-
Nasihat yang MembinaPetunjuk Sekolah Pelayanan Teokratis
-
-
yang ditugaskan kepada saudara untuk diusahakan. Dengan saksama bacalah Pelajaran yang berhubungan dengan pokok yang sedang diusahakan dalam buku ini, agar saudara dapat mengetahui bagaimana hal itu akan mempengaruhi persiapan saudara dan bagaimana mempertunjukkan sifat khotbah itu dalam persembahan saudara. Untuk membantu saudara, segi-segi utama dari tiap sifat khotbah dicetak dengan huruf tebal dalam buku ini. Inilah faktor-faktor utama yang harus dipertimbangkan.
20 Setelah saudara menyampaikan khotbah, dengarkan baik-baik nasihat lisan yang diberikan. Terimalah itu dengan penuh penghargaan. Kemudian usahakan pokok-pokok yang perlu diperhatikan. Jika saudara ingin mempercepat kemajuan, jangan tunggu sampai saudara mendapat khotbah berikut. Pelajarilah keterangan dalam buku ini yang membahas pokok-pokok yang perlu saudara usahakan. Berusahalah untuk menerapkan saran-saran itu dalam percakapan sehari-hari. Dan pada waktu saudara memberikan khotbah latihan yang berikut, saudara sudah dapat menguasai hal itu dengan baik.
21 Tujuan setiap pelajar hendaknya untuk membuat kemajuan setiap kali ia memberikan khotbah dalam acara sekolah. Memang, ini berarti usaha terus-menerus, namun pasti menghasilkan berkat Yehuwa. Bagi mereka yang ingin menarik faedah sebesar-besarnya dari latihan Sekolah Pelayanan Teokratis, kata-kata dari Amsal 19:20 mengandung arti penting, ”Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.”
-
-
Bahan Memuat Penerangan Dipersembahkan dengan JelasPetunjuk Sekolah Pelayanan Teokratis
-
-
Pelajaran 21
Bahan Memuat Penerangan Dipersembahkan dengan Jelas
1-3. Mengapa dibutuhkan bahan yang spesifik agar khotbah memuat penerangan?
1 Khotbah yang bermutu mulai dengan persiapan yang saksama, dan ini membutuhkan waktu dan usaha. Namun betapa besar berkat-berkatnya! Saudara menambah tabungan pengetahuan yang saksama dan memiliki sesuatu yang benar-benar bermanfaat untuk dibagikan kepada hadirin. Saudara tidak akan berbicara secara umum, tetapi memiliki keterangan yang bersifat menjelaskan untuk disampaikan, dan saudara mengetahui bahwa apa yang saudara katakan adalah benar. Ini akan membina penghargaan hadirin terhadap Firman Allah, dan dengan demikian memuliakan Yehuwa. Pembahasan tentang bahan yang memuat penerangan terutama menyangkut apa yang saudara katakan dalam khotbah. Secara singkat pertimbangkan berbagai segi dari pokok tersebut. Ini adalah pokok pertama dalam lembaran Nasihat Khotbah.
2 Bahan yang spesifik. Sebuah khotbah yang membahas hal-hal secara umum, kurang berisi dan kurang berbobot. Khotbah itu samar-samar. Hadirin jadi ragu-ragu. Agar gagasan-gagasan dapat diingat maka keterangan harus spesifik, tepat. Ini memberi bukti adanya penyelidikan (riset) dan pengetahuan tentang pokok pembicaraan.
3 Sifat ini dapat diperoleh dalam persiapan dengan bertanya, Mengapa? Kapan? Di mana? dan sebagainya, Biasanya sekedar mengatakan bahwa sesuatu telah terjadi, tidak cukup. Sebutkan nama tempat, tanggal, mungkin alasan-alasannya. Kita tidak cukup hanya menyatakan kebenaran-kebenaran tertentu. Perlihatkan mengapa itu benar; tunjukkan mengapa kita perlu mengetahuinya. Jika memberikan instruksi, jelaskan bagaimana suatu perkara harus dilakukan. Seberapa jauh pokok ini harus dikembangkan akan ditentukan oleh berapa banyak yang sudah diketahui hadirin. Jadi pertimbangkanlah hadirin, untuk memastikan keterangan terinci yang dibutuhkan.
4-6. Agar khotbah saudara memuat penerangan bagi hadirin tertentu, faktor-faktor apa yang seharusnya tetap saudara ingat?
4 Memuat penerangan bagi hadirin. Apa yang mungkin memuat penerangan bagi hadirin tertentu mungkin tidak menambah pengetahuan dari kelompok lain, atau bisa jadi membuat mereka tetap tidak tahu apa-apa. Maka, jelas, bahan harus cocok dengan hadirin tertentu. Misalnya, dalam khotbah mengenai cara bagaimana pekerjaan kita dipimpin, pada perhimpunan dinas bahan tersebut akan diberikan dengan cara yang sama sekali lain daripada sewaktu berbicara kepada orang yang mulai bersiap untuk membaktikan diri kepada Yehuwa, atau ketika berkhotbah kepada kelompok duniawi.
5 Faktor-faktor ini juga harus dipertimbangkan dalam berbagai penugasan Sekolah Pelayanan Teokratis. Bahan yang akan disampaikan dalam setiap khotbah yang ditugaskan harus disesuaikan dengan hadirin, adegan dan tujuan dari khotbah. Faktor-faktor ini akan ditentukan oleh bentuk khotbah dan adegan yang telah diatur oleh pembicara. Memang, khotbah petunjuk merupakan khotbah kepada sidang. Khotbah-khotbah lain mungkin berbeda-beda, hadirin dan tujuan dapat dikenali dari adegannya. Dalam semua hal, pelajar maupun penasihat dapat bertanya kepada diri sendiri, Apakah bahan disesuaikan dengan hadirin tertentu yang akan mendengarkan persembahan itu? Apakah hadirin mendapat penjelasan dan diajar melalui persembahan tersebut?
6 Dalam persiapan tanyakan pada diri sendiri, Apa yang hendak saya capai dalam khotbah ini? Berapa banyak dari apa yang akan saya katakan sudah diketahui oleh orang atau kelompok ini? Dasar apa harus saya letakkan agar pokok ini menjadi jelas? Bagaimana hal ini akan saya sampaikan dengan cara yang berbeda kepada kelompok yang lain sama sekali? Perbandingan sering dapat menjelaskan pandangan kita. Cobalah pendekatan yang berbeda untuk kelompok yang berlainan dalam persiapan saudara, sekedar untuk merasakan perbedaan dalam mempertimbangkan hadirin dan membuat bahan memuat penerangan bagi hadirin tertentu kepada siapa saudara akan berkhotbah.
7, 8. Bagaimana kita dapat membuat khotbah kita praktis?
7 Bahan dengan nilai praktis. Ada banyak yang harus kita pelajari, namun tidak semua praktis. Bagi kita, bahan yang memuat penerangan meliputi perkara-perkara yang perlu kita ketahui untuk kehidupan Kristen, untuk pelayanan kita. Kita ingin mengetahui cara menggunakan keterangan yang telah kita peroleh.
8 Siswa, dalam mempersiapkan diri, dan pengawas sekolah dalam memberi nasihat, dapat mempertimbangkan pokok ini dengan bertanya: Prinsip-prinsip penuntun apa terdapat dalam khotbah ini? Dapatkah bahan itu digunakan dalam mengambil keputusan? Apakah bahan yang dipersembahkan dapat disesuaikan untuk dinas pengabaran? Apakah khotbah itu memuliakan Firman Allah serta menunjukkan maksud-tujuanNya? Tidak banyak khotbah dapat mencakup semua keterangan ini, namun agar praktis, bahan yang dipersembahkan harus dapat digunakan dengan cara tertentu oleh hadirin.
9-11. Mengapa kesaksamaan keterangan begitu penting?
9 Kesaksamaan keterangan. Saksi-Saksi Yehuwa adalah suatu organisasi kebenaran. Kita seharusnya ingin mengatakan kebenaran dan selalu benar-benar saksama dalam setiap rincian. Ini harus demikian bukan saja berkenaan doktrin, tetapi juga dalam kutipan-kutipan, apa yang kita katakan mengenai orang-orang lain atau bagaimana kita menggambarkan mereka, juga dalam hal-hal yang menyangkut data-data ilmiah atau warta berita.
10 Keterangan-keterangan salah yang disampaikan kepada hadirin mungkin akan diulangi dan kekeliruan diperbesar. Ketidaksaksamaan yang diperhatikan oleh hadirin akan menimbulkan kesangsian mengenai pengetahuan dari pembicara mengenai pokok-pokok lain, mungkin bahkan keraguan atas kebenaran dari berita itu sendiri. Seorang peminat baru yang mendengar keterangan demikian, tetapi telah mendengar pandangan yang berbeda pada kesempatan lain, mungkin menarik kesimpulan bahwa ada perbedaan pendapat di antara saksi-saksi Yehuwa dan akan memutuskan hubungan bahkan tanpa menyebutkan alasannya.
11 Penasihat hendaknya jangan mencari-cari kesalahan dari setiap keterangan yang diberikan oleh siswa, teristimewa oleh orang yang baru dalam kebenaran dan karenanya belum mempunyai dasar yang kuat mengenai perkara-perkara yang dalam dari Firman Allah. Sebaliknya, dengan bijaksana ia akan membantu membentuk cara berpikir dari siswa dan menunjukkan kepadanya cara memperbaiki kesaksamaan dengan persiapan yang teliti sebelumnya.
12, 13. Apa manfaat dari keterangan tambahan?
12 Bahan keterangan tambahan. Buah-buah pikiran yang dipersembahkan sebagai hasil dari renungan atau yang mungkin dikumpulkan dari penelitian lebih jauh mengenai suatu pokok dapat memberi banyak sumbangan kepada khotbah dan ada kalanya dapat mencegah pengulangan yang tidak mengandung pelajaran atas bahan yang sudah diketahui oleh hadirin. Hal itu menambah kesegaran pada persembahan tersebut, membangkitkan minat hadirin dan dapat membuat pokok yang sudah dikenal baik menjadi benar-benar menarik. Juga, hal ini memberikan keyakinan kepada pembicara. Ia menghadapi khotbahnya dengan semangat karena menyadari bahwa ia mempunyai sesuatu yang agak berbeda untuk dipersembahkan.
13 Suatu bahaya yang hendaknya dihindari adalah spekulasi pribadi. Publikasi Lembaga harus digunakan dan dijadikan patokan. Periksalah indeks dalam publikasi-publikasi Lembaga, dan catatan-catatan kaki dari ayat-ayat. Pastikanlah agar apa yang saudara katakan memberi penjelasan, bukan salah pengertian.
**********
14-16. Apa yang harus dilakukan dalam mempersiapkan khotbah agar pokok-pokoknya dinyatakan dengan sederhana?
14 Dalam mempersiapkan bahan, penting juga untuk memberikan perhatian yang saksama berkenaan cara bagaimana saudara akan mengatakan apa yang harus saudara katakan. Inilah yang ditunjukkan dalam lembaran Nasihat Khotbah sebagai ”Jelas, dapat dimengerti”. Kegagalan dalam memberikan perhatian yang memadai kepada pokok ini dapat menghalangi saudara mencapai hadirin, atau mungkin menghalangi mereka dalam menyimpan apa yang mereka dengar. Ada tiga segi utama dari pokok ini yang perlu diperhatikan.
15 Dinyatakan dengan sederhana. Ini tidak berarti bahwa kata-katanya harus dihafal sebelumnya. Tetapi gagasan-gagasan yang hendak dipersembahkan harus dianalisa dan faktor-faktor tertentu harus dipertimbangkan. Biasanya ini akan menghasilkan khotbah yang padat dan pengutaraan buah pikiran dengan sederhana, diucapkan dalam bahasa yang jelas. Suatu pokok yang berbelit dalam pikiran si pembicara akan berbelit juga dalam persembahannya.
16 Persiapan pada saat-saat terakhir hendaknya dihindari. Setiap pokok dari khotbah harus dipikirkan masak-masak hingga menjadi sederhana dan jelas bagi si pembicara. Meninjau kembali pokok-pokok ini dalam persiapan persembahan khotbah akan menajamkan buah-buah pikiran tersebut di dalam pikirannya, sehingga mudah dikeluarkan apabila diperlukan dan akan jelas sekali bagi hadirin dan juga bagi si pembicara.
17, 18. Mengapa istilah-istilah yang tidak dikenal harus dijelaskan?
17 Istilah-istilah yang tidak dikenal dijelaskan. Karena kita telah menyelidiki Alkitab dan publikasi-publikasi Lembaga Menara Pengawal, kita mempunyai perbendaharaan kata yang sama sekali asing bagi orang yang tidak mengenal pekerjaan kita. Jika kita menggunakan istilah-istilah seperti ini, pada waktu menjelaskan kebenaran-kebenaran Alkitab kepada hadirin tertentu, banyak dari apa yang kita katakan akan sia-sia atau khotbah kita sama sekali tidak dapat dimengerti.
18 Pertimbangkan hadirin saudara. Bagaimana tingkat pengertian mereka? Seberapa banyak yang mereka ketahui tentang pekerjaan kita? Berapa banyak dari antara istilah-istilah ini akan dimengerti oleh mereka sama seperti oleh pembicara? Istilah-istilah seperti ”teokrasi”, ”kaum sisa”, ”domba-domba lain”, bahkan ”Armagedon” dan ”Kerajaan”, dapat memberi arti yang berbeda kepada pendengarnya ataupun tidak ada artinya sama sekali. Bahkan istilah-istilah seperti ”jiwa”, ”neraka” dan ”jiwa yang tidak binasa”, harus dijelaskan jika pendengar tidak mengenal pekerjaan kita. Namun jika khotbah itu diucapkan kepada sidang, istilah-istilah seperti itu tidak perlu dijelaskan. Jadi hadirin harus dipertimbangkan.
19, 20. Bagaimana kita dapat menghindari terlalu banyak bahan?
19 Tidak terlalu banyak bahan. Suatu khotbah mungkin memuat begitu banyak keterangan sehingga bahan itu membanjiri hadirin dan pengertian menjadi kabur atau hilang sama sekali. Untuk mencapai tujuan dari suatu khotbah, jangan masukkan lebih banyak bahan daripada yang dapat diperkembangkan dengan jelas dalam batas waktu yang diberikan. Jangan menyampaikan lebih dari apa yang dapat diterima oleh hadirin. Lagi pula, bahan yang dipersembahkan kepada seorang asing atau peminat baru harus disederhanakan dibandingkan bila bahan yang sama disampaikan kepada sidang. Di sini, juga, penasihat harus mempertimbangkan hadirin kepada siapa khotbah disampaikan.
20 Bagaimana siswa mengetahui berapa banyak bahan harus dimasukkan ke dalam suatu khotbah? Membuat perbandingan akan berfaedah dalam persiapan. Analisalah apa yang harus saudara sampaikan. Berapa banyak dari antara pokok-pokok ini sudah diketahui oleh hadirin, sedikitnya sebagian? Berapa banyak merupakan bahan yang sama sekali baru? Lebih luas dasar pengetahuan yang sudah dimiliki, lebih banyak yang dapat dikembangkan dalam waktu yang ditetapkan. Tetapi jika secara praktis tidak ada yang diketahui tentang pokok yang akan dibicarakan, maka pembicara harus berhati-hati mengenai berapa banyak yang akan disampaikan dan berapa banyak waktu yang diperlukan untuk menjelaskan pokok-pokok ini sehingga dapat betul-betul dimengerti oleh hadirin.
-
-
Kata Pengantar yang EfektifPetunjuk Sekolah Pelayanan Teokratis
-
-
Pelajaran 22
Kata Pengantar yang Efektif
1-3. Dalam kata pengantar sebuah khotbah, cara bagaimana saudara dapat membangkitkan minat kepada pokok pembicaraan?
1 Membangkitkan minat. Kata pengantar suatu khotbah hendaknya membangkitkan minat kepada pokok pembicaraan. Ini seharusnya menarik minat hadirin dan mempersiapkan mereka untuk memperhatikan baik-baik perkara-perkara selanjutnya. Untuk mencapai hal ini, saudara perlu memperlihatkan kepada hadirin faedah dari pokok pembicaraan saudara.
2 Salah satu cara terbaik untuk membangkitkan minat kepada suatu khotbah ialah dengan melibatkan hadirin. Biarkan mereka menyadari bahwa keterangan itu penting bagi mereka, bahwa hal itu menyangkut kehidupan mereka. Dalam melakukan hal ini saudara harus mulai dari tingkat pengetahuan hadirin. Itu berarti bahwa apa yang saudara katakan harus berada dalam batas pengetahuan dari mereka yang mendengarkan. Boleh jadi ini berupa sebuah ilustrasi, atau suatu problem, atau rangkaian pertanyaan. Namun hal itu hendaknya selalu sesuatu yang sudah diketahui hadirin agar mereka dapat mengerti dan menerapkannya pada diri sendiri.
3 Dalam beberapa keadaan, saudara mungkin perlu mengatasi prasangka dalam kata pengantar. Khususnya demikian jika pokok yang sedang dibicarakan adalah pokok yang sangat diperdebatkan. Dalam keadaan sedemikian kata pengantar penting jika saudara ingin agar hadirin tetap mendengarkan sampai argumen-argumen yang membuktikan pokok pembicaraan dapat dibahas dengan efektif. Dalam pelayanan dari rumah ke rumah kita sering dapat mengatasi bantahan dengan lebih dulu mengemukakannya secara bijaksana dan kemudian melanjutkan dengan bahan yang ingin saudara bahas.
4-6. Faktor-faktor lain apa dapat membantu kata pengantar kita agar membangkitkan minat?
4 Apa yang saudara katakan selalu merupakan hal terpenting. Namun untuk membangkitkan minat melalui kata pengantar, cara mengatakannya mungkin lebih penting dibanding hampir semua bagian lain manapun dari khotbah. Karena alasan inilah kata pengantar perlu dipersiapkan lebih dulu dengan saksama, tidak hanya apa yang akan saudara katakan melainkan juga cara saudara bermaksud menyampaikannya.
5 Biasanya, kalimat yang pendek dan sederhana sangat baik untuk mencapai tujuan dari kata pengantar. Karena pilihan kata begitu penting agar tujuan saudara tercapai dalam waktu singkat yang tersedia untuk kata pengantar, mungkin ada faedahnya jika saudara dengan saksama mempersiapkan dua atau tiga kalimat pertama. Tulislah ini pada catatan saudara agar dapat dibaca atau dihafal sehingga kata pembukaan memberikan pengaruh kuat yang selayaknya dan seharusnya ada. Selain itu hal ini akan memberikan saudara lebih banyak keyakinan pada awal khotbah dan kesempatan untuk mendapat cukup ketenangan guna melanjutkan khotbah secara ekstemporer.
6 Beberapa patah kata lagi berkenaan penyampaian kata pengantar, meskipun penasihat saudara tidak akan mengamati hal tersebut dalam hubungan dengan sifat khotbah ini. Jika saudara merasa gugup, kurangi kecepatan berbicara dan bicaralah dengan suara rendah. Bicaralah dengan yakin, namun hindari kesan apapun yang menunjukkan bahwa saudara fanatik. Sikap demikian dapat menciptakan jarak dengan hadirin sejak permulaan.
7. Kapan seharusnya saudara mempersiapkan kata pengantar?
7 Meskipun kata pengantar suatu khotbah adalah bagian pertama yang disampaikan, ini biasanya dipersiapkan dengan paling efektif setelah isi khotbah tersusun baik. Ini akan membantu saudara mengetahui hal terbaik untuk dikatakan agar bahan yang sudah dipersiapkan dapat diperkenalkan dengan sepatutnya.
**********
8-10. Bagaimana kita dapat membuat kata pengantar cocok dengan tema?
8 Cocok dengan tema. Kata pengantar saudara akan secara efektif menuntun hadirin kepada pokok khotbah hanya jika itu cocok dengan tema. Saudara harus sangat hati-hati agar kata pengantar hanya memuat pokok-pokok yang akan menyumbang kepada tercapainya tujuan saudara berkhotbah. Tentu, ini harus sesuai dengan wibawa dari berita Kerajaan dan dirancang sedemikian rupa sehingga tidak menyinggung perasaan orang-orang yang masih baru di antara hadirin.
9 Kata pengantar tidak hanya harus menuntun hadirin kepada pokok pembicaraan, tetapi harus mengemukakan dengan jelas segi khusus dari bahan yang akan saudara bahas. Ini berarti saudara harus membatasi pokok khotbah kepada tema tertentu dan kemudian, dengan suatu cara, memperkenalkan tema itu sepraktis mungkin dalam kata pengantar. Jika saudara tidak menyebutkan temanya secara khusus, mungkin dalam keadaan tertentu, saudara dapat menggunakan kata-kata kunci dalam kata pengantar. Dengan demikian hadirin tidak akan mengharap agar saudara membahas segi-segi lain dari pokok pembicaraan yang mungkin dinyatakan oleh judul khotbah.
10 Semua khotbah harus merupakan suatu kesatuan yang berkaitan, tidak dimulai dengan membicarakan satu hal dan diakhiri dengan hal lain. Selain itu, pokok berkenaan kata pengantar cocok dengan tema harus seimbang dengan kata pengantar menimbulkan minat. Dengan kata lain, tema hendaknya jangan dikorbankan hanya agar ada cerita yang bagus pada awal khotbah. Tujuan khotbah harus menonjol pada waktu memilih bahan. Dan harus cocok serta berpautan dengan isi khotbah.
**********
11-14. Cara bagaimana kita dapat menentukan bahwa kata pengantar cukup panjang?
11 Cukup panjang. Seberapa panjang seharusnya suatu kata pengantar? Tidak ada jawaban pasti yang akan cocok dengan semua keadaan. Panjang kata pengantar bergantung pada waktu yang diberikan untuk pokok pembicaraan itu sendiri, tujuan dari khotbah, hadirin yang ada dan banyak pertimbangan lain yang serupa.
12 Sesungguhnya, pada waktu mendengarkan khotbah yang lancar, biasanya sukar bagi kita untuk membedakan dengan jelas batas antara kata pengantar dan isi. Inilah problem dari penasihat pada waktu meninjau sifat khotbah ini pada lembaran Nasihat Khotbah saudara. Setiap siswa akan menggunakan kata pengantar dalam khotbahnya, namun penasihat akan memperhatikan hal berikut: Apakah kata pengantar begitu bertele-tele, begitu terinci, begitu panjang sehingga hadirin menjadi gelisah sebelum saudara sampai kepada pokok-pokok utama yang akan disampaikan?
13 Dalam kata pengantar buah pikiran harus disampaikan dengan urutan yang jelas, teratur dan cepat menuju pokok khotbah tanpa mengorbankan segi membangkitkan minat. Kata pengantar harus utuh tanpa jurang pemisah. Ini menuntut pemikiran yang saksama, karena jika bagian permulaan begitu jauh terpisah dari pokok khotbah sehingga memerlukan penjelasan yang panjang dan terinci, sebaiknya saudara mengganti kata pengantar dan mungkin mencari titik permulaan yang baru.
14 Jika batas yang jelas antara kata pengantar dan isi khotbah sukar ditentukan, maka kemungkinan kata pengantar saudara cukup panjang. Ini menunjukkan bahwa saudara telah mengantar hadirin dengan baik sekali kepada bahan sehingga mereka mendengarkan argumen-argumen saudara tanpa benar-benar menyadari hal ini. Sebaliknya, jika mereka mulai bertanya-tanya kapan saudara akan memulai pokok pembicaraan, saudara dapat memastikan bahwa kata pengantar terlalu panjang. Ini sering kali merupakan kelemahan dalam khotbah dari rumah ke rumah, di mana sering kali panjang kata pengantar harus disesuaikan di tiap rumah.
15, 16. Berapa panjangkah seharusnya kata pengantar khotbah jika itu merupakan bagian dari suatu simposium?
15 Bila hanya saudara saja yang mengucapkan khotbah dalam suatu acara, atau pada waktu menyampaikan khotbah latihan, kata pengantar boleh jadi lebih panjang dibandingkan keadaan-keadaan lain. Tetapi jika khotbah saudara merupakan bagian dari suatu simposium, atau jika itu bagian dari acara perhimpunan dinas, kata pengantar dapat singkat dan langsung pada pokoknya, karena ini merupakan bagian dari kesatuan yang berkaitan yang sudah diberi kata pengantar. Banyak waktu akan terbuang sia-sia dengan kata pengantar yang panjang dan berbelit-belit. Isi khotbah itulah yang akan memuat gagasan-gagasan yang ingin saudara sampaikan.
16 Singkatnya, kata pengantar hanyalah untuk mengadakan kontak, membangkitkan minat dan menuntun hadirin kepada pokok pembicaraan yang akan saudara bahas. Perbuatlah ini sepraktis mungkin dan kemudian lanjutkan dengan sari yang sesungguhnya dari pokok pembicaraan saudara.
-
-
Volume Suara dan IstirahatPetunjuk Sekolah Pelayanan Teokratis
-
-
Pelajaran 23
Volume Suara dan Istirahat
1, 2. Mengapa kita harus berbicara cukup keras?
1 Jika orang lain tidak dapat mendengar saudara dengan jelas, nilai dari apa yang saudara katakan akan hilang. Sebaliknya, jika volume suara terlalu keras, hal itu dapat mengganggu hadirin dan dengan demikian menyimpangkan perhatian dari buah pikiran bagus yang telah saudara persiapkan, Perlunya volume suara yang memadai, nyata dalam banyak Balai Kerajaan, karena mereka yang memberikan komentar dalam perhimpunan-perhimpunan di bagian depan ruangan, sering tidak dapat didengar oleh mereka yang duduk di bagian belakang. Kadang-kadang volume suara orang yang berbicara dari mimbar mungkin kurang keras dan dengan demikian gagal menggerakkan hadirin. Dalam dinas pengabaran, juga, kita bertemu dengan orang yang sedikit tuli dan ada suara-suara yang harus diatasi, baik di dalam rumah yang kita kunjungi atau dari luar. Ini semua menunjukkan bahwa kita perlu memberi perhatian yang saksama kepada volume suara yang cocok.
2 Cukup keras sehingga enak didengar. Hal pertama yang harus dipertimbangkan untuk menentukan seberapa besar volume suara, paling baik dapat dianalisa dengan pertanyaan, Apakah kekuatan suara yang diperlukan memang dipenuhi? Maksudnya, apakah saudara dapat didengar di baris belakang tanpa suara yang terlalu keras bagi mereka yang ada di depan? Ini mungkin sudah cukup bagi siswa yang baru mulai, namun mereka yang sudah lebih maju harus berusaha untuk menguasai juga segi-segi berikut dari volume suara. Pengawas sekolah akan menentukan seberapa jauh setiap siswa akan diberi nasihat berkenaan sifat ini.
3-10. Keadaan-keadaan apa membantu kita untuk menentukan besarnya volume suara yang harus digunakan?
3 Volume suara cocok menurut keadaan. Seorang pembicara harus waspada terhadap berbagai keadaan pada waktu ia berbicara. Hal ini memperluas daya pengamatannya, membuat dia lebih lentuk dan memungkinkan dia untuk mencapai dan memukau pendengar dengan lebih mudah.
4 Keadaan setiap balai tidak sama, demikian juga jumlah hadirin. Untuk menguasai keadaan saudara harus menguasai volume suara. Memberi khotbah di Balai Kerajaan membutuhkan volume suara yang lebih besar daripada di ruang tamu dari seorang peminat baru. Lagi pula, suatu kelompok kecil di bagian depan balai, seperti pada pertemuan untuk dinas pengabaran, membutuhkan lebih sedikit volume suara daripada jika balai tersebut penuh orang, seperti pada perhimpunan dinas.
5 Tetapi bahkan keadaan-keadaan ini tidak tetap. Suara gaduh di luar atau di dalam balai sewaktu-waktu dapat timbul. Deru mobil lewat, kereta api, suara keras dari hewan, tangis anak-anak, orang yang terlambat datang—semua ini membutuhkan penyesuaian dalam kekuatan suara. Kelalaian untuk memperhatikan keadaan-keadaan ini dan menyesuaikan volume suara akan membuat sesuatu hilang, kemungkinan suatu pokok penting.
6 Banyak sidang mempunyai alat-alat pengeras suara. Tetapi jika tidak hati-hati memakainya, dan volume suara turun naik dari lembut menjadi keras, maka siswa perlu dinasihati karena kurang memperhatikan keadaan-keadaan ini. (Lihat Pelajaran 13 mengenai penggunaan mikrofon.)
7 Kadang-kadang seorang pembicara merasa soal volume suara ini sukar dikuasai karena mutu suaranya. Jika saudara mempunyai kesulitan ini dan suara saudara tidak dapat diperbaiki, pengawas sekolah akan mempertimbangkan ini dalam memberi nasihat. Ia mungkin akan menyarankan latihan tertentu atau acara latihan yang akan membantu memperkembangkan dan menguatkan suara saudara. Tetapi, mutu suara merupakan pokok nasihat yang terpisah dan tidak akan ditekankan dalam mempertimbangkan volume suara.
8 Setiap keadaan yang mungkin timbul tidak dapat dinilai dalam satu khotbah saja. Nasihat harus diberikan menurut khotbah pada waktu itu, bukan berdasarkan setiap kemungkinan yang bisa saja timbul. Namun, jika nampaknya perlu, pengawas sekolah dapat mengingatkan siswa terhadap problem-problem yang mungkin ia hadapi di bawah keadaan-keadaan yang berbeda, meskipun si siswa dipuji untuk khotbah yang ia berikan pada waktu itu dan lembaran nasihatnya ditandai ”B”.
9 Bagaimana seorang siswa dapat menentukan apakah volume suaranya cukup? Reaksi hadirin adalah salah satu barometer terbaik. Pembicara yang berpengalaman akan memperhatikan baik-baik orang-orang yang duduk di bagian belakang balai selama kata pengantar dan akan sanggup menentukan dari wajah dan sikap mereka secara umum apakah mereka dapat mendengarkan dengan baik, dan ia akan menyesuaikan volume suaranya. Setelah ia menjadi biasa dengan ruangan itu, ia tidak akan mengalami kesukaran lagi.
10 Cara lain adalah dengan memperhatikan pembicara-pembicara lain pada acara yang sama. Apakah mereka dapat didengar dengan mudah? Berapa besar volume suara saudara menurut itu.
11, 12. Mengapa penting untuk mempunyai volume yang cocok dengan bahan?
11 Volume suara cocok dengan bahan. Segi dari pembahasan kita mengenai volume suara ini jangan dikacaukan dengan alun suara atau modulasi. Kita sekarang hanya berminat dalam menyesuaikan volume suara dengan bahan tertentu yang sedang dibahas. Misalnya, jika berita penghukuman sedang dibacakan dari Alkitab, jelas volume suara akan diatur secara berbeda daripada jika siswa sedang membacakan nasihat mengenai kasih di antara saudara-saudara. Bandingkan juga Yesaya 36:11 dengan ayat 12 dan 13 dan perhatikan perbedaan yang seharusnya ada dalam cara pernyataan-pernyataan tersebut diucapkan. Volume suara harus disesuaikan dengan bahan namun jangan dilakukan secara berlebihan.
12 Dalam menentukan seberapa besar volume suara yang harus digunakan, analisalah dengan saksama bahan dan tujuan saudara. Jika saudara ingin mengubah cara berpikir hadirin, janganlah menjauhkan mereka dengan volume suara yang terlalu keras. Tetapi, jika saudara ingin menggerakkan mereka kepada kegiatan yang bersemangat, mungkin volume suara dapat dikeraskan sedikit. Jika bahannya membutuhkan kekuatan, jangan perlembut dengan berbicara terlalu pelan.
**********
13-16. Tunjukkan nilai dari istirahat.
13 Dalam menyampaikan khotbah, penempatan istirahat dengan tepat hampir sama penting dengan volume suara yang memadai. Tanpa itu, arti dari pernyataan-pernyataan mudah menjadi kabur dan pokok-pokok utama yang seharusnya diingat oleh hadirin tidak dapat meninggalkan kesan yang bertahan lama. Istirahat memberi saudara keyakinan dan keseimbangan, memungkinkan pengaturan napas yang lebih baik dan kesempatan untuk tenang kembali sewaktu membahas bagian-bagian yang sulit dari khotbah. Istirahat memperlihatkan kepada hadirin bahwa saudara menguasai keadaan, bahwa saudara tidak terlalu gugup, bahwa saudara mempertimbangkan hadirin, dan memiliki sesuatu yang saudara ingin agar mereka dengar dan ingat.
14 Pembicara yang baru harus segera menguasai kesanggupan untuk beristirahat dengan efektif. Pertama, saudara harus yakin bahwa apa yang saudara katakan itu penting dan bahwa saudara ingin agar hal tersebut diingat. Seorang ibu yang mengoreksi anaknya akan kadang-kadang mendahului kata-katanya dengan mengucapkan sesuatu untuk menarik perhatian anak itu. Ia tidak akan melanjutkan dengan sepatah kata pun sampai anaknya memberikan perhatian penuh. Kemudian ia akan mencurahkan apa yang ada dalam pikirannya. Ia ingin memastikan bahwa anaknya tidak akan meremehkan apa yang ia katakan dan bahwa hal ini akan diingat.
15 Ada orang yang tidak pernah menggunakan istirahat, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Jika ini problem saudara tentu saudara ingin mengusahakan sifat ini untuk memperbaiki keefektifan dari pelayanan pengabaran saudara. Pada kesempatan itu kita berbicara dalam bentuk percakapan. Untuk menggunakan istirahat sedemikian rupa sehingga penghuni rumah tidak akan menyela tetapi akan terus mendengarkan dan menunggu, dibutuhkan peristirahatan dengan benar. Tetapi kecakapan dan keahlian untuk istirahat dalam percakapan sama penting dan sama berguna dengan kesanggupan untuk itu pada waktu berbicara dari mimbar.
16 Satu problem serius sehubungan dengan istirahat yang benar dalam khotbah adalah terlalu banyak bahan. Hindari hal ini. Sediakan waktu untuk beristirahat; ini penting.
17-21. Terangkan pentingnya istirahat untuk tanda baca.
17 Istirahat untuk tanda baca. Istirahat untuk tanda baca semata-mata dimaksudkan agar buah pikirannya jelas; menonjolkan buah-buah pikiran yang berhubungan; menunjukkan kalimat, anak kalimat, akhir kalimat dan paragraf. Sering kali perubahan-perubahan demikian dapat ditunjukkan dengan perubahan nada suara, namun istirahat juga dapat dipakai untuk memberi tanda baca secara lisan pada apa yang dikatakan. Dan sama seperti koma dan titik koma mempunyai makna yang berlainan dalam pembagian kalimat, demikian juga istirahat harus berbeda menurut penggunaannya.
18 Istirahat yang salah tempat dapat sama sekali mengubah buah pikiran sebuah kalimat. Satu contoh mengenai hal ini adalah kata-kata Yesus di Lukas 23:43 (NW), ”Aku berkata kepadamu hari ini, engkau akan bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Jika koma, atau istirahat disisipkan di antara kata ”kepadamu” dan ”hari ini” maka akan timbul buah pikiran yang sama sekali berbeda, sebagaimana dibuktikan dengan penafsiran umum yang salah atas ayat ini. Maka istirahat yang tepat perlu untuk menyampaikan buah pikiran yang dimaksud.
19 Belajarlah memberi tanda baca secara lisan dalam khotbah seketika (ekstemporer), dengan mengamati semua tanda baca tertulis sewaktu saudara membaca. Satu-satunya tanda baca tertulis yang kadang-kadang dapat diabaikan adalah koma. Istirahat atau tidak pada sebuah koma, sering kali soal pilihan. Tetapi titik koma, titik, tanda petik, juga pembagian paragraf, semua harus diperhatikan.
20 Dalam membaca manuskrip atau suatu bagian dari Alkitab, mungkin ada gunanya untuk memberi tanda. Beri garis tegak kecil di antara ungkapan di mana saudara harus istirahat sebentar (mungkin hanya sejenak), dua garis atau tanda ”X” untuk istirahat yang lebih lama.
21 Sebaliknya, jika dalam latihan membaca saudara merasa bahwa kalimat-kalimat tertentu janggal dan saudara berulang kali beristirahat di tempat yang salah, saudara dapat memberi tanda sambung dengan pinsil untuk menghubungkan kata-kata yang membentuk satu ungkapan. Kemudian, seraya saudara membaca, janganlah berhenti sampai saudara tiba pada kata terakhir yang disambung bersama. Banyak pembicara yang berpengalaman melakukan hal ini.
22-24. Mengapa istirahat untuk perubahan buah pikiran perlu?
22 Istirahat untuk perubahan buah pikiran. Dalam peralihan dari satu pokok utama kepada yang lain, istirahat memberi hadirin kesempatan untuk merenungkan. Selain itu, akan mencegah salah pengertian. Hal ini memberi kesempatan kepada pikiran untuk menyesuaikan diri, untuk mengerti perubahan arah dan mengikuti perkembangan dari buah pikiran baru yang sedang disampaikan. Istirahat bagi pembicara sewaktu pindah ke pokok lain, sama pentingnya seperti pengendara mobil yang harus mengurangi kecepatan ketika akan membelok.
23 Dalam khotbah seketika (ekstemporer), bahan harus disusun sedemikian rupa dalam suatu rangka sehingga pembicara dapat beristirahat di antara pokok-pokok utamanya. Ini tidak akan mengganggu kelangsungan atau perpautan dari khotbah, tetapi buah-buah pikiran harus disusun sebaik mungkin sehingga saudara dapat membangun sebuah pokok tertentu sampai kepada puncaknya, beristirahat, dan kemudian melanjutkan dengan buah pikiran baru. Puncak dan perubahan demikian bahkan dapat ditandai dalam rangka, jika perlu, untuk mengingatkan saudara.
24 Istirahat untuk perubahan buah pikiran biasanya lebih lama daripada istirahat untuk tanda baca; akan tetapi, istirahat yang lama jangan berlebihan dalam suatu khotbah, kalau tidak, khotbah itu akan menjadi lamban. Selain itu, istirahat demikian kedengarannya seperti dibuat-buat.
25-28. Perlihatkan bagaimana istirahat membantu kita menandaskan suatu pokok maupun untuk mengatasi gangguan.
25 Istirahat untuk menandaskan. Istirahat untuk menandaskan biasanya adalah istirahat yang dramatis. Ini membuat hati berdebar-debar dan memberi kesempatan kepada hadirin untuk berpikir.
26 Istirahat sebelum satu pokok penting menimbulkan dugaan. Istirahat sesudahnya memungkinkan arti sepenuhnya dari pokok itu diresapkan. Kedua penggunaan dari istirahat ini tidak sama, jadi saudara harus memutuskan yang mana paling cocok dalam hal tertentu atau apakah kedua-duanya akan digunakan.
27 Istirahat untuk menandaskan harus dibatasi hanya pada pernyataan yang sangat penting, kalau tidak nilainya akan hilang.
28 Istirahat jika keadaan lingkungan menuntut. Gangguan sering kali memaksa seorang pembicara untuk beristirahat sejenak. Jika gangguan itu tidak terlalu hebat dan saudara dapat menambah volume suara serta meneruskan pembicaraan, biasanya inilah yang terbaik. Tetapi, jika hal itu sampai mengganggu khotbah secara keseluruhan, saudara harus beristirahat. Hadirin akan menghargai keprihatinan saudara. Selain itu, sering kali mereka juga tidak mendengarkan, karena gangguan sementara telah menyimpangkan perhatian mereka. Maka gunakan peristirahatan dengan efektif, untuk memastikan bahwa hadirin mendapat faedah sepenuhnya dari perkara-perkara baik yang ingin saudara sampaikan kepada mereka.
-
-
Mengarahkan Perhatian kepada AlkitabPetunjuk Sekolah Pelayanan Teokratis
-
-
Pelajaran 24
Mengarahkan Perhatian kepada Alkitab
1, 2. Mengapa kita harus mengarahkan pendengar kita kepada Alkitab?
1 Dalam pelayanan, kita ingin mengarahkan perhatian setiap orang kepada Firman Allah, Alkitab. Buku ini memuat berita yang kita kabarkan, dan kita ingin agar orang-orang menyadari bahwa apa yang kita katakan bukan berasal dari kita sendiri, melainkan dari Allah. Orang yang mengasihi Allah memiliki keyakinan akan Alkitab. Jika itu dibacakan kepada mereka, mereka mendengarkan dan mengingat serta bertindak sesuai dengan itu. Tetapi jika mereka mengambil Alkitab mereka sendiri dan membacanya, kesannya akan jauh lebih dalam. Maka, dalam dinas pengabaran, bila keadaan memungkinkan, sebaiknya anjurkan penghuni rumah untuk mengambil Alkitabnya sendiri dan memeriksa ayat-ayat bersama saudara. Demikian pula, dalam perhimpunan, jika semua dianjurkan untuk menggunakan Alkitab mereka sendiri, orang-orang baru segera akan menyadari bahwa Alkitab adalah sumber dari kepercayaan-kepercayaan kita, dan semua akan mendapat faedah dari tekanan tambahan atas apa yang mereka lihat sendiri.
2 Karena itu, saudara akan mendapat manfaat yang nyata dalam memenuhi tujuan berkhotbah jika hadirin, apabila memang praktis, mengikuti pembacaan ayat-ayat dari Alkitab mereka sendiri. Apakah mereka melakukannya atau tidak, banyak bergantung kepada apakah saudara memberikan mereka anjuran yang benar. Inilah apa yang disebutkan dalam lembaran Nasihat Khotbah saudara sebagai ”Hadirin dianjurkan memakai Alkitab”.
3, 4. Bagaimana kita melakukan hal ini dengan efektif?
3 Dengan mengusulkan. Salah satu cara terbaik adalah dengan langsung mengundang hadirin untuk menggunakan Alkitab; cara ini sering digunakan. Kadang-kadang, hasil-hasil serupa dapat diperoleh hanya dengan mengatakan di mana ayat-ayat itu terdapat sebelum saudara membacakannya; mungkin sebagai berikut, ”Nah, seraya kita membaca 2 Timotius 3:1-5, bayangkan keadaan-keadaan yang terdapat bahkan di daerah sekitar sini.” Kemudian, sambil saudara sendiri mencari ayat itu, pandanglah sekeliling secara sekilas untuk melihat apakah hadirin menyambut usul saudara. Biasanya mereka juga akan mulai membuka ayat tersebut.
4 Terserah kepada pembicara untuk menentukan, jika ada, ayat-ayat mana yang ingin ia tandaskan dengan meminta hadirin membukanya. Perhatikan hadirin saudara. Berminatlah untuk melihat apakah mereka mengikuti saudara. Bahkan jika untuk suatu alasan tertentu saudara harus menyampaikan khotbah manuskrip, sering kali saudara dapat menggunakan ayat-ayat kunci sedemikian rupa sehingga hadirin akan mengikuti saudara dengan Alkitab mereka.
5, 6. Terangkan mengapa ada gunanya memberikan waktu kepada hadirin menemukan ayat-ayat yang kita rencanakan akan dibacakan.
5 Dengan memberi waktu untuk menemukan ayatnya. Mengutip sebuah ayat saja tidak cukup. Jika saudara membacakannya dan kemudian melanjutkan lagi ke ayat lain sebelum hadirin diberi waktu untuk menemukannya, mereka akhirnya menjadi kesal dan tidak mau berusaha lagi. Amati hadirin saudara, dan bila sebagian besar sudah menemukan ayatnya, baru ayat tersebut dapat dibacakan.
6 Biasanya lebih baik untuk menyebutkan kutipan ayat cukup jauh sebelum pembacaan yang sudah saudara rencanakan, sehingga waktu yang berharga tidak terbuang karena berulang kali harus berhenti lama atau disebabkan oleh ”kata-kata pengisi waktu” yang tidak perlu sementara hadirin mencari ayat itu. Namun, istirahat yang memadai di sini adalah baik. Di pihak lain, jika kutipan disebutkan pada permulaan dari kata pengantar kepada ayat, hendaknya saudara ingat bahwa beberapa hal yang saudara katakan setelah itu tidak akan diikuti dengan cermat. Maka dalam keadaan demikian hal-hal yang ada hubungannya dengan argumen tadi, hendaknya dinyatakan sebelum menyebutkan kutipan ayat.
**********
7-18. Metode-metode apa dapat digunakan untuk mengantarkan ayat-ayat Alkitab dengan efektif?
7 Ayat-ayat yang digunakan dalam khotbah biasanya merupakan pokok-pokok utama dari khotbah itu. Argumen-argumen berpusat pada ayat-ayat ini. Maka seberapa banyak argumen akan menunjang khotbah, bergantung pada seberapa efektif argumen-argumen tersebut digunakan. Jadi pokok ”Ayat-ayat diantar sepatutnya”, yang dicatat dalam lembaran Nasihat Khotbah, adalah satu hal penting yang perlu diperhatikan.
8 Ada banyak variasi dalam cara mengantarkan, membaca dan menerapkan sebuah ayat Alkitab. Kadang-kadang, misalnya, kata pengantar dari ayat tidak saja membimbing kepada pembacaannya tetapi juga menyatakan penerapannya, sehingga pembacaan ayat itu sendiri hanya menandaskan atau mengakhiri pokok tersebut. Sebaliknya, ada ayat-ayat yang digunakan dengan pengaruh yang jitu jika tidak ada kata pengantarnya, seperti misalnya dalam bagian permulaan sekali dari khotbah.
9 Untuk belajar cara mengantar ayat secara efektif, perhatikan dengan saksama apa yang dilakukan oleh pembicara-pembicara yang berpengalaman. Coba mengenali berbagai cara mengantar ayat-ayat. Pertimbangkan keefektifannya. Dalam mempersiapkan khotbah saudara sendiri pertimbangkan sebelumnya apa yang akan dicapai ayat itu, terutama jika itu adalah ayat kunci dari suatu pokok utama. Rencanakan pengantarnya dengan saksama sehingga dapat digunakan dengan pengaruh sangat jitu. Berikut ini ada beberapa saran:
10 Suatu pertanyaan. Pertanyaan membutuhkan jawaban. Hal itu merangsang pikiran. Biarkan ayat beserta penerapannya memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Misalnya, dalam membahas transfusi darah, saudara mungkin mengajukan Kisah 15:28, 29, setelah membuktikan larangan itu menurut Alkitab Ibrani. Saudara dapat mengajukan ayat tersebut dengan bertanya, ”Namun apakah larangan yang sama ini berlaku bagi orang Kristen? Perhatikan keputusan yang berwenang ini dari badan pimpinan sidang jemaat yang mula-mula karena mereka digerakkan oleh roh suci.”
11 Suatu pernyataan atau prinsip, yang akan didukung oleh ayat yang akan diajukan. Misalnya, dalam khotbah mengenai kejahatan, saudara dapat mengatakan, ”Bahkan soal memilih teman merupakan faktor penting dalam menentukan sikap kita terhadap apa yang benar dan salah.” Kemudian saudara dapat membacakan kata-kata Paulus di 1 Korintus 15:33 untuk mendukung pernyataan saudara.
12 Mengutip Alkitab sebagai sumber yang berwenang. Teristimewa bagi ayat-ayat pendukung saudara dapat berkata, ”Perhatikan apa yang dikatakan Firman Allah mengenai pokok ini.” Hal ini sudah merupakan alasan untuk dengan penuh harap melihat ayat tersebut dan memberikan alasan yang jelas untuk menggunakannya.
13 Suatu problem. Dalam khotbah mengenai ”neraka” saudara dapat berkata, ”Jika manusia harus menderita dalam nyala api yang kekal, maka itu berarti bahwa ia masih tetap sadar setelah mati. Tetapi perhatikanlah apa yang dikatakan di Pengkhotbah 9:5, 10.”
14 Beberapa pilihan. Jika metode mengajukan pertanyaan atau problem langsung terlalu sukar bagi hadirin tertentu, saudara dapat mengajukan beberapa kemungkinan dan biarkan ayat dan penerapannya memberi jawaban. Sewaktu berbicara kepada seorang Katolik, saudara mungkin ingin menggunakan Matius 6:9 untuk memperlihatkan kepada siapa doa selayaknya ditujukan. Pertanyaan atau problem langsung mungkin akan mengalihkan pikiran penghuni rumah ke arah yang salah, jadi saudara dapat berkata, ”Ada banyak pandangan kepada siapa kita harus berdoa. Sejumlah orang berkata kepada Maria, yang lain mengatakan kepada ’orang-orang kudus’, tetapi ada lagi yang mengatakan kita harus berdoa kepada Allah saja. Nah, inilah apa yang dikatakan oleh Yesus.”
15 Latar belakang sejarah. Jika saudara hendak menggunakan Ibrani 9:12 (BIS) dalam khotbah mengenai tebusan untuk memperlihatkan bahwa Yesus, dengan mempersembahkan darahnya sendiri, ”membebaskan kita untuk selama-lamanya”, saudara mungkin perlu mendahului pembacaan ayat itu dengan penjelasan singkat tentang ”tempat yang kudus” dalam Tabernakel, yang menurut Paulus menggambarkan tempat yang dimasuki oleh Yesus.
16 Ikatan kalimat. Ada kalanya latar sebuah ayat yang dijelaskan dalam ayat-ayat di sekitarnya dapat membantu mengantarkan ayat tersebut. Misalnya, jika saudara menggunakan ayat di Lukas 20:25 untuk memperlihatkan arti dari ’membayar kembali milik Kaisar kepada Kaisar’, saudara mungkin merasa ada gunanya untuk menjelaskan bagaimana Yesus menggunakan kepingan uang dengan gambar Kaisar di atasnya, karena uraiannya dituturkan dalam ikatan kalimatnya.
17 Kombinasi. Tentu kombinasi dari metode-metode ini juga mungkin dan sering kali berfaedah.
18 Pengantar sebuah ayat hendaknya menimbulkan cukup rasa ingin tahu agar menarik perhatian pada waktu ayat tersebut dibacakan dan perhatian hendaknya dipusatkan pada alasan saudara menggunakan itu.
19, 20. Bagaimana kita dapat menentukan apakah kita telah menimbulkan perasaan ingin tahu kepada ayat yang dikutip?
19 Menimbulkan perasaan ingin tahu akan ayat-ayat. Bagaimana saudara tahu apakah saudara telah menimbulkan perasaan ingin tahu kepada sebuah ayat? Terutama melalui reaksi dari hadirin, tetapi juga melalui cara saudara mengantarkan ayat itu. Jika hadirin dibiarkan bertanya-tanya karena saudara tidak membacakan ayat tersebut setelah mengajukannya, atau jika saudara membiarkan sebuah pertanyaan tidak terjawab dalam kata pengantar, maka saudara dapat merasa pasti bahwa saudara telah membangkitkan minat kepada ayat tersebut. Tentu saja, kata pengantar harus sesuai dengan pokok pembicaraan dan dengan ayat yang hendak diajukan. Dan, ayat itu sendiri atau penerapannya yang menyusul seharusnya menjawab pertanyaan yang diajukan oleh kata pengantar.
20 Kata pengantar kepada ayat dapat disamakan dengan bunyi nafiri yang mendahului sebuah pengumuman. Peniup nafiri tidak bermaksud untuk memainkan seluruh konser. Tetapi, nada nyaring dari nafirinya memusatkan minat dan perhatian kepada pengumuman. Dengan diantar seperti ini, maka ayat pilihan saudara akan didengarkan dengan senang hati dan berfaedah.
21. Mengapa kita harus memusatkan perhatian kepada alasan kita menggunakan sebuah ayat?
21 Perhatian diarahkan kepada alasan ayat digunakan. Meskipun pengantar kepada sebuah ayat mungkin belum menjawab suatu pertanyaan, kata pengantar sedikitnya harus memberikan alasan yang memperlihatkan mengapa ayat tersebut cocok dan patut diperhatikan sepenuhnya. Misalnya, dalam diskusi mengenai bumi sebagai tempat tinggal manusia yang permanen, saudara mungkin mulai mempersiapkan untuk menggunakan Wahyu 21:3, 4. Bersama argumen pendahuluan, saudara dapat berkata, ”Nah, dalam ayat berikut, Wahyu 21:3, 4, carilah di mana kemah Allah akan didirikan pada waktu penderitaan dan kematian tidak ada lagi.” Saudara tidak saja telah menimbulkan perasaan ingin tahu dengan membiarkan sesuatu hal disingkapkan oleh ayat tersebut, melainkan juga telah memusatkan perhatian kepada bagian yang penting dari ayat saudara, yang dengan mudah dapat diterapkan pada argumen setelah membaca ayat tersebut. Jadi dengan mengarahkan perhatian kepada isi sebenarnya dari ayat itu, saudara menekankan pentingnya menggunakan Firman Allah.
-
-
Membacakan dan Menerapkan Ayat-AyatPetunjuk Sekolah Pelayanan Teokratis
-
-
Pelajaran 25
Membacakan dan Menerapkan Ayat-Ayat
1-3. Pada waktu menyampaikan khotbah, bagaimana seharusnya kita membacakan ayat-ayat?
1 Pada waktu saudara berbicara kepada orang lain mengenai maksud-tujuan Allah, baik secara pribadi maupun dari mimbar umum, pembahasan saudara berkisar pada ayat-ayat yang saudara bacakan dari Alkitab. Maka pada waktu saudara membacakan ayat-ayat tersebut, ini seharusnya dilakukan dengan baik. Tidak boleh sembarangan. Sebaliknya, jika pembacaan itu mencapai tujuannya, persembahan saudara akan lebih hidup. Untuk alasan ini lembaran Nasihat Khotbah mendaftarkan ”Ayat-ayat dibacakan dengan tekanan” sebagai sesuatu yang harus dipertimbangkan secara khusus oleh setiap orang yang ingin menjadi rohaniwan yang cakap.
2 Ayat-ayat harus dibacakan dengan perasaan, namun jangan dilakukan secara berlebihan. Besarnya perasaan yang dinyatakan dalam membacakan sebuah ayat bergantung pada ayat itu sendiri dan latarnya dalam khotbah. Ayat ini harus membawa argumen kepada puncaknya namun tidak boleh menyimpangkan perhatian kepada pembacaan ayat.
3 Selain itu, dalam pembacaan perhatian harus diarahkan kepada bagian dari ayat yang menunjang argumen saudara. Hal itu harus mengesankan pokoknya sehingga pendengar menjadi yakin. Jadi, pembacaan ayat dengan tekanan yang benar menanamkan keyakinan. Ini membuat pembacaan tersebut berwibawa.
4, 5. Apa yang dimaksud dengan ”tekanan pada kata-kata yang tepat”? Terangkan.
4 Tekanan pada kata-kata yang tepat. Alasan mengapa ayat itu dibaca hendaknya menentukan apa yang akan ditandaskan. Jika setiap gagasan yang dinyatakan ayat tersebut diberi tekanan yang sama, tidak ada yang akan menonjol dan pokok argumen saudara akan hilang. Jadi pastikan agar kata-kata yang diberi tekanan khusus adalah kata-kata yang memuat gagasan mengapa ayat tersebut perlu digunakan.
5 Misalnya, jika saudara menggunakan Yehezkiel 18:4 (Klinkert) untuk membuktikan bahwa dosa mengakibatkan kematian dan bukan siksaan yang kekal, saudara harus membacakannya dengan cara ini, ’Jiwa yang berdosa itu juga akan mati,’ dengan memberi tekanan khusus pada kata-kata yang dicetak miring. Tetapi jika pokok yang saudara kemukakan adalah bahwa bukan tubuhnya saja tetapi sebenarnya jiwanya itu yang mati, saudara harus mengubah tekanan, dengan membaca, ’Jiwa yang berdosa itu juga akan mati.’ Letak tekanan saudara harus ditentukan oleh alasan mengapa saudara membacakan ayat tersebut.
6-12. Dengan cara apa saja kita dapat menekankan kata-kata yang mengandung buah pikiran dalam sebuah ayat?
6 Menggunakan metode yang efektif. Kata-kata yang memuat gagasan yang hendak saudara tonjolkan dapat ditekankan dengan berbagai cara, dan cara yang saudara gunakan harus sesuai dengan ayat dan latar atau adegan khotbah.
7 Segi dari sifat ini, ”Ayat-ayat dibacakan dengan tekanan” tidak dimaksud untuk membahas secara panjang lebar semua cara yang ada mengenai memberi tekanan secara lisan. Semua rincian ini akan dibahas dengan lebih mendalam pada waktu saudara mempelajari tekanan arti. Namun beberapa metode disebutkan di sini untuk membantu saudara mencapai kemahiran membaca ayat-ayat Alkitab dengan efektif.
8 Tekanan suara. Ini meliputi tiap perubahan dalam suara, baik dalam tinggi rendah, kecepatan atau kekuatan, yang membuat kata-kata yang memuat gagasan itu lebih menonjol dibanding kata-kata yang lain dari kalimat itu.
9 Peristirahatan. Ini dapat dilakukan sebelum atau sesudah bagian kunci dari ayat saudara, atau sebelum dan sesudahnya. Istirahat langsung sebelum saudara membacakan gagasan yang penting menimbulkan perasaan ingin tahu; istirahat sesudahnya lebih memperdalam kesan yang ditanamkan.
10 Ulangan. Tekanan dapat diberikan pada pokok tertentu dengan memotong pembacaan saudara dan membaca ulang kata atau kalimat itu. Metode ini harus dilakukan dengan bijaksana.
11 Isyarat-isyarat. Gerakan tubuh, demikian pula ekspresi muka, sering dapat membantu menandaskan sebuah kata atau kalimat.
12 Nada suara. Kadang-kadang nada yang dipakai untuk membaca kata-kata dapat mempengaruhi artinya dan memisahkan kata-kata tersebut, namun, sekali lagi, di sini saudara perlu bijaksana, teristimewa dalam menggunakan kata sindiran.
13, 14. Jika penghuni rumah yang membacakan ayat itu, bagaimanakah kita dapat menekankan pokok-pokok kuncinya?
13 Ayat-ayat yang dibacakan oleh penghuni rumah. Apabila penghuni rumah membacakan sebuah ayat, ia mungkin memberi tekanan pada kata yang salah atau sama sekali tidak memberikan tekanan. Maka, apa yang dapat saudara lakukan? Biasanya dalam keadaan demikian lebih baik untuk kembali pada penerapan yang saudara maksudkan dari ayat itu untuk menekankan pokok yang ingin saudara tandaskan. Setelah ayat dibacakan, saudara dapat menarik perhatian penghuni rumah kepada kata-kata ini dengan mengulanginya atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
14 Ada cara lain yang dapat dilakukan, tetapi kita perlu hati-hati dan bijaksana. Saudara dapat menyela pembacaan di tempat yang patut, sambil meminta maaf, kemudian tarik perhatian khusus kepada kata atau kalimat yang sedang dibacakan yang ingin saudara tandaskan. Jika ini dapat dilakukan tanpa mempermalukan atau mengesalkan penghuni rumah hal ini dapat efektif, namun jangan terlalu sering dilakukan.
**********
15-17. Mengapa penting untuk membuat penerapan ayat itu jelas?
15 Membacakan sebuah ayat, bahkan dengan tekanan, biasanya tidak cukup untuk mencapai tujuan saudara. Kadang-kadang, memang, ayat itu sendiri dapat berperan sebagai penerapan dari gagasan yang saudara maksudkan dalam argumen saudara. Tetapi, dalam banyak hal, perhatian perlu ditarik lagi kepada kata-kata yang mengandung buah pikiran dalam ayat dan kemudian tunjukkan bagaimana kata-kata itu berlaku untuk argumen saudara. Hal inilah yang disebut dalam lembaran Nasihat Khotbah sebagai ”Penerapan ayat dijelaskan”. Ingat, kebanyakan orang tidak mengenal Alkitab dan tidak dapat menangkap pokok yang saudara kemukakan dengan membaca satu kali saja. Menekankan kembali kata-kata kunci dan menerapkannya akan menanamkan gagasan-gagasan tersebut.
16 Agar saudara dapat menerapkan sebuah ayat, ayat itu harus cocok dengan argumen saudara dan, biasanya, ini harus diantar dengan betul. Kemudian, sambil mengingat tujuan mengajar, saudara tentu ingin agar penerapannya sesederhana mungkin.
17 Selanjutnya, saudara harus mempunyai pengertian yang jelas mengenai ayat itu dan penerapannya harus saksama. Tinjau ikatan kalimatnya, prinsip-prinsip yang digunakan atau orang-orang yang terlibat apabila penggunaan ayat tersebut menuntut hal itu. Jangan sekali-kali menggunakan ayat dengan cara yang tidak selaras dengan tujuan penulisnya. Ikuti dengan saksama publikasi Lembaga berkenaan penerapannya.
18. Bagaimana kita dapat dengan efektif menyisihkan kata-kata kunci yang hendak diterapkan?
18 Menyisihkan kata-kata yang akan diterapkan. Sebelum atau sewaktu menerapkan ayat, kata-kata kunci biasanya harus ditandaskan kembali. Hal ini untuk memastikan bahwa segala sesuatu dalam ayat itu yang tidak ada hubungan dengan argumen saudara disisihkan atau dibuat kurang penting. Kata-kata itu sendiri yang muncul di dalam ayat tidak usah benar-benar diulangi, meskipun cara ini biasa dilakukan. Namun dalam beberapa hal saudara dapat, dengan satu atau lain cara, mengarahkan perhatian hadirin dengan efektif kepada buah pikiran yang telah disisihkan dan sedang dibahas. Satu cara untuk melakukannya adalah dengan menggunakan sinonim (persamaan kata) sewaktu mengulangi gagasan saudara. Cara lain, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Jika persembahan saudara melibatkan penghuni rumah, pertanyaan-pertanyaan saudara dapat disusun sedemikian rupa untuk menarik gagasan kunci dari orang tersebut.
19-22. Tindakan susulan apa yang diperlukan untuk ”menandaskan pokok dari kata pengantar”?
19 Menandaskan pokok dari kata pengantar. Hal ini hanya berarti memastikan bahwa tujuan saudara menggunakan ayat itu dimengerti dengan jelas dan dihargai. Mungkin saudara merasa tidak perlu atau karena alasan tertentu tidak ingin membuat kata pengantar yang formal kepada ayat itu. Ini tidak berarti bahwa pokok dari ayat tersebut tidak usah dikesankan. Tetapi, biasanya, paling sedikit saudara telah mempersiapkan argumen saudara lebih dulu sebelum ayat tersebut dibacakan. Saudara kemudian harus memperhatikan supaya ada tindakan susulan untuk melengkapi penggunaan ayat itu.
20 Hadirin dan pentingnya pokok itu dalam persembahan bahan secara keseluruhan akan menentukan sejauh mana penerapan ayat harus dinyatakan. Biasanya tidak cukup hanya mendiskusikan ayat tersebut. Saudara harus menghubungkan buah-buah pikiran yang ditandaskan dalam ayat dengan argumen pengantar saudara. Saudara harus menyatakan dengan jelas apa hubungannya.
21 Semakin sederhana penerapan saudara, namun tetap mencapai tujuan, semakin baik. Penerapan itu harus lepas dari segala rincian yang tidak ada hubungannya. Ini dapat dicapai dengan mengurangi argumen saudara sehingga memuat fakta sesedikit mungkin dan kemudian menambahkan apa yang diperlukan saja untuk membuatnya dapat dimengerti. Jika ada sesuatu yang belum terjawab dalam kata pengantar, penerapan saudara harus memberikan jawaban.
22 Pada tingkat kemajuan ini dalam acara Latihan Khotbah, kesederhanaan dan sikap langsung harus menjadi tujuan saudara. Jika saudara mencapai ini, pembacaan dan penerapan ayat-ayat Alkitab akan mencerminkan kecakapan dari seorang guru yang mahir.
-
-
Menggunakan Ulangan dan IsyaratPetunjuk Sekolah Pelayanan Teokratis
-
-
Pelajaran 26
Menggunakan Ulangan dan Isyarat
1-3. Mengapa ulangan merupakan teknik mengajar yang penting?
1 Tujuan saudara berbicara seharusnya untuk menanamkan keterangan sehingga hadirin akan mengingat dan dapat menggunakannya. Jika mereka lupa, tidak ada faedahnya. Salah satu cara utama untuk dapat membantu mereka meneguhkan di dalam pikiran apa yang saudara katakan, adalah dengan mengulangi pokok-pokok yang paling penting. Memang tepat kata orang bahwa mengulang adalah pangkal dari mengingat. Ulangan merupakan salah satu teknik mengajar yang penting. Saudara telah mempelajari nilainya sehubungan dengan penggunaan ayat. Tetapi ”Ulangan guna menandaskan” disebutkan secara terpisah dalam lembaran Nasihat Khotbah karena ini juga berlaku untuk bagian-bagian lain dari khotbah saudara.
2 Untuk membantu saudara agar mahir menggunakan ulangan guna menandaskan, kita akan melihat persoalannya dari dua segi yang berlainan. Masing-masing menyangkut cara yang berbeda untuk mengulangi; masing-masing mempunyai tujuan yang berbeda. Mengulangi pokok-pokok utama merupakan bantuan untuk mengingat. Mengulangi pokok-pokok yang tidak dimengerti membantu memperoleh pengertian.
3 Bukan hanya penyajian tetapi juga persiapan penting dalam membahas sifat ini. Saudara perlu menentukan sebelumnya pokok-pokok mana yang perlu diulang dan kapan waktu yang tepat untuk mengulangi.
4-6. Lukiskan bagaimana ikhtisar ”progresif” dan ikhtisar ”penutup” dapat digunakan untuk mengulangi pokok-pokok penting.
4 Mengulangi pokok-pokok utama. Mengulangi pokok-pokok utama sering dilakukan dengan beberapa bentuk ikhtisar. Kita akan membicarakan dua bentuk utama, yang dapat disebut ikhtisar ”progresif” dan ikhtisar ”penutup”.
5 Ikhtisar progresif ialah mengulangi bagian-bagian penting atau sari dari pokok utama sewaktu pokok itu dibahas, kemudian memasukkan sari tersebut ke dalam ikhtisar berikutnya, demikian secara berturut-turut, sehingga dengan cara demikian inti khotbah terus dijalin dengan erat.
6 Pada akhir khotbah, suatu ikhtisar penutup, apakah menggunakan ikhtisar-ikhtisar progresif ataupun tidak, akan merangkaikan semua menjadi satu dan seluruh khotbah dapat diulangi dengan beberapa pernyataan singkat. Kadang-kadang akan membantu jika jumlah yang tepat dari pokok-pokok yang akan diulangi disebutkan. Ini merupakan bantuan lebih lanjut untuk mengingat.
7-10. Bagaimana mengulangi pokok-pokok dalam bentuk ikhtisar dapat dikembangkan dengan menarik?
7 Ikhtisar tidak perlu berupa pengulangan yang membosankan atau pernyataan kembali pokok-pokok atau gagasan-gagasan. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara: melalui ilustrasi, menggunakan sebuah ayat, memandang persoalan dari sudut lain, dengan perbandingan atau kontras, dengan menarik persamaan yang ada, menggunakan sinonim atau pertanyaan. Sebagai contoh, ikhtisar yang sangat praktis dari sebuah khotbah umum bisa berupa bagian yang singkat selama lima menit, dengan menyebutkan ayat-ayat kunci dari Alkitab dan argumen-argumen utama dari khotbah tersebut. Inilah seluruh khotbah dalam bentuk kapsul, sesuatu yang dapat dibawa dan digunakan oleh hampir setiap orang.
8 Ulangan yang berbentuk ikhtisar khususnya bermanfaat untuk khotbah-khotbah yang menyangkut pertimbangan dan logika, dan waktu selang antara pembahasan dengan ulangan singkat membantu lebih menanamkan buah-buah pikiran ke dalam pikiran hadirin. Namun, membuat ikhtisar dari suatu pokok tidak selalu perlu. Sering hal itu dapat dinyatakan kembali belakangan sebagai dasar yang efektif untuk pokok lain yang masih harus diperkembangkan.
9 Cara lain untuk mengulangi pokok-pokok utama adalah dengan menguraikannya dalam kata pengantar dari khotbah, kemudian pokok-pokok ini diperkembangkan secara panjang lebar dalam isi khotbah. Pengulangan ini lebih jauh menanamkan buah-buah pikiran ke dalam pikiran mereka.
10 Dengan mengetahui cara-cara yang berlainan dalam mengulangi pokok-pokok utama, banyak yang dapat dilakukan untuk membuat sebuah khotbah menarik dan menyenangkan serta lebih mudah diingat.
11-14. Faktor-faktor kunci apa yang tersangkut dalam mengulangi pokok-pokok yang tidak dimengerti?
11 Mengulangi pokok-pokok yang tidak dimengerti. Perlu tidaknya mengulangi sebuah pokok agar dapat dimengerti, hampir seluruhnya bergantung kepada hadirin. Jika pokok itu penting dan mereka tidak akan mengertinya dengan jelas tanpa mendapat kesempatan untuk mendengarkan lebih dari satu kali, saudara hendaknya membahas itu lagi dengan suatu cara tertentu, kalau tidak hadirin tidak akan mengikuti saudara sampai kepada penutup khotbah. Sebaliknya, pengulangan yang tidak perlu, yang tidak digunakan untuk menandaskan, akan membuat khotbah bertele-tele dan tidak menarik.
12 Pada waktu mempersiapkan khotbah pertimbangkan hadirin saudara. Hal ini sedikitnya akan membantu saudara mengetahui lebih dulu problem-problem khusus yang boleh jadi dihadapi hadirin. Bila perlu buatlah persiapan untuk mengulangi gagasan-gagasan demikian dengan beberapa cara sehingga dapat dilihat dari berbagai sudut pandangan yang berbeda.
13 Bagaimana saudara bisa tahu bahwa saudara tidak dapat dimengerti? Pandanglah hadirin saudara. Amatilah ekspresi muka mereka atau, jika berbicara kepada satu atau dua orang, ajukan pertanyaan-pertanyaan.
14 Tetapi perhatikan ini baik-baik: Mengulangi kata-kata yang sama tidak selalu akan mencapai tujuan. Lebih banyak hal yang terlibat dalam mengajar. Jika hadirin tidak mengerti saudara, sekedar mengucapkan kata-kata yang sama berulang kali mungkin tidak cukup untuk membuat saudara dapat dimengerti dengan lebih baik. Apa yang dapat saudara lakukan untuk mengatasi hal itu? Saudara harus dapat menyesuaikan diri. Mungkin dibutuhkan tambahan-tambahan impromtu pada khotbah saudara. Kecakapan saudara dalam memenuhi kebutuhan hadirin akan banyak menentukan keefektifan saudara sebagai guru.
**********
15-18. Bagaimana seseorang dapat belajar menggunakan isyarat yang melukiskan?
15 Isyarat, juga, menambah tekanan pada apa yang saudara katakan, dan hal ini sering menguatkan arti dari kata yang diucapkan. Dengan cara ini isyarat menambah dan membuat hidup gagasan-gagasan. Hampir tidak ada satu orang pun berbicara tanpa isyarat. Maka, jika saudara tidak menggunakan isyarat sewaktu berada di mimbar, hadirin akan tahu bahwa saudara tidak tenang. Tetapi jika saudara dengan wajar menggunakan isyarat, hadirin tidak akan memikirkan saudara; mereka akan memikirkan apa yang sedang saudara ucapkan. Isyarat membantu karena memberi semangat kepada saudara, menggugah perasaan saudara dan dengan demikian membuat persembahan jadi hidup. Isyarat jangan dipelajari dari sebuah buku. Saudara tidak pernah belajar cara tersenyum atau tertawa atau marah, maka tidak perlu meniru isyarat orang lain, dan isyarat akan menjadi lebih baik, jika lebih wajar dan lebih spontan. Ekspresi muka erat hubungannya dengan isyarat untuk memberikan perasaan kepada kata yang diucapkan.
16 Isyarat dapat dibagi dalam dua golongan umum menurut sifatnya: melukiskan dan menandaskan.
17 Isyarat yang melukiskan. Isyarat yang melukiskan menyatakan gerakan atau memperlihatkan dimensi serta tempat. Inilah yang paling mudah dipelajari. Jadi, jika saudara mempunyai problem isyarat di mimbar, mula-mula cobalah dengan isyarat yang sederhana dan melukiskan.
18 Bila saudara sedang mengusahakan sifat ini di sekolah, jangan merasa puas hanya dengan satu atau dua isyarat. Berusahalah sering menggunakan isyarat selama khotbah. Untuk melakukan ini, carilah kata-kata yang menunjukkan arah, jarak, ukuran, daerah, kecepatan, tempat, kontras, hubungan yang relatif atau perbandingan. Jika perlu, tandailah kata-kata ini dengan salah satu cara di catatan saudara, agar saudara diingatkan untuk menggunakan isyarat pada saat itu. Lanjutkan latihan ini, meskipun saudara telah mendapat ”B” pada kali pertama. Setelah beberapa kali memberi khotbah, saudara akan mendapati bahwa saudara tidak perlu lagi memberikan tanda untuk isyarat atau memikirkan itu lebih dulu dan saudara akan menggunakan isyarat dengan wajar.
19, 20. Apa tujuan isyarat yang menandaskan?
19 Isyarat yang menandaskan. Isyarat yang menandaskan menyatakan perasaan dan keyakinan. Isyarat ini menjelaskan, membuat hidup serta menguatkan gagasan-gagasan. Karena itu, isyarat yang menandaskan penting. Namun, hati-hatilah! Isyarat yang menandaskan biasanya dilakukan secara berlebihan. Untuk mencegahnya, hindarilah isyarat yang dilakukan berulang-ulang.
20 Jika problem saudara ialah menggunakan isyarat dengan berlebihan, batasilah diri untuk suatu waktu khusus menggunakan isyarat yang melukiskan saja. Jika saudara sudah mahir dalam isyarat semacam ini, isyarat yang menandaskan akan menjadi hal biasa. Seraya saudara mendapat pengalaman dan menjadi lebih tenang di mimbar, isyarat yang menandaskan akan menyatakan perasaan-perasaan batin saudara dengan wajar, memperlihatkan keyakinan dan ketulusan saudara. Hal itu akan menambah arti pada kata-kata saudara.
-
-
Menandaskan Tema dan Pokok-Pokok UtamaPetunjuk Sekolah Pelayanan Teokratis
-
-
Pelajaran 27
Menandaskan Tema dan Pokok-Pokok Utama
1-4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan tema sebuah khotbah.
1 Setiap khotbah memerlukan tema untuk menentukan arah dan mengikat semua bagian menjadi satu dengan cara yang menarik. Tidak soal apa tema saudara, tema itu harus mengendalikan seluruh khotbah. Ini adalah inti dari khotbah saudara, dan dapat dinyatakan mungkin dalam satu kalimat namun akan meliputi setiap segi dari bahan yang dipersembahkan. Tema harus jelas bagi setiap orang yang hadir, dan akan demikian jika itu ditandaskan dengan benar.
2 Tema sebuah khotbah tidak sekedar suatu pokok yang luas, seperti misalnya ”iman”; hal itu merupakan segi khusus dari pokok yang didiskusikan. Sebagai contoh, temanya mungkin adalah ”Iman Saudara—Berapa Luaskah Pengaruhnya?” Atau bisa juga ”Iman Dibutuhkan untuk Menyenangkan Allah” atau ”Dasar dari Iman Saudara” atau ”Tetaplah Bertumbuh dalam Iman”. Meskipun semua tema ini berpusat pada iman, masing-masing membahas setiap pokok dari sudut berbeda dan membutuhkan perkembangan menurut jalur-jalur yang sama sekali berbeda.
3 Dalam beberapa keadaan saudara mungkin harus mengumpulkan bahan sebelum memilih tema. Tetapi tema itu harus ditetapkan dengan jelas sebelum rangka khotbah mulai dipersiapkan atau sebelum pokok-pokok utama dipilih. Misalnya, setelah setiap pelajaran Alkitab rumahan saudara mungkin ingin membahas tentang organisasi dari saksi-saksi Yehuwa. Itu suatu pokok yang luas. Untuk menentukan apa yang saudara bicarakan mengenai pokok ini, saudara harus mempertimbangkan hadirin dan tujuan dari khotbah. Atas dasar ini saudara akan memilih sebuah tema. Jika saudara mencoba mengajak orang baru ke dalam dinas, saudara dapat memutuskan untuk memperlihatkan bahwa saksi-saksi Yehuwa meniru Yesus Kristus dengan mengabar dari rumah ke rumah. Ini akan menjadi tema saudara. Segala sesuatu yang saudara katakan adalah untuk mengembangkan segi dari pokok pembicaraan yang luas itu, saksi-saksi Yehuwa.
4 Bagaimana saudara dapat menandaskan sebuah tema dalam khotbah saudara? Pertama-tama, saudara harus memilih tema yang cocok, yang sesuai dengan tujuan saudara. Ini membutuhkan persiapan lebih dulu. Jika tema sudah dipilih dan khotbah saudara dikembangkan di sekitarnya, hampir secara otomatis tema itu akan ditandaskan asalkan saudara berbicara menurut rangka yang telah dipersiapkan. Akan tetapi, pada waktu menyampaikan khotbah, sekali-sekali mengulangi kata-kata kunci atau gagasan pokok di dalam tema akan lebih menjamin tema itu menjadi jelas.
5, 6. Bagaimana saudara dapat menentukan apakah suatu tema cocok?
5 Tema yang cocok. Di Sekolah Pelayanan Teokratis sering kali tidak ada problem untuk mendapat sebuah tema yang cocok, karena dalam banyak hal tema sudah disediakan. Namun tidak demikian halnya dengan setiap khotbah yang harus saudara sampaikan. Jadi, sebaiknya pertimbangkan temanya dengan saksama.
6 Apa yang menentukan sebuah tema itu cocok? Ada beberapa hal. Saudara harus mempertimbangkan hadirin, tujuan, dan bahan yang ditugaskan kepada saudara, jika halnya demikian. Jika saudara mendapati bahwa saudara menyampaikan khotbah tanpa ada tema yang ditandaskan kemungkinan saudara tidak benar-benar membangun khotbah di sekitar suatu gagasan pokok apapun. Bisa jadi saudara memasukkan terlalu banyak pokok ke dalam khotbah yang sebenarnya tidak menunjang tema.
7, 8. Tunjukkan cara-cara untuk dapat menandaskan tema.
7 Kata-kata atau gagasan dari tema diulangi. Satu cara agar semua bagian dari khotbah menonjolkan tema adalah dengan mengulangi kata-kata kunci yang dinyatakan dalam tema atau mengulangi gagasan pokok dari tema. Di bidang musik, tema suatu melodi diulangi cukup sering sehingga menjadi sifat yang khas dari seluruh gubahan. Sebenarnya, beberapa nada saja biasanya sudah cukup untuk membuat gubahan itu dapat dikenali. Melodi tidak selalu muncul kembali dalam bentuk yang sama. Ada kalanya hanya satu atau dua bagian dari melodi yang terdengar, kadang-kadang ada variasi dari tema, tetapi dengan satu atau lain cara, si penggubah dengan trampil menyisipkan melodinya sepanjang gubahan itu sehingga mengendalikan dan menjadi sifat yang khas dari gubahan tersebut.
8 Demikian seharusnya tema sebuah khotbah. Kata-kata kunci atau pokok dari tema yang diulangi adalah bagaikan melodi yang muncul berulang kali dalam suatu gubahan. Sinonim dari kata-kata ini atau pokok pikiran utama yang diubah susunannya merupakan variasi dari tema. Jika cara ini digunakan dengan bijaksana sehingga tidak membosankan, tema pokok pembicaraan akan menjadi pernyataan yang khas dari seluruh khotbah dan ini menjadi buah pikiran utama yang akan berkesan kepada hadirin.
**********
9-13. Jelaskan apa pokok-pokok utama dalam sebuah khotbah. Lukiskan.
9 Setelah menentukan tema khotbah, tahap selanjutnya dalam persiapan adalah memilih pokok-pokok utama yang saudara rencanakan untuk diperkembangkan. Di dalam lembaran Nasihat Khotbah ini dicatat sebagai ”Pokok-pokok utama dikemukakan”.
10 Apa pokok-pokok utama dalam sebuah khotbah? Ini bukan hanya gagasan-gagasan atau pokok-pokok menarik yang sepintas lalu dijelaskan secara singkat. Pokok-pokok utama adalah bagian-bagian utama dari khotbah, gagasan-gagasan yang diperkembangkan dengan panjang-lebar. Pokok-pokok utama adalah bagaikan label atau petunjuk pada rak di toko makanan yang membantu seseorang mengenali apa yang terdapat dalam sebuah deretan rak, dan label tersebut menentukan apa yang dapat termasuk di dalam bagian itu dan apa yang seharusnya tidak. Di bawah label DAGING, kita tidak dapat menaruh roti dan mentega karena hanya akan membingungkan orang. Di bawah tanda KOPI DAN TEH, tidak terdapat beras. Jika label dari rak tertutup karena terlalu penuh atau terlalu banyak barang, maka sukar menemukan sesuatu. Tetapi jika petunjuk-petunjuk tetap jelas kelihatan, seseorang dengan mudah dapat mengenali apa yang ada di depannya. Demikian juga pokok-pokok utama dari khotbah saudara. Selama pokok-pokok itu dapat dipahami dengan jelas dan diingat, hadirin hanya perlu membuat sedikit catatan agar dapat mengikuti saudara sampai selesai.
11 Ada faktor lain. Pemilihan dan penggunaan dari pokok-pokok utama harus disesuaikan menurut hadirin dan tujuan dari khotbah. Karena itu, pengawas sekolah harus menilai pilihan pokok-pokok utama dari si pelajar atas dasar penggunaan pokok-pokok tersebut, bukan atas pilihan pokok-pokok yang sebelumnya mungkin sudah dibuat oleh si penasihat.
12 Pada waktu memilih, tentukan pokok-pokok pentingnya saja. Maka, ajukan pertanyaan, apa yang membuat suatu pokok menjadi penting? Pokok itu penting jika saudara tidak dapat mencapai tujuan khotbah tanpa itu. Misalnya, pada waktu berdiskusi mengenai tebusan dengan orang yang tidak mengenal doktrin itu, penting untuk membuktikan bahwa Yesus betul-betul seorang manusia ketika berada di bumi, kalau tidak, saudara tidak dapat memperlihatkan nilai yang sepadan dari korbannya. Maka saudara akan menganggap ini sebagai salah satu pokok utama dari pembahasan. Tetapi jika saudara telah membuktikan kepada orang ini bahwa Tritunggal adalah pengertian yang salah, pembahasan saudara mengenai kedudukan Yesus sebagai manusia hanya tambahan saja karena ia sudah percaya. Maka lebih mudah menjelaskan nilai yang sepadan dari tebusan Yesus. Dalam hal itu pembahasan mengenai keadaan manusia dari Yesus bukanlah sesuatu yang penting.
13 Jadi tanyakan pada diri sendiri, Apa yang sudah diketahui oleh hadirin? Apa yang harus saya buktikan untuk mencapai tujuan? Jika saudara mengetahui jawaban atas pertanyaan pertama, saudara dapat menjawab pertanyaan kedua dengan mengumpulkan bahan saudara, menyisihkan untuk sementara semua hal yang sudah diketahui dan membagi pokok-pokok selebihnya dalam jumlah kelompok yang sesedikit mungkin. Kelompok-kelompok ini menjadi tanda pengenal saudara mengenai makanan rohani apa yang saudara persembahkan kepada hadirin. Label-label atau pokok-pokok utama ini jangan sekali-kali ditutupi atau disembunyikan. Ini adalah pokok-pokok utama saudara, yang harus menonjol.
14-17. Berikan alasan-alasan mengapa tidak boleh ada terlalu banyak pokok utama.
14 Tidak terlalu banyak pokok utama. Hanya ada beberapa pokok penting dalam suatu pokok pembicaraan. Dalam kebanyakan hal pokok-pokok itu dapat dihitung dengan jari satu tangan. Halnya demikian tidak soal waktu yang tersedia untuk menyampaikannya. Jangan membuat kekeliruan yang umum dengan mencoba menonjolkan terlalu banyak pokok. Apabila sebuah toko menjadi terlalu besar dan ada terlalu banyak penggolongan barang, seseorang mungkin harus bertanya meminta petunjuk. Secara masuk akal hadirin hanya dapat menangkap sekian banyak buah pikiran yang berlainan sekaligus. Dan semakin panjang khotbah saudara, seharusnya itu dibuat semakin sederhana dan pokok-pokok kunci harus dibuat lebih tegas dan lebih menonjol. Jadi jangan mencoba untuk meminta hadirin mengingat terlalu banyak hal. Pilihlah pokok-pokok yang saudara rasa mutlak penting bagi mereka dan kemudian gunakan seluruh waktu saudara untuk membicarakan hal itu.
15 Apa yang menentukan apakah ada terlalu banyak pokok atau tidak? Secara singkat, jika ada buah pikiran yang dapat dihilangkan namun tujuan khotbah masih dapat tercapai, maka pokok itu bukan pokok kunci. Untuk melengkapi khotbah, saudara mungkin memutuskan untuk memasukkan pokok itu sebagai penghubung atau pengingat, tetapi itu tidak boleh menonjol seperti halnya pokok-pokok yang tidak dapat ditiadakan.
16 Hal lain, saudara harus mempunyai cukup waktu untuk memperkembangkan setiap pokok dengan berhasil dan secara lengkap. Jika ada banyak hal yang harus dikatakan dalam waktu singkat, maka batasi hal-hal yang telah diketahui oleh hadirin menjadi sesedikit mungkin. Sisihkan semua kecuali faktor-faktor yang belum diketahui dan jelaskan itu sedemikian rupa sehingga sukar untuk dilupakan hadirin.
17 Akhirnya, khotbah saudara harus memberi kesan sederhana. Ini tidak selalu bergantung kepada banyaknya bahan yang disampaikan. Mungkin hanya cara saudara mengelompokkan pokok-pokok itu. Misalnya, jika saudara masuk ke sebuah toko yang barang-barangnya semua ditumpuk di lantai, maka kelihatannya penuh sesak dan membingungkan sekali. Sukar untuk mencari sesuatu. Tetapi jika segala sesuatu disusun dengan benar dan barang-barang yang sejenis diatur dalam kelompok-kelompok lalu diberi petunjuk dengan sebuah tanda, hasilnya cukup menyenangkan dan barang apapun dapat dicari dengan mudah. Sederhanakan khotbah saudara dengan mengelompokkan buah-buah pikiran di bawah beberapa pokok utama saja.
18. Bagaimanakah pokok-pokok utama harus diperkembangkan?
18 Gagasan-gagasan utama diperkembangkan secara terpisah. Setiap buah pikiran utama harus berdiri sendiri. Masing-masing harus diperkembangkan secara terpisah. Ini bukan berarti tidak boleh mengemukakan rangka singkat atau ikhtisar dari judul-judul utama dalam kata pengantar atau penutup khotbah saudara. Tetapi dalam isi khotbah, saudara harus berbicara mengenai satu gagasan utama saja pada satu waktu, dengan membiarkan adanya tumpang tindih atau pengulangan seperlunya untuk menyambung atau menandaskan. Belajar membuat sebuah rangka berdasarkan pokok penting akan sangat membantu dalam menentukan apakah pokok-pokok utamanya diperkembangkan secara terpisah atau tidak.
19-21. Bagaimanakah pokok-pokok tambahan harus digunakan?
19 Pokok-pokok tambahan dipusatkan pada gagasan-gagasan utama. Pokok-pokok untuk membuktikan, ayat-ayat, atau bahan lain yang disampaikan harus mengarahkan perhatian orang kepada buah pikiran utama dan menegaskan hal itu.
20 Dalam persiapan analisalah semua pokok tambahan dan pilih hanya apa yang langsung berhubungan dengan pokok utama, untuk menjelaskan, membuktikan atau menegaskan pokok tersebut. Segala sesuatu yang tidak ada sangkut-pautnya harus dibuang. Ini hanya akan membuat persoalannya membingungkan.
21 Pokok apapun yang ada hubungannya dengan gagasan utama harus secara langsung dihubungkan melalui apa yang saudara ucapkan. Jangan biarkan hadirin melakukan hal itu. Buatlah hubungan itu jadi jelas. Sebutkan apa hubungan tersebut. Apa yang tidak diucapkan biasanya tidak akan mengerti. Ini dapat dicapai dengan mengulangi kata-kata kunci yang mengutarakan buah pikiran utama atau sewaktu-waktu mengulangi gagasan dari pokok utama. Apabila saudara menguasai seni untuk memusatkan semua pokok tambahan kepada pokok-pokok utama dari khotbah, dan mengikat setiap pokok utama dengan tema, khotbah saudara akan sederhana dan menyenangkan, mudah disampaikan dan sukar dilupakan.
-
-
Kontak dengan Hadirin dan Penggunaan CatatanPetunjuk Sekolah Pelayanan Teokratis
-
-
Pelajaran 28
Kontak dengan Hadirin dan Penggunaan Catatan
1. Jelaskan pentingnya kontak dengan hadirin dan peranan dari penggunaan catatan di sini.
1 Kontak yang baik dengan hadirin merupakan bantuan besar dalam mengajar. Saudara akan mendapatkan respek mereka dan memungkinkan saudara mengajar dengan lebih efektif. Kontak dengan mereka seharusnya mendekatkan saudara begitu rupa sehingga setiap reaksi mereka segera dapat saudara rasakan sebagai pembicara. Penggunaan catatan memainkan peranan penting dalam menentukan apakah saudara memiliki kontak sedemikian dengan hadirin atau tidak. Terlalu banyak catatan dapat menjadi penghalang; tetapi penggunaan catatan dengan trampil tidak akan mengganggu, bahkan meskipun keadaan menuntut agar catatan saudara sedikit lebih panjang daripada biasa. Itu disebabkan karena pembicara yang trampil tidak kehilangan kontak dengan hadirin karena terlalu sering melihat catatan atau pada waktu yang salah. Pada lembaran Nasihat Khotbah hal ini diperhatikan, dan didaftar sebagai ”Kontak dengan hadirin, penggunaan catatan”.
2-5. Apa yang dituntut agar kontak mata dengan hadirin efektif?
2 Kontak mata dengan hadirin. Kontak mata berarti memperhatikan hadirin. Itu tidak berarti sekedar melihat hadirin, melainkan melihat setiap orang di antara hadirin. Itu berarti melihat ekspresi muka mereka dan bereaksi sesuai dengan itu.
3 Melihat kepada hadirin bukan berarti sekedar melayangkan pandangan dari satu sudut ke sudut lain sehingga tidak seorang pun terlewat. Pandanglah satu orang dari antara hadirin dan ucapkan satu atau dua kalimat kepadanya. Lalu pandanglah orang lain dan ucapkan beberapa kalimat lagi kepadanya. Jangan terus memandang kepada satu orang begitu lama sehingga ia merasa tidak enak dan jangan pusatkan hanya kepada beberapa orang saja dari antara seluruh hadirin. Terus layangkan pandangan ke seluruh hadirin dengan cara begini, namun, sewaktu berbicara kepada seseorang, benar-benar bercakaplah dengan dia dan perhatikan dulu reaksinya sebelum saudara pindah kepada orang lain. Catatan saudara hendaklah diletakkan di atas mimbar atau di tangan atau dalam Alkitab saudara sedemikian rupa sehingga dapat cepat dilihat, dengan sekilas pandang saja. Jika saudara perlu menggerakkan seluruh kepala untuk melihat catatan, kontak dengan hadirin akan terganggu.
4 Penasihat tidak hanya akan mengamati berapa sering saudara menggunakan catatan tetapi kapan saudara melihatnya. Jika saudara melihat catatan sewaktu mencapai suatu puncak, saudara tidak akan melihat reaksi dari hadirin. Jika saudara terus melihat catatan, saudara juga akan kehilangan kontak. Ini biasanya menunjukkan bahwa kita suka gugup atau kurang persiapan untuk persembahannya.
5 Ada kalanya pembicara-pembicara yang berpengalaman diminta untuk menyampaikan seluruh khotbah dari manuskrip, dan tentu hal ini agak membatasi kontak mata dengan hadirin. Namun, jika mereka menguasai bahannya karena mempersiapkan dengan baik, mereka sewaktu-waktu dapat melihat kepada hadirin tanpa kesulitan untuk melanjutkan, dan ini merupakan pendorong untuk membaca dengan perasaan atau ekspresif.
6-9. Sebutkan cara lain untuk mendapat kontak dari hadirin, dan jerat-jerat yang harus kita perhatikan.
6 Kontak dengan hadirin melalui sapaan langsung. Hal ini sama pentingnya seperti kontak dengan pandangan mata. Ini menyangkut kata-kata yang saudara gunakan pada waktu menyapa hadirin.
7 Bila saudara bercakap-cakap secara pribadi dengan seseorang, saudara menyapanya secara langsung dengan mengatakan ”saudara”, ”anda”, atau ”kita”. Apabila cocok, saudara dapat berbicara kepada hadirin dengan cara yang sama. Cobalah anggap khotbah saudara sebagai percakapan dengan satu atau dua orang. Perhatikan mereka dengan cermat sehingga saudara dapat memberi tanggapan seolah-olah mereka sungguh-sungguh berbicara kepada saudara. Ini akan membuat khotbah saudara bersifat pribadi.
8 Namun hati-hatilah. Hindari bahaya menjadi terlalu intim dengan hadirin. Saudara tidak perlu menjadi terlalu intim, seperti juga tidak pada waktu saudara mengadakan percakapan yang sopan dengan satu atau dua orang di muka pintu dalam pelayanan pengabaran, tetapi saudara dapat dan seharusnya tetap terus terang.
9 Bahaya lain. Saudara harus bijaksana dalam menggunakan kata ganti orang dan jangan membuat hadirin tersinggung. Misalnya, dalam suatu khotbah mengenai kejahatan, saudara tentu tidak akan menggunakan sapaan yang akan memberi kesan seolah-olah hadirin itulah orang-orang yang jahat. Atau, di perhimpunan dinas, jika saudara sedang membahas tentang jumlah jam yang kurang, saudara dapat mengikutsertakan diri saudara dalam khotbah, dengan menggunakan kata ganti ”kita” sebaliknya dari pada selalu mengatakan ”saudara”. Dengan berlaku hati-hati, penuh pertimbangan, bahaya semacam ini seharusnya mudah diatasi.
**********
10, 11. Apa yang seharusnya menganjurkan kita untuk belajar menggunakan rangka?
10 Penggunaan rangka. Tidak banyak pembicara baru yang akan mulai berbicara dengan menggunakan sebuah rangka. Biasanya mereka akan menulis seluruh khotbah lebih dulu dan kemudian membacakan atau mengucapkannya di luar kepala. Penasihat saudara tidak akan memperhatikan hal ini pada mulanya, tetapi apabila saudara tiba di ”Penggunaan rangka” dalam lembaran Nasihat Khotbah, ia akan menganjurkan saudara untuk berbicara dari catatan. Setelah saudara menguasai itu, saudara akan mendapati bahwa saudara telah membuat kemajuan besar sebagai pembicara umum.
11 Bahkan anak-anak dan orang dewasa yang tidak sanggup membaca menyampaikan khotbah dengan menggunakan gambar-gambar untuk menyampaikan buah-buah pikiran. Saudara juga dapat menyiapkan khotbah dengan sebuah rangka yang sederhana, sama seperti khotbah-khotbah pendek dengan ayat-ayat yang dirangkakan dalam Pelayanan Kerajaan. Dalam dinas pengabaran saudara dengan tetap tentu berbicara tanpa naskah. Saudara juga dapat melakukan hal ini dengan mudah di sekolah, setelah saudara bertekad untuk berbuat itu.
12, 13. Berikan saran-saran cara membuat rangka.
12 Karena maksud dari mengusahakan sifat ini adalah untuk membantu saudara agar tidak terikat kepada naskah, baik dalam persiapan maupun dalam pengucapan, jangan saudara menghafalkan khotbah. Ini akan menggagalkan tujuan dari Pelajaran ini.
13 Jika saudara menggunakan ayat-ayat, saudara dapat mengajukan pertanyaan tambahan kepada diri sendiri. Bagaimana? Siapa? Bilamana? Di mana? dan sebagainya. Kemudian, jika cocok dengan bahan, gunakan pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagai bagian dari catatan saudara. Dalam menyampaikan khotbah, bacakan ayatnya, ajukan kepada diri sendiri atau penghuni rumah pertanyaan-pertanyaan ini, jika cocok, kemudian berikan jawaban. Jadi mudah saja.
14, 15. Faktor-faktor apa seharusnya tidak mengecilkan hati kita?
14 Orang-orang baru sering kali kuatir melupakan sesuatu. Namun, jika saudara telah memperkembangkan khotbah saudara secara logis, tidak ada orang yang akan merasa kehilangan satu buah pikiran pun jika saudara memang lupa. Pembahasan seluruh bahan bukan hal utama yang akan diperhatikan pada tahap ini. Sekarang lebih penting bagi saudara untuk belajar menyampaikan khotbah dari sebuah rangka.
15 Mungkin dalam mengucapkan khotbah dengan cara ini, saudara akan merasa kehilangan banyak dari sifat-sifat yang telah saudara pelajari. Tidak usah kuatir. Sifat-sifat ini akan kembali dan saudara akan mendapati diri lebih cakap menggunakannya setelah saudara belajar untuk berbicara tanpa naskah.
16, 17. Dalam membuat catatan, apa yang seharusnya kita ingat?
16 Satu hal lagi mengenai catatan yang digunakan untuk khotbah-khotbah dalam sekolah pelayanan. Catatan hendaknya digunakan untuk mengingatkan kembali buah-buah pikiran, bukan untuk mengutip kembali. Jadi hendaknya singkat, juga rapi, teratur, dan mudah dibaca. Jika adegan saudara adalah kunjungan kembali, catatan saudara hendaknya tidak menarik perhatian, mungkin diletakkan di dalam Alkitab. Jika itu sebuah khotbah di panggung dan saudara tahu bahwa saudara akan menggunakan mimbar, catatan tidak menjadi masalah. Tetapi jika saudara sangsi, persiapkanlah sebagaimana mestinya.
17 Bantuan lain adalah dengan menulis temanya di bagian atas dari catatan. Pokok-pokok utama hendaknya jelas kelihatan bagi mata. Cobalah menulis semua dengan huruf besar atau dengan memberi garis bawah.
18, 19. Bagaimana kita dapat berlatih menggunakan rangka?
18 Dengan menggunakan hanya sedikit catatan dalam menyampaikan khotbah, tidak berarti saudara dapat mengurangi persiapan. Mula-mula persiapkan khotbah secara terinci, buatlah rangka selengkap yang saudara inginkan. Lalu siapkan rangka kedua yang lebih singkat. Ini adalah rangka yang sebenarnya yang akan saudara gunakan untuk menyampaikan khotbah.
19 Sekarang taruhlah kedua rangka itu di hadapan saudara dan, perhatikan rangka yang sudah dipersingkat saja, katakan seberapa banyak yang dapat saudara utarakan berkenaan pokok utama pertama. Kemudian, perhatikan sekilas rangka yang lebih terinci dan periksalah apa saja yang terlewat. Lanjutkan dengan pokok utama kedua dalam rangka saudara yang sudah dipersingkat dan lakukan hal yang sama. Pada waktunya, rangka yang lebih pendek itu akan saudara kenal demikian baiknya sehingga saudara dapat mengingat kembali segala sesuatu yang ada dalam rangka yang lebih terinci hanya dengan melihat catatan saudara yang sangat singkat itu. Dengan latihan dan pengalaman saudara akan mulai menghargai manfaat dari berbicara secara ekstemporer dan hanya akan menggunakan naskah bila mutlak perlu. Saudara akan merasa lebih tenang pada waktu saudara berbicara dan hadirin akan mendengarkan saudara dengan respek yang lebih besar.
-
-
Lancar, dengan Gaya Percakapan dan Pelafalan yang TepatPetunjuk Sekolah Pelayanan Teokratis
-
-
Pelajaran 29
Lancar, dengan Gaya Percakapan dan Pelafalan yang Tepat
1-4. Sebutkan sebab-sebab dan tanda-tanda kurangnya kelancaran.
1 Pada waktu saudara berdiri di depan hadirin untuk menyampaikan khotbah, apakah saudara mendapati diri sering mencari kata-kata yang tepat? Atau, sewaktu membaca dengan suara keras, apakah saudara tersandung pada ucapan-ucapan tertentu? Kalau begitu, saudara mempunyai problem dengan kelancaran. Seorang yang lancar berbicara siap menggunakan kata-kata. Ini bukan berarti seorang yang ”sembrono,” maksudnya mengucapkan kata-kata dengan bebas tanpa dipikir atau tidak tulus. Ini adalah kelentukan dalam cara berbicara yang lancar dan menyenangkan, kata-kata meluncur dengan mudah atau bebas. Kelancaran dicatat pada lembaran Nasihat Khotbah untuk mendapat perhatian khusus.
2 Dalam berkhotbah, sebab-sebab yang lebih umum yang menghalangi kelancaran adalah cara berpikir yang kurang jernih dan bahan kurang dipersiapkan. Ini juga dapat disebabkan oleh kelemahan dalam perbendaharaan kata (kosakata) atau tidak banyak pilihan kata. Dalam hal membaca, kurangnya kelancaran biasanya disebabkan karena kurang latihan membaca dengan suara keras, kurangnya pengetahuan tentang kata-kata juga akan menyebabkan pembacaan tersendat-sendat atau ragu-ragu. Dalam dinas pengabaran, kurangnya kelancaran boleh jadi karena gabungan dari faktor-faktor ini disertai sikap malu atau ragu-ragu. Di sini problemnya memang serius karena ada kalanya hadirin akan betul-betul pergi meninggalkan saudara. Di Balai Kerajaan hadirin tidak akan betul-betul pergi, tetapi pikiran mereka akan melantur dan banyak hal yang saudara katakan akan sia-sia. Maka ini soal yang serius; kelancaran memang sifat yang harus diusahakan.
3 Banyak pembicara mempunyai kebiasaan buruk untuk menyisipkan kata-kata seperti ”dan-eh” atau ”kata-kata janggut” yang serupa. Sekiranya saudara tidak tahu berapa banyak dari kata-kata semacam ini yang saudara tambahkan ke dalam khotbah, coba adakan latihan dengan meminta seseorang mendengarkan dan mengulangi kata-kata ini setiap kali saudara mengucapkannya. Saudara mungkin akan heran.
4 Orang lain ada yang selalu berbicara dengan cara mundur kembali, artinya, mulai dengan sebuah kalimat, lalu menyela sendiri dan mulai lagi dari permulaan. Jika saudara mempunyai kebiasaan buruk ini, coba atasi dalam percakapan sehari-hari. Berusahalah sungguh-sungguh untuk berpikir dulu dan pahami dengan jelas buah pikirannya. Kemudian sampaikan seluruh buah pikiran tersebut tanpa berhenti atau mengubah gagasan di ”tengah jalan.”
5-10. Nasihat-nasihat apa yang diberikan untuk memperbaiki kelancaran seorang pembicara?
5 Soal lain lagi. Kita sudah biasa menggunakan kata-kata untuk mengutarakan diri. Maka kata-kata hendaknya keluar dengan wajar jika kita tahu persis apa yang ingin kita katakan. Saudara tidak perlu memikirkan kata-katanya. Sebenarnya, ada baiknya sebagai latihan, pastikan agar gagasannya jelas dalam pikiran saudara dan pikirkan kata-katanya seraya saudara berbicara. Jika saudara melakukan hal ini, dan jika saudara memusatkan pikiran pada gagasannya dan bukan pada kata-kata yang saudara ucapkan, maka kata-katanya akan keluar secara otomatis dan buah-buah pikiran akan diutarakan sesuai dengan perasaan saudara. Tetapi bila saudara mulai memikirkan kata-kata dan bukan gagasannya, khotbah saudara akan langsung tidak lancar.
6 Jika problem saudara dalam kelancaran adalah soal pilihan kata, maka dibutuhkan pelajaran yang teratur dalam mengembangkan perbendaharaan kata. Khususnya perhatikan kata-kata yang asing bagi saudara dalam Menara Pengawal dan publikasi-publikasi lain dari Lembaga dan tambahkan beberapa di antara kata-kata itu ke dalam perbendaharaan kata saudara sehari-hari.
7 Tidak lancar membaca biasanya disebabkan karena kurang mengenal kata, maka sebaiknya saudara melatih membaca dengan suara keras secara tetap tentu dan sistematis jika ini merupakan problem saudara.
8 Suatu cara untuk melakukan ini adalah memilih satu atau dua paragraf dari bahan dan dengan cermat membacanya dalam hati sampai saudara memahami betul seluruh buah pikiran dari bagian itu. Pisahkan kelompok-kelompok buah pikiran, beri tanda jika perlu. Kemudian saudara dapat mulai latihan membaca bagian ini dengan suara keras. Dalam berlatih, bacalah berulang kali sampai saudara dapat membaca seluruh kelompok buah pikiran tanpa satu kali pun menjadi ragu-ragu atau berhenti di tempat yang salah.
9 Kata-kata yang kurang dikenal atau sukar hendaknya dilafalkan berulang kali sampai saudara mudah untuk mengucapkannya. Sesudah saudara dapat mengucapkan kata itu tersendiri, maka bacalah seluruh kalimat yang memuat kata tersebut sampai saudara dapat memasukkannya dalam satu kalimat dengan mudah, sama seperti saudara lakukan dengan kata-kata yang sudah dikenal.
10 Juga, secara tetap tentu berlatihlah membaca pada waktu melihat bahan untuk pertama kali [Inggris, sight-reading]. Misalnya, bacalah selalu ayat harian dan komentarnya dengan suara nyaring langsung pada waktu saudara mulai membukanya. Biasakan diri agar mata saudara menangkap kata-kata dalam kelompok-kelompok, yang menyatakan buah pikiran yang lengkap, dan bukan melihat kata-kata itu satu per satu. Dengan latihan, saudara dapat mengatasi sifat penting ini dalam khotbah dan pembacaan yang efektif.
**********
11-15. Bagaimana sifat percakapan bergantung pada pernyataan yang digunakan?
11 Segi lain yang bagus dari khotbah yang dicatat dalam lembaran nasihat adalah ”Gaya percakapan.” Ini sesuatu yang saudara miliki dalam kehidupan sehari-hari, namun apakah saudara memilikinya pada waktu saudara menyampaikan khotbah? Entah mengapa, orang yang mudah mengadakan percakapan bahkan dengan suatu kelompok besar, sering menjadi sangat formal dan agak ”seperti berpidato” pada waktu diminta membuat persiapan sebelumnya untuk ”menyampaikan khotbah.” Cara paling efektif untuk memberi khotbah di muka umum adalah dengan gaya percakapan.
12 Penggunaan pernyataan yang bersifat percakapan. Gaya percakapan yang efektif banyak bergantung pada pernyataan yang digunakan. Dalam mempersiapkan khotbah ekstemporer, biasanya tidak baik untuk mengulangi pernyataan tepat seperti yang tertulis. Gaya tulisan berbeda dari bahasa percakapan. Maka susunlah gagasan-gagasan ini menurut cara saudara mengutarakan diri. Hindarkan penggunaan susunan kalimat yang berbelit-belit.
13 Khotbah saudara dari mimbar hendaknya mencerminkan cara saudara mengutarakan diri sehari-hari. Jangan mencoba untuk berbicara dengan bergaya. Tetapi, khotbah yang dipersiapkan tentu akan lebih baik daripada percakapan sehari-hari, sebab gagasan-gagasan sudah dipikirkan lebih dahulu dengan saksama dan akan keluar dengan lebih lancar. Maka, ucapan itu sendiri seharusnya tersusun dengan lebih baik.
14 Ini menandaskan pentingnya berlatih setiap hari. Dalam berkhotbah, berbicaralah dengan wajar. Hindari bahasa pasaran. Jangan terus mengulang ucapan dan ungkapan-ungkapan yang sama untuk mengutarakan setiap buah pikiran lain yang ingin saudara kemukakan. Belajarlah untuk berbicara dengan penuh arti. Gunakan percakapan yang baik setiap hari, agar pada waktu saudara berbicara dari mimbar, kata-katanya akan keluar dengan lebih lancar dan saudara akan dapat menggunakan gaya percakapan yang bervariasi, mudah dan cocok bagi hadirin manapun.
15 Hal ini khusus demikian dalam dinas pengabaran. Dan dalam khotbah-khotbah latihan, jika saudara berbicara kepada penghuni rumah, cobalah berbicara seolah-olah berada dalam dinas pengabaran. Pernyataan yang wajar dan lancar akan saudara gunakan di sana. Ini akan menghasilkan khotbah yang informal dan realistis dan, lebih penting lagi, akan melatih saudara untuk persembahan-persembahan yang lebih efektif dalam dinas pengabaran.
16-19. Nyatakanlah bagaimana persembahan dapat mempengaruhi sifat percakapan.
16 Khotbah dengan gaya percakapan. Sifat percakapan tidak hanya bergantung pada pernyataan yang digunakan. Cara atau gaya saudara menyampaikan khotbah juga penting. Ini menyangkut nada suara, perubahan suara dan pengucapan yang wajar. Ini sama spontannya seperti percakapan sehari-hari, meskipun volume suara diperbesar sebagaimana perlu mengingat hadirin.
17 Menyampaikan khotbah dalam bentuk percakapan justru kebalikan dari berpidato. Sama sekali tidak ada ciri-ciri ”pidato” dan tidak ada gaya yang dibuat-buat.
18 Satu cara yang membuat sifat percakapan sering tidak ada pada pembicara-pembicara baru adalah persiapan yang terlalu saksama berkenaan penggunaan kata-kata dari bahan. Dalam persiapan untuk khotbah, jangan berpikir saudara harus meninjau khotbah itu kata demi kata sampai hampir-hampir hafal di luar kepala agar betul-betul siap. Persiapan untuk khotbah ekstemporer hendaknya dipusatkan pada peninjauan yang saksama atas gagasan-gagasan yang akan dikemukakan. Perkara-perkara ini harus ditinjau sedemikian rupa sehingga buah pikiran atau gagasannya saling berurutan satu sama lain dalam pikiran saudara. Hal ini seharusnya tidak sukar jika gagasan-gagasan ini telah diperkembangkan dengan logis dan direncanakan dengan baik, dan pada waktu menyampaikan khotbah gagasan-gagasannya harus keluar dengan lancar dan mudah. Jika sudah demikian halnya, dan jika gagasan-gagasan itu dinyatakan dengan maksud berkomunikasi, sifat percakapan akan menjadi bagian khotbah.
19 Satu cara untuk meyakinkan diri mengenai hal ini adalah dengan membuat usaha untuk berbicara kepada orang yang berlainan di antara hadirin. Berbicaralah langsung kepada mereka satu per satu. Anggaplah orang itu telah mengajukan pertanyaan dan kemudian berikan jawaban. Bayangkan diri saudara sedang mengadakan percakapan pribadi dengan orang itu dalam mengembangkan buah pikiran yang khusus tersebut. Kemudian beralihlah kepada orang lain di antara hadirin dan ulangi proses yang sama.
20-23. Bagaimana seseorang dapat membuat pembacaannya kedengaran wajar?
20 Membaca dalam bentuk percakapan adalah salah satu di antara sifat-sifat khotbah yang paling sukar dikuasai, namun salah satu yang paling penting. Bagian terbesar dari pembacaan kita di muka umum tentu adalah dari Alkitab, membacakan ayat-ayat yang berhubungan dengan khotbah ekstemporer. Alkitab harus dibacakan dengan penuh perasaan dan dengan pengertian yang mendalam akan maknanya. Pembacaan hendaknya hidup. Di lain pihak, hamba-hamba Allah yang sejati tidak pernah akan memakai nada suara yang kedengarannya suci dari kaum pendeta. Hamba-hamba Yehuwa akan membacakan FirmanNya dengan tekanan yang wajar dan kesungguhan yang tidak dibuat-buat yang layak bagi bahasa yang hidup dari Buku tersebut.
21 Banyak persamaannya dengan membaca Menara Pengawal atau paragraf-paragraf pada pelajaran buku sidang. Di sini juga, pernyataan serta susunan kalimat tidak dirancang dalam bahasa percakapan, maka pembacaan tidak selalu dapat kedengaran seperti percakapan. Namun, jika saudara mengerti maksud dari apa yang saudara baca dan sedapat-dapatnya membacakan dengan wajar dan penuh arti, sering kali saudara dapat membuatnya kedengaran seperti khotbah ekstemporer, meskipun mungkin sedikit lebih formal daripada biasa. Karena itu saudara hendaknya membiasakan diri untuk memberi tanda apapun yang akan membantu, jika saudara dapat membuat persiapan lebih dulu, dan berusahalah sedapat-dapatnya untuk menyampaikan bahan dengan gaya yang realistis dan wajar.
22 Dalam pembacaan atau khotbah yang bersifat percakapan, kesungguhan dan kewajaran adalah kuncinya. Biarkan hati saudara melimpah dan berbicaralah dengan cara yang menarik minat dari pendengar.
23 Seperti halnya sopan-santun yang baik, cara berbicara yang baik tidak dapat dilakukan untuk suatu kesempatan tertentu. Tetapi jika saudara setiap hari menggunakan tutur kata yang baik, hal ini akan nampak di mimbar sebagaimana sopan-santun yang diterapkan di rumah akan selalu nyata sewaktu saudara berada di muka umum.
**********
24, 25. Mengapa pelafalan yang kurang baik tidak diinginkan?
24 Pelafalan. Pelafalan yang benar juga penting, dan dicatat secara terpisah pada lembaran Nasihat Khotbah. Meskipun tidak semua orang Kristen mendapat pendidikan duniawi yang cukup tinggi, seperti Petrus dan Yohanes yang dikatakan tidak terpelajar dan hanya orang biasa, namun penting agar perhatian orang jangan sampai dialihkan dari persembahan kita disebabkan pelafalan yang buruk. Hal ini mudah diperbaiki jika kita memberi cukup perhatian.
25 Jika pelafalan seseorang sangat buruk, bisa jadi ia malahan akan menyampaikan gagasan-gagasan yang salah kepada pikiran hadirin, yang tentu saja tidak diinginkan. Bila saudara mendengar seseorang salah melafalkan sebuah kata dalam khotbah, akibatnya dalam pikiran saudara seolah-olah seperti lampu merah di persimpangan jalan. Saudara mungkin berhenti mengikuti alur pembahasannya dan mulai memikirkan kata tersebut yang salah dilafalkan. Ini dapat menyebabkan perhatian saudara dialihkan dari apa yang sedang dikatakan.
26, 27. Problem-problem apa yang disebutkan sehubungan dengan pelafalan?
26 Dapat dikatakan bahwa ada tiga macam problem umum sehubungan dengan pelafalan. Yang pertama adalah pelafalan yang keliru, yaitu salah penempatan tekanan atau huruf-hurufnya salah dilafalkan. Kebanyakan bahasa modern mempunyai pola yang teratur untuk tekanan, namun dalam bahasa Inggris polanya tidak seragam, sehingga problemnya lebih sulit. Lalu, ada pula pelafalan yang benar namun terlalu berlebihan, terlalu saksama, memberi kesan dibuat-buat, bahkan seperti berlagak, ini tentu tidak patut. Problem ketiga adalah bahasa yang ceroboh, yang dicirikan dengan terus-menerus menelan kata-kata, melompati suku-suku kata dan kebiasaan-kebiasaan lain seperti itu. Ini harus dihindari.
27 Biasanya dalam percakapan sehari-hari kita menggunakan kata-kata yang sudah kita kenal benar; maka dalam hal ini pelafalan bukan suatu problem besar. Problem terbesar timbul dalam membaca. Namun, saksi-saksi Yehuwa banyak membaca di hadapan umum maupun secara pribadi. Kita membacakan Alkitab kepada orang-orang bila kita pergi dari rumah ke rumah. Kadang-kadang kita diminta untuk membacakan paragraf-paragraf pada pelajaran Menara Pengawal, pada pelajaran Alkitab rumahan, atau pelajaran buku sidang. Penting untuk membaca dengan saksama, dengan pelafalan yang tepat. Jika tidak, ini memberi kesan bahwa kita tidak tahu apa yang kita bicarakan. Ini juga mengalihkan perhatian dari beritanya.
28-34. Bagaimana seseorang dapat dibantu untuk memperbaiki pelafalannya?
28 Nasihat mengenai pelafalan yang salah hendaknya jangan dilebih-lebihkan. Jika ada keragu-raguan mengenai satu atau dua kata, nasihat pribadi cukup. Namun, meskipun hanya beberapa kata saja yang salah dilafalkan selama suatu khotbah, jika ini kata-kata yang sering kita gunakan dalam pelayanan atau dalam percakapan sehari-hari, akan berfaedah bagi siswa jika pengawas sekolah menarik perhatian kepada hal itu sehingga ia belajar melafalkannya dengan tepat.
29 Sebaliknya, jika dalam penugasan pembacaan Alkitab kebetulan siswa itu salah mengucapkan satu atau dua nama Ibrani, ini tidak dianggap kelemahan yang mencolok. Tetapi, jika ia salah melafalkan banyak nama, ini membuktikan kurangnya persiapan, dan nasihat harus diberikan. Siswa harus dibantu untuk belajar cara memastikan pelafalan yang tepat dan kemudian melatihnya.
30 Demikian pula dengan pelafalan yang berlebih-lebihan. Jika hal ini benar-benar mengalihkan perhatian dari khotbah karena merupakan kebiasaan yang tetap, siswa harus dibantu. Hendaknya diperhatikan juga bahwa bila berbicara dengan cepat, kebanyakan orang cenderung untuk menelan beberapa kata. Nasihat tidak perlu diberikan untuk ini, tetapi jika ini suatu kebiasaan, jika siswa terus-menerus menelan kata-kata sehingga tutur katanya menjadi sulit dimengerti atau mengalihkan perhatian dari beritanya, maka baik untuk membantunya dalam artikulasi (cara mengucapkan kata-kata dengan jelas).
31 Tentu, penasihat saudara akan ingat bahwa pelafalan yang tepat, yang dapat diterima, boleh jadi berbeda di berbagai daerah. Bahkan kamus sering menyebut lebih dari satu cara melafal yang diakui. Maka ia akan berhati-hati dalam memberi nasihat mengenai pelafalan. Ia tidak akan memaksakan lafalan yang secara pribadi lebih ia sukai.
32 Jika saudara mempunyai problem dengan pelafalan, saudara tidak akan mendapat kesulitan untuk memperbaikinya jika saudara mempunyai tekad. Bahkan pembicara yang berpengalaman, yang diberi penugasan membaca akan mengeluarkan kamus dan mencari kata-kata yang lafalannya mereka kurang kenal. Mereka tidak hanya akan menduga-duga cara melafalkannya. Maka gunakanlah kamus.
33 Satu cara lain untuk dapat memperbaiki pelafalan adalah dengan membacakan untuk orang lain, seseorang yang melafalkan kata-kata dengan baik dan minta dia untuk menghentikan saudara dan membetulkannya tiap kali saudara membuat kesalahan.
34 Cara yang ketiga adalah dengan saksama mendengarkan kepada pembicara-pembicara yang baik. Berpikirlah seraya saudara mendengarkan; perhatikan kata-kata yang mereka lafalkan dengan cara yang berbeda dari saudara. Tulislah kata-kata ini; periksalah dalam kamus dan berlatihlah. Dalam waktu singkat saudara juga akan melafalkannya dengan tepat. Khotbah yang lancar, dengan gaya percakapan, disertai dengan pelafalan yang tepat, akan sangat memperbaiki mutu khotbah saudara.
-
-
Perkembangan yang Berpautan dari Sebuah KhotbahPetunjuk Sekolah Pelayanan Teokratis
-
-
Pelajaran 30
Perkembangan yang Berpautan dari Sebuah Khotbah
1-3. Peranan apa dimiliki oleh perpautan dalam sebuah khotbah, dan bagaimana itu dapat dicapai?
1 Khotbah yang berpautan secara logis adalah khotbah yang mudah diikuti hadirin. Sebaliknya, jika tidak ada perpautan, perhatian mereka segera akan hilang. Jelas, hal ini patut diperhatikan dengan serius apabila saudara mempersiapkan khotbah; maka ”Perpautan melalui kata-kata sambung” dimuat pada lembaran Nasihat Khotbah sebagai suatu hal yang patut saudara pertimbangkan dengan saksama.
2 Perpautan berarti terikat bersama di dalamnya, bagian-bagian yang diikat bersama dipersatukan sehingga seluruhnya menjadi logis. Kadang-kadang ini tercapai sebagian besar hanya dengan mengatur bagian-bagiannya dalam urutan yang logis. Tetapi dalam kebanyakan khotbah ada bagian-bagian yang perlu dihubungkan terlepas dari bahan yang sudah diatur secara sederhana. Dalam hal itu dibutuhkan jembatan dari satu pokok ke pokok lain. Kata-kata atau ungkapan-ungkapan digunakan untuk menunjukkan hubungan antara gagasan-gagasan yang baru dengan yang sudah ada sebelumnya, dengan demikian mengisi kekosongan yang disebabkan oleh perubahan dalam waktu atau sudut pandangan. Inilah yang disebut perpautan melalui kata-kata sambung.
3 Sebagai contoh, kata pengantar, isi serta penutup dari khotbah saudara merupakan bagian-bagian yang terpisah dari khotbah, berbeda satu sama lain, tetapi bagian-bagian ini harus dipersatukan dengan erat melalui peralihan-peralihan. Selain itu, dalam suatu khotbah pokok-pokok utama perlu diikat bersama, teristimewa jika isi buah pikirannya tidak terlalu berhubungan satu sama lain. Atau kadang-kadang hanya kalimat-kalimat atau paragraf-paragraf saja yang membutuhkan kata-kata sambung.
4-7. Apa yang dimaksud dengan menggunakan kata-kata peralihan?
4 Penggunaan pernyataan-pernyataan peralihan. Sering kali sebuah jembatan antara gagasan-gagasan dapat dibuat hanya dengan menggunakan kata-kata atau ungkapan penyambung yang tepat. Beberapa di antaranya adalah: juga, selain itu, lebih jauh, lagi pula, demikian pula, serupa dengan itu, maka, jadi, karena alasan itu, mengingat itu tadi, berdasarkan hal itu, setelah itu, namun, sebaliknya, bertentangan dengan itu, sebelumnya, sampai sekarang, dan sebagainya. Kata-kata tersebut dengan jitu menghubungkan kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf.
5 Namun, sifat khotbah ini sering menuntut lebih banyak daripada sekedar kata-kata sambung yang sederhana. Bila satu kata atau ungkapan tidak cukup, diperlukan peralihan yang sepenuhnya menuntun hadirin untuk menyeberangi jurang itu. Ini mungkin sebuah kalimat yang lengkap atau bahkan penambahan satu buah pikiran peralihan yang diungkapkan dengan lebih lengkap.
6 Satu cara untuk membentuk jembatan-jembatan seperti itu adalah dengan mencoba menerapkan pokok yang sebelumnya sebagai bagian dari pengantar kepada apa yang menyusul berikutnya. Sering kali ini dilakukan dalam persembahan dari rumah ke rumah.
7 Selanjutnya, bukan hanya pokok-pokok yang berurutan saja yang harus diikat bersama, tetapi kadang-kadang pokok-pokok yang terpisah lebih jauh satu sama lain dalam khotbah. Misalnya, penutup sebuah khotbah harus dijalin dengan kata pengantarnya. Mungkin suatu gagasan atau ilustrasi yang dikemukakan pada permulaan suatu khotbah harus dijalin dengan kata pengantarnya. Mungkin suatu gagasan atau ilustrasi yang dikemukakan pada permulaan suatu khotbah dapat diterapkan sedemikian rupa dalam kata penutup sehingga akan menggerakkan atau menunjukkan lebih jauh hubungan antara ilustrasi atau gagasan itu dengan tujuan dari khotbah. Memasukkan kembali suatu segi tertentu dari ilustrasi atau gagasan dengan cara ini berfungsi sebagai penyambung dan menghasilkan perpautan.
8. Bagaimana hadirin dipengaruhi oleh peralihan untuk perpautan?
8 Perpautan memadai bagi hadirin. Banyaknya sambungan dalam suatu taraf tertentu ditentukan oleh hadirin saudara. Ini tidak berarti bahwa ada hadirin yang tidak memerlukan peralihan. Melainkan, hadirin tertentu membutuhkan lebih banyak karena mereka kurang mengenal gagasan-gagasan yang harus dihubungkan satu sama lain. Misalnya, saksi-saksi Yehuwa dengan mudah akan menghubungkan ayat mengenai akhir sistem yang jahat sekarang ini dengan ayat yang berbicara mengenai Kerajaan. Tetapi bagi seseorang yang menganggap Kerajaan sebagai keadaan pikiran atau sesuatu dalam hati, pertaliannya tidak akan begitu cepat dimengerti dan suatu gagasan peralihan harus dimasukkan untuk menjelaskan hubungannya. Kegiatan kita dari rumah ke rumah senantiasa menuntut adanya penyesuaian demikian.
**********
9-13. Apa artinya perkembangan yang logis, dan apa dua cara dasar untuk mengembangkan suatu argumen?
9 Suatu segi dalam khotbah yang erat hubungannya adalah ”Perkembangannya logis, berpautan”, dan ini juga dimuat dalam lembaran nasihat. Ini adalah satu syarat utama agar khotbah kita meyakinkan.
10 Apa artinya logika? Sehubungan dengan pembahasan kita, dapat dikatakan bahwa logika adalah ilmu berpikir dengan tepat atau cara berpikir yang benar. Logika memberikan pengertian, karena melalui itulah suatu pokok diterangkan menurut bagian-bagiannya yang berhubungan. Logika memperlihatkan mengapa bagian-bagian tersebut bertindak dan berpautan bersama. Perkembangannya berpautan jika jalan pikirannya mengikuti perkembangan secara bertahap, sedemikian rupa sehingga semua bagian dipersatukan secara berurutan. Perkembangan yang logis, dalam beberapa kemungkinannya, bisa saja berupa urutan menurut pentingnya, menurut urutan kronologis atau dari satu problem menuju kepada pemecahannya.
11 Ada dua metode dasar yang dapat diikuti dalam memperkembangkan argumen. (1) Taruhlah kebenaran langsung di hadapan hadirin, berikan fakta-fakta untuk menunjangnya. (2) Seranglah suatu pendapat yang salah, yang setelah ditumbangkan, akan membiarkan kebenaran menyatakan diri. Kini kita hanya tinggal menerapkan dengan tepat kebenaran-kebenaran yang sedang dibicarakan.
12 Tidak ada dua pembicara yang akan mempunyai jalan pikiran yang tepat sama. Contoh yang sempurna mengenai berbagai cara pendekatan kepada pokok yang sama adalah dalam penulisan keempat Injil. Empat murid Yesus menulis kisah tentang pelayanannya secara terpisah. Masing-masing berbeda, namun semuanya menulis bahan yang masuk akal dan logis. Masing-masing memperkembangkan bahannya untuk mencapai tujuan tertentu dan masing-masing berhasil.
13 Dalam hubungan ini penasihat harus dapat melihat tujuan saudara dan berusaha menilai urutan pikiran saudara atas dasar apakah tujuannya tercapai atau tidak. Saudara dapat membantu dia, dan hadirin saudara, dengan membuat tujuan saudara jelas, khususnya dalam cara saudara mengantarkan bahan dan kemudian menerapkannya dalam kata penutup.
14, 15. Tunjukkan mengapa bahan dalam urutan yang masuk akal begitu penting?
14 Bahan dalam urutan yang masuk akal. Pertama-tama, dalam hal menyusun bahan atau rangka, pastikan agar tidak ada pernyataan atau gagasan yang dimasukkan tanpa membubuh dasar tertentu untuk itu. Senantiasa ajukanlah pertanyaan ini kepada diri saudara sendiri: Hal paling wajar apakah yang dapat dikatakan sesudah ini? Sampai di sini, pertanyaan apa yang paling logis yang dapat diajukan? Setelah mengemukakan pertanyaan ini, jawablah. Hadirin saudara seharusnya selalu dapat mengatakan, ”Dari apa yang telah saudara katakan tadi, saya dapat melihat bahwa pokok itu demikian.” Jika tidak ada dasar yang diletakkan, pokok tersebut biasanya akan dianggap tidak sesuai dengan urutan yang logis. Ada sesuatu yang kurang.
15 Dalam menyusun bahan, saudara harus meninjau bagian-bagian yang memang bergantung satu sama lain. Saudara harus berusaha melihat hubungan yang ada antara bagian-bagian demikian dan kemudian menyusunnya sesuai dengan itu. Ini sedikit banyak dapat diumpamakan seperti membangun sebuah rumah. Tidak ada pembangun yang akan mencoba mendirikan tembok-tembok tanpa meletakkan dasar terlebih dahulu. Ia juga tidak akan memasang pipa-pipa ledeng sesudah ia menambal semua tembok-temboknya. Demikianlah seharusnya dalam menyusun khotbah. Setiap bagian harus menyumbang dalam membentuk seluruh bangunan yang kokoh dan padat, masing-masing menurut urutannya, masing-masing menambahkan pada bagian yang terdahulu dan membuka jalan untuk bagian-bagian yang menyusul. Saudara harus selalu mempunyai alasan untuk urutan yang saudara gunakan dalam mengemukakan fakta-fakta yang terdapat dalam khotbah saudara.
16-20. Bagaimana seseorang dapat yakin bahwa ia mempunyai bahan yang berpautan dalam khotbahnya?
16 Hanya menggunakan bahan yang berpautan. Setiap pokok yang saudara gunakan harus diikat erat kepada khotbah. Kalau tidak, pokok itu akan kelihatan tidak berpautan, tidak cocok. Pokok itu akan merupakan bahan yang tidak ada sangkut pautnya, artinya, tidak mempengaruhi atau bertalian dengan pokok pembicaraan.
17 Namun, penasihat saudara tidak akan sesukanya menyebut sesuatu tidak bertalian, jika hal itu diikat ke dalam khotbah dengan baik, meskipun dari luar mungkin nampaknya tidak ada sangkut-pautnya. Mungkin saudara telah memilih pokok demikian untuk tujuan khusus, dan jika itu cocok dengan tema, dijadikan bagian dari khotbah, serta dimasukkan ke dalam urutan yang logis, penasihat saudara akan menerimanya.
18 Bagaimanakah bahan yang tidak bertalian dapat langsung dan dengan mudah diketahui pada waktu menyiapkan khotbah? Di sini rangka menurut pokok pembicaraan sangat efektif. Rangka ini membantu menggolongkan keterangan-keterangan saudara. Cobalah memakai kartu-kartu atau sesuatu yang serupa, dengan mencantumkan semua bahan yang bertalian pada setiap kartu. Sekarang, aturlah kembali kartu-kartu ini menurut urutan yang wajar yang menurut saudara bahan-bahan itu biasanya akan dipersembahkan. Ini tidak saja membantu dalam menentukan pendekatan apa yang harus dibuat kepada pokok itu, melainkan juga akan membantu mengenali hal-hal yang tidak bertalian dengan tema. Pokok-pokok yang tidak sesuai dalam urutan harus diatur kembali supaya akhirnya benar-benar cocok, jika itu memang perlu untuk argumennya. Tetapi, jika itu tidak perlu, sebaiknya dibuang saja karena tidak berpautan dengan tema.
19 Dari sini dapat segera dilihat bahwa tema khotbah, yang dipilih dengan mengingat hadirin serta tujuan yang hendak dicapai, itulah yang mengatur dalam menentukan apakah suatu pokok berpautan. Dalam keadaan-keadaan tertentu suatu pokok mungkin perlu sekali untuk mencapai tujuan saudara, bergantung kepada latar belakang hadirin, sedangkan, untuk hadirin yang lain atau dengan tema yang lain, pokok itu bisa jadi tidak diperlukan atau sama sekali tidak bertalian.
20 Mengingat ini, seberapa lengkapkah seharusnya bahan yang ditugaskan kepada saudara? Perkembangan yang logis dan berpautan jangan dikorbankan hanya untuk memasukkan setiap pokok yang mungkin termasuk dalam penugasan saudara. Namun, sebaiknya pilihlah latar yang memungkinkan saudara untuk memasukkan sebanyak mungkin daripadanya asalkan praktis, karena khotbah-khotbah latihan merupakan bagian yang bersifat pengajaran dari penyelenggaraan sekolah. Tetapi, gagasan-gagasan yang penting untuk memperkembangkan tema sebagai pokok-pokok kunci tidak boleh disisihkan.
21. Mengapa sangat penting agar gagasan-gagasan kunci tidak dihilangkan?
21 Tidak menghilangkan gagasan-gagasan kunci. Bagaimana saudara dapat tahu apakah suatu gagasan merupakan gagasan kunci atau tidak? Hal itu perlu jika saudara tidak dapat melaksanakan tujuan dari khotbah tanpa gagasan itu. Ini khususnya benar dalam perkembangan yang logis dan berpautan. Sebagai contoh, apa gunanya jika seorang pemborong membangun sebuah rumah bertingkat dua bagi saudara dan melupakan tangganya? Demikian pula, sebuah khotbah yang beberapa pokok pentingnya dihilangkan, perkembangannya tidak akan logis serta berpautan. Ada sesuatu yang kurang dan beberapa dari antara hadirin tidak akan dapat mengikuti saudara. Tetapi hal itu tidak terjadi apabila suatu khotbah berpautan dan logis perkembangannya.
-
-
Yakinkan Hadirin Saudara, Bertukarpikiran dengan MerekaPetunjuk Sekolah Pelayanan Teokratis
-
-
Pelajaran 31
Yakinkan Hadirin Saudara, Bertukarpikiran dengan Mereka
1, 2. Apa yang dimaksud dengan argumen yang meyakinkan?
1 Sewaktu berbicara saudara mengharap hadirin akan mendengarkan, tetapi itu tidak cukup. Saudara juga ingin agar mereka menerima argumen-argumen yang disampaikan dan menerapkannya. Ini akan mereka lakukan jika mereka yakin akan kebenaran dari apa yang saudara katakan dan jika hati mereka benar. Meyakinkan berarti memuaskan dengan bukti-bukti. Tetapi bukti-bukti saja tidak selalu cukup. Biasanya diperlukan argumen untuk menunjang bukti-bukti tersebut. Jadi, meyakinkan dengan argumen mencakup tiga faktor dasar: pertama, bukti-bukti itu sendiri; kedua, urutan penyampaian bukti-bukti tersebut, ketiga, cara dan metode yang digunakan untuk menyampaikannya. Dalam diskusi ini, berkenaan ”Argumennya meyakinkan” dalam lembaran Nasihat Khotbah, kita akan mempertimbangkan apa yang dikatakan, bukti-bukti apa yang diberikan, dan bukan cara menyampaikannya.
2 Pembahasan yang meyakinkan bergantung kepada alasan-alasan dasar yang benar, dan inilah yang akan diperhatikan oleh penasihat saudara. Bukti-bukti saudara harus meyakinkan bahkan andaikata seseorang harus membacanya sendiri dari bahan tercetak. Jika sifat meyakinkan dari khotbah saudara bergantung kepada cara saudara menyampaikan dan bukan atas dasar fakta-fakta yang digunakan untuk membuktikan suatu pokok, maka saudara perlu mengembangkan sifat ini lebih jauh agar argumen saudara benar-benar kuat dan berdasarkan fakta.
3-6. Tunjukkan mengapa suatu dasar harus diletakkan.
3 Meletakkan dasar. Sebelum menyampaikan argumen, saudara perlu meletakkan dasar yang benar. Saudara harus membuat jelas apa pokok pembicaraannya. Dan ada faedahnya jika saudara membubuh dasar pengertian bersama, dengan menandaskan hal-hal yang bersangkutan yang saudara setujui bersama.
4 Dalam beberapa hal istilah-istilah harus diberi batasan yang jelas. Semua hal yang tidak berpautan harus disisihkan. Jangan membubuh dasar dengan tergesa-gesa. Bubuhlah dasar yang kuat, namun jangan membuat dasar itu menjadi seluruh bangunan. Dalam membuktikan salahnya suatu argumen, analisalah berbagai pokok yang digunakan untuk menunjangnya, agar saudara dapat menemukan pokok-pokok yang lemah dan untuk membantu saudara menentukan arah dari argumen saudara serta bagaimana sampai kepada pokok persoalannya.
5 Dalam menyiapkan khotbah, saudara harus berusaha membayangkan lebih dulu berapa banyak yang sudah diketahui oleh hadirin tentang pokok pembicaraan saudara. Ini sedikit banyak akan menentukan berapa banyak yang harus saudara letakkan sebagai dasar sebelum saudara betul-betul mulai menyampaikan argumen-argumen saudara.
6 Kebijaksanaan dan sopan santun Kristen mengharuskan pendekatan yang lemah lembut dan penuh timbang rasa, meskipun ini bukan hal yang sedang kita bahas di sini. Selalu gunakan sebanyak mungkin dari pengetahuan saudara mengenai prinsip-prinsip Kristen dan bukalah hati serta pikiran hadirin.
7-13. Terangkan arti dari ”bukti yang kuat diberikan”.
7 Memberikan bukti-bukti yang memuaskan. Suatu masalah belum ”dibuktikan” hanya karena saudara, sebagai pembicara, mempercayai atau menyatakannya. Saudara harus selalu ingat bahwa hadirin berhak penuh untuk bertanya, ”Mengapa itu benar?” atau ”Mengapa saudara berkata demikian?” Sebagai pembicara, saudara mempunyai kewajiban untuk dapat menjawab pertanyaan ”Mengapa?”
8 Pertanyaan-pertanyaan ”Bagaimana?” ”Siapa?” ”Di mana?” ”Bilamana?” ”Apa?” hanya menghasilkan fakta-fakta dan keterangan sebagai jawaban, tetapi pertanyaan ”Mengapa?” menghasilkan alasan-alasan. Dalam hal ini pertanyaan tersebut berdiri sendiri dan dari saudara dituntut lebih banyak daripada sekedar fakta-fakta. Ini menuntut daya berpikir. Karena itu, dalam menyiapkan khotbah, ajukan pertanyaan yang sama kepada diri sendiri berulang-ulang, ”Mengapa?” Kemudian pastikan bahwa saudara dapat menyediakan jawaban.
9 Sebagai alasan untuk pernyataan yang saudara berikan, sering kali saudara dapat mengutip seseorang yang diakui mempunyai wewenang. Ini semata-mata berarti bahwa jika ia yang mengatakannya, itu pasti benar karena ia diakui sebagai orang yang mengetahui. Hal itu memberi cukup alasan untuk percaya. Yang paling Berwenang dalam bidang ini, tentunya, adalah Allah Yehuwa. Maka, mengutip ayat dari Alkitab yang menunjang sudah cukup kuat untuk membuktikan suatu pokok. Ini disebut bukti ”kesaksian” karena merupakan ”kesaksian” dari saksi yang dapat dipercaya.
10 Dalam memberikan bukti kesaksian, saudara harus yakin bahwa saksi saudara dapat diterima oleh hadirin. Jika saudara menggunakan wewenang manusia, pastikan latar belakang mereka dan bagaimana mereka akan dipandang. Banyak orang menerima Alkitab sebagai Wewenang ilahi, tetapi ada yang memandangnya sebagai hasil karya manusia dan karena itu wewenangnya tidak mutlak. Dalam keadaan demikian saudara mungkin harus menggunakan bukti-bukti lain atau mungkin membuktikan lebih dahulu keaslian dari Alkitab.
11 Perlu diperhatikan. Semua bukti harus digunakan secara jujur. Jangan mengutip sesuatu di luar ikatan kalimatnya. Pastikan bahwa apa yang saudara katakan persis sama dengan apa yang dimaksud oleh kata-kata dari wewenang yang saudara kutip. Hendaklah spesifik dalam referensi saudara. Juga hati-hatilah dengan angka-angka. Kalau disampaikan secara salah, ini bisa menjadi senjata makan tuan dengan akibat-akibat yang merugikan. Ingatlah cerita tentang orang yang tidak dapat berenang dan yang tenggelam dalam sungai yang rata-rata dalamnya hanya satu meter. Ia lupa ada lubang di tengah yang dalamnya tiga meter.
12 Selain kesaksian manusia atau wewenang ilahi ada juga bukti-bukti yang tidak langsung. Itu adalah bukti yang didasarkan atas kesimpulan yang ditarik dari fakta-fakta dan bukan kutipan dari saksi-saksi. Untuk dapat meneguhkan kesimpulan saudara dan membuat bukti yang tidak langsung cukup meyakinkan, saudara harus mempunyai cukup banyak fakta dan argumen untuk menunjang kesimpulan saudara.
13 Jika bukti-bukti yang saudara kemukakan secara keseluruhan (tidak usah dalam urutannya) sudah cukup untuk memuaskan hadirin saudara, penasihat akan menganggapnya memuaskan. Penasihat akan bertanya kepada diri sendiri, sambil memandangnya dari segi hadirin, ”Apakah aku diyakinkan?” Jika memang demikian, maka ia akan memuji persembahan saudara.
14. Apakah yang dimaksud dengan ikhtisar yang efektif?
14 Ikhtisar yang efektif. Suatu bentuk ikhtisar tertentu biasanya perlu untuk argumen yang meyakinkan. Itu merupakan cara terakhir untuk menggugah pikiran, meningkatkan penghargaan atas argumen yang digunakan. Suatu ikhtisar hendaknya jangan hanya sekedar pernyataan kembali dari fakta-fakta, meskipun pada dasarnya ini hanya soal ”karena ini begitu, dan karena itu begitu, maka kita menarik kesimpulan bahwa . . .” Corak ini dimaksudkan untuk mengikat semua pokok bersama dan menarik kesimpulan daripadanya. Sering kali ikhtisar yang efektif justru membuat argumen-argumen dimengerti sehingga benar-benar meyakinkan.
**********
15, 16. Mengapa kita harus membantu hadirin berpikir?
15 Meskipun argumen-argumen yang saudara gunakan dalam khotbah mungkin benar, sekedar menyatakan fakta-faktanya saja tidak cukup. Saudara harus menyampaikannya sedemikian rupa sehingga saudara membantu hadirin untuk berpikir, untuk mengerti argumen-argumen saudara dan sampai pada kesimpulan yang sama seperti saudara. Inilah yang dimaksudkan dalam lembaran Nasihat Khotbah sebagai ”Hadirin dibantu untuk berpikir”.
16 Saudara hendaknya ingin memiliki sifat ini karena Allah mengajak kita berpikir. Selain itu, Yesus menjelaskan perumpamaan-perumpamaannya kepada murid-muridnya dan memperlengkapi mereka untuk mengajarkan kebenaran-kebenaran yang sama ini kepada orang-orang lain. Maka, membantu hadirin berpikir, berarti menggunakan teknik-teknik yang perlu untuk membantu hadirin mengerti argumen-argumen saudara, sampai kepada kesimpulan saudara dan diperlengkapi untuk menggunakan argumen-argumen saudara untuk mengajar orang lain lagi.
17, 18. Bagaimana dasar pengertian bersama dipelihara?
17 Memelihara dasar pengertian bersama. Apa yang saudara katakan dan juga cara saudara mengatakannya, penting untuk membubuh dasar pengertian bersama pada permulaan khotbah. Tetapi dasar pengertian bersama ini hendaknya jangan hilang pada waktu khotbah berlangsung, kalau tidak hadirin tidak akan mengikuti saudara. Saudara harus terus menyatakan pokok-pokok saudara sedemikian rupa sehingga akan menarik bagi pikiran dari orang-orang di antara hadirin. Ini menuntut agar saudara mempertimbangkan pandangan mereka terhadap pokok yang sedang dibahas dan menggunakan pengetahuan ini untuk membantu mereka melihat betapa masuk akal argumen-argumen saudara.
18 Suatu contoh klasik tentang membubuh dasar pengertian bersama dan memeliharanya sampai akhir, maksudnya, membantu hadirin berpikir, adalah argumen rasul Paulus, yang dicatat di Kisah 17:22-31. Perhatikan bagaimana ia membubuh dasar pengertian bersama pada permulaannya dan dengan bijaksana memeliharanya selama seluruh khotbah. Pada penutup khotbah, ia berhasil meyakinkan beberapa orang dari antara hadirin mengenai kebenaran, termasuk salah seorang hakim yang hadir.—Kisah 17:33, 34.
19-23. Sebutkan metode-metode bagaimana pokok-pokok dapat dikembangkan dengan memadai.
19 Perkembangan pokok-pokok yang memadai. Agar hadirin tertentu dapat mempertimbangkan suatu pokok, mereka harus memiliki cukup keterangan yang dipersembahkan sedemikian rupa sehingga mereka tidak menolak argumen-argumen itu hanya karena mereka tidak mengerti sepenuhnya. Terserah kepada saudara untuk membantu mereka.
20 Untuk melakukannya secara efektif, hati-hatilah untuk tidak membahas terlalu banyak bahan. Segi yang baik dari bahan saudara akan hilang jika disampaikan dengan tergesa-gesa. Gunakan cukup waktu untuk menjelaskan pokok-pokok secara saksama, sehingga hadirin tidak hanya akan mendengar tetapi juga mengerti. Bila saudara mengemukakan suatu pokok penting, gunakan cukup waktu untuk memperkembangkannya. Jawablah pertanyaan-pertanyaan seperti Mengapa? Siapa? Bagaimana? Apa? Bilamana? Di Mana? Dengan demikian saudara membantu hadirin menangkap buah pikirannya lebih penuh. Sewaktu-waktu saudara dapat menyampaikan argumen-argumen yang menunjang dan membantah suatu pokok untuk menandaskan betapa masuk akal pendapat saudara. Demikian pula, setelah menyatakan sebuah prinsip, saudara mungkin merasa berfaedah untuk melukiskannya dengan sebuah ilustrasi agar hadirin melihat bagaimana penerapannya secara praktis. Tentu saja, saudara harus bijaksana. Seberapa luas suatu pokok dikembangkan bergantung pada waktu yang tersedia dan pentingnya pokok itu terhadap bahan yang sedang dibahas.
21 Pertanyaan-pertanyaan selalu baik untuk membantu hadirin berpikir. Pertanyaan retorik, yaitu, pertanyaan yang diajukan kepada hadirin tanpa mengharapkan jawaban, disertai istirahat yang tepat, akan merangsang orang untuk berpikir. Jika saudara sedang berbicara hanya kepada satu atau dua orang, seperti dalam dinas pengabaran, saudara dapat mendesak mereka untuk mengeluarkan pendapat mereka dengan pertanyaan-pertanyaan seraya saudara berbicara, dan dengan demikian memastikan bahwa mereka memahami dan menerima buah-buah pikiran yang sedang disampaikan.
22 Karena saudara hendak menuntun jalan pikiran hadirin, saudara harus membangun di atas perkara-perkara yang sudah mereka ketahui, apakah dari pengalaman mereka sendiri atau bagian terdahulu dari pembicaraan saudara. Jadi, dalam menentukan apakah saudara telah cukup memperkembangkan pokok-pokok tertentu, saudara harus mempertimbangkan apa yang sudah diketahui hadirin tentang pokok pembicaraannya.
23 Selalu penting mengawasi reaksi hadirin untuk mengetahui apakah mereka mengikuti saudara. Jika perlu, ulangi dan jelaskan pokok-pokoknya sebelum melanjutkan dengan argumen berikut. Jika saudara tidak memperhatikan untuk membantu mereka berpikir, dengan mudah mereka kehilangan jejak dari urutan jalan pikiran saudara.
24. Membuat penerapan dari argumen bagi hadirin mempunyai tujuan baik apa?
24 Membuat penerapan bagi hadirin. Pada waktu menyampaikan argumen apapun, berusahalah memberi bantuan lebih lanjut dengan menunjukkan secara jelas apa hubungannya dengan soal yang sedang dibahas. Juga, masukkanlah motivasi ke dalam khotbah saudara, mendesak pendengar saudara untuk bertindak sesuai dengan fakta-fakta yang telah disampaikan. Jika mereka benar-benar diyakinkan oleh apa yang saudara katakan, mereka akan siap untuk bertindak.
-
-
Tekanan Arti dan ModulasiPetunjuk Sekolah Pelayanan Teokratis
-
-
Pelajaran 32
Tekanan Arti dan Modulasi
1, 2. Apa peranan tekanan arti dalam suatu khotbah?
1 Tekanan arti disertai modulasi dapat menghasilkan khotbah yang penuh arti dan hidup. Tanpa kedua hal ini, buah pikiran akan membingungkan dan minat pun hilang. Dari antara kedua sifat ini, tekanan arti biasanya lebih mudah dikuasai, maka kita akan memperhatikan sifat ini lebih dulu.
2 Ingatlah apa yang hendak dicapai dengan tekanan arti. Tekanan arti dimaksud untuk menandaskan kata-kata atau buah-buah pikiran sedemikian rupa sehingga dapat menyampaikan arti yang tepat dan menunjukkan kepada hadirin pentingnya kata-kata atau buah-buah pikiran tersebut secara relatif. Kadang-kadang tekanan yang dibutuhkan itu berat, atau ringan, tetapi ada kalanya diperlukan tekanan yang lebih halus.
3-7. Ceritakan bagaimana tekanan arti yang baik dapat dikuasai.
3 Menekankan kata-kata yang mengandung buah pikiran dalam kalimat. Menempatkan tekanan pada dasarnya adalah soal kata-kata mana yang perlu diberi tekanan. Ini mencakup mengenali kata-kata yang mengandung buah pikiran itu dan, dengan tekanan yang tepat, membuat kata-kata itu menonjol dibandingkan kata-kata lain. Jika kata-kata lain yang tidak mengandung buah pikiran diberi tekanan, maka artinya akan jadi kabur atau membingungkan.
4 Dalam percakapan sehari-hari yang wajar, banyak orang akan membuat maksud mereka jelas. Jika saudara tidak mempunyai kebiasaan tutur kata tertentu, seperti misalnya selalu memberi tekanan pada setiap kata depan, corak ini sebenarnya tidak akan menimbulkan problem yang sulit. Kelemahan apapun yang nyata dalam soal memberi tekanan, umumnya disebabkan karena kebiasaan semacam itu. Jika itu problem saudara, berusahalah mengatasinya dengan tekun. Kebiasaan-kebiasaan demikian biasanya tidak dapat dihilangkan dengan mengucapkan khotbah satu atau dua kali, maka penasihat tidak akan mengekang kemajuan saudara jika kesalahan dalam memberikan tekanan tidak terlalu mencolok sehingga mengacaukan penjelasan. Namun untuk khotbah yang paling berhasil dan efektif, teruslah berusaha sampai saudara betul-betul menguasai cara menempatkan tekanan dengan tepat.
5 Biasanya lebih banyak perhatian perlu diberikan kepada tekanan arti dalam persiapan untuk membacakan di hadapan umum daripada untuk khotbah yang semata-mata ekstemporer. Demikian halnya pada pembacaan ayat-ayat dalam sebuah khotbah, juga dalam pembacaan paragraf pada perhimpunan pelajaran Menara Pengawal. Alasan mengapa lebih banyak perhatian perlu diberikan kepada tekanan arti dalam pembacaan adalah karena bahan yang kita baca biasanya ditulis oleh orang lain. Maka kita perlu mempelajarinya dengan saksama, menganalisa buah-buah pikiran dan mengulangi istilah-istilahnya secara terpisah sampai hal itu menjadi wajar bagi kita.
6 Cara bagaimana penandasan atau tekanan arti dilakukan? Ada berbagai cara, dan sering kali dikombinasikan: dengan volume suara yang lebih besar, dengan lebih banyak semangat atau perasaan, dengan merendahkan nada suara, dengan meninggikan nada suara, dengan pengucapan secara lambat dan hati-hati, dengan menambah kecepatan, dengan beristirahat sebelum atau sesudah keterangan (atau keduanya), dengan isyarat serta perubahan air muka.
7 Mula-mula perhatikan apakah penandasan ditempatkan dengan benar dan cukup kuat untuk menonjolkan kata-kata kunci. Maka dalam mempersiapkan bahan, garis bawahi kata-kata kunci jika saudara akan membacanya. Jika saudara berbicara secara ekstemporer, camkan buah-buah pikirannya dengan jelas. Gunakan kata-kata kunci dalam catatan dan kemudian beri tekanan pada kata-kata itu.
8, 9. Mengapa penting memberi tekanan pada pokok-pokok utama?
8 Menekankan pokok-pokok utama dalam khotbah. Corak dari tekanan arti macam inilah yang sering kurang. Dalam keadaan demikian tidak ada puncak-puncak dalam khotbah. Tidak ada sesuatu yang menonjol dibanding semua hal lain. Bila khotbah telah selesai, sering kali orang tidak dapat mengingat apa-apa sebagai sesuatu yang istimewa. Bahkan jika pokok-pokok utama cukup dipersiapkan untuk membuatnya menonjol, kegagalan untuk memberi tekanan yang benar dalam persembahan dapat melemahkan pokok-pokok itu sedemikian rupa sehingga bisa jadi pokok-pokok tersebut akan hilang.
9 Untuk mengatasi problem ini, saudara pertama-tama harus menganalisa bahan dengan teliti. Pokok apakah yang paling penting dari khotbah ini? Apa pokok penting yang kedua? Andaikata saudara diminta memberikan sari dari khotbah itu dalam satu atau dua kalimat, apa yang akan saudara katakan? Inilah salah satu cara terbaik untuk menonjolkan bagian-bagian yang penting. Setelah saudara mengetahui semuanya ini, tandailah dalam catatan atau naskah saudara. Saudara kemudian dapat menyusun khotbah dengan pokok-pokok ini sebagai puncak-puncaknya. Ini merupakan puncak-puncak dalam khotbah, dan jika saudara telah membuat rangka yang baik dari bahan, dan saudara menyampaikannya dengan tekanan yang kuat, pokok-pokok utama akan dapat diingat. Itulah tujuan saudara dalam berkhotbah.
**********
10-12. Terangkan apa artinya modulasi.
10 Tekanan arti yang sederhana memungkinkan hadirin mengerti apa yang saudara katakan, tetapi variasi dalam tekanan yang dihasilkan oleh modulasi dapat membuat mereka senang mendengarkan. Apakah saudara menggunakan modulasi dengan baik dalam dinas pengabaran dan dalam khotbah-khotbah yang merupakan hak istimewa bagi saudara untuk menyampaikannya di sidang?
11 Modulasi adalah suatu variasi secara berselang dalam tinggi rendah nada suara, kecepatan dan kekuatan, yang dimaksudkan untuk memelihara minat orang dan menunjukkan buah-buah pikiran saudara yang progresif dan emosi saudara sebagai pembicara. Agar saudara mendapat hasil yang baik, modulasi hendaknya meliputi semua corak variasi yang dimungkinkan oleh bahan khotbah apapun. Pada tingkat yang paling tinggi dari modulasi secara berturut-turut dalam kekuatan yang berkurang, saudara dapat menunjukkan kegairahan, semangat dan minat yang sungguh. Pada tingkat menengah, minat yang lembut, sedangkan dalam tingkat yang paling bawah, kesungguhan dan kekhidmatan.
12 Saudara tentu tidak mau seolah-olah bersandiwara dengan ekspresi yang ekstrim. Percakapan kita hendaknya hidup, tidak terlalu khidmat seperti kaum pendeta yang ortodoks, tidak pula secara histeris yang tidak terkendali seperti dilakukan oleh para penginjil di tanah lapang. Wibawa serta respek yang sepatutnya terhadap berita Kerajaan akan mencegah cara-cara yang bukan Kristen semacam itu.
13, 14. Apa yang dimaksud dengan variasi dalam kekuatan suara?
13 Variasi dalam kekuatan. Mungkin cara termudah untuk mendapat modulasi ialah dengan kekuatan suara yang bervariasi. Inilah satu cara untuk mengarahkan khotbah kepada klimaks-klimaksnya dan menandaskan pokok-pokok utama dari khotbah. Tetapi, menambah kekuatan suara saja tidak selalu akan menonjolkan pokok-pokoknya. Kadang-kadang hal itu dapat membuat pokok-pokok itu lebih menonjol, tetapi dengan menambah kekuatan suara pada waktu menyampaikannya, maksud saudara mungkin akan gagal. Boleh jadi pokok-pokok saudara lebih membutuhkan kehangatan serta perasaan dan bukan nada suara yang bersemangat. Dalam hal ini, kurangi volume saudara tetapi tingkatkan semangat. Demikian juga jika saudara sedang menyatakan rasa kuatir atau takut.
14 Sekalipun variasi dalam kekuatan suara memang perlu untuk modulasi, hendaknya saudara berhati-hati agar jangan berbicara terlalu pelan sehingga ada orang yang tidak dapat mendengar. Kekuatan suara juga jangan diperbesar begitu rupa sehingga kedengaran tidak enak.
15-17. Bagaimana variasi dalam kecepatan khotbah meningkatkan mutu khotbah?
15 Variasi dalam kecepatan. Tidak banyak pembicara baru yang akan membuat variasi dalam kecepatan suara di mimbar. Sebenarnya kita terus melakukan hal itu dalam percakapan sehari-hari, karena kata-kata kita secara spontan keluar dari mulut langsung pada waktu kita memikirkan atau membutuhkannya. Tetapi, di mimbar, pembicara yang baru biasanya tidak dapat melakukan hal ini. Ia menyiapkan kata-kata serta ungkapan-ungkapan dengan terlalu teliti, sehingga semua kata keluar dengan kecepatan yang sama. Berbicara dari rangka akan membantu memperbaiki kelemahan ini.
16 Kecepatan berbicara yang umum dalam khotbah hendaknya sedang saja. Pokok-pokok yang kurang penting, penuturan, kebanyakan dari ilustrasi, dan sebagainya, memungkinkan saudara untuk menambah kecepatan. Argumen-argumen yang lebih berbobot, puncak-puncak serta pokok-pokok utama biasanya memerlukan penyampaian yang lebih lambat. Dalam beberapa hal, untuk penandasan yang khususnya kuat, saudara dapat memberi tekanan dengan lambat dan hati-hati. Saudara bahkan dapat sama sekali berhenti, dengan istirahat, yang sama sekali mengubah kecepatan.
17 Sedikit peringatan. Jangan berbicara begitu cepat sehingga merusak pengucapan. Suatu cara berlatih yang paling baik selama waktu-waktu latihan pribadi adalah mencoba membaca dengan suara keras secepat yang dapat saudara lakukan tanpa tersandung. Baca paragraf yang sama berulang kali, dengan terus menambah kecepatan tanpa tersandung atau merusak lafalan. Lalu, cobalah membaca selambat mungkin. me-man-jang-kan bu-ny-i hu-ru-f hi-du-p-nya, dan tidak menelan kata-kata. Kemudian tambah atau kurangi kecepatan secara silih berganti dan tidak teratur, sampai suara jadi lentuk dan akan menuruti kemauan saudara. Sekarang bila saudara berbicara, perubahan kecepatan saudara akan terjadi secara otomatis, sesuai dengan arti dari apa yang saudara katakan.
18-20. Terangkan bagaimana kemahiran dalam tinggi rendah suara dapat diperoleh.
18 Variasi dalam tinggi rendah suara. Perubahan dalam tinggi rendah suara mungkin adalah cara yang paling sukar dari modulasi, maksudnya, dalam tingkat manapun. Memang, kita selalu menandaskan kata-kata dengan sedikit meninggikan suara, biasanya disertai suara yang sedikit lebih keras. Kita seolah-olah memukul kata itu.
19 Tetapi jika saudara ingin mendapat faedah terbesar dari segi modulasi ini, dibutuhkan lebih banyak perubahan dalam tinggi rendah suara. Cobalah membaca dengan dengan suara keras Kejadian 18:3-8 dan 19:6-9. Perhatikan banyaknya variasi, dari kecepatan maupun tinggi rendah suara yang dituntut dalam membaca ayat-ayat ini. Kegairahan dan semangat selalu dinyatakan dengan suara yang lebih tinggi daripada kesedihan dan kekuatiran. Bila emosi-emosi demikian ada dalam bahan saudara, nyatakanlah sesuai dengan itu.
20 Salah satu sebab utama dari kelemahan dalam segi tutur kata ini adalah kurangnya tingkat nada suara yang memadai. Jika itu kesulitan saudara, berusahalah mengatasinya. Cobalah latihan yang serupa dengan apa yang disarankan sebelumnya dalam pelajaran ini. Namun dalam hal ini, usahakan untuk mengubah tinggi rendah suara dan bukan kecepatannya.
21-24. Mengapa modulasi harus cocok dengan buah pikiran atau emosi?
21 Modulasi sesuai dengan buah pikiran atau emosi. Dari pembicaraan kita begitu jauh mengenai sifat ini, sudah jelas bahwa variasi tidak dapat diperoleh hanya dengan mengubah suara. Ekspresi saudara harus sesuai dengan suasana hati dari apa yang saudara ucapkan. Kalau begitu, di manakah modulasi harus dimulai? Jelas, ini dimulai dengan bahan yang telah saudara persiapkan untuk disampaikan. Jika dalam khotbah hanya ada argumen atau hanya anjuran saja, persembahan saudara akan memiliki sedikit sekali variasi. Maka analisalah rangka khotbah itu setelah saudara selesai dan pastikan bahwa saudara sudah mempunyai semua bahan untuk menyampaikan persembahan yang bersemangat dan juga penuh arti.
22 Tetapi kadang-kadang di tengah-tengah khotbah, saudara merasa perlu mengubah kecepatan. Saudara merasa bahwa khotbah saudara terlalu lambat. Apa yang dapat saudara lakukan? Di sini kita melihat lagi keuntungan dari khotbah ekstemporer. Saudara dapat mengubah sifat dari bahan seraya saudara terus berbicara. Cara bagaimana? Satu cara adalah dengan berhenti berbicara dan mulai membacakan sebuah ayat dari Alkitab. Atau saudara dapat mengubah suatu pernyataan tertentu menjadi pertanyaan, disertai istirahat untuk menandaskan. Mungkin saudara dapat menyisipkan suatu ilustrasi sebagai pengganti yang cocok dengan argumen dalam rangka saudara.
23 Teknik-teknik ini yang digunakan selama khotbah, tentunya bagi pembicara yang berpengalaman. Tetapi saudara dapat memakai saran-saran yang sama ini dalam menyiapkan bahan sebelum penugasan.
24 Kata orang, modulasi adalah bumbu dalam suatu khotbah. Jika cara yang benar digunakan dan dalam jumlah yang tepat, modulasi dapat membuat bahan saudara dinikmati sepenuhnya dan menyenangkan bagi hadirin.
-
-
Menyatakan Semangat dan KehangatanPetunjuk Sekolah Pelayanan Teokratis
-
-
Pelajaran 33
Menyatakan Semangat dan Kehangatan
1. Apa yang akan menggerakkan semangat?
1 Semangat adalah kehidupan dari sebuah khotbah. Jika saudara tidak bersemangat dalam apa yang saudara katakan, hadirin pasti juga tidak. Jika khotbah itu tidak menggerakkan saudara, itu juga tidak akan menggerakkan mereka. Tetapi agar saudara sebagai pembicara dapat menyatakan semangat yang tulus, saudara harus yakin betul bahwa hadirin perlu mendengarkan apa yang akan saudara sampaikan. Itu berarti bahwa saudara mempertimbangkan mereka pada waktu mempersiapkan khotbah, memilih pokok-pokok yang akan betul-betul berfaedah bagi mereka dan mempengaruhi mereka sedemikian rupa sehingga pendengar segera menghargai nilainya. Jika saudara telah melakukannya, saudara akan terdorong untuk berbicara dengan kesungguhan, dan hadirin akan memberikan tanggapan.
2-5. Bagaimana persembahan yang hidup menyatakan semangat?
2 Semangat diperlihatkan oleh persembahan yang hidup. Semangat paling jelas kelihatan dalam seberapa hidupnya persembahan saudara. Saudara tidak boleh bersikap acuh tak acuh atau lesu. Air muka, nada suara dan cara berbicara saudara harus betul-betul hidup. Itu berarti saudara harus berbicara dengan wibawa dan kuasa. Saudara harus kedengaran yakin betul namun tidak dogmatis. Meskipun saudara harus bersemangat, saudara tidak boleh lupa diri. Hilangnya pengendalian diri mengakibatkan hilangnya perhatian hadirin.
3 Semangat bersifat menular. Jika saudara bersemangat dengan khotbah saudara, hadirin akan juga mendapat semangat itu. Selanjutnya, kontak yang baik dengan hadirin, akan dipantulkan kembali kepada saudara dan akan memelihara semangat saudara tetap hidup. Sebab, jika tidak demikian, hadirin saudara juga akan lesu.
4 Paulus berkata kita harus bernyala-nyala dengan roh Allah. Jika demikian halnya dengan saudara, persembahan saudara yang hidup akan menyebabkan roh Allah mengalir kepada hadirin dan menggerakkan mereka untuk bertindak. Apolos menunjukkan semangat demikian dalam berkhotbah dan ia disebut pembicara yang fasih.—Rm. 12:11; Kis. 18:25; Ayb. 32:18-20; Yer. 20:9.
5 Agar dapat bersemangat dengan sebuah khotbah, saudara harus yakin bahwa saudara mempunyai sesuatu yang berharga untuk disajikan. Persiapkan bahan yang akan dipersembahkan sampai saudara merasa mempunyai sesuatu yang mula-mula akan memberi semangat kepada saudara sebagai pembicara. Bahan tidak usah baru, tetapi pendekatan saudara kepada pokok pembicaraan bisa berbeda. Jika saudara merasa bahwa saudara mempunyai sesuatu untuk hadirin yang akan menguatkan mereka dalam ibadat, yang akan menjadikan mereka orang Kristen atau rohaniwan yang lebih baik, maka saudara memiliki alasan kuat untuk bersemangat dengan khotbah saudara, dan pasti akan demikian halnya.
6-9. Apa peranan bahan dalam suatu khotbah terhadap semangat dalam persembahannya?
6 Semangat cocok dengan bahan. Supaya ada variasi dalam khotbah dan agar hadirin mendapat faedah, saudara jangan terus memelihara semangat pada taraf terlalu tinggi selama seluruh khotbah. Jika demikian halnya, mereka sudah lelah bahkan sebelum mulai bertindak. Hal ini sekali lagi menandaskan perlunya mempersiapkan bahan dengan cukup variasi sehingga ada variasi dalam cara saudara menyampaikan. Ini berarti bahwa beberapa pokok yang saudara bahas, sewajarnya harus disampaikan dengan lebih bersemangat daripada pokok-pokok lain, dan pokok-pokok tersebut harus dengan mahir dijalin ke dalam khotbah.
7 Pokok-pokok utama khususnya harus disampaikan dengan bersemangat. Harus ada puncak-puncak dalam khotbah saudara, klimaks-klimaks ke arah mana saudara mengantar hadirin. Karena pokok-pokok ini merupakan puncak-puncak dari khotbah saudara, pokok-pokok ini biasanya dimaksudkan untuk menggerakkan hadirin, untuk mencamkan penerapan dari uraian saudara, alasan-alasan saudara atau saran saudara. Setelah berhasil meyakinkan hadirin, saudara sekarang harus menggerakkan mereka, menunjukkan faedah dari kesimpulan-kesimpulan saudara, keriangan dan hak-hak istimewa yang akan mereka peroleh jika mereka mematuhi keyakinan-keyakinan itu. Ini menuntut persembahan yang bersemangat.
8 Namun, meskipun demikian, saudara tidak boleh menjadi acuh tak acuh dalam persembahan saudara pada saat-saat lain. Saudara tidak boleh kehilangan keyakinan dalam pokok saudara atau menunjukkan bahwa saudara tidak berminat lagi. Bayangkan dalam pikiran saudara seekor kijang yang makan rumput dengan tenang di sebuah lapangan. Meskipun nampak tenang, kekuatan yang besar tersembunyi dalam kaki-kaki yang ramping yang dapat membawanya lari dalam lompatan-lompatan yang hebat segera setelah ia tahu ada bahaya. Ia tenang tetapi terus waspada. Saudara juga dapat demikian, bahkan sewaktu saudara tidak berbicara dengan semangat penuh.
9 Maka apa arti semua hal ini? Persembahan yang hidup tidak pernah dipaksakan. Harus ada alasan untuk itu dan bahan saudara harus menyediakan alasan itu bagi saudara. Penasihat akan memperhatikan apakah semangat saudara cocok untuk bahan saudara. Apakah ada terlalu banyak semangat atau terlalu kurang, atau tidak pada tempatnya? Tentu, ia juga akan mengingat kepribadian saudara sendiri, tetapi ia akan memberi anjuran jika saudara pemalu dan pendiam serta mengingatkan jika saudara terlalu bersemangat dalam segala sesuatu yang saudara katakan. Maka sesuaikan semangat dengan bahan dan buatlah bahan saudara bervariasi sehingga persembahan yang bersemangat akan seimbang selama seluruh khotbah.
**********
10-12. Apa yang dimaksud dengan kehangatan dan perasaan?
10 Semangat sangat erat hubungannya dengan kehangatan dan perasaan. Namun, kedua hal ini didorong oleh emosi yang berbeda dan memberikan hasil-hasil yang berbeda pada hadirin. Sebagai pembicara, saudara biasanya bersemangat karena bahan, akan tetapi saudara hangat bila mengingat hadirin dengan keinginan untuk membantu mereka. ”Kehangatan, perasaan”, yang terdapat pada lembaran Nasihat Khotbah, patut mendapat perhatian yang sungguh-sungguh.
11 Jika saudara menyatakan kehangatan dan perasaan, hadirin akan merasakan bahwa saudara seorang yang memperlihatkan kasih, ramah dan mempunyai belas kasihan. Mereka akan tertarik kepada saudara seperti kepada api pada malam yang dingin. Persembahan yang bersemangat bersifat menggerakkan, tetapi perasaan yang lembut juga perlu. Meyakinkan pikiran saja tidak selalu cukup; saudara harus menggerakkan hati.
12 Misalnya, apakah cocok untuk membaca Galatia 5:22, 23 tentang kasih, kesabaran, kebaikan dan kelemahlembutan tanpa perwujudan dari sifat-sifat itu dalam cara penyampaian saudara sendiri? Perhatikan juga, perasaan lembut yang diperlihatkan dalam kata-kata Paulus di 1 Tesalonika 2:7, 8. Ini adalah pernyataan-pernyataan yang menuntut kehangatan dan perasaan. Bagaimana hendaknya ini diperlihatkan?
13, 14. Bagaimana kehangatan dapat dinyatakan dalam air muka?
13 Kehangatan nyata dalam air muka. Jika saudara mempunyai perasaan yang hangat terhadap hadirin, ini seharusnya nyata dari wajah saudara. Jika tidak, hadirin mungkin tidak yakin bahwa saudara sungguh-sungguh hangat terhadap mereka. Tetapi kehangatan harus tulus. Ini tidak dapat dipasang sebagai kedok. Kehangatan dan perasaan juga jangan dikacaukan dengan sifat sentimental dan emosional. Air muka yang ramah akan memperlihatkan ketulusan dan kesungguhan.
14 Kebanyakan saudara akan berbicara kepada hadirin yang ramah. Maka, jika saudara sungguh-sungguh melihat kepada hadirin, saudara akan mempunyai perasaan hangat terhadap mereka. Saudara akan merasa tenang dan ramah. Pilihlah seorang di antara hadirin yang mempunyai wajah yang istimewa ramah. Bercakaplah dengan orang itu secara pribadi untuk beberapa saat. Pilihlah orang lain lagi dan bercakaplah dengannya. Dengan demikian, bukan hanya ada kontak yang baik dengan hadirin, tetapi saudara sendiri juga akan tertarik kepada hadirin, dan sebaliknya air muka yang hangat akan menarik hadirin kepada saudara.
15-19. Tunjukkan apa yang akan membuat kehangatan dan perasaan nyata dalam suara si pembicara.
15 Kehangatan dan perasaan nyata dalam nada suara. Diakui bahwa bahkan hewan dapat menafsirkan perasaan saudara sampai taraf tertentu dari nada suara. Kalau begitu, betapa lebih lagi reaksi hadirin terhadap suara yang menyatakan kehangatan dan perasaan melalui nada suara.
16 Jika saudara sungguh-sungguh merasa diri jauh dari hadirin, jika saudara lebih memikirkan kata-kata yang saudara ucapkan daripada bagaimana hadirin akan menyambutnya, hal ini sulit disembunyikan dari salah seorang hadirin yang memperhatikan baik-baik. Tetapi jika minat dengan tulus dipusatkan kepada mereka yang saudara ajak bicara dan saudara sungguh-sungguh ingin menyampaikan buah-buah pikiran itu kepada mereka sehingga mereka akan berpikir seperti saudara, perasaan saudara akan terpantul dalam setiap perubahan suara.
17 Namun, jelas ini harus minat yang tulus. Kehangatan yang ikhlas tidak dapat didorong seperti juga semangat. Seorang pembicara tidak boleh sekali-kali meninggalkan kesan bahwa keramahannya bersifat munafik. Dan kehangatan serta perasaan juga tidak boleh dikacaukan dengan sifat sentimental atau suara gemetar yang dibuat-buat, emosi murahan.
18 Jika saudara mempunyai suara yang keras, serak, memang akan sukar untuk menyatakan kehangatan dalam pernyataan. Saudara harus berusaha dengan sungguh-sungguh dan tekun untuk mengatasi problem sedemikian. Ini soal mutu suara dan menuntut waktu, tetapi dengan perhatian dan usaha yang memadai saudara dapat berbuat banyak untuk memperbaiki kehangatan dalam suara.
19 Suatu hal yang dapat membantu saudara, dari sudut teknis, adalah untuk mengingat bahwa huruf-huruf hidup yang berbunyi pendek dan terputus-putus biasanya membuat suara kasar. Belajarlah untuk memanjangkan bunyi huruf-huruf hidup. Ini akan melembutkan bunyinya dan secara otomatis akan membuat nada ucapan saudara lebih hangat.
20, 21. Cara bagaimana bahan dalam suatu khotbah mempengaruhi kehangatan dan perasaan dalam persembahannya?
20 Kehangatan dan perasaan sesuai dengan bahan. Sebagaimana halnya dengan semangat, kehangatan dan perasaan yang saudara masukkan dalam ucapan sebagian besar bergantung pada apa yang saudara katakan. Contoh mengenai ini adalah kisah ketika Yesus mengutuk ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi di Matius 23. Kita tidak dapat membayangkan dia menyatakan kata-kata penghukuman yang tajam ini dengan cara yang membosankan dan tidak hidup. Tetapi, di tengah-tengah pernyataan kegemasan dan kemarahan ada sebuah kalimat yang penuh dengan kehangatan dan serta perasaan yang lembut, yang menyatakan belas kasihan Yesus, dalam kata-kata, ”Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” Di sini perasaan yang lembut jelas diperlihatkan, tetapi pernyataan yang berikut, ”Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi”, tidaklah meneruskan perasaan yang sama. Di sini nadanya ialah penolakan, perasaan jijik.
21 Kalau begitu, kapan kehangatan dan perasaan itu cocok? Kebanyakan hal yang akan saudara katakan dalam dinas pengabaran atau dalam khotbah latihan biasanya memungkinkan saudara menggunakan ekspresi ini tetapi teristimewa bila saudara sedang bertukarpikiran, memberi anjuran, menasihatkan, menunjukkan simpati, dan sebagainya. Dalam mengingat untuk selalu hangat, jangan lupa untuk juga menunjukkan semangat bila cocok. Hendaklah seimbang dalam segala perkara, tetapi berilah ekspresi yang sepenuh mungkin kepada setiap hal yang saudara katakan.
-
-
Perumpamaan-Perumpamaan yang CocokPetunjuk Sekolah Pelayanan Teokratis
-
-
Pelajaran 34
Perumpamaan-Perumpamaan yang Cocok
1, 2. Perlihatkan secara singkat apa yang dihasilkan oleh perumpamaan dalam suatu khotbah.
1 Apabila seorang pembicara menggunakan perumpamaan, ia sebenarnya mengesankan gambaran-gambaran yang penuh arti dalam pikiran hadirin. Perumpamaan membangkitkan minat dan menonjolkan pokok-pokok penting. Perumpamaan menggugah proses berpikir dan membuat buah-buah pikiran baru lebih mudah dipahami. Perumpamaan yang dipilih dengan baik akan menyatukan daya tarik kecerdasan dengan pengaruh emosi. Hasilnya, berita itu disampaikan kepada pikiran dengan kekuatan yang tidak selalu dimungkinkan melalui pernyataan-pernyataan fakta yang sederhana. Tetapi hal ini baru akan demikian jika perumpamaannya cocok. Perumpamaan harus cocok dengan bahan.
2 Ada kalanya, suatu perumpamaan dapat digunakan untuk meniadakan prasangka. Hal ini dapat menangkis bantahan sebelum membicarakan suatu doktrin yang sering diperdebatkan. Misalnya, saudara dapat berkata, ”Tidak ada bapa yang akan menaruh tangan anaknya di atas perapian yang panas sebagai hukuman.” Perumpamaan demikian untuk mengantarkan doktrin ”api neraka” akan langsung membuat pengertian agama palsu tentang ”api neraka” memuakkan dan karena itu lebih mudah disisihkan.
3-6. Dari sumber-sumber apakah perumpamaan dapat diambil?
3 Ada banyak bentuk perumpamaan. Ada yang berupa analogi (padanan), perbandingan, kontras, persamaan, kiasan, pengalaman pribadi, contoh-contoh. Perumpamaan dapat dipilih dari berbagai sumber. Dapat mengenai benda-benda ciptaan yang hidup atau yang mati. Dapat didasarkan pada pekerjaan dari hadirin, sifat atau watak manusia, peralatan rumah tangga, atau hasil karya manusia seperti rumah, kapal, dan lain-lain. Namun, perumpamaan apapun yang dipakai, harus dipilih bukan karena perumpamaan ini disukai oleh si pembicara, melainkan karena cocok dengan keadaan serta bahan.
4 Peringatan. Jangan memasukkan terlalu banyak perumpamaan ke dalam khotbah. Gunakan perumpamaan tetapi jangan berlebihan.
5 Penggunaan perumpamaan yang tepat merupakan seni. Dibutuhkan kecakapan dan pengalaman. Tetapi tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa perumpamaan itu efektif. Untuk belajar menggunakan perumpamaan, saudara harus belajar berpikir dalam bentuk perumpamaan. Pada waktu membaca, perhatikan perumpamaan yang digunakan. Pada waktu saudara melihat sesuatu hal, pikirkanlah itu dalam hubungan dengan kehidupan dan pelayanan Kristen. Misalnya, jika saudara melihat bunga dalam pot yang kering dan layu, saudara dapat berpikir, ”Persahabatan sama seperti tanaman. Supaya dapat berkembang, persahabatan harus disiram.” Ada orang yang dewasa ini memandang bulan hanya dalam hubungan dengan perjalanan ruang angkasa. Orang Kristen memandangnya sebagai hasil karya Allah, sebuah satelit hasil ciptaanNya, sebuah obyek yang kekal selama-lamanya, sesuatu yang mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari, menyebabkan air pasang dan surut.
6 Dalam mempersiapkan khotbah, jika tidak ada perumpamaan sederhana yang langsung terpikir, periksalah bahan yang ada hubungannya dengan publikasi-publikasi Lembaga Menara Pengawal. Perhatikan apakah ada perumpamaan yang digunakan di situ. Pikirkan kata-kata kunci dalam khotbah dan gambaran yang disampaikan ke dalam pikiran saudara. Susunlah khotbah berdasarkan ini. Namun ingat, perumpamaan yang tidak cocok lebih buruk daripada sama sekali tidak ada perumpamaan. Pada waktu mempertimbangkan ”Perumpamaan cocok dengan bahan”, yang tercatat pada formulir Nasihat Khotbah, ada beberapa segi dari pokok ini yang harus diingat.
7-9. Mengapa perumpamaan yang sederhana sangat efektif?
7 Sederhana. Perumpamaan yang sederhana lebih mudah diingat. Perumpamaan ini menguatkan arah argumen sebaliknya dari menyimpangkannya karena berbelit-belit. Perumpamaan Yesus sering kali hanya terdiri dari beberapa kata saja. (Misalnya, lihat Matius 13:31-33; 24:32, 33.) Supaya sederhana, istilah-istilahnya harus dapat dimengerti. Perumpamaan yang membutuhkan banyak penjelasan adalah seperti bagasi yang berlebihan. Perumpamaan sedemikian harus dibuang atau disederhanakan.
8 Yesus menggunakan hal-hal kecil untuk menjelaskan perkara-perkara besar, perkara-perkara yang mudah untuk menjelaskan perkara-perkara yang sukar. Perumpamaan harus mudah dibayangkan, tanpa mengemukakan terlalu banyak unsur sekaligus. Perumpamaan harus jelas dan nyata. Perumpamaan demikian tidak mudah disalahterapkan.
9 Perumpamaan yang paling baik ialah yang betul-betul sejajar dengan bahan yang hendak diberi perumpamaan. Jika beberapa segi dari perumpamaan itu tidak cocok, sebaiknya tidak digunakan. Akan ada orang yang memikirkan bagian-bagian yang tidak cocok itu dan perumpamaan jadi hilang maknanya.
10, 11. Perlihatkan mengapa penerapan dari perumpamaan harus dijelaskan.
10 Penerapannya dijelaskan. Jika penerapan dari suatu perumpamaan tidak dikemukakan, ada orang-orang yang mungkin akan menangkap maknanya tetapi banyak yang tidak. Pembicara harus betul-betul mengerti perumpamaan ini dan mengetahui tujuannya. Ia harus menyatakan apa nilai perumpamaan tersebut. (Lihat Matius 12:10-12.)
11 Perumpamaan dapat digunakan untuk berbagai hal. Hal itu dapat digunakan untuk mengemukakan sebuah prinsip yang disebutkan sebelum atau sesudah perumpamaan. Ini dapat digunakan dengan menandaskan akibat-akibat dari argumen yang diperlihatkan oleh perumpamaan itu. Atau dapat digunakan hanya dengan menarik perhatian kepada persamaan dari pokok-pokok perumpamaan itu dengan argumennya.
12-14. Apa yang akan membantu menentukan apakah perumpamaan itu cocok?
12 Pokok-pokok penting ditandaskan. Jangan menggunakan perumpamaan hanya karena secara kebetulan terlintas dalam pikiran saudara. Analisalah khotbah untuk mengetahui apa pokok-pokok utamanya dan kemudian pilih perumpamaan untuk mencamkan pokok-pokok utama tersebut. Jika perumpamaan yang tepat digunakan untuk pokok-pokok yang kurang penting, hadirin mungkin akan mengingat pokok-pokok yang kurang penting dan bukan pokok-pokok utamanya. (Lihat Matius 18:21-35; 7:24-27.)
13 Perumpamaan tidak boleh mengaburkan argumen. Mungkin itu yang akan diingat oleh hadirin, namun pada waktu perumpamaan itu timbul kembali dalam pikiran, pokok yang sebenarnya akan ditonjolkan hendaknya juga timbul kembali. Jika tidak, maka perumpamaan itu yang terlalu menonjol.
14 Dalam mempersiapkan khotbah dan memilih perumpamaan, pertimbangkan nilai perumpamaan itu sambil mengingat pokok-pokok yang hendak ditandaskan. Apakah perumpamaan itu menandaskan pokok-pokok ini? Apakah akan membuat pokok-pokok tersebut menonjol? Apakah akan membuat pokok-pokok tersebut jadi lebih mudah dimengerti dan diingat? Jika tidak, perumpamaan itu tidak cocok.
**********
15, 16. Terangkan mengapa perumpamaan harus cocok dengan hadirin.
15 Perumpamaan bukan saja harus cocok dengan bahan, melainkan harus disesuaikan dengan hadirin. Ini dicatat secara terpisah dalam lembaran nasihat sebagai ”Perumpamaan cocok dengan hadirin”. Ketika Natan diminta untuk mengoreksi Daud karena dosanya dengan Batsyeba, ia memilih perumpamaan tentang seorang miskin yang hanya mempunyai seekor anak domba kecil saja. (2 Sam. 12:1-6) Perumpamaan ini bukan saja bijaksana, melainkan juga cocok dengan Daud, karena ia pernah menjadi gembala. Ia langsung mengerti maknanya.
16 Jika kebanyakan dari hadirin sudah berusia lanjut, jangan gunakan perumpamaan yang menarik bagi kaum muda saja. Tetapi bagi sekelompok mahasiswa, perumpamaan demikian bisa jadi sangat cocok. Ada kalanya perumpamaan dapat ditinjau dari dua sudut yang berlawanan bagi orang-orang di antara hadirin, seperti tua dan muda, pria dan wanita.
17-19. Agar perumpamaan menarik bagi hadirin, dari mana seharusnya perumpamaan diambil?
17 Diambil dari keadaan-keadaan yang dikenal baik. Jika saudara menggunakan hal-hal yang ada di sekitar saudara sewaktu membuat perumpamaan, hadirin akan mengenalnya dengan baik. Yesus berbuat demikian. Kepada wanita di dekat perigi ia menyamakan sifat-sifatnya yang memberi hidup dengan air. Ia menggunakan perkara-perkara kecil dari kehidupan, bukan yang luar biasa. Perumpamaan-perumpamaannya dapat dibayangkan dengan mudah dalam pikiran orang-orang yang hadir, atau perumpamaan itu langsung mengingatkan mereka kepada pengalaman mereka sendiri dalam kehidupan. Ia menggunakan perumpamaan untuk mengajar.
18 Demikian pula dewasa ini. Ibu-ibu rumah tangga mungkin mengetahui tentang dunia dagang, tetapi lebih baik lagi jika saudara menggambarkan keterangan saudara dengan perkara-perkara yang ada dalam kehidupan mereka sehari-hari, anak-anak, kewajiban rumah tangga dan peralatan yang digunakan di rumah.
19 Perumpamaan yang juga efektif adalah yang didasarkan pada sesuatu yang benar-benar bersifat setempat, mungkin khas hanya untuk tempat tertentu itu. Kejadian-kejadian yang dikenal baik dalam lingkungan masyarakat, seperti hal-ikhwal dalam berita setempat, juga cocok jika memang mempunyai cita rasa yang baik.
20-22. Sebutkan beberapa jerat yang harus dihindari dalam menggunakan perumpamaan-perumpamaan.
20 Cita rasa yang baik. Perumpamaan manapun yang digunakan hendaknya cocok bagi pembahasan Alkitab. Jelas, perumpamaan tidak boleh ”tidak pantas”, yakni, dalam hal moral. Hindari keterangan yang mempunyai dua arti jika ini dapat disalahartikan. Patokan yang baik kita ikuti adalah: Jika sangsi, lebih baik jangan digunakan.
21 Perumpamaan hendaknya jangan membuat tersinggung siapapun di antara hadirin, terutama mereka yang baru bergabung. Karena alasan ini, sebaiknya jangan ajukan doktrin-doktrin atau perkara yang menimbulkan perdebatan yang sebetulnya tidak perlu dalam pembahasan saudara. Misalnya, saudara tentu tidak akan menggunakan contoh transfusi darah atau memberi salut kepada bendera, jika ini bukan pokok utama dari pembahasan. Bisa jadi ada yang salah mengerti dan malah tersinggung. Jika salah satu pokok dari khotbah saudara memang membahas hal-hal semacam itu, ini soal lain. Maka saudara mendapat kesempatan untuk bertukarpikiran mengenai pokok itu dan meyakinkan hadirin. Tetapi jangan menggagalkan tujuan saudara dengan membiarkan perumpamaan membuat hadirin berprasangka terhadap kebenaran-kebenaran penting yang sedang dibahas.
22 Maka gunakan daya pengamatan dalam memilih perumpamaan. Pastikan bahwa perumpamaan itu cocok. Hal itu akan demikian, jika perumpamaan tersebut sesuai dengan bahan maupun hadirin saudara.
-
-
Bahan Disesuaikan untuk Dinas PengabaranPetunjuk Sekolah Pelayanan Teokratis
-
-
Pelajaran 35
Bahan Disesuaikan untuk Dinas Pengabaran
1-3. Mengapa berfaedah untuk belajar menyesuaikan bahan untuk dinas pengabaran?
1 Sebagian besar dari pekerjaan kita sebagai rohaniwan dewasa ini mencakup mengabar dan mengajarkan Firman Allah kepada orang-orang yang hanya mempunyai sedikit sekali pengetahuan tentang Alkitab. Ada di antara mereka yang tidak pernah memiliki Alkitab; yang lain hanya mempunyai satu di rak buku. Ini berarti bahwa, agar mereka dapat memperoleh manfaat sepenuhnya dari apa yang kita beritahukan kepada mereka, kita perlu menyesuaikannya dengan keadaan mereka. Tidak berarti kita mengubah beritanya, tetapi kita mengerahkan usaha istimewa untuk menyampaikan hal itu dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh mereka. Sebenarnya, tuntutan untuk menyesuaikan bahan dengan cara ini merupakan ujian atas seberapa saksama pengertian kita sendiri mengenai hal tersebut.
2 Menyesuaikan berarti mengubahnya agar cocok dengan keadaan-keadaan yang baru, menyelaraskannya. Ini berarti membuat sesuatu dapat diterima sehingga memuaskan diri sendiri atau orang lain. Pembahasan mengenai soal menyesuaikan bahan untuk dinas pengabaran hendaknya menandaskan perlunya membuat persembahan dalam dinas pengabaran atau dalam khotbah apapun, yang sederhana dan dapat dimengerti bagi hadirin tertentu dan khususnya bagi orang-orang yang baru berminat yang ditemukan dalam dinas pengabaran. Maka, dalam mengusahakan sifat ini di sekolah, hendaknya saudara selalu memandang hadirin sama seperti orang-orang yang saudara jumpai dalam pekerjaan kesaksian dari rumah ke rumah.
3 Tidak berarti bahwa khotbah saudara harus berupa khotbah dari rumah ke rumah pada waktu saudara mengusahakan sifat khotbah ini. Semua khotbah akan tetap sama cara persembahannya seperti yang diuraikan dalam petunjuk untuk sekolah yang berlaku sekarang. Yang dimaksud adalah bahwa, tidak soal bentuk persembahan yang saudara sampaikan, argumen-argumen yang diperkembangkan dan bahasa yang digunakan akan sama seperti yang saudara gunakan untuk orang-orang yang ditemukan dalam dinas pengabaran. Karena kita banyak berbicara dalam dinas pengabaran, hal ini hendaknya membantu saudara untuk menyadari perlunya berbicara dengan sederhana, menurut taraf yang dapat dimengerti oleh kebanyakan orang dalam dinas pengabaran. Saudara sudah mendapat beberapa latihan untuk sifat ini dalam Pelajaran 21. Sekarang ini akan dibahas secara terpisah karena sangat perlu dan penting.
4, 5. Jelaskan mengapa ungkapan-ungkapan harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti oleh umum.
4 Ungkapan-ungkapan dibuat mudah dimengerti oleh umum. Bahwa sifat ini perlu, diperlihatkan oleh ungkapan-ungkapan yang digunakan oleh saudara-saudara dalam dinas dari rumah ke rumah dan pada pelajaran-pelajaran baru. Pengertian kita mengenai Alkitab telah memberikan kita perbendaharaan kata yang tidak dikenal orang pada umumnya. Kita menggunakan kata-kata seperti ”kaum sisa”, ”domba-domba lain”, dan seterusnya. Jika kita menggunakannya dalam khotbah, ungkapan-ungkapan demikian biasanya tidak berarti apapun bagi orang yang kita jumpai dalam dinas pengabaran. Ungkapan-ungkapan ini harus dijelaskan dengan menggunakan sinonim atau keterangan yang cocok agar dapat dimengerti. Bahkan menggunakan kata ”Armagedon” dan ”berdirinya Kerajaan” hanya sedikit artinya jika tidak disertai penjelasan tentang maknanya.
5 Dalam mempertimbangkan segi ini, penasihat saudara akan bertanya kepada diri sendiri, Apakah orang yang belum mengenal kebenaran Alkitab akan mengerti pokok atau ungkapan itu? Tidak berarti ia akan menganjurkan saudara agar tidak menggunakan istilah-istilah teokratis demikian. Kata-kata itu merupakan bagian dari perbendaharaan kata kita dan kita ingin agar peminat-peminat baru juga mengenal kata-kata ini. Tetapi jika saudara memang menggunakan istilah ini, ia akan mengamati apakah istilah-istilah itu dijelaskan.
6-8. Sewaktu mempersiapkan khotbah, mengapa kita harus hati-hati dalam memilih pokok-pokok yang cocok?
6 Memilih pokok-pokok yang cocok. Buah-buah pikiran yang saudara pilih untuk disampaikan dalam dinas pengabaran beraneka ragam sebagaimana juga istilah-istilah yang saudara gunakan, bergantung pada latarnya. Itu disebabkan karena biasanya ada beberapa perkara yang tidak akan kita bicarakan dengan peminat baru. Dalam keadaan demikian pilihan bahan, seluruhnya terserah kepada saudara. Tetapi bila saudara diberi penugasan di sekolah, bahan yang harus saudara bahas sudah ditentukan terlebih dulu. Pilihan saudara terbatas pada apa yang terdapat dalam penugasan. Apa yang harus saudara lakukan?
7 Pertama-tama, karena pokok-pokok yang dapat digunakan terbatas, hendaknya saudara menentukan latar bagi khotbah saudara yang akan memungkinkan adanya banyak pilihan pokok-pokok yang cocok. Penasihat saudara akan menaruh minat kepada pokok-pokok yang saudara pilih dan bagaimana pokok-pokok tersebut cocok dengan keadaan khotbah. Hal ini demikian karena saudara memperlihatkan, dalam sifat yang sedang dipertimbangkan ini, bahwa corak yang saudara berbeda dalam dinas pengabaran menuntut berbagai macam bahan. Misalnya, saudara tidak akan menggunakan bahan yang sama sewaktu mengundang peminat baru ke perhimpunan seperti jika saudara membuat persembahan dari rumah ke rumah. Maka, tidak soal apakah penugasan saudara harus merupakan percakapan dengan penghuni rumah atau khotbah biasa di mimbar, kenalilah hadirin tertentu yang akan mendengarkan khotbah saudara melalui perkara-perkara yang saudara katakan dan pokok-pokok yang saudara pilih dari bahan yang ditugaskan.
8 Untuk menentukan apakah pokok-pokok itu cocok atau tidak, penasihat akan mempertimbangkan tujuan dari khotbah saudara. Dalam kunjungan dari rumah ke rumah tujuan saudara biasanya ialah untuk mengajar dan menggerakkan penghuni rumah agar belajar lebih banyak. Pada kunjungan kembali tujuan saudara adalah untuk memperkembangkan minatnya dan, jika mungkin, memulai pelajaran Alkitab rumahan. Jika itu berupa persembahan sesudah pelajaran, hendaknya itu menganjurkan penghuni rumah agar menghadiri perhimpunan atau ikut dalam dinas pengabaran, dan sebagainya.
9, 10. Bagaimana kita dapat menentukan apakah pokok-pokok yang kita pilih itu cocok?
9 Tentu, bahkan dalam corak dinas yang sama, pilihan pokok-pokok saudara mungkin beraneka ragam bergantung pada hadirin. Jadi, ini hendaknya dipertimbangkan juga. Pokok-pokok dalam penugasan saudara yang tidak cocok bagi tujuan saudara jangan dimasukkan ke dalam khotbah.
10 Mengingat faktor-faktor ini maka latarnya harus dipilih sebelum khotbah dipersiapkan. Tanyalah pada diri sendiri: Apa yang ingin aku capai? Pokok-pokok apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan ini, dan bagaimana pokok-pokok ini harus disesuaikan agar cocok dengan keadaan khotbah? Setelah saudara sudah memutuskan perkara-perkara ini, pokok-pokok yang cocok dapat dipilih tanpa kesulitan dan dapat disampaikan sedemikian rupa sehingga bahan dapat disesuaikan untuk dinas pengabaran.
11-13. Mengapa penting untuk menonjolkan nilai praktis dari bahan yang telah kita sampaikan?
11 Nilai praktis dari bahan ditonjolkan. Menonjolkan nilai praktis dari bahan berarti memperlihatkan kepada penghuni rumah dengan jelas, tanpa ragu-ragu bahwa bahan itu menyangkut dirinya, bahwa ini sesuatu yang ia butuhkan atau dapat gunakan. Sejak permulaan khotbah, penghuni rumah harus menyadari bahwa ”ini menyangkut diriku”. Ini perlu untuk mendapat perhatian dari hadirin. Namun, agar perhatian tersebut terus ada, perlu untuk tetap melanjutkan penerapan pribadi yang sama dari bahan dalam seluruh khotbah.
12 Ini bukan hanya sekedar kontak dengan hadirin dan membantu hadirin untuk berpikir. Saudara sekarang harus maju lebih jauh dan benar-benar menempatkan penghuni rumah ke dalam penerapan dari bahan. Tujuan kita dalam pengabaran adalah untuk mengajar orang tentang kebenaran Firman Allah dan membantu mereka mempelajari jalan menuju keselamatan. Jadi, dengan bijaksana dan penuh pertimbangan, saudara harus memperlihatkan kepada penghuni rumah faedah-faedah praktis yang akan ia peroleh jika ia mendengarkan dan bertindak selaras dengan apa yang akan saudara sampaikan.
13 Meskipun segi dari sifat ini disebut paling akhir, ini bukan karena kurang penting. Ini merupakan pokok yang penting dan sama sekali tidak boleh diabaikan. Seringlah berlatih, karena hal ini penting dalam dinas pengabaran. Jarang sekali saudara dapat mengikat perhatian penghuni rumah untuk jangka waktu tertentu jika ia tidak dapat melihat dengan jelas bahwa apa yang saudara katakan ada faedahnya dalam kehidupannya sendiri.
-
-
Kata Penutup yang Cocok dan Penggunaan WaktuPetunjuk Sekolah Pelayanan Teokratis
-
-
Pelajaran 36
Kata Penutup yang Cocok dan Penggunaan Waktu
1-3. Bagaimana saudara dapat membuat kata penutup berkaitan dengan tema khotbah?
1 Apa yang paling akhir saudara katakan sering kali merupakan hal pertama yang akan diingat. Maka kata penutup khotbah patut dipersiapkan dengan saksama. Kata penutup harus benar-benar menonjolkan pokok-pokok penting yang saudara ingin agar diingat dan dengan tegas menandaskan tema. Sebagai hasil dari penyusunan dan persembahannya, kata penutup seharusnya mendorong hadirin untuk bertindak. Kami mendesak saudara untuk memberikan perhatian kepada hal ini pada waktu saudara tiba di ”Kata penutup yang cocok, efektif” pada lembaran Nasihat Khotbah.
2 Kata penutup berhubungan langsung dengan tema khotbah. Untuk mendapatkan pandangan berkenaan cara menghubungkan kata penutup dengan tema khotbah, kami menyarankan agar saudara meninjau kembali Pelajaran 27. Dalam kata penutup tema khotbah tidak perlu disebutkan kembali dengan banyak kata, meskipun beberapa pelajar, terutama yang baru, mungkin berpendapat ini akan membantu; namun hal itu memang harus menarik perhatian kepada tema. Kemudian, berdasarkan tema, perlihatkan apa yang dapat dilakukan oleh hadirin.
3 Jika tidak langsung berhubungan dengan tema, kata penutup tidak akan menyatukan bahan dan mengikatnya bersama. Bahkan jika saudara menggunakan kata penutup berupa ikhtisar yang kaku, dengan menyampaikan suatu rangka dari pokok-pokok utama, saudara tentu masih ingin menambahkan satu atau dua kalimat terakhir, yang menyatakan gagasan inti atau tema khotbah.
4-9. Mengapa kata penutup harus menunjukkan kepada pendengar apa yang harus dilakukan?
4 Kata penutup menunjukkan kepada pendengar apa yang harus dilakukan. Karena pada umumnya tujuan saudara berkhotbah adalah untuk mendorong dilakukannya tindakan tertentu atau meyakinkan sudut pandangan tertentu, maka pasti buah-buah pikiran penutup dari khotbah harus menandaskan pokok-pokok tersebut. Jadi, tujuan utama dari kata penutup adalah untuk menunjukkan kepada hadirin apa yang harus dilakukan dan menganjurkan mereka untuk melakukannya.
5 Karena alasan ini, di samping membuat jelas tujuan dari khotbah, kata penutup hendaknya disertai kesungguhan, keyakinan, dan daya pendorong. Ternyata sering kali kalimat-kalimat pendek berfaedah untuk memberi tekanan kepada kata penutup. Tetapi, tidak soal susunan kalimatnya, alasan-alasan yang baik untuk bertindak harus diberikan, termasuk faedah-faedah yang akan diperoleh dengan mengikuti haluan sedemikian.
6 Kata penutup harus berurutan secara logis dengan apa yang telah dinyatakan dalam khotbah. Jadi, apa yang saudara sampaikan dalam kata penutup dimaksudkan untuk menggerakkan hadirin agar bertindak selaras dengan apa yang telah dinyatakan dalam isi khotbah. Kata penutup akan menjelaskan dan menandaskan apa yang harus mereka lakukan agar mereka dapat bertindak atas dasar perkara-perkara yang dibahas dalam khotbah dan khususnya digerakkan untuk melakukan hal tersebut karena pengaruh kuat dari kata penutup.
7 Dalam pelayanan dari rumah ke rumah, kata penutup sering kali lemah. Ini terjadi bila kita tidak dengan tegas memperlihatkan kepada penghuni rumah haluan yang kita harapkan ia ikuti, baik dalam menerima salah satu publikasi, setuju dikunjungi kembali ataupun sesuatu yang serupa.
8 Kata penutup dalam penugasan di sekolah juga akan lemah jika itu hanya berupa ikhtisar dari bahan dan tidak menggerakkan hadirin untuk bertindak. Penerapan dari bahan harus dinyatakan, atau dengan cara lain harus diperlihatkan betapa istimewa nilai bahan tersebut bagi hadirin.
9 Ada pembicara yang menganggap sangat berfaedah untuk menutup sebuah khotbah mengenai tema Alkitab dengan ikhtisar singkat dari seluruh khotbah, menggunakan ayat-ayat kunci dan tema khotbah sebagai dasar. Meringkaskan khotbah dengan cara ini, yaitu membahas beberapa ayat seperti saudara lakukan dari rumah ke rumah, tidak hanya akan membuat jelas inti dari khotbah tetapi saudara akan memberikan sesuatu yang dapat dimanfaatkan hadirin dan yang dapat digunakan dalam mengulangi pokok-pokok utama dari khotbah. Itulah tujuan utama dari kata penutup, dan metode ini tidak saja cocok tetapi dengan efektif akan mencapai tujuan tersebut.
**********
10-14. Berikan saran-saran untuk panjangnya kata penutup.
10 Kata penutup cukup panjang. Panjang kata penutup hendaknya tidak ditentukan oleh jam, meskipun itu sering terjadi. Kata penutup cukup panjang jika itu efektif dan mencapai tujuan. Maka, cocok tidaknya panjang kata penutup harus ditentukan oleh hasilnya. Inilah yang akan dilakukan penasihat pada waktu saudara sedang mengusahakan ”Kata penutup cukup panjang”, dalam lembaran Nasihat Khotbah.
11 Sebagai perbandingan dari kata penutup yang cocok dengan panjang bahan, perhatikan kata penutup yang singkat untuk seluruh kitab Pengkhotbah yang terdapat di Pengkhotbah 12:13, 14, dan bandingkan ini dengan Khotbah Yesus di Bukit dan kata penutupnya di Matius 7:24-27. Ini adalah dua kata penutup yang berbeda bentuk serta panjangnya, namun kedua-duanya mencapai tujuan.
12 Hadirin harus mengerti bahwa saudara telah tiba pada bagian penutup. Kata-kata yang diucapkan tidak saja harus dengan jelas menunjukkan akhir dari khotbah, tetapi juga harus mempunyai nada selesai. Apa yang saudara katakan dan cara saudara mengatakan hendaknya mengakhiri pembicaraan. Jangan bertele-tele. Jika saudara tidak sanggup menyimpulkan khotbah dan masih dapat mempertahankan minat selama seluruh kata penutup, maka hal itu perlu dikerjakan kembali. Kata penutup tersebut masih terlalu panjang.
13 Jika saudara pembicara yang masih baru, sebaiknya kata penutup dibuat lebih singkat dari apa yang mungkin saudara rasa perlu. Buatlah kata penutup itu sederhana, langsung dan positif. Jangan biarkan itu berjalan tanpa akhir.
14 Jika saudara memberikan khotbah simposium, atau jika saudara berbicara di perhimpunan dinas, kata penutup harus berkaitan dengan kata pengantar dari khotbah berikut dan karena itu dapat dibuat lebih singkat. Bagaimanapun juga, setiap bagian tersendiri harus mempunyai kata penutup yang mencapai tujuan khotbah. Jika memang demikian, berarti kata penutup cukup panjang.
**********
15-18. Jika penggunaan waktu tidak mendapat perhatian yang saksama, apa akibatnya?
15 Penggunaan waktu. Panjang kata penutup bukan saja penting; penggunaan waktu dari tiap bagian khotbah juga patut mendapat perhatian. Untuk alasan itu ada catatan terpisah pada lembaran Nasihat Khotbah untuk ”Penggunaan waktu”.
16 Pentingnya penggunaan waktu dengan benar dalam suatu khotbah tidak boleh diremehkan. Jika khotbah telah dipersiapkan dengan baik, pemakaian waktu tentu juga telah dipertimbangkan, tetapi jika pembicara memaksakan seluruh bahan sehingga lewat waktu, ia sebenarnya tidak mencapai tujuannya. Ini disebabkan karena orang-orang di antara hadirin akan mulai gelisah dan melihat arloji mereka dan tidak lagi benar-benar memperhatikan apa yang ia katakan. Kata penutup, yang seharusnya memuat penerapan dan motivasi yang penting untuk mencapai tujuan khotbah, akan hilang. Bahkan meskipun hal itu memang disampaikan, dalam banyak keadaan hadirin tidak akan memperoleh faedah daripadanya karena pembicara lewat waktu.
17 Bukan hadirin saja yang tidak tenang bila pembicara lewat waktu, tetapi pembicara pun demikian. Bila ia melihat bahwa waktu sudah hampir habis, padahal ia mempunyai terlalu banyak bahan, ia mungkin akan berusaha menjejalkan terlalu banyak, dengan demikian meniadakan keefektifannya. Hasilnya sering kurang ketenangan. Sebaliknya, jika pembicara mendapati bahwa ia tidak mempunyai cukup bahan untuk mengisi waktu yang tersedia, bisa saja dalam usaha untuk mengulur waktu ia akan mengatakan hal-hal yang sama sekali tidak berpautan dan persembahannya melantur tidak menentu.
18 Meskipun pengawas sekolah memang akan memberi isyarat kepada pelajar bila waktunya sudah habis, siswa maupun hadirin akan merasa kecewa jika suatu khotbah harus dipotong sebelum selesai. Pembicara harus mempunyai cukup minat kepada bahan sehingga ia ingin menyampaikannya. Hadirin akan merasa seolah-olah dibiarkan terkatung-katung di udara jika mereka tidak mendengar kata penutupnya. Orang yang selalu lewat waktu, menunjukkan bahwa ia tidak mempunyai tenggang rasa terhadap orang lain atau membuktikan kurangnya persiapan.
19, 20. Mengapa penggunaan waktu istimewa penting pada perhimpunan dinas dan acara kebaktian?
19 Bila beberapa pembicara mempunyai bagian dalam suatu acara, penggunaan waktu yang benar penting sekali. Misalnya, ada lima bagian dalam perhimpunan dinas. Jika setiap pembicara berkhotbah hanya satu menit lewat waktu yang disediakan baginya, maka perhimpunan akan lewat waktu lima menit. Padahal masing-masing hanya lewat waktu sedikit sekali. Akibatnya beberapa orang mungkin harus pulang sebelum perhimpunan selesai agar masih ada bis, atau teman hidup yang tidak seiman yang datang menjemput di perhimpunan terpaksa harus menunggu dan menjadi kesal. Secara umum pengaruhnya tidak baik.
20 Kesulitan dapat juga timbul jika seorang pembicara dalam simposium tidak mengisi waktu yang diberikan kepadanya. Jika, misalnya, seorang saudara yang ditugaskan untuk khotbah setengah jam dalam acara kebaktian berhenti sesudah dua puluh menit, ia mungkin akan mengganggu acara apabila pembicara berikut belum siap untuk segera mulai.
21-24. Ringkaskan beberapa dari problem-problem mengenai penggunaan waktu dan penyebabnya.
21 Tentu, salah satu sebab utama mengapa sebuah khotbah lewat waktu adalah terlalu banyak bahan. Ini seharusnya diperbaiki sewaktu mempersiapkan khotbah. Tetapi jika pokok-pokok lain, pokok-pokok terdahulu pada lembaran Nasihat Khotbah, telah dikuasai sampai pada pokok ini, penggunaan waktu tidak akan menjadi problem. Jika saudara telah belajar cara memisahkan pokok-pokok utama dan cara menyiapkan rangka yang baik, saudara akan mendapati bahwa penggunaan waktu yang betul akan datang dengan sendirinya. Penggunaan waktu baru akan ditinjau mendekati akhir dari lembaran nasihat karena hal ini banyak bergantung kepada sifat-sifat khotbah terdahulu yang telah dibahas.
22 Umumnya kesulitan dalam hal penggunaan waktu adalah soal lewat waktu. Pembicara yang telah siap dengan baik biasanya mempunyai cukup banyak bahan penerangan, tetapi ia harus berhati-hati agar jangan menggunakan lebih banyak waktu dari yang tersedia baginya.
23 Namun, pembicara-pembicara yang baru atau belum berpengalaman kadang-kadang cenderung selesai sebelum waktunya. Ada baiknya mereka belajar menggunakan seluruh waktu yang tersedia. Mula-mula mungkin sukar bagi mereka untuk mengukur khotbah mereka agar panjangnya tepat seperti yang diinginkan, tetapi mereka harus berusaha untuk selesai sedekat mungkin dengan waktu yang ditentukan. Bagaimanapun juga, kecuali khotbahnya sangat kurang mengisi waktu yang tersedia, penggunaan waktu tidak akan dianggap lemah jika siswa telah menyiapkan serta menyampaikan khotbah yang lengkap dan memuaskan.
24 Lemah atau tidaknya penggunaan waktu seorang pembicara, paling baik dapat ditentukan dengan mengamati pengaruh dari persembahannya atas hadirin. Bila pengawas sekolah memberi isyarat bahwa waktunya sudah habis, siswa harus merasa bebas untuk mengakhiri kalimatnya. Jika dengan kalimat itu ia dapat menutup khotbahnya secara efektif sehingga hadirin merasa bahwa mereka telah mendengarkan khotbah yang lengkap, maka penggunaan waktu hendaknya tidak dianggap lemah.
25-29. Bagaimana seseorang dapat memastikan apakah penggunaan waktu dari khotbahnya tepat
25 Bagaimana penggunaan waktu yang tepat dapat dicapai? Pada dasarnya itu soal persiapan. Penting untuk mempersiapkan, bukan hanya bahan yang akan menjadi bagian dari khotbah, tetapi cara menyampaikan khotbah. Jika ada cukup persiapan untuk persembahannya, penggunaan waktu biasanya akan tepat.
26 Dalam membuat rangka khotbah tandailah dengan jelas mana pokok-pokok utamanya. Di bawah tiap pokok utama, mungkin ada beberapa pokok yang kurang penting untuk dibahas. Ada, tentunya yang akan lebih penting dari pada yang lain. Periksa mana yang penting bagi persembahan dan mana yang dapat ditiadakan jika perlu. Kemudian, jika selama persembahan saudara mendapati bahwa saudara ketinggalan waktu, saudara dengan mudah dapat menyampaikan argumen utamanya saja dan menghapus argumen yang kurang penting.
27 Inilah sesuatu yang sering harus kita lakukan dalam dinas pengabaran. Pada waktu kita pergi ke rumah-rumah orang, jika mereka mau mendengarkan, kita akan berbicara kurang lebih sepuluh menit. Namun, kita juga telah siap untuk mengucapkan khotbah yang sama dalam bentuk singkat, mungkin dalam waktu tiga menit, atau, jika perlu, hanya satu atau dua menit. Bagaimana cara melakukannya? Kita akan mengingat pokok atau pokok-pokok kuncinya dan bahan yang paling penting yang dibutuhkan untuk menunjangnya. Juga dalam ingatan kita ada keterangan-keterangan lain yang kurang penting yang dapat digunakan untuk memperluas pembahasan, namun kita tahu bila keadaan menuntut ini dapat ditiadakan. Prosedur yang sama dapat diikuti dalam menyampaikan khotbah dari mimbar.
28 Sering ada gunanya jika pembicara membuat catatan di pinggir khotbah untuk menunjukkan berapa banyak yang sudah harus ia bahas bila setengah dari waktunya habis, atau, jika khotbah itu lebih panjang, ia mungkin dapat membaginya dalam empat bagian. Kemudian bila ia melewati tanda-tanda waktu itu dalam rangkanya, ia harus memeriksa jam dan melihat bagaimana perkembangannya. Jika ia ketinggalan waktu, itulah saatnya untuk mulai menghapus bahan yang kurang penting dan tidak menunggu sampai saat terakhir serta menjejalkan kata penutup sehingga merusak keefektifannya. Akan tetapi, akan sangat mengganggu perhatian jika seorang pembicara terus memeriksa arlojinya atau jika ia melakukan ini dengan mencolok, atau jika ia mengatakan kepada hadirin bahwa waktunya sudah hampir habis sehingga ia harus bergegas menyelesaikan bahannya. Ini suatu hal yang harus dilakukan secara wajar tanpa mengganggu hadirin.
29 Dalam mengusahakan penggunaan waktu yang baik secara keseluruhan, dituntut agar kata pengantar cukup panjang, setiap pokok kunci diperkembangkan menurut perbandingan yang benar, dan cukup waktu disisihkan untuk kata penutup. Hal itu bukan sesuatu yang akan dipertimbangkan baru pada waktu saudara melihat bahwa waktunya hampir habis. Jika saudara memperhatikan penggunaan waktu sejak awal, hasilnya adalah persembahan yang diatur dengan baik.
-
-
Ketenangan dan Penampilan PribadiPetunjuk Sekolah Pelayanan Teokratis
-
-
Pelajaran 37
Ketenangan dan Penampilan Pribadi
1-9. Berikan definisi ketenangan dan keyakinan, dan ceritakan bagaimana ini dapat dicapai.
1 Pembicara yang tenang adalah pembicara yang tidak tegang. Ia tenang karena ia menguasai keadaan. Sebaliknya, kurang tenang menunjukkan kurang kepercayaan atau keyakinan. Keduanya seiring. Itu sebabnya ”Keyakinan dan ketenangan” dicatat sebagai satu pokok pada lembaran Nasihat Khotbah.
2 Meskipun keyakinan dan ketenangan perlu dimiliki seorang pembicara, jangan hal itu disalahartikan dengan terlalu yakin, yang kelihatan dari cara berjalan yang angkuh atau duduk terlalu santai, kelihatan lelah sekali, atau bersandar seenaknya di ambang pintu pada waktu mengabar dari rumah ke rumah. Jika ada sesuatu dalam persembahan saudara yang menunjukkan sikap terlalu yakin, pengawas sekolah pasti akan memberikan nasihat kepada saudara secara pribadi, karena ia berminat untuk membantu saudara mengatasi kesan apapun yang mungkin saudara berikan, yang bisa menghalangi keefektifan dari pelayanan.
3 Namun, jika saudara pembicara yang masih baru, lebih besar kemungkinannya bahwa saudara akan merasa ragu-ragu dan malu pada waktu berjalan ke mimbar. Saudara mungkin benar-benar gugup dan gelisah sehingga saudara percaya bahwa saudara akan memberikan persembahan yang kurang efektif. Sebenarnya tidak perlu demikian. Keyakinan dan ketenangan dapat dimiliki dengan usaha yang rajin dan dengan mengetahui mengapa sifat-sifat ini tidak ada.
4 Mengapa ada pembicara yang kurang yakin? Umumnya karena salah satu dari dua alasan, atau kedua-duanya. Pertama, kurang persiapan atau pandangan yang keliru mengenai bahan. Kedua, sikap negatif terhadap kesanggupan mereka sebagai pembicara.
5 Hal apakah akan memberikan keyakinan kepada saudara? Pada dasarnya, ini adalah karena saudara tahu atau percaya bahwa saudara akan sanggup mencapai tujuan. Ini adalah keyakinan bahwa saudara menguasai situasi dan dapat mengendalikannya. Di mimbar hal ini mungkin membutuhkan pengalaman. Karena telah menyampaikan beberapa khotbah, saudara dapat cukup yakin bahwa kali ini akan berhasil juga. Tetapi bahkan jika saudara masih agak baru, khotbah-khotbah sebelumnya harus menganjurkan saudara, sehingga pada waktu tiba pada sifat ini dalam lembaran Nasihat Khotbah, saudara sudah cukup yakin akan dapat menyampaikan khotbah yang memuaskan.
6 Syarat penting lain untuk keyakinan, tidak soal apakah saudara berpengalaman atau tidak, ialah pengetahuan mengenai bahan dan percaya bahwa bahan ini sesuatu yang berharga. Itu bukan hanya berarti bahwa bahan harus dipersiapkan dengan saksama sebelumnya melainkan cara menyampaikannya juga harus dipersiapkan dengan cermat. Jika saudara menyadari bahwa hal itu demi kemajuan teokratis saudara sendiri serta juga untuk mengajar saudara-saudara yang hadir, maka saudara akan berjalan ke mimbar dengan sikap yang sungguh-sungguh. Saudara akan asyik dalam pokok pembicaraan dan akan melupakan diri serta kegugupan saudara. Saudara akan berpikir mengenai cara bagaimana menyenangkan Allah, bukan manusia.—Gal. 1:10; Kel. 4:10-12; Yer. 1:8.
7 Ini berarti saudara harus yakin mengenai segala sesuatu yang akan saudara katakan. Pastikanlah dalam persiapan saudara bahwa halnya memang demikian. Dan sesudah saudara berbuat sedapat-dapatnya untuk menyiapkan khotbah yang menarik serta hidup, jika saudara masih tetap merasa bahwa khotbahnya kurang hidup atau mati, ingatlah bahwa hadirin yang hidup akan dapat memberi semangat kepada saudara. Maka buatlah hadirin hidup melalui persembahan saudara sendiri, dan minat mereka akan memberi saudara keyakinan akan apa yang ingin saudara sampaikan.
8 Sama seperti seorang dokter mencari gejala-gejala suatu penyakit, penasihat saudara akan memperhatikan gejala-gejala yang jelas memperlihatkan kurangnya ketenangan. Dan sebagaimana dokter yang baik akan memusatkan perhatian kepada penyebab dari penyakit dan bukan gejala-gejalanya, penasihat saudara juga akan berusaha membantu mengatasi penyebab sebenarnya yang mengakibatkan kurang keyakinan dan ketenangan. Akan tetapi, dengan mengetahui gejala-gejalanya dan belajar mengendalikannya saudara benar-benar akan dibantu untuk mengatasi penyebab dasar dari gejala-gejala tersebut. Apakah gejala-gejala itu?
9 Secara umum, ada dua penyaluran bagi emosi atau ketegangan yang terpendam. Itu dapat digolongkan dalam gejala-gejala fisik atau tubuh dan petunjuk suara. Jika gejala-gejala ini nyata dalam suatu taraf tertentu, dapat dikatakan orang itu kurang tenang.
10, 11. Bagaimana cara membawakan diri dapat menunjukkan tidak adanya keyakinan?
10 Ketenangan dinyatakan dalam cara membawakan diri. Jadi, bukti pertama dari keyakinan akan nyata dalam cara membawakan diri. Beberapa hal berikut ini menyingkapkan bahwa saudara kurang yakin. Pertama-tama perhatikan tangan: tangan digenggam di belakang punggung, bergantung kaku di sisi badan atau mencengkam mimbar dengan kuat; tangan berulang kali keluar masuk saku, membuka dan melepaskan kancing baju, berpindah-pindah tidak menentu ke pipi, hidung, kaca mata; isyarat yang tanggung; bermain-main dengan arloji, pinsil, cincin atau catatan. Atau perhatikan kaki yang terus-menerus digeserkan; tubuh berayun ke kanan ke kiri; punggung kaku tegak lurus atau lutut gemetar; sering membasahi bibir, menelan ludah berulang kali, nafas cepat dan pendek-pendek.
11 Semua gejala kegugupan ini dapat dikendalikan atau dikurangi dengan usaha sungguh-sungguh. Jika saudara mengerahkan usaha itu, saudara akan memberi kesan tenang dalam pembawaan. Maka bernapaslah dengan wajar dan teratur, dan berusahalah sungguh-sungguh untuk menghilangkan semua ketegangan. Beristirahatlah sebelum mulai berbicara. Hadirin pasti akan memberikan reaksi yang baik, dan ini, selanjutnya, akan membantu saudara mendapatkan keyakinan yang saudara cari. Pusatkan perhatian kepada bahan, dengan tidak menguatirkan hadirin atau memikirkan diri sendiri.
12-14. Jika suara seseorang menunjukkan kurang keyakinan, apa yang dapat dilakukan untuk memperoleh ketenangan?
12 Ketenangan diperlihatkan oleh suara yang terkendali. Gejala-gejala suara yang memperlihatkan kegugupan adalah nada suara yang luar biasa tinggi, suara yang bergetar, berulang kali mendehem, nada suara kecil yang janggal disebabkan kurangnya resonansi karena tegang. Problem-problem dan kebiasaan-kebiasaan ini juga dapat dikuasai dengan usaha yang rajin.
13 Jangan bergegas pada waktu berjalan menuju mimbar atau mengatur catatan saudara, tetapi bersikaplah tenang dan hendaklah merasa senang karena saudara dapat membagikan perkara-perkara yang telah saudara persiapkan. Jika saudara tahu bahwa saudara gugup ketika mulai bicara, saudara harus berusaha keras untuk berbicara lebih lambat dari biasa dalam kata pengantar dan dengan nada suara yang lebih rendah daripada yang saudara rasa wajar. Ini akan membantu saudara menguasai kegugupan. Saudara akan menyadari bahwa gerak tangan dan istirahat akan membantu untuk bersikap tenang.
14 Tetapi jangan menunggu sampai saudara berjalan ke mimbar untuk mempraktekkan semua hal ini. Belajarlah untuk tetap tenang dan terkendali dalam percakapan sehari-hari. Ini akan banyak membantu dalam memberikan keyakinan pada waktu berada di mimbar dan dalam dinas pengabaran, di mana hal itu sangat penting. Persembahan yang tenang akan menyenangkan hadirin sehingga mereka dapat memusatkan perhatian pada bahan. Tetap tentu memberi komentar di perhimpunan akan membantu saudara menjadi biasa berbicara di hadapan suatu kelompok.
**********
15. Mengapa penampilan pribadi yang pantas penting sekali?
15 Penampilan pribadi yang baik dapat membantu saudara memiliki ketenangan, tetapi hal itu juga penting untuk alasan-alasan lain. Jika perkara ini tidak diberi cukup perhatian, seorang rohaniwan akan mendapati bahwa penampilannya mengganggu perhatian hadirin sehingga mereka tidak sungguh-sungguh memperhatikan apa yang sedang ia katakan. Sebaliknya, ia memusatkan perhatian orang kepada diri sendiri, yang tentu tidak ingin ia lakukan. Jika seseorang bersikap masa bodoh dengan penampilannya, ia mungkin bahkan membuat orang lain memandang rendah organisasi tempat ia bergabung dan menolak berita yang ia sampaikan. Ini tidak boleh terjadi. Maka walaupun ”Penampilan pribadi” dicatat terakhir pada lembaran Nasihat Khotbah, sifat ini tidak boleh dipandang enteng.
16-21. Nasihat apa yang diberikan untuk cara berpakaian dan dandanan yang patut?
16 Pakaian dan dandanan yang patut. Cara berpakaian yang ekstrim harus dihindari. Seorang rohaniwan tidak akan meniru mode dari dunia yang menarik perhatian orang kepada diri sendiri. Ia akan menghindari cara berpakaian yang terlalu perlente, atau terlalu mencolok sehingga perhatian orang tertuju kepada pakaiannya. Juga, ia akan berhati-hati agar tidak ceroboh dalam berpakaian. Berpakaian dengan baik tidak berarti harus memakai pakaian baru, tetapi seseorang selalu dapat rapi dan bersih. Celana harus diseterika dan dasi dipasang dengan betul. Setiap orang dapat melakukan hal ini.
17 Nasihat mengenai cara berpakaian yang dicatat oleh rasul Paulus di 1 Timotius 2:9 cocok bagi kaum wanita Kristen dewasa ini. Sebagaimana dituntut dari saudara-saudara pria, para saudari hendaknya jangan berpakaian begitu rupa sehingga menarik perhatian kepada diri sendiri, juga tidak cocok untuk berlaku ekstrim dalam mode pakaian yang bersifat duniawi yang memperlihatkan kurang kesederhanaan.
18 Sudah tentu, harus diingat bahwa cara orang berpakaian tidak semua sama. Jangan diharapkan demikian dari mereka. Masing-masing mempunyai cita rasa yang berbeda, dan ini tidak salah. Pakaian yang dianggap sopan juga tidak sama di bagian-bagian bumi yang berlainan, namun selalu baik untuk menghindari cara berpakaian yang menimbulkan prasangka buruk dalam pikiran hadirin dan jangan memberi sontohan kepada mereka yang datang ke perhimpunan.
19 Mengenai pakaian yang sopan untuk saudara-saudara pria sewaktu menyampaikan khotbah di sekolah atau perhimpunan dinas, dapat disarankan agar mereka berpakaian dengan cara yang sama seperti yang biasa bagi saudara yang mengucapkan khotbah umum. Jika orang yang mengucapkan khotbah umum di daerah saudara biasa memakai dasi dan jas, maka itulah pakaian yang patut dikenakan sewaktu menyampaikan khotbah di Sekolah Pelayanan Teokratis, karena saudara dilatih untuk berkhotbah di muka umum.
20 Dandanan yang patut juga perlu mendapat perhatian. Rambut yang tidak tersisir rapi dapat meninggalkan kesan buruk. Perhatian yang sepatutnya dapat diberikan agar penampilan seseorang rapi dalam hal ini. Demikian pula, bila saudara-saudara pria mendapat penugasan di sidang, mereka harus memperhatikan agar wajah mereka dicukur rapi.
21 Berkenaan nasihat dalam cara berpakaian dan dandanan yang baik, bila ada yang patut dipuji, hal ini selalu dapat diberikan dengan sepantasnya dari mimbar. Sebenarnya, dengan memuji mereka yang benar-benar memperhatikan pakaian serta dandanan, orang-orang lain akan merasa dianjurkan untuk mengikuti contoh baik itu. Akan tetapi, jika perbaikan perlu diadakan dalam cara berpakaian dan dandanan, mungkin pengawas sekolah lebih baik memberikan saran-saran ini dengan ramah secara pribadi, dan tidak menasihati siswa dari mimbar.
22-28. Jelaskan bagaimana sikap tubuh dapat mempengaruhi penampilan pribadi.
22 Sikap tubuh yang patut. Sikap tubuh yang patut juga termasuk dalam penampilan pribadi. Sekali lagi, tidak semua orang membawakan diri dengan cara yang sama, dan jangan hendaknya saudara-saudara dipaksa agar menurut pola tertentu yang kaku. Namun, kebiasaan berlebihan yang tidak diingini dan yang menarik perhatian kepada orangnya dan bukan kepada beritanya, harus diperhatikan agar hal-hal ini dapat diperbaiki atau dibuang.
23 Misalnya, tidak setiap orang menaruh kakinya secara tepat sama, dan secara umum tidak menjadi soal bagaimana saudara hendak menaruh kaki, asal saja saudara berdiri tegak. Tetapi jika ada pembicara yang berdiri dengan kedua kaki terpisah jauh satu dengan yang lain sehingga memberi kesan kepada hadirin bahwa ia seolah-olah sedang naik kuda, ini bisa sangat mengganggu perhatian.
24 Demikian juga, seorang pembicara yang berdiri dengan badan membungkuk ke muka, tidak berdiri lurus, akan menimbulkan perasaan kasihan di pihak hadirin terhadap pembicara karena ia kelihatan kurang sehat, dan ini, tentunya, mengalihkan perhatian dari persembahannya. Pikiran mereka bukan pada apa yang sedang ia katakan, melainkan pada dirinya.
25 Berdiri atas satu kaki, dengan kaki yang lainnya dikaitkan di belakang, memberikan bukti yang jelas bahwa ia kurang tenang, seperti halnya berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku. Inilah hal-hal yang harus dihindari.
26 Demikian pula, meskipun tidak salah untuk sewaktu-waktu meletakkan tangan di atas mimbar, jangan bersandar padanya, seperti juga seorang penyiar dalam dinas pengabaran tidak akan bersandar pada tiang pintu sewaktu mengucapkan khotbah pendek. Ini bukan penampilan yang baik.
27 Akan tetapi harus ditandaskan kembali bahwa tidak ada orang yang sama. Tidak setiap orang berdiri dengan cara yang sama, dan hanya keadaan-keadaan ekstrim yang tidak patut, yang mengalihkan perhatian dari persembahan seseorang, itulah yang harus mendapat perhatian dalam Sekolah Pelayanan Teokratis.
28 Memperbaiki sikap tubuh tentu adalah soal persiapan. Jika saudara perlu membuat perbaikan dalam hal ini, saudara harus berpikir sebelumnya dan menyadari bahwa pada waktu saudara berada di mimbar, saudara harus mengambil sikap tubuh yang benar sebelum mulai berbicara. Ini juga sesuatu yang dapat diperbaiki dengan berlatih setiap hari mengatur sikap tubuh yang benar.
29-31. Apa sebabnya perlengkapan kita harus rapi dan bersih?
29 Perlengkapan yang rapi. Jika, pada waktu seseorang sedang berbicara di depan pintu rumah atau sedang menyampaikan khotbah dari mimbar, beberapa kertas jatuh dari Alkitab yang ia gunakan, jelaslah perhatian orang pasti dialihkan. Ini memberi kesan yang buruk. Tidak berarti saudara sama sekali tidak boleh menaruh apapun dalam Alkitab, tetapi bila timbul kesulitan yang mengalihkan perhatian dari khotbah, hal ini menunjukkan perlunya lebih banyak perhatian kepada penampilan yang rapi. Sebaiknya juga periksa keadaan Alkitab saudara. Karena sering digunakan, Alkitab dapat menjadi kotor atau usang dan tidak rapi. Maka ada baiknya untuk memeriksa apakah Alkitab yang digunakan di mimbar atau dalam dinas pengabaran akan menjadi sandungan bagi mereka yang ingin kita bantu.
30 Halnya sama dengan tas buku. Ada banyak cara untuk mengatur sebuah tas buku agar rapi, tetapi jika, pada waktu kita menuju ke suatu rumah dan ingin mengeluarkan sebuah bacaan dari dalam tas, kita harus merogoh di antara sejumlah carikan kertas untuk menemukannya, atau jika, sewaktu kita mengeluarkan sebuah majalah barang-barang lain berjatuhan ke lantai, pasti ada yang harus dilakukan untuk memperbaikinya.
31 Selain itu juga sangat mengganggu perhatian hadirin jika pembicara mengisi saku bajunya penuh dengan pena dan pinsil serta perlengkapan lain yang jelas kelihatan. Tidak perlu dibuat peraturan mengenai di mana seharusnya perlengkapan tersebut diletakkan, namun apabila hal ini menarik perhatian kepada dirinya dan mengalihkan perhatian dari khotbah, maka penyesuaian perlu dilakukan.
32-34. Peranan apa dimainkan oleh ekspresi muka dalam penampilan pribadi?
32 Tidak memperlihatkan ekspresi muka yang tidak cocok. Pada waktu menyiapkan khotbah ada baiknya suasana perasaan yang dituntut untuk bahannya dipertimbangkan. Misalnya, sewaktu berbicara mengenai kematian dan pembinasaan, tidak cocok untuk tersenyum lebar. Demikian pula, sewaktu berbicara mengenai keadaan-keadaan bahagia dari sistem baru, akan kurang tepat untuk bermuka masam.
33 Ekspresi muka biasanya tidak sulit, dan, tentu, ekspresi muka beberapa orang lebih cenderung untuk serius daripada orang-orang lain. Akan tetapi, yang harus dicegah adalah hal berlebihan yang mengalihkan perhatian dari khotbah. Jika ekspresi muka menimbulkan kesangsian dalam pikiran hadirin mengenai kesungguhan pembicara, hal ini pasti bukan maksudnya.
34 Maka ada baiknya sewaktu mempersiapkan khotbah, saudara mempertimbangkan suasana perasaan dalam menyampaikan khotbah itu. Jika ini pokok pembicaraan yang serius, membahas tentang kebinasaan orang fasik, maka khotbah harus dipersembahkan dengan serius pula. Dan jika saudara memikirkan dan tetap mengingat bahannya, ekspresi muka saudara dalam kebanyakan keadaan akan mencerminkan hal itu dengan wajar. Jika pokok pembicaraannya gembira, pokok yang seharusnya menimbulkan keriangan di pihak hadirin, maka ini harus diucapkan dengan gembira juga. Dan jika saudara merasa tenang di mimbar, ekspresi muka biasanya akan memancarkan keriangan itu.
-