PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • g80_No3 hlm. 16
  • Belajar Mengenal Kasih Yang Sejati

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Belajar Mengenal Kasih Yang Sejati
  • Sedarlah!—1980 (No. 3)
  • Bahan Terkait
  • Hindari Jerat Judi
    Sedarlah!—2002
  • Apa Salahnya Berjudi?
    Sedarlah!—2002
  • Calon-Calon Penjudi​—Kaum Remaja!
    Sedarlah!—1995
  • Sesuatu yang Lebih Baik daripada Sesuatu yang Sia-Sia
    Sedarlah!—1992
Lihat Lebih Banyak
Sedarlah!—1980 (No. 3)
g80_No3 hlm. 16

Belajar Mengenal Kasih Yang Sejati

Dikisahkan oleh seorang kepala keluarga dari Jepang

SUASANA masa mudaku sama sekali tak mengijinkan berkembangnya kasih yang sungguh akan sesama. Ayah meninggal ketika aku baru berusia dua bulan. Ibu kawin lagi secara tidak resmi tetapi aku dibesarkan oleh orang lain. Pada umur 10 tahun aku dikembalikan kepada ibu, namun tak pernah merasakan kehangatan hidup keluarga. Ibu menjadi pecandu judi dan ia membawaku ke tempat-tempat perjudian.

Ketika aku menikah dalam usia 25 tahun, aku pun menjadi pecandu judi. Setiap hari kerjaku hanya itu saja. Siang harinya aku melakukan pekerjaan menjual, sehingga terbuka kesempatan untuk pergi ke arena balap kuda dan lomba perahu. Malam hari waktuku untuk Mah-Jongg (semacam judi), dan aku pulang ke rumah kira-kira tengah malam. Judi membuat keadaanku sungguh-sungguh sulit. Pekerjaanku jadi korban dan beban keuangan yang berat terpaksa ditanggung oleh keluargaku maupun keluarga istriku.

Berkali-kali kucoba meninggalkan judi namun gagal. Aku merasa hal itu memang sudah nasib atau warisan dari ibu. Aku jadi ngeri jangan-jangan aku tidak bisa menghentikannya lagi seumur hidupku. Kuatir masa depan, aku memutuskan bunuh diri saja. Tapi tatkala aku sedang memanjat atap sebuah gedung, wajah kedua anakku pun terbayang dan aku tak sanggup terjun.

Walaupun telah menikah, aku tak tahu bahwa kasih merupakan pengikat keluarga, sesuatu yang membuat perkawinan sehat dan penuh keriangan di antara suami istri. Karena tidak pernah mendapatkan kasih sedemikian dari ayah dan ibu, aku tidak benar-benar mengenal apakah kasih itu. Maka aku tidak memahami simpati istriku karena latar belakang pendidikanku—keinginannya untuk menghasilkan suatu keluarga yang hangat bersamaku serta ketabahannya walaupun aku mengkhianatinya. Namun, pada waktunya, aku menghargai bukan saja kasih istriku tetapi juga suatu kasih yang jauh lebih besar.

Menyadari bahayanya bekerja jauh dari rumah, istriku menganjurkan aku untuk memulai bisnis di rumah saja. Aku pun cepat-cepat cari pinjaman dan merubah bentuk rumah supaya cocok untuk bisnis Mah-Jongg. Aku suka Mah-Jongg dan tenagaku betul-betul kucurahkan untuk mengurusnya. Usaha ini berkembang dan aku mampu dengan tetap membayar kembali pinjaman. Tetapi istriku tak senang karena problem-problem keluarga. Yang paling gawat, istriku, kadang-kadang histeris, merasa aku harus diawasi supaya tidak kembali kepada kebiasaan yang dulu. Menghadapi keadaan seperti itu, aku benar-benar kehabisan tenaga secara jasmani dan mental.

Dalam suasana kehidupan keluarga yang tegang ini, pada suatu hari istriku tanpa sengaja mengambil dari rak sebuah buku yang berjudul ”Did Man Get Here by Evolution or by Creation?” (Apakah Adanya Manusia Karena Evolusi atau Ciptaan). Aku mendapat buku tersebut dari salah seorang Saksi Yehuwa enam bulan berselang. Istriku cenderung bersikap materialistis, menganut filsafat Marx-dan-Lenin dan seorang ateis tulen. Tetapi setelah ia membaca buku itu hatinya tergugah. Ia dapat mengerti bahwa tak ada dasar sama sekali untuk menolak adanya sang Pencipta yang maha kuasa dan bijaksana. Ia mulai diliputi rasa takut yang samar-samar. Untunglah seorang Saksi Yehuwa mampir ke rumah kami tak berapa lama kemudian dan pelajaran Alkitab dimulai dengan teratur. Mereka menggunakan buku ”Kebenaran Yang Membimbing Kepada Hidup Yang Kekal,” mulai dari pasal yang berjudul ”Membangun Hidup Kekeluargaan yang Bahagia.” Ketika istriku menceritakan kesan-kesan yang ia dapati, aku memutuskan untuk belajar juga.

Makin sering membaca Alkitab makin dalam keyakinanku bahwa inilah kebenaran. Walaupun masih segan, aku terkesan oleh kata-kata Ibrani 4:12: ”Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun.: Hasilnya, aku berusaha untuk tidak berdusta, bahkan sampai soal-soal yang kecil. Tanpa membantah aku menerima nasihat: ”Janganlah sekali-kali bersumpah . . . jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.” (Mat. 5:34, 37) Kepercayaan istriku cepat pulih dan dengan senang hati ia mematuhiku. Dua bulan sejak kami mulai belajar Alkitab aku meninggalkan rokok dan judi. Akhirnya aku sanggup menghentikan kebiasaan-kebiasaan itu sama sekali. Tak perlu lagi bagi siapapun untuk menguatirkan diriku. Yehuwa mendengar doaku yang sungguh-sungguh dan telah memberiku kekuatan untuk meneruskan perubahan ini.

Kini, bersama istriku dan kedua putra kami, aku tahu apa kasih yang sebenarnya, dan rumah tangga kami pun bahagia. Dan akhirnya kami mengenal kasih yang tiada taranya yang diperlihatkan oleh Allah Yehuwa dan Yesus Kristus, dan kami pun jadi yakin bahwa sukacita yang sejati datang karena menyambut kasih itu.

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan