PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • g85_No12 hlm. 15-17
  • Musuh Anda yang Paling Jahat—Siapakah Dia?

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Musuh Anda yang Paling Jahat—Siapakah Dia?
  • Sedarlah!—1985 (No. 12)
  • Subjudul
  • Kebungkaman Kaum Ulama Yang Menimbulkan Pertanyaan
  • Dapatkah Kita Memandang Setan ”Benar dan Sungguh-Sungguh Ada”?
Sedarlah!—1985 (No. 12)
g85_No12 hlm. 15-17

Musuh Anda yang Paling Jahat—Siapakah Dia?

MEMANG tidak dapat disangkal bahwa manusia sering kali menjadi penyebab kejahatan. Namun, persoalan yang sebenarnya adalah, Apakah hanya manusia sendiri yang bertanggung jawab atas kekejaman dan kebengisan yang amat sangat yang disaksikan oleh generasi kita ini? Banyak orang yang menolak untuk mencari sumber kejahatan ini di luar diri manusia. Tetapi, apakah anda patut mengesampingkan kemungkinan ini tanpa sedikit-dikitnya menyelidiki hal tersebut? Memang, gambaran Iblis yang populer, makhluk berekor panjang, bertanduk dan memakai celana panjang merah yang ketat, menjadi tertawaan orang. Tetapi, kejahatan yang merajalela di permukaan bumi ini bukan bahan tertawaan.

Menurut anda, apakah masuk akal bahwa manusia, makhluk yang mampu untuk mengasihi dan halus budinya, juga merupakan sumber dari penyiksaan-penyiksaan keji di kamp konsentrasi dan bom-bom nuklir? Kalau kejahatan dengan mudah dapat diterangkan oleh pengaruh kejiwaan atau lingkungan, mengapa kejahatan sangat memuncak justru pada jaman di mana pengetahuan manusia mengenai dirinya dan mengenai lingkungannya jauh lebih lengkap dari pada waktu-waktu sebelumnya? Mengapa hampir semua bangsa melaporkan meningkatnya kejahatan? Mengapa abad ini dilanda oleh bentuk-bentuk kejahatan yang hampir tidak pernah kedengaran di waktu-waktu lampau? Kalau kejahatan hanya bikinan manusia, mengapa usaha manusia untuk menghapuskannya gagal?

Mungkinkah apa yang dikatakan oleh Eugène Ionesco, penulis drama Roma yang terkenal itu, benar? Ia berkata: ”Kalau unsur-unsur demonis (bersifat iblis) dikesampingkan, kita tidak akan dapat memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sejarah.”

Kebungkaman Kaum Ulama Yang Menimbulkan Pertanyaan

Pertanyaan tentang ada tidaknya ”unsur-unsur demonis” ini tentu paling tepat untuk dijawab oleh ahli-ahli teologi. Anehnya pendapat-pendapat kaum ulama juga saling bertentangan seperti halnya dengan pendapat-pendapat dari kaum ilmuwan. Majalah Providence Journal-Bulletin pernah menanyakan kepada kaum ulama setempat, Apakah Setan itu benar-benar ada? Ada yang menyatakan bahwa mereka benar-benar pernah mengusir setan-setan, yang lain yang percaya akan adanya Iblis tetapi merasa sulit untuk menyatakan Iblis sebagai suatu ’pribadi’ (’Saya lebih cenderung untuk memandang dia [Iblis] sebagai suatu kekuatan yang menentang kehendak Allah’), namun ada lagi yang berkata bahwa Iblis itu bukan suatu pribadi (’Saya kira kita tidak usah menyatakan dia sebagai suatu pribadi’).

Kepercayaan akan adanya Iblis adalah doktrin gereja yang resmi. Sekalipun demikian gereja Katolik tetap membungkam dalam hal ini. Seperti yang dinyatakan E.V. Walter dalam buku Disguises of the Demonic, gereja-gereja telah terpengaruh oleh sikap ragu-ragu dari jaman modern ini. Dengan membandingkan edisi tahun 1907 dengan edisi tahun 1967 dari The Catholic Encyclopedia, Walter memperhatikan ”perbedaan yang tidak kecil” dalam artikel-artikel yang membahas tentang ”hantu-hantu,” ”orang-orang kesurupan,” ”kemasukan setan” dan ”pengusiran setan.” Ensiklopedia edisi lama dengan jelas mengakui kenyataan dari hal kemasukan setan, sedangkan edisi baru meninjaunya dengan cara yang lebih rumit: ”Ilmu penyakit jiwa . . . sudah menunjukkan bahwa pemikiran-pemikiran di bawah-sadar menerangkan cukup banyak dari keadaan yang tidak normal tersebut, yang oleh generasi lama dianggap sebagai kegiatan-kegiatan yang dipengaruhi Iblis.”

Namun, pada tahun 1972, Paus Paulus VI, telah menimbulkan keributan dalam masalah teologi ketika ia berkata: ”Kita tahu bahwa makhluk [Iblis] yang tidak kelihatan dan yang mengganggu ini benar-benar ada dan bahwa ia masih bekerja dengan tipu muslihat yang licin.” Ahli-ahli teologi liberal merasa gelisah akan pernyataan ini. Gereja mensponsori penyelidikan mengenai persoalan tersebut. Hasilnya? Sebuah dokumen berjudul ”Christian Faith and Demonology” [Iman Kristen dan Ilmu tentang Iblis] yang dengan jelas menegaskan kembali kepercayaan Gereja Katolik mengenai adanya Iblis. Tetapi, seperti dinyatakan oleh Herbert Haag dalam majalah Journal of Ecumenical Studies, anehnya gereja memilih cara yang sangat tidak menarik perhatian dalam menerbitkan hasil penyelidikan inia Dan sungguh mengejutkan, nama penulis dari karangan tersebut tidak dicantumkan, ini merupakan pelanggaran tradisi gereja. Haag mengambil kesimpulan: ”Roma memilih agar supaya penulisnya tidak dikenal, tak lain disebabkan oleh karena kurangnya kepastian dalam persoalan ini.”

Dapatkah Kita Memandang Setan ”Benar dan Sungguh-Sungguh Ada”?

Walaupun dokumen Vatikan tidak diperdulikan oleh media maupun oleh dunia, sengketa mengenai adanya Iblis ini tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Akibat-akibatnya terlalu besar. Misalnya, kalau tidak ada Iblis, bagaimana anda dapat memahami adanya Allah yang berpengasihan dengan adanya kejahatan yang berlangsung terus? Seperti yang ditulis oleh Howard R. Burkle dalam bukunya God, Suffering, & Belief: ”Namun, yang paling penting dari segala unsur yang membuat sukar bagi orang-orang modern untuk percaya [akan Allah] adalah kenyataan tentang penderitaan umat manusia.” Maka penyangkalan akan adanya Iblis sama saja dengan penyangkalan akan adanya Allah!

Sebenarnya, kepercayaan akan adanya Iblis itu universal. Sebagai seorang ahli sejarah, Jeffrey Burton menyatakan akan adanya ”perumusan yang sejajar mengenai Iblis dalam berbagai kebudayaan yang berjauhan satu dengan yang lain.” Iblis disebut Ahirman oleh orang-orang Persia di jaman lampau, disebut Mara oleh orang-orang Budha. Namun di dunia Barat, mungkin ia lebih terkenal dengan nama Satan. Sekalipun sikap tidak percaya dari ilmu pengetahuan dan penyangkalan dari kalangan teologi, kepercayaan akan adanya Iblis tetap ada.

Namun, pertanyaan yang sangat berarti bagi umat Kristen adalah, Apakah Alkitab mengajarkan adanya Iblis? Memang, ahli-ahli teologi liberal berusaha untuk menyingkirkan pemunculan Iblis dari Alkitab, malah ada yang berkata bahwa Yesus sendiri tidak percaya adanya Iblis ini. Menurut Profesor Richard H. Hiers, yang menulis dalam majalah Scottish Journal of Theology, sikap mereka adalah seperti ini: ”Kami tidak percaya akan Setan dan hantu-hantu; tentunya Yesus pun tidak percaya akan hal ini!” Tetapi, keempat Injil, Hiers menyimpulkan: ”Tidak ada alasan bagi kita untuk menganggap bahwa Yesus tidak memandang setan-setan, sama seperti orang-orang pada jamannya dan para penulis Injil memandangnya: yakni benar dan sungguh-sungguh ada.”

Jadi apakah anda juga mempunyai alasan-alasan yang kuat untuk menanggapi adanya Iblis ini ”sebagai sesuatu yang benar dan sungguh-sungguh ada”? Apa yang sebenarnya dikatakan Alkitab mengenai dia?

[Catatan Kaki]

a Dokumen tersebut, menurut Haag, hanya muncul dalam beberapa edisi dari L’Osservatore Romano, surat kabar resmi Vatikan

[Blurb di hlm. 16]

”Kalau unsur-unsur demonis dikesampingkan, kita tidak akan dapat memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sejarah”

[Blurb di hlm. 16]

Usaha-usaha untuk menyatakan bahwa Iblis hanyalah kejahatan yang ada di dalam diri manusia ternyata tidak memuaskan

[Gambar di hlm. 17]

Apakah hanya manusia yang bertanggung jawab atas semua kejadian ini?

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan