-
Mengapa Mengampuni?Menara Pengawal—1994 | 15 September
-
-
Dalam pandangan Yehuwa pertobatan semacam itu merupakan kunci untuk mendapat pengampunan bahkan dalam hal dosa yang benar-benar berat. Sebagai contoh, Yehuwa mengampuni Manasye, salah seorang raja yang paling jahat dalam sejarah Israel. Atas dasar apa? Allah berbuat demikian karena Manasye pada akhirnya merendahkan dirinya dan bertobat dari jalan-jalannya yang jahat.—2 Tawarikh 33:12, 13.
Dalam Alkitab, pertobatan sejati mencakup perubahan yang tulus dalam sikap, penyesalan sepenuh hati atas kesalahan apa pun yang dilakukan. Jika cocok dan mungkin, pertobatan hendaknya disertai suatu upaya memberikan ganti rugi kepada pihak yang dirugikan akibat dosa tersebut. (Lukas 19:7-10; 2 Korintus 7:11) Jika pertobatan semacam itu tidak dilakukan, Yehuwa tidak mengampuni.a Selain itu, Allah tidak mengharapkan agar orang-orang Kristen mengampuni orang-orang yang pernah diterangi secara rohani namun kini dengan sengaja dan tanpa penyesalan mempraktekkan perbuatan salah. (Ibrani 10:26-31) Dalam kasus yang ekstrem, pengampunan mungkin bahkan tidak layak.—Mazmur 139:21, 22; Yehezkiel 18:30-32.
-
-
Mengapa Mengampuni?Menara Pengawal—1994 | 15 September
-
-
Bagi orang Kristen, mengampuni berarti dengan percaya penuh menyerahkan masalahnya ke tangan Yehuwa. Ia adalah Hakim yang adil-benar di seluruh alam semesta, dan Ia akan melaksanakan keadilan-Nya pada waktu yang tepat. Hal itu akan termasuk mengadili ”orang-orang sundal dan pezinah” yang licik.—Ibrani 13:4.
Manfaat dari Suka Mengampuni
Sang pemazmur Daud bernyanyi, ”Sebab engkau, ya [Yehuwa], baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu.” (Mazmur 86:5)
-
-
Mengapa Mengampuni?Menara Pengawal—1994 | 15 September
-
-
a Akan tetapi, Yehuwa memang memperhitungkan faktor-faktor lain sewaktu menimbang apakah pantas untuk memberi pengampunan. Misalnya, jika seorang yang bersalah tidak mengetahui standar-standar Allah, ketidaktahuan semacam itu bisa jadi mengurangi beban kesalahan tersebut. Pada waktu Yesus meminta Bapaknya untuk mengampuni orang-orang yang melaksanakan hukuman mati atas dirinya, Yesus jelas sedang berbicara mengenai prajurit-prajurit Roma yang membunuhnya. Mereka ’tidak tahu apa yang mereka lakukan’, tidak tahu siapa ia sebenarnya. Akan tetapi, para pemimpin agama yang mendalangi hukuman mati tersebut menanggung kesalahan yang jauh lebih besar—dan bagi banyak dari antara mereka, pengampunan tidak mungkin diberikan.—Yohanes 11:45-53; bandingkan Kisah 17:30.
-