PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Mengapa Perasaan Saya Begini?
    Pertanyaan Kaum Muda—Jawaban yang Praktis
    • Bagian 4

      Mengapa Perasaan Saya Begini?

      Kesepian, tertekan, murung, kecil hati—demikiankah perasaan anda selalu? Tentu tidak! Seperti kebanyakan remaja lain kemungkinan besar anda merasa baik-baik saja. Namun demikian, sewaktu-waktu orang yang paling hebat di antara kita pun, dapat dihinggapi emosi negatif. Bacalah keterangan selanjutnya dan dapatkan pengertian yang lebih baik mengenai diri anda, juga bagaimana anda dapat menanggulangi perasaan negatif demikian.

  • Mengapa Saya Tidak Menyukai Diri Saya Sendiri?
    Pertanyaan Kaum Muda—Jawaban yang Praktis
    • Pasal 12

      Mengapa Saya Tidak Menyukai Diri Saya Sendiri?

      “SAYA tidak merasa ada sesuatu yang istimewa pada diri saya,” keluh Louise. Apakah anda juga sewaktu-waktu merasa tidak senang kepada diri sendiri?

      Memang, setiap orang membutuhkan harga diri tertentu. Hal itu pernah disebut sebagai “unsur yang dapat memberikan martabat kepada keberadaan seseorang.” Selain itu, Alkitab berkata: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 19:19) Dan bila anda tidak merasa senang kepada diri sendiri, kemungkinan besar anda juga akan merasa demikian terhadap orang lain.

      ‘Saya Tidak Dapat Melakukan Apapun dengan Benar!’

      Apa yang menyebabkan munculnya perasaan negatif terhadap diri sendiri? Salah satu hal adalah, keterbatasan anda dapat menimbulkan perasaan putus asa. Anda sedang tumbuh, dan sering kali timbul saat manakala gerak-gerik anda kaku sehingga menjatuhkan barang atau menabrak sini sana merupakan pengalaman sehari-hari yang memalukan. Kemudian anda juga tidak memiliki pengalaman orang dewasa dalam hal mengatasi kekecewaan. Dan karena “pancaindera [“daya pengamatan,” NW]” anda belum cukup “terlatih,” anda bisa jadi tidak selalu membuat keputusan yang paling bijaksana. (Ibrani 5:14) Sewaktu-waktu anda mungkin merasa bahwa anda tidak dapat melakukan apapun dengan benar!

      Kegagalan untuk memenuhi harapan orang-tua, dapat menjadi penyebab lain untuk merasa rendah diri. “Bila saya memperoleh nilai tujuh di sekolah,” kata seorang remaja, “orang-tua saya ingin tahu mengapa nilai saya tidak delapan dan mereka mengatakan bahwa saya tidak berhasil.” Tentu, sudah sewajarnya orang-tua mendorong anak-anak mereka agar mencapai hasil terbaik. Dan bila anda kurang berhasil dalam memenuhi harapan yang masuk akal, pasti anda akan diberi tahu. Alkitab menasihati: “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu.” (Amsal 1:8, 9) Daripada merasa kecil hati, cobalah menerima kritikan dan tariklah pelajaran darinya.

      Tapi, bagaimana bila orang-tua suka membanding-bandingkan secara tidak adil? (“Mengapa kau tidak bisa seperti kakakmu, Paul? Dia selalu juara di kelas.”) Pembandingan demikian, walaupun mungkin terasa sakit di hati pada saat dilontarkan, sering kali mempunyai alasan yang baik. Orang-tua anda hanya menginginkan yang terbaik bagi diri anda. Dan bila anda merasa tuntutan mereka terlalu berat, cobalah dengan tenang membicarakannya dengan mereka.

      Membina Harga Diri

      Bagaimana anda dapat mengatasi perasaan rendah diri? Pertama-tama, pertimbangkan dengan jujur segi-segi yang baik dan buruk pada diri anda. Anda akan mendapati bahwa banyak dari apa yang dianggap sebagai kekurangan anda, sebetulnya tidak begitu penting. Bagaimana mengenai sifat-sifat yang benar-benar buruk, seperti cepat marah atau mementingkan diri? Dengan sungguh-sungguh cobalah atasi masalah ini dan harga diri anda pasti akan tumbuh.

      Di samping itu, jangan anda lupakan segi-segi yang berharga yang sudah anda miliki! Anda mungkin tidak merasa bahwa kecakapan memasak atau mengganti ban kempes merupakan hal yang penting. Tetapi orang yang lapar atau pengendara mobil yang mengalami ban kempes, pasti akan mengagumi ketrampilan anda! Pikirkan pula sifat-sifat baik pada diri anda. Apakah anda suka belajar? Sabar? Tenggang rasa? Murah hati? Baik hati? Sifat-sifat ini jauh lebih berharga daripada kekurangan-kekurangan kecil.

      Ada baiknya anda juga mempertimbangkan daftar singkat berikut ini:

      Tetapkan cita-cita yang realistis: Bila anda selalu ingin meraih bintang di langit, kekecewaan pahit dapat terjadi. Tetapkan cita-cita yang dapat dicapai. Bagaimana dengan mempelajari ketrampilan tertentu, seperti mengetik? Belajarlah memainkan suatu alat musik atau menguasai bahasa lain. Tingkatkan kecakapan membaca anda atau perluaslah bidang bacaan anda. Harga diri merupakan hasil sampingan yang bermanfaat dari keberhasilan.

      Bekerjalah sebaik mungkin: Bila anda terbiasa bekerja asal jadi, anda tidak akan merasa puas terhadap diri sendiri. Allah bersukacita dalam karya ciptaan-Nya dan menyatakan masing-masing masa penciptaan sebagai “baik” setiap saat tahap-tahap tersebut selesai. (Kejadian 1:3-31) Anda juga dapat merasa senang dalam pekerjaan apapun yang anda lakukan di rumah atau di sekolah jika anda melakukannya dengan trampil dan sungguh-sungguh.—Lihat Amsal 22:29.

      Lakukan sesuatu bagi orang lain: Harga diri tidak akan timbul dengan duduk-duduk sambil membiarkan orang lain melayani anda sampai kepada hal-hal kecil. Yesus mengatakan bahwa ‘barangsiapa ingin menjadi besar . . . hendaklah ia menjadi pelayan,’ atau hamba, untuk orang lain.—Markus 10:43-45.

      Misalnya, Kim yang berumur 17 tahun menganggarkan 60 jam setiap bulan selama liburan musim panas untuk membantu orang-orang lain mempelajari kebenaran Alkitab. Ia berkata: “Kegiatan ini membuat saya lebih dekat kepada Yehuwa. Saya juga dibantu untuk mengembangkan kasih yang sejati bagi orang lain.” Kemungkinan bahwa wanita muda yang bahagia ini mempunyai masalah dengan harga diri, adalah kecil sekali!

      Pilihlah teman dengan hati-hati: “Hubungan saya dengan diri saya sendiri sangat tidak bahagia,” kata Barbara yang berumur 17 tahun. “Bila saya berada di antara orang-orang yang mempercayai diri saya, hasil kerja saya memuaskan. Tapi dengan mereka yang memperlakukan diri saya sebagai tambahan dari sebuah mesin, saya menjadi bodoh.”

      Orang-orang yang sombong atau suka menghina memang dapat membuat anda mempunyai perasaan negatif terhadap diri sendiri. Jadi pilihlah teman yang sungguh-sungguh berminat akan kesejahteraan anda, sahabat-sahabat yang membina anda.—Amsal 13:20.

      Jadikanlah Allah sahabat anda yang terdekat: “[Yehuwa], bukit batuku, kubu pertahananku,” begitulah pernyataan Daud, sang pemazmur. (Mazmur 18:3) Keyakinannya tidak diletakkan pada kesanggupannya sendiri, tetapi pada persahabatan yang erat dengan Yehuwa. Jadi, ketika ia belakangan mengalami malapetaka, ia dapat bertahan dan tetap bersikap tenang meskipun dikutuk orang habis-habisan. (2 Samuel 16:7, 10) Anda, juga, dapat ‘mendekat kepada Allah’ dan dengan demikian “bermegah,” bukan dalam diri sendiri, tetapi di dalam Yehuwa!—Yakobus 2:21-23; 4:8; 1 Korintus 1:31.

      Haluan yang Sia-Sia

      Seorang penulis berkata: “Kadang-kadang remaja yang berkepribadian lemah dan yang merasa rendah diri berupaya untuk berlindung di balik suatu kedok atau topeng dalam menghadapi dunia luar.” Peranan yang dimainkan beberapa orang umumnya adalah: Sebagai “jagoan,” berani dalam pergaulan dan suka berpesta-pora, sebagai penyanyi rock yang berpakaian urakan. Tapi di balik topeng mereka, orang-orang muda demikian tetap bergelut melawan perasaan rendah diri.—Amsal 14:13.

      Pertimbangkan misalnya, mereka yang memuaskan hawa nafsu dengan seks bebas “untuk menyingkirkan perasaan depresi, untuk menaikkan harga diri [dengan merasa dibutuhkan], untuk mendapatkan hubungan yang intim dan, melalui kehamilan, untuk memenangkan cinta serta sambutan yang otomatis dari sesosok manusia—yaitu seorang bayi.” (Coping with Teenage Depression atau Menanggulangi Depresi Remaja). Seorang wanita muda yang kecewa menulis: “Saya berupaya mendapatkan penghiburan melalui keintiman hubungan seks sebaliknya dari berupaya membina hubungan yang kokoh dengan Pencipta saya. Apa yang telah saya peroleh adalah kekosongan, kesepian dan depresi yang lebih hebat.” Maka, waspadalah terhadap haluan yang sia-sia seperti itu.

      Kata-Kata Peringatan

      Menarik untuk memperhatikan bahwa Alkitab sering kali memberikan peringatan agar tidak menilai diri sendiri terlampau tinggi! Mengapa demikian? Pasti karena kebanyakan di antara kita, dalam upaya untuk mendapatkan kepercayaan diri, cenderung bertindak melampaui batas. Banyak yang menjadi egois dan suka membesar-besarkan ketrampilan dan kesanggupannya. Beberapa suka meninggikan diri dengan merendahkan orang lain.

      Lama berselang pada abad pertama, ada persaingan yang tajam dalam suatu sidang Kristen di Roma, antara orang Yahudi dan Kafir (orang bukan Yahudi). Karena itu, rasul Paulus mengingatkan orang-orang bukan Yahudi bahwa hanya dengan “kemurahan” Allah mereka telah “dicangkokkan” ke dalam kedudukan yang diperkenan Allah. (Roma 11:17-36) Orang-orang Yahudi yang membenarkan diri, juga perlu menghadapi ketidaksempurnaan mereka. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,” kata Paulus.—Roma 3:23.

      Paulus tidak melucuti harga diri mereka, tetapi berkata: “Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang . . . : Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi mengenai dirimu daripada yang patut kamu pikirkan.” (Roma 12:3, NW) Jadi meskipun kita “patut” memiliki harga diri tertentu, kita tidak perlu bertindak melampaui batas dalam hal ini.

      Seperti diamati oleh Dr. Allan Fromme: “Seseorang yang memiliki pengenalan diri yang cukup, tidak akan merasa sedih, tapi ia juga tidak perlu bergembira secara berlebihan. . . . Ia tidak pesimis, namun optimismenya tidak meluap-luap. Ia bukan pemberani yang nekad dan tidak juga bebas dari rasa takut tertentu . . . Ia menyadari bahwa ia bukan penyandang citra keberhasilan sepanjang masa, ia bukan pula orang yang [terus-menerus] gagal.”

      Jadi bersikaplah bersahaja. “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yakobus 4:6) Kenalilah sifat-sifat anda yang berharga, tetapi jangan abaikan kekurangan-kekurangan anda. Sebaliknya berupayalah untuk memperbaikinya. Sewaktu-waktu anda masih tetap akan merasa bimbang. Tapi anda sama sekali tidak perlu meragukan harga diri anda atau bahwa Allah mengasihi anda. Karena “orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.”—1 Korintus 8:3.

      Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi

      ◻ Mengapa ada remaja-remaja yang memiliki perasaan negatif mengenai diri mereka sendiri? Dapatkah anda memahami alasan dari perasaan mereka?

      ◻ Cara bagaimana anda dapat menanggapi tuntutan orang-tua anda?

      ◻ Dengan cara apa saja anda dapat membina harga diri anda?

      ◻ Apa beberapa tindakan yang sia-sia dalam membina harga diri?

      ◻ Mengapa anda perlu berhati-hati agar tidak menilai diri terlalu tinggi?

      [Blurb di hlm. 98]

      Harga diri pernah disebut sebagai “unsur yang dapat memberikan martabat kepada keberadaan seseorang”

      [Gambar di hlm. 99]

      Apakah anda merasa ditolak, rendah diri? Ini dapat dipecahkan

      [Gambar di hlm. 101]

      Membual atau menyombongkan tidak akan memecahkan masalah rendah diri

      [Gambar di hlm. 102]

      Apakah anda kadang-kadang merasa tidak dapat melakukan apapun dengan benar?

  • Mengapa Saya Merasa Begitu Tertekan?
    Pertanyaan Kaum Muda—Jawaban yang Praktis
    • Pasal 13

      Mengapa Saya Merasa Begitu Tertekan?

      Melanie selalu memenuhi idaman ibunya mengenai anak yang sempurna—sampai ia mencapai umur 17 tahun. Kemudian ia menarik diri dari kegiatan-kegiatan di sekolah, tidak mau lagi menerima berbagai undangan pesta, dan bahkan bersikap masa bodoh ketika nilai-nilainya di sekolah turun dari angka delapan ke atas menjadi kurang dari tujuh. Ketika orang-tuanya bertanya dengan lembut apa yang tidak beres, ia lari menjauh sambil berkata, “Jangan ganggu saya! Aku baik-baik saja.”

      Mark, pada umur 14 tahun, bersikap impulsif dan bermusuhan, suka meledak dalam kemarahan. Di sekolah ia gelisah dan suka mengganggu orang. Bila frustrasi atau marah, ia memacu sepeda motornya melintasi padang gurun, atau melaju menuruni bukit-bukit yang curam dengan papan luncurnya.

      MELANIE dan Mark kedua-duanya menderita bentuk penyakit yang sama—depresi. Dr. Donald McKnew dari Lembaga Kesehatan Mental Nasional (A.S.) berkata bahwa 10 sampai 15 persen dari anak-anak sekolah kemungkinan menderita penyakit tertekan. Jumlah yang lebih kecil menderita depresi berat.

      Kadang-kadang masalah ini mempunyai dasar biologis. Infeksi atau penyakit pada sistem endokrin, perubahan keseimbangan hormon dari siklus haid, hipoglikemia (kadar gula rendah), pengaruh obat-obat tertentu, keracunan logam atau bahan kimia, reaksi alergis, diet yang tidak seimbang, anemia (kurang darah)—semua ini dapat menimbulkan depresi.

      Tekanan sebagai Penyebab Depresi

      Namun, masa remaja itu sendiri sering kali merupakan sumber ketegangan emosional. Karena tidak memiliki pengalaman orang dewasa dalam menangani pasang surut kehidupan, seorang remaja dapat merasa bahwa tidak ada yang mempedulikannya sehingga akan merasa sangat tertekan oleh hal-hal yang relatif biasa.

      Kegagalan untuk memenuhi harapan orang-tua, guru, atau teman juga merupakan penyebab lain dari perasaan murung. Donald misalnya, merasa bahwa ia harus unggul di sekolah untuk menyenangkan orang-tuanya yang berpendidikan tinggi. Karena gagal dalam hal ini, ia merasa tertekan dan cenderung mau bunuh diri. “Saya belum pernah melakukan sesuatu dengan benar. Saya selalu mengecewakan semua orang,” Donald meratap.

      Bahwa perasaan gagal dapat menimbulkan depresi, nyata dari pengalaman seorang pria bernama Epafroditus. Pada abad pertama, orang Kristen yang setia ini diutus dalam suatu misi khusus untuk membantu rasul Paulus yang dipenjarakan. Tetapi ketika ia bertemu dengan Paulus, ia jatuh sakit—dan Pauluslah yang harus merawat dia! Tentu dapat anda bayangkan mengapa Epafroditus menganggap dirinya telah gagal, sehingga “susah juga hatinya.” Ia pasti telah melupakan segala perbuatan baik yang pernah dilakukannya sebelum ia jatuh sakit.—Filipi 2:25-30.

      Perasaan Kehilangan

      Francine Klagsbrun menulis dalam bukunya, Too Young to Die—Youth and Suicide (Terlalu Muda untuk Mati—Kaum Remaja dan Bunuh Diri): “Akar dari banyak depresi yang disebabkan oleh emosi, adalah perasaan kehilangan yang sangat dalam, kehilangan seseorang atau sesuatu yang pernah sangat dikasihi.” Jadi kehilangan orang-tua akibat kematian atau perceraian, kehilangan pekerjaan atau karir, atau bahkan kehilangan kesehatan fisik dapat juga menjadi penyebab depresi.

      Namun, yang paling berat bagi seorang remaja adalah kehilangan kasih sayang, perasaan tidak diinginkan dan tidak dipedulikan. “Ketika ibu saya meninggalkan kami, saya merasa dikhianati dan sendirian,” demikian pernyataan seorang wanita muda yang bernama Marie. “Mendadak dunia saya serasa terbalik.”

      Maka, cobalah bayangkan perasaan bingung dan sakit hati yang dialami beberapa remaja pada waktu menghadapi masalah-masalah keluarga seperti perceraian, pemabukan, inses (perbuatan sumbang), pemukulan istri, penganiayaan anak, atau semata-mata penolakan oleh orang-tua yang tenggelam dalam problem-problemnya sendiri. Betapa tepat amsal Alkitab yang berbunyi: “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu [termasuk kesanggupan melawan depresi]”! (Amsal 24:10) Seorang remaja mungkin secara keliru bahkan akan menyalahkan diri sendiri atas terjadinya problem-problem keluarganya.

      Kenalilah Gejala-Gejalanya

      Ada berbagai tingkatan depresi. Seorang remaja mungkin kehilangan semangat untuk sementara waktu karena suatu peristiwa tertentu yang mengesalkan hatinya. Namun biasanya kemurungan demikian akan berlalu dalam waktu yang relatif singkat.

      Namun, bila perasaan murung berlanjut dan remaja tersebut dihinggapi perasaan negatif yang disertai perasaan tidak berguna, cemas, dan marah, ini dapat berkembang menjadi apa yang disebut oleh para dokter sebagai depresi kronis yang ringan. Seperti ditunjukkan oleh pengalaman Mark dan Melanie (yang disebut tadi), gejala-gejalanya dapat sangat berbeda satu sama lain. Remaja yang satu dapat tiba-tiba merasa cemas. Yang lain dapat merasa lelah yang berkepanjangan, tidak ada nafsu makan, sulit tidur, berat badan turun, atau mengalami kecelakaan secara beruntun.

      Beberapa remaja berupaya menyembunyikan depresi yang dialaminya dengan melakukan kegiatan bersenang-senang: pesta-pesta tidak ada habisnya, hubungan seks bebas, tindak perusakan, mabuk-mabukan, atau hal-hal serupa. “Saya benar-benar tidak mengerti mengapa saya harus terus berada di luar rumah,” demikian pengakuan seorang pemuda berumur 14 tahun. “Saya hanya tahu bahwa jika saya sedang sendirian, saya merasa sangat murung.” Tepat seperti yang dilukiskan oleh Alkitab: “Di dalam tertawapun hati dapat merana.”—Amsal 14:13.

      Bila Halnya Bukan Sekedar Perasaan Murung

      Bila depresi kronis yang ringan tidak ditangani, ini dapat menjadi lebih serius—depresi berat. (Lihat halaman 107.) “Saya senantiasa merasa seolah-olah sudah ‘mati’ di dalam,” begitu penjelasan Marie, seorang korban depresi berat. “Saya hidup tanpa emosi sama sekali. Saya selalu merasa takut.” Pada depresi berat, perasaan murung terus-menerus ada dan bisa berlangsung selama berbulan-bulan. Maka, depresi semacam ini merupakan unsur yang paling umum dalam tindakan bunuh diri di kalangan kaum remaja—yang sekarang dianggap sebagai “epidemi yang tersembunyi” di banyak negeri.

      Emosi yang paling bertahan lama dalam suatu depresi berat—dan yang paling mematikan—adalah perasaan tidak berdaya yang sangat mendalam. Profesor John E. Mack menulis tentang Vivienne, seorang gadis berumur 14 tahun yang menjadi korban depresi berat. Dari luar ia tampak sebagai wanita muda yang sempurna dengan orang-tua yang penuh perhatian. Namun, dalam rasa putus asa yang mencekam, ia menggantung diri! Profesor Mack menulis: “Ketidaksanggupan Vivienne untuk melihat di muka bahwa depresi yang ia alami pada suatu waktu akan lenyap, bahwa ada harapan ia akhirnya akan bebas dari penderitaannya, merupakan unsur penting dalam keputusannya untuk bunuh diri.”

      Mereka yang dihinggapi depresi berat dengan demikian merasa seolah-olah tidak akan pernah sembuh, bahwa tidak ada hari esok. Perasaan tidak berdaya demikian, menurut beberapa ahli, sering mengarah kepada tindakan ingin bunuh diri.

      Namun, bunuh diri bukan jalan keluarnya. Marie yang pernah merasa hidup dalam mimpi yang menakutkan, mengaku: “Pikiran untuk bunuh diri dengan jelas muncul dalam benak saya. Tapi saya menyadari bahwa selama saya tidak bunuh diri, selalu ada harapan.” Mengakhiri itu semua sesungguhnya tidak membereskan apa-apa. Tapi sayang sekali, banyak remaja yang sedang putus asa, tidak bisa bahkan membayangkan adanya pilihan lain atau kemungkinan akhir yang menggembirakan. Maka Marie berupaya menyembunyikan masalah yang ia hadapi dengan menyuntikkan heroin ke dalam tubuhnya. Ia berkata: “Saya mendapatkan kepercayaan diri yang mantap—sampai pengaruh obat itu mulai pudar.”

      Mengatasi Depresi Ringan

      Ada beberapa cara yang bijaksana untuk mengatasi perasaan tertekan. “Beberapa orang mengalami depresi karena mereka lapar,” demikian pengamatan Dr. Nathan S. Kline, ahli depresi dari New York. “Seorang mungkin tidak sarapan dan karena suatu sebab tidak sempat makan siang. Kemudian menjelang pukul tiga sore ia mulai heran mengapa ia merasa dirinya tidak beres.”

      Apa yang anda makan juga penting. Debbie, seorang wanita muda yang diganggu perasaan putus asa, mengakui: “Saya tidak menyadari bahwa jajanan tak bergizi begitu buruk bagi suasana hati saya. Saya suka memakannya dengan banyak. Sekarang saya memperhatikan bahwa bila saya tidak banyak makan yang manis-manis, saya merasa lebih nyaman.” Langkah-langkah lain yang bermanfaat: Beberapa macam gerak badan dapat membangkitkan semangat. Dalam beberapa kasus, ada baiknya anda memeriksakan kesehatan anda, karena depresi bisa menjadi gejala penyakit fisik.

      Memenangkan Pergumulan dalam Pikiran

      Sering kali depresi ditimbulkan atau bertambah parah karena adanya pikiran-pikiran negatif mengenai diri sendiri. “Bila ada cukup banyak orang yang mencela diri anda,” keluh Evelyn yang berumur 18 tahun, “anda mulai merasa diri tidak berguna sama sekali.”

      Coba pikir: Apakah penilaian atas harga diri anda sebagai suatu pribadi bergantung kepada orang lain? Celaan serupa pernah ditimpakan kepada Paulus, seorang rasul Kristen. Beberapa orang berkata bahwa kepribadiannya lemah dan ia pembicara yang buruk! Apakah hal ini membuat Paulus merasa diri tidak berguna? Sama sekali tidak! Paulus tahu bahwa persoalan terpenting adalah memenuhi standar Allah. Ia dapat bermegah atas apa yang telah ia capai dengan bantuan Allah—tidak soal apa kata orang. Bila anda juga mengingat fakta bahwa anda dihargai oleh Allah, perasaan gundah sering kali akan lenyap.—2 Korintus 10:7, 10, 17, 18.

      Bagaimana bila perasaan tertekan itu ditimbulkan oleh kelemahan tertentu atau dosa yang telah anda lakukan? “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi,” firman Allah kepada Israel, “akan menjadi putih seperti salju.” (Yesaya 1:18) Jangan sekali-kali mengabaikan belas kasihan dan kesabaran Bapa surgawi kita. (Mazmur 103:8-14) Tetapi apakah anda juga berupaya keras mengatasi problem anda? Anda perlu melakukan bagian anda bila anda ingin menghilangkan perasaan bersalah dari pikiran. Seperti dikatakan sebuah amsal: “Siapa yang mengakui [pelanggarannya] dan meninggalkannya akan disayangi.”—Amsal 28:13.

      Suatu cara lain untuk menekan perasaan murung adalah menetapkan cita-cita yang realistis bagi diri sendiri. Anda tidak perlu menjadi nomor satu di sekolah untuk sukses. (Pengkhotbah 7:16-18) Terimalah kenyataan bahwa kekecewaan merupakan bagian dari kehidupan. Bila ini dialami sebaliknya dari merasa ‘Tidak ada dan tidak bakal ada orang yang peduli dengan saya,’ katakanlah kepada diri sendiri. ‘Saya dapat mengatasinya.’ Dan sama sekali tidak ada salahnya untuk menangis.

      Nilai dari Keberhasilan

      “Perasaan putus asa tidak akan lenyap dengan sendirinya,” kata Daphne, yang berhasil mengatasi berbagai serangan perasaan kecil hati. “Anda perlu berpikir menurut jalur yang berbeda atau melibatkan diri secara fisik. Anda harus mulai melakukan sesuatu.” Perhatikan Linda, yang berkata pada waktu berupaya keras mengatasi perasaan murung: “Saya akan sibuk menjahit. Saya menjahit baju untuk diri saya sendiri sehingga setelah beberapa waktu, saya melupakan penderitaan saya. Hal ini sungguh membantu.” Melakukan sesuatu yang anda kuasai, dapat membina harga diri anda—yang biasanya berada pada titik terendah selama depresi.

      Yang juga berguna adalah melakukan kegiatan yang dapat menghasilkan kegembiraan. Cobalah berbelanja membeli sesuatu yang anda senangi, ikut dalam permainan tertentu, memasak makanan kegemaran anda, menjelajahi toko buku, makan di restoran, membaca, bahkan mengerjakan teka-teki silang, seperti yang muncul dalam majalah Awake! (Sedarlah!).

      Debbie mendapati bahwa dengan merencanakan tamasya yang singkat atau menetapkan cita-cita yang sederhana, ia dapat mengatasi suasana hati yang tertekan. Namun, melakukan sesuatu untuk membantu orang lain ternyata merupakan salah satu bantuan yang paling ampuh baginya. “Saya bertemu dengan wanita muda ini yang sangat tertekan, dan saya mulai membantunya belajar Alkitab,” demikian Debbie mengungkapkan. “Pembahasan tiap minggu ini memberi saya kesempatan untuk memberi tahu dia cara mengatasi depresinya. Alkitab memberi dia harapan yang nyata. Bersamaan waktu hal ini telah membantu saya juga.” Tepat seperti yang dikatakan Yesus: “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”—Kisah 20:35.

      Ungkapkan Persoalan Anda kepada Orang Lain

      “Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.” (Amsal 12:25) “Perkataan yang baik” dari orang yang penuh pengertian dapat sangat membantu. Tidak ada manusia yang dapat membaca isi hati anda, jadi ungkapkan persoalan anda kepada orang yang anda percayai yang memiliki kesanggupan untuk membantu. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran,” kata Amsal 17:17. “Bila anda menutup diri, halnya seperti memikul beban berat seorang diri,” kata Evan yang berumur 22 tahun. “Tetapi bila anda menceritakannya kepada orang lain yang cakap membantu, beban itu menjadi jauh lebih ringan.”

      ‘Tetapi saya sudah pernah mencobanya,’ mungkin anda berkata, ‘dan yang saya peroleh hanyalah khotbah untuk memandang kehidupan dari segi yang cerah.’ Kalau begitu, di manakah anda dapat menemukan orang yang bukan saja mau mendengarkan dengan penuh pengertian tapi juga bisa memberi nasihat secara obyektif?—Amsal 27:5, 6.

      Mendapatkan Bantuan

      Pertama-tama ‘berikanlah hati anda’ kepada orang-tua anda. (Amsal 23:26) Mereka mengenal anda lebih baik daripada siapapun juga, dan sering kali mereka dapat membantu jika anda mau dibantu. Bila mereka mendapati bahwa masalahnya berat, ada kemungkinan mereka akan mengatur agar anda menerima bantuan profesional.a

      Para anggota sidang Kristen merupakan sumber bantuan lain. “Selama bertahun-tahun saya berdalih bahwa tidak ada orang yang benar-benar memahami betapa tertekan perasaan saya,” Marie mengungkapkan. “Namun kemudian saya menceritakan persoalan saya kepada salah seorang wanita lanjut usia di sidang. Ia begitu penuh pengertian! Ia juga pernah mengalami hal-hal yang sama seperti saya. Jadi saya merasa dianjurkan karena menyadari bahwa ada orang lain yang pernah mengalami hal-hal yang sama dan telah berhasil mengatasinya.”

      Memang, depresi yang dialami Marie tidak lenyap dengan segera. Namun lambat-laun ia mulai mengatasi emosinya seraya hubungannya dengan Allah bertambah kuat. Di kalangan para penyembah Yehuwa yang sejati anda juga dapat menemukan teman-teman dan “keluarga” yang sungguh-sungguh berminat akan kesejahteraan anda.—Markus 10:29, 30; Yohanes 13:34, 35.

      Kekuatan Melebihi yang Biasa

      Namun, bantuan paling ampuh untuk melenyapkan perasaan gundah ialah apa yang disebut oleh rasul Paulus “kekuatan melebihi apa yang biasa,” yang datang dari Allah. (2 Korintus 4:7, NW) Ia dapat membantu anda memerangi depresi bila anda bersandar kepada Dia. (Mazmur 55:23) Dengan roh suci-Nya Ia memberi kekuatan melebihi sumber kekuatan anda yang normal.

      Persahabatan demikian dengan Allah sungguh-sungguh menentramkan. “Bila saya merasa sedih,” kata seorang wanita muda bernama Georgia, “saya banyak berdoa. Saya tahu bahwa Yehuwa akan memberikan jalan keluar, tidak soal betapa berat problem saya.” Daphne setuju, sambil menambahkan: “Anda dapat menyatakan segala sesuatu kepada Yehuwa. Curahkan isi hati anda dan sesungguhnya, sekalipun tidak ada manusia yang bisa mengerti anda, Ia benar-benar memahami dan sangat prihatin terhadap anda.”

      Jadi bila anda merasa tertekan, berdoalah kepada Allah, dan carilah orang yang bijaksana dan penuh pengertian kepada siapa anda dapat mengungkapkan perasaan anda. Di dalam sidang Kristen anda akan menemukan “para penatua” sebagai penasihat ahli. (Yakobus 5:14, 15) Mereka siap membantu anda memelihara persahabatan anda dengan Allah. Karena Allah mengerti dan mengundang anda untuk menyerahkan segala kekuatiran anda kepada-Nya, “sebab Ia yang memelihara” anda. (1 Petrus 5:6, 7) Sesungguhnya, Alkitab berjanji: “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”—Filipi 4:7.

      [Catatan Kaki]

      a Kebanyakan dokter spesialis menyarankan agar para korban depresi berat mendapat bantuan profesional karena ada bahaya bunuh diri. Misalnya, mungkin dibutuhkan obat-obat yang hanya dapat diberikan dengan resep dokter.

      Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi

      ◻ Perkara-perkara apa saja dapat menyebabkan orang muda merasa tertekan? Pernahkah anda merasa demikian?

      ◻ Dapatkah anda menunjukkan apa saja gejala depresi kronis ringan?v

      ◻ Tahukah anda bagaimana depresi berat dapat dikenali? Mengapa penyakit ini begitu serius?

      ◻ Sebutkan beberapa cara untuk mengatasi rasa gundah. Pernahkah anda berhasil dengan salah satu saran ini?

      ◻ Mengapa begitu penting untuk membicarakan persoalan anda bila anda sedang mengalami depresi berat?

      [Blurb di hlm. 106]

      Depresi berat merupakan faktor paling umum dalam masalah bunuh diri di kalangan remaja

      [Blurb di hlm. 112]

      Persahabatan pribadi dengan Allah dapat membantu anda mengatasi depresi berat

      [Kotak di hlm. 107]

      Apakah Ini Depresi Berat?

      Setiap Orang untuk suatu waktu yang singkat dapat dihinggapi satu atau lebih dari antara gejala-gejala berikut tanpa adanya problem yang serius. Namun, bila beberapa gejala tidak kunjung hilang, atau salah satu dirasakan pada taraf yang cukup berat sehingga mengganggu kegiatan normal anda, ada kemungkinan anda menderita (1) penyakit fisik tertentu dan membutuhkan pemeriksaan yang teliti oleh seorang dokter atau (2) penyakit mental yang serius—depresi berat.

      Segala Sesuatu Tidak Menyenangkan Anda. Anda tidak dapat lagi merasakan kesenangan dalam kegiatan-kegiatan yang pernah anda nikmati. Anda merasa seperti tidak benar-benar hidup, segala sesuatu kabur dalam pikiran anda dan anda hanya bekerja seperti mesin.

      Perasaan Tidak Berguna Secara Total. Anda merasa bahwa kehidupan anda sama sekali tidak berguna dan sia-sia. Anda dapat mempunyai perasaan bersalah yang berat.

      Perubahan Suasana Hati Secara Drastis. Bila dahulu anda suka bergaul, sekarang anda menarik diri atau sebaliknya. Anda mungkin sering menangis.

      Perasaan Tiada Berdaya Secara Total. Anda merasa segala sesuatu buruk, tidak ada sesuatu pun yang dapat anda lakukan untuk memperbaikinya, dan keadaan tidak akan pernah menjadi baik.

      Anda Ingin Mati Saja. Rasa cemas dapat begitu hebat sehingga anda sering kali merasa lebih baik mati saja.

      Tidak Dapat Berkonsentrasi. Anda terus memikirkan hal-hal yang sama atau anda membaca tanpa dapat mengerti.

      Perubahan dalam Kebiasaan Makan atau Buang Hajat. Anda kehilangan selera atau makan berlebihan. Kesulitan buang hajat silih berganti dengan diare.

      Perubahan dalam Kebiasaan Tidur. Sulit atau terlalu banyak tidur. Anda sering mendapat mimpi yang menyeramkan.

      Pegal-Pegal dan Sakit-Sakit. Sakit kepala, kejang-kejang, dan rasa sakit di perut dan dada. Anda mungkin merasa lelah terus-menerus tanpa sebab yang nyata.

      [Gambar di hlm. 108]

      Kegagalan untuk memenuhi harapan orang-tua dapat menyebabkan seorang remaja merasa tertekan

      [Gambar di hlm. 109]

      Salah satu cara penanggulangan terbaik adalah dengan berbicara kepada orang lain dan mencurahkan isi hati anda

      [Gambar di hlm. 110]

      Melakukan sesuatu untuk orang lain adalah cara lain lagi untuk mengatasi rasa gundah

  • Bagaimana Saya Dapat Menghilangkan Rasa Kesepian?
    Pertanyaan Kaum Muda—Jawaban yang Praktis
    • Pasal 14

      Bagaimana Saya Dapat Menghilangkan Rasa Kesepian?

      Malam Minggu tiba. Pemuda itu duduk seorang diri di kamarnya.

      “Saya benci akhir pekan!“ teriaknya. Tetapi tidak ada orang di kamar untuk memberi jawaban. Ia memungut sebuah majalah dan melihat gambar sekelompok anak muda di pantai. Ia melempar majalah tersebut ke dinding. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia menggigit bibir, tapi air matanya tidak dapat dibendung. Karena tidak dapat menahan emosi lagi, ia menjatuhkan diri ke tempat tidur sambil menangis tersedu-sedu, “Mengapa saya selalu diasingkan?”

      APAKAH anda kadang-kadang merasa demikian juga—terasing dari dunia, kesepian, tidak berguna, dan hampa? Jika demikian, jangan putus asa. Meskipun rasa kesepian tidak menyenangkan, itu bukan penyakit yang fatal. Singkatnya, kesepian hanya suatu tanda peringatan. Seperti rasa lapar yang memperingatkan anda bahwa anda membutuhkan makanan, kesepian memperingatkan anda bahwa anda membutuhkan teman, hubungan yang akrab, keintiman. Untuk dapat berfungsi dengan baik, kita perlu makan. Demikian juga, agar dapat merasa senang kita membutuhkan teman.

      Pernahkah anda mengamati setumpuk arang yang sedang menyala? Bila kita mengambil sepotong arang dari tumpukan itu, nyala api pada potongan tersebut akan padam. Tapi bila kita mengembalikan arang tersebut ke tumpukan asalnya, ia akan menyala lagi! Dalam keadaan terasing, manusia juga berhenti “menyala,” atau tidak berfungsi dengan baik untuk jangka waktu yang lama. Kita dirancang dengan kebutuhan akan teman.

      Sendirian tetapi Tidak kesepian

      Sastrawan Henry David Thoreau menulis: “Saya belum pernah menemukan teman yang lebih menyenangkan daripada kesendirian.” Apakah anda setuju? “Ya,” kata Bill, yang berumur 20 tahun. “Saya menyukai alam. Kadang-kadang saya naik perahu kecil saya dan berlayar di danau. Saya duduk di sana seorang diri selama berjam-jam. Saat itulah saya merenungkan apa yang akan saya lakukan dengan kehidupan saya. Saya merasa senang sekali.” Steven yang berumur 21 tahun juga setuju. “Saya tinggal di sebuah apartemen yang besar,” katanya, “dan kadang-kadang saya naik ke atap gedung hanya untuk menyendiri. Itulah kesempatan bagi saya untuk berpikir dan berdoa. Benar-benar menyegarkan.”

      Ya, bila digunakan dengan baik, saat-saat kita sendirian dapat menghasilkan kepuasan yang besar. Yesus juga menikmati saat-saat demikian: “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, [Yesus] bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” (Markus 1:35) Ingat, Yehuwa tidak berkata, ‘Tidak baik kalau manusia itu untuk sementara waktu seorang diri saja.’ Sebaliknya, Allah berkata bahwa tidak baik bagi manusia “untuk tetap seorang diri saja.” (Kejadian 2:18-23, NW) Jadi, berada seorang diri untuk jangka waktu yang berkepanjangan, itulah yang dapat menimbulkan rasa kesepian. Alkitab memperingatkan: “Orang yang menyendiri, mencari keinginannya [sendiri, NW], amarahnya meledak terhadap setiap pertimbangan.”—Amsal 18:1.

      Kesepian Sementara

      Kadang kala rasa kesepian terpaksa kita alami karena keadaan-keadaan di luar kendali kita, seperti yang terjadi bila kita pindah rumah sehingga tinggal jauh dari teman-teman dekat. Steve mengingat: “Di tempat saya tinggal dulu, James dan saya bersahabat, hubungan kami lebih akrab daripada ikatan persaudaraan. Ketika saya pindah, saya tahu bahwa saya akan kehilangan dia.” Steve berhenti sebentar mengenang kembali saat ia pergi. “Ketika saya akan naik ke pesawat terbang, saya sangat terharu. Kami berpelukan, dan saya meninggalkan dia. Saya merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga.”

      Bagaimana keadaan Steve kemudian di lingkungan barunya? “Benar-benar sulit,” katanya. “Di tempat saya yang dulu kawan-kawan saya menyukai saya, tetapi beberapa di antara mereka dengan siapa saya bekerja di sini membuat saya merasa seolah-olah saya bukan teman yang baik. Saya ingat bahwa saya pernah melihat jam sambil menghitung mundur empat jam (itulah perbedaan waktu dengan tempat tinggal saya yang dulu) untuk membayangkan apa yang biasanya dilakukan oleh James dan saya pada saat itu. Saya merasa kesepian.”

      Bila keadaan tidak berjalan dengan baik, kita sering mengingat-ingat masa lampau yang lebih menyenangkan. Namun, Alkitab berkata: “Janganlah mengatakan: ‘Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?’” (Pengkhotbah 7:10) Mengapa nasihat ini diberikan?

      Satu alasan ialah, keadaan dapat berubah menjadi lebih baik. Itulah sebabnya para peneliti sering berbicara mengenai “kesepian sementara.” Jadi, Steve dapat mengatasi rasa kesepiannya. Bagaimana? “Mengungkapkan perasaan saya kepada orang lain yang prihatin ternyata membantu. Kita tidak dapat hidup di masa lampau. Saya memaksa diri untuk bergaul dengan orang-orang lain, dan menunjukkan minat kepada mereka. Saya berhasil; saya mendapat teman-teman baru.” Dan bagaimana dengan James? ‘Saya keliru, perpindahan tidak mengakhiri persahabatan kami. Beberapa hari yang lalu saya meneleponnya. Kami mengobrol terus selama satu jam 15 menit.”

      Kesepian yang Kronis

      Namun, kadang kala rasa kesepian yang menyakitkan terus terasa, dan seolah-olah tidak ada jalan keluarnya. Ronny seorang siswa sekolah menengah atas, bercerita: “Sudah delapan tahun saya bersekolah di kecamatan ini, tapi selama itu saya tidak pernah berhasil mendapatkan satu teman pun! . . .Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan saya dan tidak ada yang peduli. Kadang-kadang saya merasa benar-benar tidak tahan lagi!”

      Seperti Ronny, banyak remaja mengalami apa yang disebut kesepian kronis. Ini lebih serius daripada kesepian sementara. Sebetulnya, menurut para peneliti, kedua keadaan ini “sangat berbeda seperti antara masuk angin dan sakit radang paru-paru.” Tapi sebagaimana radang paru-paru dapat disembuhkan, kesepian kronis juga dapat diatasi. Langkah pertama ialah berupaya mengerti penyebabnya. (Amsal 1:5) Dan Rhonda yang berumur 16 tahun menunjukkan dengan cermat penyebab yang paling umum dari kesepian yang khronis, dengan berkata: “Menurut saya, alasan saya merasa sangat kesepian ialah—ya, kita tidak dapat mempunyai teman bila kita tidak menyukai diri kita sendiri. Dan saya merasa bahwa saya memang tidak terlalu menyukai diri saya.”—Lonely in America (Kesepian di Amerika).

      Kesepian Rhonda datang dari dalam dirinya. Perasaan rendah diri menjadi hambatan yang mencegah dia untuk membuka diri dan mencari teman. Seorang peneliti berkata: “Berbagai pikiran seperti ‘Paras saya jelek,’ ‘Saya tidak menarik,’ ‘Saya tidak berguna,’ adalah tema yang umum dari mereka yang menderita kesepian kronis.” Dengan demikian, kunci untuk menanggulangi kesepian anda bisa jadi ialah membina harga diri anda. (Lihat Pasal 12.) Seraya anda memperkembangkan apa yang disebut Alkitab sebagai “manusia baru” dengan ciri-cirinya berupa keramahan, kerendahan hati, dan kelembutan, harga diri anda pasti akan tumbuh!—Kolose 3:9-12.

      Selain itu, seraya anda belajar menyukai diri anda sendiri, orang-orang lain akan tertarik kepada sifat-sifat anda yang menawan. Tapi sama seperti anda hanya akan dapat melihat keindahan warna bunga setelah kuncupnya mekar sepenuhnya, orang lain hanya akan dapat menghargai sifat-sifat anda sepenuhnya bila anda membuka diri.

      Memulai Percakapan

      ‘Nasihat terbaik bagi orang yang kesepian,’ menurut suatu publikasi baru-baru ini dari Lembaga Kesehatan Mental Nasional A.S. adalah ‘bergaul dengan orang lain.’ Nasihat ini cocok dengan anjuran Alkitab untuk ‘membuka hati selebar-lebarnya’ dan menunjukkan sikap “seperasaan,” atau empati. (2 Korintus 6:11-13, 1 Petrus 3:8) Anda pasti akan berhasil. Menaruh minat kepada orang lain bukan saja akan mengalihkan pikiran anda dari rasa kesepian anda sendiri, tapi juga akan mendorong orang lain untuk menaruh perhatian kepada diri anda.

      Maka, Natalie yang berumur 19 tahun, memutuskan bahwa ia tidak hanya akan duduk dan menunggu sampai ada orang yang menegurnya lebih dulu. ‘Saya harus ramah juga,’ katanya. ‘Kalau tidak, orang akan menganggap saya angkuh.’ Jadi senyumlah lebih dahulu. Orang lain mungkin akan membalas senyuman anda.

      Kemudian, cobalah memulai percakapan. Lillian, yang berumur 15 tahun, mengakui: “Pada waktu untuk pertama kali mendekati orang yang tidak saya kenal, saya benar-benar takut. Saya khawatir bahwa saya tidak akan disambut.” Bagaimana Lillian memulai percakapan? Ia berkata: “Saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sederhana seperti, ‘Anda berasal dari mana?’ ‘Apakah anda kenal si anu?’ Mungkin kami berdua kenal orang yang sama, dan tidak lama kemudian kami sudah asyik mengobrol.” Perbuatan baik dan kemurahan hati juga akan membantu anda membina persahabatan yang berharga.—Amsal 11:25.

      Ingat juga bahwa anda dapat memiliki sahabat yang tidak pernah akan mengecewakan anda. Yesus Kristus pernah mengatakan kepada murid-muridnya: “Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.” (Yohanes 16:32) Yehuwa dapat menjadi sahabat karib anda juga. Cobalah mengenal kepribadian-Nya dengan membaca Alkitab dan mengamati karya ciptaan-Nya. Teguhkan persahabatan dengan Dia melalui doa. Akhirnya, persahabatan dengan Allah Yehuwa merupakan obat yang paling baik untuk mengatasi rasa kesepian.

      Bila sewaktu-waktu anda masih merasa kesepian, jangan khawatir. Perasaan demikian sangat normal. Namun, bagaimana bila perasaan malu yang berlebihan menahan anda untuk menjalin persahabatan dan bergaul dengan orang-orang lain?

      Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi

      ◻ Apakah menyendiri perlu dianggap sesuatu yang buruk? Dapatkah kesendirian menghasilkan manfaat tertentu?

      ◻ Mengapa rasa kesepian kebanyakan bersifat sementara? Apakah pengalaman anda sendiri membenarkan hal ini?

      ◻ Apakah yang dimaksud dengan kesepian kronis, dan bagaimana anda dapat mengatasinya?

      ◻ Dengan cara apa saja anda dapat memulai percakapan dengan orang-orang lain? Cara manakah yang ternyata berhasil bagi anda?

      [Blurb di hlm. 119]

      ‘Nasihat terbaik bagi orang yang kesepian,’ menurut Lembaga Kesehatan Mental Nasional A.S., adalah ‘bergaul dengan orang lain’

      [Gambar di hlm. 116, 117]

      Meskipun sangat jauh dari teman-teman, hubungan dengan mereka masih dapat dipelihara

      [Gambar di hlm. 118]

      Kesendirian dapat menyenangkan

  • Mengapa Saya Begitu Pemalu?
    Pertanyaan Kaum Muda—Jawaban yang Praktis
    • Pasal 15

      Mengapa Saya Begitu Pemalu?

      “SEMUA orang mengatakan bahwa saya cantik,” tulis seorang wanita muda kepada pengasuh rubrik sebuah surat kabar. Namun ia meneruskan: “Berbicara kepada orang lain merupakan masalah berat bagi saya. Bila saya menatap mata seseorang seraya berbicara, wajah saya akan menjadi merah dan kerongkongan saya tersendat. . . . Di tempat kerja, saya mendengar beberapa orang mengatakan bahwa saya sangat ‘angkuh’ karena tidak suka berbicara kepada orang lain. . . . Saya bukan angkuh, saya hanya pemalu.”

      “Penelitian menunjukkan bahwa 80 persen dari antara mereka yang diwawancarai, pernah menjadi pemalu pada suatu masa tertentu dalam kehidupan mereka, dan 40 persen masih menganggap diri mereka pemalu. Memang, sifat pemalu umum di kalangan umat manusia sejak zaman purba. Alkitab bercerita bahwa karena bersifat pemalu Musa menolak menjadi jurubicara Allah di hadapan bangsa Israel. (Keluaran 3:11, 13; 4:1, 10, 13) Rupanya, sang murid Kristen Timotius juga pemalu terutama bila harus berbicara dengan tegas dan menggunakan wewenangnya dengan sepatutnya.—1 Timotius 4:12; 2 Timotius 1:6-8.

      Apa yang Dimaksud dengan Sifat Pemalu

      Malu adalah perasaan rikuh bila berada di antara orang lain—yang tidak dikenal, yang mempunyai wewenang, lawan jenis, atau bahkan teman sebaya. Sifat pemalu adalah sadar diri yang ekstrem yang mempengaruhi korbannya dengan berbagai cara. Beberapa orang menjadi tersipu-sipu; dengan mata menatap ke bawah dan jantung berdebar, mereka merasa sulit untuk berbicara. Beberapa orang lain menjadi salah tingkah dan mulai berbicara tanpa berhenti. Dan orang lain lagi merasa sulit untuk berbicara terus terang dan menyatakan pendapat atau apa yang lebih mereka sukai.

      Tetapi, sebetulnya, pada taraf tertentu ada beberapa segi positif dari sifat pemalu. Perasaan demikian ada kaitan dengan kesahajaan dan kerendahan hati, dan salah satu perkara yang Allah cari serta puji adalah ‘hidup dengan rendah hati di hadapan Dia.’ (Mikha 6:8) Ada manfaat tambahan dalam bersikap bijaksana dan tidak sombong, tidak suka menguasai serta tidak terlalu agresif. Seorang yang pemalu sering dihargai sebagai pendengar yang baik. Tapi bila rasa malu menghambat dan membatasi kita untuk menyadari sepenuhnya kesanggupan diri kita serta mempengaruhi hubungan kita dengan orang lain, pekerjaan, maupun perasaan kita, sudah saatnya kita melakukan sesuatu!

      Pertama-tama, berupayalah mengerti masalahnya. (Amsal 1:5) Sifat pemalu tidak mengungkapkan diri anda yang sesungguhnya; itu hanya menyatakan tingkah laku anda, reaksi anda terhadap situasi tertentu, pola yang anda bentuk dan lebih tandaskan lagi melalui pengalaman anda dengan orang lain. Anda mengira orang lain memberikan penilaian yang negatif mengenai diri anda, bahwa mereka tidak menyukai anda. Anda mengira bahwa orang lain lebih baik atau lebih normal daripada anda. Anda mengira bahwa segala sesuatu akan menjadi tidak beres bila anda berupaya untuk berurusan dengan orang lain. Anda menduga bahwa segala sesuatu akan menjadi buruk, itu memang sering terjadi—karena anda menjadi tegang dan bertindak sesuai dengan apa yang anda percayai.

      Bagaimana Sifat Pemalu Dapat Mempengaruhi Kehidupan Anda

      Dengan menarik diri, tidak berbicara terus terang, atau begitu sibuk dengan diri sendiri sehingga tidak memperhatikan orang lain, anda akan memberi kesan bahwa anda angkuh, tidak ramah, bosan, atau bahkan tidak peduli atau tidak sopan. Bila pikiran anda sedang dipusatkan pada diri sendiri, anda akan sulit berkonsentrasi pada pembicaraan yang sedang berlangsung. Dengan demikian anda kurang memperhatikan informasi yang anda terima. Kemudian apa yang paling anda khawatirkan terjadi—anda tampak bodoh.

      Pada dasarnya, anda telah mengunci diri di balik tembok penjara perasaan malu dan membuang kuncinya. Berbagai kesempatan yang muncul anda biarkan lewat. Anda menerima barang atau keadaan yang sesungguhnya tidak anda sukai—hanya karena anda takut untuk berbicara terus terang dan mengeluarkan pendapat. Anda kehilangan keriangan yang dapat dinikmati karena bertemu dengan orang-orang dan menjalin persahabatan baru atau dalam melakukan hal-hal yang dapat memperindah kehidupan anda. Tetapi orang lain juga rugi. Mereka tidak pernah akan mengenal diri anda yang sesungguhnya.

      Bagaimana Sifat Pemalu Dapat Diatasi

      Dengan waktu dan upaya, tingkah laku dapat diubah. Pertama-tama, berhentilah merasa khawatir bahwa orang lain sedang menilai diri anda. Ia kemungkinan terlalu sibuk memikirkan dirinya sendiri dan apa yang akan ia katakan atau lakukan. Dan bila orang itu secara kekanak-kanakan mengolok-olok anda, sadarilah bahwa problemnya terletak pada dia. “Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi.” (Amsal 11:12) Mereka yang layak dijadikan teman, adalah orang yang tidak menilai diri anda berdasarkan penampilan luar tetapi berdasarkan kepribadian anda yang sesungguhnya.

      Selain itu, cobalah berpikir positif. Tidak ada orang yang sempurna; semua memiliki segi-segi yang menonjol dan kelemahan. Ingatlah bahwa sesuatu dapat dipandang dari berbagai sudut, bahwa selera bisa berbeda. Perbedaan pendapat tidak harus diartikan sebagai penolakan atas diri anda sebagai pribadi.

      Juga, belajarlah menilai orang lain dengan sepantasnya. Seorang pemuda yang dahulu pemalu berkata: “Saya menemukan dua hal mengenai diri saya. . . . Pertama, saya terlalu egosentris. Saya terlalu banyak memikirkan diri saya, khawatir mengenai pandangan orang atas apa yang saya katakan. Kedua, saya menganggap orang lain mempunyai motif buruk—saya tidak mempercayai mereka dan berpikir bahwa mereka akan meremehkan saya.”

      Pemuda itu menghadiri perhimpunan Saksi-Saksi Yehuwa. “Saya mendengar suatu ceramah di sana yang sangat membantu saya,” ia mengingat. ‘Sang pembicara menjelaskan bahwa kasih berarti ramah; bahwa seorang yang memiliki kasih akan memikirkan hal-hal yang terbaik mengenai orang lain, bukan sebaliknya. Jadi saya belajar untuk tidak lagi mencurigai orang lain mempunyai motif buruk. Saya mengatakan kepada diri sendiri: “Mereka akan mengerti, mereka akan bersikap ramah, mereka akan mempunyai timbang rasa.” Saya mulai mempercayai orang-orang. Saya menyadari bahwa akan ada beberapa yang mungkin salah menilai diri saya, tetapi sekarang saya merasa bahwa itu merupakan masalah mereka.’

      “Saya juga menyadari perlunya memperlihatkan kasih lebih dulu dengan cara yang aktif—untuk lebih memberikan diri saya demi faedah orang lain,” ia menjelaskan. “Mula-mula saya mencoba menerapkan hal itu atas mereka yang lebih muda. Kemudian saya mulai mengunjungi orang-orang di rumah mereka. Saya belajar bersikap peka terhadap kebutuhan mereka, untuk berpikir dengan maksud membantu mereka.” Jadi ia menyadari betapa benar nasihat Yesus di Lukas 6:37, 38: “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum. . . . Berilah dan kamu akan diberi. . . . Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

      Cara Mulai

      Jadi belajarlah bersikap ramah—memberi salam dan memulai percakapan. Anda dapat membicarakan hal-hal yang sederhana seperti cuaca. Ingat: Anda hanya menanggung 50 persen dari seluruh tanggung jawab. Sisanya bergantung pada pihak yang lain. Bila anda membuat kesalahan dalam tutur kata anda, jangan merasa diri tidak berguna. Bila orang lain tertawa, belajarlah untuk ikut tertawa bersama mereka. Dengan berkata “Maaf, maksud saya bukan begitu,” anda akan dibantu untuk bersikap tenang dan meneruskan percakapan.

      Pakailah busana yang nyaman dipakai, tapi pastikan agar pakaian anda bersih dan telah disetrika rapi. Perasaan bahwa penampilan anda baik akan mengurangi kekhawatiran dalam hal ini sehingga anda dapat berkonsentrasi pada percakapan yang sedang berlangsung. Berdirilah tegak—namun jangan tegang. Perlihatkan wajah yang ramah dan senyumlah. Peliharalah kontak mata yang bersahabat dan mengangguklah atau utarakan persetujuan mengenai apa yang dikatakan pihak lawan.

      Bila menghadapi situasi yang sulit, seperti memberikan ceramah di hadapan orang-orang lain atau diwawancarai sewaktu melamar pekerjaan, datanglah dengan persiapan sebaik mungkin. Berlatihlah sebelumnya mengenai apa yang akan anda katakan. Problem dalam kecakapan berbicara dapat juga diatasi atau dikurangi melalui pelatihan. Memang dibutuhkan waktu, sama seperti kita ingin menguasai suatu ketrampilan baru. Tetapi seraya anda melihat hasil yang positif, anda akan merasa lebih dianjurkan untuk mencapai sukses.

      Jangan pula mengabaikan bantuan yang dapat Allah berikan. Saul, raja pertama dari bangsa Israel zaman purba, mula-mula sangat pemalu. (1 Samuel, pasal 9 dan 10) Tetapi ketika tiba saatnya untuk bertindak, “berkuasalah Roh Allah atas dia,” dan ia memimpin umatnya kepada kemenangan!—1 Samuel, pasal 11.

      Dewasa ini kaum remaja Kristen mempunyai tanggung jawab untuk membantu orang lain belajar mengenai Allah dan dunia baru berisi kebenaran yang telah Ia janjikan. (Matius 24:14) Membawa kabar baik ini dan mewakili Wewenang tertinggi di alam semesta pasti akan membangkitkan percaya diri dan akan membantu seseorang untuk tidak memusatkan perhatian kepada diri sendiri. Maka anda dapat merasa pasti, bahwa jika anda melayani Allah dengan setia, Ia akan memberkati anda dan membantu anda mengatasi sifat pemalu.

      Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi

      ◻ Apa sebenarnya sifat pemalu itu, dan bagaimana tingkah laku seorang yang pemalu di hadapan orang lain? Apakah ini juga demikian bagi diri anda sampai taraf tertentu?

      ◻ Mengapa orang yang pemalu kehilangan kepercayaan diri bila berada di antara orang lain?

      ◻ Bagaimana sifat pemalu dapat merugikan seseorang?

      ◻ Sebutkan beberapa cara mengatasi sifat pemalu. Apakah dari antara saran-saran ini ada yang berhasil bagi anda?

      [Blurb di hlm. 121]

      Seorang yang pemalu tidak menikmati persahabatan dan kehilangan berbagai kesempatan

      [Kotak di hlm. 124]

      Anda dapat mengatasi sifat pemalu dengan

      Keinginan untuk mengubah diri dan merasa yakin bahwa perubahan demikian dapat dilakukan

      Mengganti pikiran yang negatif dengan tindakan yang positif

      Menetapkan cita-cita yang realistis dan penuh arti bagi diri sendiri

      Mengetahui cara untuk bersikap santai dan mengatasi kekhawatiran

      Melatih diri sebelumnya untuk menghadapi suatu situasi tertentu

      Mendapatkan kepercayaan diri melalui berbagai pengalaman yang sukses secara progresif

      Mengingat bahwa perbedaan pendapat selalu ada dan bahwa orang lain bisa keliru juga

      Pelatihan untuk mempelajari ketrampilan baru dan meningkatkan keahlian yang sudah dimiliki

      Berupaya keras dalam menunjukkan kasih dan membantu orang lain

      Berpakaian yang menarik dan bertindak dengan percaya diri

      Mengandalkan bantuan yang Allah berikan

      Melibatkan diri dalam perhimpunan-perhimpunan Kristen dan membagikan iman kepada orang lain

      [Gambar di hlm. 123]

      Seorang yang pemalu berprasangka bahwa ia dianggap remeh

      [Gambar di hlm. 125]

      Belajarlah bersikap ramah—tersenyum, menyapa orang lain, dan mengadakan percakapan

  • Apakah Normal untuk Berdukacita Seperti yang Saya Lakukan?
    Pertanyaan Kaum Muda—Jawaban yang Praktis
    • Pasal 16

      Apakah Normal untuk Berdukacita Seperti yang Saya Lakukan?

      MITCHELL mengingat kembali hari ketika ayahnya meninggal: “Saya berada dalam keadaan terguncang. . . . Saya terus mengatakan kepada diri sendiri, ‘Ini tidak mungkin benar.’”

      Mungkin seseorang yang anda cintai—orang-tua, kakak, adik, atau teman—telah meninggal. Dan anda tidak saja merasa sedih, tetapi juga marah, bingung, dan takut. Meskipun telah berupaya sekuat tenaga, air mata anda tidak dapat ditahan. Atau rasa pilu tersebut anda pendam di dalam hati.

      Sebenarnya wajar memberikan reaksi secara emosional sewaktu seseorang yang kita kasihi meninggal. Bahkan ketika diberi tahu mengenai kematian seorang teman dekat, Yesus Kristus ‘menangis’ dan hatinya ‘masygul.’ (Yohanes 11:33-36; bandingkan 2 Samuel 13:28-39.) Menyadari bahwa orang-orang lain pernah merasa seperti yang anda alami dapat membantu anda mengatasi rasa kehilangan tersebut dengan lebih baik.

      Menolak Kenyataan

      Mula-mula perasaan anda mungkin seolah-olah mati. Boleh jadi jauh di dalam hati anda berharap bahwa semuanya hanya suatu mimpi buruk, bahwa seseorang akan datang untuk membangunkan anda dan segala sesuatu akan tetap seperti semula. Ibu dari Cindy misalnya, meninggal karena penyakit kanker. Cindy menjelaskan: “Saya tidak benar-benar menerima kenyataan bahwa ia telah tiada. Bila sesuatu terjadi, yang dulu biasa saya bicarakan dengan Ibu, saya mendapati diri berkata, ‘Saya harus memberi tahu Ibu mengenai ini.’”

      Mereka yang kehilangan orang lain cenderung menolak kenyataan bahwa kematian telah terjadi. Mungkin mereka bahkan merasa tiba-tiba melihat orang yang sudah tiada itu di jalan, dalam bis yang lewat, dalam kereta api. Setiap kemiripan sekilas dapat membangkitkan harapan bahwa segala sesuatu mungkin suatu kekeliruan saja. Ingat, Allah telah menciptakan manusia untuk hidup, bukan untuk mati. (Kejadian 1:28; 2:9) Jadi wajar bila kita sulit menerima kematian sebagai kenyataan.

      “Mengapa Ia Tega Berbuat Demikian?”

      Jangan heran bila bahkan ada saat-saat anda merasa agak marah terhadap orang yang telah meninggal. Cindy masih ingat: “Ketika Ibu meninggal, ada saat-saat saya berpikir, ‘Mengapa Ibu tidak memberi tahu kami bahwa Ibu akan meninggal? Ibu pergi begitu saja.’ Saya merasa ditinggalkan.”

      Kematian seorang kakak atau adik bisa juga menimbulkan perasaan serupa. “Tentu tidak masuk akal untuk merasa marah terhadap seseorang yang telah meninggal,” Karen menjelaskan, “tetapi ketika saudara perempuan saya meninggal, demikianlah perasaan saya. Pikiran seperti, ‘Mengapa ia begitu tega mati dan meninggalkan saya sendirian? Mengapa ia begitu tega berbuat demikian?’ terus muncul dalam benak saya.” Beberapa orang merasa marah kepada saudara kandung mereka karena segala kepedihan yang telah ditimbulkan oleh kematiannya. Beberapa orang merasa diabaikan, kemungkinan bahkan tidak senang, karena begitu banyak waktu dan perhatian telah dihabiskan untuk kakak atau adik mereka sebelum ia meninggal. Orang-tua yang merasa terpukul, karena khawatir akan kehilangan anak yang lain lagi, mendadak dapat menunjukkan sikap terlalu melindungi sehingga dapat juga menimbulkan sikap permusuhan terhadap yang telah meninggal.

      “Andai Kata Saja . . . ”

      Rasa bersalah juga sering sebagai reaksi. Berbagai pertanyaan dan keraguan muncul dalam pikiran. ‘Dapatkah kami berbuat lebih banyak lagi pada waktu itu? Apakah kami seharusnya berkonsultasi dengan dokter lain?’ Selain itu muncul pikiran andai kata saja. ‘Andai kata saja kami tidak begitu banyak bertengkar.’ ‘Andai kata saja saya lebih ramah.’ ‘Andai kata saja saya yang pergi ke toko dan bukan dia.’

      Mitchell berkata: “Seharusnya saya lebih sabar dan berpengertian terhadap Ayah. Atau mengerjakan lebih banyak hal di rumah untuk meringankan bebannya pada saat-saat ia pulang.” Dan Elisa menyatakan: “Pada waktu Ibu jatuh sakit dan meninggal dengan begitu mendadak, masih ada banyak perasaan yang belum terselesaikan di antara dia dan saya. Saya sekarang merasa sangat bersalah. Saya teringat hal-hal yang seharusnya saya katakan kepadanya, hal-hal yang seharusnya tidak saya katakan, [dan] semua kesalahan yang telah saya lakukan.”

      Anda mungkin bahkan menyalahkan diri sendiri atas apa yang telah terjadi. Cindy ingat: “Saya merasa bersalah atas setiap pertengkaran di antara kami, atas semua perbuatan saya yang telah mencemaskan Ibu. Saya merasa bahwa semua kesedihan yang saya timpakan ke atasnya bisa jadi telah membuat dia sakit.”

      “Apa yang Harus Saya Katakan kepada Kawan-Kawan Saya?”

      Seorang janda berkata tentang putranya: “Jonny tidak suka memberi tahu anak-anak lain bahwa ayahnya telah meninggal. Kejadian itu membuatnya malu dan juga marah, hanya karena ia merasa malu.”

      Buku Death and Grief in the Family (Kematian dan Dukacita dalam Keluarga) menjelaskan: “‘Apa yang harus saya katakan kepada kawan-kawan saya?’ merupakan pertanyaan yang sangat penting bagi banyak saudara kandung [kakak atau adik yang masih hidup]. Sering kali, saudara kandung itu merasa bahwa kawan-kawan mereka tidak mengerti apa yang mereka rasakan. Upaya untuk mengungkapkan arti dari perasaan kehilangan itu bisa disambut dengan tatapan kosong dan pandangan penuh teka-teki. . . . Maka, saudara kandung yang telah ditinggalkan dapat merasa diri ditolak, terpencil, dan kadang-kadang bahkan aneh.”

      Meskipun demikian, sadarilah bahwa orang lain kadang kala semata-mata tidak tahu apa yang harus mereka katakan kepada teman yang sedang berdukacita—maka mereka diam saja. Perasaan kehilangan yang anda alami dapat juga mengingatkan mereka bahwa mereka juga bisa kehilangan orang yang mereka kasihi. Karena tidak ingin diingatkan kepada kemungkinan ini, mereka mungkin menjauhkan diri dari anda.

      Menghadapi Rasa Sedih dengan Tabah

      Pengertian bahwa rasa sedih yang anda alami adalah normal merupakan bantuan besar untuk mengatasinya. Dengan terus menolak kenyataan yang ada anda hanya akan memperpanjang masa dukacita anda. Kadang kala ada keluarga yang tetap membiarkan sebuah tempat kosong di meja makan untuk orang yang telah tiada, seolah-olah ia masih akan muncul untuk ikut makan bersama. Tetapi ada suatu keluarga yang memutuskan untuk bertindak berbeda. Kata si ibu: “Kami tidak pernah duduk di meja dapur dalam urutan yang sama lagi. Suami saya pindah ke kursi David, dan hal itu membantu mengisi kekosongan.”

      Ada baiknya juga untuk menyadari bahwa meskipun ada perkara-perkara yang seharusnya atau tidak sepantasnya anda utarakan atau lakukan, hal-hal demikian biasanya bukan penyebab kematian orang yang anda kasihi. Lagi pula, “kita semua sering membuat kesalahan.”—Yakobus 3:2.

      Mengungkapkan Perasaan kepada Orang Lain

      Dr. Earl Grollman menganjurkan: “Sekedar mengakui adanya berbagai emosi yang saling bertentangan dalam diri anda, tidak cukup. Anda perlu menanganinya secara terbuka. . . . Kinilah waktunya untuk mengungkapkan perasaan anda.” Ini bukan saatnya untuk menyendiri.—Amsal 18:1.

      Dr. Grollman berkata bahwa dengan menolak perasaan sedih, “anda hanya akan memperpanjang penderitaan anda serta memperlambat proses pemulihan.” Ia menyarankan: “Carilah seorang pendengar yang baik, sahabat yang akan mengerti bahwa perasaan anda merupakan reaksi yang normal terhadap rasa sedih yang mendalam.” Orang-tua, kakak, adik, seorang teman, atau penatua sidang Kristen sering kali dapat menjadi sumber bantuan yang sejati.

      Dan bagaimana jika anda merasa ada dorongan untuk menangis? Dr. Grollman menambahkan: “Bagi beberapa orang, air mata merupakan terapi terbaik untuk mengatasi ketegangan emosional, bagi pria maupun wanita serta anak-anak. Menangis merupakan cara alamiah untuk mengurangi kesedihan dan menyingkirkan kepedihan.”

      Mempererat Hubungan sebagai Keluarga

      Orang-tua anda dapat pula menjadi sumber bantuan yang besar pada saat-saat anda merasa kehilangan—dan anda dapat membantu mereka juga. Misalnya, Jane dan Sarah, dari Inggris, kehilangan saudara laki-laki mereka Darrall yang berumur 23 tahun. Bagaimana mereka mengatasi dukacita mereka? Jane menjawab: “Karena kami berempat, saya bepergian dan melakukan segala sesuatu bersama Ayah, sedangkan Sarah bersama Ibu. Dengan cara demikian kami tidak sendirian.” Jane kemudian mengingat-ingat lagi: “Saya belum pernah melihat Ayah menangis sebelumnya. Ia melakukannya beberapa kali, dan dalam hal tertentu, itu baik, dan bila mengenangnya kembali, saya merasa senang sekarang bahwa saya dapat mendampingi dia untuk menghiburnya.”

      Harapan yang Menguatkan

      Remaja David, dari Inggris, kehilangan kakak perempuannya Janet yang berumur 13 tahun, akibat penyakit Hodgkin. Ia berkata: “Salah satu hal yang sangat bermanfaat bagi saya adalah sebuah ayat yang dikutip dalam khotbah pemakaman. Ayat itu berbunyi: ‘Karena Ia [yaitu Allah] telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukanNya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti [“jaminan,” NW] tentang hal itu dengan membangkitkan Dia [yaitu Yesus] dari antara orang mati.’ Pembicara menekankan kata ‘jaminan’ sehubungan dengan kebangkitan. Hal itu merupakan sumber kekuatan yang besar bagi saya setelah pemakaman selesai.”—Kisah 17:31; lihat juga Markus 5:35-42; 12:26,27; Yohanes 5:28, 29; 1 Korintus 15:3-8.

      Harapan kebangkitan dalam Alkitab tidak akan melenyapkan rasa sedih. Anda tidak akan pernah melupakan orang yang anda kasihi. Namun, banyak orang telah mendapatkan penghiburan yang sejati dari janji-janji Alkitab dan sebagai hasilnya, secara berangsur mulai pulih dari kepedihan akibat kehilangan orang yang mereka kasihi.

      Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi

      ◻ Apakah menurut anda wajar untuk berdukacita atas meninggalnya orang yang anda kasihi?

      ◻ Berbagai emosi apa dapat dialami seseorang yang berdukacita, dan mengapa?

      ◻ Dengan berbagai cara apa saja seorang muda yang berdukacita dapat mulai mengatasi perasaannya?

      ◻ Bagaimana anda dapat menghibur seorang kawan yang telah kehilangan orang yang ia kasihi?

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan