-
Lindungi Diri Anda dari Pembajakan Mobil!Sedarlah!—2006 | Oktober
-
-
Pengalaman Nyata
◼ ”Saya dan teman saya Susan sudah setahun ini menginjil bersama. Pada suatu hari Rabu, sebelum melanjutkan perjalanan dengan mobil ke pelajaran Alkitab berikutnya, kami berhenti untuk minum teh di bawah pohon di tepi jalan suatu daerah pemukiman. Susan keluar dari mobil untuk mengambil keranjang dari belakang. Persis sewaktu dia memberikan cangkir kepada saya, dua laki-laki tiba-tiba muncul, dan seorang di antaranya menodongkan pistol ke leher Susan. Karena kaget, saya mencoba keluar dari mobil, tetapi laki-laki yang lain mendorong saya masuk kembali. Demikianlah kami, dua wanita terpaksa berada dalam mobil bersama dua laki-laki yang melarikan kami—saya benar-benar takut kalau-kalau mereka akan memperkosa atau membunuh kami.”—Anika, seorang ibu rumah tangga yang masih muda.
◼ ”Saya sedang berkendara pada pukul 7 pagi menuju tempat kerja. Saya berhenti di sebuah persimpangan yang sering ramai dengan penganggur yang mencari pekerjaan. Tahu-tahu seseorang menodongkan pistol ke leher saya melalui jendela mobil yang terbuka dan berkata, ’Keluar, kalau tidak saya tembak.’ Saat itu juga sebuah helikopter pengamat lalu lintas terbang di atas saya. Karena mengira itu polisi, si pembajak menarik pelatuk dan lari. Ia menembak saya di leher, melukai saraf tulang belakang saya. Akibatnya saya lumpuh dari leher ke bawah. Saya tidak dapat menggunakan lengan dan kaki saya lagi karena sudah mati rasa.”—Barry, ayah dari seorang putra yang masih remaja.
◼ ”Saya dan istri saya, Lindsay, baru saja mau pergi makan siang. Saya sedang menunggunya di mobil. Pintu-pintu mobil terkunci, tetapi jendela-jendela agak sedikit terbuka karena udara panas. Saya sedang memandang ke depan dari kursi pengemudi sewaktu dua orang muncul dari sudut jalan tanpa mencurigakan. Setelah berada sekitar delapan langkah dari depan mobil saya, mereka berpisah, satu ke sebelah kiri mobil dan yang lainnya ke sebelah kanan. Tiba-tiba, mereka sudah di pintu mobil menodongkan pistol dari kiri dan kanan sambil membentak-bentak memberi perintah. Saya menghidupkan mobil menuruti perintah mereka, mereka berteriak kepada saya agar keluar dan pindah ke tempat duduk di belakang. Yang satu mengemudikan mobil sementara yang lainnya memaksa saya untuk merundukkan kepala. ’Kami bisa membunuhmu, kau mau bilang apa?’ cetusnya. ’Saya salah seorang Saksi-Saksi Yehuwa,’ jawab saya. Ia terus mengancam untuk membunuh saya, dan saya terus berdoa dan memikirkan istri saya tersayang, membayangkan bagaimana reaksinya sewaktu melihat bahwa suami dan mobil telah raib.”—Alan, seorang pengawas keliling dan seorang ayah.
-
-
Lindungi Diri Anda dari Pembajakan Mobil!Sedarlah!—2006 | Oktober
-
-
Mengatasi Dampaknya
Syukurlah, pengalaman Susan dan Anika berakhir dengan baik. Setelah mereka dilarikan pembajak mobil, kedua wanita ini menjelaskan pekerjaan pelajaran Alkitab yang sedang mereka lakukan. Rupanya hal ini mengusik hati nurani kedua laki-laki itu. ”Mereka meminta maaf atas apa yang telah mereka lakukan,” kata Anika menjelaskan, ”tetapi karena terdesak keadaan hidup sekarang, mereka mengaku terpaksa mencuri dan membajak mobil untuk menafkahi diri mereka. Kami menjelaskan mengapa Allah membiarkan kemiskinan dan penderitaan.” Berita Alkitab menyentuh hati kedua pembajak itu, dan mereka memutuskan untuk mengembalikan uang serta arloji yang sudah diambil, dan berjanji tidak akan mencelakai Susan dan Anika. ”Kemudian salah seorang di antara mereka mulai memberi petunjuk tentang bagaimana selanjutnya menghindari pembajakan mobil,” kenang Susan. ”Mereka menyuruh kami berjanji,” tambah Anika, ”agar tidak sekali-kali lagi berhenti di pinggir jalan untuk minum teh.” Kemudian, seperti yang para pembajak itu sudah katakan, mereka menghentikan mobil, lalu keluar, menerima lektur Alkitab, mengucapkan terima kasih, serta membiarkan Susan dan Anika pergi dengan aman.
Alan, sang pengawas keliling, diperintahkan keluar dari mobil sewaktu mereka tiba di sebuah tempat yang terpencil. Meskipun dia kehilangan beberapa barangnya yang berharga, dia bersyukur bisa selamat tanpa cedera fisik. ”Saya lolos tanpa banyak kerugian,” kenang Alan, ”karena saya bekerja sama dan tidak agresif, dan saya tidak panik. Memang, sudah seharusnya saya lebih waspada. Saya belajar dari kejadian ini bahwa sesaat pun kita tidak boleh mengendurkan kewaspadaan mengingat bahwa kita telah begitu jauh berada pada hari-hari terakhir dari sistem fasik Setan.” Keesokan harinya, Alan dan Lindsay kembali lagi ke daerah yang sama untuk melanjutkan pengabaran dengan sidang yang ditugaskan untuk mereka layani. Alan menjelaskan, ”Kami berdoa, dan mata kami terus mengamat-amati situasi sepanjang hari itu. Memang tidak mudah, tetapi Yehuwa memberi kami ’kuasa yang melampaui apa yang normal.’”—2 Korintus 4:1, 7.
Korban yang paling parah, Barry, terpaksa menggunakan kursi roda selama 11 tahun terakhir. Barry patut dipuji, karena tetap bersikap positif dan tidak membiarkan pengalaman itu membuatnya getir. Imannya akan janji Allah Yehuwa tentang dunia baru yang adil-benar tidak pernah goyah. (2 Petrus 3:13) Barry terus menghadiri perhimpunan Kristen secara teratur dan menggunakan setiap kesempatan untuk menceritakan imannya kepada orang-orang lain. Ia berkata, ”Melayani Yehuwa selalu mendatangkan sukacita. Meskipun saya duduk di kursi roda dan hampir tidak bisa berbuat apa-apa sendiri, saya selalu merenungkan apa yang telah Yehuwa lakukan bagi saya, dan hal itu membantu saya bertekun. Tidak lama lagi sistem yang fasik ini akan berakhir, dan sungguh menakjubkan hari itu kelak sewaktu saya dapat berjalan lagi!”—Yesaya 35:6; 2 Timotius 3:1-5.
-