PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • ”Aku Menetapkan Pola bagimu”
    Menara Pengawal—2002 | 15 Agustus
    • ”Aku Menetapkan Pola bagimu”

      ’Dari segi waktu, kamu seharusnya menjadi guru.’​—IBRANI 5:12.

      1. Mengapa kata-kata di Ibrani 5:12 secara wajar dapat membuat seorang Kristen agak risau?

      SEWAKTU Saudara membaca kata-kata terilham yang menjadi ayat tema kita, apakah hati Saudara agak risau? Jika demikian, Saudara tidak sendirian. Sebagai pengikut Kristus, kita tahu bahwa kita harus menjadi guru atau pengajar. (Matius 28:19, 20) Kita tahu bahwa masa kita hidup sekarang menuntut agar kita mengajar seterampil mungkin. Dan, kita tahu bahwa pengajaran kita bahkan berpengaruh atas hidup-matinya orang-orang yang kita ajar! (1 Timotius 4:16) Oleh karena itu, wajarlah jika kita bertanya kepada diri sendiri, ’Apakah saya benar-benar pengajar seperti yang seharusnya? Bagaimana saya dapat meningkatkan diri?’

      2, 3. (a) Apa yang dikatakan seorang pengajar mengenai dasar dari pengajaran yang baik? (b) Pola apa yang Yesus tetapkan bagi kita dalam hal mengajar?

      2 Kerisauan demikian tidak perlu membuat kita berkecil hati. Jika kita memikirkan soal pengajaran semata-mata dari beberapa sudut teknis, kita mungkin merasa terlalu sulit untuk meningkatkan diri. Namun, dasar dari pengajaran yang baik bukanlah soal teknis, melainkan sesuatu yang jauh lebih penting. Perhatikan apa yang ditulis oleh seorang pengajar kawakan dalam buku yang mengulas pokok ini, ”Pengajaran yang baik bukanlah soal teknis atau gaya, perencanaan atau tindakan tertentu. . . . Yang terpenting dalam pengajaran adalah kasih.” Tentu saja, sudut pandangnya adalah sudut pandang pengajar sekuler. Namun, argumennya mungkin bahkan lebih relevan lagi dengan pengajaran yang kita lakukan sebagai orang Kristen. Mengapa demikian?

      3 Teladan kita dalam mengajar tidak lain adalah Yesus Kristus, yang mengatakan kepada para pengikutnya, ”Aku menetapkan pola bagimu.” (Yohanes 13:15) Yang Yesus maksudkan adalah teladannya dalam memperlihatkan kerendahan hati, tetapi pola yang ia tetapkan bagi kita pastilah mencakup pekerjaan utamanya sebagai manusia di bumi—yaitu mengajarkan kabar baik mengenai Kerajaan Allah kepada orang-orang. (Lukas 4:43) Nah, jika Saudara diminta memilih satu kata yang menggambarkan pelayanan Yesus, kemungkinan besar Saudara akan memilih kata ”kasih”, bukan? (Kolose 1:15; 1 Yohanes 4:8) Kasih Yesus yang paling utama adalah kasih kepada Bapak surgawinya, Yehuwa. (Yohanes 14:31) Namun, sebagai pengajar, Yesus memanifestasikan kasih dengan dua cara lain. Ia mengasihi kebenaran yang ia ajarkan, dan ia mengasihi orang-orang yang ia ajar. Mari kita soroti dengan lebih cermat kedua aspek dari pola yang ia tetapkan bagi kita ini.

      Kasih yang Terus Bertahan akan Kebenaran Ilahi

      4. Bagaimana Yesus mengembangkan kasih akan ajaran Yehuwa?

      4 Sikap seorang pengajar terhadap materi yang ia ajarkan cukup mempengaruhi mutu pengajarannya. Ketidakpedulian apa pun pasti akan nyata dan menular kepada murid-muridnya. Yesus tidak bersikap masa bodoh terhadap kebenaran berharga yang ia ajarkan mengenai Yehuwa dan Kerajaan-Nya. Yesus sangat mengasihi materi pelajaran tersebut. Ia telah mengembangkan kasih itu sewaktu menjadi murid. Selama eksistensi pramanusianya yang panjang, Putra satu-satunya yang diperanakkan itu adalah pelajar yang rajin. Yesaya 50:4, 5 mencatat kata-kata yang cocok ini, ”Tuan Yang Berdaulat Yehuwa telah memberi aku lidah seorang murid, agar aku mengetahui caranya menjawab orang yang lelah dengan perkataan. Ia bangun setiap pagi; ia membangunkan telingaku agar mendengar seperti seorang murid. Tuan Yang Berdaulat Yehuwa membuka telingaku, dan mengenai aku, aku tidak memberontak. Aku tidak berpaling ke arah yang berlawanan.”

      5, 6. (a) Apa yang tampaknya Yesus alami saat dibaptis, dan apa pengaruh hal itu terhadap dirinya? (b) Kontras apa kita lihat antara Yesus dan Setan dalam hal menggunakan Firman Allah?

      5 Seraya bertumbuh sebagai manusia di bumi, Yesus senantiasa mengasihi hikmat ilahi. (Lukas 2:52) Lalu, pada saat dibaptis, ia mendapat pengalaman yang unik. ”Langit terbuka,” kata Lukas 3:21. Tampaknya, pada saat itu Yesus dapat mengingat kembali eksistensi pramanusianya. Setelah itu, ia berpuasa selama 40 hari di padang belantara. Pastilah ia sangat senang sewaktu merenungkan begitu banyak sesi pelajaran yang ia terima dari Yehuwa saat berada di surga. Namun, tak lama kemudian, kasihnya akan kebenaran Allah diuji.

      6 Ketika Yesus merasa lelah dan lapar, Setan berupaya menggodanya. Betapa berbedanya kedua putra Allah ini! Kedua-duanya mengutip Kitab-Kitab Ibrani—tetapi dengan sikap yang sama sekali berbeda. Setan memutarbalikkan Firman Allah, menggunakannya tanpa respek demi tujuannya yang mementingkan diri. Sebenarnya, si pemberontak ini sangat memandang rendah kebenaran ilahi. Sebaliknya, Yesus mengutip Tulisan-Tulisan Kudus dengan kasih yang nyata, menggunakan Firman Allah secara cermat dalam setiap jawabannya. Yesus telah ada lama berselang sebelum kata-kata terilham itu pertama-tama ditulis, tetapi ia sangat menjunjungnya. Kata-kata tersebut adalah kebenaran yang berharga dari Bapak surgawinya! Ia menyatakan kepada Setan bahwa perkataan Yehuwa itu lebih vital daripada makanan. (Matius 4:1-11) Ya, Yesus mengasihi semua kebenaran yang Yehuwa ajarkan kepadanya. Namun, bagaimana dia mempertunjukkan kasih tersebut sebagai pengajar?

      Mengasihi Kebenaran yang Ia Ajarkan

      7. Mengapa Yesus menolak untuk merancang ajarannya sendiri?

      7 Kasih Yesus akan kebenaran yang ia ajarkan selalu nyata. Sebenarnya, mudah saja baginya untuk mengembangkan gagasan-gagasannya sendiri. Ia memiliki pengetahuan dan hikmat yang sangat luas. (Kolose 2:3) Meskipun demikian, ia berulang kali mengingatkan para pendengarnya bahwa segala sesuatu yang ia ajarkan bukan berasal dari dirinya, melainkan dari Bapak surgawinya. (Yohanes 7:16; 8:28; 12:49; 14:10) Kasihnya terhadap kebenaran ilahi sedemikian besar sehingga tidak mungkin ia mengganti kebenaran itu dengan pemikirannya sendiri.

      8. Pada awal pelayanannya, bagaimana Yesus menetapkan pola dalam bersandar pada Firman Allah?

      8 Sewaktu Yesus memulai pelayanannya kepada umum, ia segera menetapkan suatu pola. Perhatikan caranya ia untuk pertama kali menyatakan kepada umat Allah bahwa dialah Mesias yang dijanjikan. Apakah ia sekadar tampil di hadapan banyak orang, mengumumkan bahwa dirinya adalah Kristus, kemudian mengadakan mukjizat-mukjizat yang spektakuler guna membuktikan hal itu? Tidak. Ia pergi ke sebuah sinagoga, tempat umat Allah biasanya membaca Tulisan-Tulisan Kudus. Di sana, ia membaca nubuat di Yesaya 61:1, 2 dengan suara keras, lalu menjelaskan bahwa kebenaran yang bersifat nubuat itu berlaku atas dirinya. (Lukas 4:16-22) Mukjizatnya yang banyak turut meneguhkan bahwa ia mendapat dukungan Yehuwa. Meskipun demikian, ia selalu bersandar pada Firman Allah dalam pengajarannya.

      9. Sewaktu berurusan dengan orang Farisi, bagaimana Yesus memperlihatkan kasihnya yang loyal kepada Firman Allah?

      9 Sewaktu Yesus ditantang oleh musuh-musuh religiusnya, ia tidak berupaya beradu argumen, meskipun mudah saja baginya untuk mengalahkan mereka. Sebaliknya, ia membiarkan Firman Allah membuktikan bahwa mereka salah. Misalnya, ingatlah saat orang Farisi menuduh bahwa para pengikut Yesus telah melanggar hukum Sabat karena memetik beberapa bulir gandum serta memakannya seraya melintasi ladang. Yesus menjawab, ”Belum pernahkah kamu membaca apa yang Daud lakukan sewaktu ia dan orang-orang yang bersamanya lapar?” (Matius 12:1-5) Tentu saja, orang-orang yang menganggap diri adil-benar itu mungkin telah sering membaca kisah terilham yang dicatat di 1 Samuel 21:1-6 itu. Jika demikian, mereka gagal memahami hikmah yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi, Yesus tidak sekadar membaca kisah itu. Ia telah merenungkan dan mencamkan dalam hatinya prinsip-prinsip yang terdapat di dalamnya. Ia mengasihi prinsip-prinsip yang Yehuwa ajarkan melalui ayat-ayat tersebut. Jadi, ia menggunakan kisah tersebut, serta sebuah contoh dari Hukum Musa, untuk menyingkapkan sikap masuk akal dari Hukum. Dengan cara serupa, kasih Yesus yang loyal kepada Firman Allah menggerakkan dia untuk membelanya dari upaya-upaya para pemimpin agama untuk memutarbalikkannya demi kepentingan mereka sendiri atau menguburnya dalam kubangan tradisi manusia.

      10. Bagaimana Yesus menggenapi nubuat-nubuat mengenai mutu pengajarannya?

      10 Kasih Yesus akan kebenaran yang ia ajarkan tidak pernah membuatnya mengajar semata-mata dengan pengulangan tanpa makna, dengan cara yang membosankan atau mekanis. Nubuat-nubuat terilham menunjukkan bahwa sang Mesias akan berbicara dengan ’pesona pada bibirnya’, menggunakan ”kata-kata yang bagus”. (Mazmur 45:2; Kejadian 49:21) Yesus menggenapi nubuat-nubuat itu dengan membuat beritanya selalu menarik dan hidup, menggunakan ”perkataan yang menawan hati” sewaktu mengajarkan kebenaran yang sangat ia kasihi. (Lukas 4:22) Tak diragukan, antusiasme mewarnai ekspresi wajahnya, dan matanya berbinar-binar menunjukkan minatnya yang dalam akan pokok yang ia ajarkan. Pastilah sangat menyenangkan untuk mendengarkan dia, dan benar-benar pola yang bagus untuk kita ikuti sewaktu berbicara kepada orang-orang lain mengenai hal-hal yang telah kita pelajari!

      11. Mengapa kecakapan Yesus sebagai pengajar tidak pernah membuatnya menjadi besar kepala karena sombong?

      11 Apakah pemahamannya yang luas akan kebenaran ilahi dan kata-katanya yang memikat hati membuat Yesus menjadi besar kepala karena sombong? Sering kali, begitulah halnya dengan orang-orang yang menjadi pengajar. Namun, ingatlah bahwa Yesus berhikmat dengan cara yang saleh. Hikmat demikian tidak memberikan peluang untuk keangkuhan, karena ”hikmat ada pada orang-orang yang bersahaja”. (Amsal 11:2) Ada hal lain lagi yang membuat Yesus tidak menjadi sombong atau angkuh.

      Yesus Mengasihi Orang-Orang yang Ia Ajar

      12. Bagaimana Yesus memperlihatkan bahwa ia tidak menginginkan para pengikutnya merasa terintimidasi olehnya?

      12 Kasih Yesus yang dalam kepada orang-orang senantiasa nyata dari pengajarannya. Pengajarannya tidak pernah membuat orang merasa terintimidasi, berbeda dengan pengajaran orang yang angkuh. (Pengkhotbah 8:9) Setelah menyaksikan salah satu mukjizat Yesus, Petrus diliputi perasaan takjub, lalu sujud pada lutut Yesus. Namun, Yesus tidak menginginkan para pengikutnya memiliki perasaan takut yang berlebihan terhadapnya. Dengan ramah ia mengatakan, ”Janganlah merasa takut lagi”, lalu ia memberi tahu Petrus mengenai pekerjaan menyenangkan yang di dalamnya Petrus akan ambil bagian, yaitu pekerjaan menjadikan murid. (Lukas 5:8-10) Yesus menginginkan para pengikutnya digerakkan oleh kasih mereka sendiri akan kebenaran yang berharga mengenai Allah, bukannya oleh rasa takut terhadap instruktur mereka.

      13, 14. Dengan cara apa saja Yesus mempertunjukkan empati terhadap orang-orang?

      13 Kasih Yesus kepada orang-orang yang ia ajar juga nyata dari sikap empatinya terhadap mereka. ”Ketika melihat kumpulan orang itu, ia merasa kasihan terhadap mereka, karena mereka dikuliti dan dibuang seperti domba-domba tanpa gembala.” (Matius 9:36) Ia turut merasakan kondisi mereka yang menyedihkan dan tergerak untuk membantu mereka.

      14 Perhatikan empati Yesus pada kesempatan yang lain. Pada saat seorang wanita yang menderita perdarahan mendekati dia di tengah-tengah kerumunan orang dan menyentuh jumbai jubahnya, wanita itu disembuhkan secara mukjizat. Yesus merasakan adanya kuasa yang keluar dari dirinya, tetapi ia tidak melihat orang yang telah disembuhkan. Ia berkeras ingin menemukan wanita itu. Mengapa? Bukan untuk mencerca wanita itu karena telah melanggar Hukum atau peraturan para penulis dan orang Farisi, seperti yang mungkin ditakutkan wanita itu. Sebaliknya, Yesus mengatakan kepadanya, ”Anak perempuan, imanmu telah membuatmu sembuh. Pergilah dengan damai, dan sehatlah dari penyakitmu yang memedihkan hati.” (Markus 5:25-34) Perhatikan empati yang tercermin dalam kata-kata itu. Ia tidak sekadar mengatakan, ”Sembuhlah.” Sebaliknya, ia berkata, ”Sehatlah dari penyakitmu yang memedihkan hati.” Di ayat itu, Markus menggunakan kata yang secara harfiah dapat berarti ”menyesah”, suatu bentuk pencambukan yang sering digunakan untuk menyiksa. Jadi, Yesus mengakui bahwa penyakit wanita itu telah membuatnya menderita, boleh jadi kepedihan jasmani dan emosi yang parah. Ia menyelami perasaan wanita itu.

      15, 16. Kejadian apa saja dalam pelayanan Yesus yang memperlihatkan bahwa ia mencari hal-hal baik dalam diri orang?

      15 Yesus juga memperlihatkan kasih kepada orang-orang dengan mencari sifat-sifat baik dalam diri mereka. Perhatikan apa yang terjadi sewaktu ia berjumpa dengan Natanael, yang belakangan menjadi seorang rasul. ”Yesus melihat Natanael datang kepadanya, lalu ia berkata mengenai dia, ’Lihatlah, seorang Israel sejati, yang dalam dirinya tidak ada tipu daya.’” Secara mukjizat, Yesus telah mengamati sifat-sifat batiniah Natanael, dengan demikian tahu banyak tentang dia. Memang, Natanael pastilah tidak sempurna. Ia punya kesalahan-kesalahan, sama seperti kita semua. Malahan, ketika mendengar tentang Yesus, ia sempat melontarkan pernyataan yang tidak dipikir terlebih dahulu, ”Dapatkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yohanes 1:45-51) Akan tetapi, dari semua hal yang dapat dikatakan mengenai Natanael, Yesus memilih untuk memusatkan perhatian pada hal yang positif, yaitu kejujurannya.

      16 Demikian pula, ketika seorang perwira—bisa jadi seorang non-Yahudi, yaitu orang Romawi—menghampiri dan memohon Yesus untuk menyembuhkan budaknya yang sakit, Yesus tahu bahwa perwira itu tidak luput dari kesalahan. Kehidupan seorang perwira pada masa itu kemungkinan besar dikotori banyak tindakan yang kejam, pertumpahan darah, dan ibadat palsu. Namun, Yesus memusatkan perhatian pada hal yang baik—iman pria itu yang luar biasa. (Matius 8:5-13) Belakangan, sewaktu Yesus berbicara kepada penjahat yang digantung pada tiang siksaan di sebelahnya, Yesus tidak menghardik pria itu atas masa lalunya yang jahat, tetapi menganjurkan dia dengan harapan masa depan. (Lukas 23:43) Yesus tahu benar bahwa memiliki pandangan yang negatif dan kritis mengenai orang lain hanya akan membuat mereka berkecil hati. Pastilah, upaya-upayanya untuk mencari hal-hal positif dalam diri orang lain mendorong banyak orang untuk lebih memperbaiki diri.

      Kerelaan untuk Melayani Orang-Orang

      17, 18. Dalam menerima tugas untuk datang ke bumi, bagaimana Yesus memperlihatkan kerelaan untuk melayani orang lain?

      17 Bukti ampuh lainnya dari kasih Yesus terhadap orang-orang yang ia ajar adalah kerelaannya untuk melayani mereka. Dalam kehidupan pramanusianya, Putra Allah senantiasa menyukai umat manusia. (Amsal 8:30, 31) Sebagai ”Firman” atau juru bicara Yehuwa, ia mungkin telah berulang kali berinteraksi dengan manusia. (Yohanes 1:1) Akan tetapi, antara lain untuk mengajar umat manusia secara lebih langsung, ia ”mengosongkan dirinya dan mengambil wujud seorang budak”, meninggalkan kedudukannya yang tinggi di surga. (Filipi 2:7; 2 Korintus 8:9) Sewaktu berada di bumi, Yesus tidak berharap untuk dilayani. Sebaliknya, ia mengatakan, ”Putra manusia datang, bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan memberikan jiwanya sebagai tebusan untuk penukar bagi banyak orang.” (Matius 20:28) Kehidupan Yesus selaras sepenuhnya dengan kata-kata tersebut.

      18 Yesus dengan rendah hati melayani kebutuhan orang-orang yang ia ajar, selalu siap mengerahkan dirinya demi kepentingan mereka. Ia menjelajahi Negeri Perjanjian, berjalan kaki ratusan kilometer selama tur pengabarannya dalam upaya untuk menjangkau sebanyak mungkin orang. Tidak seperti orang Farisi dan para penulis yang congkak, ia senantiasa rendah hati dan mudah didekati. Segala macam orang—pejabat, tentara, pengacara, wanita, anak-anak, orang miskin, orang sakit, bahkan orang yang dianggap sampah masyarakat—mendekati dia tanpa merasa sungkan dan takut. Meskipun sempurna, Yesus adalah manusia biasa, bisa lelah dan lapar. Akan tetapi, bahkan sewaktu sedang lelah atau perlu istirahat atau saat menyendiri untuk berdoa, ia mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri.—Markus 1:35-39.

      19. Bagaimana Yesus menetapkan pola dalam menghadapi murid-muridnya dengan rendah hati, sabar, dan ramah?

      19 Yesus juga rela melayani murid-muridnya sendiri. Ia melakukan hal itu dengan mengajar mereka secara ramah dan sabar. Apabila mereka tidak cepat memahami beberapa pelajaran penting, ia tidak menyerah, hilang kesabaran, ataupun mencerca mereka. Ia senantiasa menemukan cara-cara baru untuk membantu murid-muridnya mengerti apa yang ia ajarkan. Misalnya, coba pikirkan betapa sering murid-muridnya bertengkar mengenai siapa yang terbesar di antara mereka. Berulang kali, bahkan sampai pada malam sebelum ia dieksekusi, Yesus menemukan cara-cara baru untuk mengajar mereka agar berlaku rendah hati terhadap satu sama lain. Dalam hal kerendahan hati ini, seperti dalam semua hal lainnya, Yesus dapat dengan benar berkata, ”Aku menetapkan pola bagimu.”—Yohanes 13:5-15; Matius 20:25; Markus 9:34-37.

      20. Metode mengajar apa yang membedakan Yesus dari orang Farisi, dan mengapa metode tersebut efektif?

      20 Perhatikan bahwa Yesus tidak sekadar memberi tahu murid-muridnya pola itu; ia ”menetapkan pola” itu. Ia mengajar mereka melalui teladan. Ia tidak berbicara kepada mereka dengan sikap merendahkan, seolah-olah ia menganggap dirinya lebih unggul sehingga tidak perlu lagi melakukan hal-hal yang ia perintahkan kepada murid-muridnya. Demikianlah cara orang Farisi. ”Mereka mengatakan tetapi tidak melakukan,” kata Yesus mengenai mereka. (Matius 23:3) Yesus dengan rendah hati memperlihatkan kepada murid-muridnya apa tepatnya makna ajarannya dengan menjalankan serta mempraktekkannya. Oleh karena itu, sewaktu ia mendesak para pengikutnya untuk menempuh kehidupan sederhana yang bebas dari materialisme, mereka tidak perlu menerka-nerka apa yang ia maksudkan. Mereka dapat melihat realitas kata-katanya, ”Rubah mempunyai liang dan burung di langit mempunyai tempat bertengger, tetapi Putra manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalanya.” (Matius 8:20) Yesus melayani murid-muridnya dengan secara rendah hati menetapkan pola bagi mereka.

      21. Apa yang akan dibahas dalam artikel berikut?

      21 Tak diragukan, Yesus adalah Guru teragung yang pernah hidup di bumi! Kasihnya akan apa yang ia ajarkan dan kasihnya kepada orang-orang yang ia ajar, nyata bagi semua orang berhati tulus yang melihat dan mendengarkan dia. Hal itu sama nyatanya bagi kita dewasa ini yang mempelajari pola yang ia tetapkan. Namun, bagaimana kita dapat mengikuti teladan Kristus yang sempurna? Artikel berikut akan membahas pertanyaan itu.

  • ’Teruslah Ikuti Aku’
    Menara Pengawal—2002 | 15 Agustus
    • ’Teruslah Ikuti Aku’

      ”Kepada haluan inilah kamu dipanggil, karena Kristus menderita bagimu,meninggalkan bagimu suatu model agar kamu mengikuti langkah-langkahnya dengan saksama.”​—1 PETRUS 2:21.

      1, 2. Mengapa teladan Yesus yang sempurna sebagai pengajar tidaklah terlalu luhur untuk kita tiru?

      YESUS KRISTUS adalah Guru teragung yang pernah ada di bumi. Selain itu, ia sempurna, tidak pernah berdosa sepanjang haluan hidupnya sebagai manusia. (1 Petrus 2:22) Namun, apakah itu berarti bahwa teladan Yesus sebagai pengajar terlalu luhur sehingga kita, manusia yang tidak sempurna, tidak dapat menirunya? Sama sekali tidak.

      2 Seperti yang telah kita lihat di artikel sebelumnya, dasar dari pengajaran Yesus adalah kasih. Dan, kasih adalah sifat yang dapat dipupuk oleh kita semua. Firman Allah sering mendesak kita untuk bertumbuh dan meningkatkan diri dalam kasih kita kepada orang-orang lain. (Filipi 1:9; Kolose 3:14) Yehuwa tidak pernah mengharapkan dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya apa yang tidak sanggup mereka lakukan. Sebenarnya, karena ”Allah adalah kasih” dan telah membuat kita menurut gambar-Nya sendiri, dapat dikatakan bahwa Ia merancang kita untuk memperlihatkan kasih. (1 Yohanes 4:8; Kejadian 1:27) Jadi, sewaktu kita membaca kata-kata rasul Petrus yang menjadi ayat tema kita, kita dapat yakin akan berhasil. Kita dapat mengikuti langkah-langkah Kristus dengan saksama. Bahkan, kita dapat menaati perintah Yesus sendiri, ’Teruslah ikuti aku.’ (Lukas 9:23) Mari kita bahas caranya kita dapat meniru kasih yang Kristus perlihatkan, pertama-tama kasih akan kebenaran yang ia ajarkan, lalu kasih kepada orang-orang yang ia ajar.

      Memupuk Kasih akan Kebenaran yang Kita Pelajari

      3. Mengapa beberapa orang merasa sulit untuk belajar, tetapi desakan apa terdapat di Amsal 2:1-5?

      3 Agar dapat mengasihi kebenaran yang kita ajarkan kepada orang lain, kita sendiri harus mengasihi pemelajaran kebenaran itu. Dalam dunia dewasa ini, kasih semacam itu tidak selalu mudah untuk dikembangkan. Faktor-faktor seperti kurangnya pendidikan dan kebiasaan buruk yang dikembangkan semasih muda, menyebabkan banyak orang memiliki keengganan yang berurat berakar untuk belajar. Akan tetapi, penting sekali bagi kita untuk belajar dari Yehuwa. Amsal 2:1-5 mengatakan, ”Putraku, jika engkau mau menerima perkataanku dan menyimpan perintah-perintahku bagaikan harta pada dirimu, untuk memperhatikan hikmat dengan telingamu, agar engkau mencondongkan hatimu pada daya pengamatan; lagi pula, jika engkau berseru untuk mendapatkan pengertian dan mengeluarkan suaramu untuk mendapatkan daya pengamatan, jika engkau terus mencarinya seperti untuk perak, dan seperti untuk harta terpendam engkau terus berupaya mendapatkannya, maka engkau akan mengerti rasa takut akan Yehuwa, dan engkau akan mendapatkan pengetahuan tentang Allah.”

      4. Apa artinya ”mencondongkan” hati, dan sudut pandangan apa yang akan membantu kita melakukan hal itu?

      4 Perhatikan bahwa di ayat 1 sampai 4, kita berulang kali didesak agar mengerahkan upaya tidak hanya untuk ”menerima” dan ”menyimpan” tetapi juga untuk ’terus mencari’ dan ’terus berupaya mendapatkan’. Namun, apa yang memotivasi kita untuk mengerjakan semua ini? Nah, perhatikan frasa ”mencondongkan hatimu pada daya pengamatan”. Sebuah karya referensi mengatakan bahwa desakan ini ”bukan sekadar permohonan untuk memberikan perhatian; ini adalah permintaan akan sikap tertentu, yaitu sikap sangat senang menyambut pengajaran itu”. Dan, apa yang dapat membuat kita senang menyambut dan sungguh-sungguh berkeinginan mempelajari apa yang Yehuwa ajarkan kepada kita? Sudut pandangan kita. Kita perlu memandang ”pengetahuan tentang Allah” sebagai ”perak” dan ”harta terpendam”.

      5, 6. (a) Apa yang bisa saja terjadi, dan bagaimana kita dapat mencegah hal itu? (b) Mengapa kita hendaknya terus menambah perbendaharaan pengetahuan yang telah kita temukan dalam Alkitab?

      5 Memperoleh sudut pandangan demikian tidaklah sulit. Misalnya, ”pengetahuan tentang Allah” yang telah Saudara pelajari mungkin termasuk kebenaran mengenai maksud-tujuan Yehuwa bahwa umat manusia yang setia akan hidup selama-lamanya dalam Firdaus di bumi. (Mazmur 37:28, 29) Pada saat Saudara pertama kali mempelajari kebenaran tersebut, pastilah Saudara benar-benar memandang hal itu sebagai harta, cuplikan pengetahuan yang mengisi pikiran dan hati Saudara dengan harapan dan sukacita. Bagaimana dengan sekarang? Seraya waktu berlalu, apakah penghargaan akan harta Saudara telah memudar? Jika demikian, coba lakukan dua hal. Pertama-tama, perbarui penghargaan Saudara, dengan menyegarkan pikiran Saudara secara berkala sehubungan dengan alasan Saudara menghargai setiap kebenaran yang Yehuwa ajarkan kepada Saudara, bahkan hal-hal yang telah Saudara pelajari bertahun-tahun yang lalu.

      6 Kedua, teruslah menambah perbendaharaan pengetahuan Saudara. Lagi pula, jika Saudara secara kebetulan menemukan permata yang berharga pada waktu menggali, apakah Saudara hanya akan mengantongi permata itu, lalu pergi begitu saja dengan perasaan puas? Atau, apakah Saudara akan menggali lagi untuk melihat kalau-kalau ada lebih banyak permata? Firman Allah penuh dengan kebenaran berharga yang bagaikan permata dan bongkahan perak. Tidak soal berapa banyak kebenaran yang telah Saudara temukan, Saudara dapat memperoleh lebih banyak lagi. (Roma 11:33) Sewaktu Saudara mempelajari suatu aspek baru dari kebenaran, tanyailah diri Saudara: ’Apa yang membuatnya berharga? Apakah hal itu memberi saya pemahaman yang lebih dalam mengenai kepribadian atau maksud-tujuan Yehuwa? Apakah hal itu memberikan sejumlah bimbingan praktis yang dapat membantu saya untuk mengikuti jejak kaki Yesus?’ Merenungkan pertanyaan-pertanyaan demikian akan membantu Saudara memupuk kasih akan kebenaran yang telah Yehuwa ajarkan kepada Saudara.

      Memperlihatkan Kasih akan Kebenaran yang Kita Ajarkan

      7, 8. Cara apa saja dapat kita gunakan untuk memperlihatkan kepada orang lain bahwa kita mengasihi kebenaran yang telah kita pelajari dari Alkitab? Berikan contoh.

      7 Seraya kita mengajar orang lain, bagaimana kita dapat memperlihatkan bahwa kita mengasihi kebenaran yang telah kita pelajari dari Firman Allah? Mengikuti teladan Yesus, kita sangat mengandalkan Alkitab sewaktu mengabar dan mengajar. Belakangan ini, umat Allah di seluruh dunia dianjurkan untuk lebih sering menggunakan Alkitab sewaktu memberikan kesaksian umum. Seraya Saudara menerapkan anjuran tersebut, carilah cara untuk membuat penghuni rumah tahu bahwa Saudara sendiri menghargai apa yang Saudara bagikan dari Alkitab.—Matius 13:52.

      8 Misalnya, tidak lama setelah terjadinya serangan teroris tahun lalu di New York City, seorang saudari Kristen membacakan Mazmur 46:1, 11 kepada orang-orang yang ia jumpai dalam dinas. Pertama-tama, ia bertanya kepada orang-orang itu bagaimana mereka berupaya mengatasi dampak lanjutan tragedi itu. Ia mendengarkan baik-baik jawaban mereka, menyatakan terima kasih atas jawaban itu, lalu berkata, ”Bolehkah saya memperlihatkan kepada Anda sebuah ayat yang benar-benar menghibur saya selama masa yang sulit ini?” Sangat sedikit yang menolak, dan ada banyak diskusi yang bagus sebagai hasilnya. Sewaktu berbicara dengan orang-orang muda, saudari itu sering mengatakan, ”Sampai sekarang, saya sudah 50 tahun mengajarkan Alkitab. Saya belum pernah menghadapi problem yang tidak bisa dipecahkan oleh buku ini.” Dengan menggunakan pendekatan yang tulus dan antusias, kita memperlihatkan kepada orang-orang bahwa kita menghargai dan mengasihi apa yang telah kita pelajari dari Firman Allah.—Mazmur 119:97, 105.

      9, 10. Mengapa penting untuk menggunakan Alkitab sewaktu menjawab pertanyaan mengenai kepercayaan kita?

      9 Sewaktu orang mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai kepercayaan kita, kita mendapat kesempatan yang bagus untuk memperlihatkan bahwa kita mengasihi Firman Allah. Mengikuti teladan Yesus, kita tidak semata-mata mendasarkan jawaban kita pada gagasan pribadi. (Amsal 3:5, 6) Sebaliknya, kita menggunakan Alkitab sewaktu menjawab. Apakah Saudara merasa takut kalau-kalau seseorang akan mengajukan pertanyaan yang tidak dapat Saudara jawab? Perhatikan dua langkah positif yang dapat membantu Saudara mengatasi masalah itu.

      10 Lakukan sebisa-bisanya agar selalu siap. Rasul Petrus menulis, ”Sucikanlah Kristus sebagai Tuan dalam hatimu, selalu siap membuat pembelaan di hadapan setiap orang yang menuntut darimu alasan untuk harapan yang ada padamu, tetapi melakukannya dengan cara yang lembut dan respek yang dalam.” (1 Petrus 3:15) Apakah Saudara siap membela kepercayaan Saudara? Misalnya, jika seseorang ingin mengetahui mengapa Saudara tidak ambil bagian dalam beberapa kebiasaan atau praktek yang bertentangan dengan Alkitab, jangan berpuas dengan sekadar mengatakan, ”Hal itu bertentangan dengan agama saya.” Jawaban seperti itu bisa menyiratkan bahwa Saudara membiarkan orang lain membuat keputusan bagi Saudara dan bahwa Saudara pastilah anggota suatu kultus. Mungkin Saudara lebih baik mengatakan, ”Firman Allah, Alkitab, melarang hal itu” atau ”Hal itu membuat Allah tidak senang”. Setelah itu, berikan penjelasan yang masuk akal mengenai alasannya.—Roma 12:1.

      11. Apa alat bantu riset yang bisa membantu kita siap menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai kebenaran dalam Firman Allah?

      11 Jika Saudara merasa tidak siap, sebaiknya sediakanlah waktu untuk mempelajari buku Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab.a Pilihlah beberapa pokok bahasan yang tampaknya sering diajukan, dan berusahalah untuk mengingat beberapa pokok Alkitab. Bawalah selalu buku Bertukar Pikiran dan Alkitab Saudara. Jangan segan menggunakan kedua-duanya, katakanlah bahwa Saudara memiliki sebuah alat bantu riset yang Saudara senang gunakan untuk membantu menemukan jawaban Alkitab atas pertanyaan-pertanyaan.

      12. Apa yang bisa kita katakan jika kita tidak tahu jawaban untuk sebuah pertanyaan Alkitab?

      12 Berupayalah untuk tidak khawatir secara berlebihan. Tidak seorang pun manusia yang tidak sempurna bisa menjawab semua pertanyaan. Jadi, apabila Saudara mendapat pertanyaan Alkitab yang tidak dapat Saudara jawab, Saudara dapat selalu menanggapi dengan cara berikut ini, ”Terima kasih atas pertanyaan yang menarik ini. Terus terang, saya tidak tahu jawabannya, tetapi saya yakin Alkitab membahas hal ini. Saya suka melakukan riset Alkitab, maka saya akan mencari jawaban atas pertanyaan Anda dan datang kembali untuk memberitahukan jawabannya kepada Anda.” Pendekatan yang langsung dan sederhana seperti itu mungkin akan membuka jalan untuk pembahasan lebih lanjut.—Amsal 11:2.

      Kasih kepada Orang-Orang yang Kita Ajar

      13. Mengapa kita hendaknya memelihara pandangan yang positif sehubungan dengan orang-orang yang kita kabari?

      13 Yesus memperlihatkan kasih kepada orang-orang yang ia ajar. Bagaimana kita bisa menirunya dalam hal ini? Kita hendaknya tidak pernah mengembangkan sikap tidak peka terhadap orang-orang di sekitar kita. Memang, ”perang pada hari besar Allah Yang Mahakuasa” semakin mendekat, dan banyak di antara miliaran orang akan dibinasakan. (Penyingkapan 16:14; Yeremia 25:33) Namun, kita tidak tahu siapa yang akan hidup dan siapa yang akan mati. Penghakiman itu akan terjadi di masa depan dan dilaksanakan oleh pribadi yang Yehuwa lantik, Yesus Kristus. Sampai penghakiman itu dilaksanakan, kita memandang setiap pribadi sebagai calon hamba Yehuwa.​—Matius 19:24-26; 25:31-33; Kisah 17:31.

      14. (a) Bagaimana kita dapat memeriksa diri apakah kita berempati kepada orang-orang atau tidak? (b) Dengan cara praktis apa saja kita dapat memperlihatkan empati dan minat pribadi terhadap orang lain?

      14 Oleh karena itu, seperti Yesus kita berupaya untuk berempati kepada orang-orang. Kita dapat bertanya kepada diri sendiri: ’Apakah saya menyelami perasaan orang-orang yang telah dikelabui oleh dusta dan tipu daya yang dirancang secara cerdik oleh unsur agama, politik, dan perdagangan dunia ini? Jika mereka tampaknya bersikap apatis terhadap berita yang kita sampaikan, apakah saya berupaya memahami alasan mereka berbuat demikian? Apakah saya sadar bahwa saya, ataupun orang-orang lain yang kini melayani Yehuwa dengan setia, pernah merasakan hal yang sama? Apakah saya sudah menyesuaikan pendekatan saya selaras dengan hal itu? Atau, apakah saya tidak mempedulikan orang-orang ini karena menganggap mereka tidak mungkin berubah?’ (Penyingkapan 12:9) Apabila orang-orang merasakan empati kita yang tulus, lebih besar kemungkinannya mereka akan menanggapi berita kita. (1 Petrus 3:8) Empati juga bisa menggerakkan kita untuk memperlihatkan minat yang lebih besar kepada orang-orang yang kita jumpai dalam dinas. Kita bisa mencatat pertanyaan dan kekhawatiran mereka. Sewaktu berkunjung kembali, kita dapat memperlihatkan kepada mereka bahwa kita memikirkan pernyataan mereka pada kunjungan sebelumnya. Dan, jika mereka memiliki kebutuhan mendesak pada saat itu, kita mungkin dapat menawarkan bantuan praktis.

      15. Mengapa kita hendaknya mencari hal-hal positif dalam diri orang-orang, dan bagaimana kita dapat melakukan hal itu?

      15 Seperti Yesus, kita berupaya mencari hal-hal positif dalam diri orang-orang. Mungkin ada orang tua tunggal yang membuat upaya yang patut dikagumi dalam membesarkan anak-anaknya. Seorang pria berjuang mati-matian agar dapat menafkahi keluarganya. Seorang lansia memperlihatkan minat akan perkara-perkara rohani. Apakah kita memperhatikan hal-hal positif itu dalam diri orang-orang yang kita jumpai serta memuji mereka? Dengan melakukannya, kita menekankan dasar pengertian yang sama serta bisa jadi membuka jalan untuk memberikan kesaksian mengenai Kerajaan.—Kisah 26:2, 3.

      Kerendahan Hati Sangat Penting dalam Memperlihatkan Kasih

      16. Mengapa penting untuk tetap bersikap lembut dan penuh respek kepada orang-orang yang kita kabari?

      16 Kasih kepada orang-orang yang kita ajar akan menggerakkan kita untuk mengindahkan peringatan yang bijak dalam Alkitab, ”Pengetahuan membuat orang menjadi besar kepala, tetapi kasih membangun.” (1 Korintus 8:1) Meskipun pengetahuan Yesus sangat banyak, ia tidak pernah menjadi sombong. Jadi, sewaktu Saudara membagikan kepercayaan Saudara, hindarilah sikap suka berdebat atau sikap merasa diri lebih unggul. Tujuan kita adalah mencapai hati dan menarik orang-orang kepada kebenaran yang sangat kita kasihi. (Kolose 4:6) Ingatlah bahwa ketika Petrus menasihati orang Kristen agar selalu siap membuat pembelaan, ia mencantumkan juga pengingat bahwa kita hendaknya melakukan hal itu ”dengan cara yang lembut dan respek yang dalam”. (1 Petrus 3:15) Jika kita bersikap lembut dan penuh respek, lebih besar kemungkinannya kita dapat menarik orang-orang kepada Allah yang kita layani.

      17, 18. (a) Bagaimana hendaknya kita menanggapi sikap kritis sehubungan dengan kualifikasi kita sebagai rohaniwan? (b) Mengapa pengetahuan mengenai bahasa-bahasa kuno Alkitab bukanlah hal yang mutlak bagi para pelajar Alkitab?

      17 Kita tidak perlu mengesankan orang dengan pengetahuan atau pendidikan kita. Jika beberapa orang di daerah kita tidak mau mendengarkan siapa pun yang tidak punya gelar kesarjanaan tertentu, jangan biarkan sikap mereka membuat Saudara berkecil hati. Yesus mengabaikan keberatan bahwa ia tidak pernah mengikuti sekolah-sekolah rabi yang bergengsi pada zamannya; ia juga tidak mengalah pada berbagai prasangka umum dengan berupaya mengesankan orang dengan wawasannya yang luas.—Yohanes 7:15.

      18 Bagi rohaniwan Kristen, kerendahan hati dan kasih jauh lebih penting daripada pendidikan sekuler mana pun. Sang Pendidik Agung, Yehuwa, membuat kita cakap untuk pelayanan ini. (2 Korintus 3:5, 6) Selain itu, tidak soal apa yang dikatakan oleh beberapa klerus Susunan Kristen, kita tidak perlu mempelajari bahasa-bahasa kuno Alkitab agar dapat menjadi pengajar Firman Allah. Yehuwa mengilhamkan Alkitab agar ditulis dalam ungkapan-ungkapan yang begitu jelas dan spesifik, sehingga hampir semua orang dapat memahami kebenarannya yang berharga. Kebenaran itu tetap utuh meskipun telah diterjemahkan ke dalam ratusan bahasa. Jadi, pengetahuan mengenai bahasa-bahasa kuno, meskipun kadang-kadang bermanfaat, bukanlah hal yang mutlak. Lagi pula, kesombongan karena memiliki kemampuan linguistik dapat membuat seseorang kehilangan sifat yang mutlak bagi orang Kristen sejati—kesediaan untuk diajar.—1 Timotius 6:4.

      19. Dalam arti apa dinas Kristen kita adalah pelayanan?

      19 Tak diragukan, dinas Kristen kita adalah pekerjaan yang menuntut sikap rendah hati. Kita sering menghadapi tentangan, sikap tidak acuh, bahkan penganiayaan. (Yohanes 15:20) Namun, dengan setia melaksanakan pelayanan, kita sedang menjalankan dinas yang sangat penting. Jika kita senantiasa dengan rendah hati melayani orang lain dalam pekerjaan ini, kita meniru kasih yang Yesus Kristus perlihatkan terhadap orang-orang. Coba pikirkan: Jika kita harus mengabar kepada seribu orang yang tidak acuh atau yang menentang agar dapat menemukan satu orang saja yang bersifat seperti domba, bukankah upaya kita tidak sia-sia? Pastilah demikian! Jadi, dengan bertekun dalam pekerjaan ini dan tidak pernah menyerah, kita dengan setia melayani orang-orang yang bersifat seperti domba yang masih harus kita jangkau. Tentu saja, Yehuwa dan Yesus akan memastikan bahwa lebih banyak orang yang berharga seperti itu akan ditemukan dan dibantu sebelum akhir itu tiba.—Hagai 2:7.

      20. Cara apa saja dapat kita gunakan untuk mengajar melalui teladan?

      20 Mengajar melalui teladan adalah cara lain untuk memperlihatkan kerelaan kita melayani orang lain. Misalnya, kita ingin mengajar orang-orang bahwa melayani Yehuwa, ”Allah yang bahagia”, adalah jalan hidup yang terbaik dan paling memuaskan yang bisa diraih. (1 Timotius 1:11) Sewaktu mereka mengamati tingkah laku kita dan cara kita berurusan dengan tetangga, teman sekolah, dan rekan sekerja kita, dapatkah mereka melihat bahwa kita adalah orang-orang yang berbahagia dan puas? Demikian pula, kita mengajar para pelajar Alkitab bahwa sidang Kristen adalah oasis kasih dalam dunia yang kejam dan dingin. Apakah para pelajar Alkitab kita dapat mudah melihat bahwa kita mengasihi semua di dalam sidang dan berupaya keras untuk memelihara perdamaian dengan satu sama lain?—1 Petrus 4:8.

      21, 22. (a) Pemeriksaan diri sehubungan dengan pelayanan kita dapat menuntun kita untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan apa? (b) Apa yang akan dibahas dalam terbitan Menara Pengawal berikutnya?

      21 Adakalanya, sikap yang rela terhadap pelayanan kita dapat menggerakkan kita untuk memeriksa kembali diri kita. Dengan melakukan hal itu secara jujur, banyak yang mendapati bahwa mereka bisa meluaskan dinas mereka dengan mengambil dinas sepenuh waktu atau dengan pindah ke tempat yang lebih membutuhkan tenaga. Yang lainnya memutuskan untuk mempelajari bahasa asing guna melayani komunitas imigran yang semakin bertambah besar di daerah mereka sendiri. Jika kesempatan demikian terbuka bagi Saudara, pertimbangkanlah hal itu baik-baik dan bawakan dalam doa. Kehidupan yang diisi dengan dinas mendatangkan sukacita yang besar, kepuasan, dan kedamaian pikiran.—Pengkhotbah 5:12.

      22 Dalam segala hal, marilah kita terus tiru Yesus Kristus dengan membangun kasih kita akan kebenaran yang kita ajarkan dan kasih kita kepada orang-orang yang kita ajar. Mengembangkan dan memanifestasikan kasih dalam dua aspek ini akan membantu kita meletakkan dasar yang baik untuk menjadi pengajar seperti Kristus. Namun, bagaimana kita dapat membangun di atas dasar itu? Dalam terbitan Menara Pengawal berikutnya, serangkaian artikel akan membahas beberapa metode pengajaran yang spesifik yang Yesus gunakan.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan