-
Sekolah Lagi—Mengapa?Sedarlah!—1994 | 8 Agustus
-
-
Sekolah Lagi—Mengapa?
UPAYA Robert mencari pekerjaan merupakan pengalaman yang mengecewakan yang berlangsung selama tiga tahun. Akhirnya, pada usia 21 tahun, ia diterima bekerja sebagai penasihat di perkemahan musim panas. Meskipun merasa sedikit lega sekarang, Robert telah dibuat lelah oleh pencarian pekerjaan yang membosankan. ”Orang-tua kita benar-benar tidak mengerti,” katanya. ”Zaman sekarang, mencari pekerjaan jauh lebih sulit.”
Seperti halnya Robert, tak terhitung banyaknya anak muda yang baru lulus dari sekolah memasuki angkatan kerja setiap tahun. Mereka punya harapan. Mereka punya rencana. Tetapi, semakin banyak anak muda mendapati bahwa mereka tidak bisa memperoleh pekerjaan yang telah mereka harapkan.
Maka, banyak anak muda sedang menambah pendidikan mereka.a ”Jika tahun-tahun Tujuh Puluhan memberikan isyarat negatif tentang manfaat pendidikan,” kata majalah Fortune, ”tahun-tahun Delapan Puluhan mengguncang masyarakat dengan isyarat yang berbeda: Raih gelar sarjana atau rasakan sendiri akibatnya.”
Mengapa Menjadi Masalah?
Mengapa pendidikan tambahan sering kali dibutuhkan? Pertama-tama, sejumlah besar pekerjaan dewasa ini membutuhkan tingkat keterampilan yang lebih tinggi. ”Kasir bank yang kerjanya hanya melayani deposito telah digantikan oleh ATM (Mesin Kasir Otomatis),” kata seorang pejabat Departemen Tenaga Kerja AS. ”Sekarang, [kasir] harus memberikan informasi kepada nasabah tentang tiga jenis deposito pasar modal dan menjelaskan kepada nasabah mengapa jenis yang satu lebih baik daripada jenis yang lain.” William D. Ford, ketua Komisi Pendidikan dan Perburuhan Kongres AS, berkata, ”Pekerjaan-pekerjaan yang sederhana sudah tidak ada lagi.”
Kedua, ada yang berpendapat bahwa sekolah tidak memberikan pendidikan yang memadai bagi para siswa. Mereka mengatakan bahwa penekanan pada masalah-masalah penyalahgunaan obat bius, AIDS, dan pencegahan kehamilan mengalahkan pelajaran membaca, menulis, dan berhitung. Dr. Robert Appleton, seorang guru selama 27 tahun, mengeluh bahwa sistem pendidikan kelihatannya telah menjadi ”lembaga pelayanan sosial” yang melakukan tugas berat ”mengurus masalah-masalah yang dahulu dianggap tidak ada sangkut-pautnya dengan peranan sekolah”.
Sebagai akibat dari kegagalan beberapa sekolah dalam mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan, banyak lulusan sekolah menengah tidak bisa mencari nafkah bagi diri mereka sendiri. ”Mereka belum pernah diajar untuk bekerja,” kata Joseph W. Schroeder, manajer sebuah kantor dari Departemen Tenaga Kerja Florida. ”Pada waktu mengurus kaum muda ini, masalah yang tidak henti-hentinya dikeluhkan para majikan kepada saya adalah bahwa mereka tidak dapat membaca dan menulis dengan baik. Mereka tidak dapat menulis surat lamaran pekerjaan.”
Alasan ketiga mengapa pendidikan tambahan mungkin dibutuhkan adalah bahwa di banyak negara terdapat kelebihan jumlah lulusan perguruan tinggi yang membanjiri pasaran tenaga kerja. ”Lulusan perguruan tinggi melebihi jumlah permintaan akan keterampilan mereka,” kata The New York Times. ”Mempertimbangkan adanya kelebihan ini,” laporan itu menambahkan, ”para majikan tidak mau mengambil risiko dengan mempekerjakan lulusan sekolah menengah.”
Agar memenuhi syarat bagi jenis pekerjaan yang dibutuhkan untuk menafkahi diri sendiri secara memadai, banyak yang bersekolah lagi. Di Amerika Serikat, 59 persen melanjutkan pendidikan mereka sebagai tambahan sekolah menengah. Ini merupakan kenaikan yang besar yaitu lebih dari 50 persen angka yang bertahan selama puluhan tahun.
Kecenderungan serupa juga didapati di negara-negara lain. Misalnya, sejak tahun 1960-an, Inggris telah mengalami kenaikan yang berarti dalam proporsi siswa yang menempuh pendidikan sebagai tambahan batas wajib belajar. Dalam satu tahun belakangan ini, Australia memiliki 85 persen lulusan sekolah menengah yang melamar ke berbagai universitas dan perguruan tinggi. Kira-kira 95 persen pelajar di Jepang menempuh ujian untuk mendapatkan pendidikan lanjutan selama tiga tahun, agar mereka dapat mempersiapkan diri untuk mencari pekerjaan atau masuk ke perguruan tinggi.
Akan tetapi, pendidikan tambahan tidak selalu memberikan keuntungan yang diinginkan. Apa untung-ruginya?
[Catatan Kaki]
a Sebutan bagi tingkat-tingkat pendidikan berbeda di tiap-tiap negara. Dalam artikel-artikel ini, ”sekolah menengah” merupakan tingkat pendidikan tertinggi yang diwajibkan oleh undang-undang. ”Perguruan tinggi”, ”universitas”, ”politeknik”, dan ”akademi” memaksudkan bentuk-bentuk pendidikan tambahan yang tidak diwajibkan oleh undang-undang namun dapat ditempuh kalau dihendaki.
-
-
Menempuh Pendidikan Tambahan atau Tidak?Sedarlah!—1994 | 8 Agustus
-
-
Menempuh Pendidikan Tambahan atau Tidak?
SEBERAPA banyakkah pendidikan dibutuhkan untuk mencari nafkah? Jawabannya beragam dari satu ke lain negara. Tampaknya di banyak negara tingkat pendidikan yang dibutuhkan untuk menafkahi diri sendiri lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Dalam keadaan-keadaan tertentu, tingkat pendidikan minimum yang diwajibkan undang-undang tidak cukup.
Tidak diragukan, itulah sebabnya mengapa semakin banyak lulusan sekolah menengah kembali ke sekolah daripada langsung mencari pekerjaan. Memang, imbalannya tampak menggiurkan. The New York Times mengutip laporan Economic Policy Institute yang mendapati bahwa ”pekerja pria yang hanya memiliki ijazah sekolah menengah mengalami penurunan nilai upah sebesar 7,4 persen dari tahun 1979 ke tahun 1987, sementara nilai upah pria lulusan perguruan tinggi meningkat 7 persen”.
Lulusan perguruan tinggi menerima gelar yang dapat membuka peluang untuk mendapatkan kesempatan kerja. William B. Johnston, peneliti senior di Hudson Institute, berkata, ”Gelar perguruan tinggi, atau bahkan bukti bahwa seseorang pernah kuliah, telah menjadi syarat utama untuk mendapatkan pekerjaan di negeri ini.”
Di lain pihak, harus diakui bahwa banyak lulusan perguruan tinggi berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan, dan mereka tidak kebal terhadap PHK. ”Mayoritas teman yang lulus bersama-sama dengan saya belum mendapat pekerjaan,” kata Karl yang berusia 22 tahun. Jim, 55 tahun, lulus dengan pujian dari universitas terkenal namun di-PHK pada bulan Februari 1992. Ijazahnya tidak menyelamatkan dia, juga tidak dapat membantunya mendapatkan pekerjaan yang mantap. ”Tempat berpijak Anda berubah menjadi pasir,” katanya.
Seperti Jim, cukup banyak lulusan perguruan tinggi telah mendapati diri mereka dalam apa yang disebut U.S.News & World Report sebagai ”api penyucian pekerja kerah putih”—terlalu muda untuk pensiun, terlalu tua untuk dipekerjakan oleh perusahaan lain.
Oleh karena itu, meskipun mungkin pendidikan perguruan tinggi ada keuntungannya, jelaslah bahwa itu bukan obat yang ampuh. Itu pun bukan satu-satunya pilihan. Herbert Kohl menulis dalam The Question Is College, ”Ada banyak orang berhasil yang tidak kuliah dan banyak pekerjaan yang layak yang tidak membutuhkan gelar perguruan tinggi.” Suatu perusahaan, misalnya, mempekerjakan orang-orang yang bukan lulusan perguruan tinggi untuk menduduki jabatan-jabatan yang sering dipegang oleh lulusan perguruan tinggi. Sebaliknya daripada mencari gelar, perusahaan mencari pelamar yang memperlihatkan kesanggupan untuk bekerja sebaik-baiknya. ”Apabila kami menemukan orang semacam itu,” kata seorang juru bicara perusahaan, ”kami beranggapan bahwa kami dapat mengajar [dia] keterampilan-keterampilan kerja tertentu.”
Ya, banyak orang telah sanggup menafkahi diri sendiri dan keluarga mereka tanpa memiliki gelar perguruan tinggi. Beberapa dari antara mereka telah mengambil rangkaian mata pelajaran di berbagai akademi, politeknik, atau program perguruan tinggi dua tahun, dengan investasi biaya dan waktu yang paling sedikit.a Yang lain-lain telah mengembangkan keterampilan atau kejuruan tanpa mengikuti suatu bentuk pelatihan khusus apa pun. Dengan menjaga reputasi yang dapat diandalkan, mereka telah berhasil mempertahankan pekerjaan yang mantap.
Pandangan yang Seimbang
Tentu saja, tidak ada bentuk pendidikan—termasuk perguruan tinggi atau pendidikan lanjutan apa pun—yang menyediakan jaminan keberhasilan. Lagi pula, Alkitab dengan saksama menyatakan bahwa ”adegan pentas dunia ini sedang berubah”. (1 Korintus 7:31, NW) Apa yang dituntut hari ini bisa jadi dianggap tidak berguna di kemudian hari.
Jadi, seseorang yang mempertimbangkan untuk mengikuti pendidikan tambahan hendaknya mempertimbangkan dengan saksama untung-ruginya. ’Sanggupkah saya menyediakan biayanya? Lingkungan dan pergaulan macam apa yang akan saya hadapi? Apakah bidang ilmu itu memberikan pelatihan praktis yang akan memungkinkan saya menafkahi diri sendiri? Apakah itu akan membantu saya menafkahi keluarga jika di kemudian hari saya menikah?’ Orang-tua yang mendukung hendaknya dapat memberikan nasihat yang berharga selaras dengan tanggung jawab yang diberikan Alkitab kepada mereka. (Ulangan 4:10; 6:4-9; 11:18-21; Amsal 4:1, 2) Jika Anda mempertimbangkan keuntungan finansial dari pendidikan lanjutan ataupun segi lainnya, kata-kata Yesus patut diperhatikan, ”Siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?”—Lukas 14:28.
Memang, mengambil pendidikan tambahan atau tidak, merupakan suatu keputusan yang harus dipertimbangkan dengan saksama. Seorang Kristen selalu mencamkan kata-kata Yesus di Matius 6:33, ”Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya [Bapa surgawimu], maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Di kalangan orang-orang Kristen sejati, mereka yang tidak menempuh pendidikan tambahan tidak dipandang sebelah mata atau diperlakukan sebagai kaum yang lebih rendah, demikian pula mereka yang berpendidikan tinggi hendaknya tidak diasingkan atau tidak dicap sebagai golongan cendekiawan. Rasul Paulus menulis, ”Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.”—Roma 14:4.
Yesus mencerminkan pandangan yang seimbang ini. Ia tidak merendahkan orang-orang ”biasa dan tidak terpelajar”, ia juga tidak menahan pemilihan Paulus yang berpendidikan tinggi menunaikan pekerjaan penginjilan yang penuh kuasa. (Kisah 4:13; 9:10-16) Dalam keadaan apa pun, pendidikan hendaknya diletakkan pada tempatnya, sebagaimana diperlihatkan dalam artikel berikut ini.
[Catatan Kaki]
a Program pendidikan tambahan berbeda di masing-masing tempat. Sekolah, perpustakaan, dan pelayanan penempatan tenaga kerja pemerintah merupakan sumber yang berharga untuk mengetahui apa yang tersedia di daerah Anda.
[Kotak di hlm. 13]
Pendidikan Tambahan
Menara Pengawal terbitan 1 November 1992, menyatakan sehubungan Saksi-Saksi Yehuwa dan dinas sepenuh waktu, ”Kecenderungan umum di banyak negeri adalah bahwa tingkat pendidikan yang dituntut untuk memperoleh pendapatan yang memadai kini lebih tinggi daripada beberapa tahun yang lalu. . . . Sulit mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang memadai setelah menyelesaikan hanya pendidikan sekolah yang paling rendah yang dituntut oleh undang-undang . . .
”Apa yang dimaksud dengan ’pendapatan yang memadai’? . . . Pendapatan mereka dapat disebut ’sepantasnya’, atau ’memuaskan’, bila apa yang mereka peroleh memungkinkan mereka untuk hidup selayaknya seraya memberikan mereka cukup waktu serta tenaga untuk menunaikan pelayanan Kristen mereka.”
Jadi, Menara Pengawal mengatakan, ”Hendaknya tidak dibuat peraturan yang kaku untuk mendukung atau menentang pendidikan tambahan.”
-
-
Meletakkan Pendidikan pada TempatnyaSedarlah!—1994 | 8 Agustus
-
-
Meletakkan Pendidikan pada Tempatnya
SEORANG seniman yang terampil tahu caranya memberi efek kedalaman pada lukisannya. Detail latar depan diberi warna yang lebih mencolok dibanding latar tengah dan latar belakang. Hal ini sedikit banyak serupa dengan prioritas kita dalam kehidupan. Ada dari antaranya yang patut lebih diutamakan dibandingkan yang lainnya.
Yesus Kristus berkata, ”Berbahagialah mereka yang sadar akan kebutuhan rohani mereka, karena kerajaan surga milik mereka.” (Matius 5:3, NW) Oleh karena itu, nilai-nilai rohani hendaknya berada di depan. Sebaliknya, harta materi hendaknya dipandang tidak terlalu penting.
Di mana peranan pendidikan dalam hal ini? Pastilah pendidikan bukan suatu segi yang tidak berarti bagi seorang Kristen. Tingkat tertentu dari pendidikan duniawi biasanya diperlukan untuk memenuhi kewajiban Alkitab yang disampaikan oleh rasul Paulus, ”Jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.” (1 Timotius 5:8) Lagi pula, amanat yang disampaikan Yesus kepada para pengikutnya, untuk menjadikan murid, ’mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang [ia] perintahkan’, menuntut agar seseorang ’mendapatkan pengetahuan’ dan kemudian dengan efektif mengajar orang-orang lain.—Matius 28:19, 20; Yohanes 17:3; Kisah 17:11; 1 Timotius 4:13.
Namun, pendidikan harus diletakkan pada tempatnya. Itu hendaknya tidak dikejar semata-mata demi status kesarjanaan yang terhormat atau demi meraih gelar yang bergengsi. Apabila mengejar pendidikan diprioritaskan lebih dari yang semestinya, akibatnya adalah frustrasi. Memang, pendidikan mungkin memberikan beberapa keuntungan materi untuk sementara waktu. Namun seperti yang dinyatakan Raja Salomo, ”Kamu bekerja untuk mendapatkan sesuatu dengan segala hikmat, pengetahuan, dan keahlianmu, dan kemudian kamu harus meninggalkan itu semua bagi seseorang yang tidak harus bekerja untuk mendapatkannya.”—Pengkhotbah 2:21, Today’s English Version.
Saksi-Saksi Yehuwa berminat pada pendidikan, bukan asal mendapat pendidikan saja, melainkan untuk meningkatkan daya gunanya dalam dinas Allah atau untuk menafkahi diri sendiri. Mengingat pelayanan mereka merupakan pekerjaan yang tidak mencari laba, banyak yang harus mengandalkan pekerjaan duniawi untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Ini khususnya dapat merupakan tantangan bagi para rohaniwan sepenuh waktu dari Saksi-Saksi Yehuwa, yang disebut perintis. Mereka harus memelihara jadwal yang padat dalam pelayanan sambil menyediakan dukungan finansial bagi diri sendiri dan keluarga mereka apabila telah menikah.a—Amsal 10:4.
Setelah menimbang berbagai faktor yang terlibat, beberapa Saksi-Saksi Yehuwa telah memilih untuk mengikuti pendidikan tambahan. Tentu saja, mereka harus memperlihatkan kewaspadaan untuk tetap meletakkan pendidikan pada tempatnya. Apa yang telah membantu mereka dalam melakukan ini? ”Beberapa faktor membantu saya,” kata seorang pemuda Brasil bernama John. ”Bahkan meskipun saya harus belajar pada malam hari, saya tidak melalaikan perhimpunan-perhimpunan Kristen. Saya juga memberitahukan secara terus terang kepada teman-teman sekelas saya sejak awal bahwa saya adalah seorang Saksi-Saksi Yehuwa.”
Eric, juga dari Brasil, memanfaatkan kesempatan untuk berbicara kepada orang-orang lain tentang kepercayaannya sewaktu melanjutkan pendidikannya. ”Saya menganggap sekolah sebagai daerah khusus bagi saya,” katanya. ”Saya dapat memimpin pengajaran Alkitab dengan beberapa guru dan murid, lima dari antaranya sekarang telah dibaptis, dua dari antara mereka melayani sebagai penatua.”
Richard melanjutkan sekolahnya secara penggal waktu untuk meraih gelar dalam bidang gambar rancang bangun. ”Pendidikan saya membantu untuk mendapatkan pekerjaan dalam menafkahi saya dan istri saya,” katanya, ”namun itu juga membuka peluang lain. Sewaktu saya bepergian ke proyek konstruksi Balai Kerajaan yang dibangun secara kilat dan berbicara kepada mereka yang mengawasi, saya mengetahui bahwa terdapat kebutuhan akan juru gambar.b Pendidikan saya sekarang dimanfaatkan dalam proyek ini. Lagi pula, saya dan istri saya berharap akhirnya untuk dapat melayani di kantor pusat sedunia atau di proyek-proyek konstruksi internasional Saksi-Saksi Yehuwa.”
Pada waktu yang sama, banyak Saksi-Saksi Yehuwa telah menyambut tantangan untuk menafkahi diri sendiri dan keluarga mereka tanpa mengikuti pendidikan ekstra. ”Saya menafkahi diri sendiri dengan melakukan pekerjaan rumah tangga dua kali seminggu,” demikian penjelasan Mary. ”Sungguh ironis, penghasilan saya per jam bisa lebih besar dibandingkan beberapa orang yang untuknya saya bekerja. Tetapi saya memandang pekerjaan saya sebagai sarana untuk mencari nafkah. Itu memungkinkan saya tetap berada dalam pekerjaan perintis, dan saya tidak pernah menyesali hal itu.”
Steve merasakan hal serupa. ”Ketika saya mulai merintis,” katanya, ”ada yang bertanya kepada saya, ’Kamu mau kerja apa jika suatu hari nanti kamu menikah dan mempunyai anak? Apakah nantinya kamu sanggup mencukupi kebutuhan keluargamu?’ Seraya waktu berjalan, saya telah melakukan begitu banyak pekerjaan yang berbeda-beda sehingga saya mendapat sangat banyak pengalaman dalam berbagai bidang. Sekarang setelah saya beristri, saya menyadari bahwa penghasilan saya jauh lebih besar dibandingkan beberapa lulusan perguruan tinggi yang bekerja di perusahaan tempat saya bekerja.”
Ayah yang tidak seiman telah menuntut anak-anak yang masih di bawah umur untuk mengambil pendidikan tambahan, dan mereka memiliki wewenang berdasarkan Alkitab untuk melakukan ini. Akan tetapi, dalam kasus demikian, dan selaras dengan Matius 6:33, kaum muda dapat memilih mata pelajaran yang akan membantu mereka menjadi lebih berguna dalam dinas Yehuwa atau bahkan memungkinkan mereka untuk terjun dalam dinas sepenuh waktu sambil bersekolah.
Pendidikan Terbesar
Tidak soal status pendidikan mereka, semua Saksi-Saksi Yehuwa memiliki persamaan. Mereka menyadari bahwa pendidikan paling penting yang tersedia dewasa ini bersumber pada Firman Allah, Alkitab. Yohanes 17:3 mengatakan, ”Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Tidak soal pendidikan duniawi apa pun yang didapatkan seorang Kristen, memperoleh pengetahuan akan Yehuwa dan Putra-Nya, Yesus, harus menjadi prioritas.
Pola ini ditetapkan oleh orang-orang Kristen abad pertama. Menahem ”diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes”, namun ia berada dan aktif di kalangan para nabi dan guru di sidang Antiokhia. (Kisah 13:1) Demikian pula, Paulus mengenyam apa yang dewasa ini sebanding dengan pendidikan universitas. Memang demikian, setelah menjadi seorang Kristen, ia menaruh pelatihannya pada tempatnya. Sebaliknya daripada menggunakan pendidikan duniawinya untuk meninggikan diri atas orang-orang lain, ia menggunakan pengetahuan sosiologi, hukum, dan sejarah untuk mengabar kepada berbagai macam orang.—Kisah 16:37-40; 22:3; 25:11, 12; 1 Korintus 9:19-23; Filipi 1:7.
Orang-orang Kristen abad pertama tidak dikenal terutama karena status pendidikan mereka. Banyak dari antara mereka adalah ”orang biasa yang tidak terpelajar”, tidak mengenyam pelatihan di sekolah para rabi. Namun ini tidak mengartikan bahwa mereka tidak terdidik. Sebaliknya, pria dan wanita ini diperlengkapi untuk membela iman mereka—kesanggupan yang membuktikan adanya pendidikan yang kokoh landasannya.—Kisah 4:13.
Oleh karena itu, semua orang Kristen sangat berminat akan pendidikan. Pada waktu yang sama, mereka berupaya untuk ”memastikan perkara-perkara yang lebih penting”, meletakkan pendidikan—dan upaya-upaya lainnya—pada tempat yang sepatutnya.—Filipi 1:9, 10, NW.
[Catatan Kaki]
a Patut diperhatikan bahwa rasul Paulus yang berpendidikan tinggi memilih untuk menafkahi dirinya sendiri dalam pelayanan dengan membuat tenda, suatu keterampilan yang kemungkinan dipelajarinya dari ayahnya. Membuat tenda bukanlah pekerjaan yang mudah. Kain bulu kambing yang digunakan, yang disebut cilicium, cenderung kaku dan kasar, sehingga sulit untuk dipotong dan dijahit.—Kisah 18:1-3; 22:3; Filipi 3:7, 8.
b Istilah ”dibangun secara kilat” memaksudkan metode konstruksi yang sangat terorganisasi yang dikembangkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Para sukarelawan yang bekerja di proyek ini tidak dibayar; mereka memberikan dengan cuma-cuma waktu dan sumber daya mereka. Setiap tahun di Amerika Serikat, sekitar 200 Balai Kerajaan baru dibangun, dan 200 balai lainnya direnovasi dengan menggunakan metode ini.
[Kotak di hlm. 15]
Rekomendasi yang Patut Diterima
Setahun sebelum lulus dari sekolah menengah, Matthew telah berpikir serius tentang bagaimana caranya ia dapat menafkahi diri sendiri sambil mengejar karier sebagai rohaniwan sepenuh waktu dari Saksi-Saksi Yehuwa. Setelah mempertimbangkan masalah ini dengan sungguh-sungguh, Matthew dan orang-tuanya merasa bahwa pendidikan lanjutan akan menjadi modal untuk mencapai cita-citanya. Dengan demikian, ia mengajukan permohonan untuk mendapat beasiswa. Guru pembimbing Matthew menyertakan surat rekomendasi, dengan menyatakan:
”Selama dua setengah tahun yang telah berlalu, saya senang menjadi guru pembimbing sekaligus sahabat bagi Matt. Matt adalah seorang yang sangat kukuh pribadinya . . . Ia memiliki iman yang dalam dan keyakinan yang kuat, yang mempengaruhi pergaulan dan tindakannya.
”Selama bertahun-tahun, Matthew telah dilatih untuk melakukan pekerjaan kerohanian. Seorang rohaniwan dari agamanya tidak menerima imbalan keuangan. Pekerjaan itu benar-benar merupakan pekerjaan kasih. Sebagai pemuda yang tidak mementingkan diri, Matt bijaksana dan timbang rasa. Beasiswa ini dapat menjadi sarana penunjang bagi pemuda yang saleh ini untuk meneruskan pelatihannya dan pekerjaan sukarelanya.
”Berbicara tentang pekerjaan sukarela dan pelayanan kemasyarakatan, Matt telah membaktikan waktu yang tidak terhitung banyaknya dalam pekerjaan pengabaran dari rumah ke rumah pada akhir pekan dan seusai sekolah serta selama musim panas. Ia bekerja di lingkungan ini dan menghadapi berbagai ragam orang. Matt telah memperlihatkan kesanggupan dan keterampilan kepemimpinan dengan memimpin pengajaran Alkitab dengan kaum muda maupun dengan yang lebih tua. . . . Ia dapat menggugah orang dan membantu mereka mencapai kesanggupan yang sesungguhnya. Di dalam kelas, para guru telah berkomentar bahwa ia selalu membawa pengaruh positif. Ia memimpin diskusi di kelas dan merupakan penyanggah yang mahir. . . .
”Matt adalah salah seorang pemuda terbaik yang pernah saya bimbing. Ia sangat disukai dan direspek oleh teman-teman sebaya serta gurunya. Integritasnya benar-benar kaliber tinggi.”
[Gambar di hlm. 17]
Saksi-Saksi Yehuwa berminat akan pendidikan, terutama untuk menjadi hamba Allah yang lebih efektif
-