PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Sekolah dan Pekerjaan
    Pertanyaan Kaum Muda—Jawaban yang Praktis
    • Bagian 5

      Sekolah dan Pekerjaan

      Senang atau tidak senang, sekolah adalah tempat anda akan menuntut ilmu selama kira-kira 12 tahun dalam kehidupan anda. Ini dapat merupakan tahun-tahun yang membosankan atau menyenangkan. Hal ini banyak bergantung kepada bagaimana anda menggunakan tahun-tahun sekolah itu. Maka, dalam bagian ini kita akan meneliti mengenai sekolah, pekerjaan rumah, nilai, dan guru-guru. Dan bagi mereka yang sudah lulus, kami mempunyai petunjuk-petunjuk yang jitu agar berhasil dalam lapangan pekerjaan.

  • Perlukah Saya Meninggalkan Bangku Sekolah?
    Pertanyaan Kaum Muda—Jawaban yang Praktis
    • Pasal 17

      Perlukah Saya Meninggalkan Bangku Sekolah?

      JACK sudah lebih dari 25 tahun menjadi pegawai yang mengurus absensi di sekolah. Maka, seorang remaja yang suka membolos sulit memberi dalih yang belum pernah didengar Jack. “Saya sudah mendengar segalanya dari anak-anak,” katanya, “seperti ‘saya merasa akan sakit hari ini’ . . . ‘Kakek saya di Alaska meninggal.’” Dalih manakah yang paling “disukai” Jack? Yaitu dari tiga anak yang mengatakan mereka “tidak dapat menemukan sekolah karena kabut terlalu tebal.”

      Dalih-dalih yang lemah dan memalukan ini menggambarkan keengganan banyak remaja untuk bersekolah, mulai dari ketidakacuhan (“Tak apa-apa, saya pikir”) hingga benar-benar benci (“Sekolah menyebalkan! Saya membencinya”). Gary, misalnya, pada waktu bangun untuk berangkat ke sekolah akan segera merasa sakit perut. Ia mengatakan, “Kalau saya hampir tiba di sekolah, saya akan banyak berkeringat dan gugup . . . Saya benar-benar harus pulang.” Banyak remaja juga dihantui perasaan takut untuk sekolah—sesuatu yang oleh para dokter disebut phobia [penyakit takut] sekolah. Ini sering kali disebabkan oleh tindak kekerasan di sekolah, kekejaman teman sebaya, dan tekanan untuk mendapat nilai yang bagus. Remaja-remaja seperti ini mungkin (dengan sedikit bujukan orang-tua) akan pergi ke sekolah, tetapi mereka terus-menerus menderita kekalutan dan bahkan gangguan fisik.

      Tidak mengherankan bahwa ada jumlah yang mengkhawatirkan dari remaja-remaja yang memilih untuk sama sekali tidak pergi ke sekolah! Di Amerika Serikat saja, kira-kira dua setengah juta murid sekolah dasar dan menengah absen setiap hari! Sebuah artikel dalam The New York Times menambahkan bahwa begitu banyak (kira-kira sepertiga) yang “absen kronis” di sekolah-sekolah menengah atas di kota New York “sehingga hampir tidak mungkin untuk mengajar mereka.”

      Remaja-remaja lain bahkan mengambil langkah yang lebih drastis. “Sekolah menjemukan, terlalu ketat,” kata seorang pemuda bernama Walter. Ia meninggalkan bangku sekolah menengah atas. Demikian juga seorang gadis bernama Antonia. Ia mendapat kesulitan dengan tugas sekolah atau pekerjaan rumahnya. “Bagaimana saya dapat mengerjakan tugas itu jika saya tidak dapat mengerti apa yang saya baca?” ia bertanya. “Saya hanya duduk di sana, makin lama makin bodoh, maka saya keluar saja.”

      Memang, problem-problem yang serius mengganggu sistem pendidikan di seluruh dunia. Tetapi apakah ini alasan untuk sama sekali kehilangan minat bersekolah dan berhenti? Apa pengaruhnya dalam kehidupan anda selanjutnya jika anda meninggalkan bangku sekolah? Apakah ada alasan yang baik untuk terus sekolah sampai lulus?

      Nilai dari Pendidikan

      Michael sekolah lagi untuk mendapat ijazah yang disamakan dari sekolah menengah. Ketika ditanya alasannya, ia mengatakan, “Saya menyadari bahwa saya membutuhkan pendidikan.” Tetapi apa yang dimaksud dengan “pendidikan”? Apakah kesanggupan untuk menceritakan kembali serangkaian fakta yang mengesankan? Ini sama seperti mengatakan bahwa setumpukan batu bata sama dengan sebuah rumah.

      Pendidikan seharusnya mempersiapkan anda untuk kehidupan sebagai orang dewasa yang berhasil. Allen Austill, yang menjadi dekan sekolah selama 18 tahun, menjelaskan mengenai “pendidikan yang mengajar anda caranya berpikir, mengatasi problem, apa yang masuk akal dan tidak masuk akal, kesanggupan yang mendasar untuk berpikir dengan jelas, mengetahui apa data itu dan hubungan antara bagian-bagian dengan keseluruhannya. Untuk membuat penilaian dan perbedaan-perbedaan tersebut, untuk belajar caranya belajar.”

      Dan bagaimana peranan sekolah? Berabad-abad yang lalu Raja Salomo menulis amsal “untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan [“kesanggupan berpikir,” NW] kepada orang muda.” (Amsal 1:1-4) Ya, kaum remaja belum berpengalaman. Tetapi, sekolah dapat membantu anda memperkembangkan dan melatih kesanggupan berpikir. Ini bukan sekedar kesanggupan untuk menceritakan kembali fakta-fakta tetapi juga menganalisanya dan menghasilkan ide-ide yang produktif dari fakta-fakta itu. Walaupun banyak orang mengritik cara beberapa sekolah melaksanakan pengajaran, sekolah memang memaksa anda untuk menggunakan pikiran anda. Memang, memecahkan soal-soal geometri atau menghafalkan tanggal-tanggal bersejarah mungkin kelihatannya tidak relevan dengan kehidupan anda pada saat itu. Tetapi seperti ditulis oleh Barbara Mayer dalam buku The High School Survival Guide (Petunjuk Agar Berhasil Di Sekolah Menengah): “Tidak seorang pun akan mengingat semua fakta dan rincian pengetahuan yang sering ditanyakan para guru dalam tes, tetapi ketrampilan seperti cara belajar, dan cara membuat rencana, tidak akan pernah dilupakan.”

      Tiga profesor universitas yang meneliti pengaruh jangka panjang dari pendidikan, mengambil kesimpulan yang hampir sama bahwa “mereka yang mendapat pendidikan lebih baik memang mempunyai pengetahuan lebih luas dan lebih dalam bukan tentang fakta-fakta yang ada dalam buku tetapi juga dari dunia di sekeliling mereka, dan bahwa mereka akan lebih mencari pengetahuan dan waspada mendapatkan sumber-sumber keterangan. . . . Perbedaan ini didapati tetap ada walaupun seseorang bertambah usia dan sudah lama meninggalkan bangku sekolah.”—The Enduring Effects of Education (Pengaruh yang Bertahan Lama dari Pendidikan).

      Yang terpenting dari semuanya, pendidikan dapat memperlengkapi anda untuk melaksanakan tanggung jawab Kristen anda. Jika anda sudah memiliki kebiasaan belajar yang baik dan menguasai seni membaca, anda dapat lebih mudah mempelajari Firman Allah. (Mazmur 1:2) Karena telah belajar mengungkapkan diri di sekolah, anda dapat lebih mudah mengajar kebenaran-kebenaran Alkitab kepada orang lain. Pengetahuan tentang sejarah, ilmu pengetahuan, geografi, dan matematika juga bermanfaat dan akan membantu anda dalam pergaulan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, minat, dan kepercayaan.

      Sekolah dan Pekerjaan

      Sekolah juga sangat berpengaruh terhadap prospek untuk mendapatkan pekerjaan di masa depan. Bagaimana?

      Raja Salomo yang bijaksana berbicara mengenai pekerja yang ahli: “Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” (Amsal 22:29) Hal ini masih berlaku sekarang. “Tanpa keahlian, banyak hal dalam kehidupan tidak akan dapat anda jangkau,” kata Ernest Green dari Departemen Perburuhan A.S.

      Jadi, dapat dimengerti bahwa kesempatan kerja bagi mereka yang meninggalkan bangku sekolah sangat tipis. Walter (yang dikutip sebelumnya) menyadari hal ini melalui pengalaman yang pahit. “Berkali-kali saya melamar pekerjaan dan tidak memperolehnya karena saya tidak memiliki ijazah.” Ia juga mengakui: “Kadang-kadang orang-orang menggunakan kata-kata yang tidak dapat saya mengerti, dan saya merasa bodoh.”

      Pengangguran di antara mereka yang berumur 16 sampai 24 tahun yang tidak menyelesaikan sekolah menengah “hampir dua kali jumlah teman-teman sebaya mereka yang lulus dan hampir tiga kali rata-rata pengangguran secara keseluruhan.” (The New York Times) “Mereka yang tidak melanjutkan pendidikan, menutup pintu kesempatan,” pengarang F. Philip Rice menambahkan dalam bukunya The Adolescent (Sang Remaja). Seseorang yang meninggalkan bangku sekolah kemungkinan besar belum menguasai keahlian dasar yang dibutuhkan untuk menangani bahkan pekerjaan yang paling sederhana.

      Paul Copperman menulis dalam bukunya The Literacy Hoax (Senda Gurau Melek Huruf): ‘Penelitian baru-baru ini memperlihatkan bahwa dibutuhkan kira-kira tingkat kesanggupan membaca kelas satu Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama untuk menangani pekerjaan sebagai juru masak, kelas dua SLTP untuk menangani pekerjaan sebagai montir, dan kelas satu atau dua Sekolah Lanjutan Tingkat Atas untuk menangani pekerjaan sebagai klerek pembukuan.’ Ia melanjutkan: “Saya dapat menyimpulkan secara masuk akal bahwa pekerjaan sebagai guru, perawat, akuntan, atau insinyur membutuhkan tingkat kesanggupan membaca minimum yang lebih tinggi.”

      Jadi, jelas siswa-siswa yang benar-benar mencurahkan diri untuk mempelajari keahlian dasar, seperti membaca, akan mempunyai kesempatan kerja yang jauh lebih baik. Tetapi manfaat kekal lain apa yang dapat diperoleh dengan bersekolah?

      Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

      Manfaat yang kekal itu adalah anda mengetahui kekuatan dan kelemahan anda. Michelle, yang baru-baru ini menerima pekerjaan di bidang komputer, menyatakan: “Di sekolah saya belajar cara bekerja di bawah tekanan, bagaimana menghadapi ujian dan bagaimana mengungkapkan diri.”

      ‘Sekolah mengajar saya bagaimana memandang kegagalan,’ kata remaja lainnya. Ia memiliki kecenderungan untuk memandang orang lain, dan bukan dirinya sendiri, sebagai penyebab dari kegagalannya. Orang-orang lain mendapat manfaat dari kebiasaan sekolah yang berdisiplin. Banyak orang mengritik sekolah untuk ini, menyatakan bahwa hal ini melemahkan pikiran remaja. Tetapi Salomo menganjurkan kaum remaja “untuk mengetahui hikmat dan didikan [“disiplin,” NW].” (Amsal 1:2) Sekolah-sekolah yang menerapkan disiplin sesungguhnya menghasilkan banyak orang yang berdisiplin, namun kreatif.

      Maka masuk akal jika anda mengambil manfaat sepenuhnya dari masa sekolah. Bagaimana anda dapat melakukan hal itu? Mulailah dengan pekerjaan sekolah anda.

      Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi

      ◻ Mengapa begitu banyak remaja berpandangan negatif terhadap sekolah? Bagaimana perasaan anda mengenai masalah ini?

      ◻ Bagaimana sekolah membantu seseorang mengembangkan kesanggupan berpikir?

      ◻ Bagaimana meninggalkan bangku sekolah dapat mempengaruhi kemungkinan mendapat pekerjaan di masa depan, dan mengapa?

      ◻ Manfaat-manfaat pribadi lain apa yang dapat diperoleh dengan tetap bersekolah?

      [Blurb di hlm. 135]

      “Saya hanya duduk di sana, makin lama makin bodoh, maka saya keluar saja”

      [Blurb di hlm. 138]

      ‘Penelitian baru-baru ini memperlihatkan bahwa dibutuhkan kira-kira tingkat kesanggupan membaca kelas satu SLTP untuk menangani pekerjaan sebagai juru masak, kelas dua SLTP untuk menangani pekerjaan sebagai montir, dan kelas satu atau dua SLTA untuk menangani pekerjaan sebagai klerek pembukuan’

      [Gambar di hlm. 136]

      Disiplin yang anda pelajari di sekolah dapat menghasilkan manfaat selama hidup anda yang selanjutnya

      [Gambar di hlm. 137]

      Kesempatan kerja tipis bagi mereka yang tidak menguasai keahlian dasar yang diajarkan di sekolah

  • Bagaimana Saya Dapat Memperbaiki Nilai Saya?
    Pertanyaan Kaum Muda—Jawaban yang Praktis
    • Pasal 18

      Bagaimana Saya Dapat Memperbaiki Nilai Saya?

      KETIKA sejumlah murid sekolah dasar ditanya, ‘Apa yang paling kalian khawatirkan?’ 51 persen mengatakan, “Nilai”!

      Tidak mengherankan bahwa nilai sekolah merupakan penyebab terbesar dari kecemasan di kalangan kaum remaja. Nilai dapat berarti lulus atau tinggal kelas, mendapat pekerjaan dengan gaji yang memuaskan atau hanya gaji minimum, mendapat pujian dari orang-tua atau membangkitkan kemarahan mereka. Tidak disangkal, nilai dan ujian ada gunanya. Ya, Yesus sering kali menguji pengertian murid-muridnya sehubungan hal-hal tertentu. (Lukas 9:18) Dan seperti dijelaskan dalam buku Measurement and Evaluation in the Schools (Penilaian dan Evaluasi di Sekolah): “Hasil-hasil tes dapat memperlihatkan bidang-bidang mana yang kuat dan lemah dari murid-murid secara pribadi dan merupakan alat pendorong untuk belajar di masa yang akan datang.” Nilai anda juga dimaksudkan untuk memberi orang-tua anda pandangan tentang keadaan anda di sekolah—baik atau buruk.

      Menemukan Keseimbangan

      Namun, terlalu memikirkan nilai dapat menimbulkan tekanan yang mengecilkan hati dan mengobarkan persaingan yang sengit. Sebuah buku pedoman mengenai masa remaja mengungkapkan bahwa para siswa yang berniat untuk memasuki universitas khususnya dapat “terperangkap dalam persaingan yang membingungkan yang menekankan nilai serta peringkat kelas sebaliknya dari belajar.” Akibatnya, dengan mengutip kata-kata Dr. William Glasser, para siswa “sudah tahu sejak awal bersekolah [bahwa mereka perlu] menanyakan apa yang akan ada dalam tes dan . . . hanya mempelajari bahan itu.”

      Raja Salomo memperingatkan: “Aku melihat bahwa segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah iri hati seseorang terhadap yang lain. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin.” (Pengkhotbah 4:4) Persaingan yang sengit, untuk kekayaan materi ataupun penghargaan akademis, adalah sia-sia. Remaja-remaja yang takut kepada Allah melihat perlunya mengerahkan upaya di sekolah. Tetapi sebaliknya dari menjadikan pendidikan sebagai hal terpenting dalam kehidupan, mereka mengejar kepentingan rohani, percaya bahwa Allah akan memenuhi kebutuhan materi mereka.​—Matius 6:33; lihat Pasal 22 mengenai memilih karir.

      Selain itu, pendidikan tidak hanya berarti mendapatkan nilai-nilai tinggi dalam ujian. Pendidikan berarti mengembangkan apa yang disebut Salomo “kesanggupan berpikir,” keahlian untuk menerima keterangan yang masih mentah dan menarik kesimpulan yang masuk akal dan praktis darinya. (Amsal 1:4, NW) Seorang remaja yang berhasil memperoleh nilai lulus dengan cara menebak, belajar dengan tergesa-gesa, atau bahkan menyontek, tidak pernah benar-benar belajar cara berpikir. Dan apa gunanya nilai yang tinggi dalam matematika jika belakangan anda ternyata tidak dapat menghitung saldo buku kas?

      Maka adalah penting bahwa anda memandang nilai, bukan sebagai tujuan, tetapi sebagai alat yang bermanfaat untuk mengukur kemajuan anda di sekolah. Jadi, bagaimana anda dapat memperoleh nilai yang mencerminkan kesanggupan anda?

      Memikul Tanggung Jawab untuk Belajar!

      Menurut seorang guru, Linda Nielsen, para siswa yang lemah cenderung “menyalahkan sumber-sumber di luar kendali mereka: soal-soal tes yang tidak adil, guru yang berprasangka, tidak beruntung, nasib, cuaca, sebagai penyebab prestasi mereka yang buruk [di sekolah].” Namun, Alkitab mengatakan: “Si pemalas penuh keinginan, tetapi jiwanya kosong.” (Amsal 13:4, NW) Ya, kemalasan sering kali adalah penyebab yang sesungguhnya dari nilai yang rendah.

      Tetapi, murid-murid yang baik, memikul tanggung jawab mereka untuk belajar. Majalah ’Teen (Remaja) pernah mengumpulkan pendapat beberapa siswa sekolah lanjutan [pertama] yang berprestasi tinggi. Apa rahasia mereka? “Motivasi pribadi membantu anda terus maju,” kata salah seorang. “Buatlah dan ikuti suatu jadwal dan organisasi waktu anda,” kata yang lainnya. “Anda harus menetapkan cita-cita bagi diri sendiri,” kata yang lain lagi. Ya, seberapa baik nilai anda sebagian besar bergantung, bukan pada faktor-faktor di luar kendali anda, tetapi pada ANDA​—seberapa keras anda belajar dan berupaya di sekolah.

      ‘Tetapi Saya Benar-Benar Belajar’

      Ini yang mungkin dikatakan beberapa remaja. Mereka sungguh-sungguh merasa sudah berupaya mati-matian tetapi tidak memberi hasil. Namun, beberapa tahun yang lalu, para peneliti dari Universitas Stanford (A.S.) mengumpulkan pendapat dari kira-kira 770 siswa dan menanyakan seberapa besar upaya yang mereka rasa telah mereka kerahkan untuk tugas sekolah mereka. Sungguh mengherankan, para siswa yang mendapat nilai rendah berpikir mereka bekerja segiat orang lain! Tetapi ketika kebiasaan belajar mereka diteliti, didapati bahwa mereka sebenarnya mengerjakan jauh lebih sedikit pekerjaan rumah daripada teman-teman sekolah mereka yang mendapat nilai tinggi.

      Pelajaran apa yang dapat ditarik? Mungkin anda juga tidak belajar segiat yang anda pikir, dan beberapa perubahan perlu dilakukan. Sebuah artikel dalam Journal of Educational Psychology (Jurnal Psikologi Pendidikan) memperlihatkan bahwa hanya “menambah waktu untuk mengerjakan penugasan sekolah akan memberikan pengaruh positif terhadap nilai seorang siswa di sekolah lanjutan.” Sebenarnya, “dengan 1 sampai 3 jam untuk penugasan sekolah dalam satu minggu, siswa yang memiliki kesanggupan di bawah rata-rata dapat memperoleh nilai setaraf dengan siswa yang mempunyai kesanggupan rata-rata yang tidak mengerjakan penugasan sekolah.”

      Rasul Paulus secara kiasan harus ‘menyiksa tubuhnya’ untuk mencapai tujuannya. (1 Korintus 9:27, Bode) Anda juga mungkin harus bersikap keras terhadap diri sendiri teristimewa jika TV atau gangguan lain mudah menyimpangkan perhatian anda dalam belajar. Anda mungkin bahkan dapat mencoba menaruh sebuah tanda peringatan di atas TV yang berbunyi, “Tidak boleh nonton TV sampai pekerjaan rumah selesai!”

      Lingkungan Belajar Anda

      Kebanyakan dari kita akan mendapat manfaat bila memiliki tempat yang tenang, khusus untuk belajar. Jika anda berbagi kamar atau ruangan di rumah anda terbatas, gunakan apa yang ada! Mungkin dapur atau kamar tidur orang lain dapat digunakan menjadi ruang belajar anda selama satu jam atau lebih setiap petang. Atau sebagai upaya terakhir, gunakan perpustakaan umum atau rumah teman.

      Jika mungkin, gunakan sebuah meja tulis atau meja biasa yang cukup luas untuk menaruh pekerjaan anda. Atur benda-benda seperti pinsil dan kertas di tempat yang mudah diambil sehingga anda tidak perlu sering berdiri untuk mengambilnya. Dan, maaf saja, TV atau radio yang menyala pada umumnya mengganggu konsentrasi, sebagaimana halnya telepon atau tamu.

      Pastikan juga bahwa anda mendapat penerangan yang memadai, tidak menyilaukan. Penerangan yang baik mengurangi kelelahan belajar dan melindungi mata anda juga. Dan jika mungkin, periksalah ventilasi dan suhu ruangan. Ruangan yang sejuk menghasilkan lingkungan belajar yang lebih menyegarkan daripada ruangan yang panas.

      Bagaimana jika anda benar-benar tidak mempunyai gairah untuk belajar? Kehidupan jarang mengizinkan kita untuk menikmati dan memuaskan keinginan hati kita. Dalam pekerjaan duniawi, anda harus bekerja keras tiap hari​—tidak soal anda dalam keadaan senang atau tidak. Maka pandanglah pekerjaan rumah sebagai pelatihan dalam disiplin diri dan latihan untuk pengalaman kerja di kemudian hari. Hendaklah tertib dalam hal ini. Saran seorang pendidik: “Jika mungkin, belajar harus dilakukan di tempat dan waktu yang sama setiap hari. Dengan demikian, belajar secara tetap tentu akan menjadi kebiasaan, dan . . . akan mengurangi keengganan untuk belajar.”

      Rutin Belajar Anda

      Dalam Filipi 3:16 (BIS), Paulus menganjurkan orang-orang Kristen untuk “tetap hidup menurut peraturan yang sudah kita ikuti sampai saat ini.” Paulus sedang berbicara mengenai rutin kehidupan orang Kristen. Namun, sesuatu yang rutin, atau pola dalam mengerjakan sesuatu, juga bermanfaat jika diterapkan pada metode belajar anda. Misalnya, cobalah mengorganisasi apa yang akan anda pelajari. Hindari mempelajari mata pelajaran yang sama (misalnya dua bahasa asing) dalam waktu yang berurutan. Rencanakan istirahat singkat di antara dua mata pelajaran, teristimewa jika pekerjaan rumah anda banyak.

      Jika tugas anda membutuhkan banyak membaca, anda dapat mencoba metode berikut ini. Pertama-tama, TINJAU bahan. Lihat sepintas bahan yang ditugaskan, lihat judul-judul kecil, bagan-bagan, dan sebagainya, untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh dari bahan itu. Selanjutnya, buatlah PERTANYAAN-PERTANYAAN berdasarkan judul-judul pasal atau kalimat-kalimat topik. (Hal ini membuat pikiran anda terpusat pada apa yang anda baca) Sekarang BACA, carilah jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Setelah anda menyelesaikan tiap paragraf atau bagian, CERITAKAN KEMBALI, atau ingat kembali, apa yang sudah anda baca, tanpa melihat buku. Dan pada waktu anda sudah menyelesaikan seluruh tugas, ULANGI dengan meninjau sekilas judul-judulnya dan menguji ingatan anda mengenai tiap bagian. Ada yang menyatakan bahwa metode ini telah membantu murid-murid mengingat sampai 80 persen dari apa yang mereka baca!

      Seorang pendidik lebih jauh mengatakan: “Adalah penting agar siswa menyadari bahwa suatu fakta tidak pernah berdiri sendiri tetapi selalu berhubungan dengan keterangan yang lain.” Maka, cobalah mengaitkan apa yang telah anda pelajari dengan apa yang sudah anda ketahui atau alami. Carilah nilai praktis dari apa yang anda pelajari.

      Menarik bahwa remaja yang takut kepada Allah benar-benar memiliki keuntungan dalam hal ini. Karena Alkitab mengatakan: “Takut akan [Yehuwa] adalah permulaan pengetahuan.” (Amsal 1:7) Misalnya, mempelajari hukum-hukum fisika, mungkin tampaknya benar-benar membosankan. Tetapi mengetahui bahwa ‘sifat-sifat Allah yang tidak kelihatan dapat difahami’ melalui penciptaan, memberi arti tambahan kepada apa yang anda pelajari. (Roma 1:20, BIS) Demikian juga sejarah sering kali berhubungan dengan pelaksanaan maksud-tujuan Yehuwa. Tujuh kuasa dunia (termasuk gabungan Anglo-Amerika sekarang) dibahas dalam Alkitab itu sendiri!​—Wahyu 17:10; Daniel, pasal 7.

      Bila anda mengaitkan apa yang anda pelajari dengan apa yang sudah anda ketahui atau dengan iman Kristen anda, fakta-fakta mulai berarti bagi anda, pengetahuan bertumbuh menjadi pengertian. Dan seperti Salomo katakan, “Bagi orang berpengertian, pengetahuan mudah diperoleh.”​—Amsal 14:6.

      ‘Minggu Depan Akan Ada Tes’

      Kata-kata ini tidak perlu membuat anda panik. Pertama-tama, cobalah pahami dari komentar guru anda tes macam apakah itu, umpamanya tes dalam bentuk esai atau pilihan ganda. Juga, dalam hari-hari menjelang tes, dengarkan untuk mendapatkan petunjuk apa yang akan muncul dalam tes. (“Pokok yang berikut ini sangat penting” atau “Anda perlu mengingat hal ini” adalah petunjuk yang umum, kata majalah Senior Scholastic.) Selanjutnya, periksa kembali catatan anda, buku pelajaran, dan tugas-tugas pekerjaan rumah anda.

      “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya,” Salomo mengingatkan kita. (Amsal 27:17) Mungkin seorang teman atau orang-tua anda akan senang melatih anda dengan pertanyaan-pertanyaan atau mendengarkan anda mengulangi di luar kepala bahan yang diterima di kelas. Dan malam sebelum tes, santailah dan upayakan untuk tidur dengan nyenyak. “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Yesus bertanya.​—Matius 6:27.

      Kegagalan

      Gagal dalam tes​—teristimewa setelah berupaya keras untuk lulus—​dapat menghancurkan harga diri anda. Tetapi Max Rafferty, seorang pendidik, mengingatkan kita: “Selama kita hidup, kita dinilai berdasarkan apa yang kita ketahui, seberapa bagus hasil yang kita peroleh . . . Sekolah yang membohongi anak-anak untuk berpikir bahwa kehidupan akan sangat mudah bukanlah sekolah. Ini adalah pabrik mimpi.” Perasaan malu karena gagal dalam tes bisa bermanfaat jika hal itu memacu anda untuk belajar dari kesalahan anda dan mengadakan perbaikan.

      Tetapi bagaimana menghadapi orang-tua yang kecewa karena nilai rapor yang buruk? Takut menghadapi hal itu kadang-kadang membuat seorang anak mencari-cari taktik untuk berdalih. “Saya biasa menaruh rapor saya di atas meja dapur, pergi ke kamar dan berusaha tidur sampai keesokan harinya,” kata seorang remaja. “Apa yang akan saya lakukan,” kata yang lain, “ialah menunggu sampai saat-saat terakhir untuk memperlihatkannya kepada ibu saya. Saya akan menyerahkannya pada pagi hari ketika ia akan berangkat ke tempat kerja dan mengatakan, ‘Bu, ini harus ditandatangani.’ Ia tidak punya cukup waktu untuk berurusan dengan saya”​—paling tidak untuk saat itu. Beberapa remaja bahkan memalsukan nilai rapor mereka!

      Tetapi, orang-tua anda berhak mengetahui bagaimana keadaan anda di sekolah. Wajar jika mereka mengharapkan nilai-nilai anda mencerminkan kesanggupan anda, dan jika nilai anda rendah, anda dapat mengharapkan untuk menerima disiplin yang pantas. Maka jujurlah terhadap orang-tua anda. Dan “dengarkanlah didikan [“disiplin,” NW] ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu.” (Amsal 1:8) Jika anda merasa terlalu banyak yang diharapkan dari anda, bicarakanlah hal itu dengan mereka.​—Lihat kotak berjudul “Bagaimana Saya Dapat Memberi Tahu Orang-tua Saya?” dalam Pasal 2.

      Walaupun nilai memang penting, ini bukan penilaian terakhir atas diri anda sebagai pribadi. Namun, ambillah manfaat dari masa sekolah anda, dan belajarlah sebanyak mungkin. Biasanya upaya itu akan tercermin dalam nilai-nilai yang akan membuat anda​—dan orang-tua anda​—merasa senang dan puas.

      Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi

      ◻ Apa tujuan adanya nilai, dan mengapa penting untuk memiliki pandangan yang seimbang mengenai hal itu?

      ◻ Mengapa penting bahwa anda memikul tanggung jawab pribadi untuk belajar?

      ◻ Sebutkan beberapa hal yang harus dipertimbangkan sehubungan mengikuti kegiatan seusai sekolah.

      ◻ Sebutkan beberapa cara untuk dapat memperbaiki nilai anda.

      ◻ Bagaimana anda dapat mempersiapkan tes?

      ◻ Bagaimana anda harus memandang kegagalan, dan apakah kegagalan seperti itu harus disembunyikan dari orang-tua anda?

      [Blurb di hlm. 141]

      Seorang remaja yang berhasil memperoleh nilai lulus dengan cara menebak, belajar dengan tergesa-gesa, atau bahkan menyontek, tidak pernah benar-benar belajar cara berpikir

      [Kotak/Gambar di hlm. 144, 145]

      Bagaimana dengan Kegiatan Seusai Sekolah?

      Banyak remaja mendapati bahwa kegiatan seusai sekolah memberi mereka perasaan telah berprestasi. ”Saya memasuki hampir setiap perkumpulan yang ada,” kata seorang anak laki-laki dari Baltimore, Maryland (A.S.). ”melakukan hal-hal yang saya sukai membuat saya merasa puas. Saya memasuki perkumpulan mobil karena saya menyukai pekerjaan yang berhubungan dengan mobil. Saya senang dengan komputer, maka saya bergabung dengan perkumpulan itu. Saya menyukai audio, maka saya bergabung dengan perkumpulan itu.” Siswa-siswa yang berniat memasuki perguruan tinggi teristimewa didorong untuk berpartisipasi dalam kegiatan seusai sekolah.

      Namun, seorang pejabat pemerintah federal A.S.​—yang pernah menjadi guru​—menceritakan kepada Awake!: “Mungkin para siswa menggunakan lebih banyak waktu untuk kegiatan ekstrakurikuler daripada pekerjaan rumah, sehingga mereka sulit mempertahankan nilai.” Ya, tidak mudah untuk mempertahankan keseimbangan apabila ini menyangkut kegiatan ekstrakurikuler. Seorang gadis bernama Cathy yang biasa bermain dalam tim softball sekolah mengatakan: “Setelah latihan, saya begitu lelah sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan lain. Pekerjaan sekolah saya terbengkalai. Maka saya tidak mendaftarkan diri tahun ini.”

      Ada juga bahaya rohani. Seorang pria Kristen yang mengingat kembali masa remajanya mengatakan: “Saya pikir saya dapat membuat seimbang tiga kegiatan: pekerjaan sekolah, latihan bersama tim olahraga lari, dan kegiatan rohani. Tetapi selalu segi rohani saya yang dikorbankan apabila ketiganya bertabrakan.”

      Themon seorang remaja yang bergabung dengan dua tim olahraga di sekolah, menyetujui: “Saya tidak dapat menghadiri perhimpunan di Balai [Kerajaan] [untuk mendapat pengajaran rohani] karena hari Selasa kami di luar kota, Kamis kami di luar kota, Sabtu kami di luar kota dan baru pulang pukul dua pagi.” Sementara “latihan badani terbatas gunanya,” penting untuk mengingat bahwa “ibadah itu berguna dalam segala hal.”​—1 Timotius 4:8.

      Pikirkan, juga bahaya moralnya. Apakah anda akan bergaul dengan teman-teman yang baik yang akan memberikan pengaruh moral yang sehat? Apa yang akan menjadi bahan percakapan? Apakah pengaruh teman-teman seregu atau anggota perkumpulan akan merugikan anda? “Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik,” kata 1 Korintus 15:33.

      Menarik, bahwa banyak remaja di kalangan Saksi-Saksi Yehuwa telah memilih untuk menggunakan waktu seusai sekolah untuk sesuatu yang jauh lebih bermanfaat daripada olahraga: membantu orang-orang lain mengenal sang Pencipta. Kolose 4:5 menasihati: “Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakan (“sebaik-baiknya,” BIS) waktu yang ada.”

      [Gambar di hlm. 143]

      Para pelajar sering menanggung akibat dari kebiasaan belajar seenaknya . . . mendapat nilai buruk

      [Gambar di hlm. 146]

      Membuat seimbang kegiatan seusai sekolah dengan pekerjaan rumah tidak mudah

      [Gambar di hlm. 148]

      Orang-tua pasti kecewa dengan rapor yang buruk. Tetapi jika anda merasa terlalu banyak yang diharapkan dari anda, bicarakanlah itu dengan mereka

  • Mengapa Anak-Anak Itu Selalu Mengganggu Saya?
    Pertanyaan Kaum Muda—Jawaban yang Praktis
    • Pasal 19

      Mengapa Anak-Anak Itu Selalu Mengganggu Saya?

      Langkah-langkah anak itu jelas memperlihatkan perasaan takut. Ia tegang dan tidak yakin kepada diri sendiri, dan tampaknya bingung dengan lingkungan barunya. Siswa-siswa yang lebih tua langsung tahu bahwa ia murid baru. Dalam waktu singkat ia sudah dikelilingi oleh remaja-remaja yang mulai menyerangnya dengan kata-kata kotor! Karena malu, ia lari ke tempat berlindung terdekat—kamar kecil. Gelak tawa menggema ke mana-mana.

      MENGGANGGU, mengejek, dan menghina orang lain merupakan hiburan yang kejam dari banyak remaja. Bahkan pada zaman Alkitab, ada remaja-remaja yang memperlihatkan sifat jahat. Sebagai contoh, sekelompok remaja laki-laki pernah mengganggu nabi Elisa. Memandang rendah kedudukannya, remaja-remaja itu tanpa respek berseru: “Naiklah botak, naiklah botak!” (2 Raja 2:23-25) Dewasa ini, banyak remaja memiliki kecenderungan yang sama untuk mengucapkan kata-kata yang menghina dan menyakitkan orang lain.

      “Di kelas kesembilan [SLTP] saya adalah orang kerdil,” kata salah seorang penulis Growing Pains in the Classroom (Kesulitan-Kesulitan pada Masa Sekolah). “Menjadi anak yang terpandai dan terpendek di kelas merupakan kombinasi malapetaka bagi seorang siswa sekolah menengah: mereka yang tidak mau memukul saya karena saya kerdil memukul saya karena saya pandai. Selain dijuluki ‘si mata empat’ saya disebut ‘kamus berjalan,’ dan mendapat 800 julukan [kata-kata hinaan] lain.” Pengarang The Loneliness of Children (Perasaan Kesepian dari Anak-Anak) menambahkan: “Anak-anak yang memiliki cacat fisik, problem berbicara, atau mempunyai fisik atau tingkah laku yang aneh pasti menjadi sasaran ejekan dari anak-anak lain.”

      Kadang-kadang remaja-remaja membela diri dengan bergabung dalam apa yang dapat disamakan dengan pertandingan yang kejam: melontarkan penghinaan yang makin menyakitkan (sering kali mengenai orang-tua dari pihak lain) terhadap satu sama lain. Tetapi banyak remaja tidak berdaya menghadapi gangguan-gangguan teman sebaya. Seorang remaja menceritakan bahwa suatu waktu, karena ejekan dan gangguan teman-teman sekelas, ia begitu takut dan sedih sehingga ia ‘merasa mual.’ Ia tidak dapat berkonsentrasi pada pelajaran karena cemas akan apa yang bakal dilakukan siswa-siswa lain terhadapnya.

      Bukan Hal yang Lucu

      Apakah anda pernah menjadi korban kekejaman teman sebaya? Maka mungkin anda akan terhibur dengan mengetahui bahwa Allah tidak memandang hal ini sebagai sesuatu yang lucu. Pertimbangkan kisah dalam Alkitab mengenai perjamuan yang dipersiapkan untuk merayakan hari ketika anak Abraham, Ishak, disapih. Pasti karena iri atas warisan yang akan diterima Ishak, anak Abraham yang lebih tua, Ismael, mulai “mengolok-olok” (Klinkert) Ishak. Namun, ini bukan sekedar permainan yang wajar, karena ejekan itu sama dengan ‘penganiayaan.’ (Galatia 4:29) Jadi, ibu dari Ishak, Sara, merasakan adanya nada permusuhan dalam ejekan itu. Ia memandangnya sebagai penghinaan terhadap maksud-tujuan Yehuwa untuk menghasilkan “keturunan” [‘benih,’ Klinkert] atau Mesias, melalui anaknya, Ishak. Atas permintaan Sara, Ismael dan ibunya diusir dari rumah tangga Abraham.—Kejadian 21:8-14.

      Demikian pula, bukan suatu hal yang lucu jika remaja-remaja mengganggu anda dengan kejam—teristimewa apabila mereka melakukannya karena anda berupaya hidup menurut standar-standar Alkitab. Remaja-remaja Kristen, misalnya, dikenal suka menyatakan iman mereka kepada orang lain. Tetapi, seperti dikatakan sekelompok saksi-saksi remaja dari Yehuwa: “Anak-anak di sekolah mengejek kami karena kami mengabar dari rumah ke rumah, dan mereka merendahkan kami karena hal ini.” Ya, seperti hamba-hamba Allah yang setia pada zaman dulu, banyak remaja Kristen menerima “pencobaan dengan olok-olok.” (Ibrani 11:36, Bode) Mereka patut dipuji karena keteguhan hati mereka dalam bertekun menghadapi celaan seperti itu!

      Mengapa Mereka Melakukannya

      Namun, anda mungkin ingin tahu bagaimana caranya agar para penyiksa tidak mengganggu anda lagi. Pertama-tama, pikirkan alasan anda diejek. “Di dalam tertawapun hati dapat merana,” kata Alkitab dalam Amsal 14:13. Gelak tawa akan meledak bila sekelompok remaja mengganggu seseorang. Namun mereka tidak “bersorak-sorai karena gembira hatinya.” (Yesaya 65:14) Sering kali orang yang tertawa hanya ingin menutupi gejolak hatinya. Di balik keberanian mereka, para penyiksa sebenarnya mengatakan: ‘Kami tidak menyukai diri kami sendiri, tetapi dengan merendahkan orang lain kami merasa lebih baik.’

      Iri hati juga mendorong serangan-serangan itu. Ingatlah kisah Alkitab mengenai remaja Yusuf, yang dibenci oleh saudara-saudaranya sendiri karena ia anak kesayangan ayahnya. Iri hati yang kuat tidak hanya mengarah kepada caci maki tetapi bahkan rencana untuk membunuh! (Kejadian 37:4, 11, 20) Demikian halnya dewasa ini, seorang siswa yang sangat pandai atau disukai oleh guru-guru dapat menimbulkan iri hati teman-teman sebaya. Hinaan seolah-olah akan ‘mengurangi kehebatannya.’

      Jadi, perasaan tidak aman, iri hati, dan rendah diri sering kali menjadi alasan dari ejekan. Maka, mengapa anda harus kehilangan harga diri hanya karena remaja lain yang tidak mantap telah kehilangan harga diri mereka?

      Menghentikan Gangguan

      “Berbahagialah orang yang . . . tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,” kata pemazmur. (Mazmur 1:1) Ikut-ikutan mencemooh dengan tujuan mengalihkan perhatian dari diri sendiri hanya akan memperpanjang lingkaran penghinaan. “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan . . . kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan” adalah nasihat ilahi.—Roma 12:17-21.

      Pengkhotbah 7:9 selanjutnya mengatakan: “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.” Ya, mengapa anda harus memandang ejekan tersebut dengan begitu serius? Memang, kita merasa sakit hati apabila seseorang mengejek keadaan fisik anda atau senang mengolok-olok cacat wajah anda. Namun, kata-kata itu walaupun hambar, tidak selalu dilontarkan dengan maksud jahat. Maka jika seseorang tanpa pikir panjang—atau bahkan sengaja—menyinggung perasaan anda, mengapa harus menjadi sedih? Jika apa yang dikatakan bukan kata-kata kotor atau tidak sopan, cobalah melihat humornya. Ada “waktu untuk tertawa,” dan merasa sakit hati karena senda gurau adalah reaksi yang berlebihan.—Pengkhotbah 3:4.

      Tetapi bagaimana jika ejekan itu jahat dan bahkan keji? Ingat bahwa pengejek itu senang melihat reaksi anda, senang dengan penderitaan anda. Membalas mencaci, membela diri, atau menangis mungkin akan mendorongnya untuk terus mengganggu. Untuk apa anda membuat orang itu senang melihat anda kesal? Cara terbaik untuk menangkis ejekan sering kali adalah dengan mengabaikannya.

      Raja Salomo selanjutnya mengatakan: “Juga janganlah memperhatikan segala perkataan yang diucapkan orang, supaya engkau tidak mendengar pelayanmu mengutuki engkau. Karena hatimu tahu bahwa engkau juga telah kerapkali mengutuki orang-orang lain.” (Pengkhotbah 7:21, 22) “Memperhatikan” kata-kata yang menyakitkan dari para pengejek akan berarti terlalu memikirkan penilaian mereka terhadap diri anda. Apakah penilaian mereka benar? Rasul Paulus dengan tidak adil diserang oleh rekan-rekan seiman yang iri hati, tetapi ia menjawab: “Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. . . . Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan [“Yehuwa,” NW].” (1 Korintus 4:3, 4) Hubungan Paulus dengan Allah begitu erat sehingga ia memiliki keyakinan dan kekuatan batin untuk menahan serangan-serangan yang tidak adil.

      Membiarkan Terang Anda Bercahaya

      Kadang-kadang anda mungkin diejek karena cara hidup anda sebagai orang Kristen. Yesus Kristus sendiri harus menahan “bantahan” seperti itu. (Ibrani 12:3) Yeremia juga “menjadi tertawaan sepanjang hari” karena dengan berani menyampaikan berita dari Yehuwa. Gangguan terus ia alami sehingga untuk sementara waktu Yeremia kehilangan semangatnya. “Aku tidak mau mengingat Dia [Yehuwa], dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi namaNya,” ia memutuskan. Namun, kasihnya kepada Allah dan kebenaran akhirnya memaksa dia untuk mengalahkan perasaan takut.—Yeremia 20:7-9.

      Beberapa remaja Kristen dewasa ini memiliki perasaan kecil hati yang sama. Karena ingin menghentikan ejekan, ada yang mencoba menyembunyikan fakta bahwa mereka orang Kristen. Tetapi kasih kepada Allah sering kali akhirnya menggerakkan mereka untuk mengatasi perasaan takut dan ‘membiarkan terang mereka bercahaya’! (Matius 5:16) Seorang remaja pria, misalnya, mengatakan: “Sikap saya berubah. Saya tidak lagi mempunyai pandangan bahwa menjadi orang Kristen merupakan beban yang harus dipikul dan mulai memandangnya sebagai sesuatu yang patut dibanggakan.” Anda juga dapat “bermegah” atas hak istimewa mengenal Allah dan digunakan oleh-Nya untuk membantu orang lain.—1 Korintus 1:31.

      Namun, jangan mengundang permusuhan dengan terus-menerus mengritik orang lain atau dengan memberi kesan bahwa anda merasa diri lebih unggul. Apabila kesempatan muncul untuk menyatakan iman anda, lakukan itu, tetapi dengan “lemah lembut dan hormat.” (1 Petrus 3:15) Reputasi anda karena tingkah laku yang baik dapat menjadi perlindungan yang terbesar pada waktu anda berada di sekolah. Walaupun orang lain mungkin tidak menyukai sikap anda yang berani, mereka sering kali terpaksa harus menaruh respek kepada anda atas hal ini.

      Seorang gadis bernama Vanessa diganggu oleh sekelompok gadis yang memukul, mempermainkannya, menjatuhkan buku-buku dari tangannya—semuanya dengan maksud memancing pertengkaran. Mereka bahkan menuangkan segelas susu coklat ke atas kepala dan baju putihnya yang bersih. Namun ia tidak pernah terpancing untuk bertengkar. Beberapa waktu kemudian, Vanessa bertemu dengan pemimpin gerombolan itu di sebuah kebaktian dari Saksi-Saksi Yehuwa! “Saya dulu membencimu . . . ,” kata bekas pengganggu itu. “Saya ingin melihatmu kehilangan kesabaran satu kali saja.” Namun, keingintahuannya mengenai bagaimana Vanessa dapat mempertahankan kesabarannya menyebabkan ia menyetujui pengajaran Alkitab dengan Saksi-Saksi Yehuwa. “Saya kemudian mengasihi apa yang saya pelajari,” ia melanjutkan, “dan besok saya akan dibaptis.”

      Maka jangan biarkan “bantahan” dari teman-teman sebaya mematahkan semangat anda. Bila cocok, perlihatkan rasa humor. Balaslah kejahatan dengan keramahan. Jangan mau mengobarkan pertengkaran, dan lama-kelamaan para pengganggu tidak akan senang lagi menjadikan anda sasaran ejekan mereka, karena “bila kayu habis, padamlah api.”—Amsal 26:20.

      Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi

      ◻ Bagaimana Allah memandang mereka yang dengan jahat mengejek orang lain?

      ◻ Apa yang sering kali ada di balik gangguan kaum remaja?

      ◻ Bagaimana anda dapat mengurangi atau bahkan menghentikan ejekan?

      ◻ Mengapa penting untuk membiarkan “terangmu bercahaya” di sekolah, bahkan bila anak-anak lain mengejek anda?

      ◻ Langkah-langkah apa yang dapat anda ambil untuk melindungi diri terhadap tindak kekerasan di sekolah?

      [Blurb di hlm. 155]

      Di balik keberanian mereka, para penyiksa sebenarnya mengatakan: ‘Kami tidak menyukai diri kami sendiri, tetapi dengan merendahkan orang lain kami merasa lebih baik’

      [Kotak di hlm. 152]

      Bagaimana Saya Dapat Menghindari Pemukulan?

      ‘Anda mengambil risiko besar pada waktu anda pergi ke sekolah.’ Demikian kata banyak siswa. Tetapi membawa senjata adalah bodoh dan mengundang kesulitan. (Amsal 11:27) Jadi, bagaimana anda dapat melindungi diri?

      Mengenali dan menghindari daerah rawan. Lorong-lorong, ruang di bawah tangga, dan ruang penyimpanan barang adalah tempat-tempat yang benar-benar rawan di beberapa sekolah. Dan kamar kecil paling terkenal sebagai tempat berkumpul untuk berkelahi dan menggunakan narkotika sehingga banyak remaja lebih baik menderita daripada menggunakan fasilitas ini.

      Perhatikan pergaulan anda. Sering kali seorang remaja terlibat dalam perkelahian hanya karena ia bergabung dengan kelompok yang salah. (Lihat Amsal 22:24, 25.) Tentu, bersikap dingin terhadap teman-teman sekelas anda dapat membuat mereka merasa dijauhi dan akan memusuhi anda. Jika anda ramah dan sopan terhadap mereka, mereka mungkin lebih cenderung tidak mengganggu anda.

      Menjauh dari perkelahian. Hindari “saling menantang.” (Galatia 5:26) Meskipun anda menang dalam suatu perkelahian, musuh anda mungkin hanya menunggu saat yang tepat untuk membalas. Maka pertama-tama berupayalah menghindari perkelahian. (Amsal 15:1) Jika dengan bicara tidak berhasil, tinggalkan—atau bahkan larilah—dari perkelahian yang berbahaya. Ingat, “Anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati.” (Pengkhotbah 9:4) Sebagai upaya terakhir, gunakan cara apapun yang masuk akal untuk melindungi dan membela diri.—Roma 12:18.

      Bicarakan dengan orang-tua anda. Para remaja “jarang melaporkan teror di sekolah kepada orang-tua mereka, karena takut orang-tua akan berpikir bahwa mereka pengecut atau akan memarahi mereka karena tidak melawan para pengganggu.” (The Loneliness of Children atau Perasaan Kesepian dari Anak-Anak) Namun, sering kali keterlibatan orang-tua adalah satu-satunya cara untuk menghentikan kesulitan.

      Berdoa kepada Allah. Allah tidak menjamin bahwa anda akan terhindar dari tindak kekerasan secara fisik. Tetapi Ia dapat memberi anda keberanian untuk menghadapi konfrontasi itu dan hikmat yang diperlukan untuk meredakan suasana.—Yakobus 1:5.

      [Gambar di hlm. 151]

      Banyak remaja menjadi korban gangguan teman-teman sebaya

      [Gambar di hlm. 154]

      Si pengganggu ingin bersuka ria dalam kesedihan anda. Membalas mencaci, membela diri, atau menangis akan mendorongnya untuk mengganggu lebih jauh

      [Gambar di hlm. 156]

      Coba perlihatkan rasa humor pada waktu digoda

  • Bagaimana Saya Dapat Cocok Dengan Guru Saya?
    Pertanyaan Kaum Muda—Jawaban yang Praktis
    • Pasal 20

      Bagaimana Saya Dapat Cocok dengan Guru Saya?

      “SAYA tidak suka guru yang tidak adil,” kata remaja Vicky. Pasti anda merasa demikian juga. Meskipun begitu, dalam suatu penelitian pada tahun 1981 atas 160.000 remaja Amerika, 76 persen menuduh guru-guru mereka suka pilih kasih!

      Para remaja merasa kecewa apabila mereka mendapat nilai rendah untuk pekerjaan yang mereka rasa harus mendapat nilai tinggi. Mereka merasa kesal sekali apabila disiplin dianggap berlebihan atau tidak beralasan atau tampaknya bermotifkan prasangka ras. Mereka marah apabila guru memberikan perhatian khusus atau perlakuan istimewa kepada murid kesayangannya.

      Memang, guru-guru jauh dari sempurna. Mereka juga memiliki kelemahan, problem, dan, ya, prasangka. Namun, Alkitab memperingatkan: “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati.” (Pengkhotbah 7:9) Bahkan guru-guru “bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.” (Yakobus 3:2) Maka dapatkah anda mencoba memahami guru anda?

      Seorang remaja bernama Freddy memperhatikan bahwa gurunya “membentak setiap orang.” Freddy dengan bijaksana mendekati guru itu dan mendapat tahu alasannya. “Persoalannya hanya karena saya mendapat problem dengan mobil saya pagi ini,” guru itu menjelaskan. “Mobil saya menjadi terlalu panas dalam perjalanan ke sekolah sehingga saya terlambat.”

      Guru-Guru dan Murid-Murid Kesayangan Mereka

      Bagaimana dengan perlakuan istimewa yang diberikan kepada murid kesayangan guru? Ingatlah bahwa seorang guru menghadapi tuntutan dan tekanan yang unik. Buku Being Adolescent (Menjadi Remaja) menggambarkan bahwa guru-guru menghadapi “keadaan sulit yang serius” karena mereka harus berupaya tetap memelihara perhatian sekelompok remaja “yang pikirannya biasanya ada di tempat lain . . . Mereka menghadapi sekelompok remaja yang suka murung, perhatiannya mudah teralihkan, yang pada umumnya tidak biasa berkonsentrasi kepada apa saja untuk lebih dari 15 menit.”

      Jadi, apakah mengherankan bahwa seorang guru mencurahkan perhatian kepada murid yang giat belajar, suka memperhatikan, atau berlaku respek? Memang, mungkin menyakitkan hati untuk melihat anak-anak yang suka “menjilat” mendapat lebih banyak perhatian daripada anda. Tetapi mengapa anda harus kesal atau iri hati jika murid yang rajin menjadi kesayangan guru selama kebutuhan pendidikan anda tidak diabaikan? Selain itu, mungkin baik jika anda sendiri dapat lebih rajin.

      Perang di Kelas

      Seorang murid berkata mengenai gurunya: “Ia terus berpikir bahwa kami semua telah menyatakan perang melawan dia sehingga ia memutuskan untuk menaklukkan kami dulu. Ia seorang penderita paranoia (semacam penyakit ketakutan).” Namun, banyak guru merasa bahwa mereka berhak untuk sedikit “paranoia.” Sebagaimana dinubuatkan Alkitab, sekarang adalah “masa yang sukar,” dan murid-murid sering kali “tidak dapat mengekang diri [“tanpa pengendalian diri,” NW], garang, tidak suka yang baik.” (2 Timotius 3:1-3) Jadi, U.S. News & World Report mengatakan: “Guru-guru di banyak sekolah di kota hidup dengan perasaan takut terhadap kekerasan.”

      Mantan guru Roland Betts mengatakan mengenai guru-guru: “Anak-anak memandangnya sebagai tanggung jawab yang sudah melekat untuk . . . [secara kiasan] mendorong mereka dan mempermainkan mereka dan melihat seberapa jauh mereka akan membengkok atau merentang sebelum mereka akhirnya patah . . . Apabila anak-anak merasa bahwa mereka telah mendorong seorang guru baru nyaris sampai ia hampir tidak tahan lagi, mereka mendorong sedikit lagi.” Apakah anda atau teman-teman sekelas pernah ikut mengganggu guru? Maka jangan heran atas reaksi guru anda.

      Alkitab mengatakan: “Penindasan membodohkan orang berhikmat.” (Pengkhotbah 7:7, NW) Dalam suasana ketakutan dan tidak adanya respek yang melanda sekolah-sekolah tertentu, dapatlah dimengerti mengapa beberapa guru bereaksi berlebihan dan menjadi orang yang memberikan displin dengan keras. Menurut The Family Handbook of Adolescence (Buku Petunjuk Keluarga tentang Remaja): “Murid-murid yang . . . melalui tingkah laku mereka meremehkan pernyataan guru biasanya akan diremehkan sebagai akibatnya.” Ya, guru yang bersikap bermusuhan sering kali disebabkan oleh murid-muridnya sendiri!

      Juga, pertimbangkan pengaruh dari senda gurau yang kejam di kelas. Remaja Valerie tidak membesar-besarkan persoalannya ketika ia mengatakan mengenai “penganiayaan, penyiksaan,” yang dilakukan para remaja terhadap guru-guru pengganti. Roland Betts menambahkan: “Guru-guru pengganti diganggu tanpa belas kasihan oleh murid-murid mereka, sering kali didorong sampai titik yang tak tertahankan.” Yakin bahwa mereka tidak akan dihukum, murid-murid senang mengacau dengan tiba-tiba berpura-pura menjadi canggung dalam gerak-gerik—menjatuhkan buku-buku atau pinsil mereka berbarengan ke lantai. Atau mereka mencoba membuat frustrasi guru mereka dengan ‘berlagak dungu’ dan bertindak seolah-olah mereka tidak mengerti sepatah kata pun yang ia ucapkan. “Kami menyabot untuk iseng,” remaja Bobby menjelaskan.

      Namun, jika anda menabur kejahatan di kelas, jangan kaget jika anda menuai guru yang keras dan bersikap memusuhi. (Bandingkan Galatia 6:7.) Ingat aturan emas: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” (Matius 7:12) Jangan ikut serta dalam senda gurau yang jahat di kelas. Perhatikan apa yang guru anda katakan. Bekerja samalah. Mungkin lambat laun ia akan kurang bersikap bermusuhan—paling tidak terhadap anda.

      ‘Guru Saya Tidak Menyukai Saya’

      Kadang-kadang, karena perbedaan kepribadian atau salah pengertian guru anda menjadi keras terhadap anda; rasa ingin tahu disalahartikan sebagai pemberontakan, maksud bergurau sedikit dianggap kurang ajar. Dan jika seorang guru tidak menyukai anda, ia mungkin cenderung untuk mempermalukan atau merendahkan anda. Sikap saling bermusuhan dapat berkembang.

      Alkitab mengatakan: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan. . . . Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.” (Roma 12:17, 18) Cobalah untuk tidak bersikap bermusuhan terhadap guru anda. Hindari pertentangan yang tidak perlu. Jangan berikan guru anda alasan untuk mengeluh. Sesungguhnya, berupayalah untuk berlaku ramah. Berlaku ramah? Kepada dia?’ anda bertanya. Ya, perlihatkan sopan santun dengan memberi salam hormat kepada guru anda bila anda masuk kelas. Kesopanan yang terus-menerus anda perlihatkan—bahkan senyuman dari waktu ke waktu—mungkin akan mengubah pandangannya tentang anda.—Bandingkan Roma 12:20, 21.

      Memang, anda tidak selalu dapat memperoleh jalan ke luar dengan senyuman. Tetapi Pengkhotbah 10:4 memberi nasihat: “Jika amarah penguasa [atau orang yang memiliki wewenang] menimpa engkau [dengan menghukum anda], janganlah meninggalkan tempatmu, karena kesabaran mencegah kesalahan-kesalahan besar.” Juga, ingat bahwa “jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman.”—Amsal 15:1.

      ‘Saya Layak Mendapat Nilai Lebih Baik’

      Ini adalah keluhan umum. Cobalah membicarakan masalah ini dengan guru anda. Alkitab menceritakan bagaimana Natan menghadapi tugas yang berat untuk menyingkapkan dosa yang serius dari Raja Daud. Natan tidak langsung masuk ke istana melancarkan tuduhan, tetapi ia menghampiri Daud dengan bijaksana.—2 Samuel 12:1-7.

      Anda juga dapat dengan rendah hati, dan dengan tenang, menghampiri guru anda. Mantan guru sekolah, Bruce Weber, mengingatkan kita: “Pemberontakan di pihak murid membangkitkan kekerasan di pihak guru. Jika anda berbicara dengan kasar dan marah-marah atau melancarkan tuduhan ketidakadilan dan bersumpah untuk membalas, anda tidak akan mencapai apa-apa.” Upayakan pendekatan yang lebih dewasa. Mungkin anda dapat mulai dengan bertanya kepada guru anda untuk membantu anda memahami sistem penilaian yang ia gunakan. Kemudian, kata Weber, anda dapat “mencoba untuk membuktikan bahwa anda menjadi korban dari kekeliruan atau salah hitung sebaliknya daripada penilaian yang salah. Gunakan sistem penilaian dari guru anda sendiri; perlihatkan kepadanya di mana anda melihat kesalahan pada nilai anda.” Meskipun nilai anda tidak diubah, kedewasaan anda mungkin akan memberikan kesan yang positif kepada guru anda.

      Beri Tahu Orang-tua Anda

      Walaupun demikian, kadang-kadang pembicaraan saja tidak memberikan hasil. Misalnya pengalaman Susan. Sebagai murid teladan, ia terkejut ketika salah seorang gurunya mulai memberinya nilai-nilai yang buruk. Masalahnya? Susan adalah salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa, dan gurunya memang mengaku tidak menyukai Susan karena hal itu. “Hal ini benar-benar membuat saya frustrasi,” kata Susan, “dan saya tidak tahu apa yang harus dilakukan.”

      Susan mengatakan: “Saya memberanikan diri dan memberi tahu ibu saya [orang-tua tunggal] mengenai guru ini. Ia berkata, ‘Baiklah, mungkin saya dapat berbicara dengan gurumu.’ Dan dalam suatu pertemuan umum ibu pergi ke sana dan bertanya kepada guru saya mengenai masalahnya. Saya pikir ibu akan marah-marah, tetapi ternyata tidak. Ibu berbicara kepadanya dengan tenang.” Guru itu mengatur agar Susan mendapat guru yang lain.

      Memang, tidak semua permasalahan dapat berakhir dengan baik, dan ada saatnya anda hanya dapat bersabar. Tetapi asalkan anda dapat dengan damai berurusan dengan guru anda sekarang, selalu ada tahun depan, saat anda mempunyai permulaan yang baru, mungkin harus belajar cocok dengan teman-teman sekelas yang berbeda—dan bahkan dengan guru baru.

      Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi

      ◻ Bagaimana anda dapat memandang guru yang memperlakukan anda dengan tidak adil?

      ◻ Mengapa guru-guru sering kali mencurahkan lebih banyak perhatian kepada murid kesayangan?

      ◻ Bagaimana anda dapat belajar dari guru yang kelihatannya membosankan?

      ◻ Mengapa ada guru-guru yang kelihatannya memusuhi murid-murid mereka?

      ◻ Bagaimana anda dapat menerapkan aturan emas di kelas?

      ◻ Apa yang dapat anda lakukan jika anda merasa menjadi korban ketidakadilan dalam pemberian nilai atau dalam perlakuan?

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan