehabisan tenaga. Hal ini mungkin karena, selain dianggap pahlawan, mereka dipersatukan oleh ikatan persahabatan yang kuat. Memiliki satu kelompok yang mendukung untuk diandalkan, seseorang dapat meminta bantuan dari mereka. Di mana Anda dapat menemukan dukungan yang menghibur dewasa ini? Sewaktu melukiskan cara-cara bagi para dokter untuk mengatasi kehabisan tenaga, buku Moetsukishokogun (Sindrom Kehabisan Tenaga) menyatakan, ”Bagi para dokter, keluarga mereka, terutama pasangan hidup mereka, adalah pendukung emosi yang paling efektif dan paling realistis.” Semua orang membutuhkan seseorang yang dapat dipercaya untuk mencurahkan perasaan pribadinya. Sehubungan masalah komunikasi ini, Alkitab menawarkan nasihat praktis. Nasihat ini menganjurkan pasangan-pasangan yang telah menikah untuk mempertahankan keterikatan romantis terhadap satu sama lain dan memberi tahu setiap individu untuk memiliki teman-teman yang dapat memberikan saran-saran praktis yang penting.—Amsal 5:18, 19; 11:14.
”Kita hendaknya membina sistem pendukung kita sendiri dari teman-teman dekat dan keluarga,” kata USA Today. Kemudian menambahkan, ”Kita juga harus merasa bebas untuk menggunakan sumber-sumber daya dari pusat keagamaan kita dan pelayanan kesehatan mental.” Berkenaan cara memanfaatkan sumber-sumber daya keagamaan untuk memperoleh bantuan, saudara tiri Yesus, Yakobus, menulis, ”Adakah seseorang yang sakit di antara kamu? Hendaklah ia memanggil tua-tua di sidang jemaat kepadanya, dan hendaklah mereka berdoa baginya, mengolesnya dengan minyak dalam nama Yehuwa.” (Yakobus 5:14) Orang-orang Kristen yang memiliki problem-problem dapat memperoleh penyegaran dengan berbicara kepada para penatua dari sidang Saksi-Saksi Yehuwa. Meskipun para penatua bukan pakar dalam menangani kehabisan tenaga, dukungan rohani yang mereka tawarkan tidak terhingga nilainya.
Meskipun sistem pendukung dari manusia mungkin dapat menguatkan kita untuk satu hari lagi, hal itu mungkin tidak selalu cukup. Dalam kata pengantar untuk bukunya, Helplessness (Ketidakberdayaan), Martin E. P. Seligman menunjuk kepada semangat individualisme yang tampak di dunia Barat sebagai penyebab bertambahnya depresi dewasa ini, dan ia menyatakan perlunya menemukan makna kehidupan. Kemudian ia memperlihatkan bahwa ”satu syarat penting untuk menemukan makna kehidupan seseorang adalah keterikatan pada sesuatu yang lebih besar dibandingkan Anda”. Meskipun banyak orang dewasa ini tidak menganggap serius hubungan mereka dengan Allah, komunikasi dengan sang Pencipta—yang tentu saja ”lebih besar dibandingkan Anda”—dapat membantu Anda mengatasi perasaan tidak berdaya.
Raja Daud, yang menghadapi banyak masa krisis, menganjurkan warganya, ”Percayalah kepada [Allah] setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.” (Mazmur 62:9) Allah Yehuwa siap mendengarkan, bahkan ”erangan-erangan [kita] yang tidak terucapkan”. (Roma 8:26) Dengan sungguh-sungguh memohon kepada-Nya menghasilkan kedamaian yang dapat ”menjaga hatimu dan kekuatan mentalmu” dari kehabisan tenaga.—Filipi 4:6, 7.
Mengubah Sudut Pandangan Anda
Akhirnya, perubahan mungkin dibutuhkan dalam cara Anda memandang situasi. Kenali atau miliki persepsi, merupakan ”K” yang terakhir yang disarankan Dr. Ono sebagai cara untuk mengatasi kehabisan tenaga. Bila berada di bawah stres yang berlebihan, kita cenderung membuat penilaian yang negatif atas segala sesuatu dan menjerat diri kita dalam sudut pandangan yang pesimis. Akan tetapi, kita harus bersikap realistis. Analisislah apakah benar-benar ada dasar bagi cara berpikir yang negatif. Apakah akibatnya akan seburuk yang Anda takuti? Cobalah melihat berbagai hal dari sudut pandangan yang lain.
”Anda dapat mulai dengan menganggap bahwa jika Anda kehabisan tenaga, hal itu mungkin karena Anda ’hebat’ bukan karena Anda ’buruk’,” kata majalah Parents. Ingatlah: Tipe orang yang cenderung kehabisan tenaga adalah yang memiliki standar-standar yang tinggi dan prihatin akan orang lain. Apa yang paling berguna bagi korban kehabisan tenaga adalah kata penghargaan. Akan membuat perbedaan besar bagi seorang ibu jika suami dan anak-anaknya menyatakan dan memperlihatkan penghargaan atas semua pekerjaan yang tersangkut dalam mengurus rumah tangga. Jika seorang manajer madya mengalami kehabisan tenaga di tempat pekerjaan, komentar yang bersifat menghargai dan tepukan di punggung dapat memperbaiki pandangannya.
Alkitab memperlihatkan bagaimana seorang istri yang cakap patut dipuji, ”Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia: Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.” (Amsal 31:10, 28, 29) Memang, ”perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang”.—Amsal 16:24.
Shinzo, penatua Kristen yang disebutkan di artikel pertama, sembuh sama sekali dari kehabisan tenaga. Meskipun ia menerima bantuan profesional, apa yang paling membantu Shinzo adalah doanya kepada Yehuwa. Sebagai tindak lanjut atas doanya yang sungguh-sungguh memohon bantuan, tanpa sengaja ia bertemu dengan penatua yang pertama kali mengajarkan Firman Allah kepadanya. Penatua tersebut, beserta rekan-rekan penatua lain, mendukungnya dengan mendengarkan kekhawatiran dan problem-problemnya. Dari terbitan sebelumnya dari jurnal yang sedang Anda baca, istri Shinzo membacakan untuknya artikel-artikel mengenai cara mengatasi emosi-emosi negatif. (Sedarlah! Oktober 1992) Lambat laun, ia menyadari bahwa ia berupaya melakukan segala sesuatu seorang diri. Caranya memandang apa yang terjadi di sekitarnya mulai berubah. Meskipun pada mulanya ia merasa berada dalam terowongan keputusasaan yang tak berujung, ia melihat seberkas cahaya dari ujung terowongan yang kian bertambah terang hingga akhirnya ia keluar dari terowongannya.
Sebagaimana halnya Shinzo, Anda pun dapat mengatasi kehabisan tenaga dan kembali menghadapi kehidupan.
[Kotak di hlm. 8]
Dua Belas Cara untuk Mencegah Kehabisan Tenaga
HAL berikut ini didasarkan atas beberapa saran saja yang diberikan oleh seorang spesialis klinik dalam perawatan kesehatan mental.
1. Kendalikanlah pikiran, perasaan, dan perilaku Anda—doa merupakan bantuan yang besar.
2. Bila Anda mulai merasa cemas, gantikan ini dengan memikirkan hal-hal yang berguna, dan tegas.
3. Bila gelisah, tarik napas dalam-dalam, embuskan dan usahakanlah tetap tenang.
4. Cobalah untuk memandang situasi dari sudut pandangan orang lain untuk mengerti cara berkembangnya stres tersebut.
5. Pusatkan pada apa yang Anda hargai dalam diri orang lain dan pujilah mereka. Berikan pujian yang patut, bukan umbuk umbai.
6. Kenali dan tekanlah cara berpikir yang bersifat merusak dan negatif.
7. Belajarlah cara menolak bila Anda tidak mempunyai cukup tenaga atau jadwal Anda tidak memungkinkan.
8. Lakukan latihan jasmani apa pun setiap hari—jalan cepat juga baik.
9. Perlakukanlah orang lain dengan respek, dengan membantu mereka memperlihatkan sifat-sifat kepribadian mereka yang terbaik.
10. Peliharalah rasa humor dan pertahankan sikap gembira dan optimis.
11. Jangan bawa pulang problem-problem Anda dari tempat kerja.
12. Lakukanlah hari ini apa yang harus dilakukan—jangan menunda-nunda.
(Disadur dari ”Dealing With Feelings, Beating Burnout”, oleh Ruth Dailey Grainger, American Journal of Nursing, Januari 1992.)
[Gambar di hlm. 8, 9]
Kehabisan tenaga sering kali menimpa orang yang gigih dan keras hati
-