PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Hikmat
    Pemahaman Alkitab, Jilid 1
    • HIKMAT

      Makna hikmat dalam Alkitab menandaskan pertimbangan yang masuk akal, berdasarkan pengetahuan dan pengertian; kesanggupan menggunakan pengetahuan dan pengertian dengan sukses untuk memecahkan masalah, menghindari bahaya, mencapai tujuan-tujuan tertentu, atau menasihati orang lain dalam hal-hal itu. Hikmat berlawanan dan sering dikontraskan dengan kebebalan, kebodohan, dan kegilaan.—Ul 32:6; Ams 11:29; Pkh 6:8.

      Kata dasar yang mengandung arti hikmat dalam bahasa Ibrani adalah khokh·mahʹ (kata kerja, kha·khamʹ), dan dalam bahasa Yunani adalah so·fiʹa, disertai bentuk-bentuk lainnya yang terkait. Dan juga, ada kata Ibrani tu·syi·yahʹ, yang bisa diterjemahkan ”pekerjaan yang membawa hasil baik” atau ”hikmat yang praktis”, dan kata Yunani froʹni·mos dan froʹne·sis (dari fren, ”pikiran”), yang berkaitan dengan ”akal sehat”, ”kebijaksanaan”, atau ”hikmat yang praktis”.

      Hikmat menyiratkan luasnya pengetahuan dan dalamnya pengertian, kedua-duanya menghasilkan pertimbangan yang masuk akal dan jelas, yang menjadi ciri hikmat. Orang berhikmat ”menyimpan pengetahuan bagaikan harta”, memiliki tabungan pengetahuan untuk digunakan jika dibutuhkan. (Ams 10:14) Meskipun ”hikmat adalah hal pokok”, nasihat yang diberikan ialah ”dengan semua yang engkau dapatkan, dapatkanlah pengertian”. (Ams 4:5-7) Pengertian (istilah yang luas maknanya, yang sering kali mencakup daya pengamatan) menambah kekuatan kepada hikmat, banyak menambah kebijaksanaan dan kesanggupan untuk melihat ke depan, yang juga merupakan ciri-ciri penting hikmat. Kebijaksanaan menyiratkan kearifan dan bisa dinyatakan dalam tindakan yang hati-hati, pengendalian diri, kesahajaan, atau pengekangan. ”Pria yang bijaksana [bentukan dari froʹni·mos]” membangun rumahnya di atas batu, karena telah mengantisipasi badai; pria yang bodoh membangun rumahnya di atas pasir dan menderita malapetaka.—Mat 7:24-27.

      Pengertian membentengi hikmat dengan cara-cara lain. Misalnya, seseorang bisa jadi menaati perintah tertentu dari Allah karena ia sadar bahwa ketaatan demikian adalah hal yang benar, dan dalam hal ini ia memperlihatkan hikmat. Namun, jika ia benar-benar mengerti alasan yang mendasari perintah itu, maksud baik di baliknya, dan manfaat yang dihasilkannya, tekad hatinya untuk terus berjalan pada haluan hikmat tersebut akan sangat dikuatkan. (Ams 14:33) Amsal 21:11 mengatakan bahwa ”dengan memberikan pemahaman kepada orang berhikmat, seseorang memperoleh pengetahuan”. Orang yang berhikmat senang memperoleh informasi apa pun yang akan memperjelas pandangannya tentang akar suatu situasi, kondisi, dan penyebab masalah tertentu. Dengan demikian, ia ”memperoleh pengetahuan” tentang apa yang harus dilakukan dan mengetahui kesimpulan apa yang harus diambil, apa yang diperlukan untuk mengatasi problem yang sedang dihadapi.—Bdk. Ams 9:9; Pkh 7:25; 8:1; Yeh 28:3; lihat PEMAHAMAN.

      Hikmat Ilahi. Allah Yehuwa memiliki hikmat dalam pengertian yang mutlak; Dialah ”satu-satunya pribadi yang berhikmat” dalam pengertian ini. (Rm 16:27; Pny 7:12) Pengetahuan berkaitan erat dengan fakta, dan karena Yehuwa adalah sang Pencipta, yang ada ”dari waktu yang tidak tertentu sampai waktu yang tidak tertentu” (Mz 90:1, 2), Ia mengetahui segala-galanya tentang alam semesta, komposisi serta isinya, sejarahnya hingga sekarang. Hukum, siklus, dan standar fisika yang diandalkan manusia sebagai dasar riset dan penemuan mereka adalah buatan-Nya, dan tanpa semua itu mereka tidak berdaya dan tidak mempunyai dasar yang stabil untuk membangun di atasnya. (Ayb 38:34-38; Mz 104:24; Ams 3:19; Yer 10:12, 13) Logislah apabila standar moral yang Ia tetapkan lebih penting lagi untuk stabilitas, pertimbangan yang tepat, dan kehidupan manusia yang sukses. (Ul 32:4-6; lihat YEHUWA [Allah yang memiliki standar-standar moral].) Tidak ada sesuatu pun yang tidak Ia pahami. (Yes 40:13, 14) Meskipun hal-hal tertentu yang bertentangan dengan standar-standar-Nya yang adil-benar mungkin Ia biarkan berkembang dan bahkan berbuah untuk sementara waktu, hasil akhirnya bergantung pada Dia dan akan berjalan persis seperti kehendak-Nya, dan hal-hal yang dikatakan-Nya ”akan berhasil”.—Yes 55:8-11; 46:9-11.

      Mengingat semua alasan itu, jelaslah bahwa ”takut akan Yehuwa adalah permulaan hikmat”. (Ams 9:10) ”Siapa yang tidak takut kepadamu, oh, Raja bangsa-bangsa, sebab bagimu hal itu layak; karena di antara semua orang berhikmat dari bangsa-bangsa dan di antara semua kekuasaan sebagai raja, dalam hal apa pun tidak ada yang seperti engkau.” (Yer 10:7) ”Hatinya bijaksana dan tenaganya kuat. Siapa yang dapat memperlihatkan kedegilan kepadanya dan tidak mendapat celaka?” (Ayb 9:4; Ams 14:16) Apabila Ia menghendaki, dengan keperkasaan-Nya Ia dapat turun tangan dalam urusan-urusan manusia, dengan memanuver para penguasa atau melenyapkan mereka, membuktikan kebenaran penyingkapan-penyingkapan nubuat-Nya. (Dan 2:20-23) Sejarah Alkitab mengisahkan betapa sia-sia upaya para raja yang penuh kuasa beserta para penasihat mereka yang cerdik untuk mengadu hikmat mereka dengan Allah, dengan demikian menonjolkan bagaimana Ia dengan berkemenangan membenarkan hamba-hamba-Nya yang dengan loyal mengumumkan berita-Nya.—Yes 31:2; 44:25-28; bdk. Ayb 12:12, 13.

  • Hikmat
    Pemahaman Alkitab, Jilid 1
    • Hikmat Manusia. Hikmat dipersonifikasikan dalam buku Amsal, digambarkan sebagai seorang wanita yang mengundang orang-orang untuk menerima apa yang ia tawarkan. Catatan ini dan ayat-ayat yang terkait menunjukkan bahwa hikmat memang adalah perpaduan banyak hal: pengetahuan, pengertian (yang mencakup daya pengamatan), kesanggupan berpikir, pengalaman, kerajinan, kecerdikan (sebaliknya daripada mudah tertipu atau naif [Ams 14:15, 18]), dan penilaian yang tepat. Namun, karena permulaan hikmat sejati adalah takut akan Allah Yehuwa (Mz 111:10; Ams 9:10), hikmat yang unggul ini jauh melebihi hikmat yang umum dan mencakup berpegang pada standar-standar yang luhur, memanifestasikan keadilbenaran dan kelurusan hati, dan juga berpaut pada kebenaran. (Ams 1:2, 3, 20-22; 2:2-11; 6:6; 8:1, 5-12) Tidak semua hikmat setingkat dengan hikmat yang unggul ini.

      Hikmat manusia tidak pernah bersifat mutlak, tetapi relatif. Manusia dapat memperoleh hikmat dalam skala terbatas melalui upayanya sendiri, sekalipun ia pasti harus menggunakan kecerdasan yang sejak semula Allah (yang bahkan memberi binatang hikmat naluriah tertentu [Ayb 35:11; Ams 30:24-28]) karuniakan kepada manusia. Manusia belajar dari mengamati dan bekerja dengan hal-hal yang Allah ciptakan. Hikmat demikian bisa saja berbeda-beda jenisnya dan cakupannya. Kata Yunani so·fiʹa sering diterapkan pada keahlian dalam pekerjaan atau keterampilan tertentu, pada kepiawaian dan pertimbangan administratif yang jitu dalam bidang pemerintahan dan bisnis, atau pada pengetahuan yang luas di bidang tertentu dalam sains atau riset tentang manusia. Demikian juga, kata Ibrani khokh·mahʹ dan kha·khamʹ digunakan untuk menggambarkan ’kemahiran’ para pelaut dan pemakal kapal (Yeh 27:8, 9; bdk. Mz 107:23, 27), juga tukang batu dan tukang kayu (1Taw 22:15), maupun hikmat dan keterampilan para perajin lain, yang beberapa di antaranya sangat berbakat dalam berbagai jenis kerajinan tangan. (1Raj 7:14; 2Taw 2:7, 13, 14) Kata-kata semacam itu bahkan digunakan untuk menggambarkan pemahat patung atau pembuat berhala yang terampil. (Yes 40:20; Yer 10:3-9) Kecerdikan dalam dunia bisnis adalah suatu bentuk hikmat.—Yeh 28:4, 5.

      Semua jenis hikmat seperti itu dapat dimiliki sekalipun si pemiliknya tidak mempunyai hikmat rohani yang khususnya didukung Alkitab. Meskipun demikian, roh Allah bisa meningkatkan beberapa di antara jenis-jenis hikmat ini apabila itu berguna untuk mencapai maksud-tujuan-Nya. Roh-Nya menggiatkan orang-orang yang membangun tabernakel serta perlengkapannya, dan juga orang-orang yang menenun pakaian imam, pria dan wanita, memenuhi mereka dengan ’hikmat dan pengertian’. Dengan demikian, mereka tidak hanya mengerti apa yang diinginkan dan sarana untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut tetapi juga mempertunjukkan bakat, rasa seni, visi, dan pertimbangan yang dibutuhkan untuk merancang dan menghasilkan karya yang sangat bagus.—Kel 28:3; 31:3-6; 35:10, 25, 26, 31, 35; 36:1, 2, 4, 8.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan