PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • w92 15/9 hlm. 32
  • Mahakuasa Bagian II (Lanjutan)

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Mahakuasa Bagian II (Lanjutan)
  • Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—1992
Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—1992
w92 15/9 hlm. 32

Mahakuasa

Bagian II (Lanjutan)

[Inggris, Almighty]

Keperkasaan mencakup kekuatan atau kekuasaan untuk melakukan dan menyelesaikan sesuatu yang direncanakan, seperti ketika mengatasi hambatan-hambatan atau perlawanan, dan kemahakuasaan Yehuwa memperlihatkan kuasa-Nya yang tidak dapat dibendung untuk memenuhi maksud-tujuan-Nya. Sewaktu tindakan yang keras dinyatakan dalam hubungan dengan gelar Allah ”Yang Mahakuasa”, seperti di Mazmur 68:15, sewaktu Ia ”menyerakkan raja-raja”; di Yoel 1:15, yang melukiskan ”pemusnahan [shodh] dari Yang Mahakuasa [mish·Shad·daiʹ]” yang terjadi pada ”hari [Yehuwa]”; dan di Yesaya 13:6, yang telah dikutip di muka. Ini juga memberikan keyakinan akan kesanggupan-Nya untuk memberikan berkat (Kej 49:25) dan merupakan jaminan keamanan bagi mereka yang menaruh kepercayaan kepada-Nya, ”Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa”.—Mzm 91:1.

Dalam buku Ayub, Shad·daiʹ muncul 31 kali, digunakan oleh semua karakter dalam drama yang ditampilkan di sana. Kekuasaan Yehuwa untuk menghukum atau mendatangkan malapetaka dinyatakan (Ayb 6:4; 27:13-23); sehingga orang-orang yang berkata, ”Yang Mahakuasa itu apa, sehingga kami harus beribadah kepadaNya, dan apa manfaatnya bagi kami kalau kami memohon kepadaNya?” serta siapa pun yang yakin akan kekuatannya sendiri, dapat berharap untuk minum ”dari murka Yang Mahakuasa”. (Ayb 21:15, 16, 20) Oleh karena itu, Yang Mahakuasa patut mendapat penghormatan, bahkan perasaan gentar, karena kehendak-Nya tidak dapat diabaikan dan hukum-Nya tidak dapat dilanggar dengan tanpa mendapat hukuman (Ayb 6:14; 23:15, 16; 31:1-3), meskipun pernyataan keperkasaan-Nya tidak segera kelihatan. (Ayb 24:1-3, 24; bandingkan Kel 9:14-16; Pkh 8:11-13.) Namun, kekuasaan dan keperkasaan-Nya selalu digunakan dengan tegas sesuai dengan keadilan dan kebenaran, tidak pernah dalam tingkah laku yang tidak terkendali, sangat kejam, plin-plan atau tidak bertanggung jawab. (Ayb 34:10, 12; 35:13; 37:23, 24) Maka, tidak ada alasan bagi manusia untuk berbantah-bantahan dengan-Nya atau mencari-cari kesalahan-Nya. (Ayb 40:2-5) Mereka yang mempraktikkan kebenaran dapat menghampiri Allah secara pribadi dan menikmati hubungan pribadi dengan-Nya. (Ayb 13:3; 29:4, 5; 31:35-37) Sebagai Pencipta, Ia adalah Sumber kehidupan dan hikmat.—Ayb 32:8; 33:4

Dalam nubuat di Yesaya 9:5 sehubungan dengan Mesias, gelar ”Allah yang Perkasa” diterapkan kepada Pangeran Perdamaian yang dijanjikan. Namun, pernyataan tersebut merupakan terjemahan dari bahasa Ibrani ʼEl Gib·bohrʹ, bukan ʼEl Shad·daiʹ seperti pada ayat-ayat di atas.

Istilah Yunani. Di dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen, kata Pan·to·kraʹtor muncul sepuluh kali, sembilan dari antaranya dalam kitab Wahyu. Kata tersebut pada dasarnya berarti ”Mahakuasa” atau ”Mahakuat”. Penggunaan kata tersebut dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen menitikberatkan kepada pengertian istilah Ibrani Shad·daiʹ yang artinya ”Yang Mahakuasa”, karena tidak ada istilah lain yang sesuai untuk Pan·to·kraʹtor dalam Kitab-Kitab Ibrani.

Di 2 Korintus 6:18 Paulus mengutip dari Kitab-Kitab Ibrani guna mendesak umat kristiani menghindari ibadat palsu dan penggunaan ilah-ilah yang tak bernyawa dan tak berkuasa, sehingga memenuhi syarat sebagai anak-anak dari ”Yang Mahakuasa [Pan·to·kraʹtor]”. Dengan memandang kutipan sang rasul, jelaslah bahwa gelar tersebut ditujukan kepada Allah Yehuwa.

Sama halnya, di seluruh buku Wahyu, Pan·to·kraʹtor ditujukan kepada Sang Pencipta dan Raja Kekal, Yehuwa, seperti di dalam ”nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba [Kristus Yesus]” yang menyerukan Allah Yehuwa sebagai satu-satunya pribadi yang patut disembah dan ditakuti oleh segala bangsa. (Why 15:3; bandingkan Why 21:22.) Gelar yang dikenakan kepada Allah Yehuwa diperjelas di Wahyu 19:6 dengan penggunaan pernyataan Haleluya (Pujilah Yah, hai umat!). Agaknya, pernyataan tentang Pribadi ”yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang” (Why 1:8; 4:8) jelas menunjukkan kepada Allah dari kekekalan (Mzm 90:2), yang bukan hanya ”sudah” Mahakuasa di zaman dahulu tetapi terus demikian dan ”akan” terus begitu sebagaimana terlihat dari pernyataan segenap kekuasaan-Nya. Sekali lagi tindakan yang keras dinyatakan, menyertai Dia meraih ’kuasa-Nya yang besar’ untuk memerintah sebagai raja, dengan menyatakan geram-Nya terhadap bangsa-bangsa yang melawan Dia pada ”peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa”. (Why 11:17, 18; 16:14) Putra-Nya, Yesus Kristus, ”Firman Allah”, diperlihatkan menyatakan ”kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa” terhadap bangsa-bangsa, dalam jabatannya sebagai raja yang diurapi Allah. (Why 19:13-16) Namun pernyataan keperkasaan keputusan pengadilan Allah terus berlanjut sampai memenuhi standar-standar kebenaran dan keadilan-Nya.—Why 16:5-7; lihat GOD.—Cuplikan dari Insight on the Scriptures.

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan