-
Apakah Melamun Itu Salah?Sedarlah!—1993 | 8 Juli
-
-
Pertanyaan Kaum Muda . . .
Apakah Melamun Itu Salah?
Hal terakhir yang Anda ingat adalah suara datar guru Anda yang sedang menguraikan persamaan aljabar, tetapi Anda tidak lagi berada di kelas; pikiran Anda hanyut ke pantai yang keluarga Anda kunjungi pada liburan yang lalu. Anda dapat merasakan panasnya pasir dan hangatnya mentari. Anda dapat mendengar debur ombak mengempas ke pantai, suara anak-anak yang sedang bermain, suara . . . cekikikan teman-teman sekelas? Ya, sirnalah khayalan Anda yang menyenangkan dan sebagai gantinya, seorang guru yang kesal berdiri sambil berkacak pinggang, menunggu jawaban Anda atas pertanyaan yang tidak Anda dengar.
MELAMUN—hal itu sangat umum bagi semua orang, tua dan muda, sehingga seorang peneliti kenamaan menyebutnya sebagai ”salah satu unsur utama kehidupan manusia”. Beberapa orang percaya bahwa hingga sepertiga waktu kita, di luar waktu tidur, digunakan untuk melamun dalam satu atau lain bentuk. Para ilmuwan tidak tahu pasti bagaimana dan mengapa pikiran yang tiba-tiba muncul ini terbentuk, dan mereka pun pada umumnya tidak sepakat tentang arti kata melamun. Sebuah kamus mendefinisikan lamunan sebagai ”khayalan yang menyenangkan . . . kreasi dari imajinasi”. Akan tetapi, banyak peneliti secara luas mendefinisikannya hingga meliputi hampir segala macam khayalan yang dilakukan secara sadar atau gagasan yang tidak diundang—yang menyenangkan maupun yang tidak. Dalam artikel ini, kami akan menggunakan istilah dalam arti yang paling luas, tidak saja meliputi kilasan imajinasi yang tidak diundang tetapi juga yang lebih disengaja.
Memang, tidak semua lamunan merupakan khayalan yang luar biasa dan bersemangat. Banyak di antaranya sekadar tamasya yang menyenangkan ke masa lalu. Dalam sebuah artikel di majalah Parents, Dr. James Comer mengutip pengalamannya sendiri tentang melamun—seperti sewaktu mengemudi kendaraan ke rumah setelah melewati hari yang melelahkan di kantor, pikirannya mungkin melayang ke tembakan penentu kemenangan di lapangan bola basket semasa ia masih remaja. ”Hal-hal itu barangkali sepele, tetapi membuat saya senang,” katanya menjelaskan. Namun orang-orang lain menggunakan lamunan untuk membantu merencanakan masa depan mereka. ”Saya sering melamun menjadi seorang musisi bertaraf internasional,” kenang seorang pria, yang belakangan memang menjadi seorang musisi dan komponis jazz terkenal.
Akan tetapi, kebanyakan lamunan tampaknya berpusat pada kegiatan biasa sehari-hari—sekolah, acara ramah-tamah, pekerjaan rumah. Kadang-kadang, orang-orang mungkin sengaja menghadirkan pikiran-pikiran demikian untuk mengusir kejenuhan pelajaran sekolah yang tidak menarik atau kejemuan pekerjaan rumah tangga. Lamunan lainnya datang secara spontan. Sepatah kata, sebersit suara, atau sekilas penglihatan tiba-tiba mengingatkan mereka akan hal-hal yang belum lama dialami, kenangan masa lalu, atau kegiatan yang mendatang, dan pikiran mereka mulai mengembara. Alkitab mengatakan, ”Mimpi disebabkan oleh banyak kesibukan.” (Pengkhotbah 5:2) Memang, orang yang disibukkan dengan urusan dan ambisi pribadi mungkin benar-benar dimakan oleh lamunan yang materialistis.
Meskipun demikian, sesenang-senangnya berkhayal di siang bolong, hal-hal tersebut juga dapat mengganggu konsentrasi Anda di perhimpunan-perhimpunan Kristen, di sekolah, atau pada pekerjaan. Beberapa khayalan bahkan mungkin tidak pantas—atau berbahaya. Kalau begitu, apakah melamun merupakan kebiasaan yang perlu Anda berantas?
Berbahaya bagi Kesehatan Mental Anda?
Di masa lalu, melamun dipandang rendah oleh para pakar kesehatan mental, dokter, dan pakar pendidikan. Oleh karena itu, seorang pemuda diberi tahu seorang pakar psikoterapi, ”Kami harus menolong Anda berhenti melamun.” Menurut peneliti bernama Dr. Eric Klinger, nasihat demikian pada umumnya didasarkan atas teori dari pria yang dikenal sebagai bapak psikoanalisis, Sigmund Freud, yang menganggap melamun sebagai sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan dan gangguan saraf. Maka, sebuah buku pelajaran psikologi menyatakan, ”Melamun sering kali adalah akibat kegagalan atau kurangnya minat seseorang terhadap lingkungan tempat ia berada, dan pastilah merupakan penyangkalan dari kenyataan.” Suatu generasi pakar pendidikan dan kesehatan mental diajarkan bahwa semua lamunan hendaknya dikekang. Banyak pernyataan diucapkan bahwa melamun secara berlebihan bahkan dapat mengakibatkan skizofrenia (semacam penyakit jiwa).
Akan tetapi, teori-teori Freud telah menghasilkan fakta-fakta riset yang ekstensif. Dalam bukunya Daydreaming, Dr. Eric Klinger menyatakan bahwa di antaranya, para peneliti mengatakan:
Melamun merupakan kegiatan yang umum dan normal.
Secara rata-rata, orang-orang yang melamun sering kali dapat menyesuaikan diri secara mental sama baiknya seperti orang-orang yang tidak melamun.
Melamun tidak mengarah kepada halusinasi.
Melamun tidak mengarah kepada skizofrenia. Para penderita skizofrenia terbukti tidak lebih banyak melamun daripada siapa pun juga.
Menggunakan Imajinasi Anda secara Produktif
Maka, tidak mengherankan bahwa Alkitab sama sekali tidak mengutuk penggunaan imajinasi secara sehat. Malahan, kesanggupan pikiran kita untuk membayangkan dan membuat imajinasi adalah bukti bahwa kita, menurut kata-kata pemazmur, ’dijadikan secara ajaib’. (Mazmur 139:14) Bila digunakan secara produktif, kesanggupan ini dapat menjadi aset yang berharga. Umat Kristen diberi tahu untuk ”memperhatikan, bukan perkara-perkara yang kelihatan, tetapi perkara-perkara yang tidak kelihatan”. (2 Korintus 4:18, NW) Ini dapat termasuk berupaya membayangkan dunia baru Allah yang adil-benar. Uraian Alkitab mengenai Firdaus seluas bumi di masa depan ini merangsang imajinasi kita dalam hal ini!—Yesaya 35:5-7; 65:21-25; Wahyu 21:3, 4.
Imajinasi Anda juga dapat terbukti bermanfaat jika Anda mendapat penugasan yang sulit untuk dilakukan. Misalnya, kaum muda di kalangan Saksi-Saksi Yehuwa sering ditugaskan untuk menyampaikan presentasi lisan pada Sekolah Pelayanan Teokratis. Di samping berlatih dengan suara keras, cobalah berlatih secara mental. Bayangkan reaksi hadirin terhadap informasi dan cara Anda menyampaikannya. Ini dapat membantu Anda membuat penyesuaian yang dibutuhkan dalam presentasi Anda dan menambah rasa percaya diri Anda.
Anda juga dapat berlatih secara mental untuk menangani keadaan-keadaan sulit. Barangkali, Anda menyadari bahwa seorang rekan Kristen melakukan sesuatu yang berlawanan dengan perasaan Anda, dan Anda ingin membicarakan persoalan tersebut. (Matius 5:23, 24) Sebaliknya daripada langsung menghampiri orang tersebut, Anda dapat menyusun skenario secara mental, melatih pendekatan yang berbeda untuk menyelesaikan masalah itu. Ini akan selaras dengan prinsip Alkitab, ”Hati orang benar menimbang-nimbang jawabannya.”—Amsal 15:28.
Apakah seseorang menyinggung perasaan Anda atau membuat Anda marah? Perhatikan nasihat yang diberikan di Mazmur 4:5, ”Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam.” Ini tidak berarti terus-menerus membayangkan adegan-adegan yang menyakitkan hati dalam pikiran Anda, dan juga tidak memaksudkan terus membayangkan dengan jelas di dalam mental Anda cara menyakiti seseorang dengan celaan yang pedas. Sesungguhnya, Yesus memperingatkan bahwa ”setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum”, demikian pula halnya ”siapa pun yang menyapa saudaranya dengan suatu kata penghinaan yang tidak terucapkan”. (Matius 5:22, NW) Namun, melatih pilihan-pilihan Anda secara mental—yang mungkin termasuk memaafkan orang yang menyinggung perasaan—dapat membantu Anda menuntaskan masalah tersebut dengannya secara tenang dan masuk akal.
Melamun dapat juga memainkan peranan penting dalam memecahkan persoalan. Dr. Klinger mengatakan, ”Melamun itu sendiri adalah suatu cara menemukan penyelesaian secara kreatif atas masalah-masalah. Orang-orang yang melamun kadang-kadang secara imajinatif dapat menemukan jalan keluar yang tidak akan terpikirkan seandainya mereka mengatasi masalah-masalah itu dengan tergesa-gesa.”
Bahkan terdapat bukti bahwa melamun dapat membantu Anda meningkatkan cara Anda melakukan tugas-tugas fisik. Seorang instruktur olahraga ski, misalnya, memberi tahu para pemula untuk membayangkan gambaran mental dari landasan ski, membayangkan diri mereka menjelajahi setiap tikungan dan turunan selama pelajaran tersebut. Para peneliti percaya bahwa melakukan hal itu sebenarnya mengaktifkan bagian dari otak yang mengendalikan otot, merangsangnya untuk bertindak. Tentu saja, tidak ada pengganti untuk latihan yang sesungguhnya, namun latihan mental dapat membantu Anda meningkatkan kesanggupan Anda untuk memainkan alat musik atau mengetik. ”Singkatnya,” kata Dr. James Comer, ”melamun tidaklah membuang-buang waktu tetapi sebaliknya merupakan pelarian yang kita butuhkan untuk berfungsi lebih baik.”
Bahayanya
Meskipun demikian, ”untuk segala sesuatu ada masanya”. (Pengkhotbah 3:1) Walaupun mungkin melamun boleh dilakukan sewaktu Anda sedang bersantai di dalam kamar, ada saatnya melamun itu tidak pantas atau bahkan berbahaya. Apakah Anda sedang mengemudikan mobil? Maka, Anda perlu ekstra hati-hati dan tanggap terhadap bahaya. Bagaimana jika Anda sedang mengikuti ujian atau mendengarkan khotbah Alkitab? Maka Anda perlu memiliki ’kemampuan berpikir yang jernih’.—2 Petrus 3:1, NW.
Alkitab juga memperingatkan kita agar tidak terus memikirkan hal-hal negatif secara tidak perlu. Memang wajar untuk memiliki sedikit kekhawatiran sewaktu menghadapi ujian yang penting atau wawancara pekerjaan, namun sedikit yang Anda capai dengan menciptakan bayangan mental yang menakutkan tentang tidak lulus atau ditolak. (Bandingkan Pengkhotbah 11:4.) ”Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang,” demikian peringatan Amsal 12:25. Yesus Kristus menasihati para pendengarnya, ”Janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”—Matius 6:34.
Menarik sekali, melamun secara berlebihan atau secara tidak pantas dapat menimbulkan bahaya lainnya. Misalnya, beberapa remaja memupuk khayalan seksual. Orang-orang lain mendapati bahwa melamun mengganggu konsentrasi mereka. Artikel kami berikutnya dalam seri ini akan memberikan saran-saran untuk membantu Anda mengatasi masalah-masalah tersebut.
[Gambar di hlm. 23]
Latihan secara mental dapat meningkatkan penampilan yang sesungguhnya
-
-
Bagaimana Caranya agar Saya Tidak Terlalu Banyak Melamun?Sedarlah!—1993 | 8 Juli
-
-
Pertanyaan Kaum Muda . . .
Bagaimana Caranya agar Saya Tidak Terlalu Banyak Melamun?
”SAYA punya masalah serius,” demikian pengakuan seorang pemuda bernama Jonathan. ”Saya melamun sewaktu sedang bekerja, sedang berjalan, sebelum tidur, dan bahkan di Balai Kerajaan. Biasanya lamunan saya berkisar tentang gadis-gadis, seks, atau menjadi seorang bintang atau jagoan yang populer.”
Melamun memang lazim di kalangan orang-orang tua dan muda. Jika dilakukan dengan bersahaja, melamun dapat menjadi kegiatan yang normal dan sehat.a Akan tetapi, bahkan hal-hal yang baik jika terlalu banyak dapat mendatangkan bahaya. (Bandingkan Amsal 25:16.) Hal itu terutama benar jika yang dilamunkan adalah sesuatu yang salah.
Sebagai contoh, misalkan Anda suatu ketika membayangkan diri menjadi penyanyi kesayangan Anda. Pada mulanya, Anda mungkin menggunakan beberapa saat saja setiap hari untuk membayangkan diri Anda di atas panggung mendapat sambutan meriah dari hadirin. Namun seraya minggu-minggu berlalu, Anda mulai menggunakan semakin banyak waktu untuk konser, wawancara, dan kegiatan rekaman dalam dunia khayalan Anda. Khayalan itu mendatangkan kenikmatan yang begitu besar kepada Anda sehingga Anda tidak dapat menghentikannya.
’Lalu, apa ruginya berpura-pura?’ tanya Anda. Salah satu alasannya, para pakar mengatakan bahwa orang-orang yang selalu terdorong untuk melamun sering kali ”tidak dapat . . . berfungsi dengan baik di dunia nyata”. (The Parents’ Guide to Teenagers) Hidup di alam impian menghambat proses kedewasaan; Anda mempertahankan, bukannya menyingkirkan, sifat kekanak-kanakan. (1 Korintus 13:11) Anda mengembangkan pandangan yang romantis, bukannya realistis, tentang kehidupan. Sebaliknya daripada mengembangkan ”panca indera” dengan menyelesaikan suatu masalah, Anda menekannya dengan masuk ke dunia khayalan. (Ibrani 5:14) Dengan demikian, lamunan mengambil alih kehidupan Anda hingga merusak hubungan dan prioritas Anda dalam kehidupan nyata.
Buku Daydreaming, oleh Dr. Eric Klinger, menunjuk kepada apa yang mungkin merupakan bahaya terbesar, yaitu bahwa ”terus memikirkan apa yang Anda inginkan tetapi sebenarnya tidak boleh dimiliki mempersulit Anda untuk berhenti mengejarnya”. Alkitab menyatakannya sebagai berikut, ”Tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri.” (Yakobus 1:14) Tindakan didahului oleh pikiran. Dan meskipun Anda kemungkinan tidak akan menjadi seorang bintang rock yang ketagihan obat bius hanya karena Anda sekali-sekali melamun menjadi musisi ternama, Anda mungkin akan memupuk selera yang tidak sehat berupa ”keinginan daging dan keinginan mata”.—1 Yohanes 2:16.
Membuyarkan Angan-Angan
Kalau begitu, bagaimana Anda dapat melepaskan diri dari cengkeraman khayalan ini? Pertama-tama, kemungkinan akan membantu jika Anda bertanya kepada diri sendiri mengapa khayalan ini begitu menarik bagi Anda.b Apakah karena Anda ingin orang-orang lain menyukai Anda? Apakah Anda mendapat kenikmatan dengan membayangkan diri Anda memiliki kecantikan atau bakat yang membuat artis tersebut populer? Atau barangkali Anda sekadar iri terhadap gaya hidup orang yang kelihatannya bebas dari kekhawatiran. Seorang profesional bidang kesehatan mental berkata mengenai penyanyi populer bernama Madonna, ”Dalam pikiran para penggemarnya, ia bebas dari kekhawatiran akan uang, pekerjaan sekolah, kesepian.” Oleh karena itu, beberapa orang mungkin berkhayal menjadi seperti dia.
Akan tetapi, sejumlah kenyataan dapat sangat berguna untuk membuyarkan angan-angan semacam itu. Terapkan prinsip di Filipi 4:8, yang menganjurkan kita untuk terus memikirkan hal-hal yang benar dan patut dipuji. Benarkah orang-orang terkenal menikmati kehidupan yang bebas dari kekhawatiran? Apakah moral mereka pada umumnya dapat dipuji? Sebenarnya, kehidupan serba bebas demikian telah membuat banyak dari antara mereka hancur secara fisik dan emosi. Meskipun kaya, banyak artis menderita bencana keuangan. Tidak banyak yang menikmati perkawinan yang langgeng. Apakah Anda bermaksud menjalani kehidupan semacam itu?
Tentu saja, halnya wajar bila Anda ingin dikasihi dan dikagumi. Olivia yang berusia enam belas tahun berulang kali melamun dan membayangkan dirinya menjadi ”pribadi istimewa yang disukai semua orang”. Tetapi lamunan—tidak soal seberapa nyata atau realistis—tidak dapat benar-benar memuaskan keinginan itu, sama seperti bermimpi makan tidak dapat mengenyangkan perut Anda. (Yesaya 29:8) Lagi pula, Alkitab memberi peringatan, ”Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur.” (Pengkhotbah 11:4) Maka daripada berkhayal menjadi orang yang disukai, upayakan menjadikan diri Anda sendiri disukai.—Lihat artikel ”Pertanyaan Kaum Muda . . . Bagaimana Saya Dapat Membuat Orang-Orang Menyukai Saya?” pada terbitan 22 November 1988 (edisi bahasa Inggris).
Khayalan Seksual
Sewaktu berusia belasan tahun, Alan (bukan nama sebenarnya) melamunkan hal yang lain lagi. Ia ”belajar membangkitkan pikiran-pikiran yang erotis” dan menghabiskan banyak waktunya untuk melakukan hal itu. Belakangan, ia membaktikan kehidupannya kepada Allah sebagai seorang Kristen. ”Itu tidak mengubah apa pun,” demikian pengakuan Alan. ”Lamunan seksual terus menjadi kebiasaan saya.”
Apakah Anda pun terserang gangguan lamunan yang membangkitkan keinginan seksual ini?c Ini normal jika Anda sedang dalam ”kesegaran masa muda”, manakala keinginan seksual begitu kuat. (1 Korintus 7:36, NW) Meskipun demikian, Anda mencelakakan diri sendiri jika Anda sengaja memupuk pikiran-pikiran seksual. Alkitab mengatakan di Kolose 3:5, ”Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu.” Terus memikirkan khayalan seksual meningkatkan keinginan yang salah. Hal itu dapat mengarah kepada masturbasi—atau amoralitas seksual yang nyata.
Bagaimana Anda dapat menghentikan kebiasaan berkhayal tentang hal-hal yang amoral? Alan mengenang, ”Saya memutuskan untuk menggunakan pendekatan ”ini-atau-itu”. Saya tidak dapat berkonsentrasi tentang seks selama saya sedang berkonsentrasi tentang hal lain.” Dengan demikian Alan belajar mendisiplin diri. (1 Korintus 9:27) Ia merenungkan perkara-perkara yang sehat dan belajar mengenyahkan dengan segera pikiran amoral apa pun. (Mazmur 77:13) ”Ternyata berhasil!” kenang Alan.
Menarik sekali, para peneliti telah mendapati bahwa kita paling sering melamun pada saat kita tidak melakukan banyak pekerjaan. Maka, mengerjakan banyak hal, khususnya ”dalam pekerjaan Tuhan”, adalah cara lain untuk mencegah berakarnya pikiran yang buruk.—1 Korintus 15:58.
Menjaga Pikiran Anda agar Tidak Hanyut
Bagi banyak anak muda, yang menjadi masalah bukan banyaknya isi lamunan mereka, melainkan bagaimana lamunan ini mengganggu pekerjaan sekolah dan kegiatan belajar. ”Saya tidak dapat berkonsentrasi,” keluh Karine yang berusia 16 tahun. ”Saya tidak dapat memusatkan pikiran saya kepada satu hal.” Bagaimana caranya Anda dapat menaruh perhatian akan apa yang Anda dengarkan? (Bandingkan Markus 4:24.) Beberapa peneliti percaya bahwa mungkin dapat menolong jika Anda benar-benar membuat diri Anda sadar seberapa banyakkah Anda melamun. Mungkin Anda dapat membuat tanda di atas selembar kertas setiap kali Anda mendapati pikiran Anda menerawang di kelas. Sewaktu siswa-siswa dalam sebuah penelitian melakukan hal ini, melamun berkurang dengan drastis.
Juga upayakan untuk memupuk minat terhadap apa yang sedang Anda pelajari. Jika Anda telah mencamkan dalam pikiran bahwa matematika itu membosankan atau bahwa sejarah itu menyebalkan, Anda akan sulit berkonsentrasi. Akan tetapi, pelajaran Anda akan jauh lebih menarik jika Anda mengingatkan diri sendiri bagaimana Anda dapat menarik manfaat dari informasi itu. Setidak-tidaknya, belajar dapat membantu Anda mengembangkan ”kesanggupan berpikir”. (Amsal 1:4, NW) Anda dapat juga mempelajari keterampilan yang penting. Matematika, misalnya, akan sangat membantu Anda dalam pekerjaan duniawi, dalam mengatur rumah tangga, dan dalam mengurus tanggung jawab Kristen tertentu. Pengetahuan sejarah dapat membantu Anda memahami orang-orang dan peristiwa-peristiwa yang baru terjadi. Daniel yang berusia empat belas tahun, salah seorang Saksi-Saksi Yehuwa, mengatakan, ”Saya selalu berupaya memandang bagaimana pekerjaan rumah saya berkaitan dengan Alkitab dan bagaimana saya dapat menggunakan informasi ini dalam pekerjaan pengabaran. Itu membuat saya mengenyahkan pikiran tentang bermain bola, dan saya tidak terburu-buru menyelesaikan tugas tersebut.” Ya, semakin tinggi Anda menilai hal-hal yang Anda pelajari, semakin termotivasi Anda dalam mencari pengetahuan secara aktif.—Bandingkan Amsal 2:4.
Berkonsentrasi khususnya sulit sewaktu Anda mengerjakan hal-hal rutin, seperti memasak, membersihkan rumah, atau membereskan arsip. Alangkah mudahnya terhanyut dalam lamunan! Meskipun demikian, Alkitab memperlihatkan bahwa kepuasan yang besar datang setelah mengerjakan suatu pekerjaan dengan baik. (Pengkhotbah 2:24) Itu menganjurkan kita lebih jauh untuk ’melakukan segala sesuatu seperti untuk Yehuwa’. (Kolose 3:23) Sikap positif semacam itu dapat membantu Anda berkonsentrasi. ”Bila saya memusatkan pikiran kepada apa yang saya lakukan,” kata Samuel yang berusia 12 tahun, ”pekerjaan saya selesai lebih cepat.”
Melamun boleh jadi menyenangkan, namun itu bukanlah pengganti kenyataan. Jangan biarkan lamunan mengendalikan kehidupan Anda. Disiplinlah pikiran Anda. Jagalah pikiran tetap terpusat pada hal-hal yang berharga. Dengan demikian, Anda tidak saja akan berhenti terlalu banyak melamun, tetapi juga akan ”menggenggam dengan teguh kehidupan yang sebenarnya”.—1 Timotius 6:19, NW.
[Catatan Kaki]
a Lihat artikel kami sebelumnya, ”Pertanyaan Kaum Muda . . . Apakah Melamun Itu Salah?”
b Kadang-kadang, masuk ke dalam dunia khayalan menunjukkan adanya masalah-masalah yang serius. Penelitian terhadap orang-orang dewasa yang punya kecenderungan untuk berkhayal menunjukkan bahwa sejumlah besar pernah dianiaya secara fisik atau diperkosa semasa kanak-kanak. Khayalan berfungsi sebagai sarana untuk bertahan. Seorang remaja yang pernah mengalami penganiayaan dan perkosaan perlu mengutarakan diri kepada orang dewasa yang dapat dipercaya dan mendapatkan bantuan.
c Penelitian menunjukkan bahwa khayalan seksual pada umumnya hanya membentuk suatu persentase kecil dari pikiran sadar kebanyakan orang. Namun buku Daydreaming, oleh Dr. Eric Klinger menyatakan, ”Kita cenderung mengingat paling jelas hal-hal yang menggairahkan kita secara emosi. Karena lamunan seksual pada umumnya begitu menggairahkan, kita kemungkinan mengingat hal itu lebih sering daripada lamunan-lamunan lainnya.”
[Gambar di hlm. 26]
Daripada berkhayal menjadi orang yang disukai, upayakan menjadikan diri Anda sendiri disukai
-