-
Orang-Orang Kristen yang Netral dalam suatu Dunia yang Bernoda DarahMenara Pengawal—1986 (Seri 28) | Menara Pengawal—1986 (Seri 28)
-
-
Di Jaman Modern
13. Bagaimana keadaan Siswa-Siswa Alkitab ketika berusaha untuk menghindari hutang darah selama Perang Dunia I?
13 Pada tahun 1914 peperangan total pertama kali melanda dunia ini. Seluruh sumber dari bangsa-bangsa, termasuk tenaga manusia, dikerahkan untuk peperangan. Banyak dari Siswa-Siswa Alkitab, sebutan bagi Saksi-Saksi Yehuwa pada waktu itu, mengerahkan usaha yang patut dipuji untuk menghindari hutang darah. Mereka ditindas dengan kejam, tepat seperti yang Yesus katakan akan mereka alami.—Yohanes 15:17-20.
14, 15. (a) Bagaimana Yehuwa memberikan bimbingan selama Perang Dunia II? (b) Pendirian tegas apa yang diambil oleh Saksi-Saksi Yehuwa pada waktu itu? (c) Bagaimana hal ini bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang beragama yang bersifat duniawi?
14 Ketika konflik sedunia sekali lagi meletus pada tahun 1939, Yehuwa memberikan bimbingan yang jelas bagi hamba-hambaNya. Dalam waktu dua bulan setelah pengumuman perang, bimbingan ini tiba dalam bentuk bahan pelajaran Alkitab berjudul ”Kenetralan” dalam The Watchtower terbitan 1 Nopember 1939. Artikel itu diakhiri dengan kalimat, ”Semua yang ada di pihak Tuhan akan bersikap netral sehubungan dengan bangsa-bangsa yang berperang, dan seluruhnya dan sepenuhnya akan berpihak kepada TEOKRAT agung dan Rajanya.”
15 Apa hasilnya? Karena persaudaraan seluas dunia, Saksi-Saksi Yehuwa dengan tegas tidak mau menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, termasuk saudara-saudara mereka di negeri-negeri lain. Sementara orang-orang Katolik, Protestan, Budha, dan lain-lain saling membunuh, murid-murid Yesus yang sejati mentaati perintah barunya, ”Sama seperti Aku telah mengasihi kamu . . . kamu harus saling mengasihi.”—Yohanes 13:34.
16. (a) Bagaimana Saksi-Saksi Yehuwa memperlihatkan diri sebagai warga negara yang jujur? (b) Bagaimana Saksi-Saksi itu bertekun dalam membayar kembali perkara-perkara Allah kepada Allah, dan kadang-kadang dengan akibat apa?
16 Orang-orang Kristen ini tetap membayar kembali perkara-perkara Kaisar kepada Kaisar. Mereka mentaati hukum-hukum negeri mereka sebagai warga negara yang jujur. (Matius 22:17-21; Roma 13:1-7) Tetapi lebih penting lagi, mereka membayar kembali kepada Allah perkara-perkara yang adalah milikNya, termasuk kehidupan mereka yang telah dibaktikan dan ibadat Kristen. Jadi, ketika Kaisar menuntut perkara-perkara milik Allah, mereka bertindak selaras dengan prinsip yang dinyatakan di Kisah 4:19 dan 5:29. Tidak soal apakah sengketa itu berupa penumpahan darah, dinas militer yang tidak langsung berkaitan dengan peperangan, dinas penggantinya, atau memberi salut kepada sebuah lambang seperti misalnya bendera nasional, orang-orang Kristen yang setia mengambil sikap bahwa tidak ada jalan tengah. Dalam beberapa kasus mereka dihukum mati karena pendirian ini.—Matius 24:9; Wahyu 2:10.
Mereka Tidak Berkompromi
17. (a) Menurut sebuah buku, bagaimana Saksi-Saksi Yehuwa diperlakukan oleh Nazi? (b) Dalam menghadapi tantangan, bagaimana Saksi-Saksi Yehuwa berbeda dengan orang-orang lain?
17 Sebuah buku yang baru-baru ini diterbitkan berjudul Of Gods and Men (Tentang Allah-Allah dan Manusia) menyatakan bahwa selama Pemerintahan Hitler yang Ketiga (Third Reich), Saksi-Saksi Yehuwa adalah kelompok agama yang menderita ”perlawanan yang paling hebat.” Saksi-Saksi Yehuwa tidak berkompromi. Orang-orang dari agama-agama lain di Jerman mengikuti imam-imam militer mereka, dengan demikian memberikan dinas keagamaan kepada negara Jerman dan mendapat ”tanda” dari binatang buas politik ”pada tangan kanannya atau pada dahinya.” (Wahyu 13:16) Mereka memberikan dukungan aktif kepada organisasi politik Jerman dan membuat pendirian mereka jelas terlihat dengan memberikan penghormatan yang bersifat memuja kepada Hitler dan memberi salut kepada bendera swastika.
18. (a) Catatan apa menunjukkan apakah Saksi-Saksi Yehuwa adalah ”’orang-orang yang netral’ secara politik”? (b) Bagaimana seharusnya pengaruh dari kisah sejarah ini atas diri kita secara pribadi dewasa ini?
18 Sikap apakah yang diambil oleh orang-orang Kristen yang sejati di sana? Hasil penelitian yang disebut di atas menyatakan, ”Hanya Saksi-Saksi Yehuwa saja yang menentang rezim itu. Mereka berjuang sekuat tenaga dan akibatnya separuh dari jumlah mereka dipenjarakan dan seperempat dari padanya dihukum mati.. . . Mereka, berbeda dari [agama-agama lain], tidak bersifat duniawi dalam arti mereka tidak mencari perkenan atau upah dari dunia materi dan tidak menganggap diri menjadi anggotanya. Mereka adalah ’orang-orang yang netral’ secara politik karena mereka sudah menjadi milik dari dunia yang lain—dunia Allah. . . . Mereka tidak mencari atau menawarkan kompromi. . . . Berdinas dalam ketentaraan, atau memberikan suara, atau memberikan penghormatan kepada Hitler berarti mengakui bahwa tuntutan dari dunia ini lebih unggul dari pada tuntutan Allah.” Saksi-Saksi Yehuwa mengejar perdamaian dan tindakan tanpa kekerasan, dan hal ini bahkan diakui di kamp-kamp konsentrasi. Bagaimana? Dalam hal bahwa ”hanya Saksi-Saksi saja yang diijinkan untuk mencukur pengawal-pengawal S.S. memakai pisau-pisau cukur yang sangat tajam, karena hanya mereka saja yang dapat dipercaya tidak akan membunuh.”
19. Bagaimana Saksi-Saksi Yehuwa telah mengikuti contoh Yesus yang berani, dan dengan hasil apa?
19 Selama perang dunia yang kedua, Saksi-Saksi Yehuwa menjadi contoh yang menonjol dari kenetralan Kristen. Sesuai dengan itu, di seluruh dunia dengan berani mereka mengikuti teladan Yesus dengan ’tidak menjadi bagian dari dunia’; mereka mengalahkan dunia yang berhutang darah ini sama seperti yang dilakukan Kristus.—Yohanes 17:16; 16:33; 1 Yohanes 5:4.
-
-
Orang-Orang Kristen yang Netral dalam suatu Dunia yang Bernoda DarahMenara Pengawal—1986 (Seri 28) | Menara Pengawal—1986 (Seri 28)
-
-
[Kotak di hlm. 12]
Sebuah Catatan Tentang Iman, Keberanian, dan Integritas
Buku New Religious Movements: A Perspective for Understanding Society (Gerakan-Gerakan Agama yang Baru: Pandangan untuk Memahami Masyarakat) memberikan komentar lebih lanjut mengenai integritas dari Saksi-Saksi Yehuwa dalam menghadapi penindasan oleh Nazi, sebagai berikut:
”Dalam menolak untuk tunduk, Saksi-Saksi Yehuwa mengajukan tantangan kepada konsep masyarakat yang baru dari tokoh negara totaliter itu, dan tantangan ini, maupun ketekunan untuk tetap bertahan, terang-terangan telah mengganggu para arsitek dari orde baru itu. Makin hebat Saksi-Saksi itu dianiaya, mereka makin menjadi suatu tantangan ideologis yang nyata. Cara-cara tradisional dari penganiayaan, penyiksaan, pemenjaraan dan ejekan tidak menghasilkan pertobatan dari salah seorang pun dari Saksi-Saksi itu kepada pihak Nazi dan sebenarnya hasilnya sama sekali tidak diinginkan oleh para penghasut mereka. Orang-orang Nazi panik menghadapi reaksi yang tidak terduga ini.”
”Kedua penuntut keloyalan yang saling bersaing ini berjuang dengan keras, lebih-lebih lagi, karena Nazi yang secara fisik lebih kuat dalam banyak hal kurang yakin, kurang berakar dalam keteguhan pada keyakinan mereka sendiri, kurang pasti terhadap kelangsungan dari Reich (pemerintahan) 1.000 tahun mereka. Saksi-Saksi itu tidak meragukan akar mereka sendiri, karena iman mereka sudah nyata sejak jaman Habel. Sementara Nazi harus menindas oposisi dan meyakinkan para pendukung mereka, dan sering kali harus meminjam bahasa dan kiasan dari Kekristenan yang picik, Saksi-Saksi itu yakin akan keloyalan total, dan yang teguh dari anggota-anggota mereka bahkan sampai mati.”
-