-
Yehuwa, Allah yang ”Siap Mengampuni”Menara Pengawal—1997 | 1 Desember
-
-
Yehuwa, Allah yang ”Siap Mengampuni”
”Engkau, oh, Yehuwa, baik dan siap mengampuni.”—MAZMUR 86:5, NW.
1. Beban berat apa dipikul oleh Raja Daud, dan bagaimana ia mendapat penghiburan bagi hatinya yang susah?
RAJA DAUD pada zaman Israel purba mengetahui betapa beratnya beban dari hati nurani yang bersalah. Ia menulis, ”Kesalahanku telah menimpa kepalaku; semuanya seperti beban berat yang menjadi terlalu berat bagiku. Aku kehabisan tenaga dan remuk redam, aku merintih karena degap-degup jantungku.” (Mazmur 38:5, 9) Akan tetapi, Daud mendapatkan penghiburan bagi hatinya yang susah. Ia mengetahui bahwa meskipun Yehuwa membenci dosa, Ia tidak membenci si pedosa—jika orang tersebut benar-benar bertobat dan menolak haluan yang berdosa. (Mazmur 32:5; 103:3) Dengan iman yang penuh akan kesediaan Yehuwa untuk mengulurkan belas kasihan kepada orang-orang yang bertobat, Daud mengatakan, ”Engkau, oh, Yehuwa, baik dan siap mengampuni.”—Mazmur 86:5, NW.
2, 3. (a) Sewaktu kita berbuat dosa, beban apa yang mungkin kita pikul sebagai akibatnya, dan mengapa hal ini bermanfaat? (b) Apa bahayanya apabila kita ”tertelan habis” oleh rasa bersalah? (c) Jaminan apa yang Alkitab berikan kepada kita tentang kesediaan Yehuwa untuk mengampuni?
2 Jika kita berbuat dosa, kita pun mungkin harus menanggung beban yang mengimpit sebagai akibatnya, yaitu siksaan hati nurani. Adalah normal untuk merasakan penyesalan yang dalam, bahkan itu bermanfaat. Ini dapat menggerakkan kita untuk mengambil langkah-langkah positif untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan kita. Namun, beberapa orang Kristen telah dililit perasaan bersalah. Hati mereka sendiri terus-menerus mempersalahkan mereka, mungkin berkukuh bahwa Allah tidak akan sepenuhnya mengampuni mereka, tidak soal seberapa dalam pertobatan mereka. ”Sungguh ngeri bila berpikir bahwa Yehuwa tidak mengasihi kita lagi,” kata seorang saudari, setelah merenungkan kesalahan yang telah diperbuatnya. Bahkan setelah ia bertobat dan menerima nasihat yang berguna dari para penatua sidang, ia masih terus merasa tidak layak menerima pengampunan Allah. Ia menjelaskan, ”Saya menangis sendiri sampai tertidur dengan diliputi perasaan bersalah.” ”Tiada hari berlalu tanpa permohonan ampun kepada Yehuwa.” Jika kita ”tertelan habis” oleh perasaan bersalah, Setan dapat mencoba membuat kita menyerah, untuk merasa bahwa kita tidak layak melayani Yehuwa.—2 Korintus 2:5-7, 11.
3 Namun itu sama sekali bukan cara Yehuwa memandang masalahnya! Firman-Nya meyakinkan kita bahwa sewaktu kita memperlihatkan pertobatan sepenuh hati yang sejati, Yehuwa bersedia, bahkan siap, untuk mengampuni. (Amsal 28:13) Maka, bila pengampunan Allah tampaknya mustahil saudara peroleh, mungkin yang saudara butuhkan adalah pengertian yang lebih baik tentang mengapa dan bagaimana Ia mengampuni.
Mengapa Yehuwa ”Siap Mengampuni”?
4. Apa yang Yehuwa ingat tentang kodrat kita, dan bagaimana ini mempengaruhi cara Ia memperlakukan kita?
4 Kita membaca, ”Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian [Yehuwa] sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Mengapa Yehuwa cenderung memperlihatkan belas kasihan? Ayat selanjutnya menjawab, ”Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.” (Mazmur 103:12-14) Ya, Yehuwa tidak melupakan bahwa kita adalah makhluk yang berasal dari debu, memiliki ketidakberdayaan, atau kelemahan, sebagai akibat dari ketidaksempurnaan. Pernyataan bahwa Ia mengetahui ”apa kita” mengingatkan kita bahwa Alkitab menyamakan Yehuwa dengan seorang tukang tembikar dan kita dengan bejana yang Ia bentuk.a (Yeremia 18:2-6) Seorang tukang tembikar menangani bejana tanah liatnya dengan kokoh namun lembut, senantiasa menyadari sifat bahan dasarnya. Maka, juga, Yehuwa, Tukang Tembikar Agung, mengendalikan cara Ia berurusan dengan kita menurut kelemahan dari sifat bawaan kita yang berdosa.—Bandingkan 2 Korintus 4:7.
5. Bagaimana buku Roma menggambarkan cengkeraman dosa yang berkuasa atas daging kita yang tidak sempurna?
5 Yehuwa memahami betapa berkuasanya dosa. Alkitab menggambarkan dosa sebagai suatu daya ampuh yang mencekal manusia ke dalam cengkeraman mautnya. Seberapa kuatkah cengkeraman dosa? Dalam buku Roma, rasul Paulus yang diilhami menjelaskan hal ini dengan istilah yang jelas: Kita berada ”di bawah dosa”, sebagaimana prajurit berada di bawah komandan mereka (Roma 3:9); dosa telah ”berkuasa” atas umat manusia seperti seorang raja (Roma 5:21); dosa ”diam”, atau ”tinggal”, dalam diri kita (Roma 7:17, 20); ”hukum”nya terus bekerja dalam diri kita, bahkan berupaya mengendalikan haluan kita. (Roma 7:23, 25) Benar-benar sulit perjuangan kita untuk melawan cengkeraman kuat dari daging yang tidak sempurna!—Roma 7:21, 24.
6. Bagaimana Yehuwa memandang orang-orang yang mencari belas kasihan-Nya dengan hati yang sedih serta menyesal?
6 Oleh karena itu, Allah kita yang berbelaskasihan mengetahui bahwa ketaatan yang sempurna tidak mungkin bagi kita, tidak soal seberapa banyak hati kita ingin memberikannya kepada Dia. (1 Raja 8:46) Dengan penuh kasih, Ia meyakinkan kita bahwa bila kita mencari belas kasihan kebapakan-Nya dengan hati yang sedih serta menyesal, Ia akan mengulurkan pengampunan. Sang pemazmur Daud mengatakan, ”Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19) Yehuwa tidak akan pernah menampik, atau menolak, hati yang patah dan remuk oleh beban perasaan bersalah. Sungguh indah hal itu menggambarkan kesediaan Yehuwa untuk mengampuni!
7. Mengapa kita tidak dapat menyalahgunakan belas kasihan Allah?
7 Namun, apakah ini berarti bahwa kita dapat menyalahgunakan belas kasihan Allah, dengan menggunakan sifat bawaan kita yang berdosa sebagai dalih untuk berbuat dosa? Sama sekali tidak! Yehuwa tidak semata-mata dibimbing oleh perasaan. Belas kasihan-Nya mempunyai batas. Ia sama sekali tidak akan mengampuni orang yang dengan degil hati mempraktekkan dosa yang didasari niat jahat dan disengaja tanpa menunjukkan pertobatan. (Ibrani 10:26-31) Di lain pihak, bila Ia melihat hati yang ”patah dan remuk”, Ia ”siap mengampuni”. (Amsal 17:3) Marilah kita pertimbangkan beberapa dari bahasa ekspresif yang digunakan di dalam Alkitab untuk menggambarkan kelengkapan dari pengampunan ilahi.
Seberapa Lengkapkah Yehuwa Mengampuni?
8. Apa yang seolah-olah Yehuwa lakukan bila Ia mengampuni dosa-dosa kita, dan ini hendaknya memberikan pengaruh apa atas diri kita?
8 Raja Daud yang bertobat mengatakan, ”Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: ’Aku akan mengaku kepada [Yehuwa] pelanggaran-pelanggaranku,’ dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.” (Mazmur 32:5) Kata ”mengampuni” adalah terjemahan dari kata Ibrani yang pada dasarnya berarti ”mengangkat”, ”menanggung, memikul”. Penggunaannya di sini menunjukkan ’menyingkirkan perasaan bersalah, kelaliman, pelanggaran’. Maka Yehuwa seolah-olah mengangkat dosa-dosa Daud dan memikulnya. (Bandingkan Imamat 16:20-22.) Hal ini tidak diragukan meringankan perasaan bersalah yang ditanggung Daud. (Bandingkan Mazmur 32:3.) Kita pun dapat memiliki keyakinan penuh akan Allah yang mengampuni dosa orang-orang yang mencari pengampunan-Nya berdasarkan iman akan korban tebusan Yesus Kristus. (Matius 20:28; bandingkan Yesaya 53:12.) Orang-orang yang dosa-dosanya Yehuwa angkat dan pikul tidak perlu terus menanggung beban perasaan bersalah untuk dosa-dosanya di masa lampau.
9. Apa arti dari kata-kata Yesus, ”Ampunilah kami akan dosa-dosa yang disamakan dengan utang kami”?
9 Yesus menggunakan hubungan antara orang yang berpiutang dan orang yang berutang untuk menggambarkan cara Yehuwa mengampuni. Misalnya, Yesus mendesak kita untuk berdoa, ”Ampunilah kami akan dosa-dosa yang disamakan dengan utang kami.” (Matius 6:12) Yesus dengan demikian menyamakan ”dosa-dosa” dengan ”utang”. (Lukas 11:4) Sewaktu kita berbuat dosa, kita menjadi ’orang yang berutang’ kepada Yehuwa. Kata kerja Yunani yang diterjemahkan ’mengampuni’ dapat berarti ”merelakan, melepaskan, suatu utang, dengan tidak menuntutnya”. Dengan kata lain, sewaktu Yehuwa mengampuni, Ia membatalkan utang yang seharusnya dibebankan kepada kita. Para pedosa yang bertobat dengan demikian dapat terhibur. Yehuwa tidak akan pernah menuntut pembayaran untuk utang yang telah Ia batalkan!—Mazmur 32:1, 2; bandingkan Matius 18:23-35.
10, 11. (a) Apa kesan yang terkandung dalam pernyataan ”dihapus”, yang terdapat di Kisah 3:19? (b) Bagaimana tuntasnya pengampunan Yehuwa diilustrasikan?
10 Di Kisah 3:19, Alkitab menggunakan kata kiasan yang jelas untuk menggambarkan pengampunan Allah, ”Karena itu, bertobat dan berbaliklah agar dosa-dosamu dihapus.” Pernyataan ”dihapus” merupakan terjemahan kata kerja Yunani yang, bila digunakan secara metafora, dapat berarti ”menghapus bersih, melenyapkan, membatalkan atau membinasakan”. Menurut beberapa sarjana, konsep yang hendak dinyatakan adalah menghapus tulisan tangan. Bagaimana mungkin? Tinta yang umum digunakan pada zaman purba terbuat dari campuran bahan-bahan seperti arang, getah, dan air. Segera setelah menggunakan tinta semacam itu, seseorang dapat mengambil spons basah dan menghapus tulisannya.
11 Di sini terkandung gambaran yang bagus dari tuntasnya pengampunan Yehuwa. Sewaktu Ia mengampuni dosa-dosa kita, halnya seolah-olah Ia mengambil spons dan menghapusnya. Kita tidak perlu takut jangan-jangan di kemudian hari Ia akan mengungkit-ungkit lagi dosa-dosa kita, karena Alkitab menyingkapkan hal lain tentang belas kasihan Yehuwa yang benar-benar luar biasa: Sewaktu Ia mengampuni, Ia melupakan!
’Aku Tidak Lagi Mengingat Dosa Mereka’
12. Sewaktu Alkitab mengatakan bahwa Yehuwa melupakan dosa-dosa kita, apakah itu berarti bahwa Ia tidak dapat mengingatnya, dan mengapa saudara menjawab demikian?
12 Melalui nabi Yeremia, Yehuwa berjanji sehubungan dengan orang-orang dalam perjanjian baru, ”Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” (Yeremia 31:34) Apakah ini berarti bahwa sewaktu Yehuwa mengampuni, Ia tidak dapat mengingat dosa-dosa kita lagi? Halnya tidak mungkin demikian. Alkitab memberi tahu kita tentang dosa-dosa dari banyak orang yang Yehuwa ampuni, termasuk Daud. (2 Samuel 11:1-17; 12:1-13) Jelaslah Yehuwa masih tanggap akan kekeliruan yang mereka perbuat, dan demikian pula halnya dengan kita. Catatan tentang dosa, serta pertobatan mereka dan pengampunan dari Allah, telah dipelihara demi manfaat kita. (Roma 15:4) Kalau begitu, apa yang Alkitab maksudkan sewaktu mengatakan bahwa Yehuwa tidak ”mengingat” dosa dari orang-orang yang Ia ampuni?
13. (a) Apa yang termasuk dalam arti dari kata kerja Ibrani yang diterjemahkan ”mengingat”? (b) Sewaktu Yehuwa mengatakan, ”tidak lagi mengingat dosa mereka”, tentang apa Ia meyakinkan kita?
13 Kata kerja Ibrani yang diterjemahkan ”mengingat” menyiratkan lebih daripada sekadar mengenang kembali hal-hal yang telah berlalu. Menurut Theological Wordbook of the Old Testament, kata ini mencakup ”makna tambahan yaitu mengambil tindakan yang setimpal”. Maka dalam arti ini, ”mengingat” dosa mencakup mengambil tindakan terhadap pedosa-pedosa. Sewaktu nabi Hosea mengatakan tentang orang-orang Israel yang tidak patuh, ”Ia [Yehuwa] akan mengingat kesalahan mereka,” sang nabi memaksudkan bahwa Yehuwa akan mengambil tindakan terhadap mereka karena kurangnya pertobatan mereka. Oleh karena itu, selebihnya dari ayat itu menambahkan, ”Dan akan menghukum dosa mereka.” (Hosea 9:9) Di lain pihak, sewaktu Yehuwa mengatakan, ”Tidak lagi mengingat dosa mereka”, Ia meyakinkan kita bahwa setelah Ia mengampuni seorang pedosa yang bertobat, Ia tidak akan mengambil tindakan atasnya di kemudian hari karena dosa-dosa tersebut. (Yehezkiel 18:21, 22) Dengan demikian Ia melupakan dalam arti Ia tidak akan mengungkit-ungkit dosa-dosa kita dengan maksud mendakwa atau terus-menerus menghukum kita. Dengan demikian, Yehuwa memberikan contoh istimewa bagi kita untuk ditiru dalam berurusan dengan orang lain. Sewaktu perselisihan muncul, sungguh amat baik jika kita tidak usah menyinggung-nyinggung pelanggaran yang telah lalu, yang telah kita ampuni dengan ikhlas.
Bagaimana dengan Konsekuensinya?
14. Mengapa pengampunan tidak berarti bahwa seorang pedosa yang bertobat terluput dari segala konsekuensi haluannya yang salah?
14 Apakah kesediaan Yehuwa untuk mengampuni berarti bahwa seorang pedosa yang bertobat dibebaskan dari segala konsekuensi haluannya yang salah? Sama sekali tidak. Kita tidak dapat luput dari ganjaran atas dosa-dosa kita. Paulus menulis, ”Apa pun yang ditabur orang, ini juga yang akan dituainya.” (Galatia 6:7) Kita mungkin menghadapi konsekuensi tertentu dari tindakan atau problem kita, namun setelah mengulurkan pengampunan, Yehuwa tidak menyebabkan kesengsaraan menimpa kita. Sewaktu timbul masalah, seorang Kristen tidak boleh merasa, ’Barangkali Yehuwa sedang menghukum saya atas dosa-dosa saya di masa lalu’. (Bandingkan Yakobus 1:13.) Di lain pihak, Yehuwa tidak menghindarkan kita dari segala dampak tindakan kita yang keliru. Perceraian, kehamilan yang tidak diharapkan, penyakit hubungan seksual, hilangnya kepercayaan atau respek—semua ini mungkin menjadi konsekuensi yang menyedihkan dari dosa, dan Yehuwa tidak akan melindungi kita dari hal-hal itu. Ingatlah bahwa meskipun Ia mengampuni Daud karena dosa-dosa-Nya sehubungan dengan Batsyeba dan Uria, Yehuwa tidak melindungi Daud dari konsekuensi yang penuh bencana di kemudian hari.—2 Samuel 12:9-14.
15, 16. Bagaimana hukum yang dicatat di Imamat 6:1-7 memberikan manfaat kepada korban dan pelanggar?
15 Dosa-dosa kita mungkin memiliki konsekuensi lain juga. Misalnya, pertimbangkan kisah di Imamat pasal 6. Hukum Musa yang tertera di sana membahas situasi seseorang yang melakukan kesalahan yang serius, yakni merampas harta benda sesama orang Israel melalui perampokan, pemerasan, atau kecurangan. Si pedosa kemudian menyangkal bahwa ia bersalah, bahkan berani bersumpah palsu. Tidak ada bukti-bukti fisik, hanya perbantahan antara dua belah pihak saja. Akan tetapi, belakangan, hati nurani si pelanggar ini menderita dan ia pun mengakui dosanya. Untuk memperoleh pengampunan Allah, ia harus melakukan tiga hal lagi: mengembalikan apa yang telah ia ambil, membayar denda sebesar 20 persen kepada si korban, dan mempersembahkan seekor domba jantan sebagai persembahan penebus salah. Kemudian hukum mengatakan, ”Imam harus mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, sehingga ia menerima pengampunan atas perkara apapun yang diperbuatnya.”—Imamat 6:1-7; bandingkan Matius 5:23, 24.
16 Hukum ini merupakan suatu persediaan yang berbelaskasihan dari Allah. Ini memberikan manfaat kepada si korban, yang miliknya dikembalikan dan yang tidak diragukan merasa sangat lega sewaktu si pelanggar akhirnya mengakui dosanya. Pada waktu yang sama, hukum memberikan manfaat kepada orang yang akhirnya tergugah oleh hati nuraninya untuk mengakui kesalahannya dan mengoreksi kekeliruannya. Memang, jika ia menolak untuk melakukan hal itu, tidak akan ada pengampunan baginya dari Allah.
17. Sewaktu orang lain telah disakiti oleh dosa-dosa kita, apa yang Yehuwa harapkan agar kita lakukan?
17 Meskipun kita tidak berada di bawah Hukum Musa, ini memberikan kepada kita pemahaman yang berharga tentang pikiran Yehuwa, termasuk sudut pandangan-Nya akan pengampunan. (Kolose 2:13, 14) Sewaktu orang-orang lain merasa disakiti atau menjadi korban dari dosa-dosa kita, Yehuwa disenangkan apabila kita melakukan sedapat mungkin untuk ’membenarkan kesalahan’. (2 Korintus 7:11) Ini mencakup mengakui dosa kita, mengakui kesalahan kita, dan bahkan meminta maaf kepada sang korban. Kemudian kita dapat memohon pengampunan kepada Yehuwa berdasarkan korban Yesus dan mengalami kelegaan dari hati nurani yang bersih dan jaminan bahwa kita telah diampuni Allah.—Ibrani 10:21, 22.
18. Disiplin apa mungkin menyertai pengampunan Yehuwa?
18 Seperti halnya semua orang-tua yang pengasih, Yehuwa dapat memberikan pengampunan bersama disiplin. (Amsal 3:11, 12) Seorang Kristen yang bertobat mungkin harus melepaskan hak istimewa untuk melayani sebagai seorang penatua, hamba pelayanan, atau seorang perintis. Itu mungkin menyakitkan baginya untuk selama jangka waktu tertentu kehilangan hak istimewa yang sangat berharga baginya. Akan tetapi, disiplin demikian tidak berarti bahwa ia telah kehilangan perkenan Yehuwa atau bahwa Yehuwa menahan pengampunan-Nya. Selain itu, kita harus mengingat bahwa disiplin dari Yehuwa merupakan bukti dari kasih-Nya kepada kita. Menerima dan menerapkannya adalah kepentingan kita yang utama dan dapat membawa kepada kehidupan abadi.—Ibrani 12:5-11.
19, 20. (a) Jika saudara telah berbuat salah, mengapa saudara hendaknya tidak merasa bahwa saudara berada di luar jangkauan belas kasihan Yehuwa? (b) Apa yang akan dibahas dalam artikel berikut?
19 Sungguh menyegarkan untuk mengetahui bahwa kita melayani Allah yang ”siap mengampuni”! Yehuwa melihat lebih daripada dosa dan kesalahan kita. (Mazmur 130:3, 4) Ia mengetahui apa yang ada di dalam hati kita. Jika saudara merasa bahwa hati saudara patah dan remuk karena kekeliruan di masa lampau, jangan menyimpulkan bahwa saudara tidak terjangkau oleh belas kasihan Yehuwa. Tidak soal kesalahan apa yang telah saudara perbuat, jika saudara benar-benar bertobat, mengambil langkah-langkah untuk membenarkan yang salah, dan dengan sungguh-sungguh berdoa memohon pengampunan Yehuwa berdasarkan darah Yesus yang dicurahkan, saudara dapat yakin sepenuhnya bahwa kata-kata dari 1 Yohanes 1:9 berlaku atas saudara, ”Jika kita mengaku dosa-dosa kita, dia setia dan adil-benar sehingga mengampuni kita dari dosa-dosa kita dan membersihkan kita dari semua ketidakadilbenaran.”
20 Alkitab menganjurkan kita untuk meniru pengampunan Yehuwa sewaktu kita berurusan dengan orang lain. Akan tetapi, sampai sejauh mana kita diharapkan untuk mengampuni dan melupakan bila orang-orang lain berbuat dosa terhadap kita? Ini akan dibahas dalam artikel selanjutnya.
-
-
’Teruslah Ampuni Satu Sama Lain dengan Lapang Hati’Menara Pengawal—1997 | 1 Desember
-
-
’Teruslah Ampuni Satu Sama Lain dengan Lapang Hati’
”Teruslah bertahan dengan sabar menghadapi satu sama lain dan ampuni satu sama lain dengan lapang hati.”—KOLOSE 3:13.
1. (a) Sewaktu Petrus menyarankan agar kita mengampuni orang lain ”sampai tujuh puluh tujuh kali”, mengapa ia berpikir bahwa ia sangat murah hati? (b) Apa yang Yesus maksudkan sewaktu ia mengatakan bahwa kita hendaknya mengampuni ”sampai tujuh puluh tujuh kali”?
”TUAN, berapa kali saudaraku dapat berdosa melawan aku dan aku harus mengampuni dia? Sampai tujuh kali?” (Matius 18:21) Petrus mungkin berpikir bahwa ia sangat murah hati dengan berpendapat demikian. Pada saat itu, tradisi para rabi mengatakan bahwa seseorang hendaknya tidak memberikan pengampunan lebih dari tiga kali untuk pelanggaran yang sama.a Bayangkan betapa terkejutnya Petrus sewaktu Yesus menjawab, ”Aku mengatakan kepadamu, bukan: Sampai tujuh kali, tetapi: Sampai tujuh puluh tujuh kali”! (Matius 18:22) Pengulangan angka tujuh sama dengan mengatakan ”untuk waktu yang tidak ditentukan”. Di pandangan Yesus, sama sekali tidak ada batas berapa kali seorang Kristen hendaknya mengampuni orang lain.
2, 3. (a) Sebutkan beberapa situasi yang menyulitkan kita untuk mengampuni orang lain. (b) Mengapa kita dapat merasa yakin bahwa jika kita mengampuni orang lain, itu demi kefaedahan kita sendiri?
2 Akan tetapi, menerapkan nasihat tersebut tidak selalu mudah. Siapa dari antara kita yang belum pernah merasakan betapa sakitnya bila diperlakukan secara tidak adil? Barangkali seseorang yang saudara percayai mengkhianati kepercayaan saudara. (Amsal 11:13) Seorang sahabat karib mungkin mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati, seolah-olah ’menikam saudara seperti dengan pedang’. (Amsal 12:18) Perlakuan yang sewenang-wenang dari orang yang saudara kasihi dan percayai mungkin telah menyebabkan luka yang dalam. Bila hal-hal itu terjadi, mungkin reaksi kita yang wajar adalah marah. Kita mungkin tidak sudi untuk bertegur sapa dengan si pelanggar lagi, kalau bisa menghindarinya sama sekali. Mengampuni dia seolah-olah sama dengan membiarkannya bebas melukai kita. Namun, dengan memupuk kekesalan, kita akhirnya akan menyakiti diri.
3 Oleh karena itu, Yesus mengajari kita untuk mengampuni—”sampai tujuh puluh tujuh kali”. Tentu saja pengajarannya tidak akan pernah merugikan kita. Semua yang ia ajarkan berasal dari Yehuwa, ’Pribadi yang mengajar kita tentang apa yang memberi faedah’. (Yesaya 48:17; Yohanes 7:16, 17) Secara masuk akal, mengampuni orang lain pastilah demi kefaedahan kita sendiri. Sebelum kita membahas mengapa kita hendaknya mengampuni dan bagaimana kita dapat melakukannya, mungkin ada gunanya untuk pertama-tama memperjelas apa sebenarnya pengampunan dan apa yang bukan. Konsep kita akan pengampunan dapat mempengaruhi kesanggupan kita untuk mengampuni bila kita disakiti oleh orang lain.
4. Mengampuni bukan berarti apa, namun bagaimana pengampunan didefinisikan?
4 Mengampuni orang lain atas pelanggaran pribadinya tidak berarti bahwa kita menyetujui atau menyepelekan apa yang telah mereka lakukan; ini juga tidak berarti bahwa kita membiarkan orang-orang memanfaatkan kita secara tidak adil. Lagi pula, bila Yehuwa mengampuni kita, Ia tentu saja tidak memandang remeh dosa-dosa kita, dan Ia tidak akan pernah membiarkan manusia berdosa menginjak-injak belas kasihan-Nya. (Ibrani 10:29) Menurut Insight on the Scriptures, pengampunan didefinisikan sebagai ”tindakan memaafkan seorang pelanggar; berhenti merasa kesal terhadapnya karena pelanggarannya dan menyingkirkan segala keinginan untuk membalas”. (Jilid 1, halaman 861)b Alkitab menyediakan alasan yang masuk akal bagi kita untuk mengampuni orang lain.
Mengapa Mengampuni Orang Lain?
5. Alasan penting apa diperlihatkan di Efesus 5:1 sehubungan dengan mengampuni orang lain?
5 Suatu alasan yang penting untuk mengampuni orang lain diperlihatkan di Efesus 5:1, ”Karena itu, jadilah peniru-peniru Allah, sebagai anak-anak yang dikasihi.” Dalam hal apa kita hendaknya ’menjadi peniru-peniru Allah’? Ungkapan ”karena itu” menghubungkan pernyataan ini dengan ayat sebelumnya, yang mengatakan, ”Jadilah baik hati kepada satu sama lain, beriba hati yang lembut, mengampuni satu sama lain dengan lapang hati sebagaimana Allah juga melalui Kristus dengan lapang hati mengampuni kamu.” (Efesus 4:32) Ya, bila menyangkut pengampunan, kita hendaknya menjadi peniru-peniru Allah. Seperti seorang anak kecil berupaya menjadi seperti ayahnya, kita, sebagai anak-anak yang sangat dikasihi Yehuwa, hendaknya ingin menjadi seperti Bapak surgawi kita yang pengampun. Pastilah hati Yehuwa amat senang untuk memandang ke bawah dari surga dan melihat anak-anak-Nya di bumi berupaya menjadi seperti Dia dengan saling mengampuni satu sama lain!—Lukas 6:35, 36; bandingkan Matius 5:44-48.
6. Dalam hal apa terdapat perbedaan besar antara pengampunan dari Yehuwa dan pengampunan dari kita?
6 Memang, kita tidak akan pernah dapat mengampuni sesempurna Yehuwa. Namun, itu menjadi salah satu alasan kuat lagi mengapa kita hendaknya mengampuni satu sama lain. Pertimbangkan: Terdapat perbedaan besar antara pengampunan dari Yehuwa dan pengampunan dari kita. (Yesaya 55:7-9) Bila kita mengampuni orang yang telah berbuat dosa terhadap kita, itu sering kali disertai kesadaran bahwa cepat atau lambat kita mungkin membutuhkan mereka untuk membalas pengampunan kita dengan mengampuni kita. Sehubungan dengan manusia, pengampunan selalu saja antara pedosa dengan pedosa. Akan tetapi, sehubungan dengan Yehuwa, pengampunan selalu satu arah. Ia mengampuni kita, namun kita tidak pernah perlu mengampuni Dia. Jika Yehuwa, yang tidak berdosa, dapat dengan penuh kasih dan sepenuhnya mengampuni kita, bukankah kita manusia yang berdosa hendaknya berupaya mengampuni satu sama lain?—Matius 6:12.
7. Jika kita tidak bersedia mengampuni orang lain padahal ada dasar untuk berbelaskasihan, bagaimana ini dapat berpengaruh buruk terhadap hubungan kita sendiri dengan Yehuwa?
7 Bahkan yang lebih penting lagi, jika kita tidak bersedia mengampuni orang lain padahal ada dasar untuk berbelaskasihan, ini akan berakibat buruk terhadap hubungan kita sendiri dengan Allah. Yehuwa tidak hanya meminta agar kita mengampuni satu sama lain; Ia mengharapkan kita agar melakukan hal itu. Menurut Alkitab, bagian dari motivasi kita untuk suka mengampuni adalah agar Yehuwa mengampuni kita atau karena Ia telah mengampuni kita. (Matius 6:14; Markus 11:25; Efesus 4:32; 1 Yohanes 4:11) Maka, bila kita tidak bersedia mengampuni orang lain padahal ada alasan yang benar untuk berbuat demikian, apakah kita dapat benar-benar mengharapkan pengampunan demikian dari Yehuwa?—Matius 18:21-35.
8. Mengapa bersifat suka mengampuni adalah demi kefaedahan kita sendiri?
8 Yehuwa mengajarkan kepada umat-Nya ”jalan yang baik yang harus mereka ikuti”. (1 Raja 8:36) Sewaktu Ia menginstruksikan kepada kita untuk mengampuni satu sama lain, kita dapat merasa yakin bahwa Ia memikirkan kefaedahan kita. Dengan penalaran yang baik, Alkitab memberi tahu kita untuk ’memberi tempat kepada kemurkaan’. (Roma 12:19) Kekesalan memang beban yang berat untuk dipikul dalam kehidupan. Bila kita menyimpannya, ini menggerogoti pikiran kita, merampas kedamaian kita, dan memadamkan sukacita kita. Kemarahan yang berlarut-larut, seperti kecemburuan, dapat memiliki pengaruh yang merusak atas kesehatan jasmani kita. (Amsal 14:30) Dan selama itu, si pelanggar mungkin sama sekali tidak menyadari kekalutan kita! Pencipta kita mengetahui bahwa kita perlu dengan ikhlas mengampuni orang lain bukan hanya demi kefaedahan mereka namun juga demi kefaedahan kita sendiri. Nasihat Alkitab untuk mengampuni memang ’jalan yang baik untuk diikuti’.
”Teruslah Bertahan dengan Sabar Menghadapi Satu Sama Lain”
9, 10. (a) Situasi-situasi macam apa tidak selalu menuntut pengampunan yang formal? (b) Apa yang terkandung dalam pernyataan ”teruslah bertahan dengan sabar menghadapi satu sama lain”?
9 Cedera fisik mungkin berkisar antara lecet kecil sampai luka yang dalam, dan tidak semua membutuhkan kadar perhatian yang sama. Demikian pula dengan perasaan yang terluka—beberapa luka lebih dalam daripada yang lain. Apakah kita benar-benar perlu mempermasalahkan setiap pelanggaran sepele yang kita derita dalam hubungan kita dengan orang lain? Kejengkelan kecil, perasaan tersinggung, dan kekesalan adalah hal biasa dalam kehidupan dan tidak selalu menuntut pengampunan yang sifatnya formal. Jika kita terkenal suka menjauhi orang lain gara-gara kekecewaan sepele dan kemudian berkeras bahwa orang itu harus minta maaf sebelum kita kembali memperlakukannya secara bermartabat, kita bisa membuat orang lain terpaksa memperlakukan kita dengan ekstra hati-hati—atau terpaksa menjaga jarak dengan kita!
10 Sebaliknya, adalah jauh lebih baik untuk ”memiliki reputasi bersikap masuk akal”. (Filipi 4:5, Phillips) Sebagai makhluk tidak sempurna yang melayani bahu-membahu, kita dapat dengan masuk akal mengantisipasi bahwa saudara-saudara kita sewaktu-waktu mungkin menjengkelkan kita, dan kita mungkin dapat berbuat hal yang sama terhadap mereka. Kolose 3:13 menasihati kita, ”Teruslah bertahan dengan sabar menghadapi satu sama lain.” Pernyataan ini mengandung kesan bersabar menghadapi orang lain, mentoleransi hal-hal yang tidak kita sukai dari mereka atau sifat-sifat yang kita anggap menjengkelkan. Kesabaran dan pengekangan diri seperti itu akan membantu kita menanggulangi pelanggaran kecil yang kita alami dalam berurusan dengan orang lain—tanpa mengganggu perdamaian di dalam sidang.—1 Korintus 16:14.
Bila Lukanya Lebih Dalam
11. Bila orang lain berbuat dosa terhadap kita, apa yang dapat membantu kita untuk mengampuni mereka?
11 Akan tetapi, bagaimana jika orang lain berbuat dosa terhadap kita, menyebabkan luka yang besar? Jika dosanya tidak terlalu serius, kita mungkin tidak begitu sulit menerapkan nasihat Alkitab untuk ”mengampuni satu sama lain dengan lapang hati”. (Efesus 4:32) Kesediaan untuk mengampuni semacam itu selaras dengan kata-kata Petrus yang terilham, ”Di atas segalanya, milikilah kasih yang sangat kuat terhadap satu sama lain, karena kasih menutupi banyak sekali dosa.” (1 Petrus 4:8) Dengan terus mengingat bahwa kita pun adalah pedosa, ini memungkinkan kita untuk memaafkan pelanggaran orang lain. Dengan demikian, bila kita mengampuni, kita menghapus kekesalan sebaliknya daripada memperkembangkannya. Sebagai hasilnya, hubungan kita dengan si pelanggar tidak akan rusak berlama-lama, dan kita juga turut memelihara perdamaian di dalam sidang. (Roma 14:19) Pada akhirnya, apa yang dilakukan si pelanggar mungkin akan berlalu dari ingatan.
12. (a) Inisiatif apa mungkin perlu kita ambil dengan tujuan untuk mengampuni seseorang yang sangat melukai kita? (b) Bagaimana kata-kata di Efesus 4:26 memperlihatkan bahwa kita hendaknya menyelesaikan masalahnya dengan segera?
12 Namun, bagaimana jika seseorang berbuat dosa terhadap kita yang sifatnya lebih serius, sangat menyakiti kita? Misalnya, seorang sahabat yang saudara percayai mungkin telah membocorkan hal-hal yang sangat pribadi yang telah saudara percayakan kepadanya. Saudara merasa sangat terluka, malu, dan dikhianati. Saudara telah berupaya menyingkirkan hal itu, namun masalahnya tidak juga berlalu. Dalam kasus seperti itu, saudara mungkin perlu mengambil inisiatif untuk menuntaskan problemnya, barangkali dengan berbicara kepada si pelanggar. Adalah bijaksana untuk melakukan hal ini sebelum masalahnya sempat memburuk. Paulus menasihati kita, ”Jadilah murka, namun jangan melakukan dosa [yaitu, dengan mendendam atau melampiaskan kemarahan kita]; janganlah matahari terbenam seraya kamu dalam keadaan terpancing menjadi marah.” (Efesus 4:26) Untuk memahami sepenuhnya makna kata-kata Paulus, pertimbangkan fakta bahwa bagi orang-orang Yahudi, matahari terbenam menandai akhir dari suatu hari dan awal dari hari yang baru. Oleh karena itu, inti nasihat Paulus adalah: Bereskan masalahnya sesegera mungkin!—Matius 5:23, 24.
13. Sewaktu kita mendekati seseorang yang telah melukai kita, apa hendaknya tujuan kita, dan saran-saran apa dapat membantu kita untuk mencapainya?
13 Bagaimana sebaiknya cara saudara mendekati si pelanggar? ’Carilah perdamaian dan kejarlah,’ kata 1 Petrus 3:11. Dengan demikian, tujuan saudara bukanlah untuk melampiaskan kemarahan namun untuk berdamai dengan orang tersebut. Untuk itu, sebaiknya hindarilah kata-kata dan isyarat yang kasar; ini dapat menghasilkan tanggapan yang kasar pula dari orang tersebut. (Amsal 15:18; 29:11) Selain itu, hindari pernyataan yang dilebih-lebihkan seperti, ”Kamu selalu . . . !” atau, ”Kamu tidak pernah . . . !” Komentar-komentar yang dilebih-lebihkan semacam itu malah menyebabkan si pelanggar mati-matian membela diri. Sebaliknya, hendaklah nada suara dan ekspresi wajah saudara memperlihatkan bahwa saudara ingin menyelesaikan masalah yang telah sangat melukai saudara. Bersikaplah spesifik dalam menjelaskan perasaan saudara sehubungan dengan apa yang terjadi. Berikan kepada orang lain kesempatan untuk menjelaskan tindakannya. Dengarkan apa yang ingin ia katakan. (Yakobus 1:19) Apa manfaatnya hal itu? Amsal 19:11 menjelaskan, ”Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.” Memahami perasaan orang lain dan alasan untuk tindakannya dapat menghilangkan gagasan yang tidak-tidak dan perasaan negatif terhadapnya. Bila kita mengatasi keadaannya dengan tujuan untuk berdamai dan memelihara sikap itu, kemungkinan besar akan ada penyelesaian kesalahpahaman apa pun, permintaan maaf yang patut, dan pengampunan.
14. Bila kita mengampuni orang lain, dalam arti apa kita hendaknya melupakan?
14 Apakah mengampuni orang lain berarti bahwa kita harus benar-benar melupakan apa yang terjadi? Ingatlah teladan Yehuwa sendiri dalam hal ini, seperti yang dibahas dalam artikel sebelumnya. Sewaktu Alkitab mengatakan bahwa Yehuwa melupakan dosa-dosa kita, ini tidak berarti bahwa Ia tidak dapat mengingat dosa-dosa itu lagi. (Yesaya 43:25) Sebaliknya, Ia melupakan dalam arti bahwa setelah Ia memberikan pengampunan, Ia tidak akan menghakimi kita berdasarkan dosa-dosa yang telah lewat. (Yehezkiel 33:14-16) Demikian pula, mengampuni sesama manusia tidak selamanya berarti bahwa kita tidak dapat mengingat apa yang mereka lakukan. Akan tetapi, kita dapat melupakan dalam arti kita tidak akan menghakimi si pelanggar berdasarkan dosa-dosanya yang telah lewat atau tidak mengungkit-ungkit dosanya lagi di masa depan. Karena masalahnya telah diselesaikan, tentulah tidak tepat untuk bergosip tentang hal itu, juga tidak pengasih untuk menghindari si pelanggar sama sekali, memperlakukannya seolah-olah ia dipecat. (Amsal 17:9) Memang, mungkin butuh banyak waktu untuk memperbaiki hubungan kita dengannya; kita mungkin tidak menikmati keakraban yang sama seperti sebelumnya. Namun, kita masih mengasihinya sebagai seorang saudara Kristen kita dan berbuat sebaik-baiknya untuk memelihara hubungan yang penuh damai.—Bandingkan Lukas 17:3.
Bila Tampaknya Mustahil untuk Mengampuni
15, 16. (a) Apakah orang Kristen dituntut untuk mengampuni seorang pelaku kesalahan yang tidak bertobat? (b) Bagaimana kita dapat menerapkan nasihat Alkitab yang terdapat di Mazmur 37:8?
15 Namun, bagaimana jika orang lain berbuat dosa sedemikian rupa sehingga menimbulkan luka yang teramat dalam, namun si pelanggar tidak mengaku bersalah, tidak bertobat, dan tidak meminta maaf? (Amsal 28:13) Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa Yehuwa tidak mengampuni para pedosa yang berkeras dan tidak bertobat. (Ibrani 6:4-6; 10:26, 27) Bagaimana dengan kita? Insight on the Scriptures mengatakan, ”Orang Kristen tidak dituntut untuk mengampuni orang-orang yang mempraktekkan dosa yang didasari niat jahat dan disengaja tanpa menunjukkan pertobatan. Orang-orang demikian menjadi musuh-musuh Allah.” (Jilid 1, halaman 862) Tidak ada keharusan bagi orang Kristen mana pun yang telah menjadi korban perbuatan yang tidak adil, memuakkan, atau keji untuk mengampuni, atau memaafkan, si pelakunya yang tidak bertobat.—Mazmur 139:21, 22.
16 Dapat dimengerti, orang-orang yang menjadi korban dari perlakuan buruk yang kejam mungkin merasa sakit hati dan marah. Akan tetapi, ingatlah bahwa memendam kemarahan atau kekesalan dapat sangat berbahaya bagi kita. Menunggu pengakuan diri bersalah atau permintaan maaf yang tidak kunjung datang bisa jadi membuat kita semakin kesal saja. Merasa terobsesi dengan ketidakadilan mungkin malah mengobarkan kemarahan dalam diri kita, dengan pengaruh yang menghancurkan atas kesehatan rohani, emosi, dan jasmani kita. Sebenarnya, kita malah memungkinkan orang yang menyakiti kita untuk terus menyakiti kita. Dengan bijaksana, Alkitab menasihati, ”Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu.” (Mazmur 37:8) Dengan berbuat demikian, beberapa orang Kristen telah mendapati bahwa mereka akhirnya dapat memutuskan untuk mengampuni, dalam arti tidak lagi menyimpan kekesalan—bukan memaafkan apa yang terjadi atas mereka, namun menolak untuk digerogoti oleh kemarahan. Dengan menyerahkan sepenuhnya masalah itu ke tangan Allah keadilan, mereka mengalami banyak kelegaan dan dapat meneruskan langkah kehidupan mereka.—Mazmur 37:28.
17. Jaminan yang menghibur apa terkandung dalam janji Yehuwa yang dicatat di Penyingkapan 21:4?
17 Bila lukanya sangat dalam, kita mungkin tidak berhasil menghapusnya sama sekali dari pikiran kita, setidaknya tidak dalam sistem perkara ini. Namun Yehuwa menjanjikan suatu dunia baru yang di dalamnya ”ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan kematian tidak akan ada lagi, juga tidak akan ada lagi perkabungan atau jeritan atau rasa sakit. Perkara-perkara yang terdahulu telah berlalu”. (Penyingkapan 21:4) Apa pun yang kita ingat pada waktu itu tidak akan menyebabkan luka atau kepedihan yang dalam, yang mungkin sekarang membebani hati kita.—Yesaya 65:17, 18.
18. (a) Mengapa ada kebutuhan untuk suka mengampuni dalam berurusan dengan saudara dan saudari kita? (b) Bila orang lain berbuat dosa terhadap kita, dalam arti apa kita mengampuni dan melupakan? (c) Bagaimana hal ini mendatangkan manfaat atas diri kita
18 Sementara itu, kita harus hidup dan bekerja sama sebagai saudara dan saudari yang tidak sempurna, manusia-manusia berdosa. Kita semua bisa berbuat salah. Sewaktu-waktu, kita mengecewakan satu sama lain dan bahkan melukai satu sama lain. Yesus tahu betul bahwa kita perlu mengampuni orang lain, ”bukan: Sampai tujuh kali, tetapi: Sampai tujuh puluh tujuh kali”! (Matius 18:22) Memang, pengampunan kita tidak dapat sesempurna pengampunan Yehuwa. Namun, dalam banyak kasus, bila saudara-saudara kita berbuat dosa terhadap kita, kita dapat mengampuni dalam arti mengatasi kekesalan dan kita dapat melupakan dalam arti tidak akan terus menghakimi mereka berdasarkan dosa-dosa mereka yang sudah lewat. Bila kita mengampuni dan melupakan dengan cara itu, kita membantu menjaga bukan hanya perdamaian sidang namun juga perdamaian pikiran dan hati kita sendiri. Yang terutama, kita akan menikmati perdamaian yang hanya dapat disediakan oleh Allah kita, Yehuwa.—Filipi 4:7
-