PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Negara Mana yang Bebas dari Kejahatan?
    Sedarlah!—1996 | 8 Oktober
    • Negara Mana yang Bebas dari Kejahatan?

      Pemakamannya merupakan salah satu pemakaman terbesar yang diadakan di Moskwa dalam beberapa tahun ini. Ribuan orang berbaris di jalan-jalan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pemuda Rusia yang kehidupannya telah dihabisi dengan tiba-tiba pada tanggal 1 Maret 1995, oleh peluru dari para pembunuh. Ditembak mati tepat di ambang pintu rumahnya, Vladislav Listyev, seorang wartawan terkemuka untuk tahun 1994, telah menjadi figur televisi yang sangat populer.

      TIDAK sampai tiga minggu setelah itu, pada tanggal 20 Maret, segalanya berlangsung sebagaimana biasanya pada jam sibuk di pagi hari di sistem kereta api bawah tanah Tokyo, ketika lokasi itu dilanda serangan gas beracun. Beberapa orang tewas; banyak yang lainnya luka parah.

      Kemudian, pada tanggal 19 April, Oklahoma City menjadi pusat perhatian pemirsa televisi di seluruh dunia. Mereka menonton diliputi perasaan ngeri seraya para penyelamat menarik mayat-mayat yang babak-belur dari reruntuhan bangunan pemerintah yang baru saja diledakkan oleh bom teroris. Angka korbannya mencapai 168 orang.

      Pada akhir bulan Juni dalam tahun ini, serangan lain semacam itu terjadi di dekat Dhahran, Arab Saudi, menewaskan 19 orang Amerika dan melukai kira-kira 400 orang.

      Empat peristiwa ini mengilustrasikan bahwa kejahatan kini memiliki dimensi baru. Kejahatan ”normal” semakin ditambah oleh perbuatan brutal dari terorisme. Dan keempat peristiwa ini​—menurut caranya masing-masing​—memperlihatkan betapa mudahnya setiap orang diserang oleh kejahatan. Entah Anda di rumah, di tempat kerja, atau di jalan, kejahatan dapat menjadikan Anda sebagai salah seorang korbannya. Bahkan, suatu survei di Inggris memperlihatkan bahwa hampir tiga perempat orang Inggris berpikir bahwa mereka kemungkinan besar menjadi korban kejahatan sekarang dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu. Keadaan di tempat Anda tinggal mungkin serupa.

      Warga negara yang mematuhi hukum mendambakan suatu pemerintah yang akan berbuat lebih daripada sekadar mengontrol kejahatan. Mereka menginginkan pemerintah yang benar-benar akan mengakhiri kejahatan. Dan walaupun tingkat kejahatan komparatif mungkin memperlihatkan bahwa beberapa pemerintah lebih efektif dalam mencegah kejahatan dibandingkan dengan yang lain, gambaran keseluruhan memperlihatkan bahwa pemerintah manusia sedang kalah dalam perjuangannya melawan kejahatan. Namun, bukannya tidak realistis atau bukan Utopia untuk percaya bahwa pemerintah segera akan mengakhiri kejahatan. Tetapi pemerintah yang mana? Dan kapan?

      [Kotak/Peta di hlm. 4, 5]

      SUATU DUNIA YANG PENUH KEJAHATAN

      EROPA: Sebuah buku Italia (”Kesempatan dan Pencurian”) mengatakan bahwa dalam waktu singkat, jumlah kejahatan atas harta milik di Italia telah ”mencapai puncaknya yang [dulu] dianggap tidak mungkin”. Ukraina, republik bekas Uni Soviet, melaporkan 490 kejahatan per 100.000 penduduk pada tahun 1985 dan 922 pada tahun 1992. Angka itu terus meningkat. Tidak heran surat kabar Rusia (”Arguments and Facts”) menulis, ”Kita mendambakan hidup​—untuk terus hidup​—selamat dari periode yang menakutkan ini . . . takut naik kereta api​—jangan-jangan relnya sengaja disimpangkan atau keretanya dirusak; takut naik pesawat terbang​—pembajakan begitu sering atau pesawat bisa saja jatuh; takut naik kereta api bawah tanah​—karena tabrakan atau ledakan; takut berjalan kaki di jalanan​—jangan-jangan terjebak dalam tembak-menembak atau dirampok, diperkosa, dipukuli, atau dibunuh; takut naik mobil​—jangan-jangan kebakaran, meledak, atau dicuri; takut masuk bangunan apartemen, restoran, atau toko​—jangan-jangan terluka atau terbunuh di salah satu tempat itu.” Majalah Hongaria HVG yang menyamakan kota matahari di Hongaria dengan ”kantor pusat Mafia”, mengatakan bahwa dalam tiga tahun terakhir, kota itu merupakan ”titik awal bagi setiap jenis kejahatan baru . . . Reaksi berantai dari rasa takut berkembang seraya orang-orang melihat polisi tidak siap memerangi para Mafia”.

      AFRIKA: Daily Times dari Nigeria melaporkan bahwa ”lembaga-lembaga pendidikan yang lebih tinggi” di suatu negara di Afrika Barat mengalami ”suatu gelombang teror, yang dilancarkan oleh anggota-anggota kultus rahasia: hampir hingga taraf melarang segala bentuk pelatihan keterampilan akademis apa pun”. Surat kabar itu kemudian melanjutkan, ”Gelombang tersebut menjadi semakin meluas, dibarengi oleh korban jiwa dan hilangnya harta milik.” Mengenai negara Afrika lain, The Star dari Afrika Selatan melaporkan, ”Ada dua bentuk kekerasan: konflik antarkomunitas, dan kekerasan kejahatan biasa. Yang pertama telah sangat berkurang, yang kedua semakin menjadi-jadi.”

      BENUA AMERIKA: The Globe and Mail dari Kanada melaporkan peningkatan dalam kejahatan yang kejam di Kanada selama jangka waktu 12 tahun berturut-turut belakangan ini, semua peningkatan ini merupakan ”bagian dari kecenderungan yang telah menghasilkan 50 persen peningkatan dalam kekerasan selama dasawarsa terakhir”. Sementara itu, El Tiempo dari Kolombia melaporkan bahwa di Kolombia, terjadi 1.714 penculikan tahun lalu, ”jumlahnya lebih dua kali lipat dari seluruh penculikan yang dicatat di tempat-tempat lain di dunia pada periode yang sama”. Menurut Departemen Kehakiman Meksiko, kejahatan seksual dilakukan di ibu kota dalam setiap empat jam selama tahun lalu. Seorang juru bicara menunjukkan bahwa abad ke-20 telah dicirikan oleh merosotnya harkat individu. ”Kita hidup dalam suatu generasi pakai-buang,” demikian kesimpulannya.

      OSEANIA: Institut Kriminologi Australia memperkirakan bahwa kejahatan di sana menelan ”sekurang-kurangnya 27 miliar dolar Australia tiap tahun, atau hampir 1600 dolar Australia untuk setiap pria, wanita dan anak-anak”. Ini merupakan ”kira-kira 7,2 persen dari produk domestik kotor”.

      SELUAS DUNIA: Buku The United Nations and Crime Prevention mengamati ”adanya peningkatan terus-menerus di seluas dunia dalam aktivitas kriminal pada tahun 1970-an dan 1980-an”. Buku itu menyatakan, ”Jumlah kejahatan yang tercatat meningkat dari kira-kira 330 juta pada tahun 1975 hingga hampir 400 juta pada tahun 1980 dan diperkirakan telah mencapai setengah miliar pada tahun 1990.”

  • Perjuangan untuk Mengakhiri Kejahatan
    Sedarlah!—1996 | 8 Oktober
    • Perjuangan untuk Mengakhiri Kejahatan

      ”KAUM Muda Menyatakan Bahwa Kebosanan Adalah Penyebab Utama Kejahatan Remaja,” demikian bunyi kepala berita di sebuah surat kabar yang terkenal di Inggris. ”Percekcokan di Rumah Dipersalahkan Atas Meningkatnya Kejahatan,” kata surat kabar lainnya. Dan surat kabar yang ketiga menyatakan, ”Kecanduan ’Menyulut Ribuan Kejahatan’.” Majalah Philippine Panorama memperkirakan bahwa 75 persen dari semua kejahatan yang kejam di Manila dilakukan oleh para penyalahguna obat bius.

      Faktor-faktor lain kemungkinan juga turut menyebabkan timbulnya perilaku kriminal. ”Kemiskinan yang berdampingan dengan kekayaan yang besar” adalah yang dimaksud oleh inspektur jenderal kepolisian Nigeria. Tekanan teman-teman sebaya dan prospek pekerjaan yang suram, tidak adanya wibawa hukum yang kuat, hancurnya nilai-nilai keluarga secara umum, kurangnya respek terhadap kalangan berwenang dan hukum, dan kekerasan yang berlebihan di dalam film dan video juga dikutip.

      Faktor lain adalah bahwa banyak orang tidak lagi percaya bahwa kejahatan itu tidak mendatangkan untung. Seorang sosiolog di Universitas Bologna di Italia mengamati bahwa selama bertahun-tahun, ”jumlah kasus pencurian yang dilaporkan telah meningkat dan jumlah orang yang dituduh melakukan pencurian berkurang”. Ia memperhatikan bahwa ”jumlah hukuman yang sebanding dengan jumlah total kasus pencurian yang dilaporkan telah merosot tajam dari 50 persen hingga 0.7 persen”.

      Kata-kata dari The New Encyclopædia Britannica memang menyedihkan namun benar, ”Meningkatnya kejahatan tampaknya adalah ciri-ciri dari semua masyarakat industri modern, dan tidak ada perkembangan dalam ilmu hukum atau ilmu pidana yang terbukti dapat mendatangkan pengaruh yang berarti pada problem tersebut. . . . Bagi masyarakat kota modern, yang di dalamnya pertumbuhan ekonomi dan keberhasilan pribadi merupakan nilai-nilai yang dominan, tidak ada alasan untuk mengira bahwa tingkat kejahatan tidak akan terus meningkat.”

      Apakah Pandangan Ini Terlalu Negatif?

      Benarkah keadaannya sebegitu parah? Bukankah beberapa tempat melaporkan berkurangnya kejahatan? Memang demikian, tetapi statistik dapat menyesatkan. Misalnya, dilaporkan bahwa kejahatan di Filipina berkurang hingga 20 persen setelah diberlakukan pelarangan untuk membawa senjata api. Tetapi Asiaweek menjelaskan bahwa seorang pejabat yakin bahwa para pencuri mobil dan perampok bank tidak lagi mencuri mobil dan merampok bank, sebaliknya ”beralih ke bidang penculikan”. Perampokan bank dan pencurian mobil telah menjadi lebih sedikit, hal ini menyebabkan turunnya kasus kejahatan secara keseluruhan, tetapi berkurangnya hal ini tidak ada artinya mengingat kasus penculikan meningkat empat kali lipat!

      Dalam laporannya tentang Hongaria, majalah HVG menulis, ”Dibandingkan dengan enam bulan pertama dari tahun 1993, angka kejahatan berkurang hingga 6,2 persen. Apa yang lupa disebutkan oleh polisi adalah bahwa berkurangnya hal itu . . . terutama adalah karena adanya pergantian administrasi.” Tingkat kasus pencurian, penipuan, atau vandalisme dalam bidang moneter meningkat hingga 250 persen dibandingkan dengan catatan sebelumnya. Maka kejahatan properti yang nilainya kurang dari tingkat ini tidak lagi dicatat. Karena kejahatan yang melibatkan harta milik merupakan tiga perempat dari semua kejahatan di negara itu, kejahatan sama sekali tidak dapat dikatakan telah berkurang.

      Mendapatkan angka kejahatan yang akurat memang sulit. Satu alasan adalah bahwa banyak kejahatan​—mungkin hingga 90 persen dalam kategori tertentu​—tidak dilaporkan. Tetapi memperdebatkan apakah kejahatan telah berkurang atau meningkat sebenarnya bukan masalahnya. Orang-orang mendambakan dibasminya kejahatan, bukan sekadar dikurangi.

      Beberapa Pemerintah Sedang Berupaya

      Survei Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1990 menyingkapkan bahwa negara-negara yang lebih maju membelanjakan 2 hingga 3 persen dari anggaran tahunannya untuk mengendalikan kejahatan, sementara negara-negara berkembang bahkan membelanjakan dalam jumlah lebih banyak, rata-rata 9 hingga 14 persen. Menambah jumlah angkatan kepolisian dan menyediakan bagi mereka perlengkapan yang lebih baik menjadi hal utama di beberapa tempat. Tetapi hasilnya tidak sepadan. Beberapa warga Hongaria mengeluh, ”Tidak pernah tersedia cukup polisi untuk menangkap penjahat, namun selalu tersedia cukup polisi untuk menangkap pelanggar lalu lintas.”

      Banyak pemerintah akhir-akhir ini merasa perlu mengeluarkan hukum kriminal yang lebih ketat. Misalnya, karena ”penculikan kini meningkat di seluruh Amerika Latin”, kata majalah Time, pemerintah di sana telah menanggapi dengan hukum yang ”keras namun kurang efektif. . . . Mengeluarkan hukum memang satu permasalahan”, demikian pengakuan majalah itu, ”namun menerapkan hukum itu adalah permasalahan lain lagi”.

      Diperkirakan bahwa di Inggris pada tahun 1992, terdapat lebih dari 100.000 sistem keamanan lingkungan, yang meliputi sekurang-kurangnya empat juta rumah. Program-program yang serupa diterapkan di Australia pada pertengahan tahun 1980-an. Tujuannya, kata Lembaga Kriminologi Australia, adalah mengurangi kejahatan ”dengan meningkatkan kesadaran warga tentang keselamatan masyarakat, dengan memperbaiki sikap dan perilaku penghuninya dalam melaporkan kejahatan dan kejadian-kejadian yang mencurigakan di daerah sekelilingnya dan dengan menurunkan tingkat rawan kejahatan dengan bantuan pemberian identitas harta milik dan pemasangan peralatan keamanan yang efektif”.

      Televisi sirkuit tertutup digunakan di beberapa tempat untuk menghubungkan kantor-kantor polisi dengan tempat-tempat usaha. Kamera video digunakan oleh polisi, bank, dan toko-toko sebagai alat pencegah kejahatan atau sebagai alat untuk mengenali si pelanggar hukum.

      Di Nigeria, polisi mempunyai pos-pos pemeriksaan di jalan raya dalam upaya mengadang para perampok dan pembajak mobil. Pemerintah telah mendirikan tugas gabungan dalam pelanggaran perdagangan untuk memerangi penipuan. Komite kerja sama polisi-masyarakat yang terdiri dari para pemimpin masyarakat memberi tahu polisi tentang aktivitas kriminal dan orang-orang yang mempunyai karakter yang meragukan.

      Para pengunjung ke Filipina memperhatikan bahwa rumah-rumah pada umumnya tidak dibiarkan tanpa dijaga dan bahwa banyak orang memelihara anjing penjaga. Para pengusaha mempekerjakan penjaga keamanan pribadi untuk melindungi bisnis mereka. Peralatan antimaling untuk kendaraan banyak dijual. Orang-orang yang berduit berpaling kepada kawasan perumahan yang dijaga ketat atau kondominium.

      Surat kabar London The Independent mengomentari, ”Karena keyakinan pada sistem hukum runtuh, para warga mengatur pertahanan masyarakat mereka sendiri dalam jumlah yang semakin bertambah.” Dan semakin banyak orang mempersenjatai diri sendiri. Di Amerika Serikat misalnya, diperkirakan bahwa lima puluh persen rumah tangga memiliki setidak-tidaknya satu senjata api.

      Pemerintah terus-menerus mengembangkan metode-metode baru dalam memerangi kejahatan. Tetapi V. Vsevolodov, dari Akademi Urusan Dalam Negeri di Ukraina, menunjukkan bahwa menurut sumber-sumber PBB, begitu banyak orang berbakat menemukan ”metode-metode yang unik dalam melakukan aktivitas kriminal” sehingga ”pelatihan dari personel penegak hukum” tidak sanggup mengimbanginya. Para penjahat yang cerdik menyalurkan kembali sejumlah besar uang ke dalam bentuk bisnis dan pelayanan sosial, berbaur dengan masyarakat dan ”memperoleh bagi diri mereka kedudukan tinggi dalam masyarakat”.

      Kehilangan Keyakinan

      Semakin banyak orang di beberapa negara bahkan mulai percaya bahwa pemerintah itu sendiri merupakan bagian dari problem. Asiaweek mengutip kata-kata pemimpin suatu kelompok antikejahatan, ”Kira-kira 90% dari mereka yang dicurigai yang kami tangkap adalah polisi atau orang-orang militer.” Entah benar atau tidak, laporan-laporan seperti ini menyebabkan seorang legislator memberikan komentar, ”Jika mereka yang bersumpah menjunjung hukum malah menjadi pelanggar hukum, masyarakat kita berada dalam kesukaran.”

      Skandal korupsi yang melibatkan para pejabat tinggi telah mengguncang pemerintah di berbagai bagian dunia yang berbeda, yang semakin melemahkan keyakinan warga. Selain kehilangan kepercayaan terhadap kesanggupan pemerintah untuk mengekang kejahatan, orang-orang kini meragukan tekad mereka untuk melakukan hal demikian. Seorang pendidik bertanya, ”Bagaimana para pejabat ini dapat memerangi kejahatan bila mereka sendiri sangat terlibat di dalamnya?”

      Pemerintah yang satu datang dan yang lain pergi, tetapi kejahatan tetap ada. Namun, akan segera datang saatnya bila kejahatan tidak akan ada lagi!

  • Akhirnya​—Pemerintah yang Akan Mengakhiri Kejahatan
    Sedarlah!—1996 | 8 Oktober
    • Akhirnya​—Pemerintah yang Akan Mengakhiri Kejahatan

      ALKITAB menubuatkan bahwa di zaman kita orang-orang akan menjadi ”pencinta diri sendiri, pencinta uang, congkak, angkuh, penghujah, tidak taat kepada orang-tua, tidak berterima kasih, tidak loyal, tidak memiliki kasih sayang alami, tidak mau bersepakat, pemfitnah, tanpa pengendalian diri, garang, tanpa kasih akan kebaikan”. (2 Timotius 3:2, 3) Orang-orang semacam itu melakukan kejahatan.

      Mengingat orang-oranglah yang melakukan kejahatan, seandainya mereka mau berubah menjadi lebih baik, kejahatan akan berkurang. Tetapi selalu saja tidak mudah bagi orang-orang untuk berubah menjadi lebih baik. Dewasa ini, hal itu lebih sulit daripada sebelumnya, sebab sejak tahun 1914, tanggal yang diteguhkan oleh kronologi Alkitab, kita hidup pada ”hari-hari terakhir” dari sistem perkara ini. Sebagaimana yang dinubuatkan Alkitab, jangka waktu ini ditandai oleh ”masa kritis yang sulit dihadapi”. Masa yang kritis ini disebabkan oleh Setan si Iblis, penjahat terbesar dari segala penjahat, yang memiliki ”kemarahan yang besar, karena tahu ia mempunyai jangka waktu yang singkat”.​—2 Timotius 3:1; Penyingkapan 12:12.

      Itulah sebabnya dewasa ini kejahatan meningkat, Setan mengetahui bahwa ia dan sistemnya segera akan dihancurkan. Selama waktu singkat yang masih tersisa, ia mencari segala cara yang mungkin untuk menanamkan dalam diri manusia sifat-sifat buruk yang disebutkan di 2 Timotius pasal 3. Karena itu, bila pemerintah ingin mengakhiri kejahatan, maka ia harus menyingkirkan pengaruh Setan dan membantu orang-orang untuk berubah supaya mereka tidak lagi bertindak seperti yang dilukiskan di atas. Tetapi apakah ada pemerintah yang sanggup melaksanakan pekerjaan raksasa ini?

      Tidak ada pemerintah manusia yang sanggup melakukan hal ini. J. Vaskovich, seorang pengajar ilmu hukum di Ukraina, menyarankan perlunya ”suatu badan umum yang mampu, yang akan mempersatukan dan mengkoordinasikan upaya-upaya dari semua negara dan organisasi kemasyarakatan”. Dan Presiden Fidel Ramos dari Filipina menyatakan pada suatu konferensi dunia tentang kejahatan, ”Karena modernisasi telah membuat dunia kita menjadi lebih sempit, kejahatan telah berhasil menembus batas-batas nasional dan telah berkembang menjadi suatu problem antarbangsa. Karena itu, jalan keluarnya pun harus antarbangsa.”

      ”Tragedi Seluas Dunia”

      Perserikatan Bangsa-Bangsa merupakan suatu badan antarbangsa (internasional). Sejak badan ini didirikan, ia telah berupaya memerangi kejahatan. Tetapi badan ini tidak sanggup menyediakan jalan keluar yang lebih baik daripada yang dimiliki pemerintah-pemerintah nasional. Buku The United Nations and Crime Prevention mencatat, ”Kejahatan domestik telah keluar dari batas pengendalian sebagian besar dari bangsa-bangsa itu sendiri dan kejahatan antarbangsa telah maju pesat di luar jangkauan terakhir dari komunitas internasional. . . . Kejahatan kelompok-kelompok kriminal yang diorganisasi telah meluas hingga proporsi yang mengejutkan, khususnya dengan konsekuensi serius sehubungan dengan kekerasan fisik, intimidasi dan korupsi dari para pejabat masyarakat. Terorisme telah menelan korban puluhan ribu orang yang tidak bersalah. Perdagangan yang ganas dalam bidang narkotika yang mencandu telah menjadi tragedi seluas dunia.”

      James Madison, presiden keempat dari Amerika Serikat, pernah mengatakan, ”Dalam mendirikan suatu pemerintah yang akan diperintah oleh manusia atas manusia, kesulitan yang besar terletak pada hal ini: pertama-tama Anda harus memungkinkan pemerintah mengendalikan yang diperintah; dan selanjutnya pemerintah berkewajiban untuk mengendalikan diri sendiri.” (Bandingkan Pengkhotbah 8:​9.) Maka jalan keluar yang ideal adalah mengganti pemerintah-pemerintah yang ”diperintah oleh manusia atas manusia” dengan sistem yang akan diperintah oleh Allah. Tetapi apakah jalan keluar itu realistis?

      Pemerintah yang Akan Mengakhiri Kejahatan

      Orang-orang Kristen sejati percaya kepada apa yang dikatakan Alkitab tentang Kerajaan Allah.a Itu adalah suatu pemerintah yang nyata. Meskipun Kerajaan itu tidak kelihatan karena berada di surga, namun apa yang dilaksanakan di atas bumi kelihatan. (Matius 6:​9, 10) Pemerintah itu terdiri atas Kristus Yesus dan 144.00 orang yang diambil ’dari setiap suku dan bahasa dan umat dan bangsa . . . untuk berkuasa sebagai raja-raja atas bumi’. Pemerintah yang berkuasa ini akan memerintah atas ”kumpulan besar” sebagai warganya yang, sebagaimana Alkitab nubuatkan, juga berasal ”dari semua bangsa dan suku dan umat dan bahasa”. (Penyingkapan 5:9, 10; 7:9) Jadi, para penguasanya dan warga-warganya mempunyai latar belakang internasional, suatu umat dari semua bangsa yang benar-benar bersatu, yang mendapat perkenan ilahi.

      Dengan menerima pemerintahan Allah, Saksi-Saksi Yehuwa secara besar-besaran telah mengatasi problem kejahatan di kalangan mereka sendiri. Bagaimana? Dengan belajar menghargai hikmat dari prinsip-prinsip Alkitab, dengan menerapkannya dalam kehidupan mereka, dan dengan membiarkan diri mereka dimotivasi oleh kekuatan yang paling berkuasa di jagat raya, roh Allah, dan buahnya​—kasih. Firman Allah menyatakan, ”Kenakanlah pada dirimu kasih, karena itu adalah ikatan pemersatu yang sempurna.” (Kolose 3:14) Di lebih dari 230 negeri, Saksi-Saksi Yehuwa mempraktekkan kasih dan persatuan ini, yang memperlihatkan bagaimana Kerajaan Allah telah mengambil tindakan untuk mengakhiri kejahatan.

      Hal ini dapat diilustrasikan oleh hasil dari suatu survei tahun 1994 yang di dalamnya 145.958 Saksi-Saksi Yehuwa di Jerman ikut serta. Banyak dari mereka mengakui bahwa mereka telah mengatasi kesalahan serius agar dapat menjadi Saksi-Saksi. Mereka dimotivasi untuk melakukan hal itu melalui pelajaran Alkitab mereka. Misalnya, 30.060 Saksi berhasil mengatasi kecanduan tembakau dan obat bius; 1.437 Saksi tidak lagi berjudi; 4.362 Saksi memperbaiki perilaku yang keras dan jahat; 11.149 Saksi berhasil mengatasi sifat-sifat seperti kecemburuan atau kebencian; dan 12.820 Saksi memulihkan kehidupan keluarga yang penuh ketegangan menjadi penuh damai.

      Meskipun temuan ini hanya meliputi Saksi-Saksi Yehuwa di satu negara saja, itu merupakan situasi yang khas dari Saksi-Saksi di seluruh dunia. Misalnya, perhatikan seorang pemuda Ukraina bernama Yuri. Pada saat ia mulai belajar Alkitab bersama Saksi-Saksi Yehuwa, ia seorang pencopet. Ia bahkan pergi ke Moskwa, ke tempat kerumunan orang banyak sehingga ”pekerjaan[nya]” menjadi lebih mudah.

      Pada tahun 1993, Yuri pergi lagi ke Moskwa, ke tengah-tengah kumpulan orang banyak. Tetapi tidak satu pun dari lebih dari 23.000 orang yang berada di Stadion Locomotive pada hari Jumat, 23 Juli, harus merasa takut kepadanya, sebab kini ia salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa. Malahan, Yuri ada di atas panggung sedang ambil bagian dalam acara yang dipersembahkan kepada hadirin internasional. Ia berubah menjadi lebih baik, karena ia menaati perintah Alkitab, ”Hendaklah orang yang mencuri jangan mencuri lagi.”​—Efesus 4:28.

      Masih banyak lagi orang seperti Yuri yang telah meninggalkan kehidupan yang penuh kejahatan agar dapat memenuhi syarat untuk hidup dalam dunia baru keadilbenaran Allah. Hal ini menandaskan betapa benarnya apa yang dikatakan oleh Sir Peter Imbert, mantan pejabat kepolisian Inggris, ”Kejahatan dapat dikendalikan dalam semalam jika setiap orang rela mengerahkan upaya.” Program pendidikan Alkitab yang diberikan oleh pemerintah Allah menyediakan bagi orang-orang yang berhati jujur motivasi yang mereka butuhkan ”untuk mengerahkan upaya”.

      Suatu Dunia tanpa Kejahatan

      Kejahatan dalam bentuk apa pun memperlihatkan kurangnya kasih terhadap orang lain. Orang-orang Kristen mengikuti teladan Yesus, yang mengatakan, ”Engkau harus mengasihi Yehuwa Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap pikiranmu.” Dan, ”Engkau harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri”.​—Matius 22:37-39.

      Satu-satunya pemerintah yang dibaktikan untuk mengakhiri kejahatan dengan mengajarkan orang-orang untuk menaati dua perintah ini adalah Kerajaan Allah. Dewasa ini, lebih dari lima juta Saksi-Saksi Yehuwa mendapat manfaat dari perintah ini. Mereka bertekad untuk tidak membiarkan kecenderungan kriminal berakar di dalam hati mereka, rela membuat upaya pribadi apa pun yang diperlukan untuk turut mewujudkan suatu dunia yang bebas dari kejahatan. Apa yang telah dicapai oleh Allah dalam kehidupan mereka adalah gambaran pendahuluan dari apa yang akan Ia lakukan dalam dunia baru-Nya di bawah kepemimpinan dari pemerintah surgawi-Nya. Bayangkan suatu dunia yang tidak memerlukan polisi, hakim, pengacara, atau penjara!

      Agar hal ini tercapai dalam skala seluas dunia akan melibatkan pergolakan pemerintah yang terbesar dalam sejarah, yang didatangkan oleh Allah sendiri. Daniel 2:44 mengatakan, ”Pada zaman raja-raja [yang ada sekarang ini], Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan [surgawi] yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya.” Allah juga akan meremukkan Setan, mengakhiri pengaruh jahatnya.​—Roma 16:20.

      Sekali pemerintah manusia diganti oleh pemerintah surgawi Allah, umat manusia tidak akan pernah lagi memerintah satu sama lain. Raja-raja surgawi​—raja yang bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan malaikat-malaikat​—akan memberikan instruksi kepada umat manusia menurut cara keadilbenaran. Kemudian, tidak akan ada lagi pembunuhan, serangan gas beracun, atau bom teroris! Tidak akan ada lagi ketidakadilan sosial yang menimbulkan kejahatan! Tidak akan ada lagi kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin!

      Profesor S. A. Aluko, dari Universitas Obafemi Awolowo di Nigeria, mengatakan, ”Orang yang miskin tidak dapat tidur pada malam hari karena mereka lapar; orang yang kaya tidak dapat tidur karena yang miskin tidak tidur.” Tetapi segera setiap orang akan dapat tidur nyenyak karena mengetahui bahwa pemerintah itu​—pemerintah Allah​—akhirnya mengakhiri kejahatan!

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan