PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • g80_No3 hlm. 17-18
  • Apakah Hidup Ini Punya Arti?

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Apakah Hidup Ini Punya Arti?
  • Sedarlah!—1980 (No. 3)
  • Bahan Terkait
  • Kebahagiaan—Usaha untuk Mengejarnya
    Sedarlah!—1985 (No. 13)
  • Sumber yang Paling Menentukan Arti Hidup
    Sedarlah!—1980 (No. 3)
  • Hidup Bahagia—Apakah Memang Mungkin?
    Kebahagiaan—Cara Memperolehnya
  • Menambah Makna Kehidupan Anda Selama-lamanya
    Apakah Ada Pencipta yang Mempedulikan Anda?
Lihat Lebih Banyak
Sedarlah!—1980 (No. 3)
g80_No3 hlm. 17-18

Apakah Hidup Ini Punya Arti?

Seorang pria berusia 80-an merenungkan: ’Hidupku ini hampir berakhir. Berlalunya cepat. Yang tinggal cuma sedikit. Apa jadinya semua itu? Apa artinya? Segalanya telah lewat, tiada lagi yang dikejar, selain liang kubur. Lalu lenyap dari ingatan orang hidup. Hampa! Tak heran mengapa orang yang berpandangan sinis berkata, ”Makan, minum dan nikmatilah segalanya, sebab besok kita mati.”’

Tapi ini sajakah bagian manusia?

LAMA berselang seorang pria ditimpa sengsara. Sakitnya tak terperikan, namun ia tak tahu mengapa. Maka ia meratapi kenyataan yang merundung setiap manusia: ”Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan. Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan.”—Ayb. 14:1, 2.

Jadi itu sajakah bagian manusia? Apakah memang hidup ini tidak mempunyai arti? Telah berulang kali pertanyaan-pertanyaan ini diajukan oleh generasi-generasi manusia sepanjang abad. Bila usia makin lanjut, jawabannya terasa makin perlu. Orang pun mulai merenungi kehidupan yang telah ia lalui dan ingin memahami untuk apa ia hidup.

Bila seorang yang lanjut usia menemui ajalnya, pada upacara penguburan lumrah terdengar kata-kata: ’Ya, kehidupannya sungguh penuh arti.’ Dengan tanggapan ini diharapkan agar kematian dapat diterima. Tetapi apakah kematian lebih mudah diterima bila kehidupan yang telah dilalui itu penuh arti? Ataukah lebih berat diterima? Bukankah lebih gampang meninggalkan kehidupan yang hampa dari pada yang penuh arti? Tidak ada orang yang mau berkata, ”Aku akan bunuh diri sebab aku begitu bahagia!” Orang-orang yang sengsaralah yang mencari jalan untuk bunuh diri. Bila anda kelaparan hari ini, perasaan anda tidak akan dihibur oleh rasa kenyang yang kemarin. Dan apa yang kelihatannya penting selama masa hidup sering menjadi kurang berarti bila kematian makin dekat.

Bagi banyak orang hidup ini sudah tidak punya arti. Dunia ini tampak suram. Kehidupan dianggap murah. Banyak orang jadi bingung. Yang muda tak dipedulikan, yang tua diasingkan ke panti derma yang tidak memberi kegairahan. Rasa tegang pun menumpuk, yang berakhir dengan sakit jantung atau kekerasan. Kebobrokan politik meluas dan jurang akibat rasa saling tidak percaya melebar. Ada orang-orang yang prihatin dan ingin memperbaiki keadaan, tapi pengaruh usaha mereka tak lebih dari benturan kutu di punggung gajah. Kekecewaan makin terasa dan banyak orang tenggelam dalam keasyikan yang tidak sungguh-sungguh punya arti. Menyoroti kecenderungan ini, sebuah best-seller di Amerika Serikat, The Culture of Narcissism, mengatakan: ”Karena tidak adanya harapan untuk meningkatkan mutu kehidupan dengan cara yang sungguh-sungguh punya arti, banyak orang percaya bahwa yang penting adalah meningkatkan kepribadian secara psikis: menuruti perasaan-perasaan mereka, menikmati makanan yang sehat, belajar tari ballet atau tari-perut, menekuni hikmat negeri Timur, gerak-badan dengan berlari-lari (jogging), belajar cara ’menuturkan,’ . . . Mereka memupuk pengalaman-pengalaman yang lebih hidup, berusaha memaksa tubuh yang malas untuk menghadapi kehidupan, memulihkan selera yang sudah tumpul. . . . kesehatan mental berarti mengesampingkan rasa segan dan memuaskan setiap dorongan nafsu tanpa pikir panjang.”—Hal. 29, 39, 40, 43.

Bila haluan sedemikian dikejar, kehidupan yang hampa akan semakin hampa, dan karena usaha yang makin nekat untuk menemukan jalan keluar, mereka tenggelam dalam nafsu serta penyalahgunaan seks, merusak milik orang lain dan kekerasan yang tak berperikemanusiaan, menggunakan narkotik dan bahkan memilih jalan keluar yang terakhir—bunuh diri. Semata-mata karena mereka merasa hidup ini tidak punya arti.

Hidup hanya untuk sekian tahun saja, kemudian ke liang kubur dan lenyap dari ingatan orang yang masih hidup. Bagaimana hidup ini bisa punya arti? Apa yang akan membuat manusia lebih penting dari pada seekor semut atau belalang? Di dalam ruang yang maha besar di alam semesta, manusia merasa diri bagaikan tiada, tak punya tempat dan tidak berarti, hidup sekejap dan lenyap selama-lamanya. Hidup ini seakan suatu latihan yang sia-sia.

”Bagaimana hidupku ini bisa punya arti?” tanya seseorang. ’Bila aku telah tiada siapa yang akan merasa kehilangan, dan untuk berapa lama? dan bila memang ada yang merasa kehilangan, apa pengaruhnya? Diriku ini hanya satu di antara ribuan juta. Siapa yang memperhatikan, siapa yang peduli, siapa yang ingat?’

Tapi tunggu dulu! Ada yang memperhatikan. Ada yang peduli. Ada yang ingat. Hidup ini memang punya arti, jika anda ingin, jika anda membuatnya demikian. Artikel-artikel berikut membuktikan kebenarannya.

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan