PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Diserang Stres!
    Sedarlah!—2005 | 8 Februari
    • Diserang Stres!

      ”MASALAH kesehatan No. 1 di Amerika.” Demikianlah bunyi kepala berita sebuah artikel yang diterbitkan oleh Institut Stres Amerika yang menyatakan bahwa ancaman terbesar terhadap kesehatan dewasa ini bukanlah kanker ataupun AIDS. Laporan itu mengatakan, ”Telah diperkirakan bahwa 75-90 persen dari semua orang yang datang ke dokter umum memiliki masalah yang berhubungan dengan stres.”

      Tidaklah berlebihan kalau kita mengatakan bahwa orang-orang sekarang ini sedang diserang stres. Menurut Lembaga Konsumen Nasional, ”penyebab utama stres bagi orang dewasa yang mengalami masalah dan stres adalah pekerjaan (39%), diikuti oleh keluarga (30%). Sumber stres lainnya mencakup kesehatan (10%), kekhawatiran tentang ekonomi (9%), dan kekhawatiran tentang konflik internasional dan terorisme (4%)”.

      Tetapi, stres bukanlah masalah yang hanya ada di Amerika Serikat. Sebuah survei di Inggris pada tahun 2002 memperkirakan bahwa ”lebih dari setengah juta orang di Inggris, pada tahun 2001/2, yakin bahwa mereka mengalami stres di tempat kerja sampai mereka sakit”. Akibat ”stres, depresi, atau kekhawatiran di tempat kerja”, ada ”kurang lebih tiga belas setengah juta hari kerja yang dilaporkan hilang setiap tahunnya di Inggris”.

      Gambaran di daratan Eropa tidak kalah suramnya. Menurut Lembaga Keselamatan dan Kesehatan Kerja Eropa, ”stres di tempat kerja tampaknya mempengaruhi jutaan pekerja di Eropa dalam segala sektor pekerjaan”. Sebuah survei menyingkapkan bahwa ”setiap tahun sekitar 41 juta pekerja [Uni Eropa] terkena stres yang berkaitan dengan pekerjaan”.

      Bagaimana dengan Asia? Sebuah laporan yang dikeluarkan oleh suatu konferensi di Tokyo menyimpulkan, ”Stres pekerjaan merupakan keprihatinan utama di banyak negara di dunia, baik di negara berkembang maupun negara industri.” Laporan tersebut menyatakan bahwa ”beberapa negeri di Asia Timur, termasuk Cina, Korea, dan Taiwan, telah maju pesat dalam bidang industri dan ekonomi. Negeri-negeri ini sekarang sangat mengkhawatirkan stres pekerjaan dan akibatnya yang merugikan kesehatan para pekerja”.

      Tetapi, kita tidak perlu mengadakan penelitian untuk tahu bahwa orang-orang sedang mengalami stres. Kemungkinan besar, stres juga sedang menggerogoti Anda! Pengaruh berbahaya apa yang bisa ditimbulkan oleh stres terhadap diri Anda maupun orang-orang yang Anda kasihi? Bagaimana keluarga-keluarga dapat belajar untuk mengatasinya? Artikel-artikel berikut akan menyelidikinya.

  • Stres​—Sebabnya dan Akibatnya
    Sedarlah!—2005 | 8 Februari
    • Stres​—Sebabnya dan Akibatnya

      APAKAH stres itu? Menurut seorang pakar, stres dapat didefinisikan sebagai ”faktor fisik, kimia, atau emosi yang menyebabkan ketegangan tubuh atau mental”. Apakah ini berarti bahwa stres selalu berbahaya? Tidak. Seperti kata dr. Melissa C. Stöppler, ”dalam kadar yang ringan, stres dan ketegangan kadang-kadang bisa bermanfaat. Merasa sedikit stres sewaktu sedang mengerjakan suatu proyek atau tugas sering kali mendorong kita untuk bekerja dengan baik dan bersemangat”.

      Jadi, kapan stres menjadi masalah? Stöppler menjawab, ”Akibat negatifnya muncul hanya apabila stres begitu berat, atau tidak dikelola dengan baik.” Perhatikan beberapa sumber stres yang umum.

      Stres Mencari Nafkah

      Raja Salomo mengatakan, ”Berkenaan dengan seorang manusia, tidak ada yang lebih baik daripada bahwa ia hendaknya makan dan tentu saja minum dan membuat jiwanya menikmati hal-hal baik karena kerja kerasnya.” (Pengkhotbah 2:24) Tetapi, bagi banyak karyawan, tempat kerjalah yang justru paling membuat mereka tertekan.

      Sebuah laporan dari Lembaga Keselamatan dan Kesehatan Kerja Eropa menyatakan bahwa para pekerja sering stres dalam pekerjaan mereka karena, antara lain, ada komunikasi yang buruk antara direksi dan karyawan, direksi hampir tidak memberikan kesempatan kepada para pekerja untuk menyuarakan pendapat dalam keputusan-keputusan yang menyangkut diri mereka, ada konflik antarkaryawan, atau pekerjaan yang tidak terjamin dan/atau gaji yang tidak cukup. Apa pun alasannya, orang tua yang menghadapi ketegangan di tempat kerja akan terlalu lelah untuk memenuhi tuntutan keluarganya. Dan, tuntutan-tuntutan itu bisa jadi sangat banyak. Di Amerika Serikat, misalnya, selama jangka waktu satu tahun, sekitar 50 juta orang merawat anggota keluarga yang sakit atau sudah lanjut usia. Masalah keuangan bisa menjadi sumber stres yang berat bagi keluarga. Rita, seorang ibu dari tiga anak, menghadapi tekanan keuangan sewaktu suaminya, Leandro, mengalami kecelakaan mobil, sehingga harus memakai kursi roda. Rita mengakui, ”Masalah keuangan menimbulkan ketegangan. Jika Anda tidak punya uang untuk membayar semua biaya rumah tangga, suasana hati Anda terpengaruh.”

      Tekanan Orang Tua Tunggal

      Orang tua tunggal juga menghadapi stres tingkat tinggi untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan, mendandani anak-anak dan mengantar mereka ke sekolah, terburu-buru agar tidak terlambat ke tempat kerja, dan kemudian menghadapi tuntutan pekerjaan dapat membuat orang tua tunggal kelelahan secara fisik dan emosi. Dan, sewaktu hari kerja sang ibu selesai, siklus stres lainnya dimulai lagi seraya ia cepat-cepat menjemput anak-anaknya dari sekolah, menyiapkan makan malam, dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. María, seorang ibu tunggal dengan enam putri remaja, mengibaratkan kehidupannya seperti sebuah panci presto. ”Tekanannya bisa begitu kuat sampai-sampai saya rasanya mau meledak,” katanya.

      Anak-Anak yang Stres

      Sosiolog Ronald L. Pitzer mengatakan, ”Banyak remaja mengalami stres tingkat tinggi.” Mereka harus menghadapi perubahan fisik dan emosi pada waktu pubertas. Di sekolah pun ada tekanan. Menurut buku Childstress! hari-hari sekolah ”sarat dengan problem dan tekanan yang menciptakan stres​—dalam pelajaran, olahraga, hubungan antarteman, dan komunikasi dengan guru”.

      Di daerah-daerah tertentu, ancaman kekerasan di sekolah menambah rasa khawatir​—belum lagi serangan teroris dan bencana lain yang menghantui anak-anak muda sekarang. ”Jika orang tua terus-terusan bicara soal betapa menakutkannya dunia ini sekarang,” tulis seorang gadis remaja, ”kami akan jadi takut.”

      Orang tua seharusnya menjadi sumber kekuatan anak mereka. Tetapi, Pitzer mengatakan, ”Sering kali, anak-anak dan remaja merasa diremehkan, disangkal, diberi dalih, atau diabaikan oleh orang tua mereka sewaktu berupaya menyampaikan kekhawatiran-kekhawatiran mereka.” Adakalanya, orang tua tidak berdaya karena ketegangan perkawinan mereka sendiri. ”Orang tua saya bertengkar terus,” kata seorang anak bernama Tito, yang orang tuanya akhirnya bercerai. Seperti yang dikatakan buku Childstress!, ”bukan cuma pertengkaran fisik dan perang mulut yang mengakibatkan trauma. Sekalipun ditutupi dengan kata-kata manis, kekesalan terpendam yang akhirnya keluar akan meresahkan anak-anak”.

      Kerugian akibat Stres

      Tidak soal kita muda atau tua, tidak soal kita stres di sekolah atau tempat kerja, stres kronis dapat sangat merugikan kesehatan kita. Seorang penulis di bidang kedokteran menjelaskan, ”Tanggapan tubuh terhadap stres kurang lebih sama seperti sebuah pesawat terbang yang siap tinggal landas.” Ya, sewaktu Anda merasa stres, detak jantung dan tekanan darah Anda melonjak. Kadar gula dalam darah meningkat. Hormon-hormon dilepaskan. ”Jika stres tidak kunjung usai,” lanjut sang penulis, ”semua bagian tubuh yang menanggapi stres (otak, jantung, paru-paru, pembuluh, dan otot) menjadi terlalu aktif atau kurang aktif secara kronis. Lama-kelamaan, hal ini dapat menghasilkan kerusakan fisik atau psikologis.” Jumlah penyakit yang timbul akibat stres ternyata banyak sekali: jantung, stroke, gangguan kekebalan tubuh, kanker, gangguan otot serta tulang, diabetes, dan masih banyak yang lain.

      Yang terutama memprihatinkan adalah cara tidak sehat yang digunakan banyak orang​—terutama kaum muda—​untuk mengatasi stres. Dr. Bettie B. Youngs mengeluh, ”Rasanya sedih sekali melihat para remaja mencari kelepasan dari kepedihan dengan minuman keras, narkoba, membolos, kenakalan, hubungan seks bebas, kekerasan, dan kabur dari rumah, yang malah mengakibatkan problem yang lebih parah lagi daripada problem yang mereka ingin hindari.”

      Stres sudah menjadi bagian dari kehidupan modern; stres tidak dapat dihindari sepenuhnya. Tetapi, seperti yang diperlihatkan artikel berikut, ada banyak yang dapat kita lakukan untuk mengelola stres!

  • Anda Bisa Mengatasi Stres!
    Sedarlah!—2005 | 8 Februari
    • Anda Bisa Mengatasi Stres!

      ”PERJUANGAN untuk menyeimbangkan pekerjaan, keluarga, dan komitmen lainnya telah semakin berat pada tahun-tahun belakangan ini.” Demikian kata sebuah buku yang belum lama ini diterbitkan tentang kehidupan keluarga. Ya, kita hidup pada masa yang penuh stres. Namun, ini tidaklah mengejutkan bagi para pelajar Alkitab, karena Alkitab telah meramalkan bahwa masa ini akan menjadi ”masa kritis yang sulit dihadapi”.​—2 Timotius 3:1-5.

      ”Stres itu normal,” kata Jesús, seorang ayah tiga anak. ”Jadi Anda harus tahu cara mengendalikannya.” Memang, bicara soal mengendalikan stres itu gampang; melakukannya yang susah. Meski demikian, ada saran-saran praktis maupun prinsip-prinsip Alkitab yang dapat membantu Anda.

      Mengatasi Stres Pekerjaan

      Apakah Anda dilanda stres, mungkin karena kondisi pekerjaan Anda? Kalau Anda menderita tetapi diam saja, Anda akan merasa lebih tertekan lagi. Dalam Amsal 15:22, Alkitab mengatakan, ”Rencana-rencana gagal apabila tidak ada pembicaraan konfidensial.”

      Para peneliti stres di tempat kerja menyarankan agar Anda berbicara kepada majikan, karena jika majikan tidak tahu ada masalah, mana bisa mereka membantu. Ini tidak berarti Anda harus melampiaskan kemarahan dan frustrasi kepadanya. ”Ketenangan meredakan dosa-dosa besar,” kata Pengkhotbah 10:4. Jangan terlalu emosi dan hindari konfrontasi. Mungkin Anda bisa meyakinkan majikan Anda bahwa jika stres berkurang, produktivitas akan bertambah.

      Demikian pula dengan masalah lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan, seperti ketegangan dan konflik dengan rekan kerja. Carilah cara-cara yang bermanfaat untuk mengatasi masalah seperti itu, barangkali dengan melakukan riset jika perlu. Sejumlah artikel yang telah diterbitkan dalam jurnal ini mungkin bisa membantu Anda.a Jika kelihatannya situasi sudah tidak bisa diperbaiki lagi, pertimbangkanlah untuk pindah pekerjaan.

      Mengurangi Tekanan Keuangan

      Dalam Alkitab juga ada nasihat yang dapat membantu Anda mengatasi tekanan keuangan. Yesus Kristus mendesak, ”Berhentilah khawatir mengenai jiwamu sehubungan dengan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum, atau mengenai tubuhmu sehubungan dengan apa yang akan kamu pakai.” (Matius 6:25) Bagaimana itu mungkin? Dengan memupuk keyakinan bahwa Allah Yehuwa akan menyediakan kebutuhan pokok kita. (Matius 6:33) Janji Allah bukanlah janji kosong. Jutaan orang Kristen dewasa ini dikuatkan oleh janji itu.

      Tentu saja, Anda juga membutuhkan ”hikmat praktis” jika menyangkut soal uang. (Amsal 2:7; Pengkhotbah 7:12) Alkitab mengingatkan kita, ”Sebab kita tidak membawa apa pun ke dalam dunia, dan kita juga tidak dapat membawa apa pun ke luar. Maka, dengan mempunyai makanan, pakaian dan penaungan, hendaknya kita puas dengan perkara-perkara ini.” (1 Timotius 6:7, 8) Belajar merasa puas dengan kebutuhan pokok adalah hal yang realistis dan praktis. Coba ingat Leandro, yang tidak bisa meninggalkan kursi rodanya akibat kecelakaan. Ia dan istrinya mengambil langkah-langkah untuk menghemat uang mereka. Leandro menjelaskan, ”Kami berupaya mengirit. Misalnya, jika lampu sedang tidak digunakan, kami mematikannya supaya mengurangi pemakaian listrik. Sehubungan dengan mobil, kami merencanakan ke mana kami akan pergi dan sekaligus melakukan tugas-tugas lain untuk menghemat bensin.”

      Orang tua dapat membantu anak-anak untuk memiliki sikap yang benar. Putri Leandro, Carmen, mengakui, ”Saya suka beli barang tanpa dipikir, tapi orang tua saya telah membantu saya memahami apa yang benar-benar dibutuhkan dan apa yang tidak. Awalnya, itu susah sekali. Tapi saya telah belajar membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan.”

      Komunikasi​—Pelega Stres

      Rumah seharusnya menjadi tempat berlindung dari stres, tetapi sering kali rumah malah menjadi salah satu sumber stres terbesar. Alasannya? ”Pasangan-pasangan . . . yang agak tertekan, atau pasangan yang sering ribut,” kata buku Survival Strategies for Couples, ”mengatakan bahwa sumber perselisihan yang paling sering adalah kurangnya komunikasi.”

      Prinsip Alkitab bisa membantu pasangan-pasangan meningkatkan kesanggupan mereka untuk berkomunikasi. Alkitab mengatakan bahwa ada ”waktu untuk berdiam diri dan waktu untuk berbicara” dan bahwa ”sepatah kata pada waktu yang tepat oh, betapa baiknya!” (Pengkhotbah 3:1, 7; Amsal 15:23) Dengan mengetahui hal ini, Anda tidak akan memulai pokok pembicaraan yang peka sewaktu pasangan Anda sedang kelelahan atau tertekan. Bukankah lebih baik untuk menunggu hingga saat yang tepat​—sewaktu pasangan Anda sudah berada dalam keadaan yang lebih siap untuk mendengar?

      Memang, jika Anda harus menghadapi hari yang sulit di tempat kerja, mungkin tidak mudah untuk bersikap tenang atau sabar. Tetapi, apa yang bisa terjadi sewaktu kita melampiaskan rasa frustrasi kita dengan berbicara kasar kepada pasangan hidup kita? Alkitab mengingatkan kita bahwa ”perkataan yang memedihkan hati menimbulkan kemarahan”. (Amsal 15:1) Sebaliknya, ”perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi jiwa dan kesembuhan bagi tulang”. (Amsal 16:24) Mungkin dibutuhkan tekad yang sungguh-sungguh untuk menjaga agar pembicaraan suami istri bebas dari ”kebencian dan kemarahan dan murka dan teriakan serta cacian”. (Efesus 4:31) Tetapi, manfaatnya besar. Suami istri yang suka berkomunikasi bisa menjadi sumber penghiburan dan dukungan terhadap satu sama lain. ”Pada orang-orang yang berunding terdapat hikmat,” kata Amsal 13:10.b

      Tantangan Komunikasi antara Orang Tua dan Anak

      Berkomunikasi dengan anak-anak bukan soal mudah​—apalagi jika kita tidak punya banyak waktu. Alkitab menganjurkan para orang tua untuk berbicara kepada anak mereka pada setiap kesempatan, seperti ’sewaktu duduk di rumah dan sewaktu dalam perjalanan’. (Ulangan 6:6-8) ”Kita harus mencari kesempatan untuk berbicara,” kata Leandro. ”Sewaktu saya berada di dalam mobil bersama putra saya, saya memanfaatkan kesempatan itu untuk berbicara kepadanya.”

      Memang, tidak semua orang tua merasa mudah untuk berkomunikasi dengan anak mereka. Alejandra, seorang ibu tiga anak, mengakui, ”Saya tidak tahu caranya mendengarkan. Karena tidak ada komunikasi yang baik, saya merasa marah dan bersalah.” Bagaimana orang tua dapat memperbaikinya? Mulailah belajar untuk ”cepat mendengar”. (Yakobus 1:19) ”Mendengar secara aktif adalah sarana yang paling efektif untuk mengurangi stres,” kata Dr. Bettie B. Youngs. Anda harus memperhatikan cara Anda mendengarkan. Adakan kontak mata. Jangan meremehkan masalah anak Anda. Gugahlah anak Anda untuk menyatakan perasaan mereka. Ajukan pertanyaan yang patut. Sering-seringlah mengungkapkan kasih dan keyakinan Anda bahwa mereka akan melakukan apa yang benar. (2 Tesalonika 3:4) Berdoalah dengan anak-anak Anda.

      Butuh upaya untuk mempraktekkan komunikasi yang sehat. Tetapi dengan melakukannya, Anda akan dibantu untuk mengurangi stres dalam keluarga Anda. Komunikasi dapat membantu Anda memahami apakah anak Anda sedang stres. Anda dapat dengan lebih baik memberi anak Anda pengarahan yang bijaksana jika Anda memahami perasaan dan situasi mereka. Akhirnya, anak-anak yang digugah untuk mengungkapkan stres mereka akan cenderung untuk tidak melampiaskannya dengan berulah buruk.

      Kerja Sama​—Kunci Menangani Pekerjaan Rumah Tangga

      Jika suami maupun istri bekerja mencari uang, mengurus pekerjaan rumah tangga bisa menjadi sumber stres lainnya. Beberapa ibu yang bekerja mengatasi hal ini dengan menyederhanakan rutinitas dalam keluarga. Mereka mungkin menyimpulkan bahwa tidaklah mungkin atau tidak praktis untuk membuat hidangan yang terlalu rumit. Ingatlah nasihat Yesus kepada seorang wanita yang sedang memasak banyak hidangan, ”Padahal, sedikit perkara yang dibutuhkan, atau satu saja.” (Lukas 10:42) Jadi, sederhanakanlah. Buku The Single-Parent Family menyarankan, ”Buatlah sup dan makanan lain yang tidak membutuhkan banyak peralatan agar tidak terlalu banyak cucian.” Ya, menyederhanakan rutinitas pekerjaan rumah tangga Anda dapat mengurangi stres.

      Bahkan, meskipun sudah disederhanakan, masih ada banyak hal yang harus dilakukan. Seorang ibu yang bekerja mengakui, ”Semasih muda, saya bisa mengerjakan apa saja. Sekarang, setelah tua, itu jadi lebih sulit. Saya mulai merasakan dampak dari kehidupan saya yang serbasibuk. Maka, kerja sama tiap anggota keluarga sungguh merupakan timbang rasa, dan itu membantu saya agar tidak terlalu stres.” Ya, jika semua anggota keluarga ikut bergotong royong, pekerjaan rumah tangga dapat dilakukan tanpa membebani siapa pun. Sebuah buku tentang menjadi orang tua yang baik mengatakan, ”Menugasi anak-anak untuk melakukan pekerjaan rumah tangga merupakan salah satu cara terbaik untuk membangun . . . rasa sanggup. Pekerjaan rumah tangga yang rutin membentuk kebiasaan yang bermanfaat dan sikap yang baik terhadap pekerjaan.” Melakukan pekerjaan rumah tangga bersama-sama juga dapat membuka kesempatan bagi Anda untuk melewatkan waktu bersama anak Anda.

      Seorang gadis bernama Julieta mengatakan, ”Saya bisa lihat bahwa ibu merasa lega kalau saya membantunya. Itu menyenangkan saya dan membuat saya merasa bertanggung jawab, membantu saya menghargai tempat tinggal saya. Belajar mengurus pekerjaan rumah tangga telah memberi saya dasar untuk masa depan.” Mary Carmen juga menceritakan, ”Sejak kami kecil, orang tua saya mengajar kami anak-anaknya untuk mengurus diri sendiri. Manfaatnya besar sekali.”

      Cara-Cara Sehat Mengatasi Stres

      Stres sudah menjadi bagian dari kehidupan modern; stres tidak bisa dihindari. Namun, Anda bisa belajar mengatasinya. (Lihat kotak di halaman 10.) Mengikuti prinsip Alkitab bisa membantu. Misalnya, kalau ada situasi yang membuat Anda merasa kewalahan, ingatlah bahwa ”ada sahabat yang lebih karib daripada saudara”. (Amsal 18:24) Bicarakanlah masalah Anda dengan seorang sahabat yang matang atau teman hidup Anda. ”Jangan dipendam sendiri,” kata sosiolog Ronald L. Pitzer. ”Curahkan perasaan dan kekhawatiran Anda kepada seseorang yang tenang, bijak, dan yang kemungkinan besar akan memahami dan peduli.”

      Alkitab juga berbicara tentang ’mendatangkan imbalan bagi jiwa sendiri’. (Amsal 11:17) Ya, tidaklah salah jika kita ingin mengurus diri kita sendiri. Alkitab mengatakan, ”Lebih baik segenggam ketenangan daripada dua genggam kerja keras dan perjuangan mengejar angin.” (Pengkhotbah 4:6) Dengan menyisihkan waktu untuk diri sendiri hasilnya bisa sangat menakjubkan—meskipun cuma beberapa menit di pagi hari untuk menikmati secangkir teh, membaca, berdoa, atau merenung tanpa gangguan.

      Gerak badan yang bersahaja dan menu makanan yang menyehatkan juga membantu. Sebuah buku tentang menjadi orang tua yang baik mengingatkan kita, ”Jika Anda menyisihkan sejumlah waktu dan energi Anda yang berharga untuk diri sendiri, Anda seolah-olah sedang mengisi tabungan tenaga Anda. . . . Supaya bisa terus memberi, Anda harus memastikan bahwa ada juga yang harus Anda terima, atau kalau tidak, Anda akan berisiko kekurangan, atau malah kehabisan, tenaga.”

      Selain itu, Alkitab membantu kita untuk mengembangkan sifat-sifat yang dibutuhkan guna mengatasi stres, seperti ”watak yang lembut”, kesabaran, dan kebaikan hati. (Galatia 5:22, 23; 1 Timotius 6:11) Terlebih lagi, Alkitab menyediakan harapan​—janji tentang suatu dunia baru yang akan datang dan yang di dalamnya segala penyebab kesengsaraan manusia akan berlalu! (Penyingkapan 21:1-4) Jadi, sebaiknya pupuklah kebiasaan membaca Alkitab setiap hari. Jika Anda ingin dibantu untuk memulai program demikian, Saksi-Saksi Yehuwa akan senang memberikan bantuan pribadi, secara cuma-cuma.

      Ini bukan berarti bahwa kehidupan orang Kristen bebas stres. Tetapi, Yesus mengatakan bahwa kita bisa tidak menjadi ”sarat dengan . . . kekhawatiran hidup”. (Lukas 21:34, 35) Selain itu, jika Anda mengenal Yehuwa sebagai sahabat, Ia dapat menjadi tempat perlindungan yang sejati bagi Anda! (Mazmur 62:8) Ia dapat membantu Anda mengatasi stres dalam kehidupan.

      [Catatan Kaki]

      a Lihat seri ”Dilecehkan di Tempat Kerja​—Bagaimana Anda Menghadapinya?” dalam terbitan 8 Mei 2004.

      b Untuk informasi lebih jauh, lihat pasal 3 dari buku Rahasia Kebahagiaan Keluarga, yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.

      [Kutipan di hlm. 11]

      ”Semasih muda, saya bisa mengerjakan apa saja. Sekarang, setelah tua, itu lebih sulit. Saya mulai merasakan dampak dari kehidupan saya yang serbasibuk”

      [Kotak/Gambar di hlm. 10]

      Cara Mengurangi Stres

      ▪ Beri tubuh Anda istirahat yang cukup setiap hari

      ▪ Pertahankan menu makanan yang secukupnya. Hindari makan berlebihan

      ▪ Lakukan gerak badan rutin secukupnya, seperti jalan cepat

      ▪ Jika ada yang membuat Anda khawatir, ceritakanlah itu kepada seorang sahabat

      ▪ Luangkan waktu untuk dinikmati bersama keluarga

      ▪ Delegasikan atau bagi-bagikan tugas rumah tangga

      ▪ Kenali keterbatasan fisik dan emosi Anda

      ▪ Tetapkan tujuan yang realistis; jangan menjadi perfeksionis

      ▪ Buat rencana; miliki jadwal yang seimbang dan masuk akal

      ▪ Kembangkan sifat-sifat Kristen seperti kelemahlembutan dan kesabaran

      ▪ Sisihkan waktu untuk diri sendiri

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan