PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Apakah Berdusta Sedemikian Buruk?
    Sedarlah!—1987 (No. 23) | Sedarlah!—1987 (No. 23)
    • Mira tahu orangtuanya akan marah jika mereka mendapati bahwa ia telah memecahkan perhiasan kecil yang berharga. Tetapi ia tidak siap untuk menerima hukuman atau teguran yang keras. Maka ia menemukan cara yang mudah untuk mengalihkan kemarahan orangtuanya: ia menuduh adik laki-lakinya yang memecahkannya.

      BERDUSTA—banyak remaja merasa bahwa hal itu tidak apa-apa dalam keadaan tertentu. Beberapa mengatakan bahwa mereka berdusta untuk menghindari tindakan kejahatan tertentu, untuk melindungi orang yang tidak berdosa, atau untuk menyelamatkan nyawa. Tetapi, keadaan demikian jarang terjadi dalam kenyataan hidup. Lebih sering, kaum remaja berdusta untuk alasan yang sama seperti Mira: untuk melepaskan diri dari hukuman atau untuk terhindar dari keadaan yang tidak menyenangkan.

      Didi memberitahu ibunya bahwa ia sudah merapikan kamarnya, tapi sebenarnya, ia telah menyembunyikan segala sesuatu di bawah tempat tidur. Demikian juga, Robert memberitahu orangtuanya bahwa ia mendapat nilai yang jelek, bukan karena ia tidak belajar, tetapi karena ’tidak cocok dengan gurunya’. Sungguh tidak meyakinkan.

      Meskipun demikian, anda mungkin merasa bahwa karena ini bukan dusta yang jahat, tidak ada salahnya. ’Apa salahnya dusta yang tidak merugikan?’ anda mungkin mengatakan. Dan karena kamus mendefinisikan dusta yang tidak merugikan sebagai ”dusta yang sopan atau tidak ada salahnya”, berdusta untuk tujuan yang baik mungkin nampaknya tidak begitu buruk.

  • Apakah Berdusta Sedemikian Buruk?
    Sedarlah!—1987 (No. 23) | Sedarlah!—1987 (No. 23)
    • Ya, dusta menimbulkan kemarahan dan sakit hati. Dan jika orang yang dibohongi adalah orangtua anda—disiplin yang lebih serius dapat terjadi.

      Tidak heran Alkitab mengatakan, ”Memperoleh harta benda dengan lidah dusta adalah kesia-siaan yang lenyap dari orang yang mencari maut.” (Amsal 21:6) Dengan kata lain, keuntungan apapun yang didapat dari dusta hanya berumur pendek seperti uap air.

      Berdusta dan Hati Nurani Anda

      Berdusta juga merugikan si pendusta sendiri. Mira (disebut pada permulaan) sanggup meyakinkan orangtuanya bahwa adik laki-lakinya yang memecahkan perhiasan kecil itu. Tetapi, ia kemudian terdorong untuk mengaku perbuatan salahnya kepada mereka. Mira menjelaskan, ”Sering saya merasa benar-benar tidak enak. Orangtua telah mempercayai saya, dan saya mengecewakan mereka.”

      Hati nurani Mira yang terganggu jelas menggambarkan suatu prinsip yang dinyatakan oleh rasul Paulus. Dalam Roma 2:14, 15 ia menunjukkan bahwa Allah telah menempatkan dalam diri umat manusia kemampuan memiliki suara hati. Paulus menjelaskan bagaimana hal ini bekerja, dengan berkata, ”Suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.” Dalam kasus Mira suara hatinya ”bersaksi” tentang kenyataan bahwa berdusta adalah salah dan ’menuduh dia’—menyiksa dia dengan perasaan bersalah.

      Tentu, seseorang dapat mengabaikan dan mengeraskan suara hatinya. Sebuah artikel dalam majalah Adolescence menunjukkan, misalnya, bahwa kaum remaja cenderung memandang berdusta itu salah. Tetapi seraya mereka bertambah dewasa, pandangan mereka tentang berdusta mengeras. ”Anak berumur lima belas tahun,” artikel itu menulis, ”lebih sering menganggap berdusta kadang-kadang tidak salah daripada anak berumur dua belas tahun.” Sebenarnya, lebih sering seseorang berdusta, lebih sering dia berada dalam bahaya ’diselar hati nuraninya’.—1 Timotius 4:2.

      Mengembangkan ’Hati Nurani yang Baik’

      Sebaliknya, rasul Paulus dapat mengatakan tentang dirinya dan rekan-rekannya, ”Kami yakin, bahwa hati nurani kami adalah baik.” (Ibrani 13:18) Hati nurani Paulus tidak mengijinkan dia untuk terpaksa berdusta atau setengah berdusta. Apakah hati nurani anda juga begitu peka dalam hal dusta? Jika tidak, latihlah itu dengan mempelajari Alkitab dan lektur-lektur yang berdasarkan Alkitab, seperti majalah ini dan pasangannya, The Watchtower (Menara Pengawal).

      Seorang remaja bernama Budi telah melakukan hal itu, dengan hasil yang baik. Publikasi ini pernah membahas suatu problem yang ia hadapi. Daripada menyembunyikan problem itu dengan setumpuk dusta, ia telah terdorong oleh hati nuraninya untuk mendekati orangtuanya dan dengan jujur membahas perkara itu. Bisa jadi hal ini mengakibatkan ia didisiplin. Walaupun demikian ia mengakui bahwa ia ’merasa lebih baik di dalam’ karena telah berlaku jujur.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan