-
Kehidupan Setelah Kematian—Apa yang Dipercayai Orang-Orang?Menara Pengawal—1999 | 1 April
-
-
Kehidupan Setelah Kematian—Apa yang Dipercayai Orang-Orang?
”Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi?”—AYUB 14:14.
1, 2. Bagaimana banyak orang berupaya mendapatkan penghiburan sewaktu ditinggal mati oleh orang yang mereka kasihi?
DI SEBUAH rumah duka di New York City, handai taulan dan keluarga berjalan dengan tenang menghampiri peti jenazah yang terbuka. Di sana, terbaring seorang pemuda berusia 17 tahun yang meninggal karena digerogoti kanker. Disertai derai air mata, sang ibu yang berdukacita berkata berulang-ulang, ”Tommy lebih bahagia sekarang. Allah ingin agar Tommy berada di surga bersamanya.” Itulah ajaran yang harus dipercayainya selama ini.
2 Sekitar 11.000 kilometer dari sana, di Jamnagar, India, putra sulung dari tiga bersaudara menyulut tumpukan kayu pembakaran jenazah ayah mereka. Diiringi gemeretak api, seorang Brahmana melantunkan mantra-mantra berbahasa Sanskerta yang berarti, ”Semoga jiwa yang tidak pernah mati melanjutkan upayanya untuk menyatu dengan realitas akhir.”
3. Pertanyaan apa saja yang telah dipikirkan orang-orang selama berabad-abad?
3 Kematian merupakan kenyataan hidup yang dapat menimpa siapa saja. (Roma 5:12) Sewajarnyalah kita bertanya-tanya apakah kematian merupakan akhir dari segalanya. Sewaktu merenungkan siklus alami tumbuh-tumbuhan, Ayub, seorang hamba Allah Yehuwa yang setia di zaman dahulu, menyatakan pengamatannya, ”Bagi pohon masih ada harapan: apabila ditebang, ia bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh.” Namun, bagaimana dengan manusia? ”Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi?” tanya Ayub. (Ayub 14:7, 14) Selama berabad-abad, orang-orang dari segala lapisan masyarakat telah merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini: Adakah kehidupan setelah kematian? Jika ada, kehidupan macam apakah itu? Sebenarnya, apa yang telah dipercayai kebanyakan orang? Dan, mengapa?
Banyak Jawaban tetapi Satu Tema
4. Apa yang dipercayai orang-orang dari berbagai agama tentang kehidupan setelah kematian?
4 Banyak orang yang mengaku Kristen percaya bahwa setelah mati, seseorang akan pergi ke surga atau ke neraka. Di pihak lain, umat Hindu percaya akan reinkarnasi. Menurut kepercayaan Islam, akan ada suatu hari penghakiman setelah kematian manakala Allah akan menilai haluan hidup setiap orang dan menyerahkan tiap-tiap orang ke firdaus atau ke api neraka. Di beberapa negeri, kepercayaan tentang orang mati merupakan paduan aneh antara tradisi setempat dan kekristenan nominal. Misalnya, di Sri Lanka, umat Buddha maupun Katolik membiarkan pintu dan jendela terbuka lebar ketika salah seorang anggota keluarga meninggal, dan mereka menempatkan peti jenazah dengan kaki sang almarhum menghadap pintu depan. Mereka percaya bahwa hal-hal ini memudahkan keluarnya roh, atau jiwa sang almarhum. Banyak dari antara umat Katolik dan Protestan di Afrika Barat memiliki kebiasaan menutupi cermin-cermin sewaktu ada yang meninggal, sehingga tak seorang pun memandang ke cermin dan melihat roh orang mati tersebut. Kemudian, 40 hari sesudahnya, keluarga dan handai taulan merayakan naiknya jiwa almarhum ke surga.
5. Sebagian besar agama sependapat akan inti kepercayaan apa?
5 Terlepas dari keanekaragaman kepercayaan ini, mayoritas agama tampaknya sependapat akan satu hal. Mereka percaya bahwa ada sesuatu dalam diri seseorang—entah itu disebut jiwa, roh, atau hantu—yang tidak berkematian dan terus hidup setelah tubuh mati. Dari antara ratusan agama dan sekte Susunan Kristen, hampir semuanya mendukung kepercayaan akan jiwa yang tidak berkematian. Kepercayaan ini juga merupakan doktrin resmi dalam Yudaisme, serta menjadi fondasi ajaran reinkarnasi dalam Hinduisme. Umat Islam percaya bahwa jiwa terus hidup setelah tubuh mati. Orang-orang Aborigin Australia, penganut animisme di Afrika, umat Shinto, bahkan umat Buddha, semuanya memiliki ajaran yang bervariasi namun berlandaskan tema yang sama ini.
6. Bagaimana beberapa sarjana memandang gagasan jiwa tidak berkematian?
6 Di pihak lain, ada yang percaya bahwa kehidupan berakhir pada saat kematian. Bagi mereka, gagasan bahwa kehidupan yang beremosi dan berintelektual akan berlanjut dalam bentuk jiwa yang abstrak, samar-samar, serta terpisah dari tubuh, tampak sangat tidak masuk akal. Sarjana abad ke-20 dari Spanyol, Miguel de Unamuno, menulis, ”Mempercayai jiwa yang tidak berkematian sama saja dengan mengharapkan bahwa jiwa itu tidak bisa mati, tetapi mengharapkannya dengan tekad yang sedemikian kuat sehingga membuat seseorang mengabaikan penalaran dan menjadi tidak masuk akal.” Banyak tokoh terkemuka di zaman dahulu sepaham dengan pandangan ini, antara lain filsuf Aristoteles dan Epikuros, dokter Hipokrates, filsuf asal Skotlandia bernama David Hume, sarjana asal Arab bernama Averroës, dan perdana menteri India yang pertama setelah merdeka, yakni Jawaharlal Nehru.
7. Sehubungan dengan kepercayaan jiwa yang tidak berkematian pertanyaan penting apa saja yang harus kita bahas sekarang?
7 Dihadapkan dengan gagasan dan kepercayaan yang bertolak belakang ini, kita tentu bertanya: Apakah kita benar-benar memiliki jiwa yang tidak berkematian? Jika jiwa sebenarnya berkematian, maka bagaimana ajaran palsu semacam itu dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari begitu banyaknya agama dewasa ini? Dari mana asalnya gagasan ini? Betapa pentingnya bagi kita untuk memperoleh jawaban yang benar dan memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan ini karena masa depan kita tersangkut. (1 Korintus 15:19) Namun, marilah kita terlebih dahulu memeriksa asal mula doktrin jiwa yang tidak berkematian.
Lahirnya Doktrin Itu
8. Apa peranan Sokrates dan Plato dalam menyebarluaskan gagasan jiwa tidak berkematian?
8 Pada abad kelima SM, filsuf Yunani bernama Sokrates dan Plato diakui sebagai orang-orang pertama yang menyebarluaskan kepercayaan bahwa jiwa itu tidak berkematian. Namun, mereka bukanlah pemrakarsa gagasan itu. Sebaliknya, mereka memoles dan mengubahnya menjadi ajaran filsafat, sehingga membuat gagasan itu lebih menarik bagi golongan terpelajar pada zaman mereka dan setelahnya. Faktanya, para pengikut Zoroaster dari Persia zaman dahulu dan orang-orang Mesir sebelum mereka juga percaya akan jiwa yang tidak berkematian. Maka, pertanyaannya adalah: Apa yang menjadi sumber ajaran ini?
9. Dari mana asalnya pengaruh yang tidak asing lagi bagi kebudayaan Mesir, Persia, dan Yunani kuno?
9 ”Di dunia purba,” kata buku The Religion of Babylonia and Assyria, ”Mesir, Persia, dan Yunani merasakan pengaruh dari agama Babilonia.” Sehubungan dengan kepercayaan agama orang Mesir, buku ini selanjutnya mengatakan, ”Ditinjau dari kontak masa awal antara Mesir dan Babilonia, sebagaimana disingkapkan oleh batu-batu tulis El-Amarna, pastilah terdapat banyak kesempatan untuk merembesnya pandangan dan kebiasaan Babilonia ke dalam kultus-kultus Mesir.”a Dalam hal ini, kebudayaan Persia dan Yunani kuno pun tidak jauh berbeda.
10. Bagaimana pandangan orang Babilonia tentang kehidupan setelah kematian?
10 Tetapi, apakah orang Babilonia zaman dahulu percaya akan jiwa yang tidak berkematian? Tentang hal ini, Profesor Morris Jastrow, Jr., dari University of Pennsylvania, AS, menulis, ”Baik rakyat maupun para pemimpin yang berpikiran religius [di Babilonia] tidak pernah mengantisipasi kemungkinan kebinasaan total dari apa yang pernah hidup. Kematian [dalam pandangan mereka] adalah jalan menuju kehidupan jenis lain, dan penyangkalan akan peri tidak berkematian [dalam kehidupan yang sekarang] hanyalah menandaskan bahwa seseorang tidak mungkin luput dari perubahan eksistensi yang didatangkan oleh kematian.” Ya, orang Babilonia juga percaya bahwa kehidupan jenis tertentu, dalam bentuk tertentu, terus hidup setelah kematian. Mereka menunjukkannya dengan menguburkan benda-benda bersama orang mati untuk digunakan selama kehidupan setelah kematian.
11, 12. Setelah Air Bah, di mana tempat lahirnya ajaran jiwa yang tidak berkematian?
11 Jelaslah, ajaran tentang jiwa yang tidak berkematian berawal dari Babilon zaman dahulu. Pentingkah fakta ini? Ya, karena menurut Alkitab, kota Babel, atau Babilon, didirikan oleh Nimrod, seorang cicit Nuh. Setelah Air Bah seluas dunia pada zaman Nuh, hanya ada satu bahasa dan satu agama bagi semua orang. Nimrod bukan hanya menjadi ’penentang Yehuwa’, melainkan juga, bersama para pengikutnya, ingin ’menjadikan nama mereka termasyhur’. Dengan mendirikan kota dan membangun sebuah menara di sana, Nimrod memperkenalkan suatu agama yang berbeda.—Kejadian 10:1, 6, 8-10, NW; 11:1-4, NW.
12 Menurut kisah turun-temurun, Nimrod mati dengan cara yang mengenaskan. Setelah kematiannya, orang-orang Babilonia tentu menyanjung Nimrod sebagai pendiri, pembangun, dan raja pertama kota mereka. Karena dewa Marduk (Merodakh) dianggap sebagai pendiri Babilon dan karena sejumlah raja Babilonia bahkan menyandang nama itu, beberapa sarjana memperkirakan bahwa Marduk adalah Nimrod yang didewakan. (2 Raja 25:27; Yesaya 39:1; Yeremia 50:2) Jika demikian halnya, maka gagasan bahwa seseorang memiliki jiwa yang terus hidup setelah kematian pastilah telah diterima luas setidak-tidaknya pada waktu kematian Nimrod. Selain itu, halaman-halaman sejarah menyingkapkan bahwa setelah Air Bah, tempat lahirnya ajaran jiwa yang tidak berkematian adalah Babel, atau Babilon.
13. Bagaimana ajaran tentang jiwa yang tidak berkematian menyebar ke seluruh permukaan bumi, dan apa hasilnya?
13 Alkitab selanjutnya memperlihatkan bahwa Allah menggagalkan upaya para pembangun menara di Babel dengan mengacaukan bahasa mereka. Karena tidak dapat lagi saling berkomunikasi, mereka meninggalkan proyek itu dan terpencar ”ke seluruh bumi”. (Kejadian 11:5-9) Kita harus ingat bahwa meskipun bahasa para calon pembangun menara ini telah diubah, tidak demikian halnya dengan pemikiran dan konsep mereka. Oleh karena itu, ke mana pun mereka pergi, gagasan agama mereka dibawa serta. Dengan cara inilah ajaran-ajaran agama yang bersifat Babilon—termasuk ajaran jiwa yang tidak berkematian—menyebar ke seluruh permukaan bumi dan menjadi dasar dari agama-agama utama dunia ini. Dengan demikian, suatu imperium agama palsu sedunia terbentuk, yang dengan cocok dilukiskan di dalam Alkitab sebagai ”Babilon Besar, ibu dari para sundal dan dari perkara-perkara yang menjijikkan di bumi”.—Penyingkapan (Wahyu) 17:5.
Imperium Agama Palsu Sedunia Meluas ke Timur
14. Bagaimana kepercayaan agama orang Babilonia menyebar ke daratan India?
14 Beberapa sejarawan mengatakan bahwa lebih dari 3.500 tahun yang lalu, suatu migrasi besar-besaran membawa orang-orang Arya yang berkulit pucat dari daerah barat laut ke Lembah Indus, yang sebagian besarnya kini termasuk wilayah Pakistan dan India. Dari sanalah mereka tersebar ke dataran Sungai Gangga dan ke seluruh India. Beberapa pakar mengatakan bahwa gagasan agama para migran tersebut berlandaskan ajaran-ajaran Iran dan Babilonia kuno. Kemudian, gagasan-gagasan agama ini menjadi inti Hinduisme.
15. Bagaimana gagasan tentang jiwa yang tidak berkematian sampai mempengaruhi Hinduisme dewasa ini?
15 Di India, gagasan tentang jiwa yang tidak berkematian tertuang dalam doktrin reinkarnasi. Para cendekiawan Hindu, yang sedang bergelut dengan problem universal tentang malapetaka dan penderitaan di antara manusia, mencetuskan apa yang disebut hukum Karma, yakni hukum sebab-akibat. Dengan menggabungkan hukum ini dengan kepercayaan akan jiwa yang tidak berkematian, mereka menciptakan ajaran reinkarnasi, yang mengatakan bahwa perbuatan baik dan perbuatan jahat dalam kehidupan seseorang akan mendapat pahala atau hukuman dalam kehidupan berikutnya. Tujuan orang yang setia adalah moksha, atau pembebasan dari siklus kelahiran kembali dan penyatuan, yang diistilahkan sebagai realitas akhir, atau Nirwana. Selama berabad-abad, seraya Hinduisme menyebar, ajaran reinkarnasi pun menyebar. Dan, doktrin ini telah menjadi penopang utama Hinduisme dewasa ini.
16. Kepercayaan apa tentang kehidupan setelah kematian mulai mendominasi pemikiran dan praktek agama sejumlah besar penduduk di Asia Timur?
16 Dari Hinduisme, muncullah kepercayaan-kepercayaan lain seperti Buddhisme, Jainisme, dan Sikhisme. Semuanya juga mempercayai reinkarnasi. Selain itu, seraya Buddhisme menyebar ke sebagian besar Asia Timur—Cina, Korea, Jepang, dan tempat-tempat lain—ini sangat mempengaruhi kebudayaan dan agama seluruh kawasan itu. Ini menghasilkan agama-agama yang mencerminkan suatu perpaduan kepercayaan, yang mencakup unsur-unsur Buddhisme, spiritisme, dan penyembahan leluhur. Yang paling berpengaruh dari antaranya adalah Taoisme, Konfusianisme (Kong Hu Cu), dan Shinto. Dengan cara ini, kepercayaan bahwa kehidupan berlanjut setelah tubuh mati pun mendominasi pemikiran dan praktek agama sejumlah besar penduduk di belahan dunia itu.
Bagaimana dengan Yudaisme, Susunan Kristen, dan Islam?
17. Apa yang dipercayai orang Yahudi zaman dahulu tentang kehidupan setelah kematian?
17 Apa yang dipercayai para penganut agama Yudaisme, Susunan Kristen, dan Islam tentang kehidupan setelah kematian? Dari antara agama-agama ini, Yudaisme adalah yang tertua. Yudaisme telah ada sekitar 4.000 tahun yang lalu pada zaman Abraham—lama sebelum Sokrates dan Plato menyusun teori jiwa yang tidak berkematian. Orang Yahudi zaman dahulu percaya akan kebangkitan orang mati, bukannya manusia yang secara bawaan tidak berkematian. (Matius 22:31, 32; Ibrani 11:19) Kalau begitu, bagaimana doktrin jiwa yang tidak berkematian memasuki Yudaisme? Sejarah menyediakan jawabannya.
18, 19. Bagaimana doktrin jiwa yang tidak berkematian memasuki Yudaisme?
18 Pada tahun 332 SM, Iskandar Agung menaklukkan Timur Tengah, termasuk Yerusalem. Seraya para penerus Iskandar melanjutkan rencananya untuk Helenisasi, terjadilah perpaduan dua kebudayaan—Yunani dan Yahudi. Orang Yahudi akhirnya mengetahui pemikiran Yunani, dan ada yang bahkan menjadi filsuf.
19 Filo dari Aleksandria, pada abad pertama M, adalah salah seorang filsuf Yahudi semacam itu. Ia memuja Plato dan berupaya menjelaskan Yudaisme menurut filsafat Yunani, sehingga merintis jalan bagi para pemikir Yahudi di kemudian hari. Talmud—penjelasan tertulis tentang hukum lisan oleh para rabi—juga dipengaruhi oleh pemikiran Yunani. ”Para rabi penyusun Talmud,” kata Encyclopaedia Judaica, ”percaya akan eksistensi jiwa yang berlanjut setelah kematian.” Lektur tentang mistik Yahudi yang ditulis belakangan, seperti Kabala, bahkan mengajarkan reinkarnasi. Dengan demikian, lewat pengaruh filsafat Yunani, gagasan tentang jiwa yang tidak berkematian pun memasuki Yudaisme. Bagaimana dengan masuknya ajaran tersebut ke dalam Susunan Kristen?
20, 21. (a) Bagaimana sikap orang-orang Kristen masa awal sehubungan dengan filsafat Platonisme atau filsafat Yunani? (b) Apa yang menyebabkan digabungkannya gagasan Plato dengan ajaran Kristen?
20 Kekristenan sejati berawal dari Kristus Yesus. Mengenai Yesus, Miguel de Unamuno, yang telah dikutip di muka, menulis, ”Ia percaya pada kebangkitan jasmani, berdasarkan tata cara Yahudi, bukan pada jiwa yang tidak berkematian berdasarkan tata cara Plato [dari Yunani].” Ia menyimpulkan, ”Jiwa yang tidak berkematian . . . adalah dogma filsafat yang kafir.” Mengingat hal ini, kita dapat mengerti mengapa rasul Paulus memberikan peringatan keras kepada orang-orang Kristen abad pertama tentang bahayanya ”filsafat dan tipu daya yang kosong sesuai dengan tradisi manusia, sesuai dengan hal-hal elementer dari dunia dan tidak sesuai dengan Kristus”.—Kolose 2:8.
21 Namun, kapan dan bagaimana ”dogma filsafat yang kafir” ini menyusup ke dalam Susunan Kristen? The New Encyclopædia Britannica menjelaskan, ”Dari pertengahan abad ke-2 M, orang-orang Kristen, yang telah mendapat sedikit pelatihan filsafat Yunani, mulai merasa perlu untuk mengekspresikan iman mereka menurut filsafat tersebut, baik untuk kepuasan intelektual mereka sendiri dan untuk menobatkan orang-orang kafir yang terpelajar. Aliran filsafat yang paling cocok untuk mereka adalah Platonisme.” Dua filsuf masa awal semacam itu yang memberikan pengaruh besar terhadap doktrin-doktrin Susunan Kristen adalah Origen dari Aleksandria dan Agustinus dari Hippo. Keduanya sangat dipengaruhi oleh gagasan Plato dan menjadi sarana ampuh dalam menggabungkan gagasan itu dengan ajaran Kristen.
22. Bagaimana ajaran jiwa yang tidak berkematian tetap menonjol dalam agama Islam?
22 Gagasan tentang jiwa yang tidak berkematian dalam Yudaisme dan Susunan Kristen muncul karena pengaruh Platonisme, sedangkan dalam Islam, konsep tersebut telah disertakan sejak awalnya. Al Quran, kitab suci umat Islam, mengajarkan bahwa manusia memiliki jiwa yang terus hidup setelah kematian. Kitab itu juga berbicara tentang nasib akhir bagi jiwa, berupa kehidupan dalam sebuah taman firdaus surgawi atau hukuman dalam neraka yang bernyala-nyala. Ini bukan berarti bahwa para sarjana Arab tidak mencoba menggabungkan ajaran Islam dan filsafat Yunani. Sesungguhnya, dunia Arab dipengaruhi hingga taraf tertentu oleh karya Aristoteles. Akan tetapi, jiwa yang tidak berkematian tetap menjadi kepercayaan umat Islam.
23. Sehubungan dengan kehidupan setelah kematian pertanyaan mendesak apa saja akan dibahas dalam artikel berikut?
23 Jelaslah, agama-agama di seputar dunia telah mengembangkan serangkaian kepercayaan yang membingungkan tentang kehidupan setelah kematian berlandaskan gagasan bahwa jiwa itu tidak berkematian. Dan, kepercayaan semacam itu telah mempengaruhi, bahkan menjajah dan memperbudak miliaran orang. Semua hal ini menimbulkan desakan yang kuat dalam diri kita untuk bertanya: Mungkinkah kita mengetahui kebenaran tentang apa yang terjadi bila kita meninggal? Apakah ada kehidupan setelah kematian? Apa yang Alkitab katakan tentang hal itu? Kita akan membahas hal ini dalam artikel berikut.
[Catatan Kaki]
a El-Amarna adalah lokasi reruntuhan kota Akhetaton di Mesir, yang konon dibangun pada abad ke-14 SM.
-
-
Kehidupan Setelah Kematian—Apa yang Alkitab Katakan?Menara Pengawal—1999 | 1 April
-
-
Kehidupan Setelah Kematian—Apa yang Alkitab Katakan?
”Engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”—KEJADIAN 3:19.
1, 2. (a) Sebutkan macam-macam gagasan tentang kehidupan setelah kematian. (b) Apa yang perlu kita periksa untuk menentukan apa yang Alkitab ajarkan tentang jiwa?
”TEORI penderitaan abadi tidak konsisten dengan kepercayaan akan kasih Allah bagi makhluk-makhluk ciptaan. . . . Mempercayai hukuman kekal atas jiwa karena kekeliruan beberapa tahun saja, tanpa memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri, sama dengan menentang semua prinsip nalar,” demikian pernyataan filsuf Hindu, Nikhilananda.
2 Seperti Nikhilananda, dewasa ini banyak orang merasa terganggu dengan ajaran siksaan kekal. Dengan nada yang sama, orang-orang lain mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep seperti mencapai Nirwana dan menyatu dengan alam. Bahkan di antara orang-orang yang mengaku mendasarkan kepercayaan mereka pada Alkitab, terdapat gagasan yang berbeda-beda tentang apa jiwa itu dan apa yang terjadi pada jiwa sewaktu kita meninggal. Tetapi, apa yang sebenarnya Alkitab ajarkan mengenai jiwa? Untuk mengetahuinya, kita perlu memeriksa arti kata-kata Ibrani dan Yunani yang diterjemahkan sebagai ”jiwa” dalam Alkitab.
Jiwa menurut Alkitab
3. (a) Kata apa yang diterjemahkan sebagai ”jiwa” dalam Kitab-Kitab Ibrani, dan apa makna dasarnya? (b) Bagaimana Kejadian 2:7 (NW) meneguhkan bahwa kata ”jiwa” dapat memaksudkan suatu pribadi secara keseluruhan?
3 Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai ”jiwa” adalah nefes, dan kata itu muncul 754 kali dalam Kitab-Kitab Ibrani. Apa artinya nefes? Menurut The Dictionary of Bible and Religion, itu ”biasanya memaksudkan makhluk hidup seutuhnya, individu itu secara keseluruhan”. Ini diteguhkan oleh penjelasan Alkitab tentang jiwa di Kejadian 2:7 (NW), ”Kemudian Allah Yehuwa membentuk manusia dari debu tanah dan mengembuskan ke dalam lubang hidungnya napas kehidupan, dan manusia itu menjadi jiwa yang hidup.” Perhatikan bahwa manusia pertama ”menjadi” suatu jiwa. Dengan kata lain, Adam bukannya memiliki jiwa; ia adalah jiwa—sama seperti seseorang yang menjadi dokter adalah seorang dokter. Maka, kata ”jiwa” dalam hal ini melukiskan suatu pribadi secara keseluruhan.
4. Kata apa yang diterjemahkan sebagai ”jiwa” dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen, dan apa makna dasar kata ini?
4 Kata yang diterjemahkan sebagai ”jiwa” (psikhe) muncul sebanyak lebih dari seratus kali dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen. Seperti nefes, kata ini sering kali memaksudkan pribadi itu secara keseluruhan. Misalnya, perhatikan pernyataan-pernyataan berikut, ”Jiwaku merasa susah.” (Yohanes 12:27) ”Perasaan takut mulai menimpa setiap jiwa.” (Kisah 2:43) ”Hendaklah setiap jiwa tunduk kepada kalangan berwenang yang lebih tinggi.” (Roma 13:1) ”Berbicaralah dengan cara yang menghibur kepada jiwa-jiwa yang masygul.” (1 Tesalonika 5:14) ”Beberapa orang, yaitu delapan jiwa, dibawa dengan selamat melalui air.” (1 Petrus 3:20) Jelaslah bahwa psikhe, seperti nefes, memaksudkan pribadi secara keseluruhan. Menurut sarjana Nigel Turner, kata ini ”menunjukkan karakteristik manusia, dirinya, tubuh jasmani yang memiliki ruah [roh] Allah yang diembuskan ke dalamnya. . . . Titik beratnya adalah pada dirinya secara keseluruhan”.
5. Apakah binatang dapat disebut jiwa? Jelaskan.
5 Menarik, dalam Alkitab, kata ”jiwa” bukan hanya digunakan untuk manusia melainkan juga untuk binatang. Misalnya, sewaktu melukiskan penciptaan makhluk-makhluk laut, Kejadian 1:20 (NW) mengatakan bahwa Allah memerintahkan, ”Biarlah dalam air berkeriapan sekelompok jiwa yang hidup.” Dan, pada hari penciptaan berikutnya, Allah berfirman, ”Biarlah bumi mengeluarkan jiwa-jiwa yang hidup menurut jenisnya, binatang peliharaan dan binatang bergerak dan binatang liar di bumi menurut jenisnya.”—Kejadian 1:24, NW; bandingkan Bilangan 31:28, NW.
6. Bagaimana penggunaan kata ”jiwa” dalam Alkitab?
6 Jadi, kata ”jiwa” yang digunakan dalam Alkitab memaksudkan orang atau binatang atau kehidupan orang atau kehidupan binatang. (Lihat kotak di atas.) Definisi Alkitab tentang jiwa benar-benar sederhana, konsisten, serta bebas dari filsafat yang rumit dan takhayul manusia. Kalau begitu, pertanyaan mendesak yang harus diajukan adalah: Menurut Alkitab, apa yang terjadi pada jiwa pada waktu kematian?
Orang Mati Tidak Tahu Apa-Apa
7, 8. (a) Apa yang disingkapkan Alkitab tentang keadaan orang mati? (b) Berikan contoh dari Alkitab yang memperlihatkan bahwa jiwa dapat mati.
7 Keadaan orang mati diperjelas di Pengkhotbah 9:5, 10, yang berbunyi, ”Orang yang mati tak tahu apa-apa . . . Tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati.” Oleh karena itu, kematian adalah keadaan tanpa eksistensi. Sang pemazmur menulis bahwa sewaktu seseorang mati, ”ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya”. (Mazmur 146:4) Orang mati tidak tahu apa-apa, tidak aktif.
8 Sewaktu menjatuhkan hukuman atas Adam, Allah menyatakan, ”Engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” (Kejadian 3:19) Sebelum Allah membentuk Adam dari debu tanah dan memberinya kehidupan, ia tidak ada. Ketika Adam mati, ia kembali ke keadaan itu. Hukumannya adalah kematian—bukan perpindahan ke alam lain. Kalau begitu, apa yang terjadi dengan jiwanya? Karena dalam Alkitab kata ”jiwa” sering kali memaksudkan seseorang, jadi apabila kita mengatakan bahwa Adam mati, kita mengatakan bahwa jiwa yang bernama Adam itu mati. Ini mungkin terdengar aneh bagi seseorang yang mempercayai jiwa yang tidak berkematian. Akan tetapi, Alkitab menyatakan, ”Jiwa yang berbuat dosa—jiwa itulah yang akan mati.” (Yehezkiel 18:4, NW) Imamat 21:1 (NW) berbicara mengenai ”jiwa yang mati” (”mayat”, Jerusalem Bible). Dan, kaum Nazir diperintahkan untuk tidak mendekati ”jiwa yang mati” (”tubuh yang mati”, Lamsa).—Bilangan 6:6, NW.
9. Apa yang Alkitab maksudkan sewaktu mengatakan bahwa ’jiwa Rahel pergi’?
9 Namun, bagaimana dengan pernyataan di Kejadian 35:18 (NW) tentang kematian Rahel yang mengenaskan sewaktu ia melahirkan putra keduanya? Ayat itu mengatakan, ”Seraya jiwanya pergi (karena dia mati) dia menamainya Ben-oni; tetapi bapaknya memanggilnya Benyamin.” Apakah ayat ini menyiratkan bahwa Rahel memiliki suatu bagian lain dalam dirinya yang keluar dari tubuh pada saat kematiannya? Sama sekali tidak. Ingatlah, kata ”jiwa” juga dapat memaksudkan kehidupan yang dimiliki seseorang. Jadi, dalam kasus ini ”jiwa” Rahel berarti ”kehidupan”-nya. Itulah sebabnya Alkitab-Alkitab lain menerjemahkan ungkapan ”jiwanya pergi” sebagai ”kehidupannya semakin surut” (Knox), ”ia hendak menghembuskan napasnya yang penghabisan” (BIS), dan ”kehidupannya keluar dari dia” (Bible in Basic English). Tidak ada petunjuk bahwa suatu bagian yang misterius dari Rahel tetap hidup setelah kematiannya.
10. Dengan cara bagaimana jiwa putra janda yang dibangkitkan ”kembali ke dalam dirinya”?
10 Halnya serupa dengan kebangkitan putra seorang janda, yang dicatat di 1 Raja-Raja pasal 17. Di ayat 22 (NW), kita membaca bahwa seraya Elia berdoa bagi anak laki-laki itu, ”Yehuwa mendengarkan perkataan Elia, sehingga jiwa anak itu kembali ke dalam dirinya dan ia hidup.” Sekali lagi, kata ”jiwa” berarti ”kehidupan”. Oleh karena itu, New American Standard Bible berbunyi, ”Kehidupan anak itu kembali kepadanya dan ia hidup kembali.” Ya, yang kembali kepada anak laki-laki itu adalah kehidupan, bukan suatu bentuk yang samar-samar. Ini selaras dengan apa yang Elia katakan kepada ibu dari anak laki-laki tersebut, ”Ini anakmu, ia [pribadinya secara keseluruhan] sudah hidup!”—1 Raja 17:23.
Bagaimana dengan Roh?
11. Mengapa kata ”roh” tidak mungkin mengacu pada suatu bagian yang terpisah dari tubuh yang terus hidup setelah seseorang mati?
11 Alkitab mengatakan bahwa apabila seseorang mati, ”nyawanya melayang [”rohnya pergi”, NW], ia kembali ke tanah”. (Mazmur 146:4) Apakah ini berarti bahwa suatu roh yang terpisah dari tubuh benar-benar keluar dan terus hidup setelah kematian seseorang? Tentu tidak, karena sang pemazmur selanjutnya mengatakan, ”Pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya” (”semua pikirannya berakhir”, The New English Bible). Kalau begitu, apakah roh itu, dan bagaimana roh ”pergi” dari seseorang pada saat kematiannya?
12. Apa yang tersirat dari kata Ibrani dan Yunani yang diterjemahkan sebagai ”roh” di dalam Alkitab?
12 Dalam Alkitab, kata-kata yang diterjemahkan sebagai ”roh” (Ibrani, ruakh; Yunani, pneuma) pada dasarnya berarti ”napas”. Oleh karena itu, sebaliknya daripada menggunakan ”rohnya pergi”, terjemahan R. A. Knox menggunakan ungkapan ”napasnya meninggalkan tubuhnya”. (Mazmur 145:4) Tetapi, kata ”roh” menyiratkan lebih daripada sekadar tindakan bernapas. Misalnya, ketika melukiskan pembinasaan kehidupan manusia dan binatang pada waktu Air Bah sedunia, Kejadian 7:22 (NW) mengatakan, ”Matilah segala yang memiliki napas dari daya [atau, roh; Ibrani, ruakh] kehidupan yang aktif di lubang hidungnya, yakni semua yang ada di tanah yang kering.” Jadi, ”roh” dapat memaksudkan daya hidup yang aktif dalam semua makhluk hidup, baik manusia maupun binatang, dan yang ditunjang oleh pernapasan.
13. Bagaimana roh kembali kepada Allah sewaktu seseorang meninggal?
13 Kalau begitu, apa maksud Pengkhotbah 12:7 sewaktu menyatakan bahwa apabila seseorang mati, ”roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya”? Apakah ini berarti bahwa roh secara harfiah mengadakan perjalanan melewati angkasa ke hadirat Allah? Bukan itu yang tersirat. Karena roh adalah daya hidup, roh itu ”kembali kepada Allah” dalam arti bahwa segala harapan untuk kehidupan di masa depan bagi orang itu kini sepenuhnya bergantung pada Allah. Hanya Allah yang dapat mengembalikan roh, atau daya hidup, yang menyebabkan seseorang hidup kembali. (Mazmur 104:30) Tetapi, apakah Allah bermaksud-tujuan demikian?
”Ia Akan Bangkit”
14. Apa yang Yesus katakan dan lakukan untuk memberi kelegaan dan penghiburan bagi saudara-saudara perempuan Lazarus setelah ditinggal mati saudara mereka ini?
14 Di sebuah kota kecil bernama Betani, kira-kira tiga kilometer di luar Yerusalem, Maria dan Marta sedang berkabung karena saudara mereka, Lazarus, meninggal sebelum waktunya. Yesus turut merasakan kepedihan hati mereka, karena ia menyayangi Lazarus dan saudara-saudara perempuannya. Bagaimana Yesus dapat menghibur kedua wanita ini? Bukannya dengan mengarang-ngarang dusta yang berbelat-belit, melainkan dengan memberitahukan hal yang sebenarnya. Yesus mengatakan dengan singkat, ”Saudaramu akan bangkit.” Kemudian, Yesus pergi ke makam dan membangkitkan Lazarus—mengembalikan kehidupan kepada seorang pria yang telah mati selama empat hari!—Yohanes 11:18-23, 38-44.
15. Apa tanggapan Marta terhadap kata-kata dan tindakan Yesus?
15 Apakah Marta terkejut mendengar pernyataan Yesus bahwa Lazarus akan ”bangkit”? Tampaknya tidak, karena ia menjawab, ”Aku tahu ia akan bangkit dalam kebangkitan pada hari terakhir.” Ia telah memiliki iman akan janji kebangkitan. Lalu, Yesus memberi tahu dia, ”Akulah kebangkitan dan kehidupan. Ia yang menjalankan iman kepadaku, meskipun ia mati, akan menjadi hidup.” (Yohanes 11:23-25) Mukjizat dihidupkannya kembali Lazarus memperkuat iman Marta dan membuat orang-orang lain beriman. (Yohanes 11:45) Tetapi, apa sebenarnya arti istilah ”kebangkitan”?
16. Apa arti kata ”kebangkitan”?
16 Kata ”kebangkitan” merupakan terjemahan dari kata Yunani anastasis, yang secara harfiah berarti ”berdiri kembali”. Para penerjemah Ibrani mengalihbahasakan kata Yunani anastasis dengan suatu ungkapan yang berarti ”orang mati hidup kembali” (bahasa Ibrani, tekhiyath hammethim).a Jadi, kebangkitan mencakup membangunkan seseorang dari keadaan tidak bernyawa atau kematian—memulihkan dan mengaktifkan kembali pola kehidupan orang tersebut.
17. (a) Mengapa kebangkitan orang-orang bukanlah masalah bagi Allah Yehuwa dan Yesus Kristus? (b) Janji apa Yesus sampaikan sehubungan dengan orang-orang yang berada di makam peringatan?
17 Dengan hikmat yang tak terhingga dan daya ingat yang sempurna, Allah Yehuwa dapat dengan mudah membangkitkan seseorang. Bukan masalah bagi Dia untuk mengingat pola kehidupan orang-orang mati—kepribadian mereka, riwayat hidup mereka, dan semua perincian mengenai identitas mereka. (Ayub 12:13; bandingkan Yesaya 40:26.) Selain itu, seperti yang ditunjukkan oleh pengalaman Lazarus, Yesus Kristus bersedia dan sanggup membangkitkan orang mati. (Bandingkan Lukas 7:11-17; 8:40-56.) Malahan, Yesus Kristus mengatakan, ”Jamnya akan tiba ketika semua orang yang di dalam makam peringatan akan mendengar suara [Yesus] dan keluar.” (Yohanes 5:28, 29) Ya, Yesus Kristus berjanji bahwa semua orang yang ada dalam ingatan Yehuwa akan dibangkitkan. Jelaslah, menurut Alkitab, jiwa itu berkematian, dan jalan keluar dari kematian adalah kebangkitan. Tetapi, miliaran orang telah hidup dan mati. Siapa di antara mereka yang ada dalam ingatan Allah, dan menunggu kebangkitan?
18. Siapa yang akan dibangkitkan?
18 Orang-orang yang telah menempuh haluan yang adil-benar sebagai hamba-hamba Yehuwa akan dibangkitkan. Tetapi, jutaan orang lain telah mati tanpa memperlihatkan apakah mereka akan menyelaraskan diri dengan standar-standar Allah yang adil-benar. Bisa jadi, mereka tidak mengetahui tuntutan-tuntutan Yehuwa, atau tidak memiliki cukup waktu untuk membuat perubahan yang dibutuhkan. Orang-orang seperti ini pun ada dalam ingatan Allah dan dengan demikian akan dibangkitkan, karena Alkitab berjanji, ”Akan ada kebangkitan untuk orang-orang yang adil-benar maupun yang tidak adil-benar.”—Kisah 24:15.
19. (a) Penglihatan apa yang rasul Yohanes dapatkan tentang kebangkitan? (b) Apa yang ”dicampakkan ke dalam danau api”, dan apa arti ungkapan itu?
19 Rasul Yohanes mendapat penglihatan yang menggetarkan tentang orang-orang yang dibangkitkan dan berdiri di hadapan takhta Allah. Sewaktu melukiskannya, ia menulis, ”Laut menyerahkan orang-orang yang mati di dalamnya, dan kematian dan Hades menyerahkan mereka yang mati di dalamnya, dan mereka dihakimi secara perorangan sesuai dengan perbuatan mereka. Dan kematian dan Hades dicampakkan ke dalam danau api. Ini berarti kematian kedua, danau api.” (Penyingkapan 20:12-14) Pikirkan apa artinya hal itu! Semua orang mati yang ada dalam ingatan Allah akan dilepaskan dari Hades, atau Syeol, kuburan umum umat manusia. (Mazmur 16:10; Kisah 2:31) Kemudian, ”kematian dan Hades” akan dicampakkan ke dalam apa yang disebut ”danau api”, yang melambangkan pembinasaan total. Kuburan umum umat manusia akan lenyap selama-lamanya.
Prospek yang Unik!
20. Jutaan orang yang sekarang mati akan dibangkitkan dalam lingkungan macam apa?
20 Sewaktu jutaan orang dibangkitkan, mereka tidak akan dihidupkan kembali di atas bumi yang kosong. (Yesaya 45:18) Mereka akan terbangun dalam lingkungan yang lebih indah dan akan mendapati bahwa tempat tinggal, pakaian, dan makanan yang berlimpah telah dipersiapkan untuk mereka. (Mazmur 67:7; 72:16; Yesaya 65:21, 22) Siapa yang akan mempersiapkan semua ini? Jelaslah, harus ada orang-orang yang tinggal dalam dunia baru sebelum kebangkitan di bumi mulai. Tetapi siapa?
21, 22. Prospek unik apa terbentang di hadapan orang-orang yang hidup pada ”hari-hari terakhir” ini?
21 Penggenapan nubuat Alkitab memperlihatkan bahwa kita sedang hidup pada ”hari-hari terakhir” sistem perkara ini.b (2 Timotius 3:1) Segera, Allah Yehuwa akan turun tangan dalam urusan-urusan manusia dan melenyapkan kefasikan dari bumi. (Mazmur 37:10, 11; Amsal 2:21, 22) Pada waktu itu, apa yang akan terjadi dengan orang-orang yang melayani Allah dengan setia?
22 Yehuwa tidak akan membinasakan orang yang adil-benar bersama dengan orang fasik. (Mazmur 145:20) Ia tidak pernah melakukan hal semacam itu, dan Ia tidak akan melakukannya sewaktu Ia membersihkan bumi dari semua kejahatan. (Bandingkan Kejadian 18:22, 23, 26.) Sebenarnya, buku terakhir dari Alkitab berbicara mengenai ”suatu kumpulan besar orang yang tidak seorang pun dapat menghitung jumlahnya, dari semua bangsa dan suku dan umat dan bahasa”, keluar dari ”kesengsaraan besar”. (Penyingkapan 7:9-14) Ya, suatu himpunan besar orang akan tetap hidup melewati kesengsaraan besar yang akan mengakhiri dunia fasik dewasa ini, dan mereka akan memasuki dunia baru Allah. Di sana, umat manusia yang taat dapat memperoleh manfaat sepenuhnya dari persediaan Allah yang menakjubkan untuk membebaskan umat manusia dari dosa dan kematian. (Penyingkapan 22:1, 2) Dengan demikian, ”kumpulan besar” tidak pernah harus mengalami kematian. Ini benar-benar prospek yang unik!
Kehidupan Tanpa Kematian
23, 24. Apa yang harus saudara lakukan jika ingin menikmati kehidupan tanpa kematian di bumi Firdaus?
23 Dapatkah kita yakin akan harapan yang sangat menakjubkan ini? Pasti! Yesus Kristus sendiri menunjukkan bahwa akan tiba waktunya manakala orang-orang akan hidup tanpa pernah mati. Tepat sebelum membangkitkan sahabatnya, Lazarus, Yesus memberi tahu Marta, ”Setiap orang yang hidup dan menjalankan iman kepadaku sama sekali tidak akan pernah mati.”—Yohanes 11:26.
24 Apakah saudara ingin hidup selama-lamanya di bumi Firdaus? Apakah saudara rindu untuk bertemu kembali dengan orang-orang yang saudara kasihi? ”Dunia ini sedang berlalu dan demikian pula keinginannya, tetapi dia yang melakukan kehendak Allah tetap selama-lamanya,” kata rasul Yohanes. (1 Yohanes 2:17) Sekaranglah waktunya untuk mencari tahu apa kehendak Allah itu dan bertekadlah untuk hidup selaras dengannya. Dengan demikian, saudara, bersama jutaan orang lain yang telah melakukan kehendak Allah, dapat hidup selama-lamanya di bumi Firdaus.
[Catatan Kaki]
a Meskipun kata ”kebangkitan” tidak muncul dalam Kitab-Kitab Ibrani, harapan kebangkitan dengan jelas dinyatakan dalam Ayub 14:13, Daniel 12:13, dan Hosea 13:14.
-