PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • ”Belilah Kebenaran dan Jangan Pernah Menjualnya”
    Menara Pengawal (Edisi Pelajaran)—2018 | November
    • Sepasang suami istri membaca Alkitab dan merenungkan arti nama Yehuwa, tebusan, Kerajaan Mesias, dan kehidupan di Firdaus

      ”Belilah Kebenaran dan Jangan Pernah Menjualnya”

      ”Belilah kebenaran dan jangan pernah menjualnya, juga hikmat, didikan, dan pengertian.”​—AMS. 23:23.

      NYANYIAN: 94, 96

      APA JAWABAN SAUDARA?

      • Bagaimana kita bisa membeli kebenaran dari Yehuwa?

      • Saat kita belajar kebenaran dari Alkitab, lima hal apa yang mungkin harus kita korbankan?

      • Seberapa berhargakah kebenaran bagi Saudara, dan apa tekad Saudara?

      1, 2. (a) Apa hal yang paling berharga bagi Saudara? (b) Kebenaran apa saja yang kita anggap berharga, dan mengapa? (Lihat gambar di awal artikel.)

      HAL apa yang paling berharga bagi Saudara? Sebagai umat Yehuwa, yang paling berharga bagi kita adalah hubungan kita dengan Yehuwa. Kita tidak akan menukarnya dengan apa pun. Selain itu, kita punya kebenaran dari Alkitab yang sangat berharga. Kebenaran itu membuat kita bisa menjadi sahabat Yehuwa.​—Kol. 1:9, 10.

      2 Yehuwa adalah Pengajar yang Agung. Melalui Firman-Nya Alkitab, Dia mengajarkan banyak kebenaran berharga. Misalnya, Yehuwa memberi tahu kita arti nama-Nya dan sifat-Nya yang luar biasa. Yehuwa juga memberi tahu kita bahwa Dia sangat mengasihi kita. Jadi, Dia memberikan Putra yang Dia sayangi sebagai tebusan. Yehuwa mengajar kita tentang Kerajaan yang dipimpin Yesus dan tentang harapan masa depan. Kaum terurap akan hidup di surga, dan ”domba-domba lain” akan hidup di Firdaus. (Yoh. 10:16) Yehuwa juga mengajarkan cara terbaik untuk menjalani kehidupan. Semua kebenaran ini membantu kita mendekat kepada Yehuwa dan punya tujuan hidup. Jadi, kita menganggap semua kebenaran itu sangat berharga.

      3. Saat memberi kita kebenaran, apakah Yehuwa meminta uang dari kita?

      3 Yehuwa adalah Allah yang sangat murah hati. Dia bahkan rela mengorbankan Putra-Nya untuk kita. Jadi, kalau ada orang yang mencari kebenaran, Yehuwa mau membantunya. Dia tidak akan meminta uang dari orang itu. Pada zaman dulu, ada seorang pria bernama Simon yang menawari Rasul Petrus uang, karena dia ingin punya kemampuan untuk memberikan kuasa kudus kepada orang lain. Petrus menunjukkan bahwa cara berpikir itu salah. Dia mengatakan, ”Semoga kamu binasa bersama uangmu, karena kamu pikir karunia Allah bisa kamu beli dengan uang.” (Kis. 8:18-20) Jadi, apa artinya membeli kebenaran?

      APA ARTINYA MEMBELI KEBENARAN?

      4. Di artikel ini, apa yang akan kita pelajari tentang kebenaran?

      4 Baca Amsal 23:23. Untuk belajar kebenaran dari Alkitab, kita harus berupaya dan juga harus mengorbankan beberapa hal. Setelah mendapatkan kebenaran, atau membelinya, kita harus berhati-hati agar tidak sampai menjualnya, atau meninggalkannya. Bagaimana kita bisa membeli kebenaran? Pengorbanan apa saja yang mungkin kita buat? Dengan membahas hal-hal ini, kita akan semakin menghargai kebenaran dan bertekad untuk tidak meninggalkannya. Kita pun akan mengerti mengapa kebenaran dari Yehuwa jauh lebih berharga daripada apa pun.

      5, 6. (a) Bagaimana kita bisa membeli kebenaran tanpa mengeluarkan uang? Berikan gambaran. (b) Apa saja manfaat kebenaran bagi kita?

      5 Kata Ibrani yang diterjemahkan menjadi ’membeli’ di Amsal 23:23 bisa berarti ”mendapatkan”. Dua kata ini menunjukkan bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang kita anggap berharga, kita harus berupaya. Kita mungkin juga harus mengorbankan sesuatu. Sebagai gambaran, bayangkan kita diberi tahu bahwa ada pisang gratis di pasar. Pisang itu tidak akan tiba-tiba ada di meja makan kita. Meski pisang itu gratis, kita harus berupaya mendapatkannya. Kita tetap harus pergi ke pasar dan membawanya pulang. Begitu juga, kita memang tidak harus mengeluarkan uang untuk mendapatkan kebenaran. Tapi, kita harus berupaya dan membuat pengorbanan.

      6 Baca Yesaya 55:1-3. Di ayat-ayat ini, Yehuwa membantu kita memahami apa maksudnya membeli kebenaran. Dia juga membandingkan Firman-Nya dengan air, susu, dan anggur. Seperti air dingin yang bisa menyegarkan orang yang haus, kebenaran menyegarkan kita. Dan sama seperti susu yang membuat seorang anak sehat dan kuat, Alkitab menguatkan hubungan kita dengan Yehuwa. Yehuwa juga menyamakan Firman-Nya dengan anggur. Alkitab mengatakan bahwa anggur bisa membuat orang gembira. (Mz. 104:15) Jadi kalau kita mengikuti bimbingan Yehuwa dalam kehidupan, kita akan merasa bahagia. (Mz. 19:8) Intinya, Yehuwa ingin menunjukkan bahwa kita akan mendapat banyak manfaat kalau kita mempelajari dan menjalankan kebenaran. Sekarang, kita akan membahas lima hal yang mungkin harus kita korbankan agar bisa membeli kebenaran.

      APA YANG TELAH SAUDARA KORBANKAN UNTUK MEMBELI KEBENARAN?

      7, 8. (a) Mengapa mempelajari kebenaran itu butuh waktu? (b) Pengorbanan apa yang dibuat Mariko, dan apa hasilnya?

      7 Waktu. Untuk mempelajari kebenaran, kita perlu mendengarkan kabar baik Kerajaan, membaca Alkitab dan publikasi, belajar Alkitab dengan para Saksi, membuat persiapan untuk perhimpunan, dan berhimpun. Itu semua butuh waktu. Jadi, kita harus mengorbankan kegiatan lain yang kurang penting. (Baca Efesus 5:15, 16, dan catatan kaki di ayat 16.) Untuk benar-benar memahami kebenaran dasar Alkitab, berapa banyak waktu yang dibutuhkan? Jawabannya berbeda-beda bagi setiap orang. Terbitan Watch Tower yang pertama mengatakan bahwa kebenaran itu bagaikan ”setangkai bunga kecil”. Majalah itu mengatakan, ”Jangan cepat puas kalau kita menemukan satu bunga kebenaran. Kalau kita cepat puas, kita tidak akan mendapatkan kebenaran lain. Kumpulkan dan cari sebanyak mungkin kebenaran.” Pikirkan, ’Berapa banyak yang telah saya pelajari tentang Yehuwa?’ Kalaupun kita hidup selamanya, masih ada banyak hal yang bisa kita pelajari tentang Yehuwa. Belajar tentang hikmat, jalan, dan perbuatan Yehuwa itu tidak ada habisnya. (Rm. 11:33) Tapi sekarang, kita harus menggunakan waktu untuk belajar sebanyak-banyaknya. Paragraf berikut menceritakan contoh yang bagus.

      8 Mariko,a seorang gadis dari Jepang, pindah ke New York City, Amerika Serikat, untuk bersekolah. Suatu hari, seorang saudari perintis mengabar kepadanya. Mariko sudah punya agama, tapi dia mau belajar Alkitab dengan saudari itu. Karena sangat menyukai kebenaran yang dia pelajari, dia minta belajar dua kali seminggu. Mariko juga langsung mulai berhimpun meski sangat sibuk bersekolah dan bekerja paruh waktu. Dia juga mengurangi waktu rekreasi supaya bisa punya lebih banyak waktu untuk mempelajari kebenaran. Karena pengorbanan yang dia lakukan, Mariko bisa semakin akrab dengan Yehuwa. Dalam waktu kurang dari setahun, dia dibaptis. Enam bulan kemudian, pada 2006, dia menjadi perintis dan masih merintis sampai sekarang.

      9, 10. (a) Setelah belajar kebenaran, bagaimana perasaan kita tentang harta? (b) Pengorbanan apa yang dibuat Maria, dan bagaimana perasaannya?

      9 Harta. Untuk belajar kebenaran, kita mungkin perlu mengorbankan karier yang bagus atau pekerjaan yang bergaji besar. Itulah yang dilakukan Rasul Petrus dan Andreas, yang tadinya adalah nelayan. Saat Yesus mengundang mereka untuk menjadi muridnya, mereka meninggalkan bisnis mereka. (Mat. 4:18-20) Ini bukan berarti kita harus meninggalkan pekerjaan kita. Kita harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. (1 Tim. 5:8) Tapi saat belajar kebenaran, kita sadar bahwa uang dan harta bukanlah yang paling penting dalam kehidupan. Yesus mengatakan, ”Jangan lagi menimbun harta di bumi.” Tapi dia berkata, ”Timbunlah harta di surga.” (Mat. 6:19, 20) Itulah yang dilakukan seorang gadis bernama Maria.

      10 Dari kecil, Maria suka bermain golf. Saat SMA, dia sudah sangat mahir sehingga mendapat beasiswa untuk kuliah. Maria ingin menjadi pemain golf profesional dan punya banyak uang. Lalu suatu hari, Maria mulai belajar Alkitab. Dia senang dengan kebenaran yang dia pelajari dan mulai menjalankannya dalam kehidupan. Dia mengatakan, ”Saya terus mengubah sikap dan gaya hidup saya supaya sesuai dengan Alkitab. Saya merasa semakin bahagia.” Maria tahu bahwa dia tidak bisa berfokus melayani Yehuwa sambil terus mengejar karier. (Mat. 6:24) Jadi, dia mengorbankan mimpinya untuk menjadi pemain golf profesional. Tapi, dia mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Sekarang, Maria melayani sebagai perintis. Dia berkata, ”Ini adalah kehidupan yang paling bermakna dan bahagia.”

      11. Setelah kita mengetahui kebenaran, apa pengaruhnya atas hubungan kita dengan orang lain?

      11 Hubungan dengan orang lain. Ketika kita mulai menjalankan apa yang kita pelajari dari Alkitab, hubungan kita dengan teman dan keluarga mungkin akan berubah. Mengapa? Yesus memberitahukan alasannya saat dia berdoa bagi para pengikutnya, ”Sucikanlah mereka dengan kebenaran. Firman-Mu adalah kebenaran.” (Yoh. 17:17; ctk.) Kata ’menyucikan’ bisa berarti ”memisahkan”. Saat kita mulai menjalankan kebenaran, kita dipisahkan dan menjadi berbeda dari dunia karena kita mengikuti ajaran Alkitab. Kita memang terus berusaha menjaga hubungan baik dengan teman-teman dan keluarga kita. Tapi, mereka mungkin tidak terlalu menyukai kepercayaan kita dan bahkan menentangnya. Kita tidak usah heran. Yesus mengatakan, ”Sesungguhnya, orang akan dimusuhi oleh anggota rumah tangganya sendiri.” (Mat. 10:36) Ya, kita mungkin harus banyak berkorban. Tapi, Yesus berjanji bahwa berkat yang kita terima akan jauh lebih besar!​—Baca Markus 10:28-30.

      12. Pengorbanan apa yang dibuat seorang pria Yahudi demi kebenaran?

      12 Dari kecil, seorang pria Yahudi bernama Aaron merasa bahwa nama Allah tidak boleh diucapkan. Tapi, dia ingin sekali tahu kebenaran tentang Allah. Suatu hari, seorang Saksi menunjukkan bahwa nama Allah bisa diucapkan. Nama Allah ditulis dengan empat huruf mati bahasa Ibrani. Kalau huruf-huruf hidup ditambahkan, nama Allah bisa diucapkan sebagai ”Yehuwa”. Aaron senang sekali saat mengetahui hal ini! Dia pun pergi ke rumah ibadah Yahudi untuk memberi tahu para guru agama di sana. Dia berpikir mereka pasti senang karena tahu kebenaran tentang nama Allah, tapi mereka malah meludahi dia dan mengusirnya. Keluarga Aaron juga memusuhi dia. Tapi, Aaron terus belajar tentang Yehuwa. Dia akhirnya menjadi seorang Saksi Yehuwa dan melayani Yehuwa dengan setia seumur hidupnya. Seperti Aaron, hubungan kita dengan orang lain juga bisa berubah setelah kita belajar kebenaran.

      13, 14. Setelah belajar kebenaran, pikiran dan perbuatan seperti apa yang harus kita ubah? Berikan contoh.

      13 Pikiran dan perbuatan yang salah. Saat kita belajar kebenaran dan mulai mengikuti ajaran Alkitab, kita harus rela mengubah cara berpikir dan tingkah laku kita. Rasul Petrus menulis, ”Sebagai anak-anak yang taat, jangan lagi dipengaruhi oleh keinginan kalian yang dulu, yang kalian miliki sebelum punya pengetahuan.” Lalu dia menambahkan, ”Kalian harus kudus dalam seluruh tingkah laku kalian.” (1 Ptr. 1:14, 15) Di kota Korintus kuno, banyak orang tidak bermoral. Saat mereka membeli kebenaran, mereka harus benar-benar berubah agar bisa dianggap bersih oleh Yehuwa. (1 Kor. 6:9-11) Sekarang, banyak dari kita juga seperti itu. Petrus menulis, ”Cukup lama kalian mengikuti keinginan orang-orang di dunia, yaitu dengan berlaku tidak tahu malu, menuruti nafsu yang tak terkendali, minum-minum dengan berlebihan, berpesta liar, ikut pesta minuman keras, dan melakukan penyembahan berhala yang terlarang.”​—1 Ptr. 4:3.

      14 Selama bertahun-tahun, Devynn dan Jasmine suka bermabuk-mabukan. Akibatnya, Devynn tidak bisa punya pekerjaan tetap, padahal dia adalah akuntan yang terampil. Jasmine dikenal pemarah dan sangat kasar. Suatu hari, saat dia sedang mabuk, dia bertemu dua utusan injil di jalan. Mereka menawarkan pelajaran Alkitab kepadanya. Tapi, saat mereka datang minggu depannya, Devynn dan Jasmine sedang mabuk. Mereka tidak menyangka dua utusan injil itu akan benar-benar datang ke rumah mereka. Dua utusan injil itu pun datang lagi, dan kali ini, Devynn dan Jasmine sudah siap untuk mulai belajar kebenaran dari Alkitab. Mereka langsung menjalankan apa yang mereka pelajari. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, mereka berhenti minum-minum, dan belakangan mereka menikah secara resmi. Banyak orang di desa mereka melihat bahwa Devynn dan Jasmine sudah berubah, dan mereka pun mulai belajar Alkitab.

      15. Apa salah satu perubahan paling sulit yang harus kita buat demi kebenaran, dan mengapa?

      15 Tradisi dan adat yang tidak menyenangkan Allah. Salah satu perubahan paling sulit yang harus kita buat adalah berhenti mengikuti tradisi atau adat yang tidak menyenangkan Yehuwa. Bahkan setelah tahu perasaan Yehuwa tentang hal-hal ini, ada yang masih merasa sulit berubah. Mereka mungkin memikirkan tanggapan keluarga, rekan kerja, atau teman-teman mereka. Hal ini khususnya sulit kalau acara adat itu dilakukan untuk menghormati leluhur yang sudah meninggal. (Ul. 14:1) Jadi, apa yang bisa membantu kita berubah? Kita bisa belajar dari teladan orang-orang di zaman dulu yang membuat perubahan setelah belajar kebenaran, seperti orang Kristen di Efesus.

      16. Pengorbanan apa yang dibuat beberapa orang di Efesus?

      16 Di kota Efesus kuno, banyak orang suka menggunakan sihir. Saat sebagian dari mereka menjadi orang Kristen, apa yang mereka lakukan? Alkitab menjelaskan, ”Cukup banyak dari mereka yang dulunya menggunakan ilmu gaib mengumpulkan buku-buku mereka dan membakarnya di depan umum. Setelah dihitung, nilainya ternyata 50.000 keping perak. Maka dengan luar biasa, firman Yehuwa terus tersebar dan berkuasa.” (Kis. 19:19, 20) Orang-orang Kristen yang setia itu rela mengorbankan buku-buku mereka yang mahal, dan Yehuwa memberkati mereka.

      17. (a) Apa beberapa hal yang mungkin sudah kita korbankan demi kebenaran? (b) Pertanyaan apa saja yang akan kita jawab di artikel berikutnya?

      17 Apa yang telah Saudara korbankan untuk membeli kebenaran? Kita semua pasti sudah merelakan waktu. Banyak dari kita mengorbankan kesempatan untuk menjadi kaya. Hubungan kita dengan orang lain mungkin berubah. Kita juga harus mengubah cara berpikir dan tingkah laku kita. Dan, kita menolak tradisi dan adat yang tidak menyenangkan Yehuwa. Tapi, tidak soal apa yang sudah kita korbankan, kita yakin bahwa kebenaran dari Alkitab jauh lebih berharga daripada semua itu. Kebenaran dari Alkitab membuat kita bisa punya hubungan akrab dengan Yehuwa. Hubungan ini adalah harta kita yang paling berharga. Ada banyak berkat lain yang kita terima karena belajar kebenaran. Jadi, kita mungkin bingung mengapa ada orang yang mau ’menjual’ kebenaran. Itu kesalahan yang serius. Mengapa itu bisa terjadi? Bagaimana agar kita tidak sampai melakukan itu? Kita akan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini di artikel berikutnya.

  • ”Aku Akan Berjalan di Jalan-Mu yang Benar”
    Menara Pengawal (Edisi Pelajaran)—2018 | November
    • Setelah belajar kebenaran, sepasang suami istri tidak lagi mengikuti perayaan yang tidak menyenangkan Allah, mengejar harta, dan menikmati hiburan yang tidak sehat. Mereka sekarang menikmati pergaulan yang membina, pelayanan, dan pelajaran Alkitab

      ”Aku Akan Berjalan di Jalan-Mu yang Benar”

      ”Yehuwa, ajarlah aku tentang jalan-Mu. Aku akan berjalan di jalan-Mu yang benar.”​—MZ. 86:11.

      NYANYIAN: 31, 72

      APA JAWABAN SAUDARA?

      • Apa yang bisa membuat seorang Kristen menjual kebenaran?

      • Apa yang bisa kita lakukan agar tidak sampai hanyut atau menjauh dari kebenaran?

      • Tiga hal apa yang bisa kita lakukan agar lebih bertekad untuk berjalan di jalan yang benar?

      1-3. (a) Bagaimana seharusnya pandangan kita tentang kebenaran Alkitab? Berikan gambaran. (Lihat gambar di awal artikel.) (b) Pertanyaan apa saja yang akan kita bahas?

      SEKARANG, orang kadang mengembalikan barang yang sudah mereka beli dari toko. Ini umum di beberapa negara. Kalau barang dibeli secara online, orang lebih sering lagi mengembalikannya. Mereka mungkin kurang suka dengan barang itu, atau mungkin barang itu rusak. Jadi, mereka mau menukarnya dengan barang lain atau meminta uangnya dikembalikan.

      2 Kita tidak akan memperlakukan kebenaran Alkitab seperti barang itu. Kalau sudah membeli kebenaran, kita tidak akan menjualnya. Maksudnya, kalau sudah mendapatkan kebenaran, kita tidak akan meninggalkannya. (Baca Amsal 23:23; 1 Tim. 2:4) Seperti yang dibahas di artikel sebelumnya, kita menggunakan banyak waktu untuk belajar kebenaran. Selain itu, kita mungkin mengorbankan karier yang menghasilkan banyak uang. Hubungan kita dengan orang lain mungkin berubah. Kita mungkin mengubah cara berpikir atau tindakan kita. Atau, kita mungkin berhenti mengikuti tradisi dan adat yang tidak menyenangkan Yehuwa. Tapi karena mengetahui kebenaran, kita mendapat banyak berkat. Kita yakin itu jauh lebih berharga daripada hal-hal yang kita korbankan.

      3 Yesus memberikan perumpamaan tentang pedagang keliling yang mencari mutiara yang indah. Saat pria itu menemukan mutiara yang bernilai tinggi, dia segera menjual segala miliknya dan membeli mutiara itu. Mutiara itu menggambarkan kebenaran tentang Kerajaan Allah. Yesus menunjukkan bahwa kebenaran itu sangat berharga bagi orang yang mendapatkannya. (Mat. 13:45, 46) Waktu pertama kali belajar kebenaran tentang Kerajaan Allah dan kebenaran lain dari Alkitab, kita juga rela mengorbankan apa pun demi mendapatkannya. Kita perlu terus menghargai kebenaran supaya kita tidak meninggalkannya. Tapi sayangnya, ada hamba Allah yang tidak lagi menghargai kebenaran dan bahkan meninggalkannya. Kita tidak mau seperti itu! Kita mau mengikuti nasihat Alkitab untuk ”terus mengikuti jalan kebenaran”. (Baca 3 Yohanes 2-4.) Artinya, kita menomorsatukan kebenaran dan menunjukkannya melalui cara hidup kita. Mengapa ada yang menjual kebenaran, atau meninggalkannya? Bagaimana agar kita tidak sampai melakukan hal itu? Bagaimana kita bisa lebih bertekad untuk terus berjalan di jalan yang benar?

      MENGAPA ADA YANG MENJUAL KEBENARAN?

      4. Di zaman Yesus, mengapa ada orang yang meninggalkan kebenaran?

      4 Di zaman Yesus, ada orang yang awalnya menerima kebenaran tapi belakangan meninggalkannya. Misalnya, setelah Yesus melakukan mukjizat dan memberi makan banyak orang, orang-orang itu mengikuti Yesus sampai ke seberang Laut Galilea. Lalu, Yesus mengatakan sesuatu yang membuat mereka kaget: ”Dengan sungguh-sungguh saya katakan, kalau kalian tidak makan daging Putra manusia dan minum darahnya, kalian tidak akan mendapat kehidupan.” Mereka tidak meminta penjelasan dari Yesus tapi malah mengatakan, ”Kata-kata itu tidak bisa diterima. Mana ada yang mau dengarkan itu?” Setelah itu, ”banyak muridnya kembali kepada urusan mereka yang sebelumnya dan berhenti mengikuti dia”.​—Yoh. 6:53-66.

      5, 6. (a) Di zaman kita, mengapa ada yang menjauh dari kebenaran? (b) Bagaimana seseorang bisa pelan-pelan menjauh dari kebenaran?

      5 Sekarang, ada orang-orang yang meninggalkan kebenaran. Mengapa? Ada beberapa alasan mereka sengaja menjauh dari Yehuwa dan sidang. Ada yang mungkin tidak mau menerima pemahaman baru tentang suatu ayat. Ada yang mungkin tidak suka kata-kata atau tindakan tertentu dari seorang saudara yang dikenal banyak saudara-saudari. Yang lain mungkin tidak senang saat diberi nasihat dari Alkitab, atau mereka bertengkar dengan seseorang di sidang. Atau, yang lain lagi mungkin mengikuti ajaran palsu dari orang murtad dan orang lain yang memfitnah kita. (Ibr. 3:12-14) Tapi, mereka seharusnya percaya kepada Yesus, sama seperti Petrus. Sewaktu orang-orang kaget karena mendengar apa yang Yesus katakan, Yesus bertanya apakah para rasul mau meninggalkan dia juga. Petrus menjawab, ”Tuan, kepada siapa kami harus pergi? Kata-katamu menghasilkan kehidupan abadi.”​—Yoh. 6:67-69.

      6 Ada juga yang pelan-pelan menjauh dari kebenaran, bahkan mungkin tanpa menyadarinya. Mereka bisa disamakan seperti perahu yang sedikit demi sedikit menjauh dari tepi sungai. Alkitab memperingatkan kita untuk berhati-hati agar kita tidak ”hanyut”. (Ibr. 2:1) Biasanya, orang yang pelan-pelan menjauh dari kebenaran tidak bermaksud melakukan hal itu. Tapi, dia membiarkan hubungannya dengan Yehuwa melemah. Akhirnya, dia tidak lagi bersahabat dengan Yehuwa. Bagaimana agar kita tidak sampai seperti itu?

      BAGAIMANA AGAR KITA TIDAK SAMPAI MENJUAL KEBENARAN?

      7. Apa yang bisa membantu kita agar tidak sampai menjual kebenaran?

      7 Untuk terus berjalan di jalan yang benar, kita harus menerima dan menaati semua perkataan Yehuwa. Kita harus menomorsatukan kebenaran dan mengikuti prinsip-prinsip Alkitab dalam kehidupan kita. Dalam doa, Raja Daud berjanji kepada Yehuwa, ”Aku akan berjalan di jalan-Mu yang benar.” (Mz. 86:11) Seperti Daud, kita juga harus bertekad untuk terus berjalan di jalan Allah yang benar. Kita tidak bisa memilih kebenaran mana yang mau kita ikuti lalu mengabaikan yang lainnya. Kita harus ”memahami kebenaran sepenuhnya”. (Yoh. 16:13) Kalau tidak, kita bisa menyesali hal-hal yang sudah kita korbankan untuk mendapatkan kebenaran. Bahkan, kita mungkin akan menginginkan lagi beberapa hal itu. Di artikel sebelumnya, kita sudah membahas lima hal yang mungkin kita korbankan untuk mempelajari dan menjalankan kebenaran. Mari kita bahas caranya agar tidak sampai menginginkan kembali hal-hal yang sudah kita tinggalkan itu.​—Mat. 6:19.

      Mengganti hiburan yang tidak sehat dengan pelajaran Alkitab

      8. Kalau seorang Kristen tidak bijak menggunakan waktu, mengapa dia bisa hanyut dan menjauh dari kebenaran? Berikan contoh.

      8 Waktu. Agar kita tidak hanyut dan menjauh dari kebenaran, kita perlu menggunakan waktu dengan bijak. Kita perlu berhati-hati agar tidak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menikmati hiburan, melakukan hobi, bermain Internet, atau menonton TV. Memang, hal-hal itu belum tentu salah. Tapi, kita mungkin menggunakan waktu yang tadinya kita gunakan untuk belajar dan mengabar. Perhatikan contoh Emma.a Sejak kecil, dia sangat menyukai kuda. Karena itu, dia sering menunggang kuda. Tapi, dia merasa bersalah karena menghabiskan terlalu banyak waktu untuk hobinya, dan dia mau berfokus pada hal yang lebih penting. Dia juga belajar dari pengalaman Cory Wells, seorang saudari yang dulunya suka menunggang kuda di pertunjukan rodeo.b Sekarang, Emma menggunakan lebih banyak waktu untuk melayani Yehuwa. Dan, dia punya lebih banyak waktu bersama keluarga dan teman-temannya yang juga melayani Yehuwa. Dia merasa semakin dekat dengan Allah. Dia juga bahagia karena bisa menggunakan waktunya dengan bijak.

      Tidak lagi mengejar harta, tapi rajin mengabar

      9. Bagaimana harta bisa menjadi terlalu penting bagi kita?

      9 Harta. Untuk terus berjalan di jalan yang benar, kita tidak boleh memandang harta sebagai hal terpenting. Saat belajar kebenaran, kita sadar bahwa melayani Yehuwa jauh lebih penting daripada harta. Kita rela meninggalkan hal itu demi kebenaran. Tapi setelah beberapa waktu, kita mungkin melihat orang lain membeli perangkat elektronik terbaru atau menikmati hal-hal yang bisa dibeli dengan uang. Kita bisa mulai merasa rugi karena tidak bisa seperti itu. Karena tidak puas dengan apa yang kita punya, kita mungkin mulai berfokus untuk mendapatkan lebih banyak harta sehingga tidak lagi berfokus melayani Yehuwa. Inilah yang terjadi pada Demas. Dia sangat ”mencintai dunia ini” sampai-sampai dia meninggalkan tugasnya bersama Paulus. (2 Tim. 4:10) Demas mungkin lebih mengasihi harta daripada pelayanan kepada Allah. Atau, dia mungkin tidak mau lagi membuat pengorbanan untuk melayani bersama Paulus. Apa pelajarannya? Dulu, kita mungkin sangat mencintai harta. Kalau tidak berhati-hati, kita bisa mulai mencintai harta lagi. Lama-kelamaan, itu bisa membuat kita tidak lagi mengasihi kebenaran.

      10. Pengaruh apa yang perlu kita hindari?

      10 Hubungan dengan orang lain. Untuk terus berjalan di jalan yang benar, kita tidak boleh menyerah saat dipengaruhi oleh orang yang tidak melayani Yehuwa. Saat belajar kebenaran, hubungan kita dengan keluarga dan orang yang bukan Saksi Yehuwa berubah. Ada yang mungkin merespek kepercayaan kita, tapi yang lain mungkin menentang. (1 Ptr. 4:4) Kita pasti mau tetap punya hubungan yang baik dengan keluarga kita dan berbaik hati kepada mereka. Tapi, kita tidak boleh mengabaikan standar Yehuwa hanya untuk menyenangkan mereka. Dari 1 Korintus 15:33, kita belajar bahwa sahabat-sahabat kita seharusnya adalah orang yang melayani Yehuwa.

      11. Bagaimana kita bisa menolak pikiran dan perbuatan yang salah?

      11 Pikiran dan perbuatan yang salah. Untuk terus berjalan di jalan yang benar, kita perlu menjadi kudus, atau bersih, di mata Yehuwa. (Yes. 35:8; baca 1 Petrus 1:14-16.) Saat belajar kebenaran, kita membuat perubahan dalam hidup untuk mengikuti standar Alkitab. Beberapa dari kita membuat perubahan yang sangat besar. Tapi, kita masih perlu berhati-hati agar tidak sampai menukar kehidupan kita yang bersih dengan kehidupan yang bejat. Apa yang bisa membantu kita menolak godaan untuk melakukan sesuatu yang najis? Pikirkan apa yang telah Yehuwa berikan agar kita bisa menjadi kudus. Dia memberikan kehidupan Putra-Nya yang berharga, Yesus Kristus! (1 Ptr. 1:18, 19) Agar bisa tetap bersih di mata Yehuwa, kita perlu selalu menghargai korban tebusan Yesus.

      Mengganti perayaan yang tidak menyenangkan Allah dengan pergaulan yang membina

      12, 13. (a) Mengapa kita perlu memandang perayaan-perayaan tertentu dari sudut pandang Yehuwa? (b) Apa yang akan kita bahas?

      12 Tradisi dan adat yang tidak menyenangkan Allah. Anggota keluarga, teman kerja, atau teman sekolah kita mungkin mengajak kita ikut perayaan mereka. Apa yang bisa membantu kita menolak tekanan untuk mengikuti perayaan dan adat yang tidak menyenangkan Yehuwa? Kita perlu ingat pandangan Yehuwa terhadap perayaan-perayaan tersebut. Kita juga bisa meriset asal usul perayaan-perayaan itu di publikasi kita. Kalau kita merenungkan semua alasan berdasarkan Alkitab untuk tidak mengikuti perayaan-perayaan itu, kita bisa yakin bahwa jalan hidup kita ”menyenangkan Tuhan”. (Ef. 5:10) Kalau kita percaya kepada Yehuwa dan Firman-Nya, kita tidak akan ”takut terhadap manusia”.​—Ams. 29:25.

      13 Kita ingin berjalan di jalan yang benar selamanya. Jadi, apa yang bisa membantu kita agar semakin bertekad untuk terus berjalan di jalan yang benar? Ada tiga hal yang bisa kita lakukan.

      LEBIH BERTEKAD UNTUK BERJALAN DI JALAN YANG BENAR

      14. (a) Dengan terus mempelajari Alkitab, bagaimana kita bisa semakin bertekad untuk tidak meninggalkan kebenaran? (b) Mengapa kita butuh hikmat, didikan, dan pengertian?

      14 Pertama, teruslah pelajari Alkitab dan renungkan apa yang Saudara pelajari. Buatlah jadwal untuk melakukan hal ini. Dengan lebih banyak belajar, Saudara akan lebih mengasihi kebenaran dan bertekad untuk tidak meninggalkannya. Amsal 23:23 berkata bahwa kita perlu membeli ”kebenaran” dan membeli ”hikmat, didikan, dan pengertian”. Sekadar mengetahui kebenaran Alkitab tidaklah cukup. Kita perlu menjalankannya dalam kehidupan kita. Kalau kita punya pengertian, kita bisa memahami hubungan antara semua ajaran Yehuwa. Hikmat menggerakkan kita untuk bertindak sesuai dengan apa yang kita ketahui. Dan kadang, kebenaran mendidik kita untuk membuat perubahan tertentu. Kita perlu langsung menerimanya. Alkitab mengatakan bahwa didikan, atau disiplin, lebih berharga daripada perak.​—Ams. 8:10, ctk.

      15. Bagaimana kebenaran bisa melindungi kita seperti ikat pinggang?

      15 Kedua, bertekadlah untuk menjalankan kebenaran dalam kehidupan kita sehari-hari. Alkitab menggambarkan kebenaran seperti ikat pinggang seorang prajurit. (Ef. 6:14) Di zaman Alkitab, ikat pinggang bisa melindungi seorang prajurit saat berperang, asalkan ikat pinggang itu diikat dengan kuat. Bagaimana kebenaran bisa melindungi kita seperti ikat pinggang? Kebenaran itu harus terikat kuat pada diri kita seperti ikat pinggang, supaya itu bisa melindungi kita dari cara berpikir yang salah dan membantu kita membuat keputusan yang baik. Saat kita punya masalah yang berat atau tergoda melakukan sesuatu yang salah, kebenaran Alkitab bisa membuat kita lebih bertekad untuk melakukan apa yang benar. Seorang prajurit tidak akan pergi berperang tanpa ikat pinggangnya. Sama seperti itu, kita tidak akan meninggalkan kebenaran. Kita memastikan bahwa kita selalu mengikuti ajaran Alkitab dalam setiap hal yang kita lakukan. Seorang prajurit juga membawa pedang di ikat pinggangnya. Ini berhubungan dengan hal lain yang bisa memperkuat tekad kita untuk berjalan di jalan yang benar.

      16. Dengan mengajarkan kebenaran, bagaimana kita bisa terus berjalan di jalan yang benar?

      16 Ketiga, ajarkan kebenaran Alkitab sesering mungkin. Dengan begitu, kita akan memegang erat pedang rohani kita, yaitu ”firman Allah”. (Ef. 6:17) Kita semua bisa menjadi pengajar yang lebih terampil, yang ”menggunakan firman kebenaran dengan tepat”. (2 Tim. 2:15) Saat kita menggunakan Alkitab untuk mengajar orang lain, kita akan semakin memahami dan mengasihi kebenaran. Kita pun akan lebih bertekad untuk berjalan di jalan yang benar.

      Kebenaran

      Pelajari. Jalankan. Ajarkan. (Lihat paragraf 14-16)

      17. Mengapa kebenaran sangat berharga bagi Saudara?

      17 Kebenaran adalah hadiah yang berharga dari Yehuwa. Karena kebenaran, kita bisa punya hubungan yang baik dengan Bapak kita di surga. Itu hal paling berharga yang bisa kita miliki. Yehuwa telah mengajar kita banyak hal. Tapi, itu baru permulaannya saja! Dia berjanji akan mengajar kita selamanya. Jadi, kita perlu menganggap kebenaran sebagai mutiara yang sangat berharga. Teruslah ’beli kebenaran dan jangan pernah menjualnya’. Dengan begitu, seperti Daud, kita bisa menepati janji ini kepada Yehuwa: ”Aku akan berjalan di jalan-Mu yang benar.”​—Mz. 86:11.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan