-
Memperlihatkan Kasih dan Respek—Sebagai IstriMenara Pengawal—1989 | 15 Mei
-
-
Respek yang Dalam—Suatu Tantangan
6, 7. (a) Bagaimana para suami yang tidak beriman dapat dimenangkan kepada kebenaran? (b) Bagaimana seorang istri bisa saja tidak memperlihatkan ”respek yang dalam” terhadap suaminya yang tidak beriman?
6 Rasul Petrus merinci teladan Kristus dalam tingkah laku dan menjelaskan bahwa Yesus meninggalkan bagi kita ’teladan supaya kamu mengikuti jejaknya dengan saksama.’ (NW) Kemudian Petrus mengatakan: ”Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu [”yang disertai respek yang dalam,” NW].” (1 Petrus 2:21–3:2) Bagaimana istri-istri Kristen dapat memperlihatkan ”respek yang dalam” ini?
7 Banyak dari saudari-saudari Kristen kita mempunyai suami yang tidak beriman dan yang kadang-kadang menentang. Apakah dalam keadaan ini nasihat Petrus tidak berlaku sama sekali? Tidak, ketundukan dan respek tetap dituntut sekalipun ”ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman.” Maka, apakah suatu tanda dari respek yang dalam jika seorang istri Kristen yang mempunyai suami yang menentang, datang ke Balai Kerajaan dan mempergunjingkan suaminya, menceritakan kepada banyak saudari di sidang tentang semua perlakuan buruk yang telah ia terima dari sang suami? Jika ia melakukan hal itu sehubungan dengan seorang saudara atau saudari dalam sidang, perbuatan itu disebut apa? Pergunjingan, atau bahkan fitnah. Maka, bukan suatu bukti dari respek yang dalam jika seorang istri menjelekkan suaminya yang tidak beriman. (1 Timotius 3:11; 5:13) Namun, harus diakui bahwa beberapa saudari yang ditentang mempunyai problem yang serius. Bagaimana pemecahannya secara Kristen? Mereka dapat menemui para penatua dan meminta bantuan serta nasihat mereka.—Ibrani 13:17.
8. Bagaimana kemungkinan jalan pikiran suami yang menentang?
8 Bagaimana para penatua dapat berurusan dengan sang suami secara bijaksana? Pertama-tama mereka dapat mencoba melihat keadaannya dari sudut pandangan sang suami. Tindak kekerasannya secara fisik atau kata-kata bisa saja timbul akibat reaksi berantai berupa ketidaktahuan yang menimbulkan perasaan khawatir dan kemudian reaksi yang keras. Dan mengapa ini terjadi? Kadang-kadang sang suami tidak tahu apa-apa mengenai Saksi-Saksi Yehuwa selain dari apa yang ia dengar dari teman-teman sekerjanya yang berprasangka. Yang ia tahu adalah bahwa sebelum mulai belajar Alkitab, istrinya mengurus sang suami dan anak-anak mereka dengan sepenuhnya. Meskipun ia sekarang mungkin seorang istri dan ibu yang lebih baik, sikap sang suami ialah: ’Ia meninggalkan saya tiga kali seminggu untuk pergi ke perhimpunan-perhimpunan itu. Saya tidak tahu apa yang dilakukan pada waktu mereka berhimpun, tetapi ada pria-pria yang tampan di balai itu, dan . . . ’ Ya, ketidaktahuannya dapat menimbulkan perasaan cemburu dan khawatir. Kemudian timbul reaksi ingin membela diri. Bila sikap tersebut sudah dipahami, bagaimana para penatua dapat membantu?—Amsal 14:30; 27:4.
9. Pendekatan yang bijaksana apa dapat digunakan terhadap suami-suami yang tidak beriman, dan hasil apa yang dapat diperoleh?
9 Mungkin salah seorang penatua dapat berkenalan dengan sang suami dan menjadi akrab dengannya. (1 Korintus 9:19-23) Sang suami mungkin mempunyai keahlian di bidang listrik, pertukangan kayu, atau pengecatan. Ia mungkin rela menggunakan keahlian itu untuk membantu suatu problem di Balai Kerajaan. Dengan cara demikian ia akan melihat ruang dalam dari Balai Kerajaan tanpa merasa ada kewajiban untuk menghadiri perhimpunan. Seraya ia mulai mengenal saudara-saudara lain, sikapnya terhadap istrinya dan kebenaran mungkin akan menjadi lebih baik. Setelah melihat kasih dan semangat kerja sama di sidang, ia mungkin bahkan akan mulai mengantar istrinya ke perhimpunan. Kemudian, seraya keakraban meningkat, ia mungkin akan masuk ke dalam balai selama suatu perhimpunan untuk mendengarkan sebentar. Dan tidak lama kemudian, ia sendiri akan meminta pelajaran Alkitab. Ini semua dapat dilakukan dan kadang-kadang memang berhasil. Sekarang ada ribuan suami yang menjadi beriman, berkat kasih dan kebijaksanaan demikian dan ”respek yang dalam” sang istri.—Efesus 5:33.
Mengurus Rumah Tangganya
10, 11. Segi-segi yang berbeda apa dari seorang wanita yang cakap digambarkan oleh Raja Lemuel? (Bahas secara terpisah.)
10 Raja Lemuel mendapat nasihat yang baik dari ibunya mengenai sifat-sifat seorang istri yang ideal. (Amsal 31:1) Gambarannya tentang seorang istri dan ibu yang bekerja keras dalam Amsal 31:10-31 patut dibaca dengan saksama. Ia pasti telah mempunyai pengalaman dalam menerapkan prinsip-prinsip Allah yang benar dan dalam memperlihatkan respek yang dalam.
11 Lemuel menulis bahwa ”isteri yang cakap” dapat dipercaya, dapat diandalkan, dan loyal. (Ayat 10-12) Ia bekerja keras untuk memberi makan dan mengurus suami serta anak-anaknya. (Ayat 13-19, 21, 24) Ia baik dan murah hati terhadap mereka yang benar-benar dalam kesulitan. (Ayat 20) Melalui respek dan tingkah lakunya yang baik, ia mengharumkan nama baik suaminya. (Ayat 23) Ia bukan pemalas yang suka bergunjing atau pengritik yang menjatuhkan. Sebaliknya, dengan lidahnya ia membina dan menyembuhkan. (Ayat 26) Karena ia tidak malas, rumahnya bersih dan rapi. (Ayat 27) (Sesungguhnya, rumah seorang Kristen seharusnya salah satu yang paling bersih di lingkungan itu.) Suami dan anak-anaknya memperlihatkan terima kasih dan memujinya. Mereka yang di luar lingkungan keluarga juga menghargai sifat-sifatnya. (Ayat 28, 29, 31) Kecantikannya tidak hanya di kulit; ia memiliki kecantikan seorang wanita yang takut akan Allah dengan kepribadian yang saleh.—Ayat 30.
Roh yang Lemah Lembut dan Tenteram
12. Apa yang ”sangat berharga di mata Allah,” dan bagaimana sebuah peribahasa Spanyol menonjolkan hal ini?
12 Pokok terakhir ini didengungkan oleh Petrus ketika ia menasihati wanita Kristen agar tidak terlalu berlebihan memperhatikan penampilan luarnya. Ia menganjurkan: ”Perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.” (1 Petrus 3:3, 4) Perhatikan pokok bahwa ’roh yang lemah lembut dan tentram sangat berharga di mata Allah.’ Jadi, istri dan ibu Kristen yang mempunyai roh tersebut tidak hanya menyenangkan suaminya, tetapi lebih penting lagi, ia menyenangkan Allah, seperti halnya wanita-wanita yang setia pada zaman dulu. Kecantikan batin ini juga dicerminkan dalam peribahasa Spanyol: ”Seorang wanita cantik menyenangkan mata; seorang wanita yang baik menyenangkan hati. Jika yang disebut pertama adalah sebuah permata, yang disebut belakangan adalah harta.”
13. Pengaruh yang menyegarkan apa dapat diberikan seorang istri kepada anak-anaknya?
13 Seorang wanita Kristen bisa menyegarkan bagi semua dalam rumah tangganya. (Bandingkan Matius 11:28-30, BIS.) Seraya anak-anak mengamati respeknya terhadap suaminya, mereka akan mencerminkan respek tersebut dalam cara mereka berhubungan dengan orangtua mereka dan orang-orang di luar keluarga.
-
-
Memperlihatkan Kasih dan Respek—Sebagai IstriMenara Pengawal—1989 | 15 Mei
-
-
Respek dalam Hubungan Jasmani
16. Bagaimana seorang istri dapat memperlihatkan timbang rasa terhadap kebutuhan emosi suaminya, dan apa manfaatnya?
16 Sebagaimana seorang suami harus memperlihatkan timbang rasa terhadap istrinya karena memiliki keadaan fisik yang lebih peka, demikian pula seorang istri patut menyadari kebutuhan emosi dan seksual suaminya. Alkitab menyatakan bahwa seorang pria dan istrinya harus memperoleh kesenangan dari satu sama lain dan saling memuaskan. Hal itu menuntut kepekaan terhadap kebutuhan dan suasana hati masing-masing. Kepuasan bersama ini juga akan membantu memastikan agar tidak seorang pun dari pasangan itu mulai melirik orang lain yang dapat mengakibatkan penyelewengan.—Amsal 5:15-20.
17. Bagaimana seharusnya suami dan istri memandang kewajiban dalam perkawinan?
17 Tentu, jika ada respek antara satu sama lain, tidak seorang pun dari pasangan itu akan menggunakan kebutuhan seks sebagai senjata psikologis. Masing-masing hendaknya melaksanakan kewajiban perkawinan terhadap satu sama lain, dan jika untuk sementara mereka berpantang, ini hendaknya dengan persetujuan bersama. (1 Korintus 7:1-5) Misalnya, kadang-kadang suami mungkin akan pergi karena untuk sementara membantu pekerjaan pembangunan di kantor cabang setempat dari Lembaga Menara Pengawal atau proyek teokratis lain. Dalam hal itu ia patut memastikan agar istrinya menyetujui itu dengan sepenuh hati. Perpisahan tersebut juga dapat mendatangkan berkat-berkat rohani bagi keluarga, yaitu, dalam bentuk pengalaman-pengalaman yang menganjurkan yang akan diceritakan sang suami setelah pulang.
Peranan Penting Saudari-Saudari
18. Mengapa istri seorang penatua memikul tanggung jawab lebih besar?
18 Jika suami seorang wanita Kristen adalah penatua, ia mempunyai tanggung jawab lebih besar. Pertama-tama tuntutan atas suaminya lebih besar. Ia harus bertanggung jawab kepada Yehuwa untuk keadaan rohani sidang. (Ibrani 13:17) Namun sebagai istri penatua dan mungkin sebagai wanita yang sudah berumur, teladannya yang terhormat juga penting. (Bandingkan 1 Timotius 5:9, 10; Titus 2:3-5.) Dan betapa bagus contoh yang diberikan kebanyakan istri penatua dalam mendukung suami mereka! Sering kali, sang suami harus pergi untuk mengurus soal-soal sidang, dan mungkin rasa ingin tahu sang istri timbul. Namun, dengan loyal seorang istri yang saleh tidak akan mencoba-coba mencari tahu masalah-masalah sidang seperti orang yang suka mencampuri urusan orang lain.—1 Petrus 4:15.
19. Apa yang mungkin tercakup dalam ”mengepalai keluarganya sendiri” bagi seorang penatua?
19 Tetapi, seorang penatua bisa jadi harus menasihati istrinya jika ia memperlihatkan sikap yang tidak membina atau jika ia tidak memberikan contoh yang baik bagi saudari-saudari. ’Mengepalai keluarga dengan baik’ tidak hanya perlu diterapkan ke atas anak-anak tetapi istri juga. Penerapan standar Alkitab ini mungkin akan menguji kerendahan hati beberapa istri.—1 Timotius 3:4, 5, 11; Ibrani 12:11.
20. Sebutkan beberapa teladan dari saudari-saudari yang sudah menikah dan lajang pada zaman dulu dan modern. (Lihat ”Life Stories of Jehovah’s Witnesses” [Kisah-Kisah Nyata dari Saksi-Saksi Yehuwa] dalam Watch Tower Publications Index 1930-1985.)
20 Saudari-saudari yang belum menikah juga dapat merenungkan peranan yang terhormat dari para istri di sidang. Ada begitu banyak teladan dari saudari-saudari yang baik, setia, dalam Alkitab maupun dalam sidang-sidang dewasa ini! Dorkas, kemungkinan seorang saudari lajang, sangat dipuji karena ”banyak sekali berbuat baik.” (Kisah 9:36-42) Priska dan Febe juga bergairah untuk kebenaran. (Roma 16:1-4) Demikian pula dewasa ini, banyak dari saudari-saudari kita, yang sudah menikah atau lajang, adalah utusan injil, perintis, dan penyiar yang menonjol. Pada waktu yang sama, wanita-wanita yang saleh tersebut memelihara rumah mereka bersih, rapi dan tidak pernah melalaikan keluarga mereka. Karena jumlah dan keadaan mereka, sering kali mereka melakukan bagian terbesar dari pekerjaan pengabaran.—Mazmur 68:11, NW [ayat 12, TB].
21. Bagaimana saudari-saudari yang setia menjadi anjuran bagi saudara-saudara Kristen mereka?
21 Saudari-saudari yang setia dalam sidang memainkan peranan penting yang membina. Gairah dan teladan mereka menjadi anjuran bagi saudara-saudara dan sidang Kristen pada umumnya. Mereka benar-benar pelengkap dan penolong. (Bandingkan Kejadian 2:18, NW.) Betapa besar kasih dan respek yang layak mereka terima! Dan bagi teman-teman hidup Kristen, nasihat Paulus benar-benar tepat: ”Hendaklah kamu masing-masing secara pribadi mengasihi istrinya seperti dirinya sendiri, sebaliknya, istri hendaknya mempunyai respek yang dalam terhadap suaminya.”—Efesus 5:33, NW.
-