-
Peranan Wanita dalam AlkitabMenara Pengawal—1991 | 1 Juli
-
-
Peranan Wanita dalam Alkitab
”Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.”—KEJADIAN 2:23.
1, 2. (a) Menurut pemikiran beberapa orang bagaimana pandangan Alkitab terhadap wanita? (b) Agar adil, perbandingan apa harus dibuat, dan apa yang dinyatakan oleh sebuah buku referensi?
BAGAIMANA Alkitab memandang kaum wanita? Ada berbagai pendapat mengenai hal ini. Sebuah buku yang baru-baru ini diterbitkan mengenai pokok tersebut menyatakan, ”Dewasa ini ada prasangka bahwa Alkitab merendahkan kaum wanita.” Ada orang yang menyatakan bahwa dalam bagian Ibrani maupun bagian Yunani dari Alkitab, kaum wanita diperlakukan secara keras. Benarkah demikian?
2 Supaya adil, pertama-tama kita layak meneliti bagaimana kaum wanita diperlakukan pada zaman Alkitab di kalangan orang yang tidak menyembah Yehuwa. Di beberapa peradaban kuno yang mempraktikkan penyembahan kepada dewi-bunda, kaum wanita dihormati sebagai simbol kesuburan. Mereka tampaknya sangat dijunjung tinggi di Babel dan Mesir. Namun di tempat-tempat lain perlakuan terhadap mereka kurang baik. Di Asyur zaman dulu seorang pria dapat menyingkirkan istrinya sesuka hatinya dan bahkan membunuhnya jika wanita tesebut tidak setia. Di luar rumah, ia harus menggunakan cadar. Di Yunani dan Roma, hanya wanita kaya, kebanyakan di antaranya adalah wanita panggilan, atau pelacur kelas tinggi, yang mendapat kesempatan mengecap pendidikan dan menikmati kemerdekaan sampai tingkat tertentu. Karena itu, menyegarkan untuk membaca dalam The New International Dictionary of New Testament Theology:a ”Sebagai kontras dengan selebihnya dunia timur (religius), ia [wanita dalam Kitab-Kitab Ibrani] diakui sebagai pribadi dan sebagai mitra dari pria.” Hal ini dengan baik dicantumkan dalam buku terakhir dari Kitab-Kitab Ibrani, ketika nabi Yehuwa menggambarkan istri sebagai ’teman sekutu’ dari pria, sambil menambahkan, ”Janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.”—Maleakhi 2:14, 15.
Diciptakan sebagai Imbangan dari Pria
3 dan catatan kaki. (a) Setelah menciptakan Adam, penugasan kerja apa yang Yehuwa berikan kepadanya? (b) Bahkan meskipun Adam belum lagi mempunyai istri, apa yang benar sehubungan dengan Adam sebelum Hawa diciptakan, dan apa yang juga benar sehubungan dengan ”Adam yang akhir”, Yesus?
3 Menurut Alkitab, Yehuwa menciptakan Adam ”dari debu tanah” dan menempatkan dia di Taman Eden, untuk mengerjakannya. Allah membawa kepada Adam binatang-binatang liar dari padang dan burung-burung di udara agar dia dapat mempelajarinya dan menamainya. Selama masa yang Adam perlukan untuk melakukan hal ini, ia berada seorang diri. Untuk penugasan yang ia terima dari Yehuwa sejauh itu, ia sempurna, lengkap, tidak kekurangan apa-apa.b Ia tidak memiliki ”penolong yang sepadan dengan dia”.—Kejadian 2:7, 15, 19, 20.
4, 5. (a) Ketika saatnya tidak lagi baik bagi Adam untuk terus berada seorang diri, apa yang Yehuwa lakukan? (b) Penugasan jangka panjang apa yang Yehuwa berikan kepada Adam dan Hawa, dan apa yang dituntut dari kedua-duanya?
4 Namun, setelah beberapa waktu berlalu, Yehuwa menyatakan bahwa ”tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja”, dan ia selanjutnya menyediakan seorang rekan bagi Adam untuk ikut serta bersama dia menunaikan tugas yang terletak di hadapan mereka. Ia membius Adam, mengeluarkan satu dari antara tulung rusuk Adam, dan membentuknya menjadi wanita, ’tulang dari tulangnya dan daging dari dagingnya’. Kini Adam akan memiliki ”seorang penolong”, seorang ”yang sepadan”, atau imbangan. ”Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka, ’Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.’”—Kejadian 1:25, 28; 2:18, 21-23.
5 Perhatikan bahwa penugasan ini diberikan kepada ”mereka”, kepada pria maupun wanita. Kerja sama mereka tidak hanya dibatasi dalam hal memenuhi bumi. Itu juga akan mencakup menaklukkan bumi dan menjalankan kuasa yang sepatutnya atas semua makhluk yang lebih rendah. Hal itu menuntut sifat-sifat intelektual dan rohani, dan baik pria maupun wanita memiliki potensi yang dibutuhkan untuk mengembangkan sifat-sifat ini selaras dengan kehendak Allah.
Peranan yang Masuk Akal dari Wanita
6. (a) Apa yang ditunjukkan oleh Alkitab mengenai kekuatan fisik yang relatif dari pria dan dari wanita? (b) Bagaimana sebaiknya cara berpikir wanita-wanita agar dapat menerima penyelenggaraan Yehuwa dalam mengatur segala perkara?
6 Tentu, menaklukkan bumi juga menuntut kekuatan fisik. Dalam hikmat-Nya yang tak terbatas, Yehuwa menciptakan Adam lebih dahulu, kemudian Hawa. Ia diciptakan ”dari laki-laki”, ”karena laki-laki”, dan tampaknya dengan kekuatan fisik yang kurang daripada laki-laki. (1 Timotius 2:13; 1 Korintus 11:8, 9; bandingkan 1 Petrus 3:7.) Ini merupakan fakta kehidupan yang tampaknya sukar diterima oleh para pejuang hak-hak wanita, dan beberapa wanita lain juga. Mereka pasti akan lebih berbahagia jika mereka berupaya memahami alasan mengapa Yehuwa mengaturnya dengan cara ini, dengan demikian menerima peranan yang Allah berikan kepada mereka. Orang-orang yang mengeluh mengenai penyelenggaraan Allah dapat dibandingkan dengan seekor burung bulbul (nightingale) yang merengut di dalam sarangnya karena ia tidak sekuat burung camar, sebaliknya daripada terbang ke dahan yang tinggi dan berkicau sebagai penghargaan atas karunia unik yang Allah berikan kepadanya.
7. Mengapa Adam berada dalam kedudukan yang baik untuk menjalankan kekepalaan atas Hawa dan anak-anak yang akan dilahirkan, namun apakah hal ini akan merupakan penghinaan bagi Hawa?
7 Sebelum Hawa diciptakan, Adam tidak diragukan memperoleh banyak pengalaman dalam kehidupan. Selama masa ini, Yehuwa memberikan dia instruksi-instruksi tertentu. Adam harus meneruskan hal-hal ini kepada istrinya, jadi bertindak sebagai juru bicara Allah. Secara masuk akal, ia harus ambil pimpinan dalam segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadat dan kegiatan-kegiatan ilahi yang harus mereka kerjakan dengan mengingat untuk melaksanakan penugasan mereka. Pada waktu anak-anak dilahirkan, ia akan menjadi kepala keluarga. Namun ini bukan dengan maksud merugikan istrinya. Sebaliknya, ini demi manfaatnya karena ia akan memiliki seseorang untuk mendukung dia pada waktu ia menggunakan wewenangnya sendiri yang Allah berikan atas anak-anaknya.
8. Apa pengaturan ilahi yang digariskan di dalam Alkitab?
8 Sesuai dengan segala perkara yang diatur ilahi, Adam bertanggung jawab terhadap Yehuwa, Hawa berada di bawah kekepalaan Adam, setiap anak akan berada di bawah bimbingan orang-tua mereka, dan binatang-binatang harus patuh kepada manusia. Pria dan wanita memiliki peranannya sendiri-sendiri, dan masing-masing dapat menikmati kehidupan yang bahagia dan produktif. Dengan demikian, ’segala sesuatu berlangsung dengan sopan dan teratur’.—1 Korintus 11:3; 14:33, 40, catatan kali Alkitab NW.
Dosa Merusak Peranan Wanita
9, 10. Apa akibat-akibat dari kejatuhan ke dalam dosa bagi pria dan wanita, dan hal ini membawa akibat apa bagi banyak wanita?
9 Dengan sendirinya, invasi dosa dan ketidaksempurnaan ke Firdaus yang mula-mula merusak penyelenggaraan yang tertib ini. (Roma 7:14-20) Itu membawa penderitaan atas pria yang memberontak dan istrinya yang tidak patuh. (Kejadian 3:16-19) Sejak itu, banyak pria yang mementingkan diri telah menyalahgunakan kekepalaan mereka yang benar, sehingga mengakibatkan banyak penderitaan ke atas kaum wanita selama berabad-abad.
10 Karena melihat di muka akibat khusus ini dari dosa, Yehuwa berkata kepada Hawa, ”Engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” (Kejadian 3:16) Penguasaan yang disalahgunakan ini bukanlah penerapan yang benar dari kekepalaan. Hal itu mencerminkan keadaan berdosa dari pria dan juga ketidaksempurnaan dari wanita, karena kadang-kadang wanita menderita akibat mencoba merongrong wewenang suami mereka.
11. Apa yang benar mengenai banyak wanita, dan apa yang ditulis oleh seorang pengarang mengenai kaum wanita pada zaman para datuk?
11 Namun sejauh prinsip-prinsip Alkitab telah dipatuhi, banyak wanita menemukan perasaan puas dan kebahagiaan. Hal ini demikian bahkan pada zaman para datuk. Berbicara tentang masa itu dalam bukunya La Bible au Féminin (Alkitab Dalam Bentuk Jenis Wanita [Feminine Gender]), pengarang wanita Laure Aynard menulis, ”Apa yang khususnya menonjol dalam semua catatan ini adalah peranan penting yang dimainkan oleh wanita, martabat mereka di mata para datuk, prakarsa mereka yang berani, dan suasana kemerdekaan yang mereka nikmati dalam kehidupan.”
Wanita di Bawah Taurat Musa
12, 13. (a) Apa status dari kaum wanita di bawah Taurat Musa? (b) Bagaimana keadaan kaum wanita secara rohani di bawah Taurat?
12 Menurut hukum-hukum Yehuwa yang diberikan melalui Musa, istri harus ’dikasihi’. (Ulangan 13:6, BIS) Martabat kaum istri harus direspek dalam masalah seksual, dan tidak ada wanita yang boleh disalahgunakan secara seksual. (Imamat 18:8-19) Pria dan wanita sederajat di hadapan Taurat jika mereka kedapatan bersalah karena percabulan, inses, atau mengadakan hubungan seksual dengan binatang. (Imamat 18:6, 23; 20:10-12) Hukum kelima menuntut agar hormat yang sama diberikan kepada bapak maupun ibu.—Keluaran 20:12.
13 Di atas segalanya, Taurat menyediakan kesempatan penuh bagi kaum wanita untuk mengembangkan kerohanian mereka. Mereka mendapat manfaat dari pembacaan Taurat. (Yusak 8:35; Nehemia 8:2, 3) Mereka dituntut mengikuti perayaan-perayaan agama. (Ulangan 12:12, 18; 16:11, 14) Mereka ikut serta dalam Sabat mingguan dan dapat mengadakan ikrar orang Nazir. (Keluaran 20:8; Bilangan 6:2) Mereka memiliki hubungan pribadi dengan Yehuwa dan mereka berdoa kepada-Nya secara pribadi.—1 Samuel 1:10.
14. Apa yang dikatakan oleh seorang sarjana Alkitab Katolik tentang keadaan dari kaum wanita Ibrani, dan apa yang dapat dikatakan mengenai peranan wanita di bawah Taurat?
14 Ketika memberi komentar mengenai kaum wanita Ibrani, sarjana Alkitab Katolik Roland de Vaux menulis, ”Semua pekerjaan berat di rumah pastilah menjadi tanggungannya; ia menjaga kawanan ternaknya, bekerja di ladang, memasak makanan, menenun, dan lain sebagainya. Namun, semua pekerjaan yang kelihatannya membosankan ini, sama sekali tidak merendahkan statusnya, sebaliknya membuat ia mendapat timbang rasa. . . . Dan bagian-bagian yang langka itu yang memberi kita pandangan sekilas mengenai keintiman kehidupan keluarga memperlihatkan bahwa istri orang Israel disayang dan diperhatikan oleh suaminya, dan diperlakukan olehnya sebagai orang yang sederajat. . . . Dan tidak diragukan bahwa ini merupakan gambaran yang normal. Ini adalah pencerminan yang tulus mengenai ajaran yang tercantum di dalam kitab Kejadian, yang menceritakan bahwa Allah telah menciptakan wanita sebagai mitra bagi pria, kepada siapa ia harus berpaut (Kej 2:18, 24); dan pasal terakhir dari Amsal menyanyikan pujian mengenai ibu rumah tangga yang baik, dipuji oleh anak-anaknya, dan menjadi kebanggaan suaminya (Ams 31:10-31).” (Ancient Israel—Its Life and Institutions) Tidak diragukan, apabila Taurat dipatuhi di Israel, kaum wanita tidak diperlakukan dengan tidak baik.
Wanita-Wanita yang Menonjol
15. (a) Bagaimana tingkah laku Sara menggambarkan hubungan yang benar di antara seorang pria dan istrinya? (b) Mengapa kasus Rahab patut kita perhatikan?
15 Kitab-Kitab Ibrani memuat banyak contoh tentang wanita yang adalah hamba-hamba Allah Yehuwa yang menonjol. Sara memberikan gambaran yang baik tentang caranya seorang wanita yang saleh dapat berlaku patuh kepada suaminya dan pada waktu yang sama membantu dia dalam membuat keputusan-keputusan. (Kejadian 21:9-13; 1 Petrus 3:5, 6) Kasus Rahab patut kita perhatikan. Tuduhan bahwa Yehuwa memiliki prasangka ras dan keras terhadap wanita terbukti tidak benar. Rahab adalah seorang pelacur non-Israel. Yehuwa tidak saja menerima dia sebagai seorang penyembah tetapi karena ia sangat beriman, yang ditunjukkan dengan perbuatannya termasuk perubahan gaya hidup, Ia menyatakan Rahab benar. Selain itu, Ia memberkati dia dengan hak istimewa yang tidak lazim untuk menjadi nenek moyang dari Mesias.—Matius 1:1, 5; Ibrani 11:31; Yakobus 2:25.
16. Apa yang digambarkan oleh teladan Abigail, dan mengapa haluan tindakannya dibenarkan?
16 Kasus Abigail menggambarkan bahwa Yehuwa tidak menuntut agar istri harus secara membabi buta patuh kepada suaminya. Suaminya kaya sekali, memiliki banyak kawanan domba dan kambing. Tetapi ia ”kasar dan jahat kelakuannya”. Abigail tidak mau mengikuti suaminya dalam haluannya yang jahat. Dengan memperlihatkan kebijaksanaan, pertimbangan yang baik, kerendahan hati, dan kecepatan bertindak, ia menghindari keadaan yang dapat berarti malapetaka bagi seisi rumah tangganya, dan ia sangat diberkati Yehuwa.—1 Samuel 25:2-42.
17. (a) Hak istimewa apa yang dimiliki beberapa wanita di Israel? (b) Pelajaran apa yang terkandung dalam teladan Maria bagi kaum wanita Kristiani yang mungkin diberikan hak-hak istimewa tertentu dalam dinas?
17 Beberapa wanita bahkan menjadi nabiah. Demikianlah halnya dengan Debora, selama masa para Hakim. (Hakim, pasal 4 dan 5) Hulda seorang nabiah di Yehuda, tidak lama sebelum kebinasaan Yerusalem. (2 Raja 22:14-20) Kasus Miryam patut kita perhatikan. Meskipun ia disebut sebagai nabiah, yang diutus Yehuwa, tampaknya hak istimewa ini membuat dia besar kepala. Ia tidak mengakui wewenang yang Yehuwa telah berikan kepada Musa, adiknya, untuk memimpin bangsa Israel, dan ia dihukum karenanya, meskipun ia rupanya bertobat dan disembuhkan.—Keluaran 15:20, 21; Bilangan 12:1-15; Mikha 6:4.
Wanita-Wanita di Bawah Yudaisme
18, 19. Apa status dari kaum wanita di bawah Yudaisme, dan bagaimana hal ini sampai terjadi?
18 Seperti telah kita perhatikan, Taurat Musa melindungi hak-hak wanita dan, apabila dipatuhi, kaum wanitanya akan menikmati kehidupan yang memuaskan. Namun seraya waktu berjalan, khususnya setelah kebinasaan Yerusalem pada tahun 607 S.M., mulailah berkembang agama Yahudi, yang lebih didasarkan atas tradisi lisan daripada atas Taurat Yehuwa yang tertulis. Sejak abad keempat S.M. dan seterusnya, Yudaisme menyerap banyak filsafat Yunani. Pada umumnya para filsuf Yunani memberikan sedikit perhatian kepada hak-hak wanita, maka sejalan dengan itu status wanita merosot di dalam lingkungan Yudaisme. Sejak abad ketiga S.M., wanita mulai dipisahkan dari pria di sinagoge Yahudi dan tidak dianjurkan untuk membaca Taurat (Hukum Musa). Encyclopaedia Judaica mengakui, ”Sebagai akibatnya sedikit wanita yang terpelajar.” Pendidikan hanya khusus bagi anak laki-laki.
19 Dalam bukunya Jerusalem in the Time of Jesus, J. Jeremias menulis, ”Secara keseluruhan, kedudukan wanita dalam perundang-undangan agama dinyatakan paling baik dalam formula yang terus diulangi ini: ’Kaum wanita, budak-budak dan anak-anak (non-Yahudi).’ . . . Kita dapat menambahkan kepada hal ini bahwa ada banyak pendapat yang bersifat menghina yang dilontarkan terhadap wanita. . . . Karena itu kita mendapat kesan bahwa Yudaisme pada zaman Yesus juga memiliki pandangan yang sangat rendah terhadap wanita.”
Wanita-Wanita yang Setia yang Menantikan Mesias
20, 21. (a) Meskipun sikap merendahkan dari para pemimpin agama Yahudi terhadap kaum wanita, siapa yang didapati di antara orang-orang yang waspada menantikan seraya saat munculnya Mesias semakin dekat? (b) Apa yang memperlihatkan bahwa Elisabet dan Maria memiliki pengabdian ilahi yang dalam?
20 Sikap yang merendahkan ini dari para rabi Yahudi terhadap wanita adalah cara lain mereka ’membuat firman Allah tidak berlaku melalui tradisi mereka’. (Markus 7:13) Namun meskipun sikap merendahkan ini, seraya saat kedatangan Mesias mendekat, beberapa wanita yang saleh telah menantikan dengan waspada. Salah seorang di antaranya adalah Elisabet, istri dari Zakharia, seorang imam Lewi. Ia dan suaminya ”benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan [”Yehuwa”, NW]”. (Lukas 1:5, 6) Elisabet diperkenan oleh Yehuwa dalam hal ia, meskipun mandul dan usianya sudah cukup lanjut, menjadi ibu dari Yohanes Pembaptis.—Lukas 1:7, 13.
21 Digerakkan oleh roh suci, Elisabet menyatakan kasih yang dalam terhadap seorang wanita saleh lainnya di zaman dia, seorang kerabat yang bernama Maria. Ketika, kira-kira pada akhir tahun 3 S.M., malaikat Gabriel memberi tahu Maria bahwa ia secara mukjizat akan mengandung seorang anak (Yesus), ia menyapa dia, ”engkau yang dikaruniai”, dan menambahkan, ”Tuhan [”Yehuwa”, NW] menyertai engkau.” Tidak lama kemudian, Maria mengunjungi Elisabet, yang memuji dia dan anak yang sedang dalam kandungan, menyebut Yesus ”Tuhan”-nya bahkan sebelum ia dilahirkan. Mendengar hal itu, Maria terdorong menyatakan pujian kepada Yehuwa yang memberi kesaksian yang menggugah hati berkenaan pengabdian ilahinya yang dalam.—Lukas 1:28, 31, 36-55.
22. Setelah Yesus lahir, wanita saleh mana yang memperlihatkan bahwa ia salah seorang di antara mereka yang menantikan Mesias?
22 Ketika Yesus dilahirkan dan Maria membawanya ke bait di Yerusalem untuk mempersembahkan dia kepada Yehuwa, seorang wanita lain yang takut akan Allah, nabiah Hana yang telah lanjut usia, menyatakan sukacitanya. Ia mengucapkan syukur terima kasih kepada Yehuwa dan berbicara tentang Yesus kepada semua orang yang dengan penuh harap menantikan Mesias yang dijanjikan.—Lukas 2:36-38.
23. Bagaimana rasul Petrus berbicara tentang wanita-wanita pra-Kristiani, dan pertanyaan apa saja yang akan ditinjau dalam artikel yang berikut?
23 Jadi, seraya waktu untuk dinas Yesus di bumi mendekat, masih ada ”wanita-wanita kudus . . . yang menaruh pengharapannya kepada Allah”. (1 Petrus 3:5) Beberapa di antara wanita-wanita ini menjadi murid Kristus. Bagaimana Yesus memperlakukan mereka? Apakah dewasa ini juga ada wanita-wanita yang dengan senang hati menerima peranan mereka sebagaimana digariskan di dalam Alkitab? Pertanyaan-pertanyaan ini akan kita tinjau dalam artikel berikut.
[Catatan Kaki]
a Jilid 3, halaman 1055.
b ”Adam yang akhir”, Kristus Yesus, juga pria yang sempurna, lengkap, meskipun ia tidak memiliki istri manusia.—1 Korintus 15:45.
-
-
Peranan Wanita dalam AlkitabMenara Pengawal—1991 | 1 Juli
-
-
[Kotak di hlm. 10]
”WANITA YANG TAAT KEPADA [YEHUWA]”
”10 Istri yang cakap sukar ditemukan; ia lebih berharga daripada intan berlian. 11 Suaminya tak akan kekurangan apa-apa, karena menaruh kepercayaan kepadanya. 12 Ia tak pernah berbuat jahat kepada suaminya; sepanjang umurnya ia berbuat baik kepadanya. 13 Ia rajin mengumpulkan rami dan bulu domba lalu sibuk bekerja menenunnya. 14 Dari jauh ia mendatangkan makanan, seperti yang dilakukan oleh kapal-kapal pedagang. 15 Pagi-pagi buta ia bangun untuk menyiapkan makanan bagi keluarganya, dan untuk membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya. 16 Ia mencari sebidang tanah, lalu membelinya; ia mengusahakan sebuah kebun anggur dari pendapatannya. 17 Ia menyiapkan dirinya untuk bekerja sekuat tenaga. 18 Ia tahu bahwa segala sesuatu yang dibuatnya, menguntungkan; ia bekerja sampai jauh malam. 19 Benang dipintalnya dan kain ditenunnya. 20 Ia tidak kikir kepada yang berkekurangan; ia baik hati kepada yang memerlukan pertolongan. 21 Ia tidak khawatir apabila musim dingin tiba, karena baju panas tersedia bagi keluarganya. 22 Ia sendiri yang membuat permadaninya; pakaiannya dari kain lenan ungu yang mewah. 23 Suaminya adalah orang ternama—salah seorang dari antara para pemimpin kota. 24 Ia membuat pakaian dan ikat pinggang lalu menjualnya kepada pedagang. 25 Ia berwibawa dan dihormati; dan tidak khawatir tentang hari nanti. 26 Dengan lemah lembut ia berbicara; kata-katanya bijaksana. 27 Ia selalu rajin bekerja dan memperhatikan urusan rumah tangganya. 28 Ia dihargai oleh anak-anaknya, dan dipuji oleh suaminya. 29 ’Ada banyak wanita yang baik,’ kata suaminya, ’tetapi engkau yang paling baik dari mereka semua.’ 30 Paras yang manis tak dapat dipercaya, dan kecantikan akan hilang; tetapi wanita yang taat kepada Tuhan layak mendapat pujian. 31 Balaslah segala kebaikannya; ia wanita yang patut dihormati di mana-mana!”—Amsal 31:10-31, ”BIS”.
-
-
’Wanita-Wanita yang Bekerja Membanting Tulang dalam Pelayanan Tuhan’Menara Pengawal—1991 | 1 Juli
-
-
’Wanita-Wanita yang Bekerja Membanting Tulang dalam Pelayanan Tuhan’
”Salam kepada Trifena dan Trifosa, [wanita-wanita] yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan.”—ROMA 16:12.
1. Dalam hal apa pelayanan Yesus di bumi merupakan berkat bagi wanita?
PELAYANAN Yesus di bumi benar-benar suatu berkat bagi kaum wanita Yahudi. Pekerjaan yang ia mulai akan membawa penghiburan, harapan dan suatu martabat baru bagi kaum wanita dari segala ras. Ia sama sekali tidak mematuhi tradisi Yudaisme yang ’membuat Firman Allah tidak berlaku’. (Matius 15:6) Banyak di antara tradisi-tradisi itu meremehkan hak-hak asasi yang Allah berikan kepada kaum wanita.
Sikap Yesus terhadap Kaum Wanita
2. Mengapa dapat dikatakan bahwa pendekatan Yesus kepada wanita merupakan hal yang revolusioner pada zaman itu?
2 Betapa berbedanya sikap Yesus terhadap kaum wanita dibandingkan dengan sikap para pemimpin agama Yahudi! Menurut kutipan Encyclopaedia Judaica, para pemimpin agama Yahudi menganggap kaum wanita ”tamak, suka menguping, malas, dan pencemburu”. Berbincang-bincang dengan seorang wanita tidak disetujui, dan ”adalah tidak sopan bagi seorang terpelajar untuk berbicara kepada seorang wanita di jalan”. (Jerusalem in the Time of Jesus, oleh Joachim Jeremias; bandingkan Yohanes 4:27.) Banyak hal lagi yang dapat dikatakan mengenai sikap yang memuakkan dari para pemimpin Yudaisme terhadap kaum wanita. Namun apa yang disebutkan di atas cukup memperlihatkan bagaimana cara Yesus memperlakukan kaum wanita benar-benar revolusioner pada zaman itu.
3. Peristiwa apa dalam pelayanan Yesus yang menunjukkan bahwa ia dapat mengajarkan kebenaran rohani yang dalam kepada wanita-wanita?
3 Yesus memberikan teladan yang sempurna mengenai caranya kaum pria dapat memiliki hubungan yang hangat namun benar-benar suci dengan kaum wanita. Ia tidak saja berbincang-bincang dengan mereka tetapi ia juga mengajar mereka kebenaran rohani yang dalam. Sesungguhnya, orang yang pertama sekali ia beri tahu dengan terus terang mengenai kedudukannya sebagai Mesias adalah seorang wanita, dan malahan wanita tersebut adalah orang Samaria. (Yohanes 4:7, 25, 26) Selanjutnya, peristiwa yang menyangkut Marta dan Maria memperlihatkan dengan jelas bahwa tidak seperti para pemimpin agama Yahudi, Yesus tidak merasa bahwa seorang wanita tidak memiliki hak untuk sewaktu-waktu meninggalkan panci dan belanganya agar dapat meningkatkan pengetahuan rohaninya. Pada peristiwa itu, Maria ”telah memilih bagian yang terbaik”, meletakkan perkara-perkara rohani di tempat pertama. (Lukas 10:38-42) Namun beberapa bulan kemudian, setelah saudara laki-laki mereka meninggal, Marta, dan bukan Maria, yang memperlihatkan keinginan yang lebih besar untuk berjumpa dengan sang Guru. Betapa hati kita tergetar bahkan sekarang pada waktu membaca percakapan yang sangat bersifat rohani antara Yesus dan Marta mengenai harapan kebangkitan! (Yohanes 11:20-27) Sungguh suatu hak istimewa bagi Marta!
Wanita-Wanita yang Melayani Yesus
4, 5. Selain para rasul, siapa yang mengikut Yesus selama pelayanannya di Galilea, dan bagaimana mereka memberikan pelayanan kepadanya?
4 Yesus juga menerima pelayanan dari wanita-wanita sewaktu ia mengadakan perjalanan di seluruh negeri. Dalam kisah Injilnya, Markus menyebut ”beberapa perempuan . . . telah mengikut Yesus dan melayaniNya waktu Ia di Galilea”. (Markus 15:40, 41) Siapa gerangan wanita-wanita ini, dan cara bagaimana mereka melayani Yesus? Kita tidak tahu nama dari mereka semua, namun Lukas menyebut beberapa nama dan menjelaskan dalam cara apa mereka melayani Yesus.
5 Lukas menulis, ”Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas muridNya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.” (Lukas 8:1-3) Yesus tidak keberatan wanita-wanita ini mengikuti dia dan menggunakan harta milik mereka untuk melayani kebutuhan materinya dan para rasulnya.
6. (a) Siapa yang mengikuti Yesus selama perjalanannya yang terakhir ke Yerusalem? (b) Siapa yang terus berdiri dekat Yesus sampai kematiannya, dan bagaimana beberapa di antara mereka diberkati? (c) Dari sudut pandangan tradisi Yudaisme, apa yang menonjol mengenai kisah di Yohanes 20:11-18?
6 Ketika Yesus dihukum mati, ”ada di situ banyak perempuan yang melihat dari jauh, yaitu perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea untuk melayani dia. Di antara mereka terdapat Maria Magdalena, dan Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus”. (Matius 27:55, 56) Jadi, banyak wanita yang setia berdiri di sebelah Yesus pada waktu ia mati. Patut diperhatikan juga bahwa wanita-wanita merupakan saksi-saksi pertama dari kebangkitannya. (Matius 28:1-10) Hal ini sendiri suatu pukulan atas tradisi Yahudi, karena di dalam Yudaisme kaum wanita dianggap tidak layak menjadi saksi yang sah. Mengingat hal ini, silakan baca Yohanes 20:11-18, dan coba bayangkan emosi yang dalam yang dirasakan Maria Magdalena ketika sang Majikan yang telah dibangkitkan mendekati dia, memanggil namanya, dan menggunakan dia sebagai saksinya untuk memberi tahu murid-muridnya bahwa ia benar-benar telah hidup!
Wanita-Wanita yang Setia Setelah Pentakosta
7, 8. (a) Bagaimana kita tahu bahwa ada wanita-wanita yang hadir pada waktu roh suci dicurahkan pada hari Pentakosta? (b) Bagaimana wanita-wanita Kristiani ikut serta dalam perluasan masa awal dan Kekristenan?
7 Setelah Yesus naik ke surga, wanita-wanita yang saleh hadir bersama rasul-rasul yang setia di ruang atas di Yerusalem. (Kisah 1:12-14) Bahwa ada wanita-wanita di antara mereka atas siapa roh kudus dicurahkan pada waktu Pentakosta sudah jelas. Mengapa? Karena ketika Petrus menjelaskan apa yang telah terjadi, ia mengutip Yoel 2:28-30, yang secara khusus menyebutkan ’anak-anak perempuan’ dan ’hamba-hamba perempuan’. (Kisah 2:1, 4, 14-18) Jadi, wanita-wanita Kristiani yang diperanakkan dengan roh dan diurapi adalah bagian dari sidang Kristen sejak semula ia didirikan.
8 Wanita-wanita memainkan peranan yang penting, walaupun tidak utama, dalam menyebarluaskan Kekristenan. Maria, ibu dari Markus dan bibi dari Barnabas, memberikan rumahnya yang besar untuk digunakan oleh sidang Yerusalem. (Kisah 12:12) Juga, ia bersedia melakukan hal ini pada waktu mula-mula timbul penindasan melawan orang-orang Kristiani. (Kisah 12:1-5) Keempat anak perempuan dari penginjil Filipus diberi hak istimewa untuk menjadi nabiah Kristiani.—Kisah 21:9; 1 Korintus 12:4, 10.
Sikap Paulus terhadap Kaum Wanita
9. Nasihat apa yang diberikan Paulus mengenai wanita-wanita Kristiani dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, dan prinsip ilahi apa yang ia anjurkan untuk direspek oleh wanita-wanita?
9 Kadang-kadang rasul Paulus dituduh sebagai seorang misogimis, artinya, orang yang membenci dan tidak percaya kepada wanita. Benar, adalah Paulus yang mendesak agar kaum wanita mempertahankan tempat mereka yang layak di dalam sidang Kristen. Dalam penyelenggaraan yang normal, mereka tidak boleh mengajar pada perhimpunan-perhimpunan sidang. (1 Korintus 14:33-35) Jika, karena tidak ada pria Kristen yang hadir atau karena ia bernubuat di bawah dorongan roh suci, seorang wanita Kristen berbicara pada suatu pertemuan, ia dituntut mengenakan tudung kepala. Tudung kepala ini adalah ”tanda wibawa”, bukti yang kelihatan bahwa seorang wanita mengakui penyelenggaraan Allah berkenaan kekepalaan.—1 Korintus 11:3-6, 10.
10. Rasul Paulus dituduh apa oleh beberapa orang, namun apa yang membuktikan bahwa tuduhan ini tidak benar?
10 Paulus rupanya merasa perlu mengingatkan umat Kristiani masa awal mengenai prinsip-prinsip teokratis ini agar ’segala sesuatu berlangsung dengan sopan dan tertib’ pada perhimpunan-perhimpunan sidang. (1 Korintus 14:40) Namun apakah ini berarti bahwa Paulus antiwanita, seperti yang dikatakan beberapa orang? Tidak, tidak demikian. Bukankah Paulus yang dalam pasal penutup dari suratnya kepada jemaat di Roma menyampaikan salam hangat kepada sembilan orang wanita? Tidakkah ia memperlihatkan penghargaan yang dalam terhadap Febe, Priska (Priskila), Trifena, dan Trifosa, menyebut kedua yang disebut terakhir dua ”[wanita] yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan”? (Roma 16:1-4, 6, 12, 13, 15) Juga adalah Paulus yang menulis di bawah ilham, ”Kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:27, 28) Paulus jelas mengasihi dan menghargai saudari-saudari Kristennya, termasuk Lidia, yang memperlihatkan kemurahan tangan yang patut ditiru selama suatu masa penuh cobaan.—Kisah 16:12-15, 40; Filipi 4:2, 3.
Para Wanita yang Bekerja Keras Dewasa Ini
11, 12. (a) Bagaimana Mazmur 68:12 secara aksara sedang digenapi dewasa ini? (b) Dalam situasi apa kebanyakan dari saudari-saudari kita berada, dan mengapa mereka membutuhkan kasih dan doa kita?
11 Di dalam sidang Kristen dewasa ini, ada banyak wanita Kristen yang ”bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan”. Sesungguhnya, statistik memperlihatkan bahwa ”orang-orang [”wanita-wanita”, NW] yang membawa kabar baik itu merupakan tentara yang besar”, membentuk bagian besar dari pasukan Saksi-Saksi yang Yehuwa sedang gunakan dalam masa akhir ini. (Mazmur 68:12) Wanita-wanita Kristen yang bekerja keras ini telah memperoleh nama yang baik bagi diri mereka seraya mereka berjuang memenuhi peranan mereka sebagai istri, ibu, pengatur rumah tangga, pencari nafkah, dan juga sebagai rohaniwati Kristen.
12 Sejumlah besar di antara saudari-saudari yang baik ini memiliki suami yang tidak beriman. Mereka harus menghadapi situasi ini selama 24 jam sehari. Beberapa telah berjuang selama bertahun-tahun untuk menjadi istri yang baik seraya memenuhi persyaratan bagi hamba-hamba yang loyal dari Yehuwa. Hal itu tidak mudah, namun mereka bertekun, selalu berharap agar suami mereka ”tanpa perkataan dimenangkan” melalui tingkah laku Kristen mereka yang baik. Betapa besar sukacita yang dirasakan oleh seluruh keluarga apabila suami yang demikian memberi tanggapan! (1 Petrus 3:1, 2) Sementara itu, saudari-saudari yang setia ini tentu membutuhkan kasih persaudaraan dan doa dari anggota-anggota lain di sidang. Sebagaimana ”roh yang lemah lembut dan tenteram” yang mereka upayakan untuk mereka perlihatkan adalah ”sangat berharga di mata Allah”, demikian pula integritas mereka yang teguh sangat berharga dalam mata kita.—1 Petrus 3:3-6.
13. Mengapa dapat dikatakan mengenai saudari-saudari perintis kita bahwa mereka adalah ”[wanita-wanita] yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan”, dan bagaimana mereka hendaknya diperlakukan di dalam sidang mereka masing-masing?
13 Mengenai saudari-saudari yang melayani sebagai perintis, dapat dikatakan bahwa mereka ”bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan”. Banyak di antara mereka harus mengurus rumah, suami, dan anak-anak, di samping kegiatan pengabaran mereka. Beberapa melakukan pekerjaan paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan materi mereka. Semua ini menuntut pengorganisasian yang baik, tekad, ketekunan, dan banyak kerja keras. Wanita-wanita Kristiani ini hendaknya dapat merasakan kasih dan dukungan dari mereka yang berada dalam situasi yang tidak memungkinkan mereka membaktikan jam-jam perintis kepada pekerjaan kesaksian.
14. (a) Teladan baik apa mengenai ketekunan disebut di sini? (b) Wanita-wanita Kristiani lain mana patut dipuji, dan mengapa? Sebutkan teladan-teladan setempat.
14 Beberapa wanita Kristiani memperlihatkan keuletan luar biasa dalam dinas perintis. Di Kanada, Grace Lounsbury mulai mencicipi dinas perintis pada tahun 1914. Ia harus keluar dari daftar dinas perintis pada tahun 1918 karena sakit, namun menjelang 1924 ia kembali dalam dinas perintis. Saat penulisan artikel ini, ia masih dalam daftar perintis, meskipun telah berumur 104 tahun! Banyak saudari utusan injil yang pada tahun 1940 dilatih dalam kelas-kelas permulaan dari Sekolah Alkitab Gilead Menara Pengawal masih tetap melayani dengan setia, di dalam ladang utusan injil ataupun sebagai anggota dari keluarga Betel di Brooklyn atau di salah satu kantor cabang dari Lembaga Menara Pengawal. Semua wanita Kristiani ini, dan memang semua saudari yang merelakan diri dalam dinas Betel, memperlihatkan semangat rela berkorban dan merupakan teladan yang baik. Apakah kita pernah menyatakan kepada mereka bahwa mereka dihargai?
Istri dari para Pengawas Keliling
15, 16. Kelompok apa dari wanita-wanita Kristiani patut menerima pujian kita yang hangat, dan mengapa?
15 Istri dari para pengawas keliling membentuk kumpulan lain dari wanita-wanita Kristiani yang layak mendapat pujian dan anjuran yang hangat. Saudari-saudari yang kita kasihi ini rela ikut pada waktu suami mereka pergi berkunjung dari satu sidang ke sidang lain, atau dari satu wilayah ke wilayah lain, agar dapat membina saudara-saudara mereka secara rohani. Kebanyakan dari mereka telah melewatkan kenyamanan sebuah rumah; mereka tidur di tempat tidur yang berbeda setiap minggu, dan tidak selalu dalam tempat tidur yang baik. Namun mereka berbahagia menerima apa pun yang disediakan oleh saudara-saudara. Mereka menjadi teladan yang baik bagi saudari-saudari rohani mereka.
16 Para wanita Kristiani ini juga memberikan dukungan yang tak ternilai bagi suami mereka, banyak yang mirip dengan wanita-wanita saleh yang ”mengikut Yesus dan melayaniNya”. (Markus 15:41) Mereka tidak dapat menggunakan banyak waktu berdua dengan suami mereka, yang selalu ’giat dalam pekerjaan Tuhan’. (1 Korintus 15:58) Beberapa di antara mereka, seperti halnya Rosa Szumiga di Perancis, yang terjun dalam dinas sepenuh waktu pada tahun 1948, telah menyiapkan koper-koper bagi suami mereka dan mengadakan perjalanan bersama mereka selama 30 atau 40 tahun. Mereka rela membuat pengorbanan bagi Yehuwa dan bagi saudara dan saudari mereka. Mereka layak mendapat penghargaan, kasih dan doa kita.
Istri dari para Penatua
17, 18. (a) Istri dari saudara-saudara yang dilantik untuk kedudukan dinas dituntut memiliki sifat-sifat apa? (b) Pengorbanan apa yang setuju dilakukan oleh istri para penatua bagi Yehuwa dan saudara-saudara mereka, dan bagaimana istri-istri yang lain dapat membantu suami mereka?
17 Ketika menyebutkan satu per satu persyaratan bagi saudara-saudara yang dapat dilantik sebagai penatua dan pelayan sidang, rasul Paulus juga menyebutkan kaum wanita, dengan menulis, ”Demikian pula isteri-isteri [”wanita-wanita”, NW] hendaklah orang terhormat, jangan pemfitnah, hendaklah dapat menahan diri dan dapat dipercayai dalam segala hal.” (1 Timotius 3:11) Benar, nasihat yang umum ini berlaku atas semua wanita Kristiani. Namun mengingat konteksnya, jelas itu harus diikuti dengan cara yang patut dicontoh oleh istri dari saudara-saudara yang dilantik untuk kedudukan dalam dinas.
18 Untunglah, inilah keadaannya dengan ribuan istri dari para penatua Kristiani. Mereka bersahaja dalam kebiasaan dan dalam cara berpakaian, serius dalam kehidupan Kristiani, berhati-hati dalam berkata-kata dan mereka dengan tulus berupaya untuk setia dalam semua perkara. Mereka juga rela membuat pengorbanan, menyadari bahwa suami mereka membaktikan waktu untuk masalah-masalah sidang yang sebenarnya dapat digunakan bersama mereka. Wanita-wanita Kristiani yang setia ini layak mendapat kasih dan anjuran kita yang hangat. Mungkin lebih banyak saudara dapat meraih hak-hak istimewa di dalam banyak sidang kita seandainya istri mereka mau dengan rendah hati rela membuat pengorbanan demikian demi kesejahteraan semua orang.
”Perempuan-Perempuan Tua” yang Setia
19. Mengapa banyak ”perempuan-perempuan tua” sangat dihargai di sidang mereka, dan bagaimana seharusnya perasaan kita terhadap mereka?
19 Tinjauan kita mengenai wanita-wanita yang disebut di dalam Alkitab telah memungkinkan kita untuk melihat bahwa usia tidak menghalangi wanita-wanita yang saleh untuk melayani Yehuwa. Fakta ini digambarkan pada kasus Sara, Elisabet, dan Hana. Dewasa ini, ada banyak wanita Kristiani yang sudah lanjut usia yang menjadi teladan yang baik dalam iman dan ketekunan. Selain itu, mereka dengan bijaksana dapat mendukung para penatua dengan membantu saudari-saudari yang lebih muda. Berbekal pengalaman-pengalaman mereka selama bertahun-tahun, mereka dapat memberikan nasihat kepada wanita-wanita yang lebih muda, sebagaimana diwajibkan oleh Alkitab agar mereka lakukan. (Titus 2:3-5) Mungkin ada kalanya seorang saudari yang lanjut usia sendiri yang perlu diberi nasihat. Jika demikian, penatua yang melakukan hal itu harus ’memperlakukan dia sebagai ibu’. Para penatua harus ’menghormati janda-janda’ dan, jika perlu, mengorganisasi bantuan materi bagi mereka. (1 Timotius 5:1-3, 5, 9, 10) Saudari-saudari lanjut usia yang kita kasihi harus yakin sekali bahwa mereka dirindukan dan dihargai.
Orang-Orang yang Memerintah bersama Kristus
20. Hak istimewa tertinggi apa yang ditawarkan kepada banyak wanita Kristiani, dan mengapa domba-domba lain dapat berbahagia mengenai hal ini?
20 Jelas sekali dari Alkitab bahwa ”Allah tidak memandang bulu” sehubungan dengan bangsa atau jenis kelamin. (Roma 2:10, 11; Galatia 3:28) Hal ini juga benar dalam cara Yehuwa memilih mereka yang akan menjadi mitra bersama Putra-Nya dalam pemerintahan Kerajaan. (Yohanes 6:44) Betapa bersyukur kumpulan besar domba-domba lain karena wanita-wanita yang setia, seperti halnya Maria ibu Yesus, Maria Magdalena, Priskila, Trifena, Trifosa, dan banyak lagi yang lain dalam sidang Kristen masa awal, sekarang ikut serta dalam pemerintahan Kerajaan, memperkaya pemerintahan itu dengan pemahaman mereka yang intim mengenai perasaan dan pengalaman dari kaum wanita! Betapa penglihatan di muka dan hikmat di pihak Yehuwa!—Roma 11:33-36.
21. Bagaimana perasaan kita dewasa ini terhadap ”[wanita-wanita] yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan”?
21 Kita dewasa ini dapat ikut menghayati perasaan Paulus ketika ia berbicara dengan kasih dan penghargaan mengenai ”[wanita-wanita ini] yang telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil”. (Filipi 4:3) Semua Saksi-Saksi Yehuwa, pria dan wanita, menganggap itu sebagai sukacita dan hak istimewa untuk berjuang bersama-sama dengan ’tentara besar yang terdiri dari wanita-wanita yang menceritakan kabar baik’, ya, ”[wanita-wanita] yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan”.—Mazmur 68:12; Roma 16:12.
-