-
Kasih Seperti Apa yang Membuat Kita Benar-Benar Bahagia?Menara Pengawal (Edisi Pelajaran)—2018 | Januari
-
-
2. Kasih seperti apa yang dimiliki orang-orang yang tidak mengenal Allah? (Lihat gambar di awal artikel.)
2 Namun, Alkitab juga berkata bahwa di zaman kita, orang-orang yang tidak mengenal Allah akan memiliki kasih yang mementingkan diri. Rasul Paulus menulis bahwa pada hari-hari terakhir, ”orang-orang akan mencintai diri sendiri, mencintai uang”, dan ”mencintai kesenangan bukannya mencintai Allah”. (2 Tim. 3:1-4) Kasih yang mementingkan diri ini bertentangan dengan kasih kepada Allah. Orang yang mementingkan diri berpikir bahwa mereka akan bahagia. Tapi, mereka salah. Sikap seperti itu akan membuat dunia semakin egois dan kehidupan semakin sulit.
3. Apa yang akan kita bahas di artikel ini, dan mengapa?
3 Rasul Paulus tahu bahwa kebanyakan orang akan memiliki kasih yang mementingkan diri dan orang Kristen bisa terpengaruh. Maka, dia memperingatkan agar mereka menghindari orang-orang seperti itu. (2 Tim. 3:5) Tapi mau tidak mau, kita kadang harus berurusan dengan mereka. Jadi, bagaimana caranya agar kita tidak terpengaruh dan tetap bisa menyenangkan Yehuwa, yang adalah Allah kasih? Mari kita bahas perbedaan antara kasih yang Yehuwa ingin kita miliki dan kasih yang disebutkan di 2 Timotius 3:2-4. Dengan begitu, kita bisa memeriksa diri dan menunjukkan kasih yang akan membuat kita benar-benar bahagia.
MENCINTAI ALLAH ATAU DIRI SENDIRI?
4. Mengapa tidak salah kalau kita mengasihi diri sendiri?
4 Paulus menulis, ”Orang-orang akan mencintai diri sendiri.” Apakah ini berarti kita tidak boleh mengasihi diri kita? Bukan begitu. Wajar kalau kita mengasihi diri sendiri karena kita memang diciptakan seperti itu oleh Yehuwa. Malah, kita sebenarnya perlu melakukannya. Yesus berkata, ”Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” (Mrk. 12:31) Ya, kita tidak bisa mengasihi orang lain kalau kita tidak mengasihi diri sendiri. Alkitab juga berkata, ”[Suami] harus mengasihi istrinya seperti tubuhnya sendiri. Orang yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Tidak pernah ada orang yang membenci tubuhnya sendiri. Dia malah memberinya makan dan menyayanginya.” (Ef. 5:28, 29) Jadi jelaslah, kita perlu mengasihi diri sendiri.
5. Seperti apakah orang yang mencintai diri sendiri?
5 Tapi, 2 Timotius 3:2 berbicara tentang orang yang mencintai diri sendiri. Orang seperti ini egois dan mengasihi dirinya secara berlebihan. Dia merasa diri lebih tinggi daripada yang sebenarnya. (Baca Roma 12:3.) Dia tidak memedulikan orang lain. Kalau ada masalah, dia selalu menyalahkan orang lain. Sebuah ulasan Alkitab menyamakan orang seperti itu dengan landak yang menggulung diri. Landak itu sendiri merasa hangat dan nyaman di dalam bulunya yang lembut, sementara yang lain hanya bisa merasakan duri-durinya yang tajam. Orang yang bersikap seperti itu tidak akan benar-benar bahagia.
6. Apa manfaatnya jika kita mengasihi Allah?
6 Sewaktu Paulus menyebut tentang sifat-sifat buruk di 2 Timotius 3:2-4, mencintai diri sendiri disebutkan di urutan yang pertama. Menurut beberapa pakar Alkitab, itu karena mencintai diri sendiri adalah akar dari sifat-sifat buruk lainnya. Sebaliknya, mengasihi Allah akan menghasilkan hal-hal baik, seperti sukacita, kedamaian, kesabaran, kebaikan hati, kebaikan, iman, kelembutan, dan pengendalian diri. (Gal. 5:22, 23) Seorang pemazmur menulis, ”Bahagialah umat yang Allahnya Yehuwa!” (Mz. 144:15) Yehuwa adalah Allah yang bahagia, jadi umat-Nya pun bahagia. Selain itu, mereka bahagia karena suka memberi. (Kis. 20:35) Umat Allah tidak seperti orang-orang yang mencintai diri sendiri, yang hanya memikirkan apa yang bisa mereka terima.
Apa yang harus kita lakukan agar kita tidak mencintai diri sendiri? (Lihat paragraf 7)
7. Pertanyaan apa saja yang bisa membantu kita memastikan bahwa kita mengasihi Allah?
7 Bagaimana kita bisa memastikan bahwa kita lebih mengasihi Allah daripada diri kita sendiri? Renungkanlah nasihat bijaksana ini: ”Jangan suka bertengkar atau merasa diri penting. Sebaliknya, dengan rendah hati, anggaplah orang lain lebih tinggi daripada kalian, dan perhatikanlah kepentingan orang lain, bukan kepentingan diri sendiri saja.” (Flp. 2:3, 4) Pikirkan: ’Apakah saya mengikuti nasihat ini? Apakah saya berusaha melakukan kehendak Yehuwa? Apakah saya mencari cara untuk membantu orang lain di sidang dan dalam dinas lapangan?’ Memang, tidak mudah untuk melakukan semua itu. Kita harus rela menggunakan waktu dan tenaga kita. Bisa jadi, kita juga perlu mengorbankan hal-hal yang kita sukai. Tapi jika kita melakukannya, kita akan bahagia karena tahu bahwa kita menyenangkan Sang Penguasa alam semesta!
8. Apa yang dilakukan banyak orang Kristen karena mereka mengasihi Allah?
8 Karena mengasihi Allah dan ingin melayani Dia dengan lebih sepenuhnya, banyak orang Kristen mengorbankan karier mereka, yang mungkin bisa membuat mereka sangat kaya. Ericka, yang adalah seorang dokter, memutuskan untuk tidak mengejar kariernya. Dia memilih untuk merintis. Ericka dan suaminya telah melayani di beberapa negeri. Dia berkata, ”Hidup kami benar-benar diperkaya karena selama membantu ladang berbahasa asing, kami dapat banyak pengalaman dan sahabat.” Ericka masih bekerja sebagai dokter, tapi sebagian besar waktu dan tenaganya digunakan untuk mengajar tentang Yehuwa dan membantu rekan seiman. Dia berkata bahwa semua ini membuat dia ”merasakan sukacita dan kepuasan batin”.
MENGUMPULKAN HARTA DI SURGA ATAU DI BUMI?
9. Mengapa orang yang mencintai uang tidak akan bahagia?
9 Paulus juga menulis bahwa orang-orang akan ”mencintai uang”. Beberapa tahun lalu, seorang perintis di Irlandia berbicara tentang Allah kepada seorang pria. Pria itu membuka dompetnya lalu mengeluarkan uang dan berkata, ”Ini allah saya!” Banyak orang punya perasaan yang sama dengan pria itu, meskipun mereka mungkin tidak mengakuinya. Mereka mencintai uang dan hal-hal yang bisa dibelinya. Tapi Alkitab memperingatkan, ”Orang yang mencintai perak tidak akan pernah puas dengan perak, dan yang mencintai kekayaan tidak akan pernah puas dengan penghasilan.” (Pkh. 5:10) Ya, orang yang mencintai uang akan selalu menginginkan lebih banyak. Dia akan menggunakan hidupnya untuk mencari uang. Akibatnya, dia mengalami ”banyak penderitaan”.—1 Tim. 6:9, 10.
10. Apa yang dikatakan Alkitab tentang kekayaan dan kemiskinan?
10 Kita semua memang membutuhkan uang, karena ”uang adalah perlindungan”. (Pkh. 7:12) Namun, apakah kita bisa bahagia kalau uang kita hanya cukup untuk kebutuhan pokok kita? Ya! (Baca Pengkhotbah 5:12.) Agur anak Yake pernah berdoa, ”Jangan beri aku kemiskinan ataupun kekayaan.” Pria ini tidak mau jatuh miskin karena dia tidak mau tergoda untuk mencuri. Dia tahu bahwa kalau dia mencuri, Allah bisa dicela. Tapi, mengapa dia tidak mau menjadi kaya? Dia menulis, ”Supaya aku tidak menjadi kenyang lalu menyangkal-Mu dan berkata, ’Siapa itu Yehuwa?’” (Ams. 30:8, 9) Saudara mungkin mengenal orang-orang yang mengandalkan harta mereka, bukannya mengandalkan Allah.
11. Apa yang Yesus katakan tentang kekayaan?
11 Orang yang cinta uang tidak akan bisa menyenangkan Allah. Yesus berkata, ”Tidak ada yang bisa menjadi budak bagi dua majikan, karena dia akan membenci yang satu dan mengasihi yang lain, atau setia kepada yang satu dan meremehkan yang lain. Kalian tidak bisa menjadi budak Allah sekaligus budak Kekayaan.” Yesus juga berkata, ”Jangan lagi menimbun harta di bumi, karena serangga dan karat akan merusaknya, dan pencuri akan datang mencurinya. Sebaliknya, timbunlah harta di surga, karena di sana tidak ada serangga maupun karat yang merusaknya, dan tidak ada pencuri yang datang mencurinya.”—Mat. 6:19, 20, 24.
12. Apa manfaatnya menyederhanakan kehidupan? Berikan contoh.
12 Banyak hamba Yehuwa menyederhanakan kehidupan agar punya lebih banyak waktu untuk melayani Yehuwa. Mereka pun menjadi lebih bahagia. Jack, yang tinggal di Amerika Serikat, menjual rumahnya yang besar dan bisnisnya supaya bisa merintis dengan istrinya. Dia bercerita, ”Sulit rasanya untuk menjual rumah dan properti kami yang indah di pedesaan. Tapi, selama bertahun-tahun, saya selalu pulang dalam keadaan stres karena masalah di tempat kerja. Istri saya, yang adalah perintis biasa, selalu bahagia. Dia sering bilang, ’Saya punya bos yang paling baik!’ Sekarang saya juga merintis, dan kami bekerja untuk bos yang sama, Yehuwa.”
Apa yang harus kita lakukan agar kita tidak mencintai uang? (Lihat paragraf 13)
13. Bagaimana kita bisa memeriksa pandangan kita soal uang?
13 Kita perlu dengan jujur memeriksa apakah kita punya pandangan yang seimbang soal uang. Pikirkan: ’Apakah cara hidup saya menunjukkan bahwa saya mengikuti nasihat Alkitab tentang uang? Apakah mencari uang adalah hal utama bagi saya? Bagi saya, apakah hal-hal materi lebih penting daripada persahabatan saya dengan Yehuwa dan dengan orang lain? Apakah saya benar-benar percaya bahwa Yehuwa akan menyediakan kebutuhan saya?’ Yakinlah, Yehuwa tidak akan mengecewakan orang yang mengandalkan Dia!—Mat. 6:33.
MENCINTAI ALLAH ATAU KESENANGAN?
14. Apa pandangan yang seimbang tentang kesenangan?
14 Alkitab juga berkata bahwa di hari-hari terakhir, orang akan ”mencintai kesenangan”. Kita sudah membahas bahwa mengasihi diri sendiri dan mencari uang itu tidak salah, asalkan tidak berlebihan. Begitu juga, tidak salah kalau kita menikmati kehidupan dengan sewajarnya. Ada yang merasa bahwa manusia sama sekali tidak boleh bersenang-senang. Tapi, bukan itu yang Yehuwa inginkan. Alkitab berkata, ”Ayo, nikmati makananmu dengan gembira, dan minumlah anggurmu dengan riang hati.”—Pkh. 9:7.
15. Apa artinya mencintai kesenangan?
15 Perhatikan bahwa 2 Timotius 3:4 tidak mengatakan bahwa orang-orang akan lebih mencintai kesenangan daripada mencintai Allah. Sebaliknya, ayat itu berkata bahwa mereka mencintai kesenangan, ”bukannya mencintai Allah”. Menurut seorang pakar, itu berarti ”mereka sama sekali tidak mengasihi Allah”. Alkitab berkata bahwa orang seperti itu sudah tersimpangkan oleh kenikmatan hidup. (Luk. 8:14) Ini benar-benar serius dan harus dipikirkan oleh mereka yang mencintai kesenangan.
16, 17. Bagaimana Yesus memberi kita teladan dalam hal menikmati kesenangan?
16 Yesus punya pandangan yang seimbang soal kesenangan. Dia pernah menghadiri ”pesta pernikahan” dan sebuah ”pesta besar” lain. (Yoh. 2:1-10; Luk. 5:29) Saat minuman anggur di pesta pernikahan itu habis, Yesus secara mukjizat mengubah air menjadi minuman anggur. Pada kesempatan lain, ketika orang mengkritik Yesus karena makan dan minum, dia menyiratkan bahwa mereka tidak seimbang.—Luk. 7:33-36.
17 Tapi bagi Yesus, kesenangan bukanlah hal terpenting dalam hidupnya. Dia selalu mengutamakan Yehuwa dan sibuk membantu orang lain. Dia bahkan rela menjalani kematian yang menyakitkan demi menyelamatkan manusia. Yesus memberi tahu para pengikutnya, ”Bahagialah kalian kalau orang-orang mencela kalian, menganiaya kalian, dan mengatakan berbagai dusta yang jahat tentang kalian demi aku. Sebab nabi-nabi sebelum kalian pun dianiaya seperti itu. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upah kalian besar di surga.”—Mat. 5:11, 12.
Apa yang harus kita lakukan agar kita tidak mencintai kesenangan? (Lihat paragraf 18)
18. Pertanyaan apa saja yang bisa membantu kita memeriksa apakah kita mencintai kesenangan?
18 Bagaimana kita bisa memeriksa pandangan kita terhadap kesenangan? Renungkanlah: ’Apakah saya lebih memilih untuk menikmati hiburan daripada berhimpun dan mengabar? Apakah saya rela mengorbankan hal-hal yang saya sukai demi melayani Allah? Apakah saya memikirkan pandangan Yehuwa sewaktu memilih hiburan?’ Karena kita mengasihi Allah dan ingin menyenangkan Dia, kita tidak hanya menghindari hal-hal yang kita tahu salah, tapi juga hal-hal yang kita rasa bisa membuat Allah tidak senang.—Baca Matius 22:37, 38.
CARANYA KITA BISA BAHAGIA
19. Orang seperti apa yang tidak akan benar-benar bahagia?
19 Dunia Setan telah membuat manusia menderita selama sekitar 6.000 tahun. Sekarang, di hari-hari terakhir dunia ini, bumi penuh dengan orang-orang yang hanya memikirkan diri sendiri, uang, dan kesenangan. Yang mereka pedulikan hanya apa yang bisa mereka dapatkan. Mereka mengutamakan keinginan mereka sendiri. Mereka tidak akan benar-benar bahagia! Sebaliknya, Alkitab berkata, ”Bahagialah orang yang meminta tolong kepada Allah Yakub, yang berharap kepada Yehuwa Allahnya.”—Mz. 146:5.
-
-
Lihatlah Perbedaan Antara Umat Yehuwa dan Orang-Orang LainnyaMenara Pengawal (Edisi Pelajaran)—2018 | Januari
-
-
2 Sekarang ini, banyak orang tidak mengasihi Allah. Mereka tidak memedulikan pandangan Allah tentang apa yang benar dan salah. Rasul Paulus menyebutkan sifat-sifat buruk mereka dalam suratnya kepada Timotius. Paulus berkata bahwa sifat-sifat itu akan semakin terlihat menjelang akhir dunia ini. (Baca 2 Timotius 3:1-5, 13.) Meski kita tahu bahwa sifat-sifat itu sangat buruk, kita masih bisa terpengaruh oleh cara berpikir, kata-kata, atau tindakan orang-orang di sekitar kita. (Ams. 13:20) Di artikel ini, kita akan melihat perbedaan antara sifat-sifat buruk itu dengan sifat-sifat umat Allah. Kita juga akan membahas caranya agar kita tidak terpengaruh sifat buruk orang lain seraya kita membantu mereka mengenal Yehuwa.
3. Orang-orang seperti apa yang digambarkan di 2 Timotius 3:2-5?
3 Setelah Paulus menulis bahwa ”keadaan pada hari-hari terakhir akan sulit dihadapi”, dia menyebutkan 19 sifat buruk yang akan dimiliki orang-orang pada zaman itu. Sifat-sifat ini mirip dengan yang dia sebutkan di Roma 1:29-31. Tapi dalam suratnya kepada Timotius ini, dia menggunakan istilah-istilah yang tidak ada di ayat lain mana pun. Namun, tidak semua orang akan punya sifat-sifat buruk seperti itu. Orang Kristen punya sifat yang sangat berbeda dengan mereka.—Baca Maleakhi 3:18.
CARA KITA MEMANDANG DIRI SENDIRI
4. Seperti apa orang yang sombong itu?
4 Paulus berkata bahwa banyak orang akan mencintai diri sendiri dan uang, lalu dia menambahkan bahwa orang-orang akan membanggakan diri, merasa diri hebat, dan sombong. Mereka merasa diri lebih baik daripada yang lain karena penampilan, kesanggupan, harta, atau kedudukan mereka. Orang seperti itu sangat ingin dikagumi. Seorang pakar berkomentar bahwa orang yang sombong itu seperti menyembah dirinya sendiri. Ada juga yang berkata bahwa kesombongan adalah sifat yang begitu buruk, sampai-sampai orang yang sombong pun tidak suka melihat kesombongan orang lain.
5. Hamba-hamba Yehuwa pun bisa menjadi sombong. Berikan contoh.
5 Yehuwa membenci kesombongan. Alkitab berkata bahwa dia muak dengan ”mata yang sombong”. (Ams. 6:16, 17) Orang yang sombong tidak bisa dekat dengan Allah. (Mz. 10:4) Kesombongan adalah sifat Iblis. (1 Tim. 3:6) Sayangnya, beberapa hamba Yehuwa pernah menjadi sombong. Contohnya adalah Raja Uzzia dari Yehuda. Meski dia setia selama bertahun-tahun, Alkitab berkata, ”Begitu dia menjadi kuat, hatinya menjadi sombong sampai membuat dirinya sendiri hancur. Dia tidak setia kepada Yehuwa Allahnya.” Uzzia dengan lancang masuk ke bait Yehuwa dan membakar dupa. Belakangan, Raja Hizkia juga pernah menjadi sombong selama beberapa waktu.—2 Taw. 26:16; 32:25, 26.
6. Apa saja yang bisa membuat Daud sombong? Tapi mengapa dia tetap rendah hati?
6 Daud adalah orang yang tampan, kuat, terkenal, punya bakat musik, dan dikagumi orang lain. Orang seperti itu biasanya sombong, tapi Daud selalu rendah hati. Setelah dia mengalahkan Goliat, Raja Saul berkata bahwa Daud boleh menikahi putrinya. Tapi Daud berkata, ”Siapakah saya, dan siapakah kerabat saya, atau keluarga ayah saya di Israel, sehingga saya bisa menjadi menantu raja?” (1 Sam. 18:18) Apa yang membuat Daud tetap rendah hati? Dia tahu bahwa dia bisa memiliki kesanggupan seperti itu karena Allah dengan rendah hati mau memperhatikan dia. (Mz. 113:5-8) Daud sadar bahwa semua hal baik yang dia miliki berasal dari Yehuwa.—Bandingkan 1 Korintus 4:7.
7. Apa yang membuat kita ingin bersikap rendah hati?
7 Seperti Daud, umat Yehuwa sekarang berusaha untuk rendah hati. Kita tersentuh karena meskipun Yehuwa mahatinggi, Dia rendah hati. (Mz. 18:35) Kita ingin mengikuti nasihat ini: ”Kenakanlah kasih sayang, keibaan hati, kebaikan hati, kerendahan hati, kelembutan, dan kesabaran.” (Kol. 3:12) Kita tahu bahwa orang yang pengasih itu ”tidak membanggakan diri [dan] tidak menjadi sombong”. (1 Kor. 13:4) Sama seperti seorang suami mungkin tertarik untuk mengenal Yehuwa karena tingkah laku istri Kristen yang baik, orang-orang bisa tertarik pada kebenaran karena kerendahan hati umat Yehuwa.—1 Ptr. 3:1.
CARA KITA MEMPERLAKUKAN ORANG LAIN
8. (a) Apa pandangan yang umum tentang menaati orang tua? (b) Apa yang Alkitab perintahkan kepada anak-anak?
8 Paulus juga menunjukkan bagaimana orang akan memperlakukan satu sama lain di hari-hari terakhir. Dia menulis bahwa anak-anak akan menjadi tidak taat kepada orang tua. Di zaman sekarang, ada banyak buku, film, dan acara televisi yang membuat sikap seperti itu terlihat wajar dan berterima. Padahal, sikap itu akan merusak keluarga, dan masyarakat pun akhirnya rusak. Sebenarnya, sejak dulu manusia sudah memahami hal ini. Misalnya, di Yunani kuno, orang yang memukul orang tuanya bisa kehilangan semua haknya sebagai warga negara. Menurut hukum Romawi, orang yang memukul ayahnya bisa mendapat hukuman yang sama dengan seorang pembunuh. Kitab-Kitab Ibrani maupun Yunani Kristen memerintahkan anak-anak untuk menghormati orang tua.—Kel. 20:12; Ef. 6:1-3.
9. Apa yang akan membuat anak-anak lebih mudah menaati orang tua?
9 Apa yang bisa membuat anak-anak menaati orang tua meskipun anak-anak lain tidak? Mereka perlu memikirkan apa yang telah orang tua lakukan bagi mereka. Dengan begitu, mereka akan berterima kasih dan mau menaati orang tua. Anak-anak juga perlu sadar bahwa Yehuwa, Bapak kita semua, ingin agar mereka menaati orang tua. Kalau anak-anak membicarakan hal-hal baik tentang orang tua, teman-teman mereka juga akan tergerak untuk menaati orang tua mereka sendiri. Tentu saja, jika orang tua tidak punya kasih sayang terhadap anak mereka, anak itu akan sulit menaati mereka. Namun jika anak itu merasa disayang, dia akan menaati orang tuanya walaupun sulit. Seorang saudara muda bernama Austin berkata, ”Kadang, saya tergoda untuk berbuat salah. Tapi, orang tua saya memberikan nasihat yang masuk akal dan menjelaskan mengapa aturan tertentu dibuat. Mereka juga mudah diajak bicara. Jadi, saya bisa menaati mereka. Saya tahu bahwa mereka sayang kepada saya, jadi saya mau membuat mereka senang.”
10, 11. (a) Sifat apa saja yang menunjukkan bahwa seseorang tidak mengasihi sesamanya? (b) Sejauh mana orang Kristen sejati mengasihi orang lain?
10 Paulus juga menyebutkan sifat-sifat lain yang menunjukkan bahwa orang-orang tidak mengasihi satu sama lain. Setelah menyebut tentang ketidaktaatan kepada orang tua, dia menyebutkan sikap tidak berterima kasih. Ini cocok karena orang yang tidak berterima kasih tidak menghargai kebaikan orang lain, termasuk orang tua mereka sendiri. Selanjutnya, Paulus berkata bahwa orang-orang akan menjadi tidak setia. Mereka juga tidak mau berdamai, atau bersepakat. Mereka berkhianat serta menghina orang-orang dan bahkan Allah. Selain itu, mereka akan memfitnah, atau merusak nama baik orang lain.a
11 Yesus berkata bahwa dalam Hukum Musa, perintah untuk mengasihi sesama adalah perintah kedua yang terpenting setelah perintah untuk mengasihi Allah. (Mat. 22:38, 39) Yesus juga berkata bahwa orang Kristen sejati akan dikenali dari kasih mereka terhadap satu sama lain. (Baca Yohanes 13:34, 35.) Ya, sejak dulu umat Yehuwa terbukti sangat berbeda dengan kebanyakan orang di dunia ini, karena mereka mengasihi orang lain dengan tulus. Orang Kristen sejati bahkan mengasihi musuh mereka.—Mat. 5:43, 44.
12. Bagaimana Yesus menunjukkan bahwa dia mengasihi orang lain?
12 Yesus sendiri menunjukkan bahwa dia mengasihi orang lain. Dia pergi dari satu kota ke kota lain untuk menyampaikan kabar baik tentang Kerajaan Allah. Dia menyembuhkan orang buta, orang lumpuh, orang tuli, dan penderita kusta. Dia juga membangkitkan orang mati. (Luk. 7:22) Yesus bahkan rela mengorbankan nyawanya demi manusia walaupun banyak orang membenci dia. Yesus meniru kasih Bapaknya dengan sempurna. Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia juga meniru Yesus dan mengasihi orang lain.
13. Berikan contoh yang menunjukkan bahwa kasih kita kepada sesama bisa membuat orang ingin mengenal Yehuwa.
13 Jika orang-orang melihat bahwa kita mengasihi mereka, mereka bisa tergerak untuk mengenal Bapak kita, Yehuwa. Inilah yang dialami seorang pria di Thailand ketika menghadiri kebaktian regional. Dia tersentuh melihat saudara-saudari saling mengasihi. Setelah pulang, dia meminta untuk belajar Alkitab dengan Saksi-Saksi Yehuwa dua kali seminggu. Dia lalu mengabar kepada seluruh keluarganya. Enam bulan kemudian, pria ini menyampaikan pembacaan Alkitab pertamanya di Balai Kerajaan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita mengasihi orang lain? Pikirkan: ’Apakah saya berusaha sebisa-bisanya untuk membantu keluarga saya, saudara-saudari, dan orang-orang yang saya kabari? Apakah saya memandang orang lain seperti Yehuwa memandang mereka?’
SERIGALA DAN DOMBA
14, 15. (a) Sifat buruk apa saja yang dimiliki banyak orang? (b) Bagaimana banyak orang telah mengubah sifat mereka?
14 Di hari-hari terakhir, ada lagi sifat-sifat buruk yang harus kita hindari. Banyak orang tidak menyukai kebaikan, bahkan membencinya. Mereka tidak punya pengendalian diri, garang, dan keras kepala. Mereka bertindak tanpa berpikir dan tidak peduli apa pengaruh tindakan mereka terhadap orang lain.
15 Namun, banyak orang yang dulunya garang seperti binatang buas telah berubah. Perubahan ini sudah dinubuatkan di Yesaya 11:6, 7. (Baca.) Ayat itu berbicara tentang binatang buas, seperti serigala dan singa, yang akan tinggal damai dengan binatang-binatang lainnya, seperti domba dan kambing. Nah, dari mana kita tahu bahwa ayat itu juga berbicara tentang manusia? Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa mereka bisa berdamai ”karena bumi pasti akan dipenuhi pengetahuan tentang Yehuwa”. (Yes. 11:9) Binatang tidak bisa belajar tentang Yehuwa, jadi nubuat itu pasti juga menggambarkan orang-orang yang mengubah kepribadian mereka.
Alkitab bisa mengubah kehidupan! (Lihat paragraf 16)
16. Bagaimana Alkitab membantu orang mengubah kepribadian mereka?
16 Banyak saudara-saudari kita yang tadinya garang telah berubah menjadi suka damai. Pengalaman mereka dimuat dalam seri ”Alkitab Mengubah Kehidupan” di jw.org. Mereka berbeda dengan orang-orang yang tidak mengenal Yehuwa, yang berpura-pura mengabdi kepada Allah padahal menolak bimbingan kuasa-Nya. Cara hidup orang-orang seperti ini menunjukkan bahwa mereka tidak menyembah Allah. Sebaliknya, banyak hamba Yehuwa berubah dengan ”mengenakan kepribadian baru, yang dibuat menurut kehendak Allah, yang sesuai dengan kebenaran dan kesetiaan yang sejati”. (Ef. 4:23, 24) Saat belajar tentang Allah, mereka sadar bahwa mereka harus mengikuti standar-Nya. Maka, mereka mengubah keyakinan, cara berpikir, dan kebiasaan mereka. Ini memang tidak mudah, tapi kuasa kudus Allah bisa membantu orang yang ingin menyenangkan Allah.
”JAUHILAH ORANG-ORANG SEPERTI ITU”
17. Bagaimana caranya agar kita tidak terpengaruh oleh sifat buruk orang lain?
17 Semakin lama, perbedaan antara umat Allah dan orang-orang yang tidak melayani Allah menjadi semakin jelas. Kalau tidak berhati-hati, kita bisa terpengaruh oleh sifat buruk orang lain. Maka, ikutilah nasihat Yehuwa dengan menjauhi orang-orang yang sifatnya disebutkan di 2 Timotius 3:2-5. Memang, kita tidak bisa benar-benar menghindari mereka karena kita mungkin bertemu mereka di tempat kerja, di sekolah, atau di lingkungan kita. Tapi yang terpenting, kita harus melindungi diri agar tidak terpengaruh oleh cara berpikir dan tingkah laku mereka. Caranya, perkuatlah persahabatan kita dengan Yehuwa. Teruslah pelajari Alkitab, dan bersahabatlah dengan orang-orang yang mengasihi Yehuwa.
18. Bagaimana kata-kata dan tingkah laku kita bisa membuat orang ingin mengenal Yehuwa?
18 Kita ingin membantu orang lain mengenal Yehuwa. Carilah kesempatan untuk mengabar, dan mintalah bantuan Yehuwa untuk menyampaikan kata-kata yang tepat pada waktu yang tepat. Beri tahu orang-orang bahwa kita adalah Saksi Yehuwa. Dengan begitu, orang yang melihat tingkah laku kita akan memuliakan Allah, bukan diri kita. Yehuwa sudah mengajar kita ”untuk menolak apa yang buruk di mata Allah, menolak keinginan duniawi, hidup dengan pertimbangan yang baik, dengan kebenaran, dan dengan pengabdian kepada Allah di tengah dunia sekarang ini”. (Tit. 2:11-14) Jika kita meniru Yehuwa dan melakukan kehendak-Nya, orang yang melihatnya mungkin akan berkata, ”Kami mau ikut bersama kalian, karena kami dengar Allah menyertai kalian.”—Za. 8:23.
-