PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Peran Agama dalam Peperangan Manusia
    Sedarlah!—1993 | 8 April
    • Perang dan Orang-Orang yang Mengaku Kristen

      Munculnya Susunan Kristen di panggung dunia tidak mengubah keadaan. Malahan, Anne Fremantle menulis dalam buku Age of Faith, ”Dari semua peperangan yang pernah dikobarkan manusia, tak ada yang dilakukan dengan lebih bergairah daripada peperangan yang dilakukan atas nama iman. Dan dari antara ’perang-perang suci’ ini, tak ada yang lebih banyak menumpahkan darah dan lebih berlarut-larut daripada Perang Salib Kristen pada Abad Pertengahan.”

      Sungguh mengherankan, bahkan dewasa ini keadaannya tidak banyak berubah. ”Bertarung dan mati di bawah bendera agama terus bertahan dengan hebat,” demikian laporan majalah Time. ”Orang-orang Protestan dan Katolik Roma di Ulster saling membunuh dalam suatu gerakan sia-sia yang tak henti-hentinya. Orang-orang Arab dan Israel bersitegang mengenai batas wilayah, pertentangan kebudayaan dan agama.” Lebih jauh, perbedaan etnik dan agama bertanggung jawab atas pembantaian yang mengerikan di bekas Republik Yugoslavia, sebagaimana halnya di negeri-negeri Asia.

      Sungguh tidak masuk akal, orang-orang yang mengaku Kristen sering berperang melawan rekan-rekan seiman mereka sendiri. Dengan demikian, orang Katolik membunuh orang Katolik di medan perang. Sejarawan Katolik bernama E. I. Watkin mengakui, ”Betapapun menyakitkan untuk diakui, demi kepentingan peneguhan iman yang salah atau loyalitas palsu, kita tidak dapat menyangkal atau mengabaikan fakta sejarah bahwa para Uskup telah mendukung secara konsisten semua peperangan yang dikobarkan oleh pemerintah negara mereka. Sesungguhnya, saya tidak mendapati satu contoh pun dari hierarki nasional yang mengutuk perang sebagai sesuatu yang tidak adil . . . Teori resmi apa pun, dalam praktiknya ’negaraku selalu benar’ telah menjadi peribahasa yang diikuti para Uskup Katolik semasa perang.”

      Namun, peribahasa itu bukan hanya milik orang Katolik. Sebuah tajuk rencana di surat kabar Sun, Vancouver, Kanada, menyatakan, ”Protestantisme sama sekali tidak dapat menyatakan diri terhindar dari kuasa perpecahan nasionalistis ini. Itu merupakan kelemahan dari barangkali semua agama yang terorganisasi bahwa gereja mematuhi bendera . . . Apakah pernah ada perang yang diperjuangkan tanpa Allah diakui berada di kedua belah pihak?”

      Rupanya tak satu pun! Pendeta Protestan bernama Harry Emerson Fosdick mengakui, ”Bahkan dalam gereja-gereja kami, kami telah mengibarkan bendera-bendera peperangan . . . Dengan satu sudut mulut kita memuji Pangeran Perdamaian dan dengan sudut lainnya kita memuliakan peperangan.” Dan kolumnis Mike Royko mengatakan bahwa orang-orang Kristen tidak pernah ”merasa mual untuk berperang dengan orang Kristen lainnya”. Ia menjelaskan, ”Seandainya mereka bersikap demikian, kebanyakan dari peperangan yang terparah di Eropa tidak akan pernah terjadi.” Khususnya di antara perang-perang ini adalah Perang Tiga Puluh Tahun di Jerman antara Protestan dengan Katolik.

      Pastilah, fakta-faktanya sudah sangat jelas. Agama telah menjadi pendukung dan, kadang-kadang, bahkan penganjur peperangan. Maka, banyak orang merenungkan pertanyaan: Apakah Allah sebenarnya memberi perkenan kepada satu bangsa di atas yang lainnya semasa perang? Apakah Ia berpihak bila bangsa-bangsa berperang? Apakah akan pernah tiba suatu masa manakala perang tidak ada lagi?

  • Apa yang Diharapkan untuk Mengakhiri Perang?
    Sedarlah!—1993 | 8 April
    • Harapan Palsu

      Banyak orang telah berpaling kepada gereja-gereja untuk membantu menciptakan suatu dunia yang bebas perang. Namun ternyata, gereja-gereja telah terbukti menjadi salah satu kekuatan yang paling memecah belah dan militan dalam sejarah. Misalnya, Frank P. Crozier, brigadir jenderal Inggris selama Perang Dunia I, mengatakan, ”Gereja-gereja Kristen adalah pencipta utama sifat haus darah yang kami miliki dan kami bebas memanfaatkan mereka.”

  • Apa yang Diharapkan untuk Mengakhiri Perang?
    Sedarlah!—1993 | 8 April
    • Martin Niemöller, seorang pemimpin agama Protestan di Jerman, menyatakan bahwa ”selama berabad-abad, [gereja-gereja] telah selalu setuju untuk memberkati peperangan, pasukan dan senjata dan bahwa mereka berdoa dengan cara yang sangat tidak bersifat Kristen untuk memusnahkan musuh mereka”. Namun, bertentangan sekali, katanya, Saksi-Saksi ”dalam jumlah ratusan dan ribuan telah dijebloskan ke dalam kamp-kamp konsentrasi dan mati karena mereka menolak berperang dan menolak menembak sesama manusia”.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan