PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Para Wanita yang Membuat Hati Yehuwa Bersukacita
    Menara Pengawal—2003 | 1 November
    • Para Wanita yang Membuat Hati Yehuwa Bersukacita

      ”Semoga Yehuwa memberimu upah atas cara engkau bertindak, dan semoga akan ada upah yang sempurna untukmu dari Yehuwa.”​—RUT 2:12.

      1, 2. Bagaimana kita dapat memperoleh manfaat dengan merenungkan teladan para wanita yang dicatat dalam Alkitab yang membuat hati Yehuwa bersukacita?

      TAKUT akan Allah mendorong dua wanita untuk tidak menaati perintah Firaun. Iman menggerakkan seorang pelacur untuk mempertaruhkan nyawanya guna melindungi dua orang mata-mata Israel. Akal sehat dan kerendahan hati dalam suatu krisis telah membantu seorang wanita untuk menyelamatkan banyak nyawa dan untuk mencegah orang yang diurapi Yehuwa mendatangkan utang darah ke atas dirinya sendiri. Iman kepada Allah Yehuwa disertai semangat kemurahan hati menggerakkan seorang janda yang juga adalah seorang ibu untuk memberikan makanannya yang terakhir kepada seorang nabi Allah. Ini hanya beberapa dari banyak teladan wanita-wanita yang dicatat dalam Alkitab yang membuat hati Yehuwa bersukacita.

      2 Sikap Yehuwa terhadap wanita-wanita seperti itu dan berkat-berkat yang Ia curahkan kepada mereka membuktikan bahwa apa yang paling menyukakan Dia di atas segala-galanya adalah sifat-sifat rohani, tidak soal apa jenis kelaminnya. Dalam dunia dewasa ini, yang terobsesi pada soal-soal jasmani, memprioritaskan kerohanian seseorang merupakan tantangan. Tetapi, tantangan itu dapat diatasi, seperti yang dibuktikan oleh jutaan wanita yang takut akan Allah yang membentuk sebagian besar umat Allah dewasa ini. Wanita-wanita Kristen ini meniru iman, akal sehat, kemurahan hati, dan sifat-sifat baik lainnya yang dipertunjukkan oleh wanita-wanita yang takut akan Allah yang disebutkan dalam Alkitab. Tentu saja, pria-pria Kristen juga ingin meniru sifat-sifat yang diperlihatkan oleh para wanita zaman dahulu yang patut diteladani ini. Untuk melihat bagaimana kita dapat melakukan hal itu dengan lebih sepenuhnya, mari kita ulas secara lebih terperinci kisah-kisah Alkitab mengenai para wanita yang disebutkan di awal.​—Roma 15:4; Yakobus 4:8.

      Para Wanita yang Tidak Menaati Perintah Firaun

      3, 4. (a) Mengapa Syifra dan Pua menolak menaati Firaun ketika ia memerintahkan agar setiap bayi lelaki Israel yang baru lahir dibunuh? (b) Bagaimana Yehuwa mengupahi kedua bidan itu atas keberanian dan rasa takut mereka yang saleh?

      3 Pada persidangan di Nuremberg, yang diadakan di Jerman setelah Perang Dunia II, banyak orang yang dipidana atas pembunuhan massal mencoba membenarkan kejahatan yang mereka lakukan dengan menyatakan bahwa mereka sekadar menaati perintah. Sekarang, bandingkan orang-orang tersebut dengan dua bidan Israel, Syifra dan Pua, yang tinggal di Mesir kuno selama masa pemerintahan seorang Firaun lalim yang tidak disebutkan namanya. Karena takut akan membeludaknya populasi orang Ibrani, Firaun memerintahkan kedua bidan itu untuk memastikan agar setiap bayi lelaki Ibrani yang baru lahir dibunuh. Bagaimana tanggapan wanita-wanita tersebut terhadap perintah yang keji itu? ”Mereka tidak melakukan apa yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, melainkan membiarkan anak-anak lelaki hidup.” Mengapa wanita-wanita ini tidak menyerah kepada rasa takut akan manusia? Karena mereka ”takut kepada Allah yang benar”.​—Keluaran 1:​15, 17; Kejadian 9:6.

      4 Ya, bidan-bidan itu berlindung kepada Yehuwa, dan Dia, selanjutnya, terbukti sebagai ”perisai” bagi mereka, melindungi mereka dari kemurkaan Firaun. (2 Samuel 22:31; Keluaran 1:18-20) Tetapi, berkat Yehuwa tidak berhenti sampai di situ. Dia mengupahi Syifra dan Pua sehingga mereka memiliki keluarga sendiri. Ia bahkan menghormati wanita-wanita ini dengan membuat nama dan perbuatan mereka dicatat dalam Firman-Nya yang terilham untuk dibaca oleh generasi-generasi yang akan datang, sedangkan nama Firaun tidak diingat lagi.​—Keluaran 1:21; 1 Samuel 2:30b; Amsal 10:7.

      5. Bagaimana banyak wanita Kristen dewasa ini memperlihatkan sikap yang sama seperti sikap Syifra dan Pua, dan bagaimana Yehuwa akan mengupahi mereka?

      5 Dewasa ini, apakah ada wanita yang seperti Syifra dan Pua? Ya, tentu saja! Setiap tahun, ribuan wanita seperti itu tanpa rasa takut mengabarkan berita Alkitab yang menyelamatkan kehidupan di negeri-negeri tempat ”perintah raja” melarangkan pekerjaan itu, dengan demikian mempertaruhkan kemerdekaan mereka atau bahkan nyawa mereka. (Ibrani 11:23; Kisah 5:28, 29) Didorong oleh kasih akan Allah dan sesama, wanita-wanita yang berani seperti itu tidak membiarkan siapa pun menghentikan mereka untuk membagikan kabar baik Kerajaan Allah kepada orang-orang lain. Akibatnya, banyak wanita Kristen menghadapi tentangan dan penganiayaan. (Markus 12:30, 31; 13:9-13) Seperti dalam kasus Syifra dan Pua, Yehuwa sepenuhnya mengetahui perbuatan wanita-wanita yang berani dan baik sekali tersebut, dan Ia akan mempertunjukkan kasih-Nya bagi mereka dengan memelihara nama mereka dalam ”buku kehidupan”, asalkan mereka terus bertekun dengan setia sampai ke akhir.​—Filipi 4:3; Matius 24:13.

      Seorang Mantan Pelacur Membuat Hati Yehuwa Bersukacita

      6, 7. (a) Apa yang Rahab ketahui mengenai Yehuwa dan umat-Nya, dan bagaimana pengetahuan itu menggugah wanita ini? (b) Bagaimana Firman Allah menghormati Rahab?

      6 Pada tahun 1473 SM, seorang pelacur bernama Rahab tinggal di Yerikho, kota orang Kanaan. Kelihatannya, Rahab adalah wanita yang berwawasan luas. Ketika dua mata-mata Israel mencari perlindungan di rumahnya, ia sanggup menceritakan kepada mereka perincian yang spesifik mengenai Eksodus Israel yang menakjubkan dari Mesir, kendati hal itu telah terjadi 40 tahun berselang! Ia pun mengetahui betul kemenangan Israel baru-baru itu atas raja-raja orang Amori yaitu Sihon dan Og. Perhatikan bagaimana pengetahuan itu menggugahnya. Kepada mata-mata itu, ia berkata, ”Aku tahu bahwa Yehuwa pasti akan menyerahkan negeri ini kepadamu, . . . sebab Yehuwa, Allahmu, adalah Allah di surga di atas dan di bumi di bawah.” (Yosua 2:1, 9-11) Ya, apa yang Rahab ketahui mengenai Yehuwa dan perbuatan-Nya bagi Israel menyentuh relung hati Rahab dan membuat wanita ini beriman kepada Allah.​—Roma 10:10.

      7 Iman Rahab menggerakkan dia untuk bertindak. Ia menerima mata-mata Israel ”dengan damai”, dan ia menaati instruksi mereka yang menyelamatkan kehidupan sewaktu Israel menyerang Yerikho. (Ibrani 11:31; Yosua 2:18-21) Tidak diragukan bahwa perbuatan-perbuatan iman Rahab membuat hati Yehuwa bersukacita, karena Ia mengilhami murid Kristen Yakobus untuk menggoreskan nama Rahab bersisian dengan nama Abraham, sahabat Allah, sebagai teladan untuk ditiru oleh orang Kristen. Yakobus menulis, ”Demikian pula, bukankah juga Rahab, sundal itu, dinyatakan adil-benar melalui perbuatan, setelah ia dengan murah hati menerima utusan-utusan itu dan menyuruh mereka ke luar melalui jalan lain?”​—Yakobus 2:25.

      8. Bagaimana Yehuwa memberkati Rahab karena iman dan ketaatannya?

      8 Yehuwa mengupahi Rahab dengan sejumlah cara. Antara lain, Ia secara mukjizat meluputkan nyawa Rahab dan nyawa semua orang yang mencari perlindungan di rumahnya​—yaitu, ”rumah tangga bapaknya dan semua orang yang berada bersamanya”. Kemudian, Ia mengizinkan orang-orang itu tinggal ”di antara orang-orang Israel”, tempat mereka diperlakukan sebagai penduduk asli. (Yosua 2:13; 6:22-25; Imamat 19:33, 34) Tetapi, itu belum semuanya. Yehuwa juga mengaruniai Rahab kehormatan untuk menjadi salah seorang nenek moyang Yesus Kristus. Benar-benar pertunjukan kebaikan hati yang penuh kasih yang luar biasa kepada seorang wanita yang dahulu adalah orang Kanaan penyembah berhala!a​—Mazmur 130:​3, 4.

      9. Bagaimana sikap Yehuwa terhadap Rahab dan wanita Kristen tertentu pada abad pertama dapat menganjurkan beberapa wanita dewasa ini?

      9 Seperti Rahab, beberapa wanita Kristen, sejak abad pertama sampai sekarang ini, telah meninggalkan jalan hidup yang amoral agar dapat menyukakan Allah. (1 Korintus 6:9-11) Pastilah beberapa dari mereka bertumbuh dalam lingkungan yang mirip dengan di Kanaan kuno, tempat perbuatan amoral merajalela dan bahkan dianggap normal. Namun, mereka mengubah jalan-jalan mereka, didorong oleh iman yang didasarkan pada pengetahuan Alkitab yang saksama. (Roma 10:17) Maka, dapat juga dikatakan untuk para wanita semacam itu bahwa ”Allah tidak malu akan mereka, untuk dipanggil sebagai Allah mereka”. (Ibrani 11:16) Benar-benar suatu kehormatan!

      Diberkati karena Akal Sehatnya

      10, 11. Keadaan apa menyangkut Nabal dan Daud yang menggerakkan Abigail untuk bertindak?

      10 Banyak wanita setia pada zaman dahulu mempertunjukkan sifat berakal sehat secara menonjol, menjadikan mereka aset yang berharga bagi umat Yehuwa. Salah satu wanita seperti itu adalah Abigail, istri seorang tuan tanah Israel yang kaya, Nabal. Akal sehat Abigail turut menyelamatkan kehidupan dan mencegah Daud, calon raja Israel, berutang darah. Kita dapat membaca kisah Abigail yang dicatat di 1 Samuel pasal 25.

      11 Ceritanya dimulai ketika Daud dan pengikutnya berkemah dekat kumpulan ternak Nabal, yang mereka lindungi siang dan malam tanpa bayaran berdasarkan kebaikan hati kepada Nabal sebagai sesama orang Israel. Sewaktu perbekalan Daud menipis, ia mengutus sepuluh pria muda kepada Nabal untuk meminta makanan. Sekarang, Nabal memiliki kesempatan untuk memperlihatkan penghargaannya kepada Daud dan untuk menghormatinya sebagai orang yang diurapi Yehuwa. Tetapi, Nabal melakukan yang sebaliknya. Dalam ledakan kemurkaan, ia menghina Daud dan memulangkan pria-pria muda itu dengan tangan hampa. Ketika Daud mendengar hal ini, ia menghimpun 400 pria bersenjata dan berangkat untuk menuntut balas. Abigail mendengar mengenai tanggapan kasar suaminya dan segera bertindak dengan bijaksana untuk meredakan amarah Daud dengan mengirimkan perbekalan yang berlimpah. Lalu, ia sendiri menemui Daud.​—Ayat 2-20.

      12, 13. (a) Bagaimana Abigail terbukti berakal sehat dan loyal kepada Yehuwa serta orang yang diurapi-Nya? (b) Apa yang dilakukan Abigail sewaktu ia pulang, dan bagaimana akhir ceritanya?

      12 Ketika Abigail menyongsong Daud, permohonannya yang rendah hati untuk memperoleh belas kasihan menyingkapkan respeknya yang dalam kepada orang yang diurapi Yehuwa. ”Yehuwa pasti akan membangun bagi tuanku keturunan yang bertahan lama, karena perang-perang Yehuwa-lah yang tuanku lakukan,” katanya, dan menambahkan bahwa Yehuwa akan menugasi Daud sebagai pemimpin atas Israel. (Ayat 28-30) Pada saat yang sama, Abigail memperlihatkan keberanian yang besar dengan memberi tahu Daud bahwa upaya pembalasan dendamnya, jika tidak terkendali, akan menyebabkan utang darah. (Ayat 26, 31) Daud disadarkan melalui kerendahan hati, respek yang dalam, cara berpikir yang jernih dari Abigail. Ia menjawab, ”Diagungkanlah Yehuwa, Allah Israel, yang telah mengirim engkau hari ini untuk menemui aku! Diberkatilah akal sehatmu, dan diberkatilah engkau yang telah mencegah aku pada hari ini agar tidak mendatangkan utang darah.”​—Ayat 32, 33.

      13 Sewaktu pulang, Abigail dengan berani berupaya memberi tahu suaminya tentang pemberiannya kepada Daud. Akan tetapi, ketika ia menemukannya, Nabal sedang ”sangat mabuk”. Maka, Abigail menunggu sampai suaminya sadar lalu memberi tahu dia. Bagaimana reaksi Nabal? Begitu kagetnya ia sampai-sampai ia mengalami semacam kelumpuhan. Sepuluh hari kemudian ia mati di tangan Allah. Sewaktu Daud mengetahui kematian Nabal, ia melamar Abigail, yang pasti ia kagumi dan sangat respek. Abigail menerima lamaran Daud.​—Ayat 34-42.

      Dapatkah Saudari Menjadi seperti Abigail?

      14. Apa saja sifat Abigail yang mungkin ingin kita pupuk sampai kadar yang lebih besar?

      14 Apakah Saudari melihat beberapa sifat Abigail yang ingin Saudari​—dan tentunya Saudara juga​—pupuk sampai kadar yang lebih besar? Mungkin Saudari ingin bertindak lebih bijaksana dan berakal sehat ketika timbul kesukaran. Atau, barangkali Saudari ingin berbicara dengan tenang dan wajar ketika orang-orang lain di sekitar Saudari sedang emosi. Kalau begitu, mengapa tidak berdoa kepada Yehuwa mengenai hal ini? Ia berjanji untuk memberikan hikmat, daya pengamatan, dan kesanggupan berpikir kepada semua orang yang ”terus meminta dengan iman”.​—Yakobus 1:5, 6; Amsal 2:1-6, 10, 11.

      15. Di bawah keadaan apa saja khususnya penting bagi para wanita Kristen untuk mempertunjukkan sifat-sifat yang ditunjukkan Abigail?

      15 Sifat-sifat baik tersebut khususnya penting bagi seorang wanita yang hidup dengan suami yang tidak seiman yang sedikit atau sama sekali tidak mengindahkan prinsip-prinsip Alkitab. Barangkali ia suka minum-minum. Semoga pria-pria semacam itu mau mengubah jalan-jalan mereka. Banyak pria telah melakukannya​—sering kali sebagai tanggapan atas sikap yang lemah lembut, respek yang dalam, dan tingkah laku yang murni dari istri mereka.​—1 Petrus 3:1, 2, 4.

      16. Apa pun keadaannya di rumah, bagaimana seorang saudari Kristen akan mempertunjukkan bahwa ia menjunjung hubungan baiknya dengan Yehuwa di atas segalanya?

      16 Apa pun kesukaran yang mungkin harus Saudari hadapi dengan sabar di rumah, ingatlah bahwa Yehuwa selalu siap mendukung Saudari. (1 Petrus 3:12) Maka, berupayalah sebisa-bisanya untuk membentengi diri Saudari secara rohani. Berdoalah meminta hikmat dan hati yang tenang. Ya, mendekatlah kepada Yehuwa melalui pelajaran Alkitab, doa, perenungan, dan pergaulan yang teratur dengan saudara-saudari Kristen. Kasih Abigail kepada Allah dan sikapnya terhadap hamba yang diurapi-Nya tidak dipengaruhi oleh sudut pandangan sang suami yang tidak rohani. Ia bertindak berdasarkan prinsip-prinsip yang adil-benar. Sekalipun bersuamikan seorang hamba Allah teladan, seorang istri Kristen sadar bahwa ia perlu terus berupaya keras untuk membangun dan memelihara kerohaniannya sendiri. Memang, suaminya memiliki kewajiban berdasarkan Alkitab untuk mengurusnya secara rohani dan materi, tetapi pada akhirnya, ia harus mengupayakan ’keselamatannya sendiri dengan takut dan gemetar’.​—Filipi 2:12; 1 Timotius 5:8.

      Ia Menerima ”Upah Nabi”

      17, 18. (a) Apa ujian iman yang tidak lazim yang dihadapi sang janda di Zarefat? (b) Bagaimana tanggapan janda itu terhadap permohonan Elia, dan bagaimana Yehuwa mengupahinya?

      17 Cara Yehuwa memelihara seorang janda miskin pada zaman nabi Elia memperlihatkan bahwa Ia sangat menghargai orang-orang yang mendukung ibadat sejati dengan memberikan diri mereka dan sumber daya mereka. Karena musim kering yang berkepanjangan pada zaman Elia, kelaparan mengimbas banyak orang, termasuk seorang janda dan putranya yang masih kecil yang tinggal di Zarefat. Persis sewaktu mereka hanya memiliki makanan yang terakhir, datanglah seorang tamu​—nabi Elia. Ia membuat permohonan yang sangat aneh. Meski sadar akan keadaan wanita itu yang menyedihkan, Elia minta dipanggangkan oleh wanita itu ”sebuah kue bundar kecil”, dengan memakai minyak dan tepungnya yang terakhir. Tetapi, ia menambahkan, ”Sebab inilah firman Yehuwa, Allah Israel, ’Tepung dalam tempayan besar tidak akan habis, dan minyak dalam tempayan kecil tidak akan berkurang sampai hari Yehuwa menurunkan hujan deras ke atas permukaan bumi.’ ”​—1 Raja 17:8-14.

      18 Bagaimana Saudari akan menanggapi permohonan yang tidak lazim itu? Janda di Zarefat itu, yang tampaknya sadar bahwa Elia adalah nabi Yehuwa, ”melakukannya sesuai dengan perkataan Elia”. Bagaimana Yehuwa menanggapi tindakan kemurahan hatinya? Secara mukjizat, Ia menyediakan makanan bagi wanita tersebut, putranya, dan Elia selama musim kering itu. (1 Raja 17:15, 16) Ya, Yehuwa memberi janda di Zarefat itu ”upah nabi”, kendati ia bukan orang Israel. (Matius 10:41) Putra Allah juga menghormati janda ini sewaktu ia memujinya sebagai teladan di hadapan orang-orang yang tidak beriman di kota asalnya, Nazaret.​—Lukas 4:24-26.

      19. Dengan cara apa saja banyak wanita Kristen mencerminkan semangat sang janda di Zarefat, dan bagaimana perasaan Yehuwa mengenai saudari-saudari ini?

      19 Dewasa ini, banyak wanita Kristen mencerminkan semangat janda di Zarefat ini. Contohnya, setiap minggu, saudari-saudari Kristen tanpa mementingkan diri​—banyak di antaranya miskin dan mempunyai keluarga untuk diurus—mengulurkan kemurahan hati kepada para pengawas keliling dan istri mereka. Yang lainnya berbagi makanan dengan rohaniwan sepenuh waktu setempat, membantu yang berkekurangan, atau dalam suatu cara lain memberikan diri dan sumber daya mereka untuk mendukung pekerjaan Kerajaan. (Lukas 21:4) Apakah Yehuwa memperhatikan pengorbanan tersebut? Pasti! ”Allah bukannya tidak adil-benar sehingga melupakan perbuatanmu dan kasih yang telah kamu perlihatkan untuk namanya, karena kamu telah melayani orang-orang kudus dan terus melayani mereka.”​—Ibrani 6:10.

      20. Apa yang akan dibahas dalam artikel berikut?

      20 Pada abad pertama, beberapa wanita yang takut akan Allah mendapat hak istimewa melayani Yesus dan rasul-rasulnya. Dalam artikel berikut, kita akan mengkaji bagaimana wanita-wanita ini membuat hati Yehuwa bersukacita, dan kita akan membahas teladan para wanita zaman modern yang melayani Yehuwa dengan sepenuh hati, bahkan dalam keadaan yang sulit.

      [Catatan Kaki]

      a Silsilah Yesus, sebagaimana dicatat oleh Matius, menyebut empat nama wanita​—Tamar, Rahab, Rut, dan Maria. Semua wanita ini sangat dihargai dalam Firman Allah.​—Matius 1:3, 5, 16.

  • Para Wanita Kristen yang Setia​—Penyembah Allah yang Berharga
    Menara Pengawal—2003 | 1 November
    • Para Wanita Kristen yang Setia​—Penyembah Allah yang Berharga

      ”Pesona bisa jadi palsu, dan kecantikan bisa jadi sia-sia; tetapi wanita yang takut akan Yehuwa itulah yang mendapat pujian.”​—AMSAL 31:30.

      1. Bagaimana pandangan Yehuwa tentang kecantikan atau keindahan dibandingkan dengan pandangan dunia?

      DUNIA sangat menekankan penampilan luar, khususnya mengenai wanita. Akan tetapi, Yehuwa terutama berminat pada manusia batiniah, yang bahkan dapat menjadi semakin cantik atau indah seiring dengan bertambahnya usia. (Amsal 16:31) Maka, Alkitab mendesak kaum wanita, ”Dandananmu janganlah dengan kepangan rambut yang lahiriah dan perhiasan emas atau pakaian luar, tetapi hendaklah itu berupa manusia batiniah yang tersembunyi dengan pakaian yang tidak fana berupa roh yang tenang dan lembut, yang sangat bernilai di mata Allah.”​—1 Petrus 3:​3, 4.

      2, 3. Bagaimana kaum wanita turut berperan dalam memajukan kabar baik pada abad pertama, dan bagaimana hal ini dinubuatkan?

      2 Semangat yang patut dipuji ini telah diperlihatkan oleh banyak wanita yang disebutkan dalam Alkitab. Pada abad pertama, beberapa wanita ini mendapat hak istimewa untuk melayani Yesus dan rasul-rasulnya. (Lukas 8:1-3) Belakangan, wanita-wanita Kristen menjadi penginjil yang bergairah; yang lainnya memberikan dukungan yang berharga kepada pria-pria Kristen yang mengambil pimpinan, termasuk rasul Paulus; dan beberapa wanita memperlihatkan kemurahan hati yang luar biasa, bahkan menyediakan rumah mereka untuk perhimpunan.

      3 Fakta bahwa Yehuwa mau menggunakan kaum wanita dengan cara yang luar biasa untuk melaksanakan maksud-tujuan-Nya sudah dinubuatkan dalam Alkitab. Misalnya, Yoel 2:28, 29 menubuatkan bahwa baik pria maupun wanita, baik tua maupun muda, akan menerima roh kudus dan ikut serta dalam menyebarkan kabar baik Kerajaan. Nubuat itu mulai digenapi pada hari Pentakosta tahun 33 M. (Kisah 2:1-4, 16-18) Beberapa wanita yang diurapi roh diberikan karunia-karunia yang bersifat mukjizat, seperti karunia bernubuat. (Kisah 21:8, 9) Dengan gairah mereka dalam pelayanan, tentara rohani yang besar berupa saudari-saudari yang setia ini turut berperan dalam penyebaran Kekristenan yang pesat pada abad pertama. Malah, sekitar tahun 60 M, rasul Paulus menulis bahwa kabar baik telah ”diberitakan di antara semua ciptaan yang ada di bawah langit”.​—Kolose 1:23.

      Dipuji karena Keberanian, Kegairahan, dan Kemurahan Hati Mereka

      4. Mengapa Paulus memiliki alasan yang sah untuk memuji sejumlah wanita dalam sidang Kristen abad pertama?

      4 Rasul Paulus, misalnya, menghargai pelayanan yang dilakukan oleh beberapa wanita tertentu​—sebagaimana para pengawas Kristen dewasa ini menghargai pelayanan yang dilakukan oleh wanita-wanita yang bergairah. Di antara wanita-wanita yang Paulus sebutkan namanya terdapat ”Trifena dan Trifosa, wanita-wanita yang bekerja keras dalam Tuan”, dan ”Persis yang kita kasihi, karena ia melakukan banyak kerja keras dalam Tuan”. (Roma 16:12) Euodia dan Sintikhe, tulis Paulus, telah ”berjuang bersisi-sisian dengan[-nya] sehubungan dengan kabar baik”. (Filipi 4:2, 3) Priskila, bersama suaminya Akuila, juga melayani bersisian dengan Paulus. Ia dan Akuila, bahkan ”mempertaruhkan leher mereka” bagi Paulus, yang menggugah sang rasul untuk menulis, ”Bukan saja aku tetapi juga semua sidang jemaat bangsa-bangsa menyampaikan syukur.”​—Roma 16:3, 4; Kisah 18:2.

      5, 6. Dengan cara apa saja Priskila menjadi teladan bagi saudari-saudari dewasa ini?

      5 Apa yang turut menyebabkan kegairahan dan keberanian Priskila? Suatu petunjuk terdapat di Kisah 18:24-26, yang memberi tahu kita bahwa ia mendukung suaminya dalam membantu Apolos, seorang pembicara yang berbakat, agar mengetahui penyingkapan terkini tentang kebenaran. Kalau begitu, Priskila pastilah seorang siswa yang bersungguh-sungguh mempelajari Firman Allah dan pengajaran rasul-rasul. Alhasil, ia mengembangkan sifat-sifat yang sangat bagus yang membuatnya sangat berharga bagi Allah serta suaminya dan menjadi seorang anggota yang berharga dalam sidang masa awal. Banyak saudari Kristen yang bekerja keras dewasa ini tidak kalah berharganya, karena mereka dengan rajin mempelajari Alkitab dan juga menyantap makanan rohani yang Yehuwa sediakan melalui ”pengurus yang setia”.​—Lukas 12:42.

      6 Akuila dan Priskila memperlihatkan kemurahan hati yang luar biasa. Paulus tinggal di rumah mereka sewaktu ia bekerja dengan mereka dalam bisnis pembuatan tenda mereka di Korintus. (Kisah 18:1-3) Sewaktu pasangan suami istri ini pindah ke Efesus dan belakangan ke Roma, mereka terus memperlihatkan kemurahan hati Kristen, bahkan menyediakan rumah mereka untuk perhimpunan sidang. (Kisah 18:18, 19; 1 Korintus 16:8, 19) Nimfa dan Maria ibu Yohanes Markus juga membuka rumah mereka untuk perhimpunan sidang.​—Kisah 12:12; Kolose 4:15.

      Aset yang Berharga Dewasa Ini

      7, 8. Apa catatan terpuji tentang dinas suci yang dimiliki oleh banyak wanita Kristen dewasa ini, dan tentang hal apa mereka dapat yakin?

      7 Sebagaimana pada abad pertama, para wanita Kristen yang setia dewasa ini berperan penting dalam pelaksanaan maksud-tujuan Allah, khususnya dalam pekerjaan penginjilan. Dan, sungguh bagus catatan yang dimiliki saudari-saudari ini! Perhatikan teladan Gwen, yang dengan setia melayani Yehuwa selama lebih dari 50 tahun sampai kematiannya pada tahun 2002. ”Gairah Gwen sebagai seorang penginjil hampir melegenda di kota kami,” kata suaminya. ”Baginya, setiap orang berpotensi untuk menerima kasih dan janji-janji Yehuwa. Keloyalannya kepada Allah, organisasi-Nya, dan kepada keluarga kami​—belum lagi dukungan morilnya yang pengasih sewaktu kami tawar hati​—telah menjadi bantuan yang sangat besar bagi saya dan anak-anak kami sepanjang kehidupan keluarga kami yang sangat memuaskan. Kami sangat kehilangan dia.” Gwen dan suaminya telah menikah selama 61 tahun.

      8 Puluhan ribu wanita Kristen, yang lajang dan yang menikah, yang melayani sebagai rohaniwan perintis dan utusan injil, berpuas diri dengan kebutuhan pokok seraya mereka menyebarkan berita Kerajaan di daerah yang berkisar dari kota yang ramai hingga kawasan yang terpencil. (Kisah 1:8) Banyak saudari menahan diri untuk tidak memiliki rumah atau memiliki anak-anak guna melayani Yehuwa dengan lebih sepenuhnya. Ada saudari-saudari yang dengan loyal mendukung suami mereka yang melayani sebagai pengawas keliling dan ada ribuan saudari melayani di rumah-rumah Betel di seluruh dunia. Pastilah, wanita-wanita yang rela berkorban ini termasuk di antara ”barang-barang yang berharga dari semua bangsa” yang memenuhi rumah Yehuwa dengan kemuliaan.​—Hagai 2:7.

      9, 10. Bagaimana beberapa anggota keluarga menyatakan penghargaan atas teladan bagus yang diberikan oleh para istri dan ibu Kristen?

      9 Tentu saja, banyak wanita Kristen memiliki tanggung jawab keluarga yang perlu diperhatikan; namun, mereka tetap mengutamakan kepentingan Kerajaan. (Matius 6:33) Seorang saudari perintis lajang menulis, ”Ibu saya, melalui imannya yang tak tergoyahkan dan teladannya yang bagus, berperan penting dalam menjadikan saya seorang perintis biasa. Sesungguhnya, ia adalah salah seorang rekan perintis terbaik saya.” Seorang suami mengatakan tentang istrinya, seorang ibu dari lima putri yang sudah dewasa, ”Rumah kami selalu bersih dan apik. Bonnie memeliharanya tetap sederhana dan rapi sehingga keluarga kami dapat berfokus pada kesibukan rohani. Sumbangsihnya dalam mengatur keuangan kami secara cermat memungkinkan saya bekerja penggal waktu selama 32 tahun, sehingga saya dapat mencurahkan lebih banyak waktu untuk keluarga saya dan hal-hal rohani. Istri saya juga mengajar anak-anak pentingnya bekerja keras. Ia benar-benar layak menerima pujian saya.” Sekarang, pasangan suami istri tersebut melayani di kantor pusat sedunia dari Saksi-Saksi Yehuwa.

      10 Seorang suami menulis tentang istrinya, seorang ibu dari putra-putri yang sudah dewasa, ”Sifat-sifat yang paling saya kagumi dalam diri Susan ialah kasihnya yang sangat kuat kepada Allah dan orang-orang, termasuk sikapnya yang penuh pengertian, berempati, dan jujur. Ia selalu menganggap Yehuwa layak menerima yang terbaik yang dapat kami berikan kepada-Nya​—suatu prinsip yang ia terapkan atas dirinya, baik sebagai seorang hamba Allah maupun sebagai seorang ibu.” Dengan dukungan istrinya, suami ini sanggup menerima sejumlah hak istimewa rohani, termasuk melayani sebagai penatua, perintis, pengawas wilayah pengganti, dan anggota Panitia Penghubung Rumah Sakit. Alangkah berharganya wanita-wanita seperti itu bagi suami mereka, bagi rekan-rekan Kristen, dan yang terutama, bagi Yehuwa!​—Amsal 31:28, 30.

      Para Wanita yang Berharga sekalipun Tanpa Suami

      11. (a) Bagaimana Yehuwa menyingkapkan kepedulian-Nya kepada wanita-wanita Kristen, khususnya para janda? (b) Para janda Kristen dan saudari setia lainnya yang tidak memiliki suami dapat yakin akan hal apa?

      11 Yehuwa sering kali menyatakan kepedulian-Nya terhadap kesejahteraan janda-janda. (Ulangan 27:19; Mazmur 68:5; Yesaya 10:1, 2) Ia tidak berubah. Perhatian-Nya yang dalam tidak hanya diulurkan kepada janda-janda tetapi juga kepada para ibu tunggal serta wanita-wanita yang memilih untuk melajang atau yang tidak menemukan seorang suami Kristen yang cocok. (Maleakhi 3:6; Yakobus 1:​27) Jika Saudari termasuk di antara mereka yang melayani Yehuwa dengan setia tanpa dukungan teman hidup Kristen, Saudari dapat yakin bahwa Saudari berharga di mata Allah.

      12. (a) Bagaimana beberapa saudari Kristen mempertunjukkan keloyalan mereka kepada Yehuwa? (b) Beberapa saudari kita sedang menanggulangi perasaan-perasaan apa?

      12 Sebagai contoh, perhatikan saudari-saudari Kristen kita yang tidak menikah karena mereka dengan loyal menaati nasihat Yehuwa untuk menikah ”asalkan dalam Tuan”. (1 Korintus 7:39; Amsal 3:1) Firman Allah meyakinkan mereka, ”Terhadap orang yang loyal [Yehuwa] akan bertindak dengan loyal.” (2 Samuel 22:26) Namun, bagi banyak saudari, tetap melajang bukanlah hal yang mudah. Seorang saudari berkata, ”Saya bertekad untuk menikah hanya dalam Tuan, tetapi saya sering menangis seraya saya memperhatikan sahabat-sahabat saya menikah dengan pria-pria Kristen yang baik, sedangkan saya terus sendirian.” Saudari lain berkomentar, ”Saya telah melayani Yehuwa selama 25 tahun. Saya bertekad untuk terus loyal kepada-Nya, tetapi perasaan kesepian sering membuat saya sedih.” Ia menambahkan, ”Saudari-saudari seperti saya sangat membutuhkan dukungan moril.” Bagaimana kita dapat membantu saudari-saudari yang loyal seperti itu?

      13. (a) Apa yang kita pelajari dari teladan orang-orang yang mengunjungi putri Yefta? (b) Dengan cara-cara apa lagi kita dapat memperlihatkan kepedulian kepada saudari-saudari lajang di sidang kita?

      13 Salah satu caranya tampak dalam suatu contoh pada zaman dahulu. Sewaktu putri Yefta melepaskan kesempatannya untuk bersuami, orang-orang sadar bahwa ia membuat suatu pengorbanan. Apa yang dilakukan untuk memberinya dukungan moril? ”Dari tahun ke tahun putri-putri Israel akan pergi untuk memberikan kata-kata pujian kepada putri Yefta orang Gilead itu, empat hari dalam setahun.” (Hakim 11:30-40) Demikian juga, kita hendaknya memberikan kata-kata pujian yang sepenuh hati kepada saudari-saudari lajang yang dengan loyal menaati hukum Allah.a Apa cara lain kita dapat memperlihatkan kepedulian kita? Dalam doa-doa, kita hendaknya memohonkan kepada Yehuwa untuk mendukung saudari-saudari yang berharga dan setia ini agar tetap loyal dalam dinas mereka. Mereka layak untuk diyakinkan bahwa mereka sangat dikasihi dan sangat dihargai oleh Yehuwa dan segenap sidang Kristen.​—Mazmur 37:28.

      Bagaimana Orang Tua Tunggal Dapat Berhasil

      14, 15. (a) Mengapa orang Kristen yang adalah ibu tunggal hendaknya berseru kepada Yehuwa untuk meminta bantuan? (b) Bagaimana para orang tua tunggal dapat bertindak selaras dengan doa-doa mereka?

      14 Wanita-wanita Kristen yang adalah orang tua tunggal juga menghadapi banyak tantangan. Akan tetapi, mereka dapat berpaling kepada Yehuwa untuk memperoleh bantuan dalam membesarkan anak-anak mereka selaras dengan prinsip-prinsip Alkitab. Memang, jika Saudari adalah orang tua tunggal, Saudari tidak dapat menjalankan peran ibu dan sekaligus ayah dalam semua aspek. Meskipun demikian, Yehuwa akan menolong Saudari dalam memenuhi banyak tanggung jawab Saudari jika Saudari meminta bantuan-Nya dalam iman. Sebagai gambaran: Bayangkanlah Saudari punya sebuah tas berat berisi barang belanjaan yang harus dijinjing ke rumah Saudari yang jauh. Apakah Saudari akan bersusah payah berjalan kaki sampai ke rumah jika ada angkutan umum yang akan melewati rumah Saudari? Tentu saja tidak! Demikian pula, jangan coba pikul beban emosi yang berat sendirian padahal Saudari dapat meminta bantuan Yehuwa. Malah, Ia mengundang Saudari untuk berseru kepada-Nya. Mazmur 68:19 berkata, ”Diagungkanlah Yehuwa, yang setiap hari memikul tanggungan bagi kita.” Demikian pula, 1 Petrus 5:7 mengundang Saudari untuk melemparkan semua kekhawatiran Saudari kepada Yehuwa ”karena ia memperhatikan [Saudari]”. Jadi, sewaktu problem dan kekhawatiran membebani Saudari, lemparkanlah beban tersebut kepada Bapak surgawi Saudari, lakukanlah itu ”dengan tiada henti”.​—1 Tesalonika 5:17; Mazmur 18:6; 55:22.

      15 Sebagai contoh, jika Saudari adalah seorang ibu, pastilah Saudari risau mengenai pengaruh teman terhadap anak-anak Saudari di sekolah atau ujian integritas yang mungkin mereka hadapi. (1 Korintus 15:33) Kerisauan ini tentulah beralasan. Tetapi, kerisauan ini juga dapat dibawakan dalam doa. Sebenarnya, mengapa tidak mendoakan hal-hal itu bersama anak-anak Saudari sebelum mereka berangkat sekolah, mungkin setelah membahas ayat harian bersama? Doa yang spesifik dan sepenuh hati dapat sangat berkesan dalam pikiran anak-anak. Terutama sekali, Saudari akan menerima berkat Yehuwa apabila Saudari dengan sabar berupaya keras menanamkan Firman-Nya ke dalam hati anak-anak Saudari. (Ulangan 6:6, 7; Amsal 22:6) Ingatlah, ”mata Yehuwa tertuju kepada orang-orang yang adil-benar, dan telinganya kepada permohonan mereka”.​—1 Petrus 3:12; Filipi 4:6, 7.

      16, 17. (a) Apa yang dikatakan seorang putra mengenai kasih yang diperlihatkan oleh ibunya? (b) Bagaimana sudut pandang rohani sang ibu mempengaruhi anak-anaknya?

      16 Perhatikan contoh Olivia, seorang ibu dengan enam anak. Suaminya yang tidak seiman meninggalkan keluarga itu persis setelah anak bungsu mereka lahir, tetapi Olivia dengan sigap memikul tanggung jawab untuk melatih anak-anaknya dalam jalan-jalan Allah. Putra Olivia, Darren, yang sekarang berusia 31 tahun dan melayani sebagai penatua Kristen dan perintis, baru berusia kira-kira lima tahun pada waktu itu. Yang menambah kekhawatiran Olivia ialah Darren ternyata mengalami problem kesehatan serius yang masih menyusahkannya sampai sekarang. Sewaktu merenungkan masa kecilnya, Darren menulis, ”Saya masih ingat sewaktu duduk di tempat tidur rumah sakit sambil dengan penuh semangat menunggu Mama. Ia akan duduk di samping saya dan membacakan Alkitab untuk saya setiap hari. Lalu, ia menyanyikan lagu Kerajaan ’Syukur Kami, Yehuwa’.b Sampai hari ini, itu adalah melodi Kerajaan kesukaan saya.”

      17 Kepercayaan dan kasih Olivia kepada Yehuwa turut membuatnya berhasil sebagai ibu tunggal. (Amsal 3:5, 6) Sikapnya yang baik tercermin dari cita-cita yang ia tetapkan untuk anak-anaknya. ”Mama selalu menganjurkan kami untuk mengejar cita-cita dinas sepenuh waktu,” kata Darren. ”Hasilnya, saya dan empat saudara perempuan saya memasuki dinas sepenuh waktu. Namun, Mama tidak pernah menyombongkan hal ini kepada orang lain. Saya berupaya keras untuk meniru sifat-sifatnya yang menakjubkan ini.” Memang, tidak semua anak yang setelah dewasa melayani Allah seperti anak-anak Olivia. Tetapi, apabila seorang ibu berupaya sebaik mungkin untuk hidup selaras dengan prinsip-prinsip Alkitab, ia dapat yakin bahwa Yehuwa akan membimbing dan mendukungnya dengan pengasih.​—Mazmur 32:8.

      18. Bagaimana kita dapat memperlihatkan bahwa kita menghargai persediaan Yehuwa berupa sidang Kristen?

      18 Sebagian besar dukungan Allah disediakan melalui sidang Kristen, berupa program pemberian makanan rohani yang teratur, persaudaraan Kristen, dan ”pemberian berupa manusia” yang matang secara rohani. (Efesus 4:8) Para penatua yang setia bekerja keras untuk membina semua orang di dalam sidang, memberikan perhatian khusus kepada kebutuhan ”para yatim piatu dan janda-janda dalam kesengsaraan mereka”. (Yakobus 1:27) Jadi, tetaplah dekat dengan umat Allah, jangan pernah mengasingkan diri.​—Amsal 18:1; Roma 14:7.

      Indahnya Ketundukan

      19. Mengapa ketundukan istri tidak menyiratkan kedudukan yang lebih rendah, dan apa contoh Alkitab yang mendukung hal ini?

      19 Yehuwa menciptakan wanita sebagai pelengkap pria. (Kejadian 2:18) Maka, ketundukan istri kepada suaminya sama sekali tidak menyiratkan kedudukan yang lebih rendah. Sebaliknya, hal itu meningkatkan harkat seorang wanita, memungkinkan dia menggunakan banyak karunia dan talentanya selaras dengan kehendak Allah. Amsal pasal 31 melukiskan berbagai kegiatan seorang istri yang cakap di Israel zaman dahulu. Ia membantu orang yang berkekurangan, menanami kebun anggur, dan membeli tanah. Ya, ”hati pemiliknya percaya kepadanya, dan tidak ada kekurangan keuntungan”.​—Ayat 11, 16, 20.

      20. (a) Bagaimana hendaknya seorang wanita Kristen memandang kesanggupan atau karunia yang diberikan Allah kepadanya? (b) Sifat-sifat baik apa yang dipertunjukkan Ester, dan sebagai hasilnya bagaimana Yehuwa dapat menggunakan dia?

      20 Wanita yang bersahaja dan takut akan Allah tidak dengan ambisius meninggikan dirinya atau bersaing dengan suaminya. (Amsal 16:18) Ia tidak mengejar kepuasan diri semata-mata melalui profesi sekuler tetapi menggunakan karunia yang diberikan Allah kepadanya terutama untuk melayani orang lain​—keluarganya, rekan-rekan Kristennya, sesamanya, dan yang terutama, Yehuwa. (Galatia 6:10; Titus 2:3-5) Perhatikan contoh Ratu Ester dalam Alkitab. Meskipun cantik secara fisik, ia bersahaja dan tunduk. (Ester 2:13, 15) Ketika menikah, ia memperlihatkan respek yang dalam kepada suaminya, Raja Ahasweros, tidak seperti istri sang raja sebelumnya, Wasti. (Ester 1:10-12; 2:16, 17) Ester juga dengan respek tunduk kepada pendapat Mordekai, sepupunya yang lebih tua, dalam persoalan-persoalan yang relevan​—bahkan setelah ia menjadi ratu. Tetapi, ia bukan seorang pengecut! Ia dengan berani membuka kedok Haman, seorang pria yang penuh kuasa dan kejam, yang berencana jahat untuk memusnahkan orang Yahudi. Yehuwa menggunakan Ester dengan perkasa untuk melindungi umat-Nya.​—Ester 3:8–4:17; 7:1-10; 9:13.

      21. Bagaimana seorang wanita Kristen dapat menjadi semakin berharga bagi Yehuwa?

      21 Jelaslah, baik dahulu maupun sekarang, wanita-wanita yang saleh telah memperlihatkan pembaktian mereka yang eksklusif kepada Yehuwa dan ibadat-Nya. Oleh karena itu, wanita-wanita yang takut akan Allah berharga di mata Yehuwa. Saudari-Saudari Kristen, biarkanlah Yehuwa melalui roh-Nya membentuk Saudari secara progresif menjadi ”bejana” yang semakin berharga, yang ”dipersiapkan untuk setiap pekerjaan yang baik”. (2 Timotius 2:21; Roma 12:2) Mengenai para penyembah yang berharga seperti itu, Firman Allah berkata, ”Berikanlah kepadanya buah tangannya, dan biarlah pekerjaannya memuji dirinya bahkan di gerbang-gerbang.” (Amsal 31:31) Semoga hal itu terbukti benar bagi Saudari masing-masing.

      [Catatan Kaki]

      a Mengenai cara memberikan kata-kata pujian demikian, lihat Menara Pengawal, 15 Maret 2002, halaman 26-8.

      b Nyanyian 212 dalam buku Nyanyikanlah Pujian Bagi Yehuwa, diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan