-
Penyebaran Mikroba yang MematikanSedarlah!—1996 | 22 Februari
-
-
Penyebaran Mikroba yang Mematikan
Eloise dan sesama penumpang lainnya diberi sebuah kartu Health Alert Notice (Pemberitahuan untuk Memeriksakan Kesehatan) setelah memasuki pesawat terbang dari London menuju New York. Waktu itu bulan Mei 1995. Bagian muka dari kartu itu berbunyi:
”KEPADA para Pelancong: Simpanlah kartu ini di dalam dompet atau tas tangan Anda selama 6 minggu. Jika Anda sakit selama jangka waktu tersebut, tunjukkan kartu ini kepada dokter Anda dan beri tahu dia tentang perjalanan Anda belum lama ini di luar Amerika Serikat.
”Anda mungkin telah terjangkit penyakit menular sebelum tiba di Amerika Serikat, dan mengetahui hal ini mungkin dapat berguna bagi dokter Anda dalam membuat diagnosis.”
Awak pesawat juga membagikan surat kabar yang menjelaskan berjangkitnya Ebola, suatu penyakit yang diakibatkan oleh virus yang menewaskan banyak orang di Zaire.
Eloise membaca tentang Ebola—suatu penyakit yang ganas dan mematikan. Para pasien yang terjangkit pertama-tama mengalami demam, sakit tenggorokan, dan sakit kepala, segera setelah itu diikuti oleh muntah-muntah, nyeri pada perut, dan diare. Berikutnya terjadilah perdarahan yang hebat dan tidak terkendali, secara internal maupun eksternal. Dalam 9 dari 10 kasus, penderitanya langsung meninggal.
Beberapa bulan sebelumnya, ada laporan-laporan mengenai penyakit-penyakit lain yang aneh dan mematikan: misalnya, yang mewabah di India. Di mana-mana orang telah meninggal dalam waktu beberapa jam saja disebabkan oleh apa yang media sebut sebagai ”kuman pemakan daging”.
Eloise membalik kartu yang dipegangnya. Bagian belakangnya berbunyi:
”Kepada para Dokter: Pasien yang memperlihatkan kartu ini baru-baru ini berada di luar negeri, dan mungkin telah terjangkit penyakit menular yang tidak umum terdapat di Amerika Serikat. Jika Anda mencurigai adanya penyakit menular yang tidak biasa dalam hal ini (kolera, demam berdarah, malaria, demam kuning, dll.), harap segera melapor ke Kantor Dinas Kesehatan di kota, wilayah, atau Negara Bagian Anda dan juga (melalui telepon—bebas pulsa) kepada Divisi Karantina, Centers for Desease Control, Atlanta, Georgia . . . ”
Kartu itu memperlihatkan adanya keprihatinan internasional yang meningkat berkenaan dengan penyebaran mikroba yang mematikan—parasit, bakteri, dan virus—yang, setelah menyulut suatu epidemi di satu tempat di bumi, dapat dengan cepat menjalar bagaikan kobaran api kepada orang-orang lain. Tidak seperti Eloise dan sesama penumpang lainnya, mikroba-mikroba tidak mengenal paspor ataupun batas-batas nasional. Di dalam tubuh orang yang terjangkiti, mereka dengan sangat mudahnya bepergian tanpa terdeteksi.
Seraya dengan saksama memasukkan kartu Health Alert Notice ke dalam dompetnya, Eloise bertanya-tanya, ’Dari mana datangnya penyakit-penyakit maut ini? Mengapa ilmu kedokteran modern tampaknya tidak mampu mengalahkannya?’ Mungkin Anda pernah bertanya-tanya mengenai hal ini juga.
-
-
Pembalasan Dendam MikrobaSedarlah!—1996 | 22 Februari
-
-
Pembalasan Dendam Mikroba
PADA abad ke-20, terdapat kemajuan-kemajuan yang menakjubkan dalam ilmu kedokteran. Selama ribuan tahun, umat manusia hampir-hampir tidak berdaya melawan wabah mikroba yang mematikan. Tetapi keadaannya mulai berubah pada pertengahan tahun 1930-an ketika para ilmuwan menemukan sulfanilamida, substansi pertama yang dapat mengalahkan bakteri tanpa menimbulkan bahaya serius atas orang yang terjangkit.a
Pada tahun-tahun berikutnya, para ilmuwan mengembangkan obat-obat baru yang manjur untuk memberantas penyakit-penyakit menular—klorokuin untuk memerangi malaria dan antibiotik untuk menaklukkan pneumonia, skarlatina (scarlet fever), dan tuberkulosis. Pada tahun 1965, lebih dari 25.000 produk antibiotik yang berbeda telah dikembangkan. Banyak ilmuwan menyimpulkan bahwa penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri tidak lagi menjadi perhatian utama atau tidak menarik untuk diriset. Lagi pula, untuk apa meneliti penyakit-penyakit yang segera tidak akan ada lagi?
Di negara-negara maju di dunia, vaksin-vaksin baru secara dramatis menurunkan angka korban dari penyakit campak, gondok, dan campak Jerman. Suatu kampanye vaksinasi polio massal, yang dimulai pada tahun 1955, begitu berhasil sehingga kasus dari penyakit tersebut di Eropa Barat dan di Amerika Utara merosot drastis dari 76.000 pada tahun itu hingga kurang dari 1.000 pada tahun 1967. Cacar, suatu penyakit maut yang utama, telah diberantas di seluas dunia.
Pada abad ini telah ditemukan mikroskop elektron, suatu alat yang begitu hebat sehingga memungkinkan para ilmuwan melihat virus yang sejuta kali lebih kecil dibandingkan dengan kuku manusia. Mikroskop demikian, beserta kemajuan-kemajuan teknologi lain, telah memungkinkan untuk memahami dan memberantas penyakit menular yang tidak pernah teratasi sebelumnya.
Kemenangan yang Tampaknya Pasti
Dengan adanya penemuan-penemuan ini, masyarakat kedokteran merasa sangat yakin. Mikroba penyakit menular ini kini takluk pada senjata obat-obatan modern. Pastilah bahwa kemenangan sains atas mikroba akan berlangsung cepat, pasti, tuntas! Kalaupun suatu pengobatan bagi penyakit tertentu belum tersedia, itu tidak akan berlangsung lama.
Pada tahun 1948, sekretaris negara AS, George C. Marshall dengan sesumbar mengatakan bahwa penaklukan dari semua penyakit menular sudah di ambang pintu. Tiga tahun kemudian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa malaria di Asia sebentar lagi akan menjadi penyakit ”yang tidak lagi banyak berarti”. Menjelang pertengahan tahun 1960-an, kepercayaan bahwa era wabah dan sampar telah berlalu begitu tersebar luas sehingga ahli bedah umum AS, William H. Stewart, memberi tahu para pejabat kesehatan bahwa kini sudah saatnya untuk menutup buku tentang penyakit-penyakit menular.
Penyakit-Penyakit Lama Kembali Lagi
Akan tetapi, buku tentang penyakit-penyakit menular sama sekali belum siap untuk ditutup. Mikroba tidak lenyap dari planet ini hanya karena sains telah menemukan obat-obatan dan vaksin. Sebaliknya daripada sedang dikalahkan, mikroba-mikroba maut yang pernah dikenal kembali lagi untuk balas dendam! Selain itu mikroba maut lainnya muncul—mikroba yang tidak pernah dikenal sebelumnya oleh para dokter. Maka, mikroba-mikroba yang lama maupun yang baru sedang mengamuk, mengancam, menjangkiti, atau menewaskan berjuta-juta orang di seluas dunia.
Penyakit-penyakit maut yang pernah disangka dapat dikendalikan telah muncul lagi, lebih memautkan daripada sebelumnya dan lebih sulit diatasi oleh obat-obatan. Salah satu contohnya adalah tuberkulosis (TBC). WHO baru-baru ini menyatakan, ”Sejak tahun 1944, obat-obat TBC telah digunakan secara besar-besaran di Jepang, Amerika Utara dan Eropa untuk menurunkan jumlah kasus dan kematian akibat TBC secara dramatis. Akan tetapi, upaya-upaya untuk mengendalikan TBC di negara-negara yang kurang berkembang telah diabaikan, . . . memungkinkan penyakit itu kembali lagi ke negara-negara kaya dalam bentuk yang lebih berbahaya, dan kebal terhadap berbagai macam obat.” Dewasa ini, TBC, biasanya disebabkan oleh bakteri yang terbawa oleh udara yang bercokol di dalam paru-paru, menewaskan kira-kira tiga juta orang setiap tahun—lebih dari 7.000 orang tiap hari. Menjelang tahun 2005, angka korban kematiannya dapat membubung hingga empat juta tiap tahun.
Veteran pembunuh yang lain juga sedang muncul. Kolera kini menjadi endemi di banyak bagian di Afrika, Amerika Latin, dan Asia; penyakit ini menjangkiti dan menewaskan semakin banyak orang. Sejenis penyakit yang sama sekali baru telah muncul di Asia.
Dengue, yang disebarkan oleh nyamuk Aëdes aegypti, juga muncul dengan cepat; penyakit ini sekarang mengancam 2,5 miliar orang di lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Sejak tahun 1950-an, bentuk hemoragik baru yang mematikan dari penyakit ini telah muncul dan menyebar ke seluruh negara Tropis. Diperkirakan bahwa penyakit ini menewaskan kira-kira 20.000 orang tiap tahun. Seperti halnya sebagian besar dari penyakit yang disebabkan oleh virus, tidak ada vaksin untuk melindungi terhadap penyakit itu dan tidak ada obat untuk menyembuhkannya.
Malaria, yang pernah oleh sains diharapkan akan lenyap, kini menewaskan kira-kira dua juta orang tiap tahun. Parasit malaria serta nyamuk yang membawanya telah semakin sulit untuk dimusnahkan.
Menghancurkan Penyakit-Penyakit Baru
Barangkali, dari antara penyakit-penyakit baru yang paling dikenal yang baru-baru ini muncul untuk mengusik umat manusia adalah AIDS yang mematikan. Penyakit yang tidak dapat disembuhkan ini disebabkan oleh suatu virus yang baru diketahui kira-kira belasan tahun yang lalu. Namun, menjelang akhir tahun 1994, jumlah orang di seluruh dunia yang terjangkit virus ini berkisar antara 13 dan 15 juta orang.
Penyakit-penyakit menular lain yang tidak pernah dikenal sebelumnya termasuk sindrom hantavirus pada paru-paru. Penyakit yang ditularkan melalui tikus-tikus ladang ini muncul di Amerika Serikat bagian barat daya dan terbukti berakibat fatal dalam lebih dari setengah jumlah kasus yang dilaporkan. Dua jenis demam berdarah—keduanya baru, keduanya fatal—telah berkembang di Amerika Selatan. Penyakit-penyakit lain yang mengerikan juga telah bermunculan—virus-virus dengan nama-nama yang aneh dan eksotis—Lassa, Rift Valley, Oropouche, Rocio, Q. Guanarito, VEE, monkeypox, Chikungunya, Mokola, Duvenhage, LeDantec, virus otak Kyasanur Forest, agen Semliki Forest, Crimean-Congo, O’nyongnyong, Sindbis, Marburg, Ebola.
Mengapa Bermunculan Penyakit-Penyakit Baru?
Sekalipun terdapat segala pengetahuan dan aset yang dimiliki oleh ilmu kedokteran modern, mengapa mikroba pembawa maut itu masih saja begitu sulit untuk dikalahkan? Satu alasannya adalah meningkatnya mobilitas masyarakat zaman sekarang. Transportasi modern dapat dengan cepat membuat epidemi setempat menjadi global. Perjalanan dengan jet memudahkan penyakit yang mematikan berpindah, bercokol di dalam orang yang terjangkit, dari satu bagian di dunia ke bagian lain dari dunia ini dalam beberapa jam saja.
Alasan kedua yang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba adalah ledakan pertumbuhan populasi dunia—terutama di kota-kota. Tentu saja, sampah diproduksi di kota-kota. Sampah yang mengandung wadah-wadah plastik dan ban-ban yang terisi dengan air hujan yang baru turun. Di negara-negara Tropis, keadaan itu menyebabkan berkembangbiaknya nyamuk pembawa penyakit-penyakit maut seperti malaria, demam kuning, dan dengue. Lagi pula, sebagaimana halnya hutan yang lebat dapat menunjang kebakaran, begitu pula populasi yang sangat padat menyediakan kondisi-kondisi yang ideal bagi penyebaran pesat dari tuberkulosis, influenza, dan penyakit-penyakit lain yang terbawa oleh udara.
Alasan ketiga mengapa mikroba muncul kembali ada hubungannya dengan perubahan dalam perilaku manusia. Mikroba yang ditularkan melalui hubungan seksual telah berkembang subur dan menyebar sebagai akibat dari hubungan seksual dengan banyak pasangan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang telah mencirikan bagian akhir dari abad ke-20. Penyebaran AIDS adalah salah satu contohnya.b
Alasan keempat mengapa mikroba pembawa maut ini masih saja begitu sulit untuk dikalahkan adalah bahwa manusia telah merusak hutan rimba dan hutan hujan tropis. Penulis bernama Richard Preston menyatakan di dalam bukunya The Hot Zone, ”Munculnya AIDS, Ebola, dan banyak dari sejumlah penyebab penyakit yang bermula dari hutan hujan tropis tampaknya menjadi konsekuensi alami dari rusaknya biosfer tropis. Virus-virus muncul dari bagian-bagian bumi yang secara ekologi rusak. Banyak dari virus-virus itu berasal dari pinggiran hutan hujan tropis yang porak-poranda . . . Hutan hujan tropis merupakan reservoir yang dalam dari kehidupan di planet ini, yang berisi sebagian besar dari spesies tanaman dan satwa di dunia. Hutan hujan tropis juga adalah reservoir terbesar dari virus-virus, karena semua makhluk hidup menyandang virus-virus.”
Dengan demikian umat manusia telah mengadakan kontak yang semakin dekat dengan serangga dan satwa berdarah panas yang di dalamnya virus-virus tinggal, berkembang biak, dan mati tanpa menimbulkan bahaya. Tetapi bila suatu virus ”pindah” dari binatang ke manusia, virus tersebut bisa jadi mematikan.
Keterbatasan Ilmu Kedokteran
Alasan-alasan lain mengapa penyakit-penyakit menular muncul lagi ada hubungannya dengan ilmu kedokteran itu sendiri. Banyak bakteri kini tahan terhadap antibiotik yang dulu dapat membunuhnya. Ironisnya, antibiotik itu sendiri telah membantu menciptakan keadaan ini. Misalnya, jika suatu antibiotik membunuh hanya 99 persen dari bakteri yang berbahaya pada orang yang terjangkit, maka satu persen dari bakteri yang selamat yang kebal terhadap antibiotik itu kini dapat tumbuh dan berkembang biak bagaikan suatu bibit unggul lalang di suatu ladang yang baru digarap.
Pasien-pasien memperburuk problemnya apabila mereka tidak menghabiskan satu paket antibiotik yang diresepkan oleh dokter mereka. Para pasien mungkin tidak lagi memakan obatnya segera setelah mereka mulai merasa lebih baik. Meskipun mikroba yang paling lemah mungkin telah terbunuh, yang paling kuat terus hidup dan secara diam-diam berkembang biak. Dalam beberapa minggu, penyakit itu kambuh, tetapi kali ini lebih sulit, atau mustahil disembuhkan dengan menggunakan obat-obatan. Pada waktu mikroba jenis unggul yang kebal terhadap obat ini menyerang orang lain, maka akibatnya adalah problem kesehatan masyarakat yang parah.
Para pakar di WHO baru-baru ini menyatakan, ”Daya tahan [terhadap antibiotik dan obat-obat antimikroba lainnya] menjadi epidemi di banyak negara dan daya tahan terhadap berbagai macam obat sebenarnya menyebabkan para dokter tidak sanggup melakukan perawatan dengan berhasil terhadap semakin banyaknya penyakit. Di rumah sakit saja, diperkirakan ada satu juta infeksi bakteri terjadi di seluas dunia setiap hari, dan sebagian besar dari bakteri ini kebal terhadap obat.”
Transfusi darah, yang semakin banyak digunakan sejak perang dunia kedua, juga turut menyebarkan penyakit-penyakit menular. Meskipun adanya upaya-upaya dari sains untuk menjaga darah bebas dari mikroba yang mematikan, transfusi darah memiliki andil besar dalam penyebaran hepatitis, sitomegalovirus, bakteri yang kebal terhadap antibiotik, malaria, demam kuning, penyakit Chagas, AIDS, dan banyak penyakit lain yang mengerikan.
Kondisinya Dewasa Ini
Walaupun ilmu kedokteran telah menyaksikan lonjakan ilmu pengetahuan selama abad ini, banyak hal tetap menjadi misteri. C. J. Peters mempelajari mikroba-mikroba yang berbahaya di Centers for Disease Control, laboratorium kesehatan masyarakat utama di Amerika. Dalam suatu wawancara pada bulan Mei 1995, ia mengatakan mengenai Ebola, ”Kami tidak tahu mengapa virus ini begitu ganas bagi manusia, dan kami tidak tahu apa yang sedang diperbuatnya [atau] di mana dan, bilamana virus ini tidak menyebabkan epidemi semacam itu. Kami tidak dapat menemukannya. Tidak ada keluarga virus lain . . . yang kami sama sekali tidak tahu tentangnya.”
Bahkan bila ada pengetahuan medis, obat-obatan dan vaksin yang efektif untuk memerangi penyakit, memberikannya kepada mereka yang membutuhkannya menuntut biaya. Jutaan orang hidup dalam kemiskinan. World Health Report 1995 dari WHO menyatakan, ”Kemiskinan adalah alasan utama mengapa bayi-bayi tidak divaksinasi, mengapa air bersih dan sanitasi tidak tersedia, mengapa obat-obatan untuk menyembuhkan dan perawatan kesehatan lainnya tidak ada . . . Setiap tahun di negara-negara berkembang, 12,2 juta anak-anak di bawah usia 5 tahun mati, kebanyakan disebabkan oleh hal-hal yang sebenarnya dapat dicegah dengan biaya hanya beberapa sen AS saja untuk tiap anak. Mereka mati sebagian besar karena dunia tidak mau tahu, tetapi yang terutama mereka semua mati karena mereka miskin.”
Menjelang tahun 1995, penyakit menular dan parasit merupakan pembunuh terbesar di dunia, merenggut kehidupan sebanyak 16,4 juta jiwa setiap tahun. Sayang sekali, berjuta-juta orang hidup dalam kondisi yang ideal bagi munculnya dan menyebarnya mikroba yang mematikan. Pikirkan situasi yang menyedihkan dewasa ini. Lebih dari satu miliar orang berada dalam kemiskinan yang ekstrem. Setengah populasi dunia tidak memiliki sarana yang teratur untuk mendapat perawatan medis dan obat-obatan yang esensial. Di jalan-jalan dari kota-kota besar yang tercemar, jutaan anak yang tidak terurus berkeliaran, banyak dari mereka menyuntikkan obat bius dan mempraktekkan pelacuran. Jutaan dari para pengungsi hidup merana dalam kamp-kamp yang tidak higienis yang dipenuhi dengan kolera, disentri, dan penyakit-penyakit lain.
Dalam peperangan antara manusia dan mikroba, keadaan tampaknya semakin berpihak kepada mikroba.
[Catatan Kaki]
a Sulfanilamida adalah suatu senyawa yang berwujud kristal yang dari situlah asalnya obat-obat sulfat dibuat di laboratorium. Obat-obat sulfat dapat menghambat pertumbuhan bakteri, memungkinkan mekanisme pertahanan tubuh sendiri yang membunuh bakteri tersebut.
b Contoh-contoh lain sehubungan dengan penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual: Di seluruh dunia ada kira-kira 236 juta orang yang terjangkit trikomoniasis dan kira-kira 162 juta orang terjangkit klamidial. Tiap tahun kira-kira ada 32 juta kasus baru sehubungan benjolan pada kelamin, 78 juta penderita gonore (kencing nanah), 21 juta penderita herpes kelamin, 19 juta penderita sifilis, dan 9 juta penderita syankroid.
[Blurb di hlm. 6]
”Di rumah sakit saja, diperkirakan ada satu juta infeksi bakteri terjadi di seluas dunia setiap hari, dan sebagian besar dari bakteri ini kebal terhadap obat.” Organisasi Kesehatan Dunia
[Kotak di hlm. 7]
Sewaktu Mikroba Balas Melawan
Sejenis mikroba kecil yang dikenal sebagai bakteri ”beratnya 0,00000000001 gram. Seekor ikan paus biru beratnya kira-kira 100.000.000 gram. Namun satu bakteri dapat membunuh seekor ikan paus”.—Bernard Dixon, 1994.
Dari antara bakteri yang paling ditakuti yang terdapat di rumah-rumah sakit adalah jenis Staphylococcus aureus yang kebal terhadap obat. Jenis ini menyerang yang sakit dan yang lemah, sehingga menyebabkan infeksi darah yang mematikan, pneumonia, dan renjatan toksik. Menurut suatu perhitungan, staph membunuh kira-kira 60.000 orang di Amerika Serikat tiap tahun—lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang tewas karena kecelakaan mobil. Selama beberapa tahun, bakteri jenis ini telah menjadi begitu kebal terhadap antibiotik sehingga menjelang tahun 1988 hanya ada satu antibiotik yang dapat dengan efektif melawannya, obat vancomycin. Akan tetapi, tidak lama kemudian dilaporkan bahwa jenis bakteri yang kebal terhadap vancomycin mulai muncul di mana-mana di seluas dunia.
Namun, bahkan pada waktu antibiotik berfungsi sebagaimana mestinya, problem-problem lain dapat muncul. Pada pertengahan tahun 1993, Joan Ray masuk rumah sakit di Amerika Serikat untuk menjalani operasi rutin. Ia berharap dapat pulang hanya dalam beberapa hari saja. Ternyata, ia harus tinggal di rumah sakit selama 322 hari, terutama karena infeksi yang dideritanya setelah pembedahan. Para dokter memerangi infeksi ini dengan dosis antibiotik yang tinggi, termasuk dengan vancomycin, tetapi mikrobanya balas melawan. Joan mengatakan, ”Saya tidak dapat menggunakan tangan saya. Saya tidak dapat menggunakan kaki saya. . . . Saya bahkan tidak dapat mengambil buku untuk dibaca.”
Para dokter berjuang untuk mencari tahu mengapa Joan masih sakit setelah berbulan-bulan dirawat dengan menggunakan antibiotik. Hasil laboratorium memperlihatkan bahwa selain mengidap infeksi staph, Joan mengidap sejenis bakteri lain di dalam tubuhnya—enterococcus yang kebal terhadap vancomycin; yang tampaknya juga kebal terhadap segala jenis antibiotik lain.
Kemudian dokter-dokter mendapati sesuatu yang mencengangkan mereka. Bakteri ini bukan saja kebal terhadap obat-obatan yang seharusnya sudah membunuhnya tetapi, bertentangan dengan apa yang mereka harapkan, bakteri itu sebenarnya menggunakan vancomycin untuk dapat hidup! Dokter yang menangani Joan, seorang dokter spesialis penyakit menular, mengatakan, ”[Bakteri itu] membutuhkan vancomycin itu agar dapat berkembang biak, dan jika bakteri itu tidak mendapatkannya, bakteri ini tidak akan bertumbuh. Maka, dengan kata lain, mereka menggunakan vancomycin sebagai makanan.”
Ketika para dokter tidak lagi memberikan vancomycin kepada Joan, bakteri itu mati, dan Joan menjadi lebih baik.
-
-
Apa Jalan Keluarnya?Sedarlah!—1996 | 22 Februari
-
-
Apa Jalan Keluarnya?
”SEMAKIN dipercayai bahwa kesejahteraan umat manusia, dan mungkin bahkan kelangsungan hidup kita sebagai suatu spesies, akan bergantung pada kesanggupan kita untuk mendeteksi penyakit-penyakit yang muncul. . . . Apa yang akan terjadi pada kita dewasa ini jika HIV menjadi patogen yang terbawa oleh udara? Dan bagaimana kita bisa yakin bahwa infeksi semacam itu tidak terjadi di masa depan?” sebagaimana yang dikatakan D. A. Henderson—yang memainkan peranan penting dalam pemberantasan cacar—kepada sekelompok ilmuwan di Jenewa, Swiss, pada tahun 1993.
Bagaimana penyakit-penyakit yang muncul dapat dideteksi? Ada suatu sistem pemberitahuan dini terhadap epidemi penyakit tropis berupa suatu jaringan global yang terdiri dari 35 laboratorium yang mengirimkan laporan kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, suatu survei terhadap laboratorium-laboratorium ini memperlihatkan bahwa kurang dari setengah jumlah laboratorium itu yang memiliki cukup perlengkapan untuk mengidentifikasi ensefalitis Jepang, hantavirus, dan demam Rift Valley—semuanya adalah penyakit yang mematikan. Hanya 56 persen dari laboratorium-laboratorium itu dapat mendeteksi demam kuning, suatu virus yang dibawa nyamuk yang menyebabkan muntah-muntah, gagal hati, dan perdarahan internal. Pada tahun 1992, sekurang-kurangnya 28 orang tewas di Kenya karena demam kuning sebelum para dokter menemukan penyebabnya. Selama enam bulan, mereka mengira sedang berjuang melawan malaria.
Kelemahan lain dari program pengawasan adalah bahwa mereka tidak dapat mengenali munculnya penyakit yang disebabkan oleh virus yang beraksi lambat. HIV, misalnya, dapat bersembunyi di dalam tubuh seseorang, menyebar ke orang lain, dan kemudian menyatakan dirinya sebagai AIDS kira-kira sepuluh tahun kemudian. Pandemi AIDS sekarang ini muncul hampir secara simultan di tiga benua dan dengan cepat menyerang 20 bangsa yang berbeda. Jelaslah, tidak ada pemberitahuan dini untuk itu!
Meskipun dilanda problem, banyak ilmuwan masih menatap masa depan dengan penuh keyakinan, secara optimis berbicara mengenai penemuan dan terobosan besar yang pasti akan dicapai pada tahun-tahun yang akan datang. International Herald Tribune melaporkan, ”Harapan terbaik bagi terobosan sejati, menurut banyak ilmuwan, adalah bioteknologi, manipulasi dari materi keturunan dalam sel-sel hidup. Para ilmuwan di perusahaan-perusahaan bioteknologi berharap untuk menciptakan sel-sel yang menghasilkan substansi yang dapat membunuh kuman, yaitu, suatu generasi baru dari antibiotik yang direkayasa secara genetika.”
Akan tetapi, ada sisi gelap dalam hal ini. Rekayasa genetika telah memungkinkan untuk menyisipkan gen-gen ke dalam virus yang tidak berbahaya supaya virus tersebut dapat memindahkan gen-gen tersebut kepada manusia. Teknologi ini dapat digunakan secara bermanfaat, barangkali benar-benar memungkinkan diproduksinya apa yang disebut antibiotik yang direkayasa secara genetika. Tetapi teknologi ini dapat juga digunakan untuk tujuan-tujuan yang keji.
Misalnya, gen-gen dari Ebola mungkin dapat tersisip atau sengaja disisipkan ke dalam sejenis virus, misalnya virus influenza atau campak. Kemudian virus yang mematikan itu dapat menyebar melalui batuk atau bersin. Dr. Karl Johnson, yang telah menghabiskan seumur hidupnya untuk menyelidiki virus-virus seperti Machupo dan Ebola, mengatakan bahwa saatnya mungkin segera tiba manakala ”orang eksentrik hanya memiliki perlengkapan seharga beberapa ribu dolar serta pendidikan biologi di perguruan tinggi dapat merekayasa seekor kuman yang akan membuat Ebola kelihatan bagaikan makhluk jinak yang berjalan-jalan di taman”. Para biolog yang lain juga turut menyatakan keprihatinannya.
Jalan Keluarnya
Memecahkan problem-problem sehubungan dengan penyakit menular bukanlah sekadar masalah mengembangkan obat-obatan baru. Hal ini menyangkut memecahkan problem-problem yang bertalian erat dengan penyakit seperti kemiskinan, peperangan, pengungsian, penyalahgunaan obat bius, kota-kota yang terlalu padat, gaya hidup yang tidak sehat, polusi, dan perusakan lingkungan. Silakan jawab dengan jujur. Apakah Anda berpikir bahwa manusia mungkin dapat memecahkan problem-problem yang kompleks ini?
Firman Allah memperingatkan, ”Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan.” Kalau begitu, kepada siapa kita seharusnya percaya? Ayat itu selanjutnya berbunyi, ”Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada [Yehuwa], Allahnya: Dia yang menjadikan langit dan bumi.” Hanya Yehuwa, Pencipta umat manusia, yang dapat memecahkan dilema yang dihadapi umat manusia.—Mazmur 146:3-6.
Firman Yehuwa yang terilham, Alkitab, dalam mencatat nubuat agung dari Yesus berkenaan ”tanda . . . dari penutup sistem perkara”, menubuatkan tentang kesengsaraan jasmani yang melanda generasi kita. Yesus mengatakan, ”Akan ada . . . dari satu tempat ke tempat lain sampar.”—Matius 24:3-8; Lukas 21:10, 11.
Akan tetapi, Alkitab juga menunjuk kepada suatu masa yang akan datang di bumi di bawah pemerintahan dari Kerajaan Allah manakala ”tidak seorangpun yang tinggal di situ akan berkata: ’Aku Sakit’”. (Yesaya 33:24; Matius 6:9,10) Mereka yang percaya kepada Yehuwa dengan demikian memiliki alasan yang kuat untuk percaya bahwa umat manusia yang taat segera akan menerima pembebasan yang permanen tidak hanya dari penyakit-penyakit yang mematikan yang melanda umat manusia melainkan juga problem-problem yang turut menyebabkan penyakit. Orang-orang Kristen yang sejati menghargai upaya-upaya dari kalangan kedokteran atas perjuangannya yang sulit melawan mikroba yang mematikan. Namun, mereka mengetahui bahwa jalan keluar yang tahan lama bagi penyakit dan kematian ada di tangan Allah, Pribadi ”yang menyembuhkan segala penyakitmu”.—Mazmur 103:1-3; Penyingkapan 21:1-5; 22:1, 2.
-