PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Mengumumkan Kembalinya Tuhan (1870-1914)
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 5

      Mengumumkan Kembalinya Tuhan (1870-1914)

      ”Sejarah berikut ini tidak diberikan hanya karena saya telah didesak untuk memberikan tinjauan mengenai bimbingan Allah di jalan terang, tetapi khususnya karena saya percaya bahwa sangatlah penting agar kebenaran diberitahukan secara bersahaja, agar salah pengertian dan pernyataan-pernyataan keliru yang merugikan dilucuti, dan agar para pembaca kita dapat melihat betapa Tuhan sampai sekarang ini telah membantu dan membimbing.”a

      SETELAH kata-kata tersebut, Charles Taze Russell kemudian menguraikan perkembangan-perkembangan yang menyebabkan ia menerbitkan Millennial Dawn (yang kemudian disebut Studies in the Scriptures) dan Zion’s Watch Tower and Herald of Christ’s Presence (sekarang dikenal sebagai The Watchtower Announcing Jehovah’s Kingdom [Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa]). Sejarah ini sangat bermanfaat bagi Saksi-Saksi Yehuwa. Mengapa? Karena pengertian mereka sekarang ini mengenai kebenaran-kebenaran Alkitab dan kegiatan mereka dapat ditelusuri kembali ke tahun 1870-an dan karya C. T. Russell serta rekan-rekannya, dan dari sana ke Alkitab dan kekristenan masa awal.

      Siapakah Charles Taze Russell? Apakah sejarah pekerjaannya memberikan bukti adanya bantuan dan bimbingan Tuhan?

      Pencarian akan Kebenaran

      C. T. Russell dilahirkan di Amerika Serikat di Allegheny (sekarang bagian dari Pittsburgh), Pennsylvania, pada tanggal 16 Februari 1852. Ia adalah putra kedua dari Joseph L. dan Ann Eliza (Birney) Russell, yang adalah penganut Presbiterian dan keturunan Skotlandia-Irlandia. Ibu Charles meninggal ketika ia baru berumur sembilan tahun, namun sejak kecil, Charles telah dipengaruhi oleh kedua orang-tuanya yang berpikiran sangat religius. Sebagaimana dikatakan oleh seorang rekan C. T. Russell di kemudian hari, ”mereka melatih sebuah ranting kecil; dan itu bertumbuh ke arah Tuhan.” Walaupun dibesarkan sebagai seorang Presbiterian, Charles akhirnya bergabung dengan Gereja Kongregasional karena ia lebih menyukai pandangan-pandangannya.

      Charles muda ternyata seorang pengusaha yang baik. Ketika baru berumur 11 tahun, ia menjadi mitra bisnis ayahnya dalam sebuah toko pakaian pria yang terus berkembang. Charles memperbesar bisnis ini, dan pada waktunya mengelola sendiri beberapa toko yang berbeda. Walaupun bisnisnya berjalan lancar, secara rohani ia merasa terganggu sekali. Mengapa demikian?

      Orang-tua Charles dengan tulus mempercayai kredo-kredo gereja Susunan Kristen dan membesarkan dia agar menganutnya juga. Maka, Charles muda diajar bahwa Allah adalah kasih, namun bahwa Ia telah menciptakan manusia dengan kodrat tidak berkematian dan telah menyediakan tempat dengan api yang bernyala-nyala yang di dalamnya Allah akan menyiksa semua orang selama-lamanya kecuali mereka yang telah ditakdirkan untuk diselamatkan. Gagasan demikian mengguncangkan hati remaja Charles yang jujur. Ia bernalar, ”Allah yang menggunakan kuasa-Nya untuk menciptakan insan manusia yang telah Ia ketahui sebelumnya dan telah Ia takdirkan untuk disiksa selama-lamanya, tidaklah mungkin bersifat bijaksana, adil atau pengasih. Standar-Nya akan lebih rendah daripada standar banyak manusia.”

      Akan tetapi, Russell muda bukan seorang ateis; ia semata-mata tidak dapat menerima ajaran-ajaran gereja yang umum dipahami. Ia menjelaskan, ”Lambat laun saya dapat melihat bahwa walaupun setiap kredo memiliki beberapa unsur kebenaran, semuanya, secara keseluruhan, menyesatkan dan bertentangan dengan Firman Allah.” Sesungguhnya, dalam kredo-kredo gereja, ”unsur-unsur kebenaran” terkubur di bawah kekacaubalauan ajaran-ajaran kafir yang telah menyusup ke dalam kekristenan yang tercemar selama kemurtadan yang berlangsung berabad-abad. Setelah berpaling menjauhi kredo-kredo gereja dan mencari kebenaran, Russell kemudian menyelidiki beberapa agama Timur yang utama, namun hanya mendapatkan ketidakpuasan.

      Diteguhkan Kembali dalam Iman

      Walaupun demikian, ranting ini telah dilatih oleh orang-tua yang takut akan Allah; ia condong ”ke arah Tuhan”. Sementara ia masih mencari kebenaran, pada suatu sore tahun 1869, sesuatu terjadi yang meneguhkan kembali iman Charles yang sedang goyah. Ketika ia sedang berjalan dekat toko milik keluarga Russell di Federal Street, ia mendengar nyanyian keagamaan dari sebuah ruangan bawah tanah. Inilah yang terjadi menurut penuturannya sendiri,

      ”Suatu sore, rupanya secara kebetulan, saya mampir ke sebuah ruangan yang berdebu dan suram, yang saya dengar menjadi tempat diadakannya kebaktian agama, untuk mengetahui apakah segelintir orang yang bertemu di sana memiliki sesuatu yang dapat ditawarkan, yang lebih masuk akal daripada kredo-kredo dari gereja-gereja besar. Di sanalah, untuk pertama kalinya, saya mendengar sesuatu berkenaan pandangan Adven Kedua [Gereja Kristen Adven], dengan pengkhotbahnya Tn. Jonas Wendell . . . Demikianlah, saya mengakui bahwa saya berutang budi kepada para penganut Adven dan juga kepada aliran-aliran lain. Walaupun penjelasan Alkitab yang disampaikannya tidak sepenuhnya jelas, . . . itu cukup, di bawah Allah, untuk meneguhkan kembali iman saya yang sedang goyah akan ilham ilahi dari Alkitab, dan untuk memperlihatkan bahwa catatan yang dibuat oleh para rasul dan para nabi berkaitan tanpa dapat dipisahkan. Apa yang saya dengar membuat saya belajar Alkitab dengan semangat dan perhatian yang lebih besar daripada sebelumnya, dan saya senantiasa bersyukur kepada Tuhan atas bimbingan itu; karena walaupun Adventisme tidak membantu saya menemukan satu pun kebenaran, namun saya telah banyak dibantu untuk belajar meninggalkan kekeliruan, dan dengan demikian mempersiapkan saya untuk Kebenaran.”

      Pertemuan itu memperbarui tekad Russell muda untuk mencari kebenaran Alkitab. Ini menuntunnya kembali kepada Alkitabnya dengan gairah yang lebih besar daripada sebelumnya. Russell segera yakin bahwa waktunya telah dekat bagi orang-orang yang melayani Tuhan untuk sampai kepada pengetahuan yang jelas mengenai maksud-tujuan-Nya. Maka, pada tahun 1870, dikobarkan oleh kegairahan, ia dan beberapa kenalannya di Pittsburgh dan Allegheny yang terletak di dekatnya, berkumpul bersama dan membentuk suatu kelompok untuk mempelajari Alkitab. Menurut seorang rekan yang belakangan bergabung dengan Russell, kelompok kecil Alkitab itu diadakan dengan cara ini, ”Seseorang akan mengajukan sebuah pertanyaan. Mereka akan membahasnya. Mereka akan mencari semua ayat yang berhubungan dengan pokok tersebut dan kemudian, jika mereka puas dengan keselarasan ayat-ayat ini, mereka akhirnya mengemukakan kesimpulan mereka dan mencatat hal itu.” Sebagaimana Russell kemudian akui, periode ”dari tahun 1870 sampai 1875 adalah masa pertumbuhan yang terus-menerus dalam karunia dan pengetahuan serta kasih akan Allah dan Firman-Nya.”

      Seraya mereka meneliti Alkitab, beberapa hal menjadi makin jelas bagi para pencari kebenaran yang tulus ini. Mereka melihat kebenaran Alkitab mengenai jiwa manusia yang berkematian dan bahwa peri tidak berkematian adalah suatu karunia yang akan dicapai oleh orang-orang yang menjadi sesama waris dengan Kristus dalam Kerajaan surgawinya. (Yeh. 18:20; Rm. 2:6, 7) Mereka mulai memahami makna dari doktrin korban tebusan Yesus Kristus dan kesempatan yang dimungkinkan oleh persediaan ini bagi umat manusia. (Mat. 20:28) Mereka mulai menyadari bahwa walaupun Yesus pada mulanya datang ke bumi sebagai manusia jasmani, pada kedatangannya kembali ia akan hadir secara tidak kelihatan sebagai pribadi roh. (Yoh. 14:19) Mereka selanjutnya mengerti bahwa tujuan kembalinya Yesus adalah, bukan untuk membinasakan semua orang, melainkan untuk memberkati keluarga-keluarga yang taat di bumi. (Gal. 3:8) Russell menulis, ”Kami merasa sangat sedih melihat kekeliruan orang-orang Adven Kedua, yang mengharapkan kedatangan Kristus secara jasmani, dan mengajarkan bahwa dunia ini dan segala yang ada di dalamnya akan dibakar habis kecuali orang-orang Adven Kedua.”

      Kebenaran-kebenaran Alkitab yang menjadi jelas bagi kelompok kecil Alkitab ini benar-benar merupakan suatu perbedaan dari doktrin-doktrin kafir yang telah merembes ke dalam kekristenan selama kemurtadan yang telah berlangsung berabad-abad. Akan tetapi, apakah Russell dan rekan-rekannya yang berpikiran rohani memperoleh kebenaran-kebenaran dari Alkitab ini tanpa bantuan orang-orang lain?

      Pengaruh Orang-Orang Lain

      Secara cukup terbuka Russell menunjuk kepada bantuan yang telah ia terima dari orang-orang lain dalam mempelajari Alkitab. Ia tidak hanya mengakui bahwa ia berutang budi kepada Jonas Wendell dari Adven Kedua, tetapi ia juga berbicara dengan penuh hangat mengenai dua orang lain lagi yang telah membantunya dalam mempelajari Alkitab. Russell mengatakan tentang dua pria ini, ”Mempelajari Firman Allah bersama rekan-rekan yang saya kasihi ini membimbing, setapak demi setapak, ke padang rumput yang lebih hijau.” Yang seorang, George W. Stetson, adalah seorang pelajar Alkitab yang tekun dan pastor dari Gereja Kristen Adven di Edinboro, Pennsylvania.

      Yang seorang lagi, George Storrs, adalah penerbit majalah Bible Examiner, di Brooklyn, New York. Storrs, yang lahir tanggal 13 Desember 1796, pada mulanya terdorong untuk memeriksa keterangan Alkitab mengenai keadaan orang mati setelah membaca sesuatu yang diterbitkan (walaupun pada waktu itu tanpa nama) oleh seorang pelajar Alkitab yang cermat, yaitu Henry Grew, dari Philadelphia, Pennsylvania. Storrs menjadi penganjur yang bersemangat mengenai apa yang disebut peri tidak berkematian yang bersyarat—ajaran bahwa jiwa berkematian dan bahwa peri tidak berkematian adalah suatu karunia yang dapat dicapai oleh orang-orang Kristen yang setia. Ia juga menerangkan bahwa karena orang-orang jahat tidak mempunyai peri tidak berkematian, maka tidak ada siksaan abadi. Storrs banyak mengadakan perjalanan, memberi khotbah tentang pokok bahwa tidak ada peri tidak berkematian bagi orang fasik. Salah satu dari buku-buku yang diterbitkannya adalah Six Sermons, yang akhirnya mencapai angka peredaran 200.000 eksemplar. Tanpa diragukan lagi, pandangan-pandangan Storrs yang sangat berdasarkan Alkitab mengenai jiwa yang berkematian maupun mengenai pendamaian dan restitusi (pemulihan apa yang hilang karena dosa Adam; Kis. 3:21) memberikan pengaruh yang kuat dan positif kepada Charles T. Russell yang masih muda.

      Namun, seorang pria lain yang berpengaruh kuat atas kehidupan Russell juga menyebabkan loyalitasnya kepada kebenaran Alkitab diuji.

      Nubuat-Nubuat Perihal Waktu dan Kehadiran Tuhan

      Pada suatu pagi di bulan Januari 1876, Russell yang berumur 23 tahun menerima sebuah majalah berkala keagamaan yang disebut Herald of the Morning. Dari gambar sampul, ia dapat melihat bahwa majalah itu adalah dari aliran Adven. Redakturnya, Nelson H. Barbour, dari Rochester, New York, percaya bahwa tujuan kembalinya Kristus bukan untuk membinasakan keluarga-keluarga di bumi melainkan untuk memberkati mereka dan bahwa kedatangannya bukan secara daging melainkan sebagai roh. Nah, ini sesuai dengan hal yang telah dipercayai oleh Russell dan rekan-rekannya di Allegheny selama beberapa waktu!b Akan tetapi, herannya, dari nubuat-nubuat Alkitab perihal waktu, Barbour percaya bahwa Kristus telah hadir (secara tidak kelihatan) dan bahwa pekerjaan penuaian untuk mengumpulkan ”gandum” (orang-orang Kristen sejati yang membentuk golongan Kerajaan) sudah tiba.—Mat., psl. 13.

      Russell selama ini telah menghindar dari nubuat-nubuat Alkitab perihal waktu. Namun sekarang, ia bertanya-tanya, ”Apakah mungkin nubuat-nubuat perihal waktu yang telah lama saya benci, karena penyalahgunaannya oleh orang-orang Adven, sebenarnya dimaksudkan untuk menunjukkan bilamana Tuhan akan hadir secara tidak kelihatan untuk mendirikan Kerajaannya?” Dengan rasa haus yang tak terpuaskan akan kebenaran Alkitab, Russell merasa harus belajar lebih banyak. Maka ia mengatur pertemuan dengan Barbour di Philadelphia. Pertemuan ini meneguhkan persesuaian mereka mengenai sejumlah ajaran Alkitab dan menyediakan kesempatan bagi mereka untuk saling bertukar pandangan. ”Ketika kami pertama kali bertemu,” Russell belakangan menyatakan, ”ia harus belajar banyak dari saya mengenai makna sepenuhnya dari restitusi yang didasarkan atas memadainya tebusan yang diberikan untuk semua, sebagaimana saya harus belajar banyak dari dia mengenai waktu.” Barbour berhasil meyakinkan Russell bahwa kehadiran Kristus yang tidak kelihatan telah mulai pada tahun 1874.c

      ”Bertekad Mengadakan Kampanye yang Bergairah demi Kebenaran”

      C. T. Russell adalah seorang pria yang berpendirian positif. Karena yakin bahwa kehadiran Kristus yang tidak kelihatan telah mulai, ia bertekad untuk mengumumkannya kepada orang-orang lain. Ia belakangan berkata, ”Pengetahuan tentang fakta bahwa kita telah berada pada masa penuaian memberi saya dorongan sebagaimana belum pernah saya miliki sebelumnya untuk menyebarkan Kebenaran. Karena itu saya langsung bertekad mengadakan kampanye yang bergairah demi kebenaran.” Russell sekarang memutuskan untuk membatasi kepentingan bisnisnya agar dapat mengabdikan diri kepada pengabaran.

      Untuk bertindak melawan pandangan-pandangan yang keliru tentang kembalinya Tuhan, Russell menulis pamflet berjudul The Object and Manner of Our Lord’s Return (Tujuan dan Cara Kembalinya Tuhan Kita). Ini diterbitkan pada tahun 1877. Pada tahun yang sama Barbour dan Russell bersama-sama menerbitkan Three Worlds, and the Harvest of This World (Tiga Dunia, dan Penuaian Atas Dunia Ini). Buku 196 halaman ini membahas pokok restitusi dan nubuat-nubuat Alkitab perihal waktu. Walaupun masing-masing pokok pernah dibahas oleh orang-orang lain sebelumnya, dalam pandangan Russell buku ini adalah ”yang pertama menggabungkan gagasan restitusi dengan nubuat-nubuat perihal waktu”. Buku ini mengemukakan pandangan bahwa kehadiran Yesus Kristus yang tidak kelihatan mulai sejak musim gugur tahun 1874.

      Seraya Russell mengadakan perjalanan dan mengabar, menjadi jelas baginya bahwa diperlukan sesuatu yang lain lagi untuk memelihara benih kebenaran yang ia tabur agar tetap hidup dan disiram. Jawabannya? ”Suatu majalah bulanan,” kata Russell. Maka ia dan Barbour memutuskan untuk menghidupkan kembali publikasi Herald, yang telah dihentikan karena pembatalan langganan-langganan dan habisnya dana. Russell menyumbangkan dana pribadinya untuk menghidupkan kembali majalah itu, menjadi salah seorang mitra redakturnya.

      Untuk sementara waktu semua berjalan mulus—yaitu sampai tahun 1878.

      Russell Memutuskan Hubungan dengan Barbour

      Dalam terbitan Herald of the Morning bulan Agustus 1878, muncul sebuah artikel yang ditulis oleh Barbour yang menyangkal nilai yang sepadan dari kematian Kristus. Russell, yang hampir 30 tahun lebih muda dari Barbour, dapat melihat bahwa hal ini, sebenarnya, menyangkal bagian penting dari doktrin tebusan. Maka langsung dalam terbitan berikutnya (September 1878), Russell, dalam artikel yang berjudul ”Pendamaian”, menjunjung tinggi tebusan dan membantah pernyataan Barbour. Kontroversi berlangsung di halaman-halaman majalah itu selama beberapa bulan berikutnya. Akhirnya, Russell memutuskan untuk mengundurkan diri dari persekutuan dengan Tn. Barbour dan menghentikan dukungan keuangan lebih lanjut kepada majalah Herald.

      Walaupun demikian, C. T. Russell merasa bahwa mengundurkan diri dari Herald belum cukup; doktrin tebusan harus dibela dan kehadiran Kristus harus diumumkan. Karena itu, pada bulan Juli 1879, Russell mulai menerbitkan Zion’s Watch Tower and Herald of Christ’s Presence.d Russell adalah redaktur dan penerbitnya, dengan lima orang lagi yang semula didaftarkan sebagai penulis-penulis yang menyumbang kepada kolom-kolom mereka. Terbitan pertama dicetak sebanyak 6.000 eksemplar. Menjelang tahun 1914, setiap terbitan telah dicetak sebanyak kira-kira 50.000 eksemplar.

      ”Bukan sebagai Sesuatu yang Baru, Bukan sebagai Milik Kami, tetapi sebagai Kepunyaan Tuhan”

      C. T. Russell menggunakan majalah Watch Tower dan publikasi-publikasi lain untuk menegakkan kebenaran-kebenaran Alkitab dan membuktikan salah ajaran-ajaran agama palsu dan filsafat-filsafat manusia yang bertentangan dengan Alkitab. Namun, ia tidak mengaku menemukan kebenaran-kebenaran baru.

      Sejak akhir abad ke-18, banyak rohaniwan dan sarjana Alkitab telah menyingkapkan ajaran palsu berkenaan jiwa yang tidak berkematian dan hukuman abadi bagi orang jahat. Penyingkapan ini telah dilaporkan dengan saksama dalam buku Bible Vs. Tradition, oleh Aaron Ellis, semula diterbitkan di Inggris dan kemudian di Amerika Serikat pada tahun 1853 oleh George Storrs. Namun tidak seorang pun pada saat itu melakukan lebih banyak daripada C. T. Russell dan rekan-rekannya untuk mengumumkan kebenaran ini.

      Bagaimana dengan doktrin-doktrin Alkitab lain yang dibahas dalam Watch Tower dan publikasi-publikasi lain? Apakah Russell mengaku dirinya saja yang telah menyingkapkan permata-permata kebenaran ini? Russell menjelaskan, ”Kami mendapati bahwa selama berabad-abad berbagai sekte dan kelompok telah membagi-bagi doktrin-doktrin Alkitab di antara mereka, memadukannya dengan sedikit banyak spekulasi dan kesalahan manusiawi . . . Kami mendapati bahwa doktrin penting tentang pembenaran oleh iman dan bukan oleh perbuatan telah diucapkan dengan jelas oleh Luther dan belakangan ini oleh banyak orang Kristen; bahwa keadilan ilahi dan kekuasaan dan hikmat dipelihara dengan hati-hati, walaupun tidak dipahami dengan jelas oleh para penganut Presbiterian; bahwa penganut Metodis menghargai dan memuji kasih dan simpati Allah; bahwa penganut Adven berpegang pada doktrin berharga mengenai kembalinya Tuhan; bahwa penganut Baptis di antara pokok-pokok lain berpegang secara benar kepada arti simbolik dari doktrin baptisan, walaupun mereka telah kehilangan pengertian akan baptisan yang sesungguhnya; bahwa beberapa penganut Universalis sejak lama telah berpendirian samar-samar pada beberapa pemikiran tentang ’restitusi’. Dengan demikian, hampir semua aliran memberi bukti bahwa para pendiri mereka telah meraba-raba mencari kebenaran: namun jelas bahwa Musuh besar telah bertarung melawan mereka dan dengan salah telah memecah-belah Firman Allah yang tidak dapat ia hancurkan seluruhnya.”

      Mengenai kronologi yang sering dikemukakannya, Russell menyatakan, ”Bila kami mengatakan kronologi ’kami’, itu hanya memaksudkan kronologi yang kami gunakan, kronologi Alkitab, yang adalah milik seluruh umat Allah yang mau menerimanya. Sebenarnya hal itu telah digunakan hampir dalam bentuk yang sama yang telah kami persembahkan jauh sebelum zaman kita, sebagaimana berbagai nubuat yang kami gunakan telah dipakai oleh penganut Adven untuk tujuan yang berbeda, dan sama seperti berbagai doktrin yang kami pegang dan yang tampaknya begitu baru dan segar serta berbeda sudah dianut dalam bentuk tertentu lama berselang: seperti misalnya—Pemilihan, Karunia Bebas, Restitusi, Pembenaran, Penyucian, Pemuliaan, Kebangkitan.”

      Jadi bagaimana Russell memahami peranan yang ia dan rekan-rekannya mainkan dalam mempublikasikan kebenaran Alkitab? Ia menjelaskan, ”Pekerjaan kami . . . adalah untuk mengumpulkan kembali potongan-potongan kebenaran yang sudah lama terserak dan mempersembahkannya kepada umat Tuhan—bukan sebagai sesuatu yang baru, bukan sebagai milik kami, tetapi sebagai kepunyaan Tuhan. . . . Kami harus menolak penghargaan apa pun bahkan untuk menemukan dan menyusun kembali permata-permata kebenaran.” Ia menyatakan lebih lanjut, ”Pekerjaan yang untuknya Tuhan telah berkenan menggunakan bakat-bakat kami yang tidak seberapa, bukan merupakan pekerjaan memulai melainkan hanya menyusun kembali, menyesuaikan, menyelaraskan.”

      Jadi Russell cukup bersahaja atas apa yang dicapainya. Meskipun demikian, ”potongan-potongan kebenaran yang terserak” yang telah ia kumpulkan dan persembahkan kepada umat Tuhan itu bebas dari doktrin-doktrin kafir yang tidak menghormati Allah yakni Tritunggal dan jiwa yang tidak berkematian, yang telah berurat-berakar dalam gereja-gereja Susunan Kristen sebagai akibat kemurtadan besar. Tidak seperti siapa pun pada zaman itu, Russell dan rekan-rekannya mengumumkan ke seluruh dunia makna kembalinya Tuhan dan maksud-tujuan ilahi serta hal-hal yang tersangkut di dalamnya.

      ’Membina Satu Sama Lain dalam Iman yang Paling Kudus’

      Orang-orang yang berhati jujur cepat menanggapi kebenaran-kebenaran yang memerdekakan yang diumumkan oleh C. T. Russell dan rekan-rekannya melalui halaman tercetak dan juga dalam ceramah-ceramah. Russell, yang belum mencapai umur 30 tahun, segera menyadari bahwa para pembaca Watch Tower perlu saling mengenal sesama seiman dan menganjurkan satu sama lain. Siswa-Siswa Alkitab di Pittsburgh melakukan ini dengan mengadakan pertemuan bersama secara tetap tentu, namun apa yang dapat dilakukan untuk membantu para pembaca Watch Tower di tempat-tempat lain?

      Jawabannya muncul dalam terbitan Watch Tower bulan Mei dan Juni 1880. Di dalamnya Russell mengumumkan rencananya untuk mengunjungi beberapa kota besar dan kecil di Pennsylvania, New Jersey, Massachusetts, dan New York. Untuk tujuan apa? ”Para pembaca kami,” pengumuman itu menjelaskan, ”tersebar di banyak tempat, di beberapa tempat 2 dan 3 orang, dan seterusnya hingga 50 orang. Di banyak tempat mereka sama sekali tidak saling mengenal, sehingga kehilangan perhatian dan kehangatan yang sebagaimana Bapa kita telah atur, seharusnya mereka dapatkan melalui ’Pertemuan-pertemuan ibadah yang dibiasakan oleh beberapa orang’. Adalah kehendak-Nya agar kita perlu ’Menasihati seorang akan yang lain’, dan membina satu sama lain dalam iman yang paling kudus. Kami berharap agar perhimpunan-perhimpunan yang direncanakan dapat menghasilkan perkenalan secara pribadi.”—Ibr. 10:24, 25.

      ”Perhimpunan-perhimpunan yang direncanakan” tersebut diadakan selama perjalanan Russell, dan semuanya terbukti berhasil baik; para pembaca Watch Tower menjadi lebih akrab satu sama lain. Perjalanan ini dan yang lain-lainnya untuk mengunjungi ”kelompok-kelompok kecil orang yang tengah menanti” segera menghasilkan dibentuknya sejumlah kelompok, atau eklesia (yang kemudian disebut sidang), berlokasi di daerah-daerah yang sudah disebutkan sebelumnya, juga di Ohio dan Michigan. Kelompok-kelompok ini dianjurkan untuk mengadakan perhimpunan yang tetap tentu. Namun, perhimpunan macam apakah itu?

      Kelompok di Pittsburgh telah menetapkan kebiasaan berhimpun bersama paling sedikit dua kali seminggu. Sebuah perhimpunan dari kelompok Pittsburgh sering kali terdiri dari sebuah ceramah oleh pembicara yang memenuhi syarat kepada seluruh eklesia, mungkin di sebuah ruangan yang disewa. Namun pada perhimpunan-perhimpunan lain, yang biasanya diadakan di rumah-rumah pribadi, mereka yang hadir diundang untuk membawa Alkitab, konkordansi, kertas, dan pensil—dan untuk berperan serta.

      Pergaulan rohani yang hangat pada perhimpunan-perhimpunan mingguan yang diadakan tetap tentu itu merupakan perubahan yang menyegarkan dari suasana yang dingin dan tidak akrab dalam kebaktian-kebaktian dari banyak gereja Susunan Kristen. Akan tetapi, Russell dan rekan-rekannya bukanlah yang merintis gagasan berhimpun bersama secara tetap tentu. Kebiasaan untuk berkumpul itu, bahkan di rumah-rumah pribadi, dimulai oleh umat Kristen abad pertama.—Rm. 16:3, 5; Kol. 4:15.

      ”Apakah Saudara Mengabar?”

      C. T. Russell dan rekan-rekannya sangat percaya bahwa mereka berada dalam masa penuaian dan bahwa orang-orang perlu mendengar kebenaran yang memerdekakan. Namun, jumlah mereka sedikit. Majalah Watch Tower memenuhi kebutuhan utama, tetapi dapatkah dilakukan lebih banyak lagi? Russell dan rekan-rekan sekerjanya berpendapat demikian. Selama tahun 1880 mereka mulai menghasilkan Bible Students’ Tracts (belakangan disebut juga Old Theology Quarterly), dan ini disediakan bagi para pembaca Watch Tower untuk dibagikan secara cuma-cuma kepada umum.

      Ya, para pembaca Watch Tower dianjurkan untuk membagikan kepada orang-orang lain kebenaran-kebenaran berharga yang mereka pelajari. ”Apakah Saudara Mengabar?” adalah pertanyaan yang diajukan dalam gabungan terbitan Watch Tower bulan Juli dan Agustus 1881. Seberapa pentingkah mengabar bagi mereka? Artikel itu menyatakan selanjutnya, ”Kami percaya bahwa tak seorang pun akan termasuk dalam kawanan kecil kecuali para pengabar. . . . Ya, kita dipanggil untuk menderita bersamanya dan untuk mengumumkan kabar baik itu sekarang, agar pada waktunya yang tepat kita dapat dimuliakan dan melaksanakan perkara-perkara yang sekarang diberitakan. Kita tidak dipanggil, maupun diurapi untuk menerima kehormatan dan menimbun kekayaan, melainkan untuk memberikan seluruh waktu dan tenaga kita, dan untuk mengabarkan kabar baik.”

      Adalah pantas bahwa Siswa-Siswa Alkitab yang mula-mula itu merasa sangat perlu untuk mengabarkan kabar baik. Sebenarnya, tugas untuk mengabar diberikan kepada umat Kristen abad pertama; itu adalah tanggung jawab yang dipikul oleh semua orang Kristen sejati sampai sekarang ini. (Mat. 24:14; 28:19, 20; Kis. 1:8) Namun, apa tujuan dari pengabaran yang dilakukan oleh Russell dan para pembaca Watch Tower yang mula-mula? Apakah hanya untuk membagikan bacaan Alkitab atau untuk membuat jemaat gereja sadar akan kebenaran Alkitab?

      ”Saudara Harus . . . Meninggalkannya”

      ”Pergilah kamu, hai umatKu,” Alkitab telah lama memperingatkan. Pergi dari mana? ”Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi.” (Why. 17:5; 18:4) Mengapa harus pergi dari Babel? ”Sebab dosa-dosanya telah bertimbun-timbun sampai ke langit, dan Allah telah mengingat segala kejahatannya.” (Why. 18:5) Siapakah ibu dari wanita-wanita pelacur ini yang darinya orang-orang harus memisahkan diri?

      Martin Luther dan pemimpin-pemimpin Reformasi lain menunjuk Gereja Katolik dan kepausannya sebagai Babel Besar. Bagaimana dengan gereja-gereja Protestan yang bermunculan sebagai akibat Reformasi? Faktanya ialah, terlepas dari penolakan mereka atas keutamaan paus, beberapa gereja tidak jauh berbeda dari paham Katolik dalam hal struktur gereja, dan mereka tetap mempertahankan doktrin-doktrin yang tidak berdasarkan Alkitab, seperti Tritunggal, jiwa yang tidak berkematian, dan siksaan kekal. Karena alasan ini beberapa pengabar mendesak orang-orang untuk melepaskan diri bukan hanya dari Gereja Katolik melainkan juga dari sistem-sistem gereja Protestan yang utama.

      C. T. Russell dan rekan-rekannya juga menyadari bahwa pelacur yang bernama buruk ini bukan hanya Gereja Katolik. Jadi, meskipun Watch Tower bulan November 1879 mengidentifikasikan Babel Besar dengan ”Kepausan sebagai suatu SISTEM”, artikel itu menambahkan, ”Kita harus melihat lebih luas dan melibatkan, (bukan anggota-anggota perorangan, melainkan sistem-sistem gereja) gereja-gereja lain yang bersatu dengan Kekaisaran-kekaisaran di bumi. Setiap gereja yang mengaku sebagai perawan suci yang ditunangkan kepada Kristus, tetapi dalam kenyataannya bersatu dengan dan didukung oleh dunia ini (binatang buas), harus kita kutuk sebagai gereja pelacur dalam bahasa Alkitab.”

      Maka, para pembaca Watch Tower dianjurkan untuk melakukan apa? Russell menulis, ”Jika Anda bergabung dengan gereja yang hidup bersatu dalam perzinaan dengan dunia, Anda harus meninggalkannya, jika Anda ingin menjaga pakaian tetap putih.” Russell dan rekan-rekannya pada waktu itu belum mengerti jangkauan sepenuhnya dari pengaruh Babel Besar. Meskipun demikian, para pembaca Watch Tower didesak untuk memisahkan diri mereka dari sistem-sistem gereja yang korup dan duniawi.—Yoh. 18:36.

      ”Kebenarannya Langsung Merebut Hati Saya”

      Penerbitan kebenaran-kebenaran Alkitab mengambil langkah maju yang penting pada tahun 1886 dengan diperkenalkannya jilid pertama dari satu seri buku yang dijanjikan berjudul Millennial Dawn (Fajar Milenium), ditulis oleh C. T. Russell. Jilid I berjudul The Divine Plan of the Ages (Rencana Ilahi Sepanjang Zaman). Buku itu berisi pembahasan 16 pokok, seperti ”Keberadaan Pencipta yang Mahacerdas Diteguhkan”, ”Alkitab Sebagai Penyingkapan Ilahi Dipandang dari Sudut yang Masuk Akal”, ”Kembalinya Tuhan Kita—Tujuannya, Restitusi dari Segala Perkara”, dan ”Diizinkannya Kejahatan dan Kaitannya dengan Rencana Allah”. Akhirnya, C. T. Russell menulis lima buku yang lain dari seri Millennial Dawn.e

      Russell tidak sempat hidup lebih lama untuk melaksanakan niat menulis jilid ketujuh dari seri ini, namun penyebaran secara luas dari keenam jilid yang sempat ia selesaikan mendapat tanggapan yang positif dari orang-orang yang berhati jujur. ”Buku Anda MILLENNIAL DAWN telah saya terima pada musim gugur yang lalu,” tulis seorang wanita pada tahun 1889, ”baru pertama kali saya mendapat petunjuk adanya hasil karya seperti ini. Saya menerimanya pada hari Sabtu sore, segera mulai membacanya dan tidak pernah meletakkannya, kecuali terpaksa, hingga selesai. Kebenarannya langsung merebut hati saya; dengan segera saya menarik diri dari Gereja Presbiterian tempat saya telah lama meraba-raba dalam kegelapan mencari kebenaran, dan tidak menemukannya.”

      Benar-benar dibutuhkan keberanian pada masa itu untuk menarik diri dari gereja. Wanita yang mempertunjukkan hal ini berasal dari Manitoba, Kanada, yang memperoleh Millennial Dawn pada tahun 1897. Pada mulanya, ia mencoba untuk tetap bergabung dengan gerejanya dan mengajar di sekolah-sekolah Minggu setempat. Saatnya tiba, pada tahun 1903, ketika ia memutuskan untuk meninggalkan gereja. Ia berdiri dan mengatakan kepada semua yang hadir mengapa ia merasa harus memisahkan diri dari gereja. Seorang tetangga terdekat (sangat berarti bagi orang-orang di masyarakat kecil pada masa itu) mencoba membujuknya untuk kembali ke gereja. Namun ia berdiri teguh, walaupun belum ada sidang dari Siswa-Siswa Alkitab di sekitar situ. Sebagaimana dilukiskan oleh putranya belakangan tentang keadaannya, ”Tidak ada hamba pelajaran [penatua] untuk menjadi tempat bersandar. Tidak ada perhimpunan. Hati yang pedih. Alkitab yang lusuh. Doa-doa yang panjang selama berjam-jam.”

      Apa keistimewaan Millennial Dawn, majalah Watch Tower, dan publikasi lainnya dari Lembaga yang merebut hati orang-orang dan menggerakkan mereka untuk mengambil tindakan yang tegas demikian? C. T. Russell menggunakan metode pendekatan untuk menerangkan ajaran-ajaran Alkitab dengan cara yang berbeda dari banyak penulis pada zamannya. Ia yakin bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang tidak bisa salah dan bahwa ajaran-ajarannya harus selaras. Karena itu, jika ada bagian Alkitab yang sulit dimengerti, ia merasa, bahwa ini tentu akan dijelaskan dan ditafsirkan oleh bagian lain dari Firman yang terilham itu. Ia tidak mencoba mendukung penjelasan-penjelasan yang ia berikan dengan kesaksian para ahli teologi pada zamannya atau dengan pandangan-pandangan mereka yang disebut bapa-bapa gereja masa awal. Seperti yang ia tulis dalam Jilid I dari Millennial Dawn, ”Kami percaya bahwa adalah kekeliruan yang umum dari masa sekarang dan sepanjang masa bahwa manusia mempercayai doktrin-doktrin tertentu karena orang-orang lain mempercayainya, yang kepadanya mereka menaruh kepercayaan. . . . Para pencari kebenaran harus mengosongkan bejana mereka yang berisi air tradisi yang keruh dan mengisinya pada mata air kebenaran—Firman Allah.”

      Seraya para pencari kebenaran yang meningkat jumlahnya ini menanggapi apa yang mereka baca dalam publikasi-publikasi dari Lembaga Menara Pengawal, beberapa perubahan yang tak terduga diperlukan di Allegheny.

      Kantor Pusat di Rumah Alkitab

      Siswa-Siswa Alkitab di Allegheny, yang tergabung dalam penerbitan majalah Watch Tower, dianggap paling berpengalaman dalam melakukan pekerjaan Tuhan dan dipandang oleh semua eklesia, atau sidang, sebagai orang-orang yang mengambil pimpinan. Pada mulanya kantor pusat mereka berlokasi di 101 Fifth Avenue, Pittsburgh, dan kemudian di 44 Federal Street, Allegheny. Namun, pada akhir tahun 1880-an, ekspansi dibutuhkan. Maka Russell mengatur untuk membangun fasilitas-fasilitas yang lebih besar. Pada tahun 1889 sebuah gedung empat tingkat bertembok batu bata di 56-60 Arch Street, Allegheny, diselesaikan. Gedung yang bernilai 34.000 dolar itu dikenal sebagai Rumah Alkitab. Gedung ini menjadi kantor pusat Lembaga selama kira-kira 19 tahun.

      Mulai tahun 1890, keluarga kecil di Rumah Alkitab melayani kebutuhan beberapa ratus rekan yang aktif dari Lembaga Menara Pengawal. Namun seraya dekade tahun 1890-an terus berjalan, makin banyak orang memperlihatkan minat akan apa yang dilakukan oleh mereka. Sebenarnya, menurut sebuah laporan yang tidak lengkap yang diterbitkan dalam majalah Watch Tower tanggal 26 Maret 1899, Peringatan kematian Kristus dilakukan di 339 perhimpunan yang berbeda-beda, dengan 2.501 orang yang mengambil bagian. Namun, apa yang akan membantu agar Siswa-Siswa Alkitab yang makin bertambah ini tetap bersatu?

      Mempersatukan Kawanan yang Bertambah

      C. T. Russell menganjurkan semua pembaca Watch Tower untuk berkumpul bersama di mana saja mereka bisa, untuk membentuk kelompok-kelompok, besar atau kecil, agar dapat membina satu sama lain secara rohani. Nasihat Alkitab disediakan melalui kolom-kolom majalah Watch Tower. Wakil-wakil keliling dari Lembaga Menara Pengawal juga diutus dari kantor pusat untuk tetap berhubungan dengan berbagai kelompok dan untuk membina mereka secara rohani.

      Sewaktu-waktu, ada juga kebaktian-kebaktian istimewa yang dihadiri oleh Siswa-Siswa Alkitab dari banyak tempat. ”Ini adalah UNDANGAN KHUSUS kepada setiap pembaca yang dapat datang,” desak Watch Tower terbitan Maret 1886. Dalam rangka apa? Peringatan tahunan Perjamuan Malam Tuhan, yang akan diadakan pada hari Minggu, tanggal 18 April 1886, di Allegheny. Namun, lebih banyak lagi yang direncanakan: Suatu seri pertemuan istimewa dijadwalkan tiap sore hari selama minggu berikutnya. Siswa-Siswa Alkitab di Allegheny membuka pintu rumah mereka—dan pintu hati mereka—dengan tidak ada pungutan bayaran bagi delegasi yang datang. Selama beberapa tahun berikutnya, kebaktian-kebaktian serupa diselenggarakan di Allegheny pada saat Peringatan kematian Kristus.

      Selama akhir tahun 1890-an, kebaktian-kebaktian mulai diorganisasi di banyak tempat. C. T. Russell sering menyampaikan khotbah pada kesempatan-kesempatan ini. Bagaimana rasanya bila mendengarkan khotbahnya?

      Ralph Leffler, yang mendengarkan C. T. Russell berkhotbah, mengenang kembali, ”Pada waktu berada di podium di hadapan hadirin, ia selalu mengenakan jas panjang hitam dan dasi putih. Suaranya tidak keras, dan ia tidak pernah menggunakan mikrofon atau pengeras suara, karena alat-alat itu belum ditemukan; namun, entah bagaimana suaranya senantiasa dapat terdengar hingga ujung paling jauh dari auditorium tersebut. Ia dapat menawan perhatian hadirin yang banyak tidak hanya selama satu jam tetapi kadang-kadang dua atau tiga jam. Ia selalu memulai khotbahnya dengan membungkuk sopan kepada hadirin. Sementara berbicara, ia tidak berdiri diam seperti patung, melainkan selalu bergerak, memberi isyarat dengan tangannya dan melangkah dari satu sisi ke sisi lain atau dari depan ke belakang. Saya tidak pernah melihatnya membawa catatan apa pun atau naskah di tangannya—hanya Alkitab, yang sering ia gunakan. Ia berbicara dari hati dan dengan cara yang sangat meyakinkan. Biasanya satu-satunya benda yang ada di podium pada masa itu adalah sebuah meja kecil dengan Alkitab di atasnya dan sebuah kendi air dan segelas air yang kadang-kadang diteguk oleh si pembicara.”

      Kebaktian-kebaktian masa awal itu adalah masa-masa yang dipenuhi dengan pergaulan yang hangat dan penyegaran rohani. Kebaktian-kebaktian itu menguatkan persatuan dari semua Siswa-Siswa Alkitab dan mengumumkan kebenaran-kebenaran Alkitab. Sementara itu, menjelang akhir dekade 1890-an, jelaslah bagi Siswa-Siswa Alkitab bahwa jauh lebih banyak yang masih harus dilakukan untuk menyebarkan kebenaran-kebenaran Alkitab. Namun jumlah mereka relatif masih sedikit. Apakah ada suatu cara untuk mencapai jutaan orang lebih banyak daripada yang dapat dicapai dengan cara yang digunakan waktu itu? Memang ada!

      Membuka Pintu ”Penginjilan Surat Kabar”

      Menjelang akhir abad ke-19, dunia dilintasi oleh jalur-jalur telegraf yang malang-melintang. Komunikasi melalui telegraf tidak mahal dan cepat; ini menyebabkan terjadinya revolusi dalam bidang pers. Berita-berita dapat disampaikan dengan cepat ke tempat-tempat jauh dan dicetak dalam surat-surat kabar. Pada awal abad ke-20, C. T. Russell dan rekan-rekannya melihat surat kabar sebagai cara yang efektif untuk mencapai sejumlah besar orang. Russell belakangan berkata, ”Surat kabar telah menjadi faktor utama dalam kehidupan sehari-hari dari dunia yang beradab.”

      Watch Tower terbitan 1 Desember 1904 mengumumkan bahwa khotbah-khotbah yang diucapkan oleh C. T. Russell akan muncul dalam tiga surat kabar. Terbitan Watch Tower berikutnya, di bawah judul ”Penginjilan Surat Kabar”, melaporkan, ”Demikianlah jutaan khotbah dapat tersebar ke mana-mana; dan beberapa setidaknya telah membawa hasil. Bila itu kehendak Tuhan, kita akan senang melihat ’pintu’ ini tetap terbuka, atau bahkan terbuka lebih lebar lagi.” Pintu ”penginjilan surat kabar” ini memang terbuka lebih lebar. Nyatanya, menjelang tahun 1913 diperkirakan bahwa melalui 2.000 surat kabar, khotbah-khotbah Russell menjangkau 15.000.000 pembaca!

      Namun, bagaimana Russell dapat mengatur agar khotbah mingguan dicetak bahkan pada waktu ia sedang dalam perjalanan? Setiap minggu, ia mengirim sebuah khotbah (panjangnya kira-kira dua kolom surat kabar) melalui telegraf kepada sebuah sindikat surat kabar. Sindikat tersebut, setelah itu, mengirimkannya dengan telegraf ke surat-surat kabar di Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa.

      Russell yakin bahwa Tuhan telah membuka lebar-lebar pintu pengabaran surat kabar ini. Selama dekade pertama dari abad ke-20, berita Alkitab yang diumumkan oleh Russell dan rekan-rekannya menjadi sangat terkenal melalui khotbah-khotbah demikian dalam surat-surat kabar tersebut. Sebuah publikasi berjudul The Continent pernah menyatakan sehubungan dengan Russell, ”Menurut kata orang tulisan-tulisannya memiliki sirkulasi surat kabar yang lebih besar daripada tulisan siapa pun yang sekarang hidup; tak diragukan lagi lebih besar daripada sirkulasi gabungan tulisan dari semua imam dan penginjil di Amerika Utara.”

      Pindah ke Brooklyn

      Seraya pengabaran dengan surat kabar melaju dengan pesat, Siswa-Siswa Alkitab mencari lokasi lain untuk mulai menghasilkan khotbah-khotbah itu. Mengapa? Rumah Alkitab di Allegheny telah menjadi terlalu kecil. Selain itu terpikir juga bahwa andaikata khotbah-khotbah Russell berasal dari kota yang lebih besar dan lebih terkenal, ini tentu akan menghasilkan dimuatnya khotbah-khotbah tersebut dalam lebih banyak surat kabar. Akan tetapi, kota yang mana? Majalah Watch Tower 15 Desember 1908 menerangkan, ”Dengan mempertimbangkan segala sesuatu, kami menyimpulkan, setelah mencari bimbingan Ilahi, bahwa Brooklyn, New York, dengan banyaknya penduduk dari golongan menengah, dan dikenal sebagai ’Kota dari Gereja-Gereja’ akan, dengan alasan-alasan ini, menjadi pusat pekerjaan penuaian yang paling cocok selama beberapa tahun yang tersisa ini.”

      Karena itu, pada tahun 1908, beberapa wakil Lembaga Menara Pengawal, termasuk penasihat hukumnya, Joseph F. Rutherford, diutus ke New York City. Tujuan mereka? Untuk memperoleh tanah milik yang telah ditemukan oleh C. T. Russell dalam perjalanan sebelumnya. Mereka membeli gedung tua ”Plymouth Bethel”, yang terletak di 13-17 Hicks Street, Brooklyn. Gedung ini pernah dipakai untuk misi dari Gereja Plymouth Kongregasional yang letaknya berdekatan, dan Henry Ward Beecher pernah melayani di sana sebagai pastor. Wakil-wakil Lembaga juga membeli bekas tempat tinggal Beecher, sebuah gedung empat tingkat bertembok bata coklat di 124 Columbia Heights, beberapa blok dari situ.

      Gedung di Hicks Street direnovasi dan dinamakan Tabernakel Brooklyn. Dalam gedung ini terdapat ruangan-ruangan kantor dan sebuah auditorium. Setelah diadakan cukup banyak perbaikan, rumah di 124 Columbia Heights yang dulu ditempati oleh Beecher menjadi rumah yang baru bagi staf kantor pusat Lembaga. Akan dinamai apakah tempat ini? Watch Tower 1 Maret 1909, menjelaskan, ”Rumah baru ini akan kami namai ’Betel’ [artinya, ”Rumah Allah”].”f

      ”Penginjilan surat kabar”, demikianlah istilahnya, maju dengan pesat setelah pindah ke Brooklyn. Namun, ini bukan satu-satunya cara untuk mencapai banyak orang.

      Meluaskan Pengumuman Kabar Baik

      Pada tahun 1912, Russell dan rekan-rekannya mencoba dengan berani suatu cara pendidikan yang sangat maju untuk zaman itu. Sesungguhnya, ini akan dapat menjangkau jutaan orang di seluruh dunia. Ini adalah ”Drama-Foto Penciptaan”—suatu kombinasi dari gambar hidup dan pertunjukan slide, yang dipadukan dengan rekaman musik dan khotbah yang direkam dengan fonograf. Panjang film ini kira-kira delapan jam dan dipersembahkan dalam empat bagian. Selain ”Drama-Foto” yang biasa, ”Drama Eureka”, yang terdiri dari rekaman khotbah-khotbah beserta musik atau rekaman tersebut beserta slide, juga tersedia. Walaupun tidak memakai gambar hidup, namun drama ini berhasil dipertunjukkan di daerah-daerah yang kurang padat penduduknya.

      Bayangkan pemandangan yang bersejarah: Pada bulan Januari 1914, selama era film bisu,g hadirin sebanyak 5.000 orang berkumpul di The Temple, sebuah bangunan di West 63rd Street, di New York City. Banyak yang terpaksa ditolak masuk karena tempat sudah penuh. Peristiwanya? Pertunjukan perdana ”Drama-Foto Penciptaan” di New York! Di hadapan hadirin terbentang layar bioskop yang lebar. Seraya mereka menonton—dan mendengarkan—sesuatu yang sungguh menakjubkan terjadi. C. T. Russell, yang pada saat itu berada pada usia awal 60-an, muncul di layar. Bibirnya mulai bergerak, dan kata-katanya dapat terdengar! Seraya pertunjukan berlangsung, film ini memukau mereka yang hadir—melalui kata-kata, gambar berwarna, dan musik—mulai dari penciptaan bumi sampai akhir Pemerintahan Milenium Kristus. Selama pertunjukan, mereka juga melihat (dengan cara time-lapse photography atau pemotretan selang waktu) hal-hal lain yang mencengangkan mereka—mekarnya sekuntum bunga dan menetasnya anak ayam. Mereka benar-benar terkesan!

      Menjelang akhir tahun 1914, ”Drama-Foto” ini telah dipertunjukkan di hadapan jutaan orang di Amerika Utara, Eropa, Selandia Baru, dan Australia. ”Drama-Foto” ini benar-benar terbukti sebagai cara yang efektif untuk menjangkau banyak orang dalam waktu yang relatif singkat.

      Sementara itu, bagaimana dengan bulan Oktober 1914? Selama beberapa dekade, Russell dan rekan-rekannya telah mengumumkan bahwa Zaman Orang Kafir akan berakhir pada tahun 1914. Semua menanti-nantikannya. C. T. Russell kritis terhadap mereka yang menentukan tanggal-tanggal bagi kembalinya Tuhan, seperti William Miller dan beberapa kelompok Adven Kedua. Namun, sejak pertama kali ia bergabung dengan Nelson Barbour, ia yakin bahwa ada kronologi yang akurat, yang didasarkan Alkitab, dan bahwa itu menunjuk kepada tahun 1914 sebagai akhir Zaman Orang Kafir.

      Seraya tahun yang penting itu mendekat, ada hal-hal yang sangat dinantikan di kalangan Siswa-Siswa Alkitab, namun tidak semua yang mereka nantikan, telah dinyatakan secara langsung dalam Alkitab. Apa yang akan terjadi?

  • Masa Pengujian (1914-1918)
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 6

      Masa Pengujian (1914-1918)

      ”Hendaklah kita ingat bahwa kita sedang berada pada musim pengujian. . . . Jika ada alasan apa pun yang akan membuat seseorang berpaling dari Tuhan dan Kebenaran-Nya dan berhenti berkorban demi Perkara Tuhan, maka yang telah mendorong timbulnya minat kepada Tuhan bukanlah semata-mata kasih akan Allah yang ada dalam hati, tetapi sesuatu yang lain; mungkin harapan bahwa waktunya sudah singkat; pengabdian hanya untuk waktu tertentu. Jika itu alasannya, sekaranglah waktunya untuk meninggalkannya.”

      KATA-KATA tersebut, yang muncul dalam The Watch Tower 1 November 1914, benar-benar tepat waktu. Sesungguhnya, tahun-tahun sejak 1914 sampai 1918 memang terbukti sebagai ”musim pengujian” bagi Siswa-Siswa Alkitab. Beberapa ujian datang dari dalam; yang lain datang dari luar. Namun, semuanya menguji Siswa-Siswa Alkitab dengan cara yang menyingkapkan apakah mereka sungguh-sungguh memiliki ’kasih akan Allah dalam hati mereka’. Apakah mereka akan terus berpegang pada ”Tuhan dan Kebenaran-Nya” atau meninggalkannya?

      Hal-Hal yang Sangat Dinantikan

      Pada tanggal 28 Juni 1914, Pangeran Francis Ferdinand dari Austria-Hongaria tewas oleh peluru seorang pembunuh. Pembunuhan ini memicu meletusnya Perang Besar, demikianlah sebutan semula untuk Perang Dunia I. Pertempuran dimulai pada bulan Agustus 1914 ketika Jerman menyerbu Belgia dan Prancis. Menjelang musim gugur tahun itu, banjir darah benar-benar sedang berlangsung.

      ”Zaman Orang Kafir telah berakhir; hari dari raja-rajanya sudah selesai”! Demikianlah seruan Saudara Russell ketika ia memasuki ruang makan di kantor pusat Lembaga Menara Pengawal di Brooklyn pada hari Jumat pagi, 2 Oktober 1914. Semua berdebar-debar. Kebanyakan dari mereka yang hadir selama bertahun-tahun telah menanti-nantikan tahun 1914. Namun apa yang akan terjadi dengan berakhirnya Zaman Orang Kafir?

      Perang Dunia I sedang mengganas, dan pada saat itu, banyak yang percaya bahwa perang itu akan berakhir dengan masa anarki sedunia yang akan mengakibatkan berakhirnya sistem perkara yang ada. Ada juga harapan lain berkenaan tahun 1914. Alexander H. Macmillan, yang dibaptis pada bulan September 1900, belakangan mengenang, ”Beberapa dari kami secara serius mengira bahwa kami akan pergi ke surga pada minggu pertama bulan Oktober itu.”a Sebenarnya, seraya mengenang pagi itu saat Russell mengumumkan akhir Zaman Orang Kafir, Macmillan mengakui, ”Kami sangat gembira dan saya tidak akan terkejut apabila saat itu kami mulai diangkat ke atas, seolah-olah pengumuman itu menandai mulainya pengangkatan ke surga—tetapi tentu saja hal itu sama sekali tidak terjadi.”

      Harapan yang dikecewakan berkenaan kembalinya Tuhan Yesus menyebabkan banyak pengikut William Miller di abad ke-19 dan berbagai kelompok Adven kehilangan iman. Namun bagaimana dengan Siswa-Siswa Alkitab yang bergabung dengan Russell? Apakah ada yang lebih tertarik pada keselamatan awal mereka sendiri sebaliknya daripada kasih akan Allah dan keinginan yang kuat untuk melakukan kehendak-Nya?

      ’Saudara Russell, Apakah Saudara Tidak Kecewa?’

      Saudara Russell telah menganjurkan Siswa-Siswa Alkitab untuk terus berjaga-jaga dan untuk bertekad tetap berada dalam pekerjaan Tuhan walaupun keadaan tidak memuncak secepat yang mereka harapkan.

      Bulan Oktober 1914 berlalu, dan C. T. Russell bersama rekan-rekannya masih berada di bumi. Kemudian Oktober 1915 berlalu. Apakah Russell kecewa? Dalam The Watch Tower 1 Februari 1916, ia menulis, ”’Namun, Saudara Russell, bagaimana pendapat saudara mengenai saatnya perubahan kita? Apakah saudara tidak kecewa bahwa hal itu tidak datang pada saat yang kita harapkan?’ saudara akan bertanya. Tidak, kami menjawab, kami tidak kecewa. . . . Saudara-saudara, kita yang memiliki sikap yang benar terhadap Allah tidak kecewa akan apa pun dari antara semua pengaturan-Nya. Kami tidak mengharap kehendak kami yang terjadi; jadi ketika kami mengetahui bahwa kami mengharapkan sesuatu yang salah pada bulan Oktober 1914, maka kami gembira bahwa Tuhan tidak mengubah Rencana-Nya untuk menyesuaikannya dengan keinginan kami. Kami tidak berharap Dia melakukan demikian. Kami hanya berharap kami dapat mengerti rencana-rencana dan maksud-tujuan-Nya.”

      Tidak, Siswa-Siswa Alkitab tidak ’diambil pulang’ ke surga pada bulan Oktober 1914. Akan tetapi, Zaman Orang Kafir memang berakhir pada tahun itu. Jelaslah, Siswa-Siswa Alkitab harus belajar lebih banyak mengenai pentingnya tahun 1914. Sementara itu, apa yang harus mereka lakukan? Bekerja! Sebagaimana The Watch Tower 1 September 1916 katakan, ”Kami mengira pekerjaan Penuaian yaitu pengumpulan Gereja [dari orang-orang terurap] sudah akan selesai sebelum akhir Zaman Orang Kafir; namun Alkitab tidak pernah mengatakan demikian. . . . Apakah kami kecewa karena pekerjaan Penuaian masih berlangsung? Tidak, sama sekali tidak . . . Sikap kita sekarang, saudara-saudara yang kami kasihi, seharusnya adalah memperlihatkan rasa syukur yang dalam kepada Allah, penghargaan yang bertambah akan Kebenaran yang indah, karena Ia telah mengaruniakan kita hak istimewa untuk melihat dan mempunyai kebenaran, dan kegairahan yang bertambah dalam membantu agar Kebenaran itu diketahui oleh orang-orang lain.”

      Namun, apakah memang masih banyak yang harus dikerjakan dalam pekerjaan penuaian? Saudara Russell kelihatannya berpikir demikian. Percakapannya dengan Saudara Macmillan pada musim gugur tahun 1916 menunjukkan hal ini. Russell memanggil Macmillan ke ruang kerjanya di Betel Brooklyn, dan berkata, ”Pekerjaan ini meningkat dengan pesat, dan akan terus meningkat, karena masih ada pekerjaan seluas dunia yang harus dilaksanakan dalam mengabarkan ’Injil Kerajaan’ ke seluruh dunia.” Russell menghabiskan waktu tiga setengah jam untuk membahas bersama Macmillan mengenai apa yang dipahaminya dari Alkitab berkenaan pekerjaan besar yang masih ada di hadapan.

      Siswa-Siswa Alkitab telah melewati suatu ujian yang sulit. Namun dengan bantuan The Watch Tower, mereka dikuatkan untuk menang mengatasi kekecewaan. Akan tetapi, musim pengujian sama sekali belum selesai.

      ”Apa yang Akan Terjadi Sekarang?”

      Pada tanggal 16 Oktober 1916, Saudara Russell dan Menta Sturgeon sekretarisnya berangkat mengadakan tur yang sudah diatur sebelumnya untuk memberikan ceramah di Amerika Serikat bagian barat dan barat daya. Namun Russell sedang sakit parah ketika itu. Tur tersebut membawa mereka pertama-tama ke Detroit, Michigan, melintasi Kanada. Kemudian, setelah berhenti di Illinois, Kansas, dan Texas, kedua pria ini tiba di California, tempat Russell menyampaikan ceramahnya yang terakhir pada hari Minggu, 29 Oktober di Los Angeles. Dua hari kemudian, pada hari Selasa siang, tanggal 31 Oktober, Charles Taze Russell yang berusia 64 tahun meninggal di atas kereta api di Pampa, Texas. Pengumuman tentang kematiannya muncul di The Watch Tower 15 November 1916.

      Apa pengaruhnya atas keluarga Betel ketika kematian Saudara Russell diumumkan? A. H. Macmillan, yang melayani sebagai asisten Russell di kantor pada saat Russell sedang bepergian, belakangan mengenang kembali pagi hari ketika ia membacakan telegram itu kepada keluarga Betel, ”Gumaman sedih terdengar di seluruh ruang makan. Beberapa orang kedengaran terisak. Pagi itu tidak seorang pun yang sarapan. Semua merasa sangat sedih. Ketika waktu makan berakhir, mereka bertemu dalam kelompok-kelompok kecil untuk berbicara dan berbisik, ’Apa yang akan terjadi sekarang?’ Hanya sedikit pekerjaan yang diselesaikan pada hari itu. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Hal itu benar-benar tidak diharapkan, walaupun sebenarnya Russell telah mencoba mempersiapkan kami untuk hal ini. Apa yang akan kami lakukan? Rasa terkejut kami yang pertama akan kematian C. T. Russell merupakan yang terburuk. Selama beberapa hari pertama, masa depan kami bagaikan dinding yang kosong. Sepanjang hidupnya, Russell telah menjadi ’Lembaga’ itu sendiri. Pekerjaan terpusat pada tekadnya yang dinamis untuk melihat kehendak Allah terlaksana.”

      Setelah upacara pemakaman di The Temple di New York dan di Balai Carnegie, Pittsburgh, Saudara Russell dikebumikan di Allegheny, di sebidang tanah milik keluarga Betel, sesuai dengan permintaannya. Biografi singkat dari Russell serta surat wasiatnya diterbitkan dalam The Watch Tower 1 Desember 1916, maupun dalam edisi-edisi selanjutnya dari jilid pertama Studies in the Scriptures.

      Apa yang akan terjadi sekarang? Sulit bagi Siswa-Siswa Alkitab untuk membayangkan orang lain menggantikan tempat Saudara Russell. Apakah pengertian mereka tentang Alkitab akan terus maju, atau apakah akan berhenti sampai di situ? Apakah mereka akan menjadi suatu sekte yang berpusat padanya? Russell sendiri telah membuat cukup jelas bahwa ia berharap agar pekerjaan terus berjalan. Maka, setelah kematiannya, beberapa pertanyaan yang wajar segera timbul: Siapa yang akan mengawasi isi dari The Watch Tower dan publikasi lain? Siapa yang akan menggantikan Russell sebagai presiden?

      Perubahan dalam Administrasi

      Dalam surat wasiatnya, Saudara Russell menguraikan tentang suatu pengaturan dibentuknya Panitia Redaksi yang terdiri dari lima orang untuk menentukan isi The Watch Tower.b Selain itu, dewan direksi dari Lembaga Alkitab dan Risalah Menara Pengawal mengatur dibentuknya Panitia Eksekutif yang terdiri dari tiga orang—A. I. Ritchie, W. E. Van Amburgh, dan J. F. Rutherford—untuk menjalankan pengawasan umum atas semua pekerjaan Lembaga, dengan tunduk kepada pengaturan dewan direksi.c Namun, siapa yang akan menjadi presiden yang baru? Keputusan itu akan ditetapkan pada pertemuan tahunan berikutnya dari Lembaga, kira-kira dua bulan kemudian, pada tanggal 6 Januari 1917.

      Pada mulanya, Panitia Eksekutif berupaya sebaik-baiknya untuk memelihara kondisi tetap stabil, dengan menganjurkan Siswa-Siswa Alkitab untuk terus aktif dan tidak kehilangan semangat. The Watch Tower terus diterbitkan, memuat artikel-artikel yang telah ditulis Russell sebelum kematiannya. Namun, seraya pertemuan tahunan mendekat, ketegangan mulai memuncak. Ada beberapa orang yang bahkan melakukan pemilihan kecil-kecilan supaya orang pilihan mereka yang menjadi presiden. Yang lain, karena respek yang dalam kepada Saudara Russell, tampaknya lebih berminat untuk mencoba meniru sifat-sifatnya dan mengembangkan semacam pemujaan kepadanya. Akan tetapi, kebanyakan dari Siswa-Siswa Alkitab, terutama berminat untuk terus melaksanakan pekerjaan yang telah digeluti oleh Russell.

      Seraya waktu pemilihan mendekat, pertanyaan tersebut terus ada, Siapa yang akan menggantikan Russell sebagai presiden? The Watch Tower 15 Januari 1917, melaporkan hasil pertemuan tahunan, dengan menjelaskan, ”Saudara Pierson, dengan pernyataan yang tepat dan kata-kata penghargaan serta kasih kepada Saudara Russell, menyatakan bahwa ia telah menerima mandat untuk mewakili saudara-saudara di seluruh negeri dalam memberi suara memilih Saudara J. F. Rutherford menjadi Presiden, dan lebih lanjut ia menyatakan bahwa ia sepenuhnya bersimpati atas hal ini.” Setelah nama Rutherford masuk nominasi dan mendapat dukungan, serta tidak ada yang selanjutnya dicalonkan, maka ”Sekretaris mengambil kartu pemungutan suara sesuai peraturan, dan Saudara Rutherford dinyatakan sebagai Presiden yang terpilih dengan suara bulat oleh seluruh peserta Rapat”.

      Dengan diputuskannya pemilihan, bagaimana tanggapan orang-orang terhadap presiden yang baru ini? The Watch Tower yang disebutkan di atas melaporkan, ”Rekan-rekan di mana-mana telah berdoa sungguh-sungguh untuk memohon tuntunan dan bimbingan Tuhan dalam masalah pemilihan ini; dan ketika itu berakhir, semua merasa puas dan gembira, percaya bahwa Tuhan telah membimbing pertimbangan mereka dan menjawab doa mereka. Keselarasan yang sempurna ada di antara semua yang hadir.”

      Akan tetapi, ”keselarasan yang sempurna” itu tidak berlangsung lama. Presiden yang baru ini diterima dengan hangat oleh banyak orang tetapi tidak oleh semua orang.

      Presiden yang Baru Bergerak Maju

      Saudara Rutherford cenderung untuk tidak mengubah gaya kepemimpinan organisasi, tetapi terus menggunakan pola gerak maju yang telah ditetapkan oleh Russell. Wakil-wakil keliling dari Lembaga (dikenal sebagai musafir) bertambah dari 69 menjadi 93 orang. Penyebaran risalah cuma-cuma dari Lembaga dipercepat pada hari-hari Minggu tertentu di depan gereja-gereja dan secara tetap tentu dalam pelayanan dari rumah ke rumah.

      ”Pekerjaan pastoral”, yang sudah dimulai sebelum kematian Russell, kini ditingkatkan. Ini adalah pekerjaan tindak lanjut, mirip dengan kegiatan kunjungan kembali yang sekarang dilakukan oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Untuk menggerakkan kembali pekerjaan pengabaran lebih lanjut, presiden baru Lembaga memperluas pekerjaan kolportir. Para kolportir (pendahulu dari perintis-perintis yang ada sekarang) ditingkatkan dari 372 menjadi 461 orang.

      ”Tahun 1917 dimulai dengan pemandangan yang agak mengecilkan hati,” kata The Watch Tower 15 Desember 1917. Ya, setelah kematian C. T. Russell, terdapat kekhawatiran, keraguan, dan ketakutan hingga taraf tertentu. Walaupun demikian, laporan akhir tahun sangat menganjurkan; kegiatan pengabaran telah meningkat. Jelaslah, pekerjaan itu bergerak maju. Apakah Siswa-Siswa Alkitab telah melewati ujian lain—kematian C. T. Russell—dengan berhasil?

      Upaya untuk Mendapatkan Kekuasaan

      Tidak semua orang mendukung presiden yang baru. C. T. Russell dan J. F. Rutherford adalah dua pria yang sama sekali berbeda. Mereka memiliki kepribadian yang berbeda dan datang dari latar belakang yang berbeda. Perbedaan-perbedaan ini sulit diterima oleh beberapa orang. Menurut pendapat mereka, tidak ada yang dapat menggantikan Saudara Russell.

      Beberapa orang, terutama yang berada di kantor pusat, secara terang-terangan tidak suka kepada Saudara Rutherford. Fakta bahwa pekerjaan bergerak maju dan bahwa ia mengupayakan segala cara untuk mengikuti penyelenggaraan yang telah ditetapkan oleh Russell, tampaknya tidak mengesankan mereka. Tentangan segera memuncak. Empat anggota dari dewan direksi Lembaga bahkan bertindak demikian jauh sampai berupaya keras untuk merebut kendali administrasi dari tangan Rutherford. Situasi ini mencapai puncak pada musim panas 1917, dengan diterbitkannya The Finished Mystery, jilid ketujuh dari Studies in the Scriptures.

      Saudara Russell tidak dapat menerbitkan jilid ini semasa hidupnya, walaupun ia berharap melakukannya. Setelah kematiannya, Panitia Eksekutif dari Lembaga mengatur agar dua orang rekan, Clayton J. Woodworth dan George H. Fisher, menyiapkan buku ini, yang merupakan komentar atas buku Wahyu, Kidung Agung, dan Yehezkiel. Sebagian buku ini didasarkan atas tulisan Russell mengenai kitab-kitab ini, dan komentar serta penjelasan-penjelasan lain ditambahkan. Naskah lengkap disetujui untuk diterbitkan oleh petugas-petugas Lembaga dan dibagikan kepada keluarga Betel di meja makan pada hari Selasa, 17 Juli 1917. Pada kesempatan yang sama pula, suatu pengumuman yang mengejutkan diberikan—keempat direktur yang menentang telah diberhentikan dan Saudara Rutherford telah mengangkat empat orang lain untuk mengisi kekosongan. Bagaimana tanggapan orang?

      Hal itu laksana sebuah bom yang meledak! Keempat direktur yang diberhentikan menggunakan kesempatan itu untuk melancarkan perdebatan selama lima jam di hadapan keluarga Betel mengenai pengelolaan urusan-urusan Lembaga. Sejumlah orang dari keluarga Betel bersimpati dengan para penentang itu. Pertentangan ini berlanjut selama beberapa minggu, dan para perusuh mengancam untuk ”menggulingkan tirani yang ada”, demikian menurut mereka. Namun, Saudara Rutherford memiliki dasar yang kuat untuk tindakan yang telah diambilnya. Apakah itu?

      Ternyata, walaupun keempat direktur yang menentang tersebut telah ditunjuk oleh Saudara Russell, penunjukan ini tidak pernah diteguhkan dengan pemilihan suara dari anggota-anggota badan hukum ini pada pertemuan tahunan Lembaga. Karena itu, keempat orang tersebut sama sekali bukan anggota sah dari dewan direksi! Rutherford menyadari hal ini tetapi tidak mengungkapkannya pada mulanya. Mengapa tidak? Ia tidak ingin memberi kesan bahwa ia bertindak menentang keinginan Saudara Russell. Namun, ketika menjadi jelas bahwa mereka tidak mau menghentikan tentangan mereka, Rutherford bertindak dalam wewenang dan tanggung jawabnya sebagai presiden, untuk menggantikan mereka dengan empat orang lain yang pengangkatannya akan diteguhkan pada pertemuan tahunan berikutnya, yang akan diadakan pada bulan Januari 1918.

      Pada tanggal 8 Agustus, para mantan direksi yang tidak puas beserta para pendukung mereka meninggalkan keluarga Betel; mereka diminta pergi karena kerusuhan yang telah mereka buat. Mereka segera menyebarkan tentangan melalui pidato kepada umum dan kampanye penulisan surat yang ekstensif ke seluruh Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa. Akibatnya, setelah musim panas tahun 1917, sejumlah sidang dari Siswa-Siswa Alkitab terbagi dalam dua golongan—mereka yang loyal kepada Lembaga dan mereka yang menjadi mangsa empuk dari mulut manis para penentang.

      Akan tetapi, apakah para direktur yang diberhentikan ini, dalam upaya mendapatkan kekuasaan dari organisasi, mencoba untuk mempengaruhi mereka yang datang ke pertemuan tahunan? Karena mengantisipasi reaksi demikian, Rutherford merasa perlu mengadakan survai atas semua sidang. Hasilnya? Menurut laporan yang diterbitkan dalam The Watch Tower 15 Desember 1917, orang-orang yang memberikan suara menunjukkan dukungan mereka yang sepenuhnya terhadap J. F. Rutherford dan para direktur yang bekerja sama dengannya! Hal ini diteguhkan pada pertemuan tahunan.d Upaya para penentang untuk mendapatkan kekuasaan telah gagal!

      Apa yang terjadi kemudian dengan para penentang itu dan pendukung-pendukung mereka? Setelah pertemuan tahunan bulan Januari 1918, para penentang itu memisahkan diri, bahkan memilih untuk merayakan sendiri Peringatan (Perjamuan Malam Tuhan), pada tanggal 26 Maret 1918. Persatuan apa pun yang mereka nikmati hanya berumur pendek, dan tidak lama kemudian mereka terbagi menjadi berbagai sekte. Dalam kebanyakan kasus jumlah mereka menurun dan kegiatan mereka berkurang atau berhenti sama sekali.

      Jelaslah, setelah kematian Saudara Russell, Siswa-Siswa Alkitab menghadapi ujian yang nyata berkenaan loyalitas. Sebagaimana Tarissa P. Gott, yang dibaptis pada tahun 1915, menceritakan, ”Banyak dari mereka yang kelihatannya begitu kuat, begitu berbakti kepada Tuhan, mulai berpaling. . . . Ada yang tidak beres dalam semua ini, namun itulah yang terjadi dan hal itu menyedihkan hati kami. Namun saya berkata pada diri sendiri, ’Bukankah organisasi ini yang Yehuwa gunakan untuk membebaskan kami dari belenggu agama palsu? Bukankah kami telah mengecap kebaikan-Nya? Andai kata kami pergi sekarang, ke mana kami akan pergi? Tidakkah akhirnya kami akan menjadi pengikut manusia tertentu?’ Kami tidak melihat alasan untuk pergi dengan mereka yang murtad itu, maka kami tetap tinggal.”—Yoh. 6:66-69; Ibr. 6:4-6.

      Beberapa orang yang menarik diri dari organisasi belakangan bertobat dan kembali bergabung bersama Siswa-Siswa Alkitab dalam ibadat. Jauh lebih banyak orang, seperti halnya Saudari Gott, tetap bekerja sama dengan Lembaga Menara Pengawal dan Saudara Rutherford. Kasih dan persatuan yang mengikat mereka telah dibangun selama pergaulan bersama bertahun-tahun dalam perhimpunan maupun kebaktian. Mereka tidak akan membiarkan apa pun juga mematahkan ikatan yang mempersatukan itu.—Kol. 3:14.

      Menjelang tahun 1918 Siswa-Siswa Alkitab telah berhasil melewati ujian dari dalam. Akan tetapi, bagaimana jika tentangan timbul dari mereka yang ada di luar?

      Sasaran Serangan

      Selama penutup tahun 1917 dan permulaan 1918, Siswa-Siswa Alkitab dengan bergairah menyebarkan buku baru, The Finished Mystery. Hingga akhir tahun 1917, percetakan sibuk mencetak 850.000 edisi. The Watch Tower 15 Desember 1917, melaporkan, ”Penjualan Jilid Ketujuh tidak dapat ditandingi dengan penjualan buku apa pun yang pernah dikenal orang, dalam jangka waktu yang sama, kecuali Alkitab.”

      Namun, tidak semua orang tergetar hatinya dengan keberhasilan buku The Finished Mystery. Buku ini berisi beberapa acuan bagi para pemimpin agama Susunan Kristen yang sangat menusuk. Hal ini membuat para pemimpin agama begitu marah sehingga mereka mendesak pemerintah untuk melarang publikasi-publikasi dari Siswa-Siswa Alkitab. Akibat dari tentangan yang didalangi para pemimpin agama ini, pada awal tahun 1918, The Finished Mystery dilarang di Kanada. Tentangan segera memuncak terhadap Siswa-Siswa Alkitab di Amerika Serikat.

      Untuk menyingkapkan tekanan yang didalangi para pemimpin agama ini, pada tanggal 15 Maret 1918, Lembaga Menara Pengawal menerbitkan risalah Kingdom News (Berita Kerajaan) No. 1. Pesannya? Judul selebar enam kolom berbunyi, ”Tidak Adanya Toleransi Agama—Pengikut Pastor Russell Dianiaya Karena Mereka Memberi Tahu Kebenaran Kepada Orang-Orang.” Di bawah judul ”Perlakuan Terhadap Siswa-Siswa Alkitab Menyamai ’Abad Kegelapan’” diungkapkanlah fakta-fakta berkenaan penganiayaan dan larangan yang telah dimulai di Kanada. Penghasutnya? Risalah-risalah ini tanpa ragu dan sesuai dengan fakta menunjuk kepada para pemimpin agama, yang digambarkan sebagai ”sekelompok pria yang keras kepala yang telah berupaya secara sistematis menghalangi orang-orang memahami Alkitab dan membredel semua ajaran Alkitab kecuali yang datang melalui mereka”.e Benar-benar berita yang keras!

      Bagaimana tanggapan para pemimpin agama terhadap penyingkapan tersebut? Mereka telah menimbulkan kesulitan terhadap Lembaga Menara Pengawal. Namun sekarang mereka benar-benar menjadi ganas! Pada musim semi 1918, suatu gelombang penganiayaan yang hebat dilancarkan melawan Siswa-Siswa Alkitab di Amerika Utara dan juga di Eropa. Tentangan yang dicetuskan para pemimpin agama ini mencapai puncaknya pada tanggal 7 Mei 1918, ketika surat perintah dari pemerintahan federal AS dikeluarkan untuk menahan J. F. Rutherford dan beberapa rekan dekatnya. Menjelang pertengahan 1918, Rutherford dan ketujuh rekannya dimasukkan ke dalam penjara federal di Atlanta, Georgia.

      Namun dengan dipenjarakannya Hakim Rutherford dan rekan-rekannya, apa yang terjadi dengan kegiatan di kantor pusat?

      Menjaga Dapur Kegiatan Tetap Berasap

      Di Brooklyn, Panitia Eksekutif diangkat untuk memimpin pekerjaan. Perhatian yang utama dari saudara-saudara yang diangkat adalah menjaga agar The Watch Tower tetap beredar. Siswa-Siswa Alkitab di mana-mana pasti membutuhkan sebanyak mungkin anjuran rohani yang dapat diberikan kepada mereka. Sebenarnya, selama seluruh ”musim pengujian” ini, tidak satu pun terbitan The Watch Tower yang tidak dicetak!f

      Bagaimana semangat yang ada di kantor pusat? Thomas (Bud) Sullivan, yang belakangan melayani sebagai salah seorang anggota Badan Pimpinan, mengingat kembali, ”Suatu hak istimewa bagi saya untuk mengunjungi Betel Brooklyn pada akhir musim panas 1918 selama pemenjaraan saudara-saudara. Saudara-saudara yang bertanggung jawab atas pekerjaan di Betel sama sekali tidak merasa takut atau kecil hati. Sesungguhnya, hal sebaliknya yang terjadi. Mereka merasa optimis dan percaya bahwa pada akhirnya Yehuwa akan memberikan umat-Nya kemenangan. Saya mendapat hak istimewa untuk ikut makan pagi pada hari Senin ketika saudara-saudara yang diutus untuk tugas akhir pekan menyampaikan laporan mereka. Suatu gambaran yang bagus tentang situasi yang ada telah diperoleh. Dalam setiap kasus saudara-saudara merasa yakin, menunggu Yehuwa membimbing kegiatan mereka lebih lanjut.”

      Namun, banyak kesukaran harus dihadapi. Perang Dunia I masih berkecamuk. Terdapat kekurangan persediaan kertas dan batu bara, yang merupakan kebutuhan vital untuk pekerjaan di kantor pusat. Karena demam patriotisme sedang memuncak, banyak orang menunjukkan sikap bermusuhan terhadap Lembaga; Siswa-Siswa Alkitab dianggap sebagai pengkhianat. Di bawah keadaan-keadaan ekstrem ini, tampaknya tidak mungkin meneruskan kegiatan di Brooklyn. Maka, Panitia Eksekutif, setelah berembuk dengan saudara-saudara lain, menjual Tabernakel Brooklyn dan menutup Rumah Betel. Pada tanggal 26 Agustus 1918, kegiatan dialihkan kembali ke Pittsburgh, ke sebuah bangunan kantor di Federal street dan Reliance street.

      Walaupun demikian, terdapat semangat yang baik. Martha Meredith mengenang, ”Kami di Pittsburgh berkumpul dan memutuskan bahwa kami akan menjaga ’dapur kegiatan tetap berasap’ sampai saudara-saudara keluar dari penjara. Pada waktu itu kantor di Brooklyn dipindahkan ke Pittsburgh, jadi saudara-saudara sibuk menyusun artikel untuk Watch Tower dan mencetaknya. Ketika Watch Tower sudah siap untuk dikirim, kami saudari-saudari membungkusnya dan mengirimkannya kepada orang-orang lain.”

      Siswa-Siswa Alkitab telah menghadapi beberapa cobaan yang hebat sejak berakhirnya Zaman Orang Kafir pada musim gugur tahun 1914. Dapatkah mereka terus bertahan? Apakah mereka benar-benar memiliki ’kasih akan Allah dalam hati mereka’ atau tidak? Apakah mereka akan teguh berpegang pada ”Tuhan dan Kebenaran-Nya”, seperti telah diperingatkan oleh Russell, atau apakah mereka akan meninggalkannya?

      [Catatan Kaki]

      a Kutipan A. H. Macmillan pada pasal ini diambil dari bukunya Faith on the March, diterbitkan tahun 1957 oleh Prentice-Hall, Inc.

      b Lima anggota dari Panitia Redaksi sebagaimana disebut dalam surat wasiat Russell adalah William E. Page, William E. Van Amburgh, Henry Clay Rockwell, E. W. Brenneisen, dan F. H. Robison. Selain itu, untuk mengisi kekosongan apa pun, ada juga nama-nama lain—A. E. Burgess, Robert Hirsh, Isaac Hoskins, G. H. Fisher, J. F. Rutherford, dan John Edgar. Akan tetapi, Page dan Brenneisen, tidak lama kemudian mengundurkan diri—Page karena ia tidak dapat tinggal di Brooklyn, dan Brenneisen (belakangan pengucapannya diubah menjadi Brenisen) karena ia harus bekerja duniawi untuk menunjang keluarganya. Rutherford dan Hirsh, yang namanya terdaftar dalam majalah Watch Tower 1 Desember 1916, menggantikan tempat mereka sebagai anggota Panitia Redaksi.

      c Menurut piagam Lembaga Menara Pengawal, dewan direksi lembaga ini seharusnya terdiri dari tujuh anggota. Piagam ini juga mengatur agar anggota-anggota dewan direksi yang masih hidup mengisi kekosongan tersebut. Jadi, dua hari setelah kematian Russell, dewan direksi bertemu dan memilih A. N. Pierson untuk menjadi anggota. Tujuh anggota dewan direksi pada saat itu adalah A. I. Ritchie, W. E. Van Amburgh, H. C. Rockwell, J. D. Wright, I. F. Hoskins, A. N. Pierson, dan J. F. Rutherford. Dewan yang terdiri dari tujuh orang ini kemudian memilih Panitia Eksekutif yang terdiri dari tiga orang.

      d Pada pertemuan tahunan yang diselenggarakan pada tanggal 5 Januari 1918, ketujuh orang yang mendapat suara terbanyak adalah J. F. Rutherford, C. H. Anderson, W. E. Van Amburgh, A. H. Macmillan, W. E. Spill, J. A. Bohnet, dan G. H. Fisher. Dari antara ketujuh anggota dewan direksi ini, dipilih tiga pengawas—J. F. Rutherford sebagai presiden, C. H. Anderson sebagai wakil presiden, dan W. E. Van Amburgh sebagai sekretaris-bendahara.

      e Dua risalah lain yang keras menyusul. Kingdom News No. 2, tertanggal 15 April 1918, berisi pesan yang bahkan lebih keras di bawah judul ”’Misteri yang Tergenap’ dan Mengapa Ditekan”. Kemudian, Kingdom News No. 3, Mei 1918, berisi judul penting ”Dua Peperangan Besar Mengganas—Kejatuhan yang Pasti dari Otokrasi”.

      f Pada waktu-waktu sebelumnya, terbitan-terbitan Watch Tower pernah digabung, namun ini tidak dilakukan selama tahun 1914-18.

      [Blurb di hlm. 68]

      Rutherford meminta para penentang untuk meninggalkan Betel

      [Kotak di hlm. 62]

      ”Beberapa dari Kita Ternyata Agak Terlalu Terburu-buru”

      Seraya bulan Oktober 1914 mendekat, beberapa dari Siswa-Siswa Alkitab mengharapkan bahwa pada akhir Zaman Orang Kafir, mereka sebagai orang-orang Kristen yang diurapi roh, akan menerima pahala surgawi. Hal ini tampak dalam peristiwa yang terjadi pada suatu kebaktian Siswa-Siswa Alkitab di Saratoga Springs, New York, tanggal 27-30 September 1914. A. H. Macmillan, yang telah dibaptis 14 tahun sebelumnya, memberikan khotbah pada hari Rabu, 30 September. Dalam khotbahnya ia menyatakan, ”Ini mungkin ceramah umum terakhir yang akan saya sampaikan sebab kita akan segera pulang [ke surga].”

      Akan tetapi, dua hari kemudian (hari Jumat 2 Oktober), Macmillan menjadi bahan lelucon yang baik di Brooklyn, tempat para peserta kebaktian berkumpul kembali. Dari kursinya di kepala meja, C. T. Russell mengumumkan, ”Ada beberapa perubahan yang akan kita buat berkenaan jadwal untuk hari Minggu [4 Oktober]. Pada pukul 10.30 hari Minggu pagi, Saudara Macmillan akan menyampaikan khotbah kepada kita.” Tanggapannya? Macmillan belakangan menulis, ”Semua orang tertawa terbahak-bahak, karena mengingat apa yang telah saya katakan pada hari Rabu di Saratoga Springs—’ceramah umum terakhir’ saya!”

      ”Jadi,” kata Macmillan melanjutkan, ”saya harus segera berpikir keras menentukan apa yang akan saya katakan. Saya menemukan Mazmur 74:9, ’Tanda-tanda kami tidak kami lihat, tidak ada lagi nabi, dan tidak ada di antara kami yang mengetahui berapa lama lagi.’ Sekarang keadaannya berbeda. Pada ceramah itu saya berupaya memperlihatkan kepada teman-teman bahwa mungkin beberapa dari kita ternyata agak terlalu terburu-buru dengan berpikir bahwa kita akan segera pergi ke surga, dan hal yang harus kita kerjakan adalah terus sibuk dalam pelayanan Tuhan sampai ia menentukan saat manakala hamba-hamba-Nya yang diperkenan akan dibawa pulang ke surga.”

      [Kotak di hlm. 67]

      Latar Belakang J. F. Rutherford

      Joseph Franklin Rutherford lahir dari orang-tua yang beragama Baptis di sebuah ladang di Morgan County, Missouri, AS, pada tanggal 8 November 1869. Ketika Joseph berusia 16 tahun, ayahnya mengabulkan keinginannya untuk masuk perguruan tinggi, asalkan ia membiayai diri sendiri dan membayar seorang buruh yang akan menggantikannya bekerja di ladang. Sebagai pemuda yang bertekad penuh, Joseph memperoleh pinjaman dari seorang teman dan berhasil masuk perguruan tinggi sambil juga mempelajari hukum.

      Setelah menyelesaikan pendidikan akademisnya, Rutherford melewatkan waktu dua tahun di bawah pengawasan Hakim E. L. Edwards. Menjelang usia 20 tahun, ia menjadi pelapor resmi pengadilan untuk sidang-sidang di Pengadilan Keliling Keempat Belas di Missouri. Pada tanggal 5 Mei 1892, ia mendapat izin untuk membuka praktek hukum di Missouri. Rutherford kemudian bekerja sebagai jaksa penuntut umum selama empat tahun di Boonville, Missouri. Belakangan, ia kadang-kadang bertindak sebagai hakim khusus di Pengadilan Keliling Kedelapan di Missouri. Karena itulah ia dikenal sebagai ”Hakim” Rutherford.

      Untuk membiayai sekolahnya, Rutherford menjual ensiklopedia dari rumah ke rumah. Ini bukan pekerjaan yang mudah—sering sekali ia ditolak dengan kasar. Suatu kali, ia hampir mati ketika jatuh ke dalam sungai yang sangat dingin sewaktu ia sedang mengunjungi perladangan. Ia berjanji kepada diri sendiri bahwa setelah ia menjadi pengacara, jika ada orang yang datang ke kantornya untuk menjual buku, ia akan membelinya. Sesuai dengan janjinya, ia menerima tiga jilid ”Millennial Dawn” dari dua kolportir yang datang ke kantornya pada awal tahun 1894. Beberapa minggu kemudian ia membaca buku-buku itu dan langsung menulis surat kepada Lembaga Menara Pengawal, yang isinya, ”Istri saya yang saya kasihi dan saya sendiri telah membaca buku-buku ini dengan minat yang sangat besar, dan kami menganggapnya sebagai kiriman dari Allah dan suatu berkat besar bahwa kami mendapat kesempatan untuk memilikinya.” Pada tahun 1906, Joseph F. Rutherford dibaptis, dan setahun kemudian ia menjadi penasihat hukum Lembaga Menara Pengawal.

      [Kotak/Gambar di hlm. 69]

      ’Tidak Ada Pria Lain Mana Pun di Bumi yang Lebih Diistimewakan’

      Pada tanggal 21 Juni 1918, J. F. Rutherford dan beberapa rekan dekatnya dijatuhi hukuman penjara 20 tahun, karena secara palsu dinyatakan bersalah atas tuduhan bersekongkol. Bagaimana perasaan mereka? Dalam sebuah catatan yang ditulis dengan tangan tertanggal 22-23 Juni (terlihat di bawah), dari penjara di Raymond Street, Brooklyn, New York, Saudara Rutherford menulis, ”Mungkin tidak ada pria lain mana pun di bumi yang lebih diistimewakan dan lebih berbahagia daripada ketujuh saudara yang sekarang ada dalam penjara. Mereka sadar bahwa mereka sama sekali bebas dari perbuatan jahat yang disengaja, dan bersukacita karena menderita bersama Kristus karena melayani Dia dengan loyal.”

      [Kotak di hlm. 70]

      Korban Penganiayaan Didalangi para Pemimpin Agama

      Pada pertengahan tahun 1918, J. F. Rutherford dan ketujuh rekannya berada dalam penjara—korban tentangan yang didalangi para pemimpin agama. Namun kedelapan pria tersebut bukan satu-satunya sasaran kebencian demikian. Selama tahun-tahun permulaan, C. T. Russell yang terutama menjadi sasaran serangan pemimpin agama dan wartawan. Sekarang Siswa-Siswa Alkitab sendiri menjadi korban. ”The Golden Age” (sekarang ”Sedarlah!”) 29 September 1920, menerbitkan suatu laporan yang jelas dan panjang lebar mengenai penganiayaan hebat yang mereka alami di Amerika Serikat. Laporan tersebut berisi seperti sesuatu yang terjadi pada zaman Inkwisisi.g Catatan berikut termasuk di dalamnya:

      ”Pada tanggal 22 April 1918, di Wynnewood, Oklahoma, Claud Watson pertama-tama dipenjarakan dan kemudian sengaja dilepaskan ke suatu gerombolan massa yang terdiri atas para imam, pengusaha bisnis dan orang-orang lain yang memukulinya sampai jatuh, menyuruh seorang negro mencambukinya dan, saat ia mulai sadar, mencambukinya lagi. Mereka kemudian menuangkan ter dan bulu-bulu di sekujur tubuhnya, menggosokkan ter pada rambut dan kulit kepalanya.”

      ”Pada tanggal 29 April 1918, di Walnut Ridge, Arkansas, W. B. Duncan, berumur 61 tahun, Edward French, Charles Franke, Tn. Griffin dan Ny. D. Van Hoesen dipenjarakan. Sel mereka diserbu oleh segerombolan orang yang menggunakan bahasa yang sangat kotor dan cabul, mencambuk, menuangkan ter dan bulu-bulu, dan membawa mereka ke luar kota. Duncan dipaksa berjalan sepanjang empat puluh dua kilometer ke rumahnya dan hampir mati. Griffin menjadi benar-benar buta dan mati akibat penganiayaan itu beberapa bulan kemudian.”

      ”Pada tanggal 30 April 1918, . . . di Minerva, Ohio, S. H. Griffin mula-mula dipenjarakan dan diserahkan kepada suatu gerombolan, kemudian dikuliahi selama lima belas menit oleh rohaniwan dari gerombolan tersebut, lalu dipukuli berulang-ulang, dimaki-maki, ditendang, diinjak-injak, diancam akan digantung dan ditenggelamkan, dibawa ke luar kota, diludahi, dijegal berkali-kali, ditusuk-tusuk dengan payung, dilarang naik mobil, disuruh berjalan lagi sepanjang sepuluh kilometer ke Malvern, Ohio, ditangkap lagi, dipenjarakan demi keamanan di Carrollton dan akhirnya dibawa pulang oleh para petugas keamanan yang berani dan setia yang, setelah memeriksa literaturnya, mengatakan dengan beberapa kata, ’Kami tidak menemukan kesalahan apa pun pada diri orang ini.’”

      [Catatan Kaki]

      g Halaman 712-17.

      [Gambar di hlm. 64]

      Pada tanggal 31 Oktober 1916, Charles Taze Russell yang berusia 64 tahun meninggal di atas kereta api di Pampa, Texas; banyak surat kabar melaporkan pemakamannya

      [Gambar di hlm. 66]

      J. F. Rutherford memiliki penampilan yang berwibawa, tingginya 188 cm dan beratnya kira-kira 102 kg

      [Gambar di hlm. 69]

      Penjara di Raymond Street, Brooklyn, New York, tempat Saudara Rutherford dan beberapa rekan dekatnya ditahan selama tujuh hari segera setelah dijatuhkannya hukuman

      [Gambar di hlm. 71]

      Thomas (Bud) Sullivan mengunjungi kantor pusat pada tahun 1918 dan belakangan melayani sebagai anggota Badan Pimpinan dari Saksi-Saksi Yehuwa

  • Umumkan Raja dan Kerajaan! (1919-1941)
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 7

      Umumkan Raja dan Kerajaan! (1919-1941)

      ”Apakah saudara percaya bahwa Raja kemuliaan telah mulai berkuasa? Maka kembalilah ke ladang, hai kalian putra-putra Allah yang mahatinggi! Siapkan perlengkapan senjata kalian! Hendaklah sadar, waspada, aktif, berani. Jadilah saksi yang setia dan benar bagi Tuhan. Majulah dalam pertempuran sampai semua sisa Babel hancur lebur. Umumkan berita ini ke mana-mana. Dunia harus tahu bahwa Yehuwa adalah Allah dan Yesus Kristus adalah Raja segala raja dan Tuhan segala tuhan. Inilah hari yang paling penting. Lihat sang Raja memerintah! Kalian adalah pemberita-pemberitanya. Karena itu umumkan, umumkan, umumkan, Raja dan kerajaannya.”

      SERUAN dramatis untuk bertindak yang disampaikan oleh J. F. Rutherford pada kebaktian internasional di Cedar Point, Ohio, tahun 1922 itu, mempunyai pengaruh yang luar biasa atas mereka yang hadir. Siswa-Siswa Alkitab meninggalkan kebaktian itu dengan hasrat yang membara untuk mengumumkan Kerajaan. Namun hanya beberapa tahun sebelumnya, tampaknya prospek untuk melayani sebagai pemberita Kerajaan sungguh-sungguh suram. J. F. Rutherford dan tujuh rekannya berada dalam penjara, dan peranan mereka di masa depan dalam organisasi tampak tidak menentu. Bagaimana kesukaran-kesukaran ini dapat diatasi?

      ”Saya Mengetahui Sesuatu tentang Hukum dari yang Loyal”

      Suatu kebaktian dijadwalkan di Pittsburgh, Pennsylvania, pada tanggal 2-5 Januari 1919, pada waktu Saudara Rutherford dan rekan-rekannya masih berada dalam penjara. Namun ini bukan kebaktian biasa—kebaktian ini digabungkan dengan pertemuan tahunan dari Lembaga Menara Pengawal pada hari Sabtu, 4 Januari 1919. Saudara Rutherford benar-benar menyadari pentingnya pertemuan ini. Pada hari Sabtu siang itu ia mencari Saudara Macmillan dan menemukan dia sedang berada di lapangan tenis penjara. Menurut Macmillan, inilah yang terjadi:

      ”Rutherford berkata, ’Mac, saya ingin berbicara kepadamu.’

      ”’Apa yang kau ingin bicarakan dengan saya?’

      ”’Saya ingin berbicara tentang apa yang sedang terjadi di Pittsburgh.’

      ”’Saya mau menyelesaikan pertandingan ini di sini.’

      ”’Tidakkah engkau berminat akan apa yang sedang terjadi? Tidak tahukah kau bahwa hari ini diadakan pemilihan para pengurus? Bisa saja kau akan diabaikan dan disingkirkan dan kita akan tinggal di sini untuk selama-lamanya.’

      ”’Saudara Rutherford,’ kata saya, ’ada sesuatu yang ingin saya katakan yang mungkin tidak terpikir olehmu. Akan terbukti jelas untuk pertama kali sejak Lembaga menjadi badan hukum, siapa yang Allah Yehuwa kehendaki sebagai presiden.’

      ”’Apa maksudmu?’

      ”’Maksud saya, Saudara Russell dulu memiliki hak suara terbesar dalam pemilihan dan beliaulah yang mengangkat berbagai pengurus. Kini, karena kita tidak dapat ambil bagian, persoalannya menjadi lain. Akan tetapi, jika kita dibebaskan tepat pada waktunya sehingga dapat pergi ke kebaktian untuk menghadiri pertemuan bisnis itu, kita akan masuk ke sana dan akan diterima untuk mengambil alih kedudukan Saudara Russell dengan kehormatan yang sama dengan yang pernah ia peroleh. Maka, hal itu dapat tampak seperti pekerjaan manusia, bukan pekerjaan Allah.’

      ”Rutherford hanya kelihatan berpikir dan berjalan menjauh.”

      Pada hari itu pertemuan yang menegangkan sedang berlangsung di Pittsburgh. ”Untuk sementara waktu kesimpangsiuran, perselisihan, dan perdebatan terjadi di mana-mana,” kenang Sara C. Kaelin yang dibesarkan di daerah Pittsburgh. ”Beberapa orang ingin menunda pertemuan ini untuk enam bulan; yang lain mempertanyakan keabsahan para pengurus terpilih yang sedang berada dalam penjara; yang lain lagi mengusulkan agar semua pengurus diganti dengan yang baru.”

      Setelah diadakan perundingan yang panjang, W. F. Hudgings, seorang direktur Peoples Pulpit Association,a membacakan sebuah surat dari Saudara Rutherford kepada hadirin. Di dalamnya ia mengirimkan salam kasihnya kepada mereka yang berkumpul. ”Senjata utama Setan adalah KEANGKUHAN, AMBISI dan PERASAAN TAKUT,” katanya memperingatkan. Dengan memperlihatkan keinginannya untuk tunduk kepada kehendak Yehuwa, ia bahkan dengan rendah hati mengusulkan pria-pria yang cocok andaikan para pemegang saham memutuskan untuk memilih pengurus-pengurus baru untuk Lembaga.

      Perundingan dilanjutkan beberapa waktu lagi, dan kemudian E. D. Sexton, yang telah diangkat menjadi ketua panitia pemilih nominasi, berbicara, dengan mengatakan,

      ”Saya baru saja tiba. Kereta api saya terlambat empat puluh delapan jam, karena terhalang salju. Ada sesuatu yang harus saya katakan dan demi ketenteraman hati saya, lebih baik saya mengatakannya sekarang. Saudara-saudara yang saya kasihi, saya datang kemari, seperti saudara-saudara juga, dengan gagasan-gagasan tertentu dalam benak—pro dan kontra. . . . Secara hukum tidak ada halangan apa-apa. Jika kita ingin memilih kembali saudara-saudara kita yang berada di Selatan sana untuk jabatan apa pun yang dapat mereka pegang, dari semua nasihat [hukum] yang telah saya terima, saya tidak melihat, atau menemukan bagaimana hal ini, dalam bentuk apa pun, akan mempengaruhi aspek dari kasus mereka di hadapan Pengadilan Federal atau di hadapan masyarakat umum.

      ”Saya percaya bahwa penghargaan paling besar yang dapat kita berikan kepada Saudara Rutherford yang kita kasihi adalah dengan memilihnya kembali sebagai presiden dari W[atch] T[ower] B[ible] & T[ract] Society. Saya kira tidak akan ada keraguan dalam pikiran masyarakat umum mengenai kedudukan kita dalam masalah ini. Jika saudara-saudara kita secara teknis telah melanggar hukum yang tidak mereka mengerti, kita mengetahui bahwa motif mereka baik. Dan di hadapan [Allah] Yang Mahakuasa, mereka tidak melanggar suatu hukum dari Allah maupun manusia. Kita dapat menunjukkan keyakinan yang paling besar jika kita memilih kembali Saudara Rutherford sebagai presiden dari Perkumpulan.

      ”Saya bukan seorang pengacara, tetapi jika ini menyangkut soal sah tidaknya situasi ini, saya mengetahui sesuatu tentang hukum dari yang loyal. Loyalitaslah yang Allah tuntut. Saya tidak dapat membayangkan keyakinan yang lebih besar yang dapat kita perlihatkan selain daripada mengadakan pemilihan DAN MEMILIH KEMBALI SAUDARA RUTHERFORD SEBAGAI PRESIDEN.”

      Ya, Saudara Sexton ternyata mengungkapkan perasaan dari kebanyakan yang hadir. Calon-calon disebutkan, pemilihan suara dilakukan; dan J. F. Rutherford terpilih sebagai presiden, C. A. Wise sebagai wakil presiden, dan W. E. Van Amburgh sebagai sekretaris-bendahara.

      Keesokan harinya Saudara Rutherford mengetuk dinding sel Macmillan dan berkata, ”Ulurkan tanganmu ke luar.” Kemudian ia memberikan telegram berisi berita bahwa Rutherford telah dipilih kembali sebagai presiden. ”Ia sangat gembira,” Macmillan kemudian mengenang, ”karena menyaksikan ditunjukkannya jaminan bahwa Yehuwa-lah yang menjalankan Lembaga.”

      Pemilihan telah berakhir, tetapi Saudara Rutherford dan ketujuh saudara lain masih berada dalam penjara.

      ”Suatu Keresahan di Seluruh Negeri” demi para Tahanan

      ”Selama beberapa minggu terakhir, suatu keresahan di seluruh negeri telah dimulai demi saudara-saudara ini,” demikian dinyatakan dalam The Watch Tower 1 April 1919. Surat-surat kabar tertentu mendesak agar J. F. Rutherford dan rekan-rekannya dibebaskan. Siswa-Siswa Alkitab di semua bagian Amerika Serikat memperlihatkan dukungan mereka dengan menulis surat kepada para redaktur surat kabar, para wakil rakyat, para senator, dan para gubernur, mendesak mereka untuk mengambil tindakan demi kedelapan tahanan tersebut. Jelaslah, Siswa-Siswa Alkitab tidak akan tinggal diam sampai kedelapan saudara mereka dibebaskan.

      Pada bulan Maret 1919, Siswa-Siswa Alkitab di Amerika Serikat mengedarkan sebuah petisi yang meminta agar Presiden Woodrow Wilson menggunakan pengaruhnya untuk melaksanakan salah satu dari hal-hal di bawah ini demi saudara-saudara yang dipenjarakan:

      ”PERTAMA: Pengampunan penuh, jika itu mungkin sekarang, ATAU

      ”KEDUA: Agar Anda memerintahkan Departemen Kehakiman untuk mencabut tuntutan terhadap mereka, dan agar mereka dibebaskan penuh, ATAU

      ”KETIGA: Agar mereka segera dibebaskan dengan uang jaminan sementara menunggu dikeluarkannya keputusan terakhir dari kasus mereka oleh pengadilan tinggi.”

      Dalam dua minggu, Siswa-Siswa Alkitab memperoleh 700.000 tanda tangan. Walaupun begitu, petisi ini tidak pernah disampaikan kepada presiden atau pemerintah. Mengapa tidak? Karena sebelum itu dilakukan, kedelapan pria tersebut dibebaskan dengan jaminan. Jadi, apa yang dihasilkan oleh petisi ini? The Watch Tower 1 Juli 1919, menyatakan, ”Ada banyak sekali bukti bahwa Tuhan ingin agar pekerjaan ini diselesaikan, bukan semata-mata untuk membebaskan saudara-saudara ini dari penjara, tetapi terutama untuk tujuan suatu kesaksian bagi kebenaran.”

      ”Selamat Datang, Saudara-Saudara”

      Pada hari Selasa, 25 Maret, kedelapan saudara meninggalkan Atlanta menuju Brooklyn. Berita pembebasan mereka tersebar dengan cepat. Benar-benar pemandangan yang mengharukan—Siswa-Siswa Alkitab berkumpul di stasiun-stasiun kereta api sepanjang rute yang dilewati dengan harapan dapat melihat saudara-saudara tersebut dan mengungkapkan sukacita atas pembebasan mereka. Yang lain segera pergi ke Rumah Betel di Brooklyn, yang sebelumnya telah ditutup, untuk mengatur perjamuan makan penyambutan. Di Brooklyn, pada tanggal 26 Maret, saudara-saudara dibebaskan dengan uang jaminan masing-masing 10.000 dolar, dan mereka dibebaskan.

      ”Segera mereka ditemani oleh sejumlah rekan ke Rumah Betel, tempat lima sampai enam ratus saudara-saudari sudah berkumpul untuk menyambut mereka,” demikian laporan The Watch Tower 15 April 1919. Di ruang makan, ada spanduk besar bertuliskan, ”Selamat Datang, Saudara-Saudara”. Hampir 50 tahun kemudian, Mabel Haslett, yang hadir pada acara perjamuan itu mengenang, ”Saya ingat waktu itu saya membuat seratus kue donat, yang tampaknya sangat dinikmati oleh saudara-saudara itu, yang selama sembilan bulan hanya menyantap makanan penjara. Saya masih ingat bagaimana Saudara Rutherford meraih kue-kue itu. Suatu peristiwa yang tidak dapat dilupakan ketika ia dan yang lain-lain menceritakan pengalaman mereka. Saya juga ingat Saudara DeCecca yang pendek perawakannya berdiri di atas kursi supaya semua dapat melihat dan mendengarnya.”

      Pada hari Selasa pagi, 1 April, Saudara Rutherford tiba di Pittsburgh, tempat kantor pusat pada waktu itu. Di sini juga, saudara-saudara yang mengetahui bahwa ia akan datang, menyelenggarakan perjamuan makan yang diadakan sore itu di Hotel Chatham. Akan tetapi, keadaan di penjara rupanya telah berakibat buruk atas Saudara Rutherford. Kondisi paru-parunya melemah, dan akibatnya, setelah ia dibebaskan, ia menderita radang paru-paru yang parah. Maka, tidak lama setelah itu, karena kesehatannya yang buruk, ia harus pergi ke Kalifornia, tempat beberapa sanak-saudaranya tinggal.

      Percobaan di Los Angeles

      Kini setelah Saudara Rutherford dan yang lain-lain bebas, suatu pertanyaan timbul, Bagaimana dengan pekerjaan mengumumkan Kerajaan Allah? Selama saudara-saudara ini berada di penjara, pengawasan organisasi atas pekerjaan kesaksian telah banyak dihentikan. Tabernakel Brooklyn dijual dan Rumah Betel ditutup. Kantor pusat di Pittsburgh kecil, dan dana terbatas. Lagi pula, seberapa besar minat orang terhadap berita Kerajaan? Dari Kalifornia, Saudara Rutherford memutuskan untuk membuat suatu percobaan.

      Suatu pertemuan diatur di Auditorium Clune, Los Angeles, pada hari Minggu, 4 Mei 1919. ”Harapan Bagi Umat Manusia yang Menderita” adalah judul khotbah yang terbuka bagi umum. Namun, khotbah ini akan disampaikan oleh J. F. Rutherford—orang yang baru saja keluar dari penjara. Melalui banyak iklan di surat kabar, Rutherford menjanjikan uraian yang jujur yang mengungkapkan fakta-fakta, termasuk penjelasan tentang alasan-alasan para pengurus Lembaga dituduh secara palsu. Apakah ada yang berminat untuk datang?

      Tanggapannya luar biasa. Ternyata, 3.500 orang datang untuk mendengarkan khotbah tersebut, dan sekitar 600 orang lain terpaksa tidak diizinkan masuk karena tidak ada tempat. Saudara Rutherford merasa tergetar! Ia setuju untuk berbicara pada hari Senin malam kepada mereka yang tidak dapat masuk, dan 1.500 orang datang. Namun, ia begitu lemah sehingga tidak dapat menyelesaikan khotbahnya. Setelah satu jam, ia terpaksa digantikan oleh seorang rekannya. Walaupun demikian, percobaan di Los Angeles itu ternyata sukses. Saudara Rutherford merasa yakin bahwa masih ada banyak minat akan berita Kerajaan, dan ia bertekad untuk melihat hal itu diumumkan.

      Lanjutkan Pekerjaan!

      Pada bulan Juli 1919, Saudara Rutherford kembali bekerja di kantor pusat Pittsburgh. Segalanya berjalan cepat selama beberapa bulan berikutnya. Pengaturan dibuat untuk suatu kebaktian Siswa-Siswa Alkitab yang akan diadakan di Cedar Point, Ohio, tanggal 1-8 September 1919. Kantor-kantor Lembaga dipindahkan kembali ke Brooklyn dan beroperasi lagi tanggal 1 Oktober.

      Apa yang harus mereka lakukan sekarang? Misi mereka dengan jelas ditekankan pada kebaktian di Cedar Point. Pada hari Selasa, 2 September, Saudara Rutherford menjelaskan, ”Misi seorang Kristen di bumi . . . adalah untuk mengumumkan berita kerajaan Tuhan yang berisi keadilbenaran, yang akan mendatangkan berkat bagi semua makhluk yang berkeluh kesah.” Tiga hari kemudian, pada hari Jumat tanggal 5 September yang disebut Hari Rekan Pekerja. Saudara Rutherford lebih lanjut berkata, ”Pada saat-saat yang tenang, seorang Kristen tentu akan bertanya kepada dirinya sendiri, Mengapa saya ada di bumi? Dan jawaban yang sangat diperlukan seharusnya adalah, Tuhan telah dengan sangat baik menjadikan saya duta-Nya untuk membawa berita ilahi kepada dunia tentang pemulihan kembali, dan adalah hak istimewa dan tugas saya untuk mengumumkan berita tersebut.”

      Ya, waktunya tiba untuk melanjutkan pekerjaan mengumumkan Kerajaan Allah! Dan untuk membantu dilaksanakannya penugasan ini, Saudara Rutherford mengumumkan, ”Di bawah pemeliharaan Allah kami telah mengatur diterbitkannya sebuah majalah baru dengan nama dan judul THE GOLDEN AGE (Abad Keemasan).” Sedikit saja yang diketahui para hadirin tentang betapa majalah The Golden Age akan terbukti menjadi majalah yang luar biasa berani.

      ”Kebaktian pertama setelah Perang Dunia I itu telah menjadi tenaga pendorong yang sangat besar bagi kami semua,” kenang Herman L. Philbrick, yang mengadakan perjalanan untuk datang ke kebaktian ini dari rumahnya di Boston, Massachusetts. Memang benar, kebaktian di Cedar Point itu menggerakkan Siswa-Siswa Alkitab untuk bertindak. Mereka siap melanjutkan pekerjaan mengumumkan kabar baik. Seolah-olah saat itu mereka baru dibangkitkan dari kematian.—Bandingkan Yehezkiel 37:1-14; Wahyu 11:11, 12.

      Sementara itu, hal-hal penting sedang terjadi di panggung dunia. Perjanjian Versailles ditandatangani pada tanggal 28 Juni 1919, dan mulai diberlakukan pada tanggal 10 Januari 1920. Dengan secara resmi menghentikan tindakan militer terhadap Jerman pada Perang Dunia I, perjanjian ini juga memungkinkan terbentuknya Liga Bangsa-Bangsa—suatu lembaga internasional yang diciptakan untuk memelihara perdamaian dunia.

      ’Umumkan Raja dan Kerajaannya’

      Pada tahun 1922 Siswa-Siswa Alkitab kembali ke Cedar Point untuk suatu acara selama sembilan hari, dari tanggal 5 sampai 13 September. Terdapat kegembiraan yang sangat besar seraya para delegasi tiba untuk kebaktian internasional ini. Kebaktian ini mencapai klimaksnya pada hari Jumat, 8 September, ketika Saudara Rutherford menyampaikan khotbah ”Kerajaan Itu”.

      Thomas J. Sullivan belakangan mengenang, ”Mereka yang mendapat hak istimewa untuk menghadiri acara itu bahkan sekarang dapat menggambarkan kesungguhan Saudara Rutherford ketika beliau mengatakan kepada beberapa orang yang gelisah dan berjalan kian-kemari karena udara sangat panas, supaya mereka bagaimanapun juga ’DUDUK’ dan ’MENDENGARKAN’ khotbah.” Mereka yang mematuhinya tidak dikecewakan, karena itu adalah khotbah bersejarah yang berisi desakan Saudara Rutherford kepada para pendengarnya untuk ’mengumumkan Raja dan Kerajaannya’.

      Hadirin menyambut dengan sangat bergairah. The Watch Tower melaporkan, ”Setiap orang yang hadir benar-benar terkesan oleh fakta bahwa mulai saat itu dan seterusnya kewajiban itu diberikan kepada semua orang yang mengabdi untuk bertindak sebagai pemberita bagi Raja dan Kerajaannya.” Siswa-Siswa Alkitab pulang dari kebaktian itu dengan semangat yang berapi-api untuk pekerjaan pengabaran. Sebagaimana Saudari Ethel Bennecoff, yang pada saat itu adalah seorang kolportir berusia hampir 30 tahun, mengatakan, ”kami digairahkan untuk ’umumkan, umumkan, umumkan Raja dan kerajaannya’—Ya, dengan lebih banyak semangat dan kasih dalam hati kami daripada sebelumnya.”

      Seraya cahaya rohani pengertian semakin terang, Siswa-Siswa Alkitab mulai memahami beberapa kebenaran Alkitab yang menggetarkan. (Ams. 4:18) Pengertian akan kebenaran-kebenaran yang berharga ini memberikan daya pendorong yang kuat bagi pekerjaan mereka untuk mengumumkan Kerajaan Allah. Pada waktu yang sama, mereka harus menyesuaikan pemikiran mereka—dan bagi beberapa orang hal ini benar-benar merupakan ujian.

      ”Harapan yang Tidak Tercapai Bukan Sesuatu yang Hanya Terjadi pada Zaman Kita”

      ”Kita dapat dengan yakin mengharapkan,” kata buku kecil Millions Now Living Will Never Die (Jutaan Orang yang Sekarang Hidup Tidak Akan Pernah Mati), pada tahun 1920, ”bahwa tahun 1925 akan menandai kembalinya [dari kematian] Abraham, Ishak, Yakub, dan nabi-nabi yang setia zaman dahulu . . . kepada keadaan manusia yang sempurna.” Bukan hanya kebangkitan orang-orang yang setia zaman dahulu yang diharapkan terjadi pada tahun 1925, tetapi beberapa orang bahkan mengharapkan bahwa orang-orang Kristen terurap akan menerima pahala surgawi mereka pada tahun tersebut.b

      Tahun 1925 datang dan berlalu. Ada yang meninggalkan harapan mereka. Namun, mayoritas dari Siswa-Siswa Alkitab tetap setia. ”Keluarga kami,” kata Herald Toutjian, yang kakek-neneknya menjadi Siswa-Siswa Alkitab sejak awal abad kedua puluh, ”dapat menghargai bahwa harapan yang tidak tercapai bukan sesuatu yang hanya terjadi pada zaman kita. Para rasul sendiri juga memiliki harapan-harapan yang salah tempat. . . . Yehuwa layak mendapat dinas pelayanan yang loyal dan pujian dengan atau tanpa pahala pada akhirnya.”—Bandingkan Kisah 1:6, 7.

      Organisasi Mana—Milik Yehuwa atau Milik Setan?

      ”Kelahiran Suatu Bangsa”—itulah judul sebuah artikel yang dramatis yang muncul dalam The Watch Tower terbitan 1 Maret 1925. Artikel itu menyajikan suatu pengertian yang lebih jelas mengenai Wahyu pasal 12 yang sulit diterima oleh beberapa orang.

      Tokoh-tokoh simbolik yang disebutkan dalam pasal ini di buku Wahyu diartikan sebagai berikut: ”perempuan” yang melahirkan (ay. 1, 2) sebagai ”organisasi [surgawi] Allah”; ”naga” (ay. 3) sebagai ”organisasi si iblis”; dan ”anak laki-laki” (ay. 5) sebagai ”kerajaan baru, atau pemerintahan baru”. Berdasarkan ini, sesuatu menjadi jelas untuk pertama kalinya: Ada dua organisasi yang berbeda dan bertentangan—milik Yehuwa dan milik Setan. Dan setelah ”peperangan di sorga” (ay. 7), Setan dan hantu-hantu pendukungnya diusir dari surga dan dicampakkan ke bumi.

      ”Kami duduk dan mempelajarinya sepanjang malam sampai saya dapat mengerti dengan jelas sekali,” tulis Earl E. Newell, yang belakangan melayani sebagai wakil keliling Lembaga Menara Pengawal. ”Kami pergi ke sebuah kebaktian di Portland, Oregon, dan di sana kami mendapati teman-teman sangat bingung dan beberapa dari mereka sudah siap untuk membuang The Watch Tower karena munculnya artikel ini.” Mengapa penjelasan mengenai Wahyu pasal 12 ini begitu sulit diterima oleh beberapa orang?

      Salah satunya, hal ini secara mencolok berbeda dari apa yang pernah diterbitkan dalam The Finished Mystery yang sebagian besar adalah himpunan dari tulisan-tulisan Saudara Russell setelah ia meninggal.c Walter J. Thorn, yang melayani sebagai musafir keliling, menjelaskan, ”Artikel tentang ’Kelahiran Suatu Bangsa’ . . . sulit untuk diterima karena adanya penafsiran sebelumnya oleh Saudara Russell yang kami kasihi, yang kami percaya adalah penjelasan terakhir mengenai kitab Wahyu.” Maka, tidak mengherankan, bahwa beberapa orang tersandung oleh penjelasan tersebut. ”Tidak diragukan lagi penafsiran ini dapat terbukti sebagai alat untuk menyaring,” kata J. A. Bohnet, musafir yang lain, ”tetapi mereka yang memiliki iman yang sungguh-sungguh dan tulus akan berdiri teguh dan bersukacita.”

      Sesungguhnya, mereka yang sungguh-sungguh dan tulus memang bersukacita dengan penjelasan yang baru ini. Halnya menjadi sangat jelas bagi mereka sekarang: setiap orang tergabung dengan organisasi Yehuwa atau dengan organisasi Setan. ”Ingat,” artikel ”Kelahiran Suatu Bangsa” itu menjelaskan, ”akan menjadi hak istimewa kita . . . untuk berjuang dengan berani demi kepentingan Raja kita dengan mengumumkan beritanya, yang telah ia berikan kepada kita untuk diumumkan.”

      Seraya tahun 1920-an dan kemudian 1930-an berlalu, lebih banyak cahaya pengertian Alkitab menyusul. Perayaan dan hari libur duniawi, seperti misalnya Natal, ditiadakan. Praktek dan kepercayaan lain juga dibuang jika terbukti bahwa itu berakar pada hal-hal yang tidak menghormati Allah.d Namun, lebih dari sekadar meninggalkan praktek dan kepercayaan yang salah, Siswa-Siswa Alkitab terus berpaling kepada Yehuwa untuk penyingkapan kebenaran yang progresif.

      ”Kamulah Saksi-SaksiKu”

      ”’Kamulah saksi-saksiKu,’ demikianlah firman [Yehuwa], ’dan Akulah Allah.’” (Yes. 43:12) Mulai tahun 1920-an, Siswa-Siswa Alkitab semakin menyadari betapa pentingnya kata-kata nabi Yesaya ini. Melalui halaman-halaman The Watch Tower, berulang kali perhatian ditarik kepada tanggung jawab kita untuk memberi kesaksian akan nama Yehuwa dan Kerajaan-Nya. Namun, suatu tonggak bersejarah, dicapai pada kebaktian yang diadakan di Columbus, Ohio, pada tahun 1931.

      Pada hari Minggu siang, 26 Juli, Saudara Rutherford menyampaikan khotbah umum ”Kerajaan, Harapan Dunia Ini”, yang disiarkan melalui suatu pemancar radio yang luas, dengan lebih dari 300 pemancar lain yang menyiarkan ulang berita ini. Pada akhir khotbah tersebut, Saudara Rutherford memperingatkan Susunan Kristen dengan membacakan suatu resolusi yang pedas berjudul ”Peringatan dari Yehuwa”, yang ditujukan ”Kepada Para Penguasa dan Kepada Masyarakat”. Sebagai sambutan terhadap undangannya agar hadirin menerima resolusi tersebut, seluruh hadirin yang ada di sana berdiri dan berteriak, ”Ya!” Telegram-telegram yang diterima belakangan menunjukkan bahwa banyak di antara mereka yang mendengar melalui radio juga menyatakan setuju.

      Dari pukul satu, ketika khotbah umum itu selesai, sampai pukul empat, ketika Saudara Rutherford memasuki kembali auditorium, suasana dipenuhi dengan kegembiraan. Saudara Rutherford telah meminta secara khusus agar setiap orang yang benar-benar berminat akan peringatan kepada Susunan Kristen siang hari itu, berada pada tempat duduknya pada pukul empat.

      Tepat pukul empat, Saudara Rutherford mulai dengan menyatakan bahwa ia menganggap apa yang akan ia katakan sebagai hal yang sangat penting bagi siapa saja yang dapat mendengarkan suaranya. Para pendengarnya sangat berminat. Dalam khotbahnya ia menyajikan suatu resolusi lain, yang berjudul ”Suatu Nama Baru”, yang mencapai klimaksnya dengan pernyataan, ”Kami senang dikenal sebagai dan dipanggil dengan nama, saksi-saksi Yehuwa.” Para peserta kebaktian yang tergetar hatinya itu sekali lagi bangkit berdiri dengan seruan yang nyaring ”Ya!” Sejak itu mereka dikenal sebagai Saksi-Saksi Yehuwa!

      ”Roh Yehuwa Membuat Kita Berani”

      Selama tahun 1927, umat Yehuwa dianjurkan untuk menggunakan sebagian waktu dari setiap hari Minggu untuk memberi kesaksian dalam kelompok. Tentangan resmi segera timbul. Dalam beberapa tahun, penangkapan mulai memuncak—di Amerika Serikat saja ada 268 pada tahun 1933, 340 pada tahun 1934, 478 pada tahun 1935, dan 1.149 pada tahun 1936. Dengan tuduhan apa? Sebenarnya, dengan berbagai tuduhan, termasuk berjualan tanpa surat izin, mengganggu ketenangan, dan melanggar hukum-hukum sabat Minggu. Kelompok dari Saksi-Saksi setempat tidak berpengalaman dalam menghadapi para petugas polisi dan pengadilan. Untuk memperoleh bantuan hukum akan terlalu mahal atau tidak mungkin karena adanya prasangka. Maka Lembaga Menara Pengawal dengan bijaksana mendirikan departemen hukum di Brooklyn untuk memberikan nasihat.

      Namun, pembelaan hukum yang kuat tidak cukup. Saksi-Saksi Yehuwa yang tulus ini bertekad untuk hidup sesuai dengan nama yang mereka pegang. Maka, pada awal tahun 1930-an, mereka membalas dengan melancarkan serangan. Bagaimana caranya? Melalui misi pengabaran khusus yang dikenal sebagai kampanye kelompok. Ribuan sukarelawan di seluruh Amerika Serikat diorganisasi ke dalam kelompok-kelompok. Jika Saksi-Saksi ditangkap di sebuah kota karena mengabar dari rumah ke rumah, suatu kelompok sukarelawan dari daerah lain akan segera datang dan ”menyerbu” kota itu, memberikan kesaksian yang saksama.e

      Kampanye-kampanye kelompok itu banyak menguatkan Saksi-Saksi setempat. Dalam setiap kelompok, ada saudara-saudara yang memenuhi syarat yang telah dilatih untuk berurusan dengan kalangan berwenang. Suatu anjuran yang sangat besar bagi saudara-saudara yang tinggal di daerah yang sulit, mungkin di sebuah kota kecil, untuk mengetahui bahwa mereka tidak sendirian dalam memberitakan Kerajaan Allah.

      Diperlukan banyak keberanian untuk ikut serta dalam kampanye kelompok pada tahun 1930-an. Di tengah masa Depresi Besar, pekerjaan sulit diperoleh. Walaupun begitu, Nicholas Kovalak, Jr., seorang pengawas keliling yang telah melayani selama kira-kira 40 tahun, mengenang, ”Jika ada panggilan untuk mengerjakan daerah yang rawan, ’pemimpin pelayanan’ akan mencari para sukarelawan. Orang-orang diberi tahu untuk tidak menawarkan diri bila mereka takut kehilangan pekerjaan. . . . Namun kami selalu senang melihat 100% sambutan positif!” John Dulchinos, seorang pengawas dari Springfield, Massachusetts, menyatakan, ”Sesungguhnya, tahun-tahun tersebut adalah masa yang menggetarkan dan kenangan yang mereka miliki sangat berharga. Roh Yehuwa membuat kita berani.”

      Sementara itu, seberkas cahaya pengertian Alkitab sedang berkembang yang akan mempunyai pengaruh luar biasa atas pekerjaan tersebut.

      Bagaimana dengan Kaum Yonadab?

      Pada tahun 1932, dijelaskan bahwa Yehonadab (Yonadab), rekan dari Raja Yehu, menggambarkan suatu kelompok orang yang akan menikmati kehidupan kekal di bumi.f (2 Raj. 10:15-28) Kaum Yonadab, sebagaimana mereka kemudian dikenal, menganggapnya suatu hak istimewa dapat bergabung dengan pelayan-pelayan Yehuwa yang terurap dan dapat ikut serta dengan mereka dalam memberitakan Kerajaan. Namun pada saat itu, belum ada upaya khusus untuk mengumpulkan dan mengorganisasi orang-orang ini yang memiliki harapan di bumi.

      Akan tetapi, suatu anjuran yang besar diberikan kepada kaum Yonadab dalam The Watch Tower 15 Agustus 1934. Artikel ”Kebaikan Hati-Nya” menyatakan, ”Apakah seorang Yonadab perlu mengabdikan dirinya kepada Tuhan dan dibaptis? Jawabnya: Sudah pasti seorang Yonadab patut mengabdikan dirinya dan dibaptis untuk melakukan kehendak Allah. Tidak seorang pun akan mendapat kehidupan tanpa melakukannya. Baptisan air hanyalah suatu simbol bahwa seseorang telah melakukan pengabdian [atau, seperti yang kita katakan sekarang, pembaktian diri] untuk melakukan kehendak Allah, dan itu tidak akan salah.” Kaum Yonadab merasa tergetar!

      Namun, bahkan sukacita yang lebih besar bagi mereka sudah dekat. Pada musim semi berikutnya, beberapa terbitan The Watch Tower, mulai dengan terbitan (bahasa Inggris) 1 April 1935, memuat pengumuman ini, ”Sekali lagi The Watch Tower mengingatkan pembacanya bahwa suatu kebaktian dari Saksi-Saksi Yehuwa dan kaum Yonadabg akan diadakan di Washington, DC, mulai tanggal 30 Mei dan berakhir tanggal 3 Juni 1935.” Kaum Yonadab tidak sabar menunggu kebaktian ini.

      ”Perhimpunan besar”, yang dinubuatkan di Wahyu 7:9-17 (Bode), menjadi pokok utama dari khotbah Saudara Rutherford yang disampaikan pada sore kedua dari kebaktian. Dalam khotbah itu, ia menjelaskan bahwa perhimpunan besar terdiri atas kaum Yonadab zaman modern dan bahwa kaum Yonadab ini harus memperlihatkan kesetiaan kepada Yehuwa sampai pada tingkat yang sama seperti yang diperlihatkan oleh kaum terurap. Ya, hadirin sangat gembira! Sesuai dengan permintaan sang pembicara, kaum Yonadab bangkit berdiri. ”Mula-mula keadaan hening sejenak,” kenang Mildred Cobb, yang dibaptis pada musim panas tahun 1908, ”namun kemudian terdengar seruan sukacita, dan sorak-sorai yang keras dan panjang.”

      Cahaya pengertian Alkitab ini memberikan pengaruh yang luar biasa atas kegiatan dari Saksi-Saksi Yehuwa. ”Dengan gairah yang tinggi,” kata Sadie Carpenter, seorang pengabar sepenuh waktu selama 60 tahun, ”kami kembali ke daerah pengabaran kami untuk mencari orang-orang berhati domba ini yang masih harus dikumpulkan.” Belakangan Yearbook of Jehovah’s Witnesses for 1936 melaporkan, ”Penyingkapan ini menggerakkan saudara-saudara dan mendorong mereka untuk kegiatan yang diperbarui, dan di mana-mana, di seluas bumi, datang laporan yang menunjukkan sukacita mengenai fakta bahwa kaum sisa kini mendapat hak istimewa untuk membawa berita ini kepada perhimpunan besar, dan mereka bersama-sama bekerja demi kehormatan nama Tuhan.” Untuk membantu mereka dalam pekerjaan ini, buku Riches (Kekayaan), yang diterbitkan pada tahun 1936, memuat pembahasan yang mendalam tentang prospek bagi perhimpunan besar yang dikemukakan dalam Alkitab.

      Akhirnya, anggota-anggota dari perhimpunan besar yang berbakti dan dibaptis menemukan tempat mereka yang sepatutnya bersisian dengan kaum terurap dalam mengumumkan Kerajaan Allah!

      ”Mencambuk si Perempuan Tua”

      Pada tahun 1930-an, berita yang diumumkan oleh Saksi-Saksi yang bersemangat ini mencakup pembeberan agama palsu secara pedas sekali. Suatu alat yang sangat membantu dalam hal ini diperkenalkan pada kebaktian umum Saksi-Saksi Yehuwa, tanggal 15-20 September 1937, di Columbus, Ohio.

      Pada hari Sabtu, 18 September, setelah khotbahnya pada pagi hari, Saudara Rutherford memperkenalkan buku berwarna coklat kemerahan berjudul Enemies (Para Musuh). Buku ini mencela agama palsu sebagai ”musuh besar, selalu mendatangkan celaka bagi umat manusia”. Para penganut agama palsu dikenal sebagai ”agen-agen si Iblis, tidak soal apakah mereka menyadari fakta ini atau tidak”. Ketika mempersembahkan buku ini kepada hadirin, Saudara Rutherford berkata, ”Saudara akan melihat bahwa sampul buku ini berwarna coklat kemerahan, dan dengan buku ini kita akan mencambuk si perempuan tua.”h Setelah mendengar hal ini, hadirin dengan lantang dan bersemangat menyatakan setuju.

      Selama beberapa tahun, fonograf (gramofon) memainkan peranan dalam ”mencambuk si perempuan tua”. Namun, dalam kaitannya dengan pekerjaan fonograf, ada suatu kejutan pada kebaktian tahun 1937. ”Pada kebaktian ini, pekerjaan dengan menggunakan fonograf portabel di depan pintu diperkenalkan,” kenang Elwood Lunstrum, yang ketika itu baru berusia 12 tahun. ”Sebelumnya kami telah membawa fonograf dalam pelayanan, tetapi hanya menghidupkannya jika kami diundang masuk. . . . Suatu pengaturan ’Perintis Istimewa’ dibahas pada kebaktian di Columbus untuk memelopori digunakannya persembahan dengan fonograf di depan pintu dan pekerjaan tindak lanjut dengan orang-orang berminat (ketika itu untuk pertama kali disebut ’kunjungan kembali’) dan pengajaran Alkitab dengan penyelenggaraan yang disebut ’contoh pengajaran’.”

      Umat Yehuwa, setelah mengikuti kebaktian itu, diperlengkapi dengan baik untuk pekerjaan mengumumkan Kerajaan Allah. Mereka memang memerlukan sebanyak mungkin anjuran. Gelombang nasionalisme yang meningkat pada tahun 1930-an mendatangkan tentangan, dalam beberapa kasus menimbulkan kekerasan massa, dari orang-orang yang bertekad menghentikan Saksi-Saksi Yehuwa untuk tidak berhimpun bersama dan mengabar.

      ”Segerombolan Perampok”

      Tentangan yang hebat datang dari kelompok-kelompok Aksi Katolik tertentu. Pada tanggal 2 Oktober 1938, Saudara Rutherford berterus terang ketika menyampaikan khotbah ”Fasisme Atau Kemerdekaan”, yang belakangan muncul dalam bentuk buku kecil dan disebarkan kepada berjuta-juta orang. Dalam khotbah ini, Saudara Rutherford merinci sejumlah tindakan yang tidak benar secara hukum untuk memperlihatkan persekongkolan antara beberapa pejabat pemerintahan tertentu dengan wakil-wakil dari Gereja Katolik Roma.

      Setelah mengungkapkan fakta-fakta, Rutherford mengatakan, ”Jika masyarakat diberi tahu tentang fakta mengenai adanya suatu kelompok orang yang sedang beroperasi di bawah jubah agama untuk mencuri hak-hak mereka, Hierarki itu berteriak dan berkata, ’Dusta! Bungkamkan mulut mereka dan jangan biarkan mereka berbicara.’” Kemudian ia bertanya, ”Salahkah bila kami mengumumkan kebenaran berkenaan segerombolan perampok yang sedang merampok orang banyak? Tidak! . . . Haruskah orang-orang jujur dibungkamkan dan dibuat tetap diam sementara segerombolan perampok ini menghancurkan kebebasan orang banyak? Di atas segalanya, haruskah orang-orang ini dilarang menjalankan hak istimewa yang diberikan Allah untuk berhimpun dengan damai dan kebebasan beribadat kepada Allah Yang Mahakuasa, serta kebebasan berbicara mengenai kerajaan-Nya dan orang-orang yang menentangnya?”

      Setelah kata-kata yang sangat pedas ini, tentangan berlanjut dari kelompok-kelompok Aksi Katolik di seluruh Amerika Serikat. Saksi-Saksi Yehuwa mengupayakan perlawanan secara hukum demi kebebasan beribadat dan hak mereka untuk mengumumkan Kerajaan Allah. Namun situasinya hanya bertambah buruk seraya dunia terjun ke dalam kancah peperangan. Pembatasan resmi dan pemenjaraan juga menimpa Saksi-Saksi Yehuwa di negeri-negeri di Eropa, Afrika, dan Asia.

      ”Semua Ingin Pergi ke St. Louis”

      ”Pada tahun 1941,” kenang Norman Larson, yang saat itu baru saja memasuki dinas sepenuh waktu, ”kami semua merasa yakin akan mengalami hari-hari kritis akibat perang yang sedang berkecamuk di Eropa. Maka semua ingin pergi ke St. Louis.” Untuk apa? Untuk Kebaktian Teokratis dari Saksi-Saksi Yehuwa di St. Louis, Missouri, tanggal 6-10 Agustus 1941! Dan ”semua” datang. Fasilitas kebaktian terisi penuh sampai kehabisan tempat duduk. Menurut perkiraan polisi, suatu puncak dari 115.000 orang hadir.

      Sejak hari pertama, acara kebaktian menyediakan anjuran yang tepat waktu. Khotbah pembukaan Saudara Rutherford, ”Integritas”, mengumandangkan tema kebaktian tersebut. ”Kita menyadari lebih jelas daripada sebelumnya alasan Yehuwa mengizinkan penganiayaan hebat demikian atas umat-Nya di seluruh dunia,” kenang Hazel Burford, yang melayani sebagai utusan injil selama hampir 40 tahun, hingga kematiannya pada tahun 1983. Ketika melaporkan tentang kebaktian ini, 1942 Yearbook of Jehovah’s Witnesses menambahkan, ”Semua dapat melihat dengan jelas bahwa di hadapan mereka terbentang suatu pekerjaan kesaksian besar yang harus mereka lakukan, dan dengan melaksanakannya mereka akan memelihara integritas, walaupun dibenci oleh semua orang dan berbagai organisasi duniawi.”

      Pada kebaktian ini suatu pemandangan yang mengharukan terlihat pada hari Minggu, 10 Agustus, yang adalah ”Hari Anak-Anak”. Ketika acara pagi dimulai, 15.000 anak—antara 5 dan 18 tahun—dikumpulkan di pelataran utama tepat di depan podium dan di tempat yang serupa yang dibangun di pemukiman karavan, untuk menampung sekumpulan orang banyak yang mendengarkan dari sana. Seraya Saudara Rutherford, yang pada waktu itu berumur 70 tahun lebih sedikit, melangkah ke podium, anak-anak berseru dan bertepuk tangan. Ia melambaikan sapu tangannya, dan anak-anak itu membalas lambaiannya. Kemudian, dengan suara yang jelas dan ramah, ia menyampaikan khotbah kepada seluruh hadirin dengan tema ”Anak-Anak Sang Raja”. Setelah berbicara selama satu jam lebih kepada hadirin pada umumnya, ia menujukan kata-katanya kepada anak-anak yang duduk di bagian-bagian yang telah disediakan.

      ”Kalian semua . . . anak-anak,” katanya, sambil menatap ke arah wajah-wajah belia yang ceria di hadapannya, ”yang telah sepakat untuk melakukan kehendak Allah dan telah berpihak kepada Pemerintahan Teokratis-Nya melalui Kristus Yesus dan yang telah sepakat untuk mematuhi Allah dan Raja-Nya, silakan berdiri.” Anak-anak tersebut secara serentak berdiri. ”Lihatlah,” seru pembicara dengan bergairah, ”lebih dari 15.000 saksi baru bagi Kerajaan!” Terdengar tepuk tangan yang riuh. ”Semua yang akan berbuat semampunya untuk memberitahukan orang-orang lain mengenai kerajaan Allah dan berkat-berkat yang akan menyertainya, silakan berkata Ya.” Terdengar seruan bergemuruh, ”Ya!”

      Sebagai klimaks dari itu semua, Saudara Rutherford mengumumkan dikeluarkannya buku baru Children, yang diterima dengan seruan sukacita dan tepuk tangan yang riuh. Setelah itu, sang pembicara, pria yang tinggi perawakannya, ikut membagikan buku-buku ini secara cuma-cuma kepada suatu deretan panjang anak-anak yang antre menaiki podium dan berbaris melewatinya. Banyak yang menangis melihat pemandangan ini.

      Di antara hadirin pada hari Minggu pagi itu terdapat banyak anak yang hidup selaras dengan teriakan ”Ya!” mereka. LaVonne Krebs, Merton Campbell, serta Eugene dan Camilla Rosam ada di antara remaja-remaja yang menerima buku Children pada kesempatan tersebut. Mereka masing-masing telah membaktikan secara berurut 51, 49, 49, dan 48 tahun dalam dinas sepenuh waktu, dan sampai tahun 1992 masih melayani di kantor pusat Lembaga. Beberapa dari anak-anak yang hadir itu melayani di negara-negara asing sebagai utusan injil, yaitu antara lain Eldon Deane (Bolivia), Richard dan Peggy Kelsey (Jerman), Ramon Templeton (Jerman), dan Jennie Klukowski (Brasil). Acara Minggu pagi tersebut benar-benar memberi kesan yang bertahan lama pada hati banyak orang muda!

      Pada hari Minggu siang, Saudara Rutherford menyampaikan kata-kata perpisahan kepada para peserta kebaktian. Ia menganjurkan mereka untuk memajukan pekerjaan pemberitaan Kerajaan Allah. ”Saya merasa amat yakin,” katanya kepada mereka, ”bahwa mulai sekarang . . . mereka yang akan membentuk perhimpunan besar akan bertumbuh dengan sangat pesat.” Ia mendesak mereka untuk kembali ke daerah mereka masing-masing dan ”mengerahkan lebih banyak tenaga . . . memberikan sebanyak mungkin waktu untuk dinas pelayanan”. Kemudian terdengar ucapan terakhirnya kepada hadirin, ”Nah, saudara-saudara yang saya kasihi, Tuhan memberkati saudara-saudara. Saya tidak akan mengatakan Selamat Berpisah sekarang, karena saya berharap dapat bertemu saudara-saudara lagi di lain kesempatan.”

      Akan tetapi, bagi banyak orang, itulah saat terakhir mereka melihat Saudara Rutherford.

      Hari-Hari Terakhir J. F. Rutherford

      Pada kebaktian di St. Louis tersebut, Saudara Rutherford sudah mengidap kanker usus besar dan berada dalam kondisi kesehatan yang buruk. Namun, ia berhasil menyampaikan lima khotbah yang tegas. Akan tetapi, setelah kebaktian itu, kondisinya memburuk, dan ia terpaksa menjalani operasi usus. Arthur Worsley mengingat ketika Saudara Rutherford mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga Betel. ”Ia menceritakan kepada kami bahwa ia akan menjalani suatu operasi yang serius dan tidak soal apakah ia akan tetap hidup setelahnya atau tidak, ia yakin bahwa kami akan terus memberitakan nama Yehuwa. Ia . . . menutup dengan berkata, ’Jadi, kalau itu kehendak Allah, saya akan bertemu kembali dengan saudara-saudara. Bila tidak, teruskan perjuangan kita.’ Di antara keluarga tidak ada mata yang tidak berkaca-kaca.”

      Saudara Rutherford, dalam usia 72 tahun, selamat melewati pembedahan itu. Tidak lama kemudian, ia dibawa ke sebuah rumah tinggal di Kalifornia yang telah ia namakan Beth-Sarim. Orang-orang yang mengasihinya dan para ahli medis dapat melihat dengan jelas bahwa ia tidak akan sembuh. Sebenarnya, ia memerlukan pembedahan lanjutan.

      Kira-kira pertengahan bulan Desember, Nathan H. Knorr, Frederick W. Franz, dan Hayden C. Covington tiba dari Brooklyn. Hazel Burford, yang merawat Saudara Rutherford selama saat-saat menyedihkan dan berat itu, belakangan mengenang, ”Mereka menggunakan waktu beberapa hari bersamanya guna memeriksa laporan tahunan untuk Buku Tahunan (Buku Kegiatan) dan hal-hal lain yang menyangkut organisasi. Setelah mereka pergi, Saudara Rutherford terus bertambah lemah dan, kira-kira tiga minggu kemudian, pada hari Kamis, 8 Januari 1942, ia dengan setia mengakhiri pelayanannya di bumi.”i

      Bagaimana keadaan di Betel ketika berita tentang kematian Saudara Rutherford disampaikan? ”Saya tidak akan melupakan hari manakala kami mendengar tentang kematian Saudara Rutherford,” kenang William A. Elrod, yang telah menjadi anggota keluarga Betel selama sembilan tahun. ”Itu terjadi pada siang hari ketika keluarga berkumpul untuk makan siang. Pengumumannya singkat. Tidak ada pidato. Tidak ada yang mengambil satu hari cuti untuk berkabung. Sebaliknya, kami kembali ke percetakan dan bekerja lebih keras daripada sebelumnya.”

      Masa itu benar-benar sangat berat bagi Saksi-Saksi Yehuwa. Perang sudah menjadi konflik sedunia. Pertempuran sudah menyebar dari Eropa ke Afrika, lalu ke negeri yang pada saat itu dikenal sebagai Uni Soviet. Pada tanggal 7 Desember 1941, hanya sebulan sebelum kematian Saudara Rutherford, serangan Jepang ke Pearl Harbor membawa Amerika Serikat ke dalam perang. Di banyak tempat, Saksi-Saksi menjadi sasaran kekerasan massa dan bentuk-bentuk lain dari penganiayaan yang hebat.

      Apa yang akan terjadi sekarang?

      [Catatan Kaki]

      a Sebuah badan hukum di New York dibentuk pada tahun 1909 sehubungan dengan perpindahan Lembaga dari kantor utamanya ke Brooklyn, New York.

      b Lihat Pasal 28, ”Pengujian dan Penyaringan dari Dalam”.

      c Menurut penafsiran yang diuraikan dalam buku The Finished Mystery, perempuan di Wahyu pasal 12 adalah ”Gereja yang mula-mula”, naga adalah ”Kekaisaran Kafir Romawi”, dan anak laki-laki adalah ”kepausan”.

      d Lihat Pasal 14, ”Mereka Bukan Bagian dari Dunia”.

      e Lihat Pasal 30, ”Membela dan Secara Hukum Meneguhkan Kabar Baik”.

      f Vindication (Pembenaran), Jilid Tiga, halaman 77. Lihat juga Pasal 12, ”Kumpulan Besar—Akan Hidup di Surga? Atau di Bumi?”

      g Ketika itu kaum Yonadab tidak dianggap sebagai ”saksi-saksi Yehuwa”. (Lihat The Watch Tower, 15 Agustus 1934, halaman 249.) Namun, beberapa tahun kemudian, The Watch Tower 1 Juli 1942 menyatakan, ”’Domba-domba lain’ [kaum Yonadab] ini menjadi saksi bagi Dia, dengan cara yang sama seperti pria-pria yang setia sebelum kematian Kristus, dari Yohanes Pembaptis mundur terus sampai kepada Habel, adalah Saksi-Saksi bagi Yehuwa yang tidak pernah berhenti.”

      h Suatu acuan kepada si ”pelacur besar”, yang disebutkan dalam Wahyu pasal 17. Buku Enemies menyatakan, ”Semua organisasi di bumi yang menentang Allah dan kerajaan-Nya . . . mendapat nama ’Babel’ dan ’pelacur’, dan nama-nama tersebut khususnya diberikan kepada organisasi agama yang utama, gereja Katolik Roma.” (Halaman 198) Bertahun-tahun kemudian, terlihatlah bahwa pelacur itu memang menggambarkan imperium sedunia dari seluruh agama palsu.

      i Saudara Rutherford meninggal lebih dahulu daripada istrinya, Mary, dan putra mereka, Malcolm. Karena Saudari Rutherford tidak begitu sehat dan menyadari bahwa musim dingin di New York (tempat kantor pusat Lembaga Menara Pengawal) tidak baik untuk kesehatannya, maka ia dan Malcolm kemudian tinggal di Kalifornia bagian selatan yang iklimnya lebih baik bagi kesehatannya. Saudari Rutherford meninggal pada tanggal 17 Desember 1962, pada usia 93 tahun. Berita tentang kematiannya, yang muncul di surat kabar Daily News-Post di Monrovia, Kalifornia, menyatakan, ”Sampai kondisi tubuh yang buruk memaksanya tinggal di rumah, ia secara aktif ikut serta dalam pekerjaan pelayanan dari Saksi-Saksi Yehuwa.”

      [Blurb di hlm. 73]

      ”Senjata utama Setan adalah KEANGKUHAN, AMBISI, dan PERASAAN TAKUT”

      [Blurb di hlm. 74]

      ”Jaminan bahwa Yehuwa-lah yang menjalankan Lembaga”

      [Blurb di hlm. 75]

      ’Dibebaskan dari penjara, bukan semata-mata untuk diri mereka sendiri, tetapi terutama untuk tujuan suatu kesaksian bagi kebenaran’

      [Blurb di hlm. 77]

      ”Misi seorang Kristen di bumi . . . adalah untuk mengumumkan berita Kerajaan Tuhan”

      [Blurb di hlm. 78]

      ’Umumkan Kerajaan dengan lebih banyak semangat dan kasih daripada sebelumnya’

      [Blurb di hlm. 82]

      ”Kami senang dikenal sebagai . . . saksi-saksi Yehuwa”

      [Blurb di hlm. 83]

      Ya! Kaum Yonadab harus dibaptis

      [Blurb di hlm. 84]

      ’Mencari orang-orang berhati domba yang masih harus dikumpulkan’

      [Blurb di hlm. 85]

      Rutherford berterus terang dalam menghardik para penentang agamais

      [Blurb di hlm. 86]

      15.000 anak berpihak kepada Kerajaan

      [Blurb di hlm. 89]

      ”Kalau itu kehendak Allah, saya akan bertemu kembali dengan saudara-saudara. Bila tidak, teruskan perjuangan kita”

      [Kotak/Gambar di hlm. 76]

      ”Rumah para Pangeran”

      Saudara Rutherford menderita radang paru-paru yang parah setelah ia dibebaskan dari pemenjaraan yang tidak adil pada tahun 1919. Setelah itu, ia hanya memiliki satu paru-paru yang baik. Pada tahun 1920-an, di bawah perawatan seorang dokter, ia pergi ke San Diego, Kalifornia, dan sang dokter mendesaknya untuk tinggal di sana selama mungkin. Dari tahun 1929 dan seterusnya, Saudara Rutherford melewatkan musim dingin dengan bekerja di rumah di San Diego yang telah ia namakan Beth-Sarim. Beth-Sarim dibangun dengan dana yang disumbangkan langsung untuk tujuan tersebut. Akta rumah itu, yang dimuat dengan lengkap dalam ”The Golden Age” 19 Maret 1930, menyatakan hak milik ini dihibahkan kepada J. F. Rutherford dan setelah itu kepada Lembaga Menara Pengawal.

      Mengenai Beth-Sarim, buku ”Salvation”, yang terbit pada tahun 1939, menjelaskan, ”Kata Ibrani untuk ’Beth Sarim’ berarti ’Rumah Para Pangeran’; dan tujuan memperoleh hak milik dan membangun rumah itu adalah untuk mendapatkan bukti nyata tertentu bahwa ada orang-orang di bumi saat ini yang sepenuhnya percaya kepada Allah dan Yesus Kristus dan kerajaan-Nya, dan yang percaya bahwa pria-pria yang setia zaman dahulu akan segera dibangkitkan oleh Tuhan, kembali hidup di bumi, dan mengambil alih urusan-urusan yang kelihatan di bumi.”

      Beberapa tahun setelah kematian Saudara Rutherford, dewan komisaris Lembaga Menara Pengawal memutuskan untuk menjual Beth-Sarim. Mengapa? ”The Watch Tower” 15 Desember 1947 menjelaskan, ”Rumah itu telah sepenuhnya memenuhi tujuannya dan sekarang hanya berdiri sebagai monumen yang cukup mahal pemeliharaannya; iman kita mengenai kembalinya pria-pria zaman dahulu yang akan dijadikan pangeran di SELURUH bumi (tidak hanya di Kalifornia) didasarkan, bukan atas rumah Beth-Sarim tersebut, tetapi atas janji dalam Firman Allah.”j

      [Catatan Kaki]

      j Pada waktu itu, orang percaya bahwa pria-pria yang setia di zaman dahulu, seperti Abraham, Yusuf, dan Daud, akan dibangkitkan sebelum akhir sistem segala perkara dan akan melayani sebagai ”pembesar [”pangeran”, ”NW”] di seluruh bumi”, sebagai penggenapan Mazmur 45:16. Pandangan ini disesuaikan pada tahun 1950, ketika penelitian Alkitab lebih lanjut menunjukkan bahwa nenek moyang jasmani dari Yesus Kristus akan dibangkitkan sesudah Armagedon.—Lihat ”The Watch Tower”, 1 November 1950, halaman 414-17.

      [Kotak/Gambar di hlm. 80, 81]

      Menyiarkan Berita Kerajaan

      Kurang dari dua tahun setelah siaran radio komersial dimulai, radio digunakan untuk menyampaikan berita Kerajaan. Maka pada tanggal 26 Februari 1922, Saudara Rutherford menyampaikan siaran radionya yang pertama di Kalifornia. Dua tahun kemudian, pada tanggal 24 Februari 1924, pemancar radio milik Lembaga Menara Pengawal WBBR, di Staten Island, New York, mulai mengudara. Akhirnya, Lembaga mengorganisasi jaringan radio sedunia untuk menyiarkan acara dan khotbah Alkitab. Sampai tahun 1933, suatu puncak dari 408 pemancar membawa berita Kerajaan ke enam benua!

      [Gambar]

      WBBR, di New York, dioperasikan oleh Lembaga Menara Pengawal dari tahun 1924 sampai 1957

      Orkes WBBR pada tahun 1926

      J. F. Rutherford menyampaikan khotbah ”Hadapi Kenyataan”, di gedung Royal Albert Hall, London, Inggris, tanggal 11 September 1938; lebih dari 10.000 orang memadati auditorium tersebut (bawah), sedangkan jutaan lainnya mendengarkan melalui radio

      Acara pembukaan WBBR

      Staf di pemancar 2HD, Newcastle, NSW, Australia

      Pemancar radio CHCY di Edmonton, Alberta, adalah satu dari beberapa pemancar milik Lembaga dan dioperasikan di Kanada

      Mengudara ke Finlandia melalui pemancar radio di Estonia

      Peralatan siaran di pemancar radio WORD, dekat Chicago, Illinois; dimiliki dan dioperasikan oleh Lembaga

      [Kotak/Gambar di hlm. 87]

      Mengabar dengan Fonograf

      Pada tahun 1933, Saksi-Saksi Yehuwa mulai menggunakan metode inovatif lain untuk pengabaran. Sebuah mesin rekaman dengan ”amplifier” dan pengeras suara yang dapat dibawa ke mana-mana ini digunakan untuk menyiarkan rekaman 33 1/3-rpm yang berisi khotbah-khotbah radio dari Saudara Rutherford, di gedung-gedung, taman-taman, dan tempat-tempat umum lainnya. Mobil dan perahu dengan pengeras suara juga digunakan untuk mendengungkan berita Kerajaan.

      Penggunaan yang efektif dari mesin rekaman itu menuntun ke perubahan baru yang lain lagi—pengabaran dari rumah ke rumah dengan fonograf yang berbobot ringan. Pada tahun 1934 Lembaga mulai memproduksi fonograf portabel dan suatu seri piringan 78-rpm yang berisi khotbah-khotbah Alkitab selama 4 1/2-menit. Akhirnya, rekaman-rekaman berisi 92 pokok yang berbeda digunakan. Secara keseluruhan, Lembaga memproduksi lebih dari 47.000 fonograf untuk mengumandangkan berita Kerajaan. Akan tetapi, tiba saatnya, persembahan berita Kerajaan secara lisan lebih ditekankan, maka pekerjaan dengan fonograf dihapus secara bertahap.

      [Gambar]

      Melalui mobil dengan pengeras suara di puncak bukit, berita Kerajaan dapat didengar sampai berkilo-kilo meter jauhnya (atas)

      Menggunakan mesin rekaman di Meksiko (kanan)

      Sebuah perahu dengan pengeras suara menyiarkan berita di atas Sungai Thames, London, Inggris (atas)

      Menggunakan fonograf dalam dinas pengabaran (kiri)

      Memperlihatkan cara menggunakan fonograf tipe vertikal, tahun 1940 (kanan)

      [Gambar di hlm. 79]

      J. A. Bohnet

      [Gambar di hlm. 88]

      Sejak 1917, ketika J. F. Rutherford menjadi presiden, sampai 1941, Lembaga Menara Pengawal menghasilkan banjir publikasi, termasuk 24 buku, 86 buku kecil, dan ”Buku-Buku Tahunan”, juga artikel-artikel untuk ”The Watch Tower” dan ”The Golden Age” (yang belakangan disebut ”Consolation” [Penghiburan])

  • Memberitakan Kabar Baik Tanpa Henti (1942-1975)
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 8

      Memberitakan Kabar Baik Tanpa Henti (1942-1975)

      ”KEPADA SEMUA PENCINTA TEOKRASI:

      Pada tanggal 8 Januari 1942, saudara yang kita kasihi, J. F. Rutherford, dengan setia menyelesaikan pelayanannya di bumi . . . Ia bersukacita dan merasa terhibur karena melihat dan mengetahui bahwa semua saksi dari Tuhan tidak mengikuti manusia mana pun, melainkan Raja Yesus Kristus sebagai Pemimpin mereka, dan bahwa mereka akan terus maju dalam pekerjaan ini dalam tindakan yang benar-benar terpadu.”—Surat yang mengumumkan kematian Saudara Rutherford.a

      BERITA tentang kematian Saudara Rutherford sempat mengejutkan Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia. Banyak yang mengetahui bahwa ia mengidap penyakit, tetapi mereka tidak mengira bahwa ia meninggal begitu cepat. Mereka sedih karena kehilangan saudara yang mereka kasihi tetapi bertekad untuk ”terus maju dalam pekerjaan ini”—pekerjaan memberitakan Kerajaan Allah. Mereka tidak memandang J. F. Rutherford sebagai pemimpin mereka. Charles E. Wagner, yang selama ini bekerja bersama Saudara Rutherford di kantornya, mengatakan, ”Di mana-mana, saudara-saudara telah memperkembangkan keyakinan yang kuat bahwa pekerjaan Yehuwa tidak bergantung pada manusia mana pun.” Walaupun begitu, dibutuhkan seseorang untuk mengemban tanggung jawab yang telah dipikul oleh Saudara Rutherford sebagai presiden dari Lembaga Menara Pengawal.

      ”Bertekad untuk Tetap Dekat kepada Tuhan”

      Saudara Rutherford dengan sepenuh hati mengharapkan agar Saksi-Saksi Yehuwa mengumumkan kabar baik tanpa henti. Maka, pada pertengahan Desember 1941, beberapa minggu sebelum kematiannya, ia memanggil empat orang direktur dari dua badan hukum utama yang digunakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa, untuk berkumpul dan menyarankan agar sesegera mungkin setelah kematiannya, semua anggota dari dua dewan komisaris dipanggil untuk mengadakan rapat gabungan dan memilih seorang presiden dan wakil presiden.

      Pada siang hari tanggal 13 Januari 1942, hanya lima hari setelah kematian Rutherford, semua anggota dewan komisaris dari dua badan hukum itu berkumpul bersama di Betel Brooklyn. Beberapa hari sebelumnya, wakil presiden Lembaga, Nathan H. Knorr yang berumur 36 tahun, telah menyarankan agar mereka dengan sungguh-sungguh mencari hikmat ilahi melalui doa dan renungan. Para anggota dewan komisaris menyadari bahwa meskipun saudara yang terpilih menjadi presiden akan mengelola urusan-urusan hukum dari Lembaga Menara Pengawal, ia juga akan melayani sebagai pengawas utama dari organisasi. Siapa yang memiliki persyaratan-persyaratan rohani yang diperlukan untuk tanggung jawab serius dalam mengurus pekerjaan Yehuwa ini? Pertemuan gabungan tersebut dibuka dengan doa, dan sesudah mempertimbangkan dengan saksama, dengan suara bulat Saudara Knorr dipilih menjadi presiden dari dua badan hukum itu dan Hayden C. Covington, pengacara Lembaga yang berusia 30 tahun, menjadi wakil presiden.b

      Belakangan pada hari yang sama, W. E. Van Amburgh, sekretaris bendahara Lembaga, mengumumkan hasil pemilihan tersebut kepada keluarga Betel. R. E. Abrahamson, yang hadir pada kesempatan itu, mengenang bahwa Van Amburgh berkata, ’Saya masih ingat ketika C. T. Russell meninggal dan digantikan oleh J. F. Rutherford. Tuhan terus membimbing dan membuat pekerjaan-Nya berhasil. Kini, saya yakin sepenuhnya pekerjaan bergerak maju dengan Nathan H. Knorr sebagai presiden, karena ini adalah pekerjaan Tuhan, bukan pekerjaan manusia.’

      Bagaimana perasaan para anggota keluarga Betel di Brooklyn mengenai hasil pemilihan itu? Sepucuk surat yang menyentuh hati dari mereka tertanggal 14 Januari 1942, sehari setelah pemilihan, menjawab, ”Penggantiannya [Rutherford] tidak akan memperlambat kami dalam melaksanakan tugas yang telah Tuhan berikan kepada kami. Kami bertekad untuk tetap dekat dengan Tuhan dan satu sama lain, tetap meneruskan perjuangan tanpa henti, berjuang bahu-membahu. . . . Pergaulan kami yang akrab dengan Saudara Knorr selama kira-kira dua puluh tahun . . . membuat kami dapat menghargai bimbingan Tuhan dalam hal memilih Saudara Knorr sebagai presiden dan dengan demikian menunjukkan pemeliharaan Tuhan yang pengasih atas umat-Nya.” Surat-surat dan telegram-telegram yang berisi dukungan dari seluruh dunia segera mengalir ke kantor pusat.

      Tidak ada perasaan bimbang mengenai apa yang harus dikerjakan. Sebuah artikel khusus disiapkan untuk terbitan Watchtower 1 Februari 1942, terbitan yang sama yang mengumumkan kematian J. F. Rutherford. ”Pengumpulan terakhir oleh Tuhan sedang berlangsung,” demikian diserukan. ”Jangan biarkan apa pun walau sekejap mengganggu gerak maju dari umat-perjanjian-Nya dalam pelayanan-Nya. . . . Untuk berpegang teguh kepada integritas kita terhadap Allah Yang Mahakuasa kini adalah perkara PALING PENTING.” Saksi-Saksi Yehuwa didesak untuk terus memberitakan kabar baik dengan bergairah.

      Namun ’berpegang teguh kepada integritas mereka’ benar-benar merupakan tantangan pada awal tahun 1940-an. Dunia masih berperang. Pembatasan masa perang di banyak bagian dari bumi membuat Saksi-Saksi Yehuwa sulit mengabar. Penangkapan dan aksi gerombolan terhadap Saksi-Saksi terus terjadi tanpa mereda. Hayden Covington, sebagai penasihat hukum Lembaga, mengawasi perjuangan di bidang hukum, kadang-kadang dari kantornya di kantor pusat Brooklyn dan kadang-kadang dari kereta api seraya ia mengadakan perjalanan untuk mengurus kasus-kasus hukum. Saudara Covington berjuang keras dengan bekerja bersama pengacara-pengacara setempat, seperti Victor Schmidt, Grover Powell, dan Victor Blackwell, untuk menegakkan hak-hak konstitusional dari Saksi-Saksi Yehuwa untuk mengabar dari rumah ke rumah dan untuk menyebarkan lektur Alkitab tanpa hambatan dari pejabat-pejabat setempat.c

      Membunyikan Tanda ”Bergerak Maju”

      Walaupun makanan dan bensin dijatah karena keadaan perang, pada awal Maret 1942 diumumkanlah rencana untuk mengadakan Kebaktian Teokratis Dunia Baru, yang akan diselenggarakan pada tanggal 18-20 September. Untuk memudahkan perjalanan, 52 kota kebaktian dipilih di seluruh Amerika Serikat, banyak dari kota-kota itu dihubungkan dengan sambungan telepon ke Cleveland, Ohio, kota utama. Kira-kira pada waktu yang sama, Saksi-Saksi Yehuwa mengadakan kebaktian di 33 kota lain di seluruh dunia. Apa tujuan kebaktian ini?

      ’Kita tidak berkumpul di sini untuk merenungkan masa lalu atau apa yang telah dikerjakan oleh masing-masing pribadi,’ kata ketua, Saudara Covington, dalam kata-kata sambutannya pada acara pembukaan. Kemudian ia mengantar khotbah utama, ”Satu-Satunya Terang”, berdasarkan Yesaya pasal 59 dan 60, yang disampaikan oleh Saudara Franz. Sambil mengacu kepada perintah nubuat Yehuwa yang dicatat oleh Yesaya, sang pembicara berseru dengan membangkitkan semangat, ”Maka, inilah tanda ’Bergerak maju’ dari Wewenang Tertinggi untuk terus melaksanakan [pekerjaan] kesaksiannya tidak soal apa yang terjadi sebelum Armagedon datang.” (Yes. 6:1-12) Bukanlah waktunya untuk berpangku tangan dan bersantai.

      ”Masih ada pekerjaan lebih lanjut yang harus dilakukan; banyak pekerjaan!” seru N. H. Knorr dalam khotbah berikutnya pada acara itu. Untuk membantu para pendengarnya menanggapi tanda ”Bergerak maju”, Saudara Knorr mengumumkan dikeluarkannya sebuah edisi Alkitab terjemahan King James, yang dicetak oleh percetakan Lembaga sendiri dan lengkap dengan konkordansi yang dirancang khusus untuk digunakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa dalam dinas pengabaran mereka. Terbitan baru itu mencerminkan minat besar Saudara Knorr dalam hal mencetak dan menyebarkan Alkitab. Sebenarnya, setelah ia menjadi presiden Lembaga pada awal tahun tersebut, Saudara Knorr telah bergerak cepat agar dapat memperoleh hak mencetak untuk terjemahan ini dan agar dapat mengkoordinasi persiapan konkordansi dan segi-segi lain. Hanya dalam beberapa bulan edisi khusus dari King James Version ini telah siap untuk diperkenalkan pada kebaktian tersebut.

      Pada hari terakhir kebaktian, Saudara Knorr menyampaikan khotbah ”Perdamaian—Dapatkah Itu Bertahan Lama?” Di dalam khotbah itu ia menguraikan bukti yang kuat dari Wahyu 17:8 bahwa Perang Dunia II, yang pada waktu itu sedang berkecamuk, tidak akan beralih menjadi Armagedon, sebagaimana disangka oleh beberapa orang, melainkan bahwa perang tersebut akan berakhir dan suatu masa damai akan mulai. Masih ada pekerjaan yang harus dilaksanakan dalam mengumumkan Kerajaan Allah. Para peserta kebaktian diberitahukan bahwa untuk membantu mengurus pertumbuhan yang diharapkan dalam organisasi, maka mulai bulan berikutnya Lembaga akan mengutus ”hamba-hamba bagi para saudara” untuk bekerja bersama sidang-sidang. Masing-masing sidang akan dikunjungi setiap enam bulan.

      ”Kebaktian Teokratis Dunia Baru itu mempersatukan organisasi Yehuwa dengan kuat untuk pekerjaan mendatang,” kata Marie Gibbard, yang hadir di Dallas, Texas, bersama orang-tuanya. Dan ada banyak pekerjaan yang harus dilaksanakan. Saksi-Saksi Yehuwa menantikan masa damai yang akan datang. Mereka bertekad untuk maju terus melewati tentangan dan penganiayaan, memberitakan kabar baik tanpa henti!

      Suatu Era Meningkatnya Pendidikan

      Mereka telah menggunakan kartu kesaksian dan fonograf dalam pengabaran mereka dari rumah ke rumah, namun dapatkah setiap saksi dari Yehuwa meningkatkan kemampuannya untuk menjelaskan dari Alkitab alasan-alasan harapannya? Presiden ketiga Lembaga, N. H. Knorr, berpikir begitu. C. James Woodworth, yang ayahnya adalah editor dari majalah The Golden Age dan Consolation selama bertahun-tahun, menyatakannya begini, ”Kalau pada masa Saudara Rutherford, yang ditandaskan yaitu ’Agama Adalah Suatu Jerat dan Suatu Penipuan’, maka sekarang era ekspansi sedunia sedang menyingsing, dan pendidikan—mengenai Alkitab dan organisasi—mulai dalam skala yang sebelumnya tidak pernah dialami oleh umat Yehuwa.”

      Era pendidikan ini dengan serta merta mulai berlangsung. Pada tanggal 9 Februari 1942, kira-kira sebulan setelah N. H. Knorr dipilih menjadi presiden Lembaga, suatu pengumuman yang berdampak luas dibuat di Betel Brooklyn. Penyelenggaraannya diadakan di Betel untuk suatu Kursus Lanjutan Pelayanan Teokratis—suatu sekolah yang mengutamakan riset Alkitab dan kecakapan berbicara di depan umum.

      Menjelang tahun berikutnya, pekerjaan dasar dibubuh untuk sekolah yang serupa yang akan diadakan di sidang-sidang setempat dari Saksi-Saksi Yehuwa. Pada Kebaktian ”Panggilan untuk Bertindak” yang diselenggarakan di seluruh Amerika Serikat pada tanggal 17 dan 18 April 1943, buku kecil Course in Theocratic Ministry (Kursus Pelayanan Teokratis) diperkenalkan. Setiap sidang didesak untuk memulai sekolah baru ini, dan Lembaga mengangkat instruktur-instruktur untuk bertindak sebagai ketua dan untuk memberikan nasihat yang membangun berkenaan khotbah-khotbah latihan yang disampaikan oleh siswa-siswa pria yang terdaftar. Sesegera mungkin, kursus ini diterjemahkan dan dilaksanakan di negeri-negeri lain.

      Sebagai hasilnya, pembicara-pembicara yang memenuhi syarat yang terlatih di sekolah pelayanan ini, mulai terjun dalam kampanye sedunia untuk berbicara kepada umum dalam rangka mengumumkan berita Kerajaan. Banyak dari mereka ini belakangan dapat memanfaatkan pelatihan mereka untuk menjadi pembicara di kebaktian dan mengurus tanggung jawab organisasi yang berat.

      Angelo C. Manera, Jr. seorang di antara mereka, menjadi pengawas keliling selama kira-kira 40 tahun. Ia salah seorang yang pertama mendaftarkan diri untuk mengikuti sekolah di sidangnya, dan ia menyatakan, ”Mereka yang selama bertahun-tahun menghadiri perhimpunan dan pergi ke dinas pengabaran tanpa persediaan ini telah menganggap hal itu sebagai langkah besar dalam kemajuan pribadi dan organisasi.”

      George Gangas, seorang penerjemah bahasa Yunani pada waktu itu, belakangan menyatakan tentang pelatihannya di sekolah yang diresmikan di Betel Brooklyn pada tahun 1942, ”Saya ingat saat saya menyampaikan khotbah enam menit saya yang pertama. Saya tidak percaya kepada diri sendiri, maka saya menulis khotbah itu. Namun, ketika saya berdiri untuk menyampaikannya, demam panggung mencekam diri saya dan saya berbicara dengan gagap dan berkomat-komit, lupa akan apa yang hendak saya katakan. Jadi saya terpaksa membaca dari naskah khotbah tersebut. Akan tetapi tangan saya begitu gemetar sehingga baris-baris kalimat itu naik turun berlompat-lompat!” Namun, ia tidak berhenti. Pada waktunya, ia menyampaikan khotbah-khotbah di depan hadirin kebaktian besar dan bahkan melayani sebagai anggota Badan Pimpinan dari Saksi-Saksi Yehuwa.

      Sebuah Sekolah yang Didirikan Berdasarkan Iman

      Pada tanggal 24 September 1942, suatu langkah besar lebih lanjut dilakukan dalam era pendidikan yang meningkat. Pada suatu pertemuan gabungan dewan direksi dari dua badan hukum resmi, Saudara Knorr menyarankan agar Lembaga menyelenggarakan sebuah sekolah lain, menggunakan sebuah gedung yang telah dibangun di Perladangan Kerajaan, di South Lansing, New York, sejauh 410 kilometer barat laut New York City. Tujuan sekolah ini adalah melatih utusan-utusan injil untuk dinas di negara-negara asing yang lebih membutuhkan pemberita-pemberita Kerajaan. Saran itu disetujui dengan suara bulat.

      Albert D. Schroeder, yang pada waktu itu berusia 31 tahun, ditunjuk sebagai panitera dan melayani sebagai ketua panitia yang akan mengorganisasi sekolah yang baru itu. ”Wah, hati kami benar-benar melonjak karena sukacita dengan adanya penugasan baru yang menakjubkan ini!” katanya. Para instruktur langsung sibuk; mereka hanya punya waktu empat bulan untuk menyiapkan mata pelajaran, menyusun kuliah-kuliah, dan mengumpulkan suatu perpustakaan. ”Kursus pendidikan Kristen tingkat lanjutan ini berlangsung selama 20 minggu, dengan Alkitab sebagai buku pelajaran utamanya,” demikian penjelasan Saudara Schroeder, yang kini melayani sebagai anggota Badan Pimpinan.

      Pada hari Senin, 1 Februari 1943, pada musim dingin di daerah utara negara bagian New York, kelas pertama dengan 100 siswa dimulai. Benar-benar suatu sekolah yang didirikan berdasarkan iman. Di tengah-tengah Perang Dunia II, hanya ada sedikit daerah di dunia yang dapat dijadikan tujuan pengiriman utusan injil. Akan tetapi, dengan kepercayaan penuh bahwa akan datang suatu masa damai sehingga mereka dapat digunakan, maka dilatihlah para calon utusan injil.

      Reorganisasi Pasca Perang

      Pada bulan Mei 1945, suasana permusuhan dari Perang Dunia II di Eropa berakhir. Empat bulan kemudian, pada bulan September, pertempuran berhenti di Pasifik. Perang Dunia II sudah berakhir. Pada tanggal 24 Oktober 1945, tiga tahun lebih sedikit setelah presiden Lembaga menyampaikan khotbah ”Perdamaian—Dapatkah Itu Bertahan Lama?”, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa mulai berlaku.

      Laporan mengenai kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa sedikit demi sedikit mulai terdengar dari Eropa. Yang mengagumkan saudara dan saudari mereka di seluruh dunia, ternyata pekerjaan pemberitaan Kerajaan telah maju dengan mantap di negara-negara Eropa, meskipun adanya perang. The Watchtower terbit 15 Juli 1945 melaporkan, ”Pada tahun 1940 di Prancis ada 400 penyiar, sekarang ada 1.100 penyiar yang berbicara mengenai Kerajaan. . . . Pada tahun 1940 di Belanda ada 800 penyiar. Empat ratus orang di antara mereka dijebloskan ke kamp-kamp konsentrasi di Jerman. Mereka yang bebas berbicara mengenai Kerajaan. Hasilnya? Di negeri itu sekarang terdapat 2.000 penyiar Kerajaan.” Pintu kemerdekaan yang sekarang terbuka menyediakan kesempatan untuk memberitakan kabar baik lebih jauh, bukan hanya di Eropa melainkan juga di seluruh dunia. Namun, pertama-tama perlu diadakan banyak rekonstruksi dan reorganisasi.

      Karena sangat ingin meninjau kebutuhan Saksi-Saksi Yehuwa di negara-negara yang porak-poranda karena perang, presiden Lembaga, bersama sekretarisnya, Milton G. Henschel, pergi mengadakan tur ke Inggris, Prancis, Swiss, Belgia, Belanda, dan Skandinavia pada bulan November 1945 untuk menguatkan saudara-saudara dan untuk memeriksa kantor-kantor cabang Lembaga.d Tujuan mereka adalah reorganisasi setelah perang. Pengaturan dibuat untuk mengirim persediaan lektur serta makanan dan pakaian bagi saudara-saudara yang membutuhkan. Kantor-kantor cabang didirikan kembali.

      Saudara Knorr menyadari betul bahwa pengorganisasian kantor cabang yang baik perlu agar dapat bersisi-sisian dengan gerak maju pekerjaan pemberitaan. Bakat alaminya dalam hal mengorganisasi digunakan sepenuhnya dalam hal meluaskan fasilitas-fasilitas kantor cabang Lembaga di seluruh dunia. Pada tahun 1942, ketika ia menjadi presiden, terdapat 25 kantor cabang. Pada tahun 1946, walaupun ada pelarangan dan rintangan akibat Perang Dunia II, terdapat cabang-cabang di 57 negeri. Selama lebih dari 30 tahun berikutnya, hingga tahun 1976, jumlah kantor cabang meningkat menjadi 97.

      Diperlengkapi untuk Menjadi Guru

      Dari perjalanan internasionalnya tidak lama setelah perang, presiden Lembaga memutuskan bahwa Saksi-Saksi Yehuwa perlu diperlengkapi lebih baik untuk menjadi guru Firman Allah. Pendidikan Alkitab lebih jauh dibutuhkan demikian juga alat-alat yang cocok untuk digunakan dalam dinas pengabaran. Kebutuhan-kebutuhan itu dipenuhi pada awal masa pasca perang.

      Pada Kebaktian Teokratis Bangsa-Bangsa yang Bersukacita, yang diadakan di Cleveland, Ohio, tanggal 4-11 Agustus 1946, Saudara Knorr menyampaikan khotbah ”Diperlengkapi untuk Setiap Pekerjaan Baik”. Seluruh hadirin merasa tergugah seraya ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti, ”Bukankah suatu bantuan yang hebat untuk mendapat keterangan tentang setiap buku enam puluh enam buku di dalam Alkitab? Bukankah merupakan bantuan untuk mengerti Kitab Suci jika kita mengetahui siapa yang menulis setiap buku dalam Alkitab? kapankah masing-masing buku ditulis? di mana itu ditulis?” Semua menanti dengan berdebar-debar ketika ia kemudian mengumumkan, ”Saudara-saudara, kalian akan mendapatkan semua keterangan tersebut, bahkan lebih banyak lagi dalam buku baru yang berjudul ’Equipped for Every Good Work’ (Diperlengkapi untuk Setiap Pekerjaan Baik)!” Tepuk tangan riuh terdengar sesudah pengumuman tersebut. Publikasi baru itu akan berfungsi sebagai buku pelajaran untuk sekolah pelayanan yang diadakan di sidang-sidang.

      Saksi-Saksi Yehuwa tidak hanya diperlengkapi dengan sebuah publikasi untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang Alkitab, tetapi mereka juga mendapat beberapa alat bantu yang bagus sekali untuk digunakan dalam dinas pengabaran. Kebaktian tahun 1946 akan lama dikenang karena dikeluarkannya terbitan pertama majalah Awake! Majalah yang baru ini menggantikan Consolation (yang sebelumnya dikenal dengan The Golden Age). Diperkenalkan pula buku ”Karena Allah Itu Benar Adanya” (bahasa Inggris).e Henry A. Cantwell, yang belakangan melayani sebagai pengawas keliling, menjelaskan, ”Sudah lama kami sangat membutuhkan sebuah buku yang dapat digunakan secara efektif dalam memimpin pengajaran Alkitab dengan orang-orang yang baru berminat, sebuah buku yang mencakup doktrin-doktrin dan kebenaran-kebenaran dasar Alkitab. Kini, dengan diperkenalkannya buku ’Karena Allah Itu Benar Adanya’, kami benar-benar mendapat apa yang dibutuhkan.”

      Karena diperlengkapi dengan alat bantu mengajar yang begitu berharga, Saksi-Saksi Yehuwa mengharapkan ekspansi lebih lanjut dengan cepat. Ketika memberi khotbah di kebaktian itu tentang pokok ”Problem-Problem dari Rekonstruksi dan Ekspansi”, Saudara Knorr menjelaskan bahwa selama tahun-tahun perang dunia, kita tidak pernah menghentikan upaya-upaya untuk memberi kesaksian. Dari tahun 1939 hingga 1946, jumlah pemberita Kerajaan telah meningkat sebanyak lebih dari 110.000 orang. Untuk memenuhi kebutuhan lektur Alkitab yang terus meningkat di seluruh dunia, Lembaga merencanakan untuk memperluas percetakan dan Rumah Betel di Brooklyn.

      Masa perdamaian dunia yang dinantikan sudah mulai. Era ekspansi global dan pendidikan Alkitab sudah berlangsung cukup lama. Saksi-Saksi Yehuwa diperlengkapi dengan lebih baik sebagai guru kabar baik setelah pulang dari Kebaktian Teokratis Bangsa-Bangsa yang Bersukacita.

      Pemberitaan Kerajaan Mendesak Maju

      Dengan maksud untuk mengadakan ekspansi sedunia, pada tanggal 6 Februari 1947, presiden Lembaga dan sekretarisnya, Milton G. Henschel, berangkat untuk mengadakan tur pelayanan sedunia sejauh 76.916 kilometer. Mereka pergi ke Kepulauan Pasifik, Selandia Baru, Australia, Asia Tenggara, India, Timur Tengah, daerah Mediterania, Eropa Tengah dan Barat, Skandinavia, Inggris dan Newfoundland. Untuk pertama kali sejak tahun 1933, ada wakil-wakil dari staf kantor pusat Lembaga di Brooklyn yang dapat mengunjungi saudara-saudara mereka di Jerman. Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia mengikuti kedua orang yang mengadakan perjalanan ini melalui laporan perjalanan yang dimuat dalam terbitan-terbitan The Watchtower selama tahun 1947.f

      ”Inilah kesempatan pertama bagi kami untuk dapat mengenal saudara-saudara di Asia dan tempat-tempat lain dan untuk melihat apa kebutuhan di sana,” demikian penjelasan Saudara Henschel, yang kini anggota Badan Pimpinan dari Saksi-Saksi Yehuwa. ”Kami merencanakan untuk mengirim utusan-utusan injil, jadi kami harus mengetahui situasi macam apa yang akan mereka hadapi dan apa yang mereka butuhkan.” Setelah tur itu, arus utusan-utusan injil yang dilatih di Gilead terus-menerus mengalir ke negeri-negeri asing untuk melayani sebagai ujung tombak dari pekerjaan pemberitaan Kerajaan. Dan hasilnya sangat mengesankan. Selama lima tahun berikutnya (1947-52), jumlah pengabar Kerajaan di seluruh dunia bertambah lebih dari dua kali lipat, dari 207.552 menjadi 456.265.

      Pertambahan Teokratis

      Pada tanggal 25 Juni 1950, kekuatan militer Republik Demokrasi Rakyat Korea menyerbu Republik Korea di selatan. Akhirnya, pasukan dari 16 negara lain dikirim ke sana. Namun, seraya perang itu mengadu bangsa-bangsa besar satu terhadap yang lain, Saksi-Saksi Yehuwa bersiap-siap untuk berkumpul dalam suatu kebaktian international yang akan mempertunjukkan bukan hanya persatuan sedunia mereka, melainkan juga bahwa Yehuwa memberkati mereka dengan pertambahan.—Yes. 60:22.

      Kebaktian Pertambahan Teokrasi itu dijadwalkan dari tanggal 30 Juli sampai 6 Agustus 1950. Ini bakal menjadi kebaktian yang terbesar sampai saat itu yang pernah diadakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa di satu lokasi. Kurang lebih 10.000 delegasi asing datang dari Eropa, Afrika, Asia, Amerika Latin, Kepulauan Pasifik—seluruhnya 67 negeri yang berbeda—berkumpul di Yankee Stadium di New York City. Puncak hadirin sebanyak lebih dari 123.000 orang pada khotbah umum—dibandingkan dengan puncak sebanyak 80.000 orang yang menghadiri Kebaktian Teokratis Bangsa-Bangsa yang Bersukacita hanya empat tahun sebelumnya—itu saja memberikan bukti pertambahan yang mengesankan.

      Suatu faktor penting dalam pertambahan yang dialami Saksi-Saksi Yehuwa adalah hal pencetakan dan penyebaran Firman Allah. Suatu tonggak sejarah dalam hal ini tercapai pada tanggal 2 Agustus 1950, ketika Saudara Knorr mengumumkan diterbitkannya New World Translation of the Christian Greek Scriptures, Alkitab dalam bahasa Inggris modern. Para peserta kebaktian tergetar ketika mendengar bahwa terjemahan baru ini memulihkan nama ilahi Yehuwa sebanyak 237 kali di dalam teks utama dari Matius hingga Wahyu! Ketika menutup khotbahnya, sang pembicara mengucapkan seruan yang menggerakkan hati ini, ”Terimalah terjemahan ini. Bacalah seluruhnya. Pelajarilah, karena ini akan membantu memperbaiki pengertian saudara mengenai Firman Allah. Sampaikanlah buku ini kepada orang-orang lain.” Jilid berikutnya akan menyusul selama dekade berikutnya, sehingga pada akhirnya Saksi-Saksi Yehuwa memiliki sebuah terjemahan seluruh Alkitab yang akurat dan mudah dibaca, yang dapat mereka tawarkan kepada orang-orang lain dengan penuh semangat.

      Sebelum meninggalkan kota kebaktian, para delegasi diundang untuk mengadakan tur di kantor pusat Betel yang baru di 124 Columbia Heights dan percetakan yang sudah sangat diperluas di 117 Adams Street. Karena dibangun dengan dukungan keuangan dari Saksi-Saksi di seluruh dunia, fasilitas-fasilitas baru itu melengkapi program ekspansi besar yang diumumkan dan dengan bergairah disetujui pada kebaktian di Cleveland tahun 1946. Pada saat itu Saksi-Saksi Yehuwa tidak dapat membayangkan betapa besar ekspansi yang akan terjadi, bukan hanya di Brooklyn, melainkan di seluruh dunia. Percetakan-percetakan yang lebih banyak dan lebih besar dibutuhkan untuk menampung barisan penyiar Kerajaan yang terus bertambah.

      Pelatihan yang Ditingkatkan dalam Pelayanan dari Rumah ke Rumah

      Pada Kebaktian Masyarakat Dunia Baru, yang diadakan di New York City, tanggal 19-26 Juli 1953, publikasi-publikasi baru disediakan untuk Saksi-Saksi Yehuwa sendiri dan terutama untuk digunakan dalam pemberitaan Kerajaan dari rumah ke rumah. Sebagai contoh, diterbitkannya buku ”Make Sure of All Things” (Ujilah Segala Perkara) disambut dengan tepuk tangan yang bergemuruh dari 125.040 orang yang hadir pada hari Senin, tanggal 20 Juli. Sebuah alat untuk dinas pengabaran yang mudah dibawa, buku berukuran saku dengan 416 halaman ini mengumpulkan lebih dari 4.500 ayat di bawah 70 judul utama. Saksi-Saksi Yehuwa sekarang dengan mudah dapat menemukan jawaban berdasarkan Alkitab atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam pengabaran mereka dari rumah ke rumah.

      Pada hari Rabu pagi selama khotbah ”Pekerjaan Utama dari Semua Hamba”, Saudara Knorr mengumumkan langkah selanjutnya dalam pendidikan yang sedang berlangsung bagi Saksi-Saksi Yehuwa—suatu program pelatihan dari rumah ke rumah yang ekstensif akan diadakan di semua sidang. Penyiar-penyiar yang lebih berpengalaman diminta membantu mereka yang kurang berpengalaman untuk menjadi pemberita Kerajaan dari rumah ke rumah yang tetap tentu dan efektif. Program yang berdampak luas ini dimulai pada tanggal 1 September 1953. Jesse L. Cantwell, seorang pengawas keliling yang ikut serta dalam pekerjaan pelatihan ini, mengatakan, ”Program ini sungguh membantu penyiar-penyiar untuk menjadi lebih efisien.”

      Selama bulan-bulan sesudah Juli 1953, kebaktian tambahan diadakan di kelima benua, dengan bentuk program yang sama yang disesuaikan dengan keadaan setempat. Pelatihan yang ditingkatkan dalam pelayanan dari rumah ke rumah dengan demikian dimulai dalam sidang-sidang Saksi-Saksi Yehuwa di seputar dunia. Pada tahun itu juga, jumlah pemberita Kerajaan mencapai puncak sebesar 519.982 orang.

      Memenuhi Kebutuhan dari Ekspansi Sedunia

      Pada pertengahan tahun 1950-an, pengaturan lebih jauh dibuat untuk menampung pertumbuhan pesat dalam organisasi. Selama lebih dari satu dekade, N. H. Knorr telah mengadakan perjalanan ke seluruh dunia untuk memeriksa pekerjaan di kantor-kantor cabang. Perjalanan-perjalanan ini sangat membantu dalam memastikan adanya pengawasan yang patut atas pekerjaan di tiap-tiap negara dan untuk memperkuat persatuan sedunia dari Saksi-Saksi Yehuwa. Saudara Knorr memiliki kasih yang dalam terhadap para utusan injil dan mereka yang melayani di kantor-kantor cabang di seputar dunia. Ke mana pun ia pergi, ia menyediakan waktu untuk berbincang-bincang dengan mereka tentang problem-problem dan kebutuhan-kebutuhan mereka dan untuk menguatkan mereka dalam pelayanan mereka. Namun, pada tahun 1955, ada 77 kantor cabang dari Lembaga Menara Pengawal dan 1.814 utusan injil keluaran Sekolah Gilead yang melayani di 100 negeri yang berbeda. Karena menyadari bahwa ia tidak dapat menangani semuanya seorang diri, Saudara Knorr mengambil langkah untuk mengikutsertakan orang-orang lain dalam pekerjaan penting yakni mengunjungi kantor-kantor cabang dan rumah-rumah utusan injil.

      Pengaturan dibuat untuk membagi bumi ini ke dalam sepuluh zona, dengan setiap zona mencakup sejumlah kantor cabang Lembaga. Saudara-saudara yang memenuhi syarat dari kantor di Brooklyn dan pengawas-pengawas cabang yang berpengalaman diangkat menjadi hamba zona (sekarang dinamakan pengawas zona) dan dilatih untuk pekerjaan ini oleh Saudara Knorr. Pada tanggal 1 Januari 1956, orang pertama dari hamba-hamba zona ini meresmikan dinas baru ini yakni mengunjungi kantor-kantor cabang. Sampai tahun 1992, lebih dari 30 saudara, termasuk anggota Badan Pimpinan, melayani sebagai pengawas zona.

      Pendidikan dalam Kehendak Ilahi

      Pada musim panas tahun 1958, ancaman perang muncul di Timur Tengah. Walaupun adanya ketegangan dalam hubungan internasional, Saksi-Saksi Yehuwa bersiap-siap untuk berkumpul dalam suatu kebaktian internasional yang akan memajukan pendidikan mereka dalam kehendak ilahi. Ini juga akan terbukti menjadi kebaktian terbesar mereka yang pernah diadakan dalam sebuah kota.

      Suatu puncak sebanyak 253.922 delegasi dari 123 negara membanjiri Yankee Stadium dan Polo Grounds di New York City untuk Kebaktian Internasional Kehendak Ilahi, dari tanggal 27 Juli sampai 3 Agustus. ”Saksi-Saksi Yehuwa Terus Mengalir Memenuhi Stadion,” kata New York Daily News tanggal 26 Juli 1958. ”Delapan kereta api khusus, 500 bis carteran dan 18.000 mobil sewaan datang membawa para anggota, belum lagi dua kapal yang dicarter dan 65 pesawat yang dicarter.”

      Utusan-utusan injil keluaran Sekolah Gilead telah memberi tahu kantor pusat Lembaga mengenai tantangan yang mereka hadapi dalam hal mengajarkan kebenaran Alkitab kepada orang-orang yang tidak mengenal berbagai kepercayaan dan doktrin gereja-gereja dari Susunan Kristen. Seandainya mereka dapat memiliki sebuah publikasi yang dapat mengemukakan hanya ajaran-ajaran Alkitab yang benar, namun mudah dibaca dan dimengerti! Betapa gembiranya ke-145.488 delegasi yang hadir pada hari Kamis siang, tanggal 31 Juli, ketika Saudara Knorr mengumumkan diterbitkannya buku baru Dari Firdaus Hilang Sampai Firdaus Dipulihkan (bahasa Inggris).

      Saudara Knorr mendesak semua untuk menggunakan buku baru tersebut di dalam dinas pengabaran mereka. Ia juga mengemukakan, bahwa para orang-tua akan mendapatinya sangat membantu dalam mengajarkan kebenaran Alkitab kepada anak-anak mereka. Banyak orang-tua memperhatikan hal yang dikemukakan itu. Grace A. Estep, seorang guru sekolah yang dibesarkan di sebuah kota kecil dekat Pittsburgh, Pennsylvania, mengatakan, ”Seluruh generasi anak-anak telah bertumbuh dalam kebiasaan membuka-buka buku Firdaus, membawanya ke perhimpunan, melihatnya bersama teman-teman bermain mereka yang masih kecil, dan dapat menceritakan, jauh sebelum mereka dapat membaca, seluruh rangkaian cerita Alkitab hanya dari gambar-gambarnya.”

      Bahan yang berbobot untuk pelajar-pelajar Firman Allah yang sudah maju juga tersedia. Pada penutup khotbahnya yang membangkitkan semangat yaitu ”Biarlah Kehendak-Mu Terjadi”, Saudara Knorr menggetarkan hati hadirin ketika ia mengumumkan terbitnya sebuah buku baru berjudul ”Your Will Be Done on Earth” (Jadilah Kehendak-Mu di Bumi). Publikasi baru ini yang berisi penelitian yang lebih mendalam mengenai buku Daniel, mendidik pembacanya tentang bagaimana kehendak ilahi sudah terjadi dan sekarang sedang terjadi. ”Saudara-saudara pasti akan sangat menikmati buku ini!” kata sang pembicara. Dengan tepuk tangan yang bergemuruh, hadirin yang banyak sejumlah 175.441 orang mengungkapkan kegembiraan mereka karena menerima alat yang baru ini untuk memperdalam penghargaan mereka akan kehendak ilahi!

      Dalam kata-kata penutupnya, Saudara Knorr mengumumkan program-program pendidikan khusus lebih lanjut yang akan membawa manfaat bagi organisasi sedunia. ”Pekerjaan pendidikan tidak surut,” seru Knorr, ”sebaliknya pekerjaan ini sedang bergerak maju.” Ia menguraikan rencana-rencana untuk menyediakan kursus pelatihan selama sepuluh bulan di Brooklyn untuk para pengawas dari kantor-kantor cabang Lembaga di seluruh dunia. Selain itu, di banyak negara di seluruh dunia, akan ada kursus-kursus pelatihan selama satu bulan untuk para pengawas keliling dan mereka yang mengawasi di sidang-sidang. Untuk apa semua pendidikan ini? ”Kita ingin naik ke tingkat pengertian yang lebih tinggi,” katanya menjelaskan, ”sehingga kita dapat menyelami pikiran Yehuwa lebih dalam sebagaimana telah Ia ungkapkan dalam Firman-Nya.”

      Segera dilakukan persiapan untuk kursus pengajaran dari program-program pelatihan ini. Tujuh bulan kemudian, pada tanggal 9 Maret 1959, kelas pertama dari sebuah sekolah yang baru, Sekolah Pelayanan Kerajaan, mulai di South Lansing, New York, tempat Sekolah Gilead berada. Apa yang dimulai di sana segera mencapai seluruh dunia seraya sekolah baru ini digunakan untuk melatih mereka yang mempunyai tugas mengawasi di sidang-sidang.

      Dibentengi untuk ’Berdiri dengan Teguh dalam Iman’

      Selama tahun 1960-an, masyarakat manusia ditelan oleh gelombang pasang perubahan-perubahan dalam bidang agama dan sosial. Para pemimpin agama mencap bagian-bagian Alkitab sebagai mitos atau ketinggalan zaman. Ideologi ”Allah sudah mati” menjadi bertambah populer. Masyarakat manusia makin hari makin tenggelam dalam kekacauan perbuatan-perbuatan seksual yang amoral. Melalui majalah The Watchtower dan publikasi-publikasi lain, serta acara-acara kebaktian, umat Yehuwa dibentengi untuk ’berdiri dengan teguh dalam iman’ selama dekade yang bergolak tersebut.—1 Kor. 16:13.

      Pada suatu rangkaian kebaktian yang diadakan di seputar dunia pada tahun 1963, khotbah ”Buku ’Kabar Baik yang Kekal’ Bermanfaat” membela Alkitab terhadap serangan gencar para pengritik. ”Para pengritik Alkitab tidak perlu menunjukkan bahwa manusia biasa yang menulis buku ini,” demikian dijelaskan oleh sang pembicara. ”Alkitab sendiri dengan jujur memberitahukan kita mengenai fakta tersebut. Namun, yang membuat buku ini berbeda dari buku lain mana pun yang ditulis oleh manusia adalah bahwa Alkitab ’diilhamkan Allah’.” (2 Tim. 3:16, 17) Khotbah yang berapi-api ini mengantar kepada diperkenalkannya buku ”Segenap Alkitab Diilhamkan Allah dan Bermanfaat”. Publikasi baru ini mencakup pembahasan mengenai setiap buku dalam Alkitab, memberikan latar belakang buku tersebut, seperti siapa yang menulisnya, kapan dan di mana buku itu ditulis, dan bukti-bukti autentisitasnya. Kemudian ada ringkasan dari buku Alkitab itu, disusul oleh bagian yang diberi judul ”Mengapa Bermanfaat”, yang memperlihatkan bagaimana buku Alkitab yang khusus ini sangat berharga bagi pembacanya. Sebagai alat bantu yang berharga untuk kesinambungan pendidikan Alkitab dari Saksi-Saksi Yehuwa, publikasi ini masih digunakan sebagai buku pedoman dalam Sekolah Pelayanan Teokratis selama kira-kira 30 tahun sejak buku itu diperkenalkan!g

      Saksi-Saksi Yehuwa bukannya tidak terpengaruh oleh revolusi seksual pada tahun 1960-an. Pada kenyataannya, beberapa ribu orang—suatu persentase kecil dari jumlah total mereka—harus dipecat setiap tahun, kebanyakan karena perbuatan seksual yang amoral. Maka, dengan alasan yang baik, umat Yehuwa diberi nasihat langsung pada serangkaian pesta distrik yang diadakan pada tahun 1964. Lyle Reusch, seorang pengawas keliling yang berasal dari Saskatchewan, Kanada, mengenang khotbah ”Menjaga Organisasi dari Pelayan-Pelayan untuk Umum Agar Tetap Murni, Suci”. Reusch mengatakan, ”Kata-kata yang terus terang dan langsung mengenai moral ditegaskan secara jelas dalam khotbah.”

      Isi khotbah itu dimuat dalam The Watchtower 15 November 1964. Antara lain, dinyatakan, ”Hai saudari-saudari, janganlah membuat dirimu seperti handuk kotor yang digunakan untuk umum, tersedia bagi tangan-tangan kotor dari setiap lelaki hidung belang, setiap ’anjing’ simbolik.”—Bandingkan Wahyu 22:15.

      Nasihat yang terus terang demikian dirancang guna membantu Saksi-Saksi Yehuwa sebagai suatu umat untuk memelihara kondisi moral tetap bersih, layak untuk terus mengumumkan berita Kerajaan.—Bandingkan Roma 2:21-23.

      ”Katakan, Apa yang Dimaksud dengan Tahun 1975 Ini?”

      Saksi-Saksi telah lama mempercayai bahwa Pemerintahan Seribu Tahun Kristus akan terjadi setelah 6.000 tahun sejarah manusia. Akan tetapi, kapankah 6.000 tahun keberadaan manusia akan berakhir? Buku Life Everlasting—In Freedom of the Sons of God (Hidup Selama-lamanya—Dalam Kemerdekaan Putra-Putra Allah), yang diperkenalkan pada suatu rangkaian pesta distrik yang diadakan pada tahun 1966, menunjuk kepada tahun 1975. Pada kebaktian itu juga, seraya saudara-saudara memeriksa isinya, buku baru itu mencetuskan banyak pembahasan mengenai tahun 1975.

      Pada kebaktian yang diadakan di Baltimore, Maryland, F. W. Franz menyampaikan khotbah penutup. Ia memulainya dengan mengatakan, ”Tatkala saya bersiap-siap naik panggung, seorang muda menghampiri saya dan berkata, ’Katakan, apa yang dimaksud dengan tahun 1975 ini?’” Saudara Franz kemudian menyinggung mengenai banyak pertanyaan yang muncul tentang apakah keterangan dalam buku baru itu memaksudkan bahwa pada tahun 1975, Armagedon akan sudah selesai, dan Setan akan diikat. Secara singkat, ia menyatakan, ’Bisa saja. Namun kami tidak mengatakannya. Segala sesuatu mungkin bagi Allah. Namun kami tidak mengatakannya. Dan janganlah ada seorang pun di antara saudara secara spesifik mengatakan apa pun yang akan terjadi mulai dari sekarang hingga tahun 1975. Tetapi, pokok penting dari semua ini ialah, teman-teman yang kami kasihi: Waktu sudah singkat. Waktu hampir habis, itu sudah pasti.’

      Pada tahun-tahun sesudah tahun 1966, banyak dari Saksi-Saksi Yehuwa bertindak selaras dengan semangat dari nasihat itu. Akan tetapi, pernyataan-pernyataan lain mengenai pokok ini diterbitkan, dan beberapa pernyataan mungkin lebih tegas daripada menasihati. Hal ini diakui pada terbitan Menara Pengawal No. 39 (halaman 7) (15 Maret 1980, dalam bahasa Inggris). Tetapi Saksi-Saksi Yehuwa juga dinasihati agar berkonsentrasi terutama pada hal melakukan kehendak Yehuwa dan jangan terpengaruh oleh tanggal-tanggal dan penantian akan keselamatan yang lebih dini.h

      Sebuah Alat Bantu untuk Mempercepat Pekerjaan

      Menjelang akhir tahun 1960-an, Saksi-Saksi Yehuwa memberitakan kabar baik dengan perasaan menanti dan mendesak. Selama tahun 1968 jumlah penyiar Kerajaan telah meningkat menjadi 1.221.504 di 203 negeri. Akan tetapi, tidak jarang beberapa orang belajar Alkitab selama bertahun-tahun tanpa bertindak selaras dengan pengetahuan yang mereka dapatkan. Adakah cara untuk mempercepat pekerjaan menjadikan murid ini?

      Jawabannya muncul pada tahun 1968 dengan diterbitkannya alat bantu yang baru untuk pengajaran Alkitab, Kebenaran yang Membimbing Kepada Hidup yang Kekal (bahasa Inggris). Buku berukuran saku dengan 192 halaman ini dipersiapkan khusus untuk orang-orang yang baru berminat. Buku ini memuat 22 pasal yang mengasyikkan yang membahas pokok-pokok seperti ”Mengapa Adalah Bijaksana untuk Memeriksa Agama Saudara”, ”Mengapa Kita Menjadi Tua dan Mati”, ”Di Manakah Orang-Orang Mati”, ”Mengapa Allah Telah Membiarkan Kejahatan Sampai Zaman Kita?” ”Bagaimana Caranya Mengenali Agama yang Benar”, dan ”Membangun Kehidupan Keluarga yang Bahagia”. Buku Kebenaran dirancang untuk menganjurkan pelajar Alkitab agar mempertimbangkan bahan yang dibahas dan menerapkannya dalam kehidupannya sendiri.

      Publikasi baru ini akan digunakan sehubungan dengan program pengajaran Alkitab selama enam bulan. Terbitan Pelayanan Kerajaan (bahasa Inggris) bulan September 1968 menjelaskan cara berlangsungnya program baru ini, ”Ada baiknya untuk mencoba mempelajari seluruh pasal dari buku ’Kebenaran’ ini setiap minggu, walaupun ini tidak selalu mungkin bagi setiap penghuni rumah atau dengan semua pasal dalam buku ini. . . . Jika, pada akhir enam bulan telah dilakukan pengajaran intensif dan upaya yang sungguh-sungguh untuk mengajak mereka ke perhimpunan, namun mereka belum juga bergabung dengan sidang, maka lebih baik menggunakan waktu saudara untuk belajar bersama orang lain yang benar-benar ingin belajar mengenai kebenaran dan membuat kemajuan. Bercita-citalah untuk mempersembahkan kabar baik pada pengajaran Alkitab dengan sedemikian rupa sehingga para peminat akan bertindak dalam waktu enam bulan!”

      Sungguh, mereka bertindak! Dalam waktu singkat, program pengajaran Alkitab enam bulan ini mengalami sukses yang mencengangkan. Selama tiga tahun dinas yang dimulai pada tanggal 1 September 1968, dan berakhir tanggal 31 Agustus 1971, sejumlah 434.906 orang dibaptis—lebih dari dua kali lipat jumlah yang dibaptis selama tiga tahun dinas sebelumnya! Karena datang tepat pada waktunya ketika terdapat perasaan menanti dan mendesak di antara Saksi-Saksi Yehuwa, buku Kebenaran dan kampanye pengajaran Alkitab enam bulan sangat membantu untuk mempercepat pekerjaan menjadikan murid.—Mat. 28:19, 20.

      ”Ini Pasti Berhasil; Ini Berasal dari Yehuwa”

      Selama bertahun-tahun, sidang dari Saksi-Saksi Yehuwa diorganisasi sedemikian rupa sehingga ada satu orang pria yang memenuhi syarat secara rohani yang diangkat oleh Lembaga sebagai hamba sidang, atau ”penilik” [”pengawas”, NW], dan dibantu oleh ”diaken” (”hamba-hamba”, NW) lain yang diangkat.i (1 Tim. 3:1-10, 12, 13) Pria-pria ini dimaksudkan untuk melayani kawanan, bukan memerintah atas mereka. (1 Ptr. 5:1-4) Namun dapatkah sidang-sidang menyesuaikan diri lebih saksama lagi dengan struktur sidang-sidang Kristen abad pertama?

      Pada tahun 1971, dalam rangkaian kebaktian yang diadakan di seluruh dunia, khotbah ”Organisasi Teokratis di Tengah-Tengah Paham Demokrasi dan Komunis” dipersembahkan. Pada tanggal 2 Juli, F. W. Franz menyampaikan khotbah ini di Yankee Stadium di New York City. Dalam khotbah tersebut ia menunjukkan bahwa sidang-sidang abad pertama memiliki lebih dari satu orang pengawas jika sidang tersebut memiliki cukup banyak pria yang memenuhi syarat. (Flp. 1:1) ”Kelompok para pengawas sidang itu,” ulasnya, ”akan membentuk suatu ’sidang [”badan”, NW] penatua’. . . Para anggota dari ’badan [atau, kelompok] penatua’ demikian semuanya sama, memiliki status resmi yang sama, dan tidak ada di antara mereka yang adalah anggota yang lebih penting, lebih menonjol, lebih berkuasa di dalam sidang.” (1 Tim. 4:14) Khotbah itu benar-benar menggerakkan hati semua yang hadir. Keterangan ini mendatangkan pengaruh apa atas sidang-sidang dari Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia?

      Jawabannya didapat dua hari kemudian pada khotbah penutup yang disampaikan oleh N. H. Knorr. Mulai 1 Oktober 1972, penyesuaian dalam pengawasan sidang-sidang di seluruh dunia akan diberlakukan. Tidak akan ada lagi hanya satu orang hamba sidang, atau pengawas. Namun, selama beberapa bulan sebelum tanggal 1 Oktober 1972, pria-pria matang dewasa dan bertanggung jawab dalam setiap sidang mengusulkan kepada Lembaga nama-nama mereka yang akan dilantik untuk melayani sebagai suatu badan penatua (dan nama-nama mereka yang akan melayani sebagai pelayan sidang). Seorang penatua akan ditunjuk sebagai ketua,j tetapi semua penatua mempunyai wewenang yang sama dan ikut bertanggung jawab untuk membuat keputusan. ”Penyesuaian-penyesuaian organisasi ini,” ulas Saudara Knorr, ”akan membantu agar penyelenggaraan sidang lebih selaras dengan Firman Allah, dan pasti hal itu akan menghasilkan lebih banyak berkat dari Yehuwa.”

      Bagaimana keterangan tentang penyesuaian dalam organisasi ini ditanggapi oleh para delegasi yang berkumpul? Seorang pengawas keliling tergerak untuk mengatakan, ”Ini pasti berhasil; ini berasal dari Yehuwa.” Seorang Saksi lain yang sudah banyak pengalaman menambahkan, ”Hal itu akan menjadi dorongan bagi semua pria yang matang untuk memikul tanggung jawab.” Memang benar, sebanyak mungkin pria yang memenuhi syarat kini dapat ’berupaya meraih’ dan dilantik kepada ”jabatan pengawas”. (1 Tim. 3:1, NW) Maka, lebih banyak saudara dapat memperoleh pengalaman yang berharga dalam memikul tanggung jawab sidang. Walaupun mereka tidak menyadari hal ini pada mulanya, mereka semua akan dibutuhkan untuk menggembalakan orang-orang baru yang berduyun-duyun masuk selama tahun-tahun mendatang.

      Bahan-bahan yang dipersembahkan pada kebaktian itu juga menghasilkan beberapa hal yang diperjelas dan penyesuaian yang menyangkut Badan Pimpinan. Pada tanggal 6 September 1971, diputuskan bahwa kedudukan sebagai ketua Badan Pimpinan akan digilir di antara anggota-anggotanya menurut abjad. Beberapa minggu kemudian, pada tanggal 1 Oktober 1971, F. W. Franz menjadi ketua Badan Pimpinan selama satu tahun.

      Pada tahun berikutnya, pada bulan September 1972, pertukaran pertama dari berbagai tanggung jawab dalam sidang-sidang dimulai, dan menjelang 1 Oktober, pertukaran di hampir semua sidang telah selesai. Selama tiga tahun berikutnya, Saksi-Saksi Yehuwa mengalami pertumbuhan yang mengesankan—lebih dari tiga perempat juta orang dibaptis. Akan tetapi sekarang mereka menghadapi musim semi tahun 1975. Jika semua penantian sehubungan tahun 1975 tidak akan terjadi, bagaimana pengaruhnya atas semangat mereka untuk kegiatan pengabaran seluas dunia serta persatuan sedunia mereka?

      Dan juga, selama beberapa dekade, Nathan H. Knorr, seorang dengan kepribadian yang dinamis dan bakat yang luar biasa sebagai organisator, telah memainkan peranan kunci untuk memajukan pendidikan dalam organisasi dan mengupayakan agar Alkitab sampai ke tangan orang-orang dan membantu mereka untuk memahaminya. Bagaimana perubahan kepada pengawasan yang lebih ketat oleh Badan Pimpinan akan mempengaruhi tujuan-tujuan ini?

      [Catatan Kaki]

      a The Watchtower, 1 Februari 1942, hlm. 45; Consolation (Penghiburan), 4 Februari 1942, hlm. 17.

      b Pada bulan September 1945, Saudara Covington dengan rendah hati mengundurkan diri sebagai wakil presiden dari the Watch Tower Bible and Tract Society (of Pennsylvania), dan menjelaskan bahwa ia ingin mengikuti kehendak Yehuwa yang pada saat itu dimengerti oleh semua anggota direktorat dan pengurus—agar mereka hendaknya orang Kristen yang diurapi roh, sedangkan ia mengaku salah seorang dari ”domba-domba lain”. Pada tanggal 1 Oktober, Lyman A. Swingle terpilih menjadi anggota dewan komisaris, dan pada tanggal 5 Oktober, Frederick W. Franz dipilih menjadi wakil presiden. (Lihat Yearbook of Jehovah’s Witnesses tahun 1946, hlm. 221-4; The Watchtower, 1 November 1945, hlm. 335-6.)

      c Lihat Pasal 30, ”Membela dan Secara Hukum Meneguhkan Kabar Baik”.

      d Laporan terinci mengenai perjalanan itu dimuat dalam The Watchtower selama tahun 1946.—Lihat halaman 14-16, 28-31, 45-8; 60-4; 92-5; 110-12; 141-4.

      e Dalam beberapa tahun, alat bantu pengajaran Alkitab ini menjadi terkenal di seluruh dunia. Ketika direvisi tanggal 1 April 1952, lebih dari 19.000.000 eksemplar dicetak dalam 54 bahasa.

      f Lihat halaman 140-4, 171-6, 189-92, 205-8, 219-23, 236-40, 251-6, 267-72, 302-4, 315-20, 333-6, 363-8.

      g Buku ”Segenap Alkitab Diilhamkan Allah dan Bermanfaat” diperbarui pada tahun 1990.

      h Sebagai contoh, berikut ini adalah artikel-artikel yang diterbitkan dalam The Watchtower: ”Pergunakanlah Dengan Baik Waktu yang Masih Tersisa” (1 Mei 1968); ”Melayani Dengan Tujuan Kekekalan” (15 Juni 1974); ”Mengapa Kita Tidak Diberi Tahu Tentang ’Hari dan Saat Itu’” dan ”Bagaimana Saudara Dipengaruhi Dengan Tidak Mengetahui Tentang ’Hari dan Saat itu’?” (1 Mei 1975). Sebelumnya, pada tahun 1963, buku ”Segenap Alkitab Diilhamkan Allah dan Bermanfaat” (bahasa Inggris) telah menyatakan, ”Tidak ada gunanya memakai kronologi Alkitab untuk berspekulasi mengenai tanggal-tanggal yang masih di masa depan dalam arus waktu.—Mat. 24:36.”

      i Lihat Pasal 15, ”Perkembangan dalam Struktur Organisasi”.

      j Pembicara juga menjelaskan bahwa mulai tanggal 1 Oktober 1972 setiap tahun, akan ada pertukaran kedudukan ketua dalam badan penatua sidang. Pengaturan ini disesuaikan pada tahun 1983, ketika setiap badan penatua diminta untuk merekomendasikan seorang pengawas umum yang, setelah diangkat oleh Lembaga, akan melayani sebagai ketua badan penatua untuk suatu jangka waktu yang tidak ditentukan.

      [Blurb di hlm. 92]

      Mengabar walaupun adanya penangkapan dan aksi gerombolan

      [Blurb di hlm. 94]

      ’Ekspansi sedunia dan pendidikan dalam skala yang sebelumnya tidak pernah dialami’

      [Blurb di hlm. 103]

      Membela Alkitab terhadap serangan gencar para pengritik

      [Blurb di hlm. 104]

      ’Pokok penting dari semua ini ialah, teman-teman yang kami kasihi: Waktu sudah singkat’

      [Blurb di hlm. 106]

      ”Dorongan bagi semua pria yang matang untuk memikul tanggung jawab”

      [Kotak di hlm. 91]

      Latar Belakang N. H. Knorr

      Nathan Homer Knorr dilahirkan di Betlehem, Pennsylvania, AS, pada tanggal 23 April 1905. Ketika berusia 16 tahun, ia bergabung dengan Sidang Siswa-Siswa Alkitab di Allentown. Pada tahun 1922 ia menghadiri kebaktian di Cedar Point, Ohio, dan di sana ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari keanggotaan Gereja Reformasi. Pada tahun berikutnya, tanggal 4 Juli 1923, setelah Frederick W. Franz, dari Betel Brooklyn, menyampaikan khotbah pembaptisan, Nathan yang berusia 18 tahun adalah seorang di antara mereka yang dibaptis di Sungai Little Lehigh, di Pennsylvania Timur. Pada tanggal 6 September 1923, Saudara Knorr menjadi anggota keluarga Betel di Brooklyn.

      Saudara Knorr mengerahkan diri dengan sungguh-sungguh di Departemen Pengiriman, dan tidak lama kemudian kemampuan alamiahnya dalam hal mengorganisasi diketahui. Ketika manajer percetakan Lembaga, Robert J. Martin, meninggal pada tanggal 23 September 1932, Saudara Knorr diangkat untuk menggantikannya. Pada tanggal 11 Januari 1934, Saudara Knorr dipilih menjadi direktur dari Peoples Pulpit Association (sekarang Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.), dan pada tahun berikutnya, ia menjadi wakil presiden dari Lembaga ini. Pada tanggal 10 Juni 1940, ia menjadi wakil presiden dari Watch Tower Bible and Tract Society (badan hukum di Pennsylvania). Pengangkatannya menjadi presiden dari dua lembaga ini dan badan hukum di Inggris, yaitu International Bible Students Association, terjadi pada bulan Januari 1942.

      Selama tahun-tahun selanjutnya, salah seorang yang menjadi rekan terdekat dan penasihat yang tepercaya dari Saudara Knorr adalah Frederick W. Franz, seorang yang lebih tua daripadanya dan seorang yang pengetahuannya tentang bahasa dan yang latar belakangnya sebagai sarjana Alkitab, telah terbukti sangat berharga bagi organisasi.

      [Kotak di hlm. 93]

      Pandangan ke Depan yang Menganjurkan

      Para anggota delegasi Kebaktian Teokratis Dunia Baru di Cleveland, Ohio, pada bulan September 1942, merasa gembira sekali ketika sekretaris bendahara Lembaga yang sudah lanjut usia, W. E. Van Amburgh, mengucapkan khotbah di kebaktian ini. Saudara Van Amburgh mengingat kembali bahwa kebaktian pertama yang ia hadiri adalah di Chicago pada tahun 1900, dan itu adalah kebaktian yang ”besar”—ada kira-kira 250 orang yang hadir. Setelah menyebutkan kebaktian-kebaktian ”besar” lainnya pada tahun-tahun kemudian, ia menutup dengan pandangan ke depan yang menganjurkan ini, ”Kebaktian inik tampak besar bagi kita sekarang, namun karena kebaktian ini besar jika dibandingkan dengan kebaktian-kebaktian yang pernah saya hadiri di masa lalu, maka saya mengantisipasi bahwa kebaktian ini akan sangat kecil jika dibandingkan dengan kebaktian-kebaktian yang masih akan diadakan di masa depan pada waktu Tuhan mulai mengumpulkan umat-Nya dari seluruh penjuru bumi.”

      [Catatan Kaki]

      k Ada puncak hadirin 26.000 orang di Cleveland, dengan total hadirin sebanyak 129.699 orang untuk 52 kebaktian di kota-kota yang tersebar di seluruh Amerika Serikat.

      [Kotak/Peta di hlm. 96]

      Tur Pelayanan N. H. Knorr, 1945-56

      1945-46: Amerika Tengah, Amerika Selatan, Amerika Utara, Eropa, Kepulauan Karibia

      1947-48: Amerika Utara, Kepulauan Pasifik, Negeri-Negeri Timur, Timur Tengah, Eropa, Afrika

      1949-50: Amerika Utara, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Kepulauan Karibia

      1951-52: Amerika Utara, Kepulauan Pasifik, Negeri-Negeri Timur, Eropa, Timur Tengah, Afrika

      1953-54: Amerika Selatan, Kepulauan Karibia, Amerika Utara, Amerika Tengah

      1955-56: Eropa, Kepulauan Pasifik, Negeri-Negeri Timur, Amerika Utara, Timur Tengah, Afrika Utara

      [Peta]

      (lihat publikasinya)

      [Kotak di hlm. 105]

      ”Pada Hari Ini, Saya Mulai Berpikir Kembali”

      Sejak diterbitkan pada tahun 1968, buku ”Kebenaran yang Membimbing Kepada Hidup yang Kekal” digunakan secara luas oleh Saksi-Saksi Yehuwa dalam pengajaran Alkitab bersama orang-orang yang berminat. Persediaan yang tepat waktu ini membantu ratusan ribu orang yang suka berpikir untuk mendapatkan pengetahuan yang saksama mengenai Kitab Suci. Sepucuk surat penghargaan yang diterima pada tahun 1973 dari seorang pembaca di Amerika Serikat mengatakan, ”Seorang wanita yang sangat ramah datang ke rumah saya hari ini dan memberikan buku yang berjudul ’Kebenaran yang Membimbing kepada Hidup yang Kekal’ kepada saya. Saya baru saja membacanya sampai habis. Untuk pertama kali dalam hidup saya, saya membaca sebuah buku setebal 190 halaman dalam satu hari. Pada tanggal 29 Juni 1967, saya sudah tidak percaya akan Allah. Pada hari ini saya mulai berpikir kembali.”

      [Gambar di hlm. 95]

      Sekolah Gilead di South Lansing, New York

      [Gambar di hlm. 97]

      Saudara Knorr, diperlihatkan di sini sedang mengunjungi Kuba, telah mengadakan perjalanan keliling dunia beberapa kali

      [Gambar di hlm. 98]

      Saudara Knorr merasa bahwa setiap Saksi harus dapat mengabar dari rumah ke rumah

      Inggris

      Lebanon

      [Gambar di hlm. 99]

      Sebagai presiden Lembaga, Saudara Knorr bekerja erat bersama Saudara Franz selama lebih dari 35 tahun

      [Gambar di hlm. 100]

      Dewan direksi dari Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania, pada pertengahan tahun 1950-an. (Dari kiri ke kanan) Lyman A. Swingle, Thomas J. Sullivan, Grant Suiter, Hugo H. Riemer, Nathan H. Knorr, Frederick W. Franz, Milton G. Henschel

      [Gambar di hlm. 102]

      Pada tahun 1958, delegasi-delegasi dari 123 negeri berkumpul di Yankee Stadium untuk Kebaktian Internasional Kehendak Ilahi

      [Gambar di hlm. 107]

      Publikasi-publikasi untuk melatih Saksi-Saksi Yehuwa dalam pelayanan

      [Gambar di hlm. 107]

      Beberapa publikasi yang digunakan dalam dinas pengabaran

      [Gambar di hlm. 107]

      Buku-buku yang menyediakan makanan keras untuk memperkuat kerohanian umat Yehuwa

      [Gambar di hlm. 107]

      Alat-alat bantu riset dan pengajaran

  • Firman Yehuwa Tetap Bergerak dengan Cepat (1976-1992)
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 9

      Firman Yehuwa Tetap Bergerak dengan Cepat (1976-1992)

      ”Akhirnya, saudara-saudara, teruslah berdoa bagi kami, agar firman Yehuwa dapat tetap bergerak dengan cepat [atau, ’dapat berlari’] dan dimuliakan sebagaimana kenyataannya dengan kamu.”—2 Tes. 3:1, ”NW”.

      DENGAN kata-kata tersebut, rasul Paulus meminta rekan-rekan seimannya di Tesalonika untuk berdoa agar ia dan mereka yang menyertainya berhasil dalam memberitakan firman Yehuwa tanpa hambatan. Yehuwa menjawab doa tersebut. Namun, ini tidak berarti bahwa sang rasul tidak menghadapi problem-problem. Ia menghadapi tentangan yang hebat dari dunia dan harus berurusan dengan saudara-saudara palsu yang berlaku licik. (2 Kor. 11:23-27; Gal. 2:4, 5) Akan tetapi, walaupun demikian, kira-kira sepuluh tahun kemudian, Paulus dapat menulis bahwa sebagai hasil dari berkat Allah, kabar baik itu ”berbuah dan berkembang di seluruh dunia”.—Kol. 1:6.

      Dengan cara yang serupa dewasa ini—namun dalam skala yang tidak pernah terjadi sebelumnya—kabar baik menghasilkan buah. Ada lebih banyak orang telah dicapai dengan kabar baik dan berpaut padanya dibanding waktu mana pun di masa lalu. Penggenapan dari apa yang Firman Allah nubuatkan sedang bergerak dengan cepat, bagaikan seorang pelari dalam perlombaan.—Yes. 60:22.

      Penyesuaian Organisasi

      Sampai tahun 1976, Saudara Knorr telah bekerja dengan rajin sebagai presiden Lembaga Menara Pengawal selama lebih dari tiga dekade. Ia telah keliling dunia beberapa kali, mengunjungi dan menguatkan para utusan injil, mengajar dan memberi petunjuk kepada para pekerja di kantor-kantor cabang. Ia mendapat hak istimewa untuk melihat jumlah Saksi-Saksi yang aktif meningkat dari 117.209 tahun 1942 menjadi 2.248.390 tahun 1976.

      Akan tetapi, pada musim panas tahun 1976, N. H. Knorr yang waktu itu berusia 71 tahun, memperhatikan bahwa ia cenderung menabrak sesuatu. Berbagai tes yang diadakan setelah itu menunjukkan bahwa ia menderita tumor otak yang tidak dapat dioperasi. Ia berupaya untuk terus bekerja selama beberapa bulan, tetapi prognosis (ramalan tentang jalannya penyakit) fisiknya sangat buruk. Apakah kesehatannya yang melemah akan menghalangi gerak maju pekerjaan ini?

      Penambahan anggota Badan Pimpinan telah dimulai sejak tahun 1971. Pada tahun 1975, ada 17 anggotanya. Sebagian besar dari tahun tersebut, Badan Pimpinan telah mempertimbangkan dengan serius dan disertai doa tentang bagaimana mereka dapat mengurus sebaik-baiknya semua yang tercakup dalam pekerjaan pengabaran dan pengajaran seluas dunia yang diuraikan dalam Firman Allah untuk zaman kita. (Mat. 28:19, 20) Pada tanggal 4 Desember 1975, Badan Pimpinan dengan suara bulat menyetujui salah satu penyesuaian secara organisasi yang paling penting dalam sejarah Saksi-Saksi Yehuwa zaman modern.

      Mulai tanggal 1 Januari 1976, seluruh kegiatan Lembaga Menara Pengawal dan sidang-sidang dari Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia diawasi oleh enam panitia administratif dari Badan Pimpinan. Sejalan dengan penyelenggaraan itu, pada tanggal 1 Februari 1976, perubahan diberlakukan di semua kantor cabang Lembaga di seputar bumi. Setiap cabang tidak lagi diawasi oleh satu orang pengawas cabang, tetapi oleh tiga atau lebih pria matang yang melayani sebagai Panitia Cabang, dengan salah seorang anggotanya melayani sebagai koordinator permanen.a Setelah panitia-panitia ini bekerja selama beberapa bulan, Badan Pimpinan mengamati, ”Telah terbukti bermanfaat jika ada sejumlah saudara yang berunding untuk memikirkan kepentingan pekerjaan Kerajaan.—Ams. 11:14; 15:22; 24:6.”

      Pada musim gugur tahun 1976, walaupun prognosis fisiknya tetap buruk, Saudara Knorr ikut serta memberikan petunjuk pada pertemuan-pertemuan yang diadakan di kantor pusat dengan para anggota Panitia Cabang dan staf cabang lainnya dari seluruh dunia. Selain ikut serta dalam pertemuan-pertemuan selama siang hari, Saudara Knorr juga mengundang saudara-saudara itu, dalam kelompok-kelompok kecil, ke kamarnya pada sore dan malam hari. Dengan cara ini, ia dan istrinya, Audrey, membina pergaulan yang akrab dengan orang-orang yang telah mengenal dan mengasihinya dan yang telah bergaul begitu akrab dengannya selama bertahun-tahun. Setelah pertemuan-pertemuan ini, kesehatan Saudara Knorr terus memburuk sampai ia meninggal pada tanggal 8 Juni 1977.

      Pada tanggal 22 Juni 1977, dua minggu setelah Saudara Knorr meninggal, Frederick W. Franz yang berusia 83 tahun dipilih menjadi presiden Lembaga Menara Pengawal. Mengenai Saudara Franz, The Watchtower 1 Agustus 1977, menyatakan, ”Reputasinya yang luar biasa sebagai sarjana Alkitab yang ulung dan upayanya yang tanpa lelah demi kepentingan Kerajaan telah memenangkan kepercayaan dan dukungan loyal dari Saksi-Saksi Yehuwa di mana-mana.”

      Menjelang masa transisi ini, penyelenggaraan baru dalam bidang organisasi sudah dijalankan yang memastikan gerak majunya pekerjaan.

      Memenuhi Kebutuhan Rohani dengan Bacaan Alkitab

      Saksi-Saksi Yehuwa telah memperoleh makanan rohani yang baik sebelum tahun 1976. Akan tetapi, suatu pengamatan mengenai apa yang terjadi sesudah itu di bawah bimbingan Badan Pimpinan dan Panitia Penulisannya, menyingkapkan bahwa air kebenaran telah mengalir dalam kuantitas yang lebih besar dan dalam bentuk-bentuk yang lebih bervariasi.

      Banyak publikasi yang dihasilkan memenuhi kebutuhan spesifik Saksi-Saksi itu sendiri. Perhatian khusus ditujukan kepada para remaja. Untuk membantu mereka menerapkan prinsip-prinsip Alkitab pada situasi-situasi yang mereka hadapi dalam kehidupan, buku Masa Remaja—Manfaatkanlah Sebaik-baiknya (bahasa Inggris) diterbitkan pada tahun 1976, dan buku Pertanyaan Kaum Muda—Jawaban yang Praktis, pada tahun 1989. Publikasi bergambar Buku Cerita Alkitab, yang dipersiapkan khusus bagi anak-anak, diperkenalkan pada tahun 1978. Pada tahun yang sama, nasihat dan bimbingan praktis untuk menguatkan keluarga-keluarga dikemukakan dalam buku Membina Keluarga Bahagia.

      Dari waktu ke waktu, kebutuhan spesifik umat Yehuwa dipenuhi melalui nasihat yang tepat waktu dalam halaman-halaman majalah The Watchtower. Sebagai contoh, laporan kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa sedunia untuk tahun dinas 1977/78 memperlihatkan penurunan dalam jumlah orang yang ikut serta dalam pekerjaan pengabaran. Apakah penurunan ini paling tidak disebabkan karena kecewa akan penantian sehubungan tahun 1975? Mungkin. Namun ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi. Apa yang harus dilakukan?

      Badan Pimpinan mengambil langkah-langkah guna menguatkan keyakinan Saksi-Saksi Yehuwa bahwa masih ada kebutuhan untuk terus bersemangat memberitakan Kerajaan dari rumah ke rumah. The Watchtower 15 Juli 1979, memuat artikel ”Gairah untuk Rumah Yehuwa” dan ”Mengabar Dalam Dunia yang Jahat” (wIN No. 31), ”Mereka Mengabar dari Rumah ke Rumah”, dan ”Apa yang Orang-Orang Lain Katakan Tentang Kesaksian dari Rumah ke Rumah”. Artikel-artikel ini dan artikel lain meyakinkan lagi bahwa pengabaran dari rumah ke rumah memiliki dasar Alkitab yang kuat dan mendesak agar dengan bersemangat dan sepenuh jiwa berpartisipasi dalam kegiatan penting ini.b—Kis. 20:20, NW; Kol. 3:23.

      Situasi lain juga memerlukan perhatian. Pada tahun 1980, sejumlah orang yang telah ikut serta dalam kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa selama bertahun-tahun, termasuk beberapa yang melayani dalam kedudukan penting dalam organisasi, telah berupaya dengan berbagai cara untuk memecah-belah dan menentang pekerjaan yang sedang dilakukan oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Untuk membentengi umat Yehuwa dari pengaruh yang menyesatkan itu, Menara Pengawal memuat artikel-artikel seperti ”Tetaplah Dalam ’Iman yang Teguh’” (wIN No. 36 atau 1 Agustus 1980 dalam bahasa Inggris), ”Dengan Diam-Diam Memasukkan Sekte-Sekte yang Merusak” (15 September 1983, dalam bahasa Inggris), dan ”Menolak Kemurtadan, Berpaut Pada Kebenaran!” (wIN No. 62 atau w 1 April 1983), sementara buku ”Datanglah Kerajaanmu” (1981) menekankan kenyataan bahwa Kerajaan sudah di ambang pintu dan telah berdiri di surga pada tahun 1914. Badan Pimpinan tidak membiarkan upaya para penentang menyimpangkan mereka dari tujuan utama Saksi-Saksi Yehuwa—memberitakan Kerajaan Allah!

      Akan tetapi, bagaimana dengan kebutuhan Saksi-Saksi Yehuwa untuk terus memperluas pengetahuan mereka akan kebenaran Alkitab? Untuk penelitian Alkitab yang mendalam, pada tahun 1984, suatu edisi revisi dari New World Translation dengan referensi diterbitkan (dalam bahasa Inggris), berisi referensi pinggir, catatan kaki, dan bahan apendiks yang lebih banyak. Empat tahun kemudian, pada tahun 1988, umat Yehuwa merasa tergetar ketika menerima suatu penjelasan yang diperbarui tentang setiap ayat dalam Wahyu, dalam buku Wahyu—Klimaksnya yang Menakjubkan Sudah Dekat!, juga dua jilid ensiklopedia Alkitab Insight on the Scriptures. Kemudian, pada tahun 1991, diterbitkan buku Tokoh Terbesar Sepanjang Masa dengan ilustrasi yang indah, memuat penyelidikan yang saksama tentang kehidupan dan pengajaran Yesus Kristus.

      Namun, bagaimana dengan kebutuhan mereka yang bukan Saksi-Saksi Yehuwa? Sebagai alat bantu untuk mengajar orang-orang yang baru berminat, publikasi Saudara Dapat Hidup Kekal dalam Firdaus di Bumi (bahasa Inggris) diterbitkan pada tahun 1982. Buku ini dirancang agar dapat membantu para pelajar Alkitab memenuhi tuntutan Yehuwa untuk kehidupan di firdaus bumi. Agar dapat membantu orang-orang yang mungkin mempunyai pertanyaan mengenai asal mula dan tujuan kehidupan di bumi, buku Kehidupan—Bagaimana Asal Mulanya? Melalui Evolusi atau melalui Penciptaan? disediakan pada tahun 1985. Buku ini diikuti, pada tahun 1989, dengan buku yang menguatkan iman Alkitab—Firman dari Allah Atau dari Manusia?

      Perhatian juga diberikan kepada orang-orang yang rendah hati yang memerlukan bantuan khusus karena latar belakang kebudayaan atau agama mereka. Untuk mengajarkan kebenaran tentang Kerajaan Yehuwa kepada mereka yang buta huruf atau mereka yang kurang mahir membaca, brosur 32 halaman Nikmatilah Hidup Kekal di Bumi! (bahasa Inggris) diterbitkan pada tahun 1982. Sampai tahun 1992, lebih dari 76.000.000 eksemplar telah dicetak, dan disebarkan dalam 200 bahasa di seluruh dunia, sehingga publikasi ini menjadi publikasi Lembaga Menara Pengawal yang paling banyak diterjemahkan.

      Pada tahun 1983, tiga buku kecil diterbitkan dengan tujuan khusus yaitu membantu para penganut agama Islam, Budha, dan Hindu. Untuk mencapai orang-orang dari latar belakang agama-agama ini dan yang lainnya, sangat membantu untuk mengerti beberapa hal tentang agama mereka—ajaran dan sejarahnya. Agar dapat memenuhi kebutuhan ini, buku Pencarian Manusia Akan Allah diterbitkan pada tahun 1990.

      Badan Pimpinan sangat berminat dalam upaya mencapai sebanyak mungkin orang dengan berita Kerajaan—orang-orang ”dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa”. (Why. 7:9) Demi tujuan tersebut, pengaturan dibuat untuk menerjemahkan lektur-lektur ini ke dalam lebih banyak bahasa. Sebagai contoh, sejak tahun 1976 sampai 1992, ada kenaikan kira-kira 42 persen dalam jumlah bahasa yang digunakan untuk menerbitkan The Watchtower. Pada bulan Oktober 1992, jumlahnya mencapai 111. Agar dapat menerjemahkan dengan cepat, pada tahun yang sama terdapat lebih dari 800 penerjemah di seluruh dunia yang ikut serta dalam pekerjaan ini.

      Program Pendidikan yang Diperkaya dan Beragam

      Di bawah bimbingan Badan Pimpinan dan Panitia Pengajaran, program-program pengajaran bagi staf kantor pusat dan keluarga Betel di cabang-cabang seputar dunia, diperkaya dan dibuat lebih beragam. Selain pembacaan Alkitab dan Buku Tahunan sebagai bagian dari ibadat pagi mereka, diperkenalkan suatu analisis yang mendalam mengenai bagian Alkitab yang dibaca selama minggu sebelumnya, dengan penerapan materi tersebut kepada mereka yang melayani di Betel. Laporan-laporan berkala dari berbagai departemen di Betel serta laporan-laporan yang lebih sering dari para pengawas zona juga diperkenalkan.

      Untuk memenuhi kebutuhan mereka yang memiliki tanggung jawab tambahan dalam organisasi, program-program pendidikan lebih lanjut dirancang dan dilaksanakan. Selama tahun 1977, dibuat penyelenggaraan bagi semua penatua untuk mengikuti suatu kursus 15 jam dari Sekolah Pelayanan Kerajaan. (Kis. 20:28) Sejak itu, acara-acara serupa yang panjangnya berbeda-beda diatur setiap beberapa tahun; dan mulai tahun 1984, para pelayan sidang juga menerima pelatihan dalam Sekolah Pelayanan Kerajaan. Di Brooklyn, mulai bulan Desember 1977, dimulai suatu sekolah khusus selama lima minggu untuk anggota-anggota Panitia Cabang.

      Perhatian khusus juga diperlihatkan kepada mereka yang menyediakan diri untuk berada dalam dinas sepenuh waktu sebagai perintis. Pada bulan Desember 1977, Sekolah Dinas Perintis, suatu kursus selama dua minggu untuk rohaniwan perintis, diresmikan di Amerika Serikat dan akhirnya diperluas ke seluruh bagian bumi. Selama 14 tahun berikutnya, jumlah perintis meningkat lebih dari lima kali lipat—dari 115.389 menjadi 605.610!

      Pada musim gugur tahun 1987, suatu sekolah baru lain dibuka—Sekolah Pelatihan Pelayanan. Sekolah ini didirikan untuk melatih saudara-saudara lajang yang memenuhi syarat yang telah memiliki pengalaman sebagai penatua atau pelayan sidang dan yang rela melayani di tempat mana pun yang membutuhkan di ladang seluas dunia. Sampai tahun 1992, kelas-kelas sudah diadakan di Amerika Serikat, Australia, Austria, El Salvador, Inggris, Italia, Jerman, Meksiko, Nigeria, Prancis, Spanyol, dan Swedia. Hasilnya, bukan suatu golongan orang yang dianggap lebih tinggi daripada yang lain dalam sidang, tetapi sebaliknya, suatu pertambahan jumlah pria yang cakap untuk melayani saudara-saudara mereka.

      Untuk memajukan pekerjaan pendidikan Alkitab seluas dunia, kebaktian-kebaktian internasional dijadwalkan di kota-kota yang letaknya strategis—beberapa di negeri-negeri yang pernah melarang Saksi-Saksi Yehuwa. Kebaktian-kebaktian ini dimaksud untuk menguatkan saudara-saudara di daerah itu dan untuk memberikan dorongan yang kuat kepada pemberitaan kabar baik di negeri-negeri tersebut.c

      Fasilitas-Fasilitas untuk Memenuhi Pertumbuhan

      Seraya firman Yehuwa terus bergerak dengan cepat, diperlukan beberapa perluasan besar-besaran dalam bidang konstruksi dan percetakan—bidang-bidang di bawah pengawasan Badan Pimpinan dan Panitia Penerbitan.

      Saksi-Saksi yang memiliki pengalaman di bidang pembangunan dengan sukarela memberikan pelayanan mereka, dan upaya mereka dikoordinasi untuk membantu dalam pembangunan fasilitas-fasilitas cabang yang baru dan lebih besar di seluruh dunia. Sejak tahun 1976 sampai 1992, pembangunan fasilitas-fasilitas cabang yang sama sekali baru diadakan di kira-kira 60 negeri. Selain itu, proyek-proyek untuk memperbesar fasilitas yang sudah ada sedang dilaksanakan di 30 negeri. Cara pekerjaan ini dilaksanakan (dengan para sukarelawan yang datang dari banyak sidang—kadang-kadang dari negeri-negeri lain), ternyata memperkuat ikatan kasih dan persatuan di antara umat Yehuwa.d

      Agar memenuhi kebutuhan Lembaga yang terus bertambah untuk mencetak dalam banyak bahasa, para Saksi yang berpengalaman di bidang komputer mengembangkan suatu sistem pracetak yang dikomputerisasi yang disebut MEPS (Multilanguage Electronic Phototypesetting System). Proyek ini diselesaikan pada tahun 1986. Hasilnya, sampai tahun 1992, The Watchtower dicetak secara serentak dalam 66 bahasa. Maka, sebagian besar dari Saksi-Saksi Yehuwa dapat menerima makanan rohani yang sama pada waktu yang sama.e

      Seraya fasilitas Lembaga Menara Pengawal terus diperluas, dibutuhkan lebih banyak sukarelawan di kantor pusat di Brooklyn dan di kantor-kantor cabang seluruh dunia. Dari tahun 1976 sampai 1992, keluarga Betel internasional bertambah besar tiga kali lipat, dari sekitar 4.000 menjadi 12.900 anggota lebih yang melayani di seluruh dunia. Badan Pimpinan dan Panitia Personalianya telah mengurus kebutuhan pribadi dan rohani dari tentara besar sukarelawan sepenuh waktu ini.

      Memelihara Sidang-Sidang dan Pekerjaan Penginjilan

      Seraya firman Yehuwa bergerak maju dengan cepat, Badan Pimpinan dan Panitia Dinasnya memusatkan tenaga mereka untuk membina sidang-sidang seluas dunia dan untuk memperluas pekerjaan penginjilan sedunia.

      Apakah ada lebih banyak yang bisa dilakukan untuk membantu banyak orang baru yang dibaptis setiap tahun? Pada awal tahun 1977, pengaturan dibuat untuk memperkuat Saksi-Saksi baru secara rohani. Pelayanan Kerajaan Kita menjelaskan, ”Kami percaya bahwa setidaknya dua buku harus dipelajari dengan semua orang yang masuk ke dalam kebenaran. . . . Maka pengajaran perlu terus dilakukan setelah pembaptisan sampai buku kedua selesai.” Dengan cara ini, Saksi-Saksi yang baru terbaptis mendapat kesempatan lebih sepenuhnya untuk memperoleh pengetahuan dan pengertian serta bertumbuh dalam penghargaan akan apa artinya menjadi orang yang terbaptis. Pengaturan baru ini juga memajukan pergaulan yang lebih akrab antara orang-orang baru dengan Saksi-Saksi yang membantu mereka dalam pengajaran Alkitab di rumah.

      Untuk memelihara mereka yang mengalir ke dalam organisasi Yehuwa, lebih dari 29.000 sidang baru dibentuk di seluruh dunia antara tahun 1976 dan 1992. (Mi. 4:1) Lebih banyak pengawas wilayah dan pengawas distrik dilantik oleh Badan Pimpinan dan dikirim untuk membantu. Jumlah pengawas keliling ini meningkat dari sekitar 2.600 tahun 1976 menjadi sekitar 3.900 tahun 1992.

      Seraya jumlah sidang bertambah, kebutuhan akan lebih banyak balai pertemuan bertambah. Adakah cara yang lebih cepat untuk membangun Balai Kerajaan? Pada tahun 1970-an, Saksi-Saksi Yehuwa di Amerika Serikat mengorganisasi suatu program pembangunan dengan mengundang para pekerja konstruksi yang terampil dari daerah-daerah yang berdekatan di negeri itu, untuk membantu Saksi-Saksi setempat membangun sebuah Balai Kerajaan. Dengan ratusan orang yang membantu, sebuah balai dapat diselesaikan secara kilat—sering kali hanya dalam dua atau tiga hari. Menjelang tahun 1980-an, Balai Kerajaan yang dibangun secara kilat juga didirikan di bagian-bagian lain dari bumi.

      Perubahan politik di Eropa Timur juga mempengaruhi Saksi-Saksi Yehuwa. Betapa tergetarnya saudara-saudara kita di negara-negara seperti Jerman Timur (sebagaimana itu dikenal dulu), Hungaria, Polandia, Romania, dan yang dulu disebut Uni Soviet, ketika mereka mengetahui bahwa mereka telah mendapat pengakuan resmi, dalam beberapa kasus setelah 40 tahun dilarang! Bertambahnya kebebasan di negara-negara tersebut sekarang memudahkan mereka untuk mencapai kira-kira 380.000.000 orang dengan kabar baik! Saksi-Saksi Yehuwa tidak membuang-buang waktu untuk memberikan diri mereka dalam kebebasan yang baru mereka dapatkan dengan ikut serta dalam kegiatan pengabaran.

      Apa hasilnya? Firman Yehuwa bergerak dengan cepat! Sebagai contoh, pada bulan April 1992 jumlah pemberita Kerajaan yang memberi laporan di Polandia ada 106.915 orang. Dan prospek untuk pertumbuhan di masa depan juga luar biasa: Pada bulan yang sama, ada 214.218 orang hadir dalam Peringatan kematian Kristus. Demikian juga, di negara-negara yang sebelumnya membentuk Uni Soviet, sejumlah 173.473 orang menghadiri Peringatan itu pada tahun 1992, suatu kenaikan sebesar 60 persen dari tahun sebelumnya.

      Akan tetapi, di beberapa negeri, penganiayaan yang berjalan terus dan bencana alam telah menjadi penghambat. Pada tahun 1992, kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa masih berada dalam pembatasan pemerintah di 24 negeri. Panitia Ketua dari Badan Pimpinan telah berbuat sebisa-bisanya untuk menyediakan bantuan bagi mereka dan memberi tahu persaudaraan internasional cara bagaimana mereka dapat membantu rekan-rekan Saksi yang melayani di bawah tekanan. (Bandingkan 1 Korintus 12:12-26.) Serentetan penganiayaan maupun bencana alam tidak dapat menghentikan pengabaran firman Yehuwa!

      ”Suatu Umat, KepunyaanNya Sendiri”

      Maka, selama tahun-tahun 1976 hingga 1992, firman Yehuwa benar-benar telah bergerak maju dengan cepat. Organisasi ini berkembang hampir dua kali lipat, menjadi lebih dari 4.470.000 penyiar Kerajaan!

      Umat Yehuwa terus memberitakan Kerajaan Allah dengan bergairah, kini dalam lebih banyak bahasa daripada sebelumnya. Dengan menggunakan publikasi-publikasi yang tersedia, mereka memperdalam pengetahuan Alkitab mereka dan membantu para peminat mempelajari kebenaran-kebenaran Alkitab. Mereka memanfaatkan program-program pendidikan yang diadakan bagi mereka yang mempunyai tanggung jawab tambahan dalam organisasi. Yehuwa tanpa diragukan memberkati pemberitaan Kerajaan yang mereka lakukan.

      Sejak tahun 1870-an terus sampai sekarang, beberapa pria telah memberikan sumbangan yang luar biasa kepada kemajuan pekerjaan Kerajaan, pria-pria seperti Charles T. Russell, Joseph F. Rutherford, Nathan H. Knorr, dan Frederick W. Franz, juga yang lain-lain yang telah melayani sebagai anggota Badan Pimpinan. Namun Saksi-Saksi Yehuwa sama sekali tidak menjadi suatu sekte yang berpaut pada kepribadian dari siapa pun di antara pria-pria ini. Sebaliknya, mereka hanya memiliki satu pemimpin, ”yaitu Kristus”. (Mat. 23:10, NW) Ia adalah Kepala Saksi-Saksi Yehuwa yang diorganisasi ini, kepadanya ”telah diberikan segala kuasa” untuk mengawasi pekerjaan ini ”senantiasa sampai kepada akhir zaman”. (Mat. 28:18-20) Mereka bertekad untuk tunduk di bawah kekepalaan Kristus, berpaut pada Firman Allah, dan bekerja sama dengan bimbingan roh kudus, sehingga mereka dapat terus bergerak maju dalam ibadah kepada satu-satunya Allah yang benar dan dalam membuktikan diri sebagai ”suatu umat, kepunyaanNya sendiri, yang rajin berbuat baik”.—Tit. 2:14.

      Namun, apa beberapa ajaran dasar dan standar tingkah laku yang membedakan Saksi-Saksi Yehuwa dari semua agama lain? Bagaimana mereka sampai dikenal sebagai Saksi-Saksi Yehuwa? Bagaimana kegiatan mereka dibiayai? Mengapa mereka terus memelihara keterpisahan yang ketat dari gereja-gereja lain dan dari dunia pada umumnya? Mengapa mereka menjadi sasaran penganiayaan yang kejam di banyak bagian bumi? Hal-hal ini dan banyak pertanyaan lain akan dijawab dalam pasal-pasal berikut.

      [Catatan Kaki]

      a Lihat Pasal 15, ”Perkembangan dalam Struktur Organisasi”.

      b Dari tahun 1980 sampai 1985, terdapat kenaikan 33 persen dalam jumlah mereka yang ambil bagian dalam pekerjaan pengabaran, dan dari tahun 1985 sampai 1992, terdapat kenaikan lebih jauh sebesar 47,9 persen.

      c Lihat Pasal 17, ”Kebaktian-Kebaktian—Bukti dari Persaudaraan Kita”.

      d Lihat Pasal 20, ”Membangun Bersama dalam Skala Global”.

      e Lihat Pasal 26, ”Memproduksi Bacaan Alkitab untuk Digunakan dalam Pelayanan”.

      [Blurb di hlm. 117]

      Bukan suatu sekte yang berpaut pada kepribadian dari pria mana pun

      [Kotak/Grafik di hlm. 110]

      Sejak 1976 sampai 1992, ada kenaikan sebesar 42 persen dalam jumlah bahasa yang dipakai dalam menerbitkan ”Menara Pengawal”

      [Grafik]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      111

      78

      1976 1992

      [Kotak di hlm. 111]

      Latar Belakang F. W. Franz

      Frederick William Franz dilahirkan di Covington, Kentucky, AS, pada tanggal 12 September 1893. Pada tahun 1899 keluarganya pindah ke Cincinnati, dan di sana Frederick lulus dari sekolah menengah atas pada tahun 1911. Ia kemudian masuk Universitas Cincinnati, dan mengambil jurusan pengetahuan budaya. Ia telah memutuskan untuk menjadi penginjil Presbiterian, maka ia benar-benar tekun mempelajari Alkitab Yunani. Di universitas tersebut, Frederick terpilih untuk menerima beasiswa Rhodes, yang membuat ia memenuhi syarat untuk masuk Universitas Oxford di Inggris. Akan tetapi, sebelum hal itu sempat diumumkan, Frederick sama sekali kehilangan minat akan beasiswa dan meminta agar namanya dihapus dari daftar kontestan.

      Sebelum peristiwa itu, saudara laki-lakinya Albert mengirimkan sebuah buku kecil kepadanya yang diperolehnya dari Siswa-Siswa Alkitab Internasional. Setelah itu Albert memberinya tiga jilid pertama dari ”Studies in the Scriptures”. Frederick merasa senang dengan apa yang ia pelajari dan memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Gereja Presbiterian dan bergabung dengan sidang Siswa-Siswa Alkitab. Pada tanggal 30 November 1913, ia dibaptis. Pada bulan Mei 1914 ia meninggalkan universitas, dan langsung membuat persiapan untuk menjadi seorang kolportir (perintis).

      Pada bulan Juni 1920 dia menjadi anggota keluarga Betel di Brooklyn. Setelah N. H. Knorr meninggal pada bulan Juni 1977, Saudara Franz dipilih untuk kedudukan sebagai presiden Lembaga. Dia melayani dengan setia sebagai anggota Badan Pimpinan sampai dia meninggal pada tanggal 22 Desember 1992, pada usia 99 tahun.

      [Grafik di hlm. 112]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      Jumlah Perintis yang Meningkat

      1992

      600,000

      400,000

      1986

      200,000

      1981

      1976

      [Grafik di hlm. 113]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasi)

      Pertumbuhan Keluarga Betel di seluruh dunia

      1992

      12,000

      9,000

      1986

      6,000

      1981

      1976

      3,000

      [Grafik di hlm. 114]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      Pertambahan Sidang-Sidang

      80,000

      1992

      60,000

      1986

      1981

      1976

      40,000

      20,000

      [Grafik di hlm. 115]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      Peningkatan Jumlah Pemberita Kerajaan

      1992

      4,000,000

      1986

      3,000,000

      1981

      1976

      2,000,000

      1,000,000

      [Gambar di hlm. 109]

      Setiap kantor cabang Lembaga diawasi oleh suatu panitia yang terdiri atas beberapa saudara, seperti panitia ini yang mengawasi pekerjaan di Nigeria

      [Gambar di hlm. 116]

      Badan Pimpinan dari Saksi-Saksi Yehuwa

      Januari 1992

      Carey W. Barber

      John E. Barr

      W. Lloyd Barry

      John C. Booth

      Frederick W. Franz

      George D. Gangas

      Milton G. Henschel

      Theodore Jaracz

      Karl F. Klein

      Albert D. Schroeder

      Lyman A. Swingle

      Daniel Sydlik

  • Bertumbuh dalam Pengetahuan yang Saksama tentang Kebenaran
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 10

      Bertumbuh dalam Pengetahuan yang Saksama tentang Kebenaran

      SAKSI-SAKSI YEHUWA tidak bermaksud memperkenalkan doktrin-doktrin baru, suatu cara beribadat yang baru, atau agama baru. Sebaliknya, sejarah zaman modern mereka menunjukkan upaya yang sungguh-sungguh untuk mengajarkan apa yang terdapat dalam Alkitab, Firman Allah yang terilham. Mereka menunjuk kepada Alkitab sebagai dasar bagi semua kepercayaan dan jalan hidup mereka. Sebaliknya daripada memperkembangkan kepercayaan yang mencerminkan kecenderungan dunia modern yang serba boleh, mereka senantiasa berupaya menyelaraskan diri dengan ajaran-ajaran Alkitab dan praktek-praktek kekristenan abad pertama.

      Pada awal tahun 1870-an, Charles Taze Russell dan rekan-rekannya mengadakan penelitian Alkitab yang sungguh-sungguh. Menjadi jelas bagi mereka bahwa Susunan Kristen telah jauh menyimpang dari ajaran-ajaran dan praktek-praktek kekristenan masa awal. Saudara Russell tidak mengaku sebagai orang yang pertama kali mengamati hal ini, dan terus terang ia mengakui bahwa ia merasa berutang budi kepada orang-orang lain atas bantuan yang mereka berikan selama tahun-tahun pertama ia meneliti Alkitab. Ia berbicara dengan penuh penghargaan mengenai pekerjaan baik yang dilakukan oleh berbagai gerakan Reformasi, yang bertujuan membuat cahaya kebenaran bersinar lebih terang. Ia menyebut nama beberapa pria yang lebih tua seperti Jonas Wendell, George Stetson, George Storrs, dan Nelson Barbour, yang secara pribadi menyumbang kepada pengertiannya akan Firman Allah melalui berbagai cara.a

      Ia juga menyatakan, ”Berbagai doktrin yang kami pegang dan yang tampaknya begitu baru dan segar serta berbeda sudah dianut dalam bentuk tertentu lama berselang: seperti misalnya—Pemilihan, Karunia Bebas, Restitusi, Pembenaran, Penyucian, Pemuliaan, Kebangkitan.” Akan tetapi, sering terjadi bahwa satu kelompok agama dibedakan oleh pengertiannya yang lebih jelas akan satu kebenaran Alkitab tertentu; kelompok lain oleh kebenaran yang lain lagi. Kemajuan mereka selanjutnya sering kali terhambat karena mereka terbelenggu pada doktrin-doktrin dan kredo-kredo yang mencakup kepercayaan yang telah lama berkembang di Babel dan Mesir purba atau pinjaman dari para filsuf Yunani.

      Namun, kelompok manakah yang dengan bantuan roh Allah, yang secara bertahap akan berpegang kembali kepada seluruh ”contoh ajaran sehat” yang sangat dihargai oleh umat Kristen abad pertama? (2 Tim. 1:13) Bagi siapakah akan terbukti benar bahwa jalan mereka adalah ”seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari”? (Ams. 4:18) Siapakah yang akan benar-benar melakukan apa yang Yesus perintahkan ketika ia berkata, ”Kamu akan menjadi saksiKu . . . sampai ke ujung bumi”? Siapakah yang tidak hanya menjadikan murid tetapi juga ’mengajar mereka melakukan segala sesuatu’ yang telah Yesus perintahkan? (Kis. 1:8; Mat. 28:19, 20) Sesungguhnya, apakah waktunya sudah dekat manakala Tuhan akan membuat perbedaan yang jelas antara umat Kristen sejati yang ia samakan dengan gandum dan tiruannya yang ia sebut sebagai lalang (sebenarnya, jenis lalang yang sangat menyerupai gandum sampai mereka matang)?b (Mat. 13:24-30, 36-43) Siapakah yang akan terbukti sebagai ”hamba yang setia dan bijaksana” yang, oleh Majikannya, Yesus Kristus, pada masa kehadirannya dalam kuasa Kerajaan, akan dipercayakan tanggung jawab yang lebih besar sehubungan dengan pekerjaan yang dinubuatkan akan terjadi pada akhir sistem segala perkara?—Mat. 24:3, 45-47.

      Membuat Terang Bersinar

      Yesus memerintahkan murid-muridnya untuk membagikan kepada orang-orang lain kebenaran ilahi yang telah mereka terima darinya. ”Kamu adalah terang dunia,” katanya. ”Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang.” (Mat. 5:14-16; Kis. 13:47) Charles Taze Russell dan rekan-rekannya menyadari bahwa mereka memiliki kewajiban untuk melakukan hal itu.

      Apakah mereka percaya bahwa mereka mempunyai semua jawaban, terang kebenaran yang penuh? Saudara Russell dengan jelas menjawab pertanyaan itu, ”Sama sekali tidak; kita juga tidak akan memilikinya sampai ’siang yang sempurna’.” (Ams. 4:18, Klinkert) Berkali-kali mereka menunjuk kepercayaan Alkitab mereka sebagai ”kebenaran yang sekarang”—bukan dengan gagasan apa pun bahwa kebenaran itu sendiri akan berubah namun dengan pemikiran bahwa pengertian mereka akan kebenaran itu bersifat progresif.

      Siswa-siswa Alkitab yang tekun ini tidak mengelak dari gagasan tentang adanya suatu yang disebut kebenaran dalam perkara-perkara agama. Mereka mengakui Yehuwa sebagai ”Allah kebenaran” dan Alkitab sebagai Firman kebenaran-Nya. (Mzm. 31:5, NW; Yos. 21:45; Yoh. 17:17) Mereka menyadari bahwa masih ada banyak hal yang tidak mereka ketahui, tetapi mereka tidak menahan diri untuk menyatakan dengan penuh keyakinan apa yang telah mereka pelajari dari Alkitab. Dan apabila ada doktrin dan praktek agama tradisional yang bertentangan dengan apa yang mereka temukan tercantum dengan jelas dalam Firman Allah yang terilham, maka, dalam meniru Yesus Kristus, mereka membeberkan kesalahan itu, walaupun hal ini membuat mereka dicemooh dan dibenci oleh kaum pemimpin agama.—Mat. 15:3-9.

      Untuk mencapai dan memberi makanan kepada orang-orang lain secara rohani, C. T. Russell mulai menerbitkan majalah Zion’s Watch Tower and Herald of Christ’s Presence, pada bulan Juli 1879.

      Alkitab—Benar-Benar Firman Allah

      Keyakinan Charles Taze Russell akan Alkitab bukan sekadar soal menerima pandangan tradisional yang sedang populer pada waktu itu. Malahan sebaliknya, apa yang sedang populer di antara banyak orang waktu itu adalah kecaman pedas. Orang-orang yang mendukungnya menantang keandalan catatan Alkitab.

      Sebagai seorang pemuda, Russell bergabung dengan Gereja Kongregasional dan aktif dalam pekerjaannya, namun dogma-dogma tradisionalnya yang tidak masuk akal membuat Russell bersikap skeptis. Ia mendapati bahwa apa yang telah diajarkan kepadanya tidak dapat dibela secara memuaskan dalam Alkitab. Maka ia meninggalkan dogma-dogma dari kredo gereja dan, demikian pula halnya, Alkitab. Kemudian, ia menyelidiki agama-agama Timur yang utama, tetapi itu juga terbukti tidak memuaskan. Lalu ia mulai berpikir bahwa mungkin Alkitab telah disalahtafsirkan oleh kredo-kredo Susunan Kristen. Karena terbina oleh apa yang ia dengar pada suatu sore dalam suatu pertemuan orang-orang Adven, ia mulai mempelajari Alkitab secara sistematis. Apa yang tersingkap di hadapannya benar-benar Firman Allah yang terilham.

      Ia sangat terkesan oleh keselarasan Alkitab dan oleh kepribadian dari Pribadi yang diperkenalkan sebagai Pengarang Ilahinya. Untuk membantu orang lain mengambil manfaat dari hal ini, belakangan ia menulis buku The Divine Plan of the Ages yang ia terbitkan pada tahun 1886. Dalam buku tersebut, ia memasukkan suatu pembahasan utama mengenai ”Alkitab Sebagai Penyingkapan Ilahi Dipandang dari Sudut yang Masuk Akal”. Menjelang akhir pasal itu, ia menyatakan tanpa ragu, ”Kedalaman dan kuasa dan hikmat dan jangkauan kesaksian Alkitab meyakinkan kita bahwa bukan manusia, melainkan Allah yang Mahakuasa, adalah pengarang dari rencana-rencana dan penyingkapannya.”

      Keyakinan akan seluruh Alkitab sebagai Firman Allah terus menjadi batu penjuru kepercayaan Saksi-Saksi Yehuwa zaman modern. Di seluruh dunia, mereka memiliki alat-alat bantu pelajaran yang memungkinkan mereka secara pribadi memeriksa bukti bahwa Alkitab terilham. Aspek-aspek dari pokok ini berulang kali dibahas dalam majalah-majalah mereka. Pada tahun 1969 mereka menerbitkan buku Apakah Alkitab Benar-Benar Firman Allah? (bahasa Inggris). Dua puluh tahun kemudian, buku Alkitab—Firman dari Allah atau dari Manusia? memuat peninjauan yang segar berkenaan pokok tentang autentisitas Alkitab, menarik perhatian kepada bukti-bukti tambahan, dan tiba kepada kesimpulan yang sama: Alkitab, benar-benar, Firman Allah yang terilham. Sebuah buku lain, yang dicetak pertama kali pada tahun 1963 dan diperbarui pada tahun 1990, adalah ”Segenap Alkitab Diilhamkan Allah dan Bermanfaat”. Perincian lebih jauh dapat ditemukan dalam ensiklopedia Alkitab mereka, Insight on the Scriptures, diterbitkan pada tahun 1988.

      Dari pelajaran pribadi dan bersama sidang, mereka diyakinkan bahwa walaupun ada kira-kira 40 manusia yang digunakan untuk mencatat apa yang terdapat dalam ke-66 buku Alkitab selama periode 16 abad lebih, Allah sendiri secara aktif membimbing penulisannya melalui roh-Nya. Rasul Paulus mengatakan, ’Segala tulisan diilhamkan Allah’. (2 Tim. 3:16; 2 Ptr. 1:20, 21) Keyakinan ini adalah faktor yang kuat dalam kehidupan Saksi-Saksi Yehuwa. Ketika berkomentar tentang hal ini, sebuah surat kabar di Inggris mengatakan, ”Semua hal yang seorang Saksi lakukan mempunyai alasan Alkitab. Memang benar, satu-satunya prinsip dasar mereka adalah pengakuan bahwa Alkitab adalah . . . benar.”

      Mengenal Allah yang Benar

      Seraya Saudara Russell dan rekan-rekannya mempelajari Alkitab, tidak makan waktu yang lama bagi mereka untuk melihat bahwa Allah yang digambarkan dalam Alkitab bukanlah allah Susunan Kristen. Ini adalah suatu perkara yang penting sebab, seperti Yesus Kristus katakan, prospek manusia untuk hidup kekal bergantung kepada pengenalan mereka akan satu-satunya Allah yang benar dan pribadi yang Ia utus ke bumi, Wakil Utama-Nya untuk keselamatan. (Yoh. 17:3; Ibr. 2:10) C. T. Russell dan kelompok yang ikut mempelajari Alkitab bersamanya memahami bahwa keadilan Allah secara sempurna seimbang dengan hikmat, kasih, dan kuasa ilahi, dan bahwa sifat-sifat ini dipertunjukkan dalam seluruh pekerjaan-Nya. Berdasarkan pengetahuan yang kemudian mereka miliki mengenai maksud-tujuan Allah, mereka mempersiapkan pembahasan tentang mengapa kejahatan diizinkan dan memasukkan pokok ini ke dalam salah satu publikasi mereka yang paling awal dan paling banyak disebarluaskan, buku 162 halaman berjudul Food for Thinking Christians, mula-mula diterbitkan sebagai edisi istimewa dari Zion’s Watch Tower pada bulan September 1881.

      Penelitian mereka akan Firman Allah membantu mereka menyadari bahwa sang Pencipta memiliki nama pribadi dan bahwa Ia memungkinkan makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang cerdas mengenal Dia dan menikmati hubungan yang akrab dengan-Nya. (1 Taw. 28:9; Yes. 55:6; Yak. 4:8) Majalah Watch Tower terbitan Oktober-November 1881 menjelaskan, ”YEHUWA adalah nama yang dikenakan hanya kepada Pribadi Yang Mahakuasa—Bapa kita, dan Dia yang Yesus sebut sebagai Bapa dan Allah.”—Mzm. 83:19, Klinkert; Yoh. 20:17.

      Pada tahun berikutnya, sebagai jawaban atas pertanyaan, ”Apakah saudara mengatakan bahwa Alkitab tidak mengajarkan adanya tiga pribadi dalam satu Allah?” jawaban yang diberikan adalah, ”Ya: Sebaliknya, Alkitab memang memberi tahu kita bahwa hanya ada satu Allah dan Bapa dari Tuhan kita Yesus Kristus yang darinya berasal segala sesuatu (atau yang menciptakan segala sesuatu). Maka kami percaya kepada Satu Allah dan Bapa, dan juga kepada satu Tuhan Yesus Kristus . . . Namun mereka adalah dua dan bukan satu pribadi. Mereka satu hanya dalam arti bahwa mereka selaras. Kami juga mempercayai suatu roh Allah . . . Namun itu bukan suatu pribadi sebagaimana halnya roh setan dan roh Dunia ini dan roh Anti-Kristus.”—Zion’s Watch Tower, Juni 1882; Yoh. 17:20-22.

      Penghargaan yang Bertambah Akan Nama Allah

      Secara bertahap, Siswa-Siswa Alkitab tersebut semakin menyadari bahwa Alkitab terilham memberikan tempat penting bagi nama pribadi Allah. Nama itu telah dikaburkan dalam bahasa Inggris oleh edisi Alkitab Katolik Roma Douay dan edisi Protestan King James, sebagaimana belakangan juga oleh kebanyakan terjemahan dalam banyak bahasa di abad ke-20. Akan tetapi, berbagai terjemahan maupun karya-karya referensi Alkitab membuktikan bahwa nama Yehuwa muncul dalam teks bahasa aslinya sebanyak ribuan kali—sebenarnya, jauh lebih banyak daripada nama-nama lain mana pun, dan lebih banyak daripada jumlah gabungan pemunculan gelar-gelar seperti Allah dan Tuhan. Sebagai ”suatu umat . . . bagi namaNya”, penghargaan mereka sendiri akan nama ilahi bertumbuh. (Kis. 15:14) Dalam The Watch Tower 1 Januari 1926, mereka mengemukakan apa yang mereka akui sebagai suatu persoalan yang harus dihadapi oleh setiap pribadi, yaitu ”Siapa yang Akan Menghormati Yehuwa?”

      Penandasan yang mereka berikan kepada nama Allah bukan sekadar suatu pengetahuan agama. Sebagaimana dijelaskan dalam buku Prophecy (diterbitkan tahun 1929), sengketa terpenting yang dihadapi semua makhluk ciptaan yang cerdas mencakup nama dan firman dari Allah Yehuwa. Saksi-Saksi Yehuwa menandaskan bahwa Alkitab memperlihatkan bahwa setiap orang harus mengetahui nama Allah dan memperlakukannya sebagai sesuatu yang suci. (Mat. 6:9; Yeh. 39:7) Nama itu harus dibersihkan dari semua celaan yang telah ditimpakan ke atasnya, bukan hanya oleh mereka yang secara terang-terangan menentang Yehuwa, tetapi juga oleh mereka yang menyalahgambarkan Dia melalui doktrin-doktrin dan perbuatan mereka. (Yeh. 38:23; Rm. 2:24) Atas dasar Alkitab, Saksi-Saksi mengakui bahwa kesejahteraan seluruh alam dan penghuninya bergantung atas penyucian nama Yehuwa.

      Mereka menyadari bahwa sebelum Yehuwa mengambil tindakan untuk membinasakan orang-orang jahat, adalah tugas dan hak istimewa bagi saksi-saksi-Nya untuk memberitahukan kebenaran mengenai Dia kepada orang-orang lain. Saksi-Saksi Yehuwa telah dan sedang melakukan hal itu di seluruh dunia. Mereka begitu bergairah dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut sehingga, secara internasional, siapa pun yang menggunakan nama Yehuwa dengan bebas, segera dikenali sebagai salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa.

      Membeberkan Tritunggal

      Sebagai saksi-saksi dari Yehuwa, C. T. Russell dan rekan-rekannya benar-benar merasa bertanggung jawab untuk membeberkan ajaran-ajaran yang menyalahgambarkan Allah, untuk membantu para pencinta kebenaran menyadari bahwa itu semua tidak berdasarkan Alkitab. Mereka bukan orang pertama yang mengakui bahwa Tritunggal tidak berdasarkan Alkitab,c tetapi mereka memang mengakui bahwa jika mereka ingin menjadi hamba-hamba Allah yang setia, mereka memiliki tanggung jawab untuk memberi tahu kebenaran sehubungan dengan hal ini. Dengan berani, demi kepentingan semua pencinta kebenaran, mereka menyingkapkan akar kekafiran dari doktrin utama Susunan Kristen ini.

      Watch Tower Juni 1882 menyatakan, ”Banyak filsuf kafir mendapati bahwa adalah suatu kebijaksanaan untuk menggabungkan dengan kedudukan agama yang sedang berkembang [bentuk kemurtadan dari kekristenan yang disahkan oleh kaisar-kaisar Romawi pada abad keempat M], mulai membuka jalan yang mudah ke arah itu dengan mencoba menemukan persamaan-persamaan antara Kekristenan dan Kekafiran, dan dengan demikian mencampurkan keduanya. Mereka berhasil hampir tanpa rintangan. . . . Karena teologi kuno memiliki sejumlah dewa-dewa utama, dengan banyak titisan dewa-dewi, Kristen-kafir ini (jika kita boleh mencipta sebuah kata) mulai menyusun kembali daftar untuk teologi yang baru. Maka, pada waktu itulah, doktrin mengenai tiga Allah diciptakan—Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus.”

      Beberapa pemimpin agama berupaya memberikan bumbu Alkitab kepada ajaran mereka dengan mengutip ayat seperti 1 Yohanes 5:7, tetapi Saudara Russell mengajukan bukti yang memperlihatkan bahwa sudah sangat dikenal oleh para sarjana bahwa sebagian dari ayat itu adalah suatu interpolasi, suatu sisipan palsu yang dibuat oleh seorang penyalin untuk mendukung ajaran yang tidak ditemukan dalam Alkitab. Para pembela lain untuk Tritunggal menarik perhatian kepada Yohanes 1:1, tetapi Watch Tower menganalisis ayat tersebut berdasarkan isi dan ikatan kalimatnya untuk menunjukkan bahwa ini sama sekali tidak mendukung kepercayaan akan Tritunggal. Selaras dengan ini, dalam terbitan Juli 1883, Watch Tower mengatakan, ”Dengan mempelajari Alkitab lebih banyak sebaliknya daripada teologi buku-buku himne, akan membuat pokok itu lebih jelas bagi semua orang. Doktrin tritunggal sama sekali bertentangan dengan Alkitab.”

      Saudara Russell terang-terangan membeberkan kebodohan dari mengaku percaya Alkitab padahal pada waktu yang sama mengajarkan doktrin seperti Tritunggal, yang berlawanan dengan apa yang Alkitab katakan. Jadi ia menulis, ”Mereka yang mengatakan bahwa Yesus dan Bapa adalah satu Allah, benar-benar mendapati diri mereka dalam kontradiksi dan kebingungan yang bercampur baur! Ini akan mencakup gagasan bahwa Tuhan kita Yesus adalah seorang munafik ketika berada di bumi dan hanya berpura-pura menyapa Allah dalam doa, kalau Dia sendiri adalah Allah yang sama. . . . Satu lagi, Bapa selalu tidak berkematian, dan karena itu tidak dapat mati. Maka, bagaimana mungkin Yesus mati? Para Rasul adalah saksi-saksi palsu pada waktu mengumumkan kematian dan kebangkitan Yesus jika Dia tidak mati. Akan tetapi, Alkitab menyatakan bahwa Dia benar-benar mati.”d

      Maka, pada awal sejarah zaman modern mereka, Saksi-Saksi Yehuwa dengan tegas menolak dogma Tritunggal dari Susunan Kristen demi mendukung ajaran Alkitab yang masuk akal dan menghangatkan hati.e Pekerjaan yang telah mereka lakukan untuk menyiarkan kebenaran-kebenaran ini dan memberikan kesempatan kepada orang-orang di mana-mana untuk mendengar kepada mereka, telah mencapai tingkat yang tidak pernah dicapai oleh pribadi atau kelompok mana pun, dulu maupun sekarang.

      Bagaimana Keadaan Orang Mati?

      Apa yang akan terjadi di masa depan atas orang-orang yang tidak menerima persediaan Allah untuk keselamatan merupakan hal yang sangat memprihatinkan bagi C. T. Russell sejak ia masih muda. Ketika masih remaja, ia mempercayai apa yang dikatakan para pemimpin agama mengenai api neraka; ia mengira bahwa mereka memberitakan Firman Allah. Ia pergi pada waktu malam dan menuliskan ayat-ayat Alkitab dengan kapur di tempat-tempat yang mencolok agar para pekerja yang lewat di sana dapat diperingatkan dan diselamatkan dari malapetaka yang mengerikan dalam siksaan kekal.

      Belakangan, setelah ia melihat sendiri apa yang sebenarnya Alkitab ajarkan, seorang rekannya mengutip kata-katanya, ”Jika Alkitab memang mengajarkan bahwa siksaan kekal adalah nasib yang akan dialami semua orang kecuali orang-orang suci, hal itu harus diberitakan—ya, dipekikkan dari bubungan-bubungan rumah setiap minggu, hari, dan jam; jika Alkitab tidak mengajarkan hal itu, fakta itu harus diumumkan, dan noda kotor yang tidak menghormati nama Allah yang suci dihapuskan.”

      Sejak awal penelitiannya akan Alkitab, C. T. Russell mengerti dengan jelas bahwa neraka bukan suatu tempat siksaan bagi jiwa-jiwa setelah kematian. Ia kemungkinan besar dibantu oleh George Storrs dalam hal ini, redaktur dari Bible Examiner, yang Saudara Russell sebutkan dengan penghargaan yang hangat dalam tulisan-tulisannya dan Storrs sendiri telah banyak menulis mengenai apa yang ia pahami dari Alkitab tentang keadaan orang mati.

      Akan tetapi, bagaimana dengan jiwa? Apakah Siswa-Siswa Alkitab mendukung kepercayaan bahwa jiwa adalah bagian halus dari manusia, sesuatu yang terus hidup setelah tubuh mati? Sebaliknya, pada tahun 1903 Watch Tower menyatakan, ”Perlu kita perhatikan dengan baik bahwa ajarannya adalah bukan bahwa manusia mempunyai jiwa, namun manusia adalah jiwa, atau pribadi. Mari kita lihat sebuah ilustrasi dari alam—udara yang kita hirup: udara terdiri dari oksigen dan nitrogen, yang masing-masing bukanlah atmosfer, atau udara; tetapi jika keduanya digabungkan, sebagaimana itu terjadi dalam proporsi kimia yang tepat, hasilnya adalah atmosfer. Demikian juga dengan jiwa. Allah berbicara kepada kita dari sudut pandangan ini, kita masing-masing sebagai suatu jiwa. Ia tidak memanggil tubuh kita atau nafas kehidupan kita, tetapi Ia memang memanggil kita sebagai makhluk-makhluk, atau jiwa-jiwa, yang cerdas. Ketika memberitahukan hukuman jika hukum-Nya dilanggar, Ia tidak menyebutkannya kepada tubuh Adam secara khusus, tetapi manusia, jiwa, makhluk yang cerdas itu, ’Engkau!’ ’Pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.’ ’Orang [”Jiwa”, ”NW”] yang berbuat dosa, itu yang harus mati.’—Kej. 2:17; Yeh. 18:20.” Ini selaras dengan apa yang Watch Tower telah katakan sejak April 1881.f

      Maka, bagaimana kepercayaan akan jiwa manusia yang tidak berkematian berkembang? Siapakah pencetusnya? Setelah meneliti sejarah Alkitab maupun agama dengan saksama, Saudara Russell menulis dalam Watch Tower 15 April 1894, ”Jelas sekali, ini tidak datang dari Alkitab . . . Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa manusia berkematian, bahwa kematian dapat menimpanya. . . . Setelah meneliti halaman-halaman sejarah, kami mendapati bahwa, walaupun doktrin manusia yang tidak berkematian tidak diajarkan oleh saksi-saksi yang diilhami Allah, hal itu adalah unsur penting dalam semua agama kafir. . . . Oleh sebab itu, tidaklah benar, bahwa Socrates dan Plato yang pertama mengajarkan doktrin itu: ada guru yang lebih awal dari mereka, dan oknum yang bahkan lebih mampu. . . . Catatan pertama dari ajaran palsu ini ditemukan dalam sejarah tertua yang diketahui manusia—Alkitab. Guru palsunya adalah Setan.”g

      Mengarahkan ”Pipa Air” ke Neraka

      Selaras dengan keinginan Saudara Russell yang kuat untuk menghapuskan noda kotor dari nama Allah yang diakibatkan oleh ajaran api neraka siksaan kekal, ia menulis sebuah risalah yang menonjolkan pokok, ”Apakah Alkitab Mengajarkan Bahwa Siksaan Kekal adalah Upah Dosa?” (The Old Theology, 1889) Di dalamnya ia berkata,

      ”Teori siksaan kekal mempunyai asal usul kafir, walaupun yang dianut oleh orang-orang kafir semula bukanlah doktrin yang tidak berbelas kasihan sebagaimana itu jadinya di kemudian hari, yaitu ketika doktrin itu secara bertahap mulai melekatkan diri pada kekristenan yang nominal (dalam nama saja) selama perpaduannya dengan filsafat-filsafat kafir pada abad kedua. Kemurtadan besar hanya perlu menambahkan pada filsafat kafir rincian-rincian yang mengerikan yang sekarang begitu umum dipercayai, untuk dilukiskan pada dinding-dinding gereja, seperti yang terjadi di Eropa, untuk dituliskan pada kredo-kredo dan himne mereka, dan sedemikian diselewengkannya Firman Allah sehingga tampaknya memberikan dukungan ilahi kepada hujah yang sangat tidak menghormati Allah. Karena itu, orang-orang yang asal percaya zaman sekarang, menerimanya sebagai peninggalan, bukan dari Tuhan, atau para rasul, atau para nabi, tetapi dari semangat yang suka berkompromi yang mengorbankan kebenaran dan nalar, dan secara memalukan menyelewengkan doktrin-doktrin kekristenan, dengan ambisi yang memalukan dan upaya mengejar kekuasaan dan kekayaan dan jumlah pengikut. Siksaan kekal sebagai hukuman dosa tidak dikenal oleh para datuk di zaman purba; hal itu tidak dikenal oleh para nabi selama zaman Yahudi; dan tidak dikenal oleh Tuhan dan rasul-rasul; tetapi telah menjadi doktrin utama bagi Kekristenan Nominal sejak kemurtadan besar—momok yang membuat orang-orang yang mudah percaya, yang kurang pengetahuan dan percaya kepada takhayul dari dunia ini telah dibelenggu sehingga harus tunduk secara membabi buta kepada kekuasaan yang sewenang-wenang. Siksaan kekal ditujukan kepada semua orang yang menentang atau menolak wewenang Gereja Roma, dan penderitaan siksaan kekalnya dalam kehidupan sekarang telah mulai, sudah sejak ia memiliki kekuasaan.”

      Saudara Russell benar-benar menyadari bahwa kebanyakan orang yang berpikiran sehat tidak sungguh-sungguh mempercayai doktrin api neraka. Namun, seperti yang ia tandaskan, pada tahun 1896, dalam buku kecil What Say the Scriptures About Hell?, ”karena mereka mengira bahwa Alkitab yang mengajarkannya, setiap langkah maju yang mereka lakukan dalam kecerdasan yang nyata dan kebaikan persaudaraan . . . dalam kebanyakan kasus adalah selangkah menjauh dari Firman Allah, yang secara keliru mereka tuduh sebagai sumber ajaran ini.”

      Untuk menarik orang-orang yang berpikiran demikian kembali kepada Firman Allah, ia menyajikan dalam buku kecil ini, setiap ayat dalam King James Version yang memuat kata neraka, sehingga para pembaca dapat melihat sendiri apa yang ayat-ayat tersebut katakan, dan kemudian ia menyatakan, ”Syukur kepada Allah, kita tidak menemukan tempat siksaan kekal sebagaimana secara keliru diajarkan kredo-kredo, dan buku-buku himne, dan banyak pengkhotbah. Namun kita menemukan suatu ’neraka’, syeol, hades, tempat semua ras kita dihukum karena dosa Adam, dan dari tempat itulah semua orang ditebus oleh kematian Tuhan kita; dan ’neraka’ adalah kuburan—keadaan pada saat mati. Kita juga menemukan ’neraka’ lain (gehena—kematian kedua—pembinasaan sama sekali) dibawa kepada perhatian kita sebagai hukuman terakhir bagi semua orang yang, setelah ditebus dan mendapat pengetahuan yang lengkap akan kebenaran, dan kemampuan yang penuh untuk menaatinya, namun kemudian memilih kematian dengan memilih haluan yang menentang Allah dan keadilbenaran. Kemudian hati kita berkata, Amin. Adil dan benar segala jalanMu, ya Raja segala bangsa! Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan namaMu? Sebab Engkau saja yang kudus; karena semua bangsa akan datang dan sujud menyembah Engkau, sebab telah nyata kebenaran segala penghakimanMu.”—Why. 15:3, 4.

      Apa yang ia ajarkan menjadi sumber sakit hati dan malu bagi para pemimpin agama Susunan Kristen. Pada tahun 1903, ia ditantang untuk mengadakan debat umum. Keadaan orang mati adalah salah satu pokok persoalan yang menghasilkan rangkaian debat antara C. T. Russell dan Dr. E. L. Eaton, yang bertindak sebagai juru bicara dari suatu gabungan tidak resmi rohaniwan Protestan di bagian barat Pennsylvania.

      Selama rangkaian debat tersebut, Saudara Russell dengan tegas mempertahankan soal bahwa ”kematian adalah kematian, dan bahwa orang-orang yang kita kasihi, ketika mereka meninggalkan kita, benar-benar mati, bahwa mereka tidak hidup bersama para malaikat ataupun bersama hantu-hantu di tempat yang tanpa harapan.” Untuk mendukung hal ini, ia mengacu kepada ayat-ayat seperti Pengkhotbah 9:5, 10; Roma 5:12; 6:23; dan Kejadian 2:17. Ia juga berkata, ”Ayat-ayat ini sepenuhnya selaras dengan apa yang Anda dan saya dan semua orang yang waras, berpikiran sehat di dunia akan akui sebagai sifat yang masuk akal dan pantas dari Allah kita. Apa yang dinyatakan mengenai Bapa surgawi kita? Bahwa Ia adil, bahwa Ia bijaksana, bahwa Ia pengasih, bahwa Ia berkuasa. Seluruh umat Kristen akan mengakui bahwa sifat-sifat ini adalah karakter ilahi. Jika memang demikian, dapatkah kita menemukan arti dari istilah itu dan memahami bahwa Allah itu adil namun menghukum makhluk ciptaan-Nya sendiri untuk kekal selama-lamanya, tidak soal apa dosanya? Saya bukan seorang yang membela dosa; saya sendiri tidak hidup dalam dosa, dan saya tidak pernah memberitakan dosa. . . . Namun saya memberi tahu Anda bahwa semua orang yang berada di sini yang saudara kita [Dr. Eaton] katakan sedang membicarakan hal-hal yang tidak sopan dengan hujahan mereka terhadap Allah dan nama kudus Yesus Kristus adalah semua orang yang telah diajar doktrin siksaan kekal ini. Juga semua pembunuh, pencuri dan pembuat kejahatan yang ada dalam penjara, semua diajar mengenai doktrin ini. . . . Doktrin-doktrin ini buruk; itu telah merusak dunia ini sejak lama; itu sama sekali bukan bagian dari ajaran Tuhan, dan saudara yang kita kasihi belum juga menghapus asap abad kegelapan dari matanya.”

      Dilaporkan bahwa setelah debat ini, seorang pemimpin agama yang hadir menghampiri Russell dan berkata, ”Saya senang sekali Saudara dapat mengarahkan pipa air ke neraka dan memadamkan apinya.”

      Agar kebenaran mengenai keadaan orang mati diberitakan lebih luas lagi, Saudara Russell mengadakan serangkaian kebaktian satu hari yang menjangkau daerah yang luas dari tahun 1905 sampai 1907, yang dalam acaranya ia menonjolkan khotbah umum ”Ke Neraka dan Kembali! Siapa yang Berada di Sana? Harapan untuk Kembali Bagi Banyak Orang”. Judul ini membangkitkan rasa ingin tahu, dan sangat menarik perhatian. Hadirin memenuhi balai-balai kebaktian di kota-kota besar dan kecil di Amerika Serikat dan Kanada untuk mendengarkan khotbah tersebut.

      Di antara mereka yang sungguh-sungguh tergerak oleh apa yang Alkitab katakan tentang keadaan orang mati adalah seorang mahasiswa universitas di Cincinnati, Ohio, yang tengah mempersiapkan diri untuk menjadi rohaniwan Presbiterian. Pada tahun 1913, ia menerima dari saudara kandungnya buku kecil Where Are the Dead?, yang ditulis oleh John Edgar, seorang Siswa Alkitab yang juga seorang dokter medis di Skotlandia. Mahasiswa yang menerima buku kecil itu adalah Frederick Franz. Setelah membacanya dengan teliti, ia dengan tegas menyatakan, ”Inilah kebenaran.” Tanpa ragu, ia mengubah cita-cita dalam hidupnya dan memasuki pelayanan sepenuh waktu sebagai penginjil kolportir. Pada tahun 1920, ia menjadi anggota staf kantor pusat Lembaga Menara Pengawal. Bertahun-tahun sesudahnya ia menjadi seorang anggota Badan Pimpinan dari Saksi-Saksi Yehuwa dan, belakangan, menjadi presiden Lembaga Menara Pengawal.

      Korban Tebusan Yesus Kristus

      Pada tahun 1872, sehubungan dengan penelitian Alkitabnya, Saudara Russell dan rekan-rekannya mengadakan peninjauan yang baru mengenai pokok restitusi, dari sudut tebusan yang Yesus Kristus berikan. (Kis. 3:21) Ia merasa tergetar ketika melihat di Ibrani 2:9 bahwa ’Yesus oleh kasih karunia Allah mengalami maut bagi semua manusia’. Hal itu tidak membimbingnya untuk mempercayai keselamatan universal, karena ia mengetahui bahwa Alkitab juga mengatakan bahwa untuk diselamatkan seseorang harus mempraktekkan iman kepada Yesus Kristus. (Kis. 4:12; 16:31) Namun, ia mulai mengerti—walaupun tidak seketika itu juga—betapa menakjubkan kesempatan yang dimungkinkan oleh korban tebusan Yesus Kristus bagi umat manusia. Hal itu membuka jalan bagi mereka untuk mendapatkan apa yang Adam hilangkan, prospek kehidupan kekal sebagai manusia sempurna. Saudara Russell tidak bersikap pasif mengenai perkara ini; ia memahami betapa pentingnya tebusan dan dengan penuh semangat menjunjungnya, bahkan pada waktu beberapa rekan dekatnya membiarkan pikiran mereka dirusak oleh pandangan-pandangan filsafat.

      Pada pertengahan tahun 1878, Saudara Russell, selama satu setengah tahun, telah menjadi asisten redaktur majalah Herald of the Morning, dan N. H. Barbour sebagai redaktur utamanya. Namun, ketika Barbour, dalam terbitan majalah mereka bulan Agustus 1878, meremehkan ajaran Alkitab mengenai tebusan, Russell menanggapinya dengan penuh semangat membela kebenaran Alkitab yang penting itu.

      Di bawah judul ”Pendamaian”, Barbour menggambarkan perasaannya terhadap ajaran ini dengan berkata, ”Saya mengatakan kepada anak saya, atau kepada salah seorang pembantu, jika James menggigit saudara perempuannya, tangkaplah seekor lalat, tusukkan jarum di badannya dan pakukan lalat itu di dinding, maka saya akan mengampuni James. Hal ini menggambarkan doktrin substitusi.” Walaupun mengaku percaya akan tebusan, Barbour menunjuk gagasan bahwa Kristus yang kematiannya membayar hukuman dosa bagi keturunan Adam adalah hal yang ”tidak berdasarkan Alkitab, dan tidak menyenangkan bagi seluruh gagasan keadilan kita.”h

      Langsung pada terbitan Herald of the Morning berikutnya (September 1878), Saudara Russell menyatakan ketidaksetujuannya atas apa yang Barbour tulis. Russell menganalisis apa yang sebenarnya Alkitab katakan dan konsistensi mereka dengan ”kesempurnaan keadilan [Allah], dan akhirnya belas kasihan dan kasih-Nya” sebagaimana ditunjukkan melalui persediaan tebusan. (1 Kor. 15:3; 2 Kor. 5:18, 19; 1 Ptr. 2:24; 3:18; 1 Yoh. 2:2) Pada musim semi berikutnya, setelah berulang kali berupaya membantu Barbour memandang persoalannya secara Alkitab, Russell menarik dukungannya dari majalah Herald; dan mulai terbitan bulan Juni 1879, namanya tidak lagi muncul sebagai asisten redaktur dari publikasi itu. Pendiriannya yang berani dan tidak mau berkompromi mengenai ajaran utama Alkitab ini mempunyai pengaruh yang jauh jangkauannya

      Selama sejarah zaman modern mereka, Saksi-Saksi Yehuwa secara konsisten selalu memperjuangkan ajaran Alkitab mengenai tebusan. Terbitan Zion’s Watch Tower yang paling pertama (Juli 1879) menandaskan bahwa ”mendapatkan kebaikan Allah bergantung atas . . . korban Kristus yang sempurna”. Pada tahun 1919, pada suatu kebaktian yang disponsori oleh Perkumpulan Siswa-Siswa Alkitab Internasional di Cedar Point, Ohio, kata-kata ”Selamat Datang! Semua yang Percaya Akan Korban Tebusan yang Hebat”, tercetak dengan mencolok pada jadwal acaranya. Di balik sampul depan majalah The Watch Tower perhatian kita terus ditarik kepada tebusan, dengan mengatakan tentang tujuan dari majalah itu, ”Majalah ini menganjurkan iman kepada Yesus Kristus, Raja yang sudah bertakhta dari Allah, yang dengan darahnya yang tercurah membuka jalan bagi umat manusia untuk mendapatkan kehidupan kekal.”

      Progresif, Tidak Terbelenggu oleh Kredo

      Pengertian yang jelas tentang Firman Allah tidak datang sekaligus. Dalam banyak kasus, Siswa-Siswa Alkitab dapat menangkap satu perincian pola kebenaran tetapi belum melihat gambar yang lengkap. Meskipun demikian, mereka rela belajar. Mereka tidak terbelenggu oleh kredo; mereka progresif. Mereka membagikan apa yang mereka pelajari. Mereka tidak mencari pujian dari apa yang mereka ajarkan; mereka berupaya untuk ”diajar oleh Yehuwa”. (Yoh. 6:45, NW) Dan mereka menghargai bahwa Yehuwa akan membuat pengertian dari perincian maksud-tujuan-Nya dalam waktu-Nya sendiri dan dengan cara-Nya sendiri.—Dan. 12:9; bandingkan Yohanes 16:12, 13.

      Mempelajari hal-hal baru menuntut penyesuaian dalam pandangan. Jika kesalahan perlu diakui atau perubahan yang membawa manfaat harus dilakukan, kerendahan hati dibutuhkan. Sifat ini dan buah-buahnya amat berkenan bagi Yehuwa, dan haluan yang demikian sangat menarik bagi para pencinta kebenaran. (Zef. 3:12) Namun hal ini dicemoohkan oleh mereka yang memuliakan kredo-kredo yang tetap tidak berubah selama berabad-abad, walaupun kredo-kredo ini dirumuskan oleh orang-orang yang tidak sempurna.

      Cara Kembalinya Tuhan

      Pada pertengahan tahun 1870-an, Saudara Russell dan mereka yang dengan rajin memeriksa Alkitab bersamanya mengerti bahwa pada waktu Tuhan kembali, ia tidak akan kelihatan oleh mata manusia.—Yoh. 14:3, 19.

      Saudara Russell belakangan berkata, ”Kami merasa sangat sedih melihat kekeliruan orang-orang Adven Kedua, yang mengharapkan kedatangan Kristus secara jasmani, dan mengajarkan bahwa dunia ini dan segala yang ada di dalamnya akan dibakar habis kecuali orang-orang Adven Kedua, setidaknya tahun 1873 atau 1874, yang memiliki penetapan waktu dan kekecewaan dan gagasan perkiraan yang pada umumnya mengenai tujuan dan cara kedatangannya sedikit banyak membawa celaan atas kita dan atas semua yang rindu dan yang mengumumkan kedatangan Kerajaannya. Pandangan keliru yang secara umum dianut mengenai tujuan dan cara kembalinya Tuhan ini mendorong saya menulis sebuah pamflet—’The Object and Manner of Our Lord’s Return’.” Pamflet ini diterbitkan pada tahun 1877. Saudara Russell mencetak kira-kira 50.000 eksemplar dan membagikannya.

      Dalam pamflet itu, ia menulis, ”Kami percaya Alkitab mengajarkan bahwa pada saat kedatangan-Nya dan beberapa waktu sesudah Ia datang, Ia tetap tidak akan kelihatan; setelah itu menyatakan atau memperlihatkan Dirinya dalam penghakiman dan berbagai bentuk, sehingga ’setiap mata akan melihat Dia’.” Untuk mendukung hal ini, ia membahas ayat-ayat seperti Kisah 1:11 (’Dia akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga’—yaitu, tidak dilihat oleh dunia ini) dan Yohanes 14:19 (”Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku”). Saudara Russell juga mengacu pada kenyataan bahwa The Emphatic Diaglott, yang pertama kali diterbitkan dalam bentuk lengkap pada tahun 1864 dengan terjemahan kata demi kata ke dalam bahasa Inggris, memberikan bukti bahwa istilah Yunani pa·rou·siʹa berarti ”kehadiran”. Ketika menganalisis penggunaan istilah itu dalam Alkitab, Russell menjelaskan dalam pamflet ini, ”Kata Yunani itu umumnya digunakan untuk mengacu kepada kedatangan kedua—Parousia, sering kali diterjemahkan kedatangan—selalu menandakan kehadiran pribadi, yaitu sudah datang, tiba dan tidak pernah menandakan sedang berada dalam perjalanan, sebagaimana kita menggunakan kata kedatangan.”

      Ketika membahas maksud-tujuan kehadiran Kristus, Russell menjelaskan bahwa hal ini bukanlah sesuatu yang akan dilaksanakan dalam suatu peristiwa tunggal yang mengguncangkan dunia. ”Kedatangan yang kedua, seperti yang pertama,” tulisnya, ”mencakup suatu jangka waktu, dan bukan suatu peristiwa yang terjadi dalam sekejap.” Selama waktu itu, tulisnya, ”kawanan kecil” akan diberikan pahala mereka bersama Tuhan sebagai sesama ahli waris dalam Kerajaannya; orang-orang lain, mungkin berjuta-juta, akan diberi kesempatan untuk kehidupan sempurna di bumi yang sudah dipulihkan seperti taman Eden yang indah.—Luk. 12:32.

      Hanya dalam waktu beberapa tahun, berdasarkan penelitian Alkitab yang lebih jauh, Russell menyadari bahwa Kristus tidak hanya akan kembali secara tidak kelihatan tetapi juga tetap tidak kelihatan, bahkan ketika menyatakan kehadirannya dengan penghakiman atas orang-orang jahat.

      Pada tahun 1876, ketika Russell pertama kali menerima sebuah terbitan Herald of the Morning, ia mengetahui bahwa ada kelompok lain yang ketika itu percaya bahwa kembalinya Kristus tidak akan kelihatan dan yang menghubungkan hal tersebut dengan berkat-berkat bagi seluruh keluarga di bumi. Dari Tn. Barbour, redaktur publikasi tersebut, Russell juga mulai yakin bahwa kehadiran Kristus yang tidak kelihatan telah dimulai pada tahun 1874.i Belakangan perhatian ditarik kepada hal ini dengan judul kecil ”Mengumumkan Kehadiran Kristus”, yang muncul pada sampul majalah Zion’s Watch Tower.

      Mengakui kehadiran Kristus sebagai sesuatu yang tidak kelihatan menjadi fondasi penting yang di atasnya pengertian dari banyak nubuat Alkitab akan dibangun. Siswa-Siswa Alkitab yang mula-mula tersebut menyadari bahwa kehadiran Tuhan seharusnya menjadi perhatian utama semua orang Kristen sejati. (Mrk. 13:33-37) Mereka benar-benar berminat akan kembalinya Sang Majikan dan tanggap akan kenyataan bahwa mereka mempunyai tanggung jawab untuk mengumumkannya, namun mereka belum mengerti dengan jelas seluruh perinciannya. Akan tetapi, apa yang roh Allah mungkinkan untuk mereka mengerti pada waktu yang sangat dini benar-benar luar biasa. Salah satu dari kebenaran-kebenaran ini menyangkut tanggal yang sangat penting yang ditandai oleh nubuat Alkitab.

      Akhir dari Zaman Orang Kafir

      Masalah kronologi Alkitab telah lama menarik minat para siswa Alkitab. Para komentator telah mengajukan berbagai pandangan tentang nubuat Yesus berkenaan ”zaman orang Kafir” dan catatan nabi Daniel tentang mimpi Nebukadnezar berkenaan tunggul pohon yang diikat selama ”tujuh masa”.—Luk. 21:24, Bode; Dan. 4:10-17.

      Baru pada tahun 1823, John A. Brown, yang karyanya diterbitkan di London, Inggris, menghitung ke ”tujuh masa” dari Daniel pasal 4 yang panjangnya sama dengan 2.520 tahun. Namun ia tidak mengerti dengan jelas tanggal mulainya jangka waktu nubuat itu atau kapan berakhirnya. Akan tetapi, ia memang menghubungkan ”tujuh masa” ini dengan Zaman Orang Kafir di Lukas 21:24, ”Bode”. Pada tahun 1844, E. B. Elliott, seorang pemimpin agama berkebangsaan Inggris, menarik perhatian kepada tahun 1914 sebagai tanggal yang mungkin untuk berakhirnya ”tujuh masa” dari kitab Daniel, namun ia juga mengajukan pandangan tambahan yang menunjuk kepada zaman Revolusi Prancis. Robert Seeley, dari London, pada tahun 1849 menangani hal ini dengan cara serupa. Setidaknya pada tahun 1870, sebuah publikasi yang diedit oleh Joseph Seiss dan rekan-rekannya dan dicetak di Philadelphia, Pennsylvania, mengajukan perhitungan yang menunjuk ke tahun 1914 sebagai tanggal yang penting, walaupun penalaran yang ada di dalamnya didasarkan atas kronologi yang belakangan ditolak oleh C. T. Russell.

      Kemudian, dalam terbitan Herald of the Morning bulan Agustus, September, dan Oktober 1875, N. H. Barbour membantu menyelaraskan perincian yang telah ditunjuk oleh orang-orang lain. Dengan menggunakan kronologi yang disusun oleh Christopher Bowen, seorang pemimpin agama di Inggris, dan diterbitkan oleh E. B. Elliott, Barbour menunjukkan permulaan Zaman Orang Kafir dengan digulingkannya Raja Zedekia sebagaimana dinubuatkan dalam Yehezkiel 21:25, 26, dan ia menunjuk ke tahun 1914 sebagai tanda berakhirnya Zaman Orang Kafir.

      Pada awal tahun 1876, C. T. Russell menerima sebuah terbitan Herald of the Morning. Ia langsung menulis kepada Barbour dan kemudian menggunakan waktu bersamanya selama musim panas di Philadelphia, antara lain berdiskusi mengenai jangka waktu nubuat. Tidak lama kemudian, dalam artikel yang berjudul ”Zaman Orang Kafir: Kapan Berakhir?”, Russell juga membahas hal ini dari Alkitab dan menyatakan bahwa bukti memperlihatkan bahwa ”tujuh masa akan berakhir pada tahun 1914 M”. Artikel ini dicetak dalam terbitan Bible Examiner bulan Oktober 1876.j Buku Three Worlds, and the Harvest of This World, diterbitkan pada tahun 1877 oleh N. H. Barbour, bekerja sama dengan C. T. Russell, menunjuk kepada kesimpulan yang sama. Sesudah itu, terbitan-terbitan pertama dari Watch Tower, seperti terbitan Desember 1879 dan Juli 1880, mengarahkan perhatian kepada tahun 1914 M sebagai tahun yang sangat penting dari sudut nubuat Alkitab. Pada tahun 1889 seluruh pasal empat Jilid II dari Millennial Dawn (belakangan disebut Studies in the Scriptures) khusus membahas tentang ”Zaman Orang Kafir”. Namun, apa arti berakhirnya Zaman Orang Kafir?

      Siswa-Siswa Alkitab tidak sepenuhnya yakin apa yang akan terjadi. Mereka percaya bahwa ini tidak akan berakhir dengan terbakarnya bumi dan hancurnya kehidupan manusia. Sebaliknya, mereka mengetahui bahwa itu akan menandai titik penting sehubungan dengan kekuasaan ilahi. Pada mulanya, mereka mengira bahwa pada tahun itu Kerajaan Allah sudah akan memperoleh kekuasaan penuh dan universal. Ketika hal itu tidak terjadi, keyakinan mereka akan nubuat-nubuat Alkitab yang menandai tanggal itu tidak goyah. Sebaliknya, mereka menyimpulkan bahwa tanggal itu hanya menandai titik mulainya kekuasaan Kerajaan.

      Dengan cara yang sama, pada mulanya mereka mengira bahwa kesulitan sedunia yang memuncak dalam anarki (yang mereka pahami akan berkaitan dengan perang ”pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa”) akan mendahului tanggal itu. (Why. 16:14) Namun kemudian, sepuluh tahun sebelum 1914, Watch Tower memberi tahu bahwa kesusahan sedunia yang akan berakhir dengan pemusnahan lembaga-lembaga manusia akan datang langsung sesudah berakhirnya Zaman Orang Kafir. Mereka mengharapkan tahun 1914 akan menandai titik balik yang penting untuk Yerusalem, karena nubuat tersebut berkata bahwa ’Yerusalem akan diinjak-injak’ sampai genap Zaman Orang Kafir. Ketika mereka mengamati tahun 1914 kian mendekat padahal mereka belum juga mati sebagai manusia dan ’diangkat dalam awan’ untuk menjumpai Tuhan—selaras dengan hal-hal yang mereka nantikan sebelumnya—mereka sungguh-sungguh berharap bahwa mereka akan diubah pada akhir Zaman Orang Kafir.—1 Tes. 4:17.

      Seraya tahun-tahun berlalu dan mereka memeriksa dan memeriksa ulang Alkitab, iman mereka akan nubuat-nubuat tetap kuat, dan mereka tidak berhenti menyatakan apa yang mereka nantikan akan terjadi. Dengan berbagai tingkat keberhasilan, mereka berupaya untuk tidak menjadi dogmatik berkenaan perincian yang tidak disebutkan secara langsung dalam Alkitab.

      Apakah ”Beker” Itu Berbunyi Terlalu Cepat?

      Banyak kesulitan memang menimpa dunia pada tahun 1914 dengan meletusnya Perang Dunia I, yang selama bertahun-tahun hanya disebut Perang Besar, tetapi itu tidak segera berakhir dengan dijatuhkannya seluruh kekuasaan manusia yang ada. Seraya peristiwa-peristiwa berkenaan dengan Palestina berkembang setelah tahun 1914, Siswa-Siswa Alkitab mengira mereka akan melihat bukti tentang perubahan-perubahan penting untuk Israel. Namun bulan-bulan dan kemudian tahun-tahun berlalu, dan Siswa-Siswa Alkitab tidak menerima pahala surgawi mereka seperti yang mereka harapkan. Bagaimana reaksi mereka terhadap hal ini?

      The Watch Tower 1 Februari 1916, secara spesifik menarik perhatian kepada 1 Oktober 1914, dan kemudian berkata, ”Ini adalah titik terakhir dari waktu yang ditunjuk oleh kronologi Alkitab kepada kita yang berkaitan dengan hal-hal yang akan dialami Gereja. Apakah Tuhan memberi tahu kita bahwa kita akan dibawa ke [surga] sana? Tidak. Apa yang Ia katakan? Firman-Nya dan penggenapan-penggenapan nubuat tampaknya tidak salah lagi menunjukkan bahwa tanggal ini menandai berakhirnya Zaman Orang Kafir. Kita menyimpulkan dari hal ini bahwa ’perubahan’ Gereja akan terjadi pada atau sebelum tanggal itu. Akan tetapi, Allah tidak memberi tahu kita bahwa halnya akan demikian. Ia mengizinkan kita menarik kesimpulan itu; dan kita yakin bahwa hal itu terbukti menjadi ujian yang perlu bagi orang-orang kudus yang Allah kasihi di mana-mana.” Namun, apakah perkembangan ini membuktikan bahwa harapan mereka yang mulia itu sia-sia belaka? Tidak. Itu hanya mengartikan bahwa tidak semua hal terjadi secepat yang mereka harapkan.

      Beberapa tahun sebelum 1914, Russell telah menulis, ”Kronologi (waktu nubuat secara umum) jelas tidak dimaksudkan untuk memberi umat Allah keterangan kronologi yang akurat sepanjang seluruh perjalanan waktu. Ternyata itu lebih dimaksudkan untuk berfungsi sebagai beker (jam yang dilengkapi dengan alat yang dapat berdering pada waktu yang dikehendaki) untuk membangunkan dan memberikan semangat kepada umat Tuhan pada waktu yang tepat. . . . Namun, coba kita bayangkan, misalnya bahwa Oktober 1914 itu berlalu dan bahwa kejatuhan yang serius dari kekuasaan Kafir tidak terjadi. Apa yang akan dibuktikan atau disangkal oleh hal ini? Ini tidak akan menyangkal corak mana pun dari Rencana Ilahi Sepanjang Zaman. Harga tebusan yang diselesaikan di Bukit Kalvari akan terus menjadi jaminan penggenapan terakhir dari Program Ilahi untuk restitusi manusia. ’Panggilan ke surga’ bagi Gereja untuk menderita bersama sang Penebus dan untuk dimuliakan bersamanya sebagai anggota-anggotanya atau sebagai Pengantin Perempuannya akan tetap sama. . . . Satu-satunya hal yang dipengaruhi oleh kronologi adalah waktu terwujudnya harapan yang mulia ini bagi Gereja dan bagi dunia. . . . Dan apabila tanggal itu berlalu, hal itu hanya akan membuktikan bahwa kronologi kita, ’beker’ kita, berbunyi sedikit lebih dini sebelum waktunya. Apakah kita akan menganggap sebagai malapetaka besar jika beker kita membangunkan kita beberapa saat lebih dini di pagi hari untuk suatu hari besar yang dipenuhi sukacita dan kesenangan? Tentu tidak!”

      Akan tetapi, ”beker” tersebut tidak berbunyi terlalu cepat. Sebenarnya, ketika ”jam” tadi membangunkan mereka, mereka hanya tidak mengalami hal-hal yang persis seperti yang mereka nantikan.

      Beberapa tahun kemudian, ketika cahaya telah bertambah terang, mereka mengakui, ”Banyak di antara orang-orang kudus yang kami kasihi mengira bahwa semua pekerjaan telah dilaksanakan. . . . Mereka bersukacita karena bukti yang jelas bahwa dunia telah berakhir, bahwa kerajaan surga sudah di ambang pintu, dan bahwa hari pembebasan mereka kian mendekat. Namun, mereka telah melupakan hal lain yang harus dikerjakan. Kabar baik yang telah mereka terima harus diberitahukan kepada orang-orang lain; karena Yesus telah memerintahkan, ’Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.’ (Matius 24:14)”—The Watch Tower, 1 Mei 1925.

      Seraya peristiwa-peristiwa setelah tahun 1914 mulai tersingkap dan Siswa-Siswa Alkitab membandingkan ini dengan apa yang Majikan mereka telah nubuatkan, mereka secara bertahap mulai menghargai bahwa mereka sedang hidup di hari-hari terakhir dari sistem tua ini dan bahwa halnya demikian sejak tahun 1914. Mereka juga mulai mengerti bahwa pada tahun 1914, kehadiran Kristus yang tidak kelihatan telah dimulai, dan ini bukan dengan kembalinya dia secara pribadi (bahkan secara tidak kelihatan) ke daerah lingkungan bumi, tetapi dengan mengalihkan perhatiannya ke bumi sebagai Raja yang memerintah. Mereka mengerti dan menerima tanggung jawab mereka yang penting untuk mengumumkan ”Injil Kerajaan ini” menjadi kesaksian bagi segala bangsa selama masa kritis dari sejarah manusia ini.—Mat. 24:3-14.

      Apa sebenarnya berita mengenai Kerajaan yang harus mereka kabarkan? Apakah ada bedanya dengan berita dari orang-orang Kristen abad pertama?

      Kerajaan Allah, Satu-Satunya Harapan Umat Manusia

      Sebagai hasil penyelidikan yang saksama dari Firman Allah, Siswa-Siswa Alkitab yang tergabung dengan Saudara Russell mengerti bahwa Kerajaan Allah adalah pemerintahan yang telah Yehuwa janjikan akan Ia dirikan dengan perantaraan Putra-Nya untuk memberkati umat manusia. Tergabung dengan Yesus Kristus di surga, akan ada rekan-rekan penguasa; suatu ”kawanan kecil” yang dipilih oleh Allah dari antara umat manusia. Mereka mengerti bahwa pemerintahan ini akan diwakili oleh pria-pria setia zaman dahulu yang akan melayani sebagai pangeran-pangeran di seluruh bumi. Mereka ini disebut sebagai ”orang-orang yang berjasa zaman dahulu”.—Luk. 12:32; Dan. 7:27; Why. 20:6; Mzm. 45:17.

      Susunan Kristen telah lama mengajarkan ’hak ilahi raja-raja’, sebagai cara untuk membuat orang-orang tunduk. Namun, Siswa-Siswa Alkitab ini mengerti dari Alkitab bahwa pemerintahan-pemerintahan manusia di masa mendatang tidak dilindungi oleh jaminan ilahi apa pun. Selaras dengan apa yang sedang mereka pelajari, Watch Tower bulan Desember 1881 menyatakan, ”Didirikannya kerajaan ini tentu akan menyebabkan digulingkannya seluruh kerajaan di bumi, karena mereka semua—bahkan yang terbaik sekalipun—didirikan atas ketidakadilan serta hak-hak yang tidak sama dan penindasan bagi kebanyakan orang dan kesenangan bagi segelintir orang—karena kita membaca, ’Kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya.’”—Dan. 2:44.

      Berkenaan dengan cara kerajaan-kerajaan yang menindas itu akan dipatahkan, Siswa-Siswa Alkitab masih harus banyak belajar. Mereka belum mengerti dengan jelas bagaimana berkat-berkat dari Kerajaan Allah akan menyebar ke seluruh umat manusia. Namun mereka tidak mengacaukan Kerajaan Allah dengan perasaan yang samar-samar dalam hati seseorang atau dengan suatu hierarki agama yang menggunakan pemerintahan Negara sebagai kaki-tangannya.

      Menjelang tahun 1914, hamba-hamba pra-Kristen yang setia dari Allah belum dibangkitkan di bumi sebagai wakil-wakil kerajaan dari Raja Mesias, sebagaimana dinantikan sebelumnya, demikian pula mereka yang masih tinggal sebagai ”kawanan kecil” belum lagi dipersatukan dengan Kristus dalam Kerajaan surgawi pada tahun itu. Akan tetapi, The Watch Tower 15 Februari 1915, dengan yakin menyatakan bahwa tahun 1914 adalah waktu yang tepat ”bagi Tuhan kita untuk mengambil kekuasaan-Nya yang besar dan bertakhta”, dan dengan demikian mengakhiri milenium-milenium dari dominasi Kafir yang berkesinambungan. Dalam terbitannya tanggal 1 Juli 1920, The Watch Tower meneguhkan kembali kedudukan itu dan menghubungkannya dengan kabar baik yang telah Yesus nubuatkan akan diumumkan di seluas bumi sebelum akhir itu. (Mat. 24:14) Pada kebaktian Siswa-Siswa Alkitab di Cedar Point, Ohio, tahun 1922, pengertian ini dinyatakan kembali dalam suatu resolusi umum, dan Saudara Rutherford mendesak para peserta kebaktian, ”Umumkan, umumkan, umumkan, Raja dan kerajaannya.”

      Akan tetapi, pada waktu itu Siswa-Siswa Alkitab merasa bahwa didirikannya Kerajaan itu, pembentukannya yang lengkap di surga, tidak akan terjadi sampai anggota terakhir dari pengantin perempuan Kristus dimuliakan. Maka, suatu tonggak sejarah yang nyata dicapai ketika pada tahun 1925 The Watch Tower terbitan 1 Maret menonjolkan artikel ”Kelahiran Suatu Bangsa”. Artikel itu mempersembahkan penelitian yang membuka mata tentang Wahyu pasal 12. Artikel tersebut menyajikan bukti bahwa Kerajaan Mesias telah dilahirkan—didirikan—pada tahun 1914, bahwa Kristus ketika itu telah mulai memerintah di atas takhta surgawinya, dan bahwa setelah itu Setan dicampakkan dari surga ke daerah sekitar bumi. Inilah kabar baik yang harus diberitakan, kabar bahwa Kerajaan Allah sudah beroperasi. Pengertian yang semakin jelas ini benar-benar telah mendorong para pemberita Kerajaan untuk mengabar sampai ke pelosok-pelosok bumi!

      Melalui segala sarana yang cocok, umat Yehuwa memberi kesaksian bahwa hanya Kerajaan Allah yang dapat membawa kelegaan kekal dan mengatasi problem-problem yang sangat berat yang mempengaruhi umat manusia. Pada tahun 1931 berita ini ditonjolkan melalui siaran radio oleh J. F. Rutherford dengan jaringan internasional yang paling luas yang pernah mengudara. Teks siaran itu juga dicetak dalam banyak bahasa dalam buku kecil The Kingdom, the Hope of the World—jutaan eksemplar disebarkan hanya dalam beberapa bulan. Selain penyebaran secara luas kepada umum, upaya istimewa juga dikerahkan untuk menyampaikan buku-buku ini kepada para politikus, pengusaha terkemuka, dan pemimpin agama.

      Antara lain, buku kecil itu mengatakan, ”Pemerintahan-pemerintahan dunia sekarang yang tidak adil tidak dapat mengulurkan harapan apa pun kepada rakyat. Penghakiman Allah terhadap mereka menyatakan bahwa mereka harus dihancurkan. Karena itu, harapan bagi dunia, dan satu-satunya harapan, adalah kerajaan atau pemerintahan yang adil-benar dari Allah dengan Kristus Yesus sebagai Penguasanya yang tidak kelihatan.” Mereka menyadari bahwa Kerajaan tersebut akan membawa perdamaian dan keamanan sejati bagi umat manusia. Di bawah pemerintahannya, bumi akan menjadi firdaus yang nyata, dan penyakit serta kematian tidak akan ada lagi.—Why. 21:4, 5.

      Kabar baik mengenai Kerajaan Allah terus menjadi kepercayaan yang penting bagi Saksi-Saksi Yehuwa. Sejak terbitan 1 Maret 1939, majalah utama mereka, yang sekarang diterbitkan dalam lebih dari 110 bahasa, telah mencantumkan judul Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa.

      Namun sebelum kekuasaan Kerajaan mengubah bumi menjadi firdaus, sistem yang jahat sekarang harus dilenyapkan. Bagaimana hal ini akan dilaksanakan?

      Perang pada Hari Besar Allah Yang Mahakuasa

      Perang dunia yang dimulai pada tahun 1914 mengguncangkan sistem perkara yang ada sampai ke dasarnya. Untuk sementara waktu tampaknya kejadian-kejadian akan berkembang sesuai dengan apa yang dinantikan Siswa-Siswa Alkitab.

      Sebelumnya pada bulan Agustus 1880, Saudara Russell telah menulis, ”Kita mengerti bahwa sebelum keluarga manusia dipulihkan atau bahkan mulai diberkati, kerajaan-kerajaan yang ada sekarang di bumi yang kini mengikat dan menindas umat manusia semuanya akan digulingkan dan bahwa kerajaan Allah akan mengambil alih kekuasaan dan bahwa berkat dan pemulihan itu akan datang melalui kerajaan yang baru tersebut.” Bagaimana ’penggulingan kerajaan-kerajaan’ itu akan terjadi? Berdasarkan situasi yang berkembang di dunia yang ia lihat pada waktu itu, Russell yakin bahwa selama perang Armagedon, Allah akan menggunakan faksi umat manusia yang saling bersaing untuk menggulingkan lembaga-lembaga yang ada. Ia berkata, ”Pekerjaan pembinasaan imperium manusia sedang dimulai. Kuasa yang akan menggulingkan mereka sekarang sedang bekerja. Orang-orang sudah mengorganisasi kekuatan-kekuatan mereka di bawah nama Komunis, Sosialis, Nihilis, dll.”

      Buku The Day of Vengeance (belakangan disebut The Battle of Armageddon), diterbitkan pada tahun 1897, selanjutnya memperluas cara Siswa-Siswa Alkitab pada waktu itu memahami persoalannya, dengan mengatakan, ”Tuhan, dengan kuasa mutlak-Nya, akan mengawasi secara umum bala tentara besar yang tidak puas ini—para patriot, para reformis, kaum sosialis, kaum moralis, para anarkis, orang-orang bodoh dan putus asa—serta menggunakan harapan, kecemasan, kebodohan dan pementingan diri mereka, sesuai dengan hikmat ilahi-Nya, untuk melaksanakan maksud-tujuan-Nya yang agung dalam menggulingkan lembaga-lembaga yang ada sekarang, dan untuk mempersiapkan manusia bagi Kerajaan Keadilbenaran.” Maka, pengertian mereka adalah bahwa perang Armagedon akan disertai revolusi sosial yang hebat.

      Namun, apakah Armagedon sekadar suatu perebutan kekuasaan antar faksi umat manusia yang saling bersaing, suatu revolusi sosial yang digunakan Allah untuk menggulingkan lembaga-lembaga yang ada? Seraya perhatian lebih jauh diberikan kepada ayat-ayat Alkitab yang memuat persoalan ini, The Watch Tower 15 Juli 1925, menarik perhatian kita kepada Zakharia 14:1-3 dan mengatakan, ”Dengan ini kita akan mengerti bahwa seluruh bangsa di bumi, di bawah bimbingan Setan, akan dikumpulkan untuk berperang melawan kelompok Yerusalem, yaitu, mereka yang berpihak kepada Tuhan . . . Wahyu 16:14, 16.”

      Tahun berikutnya, dalam buku Deliverance, perhatian dipusatkan pada maksud sesungguhnya dari perang ini, dengan mengatakan, ”Kini Yehuwa, sesuai dengan Firman-Nya, akan mempertunjukkan kekuasaan-Nya dengan begitu jelas dan tegas sehingga orang-orang dapat diyakinkan akan haluan mereka yang tidak saleh dan dapat mengerti bahwa Yehuwa adalah Allah. Itulah alasannya mengapa Allah mendatangkan banjir besar, meruntuhkan Menara Babel, menghancurkan pasukan Sanherib raja Asyur, dan menelan orang-orang Mesir di Laut Merah; dan itu juga alasannya mengapa Ia sekarang akan mendatangkan kesusahan besar yang lain ke atas bumi. Bencana-bencana terdahulu hanyalah bayangan dari apa yang kini akan datang. Pengumpulan itu menuju hari besar Allah Yang Mahakuasa. Hari itu adalah ’hari TUHAN yang hebat dan dahsyat’ (Yl. 2:31), pada waktu Allah membuat nama-Nya termasyhur. Dalam pertempuran besar dan terakhir ini, orang-orang dari segala bangsa, suku, dan bahasa akan mengetahui bahwa Yehuwa adalah Allah yang mahakuat, mahabijaksana, dan adil.” Namun hamba-hamba Yehuwa di bumi diperingatkan, ”Dalam perang besar ini tidak ada orang Kristen yang akan melancarkan serangan. Alasan mereka tidak melakukannya karena Yehuwa telah berkata, ’Bukan kamu yang berperang, melainkan Allah’.” Perang yang dibahas di sini jelas bukan perang yang diperjuangkan di antara bangsa-bangsa mulai tahun 1914. Perang ini masih akan datang.

      Masih ada pertanyaan-pertanyaan lain yang harus diselesaikan berdasarkan Alkitab. Salah satunya menyangkut identitas Yerusalem yang akan diinjak-injak sampai akhir Zaman Orang Kafir, sebagaimana dinyatakan di Lukas 21:24; dan yang berkaitan dengan hal ini adalah identitas Israel yang diacu dalam begitu banyak nubuat mengenai pemulihan.

      Apakah Allah Akan Memulihkan Orang-Orang Yahudi ke Palestina?

      Siswa-Siswa Alkitab mengetahui benar tentang banyak nubuat mengenai pemulihan yang disampaikan kepada Israel purba oleh nabi-nabi Allah. (Yer. 30:18; 31:8-10; Am. 9:14, 15; Rm. 11:25, 26) Terus sampai tahun 1932, mereka mengerti bahwa nubuat-nubuat ini diterapkan khususnya kepada orang-orang Yahudi jasmani. Maka, mereka percaya bahwa Allah akan memperlihatkan lagi perkenan-Nya kepada Israel, secara bertahap memulihkan orang-orang Yahudi ke Palestina, membuka mata mereka kepada kebenaran berkenaan Yesus sebagai Penebus dan Raja Mesias, dan menggunakan mereka sebagai saluran untuk mencurahkan berkat-berkat kepada semua bangsa. Dengan pengertian ini, Saudara Russell berbicara kepada sejumlah besar hadirin yang terdiri dari orang-orang Yahudi di New York juga di Eropa mengenai pokok ”Zionisme Dalam Nubuat”, dan Saudara Rutherford pada tahun 1925, menulis buku Comfort for the Jews.

      Namun, secara bertahap menjadi jelas bahwa apa yang terjadi di Palestina sehubungan dengan orang-orang Yahudi bukanlah penggenapan dari nubuat-nubuat pemulihan yang agung dari Yehuwa. Kehancuran menimpa Yerusalem abad pertama karena orang-orang Yahudi telah menolak Putra Allah, sang Mesias, pribadi yang diutus dalam nama Yehuwa. (Dan. 9:25-27; Mat. 23:38, 39) Halnya menjadi semakin jelas bahwa sebagai suatu umat mereka belum mengubah sikap mereka. Tidak ada pertobatan terhadap tindakan salah yang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Kembalinya beberapa orang ke Palestina tidak dimotivasi sedikit pun oleh kasih akan Allah atau keinginan agar nama-Nya diagungkan dengan penggenapan Firman-Nya. Hal ini dengan jelas diterangkan dalam jilid kedua buku Vindication, yang diterbitkan oleh Watch Tower Bible and Tract Society pada tahun 1932.k Bahwa sikap ini benar dikukuhkan pada tahun 1949, pada waktu Negara Israel, yang ketika itu baru terbentuk sebagai suatu bangsa dan sebagai tanah air bangsa Yahudi, menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan demikian memperlihatkan bahwa andalan mereka bukan Yehuwa tetapi bangsa-bangsa politik di dunia.

      Apa yang sedang terjadi sehubungan penggenapan nubuat-nubuat pemulihan itu menunjuk ke arah lain. Hamba-hamba Yehuwa mulai menyadari bahwa itu adalah Israel rohani, ”Israel milik Allah”, yang terdiri dari orang-orang Kristen yang diurapi roh, yang, dalam penggenapan maksud-tujuan Allah, menikmati perdamaian dengan Allah melalui Yesus Kristus. (Gal. 6:16) Kini mata mereka terbuka untuk melihat cara Allah berurusan dengan orang-orang Kristen sejati, penggenapan rohani yang luar biasa mengenai janji-janji pemulihan itu. Pada waktunya, mereka juga menyadari bahwa Yerusalem yang ditinggikan pada akhir Zaman Orang Kafir bukanlah sekadar suatu kota di bumi, atau bahkan bukan suatu umat di bumi yang digambarkan oleh kota itu, namun sebaliknya ”Yerusalem sorgawi”, tempat Yehuwa menempatkan Putra-Nya, Yesus Kristus, dengan wewenang pemerintahan pada tahun 1914.—Ibr. 12:22.

      Dengan jelasnya perkara-perkara ini, Saksi-Saksi Yehuwa berada pada posisi yang lebih baik untuk memenuhi, tanpa sikap pandang bulu terhadap golongan mana pun, tugas memberitakan kabar baik Kerajaan ”di seluruh dunia [yang berpenduduk, NW] menjadi kesaksian bagi semua bangsa”.—Mat. 24:14.

      Siapa yang harus dipuji atas semua penjelasan dari Alkitab yang telah muncul dalam publikasi-publikasi Menara Pengawal ini?

      Sarana yang Digunakan untuk Mengajar Hamba-Hamba Yehuwa

      Yesus Kristus menubuatkan bahwa setelah ia kembali ke surga, ia akan mengirim roh kudus kepada murid-muridnya. Ini akan berfungsi sebagai penolong, membimbing mereka ”ke dalam seluruh kebenaran”. (Yoh. 14:26; 16:7, 13) Yesus juga berkata bahwa sebagai Tuan atau Majikan dari orang-orang Kristen sejati, ia akan memiliki ”hamba yang setia dan bijaksana”, ”pengurus rumah yang setia”, yang akan memberikan ”makanan” rohani ”pada waktunya” kepada para pelayan, pekerja-pekerja dalam rumah tangga iman. (Mat. 24:45-47; Luk. 12:42) Siapakah hamba yang setia dan bijaksana ini?

      Terbitan yang pertama sekali dari Watch Tower mengutip Matius 24:45-47 ketika menyatakan bahwa tujuan penerbit majalah itu adalah untuk waspada terhadap peristiwa-peristiwa yang ada hubungannya dengan kehadiran Kristus dan untuk memberikan ”daging” rohani ”pada musimnya yang tepat” kepada rumah tangga iman. Akan tetapi, redaktur majalah itu tidak mengaku dirinya sebagai budak yang setia dan bijaksana, atau ”hamba yang setia dan bijaksana” (menurut terjemahan dari King James Version).

      Maka, dalam terbitan majalah ini pada bulan Oktober-November 1881, C. T. Russell menyatakan, ”Kami percaya bahwa setiap anggota dari tubuh Kristus sibuk dalam pekerjaan yang diberkati, secara langsung atau tidak langsung, untuk memberikan daging pada musimnya yang tepat kepada rumah tangga iman. ’Kalau begitu, siapakah hamba yang setia dan bijaksana itu, yang diangkat Tuannya untuk mengurus rumah tangganya’, untuk memberikan kepada mereka daging pada musimnya yang tepat? Bukankah ia adalah ’kawanan kecil’ dari hamba-hamba yang mengabdi yang dengan setia melaksanakan sumpah pengabdian mereka—tubuh Kristus—dan bukankah seluruh tubuh itu secara pribadi atau kolektif, sedang memberikan daging pada musimnya yang tepat kepada rumah tangga iman—kumpulan besar orang-orang percaya? Diberkatilah pelayan itu (seluruh tubuh Kristus) yang ketika Tuannya itu datang (Yn. elthon) akan mendapatinya sedang melakukannya. ’Aku berkata kepadamu; Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya’.”

      Akan tetapi, lebih dari satu dekade setelah itu, istri Saudara Russell menyampaikan gagasan di hadapan umum bahwa Russell sendiri adalah hamba yang setia dan bijaksana itu.l Pandangan yang ia kemukakan sehubungan dengan identitas ’hamba yang setia’ ini secara umum dianut oleh Siswa-Siswa Alkitab selama kira-kira 30 tahun. Saudara Russell tidak menolak pandangan mereka, tetapi ia secara pribadi menghindari penerapan ayat itu dengan cara demikian, yang menandaskan bahwa ia menentang gagasan mengenai para pemimpin agama yang ditugaskan untuk mengajar Firman Allah sebagai kebalikan dari kaum awam yang tidak mendapat penugasan tersebut. Pengertian yang diungkapkan oleh Saudara Russell pada tahun 1881 bahwa hamba yang setia dan bijaksana sesungguhnya adalah hamba secara kolektif, terdiri dari semua anggota tubuh Kristus yang diurapi dengan roh di bumi, diteguhkan kembali dalam The Watch Tower 15 Februari 1927.—Bandingkan Yesaya 43:10.

      Bagaimana Saudara Russell memandang peranannya sendiri? Apakah ia mengaku memiliki penyingkapan khusus dari Allah? Dalam Watch Tower 15 Juli 1906 (halaman 229), Russell dengan rendah hati menjawab, ”Tidak, teman-teman yang saya kasihi, saya tidak mengaku memiliki kelebihan, ataupun kekuatan, wibawa, atau wewenang supernatural; juga saya tidak bercita-cita untuk meninggikan diri dalam pandangan saudara-saudara saya dalam rumah tangga iman, kecuali dalam arti yang Majikan kita anjurkan, dengan mengatakan, ’Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.’ (Mat. 20:27.) . . . Kebenaran yang saya sampaikan, sebagai juru bicara Allah, tidak disingkapkan melalui penglihatan atau mimpi, juga tidak dengan suara Allah yang dapat terdengar, juga tidak semuanya sekaligus, tetapi secara bertahap . . . Penyingkapan kebenaran yang jelas ini juga tidak disebabkan oleh kecerdasan atau ketajaman persepsi manusia mana pun, tetapi karena fakta sederhana bahwa waktu yang Allah tentukan sudah tiba; dan jika saya tidak berbicara, dan tidak ada wakil lain yang dapat ditemukan, batu-batu pun akan berteriak.”

      Para pembaca Watch Tower dianjurkan untuk melihat kepada Yehuwa sebagai Instruktur Agung mereka, sama seperti dianjurkan bagi semua Saksi-Saksi Yehuwa zaman sekarang. (Yes. 30:20) Hal ini ditekankan dengan kuat dalam The Watchtower 1 November 1931, dalam artikel ”Diajar Oleh Allah”, yang menyatakan, ”The Watchtower mengakui kebenaran sebagai milik Yehuwa, dan bukan milik makhluk mana pun. The Watchtower bukan alat dari manusia atau kelompok manusia mana pun, dan juga tidak diterbitkan menurut tindakan manusia. . . . Allah Yehuwa adalah Guru besar dari anak-anak-Nya. Tentu saja, publikasi dari kebenaran-kebenaran ini disajikan oleh orang-orang yang tidak sempurna, dan karena alasan ini kebenaran-kebenaran itu tidak mutlak sempurna bentuknya; tetapi itu disajikan dalam bentuk yang sedemikian rupa sehingga mencerminkan kebenaran Allah yang Ia ajarkan kepada anak-anak-Nya.”

      Pada abad pertama, ketika pertanyaan-pertanyaan timbul mengenai doktrin atau tata cara, ini semua diserahkan kepada badan pimpinan pusat yang terdiri atas pria-pria yang tua secara rohani. Keputusan-keputusan diambil setelah mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh Kitab-Kitab yang terilham maupun bukti kegiatan yang selaras dengan ayat-ayat Kitab-Kitab tersebut dan yang berkembang sebagai hasil bekerjanya roh kudus. Keputusan-keputusan ini disampaikan secara tertulis kepada sidang-sidang. (Kis. 15:1–16:5) Prosedur yang sama dijalankan di antara Saksi-Saksi Yehuwa dewasa ini.

      Instruksi rohani disediakan melalui artikel-artikel majalah, buku-buku, acara-acara kebaktian, dan rangka-rangka untuk khotbah di sidang—semuanya dipersiapkan di bawah pengawasan Badan Pimpinan dari budak yang setia dan bijaksana. Isinya dengan jelas menunjukkan bahwa nubuat Yesus adalah benar dewasa ini—bahwa ia sesungguhnya memiliki suatu golongan budak yang setia dan bijaksana yang dengan loyal mengajarkan ’segala sesuatu yang telah ia perintahkan’; bahwa wakil ini sedang ’berjaga-jaga’, waspada terhadap peristiwa-peristiwa yang menggenapi nubuat Alkitab dan khususnya yang berhubungan dengan kehadiran Kristus; yang membantu umat yang takut akan Allah mengerti apa yang tersangkut dalam ”melakukan” hal-hal yang diperintahkan Yesus dan dengan demikian membuktikan bahwa mereka benar-benar murid-muridnya.—Mat. 24:42; 28:20; Yoh. 8:31, 32.

      Secara progresif, selama bertahun-tahun, praktek-praktek yang dapat menarik perhatian yang tidak semestinya kepada manusia-manusia tertentu sehubungan dengan persiapan makanan rohani telah dihilangkan. Sampai kematian C. T. Russell, namanya sebagai redaktur tercantum dalam hampir setiap terbitan Watch Tower. Nama-nama atau inisial dari orang-orang lain yang menyumbangkan bahan sering kali muncul pada akhir dari artikel yang mereka persiapkan. Kemudian, mulai terbitan 1 Desember 1916, sebaliknya daripada memperlihatkan nama seseorang sebagai redaktur, The Watch Tower mencantumkan nama-nama anggota panitia editorial. Pada terbitan 15 Oktober 1931, bahkan daftar ini juga dihapus, dan Yesaya 54:13 menggantikan tempatnya. Sebagaimana dikutip dari terjemahan American Standard Version, ayat itu berbunyi, ”Dan semua anak-anakmu akan diajar oleh Yehuwa; dan besarlah perdamaian anak-anakmu.” Sejak tahun 1942, telah menjadi peraturan umum bahwa lektur yang diterbitkan oleh Lembaga Menara Pengawal tidak menarik perhatian kepada pribadi mana pun sebagai penulisnya.a Di bawah pengawasan Badan Pimpinan, orang-orang Kristen yang berbakti di Amerika Utara dan Selatan, Eropa, Afrika, Asia, dan pulau-pulau di lautan telah mempunyai bagian dalam mempersiapkan bahan demikian untuk digunakan oleh sidang-sidang Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia. Namun, seluruh kehormatan diberikan kepada Allah Yehuwa.

      Terang yang Semakin Bersinar

      Sebagaimana tercermin dalam sejarah zaman modern mereka, apa yang dialami Saksi-Saksi Yehuwa serupa dengan apa yang digambarkan dalam Amsal 4:18, ”Jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.” Bersinarnya terang itu terjadi secara progresif, sama seperti terang pada dini hari diikuti oleh terbitnya matahari dan terang yang penuh dari hari yang baru. Seraya memandang perkara-perkara dalam terang yang tersedia, mereka kadang-kadang memiliki konsep-konsep yang tidak lengkap, bahkan tidak akurat. Tidak soal seberapa kuat upaya mereka, mereka memang tidak dapat mengerti nubuat-nubuat tertentu sampai semua itu mulai mengalami penggenapan. Karena Yehuwa telah mencurahkan lebih banyak terang atas Firman-Nya melalui roh-Nya, hamba-hamba-Nya dengan rendah hati rela membuat penyesuaian-penyesuaian yang dibutuhkan.

      Pengertian yang progresif demikian tidak dibatasi pada masa awal sejarah zaman modern mereka. Itu terus berlangsung sampai sekarang. Sebagai contoh, pada tahun 1962, dibuat penyesuaian mengenai pengertian ”kalangan berwenang yang lebih tinggi” dari Roma 13:1-7, NW.

      Selama bertahun-tahun, Siswa-Siswa Alkitab telah mengajarkan bahwa ”kekuasaan yang lebih tinggi” (KJ) itu adalah Allah Yehuwa dan Yesus Kristus. Mengapa? The Watch Tower terbitan 1 Juni dan 15 Juni 1929 mengutip berbagai hukum duniawi, dan memperlihatkan bahwa apa yang diizinkan di satu negeri dilarang di negeri yang lain. Perhatian juga ditarik kepada hukum-hukum duniawi yang menuntut rakyatnya melakukan larangan Allah atau yang melarang apa yang Allah perintahkan agar hamba-hamba-Nya lakukan. Karena mereka dengan sungguh-sungguh ingin menaruh respek kepada wewenang tertinggi dari Allah, maka tampak bagi Siswa-Siswa Alkitab bahwa ”kekuasaan yang lebih tinggi” itu adalah Allah Yehuwa dan Yesus Kristus. Mereka tetap menaati hukum duniawi, tetapi mendahulukan ketaatan kepada Allah lebih ditekankan. Itu merupakan pelajaran penting yang membentengi mereka selama tahun-tahun kekacauan dunia yang menyusul setelah itu. Namun, mereka tidak mengerti dengan jelas apa yang dikatakan Roma 13:1-7.

      Pada tahun-tahun berikutnya, ayat-ayat tersebut kembali dianalisis dengan teliti, bersama ikatan kalimatnya dan maknanya menurut pandangan seluruh bagian lain dari Alkitab. Sebagai hasilnya, pada tahun 1962 diakui bahwa ”kalangan berwenang yang lebih tinggi” itu adalah para penguasa duniawi, tetapi dengan bantuan New World Translation, prinsip ketundukan relatif dipahami dengan jelas.b Ini tidak menuntut perubahan yang besar dalam sikap Saksi-Saksi Yehuwa terhadap pemerintahan dunia, namun hal ini memang memperbaiki pengertian mereka tentang suatu bagian penting dari Alkitab. Dalam prosesnya, ada kesempatan bagi Saksi-Saksi secara pribadi untuk mempertimbangkan dengan saksama apakah mereka hidup sesuai dengan tanggung jawab mereka kepada Allah dan kalangan berwenang duniawi. Pengertian yang jelas mengenai ”kalangan berwenang yang lebih tinggi” (NW) ini telah melindungi Saksi-Saksi Yehuwa, khususnya mereka yang berada di negeri-negeri tempat gelombang nasionalisme dan tuntutan untuk kemerdekaan yang lebih besar telah mengakibatkan meletusnya kekerasan dan pembentukan pemerintahan-pemerintahan baru.

      Pada tahun berikutnya, 1963, penerapan yang lebih luas tentang ”Babel Besar” dipersembahkan.c (Why. 17:5) Tinjauan dari sejarah duniawi dan agama menunjuk kepada kesimpulan bahwa pengaruh Babel purba telah merembes bukan saja ke dalam Susunan Kristen tetapi ke dalam setiap bagian bumi. Demikianlah Babel Besar dipahami sebagai seluruh imperium agama palsu sedunia. Kesadaran akan hal ini memungkinkan Saksi-Saksi Yehuwa membantu lebih banyak orang lagi dari berbagai latar belakang untuk menanggapi perintah Alkitab, ”Hai umatKu, pergilah dari padanya”.—Why. 18:4.

      Memang, penyingkapan dari peristiwa-peristiwa yang dinubuatkan dalam seluruh kitab Wahyu telah menyediakan penerangan rohani yang limpah. Pada tahun 1917, suatu penelitian tentang Wahyu diterbitkan dalam buku The Finished Mystery. Namun, ”hari Tuhan”, yang ditunjuk dalam Wahyu 1:10, baru saja dimulai ketika itu; banyak dari apa yang dinubuatkan belum terjadi dan tidak dimengerti dengan jelas. Akan tetapi, perkembangan selama tahun-tahun berikutnya memberikan lebih banyak penerangan akan makna bagian Alkitab tersebut, dan peristiwa-peristiwa ini memiliki pengaruh yang luar biasa atas penelitian yang memberikan terang dari kitab Wahyu yang diterbitkan pada tahun 1930 dalam dua jilid buku yang berjudul Light. Selama tahun 1960-an pembaharuan lebih jauh muncul dalam buku-buku ”Babylon the Great Has Fallen!” God’s Kingdom Rules! dan ”Then Is Finished the Mystery of God”. Dua dekade sesudahnya, penelitian lain yang mendalam diadakan untuk bagian Alkitab tersebut. Bahasa lambang dari kitab Wahyu dianalisis secara teliti dengan mempertimbangkan istilah-istilah yang serupa di bagian lain dalam Alkitab. (1 Kor. 2:10-13) Peristiwa-peristiwa abad kedua puluh yang menggenapi nubuat-nubuat ditinjau. Hasilnya diterbitkan pada tahun 1988 dalam buku yang menggetarkan Wahyu—Klimaksnya yang Menakjubkan Sudah Dekat!

      Selama tahun-tahun awal dari sejarah zaman modern mereka, fondasi diletakkan. Banyak makanan rohani yang berharga disediakan. Pada tahun-tahun belakangan, bahan-bahan penelitian Alkitab yang lebih beraneka ragam telah disediakan untuk memuaskan kebutuhan orang-orang Kristen yang matang maupun siswa-siswa baru dari berbagai latar belakang. Penelitian Alkitab yang terus-menerus, bersamaan dengan penggenapan nubuat ilahi, dalam banyak hal telah memungkinkan untuk mengungkapkan ajaran-ajaran Alkitab dengan lebih jelas. Karena penelitian mereka mengenai Firman Allah bersifat progresif, Saksi-Saksi Yehuwa memiliki makanan rohani yang limpah, sama seperti yang telah Alkitab nubuatkan akan demikian halnya bagi hamba-hamba Allah. (Yes. 65:13, 14) Penyesuaian-penyesuaian dalam pandangan tidak pernah dibuat dengan maksud untuk dapat lebih diterima oleh dunia dengan menyetujui nilai-nilai moralnya yang merosot. Sebaliknya, sejarah Saksi-Saksi Yehuwa memperlihatkan bahwa perubahan-perubahan dibuat dengan maksud untuk berpaut lebih erat lagi pada Alkitab, menjadi lebih serupa dengan orang-orang Kristen yang setia pada abad pertama, dan karena itu lebih diperkenan oleh Allah.

      Maka, pengalaman mereka selaras dengan doa rasul Paulus, yang menulis kepada sesama orang Kristen, ”Kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna [”dipenuhi dengan pengetahuan yang saksama”, NW], sehingga hidupmu layak di hadapanNya serta berkenan kepadaNya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar [”saksama”, NW] tentang Allah.”—Kol. 1:9, 10.

      Pertambahan pengetahuan yang saksama tentang Allah itu juga memberi pengaruh atas nama mereka—Saksi-Saksi Yehuwa.

      [Catatan Kaki]

      a Zion’s Watch Tower and Herald of Christ’s Presence, 15 Juli 1906, hlm. 229-31.

      b Lihat Insight on the Scriptures, diterbitkan pada tahun 1988 oleh Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc., Jilid 2, halaman 1176.

      c Sebagai contoh: (1) Pada abad ke-16, gerakan-gerakan anti tritunggal kuat di Eropa. Sebagai contoh, Ferenc Dávid (1510-79), seorang Hungaria, mengetahui dan mengajarkan bahwa dogma Tritunggal tidak berdasarkan Alkitab. Karena kepercayaannya, ia meninggal di penjara. (2) Gereja Reformasi Kecil, yang berkembang di Polandia sepanjang kira-kira seratus tahun selama abad ke-16 dan ke-17, juga menolak Tritunggal, dan para pengikut gereja itu menyebarkan bacaan ke seluruh Eropa, sampai kaum Yesuit berhasil mengenyahkan mereka dari Polandia. (3) Sir Isaac Newton (1642-1727), di Inggris, menolak doktrin Tritunggal dan menulis alasan-alasan sejarah dan Alkitab yang terperinci untuk tindakannya ini, tetapi ia tidak menerbitkannya selama masa hidupnya, kelihatannya karena takut akan konsekuensinya. (4) Di antara banyak orang di Amerika, Henry Grew membeberkan Tritunggal sebagai sesuatu yang tidak berdasarkan Alkitab. Pada tahun 1824, ia membahas persoalan ini secara panjang lebar dalam An Examination of the Divine Testimony Concerning the Character of the Son of God.

      d Lihat juga Studies in the Scriptures, Jilid V, halaman 41-82.

      e Pembahasan yang saksama mengenai bukti-bukti sejarah dan Alkitab tentang pokok ini telah diterbitkan oleh Watch Tower Bible and Tract Society pada berbagai waktu. Lihat ”Kalam”—Siapakah Gerangan Dia? Menurut Yahya (1962, dalam bahasa Inggris), ”Things in Which It Is Impossible for God to Lie” (1965), Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab (1985), dan Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal? (1989).

      f Apa yang Alkitab katakan mengenai jiwa diketahui oleh sarjana-sarjana Yahudi dan juga oleh mereka dari Susunan Kristen, namun hal itu sangat jarang diajarkan di tempat-tempat ibadat mereka. Lihat New Catholic Encyclopedia (1967), Jilid XIII, halaman 449-50; The Eerdmans Bible Dictionary (1987), halaman 964-5; The Interpreter’s Dictionary of the Bible, diedit oleh G. Buttrick (1962), Jilid 1, halaman 802; The Jewish Encyclopedia (1910), Jilid VI, halaman 564.

      g Dalam suatu pembahasan yang lebih mendalam tentang pokok ini, pada tahun 1955, buku kecil What Do the Scriptures Say About ”Survival After Death”? menunjukkan bahwa catatan Alkitab memperlihatkan bahwa Setan sebenarnya menganjurkan Hawa untuk percaya bahwa ia tidak akan mati secara jasmani sebagai akibat melanggar larangan Allah mengenai makan buah dari ”pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat”. (Kej. 2:16, 17; 3:4) Pada waktunya, hal itu terbukti salah, namun ada perkembangan lebih jauh yang berakar pada dusta pertama tersebut. Orang-orang menganut pandangan bahwa suatu bagian manusia yang tidak kelihatan akan terus hidup. Setelah Air Bah pada zaman Nuh, hal ini diperkuat oleh praktek-praktek spiritisme bersifat hantu yang berasal dari Babel.—Yes. 47:1, 12; Ul. 18:10, 11.

      h Barbour mengaku percaya kepada tebusan, bahwa Kristus mati untuk kita. Yang ia tolak adalah gagasan ”substitusi” (nilai yang sepadan untuk tebusan)—bahwa Kristus mati menggantikan kita, bahwa dengan kematiannya Kristus membayar hukuman dosa bagi keturunan Adam.

      i Hal ini dipengaruhi oleh kepercayaan bahwa milenium ketujuh dari sejarah manusia telah dimulai pada tahun 1873 dan bahwa jangka waktu tanpa perkenan ilahi (yang panjangnya sama dengan jangka waktu sebelumnya yang dianggap sebagai jangka waktu perkenan) bagi Israel jasmani akan berakhir pada tahun 1878. Kronologi ini mempunyai cacat karena bersandar pada terjemahan yang tidak akurat dari Kisah 13:20 dalam King James Version, kepercayaan bahwa ada kesalahan penulisan di 1 Raja 6:1, dan kegagalan untuk mempertimbangkan keselarasan Alkitab dalam penentuan masa pemerintahan raja-raja Yehuda dan Israel. Pengertian yang lebih jelas tentang kronologi Alkitab diterbitkan pada tahun 1943, dalam buku ”The Truth Shall Make You Free”, dan kemudian diperbaiki pada tahun berikutnya dalam buku ”The Kingdom Is at Hand”, maupun dalam publikasi-publikasi setelah itu.

      j Majalah yang diterbitkan oleh George Storrs, Brooklyn, New York.

      k Pada tahun 1978, ketika diminta memberikan pernyataan kepada pers mengenai kedudukan Saksi-Saksi Yehuwa berkenaan Zionisme, Badan Pimpinan mengatakan, ”Saksi-Saksi Yehuwa tetap berpendirian sesuai Alkitab dengan bersikap netral terhadap semua gerakan politik dan pemerintahan. Mereka yakin bahwa tidak ada gerakan manusia mana pun yang akan mencapai apa yang hanya dapat dilaksanakan oleh kerajaan surgawi Allah.”

      l Menyedihkan sekali, tidak lama kemudian ia berpisah dari Russell karena keinginannya sendiri untuk menonjol.

      a Akan tetapi, di negeri-negeri yang hukumnya menuntut hal itu, seorang wakil setempat dapat dicantumkan namanya sebagai orang yang bertanggung jawab atas apa yang diterbitkan.

      b The Watchtower, 1 November, 15 November, dan 1 Desember 1962.

      c The Watchtower, 15 November dan 1 Desember 1963.

      [Blurb di hlm. 120]

      C. T. Russell terus terang mengakui bantuan yang datang dari orang-orang lain selama tahun-tahun pertama penelitian Alkitabnya

      [Blurb di hlm. 122]

      Mereka secara pribadi telah memeriksa bukti bahwa Alkitab benar-benar Firman Allah

      [Blurb di hlm. 123]

      Siswa-Siswa Alkitab memahami bahwa keadilan Allah secara sempurna seimbang dengan hikmat, kasih, dan kuasa-Nya

      [Blurb di hlm. 127]

      Russell mengerti dengan jelas bahwa neraka bukan tempat siksaan setelah kematian

      [Blurb di hlm. 129]

      Kebanyakan orang yang berpikiran sehat tidak mempercayai doktrin api neraka

      [Blurb di hlm. 132]

      Pendirian Russell yang teguh akan tebusan mempunyai pengaruh yang jauh jangkauannya

      [Blurb di hlm. 134]

      Mereka dapat mengerti bahwa tahun 1914 ditandai dengan jelas oleh nubuat Alkitab

      [Blurb di hlm. 136]

      Tidak semua hal terjadi secepat yang mereka harapkan

      [Blurb di hlm. 139]

      Kabar baik untuk diberitakan: Kerajaan Allah sudah beroperasi!

      [Blurb di hlm. 140]

      Apakah Armagedon sekadar suatu revolusi sosial?

      [Blurb di hlm. 141]

      Akhirnya, pada tahun 1932, ”Israel milik Allah” yang sesungguhnya dikenali

      [Blurb di hlm. 143]

      ”Budak yang setia dan bijaksana”—satu orang atau satu kelompok?

      [Blurb di hlm. 146]

      Secara progresif, praktek-praktek yang dapat menarik perhatian yang tidak semestinya kepada manusia-manusia tertentu telah dihilangkan

      [Blurb di hlm. 148]

      Perubahan-perubahan dibuat dengan maksud untuk berpaut lebih erat lagi kepada Firman Allah

      [Kotak di hlm. 124]

      Memberitahukan Nama Allah

      ◆ Sejak tahun 1931, nama Saksi-Saksi Yehuwa digunakan untuk menandai mereka yang menyembah dan melayani Yehuwa sebagai satu-satunya Allah yang benar.

      ◆ Sejak 15 Oktober 1931, nama pribadi Allah, yakni Yehuwa, muncul pada sampul depan dari setiap terbitan majalah ”Watchtower”.

      ◆ Pada waktu manakala nama pribadi Allah dihilangkan dari kebanyakan terjemahan modern Alkitab, Saksi-Saksi Yehuwa mulai menerbitkan, pada tahun 1950, ”New World Translation”, yang memulihkan nama Allah ke tempat sebenarnya.

      ◆ Selain Alkitab itu sendiri, banyak bacaan lain telah diterbitkan oleh Watch Tower Bible and Tract Society untuk memusatkan perhatian khusus kepada nama ilahi—sebagai contoh, buku-buku ”Jehovah” (1934), ”Let Your Name Be Sanctified” (1961), dan ”’The Nations Shall Know That I Am Jehovah’—How?” (1971), juga brosur ”Nama Ilahi yang Akan Kekal Selama-lamanya” (1984).

      [Kotak di hlm. 126]

      ’Apakah Kami Akan Menentang Kristus Sendiri?’

      Setelah membeberkan bahwa doktrin Tritunggal itu tidak berdasarkan Alkitab dan tidak masuk akal, C. T. Russell menyatakan perasaan tidak senang yang patut ketika ia bertanya, ”Apakah kami dengan demikian akan menentang Para Rasul dan Para Nabi dan Yesus Sendiri, dan mengabaikan nalar dan akal sehat, agar dapat menganut suatu dogma yang diberikan kepada kita dari masa lalu yang gelap dan mistik, oleh Gereja murtad yang rusak? Tidak! ’Demi Hukum dan Demi kesaksian! Jika mereka berbicara tidak selaras dengan Firman ini, itu adalah karena tidak ada terang pada mereka.’”—”The Watch Tower”, 15 Agustus 1915.

      [Kotak di hlm. 133]

      Kebenaran yang Progresif

      Pada tahun 1882, C. T. Russell menulis, ”Alkitab adalah satu-satunya standar kita, dan ajaran-ajarannya adalah satu-satunya kredo kita, dan dengan mengakui bahwa penyingkapan kebenaran Alkitab bersifat progresif, kita siap untuk menambahkan atau menyesuaikan kredo kita (iman—kepercayaan) seraya kita mendapatkan lebih banyak terang dari Standar kita.” ”Watch Tower” April 1882, hlm. 7.

      [Kotak di hlm. 144, 145]

      Kepercayaan Saksi-Saksi Yehuwa

      ◆ Alkitab adalah Firman Allah yang terilham. (2 Tim. 3:16, 17)

      Isinya bukan sekadar sejarah atau pendapat manusia tetapi firman Allah, yang dicatat demi manfaat kita. (2 Ptr. 1:21; Rm. 15:4; 1 Kor. 10:11)

      ◆ Yehuwa adalah satu-satunya Allah yang benar. (Mzm. 83:19; Ul. 4:39)

      Yehuwa adalah Pencipta segala sesuatu, dan karena itu, hanya Dia yang layak disembah. (Why. 4:11; Luk. 4:8)

      Yehuwa adalah Penguasa Universal, pribadi yang harus kita taati sepenuhnya. (Kis. 4:24; Dan. 4:17; Kis. 5:29)

      ◆ Yesus Kristus adalah Putra tunggal Allah, satu-satunya yang diciptakan langsung oleh Allah sendiri. (1 Yoh. 4:9; Kol. 1:13-16)

      Yesus adalah yang pertama dari ciptaan-ciptaan Allah; karena itu, sebelum ia dikandung dan dilahirkan sebagai manusia, Yesus hidup di surga. (Why. 3:14; Yoh. 8:23, 58)

      Yesus menyembah Bapanya sebagai satu-satunya Allah yang benar; Yesus tidak pernah mengaku dirinya sama dengan Allah. (Yoh. 17:3; 20:17; 14:28)

      Yesus memberikan kehidupan manusia sempurnanya sebagai tebusan bagi umat manusia. Pengorbanannya memungkinkan semua orang yang mempraktekkan iman di dalamnya untuk mendapat kehidupan kekal. (Mrk. 10:45; Yoh. 3:16, 36)

      Yesus dibangkitkan dari kematian sebagai pribadi roh yang tak berkematian. (1 Ptr. 3:18; Rm. 6:9)

      Yesus telah kembali (dengan mengalihkan perhatiannya sebagai Raja ke bumi) dan sekarang hadir sebagai roh yang mulia. (Mat. 24:3, 23-27; 25:31-33; Yoh. 14:19)

      ◆ Setan adalah ”penguasa dunia ini” yang tidak kelihatan. (Yoh. 12:31; 1 Yoh. 5:19)

      Semula, ia adalah anak Allah yang sempurna, tetapi ia membiarkan perasaan-perasaan menganggap diri penting berkembang dalam hatinya, mengidamkan penyembahan yang seharusnya hanya diberikan kepada Yehuwa, dan menggoda Adam dan Hawa untuk menaati dia sebaliknya daripada mendengarkan Allah. Dengan demikian ia menjadikan dirinya Setan, yang berarti ”Penentang”. (Yoh. 8:44; Kej. 3:1-5; bandingkan Ulangan 32:4, 5; Yakobus 1:14, 15; Lukas 4:5-7.)

      Setan ”menyesatkan seluruh dunia”; ia dan hantu-hantunya bertanggung jawab atas meningkatnya kesusahan di bumi di akhir zaman ini. (Why. 12:7-9, 12)

      Pada waktu yang ditentukan Allah, Setan dan hantu-hantunya akan dibinasakan selama-lamanya. (Why. 20:10; 21:8)

      ◆ Kerajaan Allah di bawah Kristus akan menggantikan seluruh pemerintahan manusia dan akan menjadi satu pemerintahan untuk seluruh umat manusia. (Dan. 7:13, 14)

      Sistem segala perkara yang jahat yang ada sekarang akan dihancurkan sepenuhnya. (Dan. 2:44; Why. 16:14, 16; Yes. 34:2)

      Kerajaan Allah akan memerintah dengan keadilbenaran dan akan membawa perdamaian yang sejati kepada rakyatnya. (Yes. 9:5, 6; 11:1-5; 32:17; Mzm. 85:11-13)

      Orang-orang jahat akan disingkirkan selamanya, dan para penyembah Yehuwa akan menikmati keamanan kekal. (Ams. 2:21, 22; Mzm. 37:9-11; Mat. 25:41-46; 2 Tes. 1:6-9; Mi. 4:3-5)

      ◆ Kita sekarang, sejak tahun 1914d, sedang hidup di ”akhir zaman” dari dunia yang jahat ini. (Mat. 24:3-14; 2 Tim. 3:1-5; Dan. 12:4)

      Selama jangka waktu ini, kesaksian diberikan kepada segala bangsa; setelah itu akan datang kesudahan, bukan dari bola bumi, tetapi dari sistem jahat dan orang-orang yang tidak saleh. (Mat. 24:3, 14; 2 Ptr. 3:7; Pkh. 1:4)

      ◆ Hanya ada satu jalan menuju kehidupan; tidak semua agama atau semua praktek agama diperkenan oleh Allah. (Mat. 7:13, 14; Yoh. 4:23, 24; Ef. 4:4, 5)

      Ibadat sejati tidak menekankan upacara atau pamer ke luar tetapi kasih yang murni akan Allah, diperlihatkan melalui ketaatan terhadap perintah-perintah-Nya dan kasih akan sesama. (Mat. 15:8, 9; 1 Yoh. 5:3; 3:10-18; 4:21; Yoh. 13:34, 35)

      Orang-orang dari segala bangsa, ras, dan golongan bahasa dapat melayani Yehuwa dan mendapatkan perkenan-Nya. (Kis. 10:34, 35; Why. 7:9-17)

      Doa harus ditujukan hanya kepada Yehuwa melalui Yesus; patung-patung tidak boleh digunakan sebagai objek penyembahan ataupun sebagai alat bantu dalam penyembahan. (Mat. 6:9; Yoh. 14:6, 13, 14; 1 Yoh. 5:21; 2 Kor. 5:7; 6:16; Yes. 42:8)

      Praktek-praktek spiritisme harus dijauhi. (Gal. 5:19-21; Ul. 18:10-12; Why. 21:8)

      Tidak ada perbedaan antara golongan pemimpin agama dan golongan awam di antara orang-orang Kristen yang sejati. (Mat. 20:25-27; 23:8-12)

      Kekristenan yang sejati tidak termasuk memelihara sabat mingguan atau memenuhi tuntutan lain dari Hukum Taurat agar diselamatkan; melakukan hal itu berarti menolak Kristus, yang telah menggenapi Taurat. (Gal. 5:4; Rm. 10:4; Kol. 2:13-17)

      Mereka yang mempraktekkan ibadat sejati tidak ikut serta dalam agama paduan. (2 Kor. 6:14-17; Why. 18:4)

      Semua yang adalah murid-murid Yesus yang sejati dibaptis dengan dibenamkan seluruhnya ke dalam air. (Mat. 28:19, 20; Mrk. 1:9, 10; Kis. 8:36-38)

      Semua yang mengikuti teladan Yesus dan menaati perintah-perintahnya memberi kesaksian kepada orang-orang lain tentang Kerajaan Allah. (Luk. 4:43; 8:1; Mat. 10:7; 24:14)

      ◆ Kematian adalah akibat warisan dosa dari Adam. (Rm. 5:12; 6:23)

      Pada saat kematian, jiwa itu juga mati. (Yeh. 18:4, ”Klinkert”)

      Orang-orang mati sama sekali tidak sadar. (Mzm. 146:4; Pkh. 9:5, 10)

      Neraka (Syeol, Hades) adalah kuburan umum umat manusia. (Ayb. 14:13, ”Dy”; Why. 20:13, 14, ”KJ”, margin)

      ”Lautan api”, tempat pembuangan orang-orang jahat yang tidak dapat lagi diperbaiki mengartikan, seperti Alkitab sendiri katakan, ”kematian kedua”, kematian selama-lamanya. (Why. 21:8)

      Kebangkitan adalah harapan bagi orang-orang mati dan bagi mereka yang telah kehilangan orang-orang yang dicintai dalam kematian. (1 Kor. 15:20-22; Yoh. 5:28, 29; bandingkan Yohanes 11:25, 26, 38-44; Mrk. 5:35-42.)

      Kematian akibat dosa Adam tidak akan ada lagi. (1 Kor. 15:26; Yes. 25:8; Why. 21:4)

      ◆ Suatu ”kawanan kecil”, hanya 144.000 orang, pergi ke surga. (Luk. 12:32; Why. 14:1, 3)

      Mereka adalah orang-orang yang ”dilahirkan kembali” sebagai putra-putra rohani Allah. (Yoh. 3:3; 1 Ptr. 1:3, 4)

      Allah memilih dari antara segala suku dan bangsa untuk memerintah sebagai raja-raja bersama Kristus dalam Kerajaan. (Why. 5:9, 10; 20:6)

      ◆ Orang-orang lain yang diperkenan Allah akan hidup kekal di bumi. (Mzm. 37:29; Mat. 5:5; 2 Ptr. 3:13)

      Bumi tidak akan pernah dihancurkan atau dikosongkan. (Mzm. 104:5; Yes. 45:18)

      Selaras dengan maksud-tujuan Allah yang semula, seluruh bumi akan menjadi firdaus. (Kej. 1:27, 28; 2:8, 9; Luk. 23:42, 43)

      Akan ada rumah-rumah yang layak dan kelimpahan makanan untuk dinikmati oleh semua orang. (Yes. 65:21-23; Mzm. 72:16)

      Penyakit, segala macam cacat, dan bahkan kematian itu sendiri akan berlalu. (Why. 21:3, 4; Yes. 35:5, 6)

      ◆ Kalangan berwenang duniawi harus diperlakukan dengan respek yang sepatutnya. (Rm. 13:1-7; Tit. 3:1, 2)

      Umat Kristen sejati tidak ikut dalam pemberontakan melawan wewenang pemerintahan. (Ams. 24:21, 22; Rm. 13:1)

      Mereka mematuhi semua hukum yang tidak bertentangan dengan hukum Allah, tetapi ketaatan kepada Allah diutamakan. (Kis. 5:29)

      Mereka meniru Yesus dengan tetap netral dalam urusan-urusan politik dunia. (Mat. 22:15-21; Yoh. 6:15)

      ◆ Umat Kristen harus menyelaraskan diri dengan standar-standar Alkitab berkenaan darah dan juga moralitas seksual. (Kis. 15:28, 29)

      Memasukkan darah ke dalam tubuh melalui mulut atau pembuluh darah melanggar hukum Allah. (Kej. 9:3-6; Kis. 15:19, 20)

      Umat Kristen harus bersih secara moral; percabulan, perzinaan, dan homoseksualitas tidak ada dalam kehidupan mereka, demikian pula halnya dengan pemabukan dan penyalahgunaan obat bius. (1 Kor. 6:9-11; 2 Kor. 7:1)

      ◆ Kejujuran dan kesetiaan sehubungan tanggung jawab perkawinan dan keluarga adalah hal-hal penting bagi umat Kristen. (1 Tim. 5:8; Kol. 3:18-21; Ibr. 13:4)

      Ketidakjujuran dalam kata-kata atau dalam bisnis, dan juga berlaku munafik, tidak cocok bagi seorang Kristen. (Ams. 6:16-19; Ef. 4:25; Mat. 6:5; Mzm. 26:4)

      ◆ Ibadat yang diperkenan oleh Yehuwa menuntut kita mengasihi Dia di atas segala-galanya. (Luk. 10:27; Ul. 5:9)

      Melakukan kehendak Yehuwa, dengan demikian membawa kehormatan bagi nama-Nya, adalah hal yang paling penting dalam kehidupan seorang Kristen sejati. (Yoh. 4:34; Kol. 3:23; 1 Ptr. 2:12)

      Seraya berbuat baik kepada semua orang sebisa-bisanya, umat Kristen mengetahui kewajiban khusus mereka terhadap sesama hamba Allah; maka bantuan yang sewaktu-waktu mereka berikan terutama ditujukan kepada orang-orang ini. (Gal. 6:10; 1 Yoh. 3:16-18)

      Kasih akan Allah menuntut umat Kristen bukan saja bahwa mereka menaati perintah-Nya untuk mengasihi sesama mereka tetapi juga bahwa mereka tidak dapat mengasihi cara hidup yang amoral dan materialistis dari dunia ini. Orang-orang Kristen sejati bukan bagian dari dunia dan dengan demikian menjauhkan diri dari kegiatan-kegiatan yang dapat membuat mereka digolongkan dengan orang-orang yang mempunyai semangat dunia. (Rm. 13:8, 9; 1 Yoh. 2:15-17; Yoh. 15:19; Yak. 4:4)

      [Catatan Kaki]

      d Untuk perinciannya, lihat buku ”Datanglah Kerajaanmu”.

      [Gambar di hlm. 121]

      C. T. Russell mulai menerbitkan ”Zion’s Watch Tower” pada tahun 1879, ketika ia berusia 27 tahun

      [Gambar di hlm. 125]

      Sir Isaac Newton dan Henry Grew di antara orang-orang yang telah lebih dahulu menolak Tritunggal karena tidak sesuai dengan Alkitab

      [Gambar di hlm. 128]

      Dalam debat di depan umum, Russell memperlihatkan bahwa orang mati benar-benar mati, tidak hidup bersama para malaikat atau bersama hantu-hantu di suatu tempat tanpa harapan

      Carnegie Hall, Allegheny, Pennsylvania—tempat debat tersebut diadakan

      [Gambar di hlm. 130]

      Russell mengadakan perjalanan ke kota-kota besar dan kecil untuk memberitahukan kebenaran mengenai neraka

      [Gambar di hlm. 131]

      Ketika Frederick Franz, seorang mahasiswa universitas, belajar kebenaran tentang keadaan orang mati, ia sama sekali mengubah cita-cita dalam hidupnya

      [Gambar di hlm. 135]

      1914 sebagai akhir Zaman Orang Kafir diberitakan dengan luas oleh Siswa-Siswa Alkitab, seperti dalam risalah dari I.B.S.A. ini yang disebarkan selama 1914

      [Gambar di hlm. 137]

      Pada tahun 1931, dengan menggunakan jaringan siaran radio yang paling luas yang pernah mengudara, J. F. Rutherford memperlihatkan bahwa hanya Kerajaan Allah yang dapat mendatangkan kelegaan kekal kepada umat manusia

      Khotbah ”Kerajaan, Harapan Dunia Ini”, disiarkan oleh 163 stasiun radio secara serentak dan belakangan diulang oleh 340 stasiun radio yang lain

      [Gambar di hlm. 142]

      A. H. Macmillan diutus dengan kapal ke Palestina pada tahun 1925 karena minat istimewa mengenai peranan orang-orang Yahudi berkenaan dengan nubuat Alkitab

  • Bagaimana Sampai Kita Dikenal sebagai Saksi-Saksi Yehuwa
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 11

      Bagaimana Sampai Kita Dikenal sebagai Saksi-Saksi Yehuwa

      SELAMA dekade-dekade awal sejarah zaman modern mereka, mereka sering disebut hanya sebagai Siswa-Siswa Alkitab. Jika orang-orang lain menanyakan nama organisasi, saudara-saudara kita sering menjawab, ”Kami orang-orang Kristen.” Saudara Russell menjawab pertanyaan semacam itu dengan mengatakan dalam majalah Watch Tower, ”Kita tidak memisahkan diri dari Kristen-Kristen lain dengan menggunakan nama apa pun yang berbeda atau nama khusus. Kami puas dengan nama Kristen, sebagaimana orang-orang kudus masa awal dikenal.”—Terbitan September 1888.

      Maka, bagaimana terjadinya sampai kita dewasa ini dikenal sebagai Saksi-Saksi Yehuwa?

      Nama Kristen

      Pengikut-pengikut Yesus Kristus yang sejati pada abad pertama dan juga pada zaman modern, menyebut diri mereka sendiri dan rekan-rekan seiman mereka sebagai ”saudara-saudara”, ”sahabat-sahabat”, dan ”jemaat Allah”. (Kis. 11:29; 3 Yoh. 14; 1 Kor. 1:2) Mereka juga menyebut Kristus sebagai ”tuan” [”Majikan”, NW] dan mereka sendiri sebagai ”hamba-hamba Kristus Yesus” dan ”hamba Allah”. (Kol. 3:24; Flp. 1:1; 1 Ptr. 2:16) Sapaan-sapaan demikian telah digunakan dengan bebas di dalam sidang, dan istilah tersebut sudah dimengerti dengan baik.

      Pada abad pertama, cara hidup yang berpusat kepada iman akan Yesus Kristus (dan, secara lebih luas, sidang itu sendiri) disebut sebagai ”Jalan itu”. (Kis. 9:2, NW; 19:9, NW) Sejumlah terjemahan dari Kisah 18:25 menunjukkan bahwa itu juga disebut ”jalan Yehuwa”.a Bertentangan dengan itu, beberapa orang yang berada di luar sidang memberikan sebutan ejekan ”sekte orang Nasrani”.—Kis. 24:5.

      Pada tahun 44 M atau tidak lama sesudah itu, para pengikut yang setia dari Yesus Kristus mulai dikenal sebagai orang-orang Kristen. Ada orang yang mengatakan bahwa orang-orang luar yang memberikan julukan itu kepada mereka, melakukannya dengan cara menghina. Akan tetapi, sejumlah ahli penyusun kamus dan komentator Alkitab menyatakan bahwa kata kerja yang digunakan dalam Kisah 11:26 mengungkapkan adanya bimbingan atau penyingkapan ilahi. Maka, dalam New World Translation, ayat itu berbunyi, ”Di Antiokhialah untuk pertama kali murid-murid dengan bimbingan ilahi disebut orang-orang Kristen.” (Terjemahan serupa dapat ditemukan dalam Literal Translation of the Holy Bible karya Robert Young, Edisi Revisi tahun 1898; The Simple English Bible, 1981; dan New Testament karya Hugo McCord, tahun 1988.) Sampai kira-kira tahun 58 M, nama Kristen sudah sangat dikenal bahkan oleh para pejabat Roma.—Kis. 26:28.

      Ketika para rasul Kristus masih hidup, nama Kristen benar-benar berbeda dan spesifik. (1 Ptr. 4:16) Semua yang mengaku orang Kristen namun yang kepercayaan dan tingkah lakunya bertentangan dengan pengakuan mereka, dikeluarkan dari masyarakat Kristen. Akan tetapi, seperti telah Yesus nubuatkan, setelah kematian para rasul, Setan menaburkan benih yang akan menghasilkan orang-orang Kristen tiruan. Golongan palsu ini juga mengaku bernama Kristen. (Mat. 13:24, 25, 37-39) Ketika kekristenan yang murtad mengambil langkah untuk memaksakan pertobatan, ada orang-orang yang mengaku Kristen hanya agar terhindar dari penganiayaan. Lambat laun, setiap orang Eropa yang tidak mengaku Yahudi, atau muslim, atau ateis, sering kali dianggap sebagai Kristen, tidak soal kepercayaan atau tingkah lakunya.

      Nama-Nama Ejekan

      Sejak abad ke-16 dan selanjutnya, keadaan ini menimbulkan problem bagi para Reformator. Karena nama Kristen digunakan dengan begitu sembarangan, bagaimana mereka dapat membedakan diri mereka dari orang-orang lain yang mengaku orang Kristen?

      Sering kali mereka mendiamkan saja nama-nama ejekan yang diberikan oleh musuh-musuh mereka. Demikianlah, para oposisi teologi pengikut Martin Luther, di Jerman, adalah yang pertama-tama menggunakan namanya bagi para pengikutnya, dengan memanggil mereka Lutheran. Mereka yang bergabung dengan John Wesley, di Inggris, diberi nama kaum Metodis karena mereka luar biasa saksama dan sangat menurut metode dalam mematuhi kewajiban-kewajiban agama. Kaum Baptis pada mulanya menolak julukan Anabaptis (artinya, ”Pembaptis Kembali”) tetapi lama kelamaan menerima nama Baptis sebagai bentuk kompromi.

      Bagaimana dengan Siswa-Siswa Alkitab? Mereka dijuluki Russellites (para pengikut Russell) atau Rutherfordites (para pengikut Rutherford) oleh para pemimpin agama. Namun, menggunakan nama demikian berarti memupuk semangat sekte keagamaan. Itu berarti tidak konsisten dengan teguran yang diberikan kepada umat Kristen masa awal oleh rasul Paulus, yang menulis, ”Jika yang seorang berkata: ’Aku dari golongan Paulus’, dan yang lain berkata: ’Aku dari golongan Apolos’, bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi [yaitu, bersifat jasmani dalam pandangan dan bukannya rohani]?” (1 Kor. 3:4) Beberapa orang menamakan mereka ”Orang-Orang Fajar Milenium”; padahal Pemerintahan Milenium Kristus hanyalah salah satu ajaran mereka. Yang lain-lain memanggil mereka ”Orang-Orang Watch Tower”; tetapi itu juga tidak cocok, karena Watch Tower hanyalah salah satu publikasi yang mereka gunakan untuk menyebarkan kebenaran Alkitab.

      Kebutuhan akan Nama Khusus

      Lambat laun, halnya menjadi semakin jelas bahwa selain nama Kristen, jemaat hamba-hamba Yehuwa benar-benar membutuhkan sebuah nama khusus. Makna nama Kristen telah menjadi rusak dalam pikiran masyarakat karena orang-orang yang mengaku Kristen sering kali hanya sedikit atau sama sekali tidak mengetahui siapa Yesus Kristus sebenarnya, apa yang ia ajarkan, dan apa yang harus mereka lakukan jika mereka benar-benar pengikutnya. Selain itu, seraya saudara-saudara kita bertambah dalam pengertian akan Firman Allah, mereka melihat dengan jelas kebutuhan untuk terpisah dan berbeda dari sistem agama yang secara curang mengaku Kristen.

      Memang benar, saudara-saudara kita sering menyebut diri mereka Siswa-Siswa Alkitab, dan mulai tahun 1910, mereka memakai nama International Bible Students’ Association sehubungan dengan pertemuan-pertemuan mereka. Pada tahun 1914, agar tidak terjadi kesimpangsiuran dengan lembaga hukum resmi yang baru mereka bentuk saat itu yang bernama International Bible Students Association, mereka memakai nama Associated Bible Students untuk kelompok-kelompok setempat mereka. Tetapi ibadat mereka mencakup lebih banyak daripada mempelajari Alkitab. Selain itu, ada orang-orang lain yang juga mempelajari Alkitab—ada yang dengan tulus hati; yang lain, sebagai kritikus, dan tidak sedikit, sebagai orang-orang yang menganggap Alkitab hanya sebagai bacaan yang baik. Kemudian, setelah kematian Saudara Russell, beberapa orang yang tadinya bergabung menolak untuk bekerja sama dengan Watch Tower Society dan International Bible Students Association, bahkan menentang pekerjaan yang dilakukan lembaga-lembaga ini. Orang-orang seperti itu membentuk kelompok-kelompok yang menggunakan berbagai nama, beberapa dari mereka tetap memakai nama Associated Bible Students. Hal ini menimbulkan lebih banyak kesimpangsiuran.

      Namun kemudian, pada tahun 1931, kami memakai nama Saksi-Saksi Yehuwa yang benar-benar khusus. Penulis Chandler W. Sterling menunjuk hal ini sebagai ”ide yang paling jenius” dari J. F. Rutherford, yang ketika itu adalah presiden Watch Tower Society. Sebagaimana penulis tadi memandang hal tersebut, ini adalah suatu gerakan yang cerdik yang tidak hanya menyediakan nama resmi bagi kelompok itu tetapi juga memudahkan mereka untuk menafsirkan seluruh acuan Alkitab tentang ”memberi kesaksian” dan ”menyaksikan” sebagaimana khususnya berlaku bagi Saksi-Saksi Yehuwa. Sebaliknya, A. H. Macmillan, rekan administratif dari tiga presiden Watch Tower Society, mengatakan sehubungan dengan pengumuman oleh Saudara Rutherford itu, ”Tidak ada keraguan dalam pikiran saya—baik waktu itu maupun sekarang—bahwa Tuhan membimbingnya dalam hal itu, dan bahwa itulah nama yang Yehuwa inginkan agar kita sandang, dan kami sangat berbahagia dan sangat gembira mendapatkannya.” Pandangan mana yang mendukung fakta-fakta tersebut? Apakah nama itu adalah ’ide jenius’ dari Saudara Rutherford, atau apakah itu hasil petunjuk ilahi?

      Perkembangan-Perkembangan yang Mengarah kepada Nama Tersebut

      Pada abad kedelapan SM Yehuwa memerintahkan Yesaya untuk menulis, ”’Kamu inilah saksi-saksiKu,’ demikianlah firman [Yehuwa], ’dan hambaKu yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepadaKu dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. . . . Kamulah saksi-saksiKu,’ demikianlah firman [Yehuwa], ’dan Akulah Allah.’” (Yes. 43:10, 12) Sebagaimana diperlihatkan dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen, banyak nubuat yang dicatat oleh Yesaya mempunyai penggenapan sehubungan dengan sidang Kristen. (Bandingkan Yesaya 8:18 dengan Ibrani 2:10-13; Yesaya 66:22 dengan Wahyu 21:1, 2.) Walaupun demikian, Yesaya 43:10, 12 tidak pernah dibahas secara terperinci dalam The Watch Tower selama 40 tahun pertama penerbitannya.

      Akan tetapi, setelah itu, penelitian mereka akan Alkitab mengarahkan perhatian hamba-hamba Yehuwa kepada perkembangan-perkembangan baru yang penting. Kerajaan Allah dengan Yesus sebagai Raja Mesias telah lahir di surga pada tahun 1914. Pada tahun 1925, tahun saat hal ini dijelaskan dalam The Watch Tower, perintah nubuat tersebut, dalam Yesaya pasal 43, untuk menjadi saksi-saksi bagi Yehuwa disorot dalam 11 terbitan majalah yang berbeda-beda.

      Dalam The Watch Tower 1 Januari 1926, artikel utamanya memuat pertanyaan yang menantang, ”Siapa yang Akan Menghormati Yehuwa?” Selama lima tahun berikutnya, The Watch Tower membahas beberapa bagian dari Yesaya 43:10-12 dalam 46 terbitan terpisah dan setiap kali menerapkannya kepada umat Kristen sejati.b Pada tahun 1929 ditunjukkan bahwa sengketa luar biasa yang dihadapi semua makhluk ciptaan yang cerdas mencakup menghormati nama Yehuwa. Lagi pula sehubungan dengan tanggung jawab yang dimiliki oleh hamba-hamba Yehuwa berkenaan sengketa ini, Yesaya 43:10-12 berulang kali muncul untuk dipertimbangkan.

      Jadi, fakta-fakta memperlihatkan bahwa sebagai hasil penelitian Alkitab, perhatian berulang kali ditarik kepada kewajiban mereka untuk menjadi saksi-saksi bagi Yehuwa. Hal yang dipertimbangkan bukanlah nama dari suatu kelompok, tetapi pekerjaan yang harus mereka lakukan.

      Namun, dengan nama apa seharusnya saksi-saksi itu dikenal? Apa yang akan cocok mengingat pekerjaan yang sedang mereka lakukan? Kesimpulan apa yang ditunjukkan oleh Firman Allah sendiri? Hal ini dibahas dalam kebaktian di Columbus, Ohio, AS, pada tanggal 24-30 Juli 1931.

      Sebuah Nama Baru

      Huruf-huruf J W yang besar terpampang dengan mencolok pada sampul depan acara kebaktian itu. Apa arti huruf-huruf itu? Baru pada hari Minggu, 26 Juli, arti huruf-huruf tersebut dijelaskan. Pada hari itu Saudara Rutherford menyampaikan khotbah umum ”Kerajaan, Harapan Dunia Ini”. Dalam khotbah tersebut, ketika memperkenalkan orang-orang yang adalah para pemberita Kerajaan Allah, sang pembicara secara khusus membahas mengenai nama Saksi-Saksi Yehuwa.

      Belakangan pada hari itu, Saudara Rutherford melanjutkan dengan khotbah lain yang membahas alasan-alasan mengapa diperlukan sebuah nama khusus.c Nama apa yang ditunjukkan oleh Alkitab sendiri? Pembicara mengutip Kisah 15:14, yang menarik perhatian kepada maksud-tujuan Allah untuk memilih dari antara bangsa-bangsa ’suatu umat bagi namaNya’. Dalam khotbahnya, ia menandaskan fakta bahwa seperti dinyatakan dalam Wahyu 3:14, Yesus Kristus adalah ”Saksi yang setia dan benar”. Ia mengacu ke Yohanes 18:37, dan di sana Yesus menyatakan, ”Untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran.” Ia menarik perhatian kepada 1 Petrus 2:9, 10, yang mengatakan bahwa hamba-hamba Allah harus ”memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib”. Ia memberikan alasan berdasarkan sejumlah ayat dari Yesaya, yang tidak semuanya dimengerti dengan jelas pada waktu itu, tetapi kemudian persembahannya mencapai klimaks pada Yesaya 43:8-12, yang mencakup penugasan ilahi, ”’Kamulah saksi-saksiKu,’ demikianlah firman [Yehuwa], ’dan Akulah Allah.’” Maka, pada kesimpulan apa Firman Allah sendiri membimbing mereka? Nama apa yang akan selaras dengan cara Allah menggunakan mereka sebenarnya?

      Jawaban yang pasti dicantumkan dalam sebuah resolusi yang diterima dengan penuh semangat pada peristiwa itu.d Resolusi itu sebagian berbunyi:

      ”Agar kedudukan kami yang sebenarnya dapat dikenal, dan karena percaya bahwa hal ini selaras dengan kehendak Allah, sebagaimana dinyatakan dalam Firman-Nya, BIARLAH DIPUTUSKAN, sebagai berikut, yaitu:

      ”BAHWA kami sangat mengasihi Saudara Charles T. Russell karena pekerjaannya, dan bahwa kami dengan senang hati mengakui bahwa Tuhan menggunakannya dan sangat memberkati pekerjaannya, akan tetapi kami tidak dapat konsisten, dengan persetujuan Firman Allah, jika kami disebut ’Russellites’; bahwa Watch Tower Bible and Tract Society dan International Bible Students Association dan Peoples Pulpit Association hanyalah nama dari badan-badan hukum yang, sebagai sekelompok orang Kristen, kami miliki, kuasai dan gunakan untuk melaksanakan pekerjaan yang sesuai dengan ketaatan kami kepada perintah-perintah Allah, namun tidak satu pun dari nama-nama ini cocok dikenakan atau berlaku atas kami sebagai suatu badan dari umat Kristen yang mengikuti jejak kaki Tuhan dan Majikan kami, Kristus Yesus; bahwa kami adalah siswa-siswa Alkitab, tetapi sebagai suatu badan dari umat Kristen yang membentuk suatu perkumpulan, kami menolak untuk dianggap atau disebut dengan nama ’Siswa-Siswa Alkitab’ atau nama-nama serupa sebagai tanda pengenal dari kedudukan kami yang patut di hadapan Tuhan; kami menolak untuk menyandang atau disebut dengan nama manusia mana pun;

      ”BAHWA, setelah dibeli dengan darah yang mahal dari Yesus Kristus, Tuhan dan Penebus kami, dibenarkan dan diperanakkan oleh Allah Yehuwa dan dipanggil memasuki kerajaan-Nya, kami tanpa ragu menyatakan kesetiaan dan pengabdian kami yang sepenuhnya kepada Allah Yehuwa dan kerajaan-Nya; bahwa kami adalah hamba-hamba Allah Yehuwa yang ditugaskan untuk melakukan suatu pekerjaan dalam nama-Nya, dan sebagai ketaatan kepada perintah-Nya, untuk memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus, dan untuk memberitahukan kepada orang-orang bahwa Yehuwa adalah Allah yang benar dan Mahakuasa; oleh sebab itu dengan bersukacita kami menerima dan menggunakan nama yang telah disebutkan oleh mulut Tuhan Allah kita, dan kami senang dikenal sebagai dan dipanggil dengan nama, saksi-saksi Yehuwa.—Yes. 43:10-12.”e

      Setelah seluruh resolusi dibacakan, tepuk tangan yang keras dan panjang menunjukkan bahwa hadirin setuju sepenuhnya dengan apa yang telah dinyatakan.

      Menerima Tanggung Jawab

      Betapa suatu kehormatan untuk menyandang nama dari satu-satunya Allah yang benar, Penguasa alam semesta! Namun nama itu mengandung tanggung jawab. Ini adalah tanggung jawab yang tidak diinginkan oleh kelompok-kelompok agama lain. Seperti Saudara Rutherford katakan dalam khotbahnya, ”Berbahagialah mereka yang dapat mengenakan sebuah nama yang tidak seorang pun di bawah matahari inginkan kecuali mereka yang mengabdi kepada Yehuwa dengan sepenuhnya dan tanpa syarat.” Namun, benar-benar cocok bahwa hamba-hamba Yehuwa menyandang nama pribadi Allah, bahwa mereka memberitahukannya, dan bahwa itu dengan jelas dihubungkan dengan pemberitaan maksud-tujuan-Nya!

      Kelompok atau pribadi mana pun yang berbicara dalam nama Yehuwa menempatkan diri mereka di bawah kewajiban untuk menyampaikan firman-Nya dengan benar. (Yer. 23:26-28) Mereka harus memberitahukan, bukan hanya persediaan-persediaan Yehuwa untuk memberkati para pencinta keadilbenaran, tetapi juga penghakiman-Nya atas orang-orang yang mempraktekkan kejahatan. Sebagaimana Yehuwa memerintahkan nabi-nabinya di zaman dahulu, demikian pula dewasa ini, saksi-saksi-Nya tidak boleh meniadakan apa pun dari firman Allah dengan gagal untuk memberitahukannya. (Yer. 1:17; 26:2; Yeh. 3:1-11) Mereka harus mengumumkan ”tahun rahmat [Yehuwa], dan hari pembalasan Allah kita.” (Yes. 61:1, 2) Mereka yang menerima resolusi di atas mengakui tanggung jawab itu, dan di bagian akhir resolusi itu, mereka menyatakan,

      ”Sebagai saksi-saksi Yehuwa, satu-satunya tujuan kami hanyalah untuk menaati sepenuhnya perintah-perintah-Nya; untuk memberitahukan bahwa hanya Dia saja satu-satunya Allah yang benar dan Mahakuasa; bahwa Firman-Nya adalah benar dan bahwa nama-Nya layak mendapatkan seluruh kehormatan dan kemuliaan; bahwa Kristus adalah Raja dari Allah, yang Allah tempatkan di atas takhta kekuasaan-Nya; bahwa kerajaan-Nya sekarang datang, dan sebagai ketaatan kepada perintah-perintah Tuhan, kami kini harus mengumumkan kabar baik sebagai kesaksian atau memberi kesaksian kepada bangsa-bangsa dan memberitahu para penguasa dan masyarakat mengenai organisasi Setan yang kejam dan menindas, dan khususnya berkenaan ’Susunan Kristen’, yang adalah bagian yang paling jahat dari organisasi yang kelihatan itu, dan mengenai maksud-tujuan Allah untuk segera menghancurkan organisasi Setan, dan tindakan besar ini akan segera diikuti dengan diberikannya perdamaian dunia dan kemakmuran, kemerdekaan dan kesehatan, kebahagiaan dan hidup kekal kepada orang-orang yang taat oleh Kristus Sang Raja; bahwa kerajaan Allah adalah harapan dunia, dan tidak ada yang lain, dan bahwa berita ini harus disampaikan oleh mereka yang dikenal sebagai saksi-saksi Yehuwa.

      ”Dengan rendah hati kami mengundang semua orang yang berbakti sepenuhnya kepada Yehuwa dan kerajaan-Nya untuk ikut serta memberitakan kabar baik ini kepada orang-orang lain, agar standar Tuhan yang adil-benar dapat ditinggikan, agar penduduk dunia dapat mengetahui di mana menemukan kebenaran dan harapan untuk kelegaan; dan, di atas semua itu, agar nama Allah Yehuwa yang besar dan kudus dapat dibenarkan dan ditinggikan.”

      Bukan saja di Columbus, Ohio, Amerika, namun jauh sampai ke Australia, hadirin mendadak bertepuk tangan ketika mereka mendengar pengumuman mengenai nama yang baru itu. Di Jepang, setelah upaya selama berjam-jam, hanya sebagian kecil dari acara tersebut yang tertangkap melalui siaran radio gelombang pendek di tengah malam. Bagian itu langsung diterjemahkan. Dengan demikian sekelompok kecil di sana mendengar resolusi dan tepuk tangan yang bergemuruh itu. Matsue Ishii ada bersama mereka, dan seperti yang ia tulis belakangan, mereka ’meneriakkan ungkapan kegembiraan bersama-sama dengan saudara-saudara mereka di Amerika’. Setelah kebaktian di Columbus ini, kebaktian-kebaktian dan sidang-sidang dari Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh negeri tempat mereka menjalankan pelayanan mereka mengungkapkan bahwa mereka setuju sepenuhnya dengan resolusi tersebut. Dari Norwegia, sebagai salah satu contoh, datang laporan ini, ”Dalam kebaktian tahunan kami . . . di Oslo kami semua bangkit berdiri dan dengan bersemangat sekali berteriak ’Ya’, ketika menerima nama baru kami ’saksi-saksi Yehuwa’.”

      Lebih dari Sekadar Label

      Dapatkah dunia pada umumnya menyadari bahwa saudara-saudara kita telah menerima nama baru tersebut? Ya memang! Khotbah yang pertama mengumumkan nama baru itu disampaikan melalui siaran radio yang paling luas yang pernah digunakan sampai saat itu. Selain itu, resolusi yang mengemukakan nama baru tersebut dimuat dalam buku kecil The Kingdom, the Hope of the World. Sesudah kebaktian tersebut, Saksi-Saksi Yehuwa membagikan jutaan eksemplar buku kecil ini dalam banyak bahasa ke Amerika Utara dan Selatan, Eropa, Afrika, dan pulau-pulau di lautan. Selain menawarkan buku-buku ini dari rumah ke rumah, mereka membuat upaya khusus untuk menempatkan satu buku ke tangan setiap pejabat pemerintahan, pengusaha terkemuka, dan pemimpin agama. Beberapa yang masih hidup pada tahun 1992 dapat mengingat keikutsertaan mereka dalam kampanye yang penting itu.

      Tidak semua menerima buku kecil itu dengan senang hati. Eva Abbott mengingat ketika baru saja ia meninggalkan rumah seorang pemimpin agama di Amerika Serikat, buku kecil itu terbang melampaui dia dan jatuh ke tanah. Ia tidak membiarkan buku itu di situ, maka ia bermaksud mengambilnya; ketika seekor anjing besar menggeram, merampas buku kecil itu dari tangannya, dan membawanya kepada majikannya, sang pemimpin agama. Saudari Eva berkata, ”Apa yang tidak dapat saya sampaikan, anjinglah yang melakukannya!”

      Martin Poetzinger, yang belakangan melayani sebagai anggota Badan Pimpinan Saksi-Saksi Yehuwa, mengenang, ”Wajah-wajah keheranan muncul di setiap pintu ketika kami memperkenalkan diri kami dengan kata-kata: ’Saya datang pada hari ini sebagai seorang dari saksi-saksi Yehuwa.’ Orang-orang biasanya akan menggelengkan kepalanya atau bertanya, ’Tetapi Anda tetap siswa-siswa Alkitab, bukan? Atau apakah Anda sudah mengikuti suatu sekte baru?’” Lama-kelamaan situasi berubah. Beberapa dekade sejak mereka mulai menggunakan nama yang membedakan mereka itu, Saudara Poetzinger menulis, ”Benar-benar perubahan besar! Sebelum saya sempat mengatakan apa-apa, orang-orang akan berkata, ’Kamu pasti salah seorang dari saksi-saksi Yehuwa.’” Ya, mereka mengetahui nama itu sekarang.

      Nama tersebut bukan sekadar label. Tidak soal muda atau tua, pria atau wanita, semua Saksi-Saksi Yehuwa ikut serta dalam pekerjaan memberi kesaksian bagi Yehuwa dan maksud-tujuan-Nya yang mulia. Sebagai hasilnya, C. S. Braden, seorang profesor sejarah agama menulis, ”Saksi-Saksi Yehuwa secara harfiah telah menutupi bumi dengan kesaksian mereka.”—These Also Believe.

      Walaupun pekerjaan yang dilakukan oleh saudara-saudara kita sebelum mereka menerima nama Saksi-Saksi Yehuwa adalah pekerjaan seputar dunia, jika kita meninjau kembali, tampaknya Yehuwa sedang mempersiapkan mereka untuk pekerjaan yang jauh lebih besar—pengumpulan suatu kumpulan besar yang akan terpelihara hidup melalui Armagedon, dengan kesempatan untuk hidup selama-lamanya dalam bumi firdaus.

      [Catatan Kaki]

      a New World Translation of the Holy Scriptures; A Literal Translation of the New Testament . . . From the Text of the Vatican Manuscript, oleh Herman Heinfetter; dan enam terjemahan ke dalam bahasa Ibrani. Lihat juga catatan kaki untuk Kisah 19:23 dalam New World Translation of the Holy Scriptures.

      b Di antara artikel-artikel utama Watch Tower yang diterbitkan selama periode ini adalah ”Yehuwa dan Karya-Nya”, ”Hormati Nama-Nya”, ”Suatu Umat Bagi Nama-Nya”, ”Nama-Nya Ditinggikan”, ”Saksi yang Setia dan Benar”, ”Pujilah Yehuwa!” ”Bersukacitalah Kamu Dalam Yehuwa”, ”Yehuwa Yang Mahatinggi”, ”Pembenaran Nama-Nya”, ”Nama-Nya”, dan ”Bernyanyilah Bagi Yehuwa”.

      c Lihat artikel ”Sebuah Nama Baru”, dalam The Watch Tower terbitan 1 Oktober 1931.

      d The Watch Tower, 15 September 1931, hlm. 278-9.

      e Walaupun bukti-bukti menunjuk secara meyakinkan akan petunjuk Yehuwa dalam pemilihan nama Saksi-Saksi Yehuwa, The Watchtower (1 Februari 1944, hlm. 42-3; 1 Oktober 1957, hlm. 607) dan buku ”New Heavens and a New Earth” (hlm. 231-7) belakangan menunjukkan bahwa nama ini bukanlah ”nama baru” yang disebutkan dalam Yesaya 62:2; 65:15; dan Wahyu 2:17, walaupun nama tersebut sesuai dengan hubungan baru yang disebutkan dalam dua ayat di Yesaya itu.

      [Blurb di hlm. 149]

      ”Murid-murid dengan bimbingan ilahi disebut orang-orang Kristen”

      [Blurb di hlm. 150]

      Nama Kristen telah menjadi rusak dalam pikiran masyarakat

      [Blurb di hlm. 151]

      Mereka lebih daripada Siswa-Siswa Alkitab

      [Blurb di hlm. 157]

      ”’Kamulah saksi-saksiKu,’ demikianlah firman [Yehuwa], ’dan Akulah Allah’”

      [Kotak di hlm. 151]

      Nama Saksi-Saksi Yehuwa di Amerika

      Arab ش‍هود ‍ي‍هوه‍

      Armenia Եհովայի Վկաներ

      Cina 耶和華見證人

      Inggris Jehovah’s Witnesses

      Prancis Témoins de Jéhovah

      Yunani Μάρτυρες του Ιεχωβά

      Greenland Jehovap Nalunaajaasui

      Italia Testimoni di Geova

      Jepang エホバの証人

      Korea 여호와의 증인

      Papiamento Testigonan di Jehova

      Polandia Świadkowie Jehowy

      Portugis Testemunhas de Jeová

      Samoa Molimau a Ieova

      Spanyol Testigos de Jehová

      Sranantongo Jehovah Kotoigi

      Tagalog Mga Saksi ni Jehova

      Vietnam Nhân-chứng Giê-hô-va

      [Kotak di hlm. 152]

      Orang-Orang Lain Pun Melihatnya

      Bukan ”The Watch Tower” saja yang menunjukkan dari Alkitab bahwa Yehuwa akan mempunyai saksi-saksi di bumi. Sebagai contoh, H. A. Ironside, dalam buku ”Lectures on Daniel the Prophet” (pertama kali diterbitkan pada tahun 1911), menunjuk kepada mereka yang menggenapi janji yang menakjubkan di Yesaya pasal 43 dan berkata, ”Mereka ini akan menjadi saksi-saksi Yehuwa, memberi kesaksian mengenai kuasa dan kemuliaan dari satu Allah yang benar, ketika Susunan Kristen yang murtad telah menyerah kepada delusi yang kuat untuk mempercayai dusta sang Antikristus.”

      [Kotak di hlm. 153]

      Nama Saksi-Saksi Yehuwa di Asia dan Pulau-Pulau di Pasifik

      Bengali যিহোবার সাক্ষিরা

      Bikol, Cebuano, Hiligaynon,

      Samar-Leyte, Tagalog Mga Saksi ni Jehova

      Bislama Ol Wetnes blong Jeova

      Cina 耶和華見證人

      Inggris Jehovah’s Witnesses

      Fiji Vakadinadina i Jiova

      Gujarati યહોવાહના સાક્ષીઓ

      Hindi यहोवा के साक्षी

      Hiri Motu Iehova ena Witness Taudia

      Iloko Dagiti Saksi ni Jehova

      Indonesia Saksi-Saksi Yehuwa

      Jepang エホバの証人

      Kanada ಯೆಹೋವನ ಸಾಕ್ಷಿಗಳು

      Korea 여호와의 증인

      Malayalam യഹോവയുടെ സാക്ഷികൾ

      Marati यहोवाचे साक्षीदार

      Marshall Dri Kennan ro an Jeova

      Myanmar ယေဟောဝါသက်သေများ

      Nepali यहोवाका साक्षीहरू

      Pidgin Papua Nugini Ol Witnes Bilong Jehova

      Niue Tau Fakamoli a Iehova

      Palauan reSioning er a Jehovah

      Pangasinan Saray Tasi nen Jehova

      Ponapean Sounkadehde kan en Siohwa

      Rarotongan Au Kite o Iehova

      Rusia Свидетели Иеговы

      Samoa, Tuvaluan Molimau a Ieova

      Sinhala යෙහෝවාගේ සාක්ෂිකරුවෝ

      Pidgin Kepulauan Solomon all’gether Jehovah’s Witness

      Tahiti Ite no Iehova

      Tamil யெகோவாவின் சாட்சிகள்

      Telugu యెహోవాసాక్షులు

      Thai พยานพระยะโฮวา

      Tongan Fakamo‘oni ‘a Sihova

      Truk Ekkewe Chon Pwarata Jiowa

      Urdu

      Vietnam Nhân-chứng Giê-hô-va

      Yap Pi Mich Rok Jehovah

      [Kotak di hlm. 154]

      Nama Saksi-Saksi Yehuwa di Afrika

      Afrika Jehovah se Getuies

      Amharik የይሖዋ ምሥክሮች

      Arab ش‍هود ‍ي‍هوه‍

      Chicheŵa Mboni za Yehova

      Cibemba Inte sha kwa Yehova

      Efịk Mme Ntiense Jehovah

      Inggris Jehovah’s Witnesses

      Ewe Yehowa Ðasefowo

      Prancis Témoins de Jéhovah

      Ga Yehowa Odasefoi

      Gun Kunnudetọ Jehovah tọn lẹ

      Hausa Shaidun Jehovah

      Igbo Ndịàmà Jehova

      Kiluba Ba Tumoni twa Yehova

      Kinyarwanda Abahamya ba Yehova

      Kirundi Ivyabona vya Yehova

      Kisi Seiyaa Jɛhowaa

      Kwanyama Eendombwedi daJehova

      Lingala Batemwe ya Jéhovah

      Luganda Abajulirwa ba Yakuwa

      Malagasi Vavolombelon’i Jehovah

      Moore A Zeova Kaset rãmba

      Ndonga Oonzapo dhaJehova

      Portugis Testemunhas de Jeová

      Sango A-Témoin ti Jéhovah

      Sepedi Dihlatse tša Jehofa

      Sesotho Lipaki tsa Jehova

      Shona Zvapupu zvaJehovha

      Silozi Lipaki za Jehova

      Swahili Mashahidi wa Yehova

      Tigrinya ናይ የሆዋ መሰኻኽር

      Tshiluba Bantemu ba Yehowa

      Tsonga Timbhoni ta Yehova

      Tswana Basupi ba ga Jehofa

      Twi Yehowa Adansefo

      Venda Ṱhanzi dza Yehova

      Xhosa amaNgqina kaYehova

      Yoruba Ẹlẹ́rìí Jehofa

      Zulu oFakazi BakaJehova

      [Kotak di hlm. 154]

      Nama Saksi-Saksi Yehuwa di Eropa dan Timur Tengah

      Albania Dëshmitarët e Jehovait

      Arab ش‍هود ‍ي‍هوه‍

      Armenia Եհովայի Վկաներ

      Bulgaria Свидетелите на Йехова

      Kroatia Jehovini svjedoci

      Czech svĕdkové Jehovovi

      Denmark Jehovas Vidner

      Belanda Jehovah’s Getuigen

      Inggris Jehovah’s Witnesses

      Estonia Jehoova tunnistajad

      Finlandia Jehovan todistajat

      Prancis Témoins de Jéhovah

      Jerman Jehovas Zeugen

      Yunani Μάρτυρες του Ιεχωβά

      Ibrani עדי־יהוה

      Hungaria Jehova Tanúi

      Eslandia Vottar Jehóva

      Italia Testimoni di Geova

      Makedonia, Serbia Јеховини сведоци

      Maltese Xhieda ta’ Jehovah

      Norwegia Jehovas vitner

      Polandia Świadkowie Jehowy

      Portugis Testemunhas de Jeová

      Romania Martorii lui Iehova

      Rusia Свидетели Иеговы

      Slovak Jehovovi svedkovia

      Slovenia Jehovove priče

      Spanyol Testigos de Jehová

      Swedia Jehovas vittnen

      Turki Yehova’nın Şahitleri

      Ukraina Свідки Єгови

      [Gambar di hlm. 155]

      Inisial JW (tanpa penjelasan) mencolok pada kebaktian tahun 1931. Maknanya disingkapkan dalam sebuah khotbah yang menggetarkan mengenai nama baru itu

      [Gambar di hlm. 156]

      Mereka bangga memberitahukan orang-orang lain bahwa mereka adalah Saksi-Saksi Yehuwa

  • Kumpulan Besar Akan Hidup di Surga? Atau di Bumi?
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 12

      Kumpulan Besar Akan Hidup di Surga? Atau di Bumi?

      BERTENTANGAN dengan anggota-anggota dari agama-agama Susunan Kristen, mayoritas Saksi-Saksi Yehuwa mengharapkan kehidupan kekal, bukan di surga, melainkan di bumi. Mengapa demikian?

      Halnya tidaklah selalu demikian. Umat Kristen abad pertama mengharapkan bahwa pada waktunya mereka akan memerintah bersama Yesus Kristus sebagai raja-raja surgawi. (Mat. 11:12; Luk. 22:28-30) Namun, Yesus telah mengatakan kepada mereka bahwa ahli-ahli waris Kerajaan itu hanyalah suatu ”kawanan kecil”. (Luk. 12:32) Siapa yang akan termasuk? Berapa banyak jumlahnya? Baru di kemudian hari mereka mempelajari perinciannya.

      Pada Pentakosta tahun 33 M, murid-murid Yesus yang pertama yang adalah orang Yahudi diurapi dengan roh kudus untuk menjadi sesama ahli waris bersama Kristus. Pada tahun 36 M, bekerjanya roh Allah membuat jelas bahwa orang-orang non-Yahudi yang tidak bersunat juga akan mengambil bagian dalam warisan itu. (Kis. 15:7-9; Ef. 3:5, 6) Setelah 60 tahun berlalu, barulah disingkapkan kepada rasul Yohanes bahwa hanya 144.000 orang yang akan diambil dari bumi untuk ikut bersama Kristus dalam Kerajaan surgawi.—Why. 7:4-8; 14:1-3.

      Charles Taze Russell dan rekan-rekannya juga mempercayai harapan itu, sebagaimana halnya kebanyakan Saksi-Saksi Yehuwa terus sampai pertengahan tahun 1930-an. Mereka juga mengetahui, dari penelitian Alkitab mereka, bahwa pengurapan dengan roh kudus itu bukan saja mengartikan bahwa orang-orang itu mendapat kesempatan untuk pelayanan di masa yang akan datang sebagai raja dan imam bersama Kristus di surga tetapi juga bahwa ada suatu pekerjaan istimewa yang harus mereka lakukan selama mereka masih di bumi. (1 Ptr. 1:3, 4; 2:9; Why. 20:6) Pekerjaan apa? Mereka mengetahui betul dan sering mengutip Yesaya 61:1, yang menyatakan, ”Roh Tuhan [Yehuwa] ada padaku, oleh karena [Yehuwa] telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara [”lembut hati”, NW].”

      Mengabar Dengan Tujuan Apa?

      Walaupun jumlah mereka sangat sedikit, mereka berupaya keras untuk menyampaikan kebenaran tentang Allah dan maksud-tujuan-Nya sebisa-bisanya kepada siapa saja. Mereka mencetak dan membagikan sejumlah besar lektur yang menceritakan kabar baik berkenaan persediaan keselamatan melalui Kristus. Akan tetapi, tujuan mereka sama sekali bukan untuk menobatkan semua orang yang mendapat pengabaran mereka. Jadi, mengapa mereka mengabar kepada orang-orang itu? Watch Tower bulan Juli 1889 menjelaskan, ”Kami adalah wakil-wakil-Nya [Yehuwa] di bumi; kehormatan nama-Nya harus dibenarkan di hadapan musuh-musuh-Nya dan di depan banyak dari antara putra-putra-Nya yang tertipu; rencana-Nya yang mulia perlu diumumkan di mana-mana yang bertentangan dengan semua gagasan yang berdasarkan hikmat duniawi yang telah dan sedang diupayakan untuk diciptakan oleh manusia.”

      Perhatian khusus diberikan kepada orang-orang yang mengaku sebagai umat Tuhan, banyak di antaranya adalah anggota-anggota dari gereja-gereja Susunan Kristen. Apa tujuan pengabaran kepada orang-orang ini? Seperti Saudara Russell sering jelaskan, keinginan Siswa-Siswa Alkitab masa permulaan bukanlah untuk menarik anggota-anggota gereja kepada organisasi lain tertentu, tetapi untuk membantu mereka lebih dekat kepada Tuhan sebagai anggota-anggota dari satu gereja yang benar. Namun, Siswa-Siswa Alkitab mengetahui, bahwa selaras dengan Wahyu 18:4, orang-orang seperti itu harus keluar dari ”Babel”, yang mereka pahami ternyata ada dalam gereja nominal, gereja-gereja Susunan Kristen dengan semua ajarannya yang tidak selaras dengan Alkitab dan perpecahan sekte. Dalam terbitan yang pertama sekali dari Watch Tower (Juli 1879), Saudara Russell menyatakan, ”Kami mengerti bahwa tujuan kesaksian zaman sekarang adalah ’Untuk memisahkan suatu umat bagi nama-Nya’—Gereja—yang pada saat kedatangan Kristus akan dipersatukan dengan Dia, dan menerima nama-Nya. Why. iii. 12.”

      Mereka menyadari bahwa, pada saat itu, hanya ada satu ”panggilan” yang sedang diulurkan kepada semua orang Kristen sejati. Ini adalah undangan untuk menjadi anggota pengantin perempuan Kristus, yang pada akhirnya hanya berjumlah 144.000 orang. (Ef. 4:4; Why. 14:1-5) Mereka berupaya menggiatkan semua yang menyatakan beriman kepada korban tebusan Kristus, baik mereka anggota-anggota gereja maupun bukan, untuk menghargai ”janji-janji yang sangat berharga dan yang sangat besar” dari Allah. (2 Ptr. 1:4; Ef. 1:18) Mereka berupaya keras menggerakkan orang-orang untuk menyelaraskan diri dengan tuntutan-tuntutan bagi kawanan kecil ahli-ahli waris Kerajaan. Untuk menguatkan secara rohani semua orang demikian, yang mereka anggap sebagai orang-orang yang membentuk ”rumah tangga iman” (karena mereka menyatakan beriman kepada tebusan), Saudara Russell dan rekan-rekannya dengan rajin berupaya menyediakan ”makanan” rohani ”pada musim yang ditentukan” melalui kolom-kolom Watch Tower dan publikasi-publikasi lain yang berdasarkan Alkitab.—Gal. 6:10; Mat. 24:45, 46, KJ.

      Namun, mereka dapat melihat, bahwa tidak semua yang mengaku telah membuat ”pengabdian” (atau, ’telah memberikan diri mereka sepenuhnya kepada Tuhan’, sebagaimana yang mereka pahami) kemudian terus mengejar kehidupan yang rela berkorban, membuat pelayanan Tuhan sebagai hal pertama yang mereka perhatikan dalam kehidupan. Walaupun demikian, sebagaimana mereka jelaskan, orang-orang Kristen yang mengabdi telah setuju untuk meninggalkan kehidupan sebagai manusia secara sukarela, dengan harapan warisan surgawi; mereka tidak dapat berbalik; jika mereka tidak memperoleh kehidupan dalam alam roh, kematian kedua menanti mereka. (Ibr. 6:4-6; 10:26-29) Akan tetapi, banyak orang Kristen yang tampaknya mengabdikan diri mengambil jalan mudah, gagal menunjukkan kegairahan sejati untuk perkara Tuhan dan menghindari semangat rela berkorban. Namun, mereka tampaknya tidak menyangkal tebusan dan tetap menjalankan kehidupan yang cukup bersih. Apa yang akan terjadi dengan orang-orang seperti ini?

      Selama bertahun-tahun, Siswa-Siswa Alkitab mengira bahwa inilah kelompok yang digambarkan dalam Wahyu 7:9, 14 (KJ), yang menunjuk kepada ”perhimpunan besar” yang keluar dari kesengsaraan besar dan berdiri ”di hadapan takhta” Allah dan di hadapan Anak Domba, Yesus Kristus. Mereka berpikir bahwa walaupun orang-orang ini menghindari kehidupan yang rela berkorban, mereka akan dihadapkan kepada cobaan-cobaan iman yang berakhir dengan kematian selama masa kesengsaraan setelah dimuliakannya orang-orang terakhir dari pengantin perempuan Kristus. Mereka percaya bahwa jika orang-orang yang dikatakan tergolong dalam perhimpunan besar ini setia pada waktu itu, mereka akan dibangkitkan kepada kehidupan surgawi—bukan untuk memerintah sebagai raja tetapi untuk mengambil posisi di hadapan takhta. Diterangkan bahwa mereka akan diberi posisi kedua demikian karena kasih mereka kepada Tuhan tidak cukup kuat, karena mereka tidak memperlihatkan kegairahan yang sepenuhnya. Menurut perkiraan mereka inilah orang-orang yang telah diperanakkan oleh roh Allah tetapi telah lalai dalam hal menaati Allah, kemungkinan dengan terus berpaut kepada gereja-gereja Susunan Kristen.

      Mereka juga mengira bahwa mungkin—hanya mungkin—”orang-orang yang berjasa zaman dahulu” yang akan melayani sebagai pangeran-pangeran di bumi selama era milenium akan, setelah masa itu berakhir, entah bagaimana caranya dikaruniai kehidupan surgawi. (Mzm. 45:17) Mereka berpikir bahwa prospek serupa bisa saja menanti siapa saja yang ”mengabdikan” dirinya setelah 144.000 ahli waris Kerajaan itu pada akhirnya terpilih seluruhnya, namun sebelum dimulainya waktu pemulihan di bumi. Dalam segi tertentu, ini adalah pandangan yang dibawa dari Susunan Kristen, yaitu semua orang yang cukup baik akan pergi ke surga. Namun ada suatu kepercayaan dari Alkitab yang dianut oleh Siswa-Siswa Alkitab, yang memisahkan mereka dari segenap Susunan Kristen. Apakah itu?

      Hidup Selama-Lamanya Dalam Kesempurnaan di Bumi

      Mereka mengakui bahwa walaupun suatu jumlah terbatas yang diambil dari antara umat manusia akan dikaruniai kehidupan surgawi, ada lebih banyak lagi yang akan diperkenan dengan kehidupan kekal di bumi, di bawah keadaan-keadaan seperti yang terdapat di Firdaus Eden. Yesus mengajarkan pengikut-pengikutnya untuk berdoa, ”Jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga.” Ia juga mengatakan, ”Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki [”mewarisi”, ”NW”] bumi.”—Mat. 5:5; 6:10.

      Selaras dengan hal itu, sebuah bagana yang diterbitkan sebagai tambahan kepada majalah Watch Tower Juli-Agustus 1881 menunjukkan bahwa akan ada banyak orang dari antara umat manusia yang akan mendapat perkenan Allah selama Pemerintahan Milenium Kristus dan yang akan membentuk ”dunia umat manusia yang diangkat kepada kesempurnaan manusia dan kehidupan”. Bagan ini digunakan selama bertahun-tahun sebagai dasar untuk khotbah-khotbah yang disampaikan kepada kelompok-kelompok besar dan kecil.

      Di bawah keadaan-keadaan apa orang-orang akan hidup selama era milenium tersebut? The Watch Tower 1 Juli 1912 menjelaskan, ”Sebelum dosa masuk ke dalam dunia ini, persediaan Ilahi bagi orang-tua pertama kita adalah Taman Eden. Seraya kita memikirkan hal ini, biarlah pikiran kita diarahkan ke masa yang akan datang, dibimbing oleh Firman Allah; dan dalam penglihatan mental kita melihat Firdaus dipulihkan—bukan sekadar sebuah taman, tetapi seluruh bumi telah dibuat menjadi indah, subur, tanpa dosa, dan berbahagia. Kemudian kita mengingat janji terilham yang tidak asing lagi bagi kita—’Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita’, sebab segala sesuatu yang lama berkenaan dosa dan kematian sudah akan berlalu, dan segala sesuatu sudah akan dijadikan baru!—Why. 21:4, 5.”

      Siapa yang Akan Hidup Kekal di Bumi?

      Tidak ada pemikiran dalam diri Saudara Russell bahwa Allah menawarkan suatu pilihan kepada umat manusia—kehidupan surgawi bagi mereka yang menginginkannya dan kehidupan di firdaus bumi bagi orang-orang yang berpikir bahwa mereka lebih menyukai hal itu. Watch Tower 15 September 1905 menunjukkan, ”Perasaan atau cita-cita kita bukanlah panggilan itu. Jika demikian, itu akan menunjukkan bahwa kita sendirilah yang memanggil. Berbicara tentang keimaman kita, sang Rasul mengatakan, ’Tidak seorangpun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil oleh Allah,’ (Ibr. 5:4), dan tempat untuk memastikan apa yang Allah panggil bukanlah di dalam perasaan kita tetapi di dalam penyingkapan Firman Allah sendiri.”

      Mengenai kesempatan untuk hidup di firdaus bumi yang telah dipulihkan, Siswa-Siswa Alkitab percaya bahwa hal ini baru akan diulurkan kepada orang-orang setelah seluruh kawanan kecil menerima pahala mereka dan era milenium telah sepenuhnya dimulai. Mereka mengerti bahwa itulah saatnya ”pemulihan segala sesuatu”, sebagaimana ditunjukkan di dalam Kisah 3:21 (KJ). Bahkan orang-orang mati akan dibangkitkan pada waktu itu sehingga semua orang dapat menikmati persediaan yang pengasih tersebut. Saudara-saudara membayangkan seluruh umat manusia (selain dari mereka yang telah dipanggil untuk kehidupan surgawi) sebagai yang kemudian diberikan kesempatan untuk memilih kehidupan. Sebagaimana mereka pahami, itulah saatnya manakala Kristus, di takhta surgawinya, akan memisahkan orang yang satu dari yang lain, seperti gembala memisahkan domba dari kambing. (Mat. 25:31-46) Orang-orang yang taat, tidak soal lahir sebagai orang Yahudi atau sebagai orang non-Yahudi akan terbukti menjadi ”domba-domba lain” kepunyaan Tuhan.—Yoh. 10:16.b

      Setelah Zaman Orang Kafir berakhir, mereka mengira bahwa waktu pemulihan sudah sangat dekat; maka dari tahun 1918 terus sampai tahun 1925, mereka mengumumkan, ”Jutaan orang yang sekarang hidup tidak akan pernah mati.” Ya, mereka mengerti bahwa orang-orang yang pada saat itu hidup—umat manusia pada umumnya—mempunyai kesempatan untuk selamat langsung ke masa pemulihan dan bahwa mereka kemudian akan diajar mengenai tuntutan-tuntutan Yehuwa untuk kehidupan. Jika mereka taat, secara bertahap mereka akan mencapai kesempurnaan manusia. Jika mereka memberontak, pada waktunya mereka akan dibinasakan selama-lamanya.

      Selama masa-masa permulaan, saudara-saudara tidak dapat membayangkan bahwa berita Kerajaan akan diumumkan sedemikian luas dan selama bertahun-tahun seperti yang terjadi sekarang. Namun, mereka terus memeriksa Alkitab dan berupaya keras menanggapi apa yang ditunjukkan berkenaan pekerjaan yang Allah inginkan untuk mereka lakukan.

      ”Domba” di Sebelah Kanan Kristus

      Suatu langkah yang benar-benar penting dalam mengerti maksud-tujuan Yehuwa berpusat pada perumpamaan Yesus tentang domba dan kambing di Matius 25:31-46. Dalam perumpamaan itu Yesus berkata, ”Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaanNya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaanNya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapanNya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kananNya dan kambing-kambing di sebelah kiriNya.” Sebagaimana perumpamaan itu kemudian memperlihatkan, ”domba” adalah mereka yang membantu ’saudara-saudara’ Kristus, bahkan berupaya memberi bantuan pada saat mereka dianiaya dan dalam penjara.

      Untuk waktu yang lama dipercayai bahwa perumpamaan ini terjadi selama era milenium, pada masa pemulihan, dan bahwa penghakiman terakhir yang disebutkan dalam perumpamaan itu adalah penghakiman yang akan terjadi pada akhir Milenium. Namun pada tahun 1923, alasan-alasan untuk suatu pandangan lain tentang hal-hal itu diajukan oleh J. F. Rutherford, presiden dari Lembaga Menara Pengawal, dalam sebuah khotbah yang berisi penerangan di Los Angeles, Kalifornia. Belakangan khotbah ini diterbitkan pada tahun itu dalam The Watch Tower terbitan 15 Oktober.

      Ketika membahas masa manakala perumpamaan nubuat ini akan digenapi, artikel tersebut menunjukkan bahwa Yesus memasukkan perumpamaan itu sebagai bagian dari jawabannya atas pertanyaan mengenai ’tanda dari kehadirannya dan dari akhir sistem segala perkara’. (Mat. 24:3, NW) Artikel itu menjelaskan mengapa ’saudara-saudara’ yang disebut dalam perumpamaan itu tidak mungkin orang-orang Yahudi dari zaman Injil atau orang-orang yang memperlihatkan iman selama periode pengujian dan penghakiman milenium tetapi haruslah orang-orang yang adalah ahli-ahli waris bersama Kristus dari Kerajaan surgawi; itulah sebabnya penggenapan dari perumpamaan itu pastilah terjadi pada saat beberapa dari sesama ahli waris Kristus masih dalam tubuh jasmani.—Bandingkan Ibrani 2:10, 11.

      Pengalaman-pengalaman saudara-saudara terurap Kristus ketika mereka berupaya keras memberi kesaksian kepada pemimpin agama dan kaum awam yang bergabung dengan gereja-gereja Susunan Kristen juga menunjukkan bahwa nubuat yang termasuk dalam perumpamaan Yesus itu sudah mulai digenapi. Bagaimana bisa demikian? Reaksi dari banyak di antara para pemimpin agama dan anggota terkemuka dari gereja-gereja mereka sangat bermusuhan—tidak ada secangkir air yang menyegarkan, secara harfiah atau kiasan; sebaliknya, beberapa dari orang-orang ini menghasut gerombolan-gerombolan untuk merobek pakaian saudara-saudara dan memukuli mereka, atau meminta agar para pejabat memenjarakan mereka. (Mat. 25:41-43) Sebaliknya, banyak anggota gereja yang rendah hati dengan gembira menerima berita Kerajaan, memberikan kesejukan kepada mereka yang membawanya, dan melakukan sebisa-bisanya untuk membantu bahkan ketika orang-orang yang terurap dipenjarakan demi kepentingan kabar baik.—Mat. 25:34-36.

      Sejauh Siswa-Siswa Alkitab dapat mengerti, orang-orang yang Yesus sebut sebagai domba-domba masih ada dalam gereja-gereja Susunan Kristen. Mereka ini, menurut Siswa-Siswa Alkitab, adalah orang-orang yang tidak mengaku mengabdi kepada Tuhan tetapi mempunyai respek yang dalam kepada Yesus Kristus dan kepada umatnya. Akan tetapi, dapatkah mereka tetap berada dalam gereja-gereja?

      Mengambil Pendirian yang Teguh untuk Ibadat yang Murni

      Suatu penelitian mengenai buku Yehezkiel dalam Alkitab yang bersifat nubuat, memberikan penjelasan atas hal ini. Jilid pertama dari tiga jilid penjelasan berjudul Vindication (Pembenaran) diterbitkan pada tahun 1931. Buku ini menjelaskan arti penting dari hal yang Yehezkiel tulis mengenai murka Yehuwa terhadap Yehuda dan Yerusalem purba yang murtad. Walaupun orang-orang dari Yehuda mengaku bahwa mereka melayani Allah yang hidup dan benar, mereka memasukkan upacara-upacara keagamaan dari bangsa-bangsa di sekitarnya, mempersembahkan kemenyan kepada berhala-berhala yang tidak bernyawa, dan secara amoral menaruh kepercayaan kepada sekutu-sekutu politik, sebaliknya daripada memperlihatkan iman kepada Yehuwa. (Yeh. 8:5-18; 16:26, 28, 29; 20:32) Dalam semua hal ini, mereka persis seperti Susunan Kristen; maka, secara konsisten, Yehuwa akan melaksanakan penghukuman ke atas Susunan Kristen sama seperti yang telah Ia lakukan terhadap Yehuda dan Yerusalem yang tidak setia. Namun Yehezkiel pasal 9 memperlihatkan bahwa sebelum penghakiman ilahi dilaksanakan, ada yang akan ditandai untuk diselamatkan. Siapakah mereka?

      Nubuat itu mengatakan bahwa orang-orang yang ditandai akan ”berkeluh kesah karena segala perbuatan-perbuatan keji yang dilakukan” di tengah-tengah Susunan Kristen, atau yang digambarkan oleh Yerusalem. (Yeh. 9:4) Maka, tentu saja mereka tidak mungkin dengan sengaja ikut serta dalam perkara-perkara menjijikkan tersebut. Karena itu, jilid pertama Vindication menunjukkan bahwa mereka yang memiliki tanda adalah orang-orang yang menolak menjadi bagian dari organisasi gereja Susunan Kristen dan yang dengan suatu cara berpihak kepada Tuhan.

      Bahan ini dilanjutkan pada tahun 1932 dengan suatu pembahasan tentang catatan Alkitab mengenai Yehu dan Yonadab dan penerapan nubuatnya. Yehu ditugaskan oleh Yehuwa untuk menjadi raja dari kerajaan sepuluh suku Israel dan melaksanakan penghukuman Yehuwa atas keluarga Ahab dan Izebel yang jahat. Ketika Yehu dalam perjalanan menuju Samaria untuk memusnahkan ibadat Baal, Yehonadab (Yonadab), anak Rekhab, datang menemui dia. Yehu bertanya kepada Yehonadab, ”Apakah hatimu jujur kepadaku?” dan Yehonadab menjawab, ”Ya!” ”Berilah tanganmu,” undang Yehu, dan dia menarik Yehonadab ke atas keretanya. Kemudian Yehu mendesak, ”Marilah ikut bersamaku dan lihatlah bahwa aku tidak mentoleransi persaingan apa pun terhadap Yehuwa.” (2 Raj. 10:15-28, NW) Yehonadab, walaupun bukan seorang Israel, setuju dengan apa yang dilakukan oleh Yehu; dia mengetahui bahwa Yehuwa, Allah yang benar, harus diberikan pengabdian yang eksklusif. (Kel. 20:4, 5) Berabad-abad kemudian, keturunan Yehonadab masih memperlihatkan semangat yang diperkenan Yehuwa, maka Ia berjanji, ”Keturunan Yonadab bin Rekhab takkan terputus melayani Aku sepanjang masa.” (Yer. 35:19) Maka timbul pertanyaan, Apakah ada orang-orang di bumi dewasa ini yang bukan Israel rohani dengan warisan surgawi tetapi yang seperti Yehonadab?

      The Watchtower 1 Agustus 1932, menjelaskan, ”Yehonadab menggambarkan atau menjadi bayangan dari kelompok orang-orang yang sekarang hidup di bumi . . . [yang] tidak selaras dengan organisasi Setan, yang menetapkan pendirian mereka di pihak keadilbenaran, dan adalah orang-orang yang akan Tuhan selamatkan melampaui Armagedon, membawa mereka melewati kesulitan itu, dan memberi mereka kehidupan yang abadi di bumi. Orang-orang ini membentuk golongan ’domba’ yang mendukung umat Allah yang terurap, karena mereka mengetahui bahwa orang-orang yang diurapi oleh Tuhan sedang melakukan pekerjaan Tuhan.” Mereka yang memperlihatkan semangat demikian diundang untuk ikut serta memberitakan kabar Kerajaan kepada orang-orang lain sama seperti yang sedang dilakukan oleh kaum terurap.—Why. 22:17.

      Ada beberapa orang (walaupun relatif sangat sedikit pada saat itu) yang bergabung dengan Saksi-Saksi Yehuwa yang menyadari bahwa roh Allah tidak menimbulkan dalam diri mereka harapan untuk kehidupan surgawi. Mereka kemudian dikenal sebagai kaum Yonadab, karena, seperti Yonadab (Yehonadab) zaman dahulu, mereka menganggapnya suatu hak istimewa untuk dikenali bersama-sama dengan hamba-hamba Yehuwa yang terurap, dan mereka senang ikut serta dalam hak istimewa yang Firman Allah telah tunjukkan bagi mereka. Apakah orang-orang demikian yang mempunyai prospek untuk tidak pernah mati, akan menjadi sedemikian banyak sebelum Armagedon? Apakah mungkin, seperti sudah dikatakan, bahwa jumlah mereka dapat mencapai jutaan?

      ”Kumpulan Besar”—Siapakah Mereka?

      Ketika diumumkan tentang pengaturan bagi Saksi-Saksi Yehuwa untuk mengadakan suatu kebaktian di Washington, DC, dari 30 Mei sampai 3 Juni 1935, The Watchtower mengatakan, ”Sampai sekarang belum ada banyak kaum Yonadab yang mendapat hak istimewa untuk menghadiri suatu kebaktian, dan kebaktian di Washington itu dapat menjadi penghiburan yang sejati dan bermanfaat bagi mereka.” Halnya memang terbukti benar.

      Pada kebaktian tersebut, perhatian khusus diberikan kepada Wahyu 7:9, 10, yang berbunyi, ”Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: ’Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!’” Siapakah yang akan membentuk kumpulan besar ini, atau ”perhimpunan besar”?—KJ.

      Selama bertahun-tahun, bahkan sampai tahun 1935, mereka tidak dianggap sama dengan domba-domba dalam perumpamaan Yesus tentang domba dan kambing. Sebagaimana sudah dicatat, ada pemikiran bahwa mereka adalah golongan surgawi kedua—kedua karena mereka telah lalai menaati Allah.

      Akan tetapi, pandangan itu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang tetap bertahan. Beberapa di antaranya dibahas pada awal tahun 1935 sewaktu acara makan siang di kantor pusat Lembaga Menara Pengawal. Beberapa di antara mereka yang berbicara pada saat itu mengemukakan bahwa perhimpunan besar itu adalah golongan bumi. Grant Suiter, yang belakangan menjadi anggota Badan Pimpinan, mengenang, ”Pada suatu pembahasan di Betel, yang dipimpin oleh Saudara T. J. Sullivan, saya bertanya, ’Karena perhimpunan besar memperoleh kehidupan yang abadi, apakah mereka yang membentuk kelompok itu memelihara integritas?’ Ada banyak komentar tetapi tidak ada jawaban yang pasti.” Nah, pada hari Jumat, 31 Mei 1935, pada kebaktian di Washington, DC, sebuah jawaban yang memuaskan diberikan. Saudara Suiter duduk di balkon melihat ke bawah ke arah kumpulan orang banyak itu, dan betapa hatinya tergetar seraya khotbah itu disampaikan!

      Tidak lama setelah kebaktian itu, The Watchtower, dalam terbitannya tanggal 1 dan 15 Agustus 1935, memuat apa yang dinyatakan dalam khotbah itu. Artikel itu menunjukkan bahwa faktor penting untuk dapat mengerti perkara-perkara dengan tepat adalah penghargaan akan fakta bahwa maksud-tujuan Yehuwa yang utama bukanlah keselamatan manusia tetapi pembenaran nama-Nya sendiri (atau, sebagaimana kita sebut sekarang, pembenaran kedaulatan-Nya). Maka, perkenan Yehuwa ada pada orang-orang yang memelihara integritas kepada-Nya; Ia tidak memberikan upah kepada orang-orang yang setuju untuk melakukan kehendak-Nya namun kemudian mendatangkan celaan atas nama-Nya karena berkompromi dengan organisasi Iblis. Tuntutan untuk setia ini berlaku bagi semua yang akan mendapat perkenan Allah.

      Selaras dengan hal ini, The Watchtower mengatakan, ”Wahyu 7:15 sesungguhnya adalah kunci untuk mengenali perhimpunan besar. . . . Gambaran di Wahyu ini tentang perhimpunan besar adalah bahwa ’mereka berdiri di hadapan takhta Allah, dan melayani Dia’ . . . Mereka melihat dan mengerti dan menaati kata-kata Yesus, Anak Domba Allah, yang berkata kepada mereka, ’Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti’!; dan kata-kata ini berlaku bagi semua ciptaan yang Allah perkenan.” (Mat. 4:10) Jadi, apa yang Alkitab katakan tentang perhimpunan besar, atau kumpulan besar, tidak dapat dengan benar diartikan menyediakan jaring penyelamat bagi orang-orang yang mengaku mengasihi Allah tetapi yang tidak tertarik untuk melakukan kehendak-Nya.

      Maka, apakah kumpulan besar ini adalah golongan surgawi? The Watchtower memperlihatkan bahwa bahasa dalam ayat itu tidak menunjukkan kesimpulan demikian. Mengenai tempat mereka ”di hadapan takhta”, diperlihatkan bahwa Matius 25:31, 32 mengatakan mengenai segala bangsa sedang dikumpulkan di hadapan takhta Kristus, padahal bangsa-bangsa itu ada di atas bumi. Namun kumpulan besar sedang ”berdiri” di hadapan takhta karena mereka mendapat perkenan dari Pribadi yang ada di atas takhta itu.—Bandingkan Yeremia 35:19.

      Namun di mana kelompok yang demikian dapat ditemukan—orang-orang ”dari segala bangsa”, orang-orang yang bukan bagian dari Israel rohani (dilukiskan sebelumnya, dalam Wahyu 7:4-8), orang-orang yang mempraktekkan iman akan tebusan (secara kiasan mencuci jubah mereka dalam darah Anak Domba), orang-orang yang mengelu-elukan Kristus sebagai Raja (dengan daun-daun palem di tangan mereka, seperti kumpulan orang banyak yang menyambut Yesus sebagai Raja ketika ia memasuki Yerusalem), orang-orang yang sungguh-sungguh mempersembahkan diri mereka di hadapan takhta Yehuwa untuk melayani Dia? Apakah ada kelompok orang-orang demikian di atas bumi?

      Dengan menggenapi firman nubuat-Nya, Yehuwa sendiri yang menyediakan jawabannya. Webster Roe, yang hadir pada kebaktian di Washington, mengingat kembali bahwa pada titik klimaks dari khotbahnya, Saudara Rutherford bertanya, ”Siapa yang memiliki harapan untuk hidup selama-lamanya di bumi, silakan berdiri.” Menurut Saudara Roe, ”lebih dari setengah hadirin berdiri.” Selaras dengan hal ini, The Watchtower 15 Agustus 1935 menyatakan, ”Kini kita melihat suatu kelompok yang cocok sekali dengan gambaran yang diberikan dalam Wahyu tujuh mengenai perhimpunan besar. Selama beberapa tahun ini, dan selama waktu ketika ’Injil Kerajaan ini akan diberitakan menjadi kesaksian’, orang-orang dalam jumlah besar berdatangan (dan mereka terus datang) yang mengakui Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat mereka dan Yehuwa sebagai Allah mereka, yang mereka sembah dalam roh dan kebenaran dan layani dengan sukacita. Sebutan lain bagi orang-orang ini adalah ’kaum Yonadab’. Mereka dibaptis sebagai simbol, dengan demikian membuktikan bahwa mereka . . . telah berpihak kepada Yehuwa dan melayani Dia dan Raja-Nya.”

      Pada waktu itu dimengerti bahwa kumpulan besar dalam Wahyu 7:9, 10 termasuk di antara ”domba-domba lain” yang Yesus sebutkan (Yoh. 10:16); mereka adalah orang-orang yang membantu ’saudara-saudara’ Kristus (Mat. 25:33-40); mereka adalah orang-orang yang ditandai untuk keselamatan karena mereka muak kepada hal-hal menjijikkan yang dilakukan dalam Susunan Kristen dan menjauhi hal-hal ini (Yeh. 9:4); mereka seperti Yehonadab, yang terang-terangan memihak kepada hamba Yehuwa yang terurap dalam melaksanakan tugas yang Allah berikan (2 Raj. 10:15, 16). Saksi-Saksi Yehuwa mengerti bahwa orang-orang ini adalah hamba-hamba Allah yang loyal yang akan selamat melampaui Armagedon dengan prospek untuk hidup selama-lamanya di atas bumi yang keadaannya dipulihkan menjadi Firdaus.

      Pekerjaan Mendesak yang Harus Dilakukan

      Pengertian mereka akan ayat-ayat ini memiliki pengaruh yang jauh jangkauannya pada kegiatan hamba-hamba Yehuwa. Mereka menyadari bahwa mereka bukanlah yang akan memilih dan mengumpulkan anggota-anggota dari kumpulan besar ini; bukanlah terserah kepada mereka untuk memberi tahu orang-orang bahwa apakah harapan mereka adalah di surga atau di bumi. Tuhan akan mengatur perkara-perkara selaras dengan kehendak-Nya. Namun sebagai Saksi-Saksi Yehuwa, mereka memiliki tanggung jawab serius. Mereka harus melayani sebagai pemberita-pemberita Firman Allah, membagikan kebenaran yang telah Ia mungkinkan untuk mereka pahami, sehingga orang-orang dapat mengetahui tentang persediaan-persediaan Yehuwa dan mendapat kesempatan untuk menanggapi hal-hal ini dengan penghargaan.

      Selain itu, mereka menyadari bahwa pekerjaan mereka sangat mendesak. Dalam suatu seri artikel berjudul ”Mengumpulkan Orang Banyak”, yang diterbitkan pada tahun 1936, The Watchtower menjelaskan, ”Alkitab dengan kuat mendukung kesimpulan bahwa pada waktu Armagedon, Yehuwa akan membinasakan orang-orang yang ada di atas bumi, menyelamatkan hanya orang-orang yang menaati perintah-Nya untuk berpihak kepada organisasi-Nya. Pada waktu-waktu yang lalu, berjuta-juta orang telah masuk kubur tanpa pernah mendengar tentang Allah dan Kristus, dan orang-orang ini, pada waktu yang ditentukan akan dibangunkan dari kematian dan diberikan pengetahuan akan kebenaran, agar mereka dapat menentukan pilihan mereka. Akan tetapi, keadaannya berbeda sehubungan dengan orang-orang yang sekarang berada di bumi. . . . Mereka dari perhimpunan besar harus menerima berita injil sebelum hari peperangan, hari besar Allah Yang Mahakuasa, yaitu Armagedon. Jika perhimpunan besar tidak diberikan berita kebenaran sekarang, akan sangat terlambat saat pekerjaan pembinasaan dimulai.”—Lihat 2 Raja 10:25; Yehezkiel 9:5-10; Zefanya 2:1-3; Matius 24:21; 25:46.

      Sebagai hasil pengertian akan ayat-ayat ini, Saksi-Saksi Yehuwa dipompa dengan gairah yang diperbarui untuk pekerjaan kesaksian. Leo Kallio, yang belakangan melayani sebagai pengawas keliling di Finlandia mengatakan, ”Saya tidak dapat mengingat pernah mengalami sukacita dan kegairahan sedemikian besar, saya juga tidak dapat mengingat pernah mengayuh sepeda saya secepat yang saya lakukan pada hari-hari itu, ketika saya bergegas membawa berita kepada orang-orang berminat bahwa karena kebaikan hati Yehuwa yang tidak layak diterima, mereka mendapat tawaran kehidupan yang abadi di bumi.”

      Selama lima tahun berikutnya, seraya jumlah Saksi-Saksi Yehuwa bertambah, orang-orang yang ambil bagian dari lambang-lambang pada Peringatan tahunan kematian Kristus perlahan-lahan berkurang jumlahnya. Namun, masuknya kumpulan besar tidaklah secepat yang diharapkan oleh Saudara Rutherford. Pada suatu saat, ia bahkan berkata kepada Fred Franz, yang menjadi presiden Lembaga yang keempat, ”Tampaknya seolah-olah ’perhimpunan besar’ akhirnya tidak akan menjadi sangat besar.” Namun sejak itu, jumlah Saksi-Saksi Yehuwa telah berlipat ganda menjadi jutaan, sedangkan jumlah orang yang mengharapkan warisan surgawi, pada umumnya, terus menurun.

      Satu Kawanan di Bawah Satu Gembala

      Tidak ada persaingan antara kaum terurap dan kumpulan besar. Orang-orang yang mempunyai harapan surgawi tidak memandang rendah mereka yang dengan penuh semangat berharap untuk menerima kehidupan kekal di bumi firdaus. Masing-masing orang dengan rasa syukur menerima hak-hak istimewa yang Allah ulurkan kepada mereka, tidak berpikir bahwa kedudukannya dengan suatu cara membuat ia lebih baik atau dengan cara lain lebih rendah dibanding orang lain. (Mat. 11:11; 1 Kor. 4:7) Seperti Yesus nubuatkan, dua kelompok ini telah menjadi ”satu kawanan”, melayani di bawah dia yang adalah ”satu gembala” mereka.—Yoh. 10:16.

      Perasaan yang dimiliki oleh saudara-saudara Kristus yang terurap terhadap rekan-rekan mereka dari kumpulan besar dengan indah diungkapkan dalam buku Keamanan Seluas Dunia Di Bawah ”Raja Damai”, ”Sejak Perang Dunia II, nubuat Yesus untuk ’kesudahan dunia’ digenapi, sebagian besar oleh peranan yang dimainkan ’kumpulan besar’ dari ’domba-domba lain.’ Penerangan dari pelita-pelita yang dinyalakan kaum sisa telah menerangi mata hati mereka, dan mereka dibantu untuk memantulkan terang itu kepada orang-orang lain yang masih ada dalam kegelapan dunia ini. . . . Mereka telah menjadi rekan-rekan yang tidak terpisahkan dari kaum sisa golongan pengantin perempuan. . . . Oleh karena itu, terima kasih sebesar-besarnya, kepada ’kumpulan besar’ internasional yang multilingual (banyak bahasa) atas bagian besar yang mereka mainkan dalam menggenapi nubuat Pengantin Perempuan di Matius 24:14!”

      Akan tetapi, seraya Saksi-Saksi Yehuwa, termasuk kumpulan besar, ambil bagian secara terpadu dalam mengumumkan berita mulia tentang Kerajaan Allah, selain kesaksian mereka yang bergairah orang-orang mulai mengenali mereka karena sesuatu hal lain.

      [Catatan Kaki]

      a ”Bagan dari Berbagai Masa” belakangan diproduksi kembali dalam buku The Divine Plan of the Ages.

      b Zion’s Watch Tower, 15 Maret 1905, hlm. 88-91.

      [Blurb di hlm. 159]

      Kebanyakan dari Saksi-Saksi Yehuwa mengharapkan kehidupan kekal di bumi

      [Blurb di hlm. 161]

      Kepercayaan yang memisahkan mereka dari segenap Susunan Kristen

      [Blurb di hlm. 164]

      Waktu penggenapan dari perumpamaan tentang domba dan kambing

      [Blurb di hlm. 165]

      Mereka kemudian dikenal sebagai kaum Yonadab

      [Blurb di hlm. 166]

      Pada tanggal 31 Mei 1935, ”perhimpunan besar” diperkenalkan dengan jelas

      [Blurb di hlm. 170]

      Harapan di surga atau di bumi—siapa yang menentukan?

      [Kotak di hlm. 160]

      Waktu untuk Mengerti

      Lebih dari 250 tahun yang lalu, Sir Isaac Newton menulis suatu pokok yang menarik tentang pengertian nubuat, termasuk salah satu nubuat tentang ”kumpulan besar” di Wahyu 7:9, 10. Dalam bukunya ”Observations Upon the Prophecies of Daniel, and the Apocalypse of St. John”, yang diterbitkan pada tahun 1733, ia menyatakan, ”Nubuat-nubuat dari Daniel dan Yohanes ini tidak akan dimengerti sampai akhir zaman: tetapi kemudian beberapa orang akan bernubuat tentang hal-hal tersebut dalam keadaan yang menderita dan memilukan selama waktu yang lama, namun tetap tidak jelas, agar dapat menobatkan meski sedikit . . . Lalu, kata Daniel, banyak orang akan berlari ke sana kemari, dan pengetahuan akan bertambah. Karena Injil harus diberitakan kepada segala bangsa sebelum kesengsaraan besar, dan kesudahan dunia ini. Orang banyak yang membawa daun-daun palem, yang keluar dari kesengsaraan besar ini, tidak dapat menjadi tak terhitung jumlahnya yang berasal dari segala bangsa, kecuali mereka dibuat demikian oleh pengabaran Injil sebelum kedatangannya.”

      [Kotak/Gambar di hlm. 168]

      Bumi, Rumah Manusia yang Kekal

      Apa maksud-tujuan Allah yang semula bagi umat manusia?

      ”Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ’Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.’”—Kej. 1:28.

      Apakah maksud-tujuan Allah mengenai bumi berubah?

      ”FirmanKu . . . tidak akan kembali kepadaKu dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.”—Yes. 55:11.

      ”Beginilah firman [Yehuwa], yang menciptakan langit,—Dialah Allah—yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya,—dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami—: ’Akulah [Yehuwa] dan tidak ada yang lain.’”—Yes. 45:18.

      ”Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah namaMu, datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga.”—Mat. 6:9, 10.

      ”Orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan [Yehuwa] akan mewarisi negeri [”bumi”, ”NW”]. Orang-orang benar akan mewarisi negeri [”bumi”, ”NW”] dan tinggal di sana senantiasa.”—Mzm. 37:9, 29.

      Keadaan apakah yang akan terdapat di atas bumi di bawah Kerajaan Allah?

      ”Tetapi sesuai dengan janjiNya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.”—2 Ptr. 3:13.

      ”Bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. Tetapi mereka masing-masing akan duduk di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya dengan tidak ada yang mengejutkan, sebab mulut [Yehuwa] semesta alam yang mengatakannya.”—Mi. 4:3, 4.

      ”Mereka akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminya juga; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan memakan buahnya juga. Mereka tidak akan mendirikan sesuatu, supaya orang lain mendiaminya, dan mereka tidak akan menanam sesuatu, supaya orang lain memakan buahnya; sebab umur umatKu akan sepanjang umur pohon, dan orang-orang pilihanKu akan menikmati pekerjaan tangan mereka.”—Yes. 65:21, 22.

      ”Tidak seorangpun yang tinggal di situ akan berkata: ’Aku sakit.’”—Yes. 33:24.

      ”Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. . . . Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”—Why. 21:3, 4; lihat juga Yohanes 3:16.

      ”Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan [”Yehuwa”, ”NW”] dan yang tidak memuliakan namaMu? Sebab Engkau saja yang kudus; karena semua bangsa akan datang dan sujud menyembah Engkau, sebab telah nyata kebenaran segala penghakimanMu.”—Why. 15:4.

      [Kotak/Gambar di hlm. 169]

      Mereka yang Pergi ke Surga

      Berapa orang yang akan pergi ke surga?

      ”Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.”—Luk. 12:32.

      ”Aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba [Kristus Yesus] berdiri di bukit Sion [surgawi] dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis namaNya dan nama BapaNya. Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorangpun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu.”—Why. 14:1, 3.

      Apakah 144.000 seluruhnya adalah orang Yahudi?

      ”Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.”—Gal. 3:28, 29.

      ”Yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah.”—Rm. 2:28, 29.

      Mengapa Allah mengambil beberapa orang ke surga?

      ”Mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya.”—Why. 20:6.

      [Kotak/Grafik di hlm. 171]

      Laporan Perjamuan Malam

      Dalam waktu 25 tahun, hadirin Perjamuan Malam mencapai lebih dari 100 kali jumlah mereka yang ambil bagian

      [Grafik]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      Yang ambil bagian

      Hadirin

      1.500.000

      1.250.000

      1.000.000

      750.000

      500.000

      250.000

      1935 1940 1945 1950 1955 1960

      [Gambar di hlm. 167]

      Pada kebaktian di Washington, DC, 840 orang dibaptis

  • Dikenali dari Tingkah Laku Kita
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 13

      Dikenali dari Tingkah Laku Kita

      KITA hidup dalam suatu era manakala standar-standar moral yang telah lama dihormati, diabaikan oleh sebagian besar umat manusia. Kebanyakan agama dari Susunan Kristen melakukan hal yang sama, baik atas nama toleransi atau dengan argumen bahwa zaman telah berubah dan apa yang dianggap tabu oleh generasi-generasi sebelumnya tidak berlaku lagi. Sebagai hasilnya, Samuel Miller, seorang dekan Sekolah Tinggi Teologia Harvard, mengatakan, ”Gereja sama sekali tidak mendapat tempat terkemuka di kalangan masyarakat. Gereja tidak memimpin. Gereja telah mengambil kebudayaan masa kita dan menyerapnya.” Pengaruhnya terhadap kehidupan orang-orang yang mencari bimbingan kepada gereja-gereja semacam itu telah menghancurkan.

      Sebagai kontras, ketika membahas tentang Saksi-Saksi Yehuwa, L’Eglise de Montréal, buletin mingguan dari keuskupan agung Katolik di Montreal, Kanada, mengatakan, ”Mereka memiliki nilai-nilai moral yang luar biasa.” Sejumlah besar guru sekolah, majikan, dan petugas pemerintahan setuju dengan itu. Apa yang menyebabkan reputasi ini?

      Menjadi salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa mencakup lebih banyak daripada menganut suatu kerangka kepercayaan tentang doktrin-doktrin dan memberi kesaksian kepada orang-orang lain tentang kepercayaan ini. Kekristenan masa awal dikenal sebagai ”Jalan Itu”, dan Saksi-Saksi Yehuwa menyadari bahwa agama yang benar dewasa ini harus menjadi jalan hidup. (Kis. 9:2, NW) Akan tetapi, sebagaimana juga demikian dalam hal-hal lain, Saksi-Saksi zaman modern tidak langsung mencapai penghargaan yang seimbang tentang apa yang tercakup dalam hal ini.

      ”Karakter Atau Perjanjian—Yang Mana?”

      Walaupun mereka mulai dengan nasihat yang berdasarkan Alkitab tentang perlunya menjadi sama seperti Kristus, penandasan yang diberikan oleh beberapa dari Siswa-Siswa Alkitab masa permulaan terhadap ”perkembangan karakter”, demikian mereka menyebutnya, cenderung memperkecil aspek-aspek tertentu dari kekristenan yang sejati. Beberapa dari mereka tampak berpikir bahwa bersikap sopan—selalu kelihatan ramah dan baik, berbicara lembut, menghindari segala bentuk kemarahan apa pun, membaca Alkitab setiap hari—akan menjamin masuknya mereka ke surga. Namun, orang-orang ini lalai akan fakta bahwa Kristus telah memberikan kepada para pengikutnya suatu pekerjaan untuk mereka laksanakan.

      Problem ini dengan tegas dibahas dalam artikel ”Karakter Atau Perjanjian—Yang Mana?” dalam terbitan majalah The Watch Tower 1 Mei 1926.a Artikel ini memperlihatkan bahwa upaya untuk memperkembangkan ”kepribadian yang sempurna” selama dalam keadaan jasmani menyebabkan beberapa orang menyerah karena putus asa, tetapi pada waktu yang sama, pada diri orang-orang lain hal itu menghasilkan sikap merasa diri lebih benar dan cenderung menyebabkan mereka lupa akan manfaat korban Kristus. Setelah menandaskan iman akan darah Kristus yang dicurahkan, artikel tersebut menonjolkan pentingnya ’melakukan perkara-perkara’ dalam pelayanan yang aktif kepada Allah untuk memberikan bukti bahwa seseorang sedang mengejar haluan yang menyenangkan Allah. (2 Ptr. 1:5-10) Pada waktu itu, selagi banyak dari Susunan Kristen masih berpura-pura memegang standar moral Alkitab, ditandaskannya aktivitas ini makin memperjelas perbedaan antara Saksi-Saksi Yehuwa dan Susunan Kristen. Perbedaan menjadi semakin nyata seraya masalah moral yang menjadi umum harus dihadapi oleh semua yang mengaku orang Kristen.

      ”Menjauhi Percabulan”

      Standar Kristen mengenai moralitas seksual telah diuraikan sejak dulu dengan bahasa yang terus terang dalam Alkitab. ”Inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan . . . Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah.” (1 Tes. 4:3-8) ”Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.” (Ibr. 13:4) ”Tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, . . . orang berzinah, banci, orang pemburit . . . tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”—1 Kor. 6:9, 10.

      Dalam Watch Tower, perhatian orang-orang Kristen sejati ditarik kepada standar ini sudah sejak bulan November 1879. Namun hal ini tidak dibahas berulang-ulang atau secara terperinci seolah-olah hal ini merupakan problem utama di antara Siswa-Siswa Alkitab masa permulaan. Akan tetapi, seraya sikap dunia makin menjadi serba boleh, perhatian yang ditingkatkan telah diarahkan kepada kebutuhan ini, khususnya pada tahun-tahun sekitar Perang Dunia II. Hal ini diperlukan sebab beberapa di antara Saksi-Saksi Yehuwa menerima pandangan bahwa asalkan mereka sibuk memberi kesaksian, sedikit longgar dalam moralitas seksual hanyalah soal pribadi. Memang benar bahwa The Watchtower 1 Maret 1935 dengan jelas telah menyatakan bahwa partisipasi dalam dinas pengabaran tidak memberikan kebebasan bagi tingkah laku yang amoral. Namun tidak semua mencamkannya dalam hati. Maka, dalam terbitannya tanggal 15 Mei 1941, The Watchtower sekali lagi membahas soal ini, dan secara cukup terperinci, dalam artikel yang berjudul ”Zaman Nuh”. Artikel itu menunjukkan bahwa kebejatan seksual pada zaman Nuh adalah satu alasan mengapa Allah membinasakan dunia dari zaman itu, dan ini memperlihatkan bahwa apa yang telah Allah lakukan ketika itu menjadi pola untuk apa yang akan Allah lakukan pada zaman kita. Dalam bahasa yang sederhana artikel itu memperingatkan bahwa seorang hamba Allah yang memelihara integritas tidak dapat membaktikan sebagian dari harinya untuk melakukan kehendak Tuhan dan kemudian, setelah jam-jam tersebut, turut serta dalam ”perbuatan daging”. (Gal. 5:17-21) Pembahasan ini dilanjutkan dalam The Watchtower 1 Juli 1942, dengan artikel lain yang mengutuk tingkah laku yang tidak selaras dengan standar moral Alkitab bagi orang-orang yang lajang dan bagi yang sudah menikah. Tidak seorang pun boleh menyimpulkan bahwa keikutsertaan dalam pengabaran berita Kerajaan kepada umum sebagai salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa memberikan kebebasan untuk hidup tanpa kendali. (1 Kor. 9:27) Pada waktunya, bahkan tindakan-tindakan yang lebih ketat diambil untuk menjaga kebersihan moral dalam organisasi.

      Beberapa orang yang ketika itu menyatakan keinginan untuk menjadi Saksi-Saksi Yehuwa, telah dibesarkan dalam lingkungan yang menerima kawin percobaan, yang mentoleransi hubungan seksual di antara orang-orang yang bertunangan, atau yang menganggap normal hubungan yang disetujui bersama antara orang-orang yang tidak menikah secara sah. Beberapa pasangan yang sudah menikah berupaya untuk tidak melaksanakan kewajiban dalam perkawinan (selibat). Orang-orang lain, walaupun tidak bercerai, secara tidak bijaksana hidup terpisah dari pasangannya. Dalam menyediakan bimbingan yang diperlukan, The Watchtower, selama tahun 1950-an, mempertimbangkan semua situasi ini, membahas tanggung jawab perkawinan, menandaskan larangan Alkitab mengenai percabulan, dan menjelaskan apa percabulan itu, sehingga tidak ada salah pengertian.b—Kis. 15:19, 20; 1 Kor. 6:18.

      Di tempat-tempat di mana orang-orang yang mulai bergabung dengan organisasi Yehuwa tidak memandang serius standar moral Alkitab, perhatian khusus diberikan. Karena itu, pada tahun 1945, ketika N. H. Knorr, presiden ketiga Lembaga Menara Pengawal sedang berada di Kosta Rika, dalam khotbah yang ia sampaikan tentang moralitas Kristen ia berkata, ”Semua yang hadir di sini malam ini, yang hidup bersama dengan seorang wanita tetapi belum meresmikan perkawinan saudara secara sah, saya ingin memberikan saudara beberapa saran. Pergilah ke Gereja Katolik dan daftarkan nama saudara sebagai anggota, karena di sana saudara dapat mempraktekkan hal-hal ini. Namun, ini adalah organisasi Allah, dan saudara tidak dapat mempraktekkan hal-hal ini di sini.”

      Dimulai pada tahun 1960-an, ketika kaum homoseksual menjadi semakin terang-terangan dalam praktek-praktek mereka, banyak gereja memperdebatkan masalah ini, kemudian menerima mereka sebagai anggota. Ada gereja-gereja yang sekarang bahkan melantik orang-orang homoseksual menjadi pemimpin agama. Agar dapat membantu orang-orang tulus yang mempunyai pertanyaan tentang soal-soal ini, publikasi Saksi-Saksi Yehuwa juga membahas masalah ini. Namun di antara Saksi-Saksi, tidak pernah dipertanyakan bagaimana homoseksualitas harus dipandang. Mengapa tidak? Karena mereka tidak memandang tuntutan Alkitab seolah-olah hanyalah pendapat manusia dari zaman yang berbeda. (1 Tes. 2:13) Mereka dengan senang hati memimpin pengajaran Alkitab dengan orang-orang homoseksual supaya mereka dapat mempelajari tuntutan-tuntutan Yehuwa, dan orang-orang demikian dapat menghadiri perhimpunan Saksi-Saksi untuk mendengarkan, tetapi tidak seorang pun yang terus mempraktekkan homoseksualitas dapat menjadi salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa.—1 Kor. 6:9-11; Yud. 7.

      Pada tahun-tahun belakangan ini, keterlibatan seksual orang-orang muda yang tidak menikah menjadi hal yang umum di dunia. Orang-orang muda dalam banyak keluarga Saksi-Saksi Yehuwa merasakan tekanan ini, dan beberapa mulai menerima cara-cara dunia yang ada di sekitar mereka. Bagaimana organisasi mengatasi situasi ini? Artikel-artikel yang dirancang untuk membantu para orang-tua dan orang-orang muda untuk memandang perkara-perkara ini berdasarkan Alkitab diterbitkan dalam majalah-majalah The Watch Tower dan Awake! Drama-drama dari kisah sejati dipertunjukkan dalam kebaktian-kebaktian untuk membantu semua agar menyadari akibat dari menolak standar moral Alkitab dan manfaat dari menaati perintah Allah. Salah satu yang pertama dari drama-drama ini, dipertunjukkan pada tahun 1969, berjudul ”Banyak Duri dan Jebakan Pada Jalan Orang yang Independen”. Buku-buku khusus dipersiapkan untuk membantu kaum muda menghargai hikmat dari nasihat Alkitab. Buku-buku ini misalnya Masa Remaja—Manfaatkanlah Sebaik-baiknya (diterbitkan pada tahun 1976 dalam bahasa Inggris) dan Pertanyaan Kaum Muda—Jawaban yang Praktis (diterbitkan pada tahun 1989). Para penatua setempat memberikan bantuan rohani kepada pribadi-pribadi dan keluarga-keluarga. Sidang-sidang Saksi-Saksi Yehuwa juga dilindungi dengan mengeluarkan orang-orang bersalah yang tidak bertobat.

      Kemerosotan dunia dalam hal moral tidak menimbulkan pandangan yang lebih serba boleh di antara Saksi-Saksi Yehuwa. Sebaliknya, Badan Pimpinan Saksi-Saksi Yehuwa lebih menandaskan perlunya menghindari bukan saja perbuatan seks gelap tetapi juga pengaruh-pengaruh dan keadaan-keadaan yang mengikis nilai-nilai moral. Selama tiga dekade terakhir ini, Badan Pimpinan telah menyediakan petunjuk-petunjuk untuk membentengi pribadi-pribadi melawan ”dosa tersembunyi” misalnya masturbasi dan membuat mereka waspada akan bahaya pornografi, opera sabun, dan musik yang mempunyai pengaruh merendahkan moral. Maka, seraya kecenderungan moral dunia merosot, moral Saksi-Saksi Yehuwa meningkat.

      Kehidupan Keluarga yang Dibimbing Oleh Standar Ilahi

      Berpegang teguh pada standar Alkitab mengenai moralitas seksual telah banyak memberikan manfaat kepada kehidupan keluarga Saksi-Saksi Yehuwa. Namun menjadi salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa bukanlah jaminan bahwa seseorang tidak akan mendapat problem-problem dalam keluarga. Meskipun demikian, Saksi-Saksi percaya bahwa Firman Allah memberikan nasihat yang paling baik dalam cara mengatasi problem-problem demikian. Mereka memiliki banyak perlengkapan yang disediakan oleh organisasi untuk membantu mereka menerapkan nasihat itu; dan jika mereka terus mengikutinya, hasilnya akan benar-benar membawa manfaat.

      Bahkan sejak tahun 1904, jilid keenam dari Studies in the Scriptures menyediakan pembahasan terperinci tentang tanggung jawab perkawinan dan kewajiban orang-tua. Sejak saat itu, ratusan artikel diterbitkan dan berbagai khotbah disampaikan di setiap sidang Saksi-Saksi Yehuwa untuk membantu setiap anggota keluarga menghargai peranan yang diberikan Allah. Pendidikan dalam seluruh kehidupan keluarga ini bukan hanya diberikan bagi para pengantin baru tetapi merupakan suatu program yang terus-menerus berjalan yang mencakup seluruh sidang.—Ef. 5:22–6:4; Kol. 3:18-21.

      Apakah Poligami Akan Diterima?

      Walaupun kebiasaan-kebiasaan yang mempengaruhi perkawinan dan kehidupan keluarga berbeda dari satu negeri ke negeri lain, Saksi-Saksi Yehuwa mengakui bahwa standar yang ditetapkan dalam Alkitab berlaku di mana-mana. Seraya pekerjaan mereka mulai dilaksanakan di Afrika pada abad ke-20 ini, Saksi-Saksi di sana mengajarkan, sebagaimana mereka lakukan di tempat-tempat lain, bahwa perkawinan Kristen hanya mengizinkan satu teman hidup. (Mat. 19:4, 5; 1 Kor. 7:2; 1 Tim. 3:2) Meskipun demikian, ada ratusan orang yang menerima penyingkapan Alkitab tentang penyembahan berhala dan dengan senang hati mempercayai apa yang Saksi-Saksi Yehuwa ajarkan berkenaan Kerajaan Allah, namun dibaptis tanpa meninggalkan poligami. Guna memperbaiki keadaan ini, The Watchtower 15 Januari 1947, menekankan bahwa kekristenan tidak mengizinkan poligami, tidak soal kebiasaan setempat. Sebuah surat dikirim ke sidang-sidang memberitahukan bahwa siapa pun yang mengaku diri Saksi-Saksi Yehuwa tetapi masih mempraktekkan poligami, diberi waktu enam bulan untuk menyelaraskan urusan-urusan perkawinan mereka dengan standar Alkitab. Hal ini diperkuat oleh sebuah ceramah yang diberikan oleh Saudara Knorr selama kunjungannya ke Afrika pada tahun yang sama.

      Di Nigeria, tidak sedikit orang dunia meramalkan bahwa upaya menghapuskan poligami dari barisan Saksi-Saksi Yehuwa akan berarti menghapuskan barisan itu. Dan memang benar bahwa tidak semua pelaku poligami yang telah dibaptis sebelumnya sebagai Saksi, membuat perubahan-perubahan yang dituntut bahkan sampai tahun 1947. Sebagai contoh, Asuquo Akpabio, seorang pengawas keliling, menceritakan bahwa seorang Saksi yang menyediakan tempat menginap baginya di Ifiayong membangunkannya pada tengah malam dan menuntut agar ia mengubah apa yang telah ia umumkan mengenai syarat monogami. Karena ia menolak untuk melakukannya, tuan rumah mengusirnya ke luar di tengah-tengah hujan lebat pada malam itu.

      Akan tetapi, kasih akan Yehuwa telah memberikan kepada orang-orang lain kekuatan yang diperlukan untuk menaati perintah-perintah-Nya. Berikut ini hanya beberapa contoh di antaranya. Di Zaire seorang pria yang tadinya beragama Katolik dan seorang yang berpoligami, menceraikan dua istrinya agar dapat menjadi salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa, sekalipun menyuruh pergi istri yang paling dikasihinya karena ia bukan ’istri masa mudanya’ merupakan ujian berat atas imannya. (Ams. 5:18) Di Dahomey (sekarang Benin) seorang bekas penganut Metodis yang masih mempunyai lima istri mengatasi halangan-halangan hukum yang sangat sulit untuk dapat memperoleh perceraian yang diperlukan agar ia dapat memenuhi syarat untuk dibaptis. Walaupun demikian, ia terus menunjang kehidupan bekas istri-istri dan anak-anaknya, sebagaimana dilakukan juga oleh orang-orang lain yang menceraikan istri-istri tambahan. Warigbani Whittington, seorang Nigeria, adalah istri kedua dari antara dua istri suaminya. Ketika ia memutuskan bahwa menyenangkan Yehuwa, Allah yang benar adalah perkara yang paling penting baginya, ia menghadapi kemurkaan suaminya dan kemudian keluarganya sendiri. Suaminya membiarkan dia pergi bersama kedua anaknya, tetapi tanpa bantuan keuangan—bahkan tanpa uang untuk transportasi. Namun, ia berkata, ’Keuntungan materi apa pun yang saya tinggalkan, tidak ada yang dapat dibandingkan dengan menyenangkan Yehuwa.’

      Bagaimana Dengan Perceraian?

      Di negeri-negeri Barat, poligami tidak dipraktekkan secara luas, tetapi sikap lain yang bertentangan dengan Alkitab sedang digemari. Salah satunya adalah gagasan bahwa perceraian lebih baik daripada perkawinan yang tidak bahagia. Pada tahun-tahun belakangan ini, beberapa Saksi-Saksi Yehuwa mulai meniru semangat ini, menuntut perceraian atas dasar seperti ”ketidakcocokan”. Bagaimana Saksi-Saksi mengatasi hal ini? Suatu kampanye pendidikan yang gencar tentang pandangan Yehuwa mengenai perceraian secara tetap tentu diadakan oleh organisasi untuk memberikan manfaat bagi mereka yang telah lama menjadi Saksi-Saksi dan juga ratusan ribu orang yang terus ditambahkan ke dalam barisan mereka setiap tahun.

      Kepada petunjuk Alkitab yang mana The Watchtower telah menarik perhatian orang-orang? Antara lain, yang berikut: Dalam catatan Alkitab tentang perkawinan manusia yang pertama, kesatuan dari suami dan istri ditekankan; catatan itu mengatakan, ’Laki-laki harus berpaut kepada istrinya, dan mereka harus menjadi satu daging.’ (Kej. 2:24, NW) Belakangan, di Israel, hukum Taurat melarang perzinaan dan hukuman mati dijatuhkan atas siapa pun yang melakukannya. (Ul. 22:22-24) Perceraian selain atas dasar perzinaan diperbolehkan, tetapi hanya ’karena ketegaran hati mereka’, sebagaimana Yesus jelaskan. (Mat. 19:7, 8) Apa pandangan Yehuwa mengenai praktek menyingkirkan pasangan hidup seseorang agar dapat mengawini yang lain? Maleakhi 2:16 menyatakan, ’Allah membenci perceraian.’ Namun, Ia telah mengizinkan mereka yang bercerai untuk tetap berada dalam sidang jemaat Israel. Di sana, jika mereka menerima disiplin Yehuwa untuk umat-Nya, hati mereka yang membatu mungkin saja diganti dengan hati yang lebih lembut, hati yang dapat memperlihatkan kasih yang tulus terhadap jalan-jalan-Nya.—Bandingkan Yehezkiel 11:19, 20.

      The Watchtower telah sering menyatakan bahwa ketika Yesus membahas tentang perceraian sebagaimana dipraktekkan di Israel purba, ia memperlihatkan bahwa suatu standar yang lebih tinggi harus ditegakkan di antara para pengikutnya. Yesus berkata bahwa siapa pun yang menceraikan istrinya kecuali atas dasar percabulan (por·neiʹa, ”hubungan seksual yang tidak sah”) dan mengawini orang lain, orang tersebut berzina; dan bahkan jika ia tidak menikah lagi, ia akan menjadikan istrinya subjek untuk perzinaan. (Mat. 5:32; 19:9) Jadi, The Watchtower telah menunjukkan bahwa bagi umat Kristen perceraian apa pun merupakan persoalan yang lebih serius daripada halnya dulu di Israel. Walaupun Alkitab tidak menunjukkan bahwa setiap orang yang bercerai akan dikeluarkan dari sidang, mereka yang juga mempraktekkan perzinaan dan tidak bertobat akan dipecat dari sidang Saksi-Saksi Yehuwa.—1 Kor. 6:9, 10.

      Perubahan-perubahan yang revolusioner telah terjadi pada tahun-tahun belakangan ini atas sikap dunia berkenaan perkawinan dan kehidupan keluarga. Walaupun begitu, Saksi-Saksi Yehuwa terus berpaut pada standar-standar yang disediakan Allah, Pemula dari perkawinan, sebagaimana telah diuraikan dalam Alkitab. Dengan menggunakan petunjuk-petunjuk itu, mereka berupaya membantu orang-orang berhati jujur untuk mengatasi keadaan-keadaan sulit yang dihadapi banyak orang.

      Sebagai hasilnya, perubahan-perubahan yang dramatis telah dibuat dalam kehidupan banyak orang yang menerima petunjuk Alkitab dari Saksi-Saksi Yehuwa. Pria-pria yang tadinya sering memukuli istrinya, pria-pria yang tidak memikul tanggung jawab mereka, pria-pria yang menyediakan kebutuhan secara materi tetapi tidak secara emosi dan rohani—ribuan orang demikian telah menjadi suami dan ayah yang pengasih yang memelihara rumah tangganya dengan baik. Wanita-wanita yang ingin bebas secara membabi buta, wanita-wanita yang tidak mempedulikan anak-anak atau tidak mengurus diri dan rumah mereka—banyak dari mereka ini telah menjadi istri yang menaruh respek atas kekepalaan dan mengejar haluan yang dapat membuat mereka sangat dikasihi oleh suami dan anak-anak mereka. Remaja-remaja yang secara kurang ajar tidak mematuhi orang-tua mereka dan memberontak terhadap masyarakat pada umumnya, remaja-remaja yang menghancurkan kehidupan mereka sendiri dengan hal-hal yang mereka lakukan dan dengan demikian menghancurkan hati orang-tua mereka—tidak sedikit dari mereka ini akhirnya mempunyai tujuan ilahi dalam kehidupan dan hal ini membantu mereka mengubah kepribadian mereka.

      Tentu saja, suatu faktor penting dalam keluarga adalah kejujuran terhadap satu sama lain. Kejujuran juga penting dalam hubungan-hubungan lainnya.

      Seberapa Jauh Jangkauan dari Tuntutan Kejujuran?

      Saksi-Saksi Yehuwa mengakui bahwa kejujuran dituntut dalam segala sesuatu yang mereka lakukan. Sebagai dasar pandangan mereka, mereka menunjuk kepada ayat-ayat seperti berikut: Yehuwa sendiri adalah ”Allah kebenaran”. (Mzm. 31:5, NW) Sebaliknya, seperti Yesus katakan, si Iblis adalah ”bapa segala dusta”. (Yoh. 8:44) Maka, dapat dimengerti bahwa di antara hal-hal yang Yehuwa benci adalah ”lidah dusta”. (Ams. 6:16, 17) Firman-Nya memberi tahu kita, ”Buanglah dusta dan berkatalah benar.” (Ef. 4:25) Selain itu, orang-orang Kristen bukan saja harus mengatakan kebenaran, tetapi, seperti rasul Paulus, mereka harus ’bertingkah laku jujur dalam segala hal’. (Ibr. 13:18, NW) Dalam bidang kehidupan apa pun Saksi-Saksi Yehuwa tidak dapat secara sah menerapkan aturan nilai-nilai yang lain.

      Ketika Yesus mengunjungi rumah pemungut cukai Zakheus, orang itu mengakui bahwa praktek bisnisnya selama itu tidaklah benar, dan ia mengambil langkah untuk memperbaiki tindakan-tindakannya yang suka memeras di masa lalu. (Luk. 19:8) Pada tahun-tahun belakangan ini, agar dapat memperoleh hati nurani yang bersih di hadapan Allah, beberapa orang yang mulai bergabung dengan Saksi-Saksi Yehuwa mengambil tindakan yang serupa. Sebagai contoh, di Spanyol, seorang yang pekerjaannya mencuri mulai belajar Alkitab dengan Saksi-Saksi Yehuwa. Segera hati nuraninya mulai mengganggunya; maka ia mengembalikan barang-barang yang dicurinya kepada bekas majikannya dan kepada tetangga-tetangganya, kemudian membawa barang-barang lainnya kepada polisi. Ia diharuskan membayar denda dan mendekam di penjara untuk waktu singkat, tetapi kini ia memiliki hati nurani yang bersih. Di Inggris, hanya setelah dua bulan belajar Alkitab dengan seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa, seorang bekas pencuri berlian menyerahkan diri kepada polisi, yang tentunya sangat heran; mereka telah mencarinya selama enam bulan. Selama dua setengah tahun yang ia lalui setelah itu di penjara, ia dengan rajin mempelajari Alkitab dan belajar membagikan kebenaran Alkitab kepada orang-orang lain. Setelah dibebaskan, ia mempersembahkan dirinya untuk dibaptis sebagai salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa.—Ef. 4:28.

      Reputasi Saksi-Saksi Yehuwa sehubungan kejujuran diketahui banyak orang. Para majikan telah mengetahui bahwa Saksi-Saksi bukan saja tidak akan mencuri dari mereka tetapi juga tidak akan berbohong atau memalsukan laporan atas perintah majikan mereka—tidak, tidak bahkan jika diancam akan kehilangan pekerjaan. Bagi Saksi-Saksi Yehuwa, hubungan yang baik dengan Allah jauh lebih penting daripada perkenan manusia mana pun. Juga mereka menyadari bahwa, tidak soal di mana mereka berada dan apa yang mereka lakukan, ”segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepadaNya kita harus memberikan pertanggungan jawab”.—Ibr. 4:13; Ams. 15:3.

      Di Italia, surat kabar La Stampa mengatakan mengenai Saksi-Saksi Yehuwa, ”Mereka mempraktekkan apa yang mereka kabarkan . . . Standar yang tinggi dalam hal moral yaitu kasih akan sesama, tidak haus kekuasaan, tidak menggunakan kekerasan dan kejujuran pribadi (yang bagi kebanyakan orang Kristen hanyalah ’peraturan hari Minggu’, yang hanya bagus untuk diberitakan dari mimbar) merupakan jalan hidup mereka ’sehari-hari’.” Dan di Amerika Serikat, Louis Cassels, redaktur agama untuk United Press International, Washington, DC, menulis, ”Saksi-Saksi berpaut pada kepercayaan mereka dengan kesetiaan yang besar, walaupun dalam melakukannya berarti pengorbanan yang besar.”

      Mengapa Berjudi Tidak Pernah Menjadi Masalah di Antara Mereka

      Pada masa-masa yang silam, kejujuran biasanya dihubungkan dengan kemauan untuk bekerja keras. Berjudi, yaitu mengambil risiko mempertaruhkan sejumlah uang atas hasil suatu permainan atau kejadian lain, dianggap rendah oleh masyarakat pada umumnya. Akan tetapi, seraya semangat mementingkan diri dan ingin cepat kaya mulai meliputi abad ke-20 ini, perjudian—sah dan tidak sah—mulai meluas. Hal itu bukan saja disponsori oleh dunia penjahat tetapi sering kali juga oleh gereja-gereja dan pemerintahan duniawi dengan tujuan mengumpulkan uang. Bagaimana Saksi-Saksi Yehuwa berurusan dengan perubahan sikap ini dalam masyarakat? Berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab.

      Sebagaimana telah ditunjukkan dalam publikasi-publikasi mereka, tidak ada perintah yang spesifik dalam Alkitab yang mengatakan, Jangan berjudi. Namun buah-buah perjudian selalu buruk, dan buah-buah busuk ini telah dibeberkan oleh majalah The Watchtower dan Awake! selama setengah abad. Lebih jauh, majalah-majalah ini telah memperlihatkan bahwa berjudi dalam bentuk apa pun berkaitan dengan sikap yang Alkitab peringatkan untuk dijauhi. Misalnya, cinta akan uang, ”Akar segala kejahatan ialah cinta uang.” (1 Tim. 6:10) Serta pementingan diri, ”Jangan [secara mementingkan diri, NW] menghasratkan . . . apapun yang dipunyai sesamamu.” (Ul. 5:21; bandingkan 1 Korintus 10:24.) Juga ketamakan, ”Jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang . . . kikir [”tamak”, NW].” (1 Kor. 5:11) Selain itu, Alkitab memperingatkan untuk melawan daya tarik ”Keberuntungan” seolah-olah itu adalah semacam kekuatan supernatural yang dapat melimpahkan kebaikan. (Yes. 65:11, NW) Karena mereka mencamkan peringatan-peringatan Alkitab ini dalam hati, Saksi-Saksi Yehuwa dengan tegas menjauhkan perjudian. Dan sejak tahun 1976 mereka mengerahkan upaya khusus untuk menghindari masuknya orang-orang yang pekerjaan duniawinya dengan jelas menunjukkan bahwa mereka itu adalah bagian dari suatu perusahaan perjudian.

      Perjudian tidak pernah menjadi masalah yang nyata di antara Saksi-Saksi Yehuwa. Mereka mengetahui bahwa sebaliknya daripada memupuk semangat memperoleh keuntungan dengan mengorbankan orang lain, Alkitab menganjurkan mereka bekerja dengan tangan mereka, setia mengurus hal-hal yang dipercayakan kepada mereka, murah hati, suka memberi kepada orang-orang yang kekurangan. (Ef. 4:28; Luk. 16:10; Rm. 12:13; 1 Tim. 6:18) Apakah hal ini dapat dikenali dengan mudah oleh orang-orang lain yang berurusan dengan mereka? Ya, khususnya oleh orang-orang yang mengadakan hubungan bisnis dengan mereka. Bukanlah suatu hal yang aneh jika para majikan duniawi mencari Saksi-Saksi Yehuwa sebagai karyawan karena mengetahui sifat mereka yang bersungguh-sungguh dan dapat diandalkan. Mereka menyadari bahwa agama yang dianut Saksi-Saksi itulah yang membuat para Saksi menjadi orang-orang yang demikian.

      Bagaimana Dengan Tembakau dan Penyalahgunaan Obat?

      Alkitab tidak menyebutkan tembakau, juga tidak menyebutkan nama banyak obat yang disalahgunakan pada zaman kita sekarang. Akan tetapi, Alkitab memang menyediakan petunjuk-petunjuk yang telah membantu Saksi-Saksi Yehuwa untuk menentukan haluan tingkah laku apa yang akan menyenangkan Allah. Karena itu, bahkan sejak tahun 1895, ketika Watch Tower mengomentari tentang penggunaan tembakau, majalah itu menarik perhatian kepada 2 Korintus 7:1, yang mengatakan, ”Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.”

      Selama bertahun-tahun, nasihat itu tampaknya sudah cukup. Namun, seraya perusahaan-perusahaan tembakau menggunakan iklan-iklan untuk menciptakan pesona merokok, dan kemudian penyalahgunaan obat-obat yang ”ilegal” semakin meluas, lebih banyak nasihat diperlukan. Prinsip-prinsip Alkitab lainnya kemudian ditonjolkan: respek akan Yehuwa, Pemberi kehidupan (Kis. 17:24, 25); kasih akan sesama (Yak. 2:8), dan fakta bahwa seseorang yang tidak mengasihi sesamanya manusia tidak sungguh-sungguh mengasihi Allah (1 Yoh. 4:20); juga ketaatan kepada penguasa duniawi (Tit. 3:1). Ditunjukkan bahwa kata Yunani phar·ma·kiʹa, yang pada dasarnya berarti ”obat-obatan”, digunakan oleh para penulis Alkitab untuk mengacu kepada ”praktek spiritisme” karena obat-obatan dipakai dalam praktek-praktek spiritisme.—Gal. 5:20, NW.

      Kembali ke tahun 1946, majalah Consolation membeberkan bentuk curang yang sering terdapat pada pernyataan-pernyataan yang dibayar yang digunakan dalam iklan-iklan rokok. Seraya bukti-bukti ilmiah tersedia, penerus majalah Consolation, yaitu Awake!, juga memuat bukti bahwa penggunaan tembakau mengakibatkan kanker, penyakit jantung, cacat pada janin dari wanita yang mengandung, dan kerugian bagi bukan perokok yang dipaksa menghirup udara yang penuh asap, serta bukti bahwa nikotin dapat membuat ketagihan. Perhatian telah ditarik kepada pengaruh yang memabukkan dari mariyuana (ganja) dan bukti bahwa penggunaannya dapat mengakibatkan kerusakan pada otak. Demikian juga, bahaya-bahaya yang mengerikan dari obat-obat bius lain yang membuat ketagihan telah dibahas berulang kali demi manfaat para pembaca publikasi-publikasi Menara Pengawal.

      Jauh sebelum wakil-wakil pemerintah setuju sampai pada tingkat bahwa mereka harus memperingatkan masyarakat akan bahaya penggunaan tembakau, The Watchtower, dalam terbitannya tanggal 1 Maret 1935, menjelaskan bahwa tidak seorang pun yang menggunakan tembakau dapat menjadi anggota staf kantor pusat dari Watch Tower Bible and Tract Society atau menjadi salah seorang dari wakil-wakilnya yang terlantik. Setelah semua hamba dalam sidang Saksi-Saksi Yehuwa dilantik oleh Lembaga (yang diatur mulai pada tahun 1938), The Watchtower 1 Juli 1942, menyatakan bahwa larangan atas penggunaan tembakau juga berlaku bagi semua hamba yang dilantik ini. Di beberapa daerah, diperlukan waktu beberapa tahun sebelum hal ini dilaksanakan sepenuhnya. Akan tetapi, kebanyakan Saksi-Saksi Yehuwa memberikan tanggapan yang baik atas nasihat Alkitab dan contoh bagus dari mereka yang mengambil pimpinan di antara mereka.

      Sebagai langkah maju selanjutnya dalam menerapkan secara konsisten nasihat Alkitab itu, tidak seorang pun yang masih merokok dapat diterima untuk pembaptisan mulai tahun 1973 dan seterusnya. Selama bulan-bulan berikutnya, orang-orang yang masih aktif terlibat dalam pengolahan tembakau atau dalam memajukan penjualan tembakau, dibantu untuk menyadari bahwa mereka tidak dapat terus melakukannya dan diterima sebagai Saksi-Saksi Yehuwa. Nasihat dari Firman Allah harus diterapkan secara konsisten dalam setiap aspek kehidupan. Penerapan prinsip-prinsip Alkitab demikian mengenai penggunaan tembakau, mariyuana, dan apa yang disebut obat-obat keras telah melindungi Saksi-Saksi. Dengan menggunakan Alkitab, mereka juga dapat membantu ribuan orang yang kehidupannya sedang dirusak oleh penyalahgunaan obat.

      Apakah Minuman Beralkohol Berbeda?

      Publikasi-publikasi Menara Pengawal tidak menerima pandangan bahwa penggunaan minuman beralkohol sama dengan penyalahgunaan obat. Mengapa tidak? Mereka menjelaskan: Sang Pencipta mengetahui bagaimana kita dibuat, dan Firman-Nya mengizinkan penggunaan minuman beralkohol secara bersahaja. (Mzm. 104:15; 1 Tim. 5:23) Akan tetapi, Alkitab juga memperingatkan tentang ’minum terlalu banyak’, dan dengan tegas mengutuk pemabukan.—Ams. 23:20, NW, 21, 29, 30; 1 Kor. 6:9, 10; Ef. 5:18.

      Karena pemakaian minuman yang memabukkan secara tidak bersahaja telah merusak kehidupan banyak orang, Charles Taze Russell sendiri memilih untuk berpantang secara total. Namun demikian, ia mengakui bahwa Yesus menggunakan anggur. Selama abad ke-19 dan bagian awal abad ke-20, ada banyak pergolakan masyarakat yang menuntut minuman keras dilarang secara resmi di Amerika Serikat. Watch Tower dengan bebas mengungkapkan simpati kepada mereka yang berupaya memerangi kerugian akibat minuman keras, tetapi tidak ikut serta dalam kampanye mereka yang menuntut agar undang-undang pelarangan disahkan. Akan tetapi, majalah ini memang menunjukkan dengan tegas kerugian akibat minum berlebihan dan sering menyatakan bahwa adalah lebih baik menghindari anggur dan semua minuman keras. Mereka yang merasa dapat menggunakan minuman keras dengan bersahaja dianjurkan untuk mempertimbangkan Roma 14:21, yang mengatakan, ”Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu.”

      Akan tetapi, pada tahun 1930, ketika pemimpin Anti-Saloon League di Amerika Serikat bertindak jauh dengan mengaku kepada umum bahwa organisasinya ”dilahirkan dari Allah”, J. F. Rutherford, yang pada waktu itu adalah presiden Lembaga Menara Pengawal, menggunakan kesempatan tersebut untuk memberikan khotbah-khotbah di radio yang memperlihatkan bahwa pengakuan demikian sama saja dengan menghujah Allah. Mengapa? Karena Firman Allah tidak mengharamkan semua penggunaan anggur; karena undang-undang pelarangan tidak menghentikan pemabukan, yang memang dikutuk Allah, dan karena undang-undang pelarangan minuman keras itu sebaliknya menyebabkan reaksi yang tidak baik berupa pembuatan serta penyebaran minuman keras secara ilegal dan korupsi dalam pemerintahan.

      Menggunakan minuman beralkohol atau menghindarinya dianggap sebagai hal yang bersifat pribadi di kalangan Saksi-Saksi Yehuwa. Namun mereka berpaut pada tuntutan Alkitab bahwa para pengawas haruslah ”bersahaja dalam kebiasaan”. Istilah itu diterjemahkan dari kata Yunani ne·phaʹli·on, yang berarti, secara harfiah, ’sadar, berkepala dingin; berpantang anggur, secara keseluruhan atau paling tidak dari penggunaannya yang tidak bersahaja’. Para pelayan sidang juga, haruslah pria-pria yang ”tidak menyerahkan diri mereka kepada banyak anggur”. (1 Tim. 3:2, 3, 8, NW) Maka, peminum berat tidak memenuhi syarat untuk hak-hak istimewa dinas yang khusus. Fakta bahwa mereka yang ambil pimpinan di antara Saksi-Saksi Yehuwa memberi teladan yang bagus menyebabkan mereka memiliki kebebasan berbicara untuk membantu orang-orang lain yang cenderung bergantung pada minuman beralkohol dalam mengatasi tekanan atau bisa jadi, sebenarnya, perlu berpantang sama sekali untuk tetap sadar. Apa hasilnya?

      Sebagai contoh, suatu laporan berita dari Afrika tengah bagian selatan menyatakan, ”Dari semua laporan, daerah-daerah yang Saksi-Saksi Yehuwa paling kuat di antara orang-orang Afrika, adalah daerah-daerah yang sekarang lebih bebas dari kekacauan dibanding daerah-daerah lain pada umumnya. Pasti mereka telah dengan aktif menentang pembuat kerusuhan, tukang-tukang sihir, pemabukan dan kekerasan dalam bentuk apa pun.”—The Northern News (Zambia).

      Cara penting lain yang membedakan tingkah laku Saksi-Saksi Yehuwa dari dunia adalah sehubungan dengan—

      Respek Akan Kehidupan

      Respek demikian berakar dari pengakuan akan kenyataan bahwa kehidupan adalah suatu karunia dari Allah. (Mzm. 36:10; Kis. 17:24, 25) Hal ini mencakup kesadaran bahwa kehidupan dari bayi yang belum dilahirkan pun berharga di mata Allah. (Kel. 21:22-25; Mzm. 139:1, 16) Pertimbangkan juga bahwa ”setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.”—Rm. 14:12.

      Selaras dengan prinsip-prinsip Alkitab ini, Saksi-Saksi Yehuwa telah dengan konsisten menjauhkan diri dari praktek aborsi. Untuk menyediakan bimbingan yang baik kepada para pembacanya, majalah Awake! telah membantu mereka menghargai bahwa kesucian adalah tuntutan ilahi; majalah tersebut telah membahas secara terperinci keajaiban proses reproduksi serta faktor-faktor psikologis dan fisiologis yang tersangkut dalam kelahiran bayi. Pada masa setelah Perang Dunia II, seraya aborsi menjadi semakin umum, The Watchtower memperlihatkan dengan jelas bahwa praktek ini bertentangan dengan Firman Allah. Dengan terang-terangan, terbitan 15 Desember 1969 mengatakan, ”Aborsi yang dimaksudkan hanya untuk menyingkirkan seorang anak yang tidak diinginkan adalah sama dengan mengakhiri kehidupan manusia secara sengaja.”

      Mengapa Menolak Transfusi Darah

      Respek akan kehidupan yang diperlihatkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa juga mempengaruhi sikap mereka terhadap transfusi darah. Ketika transfusi darah menjadi masalah yang harus mereka hadapi, The Watchtower 1 Juli 1945 menjelaskan secara terperinci pandangan Kristen mengenai kesucian darah.c Artikel itu memperlihatkan bahwa darah binatang dan manusia termasuk dalam larangan ilahi yang mengikat Nuh dan semua keturunannya. (Kej. 9:3-6) Artikel itu menunjukkan bahwa tuntutan ini ditandaskan kembali pada abad pertama dalam perintah agar umat Kristen ’menjauhkan diri dari darah’. (Kis. 15:28, 29) Artikel yang sama itu juga membuat jelas dari Alkitab bahwa satu-satunya penggunaan darah yang diperkenan Allah adalah untuk korban, dan bahwa karena korban-korban binatang yang dipersembahkan di bawah Hukum Musa menggambarkan korban Kristus, maka mengabaikan tuntutan agar umat Kristen ’menjauhkan diri dari darah’ merupakan bukti dari sikap yang tidak respek terhadap korban tebusan Yesus Kristus. (Im. 17:11, 12; Ibr. 9:11-14, 22) Selaras dengan pengertian akan perkara-perkara tersebut, maka mulai tahun 1961 siapa pun yang mengabaikan tuntutan ilahi ini, menerima transfusi darah, dan menunjukkan sikap yang tidak bertobat, dipecat dari sidang Saksi-Saksi Yehuwa.

      Pada mulanya, akibat sampingan secara fisik dari tranfusi darah tidak dibahas dalam publikasi Menara Pengawal. Belakangan, ketika informasi demikian tersedia, hal itu pun diterbitkan—bukan sebagai alasan mengapa Saksi-Saksi Yehuwa menolak transfusi darah, tetapi untuk memperkuat penghargaan mereka akan larangan yang Allah sendiri berikan mengenai penggunaan darah. (Yes. 48:17) Untuk tujuan itu, pada tahun 1961 sebuah buku kecil yang didokumentasi dengan teliti berjudul Blood, Medicine and the Law of God (Darah, Obat dan Hukum Allah) diterbitkan. Pada tahun 1977, buku kecil lain dicetak. Buku kecil ini, yang berjudul Jehovah’s Witnesses and the Question of Blood (Saksi-Saksi Yehuwa dan Pertanyaan Tentang Darah), sekali lagi menandaskan fakta bahwa pendirian yang diambil oleh Saksi-Saksi Yehuwa adalah secara agama, berdasarkan apa yang Alkitab katakan, dan tidak berdasarkan faktor-faktor risiko medis. Penyesuaian lebih jauh mengenai pokok ini dipersembahkan pada tahun 1990 dalam brosur Bagaimana Darah Dapat Menyelamatkan Kehidupan Anda? Dengan menggunakan publikasi-publikasi ini, Saksi-Saksi Yehuwa telah mengupayakan banyak hal untuk mendapatkan kerja sama dari para dokter dan membantu mereka mengerti kedudukan Saksi-Saksi. Akan tetapi, penggunaan transfusi darah telah sangat dijunjung tinggi oleh kalangan medis.

      Walaupun Saksi-Saksi Yehuwa telah memberi tahu para dokter bahwa mereka tidak mempunyai keberatan agama terhadap pengobatan alternatif, menolak transfusi darah bukanlah hal yang mudah. Sering kali, Saksi-Saksi dan keluarga ditekan dengan hebat untuk menyerah pada praktek medis yang biasa dilakukan. Di Puerto Riko, pada bulan November 1976, Ana Paz de Rosario yang berusia 45 tahun setuju untuk dioperasi dan menerima obat-obat yang diperlukan tetapi meminta agar jangan diberi transfusi darah dengan alasan keyakinan agamanya. Walaupun begitu, lima orang polisi dan tiga perawat, dilengkapi dengan surat perintah dari pengadilan, datang ke kamarnya di rumah sakit lewat tengah malam, mengikatnya ke tempat tidur dan memaksakan transfusi darah kepadanya, berlawanan dengan permintaannya dan permintaan suami dan anak-anaknya. Ia mengalami guncangan dan meninggal. Hal ini sama sekali bukan satu-satunya kasus yang terjadi, dan bukan saja di Puerto Riko kekejaman demikian terjadi.

      Di Denmark, orang-tua Saksi diburu oleh polisi pada tahun 1975 karena mereka menolak untuk mengizinkan transfusi darah yang dipaksakan kepada putra mereka yang masih belia tetapi sebaliknya mencari pengobatan alternatif. Di Italia, pada tahun 1982, orang-tua yang telah dengan pengasih mencari bantuan medis ke empat negara untuk anak perempuannya yang menderita penyakit yang tak tersembuhkan, dijatuhi hukuman penjara 14 tahun atas tuduhan pembunuhan setelah anak perempuan tersebut meninggal saat diberi transfusi darah atas perintah pengadilan.

      Sering kali, dalam upaya untuk memaksakan transfusi kepada anak-anak dari Saksi-Saksi Yehuwa, rasa permusuhan yang besar dari masyarakat telah dikobarkan oleh media massa. Dalam beberapa peristiwa, bahkan tanpa pemeriksaan resmi pada saat orang-tua dapat berbicara, hakim telah memerintahkan agar anak-anak mereka ditransfusi. Namun, dalam lebih dari 40 kasus di Kanada, anak-anak yang ditransfusi ini dikembalikan kepada orang-tua mereka dalam keadaan meninggal.

      Tidak semua dokter dan hakim setuju dengan cara yang sewenang-wenang ini. Beberapa mulai mengupayakan sikap yang lebih membantu. Ada dokter-dokter yang menggunakan kecakapan mereka untuk menyediakan pengobatan tanpa darah. Dalam proses ini, mereka memperoleh banyak pengalaman dalam segala jenis pembedahan tanpa darah. Lama-kelamaan diperlihatkan bahwa semua jenis pembedahan dapat dilakukan dengan sukses, pada orang dewasa dan juga pada anak-anak, tanpa transfusi darah.d

      Untuk menghindari konfrontasi yang tidak perlu dalam keadaan-keadaan darurat, pada awal tahun 1960-an, Saksi-Saksi Yehuwa mulai mengadakan kunjungan-kunjungan khusus kepada dokter-dokter untuk membahas sikap mereka dan memberikan lektur-lektur yang cocok. Belakangan mereka meminta agar sebuah pernyataan tertulis ditaruh dalam berkas medis pribadi mereka yang menyatakan bahwa transfusi darah tidak akan diberikan kepada mereka. Menjelang tahun 1970-an, mereka membuat kebiasaan umum untuk secara pribadi membawa sebuah kartu guna menarik perhatian staf medis akan kenyataan bahwa transfusi darah tidak boleh diberikan kepada mereka dalam keadaan apa pun juga. Setelah berkonsultasi dengan para dokter dan pengacara, bentuk kartu itu disesuaikan dengan tujuan menjadikannya sebuah dokumen resmi.

      Untuk mendukung tekad Saksi-Saksi Yehuwa agar mereka tidak diberi transfusi darah, untuk menjernihkan kesalahpahaman di pihak para dokter dan rumah-rumah sakit, dan untuk membangun semangat kerja sama yang lebih besar antara lembaga medis dan pasien-pasien Saksi, Panitia-Panitia Penghubung Rumah Sakit telah dibentuk di bawah petunjuk Badan Pimpinan dari Saksi-Saksi Yehuwa. Dari hanya beberapa panitia seperti itu pada tahun 1979, jumlahnya telah bertambah menjadi lebih dari 800 di lebih dari 70 negeri. Penatua-penatua terpilih telah dilatih dan menyediakan pelayanan demikian di Amerika Utara, Timur Jauh, negeri-negeri besar di Pasifik Selatan, Eropa, dan Amerika Latin. Selain menjelaskan kedudukan Saksi-Saksi Yehuwa, penatua-penatua ini menarik perhatian staf rumah sakit kepada fakta bahwa ada alternatif yang sah selain menginfuskan darah. Dalam situasi darurat, para penatua ini membantu mengadakan konsultasi antara dokter-dokter utama dengan ahli-ahli bedah yang telah menangani kasus-kasus serupa bagi para Saksi tanpa darah. Jika perlu, panitia-panitia ini mengunjungi bukan saja staf rumah sakit, tetapi juga hakim-hakim yang tersangkut dalam kasus-kasus ketika rumah-rumah sakit mengupayakan surat perintah pengadilan untuk transfusi.

      Jika respek untuk kepercayaan agama mereka berkenaan kesucian darah tidak dapat dijamin dengan cara lain, Saksi-Saksi Yehuwa juga, kadang-kadang, menggugat dokter-dokter dan rumah-rumah sakit ke pengadilan. Mereka biasanya hanya mengupayakan suatu perintah untuk menahan diri atau menahan suatu keputusan. Namun, pada tahun-tahun belakangan ini, mereka bahkan mengajukan gugatan ganti rugi terhadap dokter dan rumah sakit yag telah berlaku sewenang-wenang. Pada tahun 1990 Pengadilan Banding Ontario di Kanada, memenangkan gugatan ganti rugi semacam itu karena sang dokter tidak mempedulikan kartu yang ada di dompet sang pasien yang dengan jelas menyatakan bahwa Saksi itu tidak mau menerima transfusi darah dalam keadaan apa pun juga. Di Amerika Serikat, sejak tahun 1985, setidaknya sepuluh gugatan ganti rugi telah diberikan di berbagai bagian negeri itu, dan adakalanya mereka yang digugat itu memutuskan untuk menyelesaikan persoalan di luar pengadilan dengan suatu jumlah uang yang ditetapkan sebaliknya daripada menghadapi sekelompok juri yang mungkin akan meminta ganti rugi yang lebih besar lagi. Saksi-Saksi Yehuwa benar-benar bertekad untuk menaati larangan ilahi mengenai penggunaan darah. Mereka sebenarnya tidak mau mengajukan dokter-dokter ke pengadilan, tetapi mereka akan melakukannya jika perlu agar para dokter berhenti memaksakan pengobatan yang secara moral menjijikkan bagi Saksi-Saksi.

      Masyarakat makin lama makin menyadari bahaya yang berasal dari transfusi darah. Hal ini, sebagian, adalah karena ketakutan akan AIDS. Namun Saksi-Saksi dimotivasi oleh keinginan yang tulus untuk menyenangkan Allah. Pada tahun 1987 sebuah surat kabar medis Perancis Le Quotidien du Médecin menyatakan, ”Mungkin Saksi-Saksi Yehuwa benar dalam menolak penggunaan produk-produk darah, karena memang ada sejumlah unsur penyakit yang dapat ditularkan melalui darah yang ditransfusikan.”

      Pendirian yang diambil oleh Saksi-Saksi Yehuwa tidak didasarkan atas pengetahuan medis yang lebih hebat yang berasal dari mereka. Mereka semata-mata percaya bahwa jalan Yehuwa adalah benar dan bahwa ”Ia tidak menahan kebaikan” dari hamba-hamba-Nya yang loyal. (Mzm. 19:8, 12; 84:12) Bahkan jika seorang Saksi harus meninggal sebagai akibat kehilangan darah—dan hal ini kadang-kadang terjadi—Saksi-Saksi Yehuwa memiliki kepercayaan penuh bahwa Allah tidak melupakan hamba-hamba-Nya yang setia tetapi akan menghidupkan mereka kembali melalui kebangkitan.—Kis. 24:15.

      Jika Pribadi-Pribadi Memilih untuk Mengabaikan Standar Alkitab

      Jutaan orang telah belajar Alkitab dengan Saksi-Saksi Yehuwa, tetapi tidak semua menjadi Saksi-Saksi. Ketika beberapa orang mempelajari standar-standar tinggi yang berlaku, mereka memutuskan bahwa bukan kehidupan macam inilah yang mereka inginkan. Semua yang dibaptis pertama-tama diberi instruksi yang saksama mengenai ajaran-ajaran dasar Alkitab, dan setelah itu (khususnya sejak tahun 1967) penatua-penatua dalam sidang akan meninjau kembali ajaran-ajaran tersebut bersama setiap calon pembaptisan. Segala upaya dikerahkan untuk memastikan bahwa mereka yang dibaptis mengerti dengan jelas bukan hanya doktrin-doktrin tetapi juga tingkah laku Kristen yang terlibat. Akan tetapi, bagaimana jika ada di antara orang-orang ini belakangan membiarkan kasih akan dunia menggoda mereka untuk melakukan perbuatan salah yang serius?

      Bahkan sejak tahun 1904, dalam buku The New Creation, perhatian diberikan kepada kebutuhan untuk mengambil tindakan yang perlu sehingga tidak mengizinkan kemerosotan moral sidang. Pengertian yang pada saat itu dimiliki oleh Siswa-Siswa Alkitab tentang prosedur untuk berurusan dengan para pelaku kejahatan sebagaimana dicantumkan dalam Matius 18:15-17 dibahas. Selaras dengan hal ini, ada juga, walaupun jarang, ’pengadilan gereja’, dan pada saat itu bukti-bukti perbuatan salah dalam kasus-kasus yang serius ditunjukkan kepada seluruh sidang. Bertahun-tahun kemudian, The Watchtower dalam terbitannya tanggal 15 Mei 1944 meninjau kembali perkara ini dalam terang dari seluruh Alkitab dan memperlihatkan bahwa perkara-perkara demikian yang mempengaruhi sidang harus ditangani oleh saudara-saudara yang bertugas mengawasi sidang. (1 Kor. 5:1-13; bandingkan Ulangan 21:18-21.) Hal ini dilanjutkan, dalam The Watchtower 1 Maret 1952, dengan artikel-artikel yang menandaskan bukan hanya prosedur yang patut tetapi juga perlunya mengambil tindakan untuk menjaga organisasi tetap bersih. Berkali-kali setelah itu, pokok ini telah diberi perhatian. Namun tujuannya selalu sama: (1) untuk menjaga organisasi tetap bersih dan (2) untuk mengesankan pada diri pelaku kejahatan perlunya pertobatan yang tulus, dengan tujuan untuk memulihkan dia.

      Pada abad pertama, ada beberapa orang yang meninggalkan iman demi kehidupan bebas. Yang lain berpaling dari iman karena doktrin-doktrin yang murtad. (1 Yoh. 2:19) Hal yang sama terus terjadi di antara Saksi-Saksi Yehuwa pada abad ke-20 ini. Menyedihkan sekali, belakangan ini puluhan ribu pelaku kesalahan yang tidak bertobat perlu dipecat setiap tahun. Di antara mereka terdapat penatua-penatua yang menonjol. Tuntutan Alkitab yang sama berlaku untuk semua. (Yak. 3:17) Saksi-Saksi Yehuwa menyadari bahwa memelihara organisasi tetap bersih secara moral penting sekali untuk tetap mendapatkan perkenan Yehuwa.

      Mengenakan Kepribadian Baru

      Yesus mendesak orang-orang untuk bersih tidak hanya di bagian luar tetapi juga di bagian dalam. (Luk. 11:38-41) Dia memperlihatkan bahwa perkara-perkara yang kita katakan dan lakukan adalah cermin dari apa yang ada dalam hati kita. (Mat. 15:18, 19) Seperti rasul Paulus jelaskan, jika kita benar-benar diajar oleh Kristus, kita akan ”dibaharui di dalam tenaga yang menggerakkan pikiran” dan akan ”mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam keadilbenaran dan loyalitas yang sesungguhnya”. (Ef. 4:17-24, NW) Mereka yang diajar Kristus berupaya memperoleh ”sikap mental yang sama seperti yang Kristus Yesus miliki” sehingga mereka berpikir dan bertindak seperti dia. (Rm. 15:5, NW) Tingkah laku Saksi-Saksi Yehuwa sebagai individu-individu merupakan cermin sampai sejauh mana mereka telah benar-benar melakukan hal tersebut.

      Saksi-Saksi Yehuwa tidak mengaku bahwa tingkah laku mereka sama sekali tak tercela. Namun, mereka sungguh-sungguh berupaya menjadi peniru-peniru Kristus seraya mereka menyesuaikan diri dengan standar tingkah laku Alkitab yang tinggi. Mereka tidak menyangkal bahwa ada pribadi-pribadi lain yang menerapkan standar moral yang tinggi dalam kehidupan mereka. Namun dalam hal Saksi-Saksi Yehuwa, bukan hanya sebagai pribadi-pribadi tetapi juga sebagai satu organisasi internasional, sehingga mereka dengan mudah dikenali karena tingkah laku yang sesuai dengan standar-standar Alkitab. Mereka dimotivasi oleh nasihat terliham yang tercatat di 1 Petrus 2:12, NW, ”Peliharalah tingkah lakumu baik di antara bangsa-bangsa agar . . . mereka dapat, sebagai hasil perbuatan-perbuatanmu yang baik yang tentangnya mereka adalah saksi mata, memuliakan Allah pada hari inspeksi[nya].”

      [Catatan Kaki]

      a Dalam The Watchtower 15 Oktober 1941, pokok ini dibahas lagi, dalam bentuk yang lebih pendek, di bawah judul ”Karakter Atau Integritas—Yang Mana?”

      b The Watchtower 15 April 1951, mendefinisikan percabulan sebagai ”hubungan seksual yang tidak dipaksakan di pihak seorang yang belum menikah dengan orang dari lawan jenis”. Terbitan 1 Januari 1952, menambahkan bahwa berdasarkan Alkitab, istilah itu juga dapat diterapkan pada perbuatan seksual yang amoral di pihak seorang yang telah menikah.

      c Pembahasan yang lebih awal tentang kesucian darah muncul dalam The Watch Tower 15 Desember 1927 dan juga The Watchtower 1 Desember 1944 yang dengan spesifik menyebutkan transfusi darah.

      d Contemporary Surgery, Maret 1990, hlm. 45-9; The American Surgeon, Juni 1987, hlm. 350-6; Miami Medicine, Januari 1981, hlm. 25; New York State Journal of Medicine, 15 Oktober 1972, hlm. 2524-7; The Journal of the American Medical Association, 27 November 1981, hlm. 2471-2; Cardiovascular News, Februari 1984, hlm. 5; Circulation, September 1984.

      [Blurb di hlm. 172]

      ”Mereka memiliki nilai-nilai moral yang luar biasa”

      [Blurb di hlm. 174]

      Apakah pernah dipertanyakan bagaimana homoseksualitas harus dipandang?

      [Blurb di hlm. 175]

      Kemerosotan moral dunia ini tidak mengakibatkan Saksi-Saksi menjadi bersikap lebih serba boleh

      [Blurb di hlm. 176]

      Beberapa orang mencoba menjadi Saksi-Saksi tanpa meninggalkan poligami

      [Blurb di hlm. 177]

      Suatu program yang gencar untuk mengajarkan pandangan Yehuwa mengenai perceraian

      [Blurb di hlm. 178]

      Perubahan-perubahan yang dramatis dalam kehidupan orang-orang

      [Blurb di hlm. 181]

      Tembakau—Tidak!

      [Blurb di hlm. 182]

      Minuman beralkohol—secara bersahaja, kalaupun ingin minum

      [Blurb di hlm. 183]

      Dengan teguh bertekad untuk tidak menerima darah

      [Blurb di hlm. 187]

      Pemecatan—untuk memelihara organisasi tetap bersih secara moral

      [Kotak di hlm. 173]

      ’Perkembangan Karakter’—Buahnya Tidak Selalu Baik

      Suatu laporan dari Denmark, ’Ada banyak, terutama dari teman-teman yang sudah lanjut usia, dalam upaya mereka yang tulus untuk mengenakan kepribadian Kristen, berjuang untuk menghindari apa pun yang bernoda duniawi bahkan yang paling sedikit pun dan dengan cara ini membuat mereka lebih layak untuk Kerajaan surgawi. Sering kali, dianggap sesuatu yang tidak pantas untuk tersenyum selama perhimpunan, dan banyak dari saudara-saudara yang tua hanya memakai jas hitam, sepatu hitam, dasi hitam. Mereka sering kali puas dengan hidup yang sederhana dan damai dalam Tuhan. Mereka percaya bahwa sudah cukup hanya mengadakan perhimpunan-perhimpunan dan membiarkan para kolportir yang mengabar.’

      [Kotak di hlm. 179]

      Apa yang Orang-Orang Lain Perhatikan dalam Diri Saksi-Saksi

      ◆ ”Münchner Merkur”, sebuah surat kabar Jerman, melaporkan tentang Saksi-Saksi Yehuwa, ”Mereka adalah pembayar pajak yang paling jujur dan paling tepat waktu di Republik Federal. Kepatuhan mereka kepada hukum dapat terlihat dari cara mereka mengemudi dan juga dari statistik kejahatan. . . . Mereka patuh kepada yang berwenang (orang-tua, guru, pemerintah). . . . Alkitab, dasar untuk semua tindakan mereka, adalah pendukung mereka.”

      ◆ Walikota Lens, Prancis, berkata kepada Saksi-Saksi setelah mereka menggunakan stadion setempat untuk salah satu kebaktian mereka, ”Apa yang saya sukai adalah bahwa kalian berpegang kepada janji-janji dan perjanjian kalian, di atas semuanya itu, kalian bersih, berdisiplin, dan terorganisasi. Saya suka masyarakat kalian. Saya menentang ketidaktertiban, dan saya tidak suka orang-orang yang berkeliling mengotori dan merusak barang-barang.”

      ◆ Buku ”Voices From the Holocaust” berisi riwayat hidup seorang Polandia yang selamat dari kamp konsentrasi Auschwitz dan Ravensbrück yang menulis, ”Saya melihat orang-orang yang menjadi sangat, sangat baik dan orang-orang yang menjadi benar-benar jahat. Kelompok yang paling menyenangkan adalah Saksi-Saksi Yehuwa. Saya mengangkat topi untuk orang-orang itu. . . . Mereka melakukan hal-hal yang luar biasa bagi orang-orang lain. Mereka menolong yang sakit, mereka membagi roti mereka, dan memberikan penghiburan rohani bagi siapa saja yang di dekat mereka. Orang-orang Jerman membenci mereka dan menaruh respek kepada mereka pada waktu yang sama. Orang-orang Jerman itu memberikan pekerjaan yang paling buruk tetapi mereka menerima dan mengerjakannya dengan penuh harkat diri.”

  • ”Mereka Bukan Bagian dari Dunia”
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 14

      ”Mereka Bukan Bagian dari Dunia”

      AGAMA zaman modern dalam kebanyakan hal, benar-benar menjadi bagian dari dunia, maka agama ikut serta dalam hari-hari raya dunia dan mencerminkan semangatnya yang nasionalistis. Para pemimpin agamanya sering kali mengakui fakta tersebut, dan banyak dari mereka menyukainya. Sangat berlawanan dengan hal itu, Yesus berkata tentang pengikut-pengikutnya yang sejati, ”Mereka bukan bagian dari dunia, sama seperti Aku bukan bagian dari dunia.”—Yoh. 17:16, NW.

      Apa yang sejarah perlihatkan tentang Saksi-Saksi Yehuwa berkenaan hal ini? Apakah mereka telah memberikan bukti yang meyakinkan bahwa mereka bukan bagian dari dunia?

      Sikap Terhadap Sesama Mereka

      Siswa-Siswa Alkitab yang mula-mula benar-benar menyadari bahwa umat Kristen sejati bukan bagian dari dunia. The Watch Tower menjelaskan bahwa karena para pengikut Kristus yang terurap itu disucikan dan diperanakkan oleh roh kudus agar mereka dapat mewarisi Kerajaan surga, mereka oleh tindakan Allah ini, telah dipisahkan dari dunia. Sebagai tambahan, majalah itu menunjukkan bahwa mereka wajib menolak semangat dunia—tujuan, ambisi, dan harapan-harapannya, demikian pula cara-caranya yang mementingkan diri.—1 Yoh. 2:15-17.

      Apakah ini mempengaruhi sikap Siswa-Siswa Alkitab terhadap orang-orang yang tidak mempunyai kepercayaan yang sama dengan mereka? Ini tentu tidak membuat mereka menjadi petapa. Namun, mereka yang benar-benar menerapkan hal-hal yang mereka pelajari dari Alkitab tidak mencari persahabatan dengan orang-orang duniawi sedemikian rupa sehingga meniru cara hidup mereka. The Watch Tower menunjukkan nasihat Alkitab kepada hamba-hamba Allah untuk ”berbuat baik kepada semua orang”. Majalah itu juga menasihatkan bahwa jika dianiaya, mereka harus berupaya untuk menghindari perasaan dendam dan, sebaliknya, seperti Yesus katakan, harus ’mengasihi musuh mereka’. (Gal. 6:10; Mat. 5:44-48) Terutama ditekankan agar mereka berupaya membagikan kepada orang lain kebenaran yang berharga tentang persediaan Allah untuk keselamatan.

      Dapat dimengerti bahwa karena melakukan hal-hal ini, mereka dianggap berbeda oleh dunia ini. Namun, bukan bagian dari dunia mencakup lebih banyak hal—jauh lebih banyak.

      Terpisah dan Berbeda dari Babel Besar

      Untuk tidak menjadi bagian dari dunia, mereka harus tidak menjadi bagian dari sistem-sistem keagamaan yang sangat terlibat dalam urusan-urusan dunia ini dan yang telah menyerap doktrin-doktrin dan kebiasaan-kebiasaan Babel purba, musuh lama dari ibadat sejati. (Yer. 50:29) Ketika perang dunia pertama meletus, Siswa-Siswa Alkitab selama berpuluh-puluh tahun telah menyingkapkan akar kekafiran dari doktrin-doktrin Susunan Kristen seperti Tritunggal, jiwa manusia yang tidak berkematian, dan api neraka. Mereka juga telah membeberkan sejarah gereja-gereja yang mencoba memanipulasi pemerintah demi tujuan mereka sendiri yang mementingkan diri. Karena doktrin-doktrin dan praktek-praktek Susunan Kristen, Siswa-Siswa Alkitab telah menyamakannya dengan ”Babel Besar”. (Why. 18:2) Mereka menunjukkan bahwa Susunan Kristen mencampur kebenaran dengan kesalahan, kekristenan yang suam-suam kuku dengan kepalsuan duniawi, dan bahwa sebutan Alkitab ”Babel” (artinya ”Kekacauan”) dengan tepat menggambarkan keadaan itu. Mereka mendesak para pencinta Allah untuk keluar dari ”Babel”. (Why. 18:4) Untuk tujuan itu, pada akhir bulan Desember 1917 dan awal tahun 1918, mereka membagikan 10.000.000 eksemplar terbitan The Bible Student Monthly yang menonjolkan pokok ”Kejatuhan Babel”, yang merupakan pembeberan yang menyakitkan atas Susunan Kristen. Hal ini, sebaliknya, mengakibatkan rasa permusuhan yang sengit dari para pemimpin agama, yang memanfaatkan suasana histeris masa perang dalam upaya menghancurkan pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa.

      Tanpa dapat dihindari, keluar dari Babel Besar berarti mengundurkan diri dari keanggotaan organisasi-organisasi yang mendukung doktrin-doktrin palsunya. Siswa-Siswa Alkitab melakukan hal itu, walaupun selama bertahun-tahun mereka menganggap sebagai saudara Kristen pribadi-pribadi dalam gereja yang mengaku telah memberi pengabdian penuh dan iman akan tebusan. Walaupun begitu, Siswa-Siswa Alkitab bukan hanya menulis surat pengunduran diri dari gereja-gereja Susunan Kristen, tetapi, bilamana mungkin, beberapa membacakan dengan suara keras surat pengunduran diri itu pada pertemuan-pertemuan gereja jika para anggota diizinkan berbicara. Jika hal ini tidak mungkin, mereka akan mengirimkan satu salinan surat pengunduran diri mereka—surat yang ramah yang berisi kesaksian yang cocok—kepada setiap anggota gereja.

      Apakah mereka juga memastikan bahwa mereka tidak membawa serta kebiasaan-kebiasaan dan praktek-praktek apa pun yang tidak saleh dari organisasi-organisasi tersebut? Bagaimana keadaannya selama masa menjelang Perang Dunia I?

      Haruskah Agama Berbaur Dengan Politik?

      Dalam arena politik, penguasa dari banyak negara terkemuka, karena hubungan mereka dengan gereja Katolik atau Protestan, telah lama menyatakan berkuasa ’atas kehendak ilahi’, sebagai wakil-wakil Kerajaan Allah dan dengan perkenan istimewa dari Allah. Gereja memberikan restunya kepada pemerintah; dan sebagai balasannya, pemerintah memberikan dukungannya kepada gereja. Apakah Siswa-Siswa Alkitab juga ikut melakukannya?

      Daripada meniru gereja-gereja Susunan Kristen, mereka berupaya belajar dari ajaran-ajaran dan teladan Yesus Kristus dan para rasulnya. Apa yang diperlihatkan oleh penelitian Alkitab mereka? Publikasi-publikasi Menara Pengawal yang mula-mula menyingkapkan bahwa mereka tahu benar ketika Yesus ditanyai oleh gubernur Roma Pontius Pilatus, ia menyatakan, ”KerajaanKu bukan [bagian, NW] dari dunia ini.” Sebagai jawaban atas pertanyaan tentang peranan Yesus, ia berkata kepada sang gubernur, ”Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran.” (Yoh. 18:36, 37) Siswa-Siswa Alkitab mengetahui bahwa Yesus berpaut tanpa dapat digoyahkan pada penugasan tersebut. Ketika Iblis menawarkan kepadanya semua kerajaan dunia dan kemuliaannya, Yesus menolak. Ketika orang-orang hendak menjadikannya raja, ia menyingkir. (Mat. 4:8-10; Yoh. 6:15) Siswa-Siswa Alkitab tidak mengabaikan fakta bahwa Yesus menyebut Iblis ”penguasa dunia” dan bahwa Iblis ’tidak berkuasa sedikit pun atas dirinya’. (Yoh. 14:30) Mereka dapat melihat bahwa Yesus tidak mencoba melibatkan dirinya atau para pengikutnya dalam sistem politik Roma tetapi ia sangat sibuk memberitakan ”Injil Kerajaan Allah”.—Luk. 4:43.

      Apakah kepercayaan mereka akan hal-hal yang dicatat dalam Firman Allah ini menganjurkan mereka untuk tidak respek kepada wewenang pemerintah? Sama sekali tidak. Sebaliknya, hal itu membantu mereka mengerti mengapa problem-problem yang dihadapi para penguasa begitu banyak, mengapa ada begitu banyak pelanggaran hukum, dan mengapa program-program pemerintah untuk memperbaiki nasib orang-orang sering kali gagal. Kepercayaan mereka membuat mereka sabar dalam menghadapi kesulitan, karena mereka yakin bahwa Allah akan mendatangkan kelegaan selama-lamanya pada waktu-Nya yang tepat melalui kerajaan-Nya. Pada waktu itu mereka mengerti bahwa ”kekuasaan yang lebih tinggi”, yang ditunjuk di Roma 13:1-7 (KJ), adalah para penguasa duniawi. Selaras dengan itu, mereka sangat menganjurkan respek kepada para pejabat pemerintah. Ketika membahas Roma 13:7, C. T. Russell, dalam buku The New Creation (diterbitkan tahun 1904), menyatakan bahwa umat Kristen sejati ”sewajarnya akan menjadi orang-orang yang paling tulus dalam pengakuan mereka akan para penguasa dunia ini, dan yang paling taat kepada hukum-hukum dan tuntutan-tuntutan hukum, kecuali jika hal-hal ini didapati bertentangan dengan tuntutan-tuntutan dan perintah-perintah surgawi. Kalaupun ada penguasa di bumi pada zaman ini yang mengkritik pengakuan akan Pencipta tertinggi dan kesetiaan yang sepenuhnya kepada perintah-perintah-Nya. Maka, [umat Kristen sejati] seharusnya didapati di antara orang-orang yang paling mematuhi hukum pada masa ini—bukan pembuat kerusuhan, bukan orang-orang yang suka bertengkar, bukan pencari kesalahan.”

      Sebagai umat Kristen, Siswa-Siswa Alkitab mengetahui bahwa pekerjaan yang harus mereka tekuni adalah pengabaran Kerajaan Allah. Juga, sebagaimana dinyatakan dalam jilid pertama Studies in the Scriptures, ”jika pekerjaan ini dilakukan dengan setia, tidak akan ada waktu atau kecenderungan untuk terlibat dalam politik dari pemerintahan-pemerintahan dewasa ini.”

      Dalam hal ini mereka, sampai tingkat yang cukup besar, sama seperti orang-orang Kristen masa awal yang digambarkan oleh Augustus Neander dalam buku The History of the Christian Religion and Church, During the Three First Centuries, ”Umat Kristen terpisah dan berbeda dari negara, . . . dan kekristenan tampaknya mampu mempengaruhi kehidupan masyarakat hanya dengan cara yang, harus diakui, paling murni, dengan benar-benar berupaya menanamkan semakin banyak kesalehan ke dalam diri warga-warga negara.”

      Ketika Dunia Berperang

      Di seluruh dunia, peristiwa Perang Dunia I benar-benar menguji mereka yang mengaku umat Kristen. Perang itu adalah perang yang paling mengerikan yang diperjuangkan sampai saat itu; hampir seluruh penduduk dunia terlibat dalam satu atau lain cara.

      Meskipun Vatikan bersimpati terhadap blok Negara Sentral, Paus Benedict XV, berupaya mempertahankan penampilan yang netral. Akan tetapi, di setiap negara, para pemimpin agama Katolik dan Protestan, tidak memelihara pendirian netral demikian. Berkenaan situasi di Amerika Serikat, Dr. Ray Abrams, dalam bukunya Preachers Present Arms, menulis, ”Gereja-gereja menerima suatu persatuan dalam tujuan yang sampai sekarang ini tidak diketahui dalam sejarah agama. . . . Para pemimpinnya tidak membuang waktu untuk diorganisasi secara cermat dengan alasan masa perang. Dalam waktu dua puluh empat jam setelah diumumkannya perang, Majelis Federal dari Gereja-Gereja Kristus di Amerika membuat rencana-rencana untuk kerja sama yang sepenuhnya. . . . Gereja Katolik Roma, mengorganisasi dinas serupa di bawah Majelis Perang Nasional Katolik, dipimpin oleh empat belas uskup agung dan dengan Kardinal Gibbons sebagai presiden, memperlihatkan pembaktian yang sama demi tujuan tersebut. . . . Banyak gereja terlibat lebih jauh daripada yang diminta. Gereja-gereja mulai mendirikan pos-pos untuk menerima pendaftaran menjadi tentara.” Apa yang Siswa-Siswa Alkitab lakukan?

      Walaupun mereka berupaya melakukan apa yang mereka anggap menyenangkan Allah, kedudukan mereka tidaklah selalu netral sepenuhnya. Apa yang mereka lakukan dipengaruhi oleh kepercayaan, yang umumnya juga dipercayai oleh orang-orang lain yang mengaku orang Kristen, bahwa ”kekuasaan yang lebih tinggi” itu ”ditetapkan oleh Allah” sesuai dengan susunan kata dalam terjemahan King James Version. (Rm. 13:1) Maka, sesuai dengan sebuah proklamasi dari Presiden Amerika Serikat, The Watch Tower mendesak Siswa-Siswa Alkitab untuk ikut serta dalam menghormati tanggal 30 Mei 1918, sebagai hari doa dan permohonan sehubungan dengan hasil perang dunia.a

      Selama tahun-tahun perang itu, keadaan yang menimpa Siswa-Siswa Alkitab secara pribadi berbeda-beda. Cara mereka menghadapi situasi-situasi ini juga berbeda-beda. Karena merasa wajib menaati ”kekuasaan-kekuasaan yang ada”, sebagaimana mereka menyebutkan para penguasa duniawi, ada yang terjun ke dalam parit-parit perlindungan di baris depan dengan senapan dan bayonet. Namun karena mengingat ayat, ”Jangan membunuh”, mereka akan menembakkan senjata mereka ke udara atau hanya mencoba menjatuhkan senjata dari tangan musuh. (Kel. 20:13) Beberapa orang, seperti misalnya Remigio Cuminetti, di Italia, menolak mengenakan seragam militer. Pemerintah Italia pada waktu itu tidak membuat perkecualian bagi siapa pun yang karena alasan hati nurani tidak mau mengangkat senjata. Ia dihadapkan ke pengadilan sebanyak lima kali dan ditahan dalam penjara-penjara dan sebuah pusat rehabilitasi mental, tetapi iman dan tekadnya tetap tidak tergoyahkan. Di Inggris, beberapa orang yang meminta pembebasan dari dinas militer diberi tugas untuk bekerja demi kepentingan nasional atau menjadi tentara yang tidak ikut bertempur. Yang lain-lain, seperti Pryce Hughes, mengambil pendirian untuk netral sepenuhnya, tidak soal akibat-akibat yang harus mereka alami secara pribadi.

      Setidaknya sampai di situ, sejarah Siswa-Siswa Alkitab secara umum tidaklah seperti yang dilukiskan tentang umat Kristen masa awal dalam The Rise of Christianity, oleh E. W. Barnes, yang melaporkan, ”Suatu tinjauan yang saksama dari semua informasi yang tersedia terus memperlihatkan bahwa, sampai zaman Marcus Aurelius [kaisar Roma dari tahun 161 sampai 180 M], tidak ada orang Kristen yang menjadi tentara; dan tidak ada tentara yang, setelah menjadi seorang Kristen, tetap berada dalam dinas militer.”

      Namun kemudian, pada akhir Perang Dunia I, timbul situasi lain yang menuntut kelompok-kelompok agama memperlihatkan kepada siapa loyalitas mereka.

      Pernyataan Politik dari Kerajaan Allah?

      Sebuah perjanjian perdamaian, termasuk Perjanjian Liga Bangsa-Bangsa, ditandatangani di Versailles, Prancis, pada tanggal 28 Juni 1919. Bahkan sebelum perjanjian perdamaian itu ditandatangani, Majelis Federal dari Gereja-Gereja Kristus di Amerika menyatakan terus terang seraya mengumumkan bahwa Liga itu akan menjadi ”pernyataan politik dari Kerajaan Allah di bumi”. Dan Senat AS dibanjiri surat-surat dari berbagai kelompok agama yang mendesaknya untuk mengesahkan Perjanjian Liga Bangsa-Bangsa.

      Saksi-Saksi Yehuwa tidak ikut-ikutan mendukung pihak yang menang. Bahkan sebelum perjanjian perdamaian disahkan (pada bulan Oktober), J. F. Rutherford menyampaikan sebuah khotbah di Cedar Point, Ohio, pada tanggal 7 September 1919. Dalam khotbah tersebut ia menunjukkan bahwa bukan Liga Bangsa-Bangsa melainkan Kerajaan yang didirikan Allah sendiri adalah satu-satunya harapan bagi umat manusia yang tertekan. Seraya mengakui bahwa perjanjian manusia untuk memperbaiki keadaan dapat menghasilkan banyak hal baik, Siswa-Siswa Alkitab itu tidak memalingkan diri dari Kerajaan Allah sebagai ganti haluan politik yang bijaksana yang didirikan oleh para politikus dan diberkati oleh para pemimpin agama. Sebaliknya, mereka menunaikan pekerjaan memberikan kesaksian sedunia mengenai Kerajaan yang Allah telah berikan ke tangan Yesus Kristus. (Why. 11:15; 12:10) Dalam The Watch Tower 1 Juli 1920, dijelaskan bahwa itulah pekerjaan yang telah Yesus nubuatkan di Matius 24:14.

      Sekali lagi, setelah Perang Dunia II, umat Kristen menghadapi masalah yang sama. Kali ini menyangkut Perserikatan Bangsa-Bangsa, penerus Liga itu. Ketika Perang Dunia II masih berlangsung, pada tahun 1942, Saksi-Saksi Yehuwa telah memahami dari Alkitab, di Wahyu 17:8, bahwa organisasi perdamaian dunia akan bangkit kembali, juga bahwa organisasi itu akan gagal membawa perdamaian kekal. Hal ini dijelaskan oleh N. H. Knorr, yang waktu itu adalah presiden Watch Tower Society, dalam khotbah di kebaktian ”Perdamaian—Dapatkah Ini Bertahan?” Dengan berani Saksi-Saksi Yehuwa memberitakan pandangan tentang perkembangan situasi dunia. Sebaliknya, para pemimpin Katolik, Protestan, dan Yahudi benar-benar ikut memikirkan ketika Piagam PBB itu dikonsepkan di San Francisco pada tahun 1945. Bagi para pengamat perkembangan-perkembangan ini, sangat jelas siapa yang ingin menjadi ”sahabat dunia” dan siapa yang berupaya menjadi ”bukan bagian dari dunia”, seperti yang Yesus katakan akan terjadi pada murid-muridnya.—Yak. 4:4; Yoh. 17:14, NW.

      Catatan Kenetralan Kristen

      Walaupun Saksi-Saksi Yehuwa dengan cepat memahami masalah-masalah berkenaan hubungan orang Kristen dengan dunia, perkara-perkara lain memerlukan waktu lebih lama. Akan tetapi, seraya Perang Dunia II mulai berkecamuk di Eropa, sebuah artikel penting dalam The Watchtower 1 November 1939 membantu mereka menghargai makna dari kenetralan Kristen. Para pengikut Yesus Kristus, kata artikel tersebut, berkewajiban di hadapan Allah untuk berbakti sepenuhnya kepada Dia dan Kerajaan-Nya, Teokrasi itu. Doa-doa mereka seharusnya untuk Kerajaan Allah, bukan untuk dunia. (Mat. 6:10, 33) Memandang dari apa yang Yesus Kristus singkapkan tentang identitas penguasa dunia yang tidak kelihatan (Yoh. 12:31; 14:30), artikel itu menerangkan, bagaimana mungkin seorang yang berbakti kepada Kerajaan Allah mendukung salah satu pihak dalam suatu konflik antar faksi-faksi di dunia? Bukankah Yesus telah berkata tentang para pengikutnya, ”Mereka bukan bagian dari dunia, sama seperti Aku bukan bagian dari dunia”? (Yoh. 17:16, NW) Kedudukan Kristen yang netral ini bukanlah sesuatu yang akan dimengerti oleh dunia pada umumnya. Namun, apakah Saksi-Saksi Yehuwa benar-benar hidup sesuai dengannya?

      Kenetralan mereka mengalami ujian yang sulit selama Perang Dunia II, terutama di Jerman. Sejarawan Brian Dunn menyatakan, ’Saksi-Saksi Yehuwa tidak dapat diperdamaikan dengan Nazisme. Hal yang paling ditentang oleh Nazi dari mereka adalah kenetralan politik mereka. Hal ini berarti bahwa tidak seorang pun dari penganut kepercayaan ini akan memanggul senjata, bekerja pada kedudukan politik, ambil bagian dalam perayaan-perayaan umum, atau membuat tanda-tanda kesetiaan apa pun.’ (The Churches’ Response to the Holocaust, 1986) Dalam buku A History of Christianity, Paul Johnson menambahkan, ”Banyak yang dihukum mati karena menolak dinas militer . . . atau mereka berakhir di kamp konsentrasi Dachau atau tempat pengasingan penderita sakit jiwa.” Berapa banyak Saksi di Jerman yang dipenjarakan? Saksi-Saksi Yehuwa di Jerman belakangan melaporkan bahwa ada 6.262 di antara mereka yang pernah ditahan dan 2.074 dari jumlah itu dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi. Para penulis duniawi biasanya memilih angka-angka yang lebih tinggi.

      Di Inggris, di mana pria dan wanita ditugaskan untuk dinas militer, hukum mengatur pembebasan dari dinas militer; tetapi hal ini ditolak bagi Saksi-Saksi Yehuwa oleh banyak pengadilan, dan para hakim menjatuhkan hukuman penjara kepada mereka lebih dari 600 tahun secara keseluruhan. Di Amerika Serikat, ratusan Saksi-Saksi Yehuwa sebagai rohaniwan Kristen dibebaskan dari dinas militer. Lebih dari 4.000 yang lain, menolak pembebasan militer yang disediakan oleh Selective Service Act (Pendaftaran Wajib Militer di AS), ditahan dan dipenjarakan selama masa yang berkisar sampai lima tahun. Di semua negeri di atas bumi, Saksi-Saksi Yehuwa berpegang pada pendirian yang sama mengenai kenetralan Kristen.

      Akan tetapi, ujian kemurnian dari kenetralan mereka tidak berhenti dengan berakhirnya perang. Walaupun krisis tahun 1939-45 telah berlalu, konflik-konflik lain datang; dan bahkan dalam masa-masa yang relatif damai, banyak negara memilih untuk terus menjalankan dinas wajib militer. Saksi-Saksi Yehuwa, sebagai rohaniwan-rohaniwan Kristen, terus menghadapi pemenjaraan jika mereka tidak diberi pembebasan dari dinas wajib militer. Pada tahun 1949, ketika John Tsukaris dan George Orphanidis tidak mau mengangkat senjata melawan sesamanya, pemerintah Yunani memerintahkan agar mereka dieksekusi. Perlakuan (dengan berbagai bentuk) yang diberikan kepada Saksi-Saksi Yehuwa di Yunani sering kali begitu kejam sehingga pada waktunya Dewan Eropa (Panitia Hak-Hak Asasi Manusia) berupaya menggunakan pengaruhnya demi Saksi-Saksi, tetapi sebagai akibat tekanan dari gereja Ortodoks Yunani, sampai tahun 1992 desakan mereka, dengan sedikit pengecualian, telah dielakkan secara licik. Akan tetapi, beberapa pemerintah merasa tidak patut untuk terus menghukum Saksi-Saksi Yehuwa oleh karena kepercayaan agama yang didasarkan atas suara hati nurani mereka. Mulai sejak tahun 1990-an, di beberapa negeri, seperti Swedia, Finlandia, Polandia, Belanda, dan Argentina, pemerintah tidak menekan Saksi-Saksi yang aktif untuk ikut dalam dinas militer atau dinas nasional alternatif yang wajib, walaupun setiap kasus diperiksa dengan teliti.

      Dari satu tempat ke tempat lain, Saksi-Saksi Yehuwa harus menghadapi situasi yang menantang kenetralan Kristen mereka. Pemerintah-pemerintah yang sedang berkuasa di Amerika Latin, Afrika, Timur Tengah, Irlandia Utara, dan di tempat-tempat lain telah menghadapi perlawanan yang sengit dari kekuatan-kekuatan revolusioner. Akibatnya, pemerintah dan kekuatan oposisi menekan Saksi-Saksi Yehuwa agar memberikan dukungan yang aktif. Namun, Saksi-Saksi Yehuwa telah memelihara kenetralan penuh. Beberapa telah dipukuli dengan kejam, bahkan dieksekusi, karena pendirian yang mereka ambil. Namun, sering kali kenetralan Kristen yang sejati dari Saksi-Saksi Yehuwa telah memenangkan respek para pejabat di kedua belah pihak, dan Saksi-Saksi diizinkan meneruskan pekerjaan mereka tanpa mengalami gangguan dalam memberitahu orang-orang lain tentang kabar baik Kerajaan Yehuwa.

      Pada tahun 1960-an dan 1970-an, kenetralan Saksi-Saksi mengalami ujian yang brutal sehubungan dengan tuntutan bahwa semua warga negara Malawi harus membeli kartu yang menandai keanggotaan dalam partai politik yang sedang memerintah. Saksi-Saksi Yehuwa mengerti bahwa adalah bertentangan dengan keyakinan Kristen mereka untuk ikut serta dalam hal ini. Akibatnya, mereka dianiaya dengan kekejaman sadis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Puluhan ribu dipaksa melarikan diri dari negara itu, dan banyak yang akhirnya terpaksa pulang kembali untuk menghadapi kebrutalan lebih lanjut.

      Walaupun dianiaya dengan kejam, Saksi-Saksi Yehuwa tidak bertindak dengan semangat memberontak. Keyakinan mereka tidak membahayakan pemerintah mana pun tempat mereka tinggal. Sebaliknya, Dewan Gereja Sedunia telah membantu membiayai banyak revolusi, dan imam-imam Katolik telah menyokong kekuatan-kekuatan gerilya. Namun, jika salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa ikut serta dalam kegiatan yang bersifat subversif, itu sama saja dengan menyangkal imannya.

      Memang benar bahwa Saksi-Saksi Yehuwa percaya bahwa segenap pemerintahan manusia akan disingkirkan oleh Kerajaan Allah. Inilah yang Alkitab katakan di Daniel 2:44. Namun, sebagaimana Saksi-Saksi tunjukkan, sebaliknya dari berkata bahwa manusialah yang akan mendirikan Kerajaan itu, ayat tersebut menyatakan bahwa ”Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan.” Demikian juga, mereka menjelaskan, ayat itu tidak mengatakan bahwa manusia diberi wewenang oleh Allah untuk membersihkan jalan bagi Kerajaan itu dengan menyingkirkan pemerintahan-pemerintahan manusia. Saksi-Saksi Yehuwa mengetahui bahwa pekerjaan dari umat Kristen sejati ialah mengabar dan mengajar. (Mat. 24:14; 28:19, 20) Selaras dengan respek mereka terhadap Firman Allah, catatan memperlihatkan bahwa tidak seorang pun di antara mereka pernah mencoba menggulingkan suatu pemerintahan dalam bentuk apa pun di mana pun di dunia, mereka juga tidak pernah merencanakan untuk merugikan pejabat umum. Surat kabar Italia La Stampa mengatakan tentang Saksi-Saksi Yehuwa, ”Mereka adalah warga yang paling loyal yang dapat diharapkan: mereka tidak mengelak pajak atau berupaya menghindar undang-undang yang tidak menyenangkan demi keuntungan mereka sendiri.” Walaupun begitu, karena mengakui keseriusan hal tersebut dalam pandangan Allah, setiap Saksi bertekad bulat untuk tetap ”bukan bagian dari dunia”.—Yoh. 15:19, NW; Yak. 4:4.

      Jika Lambang Negara Menjadi Objek Penyembahan

      Dengan bangkitnya kekuasaan Adolf Hitler di Jerman, suatu gelombang histeria yang bersifat patriotik melanda dunia. Agar dapat mengatur masyarakat, partisipasi dalam upacara-upacara patriotik diwajibkan. Di Jerman, semua orang dituntut untuk memberikan salut yang sudah ditentukan dan berteriak, ”Heil Hitler!” Ini adalah sanjungan kepada Hitler sebagai penyelamat; ini dimaksudkan untuk menyampaikan gagasan bahwa semua harapan masyarakat terpusat pada kepemimpinannya. Namun, Saksi-Saksi Yehuwa tidak dapat ikut dalam perasaan seperti itu. Mereka mengetahui bahwa ibadat mereka harus ditujukan hanya kepada Yehuwa dan bahwa Ia telah membangkitkan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat umat manusia.—Luk. 4:8; 1 Yoh. 4:14.

      Bahkan sebelum Hitler menjadi diktator di Jerman, Saksi-Saksi Yehuwa, dalam buku kecil The Kingdom, the Hope of the World (diterbitkan tahun 1931), meninjau teladan dalam Alkitab tentang tiga rekan Ibrani dari nabi Daniel yang berani di Babel. Ketika diperintahkan oleh raja untuk membungkuk di depan patung saat musik tertentu dimainkan, orang-orang Ibrani yang setia itu menolak untuk berkompromi, dan Yehuwa membuat perkenan-Nya nyata dengan menyelamatkan mereka. (Dan. 3:1-26) Buku kecil itu menunjukkan bahwa upacara-upacara patriotik dihadapi oleh Saksi-Saksi Yehuwa di zaman modern dengan tantangan serupa atas kesetiaan mereka.

      Lama-kelamaan, agitasi untuk upacara-upacara patriotik yang wajib menyebar ke luar Jerman. Pada tanggal 3 Juni 1935, pada suatu kebaktian di Washington, DC, ketika J. F. Rutherford diminta untuk berkomentar tentang salut kepada bendera di sekolah, ia menekankan soal kesetiaan kepada Allah. Beberapa bulan kemudian, ketika Carleton B. Nichols, Jr., dari Lynn, Massachusetts, yang berumur delapan tahun, menolak untuk salut kepada bendera Amerika dan ikut menyanyikan lagu patriotik, hal itu dilaporkan dalam surat-surat kabar di seluruh negeri.

      Untuk menjelaskan persoalannya, Saudara Rutherford menyampaikan sebuah khotbah di radio pada tanggal 6 Oktober dengan pokok ”Salut Kepada Bendera”. Dalam khotbah tersebut ia berkata, ”Bagi banyak orang, salut kepada bendera hanyalah sekadar formalitas dan hanya sedikit atau sama sekali tidak bermakna. Bagi mereka yang dengan tulus mempertimbangkannya dari sudut Alkitab, artinya penting sekali.

      ”Bendera mewakili wewenang pemerintahan yang kelihatan. Untuk mencoba melalui hukum memaksa seorang warga negara atau seorang anak dari seorang warga negara memberi salut kepada objek atau benda apa pun, atau menyanyikan yang disebut ’lagu-lagu patriotik’, benar-benar tidak adil dan salah. Undang-undang dibuat dan diberlakukan untuk mencegah terjadinya tindakan-tindakan yang bermaksud jahat yang mengakibatkan kerugian orang lain, dan tidak dibuat untuk tujuan memaksa seseorang melanggar hati nuraninya, dan khususnya pada waktu hati nurani itu dibimbing sesuai dengan Firman Allah Yehuwa.

      ”Menolak untuk salut kepada bendera, dan berdiri membisu, seperti yang dilakukan anak ini, tidak merugikan siapa pun. Jika seseorang dengan tulus percaya bahwa perintah Allah menentang untuk memberi salut kepada bendera, kemudian memaksa orang itu untuk memberi salut kepada bendera berlawanan dengan Firman Allah, dan berlawanan dengan hati nuraninya, hal itu akan sangat merugikan orang itu. Negara tidak mempunyai hak melalui hukum atau apa pun untuk merugikan masyarakat.”

      Penjelasan lebih lanjut tentang alasan-alasan untuk pendirian yang diambil oleh Saksi-Saksi Yehuwa dimuat dalam buku kecil Loyalty, juga diterbitkan pada tahun 1935. Perhatian diberikan kepada ayat-ayat sebagai berikut: Keluaran 20:3-7, yang memerintahkan bahwa ibadat hanya ditujukan kepada Yehuwa dan hamba-hamba Allah tidak boleh membuat atau membungkuk di hadapan patung atau sesuatu yang menyerupai apa pun di langit atau di bumi; Lukas 20:25, di ayat ini Yesus Kristus memerintahkan bahwa bukan hanya perkara-perkara milik Kaisar yang harus dibayarkan kembali kepada Kaisar tetapi apa yang menjadi milik Allah harus diberikan kepada-Nya; dan Kisah 5:29, yang memuat kata-kata para rasul yang menyatakan dengan tegas, ”Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.”

      Di Amerika Serikat, tata krama mengenai memaksa seseorang untuk memberi salut kepada bendera diajukan ke pengadilan-pengadilan. Pada tanggal 14 Juni 1943, Mahkamah Agung AS mengubah keputusannya sendiri yang terdahulu dan, dalam kasus West Virginia State Board of Education v. Barnette, memutuskan bahwa wajib salut kepada bendera tidak konsisten dengan jaminan kemerdekaan yang dikemukakan dalam undang-undang negara itu sendiri.b

      Masalah yang menyangkut upacara-upacara nasionalistis sama sekali tidak terbatas di Jerman dan Amerika Serikat. Di Amerika Utara dan Selatan, Eropa, Afrika, dan Asia, Saksi-Saksi Yehuwa telah dianiaya dengan kejam karena mereka tidak mau berpartisipasi, walaupun mereka berdiri dengan penuh respek selama penghormatan kepada bendera atau upacara-upacara semacam ini. Anak-anak dipukuli; banyak yang dikeluarkan dari sekolah. Berbagai kasus pengadilan telah diperjuangkan.

      Akan tetapi, para pengamat merasa terdorong untuk mengakui bahwa dalam hal ini sebagaimana juga dalam perkara-perkara lain, Saksi-Saksi Yehuwa telah terbukti mirip dengan umat Kristen masa awal. Namun, seperti dinyatakan dalam buku The American Character, ”Bagi kebanyakan orang . . . keberatan Saksi-Saksi tidak dapat dipahami sebagaimana bagi Trajan dan Pliny sehubungan dengan keberatan umat Kristen [dalam Kekaisaran Romawi] untuk membuat persembahan formal kepada Kaisar Ilahi.” Hal ini patut diharapkan, karena Saksi-Saksi Yehuwa, seperti umat Kristen masa awal, memandang berbagai perkara tidak seperti dunia ini tetapi menurut prinsip-prinsip Alkitab.

      Pendirian Mereka Dinyatakan Dengan Jelas

      Setelah Saksi-Saksi Yehuwa mengalami ujian-ujian yang sulit sehubungan kenetralan Kristen mereka selama bertahun-tahun, The Watchtower 1 November 1979, menegaskan kembali kedudukan mereka. Majalah ini juga menjelaskan alasan tindakan yang diambil oleh Saksi-Saksi secara pribadi, dengan mengatakan, ”Sebagai hasil penelitian Firman Allah yang tekun, orang-orang Kristen muda ini mampu mengambil keputusan. Tidak ada orang lain yang mengambil keputusan ini untuk mereka. Mereka mampu mengambilnya secara pribadi, berdasarkan hati nurani masing-masing yang terlatih oleh Alkitab. Keputusan mereka adalah untuk menghindari tindakan-tindakan kebencian dan kekerasan terhadap sesama mereka dari bangsa-bangsa lain. Ya, mereka mempercayai, dan ingin turut serta dalam menggenapi nubuat yang terkenal dari Yesaya, ’Mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.’ (Yes. 2:4) Para pemuda dari segala bangsa ini benar-benar melakukannya.”

      Pada tahun-tahun selama ketaatan mereka untuk kenetralan Kristen diuji, pemeriksaan kembali tentang apa yang Alkitab katakan, dalam Roma 13:1-7, mengenai ”kalangan berwenang yang lebih tinggi” (NW) membawa kepada pernyataan yang lebih jelas mengenai hubungan Saksi-Saksi dengan pemerintahan duniawi. Hal ini diterbitkan dalam Watchtower terbitan 1 November, 15 November, dan 1 Desember 1962, dan ditegaskan kembali dalam Menara Pengawal terbitan 1 November 1990. Artikel-artikel itu menandaskan kedudukan Allah Yehuwa sebagai ”Yang Mahatinggi”, dan juga menunjukkan bahwa para penguasa duniawi adalah ”kalangan berwenang yang lebih tinggi” hanya dalam hubungannya dengan manusia lain dan di dalam lingkup kegiatan yang Allah izinkan bagi mereka untuk berfungsi dalam sistem perkara sekarang ini. Artikel-artikel itu memperlihatkan perlunya umat Kristen sejati dengan sungguh-sungguh menghormati penguasa-penguasa duniawi demikian dan mematuhi mereka dalam semua hal yang tidak bertentangan dengan hukum Allah dan hati nurani mereka yang terlatih oleh Alkitab.—Dan. 7:18; Mat. 22:21; Kis. 5:29; Rm. 13:5.

      Karena berpaut dengan teguh pada standar-standar Alkitab ini, Saksi-Saksi Yehuwa telah mendapatkan reputasi sebagai kelompok yang terpisah dari dunia ini yang mengingatkan orang-orang kepada umat Kristen masa awal.

      Pada Waktu Dunia Mengadakan Hari-Hari Rayanya

      Ketika Saksi-Saksi Yehuwa menyingkirkan ajaran-ajaran agama yang mempunyai akar kekafiran, mereka tidak ikut lagi dalam banyak kebiasaan yang juga ternoda. Namun selama beberapa waktu, hari-hari raya tertentu tidak diteliti secermat yang seharusnya. Salah satu di antaranya adalah Natal.

      Hari raya ini dirayakan setiap tahun bahkan oleh anggota-anggota staf kantor pusat Watch Tower Society di Rumah Betel, Brooklyn, New York. Selama bertahun-tahun mereka telah menyadari bahwa 25 Desember bukanlah tanggal yang tepat, tetapi mereka berpikir bahwa tanggal itu sejak lama telah secara populer dihubungkan dengan kelahiran Juru Selamat dan bahwa melakukan sesuatu yang baik untuk orang-orang lain adalah hal yang patut pada hari apa pun juga. Akan tetapi, setelah penyelidikan yang lebih lanjut tentang pokok ini, anggota-anggota staf kantor pusat Lembaga, demikian juga staf-staf pada kantor-kantor cabang di Inggris dan di Swiss, memutuskan untuk berhenti ikut serta dalam perayaan-perayaan Natal, jadi tidak ada perayaan Natal diadakan setelah tahun 1926.

      R. H. Barber, seorang anggota staf kantor pusat yang mengadakan penyelidikan saksama tentang asal-usul kebiasaan-kebiasaan Natal dan buah-buah yang dihasilkannya, mengemukakan hasilnya pada suatu siaran radio. Keterangan itu juga dimuat dalam The Golden Age 12 Desember 1928. Ini adalah penyingkapan saksama tentang akar-akar Natal yang tidak menghormati Allah. Sejak itu, akar kekafiran dari kebiasaan-kebiasaan Natal telah menjadi hal yang diketahui umum, tetapi sebagai hasilnya hanya sedikit yang mengubah jalan hidup mereka. Di lain pihak, Saksi-Saksi Yehuwa rela membuat perubahan yang diperlukan agar dapat menjadi hamba-hamba Yehuwa yang lebih diperkenan.

      Ketika diperlihatkan bahwa sebenarnya orang-orang lebih berminat untuk merayakan kelahiran Yesus daripada tebusan yang disediakan melalui kematiannya; bahwa pesta liar hari raya itu dan semangat memberi hadiah itu tidak menghormati Allah; bahwa orang Majus yang pemberian hadiahnya ditiru, sebenarnya adalah para astrolog yang diilhami hantu-hantu; bahwa para orang-tua memberikan teladan kepada anak-anaknya untuk berdusta dengan menceritakan kepada mereka tentang Santa Claus (Sinterklas); bahwa ”St. Nicholas” (Santa Claus) tidak dapat disangkal adalah nama lain dari Iblis sendiri; dan bahwa perayaan-perayaan seperti itu, sebagaimana diakui oleh Kardinal Newman dalam karyanya Essay on the Development of Christian Doctrine, ”adalah benar-benar alat dan embel-embel dari penyembahan kepada hantu-hantu” yang telah diterima oleh gereja—ketika hal-hal ini disadari, Saksi-Saksi Yehuwa secara langsung dan permanen tidak lagi mengambil bagian apa pun dalam perayaan Natal.

      Saksi-Saksi Yehuwa mempunyai waktu-waktu yang menyenangkan bersama keluarga dan teman-teman mereka. Namun, mereka tidak berpartisipasi dalam hari-hari raya atau perayaan-perayaan yang ada kaitannya dengan dewa-dewa kafir (sebagaimana halnya pada hari-hari raya seperti Paskah, Tahun Baru, 1 Mei atau May Day, dan Hari Ibu). (2 Kor. 6:14-17) Seperti umat Kristen masa awal,c mereka bahkan tidak merayakan hari ulang tahun. Mereka dengan penuh respek menjauhkan diri dari keikutsertaan dalam hari-hari raya nasional yang memperingati peristiwa-peristiwa politik atau militer dan menghindarkan diri dari penghormatan yang bersifat ibadat kepada pahlawan-pahlawan nasional. Mengapa? Karena Saksi-Saksi Yehuwa bukan bagian dari dunia.

      Membantu Sesama Mereka

      Penghormatan kepada dewa-dewa ada dalam hati dari kehidupan sosial dan budaya Kekaisaran Roma. Karena umat Kristen tidak ikut serta dalam apa pun yang dinodai oleh dewa-dewa kafir, masyarakat memandang kekristenan sebagai penghinaan terhadap cara hidup mereka; dan menurut sejarawan Tacitus, umat Kristen disebut sebagai pembenci manusia. Senada dengan itu, Minucius Felix, dalam tulisan-tulisannya, mengutip kata-kata seorang Romawi kepada seorang Kristen yang dikenalnya, ”Kamu tidak datang ke pertunjukan-pertunjukan, kamu tidak ambil bagian dalam pawai-pawai . . . muak akan permainan-permainan suci.” Masyarakat Romawi purba tidak mengerti umat Kristen.

      Sama halnya dewasa ini, Saksi-Saksi Yehuwa tidak dapat dimengerti oleh banyak orang di dunia ini. Mereka boleh jadi mengagumi standar moral yang tinggi dari Saksi-Saksi, tetapi merasa bahwa Saksi-Saksi seharusnya bergaul dengan dunia di sekitar mereka dalam kegiatan-kegiatannya dan terlibat dalam membantu membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik. Akan tetapi, mereka yang mengenal Saksi-Saksi Yehuwa mempelajari langsung bahwa ada alasan berdasarkan Alkitab untuk semua hal yang mereka lakukan.

      Sebaliknya daripada menutup diri terhadap anggota masyarakat lain, Saksi-Saksi Yehuwa membaktikan kehidupan mereka untuk membantu sesama dengan cara yang telah Yesus Kristus berikan sebagai teladan. Mereka membantu orang-orang belajar cara mengatasi problem-problem kehidupan dengan sukses sekarang dengan memperkenalkan kepada mereka Pencipta dan bimbingan untuk kehidupan yang diuraikan dalam Firman-Nya yang terilham. Mereka dengan bebas membagikan kepada sesama mereka kebenaran-kebenaran Alkitab yang dapat mengubah seluruh pandangan seseorang terhadap kehidupan. Inti dari kepercayaan mereka adalah kenyataan bahwa ”dunia ini sedang lenyap”, bahwa Allah akan segera campur tangan untuk mengakhiri sistem jahat yang ada sekarang, dan bahwa masa depan yang mulia menantikan mereka yang tetap bukan bagian dari dunia dan menaruh iman mereka sepenuhnya pada Kerajaan Allah.—1 Yoh. 2:17.

      [Catatan Kaki]

      a The Watch Tower, 1 Juni 1918, hlm. 174.

      b Untuk rincian selanjutnya, lihat Pasal 30, ”Membela dan Secara Hukum Meneguhkan Kabar Baik”.

      c The History of the Christian Religion and Church, During the Three First Centuries, oleh Augustus Neander, hlm. 190.

      [Blurb di hlm. 188]

      Bukan petapa, namun tidak meniru cara hidup dunia

      [Blurb di hlm. 189]

      Mereka mengundurkan diri dari gereja-gereja Susunan Kristen

      [Blurb di hlm. 190]

      ”Umat Kristen terpisah dan berbeda dari negara”

      [Blurb di hlm. 194]

      Kenetralan Kristen diuji

      [Blurb di hlm. 198]

      ’Tidak ada orang lain yang mengambil keputusan ini untuk mereka’

      [Blurb di hlm. 199]

      Mengapa mereka berhenti merayakan Natal

      [Kotak di hlm. 195]

      Bukan Ancaman Bagi Pemerintah Mana pun

      ◆ Ketika menulis tentang perlakuan terhadap Saksi-Saksi Yehuwa di suatu negeri di Amerika Latin, sebuah tajuk rencana di Omaha, Nebraska, AS, ”World-Herald” mengatakan, ”Hanya khayalan seorang yang keras kepala dan penderita paranoia yang percaya bahwa Saksi-Saksi Yehuwa memberikan suatu bentuk ancaman kepada suatu rezim politik; mereka adalah kelompok agama yang paling non-subversif dan cinta damai, dan hanya meminta agar tidak diganggu dalam mengikuti iman mereka menurut cara mereka sendiri.”

      ◆ ”Il Corriere di Trieste”, sebuah surat kabar Italia menyatakan, ”Saksi-Saksi Yehuwa harus dikagumi karena keteguhan dan persaudaraan mereka. Bertentangan dengan agama-agama lain, kesatuan mereka sebagai suatu umat mencegah mereka berdoa kepada Allah yang sama, dalam nama Kristus yang sama, untuk memberkati dua pihak yang saling berlawanan dalam suatu konflik, atau dari mencampurkan politik dengan agama untuk melayani kepentingan Kepala Negara atau partai-partai politik. Yang terakhir namun sama pentingnya, mereka siap menghadapi kematian daripada melanggar . . . perintah JANGAN MEMBUNUH!”

      ◆ Setelah Saksi-Saksi Yehuwa bertekun selama 40 tahun di bawah pelarangan di Cekoslowakia, surat kabar ”Nová Svoboda” pada tahun 1990 mengatakan, ”Iman Saksi-Saksi Yehuwa melarang penggunaan senjata terhadap manusia, dan mereka yang menolak dinas militer dasar dan tidak dipekerjakan di pertambangan batu bara dipenjarakan, bahkan selama empat tahun. Dari hal ini saja, jelas bahwa mereka mempunyai kekuatan moral yang hebat. Kita dapat menggunakan orang-orang yang tidak mementingkan diri demikian dalam kedudukan politik yang paling tinggi—tetapi kita tidak akan pernah dapat menempatkan mereka di sana. . . . Tentu saja, mereka mengakui wewenang pemerintahan tetapi percaya bahwa hanya Kerajaan Allah yang mampu memecahkan semua problem manusia. Namun jangan salah—mereka tidak fanatik. Mereka adalah orang-orang yang sangat berminat akan kemanusiaan.”

      [Kotak/Gambar di hlm. 200, 201]

      Kebiasaan-Kebiasaan yang Telah Ditinggalkan

      Perayaan Natal di Betel Brooklyn pada tahun 1926 ini adalah perayaan mereka yang terakhir. Siswa-Siswa Alkitab lama-kelamaan mulai mengerti bahwa asal usul hari raya ini dan kebiasaan yang berhubungan dengannya tidak menghormati Allah

      Selama bertahun-tahun, Siswa-Siswa Alkitab memakai lencana berbentuk salib dan mahkota sebagai tanda pengenal, dan simbol ini terdapat pada sampul depan majalah ”Watch Tower” dari tahun 1891 sampai 1931. Namun pada tahun 1928 ditekankan bahwa bukan simbol hiasan tetapi kegiatan seseorang sebagai saksi yang memperlihatkan bahwa ia adalah seorang Kristen. Pada tahun 1936 dikemukakan bahwa bukti-bukti memperlihatkan Kristus mati pada sebuah tiang, bukan dua tiang bersilang

      Dalam buku mereka ”Daily Manna”, Siswa-Siswa Alkitab menyimpan daftar hari-hari ulang tahun. Namun setelah mereka berhenti merayakan Natal dan ketika mereka menyadari bahwa perayaan hari ulang tahun memberikan hormat yang tidak sepatutnya kepada makhluk ciptaan (satu alasan umat Kristen masa awal tidak pernah merayakan ulang tahun), Siswa-Siswa Alkitab berhenti melakukan kebiasaan ini juga

      Selama kira-kira 35 tahun, Pastor Russell mengira bahwa Piramida Besar Giza adalah saksi batu dari Allah, yang menguatkan periode waktu Alkitab. (Yes. 19:19) Namun Saksi-Saksi Yehuwa telah membuang gagasan bahwa piramida Mesir mempunyai kaitan dengan ibadat sejati. (Lihat ”Watch Tower” 15 November dan 1 Desember 1928)

      [Gambar di hlm. 189]

      Sepuluh juta eksemplar dibagikan

      [Gambar di hlm. 191]

      Ada yang pergi ke parit-parit perlindungan dengan senapan, tetapi yang lain, termasuk A. P. Hughes dari Inggris dan R. Cuminetti dari Italia, menolak keikutsertaan demikian

      [Gambar di hlm. 193]

      Saksi-Saksi Yehuwa menolak untuk mendukung Liga Bangsa-Bangsa atau PBB sebagai lembaga dari Allah tetapi hanya mendukung Kerajaan Allah melalui Kristus

      [Gambar di hlm. 197]

      Carleton dan Flora Nichols. Ketika anak laki-laki mereka menolak memberi salut kepada bendera, hal ini menjadi berita nasional

  • Perkembangan dalam Struktur Organisasi
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 15

      Perkembangan dalam Struktur Organisasi

      CARA BEKERJA organisasi Saksi-Saksi Yehuwa telah mengalami perubahan-perubahan penting sejak Charles Taze Russell dan rekan-rekannya pertama kali belajar Alkitab bersama-sama pada tahun 1870. Ketika Siswa-Siswa Alkitab masa permulaan masih berjumlah sedikit, mereka hampir tidak mempunyai apa yang orang luar anggap sebagai ciri khas suatu organisasi. Namun, dewasa ini, seraya orang-orang memperhatikan sidang-sidang dari Saksi-Saksi Yehuwa, kebaktian-kebaktian mereka, dan pemberitaan kabar baik mereka di lebih dari 200 negeri, mereka takjub akan betapa lancarnya organisasi ini bekerja. Bagaimana organisasi ini berkembang?

      Siswa-Siswa Alkitab sangat berminat untuk mengerti bukan hanya doktrin-doktrin Alkitab tetapi juga cara dinas Allah harus dilaksanakan, sebagaimana ditunjukkan oleh Alkitab. Mereka menyadari bahwa Alkitab tidak membuat ketentuan bagi adanya kaum pemimpin agama yang bergelar, dengan kaum awam yang menerima pengajaran mereka. Saudara Russell bertekad bahwa tidak akan ada golongan pemimpin agama di antara mereka.a Melalui kolom-kolom Watch Tower, para pembacanya sering diingatkan akan kata-kata Yesus kepada para pengikutnya, ”Hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias,” tetapi, ”Kamu semua adalah saudara.”—Mat. 23:8, 10.

      Perkumpulan Siswa-Siswa Alkitab yang Mula-mula

      Para pembaca Watch Tower dan publikasi-publikasi yang berkaitan segera melihat bahwa untuk menyenangkan Allah, mereka harus memutuskan ikatan dengan gereja mana pun yang telah terbukti tidak setia kepada Allah dengan menempatkan kredo-kredo dan tradisi manusia di atas Firman-Nya yang tertulis. (2 Kor. 6:14-18) Namun setelah mengundurkan diri dari gereja-gereja Susunan Kristen, ke mana mereka harus pergi?

      Dalam sebuah artikel berjudul ”Eklesia”,b Saudara Russell menunjukkan bahwa gereja sejati, yaitu sidang Kristen, bukanlah sebuah organisasi yang terdiri dari anggota-anggota yang menyetujui dan mendukung suatu kredo buatan manusia dan yang namanya tertulis dalam daftar anggota gereja. Sebaliknya, ia menjelaskan, gereja sejati terdiri dari orang-orang yang telah ”mengabdikan” (atau, membaktikan) waktu, bakat, dan kehidupan mereka untuk Allah, dan yang di hadapan mereka tersedia prospek untuk menjadi bagian dari Kerajaan surga bersama Kristus. Orang-orang ini, katanya, adalah umat Kristen yang dipersatukan dalam ikatan kasih Kristen dan minat yang sama, yang menyambut petunjuk roh Allah, dan yang tunduk kepada kekepalaan Kristus. Saudara Russell tidak ingin membuat pengaturan lain, dan ia sangat menentang dukungan dengan cara apa pun kepada sektarianisme yang ada di antara orang-orang yang mengaku kristen.

      Pada waktu yang sama, ia mengerti sepenuhnya kebutuhan hamba-hamba Tuhan untuk berkumpul bersama, selaras dengan nasihat di Ibrani 10:23-25. Ia secara pribadi mengadakan perjalanan untuk mengunjungi dan membina para pembaca Watch Tower dan untuk mempertemukan mereka dengan orang-orang lain di daerah mereka sendiri yang memiliki pendirian yang sama. Pada awal tahun 1881, ia meminta agar mereka yang secara tetap tentu mengadakan perhimpunan memberi tahu tempat perhimpunan diadakan kepada kantor Menara Pengawal. Ia melihat nilai dari tetap berhubungan satu sama lain.

      Akan tetapi, Saudara Russell menekankan bahwa mereka tidak berupaya mendirikan suatu ”organisasi duniawi”. Sebaliknya, dia berkata, ”kita berpaut hanya kepada organisasi surgawi itu—’yang nama-namanya terdaftar di sorga’. (Ibr. 12:23; Luk. 10:20.)” Karena sejarah Susunan Kristen yang kotor, sebutan ”organisasi gereja” biasanya mengingatkan seseorang kepada sektarianisme, dominasi golongan pemimpin agama, dan keanggotaan berdasarkan kepatuhan terhadap kredo yang dirumuskan oleh majelis gereja. Maka, sewaktu menunjuk kepada diri mereka sendiri, Saudara Russell merasa bahwa istilah ”perkumpulan” merupakan sebutan yang lebih baik.

      Ia benar-benar menyadari bahwa para rasul Kristus telah membentuk sidang-sidang dan melantik para penatua di tiap-tiap sidang. Namun ia percaya bahwa Kristus telah hadir kembali, walaupun secara tidak kelihatan, dan Yesus sendiri yang secara pribadi membimbing tuaian terakhir, yaitu orang-orang yang akan menjadi ahli-ahli waris bersamanya. Mengingat keadaan-keadaan ini, Saudara Russell pada mulanya merasa bahwa selama waktu menuai, penyelenggaraan bagi para penatua yang dulu dijalankan di sidang-sidang Kristen abad pertama tidak diperlukan lagi.

      Akan tetapi, seraya Siswa-Siswa Alkitab bertambah jumlahnya, Saudara Russell menyadari bahwa Tuhan mengatur segala perkara dengan cara yang berbeda dari cara yang diantisipasinya. Penyesuaian dalam sudut pandangan diperlukan. Namun atas dasar apa?

      Memenuhi Kebutuhan Masa Permulaan dari Perkumpulan yang Bertumbuh

      Terbitan Watch Tower 15 November 1895 hampir seluruhnya membahas pokok ”Dengan Sopan dan Tertib”. Dengan jujur, Saudara Russell mengakui, ”Para rasul telah berbicara banyak kepada Gereja masa awal berkenaan ketertiban dalam pertemuan orang-orang kudus; dan rupanya kita agak melalaikan nasihat bijaksana ini, merasa bahwa hal itu tidak begitu penting, karena menganggap Gereja hampir mendekati akhir dari haluannya dan masa penuaian sama dengan masa pemisahan.” Apa yang menggerakkan mereka untuk melihat nasihat itu dari sudut pandangan yang baru?

      Artikel itu menyebutkan empat keadaan: (1) Jelas bahwa perkembangan rohani setiap individu berbeda-beda. Ada godaan, cobaan, kesulitan, dan bahaya yang tidak semua orang siap menerima dengan kadar yang sama. Maka, dibutuhkan para pengawas yang arif dan bijaksana, pria-pria yang berpengalaman dan cakap, yang sangat berminat dalam mengurus kesejahteraan rohani dari semua dan mampu mengajar mereka dalam kebenaran. (2) Telah diperhatikan bahwa kawanan domba perlu dilindungi terhadap ’serigala yang menyamar seperti domba’. (Mat. 7:15, KJ) Mereka perlu dibentengi dengan dibantu untuk memperoleh pengetahuan yang saksama mengenai kebenaran. (3) Pengalaman memperlihatkan bahwa jika tidak ada pengaturan untuk melantik para penatua yang akan menjaga kawanan domba, ada orang-orang yang akan mengambil kedudukan itu dan mulai memandang kawanan sebagai miliknya sendiri. (4) Tanpa pengaturan yang sepatutnya, pribadi-pribadi yang loyal terhadap kebenaran dapat merasa bahwa pelayanan mereka tidak diperkenan karena pengaruh dari beberapa orang yang tidak setuju dengan mereka.

      Melihat hal-hal ini, Watch Tower menyatakan, ”Kami tidak merasa ragu untuk menganjurkan Gereja-Gerejac di mana saja, tidak soal jumlah mereka besar atau kecil, nasihat Kerasulan, bahwa di setiap kompi, para penatua dipilih dari antara mereka untuk ’memberi makan’ dan ’menjaga’ kawanan domba.” (Kis. 14:21-23; 20:17, 28) Sidang-sidang setempat mengikuti nasihat Alkitab yang bagus ini. Ini merupakan langkah penting dalam mendirikan struktur sidang yang selaras dengan yang ada pada zaman para rasul.

      Namun, selaras dengan pengertian mereka pada saat itu, pemilihan para penatua, serta para diaken untuk membantu mereka, dilaksanakan melalui pemungutan suara. Setiap tahun, atau lebih sering dari itu jika perlu, kualifikasi dari orang-orang yang dapat melayani dipertimbangkan, dan suatu pemungutan suara diadakan. Ini pada dasarnya merupakan prosedur demokratis, tetapi prosedur yang dikendalikan oleh batasan-batasan tertentu yang dirancang untuk bertindak sebagai pengaman. Semua dalam sidang didesak untuk meninjau dengan teliti kualifikasi Alkitab dan menyatakan melalui pemungutan suara, bukan pendapat mereka sendiri, tetapi apa yang mereka percayai sebagai kehendak Tuhan. Karena hanya mereka yang ”mengabdi sepenuhnya” yang memenuhi syarat untuk memberikan suara, maka suara mereka secara kolektif, ketika dibimbing oleh Firman dan roh dari Tuhan, dipandang sebagai ungkapan kehendak Tuhan dalam urusan ini. Walaupun Saudara Russell mungkin tidak sepenuhnya menyadari hal ini, rekomendasinya berkenaan penyelenggaraan tersebut bisa jadi dipengaruhi sampai tingkat tertentu bukan hanya oleh tekadnya yang hendak menghindari persamaan apa pun dengan golongan pemimpin agama yang ditinggikan tetapi juga oleh latar belakangnya sendiri sebagai remaja di Gereja Kongregasional.

      Ketika jilid buku Millennial Dawn berjudul The New Creation (diterbitkan pada tahun 1904) sekali lagi membahas secara terperinci peranan para penatua dan cara mereka harus dipilih, perhatian khusus ditujukan kepada Kisah 14:23. Konkordansi yang disusun oleh James Strong dan Robert Young disebutkan sebagai sumber bagi pandangan yang mengungkapkan bahwa pernyataan ”mereka telah mentahbiskan orang-orang itu sebagai penatua-penatua” (KJ) seharusnya diterjemahkan ”mereka telah memilih orang-orang itu sebagai penatua-penatua dengan cara mengacungkan tangan”.d Beberapa terjemahan Alkitab bahkan mengatakan bahwa para penatua ’dipilih dengan pemungutan suara’. (Literal Translation of the Holy Bible oleh Young; Emphasised Bible oleh Rotherham) Tetapi siapa yang akan mengadakan pemungutan suara tersebut?

      Menerima pandangan bahwa pemungutan suara seharusnya diadakan oleh sidang secara keseluruhan tidaklah selalu menghasilkan hal-hal yang diharapkan. Orang-orang yang memberikan suara haruslah mereka yang ”mengabdi sepenuhnya”, dan orang-orang yang dipilih haruslah mereka yang benar-benar telah memenuhi kualifikasi Alkitab dan dengan rendah hati melayani saudara-saudara mereka. Namun, pemungutan suara ini sering kali mencerminkan pilihan pribadi sebaliknya daripada Firman dan roh Allah. Demikianlah, di Halle, Jerman, ketika orang-orang tertentu yang menganggap diri layak menjadi penatua tidak mendapat kedudukan yang mereka inginkan, mereka segera menimbulkan perselisihan yang sengit. Di Barmen, Jerman, di antara mereka yang adalah para calon penatua pada tahun 1927 ada pria-pria yang menentang pekerjaan Lembaga, dan banyak yang berteriak-teriak selama acara mengacungkan tangan pada saat pemilihan. Maka, hal ini perlu diganti dengan penggunaan kartu pemungutan suara rahasia.

      Kembali ke tahun 1916, bertahun-tahun sebelum insiden-insiden ini terjadi, Saudara Russell, dengan keprihatinan yang dalam telah menulis, ”Peristiwa-peristiwa yang mengerikan terjadi di beberapa Kelas ketika pemilihan diadakan. Hamba-hamba Gereja mencoba untuk menjadi penguasa, diktator—kadang-kadang bahkan memegang kedudukan ketua dalam rapat pemilihan dengan tujuan nyata yaitu agar dapat melihat bahwa mereka dan teman-teman istimewa mereka dipilih sebagai para Penatua dan Diaken. . . . Ada yang dengan diam-diam mencoba memanfaatkan Kelas dengan mengadakan pemilihan pada waktu tertentu yang khususnya menguntungkan bagi mereka dan teman-teman mereka. Yang lain berupaya memadati pertemuan dengan teman-teman mereka, membawa serta orang-orang yang boleh dikata tidak dikenal, yang tidak bermaksud untuk secara tetap tentu hadir di kelas, melainkan datang sekadar memperlihatkan kesetiakawanan mereka dengan memberikan suara untuk salah seorang teman mereka.”

      Apakah mereka hanya perlu belajar cara mengadakan pemilihan melalui jalur-jalur demokratis yang lebih tertib, atau apakah ada hal-hal dari Firman Allah yang belum mereka pahami?

      Diorganisasi untuk Memberitakan Kabar Baik

      Sejak awal, Saudara Russell mengakui bahwa salah satu tanggung jawab yang paling penting dari setiap anggota sidang Kristen adalah melakukan pekerjaan penginjilan. (1 Ptr. 2:9) Watch Tower menjelaskan bahwa bukan hanya bagi Yesus tetapi juga bagi semua pengikutnya yang diurapi roh, kata-kata nubuat dari Yesaya 61:1 berlaku, yaitu, ”[Yehuwa] telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik,” atau, sebagaimana King James Version menerjemahkan kutipan Yesus dari bagian ayat ini, ”Ia telah mengurapi aku untuk mengabarkan injil.”—Luk. 4:18.

      Sudah sejak tahun 1881, majalah Watch Tower memuat artikel ”Dicari 1.000 Pengabar”. Ini merupakan seruan kepada semua anggota sidang untuk menggunakan seberapa pun waktu yang dapat ia gunakan (setengah jam, satu, atau dua, atau tiga jam) untuk ikut serta dalam menyebarkan kebenaran Alkitab. Pria dan wanita yang tidak mempunyai keluarga yang menjadi tanggungan mereka dan yang dapat secara eksklusif memberikan separuh atau lebih dari waktu mereka untuk pekerjaan Tuhan, dianjurkan untuk ikut dalam pekerjaan sebagai penginjil kolportir. Jumlahnya sangat beragam dari tahun ke tahun, tetapi hingga tahun 1885 sudah ada kira-kira 300 orang yang ikut serta dalam pekerjaan ini sebagai kolportir. Yang lain juga ambil bagian tetapi dalam skala yang lebih terbatas. Saran-saran diberikan kepada para kolportir mengenai cara melakukan pekerjaan mereka. Namun ladangnya sangat luas, dan setidaknya sebagai titik awal, mereka memilih daerah mereka sendiri dan berpindah dari satu daerah ke daerah lain, kebanyakan ke tempat yang mereka anggap paling baik. Lalu pada waktu mereka bertemu di kebaktian-kebaktian, mereka akan membuat penyesuaian yang dibutuhkan guna mengkoordinasi upaya mereka.

      Pada tahun yang sama ketika dinas kolportir dimulai, Saudara Russell mencetak sejumlah risalah (atau buku kecil) untuk dibagikan secara cuma-cuma. Yang menonjol di antara risalah-risalah ini adalah Food for Thinking Christians, yang dibagikan sebanyak 1.200.000 buah dalam empat bulan pertama. Pekerjaan yang mencakup pengaturan untuk pencetakan dan penyebaran risalah ini menjadi alasan dibentuknya Zion’s Watch Tower Tract Society yang akan mengurus perincian-perincian yang dibutuhkan. Agar pekerjaan tidak menjadi kacau setelah kematiannya, dan untuk memudahkan penanganan sumbangan yang digunakan dalam pekerjaan ini, Saudara Russell mengajukan permohonan agar Lembaga terdaftar secara hukum, dan hal ini secara resmi dilakukan pada tanggal 15 Desember 1884. Dengan demikian lahirlah sarana resmi yang dibutuhkan.

      Seraya kebutuhan meningkat, kantor-kantor cabang dari lembaga Menara Pengawal didirikan di negeri-negeri lain. Yang pertama di London, Inggris, pada tanggal 23 April 1900. Yang lain di Elberfeld, Jerman, pada tahun 1902. Dua tahun kemudian, di belahan lain dari dunia, sebuah cabang diorganisasi di Melbourne, Australia. Pada waktu buku ini ditulis, terdapat 99 cabang di seluruh dunia.

      Walaupun pengaturan organisasi yang diperlukan untuk menyediakan sejumlah besar lektur Alkitab sedang dikembangkan, pada mulanya pengaturan bagi penyebaran bahan-bahan itu kepada umum diserahkan kepada masing-masing sidang menurut kebutuhan setempat. Dalam suratnya tertanggal 16 Maret 1900, Saudara Russell menyatakan pandangannya berkenaan masalah ini. Surat itu, yang ditujukan kepada ”Alexander M. Graham, dan Gereja di Boston, Mass.,” berbunyi, ”Sebagaimana saudara semua ketahui, inilah maksud saya yang telah diputuskan yakni membiarkan setiap kompi dari umat Tuhan mengatur urusan mereka masing-masing, sesuai dengan penilaian mereka masing-masing, memberi saran, bukan dengan cara mencampuri urusan, tetapi sekadar memberi nasihat.” Hal ini bukan hanya mencakup soal perhimpunan tetapi juga soal cara mereka menjalankan dinas pengabaran. Karena itu, setelah memberikan beberapa nasihat praktis kepada saudara-saudara, ia menutup dengan komentar, ”Ini hanyalah saran.”

      Beberapa aktivitas membutuhkan petunjuk yang lebih spesifik dari Lembaga. Sehubungan dengan pertunjukan ”Drama-Foto Penciptaan”, setiap sidang boleh memutuskan apakah mereka bersedia dan mampu menyewa sebuah teater atau fasilitas lain untuk pertunjukan di tempat mereka. Akan tetapi, peralatan untuk pertunjukan tersebut harus diangkut dari kota ke kota, dan ada jadwal yang harus dipenuhi; maka untuk itu, petunjuk yang terpadu disediakan oleh Lembaga. Setiap sidang dianjurkan untuk mempunyai Panitia Drama yang akan mengurus pengaturan setempat. Namun, seorang pengawas diutus oleh Lembaga untuk memberikan perhatian yang saksama hingga perincian-perinciannya untuk memastikan segalanya berjalan dengan lancar.

      Seraya tahun 1914 dan kemudian 1915 berlalu, umat Kristen yang diurapi roh dengan penuh kerinduan menunggu penggenapan harapan surgawi mereka. Pada waktu yang sama, mereka dianjurkan untuk terus sibuk dalam dinas Tuhan. Walaupun mereka memandang waktu yang tersisa bagi mereka dalam tubuh jasmani sudah sangat singkat, jelas bagi mereka bahwa untuk melakukan pemberitaan kabar baik dengan cara yang tertib, dibutuhkan lebih banyak petunjuk daripada sebelumnya ketika jumlah mereka hanya beberapa ratus orang. Tidak lama setelah J. F. Rutherford menjadi presiden kedua Lembaga Menara Pengawal, petunjuk tersebut mencakup corak-corak baru. Terbitan The Watch Tower, 1 Maret 1917 mengumumkan bahwa, sejak itu, semua daerah yang akan dikerjakan oleh para kolportir dan oleh para pekerja penggembalaane dalam sidang-sidang akan ditentukan oleh kantor Lembaga. Bila di sebuah kota atau kabupaten, para pekerja setempat bekerja bersama para kolportir dalam dinas pengabaran, maka daerah pengabarannya akan dibagi di antara mereka oleh panitia distrik yang dilantik setempat. Pengaturan ini menyumbang kepada penyebaran yang luar biasa dari buku The Finished Mystery hanya dalam waktu beberapa bulan pada tahun 1917-18. Pengaturan ini juga sangat berharga dalam penyebaran kilat dari 10.000.000 eksemplar, tentang penyingkapan yang ampuh berkenaan Susunan Kristen dalam sebuah risalah yang memuat pokok ”Kejatuhan Babel”.

      Tidak lama setelah ini, anggota-anggota staf administrasi Lembaga ditahan, dan pada tanggal 21 Juni 1918, mereka dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun. Pemberitaan kabar baik nyaris terhenti. Apakah ini saat manakala mereka pada akhirnya dipersatukan dengan Tuhan dalam kemuliaan surgawi?

      Beberapa bulan kemudian, perang berakhir. Pada tahun berikutnya para pejabat Lembaga dibebaskan. Mereka masih ada dalam tubuh jasmani. Ini berbeda dengan apa yang mereka harapkan, tetapi mereka menarik kesimpulan bahwa Allah masih mempunyai pekerjaan yang harus mereka selesaikan di bumi ini.

      Mereka baru saja melewati ujian iman yang sulit. Akan tetapi, pada tahun 1919, majalah The Watch Tower menguatkan mereka dengan penelitian Alkitab yang menggetarkan atas tema ”Diberkatilah Mereka yang Tidak Takut”. Ini disusul dengan artikel ”Kesempatan untuk Dinas”. Namun saudara-saudara tersebut tidak pernah membayangkan terjadinya perkembangan organisasi yang luas selama dekade-dekade yang akan datang.

      Contoh yang Patut Bagi Kawanan Domba

      Saudara Rutherford memang memahami bahwa agar pekerjaan terus bergerak maju dengan cara yang tertib dan terpadu, tidak soal betapa singkat waktu yang ada, contoh yang patut bagi kawanan domba penting. Yesus menggambarkan para pengikutnya sebagai domba, dan domba mengikuti gembala mereka. Jelas, Yesus sendiri adalah Gembala yang Baik, namun ia juga menggunakan para tua-tua, atau penatua, sebagai gembala bawahan bagi umat-Nya. (1 Ptr. 5:1-3) Para penatua tersebut haruslah pria-pria yang juga berpartisipasi dalam pekerjaan yang Yesus tugaskan dan yang menganjurkan orang-orang lain untuk melakukan hal demikian. Mereka harus mempunyai semangat yang tulus untuk menginjil. Akan tetapi, pada waktu buku The Finished Mystery disebarkan, beberapa dari para penatua menahan diri; ada yang bahkan dengan terang-terangan melemahkan semangat orang-orang lain agar tidak berpartisipasi.

      Suatu langkah yang luar biasa penting untuk memperbaiki situasi ini dilakukan pada tahun 1919 ketika majalah The Golden Age mulai diterbitkan. Majalah ini akan menjadi alat yang ampuh untuk memberitakan Kerajaan Allah sebagai satu-satunya pemecahan yang kekal bagi problem-problem umat manusia. Setiap sidang yang ingin ikut serta dalam kegiatan ini diundang untuk mendaftarkan diri ke Lembaga sebagai sebuah ”organisasi pelayanan”. Kemudian, seorang direktur, atau yang belakangan dikenal sebagai direktur dinas, yang tidak dipilih setiap tahun, dilantik oleh Lembaga.f Sebagai wakil setempat dari Lembaga, ia harus mengorganisasi pekerjaan, menetapkan daerah, dan menganjurkan partisipasi sidang dalam dinas pengabaran. Jadi, bersamaan dengan para penatua dan diaken yang dipilih secara demokratis, jenis lain dari pengaturan organisasi mulai berfungsi, yaitu pengaturan yang mengakui wewenang yang ditetapkan di luar sidang setempat dan yang lebih menandaskan pemberitaan kabar baik dari Kerajaan Allah.g

      Selama tahun-tahun berikutnya, pekerjaan pemberitaan Kerajaan mendapatkan daya gerak yang luar biasa besar, seolah-olah berasal dari suatu kekuatan yang tidak tertahankan. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 1914 dan sesudahnya membuktikan bahwa nubuat besar yang digambarkan Tuhan Yesus tentang akhir sistem tua ini sedang digenapi. Sehubungan dengan itu, pada tahun 1920, majalah The Watch Tower menunjukkan bahwa sebagaimana dinubuatkan di Matius 24:14, inilah waktunya untuk mengumumkan kabar baik tentang ”akhir dari susunan segala perkara tua ini dan berdirinya kerajaan Mesias”.h (Mat. 24:3-14) Setelah menghadiri kebaktian Siswa-Siswa Alkitab di Cedar Point, Ohio, pada tahun 1922, para delegasi pulang dengan slogan masih terngiang di telinga mereka, ”Umumkan, umumkan, umumkan, Raja dan kerajaannya”. Peranan umat Kristen sejati bahkan menjadi semakin jelas dimengerti dan ditandaskan pada tahun 1931 ketika nama Saksi-Saksi Yehuwa diterima.

      Jelaslah bahwa Yehuwa telah menugaskan kepada hamba-hamba-Nya suatu pekerjaan yang dapat dilaksanakan oleh semua. Sambutannya penuh semangat. Banyak orang membuat penyesuaian yang penting dalam kehidupan mereka agar dapat membaktikan sepenuh waktu mereka bagi pekerjaan ini. Bahkan di antara orang-orang yang membaktikan hanya sebagian waktu, banyak yang menggunakan seluruh hari selama akhir pekan untuk dinas pengabaran. Menanggapi anjuran yang terdapat dalam The Watchtower dan Informant pada tahun 1938 dan 1939, banyak dari Saksi-Saksi Yehuwa pada waktu itu sungguh-sungguh berupaya untuk membaktikan 60 jam setiap bulan dalam dinas pengabaran.

      Di antara Saksi-Saksi yang bergairah itu terdapat banyak hamba Yehuwa yang rendah hati dan berbakti yang melayani sebagai penatua di sidang-sidang. Namun, di beberapa tempat, pada tahun 1920-an dan awal tahun 1930-an, banyak perlawanan gagasan bahwa setiap orang harus berpartisipasi dalam dinas pengabaran. Para penatua yang dipilih secara demokratis sering kali sangat menyuarakan pendapat yang menentang apa yang dikatakan The Watch Tower tentang tanggung jawab untuk mengabar kepada orang-orang di luar sidang. Penolakan untuk mendengarkan apa yang dikatakan roh Allah, dengan perantaraan Alkitab, kepada sidang mengenai hal ini menghambat mengalirnya roh Allah dalam kelompok-kelompok tersebut.—Why. 2:5, 7.

      Langkah-langkah diambil pada tahun 1932 untuk mengoreksi situasi ini. Keprihatinan yang utama bukan apakah perasaan beberapa penatua terkemuka mungkin akan terluka atau apakah beberapa orang yang bergabung dengan sidang-sidang akan mengundurkan diri. Sebaliknya, hasrat dari saudara-saudara adalah untuk menyenangkan Yehuwa dan melakukan kehendak-Nya. Demi tujuan itu, terbitan The Watchtower tanggal 15 Agustus dan 1 September tahun itu menonjolkan pokok ”Organisasi Yehuwa”.

      Artikel-artikel tersebut memperlihatkan dengan jelas bahwa semua orang yang benar-benar menjadi bagian dari organisasi Yehuwa akan melaksanakan pekerjaan yang menurut Firman-Nya harus dilaksanakan selama periode waktu ini. Artikel-artikel tersebut mendukung pandangan bahwa kedudukan sebagai penatua Kristen bukan suatu jabatan yang diberikan kepada seseorang yang dipilih melainkan suatu kondisi yang dapat diraih sesuai dengan pertumbuhan rohani. Penekanan khusus diberikan kepada doa Yesus bahwa para pengikutnya ”semua menjadi satu”—dalam kesatuan dengan Allah dan Kristus, dan dengan demikian dipersatukan satu sama lain dalam melakukan kehendak Allah. (Yoh. 17:21) Dan dengan hasil apa? Artikel kedua menjawab bahwa ”setiap orang dari kaum sisa harus menjadi saksi bagi nama dan kerajaan Allah Yehuwa”. Pengawasan tidak boleh dipercayakan kepada siapa pun yang gagal atau menolak untuk melakukan apa yang secara masuk akal dapat mereka lakukan untuk ikut serta dalam kesaksian umum.

      Pada bagian penutup dari pembahasan artikel-artikel ini, sidang-sidang diundang untuk memberikan sebuah resolusi tanda persetujuan mereka. Maka pemilihan tahunan yang dilakukan di sidang-sidang bagi pria-pria yang akan menjadi penatua dan diaken dihapuskan. Di Belfast, Irlandia Utara, seperti juga di tempat-tempat lain, beberapa orang yang dulunya adalah ”penatua terpilih” meninggalkan sidang; orang-orang lain yang mendukung pandangan mereka turut keluar bersama mereka. Ini mengakibatkan penurunan jumlah orang yang bergabung dalam sidang tetapi justru itu yang memperkuat seluruh organisasi. Mereka yang tetap tinggal adalah orang-orang yang rela memikul tanggung jawab Kristen yaitu memberi kesaksian. Sebaliknya daripada menerapkan prosedur pemungutan suara bagi para penatua, sidang-sidang—masih menggunakan metode demokratis—memilih panitia dinasi yang terdiri dari pria-pria matang yang secara aktif ikut serta dalam kesaksian umum. Anggota-anggota sidang ini juga memberikan suara untuk memilih seorang ketua yang akan memimpin pertemuan-pertemuan, demikian juga halnya dalam memilih seorang sekretaris dan bendahara. Mereka semua adalah pria-pria yang tergolong saksi-saksi yang aktif dari Yehuwa.

      Karena pengawasan sidang kini dipercayakan kepada pria-pria yang tidak berminat kepada kedudukan pribadi melainkan kepada melakukan pekerjaan Allah—memberi kesaksian tentang nama dan Kerajaan-Nya—dan yang memberi teladan melalui partisipasi mereka sendiri di dalamnya, gerak maju dari pekerjaan ini menjadi semakin lancar. Walaupun pada saat itu mereka tidak mengetahuinya, namun ada banyak yang harus dikerjakan, suatu kesaksian yang lebih luas daripada yang sudah diberikan sebelumnya, suatu pengumpulan yang tidak pernah mereka duga. (Yes. 55:5) Yehuwa terbukti menyiapkan mereka untuk itu.

      Beberapa orang yang memiliki harapan untuk hidup kekal di bumi mulai bergabung dengan mereka.j Akan tetapi, Alkitab menubuatkan tentang pengumpulan dari perhimpunan besar (atau, kumpulan besar) dengan harapan akan terpelihara melampaui kesengsaraan besar mendatang. (Why. 7:9-14) Pada tahun 1935, identitas dari perhimpunan besar ini diperjelas. Perubahan dalam pemilihan para pengawas pada tahun 1930-an memperlengkapi organisasi dengan lebih baik untuk mengurus pekerjaan pengumpulan, pengajaran, dan pelatihan mereka.

      Bagi kebanyakan Saksi-Saksi Yehuwa, pekerjaan yang meluas ini merupakan suatu perkembangan yang menggetarkan. Dinas pengabaran mereka mempunyai arti baru. Akan tetapi, ada yang tidak bergairah untuk mengabar. Mereka menahan diri, dan mencoba membenarkan ketidakaktifan mereka dengan membantah bahwa perhimpunan besar tidak akan dikumpulkan hingga setelah Armagedon. Namun kebanyakan dari mereka menganggap ini sebagai kesempatan lain untuk memperlihatkan loyalitas mereka kepada Yehuwa dan kasih mereka kepada sesama.

      Bagaimana orang-orang dari kumpulan besar cocok dalam struktur organisasi? Kepada mereka diperlihatkan peranan yang Firman Allah tugaskan kepada ”kawanan kecil” dari orang-orang yang diurapi roh, dan dengan gembira mereka bekerja selaras dengan pengaturan itu. (Luk. 12:32-44) Mereka juga belajar bahwa, seperti orang-orang yang diurapi roh, mereka mempunyai tanggung jawab untuk membagikan kabar baik kepada orang-orang lain. (Why. 22:17) Karena mereka ingin menjadi rakyat dari Kerajaan Allah di bumi, Kerajaan itu harus menjadi hal yang utama dalam kehidupan mereka, dan hendaknya mereka bergairah dalam menceritakan kepada orang-orang lain tentang hal itu. Agar sesuai dengan gambaran Alkitab mengenai orang-orang yang akan dipelihara melampaui kesengsaraan besar ke dalam dunia baru Allah, mereka harus menjadi orang-orang yang ”terus berseru dengan keras, menyatakan, ’Kami berutang keselamatan kepada Allah kami, yang duduk di atas takhta, dan kepada Anak Domba.’” (Why. 7:10, 14, NW) Pada tahun 1937, seraya jumlah mereka makin bertambah dan gairah mereka kepada Tuhan menjadi nyata, mereka juga diundang untuk membantu memikul beban tanggung jawab dalam pengawasan sidang.

      Akan tetapi, mereka diingatkan bahwa organisasi ini milik Yehuwa, bukan milik manusia mana pun. Tidak boleh ada perpecahan di antara kaum sisa terurap dengan mereka yang termasuk dalam kumpulan besar dari domba-domba lain. Mereka harus bekerja sama sebagai saudara dan saudari dalam dinas Yehuwa. Sebagaimana Yesus katakan, ”Ada lagi padaKu domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suaraKu dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” (Yoh. 10:16) Penggenapan berkenaan hal ini menjadi nyata.

      Perkembangan yang menakjubkan dalam organisasi telah terjadi dalam jangka waktu yang relatif singkat. Namun apakah ada lagi yang perlu dikerjakan agar urusan-urusan sidang dapat ditangani selaras sepenuhnya dengan jalan-jalan Yehuwa sebagaimana diuraikan dalam Firman-Nya yang terilham?

      Organisasi Teokratis

      ”Teokrasi” berarti ”Pemerintahan Allah”. Apakah pemerintahan semacam ini yang memerintah sidang-sidang? Apakah mereka bukan hanya menyembah Yehuwa, melainkan juga berpaling kepada-Nya agar dibimbing dalam urusan-urusan sidang mereka? Apakah mereka menyesuaikan diri sepenuhnya dengan apa yang Ia katakan tentang perkara-perkara ini dalam Firman-Nya yang terilham? Artikel ”Organisasi” yang terdiri dari dua bagian yang muncul dalam terbitan The Watchtower tanggal 1 dan 15 Juni 1938, dengan tegas menyatakan, ”Organisasi Yehuwa sama sekali bukan bersifat demokratis. Yehuwa adalah Yang Mahatinggi, dan pemerintahan atau organisasi-Nya benar-benar teokratis.” Namun, dalam sidang-sidang setempat dari Saksi-Saksi Yehuwa pada waktu itu, prosedur demokratis masih digunakan dalam memilih sebagian besar dari orang-orang yang bertanggung jawab mengawasi perhimpunan dan dinas pengabaran. Penyesuaian-penyesuaian lebih lanjut patut dibuat.

      Namun, bukankah Kisah 14:23 menunjukkan bahwa para penatua di sidang-sidang ditetapkan kepada jabatan dengan ’mengacungkan tangan’, seperti pada pemungutan suara? Yang pertama dari artikel-artikel Watchtower yang berjudul ”Organisasi” mengakui bahwa ayat ini pada masa lalu telah disalahartikan. Pada abad pertama pengangkatan dilakukan di antara umat Kristen bukan dengan cara seluruh anggota sidang ’mengacungkan tangan’. Sebaliknya, diperlihatkan bahwa orang-orang yang ’mengacungkan tangan mereka’ adalah rasul-rasul dan orang-orang yang diberi wewenang oleh mereka. Hal ini dilakukan tidak melalui partisipasi mereka dalam suatu pemungutan suara di sidang tetapi dengan cara meletakkan tangan mereka pada pribadi-pribadi yang memenuhi syarat. Ini merupakan simbol pengesahan, persetujuan, atau pengangkatan.k Sidang-sidang Kristen masa awal pada waktu-waktu tertentu merekomendasi pria-pria yang memenuhi syarat, tetapi pemilihan terakhir atau persetujuan diberikan oleh para rasul, yang secara langsung ditugaskan oleh Kristus, atau oleh mereka yang menerima wewenang dari para rasul. (Kis. 6:1-6) The Watchtower menarik perhatian kepada fakta bahwa hanya dalam surat-surat kepada para pengawas yang bertanggung jawab (Timotius dan Titus) rasul Paulus, di bawah bimbingan roh kudus, memberikan instruksi untuk melantik para pengawas. (1 Tim. 3:1-13; 5:22; Tit. 1:5) Tidak satu pun dari surat-surat terilham yang ditujukan kepada sidang-sidang memuat instruksi-instruksi demikian.

      Maka, bagaimana pengangkatan berkenaan pelayanan dilakukan dewasa ini dalam sidang-sidang? Analisis Watchtower tentang organisasi teokratis memperlihatkan dari Alkitab bahwa Yehuwa melantik Yesus Kristus sebagai ”kepala . . . jemaat”; bahwa ketika Kristus sebagai Majikan kembali, ia akan mempercayakan ”hamba yang setia dan bijaksana” dengan tanggung jawab atas ”segala miliknya”; bahwa hamba yang setia dan bijaksana ini terdiri dari semua yang hidup di bumi yang telah diurapi dengan roh kudus untuk menjadi sesama waris bersama Kristus dan yang secara terpadu melayani di bawah bimbingannya; dan bahwa Kristus akan menggunakan golongan hamba itu sebagai sarananya dalam menyediakan pengawasan yang diperlukan bagi sidang-sidang. (Kol. 1:18; Mat. 24:45-47; 28:18) Adalah tugas dari golongan hamba itu untuk dengan sungguh-sungguh menerapkan instruksi-instruksi yang dinyatakan dengan jelas dalam Firman Allah yang terilham, menggunakannya untuk menentukan siapa yang memenuhi syarat untuk kedudukan dalam pelayanan.

      Karena hamba yang setia dan bijaksana menjadi wakil yang kelihatan yang akan Yesus gunakan (dan karena fakta-fakta sejarah zaman modern yang telah diteliti memperlihatkan bahwa ”hamba” ini menggunakan Lembaga Menara Pengawal sebagai sarana yang resmi), maka The Watchtower menjelaskan bahwa prosedur teokratis menuntut agar pengangkatan berkenaan pelayanan dilakukan melalui wakil ini. Bahkan sebagaimana sidang-sidang pada abad pertama mengakui badan pimpinan di Yerusalem, demikian pula dewasa ini sidang-sidang tidak akan sejahtera secara rohani tanpa pengawasan sentral.—Kis. 15:2-30; 16:4, 5.

      Akan tetapi, agar menjaga segala sesuatu berada dalam perspektif yang benar, dijelaskan juga bahwa ketika The Watchtower mengacu kepada ”Lembaga”, ini tidak mengartikan semata-mata sebuah sarana resmi, tetapi juga suatu badan terdiri dari orang-orang Kristen terurap yang telah membentuk wadah resmi tersebut dan menggunakannya. Jadi istilah itu mengartikan hamba yang setia dan bijaksana beserta Badan Pimpinannya.

      Bahkan sebelum artikel-artikel Watchtower yang berjudul ”Organisasi” terbit pada tahun 1938, ketika sidang-sidang di London, New York, Chicago, dan Los Angeles telah berkembang sedemikian rupa sampai dianggap layak untuk dibagi ke dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil, mereka telah meminta agar Lembaga mengangkat semua hamba mereka. Terbitan The Watchtower 15 Juni 1938 kemudian mengundang semua sidang lain agar mengambil tindakan serupa. Untuk tujuan itu, resolusi berikut diajukan,

      ”Kami, sebuah kompi dari umat Allah yang diambil bagi nama-Nya, dan sekarang di . . . . . . . . . . . . , mengakui bahwa pemerintahan Allah merupakan suatu teokrasi murni dan bahwa Yesus Kristus berada di bait dan dengan kuasa dan pengawasan yang penuh atas organisasi Yehuwa yang kelihatan, dan juga yang tidak kelihatan, dan bahwa ’LEMBAGA’ merupakan wakil Tuhan yang kelihatan di bumi, dan karena itu kami memohon agar ’Lembaga’ mengorganisasi kompi ini untuk pelayanan dan untuk melantik berbagai hamba, sehingga kami semua dapat bekerja sama dalam damai, keadilan, keharmonisan dan kesatuan yang sempurna. Bersama ini kami lampirkan daftar nama orang-orang yang ada dalam kompi ini yang bagi kami benar-benar tampak lebih matang dan yang dengan demikian tampak sangat cocok untuk mengisi kedudukan masing-masing yang telah ditetapkan untuk kepentingan pelayanan.”l

      Secara praktis, semua sidang Saksi-Saksi Yehuwa langsung setuju dengan hal ini. Beberapa orang yang menahan diri segera berhenti sama sekali dalam keikutsertaan memberitakan Kerajaan dan dengan demikian berhenti menjadi Saksi-Saksi Yehuwa.

      Manfaat dari Bimbingan Teokratis

      Jelas bahwa jika pengajaran, standar tingkah laku, dan prosedur organisasi dan prosedur memberi kesaksian dapat diputuskan sendiri oleh setiap sidang, maka identitas dan persatuan organisasi akan segera lenyap. Saudara-saudara dapat dengan mudah dipisahkan oleh perbedaan sosial, kebudayaan, dan nasional. Di lain pihak, bimbingan teokratis akan menjamin bahwa manfaat kemajuan rohani akan menjangkau semua sidang di seluruh dunia tanpa hambatan. Dengan demikian persatuan sejati sebagaimana didoakan Yesus akan terjadi di antara para pengikutnya yang benar, dan pekerjaan penginjilan yang ia perintahkan dapat diselesaikan dengan tuntas.—Yoh. 17:20-22.

      Akan tetapi, beberapa orang menuduh bahwa dengan menganjurkan perubahan organisasi, sebenarnya J. F. Rutherford hanya berupaya untuk memperoleh kekuasaan yang lebih besar atas Saksi-Saksi dan bahwa ia menggunakan cara ini untuk memaksakan wewenangnya sendiri. Apakah benar demikian halnya? Tidak diragukan bahwa Saudara Rutherford memiliki pendirian yang kuat. Ia berbicara dengan penuh kuasa dan tanpa kompromi terhadap apa yang diyakininya sebagai kebenaran. Ia dapat bersikap cukup kasar dalam menangani situasi-situasi bila ia memperhatikan bahwa orang-orang lebih prihatin mengenai diri sendiri daripada mengenai pekerjaan Tuhan. Namun Saudara Rutherford benar-benar rendah hati di hadapan Allah. Sebagaimana Karl Klein, yang menjadi anggota Badan Pimpinan pada tahun 1974, belakangan menulis, ”Doa-doa Saudara Rutherford yang dipersembahkan pada ibadah pagi . . . membuat saya mengasihinya. Walaupun ia mempunyai suara yang sedemikian kuat, namun pada waktu ia berbicara kepada Allah, suaranya kedengaran persis seperti suara seorang anak laki-laki yang berbicara kepada ayahnya. Betapa hal itu menyingkapkan hubungan yang baik dengan Yehuwa!” Saudara Rutherford yakin sepenuhnya akan identitas organisasi Yehuwa yang kelihatan, dan ia berupaya untuk memastikan bahwa tidak seorang atau kelompok orang mana pun yang dapat menghalangi saudara-saudara di wilayah mereka masing-masing untuk menerima manfaat yang penuh dari makanan rohani dan bimbingan yang Yehuwa sediakan bagi hamba-hamba-Nya.

      Meskipun Saudara Rutherford melayani selama 25 tahun sebagai presiden Lembaga Menara Pengawal dan membaktikan seluruh energinya untuk memajukan pekerjaan organisasi, ia bukanlah pemimpin dari Saksi-Saksi Yehuwa, dan ia tidak ingin menjadi pemimpin. Pada suatu kebaktian di St. Louis, Missouri, tahun 1941, tidak lama sebelum kematiannya, ia berbicara mengenai masalah kepemimpinan, dengan berkata, ”Saya ingin memberi kesempatan bagi semua orang baru di sini untuk mengetahui pandangan saudara-saudara tentang seorang pria yang dianggap sebagai pemimpin saudara, supaya mereka tidak akan lupa. Setiap kali sesuatu muncul dan mulai bertumbuh, mereka mengatakan bahwa ada seseorang, seorang pemimpin yang mempunyai banyak pengikut. Jika ada di antara hadirin yang menganggap bahwa saya, pria yang sedang berdiri di sini, adalah pemimpin dari saksi-saksi Yehuwa, hendaklah ia mengatakan Ya.” Ini ditanggapi dengan keheningan yang mengesankan, dan diakhiri hanya oleh kata ”Tidak” yang tegas yang diucapkan oleh beberapa orang yang hadir. Sang pembicara melanjutkan, ”Jika saudara-saudara yang berada di sini percaya bahwa saya hanyalah salah seorang hamba Tuhan, dan kita bekerja bahu-membahu dalam satu kesatuan, melayani Allah dan melayani Kristus, hendaklah katakan Ya.” Secara serempak, hadirin meneriakkan ”Ya!” dengan penuh keyakinan. Pada bulan berikutnya hadirin di Inggris memberi sambutan yang persis sama.

      Di beberapa daerah, manfaat dari organisasi teokratis cepat dirasakan. Di tempat-tempat lain, dibutuhkan waktu lebih lama; mereka yang tidak terbukti sebagai hamba-hamba yang matang dan rendah hati pada waktunya diganti, dan orang-orang lain dilantik.

      Namun demikian, karena prosedur teokratis diterapkan dengan lebih sepenuhnya, Saksi-Saksi Yehuwa bersukacita ketika mereka mengalami apa yang dinubuatkan di Yesaya 60:17. Dengan menggunakan istilah kiasan untuk melukiskan keadaan yang lebih baik yang akan ada di kalangan hamba-hamba Allah, di ayat tersebut Yehuwa berkata, ”Sebagai ganti tembaga Aku akan membawa emas, dan sebagai ganti besi Aku akan membawa perak, sebagai ganti kayu, tembaga, dan sebagai ganti batu, besi; Aku akan memberikan damai sejahtera dan keadilan yang akan melindungi dan mengatur hidupmu.” Hal Ini tidak menggambarkan apa yang manusia akan lakukan, tetapi sebaliknya, menggambarkan apa yang Allah sendiri akan lakukan dan manfaat-manfaat yang akan diterima oleh hamba-hamba-Nya seraya mereka tunduk kepada prosedur tersebut. Perdamaian harus ada di tengah-tengah mereka. Kasih akan kebenaran harus menjadi kekuatan yang mendorong mereka untuk melayani.

      Dari Brasil, Maud Yuille, istri dari pengawas cabang, menulis kepada Saudara Rutherford, ”Artikel ’Organisasi’ dalam terbitan Tower tanggal 1 dan 15 Juni [1938] mendorong saya untuk mengungkapkan beberapa patah kata kepada Saudara, yang dinas setianya dipakai Yehuwa, dan rasa syukur saya kepada Yehuwa atas pengaturan menakjubkan yang telah Ia buat bagi organisasi-Nya yang kelihatan, sebagaimana dijelaskan dalam dua majalah Watchtower ini. . . . Betapa leganya melihat akhir dari ’Otonomi Bagi Masing-Masing Wilayah’ termasuk ’hak-hak wanita’ dan prosedur lain yang tidak berdasarkan Alkitab yang membuat beberapa pribadi berpaling kepada pendapat setempat dan penilaian pribadi, bukan kepada [Allah Yehuwa dan Yesus Kristus], dengan demikian membawa celaan bagi nama Yehuwa. Memang benar bahwa baru ’belakangan ini saja Lembaga menunjuk semua orang yang ada dalam organisasi sebagai ”hamba-hamba”’, namun, saya perhatikan bahwa selama bertahun-tahun sebelum saat itu Saudara dalam surat kepada sesama Saudara, telah menyatakan diri sebagai ’saudaramu dan hambamu, bagi kemurahan-Nya’.”

      Mengenai penyesuaian organisasi ini, cabang di Kepulauan Inggris melaporkan, ”Pengaruh yang baik dari hal ini cukup mengagumkan. Gambaran yang puitis dan bersifat nubuat mengenai hal ini dalam Yesaya pasal enam puluh, penuh dengan hal-hal yang indah tetapi tidak dibesar-besarkan. Setiap orang yang berada dalam kebenaran membicarakan hal ini. Ini menjadi topik utama dalam percakapan. Mereka semua diliputi perasaan yang menyegarkan—kesediaan untuk dengan semangat melangsungkan perjuangan yang bertujuan baik. Seraya ketegangan dunia meningkat, sukacita dalam pemerintahan teokratis melimpah.”

      Pengawas Keliling Memperkuat Sidang-Sidang

      Ikatan organisasi semakin diperkuat sebagai hasil dari pelayanan para pengawas keliling. Pada abad pertama, rasul Paulus secara mencolok ikut dalam aktivitas demikian. Kadang-kadang, pria-pria lain seperti Barnabas, Timotius, dan Titus juga ikut serta. (Kis. 15:36; Flp. 2:19, 20; Tit. 1:4, 5) Mereka semua adalah penginjil yang bergairah. Selain itu, mereka menganjurkan sidang melalui khotbah-khotbah mereka. Jika timbul masalah yang dapat mempengaruhi persatuan sidang, masalah tersebut diteruskan kepada badan pimpinan pusat. Kemudian, ”dalam perjalanan keliling dari kota ke kota”, mereka yang dipercayakan dengan tanggung jawab ini akan ”menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil para rasul dan para penatua di Yerusalem dengan pesan, supaya jemaat-jemaat menurutinya.” Hasilnya? ”Jemaat-jemaat diteguhkan dalam iman dan makin lama makin bertambah besar jumlahnya.”—Kis. 15:1–16:5; 2 Kor. 11:28.

      Sudah sejak tahun 1870-an, Saudara Russell mengunjungi kelompok Siswa-Siswa Alkitab—kelompok yang terdiri dari dua atau tiga orang maupun kelompok-kelompok yang lebih besar—untuk membina mereka secara rohani. Beberapa saudara lain ikut serta pada tahun 1880-an. Kemudian, pada tahun 1894, diatur agar Lembaga mempunyai pembicara-pembicara yang cakap yang berkeliling secara lebih tetap tentu untuk membantu Siswa-Siswa Alkitab bertumbuh dalam pengetahuan dan penghargaan akan kebenaran dan mempererat hubungan mereka satu sama lain.

      Jika mungkin, sang pembicara akan tinggal selama sehari atau mungkin beberapa hari bersama sebuah kelompok, menyampaikan satu atau dua khotbah umum dan kemudian mengunjungi kelompok-kelompok yang lebih kecil dan orang-perorangan untuk membahas beberapa perkara yang dalam dari Firman Allah. Upaya dikerahkan agar setiap kelompok di Amerika Serikat dan Kanada dikunjungi dua kali setahun, meskipun tidak selalu oleh saudara yang sama. Dalam memilih para pembicara keliling ini, yang diutamakan adalah kelemahlembutan, kerendahan hati, dan pengertian yang jelas akan kebenaran dan kepatuhan yang loyal kepada kebenaran dan kemampuan untuk mengajarkannya dengan jelas. Pelayanan mereka sama sekali bukan pelayanan yang dibayar. Mereka hanya mendapat makanan dan tempat bermalam yang disediakan oleh saudara-saudara setempat, dan sampai batas yang dibutuhkan, Lembaga membantu biaya perjalanan mereka. Mereka akhirnya dikenal sebagai para musafir.

      Banyak dari wakil-wakil keliling Lembaga ini sangat dikasihi oleh orang-orang yang mereka layani. A. H. Macmillan, seorang berkebangsaan Kanada, dikenang sebagai seorang saudara yang baginya Firman Allah terbukti ”seperti api yang menyala-nyala”. (Yer. 20:9) Ia merasa wajib untuk berbicara tentang Firman Allah, dan itulah yang ia lakukan, berbicara kepada hadirin tidak hanya di Kanada tetapi juga di banyak bagian Amerika Serikat dan negeri-negeri lain. Orang-orang memiliki kenangan yang manis tentang William Hersee, seorang musafir lain, karena perhatian khusus yang ia berikan kepada kaum muda. Doa-doanya juga meninggalkan kesan yang lama karena doa-doa tersebut mencerminkan kematangan rohani yang menyentuh hati kaum muda maupun orang-orang tua.

      Bagi para musafir, mengadakan perjalanan pada masa itu tidaklah mudah. Misalnya, untuk melayani sebuah kelompok di dekat Air terjun Klamath, Oregon, Edward Brenisen mengadakan perjalanan mula-mula dengan kereta api, kemudian dengan kereta kuda semalaman, dan akhirnya melintasi pegunungan menuju perladangan tempat mereka akan mengadakan perhimpunan dengan kereta buckboard (kendaraan terbuka roda empat yang ditarik oleh kuda) yang guncangannya serasa merontokkan tulang. Pagi-pagi benar, sehari setelah perhimpunan, seorang saudara menyediakan seekor kuda untuk ditungganginya sepanjang 100 kilometer ke stasiun kereta api terdekat agar ia dapat mengadakan perjalanan ke penugasan berikutnya. Kehidupan mereka berat, tetapi upaya para musafir ini mendatangkan hasil-hasil baik. Umat Yehuwa dikuatkan, dipersatukan dalam pengertian mereka akan Firman Allah, dan dipererat satu sama lain walaupun tersebar luas secara geografis.

      Pada tahun 1926, Saudara Rutherford mulai menerapkan pengaturan yang mengubah pekerjaan para musafir yang tadinya hanya sebagai pembicara keliling menjadi pengawas keliling dan promotor bagi dinas pengabaran yang diselenggarakan oleh sidang-sidang. Untuk menandaskan tanggung jawab mereka yang baru ini, pada tahun 1928 mereka disebut direktur dinas daerah. Mereka bekerja langsung bersama saudara-saudara setempat, memberikan kepada mereka petunjuk-petunjuk pribadi dalam dinas pengabaran. Pada waktu itu, mereka dapat menjangkau setiap sidang di Amerika Serikat dan di beberapa negeri lain kira-kira satu kali dalam setahun, dan sementara itu juga mengadakan kontak dengan pribadi-pribadi dan kelompok-kelompok kecil yang belum diorganisasi untuk melakukan dinas.

      Selama tahun-tahun berikutnya, pekerjaan para pengawas keliling mengalami berbagai modifikasi.a Pekerjaan ini semakin dipergiat pada tahun 1938 ketika semua hamba di sidang-sidang dilantik secara teokratis. Kunjungan ke sidang-sidang yang dilakukan dalam selang waktu yang tetap tentu selama beberapa tahun berikutnya memberikan kesempatan untuk pelatihan pribadi bagi setiap hamba yang terlantik dan untuk meningkatkan bantuan dalam dinas pengabaran bagi setiap orang. Pada tahun 1942, sebelum para pengawas keliling kembali diutus ke sidang-sidang, mereka diberi suatu pendidikan intensif; hasilnya, pekerjaan mereka dilaksanakan dengan lebih seragam. Kunjungan mereka cukup singkat (satu sampai tiga hari, bergantung pada besarnya sidang). Selama kunjungan tersebut mereka memeriksa catatan sidang, bertemu dengan semua hamba untuk memberikan nasihat yang diperlukan, menyampaikan satu khotbah atau lebih kepada sidang, dan mengambil pimpinan dalam dinas pengabaran. Pada tahun 1946 kunjungan diperpanjang menjadi satu minggu untuk setiap sidang.

      Pengaturan berkenaan kunjungan-kunjungan ini ke sidang-sidang ditambahkan pada tahun 1938 dengan dinas hamba daerah dalam peranan yang baru. Daerah yang dicakupnya lebih luas, secara berkala menggunakan waktu satu minggu bersama salah seorang saudara yang berkeliling dalam sebuah zona (wilayah) untuk mengunjungi sidang-sidang. Selama kunjungannya, ia melayani dalam acara suatu kebaktian yang dihadiri oleh semua sidang dalam zona tersebut.b Penyelenggaraan ini merupakan pendorong yang kuat bagi saudara-saudara dan secara tetap tentu menyediakan kesempatan untuk pembaptisan murid-murid baru.

      ”Seorang yang Mengasihi Dinas Ini”

      Di antara mereka yang ambil bagian dalam dinas ini mulai tahun 1936 adalah John Booth, yang pada tahun 1974 menjadi anggota Badan Pimpinan. Ketika diwawancarai sebagai calon pengawas keliling, ia diberi tahu, ”Yang diperlukan bukanlah pembicara yang fasih, melainkan seorang yang mengasihi dinas ini dan akan ambil pimpinan di dalamnya dan akan berbicara tentang pelayanan di perhimpunan-perhimpunan.” Saudara Booth memiliki kasih seperti itu kepada dinas Yehuwa, sebagaimana terbukti dari dinas perintisnya yang bergairah sejak tahun 1928, dan ia membangkitkan semangat menginjil dalam diri orang-orang lain lewat teladan maupun kata-kata anjuran.

      Sidang pertama yang dikunjunginya, pada bulan Maret 1936, adalah di Easton, Pennsylvania. Ia belakangan menulis, ”Saya biasanya akan tiba di suatu tempat tepat waktu untuk dinas pengabaran pada pagi hari, mengadakan pertemuan dengan hamba-hamba dari kompi itu menjelang sore hari dan setelah itu dengan seluruh kompi. Biasanya saya akan tinggal selama dua hari saja bersama sebuah kompi dan hanya satu hari bersama kelompok yang lebih kecil, kadang-kadang mengunjungi enam kelompok semacam itu dalam satu minggu. Saya selalu berpindah-pindah.”

      Dua tahun kemudian, pada tahun 1938, ia ditugaskan, sebagai hamba daerah, untuk mengurus sebuah kebaktian zona (sekarang dikenal sebagai kebaktian wilayah) setiap minggu. Kebaktian-kebaktian ini membantu menguatkan saudara-saudara pada waktu penganiayaan menghebat di beberapa daerah. Sambil mengenang masa-masa itu dan tanggung jawabnya yang beragam, Saudara Booth berkata, ”Pada minggu yang sama [pada saat saya menjadi saksi dalam sebuah kasus pengadilan yang melibatkan sekitar 60 Saksi-Saksi di Indianapolis, Indiana] saya menjadi terdakwa dalam kasus lain di Joliet, Illinois, kemudian menjadi pengacara untuk seorang saudara dalam kasus lain di Madison, Indiana, dan, tambahan pula, memimpin kebaktian zona pada setiap akhir pekan.”

      Dua tahun setelah kebaktian zona dihidupkan kembali pada tahun 1946 (kini disebut sebagai kebaktian wilayah), Carey Barber menjadi salah seorang di antara mereka yang diangkat sebagai hamba distrik. Ia telah menjadi anggota keluarga Betel di Brooklyn, New York, selama 25 tahun. Distriknya yang pertama mencakup seluruh bagian barat Amerika Serikat. Pada mulanya, jarak yang harus ditempuh setiap minggu dari satu kebaktian ke kebaktian lain adalah kira-kira 1.600 kilometer. Seraya jumlah dan besarnya sidang bertambah, jarak tersebut menyusut, dan beberapa kebaktian wilayah diadakan berulang kali di sebuah daerah metropolitan. Setelah pengalaman selama 29 tahun sebagai pengawas keliling, Saudara Barber diundang untuk kembali melayani di kantor pusat sedunia pada tahun 1977 sebagai anggota Badan Pimpinan.

      Selama masa perang dan penganiayaan yang hebat, para pengawas keliling sering kali mempertaruhkan kemerdekaan mereka dan kehidupan mereka demi kesejahteraan rohani saudara-saudara mereka. Selama masa pendudukan Nazi di Belgia, André Wozniak terus mengunjungi sidang-sidang dan membantu menyediakan lektur bagi mereka. Sudah beberapa kali Gestapo nyaris menangkapnya tetapi mereka tidak pernah berhasil.

      Di Rhodesia (sekarang dikenal sebagai Zimbabwe) menjelang akhir tahun 1970-an, orang-orang hidup dalam ketakutan, dan perjalanan mereka dibatasi selama periode perang saudara di negeri itu. Namun para pengawas keliling dari Saksi-Saksi Yehuwa, sebagai gembala dan pengawas yang pengasih, terbukti menjadi ”seperti tempat perteduhan dari angin” bagi saudara-saudara mereka. (Yes. 32:2) Ada yang berjalan kaki berhari-hari menerobos hutan belantara, mengadakan perjalanan naik turun gunung, menyeberangi sungai-sungai yang berbahaya, tidur pada malam hari di udara terbuka,—semua demi mencapai sidang-sidang dan penyiar-penyiar yang terpencil, untuk menganjurkan mereka tetap teguh dalam iman. Salah satu di antara mereka adalah Isaiah Makore, yang nyaris mati ketika peluru-peluru berdesingan di atas kepalanya selama berkecamuk perang antara pasukan pemerintah dan ”para pejuang kemerdekaan”.

      Pengawas keliling lain telah melayani organisasi dalam skala internasional selama bertahun-tahun. Presiden-presiden Lembaga Menara Pengawal sering mengadakan perjalanan ke negeri-negeri lain untuk memberikan perhatian kepada kebutuhan-kebutuhan organisasi dan untuk berbicara pada kebaktian-kebaktian. Kunjungan-kunjungan demikian sangat membantu Saksi-Saksi Yehuwa di mana-mana untuk selalu sadar akan persaudaraan internasional mereka. Saudara Knorr khususnya mengupayakan kegiatan ini secara tetap tentu, mengunjungi setiap cabang dan rumah utusan injil. Seraya organisasi bertumbuh, dunia dibagi menjadi sepuluh zona internasional, dan sejak tanggal 1 Januari 1956, saudara-saudara yang memenuhi syarat, di bawah petunjuk presiden, mulai membantu dinas ini sehingga kegiatan tersebut dapat diberi perhatian tetap tentu. Kunjungan-kunjungan zona tersebut, yang sekarang dilaksanakan di bawah petunjuk Panitia Dinas dari Badan Pimpinan, terus menyumbang kepada persatuan global dan gerak maju seluruh organisasi.

      Masih ada perkembangan-perkembangan penting lain yang menyumbang kepada struktur organisasi yang ada sekarang.

      Penyesuaian Teokratis Lebih Lanjut

      Di tengah berkecamuknya Perang Dunia II, Joseph F. Rutherford meninggal, pada tanggal 8 Januari 1942, dan Nathan H. Knorr menjadi presiden ketiga dari Lembaga Menara Pengawal. Organisasi berada di bawah tekanan berat karena larangan terhadap kegiatannya diberlakukan di banyak negeri, adanya serangan gerombolan yang berkedok patriotisme, dan penangkapan Saksi-Saksi ketika mereka menyiarkan lektur Alkitab dalam pelayanan umum mereka. Apakah perubahan administrasi akan memperlambat pekerjaan selama masa kritis demikian? Saudara-saudara yang menangani urusan administrasi berpaling kepada Yehuwa untuk memohon petunjuk dan berkat-Nya. Selaras dengan keinginan mereka akan bimbingan ilahi, mereka memeriksa kembali struktur organisasi itu sendiri untuk melihat apakah ada bagian-bagian yang dapat lebih disesuaikan dengan jalan-jalan Yehuwa.

      Kemudian, pada tahun 1944, suatu kebaktian dinas diadakan di Pittsburgh, Pennsylvania, sehubungan dengan pertemuan tahunan Lembaga Menara Pengawal. Pada tanggal 30 September, sebelum pertemuan tahunan itu dilangsungkan, serangkaian khotbah yang sangat penting berkenaan apa yang Alkitab katakan tentang organisasi dari hamba-hamba Yehuwa disampaikan.c Perhatian dipusatkan kepada Badan Pimpinan. Pada kesempatan itu, ditandaskan bahwa prinsip teokratis harus berlaku bagi semua wakil yang digunakan oleh golongan hamba yang setia dan bijaksana. Dijelaskan bahwa tidak segenap umat Allah ”yang mengabdi” adalah anggota-anggota dari badan hukum itu. Badan tersebut sekadar mewakili mereka, bertindak sebagai sarana resmi demi kepentingan mereka. Akan tetapi, karena Lembaga merupakan sarana penerbitan yang digunakan untuk menyediakan lektur yang berisi penerangan rohani bagi Saksi-Saksi Yehuwa, maka secara logis dan suatu keharusan bahwa Badan Pimpinan berhubungan erat dengan para pengurus dan direktur dari Lembaga resmi itu. Apakah prinsip-prinsip teokratis diterapkan sepenuhnya dalam setiap urusannya?

      Anggaran dasar Lembaga menetapkan aturan pemegang saham yang menyatakan bahwa untuk setiap jumlah sumbangan sebesar $10 (AS), sang penyumbang berhak memberikan satu suara sehubungan dengan pemilihan anggota-anggota dewan direksi dan para pengurus Lembaga. Mungkin sumbangan demikian tampaknya memberikan bukti adanya minat yang tulus dalam pekerjaan organisasi. Namun, penyelenggaraan ini menimbulkan problem-problem. Saudara Knorr, presiden Lembaga, menjelaskan, ”Dari ketentuan yang ada dalam anggaran dasar Lembaga, tampaknya untuk menjadi bagian dari badan pimpinan bergantung pada sumbangan kepada Lembaga resmi tersebut. Padahal menurut kehendak Allah, hal ini tidak boleh terjadi di antara umat pilihan-Nya yang sejati.”

      Memang suatu kenyataan bahwa Charles Taze Russell, yang menjadi pribadi terpenting dalam badan pimpinan selama 32 tahun pertama Lembaga, adalah pemberi sumbangan terbesar dalam bentuk uang, fisik, dan mental kepada Lembaga. Namun, bukan sumbangan moneter yang menentukan bagaimana Tuhan menggunakan dia. Pembaktiannya yang sepenuh hati, gairahnya yang tak pernah surut, pendiriannya yang tanpa kompromi kepada Kerajaan Allah, dan keloyalan serta kesetiaannya yang tidak terpatahkan itulah yang menandakan bahwa dalam pandangan Allah ia layak untuk dinas tersebut. Sehubungan dengan organisasi teokratis, peraturan ini berlaku, ”Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendakiNya.” (1 Kor. 12:18) ”Akan tetapi,” Saudara Knorr menjelaskan, ”karena anggaran dasar Lembaga menetapkan bahwa para penyumbang dana bagi pekerjaan Lembaga mendapat bagian dalam pemberian suara, maka hal itu cenderung meredupkan atau melanggar prinsip Teokratis ini sehubungan dengan badan pimpinan; dan hal itu juga cenderung membahayakan badan pimpinan atau menimbulkan penghalang baginya.”

      Oleh karena itu, pada pertemuan bisnis dari semua pemegang saham sekaligus pemberi suara dari Lembaga pada tanggal 2 Oktober 1944, diputuskan dengan suara bulat bahwa anggaran dasar Lembaga perlu direvisi dan lebih diselaraskan dengan prinsip-prinsip teokratis. Keanggotaan kini tidak lagi dibatasi jumlahnya tetapi berkisar antara 300 dan 500, semuanya adalah pria-pria yang akan dipilih oleh dewan direksi, bukan berdasarkan sumbangan moneter, tetapi karena mereka adalah Saksi-Saksi Yehuwa yang matang, aktif dan setia, yang melayani sepenuh waktu dalam pekerjaan organisasi atau rohaniwan yang aktif dalam sidang-sidang dari Saksi-Saksi Yehuwa. Anggota-anggota ini akan memberikan suara untuk dewan direksi, dan dewan direksi kemudian akan memilih para pengurusnya. Penyelenggaraan baru ini mulai berlaku pada tahun berikutnya, yaitu pada tanggal 1 Oktober 1945. Betapa hal ini telah terbukti sebagai perlindungan dalam era manakala faksi-faksi yang saling bermusuhan sering memanipulasi urusan-urusan bisnis agar dapat menguasai lembaga dan kemudian menatanya kembali sesuai dengan tujuan-tujuan mereka sendiri!

      Berkat Yehuwa atas langkah-langkah maju demi keselarasan dengan prinsip-prinsip teokratis ini menjadi nyata. Meskipun tekanan yang ekstrem dilancarkan ke atas organisasi ini selama Perang Dunia II, jumlah pemberita Kerajaan terus meningkat. Tanpa henti, mereka dengan bergairah terus memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah. Dari tahun 1939 hingga 1946, ada peningkatan yang mengagumkan sebanyak 157 persen dalam jajaran Saksi-Saksi Yehuwa, dan mereka mencapai enam negeri lain dengan kabar baik. Selama 25 tahun berikutnya, Saksi-Saksi yang aktif bertambah jumlahnya hampir sebanyak 800 persen, dan laporan kegiatan mereka yang tetap tentu datang dari 86 negeri lain.

      Pelatihan yang Dikhususkan Bagi Para Pengawas

      Beberapa pengamat luar memandang bahwa pada waktu organisasi bertambah besar, tidak dapat dielakkan standar-standarnya pun akan menjadi longgar. Namun, bertentangan dengan itu, Alkitab menubuatkan bahwa keadilan dan damai sejahtera akan ada di antara hamba-hamba Yehuwa. (Yes. 60:17) Hal itu akan menuntut pendidikan yang saksama dan terus-menerus dalam Firman Allah bagi para pengawas yang bertanggung jawab, pengertian yang jelas akan standar-standar pengadilan-Nya, dan penerapan yang konsisten dari standar-standar tersebut. Pendidikan semacam itu telah disediakan. Suatu penelitian yang saksama mengenai tuntutan Allah yang adil-benar telah disediakan secara progresif dalam The Watchtower dan bahan ini telah dipelajari secara sistematis oleh setiap sidang dari Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia. Namun, selain itu, para pengawas dari kawanan domba tersebut telah diberi banyak instruksi tambahan.

      Pengawas-pengawas utama dari cabang-cabang Lembaga telah dikumpulkan untuk pelatihan khusus pada waktu kebaktian-kebaktian internasional diadakan. Dari tahun 1961 terus sampai 1965, kursus-kursus sekolah yang dirancang secara khusus, yang berlangsung delapan sampai sepuluh bulan, diselenggarakan bagi mereka di New York. Dari tahun 1977 sampai 1980, ada serangkaian kursus istimewa lain bagi mereka selama lima minggu. Pelatihan yang mereka terima mencakup penyelidikan ayat demi ayat dari semua buku Alkitab dan juga pembahasan atas perincian organisasi serta cara-cara yang dengannya akan memajukan pemberitaan kabar baik. Tidak ada perpecahan nasionalistik di kalangan Saksi-Saksi Yehuwa. Tidak soal di mana mereka tinggal, mereka berpaut kepada standar-standar tinggi Alkitab yang sama serta mempercayai dan mengajarkan hal-hal yang sama.

      Pengawas-pengawas wilayah dan distrik juga telah diberi perhatian khusus. Banyak di antara mereka telah mengikuti Sekolah Alkitab Gilead Menara Pengawal atau satu dari Sekolah Lanjutannya. Secara periodik, mereka juga dikumpulkan bersama di kantor-kantor cabang Lembaga, atau mereka bertemu di lokasi-lokasi lain yang sesuai, untuk mengadakan seminar selama beberapa hari atau satu minggu.

      Pada tahun 1959 persediaan lain yang luar biasa dibuat. Ini adalah Sekolah Pelayanan Kerajaan, yang dihadiri oleh para pengawas wilayah dan distrik dan juga para pengawas sidang. Pada mulanya ini berupa kursus pengajaran selama satu bulan penuh. Setelah satu tahun diadakan di Amerika Serikat, bahan-bahan untuk kursus ini diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain dan secara progresif digunakan di seluruh dunia. Karena tidak semua pengawas dapat meninggalkan pekerjaan duniawi mereka selama satu bulan penuh, kursus selama dua minggu mulai diadakan pada tahun 1966.

      Sekolah ini bukan sebuah seminari yang melatih pria-pria untuk persiapan pelantikan. Yang hadir justru sudah dilantik sebagai rohaniwan-rohaniwan. Banyak di antara mereka telah menjadi pengawas dan gembala dari kawanan domba selama puluhan tahun. Kursus pengajaran yang mereka terima merupakan kesempatan untuk membahas secara terperinci instruksi-instruksi Firman Allah berkenaan pekerjaan mereka. Yang sangat ditekankan di sini adalah pentingnya dinas pengabaran dan cara melakukannya dengan efektif. Karena perubahan standar-standar moral di dunia, banyak waktu juga digunakan untuk membahas cara menjunjung standar-standar Alkitab berkenaan moralitas. Kursus ini dilanjutkan belakangan dengan seminar-seminar yang diadakan setiap dua atau tiga tahun, dan juga pertemuan-pertemuan yang bermanfaat yang dipimpin oleh para pengawas keliling bersama para penatua setempat beberapa kali setiap tahun. Ini semua membuka kesempatan untuk memberikan perhatian kepada kebutuhan-kebutuhan yang ada pada waktu itu. Ini menjadi pelindung terhadap apa pun yang dapat menghanyutkan mereka dari standar-standar Alkitab, dan ini menyumbang kepada penanganan situasi dengan cara yang seragam di semua sidang.

      Saksi-Saksi Yehuwa mencamkan dalam hati nasihat di 1 Korintus 1:10, ”Aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.” Hal ini bukan suatu penyesuaian yang dipaksakan; ini dihasilkan dari pendidikan tentang jalan-jalan Allah sebagaimana tercatat dalam Alkitab. Saksi-Saksi Yehuwa senang akan jalan-jalan Allah dan maksud-tujuan-Nya. Jika ada yang tidak lagi merasa senang untuk hidup menurut standar Alkitab, mereka bebas untuk meninggalkan organisasi. Namun jika ada seseorang yang mulai mengajarkan kepercayaan lain atau mengabaikan moralitas Alkitab, para pengawas akan mengambil tindakan untuk menjaga kawanan. Organisasi menerapkan nasihat Alkitab, ”Supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!”—Rm. 16:17; 1 Kor. 5:9-13.

      Alkitab menubuatkan bahwa Allah hanya akan menciptakan suasana demikian di antara para hamba-Nya, suatu suasana yang di dalamnya terdapat keadilbenaran dan yang akan mendatangkan buah-buah perdamaian. (Yes. 32:1, 2, 17, 18) Kondisi seperti itu sangat menarik bagi orang-orang yang mengasihi apa yang benar.

      Berapa banyak pencinta keadilbenaran semacam itu akan dikumpulkan sebelum sistem tua ini berakhir? Saksi-Saksi Yehuwa tidak mengetahuinya. Namun Yehuwa mengetahui apa yang akan dituntut oleh pekerjaan-Nya, dan dalam waktu serta cara-Nya sendiri Ia memastikan bahwa organisasi-Nya telah diperlengkapi untuk menanganinya.

      Bersiap-siap untuk Pertumbuhan yang Luar Biasa Pesat

      Pada waktu riset sedang dilakukan di bawah pengawasan Badan Pimpinan dalam mempersiapkan karya referensi Aid to Bible Understanding, perhatian sekali lagi ditujukan kepada cara sidang Kristen abad pertama diorganisasi. Penyelidikan yang saksama mengenai istilah-istilah Alkitab seperti ”tua-tua”, ”pengawas”, dan ”rohaniwan” dilakukan. Dapatkah organisasi Saksi-Saksi Yehuwa zaman modern menyesuaikan diri dengan lebih sepenuhnya kepada pola yang terpelihara dalam Alkitab sebagai pembimbing?

      Hamba-hamba Yehuwa bertekad untuk terus tunduk kepada petunjuk ilahi. Dalam serangkaian kebaktian yang diadakan pada tahun 1971, perhatian ditujukan kepada pengaturan pimpinan dari sidang Kristen masa awal. Ditunjukkan bahwa istilah pre·sbyʹte·ros (tua-tua, penatua), sebagaimana digunakan dalam Alkitab, tidak terbatas hanya kepada orang-orang yang lanjut usia, itu juga tidak berlaku kepada semua orang dalam sidang yang matang secara rohani. Ini teristimewa digunakan dalam makna resmi sehubungan dengan para pengawas sidang-sidang. (Kis. 11:30; 1 Tim. 5:17; 1 Ptr. 5:1-3) Orang-orang ini menerima kedudukan mereka melalui pengangkatan, selaras dengan tuntutan yang menjadi bagian dari Alkitab terilham. (Kis. 14:23; 1 Tim. 3:1-7; Tit. 1:5-9) Di tempat yang tersedia cukup banyak pria yang memenuhi syarat, ada lebih dari satu penatua di sidang tersebut. (Kis. 20:17; Flp. 1:1) Orang-orang ini membentuk ”badan para tua-tua”, yang semuanya memiliki status kedudukan yang sama, dan tidak ada anggota yang lebih menonjol atau berkuasa di sidang itu. (1 Tim. 4:14) Dijelaskan bahwa untuk membantu para penatua, dilantik juga ”diaken-diaken” [”hamba pelayanan”, NW], sesuai dengan tuntutan yang diuraikan oleh rasul Paulus.—1 Tim. 3:8-10, 12, 13.

      Pengaturan-pengaturan ini langsung diterapkan agar organisasi menjadi lebih selaras dengan pola Alkitab. Ini semua dimulai dari Badan Pimpinan sendiri. Keanggotaannya diperbanyak sampai lebih dari tujuh orang, yang sebagai anggota-anggota dewan direksi dari Watch Tower Bible and Tract Society Pennsylvania, telah melayani sebagai suatu badan pimpinan bagi Saksi-Saksi Yehuwa. Tidak ada jumlah tertentu untuk anggota Badan Pimpinan yang ditetapkan. Pada tahun 1971, ada 11; selama beberapa tahun, ada sebanyak 18; pada tahun 1992, ada 12. Mereka semua adalah pria-pria terurap Allah sebagai rekan ahli waris bersama Yesus Kristus. Ke-12 orang yang melayani sebagai anggota Badan Pimpinan pada tahun 1992 menggunakan total lebih dari 728 tahun dalam dinas sepenuh waktu sebagai rohaniwan-rohaniwan dari Allah Yehuwa.

      Diputuskan pada tanggal 6 September 1971, bahwa kedudukan sebagai ketua pada rapat Badan Pimpinan akan digilir setiap tahun sesuai dengan pengaturan menurut abjad nama keluarga anggota-anggotanya. Tepatnya, ini mulai berlaku pada tanggal 1 Oktober. Setiap minggu anggota-anggota Badan Pimpinan juga bergilir memimpin ibadat pagi dan Pelajaran Watchtower bagi anggota staf kantor pusat.d Pengaturan ini mulai berlaku pada tanggal 13 September 1971, ketika Frederick W. Franz memimpin acara ibadat pagi di kantor pusat Lembaga di Brooklyn, New York.

      Selama tahun berikutnya, persiapan untuk penyesuaian dalam pengawasan sidang dilakukan. Tidak akan ada lagi hanya satu hamba sidang yang dibantu oleh beberapa hamba lain yang sudah ditentukan jumlahnya. Pria-pria yang memenuhi syarat Alkitab akan diangkat untuk melayani sebagai penatua. Yang lain, jika memenuhi tuntutan Alkitab, akan diangkat menjadi pelayan sidang. Ini membuka jalan bagi lebih banyak orang untuk ikut memikul tanggung jawab sidang dan dengan demikian memperoleh pengalaman yang berharga. Tidak seorang pun dari Saksi-Saksi Yehuwa menyangka bahwa jumlah sidang akan bertambah 156 persen selama 21 tahun berikutnya, mencapai total 69.558 pada tahun 1992. Namun Kepala sidang, Tuhan Yesus Kristus, jelas sedang membuat persiapan untuk sesuatu yang akan datang.

      Pada awal tahun 1970-an, suatu pemikiran yang saksama diberikan untuk mereorganisasi Badan Pimpinan lebih lanjut. Sejak dibentuknya Lembaga Menara Pengawal pada tahun 1884, penerbitan lektur, pengawasan atas pekerjaan penginjilan seluas bumi, dan penyelenggaraan sekolah dan kebaktian telah diurus di bawah petunjuk dari kantor presiden Watch Tower Bible and Tract Society. Namun setelah diadakan analisis yang saksama dan pembahasan tentang perinciannya selama jangka waktu berbulan-bulan, suatu pengaturan baru secara bulat disetujui pada tanggal 4 Desember 1975. Enam panitia dari Badan Pimpinan dibentuk.

      Panitia Ketua (terdiri atas ketua Badan Pimpinan saat itu, ketua yang sebelumnya, dan seorang yang akan mendapat giliran selanjutnya untuk menjadi ketua) menerima laporan tentang keadaan darurat, bencana, dan kampanye penganiayaan, dan panitia ini memastikan agar hal-hal ini segera ditangani oleh Badan Pimpinan. Panitia Penulisan mengawasi penuangan makanan rohani ke dalam bentuk tulisan, rekaman kaset, dan video bagi Saksi-Saksi Yehuwa dan untuk disalurkan kepada umum, dan panitia ini mengawasi pekerjaan penerjemahan ke dalam ratusan bahasa. Panitia Pengajaran bertanggung jawab mengawasi sekolah dan kebaktian, juga kebaktian distrik dan internasional, bagi umat Yehuwa, serta mengawasi instruksi bagi keluarga Betel dan pembuatan rangka bahan yang akan digunakan untuk tujuan-tujuan itu. Panitia Dinas mengawasi semua daerah pekerjaan penginjilan, termasuk aktivitas sidang dan aktivitas pengawas keliling. Pencetakan, penerbitan, dan pengiriman lektur dan juga bekerjanya percetakan serta penanganan urusan hukum dan bisnis semuanya diawasi oleh Panitia Penerbitan. Dan Panitia Personalia mengawasi pengaturan untuk bantuan pribadi dan rohani bagi anggota-anggota keluarga Betel dan bertanggung jawab untuk mengundang anggota-anggota baru melayani dalam keluarga-keluarga Betel di seputar dunia.

      Panitia-panitia pembantu tambahan ditugaskan untuk mengawasi percetakan, rumah Betel, dan perladangan yang berhubungan dengan kantor pusat sedunia. Mengenai panitia-panitia ini, Badan Pimpinan banyak memanfaatkan kemampuan dari anggota-anggota ”kumpulan besar”.—Why. 7:9, 15.

      Penyesuaian-penyesuaian juga dibuat dalam pengawasan cabang-cabang Lembaga. Sejak 1 Februari 1976, setiap cabang diawasi oleh sebuah panitia yang terdiri dari tiga anggota atau lebih, bergantung pada kebutuhan dan besarnya cabang. Mereka bekerja di bawah petunjuk Badan Pimpinan dalam mengurus pekerjaan Kerajaan di daerah mereka.

      Pada tahun 1992, bantuan lebih lanjut disediakan bagi Badan Pimpinan ketika sejumlah orang yang membantu, kebanyakan dari kumpulan besar, ditugaskan untuk ambil bagian dalam pertemuan dan pekerjaan dari panitia-panitia Penulisan, Pengajaran, Dinas, Penerbitan, dan Personalia.e

      Penyebaran tanggung jawab ini telah terbukti sangat bermanfaat. Seiring dengan diadakannya penyesuaian-penyesuaian yang telah dibuat di dalam sidang, penyebaran tanggung jawab ini telah membantu menyingkirkan rintangan apa pun yang dapat menyimpangkan pribadi-pribadi dari penghargaan akan Kristus sebagai Kepala sidang. Telah terbukti sangat bermanfaat bila sejumlah saudara merundingkan masalah-masalah yang dapat mempengaruhi pekerjaan Kerajaan. Lagi pula, reorganisasi ini telah memungkinkan tersedianya pengawasan yang diperlukan di banyak daerah yang secara mendesak membutuhkannya selama suatu era yang telah melihat adanya pertumbuhan organisasi dalam proporsi yang benar-benar luar biasa. Lama berselang, Yehuwa menubuatkan melalui nabi Yesaya, ”Yang paling kecil akan menjadi kaum yang besar, dan yang paling lemah akan menjadi bangsa yang kuat; Aku, [Yehuwa], akan melaksanakannya dengan segera [mempercepatnya, NW] pada waktunya.” (Yes. 60:22) Ia tidak hanya telah mempercepatnya tetapi Ia juga telah menyediakan petunjuk yang diperlukan sehingga organisasi-Nya yang kelihatan akan dapat melaksanakannya.

      Perhatian Saksi-Saksi Yehuwa segera diarahkan kepada pekerjaan yang Allah berikan untuk mereka lakukan selama hari-hari terakhir dari dunia tua ini, dan mereka diorganisasi dengan baik untuk menyelesaikannya. Saksi-Saksi Yehuwa melihat bukti yang tak salah lagi bahwa organisasi ini bukan milik manusia tetapi milik Allah dan bahwa Putra Allah sendiri, Yesus Kristus, sedang memimpinnya. Sebagai Raja yang berkuasa, Yesus akan menjaga para hamba bawahannya yang setia selamat melampaui kesengsaraan besar yang akan datang dan memastikan bahwa mereka diorganisasi secara efektif untuk melaksanakan kehendak Allah selama Milenium mendatang.

      [Catatan Kaki]

      a Pada tahun 1894, Saudara Russell mengatur agar Zion’s Watch Tower Tract Society mengutus saudara-saudara yang memenuhi syarat sebagai pembicara. Mereka diberi sertifikat yang ditandatangani, untuk digunakan dalam memperkenalkan diri mereka kepada kelompok-kelompok setempat. Sertifikat ini tidak memberikan wewenang untuk mengabar dan tidak juga menandakan bahwa apa yang dikatakan oleh pembawanya harus diterima tanpa penelitian yang sepatutnya dalam terang Firman Allah. Akan tetapi, karena beberapa orang telah salah menafsirkan tujuan sertifikat ini, dalam waktu setahun Saudara Russell meminta agar sertifikat-sertifikat itu ditarik kembali. Dengan sikap hati-hati ia berupaya untuk menghindari apa pun yang bahkan dapat dianggap oleh para pengamat sebagai petunjuk adanya golongan pemimpin agama.

      b Zion’s Watch Tower, Oktober-November 1881, hlm. 8-9.

      c Kadang-kadang, kelompok-kelompok setempat disebut sebagai ”gereja-gereja”, selaras dengan bahasa yang digunakan dalam King James Version. Mereka juga disebut eklesia-eklesia, selaras dengan istilah yang digunakan dalam teks Alkitab Yunani. Istilah ”kelas-kelas” juga digunakan, karena pada kenyataannya ini merupakan kelompok-kelompok pelajar yang bertemu secara tetap tentu untuk belajar. Belakangan, ketika mereka disebut kompi, ini mencerminkan bahwa mereka sadar mereka berada dalam peperangan rohani. (Lihat Mazmur 68:11, KJ, catatan pinggir.) Setelah New World Translation of the Christian Greek Scriptures diterbitkan pada tahun 1950, istilah Alkitab dalam bahasa modern yakni ”sidang” digunakan secara tetap di kebanyakan negeri.

      d Makna harfiah dari kata yang digunakan dalam teks Alkitab Yunani (khei·ro·to·neʹo) adalah ”mengulurkan, merentangkan, atau mengacungkan tangan”, dan, secara luas, itu juga dapat berarti ”mengangkat atau memilih untuk suatu kedudukan dengan cara mengacungkan tangan”.—A Greek and English Lexicon to the New Testament, oleh John Parkhurst, 1845, hlm. 673.

      e Untuk perinciannya, lihat Pasal 25, ”Mengabar Kepada Umum dan dari Rumah ke Rumah”.

      f Melalui direktur dinas, dinas pengabaran dari mereka yang tergabung dalam sidang, atau kelas, harus dilaporkan kepada Lembaga setiap minggu, mulai tahun 1919.

      g Sebagaimana diuraikan dalam brosur Organization Method, setiap sidang harus memilih seorang asisten direktur dan seorang pemegang stok lektur. Orang-orang ini, bersama dengan direktur yang dilantik Lembaga, membentuk panitia dinas setempat.

      h The Watch Tower, 1 Juli 1920, hlm. 195-200.

      i Panitia dinas pada saat itu terdiri dari paling banyak sepuluh orang. Salah satu di antaranya adalah direktur dinas, yang tidak dipilih oleh sidang setempat melainkan diangkat langsung oleh Lembaga. Anggota-anggota lain bekerja bersamanya dalam mengatur dan melaksanakan pekerjaan kesaksian.

      j Selama beberapa tahun, sejak tahun 1932 seterusnya, orang-orang ini disebut kaum Yonadab.

      k Pada waktu kata kerja Yunani khei·ro·to·neʹo didefinisikan hanya sebagai ’memilih dengan mengacungkan tangan’, arti lain dari kata ini diabaikan. Maka, A Greek-English Lexicon, yang disusun oleh Liddell dan Scott, diedit oleh Jones dan McKenzie dan dicetak ulang pada tahun 1968, mendefinisikan kata itu sebagai ”mengacungkan tangan, dengan tujuan memberikan suara dalam pertemuan . . . II. c. akus. org. [dengan akusatif orang], memilih, [secara] tepat dengan menunjukkan tangan . . . belakangan secara umum mengangkat, . . . mengangkat untuk suatu kedudukan di Gereja, [pre·sby·teʹrous] Kis. Ras. [Kisah Para Rasul] 14.23.” Penggunaan yang belakangan itu berlaku pada zaman para rasul; istilah tersebut digunakan dalam pengertian itu oleh sejarawan Yahudi abad pertama Josephus dalam Jewish Antiquities, Buku 6, pasal 4, paragraf 2, dan pasal 13, paragraf 9. Struktur gramatikal dari Kisah 14:23 itu sendiri dalam bahasa Yunani asli memperlihatkan bahwa Paulus dan Barnabas adalah orang-orang yang melakukan apa yang digambarkan di ayat tersebut.

      l Belakangan pada tahun yang sama, 1938, Organization Instructions, yang diterbitkan sebagai brosur empat halaman, memberikan perincian lebih lanjut. Brosur ini menjelaskan bahwa sidang setempat harus menunjuk sebuah panitia yang akan bertindak demi kepentingan sidang. Panitia itu harus mempertimbangkan saudara-saudara menurut kualifikasi yang digariskan dalam Alkitab dan memberi rekomendasi kepada Lembaga. Pada waktu wakil-wakil keliling dari Lembaga mengunjungi sidang-sidang, mereka meninjau kualifikasi dari saudara-saudara setempat dan kesetiaan mereka dalam mengemban tugas-tugas mereka. Rekomendasi mereka juga dipertimbangkan oleh Lembaga pada waktu melantik.

      a Dari tahun 1894 sampai 1927, pembicara-pembicara keliling yang diutus oleh Lembaga mula-mula dikenal sebagai wakil-wakil Tower Tract Society, dan belakangan sebagai musafir. Sejak tahun 1928 sampai 1936, dengan perhatian yang lebih besar kepada dinas pengabaran, mereka disebut direktur dinas daerah. Dimulai sejak bulan Juli 1936, untuk menekankan hubungan mereka yang sepatutnya dengan saudara-saudara setempat, mereka kemudian dikenal sebagai hamba-hamba daerah. Dari tahun 1938 sampai 1941, hamba-hamba zona ditugaskan untuk bekerja bersama sejumlah kecil sidang secara bergiliran, kemudian kembali kepada kelompok yang sama dalam selang waktu yang tetap. Setelah terhenti selama kira-kira setahun, dinas ini dihidupkan kembali pada tahun 1942 dengan tetap disebut hamba-hamba bagi saudara-saudara. Pada tahun 1948, sebutan hamba wilayah dipakai; sekarang, pengawas wilayah.

      Sejak tahun 1938 sampai 1941, hamba-hamba daerah, dengan peranan yang baru, secara tetap tentu melayani kebaktian-kebaktian setempat, di mana Saksi-Saksi dari suatu daerah yang terbatas (suatu zona) bertemu untuk acara khusus. Ketika pekerjaan ini dihidupkan kembali pada tahun 1946, para pengawas keliling ini dikenal sebagai hamba distrik; sekarang, pengawas distrik.

      b Penyelenggaraan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Oktober 1938. Selama tahun-tahun perang, kesulitan dalam menyelenggarakan kebaktian-kebaktian bertambah, maka kebaktian-kebaktian zona ditunda sampai akhir tahun 1941. Akan tetapi, sekali lagi pada tahun 1946, penyelenggaraan ini diperbarui, dan acara pertemuan bersama sejumlah sidang untuk pengajaran khusus tersebut, disebut kebaktian wilayah.

      c Isi dari khotbah-khotbah ini dimuat dalam terbitan The Watchtower 15 Oktober dan 1 November 1944.

      d Belakangan, mereka memilih anggota-anggota lain keluarga Betel untuk ambil bagian dalam melakukan tugas-tugas tersebut.

      e The Watchtower, 15 April 1992, hl. 7-17, 31.

      [Blurb di hlm. 204]

      Di antara mereka tidak terdapat golongan pemimpin agama

      [Blurb di hlm. 205]

      Tidak berupaya mendirikan suatu ”organisasi duniawi”

      [Blurb di hlm. 206]

      Bagaimana para penatua dipilih?

      [Blurb di hlm. 212]

      Seorang direktur dilantik oleh Lembaga

      [Blurb di hlm. 213]

      Beberapa penatua tidak mau mengabar di luar sidang

      [Blurb di hlm. 214]

      Penurunan jumlah tetapi memperkuat organisasi

      [Blurb di hlm. 218]

      Bagaimana pengangkatan harus dilakukan?

      [Blurb di hlm. 220]

      Apakah Rutherford hanya berupaya untuk memperoleh kekuasaan yang lebih besar?

      [Blurb di hlm. 222]

      Terus berhubungan dengan kelompok yang terdiri dari dua atau tiga orang maupun kelompok-kelompok yang lebih besar

      [Blurb di hlm. 223]

      Tanggung jawab baru bagi para pengawas keliling

      [Blurb di hlm. 234]

      Badan Pimpinan yang diperbanyak anggotanya dengan ketua yang beroperasi secara bergilir

      [Blurb di hlm. 235]

      Pengawasan yang diperlukan selama suatu era pertumbuhan yang luar biasa pesat

      [Kotak di hlm. 207]

      Mengapa Ada Perubahan?

      Ketika ditanya tentang perubahan pandangannya berkenaan pemilihan para penatua di berbagai kelompok dari umat Tuhan, C. T. Russell menjawab,

      ”Pertama-tama, saya bersegera meyakinkan saudara-saudara bahwa saya tidak pernah mengaku tidak bisa salah. . . . Kami tidak menyangkal bahwa kami sedang bertumbuh dalam pengetahuan, dan bahwa kami sekarang melihat terang yang agak berbeda dalam kehendak Tuhan berkenaan para Penatua atau para pemimpin dalam berbagai kelompok kecil dari umat-Nya. Kesalahan kami dalam menilai adalah dalam hal mengharapkan terlalu banyak dari saudara-saudara yang kami kasihi yang, karena masuk lebih dahulu ke dalam Kebenaran, dianggap sudah sewajarnya menjadi pemimpin-pemimpin dari kompi-kompi kecil ini. Pandangan ideal yang kami miliki dengan senang hati sehubungan dengan mereka adalah, bahwa pengetahuan akan Kebenaran mempunyai pengaruh yang membuat mereka menjadi sangat rendah hati, membuat mereka tergerak untuk menghargai keadaan mereka yang tidak berarti, dan bahwa apa pun yang mereka ketahui dan yang sanggup mereka sampaikan kepada orang-orang lain menjadikan mereka seperti juru bicara Allah dan karena digunakan oleh Dia. Harapan ideal kami adalah bahwa dalam segala hal orang-orang ini akan dapat menjadi teladan bagi kawanan; dan bahwa berkat pemeliharaan Tuhan, satu atau lebih saudara yang sama cakapnya, atau yang lebih cakap, dibawa masuk ke dalam kompi kecil ini, untuk menyampaikan Kebenaran, bahwa semangat kasih akan membimbing mereka untuk menghormati satu sama lain, dan dengan demikian membantu dan mendesak satu sama lain untuk berpartisipasi dalam dinas Gereja, yang adalah tubuh Kristus.

      ”Dengan pemikiran seperti ini, kami telah menyimpulkan bahwa takaran yang lebih besar bagi kemurahan dan kebenaran yang sepatutnya dipakai saat ini dan dihargai oleh umat Tuhan yang mengabdi membuat mereka tidak perlu mengikuti haluan yang dijelaskan oleh para rasul kepada Gereja masa awal. Kekeliruan kami adalah lalai untuk menyadari bahwa pengaturan yang digariskan oleh para rasul di bawah pengawasan ilahi lebih unggul daripada apa pun yang dapat dirumuskan oleh orang-orang lain, dan bahwa Gereja secara keseluruhan perlu memiliki peraturan-peraturan yang dibuat oleh para rasul sampai, melalui perubahan dalam kebangkitan, kita dinyatakan lengkap dan sempurna dan langsung berada dalam persatuan dengan sang Majikan.

      ”Lama-kelamaan kami sadar akan kekeliruan kami pada waktu kami memperhatikan adanya semangat bersaing sampai batas tertentu di antara saudara-saudara yang dikasihi, dan keinginan di pihak banyak saudara untuk memegang kepemimpinan dalam perhimpunan-perhimpunan sebagai suatu kedudukan bukan sebagai suatu pelayanan, dan mengucilkan serta menghambat saudara-saudara lain yang memiliki kemampuan alami yang sama dan pengetahuan akan Kebenaran serta kecakapan yang sama dalam menggunakan pedang Roh, untuk berkembang menjadi pemimpin-pemimpin.”—”Zion’s Watch Tower”, 15 Maret 1906, hlm. 90.

      [Kotak/Gambar di hlm. 208, 209]

      Fasilitas-Fasilitas yang Digunakan Lembaga Seabad yang Lalu di Daerah Pittsburgh

      Rumah Alkitab, yang diperlihatkan di sini, berfungsi sebagai kantor pusat selama 19 tahun, dari tahun 1890 sampai 1909f

      Saudara Russell belajar di sini

      Anggota-anggota keluarga Rumah Alkitab yang melayani di sini pada tahun 1902

      Gedung ini mencakup departemen penyusunan huruf dan komposisi (kanan atas), departemen pengiriman (kanan bawah), penyimpanan lektur, tempat tinggal untuk staf, dan sebuah kapel (balai kebaktian) yang dapat menampung kira-kira 300 orang

      [Catatan Kaki]

      f Pada tahun 1879, kantor pusat terletak di 101 Fifth Avenue, Pittsburgh, Pennsylvania. Kantor-kantor dipindahkan ke 44 Federal Street, Allegheny (Bagian Utara Pittsburgh), pada tahun 1884; dan belakangan pada tahun yang sama, ke 40 Federal Street. (Pada tahun 1887, ini disebut 151 Robinson Street.) Pada waktu lebih banyak ruangan dibutuhkan, pada tahun 1889, Saudara Russell membangun Rumah Alkitab, yang diperlihatkan di kiri, di 56-60 Arch Street, Allegheny. (Belakangan nomornya diubah menjadi 610-614 Arch Street.) Selama periode waktu yang singkat yaitu tahun 1918-19, kantor utama mereka sekali lagi terletak di Pittsburgh, di lantai tiga sebuah bangunan di 119 Federal Street.

      [Kotak di hlm. 211]

      Pekerjaan Siapakah Ini?

      Menjelang akhir kehidupannya di bumi, Charles Taze Russell menulis, ”Umat Allah terlalu sering lupa bahwa Tuhan Sendirilah yang menjadi kepala bagi pekerjaan-Nya. Kita terlalu sering berpikir bahwa, Kita akan melakukan suatu pekerjaan dan memohon Allah bekerja bersama kita dalam pekerjaan kita. Marilah kita mempunyai pandangan yang benar mengenai perkara ini, dan mengerti bahwa Allah telah merencanakan dan sedang melaksanakan suatu pekerjaan besar; dan bahwa itu akan berhasil, sama sekali tidak bergantung pada kita atau upaya kita; dan bahwa itu adalah hak istimewa yang besar yang dikaruniakan kepada umat Allah untuk bekerja bersama Pencipta mereka dalam melaksanakan rencana-Nya, rancangan-Nya, pengaturan-Nya, menurut cara-Nya. Dengan melihat segala sesuatu dari sudut pandangan ini, doa kita dan perhatian kita seharusnya disertai tujuan untuk mengetahui dan melaksanakan kehendak Tuhan, puas akan peranan apa pun yang diberikan kepada kita untuk kita penuhi, karena Allah kitalah yang memimpin kita. Inilah program yang diupayakan untuk diikuti oleh Watch Tower Bible and Tract Society.”—”The Watch Tower”, 1 Mei 1915.

      [Kotak/Gambar di hlm. 215]

      Pertanyaan-Pertanyaan V.D.M.

      Huruf-huruf V.D.M. adalah singkatan dari kata-kata Latin ”Verbi Dei Minister”, atau Rohaniwan dari Firman Ilahi.

      Pada tahun 1916, sebuah daftar pertanyaan mengenai perkara-perkara Alkitab disiapkan oleh Lembaga. Orang-orang yang akan mewakili Lembaga sebagai pembicara diminta untuk menjawab setiap pertanyaan secara tertulis. Hal ini memungkinkan Lembaga mengetahui pemikiran, perasaan, dan pengertian saudara-saudara ini berkenaan kebenaran dasar Alkitab. Jawaban tertulis diperiksa dengan teliti oleh suatu badan pemeriksa di kantor-kantor Lembaga. Mereka yang diakui memenuhi syarat sebagai pembicara sedikitnya harus sanggup menjawab dengan benar 85 persen dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

      Belakangan, banyak di antara para penatua, diaken, dan Siswa Alkitab lain menanyakan apakah mereka dapat memperoleh sebuah daftar pertanyaan. Pada waktunya, dinyatakan bahwa adalah bermanfaat jika kelas-kelas memilih sebagai wakil-wakil mereka hanya orang-orang yang memenuhi syarat sebagai V.D.M.

      Pada waktu Lembaga memberi gelar Rohaniwan dari Firman Ilahi, ini tidak berarti bahwa pribadi tersebut telah dinobatkan. Ini hanya mengartikan bahwa badan pemeriksa di kantor-kantor Lembaga telah meninjau perkembangan orang itu dalam hal doktrin, dan sampai batas yang masuk akal dalam hal reputasinya, serta menyimpulkan bahwa ia layak untuk disebut seorang Rohaniwan dari Firman Ilahi.

      Pertanyaan-pertanyaan V.D.M. adalah sebagai berikut:

      (1) Apa yang pertama-tama Allah ciptakan?

      (2) Apa arti kata ”Logos”, sebagaimana dihubungkan dengan Putra Allah? dan apa yang dimaksud dengan kata Bapa dan kata Putra?

      (3) Kapan dan bagaimana dosa masuk ke dalam dunia?

      (4) Apa hukuman Ilahi atas dosa dari para pedosa? dan siapakah para pedosa itu?

      (5) Mengapa ”Logos” perlu diubah ke dalam tubuh jasmani? dan apakah Ia mengalami ”inkarnasi”?

      (6) Bagaimana wujud Manusia Yesus Kristus sejak bayi sampai kematiannya?

      (7) Bagaimana wujud Yesus sejak kebangkitannya; dan apa hubungan resmi antara Dia dan Yehuwa?

      (8) Apa pekerjaan Yesus selama Masa Penginjilan—selama masa Pentakosta hingga sekarang?

      (9) Sejauh ini apa yang telah dilakukan Allah Yehuwa bagi dunia umat manusia? dan apa yang dilakukan oleh Yesus?

      (10) Apa maksud-tujuan Ilahi sehubungan dengan Gereja bila jumlahnya sudah lengkap?

      (11) Apa maksud-tujuan Ilahi sehubungan dengan dunia umat manusia?

      (12) Apa nasib orang-orang yang pada akhirnya tidak mau kembali ke jalan yang benar?

      (13) Pahala atau berkat-berkat apa yang akan datang ke atas dunia umat manusia melalui ketaatan kepada Kerajaan Mesias?

      (14) Dengan langkah-langkah apa seorang pedosa dapat memasuki hubungan yang sangat penting dengan Kristus dan dengan Bapa Surgawi?

      (15) Setelah seorang Kristen diperanakkan oleh Roh Kudus, haluan apa yang diambilnya, sebagaimana ditunjukkan dalam Firman Allah?

      (16) Apakah saudara telah berpaling dari dosa untuk melayani Allah yang hidup?

      (17) Apakah saudara sudah membaktikan sepenuhnya kehidupan dan segenap kekuatan serta bakat saudara untuk Tuhan dan dinas-Nya?

      (18) Apakah saudara telah melambangkan pembaktian ini dengan baptisan air?

      (19) Apakah saudara telah mengucapkan Sumpah dari I. B. S. A. [International Bible Students Association] berkenaan kekudusan hidup?

      (20) Apakah saudara telah membaca dengan saksama dan teliti keenam jilid dari STUDIES IN THE SCRIPTURES?

      (21) Apakah saudara telah memperoleh banyak penerangan dan manfaat dari buku tersebut?

      (22) Apakah saudara yakin bahwa saudara mempunyai pengetahuan Alkitab yang kuat dan permanen yang akan membuat saudara menjadi seorang hamba Tuhan yang lebih efisien sepanjang sisa hidup saudara?

      [Kotak/Gambar di hlm. 216, 217]

      Gedung yang Digunakan Selama Masa Awal di Brooklyn

      Rumah Betel

      122-124 Columbia Heights

      Ruang makan di Rumah Betel

      Tabernakel

      Kantor-kantor, penyimpanan lektur, departemen pengiriman, peralatan ”typesetting”, dan sebuah auditorium dengan 800 tempat duduk ada di tempat ini, di 17 Hicks Street (digunakan dari tahun 1909 sampai 1918)

      Auditorium

      Percetakan yang Mula-Mula

      Anggota keluarga Betel yang bekerja di percetakan di Myrtle Avenue pada tahun 1920 (kanan)

      35 Myrtle Avenue (1920-22)

      18 Concord Street (1922-27)

      117 Adams Street (1927- )

      [Kotak/Gambar di hlm. 224, 225]

      Pengawas-Pengawas Keliling—Beberapa dari Ribuan yang Telah Melayani

      Kanada, 1905-33

      Inggris, 1920-32

      Finlandia, 1921-26, 1947-70

      Amerika Serikat, 1907-15

      Mengadakan perjalanan dari sidang ke sidang—

      Greenland

      Venezuela

      Lesotho

      Meksiko

      Peru

      Sierra Leone

      Akomodasi bergerak di Namibia

      Ikut serta bersama Saksi-Saksi setempat dalam dinas pengabaran di Jepang

      Bertemu dengan para penatua setempat di Jerman

      Menyediakan nasihat praktis bagi para perintis di Hawaii

      Mengajar sebuah sidang di Prancis

      [Kotak/Gambar di hlm. 229]

      Badan Hukum Masa Permulaan

      Zion’s Watch Tower Tract Society. Pertama-tama dibentuk pada tahun 1881 dan kemudian sah menjadi badan hukum di negara bagian Pennsylvania pada tanggal 15 Desember 1884. Pada tahun 1896 namanya diubah menjadi Watch Tower Bible and Tract Society. Sejak tahun 1955 ini dikenal sebagai Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania.

      Peoples Pulpit Association. Dibentuk pada tahun 1909 sehubungan dengan kepindahan kantor-kantor utama Lembaga ke Brooklyn, New York. Pada tahun 1939 namanya diubah menjadi Watchtower Bible and Tract Society, Inc. Sejak tahun 1956 ini dikenal sebagai Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.

      International Bible Students Association. Menjadi badan hukum di London, Inggris, pada tanggal 30 Juni 1914.

      Agar dapat memenuhi tuntutan hukum, badan-badan hukum lain telah dibentuk oleh Saksi-Saksi Yehuwa di banyak masyarakat dan negara. Akan tetapi, Saksi-Saksi Yehuwa tidak terpecah-pecah ke dalam organisasi nasional atau regional. Mereka merupakan persaudaraan sedunia yang terpadu.

      [Kotak di hlm. 234]

      ’Seperti Masyarakat Kristen yang Primitif’

      Publikasi keagamaan ”Interpretation” menyatakan pada bulan Juli 1956, ”Dalam organisasi dan pekerjaan kesaksian mereka, mereka [Saksi-Saksi Yehuwa] sangat mirip dengan kelompok masyarakat Kristen yang primitif. . . . Hanya sedikit kelompok lain yang menggunakan Alkitab secara ekstensif, secara lisan maupun tertulis seperti yang mereka lakukan dalam berita-berita mereka.”

      [Gambar di hlm. 210]

      Untuk menyediakan pengawasan yang lebih saksama, kantor-kantor cabang didirikan. Yang pertama di London, Inggris, di gedung ini

      [Gambar di hlm. 221]

      J. F. Rutherford pada tahun 1941. Para Saksi mengetahui bahwa ia bukan pemimpin mereka

      [Gambar di hlm. 226]

      John Booth, pengawas keliling di AS dari tahun 1936 hingga 1941

      [Gambar di hlm. 227]

      Carey Barber, yang distriknya mencakup bagian Amerika Serikat yang sangat luas

      [Gambar di hlm. 228]

      Saudara Knorr secara tetap tentu mengunjungi setiap cabang dan rumah utusan injil

      [Gambar di hlm. 230]

      Pengawas-pengawas utama dari cabang-cabang Lembaga telah dikumpulkan bersama untuk pelatihan khusus (New York, 1958)

      [Gambar di hlm. 231]

      Sekolah Pelayanan Kerajaan telah menyediakan instruksi berharga bagi para pengawas di seluruh dunia

      Sekolah Pelayanan Kerajaan di sebuah kamp pengungsi di Thailand, 1978; di Filipina, 1966 (kiri atas)

      [Gambar di hlm. 232]

      Instruksi-instruksi organisasi telah diterbitkan secara progresif (mula-mula dalam bahasa Inggris, kemudian dalam bahasa-bahasa lain) guna menyelaraskan kegiatan Saksi-Saksi dan untuk memberi tahu mereka semua tentang persediaan yang dibuat untuk membantu mereka dalam pelayanan mereka

  • Perhimpunan-Perhimpunan untuk Ibadat, Pengajaran, dan Anjuran
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 16

      Perhimpunan-Perhimpunan untuk Ibadat, Pengajaran, dan Anjuran

      PERHIMPUNAN-PERHIMPUNAN sidang merupakan bagian penting dari kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa. Bahkan dalam keadaan yang sangat sulit, mereka berupaya menghadiri perhimpunan secara tetap tentu, sesuai dengan anjuran Alkitab, ”Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibr. 10:24, 25) Sedapat mungkin, setiap sidang mengadakan perhimpunan tiga kali seminggu, seluruhnya 4 jam dan 45 menit. Akan tetapi, corak perhimpunan, maupun seberapa seringnya itu diadakan, bervariasi sesuai dengan kebutuhan pada waktu itu.

      Pada abad pertama, manifestasi dari karunia-karunia roh yang bersifat mukjizat merupakan ciri menonjol dari perhimpunan-perhimpunan Kristen. Mengapa? Karena dengan perantaraan karunia-karunia ini, Allah memberi kesaksian tentang fakta bahwa Ia tidak lagi menggunakan sistem agama Yahudi melainkan bahwa roh-Nya sekarang ada pada sidang Kristen yang baru terbentuk. (Kis. 2:1-21; Ibr. 2:2-4) Dalam perhimpunan-perhimpunan orang-orang Kristen masa awal itu, doa dipanjatkan, puji-pujian kepada Allah dinyanyikan, dan dititikberatkan hal bernubuat (yaitu, menyampaikan penyingkapan dari kehendak dan maksud-tujuan ilahi) dan hal memberi pengajaran yang akan membina mereka yang mendengarnya. Orang-orang Kristen tersebut hidup pada zaman ketika berlangsungnya perkembangan-perkembangan yang menakjubkan berkenaan maksud-tujuan Allah. Mereka perlu memahami hal-hal ini dan mengetahui bagaimana bekerja selaras dengan hal-hal tersebut. Akan tetapi, cara beberapa di antara mereka menangani berbagai hal di perhimpunan ternyata tidak seimbang, dan seperti diperlihatkan oleh Alkitab, nasihat diperlukan supaya segalanya dapat terlaksana dengan cara yang paling bermanfaat.—1 Kor. 14:1-40.

      Apakah ciri-ciri yang khas dari perhimpunan-perhimpunan umat Kristen masa awal tersebut juga terlihat ketika Siswa-Siswa Alkitab berhimpun bersama pada tahun 1870-an dan sesudahnya?

      Memenuhi Kebutuhan Rohani Siswa-Siswa Alkitab Masa Permulaan

      Charles Taze Russell dan sekelompok kecil rekan-rekan di dan sekitar Allegheny, Pennsylvania, membentuk sebuah kelas untuk pengajaran Alkitab pada tahun 1870. Sebagai hasil dari perhimpunan-perhimpunan mereka, secara bertahap mereka bertumbuh dalam kasih akan Allah dan Firman-Nya dan secara progresif mulai mengetahui apa yang diajarkan oleh Alkitab itu sendiri. Tidak ada karunia lidah secara mukjizat pada perhimpunan-perhimpunan ini. Mengapa tidak? Karunia-karunia mukjizat demikian telah mencapai tujuannya pada abad pertama, dan seperti telah dinubuatkan oleh Alkitab, karunia-karunia tersebut telah berhenti. ”Langkah maju berikutnya,” ulas Saudara Russell, ”adalah manifestasi buah-buah Roh, seperti dengan jelas sekali dikemukakan oleh St. Paulus.” (1 Kor. 13:4-10) Lagi pula, seperti juga pada abad pertama, ada pekerjaan penginjilan yang mendesak yang harus dilakukan, dan untuk hal ini mereka perlu dianjurkan. (Ibr. 10:24, 25) Tidak lama kemudian, mereka mengadakan dua perhimpunan secara tetap tentu setiap minggu.

      Saudara Russell menyadari pentingnya hamba-hamba Yehuwa menjadi umat yang dipersatukan, tidak soal di mana pun mereka tersebar di seluruh bumi. Maka, pada tahun 1879, tidak lama sesudah Watch Tower mulai diterbitkan, para pembacanya diundang untuk mengajukan permohonan agar Saudara Russell atau salah seorang rekannya mengunjungi mereka. Suatu ketentuan yang jelas dinyatakan adalah ”Tidak dikenakan biaya maupun dipungut bayaran”. Sesudah sejumlah permohonan masuk, Saudara Russell mulai mengadakan perjalanan selama sebulan sampai sejauh Lynn, Massachusetts, dengan mengadakan perhimpunan-perhimpunan selama empat hingga enam jam sehari di setiap perhentian. Pokok yang ditonjolkan ialah ”Hal-hal yang Berhubungan Dengan Kerajaan Allah”.

      Pada awal tahun 1881, Saudara Russell mendesak para pembaca Watch Tower yang hingga waktu itu belum menyelenggarakan perhimpunan secara tetap tentu di daerah mereka, ”Bentuklah perhimpunan di rumah saudara sendiri dengan keluarga saudara sendiri, atau bahkan dengan beberapa orang yang mungkin berminat. Baca, belajar, memuji dan beribadatlah bersama-sama, dan di tempat dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya, Tuhan akan berada di tengah-tengah saudara—guru saudara. Demikianlah ciri dari beberapa perhimpunan gereja di zaman para Rasul. (Lihat Filemon, 2).”

      Acara perhimpunan berkembang secara bertahap. Saran-saran diajukan, tetapi terserah masing-masing kelompok setempat untuk memutuskan apa yang terbaik sesuai keadaan mereka. Seorang pembicara sewaktu-waktu menyampaikan khotbah, tetapi perhimpunan-perhimpunan dengan setiap orang dapat berpartisipasi secara bebas lebih ditekankan. Beberapa kelompok Siswa-Siswa Alkitab pada mulanya tidak banyak menggunakan publikasi Lembaga dalam perhimpunan-perhimpunan mereka, tetapi para rohaniwan keliling, para musafir, membantu mereka untuk melihat nilai dari melakukan hal itu.

      Sesudah beberapa jilid Millennial Dawn (Fajar Milenium) diterbitkan, buku-buku ini mulai digunakan sebagai dasar untuk pelajaran. Pada tahun 1895, kelompok-kelompok pengajaran itu mulai dikenal sebagai ”Dawn Circles for Bible Study”a (Kumpulan Fajar untuk Pengajaran Alkitab). Beberapa orang di Norwegia kemudian menyebutnya sebagai ”pertemuan-pertemuan membaca dan bercakap-cakap”, menambahkan, ”Kutipan dari buku-buku Saudara Russell dibacakan dengan suara keras, dan bila orang-orang mempunyai komentar atau pertanyaan, mereka mengacungkan tangan.” Saudara Russell menganjurkan agar pada pengajaran-pengajaran demikian para peserta menggunakan berbagai terjemahan Kitab Suci, referensi pinggir, dan konkordansi Alkitab. Pengajaran-pengajaran itu sering diadakan dalam kelompok yang berukuran sedang, di rumah pribadi, pada malam hari yang cocok untuk para peserta. Ini memelopori apa yang dewasa ini disebut Pelajaran Buku Sidang.

      Saudara Russell menyadari bahwa lebih banyak yang diperlukan daripada sekadar menyelidiki soal-soal doktrin. Harus ada juga ungkapan-ungkapan pengabdian supaya hati orang-orang akan tergerak oleh penghargaan akan kasih Allah dan oleh keinginan untuk menghormati dan melayani Dia. Kelas-kelas itu dianjurkan untuk menyelenggarakan perhimpunan khusus untuk maksud ini satu kali seminggu. Perhimpunan-perhimpunan ini kadang-kadang disebut ”Cottage Meetings” (Perhimpunan Pondok) karena diadakan di rumah-rumah pribadi. Acaranya mencakup doa, kidung pujian, dan kesaksian pribadi yang disampaikan oleh mereka yang hadir.b Kesaksian ini kadang-kadang berupa pengalaman yang menganjurkan; termasuk juga pencobaan, kesulitan, dan kebingungan yang dihadapi selama hari-hari yang baru dilalui. Di beberapa tempat perhimpunan-perhimpunan ini sangat menyimpang dari tujuannya karena terlalu menitikberatkan pada diri sendiri. Dengan ramah saran-saran untuk perbaikan dikemukakan dalam The Watch Tower.

      Mengingat kembali perhimpunan-perhimpunan tersebut, Edith Brenisen, istri dari salah seorang musafir masa permulaan di Amerika Serikat, berkata, ”Itu merupakan malam untuk merenungkan pemeliharaan Yehuwa yang pengasih dan untuk bergaul akrab dengan para saudara dan saudari kita. Seraya kami mendengarkan beberapa pengalaman mereka kami dapat mengenal mereka lebih baik. Dengan mengamati kesetiaan mereka, dan melihat bagaimana mereka mengatasi kesulitan-kesulitan, kami sering kali dibantu untuk menanggulangi beberapa kerisauan kami.” Akan tetapi, pada waktunya menjadi nyata bahwa perhimpunan yang dirancang guna memperlengkapi setiap orang ikut dalam pekerjaan penginjilan adalah lebih bermanfaat.

      Cara perhimpunan hari Minggu diselenggarakan di beberapa tempat menjadi perhatian para saudara. Beberapa kelompok berusaha membahas Alkitab ayat demi ayat. Namun kadang-kadang perbedaan pendapat mengenai artinya menjadi sama sekali tidak membina. Untuk memperbaiki keadaan, saudara-saudara tertentu di sidang Los Angeles, Kalifornia, memperkembangkan rangka-rangka topik untuk pelajaran Alkitab, dengan pertanyaan-pertanyaan dan acuan untuk diperiksa oleh seluruh kelompok sebelum datang ke perhimpunan. Pada tahun 1902 Lembaga menyediakan sebuah Alkitab yang berisi ”Alat-Alat Bantu Pelajaran Alkitab Berea”, termasuk sebuah indeks topik.c Untuk lebih memudahkan, mulai dalam Watch Tower 1 Maret 1905, rangka-rangka untuk pembahasan sidang diterbitkan, dengan pertanyaan maupun acuan ke Alkitab dan publikasi-publikasi Lembaga sebagai bahan untuk riset. Ini berlangsung hingga tahun 1914, dan pada waktu itu soal-soal pelajaran mengenai jilid-jilid Studies in the Scriptures diterbitkan untuk digunakan sebagai dasar untuk Pelajaran Berea.

      Semua kelompok memiliki bahan yang sama, tetapi jumlah perhimpunan mingguan bervariasi antara satu hingga empat atau lebih, sesuai dengan pengaturan setempat. Di Kolombo, Sailan (sekarang Sri Lanka), mulai tahun 1914, perhimpunan benar-benar diadakan tujuh hari seminggu.

      Siswa-Siswa Alkitab dianjurkan untuk belajar mengadakan riset, untuk ”membuktikan segala sesuatu”, untuk menyatakan buah pikiran dengan kata-kata mereka sendiri. (1 Tes. 5:21, KJ) Saudara Russell menganjurkan pembahasan bahan pelajaran secara lengkap dan bebas. Ia juga memperingatkan, ”Jangan sekali-kali lupa bahwa Alkitab adalah Standar kita dan bahwa walaupun bantuan merupakan karunia Allah, hal tersebut tetap merupakan ’bantuan’ dan bukan pengganti Alkitab.”

      Peringatan Kematian Tuhan

      Mulai kira-kira tahun 1876, penyelenggaraan diadakan setiap tahun oleh Siswa-Siswa Alkitab untuk memperingati kematian Tuhan.d Mula-mula, kelompok di Pittsburgh, Pennsylvania, dan sekitarnya berhimpun di rumah salah seorang saudara. Sampai tahun 1883, jumlah hadirin telah meningkat menjadi kira-kira seratus di sana, dan sebuah balai yang disewa digunakan. Untuk menampung hadirin dalam jumlah besar yang diharapkan hadir di Pittsburgh pada tahun 1905, saudara-saudara memutuskan untuk menggunakan Carnegie Hall yang luas.

      Siswa-Siswa Alkitab menyadari bahwa ini merupakan peringatan tahunan, bukan sesuatu yang harus dilakukan setiap minggu. Tanggal yang mereka peringati sesuai dengan 14 Nisan di kalender Yahudi, saat Yesus wafat. Seraya tahun-tahun berlalu, beberapa pemurnian diadakan mengenai cara tanggal tersebut dihitung.e Tetapi yang terutama diperhatikan adalah makna dari peristiwa itu sendiri.

      Walaupun untuk peringatan ini Siswa-Siswa Alkitab berhimpun dalam kelompok dengan jumlah hadirin yang bervariasi di banyak tempat, siapa pun yang dapat bergabung dengan saudara-saudara di Pittsburgh disambut dengan tangan terbuka. Dari tahun 1886 hingga 1893, para pembaca Watch Tower teristimewa diundang untuk datang ke Pittsburgh, jika mungkin, dan mereka datang, dari berbagai bagian Amerika Serikat dan dari Kanada. Dengan demikian mereka tidak saja dapat merayakan Peringatan bersama-sama tetapi juga membantu mereka untuk memperkokoh ikatan persatuan rohani. Namun, dengan meningkatnya jumlah kelas di Amerika Serikat maupun di bagian lain dari dunia, tidak lagi praktis untuk mencoba berhimpun di satu lokasi, dan mereka menyadari bahwa lebih banyak hal baik akan dicapai dengan berhimpun bersama rekan-rekan seiman di daerah sekitar rumah.

      Sebagaimana dikemukakan oleh Watch Tower, ada banyak yang mengaku percaya kepada tebusan, dan tidak satu pun di antara mereka tidak diperbolehkan mengikuti peringatan tahunan. Tetapi peristiwa itu memiliki makna khusus bagi mereka yang sungguh-sungguh menjadi bagian dari ”kawanan kecil” milik Kristus. Mereka inilah yang akan ambil bagian di dalam Kerajaan surgawi. Pada malam sebelum kematian Yesus, ketika ia mulai menyelenggarakan Peringatan, kepada orang-orang yang menerima harapan demikianlah Kristus berkata, ”[Teruslah, NW] perbuat ini menjadi peringatan akan Aku.”—Luk. 12:32; 22:19, 20, 28-30.

      Teristimewa mulai tahun 1930-an, calon-calon anggota dari ”perhimpunan besar” atau ”kumpulan besar” dari domba-domba lain, mulai muncul. (Why. 7:9, 10, KJ; Yoh. 10:16) Waktu itu mereka disebut kaum Yonadab. Untuk pertama kali, dalam terbitan 15 Februari 1938, The Watchtower secara khusus mengundang mereka untuk hadir pada Peringatan ini, bunyinya, ”Sesudah jam enam petang pada tanggal 15 April hendaklah setiap kompi dari kaum terurap berhimpun dan merayakan Peringatan, dan rekan-rekan mereka kaum Yonadab juga hadir.” Mereka memang hadir, bukan sebagai peserta yang ambil bagian, tetapi sebagai pengamat. Dengan kehadiran mereka, jumlah yang hadir pada Peringatan kematian Kristus membengkak. Pada tahun 1938, jumlah hadirin adalah 73.420, sedangkan mereka yang mengambil bagian dari roti dan anggur lambang berjumlah 39.225. Pada tahun-tahun berikutnya, mereka yang hadir sebagai pengamat juga mulai mencakup sejumlah besar orang yang baru berminat dan orang-orang lain yang belum menjadi Saksi-Saksi Yehuwa yang aktif. Maka, pada tahun 1992, puncak dari jumlah mereka yang ikut serta dalam dinas pengabaran adalah 4.472.787, jumlah hadirin pada Peringatan adalah 11.431.171, dan jumlah mereka yang mengambil bagian dari lambang-lambang hanyalah 8.683. Di beberapa negeri angka hadirin adalah sebanyak lima atau enam kali jumlah Saksi-Saksi yang aktif.

      Karena penghargaan mereka yang dalam akan makna kematian Kristus, Saksi-Saksi Yehuwa memperingati Peringatan itu bahkan ketika mereka harus menghadapi keadaan-keadaan yang sangat sulit. Selama tahun 1970-an, sewaktu jam malam masa perang berlaku di Rhodesia (kini Zimbabwe), sehingga mustahil untuk keluar pada malam hari, saudara-saudara di beberapa daerah semua berkumpul di rumah salah seorang Saksi-Saksi Yehuwa sejak siang hari dan kemudian merayakan Peringatan itu pada malam hari. Tentu saja, mereka tidak bisa pulang sesudah perhimpunan, jadi mereka menginap. Mereka menggunakan jam-jam selebihnya pada malam itu untuk menyanyikan lagu-lagu Kerajaan dan menceritakan pengalaman-pengalaman, yang menjadi sumber penyegaran tambahan.

      Di kamp-kamp konsentrasi selama Perang Dunia II, Peringatan ini dirayakan, walaupun melakukannya dapat mengakibatkan hukuman berat jika diketahui oleh para penjaga. Sewaktu diasingkan dalam penjara di Cina Komunis dari tahun 1958 hingga 1963 karena iman Kristennya, Harold King merayakan Peringatan itu sebisa-bisanya sejauh keadaannya mengizinkan. Belakangan ia berkata, ”Dari jendela penjara, saya mengamati bulan semakin penuh menjelang awal musim semi. Secermat mungkin saya menghitung tanggal perayaan.” Ia membuat seadanya lambang-lambang yang diperlukan, dengan membuat sedikit anggur dari kismis hitam dan menggunakan nasi, yang adalah tidak beragi, untuk roti. Ia juga berkata, ”Saya menyanyi dan berdoa dan menyampaikan khotbah sebagaimana lazimnya untuk peristiwa itu, sebagaimana halnya dilakukan di sidang mana pun dari umat Yehuwa. Maka saya merasakan bahwa tiap-tiap tahun saya dipersatukan dengan saudara-saudara saya di seluruh dunia pada peristiwa yang paling penting ini.”

      Tempat Anak-Anak Muda Ikut Berperan

      Selama tahun-tahun permulaan, publikasi dan perhimpunan Siswa-Siswa Alkitab tidak khusus memberi perhatian kepada kebutuhan kaum muda. Mereka dapat menghadiri perhimpunan, dan beberapa di antara mereka melakukannya dan mendengarkan dengan sepenuh hati. Tetapi tidak ada upaya khusus untuk melibatkan mereka dengan apa yang berlangsung. Mengapa tidak?

      Pengertian saudara-saudara pada waktu itu ialah bahwa hanya sedikit sekali waktu yang tersisa sampai semua anggota pengantin Kristus akan dipersatukan dengan dia dalam kemuliaan surgawi. Watch Tower, pada tahun 1883, menjelaskan, ”Kita yang sedang dalam pelatihan untuk panggilan dari atas tidak dapat berpaling dari pekerjaan khusus dalam kurun waktu ini—pekerjaan mempersiapkan ’Sang Pengantin Perempuan, istri Anak Domba’. Sang Pengantin Perempuan harus menyiapkan diri; dan tepat pada saat sekarang, tatkala sentuhan terakhir dari dandanan sedang dikenakan sebagai persiapan untuk perkawinan, dinas setiap anggota dituntut dalam pekerjaan sekarang yang teramat penting ini.”

      Para orang-tua sangat didesak untuk memikul tanggung jawab mereka sendiri yang diberikan oleh Allah untuk memelihara anak-anak mereka dengan memberikan pengajaran rohani. Mengadakan sekolah-sekolah Minggu yang terpisah untuk anak-anak tidaklah dianjurkan. Jelas bahwa penggunaan sekolah Minggu oleh Susunan Kristen telah menimbulkan banyak kerugian. Orang-tua yang mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah demikian sering kali berpandangan bahwa penyelenggaraan ini membebaskan mereka dari tanggung jawab memberikan pengajaran rohani kepada anak-anak mereka. Sebaliknya, bagi anak-anak sendiri, karena mereka tidak memandang orang-tua sebagai sumber utama pengajaran tentang Allah, mereka tidak tergerak untuk menghormati orang-tua dan mematuhi mereka sebagaimana sepatutnya.

      Akan tetapi, dari tahun 1892 sampai 1927, Watch Tower memang menyisihkan tempat untuk komentar mengenai ayat yang dibahas dalam ”Pelajaran Sekolah Minggu Internasional” yang pada saat itu populer di banyak gereja Protestan. Ayat-ayat ini selama bertahun-tahun dipilih oleh F. N. Peloubet, seorang pemimpin agama Kongregasional, dan rekan-rekannya. Watch Tower membahas ayat-ayat ini dari sudut pandangan pengertian Siswa-Siswa Alkitab yang lebih maju mengenai Alkitab, bebas dari kredo-kredo Susunan Kristen. Diharapkan bahwa dengan cara ini Watch Tower dapat diperkenalkan masuk ke dalam beberapa gereja, sehingga dengan demikian kebenaran dikemukakan, dan beberapa jemaat gereja dapat menerimanya. Tentu saja, perbedaannya mencolok, dan hal ini menimbulkan kemarahan para pemimpin agama Protestan.

      Tibalah tahun 1918, kaum sisa, atau yang masih tinggal dari kaum terurap, masih berada di bumi. Jumlah anak-anak di perhimpunan mereka juga telah sangat bertambah. Sering kali anak-anak itu dibiarkan saja bermain-main seraya orang-tua mereka belajar. Namun, anak-anak juga perlu belajar untuk ’mencari keadilan, mencari kerendahan hati’, supaya mereka ’terlindung pada hari kemurkaan TUHAN’. (Zef. 2:3, KJ) Maka, pada tahun 1918, Lembaga menganjurkan sidang-sidang untuk menyelenggarakan kelas untuk anak-anak muda yang berusia antara 8 hingga 15 tahun. Di beberapa tempat bahkan ada kelas dasar anak-anak bagi mereka yang masih terlalu muda untuk mengikuti kelas anak-anak muda. Pada waktu yang sama, tanggung jawab orang-tua terhadap anak-anak kembali ditandaskan.

      Ini membawa kepada perkembangan-perkembangan lain. The Golden Age, pada tahun 1920, memuat sebuah artikel berjudul ”Pengajaran Alkitab Bagi Anak-Anak Muda”, dengan pertanyaan-pertanyaan yang disertai kutipan-kutipan Alkitab sebagai jawabannya. Pada tahun yang sama, The Golden Age ABC diterbitkan; ini merupakan buku kecil bergambar untuk digunakan oleh orang-tua dalam mengajarkan kebenaran-kebenaran dasar Alkitab dan sifat-sifat Kristen kepada anak-anak mereka. Sebuah buku berjudul The Way to Paradise (Jalan Menuju Firdaus), ditulis oleh W. E. Van Amburgh, menyusul pada tahun 1924. Buku ini disesuaikan bagi ”siswa-siswa Alkitab tingkat menengah”. Selama beberapa waktu, buku tersebut digunakan dalam perhimpunan untuk anak muda. Selain itu, di Amerika, ”Saksi-Saksi Muda” mengadakan penyelenggaraan sendiri untuk dinas pengabaran. Di Swiss, sekelompok kaum muda membentuk suatu perkumpulan yang disebut ”Kaum Muda Yehuwa”, bagi mereka yang berusia antara 13 dan 25 tahun. Mereka mempunyai kantor sekretaris sendiri di Berne, dan sebuah majalah khusus, Jehovah’s Youth (Kaum Muda Yehuwa), diedit dan dicetak dengan mesin-mesin cetak Lembaga di sana. Kaum muda ini mengadakan perhimpunan mereka sendiri dan bahkan mementaskan drama-drama Alkitab, seperti yang mereka lakukan di gedung Volkshaus di Zurich untuk hadirin sebanyak 1.500 orang.

      Akan tetapi, apa yang terjadi adalah bahwa sebuah organisasi berkembang di dalam organisasi hamba-hamba Yehuwa. Hal ini tidak akan menyumbang kepada persatuan, dan penyelenggaraan tersebut dihentikan pada tahun 1936. Pada bulan April 1938, selama suatu kunjungan ke Australia, J. F. Rutherford, presiden Lembaga mendapati bahwa suatu kelas untuk anak-anak diadakan terpisah dari kebaktian untuk orang dewasa. Ia segera mengatur agar semua anak dibawa ke kebaktian utama, yang ternyata sangat bermanfaat bagi mereka.

      Pada tahun yang sama, The Watchtower meninjau kembali seluruh persoalan mengenai kelas terpisah bagi kaum muda di dalam sidang. Penelitian tersebut kembali menandaskan fakta bahwa orang-tua bertanggung jawab untuk mengajar anak-anak mereka sendiri. (Ef. 6:4; bandingkan Ulangan 4:9, 10; Yeremia 35:6-10.) Penelitian itu juga memperlihatkan bahwa Alkitab tidak memberikan preseden untuk memisahkan anak-anak melalui sarana kelas-kelas anak muda. Sebaliknya, mereka harus hadir bersama orang-tua mereka untuk mendengarkan Firman Allah. (Ul. 31:12, 13; Yos. 8:34, 35) Sewaktu diperlukan penjelasan lebih lanjut mengenai bahan pengajaran, hal ini dapat diberikan oleh orang-tua di rumah. Selanjutnya, artikel-artikel itu menjelaskan bahwa penyelenggaraan untuk kelas-kelas terpisah demikian sesungguhnya mengalihkan perhatian dari pemberitaan kabar baik dari rumah ke rumah. Dengan cara bagaimana? Karena para pengajar tidak lagi mendukung dinas pengabaran agar dapat mempersiapkan kelas-kelas ini dan memimpinnya. Maka, semua kelas terpisah untuk kaum muda dihentikan.

      Sampai saat ini juga, tetap menjadi kebiasaan di antara Saksi-Saksi Yehuwa untuk mengajak seluruh keluarga menghadiri perhimpunan-perhimpunan sidang bersama-sama. Anak-anak dibantu oleh orang-tua mereka untuk mengadakan persiapan agar mereka dapat berpartisipasi dengan cara yang patut. Tambahan pula, serangkaian publikasi yang bagus telah disediakan bagi orang-tua untuk digunakan dalam mengajar anak-anak di rumah. Di antaranya ialah buku Children, pada tahun 1941; Mendengar kepada Guru yang Agung (dalam bahasa Inggris), pada tahun 1971; Masa Remaja—Manfaatkanlah Sebaik-baiknya (dalam bahasa Inggris), pada tahun 1976; Buku Cerita Alkitab (dalam bahasa Inggris), pada tahun 1978; dan Pertanyaan Kaum Muda—Jawaban yang Praktis, pada tahun 1989.

      Memperlengkapi Semua untuk Menjadi Penginjil yang Aktif

      Sejak terbitnya nomor-nomor pertama dari Watch Tower, para pembacanya secara tetap tentu diingatkan mengenai hak istimewa dan tanggung jawab semua orang Kristen sejati untuk memberitakan kabar baik tentang maksud-tujuan Allah. Perhimpunan-perhimpunan sidang telah membantu menyiapkan hati dan pikiran mereka untuk kegiatan ini dengan membina kasih mereka akan Yehuwa dan pengetahuan mereka mengenai maksud-tujuan-Nya. Akan tetapi, khususnya setelah kebaktian di Cedar Point, Ohio, pada tahun 1922, perhatian yang lebih besar diberikan kepada apa yang dihasilkan dalam dinas pengabaran dan bagaimana ambil bagian di dalamnya secara effektif.

      Bulletin,f sebuah brosur berisikan informasi yang langsung berkaitan dengan dinas pengabaran, memuat suatu kesaksian singkat, pada waktu itu disebut ”canvass” (penawaran kepada orang-orang), yang dimaksudkan untuk dihafalkan dan digunakan pada saat memberi kesaksian kepada orang-orang. Untuk menggerakkan upaya terpadu dalam memberitakan Kerajaan selama hampir seluruh tahun 1923, pada hari pertama setiap bulan, setengah dari acara Perhimpunan Doa, Puji-Pujian, dan Kesaksian yang diadakan pada hari Rabu malam, disisihkan untuk kesaksian tentang dinas pengabaran.

      Setidaknya sampai tahun 1926, perhimpunan-perhimpunan bulanan yang membahas dinas pengabaran dinamakan Perhimpunan Para Pekerja. Mereka yang benar-benar mengambil bagian dalam dinas demikianlah yang biasanya hadir. Dalam perhimpunan-perhimpunan ini, metode-metode untuk bersaksi kepada orang lain dibahas, dan rencana untuk kegiatan yang akan datang disusun. Menjelang tahun 1928 Lembaga mendesak sidang-sidang untuk mengadakan perhimpunan demikian setiap pekan. Empat tahun setelahnya, sidang-sidang mulai menggantikan Perhimpunan Kesaksian (atau, Perhimpunan Deklarasi) dengan apa yang akhirnya dinamakan Perhimpunan Dinas, dan Lembaga menganjurkan semua untuk hadir. Selama lebih dari 60 tahun, perhimpunan mingguan ini telah diadakan oleh sidang-sidang. Melalui khotbah, pembahasan yang melibatkan partisipasi hadirin, pertunjukan, dan wawancara, bantuan spesifik diberikan sehubungan dengan segala segi pelayanan Kristen.

      Perhimpunan semacam ini pasti tidak dimulai pada abad ke-20. Yesus sendiri memberikan instruksi-instruksi terperinci kepada murid-muridnya sebelum mengutus mereka untuk mengabar. (Mat. 10:5-11:1; Luk. 10:1-16) Belakangan, mereka membina satu sama lain dengan berhimpun guna menceritakan pengalaman-pengalaman yang mereka alami selama ambil bagian dalam pelayanan.—Kis. 4:21-31; 15:3.

      Mengenai pelatihan untuk berbicara di muka umum, pada tahun-tahun permulaan hal ini tidak dilakukan di perhimpunan-perhimpunan sidang yang lazim. Akan tetapi, setidaknya sampai tahun 1916, diusulkan bahwa mereka yang sedikit banyak merasa mempunyai kesanggupan sebagai pembicara umum dapat mengadakan pertemuan di antara mereka sendiri, mungkin dengan seorang penatua hadir sebagai moderator untuk mendengarkan mereka dan memberikan nasihat untuk perbaikan dalam hal isi dan penyampaian khotbah mereka. Pertemuan-pertemuan ini yang hanya dihadiri oleh kaum pria di dalam sidang di kemudian hari dikenal sebagai Sekolah Para Nabi. Sewaktu meninjau kembali peristiwa-peristiwa pada masa itu, Grant Suiter mengenang, ”Kritik membangun yang saya peroleh di sekolah belum apa-apa dibanding dengan apa yang saya secara pribadi terima dari ayah saya sesudah ia menghadiri salah satu acara perhimpunan untuk mendengarkan saya berupaya menyampaikan khotbah.” Untuk membantu mereka yang berupaya membuat kemajuan, saudara-saudara menyusun dan mencetak sendiri sebuah buku pedoman mengenai cara-cara berbicara, disertai rangka-rangka untuk berbagai khotbah. Akan tetapi, pada waktunya, Sekolah Para Nabi ini dihentikan. Untuk memenuhi kebutuhan khusus yang ada pada waktu itu, perhatian penuh difokuskan kepada hal memperlengkapi setiap anggota sidang untuk ambil bagian sepenuhnya dalam penginjilan dari rumah ke rumah.

      Apakah mungkin untuk memperlengkapi setiap anggota dari organisasi internasional yang sedang bertumbuh ini, bukan saja untuk memberikan kesaksian singkat dan menawarkan lektur Alkitab, melainkan juga untuk berbicara secara efektif dan menjadi pengajar Firman Allah? Itulah tujuan dari sebuah sekolah khusus yang didirikan di tiap sidang Saksi-Saksi Yehuwa sejak tahun 1943. Sekolah ini sudah berjalan di kantor pusat sedunia dari Saksi-Saksi Yehuwa sejak Februari tahun 1942. Setiap pekan petunjuk-petunjuk diberikan, dan para siswa menyampaikan khotbah dan diberi nasihat mengenainya. Mula-mula, hanya pria yang memberikan khotbah di sekolah, walaupun seluruh sidang dianjurkan untuk hadir, mempersiapkan pelajaran, dan ambil bagian dalam tinjauan kembali. Pada tahun 1959, saudari-saudari juga mendapat hak istimewa untuk mendaftarkan diri, untuk pelatihan dalam hal membahas pokok-pokok Alkitab dengan adegan dua orang saudari yang saling berhadapan muka.

      Mengenai dampak sekolah ini, cabang Lembaga Menara Pengawal di Afrika Selatan melaporkan, ”Penyelenggaraan yang sangat bagus ini dalam waktu singkat berhasil membantu banyak saudara yang dahulu mengira tidak akan pernah menjadi pembicara di muka umum, menjadi sangat efisien di mimbar dan lebih efektif di lapangan. Di seluruh Afrika Selatan saudara-saudara menyambut persediaan Yehuwa yang baru ini dan mulai menjalankannya dengan penuh semangat. Hal ini dilakukan meskipun sejumlah saudara mengalami hambatan besar karena bahasa dan kurangnya pendidikan.”

      Sekolah Pelayanan Teokratis terus menjadi perhimpunan yang penting di dalam sidang Saksi-Saksi Yehuwa. Hampir semua yang sanggup melakukannya didaftarkan. Saksi-Saksi baru, tua dan muda, dan mereka yang memiliki banyak pengalaman ikut serta. Ini merupakan program pendidikan yang berkesinambungan.

      Khalayak Umum Diundang untuk Melihat dan Mendengar

      Saksi-Saksi Yehuwa sama sekali bukan suatu perkumpulan rahasia. Kepercayaan mereka yang berdasarkan Alkitab dijelaskan sepenuhnya dalam publikasi-publikasi yang tersedia bagi siapa saja. Tambahan pula, mereka mengerahkan upaya khusus untuk mengundang khalayak umum agar menghadiri perhimpunan-perhimpunan guna melihat dan mendengar sendiri apa yang berlangsung.

      Yesus Kristus memberikan petunjuk secara pribadi kepada murid-muridnya, tetapi ia juga berbicara di depan umum—di tepi pantai, di lereng gunung, dalam sinagoge, dalam kompleks bait di Yerusalem—tempat orang banyak dapat mendengar. (Mat. 5:1, 2; 13:1-9; Yoh. 18:20) Dalam meniru hal ini, sudah sejak tahun 1870-an, Siswa-Siswa Alkitab mulai menyelenggarakan perhimpunan-perhimpunan tempat teman-teman dan tetangga-tetangga dan orang-orang lain yang mungkin berminat dapat mendengar khotbah tentang maksud-tujuan Allah bagi umat manusia.

      Upaya khusus dilakukan agar khotbah-khotbah ini disampaikan di tempat-tempat yang cocok untuk umum. Ini dikenal sebagai pekerjaan pengembangan kelas. Pada tahun 1911, sidang-sidang yang mempunyai cukup pengkhotbah yang berbakat dianjurkan untuk mengatur agar beberapa dari mereka pergi ke kota dan desa di sekitarnya, untuk menyelenggarakan perhimpunan-perhimpunan di gedung-gedung pertemuan umum. Di tempat-tempat yang memungkinkan, mereka menyelenggarakan suatu rangkaian enam khotbah. Pada penutup khotbah terakhir, pembicara bertanya tentang berapa banyak di antara hadirin yang merasa cukup berminat akan pengajaran Alkitab dan ingin berkumpul bersama secara tetap tentu. Lebih dari 3.000 khotbah demikian diadakan pada tahun pertama.

      Mulai tahun 1914, ”Drama-Foto Penciptaan” juga dipertunjukkan kepada umum. Saudara-saudara menyelenggarakannya secara gratis. Sejak itu, mereka telah mempertunjukkan film-film dan pertunjukan slide lainnya. Mulai tahun 1920-an, penggunaan radio secara meluas oleh Lembaga Menara Pengawal memungkinkan orang-orang untuk mendengarkan khotbah Alkitab di rumah mereka sendiri. Kemudian, pada tahun 1930-an, khotbah-khotbah yang disampaikan oleh J. F. Rutherford direkam dan diperdengarkan di ribuan pertemuan umum.

      Menjelang tahun 1945, ada sejumlah besar pembicara umum yang telah dilatih di Sekolah Pelayanan Teokratis. Pada bulan Januari tahun itu, suatu kampanye perhimpunan umum yang terkoordinasi dengan baik dilancarkan. Lembaga menyediakan rangka-rangka untuk suatu rangkaian delapan khotbah yang tepat waktu. Surat selebaran, dan kadang-kadang plakat, digunakan untuk menyampaikan pengumuman. Selain menggunakan tempat-tempat perhimpunan sidang yang lazim, saudara-saudara mengerahkan upaya khusus untuk menyelenggarakan perhimpunan umum ini di daerah-daerah yang belum ada sidang. Semua di dalam sidang dapat mengambil bagian—dengan mengundang orang untuk datang ke perhimpunan, dengan secara pribadi mendukungnya, maupun dengan menyambut orang-orang baru dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Selama tahun pertama kegiatan istimewa ini ada 18.646 perhimpunan umum yang diselenggarakan di Amerika Serikat, dengan total hadirin 917.352 orang. Tahun berikutnya jumlah perhimpunan umum meningkat menjadi 28.703 di ladang Amerika. Di Kanada, pada tahun 1945 diselenggarakan 2.552 perhimpunan demikian, 4.645 pada tahun berikutnya.

      Di kebanyakan sidang Saksi-Saksi Yehuwa, Perhimpunan Umum sekarang merupakan bagian dari jadwal perhimpunan mingguan yang tetap. Perhimpunan-perhimpunan umum ini berupa sebuah khotbah, dan selama khotbah itu setiap orang dianjurkan untuk membuka ayat-ayat kunci dalam Alkitab seraya ini dibacakan dan dibahas. Perhimpunan-perhimpunan ini merupakan sumber pengajaran rohani yang limpah bagi sidang maupun orang-orang baru.

      Orang-orang yang menghadiri perhimpunan Saksi-Saksi Yehuwa untuk pertama kali sering kali merasa heran bercampur senang. Seorang politikus terkemuka di Zimbabwe mengunjungi sebuah Balai Kerajaan untuk mencari tahu apa yang berlangsung di sana. Ia seorang yang berwatak keras, dan ia sengaja pergi ke sana tanpa bercukur dulu dan tidak menyisir rambutnya. Ia mengira bahwa para Saksi akan mengusirnya ke luar. Ternyata sebaliknya, mereka menunjukkan minat yang tulus kepadanya dan menganjurkan dia untuk menerima pengajaran Alkitab di rumah. Sekarang ia seorang Saksi Kristen yang rendah hati dan suka damai.

      Ada jutaan orang yang karena telah menghadiri perhimpunan-perhimpunan Saksi-Saksi Yehuwa tergerak untuk berkata, ”Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.”—1 Kor. 14:25.

      Tempat yang Cocok untuk Berhimpun

      Pada zaman para rasul Yesus Kristus, umat Kristen sering kali mengadakan perhimpunan mereka di rumah-rumah pribadi. Di beberapa tempat mereka dapat berbicara di sinagoge Yahudi. Di Efesus selama dua tahun rasul Paulus menyampaikan khotbah-khotbah di sebuah auditorium sekolah. (Kis. 19:8-10; 1 Kor. 16:19; Flm. 1, 2) Serupa dengan itu, pada bagian akhir dari abad ke-19, Siswa-Siswa Alkitab berhimpun di rumah-rumah pribadi, kadang-kadang berbicara di kapel-kapel gereja, dan menggunakan balai-balai lain yang dapat disewa. Dalam beberapa kesempatan, mereka kemudian membeli gedung yang dahulunya digunakan oleh kelompok agama lain dan menggunakannya secara tetap tentu. Demikianlah halnya dengan Tabernakel Brooklyn dan Tabernakel London.

      Tetapi mereka tidak memerlukan dan juga tidak menginginkan gedung yang penuh hiasan untuk perhimpunan mereka. Beberapa sidang membeli dan memugar bangunan yang cocok; sidang-sidang lain membangun balai-balai yang baru. Setelah tahun 1935 nama Balai Kerajaan secara bertahap mulai digunakan untuk menunjukkan tempat ini sebagai tempat perhimpunan sidang. Balai-balai ini biasanya tampak menarik tetapi tidak mewah. Arsitekturnya dapat bervariasi menurut keadaan setempat, tetapi tujuan dari bangunan itu adalah penggunaan praktisnya.

      Suatu Program Pengajaran yang Terpadu

      Selama bagian akhir dari abad ke-19 dan bagian permulaan dari abad ke-20, pertumbuhan dan kegiatan rohani sangat beraneka ragam dari satu sidang ke sidang lain. Sidang-sidang menganut kepercayaan dasar tertentu yang sama yang memisahkan mereka dari Susunan Kristen. Namun, meskipun sejumlah saudara sangat menghargai sarana yang Yehuwa gunakan untuk memberi makanan kepada umat-Nya, yang lainnya mudah terombang-ambing oleh pendapat dari oknum-oknum yang menonjolkan pandangan pribadi mengenai beberapa hal.

      Sebelum kematiannya, Yesus berdoa agar para pengikutnya ”semua menjadi satu”—dalam persatuan dengan Allah dan Kristus dan dengan satu sama lain. (Yoh. 17:20, 21) Ini bukan dimaksudkan sebagai persatuan yang dipaksakan. Ini merupakan hasil dari suatu program pengajaran terpadu yang mendapat tanggapan dari hati yang rela menerima. Sebagaimana lama berselang telah dinubuatkan, ”Semua anakmu akan menjadi murid [Yehuwa], dan besarlah kesejahteraan [”kedamaian”, NW] mereka.” (Yes. 54:13) Agar menikmati kedamaian itu sepenuhnya, mereka semua memerlukan kesempatan untuk menarik manfaat dari pengajaran progresif yang Yehuwa sedang sediakan melalui saluran komunikasi-Nya yang kelihatan.

      Selama bertahun-tahun Siswa-Siswa Alkitab menggunakan berbagai jilid Studies in the Scriptures, bersama dengan Alkitab, sebagai dasar untuk pembahasan. Isinya memang merupakan ”makanan pada waktunya”. (Mat. 24:45) Akan tetapi, penelitian Alkitab yang terus-menerus di bawah pengarahan roh Allah membuktikan bahwa masih banyak yang harus dipelajari dan bahwa masih banyak pembersihan rohani yang dibutuhkan oleh hamba-hamba Yehuwa. (Mal. 3:1-3; Yes. 6:1-8) Selain itu, sesudah didirikannya Kerajaan pada tahun 1914, banyak nubuat digenapi secara berturut-turut dengan cepat, dan hal-hal ini menunjuk kepada pekerjaan mendesak yang harus dilakukan oleh semua orang Kristen sejati. Informasi berdasarkan Alkitab yang tepat waktu ini disediakan secara tetap tentu melalui kolom-kolom The Watch Tower.

      Karena menyadari bahwa tidak semua di dalam sidang mendapat manfaat dari artikel-artikel ini, beberapa wakil keliling dari Lembaga mengusulkan kepada kantor pusat agar semua sidang mempelajari The Watch Tower secara tetap tentu di perhimpunan mingguan. Usul tersebut diteruskan ke sidang-sidang, dan ”Pertanyaan-Pertanyaan Berea” untuk digunakan dalam mempelajari artikel-artikel utama Watch Tower menjadi ciri yang tetap dari majalah itu, mulai dengan terbitan 15 Mei 1922. Kebanyakan sidang mengadakan pelajaran demikian satu kali atau lebih setiap minggu, tetapi ada perbedaan dalam hal seberapa jauh mereka sungguh-sungguh mempelajari isi majalah itu. Di beberapa tempat, karena si pemimpin banyak bicara, pelajaran ini berlangsung selama dua jam atau lebih.

      Akan tetapi selama tahun 1930-an, organisasi teokratis mengganti tata-cara demokratis. Hal ini sangat mempengaruhi cara pelajaran The Watchtowerg itu dipandang. Lebih banyak perhatian dicurahkan kepada soal memahami bahan pengajaran yang disediakan oleh Lembaga. Mereka yang telah menggunakan perhimpunan ini sebagai kesempatan untuk menyampaikan pendapat pribadi dan yang menolak tanggung jawab untuk ambil bagian dalam dinas pengabaran berangsur-angsur mengundurkan diri. Dengan bantuan yang diberikan dengan sabar, saudara-saudara belajar cara membatasi pelajaran itu menjadi satu jam. Sebagai hasilnya, ada partisipasi yang lebih besar; perhimpunan menjadi lebih hidup. Suatu semangat persatuan yang sejati juga makin meresap ke dalam sidang-sidang, berdasarkan suatu program pemberian makanan rohani yang terpadu dengan Firman Allah sebagai standar kebenaran.

      Pada tahun 1938, The Watchtower terbit dalam kira-kira 20 bahasa. Segala sesuatu muncul pertama kali dalam bahasa Inggris. Majalah ini biasanya belum tersedia dalam bahasa lain selama beberapa bulan, atau barangkali bahkan setahun, karena dibutuhkan waktu untuk menerjemahkan dan mencetaknya. Namun dengan adanya perubahan dalam metode pencetakan, selama tahun 1980-an, penerbitan The Watchtower secara serentak dalam banyak bahasa tercapai. Menjelang tahun 1992, sidang-sidang yang mengerti salah satu dari 66 bahasa dapat belajar bahan yang sama pada waktu yang sama. Dengan demikian bagian terbesar dari Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia menyantap makanan rohani yang sama minggu demi minggu. Di seluruh Amerika Utara dan Selatan, di sebagian besar Eropa, di sejumlah negeri di Asia, di banyak tempat di Afrika, dan di sejumlah besar pulau sekitar bola bumi, umat Yehuwa menikmati penyelenggaraan pemberian makanan rohani yang serentak. Bersama-sama mereka ”erat bersatu dan sehati sepikir”.—1 Kor. 1:10.

      Angka-angka jumlah hadirin untuk perhimpunan sidang mereka menunjukkan bahwa Saksi-Saksi Yehuwa menganggap serius perhimpunan-perhimpunan mereka. Di Italia, tempat adanya kira-kira 172.000 Saksi yang aktif pada tahun 1989, jumlah hadirin setiap minggu di perhimpunan Balai Kerajaan adalah 220.458. Sebaliknya, suatu perwakilan pers Katolik berkata bahwa 80 persen orang Italia menyebut diri Katolik tetapi hanya sekitar 30 persen menghadiri kebaktian di gereja secara teratur sampai taraf tertentu. Jika dibandingkan, gambarannya serupa di Brasil. Di Denmark, pada tahun 1989, Gereja Nasional mengaku bahwa 89,7 persen dari penduduk adalah anggotanya, tetapi hanya 2 persen hadir di gereja seminggu sekali! Di kalangan Saksi-Saksi Yehuwa di Denmark, angka hadirin setiap minggu pada waktu itu berjumlah 94,7 persen. Di Jerman, suatu pengumpulan pendapat umum oleh Institut Riset Pendapat Allensbach pada tahun 1989 menunjukkan bahwa 5 persen dari penganut gereja Lutheran dan 25 persen orang Katolik di Republik Federal menghadiri gereja dengan tetap tentu. Akan tetapi, di Balai-Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa, angka hadirin setiap minggu melebihi jumlah Saksi-Saksi.

      Mereka yang hadir sering kali telah mengerahkan upaya yang luar biasa untuk datang. Pada tahun 1980-an, seorang wanita yang berusia 70 tahun di Kenya secara tetap tentu berjalan kaki sekitar 10 kilometer dan mengarungi sebuah sungai untuk sampai ke perhimpunan setiap minggu. Untuk menghadiri perhimpunan dalam bahasanya sendiri, seorang Saksi Korea di Amerika Serikat secara tetap tentu melakukan perjalanan tiga jam sekali jalan, dengan naik bus, kereta api, dan kapal kecil, dan juga berjalan kaki. Di Suriname, satu keluarga yang berpenghasilan rendah menggunakan upah sehari penuh untuk ongkos bus setiap minggu agar dapat sampai ke perhimpunan. Di Argentina, satu keluarga secara tetap tentu mengadakan perjalanan sepanjang 50 kilometer dan mengeluarkan seperempat dari penghasilan keluarga untuk menghadiri perhimpunan untuk mempelajari Alkitab. Apabila penyakit sama sekali menghambat beberapa orang untuk menghadiri perhimpunan sidang, sering kali dibuat penyelenggaraan bagi mereka untuk dihubungkan dengan telepon atau mendengarkan acara melalui rekaman kaset.

      Saksi-Saksi Yehuwa memandang serius nasihat Alkitab untuk tidak melalaikan perhimpunan bersama untuk pembinaan rohani. (Ibr. 10:24, 25) Mereka bukan saja hadir di perhimpunan-perhimpunan sidang setempat. Hadir di kebaktian-kebaktian bersama juga merupakan bagian penting dari acara tahunan mereka.

      [Catatan Kaki]

      a Belakangan, pertemuan-pertemuan ini dinamakan Berean Circles for Bible Study (Kumpulan Berea untuk Pengajaran Alkitab), dengan meniru orang-orang Berea pada abad pertama yang dipuji karena ”menyelidiki Kitab Suci [dengan teliti, NW]”.—Kis. 17:11.

      b Karena isi acaranya, perhimpunan-perhimpunan ini juga disebut Perhimpunan Doa, Puji-pujian, dan Kesaksian. Mengingat pentingnya doa, pada waktunya diusulkan agar setiap tiga bulan sekali perhimpunan ini hanya berupa kebaktian doa, termasuk kidung rohani tetapi tanpa pengalaman.

      c Pada tahun 1907, alat-alat bantu pelajaran Berea direvisi, sangat diperluas, dan diperbarui. Kira-kira 300 lebih halaman dengan bahan yang bermanfaat ditambahkan dalam cetakan tahun 1908.

      d Kadang-kadang ini disebut sebagai antitypical Passover, yaitu peringatan kematian Yesus Kristus, yang digambarkan oleh anak domba Paskah dan dengan demikian dinamakan ”anak domba Paskah kita Kristus”, di 1 Korintus 5:7. Selaras dengan 1 Korintus 11:20 (KJ), ini juga dinamakan Perjamuan Malam Tuhan. Kadang-kadang ini diberi istilah ”Peringatan Ulang Tahun Perjamuan Malam”, sehingga menarik perhatian kepada fakta bahwa ini merupakan peringatan tahunan.

      e Bandingkan terbitan Watchtower Maret 1891, halaman 33-4; 15 Maret 1907, halaman 88; l Februari 1935, halaman 46; dan 1 Februari 1948, halaman 41-3.

      f Bahkan sebelum tahun 1900, sebuah pamflet berjudul Suggestive Hints to Colporteurs (Petunjuk yang Disarankan Bagi Para Kolportir), dikirimkan kepada mereka yang mendaftarkan diri untuk dinas khusus ini. Mulai tahun 1919, Bulletin diterbitkan guna memberikan dorongan untuk dinas pengabaran, pertama-tama dalam hal menyebarkan The Golden Age dan belakangan sehubungan berbagai macam kegiatan penginjilan.

      g Nama Zion’s Watch Tower and Herald of Christ’s Presence diubah pada tanggal 1 Januari 1909, menjadi The Watch Tower and Herald of Christ’s Presence. Sejak tanggal 15 Oktober 1931, namanya menjadi The Watchtower and Herald of Christ’s Presence.

      [Blurb di hlm. 237]

      Perhimpunan yang meminta partisipasi pribadi

      [Blurb di hlm. 238]

      Bukan sekadar filsafat mental melainkan pernyataan-pernyataan yang menggerakkan hati

      [Blurb di hlm. 246]

      Semua dalam keluarga dianjurkan untuk menghadiri perhimpunan-perhimpunan bersama-sama

      [Blurb di hlm. 252]

      Memadukan program pemberian makanan rohani

      [Blurb di hlm. 253]

      Para Saksi menganggap serius perhimpunan-perhimpunan mereka

      [Gambar di hlm. 239]

      Sidang-Sidang Masa Permulaan

      Menjelang tahun 1916, terdapat sekitar 1.200 kelompok Siswa-Siswa Alkitab di seluruh dunia

      Durban, Afrika Selatan, 1915 (kanan atas); Guiana Inggris (Guyana), 1915 (kanan tengah); Trondheim, Norwegia, 1915 (kanan bawah); Hamilton, Ont., Kanada, 1912 (bawah); Sailan (Sri Lanka), 1915 (kiri bawah); India, 1915 (kiri atas)

      [Kotak/Gambar di hlm. 240, 241]

      Memuji Yehuwa Dengan Nyanyian

      Sebagaimana orang-orang Israel purba dan Yesus sendiri menggunakan nyanyian dalam ibadat, demikian pula Saksi-Saksi Yehuwa pada zaman modern. (Neh. 12:46; Mrk. 14:26) Seraya menyatakan puji-pujian kepada Yehuwa dan penghargaan untuk karya-Nya, nyanyian demikian telah membantu mengesankan kebenaran-kebenaran Alkitab ke dalam pikiran dan juga hati.

      Banyak koleksi nyanyian telah digunakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa selama bertahun-tahun. Kata-kata telah disesuaikan selaras dengan pengertian yang progresif mengenai Firman Allah.

      1879: ”Songs of The Bride”

      (144 kidung yang mengungkapkan keinginan dan harapan pengantin perempuan Kristus)

      1890: ”Poems and Hymns of Millennial Dawn”

      (151 puisi dan 333 kidung, diterbitkan tanpa musik. Kebanyakan merupakan karya para penulis terkenal)

      1896: ”Watch Tower” tanggal 1 Februari dibaktikan kepada ”Zion’s Glad Songs of the Morning”

      (Kata-kata untuk 11 nyanyian, dengan musik; lirik ditulis oleh Siswa-Siswa Alkitab)

      1900: ”Zion’s Glad Songs”

      (82 nyanyian, banyak di antaranya ditulis oleh seorang Siswa Alkitab; tambahan kepada koleksi terdahulu)

      1905: ”Hymns of the Millennial Dawn”

      (333 nyanyian yang diterbitkan pada tahun 1890, tetapi dengan musik)

      1925: ”Kingdom Hymns”

      (80 nyanyian, dengan musik, khusus untuk anak-anak)

      1928: ”Songs of Praise to Jehovah”

      (337 nyanyian, gabungan nyanyian-nyanyian baru yang ditulis oleh Siswa-Siswa Alkitab dan kidung-kidung terdahulu. Di dalam liriknya, upaya khusus dilakukan untuk melepaskan diri dari sentimen agama palsu dan dari penyembahan makhluk)

      1944: ”Kingdom Service Song Book”

      (62 nyanyian. Disesuaikan dengan kebutuhan dinas Kerajaan pada zaman itu. Nama pengarang atau penggubah tidak disebutkan)

      1950: ”Songs to Jehovah’s Praise”

      (91 nyanyian. Buku nyanyian ini mempunyai tema-tema yang lebih aktual dan meniadakan bahasa kuno. Diterjemahkan ke dalam 18 bahasa)

      1966: ”Singing and Accompanying Yourselves With Music in Your Hearts”

      (119 nyanyian yang meliputi setiap segi kehidupan dan ibadat Kristen. Musik yang diketahui berasal dari sumber duniawi atau agama palsu tidak digunakan lagi. Rekaman orkes dari seluruh buku telah dibuat dan digunakan secara luas sebagai pengiring dalam perhimpunan-perhimpunan sidang. Beberapa pilihan vokal juga direkam. Mulai tahun 1980 telah diproduksi rekaman ”Kingdom Melodies” berupa aransemen orkes agar memungkinkan pribadi-pribadi menikmati musik yang membina di rumah)

      1984: ”Nyanyikanlah Pujian bagi Yehuwa”

      (225 nyanyian Kerajaan, dengan lirik dan melodi yang seluruhnya digubah oleh hamba-hamba Yehuwa yang berbakti dari segenap bagian bumi. Rekaman piringan hitam dan kaset audio telah diproduksi untuk mengiringi bernyanyi)

      Di Perhimpunan Pondok mereka pada masa permulaan, Siswa-Siswa Alkitab juga menyanyikan lagu-lagu pujian. Menyanyi juga segera menjadi ciri dari kebaktian mereka. Beberapa menyanyikan salah satu dari nyanyian sebelum makan pagi, bersamaan dengan ibadat pagi mereka, sebagaimana dilakukan selama bertahun-tahun di Rumah Alkitab. Walaupun bernyanyi dalam sidang-sidang setempat sebagian besar ditiadakan kira-kira pada tahun 1938, ini dihidupkan kembali pada tahun 1944 dan terus menjadi ciri yang penting dari perhimpunan sidang dan acara kebaktian dari Saksi-Saksi Yehuwa.

      [Gambar]

      Karl Klein memimpin orkes kebaktian pada tahun 1947

      [Grafik di hlm. 242]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      Peringatan Kematian Kristus

      Saksi-Saksi yang Aktif

      Hadirin

      11.000.000

      10.000.000

      9.000.000

      8.000.000

      7.000.000

      6.000.000

      5.000.000

      4.000.000

      3.000.000

      2.000.000

      1.000.000

      1935 1945 1955 1965 1975 1985 1992

      [Gambar di hlm. 243]

      Walaupun diasingkan dalam sebuah penjara Cina, Harold King terus merayakan Peringatan itu

      [Gambar di hlm. 244]

      Kelas Alkitab bagi anak-anak muda di Jerman, pada awal tahun 1930-an

      [Gambar di hlm. 244]

      Di Swiss, pada pertengahan tahun 1930-an, kaum muda Saksi menerbitkan majalah ini (bawah) dan mementaskan drama-drama Alkitab (seperti diperlihatkan di bawah di bagian tengah) bagi banyak hadirin

      [Gambar di hlm. 247]

      ”Bulletin” (1919-35), ”Director” (1935-36), ”Informant” (1936-56), dan kini ”Pelayanan Kerajaan Kita” dalam 100 bahasa—semua telah menyediakan petunjuk-petunjuk secara tetap tentu untuk dinas pengabaran yang terpadu oleh Saksi-Saksi Yehuwa

      [Gambar di hlm. 248]

      Pertunjukan-pertunjukan pada Perhimpunan Dinas membantu Saksi-Saksi untuk memperbaiki dinas pengabaran mereka secara pribadi (Swedia)

      [Gambar di hlm. 249]

      Saksi muda di Kenya memperoleh pengalaman dengan memberikan khotbah kepada ayahnya dalam Sekolah Pelayanan Teokratis

      [Gambar di hlm. 250]

      Sejak tahun 1992, bahan pengajaran Alkitab untuk sidang-sidang Saksi-Saksi Yehuwa diterbitkan secara serentak dalam 66 bahasa, dan makin bertambah banyak

  • Kebaktian-Kebaktian Bukti dari Persaudaraan Kita
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 17

      Kebaktian-Kebaktian Bukti dari Persaudaraan Kita

      KEBAKTIAN-KEBAKTIAN telah menjadi corak yang tetap dari organisasi Saksi-Saksi Yehuwa zaman modern. Namun pertemuan-pertemuan nasional atau internasional dari para penyembah Yehuwa sudah diadakan jauh sebelum abad ke-20.

      Yehuwa memerintahkan agar semua pria di Israel purba berkumpul di Yerusalem untuk tiga perayaan musiman setiap tahun. Beberapa dari antara pria-pria tersebut membawa serta seluruh keluarga mereka. Sebenarnya, Hukum Musa memerintahkan agar setiap anggota keluarga—pria, wanita, dan anak-anak kecil—hadir dalam peristiwa-peristiwa tertentu. (Kel. 23:14-17; Ul. 31:10-13; Luk. 2:41-43) Pada mulanya, hadirinnya adalah orang-orang yang tinggal di wilayah Israel. Belakangan, ketika orang-orang Yahudi tersebar di mana-mana, mereka yang hadir datang dari berbagai bangsa. (Kis. 2:1, 5-11) Mereka terdorong untuk datang berkumpul bukan saja karena Israel dan Abraham adalah nenek moyang mereka tetapi karena mereka mengakui Yehuwa sebagai Bapa surgawi mereka yang agung. (Yes. 63:16) Perayaan-perayaan ini adalah peristiwa yang menyenangkan. Ini juga membantu semua yang hadir untuk tetap memusatkan pikiran mereka pada firman Allah dan tidak menjadi sangat terlibat dalam urusan kehidupan sehari-hari sehingga mungkin saja melupakan perkara-perkara rohani yang lebih penting.

      Dengan cara yang sama, kebaktian-kebaktian dari Saksi-Saksi Yehuwa pada zaman modern berpusat pada kepentingan rohani. Bagi para pengamat yang tulus hati, kebaktian-kebaktian ini memberikan bukti yang tidak dapat disangkal bahwa Saksi-Saksi dipersatukan oleh ikatan persaudaraan Kristen yang kuat.

      Kebaktian-Kebaktian yang Mula-Mula dari Siswa-Siswa Alkitab

      Penyelenggaraan untuk pertemuan Siswa-Siswa Alkitab dari berbagai kota dan negeri berkembang secara bertahap. Tidak seperti kelompok-kelompok gereja tradisional, Siswa-Siswa Alkitab, melalui kebaktian-kebaktian mereka, dengan segera berkenalan dengan rekan-rekan seiman di tempat-tempat lain. Pada mulanya, kebaktian-kebaktian ini diadakan di Allegheny, Pennsylvania, berkaitan dengan peringatan tahunan kematian Tuhan. Pada tahun 1891 secara spesifik diumumkan bahwa akan ada suatu ”kebaktian untuk pengajaran Alkitab dan untuk merayakan Peringatan Perjamuan Malam Tuhan”. Tahun berikutnya, Watch Tower memuat judul yang mencolok yang mengumumkan ”KEBAKTIAN ORANG-ORANG PERCAYA, DI ALLEGHENY, PA., . . . TANGGAL 7 SAMPAI DENGAN 14 APRIL 1892.”

      Masyarakat umum tidak diundang ke kebaktian-kebaktian yang mula-mula tersebut. Akan tetapi, pada tahun 1892, sekitar 400 orang yang telah membuktikan iman kepada tebusan dan mempunyai minat yang tulus dalam pekerjaan Tuhan hadir. Acaranya mencakup lima hari pengajaran Alkitab yang intensif dan dua hari berikutnya nasihat yang berguna bagi para kolportir.

      Seseorang yang hadir untuk pertama kalinya di salah satu pertemuan ini mengatakan, ”Saya telah menghadiri banyak Kebaktian, tetapi belum pernah ke kebaktian yang seperti ini, karena kehendak dan rencana Allah adalah satu-satunya topik yang tidak putus-putusnya sejak bangun pagi hingga akan tidur; di dalam rumah, di jalan, di perhimpunan, pada saat makan siang dan di mana saja.” Berkenaan semangat yang diperlihatkan oleh para delegasi, seseorang dari Wisconsin, AS, menulis, ”Saya sangat terkesan oleh semangat kasih dan kebaikan persaudaraan yang dinyatakan pada setiap kesempatan.”

      Suatu perubahan dalam penyelenggaraan kebaktian tahunan terjadi pada tahun 1893. Untuk dapat memanfaatkan harga karcis kereta api yang murah yang berkaitan dengan Columbian Exposition pada musim panas itu, Siswa-Siswa Alkitab berkumpul di Chicago, Illinois, mulai tanggal 20 hingga 24 Agustus. Ini adalah kebaktian mereka yang pertama di luar daerah Pittsburgh. Akan tetapi, agar dapat menggunakan waktu dan uang sebaik-baiknya demi pekerjaan Tuhan, selama beberapa tahun kebaktian umum tidak diadakan lagi.

      Kemudian, mulai tahun 1898, Siswa-Siswa Alkitab di berbagai tempat mulai mengambil inisiatif secara lokal untuk menyelenggarakan kebaktian-kebaktian, yang dihadiri oleh orang-orang di daerah yang terbatas. Pada tahun 1900, 3 kebaktian umum diorganisasi oleh Lembaga; namun selain itu juga ada 13 kebaktian lokal di Amerika Serikat dan Kanada, yang kebanyakan hanya berlangsung satu hari dan sering kali diadakan berkaitan dengan kunjungan salah seorang musafir. Jumlahnya terus meningkat. Menjelang tahun 1909, sedikitnya ada 45 kebaktian lokal di Amerika Utara, selain dari kebaktian-kebaktian yang dilayani oleh Saudara Russell pada tur-tur khusus yang membawanya ke berbagai bagian benua itu. Bagian utama dari acara kebaktian satu hari khusus dirancang untuk menggugah minat masyarakat umum. Hadirin berkisar antara seratus sampai beberapa ribu orang.

      Selain itu, kebaktian-kebaktian umum, yang dihadiri terutama oleh Siswa-Siswa Alkitab, menekankan pengajaran bagi mereka yang sudah cukup kuat dalam jalan kebenaran. Untuk kebaktian-kebaktian ini, kereta-kereta api khusus dipenuhi dengan para delegasi yang datang dari kota-kota besar. Kadang-kadang, hadirin mencapai 4.000 orang, bahkan termasuk beberapa delegasi dari Eropa. Inilah waktu penyegaran rohani yang sejati yang menghasilkan bertambahnya gairah dan kasih di pihak umat Yehuwa. Seorang saudara berkata pada penutup kebaktian demikian pada tahun 1903, ”Saya tidak mau menerima seribu dolar sebagai ganti hal-hal baik yang telah saya terima dari Kebaktian ini;—walaupun saya seorang yang miskin.”

      Saudara-saudara musafir yang kebetulan berada di daerah tersebut berkhotbah dalam kebaktian-kebaktian ini. Saudara Russell juga berupaya hadir dan melayani pada acara kebaktian-kebaktian lokal seperti pada kebaktian-kebaktian besar di Amerika Serikat dan sering kali di Kanada. Itu berarti banyak perjalanan. Kebanyakan perjalanan dilakukan pada akhir pekan. Namun, pada tahun 1909, seorang saudara di Chicago menyewa beberapa gerbong kereta api untuk mengangkut para delegasi yang mengadakan perjalanan bersama Saudara Russell dari satu kebaktian ke kebaktian lain pada suatu tur. Pada tahun 1911 dan 1913, seluruh kereta api disewa oleh saudara yang sama untuk membawa ratusan delegasi pada tur-tur kebaktian selama satu bulan atau lebih dan yang meliputi bagian barat Amerika Serikat dan Kanada.

      Perjalanan dengan kereta api kebaktian seperti itu adalah pengalaman yang mengesankan. Pada tahun 1913, Malinda Keefer naik salah satu kereta api di Chicago, Illinois. Bertahun-tahun kemudian, ia mengatakan, ”Kami segera menyadari bahwa kami adalah satu keluarga besar . . . dan kereta api ini menjadi rumah kami selama satu bulan.” Seraya kereta api meninggalkan stasiun, orang-orang yang mengantarkan mereka menyanyikan ”God Be With You Till We Meet Again” (Allah Bersamamu Sampai Kita Jumpa Lagi), sambil melambaikan topi dan saputangan hingga kereta api hilang dari pandangan. Saudari Keefer menambahkan, ”Pada setiap perhentian dalam perjalanan ini ada kebaktian yang sedang diselenggarakan—kebanyakan selama tiga hari, dan kami tinggal selama satu hari untuk setiap kebaktian. Selama perhentian-perhentian ini Saudara Russell menyampaikan dua khotbah, satu untuk saudara-saudara pada siang hari, dan satu lagi untuk masyarakat umum pada sore hari dengan tema ’Di Balik Kuburan’.”

      Di negeri-negeri lain juga, jumlah kebaktian meningkat. Sering kali ini berupa kebaktian-kebaktian kecil. Sekitar 15 orang hadir pada kebaktian pertama di Norwegia, pada tahun 1905; namun ini baru permulaan. Enam tahun kemudian, ketika Saudara Russell mengunjungi Norwegia, upaya khusus dikerahkan untuk mengundang masyarakat umum, dan hadirin pada kesempatan itu diperkirakan ada 1.200 orang. Selama tahun 1909, ketika ia menghadiri kebaktian-kebaktian di Skotlandia, ia berbicara kepada kira-kira 2.000 orang di Glasgow dan kepada 2.500 lainnya di Edinburgh mengenai pokok yang membangkitkan minat, ”Pencuri di Firdaus, Orang Kaya di Neraka, dan Lazarus di Pangkuan Abraham”.

      Pada penutup kebaktian masa permulaan, saudara-saudara mengadakan apa yang mereka sebut suatu perjamuan kasih, yang mencerminkan rasa persaudaraan Kristen mereka. Apa yang dilakukan pada ”perjamuan kasih” ini? Sebagai contoh, para pembicara akan berjejer dengan membawa piring yang berisi potongan-potongan roti, kemudian hadirin akan berjalan rapi melaluinya, memakan roti itu, berjabatan tangan, dan menyanyikan, ”Blest Be the Tie That Binds Our Hearts in Christian Love” (Diberkatilah Ikatan yang Memadukan Hati Kita Dalam Kasih Kristen). Air mata sukacita sering kali mengalir di pipi seraya mereka menyanyi. Belakangan, seraya jumlah mereka bertambah, mereka tidak lagi berjabatan tangan dan memakan roti tetapi menutup dengan nyanyian dan doa dan, sering kali dengan tepuk tangan panjang untuk mengungkapkan penghargaan mereka.

      Melancarkan Kampanye Sedunia untuk Pemberitaan Kerajaan

      Kebaktian besar pertama setelah Perang Dunia I diadakan di Cedar Point, Ohio (di Danau Erie, 96 kilometer sebelah barat Cleveland), dari tanggal 1 hingga 8 September 1919. Setelah kematian Saudara Russell, beberapa orang yang telah bergabung dengan organisasi, dan menonjol, meninggalkan kebenaran. Saudara-saudara mengalami ujian berat. Pada awal tahun 1919 presiden Lembaga dan rekan-rekannya dibebaskan dari pemenjaraan mereka yang tidak adil. Maka ada antisipasi yang bersemangat. Walaupun hadirin pada hari pertama agak sedikit, namun beberapa waktu kemudian semakin banyak delegasi yang datang dengan kereta-kereta api khusus. Maka hotel-hotel yang telah menawarkan untuk menampung para delegasi dibanjiri tamu. R. J. Martin dan A. H. Macmillan (kedua orang ini termasuk dalam kelompok yang baru saja dibebaskan dari penjara) menawarkan diri untuk membantu. Mereka bekerja membagikan kamar-kamar hingga lewat tengah malam, dan Saudara Rutherford dan banyak saudara lain merasa senang melayani sebagai pegawai hotel, membawa kopor-kopor dan mengantar saudara-saudara ke kamar mereka. Ada semangat kegairahan yang menular di antara mereka semua.

      Sekitar 2.500 orang diharapkan hadir. Akan tetapi, dalam segala hal, kebaktian itu terbukti menjadi lebih daripada yang telah diantisipasikan. Sampai hari kedua, auditorium telah penuh sesak dan ruangan-ruangan lain digunakan. Ketika itu ternyata tidak mencukupi, acara dipindahkan ke luar gedung ke suatu daerah dengan rumpun pohon-pohon yang menyenangkan. Sekitar 6.000 Siswa-Siswa Alkitab dari Amerika Serikat dan Kanada hadir.

      Pada khotbah utama hari Minggu, sedikitnya 1.000 orang dari kalangan masyarakat juga datang, sehingga jumlah hadirin bertambah menjadi genap 7.000, dan kepada mereka pembicara berkhotbah di udara terbuka tanpa bantuan mikrofon atau sistem pengeras suara apa pun. Dalam khotbah itu, ”Harapan Bagi Umat Manusia yang Menderita”, J. F. Rutherford menjelaskan bahwa Kerajaan Mesianik Allah adalah jalan keluar bagi problem-problem umat manusia, dan ia juga memperlihatkan bahwa Liga Bangsa-Bangsa (pada waktu itu baru didirikan dan sudah didukung oleh para pemimpin agama) sama sekali bukan pernyataan politik dari Kerajaan Allah. Surat kabar Sandusky Register (surat kabar setempat) memuat laporan yang panjang tentang khotbah umum itu, maupun suatu ringkasan dari kegiatan Siswa-Siswa Alkitab. Salinan-salinan dari surat kabar itu dikirim untuk dimuat dalam surat-surat kabar di seluruh Amerika Serikat dan Kanada. Namun ada sesuatu yang lebih penting daripada publisitas yang ditimbulkan oleh kebaktian ini.

      Klimaks sesungguhnya dari seluruh kebaktian ini adalah ”Pesan Kepada Rekan-Rekan Pekerja”, yang disampaikan oleh Saudara Rutherford, yang belakangan diterbitkan di bawah judul ”Mengumumkan Kerajaan”. Khotbah ini ditujukan kepada Siswa-Siswa Alkitab sendiri. Selama khotbah itu, arti dari huruf-huruf GA yang telah dipajang pada acara kebaktian dan di berbagai lokasi kebaktian ini menjadi jelas. Pengumuman dibuat tentang diterbitkannya sebuah majalah baru yaitu, The Golden Age (Abad Keemasan), untuk digunakan dalam mengarahkan perhatian orang-orang kepada Kerajaan Mesianik. Setelah menguraikan pekerjaan yang perlu dilakukan, Saudara Rutherford berkata kepada para hadirin, ”Pintu kesempatan terbuka di hadapan saudara. Cepatlah masuk. Ingat bahwa seraya saudara maju dalam pekerjaan ini, saudara tidak semata-mata mengajukan permohonan untuk menjadi agen sebuah majalah, tetapi saudara adalah duta dari Raja segala raja dan Tuhan segala tuhan, mengumumkan kepada orang-orang dengan cara yang berwibawa ini tentang datangnya Abad Keemasan, kerajaan yang mulia dari Tuhan dan Majikan kita, yang telah diharapkan dan didoakan selama berabad-abad oleh umat Kristen sejati.” (Lihat Wahyu 3:8.) Ketika pembicara bertanya berapa banyak yang berhasrat untuk ikut dalam pekerjaan itu, tanggapan yang antusias sungguh menggugah untuk diamati. Secara serentak, hadirin sebanyak 6.000 orang, bangkit berdiri. Hingga tahun berikutnya, lebih dari 10.000 orang ikut serta dalam dinas pengabaran. Kebaktian itu secara keseluruhan mempunyai pengaruh yang mempersatukan dan menguatkan bagi mereka yang hadir.

      Tiga tahun kemudian, pada tahun 1922, kebaktian lain yang patut dikenang diadakan di Cedar Point. Ini adalah acara selama sembilan hari, dari tanggal 5 hingga 13 September. Selain delegasi dari Amerika Serikat dan Kanada, beberapa datang dari Eropa. Pertemuan-pertemuan diadakan dalam sepuluh bahasa. Rata-rata hadirin tiap hari sekitar 10.000 orang; dan sewaktu khotbah ”Jutaan orang yang Sekarang Hidup Tidak Akan Pernah Mati”, disampaikan, begitu banyak dari kalangan masyarakat ada di antara hadirin sehingga jumlahnya menjadi hampir dua kali lipat.

      Siswa-Siswa Alkitab tidak berkumpul pada kebaktian ini dengan pikiran bahwa mereka sedang merencanakan pekerjaan di bumi ini yang akan diperpanjang sampai beberapa dekade di masa depan. Sesungguhnya, mereka mengatakan bahwa boleh jadi ini adalah kebaktian umum terakhir mereka sebelum ”penyelamatan gereja . . . ke dalam tahap surgawi dari kerajaan Allah, dan sesungguhnya ke dalam kehadiran yang sebenarnya dari Tuhan kita dan Allah kita”. Namun, seberapa singkat pun waktunya, melakukan kehendak Allah adalah perhatian utama mereka. Dengan mengingat hal itu, pada hari Jumat, 8 September, Saudara Rutherford menyampaikan khotbah ”Kerajaan” yang selalu dikenang.

      Sebelum peristiwa ini, spanduk-spanduk besar bertuliskan huruf-huruf ADV digantung di berbagai bagian dari lapangan. Selama khotbah tersebut, arti dari huruf-huruf itu menjadi jelas ketika pembicara mendesak, ”Jadilah saksi-saksi yang setia dan benar bagi Tuhan. Majulah dalam pertempuran sampai semua sisa Babel hancur lebur. Umumkan berita ini ke mana-mana. Dunia harus tahu bahwa Yehuwa adalah Allah dan bahwa Yesus Kristus adalah Raja segala raja dan Tuhan segala tuhan. Inilah hari yang paling penting. Lihat sang Raja memerintah! Kalian adalah pemberita-pemberitanya. Karena itu umumkan, umumkan, umumkan, Raja dan kerajaannya.” Pada saat itu, sebuah spanduk yang besar, panjangnya 11 meter, dibentangkan di hadapan hadirin. Padanya tertulis slogan yang membangkitkan semangat ”Umumkan [Inggris: ”Advertise”, disingkat ADV”] Raja dan Kerajaan”. Itu adalah saat yang dramatis. Hadirin bertepuk tangan dengan penuh semangat. Saudara Pfannebecker yang sudah lanjut usia, dalam orkes kebaktian, melambaikan biolanya tinggi-tinggi dan berkata dengan suara keras dengan logat Jermannya yang kental, ”Ah, ya! Dan sekarang kita akan melakukannya, bukan?” Dan mereka memang melakukannya.

      Empat hari kemudian, seraya kebaktian masih berjalan, Saudara Rutherford secara pribadi ikut dengan beberapa peserta kebaktian lain dalam pekerjaan pemberitaan Kerajaan dari rumah ke rumah di kawasan 72 kilometer dari lokasi kebaktian. Ini tidak berhenti sampai di situ. Pekerjaan pengabaran Kerajaan telah mendapat dorongan yang kuat yang akan mencapai seluruh bumi. Pada tahun itu, lebih dari 17.000 pekerja yang bergairah di 58 negeri ikut memberikan kesaksian. Beberapa dekade setelah itu, George Gangas, yang hadir di kebaktian dan yang belakangan menjadi anggota Badan Pimpinan, berkata mengenai acara di Cedar Point itu, ”Ini adalah sesuatu yang tertulis dalam pikiran dan hati saya tanpa dapat dihapus lagi, yang tidak akan pernah dilupakan selama hidup saya.”

      Tonggak-Tonggak Bersejarah Dalam Pertumbuhan Rohani

      Semua kebaktian merupakan saat-saat penyegaran dan pengajaran dalam Firman Allah. Akan tetapi beberapa di antaranya telah diingat selama berpuluh-puluh tahun sebagai tonggak bersejarah rohani.

      Tujuh dari kebaktian-kebaktian ini berlangsung, berturut-turut setiap tahun, dari tahun 1922 sampai 1928, di Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris. Satu alasan kebaktian-kebaktian ini begitu penting adalah disampaikannya resolusi-resolusi yang sangat ampuh yang disetujui, ketujuhnya tertera dalam kotak pada halaman berikut. Walaupun jumlah Saksi-Saksi relatif sedikit, mereka menyebarkan sebanyak 45 juta eksemplar untuk setiap resolusi, dan 50 juta eksemplar untuk resolusi lain, dalam banyak bahasa di seluruh dunia. Beberapa disiarkan melalui pemancar-pemancar radio internasional. Maka, suatu kesaksian yang luar biasa telah diberikan.

      Kebaktian lain yang juga bersejarah diselenggarakan di Columbus, Ohio, pada tahun 1931. Pada hari Minggu, 26 Juli, setelah mendengarkan argumen dari Alkitab, Siswa-Siswa Alkitab menerima sebuah nama baru—Saksi-Saksi Yehuwa. Betapa cocok! Inilah nama yang mengarahkan perhatian utama kepada sang Pencipta sendiri dan yang dengan jelas menunjukkan tanggung jawab dari mereka yang menyembah-Nya. (Yes. 43:10-12) Dengan menerima nama itu, saudara-saudara dikuatkan untuk menjadi pemberita-pemberita nama dan kerajaan Allah yang lebih bergairah daripada sebelumnya. Sebagaimana dinyatakan sebuah surat yang ditulis pada tahun itu oleh seorang Saksi dari Denmark, ”Oh, benar-benar nama yang hebat, Saksi-Saksi Yehuwa, ya, semoga kita semua benar-benar demikian.”

      Pada tahun 1935, suatu kebaktian lain yang patut dikenang diselenggarakan, di Washington, DC. Pada hari kedua kebaktian itu, Jumat, 31 Mei, Saudara Rutherford membahas tentang perhimpunan besar, atau kumpulan besar, yang disebutkan di Wahyu 7:9-17. Selama lebih dari setengah abad, Siswa-Siswa Alkitab telah mencoba tanpa hasil untuk mengetahui siapa kelompok itu dengan tepat. Sekarang, pada waktu yang Yehuwa tentukan, mengingat peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi, ditunjukkan bahwa mereka ini adalah orang-orang yang memiliki prospek hidup selama-lamanya di bumi ini. Pengertian ini memberi arti penting yang menyegarkan bagi pekerjaan penginjilan dan menjelaskan berdasarkan Alkitab suatu perubahan besar yang pada waktu itu baru saja mulai diadakan dalam susunan organisasi Saksi-Saksi Yehuwa zaman modern.

      Kebaktian di St. Louis, Missouri, pada tahun 1941 diingat oleh banyak orang yang hadir pada khotbah hari pembukaan yang berjudul ”Integritas”, yang dalam khotbah itu Saudara Rutherford memusatkan perhatian kepada sengketa besar yang dihadapi semua mahkluk ciptaan yang cerdas. Sejak khotbah ”Penguasa Bagi Orang-Orang”, pada tahun 1928, sengketa-sengketa yang ditimbulkan oleh pemberontakan Setan telah berulang kali mendapat perhatian. Akan tetapi, sekarang ditunjukkan bahwa ”sengketa utama yang diajukan oleh tantangan yang bersifat menentang Setan dulu dan sekarang adalah mengenai KEDAULATAN UNIVERSAL”. Pengertian akan sengketa itu dan pentingnya memelihara integritas kepada Yehuwa sebagai Penguasa Universal telah menjadi faktor motivasi yang kuat dalam kehidupan hamba-hamba Yehuwa.

      Di tengah berkecamuknya Perang Dunia II, pada tahun 1942, ketika beberapa orang bertanya-tanya apakah pekerjaan pengabaran mungkin sudah hampir selesai, khotbah umum di kebaktian yang disampaikan oleh N. H. Knorr, presiden Lembaga Menara Pengawal yang baru diangkat, ialah ”Perdamaian—Dapatkah Itu Bertahan Lama?” Penjelasan dalam khotbah itu tentang ”binatang buas merah ungu” simbolis dari Wahyu pasal 17 telah membuka pandangan Saksi-Saksi Yehuwa akan suatu masa setelah Perang Dunia II yang akan memberi kesempatan untuk menuntun lebih banyak orang lagi menuju Kerajaan Allah. Hal ini memberikan dorongan kepada suatu kampanye sedunia yang selama bertahun-tahun telah menjangkau lebih dari 235 negeri dan yang masih belum selesai.

      Sebuah tonggak bersejarah lain dicapai selama kebaktian di Yankee Stadium di New York pada tanggal 2 Agustus 1950. Pada kesempatan itu, hadirin begitu takjub dan sangat gembira saat pertama kali menerima New World Translation of the Christian Greek Scriptures (Kitab-Kitab Yunani Kristen Terjemahan Dunia Baru). Bagian-bagian lain dari New World Translation diterbitkan secara bertahap selama dekade berikutnya. Terjemahan Alkitab dalam bahasa modern ini mengembalikan nama pribadi Allah ke tempatnya yang benar dalam Firman-Nya. Kemurnian terjemahan itu seperti yang terdapat dalam bahasa-bahasa asli Alkitab telah menjadi suatu aset yang luar biasa bagi Saksi-Saksi Yehuwa dalam penelitian mereka sendiri akan Alkitab maupun dalam pekerjaan penginjilan mereka.

      Sehari sebelum hari terakhir kebaktian itu, F. W. Franz, wakil presiden Lembaga Menara Pengawal saat itu, memberikan khotbah kepada hadirin mengenai ”Sistem Perkara Baru”. Selama bertahun-tahun Saksi-Saksi Yehuwa telah mempercayai bahwa bahkan sebelum Armagedon beberapa hamba Yehuwa pra-Kristen akan dibangkitkan dari antara orang-orang mati untuk menjadi pangeran-pangeran dari dunia baru, sebagai penggenapan dari Mazmur 45:17. Maka, saudara dapat membayangkan pengaruhnya atas hadirin yang banyak itu ketika pembicara bertanya, ”Apakah saudara-saudara dalam kebaktian internasional ini berbahagia untuk mengetahui bahwa di sini, pada sore ini, di tengah-tengah kita, ada sejumlah calon pangeran dari bumi baru?” Ada tepuk tangan yang panjang dan bergemuruh disertai seruan sukacita. Kemudian sang pembicara memperlihatkan bahwa digunakannya istilah yang diterjemahkan ”pangeran” dalam Alkitab serta adanya catatan kesetiaan banyak orang dari ”domba-domba lain” zaman modern membuat mereka percaya bahwa beberapa yang hidup sekarang dapat saja dipilih oleh Yesus Kristus untuk dinas sebagai pangeran. Akan tetapi, ia juga menunjukkan bahwa tidak akan ada pemberian gelar-gelar kepada orang-orang yang dipercayakan dinas demikian. Sebagai penutup khotbahnya, ia mendesak, ”Maka, majulah dengan mantap, kita semua bersama-sama, sebagai masyarakat Dunia Baru!”

      Ada banyak khotbah penting lain yang disampaikan pada kebaktian-kebaktian Saksi-Saksi Yehuwa: Pada tahun 1953, ”Masyarakat Dunia Baru Diserang dari Ujung Utara” merupakan penjelasan yang memukau tentang pengertian serangan Gog dari Magog sebagaimana digambarkan dalam Yehezkiel pasal 38 dan 39. Pada tahun itu juga, khotbah ”Memenuhi Rumah Dengan Kemuliaan” membuat mereka yang mendengarnya merasa tergetar seraya melihat di hadapan mata mereka sendiri bukti yang nyata atas penggenapan janji Yehuwa di Hagai 2:7, (NW) untuk membawa barang-barang berharga, barang yang indah-indah, dari segala bangsa masuk ke dalam rumah Yehuwa.

      Akan tetapi, kebaktian yang paling menonjol pada zaman modern diadakan di New York pada tahun 1958, ketika lebih dari seperempat juta orang membanjiri fasilitas terbesar yang ada untuk mendengarkan khotbah ”Kerajaan Allah Memerintah—Apakah Kesudahan Dunia Sudah Dekat?” Delegasi-delegasi hadir dari 123 negeri, dan laporan-laporan mereka yang diberikan kepada hadirin kebaktian membantu menguatkan ikatan persaudaraan internasional. Guna menyumbang kepada pertumbuhan rohani dari mereka yang hadir dan untuk mereka gunakan dalam mengajar orang-orang lain, publikasi-publikasi dalam 54 bahasa diperkenalkan pada kebaktian yang luar biasa itu.

      Pada tahun 1962, serangkaian khotbah dengan tema ”Ketundukan kepada Kalangan Berwenang yang Lebih Tinggi” memperbaiki pengertian yang telah dimiliki Saksi-Saksi berkenaan arti dari Roma 13:1-7. Pada tahun 1964, ”Melewati Kematian Menuju Kehidupan” dan ”Keluar dari Kuburan Kepada Kebangkitan” meluaskan penghargaan mereka akan belas kasihan Yehuwa yang besar sebagaimana nyata dalam persediaan akan kebangkitan. Dan banyak, banyak hal penting lain dari kebaktian tersebut dapat disebutkan.

      Setiap tahun puluhan ribu, ya, ratusan ribu, orang baru hadir pada kebaktian-kebaktian. Walaupun informasi yang dipersembahkan tidak selalu baru bagi organisasi secara keseluruhan, hal ini sering kali membuka suatu pengertian kepada para pendatang baru akan kehendak ilahi yang sungguh menggetarkan hati mereka. Mereka dapat mengerti dan tergerak untuk meraih kesempatan melayani yang akan mengubah seluruh haluan hidup mereka.

      Pada banyak kebaktian, perhatian sering dipusatkan pada pengertian akan kitab-kitab tertentu dalam Alkitab. Sebagai contoh, pada tahun 1958 dan sekali lagi tahun 1977, buku-buku berjilid telah diperkenalkan yang khusus membahas nubuat-nubuat yang dicatat oleh nabi Daniel sehubungan dengan maksud-tujuan Allah untuk mewujudkan satu pemerintahan dunia dengan Kristus sebagai Raja. Pada tahun 1971, perhatian diberikan pada buku Yehezkiel, dengan menandaskan pernyataan ilahi, ”Bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah [Yehuwa]”. (Yeh. 36:23) Pada tahun 1972, nubuat-nubuat yang dicatat oleh Zakharia dan Hagai diamati dengan terperinci. Pada tahun 1963, 1969, dan 1988, ada pembahasan yang panjang mengenai nubuat-nubuat Wahyu yang menggetarkan, yang dengan gamblang menubuatkan kejatuhan Babel Besar dan datangnya langit baru dan bumi baru Allah yang mulia.

      Kebaktian-kebaktian ini menandaskan berbagai tema—Pertambahan Teokrasi, Ibadat yang Bersih, Para Penyembah yang Bersatu, Pelayan-Pelayan yang Berani, Buah-Buah Roh, Menjadikan Murid, Kabar Baik untuk Segala Bangsa, Nama Ilahi, Kedaulatan Ilahi, Dinas Suci, Iman yang Berkemenangan, Loyalitas Kerajaan, Para Pemelihara Integritas, Percaya Kepada Yehuwa, Pengabdian Ilahi, Para Pembawa Terang dan banyak lagi. Setiap kebaktian ini telah menyumbang kepada pertumbuhan rohani organisasi dan mereka yang tergabung.

      Pendorong Bagi Pekerjaan Penginjilan

      Kebaktian-kebaktian besar, maupun kecil, telah menjadi sumber anjuran yang besar sehubungan dengan pemberitaan kabar baik. Khotbah-khotbah dan pertunjukan-pertunjukan telah menjadi pengajaran yang praktis. Dalam acara kebaktian selalu ada pengalaman-pengalaman dalam dinas pengabaran maupun yang diceritakan oleh orang-orang yang belum lama telah dibantu untuk belajar kebenaran Alkitab. Selain itu, terjun langsung ke dinas pengabaran yang dijadwalkan pada waktu kebaktian-kebaktian selama bertahun-tahun sangatlah bermanfaat. Ini merupakan kesaksian yang bagus di kota kebaktian dan merupakan sumber anjuran besar bagi Saksi-Saksi itu sendiri.

      Dinas pengabaran menjadi bagian dari kegiatan kebaktian yang dijadwalkan di Winnipeg, Manitoba, Kanada, pada bulan Januari 1922. Ini juga ditonjolkan selama kebaktian umum yang diadakan belakangan pada tahun itu juga di Cedar Point, Ohio. Sejak saat itu, menjadi kebiasaan tetap bagi para delegasi untuk menyisihkan satu hari, atau beberapa jam dalam satu hari atau beberapa jam selama beberapa hari tertentu, untuk bekerja bersama dalam kegiatan pengabaran di kota kebaktian itu dan di sekitarnya. Di daerah-daerah metropolitan yang besar, hal ini memberi kesempatan kepada orang-orang yang barangkali jarang dihubungi Saksi-Saksi untuk mendengar kabar baik tentang maksud-tujuan Allah dalam memberikan kehidupan kekal kepada para pencinta keadilbenaran.

      Di Denmark, hari-hari dinas semacam itu pertama kali diselenggarakan di suatu kebaktian pada tahun 1925, ketika 400 sampai 500 orang bertemu di Nørrevold. Dari 275 orang yang ambil bagian dalam dinas pengabaran di kebaktian itu, banyak yang baru pertama kali mengikutinya. Beberapa orang merasa ragu-ragu. Namun, setelah mereka mencobanya, mereka menjadi penginjil-penginjil yang bergairah di daerah tempat tinggal mereka sendiri. Setelah kebaktian itu dan sampai akhir Perang Dunia II, banyak kebaktian dinas satu hari diadakan di Denmark, dan saudara-saudara dari kota-kota sekitarnya diundang. Jelas sekali bahwa kegairahan meningkat seraya mereka secara terpadu ikut dalam pelayanan dan kemudian bertemu untuk mendengarkan khotbah-khotbah. Kebaktian-kebaktian dinas serupa—tetapi yang lamanya dua hari—diadakan di Inggris dan Amerika Serikat.

      Pada kebaktian-kebaktian yang lebih besar, kegiatan pengabaran dari para delegasi sering kali mencakup bagian yang lebih luas. Dimulai pada tahun 1936, khotbah umum kebaktian diiklankan melalui pawai yang tertib dari Saksi-Saksi yang mengenakan plakat-plakat dan membagikan selebaran-selebaran. (Plakat-plakat itu pada mulanya disebut sebagai ”papan sandwich” karena mereka mengenakan satu papan di depan dan satu papan di belakang.) Kadang-kadang, seribu atau lebih Saksi-Saksi berpartisipasi dalam pawai semacam itu pada kebaktian tertentu. Yang lain ambil bagian dalam kunjungan dari rumah ke rumah yang lazim dilakukan, mengundang semua untuk datang dan mendengarkan acara. Adalah sangat menganjurkan bagi Saksi-Saksi secara perorangan untuk bekerja bersama yang lain dan melihat ratusan, bahkan ribuan Saksi-Saksi lain ikut dalam pelayanan bersama mereka. Pada waktu yang sama, masyarakat umum dalam radius tertentu mengetahui bahwa Saksi-Saksi Yehuwa sedang berkunjung ke kota itu; orang-orang memiliki kesempatan untuk mendengarkan sendiri apa yang Saksi-Saksi ajarkan dan mengamati langsung tingkah laku mereka.

      Khotbah-khotbah yang disampaikan pada kebaktian-kebaktian ini sering kali didengarkan oleh jauh lebih banyak daripada hadirin yang terlihat. Ketika Saudara Rutherford, pada sebuah kebaktian di Toronto, Kanada, tahun 1927, menyampaikan khotbah ”Kemerdekaan Bagi Bangsa-Bangsa”, khotbah ini disiarkan oleh suatu rangkaian bersejarah dari 53 stasiun pemancar kepada banyak sekali pendengar radio internasional. Tahun berikutnya, dari Detroit, Michigan (AS), khotbah ”Penguasa Bagi Orang-Orang” disiarkan oleh stasiun-stasiun radio yang jumlahnya dua kali lebih banyak, dan radio gelombang pendek membawanya kepada para pendengar yang ada di tempat-tempat yang jauh seperti Australia, Selandia Baru, dan Afrika Selatan.

      Pada tahun 1931, jaringan-jaringan radio utama menolak untuk bekerja sama dalam rencana menyiarkan sebuah khotbah kebaktian oleh Saudara Rutherford; maka Lembaga Menara Pengawal, bekerja sama dengan Perusahaan Telepon dan Telegraf Amerika, mengupayakan jaringannya sendiri yang terdiri dari 163 stasiun, termasuk jaringan telekomunikasi terbesar yang pernah mengudara, untuk menyiarkan berita ”Kerajaan, Harapan Dunia Ini”. Selain itu, lebih dari 300 stasiun lain di banyak bagian dari dunia menyiarkan acara ini dengan menggunakan rekaman gramofon.

      Selama kebaktian di Washington, DC, pada tahun 1935, Saudara Rutherford berbicara tentang pokok ”Pemerintahan”, dengan tandas menarik perhatian kepada kenyataan bahwa Kerajaan Yehuwa di bawah Kristus akan segera menggantikan semua pemerintahan manusia. Lebih dari 20.000 orang di Auditorium Washington mendengarkannya. Khotbah ini diteruskan oleh saluran radio dan telepon ke seluruh dunia, yang menjangkau Amerika Tengah dan Selatan, Eropa, Afrika Selatan, kepulauan Pasifik, dan negeri-negeri Timur. Mereka yang mendengarkan khotbah itu dengan cara ini dapat mencapai jumlah jutaan. Dua surat kabar terkemuka di Washington melanggar kontrak mereka untuk mempublikasikan khotbah tersebut. Namun mobil-mobil dengan pengeras suara disebarkan oleh saudara-saudara ke 3 lokasi di kota itu dan 40 tempat lain di sekitar Washington, dan dari mobil-mobil ini, khotbah tersebut kembali disiarkan kepada lebih banyak pendengar yang diperkirakan berjumlah 120.000 orang.

      Lalu, pada tahun 1938, dari Royal Albert Hall, di London, Inggris, khotbah yang terus terang berjudul ”Hadapi Kenyataan” disampaikan kepada kira-kira 50 kota kebaktian di seluruh dunia, dengan total hadirin kira-kira 200.000 orang. Selain itu, banyak sekali pendengar radio mendengarkan khotbah tersebut.

      Jadi, walaupun jumlah Saksi-Saksi Yehuwa relatif sedikit, kebaktian-kebaktian mereka memainkan peranan penting dalam mengabarkan berita Kerajaan kepada umum.

      Kebaktian-Kebaktian di Eropa Pascaperang

      Bagi mereka yang hadir, kebaktian-kebaktian tertentu tampil lebih menonjol daripada yang lainnya. Hal ini benar sehubungan dengan kebaktian-kebaktian di Eropa segera setelah Perang Dunia II.

      Satu kebaktian semacam ini diadakan di Amsterdam, Belanda, pada tanggal 5 Agustus 1945, kurang dari empat bulan setelah Saksi-Saksi dibebaskan dari kamp-kamp konsentrasi Jerman. Kira-kira 2.500 delegasi diharapkan datang; 2.000 dari mereka memerlukan pemondokan. Guna memenuhi kebutuhan tempat untuk tidur, Saksi-Saksi setempat menebarkan tikar di atas lantai rumah-rumah mereka. Dari segenap penjuru, para delegasi datang dengan segala sarana yang mungkin—dengan perahu, dengan truk, bersepeda, dan ada yang menumpang kendaraan yang lewat.

      Pada kebaktian itu mereka tertawa dan menangis, mereka bernyanyi, dan bersyukur kepada Yehuwa atas kebaikan-Nya. Sebagaimana dikatakan oleh seorang yang hadir, ”Apa yang mereka alami benar-benar suatu sukacita yang tak terkatakan sehubungan dengan organisasi teokratis yang baru saja dibebaskan dari belenggu!” Sebelum perang, terdapat kurang dari 500 Saksi di Belanda; sejumlah 426 ditahan dan dipenjarakan; 117 meninggal sebagai akibat langsung dari penganiayaan. Betapa bersukacitanya ketika di kebaktian itu, beberapa orang bertemu dengan orang-orang yang mereka kasihi yang mereka kira telah mati! Yang lain mencucurkan air mata karena tidak menemukan orang yang mereka cari. Pada sore itu, 4.000 orang dengan penuh perhatian mendengarkan khotbah umum yang menerangkan alasan Saksi-Saksi Yehuwa menjadi objek penganiayaan kejam demikian. Tidak soal penderitaan apa yang telah mereka alami, mereka siap diorganisasi untuk maju dengan pekerjaan yang Allah berikan kepada mereka.

      Pada tahun berikutnya, 1946, saudara-saudara di Jerman mengatur sebuah kebaktian di Nuremberg. Mereka diizinkan untuk menggunakan Zeppelinwiese, bekas lapangan parade masa Hitler dulu. Pada hari kedua dari kebaktian itu, Erich Frost, yang telah merasakan sendiri kebrutalan Gestapo dan telah mendekam selama bertahun-tahun dalam sebuah kamp konsentrasi Nazi, menyampaikan khotbah umum ”Umat Kristen Dalam Pengujian”. Masyarakat umum sebanyak 3.000 orang dari Nuremberg bergabung dengan 6.000 Saksi-Saksi yang hadir pada acara ini.

      Hari terakhir dari kebaktian itu ternyata adalah hari diumumkannya vonis pada pengadilan para penjahat perang di Nuremberg. Kalangan berwenang militer menetapkan jam malam untuk hari itu, tetapi setelah perundingan yang lama mereka setuju bahwa mengingat pendirian yang diambil Saksi-Saksi Yehuwa dalam menghadapi perlawanan Nazi, maka tidak tepat untuk menghalangi mereka menyelesaikan kebaktian dengan damai. Maka, pada hari terakhir itu, saudara-saudara berkumpul untuk mendengarkan khotbah yang membangkitkan semangat ”Tidak Takut Walaupun Ada Persekongkolan Dunia”.

      Mereka melihat tangan Yehuwa dalam apa yang sedang terjadi. Justru pada waktu orang-orang yang mewakili suatu rezim yang telah berupaya memusnahkan mereka sedang dijatuhi hukuman, Saksi-Saksi Yehuwa berkumpul untuk menyembah Yehuwa di tempat Hitler pernah memperlihatkan sebagian dari pertunjukan kekuatan Nazinya yang paling spektakuler. Ketua kebaktian berkata, ”Untuk dapat mengalami hari ini saja, yang hanyalah pertunjukan pendahuluan dari kemenangan umat Allah atas musuh-musuh mereka di perang Armagedon, maka sembilan tahun dalam kamp konsentrasi tidak sia-sia.”

      Kebaktian-Kebaktian Lain yang Patut Dikenang

      Seraya kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa meluas, kebaktian-kebaktian telah diadakan di seputar dunia. Semuanya memiliki corak-corak yang menonjol bagi mereka yang hadir.

      Di Kitwe, Rhodesia Utara (sekarang Zambia), di pusat Copperbelt, suatu kebaktian dijadwalkan akan diadakan selama kunjungan presiden Lembaga Menara Pengawal pada tahun 1952. Lokasinya adalah suatu daerah yang luas di pinggir salah sebuah kamp pertambangan, di tempat yang sekarang dikenal sebagai Chamboli. Puncak sebuah bukit sarang semut yang telah ditinggalkan diratakan, dan sebuah los beratap jerami dibangun di atasnya yang berfungsi sebagai podium. Los-los beratap jerami lain untuk tidur, dengan dua tingkat, terbentang sepanjang 180 meter dari lokasi tempat duduk utama mirip seperti jari-jari sebuah roda. Pria-pria dan anak-anak lelaki tidur di beberapa los; wanita dan anak-anak perempuan di los-los lain. Beberapa delegasi telah mengadakan perjalanan selama dua minggu dengan sepeda untuk dapat hadir. Yang lain berjalan kaki berhari-hari dan menyelesaikan perjalanan dengan sebuah bus yang primitif.

      Selama acara, hadirin benar-benar penuh perhatian, walaupun hanya duduk di atas bangku-bangku bambu yang keras di udara terbuka. Mereka datang untuk mendengarkan, dan mereka tidak ingin kehilangan sepatah kata pun. Nyanyian dari hadirin sejumlah 20.000 memancing air mata haru—luar biasa indah. Tidak ada iringan alat-alat musik, tetapi keharmonisan suaranya sungguh memesona. Tidak hanya pada nyanyian mereka tetapi dalam segala hal, persatuan nyata di antara Saksi-Saksi ini, walaupun mereka berasal dari berbagai latar belakang dan suku.

      Dan dapatkah saudara bayangkan perasaan Saksi-Saksi Yehuwa di Portugal ketika setelah perjuangan selama hampir 50 tahun untuk mendapatkan kebebasan beribadat, Saksi-Saksi di sana memperoleh pengakuan resmi pada tanggal 18 Desember 1974. Pada waktu itu jumlah mereka kira-kira hanya 14.000 orang. Hanya beberapa hari setelahnya, 7.586 dari mereka memenuhi gedung olahraga di Porto. Hari berikutnya, 39.284 orang lainnya membanjiri sebuah stadion sepak bola di Lisbon. Saudara Knorr dan Franz ada bersama mereka untuk kesempatan yang berbahagia itu, yang tidak akan dilupakan oleh banyak orang.

      Mengorganisasi Pertemuan-Pertemuan Internasional

      Selama kira-kira lebih dari setengah abad, Saksi-Saksi Yehuwa telah mengadakan kebaktian-kebaktian besar di berbagai kota secara serentak di banyak negeri. Perasaan persaudaraan internasional mereka telah ditingkatkan pada kesempatan-kesempatan ini seraya mereka dapat mendengarkan khotbah-khotbah utama yang disampaikan dari satu kota utama.

      Akan tetapi, baru pada tahun 1946, sebuah kebaktian internasional yang besar mengumpulkan delegasi-delegasi dari banyak bagian bumi di satu kota. Ini adalah di Cleveland, Ohio (AS). Walaupun mengadakan perjalanan pada masa pascaperang masih sulit, hadirin mencapai 80.000, termasuk 302 delegasi dari 32 negeri di luar Amerika Serikat. Acara diadakan dalam 20 bahasa. Banyak instruksi praktis disampaikan dengan tujuan memperluas pekerjaan penginjilan. Salah satu acara penting kebaktian adalah khotbah Saudara Knorr tentang masalah-masalah rekonstruksi dan ekspansi. Hadirin bertepuk tangan penuh semangat ketika mereka mendengar rencana untuk memperluas fasilitas-fasilitas percetakan dan kantor di kantor pusat Lembaga, dan juga fasilitas-fasilitas pemancar radio, untuk mendirikan kantor-kantor cabang di negeri-negeri utama di dunia, dan untuk memperluas pekerjaan utusan injil. Segera setelah kebaktian tersebut, perincian disusun supaya Saudara Knorr dan Henschel dapat mengadakan perjalanan keliling dunia guna melaksanakan apa yang telah dibahas.

      Selama tahun-tahun berikutnya, kebaktian-kebaktian yang sungguh bersejarah diadakan di Yankee Stadium di New York City. Pada kebaktian yang pertama, dari 30 Juli hingga 6 Agustus 1950, delegasi-delegasi dari 67 negeri hadir. Laporan singkat yang disampaikan oleh para hamba cabang, utusan injil, dan delegasi lain dimasukkan ke dalam acara. Semua ini memperlihatkan pandangan sekilas yang menggetarkan kepada hadirin kebaktian tentang pekerjaan penginjilan yang hebat yang sedang dilakukan di semua negeri asal mereka. Pada hari terakhir, jumlah hadirin meningkat sampai 123.707 orang untuk acara khotbah ”Dapatkah Saudara Hidup Selama-lamanya Dalam Kebahagiaan di Bumi?” Tema kebaktian ini adalah ”Pertambahan Teokrasi”. Perhatian ditujukan kepada pertambahan jumlah yang besar. Meskipun demikian, sebagai ketua, Grant Suiter, dengan tegas menunjukkan bahwa ini dilakukan bukan untuk menyanjung pemikiran cerdas mana pun dalam organisasi yang kelihatan. Sebaliknya, ia menyatakan, ”Kekuatan jumlah yang baru ini dibaktikan demi kehormatan Yehuwa. Ini memang sepatutnya demikian, dan tidak mungkin lain.”

      Pada tahun 1953, kebaktian lain diadakan di Yankee Stadium, New York. Kali ini hadirin mencapai puncak 165.829 orang. Sebagaimana halnya pada kebaktian pertama di sana, acaranya padat dengan pembahasan tentang nubuat-nubuat Alkitab yang menggetarkan, nasihat praktis tentang cara melaksanakan pemberitaan kabar baik, dan laporan dari banyak negeri. Walaupun acara dimulai sekitar pukul 9.30 pagi, biasanya acara belum berakhir hingga pukul 9.00 atau 9.30 malam. Kebaktian ini menyuguhkan delapan hari penuh pesta rohani yang membawa sukacita.

      Untuk kebaktian mereka yang terbesar, di New York pada tahun 1958, perlu untuk menggunakan bukan hanya Yankee Stadium tetapi juga Polo Grounds yang berdekatan maupun daerah-daerah luberan di luar stadion-stadion itu untuk menampung banyak orang di kebaktian ini. Pada hari terakhir, ketika semua kursi telah ditempati, izin khusus diberikan bahkan untuk menggunakan lapangan pertandingan Yankee Stadium, dan betapa pemandangan yang menggetarkan sewaktu ribuan orang mengalir masuk, melepaskan sepatu mereka, dan duduk di atas rumput! Perhitungan memperlihatkan ada 253.922 yang hadir untuk mendengarkan khotbah umum. Bukti lebih lanjut dari berkat Yehuwa pada pelayanan hamba-hamba-Nya terlihat ketika 7.136 orang pada kebaktian ini melambangkan pembaktian diri mereka dengan baptisan air—lebih dari dua kali lipat jumlah yang dibaptis pada peristiwa bersejarah Pentakosta tahun 33 M, sebagaimana dilaporkan dalam Alkitab!—Kis. 2:41.

      Seluruh pelaksanaan kebaktian-kebaktian ini memberikan bukti mengenai sesuatu yang jauh lebih daripada sekadar organisasi yang efisien. Itu merupakan manifestasi dari roh Allah yang bekerja di antara umat-Nya. Kasih persaudaraan yang didasarkan atas kasih akan Allah nyata di mana-mana. Tidak ada organisator-organisator dengan bayaran tinggi. Setiap departemen diawasi oleh para sukarelawan yang tidak dibayar. Saudara-saudara dan saudari-saudari Kristen, sering kali kelompok-kelompok keluarga, mengurus stan-stan makanan ringan dan minuman. Mereka juga menyiapkan makanan hangat, dan di dalam tenda-tenda besar di luar stadion, mereka melayani para delegasi dengan kecepatan rata-rata seribu orang per menit. Puluhan ribu orang—mereka semua gembira dapat ikut bekerja—melayani sebagai para pengurus dan menangani semua pembangunan yang diperlukan, memasak dan menyajikan makanan, membersihkan, dan banyak lagi.

      Lebih banyak sukarelawan membaktikan ratusan ribu jam guna memenuhi kebutuhan pemondokan para delegasi. Pada tahun-tahun tertentu, untuk menampung setidaknya sebagian dari para peserta kebaktian, trailer dan lokasi-lokasi perkemahan diorganisasi. Pada tahun 1953 Saksi-Saksi memanen 16 hektare ladang gandum, secara cuma-cuma, untuk seorang petani di New Jersey yang menyewakan tanahnya kepada mereka sebagai lokasi trailer-trailer mereka. Fasilitas-fasilitas sanitasi, penerangan, kamar-kamar mandi, ruang-ruang untuk mencuci pakaian, kafetaria, dan kios-kios bahan makanan dibangun untuk memenuhi keperluan suatu populasi sejumlah lebih dari 45.000 orang. Seraya mereka datang untuk menempatinya, sebuah kota muncul dalam semalam. Ribuan lagi ditampung di hotel-hotel dan rumah-rumah pribadi di dalam dan sekitar New York. Ini benar-benar pekerjaan raksasa. Dengan berkat Yehuwa, semuanya dilaksanakan dengan sukses.

      Kebaktian-kebaktian yang Bergerak

      Anggota-anggota dari persaudaraan internasional ini sangat berminat akan rekan-rekan Saksi di negeri-negeri lain. Karena itu, mereka menggunakan kesempatan untuk menghadiri kebaktian-kebaktian di luar negeri.

      Pada kebaktian pertama dari rangkaian Kebaktian Ibadat yang Bersih yang berlangsung di Wembley Stadium, London, Inggris, pada tahun 1951, Saksi-Saksi dari 40 negeri hadir. Acaranya menekankan segi praktis dari ibadat sejati dan cara menjadikan pelayanan sebagai karier dalam hidup seseorang. Dari Inggris, banyak Saksi mengadakan perjalanan ke Benua Eropa, tempat sembilan kebaktian lainnya diadakan selama dua bulan berikutnya. Yang paling besar dari semua ini ada di Frankfurt am Main, Jerman, dan di sana 47.432 orang hadir dari 24 negeri. Kehangatan saudara-saudara ditunjukkan pada penutup acara ketika orkes dimulai dan saudara-saudara dari Jerman dengan spontan segera menyanyikan lagu perpisahan yang memuji Allah karena rekan Saksi-Saksi telah datang dari luar negeri untuk bergabung bersama mereka. Saputangan dilambai-lambaikan dan ratusan orang berkelompok melintasi lapangan, untuk mengungkapkan penghargaan pribadi atas pesta teokratis yang besar ini.

      Pada tahun 1955, lebih banyak Saksi mengatur untuk mengunjungi saudara-saudara Kristen mereka di luar negeri pada waktu kebaktian. Dengan dua kapal yang dicarter (masing-masing dengan 700 penumpang) dan 42 pesawat terbang yang dicarter, delegasi-delegasi dari Amerika Serikat dan Kanada pergi ke Eropa. Edisi Eropa dari surat kabar The Stars and Stripes, yang diterbitkan di Jerman, menggambarkan arus datangnya Saksi-Saksi sebagai ”pergerakan massa yang mungkin paling besar dari orang-orang Amerika melalui Eropa sejak serangan Sekutu selama Perang Dunia II.” Delegasi-delegasi lain datang dari Amerika Tengah dan Selatan, Asia, Afrika, dan Australia. Sekalipun ada upaya dari para pemimpin agama Susunan Kristen untuk mencegah Saksi-Saksi mengadakan kebaktian mereka di Roma dan Nuremberg, dua kebaktian ini dan enam lainnya diselenggarakan di Eropa selama musim panas. Hadirin mencapai antara 4.351 di Roma sampai 107.423 di Nuremberg. Kelompok lain sebanyak 17.729 orang berkumpul di Waldbühne tempat yang pada waktu itu disebut Berlin Barat, yang dapat dicapai dengan risiko yang lebih kecil oleh saudara-saudara dari zona Timur pada zaman itu. Banyak dari mereka pernah dipenjara karena iman atau memiliki anggota-anggota keluarga yang pada waktu itu ada di penjara, tetapi mereka tetap teguh dalam iman. Betapa cocok tema kebaktian itu—”Kerajaan yang Berkemenangan”!

      Walaupun sudah ada banyak kebaktian internasional, apa yang terjadi pada tahun 1963 adalah yang pertama kalinya. Ini adalah kebaktian keliling dunia. Dimulai di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat, kebaktian ini bergerak ke New York; selanjutnya, ke empat kota utama di Eropa; melalui Timur Tengah; ke India, Birma (sekarang Myanmar), Thailand, Hong Kong, Singapura, Filipina, Indonesia, Australia, Taiwan, Jepang, Selandia Baru, Fiji, Republik Korea, dan Hawaii; dan kembali ke benua Amerika Utara. Seluruhnya, delegasi dari 161 negeri hadir. Total hadirin melebihi 580.000. Ada 583 orang, dari kira-kira 20 negeri, yang mengikuti rute kebaktian ini, pergi dari satu negeri ke negeri lain, mengelilingi bumi. Tur-tur khusus memungkinkan mereka melihat tempat-tempat yang menarik secara keagamaan, dan mereka juga ikut dengan saudara-saudara dan saudari-saudari setempat dalam pelayanan dari rumah ke rumah. Orang-orang yang mengadakan perjalanan ini membayar sendiri ongkos-ongkos mereka.

      Delegasi dari Amerika Latin selalu hadir dalam kebanyakan kebaktian internasional. Namun pada tahun 1966-67, giliran merekalah untuk menjadi tuan rumah kebaktian. Mereka yang hadir tidak akan pernah melupakan drama yang menampilkan kisah Alkitab tentang Yeremia dan yang membantu setiap orang menghargai maknanya bagi zaman kita.a Ikatan kasih Kristen diperkuat seraya para pengunjung menyaksikan sendiri apa yang melatarbelakangi kampanye besar pendidikan Alkitab yang sedang dilaksanakan di Amerika Latin. Mereka sangat terharu oleh iman yang kuat dari rekan-rekan seiman, banyak di antaranya telah mengatasi hambatan-hambatan yang tampaknya tak teratasi—perlawanan keluarga, banjir, kehilangan harta milik—untuk dapat hadir. Mereka sangat dianjurkan oleh pengalaman-pengalaman demikian seperti dari seorang saudari perintis istimewa yang lemah secara fisik dari Uruguay yang diwawancarai dan bersamanya di podium ada sebanyak 80 orang yang telah ia bantu untuk maju sampai pada taraf pembaptisan Kristen! (Hingga tahun 1992, ia telah membantu 105 orang sampai pada taraf pembaptisan. Ia masih lemah secara fisik dan masih melayani sebagai perintis istimewa!) Betapa menghangatkan hati pula untuk bertemu dengan para utusan injil dari kelas-kelas Gilead paling awal yang masih bekerja dalam penugasan-penugasan mereka! Kebaktian-kebaktian tersebut adalah pendorong yang bagus bagi pekerjaan yang sedang dilakukan di belahan dunia sana. Di banyak negeri itu sekarang, para pemuji Yehuwa berjumlah 10, 15, atau bahkan 20 kali lipat lebih banyak dibandingkan pada waktu itu.

      Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1970-71, Saksi-Saksi dari negeri-negeri lain dapat bergaul dengan saudara-saudara mereka pada kebaktian-kebaktian internasional yang diadakan di Afrika. Yang paling besar dari kebaktian-kebaktian ini diadakan di Lagos, Nigeria, dan semua fasilitas harus dibangun mulai dari tanah kosong. Untuk melindungi para delegasi dari panas matahari, sebuah kota dari bambu dibangun—tempat-tempat duduk, tempat-tempat bermalam, kafetaria, dan departemen-departemen lain. Ini membutuhkan 100.000 batang bambu dan 36.000 tikar besar dari anyaman lalang—semuanya dipersiapkan oleh saudara-saudara dan saudari-saudari. Acara disampaikan dalam 17 bahasa secara serentak. Hadirin mencapai 121.128 orang, dan 3.775 Saksi-Saksi baru, dibaptis. Berbagai golongan suku diwakili, dan banyak dari mereka yang hadir adalah orang-orang yang dulu sering berperang satu sama lain. Namun sekarang, betapa bersukacitanya untuk melihat mereka bersatu dalam ikatan persaudaraan Kristen yang sejati!

      Setelah kebaktian itu, beberapa delegasi asing mengadakan perjalanan dengan bus ke Igboland untuk melihat daerah yang mengalami kerusakan paling parah akibat perang saudara yang baru terjadi. Ini menimbulkan sensasi besar di kota demi kota seraya para pengunjung itu disambut dan dirangkul oleh Saksi-Saksi setempat. Masyarakat bergegas lari ke jalan untuk melihat. Pertunjukan kasih dan persatuan demikian antara kulit hitam dan kulit putih adalah hal yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.

      Di negeri-negeri tertentu, jumlah Saksi-Saksi Yehuwa tidak memungkinkan mereka semua datang berkumpul di satu tempat. Akan tetapi, kadang-kadang, beberapa kebaktian besar diadakan pada waktu yang sama, diikuti dengan kebaktian-kebaktian lain, minggu demi minggu. Pada tahun 1969, persatuan yang dirasakan pada kebaktian-kebaktian yang diadakan dengan cara ini diperkuat oleh kenyataan bahwa beberapa pembicara utama pergi mondar-mandir dengan pesawat terbang dari satu kebaktian ke kebaktian lain, sehingga dapat melayani mereka semua. Pada tahun 1983 dan 1988, persatuan serupa dirasakan ketika sejumlah kebaktian besar yang menggunakan bahasa yang sama dihubungkan satu sama lain, bahkan secara internasional, dengan sambungan telepon untuk khotbah-khotbah utama yang disampaikan oleh anggota-anggota Badan Pimpinan. Akan tetapi, dasar sesungguhnya dari persatuan di kalangan Saksi-Saksi Yehuwa adalah fakta bahwa mereka semua menyembah Yehuwa sebagai satu-satunya Allah yang benar, mereka semua berpegang pada Alkitab sebagai pedoman mereka, mereka semua mengambil manfaat dari program pemberian makanan rohani yang sama, mereka semua memandang kepada Yesus Kristus sebagai Pemimpin mereka, mereka semua berupaya menyatakan buah-buah roh Allah dalam kehidupan mereka, mereka semua menaruh kepercayaan mereka kepada Kerajaan Allah, dan mereka semua ikut membawa kabar baik tentang Kerajaan itu kepada orang-orang lain.

      Diorganisasi untuk Pujian Internasional Kepada Yehuwa

      Saksi-Saksi Yehuwa telah meningkat jumlahnya sampai pada tingkat melebihi jumlah penduduk dari banyak bangsa tertentu. Agar kebaktian-kebaktian mereka dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya, diperlukan banyak perencanaan yang teliti. Akan tetapi, permintaan sederhana yang diterbitkan mengenai tempat-tempat ke mana Saksi-Saksi dari berbagai daerah diharapkan hadir biasanya sudah cukup merupakan jaminan bahwa ada tempat bagi semua. Jika kebaktian-kebaktian internasional direncanakan, sering kali Badan Pimpinan perlu mempertimbangkan bukan hanya jumlah Saksi-Saksi dari negeri-negeri lain yang ingin datang dan dapat menghadirinya tetapi juga besarnya fasilitas kebaktian yang tersedia, jumlah Saksi-Saksi setempat yang akan hadir, dan jumlah pemondokan yang tersedia bagi para delegasi; kemudian angka maksimum dapat diberikan untuk setiap negeri. Hal itulah yang dilakukan pada waktu tiga Kebaktian ”Pengabdian Ilahi” diadakan di Polandia pada tahun 1989.

      Untuk kebaktian-kebaktian itu, kira-kira 90.000 Saksi-Saksi Yehuwa diharapkan datang dari Polandia, selain dari ribuan peminat baru. Banyak juga yang diundang untuk hadir dari Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat. Delegasi-delegasi besar disambut dari Italia, Prancis, dan Jepang. Yang lain-lain datang dari Skandinavia dan Yunani. Sedikitnya ada 37 negeri yang diwakili. Untuk bagian-bagian acara tertentu, khotbah-khotbah dalam bahasa Polandia atau Inggris perlu diterjemahkan ke dalam 16 bahasa lain. Total hadirin ada 166.518 orang.

      Kelompok-kelompok besar Saksi-Saksi pada kebaktian ini datang dari negeri yang pada waktu itu disebut Uni Soviet dan dari Cekoslowakia; kelompok-kelompok yang cukup besar juga hadir dari negeri-negeri Eropa Timur lain. Hotel-hotel dan asrama-asrama sekolah tidak dapat menampung semuanya. Dengan murah hati, Saksi-Saksi Polandia membuka hati mereka dan rumah-rumah mereka, dengan senang membagi apa yang ada pada mereka. Sebuah sidang yang terdiri dari 146 orang menyediakan pemondokan untuk lebih dari 1.200 delegasi. Bagi beberapa orang yang menghadiri kebaktian-kebaktian ini, inilah pertama kalinya mereka berada dalam pertemuan besar umat Yehuwa yang terdiri atas lebih dari 15 atau 20 orang. Hati mereka dipenuhi dengan rasa syukur seraya mereka melihat puluhan ribu orang di stadion-stadion itu, bergabung dengan mereka dalam doa, dan memadukan suara dalam nyanyian untuk memuji Yehuwa. Mereka bergaul bersama sewaktu istirahat antara satu acara ke acara lain, mereka berangkulan dengan hangat, walaupun perbedaan bahasa sering kali menahan mereka untuk mengucapkan dengan kata-kata hal-hal yang ada dalam hati mereka.

      Menjelang akhir kebaktian ini, hati mereka dipenuhi dengan syukur kepada Yehuwa, yang memungkinkan semua ini terjadi. Di Warsawa, setelah kata-kata perpisahan oleh ketua, hadirin meledak dalam tepuk tangan yang tidak putus-putusnya setidaknya selama sepuluh menit. Setelah nyanyian dan doa terakhir, tepuk tangan dilanjutkan, dan hadirin tinggal berlama-lama di tribun. Mereka telah menantikan peristiwa ini selama bertahun-tahun, dan mereka tidak ingin ini berakhir.

      Pada tahun berikutnya, 1990, kurang dari lima bulan setelah dicabutnya larangan yang telah berlangsung selama 40 tahun atas Saksi-Saksi Yehuwa di tempat yang pada waktu itu dikenal sebagai Jerman Timur, kebaktian internasional lain yang menggetarkan diadakan, kali ini di Berlin. Di antara 44.532 orang yang hadir ada delegasi dari 65 negeri lain. Dari beberapa negeri, hanya beberapa yang datang; dari Polandia, sekitar 4.500 orang. Kata-kata tidak dapat mengungkapkan dalamnya perasaan mereka yang sebelumnya tidak pernah mempunyai kebebasan untuk menghadiri kebaktian semacam itu, dan ketika seluruh hadirin bersatu dalam nyanyian-nyanyian pujian kepada Yehuwa, mereka tidak sanggup membendung air mata sukacita mereka.

      Belakangan pada tahun itu, sewaktu kebaktian serupa diadakan di São Paulo, Brasil, dua stadion besar diperlukan untuk menampung hadirin internasional sejumlah 134.406 orang. Ini diikuti dengan sebuah kebaktian di Argentina, di sana sekali lagi dua stadion digunakan secara serentak untuk menampung hadirin internasional itu. Seraya tahun 1991 mulai, kebaktian-kebaktian internasional lainnya mulai berlangsung di Filipina, Taiwan, dan Thailand. Sejumlah besar hadirin dari banyak bangsa juga hadir pada tahun itu untuk kebaktian-kebaktian di Eropa Timur—di Hongaria, Cekoslowakia, dan daerah yang sekarang adalah Kroatia. Dan pada tahun 1992, delegasi dari 28 negeri menganggap suatu hak istimewa khusus untuk berada di antara 46.214 orang di St. Petersburg untuk kebaktian pertama dari Saksi-Saksi Yehuwa di Rusia yang benar-benar bersifat internasional.

      Kesempatan untuk Penyegaran Rohani yang Tetap Tentu

      Tidak semua kebaktian yang diselenggarakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa merupakan pertemuan internasional. Akan tetapi, Badan Pimpinan mengatur kebaktian-kebaktian besar sekali setahun, dan acara yang sama dinikmati di seluruh dunia dalam banyak bahasa. Kebaktian-kebaktian ini bisa jadi cukup besar, yang memberikan kesempatan untuk bergaul dengan Saksi-Saksi lain dari banyak tempat, atau bisa saja lebih kecil dan diadakan di banyak kota, yang memudahkan orang-orang baru untuk datang dan memungkinkan masyarakat umum di ratusan kota yang lebih kecil untuk melihat dengan baik dan dari dekat contoh khas tentang Saksi-Saksi Yehuwa.

      Selain itu, sekali setahun setiap wilayah (yang terdiri dari sekitar 20 sidang) berkumpul untuk acara nasihat rohani dan anjuran selama dua hari.b Juga, sejak bulan September 1987, hari kebaktian istimewa, acara yang membina selama satu hari, diatur untuk setiap wilayah setahun sekali. Di tempat-tempat yang memungkinkan, seorang anggota staf kantor pusat Lembaga atau seseorang dari kantor cabang setempat diutus untuk ambil bagian dalam acara itu. Acara-acara ini sangat dihargai oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Di banyak daerah, lokasi-lokasi kebaktian tidak jauh atau sulit dicapai. Namun halnya tidak selalu demikian. Seorang pengawas keliling mengingat satu pasangan lanjut usia yang berjalan kaki sejauh 76 kilometer sambil membawa koper-koper dan selimut untuk menghadiri sebuah kebaktian wilayah di Zimbabwe.

      Dinas pengabaran selama kebaktian tidak lagi menjadi corak dalam semua kebaktian ini, tetapi hal itu bukanlah karena Saksi-Saksi memandangnya kurang penting. Pada umumnya, orang-orang yang tinggal di dekat lokasi kebaktian sekarang telah dikunjungi secara tetap tentu oleh Saksi-Saksi setempat—dalam beberapa keadaan, setiap beberapa minggu. Delegasi kebaktian terus waspada akan kesempatan untuk kesaksian tidak resmi, dan dengan cara lain tingkah laku Kristen mereka menjadi kesaksian yang ampuh.

      Bukti dari Persaudaraan yang Sejati

      Persaudaraan yang nyata di antara Saksi-Saksi pada kebaktian-kebaktian mereka sangat jelas bagi para pengamat. Mereka dapat melihat bahwa tidak ada perpecahan di antara Saksi-Saksi dan kehangatan sejati nyata bahkan di antara mereka yang mungkin baru pertama kali saling berkenalan. Pada waktu Kebaktian Internasional Kehendak Ilahi di New York tahun 1958, surat kabar New York Amsterdam News (2 Agustus) melaporkan, ”Di mana-mana, orang-orang Negro, kulit putih dan Asia, dari semua lingkungan hidup dan semua bagian dunia, bergaul dengan riang dan bebas. . . . Saksi-Saksi yang sedang beribadat dari 120 negeri ini hidup dan beribadat bersama dengan damai, memperlihatkan kepada orang-orang Amerika betapa mudahnya itu dapat dilakukan. . . . Kebaktian itu adalah contoh yang gemilang tentang bagaimana orang-orang dapat bekerja dan hidup bersama.”

      Baru-baru ini, ketika Saksi-Saksi Yehuwa mengadakan kebaktian-kebaktian serentak di Durban dan Johannesburg, Afrika Selatan, pada tahun 1985, para delegasinya termasuk semua kelompok ras dan bahasa utama di Afrika Selatan, dan juga wakil-wakil dari 23 negeri lain. Pergaulan yang hangat di antara 77.830 orang yang hadir sangat jelas. ”Ini benar-benar indah,” kata seorang wanita India yang masih muda. ”Melihat orang-orang kulit berwarna, orang-orang India, orang-orang kulit putih, dan hitam semua bergaul bersama telah mengubah seluruh pandangan hidup saya.”

      Rasa persaudaraan ini jauh melampaui senyuman, jabatan tangan, dan panggilan ”saudara” dan ”saudari” kepada satu sama lain. Sebagai contoh, ketika pengaturan sedang dibuat untuk Kebaktian ”Kabar Kesukaan yang Kekal” di seluruh dunia pada tahun 1963, Saksi-Saksi Yehuwa diberi tahu bahwa jika mereka senang membantu yang lain secara keuangan untuk menghadiri sebuah kebaktian, Lembaga senang untuk mengupayakan agar dana itu dapat dinikmati oleh saudara-saudara di semua bagian bumi. Tidak ada penagihan, dan tidak dipungut biaya administrasi. Semua dana digunakan untuk tujuan yang disebutkan. Dengan cara ini, 8.179 orang dibantu untuk menghadiri kebaktian. Delegasi-delegasi dari setiap negeri di Amerika Tengah dan Selatan diberi bantuan, sebagaimana juga ribuan dari Afrika dan banyak di Timur Tengah dan Timur Jauh. Sebagian besar dari mereka yang dibantu adalah saudara-saudara dan saudari-saudari yang telah membaktikan diri bertahun-tahun dalam dinas sepenuh waktu.

      Menjelang akhir tahun 1978, sebuah kebaktian direncanakan akan diadakan di Auckland, Selandia Baru. Saksi-Saksi di Kepulauan Cook mengetahui hal ini dan ingin sekali datang. Namun keadaan ekonomi di pulau tersebut sedemikian rupa sehingga untuk mengadakan perjalanan itu dibutuhkan biaya yang besar bagi setiap orang sehingga kecil kemungkinannya. Akan tetapi, saudara dan saudari rohani yang pengasih di Selandia Baru menyumbangkan biaya pulang-pergi untuk kira-kira 60 orang dari pulau itu. Betapa bahagianya mereka dapat hadir untuk ikut dalam pesta rohani dengan saudara-saudara mereka orang-orang Maori, Samoa, Niue, dan Kaukasoid!

      Semangat yang khas di kalangan Saksi-Saksi Yehuwa juga terlihat pada penutup Kebaktian Distrik ”Keadilan Ilahi” di Montreal, Kanada, pada tahun 1988. Selama empat hari, delegasi-delegasi Arab, Inggris, Prancis, Yunani, Italia, Portugis, dan Spanyol telah menikmati acara yang sama dalam bahasa mereka sendiri. Akan tetapi, pada akhir dari bagian penutup, mereka semua yang berjumlah 45.000 orang bergabung bersama-sama di Olympic Stadium dalam suatu pertunjukan persaudaraan dan kesatuan tujuan yang mengharukan. Bersama-sama mereka menyanyikan, masing-masing kelompok dengan bahasanya sendiri, ”Ayo nyanyi: ’Yehuwa t’lah memerintah; bumi, . . . bersukacita’.”

      [Catatan Kaki]

      a Ada tujuh puluh lebih drama seperti itu dipersembahkan pada kebaktian-kebaktian selama 25 tahun berikutnya.

      b Dari tahun 1947 hingga 1987, kebaktian-kebaktian ini diadakan dua kali setahun. Terus sampai tahun 1972, kebaktian-kebaktian ini diadakan selama tiga hari; setelah itu acara dua hari diadakan.

      [Blurb di hlm. 255]

      ”Saya sangat terkesan oleh semangat kasih dan kebaikan persaudaraan”

      [Blurb di hlm. 256]

      Kereta-kereta api kebaktian—semua naik!

      [Blurb di hlm. 275]

      Bukan organisator-organisator kebaktian dengan bayaran tinggi, melainkan para sukarelawan yang tidak dibayar

      [Blurb di hlm. 278]

      Persatuan antara kulit hitam dan kulit putih

      [Kotak/Gambar di hlm. 261]

      Tujuh Resolusi Kebaktian yang Penting

      Pada tahun 1922, resolusi yang berjudul ”Suatu Tantangan Kepada Para Pemimpin Dunia” meminta mereka membuktikan bahwa umat manusia memiliki hikmat untuk memerintah bumi ini atau mengakui bahwa perdamaian, kehidupan, kemerdekaan, dan kebahagiaan kekal hanya dapat datang dari Yehuwa melalui Yesus Kristus.

      Pada tahun 1923, ada ”Suatu Peringatan Kepada Semua Orang Kristen” tentang kebutuhan yang mendesak untuk melarikan diri dari organisasi yang dengan curang mengaku mewakili Allah dan Kristus.

      Pada tahun 1924, ”Kependetaan Didakwa” menyingkapkan doktrin-doktrin dan praktek-praktek para pemimpin agama Susunan Kristen yang tidak berdasarkan Alkitab.

      Pada tahun 1925, ”Berita Harapan” memperlihatkan mengapa mereka yang mengaku sebagai terang yang membimbing dunia telah gagal memuaskan kebutuhan manusia yang terbesar dan bagaimana hanya Kerajaan Allah dapat melakukannya.

      Pada tahun 1926, ”Suatu Kesaksian Kepada Para Penguasa Dunia” memberi tahu mereka bahwa Yehuwa adalah satu-satunya Allah yang benar dan bahwa Yesus Kristus sekarang memerintah sebagai Raja yang paling berhak atas bumi. Resolusi ini mendesak para penguasa agar menggunakan pengaruh mereka untuk memalingkan pikiran orang-orang kepada Allah yang benar sehingga bencana tidak menimpa mereka.

      Pada tahun 1927, ”Resolusi Bagi Bangsa-Bangsa Susunan Kristen” menyingkapkan gabungan ekonomi-politik-agama yang menekan umat manusia. Resolusi ini mendesak orang-orang untuk meninggalkan Susunan Kristen dan menaruh kepercayaan mereka kepada Yehuwa dan Kerajaan-Nya di tangan Kristus.

      Pada tahun 1928, ”Pernyataan Melawan Setan dan Mendukung Yehuwa” menjelaskan bahwa Raja yang diurapi Yehuwa, Yesus Kristus, akan segera mengikat Setan dan menghancurkan organisasinya yang fasik, dan resolusi ini mendesak semua yang mengasihi keadilbenaran untuk berpihak pada Yehuwa.

      [Kotak/Gambar di hlm. 272, 273]

      Corak-Corak dari Beberapa Kebaktian Besar

      Ratusan delegasi yang antusias tiba dengan kapal, ribuan dengan pesawat terbang, puluhan ribu dengan mobil dan bus

      Pengorganisasian yang baik dan banyak sukarelawan diperlukan untuk mencari dan menentukan kamar-kamar pemondokan yang memadai

      Selama kebaktian-kebaktian delapan hari ini, makanan utama—yang jumlahnya puluhan ribu—disajikan dengan teratur kepada para delegasi

      Pada tahun 1953, sebuah lokasi untuk ”trailer” dan perkemahan menampung lebih dari 45.000 delegasi

      Di New York, pada tahun 1958, 7.136 orang dibaptis—lebih banyak daripada tahun mana pun sejak Pentakosta 33 M.

      Spanduk-spanduk salam dari banyak negeri terpampang, dan acara disampaikan dalam 21 bahasa, di New York pada tahun 1953

      [Gambar di hlm. 256]

      Para delegasi kebaktian IBSA di Winnipeg, Man., Kanada, pada tahun 1917

      [Gambar di hlm. 258]

      J. F. Rutherford berkhotbah di Cedar Point, Ohio, pada tahun 1919. Ia mendesak semua untuk dengan bergairah ikut mengumumkan Kerajaan Allah, menggunakan ”The Golden Age”

      [Gambar di hlm. 259]

      Kebaktian di Cedar Point pada tahun 1922. Panggilan berkumandang, ”Umumkan Raja dan Kerajaan”

      [Gambar di hlm. 260]

      George Gangas berada di Cedar Point pada tahun 1922. Selama kira-kira 70 tahun sejak itu ia memberitakan Kerajaan Allah dengan bergairah

      [Gambar di hlm. 262, 263]

      Para delegasi untuk kebaktian tahun 1931 di Columbus, Ohio, yang dengan penuh semangat menerima nama Saksi-Saksi Yehuwa

      [Gambar di hlm. 264]

      ”New World Translation of the Christian Greek Scriptures” diperkenalkan oleh N. H. Knorr pada tahun 1950

      [Gambar di hlm. 264]

      Khotbah-khotbah oleh F. W. Franz mengenai penggenapan nubuat Alkitab adalah hal yang ditonjolkan dalam kebaktian (New York, 1958)

      [Gambar di hlm. 265]

      Selama bertahun-tahun dinas pengabaran merupakan suatu bagian penting dalam setiap kebaktian.

      Los Angeles, AS, 1939 (bawah); Stockholm, Swedia, 1963 (inset)

      [Gambar di hlm. 266]

      Pada waktu J. F. Rutherford berkhotbah dari Washington, DC, pada tahun 1935, beritanya disiarkan melalui radio dan sambungan telepon ke enam benua

      [Gambar di hlm. 268]

      Di Nuremberg, Jerman, pada tahun 1946, Erich Frost memberikan khotbah yang berapi-api berjudul ”Umat Kristen Dalam Pengujian”

      [Gambar di hlm. 269]

      Kebaktian di udara terbuka di Kitwe, Rhodesia Utara, selama kunjungan N. H. Knorr pada tahun 1952

      [Gambar di hlm. 270, 271]

      Pada tahun 1958 hadirin sejumlah 253.922 orang membanjiri dua stadion besar di New York mendengar berita ”Kerajaan Allah Memerintah—Apakah Kesudahan Dunia Sudah Dekat?”

      Polo Grounds

      Yankee Stadium

      [Gambar di hlm. 274]

      Grant Suiter, ketua kebaktian di Yankee Stadium pada tahun 1950

      [Gambar di hlm. 274]

      John Groh (duduk), membahas organisasi kebaktian dengan George Couch pada tahun 1958

      [Gambar di hlm. 277]

      Pada tahun 1963, suatu kebaktian keliling dunia diadakan, dengan delegasi dari kira-kira 20 negeri mengadakan perjalanan mengikuti kebaktian itu mengelilingi bumi

      Kyoto, Jepang (kiri bawah), adalah salah satu dari 27 kota kebaktian. Para delegasi di Republik Korea saling berkenalan (tengah). Seorang Maori memberi salam di Selandia Baru (kanan bawah)

      [Gambar di hlm. 279]

      Sebuah kebaktian yang melayani 17 kelompok bahasa secara serentak, di sebuah kota bambu yang dibangun untuk peristiwa itu (Lagos, Nigeria, 1970)

      [Gambar di hlm. 280]

      Tiga kebaktian besar diadakan di Polandia pada tahun 1989, dengan dihadiri oleh delegasi dari 37 negeri

      T. Jaracz (sebelah kanan) berbicara kepada para delegasi di Poznan

      Ribuan orang dibaptis di Chorzów

      Hadirin bertepuk tangan lama sekali di Warsawa

      Delegasi-delegasi dari negeri yang pada waktu itu disebut Uni Soviet (bawah)

      Bagian-bagian dari acara di Chorzów diterjemahkan ke dalam 15 bahasa

  • ”Carilah Dahulu Kerajaan”
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 18

      ”Carilah Dahulu Kerajaan”

      TEMA utama Alkitab ialah penyucian nama Yehuwa dengan perantaraan Kerajaan. Yesus Kristus mengajar para pengikutnya untuk mencari dahulu Kerajaan, mendahulukannya dari segala kepentingan lain dalam kehidupan. Mengapa?

      The Watchtower berulang kali menjelaskan bahwa berdasarkan fakta bahwa Ia adalah Pencipta, maka Yehuwa adalah Penguasa Tertinggi di Alam Semesta. Ia layak dihormati setinggi-tingginya oleh makhluk-makhluk ciptaan-Nya. (Why. 4:11) Akan tetapi, pada awal sejarah umat manusia, satu putra rohani Allah yang menjadikan dirinya Setan si Iblis secara terang-terangan menantang kedaulatan Yehuwa. (Kej. 3:1-5) Selanjutnya, Setan menuduh bahwa semua yang melayani Yehuwa didorong motif mementingkan diri. (Ayb. 1:9-11; 2:4, 5; Why. 12:10) Dengan demikian damai di alam semesta terganggu.

      Sudah selama puluhan tahun publikasi-publikasi dari Menara Pengawal mengemukakan bahwa Yehuwa telah membuat persediaan untuk menyelesaikan sengketa-sengketa ini dengan cara yang bukan saja menonjolkan kemahakuasaan-Nya melainkan juga kebesaran hikmat-Nya, keadilan-Nya, dan kasih-Nya. Bagian utama dari persediaan tersebut adalah Kerajaan Mesias Allah. Dengan perantaraan Kerajaan itu, umat manusia diberi cukup kesempatan untuk mempelajari jalan keadilbenaran. Dengan perantaraan Kerajaan tersebut, orang-orang jahat akan dibinasakan, kedaulatan Yehuwa akan dibenarkan, dan maksud-tujuan-Nya akan tercapai untuk membuat bumi suatu firdaus yang dihuni oleh orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi Allah dan satu sama lain dan yang diberkati dengan kesempurnaan hidup.

      Karena pentingnya hal itu, Yesus menasihati para pengikutnya, ”Maka, teruslah cari dahulu kerajaan.” (Mat. 6:10, 33, NW) Saksi-Saksi Yehuwa di zaman modern telah memberikan banyak sekali bukti bahwa mereka berupaya mengindahkan nasihat tersebut.

      Mengorbankan Segalanya Demi Kerajaan

      Sejak semula, Siswa-Siswa Alkitab menaruh perhatian kepada makna dari mencari dahulu Kerajaan. Mereka membahas perumpamaan Yesus ketika ia membandingkan Kerajaan itu dengan sebuah mutiara yang begitu tinggi nilainya sehingga seseorang ”menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu”. (Mat. 13:45, 46) Mereka dengan sungguh-sungguh memikirkan makna nasihat Yesus kepada seorang penguasa muda dan kaya untuk menjual segala sesuatu, membagikan kepada orang miskin, dan mengikuti dia. (Mrk. 10:17-30)a Mereka menyadari bahwa agar terbukti layak untuk ambil bagian dalam Kerajaan Allah, mereka harus menjadikan Kerajaan itu sebagai perhatian mereka yang pertama, dengan senang hati menggunakan kehidupan mereka, kemampuan mereka, sumber daya mereka, di dalam dinasnya. Segala sesuatu yang lain dalam kehidupan harus berada di tempat kedua.

      Charles Taze Russell secara pribadi mengikuti nasihat tersebut. Ia menjual bisnis toko perlengkapan pakaian pria miliknya yang sedang berkembang baik, secara bertahap mengurangi minat bisnis lainnya, dan kemudian menggunakan semua harta duniawinya untuk menolong orang secara rohani. (Bandingkan Matius 6:19-21.) Ini bukan sesuatu yang ia lakukan hanya untuk beberapa tahun. Terus sampai kematiannya, ia menggunakan seluruh sumber dayanya—kesanggupan mentalnya, kesehatan fisiknya, harta miliknya—untuk mengajarkan berita penting tentang Kerajaan Mesias kepada orang lain. Pada pemakaman Russell seorang rekan, Joseph F. Rutherford, menyatakan, ”Charles Taze Russell loyal kepada Allah, loyal kepada Yesus Kristus, loyal kepada kepentingan Kerajaan Mesias.”

      Pada bulan April 1881 (ketika baru beberapa ratus orang menghadiri perhimpunan Siswa-Siswa Alkitab), Watch Tower menerbitkan sebuah artikel berjudul ”Dicari 1.000 Pengabar”. Di dalamnya termasuk undangan kepada para pria dan wanita yang tidak mempunyai keluarga yang menjadi tanggungan mereka untuk menerima pekerjaan sebagai penginjil kolportir. Dengan menerapkan bahasa perumpamaan Yesus di Matius 20:1-16, Watch Tower bertanya, ”Siapa yang mempunyai keinginan berapi-api untuk pergi dan bekerja dalam Kebun Anggur, dan telah berdoa agar Tuhan berkenan membuka jalan”? Mereka yang sedikitnya dapat memberikan setengah dari waktu mereka secara eksklusif kepada pekerjaan Tuhan dianjurkan untuk melamar. Sebagai bantuan biaya perjalanan, makanan, pakaian, dan penginapan bagi mereka, Zion’s Watch Tower Tract Society menyediakan lektur Alkitab bagi para kolportir masa permulaan untuk disebarkan, menyatakan harga sumbangan sekadarnya yang dapat diminta untuk lektur tersebut, dan mempersilakan para kolportir untuk mengambil sebagian uang yang diterima. Siapa yang menanggapi penyelenggaraan ini dan memulai dinas kolportir?

      Menjelang tahun 1885, terdapat sekitar 300 kolportir yang tergabung dengan Lembaga. Pada tahun 1914, jumlah tersebut akhirnya melampaui 1.000. Pekerjaan ini tidak mudah. Sesudah berkunjung ke rumah-rumah di empat kota kecil dan menjumpai hanya tiga atau empat orang yang menunjukkan minat sampai taraf tertentu, salah seorang kolportir menulis, ”Terus-terang saya merasa agak kesepian setelah sejauh ini berkeliling, menjumpai begitu banyak orang, dan menemukan begitu sedikit perhatian yang nyata kepada rencana Allah dan Gereja-Nya. Bantulah saya dengan doa-doa saudara, agar saya dengan patut dan tanpa takut dapat menyampaikan kebenaran, dan tidak menjadi jemu berbuat baik.”

      Mereka Memberikan Diri Dengan Rela

      Para kolportir tersebut benar-benar merintis jalan. Mereka menembus pelosok-pelosok pedalaman yang paling sulit dilalui sewaktu sarana transportasi sangat primitif dan jalan-jalan di kebanyakan daerah tidak lebih daripada jejak roda kereta. Saudari Early, di Selandia Baru, adalah salah seorang yang melakukan hal itu. Ia mulai beberapa waktu sebelum Perang Dunia I, dan membaktikan 34 tahun dalam dinas sepenuh waktu demikian sebelum ia meninggal pada tahun 1943. Ia mengerjakan banyak bagian dari negeri itu dengan bersepeda. Bahkan ketika ia menjadi lumpuh karena arthritis (radang persendian) dan tidak bisa mengayuh sepedanya, ia menggunakan sepeda itu sebagai alat penopang dan untuk mengangkut buku-bukunya mengelilingi kawasan bisnis di Christchurch. Ia dapat menaiki tangga, tetapi pada waktu turun tangga ia harus melangkah mundur karena cacatnya. Meskipun demikian, selama ia masih memiliki cukup tenaga, ia menggunakannya dalam dinas Yehuwa.

      Orang-orang yang menerima pekerjaan ini bukan karena mereka merasa yakin akan diri mereka sendiri. Beberapa berwatak sangat pemalu, namun mereka mengasihi Yehuwa. Sebelum memberi kesaksian di kawasan bisnis, salah seorang saudari yang berwatak demikian meminta setiap orang dari Siswa-Siswa Alkitab di daerahnya untuk berdoa baginya. Pada waktunya, seraya ia memperoleh pengalaman, ia menjadi sangat antusias akan kegiatan itu.

      Sewaktu Malinda Keefer berbicara kepada Saudara Russell pada tahun 1907 tentang hasratnya untuk memasuki dinas sepenuh waktu, ia mengatakan bahwa ia merasa perlu untuk mendapat lebih banyak pengetahuan terlebih dahulu. Sesungguhnya, baru pada tahun sebelumnya ia pertama kali mengadakan kontak dengan lektur dari Siswa-Siswa Alkitab. Jawaban Saudara Russell adalah, ”Jika Saudari mau menunggu sampai Saudari mengetahui semuanya, Saudari tidak akan pernah mulai, tetapi Saudari akan belajar seraya Saudari melakukannya.” Tanpa menahan diri ia segera mulai di Ohio, di Amerika Serikat. Ia sering mengingat Mazmur 110:3, yang berbunyi, ”Bangsamu merelakan diri untuk maju.” Selama 76 tahun berikutnya, hanya itulah yang terus dilakukannya.b Ia mulai sewaktu masih lajang. Selama 15 tahun ia menikmati pelayanan dengan status menikah. Namun setelah suaminya meninggal, ia tetap bertahan, dengan bantuan Yehuwa. Seraya mengenang kembali tahun-tahun yang berlalu, ia berkata, ”Betapa saya bersyukur bahwa saya telah memberi diri dengan rela sebagai perintis sewaktu masih muda dan senantiasa mendahulukan kepentingan Kerajaan!”

      Sewaktu kebaktian-kebaktian umum diadakan pada masa-masa permulaan, sering kali dibuat penyelenggaraan untuk pertemuan khusus dengan para kolportir. Pertanyaan-pertanyaan dijawab, pelatihan disediakan bagi mereka yang baru, dan anjuran diberikan.

      Sejak tahun 1919 dan seterusnya terdapat lebih banyak lagi hamba-hamba Yehuwa yang menghargai Kerajaan Allah begitu tinggi sehingga mereka juga benar-benar membangun kehidupan mereka di sekitar Kerajaan tersebut. Beberapa di antara mereka berhasil menyingkirkan ambisi-ambisi duniawi dan membaktikan diri sepenuhnya kepada pelayanan.

      Memenuhi Kebutuhan Materi

      Bagaimana mereka memenuhi kebutuhan materi mereka? Anna Petersen (belakangan Rømer), seorang penginjil sepenuh waktu di Denmark, mengenang kembali, ”Untuk biaya sehari-hari kami dibantu oleh penempatan lektur, dan kebutuhan kami tidaklah banyak. Jika ada pengeluaran yang lebih besar, dengan satu atau lain cara selalu saja dapat ditutupi. Saudari-saudari suka memberikan kepada kami pakaian, gaun atau mantel, dan kami dapat langsung mengenakannya dan memakainya, sehingga kami berbusana layak. Pada musim-musim dingin tertentu saya melakukan pekerjaan kantor selama beberapa bulan. . . . Dengan membeli bila ada penjualan obral, saya dapat membeli pakaian yang saya perlukan untuk setahun penuh. Semuanya berjalan baik. Kami tidak pernah kekurangan.” Perkara-perkara materi bukanlah yang terutama mereka pikirkan. Kasih mereka akan Yehuwa dan jalan-jalan-Nya bagaikan kobaran api dalam diri mereka, dan mereka benar-benar harus menyatakannya.

      Untuk penginapan mereka bisa saja menyewa sebuah kamar yang sederhana sementara mengunjungi orang-orang di daerah itu. Beberapa di antara mereka menggunakan sebuah trailer—sederhana saja, sekadar tempat untuk tidur dan makan. Yang lain tidur di tenda-tenda seraya mereka pindah dari satu tempat ke tempat lain. Di beberapa tempat saudara-saudara mengatur ”kamp-kamp perintis”. Saksi-Saksi di daerah itu bisa jadi menyediakan sebuah rumah, dan satu orang ditugaskan untuk mengawasinya. Para perintis yang melayani di kawasan tersebut dapat menggunakan akomodasi itu, dan mereka menanggung bersama biaya-biaya yang tersangkut.

      Para pekerja sepenuh waktu ini tidak membiarkan kurangnya uang menghalangi orang-orang yang bersifat domba memperoleh lektur Alkitab. Para perintis sering menukarnya dengan hasil bumi seperti kentang, mentega, telur, buah segar dan buah kaleng, ayam, sabun, dan hampir apa saja. Mereka tidak menjadi kaya; melainkan, hal itu merupakan sarana untuk membantu orang-orang yang tulus mendapatkan berita Kerajaan, seraya pada saat yang sama memperoleh keperluan jasmani untuk hidup sehingga para perintis dapat meneruskan dinas mereka. Mereka yakin akan janji Yesus bahwa jika mereka ”terus mencari dahulu kerajaan dan kebenaran [Allah]”, maka makanan dan pakaian yang dibutuhkan akan disediakan.—Mat. 6:33, NW.

      Rela Melayani di Mana Pun Dibutuhkan

      Hasrat mereka yang tulus untuk melakukan pekerjaan yang ditugaskan oleh Yesus kepada murid-muridnya, membawa para pekerja sepenuh waktu ke daerah-daerah baru, bahkan ke negeri-negeri baru. Ketika Frank Rice diundang untuk meninggalkan Australia guna membuka pemberitaan kabar baik di Jawa (sekarang bagian dari Indonesia) pada tahun 1931, ia telah berpengalaman sepuluh tahun dalam pelayanan sepenuh waktu sebelumnya. Namun, kini ada kebiasaan-kebiasaan baru, seperti bahasa-bahasa baru yang harus dipelajari. Ia dapat menggunakan bahasa Inggris untuk memberi kesaksian kepada beberapa orang di toko-toko dan kantor-kantor, tetapi ia ingin memberi kesaksian kepada orang-orang lain juga. Ia belajar dengan giat, dan dalam tiga bulan ia mengetahui cukup banyak bahasa Belanda untuk mulai pergi dari rumah ke rumah. Kemudian ia belajar bahasa Melayu.

      Frank baru berusia 26 tahun ketika ia pergi ke Jawa, dan selama sebagian besar dari enam tahun masa penugasannya di sana dan di Sumatra, ia bekerja seorang diri. (Menjelang akhir tahun 1931, Clem Deschamp dan Bill Hunter datang dari Australia untuk membantu pekerjaan itu. Sebagai satu tim, mereka mengadakan suatu tur pemberitaan ke pedalaman, sementara Frank bekerja di dan sekitar ibu kota Jawa. Belakangan, Clem dan Bill juga menerima penugasan yang membawa mereka ke daerah-daerah yang terpisah.) Tidak ada perhimpunan sidang yang dapat dihadiri oleh Frank. Kadang-kadang ia merasa sangat kesepian, dan lebih dari satu kali ia bergumul dengan pikiran-pikiran untuk menyerah dan pulang kembali ke Australia. Tetapi ia tetap bertahan. Bagaimana caranya? Makanan rohani yang terdapat dalam The Watch Tower membantu menguatkannya. Pada tahun 1937, ia pindah ke penugasan di Indocina, dan di sana ia nyaris kehilangan nyawanya selama pergolakan-pergolakan berdarah yang terjadi setelah Perang Dunia II. Semangat rela melayani masih tetap hidup pada tahun 1970-an ketika ia menulis untuk menyatakan sukacitanya atas kenyataan bahwa seluruh keluarganya melayani Yehuwa dan untuk mengatakan bahwa ia dan istrinya sekali lagi bersiap-siap untuk pindah ke suatu tempat di Australia yang lebih memerlukan tenaga pengabar.

      ’Mengandalkan Yehuwa Dengan Segenap Hati Mereka’

      Claude Goodman bertekad untuk ’mengandalkan Yehuwa dengan segenap hatinya dan tidak bersandar pada pengertiannya sendiri’, maka ia memilih dinas kolportir sebagai penginjil Kristen, sebaliknya daripada peluang bisnis duniawi. (Ams. 3:5, 6) Bersama Ronald Tippin, yang telah membantunya belajar kebenaran, ia melayani sebagai kolportir di Inggris selama lebih dari setahun. Kemudian, pada tahun 1929 keduanya mempersiapkan diri untuk pergi ke India.c Betapa besar tantangan yang mereka hadapi!

      Pada tahun-tahun berikutnya, mereka melakukan perjalanan bukan saja dengan berjalan kaki dan dengan kereta api dan bus penumpang melainkan juga dengan kereta api barang, pedati yang ditarik oleh lembu, unta, sampan, ricksha (kereta beroda dua yang dihela oleh orang), dan bahkan dengan pesawat terbang dan kereta api pribadi. Kadang-kadang mereka menggelar kasur lipat mereka di ruang tunggu stasiun kereta api, di kandang ternak, di atas rumput hutan belantara, atau di atas hamparan kotoran sapi dalam sebuah pondok, tetapi ada kalanya pula mereka tidur di hotel mewah dan di istana seorang raja. Seperti rasul Paulus, mereka belajar rahasia untuk merasa puas pada saat tidak mempunyai apa-apa atau pada saat berkelimpahan. (Flp. 4:12, 13) Biasanya mereka memiliki sedikit sekali barang berharga, tetapi mereka tidak pernah tanpa barang-barang yang benar-benar mereka butuhkan. Mereka secara pribadi mengalami penggenapan janji Yesus bahwa jika mereka mencari dahulu Kerajaan dan kebenaran Allah, kebutuhan materi dalam kehidupan akan tersedia.

      Sewaktu-waktu mereka terjangkit penyakit yang cukup parah seperti demam berdarah, malaria, dan tifus, tetapi perawatan yang pengasih diberikan oleh rekan-rekan Saksi. Ada dinas yang harus dilaksanakan di tengah-tengah kemelaratan kota seperti Kalkuta, dan ada pekerjaan kesaksian yang harus dilakukan di perkebunan teh di pegunungan Sailan (sekarang dikenal sebagai Sri Lanka). Untuk memenuhi kebutuhan rohani dari orang-orang, lektur ditawarkan, rekaman-rekaman diperdengarkan dalam bahasa-bahasa setempat, dan khotbah-khotbah disampaikan. Seraya pekerjaan bertambah, Claude juga belajar cara mengoperasikan sebuah mesin cetak dan menangani pekerjaan di kantor cabang Lembaga.

      Pada usianya yang ke-87, ia dapat mengenang kembali kehidupan yang kaya akan pengalaman dalam dinas Yehuwa di Inggris, India, Pakistan, Sri Lanka, Birma (kini Myanmar), Malaya, Thailand, dan Australia. Baik sebagai pemuda lajang maupun sebagai suami dan ayah, ia terus mendahulukan Kerajaan dalam kehidupannya. Kurang dari dua tahun setelah pembaptisannya ia terjun dalam dinas sepenuh waktu, dan ia memandangnya sebagai kariernya selama sisa hidupnya.

      Kuasa Allah Disempurnakan Dalam Kelemahan

      Ben Brickell, satu lagi di antara Saksi-Saksi yang bergairah tersebut—sama halnya dengan orang-orang lain, dalam hal mempunyai kebutuhan dan kelemahan yang sama. Ia menonjol dalam iman. Pada tahun 1930 ia memasuki pekerjaan kolportir di Selandia Baru, tempat ia memberi kesaksian di daerah-daerah yang baru dikerjakan kembali beberapa dekade setelahnya. Dua tahun kemudian, di Australia, ia melakukan suatu perjalanan pemberitaan selama lima bulan menjelajah daerah gurun tempat kesaksian pernah diberikan. Sepedanya sarat dimuati selimut, pakaian, makanan, dan buku-buku besar yang akan ditempatkan. Walaupun pria-pria lain tewas sewaktu berusaha menempuh daerah ini, ia maju terus, yakin kepada Yehuwa. Kemudian, ia melayani di Malaysia, di sana jantungnya mengalami gangguan serius. Ia pantang mundur. Sesudah melewati masa pemulihan kesehatan, ia memulai lagi kegiatan pemberitaan sepenuh waktu di Australia. Kira-kira satu dekade kemudian ia harus masuk rumah sakit karena sakit parah, dan sewaktu keluar dari rumah sakit, dokter mengatakan kepadanya bahwa ia ”tidak mampu bekerja 85 persen”. Ia bahkan tidak dapat berjalan kaki untuk berbelanja di dekat rumahnya tanpa beberapa kali beristirahat.

      Namun Ben Brickell bertekad untuk mulai aktif lagi, dan itulah yang dilakukannya, berhenti untuk beristirahat bilamana perlu. Segera ia kembali memberi kesaksian di wilayah yang keras dan masih terbelakang di Australia. Ia sedapat mungkin memelihara kesehatannya, tetapi dinasnya kepada Yehuwa merupakan perkara utama dalam kehidupannya sampai ia meninggal 30 tahun kemudian pada usia sekitar 65 tahun.d Ia mengakui bahwa kekurangan yang ada akibat kelemahannya dapat diimbangi oleh kekuatan Yehuwa. Pada suatu kebaktian di Melbourne pada tahun 1969, ia melayani di meja perintis dengan lencana besar di dada jasnya, yang bertuliskan, ”Jika Saudara ingin tahu mengenai soal merintis, tanyalah kepada saya.”—Bandingkan 2 Korintus 12:7-10.

      Mencapai Desa-Desa di Hutan Rimba dan Kamp-Kamp Pertambangan di Gunung

      Gairah untuk dinas Yehuwa bukan saja menggerakkan para pria melainkan juga para wanita untuk terjun dalam pekerjaan di ladang yang belum terjamah. Freida Johnson adalah salah seorang dari kaum terurap, berperawakan agak kecil dan berusia 50-an ketika ia bekerja seorang diri menjelajah bagian-bagian dari Amerika Tengah, mengerjakan daerah-daerah seperti pantai utara Honduras dengan menunggang kuda. Iman dituntut darinya agar dapat bekerja seorang diri di daerah ini, mengunjungi perkebunan-perkebunan pisang yang bertebaran, kota La Ceiba, Tela, dan Trujillo, dan bahkan desa-desa Karibia yang terpencil di seberang. Ia memberi kesaksian di sana pada tahun 1930 dan 1931, dan kembali pada tahun 1934, dan pada tahun 1940 dan 1941, dengan menempatkan ribuan lektur yang berisikan kebenaran Alkitab.

      Selama tahun-tahun tersebut seorang pekerja lain yang bergairah memulai kariernya dalam dinas sepenuh waktu. Ia adalah Kathe Palm, yang lahir di Jerman. Yang menggerakkannya untuk bertindak ialah karena menghadiri kebaktian di Columbus, Ohio, pada tahun 1931, ketika Siswa-Siswa Alkitab mulai menyandang nama Saksi-Saksi Yehuwa. Pada waktu itulah ia bertekad untuk mencari dahulu Kerajaan, dan pada tahun 1992, pada usia 89 tahun, ia masih terus melakukannya.

      Dinas perintisnya mulai di New York City. Belakangan, di South Dakota ia mempunyai partner selama beberapa bulan tetapi kemudian ia melanjutkannya seorang diri, melakukan perjalanan dengan menunggang kuda. Ketika diundang untuk melayani di Kolombia, Amerika Selatan, ia segera menerimanya, dan tiba di sana menjelang akhir tahun 1934. Sekali lagi, ia mendapat partner untuk beberapa waktu namun kemudian sendiri lagi. Hal ini tidak membuatnya merasa bahwa ia harus berhenti.

      Sepasang suami-istri mengundangnya untuk bergabung bersama mereka di Cile. Ini juga merupakan daerah yang luas sekali, daerah yang terbentang 4.265 kilometer di sepanjang pantai barat benua Amerika Selatan. Sesudah menginjil di gedung-gedung kantor di ibu kota, ia dengan penuh gairah mulai menuju ke bagian utara yang terpencil. Di setiap kamp pertambangan, setiap kompleks pemukiman perusahaan, besar atau kecil, ia memberi kesaksian dari pintu ke pintu. Para pekerja di dataran tinggi Andes heran melihat seorang wanita sendirian mengunjungi mereka, tetapi ia bertekad untuk tidak melewati seorang pun di daerah yang ditugaskan kepadanya. Belakangan, ia pindah ke selatan, dan di sana ada sejumlah estancias (peternakan domba) meliputi daerah seluas 100.000 hektare. Orang-orang di situ ramah dan suka memberi tumpangan dan mengundang dia makan. Dengan cara ini dan cara-cara lain Yehuwa memeliharanya, sehingga ia mendapatkan kebutuhan jasmani untuk hidup.

      Memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah telah mengisi kehidupannya.e Mengenang kembali tahun-tahun dinasnya, ia berkata, ”Aku merasa sangat diperkaya dalam hidupku. Setiap tahun apabila aku menghadiri kebaktian umat Yehuwa, aku diliputi perasaan yang hangat dan puas karena melihat begitu banyak orang yang pernah belajar Alkitab denganku memberitakan kabar baik, membantu orang-orang lain untuk datang ke air kehidupan.” Ia telah bersukacita karena dapat melihat jumlah pemuji Yehuwa di Cile meningkat dari kira-kira 50 menjadi lebih dari 44.000.

      ”Ini Aku, Utuslah Aku!”

      Sesudah mendengar sebuah khotbah berdasarkan undangan Yehuwa untuk berdinas seperti tercatat di Yesaya 6:8 dan tanggapan positif dari sang nabi, ”Ini aku, utuslah aku!”, Martin Poetzinger, di Jerman, dibaptis. Dua tahun kemudian, pada tahun 1930, ia terjun dalam dinas sepenuh waktu di Bavaria.f Tidak lama kemudian, para pejabat di situ melarang pemberitaan oleh Saksi-Saksi, tempat-tempat berhimpun ditutup, dan lektur disita. Gestapo mengancam. Tetapi perkembangan-perkembangan yang terjadi pada tahun 1933 tersebut tidak mengakhiri pelayanan Saudara Poetzinger.

      Ia diundang untuk melayani di Bulgaria. Kartu-kartu kesaksian dalam bahasa Bulgaria digunakan untuk memperkenalkan lektur Alkitab. Tetapi banyak orang masih buta huruf. Jadi, Saudara Poetzinger mengikuti kursus untuk belajar bahasa mereka, yang menggunakan abjad Cyrillic. Apabila lektur ditinggalkan di suatu keluarga, sering kali anak-anak kecil harus membacakannya untuk orang-tua mereka.

      Selama sebagian besar dari tahun pertama, Saudara Poetzinger sendirian, dan ia menulis, ”Pada malam Peringatan (Perjamuan Malam), saya menyampaikan khotbah sendirian, saya berdoa sendirian, dan saya menutup perhimpunan semuanya sendirian.” Selama tahun 1934, orang-orang asing dideportasi, maka ia pergi ke Hongaria. Di sini bahasa baru lain harus dipelajari agar ia dapat membagikan kabar baik. Dari Hongaria ia pergi ke negara-negara yang belakangan dikenal sebagai Cekoslowakia dan Yugoslavia.

      Ia menikmati banyak pengalaman yang menyenangkan—menemukan pencinta-pencinta kebenaran seraya ia berjalan kaki menempuh daerah pedalaman dan pedesaan, membawa banyak lektur di punggungnya; merasakan pemeliharaan Yehuwa sewaktu orang-orang yang murah tangan menawarkan makanan dan bahkan tempat tidur untuk bermalam; berbicara sampai larut malam kepada mereka yang datang ke tempat ia menginap untuk mendengarkan lebih banyak mengenai berita Kerajaan yang menghibur.

      Ada juga ujian-ujian iman yang berat. Sewaktu melayani di luar tanah airnya, dan tanpa uang, ia mengalami penyakit yang parah. Tidak ada dokter yang bersedia memeriksanya. Tetapi Yehuwa besertanya. Bagaimana? Akhirnya, konsultan senior dari rumah sakit setempat dihubungi. Pria ini, seorang yang teguh percaya kepada Alkitab, merawat Saudara Poetzinger seperti yang akan dilakukannya kepada putranya, tanpa bayaran. Dokter ini terkesan oleh semangat rela berkorban pemuda ini, yang nyata dari pekerjaan yang dilakukannya, dan ia menerima satu set buku Lembaga sebagai hadiah.

      Ujian berat lainnya datang empat bulan sesudah pernikahan. Saudara Poetzinger ditangkap pada bulan Desember 1936 dan pada mulanya ditahan di satu kamp konsentrasi dan kemudian di kamp lain, sementara istrinya ditahan di kamp lain lagi. Mereka tidak pernah bertemu satu sama lain selama sembilan tahun. Yehuwa tidak mencegah penindasan yang kejam demikian, tetapi Ia menguatkan Martin, Gertrud istrinya, dan ribuan lain untuk bertekun.

      Sesudah ia dan istrinya dibebaskan, Saudara Poetzinger menikmati dinas selama bertahun-tahun sebagai pengawas keliling di Jerman. Ia hadir di kebaktian-kebaktian yang menggetarkan hati yang diadakan pada masa pascaperang di lapangan bekas tentara Hitler dulu berbaris di Nuremberg. Tetapi kini lapangan tersebut penuh dengan sejumlah besar pendukung Kerajaan Allah yang loyal. Ia menghadiri berbagai kebaktian yang tak terlupakan di Yankee Stadium New York. Ia menikmati sepenuhnya pelatihan di Sekolah Alkitab Gilead Menara Pengawal. Dan pada tahun 1977, ia menjadi anggota Badan Pimpinan dari Saksi-Saksi Yehuwa. Pandangannya, sampai saat ia mengakhiri pelayanannya di bumi pada tahun 1988, dapat dilukiskan paling baik dengan kata-kata, ’Satu hal ini saya lakukan—mencari dahulu Kerajaan.’

      Mempelajari Apa Arti Hal Itu Sebenarnya

      Semangat rela berkorban jelas bukan sesuatu yang baru di kalangan Saksi-Saksi Yehuwa. Ketika jilid yang pertama sekali dari Millennial Dawn diterbitkan pada tahun 1886, soal pengabdian (atau, sebagaimana kita sebut sekarang, pembaktian) dibahas secara terus terang. Berdasarkan Alkitab dikemukakan bahwa umat Kristen sejati ”mengabdikan” segala sesuatu kepada Allah; hal itu termasuk kesanggupan mereka, harta milik mereka, bahkan kehidupan mereka. Maka umat Kristen menjadi pengurus dari apa yang telah ”diabdikan” kepada Allah, dan sebagai pengurus, mereka harus memberi pertanggungjawaban—bukan kepada manusia melainkan kepada Allah.

      Sekelompok Siswa-Siswa Alkitab yang makin meningkat jumlahnya dengan sungguh-sungguh menyerahkan diri mereka dalam dinas Allah. Mereka menggunakan kesanggupan mereka, milik mereka, kekuatan vital mereka sepenuhnya untuk melakukan kehendak-Nya. Di lain pihak, ada di antara mereka yang merasa bahwa yang paling penting adalah memperkembangkan apa yang mereka sebut kepribadian Kristen supaya mereka dapat memenuhi syarat untuk ambil bagian dalam Kerajaan bersama Kristus.

      Walaupun tanggung jawab setiap orang Kristen sejati untuk bersaksi kepada orang-orang lain tentang Kerajaan Allah telah sering dinyatakan oleh Saudara Russell, hal ini bahkan lebih ditekankan sesudah Perang Dunia I. Artikel ”Karakter Atau Perjanjian—yang Mana?”, dalam The Watch Tower 1 Mei 1926, merupakan contoh yang mencolok. Dengan terus terang disinggung di situ mengenai dampak merugikan dari apa yang disebut perkembangan karakter dan kemudian ditegaskan pentingnya memenuhi kewajiban seseorang kepada Allah dengan tindakan.

      Sebelumnya, The Watch Tower 1 Juli 1920, telah meneliti nubuat utama Yesus tentang ’tanda kehadirannya dan akhir dunia’. (Mat. 24:3, KJ) Perhatian difokuskan kepada pekerjaan pemberitaan yang harus dilakukan sebagai penggenapan Matius 24:14 dan memperkenalkan kabar yang harus diberitakan, dengan mengatakan, ”Kabar baik di sini adalah mengenai akhir dari susunan segala perkara tua ini dan berdirinya kerajaan Mesias.” The Watch Tower menjelaskan bahwa atas dasar di mana Yesus menyatakan hal ini dalam pasal tersebut sehubungan dengan corak-corak lain dari tanda itu, pekerjaan ini harus dilaksanakan ”di antara waktu perang sedunia yang besar [Perang Dunia I] dan waktu dari ’siksaan dahsyat’ [’sengsara besar’, Bode] yang disebut oleh sang Majikan di Matius 24:21, 22.” Pekerjaan tersebut sangat mendesak. Siapa gerangan yang akan melakukannya?

      Tanggung jawab ini jelas terletak pada anggota-anggota ”gereja itu”, yakni sidang Kristen yang sejati. Akan tetapi, pada tahun 1932, melalui The Watchtower terbitan 1 Agustus, mereka ini dinasihati agar menganjurkan ”kaum Yonadab” untuk ikut bersama mereka dalam pekerjaan tersebut, selaras dengan semangat Wahyu 22:17. Kaum Yonadab—yang memiliki harapan hidup kekal di bumi Firdaus—menyambut, dan banyak di antara mereka menyambut dengan penuh gairah.

      Betapa pentingnya pekerjaan ini telah dengan tegas ditekankan, ”Adalah sama pentingnya untuk berpartisipasi dalam dinas Tuhan sebagaimana halnya menghadiri perhimpunan,” kata The Watch Tower pada tahun 1921. ”Setiap orang harus menjadi pemberita injil,” demikian dikemukakan pada tahun 1922. ”Yehuwa telah membuat pemberitaan sebagai pekerjaan yang paling penting yang dapat dilakukan di dunia ini oleh siapa pun di antara kita,” demikian dinyatakan pada tahun 1949. Pernyataan rasul Paulus di 1 Korintus 9:16 telah sering dikutip, ”Itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” Ayat ini telah diterapkan kepada setiap Saksi-Saksi Yehuwa.

      Berapa Banyak yang Memberitakan? Sampai Seberapa Jauh? Mengapa?

      Apakah ada yang dipaksa untuk ikut serta dalam pekerjaan ini padahal bertentangan dengan kehendaknya? ”Tidak,” jawab The Watch Tower dalam terbitan 1 Agustus 1919, ”tidak ada yang dipaksa untuk melakukan apa pun. Ini merupakan dinas yang benar-benar sukarela, yang dilakukan karena kasih akan Tuhan dan demi kepentingan keadilbenaran-Nya. Yehuwa tidak pernah mewajibkan siapa pun.” Mengenai motivasi yang mendorong dinas ini, The Watch Tower 1 September 1922 selanjutnya menyatakan, ”Seorang yang sungguh-sungguh bersyukur dalam hatinya dan menghargai apa yang telah dilakukan Allah bagi dirinya tentu ingin berbuat sesuatu sebagai balasan; dan makin besar penghargaannya akan kemurahan Allah baginya, makin besar pula kasihnya; dan makin besar kasihnya, makin besar pula keinginannya untuk melayani Dia.” Majalah itu menjelaskan bahwa kasih akan Allah diperlihatkan dengan memelihara hukum-hukum-Nya, dan salah satu dari hukum-hukum tersebut adalah memberitakan kabar baik tentang kedatangan Kerajaan Allah.—Yes. 61:1, 2; 1 Yoh. 5:3.

      Mereka yang telah terjun dalam kegiatan ini tidaklah tergoda oleh gagasan ambisi duniawi apa pun. Mereka telah diberi tahu secara terus terang bahwa apabila mereka pergi dari rumah ke rumah atau menawarkan bacaan di sudut jalan, mereka akan dipandang ”bodoh, lemah, hina”, bahwa mereka akan ”dipandang rendah, dianiaya”, dan bahwa mereka akan digolongkan sebagai ”tidak terpandang dari pendirian duniawi”. Tetapi mereka tahu bahwa Yesus dan murid-muridnya masa awal telah diperlakukan dengan cara yang sama.—Yoh. 15:18-20; 1 Kor. 1:18-31, NW.

      Apakah Saksi-Saksi Yehuwa berpendapat bahwa bagaimanapun mereka akan memperoleh keselamatan karena kegiatan pemberitaan mereka? Sama sekali tidak! Buku Bersatu Dalam Ibadat dari Satu-Satunya Allah yang Benar, yang telah digunakan sejak 1983 untuk membantu siswa-siswa agar maju ke kematangan Kristen, membahas hal ini. Dinyatakan di situ, ”Korban Yesus juga membuka kesempatan bagi kita untuk hidup kekal . . . Ini bukanlah upah yang layak kita peroleh. Tidak soal betapa banyak yang kita lakukan dalam dinas Yehuwa, kita tidak pernah akan dapat menghasilkan jasa sedemikian sehingga Allah berhutang kehidupan kepada kita. Hidup kekal adalah ”karunia Allah . . . dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”. (Rm. 6:23; Ef. 2:8-10) Meskipun demikian, jika kita memiliki iman kepada karunia tersebut dan menghargai caranya hal itu diwujudkan, kita akan membuatnya nyata. Karena menyadari betapa menakjubkan Yehuwa telah menggunakan Yesus untuk melaksanakan kehendakNya dan betapa penting agar kita semua mengikuti jejak Yesus dengan saksama, kita akan menjadikan pelayanan Kristen salah satu perkara yang paling penting dalam kehidupan kita.”

      Dapatkah dikatakan bahwa semua Saksi Yehuwa adalah pemberita Kerajaan Allah? Ya! Itulah artinya menjadi salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa. Lebih dari setengah abad yang lampau, ada beberapa yang berpendapat bahwa mereka tidak perlu ambil bagian dalam dinas pengabaran, pergi kepada umum dan dari rumah ke rumah. Namun, dewasa ini tidak ada di antara Saksi-Saksi Yehuwa yang dapat meminta pengecualian dari dinas ini karena kedudukan dalam sidang setempat atau dalam organisasi seluas dunia. Pria dan wanita maupun tua dan muda berpartisipasi. Mereka menganggapnya sebagai suatu hak istimewa yang sangat berharga, suatu dinas suci. Tidak sedikit yang melakukannya walaupun menderita kelemahan yang serius. Dan kalaupun ada yang memang secara fisik tidak sanggup pergi dari rumah ke rumah, mereka menemukan cara-cara lain untuk mencapai orang-orang dan memberikan kesaksian kepada mereka secara pribadi.

      Dahulu, kadang-kadang ada kecenderungan untuk terlalu cepat mengizinkan orang-orang baru berpartisipasi dalam dinas pengabaran. Namun dalam beberapa dekade belakangan ini lebih ditekankan bahwa mereka harus memenuhi syarat sebelum diundang. Apa artinya itu? Bukan berarti bahwa mereka harus bisa menjelaskan segala sesuatu dalam Alkitab. Tetapi, sebagaimana diterangkan oleh buku Diorganisir Untuk Melaksanakan Pelayanan Kita, mereka harus mengetahui dan mempercayai ajaran-ajaran dasar Alkitab. Mereka juga harus menempuh kehidupan yang bersih, selaras dengan standar-standar Alkitab. Setiap orang harus benar-benar ingin menjadi salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa.

      Tidak diharapkan bahwa semua Saksi-Saksi Yehuwa akan melakukan pengabaran dalam jumlah yang sama banyak. Keadaan mereka secara perorangan berbeda-beda. Usia, kesehatan, tanggung jawab keluarga, dan dalamnya penghargaan merupakan faktor-faktor penentu. Ini senantiasa diakui. Hal tersebut ditandaskan oleh The Watchtower dalam terbitan 1 Desember 1950 ketika membahas ”tanah yang baik” dalam perumpamaan Yesus mengenai sang penabur, di Lukas 8:4-15. Kursus Sekolah Pelayanan Kerajaan yang dipersiapkan bagi para penatua pada tahun 1972 menganalisis tuntutan untuk ’mengasihi Yehuwa dengan segenap jiwa’ dan menjelaskan bahwa ”apa yang penting bukanlah kuantitas yang dilakukan seseorang dibandingkan apa yang dilakukan orang lain, melainkan melakukannya sebisanya.” (Mrk. 14:6-8) Namun dengan menganjurkan analisis pribadi secara bijaksana, diperlihatkan juga bahwa kasih demikian berarti ”bahwa setiap segi kehidupan kita terlibat dalam hal melayani Allah dengan kasih; tidak ada fungsi, kemampuan atau keinginan dalam kehidupan yang terkecuali.” Segenap kemampuan kita, seluruh jiwa kita harus dikerahkan untuk melakukan kehendak Allah. Buku pelajaran itu menegaskan bahwa ”Allah menuntut bukan sekadar partisipasi, melainkan dinas sepenuh jiwa.”—Mrk. 12:30.

      Sayangnya, kecenderungan manusia yang tidak sempurna ialah berlaku ekstrem, menekankan satu hal seraya melalaikan hal lain. Maka, kembali ke tahun 1906, Saudara Russell menganggap perlu untuk mengingatkan bahwa kerelaan berkorban bukanlah berarti mengorbankan orang lain. Hal itu tidaklah berarti lalai untuk mencari nafkah yang wajar bagi istri, anak-anak yang menjadi tanggungan, atau orang-tua yang lanjut usia agar dapat bebas mengabar kepada orang lain. Dari waktu ke waktu semenjak itu, pengingat-pengingat serupa telah terbit dalam publikasi-publikasi Menara Pengawal.

      Tahap demi tahap, dengan bantuan Firman Allah, seluruh organisasi telah berupaya untuk mencapai keseimbangan Kristen—menunjukkan gairah dinas Allah, seraya memberikan perhatian yang sepatutnya kepada semua segi yang tercakup dalam hal menjadi seorang Kristen sejati. Walaupun ”perkembangan karakter” dibentuk atas pengertian yang salah, The Watchtower telah menunjukkan bahwa buah-buah roh dan tingkah laku Kristen tidak boleh diremehkan. Pada tahun 1942, The Watchtower dengan cukup tegas mengatakan, ”Beberapa orang secara tidak bijaksana berkesimpulan bahwa jika mereka ikut dalam pekerjaan kesaksian dari rumah ke rumah maka mereka dapat mengejar haluan apa pun menurut kemauan mereka dan bebas dari hukuman. Hendaknya diingat bahwa sekadar ikut serta dalam pekerjaan kesaksian tidaklah berarti telah memenuhi semua tuntutan.”—1 Kor. 9:27.

      Menetapkan Prioritas Dengan Benar

      Saksi-Saksi Yehuwa telah menyadari bahwa ’mencari dahulu Kerajaan dan kebenaran Allah’ merupakan soal menetapkan prioritas mereka dengan benar. Hal itu mencakup memberi tempat yang patut dalam kehidupan kepada pelajaran pribadi mengenai Firman Allah dan secara tetap tentu menghadiri perhimpunan-perhimpunan sidang dan tidak membiarkan usaha-usaha lain didahulukan. Ini menyangkut, mengambil keputusan yang mencerminkan keinginan yang tulus untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan Kerajaan Allah sebagaimana digariskan dalam Alkitab. Hal itu mencakup penggunaan prinsip-prinsip Alkitab sebagai dasar untuk keputusan-keputusan yang menyangkut kehidupan keluarga, rekreasi, pendidikan duniawi, pekerjaan, berbagai praktek bisnis, dan hubungan dengan sesama.

      Mencari dahulu Kerajaan berarti lebih daripada sekadar ambil bagian setiap bulan berbicara kepada orang lain tentang maksud-tujuan Allah. Itu berarti mengutamakan kepentingan Kerajaan dalam seluruh kehidupan seseorang, seraya sepatutnya memelihara kewajiban-kewajiban lain yang sesuai dengan Alkitab.

      Ada banyak cara yang ditempuh Saksi-Saksi Yehuwa yang berbakti untuk memajukan kepentingan Kerajaan.

      Hak Istimewa Dinas Betel

      Ada yang melayani sebagai anggota keluarga Betel sedunia. Ini adalah staf rohaniwan sepenuh waktu yang telah merelakan diri untuk melakukan tugas apa pun yang diberikan kepada mereka dalam menyiapkan dan menerbitkan lektur Alkitab, dalam mengurus pekerjaan kantor yang perlu, dan dalam menyediakan pelayanan penunjang untuk berbagai kegiatan. Ini bukanlah pekerjaan yang akan memberi mereka kedudukan terkemuka secara pribadi atau harta materi. Keinginan mereka adalah untuk menghormati Yehuwa, dan mereka puas dengan persediaan yang diadakan bagi mereka berupa makanan, penginapan, dan penggantian ongkos sekadarnya untuk pengeluaran pribadi. Oleh karena cara hidup keluarga Betel, maka kalangan berwenang duniawi di Amerika Serikat misalnya, memandang mereka sebagai anggota suatu ordo keagamaan yang telah mengambil ikrar untuk hidup bersahaja. Mereka yang hidup di Betel menemukan sukacita karena dapat menggunakan kehidupan mereka sepenuhnya dalam dinas Yehuwa dan karena melakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar saudara Kristen mereka dan orang-orang yang baru berminat, kadang-kadang secara internasional. Seperti Saksi-Saksi Yehuwa lainnya, mereka juga ambil bagian secara tetap tentu dalam dinas pengabaran.

      Keluarga Betel yang pertama (atau keluarga Rumah Alkitab, sebagaimana mereka dikenal waktu itu) berlokasi di Allegheny, Pennsylvania. Mulai tahun 1896, stafnya berjumlah 12 orang. Pada tahun 1992 terdapat lebih dari 12.900 anggota keluarga Betel, yang melayani di 99 negeri. Selain itu, apabila tidak tersedia cukup tempat tinggal di kompleks milik Lembaga, ratusan sukarelawan lainnya pulang pergi dari rumah ke percetakan-percetakan Betel setiap hari agar dapat ambil bagian dalam pekerjaan. Mereka menganggapnya suatu hak istimewa untuk berperan dalam pekerjaan yang sedang dilakukan. Seraya ada kebutuhan, ribuan Saksi lainnya menawarkan diri dengan meninggalkan pekerjaan duniawi dan kegiatan lainnya selama berbagai jangka waktu untuk membantu pembangunan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan oleh Lembaga untuk penggunaan yang berkaitan dengan pemberitaan kabar baik tentang Kerajaan Allah seluas dunia.

      Banyak di antara para anggota keluarga Betel sedunia telah menjadikannya sebagai pekerjaan mereka seumur hidup. Frederick W. Franz yang pada tahun 1977 menjadi presiden keempat dari Lembaga Menara Pengawal, pada waktu itu sudah menjadi anggota keluarga Betel di New York selama 57 tahun dan ia terus melayani di Betel selama 15 tahun berikutnya, sampai ia wafat pada tahun 1992. Heinrich Dwenger memulai dinas Betelnya di Jerman pada tahun 1911, dan semenjak itu dengan bersahaja melayani di mana saja ia ditugaskan; dan pada tahun 1983, tahun kematiannya, ia masih sempat menikmati dinasnya sebagai anggota keluarga Betel di Thun, Swiss. George Phillips, dari Skotlandia, menerima penugasan ke kantor cabang di Afrika Selatan pada tahun 1924 (ketika kantor cabang tersebut mengawasi kegiatan pemberitaan dari Cape Town hingga Kenya) dan terus melayani di Afrika Selatan hingga kematiannya pada tahun 1982 (pada waktu ada tujuh kantor Cabang Lembaga dan kira-kira 160.000 Saksi-Saksi yang aktif di daerah tersebut). Saudari-saudari Kristen, seperti Kathryn Bogard, Grace DeCecca, Irma Friend, Alice Berner, dan Mary Hannan, juga membaktikan masa dewasa dari kehidupan mereka dalam dinas Betel, dan melakukannya sampai akhir hayat. Banyak anggota keluarga Betel lainnya juga melayani selama 10, 30, 50, 70 tahun dan lebih lama lagi.g

      Para Pengawas Keliling yang Rela Berkorban

      Di seluruh dunia, ada kurang lebih 3.900 pengawas wilayah dan distrik yang, bersama istri mereka, juga melaksanakan penugasan ke mana pun mereka dibutuhkan, biasanya di negara asal mereka. Banyak di antara mereka telah meninggalkan rumah mereka dan sekarang berpindah setiap minggu atau beberapa minggu sekali untuk melayani sidang-sidang yang ditugaskan. Mereka tidak menerima gaji tetapi mereka bersyukur untuk makanan dan penginapan di tempat mereka melayani, beserta persediaan untuk pengeluaran pribadi yang bersahaja. Di Amerika Serikat, tempat 499 pengawas wilayah dan distrik melayani pada tahun 1992, para penatua yang bertugas keliling ini rata-rata berusia 54 tahun, dan beberapa di antara mereka telah melayani dalam penugasan ini selama lebih dari 30, 40 tahun atau lebih. Di sejumlah negeri, pengawas-pengawas ini melakukan perjalanan dengan mobil. Daerah di kawasan Pasifik sering kali menuntut penggunaan pesawat terbang dan kapal laut komersial. Di banyak tempat para pengawas wilayah mencapai sidang yang terpencil dengan menunggang kuda atau berjalan kaki.

      Para Perintis Mengisi Kebutuhan Penting

      Agar dapat memulai pemberitaan kabar baik di tempat-tempat yang belum ada Saksi-Saksi, atau untuk menyediakan bantuan yang bisa jadi secara khusus dibutuhkan di suatu daerah, Badan Pimpinan dapat mengatur untuk mengirimkan perintis-perintis istimewa. Mereka adalah penginjil-penginjil sepenuh waktu yang membaktikan sedikitnya 140 jam setiap bulan untuk dinas pemberitaan. Mereka mempersiapkan diri untuk melayani di mana saja mereka diperlukan di negeri mereka sendiri atau, dalam beberapa hal, di negeri yang berdekatan. Karena tuntutan dinas itu menyisakan sedikit atau sama sekali hampir tidak ada waktu bagi mereka untuk melakukan pekerjaan duniawi guna menyediakan kebutuhan materi, maka mereka diberi penggantian ongkos sekadarnya untuk tempat tinggal dan kebutuhan-kebutuhan lain. Pada tahun 1992 ada lebih dari 14.500 perintis istimewa di berbagai bagian di bumi.

      Ketika perintis-perintis istimewa yang pertama diutus pada tahun 1937, mereka memelopori pekerjaan memperdengarkan rekaman-rekaman khotbah Alkitab bagi penghuni rumah langsung di depan pintu-pintu rumah mereka dan menggunakan rekaman-rekaman sebagai dasar pembahasan Alkitab pada kunjungan-kunjungan kembali. Hal ini dilakukan di kota-kota besar yang sudah mempunyai sidang-sidang. Sesudah beberapa tahun, perintis-perintis istimewa mulai diarahkan teristimewa ke daerah-daerah yang tidak ada sidang atau yang sidang-sidangnya sangat perlu dibantu. Sebagai hasil pekerjaan mereka yang efektif, ratusan sidang baru dibentuk.

      Sebaliknya daripada mengerjakan suatu daerah dan terus berpindah ke daerah berikut, mereka akan mengerjakan berkali-kali suatu daerah yang ditugaskan, mengunjungi kembali semua peminat dan memimpin pengajaran Alkitab. Perhimpunan diselenggarakan bagi mereka yang berminat. Maka, di Lesotho, Afrika bagian selatan, pada minggu pertama di tempat penugasannya yang baru, seorang perintis istimewa mengundang semua orang yang ditemuinya untuk datang melihat bagaimana caranya Saksi-Saksi Yehuwa memimpin Sekolah Pelayanan Teokratis. Ia dan keluarganya menyelenggarakan seluruh acara. Kemudian ia mengundang semuanya ke Pelajaran Menara Pengawal. Sesudah rasa ingin tahu yang mula-mula terpuaskan, 30 orang terus menghadiri Pelajaran Menara Pengawal, dan rata-rata hadirin pada acara Sekolah adalah 20 orang. Di negeri-negeri tempat para utusan injil keluaran sekolah Gilead berbuat banyak untuk memulai pemberitaan kabar baik, kadang-kadang terjadi perkembangan yang lebih cepat ketika Saksi-Saksi pribumi mulai memenuhi syarat untuk dinas perintis istimewa, karena mereka sering kali bahkan dapat bekerja lebih efektif di kalangan penduduk setempat.

      Selain pekerja-pekerja yang bergairah ini, ada lagi ratusan ribu Saksi-Saksi Yehuwa yang juga dengan penuh semangat memajukan kepentingan Kerajaan. Mereka termasuk tua dan muda, pria dan wanita, sudah menikah dan masih lajang. Perintis-perintis biasa membaktikan setidaknya 90 jam setiap bulan untuk dinas pengabaran; para perintis ekstra, sedikitnya 60 jam. Mereka menentukan tempat mereka akan mengabar. Sebagian besar dari mereka bekerja dengan sidang-sidang yang sudah berdiri; beberapa pindah ke daerah terpencil. Mereka memenuhi kebutuhan fisik mereka sendiri dengan melakukan suatu pekerjaan duniawi, atau anggota keluarga mereka mungkin membantu menyediakan kebutuhan mereka. Selama tahun 1992, lebih dari 914.500 orang ambil bagian dalam dinas semacam ini sebagai perintis biasa atau perintis ekstra sedikitnya dalam sebagian dari tahun itu.

      Sekolah-Sekolah Dengan Tujuan Khusus

      Untuk memperlengkapi para sukarelawan dalam jenis pelayanan tertentu, pendidikan khusus disediakan. Misalnya, sejak tahun 1943, Sekolah Gilead telah melatih ribuan rohaniwan yang berpengalaman untuk pekerjaan utusan injil, dan lulusan-lulusannya telah diutus ke segala penjuru bumi. Pada tahun 1987, Sekolah Pelatihan Pelayanan dimulai untuk membantu memenuhi kebutuhan khusus, termasuk memelihara sidang dan tanggung jawab lain. Pengaturan agar sekolah ini diadakan di berbagai tempat membuat para siswa tidak perlu lagi mengadakan perjalanan ke suatu lokasi sentral dan juga mengurangi kebutuhan untuk belajar bahasa lain guna mendapat manfaat dari sekolah tersebut. Semua yang diundang untuk menghadiri sekolah ini adalah penatua-penatua atau pelayan-pelayan sidang yang telah membuktikan bahwa mereka benar-benar mencari dahulu Kerajaan. Banyak dari mereka merelakan diri untuk melayani di negeri-negeri lain. Semangat mereka sama seperti semangat nabi Yesaya, yang berkata, ”Ini aku, utuslah aku!”—Yes. 6:8.

      Untuk meningkatkan keefektifan mereka yang sudah melayani sebagai perintis biasa dan istimewa, Sekolah Dinas Perintis dimulai sejak tahun 1977. Di tempat yang memungkinkan, sekolah itu diselenggarakan di setiap wilayah di seluruh dunia. Semua perintis diundang untuk mendapat manfaat dari kursus dua minggu ini. Sejak itu secara progresif, para perintis yang telah menyelesaikan tahun pertama dinas mereka, telah diberi pelatihan yang sama. Hingga tahun 1992, lebih dari 100.000 perintis telah dilatih di sekolah ini di Amerika Serikat saja, dan lebih dari 10.000 sedang dilatih setiap tahun. Ada 55.000 lagi yang telah dilatih di Jepang, 38.000 di Meksiko, dan 25.000 di Brasil, dan 25.000 di Italia. Sebagai tambahan dari kursus ini, secara tetap tentu para perintis menikmati suatu pertemuan khusus dengan pengawas wilayah selama kunjungan tengah tahunnya ke setiap sidang dan suatu acara pelatihan khusus dengan pengawas wilayah maupun pengawas distrik pada waktu kebaktian wilayah tahunan. Dengan demikian, mereka yang membentuk tentara besar pemberita Kerajaan yang melayani sebagai perintis bukan saja merupakan pekerja yang rela melainkan juga rohaniwan yang terlatih dengan baik.

      Melayani di Tempat yang Lebih Memerlukan Tenaga

      Ribuan Saksi-Saksi Yehuwa—beberapa di antaranya perintis, yang lainnya bukan—telah merelakan diri untuk melayani bukan saja dalam lingkungan masyarakat sekitar mereka sendiri melainkan juga di daerah-daerah lain yang lebih memerlukan tenaga pemberita kabar baik. Setiap tahun, ribuan meluangkan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan, sesuai dengan apa yang dapat mereka atur secara pribadi, di daerah yang sering kali cukup jauh dari rumah mereka agar dapat memberi kesaksian kepada orang-orang yang tidak dikunjungi oleh Saksi-Saksi Yehuwa secara tetap tentu. Ada ribuan lagi yang telah meninggalkan tempat tinggal mereka dan pindah tempat agar dapat menyediakan bantuan demikian selama jangka waktu yang lebih lama. Banyak di antara mereka adalah pasangan suami-istri atau keluarga dengan anak-anak. Kepindahan mereka sering kali relatif berjarak dekat, tetapi beberapa telah berkali-kali pindah selama bertahun-tahun. Banyak Saksi-Saksi yang bergairah ini bahkan telah melakukan dinas di negeri asing—ada yang selama beberapa tahun, yang lain secara permanen. Mereka melakukan pekerjaan duniawi apa saja untuk memenuhi kebutuhan mereka, dan mereka pindah dengan biaya sendiri. Keinginan mereka satu-satunya adalah untuk ikut serta sepenuhnya, sejauh keadaan mengizinkan, dalam menyebarkan berita Kerajaan.

      Jika kepala keluarga bukan seorang Saksi, ia mungkin pindah bersama keluarganya karena pekerjaan. Akan tetapi para anggota keluarga yang adalah Saksi-Saksi dapat melihat hal ini sebagai kesempatan untuk memperluas berita Kerajaan. Demikianlah halnya dengan dua orang Saksi dari Amerika Serikat yang suatu waktu berada di sebuah kamp pembangunan di hutan rimba di Suriname pada akhir tahun 1970-an. Dua kali seminggu mereka bangun pukul 4.00 dini hari, menaiki bus perusahaan untuk perjalanan yang berat selama satu jam ke sebuah desa, dan mereka mengabar seharian. Tidak berapa lama kemudian mereka memimpin 30 pengajaran Alkitab setiap minggu dengan orang-orang yang lapar akan kebenaran. Sekarang, ada sebuah sidang di daerah hutan tropis tersebut yang tadinya tidak terjamah.

      Meraih Setiap Kesempatan yang Cocok untuk Bersaksi

      Memang, tidak semua Saksi-Saksi Yehuwa pindah ke negeri-negeri lain, atau bahkan ke kota-kota lain, untuk melaksanakan pelayanan mereka. Keadaan mereka mungkin tidak mengizinkan mereka untuk merintis. Meskipun demikian mereka betul-betul menyadari anjuran Alkitab untuk mengerahkan ”semua upaya yang sungguh-sungguh” dan untuk ’giat selalu dalam pekerjaan Tuhan’. (2 Ptr. 1:5-8, NW; 1 Kor. 15:58) Mereka menunjukkan bahwa mereka mencari dahulu Kerajaan sewaktu mereka mendahulukan kepentingannya dibanding pekerjaan duniawi dan rekreasi. Mereka yang hatinya dipenuhi dengan penghargaan akan Kerajaan dengan tetap tentu mengambil bagian dalam pelayanan pemberitaan sejauh keadaan mengizinkan, dan banyak di antara mereka mengubah keadaan mereka supaya dapat ikut serta dengan lebih sepenuhnya. Mereka juga senantiasa waspada untuk menggunakan peluang-peluang yang cocok untuk bersaksi kepada orang lain tentang Kerajaan.

      Sebagai contoh, John Furgala, yang memiliki sebuah usaha toko besi di Guayaquil, Ekuador, memamerkan lektur Alkitab dengan cara yang menarik di tokonya. Seraya pembantunya melayani pesanan, John memberi kesaksian kepada pelanggan.

      Di Nigeria seorang Saksi yang bergairah yang memberi nafkah keluarganya dengan bekerja sebagai kontraktor listrik juga bertekad untuk memanfaatkan hubungan dengan para relasinya guna memberikan kesaksian. Karena bisnis itu miliknya, ia menentukan jadwal kegiatan. Setiap pagi, sebelum memulai pekerjaan sehari-hari, ia bersama istri dan anak-anaknya, para pegawainya, dan mereka yang kerja praktek padanya, berkumpul untuk membahas ayat harian dari Alkitab, disertai pengalaman-pengalaman dari Yearbook of Jehovah’s Witnesses (Buku Kegiatan). Pada tiap awal tahun, ia juga memberikan kepada para pelanggannya sebuah kalender dari Lembaga Menara Pengawal, bersama dua majalah. Sebagai hasilnya, beberapa orang pegawainya dan beberapa pelanggan telah bergabung dengan dia dalam ibadat kepada Yehuwa.

      Ada banyak di antara Saksi-Saksi Yehuwa yang memiliki semangat yang sama seperti itu. Tidak soal apa pun yang mereka lakukan, mereka senantiasa mencari kesempatan untuk membagikan kabar baik itu kepada orang lain.

      Suatu Tentara Besar Penginjil Sepenuh Waktu yang Berbahagia

      Dengan berlalunya waktu, gairah Saksi-Saksi Yehuwa untuk memberitakan kabar baik tidak kendur. Meskipun banyak penghuni rumah dengan cukup tegas telah memberi tahu Saksi-Saksi bahwa mereka tidak berminat, ada sejumlah besar yang bersyukur bahwa Saksi-Saksi telah membantu mereka mengerti Alkitab. Tekad Saksi-Saksi Yehuwa adalah untuk terus mengabar sampai Yehuwa sendiri memberikan petunjuk yang jelas bahwa pekerjaan ini selesai.

      Sebaliknya daripada mengendur, persekutuan Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia sesungguhnya telah makin meningkatkan kegiatan pemberitaannya. Pada tahun 1982 laporan tahunan di seluruh bola bumi menunjukkan bahwa 384.856.662 jam telah dibaktikan untuk pelayanan pemberitaan. Sepuluh tahun kemudian (pada tahun 1992) 1.024.910.434 jam dibaktikan kepada pekerjaan ini. Apa yang menyebabkan peningkatan kegiatan yang demikian besar?

      Memang benar bahwa jumlah Saksi-Saksi Yehuwa telah bertumbuh. Tetapi tidak sejauh itu. Selama jangka waktu tersebut, seraya jumlah Saksi bertambah sebanyak 80 persen, jumlah perintis melonjak 250 persen. Rata-rata setiap bulan, hampir 1 di antara setiap 7 dari Saksi-Saksi Yehuwa sedunia berada di salah satu cabang dari pekerjaan pemberitaan sepenuh waktu.

      Siapakah gerangan mereka yang ikut dalam dinas perintis demikian? Sebagai contoh, di Republik Korea, banyak Saksi yang adalah ibu rumah tangga. Tanggung jawab keluarga mungkin tidak mengizinkan mereka semua untuk merintis secara tetap tentu, tetapi sejumlah besar telah menggunakan liburan sekolah yang panjang pada musim dingin sebagai kesempatan untuk dinas perintis ekstra. Sebagai hasilnya 53 persen dari jumlah Saksi-Saksi di Republik Korea berada di salah satu corak dinas sepenuh waktu pada bulan Januari 1990.

      Pada tahun-tahun permulaan, semangat merintis yang bergairah dari Saksi-Saksi di Filipina telah memungkinkan mereka mencapai ratusan pulau yang berpenduduk di Filipina dengan berita Kerajaan. Gairah itu bahkan makin jelas sejak itu. Pada tahun 1992, setiap bulan rata-rata 22.205 penyiar ikut serta dalam pelayanan pemberitaan sebagai perintis di Filipina. Di antara mereka ada banyak orang muda yang memilih untuk ’mengingat Pencipta mereka’ dan menggunakan tenaga muda mereka dalam dinas-Nya. (Pkh. 12:1) Sesudah satu dekade dalam dinas perintis, seorang di antara orang-orang muda demikian berkata, ”Saya telah belajar untuk bersabar, menempuh kehidupan yang sederhana, mengandalkan Yehuwa, dan rendah hati. Memang benar bahwa saya juga telah mengalami kesukaran dan kekecewaan, tetapi semua ini tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan berkat-berkat yang dihasilkan oleh dinas perintis.”

      Selama bulan April dan Mei 1989, The Watchtower memuat artikel-artikel yang menelanjangi Babel Besar, yakni agama palsu dalam banyak bentuknya di seluruh dunia. Artikel-artikel itu diterbitkan secara serentak dalam 39 bahasa dan disebarkan secara intensif. Di Jepang, yang jumlah Saksi-Saksi yang merintis sering melebihi 40 persen, suatu puncak baru 41.055 perintis ekstra mendaftar untuk membantu dalam pekerjaan selama bulan April itu. Di Sidang Otsuka, Kota Takatsuki, Distrik Osaka, 73 dari 77 penyiar terbaptis ada dalam salah satu corak dinas perintis pada bulan tersebut. Pada tanggal 8 April, sewaktu semua penyiar di Jepang didesak untuk ikut ambil bagian dalam menyebarkan berita yang sangat penting ini, ratusan sidang, seperti Sidang Ushioda, di Kota Yokohama, menyelenggarakan dinas di jalan-jalan dan dari rumah ke rumah sepanjang hari, dari pukul 7.00 pagi hingga 8.00 malam, agar sedapat mungkin mencapai setiap orang di kawasan itu.

      Seperti halnya di mana-mana, Saksi-Saksi Yehuwa di Meksiko bekerja untuk memelihara kebutuhan jasmani mereka. Walaupun demikian, setiap bulan selama tahun 1992, rata-rata 50.095 Saksi-Saksi Yehuwa di sana juga menyediakan waktu dalam kehidupan mereka untuk dinas perintis guna membantu orang-orang yang lapar akan kebenaran, belajar tentang Kerajaan Allah. Di beberapa keluarga, seluruh anggota keluarga bekerja sama agar memungkinkan seluruh keluarga, atau sedikitnya beberapa di antara mereka, merintis. Mereka menikmati pelayanan yang produktif. Selama tahun 1992 Saksi-Saksi Yehuwa di Meksiko secara tetap tentu memimpin lebih dari 502.017 pengajaran Alkitab di rumah dengan orang perseorangan dan kelompok-kelompok keluarga.

      Para penatua yang melayani kebutuhan sidang Saksi-Saksi Yehuwa mempunyai tanggung jawab berat. Kebanyakan penatua di Nigeria adalah pria-pria berkeluarga dan memang demikian halnya penatua-penatua di banyak tempat lain juga. Namun, selain membuat persiapan untuk memimpin atau ambil bagian dalam perhimpunan sidang, maupun melakukan penggembalaan yang perlu untuk kawanan domba Allah, beberapa di antara pria-pria ini juga merintis. Bagaimana mungkin? Jadwal waktu yang cermat dan kerja sama yang baik dalam keluarga sering kali merupakan faktor-faktor yang penting.

      Jelaslah, bahwa di seluruh dunia, Saksi-Saksi Yehuwa telah mencamkan nasihat Yesus untuk ’terus mencari dahulu kerajaan’. (Mat. 6:33, NW) Apa yang mereka lakukan merupakan ungkapan yang keluar dari hati karena kasih mereka akan Yehuwa dan penghargaan mereka akan kedaulatan-Nya. Seperti pemazmur Daud, mereka berkata, ”Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja, dan aku hendak memuji namaMu untuk seterusnya dan selamanya.”—Mzm. 145:1.

      [Catatan Kaki]

      a Watch Tower, 15 Agustus 1906, hlm. 267-71.

      b Lihat The Watchtower, 1 Februari 1967, hlm. 92-5.

      c Lihat The Watchtower, 15 Desember 1973, hlm. 760-5.

      d Lihat The Watchtower, 1 September 1972, hlm. 533-6.

      e The Watchtower, 15 Desember 1963, hlm. 764-6.

      f Lihat The Watchtower, 1 Desember 1969, hlm. 729-32; 15 September 1988, hlm. 31.

      g Lihat The Watchtower, 1 Mei 1987, hlm. 22-30 (wIN S-37 hlm. 23-31); 1 April 1964, hlm. 212-15; 1 Desember 1956, hlm. 712-19; 15 Agustus 1970, hlm. 507-10; 1 Oktober 1960, hlm. 601-5; 15 Juni 1968, hlm. 378-81; 1 April 1968, hlm. 217-21; 1 April 1959, hlm. 220-3.

      [Blurb di hlm. 292]

      Semakin ditandaskan mengenai tanggung jawab untuk bersaksi

      [Blurb di hlm. 293]

      Mereka memandang kesaksian dari rumah ke rumah sebagai hak istimewa yang berharga

      [Blurb di hlm. 294]

      Mengerti apa artinya dinas sepenuh jiwa

      [Blurb di hlm. 295]

      Apa sesungguhnya arti dari ’mencari dahulu Kerajaan’

      [Blurb di hlm. 301]

      Saksi-Saksi yang bergairah mendahulukan kepentingan Kerajaan daripada pekerjaan duniawi dan rekreasi

      [Kotak/Gambar di hlm. 288]

      ”Di Manakah yang Sembilan Itu?”

      Pada Peringatan kematian Kristus, pada tahun 1928, satu risalah diberikan kepada semua yang hadir berjudul ”Di Manakah yang Sembilan Itu?” Pembahasannya mengenai Lukas 17:11-19 menyentuh hati Claude Goodman dan menggerakkan dia untuk terjun menjadi kolportir, atau perintis, bekerja dan bertahan dalam dinas tersebut.

      [Kotak/Gambar di hlm. 296, 297]

      Dinas Betel

      Sampai tahun 1992, ada 12.974 yang ikut dalam dinas Betel di 99 negeri

      [Gambar]

      Pelajaran pribadi penting bagi para anggota keluarga Betel

      Spanyol

      Di setiap Rumah Betel, hari dimulai dengan pembahasan suatu ayat Alkitab

      Finlandia

      Sebagaimana halnya Saksi-Saksi Yehuwa di mana-mana, anggota keluarga Betel ikut serta dalam dinas pengabaran

      Swiss

      Setiap hari Senin malam keluarga Betel mempelajari ”Menara Pengawal” bersama-sama

      Italia

      Pekerjaan beraneka ragam, tetapi semuanya dilakukan untuk mendukung pemberitaan Kerajaan Allah

      Prancis

      Papua Nugini

      Amerika Serikat

      Jerman

      Filipina

      Meksiko

      Inggris

      Nigeria

      Belanda

      Brasil

      Jepang

      Afrika Selatan

      [Kotak/Gambar di hlm. 298]

      Beberapa Orang yang Sudah Lama Dalam Dinas Betel

      F. W. Franz—Amerika Serikat (1920—92)

      Heinrich Dwenger—Jerman (kira-kira 15 tahun dari tahun 1911-33), Hongaria (1933-35), Cekoslowakia (1936-39), kemudian Swiss (1939-83)

      George Phillips—Afrika Selatan (1924-66, 1976-82)

      Kakak beradik (Kathryn Bogard dan Grace DeCecca) yang bersama-sama membaktikan sejumlah 136 tahun dalam dinas Betel—Amerika Serikat

      [Grafik di hlm. 303]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      Para Perintis Bertambah!

      Perintis

      Penyiar

      Pertambahan Persentase Sejak tahun 1982

      250%

      200%

      150%

      100%

      50%

      1982 1984 1986 1988 1990 1992

      [Gambar di hlm. 284]

      Saudari Early menjelajahi banyak bagian dari Selandia Baru dengan bersepeda untuk membagikan berita Kerajaan

      [Gambar di hlm. 285]

      Selama 76 tahun—dalam keadaan lajang, menikah, dan kemudian sebagai seorang janda—Malinda Keefer mengabdikan dirinya kepada pelayanan sepenuh waktu

      [Gambar di hlm. 286]

      Mobil-rumah yang sederhana menjadi penginapan untuk beberapa perintis masa permulaan seraya mereka pindah dari satu tempat ke tempat lain

      Kanada

      India

      [Gambar di hlm. 287]

      Frank Rice (berdiri di kanan), Clem Deschamp (duduk di depan Frank dengan istri Clem, Jean, di sebelah mereka), dan suatu kelompok di Jawa bersama rekan-rekan Saksi-Saksi dan para peminat baru

      [Gambar di hlm. 288]

      Kehidupan Claude Goodman dalam pelayanan sepenuh waktu membawa dia kepada dinas di India dan tujuh negeri lain

      [Gambar di hlm. 289]

      Sewaktu Ben Brickell masih sehat, ia senang menggunakannya dalam dinas Yehuwa; problem kesehatan yang parah pada tahun-tahun berikutnya tidak menghentikannya

      [Gambar di hlm. 290]

      Kathe Palm bersaksi di segala macam daerah, dari gedung-gedung kantor di kota besar sampai ke kamp pertambangan dan peternakan domba yang paling terpencil di Cile

      [Gambar di hlm. 291]

      Tekad Martin maupun Gertrud Poetzinger dilukiskan dalam kata-kata, ’Satu hal ini saya lakukan—mencari dahulu Kerajaan’

      [Gambar di hlm. 300]

      Sekolah Dinas Perintis (seperti ditunjukkan di sini di Jepang) telah menyediakan pelatihan khusus bagi puluhan ribu pekerja yang bergairah

  • Bertumbuh Bersama dalam Kasih
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 19

      Bertumbuh Bersama dalam Kasih

      KETIKA menulis kepada rekan-rekan Kristen, rasul-rasul Yesus Kristus menunjukkan perlunya seseorang bertumbuh bukan hanya dalam pengetahuan yang saksama melainkan juga dalam kasih. Dasarnya adalah kasih yang diperlihatkan oleh Allah sendiri dan kasih yang rela berkorban dari Kristus, yang jejaknya mereka upayakan untuk ikuti. (Yoh. 13:34, 35; Ef. 4:15, 16; 5:1, 2; Flp. 1:9; 1 Yoh. 4:7-10) Mereka adalah satu persaudaraan, dan ketika mereka saling membantu, ikatan kasih bahkan menjadi semakin kuat.

      Ketika bencana kelaparan menimbulkan kesukaran ekonomi bagi saudara-saudara di Yudea, orang-orang Kristen di Suriah dan di Yunani membagikan harta bendanya untuk membantu mereka. (Kis. 11:27-30; Rm. 15:26) Ketika beberapa dianiaya, penderitaan yang dialami sangat dirasakan oleh orang-orang Kristen lainnya, dan mereka ini berupaya memberikan bantuan.​—1 Kor. 12:26; Ibr. 13:3.

      Tentu saja, semua manusia mempunyai kemampuan untuk mengasihi, dan orang-orang selain umat Kristen melakukan perbuatan kemanusiaan yang baik hati. Tetapi masyarakat pada zaman Romawi mengakui bahwa kasih yang ditunjukkan umat Kristen berbeda. Tertullian, seorang ahli hukum di Roma, mengutip komentar masyarakat di Roma mengenai umat Kristen, mengatakan, ”’Lihat,’ kata mereka, ’betapa mereka saling mengasihi . . . dan betapa mereka siap untuk mati bagi satu sama lain.’” (Apology, XXXIX, 7) John Hurst, dalam karyanya History of the Christian Church (Jilid I, halaman 146), menuturkan bahwa orang-orang di Kartago dan Aleksandria dahulu kala, selama berkecamuknya wabah, menyingkirkan orang-orang yang terkena wabah dari tengah-tengah mereka dan melucuti apa saja yang bernilai dari tubuh orang-orang yang sekarat. Sebaliknya, demikian dilaporkannya, umat Kristen di tempat-tempat ini membagi harta benda mereka, merawat yang sakit, dan menguburkan yang mati.

      Apakah Saksi-Saksi Yehuwa pada zaman modern melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menunjukkan perhatian demikian terhadap kesejahteraan orang-orang lain? Jika demikian halnya, apakah ini hanya dilakukan oleh beberapa pribadi di sana-sini, atau apakah organisasinya secara keseluruhan menganjurkan dan mendukung upaya-upaya demikian?

      Bantuan Pengasih Dalam Sidang-Sidang Setempat

      Di kalangan Saksi-Saksi Yehuwa, memperhatikan para yatim piatu dan janda-janda di dalam sidang, maupun siapa saja yang setia yang mengalami musibah besar, dipandang sebagai bagian dari ibadat mereka. (Yak. 1:27; 2:15-17; 1 Yoh. 3:17, 18) Pemerintahan duniawi pada umumnya menyediakan rumah-rumah sakit, panti-panti werda, dan penyelenggaraan bantuan sosial untuk para penganggur dalam lingkungan masyarakat, dan Saksi-Saksi Yehuwa mendukung penyelenggaraan tersebut dengan cara membayar pajak mereka dengan tulus ikhlas. Namun, karena menyadari bahwa hanya Kerajaan Allah yang dapat menanggulangi problem-problem umat manusia secara permanen, maka Saksi-Saksi Yehuwa membaktikan diri dan sumber daya mereka terutama untuk mengajar orang-orang lain tentang hal tersebut. Ini adalah pelayanan yang penting sekali yang tidak disediakan oleh pemerintahan manusia mana pun.

      Dalam lebih dari 69.000 sidang Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia, kebutuhan-kebutuhan khusus dari orang perorangan yang timbul karena usia lanjut dan cacat biasanya diurus secara pribadi. Seperti diperlihatkan di 1 Timotius 5:4, 8, adalah terutama tanggung jawab setiap orang Kristen untuk memelihara rumah tangganya sendiri. Anak-anak, cucu-cucu, atau sanak-saudara dekat lainnya menunjukkan kasih Kristen dengan menyediakan bantuan bagi orang-orang yang berusia lanjut dan yang cacat sesuai dengan kebutuhan mereka. Sidang-sidang Saksi-Saksi Yehuwa tidak mengurangi makna tanggung jawab ini dengan mengambil alih kewajiban-kewajiban keluarga. Akan tetapi, jika tidak ada anggota keluarga dekat, atau jika mereka yang memiliki tanggung jawab itu memang tidak dapat menanggung sendiri beban mereka, maka yang lain-lain di dalam sidang dengan pengasih datang membantu. Apabila perlu, sidang secara keseluruhan dapat mengatur untuk sekadar memberikan bantuan kepada seorang saudara atau saudari yang sudah lama berdinas dengan setia dan yang membutuhkan bantuan.​—1 Tim. 5:​3-10.

      Perhatian akan kebutuhan-kebutuhan ini tidak sekadar diserahkan kepada kemungkinan yang ada. Dalam kursus-kursus Sekolah Pelayanan Kerajaan, yang telah dihadiri berkali-kali oleh para penatua sejak tahun 1959, kewajiban mereka di hadapan Allah dalam hal ini sebagai gembala kawanan domba telah sering kali diberikan perhatian khusus. (Ibr. 13:1, 16) Halnya bukan karena mereka tidak menyadari kebutuhan ini sebelumnya. Misalnya, pada tahun 1911, bantuan materi telah disediakan oleh Sidang Oldham di Lancashire, Inggris, bagi mereka yang menghadapi problem ekonomi yang berat. Akan tetapi, sejak itu organisasi sedunia berkembang, jumlah yang mengalami problem berat meningkat, dan Saksi-Saksi Yehuwa makin sadar akan kewajiban mereka menurut Alkitab dalam situasi-situasi demikian. Teristimewa pada tahun-tahun belakangan ini, tanggung jawab setiap orang Kristen terhadap saudara-saudara mereka yang mempunyai kebutuhan khusus​—yang lanjut usia, yang cacat, keluarga dengan orang-tua tunggal, dan mereka yang mengalami kesulitan ekonomi​—telah dibahas oleh semua sidang pada perhimpunan-perhimpunan mereka.a

      Kepedulian para Saksi secara perorangan terhadap orang lain jauh melebihi ucapan, ”Kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!” Mereka menunjukkan minat pribadi yang pengasih. (Yak. 2:15, 16) Pertimbangkan beberapa contoh.

      Ketika seorang wanita muda Swedia, seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa, terkena meningitis (radang selaput otak) sewaktu sedang berkunjung ke Yunani pada tahun 1986, ia juga mengalami apa artinya memiliki saudara dan saudari Kristen di banyak negeri. Ayahnya di Swedia diberi tahu. Ia segera menghubungi seorang penatua sidang Saksi-Saksi Yehuwa setempat di Swedia dan, melalui penatua itu, menghubungi seorang Saksi di Yunani. Hingga saudari Saksi muda itu dapat kembali ke Swedia tiga minggu kemudian, teman-teman barunya di Yunani tidak pernah membiarkannya tidak terurus.

      Begitu juga, sewaktu seorang Saksi yang lanjut usia, seorang duda, di Wallaceburg, Ontario, Kanada, memerlukan bantuan, satu keluarga yang pernah dibantunya secara rohani menunjukkan penghargaan mereka dengan mengajak dia menjadi anggota keluarga itu. Beberapa tahun kemudian sewaktu mereka pindah ke Barry’s Bay, ia ikut bersama mereka. Ia tinggal bersama mereka dan diurus secara pengasih oleh mereka selama 19 tahun, sampai ia meninggal pada tahun 1990.

      Di New York City, sepasang suami-istri Saksi mengurus seorang saudara yang lanjut usia yang menghadiri perhimpunan-perhimpunan di Balai Kerajaan mereka, dan hal ini mereka lakukan selama 15 tahun, sampai ia meninggal pada tahun 1986. Bila ia kena stroke, mereka yang berbelanja, membersihkan, memasak, dan mencuci pakaian untuknya. Mereka memperlakukan dia bagaikan ayah mereka sendiri.

      Berbagai kebutuhan lain juga mendapat perhatian yang pengasih. Sepasang suami-istri Saksi di Amerika Serikat telah menjual rumah mereka dan pindah ke Montana untuk membantu sebuah sidang di sana. Akan tetapi menjelang saudara itu ”dikeluarkan” dari pekerjaan, masalah kesehatan yang serius terjadi, dan dana mereka habis. Bagaimana mereka dapat mengatasinya? Saudara itu berdoa kepada Yehuwa memohon bantuan. Sewaktu ia selesai berdoa, seorang rekan Saksi mengetuk pintu. Bersama-sama mereka keluar untuk minum kopi. Ketika saudara itu kembali, ia mendapati meja dapur penuh dengan bahan pangan. Bersama dengan bahan pangan itu ada sebuah amplop berisi uang dan catatan yang berbunyi, ”Dari saudara-saudara dan saudari-saudarimu, yang sangat mengasihi kalian.” Sidang itu menyadari kebutuhan pasangan tersebut, dan mereka semua ikut memenuhinya. Karena sangat terharu oleh kasih mereka, ia dan istrinya tidak bisa menahan diri untuk mencucurkan air mata dan bersyukur kepada Yehuwa karena teladan kasih yang menggerakkan para hamba-Nya.

      Perhatian yang murah hati yang ditunjukkan Saksi-Saksi Yehuwa terhadap orang-orang yang dalam keadaan kekurangan telah dikenal di kalangan luas. Sewaktu-waktu ada penipu-penipu yang menyalahgunakannya. Maka Saksi-Saksi harus belajar bersikap hati-hati, seraya tidak meredam keinginan mereka untuk membantu orang-orang yang layak dibantu.

      Bila Perang Membuat Orang Melarat

      Di banyak bagian bumi, orang-orang telah dibuat melarat karena perang. Organisasi-organisasi bantuan kemanusiaan berupaya memberikan bantuan, tetapi sistem organisasi ini sering kali bekerja lamban. Saksi-Saksi Yehuwa tidak berpandangan bahwa upaya yang dilakukan oleh lembaga-lembaga bantuan demikian membebaskan mereka dari tanggung jawab terhadap saudara-saudara Kristen mereka di daerah-daerah ini. Bila mereka mengetahui bahwa saudara-saudara mereka menderita kekurangan, mereka tidak ’menutup pintu hati mereka’ terhadap saudara-saudara demikian melainkan segera berbuat sedapat mungkin untuk meringankan penderitaan saudara-saudara mereka.​—1 Yoh. 3:​17, 18.

      Selama Perang Dunia II, bahkan di negeri-negeri yang menderita kekurangan, Saksi-Saksi di daerah pedalaman yang masih mempunyai persediaan makanan membaginya dengan saudara-saudara yang kurang beruntung di kota. Di Belanda hal ini dilakukan dengan risiko besar karena pembatasan-pembatasan ketat yang diberlakukan oleh Nazi. Sewaktu melakukan upaya bantuan demikian pada suatu kesempatan, Gerrit Böhmermann memimpin sekelompok saudara mengendarai sepeda angkutan yang dimuati makanan yang ditutupi dengan terpal. Tiba-tiba mereka sampai di sebuah pos pemeriksaan di kota Alkmaar. ”Tidak ada pilihan lain kecuali mengandalkan Yehuwa sepenuhnya,” kata Gerrit. Tanpa banyak mengurangi kecepatan, ia berseru sambil bertanya kepada si perwira, ”Wo ist Amsterdam?” (Mana jalan ke Amsterdam?) Perwira tersebut melangkah ke samping dan menunjuk ke muka seraya berteriak, ”Geradeaus!” (Terus saja!) ”Danke schön!” (Terima kasih!) jawab Gerrit sementara seluruh pasukan sepeda angkutan berlalu dengan kecepatan penuh di depan mata sekumpulan orang yang terkesima. Pada kesempatan lain Saksi-Saksi berhasil membawa masuk satu kapal penuh kentang untuk saudara-saudara mereka di Amsterdam.

      Justru di dalam kamp-kamp konsentrasi di Eropa, semangat ini diperlihatkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Sewaktu meringkuk dalam sebuah kamp dekat Amersfoort, Belanda, seorang yang berumur 17 tahun berat badannya turun hingga ia menjadi seperti tengkorak berjalan. Tetapi pada tahun-tahun berikutnya, ia tidak pernah melupakan ketika setelah mereka dipaksa untuk berolahraga di bawah curahan hujan hingga tengah malam dan kemudian tidak diberi makan, seorang Saksi dari bagian lain kamp itu berhasil menemuinya dan menyelipkan sepotong roti ke dalam tangannya. Dan dalam kamp konsentrasi Mauthausen di Austria, seorang Saksi yang tugasnya mengharuskan dia pergi dari satu bagian ke bagian lain kamp, sering kali mempertaruhkan kehidupannya dengan membawa makanan yang disisihkan oleh Saksi-Saksi dari jatah mereka yang sedikit untuk Saksi-Saksi lain yang mendapat jatah lebih sedikit lagi.

      Sesudah perang, Saksi-Saksi Yehuwa yang keluar dari penjara dan kamp-kamp konsentrasi Jerman tidak punya apa-apa lagi selain baju penjara yang melekat di tubuh mereka. Harta benda dari banyak saudara yang tidak masuk penjara telah musnah. Persediaan makanan, pakaian, dan bahan bakar sangat sedikit di banyak bagian Eropa. Saksi-Saksi Yehuwa di negeri-negeri ini segera mengorganisasi perhimpunan-perhimpunan sidang dan mulai membantu orang-orang lain secara rohani dengan membagikan kabar baik tentang Kerajaan Allah kepada mereka. Tetapi mereka sendiri membutuhkan bantuan dalam hal-hal lain. Banyak di antara mereka begitu lemah karena lapar sehingga mereka sering kali jatuh pingsan selama perhimpunan.

      Ini adalah situasi yang belum pernah dihadapi oleh Saksi-Saksi sebelumnya dalam skala yang demikian besar. Namun, justru pada bulan berakhirnya perang secara resmi di kawasan Pasifik, Saksi-Saksi Yehuwa mengadakan kebaktian istimewa di Cleveland, Ohio, dan di sana mereka membicarakan apa yang perlu dilakukan untuk menyediakan bantuan bagi saudara-saudara Kristen mereka di negeri-negeri yang menderita karena perang dan cara melaksanakannya. Khotbah yang menghangatkan hati ”Karunia-Nya yang Tak Terkatakan”, yang disampaikan oleh F. W. Franz, mengetengahkan nasihat Alkitab yang benar-benar memenuhi kebutuhan pada situasi itu.b

      Dalam beberapa minggu, segera sesudah diizinkan untuk mengadakan perjalanan di kawasan itu, N. H. Knorr, presiden Lembaga Menara Pengawal, dan M. G. Henschel bertolak ke Eropa untuk menyaksikan keadaan secara langsung. Bahkan sebelum mereka berangkat memulai perjalanan tersebut, penyelenggaraan bantuan dilaksanakan.

      Pengiriman awal dengan kapal diberangkatkan dari Swiss dan Swedia. Yang lain-lain menyusul dari Kanada, Amerika Serikat, dan negeri-negeri lain. Walaupun Saksi-Saksi di negeri-negeri yang mampu memberikan bantuan demikian pada waktu itu hanya berjumlah kira-kira 85.000, mereka berusaha mengirimkan pakaian dan makanan kepada rekan-rekan Saksi di Austria, Belanda, Belgia, Bulgaria, Cekoslowakia, Cina, Denmark, Filipina, Finlandia, Hongaria, Inggris, Italia, Jerman, Norwegia, Polandia, Prancis, Romania, dan Yunani. Hal itu tidak terbatas pada upaya satu kali itu saja. Pengiriman bantuan kemanusiaan berlangsung terus selama dua setengah tahun. Antara bulan Januari 1946 dan Agustus 1948, mereka mengirimkan 479.114 kilogram pakaian, 124.110 pasang sepatu, dan 326.081 kilogram makanan sebagai pemberian untuk rekan-rekan Saksi. Tidak ada dari dana itu yang dipotong untuk biaya administrasi. Pekerjaan menyortir dan mengepak dilakukan oleh para sukarelawan yang tidak dibayar. Dana yang disumbangkan seluruhnya digunakan untuk membantu orang-orang kepada siapa dana tersebut ditujukan.

      Tentu saja, kebutuhan akan bantuan untuk para pengungsi dan untuk orang-orang lain yang menjadi melarat karena perang, tidak berakhir pada masa tahun 1940-an itu. Telah terjadi ratusan perang sejak tahun 1945. Dan perhatian pengasih yang sama terus-menerus diperlihatkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Hal ini dilakukan selama dan sesudah perang Biafra di Nigeria, dari tahun 1967 hingga 1970. Bantuan serupa diberikan di Mozambik selama tahun 1980-an.

      Di Liberia juga terjadi bencana kelaparan akibat perang yang dimulai pada tahun 1989. Seraya orang-orang melarikan diri, perkampungan Menara Pengawal di Monrovia penuh sesak dengan ratusan pengungsi. Makanan apa pun yang tersedia di situ, juga air dari sumur, dibagikan kepada Saksi-Saksi dan para tetangga yang bukan Saksi. Kemudian, segera sesudah keadaan mengizinkan, persediaan bantuan lebih lanjut datang dari Saksi-Saksi di Sierra Leone dan Pantai Gading, Afrika Barat, Belanda dan Italia di Eropa, dan Amerika Serikat.

      Selanjutnya, pada tahun 1990, pascaperang di Lebanon telah mengakibatkan beberapa bagian Beirut dalam keadaan seolah-olah baru diguncangkan oleh gempa bumi, para penatua di antara Saksi-Saksi Yehuwa mengorganisasi suatu panitia bantuan darurat untuk memberikan bantuan yang diperlukan kepada saudara-saudara. Mereka tidak perlu meminta tenaga-tenaga sukarela; setiap hari banyak yang menawarkan bantuan.

      Selama suatu masa pergolakan politik dan ekonomi yang hebat di Eropa, Saksi-Saksi Yehuwa di Austria, Cekoslowakia, Hongaria, dan Yugoslavia mengirim lebih dari 70 ton barang yang diperlukan kepada saudara-saudara Kristen mereka di Romania pada tahun 1990.

      Ini disusul oleh lebih banyak misi bantuan ke Eropa Timur. Badan Pimpinan meminta kantor cabang Lembaga Menara Pengawal di Denmark untuk mengorganisasi bantuan bagi para Saksi yang membutuhkan di Ukraina. Sidang-sidang diberi tahu dan bergairah untuk ambil bagian. Pada tanggal 18 Desember 1991 lima truk dan dua mobil barang yang dikemudikan oleh para sukarelawan Saksi tiba di Lviv dengan 22 ton barang​—suatu pernyataan keprihatinan yang pengasih terhadap saudara-saudara Kristen mereka. Terus berlanjut ke tahun 1992, pengiriman-pengiriman dengan kapal juga tiba dari Saksi-Saksi di Austria—lebih dari 100 ton makanan dan pakaian. Lebih banyak perbekalan dikirimkan dari Saksi-Saksi di Belanda​—pertama 26 ton makanan, kemudian suatu konvoi terdiri dari 11 truk yang memuat pakaian, kemudian lebih banyak bahan makanan untuk menanggulangi kebutuhan yang berlanjut. Para penerimanya bersyukur kepada Allah dan bersandar kepada-Nya untuk hikmat dalam menggunakan segala persediaan tersebut. Mereka bersatu dalam doa sebelum membongkar muatan truk, sekali lagi pada waktu pembongkaran selesai dilakukan. Bantuan besar lainnya juga dikirimkan oleh Saksi-Saksi di Italia, Finlandia, Swedia, dan Swiss. Pada waktu segalanya ini berlangsung, keadaan yang bergolak di antara republik-republik yang dahulu membentuk Yugoslavia menimbulkan kebutuhan yang meningkat di situ. Perbekalan makanan, pakaian, dan obat-obatan juga dikirimkan ke daerah tersebut. Sementara itu, Saksi-Saksi dalam kota-kota di sana membuka rumah-rumah mereka untuk menampung mereka yang rumahnya telah dihancurkan.

      Kadang-kadang mereka yang benar-benar membutuhkan pertolongan berada di tempat-tempat yang terpencil, dan situasi mereka tidak diketahui secara luas. Demikianlah yang terjadi dengan 35 keluarga Saksi-Saksi Yehuwa di Guatemala. Desa-desa mereka telah diserang oleh faksi-faksi yang berperang satu sama lain. Sewaktu mereka akhirnya dapat pulang kembali pada tahun 1989, mereka membutuhkan bantuan untuk mengadakan pembangunan kembali. Untuk melengkapi bantuan yang disediakan oleh pemerintah bagi orang-orang yang kembali dari pengungsian, kantor cabang Lembaga Menara Pengawal membentuk suatu panitia darurat untuk membantu keluarga-keluarga Saksi ini, dan sekitar 500 orang Saksi lainnya dari 50 sidang menawarkan diri secara sukarela untuk membantu dalam pembangunan kembali tersebut.

      Ada situasi-situasi lain yang juga menyebabkan orang-orang mengalami musibah bukan karena kesalahan sendiri. Gempa bumi, badai, dan banjir adalah peristiwa yang sering terjadi. Rata-rata, kata orang, dunia ditimpa oleh lebih dari 25 bencana besar setiap tahun.

      Bila Kekuatan Alam Mengamuk

      Bila timbul keadaan darurat serius yang menimpa Saksi-Saksi Yehuwa karena bencana, maka segera diambil langkah-langkah untuk memberikan bantuan yang diperlukan. Penatua-penatua setempat telah belajar bahwa bila menghadapi situasi demikian, mereka harus mengerahkan upaya yang sungguh-sungguh untuk menghubungi setiap orang di dalam sidang. Kantor cabang dari Lembaga Menara Pengawal yang mengawasi pekerjaan Kerajaan di daerah tersebut segera memeriksa situasinya dan kemudian melaporkan ke kantor pusat sedunia. Di tempat-tempat yang memerlukan lebih banyak bantuan daripada yang dapat diberikan secara lokal, penyelenggaraan dikoordinasi dengan saksama, kadang-kadang bahkan dalam skala internasional. Tujuannya bukanlah untuk mencoba meningkatkan standar kehidupan dari mereka yang bersangkutan melainkan untuk membantu mereka memperoleh kebutuhan pokok yang lazim.

      Sebuah laporan yang ditayangkan televisi saja tentang bencana yang terjadi sudah cukup menggerakkan Saksi-Saksi untuk menelepon para penatua yang bertanggung jawab di daerah itu guna menawarkan jasa mereka atau memberikan uang atau bahan-bahan. Yang lain mungkin mengirimkan dana ke kantor cabang atau ke kantor pusat sedunia untuk digunakan bagi tujuan bantuan kemanusiaan. Mereka tahu bahwa bantuan dibutuhkan, dan mereka ingin ikut serta. Bila ada yang lebih membutuhkan, Lembaga Menara Pengawal bisa jadi memberi tahu saudara-saudara di suatu daerah yang terbatas sehingga mereka dapat membantu sesuai kemampuan mereka. Sebuah panitia bantuan kemanusiaan dibentuk untuk mengkoordinasi penanganan masalah-masalah di daerah bencana.

      Maka, sewaktu sebagian besar dari kota Managua, di Nikaragua, hancur karena suatu gempa bumi yang kuat pada bulan Desember 1972, para pengawas sidang-sidang Saksi-Saksi Yehuwa di daerah itu bertemu dalam jangka waktu beberapa jam untuk mengkoordinasi upaya-upaya mereka. Pemeriksaan segera dilakukan sehubungan dengan kesejahteraan setiap Saksi di dalam kota. Pada hari itu juga bantuan perbekalan mulai tiba dari sidang-sidang yang berdekatan; kemudian bantuan cepat datang dari Kosta Rika, Honduras, dan El Salvador. Empat belas tempat penyalur bantuan didirikan di sekitar pinggiran kota Managua. Uang dan barang-barang dari Saksi-Saksi di banyak bagian dari dunia disalurkan ke Nikaragua melalui kantor pusat internasional Lembaga Menara Pengawal. Makanan dan perbekalan lain (termasuk lilin, korek api, dan sabun) dibagikan sesuai besarnya setiap rumah tangga, persediaan untuk tujuh hari diberikan kepada setiap keluarga. Pada puncak operasi tersebut, sekitar 5.000 orang​—Saksi-Saksi, keluarga-keluarga mereka, dan sanak-saudara yang tinggal bersama mereka​—diberi makan. Operasi bantuan ini berlangsung selama sepuluh bulan. Setelah melihat apa yang sedang dilakukan, instansi-instansi pemerintah dan Palang Merah juga menyediakan makanan, tenda-tenda, dan perbekalan lain.

      Pada tahun 1986, sewaktu letusan-letusan gunung berapi memaksa 10.000 orang mengungsi dari Pulau Izu-Oshima, dekat pantai Jepang, kapal-kapal yang membawa para pengungsi disambut oleh Saksi-Saksi Yehuwa yang dengan rajin mencari saudara-saudara rohani mereka. Salah seorang pengungsi mengatakan, ”Sewaktu meninggalkan Oshima, kami sendiri tidak tahu ke mana kami pergi.” Segala sesuatu terjadi begitu cepat. ”Namun, sewaktu kami turun dari kapal, kami melihat sebuah papan tanda yang bertuliskan, ’Saksi-Saksi Yehuwa’. . . . Mata istri saya berkaca-kaca karena merasa lega menemukan saudara-saudara kita ada di sana untuk menjemput kami di dermaga.” Sesudah mengamati bagaimana Saksi-Saksi yang mengungsi itu diurus, bukan hanya sewaktu mereka tiba melainkan juga sesudahnya, bahkan orang-orang yang dahulu mengucilkan mereka berkata, ”Kalian berbuat baik dengan tetap berpegang pada agama itu.”

      Setiap upaya dikerahkan oleh Saksi-Saksi agar bantuan tiba di tempat bencana secepat mungkin. Pada tahun 1970, sewaktu Peru dihantam oleh salah satu gempa bumi yang paling dahsyat dalam sejarah, dana darurat untuk bantuan segera dikirimkan dari kantor pusat sedunia di New York, dan 15 ton pakaian menyusul. Akan tetapi, bahkan sebelum pengiriman dengan kapal itu tiba, Saksi-Saksi sudah tiba dengan sebuah iring-iringan mobil membawa bantuan perbekalan ke daerah yang kota-kota dan desa-desanya telah hancur, dan ini dilakukan hanya dalam beberapa jam setelah jalan-jalan dibuka. Secara bertahap pada hari-hari dan minggu-minggu sesudahnya, mereka memberikan bantuan yang diperlukan, baik secara materi maupun rohani, kepada berbagai kelompok di dataran tinggi Andes. Dan pada tahun 1980, sewaktu sebagian dari Italia diguncang oleh suatu gempa bumi yang hebat sepanjang malam tanggal 23 November, muatan perbekalan truk pertama yang dikirimkan oleh Saksi-Saksi tiba di daerah yang dilanda bencana tepat pada keesokan harinya. Mereka segera membangun dapur mereka sendiri, dan di sana makanan yang dimasak oleh saudari-saudari dibagikan setiap hari. Seorang pengamat upaya bantuan kemanusiaan di sebuah pulau di Karibia mengatakan, ”Saksi-Saksi bekerja lebih cepat daripada pemerintah.” Kadang-kadang memang demikian, namun Saksi-Saksi Yehuwa pasti menghargai bantuan para pejabat yang memudahkan upaya mereka sehingga dapat mencapai daerah-daerah bencana tersebut dengan cepat.

      Selama suatu masa kelaparan di Angola pada tahun 1990, diberitakan bahwa Saksi-Saksi di sana sangat kekurangan makanan dan pakaian. Akan tetapi, upaya mencapai mereka dapat menimbulkan problem, karena sudah bertahun-tahun lamanya Saksi-Saksi Yehuwa dilarang di negara tersebut. Meskipun demikian, saudara-saudara Kristen mereka di Afrika Selatan memuati sebuah truk dengan 25 ton bantuan perbekalan. Dalam perjalanan, mereka mengunjungi konsulat Angola dan diberi izin untuk melintasi perbatasan. Untuk dapat mencapai saudara-saudara, mereka harus melalui 30 perintang jalan yang dibangun oleh militer, dan di tempat sebuah jembatan telah diledakkan, mereka harus menyeberangi sungai yang sedang meluap melalui jembatan sementara yang telah didirikan sebagai gantinya. Meskipun menghadapi semua hal ini, seluruh pengiriman disampaikan dengan selamat.

      Bila ada bencana, lebih banyak yang dilakukan daripada sekadar mengirimkan bantuan perbekalan ke daerah tersebut. Sewaktu ledakan dan kebakaran menghancurkan suatu daerah di pinggiran Meksiko City pada tahun 1984, Saksi-Saksi segera tiba untuk memberikan pertolongan. Tetapi banyak Saksi di daerah itu tidak dapat ditemukan, maka para penatua mengorganisasi suatu pencarian yang sistematis untuk menemukan mereka satu per satu. Ada yang telah berpencar ke tempat-tempat lain. Walaupun demikian, para penatua berupaya terus sampai mereka menemukan semuanya. Bantuan diberikan sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal seorang saudari yang telah kehilangan suami dan seorang putranya, itu termasuk mengurus penyelenggaraan pemakaman dan kemudian memberikan tunjangan penuh, secara materi dan rohani, untuk saudari itu dan anak-anaknya yang masih ada.

      Sering kali bantuan yang dibutuhkan lebih daripada sekadar persediaan obat-obatan, beberapa porsi makanan, dan sejumlah pakaian. Pada tahun 1989 suatu badai menghancurkan rumah-rumah dari 117 Saksi di Guadeloupe dan merusak dengan hebat rumah-rumah dari 300 Saksi lain. Saksi-Saksi Yehuwa di Martinik segera datang membantu mereka; lalu Saksi-Saksi di Prancis mengirim lebih dari 100 ton bahan bangunan sebagai pemberian untuk membantu mereka. Di Pulau St. Croix, sewaktu seorang Saksi yang kehilangan rumahnya menceritakan kepada teman-teman kerja bahwa rekan-rekan Saksi akan datang dari Puerto Riko untuk membantu, mereka mengatakan, ”Mereka tidak akan berbuat apa-apa untukmu. Engkau berkulit hitam, bukan orang Spanyol seperti mereka.” Alangkah terkejutnya teman-teman kerjanya itu sewaktu ia tidak lama kemudian mempunyai rumah yang sama sekali baru! Sesudah suatu gempa bumi di Kosta Rika pada tahun 1991, Saksi-Saksi setempat dan sukarelawan-sukarelawan internasional bekerja bersama-sama untuk membantu rekan-rekan Saksi di daerah bencana. Tanpa mengharapkan imbalan apa pun, mereka membangun kembali 31 rumah dan 5 Balai Kerajaan dan memperbaiki yang lain-lain. Para pengamat menyatakan, ’Golongan lain berbicara tentang kasih; kalian mempertunjukkannya.’

      Efisiensi yang telah dilaksanakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa dalam upaya bantuan kemanusiaan sering kali telah mencengangkan para pengamat. Di Kalifornia, AS, pada tahun 1986, sebuah tanggul di Sungai Yuba bobol dan luapan air memaksa puluhan ribu orang mengungsi dari rumah mereka. Para penatua Kristen di daerah itu menghubungi kantor pusat di New York, dan sebuah panitia bantuan dibentuk. Segera sesudah air mulai surut, ratusan tenaga sukarela siap bekerja. Sebelum lembaga bantuan kemanusiaan duniawi berhasil bergerak, rumah-rumah dari Saksi-Saksi sudah diperbarui kembali. Mengapa mereka dapat bergerak begitu cepat?

      Satu faktor utama adalah kerelaan Saksi-Saksi untuk segera menawarkan diri tanpa bayaran maupun kerelaan mereka untuk menyumbangkan bahan-bahan yang diperlukan. Faktor lain ialah bahwa mereka berpengalaman dalam hal mengorganisasi dan bekerja sama, karena mereka melakukan ini secara tetap tentu untuk menyelenggarakan kebaktian-kebaktian mereka dan membangun Balai-Balai Kerajaan yang baru. Namun faktor lain yang penting sekali ialah bahwa mereka telah banyak memikirkan makna dari apa yang Alkitab katakan, ”Kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain.”​—1 Ptr. 4:8.

      Sumbangan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan demikian sering kali datang dari orang-orang yang tidak memiliki banyak untuk mereka sendiri. Seperti sering kali dapat kita baca dari surat-surat yang mengiringinya, yang mengatakan, ’Pemberian ini kecil, tetapi dengan sepenuh hati kami mengasihi saudara-saudara dan saudari-saudari.’ ’Mudah-mudahan saya dapat mengirimkan lebih banyak, tetapi apa yang Yehuwa izinkan saya miliki ingin saya bagikan.’ Seperti halnya orang-orang Kristen di Makedonia pada abad pertama, mereka dengan sungguh-sungguh memohonkan hak istimewa untuk ikut serta memberikan barang-barang kebutuhan pokok dalam kehidupan untuk mereka yang berkekurangan. (2 Kor. 8:​1-4) Sewaktu lebih dari 200.000 orang Korea kehilangan rumah mereka sebagai akibat dari banjir pada tahun 1984, Saksi-Saksi Yehuwa di Republik Korea menyambut dengan begitu murah hati kebutuhan saudara-saudara mereka, sehingga kantor cabang harus membuat pengumuman bahwa bantuan tidak dibutuhkan lagi.

      Para pengamat dapat segera melihat bahwa Saksi-Saksi bukan sekadar digerakkan oleh perasaan bertanggung jawab atau sifat kemanusiaan yang umum terdapat. Mereka sungguh-sungguh mengasihi saudara dan saudari Kristen mereka.

      Di samping memenuhi kebutuhan jasmani, Saksi-Saksi Yehuwa memberikan perhatian khusus kepada kebutuhan rohani dari saudara-saudara mereka di daerah bencana. Dibuat penyelenggaraan secepat mungkin agar perhimpunan sidang dimulai kembali. Di Yunani pada tahun 1986, sebuah tenda besar perlu dipasang di luar kota Kalamata untuk digunakan sebagai Balai Kerajaan, dan beberapa tenda yang lebih kecil di berbagai lokasi untuk Pelajaran Buku Sidang tengah pekan. Serupa halnya, setelah kebutuhan jasmani bagi mereka yang selamat dari bencana longsor tanah lumpur di Armero, Kolombia, pada tahun 1985, tercukupi, maka dana yang tersisa digunakan untuk membangun Balai Kerajaan yang baru bagi tiga sidang di daerah itu.

      Bahkan seraya pekerjaan pembangunan kembali itu sedang berlangsung, Saksi-Saksi Yehuwa terus menghibur orang lain dengan jawaban-jawaban memuaskan yang diberikan oleh Firman Allah atas pertanyaan-pertanyaan mereka tentang tujuan hidup ini, penyebab bencana dan kematian, dan harapan untuk masa depan.

      Upaya bantuan kemanusiaan dari Saksi-Saksi tidak dimaksudkan untuk menyediakan kebutuhan jasmani dari setiap orang di daerah bencana. Selaras dengan Galatia 6:10, ini terutama dimaksudkan untuk ’kawan-kawan mereka seiman’. Pada waktu yang sama, mereka dengan senang hati membantu orang-orang lain menurut kemampuan mereka. Mereka telah melakukan hal ini misalnya, sewaktu menyediakan makanan untuk korban-korban gempa bumi di Italia. Di Amerika Serikat, pada waktu membantu para korban banjir dan badai, mereka juga membersihkan dan memperbaiki rumah dari tetangga-tetangga para Saksi yang sedang putus asa. Sewaktu ditanya apa sebabnya mereka mau melakukan perbuatan kebaikan demikian untuk orang yang tidak mereka kenal, mereka hanya menjawab bahwa mereka mengasihi sesama mereka. (Mat. 22:39) Setelah suatu badai yang menghancurkan di Florida bagian selatan, AS, tahun 1992, program bantuan yang diorganisasi dengan baik dari Saksi-Saksi begitu terkenal sehingga beberapa perusahaan dagang dan pribadi-pribadi yang bukan Saksi yang ingin memberikan sumbangan bantuan perbekalan yang cukup bernilai menyerahkannya kepada Saksi-Saksi. Mereka menyadari bahwa pemberian mereka tidak akan dibiarkan menumpuk atau digunakan untuk mencari keuntungan namun akan benar-benar dimanfaatkan bagi korban-korban badai, baik Saksi-Saksi maupun yang bukan Saksi-Saksi. Kerelaan mereka untuk membantu orang-orang yang bukan Saksi pada waktu bencana, begitu dihargai di Davao del Norte, Filipina, sehingga para pejabat kota mengeluarkan sebuah resolusi yang menyatakan hal itu.

      Akan tetapi, tidak setiap orang mengasihi umat Kristen sejati. Sering kali, mereka menjadi sasaran penganiayaan yang keji. Situasi ini juga menggerakkan persaudaraan sedunia untuk dengan murah hati mencurahkan dukungan yang pengasih kepada sesama Kristen.

      Menghadapi Penganiayaan Keji

      Rasul Paulus membandingkan sidang Kristen dengan tubuh manusia dan berkata, ”Supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita.” (1 Kor. 12:25, 26) Itulah tanggapan Saksi-Saksi Yehuwa bila mereka mendengar laporan-laporan tentang penganiayaan yang dialami saudara-saudara Kristen mereka.

      Di Jerman selama zaman Nazi, pemerintah mengambil tindakan-tindakan keras untuk menekan Saksi-Saksi Yehuwa. Pada waktu itu hanya ada sekitar 20.000 Saksi di Jerman, kelompok yang relatif kecil yang dibenci oleh Hitler. Dibutuhkan tindakan yang terpadu. Pada tanggal 7 Oktober 1934, setiap sidang Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh Jerman berhimpun secara rahasia, berdoa bersama, dan mengirimkan sepucuk surat kepada pemerintah yang menyatakan tekad mereka untuk terus melayani Yehuwa. Kemudian banyak dari mereka yang hadir tanpa gentar keluar untuk memberi kesaksian kepada para tetangga mereka tentang nama dan Kerajaan Yehuwa. Pada hari yang sama, Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh bagian lain dari bumi juga berhimpun di sidang-sidang mereka dan, sesudah doa yang bersatu-padu, mereka mengirimkan telegram kepada pemerintahan Hitler sebagai dukungan bagi saudara-saudara Kristen mereka.

      Pada tahun 1948, sesudah penganiayaan terhadap Saksi-Saksi Yehuwa di Yunani yang dihasut oleh golongan pemimpin agama disingkapkan, presiden Yunani dan berbagai menteri di pemerintahan menerima ribuan surat dari Saksi-Saksi Yehuwa demi kepentingan saudara-saudara Kristen mereka. Surat-surat itu dikirim dari Filipina, Australia, Amerika Utara dan Selatan, dan daerah-daerah lain.

      Sewaktu majalah Awake! menyingkapkan metode-metode inkwisisi yang dilaksanakan terhadap Saksi-Saksi di Spanyol pada tahun 1961, surat-surat protes membanjiri kalangan berwenang di sana. Para pejabat terkejut karena orang-orang di seluruh dunia mengetahui persis apa yang sedang mereka lakukan, dan hasilnya, walaupun penganiayaan terus berlanjut, beberapa dari polisi mulai lebih mengekang diri dalam memperlakukan Saksi-Saksi. Di berbagai negeri Afrika juga, para pejabat telah mendengar dari Saksi-Saksi di banyak bagian lain dari dunia sewaktu mereka mengetahui perlakuan kejam terhadap saudara-saudara dan saudari-saudari Kristen mereka di sana.

      Jika tidak ada tanggapan yang baik dari pemerintah, Saksi-Saksi yang dianiaya tidaklah dilupakan. Oleh karena penganiayaan agama yang terus-menerus selama bertahun-tahun, beberapa pemerintah telah berkali-kali dibanjiri surat imbauan dan protes. Itulah yang terjadi di Argentina. Suatu ketika pada tahun 1959, sekretaris Departemen Luar Negeri dan Agama membawa seorang saudara kita ke sebuah ruangan dan di sana terdapat beberapa lemari buku yang dipenuhi dengan surat-surat yang telah mengalir dari seluruh dunia. Ia terheran-heran bahwa ada seorang sejauh Fiji menulis imbauan mengenai kebebasan beribadat di Argentina.

      Dalam beberapa hal, lebih banyak kebebasan telah diberikan sewaktu para penguasa menyadari bahwa orang-orang di seluruh dunia mengetahui apa yang mereka lakukan dan bahwa ada banyak orang yang benar-benar memedulikan. Demikianlah halnya di Liberia pada tahun 1963. Serdadu-serdadu pemerintah telah berlaku biadab terhadap para delegasi kebaktian di Gbarnga. Presiden Liberia dibanjiri surat-surat protes dari seputar dunia, dan Departemen Luar Negeri AS turun tangan karena seorang warga negara AS ikut menjadi korban. Akhirnya, Presiden Tubman mengirim telegram ke kantor pusat Lembaga Menara Pengawal yang menyatakan kesediaannya untuk menerima delegasi Saksi-Saksi Yehuwa guna membicarakan permasalahannya. Dua orang delegasi​—Milton Henschel dan John Charuk​—telah berada di Gbarnga. Tn. Tubman mengakui bahwa kejadian itu merupakan ”sesuatu yang keterlaluan” dan berkata, ”Saya menyesal terjadinya peristiwa ini.”

      Sesudah wawancara tersebut, suatu Perintah Eksekutif dikeluarkan yang memberitahukan ”semua orang di seluruh negara, bahwa Saksi-Saksi Yehuwa memiliki hak dan hak istimewa untuk mengunjungi dengan bebas setiap bagian dari negeri untuk melaksanakan pekerjaan misionaris dan ibadat agama mereka tanpa gangguan dari siapa pun. Mereka akan mendapat perlindungan hukum untuk pribadi mereka maupun harta benda mereka dan hak untuk menyembah Allah dengan bebas sesuai dengan suara hati nurani mereka, seraya mematuhi hukum Republik dengan menunjukkan respek kepada bendera nasional bilamana dinaikkan atau diturunkan pada upacara-upacara dengan berdiri tegak.” Namun mereka tidak diwajibkan untuk salut, yang merupakan pelanggaran hati nurani Kristen mereka.

      Akan tetapi, sampai tahun 1992 belum ada pengumuman resmi demikian dikeluarkan di Malawi, meskipun tindak kekerasan terhadap Saksi-Saksi telah berkurang hingga taraf yang lebih dapat diterima. Saksi-Saksi Yehuwa di sana telah menjadi korban dari beberapa di antara penganiayaan agama yang paling keji dalam sejarah Afrika. Suatu gelombang penganiayaan demikian melanda negeri itu pada tahun 1967; gelombang lain mulai pada awal tahun 1970-an. Puluhan ribu surat telah ditulis demi kepentingan mereka dari segala penjuru dunia. Protes-protes melalui telepon dilakukan. Telegram-telegram dikirimkan. Atas dasar kemanusiaan banyak orang terkemuka di dunia telah tergerak untuk berbicara.

      Kebuasan mereka begitu ekstrem sehingga sekitar 19.000 Saksi-Saksi Yehuwa dan anak-anak mereka melarikan diri melintasi perbatasan ke Zambia pada tahun 1972. Sidang-sidang terdekat dari Saksi-Saksi di Zambia dengan cepat mengumpulkan makanan dan selimut untuk saudara-saudara mereka. Uang dan barang-barang yang disumbangkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia mengalir ke kantor-kantor cabang Menara Pengawal dan disalurkan ke para pengungsi oleh kantor pusat di New York. Ada lebih dari cukup yang masuk untuk semua kebutuhan para pengungsi dalam tempat penampungan di Sinda Misale. Seraya berita menyebar di tempat penampungan tentang tibanya truk-truk yang mengangkut makanan, pakaian, dan terpal untuk tempat berteduh, saudara-saudara dari Malawi tidak dapat membendung air mata sukacita karena bukti kasih dari saudara-saudara Kristen mereka ini.

      Bila siapa pun di antara mereka ditahan, rekan-rekan Saksi tidak meninggalkan mereka, bahkan walaupun menyangkut risiko pribadi. Selama pelarangan di Argentina, sewaktu sekelompok Saksi ditahan selama 45 jam, empat orang Saksi lainnya membawa makanan dan pakaian untuk mereka, namun ternyata mereka sendiri dipenjarakan. Pada tahun 1989, istri seorang pengawas wilayah di Burundi, sewaktu mendengar mengenai penderitaan saudara-saudara Kristennya, berupaya membawa makanan ke penjara untuk mereka. Namun ia sendiri ditangkap dan disandera selama dua minggu, karena polisi sedang berupaya menangkap suaminya.

      Apa pun yang dapat mereka lakukan dengan cara-cara ini, kasih akan saudara-saudara Kristen mereka menggerakkan Saksi-Saksi Yehuwa untuk mengangkat suara dalam doa kepada Allah demi kepentingan mereka. Mereka tidak berdoa agar Allah segera menghentikan peperangan dan kekurangan makanan, karena Yesus Kristus menubuatkan perkara-perkara ini untuk zaman kita. (Mat. 24:7) Mereka juga tidak berdoa agar Allah mencegah semua penganiayaan, karena Alkitab jelas menyatakan bahwa umat Kristen sejati akan dianiaya. (Yoh. 15:20; 2 Tim. 3:12) Tetapi mereka memang dengan sungguh-sungguh memohon agar saudara-saudara dan saudari-saudari Kristen mereka dikuatkan untuk berdiri teguh dalam iman seraya menghadapi kesukaran apa pun yang menimpa diri mereka. (Bandingkan Kolose 4:12.) Catatan yang memberikan kesaksian tentang kekuatan rohani mereka merupakan bukti limpah bahwa doa-doa demikian telah dijawab.

      [Catatan Kaki]

      a Lihat The Watchtower, 15 September 1980, halaman 21-6; Menara Pengawal s-29 halaman 22-32 (The Watchtower, 15 Oktober 1986); Menara Pengawal s-37 halaman 1-11 (The Watchtower, 1 Juni 1987 halaman 4-18); The Watchtower, 15 Juli 1988, halaman 21-3; Menara Pengawal 1 Maret 1990, halaman 20-2.

      b Lihat The Watchtower, 1 Desember 1945, halaman 355-63.

      [Blurb di hlm. 305]

      Perhatian akan kasus-kasus kebutuhan khusus tidak sekadar diserahkan kepada kemungkinan yang ada

      [Blurb di hlm. 307]

      Bantuan yang dihasilkan karena minat pribadi yang pengasih

      [Blurb di hlm. 308]

      Berusaha mengatasi kebutuhan yang besar akan bantuan kemanusiaan

      [Blurb di hlm. 312]

      Pencarian yang sistematis untuk menemukan setiap Saksi di daerah bencana

      [Blurb di hlm. 315]

      Berbuat baik juga kepada mereka yang bukan Saksi-Saksi

      [Blurb di hlm. 317]

      Air mata sukacita karena kasih yang ditunjukkan oleh saudara-saudara Kristen mereka

      [Kotak di hlm. 309]

      ”Kalian Sungguh Mengasihi Satu Sama Lain”

      Sesudah mengamati para sukarelawan Saksi di Lebanon, yang porak-poranda akibat perang, memugar sepenuhnya rumah salah seorang saudari Kristen mereka yang rusak berat, para tetangganya terdorong untuk bertanya, ”Dari mana datangnya kasih ini? Orang macam apakah kalian ini?” Seorang wanita Muslim, seraya mengamati bagaimana rumah seorang Saksi dibersihkan dan diperbaiki, menyatakan, ”Kalian sungguh mengasihi satu sama lain. Agama kalian adalah agama yang benar.”

      [Kotak di hlm. 316]

      Saudara dan Saudari yang Sejati

      Mengenai para pengungsi Saksi dari Kuba di Fort Chaffee, Arkansas, ”Arkansas Gazette” mengatakan, ”Merekalah yang pertama-tama ditampung dalam rumah-rumah yang baru karena ’saudara-saudara dan saudari-saudari’ Amerika mereka​—sesama Saksi-Saksi Yehuwa​—mencari mereka. . . . Bila Saksi-Saksi menyebut rekan-rekan rohani mereka di negeri mana pun sebagai ’saudara dan saudari’, mereka sungguh-sungguh memaksudkannya.”​—Terbitan 19 April 1981.

      [Gambar di hlm. 306]

      Sesudah Perang Dunia II, mereka mengirim makanan dan pakaian kepada rekan-rekan Saksi yang membutuhkan di 18 negeri

      Amerika Serikat

      Swiss

      [Gambar di hlm. 310]

      Pada tahun 1990, Saksi-Saksi di negeri-negeri yang berdekatan memadukan upaya mereka untuk membantu rekan-rekan seiman di Romania

      [Gambar di hlm. 311]

      Saksi-Saksi yang selamat melewati sebuah gempa bumi di Peru membangun tempat pengungsian mereka sendiri dan membantu satu sama lain

      Bantuan perbekalan yang dibawa oleh Saksi-Saksi lain (bawah) merupakan salah satu di antara yang pertama-tama sampai ke lokasi

      [Gambar di hlm. 313]

      Upaya bantuan kemanusiaan sering kali mencakup menyediakan bahan dan tenaga sukarela untuk membantu rekan-rekan Saksi membangun kembali rumah-rumah mereka

      Guatemala

      Meksiko

      [Gambar di hlm. 314]

      Upaya bantuan kemanusiaan dari para Saksi mencakup pembinaan rohani. Baik di Kalamata, Yunani, maupun di luar kota itu tenda-tenda segera didirikan untuk perhimpunan

  • Membangun Bersama dalam Skala Global
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 20

      Membangun Bersama dalam Skala Global

      RASA persaudaraan yang tulus ikhlas di kalangan Saksi-Saksi Yehuwa nyata dalam banyak cara. Orang-orang yang menghadiri perhimpunan mereka melihat buktinya. Di kebaktian-kebaktian mereka hal itu terlihat dalam skala yang lebih besar. Hal itu juga nyata sekali seraya mereka bekerja sama menyediakan tempat berhimpun yang cocok untuk sidang mereka.

      Seraya dekade 1990-an mulai, terdapat lebih dari 60.000 sidang Saksi-Saksi Yehuwa di seluas dunia. Selama dekade sebelumnya, rata-rata 1.759 sidang baru telah ditambahkan setiap tahun. Menjelang awal 1990-an, angka rata-rata tersebut telah meningkat menjadi lebih dari 3.000 setiap tahun. Menyediakan tempat-tempat yang cocok agar mereka semua dapat berhimpun merupakan tugas raksasa.

      Balai-Balai Kerajaan

      Sebagaimana halnya umat Kristen abad pertama, banyak sidang Saksi-Saksi Yehuwa mula-mula menggunakan rumah pribadi untuk kebanyakan perhimpunan mereka. Di Stokholm, Swedia, beberapa orang yang pertama-tama mengadakan perhimpunan tetap tentu di sana memakai sebuah bengkel kayu, yang mereka sewa untuk digunakan sesudah pekerjaan sehari-hari di tempat tersebut selesai. Karena adanya penganiayaan, sebuah kelompok kecil di propinsi La Coruña, Spanyol, mengadakan perhimpunan-perhimpunan mereka yang pertama di sebuah gudang kecil atau lumbung.

      Bila ruangan yang lebih besar diperlukan, di negeri-negeri yang ada kebebasan melakukan hal tersebut, sidang-sidang setempat dari Saksi-Saksi Yehuwa akan menyewa suatu tempat pertemuan. Akan tetapi, jika ini adalah suatu ruangan yang juga digunakan oleh organisasi lain, maka peralatan harus diangkut dan dipasang untuk setiap perhimpunan, dan sering kali masih terdapat bau rokok yang tidak mau hilang. Di tempat-tempat yang memungkinkan, saudara-saudara akan menyewa suatu toko atau ruangan di lantai atas yang tidak terpakai, yang dapat khusus dipakai oleh sidang tersebut. Tetapi, menjelang waktu, di banyak tempat harus diupayakan pengaturan lain karena ongkos sewa makin mahal dan tempat yang cocok tidak ada. Dalam beberapa keadaan bangunan dibeli dan direnovasi.

      Sebelum Perang Dunia II, ada beberapa sidang yang membangun tempat berhimpun yang khusus dirancang untuk digunakan oleh mereka. Bahkan sudah sejak dini yakni tahun 1890, sekelompok Siswa-Siswa Alkitab di Amerika Serikat, di Mount Lookout, West Virginia, membangun tempat berhimpun mereka sendiri.a Namun, pembangunan Balai Kerajaan dalam skala luas baru dimulai pada tahun 1950-an.

      Nama Balai Kerajaan disarankan pada tahun 1935 oleh J. F. Rutherford, yang pada waktu itu adalah presiden Lembaga Menara Pengawal. Sehubungan dengan fasilitas-fasilitas kantor cabang Lembaga di Honolulu, Hawaii, ia mengatur agar saudara-saudara membangun sebuah balai tempat perhimpunan dapat diadakan. Sewaktu James Harrub bertanya bagaimana Saudara Rutherford akan menamakan bangunan itu, ia menjawab, ”Saya kira sudah sepatutnya kita menamakannya ’Balai Kerajaan’, karena bukankah itu yang sedang kita lakukan, memberitakan kabar baik mengenai Kerajaan?” Sejak itu, bilamana mungkin, balai-balai yang secara tetap tentu digunakan oleh Saksi-Saksi secara bertahap mulai dikenali dengan papan tanda yang berbunyi ”Balai Kerajaan”. Maka, sewaktu Tabernakel London dipugar pada tahun 1937-38, gedung itu diberi nama baru Balai Kerajaan. Pada waktunya, tempat perhimpunan utama setempat dari sidang-sidang di seluruh dunia mulai dikenal sebagai Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa.

      Lebih dari Satu Cara untuk Melakukannya

      Keputusan mengenai soal menyewa atau membangun Balai Kerajaan dibuat secara setempat oleh masing-masing sidang. Sidang setempat juga menanggung biaya pembangunan dan pemeliharaan yang ada. Agar dapat menghemat dana, kebanyakan sidang telah berupaya melakukan sebanyak mungkin pekerjaan pembangunan tanpa menggunakan jasa kontraktor komersial.

      Balai-balai itu sendiri mungkin dibangun dari batu bata, batu, kayu, atau bahan lain, tergantung pada biaya maupun apa yang tersedia di daerah itu. Di Katima Mulilo, Namibia, rumput panjang digunakan untuk atap lalang, dan tanah lumpur dari sarang semut (yang menjadi keras bila mengering) dibentuk menjadi dinding dan lantai. Saksi-Saksi di Segovia, Kolombia, membuat sendiri balok-balok dari semen untuk bangunan. Bongkahan lahar beku dari Gunung Lassen, digunakan di Colfax, Kalifornia.

      Karena jumlah hadirin di perhimpunan sering melebihi 200 orang pada tahun 1972, maka sidang di Maseru, Lesotho, tahu bahwa mereka perlu membangun sebuah Balai Kerajaan yang cocok. Semua saudara membantu proyek itu. Saudara-saudara yang lanjut usia berjalan kaki sampai 32 kilometer untuk turut ambil bagian. Anak-anak menggelindingkan drum-drum berisi air ke tempat pembangunan itu. Saudari-saudari menyediakan makanan. Mereka juga menggunakan kaki mereka untuk menumbuk-numbuk tanah, memadatkannya sebagai persiapan untuk mengecor beton pelat untuk lantai, sambil menyanyikan lagu-lagu Kerajaan dan menghentak-hentakkan kaki mengikuti irama musik. Batu pasir, yang dapat diambil dari gunung-gunung terdekat secara gratis asalkan bersedia mengambilnya sendiri, digunakan untuk dinding. Hasilnya adalah sebuah Balai Kerajaan yang dapat menampung kira-kira 250 tempat duduk.

      Sewaktu-waktu, Saksi-Saksi dari sidang-sidang terdekat membantu pekerjaan pembangunan. Maka pada tahun 1985, sewaktu Saksi-Saksi Yehuwa di Imbali, sebuah kota kecil berpenduduk kulit hitam di Afrika Selatan, membangun sebuah balai yang menampung 400 tempat duduk dengan nyaman, rekan-rekan Saksi-Saksi dari Pietermaritzburg dan Durban datang membantu. Dapatkah Saudara membayangkan betapa tercengangnya para tetangga ketika, di tengah-tengah pergolakan rasial di Afrika Selatan, mereka melihat sejumlah besar Saksi-Saksi yang berkulit putih, Kulit Berwarna, dan kebangsaan India mengalir ke kota kecil itu dan bekerja bahu-membahu dengan saudara-saudara mereka orang Afrika yang berkulit hitam? Seperti walikota setempat menyatakan, ”Itu hanya dapat dilakukan dengan kasih.”

      Tidak soal betapa besar kerelaan yang ada, sidang-sidang mendapati bahwa keadaan-keadaan setempat membatasi apa yang dapat dilakukan oleh saudara-saudara. Pria-pria di dalam sidang mempunyai tanggungan keluarga dan biasanya dapat bekerja di proyek demikian hanya pada akhir pekan dan barangkali sedikit pada malam hari. Di banyak sidang, kalaupun ada, hanya sedikit yang memiliki keterampilan dalam bidang bangunan. Meskipun demikian, suatu struktur yang relatif sederhana dan agak terbuka, yang cocok untuk daerah tropis dapat dibangun dalam beberapa hari atau barangkali beberapa minggu. Dengan bantuan Saksi-Saksi dari sidang-sidang sekitarnya, bangunan yang lebih kokoh dapat diselesaikan dalam lima atau enam bulan. Dalam keadaan-keadaan lain mungkin diperlukan satu atau dua tahun.

      Namun, seraya mereka memasuki tahun 1970-an, Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia meningkat dengan rata-rata dua hingga tiga sidang baru setiap hari. Menjelang awal tahun 1990-an, angka rata-rata pertumbuhan adalah hingga sembilan sidang setiap hari. Dapatkah kebutuhan mereka yang mendesak akan Balai-Balai Kerajaan yang baru dipenuhi?

      Mengembangkan Teknik-Teknik Pembangunan Kilat

      Pada awal tahun 1970-an, di Amerika Serikat, lebih dari 50 Saksi-Saksi dari sidang-sidang terdekat bekerja sama untuk membantu pembangunan sebuah Balai Kerajaan yang baru di Carterville, Missouri, untuk kelompok yang berhimpun di Webb City. Pada satu akhir pekan mereka membangun kerangka utamanya dan melakukan cukup banyak pekerjaan pada atap. Masih banyak yang harus dilakukan, dan memakan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan pekerjaan; tetapi satu bagian penting telah diselesaikan dalam jangka waktu yang sangat singkat.

      Selama dekade berikutnya, seraya saudara-saudara mengerjakan bersama-sama kira-kira 60 balai, rintangan-rintangan dapat diatasi, dan metode-metode yang lebih efisien dikembangkan. Pada waktunya, mereka menyadari bahwa seusai mengerjakan fondasinya, mereka mungkin bisa menyelesaikan seluruh Balai Kerajaan hanya dalam hampir satu akhir pekan.

      Beberapa pengawas sidang—semuanya dari Amerika Serikat bagian barat tengah—mulai berupaya mencapai cita-cita itu. Bila sidang-sidang meminta bantuan untuk pembangunan Balai Kerajaan mereka, seorang atau lebih dari saudara-saudara ini membicarakan proyek itu dengan mereka dan memberikan perincian mengenai persiapan setempat yang harus diadakan sebelum pekerjaan dapat dilaksanakan. Antara lain, izin bangunan harus sudah diperoleh, fondasi dan lempengan lantai beton harus dicor, pelayanan listrik harus ada, saluran pipa ledeng bawah tanah harus ada pada tempatnya, dan pengaturan yang dapat diandalkan harus dibuat untuk pengiriman bahan-bahan bangunan. Kemudian suatu tanggal dapat ditentukan untuk mendirikan Balai Kerajaan itu sendiri. Bangunan itu tidak akan dibangun dengan cara merakit bagian-bagian yang tinggal dipasang melainkan akan didirikan di tanah kosong di lokasi itu juga.

      Siapa yang akan melakukan pekerjaan pembangunan itu sebenarnya? Sedapat mungkin, itu dilakukan oleh tenaga kerja sukarela yang tidak dibayar. Sering kali seluruh keluarga mengambil bagian. Mereka yang mengorganisasi proyek itu menghubungi Saksi-Saksi yang adalah pekerja-pekerja ahli dan yang telah menyatakan kesediaan untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek ini. Banyak di antara mereka dengan penuh gairah menantikan setiap proyek pembangunan yang baru. Saksi-Saksi lain yang mendengar tentang proyek-proyek itu ingin mengambil bagian; ratusan dari daerah di sekitarnya—dan dari tempat-tempat yang lebih jauh—berduyun-duyun pergi ke lokasi bangunan, ingin sekali menawarkan jasa mereka dengan cara apa pun menurut kesanggupan mereka. Kebanyakan dari mereka bukan ahli bangunan yang profesional, tetapi mereka jelas memberikan bukti bahwa mereka cocok dengan gambaran mengenai para pendukung Raja Mesias dari Yehuwa seperti dikemukakan di Mazmur 110:3 (NW), yang berbunyi, ”Umatmu akan menawarkan diri dengan rela.”

      Pada hari Kamis malam sebelum kegiatan besar dimulai, para pengawas proyek bertemu untuk menyusun perincian-perincian terakhir. Malam berikutnya, kepada para pekerja diperlihatkan pertunjukan slide mengenai prosedur supaya mereka mengerti bagaimana pekerjaan akan dilakukan. Pentingnya sifat-sifat yang saleh ditandaskan. Saudara-saudara dianjurkan untuk bekerja sama dalam kasih, bersikap ramah, menunjukkan kesabaran dan tenggang rasa. Masing-masing dianjurkan untuk bekerja dengan kecepatan yang tetap namun jangan tergesa-gesa dan jangan segan-segan menyisihkan beberapa menit untuk membagi suatu pengalaman yang membina dengan seseorang. Pagi-pagi sekali keesokan harinya, pembangunan dimulai.

      Pada waktu yang ditentukan pada hari Sabtu pagi-pagi, setiap orang akan menghentikan apa yang sedang dilakukannya untuk mendengarkan suatu pembahasan ayat Alkitab untuk hari itu. Doa dipanjatkan, sebab sangat disadari bahwa sukses dari semua yang sedang dikerjakan bergantung kepada berkat Yehuwa.—Mzm. 127:1.

      Pada waktu pekerjaan mulai, itu berlangsung dengan cepat. Dalam waktu satu jam dinding sudah naik. Rangka atap menyusul. Lembar-lembar kayu lapis untuk dinding dipakukan pada tempatnya. Para tukang listrik mulai memasang kabel-kabel. Pipa-pipa pendingin dan penghangat udara dipasang. Lemari-lemari dibuat dan ditaruh pada tempatnya. Kadang-kadang hujan turun sepanjang akhir pekan, atau cuaca berbalik menjadi dingin yang menggigilkan badan atau panas luar biasa, tetapi pekerjaan berlangsung terus. Tidak ada persaingan, tidak ada semacam pertandingan di antara para pekerja ahli.

      Sering kali, sebelum matahari terbenam pada hari kedua, Balai Kerajaan telah selesai—didekorasi dengan bagus di dalam, bahkan mungkin dengan taman yang sudah ditata di luar. Bila dianggap lebih praktis, pekerjaan dijadwalkan berlangsung tiga hari, atau mungkin dua akhir pekan. Seusai proyek, banyak dari para pekerja akan tinggal, lelah namun sangat bahagia, untuk menikmati perhimpunan sidang pertama yang secara tetap tentu diadakan, suatu pelajaran Menara Pengawal.

      Karena ragu bahwa pekerjaan yang bermutu dapat begitu cepat dilaksanakan, beberapa orang di Guymon, Oklahoma, AS, memanggil inspektur bangunan kota. ”Saya katakan kepada mereka bahwa jika mereka ingin melihat sesuatu yang dilakukan dengan benar, mereka harus mengunjungi balai itu!” kata inspektur itu ketika ia belakangan menceritakan peristiwa itu kepada Saksi-Saksi. ”Kalian bahkan melakukan dengan benar apa yang akan tersembunyi dan tidak kelihatan!”

      Seraya kebutuhan akan Balai Kerajaan meningkat, saudara-saudara yang telah mengembangkan banyak metode pembangunan kilat melatih saudara-saudara lain. Laporan-laporan mengenai apa yang telah dilakukan menyebar ke negeri-negeri lain. Dapatkah metode-metode pembangunan demikian dilakukan juga di sana?

      Pembangunan Kilat Mulai Berskala Internasional

      Pembangunan Balai Kerajaan di Kanada tertinggal jauh di belakang kebutuhan sidang-sidang. Saksi-Saksi di Kanada mengundang mereka yang mengorganisasi proyek-proyek pembangunan kilat di Amerika Serikat untuk menjelaskan cara mereka menanganinya. Mula-mula, saudara-saudara di Kanada agak ragu bahwa hal itu dapat dilakukan di Kanada, tetapi mereka memutuskan untuk mencobanya. Balai Kerajaan pertama yang dibangun dengan cara ini di Kanada adalah di Elmira, Ontario, pada tahun 1982. Menjelang tahun 1992, ada 306 Balai Kerajaan di Kanada yang telah dibangun dengan cara ini.

      Saksi-Saksi di Northampton, Inggris, berpikir mereka juga dapat melakukannya. Proyek mereka, pada tahun 1983, adalah yang pertama di Eropa. Saudara-saudara yang berpengalaman dalam jenis pembangunan ini melakukan perjalanan dari Amerika Serikat dan Kanada untuk mengawasi proyek itu dan membantu Saksi-Saksi setempat belajar cara melakukannya. Sukarelawan-sukarelawan lainnya datang dari tempat-tempat sejauh Jepang, India, Prancis, dan Jerman. Mereka ada di sana sebagai sukarelawan, bukan untuk dibayar. Bagaimana segala hal itu mungkin? Seperti dikatakan oleh pengawas regu Saksi-Saksi dari Irlandia yang bekerja di proyek demikian, ’Itu berhasil baik karena semua saudara dan saudari bekerja sama di bawah pengaruh roh Yehuwa.’

      Bahkan bilamana peraturan-peraturan pembangunan setempat tampaknya membuat proyek-proyek demikian mustahil, Saksi-Saksi mendapati bahwa, sering kali, sewaktu perincian-perincian diuraikan kepada para pejabat kota, mereka senang bekerja sama.

      Seusai suatu proyek pembangunan kilat di Norwegia, di sebelah utara Lingkar Kutub Utara, surat kabar Finnmarken berseru, ”Benar-benar luar biasa. Itulah satu-satunya ungkapan yang dapat kami temukan untuk melukiskan apa yang dilakukan oleh Saksi-Saksi Yehuwa pada akhir pekan yang lalu.” Sama halnya, sewaktu Saksi-Saksi di North Island, Selandia Baru membangun sebuah Balai Kerajaan yang menarik dalam dua setengah hari, kepala berita di halaman muka dari surat kabar setempat menyatakan, ”Proyek yang Mirip Suatu Mukjizat.” Artikel itu menambahkan, ”Mungkin segi yang paling menakjubkan mengenai proyek itu adalah cara mengorganisasi dan cara mengoperasikannya yang benar-benar tanpa gembar-gembor.”

      Keadaan terpencil dari lokasi tempat Balai Kerajaan diperlukan ternyata bukan rintangan yang tak teratasi. Di Belize sebuah proyek pembangunan kilat dilakukan, walaupun harus mengangkut setiap potong bahan ke sebuah pulau yang letaknya 68 kilometer dari Kota Belize. Sewaktu pada suatu akhir pekan sebuah Balai Kerajaan dengan alat pendingin udara dibangun di Port Hedland, Australia Barat, hal itu dilakukan dengan bahan-bahan dan tenaga kerja yang boleh dikata seluruhnya datang dari tempat sejauh 1.600 kilometer atau lebih. Biaya perjalanan ditanggung sendiri oleh para pekerja. Kebanyakan di antara mereka yang ambil bagian dalam proyek itu tidak mengenal secara pribadi Saksi-Saksi di Sidang Port Hedland, dan sangat sedikit di antara mereka pernah menghadiri perhimpunan di sana. Tetapi hal itu tidak menghalangi mereka untuk menyatakan kasih mereka dengan cara ini.

      Bahkan di tempat yang tidak ada banyak Saksi-Saksi, hal ini tidak menghalangi penggunaan metode-metode demikian untuk membangun balai. Sekitar 800 Saksi dari Trinidad secara sukarela menempuh perjalanan ke Tobago untuk membantu 84 saudara dan saudari Kristen mereka di sana membangun sebuah balai di Scarborough pada tahun 1985. Ke-17 orang Saksi (kebanyakan di antara mereka wanita-wanita dan anak-anak) di Goose Bay, Labrador, pasti memerlukan bantuan jika mereka ingin memiliki Balai Kerajaan sendiri. Pada tahun 1985, Saksi-Saksi dari tempat-tempat lain di Kanada menyewa tiga pesawat terbang guna mengangkut 450 orang di antara mereka ke Goose Bay untuk mengerjakannya. Sesudah dua hari bekerja keras, mereka mengadakan acara penahbisan di dalam balai yang telah selesai pada hari Minggu sore.

      Ini tidak berarti bahwa sekarang semua Balai Kerajaan dibangun dengan metode pembangunan kilat, tetapi semakin banyak yang didirikan dengan metode tersebut.

      Panitia Pembangunan Regional

      Menjelang pertengahan 1986 rata-rata kebutuhan Balai Kerajaan baru meningkat sangat cepat. Selama tahun sebelumnya ada 2.461 sidang baru dibentuk di seluruh dunia; 207 di antaranya ada di Amerika Serikat. Beberapa Balai Kerajaan digunakan oleh tiga, empat, atau bahkan lima sidang. Seperti dinubuatkan Alkitab, Yehuwa sungguh mempercepat pekerjaan pengumpulan.—Yes. 60:22.

      Untuk menjamin penggunaan tenaga kerja sebaik mungkin dan untuk memungkinkan agar semua yang membangun Balai Kerajaan mendapat manfaat dari pengalaman yang telah diperoleh, Lembaga mulai mengkoordinasi kegiatan mereka. Sebagai permulaan, pada tahun 1987 Amerika Serikat dibagi atas 60 Panitia Pembangunan Regional. Ada banyak pekerjaan untuk mereka semuanya; beberapa di antara mereka segera menghadapi sejumlah proyek yang antre untuk setahun atau lebih. Mereka yang diangkat untuk melayani dalam panitia-panitia ini adalah pria-pria yang, pertama-tama, memenuhi persyaratan secara rohani, penatua sidang, menjadi teladan dalam mempraktekkan buah-buah roh Allah. (Gal. 5:22, 23) Banyak di antara mereka juga berpengalaman dalam real estate, rekayasa, pembangunan, manajemen bisnis, keselamatan kerja, dan bidang-bidang yang berkaitan.

      Sidang-sidang dianjurkan untuk berunding dengan Panitia Pembangunan Regional sebelum memilih tempat lokasi Balai Kerajaan yang baru. Bilamana ada lebih dari satu sidang dalam suatu kota, mereka juga didesak untuk berunding dengan pengawas wilayah, pengawas kota, dan penatua-penatua dari sidang-sidang yang berdekatan, sidang-sidang yang merencanakan untuk merenovasi besar-besaran atau membangun sebuah Balai Kerajaan disarankan untuk memanfaatkan pengalaman saudara-saudara dalam Panitia Pembangunan Regional untuk daerah mereka dan dari pedoman yang telah disediakan oleh Lembaga bagi mereka. Melalui panitia tersebut, penyelenggaraan dapat dikoordinasi untuk menghimpun tenaga kerja terampil yang dibutuhkan dari antara saudara dan saudari dalam kurang lebih 65 jenis pekerjaan, yang telah merelakan diri untuk membantu dalam proyek-proyek demikian.

      Seraya prosedur-prosedur lebih cermat diperinci, jumlah pekerja yang terlibat dalam setiap proyek dapat dikurangi. Sebaliknya daripada ada ribuan orang di lokasi pembangunan yang menonton atau yang menawarkan jasa mereka, jarang kelihatan lebih dari 200 orang di satu tempat pada suatu waktu. Daripada meluangkan seluruh akhir pekan di sana, pekerja-pekerja hanya datang kalau keterampilan khusus mereka dibutuhkan. Dengan demikian mereka mempunyai lebih banyak waktu untuk digunakan bersama keluarga mereka dan untuk kegiatan dengan sidang asal mereka. Bila saudara-saudara setempat dapat melakukan jenis pekerjaan tertentu selama waktu yang masuk akal, sering ternyata lebih praktis untuk mendatangkan kelompok pembangunan kilat hanya untuk segi-segi pekerjaan tertentu yang lebih membutuhkan tenaga mereka secara mendesak.

      Walaupun seluruh kegiatan bergerak dengan kecepatan luar biasa, ini bukanlah pertimbangan utama. Yang lebih penting adalah menyediakan konstruksi yang bermutu untuk Balai-Balai Kerajaan yang sederhana yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan setempat. Perencanaan yang cermat dilakukan agar hal ini dapat dilaksanakan seraya biaya ditekan seminimum mungkin. Langkah-langkah diambil agar keselamatan kerja diberikan prioritas yang utama—keselamatan kerja para pekerja, tetangga, orang-orang yang lewat, dan calon-calon pemakai Balai Kerajaan.

      Seraya laporan-laporan mengenai penyelenggaraan pembangunan Balai-Balai Kerajaan ini sampai ke negeri-negeri lain, kantor-kantor cabang Lembaga yang berpendapat bahwa hal-hal itu bermanfaat untuk daerah-daerah mereka, diberi perincian-perincian yang diperlukan. Menjelang tahun 1992, Panitia-Panitia Pembangunan Regional yang ditunjuk oleh Lembaga, membantu pembangunan Balai Kerajaan di negara-negara seperti Afrika Selatan, Argentina, Australia, Inggris, Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Prancis, dan Spanyol. Metode-metode pembangunan disesuaikan dengan keadaan-keadaan setempat. Apabila untuk pembangunan Balai Kerajaan diperlukan bantuan dari cabang lain hal ini diatur melalui kantor pusat Lembaga. Di beberapa tempat di dunia, balai-balai baru dibangun dalam beberapa hari; di tempat lain, dalam beberapa minggu atau barangkali dalam beberapa bulan. Dengan perencanaan yang cermat dan upaya yang terkoordinasi, waktu yang diperlukan untuk menyediakan Balai Kerajaan yang baru pasti berkurang.

      Kegiatan pembangunan oleh Saksi-Saksi Yehuwa tidak terbatas pada Balai-Balai Kerajaan. Fasilitas-fasilitas yang lebih luas dibutuhkan bila sejumlah sidang berhimpun untuk hari-hari kebaktian wilayah dan kebaktian istimewa yang diadakan setiap tahun.

      Memenuhi Kebutuhan Akan Balai Kebaktian

      Selama bertahun-tahun, berbagai macam fasilitas telah digunakan untuk kebaktian wilayah. Saksi-Saksi Yehuwa telah menyewa tempat-tempat seperti balai kota, sekolah, teater, gedung militer, gelanggang olahraga, dan arena pekan raya. Di beberapa tempat, fasilitas yang bagus sekali tersedia dengan harga yang pantas. Sering kali diperlukan banyak waktu dan upaya untuk membersihkan tempat itu, memasang perlengkapan pengeras suara, mendirikan podium, dan mengangkut kursi-kursi. Kadang-kadang ada pembatalan menjelang saat pemakaian. Seraya jumlah sidang meningkat, makin hari makin sulit untuk menemukan tempat yang cukup memadai. Apa yang dapat dilakukan?

      Sekali lagi, jalan keluarnya adalah bahwa Saksi-Saksi Yehuwa perlu memiliki tempat sendiri. Ini mencakup merenovasi bangunan-bangunan yang cocok dan membangun gedung-gedung baru. Balai Kebaktian yang pertama semacam itu di Amerika Serikat adalah sebuah teater di Long Island City, New York, yang direnovasi dan mulai digunakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa menjelang akhir tahun 1965.

      Kira-kira pada waktu yang bersamaan, Saksi-Saksi di Guadeloupe, Kepulauan Karibia, merancang sebuah Balai Kebaktian untuk memenuhi kebutuhan mereka. Mereka merasa bermanfaat jika dapat mengadakan kebaktian wilayah di banyak lokasi yang berbeda. Tetapi kebanyakan kota kecil tidak memiliki fasilitas yang cukup luas. Maka Saksi-Saksi membangun sebuah bangunan yang dapat dipindah-pindahkan terbuat dari pipa baja dan atap aluminium, sesuatu yang memadai untuk 700 orang dan yang dapat didirikan di mana saja terdapat sebidang tanah yang cukup datar. Berkali-kali mereka harus memperluas balai itu, sampai mencapai kapasitas 5.000 orang. Bayangkan bagaimana memindahkan, mendirikan, dan membongkar 30 ton bahan bangunan untuk setiap kebaktian! Balai Kebaktian tersebut telah dibangun dan dibongkar beberapa kali dalam setahun selama 13 tahun, sampai tanah untuk tempat mendirikan balai yang dapat dipindah-pindahkan itu menjadi begitu sulit untuk didapatkan sehingga mereka perlu membeli sebidang tanah dan mendirikan Balai Kebaktian yang permanen, yang sekarang digunakan untuk kebaktian wilayah dan kebaktian distrik.

      Di cukup banyak tempat, proyek Balai Kebaktian menggunakan bangunan-bangunan yang sudah ada. Di Inggris, di Hays Bridge, Surrey, sebuah kompleks sekolah yang berumur 50 tahun dibeli dan direnovasi. Kompleks ini terletak di atas tanah seluas 11 hektare di pinggiran kota yang indah. Bekas gedung-gedung bioskop dan sebuah gudang industri telah diubah bentuknya dan mulai digunakan di Spanyol; sebuah pabrik tekstil yang tidak dipakai lagi di Australia; sebuah balai dansa di Quebec, Kanada; sebuah ruang boling di Jepang; sebuah gudang di Republik Korea. Semuanya ini diubah menjadi Balai Kebaktian yang menarik yang dapat digunakan dengan baik sebagai pusat pendidikan Alkitab yang berukuran besar.

      Balai-Balai Kebaktian lain sama sekali baru, dan telah dibangun mulai dari fondasi-fondasi. Desain segi delapan yang unik dari balai di Hellaby, South Yorkshire, Inggris, disertai kenyataan bahwa banyak dari pekerjaan itu dilakukan oleh pekerja sukarela, menyebabkan munculnya sebuah artikel di surat kabar Institut Rekayasa Bangunan. Balai Kebaktian di Saskatoon, Saskatchewan, Kanada, dirancang untuk menampung 1.200 orang; tetapi apabila sekat-sekat di dalam gedung dipasang, bangunan itu dapat digunakan sebagai empat Balai Kerajaan yang saling bersebelahan. Balai Kebaktian di Haiti (dengan bahan-bahan yang tinggal dipasang dan dikapalkan dari Amerika Serikat) terbuka pada dua sisinya sehingga mereka yang duduk di dalam dapat senantiasa disejukkan oleh angin yang mengembus—sambutan yang melegakan terhadap sengatan matahari Haiti. Balai di Port Moresby, Papua Nugini, dirancang sedemikian rupa sehingga bagian-bagian dari dinding dapat dibuka seperti pintu untuk menampung lebih banyak orang yang melimpah ruah.

      Keputusan untuk membangun sebuah Balai Kebaktian tidak diambil oleh beberapa pengawas yang kemudian mengharapkan semua yang lain mendukungnya. Sebelum Balai Kebaktian yang baru mana pun dibangun, Lembaga memastikan bahwa analisis yang cermat dibuat mengenai apakah memang dibutuhkan dan seberapa seringkah itu akan digunakan. Yang dipertimbangkan bukan hanya semangat setempat untuk proyek itu melainkan juga kebutuhan secara keseluruhan dari dinas pengabaran. Hal itu dibicarakan dengan semua sidang yang akan tersangkut, agar dapat memastikan keinginan dan kesanggupan saudara-saudara untuk mendukungnya.

      Dengan demikian, pada waktu pekerjaan dimulai, Saksi-Saksi Yehuwa di daerah itu dengan sepenuh hati mendukungnya. Setiap proyek dibiayai oleh Saksi-Saksi itu sendiri. Kebutuhan dana dijelaskan, tetapi semua sumbangan bersifat sukarela dan nama para penyumbang tidak diumumkan. Perencanaan cermat dilakukan sebelumnya, dan proyek itu memanfaatkan pengalaman yang telah diperoleh sewaktu membangun Balai-Balai Kerajaan dan, sering kali, dari proyek-proyek Balai Kebaktian di tempat lain. Bilamana perlu, beberapa aspek pekerjaan mungkin diserahkan kepada kontraktor komersial, tetapi kebanyakan dari pekerjaan tersebut biasa dilakukan oleh Saksi-Saksi yang penuh semangat. Dengan demikian biaya dapat dihemat hingga setengahnya.

      Dengan tenaga kerja yang terdiri dari saudara-saudara profesional yang terampil dan saudara-saudara lain yang merelakan waktu dan bakat mereka, seluruh proyek biasanya berjalan cepat. Beberapa proyek mungkin memerlukan lebih dari setahun. Tetapi di Vancouver Island, Kanada, pada tahun 1985, sekitar 4.500 sukarelawan menyelesaikan sebuah Balai Kebaktian yang luasnya 2.300 meter persegi dalam waktu hanya sembilan hari. Termasuk dalam bangunan itu sebuah Balai Kerajaan yang dapat menampung 200 tempat duduk untuk digunakan oleh sidang-sidang setempat. Di Kaledonia Baru, jam malam diberlakukan oleh pemerintah pada tahun 1984 karena gejolak politik, namun sekitar 400 sukarelawan mengerjakan Balai Kebaktian itu secara serentak, dan Balai itu diselesaikan hanya dalam waktu empat bulan. Di dekat Stokholm, Swedia, sebuah Balai Kebaktian yang indah dan praktis, dengan 900 kursi dari kayu pohon ek dilapisi jok yang empuk, dibangun dalam tujuh bulan.

      Kadang-kadang diperlukan upaya yang terus-menerus di pengadilan untuk memperoleh izin membangun Balai-Balai Kebaktian ini. Hal itu terjadi di Kanada di Surrey, British Columbia. Sewaktu tanah dibeli, peraturan mengenai izin bangunan memungkinkan dibangunnya tempat ibadat yang demikian. Namun sesudah rencana bangunan diserahkan, pada tahun 1974, Dewan untuk Distrik Surrey mengeluarkan suatu peraturan setempat yang menetapkan bahwa gereja dan balai kebaktian hanya dapat dibangun di Zona P-3—sebuah zona yang tidak ada! Namun, sebelumnya sudah ada 79 gereja dibangun di kota madya itu tanpa kesulitan. Perkara itu diajukan ke pengadilan. Berkali-kali dikeluarkan keputusan yang menguntungkan Saksi-Saksi Yehuwa. Sewaktu hambatan dari pihak pejabat-pejabat yang berprasangka akhirnya teratasi, para pekerja sukarela melaksanakan proyek itu dengan begitu bergairah sehingga mereka menyelesaikannya dalam waktu sekitar tujuh bulan. Seperti halnya Nehemia dalam upayanya untuk membangun kembali tembok-tembok Yerusalem dahulu kala, mereka merasa bahwa ’tangan Allah melindungi mereka’ dalam melaksanakan pekerjaan itu.—Neh. 2:18.

      Sewaktu Saksi-Saksi Yehuwa di Amerika Serikat membeli Stanley Theater di Jersey City, New Jersey, bangunan itu ada dalam daftar negara sebagai tempat bersejarah. Walaupun gedung teater itu sudah dalam keadaan rusak yang menyedihkan, gedung itu berpotensi bagus sekali untuk digunakan sebagai Balai Kebaktian. Namun, sewaktu Saksi-Saksi ingin melakukan perbaikan yang diperlukan, para pejabat kota menolak memberikan izin. Walikota tidak menginginkan Saksi-Saksi Yehuwa di daerah tersebut; ia mempunyai rencana lain untuk tempat itu. Tindakan pengadilan diperlukan untuk menahan para pejabat agar tidak menggunakan wewenang mereka secara tidak sah. Pengadilan mengeluarkan keputusan yang menguntungkan Saksi-Saksi. Segera sesudah itu, para warga setempat dalam pemilihan suara menyingkirkan walikota itu dari jabatannya. Pekerjaan pada balai itu bergerak maju dengan cepat. Hasilnya adalah sebuah Balai Kebaktian yang indah yang menampung lebih dari 4.000 tempat duduk. Tempat itu menjadi kebanggaan para pengusaha maupun penduduk kota.

      Selama 27 tahun terakhir, di banyak tempat di dunia, Balai-Balai Kebaktian yang menarik dan praktis telah dibangun oleh Saksi-Saksi Yehuwa untuk dipakai sebagai pusat pendidikan Alkitab. Balai-balai yang demikian kini semakin banyak terdapat di Amerika Utara dan Selatan, Eropa, Afrika, dan di negeri-negeri Timur, maupun juga di banyak kepulauan. Di beberapa negeri—misalnya, Nigeria, Italia, dan Denmark—Saksi-Saksi Yehuwa bahkan telah membangun fasilitas-fasilitas permanen yang lebih luas di udara terbuka yang dapat digunakan untuk kebaktian distrik mereka.

      Walaupun demikian, Balai Kebaktian dan Balai Kerajaan bukanlah satu-satunya proyek pembangunan di kalangan Saksi-Saksi Yehuwa untuk memajukan pemberitaan Kerajaan Allah.

      Kantor, Percetakan, dan Rumah Betel Seluas Dunia

      Di seputar bola bumi pada tahun 1992 terdapat 99 kantor cabang Lembaga Menara Pengawal, yang masing-masing mengkoordinasi kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa pada bagiannya masing-masing di ladang dunia. Lebih dari sebagian cabang-cabang ini melakukan berbagai pencetakan untuk memajukan pekerjaan pendidikan Alkitab. Mereka yang bekerja di kantor-kantor cabang kebanyakan diberi pemondokan sebagai suatu keluarga besar di rumah-rumah yang dinamakan Betel, artinya ”Rumah Allah”. Karena ekspansi dalam jumlah Saksi-Saksi Yehuwa dan kegiatan pengabaran mereka, maka ada kebutuhan untuk memperluas fasilitas-fasilitas ini dan membangun yang baru.

      Begitu cepatnya laju pertumbuhan organisasi sehingga sering kali ada 20 hingga 40 program perluasan kantor cabang demikian yang berlangsung pada suatu waktu. Ini mengharuskan adanya suatu program pembangunan internasional yang berskala luas.

      Oleh karena besarnya jumlah pekerjaan pembangunan yang sedang dilakukan di seluas dunia, maka Lembaga Menara Pengawal mempunyai Departemen Rekayasa dan Gambar Rancang Bangun sendiri di kantor pusatnya di New York. Insinyur-insinyur dengan pengalaman bertahun-tahun telah meninggalkan pekerjaan duniawi mereka dan dengan sukarela membantu sepenuh waktu proyek-proyek pembangunan yang berhubungan langsung dengan kegiatan Kerajaan. Selain itu, mereka yang berpengalaman telah melatih pria dan wanita lain dalam pekerjaan rekayasa, desain, dan rancang bangun. Dengan mengkoordinasi pekerjaan melalui departemen ini, maka pengalaman yang diperoleh dalam pembangunan kantor cabang di banyak tempat di dunia dapat bermanfaat bagi mereka yang bekerja pada proyek-proyek di negeri-negeri lain.

      Pada waktunya, karena banyaknya pekerjaan yang dilakukan, maka bermanfaat untuk membuka Kantor Rekayasa Regional di Jepang untuk membantu pembuatan cetak biru bangunan untuk proyek-proyek di Asia. Kantor-kantor Rekayasa Regional yang lain dibuka di Eropa dan Australia, dengan personel yang diambil dari berbagai negeri. Kantor-kantor ini erat bekerja sama dengan kantor pusat, dan jasa pelayanannya bersamaan dengan penggunaan teknologi komputer, menghemat juru gambar yang dibutuhkan di setiap lokasi pembangunan.

      Beberapa proyek secara relatif tidak berukuran terlalu besar. Demikian halnya dengan kantor cabang yang dibangun di Tahiti pada tahun 1983. Bangunan ini mencakup ruang untuk kantor, gudang, dan akomodasi untuk delapan pekerja sukarela. Demikian pula halnya dengan bangunan kantor cabang empat tingkat yang didirikan di Pulau Martinik, Karibia selama tahun 1982 hingga 1984. Bangunan-bangunan ini mungkin kelihatannya tidak luar biasa bagi para warga kota besar di negeri-negeri lain, tetapi bangunan-bangunan ini menarik; perhatian masyarakat. Surat kabar France-Antilles menyatakan bahwa gedung kantor cabang di Martinik merupakan ”sebuah mahakarya arsitektur” yang mencerminkan ”kasih yang besar untuk pekerjaan yang dilaksanakan dengan baik”.

      Sebagai kontras dalam soal ukuran, gedung-gedung yang selesai dibangun di Kanada pada tahun 1981 mencakup sebuah percetakan yang luasnya lebih dari 9.300 meter persegi dan sebuah bangunan tempat tinggal untuk 250 sukarelawan. Di Cesario Lange, Brasil, kompleks Menara Pengawal yang selesai pada tahun yang sama mencakup delapan bangunan, dengan luas lantai hampir 46.000 meter persegi. Diperlukan semen, batu, dan pasir sebanyak 10.000 truk dan juga tiang-tiang beton yang cukup untuk mencapai dua kali ketinggian Gunung Everest! Pada tahun 1991, sewaktu sebuah percetakan baru yang besar selesai dibangun di Filipina, dianggap perlu juga untuk membangun sebuah bangunan tempat tinggal 11 tingkat.

      Untuk memenuhi kebutuhan para pemberita Kerajaan yang jumlahnya meningkat di Nigeria, sebuah proyek pembangunan yang luas dimulai di Igieduma pada tahun 1984. Proyek ini mencakup sebuah gedung percetakan, sebuah bangunan kantor yang luas, empat bangunan tempat tinggal yang saling berhubungan, dan fasilitas-fasilitas lain yang diperlukan. Direncanakan untuk membangun seluruh percetakan itu dengan bahan-bahan yang siap dipasang dan dikapalkan dari Amerika Serikat. Namun kemudian saudara-saudara dihadapkan kepada berbagai batas waktu impor yang tampaknya mustahil untuk dipenuhi. Sewaktu batas-batas waktu ini dipenuhi dan segala sesuatu tiba dengan selamat di lokasi pembangunan, Saksi-Saksi tidak menganggap mereka yang berjasa melainkan mengucapkan syukur kepada Yehuwa atas berkat-Nya.

      Ekspansi yang Pesat di Seputar Bola Bumi

      Begitu pesatnya kemajuan pekerjaan pemberitaan Kerajaan, sehingga bahkan sesudah ekspansi besar dari fasilitas kantor cabang di suatu negeri, sering kali perlu untuk mulai membangun lagi dalam waktu yang relatif singkat. Pertimbangkan beberapa contoh.

      Di Peru sebuah kantor cabang baru yang bagus—dengan ruang kantor, 22 kamar tidur maupun fasilitas-fasilitas penting lainnya untuk para anggota keluarga Betel, dan sebuah Balai Kerajaan—selesai pada akhir tahun 1984. Tetapi sambutan kepada berita Kerajaan di negeri Amerika Selatan tersebut lebih besar daripada yang diantisipasi. Empat tahun kemudian kompleks yang sudah ada terpaksa harus dilipatgandakan, kali ini dengan menggunakan suatu desain anti gempa bumi.

      Sebuah kompleks kantor cabang baru yang luas selesai dibangun di Kolombia pada tahun 1979. Kelihatannya ini akan memberikan tempat yang cukup untuk bertahun-tahun yang akan datang. Akan tetapi, dalam waktu tujuh tahun jumlah Saksi-Saksi di Kolombia telah hampir berlipatganda, dan kantor cabang kini mencetak majalah La Atalaya (Menara Pengawal) dan ¡Despertad! (Sedarlah!) bukan saja untuk Kolombia melainkan juga untuk empat negeri tetangga. Mereka harus mulai membangun lagi pada tahun 1987—kali ini di tanah yang tersisa untuk ekspansi.

      Selama tahun 1980, Saksi-Saksi Yehuwa di Brasil membaktikan sekitar 14.000.000 jam untuk pengabaran berita Kerajaan kepada umum. Angka ini melonjak menjadi hampir 50.000.000 jam pada tahun 1989. Lebih banyak orang menunjukkan keinginan untuk dipuaskan rasa lapar rohaninya. Fasilitas kantor cabang yang luas yang ditahbiskan pada tahun 1981 sudah tidak memadai lagi. Menjelang bulan September 1988, penggalian untuk gedung percetakan yang baru sudah berlangsung. Gedung ini akan menyediakan ruangan 80 persen lebih luas daripada yang terdapat di gedung percetakan yang sudah ada, dan tentu saja, fasilitas tempat tinggal untuk keluarga Betel yang diperbanyak juga diperlukan.

      Di Selters/Taunus, Jerman, kompleks percetakan Lembaga Menara Pengawal terbesar kedua ditahbiskan pada tahun 1984. Lima tahun kemudian, karena pertambahan di Jerman maupun peluang-peluang untuk meluaskan pekerjaan kesaksian di negeri-negeri yang lektur mereka biasa dicetak oleh kantor cabang di sana, maka dibuat perencanaan untuk memperluas percetakan hingga lebih dari 85 persen dan untuk menambah fasilitas-fasilitas pendukung lainnya.

      Kantor cabang Jepang telah pindah dari Tokyo ke fasilitas-fasilitas baru yang luas di Numazu pada tahun 1972. Ada ekspansi besar selanjutnya pada tahun 1975. Menjelang tahun 1978 tanah milik lainnya diperoleh, di Ebina; dan pembangunan gedung percetakan yang luasnya lebih dari tiga kali gedung yang ada di Numazu segera dimulai. Ini selesai pada tahun 1982. Itu masih belum mencukupi; lebih banyak bangunan ditambahkan pada tahun 1989. Apakah tidak mungkin untuk membangun sekali saja dan membuatnya cukup luas? Tidak. Jumlah pemberita Kerajaan di Jepang telah berlipat ganda berulang kali dengan cara yang tidak dapat diantisipasi oleh manusia mana pun. Dari 14.199 pada tahun 1972, barisan mereka telah melonjak hingga menjadi 137.941 pada tahun 1989, dan sebagian besar di antara mereka membaktikan diri sepenuh waktu untuk pelayanan.

      Pola yang serupa terlihat di bagian-bagian lain di dunia. Dalam jangka waktu satu dekade—dan kadang-kadang dalam beberapa tahun—sesudah pembangunan kantor-kantor cabang yang luas yang diperlengkapi untuk percetakan, adalah perlu untuk melaksanakan ekspansi yang besar. Itu terjadi antara lain di Meksiko, Kanada, Afrika Selatan, dan Republik Korea.

      Siapa yang sebenarnya melakukan pekerjaan pembangunan? Bagaimana semuanya itu terlaksana?

      Ribuan yang Ingin Sekali Membantu

      Di Swedia, dari 17.000 Saksi-Saksi di negara itu pada waktu pembangunan kantor cabang mereka dilaksanakan di Arboga, kurang lebih 5.000 orang dengan sukarela membantu pekerjaan. Kebanyakan sekadar membantu dengan rela, tetapi terdapat juga cukup tenaga profesional yang sangat terampil, yang memperhatikan agar pekerjaan dilakukan dengan benar. Motivasi mereka? Kasih kepada Yehuwa.

      Sewaktu seorang pejabat di sebuah kantor pertanahan di Denmark mendengar bahwa segala pekerjaan pada pembangunan kantor cabang yang baru di Holbæk semuanya akan dilakukan oleh Saksi-Saksi Yehuwa, ia menyatakan keraguannya. Meskipun demikian, di antara Saksi-Saksi yang sukarela membantu, segala kecakapan teknik yang diperlukan bisa didapatkan. Namun, tidakkah lebih baik bagi mereka untuk menyewa kontraktor-kontraktor komersial untuk pekerjaan itu? Sesudah proyek itu selesai, para pakar dari departemen pembangunan kota meninjau kompleks bangunan tersebut dan memberi komentar atas pengerjaan yang baik sekali—sesuatu yang jarang mereka lihat pada pekerjaan-pekerjaan komersial dewasa ini. Sang pejabat yang sebelumnya telah menyatakan keraguan tersenyum dan berkata, ”Soalnya, waktu itu saya belum mengenal organisasi macam apa yang kalian miliki.”

      Kota-kota di Australia tersebar jauh satu sama lain; jadi, kebanyakan dari 3.000 orang yang dengan sukarela membantu di fasilitas kantor cabang di Ingleburn antara tahun 1978 dan 1983 harus menempuh perjalanan sedikitnya 1.600 kilometer. Akan tetapi, bus perjalanan untuk kelompok-kelompok sukarelawan dikoordinasi, dan sidang-sidang yang dilewati pada rute perjalanan dengan murah hati menawarkan makanan dan pergaulan bagi saudara-saudara di tempat-tempat perhentian untuk beristirahat. Ada saudara-saudara yang menjual rumah mereka, menutup usaha bisnis, mengambil cuti, dan membuat pengorbanan lain supaya dapat mengambil bagian dalam proyek itu. Berbagai tim pekerja ahli datang—beberapa di antara mereka lebih dari sekali—untuk mengecor beton, memasang langit-langit, membangun pagar. Yang lain-lainnya menyumbang bahan-bahan.

      Mayoritas sukarelawan pada proyek-proyek ini bukan tenaga terampil, tetapi dengan sedikit pelatihan, beberapa di antara mereka menangani tanggung jawab besar dan bekerja dengan sempurna. Mereka belajar cara membuat jendela, menjalankan traktor, membuat adukan beton, dan memasang batu bata. Mereka menikmati keuntungan yang nyata dibandingkan orang-orang bukan Saksi yang melakukan jenis pekerjaan yang sama secara komersial. Dengan cara bagaimana? Mereka yang berpengalaman rela membagi pengetahuan mereka. Tidak ada yang takut bahwa yang lain akan mengambil alih pekerjaannya; ada banyak pekerjaan untuk semuanya. Serta ada motivasi kuat untuk melakukan pekerjaan yang bermutu tinggi, karena dilakukan sebagai pernyataan kasih kepada Allah.

      Di semua lokasi pembangunan, beberapa Saksi membentuk inti dari ”keluarga” pembangunan. Selama pekerjaan yang dilakukan di Selters/Taunus, Jerman, dari tahun 1979 hingga 1984, beberapa ratus saudara pada umumnya membentuk inti dari para pekerja tersebut. Ribuan saudara lain bergabung dengan mereka selama jangka waktu yang berbeda-beda, banyak pada akhir pekan. Ada perencanaan yang cermat sehingga pada waktu para sukarelawan tiba, ada banyak yang dapat mereka kerjakan.

      Selama manusia masih belum sempurna, tentu ada saja masalah-masalah, tetapi mereka yang bekerja pada proyek-proyek ini berusaha untuk memecahkannya berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab. Mereka tahu bahwa melakukan berbagai hal menurut cara Kristen lebih penting daripada efisiensi. Sekadar sebagai pengingat, di lokasi pembangunan di Ebina, Jepang, ada tanda-tanda besar dengan gambar para pekerja yang mengenakan helm proyek, dan di setiap helm tertulis dengan huruf-huruf Jepang salah satu dari buah-buah roh Allah: kasih, sukacita, perdamaian, panjang sabar, kebaikan hati, kebaikan, iman, kelemahlembutan, pengendalian diri. (Gal. 5:22, 23, NW) Mereka yang mengunjungi lokasi pekerjaan dapat melihat dan mendengar perbedaannya. Sewaktu mengutarakan pengamatannya, seorang reporter berita yang meninjau lokasi pembangunan kantor cabang di Brasil berkata, ”Tidak ada kekacauan atau kurangnya kerja sama. . . . Suasana Kristen ini membuat keadaan di sini berbeda daripada yang biasa terlihat di pembangunan sipil di Brasil.”

      Pertumbuhan yang Berkesinambungan di Kantor Pusat Sedunia

      Sementara kantor-kantor cabang Lembaga Menara Pengawal terus bertumbuh, maka perlu juga untuk terus meluaskan fasilitas-fasilitas kantor pusat sedunia. Penambahan besar pada percetakan dan perkantorannya di Brooklyn dan di lokasi-lokasi lain di New York State sudah dilakukan, lebih dari sepuluh kali sejak Perang Dunia II. Untuk menampung personelnya, perlu membangun atau membeli dan merenovasi sejumlah gedung, baik besar maupun kecil. Perluasan besar selanjutnya di Brooklyn diumumkan pada bulan Agustus 1990 dan pada bulan Januari 1991—bahkan sementara pembangunan di sebelah utara New York City yang dimulai pada tahun 1989 terus berlanjut di Pusat Pendidikan Menara Pengawal yang luas sekali, yang dirancang untuk menampung 1.200 orang, termasuk staf yang menetap dan siswa-siswa.

      Sejak tahun 1972, pekerjaan pembangunan berlangsung terus-menerus di kantor pusat sedunia di Brooklyn dan fasilitas-fasilitas yang berhubungan erat dengannya di tempat-tempat lain di New York dan di New Jersey. Pada waktunya, nyatalah bahwa walaupun para pekerja pembangunan yang reguler berjumlah ratusan, mereka kewalahan menangani pekerjaan yang ada. Maka pada tahun 1984, suatu program pekerja sementara yang berkelanjutan diperkenalkan. Surat-surat dikirim kepada 8.000 sidang yang ada pada waktu itu di Amerika Serikat untuk mengundang saudara-saudara yang memenuhi syarat agar datang membantu selama seminggu atau lebih. (Program yang serupa sudah berjalan baik di beberapa kantor cabang, termasuk Australia, di sana mereka yang dapat tinggal selama dua minggu diundang untuk merelakan diri.) Bagi para pekerja akan disediakan pemondokan dan makanan tetapi mereka akan membayar ongkos perjalanannya sendiri dan tidak akan menerima upah. Siapa gerangan yang akan menyambut?

      Menjelang tahun 1992, lebih dari 24.000 permohonan telah diproses! Sedikitnya 3.900 di antaranya adalah untuk orang-orang yang datang kembali untuk ke-2 atau ke-3, bahkan ke-10 atau ke-20 kali. Kebanyakan di antara mereka adalah penatua, pelayan sidang, atau perintis—pribadi-pribadi yang memiliki persyaratan rohani yang bagus. Mereka semua merelakan diri untuk melakukan apa pun yang diperlukan, tidak soal apakah mereka perlu menggunakan keahlian mereka atau tidak. Sering kali pekerjaan itu berat dan kotor. Tetapi mereka menganggap sebagai hak istimewa dapat menyumbang dengan cara ini demi kemajuan kepentingan Kerajaan. Ada yang merasa bahwa mereka dibantu untuk lebih dapat menghargai semangat rela berkorban yang mencirikan pekerjaan yang dilakukan di kantor pusat sedunia. Mereka semua merasa sangat beruntung karena dapat hadir bersama keluarga Betel untuk acara ibadat pagi dan bersama keluarga mengikuti pelajaran Menara Pengawal setiap minggu.

      Sukarelawan Internasional

      Karena meningkatnya kebutuhan untuk ekspansi yang cepat, penyelenggaraan untuk sukarelawan internasional dimulai pada tahun 1985. Itu sama sekali bukan awal dari kerja sama internasional dalam hal membangun, tetapi penyelenggaraan itu kini dikoordinasi dengan cermat dari kantor pusat. Semua yang ambil bagian adalah Saksi-Saksi yang secara sukarela membantu pekerjaan pembangunan di luar negeri. Mereka adalah pekerja-pekerja terampil, dan juga istri-istri yang menyertai suami mereka untuk membantu dengan cara apa pun yang dapat mereka lakukan. Kebanyakan dari mereka membiayai sendiri perjalanan mereka; tidak ada yang mendapat upah untuk apa yang mereka kerjakan. Beberapa di antara mereka pergi untuk jangka pendek, biasanya tinggal antara dua minggu hingga tiga bulan. Yang lainnya adalah sukarelawan jangka panjang, tinggal selama setahun atau lebih, barangkali sampai proyek itu selesai. Lebih dari 3.000 orang Saksi Yehuwa dari 30 negeri yang berlainan mengambil bagian di dalamnya selama lima tahun pertama, dan ada lebih banyak lagi yang ingin sekali ambil bagian seraya keterampilan mereka diperlukan. Mereka menganggapnya sebagai hak istimewa untuk mengerahkan diri dan sumber daya materi mereka demi memajukan kepentingan Kerajaan Allah dengan cara ini.

      Kepada para sukarelawan internasional ini disediakan tempat penampungan dan makanan. Soal kenyamanan sering kali hanya minimal. Saksi-Saksi setempat sangat menghargai apa yang dilakukan oleh saudara-saudara mereka yang berkunjung, dan di tempat yang memungkinkan, mereka menyambut para sukarelawan untuk tinggal bersama mereka betapa pun sederhananya rumah mereka. Mengenai makanan, lebih sering disediakan di tempat bekerja.

      Saudara-saudara dari luar negeri tidak berada di sana untuk melakukan seluruh pekerjaan. Tujuan mereka adalah untuk bekerja berdampingan dengan tim pembangunan setempat. Dan ratusan, bahkan ribuan saudara lainnya di negeri tersebut juga datang membantu pada akhir pekan atau selama seminggu atau lebih secara serentak. Di Argentina, 259 sukarelawan dari negara-negara lain bekerja bersama beberapa ribu saudara setempat, dan beberapa di antara mereka datang bekerja setiap hari, yang lain selama beberapa minggu, dan lebih banyak lagi pada akhir pekan. Di Kolombia, lebih dari 830 sukarelawan internasional membantu selama berbagai jangka waktu. Juga ada lebih dari 200 sukarelawan setempat yang ikut serta sepenuh waktu dalam proyek tersebut dan 250 lagi atau lebih datang membantu setiap akhir pekan. Seluruhnya ada lebih dari 3.600 orang berlainan yang ambil bagian.

      Perbedaan bahasa dapat menimbulkan masalah, tetapi ini tidak menghalangi kelompok-kelompok internasional itu untuk bekerja bersama-sama. Bahasa isyarat, ekspresi wajah, perasaan humor yang baik, dan keinginan untuk melaksanakan pekerjaan yang akan menghormati Yehuwa membantu terlaksananya pekerjaan dengan berhasil.

      Perkembangan yang luar biasa dalam organisasi—dengan sendirinya kebutuhan akan fasilitas-fasilitas kantor cabang yang lebih luas—kadang-kadang dialami di negeri-negeri yang tidak memiliki cukup orang yang terampil dalam bidang bangunan. Tetapi ini bukan merupakan halangan di kalangan Saksi-Saksi Yehuwa, yang dengan senang hati membantu satu sama lain. Mereka bekerja sama sebagai bagian dari keluarga sedunia yang tidak terpecah-belah oleh kebangsaan, warna kulit, atau bahasa.

      Di Papua Nugini, masing-masing sukarelawan yang datang dari Australia dan Selandia Baru melatih seorang Papua Nugini menurut keahliannya, sesuai dengan permintaan Departemen Tenaga Kerja Pemerintah. Dengan demikian, seraya mengerahkan diri, Saksi-Saksi setempat mempelajari keahlian yang dapat membantu mereka memelihara kebutuhan diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

      Sewaktu sebuah kantor cabang yang baru dibutuhkan di El Salvador, 326 sukarelawan dari luar negeri bergabung dengan saudara-saudara setempat. Untuk proyek di Ekuador, 270 Saksi-Saksi dari 14 negeri bekerja berdampingan dengan saudara dan saudari mereka dari Ekuador. Beberapa sukarelawan internasional membantu beberapa proyek yang sedang berjalan bersamaan waktu. Mereka secara bergiliran bekerja di lokasi pembangunan di Eropa dan di Afrika, sesuai kebutuhan akan bidang keterampilan mereka.

      Menjelang tahun 1992, sukarelawan internasional telah dikirim ke 49 lokasi kantor cabang untuk membantu para pekerja pembangunan setempat. Dalam beberapa peristiwa mereka yang menerima bantuan dari program ini pada gilirannya dapat membantu yang lainnya. Maka, setelah mendapat manfaat dari jerih payah kurang lebih 60 hamba internasional jangka panjang yang membantu proyek pembangunan kantor cabang di Filipina, maupun juga lebih dari 230 sukarelawan dari luar negeri yang membantu selama jangka waktu yang lebih pendek, beberapa saudara Filipina merelakan diri untuk membantu membangun fasilitas di tempat-tempat lain di Asia Tenggara.

      Pekerjaan pembangunan dilakukan oleh Saksi-Saksi Yehuwa karena kebutuhan yang ada sekarang berkaitan dengan pemberitaan kabar baik. Dengan bantuan roh Yehuwa, mereka ingin memberikan kesaksian yang terbesar yang mungkin selama waktu yang masih tersisa sebelum Armagedon. Mereka yakin bahwa dunia baru Allah sudah sangat dekat, dan mereka memiliki iman bahwa mereka sebagai umat yang terorganisasi akan selamat memasuki dunia baru itu, di bawah pemerintahan Kerajaan Mesias dari Allah. Adalah juga harapan mereka bahwa barangkali banyak dari fasilitas-fasilitas bagus yang telah mereka bangun dan baktikan kepada Yehuwa akan terus digunakan sesudah Armagedon sebagai pusat-pusat yang dapat menyebarluaskan pengetahuan mengenai satu-satunya Allah yang benar sampai hal itu benar-benar memenuhi bumi.—Yes. 11:9.

      [Catatan Kaki]

      a Itu dikenal sebagai Gereja ”Terang Baru”, karena mereka yang bergabung di situ merasa mendapat penerangan baru mengenai Alkitab sebagai hasil membaca publikasi-publikasi Menara Pengawal.

      [Blurb di hlm. 322]

      Saksi-Saksi dari sidang-sidang yang berdekatan membantu dalam pekerjaan

      [Blurb di hlm. 323]

      Pekerjaan pembangunan dilakukan oleh tenaga kerja sukarela yang tidak dibayar

      [Blurb di hlm. 324]

      Pentingnya sifat-sifat rohani ditandaskan

      [Blurb di hlm. 326]

      Konstruksi yang bermutu, keselamatan kerja, biaya minimum, kecepatan

      [Blurb di hlm. 328]

      Balai kebaktian portabel!

      [Blurb di hlm. 331]

      Menggugat ke pengadilan

      [Blurb di hlm. 332]

      Ekspansi internasional dalam skala besar

      [Blurb di hlm. 333]

      Para pekerja memuji Yehuwa, bukan diri mereka

      [Blurb di hlm. 334]

      Pertumbuhan dengan kecepatan yang tak seorang manusia pun dapat meramalkan

      [Blurb di hlm. 336]

      Mereka menganggap sebagai hak istimewa untuk membantu pembangunan di kantor pusat

      [Blurb di hlm. 339]

      Mereka bekerja sebagai keluarga sedunia yang tidak terpecah-belah oleh kebangsaan, warna kulit, atau bahasa

      [Kotak/Gambar di hlm. 320, 321]

      Bekerja Bersama untuk Membangun Balai Kerajaan Secara Kilat

      Ribuan sidang baru dibentuk setiap tahun. Kebanyakan, Balai Kerajaan baru dibangun sendiri oleh Saksi-Saksi. Foto-foto ini diambil pada waktu pembangunan sebuah Balai Kerajaan di Connecticut, AS, pada tahun 1991

      Hari Jumat, pukul 7.40 pagi

      Hari Jumat, pukul 12 tengah hari

      Hari Sabtu, pukul 7.41 sore

      Pekerjaan besar selesai, hari Minggu, pukul 6.10 sore

      Mereka mengharapkan berkat Yehuwa, dan mereka menyisihkan waktu untuk membahas nasihat dari Firman-Nya

      Semuanya sukarelawan yang tak dibayar, senang untuk bekerja bahu-membahu

      [Kotak/Gambar di hlm. 327]

      Balai Kerajaan di Berbagai Negeri

      Tempat-tempat berhimpun yang digunakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa biasanya bersahaja. Lingkungan tersebut bersih, nyaman, menarik

      Peru

      Filipina

      Prancis

      Republik Korea

      Jepang

      Papua Nugini

      Irlandia

      Kolombia

      Norwegia

      Lesotho

      [Kotak/Gambar di hlm. 330]

      Balai-Balai Kebaktian Saksi-Saksi Yehuwa

      Untuk menampung peserta kebaktian berkala mereka, Saksi-Saksi Yehuwa di beberapa daerah menganggap praktis membangun Balai Kebaktian mereka sendiri. Banyak pekerjaan pembangunan ini dilakukan oleh Saksi-Saksi setempat. Ini beberapa di antara balai-balai yang digunakan pada awal tahun 1990-an

      Inggris

      Venezuela

      Italia

      Jerman

      Kanada

      Jepang

      [Kotak/Gambar di hlm. 338]

      Program Pembangunan Internasional Memenuhi Kebutuhan yang Mendesak

      Perkembangan yang pesat dari organisasi memerlukan ekspansi yang berkelanjutan dari kantor, percetakan, dan rumah-rumah Betel di seputar bola bumi

      Sukarelawan internasional membantu Saksi-Saksi setempat

      Spanyol

      Metode-metode pembangunan yang digunakan memungkinkan banyak sukarelawan dengan pengalaman terbatas melakukan pekerjaan berharga

      Puerto Riko

      Pekerja-pekerja terampil dengan senang hati menyediakan jasa mereka

      Selandia Baru

      Yunani

      Brasil

      Penggunaan bahan-bahan yang kuat membantu agar biaya pemeliharaan jangka panjang dapat ditekan

      Inggris

      Pekerjaan bermutu tinggi dihasilkan oleh minat pribadi dari pihak yang melakukannya; ini merupakan pernyataan kasih mereka kepada Yehuwa

      Kanada

      Proyek-proyek ini adalah peristiwa-peristiwa yang menyenangkan hati; banyak persahabatan yang tahan lama terjalin

      Kolombia

      Papan tanda di Jepang mengingatkan para pekerja kepada langkah-langkah keselamatan kerja, juga perlunya menunjukkan buah-buah roh Allah

      [Gambar di hlm. 318]

      Bangunan pertama yang disebut Balai Kerajaan, di Hawaii

      [Gambar di hlm. 319]

      Banyak Balai Kerajaan masa permulaan adalah gedung yang disewa atau sekadar ruangan di atas toko; beberapa dibangun oleh Saksi-Saksi

      [Gambar di hlm. 329]

      Dua di antara Balai-Balai Kebaktian yang pertama

      New York City

      Guadeloupe

      [Gambar di hlm. 337]

      Para pekerja pembangunan sementara yang baru tiba di kantor pusat sedunia di New York

      Setiap kelompok diingatkan bahwa menjadi seorang yang bersifat rohani dan melakukan pekerjaan yang bermutu lebih diprioritaskan daripada melakukan pekerjaan dengan cepat

  • Bagaimanakah Segalanya Dibiayai?
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 21

      Bagaimanakah Segalanya Dibiayai?

      PEKERJAAN yang dilaksanakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa jelas memerlukan uang. Membangun Balai-Balai Kerajaan, Balai-Balai Kebaktian, kantor-kantor cabang, percetakan-percetakan, dan rumah-rumah Betel menyangkut uang, dan lebih banyak lagi yang dibutuhkan untuk pemeliharaannya. Ada juga pengeluaran guna menerbitkan dan menyebarkan lektur untuk pengajaran Alkitab. Bagaimanakah semua ini dibiayai?

      Spekulasi-spekulasi yang tidak ada dasarnya mengenai hal ini telah dipublikasikan oleh orang-orang yang menentang pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa. Tetapi tinjauan kembali mengenai buktinya mendukung jawaban yang diberikan oleh Saksi-Saksi sendiri. Apakah itu? Sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh para sukarelawan, yang tidak mengharapkan atau menginginkan imbalan keuangan untuk jasa-jasa mereka, dan segala pengeluaran organisasi tertutup oleh sumbangan-sumbangan sukarela.

      ”Tempat Duduk Gratis. Tidak Ada Kolekte”

      Bahkan sejak terbitan kedua Watch Tower bulan Agustus 1879, Saudara Russell menyatakan, ”’Zion’s Watch Tower’, kami percaya, mempunyai YEHUWA sebagai pendukungnya, dan karena itu tidak akan pernah mengemis ataupun memohon manusia untuk mendukungnya. Bila Ia yang mengatakan, ’Semua emas dan perak di gunung-gunung adalah kepunyaanKu,’ tidak lagi menyediakan dana yang diperlukan, kami akan mengerti bahwa itulah waktunya untuk menghentikan penerbitannya.” Maka, konsisten dengan hal tersebut, lektur Saksi-Saksi Yehuwa tidak pernah meminta-minta uang.

      Sebagaimana halnya lektur mereka, demikian pula perhimpunan mereka. Tidak ada imbauan emosional akan dana dalam sidang mereka atau di kebaktian mereka. Tidak ada piring kolekte yang diedarkan; tidak ada amplop yang dibagikan untuk memasukkan uang; tidak ada surat pemungutan sumbangan yang dikirimkan kepada anggota-anggota sidang. Sidang-sidang tidak pernah menyelenggarakan bazar atau penjualan dengan undian untuk mencari dana. Bahkan sejak tahun 1894, sewaktu Lembaga Menara Pengawal mengutus pembicara-pembicara keliling, pemberitahuan berikut diterbitkan untuk kepentingan setiap orang, ”Hendaklah dimengerti sejak permulaan bahwa kolekte-kolekte atau pemungutan lain untuk mengumpulkan dana tidak disahkan atau disetujui oleh Lembaga ini.”

      Maka, sejak permulaan sekali dalam sejarah modern mereka, surat-surat edaran dan undangan-undangan tercetak lainnya untuk mengundang masyarakat umum menghadiri perhimpunan Saksi-Saksi Yehuwa telah memuat slogan ”Tempat Duduk Gratis. Tidak Ada Kolekte”.

      Mulai awal tahun 1914, Siswa-Siswa Alkitab menyewa teater-teater maupun aula-aula lain dan mengundang masyarakat umum ke tempat-tempat ini untuk menyaksikan ”Drama-Foto Penciptaan”. Ini merupakan persembahan dalam empat bagian, seluruhnya selama delapan jam, terdiri dari ”slides” dan gambar hidup yang disinkronkan dengan suara. Selama tahun pertama saja, jutaan orang menyaksikannya di Amerika Utara, Eropa, Australia, dan Selandia Baru. Walaupun beberapa pemilik teater menarik biaya untuk tempat duduk yang dipesan, Siswa-Siswa Alkitab tidak pernah meminta bayaran untuk masuk. Dan tidak pernah diadakan kolekte.

      Belakangan, selama lebih dari 30 tahun, Lembaga Menara Pengawal mengoperasikan stasiun radio WBBR di New York City. Saksi-Saksi Yehuwa juga menggunakan jasa dari ratusan stasiun radio lain untuk menyiarkan acara-acara pendidikan Alkitab. Tetapi mereka tidak pernah menggunakan siaran-siaran ini untuk meminta-minta uang.

      Maka, bagaimana sumbangan yang membiayai kegiatan mereka diperoleh?

      Didukung Oleh Sumbangan Sukarela

      Alkitab memberikan pola. Di bawah Hukum Musa, ada sumbangan-sumbangan tertentu yang bersifat sukarela. Sumbangan lainnya diwajibkan bagi orang-orang. Pemberian perpuluhan, atau sepersepuluh bagian, adalah salah satu dari yang disebut belakangan. (Kel. 25:2; 30:11-16; Bil. 15:17-21; 18:25-32) Namun Alkitab juga menunjukkan bahwa Kristus menggenapi Hukum, dan Allah mengakhirinya; maka umat Kristen tidak terikat pada peraturan-peraturannya. Mereka tidak membayar perpuluhan, dan mereka juga tidak diwajibkan untuk memberikan sumbangan lain apa pun yang ditentukan jumlahnya atau yang ditentukan waktunya.​—Mat. 5:17; Rm. 7:6; Kol. 2:13, 14.

      Sebaliknya, mereka dianjurkan untuk memupuk semangat suka memberi dan murah hati dengan meniru teladan yang menakjubkan yang diberikan oleh Yehuwa sendiri dan oleh Putra-Nya, Yesus Kristus. (2 Kor. 8:7, 9; 9:8-15; 1 Yoh. 3:16-18) Maka, berkenaan soal memberi, rasul Paulus menulis kepada sidang Kristen di Korintus, ”Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” Ketika diberi tahu mengenai adanya suatu kebutuhan, mereka dihadapkan kepada ’ujian keikhlasan kasih mereka’, seperti diterangkan oleh Paulus. Ia juga berkata, ”Jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.”​—2 Kor. 8:8, 12; 9:7.

      Dipandang dari sudut ini, menarik sekali komentar Tertullian berkenaan perhimpunan yang diadakan oleh orang-orang yang berupaya mempraktekkan kekristenan pada zamannya (± 155–sesudah 220 M). Ia menulis, ”Bahkan jika ada semacam peti, itu tidak berisi uang yang dibayar sebagai ongkos masuk, seolah-olah agama merupakan soal kontrak. Setiap orang sekali sebulan membawa uang logam sekadarnya—atau kapan saja ia ingin, dan hanya jika ia memang ingin, dan jika ia dapat; sebab tidak ada yang dipaksa; itu merupakan suatu persembahan sukarela.” (Apology, XXXIX, 5) Akan tetapi, selama berabad-abad sejak itu, gereja-gereja Susunan Kristen telah melakukan segala rencana yang mungkin untuk mengumpulkan dana guna membiayai kegiatan mereka.

      Charles Taze Russell menolak untuk meniru gereja-gereja. Ia menulis, ”Menurut penilaian kami, uang yang dikumpulkan dengan berbagai cara mengemis atas nama Tuhan kita adalah memuakkan, tidak dapat diterima oleh-Nya, dan Ia tidak akan memberkati para pemberi maupun pekerjaan yang dihasilkan.”

      Daripada mencoba membujuk untuk mencari perkenan dari mereka yang kaya, Saudara Russell dengan jelas menyatakan, selaras dengan Alkitab, bahwa mayoritas umat Tuhan miskin dalam harta benda dunia ini tetapi kaya dalam iman. (Mat. 19:23, 24; 1 Kor. 1:26-29; Yak. 2:5) Sebaliknya daripada menekankan kebutuhan akan uang untuk menyebarkan kebenaran Alkitab, ia memusatkan perhatian pada pentingnya mengembangkan semangat kasih, keinginan untuk memberi, dan keinginan untuk membantu orang-orang lain, khususnya dengan membagikan kebenaran kepada mereka. Kepada mereka yang pintar cari uang, dan yang menganggap bahwa dengan terutama mengabdikan diri kepada urusan bisnis, mereka dapat memperoleh lebih banyak untuk disumbangkan secara keuangan, ia berkata bahwa adalah lebih baik untuk membatasi kegiatan seperti itu dan memberikan diri mereka sendiri dan waktu mereka untuk menyebarkan kebenaran. Itu masih merupakan pendirian yang diambil oleh Badan Pimpinan Saksi-Saksi Yehuwa.a

      Dalam praktek yang sebenarnya, seberapa besarkah yang diberikan orang? Apa yang mereka lakukan adalah keputusan pribadi. Akan tetapi, dalam soal memberi, hendaknya diperhatikan bahwa Saksi-Saksi Yehuwa tidak sekadar berpikir mengenai harta benda. Pada kebaktian distrik mereka tahun 1985-86, mereka membahas pokok ”Memuliakan Yehuwa Dengan Harta Kita”. (Ams. 3:9, NW) Ditandaskan bahwa harta ini mencakup bukan saja materi tetapi juga aset fisik, mental, rohani.

      Kembali ke tahun 1904, Saudara Russell menunjukkan bahwa seseorang yang telah mengabdikan diri sepenuhnya (atau membaktikan diri, istilah sekarang) kepada Allah ”sudah memberikan semua yang dimilikinya kepada Tuhan”. Maka, ia sekarang harus ”menganggap diri ditunjuk oleh Tuhan sebagai pengurus dari waktu, pengaruh, uang, dsb, miliknya sendiri, dan masing-masing hendaknya berupaya menggunakan talenta-talenta ini dengan sebaik-baiknya sesuai kemampuannya, demi kemuliaan sang Majikan.” Ia menambahkan bahwa, dengan dibimbing oleh hikmat dari atas, ”sebanding dengan berkembangnya kasih dan gairahnya untuk Tuhan hari demi hari melalui pengetahuan tentang Kebenaran dan perolehan roh-Nya, maka ia akan mendapati dirinya memberikan semakin banyak waktu, semakin banyak pengaruh, dan semakin banyak sumber daya yang dapat dikerahkannya untuk pelayanan Kebenaran.”​—Studies in the Scriptures, ”The New Creation”, hlm. 344-5.

      Selama tahun-tahun permulaan tersebut, Lembaga Menara Pengawal mempunyai apa yang dinamakan Dana Risalah Menara. Apakah gerangan itu? Berikut ini adalah perincian menarik yang tertera di belakang surat-surat kantor yang kadang-kadang dipakai oleh Saudara Russell, ”Dana ini terdiri dari persembahan sukarela dari mereka yang telah diberi makan dan dikuatkan oleh ’makanan pada waktunya’ yang oleh publikasi-publikasi di atas [disediakan oleh Lembaga Menara Pengawal], sebagai alat-alat dari Allah, sekarang dipersembahkan kepada orang-orang suci yang mengabdi, di seluruh dunia.

      ”Dana ini senantiasa digunakan untuk mengirimkan, secara gratis, ribuan eksemplar dari ZION’S WATCH TOWER and OLD THEOLOGY TRACTS yang sangat cocok bagi para pembaca yang baru. Ini juga membantu penyebaran edisi berjilid dari serial DAWN, dengan membantu mereka yang ingin menyebarkannya—para kolportir dan yang lain. Ia juga menyediakan ’dana miskin’ dan dengan ini setiap anak Tuhan yang, karena usia tua, atau penyakit, atau karena sebab-sebab lain, tidak dapat berlangganan WATCH TOWER akan memperolehnya secara gratis, asalkan mereka mengirim sepucuk surat atau kartu pada tiap awal tahun, yang menyatakan keinginan dan ketidakmampuan mereka.

      ”Tidak seorang pun pernah diminta untuk menyumbang kepada dana ini: semua sumbangan harus bersifat sukarela. Kami mengingatkan para pembaca kami kepada kata-kata sang Rasul (1 Kor. 16:1, 2) dan menegaskannya dengan mengatakan bahwa mereka yang dapat menyumbang dan memang menyumbang untuk menyebarkan kebenaran pasti akan mendapat balasan berupa berkat-berkat rohani.”

      Kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa secara global dalam memasyhurkan kabar baik tentang Kerajaan Allah terus didukung oleh sumbangan-sumbangan sukarela. Di samping Saksi-Saksi itu sendiri, banyak peminat yang menaruh penghargaan menganggapnya sebagai hak istimewa untuk mendukung pekerjaan Kristen ini dengan sumbangan sukarela mereka.

      Membiayai Tempat-Tempat Perhimpunan Setempat

      Setiap sidang dari Saksi-Saksi Yehuwa mempunyai kotak-kotak sumbangan yang cocok tempat orang dapat memasukkan sumbangan apa pun yang mereka inginkan​—bila mereka ingin melakukannya dan jika mereka mampu. Hal itu diselenggarakan secara pribadi sehingga orang lain biasanya tidak tahu apa yang mungkin dilakukan oleh seseorang. Hal itu adalah antara dia dengan Allah.

      Tidak ada gaji yang dibayarkan, tetapi memang diperlukan biaya untuk memelihara suatu tempat berhimpun. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, anggota-anggota sidang harus diberi tahu. Akan tetapi, lebih dari 70 tahun yang lalu, The Watch Tower menegaskan berkenaan sumbangan, janganlah memohon atau mendesak—melainkan sekadar menyatakan fakta-fakta dengan jelas dan jujur. Sejalan dengan sudut pandangan ini, perhimpunan-perhimpunan sidang tidak sering memasukkan pembahasan tentang masalah-masalah keuangan.

      Akan tetapi, kadang-kadang ada kebutuhan-kebutuhan khusus. Bisa jadi ada rencana untuk memperbarui atau memperluas sebuah Balai Kerajaan atau mungkin untuk membangun yang baru. Agar dapat memastikan besarnya dana yang bakal tersedia, para penatua dapat meminta mereka yang ada dalam sidang untuk menulis di atas secarik kertas apa yang menurut mereka dapat disumbangkan secara pribadi atau, mungkin, disediakan untuk proyek itu selama sejumlah tahun. Selain itu, para penatua dapat meminta agar pribadi-pribadi atau keluarga-keluarga menulis di kertas kira-kira jumlah yang menurut perkiraan mereka dapat disumbangkan setiap minggu atau setiap bulan, dengan berkat Yehuwa. Tidak ada nama yang ditandatangani. Ini bukan surat utang, tetapi memang akan menjadi dasar untuk perencanaan yang cermat.​—Luk. 14:28-30.

      Di Tarma, Liberia, sidang memperoleh dana yang dibutuhkan dengan cara yang agak berbeda. Beberapa orang dalam sidang menanam padi untuk seorang Saksi di sawahnya, sementara ia bekerja setahun penuh hanya menebang pohon dan menggergaji papan, yang kemudian dijual untuk memperoleh dana guna proyek pembangunan mereka. Di Paramaribo, Suriname, walaupun bahan-bahan harus dibeli, ada suatu sidang yang tidak memerlukan uang untuk tanah, karena seorang Saksi menyumbangkan tanahnya untuk Balai Kerajaan dan saudari tersebut hanya meminta supaya rumahnya dipindahkan ke bagian belakang tanah miliknya itu. Harga real-estate yang luar biasa tinggi di Tokyo, Jepang, menyulitkan sidang-sidang di sana memperoleh tanah untuk membangun Balai-Balai Kerajaan. Untuk membantu mengatasi problem ini, beberapa keluarga menawarkan penggunaan tanah tempat rumah mereka sendiri berdiri. Mereka hanya meminta agar setelah rumah mereka diubah menjadi sebuah Balai Kerajaan yang baru, mereka sendiri disediakan sebuah apartemen di tingkat atas.

      Seraya sidang-sidang berkembang dan dibagi, mereka yang berlokasi dalam suatu daerah tertentu sering berupaya saling membantu untuk menyediakan Balai Kerajaan yang memadai. Walaupun adanya semangat kemurahan hati tersebut, sesuatu yang lain dibutuhkan. Harga tanah dan biaya pembangunan telah membubung tinggi, dan masing-masing sidang sering kewalahan menanggulanginya. Apa yang dapat dilakukan?

      Pada Kebaktian Distrik ”Persatuan Kerajaan” tahun 1983, Badan Pimpinan menggariskan suatu penyelenggaraan yang menuntut penerapan prinsip di 2 Korintus 8:14, 15, yang menganjurkan agar kelebihan dari mereka yang memilikinya mengimbangi kekurangan dari orang-orang lain sehingga ”ada keseimbangan”. Maka mereka yang berkekurangan tidak menjadi begitu kekurangan sehingga terhalang dalam upaya mereka untuk melayani Yehuwa.

      Setiap sidang diundang untuk mengatur tersedianya sebuah kotak yang ditandai ”Sumbangan untuk Dana Balai Kerajaan Lembaga”. Segala sesuatu yang dimasukkan ke dalam kotak itu hanya akan digunakan untuk maksud tersebut. Dengan demikian uang yang disumbangkan dari seluruh negeri dapat mengimbangi kekurangan sidang-sidang yang sangat membutuhkan sebuah Balai Kerajaan tetapi tidak dapat mengatur hal tersebut sesuai persyaratan yang dituntut bank-bank setempat. Sesudah suatu survai yang cermat untuk memastikan tempat-tempat yang kebutuhannya betul-betul paling mendesak, Lembaga mulai menyediakan uang bagi sidang-sidang yang membutuhkan untuk membangun atau dengan cara lain memperoleh Balai Kerajaan yang baru. Seraya lebih banyak sumbangan diterima dan pinjaman dilunasi, lebih banyak sidang dapat dibantu.

      Penyelenggaraan ini mula-mula berlaku di Amerika Serikat dan Kanada, dan semenjak itu telah menyebar ke lebih dari 30 negeri di Eropa, Afrika, Amerika Latin, dan Timur Jauh. Menjelang akhir tahun 1992, dari hanya delapan diantara negeri-negeri ini, uang sudah berhasil didapatkan untuk membantu tersedianya 2.737 Balai Kerajaan, yang menampung 3.840 sidang.

      Bahkan di negeri-negeri yang penyelenggaraan ini tidak dapat diterapkan, namun ada kebutuhan mendesak akan Balai-Balai Kerajaan yang tidak dapat dibiayai secara lokal, Badan Pimpinan berupaya mengadakan penyelenggaraan lain untuk memberikan bantuan. Maka terjadilah keseimbangan, sehingga mereka yang berkekurangan tidak terlalu berkekurangan.

      Mengurus Ekspansi Kantor Pusat Sedunia

      Mengoperasikan kantor pusat sedunia juga memerlukan dana. Sesudah Perang Dunia I, sewaktu Watch Tower Bible and Tract Society mendapati bahwa lebih menguntungkan untuk mencetak dan menjilid sendiri buku-bukunya, suatu penyelenggaraan diatur yakni membeli mesin-mesin yang diperlukan atas nama perorangan​—rekan-rekan hamba dari Yehuwa. Sebaliknya daripada memberi keuntungan kepada sebuah perusahaan komersial untuk memproduksi buku-buku, Lembaga memakai uang tersebut setiap bulan guna mengurangi utang untuk perlengkapan itu. Seraya manfaat-manfaat dari hal ini direalisasi, harga dari banyak lektur untuk umum berkurang kira-kira setengahnya. Apa yang sedang dilakukan adalah untuk memajukan pemberitaan kabar baik, bukan untuk memperkaya Lembaga Menara Pengawal.

      Dalam beberapa tahun, jelaslah bahwa fasilitas-fasilitas yang lebih luas diperlukan di kantor pusat sedunia untuk mengurus pekerjaan pemberitaan Kerajaan di seluruh dunia. Berkali-kali, seraya organisasi telah berkembang dan kegiatan pengabaran ditingkatkan, fasilitas-fasilitas ini perlu ditambahkan. Daripada pergi ke bank untuk mendapatkan dana yang diperlukan guna memperluas dan melengkapi kantor-kantor dan percetakan di kantor pusat maupun fasilitas pendukung di dalam dan di sekitar New York, Lembaga menjelaskan kebutuhan ini kepada saudara-saudara. Hal ini tidak sering dilakukan, tetapi hanya 12 kali selama jangka waktu 65 tahun.

      Tidak pernah diadakan pengumpulan dana. Setiap orang yang ingin memberikan sumbangan diundang untuk melakukannya. Mereka yang lebih suka untuk meminjamkan dana mendapat jaminan bahwa jika timbul kebutuhan yang tidak terduga dan mendesak, pinjaman mereka akan dibayarkan kembali segera setelah permintaan mereka itu diterima. Maka dalam menangani berbagai hal, Lembaga berupaya menghindari timbulnya kesulitan atas seseorang dan sidang-sidang yang dengan murah hati telah menyediakan dana. Dukungan yang diberikan oleh Saksi-Saksi Yehuwa melalui sumbangan-sumbangan mereka senantiasa telah memungkinkan Lembaga untuk membayar kembali semua pinjaman. Sumbangan-sumbangan demikian yang dikirimkan kepada Lembaga tidaklah dianggap sudah semestinya. Sedapat mungkin, sumbangan-sumbangan ini dibalas dengan surat dan pernyataan penghargaan lainnya.

      Pekerjaan organisasi tidaklah ditopang oleh sumbangan dari sekelompok penyumbang yang kaya. Kebanyakan sumbangan adalah dari individu-individu yang kehidupannya sederhana​—banyak di antara mereka tidak berada. Di antaranya adalah anak-anak kecil yang dengan cara demikian ingin ikut mendukung pekerjaan Kerajaan. Hati dari semua penyumbang ini tergugah oleh penghargaan yang dalam akan kebaikan Yehuwa dan keinginan untuk membantu orang-orang lain mempelajari persediaan-persediaan-Nya yang murah hati.​—Bandingkan Markus 12:42-44.

      Membiayai Ekspansi Fasilitas Kantor Cabang

      Karena pekerjaan pemberitaan Kerajaan makin meningkat di berbagai bagian di dunia, maka perlu untuk memperluas fasilitas-fasilitas cabang dari organisasi. Ini dilakukan di bawah pengarahan Badan Pimpinan.

      Demikianlah, sesudah meninjau kembali usul-usul dari cabang di Jerman, pengarahan diberikan pada tahun 1978 untuk mencari tanah yang cocok dan kemudian membangun sebuah kompleks yang sama sekali baru. Dapatkah Saksi-Saksi di Jerman menanggung pembiayaannya? Kesempatan itu diberikan kepada mereka. Sewaktu proyek tersebut selesai pada tahun 1984, di Selters, di sisi sebelah barat dari Pegunungan Taunus, cabang tersebut melaporkan, ”Puluhan ribu Saksi-Saksi Yehuwa—kaya dan miskin, tua dan muda​—menyumbang jutaan dolar untuk membantu pembiayaan fasilitas-fasilitas baru. Karena kemurahan hati mereka, seluruh proyek dapat diselesaikan tanpa perlu meminjam uang dari lembaga-lembaga duniawi atau harus berutang.” Selain itu, kira-kira 1 dari setiap 7 Saksi di Republik Federasi Jerman telah ikut serta dalam pekerjaan pembangunan yang sesungguhnya di Selters/Taunus.

      Di beberapa negeri lain, ekonomi setempat atau keadaan keuangan dari Saksi-Saksi Yehuwa telah membuat keadaan sangat sulit, bahkan mustahil, bagi mereka untuk membangun kantor cabang yang diperlukan guna mengawasi pekerjaan atau percetakan untuk menerbitkan lektur Alkitab dalam bahasa-bahasa setempat. Saksi-Saksi di negeri tersebut telah diberikan kesempatan untuk berupaya sedapat mungkin. (2 Kor. 8:11, 12) Tetapi kurangnya dana di suatu negeri tidak dibiarkan menjadi rintangan untuk menyebarkan berita Kerajaan di sana jika dana yang diperlukan tersedia di tempat lain.

      Maka, sementara Saksi-Saksi setempat berupaya sedapat mungkin, di sebagian besar bagian dunia sejumlah besar uang yang diperlukan untuk gedung-gedung kantor cabang disediakan melalui sumbangan-sumbangan Saksi-Saksi Yehuwa di negeri-negeri lain. Demikianlah yang terjadi dengan pembangunan kompleks-kompleks luas di Afrika Selatan yang selesai pada tahun 1987, di Nigeria pada tahun 1990, dan di Filipina pada tahun 1991. Demikian pula halnya dengan Zambia, tempat fasilitas percetakan yang berpotensi masih sedang dibangun pada tahun 1992. Demikian pula halnya dengan banyak proyek yang lebih kecil, seperti yang di selesaikan di India pada tahun 1985; di Cile pada tahun 1986; Kosta Rika, Ekuador, Guyana, Haiti, dan Papua Nugini pada tahun 1987; Ghana pada tahun 1988; dan Honduras pada tahun 1989.

      Akan tetapi, di beberapa negeri, saudara-saudara terkejut dengan apa yang dapat mereka capai secara lokal dengan berkat Yehuwa atas upaya mereka yang terpadu. Pada awal tahun 1980-an, misalnya, cabang di Spanyol mengambil langkah ke arah perluasan besar fasilitas-fasilitasnya. Kantor cabang meminta Badan Pimpinan untuk menyediakan dana yang diperlukan. Tetapi karena pada waktu itu ada berbagai pengeluaran yang besar untuk hal-hal lain, maka bantuan demikian tidak tersedia pada saat itu. Jika diberi kesempatan, dapatkah Saksi-Saksi di Spanyol, dengan gaji mereka yang relatif rendah, memberikan dana yang cukup untuk upaya yang berani ini?

      Situasinya dijelaskan kepada mereka. Dengan senang hati mereka datang dengan permata, cincin, dan gelang mereka agar perhiasan-perhiasan ini dapat dijadikan uang tunai. Sewaktu seorang Saksi yang lanjut usia ditanya apakah ia benar-benar yakin ingin menyumbangkan gelang emas yang berat yang ia serahkan itu, ia menjawab, ”Saudara, itu akan jauh lebih berguna untuk membiayai sebuah Betel yang baru daripada di pergelangan tangan saya!” Seorang saudari yang sudah berumur menggali ke luar setumpuk uang kertas yang sudah lusuh, yang telah ia sembunyikan di bawah lantai rumahnya selama bertahun-tahun. Beberapa pasang suami-isteri menyumbangkan uang yang telah mereka tabung untuk perjalanan rekreasi. Anak-anak menyumbangkan uang tabungan mereka. Seorang anak muda yang merencanakan untuk membeli sebuah gitar, kemudian menyumbangkan uangnya itu kepada proyek kantor cabang. Seperti orang-orang Israel pada waktu tabernakel dibangun di padang belantara, Saksi-Saksi di Spanyol terbukti menjadi penyumbang yang murah hati dan rela memberikan segala yang dibutuhkan secara materi. (Kel. 35:4-9, 21, 22) Kemudian mereka merelakan diri—sepenuh waktu, selama liburan, pada tiap akhir pekan—untuk melakukan pekerjaan itu sendiri. Dari segenap penjuru Spanyol mereka datang​—ribuan di antara mereka. Saksi-Saksi lain, bergabung bersama mereka guna menyelesaikan apa yang semula tampak sebagai tugas yang mustahil, di antaranya dari Jerman, Swedia, Inggris, Yunani, dan Amerika Serikat.

      Apakah Ada Keuntungan dari Lektur?

      Sampai tahun 1992, lektur Alkitab diterbitkan di kantor pusat sedunia dan di 32 cabang di seluruh dunia. Sejumlah besar di antaranya disediakan untuk disebarkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Tetapi tidak ada yang dilakukan demi keuntungan komersial. Keputusan mengenai bahasa-bahasa dari lektur yang akan dicetak dan negeri-negeri yang dituju untuk pengiriman lektur tersebut tidak diambil untuk keuntungan komersial melainkan semata-mata dengan maksud untuk melaksanakan pekerjaan yang ditugaskan oleh Yesus Kristus kepada para pengikutnya.

      Bahkan sejak bulan Juli 1879, sewaktu nomor pertama dari Watch Tower diterbitkan, majalah itu memuat suatu pemberitahuan bahwa mereka yang terlalu miskin untuk membayar langganan (pada waktu itu hanya 50 sen dolar AS per tahun) dapat memperolehnya secara gratis jika mereka sekadar mengajukan permohonan tertulis. Tujuan utamanya ialah untuk membantu orang agar dapat belajar tentang maksud-tujuan yang mulia dari Yehuwa.

      Untuk maksud tersebut, sejak tahun 1879 lektur Alkitab dalam jumlah yang luar biasa telah disebarkan kepada umum tanpa dipungut bayaran. Pada tahun 1881 dan sesudahnya, kira-kira 1.200.000 eksemplar Food for Thinking Christians (Makanan untuk Orang-Orang Kristen yang Suka Berpikir) disebarkan secara gratis. Banyak di antaranya adalah dalam bentuk buku dengan 162 halaman; yang lainnya dalam format surat kabar. Tak terhitung banyaknya risalah dalam berbagai ukuran diterbitkan selama tahun-tahun sesudahnya. Sebagian besar di antaranya (secara harfiah sebanyak ratusan juta buah) disebarkan tanpa dipungut bayaran. Jumlah risalah dan publikasi lain yang dibagi-bagikan terus bertambah. Pada tahun 1915 saja, laporan menunjukkan bahwa 50.000.000 lembar risalah dalam sekitar 30 bahasa disalurkan untuk disebarkan di seluruh dunia tanpa dipungut bayaran. Dari mana datangnya uang untuk semua ini? Sebagian besar dari sumbangan sukarela untuk Dana Risalah Lembaga.

      Ada juga lektur yang ditawarkan dengan memungut sumbangan selama dekade-dekade permulaan dari sejarah Lembaga, tetapi sumbangan yang disarankan tetap ditekan serendah mungkin. Lektur ini mencakup buku-buku berjilid dengan 350 hingga 744 halaman. Sewaktu para kolportir Lembaga (yang pada waktu itu dikenal sebagai pemberita sepenuh waktu) menawarkan buku-buku ini kepada umum, mereka menyatakan jumlah yang disarankan sebagai sumbangan. Akan tetapi, tujuan mereka bukanlah untuk mencari uang melainkan untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran Alkitab yang sangat penting itu ke tangan orang-orang. Mereka ingin agar orang-orang membaca lektur dan mendapat manfaatnya.

      Mereka lebih daripada sekadar bersedia memberikan lektur kepada seseorang (hitung-hitung sebagai sumbangan mereka sendiri) jika penghuni rumah sangat miskin. Tetapi menurut pengamatan ternyata banyak orang lebih cenderung membaca sebuah publikasi jika mereka memberikan sesuatu sebagai gantinya, dan apa yang mereka sumbangkan tentunya dapat digunakan untuk mencetak lebih banyak lektur. Namun, untuk menandaskan fakta bahwa Siswa-Siswa Alkitab tidak mencari keuntungan uang, lembaran petunjuk dinas dari Lembaga, Bulletin, 1 Oktober 1920, mengatakan, ”Sepuluh hari sesudah memberikan buku kecil [yang terdiri dari 128 halaman], kunjungilah kembali orang-orang itu dan cari tahu apakah mereka telah membacanya. Kalau belum, mintalah mereka untuk mengembalikan buku itu dan kembalikan uang mereka. Katakan kepada mereka bahwa Saudara bukanlah seorang agen buku, melainkan bahwa Saudara berminat memberikan berita yang menghibur dan menggembirakan ini kepada semua orang, dan bahwa jika mereka tidak cukup berminat kepada fakta yang begitu penting bagi mereka . . . , Saudara ingin menyampaikan buku ini ke tangan seseorang yang menaruh minat.” Saksi-Saksi Yehuwa tidak terus menggunakan metode tersebut, sebab mereka mendapati bahwa anggota keluarga lainnya kadang-kadang mengambil lektur itu dan memperoleh manfaat darinya; namun apa yang dilakukan dahulu itu jelas mengemukakan tujuan yang sesungguhnya dari Saksi-Saksi.

      Selama bertahun-tahun mereka menggunakan istilah ”menjual” untuk penyebaran lektur mereka. Tetapi istilah ini agak menimbulkan kebingungan, maka mulai tahun 1929, istilah ini lambat laun disingkirkan. Istilah itu sesungguhnya tidak cocok untuk kegiatan mereka, sebab pekerjaan mereka tidak bersifat komersial. Tujuan mereka bukanlah untuk mencari uang. Motivasi mereka sepenuhnya adalah memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah. Oleh karena hal ini, pada tahun 1943 Mahkamah Agung Amerika Serikat menganggap Saksi-Saksi Yehuwa tidak perlu diwajibkan untuk memiliki izin dagang komersial sebelum menyebarkan lektur mereka. Sesudah itu kehakiman Kanada mengutip dengan menyetujui alasan yang dikemukakan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat dalam keputusan tersebut.b

      Di banyak negeri Saksi-Saksi Yehuwa secara tetap tentu telah menawarkan lektur mereka atas dasar sumbangan. Sumbangan yang disarankan begitu rendah dibandingkan dengan buku dan majalah lainnya, sehingga banyak orang telah menawarkan untuk menyumbang lebih banyak. Tetapi organisasi berupaya keras agar sumbangan yang disarankan tetap ditekan serendah-rendahnya sehingga dapat terjangkau oleh berjuta-juta orang yang hanya mempunyai sedikit harta dunia ini namun yang bersyukur untuk menerima sebuah Alkitab atau lektur Alkitab. Akan tetapi, tujuan dari sumbangan yang disarankan tidak untuk memperkaya organisasi Saksi-Saksi Yehuwa.

      Di negeri mana pun yang mempunyai undang-undang yang menganggap setiap penyalur lektur Alkitab bersifat komersial jika si penyalur menyarankan sumbangan untuk lektur itu, Saksi-Saksi Yehuwa dengan senang hati memberikannya cuma-cuma kepada siapa pun yang menunjukkan minat yang tulus dan berjanji membacanya. Orang-orang yang ingin menyumbangkan sesuatu untuk memajukan pekerjaan pendidikan Alkitab dapat memberikan berapa pun yang mereka inginkan. Hal itu dilakukan misalnya di Jepang. Di Swiss, sampai belakangan ini, sumbangan sukarela hanya dapat diterima sampai batas harga yang dicantumkan untuk sebuah publikasi; maka jika penghuni rumah ingin memberikan lebih, Saksi-Saksi akan mengembalikannya atau memberikan lektur tambahan kepada penghuni rumah. Keinginan mereka adalah, bukan untuk mengumpulkan uang, melainkan untuk memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah.

      Pada tahun 1990, karena adanya skandal-skandal keuangan yang banyak dipublikasikan di beberapa agama Susunan Kristen, ditambah lagi kecenderungan yang meningkat dari pihak pemerintah untuk menggolongkan kegiatan agama sebagai usaha komersial, Saksi-Saksi Yehuwa membuat beberapa penyesuaian dalam kegiatan mereka untuk menghindari adanya salah pengertian. Badan Pimpinan memberi petunjuk agar di Amerika Serikat, semua lektur yang disebarkan oleh Saksi-Saksi​—Alkitab, maupun risalah, buku kecil, majalah, dan buku berjilid yang menjelaskan Alkitab—​diberikan kepada orang-orang dengan satu syarat saja yaitu bahwa mereka membacanya, tidak ada sumbangan yang disarankan. Kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa sama sekali tidak bersifat komersial, dan penyelenggaraan ini selanjutnya berguna untuk membedakan mereka dari kelompok-kelompok agama yang mengkomersialkan agama. Tentu, kebanyakan orang mengetahui bahwa untuk mencetak lektur demikian dibutuhkan uang, dan mereka yang menghargai dinas yang dilakukan oleh Saksi-Saksi bisa jadi ingin menyumbang sesuatu untuk membantu pekerjaan tersebut. Kepada orang-orang ini dijelaskan bahwa pekerjaan pendidikan Alkitab seluas dunia yang dilakukan oleh Saksi-Saksi Yehuwa didukung oleh sumbangan-sumbangan sukarela. Sumbangan diterima dengan senang hati, tetapi tidak dengan sengaja diminta.

      Mereka yang ambil bagian dalam dinas pengabaran tidaklah melakukannya untuk keuntungan finansial. Mereka menyumbangkan waktu mereka, dan mereka membiayai transportasi mereka sendiri. Jika seseorang menunjukkan minat, mereka mengatur untuk datang kembali setiap minggu, sama sekali tidak dipungut bayaran, untuk memberikan petunjuk dari Alkitab secara pribadi. Hanyalah kasih akan Allah dan sesama yang dapat memotivasi mereka untuk terus ambil bagian dalam kegiatan demikian, walaupun sering berhadapan dengan sikap acuh tak acuh dan permusuhan yang sengit.

      Dana yang diterima di kantor pusat sedunia dari Saksi-Saksi Yehuwa atau di kantor-kantor cabangnya digunakan, bukan untuk memperkaya organisasi atau pribadi mana pun, tetapi untuk memajukan pemberitaan kabar baik. Kembali ke tahun 1922, The Watch Tower melaporkan bahwa karena situasi ekonomi di Eropa, buku-buku yang dicetak di sana untuk Lembaga dibayar terutama oleh kantor di Amerika dan sering ditinggalkan kepada orang-orang dengan harga di bawah ongkos cetak. Walaupun Saksi-Saksi Yehuwa kini menjalankan usaha-usaha percetakan di banyak negeri, beberapa negeri yang menerima pengiriman lektur tidak dapat mengirimkan dana sedikit pun ke luar negeri untuk menutup biaya. Sumbangan sukarela yang diberikan dengan murah hati oleh Saksi-Saksi Yehuwa di negeri-negeri yang memiliki sumber daya yang memadai membantu mengimbangi kekurangan dana di negeri-negeri yang membutuhkan.

      Lembaga Menara Pengawal senantiasa berupaya menggunakan segala sumber daya yang ada padanya guna memajukan pemberitaan kabar baik. Pada tahun 1915, Charles Taze Russell, sebagai presiden Lembaga, mengatakan, ”Lembaga kita tidak berupaya menimbun kekayaan duniawi, melainkan sebaliknya adalah lembaga yang membelanjakan uang. Apa pun yang Allah karuniakan kepada kita tanpa meminta-minta telah kami upayakan untuk dibelanjakan sebijaksana mungkin selaras dengan Firman dan Roh Tuhan. Lama berselang telah kami umumkan bahwa bilamana dana berhenti, kegiatan dari Lembaga akan berhenti secara proporsional; dan bahwa jika dana bertambah, maka kegiatan Lembaga akan diperluas.” Lembaga senantiasa telah melakukannya tepat seperti itu.

      Terus sampai saat ini, organisasi menggunakan dana yang tersedia untuk mengutus pengawas-pengawas keliling guna menguatkan sidang-sidang dan untuk menganjurkan mereka dalam pelayanan mereka kepada umum. Lembaga terus mengirim utusan-utusan injil dan lulusan-lulusan dari Sekolah Pelatihan Pelayanan ke negeri-negeri yang khususnya membutuhkan. Lembaga juga menggunakan dana apa pun yang tersedia untuk mengutus perintis-perintis istimewa ke daerah-daerah yang hingga kini baru sedikit atau belum mendapat pengabaran mengenai berita Kerajaan. Sebagaimana dilaporkan dalam Buku Kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa 1993, selama tahun dinas sebelumnya telah digunakan $45.218.257,56 (AS) dengan cara-cara ini.

      Tidak Melayani Demi Keuntungan Pribadi

      Tidak ada keuntungan finansial dicapai oleh anggota-anggota dari Badan Pimpinan, pejabat-pejabat dari lembaga hukumnya, atau pribadi-pribadi terkemuka lain mana pun yang tergabung dengan organisasi sebagai hasil pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa.

      Mengenai C. T. Russell yang melayani sebagai presiden Lembaga Menara Pengawal selama lebih dari 30 tahun, salah seorang rekannya menulis, ”Sebagai cara untuk memastikan apakah haluannya selaras dengan Alkitab, dan juga sebagai cara untuk mempertunjukkan ketulusannya sendiri, ia memutuskan untuk menguji perkenan Tuhan sebagai berikut: (1) Membaktikan kehidupannya kepada tujuan yang diyakininya; (2) Menginvestasikan kekayaannya untuk memajukan pekerjaan; (3) Melarang kolekte di semua perhimpunan; (4) Bergantung kepada sumbangan yang tidak sengaja diminta (sepenuhnya sukarela) untuk meneruskan pekerjaan sesudah kekayaannya habis.”

      Sebaliknya daripada menggunakan kegiatan agama untuk menimbun kekayaan materi bagi dirinya sendiri, Saudara Russell menggunakan seluruh sumber dayanya bagi pekerjaan Tuhan. Sesudah kematiannya, The Watch Tower melaporkan, ”Ia membaktikan seluruh kekayaan pribadinya untuk tujuan yang diyakininya, yang kepadanya ia memberikan kehidupannya. Ia menerima uang dengan nilai nominal $11.00 per bulan untuk pengeluaran pribadinya. Ia meninggal, tanpa mewariskan sesuatu milik atau tanah apa pun.”

      Berkenaan mereka yang akan meneruskan pekerjaan Lembaga, Saudara Russell menetapkan di dalam surat wasiatnya, ”Mengenai soal kompensasi, saya pikir adalah bijaksana untuk mempertahankan haluan Lembaga di masa lalu berkenaan gaji​—bahwa tidak ada yang dibayar; bahwa sekadar pengeluaran yang wajar diizinkan bagi mereka yang melayani Lembaga atau pekerjaannya dengan cara apa pun.” Mereka yang melayani di rumah-rumah Betel, kantor-kantor, dan percetakan-percetakan Lembaga, maupun juga wakil-wakil kelilingnya, akan disediakan sekadar makanan, pemondokan, dan penggantian ongkos ala kadarnya​—cukup untuk kebutuhan pokok tetapi ”tidak ada pengaturan . . . untuk mengumpulkan uang.” Standar yang sama tersebut berlaku dewasa ini.

      Mereka yang diterima untuk dinas istimewa sepenuh waktu di kantor pusat sedunia dari Saksi-Saksi Yehuwa semuanya berikrar untuk hidup bersahaja sebagaimana halnya dengan semua anggota Badan Pimpinan dan semua anggota lainnya dari keluarga Betel di sana. Ini tidak berarti bahwa mereka menempuh kehidupan yang menjemukan, tanpa kenyamanan sama sekali. Namun, ini memang berarti bahwa mereka, tanpa pandang bulu, sama-sama hidup dari persediaan makanan, pemondokan, dan penggantian ongkos sekadarnya yang diberikan untuk semua yang ada dalam dinas ini.

      Demikianlah organisasi melaksanakan pekerjaannya dengan bergantung sepenuhnya pada pertolongan yang Allah berikan. Tanpa dipaksa melainkan sebagai persaudaraan rohani yang sejati yang menjangkau ke seluruh penjuru bumi, Saksi-Saksi Yehuwa dengan senang hati menggunakan sumber daya mereka untuk menunaikan pekerjaan yang telah diberikan oleh Yehuwa, Bapa surgawi mereka yang mulia untuk mereka lakukan.

      [Catatan Kaki]

      a Lihat The Watchtower, 1 September 1944, hlm. 269; 15 Desember 1987, hlm. 19-20.

      b Murdock v. Commonwealth of Pennsylvania, 319 U.S. 105 (1943); Odell v. Trepanier, 95 C.C.C. 241 (1949).

      [Blurb di hlm. 340]

      ”Pemungutan lain untuk mengumpulkan dana tidak disahkan atau disetujui oleh Lembaga ini”

      [Blurb di hlm. 342]

      Yang terutama ditandaskan ialah nilai untuk membagikan kebenaran kepada orang-orang lain

      [Blurb di hlm. 343]

      Menyatakan fakta-fakta dengan jelas dan jujur

      [Blurb di hlm. 344]

      Sidang-sidang saling membantu untuk mendapatkan Balai Kerajaan yang diperlukan

      [Blurb di hlm. 345]

      Kebanyakan sumbangan adalah dari individu-individu yang kehidupannya sederhana

      [Blurb di hlm. 348]

      Banyak lektur disebarkan tanpa memungut bayaran—siapa yang membiayainya?

      [Blurb di hlm. 349]

      Mereka dengan senang hati memberikan lektur secara cuma-cuma kepada siapa pun yang menunjukkan minat yang tulus dan berjanji membacanya

      [Blurb di hlm. 350]

      Apa yang dilakukan dengan uang yang disumbangkan?

      [Blurb di hlm. 351]

      ”Ia membaktikan seluruh kekayaan pribadinya untuk tujuan yang diyakininya, yang kepadanya ia memberikan kehidupannya”

      [Kotak di hlm. 341]

      Allah Tidak Mengemis

      ”Ia yang berkata, ’Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punyaKulah dunia dan segala isinya. . . . Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu, sebab punyaKulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung’ (Mzm. 50:12, 9, 10), mampu untuk melaksanakan pekerjaan-Nya yang besar tanpa mengemis dana dari dunia atau dari anak-anak-Nya. Ia juga tidak akan memaksa anak-anak-Nya untuk mengorbankan apa pun dalam dinas-Nya, dan Ia juga tidak akan menerima sesuatu pun dari mereka kecuali persembahan yang riang gembira dan sukarela.”—”Zion’s Watch Tower”, September 1886, hlm. 6.

      [Kotak di hlm. 347]

      Sumbangan Tidak Selalu Dalam Bentuk Uang

      Saksi-Saksi jauh di utara Queensland menyiapkan dan mengirimkan empat ”semitrailer” dengan muatan kayu gelondongan yang terbaik yang waktu itu diperkirakan bernilai antara A$60.000 sampai A$70.000 ke lokasi pembangunan Watch Tower di Sydney, Australia.

      Sewaktu percetakan Watch Tower di Elandsfontein, Afrika Selatan, sedang diperluas, seorang saudara berkebangsaan India menelepon dan meminta agar mereka mengambil sumbangan 500 sak (masing-masingnya 50 kilogram) semen—pada waktu semen sangat langka di negeri itu. Yang lain menawarkan truk-truk mereka untuk digunakan oleh Lembaga. Seorang saudari Afrika membayar sebuah perusahaan untuk mengirimkan pasir bangunan sebanyak 15 meter kubik.

      Di Belanda, sewaktu fasilitas kantor cabang yang baru dibangun di Emmen, sejumlah besar peralatan dan pakaian kerja disumbangkan. Seorang saudari, walaupun sedang sakit parah, merajut sepasang kaus kaki panjang dari kain wol untuk setiap pekerja selama waktu musim dingin.

      Untuk membangun sebuah gedung kantor cabang yang baru dan percetakan yang potensial di Lusaka, Zambia, bahan-bahan bangunan dibeli dengan dana yang diberikan oleh Saksi-Saksi di negeri-negeri lain. Bahan-bahan dan perlengkapan yang tidak tersedia di sana diangkut dengan truk-truk ke Zambia sebagai sumbangan untuk pekerjaan di sana.

      Seorang Saksi di Ekuador, pada tahun 1977, menyumbangkan sebidang tanah seluas 34 hektare. Di sini dibangun suatu Balai Kebaktian dan suatu kompleks kantor cabang yang baru.

      Saksi-Saksi setempat di Panama membuka rumah mereka untuk menampung pekerja-pekerja sukarela; beberapa yang memiliki bus menyediakan pengangkutan; yang lain ikut serta dalam menyediakan 30.000 porsi makanan yang dihidangkan di lokasi pembangunan.

      Untuk para pekerja di proyek di Arboga, Swedia, satu sidang memanggang dan mengirimkan 4.500 kue kismis. Yang lainnya mengirimkan madu, buah-buahan, dan selai. Seorang petani yang tinggal dekat lokasi pembangunan, meskipun bukan seorang Saksi, memberikan dua ton wortel.

  • Kantor Pusat dan Kantor-Kantor Penting Sedunia dari Saksi-Saksi Yehuwa​—Di dalam Gambar-Gambar
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Kantor Pusat dan Kantor-Kantor Penting Sedunia dari Saksi-Saksi Yehuwa​—Di dalam Gambar-Gambar

      KANTOR PUSAT SEDUNIA DARI SAKSI-SAKSI YEHUWA

      [Gambar di hlm. 352, 353]

      Aktivitas seluas dunia dari Saksi-Saksi Yehuwa telah diatur dari Brooklyn, New York, AS, sejak tahun 1909. Gedung-gedung ini telah digunakan sebagai kantor pusat sejak tahun 1980

      [Gambar di hlm. 352]

      Pusat Pendidikan Menara Pengawal, di Patterson, New York (sedang dibangun pada tahun 1992)

      [Gambar di hlm. 353]

      Beberapa gedung tempat tinggal bagi ribuan orang yang melayani di kantor pusat sedunia

      [Gambar di hlm. 354]

      Gedung-gedung bekas hotel di Brooklyn direnovasi sehingga tersedia kamar bagi lebih dari 1.476 pekerja sukarela

      [Gambar di hlm. 354]

      Tempat tinggal bagi keluarga Betel di Wallkill, New York

      [Gambar di hlm. 354, 355]

      Dalam gedung-gedung percetakan ini (di Brooklyn, New York), Alkitab, buku, dan brosur dalam 180 bahasa diproduksi untuk disebarkan ke seluas dunia

      [Gambar di hlm. 356]

      Jutaan kaset audio yang berisi bahan Alkitab diproduksi di kantor percetakan Brooklyn ini setiap tahun. Pengiriman juga dikoordinasi dari sini. Lebih dari 15.000 ton lektur Alkitab dan bahan lain dikirim per tahun ke seluruh belahan dunia

      [Gambar di hlm. 356]

      Di kantor percetakan di Perladangan Menara Pengawal, dekat Wallkill, New York, ratusan juta majalah ”Menara Pengawal” dan ”Sedarlah!”, dalam 14 bahasa, dicetak setiap tahun

      Saksi-Saksi Yehuwa dan badan hukum yang mereka gunakan memiliki kantor dan percetakan di banyak bagian dunia. Gambar pada halaman-halaman berikut memperlihatkan banyak dari fasilitas tersebut, meskipun tidak semua. Setiap gedung baru yang sedang dibangun pada tahun 1992, gambar arsitekturnya diperlihatkan. Statistik yang diberikan adalah dari tahun 1992.

      AMERIKA UTARA DAN HINDIA BARAT

      ALASKA

      [Gambar di hlm. 357]

      Pengunjung kantor cabang Lembaga mendapat sambutan hangat. Di sini di Alaska, sebagaimana di tempat lain, Saksi-Saksi Yehuwa mengabar dari rumah ke rumah, meskipun kadang-kadang suhu mencapai -50°C.

      [Gambar di hlm. 357]

      Pesawat digunakan untuk membawa para pemberita Kerajaan menjangkau daerah-daerah terpencil di negeri ini

      BAHAMA

      [Gambar di hlm. 357]

      Publikasi Menara Pengawal mencapai Bahama menjelang tahun 1901. Di sini pengabaran secara tetap tentu pertama kali dilakukan pada tahun 1926. Sejak itu lektur Alkitab yang berjumlah jauh di atas 4.600.000 telah disebarkan di pulau-pulau yang sekarang diawasi dari kantor ini.

      BARBADOS

      [Gambar di hlm. 358]

      Lebih dari 140 kelompok agama di Barbados mengaku diri Kristen. Sejak tahun 1905, Saksi-Saksi Yehuwa telah membantu orang-orang di sini melihat sendiri apa yang dikatakan Alkitab.

      BELIZE

      [Gambar di hlm. 358]

      Kira-kira separuh dari penduduk Belize tinggal di daerah pedesaan. Untuk mencapai desa-desa pedalaman tertentu, Saksi-Saksi Yehuwa setiap tahun pergi berjalan kaki dengan membawa ransel dan aktentas (tas kantor).

      KOSTA RIKA

      [Gambar di hlm. 358]

      Lembaga pertama kali mendirikan kantor cabang di Kosta Rika pada tahun 1944. Sejak tahun 1950-an, orang-orang Kosta Rika yang ambil bagian dalam ibadat yang sejati telah berjumlah ribuan.

      REPUBLIK DOMINIKA

      [Gambar di hlm. 359]

      Lektur Menara Pengawal sudah disebarkan di sini sejak tahun 1932. Namun pengajaran pribadi kepada orang-orang berminat mulai pada tahun 1945, yaitu ketika para utusan injil yang terlihat di sini di sebelah kiri tiba. Pada tahun-tahun belakangan, sewaktu puluhan ribu orang berhasrat untuk belajar Alkitab dengan Saksi-Saksi, fasilitas-fasilitas kantor cabang ini dirasakan perlu.

      EL SALVADOR

      [Gambar di hlm. 359]

      Pengabaran pernah dilakukan di sini pada tahun 1916. Akan tetapi, baru pada tahun 1945 setidaknya satu orang di El Salvador siap untuk menjalani pembaptisan Kristen (tampak di sini). Sejak itu, ribuan lainnya telah menjadi hamba-hamba Yehuwa.

      GUADELOUPE

      [Gambar di hlm. 359]

      Rasio penyiar-penduduk di wilayah yang dilayani kantor cabang ini merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Banyak orang di Guadeloupe dengan penuh penghargaan menyambut kabar baik.

      KANADA

      [Gambar di hlm. 360, 361]

      Kantor Lembaga di Kanada mengawasi pemberitaan kabar baik di negeri nomor dua terbesar di dunia ini. Lebih dari 100.000 pemberita Kerajaan sibuk di negeri ini.

      Gedung administratif (yang tertindih ini adalah foto kompleks kantor cabang yang sekarang)

      [Gambar di hlm. 360]

      Wilayah Barat Laut

      [Gambar di hlm. 360]

      Kamp penebang kayu di Kolombia Inggris

      [Gambar di hlm. 360]

      Peternakan sapi di Alberta

      [Gambar di hlm. 361]

      Quebec Prancis

      [Gambar di hlm. 361]

      Propinsi Bahari

      GUATEMALA

      [Gambar di hlm. 360]

      Meskipun bahasa Spanyol merupakan bahasa resmi Guatemala, berbagai bahasa Indian Amerika yang rumit digunakan di sini. Kantor Lembaga berupaya untuk memastikan agar setiap orang memiliki kesempatan untuk mendengar tentang Kerajaan Allah.

      HAITI

      [Gambar di hlm. 361]

      Melayani Yehuwa membawa sukacita besar bagi Saksi-Saksi Yehuwa di Haiti, meskipun mereka sering berada di bawah kondisi yang sulit.

      HONDURAS

      [Gambar di hlm. 362]

      Sejak tahun 1916, lebih dari 23.000.000 jam telah dibaktikan untuk pengajaran Alkitab kepada penduduk negeri ini. Kadang-kadang, Saksi-Saksi Yehuwa juga harus mengajar orang-orang cara membaca dan menulis (seperti saudara lihat di sini) agar mereka secara pribadi dapat mempelajari Firman Allah.

      JAMAIKA

      [Gambar di hlm. 362]

      Ratusan orang di Jamaika menjadi hamba Yehuwa yang berbakti selama masa pengumpulan calon waris Kerajaan surgawi. Sejak tahun 1935, ribuan orang lain telah bergabung dalam mengabarkan berita Kerajaan. Kantor cabang ini dibangun untuk membantu memenuhi kebutuhan rohani mereka.

      KEPULAUAN LEEWARD (ANTIGUA)

      [Gambar di hlm. 362]

      Sudah sejak tahun 1914, kabar baik diberitakan di kepulauan yang kini diatur oleh kantor ini. Sejak itu, orang-orang di bagian bumi ini terus-menerus diundang untuk ”mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma”.​—Why. 22:17.

      MEKSIKO

      [Gambar di hlm. 363]

      Pusat untuk pendidikan Alkitab yang baru sedang dibangun oleh Saksi-Saksi Yehuwa di Meksiko

      [Gambar di hlm. 363]

      Fasilitas kantor yang digunakan pada tahun 1992

      [Gambar di hlm. 363]

      Lektur Alkitab yang diterbitkan di sini memperlengkapi lebih dari 410.000 Saksi yang bergairah di Meksiko dan negeri-negeri berbahasa Spanyol lain yang letaknya berdekatan.

      [Gambar di hlm. 363]

      Dari tahun 1986 hingga 1992, lebih dari 10 persen dari jumlah pengajaran Alkitab di rumah yang dipimpin oleh Saksi-Saksi seluas dunia terdapat di Meksiko, banyak di antaranya dilakukan dengan kelompok-kelompok keluarga.

      [Grafik di hlm. 363]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      Pengajaran Alkitab di Meksiko

      500.000

      250.000

      1950 1960 1970 1980 1992

      MARTINIK

      [Gambar di hlm. 364]

      Benih kebenaran ditaburkan di sini sudah sejak tahun 1946. Tetapi ketika Xavier dan Sara Noll (tampak di sini) tiba dari Prancis pada tahun 1954, mereka dapat menetap dan memupuk minat yang ditemukan. Menjelang tahun 1992, lebih dari 3.200 orang ambil bagian bersama mereka dalam mengabarkan berita Kerajaan.

      ANTILLA BELANDA (CURAÇAO)

      [Gambar di hlm. 364]

      Dua puluh tiga utusan injil telah melayani di wilayah kantor cabang ini. Dua dari antara kelompok mula-mula (tampak di sini) yang tiba pada tahun 1946 masih melakukan pekerjaan ini pada tahun 1992.

      NIKARAGUA

      [Gambar di hlm. 364]

      Sejak tahun 1945, ketika para utusan injil tiba, jumlah Saksi-Saksi Yehuwa di Nikaragua mulai meningkat. Menjelang tahun 1992, mereka berjumlah lebih dari 9.700. Jumlah orang yang ingin mendapat pengajaran Alkitab dari Saksi-Saksi sekarang jauh melebihi jumlah Saksi-Saksi setempat.

      PANAMA

      [Gambar di hlm. 365]

      Sejak akhir abad ke-19, orang-orang di Panama telah menerima bantuan dalam mempelajari tuntutan Allah untuk memperoleh kehidupan kekal.

      PUERTO RIKO

      [Gambar di hlm. 365]

      Sejak tahun 1930, lebih dari 83.000.000 lektur Alkitab telah disebarkan di Puerto Riko, dan 25.000.000 kunjungan kembali telah diadakan untuk memberikan bantuan lebih lanjut kepada orang-orang berminat. Pekerjaan terjemahan yang dilakukan di sini membantu menyediakan lektur Alkitab bagi kira-kira 350.000.000 orang seluas dunia yang berbahasa Spanyol.

      TRINIDAD

      [Gambar di hlm. 365]

      Kabar baik telah diberitakan dengan gencar di Trinidad bahkan sejak tahun 1912. Banyak Saksi, termasuk tiga saudari ini yang dilatih di Sekolah Gilead, telah membaktikan waktu mereka sepenuhnya untuk melakukan pekerjaan ini.

      AMERIKA SELATAN

      ARGENTINA

      [Gambar di hlm. 366]

      Seorang pemberita Kerajaan diutus pertama kali ke negeri ini pada tahun 1924. Banyak bantuan belakangan diberikan oleh para utusan injil keluaran sekolah Gilead, termasuk Charles Eisenhower (tampak di sini), yang tiba bersama istrinya pada tahun 1948. Menjelang tahun 1992, pengawasan umum, dan juga lektur Alkitab, disediakan dari fasilitas ini bagi lebih dari 96.000 Saksi-Saksi Yehuwa di Argentina. Lektur juga dikirim dari sini untuk memperlengkapi lebih dari 44.000 Saksi lain di Cile.

      BOLIVIA

      [Gambar di hlm. 367]

      Orang-orang Bolivia telah mendengar berita Kerajaan sejak tahun 1924. Ribuan orang menerima lektur Alkitab dengan penuh penghargaan dan menarik manfaat dari pengajaran Alkitab di rumah secara tetap tentu.

      CILE

      [Gambar di hlm. 367]

      Menjelang tahun 1919, lektur Menara Pengawal telah mencapai Cile. Pengabaran yang diawasi oleh kantor ini sekarang meluas dari peternakan domba yang banyak anginnya di selatan sampai kamp-kamp pertambangan yang terpencil di utara, dari Pegunungan Andes sampai ke Lautan Pasifik.

      EKUADOR

      [Gambar di hlm. 367]

      Sumbangan besar bagi pemberitaan kabar baik di Ekuador dilakukan oleh lebih dari 870 Saksi (seperti kedua orang yang tampak di sini) yang meninggalkan tanah air mereka untuk melayani di tempat yang lebih memerlukan tenaga. Kantor cabang ini sekarang memberikan bantuan bagi lebih dari 22.000 pemuji Yehuwa yang bergairah.

      BRASIL

      [Gambar di hlm. 368, 369]

      Pada tahun 1992, pada waktu kantor cabang Lembaga, percetakan, dan Rumah Betel sedang diperbesar sampai seperti ini, Saksi-Saksi Yehuwa di Brasil berjumlah lebih dari 335.000 dan lebih dari 27.000 murid dibaptis setiap tahun. Percetakan di sini juga menyediakan lektur untuk disebarkan di Bolivia, Paraguay, dan Uruguay.

      [Gambar di hlm. 369]

      Dua stadion besar yang digunakan untuk kebaktian internasional Saksi-Saksi Yehuwa di São Paulo pada tahun 1990; lebih dari 100 kebaktian tambahan juga dijadwalkan

      [Grafik di hlm. 369]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      Pemberita Kerajaan di Brasil

      300.000

      200.000

      100.000

      1950 1960 1970 1980 1992

      GUYANA

      [Gambar di hlm. 368]

      Lembaga telah memiliki sebuah kantor cabang di Guyana sejak tahun 1914. Saksi-Saksi telah menjangkau jauh ke pedalaman dan berupaya untuk memberi kesempatan kepada setiap orang untuk mendengar kabar baik. Meskipun jumlah penduduk negeri ini bahkan sekarang kurang dari satu juta, namun Saksi-Saksi telah membaktikan lebih dari 10.000.000 jam untuk mengabar dan mengajar di negeri ini.

      PARAGUAY

      [Gambar di hlm. 369]

      Pemberitaan kabar baik dilakukan di Paraguay menjelang pertengahan tahun 1920-an. Sejak tahun 1946, 112 utusan injil keluaran sekolah Gilead telah membantu memberi kesaksian. Untuk mencapai kelompok-kelompok bahasa selain Spanyol dan Guarani, Saksi-Saksi lain dari berbagai negeri juga dengan sukarela pindah ke negeri ini.

      Dari Jerman

      Dari Korea

      Dari Jepang

      KOLOMBIA

      [Peta/Gambar di hlm. 370, 371]

      Bahkan pada tahun 1915, sudah ada publikasi Menara Pengawal yang dikirim kepada seorang peminat di Kolombia. Menjelang tahun 1992, lektur Alkitab yang dicetak di fasilitas-fasilitas ini dikirimkan ke luar negeri untuk memenuhi kebutuhan lebih dari 184.000 penginjil di Kolombia, Ekuador, Panama, Peru, dan Venezuela.

      [Peta]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      KOLOMBIA

      PERU

      EKUADOR

      PANAMA

      VENEZUELA

      PERU

      [Gambar di hlm. 370]

      Sudah sejak tahun 1924 lektur Alkitab disebarkan di Peru melalui kunjungan seorang Siswa Alkitab. Sidang pertama dibentuk di sini 21 tahun yang lalu. Kini ada lebih dari 43.000 pemberita Kerajaan Allah di Peru.

      [Gambar di hlm. 370]

      Para perintis mengabar di pegunungan Andes

      SURINAME

      [Gambar di hlm. 371]

      Sekitar tahun 1903 kelompok pengajaran pertama dibentuk di sini. Sekarang fasilitas cabang ini dibutuhkan untuk mengawasi sidang-sidang di seluruh negeri ini​—di daerah primitif, distrik, dan kota.

      URUGUAY

      [Gambar di hlm. 372]

      Sejak tahun 1945, lebih dari 80 utusan injil telah menyumbang kepada pekerjaan pemberitaan Kerajaan di Uruguay. Saudari-saudari yang terlihat di sini telah melayani di Uruguay sejak tahun 1950-an. Menjelang tahun 1992, lebih dari 8.600 Saksi setempat melayani bersama mereka.

      VENEZUELA

      [Gambar di hlm. 372]

      Beberapa lektur Menara Pengawal telah disebarkan di Venezuela pada pertengahan tahun 1920-an. Satu dasawarsa kemudian satu tim perintis terdiri dari ibu dan anak dari Amerika Serikat memulai suatu periode pengabaran yang bergairah di sini, mengerjakan ibu kota berulang kali dan mengadakan perjalanan ke kota-kota di seluruh negeri. Sekarang ada lebih dari 60.000 Saksi aktif di Venezuela.

      [Gambar di hlm. 372]

      Terdapat 74.600 hadirin kebaktian istimewa pada tahun 1988 di arena adu banteng, Valencia.

      EROPA DAN MEDITERANIA

      AUSTRIA

      [Gambar di hlm. 373]

      Sudah sejak tahun 1890-an, beberapa orang di Austria diberi kesempatan untuk mengambil manfaat dari kabar baik. Sejak tahun 1920-an, terdapat pertumbuhan yang sedang namun mantap dalam jumlah pemuji Yehuwa di negeri ini.

      [Gambar di hlm. 373]

      Lebih dari 270 sidang bertemu di Balai-Balai Kerajaan di seluruh Austria

      BELGIA

      [Gambar di hlm. 373]

      Belgia telah menjadi salah satu persimpangan kebudayaan di dunia. Untuk mengatasi perbedaan penduduk yang terdapat di sini, cabang ini menyalurkan lektur Alkitab dalam lebih dari 100 bahasa.

      INGGRIS

      [Gambar di hlm. 374]

      Aktivitas dari 125.000 lebih Saksi-Saksi Yehuwa di Inggris diawasi dari kantor cabang ini. Saksi-Saksi dari Inggris juga telah menerima penugasan untuk menyebarkan berita Kerajaan di negeri-negeri Eropa yang lain dan juga Afrika, Amerika Selatan, Australia, Negeri-Negeri Timur, dan kepulauan-kepulauan.

      Rumah IBSA

      Rumah Menara Pengawal

      [Gambar di hlm. 374]

      Lektur Alkitab dicetak di sini dalam bahasa Inggris, Malta, Gujarati, dan Swahili

      [Gambar di hlm. 374]

      Departemen Dinas mengurus lebih dari 1.300 sidang di Inggris

      [Gambar di hlm. 374]

      Persediaan lektur dikirim ke semua daerah di Inggris, Skotlandia, Wales, Irlandia, dan Malta, serta tempat-tempat di Afrika dan Karibia

      PRANCIS

      [Gambar di hlm. 375]

      Terjemahan dan komposisi foto semua publikasi Menara Pengawal untuk orang-orang berbahasa Prancis di seluruh dunia dilakukan di cabang Prancis. (Lebih dari 120.000.000 orang berbahasa Prancis.) Lektur dalam berbagai bahasa dicetak secara tetap tentu di sini dan dikirim ke negeri-negeri di Eropa, Afrika, Timur Tengah, Samudra Hindia, dan Samudra Pasifik.

      Percetakan/kantor di Louviers

      Terjemahan

      Komposisi foto

      [Gambar di hlm. 375]

      Kantor/tempat tinggal di Boulogne-Billancourt

      [Gambar di hlm. 375]

      Tempat tinggal di Incarville untuk menampung keluarga Betel

      JERMAN

      [Gambar di hlm. 376, 377]

      Meskipun adanya upaya yang kejam untuk membasmi mereka di Jerman selama era Nazi, Saksi-Saksi Yehuwa tidak melepaskan iman mereka. Sejak tahun 1946, mereka telah membaktikan lebih dari 646.000.000 jam untuk menyebarkan kebenaran Alkitab di seluruh negeri ini.

      Fasilitas yang diperbesar di Selters/Taunus

      [Gambar di hlm. 376]

      Selain menerjemahkan lektur Alkitab ke dalam bahasa Jerman, kantor cabang di Selters/Taunus ini mencetak dalam lebih dari 40 bahasa

      [Gambar di hlm. 377]

      Lektur dalam jumlah besar yang diproduksi di sini dikirim secara tetap tentu ke lebih dari 20 negeri; majalah dicetak dalam banyak bahasa dan dikirim ke lebih dari 30 negeri.

      [Gambar di hlm. 377]

      Truk-truk milik Lembaga digunakan untuk mengirimkan lektur ke seluruh Jerman

      SIPRUS

      [Gambar di hlm. 376]

      Tidak lama setelah kematian Yesus Kristus, kabar baik diberitakan kepada orang-orang Siprus. (Kis. 4:​32-37; 11:19; 13:​1-12) Pada zaman modern, pemberitaan itu telah diperbarui, dan kesaksian yang saksama terus diberikan di bawah pengawasan kantor cabang ini.

      DENMARK

      [Gambar di hlm. 377]

      Sejak tahun 1890-an, kesaksian yang ekstensif telah dilakukan di Denmark. Pencetakan lektur Alkitab yang dilakukan di sini bukan hanya dalam bahasa Dansk tetapi juga bahasa Faeroe, Eskimo Greenland, dan Islandia.

      Tampak kantor cabang dari udara (jalan masuk tampak pada inset)

      ITALIA

      [Gambar di hlm. 378, 379]

      Lektur Alkitab berbahasa Italia diterjemahkan dan juga dicetak di sini. Cabang ini mencetak dan menjilid buku yang akan digunakan terutama di Italia dan negeri-negeri lain yang berdekatan.

      Berbagai pemandangan fasilitas cabang dekat Roma

      [Gambar di hlm. 379]

      Puluhan ribu orang, setelah melihat apa yang sesungguhnya dikatakan Alkitab, mulai bergabung dengan Saksi-Saksi Yehuwa

      [Gambar di hlm. 379]

      Dalam menghadapi sikap bermusuhan yang berkepanjangan dari Gereja Katolik Roma, Saksi-Saksi Yehuwa di Italia telah membaktikan lebih dari 550.000.000 jam sejak tahun 1946 dalam mengadakan kunjungan pribadi kepada para tetangga untuk membahas Alkitab bersama mereka. Hasilnya, 194.000 orang di Italia sekarang menjadi penyembah Yehuwa yang aktif

      FINLANDIA

      [Gambar di hlm. 378]

      Kebenaran Alkitab mencapai Finlandia dari Swedia pada tahun 1906. Sejak itu, kebenaran ini telah disampaikan ke segala penjuru negeri, bahkan jauh di atas Lingkaran Arktik. Banyak saudara dari sini telah mengikuti Sekolah Gilead untuk dilatih siap melayani di mana pun mereka diperlukan di ladang dunia. Yang lain telah pindah atas kemauan sendiri untuk melayani di negeri-negeri yang lebih memerlukan tenaga pengabar.

      ISLANDIA

      [Gambar di hlm. 379]

      Di Islandia, yang penduduknya hanya sekitar 260.000 orang, lebih dari 1.620.000 lektur Alkitab telah disebarkan untuk membantu orang-orang memilih hidup. Sekarang lebih dari 260 orang di sini melayani Yehuwa, Allah yang benar.

      [Gambar di hlm. 379]

      Georg Lindal, yang merintis di sini dari tahun 1929 hingga 1953; selama sebagian besar dari waktu tersebut, ia merupakan satu-satunya Saksi di negeri ini

      YUNANI

      [Gambar di hlm. 380]

      Rasul Paulus adalah salah seorang yang pertama memberitakan kabar baik di Yunani. (Kis. 16:9-14; 17:15; 18:1; 20:2) Meskipun Gereja Ortodoks Yunani telah menganiaya Saksi-Saksi Yehuwa dengan hebat selama bertahun-tahun, ada lebih dari 24.000 hamba Yehuwa yang setia di negeri ini. Kantor cabang yang tampak di sini terletak kira-kira 40 mil sebelah utara Athena.

      [Gambar di hlm. 380]

      Memberi kesaksian di Athena

      [Gambar di hlm. 380]

      Foto diambil pada tahun 1990 sewaktu terjadi demonstrasi yang dipimpin oleh pemimpin agama terhadap Saksi-Saksi

      IRLANDIA

      [Gambar di hlm. 380]

      Selama bertahun-tahun sambutan terhadap berita Alkitab lambat di Irlandia. Banyak perlawanan dari pemimpin agama harus dihadapi. Tetapi setelah kesaksian diberikan terus-menerus selama 100 tahun, sekarang ada panen rohani yang berlimpah.

      Kantor cabang di Dublin

      [Gambar di hlm. 380]

      Dua saudari yang sudah lama menjadi perintis dalam dinas pengabaran

      POLANDIA

      [Gambar di hlm. 381]

      Fasilitas-fasilitas ini digunakan untuk menyediakan bantuan kepada lebih dari 100.000 Saksi di Polandia. Dari tahun 1939 hingga 1945, ibadat mereka dilarang, tetapi jumlah mereka meningkat dari 1.039 pada tahun 1939 menjadi 6.994 pada tahun 1946. Ketika dilarang kembali pada tahun 1950, mereka berjumlah 18.116; tetapi tidak lama setelah larangan itu dicabut pada tahun 1989, laporan memperlihatkan bahwa ada lebih dari 91.000 orang.

      [Gambar di hlm. 381]

      Selama bertahun-tahun mereka mengadakan kebaktian-kebaktian kecil di dalam hutan; sekarang kebaktian mereka diselenggarakan di stadion terbesar di negeri ini​—dan lebih dari satu stadion pada waktu yang sama

      Poznan (1985)

      LUKSEMBURG

      [Gambar di hlm. 382]

      Luksemburg merupakan salah satu negeri yang sangat kecil di Eropa. Tetapi selama kira-kira 70 tahun, berita Kerajaan telah dikabarkan juga di sini. Teristimewa sebelum Perang Dunia II, bantuan diberikan oleh Saksi-Saksi yang datang dari Prancis, Jerman, dan Swiss.

      BELANDA

      [Gambar di hlm. 382]

      Dari cabang ini di Emmen, pengawasan diberikan bagi aktivitas dari 32.000 lebih Saksi yang bergairah di Belanda. Penerjemahan semua publikasi ke dalam bahasa Belanda dilakukan di fasilitas-fasilitas ini. Banyak reproduksi kaset video yang berdasarkan Alkitab dalam bahasa-bahasa Eropa juga ditangani dari sini.

      NORWEGIA

      [Gambar di hlm. 383]

      Seratus tahun yang lalu, seorang Norwegia yang telah pindah ke Amerika dan belajar kebenaran Alkitab di sana membawa kembali kabar baik itu ke kota kelahirannya. Sejak itu, Saksi-Saksi Yehuwa telah berulang kali mengunjungi setiap daerah di Norwegia untuk berbicara kepada orang-orang tentang Kerajaan Allah.

      PORTUGAL

      [Gambar di hlm. 383]

      Selama beberapa dasawarsa setelah pemerintah menandatangani sebuah konkordat dengan Vatikan, polisi menangkap Saksi-Saksi dan mendeportasi para utusan injil mereka. Tetapi Saksi-Saksi yang tersisa terus berhimpun untuk beribadat, mengabar kepada orang-orang lain, dan menjadi berlipat ganda. Akhirnya, pada tahun 1974 mereka diberi pengakuan hukum.

      Kantor ini mengawasi aktivitas lebih dari 40.000 Saksi di Portugal. Juga diberikan banyak bantuan ke negeri-negeri Afrika yang memiliki hubungan erat dengan Portugal

      [Gambar di hlm. 383]

      Kebaktian internasional diadakan di Lisbon pada tahun 1978

      SWEDIA

      [Gambar di hlm. 383]

      Selama lebih dari 100 tahun, Saksi-Saksi Yehuwa telah mengabar di Swedia. Dalam sepuluh tahun terakhir, mereka telah membaktikan lebih dari 38.000.000 jam untuk aktivitas ini. Banyak sidang di Swedia sekarang menggunakan salah satu dari banyak bahasa selain bahasa Swensk.

      [Gambar di hlm. 383]

      Untuk membantu segala macam orang di Swedia, publikasi dalam 70 bahasa disediakan di sini

      SPANYOL

      [Gambar di hlm. 384]

      Cabang ini menangani lebih dari 92.000 Saksi di Spanyol. Di sini ”Menara Pengawal” dan ”Sedarlah!” dicetak untuk Spanyol maupun Portugal. Meskipun ada upaya yang tak henti-hentinya dari para pemimpin agama Katolik untuk menggunakan Negara agar menghentikan Saksi-Saksi Yehuwa, Saksi-Saksi terus membagikan kebenaran Alkitab kepada orang-orang Spanyol sejak tahun 1916. Akhirnya, pada tahun 1970, ketika Saksi-Saksi Yehuwa di Spanyol berjumlah lebih dari 11.000, mereka mendapat pengakuan hukum. Sejak itu, jumlah mereka meningkat kira-kira delapan kali lipat.

      [Gambar di hlm. 384]

      Lebih dari 1.100 sidang sekarang dengan leluasa bertemu di Balai-Balai Kerajaan yang terdapat di seluruh negeri ini

      SWISS

      [Gambar di hlm. 384]

      Sejak tahun 1903, Lembaga Menara Pengawal memiliki sebuah kantor di Swiss. Salah satu percetakan paling awal di Eropa terdapat di negeri ini. Selama bertahun-tahun cabang di Thun ini mencetak majalah-majalah yang akan digunakan oleh banyak orang di negeri-negeri lain.

      AFRIKA

      BENIN

      [Gambar di hlm. 385]

      Benin terdiri dari sekitar 60 kelompok etnis yang berbicara dalam 50 dialek. Ketika ribuan dari orang-orang ini membebaskan diri dari agama mereka yang terdahulu, para dukun maupun pemimpin agama Susunan Kristen sama-sama naik pitam. Namun gelombang penganiayaan yang terjadi berulang kali tidak menghentikan pertumbuhan dari ibadat sejati di negeri ini.

      [Gambar di hlm. 385]

      Kebaktian diadakan pada tahun 1990

      REPUBLIK AFRIKA TENGAH

      [Gambar di hlm. 385]

      Sudah sejak tahun 1947, berita Kerajaan menjangkau orang-orang di sini. Seorang pria yang telah menghadiri perhimpunan Saksi di tempat lain menceritakan hal-hal yang telah ia pelajari kepada orang-orang lain. Sebuah kelompok pengajaran segera terbentuk, mereka yang hadir dengan cepat mulai memberi kesaksian, dan jumlah mereka yang menyembah Yehuwa meningkat.

      PANTAI GADING

      [Gambar di hlm. 386]

      Para utusan injil keluaran sekolah Gilead membantu memperkenalkan ibadat sejati di negeri Afrika Barat ini pada tahun 1949. Lebih dari seratus utusan injil tersebut telah melayani di sini. Sekarang setiap tahun, jauh di atas sejuta jam dibaktikan untuk mencari orang-orang yang lapar akan kebenaran di daerah yang diurus oleh kantor cabang ini.

      GHANA

      [Gambar di hlm. 386, 387]

      Pemberitaan kabar baik di Ghana mulai dilakukan pada tahun 1924. Sekarang kantor di Akra ini mengawasi lebih dari 640 sidang di Ghana. Kantor ini juga menangani penerjemahan lektur Alkitab ke dalam bahasa Ewe, Ga, dan Twi serta mencetaknya dalam bahasa-bahasa ini.

      [Gambar di hlm. 387]

      Perhimpunan di Balai Kerajaan terletak berdampingan dengan kantor cabang

      KENYA

      [Peta/Gambar di hlm. 387]

      Pada tahun 1931, dua Saksi Yehuwa berangkat dari Afrika Selatan untuk mengabar di Kenya. Sejak tahun 1963, kantor Lembaga di Kenya, pada berbagai waktu tertentu, memberikan pengawasan atas penginjilan di banyak negeri lain di Afrika Timur (seperti tampak di bawah). Kebaktian internasional di Kenya pada tahun 1973, 1978, dan 1985 telah menyumbang kepada kesaksian yang telah diberikan.

      [Peta]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      KENYA

      UGANDA

      SUDAN

      ETIOPIA

      JIBUTI

      SOMALIA

      YAMAN

      SEYCHELLES

      TANZANIA

      BURUNDI

      RWANDA

      [Gambar di hlm. 387]

      Kebaktian Nairobi (1978)

      NIGERIA

      [Gambar di hlm. 388, 389]

      Kabar baik telah diberitakan di negeri ini sejak awal tahun 1920-an. Para penginjil dari Nigeria juga telah diutus ke daerah-daerah lain di Afrika Barat, dan lektur Alkitab yang dicetak di sini terus memenuhi kebutuhan di negeri-negeri yang berdekatan. Di Nigeria sendiri, Saksi-Saksi Yehuwa telah menempatkan lebih dari 28.000.000 lektur kepada orang-orang untuk membantu mereka memahami Firman Allah.

      [Gambar di hlm. 388]

      Dari Departemen Dinas, pengawasan diberikan bagi lebih dari 160.000 pemberita Kerajaan di Nigeria

      [Gambar di hlm. 389]

      Kebaktian di Calabar, Nigeria (1990)

      LIBERIA

      [Gambar di hlm. 388]

      Di sini, mereka yang telah menjadi Saksi-Saksi Yehuwa mengalami banyak ujian iman​—ketika melepaskan diri dari takhayul setempat, ketika meninggalkan poligami, ketika dianiaya oleh para pejabat yang telah mendapat keterangan tidak benar tentang mereka, dan ketika dikelilingi dengan perang antar kelompok politik dan etnis. Namun, ibadat yang sejati terus mempersatukan segala macam orang di negeri ini.

      MAURITIUS

      [Gambar di hlm. 389]

      Sudah sejak tahun 1933, para Saksi yang bergairah dari Afrika Selatan mengunjungi pulau di Samudra Hindia ini. Sekarang ada lebih dari seribu Saksi di Mauritius yang mendesak sesama mereka untuk mencari Yehuwa agar mereka dapat dipandang patut mendapat perkenan-Nya ketika Ia menghancurkan sistem jahat yang ada sekarang.​—Zef. 2:3.

      AFRIKA SELATAN

      [Gambar di hlm. 390, 391]

      Selama lebih dari 80 tahun, Lembaga Menara Pengawal memiliki sebuah kantor cabang di Afrika Selatan. Para penginjil yang bergairah dari negeri ini telah berbuat banyak dalam menyebarkan berita Kerajaan ke negeri-negeri lain di Afrika bagian selatan dan timur. Di wilayah yang tadinya berada di bawah pengawasan kantor cabang ini (yang memiliki 14.674 pemberita Kerajaan pada tahun 1945), sekarang terdapat lebih dari 300.000 Saksi-Saksi Yehuwa yang aktif.

      [Gambar di hlm. 391]

      Lebih dari 110 penerjemah bekerja di bawah pengarahan cabang ini untuk menyiapkan lektur Alkitab dalam 16 bahasa Afrika

      [Gambar di hlm. 391]

      Pencetakan dilakukan di sini dalam lebih dari 40 bahasa

      SENEGAL

      [Gambar di hlm. 390]

      Meskipun jumlah Saksi di sini sedikit, kantor cabang berupaya mengatur agar setiap kota, setiap kelompok etnis, dan orang-orang dari setiap agama, bukan hanya di Senegal tetapi juga di negeri-negeri sekitarnya, memiliki kesempatan untuk mendengar berita Alkitab yang menghangatkan hati.

      SIERRA LEONE

      [Gambar di hlm. 391]

      Pemberitaan kabar baik di Sierra Leone dimulai pada tahun 1915. Pertumbuhan kadang-kadang lambat. Namun ketika mereka yang tidak berpaut kepada standar-standar tinggi Yehuwa dikeluarkan dan mereka yang tidak melayani dengan motif yang benar menarik diri, orang-orang yang loyal kepada Yehuwa menjadi makmur secara rohani.

      ZAMBIA

      [Gambar di hlm. 392]

      Kantor cabang ini mengawasi aktivitas dari 110.000 lebih Saksi di Afrika tengah bagian selatan. Kantor Lembaga yang pertama di sini didirikan pada tahun 1936. Sejak itu, Saksi-Saksi Yehuwa di Zambia telah mencapai lebih dari 186.000.000 kunjungan kembali guna memberi bantuan tambahan kepada orang-orang yang berminat. Mereka juga telah mengajar banyak orang membaca supaya mereka dapat belajar Alkitab secara pribadi dan membagikannya kepada orang-orang lain.

      [Gambar di hlm. 392]

      Suatu rangkaian kebaktian di Zambia pada tahun 1992 dihadiri oleh 289.643 orang

      ZIMBABWE

      [Gambar di hlm. 392]

      Saksi-Saksi Yehuwa telah aktif di Zimbabwe sejak tahun 1920-an. Selama tahun-tahun berikutnya, mereka dihadapkan dengan pemberangusan lektur mereka, pelarangan atas penyelenggaraan kebaktian, dan penolakan izin bagi utusan injil untuk mengabar kepada penduduk Afrika. Secara bertahap, rintangan dapat diatasi, dan kantor cabang ini sekarang menangani lebih dari 20.000 Saksi.

      NEGERI-NEGERI TIMUR

      HONG KONG

      [Gambar di hlm. 393]

      Publikasi Menara Pengawal di sini diterjemahkan ke dalam bahasa Cina, yang dengan banyak dialeknya, digunakan oleh lebih dari satu miliar orang. Di Hong Kong sendiri, pemberitaan kabar baik mulai ketika C. T. Russell memberi ceramah di balai kota pada tahun 1912.

      INDIA

      [Gambar di hlm. 393]

      Cabang ini mengawasi pengabaran berita Kerajaan kepada lebih dari seperenam jumlah penduduk bumi. Sekarang, kantor ini membimbing penerjemahan ke dalam 18 bahasa dan pencetakan dalam 19 bahasa. Di antaranya adalah Hindi (digunakan oleh 367 juta orang) juga bahasa Assam, Bengali, Gujarati, Kannada, Malayalam, Marathi, Nepali, Oriya, Punjabi, Tamil, Telugu, dan Urdu (masing-masing digunakan oleh puluhan juta orang).

      [Gambar di hlm. 393]

      Saksi-Saksi yang mengabar dalam bahasa Malayalam

      . . . dalam bahasa Nepali

      . . . dalam bahasa Gujarati

      JEPANG

      [Gambar di hlm. 394]

      Saksi-Saksi Yehuwa di Jepang, seperti halnya di negeri lain, adalah para pemberita Kerajaan Allah yang bergairah. Pada tahun 1992 saja, mereka membaktikan lebih dari 85.000.000 jam untuk memberitakan kabar baik. Rata-rata, sekitar 45 persen dari Saksi-Saksi Jepang ambil bagian dalam dinas perintis setiap bulan.

      [Gambar di hlm. 394]

      Lektur Alkitab diterbitkan di sini dalam banyak bahasa, termasuk Jepang, Cina, dan bahasa-bahasa negara Filipina

      [Gambar di hlm. 394]

      Kantor Rekayasa Regional membantu pekerjaan di fasilitas-fasilitas cabang di berbagai negeri

      [Grafik di hlm. 394]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      Perintis di Jepang

      75.000

      50.000

      25.000

      1975 1980 1985 1992

      REPUBLIK KOREA

      [Gambar di hlm. 395]

      Kira-kira 16 juta lektur Alkitab, selain risalah, diproduksi di sini setiap tahun untuk disalurkan kepada lebih dari 70.000 Saksi di Republik Korea. Sekitar 40 persen Saksi Korea berada dalam dinas perintis.

      MYANMAR

      [Gambar di hlm. 395]

      Ketika Lembaga Menara Pengawal mendirikan kantor cabang di sini pada tahun 1947, hanya ada 24 orang Saksi-Saksi Yehuwa di negeri ini. Lebih dari 2.000 Saksi yang kini aktif di Myanmar berupaya menjangkau tidak hanya penduduk di kota-kota tetapi juga populasi pedesaan yang jumlahnya lebih banyak.

      FILIPINA

      [Gambar di hlm. 396]

      Pada tahun 1912, C.T. Russell berkhotbah di Gedung Opera Besar Manila dengan judul ”Di Mana Orang Mati?” Sejak itu Saksi-Saksi Yehuwa di sini telah membaktikan lebih dari 483.000.000 jam untuk memberi kesaksian kepada orang-orang yang ditemukan di kurang lebih 900 pulau yang berpenduduk di Filipina. Pengawasan umum bagi lebih dari 110.000 Saksi di 3.200 sidang dilakukan dari cabang ini. Pencetakan dilakukan di sini dalam delapan bahasa untuk memenuhi kebutuhan setempat.

      [Gambar di hlm. 396]

      Saksi-Saksi dari beberapa kelompok bahasa utama di Filipina

      SRI LANKA

      [Gambar di hlm. 397]

      Sebelum Perang Dunia I, kabar baik diberitakan di Sailan (sekarang Sri Lanka), sebelah selatan India. Sebuah kelompok pengajaran segera diorganisasi. Sejak tahun 1953, Lembaga telah memiliki sebuah kantor cabang di ibu kota, untuk memberi kesempatan kepada suku Sinhala, Tamil, dan kelompok etnis lain di negeri ini untuk mendengar berita Kerajaan.

      TAIWAN

      [Gambar di hlm. 397]

      Kesaksian diberikan secara terbatas di sini pada tahun 1920-an. Tetapi ini dilakukan secara lebih konsisten pada tahun 1950-an. Kini fasilitas cabang yang baru ini sedang dibangun agar dapat berfungsi sebagai pusat bagi aktivitas yang meningkat di bagian bumi ini.

      [Gambar di hlm. 397]

      Sidang di Taipei

      THAILAND

      [Gambar di hlm. 397]

      Selama tahun 1930-an, para Saksi perintis datang dari Inggris, Jerman, Australia, dan Selandia Baru untuk membagikan kebenaran Alkitab kepada orang-orang Thailand (ketika itu dikenal dengan Siam). Delegasi dari banyak negeri menghadiri kebaktian internasional di sini pada tahun 1963, 1978, 1985, dan 1991 untuk menganjurkan Saksi-Saksi setempat dan merangsang penyebaran berita Kerajaan.

      [Gambar di hlm. 397]

      Kebaktian tahun 1963

      [Gambar di hlm. 397]

      Delegasi dari luar negeri pada tahun 1991

      KEPULAUAN DI PASIFIK

      FIJI

      [Gambar di hlm. 398]

      Kantor di Fiji didirikan pada tahun 1958. Selama waktu tertentu kantor ini mengawasi pekerjaan pemberitaan Kerajaan di 12 negeri dan 13 bahasa. Kini cabang Fiji memusatkan perhatiannya kepada kira-kira seratus pulau yang berpenghuni di kelompok Fiji.

      [Gambar di hlm. 398]

      Kebaktian internasional di sini pada tahun 1963, 1969, 1973, dan 1978 membantu mempererat hubungan Saksi-Saksi setempat dengan mereka yang di negeri-negeri lain

      GUAM

      [Gambar di hlm. 398]

      Kantor di Guam membimbing pemberitaan kabar baik di kepulauan yang terbentang sepanjang kira-kira 7.770.000 kilometer persegi di Samudra Pasifik. Penerjemahan lektur Alkitab ke dalam sembilan bahasa berada di bawah pengawasannya.

      [Gambar di hlm. 398]

      Pengawas wilayah sering mengadakan perjalanan antar pulau dengan pesawat terbang

      [Gambar di hlm. 398]

      Saksi-Saksi setempat (seperti tampak di sini di Mikronesia) dapat menggunakan perahu untuk mencapai wilayah mereka

      HAWAII

      [Gambar di hlm. 399]

      Lembaga Menara Pengawal telah memiliki kantor cabang di Honolulu sejak tahun 1934. Beberapa orang dari Hawaii telah ambil bagian dalam pekerjaan penginjilan tidak hanya di kepulauan Hawaii tetapi juga di Jepang, Taiwan, Guam, dan pulau-pulau di Mikronesia.

      KALEDONIA BARU

      [Gambar di hlm. 399]

      Meskipun menghadapi rintangan dari para penentang agamais, Saksi-Saksi Yehuwa membawa berita tentang Kerajaan Allah ke Kaledonia Baru. Banyak orang mendengarkan dengan penuh penghargaan. Pada tahun 1956, sidang pertama dibentuk. Kini ada lebih dari 1.300 pemuji Yehuwa di sini.

      SELANDIA BARU

      [Gambar di hlm. 399]

      Pada tahun 1947, Lembaga Menara Pengawal mendirikan sebuah kantor cabang di Selandia Baru untuk memberikan pengawasan yang lebih saksama bagi pemberitaan kabar baik di sini.

      [Gambar di hlm. 399]

      Penerjemahan yang dilakukan di cabang ini memungkinkan penduduk di Samoa, Rarotonga, dan Niue menerima pembinaan rohani secara teratur.

      [Gambar di hlm. 399]

      Para penerjemah dan ”proofreader” bekerja sama dalam menyediakan publikasi yang berkualitas tinggi

      AUSTRALIA

      [Gambar di hlm. 400]

      Lembaga Menara Pengawal telah memiliki sebuah kantor cabang di Australia sejak tahun 1904. Pada masa lalu, cabang ini mengawasi pekerjaan pemberitaan Kerajaan di hampir seperempat permukaan bumi, termasuk Cina, Asia Tenggara, dan kepulauan di Pasifik Selatan.

      [Gambar di hlm. 400]

      Kantor Rekayasa Regional membantu pembangunan kantor cabang di Pasifik Selatan dan Asia Tenggara

      [Gambar di hlm. 400]

      Sekarang, cabang ini mencetak lektur Alkitab dalam lebih dari 25 bahasa. Percetakan di sini membantu menyalurkan lektur yang dibutuhkan oleh kira-kira 78.000 Saksi di daerah-daerah yang diawasi oleh delapan cabang di Pasifik Selatan.

      [Peta/Gambar di hlm. 400]

      Negeri-negeri yang mendapat lektur dari cabang Australia

      [Peta]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      AUSTRALIA

      PAPUA NUGINI

      KALEDONIA BARU

      KEPULAUAN SOLOMON

      FIJI

      SAMOA BARAT

      TAHITI

      SELANDIA BARU

      PAPUA NUGINI

      [Gambar di hlm. 400]

      Suatu tantangan istimewa dihadapi oleh Saksi-Saksi Yehuwa di negeri ini​—penduduknya menggunakan kira-kira 700 bahasa yang berbeda-beda. Saksi-Saksi dari sedikitnya sepuluh negeri lain pindah ke sini untuk ambil bagian dalam pekerjaan ini. Mereka telah bekerja keras untuk mempelajari bahasa setempat. Para peminat menerjemahkan bagi mereka yang berbicara dalam bahasa lain. Gambar juga digunakan secara efektif sebagai sarana dalam mengajar.

      KEPULAUAN SOLOMON

      [Gambar di hlm. 401]

      Suatu pengajaran Alkitab yang diadakan secara internasional melalui pos membawa berita Kerajaan masuk ke Kepulauan Solomon pada awal tahun 1950-an. Meskipun menghadapi rintangan yang hebat, kebenaran Alkitab tetap menyebar. Kantor cabang dan Balai Kebaktian yang sangat luas ini merupakan hasil dari kreativitas setempat, kerja sama internasional, dan berlimpahnya roh Yehuwa.

      TAHITI

      [Gambar di hlm. 401]

      Menjelang awal tahun 1930-an, Saksi-Saksi Yehuwa telah mencapai Tahiti dengan berita Kerajaan. Di sini, di tengah-tengah Samudra Pasifik, suatu kesaksian yang saksama diberikan. Selama empat tahun terakhir, pekerjaan memberi kesaksian dilakukan hingga mencapai jumlah lima jam bicara, rata-rata, kepada setiap pria, wanita, anak di pulau ini.

      SAMOA BARAT

      [Gambar di hlm. 401]

      Samoa Barat merupakan salah satu negara terkecil di dunia, namun Saksi-Saksi Yehuwa bahkan memiliki sebuah kantor cabang di sana. Fasilitas ini dibangun pada tahun 1992 untuk menangani aktivitas di kepulauan ini dan kepulauan lain yang berdekatan, termasuk Samoa Amerika.

  • Bagian 1​—Saksi-Saksi ke Bagian yang Paling Jauh di Bumi
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 22

      Bagian 1​—Saksi-Saksi ke Bagian yang Paling Jauh di Bumi

      Ini adalah yang pertama dari lima bagian dalam pasal yang melaporkan bagaimana kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa telah menjangkau seputar bumi. Bagian 1, yang meliputi era dari tahun 1870-an sampai dengan 1914, terdapat di halaman 404 hingga 422. Masyarakat manusia tidak pernah pulih dari gejolak-gejolak yang diakibatkan oleh Perang Dunia I, yang dimulai pada tahun 1914. Itulah tahun yang sudah lama ditandai oleh Siswa-Siswa Alkitab sebagai akhir Zaman Orang Kafir.

      SEBELUM ia naik ke surga, Yesus Kristus menugaskan para rasulnya, dengan berkata, ”Kamu akan menjadi saksi-saksiku . . . ke bagian yang paling jauh di bumi.” (Kisah 1:8, NW) Ia juga menubuatkan bahwa ”Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa”. (Mat. 24:14) Pekerjaan tersebut belum selesai pada abad pertama. Bagian utamanya telah dilakukan pada zaman modern. Catatan mengenai pelaksanaannya sejak tahun 1870-an hingga sekarang sungguh menggetarkan hati.

      Meskipun Charles Taze Russell menjadi terkenal di kalangan luas karena khotbah-khotbahnya tentang Alkitab yang banyak diiklankan, minatnya tidak semata-mata kepada jumlah hadirin yang banyak melainkan kepada orang-orang. Maka, tidak lama sesudah ia mulai menerbitkan Watch Tower pada tahun 1879, ia mengadakan perjalanan yang ekstensif untuk mengunjungi kelompok-kelompok kecil para pembaca majalah itu guna membahas Alkitab bersama mereka.

      C. T. Russell mendesak mereka yang percaya kepada janji-janji yang berharga dari Firman Allah untuk ikut serta membagikannya kepada orang-orang lain. Mereka yang sangat tersentuh hatinya oleh apa yang mereka pelajari, menunjukkan gairah sejati untuk bertindak tepat demikian. Untuk membantu dalam pekerjaan, bahan tercetak disediakan. Pada awal tahun 1881, sejumlah risalah diterbitkan. Keterangan tentang isinya kemudian digabung dengan informasi tambahan sehingga membentuk publikasi Food for Thinking Christians yang lebih lengkap, dan 1.200.000 eksemplar dipersiapkan untuk disebarkan. Namun bagaimanakah kelompok kecil dari Siswa-Siswa Alkitab (mungkin terdiri dari 100 pada waktu itu) dapat menyebarkan semuanya ini?

      Mencapai Para Pengunjung Gereja

      Beberapa diberikan kepada sanak saudara dan teman-teman. Sejumlah surat kabar setuju untuk mengirimkan sebuah eksemplar risalah itu kepada setiap langganan mereka. (Perhatian khusus diberikan kepada surat kabar mingguan dan bulanan agar Food for Thinking Christians dapat mencapai banyak orang yang tinggal di daerah pedesaan.) Tetapi banyak dari penyebarannya terlaksana pada beberapa hari Minggu secara berturut-turut di depan gereja-gereja di Amerika Serikat dan Inggris. Tidak ada cukup Siswa-Siswa Alkitab untuk melakukan semuanya secara pribadi, maka mereka menyewa orang-orang lain untuk membantu.

      Saudara Russell mengutus dua rekan, J. C. Sunderlin dan J. J. Bender, ke Inggris untuk mengawasi penyebaran 300.000 eksemplar di sana. Saudara Sunderlin pergi ke London, sedangkan Saudara Bender melakukan perjalanan ke utara ke Skotlandia dan kemudian mengerjakan daerah sepanjang perjalanannya ke selatan. Perhatian utama diberikan kepada kota-kota besar. Melalui iklan-iklan di surat kabar ditemukan pria-pria yang cakap dan kontrak dibuat dengan mereka untuk mengatur agar cukup banyak orang membantu guna menyebarkan jatah buku mereka. Di London saja hampir 500 orang dikerahkan untuk menyebarkan risalah itu. Pekerjaan dilakukan dengan cepat, pada dua hari Minggu berturut-turut.

      Pada tahun itu juga penyelenggaraan dibuat agar Siswa-Siswa Alkitab yang dapat meluangkan setengah waktu mereka atau lebih, khusus dalam pekerjaan Tuhan untuk menjadi kolportir, menyebarkan lektur untuk pengajaran Alkitab. Para pelopor dari mereka yang dewasa ini dikenal sebagai perintis, secara mencolok berhasil menyebarkan kabar baik.

      Selama dekade berikutnya, Saudara Russell menyiapkan aneka ragam risalah yang dengan mudah dapat digunakan untuk menyebarkan beberapa kebenaran Alkitab penting yang telah dipelajari. Ia juga menulis beberapa jilid Millenial Dawn, (belakangan dikenal sebagai Studies in The Scriptures). Kemudian ia mulai mengadakan perjalanan penginjilan secara pribadi ke negeri-negeri lain.

      Russell Melakukan Perjalanan ke Luar Negeri

      Pada tahun 1891 ia mengunjungi Kanada, di sana telah ditanamkan cukup banyak minat sejak tahun 1880 sehingga suatu kebaktian dapat diadakan di Toronto yang dihadiri oleh 700 orang. Ia juga melakukan perjalanan ke Eropa pada tahun 1891 untuk melihat apa yang dapat dilakukan guna memajukan penyebaran kebenaran di sana. Perjalanan ini membawanya ke Irlandia, Skotlandia, Inggris, banyak negeri di benua Eropa, Rusia (daerah yang kini dikenal sebagai Moldavia), dan Timur Tengah.

      Kesimpulan apakah yang ia tarik dari orang-orang yang dihubunginya dalam perjalanan tersebut? ”Kami tidak melihat peluang atau kesediaan untuk menerima kebenaran di Rusia . . . Kami tidak melihat sesuatu yang dapat menganjurkan kami untuk mengharapkan tuaian di Italia atau Turki atau Austria atau Jerman,” lapornya. ”Tetapi Norwegia, Swedia, Denmark, Swiss, dan teristimewa Inggris, Irlandia dan Skotlandia, merupakan ladang yang siap dan menunggu untuk dituai. Tampaknya ladang-ladang ini berseru, Datanglah kemari dan bantulah kami!” Ini merupakan era yang Gereja Katolik masih melarang pembacaan Alkitab, ketika banyak orang Protestan meninggalkan gereja mereka, dan ketika tidak sedikit orang, yang karena dikecewakan oleh gereja, menolak Alkitab sama sekali.

      Untuk membantu orang-orang yang lapar secara rohani itu, sesudah perjalanan Saudara Russell pada tahun 1891 upaya intensif dikerahkan untuk menerjemahkan lektur ke dalam bahasa-bahasa Eropa. Penyelenggaraan juga dibuat untuk mencetak dan menyimpan persediaan lektur di London sehingga dapat lebih mudah tersedia untuk dipergunakan di Inggris. Ladang di Inggris terbukti siap untuk dituai. Menjelang tahun 1900, sudah terdapat sembilan sidang dan sejumlah 138 Siswa-Siswa Alkitab​—di antara mereka terdapat beberapa kolportir yang bergairah. Sewaktu Saudara Russell kembali mengunjungi Inggris pada tahun 1903, seribu orang berkumpul di Glasgow untuk mendengar dia berbicara tentang ”Harapan dan Prospek Milenium”, 800 orang hadir di London, dan hadirin berjumlah 500 hingga 600 orang di kota-kota lainnya.

      Akan tetapi, untuk menguatkan pengamatan Saudara Russell, setelah 17 tahun berlalu sejak kunjungannya, sidang pertama Siswa-Siswa Alkitab terbentuk di Italia, yakni di Pinerolo. Dan bagaimana dengan Turki? Selama akhir tahun 1880-an, Basil Stephanoff telah mengabar di Makedonia, yang pada waktu itu adalah Turki Eropa. Walaupun beberapa orang tampaknya menunjukkan minat, orang-orang tertentu yang mengaku sebagai saudara membuat laporan-laporan palsu, mengakibatkan ia dipenjarakan. Baru pada tahun 1909, sepucuk surat dari seorang pria Yunani di Smirna (kini Izmir), Turki, melaporkan bahwa sebuah kelompok di sana dengan penuh penghargaan sedang mempelajari publikasi-publikasi Watch Tower. Sehubungan dengan Austria, Saudara Russell sendiri kembali pada tahun 1911 untuk berbicara di Wina, namun pertemuan itu dibubarkan oleh gerombolan pengacau. Di Jerman juga, tanggapan yang baik lambat diberikan. Tetapi orang-orang Skandinavia menunjukkan kesadaran yang lebih besar akan kebutuhan rohani mereka.

      Orang Skandinavia Saling Membagi

      Banyak orang Swedia tinggal di Amerika. Pada tahun 1883 sebuah sampel majalah Watch Tower yang diterjemahkan ke dalam bahasa Swensk disediakan untuk disebarkan di antara mereka. Majalah-majalah ini segera dikirimkan melalui pos kepada teman-teman dan sanak saudara di Swedia. Lektur dalam bahasa Norsk belum diproduksi. Meskipun demikian, pada tahun 1892, tahun berikutnya sesudah perjalanan Saudara Russell ke Eropa, Knud Pederson Hammer, seorang Norwegia yang telah mempelajari kebenaran di Amerika, secara pribadi kembali ke Norwegia untuk memberi kesaksian kepada sanak saudaranya.

      Kemudian, pada tahun 1894, tatkala lektur mulai diterbitkan dalam bahasa Dansk-Norsk, Sophus Winter, seorang Amerika keturunan Denmark yang berusia 25 tahun, diutus ke Denmark dengan persediaan lektur untuk disebarkan. Menjelang musim semi berikutnya, ia telah menempatkan 500 buah dari jilid-jilid Millenial Dawn. Dalam waktu singkat beberapa orang lain yang membaca publikasi tersebut ikut serta dalam pekerjaannya. Sayang sekali, ia kemudian tidak menghargai lagi nilai dari hak istimewa berharga yang dimilikinya; tetapi yang lainnya terus membiarkan terang mereka bercahaya.

      Akan tetapi, sebelum ia meninggalkan dinas ini, Winter telah melakukan pekerjaan sebagai kolportir di Swedia. Tidak lama sesudah itu, di rumah seorang teman di Pulau Sturkö, August Lundborg, seorang kapten Bala Keselamatan yang masih muda, melihat dua jilid Millenial Dawn. Ia meminjamnya, membacanya dengan penuh gairah, mengundurkan diri dari gereja, dan mulai membagikan kepada orang-orang lain apa yang telah dipelajarinya. Seorang pemuda lain, P. J. Johansson, terbuka matanya karena membaca sebuah risalah yang dipungutnya dari sebuah bangku di taman.

      Seraya kelompok orang Swedia mulai berkembang, beberapa pergi ke Norwegia untuk menyebarkan lektur Alkitab. Bahkan sebelum itu, lektur telah tiba di Norwegia melalui pos dari sanak-saudara di Amerika. Dengan cara inilah Rasmus Blindheim memulai dinas Yehuwa. Antara lain di Norwegia, Theodor Simonsen, seorang penginjil dari Free Mission (Misi Bebas), menerima kebenaran selama tahun-tahun permulaan tersebut. Ia mulai membantah ajaran api neraka dalam khotbah-khotbahnya di Free Mission. Hadirinnya bangkit berdiri dengan kagum karena berita yang luar biasa ini; tetapi ketika diketahui bahwa ia telah membaca ”Millennial Dawn”, ia dikeluarkan dari gereja. Meskipun demikian, ia terus berbicara tentang perkara-perkara baik yang telah dipelajarinya. Pemuda lain yang menerima beberapa lektur adalah Andreas Øiseth. Sekali yakin bahwa ia telah mendapat kebenaran, ia meninggalkan peternakan keluarganya dan terjun ke dalam pekerjaan kolportir. Secara sistematis ia mengerjakan daerah sepanjang perjalanannya ke utara, kemudian ke selatan sepanjang fjord (teluk sempit di antara tebing-tebing atau lereng curam), tanpa melewatkan satu pemukiman pun. Pada musim salju ia membawa persediaannya​—makanan, pakaian, dan lektur​—di atas kereta luncur, dan orang-orang yang murah hati menyediakan tempat baginya untuk tidur. Dalam suatu perjalanan selama delapan tahun, ia menjangkau hampir seluruh negeri itu dengan kabar baik.

      Istri August Lundborg, Ebba, pergi dari Swedia ke Finlandia untuk melakukan pekerjaan kolportir pada tahun 1906. Hampir bersamaan waktu, para pria yang kembali dari Amerika Serikat membawa serta sejumlah lektur Watch Tower dan mulai membagikan apa yang telah mereka pelajari. Maka beberapa tahun kemudian, Emil Österman, yang mencari sesuatu yang lebih baik daripada yang ditawarkan oleh gereja-gereja, dapat memiliki The Divine Plan of the Ages. Ia membagikannya kepada temannya Kaarlo Harteva, yang juga sedang melakukan pencarian. Karena menyadari nilai dari apa yang mereka miliki, Harteva menerjemahkannya ke dalam bahasa Finlandia dan, dengan bantuan dana dari Österman, mengatur agar buku itu diterbitkan. Bersama-sama mereka mulai menyebarkannya. Dengan menunjukkan semangat penginjilan yang sejati, mereka berbicara kepada orang-orang di tempat umum, membuat kunjungan dari rumah ke rumah, dan menyampaikan khotbah dalam auditorium-auditorium besar yang dipadati sesuai kapasitasnya. Di Helsinki, sesudah menyingkapkan doktrin-doktrin palsu Susunan Kristen, Saudara Harteva mengundang hadirin untuk menggunakan Alkitab guna membela kepercayaan akan jiwa yang tidak berkematian, jika mereka bisa. Semua mata berpaling kepada para pemimpin agama yang hadir. Tidak ada yang berbicara; tidak ada yang dapat menanggapi pernyataan jelas yang terdapat di Yehezkiel 18:4. Beberapa yang hadir mengatakan bahwa mereka hampir tidak bisa tidur pada malam tersebut sesudah apa yang mereka dengar.

      Tukang Kebun yang Rendah Hati Menjadi Penginjil di Eropa

      Sementara itu, Adolf Weber, atas anjuran seorang teman berusia lanjut yang beragama Anabaptis, berangkat dari Swiss ke Amerika Serikat untuk mencari pengertian Alkitab yang lebih mendalam. Di sana, karena menanggapi sebuah iklan, ia menjadi tukang kebun untuk Saudara Russell. Dengan bantuan The Divine Plan of the Ages, (waktu itu tersedia dalam bahasa Jerman) dan perhimpunan-perhimpunan yang dipimpin oleh Saudara Russell, Adolf memperoleh pengetahuan Alkitab yang dicarinya, dan ia dibaptis pada tahun 1890. ’Mata hatinya menjadi terang’, sehingga ia sungguh menghargai betapa besar peluang yang terbuka baginya. (Ef. 1:18) Sesudah beberapa waktu memberi kesaksian dengan penuh gairah di Amerika Serikat, ia pulang ke kampung halamannya, untuk mulai bekerja ”dalam kebun anggur Tuhan” di sana. Demikianlah, menjelang pertengahan tahun 1890-an, ia berada kembali di Swiss untuk membagikan kebenaran Alkitab kepada mereka yang mempunyai hati yang suka menerima.

      Adolf mencari nafkahnya sebagai tukang kebun dan ahli kehutanan, tetapi minat utamanya adalah penginjilan. Ia memberi kesaksian kepada rekan-rekan kerjanya, juga kepada orang-orang di kota-kota dan desa-desa Swiss yang terdekat. Ia mengetahui beberapa bahasa, dan ia menggunakan pengetahuan ini untuk menerjemahkan publikasi-publikasi Lembaga ke dalam bahasa Prancis. Sewaktu musim salju tiba ia mengisi tas ranselnya dengan lektur Alkitab dan berjalan kaki ke Prancis, dan kadang-kadang ia melakukan perjalanan ke arah barat laut menuju Belgia dan ke selatan menuju Italia.

      Agar dapat mencapai orang-orang yang mungkin tidak dapat dihubunginya secara pribadi, ia memasang iklan di surat-surat kabar dan majalah-majalah, dengan menarik perhatian kepada lektur yang tersedia untuk pengajaran Alkitab. Elie Thérond, di Prancis tengah, menanggapi salah satu iklan itu, mengenali nada kebenaran dari apa yang dibacanya, dan ia sendiri segera mulai menyebarluaskan berita itu. Di Belgia, Jean-Baptiste Tilmant, Sr., juga melihat salah satu iklan pada tahun 1901 dan memperoleh dua jilid Millenial Dawn. Betapa tergetar hatinya melihat kebenaran Alkitab dikemukakan dengan begitu jelas! Bagaimana mungkin ia menahan diri untuk tidak memberi tahu teman-temannya! Menjelang tahun berikutnya, sebuah kelompok pengajaran berhimpun secara tetap tentu di rumahnya. Segera sesudah itu kegiatan kelompok kecil tersebut menghasilkan buah bahkan di Prancis bagian utara. Saudara Weber tetap berhubungan dengan mereka, secara berkala mengunjungi berbagai kelompok yang berkembang, membina mereka secara rohani dan memberikan kepada mereka petunjuk-petunjuk tentang cara bagaimana membagikan kabar baik kepada orang lain.

      Sewaktu Kabar Baik Mencapai Jerman

      Tidak lama sesudah beberapa dari publikasi mulai ada dalam bahasa Jerman, pada pertengahan tahun 1880-an, orang-orang Amerika keturunan Jerman yang menghargainya mulai mengirimkannya ke sanak-saudara di tanah kelahiran mereka. Seorang juru rawat yang bekerja di sebuah rumah sakit di Hamburg membagikan publikasi Millenial Dawn kepada orang-orang lain di rumah sakit. Pada tahun 1896, Adolf Weber, di Swiss, memasang iklan di surat kabar berbahasa Jerman dan mengirimkan risalah-risalah melalui pos ke Jerman. Pada tahun berikutnya sebuah depot lektur dibuka di Jerman untuk memperlancar penyebaran edisi Watch Tower dalam bahasa Jerman, namun perkembangannya lambat. Akan tetapi, pada tahun 1902, Margarethe Demut, yang telah belajar kebenaran di Swiss, pindah ke Tailfingen, sebelah timur dari Black Forest. Kesaksian yang diberikannya secara pribadi dengan penuh gairah membantu untuk membubuh dasar bagi salah satu kelompok permulaan Siswa-Siswa Alkitab di Jerman. Samuel Lauper, dari Swiss, pindah ke Bergisches Land, sebelah timur laut Cologne, untuk menyebarkan kabar baik di daerah tersebut. Menjelang tahun 1904, perhimpunan-perhimpunan diadakan di sana di Wermelskirchen. Di antara mereka yang hadir ada seorang pria berusia 80 tahun, Gottlieb Paas, yang telah mencari-cari kebenaran. Menjelang saat kematiannya, tidak lama sesudah perhimpunan-perhimpunan tersebut mulai, Paas memegang Watch Tower dan berkata, ”Inilah kebenaran; berpeganglah padanya.”

      Jumlah mereka yang berminat pada kebenaran-kebenaran Alkitab ini kian hari kian bertambah. Walaupun mahal, penyelenggaraan dibuat untuk melampirkan sampel majalah Watch Tower secara gratis pada surat kabar di Jerman. Sebuah laporan yang diterbitkan pada tahun 1905 berbunyi bahwa lebih dari 1.500.000 eksemplar sampel Watch Tower ini telah disebarkan. Itu merupakan suatu prestasi besar bagi suatu kelompok yang sangat kecil.

      Tidak semua Siswa-Siswa Alkitab beranggapan bahwa mereka sudah melakukan apa yang diperlukan dengan mencapai orang-orang yang tinggal di dekat rumah. Bahkan sejak tahun 1907, Saudara Erler, dari Jerman, melakukan perjalanan ke Bohemia yang pada waktu itu disebut Austria-Hongaria (belakangan bagian dari Cekoslowakia). Ia menyebarkan lektur yang memberi peringatan tentang Armagedon dan menceritakan tentang berkat-berkat yang akan datang kepada umat manusia sesudahnya. Menjelang tahun 1912, seorang Siswa Alkitab lain telah menyebarkan lektur Alkitab di daerah Memel, di tempat yang kini adalah Lituania. Berita ini disambut dengan antusias oleh banyak orang, dan beberapa kelompok yang cukup besar dari Siswa-Siswa Alkitab segera terbentuk di sana. Akan tetapi, sewaktu mereka belajar bahwa orang Kristen sejati harus juga menjadi saksi, jumlah mereka mulai menciut. Meskipun demikian, beberapa membuktikan diri peniru Kristus yang sejati, ”Saksi yang setia dan benar”.​—Why. 3:14.

      Sewaktu Nikolaus von Tornow, seorang bangsawan Jerman yang memiliki tanah yang luas di Rusia, berada di Swiss sekitar tahun 1907, ia menerima salah satu risalah dari Lembaga Menara Pengawal. Dua tahun kemudian ia muncul di Sidang Berlin, di Jerman, dengan mengenakan pakaian terbaiknya dan disertai oleh pelayan pribadinya. Memerlukan waktu baginya untuk dapat memahami apa sebabnya Allah mempercayakan kebenaran-kebenaran yang tak ternilai harganya kepada orang-orang yang begitu sederhana, tetapi apa yang dibacanya di 1 Korintus 1:26-29 membantu, ”Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. . . , supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.” Karena yakin bahwa ia telah menemukan kebenaran, von Tornow menjual tanah miliknya di Rusia dan membaktikan dirinya dan sumber dayanya guna memajukan kepentingan ibadat yang murni.

      Pada tahun 1911, ketika sepasang suami-istri muda Jerman, keluarga Herkendell, menikah, mempelai wanita meminta dari ayahnya, sebagai mas kawin, uang untuk menikmati bulan madu yang lain daripada yang lain. Ia dan suaminya berniat melakukan perjalanan yang sibuk yang akan makan waktu berbulan-bulan. Bulan madu mereka ialah suatu perjalanan pengabaran ke Rusia untuk mencapai orang-orang yang berbahasa Jerman di sana. Demikianlah dengan banyak cara berbagai macam orang membagikan kepada orang lain apa yang telah mereka pelajari tentang maksud-tujuan Allah yang pengasih.

      Pertumbuhan Di Ladang Inggris

      Sesudah penyebaran lektur secara intensif di Inggris pada tahun 1881, beberapa pengunjung gereja melihat perlunya untuk bertindak sesuai dengan apa yang telah mereka pelajari. Tom Hart dari Islington, London, adalah salah seorang yang terkesan oleh nasihat Alkitab di dalam Watch Tower, ”Hai umatKu, pergilah dari padanya”​—yakni, keluarlah dari gereja-gereja Susunan Kristen yang bersifat Babilon dan ikutilah pengajaran Alkitab. (Why. 18:4) Ia mengundurkan diri dari gereja pada tahun 1884, diikuti oleh sejumlah orang lain.

      Banyak orang yang bergabung dengan kelompok-kelompok pengajaran berkembang menjadi penginjil yang efektif. Beberapa menawarkan lektur Alkitab di taman-taman di London dan tempat-tempat lain yang menjadi tempat orang bersantai. Yang lain memusatkan diri kepada gedung-gedung bisnis. Akan tetapi, cara yang lebih lazim ialah mengadakan kunjungan dari rumah ke rumah.

      Sarah Ferrie, seorang pelanggan Watch Tower, menulis kepada Saudara Russell dan berkata bahwa ia dan beberapa teman di Glasgow secara sukarela ingin ikut serta menyebarkan risalah. Benar-benar suatu kejutan ketika sebuah truk berhenti di depan rumahnya dengan muatan 30.000 selebaran, semuanya untuk dibagikan secara cuma-cuma! Mereka mulai bergerak. Minnie Greenlees, bersama tiga putranya yang masih muda, ”dengan sebuah bendi yang dihela seekor kuda poni” sebagai sarana pengangkutan, membuat penyebaran lektur Alkitab menembus sampai ke daerah pedesaan Skotlandia. Belakangan, Alfred Greenlees dan Alexander MacGillivray, dengan mengendarai sepeda menyebarkan risalah di banyak tempat di Skotlandia. Sebaliknya daripada membayar orang lain untuk menyebarkan lektur, para sukarelawan yang berbakti itu sendiri kini melaksanakan pekerjaan itu.

      Hati Mereka Mendorong Mereka

      Dalam salah satu perumpamaannya, Yesus telah berkata bahwa orang-orang yang ’mendengar firman Allah dengan hati yang bagus dan baik’ akan mengeluarkan buah. Penghargaan yang tulus akan persediaan Allah yang pengasih menggerakkan mereka untuk membagikan kabar baik tentang Kerajaan Allah kepada orang lain. (Luk. 8:8, 11, 15, NW) Tidak soal keadaan mereka, mereka akan menemukan suatu cara untuk melakukannya.

      Demikianlah, seorang turis Argentina memperoleh sebagian dari risalah Food for Thinking Christians dari seorang pelaut Italia. Sementara berlabuh di Peru, turis itu menulis untuk meminta lebih banyak lagi, dan dengan minat yang semakin besar ia menulis lagi pada tahun 1885 dari Argentina kepada redaktur Watch Tower untuk meminta lektur. Pada tahun yang sama seorang anggota dari Angkatan Laut Inggris, yang diutus bersama pasukannya ke Singapura, membawa serta Watch Tower. Ia sangat gembira akan apa yang dipelajarinya dari majalah itu dan dengan bebas menggunakannya di sana untuk memberitahukan pandangan Alkitab tentang topik-topik yang menjadi pokok pembahasan umum. Pada tahun 1910, sebuah kapal ditumpangi dua wanita Kristen yang sedang bepergian, berhenti di pelabuhan Kolombo, Sailan (kini Sri Lanka). Mereka menggunakan kesempatan untuk memberi kesaksian kepada Tn. Van Twest, kepala perkapalan pelabuhan itu. Mereka dengan sungguh-sungguh berbicara kepadanya tentang perkara-perkara baik yang telah mereka pelajari dari buku The Divine Plan of the Ages. Sebagai hasilnya, Tn. Van Twest menjadi seorang Siswa-Siswa Alkitab, dan pemberitaan kabar baik mulai berjalan di Sri Lanka.

      Bahkan mereka yang tidak dapat melakukan perjalanan mengupayakan cara-cara untuk membagikan kebenaran-kebenaran Alkitab kepada orang-orang di negeri lain. Seperti tersingkap dari sepucuk surat penghargaan yang diterbitkan pada tahun 1905, seseorang di Amerika Serikat telah mengirimkan The Divine Plan of the Ages kepada seorang pria di St. Thomas, di negeri yang pada waktu itu adalah Hindia Barat Denmark. Sesudah membacanya, si penerima berlutut dan menyatakan keinginannya yang sungguh-sungguh untuk digunakan oleh Allah dalam melakukan kehendak-Nya. Pada tahun 1911, Bellona Ferguson di Brasil menceritakan kasusnya sebagai ”bukti yang hidup dan positif bahwa tidak ada yang terlalu jauh untuk dijangkau” oleh air kebenaran. Rupanya ia telah menerima publikasi-publikasi Lembaga melalui pos sejak tahun 1899. Beberapa waktu sebelum Perang Dunia I, seorang imigran Jerman di Paraguay menemukan salah satu risalah Lembaga dalam kotak posnya. Ia memesan lebih banyak lektur dan segera memutuskan hubungannya dengan gereja Susunan Kristen. Tidak ada orang lain di negeri itu yang dapat melakukannya, maka ia dan iparnya laki-laki memutuskan untuk membaptis satu sama lain. Sungguh, kesaksian diberikan di tempat-tempat yang jauh di bumi, dan itu menghasilkan buah.

      Namun Siswa-Siswa Alkitab lainnya merasa terdorong untuk melakukan perjalanan ke tempat kelahiran mereka atau orang-tua mereka untuk menceritakan kepada teman-teman dan sanak saudara tentang maksud-tujuan Yehuwa yang menakjubkan dan bagaimana mereka dapat mengambil bagian di dalamnya. Demikianlah, pada tahun 1895, Saudara Oleszynski pulang kembali ke Polandia dengan kabar baik tentang ”tebusan, restitusi dan panggilan surgawi”; walaupun, sayang sekali, ia tidak bertekun dalam dinas tersebut. Pada tahun 1898 seorang mantan profesor berbangsa Hongaria meninggalkan Kanada untuk menyebarkan berita yang mendesak dari Alkitab di negeri asalnya sendiri. Pada tahun 1905 seorang pria yang telah menjadi seorang Siswa-Siswa Alkitab di Amerika kembali ke Yunani untuk memberi kesaksian. Dan pada tahun 1913, seorang pemuda membawa benih-benih kebenaran Alkitab dari New York pulang ke kota kelahiran keluarganya, Ramallah, tidak jauh dari Yerusalem.

      Membuka Daerah Karibia

      Sementara jumlah penginjil berkembang di Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa, kebenaran Alkitab juga mulai menguasai Panama, Kosta Rika, Guiana Belanda (kini Suriname), dan Guiana Inggris (kini Guyana). Joseph Brathwaite, yang berada di Guiana Inggris sewaktu ia dibantu untuk memahami maksud-tujuan Allah, berangkat ke Barbados pada tahun 1905 guna membaktikan segenap waktunya mengajarkan hal itu kepada orang-orang di sana. Louis Facey dan H. P. Clarke, yang mendengar kabar baik ketika bekerja di Kosta Rika kembali ke Jamaika pada tahun 1897 untuk membagikan iman yang baru mereka temukan, di kalangan sanak-saudara mereka. Mereka yang berpegang pada kebenaran di sana adalah pekerja-pekerja yang bergairah. Pada tahun 1906 saja, kelompok di Jamaika menyebarkan sekitar 1.200.000 risalah dan lektur lainnya. Seorang pekerja lain yang bermigrasi, yang belajar kebenaran di Panama, membawa berita pengharapan dari Alkitab kembali ke Grenada.

      Revolusi di Meksiko pada tahun 1910-11 merupakan faktor lain dalam membawa berita tentang Kerajaan Allah kepada orang-orang yang lapar akan kebenaran. Banyak orang melarikan diri ke utara ke Amerika Serikat. Di sana beberapa di antara mereka mulai berkenalan dengan Siswa-Siswa Alkitab, belajar tentang maksud-tujuan Yehuwa untuk mendatangkan perdamaian kekal bagi umat manusia, dan mengirimkan lektur ke Meksiko. Akan tetapi, ini bukan yang pertama kali berita ini mencapai Meksiko. Bahkan sudah sejak tahun 1893, Watch Tower menerbitkan sepucuk surat dari F. de P. Stephenson, dari Meksiko, yang telah membaca beberapa publikasi Lembaga Menara Pengawal dan ingin mendapatkan lebih banyak untuk dibagikan kepada teman-temannya di Meksiko dan di Eropa.

      Agar lebih banyak tempat di negeri-negeri Karibia dibuka bagi pemberitaan kebenaran Alkitab dan agar perhimpunan-perhimpunan yang tetap tentu diorganisasi untuk pengajaran, Saudara Russell mengutus E. J. Coward ke Panama pada tahun 1911 dan kemudian ke pulau-pulau. Saudara Coward adalah seorang pembicara yang tegas dan bersemangat, dan hadirin yang sering kali berjumlah ratusan berduyun-duyun datang mendengar khotbah-khotbahnya yang membantah doktrin api neraka dan keadaan tidak berkematian dari jiwa manusia, juga menceritakan tentang masa depan yang menakjubkan bagi bumi. Ia pindah dari satu kota ke kota berikutnya, dan dari satu pulau ke pulau berikutnya​—St. Lucia, Dominika, St. Kitts, Barbados, Grenada, dan Trinidad​—mencapai sebanyak mungkin orang. Ia juga berbicara di Guiana Inggris. Sementara berada di Panama, ia bertemu dengan W. R. Brown, seorang saudara muda Jamaika yang bergairah, yang kemudian melayani bersama Saudara Coward di beberapa pulau di Karibia. Belakangan, Saudara Brown membantu membuka ladang-ladang yang lain lagi.

      Pada tahun 1913, Saudara Russell sendiri berkhotbah di Panama, Kuba, dan Jamaika. Pada waktu ia menyampaikan khotbah umum di Kingston, Jamaika, dua auditorium penuh sesak, dan masih ada sekitar 2.000 orang yang terpaksa tidak dapat ditampung. Ketika pembicara sama sekali tidak menyinggung tentang uang dan ketika tidak diadakan kolekte, pers mencatatnya.

      Terang Kebenaran Mencapai Afrika

      Afrika juga ditembus oleh terang kebenaran selama jangka waktu ini. Sepucuk surat yang dikirim dari Liberia pada tahun 1884 menyingkapkan bahwa seorang pembaca Alkitab di sana memperoleh sebuah buku Food for Thinking Christians dan ia menginginkan lebih banyak untuk dapat dibagikan kepada orang lain. Beberapa tahun sesudah itu, dilaporkan bahwa seorang pemimpin agama di Liberia telah meninggalkan kedudukannya di gereja agar dapat bebas mengajarkan kebenaran-kebenaran Alkitab yang dipelajarinya dengan bantuan Watch Tower dan bahwa perhimpunan-perhimpunan yang tetap tentu diadakan di sana oleh sekelompok Siswa-Siswa Alkitab.

      Seorang rohaniwan dari gereja Reformasi Belanda membawa serta beberapa publikasi dari C. T. Russell ketika ia diutus ke Afrika Selatan pada tahun 1902. Walaupun ia tidak terus menarik manfaat dari buku-buku itu, namun tidak demikian halnya dengan Frans Ebersohn dan Stoffel Fourie yang melihat lektur itu dalam perpustakaannya. Beberapa tahun kemudian, barisan di bagian ladang tersebut diperkuat sewaktu dua Siswa-Siswa Alkitab yang bergairah berimigrasi dari Skotlandia ke Durban, Afrika Selatan.

      Sayang sekali, di antara mereka yang memperoleh lektur yang ditulis oleh Saudara Russell dan kemudian mengajarkan sebagian darinya kepada orang-orang lain, terdapat beberapa orang, seperti Joseph Booth dan Elliott Kamwana, yang mencampurkan gagasan mereka sendiri ke dalamnya, yang dirancang untuk menghasut diadakannya perubahan sosial. Bagi beberapa pengamat di Afrika Selatan dan Nyasaland (belakangan Malawi), hal ini cenderung mengacaukan identitas dari Siswa-Siswa Alkitab yang sejati. Meskipun demikian, banyak orang mendengar dan menunjukkan penghargaan terhadap berita yang membawa perhatian kepada Kerajaan Allah sebagai pemecahan problem-problem umat manusia.

      Namun, mengenai memberitakan dengan luas di Afrika, hal ini masih akan terjadi di masa depan.

      Ke Negeri-Negeri Timur dan Pulau-Pulau di Pasifik

      Tidak lama sesudah publikasi-publikasi Alkitab yang dipersiapkan oleh C. T. Russell mula-mula menyebar di Inggris, publikasi-publikasi tersebut juga mencapai Negeri-Negeri Timur. Pada tahun 1883, Nona C. B. Downing, seorang misionaris Presbiter di Chefoo (Yantai), Cina, menerima sebuah majalah Watch Tower. Ia menghargai apa yang ia pelajari mengenai restitusi, dan meminjamkan lektur tersebut kepada beberapa misionaris lainnya, termasuk Horace Randle, yang bergabung dengan Dewan Misi Baptis. Belakangan minat Randle tergugah lebih jauh oleh sebuah iklan tentang Millennial Dawn yang muncul di Times, London, dan kemudian oleh buku-buku itu sendiri​—satu dari Nona Downing dan satu lagi dikirim oleh ibunya di Inggris. Mula-mula, ia terkejut akan apa yang dibacanya. Tetapi sekali ia diyakinkan bahwa Tritunggal bukanlah ajaran Alkitab, ia mengundurkan diri dari Gereja Baptis dan mulai menceritakan apa yang telah ia pelajari kepada misionaris-misionaris lainnya. Pada tahun 1900 ia melaporkan bahwa ia telah mengirimkan 2.324 pucuk surat dan sekitar 5.000 risalah kepada misionaris-misionaris di Cina, Jepang, Korea, dan Siam (Thailand). Pada waktu itu kesaksian di Negeri-Negeri Timur terutama diberikan kepada misionaris-misionaris Susunan Kristen.

      Selama jangka waktu yang sama tersebut, benih-benih kebenaran juga ditabur di Australia dan Selandia Baru. Yang pertama dari ”benih-benih” yang tiba di Australia ini mungkin dibawa ke sana pada tahun 1884 atau tidak lama sesudah itu oleh seorang pria yang mula-mula didekati oleh seorang Siswa-Siswa Alkitab di sebuah taman di Inggris. ”Benih-benih” lain datang melalui pos dari teman-teman dan sanak-saudara di luar negeri.

      Dalam beberapa tahun sesudah Persemakmuran Australia dibentuk pada tahun 1901, ratusan orang di sana berlangganan Watch Tower. Sebagai hasil dari kegiatan mereka yang menyadari hak istimewa untuk membagikan kebenaran kepada orang lain, ribuan risalah dikirimkan kepada orang-orang yang namanya terdapat dalam daftar pemilihan umum. Lebih banyak lagi yang disebarkan di jalan-jalan, dan tumpukan-tumpukan risalah itu dilemparkan dari jendela kereta api untuk para pekerja dan penghuni pondok-pondok yang terpencar-pencar di daerah terpencil sepanjang rel kereta api. Masyarakat diberi tahu mengenai akhir Zaman Orang Kafir yang mendekat pada tahun 1914. Arthur Williams, Sr., berbicara mengenai ini kepada semua pelanggan di tokonya di Australia Barat dan mengundang orang-orang yang berminat ke rumahnya untuk pembahasan lebih lanjut.

      Siapa yang pertama-tama mencapai Selandia Baru dengan kebenaran Alkitab tidak diketahui sekarang. Tetapi menjelang tahun 1898, Andrew Anderson, seorang penduduk di Selandia Baru, telah cukup banyak membaca publikasi-publikasi Watch Tower sehingga tergerak menyebarluaskan kebenaran di sana sebagai kolportir. Upayanya diperkuat pada tahun 1904 oleh kolportir-kolportir lain yang datang dari Amerika dan dari kantor cabang Lembaga yang didirikan pada tahun yang sama di Australia. Ny. Thomas Barry, di Christchurch, menerima enam jilid Studies in the Scriptures dari salah seorang kolportir. Putranya, Bill, membacanya pada tahun 1909 dalam perjalanan dengan kapal selama enam minggu ke Inggris dan menyadari kebenaran dari isinya. Bertahun-tahun kemudian Lloyd, putra Bill, menjadi anggota Badan Pimpinan Saksi-Saksi Yehuwa.

      Di antara pekerja-pekerja yang bergairah pada masa permulaan tersebut adalah Ed Nelson, yang walaupun agak kurang bijaksana, membaktikan sepenuh waktunya selama 50 tahun menyebarluaskan berita Kerajaan dari ujung utara Selandia Baru hingga selatan. Sesudah beberapa tahun, ia ditemani oleh Frank Grove, yang mengembangkan daya ingatnya guna mengimbangi penglihatan matanya yang kabur dan yang juga merintis selama lebih dari 50 tahun sampai kematiannya.

      Suatu Tur Dunia untuk Meningkatkan Pemberitaan Kabar Baik

      Upaya besar lebih lanjut dikerahkan pada tahun 1911-12 untuk membantu orang-orang di Negeri-Negeri Timur. International Bible Students Association (IBSA) mengutus suatu panitia terdiri dari tujuh orang, diketuai oleh C. T. Russell, untuk langsung meneliti kondisi di sana. Ke mana pun mereka pergi mereka berbicara tentang maksud-tujuan Allah untuk memberikan berkat-berkat kepada umat manusia melalui Kerajaan Mesias. Kadang-kadang hadirin mereka sedikit; namun di Filipina dan di India, ada ribuan. Mereka tidak mendukung kampanye yang pada waktu itu populer di Susunan Kristen yang mengumpulkan dana untuk mentobatkan dunia. Mereka mengamati bahwa sebagian besar upaya misionaris-misionaris Susunan Kristen dikerahkan untuk memajukan pendidikan duniawi. Tetapi Saudara Russell yakin bahwa apa yang dibutuhkan orang ialah ”Injil tentang persediaan Allah yang pengasih yakni Kerajaan Mesias yang akan datang”. Daripada berharap untuk mentobatkan dunia, Siswa-Siswa Alkitab memahami dari Alkitab bahwa apa yang perlu dilakukan pada waktu itu ialah memberikan kesaksian dan bahwa hal ini akan berfungsi sebagai pengumpulan ”kelompok kecil yang terpilih dari segala bangsa, penduduk, suku dan bahasa untuk menjadi anggota golongan Mempelai Perempuan [Kristus]​—untuk duduk bersama Dia di atas takhta-Nya selama seribu tahun, bekerja sama dalam pekerjaan mengangkat umat manusia secara keseluruhan.”a​—Why. 5:9, 10; 14:1-5.

      Sesudah menggunakan waktu di Jepang, Cina, Filipina, dan lokasi-lokasi lainnya, para anggota panitia melakukan perjalanan tambahan sejauh 6.400 kilometer di India. Beberapa orang yang tinggal di India telah membaca lektur Lembaga dan telah menulis surat untuk menyatakan penghargaan mereka akan hal itu sejak tahun 1887. Kesaksian aktif juga diberikan di kalangan orang-orang yang berbahasa Tamil sejak tahun 1905 oleh seorang pemuda yang, sebagai mahasiswa di Amerika, telah bertemu dengan Saudara Russell dan belajar kebenaran. Pemuda ini membantu terbentuknya sekitar 40 kelompok pengajaran Alkitab di sebelah selatan India. Tetapi setelah mengabar kepada orang lain, ia sendiri menjadi tercela karena meninggalkan standar-standar Kristen.​—Bandingkan 1 Korintus 9:26, 27.

      Akan tetapi, kira-kira pada waktu yang sama, A. J. Joseph, dari Travancore (Kerala), sebagai tanggapan atas pertanyaan yang ia kirimkan kepada seorang Adven yang terkemuka, mendapat kiriman sebuah jilid Studies in the Scriptures. Di sini ia menemukan jawaban-jawaban yang memuaskan dari Alkitab atas berbagai pertanyaannya tentang Tritunggal. Segera ia dan anggota keluarga lainnya menjelajahi daerah-daerah persawahan dan perkebunan kelapa di India bagian selatan untuk menceritakan kepercayaan yang baru mereka temukan. Sesudah kunjungan Saudara Russell pada tahun 1912, Saudara Joseph terjun dalam dinas sepenuh waktu. Dengan kereta api, pedati sapi, tongkang, dan berjalan kaki, ia melakukan perjalanan untuk menyebarkan lektur Alkitab. Pada waktu ia menyampaikan khotbah umum, acara ini sering diganggu oleh para pemimpin agama dan pengikut-pengikut mereka. Di Kundara, ketika seorang pemimpin agama ”Kristen” memperalat pengikut-pengikutnya untuk mengganggu perhimpunan seperti ini dan melemparkan kotoran hewan ke Saudara Joseph, seorang pria Hindu yang berpengaruh datang untuk melihat kegaduhan apa yang sedang terjadi. Ia bertanya kepada sang pemimpin agama, ’Apakah ini teladan yang diberikan oleh Kristus untuk diikuti oleh orang Kristen, atau apakah perbuatan Anda itu seperti tingkah laku orang-orang Farisi pada zaman Yesus?’ Sang pemimpin agama angkat kaki.

      Sebelum tur keliling dunia selama empat bulan oleh panitia IBSA itu selesai, Saudara Russell telah mengatur agar R. R. Hollister menjadi wakil Lembaga di Negeri-Negeri Timur dan melanjutkan menyebarluaskan berita mengenai persediaan Allah yang pengasih yakni Kerajaan Mesias kepada masyarakat di sana. Risalah-risalah khusus dipersiapkan dalam sepuluh bahasa, dan jutaan darinya disebarkan di seluruh India, Cina, Jepang, dan Korea oleh para penyebarnya yang pribumi. Kemudian buku-buku diterjemahkan ke dalam empat bahasa ini untuk menyediakan makanan rohani lebih lanjut bagi mereka yang menunjukkan minat. Daerah ini adalah ladang yang luas, dan masih banyak yang harus dikerjakan. Namun apa yang sejauh itu telah dicapai sungguh menakjubkan.

      Kesaksian yang Mengesankan Diberikan

      Sebelum kehancuran akibat perang dunia pertama melanda, kesaksian yang ekstensif telah diberikan di seluruh dunia. Saudara Russell telah mengadakan perjalanan untuk berkhotbah ke ratusan kota di Amerika Serikat dan Kanada, telah mengadakan perjalanan berkali-kali ke Eropa, telah berkhotbah di Panama, Jamaika, dan Kuba, juga di kota-kota utama di Negeri-Negeri Timur. Puluhan ribu orang telah mendengar secara pribadi khotbah-khotbah Alkitabnya yang menggerakkan dan telah mengamati cara ia di hadapan umum menjawab dari Alkitab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh kawan maupun lawan. Dengan demikian banyak minat dibangkitkan, dan ribuan surat kabar di Amerika, Eropa, Afrika Selatan, dan Australia secara teratur memuat khotbah-khotbah Saudara Russell. Jutaan buku, maupun ratusan juta risalah dan lektur lainnya dalam 35 bahasa, telah disebarkan oleh Siswa-Siswa Alkitab.

      Meskipun peranan Saudara Russell menonjol, bukan ia saja yang memberitakan. Yang lain juga, orang-orang yang tinggal terpencar di seluruh muka bumi, memadukan suara mereka sebagai saksi dari Yehuwa dan Putra-Nya, Yesus Kristus. Mereka yang ambil bagian tidak semuanya pembicara umum. Mereka berasal dari semua lapisan masyarakat, dan mereka menggunakan setiap sarana yang tepat yang ada pada mereka untuk menyebarkan kabar baik.

      Pada bulan Januari 1914, kurang dari setahun sebelum berakhirnya Zaman Orang Kafir, masih ada kesaksian intensif lain yang dilancarkan. Ini adalah ”Drama-Foto Penciptaan”, yang menandaskan maksud-tujuan Allah untuk bumi dengan cara baru. Ini dilakukan dengan pertunjukan slide berwarna yang dengan indah dilukis tangan, dan gambar bergerak yang disinkronkan dengan suara. Pers umum di Amerika Serikat melaporkan bahwa di seluruh negeri hadirin yang berjumlah ratusan ribu menontonnya setiap minggu. Menjelang akhir tahun pertama, jumlah hadirin di Amerika Serikat dan Kanada telah mencapai hampir delapan juta. Di London, Inggris, jumlah pengunjungnya melimpah ruah di Opera House dan Royal Albert Hall untuk melihat pertunjukan ini, yang terdiri dari empat bagian dan masing-masing lamanya dua jam. Dalam jangka waktu setengah tahun, lebih dari 1.226.000 orang telah hadir di 98 kota di Kepulauan Inggris. Para pengunjung di Jerman dan Swiss memadati gedung-gedung yang tersedia hingga penuh sesak. Pertunjukan ini juga disaksikan oleh banyak pengunjung di Skandinavia dan Pasifik Selatan.

      Betapa suatu kesaksian global, intensif, dan menakjubkan telah diberikan selama dekade-dekade awal dalam sejarah Saksi-Saksi Yehuwa zaman modern! Tetapi, sesungguhnya, pekerjaan itu baru mulai.

      Hanya beberapa ratus orang yang secara aktif ikut serta dalam penyebarluasan kebenaran Alkitab selama awal tahun 1880-an. Menjelang tahun 1914, menurut laporan yang ada, terdapat kira-kira 5.100 yang berpartisipasi dalam pekerjaan itu. Yang lain-lain mungkin sewaktu-waktu telah menyebarkan beberapa risalah. Pekerja-pekerja relatif sangat sedikit.

      Barisan kecil para penginjil ini, dengan berbagai cara, telah menyebarkan pengumuman mereka tentang Kerajaan Allah ke 68 negeri pada bagian akhir tahun 1914. Dan pekerjaan mereka sebagai pengabar dan pengajar Firman Allah telah ditegakkan secara cukup konsisten di 30 negeri di antaranya.

      Jutaan buku dan ratusan juta risalah telah disebarkan sebelum Zaman Orang Kafir berakhir. Selain itu, menjelang tahun 1913 sebanyak 2.000 surat kabar secara tetap tentu menerbitkan khotbah-khotbah yang dipersiapkan oleh C. T. Russell, dan pada tahun 1914 hadirin yang berjumlah lebih dari 9.000.000 orang di tiga benua melihat ”Drama-Foto Penciptaan”.

      Sungguh, suatu kesaksian yang menakjubkan telah diberikan! Tetapi ada lebih banyak lagi yang akan terjadi.

      [Catatan Kaki]

      a Laporan lengkap mengenai tur keliling dunia ini dimuat dalam The Watch Tower 15 April 1912.

      [Peta/Gambar di hlm. 405]

      C. T. Russell secara pribadi memberikan khotbah-khotbah Alkitab di lebih dari 300 kota (di daerah-daerah yang ditunjukkan dengan titik-titik) di Amerika Utara dan Karibia​—di banyak tempat di antaranya 10 atau 15 kali

      [Peta]

      (Lihat publikasinya)

      [Peta di hlm. 407]

      (Lihat publikasinya)

      Tur-tur pengabaran Russell ke Eropa, biasanya melalui Inggris

      1891

      1903

      1908

      1909

      1910 (dua kali)

      1911 (dua kali)

      1912 (dua kali)

      1913

      1914

      [Peta/Gambar di hlm. 408]

      Ketika ia yakin telah menemukan kebenaran, Andreas Øiseth dengan bergairah menyebarkan lektur Alkitab di hampir setiap bagian Norwegia

      [Peta]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      NORWEGIA

      Lingkar Kutub Utara

      [Peta/Gambar di hlm. 409]

      Adolf Weber, seorang tukang kebun yang rendah hati, menyebarkan kabar baik dari Swiss ke negeri-negeri lain di Eropa

      [Peta]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      BELGIA

      JERMAN

      SWISS

      ITALIA

      PRANCIS

      [Peta/Gambar di hlm. 413]

      Bellona Ferguson, di Brasil​—”tidak ada yang terlalu jauh untuk dijangkau”

      [Peta]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      BRASIL

      [Peta di hlm. 415]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      ALASKA

      KANADA

      GREENLAND

      ST. PIERRE & MIQUELON

      AMERIKA SERIKAT

      BERMUDA

      BAHAMA

      KEPULAUAN TURKS & KAIKOS

      KUBA

      MEKSIKO

      BELIZE

      JAMAIKA

      HAITI

      REPUBLIK DOMINIKA

      PUERTO RIKO

      KEPULAUAN CAYMAN

      GUATEMALA

      EL SALVADOR

      HONDURAS

      NIKARAGUA

      KOSTA RIKA

      PANAMA

      VENEZUELA

      GUYANA

      SURINAME

      GUIANA PRANCIS

      KOLOMBIA

      EKUADOR

      PERU

      BRASIL

      BOLIVIA

      PARAGUAY

      CILE

      ARGENTINA

      URUGUAY

      KEPULAUAN FALKLAND

      KEPULAUAN VIRGIN (AS)

      KEPULAUAN VIRGIN (INGGRIS)

      ANGUILA

      ST. MAARTEN

      SABA

      ST. EUSTATIUS

      ST. KITTS

      NEVIS

      ANTIGUA

      MONTSERRAT

      GUADELOUPE

      DOMINIKA

      MARTINIK

      ST. LUCIA

      ST. VINCENT

      BARBADOS

      GRENADA

      TRINIDAD

      ARUBA

      BONAIRE

      CURAÇAO

      SAMUDRA ATLANTIK

      LAUT KARIBIA

      SAMUDRA PASIFIK

      [Peta di hlm. 416, 417]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      GREENLAND

      SWEDIA

      ISLANDIA

      NORWEGIA

      KEPULAUAN FAEROE

      FINLANDIA

      RUSIA

      ESTONIA

      LATVIA

      LITUANIA

      BELARUS

      UKRAINA

      MOLDOVIA

      GEORGIA

      ARMENIA

      AZERBAIJAN

      TURKMENISTAN

      UZBEKISTAN

      KAZAKSTAN

      TAJIKISTAN

      KIRGHIZIA

      POLANDIA

      JERMAN

      BELANDA

      DENMARK

      INGGRIS

      IRLANDIA

      BELGIA

      LUKSEMBURG

      LIECHTENSTEIN

      SWISS

      CEKOSLOWAKIA

      AUSTRIA

      HONGARIA

      ROMANIA

      YUGOSLAVIA

      SLOVENIA

      KROATIA

      BOSNIA & HERCEGOVINA

      BULGARIA

      ALBANIA

      ITALIA

      GIBRALTAR

      SPANYOL

      PORTUGAL

      MADEIRA

      MAROKO

      SAHARA BARAT

      SENEGAL

      ALJAZAIR

      LIBIA

      MESIR

      LEBANON

      ISRAEL

      SIPRUS

      SURIAH

      TURKI

      IRAK

      IRAN

      BAHRAIN

      KUWAIT

      YORDANIA

      SAUDI ARABIA

      QATAR

      PERSATUAN EMIRAT ARAB

      OMAN

      YAMAN

      JIBUTI

      SOMALIA

      ETIOPIA

      SUDAN

      CAD

      NIGER

      MALI

      MAURITANIA

      GAMBIA

      GUINEA-BISSAU

      SIERRA LEONE

      LIBERIA

      PANTAI GADING

      GHANA

      TOGO

      BENIN

      GUINEA EKUATORIAL

      ST. HELENA

      GUINEA

      BURKINA FASO

      NIGERIA

      REPUBLIK AFRIKA TENGAH

      KAMERUN

      SÃO TOMÉ

      KONGO

      GABON

      ZAIRE

      ANGOLA

      ZAMBIA

      NAMIBIA

      BOTSWANA

      AFRIKA SELATAN

      LESOTHO

      SWAZILAND

      MOZAMBIK

      MADAGASKAR

      RÉUNION

      MAURITIUS

      RODRIGUES

      ZIMBABWE

      MAYOTTE

      KOMORO

      SEYCHELLES

      MALAWI

      TANZANIA

      BURUNDI

      RWANDA

      UGANDA

      PRANCIS

      PAKISTAN

      AFGHANISTAN

      NEPAL

      BHUTAN

      MYANMAR

      BANGLADESH

      INDIA

      SRI LANKA

      YUNANI

      MALTA

      TUNISIA

      KENYA

      SAMUDRA ATLANTIK

      SAMUDRA INDIA

      ALASKA

      MONGOLIA

      REPUBLIK RAKYAT DEMOKRASI KOREA

      JEPANG

      REPUBLIK KOREA

      CINA

      MAKAO

      TAIWAN

      HONG KONG

      LAOS

      THAILAND

      VIETNAM

      KAMBOJA

      FILIPINA

      BRUNEI

      MALAYSIA

      SINGAPURA

      INDONESIA

      SAIPAN

      ROTA

      GUAM

      YAP

      BELAU

      CHUUK

      POHNPEI

      KOSRAE

      KEPULAUAN MARSHALL

      NAURU

      PAPUA NUGINI

      AUSTRALIA

      SELANDIA BARU

      PULAU NORFOLK

      KALEDONIA BARU

      KEPULAUAN WALLIS & FUTUNA

      VANUATU

      TUVALU

      FIJI

      KIRIBATI

      TOKELAU

      HAWAII

      SAMOA BARAT

      SAMOA AMERIKA

      NIUE

      TONGA

      KEPULAUAN COOK

      TAHITI

      KEPULAUAN SOLOMON

      SAMUDRA PASIFIK

      SAMUDRA INDIA

      [Peta/Gambar di hlm. 421]

      A. J. Joseph, dari India, dengan putrinya Gracie, yang melayani sebagai seorang utusan injil keluaran Sekolah Gilead

      [Peta]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      INDIA

      [Gambar di hlm. 411]

      Hermann Herkendell, bersama dengan mempelai perempuannya, mengadakan perjalanan bulan madu selama berbulan-bulan untuk mengabar kepada orang berbahasa Jerman di Rusia

      [Gambar di hlm. 412]

      Para kolportir di Inggris dan Skotlandia berupaya memberi kesempatan kepada setiap orang untuk menerima kesaksian; bahkan anak-anak mereka membantu dalam penyebaran risalah

      [Gambar di hlm. 414]

      E. J. Coward dengan bergairah menyebarkan kebenaran Alkitab di daerah Karibia

      [Gambar di hlm. 418]

      Frank Grove (kiri) dan Ed Nelson (di sini tampak bersama istri mereka) masing-masing membaktikan lebih dari 50 tahun untuk menyebarkan berita Kerajaan sepenuh waktu di seluruh Selandia Baru

      [Gambar di hlm. 420]

      C. T. Russell dan enam rekannya berkeliling dunia pada tahun 1911-12 untuk memajukan pemberitaan kabar baik

  • Bagian 2​—Saksi-Saksi ke Bagian yang Paling Jauh di Bumi
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 22

      Bagian 2​—Saksi-Saksi ke Bagian yang Paling Jauh di Bumi

      Pekerjaan pemberitaan Kerajaan dari tahun 1914 sampai 1935 diliput di halaman 423 hingga 443. Saksi-Saksi Yehuwa menunjuk ke tahun 1914 sebagai saat ditakhtakannya Yesus Kristus sebagai Raja surgawi dengan kuasa atas bangsa-bangsa. Ketika berada di bumi, Yesus menubuatkan bahwa suatu pengabaran global mengenai berita Kerajaan yang menghadapi penindasan hebat akan menjadi bagian dari tanda kehadirannya dalam kuasa Kerajaan. Apa yang sesungguhnya terjadi selama tahun-tahun setelah 1914?

      PERANG dunia pertama dengan cepat berkecamuk di Eropa pada tahun 1914. Kemudian ia menyebar dan melibatkan negara-negara yang diperkirakan mencakup 90 persen dari penduduk dunia. Bagaimana peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan perang tersebut mempengaruhi kegiatan pengabaran dari hamba-hamba Yehuwa?

      Tahun-Tahun Suram Selama Perang Dunia I

      Selama tahun-tahun awal perang, tidak banyak rintangan kecuali di Jerman dan Prancis. Risalah disebarkan dengan bebas di banyak tempat, dan ”Drama-Foto” dapat terus dipertunjukkan, meskipun dalam skala yang jauh lebih terbatas sesudah tahun 1914. Seraya demam perang meningkat, kaum pemimpin agama di Hindia Barat Inggris menyebarkan kabar angin bahwa E. J. Coward, yang mewakili Lembaga Menara Pengawal, adalah seorang mata-mata Jerman, maka ia diperintahkan untuk meninggalkan negeri itu. Sewaktu buku The Finished Mystery mulai disebarkan pada tahun 1917, tentangan semakin meluas.

      Masyarakat ingin sekali memperoleh buku tersebut. Pesanan pertama Lembaga untuk mesin-mesin cetak terpaksa harus ditingkatkan lebih dari sepuluh kali hanya dalam beberapa bulan. Tetapi para pemimpin agama Susunan Kristen menjadi marah sekali karena doktrin-doktrin palsu mereka ditelanjangi. Mereka memanfaatkan histeria masa perang untuk mengadukan Siswa-Siswa Alkitab kepada pejabat-pejabat pemerintah. Di seluruh Amerika Serikat, pria dan wanita yang dikenal sebagai penyebar lektur dari Siswa-Siswa Alkitab diserang oleh gerombolan, juga disiram dengan ter dan ditempeli bulu-bulu burung. Di Kanada, rumah-rumah digeledah, dan orang-orang yang kedapatan mempunyai publikasi-publikasi tertentu dari International Bible Students Association dikenakan denda yang berat atau dipenjarakan. Akan tetapi, Thomas J. Sullivan, yang waktu itu berada di Port Arthur, Ontario, melaporkan bahwa pada satu kesempatan, sewaktu ia dipenjarakan selama semalam, polisi di kota itu membawa pulang lektur yang dilarang itu untuk diri mereka sendiri dan kawan-kawan mereka, dengan demikian membagikan seluruh persediaan yang ada​—sekitar 500 atau 600 eksemplar.

      Kantor pusat Lembaga Menara Pengawal sendiri menjadi sasaran serangan, dan anggota dari staf pengurus dijatuhi hukuman penjara yang panjang. Musuh-musuh mereka mengira bahwa Siswa-Siswa Alkitab sudah tamat riwayatnya. Cara mereka memberi kesaksian yang menarik perhatian luas dari masyarakat nyaris terhenti.

      Meskipun demikian, bahkan Siswa-Siswa Alkitab yang meringkuk dalam penjara menemukan kesempatan untuk berbicara kepada sesama tahanan tentang maksud-tujuan Allah. Ketika para pejabat Lembaga dan rekan-rekan dekat mereka tiba di penjara di Atlanta, Georgia, mereka mula-mula dilarang untuk mengabar. Tetapi mereka membahas Alkitab di antara mereka, dan orang-orang lain tertarik pada mereka karena tingkah laku mereka, cara hidup mereka. Sesudah beberapa bulan, wakil sipir penjara menugaskan mereka untuk memberikan pengajaran agama kepada tahanan lainnya. Jumlahnya meningkat hingga sekitar 90 orang yang menghadiri pelajaran.

      Orang-orang Kristen lain yang loyal juga menemukan cara-cara untuk memberi kesaksian selama tahun-tahun perang tersebut. Kadang-kadang hal ini menghasilkan penyebaran berita Kerajaan ke negeri-negeri yang belum mendapat pemberitaan kabar baik. Maka pada tahun 1915, seorang Siswa Alkitab di New York yang berasal dari Kolombia, Amerika Selatan, mengirimkan The Divine Plan of the Ages edisi Spanyol melalui pos kepada seorang pria di Bogotá, Kolombia. Sesudah kira-kira enam bulan, jawaban datang dari Ramón Salgar. Ia telah mempelajari buku itu dengan teliti, sangat menyukainya, dan menginginkan 200 eksemplar untuk dibagikan kepada orang lain. Saudara J. L. Mayer, dari Brooklyn, New York, juga mengirimkan banyak buku dari Bible Students Monthly berbahasa Spanyol. Cukup banyak lektur ini dikirim ke Spanyol. Dan sewaktu Alfred Joseph, yang pada waktu itu ada di Barbados, mengadakan kontrak kerja di Sierra Leone, Afrika Barat, ia menggunakan kesempatan untuk memberi kesaksian di sana tentang kebenaran-kebenaran Alkitab yang belum lama dipelajarinya.

      Bagi para kolportir, yang pelayanannya mencakup kunjungan ke rumah-rumah dan tempat-tempat bisnis, sering kali lebih sulit. Tetapi beberapa yang pergi ke El Salvador, Honduras dan Guatemala pada tahun 1916 sibuk membagikan kebenaran yang membawa kehidupan kepada orang-orang di sana. Selama masa ini Fanny Mackenzie, seorang kolportir berkebangsaan Inggris, dua kali mengadakan perjalanan ke Negeri-Negeri Timur naik kapal, berhenti di Cina, Jepang, dan Korea untuk menyebarkan lektur Alkitab, dan kemudian ia membantu para peminat dengan menulis surat.

      Meskipun demikian, menurut catatan yang ada, jumlah Siswa-Siswa Alkitab yang dilaporkan mengambil bagian tertentu dalam pemberitaan kabar baik kepada orang lain selama tahun 1918, berkurang 20 persen di seluruh dunia bila dibandingkan dengan laporan tahun 1914. Sesudah perlakuan kejam selama tahun-tahun perang, apakah mereka akan tetap bertahan dalam pelayanan mereka?

      Digairahkan Dengan Semangat Hidup yang Baru

      Pada tanggal 26 Maret 1919, presiden Lembaga Menara Pengawal dan rekan-rekannya dibebaskan dari pemenjaraan mereka yang tidak adil. Rencana segera disusun untuk bergerak maju dengan pemberitaan kabar baik tentang Kerajaan Allah di seluas dunia.

      Pada suatu kebaktian umum di Cedar Point, Ohio, bulan September tahun itu, J. F. Rutherford, yang pada waktu itu adalah presiden Lembaga, menyampaikan khotbah yang menonjolkan diumumkannya kedatangan yang mulia dari Kerajaan Mesias Allah sebagai pekerjaan yang sungguh penting bagi hamba-hamba Yehuwa.

      Akan tetapi, jumlah mereka yang benar-benar ikut serta dalam pekerjaan tersebut pada waktu itu hanya sedikit. Beberapa yang telah menahan diri karena takut selama tahun 1918 menjadi aktif kembali, dan beberapa lagi bergabung dengan barisan mereka. Namun catatan yang ada memperlihatkan bahwa pada tahun 1919, hanya ada sekitar 5.700 orang yang secara aktif memberi kesaksian di 43 negeri. Namun Yesus menubuatkan, ”Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh bumi yang berpenduduk menjadi kesaksian bagi semua bangsa.” (Mat. 24:14, NW) Bagaimana hal itu dapat dilaksanakan? Mereka tidak tahu, dan mereka juga tidak tahu berapa lama kesaksian itu akan berlangsung. Meskipun demikian, mereka yang adalah hamba-hamba Allah yang loyal, bersedia dan ingin sekali meneruskan pekerjaan itu. Mereka yakin bahwa Yehuwa akan memberi bimbingan selaras dengan kehendak-Nya.

      Digairahkan oleh pekerjaan yang mereka lihat telah digariskan dalam Firman Allah, mereka mulai bekerja. Dalam tiga tahun, jumlah yang ambil bagian dalam memberitakan Kerajaan Allah di muka umum meningkat hampir tiga kali lipat, menurut laporan yang ada, dan selama tahun 1922 mereka sibuk mengabar di 15 negeri lebih banyak daripada tahun 1919.

      Topik yang Membangkitkan Minat

      Betapa menggetarkan hati berita yang mereka umumkan​—”Jutaan orang yang sekarang hidup tidak akan pernah mati!” Saudara Rutherford telah menyampaikan sebuah khotbah mengenai topik ini pada tahun 1918. Itu juga merupakan judul dari sebuah buku kecil dengan 128 halaman yang terbit pada tahun 1920. Dari tahun 1920 hingga 1925, topik yang sama itu digemakan kembali berkali-kali di seluruh dunia dalam perhimpunan umum di semua daerah yang dapat menyediakan pembicara dan dalam lebih dari 30 bahasa. Sebaliknya daripada mengatakan, seperti yang Susunan Kristen lakukan, bahwa semua orang yang baik pergi ke surga, khotbah ini memusatkan perhatian kepada harapan yang berdasarkan Alkitab, tentang kehidupan kekal di bumi firdaus bagi umat manusia yang taat. (Yes. 45:18; Why. 21:​1-5) Dan khotbah itu menyatakan keyakinan bahwa waktu untuk terwujudnya harapan tersebut sudah sangat dekat.

      Iklan-iklan surat kabar dan papan reklame digunakan untuk mengiklankan khotbah. Topiknya membangkitkan minat. Pada tanggal 26 Februari 1922, lebih dari 70.000 orang hadir di 121 lokasi di Jerman saja. Bukan hal yang luar biasa jika di satu tempat hadirinnya berjumlah ribuan. Di Cape Town, Afrika Selatan, misalnya, ada 2.000 orang hadir ketika khotbah disampaikan di Opera House. Di auditorium universitas di ibu kota Norwegia, tidak hanya setiap tempat duduk terisi tetapi begitu banyak orang ditolak sehingga acaranya harus diulang satu setengah jam kemudian​—sekali lagi kepada hadirin di gedung yang penuh sesak.

      Di Klagenfurt, Austria, Richard Heide berkata kepada ayahnya, ”Saya akan pergi mendengar khotbah itu apa pun kata orang. Aku ingin tahu apakah ini hanya omong kosong atau ada sesuatu kebenaran di dalamnya!” Ia sangat tergerak oleh apa yang didengarnya, dan segera ia dan saudara perempuannya, beserta orang-tua mereka, menceritakannya kepada orang lain.

      Akan tetapi berita Alkitab bukan hanya untuk orang yang menghadiri khotbah umum. Orang lain juga perlu diberi tahu tentang hal itu. Bukan hanya masyarakat secara keseluruhan melainkan juga para pemimpin politik dan agama perlu mendengarnya. Bagaimana hal itu dapat terlaksana?

      Penyebaran Deklarasi-Deklarasi yang Penuh Kuasa

      Media cetak digunakan untuk mencapai jutaan orang yang sebelumnya hanya mengetahui Siswa-Siswa Alkitab dan berita yang mereka umumkan dari kabar angin. Dari tahun 1922 hingga 1928, kesaksian yang efektif diberikan dengan perantaraan tujuh deklarasi yang penuh kuasa, resolusi-resolusi yang diambil pada kebaktian tahunan Siswa-Siswa Alkitab. Banyaknya masing-masing resolusi yang tercetak dan disebarkan seusai kebaktian-kebaktian tersebut berjumlah 45 hingga 50 juta eksemplar​—suatu prestasi yang sungguh luar biasa untuk barisan kecil pemberita Kerajaan yang melayani pada waktu itu!

      Resolusi tahun 1922 berjudul ”Suatu Tantangan Kepada Para Pemimpin Dunia”​—ya, suatu tantangan agar mereka membuktikan klaim mereka bahwa mereka dapat menegakkan perdamaian, kemakmuran, dan kebahagiaan bagi umat manusia atau, jika gagal, agar mengakui bahwa hanya Kerajaan Allah dengan Mesias-Nya yang dapat melaksanakan hal-hal ini. Di Jerman, resolusi tersebut dikirim melalui pos tercatat kepada kaisar Jerman yang diasingkan, kepada presiden, dan kepada semua anggota Parlemen Kekaisaran; dan kira-kira empat setengah juta eksemplar disampaikan kepada masyarakat umum. Di Afrika Selatan, Edwin Scott, dengan membawa lektur itu dalam tas di punggungnya dan dengan memegang tongkat di tangannya untuk menghalau anjing-anjing yang ganas, mengerjakan 64 kota, dan dia sendiri menyebarkan 50.000 eksemplar. Sesudah itu, sewaktu para pemimpin agama berkebangsaan Belanda di Afrika Selatan mengunjungi rumah-rumah para anggota gereja untuk mengumpulkan kolekte, banyak di antara anggota gereja melambaikan resolusi itu di muka pemimpin agama mereka dan berkata, ”Anda harus membaca ini dan Anda tidak akan datang-datang lagi untuk mendapatkan uang dari kami.”

      Pada tahun 1924, resolusi berjudul ”Kependetaan Didakwa” menyingkapkan ajaran-ajaran dan praktek-praktek para pemimpin agama yang tidak berdasarkan Alkitab, menelanjangi peranan mereka selama perang dunia, dan mendesak orang-orang agar belajar Alkitab untuk mengetahui sendiri persediaan-persediaan menakjubkan dari Allah demi pemberkatan umat manusia. Di Italia pada waktu itu, orang-orang yang mencetak diwajibkan untuk membubuhkan nama mereka pada apa pun yang mereka cetak, dan mereka dianggap bertanggung jawab atas isinya. Siswa Alkitab yang mengawasi pekerjaan ini di Italia menyampaikan sebuah salinan resolusi kepada kalangan berwenang pemerintah, yang memeriksanya dan segera memberikan izin untuk mencetak dan menyebarkannya. Orang-orang yang mencetak juga setuju untuk menerbitkannya. Saudara-saudara di Italia menyebarkan 100.000 eksemplar. Mereka khususnya berupaya agar paus dan pejabat-pejabat tinggi lain Vatikan masing-masing menerima satu eksemplar.

      Di Prancis, penyebaran resolusi ini menimbulkan reaksi yang sengit dan sering kali disertai kekerasan dari pihak kaum pemimpin agama. Dalam kemarahan, seorang pemimpin agama di Pomerania, Jerman, menggugat Lembaga dan pengelolanya ke pengadilan, tetapi sang pemimpin agama kalah dalam perkara itu ketika pihak pengadilan mendengarkan isi seluruh resolusi itu. Untuk menghindari diganggunya pekerjaan mereka oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan orang-orang mengetahui kebenaran, Siswa-Siswa Alkitab di propinsi Quebec, Kanada, meninggalkan resolusi di rumah-rumah orang pada dini hari, mulai pukul 3.00 pagi. Masa itu merupakan masa yang menggembirakan!

      Menunjukkan Penghargaan Atas Jawaban-Jawaban yang Memuaskan

      Selama Perang Dunia I, banyak orang Armenia dengan kejam diusir dari rumah mereka dan tanah kelahiran mereka. Baru dua dekade sebelumnya, ratusan ribu orang Armenia dibantai, dan yang lain lari menyelamatkan diri. Beberapa dari orang-orang ini telah membaca publikasi Lembaga Menara Pengawal di tanah air mereka. Tetapi jauh lebih banyak di antara mereka menerima kesaksian di negeri-negeri tempat mereka pergi sebagai pengungsi.

      Sesudah pengalaman kejam yang mereka derita, banyak yang memiliki pertanyaan serius mengapa Allah membiarkan kejahatan. Berapa lama hal itu akan berlangsung? Kapan itu akan berakhir? Beberapa di antara mereka bersyukur dapat mempelajari jawaban-jawaban memuaskan yang terdapat dalam Alkitab. Kelompok-kelompok dari Siswa-Siswa Alkitab Armenia dengan cepat berkembang di berbagai kota di Timur Tengah. Gairah mereka akan kebenaran Alkitab mempengaruhi kehidupan orang-orang lain. Di Etiopia, Argentina, dan Amerika Serikat, sesama orang Armenia menerima kabar baik dan dengan senang hati menerima tanggung jawab untuk membagikannya kepada orang lain. Salah seorang di antaranya adalah Krikor Hatzakortzian, yang sebagai satu-satunya perintis menyebarkan berita Kerajaan di Etiopia pada pertengahan tahun 1930-an. Pada suatu kesempatan, ketika dituduh secara palsu oleh para penentangnya, ia bahkan mendapat kesempatan untuk memberi kesaksian kepada sang kaisar, Haile Selassie.

      Membawa Kembali Kebenaran yang Berharga ke Negeri Asal Mereka

      Hasrat yang menyala-nyala untuk membagikan kebenaran Alkitab yang penting menggerakkan banyak orang kembali ke negeri kelahiran mereka untuk ikut serta dalam penginjilan. Sambutan mereka sama seperti orang-orang dari banyak negeri yang berada di Yerusalem pada tahun 33 M dan menjadi percaya ketika roh kudus menggerakkan para rasul dan rekan-rekan mereka untuk berbicara dalam banyak bahasa ”tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah”. (Kis. 2:​1-11) Sebagaimana orang-orang yang percaya pada abad pertama itu membawa pulang kebenaran ke tanah air mereka, begitu pula murid-murid pada zaman modern ini.

      Baik pria maupun wanita yang telah belajar kebenaran di luar negeri kembali ke Italia. Mereka datang dari Amerika, Belgia, dan Prancis dan dengan bergairah mengumumkan berita Kerajaan di tempat mereka menetap. Para kolportir dari Ticino, wilayah Swiss yang berbahasa Italia juga pindah ke Italia untuk meneruskan pekerjaan mereka. Walaupun jumlah mereka sedikit, sebagai hasil kegiatan mereka yang terpadu mereka segera menjangkau hampir semua kota utama dan banyak desa di Italia. Mereka tidak menghitung waktu yang mereka gunakan dalam pekerjaan ini. Karena yakin bahwa mereka memberitakan kebenaran yang Allah inginkan orang-orang ketahui, mereka sering bekerja dari pagi hingga malam untuk mencapai sebanyak mungkin orang.

      Orang-orang Yunani yang telah menjadi Siswa-Siswa Alkitab di negeri yang dekat Albania dan di negeri sejauh Amerika juga memberikan perhatian ke tanah air mereka. Hati mereka tergetar ketika mengetahui bahwa ibadat kepada patung atau ikon tidak sesuai dengan Alkitab (Kel. 20:​4, 5; 1 Yoh. 5:21), bahwa pedosa-pedosa tidak dipanggang dalam api neraka (Pkh. 9:​5, 10; Yeh. 18:4; Why. 21:8), dan bahwa Kerajaan Allah adalah satu-satunya harapan umat manusia yang sejati (Dan. 2:44; Mat. 6:​9, 10). Mereka ingin sekali membagikan kebenaran ini kepada sesama bangsa mereka​—secara pribadi atau melalui surat. Sebagai hasilnya, kelompok-kelompok Saksi-Saksi Yehuwa mulai berkembang di Yunani dan di pulau-pulau Yunani.

      Sesudah Perang Dunia I, ribuan orang dari Polandia pindah ke Prancis untuk bekerja di tambang-tambang batubara. Sidang-sidang di Prancis tidak melewatkan mereka karena mereka berbicara bahasa yang berbeda. Mereka menemukan cara untuk membagikan kebenaran Alkitab kepada buruh-buruh tambang ini dan keluarga-keluarga mereka, dan jumlah yang memberi tanggapan yang baik segera melebihi jumlah Saksi-Saksi Prancis. Ketika suatu perintah deportasi dari pemerintah mengakibatkan 280 orang harus kembali ke Polandia pada tahun 1935, hal ini hanya memperkuat penyebaran berita Kerajaan di sana. Maka, pada tahun 1935, ada 1.090 pemberita Kerajaan yang ikut memberikan kesaksian di Polandia.

      Yang lain-lain menyambut undangan untuk meninggalkan tanah air mereka untuk terjun dalam dinas di ladang luar negeri.

      Penginjil-Penginjil Eropa yang Bergairah Membantu di Ladang-Ladang Luar Negeri

      Dengan kerja sama internasional, Negara-Negara Baltik (Estonia, Latvia, dan Lituania) mendengar kebenaran yang menghangatkan hati tentang Kerajaan Allah. Selama tahun 1920-an dan 1930-an, saudara-saudara dan saudari-saudari yang bergairah dari Denmark, Inggris, Finlandia, dan Jerman melakukan pekerjaan kesaksian yang ekstensif di kawasan ini. Banyak lektur ditempatkan, dan ribuan orang mendengar khotbah-khotbah Alkitab yang disampaikan. Dari Estonia siaran radio yang tetap tentu mengudarakan acara-acara Alkitab dalam beberapa bahasa menjangkau bahkan apa yang pada waktu itu adalah Uni Soviet.

      Dari Jerman pekerja-pekerja yang rela selama tahun 1920-an dan 1930-an menerima penugasan di tempat-tempat seperti Austria, Belgia, Bulgaria, Cekoslowakia, Prancis, Luksemburg, Belanda, Spanyol, dan Yugoslavia. Willy Unglaube ada di antara mereka. Setelah melayani selama beberapa waktu di Betel Magdeburg, di Jerman, ia terus melaksanakan penugasan sebagai penginjil sepenuh waktu di Prancis, Aljazair, Spanyol, Singapura, Malaysia, dan Thailand.

      Ketika ada permintaan bantuan dari Prancis selama tahun 1930-an, kolportir-kolportir dari Inggris memberikan bukti akan kesadaran mereka bahwa penugasan Kristen untuk mengabar menuntut bukan saja penginjilan di negeri sendiri melainkan juga di bagian-bagian lain di bumi. (Mrk. 13:10) John Cooke adalah salah seorang pekerja yang bergairah yang menyambut panggilan Makedonia. (Bandingkan Kisah 16:​9, 10.) Selama enam dekade berikut, ia melaksanakan penugasan dinas di Prancis, Spanyol, Irlandia, Portugal, Angola, Mozambik, dan Afrika Selatan. Saudaranya Eric meninggalkan pekerjaannya di Barclay’s Bank dan bergabung dengan John dalam pelayanan sepenuh waktu di Prancis; kemudian, ia juga melayani di Spanyol dan Irlandia dan ikut serta dalam pekerjaan utusan injil di Rhodesia Selatan (kini Zimbabwe) dan Afrika Selatan.

      Pada bulan Mei 1926, George Wright dan Edwin Skinner, di Inggris, menerima undangan untuk membantu perluasan pekerjaan Kerajaan di India. Tugas mereka adalah tugas raksasa! Itu menjangkau seluruh Afganistan, Birma (kini Myanmar), Sailan (kini Sri Lanka), India, dan Parsi (kini Iran). Setibanya di Bombay, mereka disambut oleh musim hujan. Akan tetapi, karena tidak terlalu mementingkan kenyamanan atau kemudahan pribadi, mereka segera melakukan perjalanan ke tempat-tempat terpencil di negeri itu untuk mencari Siswa-Siswa Alkitab yang diketahui dan menganjurkan mereka. Mereka juga menempatkan banyak sekali lektur untuk menggerakkan minat di antara orang-orang lain. Pekerjaan dilakukan secara intensif. Maka, selama tahun 1928 ke-54 pemberita Kerajaan di Travancore (Kerala), di India bagian selatan, menyelenggarakan 550 perhimpunan umum yang dihadiri oleh kira-kira 40.000 orang. Pada tahun 1929, empat orang perintis lagi dari ladang Inggris pindah ke India untuk membantu pekerjaan. Dan pada tahun 1931, tiga orang lagi dari Inggris tiba di Bombay. Berkali-kali mereka berupaya menjangkau berbagai tempat di negeri yang luas ini, menyebarkan lektur bukan saja dalam bahasa Inggris melainkan juga dalam bahasa-bahasa India.

      Sementara itu, apa yang terjadi di Eropa Timur?

      Suatu Tuaian Rohani

      Sebelum perang dunia pertama, benih-benih kebenaran Alkitab telah disebarkan di Eropa Timur, dan beberapa telah mulai berakar. Pada tahun 1908, Andrásné Benedek, seorang wanita Hongaria yang rendah hati, telah kembali ke Austria-Hongaria, untuk membagikan kepada orang lain perkara-perkara baik yang telah dipelajarinya. Dua tahun kemudian, Károly Szabó dan József Kiss juga pulang ke negeri tersebut dan menyebarluaskan kebenaran Alkitab di daerah yang belakangan dikenal sebagai Romania dan Cekoslowakia. Meskipun adanya tentangan yang disertai kekerasan dari kaum pemimpin agama yang marah sekali, kelompok-kelompok pengajaran dibentuk, dan kesaksian yang ekstensif dilakukan. Yang lain-lain bergabung dengan mereka dalam menyatakan iman di depan umum, dan sampai tahun 1935 barisan pemberita Kerajaan di Hongaria bertumbuh menjadi 348 orang.

      Luas Romania hampir berlipat ganda sewaktu peta Eropa diubah oleh pihak yang menang sesudah Perang Dunia I. Dilaporkan bahwa di negeri yang diperluas ini, pada tahun 1920 terdapat kira-kira 150 kelompok Siswa-Siswa Alkitab, dengan 1.700 orang tergabung di dalamnya. Tahun berikutnya, pada perayaan Perjamuan Malam Tuhan, hampir 2.000 orang ambil bagian dari lambang-lambang Peringatan, yang menunjukkan bahwa mereka mengaku diri saudara-saudara Kristus yang diurapi dengan roh. Jumlah tersebut meningkat secara dramatis selama empat tahun berikutnya. Pada tahun 1925, ada 4.185 orang yang hadir pada Peringatan itu, dan sebagaimana biasa pada waktu itu, kebanyakan di antara mereka pasti ambil bagian dari lambang-lambangnya. Akan tetapi, iman mereka semua akan diuji. Apakah mereka terbukti sebagai ”gandum” yang asli, atau hanya tiruan? (Mat. 13:​24-30, 36-43) Apakah mereka benar-benar melakukan pekerjaan kesaksian yang ditugaskan oleh Yesus kepada para pengikutnya? Apakah mereka bertekun dalam pekerjaan tersebut di bawah tentangan yang hebat? Apakah mereka akan setia bahkan bilamana yang lain-lain memperlihatkan semangat seperti Yudas Iskariot?

      Laporan untuk tahun 1935 menyatakan bahwa tidak semua memiliki jenis iman yang membuat mereka bertekun. Pada tahun tersebut, hanya ada 1.188 yang ambil bagian tertentu dalam memberikan kesaksian di Romania, walaupun lebih dari dua kali jumlah tersebut pada waktu itu ambil bagian dari lambang-lambang Peringatan. Meskipun demikian, mereka yang setia tetap sibuk dalam dinas sang Majikan. Mereka membagikan kepada orang lain yang rendah hati kebenaran Alkitab yang membawa sukacita demikian ke dalam hati mereka sendiri. Salah satu cara menonjol yang mereka lakukan dalam hal ini ialah dengan menyebarkan lektur. Antara tahun 1924 dan 1935, mereka telah menempatkan kepada orang-orang yang berminat lebih dari 800.000 buku dan buku kecil, selain risalah.

      Bagaimana dengan Cekoslowakia, yang telah menjadi suatu bangsa pada tahun 1918 sesudah jatuhnya Kekaisaran Austria-Hongaria? Di sini kesaksian yang bahkan lebih intensif membantu penuaian rohani. Pengabaran telah dilakukan lebih awal di Hongaria, Rusia, Romania, dan Jerman. Kemudian, pada tahun 1922, beberapa Siswa Alkitab kembali dari Amerika untuk mengarahkan perhatian kepada penduduk yang berbahasa Slowakia, dan tahun berikutnya sepasang suami-istri dari Jerman mulai berkonsentrasi di daerah Ceko. Kebaktian yang tetap tentu, walaupun kecil, membantu menganjurkan dan mempersatukan saudara-saudara. Setelah sidang-sidang menjadi lebih terorganisasi untuk penginjilan dari rumah ke rumah pada tahun 1927, pertumbuhan menjadi lebih jelas. Pada tahun 1932, satu dorongan kuat kepada pekerjaan diberikan oleh suatu kebaktian internasional di Praha, yang dihadiri oleh kira-kira 1.500 orang dari Cekoslowakia dan negeri-negeri tetangga. Selain ini, sejumlah besar hadirin menyaksikan ”Drama-Foto Penciptaan” versi empat jam yang dipertunjukkan dari ujung ke ujung negeri itu. Dalam jangka waktu hanya satu dekade, lebih dari 2.700.000 lektur Alkitab disebarkan kepada berbagai kelompok bahasa dalam negeri ini. Semua penanaman, pemeliharaan, dan penyiraman secara rohani ini menyumbang kepada tuaian yang didukung oleh 1.198 pemberita Kerajaan pada tahun 1935.

      Yugoslavia (mula-mula dikenal sebagai Kerajaan orang-orang Serbia, Kroatia, dan Slovenia) muncul karena penyesuaian peta Eropa sesudah perang dunia pertama. Bahkan sejak tahun 1923, dilaporkan bahwa sekelompok Siswa-Siswa Alkitab memberi kesaksian di Belgrado. Belakangan, ”Drama-Foto Penciptaan” dipertunjukkan kepada kelompok-kelompok hadirin yang besar di seluruh negeri. Ketika Saksi-Saksi Yehuwa mulai dianiaya secara kejam di Jerman, jumlah mereka di Yugoslavia diperkuat oleh perintis-perintis Jerman. Tanpa menghiraukan kenyamanan pribadi, mereka menjangkau bagian yang paling terpencil di negeri yang bergunung-gunung ini untuk mengabar. Yang lainnya dari antara para perintis tersebut pergi ke Bulgaria. Upaya juga dilakukan untuk memberitakan kabar baik di Albania. Di semua tempat ini, benih-benih kebenaran Kerajaan ditabur. Beberapa benih berbuah. Namun baru pada tahun-tahun selanjutnya ada tuaian yang lebih besar di tempat-tempat ini.

      Lebih jauh ke selatan, di benua Afrika, kabar baik juga disebarluaskan oleh mereka yang sangat menghargai hak istimewa untuk menjadi saksi-saksi dari Yang Mahatinggi.

      Terang Rohani Bercahaya di Afrika Barat

      Kira-kira tujuh tahun sesudah seorang Siswa Alkitab dari Barbados pertama kali pergi ke Afrika Barat karena kontrak kerja, ia menulis ke kantor Lembaga Menara Pengawal di New York untuk memberi tahu mereka bahwa ada cukup banyak orang yang menunjukkan minat kepada Alkitab. Beberapa bulan kemudian, pada tanggal 14 April 1923, atas undangan Saudara Rutherford, W. R. Brown, yang sebelumnya telah melayani di Trinidad, tiba di Freetown, Sierra Leone, bersama keluarganya.

      Langsung diatur agar Saudara Brown menyampaikan khotbah di Wilberforce Memorial Hall. Pada tanggal 19 April ada kira-kira 500 orang yang hadir, termasuk sebagian besar kaum pemimpin agama di Freetown. Hari Minggu berikutnya ia kembali berkhotbah. Topik yang ia bahas adalah yang sering digunakan oleh C. T. Russell​—”Ke Neraka dan Kembali. Siapa yang Berada di Sana?” Khotbah-khotbah Saudara Brown selalu secara tetap diselingi dengan kutipan-kutipan Alkitab yang dibuat dapat terlihat oleh hadirin dengan menggunakan plastik transparan yang diproyeksikan. Seraya ia berbicara, ia berulangkali berkata, ”Bukan Brown yang mengatakan, melainkan Alkitab yang mengatakan.” Karenanya, ia akhirnya dikenal sebagai ”Bible Brown”. Dan sebagai hasil persembahannya yang logis dan berdasarkan Alkitab, beberapa anggota gereja terkemuka mengundurkan diri dan memulai dinas Yehuwa.

      Ia banyak melakukan perjalanan untuk memulai pekerjaan Kerajaan di daerah-daerah yang baru. Untuk maksud itu ia menyampaikan banyak khotbah Alkitab dan menyebarkan sejumlah besar lektur, dan ia menganjurkan orang-orang lain untuk berbuat hal yang sama. Pekerjaan penginjilan membawanya sampai ke Pantai Emas (kini Ghana), Liberia, Gambia, dan Nigeria. Dari Nigeria berita Kerajaan dibawa oleh yang lain-lain ke Benin (waktu itu dikenal sebagai Dahomey) dan Kamerun. Saudara Brown tahu bahwa masyarakat kurang menghargai apa yang mereka sebut ”agama orang kulit putih”, maka di Glover Memorial Hall di Lagos, ia berbicara mengenai kegagalan agama Susunan Kristen. Seusai pertemuan itu hadirin yang antusias mengambil 3.900 buku untuk dibaca dan untuk dibagikan kepada orang lain.

      Ketika Saudara Brown mula-mula pergi ke Afrika Barat, hanya segelintir orang di sana yang telah mendengar berita Kerajaan. Ketika ia meninggalkannya 27 tahun kemudian, lebih dari 11.000 orang adalah Saksi-Saksi yang aktif dari Yehuwa di daerah tersebut. Kepalsuan agama ditelanjangi; ibadat yang sejati telah berakar dan menyebar dengan cepat.

      Menelusuri Pantai Timur Afrika

      Sudah sejak awal abad ke-20, beberapa publikasi C. T. Russell tersebar di Afrika bagian tenggara oleh orang-orang yang telah menerima beberapa gagasan yang diuraikan dalam buku-buku tersebut namun kemudian mencampurkannya dengan filsafat mereka sendiri. Akibatnya ada sejumlah gerakan yang disebut Watchtower yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan Saksi-Saksi Yehuwa. Beberapa di antaranya berorientasi politik, menghasut orang-orang Afrika pribumi. Selama bertahun-tahun nama buruk dari kelompok-kelompok tersebut menjadi rintangan terhadap pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa.

      Meskipun demikian, sejumlah orang Afrika memahami perbedaan antara yang benar dan yang palsu. Pekerja-pekerja yang berkeliling membawa kabar baik tentang Kerajaan Allah ke negeri-negeri yang berdekatan dan menceritakan kepada orang-orang yang berbicara bahasa-bahasa Afrika. Penduduk yang berbahasa Inggris di Afrika bagian tenggara kebanyakan menerima berita melalui kontak dengan Afrika Selatan. Akan tetapi, di beberapa negeri tentangan hebat dari pemerintah, yang dikobarkan oleh kaum pemimpin agama Susunan Kristen, menghambat pemberitaan dari Saksi-Saksi berkebangsaan Eropa di kalangan kelompok-kelompok berbahasa Afrika. Namun demikian, kebenaran tersebar, walaupun banyak orang yang menunjukkan minat kepada berita Alkitab membutuhkan lebih banyak bantuan untuk menerapkan secara benar dan praktis apa yang telah mereka pelajari.

      Beberapa pejabat pemerintah yang tidak berat sebelah tidak begitu saja menerima tuduhan-tuduhan keji yang diajukan oleh kaum pemimpin agama Susunan Kristen terhadap Saksi-Saksi. Demikianlah halnya dengan seorang komisaris polisi di Nyasaland (kini Malawi) yang menyamar dan pergi menghadiri perhimpunan Saksi-Saksi pribumi untuk mencari tahu sendiri orang-orang macam apa mereka itu. Ia mendapat kesan yang sangat baik. Ketika pemerintah memberikan persetujuan kepada seorang wakil Eropa untuk menetap, Bert McLuckie dan belakangan Bill, saudaranya, diutus ke sana pada pertengahan tahun 1930-an. Mereka tetap berhubungan dengan polisi dan para komisaris distrik sehingga para pejabat ini mendapat pengertian yang jelas tentang kegiatan mereka dan tidak akan menyalahartikan Saksi-Saksi Yehuwa dengan gerakan-gerakan apa pun yang dengan salah disebut Watchtower. Pada waktu yang sama, mereka bekerja dengan sabar, bersama Gresham Kwazizirah, seorang Saksi setempat yang matang, untuk membantu ratusan orang yang ingin bergabung dengan sidang-sidang untuk menghargai bahwa perbuatan seksual yang amoral, penyalahgunaan minuman beralkohol, dan takhayul tidaklah patut di dalam kehidupan Saksi-Saksi Yehuwa.​—1 Kor. 5:​9-13; 2 Kor. 7:1; Why. 22:15.

      Pada tahun 1930, hanya ada kira-kira seratus Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh Afrika bagian selatan. Namun, penugasan mereka mencakup kira-kira seluruh Afrika di sebelah selatan khatulistiwa dan beberapa daerah yang mencakup hingga sebelah utaranya. Untuk meliputi daerah yang sangat luas demikian dengan berita Kerajaan menuntut adanya perintis-perintis yang sejati. Frank dan Gray Smith adalah perintis semacam ini.

      Mereka berlayar sejauh 4.800 kilometer ke sebelah timur dan utara dari Cape Town dan kemudian meneruskan selama empat hari di jalan yang tidak rata dengan mobil untuk mencapai Nairobi, Kenya (di Afrika Timur Inggris). Selama kurang dari sebulan, mereka menempatkan 40 karton lektur Alkitab. Akan tetapi, sangat disayangkan, dalam perjalanan pulang, Frank meninggal karena malaria. Walaupun demikian, tidak lama kemudian, Robert Nisbet dan David Norman memulai perjalanan​—kali ini dengan 200 karton lektur​—untuk mengabar di Kenya dan Uganda, juga di Tanganyika dan Zanzibar (keduanya kini Tanzania), mencapai sebanyak mungkin orang. Ekspedisi-ekspedisi serupa lainnya menyebarkan berita Kerajaan ke Kepulauan Mauritius dan Madagaskar di Samudra Hindia dan ke St. Helena di Samudra Atlantik. Benih-benih kebenaran ditabur, tetapi benih-benih itu tidak segera bertunas dan bertumbuh di mana-mana.

      Dari Afrika Selatan pengabaran kabar baik juga menyebar ke negeri Basuto (kini Lesotho), negeri Bechuana (kini Botswana), dan Swaziland, bahkan sejak tahun 1925. Kira-kira delapan tahun kemudian, sewaktu para perintis mengabar kembali di Swaziland, Raja Sobhuza II memberi sambutan kerajaan kepada mereka. Ia mengumpulkan pasukan pengawal pribadinya sebanyak seratus prajurit, mendengarkan suatu kesaksian yang saksama, dan kemudian memperoleh semua publikasi Lembaga yang dibawa oleh saudara-saudara.

      Berangsur-angsur jumlah Saksi-Saksi Yehuwa di bagian dari ladang dunia ini berkembang. Yang lain bergabung dengan beberapa yang telah merintis pekerjaan di Afrika sejak awal abad ke-20 ini, dan menjelang tahun 1935, ada 1.407 orang di benua Afrika yang dilaporkan ambil bagian dalam pekerjaan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah. Sejumlah besar di antara mereka ada di Afrika Selatan dan Nigeria. Kelompok-kelompok besar lainnya yang memperkenalkan diri sebagai Saksi-Saksi Yehuwa berada di Nyasaland (kini Malawi), Rhodesia Utara (kini Zambia), dan Rhodesia Selatan (kini Zimbabwe).

      Selama jangka waktu yang sama ini, perhatian juga diarahkan ke negeri-negeri yang berbahasa Spanyol dan Portugis.

      Mengerjakan Ladang Berbahasa Spanyol dan Portugis

      Sewaktu Perang Dunia I masih berkecamuk, The Watch Tower diterbitkan mula-mula dalam bahasa Spanyol. Majalah itu mencantumkan alamat sebuah kantor di Los Angeles, Kalifornia, yang telah didirikan untuk memberikan perhatian khusus kepada ladang berbahasa Spanyol. Saudara-saudara dari kantor tersebut memberi banyak bantuan pribadi kepada orang-orang yang berminat di Amerika Serikat dan di negeri-negeri di sebelah selatan.

      Juan Muñiz, yang telah menjadi seorang hamba Yehuwa pada tahun 1917, dianjurkan oleh Saudara Rutherford pada tahun 1920 untuk meninggalkan Amerika Serikat dan kembali ke Spanyol, negeri kelahirannya, untuk mulai mengorganisasi pekerjaan pengabaran Kerajaan di sana. Namun hasilnya terbatas, bukan karena ia kurang bergairah, melainkan karena ia terus-menerus dibuntuti oleh polisi; maka sesudah beberapa tahun, ia dipindahkan ke Argentina.

      Di Brasil, beberapa penyembah Yehuwa sudah mengabar. Delapan pelaut yang rendah hati telah belajar kebenaran sewaktu mereka cuti dari pekerjaan di kapal mereka di New York. Kembali di Brasil pada awal tahun 1920, mereka sibuk membagikan berita Alkitab kepada orang lain.

      George Young, seorang Kanada, diutus ke Brasil pada tahun 1923. Ia betul-betul membantu dalam memberi dorongan kepada pekerjaan. Seraya menyampaikan sejumlah khotbah umum dengan perantaraan juru bahasa, ia memperlihatkan bahwa Alkitab mengatakan tentang kondisi orang yang mati, menyingkapkan spiritisme sebagai demonisme, dan menjelaskan maksud-tujuan Allah untuk memberkati seluruh keluarga di bumi. Khotbah-khotbahnya lebih meyakinkan lagi, karena kadang-kadang ia memproyeksikan pada layar ayat-ayat Alkitab yang sedang dibahas sehingga hadirin dapat melihatnya dalam bahasa mereka sendiri. Ketika ia berada di Brasil, Bellona Ferguson, dari São Paulo, akhirnya dapat dibaptis, bersama empat anaknya. Ia telah menunggu kesempatan ini selama 25 tahun. Di antara mereka yang berpegang pada kebenaran terdapat beberapa yang waktu itu rela untuk membantu menerjemahkan lektur ke dalam bahasa Portugis. Segera tersedia cukup banyak persediaan publikasi dalam bahasa itu.

      Dari Brasil, Saudara Young meneruskan perjalanan ke Argentina pada tahun 1924 dan mengatur agar 300.000 lektur dalam bahasa Spanyol disebarkan dengan cuma-cuma di 25 kota besar dan kecil. Pada tahun itu juga ia secara pribadi melakukan perjalanan ke Cile, Peru, dan Bolivia untuk menyebarkan risalah.

      George Young segera berangkat untuk melaksanakan penugasan yang baru. Kali ini Spanyol dan Portugal. Sesudah diperkenalkan oleh duta besar Inggris kepada pejabat-pejabat pemerintahan setempat, ia berhasil mengatur agar Saudara Rutherford berbicara kepada hadirin di Barcelona dan Madrid, maupun di ibu kota Portugal. Sesudah khotbah-khotbah ini, sejumlah lebih dari 2.350 orang memasukkan nama dan alamat mereka dengan permintaan untuk mendapat keterangan lebih lanjut. Kemudian, khotbah itu diterbitkan pada salah satu surat kabar Spanyol yang beredar luas, dan itu dikirimkan dalam bentuk risalah melalui pos kepada orang-orang di seluruh negeri. Khotbah itu juga muncul di pers Portugal.

      Melalui sarana-sarana itu berita tersebut menjangkau jauh melampaui perbatasan Spanyol dan Portugal. Menjelang akhir tahun 1925, kabar baik telah menembus ke Kepulauan Tanjung Verde (kini Republik Tanjung Verde), Madeira, Afrika Timur Portugis (kini Mozambik), Afrika Barat Portugis (kini Angola), dan kepulauan di Samudra Hindia.

      Pada tahun berikutnya, diadakan penyelenggaraan untuk mencetak resolusi yang sangat berbobot ”Suatu Kesaksian Kepada Para Penguasa Dunia” dalam surat kabar Spanyol La Libertad. Siaran radio dan penyebaran buku, buku kecil, dan risalah, maupun pertunjukan ”Drama-Foto Penciptaan”, membantu untuk meningkatkan kesaksian. Pada tahun 1932, beberapa perintis Inggris menyambut undangan untuk membantu di ladang ini, dan mereka secara sistematis mengerjakan bagian yang luas dari negeri ini dengan lektur Alkitab sampai Perang Saudara Spanyol memaksa mereka pergi.

      Sementara itu, setelah tiba di Argentina, Saudara Muñiz segera mulai mengabar, sambil menunjang diri sendiri dengan bekerja memperbaiki jam. Selain pekerjaannya di Argentina, ia memberikan perhatian kepada Cile, Paraguay, dan Uruguay. Atas permintaannya, beberapa saudara datang dari Eropa untuk memberi kesaksian kepada penduduk berbahasa Jerman. Bertahun-tahun kemudian Carlos Ott menuturkan bahwa mereka memulai hari dinas mereka pada pukul 4.00 dini hari dengan meninggalkan risalah di bawah setiap pintu rumah di suatu daerah. Sesudah beberapa jam berselang, mereka akan berkunjung kembali untuk memberi kesaksian lebih lanjut dan menawarkan lebih banyak lektur Alkitab kepada penghuni rumah yang berminat. Dari Buenos Aires mereka yang ikut dalam pelayanan sepenuh waktu menyebar ke seluruh negeri, mula-mula mengikuti jalur-jalur rel kereta api yang terbentang memencar ke segala penjuru sejauh ratusan kilometer dari ibu kota seperti bentangan jari-jari tangan saudara, kemudian menggunakan setiap sarana angkutan yang dapat mereka peroleh. Mereka hanya memiliki sedikit secara materi dan bertahan menghadapi banyak penderitaan, tetapi mereka kaya secara rohani.

      Salah seorang pekerja yang bergairah di Argentina adalah Nicolás Argyrós, seorang Yunani. Pada awal tahun 1930, ketika ia memperoleh sejumlah lektur yang diterbitkan oleh Lembaga Menara Pengawal, ia khususnya terkesan oleh sebuah buku kecil berjudul Hell (Neraka), dengan judul kecil yang bertanya ”Apa Gerangan Itu? Siapa yang Berada di Sana? Dapatkah Mereka Keluar?” Ia heran sekali ketika mendapati bahwa buku kecil ini tidak menggambarkan para pedosa dipanggang di atas pembakaran. Betapa tercengangnya ia ketika menyadari bahwa api neraka adalah suatu dusta agama yang diciptakan untuk menakut-nakuti orang, bagaimana ia sendiri telah ditakut-takuti olehnya! Ia segera mengambil langkah untuk membagikan kebenaran​—mula-mula kepada orang Yunani; kemudian, seraya ia makin fasih berbahasa Spanyol kepada orang-orang lain. Setiap bulan ia membaktikan antara 200 hingga 300 jam untuk membagikan kabar baik kepada orang lain. Dengan berjalan kaki dan menggunakan setiap sarana pengangkutan apa pun yang ada, ia menyebarkan kebenaran Alkitab di 14 dari 22 propinsi di Argentina. Seraya ia pindah dari satu tempat ke tempat lain, ia tidur di tempat tidur bila ditawarkan oleh orang yang murah hati, sering di udara terbuka, dan bahkan dalam sebuah kandang bersama seekor burro sebagai bekernya!

      Seorang lain yang memiliki semangat perintis sejati ialah Richard Traub, yang telah belajar kebenaran di Buenos Aires. Ia ingin sekali membagikan kabar baik kepada orang-orang di seberang Andes, di Cile. Pada tahun 1930, lima tahun sesudah dibaptis, ia tiba di Cile​—satu-satunya Saksi dalam sebuah negeri yang berpenduduk 4.000.000 orang. Mula-mula, ia bekerja hanya dengan Alkitab, tetapi kemudian ia mulai berkunjung dari rumah ke rumah. Tidak ada perhimpunan sidang yang dapat ia hadiri, maka pada hari-hari Minggu, pada waktu yang lazim untuk perhimpunan, ia berjalan ke Gunung San Cristóbal, duduk di bawah naungan sebuah pohon, dan menenggelamkan dirinya dalam pelajaran pribadi dan doa. Sesudah ia menyewa sebuah apartemen, ia mulai mengundang orang-orang ke perhimpunan di sana. Satu-satunya orang lain yang muncul pada perhimpunan pertama adalah Juan Flores, yang bertanya, ”Orang-orang lain, kapan datang?” Saudara Traub hanya menjawab, ”Mereka pasti datang.” Dan betul juga. Dalam waktu kurang dari setahun, 13 orang menjadi hamba Yehuwa yang terbaptis.

      Empat tahun kemudian, dua orang Saksi yang tidak pernah saling bertemu sebelumnya, berpasangan untuk memberitakan kabar baik di Kolombia. Setelah satu tahun yang produktif di sana, Hilma Sjoberg harus kembali ke Amerika Serikat. Tetapi Kathe Palm naik kapal ke Cile, menggunakan 17 hari di laut untuk memberi kesaksian kepada awak kapal maupun para penumpang. Selama dekade berikutnya, ia bekerja mulai dari Arika, pelabuhan di ujung utara Cile, sampai ke ujung selatannya, Tierra del Fuego. Ia berkunjung ke tempat-tempat bisnis dan bersaksi kepada pejabat-pejabat pemerintah. Dengan memikul ransel di bahu untuk membawa lektur, dan mengangkut barang keperluan seperti selimut untuk tidur, ia mencapai kamp-kamp pertambangan dan peternakan domba yang paling jauh. Itulah kehidupan seorang perintis sejati. Dan ada orang-orang lain yang memiliki semangat yang sama​—ada yang lajang, ada yang sudah menikah, tua dan muda.

      Selama tahun 1932, upaya khusus dikerahkan untuk menyebarkan berita Kerajaan di negeri-negeri Amerika Latin yang belum banyak mendapatkan pengabaran. Pada tahun tersebut buku kecil The Kingdom, the Hope of the World (Kerajaan, Harapan Dunia Ini) telah disebarkan secara luar biasa. Buku kecil ini memuat sebuah khotbah yang sudah pernah didengar dalam suatu siaran radio internasional. Kini sekitar 40.000 eksemplar dari khotbah itu dalam bentuk tercetak diedarkan di Cile, 25.000 eksemplar di Bolivia, 25.000 di Peru, 15.000 di Ekuador, 20.000 di Kolombia, 10.000 di Santo Domingo (kini Republik Dominika), dan 10.000 lagi di Puerto Riko. Memang, berita Kerajaan sedang diumumkan, dan dengan intensitas yang besar.

      Menjelang tahun 1935, di Amerika Selatan saja hanya 247 orang yang telah menggabungkan suara mereka untuk mengumumkan bahwa hanya Kerajaan Allah yang akan mendatangkan kebahagiaan sejati bagi umat manusia. Tetapi betapa hebat kesaksian yang mereka berikan!

      Mencapai Orang Bahkan di Daerah yang Lebih Terpencil

      Saksi-Saksi Yehuwa sama sekali tidak menganggap bahwa tanggung jawab mereka di hadapan Allah sudah dipenuhi jika mereka sekadar berbicara kepada beberapa orang yang kebetulan adalah tetangga mereka. Mereka berupaya mencapai setiap orang dengan kabar baik.

      Orang-orang yang tinggal di tempat-tempat yang pada saat itu tidak dapat dijangkau secara pribadi oleh Saksi-Saksi, dapat dicapai dengan cara-cara lain. Demikianlah, pada akhir tahun 1920-an, Saksi-Saksi di Cape Town, Afrika Selatan, mengirimkan 50.000 buku kecil ke semua petani, penjaga mercu suar, polisi kehutanan, dan orang-orang lain yang tinggal di tempat yang sulit terjangkau. Juga diperoleh sebuah buku petunjuk pos terbaru untuk seluruh Afrika Barat Daya (kini dikenal sebagai Namibia), dan satu eksemplar dari buku kecil The Peoples Friend dikirimkan kepada setiap orang yang namanya tertera di dalam buku petunjuk itu.

      Pada tahun 1929, F. J. Franske diserahi tanggung jawab atas kapal layar Morton milik Lembaga Menara Pengawal dan ditugaskan, bersama Jimmy James, untuk mencapai orang-orang di Labrador dan semua perkampungan nelayan di Newfoundland. Pada musim salju Saudara Franske menyusuri pantai bersama sekawanan anjing. Untuk menutup biaya lektur Alkitab yang ditinggalkannya kepada mereka, orang-orang Eskimo dan Newfoundland memberikan kepadanya barang-barang kerajinan kulit dan ikan. Beberapa tahun kemudian, ia berupaya menemui para pekerja tambang, penebang kayu, pemasang perangkap, pengusaha peternakan, dan orang Indian di pedalaman Cariboo yang rawan di Kolombia Inggris. Seraya mengadakan perjalanan, ia berburu untuk memperoleh daging, memetik buah berry liar, dan memanggang rotinya dalam wajan di atas api unggun di udara terbuka. Lalu, pada kesempatan lain, ia dan seorang rekan kerja menggunakan sebuah kapal penangkap ikan salem sebagai sarana pengangkutan sewaktu mereka membawa berita Kerajaan ke setiap pulau, teluk, kamp para penebang kayu, mercu suar, dan pemukiman di sepanjang pantai barat Kanada. Ia hanyalah salah satu di antara banyak orang yang mengerahkan upaya khusus untuk mencapai orang-orang yang tinggal di daerah terpencil di bumi.

      Menjelang akhir tahun 1920-an, Frank Day mulai melakukan perjalanan ke arah utara melalui desa-desa di Alaska, mengabar, menempatkan lektur, dan menjual kacamata untuk menunjang kebutuhan jasmaninya. Meskipun berjalan pincang dengan sebuah kaki palsu, ia mengerjakan daerah yang terbentang dari Ketchikan sampai Nome, berjarak kira-kira 1.900 kilometer. Sudah sejak tahun 1897, seorang pekerja tambang emas memperoleh lektur Millennial Dawn dan Watch Tower sewaktu berada di Kalifornia dan merencanakan untuk membawanya kembali ke Alaska. Dan pada tahun 1910, Kapten Beams, nakhoda kapal penangkap ikan paus, telah menempatkan lektur di pelabuhan-pelabuhan Alaska yang disinggahi. Namun kegiatan pengabaran mulai meluas pada waktu Saudara Day melakukan perjalanannya ke Alaska berkali-kali pada setiap musim panas selama lebih dari 12 tahun.

      Dua orang Saksi lain, dengan menggunakan sebuah kapal motor bernama Esther yang panjangnya 12 meter, mengerjakan daerah sepanjang pantai Norwegia sampai jauh ke Samudra Arktik. Mereka memberi kesaksian di pulau-pulau, di banyak mercu suar, di desa-desa sepanjang pantai, dan di tempat-tempat terpencil jauh di balik pegunungan. Banyak orang menyambut mereka, dan dalam jangka waktu setahun, mereka berhasil menempatkan 10.000 hingga 15.000 buku dan buku kecil yang menjelaskan maksud-tujuan Allah untuk umat manusia.

      Pulau-Pulau Mendengar Puji-Pujian Yehuwa

      Bukan hanya pulau-pulau yang dekat dengan pantai-pantai benua yang mendapat kesaksian. Di tengah-tengah Samudra Pasifik sana, pada awal tahun 1930-an, Sydney Shepherd melakukan perjalanan dengan kapal selama dua tahun untuk mengabar di Kepulauan Cook dan Tahiti. Lebih jauh ke barat, George Winton mengunjungi New Hebrides (kini Vanuatu) membawa kabar baik.

      Kira-kira pada waktu yang sama, Joseph Dos Santos, seorang Amerika keturunan Portugis, juga berupaya mencapai daerah yang belum pernah dijamah. Mula-mula ia memberi kesaksian di pulau-pulau lain yang berdekatan dengan pulau Hawaii; kemudian ia melakukan tur pengabaran keliling bola bumi. Akan tetapi, sewaktu ia mencapai Filipina, ia menerima sepucuk surat dari Saudara Rutherford yang memintanya untuk tinggal di sana guna membangun dan mengorganisasi kegiatan pengabaran Kerajaan. Ia melakukannya, selama 15 tahun.

      Pada waktu itu, cabang Lembaga di Australia sedang mengarahkan perhatian kepada pekerjaan di dan sekitar Pasifik Selatan. Dua perintis yang diutus dari sana memberikan kesaksian yang luas di Fiji pada tahun 1930-31. Samoa menerima kesaksian pada tahun 1931. Kaledonia Baru dijangkau pada tahun 1932. Sepasang suami-istri perintis dari Australia bahkan memulai dinas di Cina pada tahun 1933 dan memberi kesaksian di 13 kota utamanya selama beberapa tahun berikutnya.

      Saudara-saudara di Australia menyadari bahwa ada lebih banyak yang dapat dilaksanakan jika ada sebuah kapal yang dapat mereka gunakan. Pada waktunya mereka memperlengkapi sebuah perahu layar 16 meter yang mereka namakan Lightbearer (Pembawa Terang) dan, mulai awal tahun 1935, menggunakannya selama beberapa tahun sebagai pangkalan operasi untuk sekelompok saudara yang bergairah seraya mereka memberi kesaksian di Hindia Timur Belanda (kini Indonesia), Singapura, dan Malaya. Kedatangan kapal itu senantiasa menarik banyak perhatian, dan hal ini sering membuka jalan bagi saudara-saudara untuk mengabar dan menempatkan banyak lektur.

      Sementara itu, di belahan bumi yang lain, dua orang saudari perintis dari Denmark memutuskan untuk mengadakan perjalanan liburan ke Kepulauan Faeroe di Samudra Atlantik Utara pada tahun 1935. Tetapi yang ada dalam benak mereka bukan sekadar perjalanan untuk menikmati pemandangan. Mereka pergi dengan diperlengkapi ribuan lektur, dan mereka menggunakannya dengan baik. Tanpa memedulikan angin dan hujan dan permusuhan dari kaum pemimpin agama, mereka mengerjakan sebanyak mungkin pulau yang berpenduduk selama mereka tinggal di sana.

      Lebih jauh ke barat, Georg Lindal, seorang Kanada keturunan Islandia, melaksanakan suatu penugasan yang berlangsung lebih lama. Atas saran Saudara Rutherford, ia pindah ke Islandia untuk merintis pada tahun 1929. Betapa hebat ketekunan yang diperlihatkannya! Sebagian besar dari 18 tahun berikutnya ia melayani di sana seorang diri. Ia mengunjungi kota-kota dan desa-desa berkali-kali. Puluhan ribu lektur ditempatkan, tetapi pada waktu itu tidak ada orang Islandia yang bergabung dengan dia dalam dinas Yehuwa. Kecuali satu tahun saja, tidak seorang Saksi pun di Islandia yang bisa dia ajak bergaul hingga tahun 1947, sewaktu dua orang utusan injil keluaran Sekolah Gilead tiba.

      Bila Manusia Melarang Apa yang Allah Perintahkan

      Seraya ambil bagian dalam pelayanan umum mereka, tidaklah janggal sama sekali, teristimewa sejak tahun 1920-an sampai dengan tahun 1940-an, bagi Saksi-Saksi untuk mengalami tentangan, yang biasanya digerakkan oleh kaum pemimpin agama setempat dan kadang-kadang oleh para pejabat pemerintah.

      Di suatu daerah pedesaan sebelah utara Wina, Austria, Saksi-Saksi mendapati diri berhadapan dengan segerombolan penduduk desa yang bersikap bermusuhan karena dihasut oleh imam setempat, yang didukung oleh polisi. Para imam bertekad bahwa tidak boleh ada pengabaran oleh Saksi-Saksi Yehuwa di desa-desa mereka. Tetapi Saksi-Saksi, bertekad untuk melaksanakan tugas yang Allah berikan kepada mereka, mengubah pendekatan mereka dan kembali pada hari yang lain, dengan memasuki desa-desa melalui jalan yang berputar.

      Tidak soal ancaman dan tuntutan dari pihak manusia, Saksi-Saksi Yehuwa menyadari bahwa mereka mempunyai kewajiban kepada Allah untuk memberitakan Kerajaan-Nya. Mereka memilih menaati Allah sebagai penguasa daripada manusia. (Kis. 5:29) Bila para pejabat setempat mencoba untuk menyangkal kebebasan beragama bagi Saksi-Saksi Yehuwa, maka Saksi-Saksi malahan mendapatkan lebih banyak kekuatan.

      Sesudah berkali-kali ditangkap di satu bagian Bavaria, di Jerman, pada tahun 1929, mereka menyewa dua kereta api khusus​—yang satu berangkat dari Berlin dan yang lain dari Dresden. Kedua kereta api ini digandengkan di Reichenbach, dan pada pukul 2.00 dini hari kereta api yang telah disatukan ini memasuki daerah Regensburg dengan 1.200 penumpang yang ingin sekali ikut serta memberikan kesaksian. Biaya perjalanan mahal, dan setiap orang telah membayar sendiri ongkosnya. Di setiap stasiun kereta api, beberapa orang turun. Beberapa di antara mereka telah membawa sepeda sehingga mereka dapat masuk ke daerah pedesaan. Seluruh distrik itu dikerjakan dalam satu hari saja. Sewaktu mereka melihat hasil dari upaya mereka yang terpadu, mereka tidak dapat berbuat apa-apa kecuali mengingat janji Allah kepada hamba-hamba-Nya, ”Setiap senjata yang ditempa terhadap engkau tidak akan berhasil.”​—Yes. 54:17.

      Begitu bergairahnya Saksi-Saksi di Jerman sehingga antara tahun 1919 dan 1933, mereka, diperkirakan, telah menyebarkan sedikitnya 125.000.000 buku, buku kecil, dan majalah, dan juga jutaan risalah. Padahal hanya ada kira-kira 15.000.000 keluarga di Jerman pada waktu itu. Selama jangka waktu tersebut, Jerman telah menerima kesaksian yang paling saksama dibandingkan kesaksian yang diberikan di negeri mana pun di bumi. Di bagian bumi tersebut terdapat salah satu konsentrasi paling padat dari orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus yang diurapi dengan roh. Namun selama tahun-tahun berikutnya, mereka juga mengalami beberapa ujian integritas yang sangat meletihkan.​—Why. 14:12.

      Pada tahun 1933, perlawanan dari para pejabat terhadap pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa di Jerman sangat meningkat. Rumah Saksi-Saksi dan kantor cabang Lembaga berkali-kali digeledah oleh Gestapo. Larangan diberlakukan atas kegiatan Saksi-Saksi di kebanyakan negara bagian Jerman, dan beberapa ditangkap. Berton-ton Alkitab dan lektur Alkitab mereka dibakar di depan umum. Pada tanggal 1 April 1935, sebuah undang-undang nasional dikeluarkan yang melarang Ernste Bibelforscher (Siswa-Siswa Alkitab yang Sungguh-Sungguh, atau Saksi-Saksi Yehuwa), dan upaya sistematis dikerahkan untuk merampas mata pencaharian mereka. Sebaliknya, Saksi-Saksi mengubah semua perhimpunan mereka menjadi kelompok-kelompok kecil, mengatur untuk mereproduksi bahan pengajaran Alkitab dalam bentuk yang tidak mudah dikenali oleh Gestapo, dan menggunakan metode pengabaran yang tidak begitu mencolok.

      Bahkan sebelum ini, sejak tahun 1925, saudara-saudara di Italia telah hidup di bawah kediktatoran Fasis, dan pada tahun 1929, suatu konkordat antara Gereja Katolik dan Negara Fasis ditandatangani. Umat Kristen sejati dikejar-kejar tanpa belas kasihan. Beberapa berhimpun dalam gudang-gudang dan kandang-kandang untuk menghindari penangkapan. Saksi-Saksi Yehuwa di Italia pada waktu itu sangat sedikit jumlahnya; akan tetapi, upaya mereka untuk menyebarkan berita Kerajaan diperkuat pada tahun 1932 sewaktu 20 Saksi-Saksi dari Swiss melintas masuk ke Italia dan secepat kilat menyebarkan 300.000 buku kecil The Kingdom, the Hope of the World.

      Di Timur Jauh juga, tekanan makin meningkat. Saksi-Saksi Yehuwa di Jepang ditangkap. Lektur Alkitab mereka dalam jumlah besar dihancurkan oleh para pejabat di Seoul (di negara yang sekarang adalah Republik Korea) dan Pyongyang (di negara yang kini adalah Republik Rakyat Demokrasi Korea).

      Di tengah tekanan yang makin meningkat ini, pada tahun 1935, Saksi-Saksi Yehuwa memperoleh pengertian yang jelas dari Alkitab tentang identitas ”perhimpunan besar”, atau ”kumpulan besar”, dari Wahyu 7:​9-17 (KJ; TB). Pengertian ini membuat mereka sadar akan suatu pekerjaan mendesak yang tidak mereka antisipasi sebelumnya. (Yes. 55:5) Mereka tidak lagi beranggapan bahwa suatu waktu kelak semua yang bukan bagian dari ”kawanan kecil” ahli waris Kerajaan surgawi mendapat kesempatan untuk menyesuaikan kehidupan mereka dengan tuntutan-tuntutan Yehuwa. (Luk. 12:32) Mereka menyadari bahwa sudah tiba waktunya untuk menjadikan murid di kalangan orang-orang demikian sekarang agar mereka dapat selamat memasuki dunia baru Allah. Mereka tidak tahu berapa lama pengumpulan kumpulan besar dari segala bangsa akan terus berlangsung, walaupun mereka merasa bahwa akhir sistem yang jahat pasti sudah sangat dekat. Mereka tidak tahu pasti bagaimana tepatnya pekerjaan akan terlaksana di bawah penganiayaan yang semakin luas dan semakin keji. Akan tetapi, mereka yakin akan hal ini​—karena ”tangan [Yehuwa] tidak kurang panjang”, Ia akan membuka jalan bagi mereka untuk melaksanakan kehendak-Nya.​—Yes. 59:1.

      Pada tahun 1935, jumlah Saksi-Saksi Yehuwa relatif sedikit​—hanya 56.153 di seluruh dunia!

      Mereka mengabar di 115 negeri selama tahun tersebut; tetapi di hampir setengah dari jumlah negeri tersebut, hanya ada kurang dari 10 Saksi. Hanya dua negeri memiliki 10.000 atau lebih Saksi-Saksi Yehuwa yang aktif (Amerika Serikat, 23.808 orang; Jerman, dengan kira-kira 10.000 dari 19.268 orang yang berhasil melaporkan dua tahun sebelumnya). Tujuh negeri lain (Australia, Cekoslowakia, Inggris, Kanada, Polandia, Prancis, dan Romania) masing-masing melaporkan lebih dari 1.000 tetapi kurang dari 6.000 Saksi. Catatan mengenai kegiatan di 21 negeri lainnya menunjukkan adanya 100 hingga 1.000 Saksi di masing-masing negeri ini. Namun, selama satu tahun tersebut, barisan Saksi yang bergairah ini membaktikan 8.161.424 jam di seluruh dunia untuk mengumumkan Kerajaan Allah sebagai satu-satunya harapan umat manusia.

      Selain mereka sibuk di negeri-negeri itu selama tahun 1935, mereka sudah menyebarkan kabar baik ke tempat-tempat lain, sehingga sebegitu jauh sudah 149 negeri dan kepulauan yang dicapai dengan berita Kerajaan.

      [Blurb di hlm. 424]

      Meskipun meringkuk dalam penjara, mereka menemukan kesempatan untuk mengabar

      [Blurb di hlm. 425]

      Bersedia dan ingin sekali meneruskan pekerjaan itu!

      [Blurb di hlm. 441]

      Mereka tidak memedulikan angin, hujan, dan permusuhan dari kaum pemimpin agama

      [Blurb di hlm. 442]

      Suatu kesaksian dengan proporsi yang luar biasa diberikan di Jerman sebelum ”Ernste Bibelforscher” dilarang di sana

      [Peta/Gambar di hlm. 423]

      Sementara dunia terlibat dalam peperangan, R. R. Hollister dan Fanny Mackenzie sibuk membawa berita perdamaian kepada orang-orang di Cina, Jepang, dan Korea

      [Peta]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      KOREA

      JEPANG

      CINA

      SAMUDRA PASIFIK

      [Peta di hlm. 428]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      Sewaktu para imigran dari negeri-negeri yang disebut di peta ini mempelajari maksud-tujuan Allah yang menakjubkan untuk memberkati umat manusia, mereka merasa tergerak untuk membawa berita itu pulang ke tanah air mereka

      AMERIKA

      ↓ ↓

      AUSTRIA

      BULGARIA

      SIPRUS

      CEKOSLOWAKIA

      DENMARK

      FINLANDIA

      JERMAN

      YUNANI

      HONGARIA

      ITALIA

      BELANDA

      NORWEGIA

      POLANDIA

      PORTUGAL

      ROMANIA

      SPANYOL

      SWEDIA

      SWISS

      TURKI

      YUGOSLAVIA

      [Peta di hlm. 432]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      Selama tahun 1920-an dan 1930-an, penginjil-penginjil keluar dari Jerman ke banyak negeri untuk memberi kesaksian

      JERMAN

      ↓ ↓

      AMERIKA SELATAN

      AFRIKA UTARA

      ASIA

      [Peta/Gambar di hlm. 435]

      Perintis-perintis bergairah seperti Frank Smith dan saudara laki-lakinya Gray, (terlihat di gambar atas) menyebarkan kabar baik sampai ke pantai timur Afrika

      [Peta]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      UGANDA

      KENYA

      TANZANIA

      AFRIKA SELATAN

      [Peta/Gambar di hlm. 439]

      Di seluruh Afrika Barat Daya (kini Namibia) orang-orang menerima buku kecil ini melalui pos pada tahun 1928

      [Peta]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      NAMIBIA

      [Peta/Gambar di hlm. 440]

      Dengan naik kapal ”Lightbearer”, perintis-perintis yang bergairah menyebarkan berita Kerajaan di Asia Tenggara

      [Peta]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      MALAYA

      BORNEO

      SULAWESI

      SUMATRA

      JAWA

      TIMOR

      NUGINI

      AUSTRALIA

      SAMUDRA PASIFIK

      [Gambar di hlm. 426]

      Di banyak negeri khotbah ”Jutaan Orang yang Sekarang Hidup Tidak Akan Pernah Mati” menarik banyak hadirin

      [Gambar di hlm. 427]

      Edwin Scott, di Afrika Selatan, secara pribadi menyebarkan 50.000 eksemplar ”Suatu Tantangan Kepada Para Pemimpin Dunia”

      [Gambar di hlm. 429]

      Menyambut panggilan untuk menginjil, Willy Unglaube melayani di Eropa, Afrika, dan Negeri-Negeri Timur

      [Gambar di hlm. 430]

      Menjelang tahun 1992, Eric Cooke dan saudara laki-lakinya John, (duduk) telah berada dalam dinas sepenuh waktu masing-masing selama lebih dari 60 tahun, menikmati pengalaman-pengalaman yang menggetarkan hati di Eropa dan Afrika

      [Gambar di hlm. 431]

      Sewaktu ia pergi ke India pada tahun 1926, Edwin Skinner menerima suatu penugasan yang mencakup lima negeri; dengan setia ia terus mengabar di sana selama 64 tahun

      [Gambar di hlm. 433]

      Alfred dan Frieda Tuček, diperlengkapi dengan barang-barang kebutuhan hidup dan lektur untuk memberi kesaksian, melayani sebagai perintis di Yugoslavia Lama

      [Gambar di hlm. 434]

      Di seluruh Afrika Barat, ”Bible Brown” dengan penuh gairah ambil bagian dalam membeberkan ibadat palsu

      [Gambar di hlm. 436]

      George Young ambil bagian dalam mengumumkan Kerajaan Allah secara luas di Amerika Selatan, Spanyol, dan Portugal

      [Gambar di hlm. 437]

      Juan Muñiz (kiri), yang telah mengabar di Amerika Selatan sejak tahun 1924, hadir untuk menyambut N. H. Knorr ketika ia pertama kali mengunjungi Argentina lebih dari 20 tahun kemudian

      [Gambar di hlm. 438]

      Nicolás Argyrós menyebarkan kebenaran Alkitab yang memerdekakan ke 14 propinsi di Argentina

      [Gambar di hlm. 439]

      F. J. Franske, dengan melakukan perjalanan di darat dan dengan kapal, berupaya mencapai pemukiman-pemukiman yang terpencil dengan kebenaran Alkitab

  • Bagian 3​—Saksi-Saksi ke Bagian yang Paling Jauh di Bumi
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 22

      Bagian 3​—Saksi-Saksi ke Bagian yang Paling Jauh di Bumi

      Laporan sedunia mengenai pengabaran berita Kerajaan dari tahun 1935 sampai 1945 dikemukakan pada halaman 444 hingga 461. Tahun 1935 sangat berarti karena pada waktu itu perhimpunan besar, atau kumpulan besar, dari Wahyu 7:9 diketahui identitasnya. Berkenaan dengan pengumpulan kelompok tersebut, Saksi-Saksi Yehuwa mulai memahami bahwa Alkitab menghadapkan kepada mereka satu pekerjaan dalam ukuran yang lebih besar dibanding dengan pekerjaan yang pernah dilakukan sebelumnya. Bagaimana mereka melaksanakannya ketika bangsa-bangsa mulai terlibat dalam Perang Dunia II dan kebanyakan negeri memberlakukan larangan atas mereka atau lektur Alkitab mereka?

      SERAYA Saksi-Saksi Yehuwa ambil bagian dalam pelayanan mereka selama tahun 1930-an, tujuan mereka adalah untuk mencapai sebanyak mungkin orang dengan berita Kerajaan. Jika mereka mengamati adanya minat yang luar biasa, beberapa di antara mereka bisa jadi sampai jauh malam menerangkan kebenaran-kebenaran Alkitab dan menjawab pertanyaan untuk memuaskan orang-orang yang lapar secara rohani. Namun dalam kebanyakan situasi, Saksi-Saksi hanya menyampaikan persembahan singkat yang dimaksudkan untuk menggugah minat penghuni rumah, dan kemudian mereka membiarkan lektur atau khotbah umum Alkitab melakukan hal selanjutnya. Pekerjaan mereka adalah memberikan informasi kepada orang-orang, menabur benih kebenaran Kerajaan.

      Upaya yang Sungguh-Sungguh untuk Mencapai Banyak Orang Dengan Kabar Baik

      Pekerjaan dilakukan dengan perasaan mendesak. Sebagai contoh, pada awal tahun 1930-an, ketika Armando Menazzi, di Córdoba, Argentina, membaca kebenaran Alkitab yang dikemukakan dengan jelas dalam buku kecil Hell (Neraka) dan Where Are the Dead? (Di Manakah Orang Mati?), ia bertindak tegas. (Mzm. 145:20; Pkh. 9:5; Kis. 24:15) Tergerak oleh apa yang dipelajarinya, dan diilhami oleh gairah yang diperlihatkan oleh Nicolás Argyrós, ia menjual bengkel mobilnya untuk mengabdikan dirinya dalam pengabaran kebenaran sebagai seorang perintis. Kemudian, pada awal tahun 1940-an, atas anjurannya, Saksi-Saksi di Córdoba membeli sebuah bus tua, memasang tempat-tempat tidur, dan menggunakan kendaraan ini untuk membawa sepuluh orang penyiar atau lebih dalam ekspedisi pengabaran yang berlangsung seminggu, dua minggu, atau bahkan tiga bulan. Sewaktu perjalanan-perjalanan ini direncanakan, saudara dan saudari yang berlainan dalam sidang diberi kesempatan untuk ikut serta. Setiap orang dalam kelompok memiliki pekerjaannya masing-masing​—membersihkan, memasak, atau menangkap ikan dan berburu untuk mendapatkan makanan. Sedikitnya di sepuluh propinsi di Argentina, kelompok yang bergairah ini mengabar dari rumah ke rumah, mengerjakan kota-kota maupun desa-desa dan mencapai perladangan yang tersebar.

      Semangat serupa nyata di ladang Australia. Banyak kesaksian dilakukan di kota-kota pinggir pantai yang berpenduduk padat. Tetapi Saksi-Saksi di sana juga berusaha mencapai orang-orang yang tinggal di daerah terpencil. Demikianlah, pada tanggal 31 Maret 1936, agar dapat mencapai orang-orang di peternakan domba dan sapi yang banyak terdapat di pedesaan yang terpencil, Arthur Willis dan Bill Newlands menempuh perjalanan yang jarak seluruhnya adalah 19.710 kilometer. Sebagian besar dari perjalanan yang mereka tempuh, bukan jalan raya​—hanya jalan setapak yang bersemak-semak melalui gurun tanpa pohon dengan panas yang menyengat dan badai debu yang menderu-deru. Tetapi mereka maju terus. Di mana pun minat ditemukan, mereka memutar rekaman khotbah Alkitab dan meninggalkan lektur. Pada kesempatan-kesempatan lain, John E. (Ted) Sewell pergi bersama mereka; dan kemudian ia merelakan diri untuk melayani di Asia Tenggara.

      Wilayah yang diawasi oleh kantor cabang Lembaga di Australia menjangkau jauh ke luar Australia itu sendiri. Daerah itu mencakup Cina dan kepulauan-kepulauan dan bangsa-bangsa yang terbentang dari Tahiti di sebelah timur ke Birma (kini Myanmar) di sebelah barat, meliputi jarak 13.700 kilometer. Dalam daerah tersebut terdapat tempat-tempat seperti Hong Kong, Indocina (kini Kamboja, Laos, dan Vietnam), Hindia Timur Belanda (termasuk pulau-pulau seperti Sumatra, Jawa, dan Kalimantan), Selandia Baru, Siam (kini Thailand), dan Malaya. Tidak jarang pengawas cabang, Alexander MacGillivray, seorang Skotlandia, mengundang seorang perintis muda yang bergairah ke kantornya, memperlihatkan kepadanya sebuah peta daerah dari cabang itu, dan bertanya, ’Apakah Saudara mau menjadi utusan injil?’ Kemudian, seraya menunjuk ke suatu daerah yang jarang atau sama sekali belum mendapat pengabaran, ia akan bertanya, ’Bagaimana kalau Saudara membuka pekerjaan di daerah ini?’

      Selama awal tahun 1930-an, beberapa di antara perintis-perintis ini telah melakukan banyak pekerjaan di Hindia Timur Belanda (kini Indonesia) dan Singapura. Pada tahun 1935, Frank Dewar, seorang Selandia Baru, melakukan perjalanan dengan sekelompok perintis ini dengan kapal Lightbearer (Pembawa Terang) sampai sejauh Singapura. Kemudian tepat sebelum kapal itu meneruskan perjalanan ke pantai barat Malaya, Kapten Eric Ewins berkata, ”Nah, Frank, kita sudah sampai. Kami hanya dapat membawamu sampai sejauh ini saja. Engkau memilih pergi ke Siam. Sekarang, pergilah!” Tetapi Frank hampir lupa mengenai Siam. Ia telah menikmati dinasnya bersama kelompok itu di atas kapal. Sekarang ia sendirian.

      Ia singgah di Kuala Lumpur sampai ia dapat mengumpulkan cukup banyak uang untuk perjalanan berikutnya, tetapi sementara berada di sana ia mengalami kecelakaan lalu lintas​—sebuah truk menabraknya sehingga ia terjatuh dari sepedanya. Sesudah sembuh, hanya dengan lima dollar di sakunya, ia naik kereta api yang berangkat dari Singapura ke Bangkok. Namun dengan iman kepada kemampuan Yehuwa untuk memelihara, ia meneruskan pekerjaan. Claude Goodman telah mengabar untuk waktu singkat di sana pada tahun 1931; tetapi sewaktu Frank tiba pada bulan Juli 1936, tidak ada Saksi yang berada di sana untuk menyambutnya. Akan tetapi, selama beberapa tahun berikutnya, saudara-saudara lain ambil bagian dalam pekerjaan​—Willy Unglaube, Hans Thomas, dan Kurt Gruber dari Jerman dan Ted Sewell dari Australia. Mereka menyebarkan banyak lektur, tetapi kebanyakan dalam bahasa Inggris, Cina, dan Jepang.

      Sewaktu sepucuk surat dikirimkan ke kantor pusat Lembaga yang menyatakan bahwa saudara-saudara memerlukan lektur dalam bahasa Thai tetapi tidak ada penerjemah, Saudara Rutherford menjawab, ”Saya tidak berada di Thailand; kalian yang berada di sana. Berimanlah kepada Yehuwa dan bekerjalah dengan sungguh-sungguh, pasti kalian akan menemukan seorang penerjemah.” Dan memang demikian. Chomchai Inthaphan, seorang mantan kepala sekolah dari Sekolah Putri Presbiterian di Chiang Mai, memeluk kebenaran, dan menjelang tahun 1941 saudari ini menerjemahkan lektur Alkitab ke dalam bahasa Thai.

      Satu minggu sesudah Frank Dewar mulai mengabar di Bangkok, Frank Rice, yang telah merintis pekerjaan Kerajaan di Jawa (kini bagian dari Indonesia), singgah dalam perjalanannya ke penugasan baru di tempat yang waktu itu disebut Indocina Prancis. Sebagaimana telah dilakukannya di daerahnya yang dulu, ia mengabar kepada mereka yang berbahasa Inggris sementara ia mempelajari bahasa setempat. Sesudah mengerjakan Saigon (sekarang Ho Chi Minh), ia mengajar bahasa Inggris agar dapat membeli sebuah mobil tua yang dapat digunakannya untuk mencapai bagian utara negeri itu. Keinginannya bukanlah kenyamanan materi melainkan kepentingan Kerajaan. (Ibr. 13:5) Dengan menggunakan mobil yang dibelinya, ia memberi kesaksian di kota-kota dan desa-desa dan rumah-rumah yang terpencil sepanjang jalan ke Hanoi.

      Publisitas yang Berani

      Untuk menarik perhatian kepada berita Kerajaan dan untuk membuat orang waspada akan kebutuhan mengambil tindakan tegas, cara-cara yang mencolok digunakan oleh Saksi-Saksi di banyak negeri. Mulai tahun 1936 di Glasgow, Skotlandia, Saksi-Saksi mengiklankan khotbah kebaktian dengan mengenakan plakat dan membagi-bagikan selebaran di daerah-daerah pertokoan. Dua tahun kemudian, pada tahun 1938, suatu corak lain yang mencolok digunakan sehubungan dengan sebuah kebaktian di London, Inggris. Nathan H. Knorr dan Albert D. Schroeder, yang belakangan bersama-sama melayani sebagai Badan Pimpinan, memimpin pawai yang terdiri dari hampir seribu Saksi melintasi kawasan pusat bisnis di London. Selang-seling satu orang dalam pawai itu ada yang mengenakan sebuah plakat yang mengiklankan khotbah umum ”Hadapi Kenyataan”, yang akan disampaikan oleh J. F. Rutherford di Royal Albert Hall. Mereka yang diapit membawa plakat-plakat yang bertuliskan, ”Agama Adalah Jerat dan Suatu Penipuan”. (Pada waktu itu mereka memahami agama sebagai semua ibadat yang tidak sesuai dengan Firman Allah, Alkitab.) Kemudian pada pekan itu juga, untuk meredam reaksi yang bermusuhan dari beberapa pihak dalam masyarakat, plakat-plakat yang bertuliskan ”Layani Allah dan Kristus Sang Raja” disisipkan di antara plakat-plakat yang lebih dahulu. Kegiatan ini tidak mudah bagi banyak di antara Saksi-Saksi Yehuwa, tetapi mereka memandangnya sebagai suatu cara lain untuk melayani Yehuwa, ujian lain atas loyalitas mereka kepada-Nya.

      Tidak setiap orang senang akan publisitas berani yang diberikan oleh Saksi-Saksi Yehuwa kepada berita mereka. Kaum pemimpin agama di Australia dan Selandia Baru melancarkan tekanan kepada para manajer stasiun-stasiun radio untuk menghentikan semua siaran yang disponsori oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Pada bulan April 1938, sewaktu Saudara Rutherford sedang dalam perjalanan ke Australia untuk menyampaikan sebuah khotbah melalui radio, para pejabat pemerintah membiarkan diri mereka dipengaruhi untuk membatalkan penyelenggaraan-penyelenggaraan yang sudah diatur baginya untuk menggunakan Balai Kota Sydney dan fasilitas-fasilitas radio. Segera Gelanggang Olahraga Sydney disewa, dan sebagai hasil dari publisitas berita yang luas mengenai tentangan terhadap kunjungan Saudara Rutherford, bahkan lebih banyak orang datang untuk mendengar khotbahnya. Pada kesempatan-kesempatan lain, sewaktu Saksi-Saksi tidak diperbolehkan menggunakan fasilitas-fasilitas radio, mereka menanggapi dengan memberikan publisitas yang penuh semangat mengenai perhimpunan-perhimpunan yang akan memperdengarkan hasil reproduksi khotbah Saudara Rutherford melalui perlengkapan transkripsi.

      Kaum pemimpin agama di Belgia menyuruh anak-anak untuk melempari Saksi-Saksi dengan batu, dan para imam secara pribadi berkeliling ke rumah-rumah untuk mengumpulkan lektur yang telah disebarkan. Tetapi beberapa dari penduduk desa menyukai pengajaran Saksi-Saksi Yehuwa. Mereka sering berkata, ”Berikan saya beberapa buku kecil Anda; bila imam itu datang, saya dapat memberikan satu kepadanya agar dia puas dan menyimpan selebihnya untuk dibaca!”

      Akan tetapi, pada tahun-tahun berikutnya, perlawanan terhadap Saksi-Saksi Yehuwa dan berita Kerajaan yang mereka umumkan makin menghebat.

      Pengabaran di Eropa Menghadapi Penganiayaan Masa Perang

      Karena mereka tidak mau mengingkari iman mereka dan berhenti mengabar, ribuan Saksi-Saksi Yehuwa di Austria, Belanda, Belgia, Jerman, dan Prancis dipenjara atau dikirim ke kamp konsentrasi Nazi. Di sana, perlakuan yang kejam merupakan peristiwa sehari-hari. Mereka yang belum masuk penjara meneruskan pelayanan mereka dengan hati-hati. Mereka sering bekerja dengan Alkitab saja dan menawarkan lektur lain hanya sewaktu mengadakan kunjungan kembali kepada orang-orang yang berminat. Untuk menghindari penangkapan, Saksi-Saksi berkunjung hanya ke satu pintu dari sebuah bangunan rumah susun dan kemudian mungkin pergi ke gedung lain, atau sesudah berkunjung ke satu rumah mereka langsung pergi ke jalan lain untuk kemudian mendekati rumah berikutnya. Namun mereka sama sekali tidak malu untuk memberi kesaksian.

      Pada tanggal 12 Desember 1936, hanya beberapa bulan sesudah Gestapo menangkap ribuan Saksi dan orang berminat lainnya dalam upaya seluas dunia untuk menghentikan pekerjaan mereka, Saksi-Saksi itu sendiri mengadakan suatu kampanye. Dengan secepat kilat mereka memasukkan puluhan ribu eksemplar resolusi tercetak ke dalam kotak-kotak pos dan di bawah pintu rumah-rumah di seluruh Jerman. Resolusi ini memprotes perlakuan kejam terhadap saudara dan saudari Kristen mereka. Satu jam setelah penyebaran dimulai, polisi memburu ke sana kemari mencoba menangkapi orang-orang yang menyebarkannya, tetapi yang mereka tangkap hanya kira-kira dua belas orang di seluruh negeri itu.

      Para pejabat tercengang melihat bahwa kampanye demikian dapat dilaksanakan meski segala upaya telah dilakukan pemerintah Nazi untuk menghentikan pekerjaan itu. Lagi pula, mereka menjadi takut kepada penduduk. Mengapa? Karena sewaktu polisi dan para pejabat berseragam lainnya mendatangi rumah-rumah dan bertanya apakah penghuninya telah menerima selebaran demikian, kebanyakan orang menyangkalnya. Sesungguhnya, mayoritas terbesar dari mereka tidak menerimanya. Selebaran itu hanya diberikan kepada dua atau tiga keluarga di setiap gedung. Tetapi polisi tidak mengetahui hal itu. Mereka mengira bahwa setiap rumah mendapatkan satu selebaran.

      Selama bulan-bulan berikutnya, para pejabat Nazi dengan tegas menyangkal tuduhan-tuduhan yang dilontarkan dalam resolusi tercetak tersebut. Maka, pada tanggal 20 Juni 1937, Saksi-Saksi yang masih bebas menyebarkan berita lain, sepucuk surat terbuka yang secara gamblang dan terperinci membeberkan penganiayaan itu, sebuah dokumen yang menyebutkan nama para pejabat dan mengutip tanggal dan tempat. Terjadi kegemparan yang hebat di kalangan Gestapo mengenai penyingkapan ini dan mengenai kemampuan Saksi-Saksi untuk melakukan penyebaran demikian.

      Sejumlah pengalaman dari keluarga Kusserow, dari Bad Lippspringe, Jerman, menyatakan tekad yang sama untuk memberi kesaksian. Suatu contoh adalah mengenai apa yang terjadi sesudah Wilhelm Kusserow dieksekusi di muka umum di Münster oleh rezim Nazi karena ia menolak mengkompromikan imannya. Hilda, ibu dari Wilhelm, segera pergi ke penjara dan mendesak mereka memberikan jenazahnya untuk dimakamkan. Ia berkata kepada keluarganya, ”Kita akan memberi kesaksian besar kepada orang-orang yang mengenal dia.” Pada upacara pemakaman, Franz, ayah Wilhelm, memanjatkan doa yang menyatakan iman akan persediaan-persediaan Yehuwa yang pengasih. Di kuburan, Karl-Heinz, saudara dari Wilhelm, mengucapkan kata-kata penghiburan dari Alkitab. Karena hal ini mereka tidak luput dari hukuman, tetapi bagi mereka yang penting adalah menghormati Yehuwa dengan memberi kesaksian mengenai nama-Nya dan Kerajaan-Nya.

      Seraya tekanan-tekanan masa perang menghebat di Belanda, Saksi-Saksi di sana dengan bijaksana menyesuaikan penyelenggaraan perhimpunan mereka. Perhimpunan-perhimpunan ini sekarang hanya diadakan dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari sepuluh orang atau kurang di rumah-rumah pribadi. Tempat berhimpun sering diubah. Masing-masing Saksi hanya hadir di kelompoknya sendiri, dan tidak ada yang memberitahukan tempat dilangsungkannya pelajaran itu, bahkan kepada seorang teman yang tepercaya pun tidak. Pada masa tersebut dalam sejarah, sewaktu seluruh penduduk dihalau dari rumah mereka karena perang, Saksi-Saksi Yehuwa mengetahui bahwa orang-orang sangat membutuhkan berita penghiburan yang hanya terdapat dalam Firman Allah, dan mereka tanpa takut menceritakannya kepada mereka. Namun sepucuk surat dari kantor cabang mengingatkan saudara-saudara bagaimana Yesus telah memperlihatkan sikap hati-hati pada berbagai peristiwa ketika berhadapan dengan para penentang. (Mat. 10:16; 22:​15-22) Sebagai hasilnya, jika mereka menjumpai seseorang yang menunjukkan sikap bermusuhan, mereka mencatat alamatnya dengan teliti agar tindakan pencegahan khusus dapat dilakukan bila mengerjakan daerah tersebut di kemudian hari.

      Di Yunani penderitaan yang meluas dialami oleh penduduk selama masa pendudukan Jerman. Akan tetapi, perlakuan paling bengis terhadap Saksi-Saksi Yehuwa, adalah sebagai akibat fitnah keji oleh kaum pemimpin agama Gereja Ortodoks Yunani, yang berkeras agar polisi dan pengadilan mengambil tindakan terhadap mereka. Banyak dari antara Saksi-Saksi dipenjarakan atau dibuang dari kampung halaman mereka dan dikirim ke desa-desa yang terpencil atau ditahan di bawah kondisi yang sangat buruk di pulau-pulau yang gersang. Walaupun demikian, mereka terus memberi kesaksian. (Bandingkan Kisah 8:​1, 4.) Sering kali hal ini dilakukan dengan berbicara kepada orang di taman dan kebun umum, dengan duduk di bangku bersama mereka dan menceritakan kepada mereka tentang Kerajaan Allah. Sewaktu mendapati minat yang tulus, sebuah lektur Alkitab yang berharga dipinjamkan kepada orang itu. Lektur demikian akan dikembalikan di kemudian hari dan digunakan berkali-kali. Banyak pencinta kebenaran dengan penuh penghargaan menerima bantuan yang ditawarkan oleh Saksi-Saksi dan bahkan bergabung bersama mereka dalam membagikan kabar baik kepada orang lain, walaupun ini mengakibatkan penganiayaan yang hebat atas diri mereka.

      Faktor penting dalam keberanian dan ketekunan Saksi-Saksi adalah bahwa mereka dibina oleh makanan rohani. Walaupun persediaan lektur untuk disebarkan kepada orang lain akhirnya menjadi sangat sedikit di beberapa bagian di Eropa selama perang, mereka berhasil menyebarkan di antara mereka sendiri bahan-bahan yang menguatkan iman yang telah dipersiapkan oleh Lembaga untuk dipelajari oleh Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia. Dengan mempertaruhkan nyawa, August Kraft, Peter Gölles, Ludwig Cyranek, Therese Schreiber, dan banyak lagi yang lain ikut serta mereproduksi dan menyebarkan bahan pelajaran yang diselundupkan ke Austria dari Cekoslowakia, Italia, dan Swiss. Di Belanda, seorang pengawal penjara yang ramah membantu Arthur Winkler dalam upaya memperoleh sebuah Alkitab. Meskipun adanya segala langkah pencegahan yang dilakukan oleh musuh, air kebenaran Alkitab yang menyegarkan dari The Watchtower menjangkau bahkan ke kamp-kamp konsentrasi Jerman dan menyebar di antara Saksi-Saksi di sana.

      Penahanan dalam penjara dan kamp konsentrasi tidak membuat Saksi-Saksi Yehuwa berhenti menjadi saksi. Ketika rasul Paulus berada dalam penjara di Roma, ia menulis, ”Aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.” (2 Tim. 2:​9) Demikian pula halnya berkenaan Saksi-Saksi Yehuwa di Eropa selama Perang Dunia II. Para penjaga mengamati tingkah laku mereka; beberapa mengajukan pertanyaan, dan beberapa menjadi rekan seiman, walaupun itu mengakibatkan hilangnya kemerdekaan mereka sendiri. Banyak penghuni penjara yang ditahan bersama Saksi-Saksi berasal dari negeri-negeri seperti Rusia, yang sedikit sekali mendapat pemberitaan kabar baik. Seusai perang, beberapa di antara mereka ini kembali ke tanah air mereka sebagai Saksi-Saksi Yehuwa, yang ingin sekali menyebarkan berita Kerajaan di sana.

      Penganiayaan yang kejam dan dampak dari perang total tidak dapat mencegah apa yang sudah dinubuatkan mengenai dikumpulkannya orang-orang ke rumah rohani Yehuwa yang mulia untuk beribadat. (Yes. 2:​2-4) Dari tahun 1938 hingga tahun 1945, sebagian besar dari negeri-negeri di Eropa menunjukkan peningkatan yang cukup besar dalam jumlah yang ikut serta dalam ibadat demikian dengan mengumumkan Kerajaan Allah. Di Inggris, Finlandia, Prancis, dan Swiss, Saksi-Saksi mengalami pertambahan kira-kira 100 persen. Di Yunani, pertambahannya hampir tujuh kali lipat. Di Belanda, dua belas kali lipat. Namun menjelang akhir tahun 1945, belum diperoleh perincian dari Jerman atau Romania, dan hanya laporan-laporan yang kurang lengkap masuk dari sejumlah negeri lainnya.

      Di Luar Eropa Selama Tahun-Tahun Perang Tersebut

      Juga di negeri-negeri Timur, perang dunia menimbulkan penderitaan luar biasa bagi Saksi-Saksi Yehuwa. Di Jepang dan Korea, mereka ditangkapi dan menjadi sasaran pukulan serta disiksa karena mereka mendukung Kerajaan Allah dan tidak mau menyembah kaisar Jepang. Akhirnya semua hubungan mereka dengan Saksi-Saksi di negeri-negeri lain diputuskan. Bagi banyak di antara mereka, kesempatan satu-satunya untuk memberi kesaksian adalah ketika sedang diinterogasi atau sedang diperiksa di pengadilan. Menjelang akhir perang, pelayanan umum dari Saksi-Saksi Yehuwa di negeri-negeri ini boleh dikatakan terhenti.

      Sewaktu perang sampai ke Filipina, Saksi-Saksi diperlakukan secara buruk oleh kedua pihak karena mereka tidak mau mendukung pihak Jepang maupun pihak kekuatan lawan. Untuk menghindari penangkapan, banyak dari Saksi-Saksi meninggalkan rumah mereka. Tetapi seraya mereka pindah dari satu tempat ke tempat lain, mereka mengabar​—meminjamkan lektur bila tersedia, dan kemudian hanya menggunakan Alkitab. Seraya gejolak perang surut, mereka bahkan memperlengkapi beberapa kapal untuk mengangkut rombongan-rombongan besar Saksi ke pulau-pulau yang jarang atau belum pernah mendapat kesaksian.

      Di Birma (kini Myanmar), bukanlah serbuan Jepang melainkan tekanan dari para pemimpin agama Anglikan, Metodis, Katolik Roma, dan Baptis Amerika atas para pejabat kolonial yang mengakibatkan munculnya larangan atas lektur Saksi-Saksi Yehuwa pada bulan Mei 1941. Dua Saksi yang bekerja di kantor telegram melihat sebuah telegram yang membuat mereka waspada akan apa yang bakal terjadi, maka saudara-saudara segera memindahkan lektur ke luar dari depot Lembaga untuk menghindari kemungkinan disita. Kemudian diadakan upaya untuk mengirimkan banyak lektur melalui darat ke Cina.

      Pada waktu itu pemerintah AS sedang mengangkut dengan truk sejumlah besar perlengkapan perang melalui Jalan Birma untuk mendukung pemerintah Nasionalis Cina. Saudara-saudara berupaya menumpang di salah satu truk tersebut tetapi mereka ditolak dengan kasar. Upaya untuk memperoleh kendaraan dari Singapura juga tidak berhasil. Akan tetapi, ketika Mick Engel, yang bertanggung jawab atas depot Lembaga di Rangoon (kini Yangon), mengadakan pendekatan kepada seorang pejabat tinggi AS, ia mendapat izin untuk mengangkut lektur itu dengan truk tentara.

      Meskipun demikian, setelah itu ketika Fred Paton dan Hector Oates mendekati perwira yang mengawasi konvoi ke Cina ini dan meminta tempat, amarahnya hampir meledak! ”Apa?” teriaknya. ”Bagaimana mungkin saya memberikan tempat yang berharga di truk-truk saya untuk risalah-risalah Anda yang menyebalkan sedangkan saya sama sekali tidak punya tempat untuk persediaan militer dan medis yang sangat dibutuhkan, yang menjadi rusak di udara terbuka ini?” Fred berdiam sejenak, merogoh tasnya, memperlihatkan kepadanya surat kuasa itu, dan mengemukakan bahwa persoalannya bisa menjadi sangat serius jika ia mengabaikan petunjuk yang diberikan oleh para pejabat di Rangoon. Perwira pengawas itu tidak hanya mengatur pengangkutan dua ton buku melainkan ia menyediakan sebuah truk kecil, dengan supir dan perbekalan, untuk digunakan oleh saudara-saudara. Mereka menuju ke arah timur laut menempuh jalan pegunungan yang berbahaya memasuki Cina dengan muatan mereka yang berharga. Setelah memberi kesaksian di Pao-shan, mereka maju terus ke Chungking (Pahsien). Ribuan lektur yang menceritakan tentang Kerajaan Yehuwa disebarkan selama satu tahun mereka di Cina. Di antara orang-orang yang mendapat kesaksian secara pribadi dari mereka adalah Chiang Kai-shek, presiden pemerintahan Nasionalis Cina.

      Sementara itu, seraya pemboman meningkat di Birma, semua kecuali tiga orang Saksi di sana meninggalkan negeri itu, kebanyakan pergi ke India. Kegiatan dari ketiga orang yang tinggal tentunya terbatas. Namun mereka terus memberi kesaksian secara tidak resmi, dan upaya mereka menghasilkan buah sesudah perang.

      Juga di Amerika Utara, Saksi-Saksi Yehuwa harus menghadapi hambatan-hambatan yang berat selama perang. Kekerasan massa yang meluas dan penerapan hukum setempat yang bertentangan dengan konstitusi menimbulkan tekanan berat atas pekerjaan pengabaran. Ribuan dipenjarakan karena mengambil pendirian sebagai orang Kristen yang netral. Namun, hal ini tidak mengendurkan pelayanan Saksi-Saksi dari rumah ke rumah. Tambahan pula, mulai bulan Februari 1940, sudah menjadi umum untuk melihat mereka ada di jalan-jalan dalam kawasan bisnis menawarkan The Watchtower dan Consolation (kini Awake!). Gairah mereka bahkan semakin kuat. Walaupun mengalami penganiayaan yang paling hebat yang belum pernah dialami sebelumnya di bagian dunia tersebut, jumlah Saksi-Saksi bertambah lebih dari dua kali lipat di Amerika Serikat maupun di Kanada dari tahun 1938 hingga 1945, dan waktu yang mereka baktikan kepada pelayanan umum bertambah tiga kali lipat.

      Di banyak negeri yang dikenal dengan Persemakmuran Inggris (di Amerika Utara, Afrika, Asia, dan pulau-pulau di Karibia dan Pasifik) Saksi-Saksi Yehuwa maupun lektur mereka dilarang oleh pemerintah. Salah satu di antara negeri-negeri ini ialah Australia. Pengumuman resmi yang diterbitkan di sana pada tanggal 17 Januari 1941, atas petunjuk gubernur jenderal, menyatakan bahwa Saksi-Saksi Yehuwa dilarang mengadakan pertemuan ibadat, menyebarkan lektur apa pun, atau bahkan memilikinya. Undang-undang memperbolehkan untuk mempermasalahkan larangan itu di pengadilan, dan hal ini segera dilakukan. Namun baru lebih dari dua tahun kemudian Tn. Justice Starke dari Mahkamah Tinggi menyatakan bahwa peraturan yang mendasari larangan itu ”sewenang-wenang, mudah berubah dan bersifat menindas”. Mahkamah Tinggi kemudian menyingkirkan larangan tersebut. Sementara itu apa yang dilakukan oleh Saksi-Saksi Yehuwa?

      Dalam meniru rasul-rasul Yesus Kristus, mereka ’lebih menaati Allah sebagai penguasa daripada manusia’. (Kis. 4:​19, 20; 5:29) Mereka terus mengabar. Meskipun banyak rintangan, mereka bahkan menyelenggarakan sebuah kebaktian di Hargrave Park, dekat Sydney, tanggal 25-29 Desember 1941. Ketika pemerintah menolak menyediakan pengangkutan kereta api kepada beberapa delegasi kebaktian, sebuah kelompok dari Australia Barat memperlengkapi kendaraan-kendaraan mereka dengan unit-unit yang menghasilkan uap dari pembakaran arang dan memulai perjalanan melintas alam selama 14 hari, termasuk satu minggu melintasi Dataran Nullarbor yang gersang itu. Mereka tiba dengan selamat dan menikmati acara bersama enam ribu delegasi lainnya. Tahun berikutnya diadakan kebaktian lagi, tetapi kali ini kebaktian dibagi menjadi 150 kelompok yang lebih kecil di tujuh kota utama di seluruh negeri, dengan para pembicara yang bolak-balik dari satu lokasi ke lokasi berikutnya.

      Seraya kondisi di Eropa memburuk pada tahun 1939, beberapa rohaniwan perintis dari Saksi-Saksi Yehuwa merelakan diri untuk melayani di ladang-ladang lain. (Bandingkan Matius 10:23; Kisah 8:​4.) Tiga orang perintis Jerman dikirim dari Swiss ke Shanghai, Cina. Beberapa pergi ke Amerika Selatan. Di antara mereka yang dipindahkan ke Brasil adalah Otto Estelman, yang telah mengunjungi dan membantu sidang-sidang di Cekoslowakia, dan Erich Kattner, yang telah melayani di kantor Lembaga Menara Pengawal di Praha. Penugasan mereka yang baru tidaklah mudah. Mereka mendapati bahwa di beberapa daerah perladangan, Saksi-Saksi biasa bangun dini hari dan mengabar sampai pukul 7.00 pagi dan kemudian melanjutkan dinas pengabaran sampai larut malam. Saudara Kattner mengingat kembali bahwa, seraya ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, ia sering tidur di udara terbuka, dan menggunakan tas lekturnya sebagai bantal.​—Bandingkan Matius 8:20.

      Saudara Estelmann maupun Saudara Kattner menjadi buronan polisi rahasia Nazi di Eropa. Apakah kepindahan mereka ke Brasil membebaskan mereka dari penganiayaan? Sebaliknya, hanya setelah satu tahun, mereka dikenakan tahanan rumah dan pemenjaraan yang waktunya diulur-ulur karena hasutan para pejabat yang rupanya bersimpati kepada Nazi! Tentangan dari para pemimpin agama Katolik juga merupakan hal biasa, tetapi Saksi-Saksi terus gigih dalam melakukan pekerjaan yang Allah berikan kepada mereka. Mereka secara tetap tentu mengerjakan kota-kota besar dan kecil di Brasil yang belum terjangkau oleh berita Kerajaan.

      Tinjauan kembali mengenai situasi sedunia menunjukkan bahwa di kebanyakan negeri tempat Saksi-Saksi Yehuwa berada selama Perang Dunia II, mereka dihadapkan kepada larangan pemerintah atas organisasi mereka atau lektur mereka. Walaupun mereka telah mengabar di 117 negeri pada tahun 1938, namun selama tahun-tahun perang (1939-45) terjadi pelarangan atas organisasi atau lektur mereka, atau deportasi para rohaniwan mereka, di lebih dari 60 di antara negeri-negeri tersebut. Bahkan di tempat yang tidak memberlakukan larangan, mereka menghadapi kekerasan massa dan sering kali ditangkap. Meskipun adanya segala hal ini, pemberitaan kabar baik tidak berhenti.

      Kumpulan Besar Mulai Menyatakan Diri di Amerika Latin

      Tepat pada pertengahan tahun-tahun perang, pada bulan Februari 1943, dengan memandang kepada pekerjaan yang harus dilakukan pada era pascaperang, Lembaga Menara Pengawal meresmikan Sekolah Gilead di negara bagian New York guna melatih utusan-utusan injil untuk berdinas di luar negeri. Sebelum akhir tahun itu, 12 di antara para utusan injil tersebut telah mulai melayani di Kuba. Ladang di sana ternyata sangat produktif.

      Bahkan lebih awal lagi, yakni tahun 1910, beberapa benih kebenaran Alkitab telah mencapai Kuba. C. T. Russell telah menyampaikan khotbah di sana pada tahun 1913. J. F. Rutherford telah berbicara melalui radio di Havana pada tahun 1932, dan telah diadakan siaran ulangan mengenai bahan itu dalam bahasa Spanyol. Tetapi pertumbuhannya lambat. Banyak sekali yang buta huruf pada waktu itu dan ada banyak prasangka agama. Pada mulanya yang paling banyak memperlihatkan minat adalah dari kalangan penduduk yang berbahasa Inggris yang berasal dari Jamaika dan tempat-tempat lain. Menjelang tahun 1936, hanya ada 40 pemberita Kerajaan di Kuba. Tetapi penanaman dan penyiraman benih-benih kebenaran Kerajaan kemudian mulai menghasilkan lebih banyak buah.

      Pada tahun 1934, orang-orang Kuba yang pertama telah dibaptis; yang lain-lain menyusul. Mulai pada tahun 1940, siaran radio setiap hari yang ditambah dengan kesaksian yang berani di jalan memperkuat pelayanan dari rumah ke rumah di sana. Bahkan sebelum utusan-utusan injil keluaran Sekolah Gilead tiba pada tahun 1943, ada 950 orang di Kuba yang telah menerima kabar baik dan memberitakannya kepada orang lain, walaupun tidak semua di antara mereka mengikutinya secara tetap tentu. Selama dua tahun sesudah para utusan injil tiba, jumlahnya bertambah bahkan lebih cepat. Menjelang tahun 1945, Saksi-Saksi Yehuwa di Kuba berjumlah 1.894 orang. Walaupun kebanyakan di antara mereka berasal dari agama yang mengajarkan bahwa semua pendukung yang setia dari gereja akan pergi ke surga, bagian terbesar dari mereka yang menjadi Saksi-Saksi Yehuwa dengan segala senang hati menerima prospek hidup kekal di bumi dalam firdaus yang dipulihkan. (Kej. 1:28; 2:15; Mzm. 37:​9, 29; Why. 21:​3, 4) Hanya 1,4 persen di antara mereka mengaku sebagai saudara Kristus yang diurapi dengan roh.

      Ada lagi cara lain yang digunakan oleh kantor pusat Lembaga untuk membantu ladang Amerika Latin. Pada awal tahun 1944, N. H. Knorr, F. W. Franz, W. E. Van Amburgh, dan M. G. Henschel tinggal selama sepuluh hari di Kuba untuk menguatkan saudara-saudara di sana secara rohani. Selama waktu tersebut suatu kebaktian diadakan di Havana, dan penyelenggaraan untuk koordinasi yang lebih baik dari pekerjaan pengabaran digariskan. Dalam perjalanan ini Saudara Knorr dan Saudara Henschel juga berkunjung ke Kosta Rika, Guatemala, dan Meksiko untuk membantu Saksi-Saksi Yehuwa di negeri-negeri tersebut.

      Pada tahun 1945 dan 1946, N. H. Knorr dan F. W. Franz mengadakan perjalanan sehingga mereka dapat berbicara dan bekerja bersama Saksi-Saksi di 24 negeri dalam daerah yang mencakup Meksiko sampai ke ujung selatan Amerika Selatan maupun di Karibia. Secara pribadi mereka menggunakan waktu lima bulan di bagian dunia tersebut, memberikan bantuan dan pengarahan yang pengasih. Di beberapa tempat mereka berjumpa dengan hanya segelintir orang yang berminat. Supaya ada penyelenggaraan yang tetap tentu untuk perhimpunan dan dinas pengabaran, mereka secara pribadi membantu pengorganisasian sidang-sidang yang pertama di Lima, Peru, dan Karakas, Venezuela. Bilamana sudah ada perhimpunan sidang, mereka menghadirinya dan, sewaktu-waktu, memberikan nasihat tentang cara memperbaiki nilai praktis berkenaan pekerjaan penginjilan.

      Bila memungkinkan, penyelenggaraan dibuat untuk menyampaikan khotbah Alkitab di depan umum selama kunjungan-kunjungan ini. Publisitas yang intensif diberikan untuk khotbah-khotbah itu dengan menggunakan plakat-plakat yang dikenakan oleh Saksi-Saksi dan dengan membagi-bagikan selebaran di jalan-jalan. Hasilnya, ke-394 Saksi di Brasil senang menyambut hadirnya 765 orang di kebaktian mereka di São Paulo. Di Cile, yang memiliki 83 pemberita Kerajaan, 340 orang datang untuk mendengarkan khotbah yang diiklankan secara istimewa. Di Kosta Rika ke-253 Saksi setempat senang sekali menyambut jumlah total 849 hadirin di kedua kebaktian mereka. Ini merupakan kesempatan untuk menikmati pergaulan yang hangat di antara saudara-saudara.

      Akan tetapi, tujuannya bukan sekadar mengadakan kebaktian yang tak terlupakan. Selama perjalanan-perjalanan ini para wakil dari kantor pusat memberi penekanan khusus kepada pentingnya mengadakan kunjungan kembali kepada orang-orang berminat dan mengadakan pengajaran Alkitab di rumah dengan mereka. Agar orang-orang menjadi murid yang sejati, mereka membutuhkan pengajaran yang tetap tentu dari Firman Allah. Sebagai hasilnya, jumlah pengajaran Alkitab di rumah meningkat dengan cepat di bagian dunia ini.

      Sementara Saudara Knorr dan Saudara Franz mengadakan perjalanan-perjalanan dinas ini, lebih banyak utusan injil keluaran Sekolah Gilead tiba di daerah penugasan mereka. Menjelang akhir tahun 1944, beberapa melayani di Kosta Rika, Meksiko, dan Puerto Riko. Pada tahun 1945, utusan-utusan injil lain membantu agar pekerjaan pengabaran terorganisasi lebih baik di Barbados, Brasil, Cile, El Salvador, Guatemala, Haiti, Honduras Inggris (kini Belize), Jamaika, Kolombia, Nikaragua, Panama, dan Uruguay. Sewaktu dua utusan injil yang pertama tiba di Republik Dominika pada tahun 1945, hanya merekalah Saksi-Saksi di negeri itu. Dampak pelayanan para utusan injil yang pertama itu segera terasa. Trinidad Paniagua berkata tentang para utusan injil pertama yang diutus ke Guatemala, ”Ini tepat seperti yang kami butuhkan​—pengajar-pengajar Firman Allah yang membantu kami memahami cara melaksanakan pekerjaan.”

      Maka dasar sudah diletakkan untuk perluasan di bagian dari ladang dunia ini. Di kepulauan Karibia, ada 3.394 pemberita Kerajaan menjelang akhir tahun 1945. Di Meksiko, ada 3.276, dan ada 404 orang lagi di Amerika Tengah. Di Amerika Selatan, 1.042. Bagian dunia inilah, yang menunjukkan pertambahan 386 persen selama tujuh tahun sebelumnya, suatu masa penuh pergolakan dalam sejarah manusia. Tetapi itu baru permulaan. Pertumbuhan dalam ukuran yang benar-benar pesat masih menanti! Alkitab telah menubuatkan bahwa ”suatu kumpulan besar . . . dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” akan dikumpulkan sebagai penyembah-penyembah Yehuwa sebelum sengsara besar.​—Why. 7:​9, 10, 14.

      Sewaktu Perang Dunia II mulai pada tahun 1939, hanya ada 72.475 Saksi-Saksi Yehuwa yang mengabar di 115 negeri (jika dihitung menurut pembagian nasional pada awal tahun 1990-an). Meskipun mereka mengalami penganiayaan yang hebat dalam skala global, jumlah mereka meningkat lebih dari dua kali lipat menjelang akhir perang. Maka, laporan untuk tahun 1945 menunjukkan bahwa 156.299 Saksi aktif di 107 negeri yang berhasil menyusun laporan. Akan tetapi, menjelang waktu itu sesungguhnya sudah 163 negeri yang dicapai dengan berita Kerajaan.

      Kesaksian yang diberikan selama tahun 1936 hingga tahun 1945 betul-betul menakjubkan. Selama dekade kekacauan dunia tersebut, Saksi-Saksi Yehuwa yang bergairah ini membaktikan sejumlah 212.069.285 jam untuk memberitakan kepada dunia bahwa Kerajaan Allah adalah harapan satu-satunya untuk umat manusia. Mereka juga menyebarkan 343.054.579 buku, buku kecil, dan majalah untuk membantu orang memahami dasar Alkitab untuk keyakinan tersebut. Untuk membantu peminat yang tulus hati, pada tahun 1945, rata-rata mereka memimpin 104.814 pengajaran Alkitab di rumah secara gratis.

      [Blurb di hlm. 455]

      Walaupun kondisi masa perang memaksa mereka untuk melarikan diri, mereka tetap mengabar

      [Kotak/Gambar di hlm. 451-453]

      Mereka Menolak untuk Berhenti Memberi Kesaksian Meskipun Dipenjarakan

      Yang diperlihatkan di sini hanyalah sedikit di antara ribuan yang karena iman mereka menderita dalam penjara dan kamp konsentrasi selama Perang Dunia II

      1. Adrian Thompson, Selandia Baru. Dipenjarakan pada tahun 1914 di Australia; permohonannya untuk dibebaskan dari wajib militer ditolak ketika Australia melarang Saksi-Saksi Yehuwa. Setelah ia bebas, sebagai pengawas keliling, ia menguatkan sidang-sidang dalam pelayanan mereka kepada umum. Melayani sebagai utusan injil dan pengawas keliling pertama pada masa pascaperang di Jepang; terus mengabar dengan bergairah hingga kematiannya pada tahun 1976.

      2. Alois Moser, Austria. Dalam tujuh penjara dan kamp konsentrasi. Masih seorang Saksi yang aktif pada tahun 1992 pada usia 92 tahun.

      3. Franz Wohlfahrt, Austria. Pelaksanaan hukuman mati atas ayahnya dan adik laki-lakinya tidak membuat Franz mundur. Ditahan di Kamp Rollwald di Jerman selama lima tahun. Masih memberi kesaksian pada tahun 1992 pada usia 70 tahun.

      4. Thomas Jones, Kanada. Dipenjarakan pada tahun 1944, kemudian ditahan dalam dua kamp kerja paksa. Sesudah 34 tahun dalam dinas sepenuh waktu, pada tahun 1977 ia diangkat menjadi anggota Panitia Cabang yang mengawasi pekerjaan pengabaran di seluruh Kanada.

      5. Maria Hombach, Jerman. Berulang kali ditangkap; dikurung dalam sel tersendiri selama tiga setengah tahun. Sebagai kurir, mempertaruhkan kehidupannya untuk membawa lektur Alkitab kepada rekan-rekan Saksi. Pada tahun 1992, seorang anggota setia dari keluarga Betel pada usia 90 tahun.

      6. Max dan Konrad Franke, Jerman. Ayah dan putra, keduanya dipenjarakan berkali-kali, dan selama bertahun-tahun. (Istri Konrad, Gertrud, juga dalam penjara.) Semua tetap hamba Yehuwa yang loyal dan bergairah, dan Konrad ada di baris depan dalam menghidupkan kembali pekerjaan pengabaran Saksi-Saksi pada masa pascaperang di Jerman.

      7. A. Pryce Hughes, Inggris. Divonis dengan dua masa hukuman di Wormwood Scrubs, London; juga dipenjarakan karena imannya selama Perang Dunia I. Berada di baris depan pekerjaan pengabaran Kerajaan di Inggris hingga kematiannya pada tahun 1978.

      8. Adolphe dan Emma Arnold, dengan putri mereka Simone, Prancis. Setelah Adolphe dipenjarakan, Emma dan Simone terus memberi kesaksian, juga menyebarkan lektur kepada Saksi-Saksi lain. Ketika Emma dalam penjara, dikurung dalam sel tersendiri karena terus memberi kesaksian kepada sesama tahanan. Simone dikirim ke sekolah anak-anak nakal. Mereka semua terus menjadi Saksi-Saksi yang bergairah.

      9. Ernst dan Hildegard Seliger, Jerman. Bila dijumlahkan, mereka berada dalam penjara dan kamp konsentrasi karena iman mereka lebih dari 40 tahun. Bahkan dalam penjara mereka bertekun membagikan kebenaran-kebenaran Alkitab kepada orang-orang lain. Sewaktu bebas, mereka membaktikan sepenuh waktu mereka kepada pemberitaan kabar baik. Saudara Seliger meninggal sebagai hamba Allah yang loyal pada tahun 1985; Saudari Seliger pada tahun 1992.

      10. Carl Johnson, Amerika Serikat. Dua tahun sesudah dibaptis, dipenjarakan bersama ratusan Saksi lainnya di Ashland, Kentucky. Ia telah melayani sebagai perintis dan sebagai pengawas wilayah; pada tahun 1992, masih memimpin pelayanan pengabaran dan sebagai penatua.

      11. August Peters, Jerman. Dipisahkan secara paksa dari istri dan empat anaknya, ia dipenjarakan tahun 1936-37, juga tahun 1937-45. Sesudah dibebaskan, sebaliknya daripada berkurang dalam pengabaran, ia berbuat lebih banyak, dalam dinas sepenuh waktu. Pada tahun 1992, dalam usia 99 tahun, ia masih melayani sebagai anggota keluarga Betel dan telah melihat jumlah Saksi-Saksi Yehuwa di Jerman meningkat menjadi 163.095.

      12. Gertrud Ott, Jerman. Dipenjarakan di Lodz, Polandia, kemudian di kamp konsentrasi Auschwitz; selanjutnya di Gross-Rosen dan Bergen-Belsen di Jerman. Sesudah perang ia melayani dengan bergairah sebagai utusan injil di Indonesia, Iran, dan Luksemburg.

      13. Katsuo Miura, Jepang. Tujuh tahun sesudah ia ditangkap dan dipenjarakan di Hiroshima, banyak bagian penjara tempat ia ditahan hancur karena bom atom yang memusnahkan kota. Akan tetapi, dokter-dokter tidak menemukan bukti bahwa ia menderita luka karena radiasi. Ia menggunakan tahun-tahun terakhir dalam kehidupannya sebagai perintis.

      14. Martin dan Gertrud Poetzinger, Jerman. Beberapa bulan sesudah menikah, mereka ditangkap dan dipisahkan secara paksa selama sembilan tahun. Martin dikirimkan ke Dachau dan Mauthausen; Gertrud, ke Ravensbrück. Meskipun diperlakukan secara kejam, iman mereka tidak goyah. Sesudah bebas, mereka membaktikan segenap upaya mereka kepada dinas Yehuwa. Selama 29 tahun ia melayani sebagai pengawas keliling di seluruh Jerman; kemudian, sebagai anggota Badan Pimpinan hingga akhir hayatnya pada tahun 1988. Pada tahun 1992, Gertrud tetap seorang penginjil yang bergairah.

      15. Jizo dan Matsue Ishii, Jepang. Sesudah menyebarkan lektur Alkitab di seluruh Jepang selama satu dekade, mereka dipenjarakan. Meskipun pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa di Jepang dibekukan selama perang, Saudara dan Saudari Ishii kembali memberi kesaksian dengan penuh gairah sesudah perang. Menjelang tahun 1992, Matsue Ishii telah melihat bertambahnya jumlah Saksi-Saksi yang aktif di Jepang menjadi lebih dari 171.000 orang.

      16. Victor Bruch, Luksemburg. Dipenjarakan di Buchenwald, Lublin, Auschwitz, dan Ravensbrück. Pada usia 90 tahun, masih aktif sebagai seorang penatua dari Saksi-Saksi Yehuwa.

      17. Karl Schurstein, Jerman. Seorang pengawas keliling sebelum Hitler berkuasa. Dipenjara selama delapan tahun, kemudian dibunuh oleh SS di Dachau pada tahun 1944. Bahkan di dalam kamp, ia terus membina orang lain secara rohani.

      18. Kim Bong-nyu, Korea. Dipenjarakan selama enam tahun. Pada usia 72 tahun, masih menceritakan kepada orang lain tentang Kerajaan Allah.

      19. Pamfil Albu, Romania. Sesudah dianiaya secara brutal, ia dikirim ke sebuah kamp kerja paksa di Yugoslavia selama dua setengah tahun. Sesudah perang, ia dipenjarakan dua kali lagi, selama 12 tahun. Ia tidak berhenti berbicara tentang maksud-tujuan Allah. Sebelum kematiannya, ia telah membantu ribuan orang di Romania untuk melayani bersama organisasi sedunia dari Saksi-Saksi Yehuwa.

      20. Wilhelm Scheider, Polandia. Dalam kamp konsentrasi Nazi tahun 1939-45. Dalam penjara Komunis tahun 1950-56, juga tahun 1960-64. Hingga kematiannya pada tahun 1971, ia tanpa goyah membaktikan tenaganya untuk memberitakan Kerajaan Allah.

      21. Harald dan Elsa Abt, Polandia. Selama dan sesudah perang, Harald menghabiskan waktu 14 tahun dalam penjara dan kamp konsentrasi karena imannya namun terus mengabar bahkan di sana. Elsa dipisahkan dengan paksa dari putri mereka yang masih bayi dan kemudian ditahan dalam enam kamp di Polandia, Jerman, dan Austria. Meskipun adanya pelarangan terhadap Saksi-Saksi Yehuwa selama 40 tahun di Polandia bahkan sesudah perang, mereka semua terus menjadi hamba Yehuwa yang bergairah.

      22. Ádám Szinger, Hungaria. Melewati enam kali pemeriksaan pengadilan, dihukum 23 tahun, di antaranya ia meringkuk 8 1/2 tahun dalam penjara dan kamp kerja paksa. Sewaktu bebas, ia melayani sebagai pengawas keliling selama 30 tahun seluruhnya. Pada usia 69 tahun, masih seorang penatua sidang yang loyal.

      23. Joseph Dos Santos, Filipina. Telah berbakti 12 tahun sebagai pembawa berita Kerajaan sepenuh waktu sebelum dipenjarakan pada tahun 1942. Menggairahkan kembali kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa di Filipina sesudah perang dan secara pribadi terus melayani dalam dinas perintis hingga kematiannya pada tahun 1983.

      24. Rudolph Sunal, Amerika Serikat. Dipenjarakan di Mill Point, Virginia Barat. Sesudah dibebaskan, ia membaktikan sepenuh waktunya untuk menyebarkan pengetahuan tentang Kerajaan Allah​—sebagai perintis, anggota keluarga Betel, dan pengawas wilayah. Masih merintis pada tahun 1992, pada usia 78 tahun.

      25. Martin Magyarosi, Romania. Dari penjara, tahun 1942-44, ia terus memberi petunjuk untuk pemberitaan kabar baik di Transylvania. Sewaktu dibebaskan, ia banyak melakukan perjalanan untuk menganjurkan rekan-rekan Saksi dalam pengabaran dan ia sendiri seorang Saksi yang tidak kenal takut. Dipenjara lagi pada tahun 1950, ia meninggal dalam kamp kerja paksa pada tahun 1953, seorang hamba Yehuwa yang loyal.

      26. R. Arthur Winkler, Jerman dan Belanda. Mula-mula dikirimkan ke kamp konsentrasi Esterwegen; tetap mengabar dalam kamp. Belakangan, di Belanda, ia dipukuli oleh Gestapo hingga tidak dapat dikenali lagi. Akhirnya ia dikirim ke Sachsenhausen. Seorang saksi yang bergairah dan loyal hingga kematiannya pada tahun 1972.

      27. Park Ock-hi, Korea. Tiga tahun dalam Penjara Sodaemun, Seoul; disiksa dengan cara yang tak terlukiskan. Dalam usia 91 tahun, pada tahun 1992, masih memberi kesaksian dengan penuh gairah, sebagai perintis istimewa.

      [Peta/Gambar di hlm. 446]

      Alexander MacGillivray, sebagai pengawas cabang Australia, membantu merencanakan ekspedisi pengabaran ke banyak negeri dan pulau

      [Peta]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      AUSTRALIA

      SELANDIA BARU

      TAHITI

      TONGA

      FIJI

      NUGINI

      JAWA

      BORNEO

      SUMATRA

      BIRMA

      HONG KONG

      MALAYA

      SINGAPURA

      SIAM

      INDOCINA

      CINA

      SAMUDRA PASIFIK

      Nama-Nama Tempat Adalah yang Digunakan Selama Tahun 1930-an

      [Peta/Gambar di hlm. 460]

      Menjelang akhir 1945, utusan-utusan injil dari Sekolah Gilead sudah mulai berdinas di 18 negeri di bagian dunia ini

      Charles dan Lorene Eisenhower

      Kuba

      John dan Adda Parker

      Guatemala

      Emil Van Daalen

      Puerto Riko

      Olaf Olson

      Kolombia

      Don Burt

      Kosta Rika

      Gladys Wilson

      El Salvador

      Hazel Burford

      Panama

      Louise Stubbs

      Cile

      [Peta]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      BARBADOS

      BELIZE

      BOLIVIA

      BRASILIA

      CILE

      EL SALVADOR

      GUATEMALA

      HAITI

      JAMAIKA

      KOLOMBIA

      KOSTA RIKA

      KUBA

      MEKSIKO

      NIKARAGUA

      PANAMA

      PUERTO RIKO

      REPUBLIK DOMINIKA

      URUGUAY

      [Gambar di hlm. 444]

      Beberapa kolportir menempatkan berkarton-karton lektur; para penghuni rumah mendapatkan banyak khotbah Alkitab dalam setiap buku

      [Gambar di hlm. 445]

      Armando Menazzi (depan tengah) dan kelompok yang bergembira yang bepergian bersamanya dalam ekspedisi pengabaran di depan ”rumah perintis yang beroda” milik mereka.

      [Gambar di hlm. 445]

      Arthur Willis, Ted Sewell, dan Bill Newlands​—tiga pembawa berita Kerajaan ke daerah pedesaan Australia yang terpencil

      [Gambar di hlm. 447]

      Frank Dewar (tampak di sini bersama istrinya dan kedua putri mereka) pergi ke Thailand sebagai perintis seorang diri pada tahun 1936 dan masih seorang perintis istimewa pada tahun 1992

      [Gambar di hlm. 447]

      Chomchai Inthaphan menggunakan kemampuannya sebagai penerjemah untuk mencapai orang-orang Thai dengan kabar baik yang ditemukan dalam Alkitab

      [Gambar di hlm. 448]

      Di Jerman, Saksi-Saksi Yehuwa menyebarkan surat terbuka ini secara luas kepada umum pada tahun 1937, meskipun ibadat mereka dilarang pemerintah

      [Gambar di hlm. 449]

      Keluarga Franz dan Hilda Kusserow​—setiap orang di antara mereka adalah Saksi yang setia dari Yehuwa walaupun semua di dalam keluarga (kecuali seorang putra yang meninggal dalam kecelakaan) pernah dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi, penjara, atau sekolah untuk anak nakal karena iman mereka

      [Gambar di hlm. 450]

      Beberapa di Austria dan Jerman yang mempertaruhkan kehidupan mereka untuk memperbanyak atau menyebarkan bahan yang berharga untuk pengajaran Alkitab, seperti yang diperlihatkan di latar belakang

      Therese Schreiber

      Peter Gölles

      Elfriede Löhr

      Albert Wandres

      August Kraft

      Ilse Unterdörfer

      [Gambar di hlm. 454]

      Saksi-Saksi pada kebaktian di Shanghai, Cina, pada tahun 1936; sembilan dari kelompok ini dibaptis pada kesempatan tersebut

      [Gambar di hlm. 456]

      Meskipun ibadat mereka dilarang, Saksi-Saksi ini mengadakan kebaktian di Hargrave Park, dekat Sydney, Australia, pada tahun 1941

      [Gambar di hlm. 458]

      Saksi-Saksi Kuba pada kebaktian di Cienfuegos pada tahun 1939

      [Gambar di hlm. 459]

      N. H. Knorr (kiri) di kebaktian São Paulo pada tahun 1945, dengan Erich Kattner sebagai juru bahasa

  • Bagian 4​—Saksi-Saksi ke Bagian yang Paling Jauh di Bumi
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 22

      Bagian 4​—Saksi-Saksi ke Bagian yang Paling Jauh di Bumi

      Sementara Perang Dunia II masih berkecamuk, Saksi-Saksi Yehuwa membuat rencana untuk meningkatkan kegiatan pada masa pascaperang. Laporan di halaman 462 hingga 501 membentangkan perincian yang menakjubkan mengenai apa yang sesungguhnya terjadi dari tahun 1945 sampai 1975 seraya jumlah mereka bertambah, menjangkau lebih banyak negeri lagi, dan mengabarkan dan mengajarkan Firman Allah dengan cara yang lebih cermat daripada sebelumnya.

      SEBAGIAN besar pulau-pulau di Hindia Barat dengan berbagai cara telah dicapai dengan berita Kerajaan menjelang tahun 1945. Tetapi kesaksian yang lebih cermat perlu diberikan. Para utusan injil keluaran Sekolah Gilead akan memainkan peranan yang penting.

      Utusan-Utusan Injil Meningkatkan Kesaksian di Hindia Barat

      Menjelang tahun 1960 para utusan injil ini telah melayani di 27 pulau atau kepulauan di Karibia. Setengah dari tempat-tempat ini belum mempunyai sidang Saksi-Saksi Yehuwa ketika para utusan injil tiba. Para utusan injil mulai memimpin pengajaran Alkitab di rumah dengan orang-orang berminat, dan mereka menyelenggarakan perhimpunan-perhimpunan secara tetap tentu. Apabila sudah ada sidang, mereka memberikan pelatihan yang berharga kepada penyiar-penyiar setempat. Sebagai hasilnya, mutu perhimpunan dan keefektifan dalam pelayanan bertambah baik.

      Siswa-Siswa Alkitab masa permulaan telah memberi kesaksian di Trinidad sejak sebelum Perang Dunia I, tetapi sesudah para utusan injil dari Gilead tiba pada tahun 1946, hal memimpin pengajaran Alkitab di rumah dengan orang-orang berminat mendapat dorongan yang lebih kuat. Di Jamaika pemberitaan kabar baik telah berlangsung selama hampir setengah abad, dan ada seribu Saksi setempat menjelang tibanya utusan injil yang pertama; tetapi mereka senang mendapat bantuan untuk mencapai orang-orang yang lebih berpendidikan, khususnya di daerah pinggiran sekitar ibu kota. Di lain pihak, di Aruba sudah banyak kesaksian diberikan di kalangan masyarakat yang berbahasa Inggris, maka para utusan injil memberikan perhatian kepada penduduk pribumi. Setiap orang harus mendengarkan kabar baik.

      Untuk memastikan bahwa orang-orang di semua pulau di bagian bumi ini mendapat kesempatan mendengar tentang Kerajaan Allah, maka pada tahun 1948 Lembaga Menara Pengawal memperlengkapi kapal layar Sibia berukuran panjang 18 meter menjadi rumah utusan injil yang mengapung. Awak kapal ditugaskan untuk membawa berita Kerajaan ke setiap pulau di Hindia Barat yang tidak memiliki satu orang pun yang aktif memberitakan kabar baik. Gust Maki adalah nakhodanya, dan bersama dia ada Stanley Carter, Ronald Parkin, dan Arthur Worsley. Mereka mulai dari Kepulauan Out dari grup Bahama, kemudian bekerja di sepanjang jalan ke arah tenggara melalui Kepulauan Leeward dan Kepulauan Windward. Bagaimana dampak dari kunjungan mereka? Di St. Maarten seorang usahawan berkata kepada mereka, ”Masyarakat tidak biasa berbicara tentang Alkitab, tetapi sejak kalian ada di sini setiap orang berbicara tentang Alkitab.” Belakangan, Sibia diganti dengan kapal yang lebih besar, yakni Light. Juga ada perubahan dalam susunan awak kapal. Dalam waktu satu dekade pekerjaan khusus yang dilakukan dengan menggunakan kapal-kapal ini telah terlaksana, dan para pemberita kabar baik yang berpangkalan di darat melakukan tindak lanjut.

      Memberi Kesaksian Lebih Dahulu di Kota-Kota Besar

      Seperti halnya di Hindia Barat, demikian pula di Amerika Tengah dan Selatan, sudah ada orang-orang di banyak daerah yang telah memiliki beberapa publikasi Lembaga Menara Pengawal sebelum utusan-utusan injil dari Sekolah Gilead tiba. Akan tetapi, agar dapat mencapai setiap orang dengan kabar baik dan membantu mereka yang tulus hati menjadi murid yang sejati, diperlukan organisasi yang lebih baik.

      Menjelang berakhirnya perang dunia kedua pada tahun 1945, ada ratusan Saksi-Saksi Yehuwa di Argentina dan Brasil; kira-kira tiga ribu di Meksiko; beberapa sidang yang sangat kecil di Guiana Inggris (kini Guyana), Cile, Guiana Belanda (kini Suriname), Paraguay, dan Uruguay; beberapa penyiar di Kolombia, Guatemala, dan Venezuela. Tetapi mengenai Bolivia, Ekuador, El Salvador, Honduras, dan Nikaragua, kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa baru dimulai secara mantap setelah tibanya para utusan injil keluaran Sekolah Gilead.

      Para utusan injil mula-mula mengarahkan perhatian khusus ke pusat-pusat pemukiman utama. Menarik untuk diperhatikan bahwa pada abad pertama, rasul Paulus banyak mengabar di kota-kota sepanjang rute-rute perjalanan yang utama di Asia Kecil dan di Yunani. Di Korintus, salah satu kota yang paling terkemuka di Yunani purba, Paulus membaktikan 18 bulan untuk pengajaran Firman Allah. (Kis. 18:1-11) Di Efesus, yang merupakan persimpangan jalan dan perniagaan dunia purba, ia mengumumkan Kerajaan Allah selama lebih dari dua tahun.​—Kis. 19:8-10; 20:31.

      Demikian pula, sewaktu Edward Michalec dan Harold Morris, utusan injil lulusan Sekolah Gilead, tiba di Bolivia pada tahun 1945, mereka tidak mencari-cari lokasi yang beriklim paling enak. Sebaliknya, mereka memberi perhatian pertama-tama kepada La Paz, ibu kota, yang terletak di pegunungan Andes pada ketinggian hampir 3.700 meter. Bagi para pendatang baru, mereka harus berjuang untuk mendaki jalan-jalan yang terjal pada ketinggian ini; jantung mereka sering berdebar-debar. Tetapi para utusan injil menemui banyak orang yang berminat kepada berita Alkitab. Di ibu kota tersebut, bukanlah hal yang aneh bila ada yang mengatakan kepada mereka, ”Saya ini seorang Katolik Roma apostolik, tetapi saya tidak suka kepada para imam.” Hanya dalam jangka waktu dua bulan, kedua utusan injil ini memimpin 41 pengajaran Alkitab di rumah.

      Selama dekade berikutnya, seraya lebih banyak utusan injil tiba dan jumlah Saksi setempat meningkat, perhatian diberikan kepada kota-kota lain di Bolivia: Cochabamba, Oruro, Santa Cruz, Sucre, Potosí, dan Tarija. Sesudah itu, lebih banyak perhatian dapat diarahkan ke kota-kota yang lebih kecil dan juga daerah pedesaan.

      Sama halnya, di Kolombia para utusan injil mengawali pengabaran yang terorganisasi di ibu kota, Bogotá, pada tahun 1945, dan di kota pinggir pantai, Barranquilla, pada tahun berikutnya. Setelah itu, secara berangsur-angsur perhatian diarahkan ke Cartagena, Santa Marta, Cali, dan Medellín. Lebih banyak orang dapat dicapai dalam waktu singkat dengan mengerjakan kota-kota besar lebih dahulu. Dengan bantuan mereka yang mempelajari kebenaran di sana, berita itu akan segera dibawa ke daerah-daerah sekitarnya.

      Jika di sebuah kota didapati sedikit sekali minat maka para utusan injil dipindahkan ke tempat lain. Karena itu, di Ekuador, ketika pekerjaan selama tiga tahun pada pertengahan tahun 1950-an tidak menghasilkan satu orang pun yang berani mengambil pendirian untuk kebenaran di Cuenca yang fanatik agama, maka Carl Dochow dipindahkan ke Machala, sebuah kota yang dihuni oleh orang-orang yang lembut hati dan berpikiran terbuka. Akan tetapi, satu dekade kemudian, orang-orang di Cuenca mendapat kesempatan sekali lagi. Sikap yang berbeda dijumpai, hambatan-hambatan dapat diatasi, dan menjelang tahun 1992 di dalam dan di sekitar Cuenca, lebih dari 1.200 orang telah menjadi Saksi-Saksi Yehuwa dan diorganisasi dalam 25 sidang!

      Dengan Sabar Mencari Orang-Orang yang Bersifat Domba

      Banyak kesabaran dituntut untuk mencari orang-orang yang benar-benar bersifat domba. Untuk menemukan mereka di Suriname, Saksi-Saksi Yehuwa telah mengabar kepada orang-orang Indian-Amerika, Cina, Indonesia, Yahudi, Lebanon, keturunan dari orang-orang Belanda yang menetap, dan suku-suku di hutan rimba yang terdiri dari orang Negro Bush, yang merupakan keturunan dari budak-budak pelarian. Di antara mereka dijumpai ratusan orang yang betul-betul lapar akan kebenaran. Beberapa harus berjuang untuk melepaskan diri dari keterlibatan yang dalam dengan praktek-praktek animisme dan spiritisme. Salah seorang seperti ini adalah Paitu, seorang dukun, yang mencamkan berita Alkitab dan kemudian membuang berhala-berhala, jimat-jimat, dan obat-obatnya ke dalam sungai. (Bandingkan Ulangan 7:25; 18:9-14; Kis. 19:19, 20.) Pada tahun 1975 ia membaktikan dirinya kepada Yehuwa, Allah yang sejati.

      Sejumlah besar penduduk Peru tinggal di desa-desa kecil yang bertebaran di pegunungan Andes dan di dalam hutan rimba sekitar hulu Sungai Amazon. Bagaimana mereka dapat dijangkau? Pada tahun 1971 sebuah keluarga Saksi dari Amerika Serikat bepergian ke Peru untuk mengunjungi putra mereka yang adalah seorang utusan injil, Joe Leydig. Sewaktu mereka memperhatikan banyaknya desa yang terletak di sana sini di lembah-lembah pegunungan, kepedulian mereka akan orang-orang ini menggerakkan mereka untuk berbuat sesuatu. Mula-mula mereka membantu menyediakan sebuah rumah mobil, dan kemudian dua buah lagi, serta sepeda-sepeda khusus untuk jalan setapak yang dapat digunakan dalam ekspedisi pengabaran yang luas ke daerah-daerah yang terpencil ini.

      Walaupun berbagai upaya dikerahkan, di banyak tempat agaknya hanya sedikit sekali yang memperlihatkan minat kepada berita Alkitab. Saudara dapat membayangkan bagaimana perasaan kelompok yang terdiri dari enam utusan injil muda di Barquisimeto, Venezuela, pada awal tahun 1950-an ketika, setelah setahun penuh mengabar dengan rajin, mereka hampir tidak melihat adanya kemajuan. Walaupun orang-orang cukup ramah, kebanyakan dari mereka sangat dipengaruhi oleh takhayul dan menganggapnya dosa bahkan untuk membaca sebuah ayat dari Alkitab. Kalaupun ada yang memperlihatkan minat, ia akan segera ditakut-takuti oleh anggota-anggota keluarga atau para tetangga. (Mat. 13:19-21) Tetapi dengan penuh keyakinan bahwa pasti ada beberapa orang yang bersifat domba di Barquisimeto dan bahwa Yehuwa akan mengumpulkan mereka pada waktunya, para utusan injil terus berkunjung dari rumah ke rumah. Maka, betapa menghangatkan hati bagi Penny Gavette ketika suatu hari seorang wanita yang sudah beruban mendengarkan kepadanya dan kemudian mengatakan,

      ”Senorita, sudah sejak remaja saya menunggu kedatangan seseorang ke rumah saya untuk menerangkan hal-hal yang baru Anda katakan tadi. Begini, waktu saya masih muda, saya biasa membersihkan rumah seorang imam, dan ia mempunyai sebuah Alkitab dalam perpustakaannya. Saya tahu bahwa kami dilarang untuk membacanya, tetapi saya begitu ingin tahu mengenai alasannya hingga pada suatu hari, tanpa ada yang melihat, saya membawanya pulang dan membacanya secara diam-diam. Apa yang saya baca menyadarkan saya bahwa Gereja Katolik tidak mengajarkan kebenaran kepada kami dan karena itu bukanlah agama yang benar. Saya takut mengatakan apa pun kepada siapa pun, tetapi saya yakin bahwa pada suatu hari mereka yang mengajarkan agama yang sejati akan datang ke kota kami. Ketika agama Protestan datang, saya mula-mula mengira bahwa merekalah itu, tetapi saya segera mendapati bahwa mereka mengajarkan banyak kepalsuan yang sama yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Nah, apa yang baru saja Anda katakan kepada saya sama dengan apa yang saya baca dalam Alkitab tersebut bertahun-tahun yang lampau.” Dengan senang sekali ia setuju untuk mempelajari Alkitab dan ia menjadi salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa. Meskipun mendapat tentangan dari keluarga, ia melayani Yehuwa dengan setia hingga kematiannya.

      Cukup banyak upaya harus dikerahkan untuk mengumpulkan orang-orang yang bersifat domba ini ke dalam sidang-sidang dan melatih mereka untuk ikut serta dalam dinas Yehuwa. Sebagai contoh, di Argentina, Rosendo Ojeda secara tetap tentu menempuh perjalanan kira-kira 60 kilometer dari General San Martín, Chaco, untuk memimpin suatu perhimpunan di rumah Alejandro Sozoñiuk, seorang yang berminat. Perjalanan itu sering kali menghabiskan waktu sepuluh jam, sebagian perjalanan ditempuh dengan sepeda, sebagian berjalan kaki, kadang-kadang mengarungi air setinggi ketiak. Sekali sebulan selama lima tahun ia melakukan perjalanan itu, dan setiap kali ia tinggal selama seminggu untuk memberi kesaksian di daerah tersebut. Sedemikian berhargakah itu? Ia tidak ragu-ragu mengenai hal itu karena hasilnya adalah sebuah sidang yang berbahagia yang terdiri dari pemuji-pemuji Yehuwa.

      Memajukan Pendidikan Demi Kehidupan

      Di Meksiko, Saksi-Saksi Yehuwa melaksanakan pekerjaan mereka sesuai dengan hukum-hukum yang mengatur organisasi-organisasi kebudayaan di sana. Tujuan Saksi-Saksi adalah lebih daripada sekadar mengadakan perhimpunan untuk menyampaikan khotbah. Mereka ingin agar orang-orang sama seperti orang-orang Berea pada zaman rasul Paulus yang dapat ’dengan saksama menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semua yang diajarkan itu benar-benar demikian’. (Kis. 17:11, NW) Di Meksiko, seperti halnya di banyak negeri lain, sering kali hal ini berarti memberikan bantuan khusus kepada orang-orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah namun ingin dapat membaca sendiri Firman Allah yang terilham.

      Kursus-kursus melek huruf yang dipimpin oleh Saksi-Saksi Yehuwa di Meksiko, telah membantu puluhan ribu orang di sana untuk belajar membaca dan menulis. Pekerjaan ini dihargai oleh Departemen Pendidikan Umum Meksiko, dan pada tahun 1974 seorang direktur di Kantor Pusat Pendidikan Orang Dewasa menulis sepucuk surat kepada La Torre del Vigía de México, suatu perkumpulan sipil yang digunakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa, dengan menyatakan, ”Saya ingin menggunakan kesempatan ini dengan hangat mengucapkan selamat kepada Anda . . . atas kerja sama yang patut dipuji yang diberikan oleh perkumpulan Anda selama tahun ke tahun demi manfaat rakyat kita.”

      Seraya menyiapkan orang-orang untuk kehidupan kekal sebagai warga-warga Kerajaan Allah, pendidikan yang diselenggarakan oleh Saksi-Saksi juga mengangkat harkat kehidupan keluarga mereka sekarang. Setelah seorang hakim di El Salto, Durango State, mengadakan upacara perkawinan pada berbagai kesempatan bagi Saksi-Saksi Yehuwa, ia menyatakan pada tahun 1952, ”Kita mengaku diri sebagai patriot dan warga negara yang begitu baik namun kita dipermalukan oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Mereka adalah teladan bagi kita karena mereka tidak mengizinkan seorang pun dalam organisasi mereka hidup bersama namun belum mensahkan hubungannya. Dan kalian, hai orang-orang Katolik, hampir semua di antara kalian menempuh kehidupan yang amoral dan belum mensahkan perkawinan kalian.”

      Program pendidikan ini juga membantu orang untuk belajar hidup bersama dengan damai, untuk saling mengasihi dan bukan membenci dan membunuh. Sewaktu seorang Saksi mulai mengabar di Venado, Guanajuato State, ia mendapati bahwa orang-orang semuanya dipersenjatai dengan bedil dan pistol. Permusuhan membuat keluarga-keluarga mengganyang satu sama lain. Tetapi pengajaran Alkitab menghasilkan perubahan-perubahan besar. Bedil dijual agar dapat membeli Alkitab. Lebih dari 150 orang di daerah itu segera menjadi Saksi-Saksi Yehuwa. Dalam arti kiasan, mereka ’menempa pedang-pedang mereka menjadi mata bajak’ dan mulai menempuh jalan damai.—Mi. 4:3.

      Banyak orang Meksiko yang takut akan Allah telah mencamkan dalam hati apa yang telah diajarkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa kepada mereka dari Firman Allah. Hasilnya, jumlah penyiar di Meksiko yang hanya beberapa ribu orang itu seusai Perang Dunia II segera melonjak menjadi 10.000, kemudian 20.000, 40.000, 80.000, dan lebih banyak lagi seraya Saksi-Saksi memperlihatkan kepada orang lain cara menerapkan nasihat Firman Allah dan cara mengajarkannya kepada orang lain.

      Berhimpun Bersama Meski Dalam Kesulitan

      Akan tetapi, seraya jumlah Saksi-Saksi Yehuwa meningkat mereka mendapati bahwa di negeri mana pun, mereka harus mengatasi rintangan-rintangan yang sulit untuk dapat mengadakan kebaktian-kebaktian untuk pengajaran Kristen. Di Argentina mereka dilarang oleh pemerintah pada tahun 1950. Meskipun demikian, karena taat kepada Allah, mereka tidak berhenti mengabar, ataupun lalai berhimpun bersama. Penyelenggaraannya memang lebih rumit, namun kebaktian-kebaktian tetap diadakan.

      Misalnya, menjelang akhir tahun 1953, Saudara Knorr dan Saudara Henschel mengunjungi Argentina untuk melayani suatu kebaktian nasional. Saudara Knorr memasuki negeri tersebut dari barat, dan Saudara Henschel memulai kunjungannya di selatan. Mereka berbicara kepada kelompok-kelompok orang di perladangan, di kebun buah, pada kesempatan piknik di tepi sungai kecil di gunung, dan di rumah-rumah pribadi. Sering kali mereka harus melakukan perjalanan jarak jauh dari satu kelompok ke kelompok berikutnya. Setibanya di Buenos Aires, mereka masing-masing melayani pada acara-acara di sembilan lokasi dalam satu hari, dan di sebelas rumah keesokan harinya. Seluruhnya, mereka menyampaikan khotbah kepada 56 kelompok, dengan jumlah total hadirin 2.505 orang. Jadwalnya melelahkan, tetapi mereka senang dapat melayani saudara-saudara mereka dengan cara itu.

      Ketika mempersiapkan suatu kebaktian di Kolombia pada tahun 1955, Saksi-Saksi mengontrak sebuah balai di Barranquilla. Akan tetapi, di bawah tekanan dari uskup, campur tangan wali kota dan gubernur, kontrak dibatalkan. Hanya dengan pemberitahuan satu hari sebelumnya, saudara-saudara mengalihkan tempat kebaktian, dan mengatur agar itu diadakan di halaman kantor cabang Lembaga. Meskipun demikian, sewaktu acara malam pertama tengah berlangsung, polisi bersenjata tiba dengan perintah untuk membubarkan kebaktian. Saudara-saudara tetap melanjutkannya. Suatu imbauan kepada wali kota pada keesokan paginya, menyebabkan sekretarisnya meminta maaf, dan hampir 1.000 orang berjejal-jejal di kompleks Lembaga pada hari terakhir acara Kebaktian ”Kerajaan yang Berkemenangan” tersebut. Walaupun mengalami situasi-situasi yang ada pada waktu itu, saudara-saudara dengan demikian dikuatkan oleh nasihat rohani yang dibutuhkan.

      Melayani di Tempat yang Lebih Membutuhkan

      Ladangnya luas, dan para pekerja sangat dibutuhkan di Amerika Latin, sebagaimana halnya di banyak tempat lain. Pada tahun 1957, di kebaktian-kebaktian di seluruh dunia, Saksi-Saksi Yehuwa yang matang secara perorangan dan secara keluarga dianjurkan untuk mempertimbangkan agar benar-benar pindah dan bermukim di daerah yang lebih membutuhkan dan melaksanakan pelayanan mereka di sana. Sesudah itu anjuran serupa diberikan dengan berbagai cara. Undangan itu mirip dengan undangan yang disampaikan oleh Allah kepada rasul Paulus, yang dalam penglihatan melihat seorang pria yang memohon kepadanya, ”Menyeberanglah ke mari (”ke Makedonia”, NW) dan tolonglah kami!” (Kis. 16:9, 10) Bagaimana sambutan atas undangan zaman modern itu? Hamba-hamba Yehuwa menawarkan diri mereka dengan sukarela.—Mzm. 110:3.

      Bagi keluarga yang memiliki anak-anak kecil, dibutuhkan iman yang kuat untuk keluar dari lingkungannya, meninggalkan sanak-saudara dan rumah serta pekerjaan duniawi, dan pindah ke suatu lingkungan yang sama sekali baru. Perpindahan itu mungkin mengharuskan mereka menerima standar kehidupan yang sangat berbeda dan, dalam beberapa situasi, mempelajari suatu bahasa yang baru. Namun, ribuan Saksi secara perorangan dan keluarga telah melakukan perpindahan demikian untuk membantu orang lain belajar tentang persediaan-persediaan Yehuwa yang pengasih untuk kehidupan kekal.

      Sebagai tanggapan yang cepat, sejumlah Saksi-Saksi Yehuwa melakukan perpindahan menjelang akhir tahun 1950-an; yang lainnya pada tahun 1960-an; lebih banyak lagi pada tahun 1970-an. Dan perpindahan Saksi-Saksi ke daerah yang lebih membutuhkan terus berlangsung hingga dewasa ini.

      Dari manakah mereka datang? Sejumlah besar dari Amerika Serikat, Australia, Kanada, dan Selandia Baru. Banyak dari Inggris, Jerman, dan Prancis. Antara lain juga dari Austria, Belgia, Denmark, Finlandia, Italia, Jepang, Republik Korea, Norwegia, Spanyol, Swedia, dan Swiss. Seraya jumlah Saksi-Saksi Yehuwa bertambah di Argentina, Brasil, Meksiko, dan negeri-negeri lain di Amerika Latin, negeri-negeri ini juga telah menyediakan pekerja-pekerja yang rela melayani di negeri-negeri lain yang sangat membutuhkan. Serupa pula, di Afrika pekerja-pekerja yang bergairah telah pindah dari satu negeri ke negeri lain untuk membantu memberikan kesaksian.

      Ke daerah mana saja mereka itu pindah? Negeri-negeri seperti Afghanistan, Malaysia, dan Senegal, dan pulau-pulau seperti Réunion dan St. Lucia. Kira-kira 1.000 orang pindah ke Irlandia, tempat mereka melayani selama berbagai jangka waktu. Sejumlah besar pergi ke Islandia, meskipun mengalami musim salju yang panjang dan gelap, dan beberapa tetap tinggal, menjadi pilar-pilar dalam sidang dan memberikan bantuan pengasih kepada mereka yang masih baru. Banyak hal baik telah dilakukan teristimewa di Amerika Tengah dan Selatan. Lebih dari 1.000 Saksi pindah ke Kolombia, lebih dari 870 ke Ekuador, lebih dari 110 ke El Salvador.

      Harold dan Anne Zimmerman ada di antara mereka yang pindah. Mereka sudah pernah melayani sebagai guru utusan injil di Etiopia. Akan tetapi, pada tahun 1959, sewaktu mereka menyelesaikan urusan untuk pindah dari Amerika Serikat ke Kolombia agar dapat ikut serta menyebarkan berita Kerajaan di sana, mereka juga membesarkan empat orang anak, yang umurnya berkisar antara lima bulan sampai lima tahun. Harold pergi lebih dahulu untuk mencari pekerjaan. Ketika ia tiba di negeri itu, laporan warta berita setempat mengganggu pikirannya. Perang saudara yang tidak dinyatakan dengan resmi sedang berkecamuk, dan terjadi pembantaian besar-besaran di daerah pedalaman. ’Apakah saya benar-benar mau membawa keluarga saya kemari untuk hidup dalam kondisi seperti ini?’ demikian ia bertanya pada diri sendiri. Ia memeriksa ingatannya untuk mendapatkan suatu contoh atau prinsip penuntun dalam Alkitab. Apa yang muncul dalam ingatannya adalah kisah Alkitab tentang para mata-mata penakut yang membawa kembali laporan yang buruk tentang Negeri Perjanjian ke perkemahan Israel. (Bil. 13:25–14:4, 11) Itu membulatkan keputusannya; ia tidak ingin seperti mereka! Ia segera mengatur agar keluarganya datang. Baru setelah dana mereka menciut sampai tinggal tiga dolar saja, ia menemukan pekerjaan duniawi yang dibutuhkan, tetapi mereka memiliki apa yang benar-benar dibutuhkan. Banyaknya pekerjaan demikian yang harus dilakukannya untuk memberi nafkah keluarganya beraneka ragam dari tahun ke tahun, tetapi ia senantiasa berusaha tetap mengutamakan kepentingan Kerajaan. Ketika mereka mula-mula pergi ke Kolombia, ada kira-kira 1.400 Saksi di negeri itu. Betapa pertumbuhan yang menakjubkan telah mereka saksikan sejak itu!

      Melayani di tempat yang lebih membutuhkan Saksi-Saksi tidak selalu mengharuskan seseorang pergi ke negeri lain. Ribuan Saksi secara perorangan dan keluarga telah pindah ke daerah-daerah lain di dalam negeri mereka sendiri. Sebuah keluarga di Bahia State, Brasil, pindah ke kota kecil Prado, yang belum ada Saksi-Saksi. Meskipun kaum pemimpin agama keberatan, mereka tetap tinggal dan bekerja di kota tersebut dan daerah sekitarnya selama tiga tahun. Sebuah bangunan gereja yang sudah tidak digunakan lagi dibeli dan diubah menjadi Balai Kerajaan. Tidak lama kemudian ada lebih dari seratus Saksi yang aktif di daerah itu. Dan itu baru permulaan.

      Semakin banyak orang yang mengasihi keadilbenaran di Amerika Latin menyambut undangan yang dicatat di Mazmur 148, ’Pujilah Yah, hai orang-orang! Pujilah Yehuwa dari atas bumi, hai semua kelompok bangsa.’ (Ay. 1, 7-11, NW) Sesungguhnya, menjelang tahun 1975 terdapat pemuji-pemuji Yehuwa di setiap negara di Amerika Latin. Laporan untuk tahun tersebut menunjukkan bahwa 80.481 orang yang terorganisasi dalam 2.998 sidang, melayani di Meksiko. Ada 24.703 orang lagi di 462 sidang yang berbicara tentang Kerajaan Yehuwa di Amerika Tengah. Dan di Amerika Selatan terdapat 206.457 orang yang memuji Yehuwa di muka umum di 3.620 sidang.

      Menjangkau Jauh ke Kepulauan Pasifik

      Sementara perluasan cepat berlangsung di Amerika Selatan, Saksi-Saksi Yehuwa juga mengarahkan perhatian ke Kepulauan Pasifik. Ada ratusan pulau yang bertebaran antara Australia dan benua Amerika, dan banyak di antaranya seakan-akan sekadar menyembulkan kepalanya ke atas permukaan samudera, karena begitu kecilnya. Beberapa di antaranya hanya dihuni oleh beberapa keluarga; yang lain puluhan ribu orang. Pada awal tahun 1950-an, prasangka yang ada di kalangan berwenang tidak memungkinkan Lembaga Menara Pengawal untuk mengutus utusan-utusan injil ke banyak di antara pulau-pulau ini. Namun penduduk di sana juga harus mendengar tentang Yehuwa dan Kerajaan-Nya. Hal ini selaras dengan nubuat yang tercatat di Yesaya 42:10-12, yang berkata, ”Nyanyikanlah nyanyian baru bagi [Yehuwa] dan pujilah Dia dari ujung bumi! . . . Baiklah mereka . . . memberitakan pujian yang kepadaNya di pulau-pulau.” Maka, pada tahun 1951, pada suatu kebaktian di Sydney, Australia, para perintis dan pengawas wilayah yang berminat ambil bagian dalam menyebarkan berita Kerajaan ke pulau-pulau itu diundang untuk bertemu dengan Saudara Knorr. Pada waktu itu kira-kira 30 orang merelakan diri untuk mengabar di kepulauan tropis.

      Di antara mereka adalah Tom dan Rowena Kitto, yang segera mendapati diri mereka di Papua, yang pada waktu itu belum ada Saksi-Saksi. Mereka mengawali pekerjaan mereka di kalangan orang-orang Eropa di Port Moresby. Tidak lama kemudian mereka menghabiskan petang dan malam hari di Hanuabada, ”Desa Besar”, dengan suatu kelompok yang terdiri dari 30 hingga 40 orang Papua yang lapar akan kebenaran rohani. Dari mereka, berita menyebar ke desa-desa lain. Dalam waktu singkat, orang-orang Kerema mengutus suatu delegasi yang memohon agar pengajaran Alkitab diadakan dengan mereka. Kemudian seorang kepala kampung dari Haima datang dan memohon, ”Datanglah dan ajar rakyatku tentang kebenaran!” Demikianlah kebenaran menyebar.

      Sepasang suami-istri lainnya, John dan Ellen Hubler, pergi ke Kaledonia Baru untuk memulai pekerjaan di sana. Sewaktu mereka tiba pada tahun 1954, mereka hanya mempunyai visa turis untuk satu bulan saja. Tetapi John mendapat pekerjaan duniawi, dan hal ini membantu mereka untuk memperoleh perpanjangan. Menjelang waktu, Saksi-Saksi lain—semuanya ada 31—mengadakan perpindahan serupa. Pada mulanya, mereka melaksanakan pelayanan mereka di daerah-daerah terpencil agar tidak terlalu menarik perhatian. Belakangan, mereka mulai mengabar di ibu kota, Nouméa. Sebuah sidang terbentuk. Kemudian, pada tahun 1959, seorang anggota Aksi Katolik memangku kedudukan penting dalam pemerintahan. Tidak ada lagi perpanjangan visa bagi Saksi-Saksi. Keluarga Hubler harus angkat kaki dari negeri itu. Publikasi Menara Pengawal dilarang. Namun, kabar baik Kerajaan telah tertanam dan jumlah Saksi-Saksi terus bertambah.

      Di Tahiti banyak orang memperlihatkan minat kepada pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa ketika saudara-saudara mengadakan kunjungan-kunjungan singkat ke sana. Tetapi pada tahun 1957, belum ada Saksi-Saksi setempat, pekerjaan mereka dilarang, dan utusan-utusan injil Menara Pengawal ditolak masuk ke negeri itu. Akan tetapi, Agnes Schenck, seorang warga negara Tahiti yang pada waktu itu tinggal di Amerika Serikat, telah menjadi salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa. Ketika mendengar tentang kebutuhan akan pemberita Kerajaan di Tahiti, ia, suaminya, dan putra mereka berlayar dari Kalifornia pada bulan Mei 1958. Tidak lama sesudah itu dua keluarga lain bergabung dengan mereka, walaupun mereka hanya memperoleh visa turis untuk tiga bulan. Menjelang tahun berikutnya, sebuah sidang terbentuk di Papeete. Dan pada tahun 1960 pemerintah memberikan pengakuan kepada perkumpulan Saksi-Saksi Yehuwa yang diorganisasi secara lokal.

      Agar dapat menyebarkan berita Kerajaan, dua saudari utusan injil dalam perjalanan kembali ke daerah penugasan mereka singgah untuk mengunjungi seorang kerabat di Pulau Niue. Satu bulan yang mereka manfaatkan di sana sangat produktif; banyak minat yang ditemukan. Namun ketika kapal antar-pulau berikutnya tiba, mereka harus pergi. Akan tetapi, Seremaia Raibe, seorang Fiji, segera memperoleh kontrak pekerjaan dengan Departemen Pekerjaan Umum di Niue dan kemudian menggunakan seluruh waktu luangnya untuk mengabar. Akan tetapi, sebagai akibat tekanan kaum pemimpin agama, izin menetap Saudara Raibe dibatalkan sesudah beberapa bulan, dan pada bulan September 1961 Dewan Perwakilan Rakyat memutuskan untuk tidak mengizinkan lagi seorang pun dari Saksi-Saksi Yehuwa masuk ke dalam negeri. Meskipun demikian, pemberitaan kabar baik di sana terus berlangsung. Dengan cara bagaimana? Saksi-Saksi setempat, walaupun masih baru, bertekun dalam melayani Yehuwa. Selain itu, pemerintah setempat telah setuju untuk mempekerjakan William Lovini, seorang pribumi Niue yang telah tinggal di Selandia Baru. Mengapa ia ingin sekali pulang ke Niue? Karena ia telah menjadi salah seorang Saksi-Saksi Yehuwa dan ingin melayani di tempat yang lebih membutuhkan. Menjelang tahun 1964 jumlah Saksi di sana meningkat menjadi 34 orang.

      Pada tahun 1973, David Wolfgramm, seorang warga negara Tonga, dengan istrinya dan delapan orang anak, tinggal dalam sebuah rumah yang nyaman di Selandia Baru. Namun mereka meninggalkan semua itu dan pindah ke Tonga untuk memajukan kepentingan Kerajaan. Dari sana mereka ikut membuat pekerjaan masuk sampai jauh ke Kepulauan Tonga, yang 30 pulau di antaranya berpenduduk.

      Telah banyak waktu, upaya, dan biaya dikerahkan untuk mencapai pulau-pulau. Namun Saksi-Saksi Yehuwa memandang kehidupan sesama manusia mereka sebagai sesuatu yang berharga dan mereka rela berupaya habis-habisan membantu mereka memperoleh manfaat dari persediaan Yehuwa yang pengasih untuk kehidupan kekal dalam dunia barunya.

      Satu keluarga yang menjual perladangan mereka di Australia dan pindah ke salah satu pulau di Pasifik menyatakan perasaan mereka sebagai berikut, ”Mendengar penduduk pulau ini berkata bahwa mereka sekarang mengenal Yehuwa, mendengar mereka memanggil anak-anak kami sebagai anak-anak mereka, semata-mata karena mereka mengasihi anak-anak demi kebenaran, mengamati kemajuan kepentingan Kerajaan dan pertambahan jumlah hadirin, mendengar orang-orang yang menyenangkan ini berkata, ’Anak-anak saya hanya akan menikah di dalam Tuhan,’ dan ini terjadi setelah sekian abad berpaut kepada tradisi pernikahan ala Timur, mengamati mereka meluruskan dan membereskan liku-liku rumah tangga, . . . melihat mereka belajar seraya menjaga ternak di pinggir jalan, setelah bekerja membanting tulang di ladang padi, mengetahui bahwa mereka sedang membahas di warung setempat dan di tempat-tempat lain tentang salahnya penyembahan berhala dan indahnya nama Yehuwa, mendengar seorang ibu berbangsa India menyapa kami sebagai saudara dan saudari dan meminta kami menemaninya guna menceritakan kepada sanak-saudaranya tentang Allah yang sejati . . . Semuanya ini menambah kepada berkat yang tidak ternilai karena kami telah mengambil langkah sebagai sambutan atas panggilan dari Pasifik Selatan.”

      Akan tetapi, tidak hanya penduduk pulau-pulau di Pasifik ini yang mendapat perhatian. Mulai tahun 1964 perintis-perintis yang berpengalaman dari Filipina ditugaskan untuk memperkuat barisan utusan injil yang bergairah yang sudah bekerja di Hong Kong, Indonesia, Republik Korea, Laos, Malaysia, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

      Menghadapi Tekanan dari Keluarga dan Lingkungan Masyarakat

      Sewaktu seseorang menjadi salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa, hal ini tidak selalu diterima semata-mata sebagai keputusan pribadi oleh keluarganya dan lingkungan masyarakat.—Mat. 10:34-36; 1 Ptr. 4:4.

      Kebanyakan di antara mereka yang telah menjadi Saksi-Saksi Yehuwa di Hong Kong adalah kaum muda. Namun anak-anak muda ini telah berada di bawah tekanan yang hebat dalam suatu sistem yang memprioritaskan pendidikan tinggi dan pekerjaan dengan gaji besar. Orang-tua memandang anak-anak mereka sebagai investasi yang akan menjamin kehidupan nyaman di hari tua mereka. Maka, sewaktu orang-tua dari seorang pemuda di Kwun Tong menyadari bahwa pengajaran Alkitab, kehadiran di perhimpunan, dan dinas pengabaran dari putra mereka akan mengganggu dia dalam mencari uang, semakin gencar mereka melancarkan tentangan. Ayahnya mengejar dia dengan golok daging; ibunya meludahi dia di depan umum. Ia terus dicaci maki tak henti-hentinya selama berbulan-bulan. Pernah ia bertanya kepada orang-tuanya: ”Bukankah ayah dan ibu membesarkan saya karena kasih?” Dan mereka menjawab: ”Tidak, karena uang!” Meskipun demikian pemuda itu terus mendahulukan ibadatnya kepada Yehuwa; namun tatkala ia meninggalkan rumah, ia juga terus membantu orang-tuanya secara keuangan sebisa-bisanya, sebab ia tahu bahwa hal ini akan menyenangkan Yehuwa.—Mat. 15:3-9; 19:19.

      Dalam lingkungan masyarakat yang erat hubungannya, tekanan berat sering datang bukan hanya dari keluarga terdekat. Seseorang yang mengalami ini adalah Fuaiupolu Pele di Samoa Barat. Di kalangan masyarakat Samoa dianggap sangat mustahil untuk menolak adat-istiadat dan agama dari nenek moyang, dan Pele mengetahui bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban. Ia belajar dengan tekun dan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Yehuwa. Sewaktu dipanggil menghadap oleh kepala suku tradisional dalam keluarganya ke suatu pertemuan di Faleasiu, ia berhadapan muka dengan enam orang ketua, tiga ahli pidato, sepuluh pastor, dua guru teologi, kepala suku tradisional yang memimpin pertemuan, dan tua-tua pria dan wanita dalam keluarga. Mereka mencaci maki dan mengutuki dia maupun seorang anggota keluarga lain yang menunjukkan minat kepada Saksi-Saksi Yehuwa. Suatu perdebatan terjadi; itu berlangsung hingga jam empat dini hari. Penggunaan Alkitab oleh Pele menjengkelkan beberapa orang yang hadir, dan mereka berteriak: ”Singkirkan Alkitab itu! Jangan pakai-pakai Alkitab itu!” Tetapi akhirnya kepala suku tradisional dengan suara lemah berkata: ”Engkau menang, Pele.” Tetapi Pele menjawab: ”Maafkan saya, Pak, saya tidak menang. Malam ini Bapak mendengar berita tentang Kerajaan. Saya dengan tulus berharap agar Bapak mau memperhatikannya.”

      Bila Ada Tentangan Hebat dari Para Pemimpin Agama

      Para misionaris Susunan Kristen telah datang ke Kepulauan Pasifik pada tahun 1800-an. Kedatangan mereka di banyak tempat berlangsung dengan damai; di tempat lain mendapat dukungan kekuatan militer. Di beberapa daerah mereka membagi pulau-pulau itu di antara mereka sendiri dengan ”permufakatan”. Tetapi ada juga perang agama, yang menyebabkan orang Katolik dan orang Protestan saling berperang untuk berkuasa. ”Gembala-gembala” agama ini, para pemimpin agama, kini menggunakan segala sarana yang dapat mereka gunakan untuk mencegah Saksi-Saksi Yehuwa masuk ke tempat yang mereka anggap sebagai daerah kekuasaan mereka. Kadang-kadang mereka menekan para pejabat untuk mengusir Saksi-Saksi dari pulau-pulau tertentu. Pada waktu-waktu lain mereka main hakim sendiri.

      Di Pulau New Britain, di desa Vunabal, suatu kelompok dari suku Sulka menunjukkan minat besar kepada kebenaran Alkitab. Akan tetapi, suatu hari Minggu pada tahun 1959, sementara John Davison sedang memimpin pengajaran Alkitab dengan mereka, suatu gerombolan Katolik, di bawah pengarahan seorang pengajar katekismus Katolik, menyerobot masuk ke dalam rumah dan menghentikan pengajaran itu dengan teriakan dan caci maki. Hal ini dilaporkan ke polisi di Kokopo.

      Sebaliknya daripada meninggalkan domba-domba, Saksi-Saksi kembali pada minggu berikutnya untuk terus memberikan bantuan rohani kepada orang-orang yang memperlihatkan penghargaan di Vunabal. Sang imam Katolik juga berada di sana, walaupun tidak diundang oleh penduduk desa, dan ia membawa serta beberapa ratus orang Katolik dari suku lain. Sesudah dihasut oleh sang imam, orang-orang dari gerejanya bersumpah-serapah kepada Saksi-Saksi, meludahi mereka, mengacung-acungkan tinju mereka, dan merobek-robek Alkitab penduduk desa itu, sementara imam itu berdiri berlipat tangan dan tersenyum. Polisi yang berusaha mengendalikan keadaan kelihatan gemetar. Banyak di antara penduduk desa juga menjadi takut. Namun sedikitnya salah seorang penduduk desa terbukti berani dan mengambil pendiriannya untuk apa yang diketahuinya sebagai kebenaran. Kini, ratusan orang lain di pulau tersebut telah melakukan hal yang sama.

      Akan tetapi, tidak semua guru agama memperlihatkan semangat bermusuhan terhadap Saksi-Saksi Yehuwa. Shem Irofa’alu, di Kepulauan Solomon, merasakan tanggung jawab yang tulus terhadap mereka yang memandang dia sebagai pemimpin agama mereka. Sesudah membaca buku terbitan Lembaga Menara Pengawal berjudul Dari Firdaus Hilang sampai Firdaus Dipulihkan, ia menyadari bahwa seseorang telah berdusta kepadanya. Ia dan para guru agama yang ada di bawah wewenangnya mendengarkan pembahasan-pembahasan dengan Saksi-Saksi, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan membuka Alkitab untuk membaca ayat-ayatnya. Kemudian mereka setuju untuk menjadi Saksi-Saksi Yehuwa, maka mereka selanjutnya mengubah gereja-gereja di 28 desa mereka menjadi Balai-Balai Kerajaan.

      Aliran Kebenaran yang Deras di Afrika

      Khususnya mulai awal tahun 1920-an, banyak upaya dikerahkan agar orang-orang di semua bagian Afrika mendapat kesempatan untuk mengenal Yehuwa, Allah yang sejati, dan mendapat manfaat dari persediaan-persediaan-Nya yang pengasih. Sewaktu perang dunia kedua berakhir, terdapat Saksi-Saksi Yehuwa yang aktif di 14 negeri di benua Afrika. Ada 14 negeri lagi di Afrika yang telah dicapai dengan berita Kerajaan, tetapi di negeri-negeri ini tidak ada Saksi-Saksi yang melaporkan kegiatan pada tahun 1945. Selama 30 tahun berikutnya, sampai tahun 1975, pemberitaan kabar kesukaan menembus ke-19 negeri lain lagi di Afrika. Di hampir semua negeri ini, maupun di pulau-pulau sekitarnya, sidang-sidang mulai terbentuk—di beberapa negeri hanya sedikit, di Zambia lebih dari seribu, di Nigeria hampir dua ribu. Bagaimana semua itu terjadi?

      Penyebaran berita Kerajaan itu bagaikan aliran air yang deras. Pada umumnya, air mengalir melalui alur-alur sungai, walaupun ada sebagian yang meluap ke tanah yang di sampingnya; dan jika ada rintangan menghalangi arus, air menemukan jalan alternatif atau volume dan tekanannya meningkat sehingga meluap.

      Dengan menggunakan saluran-saluran organisasinya yang biasa, Lembaga Menara Pengawal menugaskan rohaniwan-rohaniwan sepenuh waktu—perintis, perintis istimewa, dan utusan injil—ke negeri-negeri yang belum atau baru sedikit mendapat pemberitaan. Ke mana pun mereka pergi, mereka mengundang orang-orang untuk ”mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!” (Why. 22:17) Sebagai contoh, di Afrika bagian utara, empat perintis istimewa dari Prancis menyampaikan undangan tersebut kepada orang-orang di Aljazair pada tahun 1952. Segera seorang wanita peramal di sana menerima kebenaran, mengakui bahwa ia harus meninggalkan profesinya agar dapat menyenangkan Yehuwa, dan mulai memberi kesaksian kepada para bekas langganannya. (Ul. 18:10-12) Para perintis menggunakan buku ”Karena Allah Itu Benar Adanya” secara efektif untuk membantu orang-orang yang tulus hati melihat perbedaan antara Alkitab dan tradisi agama. Begitu berkuasanya buku itu dalam membebaskan orang dari praktek-praktek agama palsu sehingga seorang pemimpin agama memperlihatkan buku itu di mimbar dan melontarkan kutukan atasnya, atas mereka yang menyebarkannya, dan atas mereka yang membacanya.

      Pada tahun 1954 seorang utusan injil diusir dari Spanyol Katolik karena mengajarkan Alkitab tanpa persetujuan para pemimpin agama; maka tahun berikutnya, ia dan rekan perintisnya mulai mengabar di Maroko. Segera mereka ditemani oleh satu keluarga yang terdiri dari lima orang Saksi-Saksi Yehuwa yang telah dideportasi dari Tunisia, tempat pernah terjadinya kehebohan besar ketika sepasang suami-istri Yahudi menerima Yesus sebagai Mesias dan segera mulai menyebarkan kepercayaan mereka yang baru kepada orang-orang lain. Lebih jauh ke selatan, perintis-perintis dari Ghana diarahkan ke Mali pada tahun 1962. Belakangan, perintis-perintis dari Prancis yang melayani di Aljazair juga diminta untuk membantu di Mali. Pada gilirannya, cukup banyak dari mereka yang di kemudian hari menjadi Saksi-Saksi di sana terjun dalam barisan dinas sepenuh waktu. Pada tahun 1966 delapan perintis istimewa dari Nigeria memulai penugasan di Niger, negeri yang jarang penduduknya dan yang mencakup bagian Gurun Sahara. Burundi mendapat kesempatan untuk mendengar berita Kerajaan ketika dua perintis istimewa diutus ke sana dari Rhodesia Utara (kini Zambia) pada tahun 1963, disusul oleh empat utusan injil keluaran Sekolah Gilead.

      Ada juga utusan-utusan injil di Etiopia pada awal tahun 1950-an. Pemerintah Etiopia menuntut agar mereka mendirikan suatu misi yang permanen dan mengajar di sekolah, dan hal-hal tersebut mereka lakukan. Namun, di samping itu, mereka sibuk mengajarkan Alkitab, dan segera orang-orang terus berdatangan ke rumah utusan injil, orang-orang baru yang setiap hari datang untuk meminta agar seseorang membantu mereka memahami Alkitab. Selama tiga dekade sesudah Perang Dunia II, 39 negeri di benua Afrika mendapat manfaat dari bantuan para utusan injil keluaran Gilead tersebut.

      Pada waktu yang sama, air kebenaran meluap ke daerah-daerah yang kering rohani dengan perantaraan Saksi-Saksi Yehuwa yang pekerjaan duniawinya menyebabkan mereka mengadakan kontak dengan orang-orang lain. Demikianlah, Saksi-Saksi dari Mesir yang karena pekerjaannya harus pindah ke Libia pada tahun 1950 mengabar dengan bergairah selama jam-jam mereka tidak bekerja. Pada tahun yang sama seorang Saksi yang adalah saudagar kain wol, bersama keluarganya, pindah dari Mesir ke Khartum, Sudan. Ia membuat kebiasaan untuk memberi kesaksian kepada para pelanggannya sebelum mengadakan bisnis dengan mereka. Salah seorang dari Saksi-Saksi yang pertama di Senegal (pada waktu itu bagian dari Afrika Barat Prancis) pergi ke sana, pada tahun 1951, sebagai wakil sebuah firma niaga. Ia juga menghargai tanggung jawabnya sebagai seorang Saksi dari Yang Mahatinggi. Pada tahun 1959, karena pekerjaan duniawinya, seorang Saksi pergi ke Fort-Lamy (kini N’Djamena), di daerah yang kemudian dikenal sebagai Chad, dan ia menggunakan kesempatan itu untuk menyebarkan berita Kerajaan di negeri tersebut. Di negeri-negeri yang berbatasan dengan Niger terdapat pedagang-pedagang yang adalah Saksi-Saksi Yehuwa; jadi, sementara perintis-perintis istimewa sibuk di Niger sejak tahun 1966 dan seterusnya, pedagang-pedagang ini juga mengabar kepada orang-orang dari Niger yang mengadakan bisnis dengan mereka. Dan dua Saksi yang suami mereka bekerja di Mauritania pada tahun 1966 menggunakan kesempatan untuk memberi kesaksian di daerah tersebut.

      Orang-orang yang disegarkan oleh ’air kehidupan’ membagikannya kepada orang-orang lain. Misalnya, pada tahun 1947 seorang yang telah menghadiri beberapa perhimpunan namun ia sendiri belum menjadi salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa pindah dari Kamerun ke Ubangi-Shari (kini Republik Afrika Tengah). Ketika ia mendengar tentang seorang pria di Bangui yang sangat berminat kepada Alkitab, ia dengan murah hati mengatur agar kantor Lembaga Menara Pengawal di Swiss mengirim sebuah buku kepadanya. Etienne Nkounkou, si penerima, gembira sekali akan makanan rohani yang sehat yang terkandung di dalamnya, dan setiap minggu ia membacakan isi buku tersebut kepada sekelompok orang lain yang berminat. Mereka menghubungi kantor pusat Lembaga. Seraya pengetahuan mereka bertambah, kelompok belajar tersebut juga menjadi kelompok pengabaran. Walaupun tekanan dari para pemimpin agama mengakibatkan diberlakukannya larangan pemerintah atas lektur Menara Pengawal, Saksi-Saksi yang baru ini terus mengabar dengan Alkitab saja. Orang-orang di negeri itu senang sekali mendengar diskusi-diskusi Alkitab, maka menjelang saat larangan atas beberapa publikasi Lembaga dicabut pada tahun 1957, Saksi-Saksi di sana sudah berjumlah lebih dari 500 orang.

      Bila Rintangan-Rintangan Muncul

      Bila rintangan-rintangan menghambat arus air yang memberi kehidupan, air itu segera mengalir terus dengan cara tertentu lainnya. Ayité Sessi, seorang perintis dari Dahomey (kini Benin), sudah sempat mengabar di Togo Prancis (kini Togo) selama waktu yang singkat pada tahun 1949 ketika pemerintah memaksa dia untuk angkat kaki dari sana. Namun tahun berikutnya Akakpo Agbetor, seorang bekas petinju yang berasal dari Togo, kembali ke tanah airnya bersama adik laki-lakinya. Karena ini adalah negeri kelahirannya, ia dapat memberi kesaksian dengan agak bebas, bahkan mengadakan perhimpunan. Walaupun perintis-perintis yang telah mendapat penugasan di Fernando Po (kini bagian dari Guinea Ekuatorial) kira-kira pada tahun 1950 dideportasi sesudah waktu yang singkat akibat tidak ada toleransi agama, Saksi-Saksi lain belakangan memperoleh kontrak kerja yang memungkinkan mereka tinggal di daerah tersebut. Dan, tentu saja, selaras dengan perintah Yesus, mereka mengabar.—Mrk. 13:10.

      Emmanuel Mama, seorang pengawas wilayah dari Ghana, dikirim ke Volta Hulu (kini disebut Burkina Faso) selama beberapa minggu pada tahun 1959 dan dapat memberikan banyak kesaksian di Ouagadougou, ibu kotanya. Tetapi tidak ada Saksi-Saksi yang tinggal di negeri itu. Empat tahun kemudian, tujuh Saksi yang berasal dari Togo, Dahomey (kini Benin), dan Kongo, pindah ke Ouagadougou dan mencari pekerjaan agar mereka dapat melayani di daerah ini. Beberapa bulan kemudian, mereka ditemani oleh beberapa perintis istimewa dari Ghana. Akan tetapi, akibat tekanan para pemimpin agama atas para pejabat, pada tahun 1964, sesudah Saksi-Saksi berada di sana selama kurang dari setahun, mereka ditangkap, ditahan selama 13 hari, dan kemudian diusir dari negeri itu. Apakah segala upaya mereka itu membawa imbalan? Emmanuel Johnson, seorang penduduk negeri itu, telah mengetahui di mana kebenaran Alkitab dapat ditemukan. Ia terus belajar dengan Saksi-Saksi Yehuwa melalui surat, dan ia dibaptis pada tahun 1969. Ya, pekerjaan Kerajaan telah mendapat tempat berpijak di sebuah negeri lagi.

      Ketika diajukan permohonan visa yang memungkinkan utusan-utusan injil keluaran Sekolah Gilead melayani di Pantai Gading (atau Côte d’Ivoire), para pejabat Prancis tidak memberikan izin. Maka, pada tahun 1950, Alfred Shooter, dari Pantai Emas (kini Ghana), dikirim ke ibu kota Pantai Gading sebagai perintis. Setelah ia menetap, istrinya bergabung dengan dia; dan beberapa bulan kemudian, sepasang suami-istri utusan injil, Gabriel dan Florence Paterson, datang. Problem-problem timbul. Suatu hari, lektur mereka disita karena tidak diakui oleh pemerintah, dan saudara-saudara kena denda. Tetapi belakangan mereka mendapati buku-buku mereka dijual di pasar, maka mereka membelinya kembali dan memanfaatkannya dengan baik.

      Sementara itu saudara-saudara ini mendatangi sejumlah kantor pemerintah dalam upaya memperoleh visa permanen. Tn. Houphouët-Boigny, yang kemudian menjadi presiden Pantai Gading, menawarkan bantuan. ”Kebenaran,” komentar beliau, ”tidak mengenal rintangan sama sekali. Ia bagaikan sungai yang besar; bila dibendung, air akan meluap dari bendungan itu.” Sewaktu seorang imam Katolik dan seorang rohaniwan Metodis berupaya menghalangi, Ouezzin Coulibaly, seorang wakil pemerintah, berkata, ”Saya mewakili rakyat dari negara ini. Kamilah rakyatnya, dan kami menyukai Saksi-Saksi Yehuwa, maka kami ingin mereka tinggal di negara ini.”

      Murid-Murid yang Sungguh-Sungguh Mengerti

      Ketika memberikan instruksi untuk ’menjadikan murid dari orang-orang segala bangsa’, Yesus juga memberi petunjuk agar mereka yang akan menjadi muridnya—mereka yang percaya kepada ajaran-ajaran Kristus dan menerapkannya—harus dibaptis. (Mat. 28:19, 20, NW) Selaras dengan ini, penyelenggaraan diadakan untuk pembaptisan murid-murid baru di kebaktian berkala dari Saksi-Saksi Yehuwa. Jumlah yang dibaptis pada suatu kesempatan mungkin relatif sedikit. Akan tetapi, pada suatu kebaktian tahun 1970 di Nigeria, ada 3.775 Saksi baru yang dibaptis. Namun demikian, jumlah yang besar bukan menjadi tujuannya.

      Ketika disadari pada tahun 1956 bahwa beberapa orang di Pantai Emas yang dibaptis tidak membangun iman mereka di atas fondasi yang memadai, suatu pengaturan dimulai untuk menyaring calon-calon pembaptisan. Tanggung jawab diberikan kepada para pengawas sidang setempat di Pantai Emas untuk memeriksa secara pribadi setiap calon pembaptisan guna memastikan bahwa ia mempunyai pengetahuan yang benar tentang kebenaran dasar Alkitab, bahwa ia hidup selaras dengan standar-standar Alkitab, dan bahwa ia dengan jelas mengerti kewajiban-kewajiban seorang Saksi-Saksi Yehuwa yang berbakti dan terbaptis. Menjelang waktu, prosedur serupa diberlakukan di seluruh dunia. Suatu rangka terperinci yang digunakan untuk meninjau kembali ajaran dasar Alkitab bersama para calon pembaptisan disediakan pada tahun 1967 di dalam buku ”Firmanmu Adalah Pelita bagi Kakiku”. Setelah bertahun-tahun diterapkan, perbaikan lebih lanjut dari rangka tersebut diterbitkan pada tahun 1983 dalam buku Diorganisir untuk Melaksanakan Pelayanan Kita.

      Dengan penyelenggaraan demikian, apakah kebutuhan orang-orang yang tidak atau sedikit mengenyam pendidikan formal ikut diperhatikan?

      Menanggulangi Masalah Buta Huruf

      Pada tahun 1957 Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan bahwa kira-kira 44 persen dari penduduk dunia yang berusia 15 tahun atau lebih tidak bisa membaca atau menulis. Dilaporkan bahwa dalam 42 negeri di Afrika, 2 di benua Amerika, 28 di Asia, dan 4 di Oceania, 75 persen dari orang-orang dewasanya buta huruf. Namun, mereka juga membutuhkan kesempatan untuk belajar tentang hukum Allah sehingga mereka dapat mempersiapkan diri untuk menjadi warga Kerajaan-Nya. Banyak orang yang tidak bisa membaca memiliki pikiran yang tajam dan dapat mengingat banyak dari apa yang mereka dengar, namun mereka tetap tidak bisa membaca sendiri Firman Allah yang sangat berharga itu dan menggunakan alat bantu pengajaran Alkitab yang tercetak.

      Selama bertahun-tahun Saksi-Saksi secara perorangan memberikan bantuan pribadi kepada orang-orang yang ingin belajar membaca. Akan tetapi, pada tahun 1949 dan 1950, kursus-kursus melek huruf diresmikan oleh Saksi-Saksi Yehuwa di setiap sidang mereka di banyak negeri Afrika. Kursus-kursus itu biasanya diadakan di Balai Kerajaan, dan di beberapa tempat seluruh desa diundang untuk mendapat manfaat dari program itu.

      Di tempat-tempat yang program melek hurufnya disponsori oleh pemerintah, Saksi-Saksi Yehuwa dengan senang hati bekerja sama. Akan tetapi, di banyak daerah, Saksi-Saksi harus mengembangkan dan menggunakan buku pedoman pengajaran mereka sendiri. Puluhan ribu orang, termasuk ribuan wanita dan orang lanjut usia, telah dibantu menjadi melek huruf melalui kelas-kelas yang dipimpin oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Sebagai hasil dari kurikulum kursus itu, mereka bukan hanya telah belajar membaca dan menulis tetapi pada waktu yang sama mereka juga mengetahui kebenaran-kebenaran dasar dari Firman Allah yang Kudus. Ini telah membantu mereka untuk memenuhi syarat dalam pekerjaan menjadikan murid yang diperintahkan oleh Yesus. Keinginan untuk melakukannya secara efektif telah memberi motivasi kepada banyak orang untuk mengerahkan upaya yang sungguh-sungguh untuk belajar membaca.

      Ketika seorang Saksi yang baru di Dahomey (kini Benin), Afrika Barat, ditolak oleh seorang penghuni rumah karena Saksi itu tidak bisa membaca, maka Saksi itu memutuskan untuk mengatasi masalah tersebut. Selain menghadiri kursus-kursus melek huruf, ia secara pribadi mempraktekkannya sendiri. Enam minggu kemudian ia mengunjungi penghuni rumah yang sama; pria itu begitu tercengang mendengar orang ini, yang belum lama berselang masih buta huruf, membacakan kepadanya dari Firman Allah sehingga ia juga menunjukkan minat kepada apa yang diajarkan oleh Saksi itu. Beberapa saudara yang telah diajar dalam kursus-kursus melek huruf ini, menjelang waktu, bahkan menjadi pengawas keliling, dengan mengajar sejumlah sidang. Halnya demikian dengan Ezekiel Ovbiagele di Nigeria.

      Mendidik Dengan Menggunakan Film dan Pertunjukan Slide

      Untuk membantu mereka yang memperlihatkan minat kepada Alkitab agar menghargai besarnya organisasi Yehuwa yang kelihatan, sebuah film diterbitkan pada tahun 1954. Film ini, Masyarakat Dunia Baru Sedang Beraksi, juga membantu mematahkan prasangka masyarakat ramai.

      Di negara yang kini bernama Zambia, sering diperlukan sebuah generator portabel untuk mempertunjukkan film. Sebuah kain kanvas putih yang dibentangkan di antara dua buah pohon digunakan sebagai layar. Di Propinsi Barotse, kepala suku tertinggi menonton film itu dengan keluarga bangsawannya, dan kemudian ia ingin agar film itu dipertunjukkan bagi umum. Hasilnya, pada malam berikut ada 2.500 orang yang menonton film itu. Jumlah hadirin untuk pertunjukan film ini di Zambia selama jangka waktu 17 tahun melebihi satu juta orang. Mereka yang hadir gembira sekali atas apa yang mereka saksikan. Dari daerah yang berdekatan, Tanganyika (kini bagian Tanzania) dilaporkan bahwa seusai pertunjukan film, ruangan dipenuhi dengan seruan orang banyak yang berkata, ”Ndaka, ndaka” (Terima kasih, terima kasih).

      Sesudah film Masyarakat Dunia Baru Sedang Beraksi, film-film lain menyusul: Kebahagiaan dari Masyarakat Dunia Baru, Mengumumkan ”Kabar Kesukaan Kekal” di Seluruh Dunia, Allah Tak Dapat Berdusta, dan Warisan. Ada juga berbagai pertunjukan slide, dengan komentar tentang bukti betapa praktisnya Alkitab bagi zaman kita, asal usul kafir dari doktrin-doktrin dan praktek-praktek Susunan Kristen, dan arti keadaan dunia dalam terang nubuat Alkitab, maupun slide yang memperlihatkan Saksi-Saksi Yehuwa sebagai satu organisasi, menyorot kunjungan ke kantor pusat sedunia, kebaktian-kebaktian yang menggetarkan hati di negeri-negeri yang dahulunya melarang mereka, dan tinjauan kembali mengenai sejarah mereka di zaman modern. Semua ini telah membantu orang menyadari bahwa Yehuwa memang memiliki suatu umat di atas bumi dan bahwa Alkitab adalah Firman-Nya yang terilham.

      Mengenali Domba yang Sejati

      Di negeri-negeri tertentu, orang-orang yang sekadar memiliki beberapa publikasi Menara Pengawal mengaku diri Saksi-Saksi Yehuwa atau menggunakan nama Menara Pengawal. Namun apakah mereka telah mengubah segala kepercayaan dan cara hidup mereka agar diselaraskan dengan standar-standar Alkitab? Ketika diberikan pengajaran yang dibutuhkan, apakah mereka membuktikan diri sebagai orang yang benar-benar bersifat domba yang memperhatikan suara sang Majikan, Yesus Kristus?—Yoh. 10:4, 5.

      Sepucuk surat yang mencengangkan diterima oleh kantor cabang Lembaga Menara Pengawal di Afrika Selatan, pada tahun 1954, dari sekelompok orang Afrika di Baía dos Tigres, sebuah perkampungan orang hukuman di selatan Angola. Si penulis, João Mancoca, menyatakan, ”Kelompok Saksi-Saksi Yehuwa di Angola terdiri dari 1.000 anggota. Mereka ini mempunyai pemimpin yang bernama Simão Gonçalves Toco.” Siapa gerangan Toco? Apakah para pengikutnya benar-benar Saksi-Saksi Yehuwa?

      Penyelenggaraan dibuat agar John Cooke, seorang utusan injil yang dapat berbicara dalam bahasa Portugis, mengunjungi Angola. Sesudah wawancara panjang dengan seorang pejabat kolonial, Saudara Cooke diizinkan untuk mengunjungi Mancoca. Saudara Cooke mendapati bahwa pada tahun 1940-an, sewaktu Toco bergabung dengan suatu misi Baptis di Kongo Belgia (kini Zaire), ia telah memperoleh sejumlah lektur Menara Pengawal dan membagikan kepada rekan-rekan dekatnya apa yang telah dipelajarinya. Namun kemudian, para penganut spiritisme mempengaruhi kelompok tersebut, dan menjelang waktu Toco sama sekali berhenti menggunakan lektur Menara Pengawal dan Alkitab. Sebaliknya, ia mencari petunjuk melalui medium roh. Para pengikutnya dipulangkan kembali ke Angola oleh pemerintah dan kemudian disebarkan ke berbagai tempat di dalam negeri.

      Mancoca pernah menjadi salah seorang rekan Toco, tetapi Mancoca mencoba berupaya membujuk yang lain untuk tidak lagi mempraktekkan spiritisme dan untuk berpaut kepada Alkitab. Beberapa pengikut Toco tidak menyukai ini dan, melancarkan tuduhan-tuduhan palsu, mengadukan Mancoca kepada kalangan berwenang Portugis. Akibatnya, Mancoca dan mereka yang berpandangan sama dengannya dideportasi ke perkampungan orang-orang hukuman. Dari sana ia berhubungan dengan Lembaga Menara Pengawal dan memperoleh lebih banyak lektur Alkitab. Ia seorang yang rendah hati, berpikiran rohani, dan sangat berminat untuk bekerja erat dengan organisasi yang melaluinya ia telah belajar kebenaran. Sesudah Saudara Cooke menggunakan berjam-jam untuk membahas kebenaran-kebenaran Alkitab dengan kelompok ini, ia tidak ragu-ragu lagi bahwa João Mancoca benar-benar salah satu dari domba-domba Tuhan. Dalam keadaan yang sangat sulit, Saudara Mancoca telah membuktikan hal tersebut selama bertahun-tahun hingga sekarang.

      Berbagai wawancara juga telah diadakan dengan Toco dan beberapa pengikutnya. Akan tetapi, dengan beberapa perkecualian tertentu, mereka tidak memperlihatkan bukti bahwa mereka memiliki sifat-sifat seperti domba dari para pengikut Kristus. Jadi, pada waktu itu, jumlah Saksi-Saksi Yehuwa di Angola bukan 1.000 orang melainkan hanya kira-kira 25 orang.

      Sementara itu, di Kongo Belgia (kini Zaire), telah berkembang suatu pengacauan identitas lainnya. Ada suatu gerakan agama dan politik yang dikenal sebagai Kitawala, yang kadang-kadang juga menggunakan nama Menara Pengawal. Di rumah beberapa anggotanya ditemukan publikasi-publikasi Saksi-Saksi Yehuwa yang telah mereka peroleh melalui pos. Tetapi kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek Kitawala (termasuk rasisme, subversi terhadap kalangan berwenang untuk mengadakan perubahan politik atau sosial, dan percabulan seksual yang mencolok atas nama ibadat) sama sekali tidak mewakili kepercayaan dan praktek Saksi-Saksi Yehuwa. Namun laporan-laporan tertentu yang diterbitkan berupaya untuk melibatkan Lembaga Menara Pengawal dari Saksi-Saksi Yehuwa dengan Kitawala.

      Upaya berulang kali dari Saksi-Saksi Yehuwa untuk mengirim pengawas-pengawas yang terlatih masuk ke dalam negeri ditolak mentah-mentah oleh para pejabat Belgia. Golongan Katolik dan Protestan sangat gembira. Khususnya sejak tahun 1949, tindakan-tindakan menindas yang kejam dilancarkan terhadap mereka di Kongo Belgia yang berupaya keras untuk mempelajari Alkitab dengan bantuan lektur Menara Pengawal. Namun halnya adalah sebagaimana dikatakan oleh salah seorang dari Saksi-Saksi yang setia di sana, ”Kami bagaikan sekarung jagung Afrika. Ke mana pun kami dibawa oleh mereka, Firman itu akan tercecer, satu per satu, sampai saat hujan datang, dan mereka akan melihat kami bertumbuh di mana-mana.” Maka demikianlah halnya bahwa walaupun keadaan sulit, sejak tahun 1949 hingga 1960, jumlah yang melaporkan kegiatan sebagai Saksi-Saksi Yehuwa meningkat dari 48 menjadi 1.528 orang.

      Lambat laun para pejabat mulai menyadari bahwa Saksi-Saksi Yehuwa sangat berbeda dengan Kitawala. Ketika Saksi-Saksi mendapat kebebasan terbatas untuk berhimpun, para pengamat dari kalangan pemerintah sering memberi komentar tentang tingkah laku dan ketertiban mereka yang baik. Ketika ada demonstrasi yang disertai kekerasan untuk menuntut kemerdekaan politik, masyarakat mengetahui bahwa Saksi-Saksi Yehuwa tidak terlibat. Pada tahun 1961 seorang pengawas Saksi yang memenuhi syarat, Ernest Heuse, Jr., dari Belgia, akhirnya dapat masuk ke negeri itu. Dengan banyak upaya yang rajin, secara berangsur-angsur saudara-saudara dapat dibantu untuk lebih menyelaraskan sidang-sidang mereka dan kehidupan pribadi mereka dengan Firman Allah. Masih banyak yang harus dipelajari, dan hal itu menuntut banyak kesabaran.

      Karena mengira akan menguntungkan kedudukan mereka, kelompok Kitawala dari beberapa daerah mengirimkan daftar panjang dari anggota-anggota mereka yang ingin diakui sebagai Saksi-Saksi Yehuwa. Dengan bijaksana Saudara Heuse mengutus saudara-saudara yang memenuhi syarat ke daerah-daerah ini untuk mencari tahu orang macam apa mereka itu. Sebaliknya daripada menerima kelompok-kelompok yang besar, mereka memimpin pengajaran Alkitab secara perorangan.

      Pada waktunya, domba-domba yang sejati, yakni mereka yang benar-benar menganggap Yesus Kristus sebagai Gembala mereka, menjadi nyata. Dan ada banyak orang semacam ini. Pada gilirannya, mereka mengajar orang lain. Selama bertahun-tahun banyak utusan injil Menara Pengawal dari luar negeri datang untuk bekerja berdampingan dengan mereka, untuk membantu mereka agar memperoleh pengetahuan yang lebih saksama dari Firman Allah dan memberikan pelatihan yang dibutuhkan. Menjelang tahun 1975, ada 17.477 Saksi-Saksi Yehuwa di Zaire, yang diorganisasi dalam 526 sidang, sibuk mengabarkan dan mengajarkan Firman Allah kepada orang lain.

      Mematahkan Daya Kekuatan Jimat

      Di sebelah barat Nigeria terletak negara Benin (dahulu dikenal sebagai Dahomey), dengan penduduk yang terbagi dalam 60 kelompok etnis yang berbicara kurang lebih 50 bahasa dan dialek. Sebagaimana halnya di banyak tempat di Afrika, animisme adalah agama tradisional, dan ini disertai penyembahan kepada nenek moyang. Lingkungan agama semacam ini membuat kehidupan orang-orang menjadi redup karena takhayul dan perasaan takut. Banyak orang yang mengaku diri Kristen juga mempraktekkan animisme.

      Sejak akhir tahun 1920-an hingga tahun 1940-an, Saksi-Saksi Yehuwa dari Nigeria menebarkan banyak benih kebenaran Alkitab di Dahomey dengan kunjungan sewaktu-waktu untuk menyebarkan lektur Alkitab. Banyak di antara benih-benih tersebut hanya membutuhkan sedikit penyiraman agar dapat berbuah. Penanganan tersebut diberikan pada tahun 1948 ketika Nouru Akintoundé, seorang pribumi Dahomey yang sebelumnya telah tinggal di Nigeria, kembali ke Dahomey untuk merintis. Dalam waktu empat bulan, 300 orang segera menyambut kebenaran dan ikut serta dengan dia dalam pelayanan pengabaran. Sambutan ini melebihi segala perkiraan yang masuk akal.

      Sebagai akibat dari kegiatan ini, hasutan segera timbul bukan saja di antara kaum pemimpin agama Susunan Kristen melainkan juga di antara para animis. Ketika sekretaris dari kumpulan para pemuja jimat di Porto-Novo menunjukkan minat kepada kebenaran, pemimpin pemujaan kepada jimat mengumumkan bahwa sekretaris itu akan mati dalam tujuh hari. Tetapi bekas sekretaris kumpulan itu dengan tegas menyatakan, ”Jika jimat itulah yang menjadikan Yehuwa, saya akan mati; tetapi jika Yehuwa adalah Allah Yang Mahatinggi, maka Ia akan menaklukkan jimat itu.” (Bandingkan Ulangan 4:35; Yohanes 17:3.) Supaya ramalannya tergenap, pada malam yang keenam, pemimpin pemujaan kepada jimat itu mengumbar berbagai macam ilmu sihir dan kemudian mengumumkan bahwa bekas sekretaris kumpulan ini telah mati. Akan tetapi, para penyembah jimat itu dihinggapi ketakutan yang besar keesokan harinya ketika wanita itu datang ke pasar di Cotonou dalam keadaan segar bugar. Kemudian, salah seorang saudara menyewa sebuah mobil dan membawa saudari itu mengelilingi Porto-Novo sehingga semua orang dapat melihat sendiri bahwa ia masih hidup. Sesudah peristiwa ini, banyak penyembah jimat lainnya mengambil pendirian yang teguh demi kebenaran.—Bandingkan Yeremia 10:5.

      Tak lama kemudian, sebagai akibat tekanan agama yang hebat, publikasi-publikasi Menara Pengawal dilarang di Dahomey. Tetapi karena taat kepada Allah Yehuwa, Saksi-Saksi terus mengabar, sering kali hanya dengan Alkitab. Kadang-kadang mereka bekerja dari rumah ke rumah sebagai ”pedagang”, dengan membawa berbagai barang. Jika percakapan berlangsung dengan baik, mereka mengalihkan perhatian kepada Alkitab, dan mereka bahkan mengeluarkan dari kantong tempel yang besar di balik baju mereka suatu eksemplar lektur Alkitab yang sangat berharga.

      Bila polisi sangat menyulitkan mereka di kota, mereka akan mengabar di daerah pedesaan. (Bandingkan Matius 10:23.) Dan bila mereka dijebloskan ke dalam penjara, mereka mengabar di situ. Pada tahun 1955, Saksi-Saksi di dalam penjara menemukan sedikitnya 18 orang yang berminat di antara para penghuni penjara dan pejabat penjara di Abomey.

      Hanya dalam jangka waktu satu dekade sesudah saudara perintis Dahomey itu kembali ke negeri asalnya untuk mengabar, ada 1.426 orang yang ambil bagian dalam pelayanan—dan halnya demikian walaupun pekerjaan mereka dilarang oleh pemerintah!

      Lebih Banyak Pekerja Ambil Bagian Dalam Penuaian

      Jelas bahwa banyak orang di seluruh Afrika lapar akan kebenaran. Tuaian memang besar, tetapi pekerja sedikit. Oleh karena itu saudara-saudara merasa dianjurkan seraya mereka melihat bagaimana Majikan dari tuaian, yakni Allah Yehuwa, menjawab doa mereka untuk mengirim lebih banyak pekerja guna membantu pengumpulan rohani.—Mat. 9:37, 38.

      Banyak lektur telah disiarkan di Kenya pada tahun 1930-an oleh para perintis keliling, tetapi hanya sedikit pekerjaan tindak lanjut dilakukan. Akan tetapi, pada tahun 1949, Mary Whittington, dengan ketiga anaknya yang masih kecil, beremigrasi dari Inggris untuk tinggal di Nairobi bersama suaminya, yang bekerja di sana. Saudari Whittington belum sampai setahun dibaptis, namun ia memiliki semangat merintis. Walaupun ia belum mengenal seorang pun dari Saksi-Saksi di Kenya, ia pergi membantu orang-orang lain di daerah yang luas ini untuk belajar kebenaran. Meskipun adanya berbagai rintangan, ia tidak mundur. Saksi-Saksi lain juga datang—dari Australia, Inggris, Kanada, Afrika Selatan, Swedia, Amerika Serikat, dan Zambia—yang secara pribadi mengatur untuk pindah ke sana guna membagikan harapan Kerajaan kepada orang-orang.

      Selain itu, pasangan-pasangan suami-istri utusan injil dikirim untuk membantu penuaian. Mula-mula para suami diwajibkan untuk bekerja duniawi agar dapat tinggal di negeri itu, dan karena itu waktu mereka yang tersedia untuk pelayanan terbatas. Namun istri mereka bebas melayani sebagai perintis. Menjelang waktu lebih dari seratus utusan injil keluaran Sekolah Gilead datang ke Kenya. Sewaktu hari kemerdekaan mendekat, dengan berakhirnya segregasi (pemisahan golongan) yang diberlakukan oleh pemerintahan kolonial Inggris, Saksi-Saksi Eropa mempelajari bahasa Swahili dan dengan cepat memperluas kegiatan mereka untuk mencapai pribumi Afrika. Jumlah Saksi-Saksi meningkat dengan cepat.

      Pada tahun 1972, Botswana juga mendapat bantuan dalam menangani tuaian rohaninya sewaktu Saksi-Saksi dari Inggris, Kenya, dan Afrika Selatan pindah ke kota-kota besar negeri itu. Tiga tahun kemudian, utusan-utusan injil keluaran Sekolah Gilead juga datang. Akan tetapi, sebagian besar penduduk bertebaran di desa-desa pedalaman. Untuk mencapai mereka, Saksi-Saksi dari Afrika Selatan telah melakukan perjalanan melintasi kawasan gurun yang dikenal sebagai Kalahari. Di pemukiman-pemukiman terpencil tersebut mereka telah memberi kesaksian kepada kepala-kepala desa, kepada guru-guru sekolah, dan sering kali kepada kelompok-kelompok yang terdiri dari 10 atau 20 orang pendengar yang menghargai. Seorang pria yang lanjut usia berkata, ”Anda datang begitu jauh untuk berbicara dengan kami tentang perkara-perkara ini? Sungguh baik hati, baik hati sekali.”

      ”Bible Brown” telah menyampaikan khotbah-khotbah Alkitab yang penuh kuasa di Liberia selama tahun 1920-an, tetapi ada tentangan yang cukup kuat. Pekerjaan penuaian rohani di sana sebenarnya baru maju ketika utusan-utusan injil keluaran Sekolah Gilead tiba. Harry Behannan yang datang pada tahun 1946, adalah yang pertama. Lebih banyak lagi yang ambil bagian pada tahun-tahun berikutnya. Pribumi Liberia secara berangsur-angsur ikut serta dengan mereka dalam pekerjaan, dan menjelang tahun 1975 jumlah pemuji Yehuwa melampaui seribu orang.

      Bahkan lebih banyak pengabaran telah dilakukan oleh ”Bible Brown” di Nigeria. Ini merupakan suatu negara yang terbagi atas banyak kerajaan, wilayah kota, dan sistem sosial, dengan orang-orang yang berbicara lebih dari 250 bahasa dan dialek. Agama adalah faktor pemecah-belah lebih lanjut. Dengan sedikit kebijaksanaan namun dengan argumentasi ayat-ayat Alkitab yang penuh kuasa, Saksi-Saksi yang mula-mula di sana menelanjangi kaum pemimpin agama dan ajaran-ajaran palsu mereka. Ketika lektur mereka dilarang selama Perang Dunia II, saudara-saudara mengabar hanya dengan Alkitab. Orang-orang yang mengasihi kebenaran menyambut dengan penuh penghargaan. Mereka berhenti dari gereja, kemudian meninggalkan poligami dan menyingkirkan ”juju” (jimat) mereka, yang oleh gereja telah ditoleransi. Menjelang tahun 1950 jumlah Saksi-Saksi Yehuwa yang ikut serta dalam mengumumkan berita Kerajaan di Nigeria ada 8.370. Menjelang tahun 1970 ada lebih dari sepuluh kali jumlah tersebut.

      Rintangan-rintangan hukum yang terus berlangsung harus diatasi untuk dapat memberikan bantuan rohani kepada orang-orang yang berminat di Rhodesia Selatan (kini dikenal sebagai Zimbabwe). Upaya untuk memperoleh pengakuan resmi telah dimulai pada pertengahan tahun 1920-an. Pada tahun 1932 perintis-perintis dari Afrika Selatan diperintahkan untuk meninggalkan negeri dan secara sewenang-wenang diberi tahu bahwa mereka tidak bisa naik banding. Namun mereka naik banding juga. Tuduhan-tuduhan bahwa lektur Menara Pengawal bernada menghasut harus dihadapi di meja hijau. Pada awal tahun 1940-an, saudara-saudara meringkuk di penjara karena menyebarkan bacaan-bacaan yang menerangkan tentang Alkitab. Baru pada tahun 1966 Saksi-Saksi Yehuwa mendapat pengakuan resmi sepenuhnya sebagai suatu organisasi agama di Zimbabwe. Selama 40 tahun lebih, pekerjaan penuaian rohani telah berlangsung dengan cukup banyak kesulitan, namun selama masa tersebut pekerja-pekerja yang tabah hati telah membantu 11.000 orang lebih menjadi hamba-hamba Allah Yehuwa.

      Memberi Kesaksian Kepada Gubernur dan Raja

      Yesus mengetahui bahwa murid-muridnya akan menghadapi perlawanan dalam pelayanan mereka. Ia berkata kepada mereka bahwa mereka akan digugat ke hadapan ”pengadilan setempat”, bahkan ke hadapan ”gubernur-gubernur dan raja-raja”, dan bahwa ini adalah ”sebagai kesaksian kepada mereka dan bangsa-bangsa”. (Mat. 10:17, 18, NW) Saksi-Saksi Yehuwa telah mengalami tepat seperti yang dinubuatkan oleh Yesus, dan selaras dengan apa yang ia katakan, mereka telah berupaya menggunakan kesempatan itu untuk memberi kesaksian.

      Beberapa pejabat telah membiarkan perasaan takut menahan diri mereka untuk berbuat baik terhadap pengikut-pengikut Kristus. (Yoh. 12:42, 43) Llewelyn Phillips melihat bukti mengenai hal ini pada tahun 1948 ketika ia mengadakan wawancara pribadi dengan sejumlah pejabat pemerintah di Kongo Belgia, dengan maksud mengupayakan keringanan bagi Saksi-Saksi yang dianiaya di sana. Ia menjelaskan kepada orang-orang ini tentang kepercayaan dan kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa. Namun selama wawancara itu, sang gubernur jenderal dengan prihatin bertanya, ”Lalu kalau saya membantu Anda, apa yang akan terjadi dengan saya?” Ia tahu bahwa Gereja Katolik Roma sangat berpengaruh di negeri itu.

      Akan tetapi, kepala tertinggi bangsa Swazi, Raja Sobhuza II, tidak terlalu menghiraukan pendapat kaum pemimpin agama. Ia telah sering berbicara dengan Saksi-Saksi Yehuwa, sudah mempunyai banyak lektur mereka, dan bersikap ramah terhadap mereka. Pada hari ”Jumat Agung” setiap tahun, ia mengundang para pemimpin agama Afrika ke desa kerajaannya. Ia membiarkan mereka berbicara, tetapi ia juga mengundang salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa untuk berbicara. Pada tahun 1956 Saksi itu berbicara tentang doktrin jiwa yang tidak berkematian dan gelar-gelar kehormatan dari para pemimpin agama. Ketika ia selesai, kepala tertinggi bertanya kepada para pemimpin agama, ”Apakah hal-hal yang dikatakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa di sini benar atau salah? Jika salah, nyatakan alasannya.” Mereka tidak dapat membuktikan bahwa hal-hal tersebut salah. Pada satu peristiwa kepala tertinggi itu bahkan tertawa terbahak-bahak ketika para pemimpin agama menjadi takut sekali atas apa yang dikatakan oleh Saksi itu.

      Sering kali tugas dilimpahkan kepada polisi untuk meminta alasan dari Saksi-Saksi mengenai apa yang mereka sedang lakukan. Dari sidang di Tangier, Maroko, Saksi-Saksi secara tetap tentu mengadakan perjalanan ke Ceuta, sebuah pelabuhan kapal di bawah pengawasan Spanyol tetapi di pantai Maroko. Pada suatu kesempatan tahun 1967, ketika Saksi-Saksi dihentikan oleh polisi, mereka diinterogasi selama dua jam, yang memungkinkan mereka memberi kesaksian yang bagus sekali. Suatu saat, dua inspektur polisi bertanya apakah Saksi-Saksi percaya kepada ”Perawan Maria”. Ketika diberitahukan bahwa catatan Injil memperlihatkan bahwa Maria mempunyai anak-anak lain sesudah Yesus dilahirkan oleh perawan Maria, dan bahwa mereka ini adalah saudara-saudara tiri laki-laki dan perempuan dari Yesus, petugas-petugas polisi itu berseru keheranan dan berkata bahwa hal demikian mustahil ada di dalam Alkitab. Sewaktu Yohanes 7:3-5 diperlihatkan, salah seorang polisi menatapnya agak lama tanpa berkata sepatah kata pun; maka rekannya berkata, ”Berikan kepada saya Alkitab itu. Saya akan menerangkan ayat itu!” Polisi pertama menjawab, ”Tidak usah. Ayat ini jelas sekali.” Banyak pertanyaan lain diajukan dan dijawab dalam suasana santai. Setelah itu hanya sedikit sekali gangguan dari para pejabat seraya Saksi-Saksi mengabar di daerah tersebut.

      Orang-orang terkemuka dalam pemerintahan sudah mengenal baik Saksi-Saksi Yehuwa dan pelayanan mereka. Beberapa di antara mereka menyadari bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh Saksi-Saksi benar-benar bermanfaat bagi orang-orang. Menjelang akhir tahun 1959, sewaktu dilakukan persiapan kemerdekaan Nigeria, gubernur jenderal, Dr. Nnamdi Azikiwe, memohon agar W. R. Brown hadir sebagai wakil dari Saksi-Saksi Yehuwa. Beliau berkata kepada Dewan Menteri, ”Jika semua aliran agama seperti Saksi-Saksi Yehuwa, tidak akan ada pembunuh, perampok, penjahat, tawanan di penjara dan bom atom. Pintu tidak usah dikunci siang dan malam.”

      Tuaian rohani yang benar-benar besar sedang dikumpulkan di Afrika. Menjelang tahun 1975, ada 312.754 Saksi yang mengabarkan kabar baik di 44 negeri di benua Afrika. Di sembilan dari negeri-negeri tersebut, ada kurang dari 50 orang yang mengambil pendirian untuk kebenaran Alkitab dan ambil bagian dalam pekerjaan penginjilan. Namun Saksi-Saksi menganggap kehidupan setiap orang sangat berharga. Di 19 negeri di antaranya, orang-orang yang ambil bagian dalam pelayanan dari rumah ke rumah sebagai Saksi-Saksi Yehuwa berjumlah ribuan. Pertambahan yang dramatis dilaporkan di beberapa daerah. Di Angola misalnya, dari tahun 1970 hingga 1975, jumlah Saksi-Saksi telah bertambah dari 355 menjadi 3.055. Di Nigeria, pada tahun 1975 ada 112.164 Saksi-Saksi Yehuwa. Mereka ini bukan sekadar orang-orang yang menikmati pembacaan lektur Menara Pengawal, dan mereka juga bukan sekadar orang-orang yang hanya sewaktu-waktu menghadiri perhimpunan di sebuah Balai Kerajaan. Mereka semua adalah pemberita yang aktif dari Kerajaan Allah.

      Negeri-Negeri Timur Menghasilkan Pemuji-Pemuji Yehuwa

      Sebagaimana halnya di banyak tempat lain, kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa di Filipina berkembang dengan cepat seusai Perang Dunia II. Langsung setelah dibebaskan dari penjara pada tanggal 13 Maret 1945, Joseph Dos Santos menghubungi kantor Lembaga Menara Pengawal di New York. Ia ingin memperoleh semua bahan pengajaran Alkitab dan petunjuk-petunjuk organisasi yang tidak diterima oleh saudara-saudara di Filipina selama perang berlangsung. Kemudian ia mengunjungi sidang-sidang secara pribadi untuk mempersatukan dan menguatkan mereka. Pada tahun itu juga suatu kebaktian nasional diadakan di Lingayen, Pangasinan, dan petunjuk-petunjuk disampaikan tentang cara mengajar orang-orang yang lapar akan kebenaran melalui pengajaran Alkitab di rumah. Pada tahun-tahun berikutnya tampak upaya yang sungguh-sungguh dikerahkan untuk menerjemahkan dan menerbitkan lebih banyak bahan dalam bahasa-bahasa setempat—Tagalog, Iloko, dan Cebuano. Fondasi untuk ekspansi dibubuh dan hal itu cepat terjadi.

      Dalam satu dekade sesudah perang berakhir, jumlah Saksi di Filipina meningkat dari kira-kira 2.000 menjadi lebih dari 24.000 orang. Setelah 20 tahun berlalu, ada lebih dari 78.000 pemuji Yehuwa di sana.

      Di antara Negeri-Negeri Timur yang pertama menerima utusan-utusan injil keluaran Sekolah Gilead adalah Cina. Harold King dan Stanley Jones tiba di Shanghai pada tahun 1947; Lew Ti Himm, pada tahun 1949. Ketiga orang perintis Jerman yang telah memulai pekerjaan di sana pada tahun 1939 datang untuk menyambut mereka. Inilah sebuah negeri dengan mayoritas Budhis yang tidak cepat menanggapi pembahasan Alkitab. Di dalam rumah mereka terdapat tempat sembahyang dan altar. Dengan menaruh kaca cermin di atas pintu, mereka mencoba menakut-nakuti roh-roh jahat. Kertas merah bertuliskan kata-kata ’keberuntungan’ dan gambar yang menakutkan mengenai dewa-dewi Budha menghiasi pintu gerbang. Namun masa itu ditandai oleh perubahan besar di Cina. Di bawah kekuasaan Komunis setiap orang diwajibkan untuk mempelajari ’ajaran Mao Tse-tung’. Sesudah mereka selesai dengan pekerjaan duniawi, mereka harus menghadiri pertemuan-pertemuan yang berlangsung lama yang membahas uraian terperinci mengenai Komunisme. Di tengah berlangsungnya hal ini, saudara-saudara kita tetap sibuk memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah.

      Banyak di antara mereka yang ingin belajar dengan Saksi-Saksi Yehuwa dahulunya pernah berhubungan dengan Alkitab melalui gereja-gereja Susunan Kristen. Demikianlah halnya dengan Nancy Yuen, seorang aktivis gereja dan ibu rumah tangga yang bersyukur atas hal-hal yang ditunjukkan kepadanya di dalam Alkitab oleh Saksi-Saksi. Segera ia ikut serta dengan penuh gairah dalam pekerjaan dari rumah ke rumah dan ia sendiri memimpin pengajaran-pengajaran Alkitab di rumah. Orang-orang lain kepada siapa mereka mengabar mempunyai latar belakang Cina dan Budhis yang khas dan sebelumnya tidak mempunyai pengetahuan tentang Alkitab. Pada tahun 1956 puncak 57 penyiar dicapai. Akan tetapi, pada tahun itu juga, sesudah enam kali ditangkap karena mengabar, Nancy Yuen ditahan dalam penjara. Yang lainnya ditangkap atau dipaksa meninggalkan negeri itu. Stanley Jones dan Harold King ditangkap pada tanggal 14 Oktober 1958. Sebelum dibawa ke pengadilan, mereka ditahan selama dua tahun. Selama waktu itu mereka terus-menerus diinterogasi. Ketika akhirnya dibawa ke pengadilan pada tahun 1960, mereka dijatuhi masa hukuman penjara yang panjang. Demikianlah, pada bulan Oktober 1958 kegiatan umum Saksi-Saksi Yehuwa di daratan Cina dihentikan secara paksa. Namun pengabaran mereka tidak pernah berhenti sama sekali. Bahkan di dalam penjara dan di kamp kerja paksa, ada kesempatan untuk memberi kesaksian. Di masa depan, apakah lebih banyak yang akan dilakukan di negeri yang amat luas ini? Hal ini akan diketahui pada waktunya.

      Sementara itu, apa yang sedang terjadi di Jepang? Hanya kira-kira seratus Saksi-Saksi Yehuwa yang telah mengabar di sana sebelum perang dunia kedua. Ketika menghadapi tindakan-tindakan menindas yang brutal selama tahun-tahun perang, banyak di antara mereka ini berkompromi. Walaupun beberapa tetap mempertahankan integritas mereka, pengabaran kepada umum secara terorganisasi terhenti. Akan tetapi, pemberitaan Kerajaan Yehuwa dimulai lagi di bagian dunia tersebut ketika Don Haslett, seorang utusan injil keluaran Sekolah Gilead, tiba di Tokyo pada bulan Januari 1949. Dua bulan kemudian, istrinya, Mabel, bisa bergabung dengannya. Ini merupakan ladang yang memiliki banyak orang yang lapar akan kebenaran. Sang kaisar telah membatalkan pengakuannya bahwa ia seorang dewa. Shinto, Budha, Katolik, dan Kyodan (gabungan dari berbagai golongan Protestan di Jepang) semuanya telah kehilangan muka di hadapan orang-orang karena ikut serta dalam upaya perang Jepang, yang berakhir dengan kekalahan.

      Menjelang akhir tahun 1949, 13 utusan injil dari Sekolah Gilead sibuk di Jepang. Lebih banyak lagi yang menyusul,—seluruhnya lebih dari 160 orang. Hanya ada sedikit sekali lektur yang digunakan dalam pekerjaan. Beberapa utusan injil bisa berbicara bahasa Jepang kuno di Hawaii, namun mereka masih harus belajar bahasa yang terbaru. Yang lainnya telah menguasai sedikit pelajaran dasar tetapi sering kali harus menggunakan kamus bahasa Jepang-Inggris sampai mereka lebih paham dalam bahasa mereka yang baru. Tidak lama kemudian, keluarga Ishii dan keluarga Miura, yang tidak melepaskan iman mereka selama tahun-tahun perang, mengadakan hubungan dengan organisasi dan mulai lagi ambil bagian dalam pelayanan kepada umum.

      Rumah-rumah utusan injil secara berangsur-angsur dibuka di Kobe, Nagoya, Osaka, Yokohama, Kyoto, dan Sendai. Dari tahun 1949 hingga 1957, upaya utama adalah membuka pekerjaan Kerajaan di kota-kota besar yang ada di pulau utama Jepang. Kemudian para pekerja mulai pindah ke kota-kota lain. Ladangnya luas sekali. Jelas, jika seluruh Jepang harus mendapat kesaksian yang saksama, banyak rohaniwan perintis dibutuhkan. Hal ini ditekankan, banyak yang merelakan diri, dan terdapat sambutan yang menakjubkan kepada upaya yang terpadu dari para rohaniwan yang bekerja keras ini! Dekade pertama menghasilkan 1.390 pemuji Yehuwa. Menjelang pertengahan 1970-an, ada 33.480 pemuji Yehuwa yang bergairah tersebar di seluruh Jepang. Dan laju pengumpulan sedang dipercepat.

      Pada tahun yang sama ketika Don Haslett tiba di Jepang, yakni tahun 1949, pekerjaan Kerajaan di Republik Korea juga sedang mendapat dorongan yang besar. Korea berada di bawah kekuasaan Jepang selama perang dunia, dan Saksi-Saksi telah dianiaya dengan kejam. Walaupun sesudah perang sudah ada suatu kelompok kecil yang berhimpun bersama untuk belajar, namun hubungan dengan organisasi internasional baru ada sesudah Choi Young-won melihat sebuah laporan tentang Saksi-Saksi Yehuwa pada tahun 1948 di dalam surat kabar Angkatan Darat Amerika Stars and Stripes. Pada tahun berikutnya sebuah sidang yang terdiri dari 12 penyiar terbentuk di Seoul. Belakangan pada tahun tersebut, Don dan Earlene Steele, utusan-utusan injil yang pertama dari Sekolah Gilead, tiba. Tujuh bulan kemudian, enam utusan injil lainnya menyusul.

      Mereka mendapat hasil-hasil yang bagus sekali—masing-masing rata-rata 20 pengajaran Alkitab dan hadirin perhimpunan sampai mencapai 336 orang. Kemudian Perang Korea meletus. Belum sampai tiga bulan sesudah kelompok terakhir dari para utusan injil itu tiba, mereka semua sudah diungsikan ke Jepang. Lebih dari setahun telah berlalu sebelum Don Steele dapat kembali ke Seoul, dan baru setahun berikutnya istrinya Earlene dapat bergabung dengan dia. Sementara itu saudara-saudara di Korea tetap teguh dan bergairah mengabar, meskipun menghadapi kenyataan bahwa mereka kehilangan rumah dan banyak di antara mereka menjadi pengungsi. Tetapi sekarang, dengan berlalunya perang, perhatian diarahkan kepada hal menyediakan lebih banyak lektur dalam bahasa Korea. Kebaktian-kebaktian dan gelombang masuknya lebih banyak utusan injil memberikan dorongan kepada pekerjaan. Menjelang tahun 1975, ada 32.693 Saksi-Saksi Yehuwa di Republik Korea—hampir sebanyak di Jepang—dan ada potensi untuk pertumbuhan yang bagus sekali, karena lebih dari 32.000 pengajaran Alkitab di rumah sedang dipimpin.

      Bagaimana Situasi di Eropa?

      Berakhirnya Perang Dunia II di Eropa tidak mengakibatkan kebebasan penuh bagi Saksi-Saksi Yehuwa di sana untuk melaksanakan pekerjaan pendidikan Alkitab mereka tanpa gangguan. Di beberapa tempat para pejabat menaruh respek karena pendirian mereka yang teguh selama perang. Namun di tempat lain gelombang nasionalisme yang sangat kuat dan permusuhan agama mengakibatkan penindasan lebih lanjut.

      Di antara Saksi-Saksi di Belgia ada beberapa yang datang dari Jerman untuk ikut serta dalam pemberitaan kabar baik. Karena mereka tidak mau mendukung rezim Nazi, Gestapo memburu mereka bagaikan binatang buas. Namun kini para pejabat Belgia menuduh beberapa di antara Saksi-Saksi yang sama ini sebagai orang Nazi dan menyuruh mereka dipenjarakan dan kemudian dideportasi. Meskipun segala hal ini, jumlah Saksi-Saksi yang ikut serta dalam pelayanan pengabaran di Belgia meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam jangka waktu lima tahun sesudah perang.

      Siapa yang menjadi dalang dari banyak penganiayaan tersebut? Gereja Katolik Roma. Bila ia mendapat kekuasaan untuk melakukan hal itu, ia tak henti-hentinya melancarkan perangnya untuk menumpas Saksi-Saksi Yehuwa.

      Menyadari bahwa banyak orang di Barat takut pada Komunisme, para imam Katolik di kota Cork di Irlandia, pada tahun 1948, mengobarkan sikap bermusuhan terhadap Saksi-Saksi Yehuwa dengan senantiasa menyebut mereka sebagai ”iblis-iblis Komunis”. Akibatnya, ketika Fred Metcalfe sedang ikut serta dalam pelayanan di lapangan, ia berhadapan dengan segerombolan orang yang memukul dan menendangnya dan menghamburkan lektur Alkitabnya di jalan. Untung, pada saat itu seorang polisi lewat dan membubarkan gerombolan itu. Menghadapi semua hal ini, Saksi-Saksi tetap tabah. Tidak semua orang Irlandia setuju dengan kekerasan itu. Belakangan bahkan beberapa yang ikut serta di dalamnya menyesalkan keterlibatan mereka. Sebagian besar dari orang-orang Katolik di Irlandia belum pernah melihat Alkitab. Namun, dengan kesabaran yang pengasih, beberapa di antara mereka dibantu untuk berpegang pada kebenaran yang memerdekakan orang.—Yoh. 8:32.

      Walaupun Saksi-Saksi di Italia hanya berjumlah kira-kira seratus orang pada tahun 1946, tiga tahun kemudian terdapat 64 sidang—kecil namun bekerja keras. Para imam cemas. Karena tidak dapat menyanggah kebenaran-kebenaran Alkitab yang diberitakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa, para imam Katolik menekan kalangan berwenang untuk mengupayakan agar mereka itu disingkirkan. Maka pada tahun 1949, utusan-utusan injil Saksi diperintahkan untuk ke luar dari negeri itu.

      Berkali-kali para pemimpin agama Katolik Roma di Italia berupaya membubarkan atau mencegah kebaktian-kebaktian yang diadakan oleh Saksi-Saksi di Italia. Mereka menggunakan para pengejek yang berteriak-teriak untuk berusaha mengacaukan suatu kebaktian di Sulmona pada tahun 1948. Di Milan mereka menekan kepala polisi untuk membatalkan izin untuk kebaktian di Teatro dell’Arte pada tahun 1950. Sekali lagi pada tahun 1951, mereka mempengaruhi polisi untuk membatalkan izin untuk kebaktian di Cerignola. Tetapi pada tahun 1957, ketika polisi memerintahkan agar sebuah kebaktian Saksi di Milan ditutup, pers Italia keberatan, dan pertanyaan-pertanyaan diajukan dalam parlemen. Mingguan di Roma Il Mondo terbitan 30 Juli 1957, tidak segan-segan menyatakan bahwa tindakan itu telah diambil ”untuk memuaskan uskup agung”, Giovanni Battista Montini, yang kemudian menjadi Paus Paulus VI. Selama berabad-abad telah diketahui umum bahwa Gereja Katolik telah melarang penyebaran Alkitab dalam bahasa-bahasa yang digunakan oleh masyarakat umum. Namun Saksi-Saksi Yehuwa bersikeras untuk membiarkan orang-orang Katolik yang jujur melihat sendiri apa yang dikatakan Alkitab. Kontras antara Alkitab dan dogma gereja jelas sekali. Meskipun adanya upaya yang intensif dari Gereja Katolik untuk mencegahnya, ribuan orang meninggalkan gereja, dan menjelang tahun 1975 ada 51.248 Saksi-Saksi Yehuwa di Italia. Mereka semua adalah penginjil-penginjil yang aktif, dan jumlah mereka berlipat ganda dengan cepat.

      Di Spanyol Katolik ketika kegiatan terorganisasi dari Saksi-Saksi Yehuwa secara berangsur-angsur dihidupkan kembali sesudah tahun 1946, tidaklah mengherankan bahwa para pemimpin agama di sana juga menekan pejabat-pejabat duniawi untuk mencoba menghentikan mereka. Perhimpunan-perhimpunan sidang dari Saksi-Saksi Yehuwa dikacaukan. Utusan-utusan injil dipaksa untuk ke luar dari negeri itu. Saksi-Saksi ditangkap hanya karena memiliki Alkitab atau lektur Alkitab. Mereka sering ditahan dalam penjara yang kotor sampai tiga hari lamanya, kemudian dibebaskan—lalu ditangkap, diinterogasi, dan dijebloskan lagi ke dalam penjara. Banyak yang menjalani hukuman penjara sebulan atau lebih. Imam-imam mendesak para pejabat duniawi untuk mengejar dan menangkap setiap orang yang belajar Alkitab dengan Saksi-Saksi Yehuwa. Bahkan sesudah Undang-Undang Kemerdekaan Beragama disahkan pada tahun 1967, perubahan-perubahan berlangsung lambat. Meskipun demikian, pada waktu Saksi-Saksi Yehuwa diakui secara resmi pada tahun 1970, sudah ada lebih dari 11.000 orang dari antara mereka di Spanyol. Dan lima tahun kemudian, jumlah mereka lebih dari 30.000 orang, masing-masing adalah penginjil yang aktif.

      Dan bagaimana dengan Portugal? Di sini juga, utusan-utusan injil diperintahkan untuk ke luar dari negeri itu. Atas hasutan para pemimpin agama Katolik, polisi menggeledah semua rumah Saksi-Saksi Yehuwa, menyita lektur mereka, dan membubarkan perhimpunan mereka. Pada bulan Januari 1963 komandan Polisi Keamanan Umum di Caldas da Rainha bahkan mengeluarkan perintah tertulis yang melarang mereka ’melakukan kegiatan pembacaan Alkitab mereka’. Tetapi Saksi-Saksi tidak melalaikan dinas mereka kepada Allah. Ada lebih dari 13.000 orang pada waktu mereka memperoleh pengakuan resmi di Portugal yaitu pada tahun 1974.

      Di bagian-bagian lain dari Eropa, pejabat-pejabat duniawi merintangi pemberitaan kabar baik dengan menggolongkan penyebaran lektur Alkitab sebagai kegiatan komersial, yang berada di bawah undang-undang perdagangan. Di sejumlah wilayah Swiss, peraturan-peraturan mengenai menjaja barang dagangan diberlakukan kepada penyebaran lektur oleh Saksi-Saksi Yehuwa yang didasarkan atas sumbangan sukarela. Seraya Saksi-Saksi melaksanakan kegiatan, mereka sering mengalami penangkapan dan tindakan pengadilan. Namun, sewaktu kasus-kasus diajukan ke pengadilan, beberapa pengadilan, termasuk Mahkamah Tinggi dari wilayah Vaud, pada tahun 1953 memutuskan bahwa kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa tidak patut dianggap sebagai menjajakan barang dagangan. Sementara itu, upaya dilakukan di Denmark untuk membatasi jam-jam penawaran lektur oleh Saksi-Saksi, dengan membatasi kegiatan mereka mengikuti waktu kerja yang ditentukan oleh undang-undang untuk toko-toko komersial. Hal ini juga harus diperjuangkan dalam pengadilan. Meskipun adanya rintangan-rintangan itu, Saksi-Saksi Yehuwa terus mengumumkan Kerajaan Allah sebagai satu-satunya harapan bagi umat manusia.

      Masalah lain yang mempengaruhi Saksi-Saksi Yehuwa di Eropa, maupun di tempat-tempat lain di bumi, ialah kenetralan Kristen. Karena hati nurani Kristen mereka tidak mengizinkan mereka untuk ikut terlibat dalam pertikaian-pertikaian antar faksi-faksi di dunia, mereka mendapat hukuman penjara di berbagai negeri satu demi satu. (Yes. 2:2-4) Ini mengakibatkan pemuda-pemuda ditangkap selagi dalam pelayanan tetap tentu mereka dari rumah ke rumah. Tetapi satu hasil yang bermanfaat ialah kesaksian yang intensif dapat diberikan kepada para pengacara, hakim, petugas militer, dan penjaga penjara. Bahkan di dalam penjara Saksi-Saksi menemukan suatu cara untuk mengabar. Walaupun menghadapi perlakuan bengis di beberapa penjara, Saksi-Saksi yang ditahan di penjara Santa Catalina di Cádiz, Spanyol, dapat menggunakan sebagian waktu mereka untuk memberi kesaksian melalui surat. Dan di Swedia banyak pemberitaan diterbitkan mengenai cara kasus-kasus yang menyangkut kenetralan Saksi-Saksi Yehuwa ditangani. Demikianlah, dengan banyak cara orang-orang disadarkan mengenai fakta bahwa Yehuwa memang mempunyai saksi-saksi di bumi dan bahwa mereka berpaut teguh pada prinsip-prinsip Alkitab.

      Ada hal lain lagi yang membuat Saksi-Saksi tetap menjadi perhatian masyarakat umum. Hal itu juga memberikan dampak kuat yang menyegarkan kepada pekerjaan penginjilan mereka.

      Kebaktian-Kebaktian Menyumbang Kepada Kesaksian

      Ketika Saksi-Saksi Yehuwa mengadakan suatu kebaktian internasional di Paris, Prancis, pada tahun 1955, laporan pemberitaan di televisi menayangkan kepada seluruh bangsa cuplikan-cuplikan mengenai apa yang terjadi. Pada tahun 1969 suatu kebaktian lain diadakan dekat Paris, dan nyata di situ bahwa pelayanan dari Saksi-Saksi telah berbuah baik. Mereka yang dibaptis di kebaktian itu berjumlah 3.619 orang, atau kira-kira 10 persen dari rata-rata hadirin. Mengenai hal ini, surat kabar sore yang populer di Paris yakni France-Soir tanggal 6 Agustus 1969, mengatakan, ”Apa yang mencemaskan para pemimpin agama dari agama-agama lain bukanlah cara-cara penyebaran publikasi yang menggemparkan yang digunakan oleh saksi-saksi dari Yehuwa, melainkan, bahwa mereka menobatkan orang-orang. Masing-masing saksi Yehuwa berkewajiban untuk memberi kesaksian atau mengumumkan imannya dengan menggunakan Alkitab dari rumah ke rumah.”

      Selama jangka waktu tiga minggu pada musim panas tahun 1969 itu juga, empat kebaktian internasional besar lainnya diadakan di Eropa—di London, Kopenhagen, Roma, dan Nuremberg. Kebaktian di Nuremberg dihadiri oleh 150.645 orang dari 78 negeri. Selain pesawat terbang dan kapal, kira-kira 20.000 mobil, 250 bus, dan 40 kereta api khusus dibutuhkan untuk mengangkut para delegasi ke kebaktian tersebut.

      Kebaktian-kebaktian bukan hanya menguatkan dan memperlengkapi Saksi-Saksi Yehuwa untuk pelayanan mereka tetapi juga memberikan kesempatan kepada masyarakat umum untuk melihat sendiri orang macam apa Saksi-Saksi Yehuwa itu. Ketika suatu kebaktian internasional dijadwalkan di Dublin, Irlandia, pada tahun 1965, tekanan agama yang hebat dilancarkan untuk memaksa agar penyelenggaraannya dibatalkan. Namun kebaktian itu tetap diadakan, dan banyak rumah tangga di Dublin menyediakan pemondokan bagi para delegasi. Dengan hasil apa? ”Kami tidak diberitahukan hal sebenarnya mengenai kalian,” demikian komentar beberapa nyonya rumah sesudah kebaktian. ”Para imam berdusta kepada kami, tetapi sekarang kami sudah mengenal kalian, kami akan selalu senang menampung kalian lagi.”

      Sewaktu Orang-Orang Berbicara Bahasa Lain

      Dalam beberapa dekade belum lama berselang Saksi-Saksi Yehuwa di Eropa mendapati bahwa mereka telah dihadapkan kepada suatu tantangan khusus untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang berbangsa lain. Banyak orang telah pindah dari satu negeri ke negeri lain untuk memperoleh manfaat dari peluang-peluang mata pencaharian. Beberapa kota di Eropa telah menjadi tempat kedudukan lembaga-lembaga internasional besar, dengan pegawai-pegawai yang tidak semuanya menggunakan bahasa setempat.

      Pasti, daerah dengan banyak bahasa sudah menjadi kenyataan hidup selama berabad-abad di beberapa tempat. Di India misalnya, 14 bahasa utama, dan barangkali ada 1.000 bahasa minoritas dan dialek. Di Papua Nugini terdapat lebih dari 700 bahasa. Namun khususnya selama tahun 1960-an dan 1970-an Saksi-Saksi di Luksemburg mendapati bahwa daerah mereka telah menampung orang-orang yang terdiri dari lebih 30 bangsa yang berlainan—dan sesudah itu sedikitnya 70 bangsa lain tiba. Swedia melaporkan bahwa negeri itu telah berubah dari negeri dengan satu bahasa yang digunakan oleh hampir setiap orang, menjadi masyarakat yang berbicara 100 bahasa yang berlainan. Bagaimana Saksi-Saksi Yehuwa telah menangani hal ini?

      Pertama-tama mereka hanya berupaya mencari tahu bahasa dari si penghuni rumah dan kemudian mencoba menyediakan lektur yang dapat dibacanya. Di Denmark, rekaman tape dibuat agar orang-orang Turki yang tulus dapat mendengar berita itu dalam bahasa mereka sendiri. Di Swiss ada sejumlah besar pekerja asing dari Italia dan Spanyol. Pengalaman Rudolf Wiederkehr dalam membantu beberapa di antara mereka ini merupakan sesuatu yang khas sehubungan dengan bagaimana segalanya bermula. Ia mencoba memberi kesaksian kepada seorang pria Italia, tetapi mereka berdua saling tidak mengetahui banyak tentang bahasa dari lawan bicaranya. Apa yang dapat dilakukan? Saudara kita meninggalkan sebuah Watchtower dalam bahasa Italia kepadanya. Meskipun ada masalah bahasa, Saudara Wiederkehr kembali. Suatu pengajaran Alkitab dimulai dengan pria itu, istrinya, dan putra mereka yang berusia 12 tahun. Buku pelajaran Saudara Wiederkehr berbahasa Jerman, tetapi ia menyediakan eksemplar-eksemplar dalam bahasa Italia untuk keluarga itu. Bila kehabisan ’kamus’, maka isyarat digunakan. Kadang-kadang si anak laki-laki, yang belajar bahasa Jerman di sekolah, berlaku sebagai juru bahasa. Seluruh keluarga tersebut memeluk kebenaran dan segera mulai membagikannya kepada orang lain.

      Tetapi benar-benar ada jutaan karyawan dari Italia, Portugal, Spanyol, Turki, Yugoslavia, dan Yunani pindah ke Jerman dan negara-negara lain. Bantuan rohani dapat diberikan kepada mereka secara lebih efektif dalam bahasa mereka sendiri. Segera beberapa dari Saksi-Saksi setempat mulai mempelajari bahasa-bahasa dari para pekerja asing. Di Jerman, kantor cabang bahkan menyelenggarakan kelas-kelas bahasa Turki. Saksi-Saksi di negeri-negeri lain yang mengerti bahasa yang dibutuhkan diundang untuk pindah ke tempat-tempat yang khusus membutuhkan bantuan.

      Beberapa di antara para pekerja dari luar negeri belum pernah berjumpa dengan Saksi-Saksi Yehuwa dan benar-benar lapar akan perkara-perkara rohani. Mereka bersyukur atas upaya yang dikerahkan untuk membantu mereka. Banyak sidang yang berbahasa asing dibentuk. Akhirnya, beberapa dari antara pekerja-pekerja asing ini pulang kembali ke negeri asal mereka untuk melakukan pelayanan di daerah yang sebelumnya belum pernah mendapat kesaksian yang saksama mengenai Kerajaan Allah.

      Tuaian yang Limpah Walaupun Menghadapi Rintangan-Rintangan

      Saksi-Saksi Yehuwa menggunakan cara-cara pengabaran yang sama di seluruh bumi. Di Amerika Utara mereka telah aktif menginjil selama lebih dari seabad. Maka, tidaklah mengherankan bahwa ada tuaian rohani yang limpah di sana. Menjelang tahun 1975, ada 624.097 Saksi-Saksi Yehuwa yang aktif di daratan Amerika Serikat dan Kanada. Akan tetapi, ini bukan karena pengabaran mereka di Amerika Utara dilakukan tanpa adanya perlawanan.

      Walaupun pemerintah Kanada telah mencabut pelarangannya atas Saksi-Saksi Yehuwa dan badan-badan hukumnya menjelang tahun 1945, manfaat-manfaat dari keputusan tersebut tidak segera terasa di propinsi Quebec. Pada bulan September 1945, gerombolan-gerombolan Katolik menyerang Saksi-Saksi Yehuwa di Châteauguay dan Lachine. Saksi-Saksi ditangkap dan didakwa telah menghasut karena lektur yang mereka sebarkan mengkritik Gereja Katolik Roma. Yang lainnya dijebloskan ke penjara karena mereka menyebarkan lektur Alkitab yang tidak disetujui oleh kepala polisi. Menjelang tahun 1947 ada 1.700 kasus terhadap Saksi-Saksi yang belum ada keputusannya di pengadilan-pengadilan di Quebec.

      Sementara kasus-kasus percobaan diajukan ke pengadilan, Saksi-Saksi diinstruksikan untuk mengumumkan berita injil secara lisan, dengan menggunakan Alkitab saja—bila mungkin Alkitab Katolik Douay Version. Rohaniwan-rohaniwan sepenuh waktu dari tempat-tempat lain di Kanada merelakan diri untuk belajar bahasa Prancis dan pindah ke Quebec agar dapat ambil bagian dalam menyebarkan ibadat yang sejati di sana.

      Banyak orang Katolik yang tulus mengundang Saksi-Saksi ke rumah mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, meskipun mereka sering mengatakan, ’Saya beragama Katolik Roma dan tidak akan pernah berubah.’ Namun ketika mereka melihat sendiri apa yang dikatakan oleh Alkitab, puluhan ribu di antara mereka, karena mengasihi kebenaran dan ingin menyenangkan Allah, ternyata berubah.

      Di Amerika Serikat juga, ternyata perlu untuk berargumentasi di hadapan pengadilan demi menegakkan hak Saksi-Saksi Yehuwa untuk mengabar kepada umum dan dari rumah ke rumah. Dari tahun 1937 hingga 1953, ada 59 kasus menyangkut Saksi-Saksi yang dilimpahkan terus ke atas hingga ke Mahkamah Agung di Washington, DC.

      Perhatian ke Daerah yang Belum Ditugaskan

      Tujuan Saksi-Saksi Yehuwa bukan sekadar melakukan sesuatu dalam memberitakan kabar baik melainkan mencapai setiap orang sedapat mungkin dengan berita Kerajaan. Untuk maksud itu, Badan Pimpinan dari Saksi-Saksi Yehuwa telah menyerahkan kepada setiap kantor cabang tanggung jawab atas bagian spesifik dari ladang sedunia. Seraya sidang-sidang terbentuk di dalam wilayah kantor cabang, masing-masing sidang itu mendapat sebagian dari daerah tersebut sebagai daerah pengabaran mereka. Sidang kemudian membagi daerah itu menjadi bagian-bagian yang dapat dipercayakan kepada kelompok-kelompok dan rohaniwan-rohaniwan secara pribadi di dalam sidang. Mereka ini berupaya mencapai setiap penghuni rumah secara tetap tentu. Namun bagaimana dengan daerah-daerah yang belum ditugaskan kepada sidang-sidang?

      Pada tahun 1951 dibuat suatu tabel mengenai semua kabupaten di Amerika Serikat untuk menentukan kabupaten-kabupaten yang belum menerima kunjungan tetap tentu dari Saksi-Saksi Yehuwa. Pada waktu itu hampir 50 persen belum dikerjakan atau hanya dikerjakan sebagian. Penyelenggaraan dibuat agar Saksi-Saksi melaksanakan pelayanan mereka di daerah-daerah ini selama bulan-bulan musim panas atau pada waktu-waktu lain yang cocok, dengan maksud mengembangkan sidang-sidang. Bilamana tidak ada orang di rumah, sebuah berita tercetak kadang-kadang ditinggalkan, bersama dengan satu eksemplar lektur Alkitab. Pengajaran-pengajaran Alkitab dipimpin melalui surat. Belakangan perintis-perintis istimewa diutus ke daerah-daerah demikian untuk mengadakan tindak lanjut kepada peminat-peminat yang ditemukan.

      Kegiatan ini tidak terbatas pada tahun 1950-an. Di seluruh dunia, di negeri-negeri yang kota-kota utamanya telah menerima kesaksian namun terdapat daerah yang belum pernah dikerjakan, upaya yang sungguh-sungguh terus dibuat untuk mencapai orang-orang yang belum dihubungi secara tetap tentu. Di Alaska pada tahun 1970-an kira-kira 20 persen dari penduduk tinggal di desa-desa terpencil. Banyak dari antara orang-orang ini paling cocok ditemui pada musim salju yang merupakan waktu manakala kegiatan menangkap ikan hampir-hampir terhenti. Namun itu merupakan waktu yang berbahaya untuk penerbangan karena adanya lapisan es yang hebat dan badai salju. Meskipun demikian, penduduk Eskimo, Indian, dan Aleut memerlukan kesempatan untuk belajar tentang persediaan berupa hidup kekal di bawah Kerajaan Allah. Untuk mencapai mereka, sekelompok yang terdiri dari 11 Saksi dengan menggunakan pesawat-pesawat terbang kecil mendatangi kira-kira 200 desa yang tersebar di daerah seluas 844.000 kilometer persegi selama jangka waktu dua tahun. Semuanya ini dibiayai oleh sumbangan-sumbangan sukarela yang diberikan oleh Saksi-Saksi setempat.

      Di samping ekspedisi-ekspedisi pengabaran demikian, Saksi-Saksi yang matang telah dianjurkan agar mempertimbangkan kemungkinan untuk benar-benar pindah ke daerah-daerah di luar negeri mereka yang lebih memerlukan tenaga pemberita Kerajaan. Ribuan saudara telah menyambut. Di antara mereka di Amerika Serikat yang telah berbuat demikian adalah Eugene dan Delia Shuster, yang meninggalkan Illinois pada tahun 1958 untuk melayani di Hope, Arkansas. Mereka telah menetap selama lebih dari tiga dekade untuk mencari orang-orang berminat, mengorganisasi mereka hingga sidang terbentuk, dan membantu mereka bertumbuh mencapai kematangan Kristen.

      Atas anjuran pengawas wilayah mereka, pada tahun 1957, Alexander B. Green dan istrinya meninggalkan Dayton, Ohio, untuk melayani di Mississippi. Mula-mula mereka ditugaskan ke Jackson dan dua tahun kemudian ke Clarksdale. Akhirnya, Saudara Green melayani di lima lokasi lain. Sidang-sidang di semua tempat ini kecil dan membutuhkan bantuan. Mata pencahariannya ialah menjaga dan membersihkan gedung, mengurus kebun, memelitur ulang perabot rumah, memperbaiki mobil, dan sebagainya. Namun upaya utamanya diarahkan kepada pemberitaan kabar baik. Ia membantu Saksi-Saksi setempat untuk bertumbuh secara rohani, bekerja dengan mereka untuk mencapai orang-orang di daerah mereka, dan sering membantu mereka membangun sebuah Balai Kerajaan sebelum ia pindah ke tempat lain.

      Pada tahun 1967, ketika Gerald Cain menjadi seorang Saksi di Amerika Serikat bagian barat, ia dan keluarganya sangat merasakan mendesaknya pekerjaan penginjilan. Bahkan sebelum seseorang dari antara mereka dibaptis, mereka membuat penyelenggaraan untuk melayani di tempat yang lebih memerlukan tenaga. Selama empat tahun mereka bekerja dengan Sidang Needles, Kalifornia, yang mempunyai tanggung jawab atas daerah yang mencakup wilayah dari tiga negara bagian di Amerika Serikat sebelah barat. Bila ada yang harus pindah karena alasan kesehatan, mereka sekali lagi memilih sebuah tempat yang khusus membutuhkan bantuan, dan mereka mengubah sebagian dari rumah mereka di sana menjadi Balai Kerajaan. Sesudah itu terjadi beberapa kali perpindahan, tetapi yang selalu menjadi pertimbangan utama ialah tinggal di tempat yang membuat mereka dapat memberikan bantuan yang paling baik dalam memberi kesaksian.

      Seraya jumlah sidang berlipat ganda, di beberapa daerah kebutuhan akan penatua-penatua yang memenuhi syarat sangat dirasakan. Untuk memenuhi kebutuhan ini, ribuan penatua telah merelakan diri untuk pulang pergi bertugas secara tetap tentu (dan dengan biaya sendiri) ke sidang-sidang di luar lingkungan masyarakat mereka. Mereka mengadakan perjalanan itu tiga, empat, lima kali, atau lebih dalam seminggu—untuk ambil bagian dalam perhimpunan-perhimpunan sidang dan pelayanan pengabaran dan juga untuk menggembalakan kawanan. Hal ini telah dilakukan bukan hanya di Amerika Serikat melainkan di Belanda, El Salvador, Jepang, Spanyol, dan di banyak negeri lain. Dalam beberapa pengalaman, para penatua dan keluarga mereka telah pindah, untuk memenuhi kebutuhan ini.

      Bagaimana hasil-hasilnya? Pertimbangkan sebuah negeri. Pada tahun 1951, sewaktu penyelenggaraan untuk mengerjakan daerah yang belum ada orang yang ditugaskan ke sana diumumkan untuk pertama kali, terdapat kira-kira 3.000 sidang di Amerika Serikat, dengan rata-rata 45 penyiar per sidang. Menjelang tahun 1975, ada 7.117 sidang, dan rata-rata jumlah Saksi aktif yang tergabung dengan setiap sidang telah meningkat hingga hampir 80 orang.

      Kesaksian yang diberikan tentang nama dan Kerajaan Yehuwa sejak tahun 1945 hingga 1975 jauh lebih banyak daripada semua yang telah terlaksana hingga saat itu.

      Jumlah Saksi telah meningkat dari 156.299 orang pada tahun 1945 menjadi 2.179.256 orang di seputar bola bumi pada tahun 1975. Mereka masing-masing telah ambil bagian secara pribadi dalam memberitakan kepada umum tentang Kerajaan Allah.

      Pada tahun 1975, Saksi-Saksi Yehuwa sibuk di 212 negeri (dihitung berdasarkan cara pembagian peta pada awal tahun 1990-an). Di daratan AS dan Kanada, 624.097 di antara mereka melaksanakan pelayanan mereka. Di Eropa, di luar dari negeri yang ketika itu adalah Uni Soviet, ada 614.826 orang lagi. Afrika mendengar berita kebenaran Alkitab dari 312.754 Saksi yang ikut serta dalam pekerjaan di sana. Meksiko, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan dilayani oleh 311.641 Saksi; Asia, oleh 161.598 orang; Australia dan banyak pulau di seluruh bumi, oleh 131.707 orang.

      Selama 30 tahun hingga tahun 1975, Saksi-Saksi Yehuwa membaktikan 4.635.265.939 jam untuk mengabar dan mengajar kepada umum. Mereka juga menempatkan sejumlah 3.914.971.158 eksemplar buku, buku kecil, dan majalah kepada orang-orang berminat untuk membantu mereka menghargai bagaimana mereka dapat menarik manfaat dari maksud-tujuan Yehuwa yang pengasih. Selaras dengan perintah Yesus untuk menjadikan murid, mereka mengadakan 1.788.147.329 kunjungan kembali kepada orang-orang berminat, dan pada tahun 1975 mereka memimpin rata-rata 1.411.256 pengajaran Alkitab di rumah secara gratis dengan orang perorangan dan keluarga.

      Menjelang tahun 1975 pemberitaan kabar baik sesungguhnya telah menjangkau 225 negeri. Di lebih dari 80 negeri yang menjelang tahun 1945 telah dicapai oleh kabar baik namun belum ada sidang pada tahun tersebut, sidang-sidang yang terdiri dari Saksi-Saksi yang bergairah berkembang pesat menjelang tahun 1975. Di antara tempat-tempat ini adalah Republik Korea dengan 470 sidang, Spanyol dengan 513, Zaire dengan 526, Jepang dengan 787, dan Italia dengan 1.031.

      Selama jangka waktu dari 1945 hingga 1975, bagian terbesar dari mereka yang menjadi Saksi-Saksi Yehuwa tidak mengaku bahwa mereka diurapi dengan roh Allah dengan prospek hidup di surga. Pada musim semi tahun 1935, jumlah mereka yang ambil bagian dari lambang-lambang pada Perjamuan Malam Tuhan seluruhnya mencapai 93 persen dari mereka yang ikut serta dalam pelayanan pengabaran. (Belakangan pada tahun itu juga, ”kumpulan besar” dari Wahyu 7:9 dipastikan identitasnya sebagai orang-orang yang akan hidup selama-lamanya di bumi.) Menjelang tahun 1945 jumlah Saksi yang menantikan kehidupan di atas bumi firdaus telah meningkat sampai sebanyak 86 persen dari jumlah mereka yang ikut serta dalam pemberitaan kabar baik. Menjelang tahun 1975 mereka yang mengaku sebagai orang Kristen yang diurapi dengan roh berjumlah tidak sampai setengah dari 1 persen jumlah total organisasi Saksi-Saksi Yehuwa sedunia. Walaupun tersebar di 115 negeri pada waktu itu, mereka yang terurap terus melayani sebagai suatu badan yang bersatu-padu di bawah Yesus Kristus.

      [Blurb di hlm. 463]

      ”Sejak kalian ada di sini setiap orang berbicara tentang Alkitab”

      [Blurb di hlm. 466]

      ”Apa yang baru saja Anda katakan kepada saya sama dengan apa yang saya baca dalam Alkitab tersebut bertahun-tahun yang lampau”

      [Blurb di hlm. 470]

      Ribuan pindah ke daerah-daerah di dalam negeri mereka sendiri yang lebih membutuhkan Saksi-Saksi

      [Blurb di hlm. 472]

      ”Berkat yang tidak ternilai”

      [Blurb di hlm. 475]

      Saksi-Saksi yang memenuhi syarat dikirim ke negeri-negeri yang memiliki kebutuhan khusus

      [Blurb di hlm. 486]

      Dengan argumentasi ayat-ayat Alkitab yang penuh kuasa, Saksi-Saksi yang mula-mula di Nigeria menelanjangi kaum pemimpin agama dan ajaran-ajaran palsu mereka

      [Blurb di hlm. 497]

      Bila kehabisan ’kamus’, maka isyarat digunakan

      [Blurb di hlm. 499]

      Tujuannya? Mencapai setiap orang sedapat mungkin dengan berita Kerajaan

      [Kotak/Gambar di hlm. 489]

      Banyak upaya dikerahkan untuk mencapai orang-orang di daratan Cina dengan kabar baik tentang Kerajaan Yehuwa

      Dari Chefoo ribuan surat, risalah, dan buku dikirimkan antara tahun 1891 dan 1900

      C. T. Russell berkhotbah di Shanghai dan mengunjungi 15 kota dan desa, tahun 1912

      Para kolportir menyebarkan banyak lektur sewaktu menyusuri pantai Cina, dengan perjalanan ke pedalaman, tahun 1912-18

      Kolportir-kolportir Jepang melayani di sini, tahun 1930-31

      Siaran-siaran radio diadakan dalam bahasa Cina dari Shanghai, Peking, Tientsin, selama tahun 1930-an; hasilnya, surat-surat yang meminta lektur datang dari banyak bagian di Cina

      Perintis-perintis dari Australia dan Eropa memberi kesaksian di Shanghai, Peking, Tientsin, Tsingtao, Pei-tai-ho, Chefoo, Weihaiwei, Canton, Swatow, Amoy, Foochow, Hankow, dan Nanking selama tahun 1930-an dan 1940-an. Yang lain datang melalui Jalan Birma dan bersaksi di Pao-shan, Chungking, Ch’eng-tu. Perintis-perintis setempat melayani di Shensi dan Ningpo

      [Foto]

      Utusan-utusan injil keluaran Sekolah Gilead, seperti Stanley Jones (kiri) dan Harold King (kanan), melayani di sini dari tahun 1947 hingga 1958, bersama Saksi-Saksi setempat yang bergairah

      [Peta]

      CINA

      [Peta/Gambar di hlm. 462]

      ”Sibia” berfungsi sebagai rumah utusan injil terapung di Hindia Barat

      G. Maki

      S. Carter

      R. Parkin

      A. Worsley

      [Peta]

      (Untuk keterangan lebih lengkap, lihat publikasi)

      BAHAMA

      KEPULAUAN LEEWARD

      KEPULAUAN VIRGIN (A.S.)

      KEPULAUAN VIRGIN (INGGRIS)

      KEPULAUAN WINWARD

      [Peta di hlm. 477]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      Air kebenaran yang memberi kehidupan meluap melintasi batas-batas nasional ke banyak jurusan di Afrika

      MESIR

      SENEGAL

      KENYA

      AFRIKA SELATAN

      GHANA

      KENYA

      MALAWI

      NIGERIA

      SIERRA LEONE

      ZAMBIA

      [Gambar di hlm. 464]

      Sebagai utusan injil di Bolivia, Edward Michalec (kiri) dan Harold Morris (kanan) mula-mula mengabar di sini di La Paz

      [Gambar di hlm. 465]

      Kapal ”El Refugio”, yang dibangun oleh Saksi-Saksi di Peru, digunakan untuk membawa berita Kerajaan kepada orang-orang di sepanjang sungai-sungai di daerah hulu Sungai Amazon

      [Gambar di hlm. 467]

      Kursus-kursus pemberantasan buta huruf yang dipimpin oleh Saksi-Saksi di Meksiko telah memungkinkan puluhan ribu orang membaca Firman Allah

      [Gambar di hlm. 468]

      Saudara Knorr (depan kanan) bertemu dengan Saksi-Saksi di kebaktian-kebaktian kecil di perladangan dan pegunungan di Argentina sewaktu mereka tidak mendapat kebebasan untuk berhimpun secara lebih terbuka

      [Gambar di hlm. 469]

      Di antara ribuan Saksi yang pindah ke negeri-negeri lain untuk melayani di tempat-tempat yang lebih membutuhkan terdapat keluarga-keluarga, seperti misalnya Harold dan Anne Zimmerman bersama empat anak mereka yang masih kecil (Kolombia)

      [Gambar di hlm. 471]

      Sebagai sambutan atas panggilan untuk menjadi sukarelawan, Tom dan Rowena Kitto pindah ke Papua untuk mengajar kebenaran Alkitab

      [Gambar di hlm. 471]

      John dan Ellen Hubler, diikuti oleh 31 Saksi lain, pindah ke Kaledonia Baru. Sebelum mereka terpaksa harus pergi, sebuah sidang telah berdiri dengan teguh di sana

      [Gambar di hlm. 473]

      Sebagai seorang pemuda di Samoa Barat, Fuaiupolu Pele menghadapi tekanan hebat dari keluarga dan lingkungan masyarakat ketika ia memutuskan untuk menjadi salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa

      [Gambar di hlm. 474]

      Setelah Shem Irofa’alu dan rekan-rekannya yakin bahwa apa yang diajarkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa sungguh-sungguh merupakan kebenaran, gereja-gereja di 28 desa di Kepulauan Solomon diubah menjadi Balai-Balai Kerajaan

      [Gambar di hlm. 476]

      Untuk mengabar di Etiopia pada awal tahun 1950-an, Saksi-Saksi dituntut untuk mendirikan suatu misi dan mengajar di sekolah

      [Gambar di hlm. 478]

      Sewaktu terancam deportasi, Gabriel Paterson (tampak di sini) diyakinkan oleh seorang pejabat terkemuka, ’Kebenaran bagaikan sungai yang besar; bila dibendung, air akan meluap dari bendungan itu’

      [Gambar di hlm. 479]

      Pada tahun 1970 di suatu kebaktian di Nigeria, 3.775 Saksi baru dibaptis; perhatian diberikan untuk memastikan agar setiap orang benar-benar memenuhi syarat

      [Gambar di hlm. 481]

      Pertunjukan-pertunjukan film (di Afrika dan di seluruh dunia) memberikan gambaran sekilas kepada hadirin tentang besarnya organisasi Yehuwa yang kelihatan

      [Gambar di hlm. 482]

      João Mancoca (tampak di sini bersama istrinya, Mary) telah melayani Yehuwa dengan loyal selama beberapa dekade seraya menghadapi keadaan-keadaan yang sukar

      [Gambar di hlm. 483]

      Pada tahun 1961, Ernest Heuse, Jr., dengan keluarganya, dapat memasuki Zaire (ketika itu disebut Kongo) untuk membantu memberi pengajaran rohani bagi mereka yang benar-benar ingin melayani Yehuwa

      [Gambar di hlm. 485]

      Walaupun baru setahun dibaptis dan belum mengenal Saksi-Saksi lain di Kenya, Mary Whittington siap pergi membantu orang-orang lain belajar kebenaran

      [Gambar di hlm. 487]

      Mary Nisbet (front center), flanked by her sons Robert and George, who pioneered in East Africa in the 1930’s, and (in the rear) her son William and his wife Muriel, who served in East Africa from 1956 to 1973

      [Gambar di hlm. 488]

      Pada suatu kebaktian di Filipina pada tahun 1945, petunjuk-petunjuk diberikan tentang cara mengajar melalui pengajaran Alkitab di rumah

      [Gambar di hlm. 490]

      Don dan Mabel Haslett, utusan-utusan injil pascaperang yang pertama di Jepang, sedang melakukan pekerjaan kesaksian di jalan

      [Gambar di hlm. 491]

      Selama 25 tahun Lloyd Barry (kanan) melayani di Jepang, mula-mula sebagai utusan injil dan kemudian sebagai pengawas cabang

      [Gambar di hlm. 491]

      Don dan Earlene Steele, yang pertama di antara banyak utusan injil yang melayani di Republik Korea

      [Gambar di hlm. 492]

      Pada tahun-tahun yang lampau, gerombolan kadang-kadang mengejar Fred Metcalfe ketika ia mencoba untuk memberi pengajaran dari Alkitab di Irlandia; tetapi belakangan sewaktu orang-orang menyempatkan diri untuk mendengarkan, ribuan orang menjadi Saksi-Saksi Yehuwa

      [Gambar di hlm. 493]

      Meskipun adanya tentangan para pemimpin agama, ribuan orang berduyun-duyun menghadiri kebaktian-kebaktian yang diselenggarakan oleh Saksi-Saksi di Italia (Roma, 1969)

      [Gambar di hlm. 494]

      Selama adanya pelarangan, perhimpunan sidang sering diadakan di luar kota, bergaya piknik, seperti di Portugal ini

      [Gambar di hlm. 495]

      Saksi-Saksi dalam penjara di Cádiz, Spanyol, terus mengabar dengan cara menulis surat

      [Gambar di hlm. 496]

      Kebaktian-kebaktian besar memberi kesempatan kepada masyarakat umum untuk melihat dan mendengar sendiri orang macam apa Saksi-Saksi itu

      Paris, Prancis (1955)

      Nuremberg, Jerman (1955)

      [Gambar di hlm. 498]

      Untuk mencapai setiap orang di Luksemburg dengan kabar baik, Saksi-Saksi Yehuwa harus menggunakan lektur sedikitnya dalam seratus bahasa

  • Bagian 5​—Saksi-Saksi ke Bagian yang Paling Jauh di Bumi
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 22

      Bagian 5​—Saksi-Saksi ke Bagian yang Paling Jauh di Bumi

      Pada tahun 1975 keputusan-keputusan penting dibuat mengenai caranya pengawasan atas kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa akan dilakukan dari kantor pusat mereka. Pada waktu itu mereka tidak tahu ladang-ladang mana yang masih akan terbuka untuk kesaksian yang luas sebelum sistem dunia dewasa ini berakhir atau berapa banyak pengabaran yang masih harus mereka lakukan di negeri-negeri yang selama bertahun-tahun telah diberi kesaksian secara terbuka. Namun mereka ingin menggunakan setiap kesempatan dengan sebaik-baiknya. Halaman 502 hingga 520 mengisahkan beberapa perkembangan yang menggetarkan hati.

      PERUBAHAN-PERUBAHAN besar telah terjadi di Amerika Selatan. Belum lama berselang Saksi-Saksi Yehuwa di Ekuador menghadapi gerombolan-gerombolan pengacau Katolik, imam-imam Katolik di Meksiko berkuasa bagaikan raja di banyak desa, dan larangan oleh pemerintah diberlakukan atas Saksi-Saksi Yehuwa di Argentina dan Brasil. Namun keadaan telah berubah secara mencolok. Banyak di antara mereka yang diajar untuk takut atau membenci Saksi-Saksi, kini mereka sendiri adalah Saksi-Saksi Yehuwa. Yang lain dengan senang hati mendengar bila Saksi-Saksi mengunjungi mereka untuk membagikan berita perdamaian Alkitab. Saksi-Saksi Yehuwa terkenal baik dan mendapat respek di kalangan luas.

      Ukuran dari kebaktian-kebaktian mereka dan tingkah laku Kristen dari mereka yang hadir telah menarik perhatian. Dua kebaktian demikian yang diadakan serentak di São Paulo dan Rio de Janeiro, Brasil, pada tahun 1985, mencapai puncak hadirin 249.351 orang. Belakangan, 23 kebaktian tambahan yang diadakan untuk menampung peminat-peminat yang tinggal di tempat-tempat lainnya di Brasil, menambah jumlah hadirin menjadi 389.387 orang. Hasil dari pekerjaan yang telah dilakukan oleh Saksi-Saksi Yehuwa di Brasil sebagai pengajar-pengajar Firman Allah jelas terbukti sewaktu 4.825 orang melambangkan pembaktian mereka kepada Yehuwa melalui pembaptisan air pada rangkaian kebaktian tersebut. Hanya lima tahun kemudian, pada tahun 1990, perlu diselenggarakan 110 kebaktian di seluruh Brasil untuk menampung 548.517 orang yang hadir. Kali ini 13.448 orang mempersembahkan diri mereka untuk pembaptisan air. Di seluruh negeri ratusan ribu orang secara perorangan dan keluarga menyambut hangat Saksi-Saksi Yehuwa yang mengajar mereka tentang Firman Allah.

      Dan bagaimana tentang Argentina? Sesudah adanya pembatasan dari pemerintah selama beberapa dekade, Saksi-Saksi Yehuwa dapat berhimpun lagi dengan bebas pada tahun 1985. Sungguh suatu sukacita karena 97.167 orang hadir pada rangkaian pertama kebaktian mereka! Di bawah judul ”Kerajaan yang Makin Berkembang​—dari Saksi-Saksi Yehuwa”, publikasi berita setempat, Ahora, kagum atas ketertiban kumpulan orang yang hadir di kebaktian di Buenos Aires, karena mereka sama sekali tidak ada prasangka ras dan sosial, karena mereka suka damai, dan karena kasih yang mereka perlihatkan. Lalu publikasi itu menyimpulkan, ”Apakah kita setuju atau tidak dengan gagasan dan doktrin mereka, seluruh massa ini tetap layak mendapat respek kita setinggi-tingginya.” Akan tetapi, banyak orang Argentina melakukan lebih daripada hal tersebut. Mereka mulai belajar Alkitab dengan Saksi-Saksi Yehuwa, dan mereka menghadiri perhimpunan-perhimpunan di Balai Kerajaan untuk mengamati bagaimana Saksi-Saksi mengamalkan prinsip-prinsip Alkitab dalam kehidupan mereka. Kemudian para pengamat ini mengambil keputusan. Selama tujuh tahun berikutnya puluhan ribu di antara mereka membaktikan kehidupan mereka kepada Yehuwa, dan jumlah Saksi di Argentina meningkat sebesar 71 persen!

      Sambutan kepada kabar baik mengenai Kerajaan Allah bahkan lebih luar biasa lagi di Meksiko. Pada tahun-tahun sebelumnya, Saksi-Saksi Yehuwa di sana sering kali diserang oleh gerombolan-gerombolan pengacau yang dihasut para imam. Namun kenyataan bahwa Saksi-Saksi tidak membalas atau berusaha membalas dendam sangat mengesankan orang-orang yang berhati jujur. (Rm. 12:​17-19) Mereka juga mengamati bahwa semua kepercayaan Saksi-Saksi didasarkan atas Alkitab, Firman Allah yang terilham, sebaliknya daripada atas tradisi-tradisi manusia. (Mat. 15:​7-9; 2 Tim. 3:​16, 17) Mereka dapat melihat bahwa Saksi-Saksi memiliki iman yang benar-benar menguatkan hati mereka pada waktu menghadapi situasi yang sulit. Lebih banyak keluarga menyambut baik Saksi-Saksi Yehuwa bila mereka menawarkan pengajaran Alkitab di rumah secara cuma-cuma kepada mereka. Sesungguhnya, selama tahun 1992, 12 persen dari pengajaran Alkitab yang dipimpin oleh Saksi-Saksi di seluruh dunia terdapat di Meksiko, dan cukup banyak di antaranya adalah dengan keluarga-keluarga yang besar. Sebagai hasilnya, jumlah Saksi-Saksi Yehuwa di Meksiko​—bukan hanya mereka yang menghadiri perhimpunan melainkan mereka yang aktif sebagai pemberita Kerajaan Allah—​membengkak dari 80.481 pada tahun 1975 menjadi 354.023 pada tahun 1992!

      Di Eropa juga, peristiwa-peristiwa yang luar biasa menyumbang kepada perluasan berita Kerajaan.

      Perkembangan Menakjubkan di Polandia

      Walaupun pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa telah dilarang di Polandia dari tahun 1939 hingga 1945 (selama waktu kekuasaan Nazi dan Soviet) dan sekali lagi pada bulan Juli 1950 (di bawah pengawasan Soviet), Saksi-Saksi Yehuwa tidak berhenti mengabar di sana. Meskipun jumlah mereka hanya 1.039 orang pada tahun 1939, pada tahun 1950 terdapat 18.116 pemberita Kerajaan, dan mereka ini terus menjadi penginjil yang bergairah (meskipun hati-hati). (Mat. 10:16) Akan tetapi, berkenaan kebaktian-kebaktian, ini telah diadakan luput dari perhatian umum​—di pedalaman, di dalam gudang-gudang, di hutan-hutan. Namun mulai tahun 1982, pemerintah Polandia mengizinkan mereka mengadakan kebaktian satu hari dengan jumlah yang bersahaja dengan menggunakan fasilitas-fasilitas yang disewa.

      Kemudian, pada tahun 1985, stadion-stadion terbesar di Polandia disediakan untuk Saksi-Saksi Yehuwa guna mengadakan empat kebaktian yang besar selama bulan Agustus. Sewaktu seorang delegasi dari Austria tiba dengan pesawat terbang, ia tercengang mendengar sebuah pengumuman melalui pengeras suara yang mengucapkan selamat datang kepada Saksi-Saksi Yehuwa yang datang ke Polandia untuk kebaktian mereka. Menyadari bahwa ini merupakan tanda adanya perubahan sikap dari pemerintah, seorang Saksi Polandia lanjut usia yang berada di sana untuk menyambut si pengunjung tidak dapat menahan diri dan mulai mencucurkan air mata karena sukacita. Hadirin pada kebaktian-kebaktian ini berjumlah 94.134 orang delegasi, termasuk rombongan-rombongan dari 16 negeri. Apakah masyarakat umum mengetahui apa yang sedang berlangsung? Memang demikianlah halnya! Selama dan sesudah kebaktian-kebaktian ini, mereka membaca laporan-laporan berita dalam berbagai surat kabar utama mereka, melihat di televisi banyaknya orang di kebaktian, dan mendengar bagian-bagian dari acara melalui radio nasional. Banyak di antara mereka menyukai apa yang mereka lihat dan dengar.

      Rencana untuk mengadakan kebaktian-kebaktian yang bahkan lebih besar di Polandia sedang dibuat ketika, pada tanggal 12 Mei 1989, pemerintah memberikan pengakuan resmi kepada Saksi-Saksi Yehuwa sebagai suatu perkumpulan agama. Dalam waktu tiga bulan, tiga kebaktian internasional berlangsung​—di Chorzów, Poznan, dan Warsawa—​dengan jumlah seluruh hadirin 166.518 orang. Secara menakjubkan, ribuan Saksi dari negara yang ketika itu adalah Uni Soviet (USSR) dan dari Cekoslowakia berhasil memperoleh izin yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan dan mereka hadir. Apakah pekerjaan menjadikan murid oleh Saksi-Saksi Yehuwa membuahkan hasil di negara-negara ini yang selama beberapa dekade ateisme sangat kuat dianut oleh Negara? Jawabannya jelas terlihat sewaktu 6.093 orang, termasuk banyak anak muda, mempersembahkan diri mereka untuk dibaptis dengan air pada kebaktian-kebaktian tersebut.

      Masyarakat tidak dapat tidak melihat bahwa Saksi-Saksi berbeda​—dalam cara yang positif sekali. Di berbagai pemberitaan pers kepada umum mereka membaca pernyataan seperti berikut, ”Mereka yang beribadat kepada Allah Yehuwa​—seperti yang mereka sendiri katakan—​sangat menghargai pertemuan-pertemuan mereka, yang memang merupakan manifestasi persatuan di kalangan mereka. . . . Mengenai ketertiban, perdamaian, dan kebersihan, para peserta kebaktian merupakan teladan yang patut ditiru.” (Życie Warszawy) Beberapa orang Polandia memutuskan untuk berbuat lebih daripada sekadar mengamati pengunjung-pengunjung kebaktian. Mereka ingin agar Saksi-Saksi Yehuwa mempelajari Alkitab bersama mereka. Sebagai hasil pengajaran Firman Allah yang demikian, jumlah Saksi-Saksi Yehuwa di Polandia meningkat dari 72.887 pada tahun 1985 menjadi 107.876 pada tahun 1992; dan selama tahun terakhir itu, mereka membaktikan lebih dari 16.800.000 juta jam untuk menceritakan kepada orang-orang lain lagi tentang harapan menakjubkan yang dibentangkan dalam ayat-ayat Alkitab.

      Akan tetapi, bukan hanya di Polandia terjadi perubahan-perubahan yang menggetarkan hati.

      Eropa Timur Semakin Membuka Pintu-Pintunya

      Hongaria memberikan status resmi kepada Saksi-Saksi Yehuwa pada tahun 1989. Negara yang pada waktu itu adalah Republik Demokrasi Jerman (RDJ) pada tahun 1990, mencabut larangannya atas Saksi-Saksi yang telah berlangsung selama 40 tahun, hanya empat bulan sesudah pembongkaran Tembok Berlin dimulai. Pada bulan berikutnya Perkumpulan Kristen Saksi-Saksi Yehuwa di Romania dengan resmi diakui oleh pemerintah Romania yang baru. Pada tahun 1991 Departemen Kehakiman di Moskow menyatakan bahwa Piagam dari ”Organisasi Agama Saksi-Saksi Yehuwa di USSR” secara resmi didaftar. Pada tahun itu juga pengakuan resmi diberikan kepada pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa di Bulgaria. Selama tahun 1992, Saksi-Saksi Yehuwa di Albania mendapat status resmi.

      Apa yang dilakukan oleh Saksi-Saksi Yehuwa dengan kebebasan yang diberikan kepada mereka? Seorang jurnalis bertanya kepada Helmut Martin, koordinator pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa di RDJ, ”Apakah Anda akan terjun dalam politik?” Pada hakikatnya, itulah yang dilakukan oleh banyak dari kaum pemimpin agama Susunan Kristen. ”Tidak,” jawab Saudara Martin, ”Yesus memberikan penugasan berdasarkan Alkitab kepada murid-muridnya, dan kami menganggapnya sebagai tugas utama kami.”​—Mat. 24:14; 28:​19, 20.

      Saksi-Saksi Yehuwa sesungguhnya bukannya baru mulai memikul tanggung jawab tersebut di bagian dunia ini. Walaupun mereka harus melaksanakan kegiatan mereka selama bertahun-tahun dalam keadaan yang sangat sukar, di kebanyakan negeri ini sidang-sidang (yang berhimpun dalam kelompok-kelompok kecil) telah berfungsi, dan kesaksian telah dilakukan. Namun sekarang suatu peluang baru terbuka. Mereka dapat mengadakan perhimpunan dan dengan bebas mengundang umum ke perhimpunan tersebut. Mereka dapat mengabar dari rumah ke rumah secara terang-terangan, tanpa takut dipenjarakan. Dengan jumlah penduduk lebih dari 390.000.000 orang, masih banyak pekerjaan dapat dilakukan di negeri-negeri ini. Dengan menyadari sepenuhnya bahwa kita hidup di hari-hari terakhir dari sistem perkara-perkara dunia dewasa ini, Saksi-Saksi Yehuwa bertindak dengan cepat.

      Bahkan sebelum pengakuan resmi diberikan, anggota-anggota Badan Pimpinan telah mengunjungi sejumlah negeri untuk meneliti kemungkinan yang dapat dilakukan guna membantu saudara-saudara Kristen mereka. Sesudah pelarangan dicabut, mereka pergi ke lebih banyak dari daerah-daerah ini untuk membantu mengorganisasi pekerjaan. Dalam beberapa tahun, mereka secara pribadi telah berjumpa dan berbicara dengan Saksi-Saksi di Polandia, Hongaria, Romania, Cekoslowakia, Rusia, Ukraina, Estonia, dan Belarus.

      Kebaktian-kebaktian diselenggarakan untuk menguatkan Saksi-Saksi yang tinggal di negeri-negeri ini dan dengan lebih tandas menyodorkan kepada umum berita mengenai Kerajaan Allah. Kurang dari lima bulan sesudah pelarangan dicabut di negara yang dahulunya RDJ, kebaktian seperti ini diadakan di Olympia Stadium di Berlin. Saksi-Saksi dari 64 negeri lain segera menyambut undangan untuk hadir. Mereka menganggapnya sebagai hak istimewa untuk menikmati kesempatan tersebut dengan saudara-saudara dan saudari-saudari Kristen yang selama beberapa dekade telah menunjukkan loyalitas kepada Yehuwa dalam menghadapi penindasan yang hebat.

      Pada tahun 1990 maupun pada tahun 1991, kebaktian-kebaktian lain diadakan di seluruh Eropa Timur. Sesudah empat kebaktian setempat diadakan di Hongaria pada tahun 1990, suatu pertemuan internasional diselenggarakan di Népstadion di Budapest pada tahun 1991. Yang hadir adalah 40.601 hadirin dari 35 negeri. Untuk pertama kali setelah lebih dari 40 tahun, Saksi-Saksi Yehuwa dapat mengadakan kebaktian-kebaktian umum di Romania pada tahun 1990. Suatu rangkaian kebaktian di seluruh negeri, dan kemudian dua kebaktian yang lebih besar, diadakan pada tahun tersebut. Ada delapan kebaktian lagi pada tahun 1991, dengan hadirin 34.808 orang. Pada tahun 1990, di negeri yang pada waktu itu adalah Yugoslavia, kebaktian diadakan di masing-masing republik yang membentuk negara itu. Pada tahun berikutnya, walaupun negara itu terancam oleh perang saudara, 14.684 Saksi-Saksi Yehuwa menikmati suatu kebaktian internasional di Zagreb, ibu kota Kroatia. Polisi tercengang sewaktu melihat orang-orang Kroatia, Montenegro, Serbia, Slovenia, dan lain-lain berkumpul dengan damai untuk mendengarkan acara.

      Juga di negara yang pada waktu itu adalah Cekoslowakia, kebaktian-kebaktian segera diselenggarakan. Suatu kebaktian nasional di Praha pada tahun 1990 dihadiri oleh 23.876 orang. Pengelola stadion sangat senang akan apa yang mereka lihat sehingga mereka menyediakan bagi Saksi-Saksi fasilitas-fasilitas terbesar yang ada di dalam negeri untuk kebaktian mereka yang berikutnya. Pada kesempatan bersejarah tersebut, pada tahun 1991, ada 74.587 pengunjung kebaktian yang antusias yang memenuhi Strahov Stadium di Praha. Para delegasi Ceko dan Slowakia sangat gembira dan dengan antusias bertepuk tangan ketika diumumkan terbitnya New World Translation of the Holy Scriptures dalam bahasa-bahasa mereka sendiri, untuk digunakan dalam pelayanan umum maupun pelajaran pribadi dan sidang.

      Selama tahun 1991 pula, untuk pertama kali dalam sejarah, Saksi-Saksi Yehuwa dapat mengadakan kebaktian-kebaktian secara terang-terangan di tempat-tempat yang ketika itu ada di dalam Uni Soviet. Sesudah kebaktian di Tallinn, Estonia, ada pula di Siberia. Empat diadakan di kota-kota besar di Ukraina, dan satu di Kazakhstan. Hadirin seluruhnya berjumlah 74.252 orang. Dan sebagai buah-buahan yang baru dihasilkan dari pekerjaan menjadikan murid oleh Saksi-Saksi Yehuwa di kawasan ini, 7.820 orang mempersembahkan diri mereka untuk dibaptis dalam air. Ini bukan keputusan emosional yang diambil karena mereka merasa tergetar oleh kebaktian itu. Para calon pembaptisan telah dipersiapkan dengan cermat sebelumnya selama berbulan-bulan​—dan dalam beberapa kasus, bertahun-tahun.

      Dari mana gerangan semua orang ini datang? Jelas bahwa pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa bukan baru saja mulai di bagian dunia ini. Publikasi-publikasi Menara Pengawal telah diposkan kepada seorang peminat di Rusia bahkan sejak tahun 1887. Presiden pertama Lembaga Menara Pengawal sendiri telah mengunjungi Kishinev (kini di Moldavia) pada tahun 1891. Beberapa Siswa-Siswa Alkitab telah pergi ke Rusia untuk mengabar selama tahun 1920-an; tetapi ada perlawanan resmi yang kuat, dan beberapa kelompok kecil menunjukkan minat kepada berita Alkitab. Akan tetapi keadaan berubah selama dan sesudah Perang Dunia II. Batas-batas nasional ditata kembali, dan kelompok-kelompok besar penduduk disesuaikan kembali lokasinya. Akibatnya, lebih dari seribu Saksi yang berbahasa Ukraina dari daerah yang dahulu adalah Polandia bagian timur mendapati diri mereka berada di dalam Uni Soviet. Saksi-Saksi lain yang tinggal di Romania dan Cekoslowakia mendapati bahwa tempat-tempat tinggal mereka telah menjadi bagian dari Uni Soviet. Selain itu, orang-orang Rusia yang telah menjadi Saksi-Saksi Yehuwa ketika berada dalam kamp-kamp konsentrasi Jerman kembali ke negeri asal mereka, dan mereka membawa kabar baik tentang Kerajaan Allah bersama mereka. Menjelang tahun 1946, ada 4.797 Saksi yang aktif di Uni Soviet. Banyak dari antara mereka dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain oleh pemerintah tahun demi tahun. Beberapa dikirim ke kamp-kamp penjara. Ke mana pun mereka pergi mereka memberi kesaksian. Jumlah mereka bertambah. Bahkan sebelum pemerintah memberikan pengakuan resmi kepada mereka, kelompok-kelompok mereka sudah aktif mulai dari Lviv di barat hingga Wladiwostok di batas timur Uni Soviet, di seberang Laut Jepang.

      Banyak Orang Kini Suka Mendengarkan

      Sewaktu Saksi-Saksi mengadakan kebaktian-kebaktian di negara yang pada waktu itu adalah USSR pada tahun 1991, masyarakat umum mendapat kesempatan untuk memperhatikan mereka lebih dekat. Bagaimana tanggapan mereka? Di Lviv, Ukraina, seorang pejabat polisi mengatakan kepada salah seorang pengunjung kebaktian, ”Kalian unggul dalam hal mengajarkan kebaikan kepada orang lain, kalian berbicara tentang Allah, dan kalian tidak melakukan kekerasan. Kami sedang membahas mengapa kami dalulu menindas kalian, dan kami menyimpulkan bahwa kami dulu tidak pernah mendengarkan kepada kalian dan tidak tahu apa-apa tentang kalian.” Namun kini banyak orang mendengarkan, dan Saksi-Saksi Yehuwa ingin membantu mereka.

      Agar dapat melaksanakan pekerjaan mereka dengan lebih efektif di negeri-negeri ini, lektur Alkitab dibutuhkan. Upaya keras dikerahkan untuk segera menyediakannya. Di Selters/Taunus, Jerman, Saksi-Saksi Yehuwa meningkatkan berbagai fasilitas percetakannya hampir dua kali lipat. Walaupun perluasan ini belum selesai, kira-kira dua minggu sesudah pelarangan dicabut di negeri yang ketika itu adalah Jerman Timur, 25 ton lektur dikirimkan ke daerah ini dari percetakan di Selters. Sejak larangan dicabut di negeri-negeri Eropa Timur, hingga tahun 1992 hampir 10.000 ton lektur dalam 14 bahasa utama telah dikirimkan ke berbagai negeri ini dari Jerman, 698 ton lagi dari Italia, dan lebih banyak lagi dari Finlandia.

      Karena telah sangat terisolasi selama bertahun-tahun, Saksi-Saksi di beberapa negeri juga membutuhkan bantuan tentang hal-hal pengawasan sidang dan administrasi organisasi. Untuk mengisi kebutuhan yang mendesak ini, penatua-penatua yang berpengalaman—sedapat mungkin mereka yang dapat berbicara dalam bahasa dari negeri itu—dihubungi di Jerman, Amerika Serikat, Kanada, dan di tempat-tempat lain. Apakah mereka rela pindah ke salah satu dari negeri-negeri ini di Eropa Timur untuk membantu mengisi kebutuhan? Sambutannya memang sangat memuaskan! Bilamana dianggap menguntungkan, penatua-penatua yang telah dilatih di Sekolah Gilead atau di Sekolah Pelatihan Pelayanan juga dikirim.

      Lalu, pada tahun 1992, suatu kebaktian internasional yang luar biasa diadakan di St. Petersburg, kota kedua terbesar di Rusia. Kira-kira 17.000 delegasi berasal dari 27 negeri di luar Rusia. Kebaktian itu diiklankan secara luas sekali. Di antara mereka yang datang adalah orang-orang yang sebelumnya belum pernah mendengar tentang Saksi-Saksi Yehuwa. Jumlah hadirin mencapai puncak 46.214 orang. Para delegasi hadir dari semua bagian Rusia; beberapa dari tempat yang paling jauh di timur yakni Pulau Sakhalin, dekat Jepang. Rombongan besar datang dari Ukraina, Moldavia, dan negeri-negeri lain yang dahulunya menjadi bagian dari USSR. Mereka membawa serta kabar baik. Laporan-laporan menunjukkan bahwa masing-masing sidang di kota-kota seperti Kiev, Moskow, dan St. Petersburg mempunyai rata-rata hadirin dalam perhimpunan mereka dua kali lipat atau lebih dibanding dengan jumlah Saksi. Banyak orang yang ingin mendapat pengajaran Alkitab bersama Saksi-Saksi Yehuwa harus dicatat namanya dalam daftar tunggu. Dari Latvia, kira-kira 600 delegasi datang, dan bahkan lebih banyak lagi dari Estonia. Di St. Petersburg sebuah sidang mempunyai lebih dari seratus orang yang siap dibaptis di kebaktian. Banyak di antara mereka yang menunjukkan minat adalah orang-orang muda atau orang-orang yang berpendidikan tinggi. Sungguh, suatu pekerjaan besar berupa penuaian rohani sedang berlangsung di daerah yang sangat luas ini yang untuk waktu yang begitu lama dipandang sebagai benteng ateisme!

      Ladang-Ladang Siap untuk Dituai

      Seraya sikap mengenai kebebasan beragama berubah, negeri-negeri lain juga mencabut pembatasan yang dikenakan atas Saksi-Saksi Yehuwa atau memberikan kepada mereka pengakuan resmi yang telah lama disangkal. Di banyak tempat ini, tuaian rohani yang limpah siap untuk dikumpulkan. Keadaannya seperti yang dilukiskan oleh Yesus kepada murid-muridnya sewaktu ia berkata, ”Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.” (Yoh. 4:35) Perhatikanlah beberapa tempat di Afrika yang membenarkan hal ini.

      Pelarangan telah dikenakan atas pelayanan dari rumah ke rumah yang dilakukan Saksi-Saksi Yehuwa di Zambia pada tahun 1969. Akibatnya, Saksi-Saksi di sana membaktikan lebih banyak waktu untuk memimpin pengajaran-pengajaran Alkitab di rumah dengan orang-orang yang berminat. Orang-orang lain juga mulai mencari Saksi-Saksi agar mereka dapat menerima pengajaran. Secara berangsur-angsur pembatasan-pembatasan pemerintah diperlunak, dan angka kehadiran perhimpunan meningkat. Pada tahun 1992 ada 365.828 yang menghadiri Perjamuan Malam Tuhan di Zambia, 1 untuk setiap 23 orang penduduk!

      Di utara Zambia, di Zaire, ribuan orang lagi ingin belajar hal-hal yang diajarkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa tentang kehidupan Kristen dan tentang maksud-tujuan Allah untuk umat manusia. Pada tahun 1990, sewaktu keadaan memungkinkan Saksi-Saksi untuk membuka kembali Balai-Balai Kerajaan mereka, di beberapa daerah sampai sebanyak 500 orang berduyun-duyun ke perhimpunan mereka. Dalam dua tahun ke-67.917 Saksi-Saksi di Zaire memimpin 141.859 pengajaran Alkitab di rumah dengan orang-orang demikian.

      Jumlah negeri yang membuka diri mencengangkan. Pada tahun 1990 utusan-utusan injil Menara Pengawal yang telah diusir dari Benin 14 tahun sebelumnya kini secara resmi diberikan kesempatan untuk kembali, dan pintu terbuka untuk kedatangan yang lain-lainnya. Pada tahun itu juga Menteri Kehakiman di Republik Cape Verde menandatangani sebuah dekrit yang menyetujui anggaran dasar dari Perkumpulan Saksi-Saksi Yehuwa setempat, dengan demikian memberikan pengakuan resmi kepada mereka. Lalu, pada tahun 1991 pelarangan terhadap Saksi-Saksi Yehuwa secara resmi dicabut di Mozambik (yang penguasa-penguasa sebelumnya telah menindas mereka dengan hebat), Ghana (yang telah membekukan kegiatan mereka secara resmi), dan Etiopia (yang telah melarang mereka untuk mengabar secara terang-terangan atau mengadakan kebaktian selama 34 tahun). Sebelum tahun itu berakhir, Niger dan Kongo juga telah memberikan pengakuan resmi kepada mereka. Pada awal tahun 1992, pelarangan dicabut atau pengakuan resmi diberikan kepada Saksi-Saksi Yehuwa di Cad, Kenya, Rwanda, Tongo, dan Angola.

      Ladang-ladang ini siap untuk dituai secara rohani. Di Angola misalnya, Saksi-Saksi dengan cepat mengalami kenaikan 31 persen; selain itu, ke-19.000 pemberita Kerajaan di sana memimpin hampir 53.000 pengajaran Alkitab di rumah. Guna memberikan bantuan administrasi yang dibutuhkan untuk program pendidikan Alkitab yang luas di Angola ini maupun di Mozambik (yang banyak orangnya berbicara bahasa Portugis), penatua-penatua yang memenuhi syarat dari Portugal dan Brasil diundang pindah ke Afrika untuk melaksanakan pelayanan mereka. Utusan-utusan injil yang berbahasa Portugis ditugaskan ke daerah Guinea-Bissau yang baru dibuka. Dan Saksi-Saksi yang cakap di Prancis dan negeri-negeri lain diundang membantu melaksanakan pekerjaan mendesak untuk mengabarkan dan menjadikan murid di Benin, Cad, dan Togo, yang penduduknya banyak berbicara bahasa Prancis.

      Di antara daerah-daerah tersebut yang telah menghasilkan panen yang limpah berupa pemuji-pemuji Yehuwa adalah yang sebelumnya merupakan kubu-kubu Katolik Roma. Selain Amerika Latin, halnya demikian juga di Prancis (yang laporannya untuk tahun 1992 menunjukkan 119.674 penginjil Saksi), Spanyol (yang terdapat 92.282 orang, Filipina (dengan 114.335 orang), Irlandia (dengan angka rata-rata pertumbuhan 8 sampai 10 persen per tahun), dan Portugal.

      Sewaktu 37.567 orang menghadiri kebaktian Saksi-Saksi di Lisabon, Portugal, pada tahun 1978, majalah berita Opção menyatakan, ”Bagi siapa saja yang pernah berada di Fátima selama waktu berziarah, pada kenyataannya ini sangat berbeda. . . . Di sini [pada kebaktian Saksi-Saksi Yehuwa] hal-hal yang mistik tidak ada, diganti dengan suatu pertemuan orang-orang percaya yang dengan seia sekata membahas masalah-masalah mereka, iman mereka, dan pandangan rohani mereka. Tingkah laku mereka seorang terhadap yang lain khas mencirikan hubungan saling mempedulikan.” Selama dekade berikut, jumlah Saksi-Saksi di Portugal meningkat hampir 70 persen.

      Dan bagaimana dengan Italia? Karena calon-calon imam Katolik sangat langka beberapa seminari terpaksa ditutup. Sejumlah besar gereja tidak punya imam paroki lagi. Di banyak tempat bekas gedung-gedung gereja kini menjadi kedai kopi atau kantor. Meskipun semua hal ini, gereja telah berupaya dengan susah payah untuk menghentikan Saksi-Saksi Yehuwa. Pada tahun-tahun yang silam mereka menekan para pejabat untuk mendeportasi utusan-utusan injil Saksi dan meminta dengan sangat agar polisi menutup perhimpunan-perhimpunan mereka. Di beberapa daerah selama tahun 1980-an, imam-imam paroki menyuruh ditempelkannya stiker di pintu semua orang (yang beberapa di antaranya kebetulan pintu Saksi-Saksi Yehuwa), yang berbunyi, ”Jangan Ketok. Kami orang Katolik.” Surat-surat kabar memuat judul, ”Pekik Tanda Bahaya Gereja Terhadap Saksi-Saksi Yehuwa” dan ”’Perang Suci’ Melawan Saksi-Saksi Yehuwa”.

      Sewaktu imam-imam Yahudi abad pertama berupaya membungkamkan para rasul, Gamaliel, seorang pengajar Hukum, dengan bijaksana memberi nasihat, ”Jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini.” (Kis. 5:​38, 39) Bagaimana hasilnya sewaktu imam-imam Katolik Roma abad ke-20 ini berupaya membungkamkan Saksi-Saksi Yehuwa? Pekerjaan dari 120 Saksi di Italia pada tahun 1946 tidaklah lenyap. Sebaliknya, menjelang tahun 1992, ada 194.013 Saksi aktif yang tergabung dalam 2.462 sidang di seluruh negeri itu. Mereka benar-benar telah memenuhi Italia dengan pengajaran Firman Allah. Sejak tahun 1946, mereka telah membaktikan lebih dari 550 juta jam untuk berbicara kepada sesama orang Italia tentang Kerajaan Allah. Sementara melakukan ini, mereka telah menyampaikan ke tangan orang-orang jutaan Alkitab maupun lebih dari 400 juta buku, buku kecil, dan majalah yang menerangkan Kitab Suci. Mereka ingin memastikan bahwa orang-orang Italia telah mendapat kesempatan sepenuhnya untuk menentukan pendirian mereka di pihak Yehuwa sebelum Armagedon datang. Sementara berbuat demikian, mereka terus ingat apa yang ditulis oleh rasul Paulus di 2 Korintus 10:4, 5, yakni, ”Senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah.”

      Saksi-Saksi Yehuwa mengarahkan perhatian bukan hanya kepada daerah-daerah yang dahulu menjadi kubu-kubu Katolik. Mereka tahu bahwa Yesus Kristus berkata, ”Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa.” (Mrk. 13:10) Dan inilah pekerjaan yang sedang dilakukan oleh Saksi-Saksi. Menjelang tahun 1992, ada 12.168 dari antara mereka yang sibuk menceritakan kepada masyarakat di India tentang Kerajaan Allah. Ada 71.428 orang lagi dari antara mereka yang mengabar di Republik Korea. Di Jepang ada 171.438 orang, dan jumlah mereka meningkat setiap bulan. Mereka juga terus menjangkau negeri-negeri yang belum banyak atau sama sekali belum mendapat pengabaran.

      Demikianlah, selama bagian terakhir dari tahun 1970-an untuk pertama kali mereka dapat membawa berita Kerajaan kepada orang-orang yang tinggal di Kepulauan Marquesas dan di Kosrae​—keduanya di Samudra Pasifik. Mereka juga menjangkau Bhutan, yang berbatasan dengan Cina bagian selatan, dan Komoro, di sebelah pantai timur Afrika. Selama tahun 1980-an, pekerjaan pengabaran yang pertama oleh Saksi-Saksi Yehuwa dilaporkan dari Kepulauan Wallis dan Futuna, maupun dari Kepulauan Nauru dan Rota, semuanya di barat daya Pasifik. Beberapa dari kepulauan ini adalah tempat-tempat yang relatif kecil; tetapi ada orang yang tinggal di situ dan kehidupan sangat berharga. Saksi-Saksi Yehuwa sangat menyadari nubuat Yesus bahwa sebelum akhir itu datang, berita Kerajaan akan dikabarkan ”di seluruh bumi yang berpenduduk”.​—Mat. 24:14, NW.

      Menghubungi Orang di Mana Saja dan Kapan Saja yang Memungkinkan

      Seraya pengabaran dari rumah ke rumah terus menjadi metode utama yang digunakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa untuk mencapai orang, mereka menyadari bahwa tidak hanya dengan metode yang sistematis ini saja mereka dapat bertemu dengan setiap orang. Dengan perasaan yang mendesak Saksi-Saksi terus mencari orang-orang di mana saja mereka dapat ditemukan.​—Bandingkan Yohanes 4:5-42; Kisah 16:13, 14.

      Sewaktu kapal-kapal naik dok di pelabuhan di Jerman dan Belanda, bahkan untuk waktu yang singkat, Saksi-Saksi Yehuwa berupaya mengunjungi mereka, mula-mula memberi kesaksian kepada nakhoda dan kemudian kepada awak kapal. Mereka membawa lektur Alkitab dalam banyak bahasa untuk orang-orang itu. Di pasar pribumi di Cad, Afrika Tengah, bukan hal yang luar biasa untuk melihat sekelompok dari 15 atau 20 orang mengerumuni salah seorang Saksi-Saksi Yehuwa yang sedang berbicara kepada mereka tentang harapan Kerajaan Allah. Dengan bekerja secara bergiliran, Saksi-Saksi berbicara kepada pedagang kios dan ribuan orang yang berbelanja pada hari Sabtu pagi di pasar loak di Auckland, Selandia Baru. Orang-orang yang melewati terminal bus di Guayaquil, Ekuador​—banyak di antara mereka dari tempat-tempat yang jauh di negeri itu—dihampiri di sana oleh Saksi-Saksi yang menawarkan kepada mereka sebuah brosur yang cocok atau La Atalaya dan ¡Despertad!. Mereka yang bekerja pada giliran malam hari di pasar makanan yang buka siang malam di New York City, dikunjungi di tempat kerjanya oleh Saksi-Saksi agar mereka juga bisa mendapat kesempatan untuk mendengar kabar baik.

      Ketika bepergian dengan pesawat terbang, kereta api, bus, dan kereta api bawah tanah, banyak di antara Saksi-Saksi Yehuwa membagikan kebenaran-kebenaran Alkitab yang sangat berharga kepada sesama penumpang. Selama istirahat makan siang di pekerjaan duniawi mereka dan di sekolah, juga bila orang datang ke rumah mereka untuk urusan bisnis, mereka menggunakan kesempatan untuk bersaksi. Mereka tahu bahwa banyak dari antara orang-orang ini mungkin tidak berada di rumah ketika Saksi-Saksi mengadakan kunjungan mereka yang tetap.

      Seraya bersaksi kepada orang lain, mereka tidak melupakan anggota-anggota keluarga yang dekat dan sanak-saudara mereka. Namun ketika Maria Caamano, seorang Saksi di Argentina, mencoba menceritakan kepada keluarganya betapa hatinya sangat tergetar oleh apa yang dipelajarinya dari Alkitab, mereka memperolok-oloknya atau bersikap acuh tak acuh. Ia tidak menyerah melainkan mengadakan perjalanan sejauh 1.900 kilometer untuk bersaksi kepada sanak-saudaranya yang lain. Beberapa menyambut baik. Lambat laun yang lain-lain mendengarkan. Hasilnya, kini di kalangan sanak-saudaranya terdapat lebih dari 80 orang dewasa dan lebih dari 40 anak yang telah memeluk kebenaran Alkitab dan membagikannya kepada orang lain.

      Untuk membantu sanak-saudaranya, Michael Regan pulang kembali ke kota asalnya, Boyle, Kabupaten Roscommon, di Irlandia. Ia memberi kesaksian kepada mereka semua. Keponakannya terkesan oleh semangat gembira dan cara hidup yang sehat dari anak-anak Michael. Segera ia dan suaminya setuju untuk belajar Alkitab. Sewaktu mereka dibaptis, ayahnya mengusir dia dari rumah keluarga. Akan tetapi berangsur-angsur sikapnya melunak, dan ia menerima beberapa lektur—dengan maksud untuk menyingkapkan ”kesalahan” Saksi-Saksi. Namun ia segera menyadari bahwa bahan yang dibacanya itu adalah kebenaran, dan akhirnya ia dibaptis. Sekitar 20 orang lebih anggota keluarganya kini bergabung dengan sidang, dan kebanyakan di antaranya sudah dibaptis.

      Bagaimana dengan orang-orang di dalam penjara? Dapatkah mereka menarik manfaat dari berita Kerajaan Allah? Saksi-Saksi Yehuwa tidak bersikap acuh tak acuh terhadap mereka. Di sebuah penjara di Amerika Utara, penyelenggaraan untuk pengajaran Alkitab pribadi dengan para narapidana, ditambah lagi dengan hadirnya mereka di perhimpunan yang diadakan secara tetap tentu di penjara oleh Saksi-Saksi Yehuwa, menghasilkan manfaat yang begitu baik sehingga para pengurus penjara memberi kelonggaran untuk mengadakan kebaktian-kebaktian di sana. Ini dihadiri bukan saja oleh para narapidana melainkan juga oleh ribuan Saksi dari luar. Di negeri-negeri lain juga, upaya yang sungguh-sungguh dikerahkan untuk bersaksi kepada pria dan wanita di dalam penjara.

      Saksi-Saksi Yehuwa tidak yakin bahwa pengajaran Alkitab akan membuat semua penghuni penjara bertobat. Namun mereka mengetahui dari pengalaman bahwa beberapa dapat dibantu, dan mereka ingin memberikan kesempatan kepada orang-orang itu untuk memeluk harapan Kerajaan Allah.

      Upaya Berkali-kali untuk Mencapai Hati

      Berulang kali Saksi-Saksi Yehuwa mengunjungi orang-orang. Sebagaimana halnya murid-murid Yesus pada masa awal, Saksi-Saksi ”senantiasa pergi” kepada orang-orang di daerah penugasan mereka untuk berupaya merangsang minat mereka kepada Kerajaan Allah. (Mat. 10:6, 7, NW) Di beberapa tempat mereka dapat mengunjungi semua rumah tangga dalam daerah mereka hanya satu kali setahun; di tempat lain, mereka berkunjung setiap beberapa bulan. Di Portugal, di daerah Lisabon yang lebih besar, yang angka perbandingannya kini adalah 1 Saksi untuk setiap 160 penduduk, orang-orang dikunjungi oleh Saksi-Saksi kira-kira seminggu sekali. Di Venezuela, ada kota-kota yang daerahnya dikerjakan lebih dari satu kali seminggu.

      Sewaktu Saksi-Saksi Yehuwa berkunjung, mereka tidak mencoba untuk memaksakan berita Alkitab kepada orang-orang. Mereka hanya berupaya memberikan kesempatan kepada orang-orang untuk membuat keputusan yang tepat dan berakal. Hari ini, beberapa orang mungkin berkata bahwa mereka tidak berminat; tetapi perubahan-perubahan yang drastis dalam kehidupan mereka atau dalam kondisi-kondisi dunia mungkin membuat mereka bersikap lebih menerima pada waktu yang lain. Karena prasangka atau karena semata-mata terlalu sibuk sehingga tidak mau mendengarkan, banyak orang belum pernah benar-benar mendengar apa yang diajarkan oleh Saksi-Saksi. Namun kunjungan ramah yang berulang kali mungkin membuat mereka menaruh perhatian. Orang-orang sering terkesan oleh kejujuran dan integritas moral dari Saksi-Saksi yang tinggal di lingkungan mereka atau yang adalah teman sekerja mereka. Akibatnya, beberapa orang akhirnya cukup berminat untuk mencari tahu apa sebenarnya berita mereka itu. Seorang wanita di Venezuela yang seperti ini, sesudah ia dengan senang hati menerima lektur dan tawaran pengajaran Alkitab di rumah secara cuma-cuma, berkata, ”Belum pernah sebelumnya ada orang yang menerangkan hal-hal ini kepada saya.”

      Dengan cara yang ramah, Saksi-Saksi berupaya mencapai hati orang-orang yang mereka ajak bicara. Di Guadeloupe, yang terdapat 1 Saksi untuk setiap 57 penduduk pada tahun 1992, tidaklah luar biasa jika ada penghuni rumah mengatakan, ”Saya tidak berminat.” Menghadapi hal itu, Eric Dodote akan menjawab, ”Saya mengerti Anda, dan saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan.” Lalu ia akan menambahkan, ”Namun bolehkah saya bertanya, Maukah Anda hidup dalam keadaan yang lebih baik daripada yang ada sekarang ini?” Sesudah mendengarkan jawaban penghuni rumah, ia akan menggunakan Alkitab untuk menunjukkan cara bagaimana Allah akan mewujudkan keadaan demikian di dalam dunia baru-Nya.

      Mengerjakan Daerah Bahkan Dengan Lebih Cermat

      Dalam tahun-tahun belakangan ini di beberapa negeri semakin sulit untuk menemukan orang di rumah. Sering kali suami maupun istri bekerja duniawi, dan pada akhir pekan mereka mungkin mengejar kesenangan jauh dari rumah. Untuk menanggulangi situasi ini, di banyak negeri Saksi-Saksi Yehuwa lebih banyak melakukan kesaksian dari rumah ke rumah pada petang hari. Di Inggris, beberapa Saksi bukan saja melakukan kunjungan ke rumah-rumah yang penghuninya sedang keluar antara pukul enam dan delapan malam tetapi Saksi-Saksi lain, dalam upaya menghubungi orang sebelum mereka pergi ke tempat pekerjaan, melakukan kunjungan-kunjungan demikian sebelum pukul delapan pagi.

      Bahkan jika ada orang di rumah, masih sangat sulit untuk menjumpai mereka tanpa membuat janji terlebih dahulu karena adanya pengamanan yang disebabkan meningkatnya kejahatan. Tetapi di Brasil ketika beberapa orang yang sulit dihubungi sedang jalan pagi di pesisir Pantai Copacabana, mereka mungkin dihampiri oleh seorang Saksi yang bergairah yang juga berada di situ pada dini hari untuk mengajak orang berbicara tentang cara Kerajaan Allah akan memecahkan masalah-masalah umat manusia. Di Paris, Prancis, sewaktu orang-orang kembali ke apartemen mereka menjelang petang hari, mereka mungkin menjumpai sepasang suami-istri Saksi yang ramah dekat pintu masuk gedung, yang menunggu untuk berbicara kepada para penghuni secara perorangan yang ingin meluangkan beberapa menit untuk mendengar tentang sarana yang akan digunakan oleh Allah untuk membawa keamanan yang sejati. Di Honolulu, New York City, dan banyak tempat lain, upaya juga dikerahkan untuk menghubungi penghuni dari gedung-gedung yang sangat ketat dijaga melalui telepon.

      Jika mereka berhasil menghubungi seseorang di setiap rumah, Saksi-Saksi masih belum merasa bahwa penugasan mereka sudah selesai. Keinginan mereka adalah mencapai sebanyak mungkin orang di setiap rumah. Kadang-kadang hal ini terlaksana dengan berkunjung pada hari-hari lain atau pada waktu-waktu lain. Di Puerto Riko ketika seorang nyonya rumah berkata bahwa ia tidak berminat, seorang Saksi bertanya apakah ada orang lain di rumah yang dapat diajak bicara. Maka terjadilah percakapan dengan tuan rumah, yang sudah 14 tahun sakit dan kebanyakan berbaring di tempat tidurnya. Hatinya dihangatkan oleh pengharapan yang dibentangkan dalam Firman Allah. Karena hasrat hidup yang diperbarui, tidak lama kemudian ia beranjak dari tempat tidur, menghadiri perhimpunan di Balai Kerajaan, dan membagikan kepada orang-orang lain harapan yang baru ditemukannya.

      Meningkatkan Kesaksian Seraya Akhir Mendekat

      Faktor lain lagi telah sangat menyumbang kepada meningkatnya kesaksian dalam tahun-tahun belakangan. Ini adalah kenaikan jumlah Saksi yang melayani sebagai perintis. Karena ingin sekali membaktikan sebanyak mungkin waktu mereka kepada dinas Allah, dan karena menaruh perhatian yang pengasih kepada sesama manusia, mereka mengatur urusan pribadi dan menggunakan 60, 90, 140 jam atau lebih setiap bulan di dalam dinas pengabaran. Sebagaimana halnya rasul Paulus ketika mengabar di Korintus, Yunani, mereka yang terjun dalam dinas perintis ”dengan sepenuhnya dapat memberitakan firman”, berupaya memberi kesaksian kepada sebanyak mungkin orang tentang Kerajaan Mesias.—Kis. 18:5.

      Pada tahun 1975 terdapat 130.225 perintis di seluruh dunia. Menjelang tahun 1992 ada rata-rata 605.610 setiap bulan (termasuk perintis biasa, ekstra, dan istimewa). Jadi, selama masa meningkatnya jumlah Saksi di seluruh dunia sebesar 105 persen, mereka yang merelakan diri untuk terjun dalam pelayanan sepenuh waktu meningkat 365 persen! Sebagai hasilnya, jumlah waktu yang sesungguhnya dibaktikan untuk kegiatan kesaksian membubung dari kira-kira 382 juta jam menjadi lebih dari satu miliar jam setahun!

      ’Yang Paling Kecil Telah Menjadi Seribu’

      Yesus Kristus menugaskan para pengikut untuk menjadi saksi-saksinya sampai ke ujung bumi. (Kis. 1:8) Melalui nabi Yesaya, Yehuwa telah menubuatkan, ”Yang paling kecil akan menjadi kaum yang besar [”menjadi seribu”, NW], dan yang paling lemah akan menjadi bangsa yang kuat; Aku, [Yehuwa], akan melaksanakannya dengan segera pada waktunya.” (Yes. 60:22) Catatan dengan jelas memperlihatkan bahwa Saksi-Saksi Yehuwa sedang melakukan pekerjaan yang dinubuatkan oleh Yesus, dan mereka telah mengalami pertumbuhan yang dijanjikan oleh Allah sendiri.

      Pada akhir Perang Dunia II, mereka terutama terdapat di Amerika Utara dan Eropa; ada beberapa di Afrika; dan yang lain, dalam kelompok-kelompok lebih kecil, tersebar di seputar bola bumi. Mereka sama sekali belum mencapai setiap negeri dengan berita Kerajaan, dan mereka juga belum mencapai setiap bagian dari negeri-negeri yang telah mereka kerjakan. Akan tetapi, dengan kecepatan yang menakjubkan gambaran itu berubah.

      Perhatikan Amerika Utara. Daratannya terbentang dari Kanada di utara hingga Panama, dengan sembilan negeri di antaranya. Menjelang tahun 1945 terdapat 81.410 Saksi di daerah yang luas ini. Empat di antaranya masing-masing melaporkan kurang dari 20 Saksi, dan ada satu negeri yang sama sekali belum ada pekerjaan pengabaran yang terorganisasi. Sejak itu, kesaksian yang intensif dan terus-menerus telah diberikan di semua negeri ini. Sejak tahun 1992, terdapat 1.440.165 Saksi-Saksi Yehuwa di bagian dunia ini. Di kebanyakan dari negeri-negeri ini, sekarang setiap Saksi rata-rata hanya perlu memberi kesaksian kepada beberapa ratus orang. Sebagian besar dari penduduk dikunjungi oleh Saksi-Saksi setiap beberapa bulan; banyak yang dikunjungi setiap minggu. Lebih dari 1.240.000 pengajaran Alkitab di rumah dipimpin secara tetap tentu dengan orang perorangan dan kelompok-kelompok yang berminat.

      Bagaimana dengan Eropa? Bagian dari bola bumi ini terbentang dari Skandinavia di selatan hingga Lautan Tengah. Di luar dari sebagian besar daerah yang dahulu dikenal sebagai Uni Soviet, kesaksian yang luas telah diberikan di Eropa sebelum Perang Dunia II. Sejak itu telah bertumbuh generasi-generasi baru, dan kepada mereka juga diperlihatkan dari ayat-ayat Alkitab bahwa Kerajaan Allah segera akan menggantikan semua pemerintahan manusia. (Dan. 2:44) Dari beberapa ribu Saksi yang melaksanakan kegiatan pengabaran mereka di bawah pembatasan yang ketat selama perang, jumlah pemberita Kerajaan di 47 negeri yang laporannya diterbitkan pada tahun 1992 telah meningkat menjadi 1.176.259, termasuk para pemberita di tempat-tempat yang dulu menjadi bagian dari USSR, di Eropa maupun Asia. Di lima negeri—Inggris, Italia, Jerman, Polandia, dan Prancis—masing-masing terdapat lebih dari 100.000 Saksi yang bergairah. Dan apa yang dilakukan oleh semua Saksi ini? Laporan mereka untuk tahun 1992 menunjukkan bahwa selama tahun tersebut, mereka membaktikan lebih dari 230.000.000 jam untuk pengabaran kepada umum, mengadakan kunjungan dari rumah ke rumah, dan memimpin pengajaran Alkitab di rumah. Dalam penginjilan mereka, Saksi-Saksi ini tidak mengabaikan bahkan sebuah republik kecil yaitu San Marino, kerajaan-kerajaan kecil seperti Andorra dan Liechtenstein, atau Gibraltar. Sungguh, kesaksian yang dinubuatkan sedang diberikan.

      Afrika juga sedang menerima kesaksian yang luas. Catatan menunjukkan bahwa hingga tahun 1945, kabar kesukaan telah mencapai 28 negeri di benua tersebut, tetapi sangat sedikit kesaksian resmi yang telah dilakukan di kebanyakan dari negeri-negeri ini. Akan tetapi, sejak waktu itu banyak hal telah dilaksanakan di sana. Menjelang tahun 1992, terdapat 545.044 Saksi-Saksi yang bergairah di benua Afrika, yang memberitakan kabar baik di 45 negeri. Pada peringatan Perjamuan Malam Tuhan pada tahun tersebut, ada 1.834.863 yang hadir. Maka, bukan saja pertumbuhan itu menakjubkan melainkan potensi untuk perluasannya yang lebih lanjut sungguh luar biasa!

      Laporan untuk Amerika Selatan tidak kurang hebatnya. Walaupun semua kecuali satu dari 13 negeri telah dicapai oleh berita Alkitab sebelum Perang Dunia II, pada waktu itu hanya terdapat 29 sidang di seluruh benua, dan sebegitu jauh masih belum ada kegiatan pengabaran yang terorganisasi di beberapa dari negeri-negeri itu. Ketika itu sebagian besar dari pekerjaan pengabaran Kerajaan masih akan dilakukan di masa mendatang. Sejak itu Saksi-Saksi di sana telah bekerja keras dan penuh semangat. Mereka yang telah disegarkan oleh air kehidupan dengan senang hati mengundang orang-orang lain, seraya berkata, ’Marilah, dan ambillah air kehidupan dengan cuma-cuma.’ (Why. 22:17) Pada tahun 1992, terdapat 683.782 hamba Yehuwa di 10.399 sidang di Amerika Selatan yang dengan sukacita ambil bagian dalam pekerjaan ini. Beberapa di antara mereka mencapai daerah-daerah yang belum pernah mendapat kesaksian yang saksama. Yang lainnya berkali-kali mengunjungi tempat-tempat yang sudah mendapat kesaksian, untuk menganjurkan orang ”kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya [Yehuwa] itu!” (Mzm. 34:9) Secara tetap tentu mereka memimpin 905.132 pengajaran Alkitab di rumah untuk membantu orang-orang yang berminat agar membuat jalan-jalan Yehuwa menjadi jalan hidup mereka sendiri.

      Perhatikan pula Asia serta banyak pulau dan kepulauan di seputar bola bumi. Apa yang telah dicapai di sana? Hingga masa pascaperang, banyak di antara tempat-tempat ini hampir belum tersentuh oleh pemberitaan Kerajaan. Namun Yesus Kristus menubuatkan bahwa kabar baik tentang Kerajaan akan diberitakan ”di seluruh bumi yang berpenduduk sebagai kesaksian bagi segala bangsa”. (Mat. 24:14, NW) Sesuai dengan itu, selama beberapa dekade sejak Perang Dunia II, pemberitaan kabar baik yang sebelumnya telah mencapai 76 dari negeri-negeri, pulau-pulau, dan kepulauan ini meluas ke 40 tempat lagi dan pemberitaan ini lebih ditingkatkan di tempat-tempat yang telah dicapai sebelumnya. Di daerah yang luas ini, pada tahun 1992 terdapat 627.537 Saksi-Saksi yang berbakti dengan penuh sukacita menceritakan ’keperkasaan dan kemuliaan semarak Kerajaan’ Yehuwa. (Mzm. 145:11, 12) Pelayanan mereka tidaklah mudah. Di beberapa tempat mereka harus mengadakan perjalanan berjam-jam dengan kapal atau pesawat udara untuk mencapai pulau-pulau yang terpencil di daerah mereka. Namun selama tahun 1992 mereka membaktikan lebih dari 200.000.000 jam untuk pekerjaan penginjilan dan memimpin 685.211 pengajaran Alkitab di rumah secara tetap tentu.

      Penggenapan janji bahwa ”yang paling kecil akan menjadi seribu” (NW) benar-benar telah terjadi, bahkan secara melimpah! Lebih dari 50 negeri yang masing-masing bahkan tidak memiliki ”yang paling kecil”—tempat tidak ada seorang pun dari Saksi-Saksi Yehuwa pada tahun 1919 yang lalu, tempat mereka sama sekali tidak melakukan pemberitaan—dewasa ini memiliki lebih dari seribu pemuji Yehuwa. Di beberapa dari negeri-negeri ini, kini terdapat puluhan ribu, ya, bahkan lebih dari ratusan ribu Saksi-Saksi Yehuwa yang adalah pemberita yang bergairah dari Kerajaan Allah! Di seluruh dunia, Saksi-Saksi Yehuwa telah menjadi ”bangsa yang kuat”—sebagai satu sidang global yang bersatu-padu lebih banyak jumlahnya dibandingkan jumlah penduduk negeri mana pun dari sedikitnya 80 bangsa yang mempunyai pemerintahan sendiri dari dunia ini.

      Berapa Banyak Kesaksian di ’Negara-Negara Lain’?

      Termasuk di dalam semua negeri yang disebut di atas, sejak tahun 1992, masih ada 24 ”negara lain”—negara yang pemerintahnya mengenakan pembatasan yang ketat atas Saksi-Saksi Yehuwa sehingga tidak diterbitkan laporan terperinci. Banyak kesaksian telah dilakukan di beberapa negeri ini. Namun, di negeri-negeri tertentu jumlah Saksi-Saksi agak terbatas. Masih ada orang-orang yang belum mendengarkan berita Kerajaan. Akan tetapi, Saksi-Saksi Yehuwa percaya sepenuhnya bahwa kesaksian yang dibutuhkan akan diberikan. Mengapa?

      Karena ayat-ayat Alkitab menunjukkan bahwa dari takhtanya di surga Yesus Kristus sendiri mengawasi pekerjaan. (Mat. 25:31-33) Di bawah pengarahannya seorang ’malaikat yang terbang di tengah-tengah langit’ dipercayakan tanggung jawab untuk mengumumkan kabar baik yang kekal dan untuk mendesak ”semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum” agar ’takut akan Allah dan memuliakan Dia’. (Why. 14:6, 7) Tidak ada kekuatan di surga atau di bumi yang dapat menghentikan Yehuwa untuk menarik kepada diri-Nya sendiri mereka yang ”memiliki kecenderungan yang benar untuk kehidupan yang abadi”.—Kis. 13:48, NW; Yoh. 6:44.

      Tidak ada bagian dari bumi yang begitu terpencil untuk dicapai oleh berita Kerajaan. Sanak-saudara berkunjung. Berita dibawa lewat telepon dan pos. Para usahawan, pekerja, mahasiswa, dan wisatawan mengadakan kontak dengan orang-orang dari bangsa lain. Sebagaimana di masa lampau, begitu pula sekarang, berita penting bahwa Yehuwa telah mentakhtakan Raja-Nya di surga dengan kuasa atas bangsa-bangsa terus diberi tahu dengan cara-cara ini. Para malaikat dapat mengatur agar mereka yang lapar dan dahaga akan kebenaran dan keadilbenaran dapat dicapai.

      Jika adalah kehendak Tuhan agar berita Kerajaan lebih banyak diumumkan secara langsung di beberapa daerah yang hingga kini dihambat oleh pemerintah-pemerintah, Allah dapat menyebabkan keadaan-keadaan yang membuat pemerintah-pemerintah tersebut mengubah kebijaksanaan mereka. (Ams. 21:1) Dan andai kata kesempatan masih terbuka, Saksi-Saksi Yehuwa akan dengan senang hati mengerahkan diri mereka agar orang-orang di negeri-negeri tersebut memperoleh sebanyak mungkin bantuan untuk belajar tentang maksud-tujuan Yehuwa yang pengasih. Mereka bertekad untuk terus melayani tanpa henti-hentinya hingga Yehuwa dengan perantaraan Yesus Kristus mengatakan bahwa pekerjaan sudah selesai!

      Pada tahun 1992, Saksi-Saksi Yehuwa sibuk mengabar di 229 negeri. Menjelang tahun tersebut kabar baik tentang Kerajaan Allah dengan berbagai cara telah mencapai 235 negeri. Sepuluh di antara negeri-negeri ini pertama dicapai sesudah tahun 1975.

      Seberapa intensifkah kesaksian telah diberikan? Nah, selama 30 tahun pertama sesudah Perang Dunia II, Saksi-Saksi Yehuwa membaktikan 4.635.265.939 jam untuk pengabaran dan pengajaran tentang nama dan Kerajaan Yehuwa. Akan tetapi, dengan lebih banyak Saksi dan proporsi yang lebih besar dari mereka dalam dinas sepenuh waktu, maka selama 15 tahun berikutnya (hanya setengah dari sekian banyak tahun), 7.858.677.940 jam dibaktikan untuk memberi kesaksian kepada umum dan dari rumah ke rumah maupun memimpin pengajaran Alkitab di rumah. Dan intensitas pekerjaan terus meningkat, seraya mereka melaporkan tambahan 951.870.021 jam dalam kegiatan ini selama tahun 1990/91 dan lebih dari satu miliar jam pada tahun berikutnya.

      Jumlah lektur Alkitab yang disebarkan oleh Saksi-Saksi untuk mengumumkan Kerajaan, serta banyaknya ragam bahasa yang tersedia, tidak ada taranya dibanding upaya manusia di bidang mana pun. Catatan-catatannya tidak lengkap; tetapi laporan-laporan yang masih tersedia menunjukkan bahwa dalam 294 bahasa ada 10.107.565.296 buku, buku kecil, brosur, dan majalah, maupun juga miliaran risalah yang tak terhitung banyaknya, disampaikan ke tangan orang-orang yang berminat antara tahun 1920 hingga 1992.

      Pada saat penulisan ini, kesaksian global belum selesai. Namun pekerjaan yang telah dilaksanakan dan keadaan-keadaan setelah pengabaran itu dilakukan memberikan bukti yang meyakinkan tentang bekerjanya roh Allah.

      [Blurb di hlm. 502]

      Kebaktian-kebaktian besar dan tingkah laku Kristen para delegasi menarik perhatian

      [Blurb di hlm. 505]

      ”Mengenai ketertiban, perdamaian, dan kebersihan, para peserta kebaktian merupakan teladan yang patut ditiru”

      [Blurb di hlm. 507]

      Kebaktian-kebaktian bersejarah diselenggarakan di tempat-tempat yang selama beberapa dekade Saksi-Saksi telah dilarang

      [Blurb di hlm. 508]

      Ribuan ton lektur Alkitab dikirimkan ke negeri-negeri Eropa Timur

      [Blurb di hlm. 509]

      Penatua-penatua yang memenuhi syarat rela pindah ke negeri-negeri yang sangat membutuhkan

      [Blurb di hlm. 516]

      Keinginan mereka adalah mencapai sebanyak mungkin orang di setiap rumah

      [Blurb di hlm. 518]

      Pertumbuhan yang menakjubkan dan potensi untuk perluasan yang lebih lanjut

      [Grafik/Gambar di hlm. 513]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      Kenaikan Jumlah Pemberita Kerajaan di Negeri-Negeri Timur

      India

      10.000

      5.000

      1950 1960 1970 1980 1992

      Republik Korea

      60.000

      30.000

      1950 1960 1970 1980 1992

      Jepang

      150.000

      100.000

      50.000

      1950 1960 1970 1980 1992

      [Gambar di hlm. 503]

      Stadion Morumbi di São Paolo, Brasil (tampak di bawah), dan Stadion Maracanã di Rio de Janeiro, digunakan bersamaan waktu pada tahun 1985 untuk menampung orang banyak yang menghadiri kebaktian Saksi-Saksi Yehuwa

      [Gambar di hlm. 504]

      Beberapa calon pembaptisan di Chorzów, Polandia, pada tahun 1989

      [Gambar di hlm. 506]

      Beberapa Kebaktian yang Bersejarah Pada Tahun 1991

      Praha, Cekoslowakia

      Tallinn, Estonia (kanan)

      Zagreb, Kroatia (kanan)

      Budapest, Hongaria (atas)

      Baia-Mare, Romania (kanan)

      Usolye-Sibirskoye, Rusia (bawah)

      Alma-Ata, Kazakhstan (atas)

      Kiev, Ukraina (kiri)

      [Gambar di hlm. 511]

      Kebaktian Internasional Saksi-Saksi Yehuwa di St. Petersburg, Rusia, pada tahun 1992

      Semangat internasional yang hangat

      Dari Rusia

      Dari Moldavia

      Dari Ukraina

      Banyak kaum muda yang hadir

      M. G. Henschel (kiri) membicarakan acara dengan Stepan Kozhemba (tengah), dengan bantuan juru bahasa

      Para delegasi dari luar negeri membawa Alkitab-Alkitab Rusia untuk digunakan oleh Saksi-Saksi di seluruh Rusia

      [Gambar di hlm. 512]

      Pada tahun 1980-an Gereja Katolik menyatakan perang terhadap Saksi-Saksi, seperti diperlihatkan oleh guntingan-guntingan berita Italia ini

      [Gambar di hlm. 514]

      Bila kapal-kapal naik dok di Rotterdam, Belanda, Saksi-Saksi berada di situ untuk berbicara kepada orang-orang tentang Kerajaan Allah

      [Gambar di hlm. 515]

      Bahkan bila daerah sering dikerjakan, seperti di sini di Guadeloupe, Saksi-Saksi terus berupaya untuk mencapai hati sesama mereka dengan kabar baik

  • Utusan Injil Mendorong Ekspansi Seluas Dunia
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 23

      Utusan Injil Mendorong Ekspansi Seluas Dunia

      KEGIATAN yang bergairah dari para utusan injil yang rela melayani di mana pun mereka dibutuhkan telah menjadi suatu faktor penting dalam pemberitaan Kerajaan Allah di seluruh dunia.

      Lama sebelum Watch Tower Bible and Tract Society mendirikan sekolah untuk maksud ini, utusan-utusan injil telah diutus ke negeri-negeri lain. Presiden Lembaga yang pertama, C. T. Russell, menyadari kebutuhan akan orang-orang yang memenuhi syarat untuk merintis dan mengambil pimpinan dalam pemberitaan kabar baik di ladang-ladang luar negeri. Ia mengutus pria-pria untuk maksud tersebut​—Adolf Weber ke Eropa, E. J. Coward ke daerah Karibia, Robert Hollister ke Negeri Timur, dan Joseph Booth ke Afrika bagian selatan. Sayangnya, Booth ternyata lebih berminat kepada rencana-rencananya sendiri; maka, pada tahun 1910, William Johnston diutus dari Skotlandia ke Nyasaland (kini Malawi), negeri yang teristimewa telah merasakan pengaruh yang buruk dari Booth. Setelah itu, Saudara Johnston ditugaskan mendirikan sebuah kantor cabang untuk Lembaga Menara Pengawal di Durban, Afrika Selatan, dan belakangan ia melayani sebagai pengawas cabang di Australia.

      Sesudah perang dunia pertama, J. F. Rutherford bahkan mengutus lebih banyak utusan injil​—misalnya, Thomas Walder dan George Phillips dari Inggris ke Afrika Selatan, W. R. Brown dari penugasan di Trinidad ke Afrika Barat, George Young dari Kanada ke Amerika Selatan dan Eropa, Juan Muñiz mula-mula ke Spanyol dan kemudian ke Argentina, George Wright dan Edwin Skinner ke India, diikuti oleh Claude Goodman, Ron Tippin, dan banyak lagi. Mereka adalah perintis-perintis sejati, menjangkau daerah-daerah yang hanya sedikit atau belum pernah mendapat pemberitaan kabar baik dan membubuh fondasi yang kuat untuk perkembangan organisasi di masa mendatang.

      Ada orang-orang lain juga, yang digerakkan oleh semangat utusan injil untuk mengabar di luar negeri mereka sendiri. Di antara mereka terdapat Kate Goas dan putrinya Marion, yang bertahun-tahun berbakti dalam dinas yang bergairah di Kolombia dan Venezuela. Yang lain adalah Joseph Dos Santos, yang meninggalkan Hawaii dalam perjalanan pengabaran dan membawanya kepada pelayanan selama 15 tahun di Filipina. Ada pula Frank Rice, yang melakukan perjalanan dengan kapal barang dari Australia untuk membuka pemberitaan kabar baik di Pulau Jawa (kini di Indonesia).

      Akan tetapi, pada tahun 1942 rencana disusun untuk sebuah sekolah dengan kurikulum yang khusus dirancang untuk melatih pria maupun wanita yang rela mengemban dinas utusan injil demikian di mana saja mereka dibutuhkan dalam ladang di seputar bumi.

      Sekolah Gilead

      Di tengah berkecamuknya perang dunia, mungkin tampaknya tidak praktis dari sudut pandangan manusia untuk merencanakan ekspansi kegiatan pemberitaan Kerajaan di ladang luar negeri. Namun, pada bulan September 1942, dengan bersandar kepada Yehuwa, para direktur kedua badan hukum utama yang digunakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa menyetujui proposal N. H. Knorr untuk mendirikan sebuah sekolah yang dirancang untuk melatih para utusan injil dan orang-orang lain untuk dinas khusus. Sekolah itu akan dinamakan Perguruan Tinggi Alkitab Gilead Menara Pengawal. Belakangan nama tersebut diubah menjadi Sekolah Alkitab Gilead Menara Pengawal. Tidak ada pungutan uang kuliah, dan siswa-siswa diasramakan dan makanan ditanggung Lembaga selama periode pelatihan mereka.

      Di antara mereka yang diundang untuk membantu menyusun kurikulum pelajaran adalah Albert D. Schroeder, yang telah menimba banyak pengalaman dalam Departemen Dinas di kantor pusat Lembaga di Brooklyn dan sebagai pengawas cabang Lembaga di Inggris. Pandangannya yang positif, cara ia mengerahkan dirinya sendiri, dan minatnya yang hangat kepada para siswa membuat ia disayangi oleh siapa saja yang diajarnya dalam kurun waktu 17 tahun ia melayani sebagai panitera dan instruktur di sekolah tersebut. Pada tahun 1974, ia menjadi anggota Badan Pimpinan, dan tahun berikutnya ia ditugaskan untuk melayani sebagai anggota Panitia Pengajaran.

      Saudara Schroeder dan rekan-rekannya sesama instruktur (Maxwell Friend, Eduardo Keller, dan Victor Blackwell) menyusun suatu kurikulum pelajaran selama lima bulan yang menitikberatkan pengajaran Alkitab itu sendiri dan organisasi teokratis, juga doktrin-doktrin Alkitab, berbicara kepada umum, pelayanan pengabaran, dinas utusan injil, sejarah agama, hukum ilahi, cara berurusan dengan pejabat-pejabat pemerintah, hukum internasional, memelihara catatan, dan satu bahasa asing. Selama bertahun-tahun telah dibuat modifikasi dalam kurikulumnya, tetapi pelajaran mengenai Alkitab itu sendiri dan pentingnya pekerjaan penginjilan senantiasa menjadi hal yang utama. Tujuan pendidikan itu adalah untuk menguatkan iman siswa-siswanya, membantu mereka mengembangkan sifat-sifat rohani yang dibutuhkan agar dapat menanggulangi tantangan dinas utusan injil dengan sukses. Ditekankan tentang pentingnya mengandalkan Yehuwa sepenuhnya dan loyal kepada-Nya. (Mzm. 146:​1-6; Ams. 3:​5, 6; Ef. 4:24) Kepada siswa tidak diberikan jawaban-jawaban yang tepat untuk segala sesuatunya tetapi mereka dilatih untuk mengadakan riset dan dibantu untuk menghargai mengapa Saksi-Saksi Yehuwa percaya hal-hal itu dan mengapa mereka berpaut kepada cara-cara tertentu dalam melaksanakan segala sesuatu. Mereka belajar memahami prinsip-prinsip yang dapat mereka gunakan dalam bekerja. Dengan demikian terbentuk suatu fondasi bagi perkembangan lebih lanjut.

      Undangan kepada para calon siswa kelas pertama dikirim pada tanggal 14 Desember 1942. Pada pertengahan musim dingin, 100 siswa yang membentuk kelas tersebut mendaftarkan diri di fasilitas-fasilitas sekolah itu yang berlokasi di daerah utara negara bagian New York, di South Lansing. Mereka rela, bergairah, dan agak gugup. Walaupun pelajaran-pelajaran dalam kelas merupakan perhatian utama mereka, namun mereka tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya-tanya ke bagian ladang dunia mana kira-kira mereka akan diutus sesudah hari wisuda.

      Dalam sebuah ceramah kepada kelas pertama tersebut pada tanggal 1 Februari 1943, hari pembukaan sekolah, Saudara Knorr berkata, ”Saudara-saudara akan dipersiapkan lebih lanjut untuk pekerjaan yang serupa dengan pekerjaan rasul Paulus, Markus, Timotius, dan orang-orang lain yang bepergian ke segala penjuru Kekaisaran Romawi untuk mengabarkan berita Kerajaan. Mereka harus dikuatkan dengan Firman Allah. Mereka harus mempunyai pengetahuan yang jelas mengenai maksud-tujuan-Nya. Di banyak tempat mereka harus berdiri sendiri melawan kalangan atas dan yang berkuasa dari dunia ini. Bagian saudara mungkin sama; dan untuk itu Allah akan menjadi kekuatan saudara.

      ”Ada banyak tempat yang belum menerima cukup banyak kesaksian mengenai Kerajaan. Orang-orang yang tinggal di tempat-tempat ini hidup dalam kegelapan, terbelenggu oleh agama. Di beberapa negeri yang hanya memiliki beberapa Saksi, diketahui bahwa orang-orang yang berkemauan baik senang mendengar dan akan menggabungkan diri dengan organisasi Tuhan, jika diajar dengan sepatutnya. Tentu ada ratusan dan ribuan orang lagi yang dapat dijangkau jika ada lebih banyak pekerja di ladang. Dengan kemurahan Tuhan, jumlah pekerja akan lebih banyak.

      ”Tujuan perguruan ini BUKAN untuk memperlengkapi saudara-saudara menjadi rohaniwan yang terlantik. Saudara sudah menjadi rohaniwan dan telah aktif dalam pelayanan selama bertahun-tahun. . . . Kurikulum pelajaran di perguruan ini semata-mata bertujuan mempersiapkan saudara menjadi rohaniwan yang lebih mahir di daerah yang menjadi tempat tujuan saudara. . . .

      ”Pekerjaan saudara yang utama adalah memberitakan injil Kerajaan ini dari rumah ke rumah sebagaimana dilakukan Yesus dan rasul-rasul. Sewaktu saudara menemukan orang yang suka mendengar, adakanlah kunjungan kembali, mulailah pengajaran di rumah, dan bentuklah sebuah kompi [sidang] yang terdiri dari semua orang yang seperti itu di kota besar atau kota kecil. Bukan hanya menyenangkan untuk mengorganisasi sebuah sidang, tetapi saudara harus membantu mereka memahami Firman, menguatkan mereka, berbicara kepada mereka dari waktu ke waktu, membantu mereka dalam pertemuan dinas mereka dan cara mereka mengorganisasi. Bila mereka kuat dan dapat melanjutkannya sendiri serta mengambil alih daerah, saudara dapat pergi ke kota lain untuk memberitakan Kerajaan. Dari waktu ke waktu saudara mungkin perlu datang kembali guna membina mereka dalam iman yang paling kudus dan meluruskan mereka dalam doktrin; dengan demikian pekerjaan saudara adalah memelihara ’domba-domba lain’ Tuhan, dan tidak meninggalkan mereka. (Yoh. 10:16) Pekerjaan saudara yang sesungguhnya adalah membantu orang-orang yang berkemauan baik. Saudara harus banyak berprakarsa, namun berpaling kepada bimbingan Allah.”a

      Lima bulan kemudian anggota-anggota dari kelas pertama itu telah menyelesaikan pelatihan khusus mereka. Visa diperoleh, pengaturan perjalanan diadakan, dan mereka berangkat menuju sembilan negeri Amerika Latin. Tiga bulan sesudah mereka diwisuda, utusan-utusan injil pertama keluaran Gilead meninggalkan Amerika Serikat dan menuju Kuba. Menjelang tahun 1992, lebih dari 6.500 siswa dari 110 lebih negeri telah dilatih dan setelah itu melayani di lebih dari 200 negeri dan kepulauan.

      Sampai saat kematiannya, 34 tahun sesudah peresmian Sekolah Gilead, Saudara Knorr menunjukkan minat pribadi yang dalam terhadap pekerjaan utusan injil. Setiap masa ajaran sekolah, ia beberapa kali mengunjungi kelas yang sedang berlangsung jika memang memungkinkan, memberi kuliah dan membawa serta anggota-anggota lain dari staf kantor pusat untuk berbicara kepada para siswa. Setelah lulusan Gilead memulai dinas mereka di luar negeri, secara pribadi ia mengunjungi kelompok-kelompok utusan injil, membantu mereka menanggulangi problem-problem, dan memberikan kepada mereka anjuran yang diperlukan. Seraya jumlah kelompok utusan injil berlipat ganda, ia mengatur agar saudara-saudara lain yang benar-benar memenuhi syarat dapat juga mengadakan kunjungan-kunjungan semacam itu, sehingga semua utusan injil, tidak soal di mana mereka melayani, mendapat perhatian pribadi secara tetap tentu.

      Utusan-Utusan Injil Ini Berbeda

      Misionaris-misionaris Susunan Kristen telah mendirikan rumah sakit, pusat penampungan pengungsi, dan panti asuhan untuk mengurus kebutuhan materi orang-orang. Dengan memainkan peranan sebagai pahlawan bagi orang-orang miskin, mereka juga telah menggerakkan revolusi dan berpartisipasi dalam perang gerilya. Sebagai kontras, para utusan injil lulusan Sekolah Gilead mengajarkan Alkitab kepada orang-orang. Sebaliknya daripada mendirikan gereja dan mengharapkan orang-orang datang kepada mereka, mereka berkunjung dari rumah ke rumah untuk menemukan dan mengajar mereka yang lapar dan haus akan keadilbenaran.

      Dengan berpaut erat kepada Firman Allah, para utusan injil Saksi menunjukkan kepada orang-orang mengapa Kerajaan Allah merupakan jalan keluar yang sejati dan abadi atas masalah-masalah umat manusia. (Mat. 24:14; Luk. 4:43) Kontras antara pekerjaan ini dan pekerjaan para misionaris Susunan Kristen dinyatakan jelas kepada Peter Vanderhaegen pada tahun 1951 sewaktu ia dalam perjalanan ke tempat penugasannya di Indonesia. Satu-satunya penumpang lain di atas kapal barang yang ditumpanginya itu adalah seorang misionaris Baptis. Walaupun Saudara Vanderhaegen berusaha berbicara kepadanya tentang kabar baik mengenai Kerajaan Allah, penganut Baptis itu menegaskan bahwa minatnya yang berkobar-kobar adalah mendukung upaya Chiang Kai-shek di Taiwan untuk berkuasa kembali di daratan utama.

      Meskipun demikian, banyak orang lain mulai menghargai nilai dari apa yang dinyatakan dalam Firman Allah. Di Barranquilla, Kolombia, ketika Olaf Olson memberi kesaksian kepada Antonio Carvajalino, yang adalah seorang pendukung gigih dari gerakan politik tertentu, Saudara Olson tidak berpihak kepadanya, dan juga tidak mendukung ideologi politik yang lain. Sebaliknya, ia menawarkan pengajaran Alkitab cuma-cuma kepada Antonio dan adik-adik perempuannya. Antonio segera menyadari bahwa Kerajaan Allah benar-benar merupakan satu-satunya harapan bagi orang-orang miskin di Kolombia dan orang-orang lain di dunia. (Mzm. 72:​1-4, 12-14; Dan. 2:44) Antonio dan adik-adiknya menjadi hamba-hamba Allah yang bergairah.

      Fakta bahwa para utusan injil Saksi terpisah dan berbeda dari sistem agama Susunan Kristen ditonjolkan dengan cara lain dalam suatu peristiwa di Rhodesia (kini Zimbabwe). Ketika Donald Morrison berkunjung ke rumah salah seorang misionaris Susunan Kristen di sana, sang misionaris mengeluh bahwa Saksi-Saksi tidak menaruh respek kepada batas-batas yang telah ditentukan. Batas-batas apa? Begini, agama-agama Susunan Kristen telah membagi-bagi negeri ini ke dalam beberapa daerah untuk dikerjakan oleh masing-masing tanpa diganggu oleh yang lain. Saksi-Saksi Yehuwa tidak dapat mengikuti penyelenggaraan demikian. Yesus pernah berkata bahwa berita Kerajaan harus diberitakan di seluruh bumi yang berpenduduk. Susunan Kristen pasti tidak melakukannya. Para utusan injil keluaran Gilead bertekad melaksanakannya dengan saksama, sebagai ketaatan kepada Kristus.

      Para utusan injil ini diutus, bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Dalam banyak hal jelas bahwa inilah yang sebenarnya mereka upayakan. Tidaklah salah untuk menerima pemberian materi yang ditawarkan secara cuma-cuma (dan bukan hasil meminta-minta) sebagai penghargaan atas bantuan rohani. Namun untuk mencapai hati orang-orang di Alaska, John Errichetti dan Hermon Woodard mendapati bahwa adalah bermanfaat untuk menyisihkan sedikitnya beberapa jam untuk bekerja dengan tangan mereka guna menyediakan kebutuhan jasmani mereka, sebagaimana telah dilakukan oleh rasul Paulus. (1 Kor. 9:​11, 12; 2 Tes. 3:​7, 8) Kegiatan utama mereka adalah memberitakan kabar baik. Namun bila mereka menerima kemurahan hati, mereka juga membalasnya dengan pekerjaan-pekerjaan yang perlu dilakukan​—misalnya, melapisi atap rumah seseorang dengan ter karena mereka menyadari bahwa ia membutuhkan bantuan. Dan sewaktu mereka melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain dengan perahu, mereka ikut membantu membongkar muatan. Orang-orang segera menyadari bahwa para utusan injil ini sama sekali bukan seperti para pemimpin agama Susunan Kristen.

      Di beberapa tempat, utusan injil Saksi perlu melakukan pekerjaan duniawi selama waktu tertentu hanya agar dapat menetap di suatu negeri sehingga mereka dapat melaksanakan pelayanan mereka di sana. Maka, sewaktu Jesse Cantwell pergi ke Kolombia, ia mengajar bahasa Inggris di fakultas kedokteran di sebuah universitas sampai situasi politik berubah dan pembatasan agama berakhir. Sesudah itu, ia dengan sepenuh waktu dapat menggunakan pengalamannya dalam pelayanan sebagai pengawas keliling bagi Saksi-Saksi Yehuwa.

      Di banyak tempat, para utusan injil harus mulai dengan menggunakan visa turis yang memungkinkan mereka berada di sebuah negeri selama sebulan atau mungkin beberapa bulan. Kemudian mereka harus meninggalkan negeri itu dan masuk kembali. Namun mereka tetap bertekun, mengulang proses itu berkali-kali hingga surat izin tinggal dapat diperoleh. Mereka telah membulatkan hati untuk membantu orang-orang di negeri yang menjadi tempat penugasan mereka.

      Utusan-utusan injil ini tidak memandang diri lebih unggul daripada penduduk setempat. Sebagai pengawas keliling, John Cutforth, yang pada mulanya seorang guru sekolah di Kanada, mengunjungi sidang-sidang maupun Saksi-Saksi yang terpencil di Papua Nugini. Ia duduk di lantai bersama mereka, makan bersama mereka, dan menerima undangan untuk tidur di tikar di lantai rumah mereka. Ia menikmati persaudaraan dengan mereka seraya berjalan bersama dalam pelayanan pengabaran. Namun hal ini mengagumkan bagi orang-orang bukan Saksi yang mengamatinya, sebab para pastor berbangsa Eropa dari berbagai misi Susunan Kristen memiliki reputasi suka menjaga jarak dalam pergaulan dengan penduduk setempat, berbaur dengan anggota gereja mereka hanya untuk waktu yang singkat di beberapa pertemuan mereka, namun tidak pernah makan bersama mereka.

      Orang-orang yang dilayani oleh Saksi-Saksi ini merasakan adanya minat yang pengasih dari para utusan injil dan dari organisasi yang mengutus mereka. Untuk menanggapi sepucuk surat dari João Mancoca, seorang Afrika yang rendah hati yang ditawan di sebuah koloni bagi para narapidana di Afrika Barat Portugis (kini Angola), seorang utusan injil Menara Pengawal diutus untuk memberikan bantuan rohani. Sewaktu mengenang kunjungan tersebut, Mancoca belakangan berkata, ”Saya tidak ragu-ragu lagi bahwa inilah organisasi sejati yang didukung oleh Allah. Saya tidak pernah berpikir atau percaya bahwa ada organisasi agama lain mana pun yang akan berbuat demikian: tanpa bayaran, mengirim utusan injil dari jauh untuk mengunjungi seorang yang tak berarti hanya karena ia menulis sepucuk surat.”

      Kondisi Kehidupan dan Adat Istiadat

      Sering kali kondisi kehidupan di negeri tempat utusan injil dikirim tidak semakmur negeri asal mereka. Sewaktu Robert Kirk mendarat di Birma (kini Myanmar) pada awal tahun 1947, dampak perang masih tampak jelas, dan hanya beberapa rumah yang memiliki penerangan listrik. Di banyak negeri, para utusan injil mendapati bahwa baju dicuci satu demi satu dengan menggunakan papan cuci atau di atas batu karang di sungai sebaliknya daripada menggunakan mesin cuci listrik. Namun mereka datang untuk mengajarkan kebenaran Alkitab kepada orang-orang, maka mereka menyesuaikan diri dengan kondisi setempat dan sibuk dalam pelayanan.

      Pada mulanya, sering tidak ada seseorang yang menunggu untuk menyambut kedatangan para utusan injil ini. Terserah kepada mereka untuk mencari tempat tinggal. Sewaktu Charles Eisenhower, beserta 11 orang lain, tiba di Kuba pada tahun 1943, mereka tidur di lantai pada malam pertama. Keesokan harinya mereka membeli tempat tidur dan membuat lemari pakaian serta lemari rias dari peti buah apel. Dengan menggunakan sumbangan apa pun yang mereka terima dari penempatan lektur, serta uang tunjangan sekadarnya yang disediakan oleh Lembaga Menara Pengawal bagi perintis istimewa, setiap kelompok utusan injil berharap agar Yehuwa memberkati upaya mereka untuk membayar uang sewa, memperoleh makanan, dan menutup biaya-biaya lain yang dibutuhkan.

      Dalam mempersiapkan makanan kadang-kadang dibutuhkan perubahan dalam cara berpikir. Bila tidak ada lemari es, mereka perlu ke pasar setiap hari. Di banyak negeri, orang memasak dengan menggunakan arang atau kayu sebaliknya daripada kompor gas atau listrik. George dan Willa Mae Watkins, yang ditugaskan ke Liberia, mendapati bahwa kompor mereka tidak lain berupa tiga batu besar yang digunakan untuk menyangga sebuah ketel besi.

      Bagaimana dengan air? Sewaktu memandang rumah barunya di India, Ruth McKay berkata, ’Rumah seperti ini belum pernah saya lihat. Dapurnya tidak mempunyai bak cuci, hanya sebuah keran air pada dinding di sudut, dengan batas yang disemen di bawahnya dan lebih tinggi dari lantai agar air tidak mengalir ke mana-mana. Air tidak mengalir 24 jam, tetapi air harus ditampung dan disimpan untuk waktu-waktu ketika aliran air berhenti.’

      Karena tidak terbiasa dengan kondisi setempat, beberapa dari para utusan injil ini terserang penyakit selama bulan-bulan pertama penugasan mereka. Russell Yeatts berulang kali diserang penyakit disentri pada waktu ia tiba di Curaçao pada tahun 1946. Namun seorang saudara setempat telah memanjatkan doa yang sungguh-sungguh sebagai rasa syukur kepada Yehuwa atas kehadiran para utusan injil ini sehingga mereka tidak sampai hati untuk meninggalkannya. Setelah tiba di Volta Hulu (kini Burkina Faso), Brian dan Elke Wise segera merasakan iklim ganas yang berakibat buruk atas kesehatan seseorang. Mereka harus belajar menanggulangi suhu 43° C pada siang hari. Selama tahun pertama mereka, panas yang menyengat ditambah malaria menyebabkan Elke jatuh sakit selama beberapa minggu berturut-turut. Pada tahun berikutnya, Brian harus berbaring di tempat tidur selama lima bulan akibat penyakit hepatitis yang parah. Namun mereka segera mendapati bahwa mereka dapat memimpin sejumlah pengajaran Alkitab yang bagus semampu mereka​—dan kemudian beberapa lagi. Kasih akan orang-orang tersebut membantu mereka bertekun; begitu pula fakta bahwa mereka memandang penugasan mereka sebagai hak istimewa dan pelatihan yang baik untuk apa pun yang Yehuwa sediakan bagi mereka di masa depan.

      Seraya tahun-tahun berlalu, lebih banyak utusan injil disambut di tempat penugasan mereka oleh para utusan injil yang telah lebih dahulu ada di sana atau oleh Saksi-Saksi setempat. Beberapa ditugaskan ke negeri-negeri yang memiliki kota-kota utama yang cukup modern. Mulai tahun 1946, Lembaga Menara Pengawal juga berupaya menyediakan rumah yang layak dan perabotan yang pokok bagi setiap kelompok utusan injil serta dana untuk makanan, dengan demikian mereka tidak perlu memikirkan hal-hal ini lagi dan memungkinkan mereka mengarahkan lebih banyak perhatian kepada pekerjaan pengabaran.

      Di sejumlah tempat, perjalanan menjadi pengalaman yang menguji ketahanan mereka. Sehabis hujan, ternyata tidak hanya satu saudari utusan injil di Papua Nugini yang harus membawa perbekalan dengan ransel di punggungnya seraya berjalan melintasi semak belukar di jalan setapak yang licin dan sangat berlumpur sehingga kadang-kadang sepatu mereka terlepas dari kaki. Di Amerika Selatan, cukup banyak utusan injil yang telah menempuh perjalanan yang menegakkan bulu roma dengan bus di jalan-jalan sempit pada ketinggian di Pegunungan Andes. Ini merupakan pengalaman yang tidak mudah terlupakan bila bus saudara, berada di sisi luar jalan, berpapasan dengan sebuah kendaraan besar dari arah yang berlawanan di sebuah tikungan tanpa pagar pengaman dan saudara merasa bus mulai terjungkir lewat tebing yang curam!

      Revolusi politik agaknya menjadi rutin dalam kehidupan di tempat-tempat tertentu, tetapi para utusan injil Saksi mencamkan pernyataan Yesus bahwa murid-muridnya ”bukan bagian dari dunia”; karena itu mereka bersikap netral terhadap pertikaian-pertikaian demikian. (Yoh. 15:​19, NW) Mereka belajar untuk menekan rasa ingin tahu yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam bahaya yang tak perlu. Sering kali yang terbaik justru adalah menghindari berada di jalan sampai situasi mereda. Sembilan orang utusan injil di Vietnam tinggal tepat di jantung kota Saigon (kini Kota Ho Chi Minh) ketika perang melanda kota tersebut. Mereka dapat melihat bom-bom berjatuhan, kebakaran di seluruh kota, dan ribuan orang lari menyelamatkan diri. Namun karena menghargai bahwa Yehuwa telah mengutus mereka untuk menyampaikan pengetahuan yang dapat memberi kehidupan kepada orang-orang yang lapar akan kebenaran, mereka berpaling kepada-Nya untuk perlindungan.

      Bahkan sewaktu situasi relatif damai, sulit bagi para utusan injil untuk melaksanakan pelayanan mereka di beberapa bagian kota-kota di Asia. Tampilnya seorang asing di jalan-jalan sempit sebuah daerah miskin di Lahore, Pakistan, sudah cukup menarik perhatian sekelompok besar anak dari segala umur yang jarang mandi dan tidak bersisir. Sambil berteriak dan berdesak-desakan, mereka membuntuti utusan injil itu dari rumah ke rumah, sering kali menyerobot masuk ke dalam rumah mengikuti si penyiar. Seluruh jalan itu segera diberi tahu harga majalah dan bahwa orang asing tersebut ’mencari orang untuk dijadikan Kristen’. Dalam keadaan demikian, biasanya mereka harus meninggalkan daerah itu. Kepergian mereka sering kali diikuti teriakan, tepuk tangan, dan kadang-kadang, hujan batu.

      Kebiasaan setempat sering menuntut adanya beberapa penyesuaian di pihak para utusan injil. Di Jepang mereka belajar menanggalkan sepatu mereka di teras bila masuk ke sebuah rumah. Dan mereka harus membiasakan diri, jika mungkin, untuk duduk di lantai di depan sebuah meja pendek pada waktu pengajaran Alkitab. Di beberapa daerah di Afrika, mereka belajar bahwa menggunakan tangan kiri untuk menawarkan sesuatu kepada orang lain dianggap sebagai penghinaan. Dan mereka mendapati bahwa di bagian dunia itu, mereka dianggap tidak sopan bila mencoba menjelaskan maksud kunjungan sebelum berbasa-basi dahulu​—menanyakan kesehatan masing-masing dan menjawab pertanyaan seperti dari mana, mempunyai berapa anak, dan sebagainya. Di Brasil, para utusan injil biasanya harus bertepuk tangan di depan gerbang, bukan mengetuk pintu, untuk memanggil penghuni rumah.

      Akan tetapi, di Lebanon para utusan injil menghadapi ragam kebiasaan yang lain. Hanya beberapa saudara membawa istri dan putri-putri mereka ke perhimpunan. Wanita-wanita yang hadir selalu duduk di bagian belakang, tidak pernah di antara para pria. Para utusan injil, karena tidak menyadari kebiasaan adat itu, menimbulkan kehebohan yang cukup besar pada perhimpunan pertama mereka. Sepasang suami-istri duduk di bagian muka, dan para saudari utusan injil yang masih lajang duduk di mana saja ada kursi kosong. Namun seusai perhimpunan suatu pembahasan mengenai prinsip-prinsip Kristen membantu menjernihkan suasana. (Bandingkan Ulangan 31:12; Galatia 3:28.) Pemisahan tidak terjadi lagi. Lebih banyak istri dan anak perempuan menghadiri perhimpunan. Mereka juga ikut serta dengan para saudari utusan injil dalam pelayanan dari rumah ke rumah.

      Tantangan Berupa Bahasa Baru

      Kelompok kecil utusan injil yang tiba di Martinik pada tahun 1949 hanya mengerti sedikit bahasa Prancis, tetapi mereka tahu bahwa orang-orang membutuhkan berita Kerajaan. Dengan iman yang sungguh-sungguh mereka mulai bekerja dari rumah ke rumah, dengan mencoba membacakan beberapa ayat Alkitab atau kutipan dari publikasi yang mereka tawarkan. Dengan penuh kesabaran, bahasa Prancis mereka lama-kelamaan membaik.

      Walaupun para utusan injil ingin membantu Saksi-Saksi setempat dan orang-orang lain yang berminat, sering kali mereka sendirilah yang perlu dibantu lebih dahulu​—dalam hal bahasa. Mereka yang diutus ke Togo mendapati bahwa tata bahasa Ewe, bahasa pribumi yang utama, cukup berbeda dibanding bahasa-bahasa Eropa, juga nada suara yang digunakan dalam mengucapkan sebuah kata dapat mengubah artinya. Maka, kata dengan dua huruf to, bila diucapkan dengan nada suara yang tinggi, dapat berarti telinga, gunung, mertua laki-laki, atau suku bangsa; dengan nada suara rendah, itu berarti kerbau. Para utusan injil yang melayani di Vietnam menghadapi suatu bahasa yang menggunakan enam variasi nada untuk setiap kata tertentu, masing-masing nada menghasilkan arti yang berlainan.

      Edna Waterfall, yang ditugaskan ke Peru, tidak mudah melupakan rumah pertama tempat ia mencoba memberi kesaksian dalam bahasa Spanyol. Dengan berkeringat dingin, ia tersendat-sendat menyampaikan kesaksiannya yang dihafal, menawarkan lektur, dan mengatur suatu pengajaran Alkitab dengan seorang nyonya yang sudah berumur. Kemudian wanita itu berkata dalam bahasa Inggris yang sempurna, ”Baiklah, semuanya bagus sekali. Saya akan belajar dengan Anda dan kita akan melakukan semuanya dalam bahasa Spanyol untuk membantu Anda belajar bahasa Spanyol.” Dengan terkesima, Edna menjawab, ”Anda dapat berbahasa Inggris? Dan Anda membiarkan saya melakukan semua tadi dalam bahasa Spanyol saya yang tidak fasih?” ”Itu baik bagi Anda,” jawab wanita itu. Dan memang demikian! Sebagaimana segera disadari oleh Edna, benar-benar berbicara dalam bahasa itu merupakan bagian yang penting dalam belajar bahasa.

      Di Italia, sewaktu George Fredianelli mencoba berbicara bahasa itu, ia mendapati bahwa kata-kata yang dianggapnya sebagai ungkapan Italia (namun sesungguhnya adalah kata-kata Inggris yang di-Italia-kan) tidak dimengerti. Untuk mengatasi problem itu, ia memutuskan untuk menulis seluruh khotbahnya kepada sidang-sidang dan menyampaikannya dengan membaca sebuah manuskrip. Namun banyak di antara hadirinnya mengantuk dan tertidur. Maka ia membuang manuskripnya, berbicara dengan kata-kata sendiri, dan meminta hadirin untuk membantunya bila ia terhenti. Dengan demikian mereka tetap terjaga, dan ini membantunya membuat kemajuan.

      Untuk memberikan kepada para utusan injil suatu permulaan dengan bahasa mereka yang baru, kurikulum pelajaran di Sekolah Gilead untuk kelas-kelas awal mencakup bahasa-bahasa seperti bahasa Spanyol, Prancis, Italia, Portugis, Jepang, Arab, dan Urdu. Selama bertahun-tahun, lebih dari 30 bahasa diajarkan. Namun karena tidak semua lulusan dari suatu kelas tertentu pergi ke tempat-tempat yang menggunakan bahasa yang sama, maka kelas-kelas bahasa ini belakangan diganti dengan penyelenggaraan pelajaran bahasa di bawah pengawasan selama waktu yang intensif segera setelah mereka tiba di daerah penugasan mereka. Pada bulan pertama, para pendatang baru secara keseluruhan belajar bahasa selama 11 jam sehari; dan bulan berikutnya, setengah dari waktu mereka digunakan untuk belajar bahasa di rumah, dan setengah lagi dibaktikan untuk menggunakan pengetahuan tersebut dalam pelayanan pengabaran.

      Akan tetapi, menurut pengamatan, mempraktekkan bahasa dalam pelayanan pengabaran merupakan kunci utama untuk membuat kemajuan; maka penyesuaian dibuat. Selama tiga bulan pertama dalam penugasan mereka, para utusan injil baru yang tidak mengerti bahasa setempat akan menggunakan empat jam sehari untuk belajar dengan seorang guru yang memenuhi syarat, dan sejak awal, mereka mempraktekkan apa yang mereka pelajari dengan memberi kesaksian kepada penduduk setempat tentang Kerajaan Allah.

      Banyak kelompok utusan injil bekerja sebagai tim untuk memperbaiki daya tangkap bahasa mereka. Mereka membahas beberapa, atau sampai sebanyak 20 kata baru setiap hari pada waktu sarapan dan kemudian berupaya menggunakan kata-kata ini dalam pelayanan pengabaran mereka.

      Mempelajari bahasa setempat ternyata merupakan faktor penting dalam hal memenangkan kepercayaan orang-orang. Di beberapa tempat, banyak yang merasa curiga terhadap orang asing. Hugh dan Carol Cormican telah melayani sewaktu masih lajang maupun sebagai suami-istri di lima negeri di Afrika. Mereka menyadari betul prasangka yang sering timbul antara orang Afrika dan orang Eropa. Namun mereka berkata, ”Berbicara dalam bahasa setempat cepat menyingkirkan perasaan ini. Selanjutnya, orang lain yang tidak suka mendengarkan kabar baik dari sesama bangsa mereka akan bersedia mendengarkan kami, mengambil lektur, dan belajar, karena kami telah berupaya untuk berbicara kepada mereka dalam bahasa mereka sendiri.” Agar dapat melakukan hal itu, Saudara Cormican belajar lima bahasa, selain bahasa Inggris, dan Saudari Cormican belajar enam bahasa.

      Tentu saja, problem dapat timbul bila seorang berupaya belajar bahasa baru. Di Puerto Riko, seorang saudara yang sedang memutar berita Alkitab yang direkam kepada penghuni rumah langsung mematikan fonografnya dan pergi ke rumah berikut ketika penghuni rumah menjawab, ”¡Como no!” Baginya, kata itu kedengaran seperti ”Tidak”, dan setelah beberapa waktu ia baru mengetahui bahwa ucapan itu berarti ”Mengapa tidak!” Sebaliknya, para utusan injil kadang-kadang tidak mengerti sewaktu penghuni rumah berkata bahwa ia tidak berminat, sehingga mereka terus saja memberi kesaksian. Hasilnya beberapa penghuni rumah yang bertenggang rasa mendapat manfaat.

      Ada pula situasi yang lucu. Leslie Franks, di Singapura, belajar bahwa ia harus berhati-hati untuk tidak bicara tentang kelapa bila ia memaksudkan kepala, dan rumput bila ia memaksudkan rambut. Seorang utusan injil di Samoa, karena salah mengucapkan, bertanya kepada seorang pribumi, ”Bagaimana dengan jenggot anda?” (padahal orang itu tidak berjenggot), sedangkan yang ia maksudkan adalah pertanyaan yang sopan tentang keadaan istri pria itu. Di Ekuador, sewaktu seorang pengemudi bus secara mendadak mulai menjalankan kendaraannya, Zola Hoffman, yang sedang berdiri di dalam bus, hilang keseimbangannya dan terduduk di pangkuan seorang pria. Dengan tersipu-sipu malu, ia mencoba meminta maaf. Tetapi yang keluar dari mulutnya adalah, ”Con su permiso” (Dengan seizin Anda). Ketika pria itu dengan berbaik hati menjawab, ”Silakan, Nyonya,” penumpang-penumpang lain meledak tertawa.

      Meskipun demikian, hasil-hasil baik dari pelayanan terlihat karena para utusan injil berupaya. Lois Dyer, yang tiba di Jepang pada tahun 1950, mengenang nasihat yang diberikan oleh Saudara Knorr, ”Lakukanlah sebaik-baiknya, dan, walaupun saudara-saudara membuat kesalahan, lakukanlah sesuatu!” Ia melakukannya, dan begitu pula dengan banyak orang lain. Selama 42 tahun berikutnya, para utusan injil yang diutus ke Jepang menyaksikan bagaimana jumlah pemberita Kerajaan di sana meningkat dari hanya beberapa menjadi lebih dari 170.000, dan pertumbuhan terus berlangsung. Betapa limpah pahala yang mereka peroleh, karena, setelah berpaling kepada Yehuwa untuk pengarahan-Nya, mereka rela berupaya!

      Membuka Ladang Baru, Mengembangkan Ladang-Ladang Lain

      Di puluhan negeri dan kepulauan, para utusan injil keluaran Sekolah Gilead-lah yang memulai pekerjaan pemberitaan Kerajaan atau memberikan dorongan yang dibutuhkan sesudah kesaksian diberikan sampai batas tertentu oleh orang-orang lain. Mereka terbukti sebagai Saksi-Saksi Yehuwa pertama yang memberitakan kabar baik di Somalia, Sudan, Laos, dan di banyak kepulauan di seputar bola bumi.

      Pengabaran yang mula-mula telah dilakukan di tempat-tempat seperti Bolivia, Republik Dominika, Ekuador, El Salvador, Honduras, Nikaragua, Etiopia, Gambia, Liberia, Kamboja, Hong Kong, Jepang, dan Vietnam. Namun tidak seorang pun dari Saksi-Saksi Yehuwa yang melaporkan kegiatan di negeri-negeri ini ketika para utusan injil lulusan Sekolah Gilead pertama-tama tiba. Sedapat mungkin, para utusan injil mengerjakan negeri itu secara sistematis, dengan lebih dahulu berkonsentrasi pada kota-kota besar. Mereka tidak sekadar menempatkan lektur dan terus pindah ke tempat lain, sebagaimana dilakukan oleh para kolportir di masa lalu. Mereka dengan sabar mengunjungi kembali orang-orang berminat, memimpin pengajaran Alkitab dengan mereka, dan melatih mereka dalam pelayanan pengabaran.

      Negeri-negeri lain hanya mempunyai kira-kira sepuluh pemberita Kerajaan (dan, sering kali, lebih sedikit) sebelum para utusan injil lulusan Sekolah Gilead tiba. Termasuk di antaranya adalah Kolombia, Guatemala, Haiti, Puerto Riko, Venezuela, Burundi, Pantai Gading, Kenya, Mauritius, Senegal, Afrika Barat Daya (kini Namibia), Sailan (kini Sri Lanka), Cina, dan Singapura, serta banyak kepulauan. Utusan-utusan injil memberikan contoh yang bergairah dalam pelayanan, membantu Saksi-Saksi setempat meningkatkan kemampuan mereka, mengorganisasi sidang-sidang, dan membantu saudara-saudara agar dapat memenuhi syarat untuk mengambil pimpinan. Sering kali mereka juga memulai pekerjaan penginjilan di daerah-daerah yang belum pernah dijamah sebelumnya.

      Dengan bantuan ini jumlah Saksi mulai meningkat. Di kebanyakan negeri ini, kini terdapat ribuan Saksi yang aktif dari Yehuwa. Beberapa negeri di antaranya, memiliki puluhan ribu pemuji Yehuwa, atau bahkan lebih dari seratus ribu.

      Beberapa Orang Ingin Sekali Mendengar

      Di beberapa daerah, para utusan injil menemukan banyak orang yang bersedia dan ingin sekali belajar. Ketika Ted dan Doris Klein, lulusan kelas pertama Gilead, tiba di Kepulauan Virgin pada tahun 1947, ada begitu banyak orang yang ingin belajar Alkitab sehingga sering dinas mereka sehari selesai hingga tengah malam. Pada khotbah umum pertama yang disampaikan Saudara Klein di Lapangan Pasar Charlotte Amalie, ada seribu orang yang hadir.

      Joseph McGrath dan Cyril Charles diutus ke daerah orang-orang Amis di Taiwan pada tahun 1949. Mereka harus tinggal dalam rumah-rumah beratap jerami dan berlantai tanah. Namun mereka berada di sana untuk membantu orang-orang. Beberapa pria suku Amis telah memperoleh lektur Menara Pengawal, telah menikmati bahan yang mereka baca itu, dan telah membagikan kabar baik kepada orang-orang lain. Kini para utusan injil ini berada di sana untuk membantu mereka bertumbuh secara rohani. Mereka diberi tahu bahwa ada 600 orang yang berminat akan kebenaran, tetapi sejumlah 1.600 orang menghadiri perhimpunan yang mereka adakan seraya mereka pindah dari desa ke desa. Orang-orang yang rendah hati ini mau belajar, tetapi mereka tidak mempunyai pengetahuan yang saksama mengenai banyak hal. Dengan sabar kedua saudara ini mulai mengajar mereka, satu pokok setiap kali belajar, sering kali membaktikan delapan jam atau lebih untuk pembahasan tanya jawab mengenai suatu pokok di setiap kampung. Pelatihan juga disediakan bagi 140 orang yang menyatakan keinginan untuk ikut memberi kesaksian dari rumah ke rumah. Sungguh suatu pengalaman yang membahagiakan bagi para utusan injil itu! Namun masih banyak yang perlu dilakukan untuk menghasilkan pertumbuhan rohani yang mantap.

      Kira-kira 12 tahun kemudian, Harvey dan Kathleen Logan, utusan injil keluaran sekolah Gilead dan yang telah melayani di Jepang, ditugaskan untuk memberi bantuan lebih lanjut kepada saudara-saudara suku Amis. Saudara Logan menggunakan banyak waktu dalam membantu mereka memahami doktrin dan prinsip-prinsip dasar Alkitab dan juga hal-hal organisasi. Saudari Logan bekerja bersama saudari-saudari suku Amis dalam dinas pengabaran setiap hari, dan setelah itu ia berupaya mempelajari kebenaran-kebenaran dasar Alkitab bersama mereka. Kemudian, pada tahun 1963, Lembaga Menara Pengawal mengatur agar delegasi dari 28 negeri berkumpul bersama Saksi-Saksi setempat di desa Shou Feng, sehubungan dengan diadakannya sebuah kebaktian keliling dunia. Semua ini mulai membubuh fondasi yang kokoh untuk pertumbuhan lebih lanjut.

      Pada tahun 1948, dua utusan injil, Harry Arnott dan Ian Fergusson, tiba di Rhodesia Utara (kini Zambia). Sudah ada 252 sidang dari Saksi-Saksi pribumi Afrika pada waktu itu, namun kini perhatian juga diberikan kepada orang-orang Eropa yang pindah ke situ karena dibukanya penambangan tembaga. Tanggapannya menggembirakan. Banyak lektur ditempatkan; mereka yang menerima pengajaran Alkitab maju dengan cepat. Pada tahun tersebut ada peningkatan 61 persen pada jumlah Saksi yang aktif dalam pelayanan pengabaran.

      Di banyak tempat bukan hal yang luar biasa bila utusan injil mempunyai daftar tunggu orang-orang yang ingin mendapatkan pengajaran Alkitab. Kadang-kadang sanak-saudara, tetangga, dan teman-teman lain juga ikut hadir ketika pengajaran diadakan. Bahkan sebelum orang-orang dapat menerima pengajaran Alkitab secara pribadi, mereka mungkin sudah menghadiri perhimpunan di Balai Kerajaan secara tetap tentu.

      Akan tetapi, di negeri-negeri lain, meskipun upaya besar dikerahkan oleh para utusan injil, hasil tuaiannya sangat terbatas. Sudah sejak tahun 1953, para utusan injil Menara Pengawal diutus ke Pakistan Timur (kini Bangladesh), yang penduduknya kini melebihi 115.000.000 dan terutama beragama Islam dan Hindu. Upaya sungguh-sungguh dikerahkan untuk membantu orang-orang. Namun, menjelang tahun 1992, hanya ada 42 penyembah Yehuwa di negeri tersebut. Akan tetapi, dalam pandangan para utusan injil yang melayani daerah-daerah semacam ini, setiap orang yang mulai menganut ibadat sejati teristimewa berharga​—karena mereka begitu langka.

      Bantuan Pengasih Bagi Rekan-Rekan Saksi

      Pekerjaan para utusan injil pada dasarnya adalah menginjil, memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah. Namun seraya mereka ikut serta secara pribadi dalam kegiatan ini, mereka juga dapat memberikan banyak bantuan kepada Saksi-Saksi setempat. Para utusan injil telah mengundang mereka agar ikut serta dalam pelayanan pengabaran dan telah memberikan saran-saran tentang cara menangani situasi-situasi sulit. Dengan mengamati utusan injil, Saksi-Saksi setempat sering kali belajar bagaimana melaksanakan pelayanan secara lebih terorganisasi dan bagaimana menjadi guru yang lebih efektif. Sebaliknya, para utusan injil dibantu oleh Saksi-Saksi setempat dalam menyesuaikan diri dengan kebiasaan setempat.

      Sewaktu tiba di Portugal pada tahun 1948, John Cooke mengambil langkah-langkah untuk mengorganisasi pekerjaan dari rumah ke rumah secara sistematis. Walaupun mereka bersedia, banyak Saksi setempat membutuhkan pelatihan. Belakangan ia berkata, ”Saya tidak akan pernah lupa sewaktu pertama kali keluar dalam dinas dengan saudari-saudari di Almada. Ya, enam saudari masuk ke satu rumah bersama-sama. Bayangkan sekelompok orang yang terdiri dari enam wanita berdiri di depan pintu seraya salah seorang dari mereka menyampaikan sebuah khotbah pendek! Namun secara berangsur semuanya mulai menjadi tertib dan bergerak maju.”

      Teladan keberanian para utusan injil membantu Saksi-Saksi di Kepulauan Leeward untuk menjadi berani, tidak mudah diintimidasi oleh penentang yang berupaya mengganggu pekerjaan ini. Iman yang diperlihatkan oleh seorang utusan injil membantu saudara-saudara di Spanyol memulai pelayanan dari rumah ke rumah, meskipun pada waktu itu mereka hidup di bawah kediktatoran Fasis Katolik. Para utusan injil yang melayani di Jepang sesudah Perang Dunia II memberikan teladan dalam berlaku bijaksana​—tidak berbicara berulang-ulang tentang kegagalan agama nasional, sesudah kaisar Jepang melepaskan statusnya sebagai dewa, melainkan mengemukakan bukti yang meyakinkan untuk mempercayai Pencipta.

      Saksi-Saksi setempat mengamati para utusan injil dan sering kali sangat terpengaruh oleh hal-hal yang mungkin pada waktu itu belum disadari oleh para utusan injil. Di Trinidad, beberapa peristiwa memperlihatkan kerendahan hati para utusan injil, kerelaan mereka untuk bersabar menahan keadaan-keadaan yang sulit, dan kerja keras mereka dalam dinas Yehuwa meskipun cuaca yang panas masih sering menjadi topik pembicaraan setelah bertahun-tahun kemudian. Saksi-Saksi di Korea sangat terkesan oleh semangat rela berkorban para utusan injil yang selama sepuluh tahun tidak meninggalkan negeri itu untuk mengunjungi keluarga mereka karena pemerintah tidak mau mengeluarkan izin masuk kembali kecuali dalam beberapa kasus darurat yang berdasarkan ”kemanusiaan”.

      Selama dan sesudah mengenyam pendidikan Sekolah Gilead mereka yang pertama, kebanyakan utusan injil telah memandang dari dekat cara bekerja kantor pusat organisasi Yehuwa yang kelihatan. Mereka sering mendapat banyak kesempatan untuk bergaul dengan anggota-anggota Badan Pimpinan. Belakangan, dalam penugasan mereka sebagai utusan injil, mereka dapat menyampaikan kepada Saksi-Saksi setempat dan orang-orang yang baru berminat laporan pandangan mata mengenai cara organisasi berfungsi serta penghargaan mereka sendiri terhadapnya. Dalamnya penghargaan yang mereka perlihatkan berkenaan bekerjanya organisasi secara teokratis sering kali merupakan faktor yang penting dalam pertumbuhan yang dialami.

      Di banyak tempat penugasan para utusan injil, tidak ada perhimpunan sidang sewaktu mereka tiba. Maka mereka membuat penyelenggaraan yang dibutuhkan, memimpin perhimpunan, dan menangani hampir semua bagian perhimpunan sampai ada saudara-saudara lain yang memenuhi syarat untuk ikut dalam hak-hak istimewa ini. Mereka terus-menerus melatih saudara-saudara lain agar dapat memenuhi syarat untuk mengambil alih tanggung jawab. (2 Tim. 2:2) Mula-mula perhimpunan biasanya diadakan di rumah utusan injil. Belakangan, pengaturan dibuat untuk Balai-Balai Kerajaan.

      Di tempat-tempat yang sudah memiliki sidang, para utusan injil menyumbang dengan membuat perhimpunan lebih menarik dan instruktif. Komentar mereka yang dipersiapkan dengan baik dihargai dan segera memberikan pola yang kemudian ditiru oleh orang-orang lain. Dengan menerapkan pelatihan Gilead mereka, saudara-saudara memberikan teladan dalam hal berbicara kepada umum dan mengajar, dan mereka dengan senang hati menggunakan waktu bersama saudara-saudara setempat untuk membantu mereka mempelajari seni itu. Di negeri-negeri yang penduduknya secara tradisional bersifat santai dan tidak begitu memperhatikan ketepatan waktu, para utusan injil juga dengan sabar membantu mereka menghargai nilai dari perhimpunan yang dimulai tepat waktu dan menganjurkan setiap orang untuk hadir tepat waktu di sana.

      Kondisi-kondisi yang mereka dapati di beberapa tempat menunjukkan bahwa bantuan diperlukan untuk membina penghargaan akan pentingnya berpaut kepada standar-standar Yehuwa yang adil-benar. Di Botswana, misalnya, mereka mendapati bahwa beberapa saudari masih mengikatkan benang atau manik-manik pada bayi mereka sebagai penangkal bahaya, tidak sepenuhnya menyadari bahwa kebiasaan ini berakar pada takhayul dan ilmu sihir. Di Portugal mereka mendapati keadaan-keadaan yang menimbulkan perpecahan. Dengan penuh kesabaran, bantuan yang pengasih, dan ketegasan bila perlu, kesehatan rohani yang membaik menjadi nyata.

      Para utusan injil yang ditugaskan untuk menempati kedudukan sebagai pengawas di Finlandia membaktikan banyak waktu dan upaya untuk melatih saudara-saudara setempat agar dapat menangani problem-problem dengan penalaran berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab dan dengan demikian sampai kepada kesimpulan yang sesuai dengan pemikiran Allah sendiri. Di Argentina mereka juga membantu saudara-saudara untuk mempelajari nilai dari sebuah jadwal, cara menyimpan catatan, pentingnya menyimpan berkas-berkas. Di Jerman mereka membantu saudara-saudara yang loyal yang dalam beberapa segi memiliki pandangan yang agak terlalu kaku, sebagai akibat perjuangan hidup dalam kamp-kamp konsentrasi, untuk lebih sepenuhnya meniru cara-cara Yesus Kristus yang lemah lembut dalam menggembalakan kawanan domba Allah.​—Mat. 11:​28-30; Kis. 20:28.

      Pekerjaan dari beberapa utusan injil mencakup berurusan dengan para pejabat pemerintah, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, dan mengajukan permohonan untuk pengakuan hukum atas pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa. Misalnya, selama jangka waktu hampir empat tahun, Saudara Joly, yang ditugaskan ke Kamerun bersama istrinya, berulang kali berupaya memperoleh pengakuan resmi. Ia sering berbicara kepada para pejabat berbangsa Prancis maupun Afrika. Akhirnya, sesudah ada perubahan pemerintahan, pengakuan resmi diberikan. Sampai saat ini Saksi-Saksi telah aktif di Kamerun selama 27 tahun dan sudah berjumlah lebih dari 6.000 orang.

      Menghadapi Tantangan dalam Dinas Keliling

      Beberapa utusan injil telah ditugaskan untuk melayani sebagai pengawas keliling. Ada kebutuhan khusus di Australia, di sana upaya beberapa saudara telah disimpangkan secara kurang bijaksana dari kepentingan Kerajaan kepada kepentingan duniawi selama Perang Dunia II. Pada waktunya, hal ini telah diluruskan, dan selama kunjungan Saudara Knorr pada tahun 1947, pentingnya untuk tetap mengutamakan pekerjaan pengabaran Kerajaan ditandaskan. Kemudian, kegairahan, teladan yang bagus, dan metode pengajaran dari para lulusan Gilead yang melayani sebagai pengawas wilayah dan distrik lebih lanjut membantu memupuk suasana rohani yang sesungguhnya di kalangan Saksi-Saksi di sana.

      Ikut serta dalam dinas keliling demikian sering kali menuntut kerelaan untuk mengerahkan upaya yang besar dan menghadapi bahaya. Wallace Liverance mendapati bahwa satu-satunya cara untuk menemui satu keluarga yang terdiri dari penyiar-penyiar yang tinggal terpencil di Volcan, Bolivia, adalah dengan berjalan 90 kilometer pulang pergi melintasi daerah berbatu dan gersang di bawah terik matahari pada ketinggian kira-kira 3.400 meter, sambil membawa perlengkapan kantong tidur, makanan, dan air, serta lektur. Untuk melayani sidang-sidang di Filipina, Neal Callaway sering kali naik bus yang penuh sesak di daerah pedesaan, membagi tempat bukan hanya dengan manusia melainkan juga dengan hewan dan hasil bumi. Richard Cotterill mengawali pekerjaannya sebagai pengawas keliling di India sewaktu ribuan orang dibunuh karena kebencian agama. Ketika ia dijadwalkan untuk melayani saudara-saudara di suatu daerah yang bergolak, pegawai penjualan karcis kereta api mencoba membujuknya untuk tidak pergi ke sana. Perjalanan itu terbukti menjadi mimpi buruk bagi kebanyakan penumpang, tetapi Saudara Cotterill sangat mengasihi saudara-saudaranya, tidak peduli di mana mereka tinggal atau bahasa apa yang mereka gunakan. Dengan menaruh keyakinan kepada Yehuwa, ia menerangkan, ”Jika Yehuwa menghendaki, aku akan berupaya tiba di sana.”​—Yak. 4:15.

      Menganjurkan Orang Lain untuk Terjun Dalam Dinas Sepenuh Waktu

      Sebagai hasil dari semangat bergairah yang diperlihatkan oleh para utusan injil, banyak orang yang mendapat pengajaran dari mereka telah meniru teladan mereka dengan terjun dalam dinas sepenuh waktu. Di Jepang, yang telah dilayani oleh 168 utusan injil, ada 75.956 perintis pada tahun 1992; lebih dari 40 persen jumlah penyiar di Jepang berada dalam corak tertentu dari dinas sepenuh waktu. Di Republik Korea, terdapat rasio yang serupa.

      Dari negeri-negeri yang memiliki rasio yang cukup baik antara Saksi-Saksi dan penduduk, banyak rohaniwan sepenuh waktu telah diundang untuk menerima pelatihan di Sekolah Gilead dan kemudian telah diutus untuk melayani di tempat-tempat lain. Sejumlah besar utusan injil berasal dari Amerika Serikat dan Kanada; kira-kira 400 orang dari Inggris; lebih dari 240 orang dari Jerman; 150 orang lebih dari Australia; lebih dari 100 orang dari Swedia; selain itu utusan injil dengan jumlah yang cukup besar dari Belanda, Denmark, Finlandia, Hawaii, Selandia Baru, dan lain-lain. Beberapa negeri yang tadinya dibantu oleh para utusan injil belakangan menyediakan juga calon-calon utusan injil untuk dinas di negeri-negeri lain.

      Memenuhi Kebutuhan Dalam Organisasi yang Berkembang

      Seraya organisasi berkembang, para utusan injil juga mengemban berbagai tanggung jawab lain. Cukup banyak di antara mereka yang telah melayani sebagai penatua atau pelayan sidang dalam sidang-sidang yang mereka bantu. Di banyak negeri mereka menjadi pengawas wilayah dan distrik yang pertama. Seraya perkembangan lebih lanjut memungkinkan Lembaga bermanfaat untuk mendirikan kantor-kantor cabang yang baru, sejumlah utusan injil telah dipercayakan dengan tanggung jawab sehubungan dengan kegiatan kantor cabang. Dalam beberapa keadaan, mereka yang sudah menguasai bahasa dengan baik diminta untuk membantu menerjemahkan lektur Alkitab dan mengoreksi hasilnya sebelum dicetak.

      Akan tetapi, mereka terutama merasa mendapat imbalan bila orang-orang yang telah belajar Firman Allah bersama mereka, atau saudara-saudara yang sedikit banyak telah mereka bantu bertumbuh secara rohani, dapat memenuhi syarat untuk mengemban berbagai tanggung jawab. Maka sepasang suami-istri di Peru gembira ketika melihat beberapa yang telah belajar dengan mereka melayani sebagai perintis istimewa, membantu memperkuat sidang-sidang baru dan membuka daerah baru. Satu pengajaran yang dipimpin oleh seorang utusan injil bersama sebuah keluarga di Sri Lanka telah menghasilkan seorang anggota Panitia Cabang bagi negeri ini. Banyak utusan injil lain telah menikmati sukacita yang serupa.

      Mereka juga menghadapi tentangan.

      Ketika Menghadapi Tentangan

      Yesus mengatakan kepada para pengikutnya bahwa mereka akan dianiaya, bahkan seperti yang telah ia alami. (Yoh. 15:20) Karena utusan injil biasanya berasal dari luar negeri, sering kali bila penganiayaan hebat meledak di suatu negeri, ini berarti deportasi.

      Pada tahun 1967, Sona Haidostian dan orang-tuanya ditangkap di Aleppo, Suriah. Mereka dijebloskan ke dalam penjara selama lima bulan dan kemudian diusir dari negeri itu tanpa membawa barang-barang milik mereka. Margarita Königer, dari Jerman, ditugaskan ke Madagaskar; tetapi deportasi demi deportasi mengakibatkan ia mendapat beberapa penugasan baru, di Kenya, Dahomey (Benin), dan Volta Hulu (Burkina Faso). Domenick Piccone dan istrinya, Elsa, diusir dari Spanyol pada tahun 1957 karena pengabaran mereka, kemudian dari Portugal pada tahun 1962, dan dari Maroko pada tahun 1969. Akan tetapi, di setiap negeri seraya berupaya agar perintah pengusiran tidak diberlakukan, ada hal-hal baik yang dicapai. Kesaksian diberikan kepada para pejabat. Di Maroko, misalnya, mereka mendapat kesempatan untuk memberi kesaksian kepada pejabat-pejabat yang duduk di Dewan Keamanan Nasional, seorang hakim di Mahkamah Agung, kepala polisi Tangier, dan konsul-konsul AS di Tangier dan Rabat.

      Diusirnya utusan-utusan injil tidak menghentikan pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa, seperti diharapkan oleh beberapa pejabat. Benih-benih kebenaran yang sudah ditabur sering kali terus bertumbuh. Misalnya, empat utusan injil baru melaksanakan pelayanan mereka selama beberapa bulan di Burundi ketika pemerintah memaksa mereka pergi pada tahun 1964. Namun salah seorang di antara mereka terus berhubungan melalui surat dengan seorang peminat, yang menulis bahwa ia sedang belajar Alkitab bersama 26 orang. Seorang Saksi berbangsa Tanzania yang belum lama ini pindah ke Burundi juga tetap sibuk mengabar. Lambat laun jumlah mereka meningkat hingga ada ratusan orang yang membagikan berita Kerajaan kepada lebih banyak orang lagi.

      Di tempat lain, sebelum mengeluarkan perintah deportasi, para pejabat menggunakan kekerasan yang kejam dalam upaya menjadikan setiap orang tunduk kepada tuntutan mereka. Di Gbarnga, Liberia, pada tahun 1963, beberapa tentara menangkap 400 pria, wanita, dan anak-anak yang sedang menghadiri sebuah kebaktian Kristen di sana. Tentara-tentara itu menggiring mereka ke kamp tentara, mengancam mereka, memukuli mereka, dan menuntut agar setiap orang​—tidak peduli kebangsaan atau kepercayaan agama mereka​—memberi salut kepada bendera Liberia. Di antara mereka yang ada dalam kelompok tersebut terdapat Milton Henschel, dari Amerika Serikat. Ada juga beberapa utusan injil, termasuk John Charuk dari Kanada. Salah seorang lulusan Gilead berkompromi, sebagaimana pernah ia lakukan sebelumnya (meskipun hal itu tidak pernah ia ungkapkan), dan ini pasti mempengaruhi orang-orang lain yang ada di kebaktian itu untuk ikut berkompromi. Maka jelaslah siapa yang benar-benar takut akan Allah dan siapa yang terjerat oleh takut akan manusia. (Ams. 29:25) Setelah itu, pemerintah menyuruh agar semua utusan injil Saksi yang berasal dari luar negeri pergi meninggalkan negeri, walaupun belakangan pada tahun itu juga sebuah perintah resmi dari presiden mengizinkan mereka untuk kembali.

      Sering kali, tindakan yang diambil oleh pejabat-pejabat pemerintah terhadap para utusan injil disebabkan oleh adanya tekanan dari para pemimpin agama. Kadang-kadang tekanan itu dilancarkan tidak secara terang-terangan. Belakangan, setiap orang mengetahui siapa yang sengaja mengobarkan tentangan. George Koivisto tidak akan pernah melupakan pagi harinya yang pertama dalam dinas pengabaran di Medellín, Kolombia. Tiba-tiba segerombolan anak sekolah yang berteriak-teriak muncul, sambil melemparkan batu dan gumpalan tanah liat. Seorang wanita penghuni rumah, yang belum pernah bertemu dengannya, memaksanya masuk dan menutup semua jendela kayu, berkali-kali meminta maaf atas perbuatan massa di luar itu. Ketika polisi tiba, beberapa orang menyalahkan guru sekolah karena membiarkan murid-murid itu keluar. Tetapi yang lain berteriak, ”Bukan! Ini gara-gara imam itu! Melalui pengeras suara ia mengumumkan agar murid-murid dibiarkan ke luar untuk ’melempari Orang-Orang Protestan itu dengan batu’.”

      Keberanian ilahi disertai kasih akan domba-domba diperlukan. Elfriede Löhr dan Ilse Unterdörfer ditugaskan ke lembah Gastein di Austria. Dalam waktu singkat, banyak lektur Alkitab ditempatkan kepada orang-orang yang lapar akan makanan rohani. Tetapi kemudian para pemimpin agama bereaksi. Mereka mendesak anak-anak sekolah untuk meneriaki para utusan injil tersebut di jalan-jalan dan lari mendahului mereka guna memperingatkan para penghuni rumah agar tidak mendengarkan mereka. Orang-orang menjadi takut. Namun dengan ketekunan yang pengasih, beberapa pengajaran yang baik dimulai. Ketika sebuah ceramah umum Alkitab diselenggarakan, imam paroki itu berdiri dengan gaya yang menantang tepat di depan tempat perhimpunan. Namun ketika para utusan injil pergi ke jalan untuk menyambut kedatangan orang-orang, imam tersebut menghilang. Ia memanggil seorang polisi dan kemudian kembali, dengan harapan dapat mengacaukan perhimpunan. Namun upayanya gagal. Pada waktunya sebuah sidang yang bagus terbentuk di sana.

      Di kota-kota dekat Ibarra, Ekuador, Unn Raunholm dan Julia Parsons berulang kali menghadapi gerombolan yang didalangi oleh seorang imam. Karena imam tersebut menyebabkan kegaduhan setiap kali para utusan injil muncul di San Antonio, maka saudari-saudari tersebut memutuskan untuk memusatkan kegiatan di kota lain, yakni Atuntaqui. Namun suatu hari kepala polisi setempat dengan penuh kekhawatiran mendesak Saudari Raunholm untuk segera meninggalkan kota. ”Imam itu sedang mengorganisasi suatu unjuk rasa terhadap Anda, dan saya tidak mempunyai cukup banyak orang untuk membela Anda,” katanya. Saudari Raunholm masih mengingat jelas, ”Gerombolan itu mengejar kami! Bendera Vatikan berwarna putih dan kuning dilambai-lambaikan di depan kelompok seraya imam memekikkan slogan-slogan seperti ’Hidup Gereja Katolik!’ ’Matilah orang-orang Protestan!’ ’Hidup keperawanan Sang Perawan!’ ’Hidup pengakuan dosa!’ Setiap kali, gerombolan itu menggemakan slogan-slogan tersebut kata demi kata mengikuti sang imam.” Tepat pada waktu itu beberapa pria mengundang saudari-saudari Saksi tersebut masuk ke dalam Wisma Serikat Buruh setempat demi keselamatan mereka. Di sana para utusan injil itu sibuk memberi kesaksian kepada orang-orang yang masuk untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Mereka menempatkan semua lektur yang mereka bawa.

      Kursus yang Dirancang untuk Memenuhi Kebutuhan Khusus

      Selama tahun-tahun sejak para utusan injil yang pertama diutus dari Sekolah Gilead, organisasi Saksi-Saksi Yehuwa telah mengalami pertumbuhan dengan kegiatan yang mencengangkan. Pada tahun 1943, ketika sekolah dibuka, hanya ada 129.070 Saksi di 54 negeri (sebenarnya 103 negeri menurut cara pembagian peta pada awal tahun 1990-an). Menjelang tahun 1992, ada 4.472.787 Saksi di 229 negeri dan kepulauan di seluas dunia. Seraya pertumbuhan ini terjadi, kebutuhan organisasi pun berubah. Kantor-kantor cabang yang pada mulanya menangani kurang dari seratus Saksi yang tergabung dalam beberapa sidang kini mengawasi kegiatan dari puluhan ribu Saksi, dan banyak di antara kantor-kantor cabang ini merasa perlu untuk mencetak lektur di negeri setempat guna memperlengkapi mereka yang ikut ambil bagian dalam pekerjaan penginjilan.

      Untuk memenuhi kebutuhan yang berubah-ubah ini, maka 18 tahun setelah Sekolah Gilead dibuka, suatu kursus pelatihan selama sepuluh bulan di kantor pusat sedunia dari Lembaga diselenggarakan khusus bagi saudara-saudara yang mengemban tanggung jawab berat di kantor-kantor cabang Lembaga Menara Pengawal. Beberapa di antara mereka sebelumnya telah mengikuti kursus utusan injil Gilead selama lima bulan; yang lainnya belum. Mereka semua dapat memperoleh manfaat dari pelatihan khusus untuk pekerjaan mereka ini. Pembahasan mengenai cara menangani berbagai situasi dan memenuhi kebutuhan organisasi yang selaras dengan prinsip-prinsip Alkitab memiliki dampak yang mempersatukan. Kurikulumnya mencakup penelitian analitis ayat demi ayat dari seluruh Alkitab. Ini juga mencakup tinjauan sejarah agama; pelatihan yang terperinci mengenai hal-hal yang tersangkut dalam menjalankan sebuah kantor cabang, Rumah Betel, dan percetakan; dan petunjuk mengenai pengawasan pelayanan pengabaran, mengorganisasi sidang baru, dan membuka ladang-ladang baru. Kursus-kursus ini (termasuk yang terakhir yang dipersingkat menjadi delapan bulan) diselenggarakan di kantor pusat sedunia, di Brooklyn, New York, dari tahun 1961 hingga 1965. Banyak di antara para lulusan diutus kembali ke negeri-negeri yang telah mereka layani; beberapa ditugaskan ke negeri-negeri lain; di sana mereka dapat memberikan sumbangan yang berharga kepada pekerjaan tersebut.

      Sejak tanggal 1 Februari 1976, suatu penyelenggaraan baru diberlakukan di kantor-kantor cabang Lembaga untuk memperlengkapi ekspansi lebih lanjut yang telah diantisipasi sebelumnya sesuai dengan nubuat Alkitab. (Yes. 60:​8, 22) Sebaliknya daripada hanya seorang pengawas cabang, beserta asistennya, yang mengawasi setiap cabang, Badan Pimpinan telah menunjuk tiga saudara atau lebih yang memenuhi syarat untuk melayani dalam setiap Panitia Cabang. Kantor cabang yang lebih besar dapat mempunyai sampai sebanyak tujuh orang anggota panitia. Untuk memberikan pelatihan bagi semua saudara ini, suatu kursus istimewa Gilead selama lima minggu diselenggarakan di Brooklyn, New York. Empat belas kelas yang terdiri dari anggota-anggota Panitia Cabang dari seluruh bagian dunia diberikan pelatihan khusus di kantor pusat sedunia sejak akhir tahun 1977 hingga tahun 1980. Ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk mempersatukan dan memurnikan tata-kerja.

      Sekolah Gilead terus melatih mereka yang memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam pelayanan sepenuh waktu dan bersedia dan sanggup diutus ke luar negeri, namun lebih banyak yang dapat ditugaskan. Untuk memudahkan pelatihan, sekolah diselenggarakan di negeri-negeri lain sebagai perluasan dari Gilead sehingga siswa-siswa tidak perlu belajar bahasa Inggris dulu untuk dapat memenuhi syarat mengikutinya. Pada tahun 1980-81, Sekolah Budaya Gilead di Meksiko memberikan pelatihan bagi siswa-siswa berbahasa Spanyol yang membantu memenuhi kebutuhan mendesak akan pekerja-pekerja yang memenuhi syarat di Amerika Tengah dan Selatan. Pada tahun 1981-82, 1984, dan sekali lagi pada tahun 1992, kelas-kelas dari Sekolah Perluasan Gilead juga diselenggarakan di Jerman. Dari situ para lulusan diutus ke Afrika, Amerika Selatan, Eropa Timur, dan berbagai negeri di kepulauan. Kelas-kelas yang lain diadakan di India pada tahun 1983.

      Seraya Saksi-Saksi setempat yang bergairah bergabung dengan para utusan injil dalam meluaskan kesaksian Kerajaan, jumlah Saksi-Saksi Yehuwa meningkat dengan pesat, dan hal ini mengarah kepada terbentuknya lebih banyak sidang. Antara tahun 1980 dan 1987, jumlah sidang di seluruh dunia meningkat sebanyak 27 persen, mencapai jumlah 54.911. Di beberapa daerah, walaupun banyak orang menghadiri perhimpunan dan ambil bagian dalam pelayanan pengabaran, kebanyakan saudara masih baru. Ada kebutuhan yang mendesak akan pria-pria Kristen yang berpengalaman untuk melayani sebagai gembala dan guru rohani, dan juga untuk mengambil pimpinan dalam pekerjaan penginjilan. Guna membantu memenuhi kebutuhan ini, pada tahun 1987 Badan Pimpinan mengadakan Sekolah Pelatihan Pelayanan sebagai suatu segmen dari program pendidikan Alkitab Sekolah Gilead. Kursus selama delapan minggu itu mencakup penelitian Alkitab secara sungguh-sungguh serta minat pribadi kepada perkembangan rohani setiap siswa. Masalah organisasi dan pengadilan sidang, serta tanggung jawab para penatua dan pelayan sidang, dibahas, dan pelatihan khusus diberikan dalam hal berbicara kepada umum. Tanpa mengganggu kelas-kelas yang secara teratur diadakan untuk melatih para utusan injil, sekolah ini diselenggarakan dengan menggunakan fasilitas-fasilitas lain, dan terdapat di berbagai negeri. Para lulusan kini memenuhi kebutuhan vital di banyak negeri.

      Dengan demikian pelatihan yang diperluas dan yang diselenggarakan oleh Sekolah Alkitab Gilead Menara Pengawal ini telah mengikuti perkembangan kebutuhan yang berubah dari organisasi internasional yang bertumbuh dengan pesat.

      ”Ini Aku, Utuslah Aku!”

      Semangat yang diperlihatkan oleh para utusan injil sama seperti semangat nabi Yesaya. Ketika Yehuwa menyiagakan dia untuk memanfaatkan kesempatan dalam dinas khusus, ia memberi tanggapan, ”Ini aku, utuslah aku!” (Yes. 6:8) Semangat kerelaan ini telah menggerakkan ribuan pria dan wanita muda untuk meninggalkan lingkungan yang akrab dan sanak-saudara untuk melayani demi memajukan kehendak Allah di mana pun mereka dibutuhkan.

      Keadaan keluarga telah membawa perubahan dalam kehidupan banyak utusan injil. Beberapa yang memiliki anak-anak sesudah menjadi utusan injil dapat tinggal di negeri tempat mereka ditugaskan, melakukan pekerjaan duniawi sekadarnya dan bekerja dengan sidang-sidang. Beberapa, setelah bertahun-tahun dalam dinas, terpaksa kembali ke negeri asal mereka untuk mengurus orang-tua yang sudah lanjut usia, atau karena alasan-alasan lain. Namun mereka menganggap sebagai hak istimewa untuk ambil bagian dalam dinas utusan injil selama keadaan memungkinkan.

      Yang lain telah berhasil menjadikan dinas utusan injil sebagai pekerjaan selama hidup mereka. Untuk dapat melakukannya, mereka semua telah berupaya mengatasi keadaan-keadaan yang penuh tantangan. Olaf Olson, yang telah menikmati karier yang panjang sebagai utusan injil di Kolombia, mengakui, ”Tahun pertama merupakan yang tersulit.” Hal itu terutama karena ketidakmampuan untuk mengungkapkan diri secara memadai dalam bahasanya yang baru. Ia menambahkan, ”Andai kata saya terus memikirkan negeri yang telah saya tinggalkan, saya tentu tidak akan berbahagia, tetapi saya telah mengambil keputusan untuk hidup secara fisik dan mental di Kolombia, untuk berteman dengan saudara-saudari yang ada dalam kebenaran di sana, untuk menjadikan diri sibuk dalam pelayanan dan kemudian saya menjadi betah di daerah penugasan saya.”

      Ketekunan yang mereka perlihatkan dalam penugasan bukanlah karena mereka selalu mendapati lingkungan fisik yang ideal. Norman Barber, yang melayani di Birma (kini Myanmar) dan India, sejak tahun 1947 hingga akhir hayatnya pada tahun 1986, mengungkapkan sebagai berikut, ”Jika seseorang bersukacita karena digunakan oleh Yehuwa, maka tempat mana pun dianggap sama baiknya. . . . Terus terang, daerah beriklim tropis menurut pendapat saya bukanlah tempat tinggal yang ideal. Cara hidup orang-orang di daerah tropis juga bukan cara hidup yang akan saya pilih secara pribadi. Namun ada hal-hal yang lebih penting untuk dipertimbangkan daripada hal-hal sepele demikian. Mampu memberikan bantuan kepada orang-orang yang benar-benar miskin secara rohani merupakan suatu hak istimewa yang di luar kuasa manusia untuk mengungkapkannya.”

      Lebih banyak lagi yang berpandangan seperti itu, dan semangat rela berkorban ini telah banyak menyumbang kepada penggenapan nubuat Yesus bahwa kabar baik tentang Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh bumi yang berpenduduk, sebagai kesaksian bagi segala bangsa, sebelum tiba kesudahannya.​—Mat. 24:14.

      [Catatan Kaki]

      a The Watchtower, 15 Februari 1943, hlm. 60-4.

      [Blurb di hlm. 523]

      Ditekankan tentang pentingnya mengandalkan Yehuwa sepenuhnya dan loyal kepada-Nya

      [Blurb di hlm. 534]

      Rasa humor yang baik membantu!

      [Blurb di hlm. 539]

      Kesabaran, bantuan yang pengasih, dan ketegasan bila perlu

      [Blurb di hlm. 546]

      ’Memberikan bantuan kepada orang-orang yang benar-benar miskin secara rohani merupakan suatu hak istimewa yang di luar kuasa manusia untuk mengungkapkannya’

      [Kotak di hlm. 533]

      Kelas-Kelas Gilead

      1943-60: Sekolah di South Lansing, New York. Dalam 35 kelas, 3.639 siswa dari 95 negeri telah lulus, kebanyakan ditugaskan untuk dinas utusan injil. Pengawas wilayah dan distrik yang melayani di Amerika Serikat juga termasuk dalam kelas-kelas ini.

      1961-65: Sekolah di Brooklyn, New York. Dalam 5 kelas, 514 orang siswa lulus dan diutus ke negeri-negeri yang mempunyai kantor cabang dari Lembaga Menara Pengawal; kebanyakan lulusan dipercayakan penugasan administratif. Empat kelas di antaranya berlangsung selama 10 bulan; satu selama 8 bulan.

      1965-88: Sekolah di Brooklyn, New York. Dalam 45 kelas, masing-masing berlangsung selama 20 minggu, 2.198 siswa lain dilatih, kebanyakan untuk dinas utusan injil.

      1977-80: Sekolah di Brooklyn, New York. Pendidikan Gilead selama lima minggu bagi anggota-anggota Panitia Cabang. Empat belas kelas diadakan.

      1980-81: Sekolah Budaya Gilead di Meksiko; pendidikan 10 minggu; tiga kelas; 72 lulusan berbahasa Spanyol siap untuk dinas di Amerika Latin.

      1981-82, 1984, 1992: Sekolah Perluasan Gilead di Jerman; pendidikan 10 minggu; empat kelas; 98 siswa berbahasa Jerman dari negeri-negeri Eropa.

      1983: Kelas-kelas di India; pendidikan selama 10 minggu, diselenggarakan dalam bahasa Inggris; 3 kelompok; 70 siswa.

      1987- : Sekolah Pelatihan Pelayanan, dengan pendidikan selama 8 minggu, diadakan di lokasi-lokasi penting di berbagai belahan dunia. Sampai tahun 1992, para lulusan sudah melayani di lebih dari 35 negeri di luar negeri asal mereka.

      1988- : Sekolah di Wallkill, New York. Pendidikan selama dua puluh minggu sebagai persiapan bagi dinas utusan injil dewasa ini sedang diselenggarakan di sana. Sekolah itu direncanakan akan pindah ke Pusat Pendidikan Menara Pengawal di Patterson, New York, bila kompleks ini selesai dibangun.

      [Kotak di hlm. 538]

      Kelompok Siswa Internasional

      Siswa-siswa yang telah mengikuti Sekolah Gilead mewakili puluhan bangsa dan berasal dari 110 negeri lebih.

      Kelas keenam merupakan kelompok internasional pertama pada tahun 1945-46.

      Permohonan diajukan kepada pemerintah AS agar siswa-siswa dari luar negeri diizinkan masuk dengan ketentuan visa pelajar nonimigran. Sebagai tanggapan, Kantor Pendidikan AS memberi pengakuan kepada Sekolah Gilead yang menyelenggarakan pendidikan yang dapat disamakan dengan perguruan tinggi dan lembaga pendidikan profesional. Maka, sejak tahun 1953, para konsul AS di seluruh dunia memasukkan Sekolah Alkitab Gilead Menara Pengawal dalam daftar lembaga pendidikan yang diakui. Sejak tanggal 30 April 1954, sekolah ini muncul dalam publikasi yang berjudul ”Lembaga-Lembaga Pendidikan yang Diakui Oleh Jaksa Agung”.

      [Gambar di hlm. 522]

      Siswa-siswa dari kelas pertama Sekolah Gilead

      [Gambar di hlm. 524]

      Albert Schroeder membahas ciri-ciri tabernakel bersama siswa-siswa Gilead

      [Gambar di hlm. 525]

      Maxwell Friend sedang memberi kuliah di amfiteater Sekolah Gilead

      [Gambar di hlm. 526]

      Hari-hari wisuda Gilead merupakan acara rohani yang penting

      . . . beberapa di kebaktian-kebaktian besar (New York, 1950)

      . . . beberapa di kampus sekolah; (tempat N. H. Knorr terlihat sedang berbicara di depan perpustakaan sekolah, pada tahun 1956)

      [Gambar di hlm. 527]

      Kampus Sekolah Gilead di South Lansing, New York, seperti yang tampak selama tahun 1950-an

      [Gambar di hlm. 528]

      Hermon Woodard (kiri) dan John Errichetti (kanan) melayani di Alaska

      [Gambar di hlm. 529]

      John Cutforth menggunakan bantuan visual untuk mengajar di Papua Nugini

      [Gambar di hlm. 530]

      Para utusan injil di Irlandia, bersama pengawas distrik, tahun 1950

      [Gambar di hlm. 530]

      Para lulusan ke penugasan utusan injil di Negeri-Negeri Timur tahun 1947

      [Gambar di hlm. 530]

      Beberapa utusan injil dan rekan sekerja di Jepang tahun 1969

      [Gambar di hlm. 530]

      Para utusan injil di Brasil tahun 1956

      . . . di Uruguay tahun 1954

      . . . di Italia tahun 1950

      [Gambar di hlm. 530]

      Empat utusan injil keluaran Sekolah Gilead yang pertama diutus ke Jamaika

      [Gambar di hlm. 530]

      Rumah utusan injil yang pertama di Salisbury (kini Harare, Zimbabwe), tahun 1950

      [Gambar di hlm. 530]

      Malcolm Vigo (Gilead, 1956-57) dengan istrinya Linda Louise; mereka telah melayani bersama-sama di Malawi, Kenya, dan Nigeria

      [Gambar di hlm. 530]

      Robert Tracy (kiri) dan Jesse Cantwell (kanan) bersama istri mereka​—utusan-utusan injil dalam pekerjaan keliling di Kolombia tahun 1960

      [Gambar di hlm. 532]

      Kelas bahasa di rumah utusan injil di Pantai Gading

      [Gambar di hlm. 535]

      Ted dan Doris Klein menemukan banyak orang yang senang mendengar kebenaran Alkitab di Kepulauan Virgin AS pada tahun 1947

      [Gambar di hlm. 536]

      Harvey Logan (depan tengah) dengan Saksi-Saksi suku Amis di depan Balai Kerajaan, tahun 1960-an

      [Gambar di hlm. 540]

      Victor White, pengawas distrik keluaran Sekolah Gilead, sedang berbicara di Filipina, tahun 1949

      [Gambar di hlm. 542]

      Margarita Königer, di Burkina Faso, sedang memimpin suatu pengajaran Alkitab di rumah

      [Gambar di hlm. 543]

      Unn Raunholm, utusan injil sejak tahun 1958, harus menghadapi gerombolan yang dipimpin oleh imam di Ekuador

      [Gambar di hlm. 545]

      Sekolah Pelatihan Pelayanan

      Kelas pertama, Coraopolis, Pa., AS, tahun 1987 (atas)

      Kelas ketiga di Inggris, Manchester, tahun 1991 (kanan)

  • Dengan Keperkasaan Manusia? atau dengan Roh Allah?
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 24

      Dengan Keperkasaan Manusia? atau dengan Roh Allah?

      TUGAS yang Yesus Kristus berikan kepada pengikut-pengikutnya merupakan salah satu dari antara hal-hal yang kelihatannya mempunyai perbandingan yang tidak masuk akal. Meskipun jumlah mereka hanya sedikit, mereka harus mengumumkan kabar baik tentang Kerajaan Allah di seluruh bumi yang berpenduduk. (Mat. 24:14; Kis. 1:8) Tugas tersebut bukan saja sangat besar melainkan juga harus dilakukan meskipun menghadapi rintangan-rintangan yang tampaknya sangat banyak karena, sebagaimana Yesus dengan terus terang memberi tahu murid-muridnya, mereka akan dibenci dan dianiaya di segala bangsa.—Mat. 24:9; Yoh. 15:19, 20.

      Dalam menghadapi perlawanan global, Saksi-Saksi Yehuwa dengan bergairah telah mengerahkan diri untuk melaksanakan pekerjaan yang Yesus nubuatkan. Luasnya kesaksian yang telah diberikan merupakan fakta yang tercatat, dan benar-benar menakjubkan. Namun apa yang telah membuatnya mungkin? Apakah karena keperkasaan atau kecerdikan manusia? Atau apakah karena bekerjanya roh Allah?

      Catatan Alkitab mengenai pemulihan ibadat sejati di Yerusalem pada abad keenam SM mengingatkan kita bahwa peranan Allah dalam melaksanakan kehendak-Nya jangan pernah diabaikan. Para komentator duniawi mungkin saja mencari suatu penjelasan lain tentang apa yang terjadi. Akan tetapi, ketika menjelaskan bagaimana maksud-tujuan-Nya akan dilaksanakan, Allah membuat nabi-Nya Zakharia menyatakan, ”’Bukan dengan kekuatan dan bukan dengan keperkasaan, melainkan dengan rohKu,’ firman Yehuwa yang berbala tentara.” (Za. 4:6, NW) Saksi-Saksi Yehuwa tidak ragu-ragu untuk mengatakan bahwa inilah cara pengabaran berita Kerajaan dilaksanakan dewasa ini—bukan dengan mengandalkan kekuatan militer, bukan karena kekuatan pribadi atau pengaruh suatu kelompok orang yang terkemuka, melainkan sebagai akibat bekerjanya roh Yehuwa. Apakah bukti mendukung keyakinan mereka?

      ”Menurut Ukuran Manusia Tidak Banyak Orang yang Bijak”

      Ketika menulis kepada orang-orang Kristen masa awal di Yunani, rasul Paulus mengakui, ”Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.”—1 Kor. 1:26-29.

      Rasul-rasul Yesus sendiri berasal dari kalangan pekerja. Empat orang berprofesi nelayan. Yang seorang bekas pemungut cukai, suatu profesi yang dipandang hina oleh orang-orang Yahudi. Para rasul ini adalah orang-orang yang dipandang sebagai ”orang biasa yang tidak terpelajar” oleh para pemimpin agama Yahudi, yang memberikan indikasi bahwa pendidikan mereka bukanlah dari sekolah berpendidikan tinggi. (Kis. 4:13) Ini tidak berarti bahwa dari kalangan orang yang lebih berpendidikan secara duniawi atau agama tidak ada yang menjadi Kristen. Rasul Paulus telah mengenyam pendidikan di bawah bimbingan Gamaliel yang terpelajar, seorang anggota Sanhedrin Yahudi. (Kis. 22:3) Namun, seperti dinyatakan ayat tersebut, ”tidak banyak” orang demikian.

      Sejarah membuktikan bahwa Celsus seorang filsuf Roma dari abad kedua M, membuat hal itu menjadi cemoohan dengan mengatakan bahwa ”para buruh, tukang sepatu, petani, orang-orang yang paling tidak berpendidikan dan orang udik, harus menjadi pengabar Injil yang bergairah.” (The History of the Christian Religion and Church, During the Three First Centuries oleh Augustus Neander) Dalam menghadapi penghinaan dan penganiayaan keji yang ditimpakan secara bertubi-tubi atas mereka di Kekaisaran Romawi, apa yang menguatkan umat Kristen sejati agar terus menjadi pemberita kabar baik? Yesus telah mengatakan bahwa itu adalah roh kudus Allah.—Kis. 1:8.

      Pada masa-masa belakangan, Saksi-Saksi Yehuwa juga dicela karena sebagian besar di antara mereka adalah orang biasa, bukan orang terpandang di dunia. Di antara hamba-hamba Yehuwa zaman modern yang pertama-tama memperkenalkan berita Kerajaan kepada orang-orang di Denmark terdapat seorang tukang sepatu. Di Swiss dan Prancis, seorang tukang kebun. Di banyak tempat di Afrika, berita ini disampaikan oleh pekerja-pekerja yang berpindah-pindah tempat. Di Brasil, pelaut-pelaut ikut berperan. Cukup banyak Saksi-Saksi berbangsa Polandia di Prancis bagian utara adalah pekerja tambang batubara.

      Karena sangat tergerak oleh apa yang mereka pelajari dari Firman Allah dengan bantuan publikasi Menara Pengawal, mereka ingin memperlihatkan kasih mereka akan Yehuwa dengan menaati-Nya, maka mereka melaksanakan pekerjaan yang menurut Firman Allah harus dilakukan oleh umat Kristen sejati. Sejak itu, berjuta-juta orang lagi dari segala lapisan masyarakat telah ikut serta dalam pekerjaan ini. Mereka semua adalah penginjil.

      Saksi-Saksi Yehuwa menjadi satu-satunya organisasi agama di dunia yang setiap anggotanya secara pribadi memberi kesaksian kepada orang-orang yang belum percaya, berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dari Alkitab, dan mendesak mereka untuk menaruh iman kepada Firman Allah. Organisasi-organisasi agama lain mengakui bahwa inilah yang harus dilakukan oleh semua orang Kristen. Beberapa telah berupaya menganjurkan anggota-anggota gereja mereka untuk melakukannya. Namun hanya Saksi-Saksi Yehuwa yang secara konsisten melakukannya. Pengarahan siapa, nasihat siapa, jaminan akan dukungan pengasih siapa, dan janji-janji siapa yang memotivasi mereka untuk melakukan pekerjaan yang dihindari oleh banyak orang ini? Silakan menanyakannya sendiri kepada mereka. Tidak soal di tengah bangsa mana pun mereka tinggal, mereka akan menjawab, ”Yehuwa.” Maka, siapakah yang layak dipuji?

      Peranan yang Dinubuatkan Bagi Malaikat-Malaikat Allah

      Ketika melukiskan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi selama penutup sistem segala perkara ini, Yesus menunjukkan bahwa bukan hanya para pengikutnya di bumi yang ikut ambil bagian dalam pengumpulan para pencinta keadilbenaran. Di Matius 24:31, ia berkata bahwa ia akan ”menyuruh keluar malaikat-malaikatNya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya” untuk mengumpulkan ”orang-orang pilihanNya”, yakni anggota-anggota terakhir dari 144.000, yang akan ikut bersama Kristus dalam Kerajaan surgawi. Mereka ini akan dikumpulkan ”dari keempat penjuru bumi”, dari segala bagian di bumi. (Bandingkan Lukas 12:32; 2 Timotius 2:10; Wahyu 14:1-4.) Apakah hal ini benar-benar telah terjadi?

      Memang demikian! Meskipun Siswa-Siswa Alkitab hanya berjumlah beberapa ribu orang seraya dunia memasuki hari-hari terakhirnya pada tahun 1914, berita Kerajaan yang mereka kabarkan dengan cepat mengelilingi bola bumi. Di Negeri-Negeri Timur, Eropa, Afrika, dan benua Amerika, maupun di pulau-pulau, masing-masing orang meraih kesempatan untuk melayani kepentingan-kepentingan Kerajaan Allah dan dikumpulkan ke dalam satu organisasi yang terpadu.

      Di Australia Barat misalnya, berita Kerajaan mencapai Bert Horton. Agama sepanjang pengetahuannya tidak menarik baginya; ia telah terlibat dalam politik dan kegiatan serikat buruh. Namun ketika ibunya memberi kepadanya publikasi Menara Pengawal, The Divine Plan of the Ages dan ia mulai membacanya bersama Alkitab, ia menyadari bahwa ia telah menemukan kebenaran. Secara spontan ia menceritakannya kepada teman-teman sekerjanya. Sewaktu ia dapat menemukan tempat Siswa-Siswa Alkitab, dengan senang hati ia bergabung bersama mereka, dibaptis pada tahun 1922, terjun dalam pelayanan sepenuh waktu, dan merelakan diri untuk melayani ke daerah mana pun organisasi Yehuwa mengarahkannya.

      Di belahan bumi yang lain, W. R. Brown, yang sudah mengabar di Kepulauan Karibia, berangkat ke Afrika pada tahun 1923 untuk menyebarkan berita Kerajaan di sana. Ia bukan seorang penginjil yang independen yang sedang melancarkan suatu misi pribadi tertentu. Ia juga bekerja bersama umat Yehuwa yang terorganisasi. Ia telah menawarkan diri untuk melayani di tempat yang membutuhkannya, dan ia menerima penugasan di Afrika Barat sebagai sambutan atas pengarahan dari kantor pusat. Mereka yang mendapat manfaat pribadi dari pelayanannya juga dibantu untuk menghargai pentingnya bekerja erat bersama organisasi Yehuwa.

      Pemberitaan Kerajaan juga mencapai Amerika Selatan. Hermán Seegelken di Mendoza, Argentina, sudah lama mengamati kemunafikan dalam gereja Katolik maupun Protestan. Namun pada tahun 1929, ia juga mendengar berita Kerajaan, dengan gairah menerimanya, dan mulai membagikannya kepada orang lain, bersatu padu dengan hamba-hamba Yehuwa di seluruh dunia. Pengalaman-pengalaman serupa terjadi di sekitar bola bumi. Orang-orang ”dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa”, walaupun tersebar secara geografis dan menempuh berbagai cara hidup, tidak hanya mendengarkan melainkan menawarkan diri mereka dalam dinas Allah. Mereka dikumpulkan ke dalam suatu organisasi yang bersatu padu melakukan pekerjaan yang telah dinubuatkan oleh Yesus untuk zaman ini. (Why. 5:​9, 10) Apa yang menyebabkan hal ini?

      Alkitab berkata bahwa para malaikat Allah akan memainkan peranan yang sangat penting di dalamnya. Oleh karenanya, pengumuman tentang Kerajaan akan menggema di seputar bola bumi bagaikan suara sangkakala dari sumber adimanusiawi. Sesungguhnya, menjelang tahun 1935, itu telah menembus 149 negeri​—ke utara, selatan, timur, dan barat, dari satu penjuru bumi ke penjuru lainnya.

      Mula-mula, hanya suatu ”kawanan kecil” yang menunjukkan penghargaan yang tulus akan Kerajaan Allah dan rela melayani kepentingan-kepentingannya. Itulah yang telah dinubuatkan oleh Alkitab. Kini suatu ”kumpulan besar” yang secara cepat berkembang, berjumlah jutaan orang dari segala bangsa, telah mulai bergabung dengan mereka. Hal itu pun telah dinubuatkan dalam Firman Allah. (Luk. 12:32; Yoh. 10:16; Why. 7:​9, 10) Mereka bukan orang-orang yang sekadar menganut agama yang sama namun yang, dalam kenyataannya, terbagi-bagi di antara mereka sendiri akibat segala pandangan dan filsafat yang memecah-belah dunia di sekitar mereka. Saksi-Saksi Yehuwa tidak sekadar berbicara tentang Kerajaan Allah sementara sebenarnya menaruh kepercayaan kepada pemerintahan manusia. Bahkan dengan mempertaruhkan nyawa, mereka menaati Allah sebagai penguasa. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa pengumpulan orang-orang demikian yang ’takut akan Allah dan memuliakan Dia’ akan dilakukan di bawah bimbingan malaikat-malaikat. (Why. 14:​6, 7; Mat. 25:​31-46) Saksi-Saksi yakin sepenuhnya bahwa inilah yang sesungguhnya telah terjadi.

      Sering sekali terjadi, seraya mereka melakukan pelayanan, mereka melihat bukti yang meyakinkan akan adanya bimbingan surgawi. Misalnya, di Rio de Janeiro, Brasil, sekelompok Saksi sedang menyelesaikan kunjungan mereka dari rumah ke rumah pada suatu hari Minggu ketika salah seorang dalam kelompok itu berkata, ”Saya ingin terus bekerja sebentar lagi. Entah apa yang membuat saya ingin pergi ke rumah itu.” Saudara yang memimpin kelompok itu menyarankan agar ia melakukannya lain kali saja, tetapi penyiar itu tetap juga pergi ke sana. Di rumah tersebut Saksi itu mendapati seorang wanita dengan air mata berlinang mengatakan bahwa ia baru saja berdoa meminta bantuan. Sebelumnya ia pernah dihubungi oleh Saksi-Saksi namun tidak menunjukkan minat kepada berita Alkitab. Akan tetapi, kematian suaminya yang mendadak telah membuatnya sadar bahwa ia membutuhkan bantuan rohani. Ia telah mencari Balai Kerajaan, tetapi sia-sia. Dengan sungguh-sungguh ia telah berdoa kepada Allah meminta bantuan, dan sekarang bantuan itu ada di depan pintunya. Tidak lama sesudah itu ia dibaptis. Ia yakin bahwa Allah telah mendengar doanya dan telah mengambil tindakan yang perlu sebagai jawaban.​—Mzm. 65:3.

      Seorang saudari Saksi Yehuwa berbangsa Jerman yang dahulu tinggal di New York membiasakan diri untuk berdoa kepada Allah memohon bimbingan-Nya seraya ia melakukan pelayanan. Ada seorang wanita yang berminat yang telah ia cari selama berminggu-minggu di suatu jalan karena ia tidak tahu tempat tinggal wanita ini. Lalu, pada suatu hari pada tahun 1987, seraya Saksi itu memulai pelayanannya, ia berdoa, ”Yehuwa, engkau tahu tempat ia berada. Tolong bantulah saya menemukannya.” Beberapa menit kemudian, ia melihat wanita itu duduk di sebuah restoran.

      Apakah ini hanya suatu kebetulan? Alkitab berkata bahwa orang-orang Kristen sejati adalah ”kawan sekerja Allah” dan bahwa malaikat-malaikat diutus ”untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan”. (1 Kor. 3:9; Ibr. 1:14) Setelah Saksi itu menceritakan kepada wanita tersebut bagaimana ia dapat menemukannya, ia menerima undangan untuk duduk dan menyelidiki Alkitab lebih lanjut pada hari itu juga.

      Menjangkau ’Daerah yang Sulit Dicapai’ Dengan Kabar Baik

      Saksi-Saksi Yehuwa tekun dalam upaya mereka mencapai semua negeri dengan berita Kerajaan. Namun ini tidak sepenuhnya menjelaskan apa yang telah dilaksanakan. Mereka telah melihat berita Kerajaan menyebar ke daerah-daerah yang sebelumnya telah menolak segala upaya yang telah mereka rencanakan dengan cermat.

      Misalnya, lebih dari satu kali selama tahun 1920-an dan 1930-an, imbauan-imbauan yang sungguh-sungguh telah diajukan kepada pejabat-pejabat pemerintah di negara yang dahulunya adalah Uni Soviet untuk memperoleh izin mengirim lektur Alkitab ke negeri tersebut atau mencetaknya di sana. Jawabannya pada waktu itu negatif. Ada beberapa Saksi-Saksi Yehuwa di Uni Soviet, tetapi lebih banyak bantuan dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan pengabaran yang menurut Firman Allah harus dilakukan. Apakah ada yang dapat dilakukan untuk memberikan bantuan tersebut?

      Menarik sekali, pada akhir Perang Dunia II, bersama dengan banyak orang lain, lebih dari seribu Saksi-Saksi Yehuwa di wilayah yang dahulunya adalah Polandia bagian timur ternyata berada dalam wilayah Uni Soviet. Di kamp konsentrasi Ravensbrück, ratusan wanita muda berbangsa Rusia kemudian berkenalan dengan sesama tahanan yang adalah Saksi-Saksi Yehuwa. Beberapa wanita ini membaktikan diri kepada Yehuwa selama waktu tersebut, dan belakangan mereka dikembalikan ke berbagai tempat di Uni Soviet. Ratusan lainnya juga ternyata menjadi penduduk Uni Soviet karena batas-batas nasional berubah selama perang. Hasilnya tidak seperti yang dibayangkan oleh pemerintah Soviet. Badan Pimpinan dari Saksi-Saksi Yehuwa tidak mengaturnya. Namun hal ini memang mendukung terlaksananya sesuatu yang telah dinubuatkan oleh Firman Allah yang terilham. Ketika memberi komentar tentang perkembangan ini, The Watchtower berkata, ”Demikianlah dapat terlihat bagaimana, sesuai dengan pemeliharaan Tuhan, Ia dapat membangkitkan saksi-saksi di negeri mana pun, untuk menjunjung tinggi panji-panji kebenaran dan mengumumkan nama Yehuwa.”​—Terbitan 1 Februari 1946.

      Bukan satu negeri saja yang pernah mengatakan kepada Saksi-Saksi Yehuwa, ’Kalian tidak dapat masuk ke sini!’ atau, ’Kalian tidak boleh mengabar di sini’. Hal itu telah terjadi berulang kali di seluruh bumi, benar-benar di puluhan negeri, sering kali sebagai akibat dari tekanan para pemimpin agama kepada pejabat-pejabat pemerintah. Beberapa dari negeri-negeri ini belakangan memberikan status resmi kepada Saksi-Saksi Yehuwa. Namun bahkan sebelum hal itu terjadi, ibadat kepada Yehuwa, Pencipta surga dan bumi, telah dianut oleh ribuan orang di negeri-negeri itu. Bagaimana hal itu terlaksana?

      Penjelasan yang sederhana sekali terdapat dalam Alkitab, yaitu, bahwa malaikat-malaikat Allah memainkan peranan penting dalam menyampaikan kepada orang-orang dari setiap bangsa imbauan yang mendesak, ”Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakimanNya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.”—Why. 14:6, 7.

      Sukses Dalam Menghadapi Banyak Sekali Rintangan

      Hal yang dihadapi oleh Saksi-Saksi Yehuwa di beberapa negeri bukanlah sekadar larangan yang dikenakan atas pelayanan umum mereka melainkan upaya-upaya untuk menghabisi mereka sama sekali.

      Selama Perang Dunia I, suatu upaya terpadu dikerahkan oleh para pemimpin agama di Amerika Serikat dan Kanada untuk menghentikan pekerjaan Siswa-Siswa Alkitab, sebagaimana Saksi-Saksi Yehuwa dikenal pada waktu itu. Ini merupakan fakta yang diketahui oleh umum. Meskipun adanya jaminan hukum tentang kebebasan berbicara dan beragama, para pemimpin agama menekan pejabat-pejabat pemerintah agar melarang lektur Siswa-Siswa Alkitab. Banyak yang ditangkap dan ditahan tanpa uang jaminan; yang lainnya dipukuli dengan kejam. Para pejabat Lembaga Menara Pengawal dan rekan-rekan dekat mereka dijatuhi hukuman penjara yang panjang dalam proses pengadilan yang belakangan ternyata tidak sah. Ray Abrams dalam bukunya Preachers Present Arms mengatakan, ”Suatu analisis dari seluruh kasus menghasilkan kesimpulan bahwa gereja-gereja dan para pemimpin agama sejak semula berada di belakang gerakan untuk membasmi Russellites (para pengikut Russell),” yakni julukan hina yang diberikan oleh para pemimpin agama kepada Siswa-Siswa Alkitab. Namun seusai perang, Siswa-Siswa Alkitab tersebut dipenuhi dengan kekuatan yang lebih besar daripada sebelumnya untuk mengumumkan Raja dari Yehuwa, yakni Yesus Kristus, dan Kerajaannya. Dari mana datangnya kekuatan yang diperbarui tersebut? Alkitab telah menubuatkan kejadian demikian dan telah berkata bahwa hal itu akan terjadi sebagai hasil dari ”roh kehidupan dari Allah”.—Why. 11:7-11.

      Sesudah kaum Nazi mulai berkuasa di Jerman, penganiayaan terhadap Saksi-Saksi Yehuwa menghebat di negeri-negeri yang jatuh di bawah pengawasan Nazi. Terjadi penangkapan-penangkapan dan perlakuan yang bengis. Pelarangan-pelarangan dikenakan. Akhirnya, pada bulan Oktober 1934, sidang-sidang Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh Jerman mengirim surat-surat tercatat kepada pemerintah yang dengan jelas menyatakan bahwa mereka tidak mempunyai maksud-maksud politik melainkan bahwa mereka bertekad menaati Allah sebagai penguasa. Pada waktu yang sama, sidang-sidang Saksi-Saksi di seluruh dunia mengirimkan telegram sebagai dukungan kepada semua saudara Kristen mereka di Jerman.

      Pada hari itu juga, tanggal 7 Oktober 1934, di kantor Dr. Wilhelm Frick, di Berlin, Adolf Hitler sambil mengacungkan kepalan tangannya menyatakan mengenai Saksi-Saksi Yehuwa, ”Kelompok ini akan dilenyapkan dari Jerman!” Ini bukan ancaman kosong. Di mana-mana dilakukan penangkapan. Menurut sebuah pemberitahuan rahasia dari Polisi Rahasia Negara di Prusia tanggal 24 Juni 1936, suatu ”Komando Gestapo khusus” dibentuk untuk berperang melawan Saksi-Saksi. Sesudah persiapan yang ekstensif, Gestapo melancarkan kampanye mereka untuk menangkap semua Saksi-Saksi Yehuwa dan setiap orang yang dicurigai sebagai Saksi. Selama serangan tersebut seluruh jaringan polisi dilibatkan, sehingga orang-orang yang melakukan kejahatan tidak ditindak.

      Laporan-laporan menunjukkan bahwa akhirnya sekitar 6.262 Saksi berbangsa Jerman ditangkap. Karl Wittig, seorang mantan pejabat pemerintah Jerman yang juga ditawan di beberapa kamp konsentrasi, belakangan menulis, ”Tidak ada kelompok tawanan lain . . . yang menjadi sasaran sadisme para serdadu SS secara begitu rupa seperti halnya Siswa-Siswa Alkitab. Sadisme itu ditandai oleh serentetan penyiksaan fisik dan mental tanpa akhir, yang padanannya tidak dapat dilukiskan dengan istilah bahasa mana pun di dunia.”

      Apa hasilnya? Dalam sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 1982, Christine King menyimpulkan, ”Hanya terhadap Saksi-Saksi [sebagai kontras dengan kelompok-kelompok agama lainnya] pemerintah tidak berhasil.” Hitler telah bersumpah untuk melenyapkan mereka, dan ratusan telah dibunuh. Meskipun demikian, Dr. King menyatakan, ”Pekerjaan [pengabaran tentang Kerajaan Allah] berlangsung terus dan pada bulan Mei 1945 gerakan Saksi-Saksi Yehuwa masih tetap hidup, sedangkan Sosialisme Nasional tidak.” Ia juga mengemukakan, ”Tidak ada kompromi yang dilakukan.” (The Nazi State and the New Religion: Five Case Studies in Non-Conformity) Mengapa Hitler, dengan bala tentaranya yang dipersenjatai lengkap, dengan polisi yang terlatih baik, dan banyak kamp pemusnahan, tidak berhasil melaksanakan ancamannya untuk membinasakan kelompok yang relatif kecil dan tidak bersenjata yang dianggap dunia sebagai orang-orang biasa? Mengapa bangsa-bangsa lain tidak berhasil menghentikan kegiatan mereka? Apa sebabnya, tidak hanya beberapa pribadi secara perorangan, tetapi Saksi-Saksi Yehuwa secara keseluruhan dapat tetap teguh meskipun menghadapi penganiayaan yang bengis?

      Jawabannya terdapat dalam suatu nasihat bijaksana yang diberikan oleh Gamaliel, seorang guru Taurat, kepada rekan-rekan anggota Sanhedrin Yahudi ketika mereka berurusan dengan kasus serupa berkenaan rasul-rasul Yesus Kristus. Ia berkata, ”Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Allah.”—Kis. 5:​38,39.

      Demikianlah fakta-fakta sejarah menunjukkan bahwa tugas yang kelihatannya tidak masuk akal yang diberikan oleh Yesus kepada para pengikutnya untuk dilaksanakan di bawah rintangan-rintangan yang tampaknya sangat banyak, sedang dilaksanakan bukan dengan keperkasaan manusia melainkan dengan roh Allah. Sebagaimana Yesus sendiri katakan dalam doa kepada Allah, ”Ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagiMu.”—Mrk. 14:36.

      [Blurb di hlm. 547]

      ”’Dengan rohKu,’ firman Yehuwa yang berbala tentara”

      [Blurb di hlm. 548]

      Apa yang menguatkan mereka untuk terus mengabar meskipun ada ejekan dan penganiayaan keji?

      [Blurb di hlm. 549]

      Bukti adanya bimbingan malaikat

      [Blurb di hlm. 551]

      ’Tuhan dapat membangkitkan saksi-saksi di negeri mana pun’

      [Blurb di hlm. 553]

      Suatu umat terpadu yang terbukti teguh dalam iman di bawah rintangan-rintangan yang tampaknya sangat banyak

  • Mengabar kepada Umum dan dari Rumah ke Rumah
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 25

      Mengabar kepada Umum dan dari Rumah ke Rumah

      KETIKA Yesus Kristus mengutus murid-muridnya, ia menginstruksikan mereka, ”Pergilah dan beritakanlah: ’Kerajaan Sorga sudah dekat.’” (Mat. 10:7) Dan dalam perintah yang mengandung nubuat kepada umat Kristen sejati yang akan hidup selama akhir sistem perkara ini, ia berkata, ”Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia [yang berpenduduk, NW] menjadi kesaksian.” (Mat. 24:14) Apa artinya itu?

      Itu tidak berarti bahwa mereka harus membangun gereja, membunyikan genta, dan menunggu berkumpulnya jemaat untuk mendengar khotbah yang mereka sampaikan satu kali seminggu. Kata kerja Yunani yang diterjemahkan ’beritakan’ (ke·rysʹso) di sini pada dasarnya berarti, ”memproklamasikan sebagai suatu pengumuman yang diserukan”. Gagasannya bukanlah menyampaikan khotbah kepada murid-murid dalam suatu kelompok yang terbatas, melainkan lebih tepat, membuat pernyataan umum dan terbuka.

      Yesus sendiri memberi teladan mengenai caranya hal itu dilakukan. Ia pergi ke tempat-tempat orang dapat dijumpai. Pada abad pertama, orang-orang secara tetap tentu berkumpul di sinagoge-sinagoge untuk mendengar pembacaan Kitab Suci. Yesus menggunakan kesempatan-kesempatan yang ada untuk mengabar kepada mereka di sana, bukan hanya di satu kota melainkan di kota-kota dan desa-desa di seluruh Galilea dan Yudea. (Mat. 4:23; Luk. 4:43, 44; Yoh. 18:20) Bahkan lebih sering, seperti diperlihatkan oleh catatan Injil, ia mengabar di pantai, di lereng gunung, di jalan, di desa, dan di rumah orang-orang yang menyambut dia. Di mana pun ia menjumpai orang, ia berbicara tentang maksud-tujuan Allah bagi umat manusia. (Luk. 5:3; 6:17-49; 7:36-50; 9:11, 57-62; 10:38-42; Yoh. 4:4-26, 39-42) Dan ketika ia mengutus murid-muridnya, ia menginstruksikan mereka untuk pergi ke rumah orang-orang untuk mencari mereka yang layak dan memberi kesaksian kepada mereka tentang Kerajaan Allah.​—Mat. 10:7, 11-13.

      Saksi-Saksi Yehuwa zaman modern telah berupaya mengikuti pola yang ditetapkan oleh Yesus dan murid-muridnya pada abad pertama.

      Menyerukan Berita Kehadiran Kristus

      Seraya Charles Taze Russell dan rekan-rekannya mulai memahami pola yang selaras dari kebenaran sebagaimana dibentangkan dalam Firman Allah, mereka sangat tergugah oleh apa yang mereka pelajari tentang tujuan dan cara kembalinya Kristus. Saudara Russell merasakan kebutuhan untuk memberitahukannya dan juga perasaan mendesak untuk melakukannya. Ia mengatur segala urusannya agar dapat melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang ia dapat berbicara kepada orang-orang tentang kebenaran-kebenaran Alkitab ini. Ia menghadiri pertemuan-pertemuan kelompok agama dan menggunakan kesempatan yang ada untuk berbicara kepada mereka, sebagaimana Yesus mengabar dalam sinagoge-sinagoge. Namun ia segera menyadari bahwa lebih banyak yang dapat dicapai dengan cara-cara lain. Dari penyelidikannya tentang Alkitab, ia mendapati bahwa Yesus dan para rasulnya melakukan sebagian besar pengabarannya dengan berbicara secara pribadi kepada orang-orang dan ketika mereka berkunjung dari rumah ke rumah. Ia juga menyadari nilai dari menyambung percakapan dengan memberikan sesuatu dalam bentuk tercetak kepada orang-orang.

      Sudah sejak tahun 1877 ia sudah menerbitkan buku kecil The Object and Manner of Our Lord’s Return (Tujuan dan Cara Kembalinya Tuhan Kita). Dua tahun kemudian ia mulai menerbitkan secara tetap tentu majalah Zion’s Watch Tower and Herald of Christ’s Presence. Ya, tujuannya adalah untuk mengabarkan, atau menyerukan, berita yang sangat penting mengenai kehadiran Kristus.

      Sudah sejak tahun 1881, lektur dari Siswa-Siswa Alkitab dibagikan secara cuma-cuma di dekat gereja-gereja​—bukan tepat di depan pintu gereja melainkan di dekatnya sehingga orang-orang yang cenderung kepada agama dapat menerimanya. Banyak Siswa-Siswa Alkitab memberikan lektur demikian kepada kenalan-kenalannya atau mengirimnya melalui pos. Menjelang tahun 1903, Watch Tower menganjurkan agar mereka berupaya mencapai setiap orang dengan menyebarkan risalah dari rumah ke rumah, sebaliknya daripada memusatkan perhatian kepada para pengunjung gereja. Tidak semua Siswa-Siswa Alkitab melakukan hal ini, tetapi banyak yang menyambutnya dengan penuh gairah. Sebagai contoh, dilaporkan bahwa di sejumlah kota besar di Amerika Serikat, maupun di daerah pinggiran kota-kota tersebut sejauh 16 kilometer atau lebih ke segala jurusan, hampir setiap rumah telah dikunjungi. Berjuta-juta risalah, atau buku kecil, dibagikan dengan cara ini. Pada waktu itu sebagian besar Siswa-Siswa Alkitab yang ambil bagian dalam menyebarluaskan kabar baik melakukannya dengan corak tertentu yaitu penyebaran risalah dan lektur lain secara cuma-cuma.

      Orang-orang lain di antara Siswa-Siswa Alkitab—yang jumlahnya lebih terbatas​—melayani sebagai penginjil kolportir, dengan menggunakan cukup banyak waktu secara eksklusif untuk pekerjaan ini.

      Kolportir-Kolportir yang Bergairah Mengambil Pimpinan

      Undangan pertama bagi pria dan wanita yang berbakti yang dapat menggunakan cukup banyak waktu mereka dalam dinas ini disodorkan pada bulan April 1881. Mereka menawarkan kepada para penghuni rumah dan pengusaha sebuah buku kecil yang menerangkan kebenaran-kebenaran Alkitab dan menawarkan agar mereka berlangganan majalah Watch Tower. Tujuan mereka adalah mencari orang-orang yang lapar akan kebenaran dan membagi pencerahan kepada mereka. Selama beberapa waktu mereka mencoba berbicara secukupnya sekadar merangsang minat, meninggalkan satu paket berisi lektur agar penghuni rumah dapat menyelidikinya, dan kemudian kembali sesudah beberapa hari. Beberapa penghuni rumah mengembalikan lektur itu; yang lain mungkin ingin membelinya; sering kali ada kesempatan untuk bercakap-cakap. Mengenai tujuannya, Watch Tower menyatakan, ”Ini bukan masalah penjualan paket, ataupun mendapatkan langganan, melainkan masalah penyebaran kebenaran, dengan cara menggerakkan orang untuk membaca.”

      Jumlah mereka yang ambil bagian dalam penginjilan kolportir ini relatif sedikit. Selama 30 tahun pertama, barisan mereka berkisar antara beberapa orang hingga sekitar 600 orang. Para kolportir ini adalah perintis dalam arti kata yang sebenarnya, membuka daerah baru. Anna Andersen, salah seorang yang bertekun dalam dinas ini selama puluhan tahun, biasanya bepergian dengan mengendarai sepeda, dan ia sendiri telah mencapai hampir setiap kota di Norwegia dengan kabar baik. Kolportir-kolportir lain mengadakan perjalanan ke luar negeri dan merekalah orang-orang pertama yang membawa berita ini ke negeri-negeri seperti Finlandia, Barbados, El Salvador, Guatemala, Honduras, dan Birma (kini Myanmar). Ada juga beberapa yang tidak bebas untuk pindah ke daerah lain tetapi yang melayani sebagai penginjil kolportir di daerah kediaman mereka.

      Pekerjaan yang dilakukan oleh para kolportir ini luar biasa. Salah seorang yang melayani di pantai barat Amerika Serikat menulis pada tahun 1898 bahwa selama 33 bulan, ia telah menempuh 12.800 kilometer dengan kuda dan keretanya, memberi kesaksian di 72 kota, mengadakan 18.000 kunjungan, menempatkan 4.500 buku, mendapat 125 langganan, membagikan 40.000 risalah dengan cuma-cuma, dan mengatur agar 40 orang yang berminat ini bukan hanya menerima berita itu melainkan juga mulai membagikannya kepada orang lain. Sebuah tim yang terdiri dari sepasang suami-isteri yang melayani di Australia berhasil menempatkan 20.000 buku kepada orang-orang berminat selama jangka waktu hanya dua setengah tahun.

      Apakah penempatan dalam jumlah besar hanyalah perkecualian, bukan hal yang biasa? Nah, laporan untuk tahun 1909 memperlihatkan bahwa kira-kira 625 kolportir (jumlah yang terdaftar pada waktu itu) menerima dari Lembaga 626.981 buku besar untuk ditempatkan kepada umum (rata-rata lebih dari seribu untuk setiap kolportir), selain sejumlah besar lektur gratis. Mereka sering tidak dapat membawa cukup banyak buku dari rumah ke rumah, maka mereka menerima pesanan lalu datang kembali untuk mengantarkannya.

      Meskipun demikian, beberapa orang menyanggah, ”Ini bukan mengabar!” Namun, sesungguhnya, sebagaimana dijelaskan oleh Saudara Russell, ini merupakan pengabaran dalam bentuk yang paling efektif. Sebaliknya daripada mendengarkan hanya satu khotbah, orang-orang menerima banyak khotbah dalam bentuk tercetak dan dengan demikian dapat menikmatinya berulang kali dan dapat memeriksa isinya dalam Alkitab mereka sendiri. Inilah penginjilan yang mempertimbangkan kenyataan bahwa pendidikan umum telah memperlengkapi orang-orang untuk membaca. Buku The New Creation mengemukakan, ”Fakta bahwa penginjil-penginjil ini bekerja menurut metode yang disesuaikan dengan zaman kita dan bukan menurut metode masa lalu, tidaklah bertentangan dengan pekerjaan ini, sama seperti fakta bahwa mereka mengadakan perjalanan dengan menggunakan tenaga uap dan listrik dan bukan dengan berjalan kaki atau naik unta. Penginjilan adalah dengan cara mempersembahkan Kebenaran . . . , Firman Allah.”

      Minat yang tulus dari Siswa-Siswa Alkitab untuk membantu orang-orang nyata dalam kecermatan yang pada akhirnya menjadi ciri khas pekerjaan pengabaran mereka. The Watch Tower tanggal 1 Maret 1917 menggariskan program itu sebagai berikut: Pertama-tama, para kolportir akan mengunjungi rumah-rumah di suatu daerah, dengan beberapa jilid Studies in the Scriptures. Kemudian, sebagai tindak lanjut atas nama-nama yang dicatat oleh para kolportir atau yang diperoleh pada waktu perhimpunan umum, ’para pekerja pastoral’a akan mengunjungi mereka. Mereka berupaya merangsang keinginan untuk membaca lektur, menganjurkan orang berminat untuk menghadiri khotbah-khotbah yang khusus diselenggarakan, dan berupaya menyelenggarakan kelas-kelas pengajaran Alkitab Berea. Bila mungkin, para kolportir akan mengerjakan daerah yang sama lagi, dan kemudian para pekerja pastoral akan melanjutkannya agar tetap berhubungan dengan orang-orang yang menunjukkan minat. Kemudian, golongan pekerja lain akan mengunjungi rumah-rumah yang sama dengan bahan bacaan sukarela, sebutan yang mereka berikan kepada risalah dan lektur cuma-cuma lainnya yang mereka tawarkan. Ini memungkinkan setiap orang setidaknya menerima sesuatu yang mungkin dapat merangsang keinginan untuk belajar lebih banyak tentang maksud-tujuan Allah.

      Bila hanya satu atau dua kolportir yang melayani di suatu daerah, dan tidak ada sidang, para kolportir sering melakukan sendiri pekerjaan tindak lanjut. Maka, ketika Herman Herkendell dan rekannya pergi ke Bielefeld, Jerman, sebagai kolportir pada tahun 1908, mereka khusus diinstruksikan untuk saling memperkenalkan orang-orang berminat di daerah itu seorang kepada yang lain dan untuk membentuk sebuah sidang. Beberapa tahun kemudian, The Watch Tower menyebut tentang beberapa kolportir lain yang memberikan perhatian pribadi kepada orang-orang berminat saat mereka meninggalkan sebuah kelas Siswa-Siswa Alkitab di setiap kota kecil atau kota besar tempat mereka layani.

      Bantuan yang berharga bagi pekerjaan ini disediakan pada tahun 1921 dalam buku The Harp of God. Buku yang khusus dirancang untuk kepentingan orang-orang baru itu, akhirnya tersebar sebanyak 5.819.037 eksemplar dalam 22 bahasa. Untuk membantu mereka yang memperoleh buku ini, Lembaga menyelenggarakan suatu kursus korespondensi tentang pengajaran Alkitab yang disusun menurut topik. Ini terdiri dari 12 daftar pertanyaan, yang dikirim dalam jangka waktu 12 pekan. Dengan menggunakan buku ini, penyelenggaraan juga dibuat untuk mengadakan kelompok diskusi Alkitab di rumah para peminat. Sejumlah Siswa-Siswa Alkitab biasanya menghadiri pengajaran demikian.

      Akan tetapi, Saksi-Saksi sangat menyadari bahwa ladang luas dan jumlah mereka sedikit.​—Luk. 10:2.

      Mencapai Banyak Orang Sedangkan Jumlah Pekerja Sedikit

      Watch Tower mengemukakan bahwa mereka yang benar-benar umat Kristen yang diurapi dengan roh mempunyai tanggung jawab yang diberikan Allah untuk mencari dan membantu orang-orang yang adalah orang Kristen yang tulus, tidak soal mereka pengunjung gereja atau bukan. (Yes. 61:1, 2) Bagaimana hal itu dapat dilakukan?

      Kedua Siswa-Siswa Alkitab (J. C. Sunderlin dan J. J. Bender) yang diutus ke Inggris pada tahun 1881 hanya dapat berbuat relatif sedikit bila mereka sendiri saja; tetapi dengan bantuan ratusan pemuda yang dibayar untuk jasa-jasa mereka, mereka berhasil menyebarkan 300.000 eksemplar Food for Thinking Christians dalam waktu yang singkat. Adolf Weber, yang kembali ke Swiss dengan membawa kabar baik pada pertengahan tahun 1890-an, mempunyai daerah pengabaran yang luas yang terbentang hingga ke beberapa negeri. Bagaimana ia dapat mengerjakan seluruhnya? Secara pribadi ia melakukan perjalanan yang jauh sebagai seorang kolportir, tetapi ia juga memasang iklan-iklan di surat kabar dan mengatur agar para penjual buku memasukkan publikasi-publikasi Menara Pengawal dalam barang dagangan mereka. Kelompok kecil Siswa-Siswa Alkitab di Jerman pada tahun 1907 mengatur dikirimkannya 4.850.000 risalah empat halaman bersama surat kabar melalui pos. Tidak lama setelah perang dunia pertama, seorang saudara dari Latvia yang adalah anggota staf kantor pusat Lembaga di New York memasang iklan di surat kabar yang terbit di negeri kelahirannya. Seorang pria yang menanggapi salah satu iklan itu menjadi Siswa Alkitab pertama di Latvia. Akan tetapi, penggunaan sarana publisitas demikian tidaklah menggantikan pekerjaan kesaksian secara pribadi dan pencarian orang-orang yang layak dari rumah ke rumah. Sebaliknya, hal ini digunakan untuk memperkuat pengumuman tersebut berkumandang.

      Akan tetapi, bukan iklan yang dipublikasikan dalam surat kabar. Selama tahun-tahun sebelum Perang Dunia I, di bawah pengawasan Saudara Russell, khotbah-khotbahnya dipublikasikan secara tetap tentu. Dalam waktu singkat, ini sampai kepada momentum yang luar biasa. Lebih dari 2.000 surat kabar, dengan jumlah keseluruhan 15.000.000 pembaca, menyajikan khotbah-khotbah ini secara serentak di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, dan Afrika Selatan. Dapatkah lebih banyak hal dilakukan? Saudara Russell beranggapan demikian.

      Sesudah dipersiapkan selama dua tahun, pertunjukan pertama ”Drama-Foto Penciptaan” diadakan pada bulan Januari 1914. ”Drama-Foto” itu dipersembahkan dalam empat bagian. Acara selama delapan jam itu mencakup gambar bergerak dan slide, dikoordinasi dengan rekaman suara. Itu benar-benar sebuah produksi luar biasa yang dirancang untuk membina penghargaan terhadap Alkitab dan maksud-tujuan Allah sebagaimana dibentangkan di dalamnya. Pertunjukan-pertunjukan diorganisasi agar 80 kota dapat dilayani setiap hari. Iklan dipasang lebih dahulu melalui surat-surat kabar, sejumlah besar selebaran yang ditempel di jendela dan penyebaran bahan-bahan tercetak secara cuma-cuma yang dirancang untuk mendorong minat akan ”Drama-Foto” tersebut. Di mana pun ini dipertunjukkan, orang berduyun-duyun datang menyaksikannya. Dalam waktu setahun jumlah penonton ”Drama-Foto” itu telah mencapai 8.000.000 orang lebih di Amerika Serikat dan Kanada, dan setelah itu hadirin dalam jumlah besar dilaporkan dari Inggris dan benua Eropa maupun Australia dan Selandia Baru. ”Drama-Foto” diikuti oleh versi yang agak lebih pendek (tanpa gambar bergerak) untuk digunakan di kota-kota yang lebih kecil dan daerah pedesaan. Dalam berbagai bahasa Drama itu digunakan terus selama sedikitnya dua dasawarsa. Minat banyak orang dibangkitkan, nama dari orang-orang yang berminat diberikan, dan kunjungan-kunjungan tindak lanjut diadakan.

      Kemudian, pada tahun 1920-an, sarana lain tersedia untuk memberikan publisitas yang luas tentang berita Kerajaan. Saudara Rutherford sangat merasakan betapa tangan Tuhan nyata dalam perkembangannya. Apakah itu gerangan? Radio. Kurang dari dua tahun sesudah stasiun radio komersial yang pertama di dunia memulai siarannya dengan tetap tentu (pada tahun 1920), J. F. Rutherford, presiden Lembaga Menara Pengawal, mengudarakan kebenaran Alkitab. Inilah suatu sarana yang dapat mencapai jutaan orang secara serentak. Dua tahun kemudian, pada tahun 1924, Lembaga memiliki stasiun radio sendiri, WBBR, yang beroperasi di New York. Menjelang tahun 1933, yakni tahun puncak, 408 stasiun digunakan untuk memancarkan berita ke enam benua. Di samping siaran langsung, acara-acara mengenai berbagai pokok direkam terlebih dahulu. Pengiklanan setempat dilakukan dengan gencar melalui penyebaran pengumuman tercetak supaya orang-orang mengetahui tentang siaran-siaran itu dan dapat memperoleh manfaat darinya. Siaran-siaran ini menghapus banyak prasangka dan membuka mata orang-orang yang berhati jujur. Banyak orang, karena takut kepada tetangga dan para pemimpin agama, enggan menghadiri perhimpunan yang disponsori oleh Siswa-Siswa Alkitab, tetapi ini tidak menghalangi mereka untuk mendengar radio dalam keleluasaan pribadi di rumah mereka sendiri. Siaran-siaran itu tidak menggantikan perlunya memberi kesaksian dari rumah ke rumah; tetapi ini sungguh dapat membawa kebenaran Alkitab ke tempat-tempat yang sukar dijangkau, dan memberi permulaan yang sangat bagus untuk percakapan lebih lanjut pada waktu Saksi-Saksi secara pribadi berkunjung ke rumah-rumah.

      Tanggung Jawab Masing-Masing untuk Memberi Kesaksian

      Tanggung jawab untuk ambil bagian secara pribadi dalam memberi kesaksian telah dikemukakan selama puluhan tahun dalam Watch Tower. Namun sejak tahun 1919, hal itu menjadi topik pembicaraan yang tetap dalam publikasi tercetak dan dalam acara kebaktian. Namun, bagi banyak orang, tidak mudah mendekati orang yang tidak dikenal di rumah mereka, dan mula-mula hanya sejumlah terbatas dari Siswa-Siswa Alkitab yang ambil bagian secara tetap tentu dalam pekerjaan kesaksian dari rumah ke rumah.

      Anjuran yang menghangatkan hati diberikan Alkitab. ”Diberkatilah Mereka yang Tidak Takut” adalah pokok yang dibahas dalam Watch Tower terbitan 1 dan 15 Agustus 1919. Artikel itu memperingatkan tentang takut akan manusia, menarik perhatian kepada 300 pejuang Gideon yang berani yang waspada dan rela melayani dengan cara apa pun yang Tuhan kehendaki dan meskipun menghadapi rintangan-rintangan yang kelihatannya sangat banyak, dan memuji sikap Elisa yang dengan berani bersandar kepada Yehuwa. (Hak. 7:1-25; 2 Raj. 6:11-19; Ams. 29:25) Pada tahun 1921, artikel ”Tabahkanlah Hatimu” menonjolkan bukan saja kewajiban melainkan hak istimewa untuk melayani di pihak Tuhan melawan kuasa-kuasa kegelapan dari Setan dengan ambil bagian dalam melakukan pekerjaan yang dinubuatkan di Matius 24:14. Mereka yang mengalami keterbatasan karena keadaan, didesak untuk jangan berkecil hati dan pada waktu yang sama jangan menahan diri untuk berbuat sebisa-bisanya.

      Dengan pembahasan yang terus terang berdasarkan Alkitab, The Watch Tower membuat semua yang mengaku diri hamba Allah yang terurap, sadar akan tanggung jawab mereka untuk menjadi pemberita Kerajaan Allah. Terbitan tanggal 15 Agustus 1922 memuat sebuah artikel yang singkat dan tegas berjudul ”Dinas Sangat Penting”—yakni, dinas dengan meniru Kristus, dinas yang menggerakkan seseorang untuk pergi ke rumah orang lain guna menceritakan kepada mereka tentang Kerajaan Allah. Belakangan pada tahun itu juga, diperlihatkan bahwa dinas demikian, agar bernilai dalam pandangan Allah, harus dimotivasi oleh kasih. (1 Yoh. 5:3) Sebuah artikel dalam terbitan 15 Juni 1926, menyatakan bahwa Allah sama sekali tidak terkesan oleh ibadat yang bersifat formal; apa yang Ia inginkan adalah ketaatan, dan itu mencakup penghargaan terhadap sarana apa pun yang digunakan-Nya untuk melaksanakan maksud-tujuan-Nya. (1 Sam. 15:22) Pada tahun berikutnya, ketika meninjau ”Misi Orang Kristen di Atas Bumi”, perhatian diarahkan kepada peranan Yesus sebagai ”Saksi yang setia dan benar” dan kepada fakta bahwa rasul Paulus mengabar ”kepada umum dan dari rumah ke rumah”.​—Why. 3:14; Kis. 20:20, NW.

      Bahan persembahan yang terperinci untuk dihafalkan oleh para penyiar disediakan dalam Bulletin, lembaran petunjuk dinas mereka yang terbit setiap bulan. Anjuran diberikan untuk ambil bagian dalam dinas pengabaran secara tetap tentu setiap minggu. Namun jumlah orang yang benar-benar memberi kesaksian dengan mengadakan kunjungan dari rumah ke rumah hanya sedikit pada mulanya, dan beberapa yang memulai pekerjaan itu tidak terus melakukannya. Di Amerika Serikat misalnya, jumlah rata-rata setiap minggu yang melaporkan keikut-sertaannya dalam dinas pengabaran pada tahun 1922 adalah 2.712. Namun menjelang tahun 1924 angka itu telah turun menjadi 2.034. Pada tahun 1926 angka rata-rata itu naik menjadi 2.261, dengan puncak 5.937 orang ikut serta dalam kegiatan istimewa selama satu minggu.

      Kemudian, pada akhir tahun 1926, Lembaga mulai menganjurkan sidang-sidang untuk mengatur agar sebagian dari hari Minggu digunakan sebagai waktu untuk memberi kesaksian secara kelompok dan menawarkan pada waktu itu bukan saja risalah melainkan juga buku untuk pengajaran Alkitab. Pada tahun 1927, The Watch Tower mendesak mereka yang loyal dalam sidang-sidang agar menyingkirkan dari kedudukan penatua siapa saja yang dengan kata-kata atau tindakan menunjukkan bahwa mereka tidak menerima tanggung jawab untuk memberi kesaksian kepada umum dan dari rumah ke rumah. Jadi, halnya sama seperti ranting-ranting yang tidak menghasilkan buah dikerat, dan yang tetap tinggal dipangkas agar dapat menghasilkan lebih banyak buah demi kepujian Allah. (Bandingkan perumpamaan Yesus di Yohanes 15:1-10.) Apakah ini benar-benar menghasilkan pertambahan dalam pujian kepada Yehuwa di muka umum? Tahun 1928 menunjukkan adanya 53 persen peningkatan dalam rata-rata setiap minggu dari jumlah mereka yang berpartisipasi dalam memberi kesaksian di Amerika Serikat!

      Saksi-Saksi tidak lagi sekadar menyampaikan sebuah risalah cuma-cuma kepada orang dan terus pergi. Lebih banyak di antara mereka yang berbicara dengan singkat kepada penghuni rumah, berupaya membangkitkan minat kepada berita Alkitab, dan kemudian menawarkan buku kepada mereka untuk dibaca.

      Saksi-Saksi pada masa permulaan tersebut pasti berani, walaupun tidak semua dari antara mereka bijaksana. Meskipun demikian, mereka secara mencolok berbeda dari golongan-golongan agama lainnya. Mereka tidak sekadar mengatakan bahwa masing-masing harus memberi kesaksian tentang imannya. Dalam jumlah yang kian bertambah, mereka benar-benar melakukannya.

      Kartu Kesaksian dan Fonograf

      Pada akhir tahun 1933, suatu metode pengabaran yang berbeda dimulai. Sebagai pembukaan, Saksi-Saksi menyampaikan kepada orang sebuah kartu kesaksian yang memuat berita singkat untuk dibaca oleh penghuni rumah. Ini khususnya sangat membantu penyiar-penyiar baru, yang tidak menerima banyak pelatihan pada masa itu. Pada umumnya, mereka hanya mengucapkan pernyataan singkat kepada penghuni rumah setelah kartu tersebut dibaca; ada juga yang berbicara lebih banyak, dengan menggunakan Alkitab. Penggunaan kartu-kartu kesaksian ini terus berlangsung hingga tahun 1940-an. Dengan demikian daerah dapat dikerjakan dengan cepat, dan Saksi-Saksi dapat mencapai lebih banyak orang, lebih banyak lektur Alkitab yang berharga dapat sampai kepada mereka, kesaksian yang seragam diberikan, dan bahkan berita dapat disampaikan kepada orang yang bahasanya tidak mereka kuasai. Ini juga mengakibatkan saat-saat yang agak canggung bila penghuni rumah memegang kartu itu dan menutup pintu, sehingga seorang Saksi perlu mengetuk lagi untuk mendapatkan kembali kartu tersebut!

      Khotbah-khotbah Alkitab yang direkam juga memainkan peranan yang menonjol selama tahun 1930-an dan pada permulaan tahun 1940-an. Pada tahun 1934, beberapa di antara Saksi-Saksi mulai membawa sebuah fonograf portabel bila mereka pergi memberi kesaksian. Mesin itu agak berat, jadi mereka meninggalkannya di dalam mobil mereka atau meletakkannya di suatu tempat yang aman sampai mereka menemukan orang yang mau mendengar sebuah khotbah Alkitab yang direkam. Kemudian, pada tahun 1937, diresmikan penggunaan fonograf portabel untuk kesaksian bahkan di rumah-rumah orang. Prosedurnya sederhana: Sesudah menyatakan bahwa ada berita Alkitab yang penting, Saksi menaruh jarum pada piringan hitam dan membiarkan piringan hitam itu yang berbicara. Kasper Keim, seorang perintis Jerman yang melayani di Belanda, sangat bersyukur atas ”Harun” milik-nya, demikian sebutannya untuk fonograf itu, karena ia mengalami kesulitan untuk memberi kesaksian dalam bahasa Belanda. (Bandingkan Keluaran 4:14-16.) Karena rasa ingin tahu kadang-kadang seluruh keluarga mendengarkan piringan hitam itu.

      Sejak tahun 1940, lebih dari 40.000 buah fonograf digunakan. Pada tahun tersebut fonograf baru model vertikal yang dirancang dan dibuat oleh Saksi-Saksi diperkenalkan, dan ini teristimewa digunakan di Amerika. Fonograf itu bahkan lebih membangkitkan rasa ingin tahu karena penghuni rumah tidak dapat melihat piringan hitam yang sedang diputar. Setiap piringan hitam berkapasitas 78 r.p.m. dan berputar selama empat setengah menit. Judulnya singkat dan tegas: ”Kerajaan”, ”Doa”, ”Jalan Menuju Kehidupan”, ”Tritunggal”, ”Api Penyucian”, ”Mengapa Pemimpin Agama Menentang Kebenaran”. Lebih dari 90 khotbah yang berbeda-beda direkam; lebih dari satu juta piringan hitam dipergunakan. Persembahannya jelas dan mudah diikuti. Banyak penghuni rumah mendengarkan dengan penuh penghargaan; beberapa menanggapi dengan kasar. Namun kesaksian yang efektif dan konsisten sedang dilakukan.

      Dengan Berani Menyerukan Kabar Baik di Tempat-Tempat Umum

      Walaupun kartu kesaksian dan piringan hitam banyak ”berbicara”, dibutuhkan keberanian besar untuk menjadi seorang Saksi selama tahun-tahun tersebut. Justru sifat pekerjaan itu membuat Saksi-Saksi secara pribadi berhadapan dengan umum.

      Seusai kebaktian tahun 1931 di Columbus, Ohio, Saksi-Saksi Yehuwa menyebarkan buku kecil The Kingdom, the Hope of the World (Kerajaan, Harapan Dunia Ini), yang mencakup sebuah resolusi berjudul ”Peringatan dari Yehuwa” yang ditujukan ”Kepada Para Penguasa dan Kepada Masyarakat”. Mereka mengakui bahwa sebagai Saksi-Saksi bagi Yehuwa, mereka memikul suatu kewajiban yang serius untuk menyampaikan peringatan yang dikemukakan dalam Firman-Nya. (Yeh. 3:17-21) Mereka tidak sekadar mengirim buku-buku kecil tersebut melalui pos atau menyelipkannya di bawah pintu. Mereka menyampaikannya secara pribadi. Mereka berkunjung kepada semua pemimpin agama dan, sedapat mungkin, kepada para politikus, para perwira militer, dan para direktur perusahaan-perusahaan besar. Di samping itu, mereka berkunjung kepada masyarakat umum di kira-kira seratus negeri tempat Saksi-Saksi Yehuwa pada waktu itu melaksanakan pekerjaan memberi kesaksian yang terorganisasi.

      Menjelang tahun 1933, mereka menggunakan mesin transkripsi yang berdaya besar untuk memutar rekaman khotbah-khotbah Alkitab yang tegas di tempat-tempat umum. Saudara Smets dan Saudara Poelmans menaikkan perlengkapan mereka ke atas kendaraan roda tiga dan berdiri di sebelahnya seraya alat itu mendengungkan berita di pasar-pasar dan dekat gereja-gereja di Liège, Belgia. Mereka sering bekerja di sana sepuluh jam sehari. Masyarakat di Jamaika akan segera berkerumun bila mereka mendengar musik, maka saudara-saudara di sana memainkan musik terlebih dahulu. Bila orang banyak berduyun-duyun ke luar dari semak ke jalan utama untuk melihat apa yang sedang terjadi, mereka mendapati Saksi-Saksi Yehuwa sedang menyampaikan berita Kerajaan.

      Beberapa dari perlengkapan transkripsi tersebut dipasang di mobil dan di kapal, dengan pengeras suara di atapnya supaya suara dapat terdengar lebih jauh. Bert dan Vi Horton, di Australia, menaiki sebuah prahoto (van) dengan sebuah corong pengeras suara yang besar di atasnya yang bertuliskan kata-kata ”Berita Kerajaan”. Satu tahun mereka telah menggemakan penyingkapan agama palsu yang menggemparkan dan penjelasan yang menghangatkan hati mengenai berkat-berkat Kerajaan Allah hampir di setiap jalan di Melbourne. Selama tahun-tahun tersebut Claude Goodman merintis di India. Penggunaan mobil dengan pengeras suara, dengan piringan hitam dalam bahasa-bahasa setempat, memungkinkan dia mencapai banyak orang yang berkerumun di bazar, di taman, di sepanjang jalan​—di mana saja orang-orang dapat dijumpai.

      Sewaktu saudara-saudara di Lebanon memarkir mobil mereka yang memakai pengeras suara di atas sebuah bukit dan menyiarkan khotbah-khotbah, suaranya berkumandang sampai ke lembah-lembah. Masyarakat desa, karena tidak melihat sumber suara itu, kadang-kadang menjadi takut, menyangka bahwa Allah sedang berbicara kepada mereka dari surga!

      Akan tetapi, ada beberapa saat yang menegangkan bagi saudara-saudara. Pada suatu peristiwa, di Suriah, seorang imam desa meninggalkan makan malamnya di meja, meraih tongkatnya yang besar, dan berlari ke kerumunan orang banyak yang sedang mendengar khotbah Alkitab yang disiarkan dari sebuah mobil dengan pengeras suara. Seraya mengacung-acungkan tongkatnya dengan marah dan berteriak, ia menuntut, ”Berhenti! Saya perintahkan kamu untuk berhenti!” Tetapi saudara-saudara menyadari bahwa tidak semua setuju dengan dia; ada di antara mereka yang ingin mendengar. Segera, beberapa dari antara orang banyak itu mengangkat sang imam dan membawanya kembali ke rumahnya, dan mereka mendudukkannya lagi di meja makan! Meskipun adanya perlawanan dari para pemimpin agama, Saksi-Saksi dengan berani berupaya agar orang-orang mendapat kesempatan untuk mendengar.

      Selama era ini juga plakat-plakat iklan yang dikenakan oleh Saksi-Saksi banyak digunakan di kawasan bisnis seraya mereka membagikan undangan untuk khotbah-khotbah istimewa. Itu mulai pada tahun 1936 di Glasgow, Skotlandia. Pada tahun tersebut metode pengiklanan yang sama digunakan di London, Inggris, dan kemudian di Amerika Serikat. Dua tahun kemudian, pengiklanan demikian ditingkatkan dengan membawa papan iklan yang diangkat tinggi-tinggi dengan tongkat. Papan iklan ini mengumumkan ”Agama Adalah Jerat dan Suatu Penipuan”b dan, ”Layani Allah dan Kristus Sang Raja”. Pada waktu ada kebaktian, barisan orang-orang yang membawa papan iklan ini dapat mencapai beberapa kilometer panjangnya. Seraya mereka berbaris tanpa bersuara, berbaris satu-satu, di sepanjang jalan-jalan padat, hasilnya adalah bagaikan bala tentara Israel purba yang berbaris mengelilingi Yerikho sebelum tembok-temboknya runtuh. (Yos. 6:10, 15-21) Dari London, Inggris, hingga Manila, di Filipina, kesaksian umum yang berani dilakukan.

      Namun, metode lain untuk kesaksian umum mulai diterapkan pada tahun 1940. Selaras dengan ayat yang menunjuk kepada ’hikmat sejati yang berseru nyaring di jalan-jalan’, pada bulan Februari tahun tersebut Saksi-Saksi Yehuwa mulai menyebarkan The Watchtower dan Consolation (kini dikenal sebagai Awake!)c di sudut-sudut jalan. (Ams. 1:20, NW) Mereka biasanya menyerukan slogan-slogan untuk menarik perhatian kepada majalah-majalah itu dan berita yang terkandung di dalamnya. Di kota besar dan kota kecil di semua bagian dunia, Saksi-Saksi Yehuwa yang menawarkan majalah mereka telah menjadi pemandangan sehari-hari. Namun melakukan pekerjaan tersebut dibutuhkan keberanian, dan teristimewa keberanian demikian dibutuhkan sewaktu pekerjaan ini dimulai, sebab pada masa itu terjadi banyak penganiayaan yang ditambah lagi dengan adanya demam nasionalisme masa perang.

      Bila diundang untuk ambil bagian dalam kesaksian umum demikian, Saksi-Saksi menyambut dengan penuh iman. Jumlah yang ikut secara pribadi dalam pekerjaan itu terus bertambah. Mereka menganggapnya sebagai hak istimewa untuk memperlihatkan integritas mereka kepada Yehuwa dengan cara ini. Namun masih ada lebih banyak hal yang perlu mereka pelajari.

      Masing-Masing Mampu Menjelaskan Imannya

      Program pendidikan yang luar biasa mulai diadakan pada tahun 1942. Program itu berawal di kantor pusat sedunia dari Saksi-Saksi Yehuwa, dan menjelang tahun berikut, program ini mulai diresmikan di semua sidang Saksi-Saksi di seluruh bumi. Dengan keyakinan bahwa roh Allah ada pada mereka dan bahwa Ia telah menaruh firman-Nya dalam mulut mereka, mereka bertekad memberitakan firman tersebut bahkan andai kata para penganiaya merampas publikasi-publikasi Menara Pengawal atau juga Alkitab. (Yes. 59:21) Ada negeri-negeri, seperti Nigeria, di sana Saksi-Saksi hanya menggunakan Alkitab pada waktu mengabar, karena pemerintah telah melarang semua lektur Menara Pengawal dan bahkan telah menyita publikasi-publikasi yang disimpan oleh banyak saudara dalam perpustakaan pribadi mereka.

      Pada tanggal 16 Februari 1942 itulah Saudara Knorr meresmikan suatu kursus lanjutan pelayanan teokratis di Rumah Betel di Brooklyn, New York. Pendidikan itu memberikan pengajaran dalam hal-hal seperti riset, menyatakan diri secara jelas dan benar, membuat rangka untuk mempersembahkan khotbah, mengucapkan khotbah secara efektif, menyampaikan gagasan yang menggugah hati, dan berlaku bijaksana. Saudara maupun saudari dengan senang hati diperkenan untuk hadir, namun hanya kaum pria yang diundang untuk mendaftarkan diri dan menyampaikan khotbah latihan, dan untuk khotbah latihan itu mereka akan menerima nasihat. Manfaat-manfaatnya segera menjadi nyata bukan saja dalam hal berbicara di mimbar melainkan juga dalam hal menjadi lebih efektif dalam pengabaran dari rumah ke rumah.

      Pada tahun berikutnya, pengajaran di sekolah ini mulai diperluas ke sidang-sidang setempat dari Saksi-Saksi Yehuwa sedunia. Mula-mula dalam bahasa Inggris, kemudian dalam bahasa-bahasa lain. Tujuan yang ditetapkan bagi sekolah ini adalah untuk membantu setiap Saksi-Saksi Yehuwa agar mampu mengajar orang lain bila mengunjungi orang dari rumah ke rumah, mengadakan kunjungan kembali, dan memimpin pengajaran-pengajaran Alkitab. Setiap Saksi akan dibantu menjadi rohaniwan yang memenuhi syarat. (2 Tim. 2:2) Pada tahun 1959, kesempatan juga diberikan kepada saudari-saudari untuk mendaftarkan diri dalam sekolah ini dan menyampaikan khotbah dalam pertunjukan dinas pengabaran​—bukan berkhotbah kepada seluruh hadirin, melainkan kepada seseorang yang ditugaskan untuk berperan sebagai penghuni rumah. Dan bukan itu saja.

      Sejak tahun 1926, wakil-wakil keliling dari Lembaga telah bekerja bersama-sama dengan Saksi-Saksi secara pribadi dalam dinas pengabaran, untuk membantu meningkatkan kemahiran mereka. Akan tetapi, dalam suatu kebaktian internasional di New York pada tahun 1953, dengan pengawas-pengawas wilayah dan distrik duduk di depan panggung, Saudara Knorr menyatakan bahwa pekerjaan utama dari semua hamba, atau pengawas, hendaknya adalah membantu setiap Saksi untuk menjadi rohaniwan yang berkunjung dari rumah ke rumah secara tetap tentu. ”Setiap orang,” katanya, ”hendaknya mampu untuk memberitakan kabar baik dari rumah ke rumah.” Suatu kampanye sedunia dilancarkan untuk mencapai hal itu.

      Mengapa hal itu begitu ditekankan? Pertimbangkan Amerika Serikat sebagai contoh: Pada waktu itu 28 persen dari Saksi-Saksi membatasi kegiatan mereka kepada penyebaran surat selebaran atau berdiri di jalan sambil menawarkan majalah. Dan lebih 40 persen dari Saksi-Saksi ambil bagian dalam dinas pengabaran hanya sewaktu-waktu, dengan membiarkan bulan demi bulan berlalu tanpa memberi kesaksian sama sekali. Dibutuhkan bantuan pengasih berupa pelatihan pribadi. Rencana dibuat agar memungkinkan Saksi-Saksi Yehuwa yang belum menjadi Saksi-Saksi yang mengabar dari rumah ke rumah, dibantu untuk melakukan pendekatan kepada orang-orang di rumah mereka, berbicara kepada mereka dari Alkitab, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Mereka belajar mempersiapkan khotbah-khotbah pendek berdasarkan Alkitab yang dapat mereka sampaikan barangkali dalam tiga menit kepada orang yang sibuk, atau kira-kira delapan menit kepada orang-orang lain. Tujuannya adalah untuk membantu setiap Saksi agar menjadi penginjil Kristen yang matang.

      Bukan hanya pengawas-pengawas keliling yang memberikan instruksi ini. Hamba-hamba, atau pengawas-pengawas setempat juga; dan pada tahun-tahun berikutnya, Saksi-Saksi lain yang memenuhi syarat ditugaskan melatih orang-orang tertentu. Selama bertahun-tahun, pertunjukan-pertunjukan mengenai cara melakukan pekerjaan ini telah disediakan dalam Perhimpunan Dinas mingguan di sidang. Namun hal ini kini ditambah dengan lebih dititikberatkannya pelatihan pribadi di lapangan.

      Hasilnya luar biasa. Jumlah Saksi-Saksi yang mengabar dari rumah ke rumah meningkat, seperti halnya jumlah Saksi yang tetap tentu ambil bagian dalam pelayanan pengabaran. Dalam satu dekade jumlah Saksi-Saksi sedunia naik 100 persen. Mereka juga mengadakan peningkatan dalam hal kunjungan kembali sebanyak 126 persen untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Alkitab bagi orang-orang berminat, dan mereka memimpin 150 persen lebih banyak pengajaran Alkitab di rumah dengan mereka yang memperlihatkan rasa lapar akan kebenaran Alkitab. Mereka sungguh membuktikan diri sebagai rohaniwan-rohaniwan yang memenuhi syarat.

      Mengingat Saksi-Saksi ini berasal dari beraneka ragam latar belakang pendidikan dan budaya, dan kenyataan bahwa mereka tersebar dalam kelompok-kelompok kecil di seluruh bumi, jelaslah bahwa Saksi-Saksi memberikan pujian, bukan kepada manusia mana pun, melainkan kepada Allah Yehuwa atas cara mereka diperlengkapi dan dilatih untuk mengumumkan kabar baik.​—Yoh. 14:15-17.

      Pengabaran dari Rumah ke Rumah—Tanda Pengenal

      Pada berbagai kesempatan, kelompok-kelompok agama lain menganjurkan anggota-anggota mereka untuk berkunjung ke rumah orang-orang dalam lingkungan mereka guna berbicara tentang agama. Beberapa orang telah mencobanya. Orang-orang tertentu bahkan mungkin melakukannya sebagai misionaris selama beberapa tahun, namun sampai di situ saja. Akan tetapi, hanya di kalangan Saksi-Saksi Yehuwa, sesungguhnya semua, tua dan muda, pria dan wanita, berpartisipasi tahun demi tahun, dalam pelayanan dari rumah ke rumah. Hanya Saksi-Saksi Yehuwa yang sungguh-sungguh berupaya mencapai seluruh bumi yang berpenduduk dengan berita Kerajaan, dengan demikian menaati perintah yang bersifat nubuat di Matius 24:14.

      Halnya bukan bahwa semua Saksi-Saksi Yehuwa menganggap pekerjaan ini mudah.d Sebaliknya, banyak dari antara mereka, ketika pertama-tama mulai belajar Alkitab, berkata, ’Ada satu hal yang tidak akan pernah saya lakukan, yaitu pergi dari rumah ke rumah!’ Namun, itulah kegiatan yang digeluti oleh hampir semua Saksi-Saksi Yehuwa jika secara fisik mereka sanggup melakukannya. Dan banyak yang tidak sanggup secara fisik pun tetap melakukannya—dengan kursi roda, dengan menggunakan tongkat, dan sebagainya. Yang lain-lain​—sama sekali tidak dapat meninggalkan rumah mereka, atau sementara terbatas ruang geraknya, atau demi mencapai orang yang sebaliknya sulit dijangkau—​memberi kesaksian melalui telepon atau dengan menulis surat. Mengapa harus mengerahkan upaya penuh tekad demikian?

      Seraya mereka mengenal Yehuwa, kasih mereka kepada-Nya mengubah seluruh pandangan mereka mengenai kehidupan. Mereka ingin berbicara tentang Dia. Hal-hal menakjubkan yang tersedia bagi mereka yang mengasihi-Nya terlalu bagus untuk hanya diketahui oleh mereka saja. Dan mereka merasa bertanggung jawab kepada Allah untuk memperingatkan orang-orang tentang sengsara besar yang kian mendekat. (Mat. 24:21; bandingkan Yehezkiel 3:17-19.) Namun mengapa harus dilakukan dengan pergi dari rumah ke rumah?

      Mereka mengetahui bahwa Yesus mengajar murid-muridnya untuk pergi ke rumah-rumah orang guna mengabar dan mengajar. (Mat. 10:11-14) Mereka menyadari bahwa setelah roh kudus dicurahkan pada hari Pentakosta tahun 33 M, rasul-rasul terus tanpa henti-hentinya mengumumkan kabar baik ”di Bait Allah [di Yerusalem] dan dari rumah ke rumah”. (Kis. 5:42, NW) Setiap Saksi mengetahui Kisah 20:20 (NW), yang mengatakan bahwa rasul Paulus mengajar ”di muka umum dan dari rumah ke rumah”. Dan mereka melihat bukti yang limpah mengenai berkat Yehuwa atas pekerjaan ini pada zaman modern. Demikianlah, seraya mereka mendapat pengalaman dalam pelayanan dari rumah ke rumah, kegiatan yang pernah mereka takuti ini sering kali menjadi sesuatu yang mereka nantikan dengan penuh gairah.

      Dan mereka melakukannya dengan cermat. Mereka memelihara catatan-catatan yang saksama sehingga mereka dapat berkunjung kembali untuk berbicara kepada setiap orang yang sebelumnya tidak ada di rumah. Bukan itu saja, mereka mengadakan kunjungan berkali-kali ke setiap rumah.

      Oleh karena efektifnya pelayanan dari rumah ke rumah, para penentang di banyak negeri telah berupaya menghentikannya. Demi memperoleh pengakuan resmi akan hak mereka untuk mengabar dari pintu ke pintu, Saksi-Saksi Yehuwa telah naik banding kepada para pejabat pemerintah. Bila perlu, mereka menghadap pengadilan untuk menegakkan secara hukum hak menyebarkan kabar baik dengan cara ini. (Flp. 1:7) Dan jika pemerintah di suatu negeri menindas dan bersikeras melarang kegiatan demikian, Saksi-Saksi Yehuwa kadang-kadang tetap melakukannya hanya dengan cara yang kurang mencolok atau, jika perlu, menggunakan cara-cara lain untuk mencapai orang dengan berita Kerajaan.

      Meskipun siaran radio dan televisi telah digunakan untuk menyebarkan berita Kerajaan, Saksi-Saksi Yehuwa menyadari bahwa kontak pribadi yang diadakan pada waktu berkunjung dari rumah ke rumah adalah jauh lebih efektif. Hal itu memberi kesempatan lebih baik untuk menjawab pertanyaan dari masing-masing penghuni rumah dan untuk mencari mereka yang layak. (Mat. 10:11) Itulah salah satu alasan mengapa, pada tahun 1957, Lembaga Menara Pengawal menjual stasiun radio WBBR di New York.

      Akan tetapi, setelah memberikan kesaksian secara pribadi, Saksi-Saksi Yehuwa tidak merasa bahwa tugas mereka sudah selesai. Ini baru permulaan.

      ”Jadikanlah Murid-Murid . . . Mengajar Mereka”

      Yesus memerintahkan para pengikutnya untuk berbuat lebih daripada mengabar. Dengan meniru dia, mereka juga harus mengajar. (Mat. 11:1) Sebelum ia naik ke surga, ia menginstruksikan mereka: ”Karena itu pergilah dan jadikanlah murid-murid dari orang-orang segala bangsa, . . . mengajar mereka untuk menjalankan semua perkara yang aku perintahkan kepadamu.” (Mat. 28:19, 20, NW) Mengajar (bahasa Yunani, di·daʹsko) berbeda dengan mengabar dalam hal bahwa si pengajar berbuat lebih daripada memberitakan; ia mengajar, menerangkan, memberikan bukti-bukti.

      Watch Tower, sudah sejak bulan April 1881 memberikan beberapa saran singkat tentang cara mengajar. Beberapa kolportir masa permulaan khusus berupaya mengunjungi kembali orang-orang yang menunjukkan minat, menganjurkan mereka agar membaca buku-buku Lembaga dan bertemu dengan orang-orang lain untuk mempelajari Firman Allah secara tetap tentu. Buku The Harp of God (yang diterbitkan pada tahun 1921) sering digunakan untuk tujuan itu. Akan tetapi, belakangan, bahkan lebih banyak lagi yang dilakukan dalam hal memberikan perhatian pribadi kepada orang-orang yang berminat. Pembahasan-pembahasan Alkitab yang direkam disertai buku penuntun pengajaran digunakan secara menonjol dalam kegiatan ini. Bagaimana hal itu terjadi?

      Sejak awal tahun 1933, Lembaga telah menambah siaran-siaran radionya dengan rekaman-rekaman yang diputar pada perlengkapan transkripsi portabel di balai pertemuan, di taman, di pintu gerbang pabrik, dan seterusnya. Dalam waktu singkat, Saksi-Saksi yang menemukan orang berminat ketika berkunjung dari rumah ke rumah membuat penyelenggaraan untuk berkunjung kembali guna memutar beberapa rekaman ini di rumah mereka. Ketika buku Riches mulai tersedia pada tahun 1936, pembahasan dari buku itu digunakan, sesudah memutar rekaman-rekaman tersebut, dengan maksud mendirikan pengajaran-pengajaran yang dapat dihadiri oleh para peminat di daerah itu. Pekerjaan ini khusus ditandaskan dengan maksud membantu calon-calon anggota ”perhimpunan besar” guna belajar kebenaran.​—Why. 7:9, Bode.

      Kira-kira pada waktu itu, hierarki Katolik meningkatkan tekanannya atas para pemilik dan pengelola stasiun-stasiun radio maupun perwakilan lembaga pemerintah dalam upaya yang bertekad untuk menghentikan siaran acara-acara Menara Pengawal. Sebuah petisi yang ditandatangani oleh 2.630.000 orang di Amerika Serikat memohonkan suatu debat di muka umum antara J. F. Rutherford dan seorang pejabat tinggi dari Gereja Katolik Roma. Tidak seorang pun dari antara para pemimpin agama Katolik bersedia menerima tantangan itu. Maka, pada tahun 1937, Saudara Rutherford membuat rekaman-rekaman yang berjudul ”Disingkapkan” dan ”Agama dan Kekristenan”, yang mengemukakan ajaran-ajaran dasar Alkitab, teristimewa untuk membuktikan bahwa doktrin-doktrin Katolik tidak berdasarkan Alkitab. Bahan yang sama diterbitkan dalam buku kecil Protection dan Uncovered, dan sebuah eksemplar dari Uncovered disampaikan secara pribadi kepada setiap orang yang telah menandatangani petisi itu sehingga orang-orang dapat membaca sendiri kebenaran-kebenaran Alkitab yang berusaha dibungkamkan oleh hierarki Katolik.

      Demi membantu masyarakat melihat pokok-pokok persoalannya dengan jelas dan menyelidiki dasar Alkitab untuk ini, buku kecil Model Study No. 1 dicetak untuk digunakan di perhimpunan-perhimpunan yang diselenggarakan bagi orang-orang berminat. Buku kecil itu memuat pertanyaan-pertanyaan, jawaban-jawaban, dan ayat-ayat yang mendukung jawaban yang diberikan. Pertama-tama, si pembimbing akan memutar satu piringan atau lebih yang berisi rekaman pembahasan yang disebutkan di atas sehingga semua orang dapat mendengar seluruh argumen. Kemudian, pembahasan menyusul, dengan menggunakan bahan yang disediakan dalam buku kecil Model Study dan memeriksa sendiri ayat-ayatnya. Model Study No. 1 diikuti oleh No. 2 dan No. 3, dikoordinasikan dengan rekaman khotbah-khotbah lainnya. Pengajaran-pengajaran demikian mula-mula diorganisasi di lokasi tempat kelompok-kelompok orang berminat dapat dikumpulkan, tetapi segera diadakan pula dengan pribadi-pribadi dan keluarga-keluarga.

      Sejak waktu itu banyak buku yang bagus telah disediakan khusus untuk digunakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa dalam memimpin pengajaran Alkitab di rumah-rumah. Buku-buku yang paling luas beredar ialah ”Karena Allah Itu Benar Adanya”, Kebenaran yang Membimbing Kepada Hidup yang Kekal, dan Saudara Dapat Hidup Kekal Dalam Firdaus di Bumi. Ada juga buku-buku kecil 32 halaman​—”Kabar Kesukaan Tentang Kerajaan Ini”, God’s Way Is Love, ”Lihatlah, Aku Menjadikan Segala Sesuatu Baru”, dan banyak lainnya. Ini semua diikuti oleh brosur-brosur seperti Nikmatilah Hidup Kekal di Bumi!, yang mempersembahkan ajaran-ajaran dasar Alkitab secara sangat sederhana dan mudah dipahami.

      Penggunaan alat-alat ini, dilengkapi dengan pelatihan di sidang dan secara pribadi yang ekstensif, telah menghasilkan peningkatan yang dramatis dalam jumlah pengajaran Alkitab di rumah yang sedang dipimpin. Pada tahun 1950, pengajaran Alkitab di rumah, yang sering kali dipimpin setiap minggu, berjumlah rata-rata 234.952. Pengajaran-pengajaran yang tidak membuat kemajuan dihentikan. Banyak murid yang maju begitu rupa, sehingga pada gilirannya mereka menjadi pengajar. Walaupun senantiasa ada yang berhenti, namun jumlahnya terus naik, sering kali cukup pesat. Pada tahun 1992, Saksi-Saksi memimpin 4.278.127 pengajaran Alkitab di rumah di seluruh dunia.

      Demi melaksanakan pekerjaan pengabaran dan pengajaran yang sangat luas ini, dalam bahasa-bahasa yang ada di seluruh bumi, Saksi-Saksi Yehuwa telah menggunakan media cetak secara luas. Ini memerlukan kegiatan penerbitan yang sangat besar.

      [Catatan Kaki]

      a Pekerjaan pastoral mula-mula diorganisasi selama tahun 1915-16 dalam sekitar 500 sidang yang telah memilih Saudara Russell sebagai pastor mereka. Sebagai pastor, ia menulis sepucuk surat kepada mereka untuk menguraikan pekerjaan itu, yang mula-mula terbatas kepada saudari-saudari. Pada tahun berikutnya saudara-saudara juga diikutsertakan dalam kegiatan ini. Pekerjaan pastoral ini, dilaksanakan oleh kelompok yang terpilih, berlangsung hingga tahun 1921.

      b Penggunaan istilah tersebut berdasarkan pengertian bahwa istilah agama mencakup semua ibadat yang didasarkan atas tradisi-tradisi manusia, bukan atas Firman Allah, Alkitab. Akan tetapi, pada tahun 1950, ketika New World Translation of the Christian Greek Scriptures diterbitkan, catatan kaki untuk Kisah 26:5, Kolose 2:18, dan Yakobus 1:26, 27 memperlihatkan bahwa istilah agama dapat dengan sepatutnya digunakan untuk menunjuk kepada ibadat yang sejati atau palsu. Hal ini lebih lanjut dijelaskan di dalam The Watchtower tanggal 15 Maret 1951, halaman 191, dan buku What Has Religion Done for Mankind?, halaman 8-10.

      c Beberapa kegiatan kesaksian di jalan-jalan telah dilakukan sebagai uji coba pada tahun sebelumnya, di Kalifornia, AS. Bahkan pada tahun 1926, Siswa-Siswa Alkitab sudah mengadakan penyebaran buku-buku kecil yang memuat berita-berita penting secara umum di jalan-jalan. Jauh sebelumnya, pada tahun 1881, mereka telah menyebarkan lektur di dekat gereja-gereja pada hari-hari Minggu.

      d The Watchtower, 15 Mei 1981, hal. 12-16.

      [Blurb di hlm. 556]

      Di mana pun ia menjumpai orang, Yesus berbicara tentang maksud-tujuan Allah bagi umat manusia

      [Kotak di hlm. 559]

      Berkat Istimewa Dalam Pekerjaan dari Pintu ke Pintu

      ”Sebagaimana halnya pada kedatangan yang pertama, pekerjaan dari pintu ke pintu, bukan pengabaran dari mimbar, tampaknya menerima berkat istimewa dari Tuhan.”—”Watch Tower”, 15 Juli 1892.

      [Kotak di hlm. 570]

      Mengapa Saksi-Saksi Berkunjung Berulang Kali

      Sebagai penjelasan mengapa Saksi-Saksi Yehuwa berulang kali mengunjungi setiap rumah, ”The Watchtower” 1 Juli 1962 mengatakan, ”Keadaan terus berubah. Hari ini, seseorang mungkin tidak di rumah, lain kali ia mungkin ada. Hari ini ia mungkin terlalu sibuk untuk mendengarkan, tetapi kali berikut mungkin tidak. Hari ini seorang anggota keluarga menerima kita di rumah, kali lain anggota keluarga yang lain; dan Saksi-Saksi bukan saja berupaya mencapai setiap rumah dalam daerah penugasan mereka, melainkan juga, jika mungkin, setiap orang dewasa di setiap rumah. Sering kali keluarga terbagi dalam soal agama, maka tidak selalu mungkin bagi satu orang anggota untuk berbicara mewakili seluruh keluarga. Lagi pula, orang-orang terus berpindah-pindah, maka Saksi-Saksi tidak dapat memperkirakan siapa yang akan mereka jumpai di rumah tertentu.

      ”Bukan saja keadaan berubah, orang-orang itu sendiri berubah. . . . Akibat soal kecil saja seseorang bisa menjadi tidak senang dan sama sekali tidak suka membicarakan agama atau apa saja tidak peduli siapa pun yang datang ke rumahnya, tetapi itu sama sekali tidak berarti bahwa ia akan bersikap mental demikian pada waktu lain. Atau, hanya karena seseorang sama sekali tidak berminat membicarakan soal agama bulan lalu tidak berarti ia tidak berminat pada bulan ini. Sejak seorang Saksi berkunjung terakhir sekali orang ini mungkin telah mengalami sesuatu peristiwa yang menyiksa batinnya atau dengan suatu cara lain belajar sesuatu yang membuatnya rendah hati sebaliknya daripada sombong, lapar dan sadar akan kebutuhan rohaninya daripada berpuas diri.

      ”Lagi pula, berita yang dibawa oleh Saksi-Saksi kedengarannya asing bagi banyak orang dan mereka tidak dapat memahami urgensinya. Hanya dengan mendengarnya berulang kali mereka lambat-laun mulai mengerti.”

      [Kotak/Gambar di hlm. 574]

      Menggunakan ”Segala Cara yang Ada”

      ”Di antara kita yang ada dalam organisasi Tuhan ada yang telah berupaya, dengan segala cara yang ada, untuk menarik perhatian [dunia] kepada berita kehidupan. Kita telah menggunakan slogan-slogan, iklan sehalaman penuh, radio, mobil dengan pengeras suara, fonograf portabel, kebaktian yang sangat besar, pawai para pemberi informasi yang berjalan sambil membawa papan iklan, dan bala tentara para rohaniwan dari rumah ke rumah yang kian berkembang. Kegiatan ini telah berfungsi memisahkan orang-orang—mereka yang berpihak kepada Kerajaan Allah di satu pihak, mereka yang melawannya di pihak lain. Inilah pekerjaan yang dinubuatkan oleh Yesus bagi generasiku.”—Ditulis pada tahun 1987 oleh Melvin Sargent, pada usia 91 tahun.

      [Gambar]

      Melvin Sargent

      [Grafik di hlm. 574]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      Pertambahan Pengajaran Alkitab di Rumah

      4.000.000

      3.000.000

      2.000.000

      1.000.000

      1950 1960 1970 1980 1992

      [Gambar di hlm. 557]

      Puluhan juta risalah ini telah disebarkan, dengan cuma-cuma, dekat gereja-gereja, dari rumah ke rumah, dan melalui pos

      [Gambar di hlm. 558]

      Penginjil kolportir menyebarkan buku-buku yang menerangkan Alkitab

      [Gambar di hlm. 559]

      Anna Andersen menjangkau hampir setiap kota di Norwegia dengan lektur Alkitab

      [Gambar di hlm. 560]

      Iklan-iklan surat kabar membantu mencapai orang-orang yang tidak dihubungi dengan cara-cara lain

      [Gambar di hlm. 561]

      Lebih dari 2.000 surat kabar di empat benua memuat khotbah-khotbah Saudara Russell secara bersamaan waktu

      [Gambar di hlm. 562]

      ”Drama-Foto Penciptaan” memberikan kesaksian yang penuh kuasa kepada jutaan orang di banyak negeri

      [Gambar di hlm. 563]

      Melalui radio, J. F. Rutherford berhasil memberi kesaksian kepada jutaan orang di seluruh dunia di dalam rumah mereka sendiri

      [Gambar di hlm. 564]

      Siap berangkat naik sepeda untuk kesaksian kelompok di Inggris

      [Gambar di hlm. 565]

      Mulai tahun 1933, digunakan kartu kesaksian yang tercetak

      [Gambar di hlm. 566]

      Khotbah-khotbah Alkitab yang direkam memberikan kesaksian yang penuh kuasa selama tahun 1930-an dan 1940-an

      [Gambar di hlm. 567]

      Mobil dengan pengeras suara, kadang-kadang dalam jumlah yang besar (seperti di Australia ini), digunakan untuk menyiarkan kebenaran Alkitab di tempat-tempat umum

      [Gambar di hlm. 568]

      Papan iklan yang diterangi di jendela rumah Saksi-Saksi Yehuwa memberikan kesaksian selama 24 jam

      [Gambar di hlm. 568]

      Plakat-plakat dan papan-papan iklan menyumbang kepada kesaksian yang berani di depan umum (seperti di Skotlandia ini)

      [Gambar di hlm. 569]

      Pengedaran ”The Watch Tower” dan ”Consolation” (seperti diperlihatkan di AS ini) mulai pada tahun 1940

      [Gambar di hlm. 569]

      Mulai pada tahun 1943, saudara-saudara di sidang mendapat pelatihan berkhotbah kepada umum

      [Gambar di hlm. 571]

      Pengajaran Alkitab di rumah dipimpin bersama para peminat. Di bawah adalah publikasi-publikasi yang khusus dirancang untuk itu—diterbitkan pertama-tama dalam bahasa Inggris, kemudian dalam banyak bahasa lain

      [Gambar di hlm. 572, 573]

      Saksi-Saksi yang tua dan muda, pria dan wanita, di seputar bola bumi ambil bagian dalam kesaksian dari rumah ke rumah

      Romania

      Bolivia

      Zimbabwe

      Hong Kong

      Belgia

      Uruguay

      Fiji

  • Memproduksi Bacaan Alkitab untuk Digunakan Dalam Pelayanan
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 26

      Memproduksi Bacaan Alkitab untuk Digunakan Dalam Pelayanan

      KATA-KATA yang tertulis telah memainkan peranan penting dalam ibadat sejati. Yehuwa memberikan Sepuluh Perintah kepada Israel, mula-mula secara lisan dan kemudian secara tertulis. (Kel. 20:1-17; 31:18; Gal. 3:19) Untuk memastikan bahwa Firman-Nya diteruskan dengan saksama, Allah memerintahkan Musa dan sederetan panjang nabi-nabi dan rasul-rasul sesudahnya untuk menulis.​—Kel. 34:27; Yer. 30:2; Hab. 2:2; Why. 1:11.

      Sebagian besar dari tulisan-tulisan masa awal itu dikerjakan di atas gulungan-gulungan. Namun pada abad kedua M, kodeks, atau buku yang berhalaman, dikembangkan. Ini lebih ekonomis dan lebih mudah digunakan. Dan yang memelopori penggunaannya adalah umat Kristen, karena mereka melihat kegunaannya dalam menyebarluaskan kabar baik tentang Kerajaan Mesias Allah. Berkenaan umat Kristen masa awal sebagai penerbit buku, Profesor E. J. Goodspeed, dalam bukunya Christianity Goes to Press, menyatakan, ”Mereka tidak hanya mengikuti zaman dalam hal-hal demikian, mereka bahkan mendahului zaman, dan para penerbit pada abad-abad berikutnya telah meniru mereka.”​—1940, hlm. 78.

      Jadi, tidak mengherankan bahwa Saksi-Saksi Yehuwa dewasa ini, sebagai pemberita Kerajaan Allah, dalam beberapa hal telah menjadi pelopor dalam industri percetakan.

      Menyediakan Lektur Bagi Siswa-Siswa Alkitab Masa Permulaan

      Salah satu di antara artikel-artikel pertama yang ditulis oleh C. T. Russell diterbitkan pada tahun 1876 dalam Bible Examiner, yang diedit oleh George Storrs dari Brooklyn, New York. Sesudah Saudara Russell mulai bekerja sama dengan N. H. Barbour dari Rochester, New York, Russell menyediakan dana untuk menerbitkan buku Three Worlds dan surat kabar yang berjudul Herald of the Morning. Ia bekerja sebagai rekan redaktur dari surat kabar tersebut, dan pada tahun 1877, ia menggunakan fasilitas Herald untuk menerbitkan buku kecil The Object and Manner of Our Lord’s Return. Saudara Russell mempunyai pikiran yang tajam mengenai perkara rohani dan juga urusan-urusan bisnis, namun Barbour-lah yang sangat berpengalaman dalam typesetting dan komposisi.

      Akan tetapi, ketika Barbour menolak nilai pendamaian dari korban tebusan Yesus Kristus untuk dosa, Saudara Russell memutuskan hubungan dengan dia. Maka, pada tahun 1879, ketika Russell mulai menerbitkan Zion’s Watch Tower and Herald of Christ’s Presence, ia harus mengandalkan percetakan-percetakan komersial.

      Pada tahun berikutnya, risalah pertama dari suatu rangkaian risalah ekstensif yang dirancang untuk membangkitkan minat orang kepada kebenaran Alkitab siap diterbitkan. Segera pekerjaan ini berkembang menjadi besar. Untuk dapat menanganinya Zion’s Watch Tower Tract Society dibentuk pada tanggal 16 Februari 1881, dengan W. H. Conley sebagai presiden dan C. T. Russell sebagai sekretaris dan bendahara. Penyelenggaraan dibuat agar pencetakan dilakukan oleh perusahaan komersial di berbagai kota di Pennsylvania, New York, dan Ohio, dan juga di Inggris. Pada tahun 1884, Zion’s Watch Tower Tract Societya menjadi badan hukum yang sah, dengan C. T. Russell sebagai presiden, dan dalam piagamnya tercantum bahwa badan itu lebih daripada sekadar lembaga yang mengatur penerbitan. Tujuan yang sebenarnya bersifat agama; ini didirikan untuk ”menyebarkan Kebenaran Alkitab dalam berbagai bahasa”.

      Betapa bergairahnya tujuan ini dikejar! Pada tahun 1881, dalam waktu empat bulan, 1.200.000 risalah dengan jumlah keseluruhan 200.000.000 halaman diterbitkan. (Banyak dari antara ”risalah-risalah” ini sebenarnya dalam bentuk buku kecil.) Sesudah itu, jumlah produksi risalah Alkitab untuk disebarkan secara cuma-cuma melonjak menjadi puluhan juta, tahun demi tahun. Risalah-risalah ini dicetak dalam sekitar 30 bahasa dan disebarkan tidak hanya di Amerika, tetapi juga di Eropa, Afrika Selatan, Australia, dan negeri-negeri lain.

      Aspek lain dari pekerjaan ini terbuka pada tahun 1886, ketika Saudara Russell selesai menulis buku The Divine Plan of the Ages, jilid pertama dari suatu seri yang terdiri dari enam jilid yang ia tulis secara pribadi. Sehubungan dengan penerbitan empat jilid pertama dari seri itu (1886-97), serta risalah dan majalah Watch Tower dari tahun 1887 sampai 1898, ia menggunakan Tower Publishing Company.b Pada waktunya, typesetting dan komposisi dilakukan oleh saudara-saudara di Rumah Alkitab di Pittsburgh. Untuk menghemat, mereka juga membeli kertas untuk pencetakan. Dalam hal pencetakan dan penjilidan yang sesungguhnya, Saudara Russell sering memasukkan order ke lebih dari satu perusahaan. Ia merencanakan dengan cermat, memesan barang-barang cukup jauh di muka untuk mendapatkan harga-harga yang pantas. Sejak saat penerbitan buku pertama yang ditulis oleh C. T. Russell sampai tahun 1916, ada sejumlah 9.384.000 buku dari enam jilid tersebut yang telah dihasilkan dan disebarkan.

      Penerbitan bacaan Alkitab tidak berhenti ketika Saudara Russell meninggal. Tahun berikutnya, jilid ketujuh dari Studies in the Scriptures dicetak. Buku ini diperkenalkan kepada keluarga Betel pada tanggal 17 Juli 1917. Permintaan akan buku ini menjadi sedemikian besar sehingga pada akhir tahun yang sama, Lembaga memesan kepada beberapa percetakan dan penjilidan komersial untuk mencetak 850.000 eksemplar dalam bahasa Inggris. Edisi-edisi dalam bahasa-bahasa lain juga diterbitkan di Eropa. Selain itu, sekitar 38 juta risalah dicetak pada tahun tersebut.

      Namun kemudian, selama masa penganiayaan yang hebat pada tahun 1918, sementara para pejabat Lembaga dipenjarakan secara tidak adil, kantor pusat mereka (yang berlokasi di Brooklyn, New York) dibongkar. Pelat-pelat untuk pencetakan dimusnahkan. Staf yang sudah sangat berkurang memindahkan kantor ke Pittsburgh ke lantai tiga dari suatu bangunan di 119 Federal Street. Apakah ini membuat mereka berhenti memproduksi lektur Alkitab?

      Haruskah Mereka Mencetak Sendiri?

      Setelah dibebaskannya presiden Lembaga, J. F. Rutherford, dan rekan-rekannya dari penjara, Siswa-Siswa Alkitab mengadakan kebaktian di Cedar Point, Ohio, pada tahun 1919. Mereka mengingat apa yang telah Allah izinkan terjadi pada tahun sebelumnya dan apa yang ditunjukkan oleh Firman-Nya harus mereka lakukan selama hari-hari selanjutnya. Diumumkan bahwa suatu majalah baru, The Golden Age, akan diterbitkan sebagai alat yang digunakan untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa Kerajaan Allah adalah satu-satunya harapan bagi umat manusia.

      Sebagaimana telah dilakukan di masa lalu, Lembaga mengatur agar pencetakan dikerjakan oleh perusahaan komersial. Akan tetapi, zaman telah berubah. Terdapat masalah ketenagakerjaan dalam industri percetakan dan problem dalam pasar kertas. Diperlukan penyelenggaraan yang lebih dapat diandalkan. Saudara-saudara mendoakan hal ini dan memperhatikan bimbingan Tuhan.

      Pertama-tama, di mana mereka harus mencari tempat untuk kantor-kantor Lembaga? Haruskah mereka memindahkan kantor pusat kembali ke Brooklyn? Dewan direksi Lembaga memikirkan hal ini dan suatu panitia ditunjuk untuk memeriksa situasinya.

      Saudara Rutherford menginstruksikan C. A. Wise, wakil presiden Lembaga, agar pergi ke Brooklyn untuk melihat apakah mungkin membuka kembali Betel dan menyewa tempat-tempat agar Lembaga dapat memulai kegiatan pencetakan. Dengan rasa ingin tahu mengenai langkah-langkah apa yang akan diberkati Allah, Saudara Rutherford mengatakan, ”Pergilah dan periksalah apakah Tuhan menghendaki kita kembali ke Brooklyn.”

      ”Bagaimana saya akan menentukan apakah Tuhan menghendaki kita kembali atau tidak?” tanya Saudara Wise.

      ”Kita terpaksa pindah dari Brooklyn kembali ke Pittsburgh karena kita gagal memperoleh persediaan batu bara pada tahun 1918,”c jawab Saudara Rutherford. ”Mari kita menjadikan batu bara sebagai percobaan. Pergilah dan pesanlah sejumlah batu bara.”

      ”Menurut saudara, berapa ton yang harus saya pesan sebagai percobaan?”

      ”Jangan tanggung-tanggung,” usul Saudara Rutherford. ”Pesanlah 500 ton.”

      Itulah tepatnya yang dilakukan Saudara Wise. Dan apa hasilnya? Ketika ia mengajukan permohonan kepada kalangan berwenang, ia mendapatkan sertifikat untuk memperoleh 500 ton batu bara—cukup untuk keperluan mereka selama beberapa tahun! Tetapi di mana mereka akan menyimpannya? Tempat-tempat yang besar di ruang bawah tanah Rumah Betel diubah menjadi gudang batu bara.

      Hasil percobaan ini dianggap sebagai petunjuk yang tidak diragukan dari kehendak Allah. Menjelang awal bulan Oktober 1919, sekali lagi mereka mulai melaksanakan kegiatan mereka dari Brooklyn.

      Sekarang, apakah mereka harus mencetak sendiri? Mereka berupaya membeli sebuah mesin cetak majalah rotary tetapi mereka diberi tahu bahwa hanya ada beberapa mesin cetak seperti ini di Amerika Serikat dan kecil kemungkinan untuk mendapatkannya dalam beberapa bulan. Meskipun demikian, mereka yakin bahwa jika ini kehendak Tuhan, Ia akan membuka jalan. Dan Ia memang melakukannya!

      Hanya beberapa bulan setelah mereka kembali ke Brooklyn, mereka berhasil membeli sebuah mesin cetak rotary. Delapan blok dari Rumah Betel, di 35 Myrtle Avenue, mereka menyewa tiga lantai di sebuah gedung. Pada awal tahun 1920, Lembaga sudah memiliki tempat percetakan sendiri—kecil, namun lengkap. Saudara-saudara yang cukup berpengalaman dalam menjalankan peralatan itu menawarkan diri mereka untuk membantu pekerjaan ini.

      Terbitan The Watch Tower tanggal 1 Februari tahun tersebut dihasilkan oleh percetakan Lembaga sendiri. Menjelang bulan April, The Golden Age juga diproduksi oleh percetakan mereka sendiri. Pada akhir tahun itu, dengan senang hati The Watch Tower melaporkan, ”Selama bagian terbesar dari tahun itu, semua pekerjaan untuk THE WATCH TOWER, THE GOLDEN AGE, dan banyak buku kecil, telah dikerjakan oleh tangan-tangan yang penuh pengabdian, dan hanya satu motif yang menggerakkan tindakan mereka, dan motif itu adalah kasih akan Tuhan dan maksud-tujuan-Nya yang adil-benar. . . . Ketika jurnal dan publikasi lain terpaksa berhenti karena kekurangan kertas atau masalah perburuhan, penerbitan publikasi kita terus berjalan tanpa hambatan.”

      Ruang percetakan sangat terbatas, namun jumlah pekerjaan yang dihasilkan luar biasa. Jumlah The Watch Tower yang biasa dicetak adalah 60.000 eksemplar untuk setiap terbitan. Selain itu majalah The Golden Age juga dicetak di sana, dan pada tahun pertama, terbitan 29 September merupakan terbitan khusus. Majalah itu memuat penyingkapan yang terperinci tentang pelaku-pelaku penganiayaan terhadap Siswa-Siswa Alkitab mulai tahun 1917 hingga tahun 1920. Empat juta eksemplar dicetak! Salah seorang karyawan percetakan belakangan berkata, ’Setiap anggota keluarga Betel, kecuali juru masak, membantu dalam mencetak majalah ini.’

      Pada tahun pertama mereka menggunakan mesin cetak rotary, Saudara Rutherford bertanya kepada saudara-saudara apakah mereka juga dapat mencetak buku-buku kecil dengan mesin cetak ini. Pada mulanya hal itu kelihatan tidak mungkin. Para perancang mesin ini mengatakan bahwa itu tidak dapat dilaksanakan. Namun saudara-saudara mencobanya dan sukses. Mereka sendiri juga menciptakan mesin pelipat sehingga dengan demikian mengurangi kebutuhan akan tenaga kerja untuk jenis pekerjaan itu dari 12 orang menjadi 2 orang. Apa yang membuat mereka sukses? ”Pengalaman dan berkat Tuhan,” begitulah manajer percetakan menyimpulkan.

      Akan tetapi, bukan di Brooklyn saja Lembaga menjalankan kegiatan pencetakan. Beberapa dari kegiatan pencetakan untuk lektur bahasa asing diawasi dari kantor di Michigan. Untuk mengurus kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan pekerjaan ini, pada tahun 1921, Lembaga memasang sebuah mesin Linotype, mesin-mesin cetak, dan peralatan lain yang diperlukan di Detroit, Michigan. Di sana lektur-lektur dicetak dalam bahasa-bahasa Polski, Rusia, Ukraina, dan bahasa-bahasa lain.

      Pada tahun yang sama, Lembaga menerbitkan buku The Harp of God, yang ditulis dalam gaya yang cocok bagi para pemula dalam pengajaran Alkitab. Sampai tahun 1921, Lembaga belum mencoba mencetak dan menjilid buku-buku sendiri. Apakah mereka perlu berupaya melakukan pekerjaan ini juga? Sekali lagi, mereka mencari bimbingan Tuhan.

      Saudara-Saudara yang Berbakti Mencetak dan Menjilid Buku-Buku

      Pada tahun 1920, The Watch Tower melaporkan bahwa banyak kolportir terpaksa berhenti dari dinas tersebut karena perusahaan percetakan dan penjilidan tidak mampu memenuhi pesanan Lembaga. Saudara-saudara di kantor pusat berpikir jika mereka dapat bebas dari ketergantungan kepada pabrik-pabrik komersial dengan segala masalah perburuhannya, mereka dapat menghasilkan kesaksian yang lebih besar mengenai maksud-tujuan Allah bagi umat manusia. Jika mereka mencetak dan menjilid sendiri buku-buku mereka, para penentang akan lebih sulit mengganggu pekerjaan mereka. Dan pada waktunya mereka berharap untuk dapat menghemat biaya pencetakan buku-buku dan dengan demikian masyarakat dapat lebih mudah memilikinya.

      Namun hal ini menuntut lebih banyak ruangan dan peralatan, dan mereka harus mempelajari keterampilan-keterampilan yang baru. Dapatkah mereka melakukannya? Robert J. Martin, pengawas percetakan, mengingat bahwa pada zaman Musa, Yehuwa telah ’memenuhi Bezaleel dan Aholiab dengan keahlian, untuk membuat segala macam pekerjaan’ yang diperlukan untuk membangun kemah suci. (Kel. 35:30-35) Dengan mengingat kisah Alkitab itu, Saudara Martin yakin bahwa Yehuwa juga akan melakukan apa saja yang diperlukan sehingga hamba-hamba-Nya dapat menerbitkan bacaan untuk mengumumkan Kerajaan.

      Setelah banyak renungan dan doa, rencana-rencana yang pasti mulai dihasilkan. Dengan melihat kembali apa yang telah terjadi, Saudara Martin belakangan menulis kepada Saudara Rutherford, ”Hari terbesar adalah hari saat saudara ingin mengetahui apakah ada suatu alasan yang kuat mengapa kita tidak mencetak dan menjilid buku-buku kita sendiri. Itu adalah ide yang mendebarkan hati, sebab itu berarti kita harus membuka sebuah pabrik yang lengkap dengan peralatan typesetting, electroplating, pencetakan dan penjilidan yang menjalankan puluhan mesin yang belum kita kenal, sebagian besar di antaranya bahkan tidak kita ketahui bahwa mesin semacam itu ada, dan perlunya untuk belajar banyak sekali keterampilan. Namun itu merupakan cara terbaik untuk menyaingi harga buku yang tinggi setelah perang.

      ”Saudara mengontrak gedung bertingkat enam di 18 Concord Street (dengan dua lantai masih digunakan oleh penyewa lain); dan pada tanggal 1 Maret 1922, kami pindah ke sana. Saudara membeli peralatan lengkap yang terdiri dari mesin-mesin untuk typesetting, electroplating, mencetak dan menjilid, sebagian besar baru, beberapa bekas; dan kami mulai bekerja.

      ”Presiden dari salah satu perusahaan percetakan besar yang pernah melakukan banyak pekerjaan untuk kita, mendengar apa yang sedang kami lakukan dan datang mengunjungi kami. Ia melihat peralatan yang baru itu dan dengan muka muram menyatakan, ’Kalian sekarang memiliki percetakan kelas satu, tetapi tidak seorang pun di sini tahu bagaimana menjalankannya. Dalam waktu enam bulan semuanya akan menjadi barang rongsokan; dan kalian akan menyadari bahwa orang-orang yang patut mengerjakan pencetakan bagi kalian adalah orang-orang yang selama ini telah melakukannya, dan mereka adalah yang terlibat dalam bisnis pencetakan.’

      ”Memang kedengarannya cukup masuk akal, tetapi ia tidak memperhitungkan Tuhan; dan Ia selalu menyertai kita. Ketika penjilidan dimulai Tuhan menyediakan seorang saudara yang telah menggunakan seluruh hidupnya dalam bisnis penjilidan. Saudara ini memang sangat bermanfaat tepat pada waktu ia sangat dibutuhkan. Dengan bantuannya, juga dengan roh Tuhan yang bekerja melalui saudara-saudara yang berupaya untuk belajar, tidak lama kemudian kami mulai membuat buku-buku.”

      Karena percetakan di Concord Street mempunyai cukup tempat, maka pekerjaan-pekerjaan pencetakan di Detroit digabungkan dengan yang ada di Brooklyn. Pada tahun kedua di lokasi ini, saudara-saudara sudah menghasilkan 70 persen dari buku-buku dan buku-buku kecil yang diperlukan selain majalah dan risalah dan surat selebaran. Pada tahun berikutnya, bertambahnya pekerjaan menyebabkan dua lantai yang tersisa dalam bangunan percetakan itu perlu digunakan.

      Dapatkah mereka mempercepat produksi buku-buku mereka? Khusus untuk maksud tersebut, mereka memesan mesin cetak yang dirancang di Jerman, dikirim ke Amerika, dan mulai dijalankan pada tahun 1926. Sepanjang pengetahuan mereka, itu adalah mesin cetak rotary pertama yang digunakan di Amerika untuk mencetak buku-buku.

      Namun, kegiatan pencetakan yang dilakukan oleh Siswa-Siswa Alkitab tidak semuanya berada di Amerika.

      Kegiatan Pencetakan yang Mula-Mula di Negeri-Negeri Lain

      Dengan menggunakan perusahaan-perusahaan komersial, Saudara Russell sudah mulai mengusahakan pencetakan di Inggris bahkan sejak tahun 1881. Ini juga dilakukan di Jerman pada tahun 1903, di Yunani pada tahun 1906, di Finlandia pada tahun 1910, dan bahkan di Jepang pada tahun 1913. Selama tahun-tahun sesudah perang dunia pertama, sejumlah besar pencetakan demikian—buku, buku kecil, majalah, dan risalah—dikerjakan di Inggris, negeri-negeri Skandinavia, Jerman, serta Polandia, dan sebagian dilakukan di Brasil dan India.

      Kemudian, tahun 1920, tahun yang sama ketika Lembaga mulai mencetak sendiri majalah-majalahnya di Brooklyn, penyelenggaraan dibuat bagi saudara kita di Eropa untuk melakukan sebagian dari pekerjaan ini juga. Sekelompok saudara di Swiss mengorganisasi sebuah perusahaan percetakan di Bern. Itu adalah perusahaan mereka sendiri. Namun mereka semua adalah Siswa-Siswa Alkitab, dan mereka memproduksi lektur untuk Lembaga dalam bahasa-bahasa Eropa dengan biaya yang sangat rendah. Pada waktunya, Lembaga membeli pabrik percetakan tersebut dan memperluasnya. Untuk memenuhi kebutuhan yang sangat mendesak di negeri-negeri yang secara ekonomi sangat miskin di Eropa pada waktu itu, sejumlah besar lektur gratis dihasilkan di sana. Selama akhir tahun 1920-an, publikasi-publikasi dalam belasan bahasa lebih dikirimkan dari pabrik ini.

      Pada saat yang sama, minat yang besar diperlihatkan terhadap berita Kerajaan di Romania. Meskipun adanya tentangan yang hebat atas pekerjaan kita di sana, Lembaga mendirikan percetakan di Cluj, demi mengurangi ongkos lektur dan membuat orang-orang yang lapar akan kebenaran di Romania dan di negeri-negeri yang berdekatan lebih mudah memilikinya. Pada tahun 1924, percetakan itu mampu menghasilkan hampir seperempat juta buku berjilid, selain majalah dan buku kecil dalam bahasa Romania dan Hongaria. Akan tetapi, seorang yang mengawasi pekerjaan di sana terbukti tidak setia kepada kepercayaan yang diberikan dan melakukan tindakan-tindakan yang menyebabkan Lembaga mengalami kerugian harta milik dan peralatan. Meskipun demikian, saudara-saudara yang setia di Romania terus melakukan apa yang dapat mereka lakukan untuk membagikan kebenaran Alkitab kepada orang-orang lain.

      Di Jerman, sesudah Perang Dunia I, sejumlah besar orang datang berduyun-duyun ke perhimpunan Siswa-Siswa Alkitab. Tetapi penduduk Jerman mengalami kesulitan ekonomi yang parah. Agar dapat menekan harga bacaan Alkitab demi kepentingan mereka, Lembaga juga mendirikan percetakan sendiri di sana. Di Barmen, pada tahun 1922, pencetakan dilakukan dengan menggunakan mesin cetak flatbed yang terletak di dekat tangga di dalam Rumah Betel dan mesin lainnya terletak di dalam gudang penyimpanan kayu. Pada tahun berikutnya, saudara-saudara pindah ke Magdeburg untuk mendapatkan fasilitas yang lebih memadai. Mereka memiliki bangunan-bangunan yang baik di sana, bangunan tambahan dibuat, dan peralatan untuk mencetak dan menjilid dipasang. Menjelang akhir tahun 1925, dilaporkan bahwa kapasitas produksi dari percetakan ini setidaknya akan menjadi sama besar seperti kapasitas yang pada waktu itu digunakan di kantor pusat di Brooklyn.

      Sebagian besar pencetakan yang benar-benar dikerjakan oleh saudara-saudara dimulai dalam skala kecil. Demikian juga halnya di Korea, pada tahun 1922, Lembaga mendirikan sebuah percetakan kecil yang diperlengkapi untuk memproduksi lektur dalam bahasa Korea dan juga bahasa Jepang dan Cina. Setelah beberapa tahun, peralatan tersebut dipindahkan ke Jepang.

      Menjelang tahun 1924, pencetakan lektur yang lebih kecil juga dilakukan di Kanada dan Afrika Selatan. Pada tahun 1925, sebuah mesin cetak kecil dipasang di Australia dan satu lagi di Brasil. Saudara-saudara di Brasil segera menggunakan peralatan mereka untuk mencetak The Watch Tower dalam edisi Portugis. Kantor cabang Lembaga di Inggris memperoleh peralatannya yang pertama pada tahun 1926. Pada tahun 1929, orang-orang rendah hati yang lapar secara rohani dipuaskan oleh publikasi The Watch Tower yang dihasilkan dari mesin cetak kecil yang ada di sana. Dua tahun kemudian, sebuah mesin cetak mulai beroperasi di ruang bawah tanah kantor cabang di Finlandia.

      Sementara itu, ekspansi juga dilakukan di kantor pusat sedunia.

      Percetakan Mereka Sendiri di Kantor Pusat Sedunia

      Sejak tahun 1920, Lembaga telah menyewa ruangan pabrik di Brooklyn. Bahkan gedung yang digunakan sejak tahun 1922 tidak berada dalam kondisi yang baik; seluruh bangunan akan berguncang dengan hebat jika mesin cetak rotary bekerja di ruang bawah tanah. Selain itu, diperlukan ruangan yang lebih luas untuk pekerjaan yang bertambah. Saudara-saudara berpikir bahwa dana yang tersedia dapat dipakai dengan lebih baik jika mereka memiliki percetakan mereka sendiri.

      Sebidang tanah yang jaraknya hanya beberapa blok dari Rumah Betel tampaknya merupakan lokasi yang sangat baik, maka mereka menawarnya. Ternyata kemudian, Squibb Pharmaceutical Corporation memenangkan penawaran; tetapi ketika mereka mulai membangun di atas tanah itu, mereka harus memancangkan 1.167 tiang agar dapat menjadi fondasi yang kokoh. (Bertahun-tahun kemudian, Lembaga Menara Pengawal membeli gedung-gedung tersebut dari Squibb, dengan fondasi yang baik sudah ada pada tempatnya!) Akan tetapi, kondisi tanah yang dibeli oleh Lembaga pada tahun 1926 cocok untuk dibangun gedung karena mempunyai daya tahan beban yang baik.

      Pada bulan Februari 1927, mereka pindah ke gedung yang sama sekali baru di 117 Adams Street di Brooklyn. Di sana ruangan yang tersedia hampir dua kali lipat besarnya dibanding ruangan yang pernah mereka gunakan sampai saat itu. Gedung itu dirancang dengan baik, sehingga operasi pekerjaan bergerak dari lantai-lantai atas turun melalui berbagai departemen hingga sampai di Departemen Pengiriman di lantai dasar.

      Akan tetapi, pertumbuhan belum selesai. Dalam waktu sepuluh tahun, percetakan ini harus diperluas; dan masih akan diperluas lagi. Selain mencetak jutaan majalah dan buku kecil setiap tahun, percetakan ini menghasilkan sebanyak 10.000 buku setiap hari. Ketika Alkitab-Alkitab lengkap mulai termasuk di antara buku-buku tersebut pada tahun 1942, Lembaga Menara Pengawal sekali lagi memelopori suatu bidang yang baru dalam industri percetakan. Saudara-saudara mengadakan eksperimen sampai mereka berhasil menggunakan kertas Alkitab yang tipis pada mesin cetak rotary—sesuatu yang baru bertahun-tahun kemudian dicoba oleh percetakan-percetakan lain.

      Sementara produksi dalam skala besar berlangsung, kelompok yang memiliki kebutuhan khusus tidak diabaikan. Pada tahun 1910, seorang Siswa Alkitab di Boston, Massachusetts, dan seorang lagi di Kanada sudah bekerja sama untuk mereproduksi lektur Lembaga ke dalam huruf-huruf Braille. Menjelang tahun 1924, dari sebuah kantor di Logansport, Indiana, Lembaga menghasilkan publikasi-publikasi demi kepentingan kaum tunanetra. Namun, karena hanya sedikit sekali tanggapan pada waktu itu, pekerjaan membuat huruf Braille ini dihentikan pada tahun 1936, dan lebih ditandaskan untuk membantu kaum tunanetra melalui rekaman fonograf dan juga perhatian pribadi. Belakangan, pada tahun 1960, lektur dengan huruf Braille kembali diproduksi—kali ini dengan lebih banyak variasi, dan secara bertahap tanggapan membaik.

      Menghadapi Tantangan dari Perlawanan yang Hebat

      Di sejumlah negeri, pencetakan dilakukan di bawah keadaan-keadaan yang sangat sulit. Tetapi saudara-saudara kita bertekun, karena menyadari bahwa pekerjaan pemberitaan kabar baik tentang Kerajaan adalah pekerjaan yang Allah Yehuwa, melalui Putra-Nya, sudah perintahkan untuk dilaksanakan. (Yes. 61:1, 2; Mrk. 13:10) Di Yunani, misalnya, saudara-saudara mendirikan percetakan mereka pada tahun 1936 dan ketika mereka baru menjalankannya selama beberapa bulan peralihan pemerintahan terjadi dan kalangan yang berwenang menutup percetakan mereka. Demikian pula, di India pada tahun 1940, Claude Goodman sudah bekerja selama berbulan-bulan untuk memasang sebuah mesin cetak dan belajar menjalankannya, tetapi tidak lama kemudian polisi yang dikirim oleh maharaja masuk, dan mengangkut mesin cetak itu dengan truk dan membuang semua huruf yang sudah disortir dengan teliti ke dalam kaleng-kaleng besar.

      Di banyak lokasi lain, hukum yang mengatur lektur impor menyebabkan saudara-saudara merasa perlu untuk menyerahkan pekerjaan kepada percetakan-percetakan komersial setempat, walaupun Lembaga mempunyai percetakan di negeri tetangga yang diperlengkapi untuk melakukan pekerjaan tersebut. Demikian yang terjadi pada pertengahan tahun 1930-an di tempat-tempat seperti Denmark, Latvia, dan Hongaria.

      Pada tahun 1933, pemerintah Jerman, karena didesak oleh para pemimpin agama, mulai menutup kegiatan pencetakan dari Saksi-Saksi Yehuwa di Jerman. Polisi menduduki percetakan Lembaga Menara Pengawal di Magdeburg dan menutupnya pada bulan April tahun tersebut, tetapi mereka tidak dapat menemukan bukti-bukti yang memberatkan sehingga mereka menarik diri. Meskipun demikian, mereka menghalangi lagi pada bulan Juni. Agar dapat terus menyebarkan berita Kerajaan, Lembaga mendirikan percetakan di Praha, Cekoslowakia, dan cukup banyak peralatan dari Magdeburg dipindahkan ke sana. Dengan penyelenggaraan ini, majalah dalam dua bahasa dan buku kecil dalam enam bahasa dihasilkan selama beberapa tahun berikutnya.

      Kemudian, pada tahun 1939, pasukan Hitler masuk ke Praha, maka saudara-saudara segera membongkar peralatan mereka dan mengirimkannya ke luar negeri. Sebagian dikirim ke Belanda. Perpindahan ini sangat tepat waktu. Komunikasi dengan Swiss menjadi semakin sukar bagi saudara-saudara di Belanda. Lalu mereka menyewa ruangan dan, dengan mesin-mesin cetak yang baru mereka peroleh, mengerjakan pencetakan mereka sendiri. Namun, ini hanya berlangsung untuk waktu yang singkat sebelum percetakan ini disita oleh tentara-tentara Nazi yang datang menyerbu. Namun saudara-saudara terus menggunakan peralatan itu selama mungkin.

      Ketika tindakan pemerintah yang sewenang-wenang di Finlandia memaksa dihentikannya penerbitan The Watch Tower selama perang, saudara-saudara di sana membuat stensilan berisi artikel-artikel utama dan mengirimkannya melalui kurir. Sesudah Austria diduduki oleh Nazi pada tahun 1938, The Watch Tower dicetak dengan mesin stensil yang terus-menerus harus dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain supaya tidak jatuh ke tangan Gestapo. Demikian pula di Kanada pada waktu Saksi-Saksi berada di bawah larangan masa perang, mereka harus memindahkan peralatan mereka berulang-ulang agar dapat terus menyediakan makanan rohani bagi saudara-saudara mereka.

      Di Australia, pada waktu pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa dilarang, saudara-saudara mencetak majalah-majalah mereka sendiri dan bahkan mencetak buku-buku dijilid—sesuatu yang belum pernah mereka lakukan bahkan dalam kondisi-kondisi yang lebih baik. Mereka harus memindahkan mesin penjilidan mereka sebanyak 16 kali agar peralatan tersebut tidak disita, tetapi mereka berhasil memproduksi 20.000 buku bersampul keras tepat pada waktunya sehingga dapat diperkenalkan di kebaktian yang diselenggarakan pada tahun 1941 meskipun menghadapi hambatan yang sangat besar.

      Ekspansi Setelah Perang Dunia II

      Setelah perang berakhir, Saksi-Saksi Yehuwa berhimpun pada suatu kebaktian internasional di Cleveland, Ohio, pada tahun 1946. Di sana Nathan H. Knorr, presiden Lembaga Menara Pengawal pada waktu itu, berbicara mengenai rekonstruksi dan ekspansi. Sejak pecahnya Perang Dunia II, jumlah Saksi telah bertambah sebanyak 157 persen dan para utusan injil dengan cepat membuka pekerjaan di ladang-ladang yang baru. Untuk memenuhi permintaan seluas bumi akan bacaan-bacaan Alkitab, Saudara Knorr menguraikan rencana-rencana untuk memperluas fasilitas-fasilitas di kantor pusat sedunia. Sebagai hasil dari rencana ekspansi itu, percetakan akan mempunyai ruangan yang besarnya lebih dari dua kali lipat dibanding ruangan yang semula dibangun pada tahun 1927 dan Rumah Betel yang sangat diperbesar harus disediakan untuk para pekerja sukarela. Pertambahan-pertambahan ini diselesaikan dan mulai digunakan pada awal tahun 1950.

      Fasilitas percetakan dan kantor di kantor pusat sedunia di Brooklyn harus diperbesar berulang kali sejak tahun 1950. Sampai tahun 1992, mereka sudah menempati sebidang tanah sebesar kira-kira delapan blok dan mencakup ruangan seluas 230.071 meter persegi. Ini bukan sekadar gedung-gedung untuk membuat buku. Gedung-gedung ini dibaktikan kepada Yehuwa, digunakan untuk memproduksi bacaan yang dirancang guna mendidik orang-orang tentang tuntutan-tuntutan-Nya bila ingin mendapatkan kehidupan.

      Di beberapa tempat, Lembaga sulit menjalankan kembali percetakan-percetakannya sesudah perang dunia kedua. Kompleks percetakan dan kantor yang dimiliki Lembaga di Magdeburg, Jerman, berada dalam zona kekuasaan Komunis. Saksi-Saksi Jerman pindah kembali ke sana, tetapi mereka hanya dapat bekerja untuk waktu yang singkat sebelum kompleks tersebut kembali disita. Untuk memenuhi kebutuhan di Jerman Barat, sebuah percetakan harus didirikan di sana. Kota-kota sudah menjadi puing-puing akibat pemboman. Namun, Saksi-Saksi segera memperoleh izin untuk menggunakan suatu percetakan kecil yang pernah digunakan oleh kaum Nazi di Karlsruhe. Menjelang tahun 1948, mereka mempunyai dua mesin cetak flatbed yang dijalankan siang malam dalam suatu bangunan yang dapat mereka gunakan di Wiesbaden. Pada tahun berikutnya, mereka memperluas fasilitas di Wiesbaden dan menambah jumlah mesin cetak menjadi empat kali lipat untuk memenuhi kebutuhan para pemberita Kerajaan yang meningkat pesat di bagian-bagian ladang tersebut.

      Ketika Lembaga mulai mencetak kembali secara terbuka di Yunani pada tahun 1946, catu daya listrik tidak dapat diandalkan. Kadang-kadang listrik mati selama berjam-jam pada suatu waktu. Di Nigeria pada tahun 1977, saudara-saudara menghadapi problem yang serupa. Sebelum cabang Nigeria mempunyai generatornya sendiri, para pekerja percetakan harus kembali bekerja kapan saja, siang atau malam, bila listrik telah kembali menyala. Karena semangat demikian, tak satu pun terbitan The Watchtower yang tidak mereka hasilkan.

      Sesudah kunjungan Saudara Knorr ke Afrika Selatan pada tahun 1948, sebidang tanah dibeli di Elandsfontein; dan pada awal tahun 1952, kantor cabang dipindahkan ke percetakan yang baru di sana—percetakan pertama yang benar-benar dibangun oleh Lembaga di Afrika Selatan. Dengan menggunakan mesin cetak flatbed yang baru, mereka mulai mencetak majalah-majalah dalam delapan bahasa yang digunakan di Afrika. Pada tahun 1954, cabang di Swedia diperlengkapi untuk mencetak majalah-majalahnya pada mesin cetak flatbed, demikian pula dengan cabang di Denmark pada tahun 1957.

      Seraya permintaan akan lektur meningkat, mesin cetak rotary berkecepatan tinggi juga disediakan, mula-mula bagi satu cabang kemudian bagi cabang yang lain. Kanada menerima mesinnya yang pertama pada tahun 1958; Inggris, pada tahun 1959. Pada tahun 1975, Lembaga Menara Pengawal telah memiliki 70 mesin cetak rotary yang besar yang dioperasikan di percetakan-percetakan seluas dunia.

      Suatu Jaringan Global untuk Menerbitkan Kebenaran Alkitab

      Pada akhir tahun 1960-an dan sesudahnya, suatu upaya terpadu dikerahkan untuk mencapai desentralisasi lebih lanjut dari operasi-operasi pencetakan Lembaga Menara Pengawal. Jumlah Saksi-Saksi Yehuwa bertumbuh dengan sangat cepat. Lebih banyak ruangan percetakan diperlukan guna menyediakan bacaan Alkitab untuk digunakan oleh mereka sendiri dan untuk disebarkan kepada umum. Namun proses perluasan di Brooklyn berjalan lambat karena terbatasnya tanah yang tersedia dan juga karena rumitnya prosedur hukum. Rencana-rencana dibuat untuk melakukan lebih banyak pencetakan di tempat lain.

      Maka, pada tahun 1969, sebuah percetakan yang baru mulai dirancang untuk dibangun dekat Wallkill, New York, sekitar 150 kilometer sebelah barat laut Brooklyn. Ini akan memperbanyak dan memperluas fasilitas-fasilitas kantor pusat, dan pada akhirnya hampir semua majalah Watchtower dan Awake! untuk Amerika Serikat datang dari Wallkill. Tiga tahun kemudian, gedung percetakan yang kedua untuk Wallkill sudah mulai dirancang, yang ini jauh lebih besar daripada yang pertama. Menjelang tahun 1977, mesin cetak rotary sudah menghasilkan lebih dari 18 juta majalah per bulan. Pada tahun 1992, mesin-mesin cetak ofset MAN-Roland dan Hantscho yang besar digunakan (hanya 4 mesin cetak ofset sebaliknya dari 15 mesin cetak yang sebelumnya) dan kapasitas produksinya melebihi satu juta majalah per hari.

      Ketika kegiatan pencetakan di Wallkill pertama-tama direncanakan, The Watchtower yang pada waktu itu sudah terbit dalam 72 bahasa, 32 di antaranya dicetak di Brooklyn; Awake! dicetak dalam 14 dari 26 bahasa. Sekitar 60 persen dari jumlah total yang dicetak di seluruh dunia diproduksi di kantor pusat sedunia. Akan lebih menguntungkan jika lebih banyak dari pekerjaan ini dilakukan di negeri-negeri di luar Amerika Serikat dan oleh saudara-saudara kita di sana, bukan oleh perusahaan-perusahaan komersial. Jadi, jika krisis dunia di masa depan atau halangan pemerintah terhadap pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa menghambat kegiatan di bagian mana pun di bumi, makanan rohani yang penting masih dapat disediakan.

      Demikianlah pada tahun 1971, hampir dua tahun sebelum percetakan Menara Pengawal yang pertama di Wallkill mulai beroperasi, pekerjaan sudah dimulai untuk menyediakan sebuah percetakan baru yang bermutu di Numazu, Jepang. Pertambahan pemberita Kerajaan sebanyak lebih dari lima kali lipat di Jepang selama dekade sebelumnya menunjukkan bahwa banyak bacaan Alkitab akan diperlukan di sana. Pada waktu yang sama, fasilitas cabang di Brasil diperbesar. Hal yang sama terjadi di Afrika Selatan, yang memproduksi bacaan Alkitab dalam lebih dari dua puluh bahasa Afrika. Pada tahun berikutnya, 1972, fasilitas penerbitan Lembaga di Australia diperluas sebesar empat kali lipat, dengan maksud agar setiap terbitan The Watchtower dan Awake! dapat disediakan di bagian dunia tersebut tanpa terhalang oleh keterlambatan pengiriman yang berkepanjangan. Percetakan tambahan juga didirikan di Prancis dan di Filipina.

      Pada awal tahun 1972, N. H. Knorr dan pengawas percetakan di Brooklyn, M. H. Larson, mengadakan perjalanan internasional untuk memeriksa pekerjaan yang sedang dilakukan, dengan maksud mengorganisasi segala sesuatunya agar fasilitas ini dapat digunakan sebaik-baiknya dan meletakkan dasar untuk ekspansi di masa mendatang. Kunjungan mereka meliputi 16 negeri di Amerika Selatan, Afrika, dan Timur Jauh.

      Tidak lama kemudian, cabang Jepang memproduksi sendiri majalah-majalah bahasa Jepang yang diperlukan untuk bagian ladang itu, dan tidak bergantung lagi kepada percetakan komersial. Pada tahun yang sama, 1972, cabang di Ghana mulai mencetak Menara Pengawal dalam tiga dari bahasa-bahasa setempat, dan tidak menunggu lagi pengiriman dari Amerika Serikat dan Nigeria. Kemudian, cabang di Filipina mulai mengerjakan komposisi dan pencetakan The Watchtower dan Awake! dalam delapan bahasa setempat (di samping mencetak majalah yang diperlukan dalam bahasa Inggris). Hal ini menghasilkan langkah maju yang besar dalam desentralisasi dari kegiatan pencetakan Menara Pengawal.

      Menjelang akhir tahun 1975, Lembaga Menara Pengawal menerbitkan bacaan Alkitab di fasilitasnya sendiri yang terdapat di 23 negeri yang tersebar seluas bumi—buku-buku di tiga negeri; buku kecil atau majalah atau keduanya di seluruh 23 lokasi. Di 25 negeri lain, Lembaga menghasilkan barang cetakan yang lebih kecil dengan peralatannya sendiri.

      Kapasitas Lembaga untuk memproduksi buku-buku berjilid juga ditingkatkan. Sebagian penjilidan buku telah dikerjakan di Swiss dan Jerman bahkan sejak pertengahan tahun 1920-an. Sesudah Perang Dunia II, pada tahun 1948, saudara-saudara di Finlandia mulai menjilid buku (pada mulanya, sebagian besar dengan menggunakan tangan) terutama untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Dua tahun kemudian, cabang di Jerman mulai lagi mengerjakan penjilidan, dan pada waktunya cabang ini juga mengambil alih penjilidan buku yang dilakukan di Swiss.

      Kemudian, pada tahun 1967, dengan adanya lebih dari satu juta Saksi di seluruh dunia dan dengan diperkenalkannya buku-buku berukuran saku untuk digunakan dalam pelayanan mereka, permintaan akan bacaan Alkitab jenis ini melonjak. Dalam sembilan tahun, terdapat kenaikan jumlah kegiatan penjilidan di Brooklyn sebesar lebih dari enam kali lipat. Sampai tahun 1992, Lembaga Menara Pengawal memiliki seluruhnya 28 kegiatan penjilidan yang dioperasikan di delapan negeri yang berlainan.

      Pada tahun yang sama, 1992, Lembaga Menara Pengawal tidak hanya mencetak bacaan-bacaan Alkitab dalam 180 bahasa di Amerika Serikat tetapi empat dari percetakan utamanya yang terletak di Amerika Latin menyediakan banyak bacaan yang dibutuhkan di dalam negeri maupun di negeri-negeri lain di bagian dunia tersebut. Sebelas percetakan lagi sedang memproduksi lektur di Eropa dan semuanya membantu memenuhi kebutuhan lektur di negeri-negeri lain. Di antaranya, Prancis secara teratur menyediakan lektur bagi 14 negeri, dan Jerman, yang mencetak dalam lebih dari 40 bahasa, mengirim lektur dalam jumlah besar ke 20 negeri dan dalam jumlah yang lebih kecil ke banyak negeri lain. Di Afrika, enam percetakan Menara Pengawal menghasilkan bacaan Alkitab seluruhnya dalam 46 bahasa. Sebelas percetakan lain—beberapa besar, beberapa kecil—menyediakan lektur bagi Timur Tengah dan Timur Jauh, pulau-pulau di Pasifik, Kanada, dan daerah-daerah lain untuk digunakan dalam menyebarkan berita-berita yang mendesak tentang Kerajaan Allah. Di 27 negeri lain, Lembaga membuat barang cetakan yang lebih kecil yang dibutuhkan oleh sidang-sidang agar dapat berfungsi dengan lancar.

      Metode Baru, Peralatan Baru

      Selama tahun 1960-an dan 1970-an, suatu revolusi melanda industri percetakan. Dengan kecepatan yang menakjubkan, sistem letterpress diganti dengan sistem cetak ofset.d Lembaga Menara Pengawal tidak langsung ikut mengganti sistem cetaknya. Pelat-pelat yang tersedia untuk mesin cetak ofset kurang cocok untuk mencetak dalam kuantitas yang besar yang dibutuhkan Lembaga untuk mencetak lektur. Lagi pula, perubahan semacam ini menuntut cara-cara typesetting dan komposisi yang sama sekali baru. Mesin-mesin cetak yang baru diperlukan. Teknologi baru harus dipelajari. Hampir semua peralatan dalam percetakan-percetakan Lembaga harus diganti. Biayanya akan sangat mengejutkan.

      Akan tetapi, pada waktunya menjadi jelas bahwa suplai untuk mendukung cetak letterpress lama-lama tidak akan tersedia lagi. Daya tahan pelat-pelat ofset segera bertambah baik. Perubahan harus dilakukan.

      Bahkan sudah sejak tahun 1972, karena mereka sangat berminat akan perkembangan dalam cetak ofset, tiga anggota keluarga Betel di Afrika Selatan membeli sebuah mesin cetak sheetfed offset bekas yang kecil. Mereka memperoleh sedikit pengalaman dalam membuat hasil-hasil cetakan yang sederhana dengan mesin itu. Kemudian, pada tahun 1974, mesin ini digunakan untuk mencetak buku Kebenaran yang Membimbing Kepada Hidup yang Kekal, sebuah buku ukuran saku dalam bahasa Ronga. Karena mereka berhasil memproduksi buku itu, dengan cepat pengajaran Alkitab yang berharga dapat diberikan kepada ribuan orang yang lapar akan kebenaran sebelum pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa sekali lagi dilarang di daerah tempat tinggal orang-orang tersebut. Sebuah mesin cetak sheetfed offset lain, yang diberikan kepada cabang Lembaga di Afrika Selatan tidak lama setelah saudara-saudara kita membeli yang pertama, dikirim ke Zambia dan digunakan di sana.

      Percetakan Lembaga di Jerman juga mulai sejak awal menggunakan cetak ofset. Pada bulan April 1975, saudara-saudara di sana mulai menggunakan mesin cetak sheetfed untuk mencetak majalah di atas kertas Alkitab bagi Saksi-Saksi Yehuwa di Jerman Timur, yang pada waktu itu berada di bawah pelarangan. Ini disusul, pada tahun berikutnya, dengan memproduksi buku-buku menggunakan mesin cetak ofset itu bagi saudara-saudara yang teraniaya.

      Kira-kira pada waktu yang sama, tahun 1975, Lembaga Menara Pengawal menjalankan mesin cetak web offset-nya yang pertama untuk mencetak majalah-majalah di Argentina. Namun, ini hanya berlangsung selama setahun lebih sedikit, sebelum pemerintah Argentina melarang pekerjaan Saksi-Saksi dan menyegel percetakan mereka. Namun kegiatan mesin cetak ofset di negeri-negeri lain terus meluas. Pada awal tahun 1978, di percetakan kantor pusat Lembaga Menara Pengawal di Brooklyn, New York, mesin cetak web offset mulai menghasilkan cetakan tiga warna untuk buku-buku.e Mesin cetak yang kedua dibeli pada tahun yang sama. Namun, jauh lebih banyak peralatan dibutuhkan untuk melengkapi peralihan ini.

      Badan Pimpinan merasa yakin bahwa Yehuwa akan menyediakan apa saja yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan yang Ia inginkan untuk dilakukan. Pada bulan April 1979 dan Januari 1980, surat-surat dikirim kepada sidang-sidang di Amerika Serikat untuk menjelaskan situasi ini. Sumbangan-sumbangan masuk—lambat pada mulanya, tetapi pada waktunya cukup untuk memperlengkapi seluruh jaringan global percetakan Menara Pengawal untuk mengerjakan cetak ofset.

      Sementara itu, untuk memanfaatkan peralatan yang masih ada dan untuk mempercepat peralihan tersebut, Lembaga Menara Pengawal mengadakan kontrak untuk mengubah mesin-mesin cetak MAN model yang terakhir menjadi mesin-mesin cetak ofset. Dua belas negeri disuplai dengan mesin-mesin ini, termasuk enam negeri yang sebelumnya tidak mencetak majalah-majalah mereka sendiri.

      Cetak Empat Warna

      Kantor cabang di Finlandia adalah cabang pertama yang melakukan cetak ofset dari setiap terbitan majalahnya dalam empat warna, dimulai dengan cara yang sederhana pada edisi-edisi bulan Januari 1981 dan kemudian secara progresif menggunakan teknik-teknik yang lebih baik. Selanjutnya, Jepang menggunakan cetak empat warna untuk buku berjilid. Percetakan Menara Pengawal yang lain juga menyusul setelah memiliki peralatannya. Beberapa dari antara mesin-mesin cetak ini dibeli dan dikirimkan oleh kantor pusat sedunia. Yang lain dibeli atas biaya Saksi-Saksi Yehuwa di negeri tempat percetakan itu berada. Dalam situasi lain, Saksi-Saksi di satu negeri menghadiahkan peralatan yang diperlukan kepada saudara-saudara mereka di negeri lain.

      Selama era setelah Perang Dunia II, dunia menjadi sangat berminat akan gambar-gambar, dan penggunaan warna-warna yang realistis benar-benar membuat publikasi-publikasi lebih menarik secara visual. Penggunaan warna seperti ini telah menyebabkan halaman tercetak lebih menarik dan karena itu mendorong orang untuk membacanya. Di banyak tempat didapati bahwa penyebaran The Watchtower dan Awake! bertambah dengan pesat setelah penampilan majalah-majalah ini diperindah.

      Mengembangkan Sistem Komputer yang Cocok

      Untuk menunjang cetak empat warna, suatu sistem pracetak yang dikomputerisasi harus dikembangkan; dan keputusan untuk menjalankan hal ini dibuat pada tahun 1977. Saksi-Saksi yang ahli dalam bidang ini merelakan diri untuk bekerja di kantor pusat sedunia guna membantu Lembaga memenuhi kebutuhan ini dengan segera. (Tidak lama setelahnya, pada tahun 1979, suatu tim di Jepang yang akhirnya melibatkan kira-kira 50 Saksi mulai membuat program yang diperlukan untuk bahasa Jepang.) Perangkat keras (hardware) komputer komersial yang tersedia digunakan, dan para Saksi mempersiapkan program-program untuk membantu memenuhi kebutuhan Lembaga dalam bidang administrasi dan penerbitan multibahasa. Untuk mempertahankan standar yang tinggi dan memperoleh kelentukan yang diperlukan, program-program yang dikhususkan untuk typesetting dan komposisi foto perlu dikembangkan. Tidak ada program komersial yang bisa didapat untuk memasukkan dan membuat phototypesetting dari bahan-bahan dalam 167 bahasa yang telah dicetak oleh Lembaga Menara Pengawal pada waktu itu, maka Saksi-Saksi harus mengembangkan program sendiri.

      Pada waktu itu dunia komersial tidak melihat kesempatan untuk mendapat laba besar dari bahasa-bahasa yang digunakan oleh sejumlah kecil orang atau oleh orang-orang yang penghasilannya terbatas, tetapi Saksi-Saksi Yehuwa berminat akan kehidupan. Dalam waktu yang relatif singkat, program-program untuk typesetting yang mereka kembangkan telah digunakan untuk memproduksi lektur dalam 90 bahasa lebih. Mengenai pekerjaan mereka Seybold Report on Publishing Systems yang disegani mengatakan, ”Kami hanya dapat memuji keberanian berusaha, inisiatif dan wawasan yang dalam dari masyarakat Menara Pengawal. Dewasa ini hanya sedikit orang cukup berambisi atau cukup berani untuk menjalani ketekunan demikian, teristimewa karena benar-benar memulainya dari nol.”—Jilid 12, No. 1, 13 September 1982.

      Kegiatan pencetakan dan pemeliharaan akan menjadi sangat mudah jika peralatan yang digunakan di seluruh dunia sepenuhnya kompatibel (selaras atau harmonis). Maka pada tahun 1979, diputuskan bahwa Lembaga Menara Pengawal mengembangkan sistem phototypesetting sendiri. Tim yang mengerjakannya akan merakit perangkat keras yang utama, sehingga tidak lagi terlalu bersandar kepada peralatan komersial.

      Maka, pada tahun 1979, sekelompok Saksi-Saksi Yehuwa yang memiliki pusat kegiatan di Perladangan Menara Pengawal di Wallkill, New York, mulai merancang dan merakit Multilanguage Electronic Phototypesetting System (MEPS). Menjelang bulan Mei 1986, tim yang mengerjakan proyek ini tidak hanya merancang dan merakit komputer-komputer MEPS, phototypesetters, dan terminal-terminal grafik tetapi, yang lebih penting lagi, mereka juga telah mengembangkan perangkat lunak (software) yang diperlukan untuk memproses bahan-bahan publikasi dalam 186 bahasa.

      Pengembangan perangkat lunak ini dikoordinasikan dengan suatu pekerjaan besar dalam font-digitizing (digitalisasi pada satu set lengkap huruf cetakan yang sama jenis dan ukurannya). Hal ini menuntut penelitian yang intensif atas karakteristik yang berbeda-beda dari setiap bahasa. Artwork (gambar yang dipersiapkan untuk direproduksi menjadi hasil cetakan) harus dibuat untuk setiap karakter dalam suatu bahasa (misalnya, setiap huruf dalam huruf besar dan huruf kecil, dan juga tanda-tanda diakritik dan tanda-tanda baca—semuanya dalam berbagai macam ukuran), dengan gambar-gambar terpisah untuk setiap macam huruf (misalnya, tipis, miring, tebal, dan ekstra tebal), bisa jadi dalam beberapa jenis atau model huruf yang berbeda. Setiap huruf Latin memerlukan 202 karakter. Oleh karena itu, ke-369 huruf Latin seluruhnya memerlukan 74.538 karakter. Dalam mempersiapkan huruf Cina, 8.364 karakter perlu digambar untuk setiap huruf, dengan karakter-karakter lain yang akan ditambahkan kemudian.

      Sesudah artwork ini selesai, perangkat lunak dirancang sehingga memungkinkan karakter-karakter ini dicetak dengan bersih dan tajam. Perangkat lunak ini harus mampu menangani bukan saja abjad Latin tetapi juga Bengali, Cyrillic, Hindi, Kamboja, Korea, serta Yunani dan juga Arab dan Ibrani (keduanya dibaca dari kanan ke kiri) dan Jepang serta Cina (yang tidak menggunakan sistem abjad). Sampai tahun 1992, perangkat lunak ini telah tersedia untuk memproses bahan dalam lebih dari 200 bahasa, dan program-program untuk bahasa-bahasa lain yang digunakan oleh jutaan orang masih dalam pengembangan.

      Dilaksanakannya peralihan di cabang-cabang menuntut agar prosedur-prosedur baru diterapkan dan keterampilan-keterampilan baru dipelajari. Beberapa personel dikirim ke kantor pusat sedunia untuk mempelajari cara memasang, menjalankan, dan memelihara mesin-mesin cetak web offset yang besar. Beberapa diajar cara memisahkan warna dengan laser scanner. Beberapa personel tambahan dilatih untuk menggunakan dan memelihara peralatan komputer. Dengan demikian, problem-problem produksi yang muncul di mana pun di dunia ini dapat segera diatasi sehingga pekerjaan dapat terus bergerak maju.

      Badan Pimpinan menyadari bahwa jika Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh dunia dapat mempelajari bahan yang sama dalam perhimpunan mereka setiap minggu dan menyebarkan lektur yang sama dalam pelayanan pengabaran, hal ini akan memberikan pengaruh pemersatu yang kuat. Di masa yang lalu, lektur yang diterbitkan dalam bahasa Inggris biasanya tidak akan tersedia dalam bahasa lain sampai paling tidak empat bulan kemudian; untuk banyak bahasa satu tahun, atau sering kali bertahun-tahun kemudian. Namun sekarang perubahan telah dimungkinkan. Memiliki peralatan yang kompatibel sepenuhnya di cabang-cabang yang mencetak merupakan faktor yang penting untuk dapat menerbitkan lektur secara serentak dalam berbagai bahasa. Menjelang tahun 1984, penerbitan The Watchtower secara serentak telah dapat dicapai dalam 20 bahasa. Pada tahun 1989, ketika berita penuh kuasa yang dimuat dalam buku Wahyu—Klimaksnya yang Menakjubkan Sudah Dekat! disebarkan kepada umum hanya beberapa bulan setelah diperkenalkan, buku tersebut tersedia dalam 25 bahasa. Menjelang tahun 1992, penerbitan The Watchtower secara serentak telah semakin meluas sehingga mencakup 66 bahasa, yang digunakan oleh sebagian besar penduduk dunia.

      Sejak proyek MEPS dimulai pada tahun 1979, industri komputer telah mengalami kemajuan yang luar biasa. Komputer-komputer pribadi yang sangat berkembang dengan berbagai kemampuan sekarang tersedia dengan harga yang jauh lebih murah dibanding peralatan sebelumnya. Agar dapat tetap memenuhi kebutuhan bagi pekerjaan penerbitannya, Lembaga Menara Pengawal memutuskan untuk memanfaatkan komputer-komputer pribadi ini, bersamaan dengan perangkat lunak Lembaga sendiri. Hal ini sangat mempercepat proses produksi. Ini juga dapat membuat lebih banyak cabang Lembaga menikmati manfaat dari program-program penerbitan, dan jumlah cabang yang menggunakan program-program ini dengan cepat bertambah menjadi 83 cabang. Menjelang tahun 1992, Lembaga Menara Pengawal di seluas dunia memiliki lebih dari 3.800 terminal yang menggunakan program komputer Lembaga sendiri. Tidak semua dari cabang-cabang yang diperlengkapi demikian melakukan pencetakan, tetapi cabang mana pun yang mempunyai sebuah komputer kecil dan perangkat lunak milik Lembaga, dan juga sebuah laser printer kecil, mempunyai kesanggupan untuk melakukan pekerjaan pracetak untuk risalah, majalah, buku, dan pencetakan-pencetakan lain yang perlu dilakukan.

      Bertambahnya Komputer Mendukung Para Penerjemah

      Dapatkah komputerisasi juga digunakan untuk memberi dukungan yang lebih besar bagi saudara-saudara yang mengerjakan penerjemahan? Para penerjemah publikasi Menara Pengawal sekarang melakukan pekerjaan mereka, sebagian besar pada terminal-terminal komputer. Banyak dari antara mereka bekerja di kantor-kantor cabang Lembaga. Yang lain-lainnya, yang mungkin menerjemahkan di rumah dan yang telah melakukan pekerjaan mereka selama bertahun-tahun dengan mesin tik atau bahkan dengan tulisan tangan, telah dibantu mempelajari cara memasukkan terjemahan mereka ke dalam komputer workstation atau komputer laptop (komputer kecil yang mudah dibawa) yang dibeli oleh Lembaga. Perbaikan dalam terjemahan dapat dengan mudah dilakukan langsung pada layar komputer. Jika penerjemahan dilakukan di tempat lain di luar kantor cabang yang mengerjakan pencetakan, yang diperlukan hanyalah memindahkan teks tersebut ke dalam sebuah disket yang tipis dan fleksibel serta mengirimkannya kepada cabang yang mencetak untuk diproses.

      Selama tahun 1989-90, seraya perubahan-perubahan yang cepat terjadi dalam pemerintahan di banyak negeri, komunikasi internasional menjadi lebih mudah. Segera, Saksi-Saksi Yehuwa mengadakan seminar yang dihadiri oleh para penerjemah di Eropa Timur. Ini dirancang untuk membantu mereka memperbaiki mutu pekerjaan mereka, memungkinkan mereka mengambil manfaat dari peralatan komputer yang ada, dan memungkinkan The Watchtower diterbitkan secara serentak dalam bahasa-bahasa mereka. Selain itu, penerjemah-penerjemah di Asia Tenggara juga diberikan bantuan serupa.

      Namun dapatkah komputer digunakan untuk mempercepat pekerjaan penerjemahan atau memperbaiki mutunya? Ya. Pada tahun 1989, sistem-sistem komputer yang sangat berguna dimanfaatkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa untuk membantu dalam penerjemahan Alkitab. Setelah pekerjaan pendahuluan yang ekstensif, dokumen-dokumen elektronik tersedia sehingga seorang penerjemah dapat dengan cepat menampilkan ke layar komputer kata apa pun dalam bahasa asli Alkitab disertai catatan dari semua terjemahan kata tersebut, sesuai dengan konteksnya, yang telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dalam New World Translation. Ia juga dapat memilih sebuah kata kunci dalam bahasa Inggris dan menampilkan semua kata dalam bahasa asli dari mana kata tersebut (dan mungkin kata-kata lain yang serupa artinya) telah diambil. Hal ini sering mengungkapkan bahwa sekelompok kata telah digunakan dalam bahasa Inggris untuk menyampaikan gagasan yang terkandung dalam satu istilah bahasa asli. Ini dapat dengan cepat memberi penerjemah suatu pandangan yang mendalam tentang apa yang sedang ia terjemahkan. Ini akan membantunya menangkap makna khusus dari ungkapan dasar dalam bahasa asli dan arti yang tepat sesuai konteksnya dan dengan demikian ia dapat mengungkapkannya secara akurat dalam bahasanya sendiri.

      Dengan menggunakan dokumen-dokumen komputer ini, para penerjemah yang berpengalaman dapat memeriksa di mana saja kata tertentu muncul dalam Alkitab dan menerjemahkannya dengan kata yang sama dalam bahasa setempat setiap kali kata ini muncul menurut konteksnya. Hal ini menjamin adanya tingkat konsistensi yang tinggi. Hasil pekerjaan setiap penerjemah akan ditinjau oleh rekan-rekan lain yang bekerja dalam tim tersebut sehingga terjemahan tersebut merupakan hasil riset dan pengalaman dari mereka semua. Setelah ini dilakukan, komputer dapat digunakan untuk menampilkan suatu bagian tertentu dari Alkitab, memperlihatkan setiap kata dalam teks bahasa Inggris itu, memberikan nomor acuan dari apa yang muncul dalam bahasa aslinya, dan terjemahan yang telah dipilih dalam bahasa setempat. Hal ini tidak berarti pekerjaan sudah selesai. Penerjemah masih perlu memperbaiki struktur kalimatnya dan membuatnya mudah dibaca dalam bahasanya sendiri. Namun seraya melakukan ini, penting sekali untuk mengerti dengan jelas arti ayat tersebut. Untuk membantunya, melalui komputer ia dapat melihat dalam waktu seketika komentar Menara Pengawal yang sudah diterbitkan mengenai ayat tersebut atau ungkapan apa pun yang ada di dalamnya.

      Dengan demikian waktu untuk mengadakan riset dapat dikurangi, dan suatu tingkat konsistensi yang tinggi dapat dicapai. Dengan pengembangan lebih jauh dari potensi ini, diharapkan bahwa lebih banyak publikasi yang berharga dapat tersedia dengan cepat bahkan dalam bahasa-bahasa yang jumlah staf penerjemahnya terbatas. Penggunaan alat ini untuk menyediakan lektur guna menunjang pengabaran berita Kerajaan telah membuka bidang penerbitan yang sangat besar.

      Dengan demikian, seperti rekan-rekan Kristen mereka pada masa permulaan, Saksi-Saksi Yehuwa pada zaman modern menggunakan sarana-sarana mutakhir untuk menyebarkan Firman Allah. Agar dapat mencapai sebanyak mungkin orang dengan kabar baik, mereka tidak takut menghadapi tantangan-tantangan baru dalam bidang penerbitan.

      [Catatan Kaki]

      a Pada tahun 1896, nama badan ini secara resmi diubah menjadi Watch Tower Bible and Tract Society.

      b Ini adalah perusahaan milik Charles Taze Russell. Pada tahun 1898, ia memindahkan aset dari Tower Publishing Company sebagai sumbangan kepada Watch Tower Bible and Tract Society.

      c Kegagalan memperoleh batu bara ini bukan hanya karena ada kekurangan pada waktu perang. Hugo Riemer, yang pada waktu itu seorang anggota staf kantor pusat, belakangan menulis bahwa itu terutama karena kebencian kepada Siswa-Siswa Alkitab begitu merajalela di New York pada waktu itu.

      d Cetak letterpress dilakukan dengan menggunakan suatu permukaan timbul yang merupakan bayangan terbalik dari hasil halaman tercetak. Permukaan yang timbul ini diberi tinta dan ditekankan ke kertas. Cetak ofset dilakukan dengan membuat gambar bertinta dari sebuah pelat ke atas suatu silinder yang terbungkus karet dan kemudian memindahkan gambar itu ke kertas.

      e Dari tahun 1959 sampai 1971, Lembaga telah menggunakan mesin cetak sheetfed offset di percetakannya di Brooklyn untuk memproduksi kalender empat warna yang menonjolkan tema-tema yang berkaitan dengan pemberitaan kabar baik.

      [Blurb di hlm. 578]

      ”Mari kita menjadikan batu bara sebagai percobaan”

      [Blurb di hlm. 595]

      Memperlengkapi seluruh jaringan global percetakan Menara Pengawal untuk mengerjakan cetak ofset

      [Blurb di hlm. 596]

      ”Kami hanya dapat memuji . . . masyarakat Menara Pengawal”

      [Kotak/Gambar di hlm. 581]

      Typesetting

      Pada mulanya, semua dikerjakan dengan tangan, huruf demi huruf

      Afrika Selatan

      Dari tahun 1920 sampai 1980-an, mesin-mesin ”Linotype” digunakan

      Amerika Serikat

      Di beberapa tempat ”typesetting” dikerjakan dengan peralatan ”Monotype”

      Jepang

      Sekarang, digunakan proses ”phototypesetting” yang dikomputerisasi

      Jerman

      [Kotak/Gambar di hlm. 582]

      Pembuatan Pelat

      Dari tahun 1920-an sampai 1980-an pelat timah hitam dibuat untuk cetak ”letterpress”

      [Gambar]

      1. Baris-baris huruf untuk halaman-halaman dari bahan cetakan dikunci di dalam bingkai-bingkai logam yang disebut pola

      2. Dengan tekanan, suatu bekas huruf dibuat pada bahan yang dapat digunakan sebagai cetakan

      3. Timah hitam panas dituangkan ke dalam ”matrix” (atau cetakan) untuk membuat pelat-pelat logam yang timbul untuk mencetak

      4. Logam yang tidak diinginkan dibuang dari permukaan pelat

      5. Pelat-pelat dilapisi nikel supaya lebih tahan lama

      Belakangan, negatif dari halaman-halaman hasil phototypesetting diatur tempatnya, dan gambar-gambar dipasang pada tempatnya. Kelompok-kelompok halaman secara photografis dipindahkan ke pelat-pelat cetak ofset yang fleksibel

      [Kotak/Gambar di hlm. 585]

      ’Bukti Adanya Roh Yehuwa’

      ”Suksesnya pencetakan buku dan Alkitab pada mesin-mesin cetak rotary oleh orang-orang dengan sedikit atau tanpa pengalaman sebelumnya [dan pada waktu orang-orang lain belum melakukannya] adalah bukti adanya pengawasan dan bimbingan roh-Nya,” kata Charles Fekel. Saudara Fekel mengetahui benar apa yang terlibat karena ia ikut serta dalam mengembangkan kegiatan pencetakan di kantor pusat Lembaga selama lebih dari setengah abad. Pada tahun-tahun akhir kehidupannya, ia melayani sebagai anggota Badan Pimpinan.

      [Gambar]

      Charles Fekel

      [Kotak/Gambar di hlm. 586]

      Bersandar Kepada Allah Yang Mahakuasa

      Sebuah pengalaman yang diceritakan oleh Hugo Riemer, mantan agen bagian pembelian Lembaga Menara Pengawal, mencerminkan cara Lembaga Menara Pengawal melaksanakan pekerjaannya.

      Selama Perang Dunia II, kertas cetak dijatah di Amerika Serikat. Permohonan untuk mendapatkan suplai harus diajukan kepada sebuah panitia yang ditunjuk pemerintah. Pada suatu peristiwa, salah satu dari antara lembaga-lembaga Alkitab yang terkemuka mengirimkan pengacara-pengacara, pengusaha-pengusaha besar, penginjil-penginjil dan yang lain-lain ke sana untuk mewakili mereka di hadapan panitia tersebut. Mereka diberi jauh lebih sedikit dari apa yang mereka minta. Setelah permohonan mereka diperiksa, panitia memanggil ”Watch Tower Bible and Tract Society”. Ketika Hugo Riemer dan Max Larson maju ke depan, ketua bertanya, ”Hanya kalian berdua?” Jawabannya, ”Ya. Kami harap Allah Yang Mahakuasa menyertai kami juga.” Mereka mendapat semua suplai yang mereka butuhkan.

      [Gambar]

      Hugo Riemer

      [Kotak/Gambar di hlm. 587]

      Mesin-Mesin Cetak

      Berbagai jenis mesin cetak telah digunakan oleh Lembaga Menara Pengawal dalam pengoperasian pencetakannya

      [Gambar]

      Selama bertahun-tahun berbagai jenis mesin cetak ”flatbed” telah digunakan (Jerman)

      Mesin cetak kecil (job presses) telah digunakan untuk mencetak bukan saja formulir dan surat selebaran tetapi juga majalah (AS)

      Dalam berbagai percetakan, digunakan 58 mesin cetak huruf ”rotary” MAN dari Jerman seperti ini (Kanada)

      Sekarang, mesin-mesin cetak ”web offset” berwarna yang berkecepatan tinggi yang diproduksi di berbagai negeri digunakan di percetakan-percetakan utama Lembaga

      Italia

      Jerman

      [Gambar di hlm. 588, 589]

      Penjilidan Buku

      Beberapa penjilidan buku pada masa permulaan di percetakan Menara Pengawal dilakukan dengan tangan (Swiss)

      Produksi dalam skala besar di Amerika Serikat menuntut banyak pekerjaan yang terpisah

      1. Mengumpulkan bundel-bundel kertas

      2. Menjahitnya menjadi satu

      3. Menempelkan kertas-kertas pelapis

      4. Memotong

      5. Mencetak huruf timbul pada sampulnya

      6. Memasang sampul pada buku

      7. Menekan buku-buku sampai lemnya kering

      Sekarang, sebaliknya dari menjahit, ”burst binding” sering kali digunakan, dan mesin-mesin yang berkecepatan tinggi dapat menghasilkan 20.000 buku lebih per hari

      [Kotak/Gambar di hlm. 594]

      Untuk Memajukan Pengetahuan Tentang Kerajaan Allah

      Pada berbagai waktu, Lembaga Menara Pengawal telah memproduksi lektur dalam lebih dari 290 bahasa. Sampai tahun 1992, mereka menerbitkan lektur dalam kira-kira 210 bahasa. Semuanya ini dilakukan untuk membantu orang-orang mengenal Kerajaan Allah dan apa artinya bagi mereka. Di antara alat-alat bantu pengajaran Alkitab yang paling banyak disebarkan sampai sekarang ini adalah:

      ”Kebenaran yang Membimbing Kepada Hidup yang Kekal” (1968): 107.553.888 eksemplar, dalam 117 bahasa

      ”Saudara Dapat Hidup Kekal Dalam Firdaus di Bumi” (1982): 62.428.231 eksemplar, dalam 115 bahasa

      ”Nikmatilah Hidup Kekal di Bumi!” (1982): 76.203.646 eksemplar, dalam 200 bahasa

      Angka-angka yang disebutkan di atas adalah sampai tahun 1992.

      [Kotak/Gambar di hlm. 598]

      Rekaman Kaset Audio

      Selain menggunakan halaman tercetak dalam pekerjaan penginjilan, sejak tahun 1978, Lembaga Menara Pengawal memproduksi kaset-kaset audio—lebih dari 65 juta kaset diproduksi dengan peralatannya sendiri di Amerika Serikat dan Jerman.

      Seluruh ”New World Translation” sudah tersedia dalam kaset audio dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Spanyol. Sampai tahun 1992, jumlah yang berbeda-beda dari terjemahan Alkitab ini juga tersedia dalam kaset audio dalam delapan bahasa lain.

      Sebagai bantuan dalam mengajar anak-anak kecil, telah dibuat rekaman kaset dari ”Buku Cerita Alkitab” dan ”Mendengar Kepada Guru yang Agung”, publikasi yang khusus dirancang untuk anak-anak.

      Selain itu, kaset audio juga diproduksi di beberapa negeri untuk digunakan dalam siaran radio.

      Rekaman-rekaman diproduksi oleh suatu orkes yang seluruhnya terdiri dari Saksi-Saksi. Kaset-kaset ini digunakan sebagai pengiring nyanyian di kebaktian-kebaktian Saksi-Saksi Yehuwa. Aransemen orkestra yang indah dari musik ini juga tersedia untuk dinikmati di rumah.

      Rekaman-rekaman drama (zaman modern maupun kisah Alkitab) digunakan pada kebaktian-kebaktian, yang dengannya para pemeran Saksi membantu hadirin untuk memvisualisasikan peristiwa-peristiwa. Beberapa di antaranya belakangan digunakan untuk pengajaran dan dinikmati sebagai hiburan keluarga.

      Majalah ”Menara Pengawal” dan ”Sedarlah!” juga tersedia dalam kaset-kaset audio dalam bahasa Inggris dan Finlandia. Selain itu, ”Menara Pengawal” tersedia dalam bahasa Prancis, Jerman, Dansk, Norsk, dan Swensk. Walaupun semula dimaksudkan bagi orang-orang yang penglihatannya kurang baik, kaset-kaset ini dihargai oleh ribuan orang lain.

      [Gambar]

      J. E. Barr dalam studio rekaman

      [Kotak/Gambar di hlm. 600-601]

      Penggunaan Kaset Video Dalam Pemberitaan Kerajaan

      Pada tahun 1990, Lembaga Menara Pengawal memasuki bidang baru dengan memperkenalkan kaset video pertamanya yang dirancang untuk disebarkan kepada umum.

      Diperkirakan pada tahun itu, lebih dari 200.000.000 rumah tangga di seluruh dunia memiliki berbagai jenis VCR (video tape). Bahkan di negeri-negeri yang tidak memiliki stasiun televisi, VCR digunakan. Maka, penggunaan kaset video sebagai sarana pengajaran menawarkan cara baru untuk mencapai orang-orang di mana-mana.

      Sudah sejak tahun 1985, pekerjaan dimulai untuk membuat suatu pertunjukan video yang dirancang guna memperlihatkan beberapa aktivitas di kantor pusat sedunia dari Lembaga kepada orang-orang yang mengunjungi fasilitas-fasilitasnya. Pada waktunya, pertunjukan video juga terbukti dapat mempersingkat masa orientasi dari anggota-anggota keluarga Betel yang baru. Dapatkah sarana pengajaran ini digunakan dengan cara lain untuk membantu pekerjaan menjadikan murid di seluruh dunia? Beberapa saudara yakin bahwa hal itu dapat dilakukan.

      Sebagai hasilnya, pada bulan Oktober 1990, kaset video ”Jehovah Witnesses—The Organization Behind the Name” (Saksi-Saksi Yehuwa—Organisasi yang Mendukung Nama Itu) diperkenalkan. Tanggapannya luar biasa. Banyak sekali permintaan diterima untuk menambah program-program demikian. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sebuah departemen baru yang dinamakan Pelayanan Video didirikan.

      Saksi-Saksi yang ahli dalam bidang ini dengan senang hati menawarkan bantuan mereka. Peralatan dibeli. Studio-studio dibuat. Sebuah kru kamera mulai mengadakan perjalanan ke berbagai negeri untuk membuat film dari orang-orang dan hal-hal yang dapat digunakan dalam pertunjukan video yang dirancang untuk menguatkan iman. Orkes internasional yang seluruhnya terdiri dari Saksi-Saksi telah berulang kali membantu proyek-proyek khusus dengan menyediakan musik yang dapat memperindah pertunjukan video.

      Rencana-rencana sedang direalisasi untuk mencapai lebih banyak kelompok bahasa. Pada pertengahan tahun 1992, video ”Jehovah Witnesses—The Organization Behind the Name” sudah dikirim dalam lebih dari dua belas bahasa. Video ini telah direkam dalam 25 bahasa, termasuk beberapa bahasa di Eropa Timur. Selain itu, penyelenggaraan sedang dilakukan untuk merekamnya dalam bahasa Mandarin dan juga bahasa Kanton untuk orang-orang Cina. Lembaga juga telah membeli hak cipta untuk mereproduksi dan menyebarkan ”Purple Triangles” (Segi Tiga Ungu), suatu video tentang integritas dari sebuah keluarga Saksi di Jerman selama zaman Nazi. Dalam waktu dua tahun, lebih dari satu juta kaset video telah diproduksi untuk digunakan Saksi-Saksi Yehuwa dalam pelayanan mereka.

      Perhatian khusus diberikan kepada kebutuhan-kebutuhan kaum tunarungu. Suatu edisi dari ”Jehovah Witnesses—The Organization Behind the Name” diproduksi dalam Bahasa Isyarat Amerika. Dan riset dilakukan dengan maksud menyediakan video yang cocok bagi kaum tunarungu di negeri-negeri lain.

      Sementara hal ini dilakukan, pekerjaan juga sedang berjalan untuk menghasilkan suatu seri yang akan membantu membangun iman kepada buku yang justru merupakan dasar dari iman Kristen, yaitu Alkitab. Pada bulan September 1992, bagian pertama dari program itu, ”The Bible—Accurate History, Reliable Prophecy” (Alkitab—Sejarah yang Akurat, Nubuat yang Dapat Dipercaya), sudah selesai dalam bahasa Inggris dan edisi-edisi dalam bahasa lain sedang dipersiapkan.

      Kaset video sama sekali tidak menggantikan halaman tercetak atau kesaksian pribadi. Publikasi-publikasi Lembaga tetap memegang peranan penting dalam penyebaran kabar baik. Pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa dari rumah ke rumah tetap merupakan corak pelayanan mereka yang secara kukuh didasarkan atas Alkitab. Akan tetapi, kaset video sekarang melengkapi sebagai alat yang berharga untuk memupuk iman akan janji-janji Yehuwa yang mulia dan menimbulkan penghargaan akan apa yang telah Ia lakukan di bumi pada zaman kita.

      [Gambar]

      1. Sesudah isi pokok ditentukan, pembuatan film dimulai seraya naskah dikembangkan

      2. Gambar-gambar dipilih dan urutannya ditentukan pada waktu disunting secara tersendiri

      3. Musik orkestra yang telah dikomposisi secara khusus dimasukkan dalam rekaman untuk memperindah pertunjukan

      4. Musik dan efek suara secara digital digabungkan dengan pembacaan naskah dan gambar

      5. Corak-corak audio dan visual diberikan selama penyuntingan terakhir

      [Gambar di hlm. 576]

      Pencetakan sesungguhnya publikasi masa permulaan ini dilakukan oleh perusahaan komersial

      [Gambar di hlm. 577]

      C. A. Wise membuat percobaan untuk memastikan apakah Siswa-Siswa Alkitab harus mendirikan kembali kantor pusatnya di Brooklyn

      [Gambar di hlm. 579]

      Mesin cetak ”rotary” Lembaga yang pertama digunakan untuk mencetak 4.000.000 eksemplar ”Golden Age” No. 27 yang sangat menyentuh hati

      [Gambar di hlm. 580]

      R. J. Martin (kanan), pengawas pertama dari percetakan Lembaga di Brooklyn, bercakap-cakap dengan Saudara Rutherford

      [Gambar di hlm. 583]

      Salah satu percetakan Lembaga yang pertama di Eropa (Bern, Swiss)

      [Gambar di hlm. 584]

      Di Magdeburg, Jerman, Lembaga mendirikan percetakan sekitar tahun 1920-an

      [Gambar di hlm. 590, 591]

      Elandsfontein, Afrika Selatan (1972)

      [Gambar di hlm. 590]

      Numazu, Jepang (1972)

      [Gambar di hlm. 590]

      Strathfield, Australia (1972)

      [Gambar di hlm. 590]

      São Paulo, Brasil (1973)

      [Gambar di hlm. 591]

      Lagos, Nigeria (1974)

      [Gambar di hlm. 591]

      Wiesbaden, Jerman (1975)

      [Gambar di hlm. 591]

      Toronto, Kanada (1975)

      [Gambar di hlm. 597]

      ”Font-digitizing” secara intensif dikerjakan oleh Saksi-Saksi untuk memenuhi kebutuhan akan bacaan Alkitab dalam banyak bahasa (Brooklyn, N.Y.)

      [Gambar di hlm. 599]

      ”Workstation” komputer berwarna membuat para perancang seni dapat meletakkan, memotong, dan memperbaiki gambar secara elektronik

      [Gambar di hlm. 602]

      Saksi-Saksi Yehuwa menggunakan sistem komputer untuk mempercepat dan memperbaiki pekerjaan penerjemahan Alkitab (Korea)

  • Mencetak dan Menyebarkan Firman Suci Milik Allah Sendiri
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 27

      Mencetak dan Menyebarkan Firman Suci Milik Allah Sendiri

      PADA dinding luar dari kompleks percetakan utama di kantor pusat sedunia mereka, Saksi-Saksi Yehuwa selama puluhan tahun memasang suatu tanda yang mendesak setiap orang, ”Bacalah Firman Allah Alkitab Kudus Setiap Hari”.

      Mereka sendiri adalah orang-orang yang rajin mempelajari Firman Allah. Selama bertahun-tahun mereka telah menggunakan sejumlah terjemahan Alkitab yang berbeda dalam upaya mendapatkan pengertian yang saksama mengenai tulisan-tulisan terilham yang mula-mula. Setiap Saksi dianjurkan untuk mempunyai suatu program pribadi untuk pembacaan Alkitab setiap hari. Selain topik-topik pelajaran dari Firman Allah, mereka secara progresif membaca dan membahas Alkitab itu sendiri di perhimpunan sidang mereka. Tujuan mereka bukan untuk mencari ayat-ayat yang mendukung ide-ide mereka. Mereka mengakui Alkitab sebagai Firman terilham dari Allah sendiri. Mereka menyadari bahwa Alkitab memberi teguran dan disiplin, dan mereka dengan sungguh-sungguh berupaya menyesuaikan pemikiran dan tingkah laku mereka dengan apa yang dikatakannya.​—2 Tim. 3:16, 17; bandingkan 1 Tesalonika 2:13.

      Karena mereka yakin bahwa Alkitab adalah Firman suci milik Allah sendiri dan karena mereka mengetahui kabar baik mulia yang terkandung di dalamnya, maka Saksi-Saksi Yehuwa juga menerbitkan dan menyebarkan Alkitab dengan bergairah.

      Suatu Lembaga Penerbitan Alkitab

      Pada tahun 1896, referensi langsung kepada Alkitab mulai secara resmi dicantumkan untuk nama badan hukum yang pada waktu itu digunakan oleh Siswa-Siswa Alkitab dalam pekerjaan penerbitan mereka. Pada waktu itu, Zion’s Watch Tower Society dikenal secara resmi sebagai Watch Tower Bible and Tract Society.a Lembaga tidak segera menjadi pencetak dan penjilid Alkitab, tetapi Lembaga merupakan penerbit Alkitab yang aktif, yang menyusun spesifikasi-spesifikasi, menyediakan hal-hal tambahan yang berharga dan kemudian mengatur agar perusahaan-perusahaan komersial melakukan pencetakan dan penjilidan.

      Bahkan sebelum tahun 1896, Lembaga ini bekerja keras sebagai penyebar Alkitab. Bukan demi keuntungan komersial tetapi sebagai suatu pelayanan bagi para pembacanya, Lembaga menarik perhatian kepada berbagai terjemahan Alkitab yang tersedia, membelinya dalam jumlah besar agar dapat memperoleh harga yang rendah, dan menjualnya kembali dengan harga yang kadang-kadang hanya 35 persen dari harga resmi. Termasuk di antaranya adalah sejumlah edisi King James Version yang mudah dibawa dan digunakan, juga edisi ’Teachers’ Bibles’ yang lebih besar (King James Version dengan beberapa alat bantu misalnya konkordansi, peta, dan referensi pinggir), The Emphatic Diaglott dengan terjemahan di antara baris dari bahasa Yunani ke bahasa Inggris, terjemahan Leeser yang meletakkan teks bahasa Inggris di samping teks bahasa Ibrani, terjemahan Murdock dari bahasa Siria purba, The Newberry Bible dengan referensi pinggir yang menarik perhatian kepada pemunculan nama ilahi dalam bahasa aslinya maupun perincian penting lainnya yang terdapat dalam teks-teks bahasa Ibrani dan Yunani, New Testament dari Tischendorf dengan referensi catatan kakinya yang menunjuk kepada salinan-salinan yang berbeda dalam tiga manuskrip Alkitab Yunani purba yang paling lengkap (Sinaitik, Vatikan, dan Aleksandrin), Alkitab Variorum dengan catatan kakinya yang memperlihatkan tidak hanya salinan-salinan yang berbeda dari manuskrip-manuskrip purba tetapi juga berbagai terjemahan dari bagian-bagian teks itu oleh sarjana-sarjana terkemuka, dan terjemahan yang harfiah oleh Young. Lembaga juga menyediakan alat-alat bantu seperti Cruden’s Concordance dan Analytical Concordance oleh Young yang memuat komentar-komentar mengenai kata-kata asli dalam bahasa Ibrani dan Yunani. Pada tahun-tahun berikutnya, di seluruh bumi Saksi-Saksi Yehuwa sering memperoleh dari lembaga-lembaga Alkitab lainnya ribuan Alkitab dalam bahasa apa pun yang tersedia dan menyebarkannya.

      Bahkan pada tahun 1890, menurut bukti-bukti yang tersedia, Lembaga sudah mengatur suatu pencetakan khusus, dengan mencantumkan namanya sendiri, atas Edisi Kedua New Testament Newly Translated and Critically Emphasised, sebagaimana disusun oleh penerjemah Alkitab berbangsa Inggris Joseph B. Rotherham. Mengapa terjemahan ini yang dipilih? Oleh karena keharfiahan terjemahan ini serta upayanya untuk mendapatkan manfaat sepenuhnya dari riset yang sudah dilakukan untuk memperoleh teks Yunani yang lebih akurat dan karena pembaca dibantu dengan alat-alat yang digunakan oleh penerjemah untuk mengenali kata atau ungkapan mana yang diberi tekanan khusus dalam teks Yunani.

      Pada tahun 1902, suatu pencetakan khusus Edisi Alkitab Paralel Linear Holman dilakukan sebagai penyelenggaraan Lembaga Menara Pengawal. Alkitab ini mempunyai margin halaman yang lebar yang mencantumkan referensi-referensi kepada publikasi-publikasi Menara Pengawal yang menjelaskan berbagai ayat, juga suatu indeks yang berisi puluhan pokok bahasan disertai kutipan ayat dan referensi kepada publikasi-publikasi Lembaga yang sangat membantu. Alkitab ini berisi kata-kata menurut dua terjemahan—terjemahan King James tertera di atas terjemahan Revised Version setiap kali terdapat perbedaan. Ini juga memuat sebuah konkordansi ekstensif yang menarik perhatian pemakai kepada berbagai arti dari kata-kata dalam bahasa aslinya.

      Pada tahun yang sama, Lembaga Menara Pengawal dapat memiliki pelat-pelat cetak The Emphatic Diaglott, yang mencakup teks Yunani J. J. Griesbach dari Kitab-Kitab Yunani Kristen (edisi 1796-1806) serta terjemahan bahasa Inggris yang diselipkan di antara baris-barisnya. Di sampingnya terdapat terjemahan teks oleh Benjamin Wilson kelahiran Inggris yang sudah menetap di Geneva, Illinois, AS. Pelat-pelat tersebut dan hak tunggal untuk menerbitkannya telah dibeli dan kemudian diberikan sebagai hadiah kepada Lembaga. Setelah persediaan buku-buku habis disalurkan ke luar, Lembaga mengatur agar lebih banyak lagi yang dapat diproduksi, dan itu semua tersedia pada tahun 1903.

      Empat tahun kemudian, pada tahun 1907, King James Version Edisi Siswa-Siswa Alkitab diterbitkan. ”Berean Bible Teachers’ Manual” (Manual Para Pengajar Alkitab Berea) dijilid menjadi satu dengannya, sebagai apendiks. Ini berisi komentar-komentar ringkas atas ayat-ayat dari seluruh bagian Alkitab, disertai referensi kepada publikasi-publikasi Menara Pengawal untuk keterangan yang lebih lengkap. Suatu edisi dengan apendiks yang diperluas diterbitkan kira-kira setahun kemudian.

      Alkitab-Alkitab ini dipesan dari percetakan-percetakan dan penjilidan-penjilidan dalam jumlah antara 5.000 sampai 10.000 sekali cetak, supaya dapat menekan ongkos. Lembaga ingin sekali menyusun beragam terjemahan Alkitab dan alat-alat bantu yang berkaitan untuk riset tersedia bagi sebanyak mungkin orang.

      Kemudian, pada tahun 1926, Lembaga Menara Pengawal mengambil suatu langkah maju yang besar dalam keterlibatannya dalam penerbitan Alkitab.

      Mencetak Alkitab Dengan Mesin-Mesin Cetak Kita Sendiri

      Setelah 36 tahun sejak Watch Tower Bible and Tract Society pertama kali menerbitkan Alkitab, lembaga ini mencetak dan menjilid Alkitab di percetakannya sendiri. Yang pertama diproduksi dengan cara demikian adalah The Emphatic Diaglott, yang pelat-pelatnya sudah dimiliki oleh Lembaga selama 24 tahun. Pada bulan Desember 1926, Alkitab ini dicetak pada mesin cetak tipe flatbed di percetakan milik Lembaga di Concord Street, Brooklyn. Sampai sekarang, 427.924 Alkitab seperti ini sudah diproduksi.

      Enam belas tahun kemudian, di tengah-tengah Perang Dunia II, Lembaga melakukan pencetakan seluruh Alkitab. Untuk keperluan ini, pelat-pelat King James Version dengan referensi pinggir dibeli pada tahun 1942 dari A. J. Holman Company, dari Philadelphia, Pennsylvania. Terjemahan dari Alkitab lengkap ini ke dalam bahasa Inggris diproduksi, bukan dari terjemahan bahasa Latin Vulgate, tetapi oleh para sarjana yang mampu membandingkan terjemahan-terjemahan yang lebih awal dengan bahasa-bahasa asli Ibrani, Aramaik, dan Yunani. Sebuah konkordansi, yang dipersiapkan oleh lebih dari 150 hamba Yehuwa yang bekerja sama, ditambahkan. Ini dirancang khusus untuk membantu Saksi-Saksi Yehuwa dengan cepat menemukan ayat-ayat yang tepat sewaktu dalam pelayanan pengabaran dan dengan demikian dapat menggunakan Alkitab secara efektif sebagai ”pedang Roh”, guna menyingkapkan dan membeberkan kepalsuan agama. (Ef. 6:17) Agar orang-orang di mana pun dapat memperoleh Alkitab dengan harga murah, Alkitab dicetak pada mesin cetak web rotary—sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh percetakan Alkitab lainnya. Sampai tahun 1992, 1.858.368 Alkitab seperti ini telah dihasilkan.

      Keinginan Saksi-Saksi Yehuwa lebih daripada sekadar menempatkan Alkitab, buku itu sendiri, ke tangan orang-orang. Mereka ingin membantu orang-orang mengenal nama pribadi, dari pengarang ilahinya, Allah Yehuwa, dan juga maksud-tujuan-Nya. Ada sebuah terjemahan dalam bahasa Inggris—American Standard Version dari tahun 1901—yang menggunakan nama ilahi di lebih dari 6.870 tempat sesuai dengan munculnya nama itu dalam sumber-sumber yang digunakan oleh para penerjemahnya. Pada tahun 1944, setelah diadakan negosiasi selama beberapa bulan, Lembaga Menara Pengawal membeli hak untuk menyusun suatu set pelat utama untuk Alkitab ini dari pelat-pelat dan susunan huruf yang disuplai oleh Thomas Nelson and Sons dari New York. Selama 48 tahun berikutnya, 1.039.482 eksemplar dihasilkan.

      Steven Byington, dari Ballard Vale, Massachusetts, AS, juga menghasilkan suatu terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris modern yang mencantumkan nama ilahi di tempatnya yang benar. Pada tahun 1951 Lembaga Menara Pengawal dapat memiliki manuskripnya yang belum diterbitkan dan memperoleh hak tunggal untuk menerbitkannya pada tahun 1961. Terjemahan yang lengkap dicetak pada tahun 1972. Sampai tahun 1992, sudah ada 262.573 yang dihasilkan.

      Namun, sementara itu, perkembangan lain terjadi.

      Memproduksi Alkitab New World Translation (Terjemahan Dunia Baru)

      Adalah pada awal Oktober 1946, Nathan H. Knorr, yang pada waktu itu presiden Lembaga Menara Pengawal, yang mula-mula mengusulkan agar Lembaga membuat terjemahan yang baru dari Kitab-Kitab Yunani Kristen. Pekerjaan penerjemahan yang sesungguhnya dimulai pada tanggal 2 Desember 1947. Teks lengkap itu ditinjau kembali dengan teliti oleh seluruh panitia penerjemahan, mereka semua adalah orang Kristen terurap. Kemudian pada tanggal 3 September 1949, Saudara Knorr mengadakan rapat bersama dewan-dewan direksi dari badan-badan hukum Lembaga di New York dan Pennsylvania. Ia mengumumkan kepada mereka bahwa Panitia Penerjemahan Alkitab Dunia Baru telah selesai mengerjakan penerjemahan Kitab-Kitab Yunani Kristen ke dalam bahasa modern dan sudah menyerahkannya kepada Lembaga untuk diterbitkan.b Ini adalah suatu terjemahan yang baru dari bahasa aslinya yaitu Yunani.

      Apakah suatu terjemahan lain benar-benar dibutuhkan? Pada waktu itu saja, Alkitab secara lengkap sudah diterbitkan dalam 190 bahasa, dan setidaknya sebagian dari Alkitab sudah diterjemahkan ke dalam 928 bahasa dan dialek tambahan. Saksi-Saksi Yehuwa telah menggunakan kebanyakan dari terjemahan-terjemahan ini pada berbagai kesempatan. Tetapi faktanya ialah bahwa sebagian besar dari terjemahan-terjemahan ini dibuat oleh para pemimpin agama dan misionaris dari sekte-sekte Susunan Kristen, dan terjemahan mereka dipengaruhi pada tingkat yang berbeda-beda oleh filsafat-filsafat kafir dan tradisi-tradisi yang tidak berdasarkan Alkitab yang sudah diwarisi sistem-sistem agama mereka sejak dahulu dan juga oleh prasangka yang ditimbulkan kritik tinggi. Lebih lanjut, manuskrip-manuskrip Alkitab yang lebih tua dan lebih tepercaya mulai ditemukan. Bahasa Yunani dari abad pertama menjadi lebih jelas dimengerti sebagai hasil penemuan arkeologi. Juga, bahasa-bahasa yang digunakan dalam terjemahan-terjemahan itu mengalami perubahan selama bertahun-tahun.

      Saksi-Saksi Yehuwa menginginkan suatu terjemahan yang memanfaatkan hasil dari ilmu pengetahuan mutakhir, yang tidak diwarnai oleh kredo-kredo dan tradisi-tradisi Susunan Kristen, suatu terjemahan yang harfiah yang dengan setia menyajikan apa yang ada di dalam tulisan-tulisan asli dan dengan demikian dapat memberikan dasar untuk terus bertumbuh dalam pengetahuan tentang kebenaran ilahi; suatu terjemahan yang jelas dan dapat dimengerti oleh para pembaca zaman modern. New World Translation of the Christian Greek Scriptures (Kitab-Kitab Yunani Kristen Terjemahan Dunia Baru), yang diterbitkan pada tahun 1950, memenuhi kebutuhan tersebut—paling tidak untuk bagian Alkitab tersebut. Seraya Saksi-Saksi Yehuwa mulai menggunakannya, banyak yang merasa tergetar bukan saja karena mereka mendapati bahasa modern yang digunakannya mudah dimengerti, tetapi karena mereka sadar bahwa mereka memperoleh pengertian yang lebih jelas tentang makna Firman Allah yang terilham.

      Salah satu ciri yang menonjol dari terjemahan ini adalah pemulihan nama ilahi, nama pribadi Allah, yaitu Yehuwa, sebanyak 237 kali dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen. Ini bukan terjemahan pertama yang memulihkan nama itu.c Tetapi terjemahan ini boleh jadi merupakan yang pertama melakukannya secara konsisten dalam teks utama mulai dari Matius sampai Wahyu. Pembahasan yang ekstensif mengenai soal ini dalam kata pengantarnya memperlihatkan dasar-dasar yang kokoh dari apa yang telah dilakukan.

      Sejak itu, Kitab-Kitab Ibrani diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan secara progresif, dalam lima jilid yang terpisah, dimulai pada tahun 1953. Sebagaimana telah dilakukan dengan Kitab-Kitab Yunani Kristen, ini dikerjakan dengan hati-hati agar dapat menyampaikan seharfiah mungkin apa yang terkandung di dalam teks bahasa aslinya. Perhatian khusus diberikan untuk membuat terjemahan-terjemahan yang konsisten, menyampaikan secara akurat tindakan atau keadaan yang dinyatakan dalam kata-kata kerja, dan menggunakan bahasa sederhana yang cepat dapat dimengerti oleh pembaca-pembaca zaman modern. Di mana pun Tetragramaton muncul dalam teks Ibrani, itu dengan tepat diterjemahkan sebagai nama pribadi Allah, sebaliknya daripada digantikan dengan istilah tertentu lainnya, sebagaimana sudah lazim dalam banyak terjemahan lain. Artikel-artikel apendiks dan catatan-catatan kaki dalam jilid-jilid ini memungkinkan siswa-siswa yang teliti untuk memeriksa dasar dari terjemahan yang dipakai.

      Pada tanggal 13 Maret 1960, Panitia Penerjemahan Alkitab Dunia Baru menyelesaikan pembacaan terakhir dari bagian teks Alkitab yang disusun untuk jilid yang kelima. Itu berarti 12 tahun, 3 bulan, dan 11 hari sejak penerjemahan yang sesungguhnya dari Kitab-Kitab Yunani Kristen dimulai. Beberapa bulan kemudian jilid terakhir dari Kitab-Kitab Ibrani tersebut, dalam bentuk tercetak, diterbitkan untuk disebarkan.

      Sebaliknya daripada membubarkan diri setelah proyek itu selesai, panitia penerjemahan terus bekerja. Suatu tinjauan kembali secara umum mengenai keseluruhan terjemahan diadakan. Kemudian, New World Translation of the Holy Scriptures yang lengkap, suatu edisi yang sudah direvisi dalam satu jilid, diterbitkan oleh Lembaga Menara Pengawal pada tahun 1961. Ini tersedia untuk disebarkan dengan harga hanya satu dolar (AS) supaya setiap orang, tidak soal keadaan ekonominya, dapat memperoleh sebuah salinan Firman Allah.

      Dua tahun kemudian, suatu edisi khusus untuk siswa-siswa diterbitkan. Ini menggabungkan dalam satu sampul semua jilid terpisah yang asli, belum direvisi, dan ribuan catatan kaki yang berharga berkenaan dengan teks, dan juga pembahasan-pembahasan dalam kata pengantar dan apendiks. Edisi ini juga mempertahankan referensi silang yang berharga yang mengarahkan pembaca kepada kata-kata sejajar, buah-buah pikiran atau peristiwa-peristiwa yang sejajar, informasi biografis, perincian geografis, penggenapan nubuat-nubuat, dan kutipan-kutipan langsung dalam atau dari bagian-bagian lain Alkitab.

      Sejak edisi satu jilid ini diterbitkan pada tahun 1961, empat revisi lain yang diperbaharui telah diterbitkan. Yang terbaru di antaranya adalah pada tahun 1984, ketika edisi cetakan ukuran besar diterbitkan dengan apendiks yang ekstensif, 125.000 referensi pinggir, 11.400 catatan kaki yang memberi keterangan, dan sebuah konkordansi. Keistimewaan edisi ini membantu siswa-siswa mengerti alasannya berbagai teks perlu diterjemahkan dengan cara tertentu agar dapat saksama, dan juga bilamana teks dapat diterjemahkan dengan benar dalam lebih dari satu cara. Referensi silang juga membantu mereka menghargai keselarasan yang saling berkaitan di antara berbagai buku Alkitab.

      Sebagai bagian dari upaya yang sungguh-sungguh dari Panitia Penerjemahan Alkitab Dunia Baru untuk membantu para pencinta Firman Allah mengenali isi dari teks asli Koine (bahasa Yunani umum) dari Kitab-Kitab Yunani Kristen, panitia mengeluarkan The Kingdom Interlinear Translation of the Greek Scriptures (Kitab-Kitab Yunani Terjemahan Kerajaan di Antara Baris). Ini diterbitkan pertama kali oleh Lembaga Menara Pengawal pada tahun 1969 dan kemudian diperbaharui pada tahun 1985. Buku ini memuat The New Testament in the Original Greek sebagaimana disusun oleh B. F. Wescott dan F. J. A. Hort. Pada pinggir sebelah kanan halaman terdapat teks New World Translation (revisi tahun 1984 dalam edisi yang sudah diperbaharui). Tetapi kemudian, di antara baris-baris teks Yunani, ada terjemahan lain, yang sangat harfiah, terjemahan kata demi kata dari apa yang sebenarnya dikatakan dalam teks Yunani menurut arti dasar dan bentuk tata bahasa dari setiap kata. Ini memungkinkan bahkan siswa-siswa yang tidak dapat membaca tulisan Yunani untuk mendapatkan apa yang sebenarnya terdapat dalam teks asli bahasa Yunani.

      Apakah hasil karya New World Translation ini akan bermanfaat hanya bagi mereka yang dapat membaca teks bahasa Inggris? Di banyak tempat para utusan injil Menara Pengawal merasa sulit untuk mendapatkan cukup banyak Alkitab dalam bahasa setempat guna disebarkan kepada orang-orang yang sangat menginginkan sebuah eksemplar Firman Allah milik pribadi. Tidak jarang, di bagian-bagian tertentu di dunia, para utusan injil ini merupakan distributor utama dari Alkitab-Alkitab yang dicetak oleh lembaga-lembaga Alkitab lain. Namun hal itu tidak selalu dianggap menyenangkan oleh pihak-pihak keagamaan yang mewakili lembaga-lembaga Alkitab tersebut. Lagi pula, beberapa di antara Alkitab-Alkitab ini bukan merupakan terjemahan yang terbaik.

      Menerjemahkan ke Dalam Bahasa-Bahasa Lain

      Pada tahun saat New World Translation yang lengkap pertama kali muncul dalam satu jilid, yaitu tahun 1961, sekelompok penerjemah yang terampil dikumpulkan untuk menerjemahkan teks bahasa Inggris ke dalam enam bahasa lain yang digunakan secara luas—Belanda, Italia, Jerman, Portugis, Prancis, dan Spanyol. Penerjemahan kembali dari bahasa Inggris, yang dibantu oleh perbandingan dengan bahasa Ibrani dan bahasa Yunani, dapat dilakukan karena sifat harfiah dari terjemahan bahasa Inggris itu sendiri. Para penerjemah bekerja sebagai suatu panitia internasional bersama dengan Panitia Penerjemahan Alkitab Dunia Baru, di kantor pusat Lembaga di Brooklyn, New York. Pada tahun 1963, Kitab-Kitab Yunani Kristen dicetak dan diterbitkan dalam keenam bahasa tersebut.

      Sampai tahun 1992, terjemahan lengkap dari New World Translation of the Holy Scriptures tersedia dalam 12 bahasa—Belanda, Cek, Dansk, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Portugis, Prancis, Slovak, Spanyol, dan Swensk. Kitab-Kitab Yunani Kristen tersedia dalam dua bahasa lain. Itu berarti bahwa terjemahan ini tersedia dalam bahasa-bahasa yang dipakai oleh kira-kira 1.400.000.000 orang, atau lebih dari seperempat penduduk dunia, dan banyak lagi yang mendapat manfaat dari terjemahan ini melalui penerjemahan bagian-bagiannya ke dalam 97 bahasa lain dalam The Watchtower. Akan tetapi, orang-orang yang membacanya dalam salah satu di antara ke-97 bahasa ini ingin sekali mempunyai New World Translation yang lengkap dalam bahasa mereka sendiri. Sampai tahun 1992, penyelenggaraan sudah dibuat untuk menghasilkan terjemahan ini dalam 16 di antara bahasa-bahasa tersebut dan untuk menyelesaikan Kitab-Kitab Ibrani dalam 2 bahasa yang hanya memiliki Kitab-Kitab Yunani Kristen.

      Karena penerbitan Alkitab-Alkitab ini dilakukan di percetakan Lembaga sendiri oleh para pekerja sukarela, maka adalah mungkin untuk membuatnya tersedia dengan harga minimum. Pada tahun 1972, ketika seorang Saksi berbangsa Austria memperlihatkan New World Translation dalam bahasa Jerman kepada seorang penjilid buku dan menanyakan berapa harganya menurut perkiraan dia, orang itu sangat terkejut ketika mengetahui bahwa sumbangan yang diminta hanya sepersepuluh dari harga yang ia sebutkan.

      Beberapa contoh memperlihatkan dampak dari terjemahan ini. Di Prancis, Gereja Katolik selama berabad-abad melarang kaum awam memiliki Alkitab. Terjemahan-terjemahan Katolik yang sudah tersedia harganya relatif mahal dan hanya sedikit orang yang memilikinya. New World Translation of the Christian Greek Scriptures diperkenalkan dalam bahasa Prancis pada tahun 1963, disusul dengan Alkitab lengkap pada tahun 1974. Pada tahun 1992, New World Translation yang sudah dikirim untuk disebarkan di Prancis seluruhnya berjumlah 2.437.711 eksemplar; dan jumlah Saksi-Saksi Yehuwa di Prancis meningkat sebanyak 488 persen selama periode yang sama, mencapai jumlah 119.674.

      Keadaannya serupa di Italia. Orang-orang sudah lama dilarang memiliki Alkitab. Setelah diterbitkannya New World Translation dalam edisi Italia dan terus sampai tahun 1992 sudah ada 3.597.220 eksemplar yang disebarkan; terbesar di antaranya adalah Alkitab yang lengkap. Orang-orang ingin memeriksa sendiri apa isi Firman Allah. Menarik sekali, selama periode yang sama, jumlah Saksi-Saksi Yehuwa di Italia bertambah dengan pesat—dari 7.801 menjadi 194.013.

      Ketika New World Translation of the Christian Greek Scriptures tersedia dalam bahasa Portugis, hanya ada 30.118 Saksi di Brasil dan 1.798 di Portugal. Pada tahun-tahun berikutnya, terus sampai tahun 1992, sejumlah 213.438 eksemplar Kitab-Kitab Yunani Kristen dan 4.153.738 eksemplar Alkitab lengkap dalam bahasa Portugis sudah dikirim kepada pribadi-pribadi dan sidang-sidang di negeri-negeri ini. Apa hasilnya? Di Brasil, terdapat pertambahan pemuji Yehuwa yang aktif sebanyak lebih dari 11 kali lipat; dan di Portugal, 22 kali lipat. Puluhan ribu orang yang belum pernah memiliki Alkitab sangat bersyukur dapat memilikinya, dan yang lain-lain menghargai karena mempunyai Alkitab yang menggunakan kata-kata yang dapat mereka pahami. Ketika New Wold Translation of the Holy Scriptures—With References tersedia di Brasil, media berita menunjukkan bahwa ini merupakan versi yang paling lengkap (yaitu dengan lebih banyak referensi silang dan catatan kaki) yang tersedia di negeri itu. Media itu juga memperhatikan bahwa jumlah cetakan pertamanya sepuluh kali lebih banyak daripada yang dicapai oleh kebanyakan edisi di negeri itu.

      Edisi Spanyol dari New World Translation of the Christian Greek Scriptures juga diterbitkan pada tahun 1963, disusul dengan Alkitab yang lengkap pada tahun 1967. Sebanyak 527.451 eksemplar Kitab-Kitab Yunani Kristen diterbitkan, dan setelah itu sampai tahun 1992, ada sejumlah 17.445.782 Alkitab lengkap dalam bahasa Spanyol. Ini menyumbang kepada pertambahan yang menakjubkan dalam jumlah pemuji Yehuwa di negeri-negeri berbahasa Spanyol. Jadi mulai tahun 1963 sampai 1992, di negeri-negeri yang kebanyakan menggunakan bahasa Spanyol, tempat Saksi-Saksi Yehuwa melaksanakan pelayanan mereka, jumlah mereka meningkat dari 82.106 menjadi 942.551. Dan di Amerika Serikat, pada tahun 1992, terdapat 130.224 Saksi dari Yehuwa lainnya yang berbahasa Spanyol.

      Tidak hanya di negeri-negeri Susunan Kristen New World Translation diterima dengan antusias. Pada tahun pertama penerbitannya dalam bahasa Jepang, kantor cabang di Jepang menerima pesanan sebanyak setengah juta eksemplar.

      Sampai tahun 1992, pencetakan New World Translation of the Holy Scriptures yang lengkap, dalam 12 bahasa yang tersedia saat itu, berjumlah 70.105.258 eksemplar. Di samping itu, 8.819.080 eksemplar dari bagian-bagian terjemahan ini sudah dicetak.

      Menyediakan Alkitab Dalam Banyak Bentuk

      Komputerisasi dalam kegiatan Lembaga Menara Pengawal, yang dimulai pada tahun 1977, sangat membantu dalam memproduksi Alkitab, sebagaimana juga halnya dalam aspek-aspek lain dari kegiatan penerbitan. Hal itu membantu para penerjemah untuk menjadi lebih konsisten dalam pekerjaan mereka; juga mempermudah pencetakan Alkitab dalam berbagai bentuk.

      Sesudah seluruh teks Alkitab dimasukkan ke dalam komputer, tidaklah sulit untuk menggunakan sebuah phototypesetter elektronik guna mencetak teks tersebut dalam berbagai ukuran dan bentuk. Pertama, pada tahun 1981, muncul edisi berukuran biasa dalam bahasa Inggris dengan konkordansi dan keistimewaan apendiks lainnya yang membantu. Ini adalah edisi pertama yang dicetak oleh Lembaga Menara Pengawal pada mesin cetak web offset. Sesudah hasil revisi dimasukkan ke dalam teks yang disimpan di dalam komputer, suatu edisi cetakan ukuran besar dalam bahasa Inggris diterbitkan pada tahun 1984; ini mencakup banyak keistimewaan yang berharga untuk mengadakan riset. Edisi bahasa Inggris berukuran biasa dengan revisi yang sama juga disediakan pada tahun itu; referensi silang dan konkordansi dimasukkan, tetapi tanpa catatan kaki; dan apendiksnya dirancang untuk pelayanan pengabaran dan bukan untuk penyelidikan yang lebih mendalam. Kemudian, demi manfaat bagi mereka yang menginginkan edisi berukuran saku yang sangat kecil, edisi seperti ini diterbitkan dalam bahasa Inggris pada tahun 1987. Semua edisi ini segera diterbitkan juga dalam bahasa-bahasa lain.

      Selain itu, perhatian juga diberikan guna membantu orang-orang yang mempunyai kebutuhan khusus. Untuk membantu mereka yang dapat melihat tetapi membutuhkan huruf-huruf yang sangat besar, Alkitab New World Translation dalam bahasa Inggris yang lengkap diterbitkan dalam empat jilid besar pada tahun 1985. Segera edisi yang sama dicetak dalam bahasa Jerman, Prancis, Spanyol, dan Jepang. Sebelumnya, pada tahun 1983, New World Translation of the Christian Greek Scriptures, dalam empat jilid, sudah tersedia dalam huruf Braille Inggris tingkatan kedua (grade-two). Dalam waktu lima tahun berikutnya, New World Translation yang lengkap sudah diterbitkan dalam huruf Braille Inggris dalam 18 jilid.

      Apakah beberapa orang akan dibantu jika mereka dapat mendengarkan rekaman Alkitab? Tentu saja. Maka Lembaga Menara Pengawal mulai memproduksinya juga. Rekaman kaset audio pertama adalah The Good News According to John, dalam bahasa Inggris, yang diterbitkan tahun 1978. Pada waktunya seluruh New World Translation dalam bahasa Inggris tersedia dalam 75 kaset audio. Apa yang dimulai sebagai kegiatan yang kecil segera berkembang menjadi suatu proyek besar. Ini segera tersedia dalam bahasa-bahasa lainnya. Menjelang tahun 1992, New World Translation, keseluruhan atau sebagian, tersedia dalam kaset audio dalam 14 bahasa. Pada mulanya, beberapa cabang menggunakan perusahaan-perusahaan komersial untuk mengerjakannya. Sampai tahun 1992, dengan peralatan mereka sendiri, Lembaga Menara Pengawal sudah menghasilkan lebih dari 31.000.000 kaset audio semacam itu.

      Manfaat kaset-kaset audio Alkitab dan penggunaannya jauh melebihi perkiraan semula. Di semua bagian bumi, orang-orang menggunakan cassette player (alat pemutar kaset). Banyak orang yang tidak dapat membaca dibantu dengan cara ini untuk mendapatkan manfaat secara pribadi dari Firman Allah yang suci. Wanita-wanita dapat mendengarkan kaset audio selagi mengerjakan tugas-tugas mereka di rumah. Pria-pria dapat mendengarkannya melalui tape deck selagi mereka berada dalam perjalanan dengan mobil pulang dari atau pergi ke tempat pekerjaan. Kemampuan mengajar dari setiap Saksi sangat ditingkatkan seraya mereka mendengarkan Firman Allah dengan teratur dan memperhatikan pengucapan nama-nama Alkitab dan cara ayat-ayat Alkitab dibacakan.

      Sampai tahun 1992, berbagai edisi New World Translation sudah dicetak di percetakan-percetakan Lembaga di Amerika Utara dan Selatan, Eropa, dan di Negeri-Negeri Timur. Alkitab sejumlah 78.924.338 jilid telah dihasilkan dan tersedia untuk disebarkan. Di Brooklyn saja, ada tiga mesin cetak web offset besar berkecepatan tinggi yang terutama digunakan untuk memproduksi Alkitab. Bila digabungkan, mesin-mesin cetak ini dapat memproduksi 7.900 Alkitab setiap jam, dan kadang-kadang jam kerja mesin-mesin ini perlu ditambah.

      Namun, Saksi-Saksi Yehuwa menawarkan kepada orang-orang lebih daripada sekadar sebuah Alkitab yang mungkin hanya diletakkan di rak buku. Mereka juga menawarkan kepada siapa saja yang berminat akan Alkitab—tidak soal ia memperolehnya dari Saksi-Saksi Yehuwa atau bukan—suatu pengajaran Alkitab di rumah secara cuma-cuma. Pengajaran-pengajaran ini tidak berlangsung tanpa ada akhirnya. Sebagian pelajar memasukkan apa yang mereka pelajari ke dalam hati, menjadi Saksi-Saksi yang dibaptis, dan kemudian ambil bagian dalam mengajar orang-orang lain. Sesudah beberapa bulan, jika tidak ada cukup kemajuan yang diperlihatkan dalam menerapkan apa yang dipelajari, pengajaran akan dihentikan demi kepentingan orang-orang lain yang sungguh-sungguh berminat. Pada tahun 1992, Saksi-Saksi Yehuwa sedang memberikan dinas pengajaran Alkitab cuma-cuma seperti ini kepada 4.278.127 orang secara perorangan atau keluarga, biasanya seminggu sekali.

      Jadi, dengan cara yang tidak tertandingi oleh organisasi lain mana pun, Saksi-Saksi Yehuwa menerbitkan dan menyebarkan Alkitab dan adalah guru-guru dari Firman Allah yang suci.

      [Catatan Kaki]

      a Sebagaimana diperlihatkan dalam Watch Tower 15 Juli 1892 (hlm. 210), nama Watch Tower Bible and Tract Society sudah digunakan selama beberapa tahun sebelum nama itu didaftarkan secara resmi. Suatu risalah yang diterbitkan pada tahun 1890 dalam seri Old Theology mengidentifikasikan penerbitnya sebagai Tower Bible and Tract Society.

      b Terjemahan ini diserahkan kepada Watch Tower Bible and Tract Society Pennsylvania untuk diterbitkan, dengan permintaan agar nama para penerjemah tidak pernah dicantumkan. Mereka menghendaki semua pujian ditujukan kepada Allah Yehuwa, Pengarang Ilahi dari Firman-Nya yang terilham.

      c Sejumlah terjemahan terdahulu ke dalam bahasa Ibrani, Jerman, dan Inggris memulihkan nama ilahi dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen, sebagaimana juga dilakukan oleh banyak versi misionaris.

      [Kotak di hlm. 609]

      Suatu Terjemahan yang Baru

      Ketika jilid pertama dari ”New World Translation of the Holy Scriptures” diterbitkan, Alexander Thomson, seorang kritikus Alkitab berbangsa Inggris, menulis, ”Terjemahan asli dari Kitab-Kitab Ibrani ke dalam bahasa Inggris sangat sedikit jumlahnya. Sebab itu dengan senang hati kami menyambut penerbitan bagian pertama dari Terjemahan Dunia Baru [dari Kitab-Kitab Ibrani], Kejadian sampai Rut. . . . Versi ini terbukti telah membuat upaya khusus agar isinya sepenuhnya dimengerti. Tak seorang pun dapat mengatakan bahwa publikasi ini kurang dalam hal barunya dan keasliannya. Terminologinya sama sekali tidak didasarkan pada versi-versi sebelumnya.”—”The Differentiator”, Juni 1954, hlm. 131.

      [Kotak/Gambar di hlm. 610]

      ”Suatu Teks Dengan Perbendaharaan Kata yang Siap Pakai”

      Dalam ”The Classical Journal”, Thomas N. Winter dari Universitas Nebraska menulis suatu tinjauan atas ”The Kingdom Interlinear Translation of the Greek Scriptures” yang di dalamnya ia berkata, ”Ini bukanlah suatu terjemahan biasa di antara baris-baris: integritas dari teks dipertahankan, dan bahasa Inggris yang muncul di bawahnya adalah pengertian dasar dari kata Yunaninya. Jadi ciri khusus berupa terjemahan di antara baris-baris dalam buku ini sama sekali bukan terjemahan. Suatu teks dengan perbendaharaan kata yang siap pakai lebih tepat untuk melukiskannya. Suatu terjemahan dalam bahasa Inggris yang bagus muncul di kolom yang ramping di sisi kanan halaman. . . .

      ”Teks ini didasarkan atas teks dari Brooke F. Westcott dan Fenton J. A. Hort (1881, cetak ulang), tetapi terjemahan yang dibuat oleh panitia ini yang tidak menyebut nama-nama mereka sepenuhnya mengikuti zaman dan secara konsisten akurat.”—Terbitan April-Mei tahun 1974, hlm. 375-6.

      [Gambar]

      Edisi-edisi tahun 1969 dan 1985

      [Kotak/Gambar di hlm. 611]

      Pendapat Seorang Sarjana Bahasa Ibrani

      Mengenai ”New World Translation”, Profesor Dr. Benjamin Kedar, seorang sarjana bahasa Ibrani di Israel, mengatakan pada tahun 1989, ”Dalam riset linguistik saya sehubungan dengan Alkitab bahasa Ibrani dan terjemahan-terjemahannya, saya sering merujuk kepada edisi bahasa Inggris dari apa yang dikenal sebagai ’New World Translation’. Pada waktu saya melakukan hal itu, saya mendapati perasaan saya berulang kali diteguhkan bahwa hasil karya ini mencerminkan upaya yang jujur untuk mendapatkan pengertian dari teks tersebut sesaksama mungkin. Untuk memberi bukti dari penguasaan bahasa asli yang luas, buku itu menerjemahkan kata-kata asli ke dalam bahasa kedua yang mudah dimengerti tanpa harus menyimpang dari struktur spesifik bahasa Ibrani. . . . Setiap pernyataan bahasa memberi kebebasan tertentu dalam menginterpretasi atau menerjemahkan. Jadi penyelesaian secara linguistik dalam kasus apa pun terbuka untuk diperdebatkan. Tetapi saya tidak pernah menemukan di dalam ’New World Translation’ satu pun maksud untuk menyimpangkan pengertian dari teks dengan menyisipkan sesuatu yang tidak terdapat di dalamnya.”

      [Grafik di hlm. 613]

      (Untuk keterangan lengkap, lihat publikasinya)

      Pertumbuhan Jumlah Saksi-Saksi Sejak Diterbitkannya ”New World Translation”

      Prancis

      150.000

      100.000

      50.000

      1963 1970 1980 1992

      Italia

      150.000

      100.000

      50.000

      1963 1970 1980 1992

      Portugal dan Brasil

      300.000

      200.000

      100.000

      1963 1970 1980 1992

      Negeri-Negeri Berbahasa Spanyol

      900.000

      600.000

      300.000

      1963 1970 1980 1992

      [Gambar di hlm. 604]

      Beberapa Terjemahan yang Digunakan Oleh Siswa-Siswa Alkitab Masa Permulaan

      Terjemahan harfiah dari Young

      Terjemahan Leeser (bahasa Inggris sebelah menyebelah dengan bahasa Ibrani)

      ”New Testament” dari Tischendorf (memperlihatkan kata-kata yang berbeda dari Manuskrip Yunani)

      Terjemahan Murdock (dari bahasa Siria)

      ”The Emphatic Diaglott” (bahasa Yunani ke bahasa Inggris)

      Alkitab Variorum (dengan berbagai terjemahan dalam bahasa Inggris)

      ”The Newberry Bible” (dengan catatan pinggir yang berharga)

      [Gambar di hlm. 605]

      Pendahuluan dari ”New Testament” edisi Rotherham dicetak untuk Lembaga Menara Pengawal ± tahun 1890

      [Gambar di hlm. 606]

      Alkitab Edisi Paralel Linear Holman, seperti yang diterbitkan menurut pengaturan Lembaga Menara Pengawal pada tahun 1902

      [Gambar di hlm. 606]

      Edisi Menara Pengawal dari ”King James Version”, dengan konkordansi yang dirancang khusus (1942)

      [Gambar di hlm. 607]

      ”American Standard Version”, suatu terjemahan yang menggunakan nama ilahi, Yehuwa, lebih dari 6.870 kali; edisi Menara Pengawal (1944)

      [Gambar di hlm. 607]

      Terjemahan Byington (1972)

      [Gambar di hlm. 608]

      ”New World Translation”, pertama diterbitkan dalam bahasa Inggris dalam enam jilid, dari tahun 1950 sampai 1960; belakangan semua digabungkan dalam edisi khusus untuk siswa-siswa

      Diterbitkan dalam satu jilid yang lengkap pada tahun 1961

      Edisi cetakan ukuran besar, dengan referensi untuk penelitian, diterbitkan pada tahun 1984

      [Gambar di hlm. 612]

      Secara progresif ”New World Translation” telah tersedia dalam lebih banyak bahasa

      [Gambar di hlm. 614]

      ”New World Translation” dengan huruf yang sangat besar

      . . . dalam huruf Braille

      . . . dalam kaset audio

      . . . dalam disket komputer

  • Pengujian dan Penyaringan dari Dalam
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 28

      Pengujian dan Penyaringan dari Dalam

      PERKEMBANGAN dan pertumbuhan organisasi Saksi-Saksi Yehuwa zaman modern telah mencakup banyak situasi yang sangat menguji iman masing-masing orang. Sebagaimana mengirik dan menampi memisahkan gandum dari sekamnya, demikian pula situasi-situasi ini berfungsi sebagai cara untuk mengenali orang-orang yang adalah orang Kristen sejati. (Bandingkan Lukas 3:17.) Orang-orang yang bergabung dengan organisasi ini harus menyatakan apa yang ada dalam hati mereka. Apakah mereka sekadar melayani demi keuntungan pribadi? Apakah mereka semata-mata menjadi pengikut orang-orang tertentu yang tidak sempurna? Atau apakah mereka rendah hati, bergairah untuk mengetahui dan melakukan kehendak Allah, sepenuh hati berbakti kepada Yehuwa?​—Bandingkan 2 Tawarikh 16:9.

      Demikian pula, para pengikut Yesus Kristus abad pertama mengalami hal-hal yang menguji iman mereka. Yesus mengatakan kepada para pengikutnya bahwa jika mereka setia, mereka akan memperoleh bagian bersama dia dalam Kerajaannya. (Mat. 5:​3, 10; 7:21; 18:3; 19:28) Namun ia tidak mengatakan kepada mereka kapan mereka akan menerima pahala tersebut. Menghadapi tanggapan umum yang acuh tak acuh, bahkan bermusuhan terhadap pengabaran mereka, apakah mereka akan terus dengan loyal menjadikan kepentingan Kerajaan perhatian utama dalam kehidupan mereka? Tidak semua melakukannya.​—2 Tim. 4:10.

      Cara Yesus sendiri mengajar menjadi suatu ujian bagi beberapa orang. Orang-orang Farisi tersandung ketika ia dengan tegas menolak tradisi-tradisi mereka. (Mat. 15:1-14) Bahkan banyak orang yang mengaku diri murid-murid Yesus merasa tersinggung karena cara ia mengajar. Pada suatu kesempatan, ketika ia sedang membahas pentingnya menjalankan iman kepada nilai dari daging dan darahnya sendiri yang dipersembahkan sebagai korban, banyak di antara murid-muridnya menyatakan keterkejutan atas bahasa kiasan yang digunakannya. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, mereka ”mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia”.​—Yoh. 6:48-66.

      Namun tidak semua berpaling darinya. Seperti dijelaskan oleh Simon Petrus, ”Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” (Yoh. 6:67-69) Mereka telah melihat dan mendengar banyak hal sehingga mereka yakin bahwa Yesus adalah pribadi yang melaluinya Allah menyatakan kebenaran mengenai diri-Nya sendiri dan maksud-tujuan-Nya. (Yoh. 1:14; 14:6) Meskipun demikian, ujian iman terus berlanjut.

      Setelah kematian dan kebangkitan Yesus, ia menggunakan para rasul dan orang-orang lain sebagai gembala-gembala sidang. Mereka adalah orang-orang yang tidak sempurna, dan kadang-kadang ketidaksempurnaan mereka merupakan cobaan bagi orang-orang di sekitar mereka. (Bandingkan Kisah 15:36-41; Galatia 2:11-14.) Di lain pihak, ada pribadi-pribadi yang menjadi tidak seimbang dalam perasaan kagum mereka terhadap orang-orang Kristen terkemuka dan yang berkata, ”Aku dari golongan Paulus”, sedangkan yang lain berkata, ”Aku dari golongan Apolos”. (1 Kor. 3:4) Mereka semua perlu berjaga-jaga agar tidak kehilangan pandangan akan makna menjadi seorang pengikut Yesus Kristus.

      Rasul Paulus menubuatkan problem-problem serius lain, dengan menjelaskan bahwa bahkan dalam sidang Kristen ”akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka”. (Kis. 20:29, 30) Dan rasul Petrus memperingatkan bahwa guru-guru palsu yang ada di antara hamba-hamba Allah akan berupaya mengeksploitasi orang-orang lain dengan ”ceritera-ceritera isapan jempol”. (2 Ptr. 2:1-3) Jelaslah, ujian iman dan loyalitas yang menguji hati bakal terjadi di masa depan.

      Maka, pengujian dan penyaringan yang menjadi bagian dari sejarah Saksi-Saksi Yehuwa zaman modern tidaklah mengejutkan. Namun tidak sedikit yang terkejut melihat siapa yang tersandung dan oleh apa.

      Apakah Mereka Sungguh-Sungguh Menghargai Tebusan?

      Selama awal tahun 1870-an, Saudara Russell dan rekan-rekannya bertumbuh dalam pengetahuan dan penghargaan akan maksud-tujuan Allah. Itu merupakan masa penyegaran rohani bagi mereka. Namun kemudian, pada tahun 1878, mereka dihadapkan kepada suatu ujian besar mengenai iman mereka dan loyalitas mereka kepada Firman Allah. Persoalannya adalah nilai korban dari daging dan darah Yesus—ajaran yang justru telah menjadi batu sandungan bagi banyak murid Yesus pada abad pertama.

      Hanya dua tahun sebelumnya, pada tahun 1876, C. T. Russell mengadakan hubungan kerja bersama N. H. Barbour dari Rochester, New York. Kelompok-kelompok belajar mereka digabung. Russell menyediakan dana untuk menghidupkan kembali pencetakan majalah karangan Barbour, Herald of The Morning dengan Barbour sebagai redaktur dan Russell sebagai pembantu redaktur. Mereka juga bersama-sama telah menghasilkan sebuah buku yang berjudul Three Worlds, and the Harvest of This World.

      Kemudian meletuslah suatu konflik! Dalam Herald of The Morning terbitan Agustus 1878, Barbour menulis sebuah artikel dan di dalam artikel tersebut ia meremehkan ayat-ayat seperti 1 Petrus 3:18 dan Yesaya 53:5, 6, juga Ibrani 9:22, dan menyatakan bahwa seluruh gagasan mengenai kematian Kristus sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita itu memuakkan. Russell belakangan menulis, ”Mengejutkan dan juga menyedihkan, Tuan Barbour . . . menulis sebuah artikel untuk Herald yang menyangkal doktrin pendamaian—menyangkal gagasan bahwa kematian Kristus merupakan harga tebusan bagi Adam dan keturunannya, dengan mengatakan bahwa kematian Kristus bukanlah penyelesaian dari hukuman dosa manusia sebagaimana menusukkan jarum ke tubuh seekor lalat yang membuatnya menderita dan mati tidak dapat dianggap oleh orang-tua di bumi sebagai penyelesaian yang adil bagi kenakalan anaknya.”a

      Ini merupakan perkara yang penting sekali. Apakah Saudara Russell akan dengan loyal berpaut kepada apa yang jelas dikatakan oleh Alkitab mengenai persediaan Allah bagi keselamatan umat manusia? Atau apakah ia akan menjadi mangsa dari filsafat manusia? Walaupun Russell pada waktu itu baru berusia 26 tahun dan Barbour seorang pria yang jauh lebih tua, Russell dengan berani menulis sebuah artikel dalam terbitan Herald berikutnya dan di dalamnya ia dengan kukuh membela nilai darah Kristus yang dapat menebus dosa, yang disebutnya sebagai ”salah satu ajaran yang paling penting dari firman Allah”.

      Kemudian, ia mengundang J. H. Paton, pembantu redaktur Herald yang lain, untuk menulis sebuah artikel yang mendukung iman akan darah Kristus sebagai dasar untuk penebusan dosa. Paton memang menulis artikel itu, dan diterbitkan dalam terbitan bulan Desember. Sesudah upaya berulang kali namun gagal untuk bertukar pikiran dengan Barbour mengenai masalah ini berdasarkan ayat-ayat Alkitab dan dengan penalaran, Russell memutuskan hubungan kerja sama dengannya dan menghentikan dukungan dana bagi majalahnya. Pada bulan Juli 1879, Russell mulai menerbitkan sebuah majalah baru—Zion’s Watch Tower and Herald of Christ’s Presence—yang sejak awal menjadi pendukung istimewa dari ajaran tebusan. Namun masalahnya belum selesai sampai di situ.

      Dua tahun kemudian, Paton, yang ketika itu melayani sebagai wakil keliling dari Watch Tower, juga mulai berpaling, dan sesudah itu menerbitkan sebuah buku (buku keduanya berjudul Day Dawn) yang di dalamnya ia menolak kepercayaan bahwa Adam jatuh ke dalam dosa dan dengan demikian membutuhkan seorang penebus. Ia berpikir bahwa Tuhan sendiri adalah seorang manusia yang tidak sempurna yang melalui kehidupannya sekadar memperlihatkan kepada orang-orang lain cara menyalibkan kecenderungan-kecenderungan mereka yang penuh dosa. Pada tahun 1881, A. D. Jones, seorang rekan lain, mulai menerbitkan sebuah surat kabar (Zion’s Day Star) dengan ciri-ciri yang sama seperti Watch Tower namun dengan tujuan hendak menyederhanakan corak-corak maksud-tujuan Allah. Mula-mula segala sesuatu tampak berjalan baik. Namun, dalam setahun, surat kabar Jones memperlihatkan bahwa ia menolak korban pendamaian Kristus, dan dalam setahun berikutnya, surat kabar itu menolak semua hal lain dari Alkitab. Apa yang telah terjadi dengan orang-orang tersebut? Mereka telah membiarkan teori-teori pribadi dan pesona akan filsafat-filsafat populer manusia menyimpangkan mereka dari Firman Allah. (Bandingkan Kolose 2:8.) Surat kabar yang diterbitkan oleh A. D. Jones hanya bertahan untuk waktu singkat dan kemudian hilang dari peredaran. J. H. Paton memutuskan untuk menerbitkan sebuah majalah dan di dalamnya ia membahas injil menurut versinya, tetapi peredarannya sangat terbatas.

      Saudara Russell sangat prihatin mengenai pengaruh yang diakibatkan semua hal ini atas para pembaca Watch Tower. Ia menyadari bahwa iman masing-masing diuji. Ia tahu betul bahwa ada yang menafsirkan kecamannya terhadap ajaran-ajaran yang tidak berdasarkan Alkitab sebagai sesuatu yang digerakkan oleh semangat persaingan. Namun Saudara Russell tidak mencari pengikut-pengikut bagi dirinya sendiri. Mengenai apa yang sedang terjadi, ia menulis, ”Tujuan pencobaan dan penyaringan ini terbukti untuk memilih semua orang yang keinginan hatinya tidak mementingkan diri, yang dengan sepenuhnya dan tidak ragu-ragu mengabdi kepada Tuhan, yang begitu ingin agar kehendak Tuhan terjadi, dan yang keyakinannya akan hikmat-Nya, jalan-Nya dan Firman-Nya begitu besar, sehingga mereka tidak mau disimpangkan dari Firman Tuhan, oleh cara berpikir orang lain yang menyesatkan, ataupun oleh rencana dan gagasan mereka sendiri.”

      Apakah Allah Menggunakan Saluran yang Kelihatan?

      Memang terdapat banyak organisasi agama, dan cukup banyak guru yang juga menggunakan Alkitab. Apakah Allah secara khusus menggunakan Charles Taze Russell? Jika demikian, apakah Allah tidak lagi mempunyai saluran yang kelihatan ketika Saudara Russell meninggal? Ini menjadi persoalan-persoalan kritis, yang mengakibatkan pengujian dan penyaringan lebih lanjut.

      Tentunya tidak dapat diharapkan bahwa Allah akan menggunakan C. T. Russell jika ia tidak dengan loyal berpaut pada Firman Allah. (Yer. 23:28; 2 Tim. 3:16, 17) Allah tidak akan menggunakan orang yang karena rasa takut tidak mau mengabarkan dengan jelas apa yang ia lihat tertulis dalam Alkitab. (Yeh. 2:6-8) Allah juga tidak akan menggunakan orang yang mengeksploitasi pengetahuannya tentang Alkitab untuk mendatangkan kemuliaan bagi dirinya sendiri. (Yoh. 5:44) Jadi, apa yang ditunjukkan oleh fakta-fakta?

      Seraya Saksi-Saksi Yehuwa dewasa ini meninjau kembali pekerjaan yang telah ia lakukan, hal-hal yang telah ia ajarkan, alasannya untuk mengajarkan semuanya, dan hasilnya, tidak ada keraguan dalam diri mereka bahwa Charles Taze Russell memang digunakan oleh Allah secara khusus dan pada saat yang penting.

      Pandangan ini semata-mata tidak didasarkan atas pendirian teguh yang diambil oleh Saudara Russell berkenaan tebusan. Yang diperhitungkan adalah fakta bahwa ia tanpa gentar menolak kredo-kredo yang terdiri dari beberapa kepercayaan dasar Susunan Kristen, karena hal-hal ini bertentangan dengan Alkitab terilham. Kepercayaan-kepercayaan ini mencakup doktrin Tritunggal (yang berakar pada Babilon purba dan baru belakangan diterima oleh mereka yang disebut orang-orang Kristen, lama sesudah Alkitab selesai ditulis) dan juga ajaran bahwa jiwa manusia berperi kodrati tidak berkematian (yang telah diterima oleh orang-orang yang terlalu terpesona oleh filsafat Plato dan yang membuat mereka mudah menerima gagasan seperti siksaan kekal dari jiwa-jiwa dalam api neraka). Banyak sarjana Susunan Kristen juga mengetahui bahwa doktrin-doktrin ini tidak diajarkan dalam Alkitab,b tetapi pada umumnya bukanlah demikian yang dikatakan oleh para pengajar mereka dari mimbar gereja. Secara kontras, Saudara Russell melancarkan suatu kampanye yang intensif untuk membagikan hal-hal yang sebenarnya dikatakan oleh Alkitab kepada semua orang yang ingin mendengar.

      Patut diperhatikan pula apa yang Saudara Russell lakukan dengan kebenaran-kebenaran yang sangat penting lainnya yang ia pelajari dari Firman Allah. Ia memahami bahwa Kristus akan kembali sebagai pribadi roh yang mulia, tidak kelihatan oleh mata manusia. Sudah sejak tahun 1876, ia mengenali bahwa tahun 1914 akan menandai berakhirnya Zaman Orang Kafir. (Luk. 21:24, KJ) Sarjana-sarjana Alkitab lainnya juga telah memahami beberapa hal ini dan telah mendukungnya. Namun Saudara Russell menggunakan segala sumber dayanya untuk mengumumkan hal-hal ini secara internasional dalam skala yang hingga saat itu belum tertandingi oleh individu atau kelompok lain mana pun.

      Ia mendesak orang-orang lain untuk memeriksa dengan teliti tulisan-tulisannya dibandingkan dengan Firman Allah yang terilham sehingga mereka yakin bahwa apa yang mereka pelajari itu selaras sepenuhnya dengan Firman Allah. Kepada seorang yang menulis surat untuk meminta keterangan, Saudara Russell menjawab, ”Jika patut bagi orang-orang Kristen pada masa awal untuk membuktikan apa yang mereka terima dari para rasul, yang memang terilham sesuai dengan pengakuan mereka, betapa lebih penting agar Anda sepenuhnya meyakinkan diri bahwa ajaran-ajaran ini tetap berpaut erat kepada kerangka petunjuk dari para rasul dan dari Tuhan kita;—karena pengarang dari ajaran-ajaran tersebut tidak mengaku diri terilham, tetapi hanya dibimbing oleh Tuhan, sebagai pribadi yang Ia gunakan untuk memberi makan kawanan dombanya.”

      Saudara Russell tidak mengaku diri memiliki kuasa supernatural, atau penyingkapan ilahi. Ia tidak meminta pujian atas apa yang ia ajarkan. Ia seorang pelajar Alkitab yang menonjol. Namun ia menerangkan bahwa pengertiannya yang luar biasa mengenai Alkitab adalah karena ’fakta sederhana bahwa waktu yang Allah tentukan sudah tiba’. Ia berkata, ”Jika saya tidak berbicara, dan tidak ada wakil lain yang dapat ditemukan, batu-batu pun akan berteriak.” Ia menyebut dirinya hanya sebagai jari telunjuk, yang menunjukkan apa yang dinyatakan dalam Firman Allah.

      Charles Taze Russell tidak menginginkan kemuliaan dari manusia. Untuk meluruskan cara berpikir siapa pun yang cenderung memberi penghormatan yang berlebihan kepadanya, Saudara Russell menulis, pada tahun 1896, ”Karena kami, melalui kemurahan Allah, sampai taraf tertentu telah digunakan dalam pelayanan injil, sudah sepatutnya untuk mengatakan di sini apa yang telah sering kami katakan secara pribadi, dan yang sebelumnya muncul dalam kolom-kolom ini,—yakni, bahwa walaupun kami menghargai kasih, simpati, kepercayaan dan persaudaraan dari rekan-rekan hamba dan seluruh rumah tangga iman, kami tidak menginginkan sanjungan, atau penghormatan, bagi diri kami atau tulisan-tulisan kami; kami pun tidak ingin dipanggil Bapak Pendeta atau Rabi. Kami juga tidak ingin siapa pun disebut dengan nama kami.”

      Seraya kematiannya mendekat, ia tidak beranggapan bahwa tidak ada sesuatu lagi yang dapat dipelajari, bahwa tidak ada lagi pekerjaan yang perlu dilakukan. Ia telah sering berbicara mengenai persiapan jilid ke tujuh dari Studies in the Scriptures (Penelitian mengenai Alkitab). Sewaktu ditanya mengenai hal itu sebelum meninggal, ia berkata kepada Menta Sturgeon, rekannya dalam perjalanan, ”Orang lain dapat menulisnya.” Dalam surat wasiatnya ia menyatakan keinginannya agar The Watch Tower terus diterbitkan di bawah pimpinan sebuah panitia yang terdiri dari pria-pria yang berbakti sepenuhnya kepada Tuhan. Ia menyatakan bahwa mereka yang melayani demikian hendaknya pria-pria ”yang sepenuhnya loyal kepada doktrin-doktrin Alkitab—khususnya kepada doktrin Tebusan—yang menyatakan bahwa perkenan Allah dan keselamatan kepada kehidupan kekal tidak dapat diperoleh kecuali melalui iman akan Kristus dan ketaatan kepada Firman-Nya dan roh dari Firman tersebut.”

      Saudara Russell menyadari bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dalam hal memberitakan kabar baik. Pada suatu pertemuan tanya-jawab di Vancouver, B C, Kanada, pada tahun 1915, kepadanya ditanyakan kapan gerangan para pengikut Kristus yang diurapi dengan roh dan yang ketika itu hidup dapat berharap untuk menerima pahala surgawi mereka. Ia menjawab, ”Saya tidak tahu, tetapi ada suatu pekerjaan besar yang harus dilakukan. Dan dibutuhkan ribuan saudara dan jutaan uang untuk melakukannya. Dari mana hal-hal ini akan datang saya tidak tahu—Tuhan tahu urusan-Nya sendiri.” Kemudian, pada tahun 1916, tidak lama sebelum ia mengawali perjalanannya untuk menyampaikan khotbah dan yang menjadi perjalanannya yang terakhir, ia memanggil A. H. Macmillan, seorang asisten administrasi, untuk datang ke kantornya. Pada kesempatan itu ia berkata, ”Saya tidak mampu lagi untuk melaksanakan pekerjaan itu, namun ada suatu pekerjaan besar yang harus dilakukan.” Selama tiga jam ia melukiskan kepada Saudara Macmillan pekerjaan pengabaran ekstensif yang, berdasarkan Alkitab, ia lihat akan terjadi di masa mendatang. Terhadap keberatan-keberatan Saudara Macmillan, ia menjawab, ”Ini bukan pekerjaan manusia.”

      Pergantian Tata Pimpinan Mendatangkan Pengujian

      Banyak dari antara rekan-rekan Saudara Russell sangat yakin bahwa Tuhan mengendalikan segalanya dengan baik. Pada saat pemakaman Saudara Russell, W. E. Van Amburgh menyatakan, ”Allah telah menggunakan banyak hamba di masa lalu dan Ia pasti akan menggunakan banyak hamba di masa depan. Pembaktian kita bukan untuk seorang manusia, atau untuk pekerjaan manusia, tetapi untuk melakukan kehendak Allah, yang akan Ia ungkapkan kepada kita melalui Firman-Nya dan petunjuk yang ditetapkan-Nya. Allah masih tetap memimpin.” Saudara Van Amburgh tidak pernah goyah dalam keyakinan tersebut hingga kematiannya.

      Akan tetapi, patut disayangkan, bahwa ada beberapa orang yang mengaku mengagumi Russell namun memperlihatkan semangat yang berbeda. Akibatnya, keadaan yang berubah sesudah kematian Russell mengakibatkan pengujian dan penyaringan. Kelompok-kelompok yang murtad memisahkan diri bukan hanya di Amerika Serikat melainkan juga di Belfast, Irlandia; di Kopenhagen, Denmark; di Vancouver dan Victoria, Kolombia Inggris, Kanada; dan di tempat-tempat lain. Di Helsinki, Finlandia, beberapa menganut pandangan bahwa sesudah kematian Russell tidak ada saluran bagi terang rohani selanjutnya. Atas desakan orang-orang terkemuka tertentu, 164 orang di sana meninggalkan organisasi. Apakah hal itu diberkati Allah? Untuk sementara mereka menerbitkan majalah mereka sendiri dan mengadakan perhimpunan mereka sendiri. Akan tetapi, pada waktunya, kelompok itu terpecah, menjadi semakin lemah, dan tamat riwayatnya; dan banyak di antara mereka dengan senang hati kembali ke perhimpunan-perhimpunan Siswa-Siswa Alkitab. Akan tetapi, tidak semua kembali.

      Kematian Saudara Russell, beserta perkembangan-perkembangan yang terjadi kemudian, juga menghadapkan suatu ujian kepada R. E. B. Nicholson, sekretaris kantor cabang Australia, dan membuat ia menyingkapkan isi hatinya. Sesudah kematian Russell, Nicholson menulis, ”Selama lebih dari seperempat abad saya telah mengasihi dia, bukan saja karena pekerjaannya, melainkan juga karena kepribadiannya yang indah, dan saya telah bersukacita dengan kebenaran-kebenaran yang disampaikannya sebagai ’daging pada musim yang tepat’, dan dengan nasihatnya, mengagumi sifatnya yang simpatik, baik budi, pengasih yang begitu mulia terpadu dengan ketabahan hati dan tekad yang kuat untuk melakukan dan berani menghadapi apa pun agar dapat mengemban apa yang diyakininya sebagai kehendak Ilahi atau penyingkapan Firman-Nya. . . . Ada perasaan sepi ketika seseorang menyadari bahwa saka guru yang kuat ini telah tiada.”

      Joseph F. Rutherford, presiden baru Lembaga Menara Pengawal, menurut Nicholson bukanlah pria yang sesuai untuk kedudukan pengawas yang pernah dipegang oleh Saudara Russell. Nicholson mulai terang-terangan mengkritik cara blak-blakan yang digunakan oleh bahan pengajaran Alkitab yang baru dalam mengecam agama palsu. Tidak lama kemudian ia meninggalkan organisasi, dan ia membawa serta banyak milik Lembaga (yang telah ia daftarkan atas namanya sendiri) serta orang-orang di Melbourne yang, pada gilirannya, telah cenderung untuk mengikutinya. Mengapa hal itu terjadi? Ternyata Nicholson telah membiarkan dirinya menjadi pengikut manusia; maka, ketika pribadi tersebut tidak ada lagi, kejujuran dan gairah Nicholson untuk melayani Tuhan menjadi dingin. Tidak seorang pun di antara mereka yang pada waktu itu memisahkan diri berkembang dengan baik. Akan tetapi, patut diperhatikan, bahwa Jane Nicholson, walaupun berperawakan lemah, tidak mengikuti suaminya dalam kemurtadannya. Pengabdiannya terutama ditujukan kepada Allah Yehuwa, dan ia terus melayani Dia sepenuh waktu hingga kematiannya pada tahun 1951.

      Banyak orang menyadari bahwa apa yang terjadi pada tahun-tahun sesudah kematian Saudara Russell adalah sebagai pelaksanaan kehendak Tuhan. Salah seorang hamba Yehuwa di Kanada menulis mengenai hal ini kepada Saudara Rutherford, sebagai berikut,

      ”Saudara yang kami kasihi, janganlah salah terima sekarang bila saya menulis yang berikut. Watak Saudara dan watak Saudara Russell yang kita kasihi begitu berbeda bagaikan siang dan malam. Patut disesalkan, bahwa ada banyak, ya, sangat banyak, yang menyukai Saudara Russell karena kepribadian, wataknya, dsb.; dan sedikit, sangat sedikit yang menentangnya. Banyak yang menerima kebenaran hanya karena Saudara Russell mengatakannya demikian. Lalu, banyak yang mulai memuja pria itu . . . Saudara masih ingat ketika Saudara Russell pada suatu kebaktian berkhotbah dari hati ke hati tentang kelemahan ini yang terdapat pada banyak saudara yang beritikad baik, dengan mendasarkan khotbahnya pada Yohanes dan sang malaikat. (Wahyu 22:8, 9) Ketika ia meninggal kita semua tahu apa yang terjadi.

      ”Namun Anda, Saudara Rutherford, mempunyai watak yang berbeda sekali dari watak Saudara Russell. Bahkan penampilan kalian berbeda. Itu bukan kesalahan Saudara. Itu pembawaan sejak lahir, dan Saudara tidak dapat menolaknya. . . . Sejak Saudara ditempatkan di tampuk pimpinan untuk menangani segala urusan LEMBAGA, Saudara telah menjadi sasaran kecaman yang tidak benar dan fitnah yang paling keji, semua ini datang dari saudara-saudara. Namun, meskipun semua ini Saudara tetap loyal dan mengabdi kepada Tuhan yang kita kasihi dan kepada penugasan-Nya sebagaimana dicatat dalam Yesaya 61:1-3. Apakah Tuhan mengetahui apa yang diperbuat-Nya ketika Ia menempatkan Saudara pada tampuk pimpinan? Pasti demikian halnya. Di waktu yang lalu kita semua cenderung untuk lebih memuja makhluk daripada Sang Pencipta. Tuhan mengetahui hal itu. Maka ia menempatkan seorang makhluk dengan watak yang berbeda pada tampuk pimpinan, atau lebih baik saya katakan untuk mengepalai pekerjaan, yakni pekerjaan penuaian. Saudara tidak menginginkan siapa pun memuja Saudara. Saya tahu itu, namun Saudara justru ingin agar semua saudara yang sama-sama memiliki iman yang sangat berharga itu menikmati terang yang kini menyinari jalan yang ditempuh orang benar, sebagaimana Tuhan menganggapnya patut bersinar. Dan itulah yang Tuhan inginkan untuk dilakukan.”

      Memperjelas Identitas ”Hamba yang Setia dan Bijaksana”

      Banyak di antara mereka yang tersaring ke luar pada waktu itu bersikeras dalam anggapan bahwa satu pribadi, yaitu Charles Taze Russell, adalah ”hamba yang setia dan bijaksana” yang dinubuatkan oleh Yesus di Matius 24:45-47 (KJ), dan hamba ini akan membagikan makanan rohani kepada rumah tangga iman. Khususnya setelah kematiannya, The Watch Tower sendiri mengemukakan anggapan ini selama beberapa tahun. Mengingat peranan penting yang telah dimainkan oleh Saudara Russell, bagi Siswa-Siswa Alkitab pada masa itu tampaknya memang demikianlah halnya. Ia secara pribadi tidak memperkembangkan gagasan itu, namun ia memang mengakui adanya argumen-argumen yang jelas masuk akal dari mereka yang menyetujuinya.c Akan tetapi, ia juga menekankan, bahwa siapa pun yang mungkin digunakan oleh Tuhan dalam peranan demikian haruslah rendah hati dan juga bergairah untuk mendatangkan kemuliaan bagi sang Majikan, dan jika pribadi yang dipilih oleh Tuhan itu gagal, maka ia akan digantikan oleh yang lain.

      Akan tetapi, seraya terang kebenaran secara progresif bersinar bahkan lebih terang setelah kematian Saudara Russell, dan seraya pengabaran yang dinubuatkan oleh Yesus bahkan semakin meluas, maka menjadi jelaslah bahwa ”hamba yang setia dan bijaksana” (KJ), atau ”budak yang setia dan bijaksana” (NW), belum berlalu dari dunia sewaktu Saudara Russell meninggal. Pada tahun 1881, Saudara Russell sendiri mengemukakan pandangan bahwa ”hamba” tersebut terdiri dari seluruh badan umat Kristen yang setia yang diurapi dengan roh. Ia melihatnya sebagai hamba secara kolektif, satu golongan orang-orang yang bersatu padu melakukan kehendak Allah. (Bandingkan Yesaya 43:10.) Pengertian ini diteguhkan kembali oleh Siswa-Siswa Alkitab pada tahun 1927. Saksi-Saksi Yehuwa dewasa ini mengakui majalah Watchtower dan publikasi-publikasi sejenisnya sebagai sarana yang digunakan oleh budak yang setia dan bijaksana untuk menyalurkan makanan rohani. Mereka tidak menyatakan bahwa golongan budak ini mutlak sempurna, tetapi mereka memang memandangnya sebagai satu-satunya saluran yang digunakan Tuhan selama hari-hari terakhir dari sistem perkara ini.

      Bila Keangkuhan Menjadi Rintangan

      Akan tetapi, kadangkala terjadi bahwa individu-individu dalam kedudukan yang bertanggung jawab mulai memandang diri mereka sendiri sebagai saluran terang rohani, sehingga mereka menentang hal-hal yang disediakan oleh organisasi. Yang lain-lain semata-mata menyerah kepada keinginan untuk menjalankan pengaruh pribadi yang lebih besar. Mereka berupaya agar orang-orang lain mengikuti mereka, atau, sebagaimana rasul Paulus menyatakannya, ”menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.” (Kisah 20:29, 30) Tentu saja, hal ini menguji motif dan kemantapan rohani dari orang-orang yang hendak mereka pikat. Perhatikan beberapa contoh:

      Surat-surat khusus kepada Siswa-Siswa Alkitab di Allegheny, Pennsylvania, mengundang mereka untuk menghadiri suatu pertemuan pada tanggal 5 April 1894. Saudara dan Saudari Russell tidak diundang dan tidak hadir, namun kira-kira 40 orang lain hadir. Surat itu, yang ditandatangani oleh E. Bryan, S. D. Rogers, J. B. Adamson, dan O. von Zech, menyatakan bahwa pertemuan itu akan membahas hal-hal yang menyangkut ”kesejahteraan terbesar” mereka. Ternyata hal tersebut merupakan upaya keji di pihak mereka yang berkomplot ini untuk meracuni pikiran orang-orang lain, dengan membuka rahasia tentang hal-hal yang mereka anggap tercela dalam urusan bisnis Saudara Russell (walaupun fakta-faktanya adalah sebaliknya), dengan melontarkan pernyataan bahwa Saudara Russell memiliki terlalu banyak wewenang (yang mereka inginkan untuk mereka sendiri), dan dengan mengeluh bahwa ia lebih menyukai penggunaan media cetak untuk menyebarkan injil dan perhimpunan kelompok Alkitab sebaliknya daripada sekadar menyampaikan ceramah (dengan cara ini mereka dapat lebih mudah mengemukakan pandangan pribadi). Sidang sangat bingung oleh peristiwa tersebut, dan banyak yang tersandung. Namun mereka yang meninggalkan organisasi tidak menjadi orang-orang yang lebih rohani atau lebih bergairah dalam pekerjaan Tuhan.

      Lebih dari 20 tahun kemudian, sebelum ia meninggal, Saudara Russell menyatakan niatnya untuk mengutus Paul S. L. Johnson, seorang pembicara yang sangat cakap, untuk menguatkan Siswa-Siswa Alkitab di sana, karena menghormati keinginan Saudara Russell, Lembaga mengutus Saudara Johnson ke Inggris pada bulan November 1916. Akan tetapi, segera setelah tiba di Inggris, ia memecat dua manajer Lembaga. Karena menganggap dirinya sebagai pribadi yang penting, ia menyatakan dalam khotbah dan surat-menyurat bahwa apa yang ia lakukan telah digambarkan sebelumnya dalam Alkitab oleh Ezra, Nehemia, dan Mordekhai. Ia mengaku diri sebagai pengurus (atau, orang yang bertugas) yang disebut oleh Yesus dalam perumpamaannya di Matius 20:8. Ia berupaya menguasai uang Lembaga, dan ia mengajukan gugatan ke Mahkamah Tinggi London untuk melaksanakan tujuannya.

      Karena gagal dalam upayanya, ia kembali ke New York. Di tempat itu ia mengupayakan dukungan dari orang-orang tertentu yang melayani dalam dewan direksi Lembaga. Mereka yang terbujuk untuk berpihak kepadanya berupaya mencapai tujuan mereka dengan berusaha mengeluarkan sebuah resolusi guna mencabut undang-undang setempat dari Lembaga yang memberi wewenang kepada presiden untuk mengelola urusan-urusannya. Mereka ingin agar semua keputusan menjadi wewenang mereka. Tindakan hukum diambil oleh Saudara Rutherford untuk melindungi kepentingan-kepentingan Lembaga, dan mereka yang berusaha mengganggu pekerjaan Lembaga dipersilakan meninggalkan Rumah Betel. Pada pertemuan tahunan dari para pemegang saham Lembaga pada awal tahun berikutnya, sewaktu dewan direksi dan para pejabatnya dipilih untuk tahun yang akan datang, mereka yang telah bertindak sebagai penghasut ditolak dengan jumlah suara yang sangat besar. Mungkin beberapa di antara mereka berpikir bahwa mereka benar, namun sebagian besar dari saudara-saudara rohani mereka menyatakan dengan jelas bahwa mereka tidak setuju. Maukah mereka menerima teguran tersebut?

      Sesudah itu, P. S. L. Johnson tampil di perhimpunan-perhimpunan Siswa-Siswa Alkitab dan bertindak seolah-olah ia setuju dengan kepercayaan dan kegiatan mereka. Namun setelah memperoleh kepercayaan dari beberapa saudara, ia menaburkan benih-benih keragu-raguan. Jika seseorang menyarankan untuk memisahkan diri dari Lembaga, ia dengan munafik menganjurkan untuk tidak melakukan hal itu—sampai loyalitas dari kelompok itu telah diserang habis-habisan. Melalui surat-menyurat dan bahkan dengan perjalanan-perjalanan pribadi, ia berusaha mempengaruhi saudara-saudara tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi juga di Kanada, Jamaika, Eropa, dan Australia. Apakah ini berhasil baik?

      Tampaknya mungkin demikian bila mayoritas dalam sidang memberikan suara yang mendukung pemutusan hubungan dengan Lembaga. Namun mereka bagaikan cabang yang dikerat dari pohon—hijau sebentar, lalu menjadi layu dan mati. Sewaktu para penentang mengadakan kebaktian pada tahun 1918, perselisihan-perselisihan muncul ke permukaan, dan terjadilah perpecahan. Disintegrasi berlanjut. Beberapa berfungsi selama beberapa waktu sebagai sekte-sekte kecil dengan seorang pemimpin yang mereka kagumi. Tak seorang pun dari mereka yang membaktikan diri kepada pekerjaan memberi kesaksian umum mengenai Kerajaan Allah di seluruh bumi yang berpenduduk, yang merupakan pekerjaan yang Yesus tugaskan kepada para pengikutnya.

      Seraya hal-hal ini terjadi, saudara-saudara diingatkan akan apa yang tercatat di 1 Petrus 4:12, ”Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.”

      Bukan hanya mereka yang disebut di atas yang membiarkan keangkuhan merongrong iman mereka. Orang-orang lain juga demikian, termasuk Alexandre Freytag, manajer kantor Lembaga di Jenewa, Swiss. Ia suka menarik perhatian kepada diri sendiri, menambahkan gagasan-gagasannya sendiri ketika menerjemahkan publikasi-publikasi Lembaga ke dalam bahasa Prancis, dan bahkan menggunakan fasilitas-fasilitas Lembaga untuk menerbitkan bacaannya sendiri. Di Kanada, ada W. F. Salter, seorang manajer kantor cabang Lembaga yang mulai tidak setuju dengan publikasi-publikasi Lembaga, membiarkan orang-orang mengetahui bahwa ia berharap untuk menjadi presiden berikut dari Lembaga Menara Pengawal, dan, sesudah ia dipecat, secara tidak jujur ia menggunakan kop surat Lembaga untuk memberi instruksi kepada sidang-sidang di Kanada dan di luar negeri guna mempelajari bahan yang telah ia tulis secara pribadi. Di Nigeria, ada antara lain G. M. Ukoli, yang mula-mula memperlihatkan gairah akan kebenaran namun kemudian mulai melihatnya sebagai sarana untuk memperoleh keuntungan materi dan kehormatan pribadi. Kemudian, ketika tujuannya gagal, ia beralih kepada perbuatan mengecam saudara-saudara yang setia di pers umum. Dan ada lagi yang lain.

      Bahkan pada tahun-tahun belakangan ini, beberapa individu yang memegang kedudukan penting sebagai pengawas memperlihatkan semangat serupa.

      Tentu saja, orang-orang ini memang memiliki kebebasan untuk mempercayai apa yang mereka pilih. Namun siapa pun yang di muka umum atau secara pribadi menganjurkan pandangan-pandangan yang menyimpang dari apa yang terdapat dalam publikasi-publikasi sebuah organisasi, dan yang berbuat demikian sambil menyatakan diri mewakili organisasi tersebut, menimbulkan perpecahan. Bagaimana Saksi-Saksi Yehuwa menangani situasi-situasi ini?

      Mereka tidak melancarkan suatu kampanye penganiayaan terhadap orang-orang demikian (walaupun orang-orang yang murtad ini sering memperlakukan dengan keji saudara-saudara yang dulu merupakan saudara rohani mereka), dan mereka juga tidak berusaha menganiaya orang-orang itu secara fisik (sebagaimana dipraktekkan oleh Gereja Katolik dengan Inkwisisi). Sebaliknya, mereka mengikuti nasihat yang terilham dari rasul Paulus, yang menulis, ”Supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan [”kejadian-kejadian untuk membuat tersandung”, NW]. Sebab itu hindarilah mereka! Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita . . . dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya.”—Rm. 16:17, 18.

      Seraya orang-orang lain mengamati apa yang terjadi, mereka juga diberi kesempatan untuk menyatakan apa yang ada dalam hati mereka.

      Pandangan-Pandangan Doktrin yang Perlu Dimurnikan

      Saksi-Saksi Yehuwa secara terbuka mengakui bahwa pengertian mereka tentang maksud-tujuan Allah telah mengalami banyak penyesuaian dari tahun ke tahun. Fakta bahwa pengetahuan mengenai maksud-tujuan Allah itu progresif menunjukkan bahwa perubahan harus terjadi. Hal itu bukan karena maksud-tujuan Allah itu berubah, melainkan penerangan yang terus-menerus Ia berikan kepada hamba-hamba-Nya memerlukan penyesuaian-penyesuaian dalam sudut pandangan mereka.

      Dari Alkitab Saksi-Saksi menjelaskan bahwa demikian pula halnya dengan hamba-hamba Allah yang setia pada zaman lampau. Abraham menjalin hubungan yang akrab dengan Yehuwa; tetapi ketika ia meninggalkan Ur, pria yang beriman tersebut tidak mengetahui ke negeri mana Allah menuntunnya, dan selama bertahun-tahun ia sama sekali tidak mengetahui dengan pasti bagaimana Allah kelak memenuhi janji-Nya untuk membuat suatu bangsa yang besar melalui dia. (Kej. 12:1-3; 15:3; 17:15-21; Ibr. 11:8) Allah menyingkapkan banyak kebenaran kepada para nabi, namun ada hal-hal lain yang belum mereka pahami pada waktu itu. (Dan. 12:8, 9; 1 Ptr. 1:10-12) Demikian pula, Yesus menjelaskan banyak hal kepada para rasulnya, namun bahkan pada akhir kehidupannya di bumi ia berkata kepada mereka bahwa masih ada banyak hal yang harus mereka pelajari. (Yoh. 16:12) Beberapa di antara perkara-perkara ini, seperti misalnya maksud-tujuan Allah untuk membawa orang-orang Kafir ke dalam sidang, baru dipahami setelah para rasul melihat apa yang sesungguhnya sedang terjadi sebagai penggenapan nubuat.—Kis. 11:1-18.

      Sebagaimana dapat diduga, ketika perubahan-perubahan menuntut disisihkannya pandangan-pandangan yang dahulu sangat disukai, hal itu menjadi suatu ujian bagi beberapa orang. Lagi pula, tidak semua penyesuaian dalam hal pemahaman diterima dengan mudah, dalam satu langkah. Karena ketidaksempurnaan, kadang-kadang ada kecenderungan untuk beralih ke satu ekstrem atau ke ekstrem yang lain sebelum posisi yang benar dipahami. Ini mungkin membutuhkan waktu. Beberapa yang cenderung bersikap kritis telah tersandung akan hal ini. Perhatikan sebuah contoh:

      Sudah sejak tahun 1880, publikasi-publikasi Menara Pengawal membahas berbagai perincian yang berkaitan dengan perjanjian Abraham, perjanjian Taurat, dan perjanjian baru. Susunan Kristen telah kehilangan penglihatan tentang janji Allah yaitu bahwa melalui benih Abraham semua keluarga di bumi pasti akan memberkati diri mereka sendiri. (Kej. 22:18, NW) Tetapi Saudara Russell sangat berminat untuk memahami bagaimana Allah akan melaksanakan hal ini. Ia berpikir bahwa dalam penjelasan Alkitab mengenai Hari Pendamaian Yahudi ia melihat adanya petunjuk-petunjuk mengenai caranya hal itu terlaksana dalam hubungan dengan suatu perjanjian baru. Pada tahun 1907, ketika perjanjian-perjanjian tersebut dibahas kembali, dengan penekanan khusus pada peranan rekan-rekan pewaris bersama Kristus dalam mewujudkan berkat-berkat bagi umat manusia yang dinubuatkan dalam perjanjian Abraham, beberapa Siswa-Siswa Alkitab mengajukan keberatan-keberatan yang sengit.

      Pada waktu itu terdapat hambatan-hambatan tertentu untuk mendapatkan pengertian yang jelas mengenai berbagai hal. Siswa-Siswa Alkitab ketika itu belum melihat dengan tepat kedudukan Israel jasmani dalam hubungan dengan maksud-tujuan Allah. Hambatan ini baru tersingkir setelah terdapat banyak sekali bukti bahwa orang-orang Yahudi sebagai suatu bangsa tidak berminat untuk digunakan oleh Allah dalam penggenapan firman nubuat-Nya. Hambatan lain adalah Siswa-Siswa Alkitab tidak dapat dengan tepat mengidentifikasi ”kumpulan besar” di Wahyu 7:9, 10. Identitas ini baru menjadi jelas setelah kumpulan besar itu sungguh-sungguh mulai menyatakan diri sesuai penggenapan nubuat. Mereka yang dengan pedas mengkritik Saudara Russell juga tidak mengerti perkara-perkara ini.

      Namun, beberapa yang mengaku diri saudara Kristen melontarkan tuduhan palsu bahwa The Watch Tower telah menyangkal Yesus sebagai Perantara antara Allah dan manusia, telah menolak tebusan serta menyangkal kebutuhan dan fakta akan pendamaian. Semua ini tidaklah benar. Namun beberapa yang mengatakannya adalah pribadi-pribadi terkemuka, dan mereka itu menarik orang-orang lain sebagai murid-murid bagi mereka sendiri. Mereka mungkin benar dalam beberapa perincian yang mereka ajarkan berkenaan perjanjian baru, tetapi apakah Tuhan memberkati apa yang mereka lakukan? Selama beberapa waktu, beberapa di antara mereka mengadakan pertemuan-pertemuan, namun kemudian kelompok-kelompok mereka mati.

      Sebagai kontras, Siswa-Siswa Alkitab terus ambil bagian dalam pemberitaan kabar baik, seperti diperintahkan oleh Yesus kepada murid-muridnya. Pada waktu yang sama, mereka terus mempelajari Firman Allah dan waspada terhadap perkembangan-perkembangan yang akan memberi penerangan atas pengertiannya. Akhirnya, selama tahun 1930-an, hambatan-hambatan utama dalam memperoleh pengertian yang jelas tentang perjanjian-perjanjian itu tersingkir, dan pernyataan-pernyataan yang diperbaiki mengenai persoalan tersebut muncul dalam The Watchtower dan publikasi-publikasi yang berkaitan.d Betapa hal ini membawa sukacita bagi mereka yang telah menanti dengan sabar!

      Apakah Penantian Mereka Benar?

      Pada waktu-waktu tertentu Siswa-Siswa Alkitab memiliki harapan dan penantian yang dicemooh oleh para pengkritik. Namun, semua harapan dan penantian tersebut berakar pada keinginan yang kuat untuk melihat penggenapan dari hal-hal yang diyakini oleh umat Kristen yang bergairah ini dipahami sebagai janji-janji Allah yang tidak akan gagal.

      Dengan belajar Alkitab yang terilham, mereka mengetahui bahwa Yehuwa telah menjanjikan berkat-berkat bagi segala bangsa di bumi dengan perantaraan benih Abraham. (Kej. 12:1-3; 22:15-18) Mereka melihat dalam Firman Allah janji bahwa Putra manusia akan memerintah sebagai Raja surgawi atas seluruh bumi, bahwa sekawanan kecil orang-orang yang setia akan diambil dari bumi untuk ikut ambil bagian bersamanya dalam Kerajaannya, dan bahwa mereka ini akan memerintah sebagai raja selama seribu tahun. (Dan. 7:13, 14; Luk. 12:32; Why. 5:9, 10; 14:1-5; 20:6) Mereka mengetahui janji Yesus bahwa ia akan kembali dan membawa serta orang-orang yang bagi mereka telah ia siapkan suatu tempat di surga. (Yoh. 14:1-3) Mereka mengetahui janji bahwa Mesias juga akan memilih beberapa di antara para leluhurnya yang setia untuk menjadi pangeran di seluruh bumi. (Mzm. 45:17) Mereka mengetahui bahwa Alkitab menubuatkan akhir sistem perkara tua yang jahat ini dan menyadari bahwa hal ini berkaitan dengan perang pada hari besar Allah Yang Mahakuasa di Armagedon. (Mat. 24:3; Why. 16:14, 16) Mereka sangat terkesan oleh ayat-ayat yang menunjukkan bahwa bumi diciptakan untuk dihuni selama-lamanya, bahwa mereka yang hidup di atasnya akan menikmati perdamaian sejati, dan bahwa semua orang yang menaruh iman kepada korban manusia Yesus yang sempurna dapat menikmati kehidupan kekal di Firdaus.—Yes. 2:4; 45:18; Luk. 23:42, 43; Yoh. 3:16.

      Sudah sewajarnya bila mereka bertanya-tanya tentang kapan dan bagaimana hal-hal ini akan terwujud. Apakah Alkitab yang terilham memberi suatu petunjuk?

      Dengan menggunakan kronologi Alkitab yang pertama-tama diuraikan oleh Christopher Bowen dari Inggris, mereka berpikir bahwa 6.000 tahun sejarah manusia telah berakhir pada tahun 1873, bahwa sesudah itu mereka berada dalam periode seribu tahun yang ketujuh dari sejarah manusia, dan bahwa mereka pasti telah mendekati fajar dari Milenium yang dinubuatkan. Rangkaian buku yang dikenal sebagai Millennial Dawn (dan kemudian disebut Studies in the Scriptures), yang ditulis oleh C. T. Russell, menarik perhatian kepada implikasi-implikasi mengenai hal ini sesuai dengan yang Siswa-Siswa Alkitab pahami dari Alkitab.

      Hal lain yang dipahami sebagai kemungkinan petunjuk waktu menyangkut penyelenggaraan yang Allah adakan di Israel purba untuk Tahun Yobel, suatu tahun pembebasan, setiap tahun ke-50. Tahun ini datang sesudah serangkaian tujuh periode yang meliputi 7 tahun, dan yang masing-masing periode berakhir dengan tahun sabat. Selama tahun Yobel, budak-budak Ibrani dibebaskan dan hak milik tanah warisan yang telah terjual dikembalikan. (Im. 25:8-10) Perhitungan yang didasarkan atas siklus tahun-tahun ini membawa kepada kesimpulan bahwa mungkin suatu Tahun Yobel yang lebih besar bagi seluruh bumi telah mulai pada musim gugur tahun 1874, bahwa agaknya Tuhan telah kembali pada tahun tersebut dan hadir secara tidak kelihatan, dan bahwa ”waktu pemulihan segala sesuatu” telah tiba.—Kis. 3:19-21, KJ.

      Berdasarkan gagasan bahwa peristiwa-peristiwa abad pertama mungkin sejajar dengan peristiwa-peristiwa yang berkaitan di kemudian hari, mereka juga menyimpulkan bahwa jika pembaptisan dan pengurapan Yesus pada musim gugur tahun 29 M sejajar dengan awal kehadirannya yang tidak kelihatan pada tahun 1874, maka masuknya ia ke Yerusalem sebagai Raja pada musim semi tahun 33 M akan menunjuk kepada musim semi tahun 1878 sebagai waktu ketika ia mulai berkuasa sebagai Raja surgawi.e Mereka juga berpikir bahwa pahala surgawi akan mereka terima pada waktu itu. Ketika hal itu tidak terjadi, mereka menyimpulkan bahwa mengingat para pengikut Yesus yang terurap harus ikut bersamanya dalam Kerajaan, kebangkitan kepada kehidupan roh dari mereka yang sudah tidur dalam kematian mulai pada waktu itu. Juga ditarik kesimpulan bahwa akhir perkenan khusus Allah terhadap Israel jasmani hingga tahun 36 M dapat menunjuk kepada tahun 1881 sebagai waktu ketika kesempatan khusus untuk menjadi bagian dari Israel rohani akan berakhir.f

      Dalam khotbah ”Jutaan Orang yang Sekarang Hidup Tidak Akan Pernah Mati”, yang disampaikan oleh J. F. Rutherford pada tanggal 21 Maret 1920 di Hippodrome di New York City, perhatian ditarik kepada tahun 1925. Atas dasar apa tahun itu dianggap penting? Dalam sebuah buku kecil yang diterbitkan pada tahun 1920 itu juga, dikemukakan bahwa jika 70 Tahun Yobel penuh dihitung sejak waktu yang dipahami sebagai tanggal masuknya Israel ke Tanah Perjanjian (bukannya dimulai sesudah Tahun Yobel gambaran yang terakhir sebelum pembuangan ke Babilon dan kemudian dihitung hingga awal saat Tahun Yobel pada akhir siklus ke-50), maka hal ini dapat menunjuk kepada tahun 1925. Berdasarkan apa yang dikatakan di situ, banyak yang berharap bahwa mungkin kaum sisa kawanan kecil akan menerima pahala surgawi menjelang tahun 1925. Tahun ini juga dihubungkan dengan penantian akan kebangkitan hamba-hamba Allah yang setia zaman pra-Kristen guna pelayanan mereka di bumi sebagai pangeran yang mewakili Kerajaan surgawi. Jika ini benar-benar terjadi, itu berarti bahwa umat manusia telah memasuki suatu era tanpa dikuasai maut, dan jutaan orang yang kelak hidup dapat memiliki harapan tidak akan pernah mati di bumi. Betapa prospek yang membahagiakan! Meskipun keliru, mereka dengan penuh gairah menceritakannya kepada orang-orang lain.

      Belakangan, selama tahun-tahun sejak 1935 hingga 1944, tinjauan kembali mengenai keseluruhan rangka kronologi Alkitab menyingkapkan bahwa terjemahan yang kurang baik dari Kisah 13:19, 20 dalam King James Version,g ditambah dengan faktor-faktor tertentu lain, telah membuat kronologi meleset lebih dari satu abad.h Hal ini kemudian menyebabkan adanya gagasan—kadang-kadang dinyatakan sebagai suatu kemungkinan, kadang-kadang lebih tegas lagi—bahwa karena milenium yang ketujuh dari sejarah manusia akan dimulai pada tahun 1975, maka peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan awal Pemerintahan Milenium Kristus mungkin mulai terjadi pada tahun itu.

      Apakah kepercayaan Saksi-Saksi Yehuwa mengenai perkara-perkara ini terbukti benar? Mereka tentu tidak salah bila percaya bahwa Allah tidak akan gagal melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya. Namun beberapa perhitungan waktu mereka dan penantian yang mereka kaitkan dengan hal-hal ini menimbulkan kekecewaan yang hebat.

      Setelah tahun 1925, angka hadirin perhimpunan merosot secara dramatis di beberapa sidang di Prancis dan Swiss. Demikian pula, pada tahun 1975, terdapat kekecewaan ketika penantian akan awal Milenium tidak terwujud. Akibatnya, beberapa mengundurkan diri dari organisasi. Yang lain dipecat, karena mereka berupaya meruntuhkan iman dari rekan-rekan. Tidak diragukan lagi, rasa kecewa karena tanggal tersebut menjadi suatu faktor, namun dalam beberapa hal, pokok persoalannya lebih mendalam. Beberapa pribadi juga mempermasalahkan perlunya berpartisipasi dalam pelayanan dari rumah ke rumah. Orang-orang tertentu tidak sekadar memilih jalan mereka sendiri; mereka menjadi agresif menentang organisasi yang dengannya mereka dahulu bergabung, dan mereka memanfaatkan pers umum dan televisi untuk mengumandangkan pandangan-pandangan mereka. Meskipun demikian, jumlah mereka yang murtad relatif sedikit.

      Walaupun ujian-ujian ini mengakibatkan penyaringan dan beberapa tertiup bagaikan sekam ketika gandum ditampi, namun yang lain-lain tetap teguh. Mengapa? Mengenai pengalamannya sendiri dan orang-orang lain pada tahun 1925, Jules Feller menerangkan, ”Mereka yang telah menaruh keyakinan mereka kepada Yehuwa tetap teguh dan meneruskan kegiatan pengabaran mereka.” Mereka mengakui bahwa kekeliruan telah terjadi namun Firman Allah sama sekali tidak salah, dan karena itu tidak ada alasan untuk membiarkan harapan mereka sendiri meredup ataupun mengendur dalam pekerjaan mengarahkan orang-orang kepada Kerajaan Allah sebagai satu-satunya harapan umat manusia.

      Beberapa penantian memang tidak menjadi kenyataan, namun hal itu tidak berarti bahwa kronologi Alkitab tidak ada gunanya. Nubuat yang dicatat oleh Daniel mengenai munculnya Mesias 69 minggu tahun sesudah ”firman itu keluar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali” digenapi tepat pada waktunya, yakni pada tahun 29 M.i (Dan. 9:24-27) Tahun 1914 juga ditandai oleh nubuat Alkitab.

      1914​—Penantian dan Kenyataan

      Pada tahun 1876, C. T. Russell menulis artikel pertama dari banyak artikel yang di dalamnya ia menunjuk kepada tahun 1914 sebagai akhir Zaman Orang Kafir yang disinggung oleh Yesus Kristus. (Luk. 21:24, Bode) Dalam jilid kedua dari Millennial Dawn, yang diterbitkan pada tahun 1889, Saudara Russell menguraikan dengan penuh nalar perincian yang memudahkan para pembaca untuk melihat berdasarkan Alkitab apa yang dikatakan dan untuk memeriksanya sendiri. Selama waktu hampir empat dasawarsa sebelum tahun 1914, Siswa-Siswa Alkitab menyebarkan jutaan eksemplar publikasi yang memfokuskan perhatian kepada akhir Zaman Orang Kafir. Beberapa publikasi agama lain memperhatikan kronologi Alkitab yang menunjuk kepada tahun 1914, namun kelompok lain manakah selain Siswa-Siswa Alkitab yang terus-menerus mempublikasikannya secara internasional dan hidup dengan sikap yang menunjukkan bahwa mereka percaya akan berakhirnya Zaman Orang Kafir pada tahun tersebut?

      Seraya tahun 1914 mendekat, penantian semakin memuncak. Apa gerangan maknanya? Dalam The Bible Students Monthly (Jilid VI, No. 1, yang diterbitkan pada awal tahun 1914), Saudara Russell menulis, ”Jika kita mempunyai tanggal dan kronologi yang tepat, Zaman Orang Kafir akan berakhir pada tahun ini—1914. Apa gerangan itu? Kita tidak tahu dengan pasti. Kita berharap bahwa kegiatan pemerintahan Mesias akan mulai kira-kira pada waktu berakhirnya pemberian kuasa kepada Bangsa-Bangsa Kafir. Yang kita nanti-nantikan, benar atau salah, ialah bahwa akan ada manifestasi yang menakjubkan dari penghakiman Ilahi terhadap segala ketidakadilbenaran, dan bahwa ini akan berarti hancurnya banyak lembaga yang ada dewasa ini, jika tidak semua.” Ia menitikberatkan bahwa ia tidak menantikan ”akhir dunia” pada tahun 1914 dan bahwa bumi akan terus ada untuk selama-lamanya, namun bahwa susunan segala perkara dewasa ini, dengan Setan sebagai penguasanya, akan berlalu.

      Dalam terbitannya tanggal 15 Oktober 1913, The Watch Tower menyatakan, ”Menurut perhitungan kronologi terbaik yang sanggup kami susun, saatnya adalah kurang lebih pada waktu itu—apakah bulan Oktober 1914, atau belakangan. Tanpa berlaku dogmatis, kami menantikan peristiwa-peristiwa tertentu: (1) Berakhirnya Zaman Orang Kafir—supremasi bangsa-bangsa Kafir di dunia—dan (2) Peresmian Kerajaan Mesias di dunia.”

      Bagaimana hal ini akan terlaksana? Tampaknya masuk akal bagi Siswa-Siswa Alkitab pada waktu itu bahwa hal ini mencakup pemuliaan setiap orang yang masih ada di bumi yang telah dipilih Allah untuk ikut bersama Kristus ambil bagian dalam Kerajaan surgawi. Namun bagaimana perasaan mereka ketika hal itu tidak terjadi pada tahun 1914? The Watch Tower 15 April 1916, menyatakan, ”Kami percaya bahwa tanggal-tanggal itu terbukti cukup tepat. Kami percaya bahwa Zaman Orang Kafir telah berakhir.” Akan tetapi, dengan terus terang majalah itu menambahkan, ”Tuhan tidak berkata bahwa Gereja akan dimuliakan seluruhnya menjelang tahun 1914. Kita hanya mengambil kesimpulan dan, terbukti salah.”

      Dalam hal ini mereka kurang lebih seperti rasul-rasul Yesus. Para rasul mengetahui dan mengira mereka percaya akan nubuat-nubuat mengenai Kerajaan Allah. Namun kadang kala mereka memiliki penantian yang salah berkenaan cara dan saat ketika hal-hal ini akan tergenap. Hal ini mengakibatkan kekecewaan pada diri beberapa orang.—Luk. 19:11; 24:19-24; Kis. 1:6.

      Ketika bulan Oktober 1914 berlalu tanpa terjadi perubahan kepada kehidupan surgawi yang dinanti-nantikan itu, Saudara Russell mengetahui bahwa akan ada penyelidikan hati yang serius. Dalam The Watch Tower 1 November 1914, ia menulis, ”Hendaklah kita ingat bahwa kita sedang berada pada musim pengujian. Para Rasul mengalami hal yang sama selama selang waktu antara wafatnya Tuhan kita dan hari Pentakosta. Sesudah kebangkitan Tuhan kita, Ia menampakkan diri kepada murid-muridnya beberapa kali, dan kemudian mereka tidak melihatnya selama berhari-hari. Lalu mereka menjadi kecil hati dan berkata, ’Tidak ada gunanya menunggu’; ’aku pergi menangkap ikan,’ kata seorang. Dua orang yang lain berkata, ’Kami pergi juga bersamamu.’ Mereka sedang bersiap-siap untuk terjun ke dalam bisnis menjala ikan dan meninggalkan pekerjaan menjala manusia. Ini merupakan masa pengujian bagi murid-murid. Maka demikian pula halnya sekarang. Jika ada alasan apa pun yang akan membuat seseorang berpaling dari Tuhan dan Kebenaran-Nya dan berhenti berkorban demi Perkara Tuhan, maka yang telah mendorong timbulnya minat kepada Tuhan bukanlah semata-mata kasih akan Allah yang ada dalam hati, tetapi sesuatu yang lain; mungkin harapan bahwa waktunya sudah singkat; pengabdian hanya untuk waktu tertentu.”

      Tampaknya halnya demikian dengan beberapa orang. Pikiran dan keinginan mereka telah terpaku terutama kepada prospek untuk diubah kepada kehidupan surgawi. Ketika hal ini tidak terjadi pada waktu yang dinanti-nantikan, mereka menutup pikiran terhadap makna perkara-perkara menakjubkan yang memang terjadi pada tahun 1914. Mereka kehilangan pandangan terhadap segala kebenaran yang sangat berharga yang telah mereka pelajari dari Firman Allah, dan mereka mulai mencemooh orang-orang yang telah membantu mereka untuk belajar tentang hal-hal ini.

      Dengan rendah hati, Siswa-Siswa Alkitab kembali menyelidiki Alkitab, untuk membiarkan Firman Allah menyelaraskan pandangan mereka. Keyakinan mereka bahwa Zaman Orang Kafir telah berakhir pada tahun 1914 tidak berubah. Secara bertahap mereka mulai melihat dengan lebih jelas bagaimana Kerajaan Mesias mulai—bahwa Kerajaan itu didirikan di surga ketika Yehuwa melimpahkan wewenang kepada Yesus Kristus, Putra-Nya; juga, bahwa hal ini tidak harus menunggu hingga rekan-rekan pewaris bersama Yesus dibangkitkan kepada kehidupan surgawi tetapi bahwa mereka akan dimuliakan bersama dia di kemudian hari. Selain itu, mereka mulai melihat bahwa penyebaran pengaruh Kerajaan tidak mengharuskan para nabi zaman purba yang setia dibangkitkan lebih dahulu, tetapi bahwa sang Raja akan menggunakan orang-orang Kristen yang loyal yang hidup dewasa ini sebagai wakil-wakilnya untuk menghadapkan kepada orang-orang dari segala bangsa kesempatan hidup selama-lamanya sebagai rakyat Kerajaan itu di bumi.

      Seraya gambaran yang mulia ini terbuka di hadapan mata mereka, pengujian dan penyaringan lebih lanjut terjadi. Namun mereka yang benar-benar mengasihi Yehuwa dan bersukacita melayani Dia, sangat bersyukur atas hak-hak istimewa dinas yang terbuka bagi mereka.—Why. 3:7, 8.

      Salah seorang di antara mereka ialah A. H. Macmillan. Ia belakangan menulis, ”Meskipun penantian kami tentang pengangkatan ke surga tidak tergenap pada tahun 1914, namun berakhirnya Zaman Orang Kafir memang terjadi pada tahun tersebut . . . Kami tidak merasa terlalu terganggu bahwa tidak semuanya berlangsung sebagaimana kami harapkan, karena kami begitu sibuk dengan pekerjaan Drama-Foto dan dengan masalah-masalah yang ditimbulkan oleh perang.” Ia terus sibuk dalam dinas Yehuwa dan tergetar melihat jumlah pemberita Kerajaan meningkat menjadi lebih dari sejuta selama masa hidupnya.

      Seraya meninjau kembali pengalaman-pengalamannya selama 66 tahun bergabung dengan organisasi, ia berkata, ”Saya telah melihat cobaan-cobaan berat menimpa organisasi dan pengujian atas iman mereka yang ada di dalamnya. Dengan bantuan roh Allah organisasi itu selamat terpelihara dan terus berkembang dengan subur.” Mengenai penyesuaian dalam pengertian yang berlangsung selama ini, ia menambahkan, ”Kebenaran-kebenaran dasar yang kita pelajari dari Alkitab tetap sama. Jadi saya belajar bahwa kita harus mengakui kesalahan-kesalahan kita dan terus meneliti Firman Allah untuk mendapat lebih banyak penerangan. Tidak soal penyesuaian apa pun yang harus kita buat dari waktu ke waktu sehubungan pandangan-pandangan kita, hal itu tidak mengubah persediaan yang murah hati berupa tebusan dan janji Allah mengenai kehidupan kekal.”

      Selama masa hidupnya, Saudara Macmillan melihat bahwa, di antara persoalan-persoalan yang mengakibatkan ujian iman, kerelaan untuk memberi kesaksian dan penghargaan akan organisasi teokratis merupakan dua hal yang menyingkapkan apa yang sebenarnya ada dalam hati orang-orang. Bagaimana demikian?

      Dinas Pengabaran dan Organisasi Menjadi Persoalan

      Mulai dengan terbitannya yang pertama, dan dengan penegasan yang semakin bertambah setelah itu, Zion’s Watch Tower mendesak masing-masing dan setiap orang Kristen sejati untuk membagikan kebenaran kepada orang lain. Setelah itu, para pembaca Watch Tower sering kali dianjurkan untuk menghargai hak istimewa dan tanggung jawab mereka untuk memberitakan kabar baik kepada orang-orang lain. Banyak yang membagikan dalam kadar yang terbatas, namun relatif sedikit yang berada di barisan depan dari pekerjaan ini, berkunjung dari rumah ke rumah agar memberi kesempatan kepada setiap orang untuk mendengar berita Kerajaan.

      Akan tetapi, mulai tahun 1919, partisipasi dalam dinas pengabaran menjadi semakin mencolok. Saudara Rutherford dengan tegas menekankan hal itu dalam sebuah ceramah di Cedar Point, Ohio, pada tahun tersebut. Di setiap sidang yang meminta Lembaga untuk mengorganisasi dinasnya, penyelenggaraan dibuat untuk seorang direktur dinas, yang diangkat oleh Lembaga, untuk mengurus pekerjaan tersebut. Ia sendiri harus memimpin dan mengatur agar sidang mendapat persediaan yang dibutuhkan.

      Pada tahun 1922, The Watch Tower menerbitkan sebuah artikel berjudul ”Dinas Sangat Penting”. Artikel itu menunjuk adanya kebutuhan mendesak bagi orang-orang untuk mendengarkan kabar baik tentang Kerajaan, mengarahkan perhatian kepada perintah Yesus yang mengandung nubuat di Matius 24:14, dan menyatakan kepada para penatua dalam sidang-sidang, ”Jangan ada yang berpikir bahwa karena ia seorang penatua dalam sidang maka seluruh dinasnya adalah mengabar secara lisan. Jika ada kesempatan yang tersedia baginya untuk pergi ke antara orang-orang dan menempatkan berita tercetak ke tangan mereka, hal itu merupakan hak istimewa yang besar dan itulah memberitakan injil, yang sering kali lebih efektif daripada cara lain mana pun.” Artikel itu kemudian mengajukan pertanyaan, ”Dapatkah seseorang yang benar-benar mengabdi kepada Tuhan membenarkan diri untuk duduk berpangku tangan pada waktu ini?”

      Beberapa orang menahan diri. Mereka mengajukan segala macam keberatan. Mereka menganggap tidak patut untuk ”menjual buku”, meskipun pekerjaan itu tidak dilakukan untuk mencari laba dan meskipun mereka telah mempelajari kebenaran tentang Kerajaan Allah justru melalui publikasi-publikasi yang sama ini. Ketika dianjurkan untuk memberi kesaksian dari rumah ke rumah dengan membawa buku-buku pada hari Minggu, mulai tahun 1926, beberapa orang menentang hal tersebut, walaupun hari Minggu merupakan hari yang biasa disisihkan oleh banyak orang untuk ibadat. Pokok permasalahannya adalah bahwa mereka merasa kurang bermartabat bila mengabar dari rumah ke rumah. Namun, Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Yesus mengutus murid-muridnya ke rumah orang-orang untuk mengabar, dan rasul Paulus mengabar ”di hadapan umum dan dari rumah ke rumah”.—Kis. 20:20, NW; Mat. 10:5-14.

      Seraya dinas pengabaran makin ditekankan, mereka yang hatinya tidak menggerakkan mereka untuk meniru Yesus dan para rasulnya sebagai saksi-saksi secara berangsur-angsur mengundurkan diri. Sidang Skive di Denmark, serta beberapa sidang lainnya, menciut hingga kira-kira setengahnya. Dari antara kira-kira seratus orang yang bergabung dengan Sidang Dublin di Irlandia, hanya tinggal empat orang. Terjadi pengujian dan penyaringan yang serupa di Amerika Serikat, Kanada, Norwegia, dan negeri-negeri lain. Hal ini menghasilkan pemurnian dalam sidang-sidang.

      Mereka yang benar-benar ingin menjadi peniru Putra Allah menyambut baik anjuran Alkitab. Akan tetapi, kerelaan mereka tidak dengan sendirinya memudahkan mereka untuk mulai pergi dari rumah ke rumah. Beberapa sangat susah untuk memulainya. Namun penyelenggaraan untuk memberi kesaksian secara kelompok dan kebaktian-kebaktian dinas yang khusus merupakan anjuran. Dua saudari di Jutlandia bagian utara, di Denmark, masih mengingat hari pertama mereka dalam dinas pengabaran. Mereka berkumpul dalam sebuah kelompok, mendengarkan petunjuk-petunjuk, mulai melangkah ke daerah mereka, namun kemudian air mata mereka mulai mengalir. Dua saudara melihat apa yang terjadi dan mengundang kedua saudari itu bekerja bersama mereka. Segera wajah mereka mulai cerah kembali. Sesudah mengecap dinas pengabaran, kebanyakan menjadi riang gembira dan bergairah untuk melakukannya lebih banyak.

      Lalu, pada tahun 1932, The Watch Tower memuat sebuah artikel terdiri dari dua bagian dengan judul ”Organisasi Yehuwa”. (Terbitan 15 Agustus dan 1 September) Di sini diperlihatkan bahwa pemilihan jabatan penatua dalam sidang-sidang tidak sesuai dengan Alkitab. Sidang-sidang didesak untuk menempatkan dalam posisi yang bertanggung jawab hanya pria-pria yang aktif dalam dinas pengabaran, pria-pria yang hidup sesuai dengan tanggung jawab yang tersirat dalam nama Saksi-Saksi Yehuwa. Mereka ini akan berfungsi sebagai panitia dinas. Salah seorang dari mereka, yang diusulkan oleh sidang, diangkat oleh Lembaga sebagai direktur dinas. Di Belfast, Irlandia, hal ini menyaring ke luar lebih banyak orang yang menginginkan kedudukan pribadi yang terkemuka dan bukannya dinas yang rendah hati.

      Menjelang awal tahun 1930-an, kebanyakan dari mereka di Jerman yang berupaya menghambat dinas pengabaran telah menarik diri dari sidang-sidang. Beberapa yang lain mengundurkan diri karena takut ketika pada tahun 1933 pekerjaan dilarang di banyak negara bagian di Jerman. Namun ribuan bertekun dalam ujian-ujian iman ini dan menunjukkan diri rela untuk mengabar tidak peduli adanya bahaya.

      Di seputar bumi pemberitaan Kerajaan mencapai momentum. Dinas pengabaran menjadi bagian penting dalam kehidupan Saksi-Saksi Yehuwa. Sidang di Oslo, Norwegia, misalnya, menyewa beberapa bus pada akhir pekan untuk mengangkut para penyiar ke kota-kota yang berdekatan. Mereka berkumpul pagi-pagi sekali, lalu berada di daerah menjelang pukul sembilan atau sepuluh, bekerja keras dalam dinas pengabaran selama tujuh atau delapan jam, dan kemudian bergabung dalam kelompok di bus untuk perjalanan pulang. Yang lain-lain bersepeda ke daerah pedesaan, dengan membawa tas buku dan karton berisi persediaan ekstra. Saksi-Saksi Yehuwa berbahagia, bergairah, dan bersatu dalam melakukan kehendak Allah.

      Pada tahun 1938, ketika perhatian sekali lagi diberikan kepada pengangkatan pria-pria yang bertanggung jawab di dalam sidang,j dihapuskannya pemilihan para hamba secara lokal pada umumnya disambut baik. Sidang-sidang dengan senang hati mengambil resolusi yang menunjukkan penghargaan kepada organisasi teokratis dan memohon ”Lembaga” (yang mereka pahami sebagai kaum sisa terurap, atau budak yang setia dan bijaksana) untuk mengorganisasi dinas di sidang-sidang dan untuk mengangkat semua hamba. Sesudah itu, Badan Pimpinan yang kelihatan melakukan pengangkatan yang diperlukan dan mengorganisasi sidang-sidang untuk kegiatan yang bersatu padu dan produktif. Hanya beberapa kelompok yang menahan diri dan pada tahap ini mengundurkan diri dari organisasi.

      Dibaktikan Semata-mata untuk Menyebarkan Berita Kerajaan

      Agar organisasi terus mendapat perkenan Yehuwa, organisasi itu harus berbakti secara eksklusif kepada pekerjaan yang diperintahkan oleh Firman-Nya bagi zaman kita. Pekerjaan tersebut adalah memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah. (Mat. 24:14) Akan tetapi, pernah terjadi beberapa kali, bahwa pribadi-pribadi yang bekerja keras dalam kerja sama dengan organisasi juga berupaya menggunakannya untuk memajukan program-program yang cenderung mengalihkan rekan-rekan mereka kepada kegiatan lain. Ketika ditegur, hal ini menjadi suatu ujian bagi mereka, khususnya sewaktu mereka menganggap motif mereka itu mulia.

      Hal ini terjadi di Finlandia selama tahun 1915, ketika beberapa saudara mendirikan sebuah asosiasi koperasi yang dinamakan Ararat dan menggunakan kolom The Watch Tower edisi bahasa Swensk untuk mendesak para pembacanya bergabung dengan asosiasi bisnis ini. Pemrakarsa kegiatan di Finlandia ini menanggapi dengan rendah hati ketika Saudara Russell mengemukakan bahwa ia dan rekan-rekannya membiarkan diri mereka ”disimpangkan dari pekerjaan Penginjilan yang penting”. Akan tetapi, keangkuhan merintangi seorang saudara lain yang telah aktif dalam dinas Yehuwa selama lebih dari satu dekade di Norwegia untuk menerima nasihat yang sama.

      Selama tahun 1930-an, di Amerika Serikat, timbul problem yang hampir serupa. Sejumlah sidang menerbitkan lembaran petunjuk dinas bulanan mereka sendiri, dan mencakup pokok-pokok yang patut diingat dari Bulletin Lembaga maupun pengalaman-pengalaman dan jadwal penyelenggaraan dinas setempat. Salah satu di antaranya, yang diterbitkan di Baltimore, Maryland, memberi dukungan yang bergairah kepada kegiatan pengabaran namun digunakan juga untuk memajukan usaha-usaha bisnis tertentu. Pada mulanya Saudara Rutherford secara tidak langsung memberi persetujuan kepada beberapa di antaranya. Namun ketika disadari apa yang akan berkembang bila melibatkan diri dalam usaha-usaha demikian, The Watchtower menyatakan bahwa Lembaga tidak mendukung usaha-usaha tersebut. Hal ini menimbulkan ujian berat secara pribadi bagi Anton Koerber, sebab ia, dengan cara-cara ini, berniat membantu saudara-saudaranya. Namun pada waktunya, ia kembali menggunakan sepenuh kemampuannya untuk memajukan pekerjaan pengabaran yang dilakukan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.

      Masalah yang ada kaitannya muncul di Australia mulai tahun 1938 dan makin menghebat selama larangan atas Lembaga (bulan Januari 1941 hingga Juni 1943). Demi memelihara kebutuhan-kebutuhan yang pada waktu itu tampaknya sah, kantor cabang Lembaga langsung melibatkan diri dalam berbagai kegiatan komersial. Maka, suatu kesalahan besar telah dibuat. Mereka mempunyai kilang-kilang penggergajian, lebih dari 20 ”perladangan Kerajaan”, sebuah perusahaan rekayasa, sebuah toko roti dan kue, dan beberapa perusahaan lain. Dua percetakan komersial digunakan sebagai kamuflase demi kelangsungan produksi publikasi-publikasi Lembaga selama masa larangan. Namun beberapa kegiatan bisnis membuat mereka terjerumus ke dalam pelanggaran kenetralan Kristen, pekerjaan dilakukan dengan dalih hendak menyediakan dana dan menunjang para perintis selama pelarangan. Akan tetapi, hati nurani beberapa saudara sangat terganggu. Walaupun mayoritas tetap berpaut kepada organisasi, pada umumnya terjadi kemacetan dalam pekerjaan pemberitaan Kerajaan. Apa yang menghambat berkat Yehuwa?

      Sewaktu larangan atas pekerjaan dicabut pada bulan Juni 1943, saudara-saudara di kantor cabang waktu itu menyadari bahwa perusahaan-perusahaan ini harus disingkirkan, demi memusatkan diri kepada pemberitaan Kerajaan yang mahapenting itu. Dalam waktu tiga tahun, hal ini terlaksana, dan jumlah anggota keluarga Betel dikurangi sampai batas normal. Namun masih tetap perlu untuk menjernihkan suasana dan dengan demikian memulihkan kepercayaan yang sepenuhnya kepada organisasi.

      Nathan H. Knorr, presiden Lembaga, dan sekretarisnya M. G. Henschel mengunjungi Australia khusus untuk menangani situasi ini pada tahun 1947. Ketika melaporkan persoalan itu, The Watchtower 1 Juni 1947 mengatakan tentang kegiatan komersial yang telah dijalankan, ”Yang menjadi masalah bukanlah pekerjaan duniawi untuk mencari nafkah yang digeluti saudara-saudara setiap hari, tetapi kenyataan bahwa kantor Cabang Lembaga telah memperoleh berbagai jenis industri dan mengajak penyiar-penyiar dari seluruh pelosok negeri, khususnya para perintis, untuk bekerja pada industri-industri ini sebaliknya daripada memberitakan injil.” Hal ini bahkan telah mengakibatkan keterlibatan secara tidak langsung dalam upaya perang. Dalam kebaktian di tiap-tiap ibu kota propinsi, Saudara Knorr berbicara secara terus terang kepada saudara-saudara tentang situasi itu. Di setiap kebaktian diambil sebuah resolusi yang berisi pengakuan saudara-saudara di Australia atas kesalahan mereka dan permohonan belas kasihan dan pengampunan Yehuwa melalui Yesus Kristus. Demikianlah, kewaspadaan telah dituntut dan ujian-ujian telah dihadapi agar organisasi terus dibaktikan semata-mata untuk menyebarkan berita tentang Kerajaan Allah.

      Seraya Saksi-Saksi Yehuwa meninjau kembali sejarah di zaman modern mereka, mereka melihat bukti bahwa Yehuwa sungguh-sungguh telah memurnikan umat-Nya. (Mal. 3:1-3) Berbagai sikap, kepercayaan, dan praktek yang salah berangsur-angsur ditinggalkan, dan siapa pun yang memilih untuk berpaut kepada hal-hal ini telah hilang bersamanya. Mereka yang masih tetap tinggal bukanlah pribadi-pribadi yang rela mengkompromikan kebenaran Alkitab untuk disesuaikan dengan filsafat manusia. Mereka bukan pengikut-pengikut manusia tetapi hamba-hamba yang berbakti kepada Allah Yehuwa. Mereka dengan senang hati menyambut pengarahan dari organisasi karena melihat bukti yang tidak mungkin salah bahwa organisasi ini adalah milik Yehuwa. Mereka bersukacita dalam terang kebenaran yang terus berlanjut. (Ams. 4:18) Mereka masing-masing menganggapnya sebagai hak istimewa yang mulia untuk menjadi Saksi-Saksi Yehuwa yang aktif, pemberita-pemberita Kerajaan Allah.

      [Catatan Kaki]

      a Zion’s Watch Tower and Herald of Christ’s Presence, Edisi Ekstra, tanggal 25 April 1894, hlm. 102-4.

      b Mengenai Tritunggal, lihat New Catholic Encyclopedia, Jilid XIV, tahun 1967, halaman 299; Dictionary of the Bible, oleh J. L. McKenzie, S.J., tahun 1965, halaman 899; The New International Dictionary of New Testament Theology, Jilid 2, tahun 1976, halaman 84. Mengenai jiwa, lihat New Catholic Encyclopedia, Jilid XIII, tahun 1967, halaman 449-50, 452, 454; The New Westminster Dictionary of the Bible, diedit oleh H. S. Gehman, tahun 1970, halaman 901; The Interpreter’s Bible, Jilid I, tahun 1952, halaman 230; Peake’s Commentary on the Bible, diedit oleh M. Black dan H. H. Rowley, tahun 1962, halaman 416.

      c Menurut Saudara Russell, istrinya, yang belakangan meninggalkannya, adalah orang pertama yang menganggap Matius 24:45-47 berlaku atasnya. Lihat Watch Tower terbitan 15 Juli 1906, halaman 215; 1 Maret 1896, halaman 47; dan 15 Juni 1896, halaman 139-40.

      d Vindication, Jilid Dua, hlm. 258-9, 268-9; The Watchtower, 1 April 1934, hlm. 99-106; 15 April 1934, hlm. 115-22; 1 Agustus 1935, hlm. 227-37.

      e Bahwa tahun 1878 adalah tahun yang penting tampaknya diperkuat oleh referensi di Yeremia 16:18 (’dua kali lipat Yakub’, KJ) ditambah dengan perhitungan-perhitungan yang memberi petunjuk bahwa 1.845 tahun tampaknya telah berlalu sejak kematian Yakub hingga tahun 33 M, ketika Israel jasmani dibuang, dan bahwa dua kali lipat, atau duplikat, dari hal ini akan meliputi jangka waktu dari tahun 33 M terus sampai tahun 1878.

      f Dengan menerapkan kesejajaran itu lebih lanjut, dinyatakan bahwa penghancuran Yerusalem pada tahun 70 M (37 tahun setelah Yesus disambut sebagai raja oleh murid-muridnya ketika ia memasuki Yerusalem) dapat menunjuk kepada tahun 1915 (37 tahun sesudah tahun 1878) sebagai puncak pergolakan anarkistis yang menurut perkiraan mereka diizinkan oleh Allah sebagai sarana untuk mengakhiri lembaga-lembaga yang ada di dunia. Tanggal ini muncul dalam Studies in the Scriptures yang dicetak ulang. (Lihat Jilid II, halaman 99-101, 171, 221, 232, 246-7; bandingkan cetakan ulang tahun 1914 dengan cetakan-cetakan terdahulu, seperti misalnya cetakan tahun 1902 dari Millennial Dawn.) Bagi mereka, tampaknya hal ini cocok betul dengan apa yang telah diterbitkan mengenai tahun 1914 sebagai tahun yang menandai berakhirnya Zaman Orang Kafir.

      g Bandingkan terjemahan dalam The Emphasised Bible, yang diterjemahkan oleh J. B. Rotherham; lihat juga catatan kaki mengenai Kisah 13:20 dalam New World Translation of the Holy Scriptures—With References.

      h Lihat ”Kebenaran Akan Memerdekakan Kamu”, pasal XI; ”The Kingdom Is at Hand (Kerajaan Sudah Dekat)”, halaman 171-5; juga The Golden Age, 27 Maret 1935, halaman 391, 412. Mengingat tabel kronologi Alkitab yang telah diperbaiki ini, dapat dilihat bahwa penggunaan sebelumnya berkenaan tahun-tahun 1873 dan 1878, maupun juga tanggal-tanggal terkait yang diperoleh berdasarkan kesejajaran dengan peristiwa-peristiwa pada abad pertama, didasarkan atas kesalahpahaman.

      i Lihat Insight on the Scriptures, Jilid 2, halaman 899-904.

      j Lihat Pasal 15, ”Perkembangan Dalam Struktur Organisasi”.

      [Blurb di hlm. 619]

      Pengujian dan penyaringan tidaklah mengejutkan

      [Blurb di hlm. 621]

      ”Mereka tidak mau disimpangkan dari Firman Tuhan”

      [Blurb di hlm. 623]

      ”Kami tidak menginginkan sanjungan, atau penghormatan, bagi diri kami atau tulisan-tulisan kami”

      [Blurb di hlm. 624]

      ”Allah masih tetap memimpin”

      [Blurb di hlm. 626]

      ”Hamba yang setia dan bijaksana” belum berlalu dari dunia sewaktu Saudara Russell meninggal

      [Blurb di hlm. 627]

      Upaya keji untuk meracuni pikiran orang-orang lain

      [Blurb di hlm. 628]

      Beberapa membiarkan keangkuhan merongrong iman mereka

      [Blurb di hlm. 629]

      ”Supaya kamu waspada terhadap mereka, yang . . . menimbulkan perpecahan . . . hindarilah mereka!”

      [Blurb di hlm. 630]

      Beberapa melontarkan tuduhan palsu bahwa ”The Watch Tower” telah menolak tebusan

      [Blurb di hlm. 635]

      ”Kita hanya mengambil kesimpulan dan, terbukti salah”

      [Blurb di hlm. 636]

      Mereka yang benar-benar mengasihi Yehuwa sangat bersyukur atas hak-hak istimewa dinas yang terbuka bagi mereka

      [Blurb di hlm. 638]

      ”Dapatkah seseorang yang benar-benar mengabdi kepada Tuhan membenarkan diri untuk duduk berpangku tangan pada waktu ini?”

      [Blurb di hlm. 641]

      Berbagai sikap, kepercayaan, dan praktek yang salah berangsur-angsur ditinggalkan

      [Kotak/Gambar di hlm. 622]

      W. E. Van Amburgh

      Pada tahun 1916, W. E. Van Amburgh menyatakan, ”Pekerjaan besar seluas dunia ini bukan pekerjaan satu orang. . . . Ini adalah pekerjaan Allah.” Walaupun ia melihat orang-orang lain berpaling, ia tetap teguh dalam keyakinan tersebut hingga akhir hayatnya pada tahun 1947, pada usia 83 tahun.

      [Kotak/Gambar di hlm. 633]

      Jules Feller

      Ketika ia masih muda, Jules Feller mengamati pengujian-pengujian berat atas iman. Beberapa sidang di Swiss menciut hingga setengahnya atau kurang. Namun belakangan ia menulis, ” Mereka yang telah menaruh keyakinan mereka kepada Yehuwa tetap teguh dan meneruskan kegiatan pengabaran mereka.” Saudara Feller bertekad melakukan hal yang sama, dan hasilnya, hingga tahun 1992 ia telah menikmati dinas Betel selama 68 tahun.

      [Kotak/Gambar di hlm. 634]

      C. J. Woodworth

      Kepada seorang yang meninggalkan dinas Yehuwa karena para pengikut yang terurap dari Yesus Kristus tidak diangkat ke surga pada tahun 1914, C. J. Woodworth menulis sebagai berikut:

      ”Dua puluh tahun yang lalu Saudara dan saya percaya kepada pembaptisan bayi; kepada hak Ilahi dari pemimpin agama untuk melaksanakan pembaptisan tersebut; bahwa pembaptisan perlu untuk meluputkan diri dari siksaan kekal; bahwa Allah adalah kasih; bahwa Allah menciptakan dan terus menciptakan bermiliar-miliar makhluk dalam gambar-Nya yang akan tinggal selama masa kekal yang tak terhitung di dalam nyala api belerang yang mencekik, memohonkan satu tetes air untuk melepaskan mereka dari penderitaan namun sia-sia belaka . . .

      ”Kita percaya bahwa sesudah seorang mati, ia dalam keadaan hidup; kita percaya bahwa Yesus Kristus tidak pernah mati; bahwa Ia tidak dapat mati; bahwa tidak ada Tebusan yang pernah dibayar atau akan pernah dibayar; bahwa Allah Yehuwa dan Kristus Yesus Putera-Nya adalah satu pribadi yang sama; bahwa Kristus adalah Bapa-Nya sendiri; bahwa Yesus adalah Putra-Nya sendiri; bahwa Roh Kudus adalah suatu pribadi; bahwa satu tambah satu, tambah satu, sama dengan satu; bahwa ketika Yesus tergantung di salib dan berkata, ’AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku,’ Ia hanya berbicara kepada Dirinya sendiri; . . . bahwa kerajaan-kerajaan sekarang adalah bagian dari Kerajaan Kristus; bahwa si Iblis telah menyingkir ke suatu Neraka yang tidak diketahui lokasinya, sebaliknya daripada berkuasa atas kerajaan-kerajaan di bumi ini . . .

      ”Saya memuji Allah atas hari yang membawa Kebenaran yang Sekarang ke rumah saya. Betapa baik, betapa menyegarkan bagi pikiran dan hati, sehingga saya cepat-cepat meninggalkan kesia-siaan dan omong kosong masa lampau dan digunakan oleh Allah untuk membuka juga matamu yang dibutakan. Kita bersama-sama bersukacita akan Kebenaran, dan bekerja bersisian selama lima belas tahun. Tuhan memberikan kehormatan besar kepada Saudara sebagai seorang juru bicara; saya belum pernah mengenal seorang pun yang dapat membuat kebodohan-kebodohan Babilon tampak begitu menggelikan. Dalam surat, Saudara bertanya, ’Apa selanjutnya?’ Ah, yang inilah yang patut disesali! Selanjutnya Saudara justru membiarkan diri Saudara sakit hati terhadap seseorang yang dengan jerih payahnya yang pengasih dan yang berkatnya dari Tempat yang Tinggi membawa Kebenaran kepada hati kita berdua. Saudara pergi, dan membawa serta beberapa dari domba-domba. . . .

      ”Barangkali Saudara menertawakan saya karena saya tidak naik ke Surga, pada tanggal 1 Oktober 1914, tetapi saya tidak menertawakan Saudara—sama sekali tidak!

      ”Dengan adanya sepuluh dari bangsa-bangsa terbesar di bumi yang sedang dalam keadaan sekarat, saya pikir tidaklah patut terutama pada waktu ini untuk berupaya mencemooh pria tersebut, bahkan satu-satunya pria, yang selama empat puluh tahun telah mengajarkan bahwa Zaman Orang Kafir akan berakhir pada tahun 1914.”

      Iman Saudara Woodworth tidak goyah ketika peristiwa-peristiwa pada tahun 1914 tidak terwujud sebagaimana yang diharapkan. Ia hanya menyadari bahwa masih banyak yang harus dipelajari. Karena keyakinannya akan maksud-tujuan Allah, ia meringkuk selama sembilan bulan dalam penjara pada tahun 1918-19. Belakangan ia melayani sebagai redaktur majalah ”The Golden Age” dan ”Consolation”. Ia tetap teguh dalam iman dan loyal kepada organisasi Yehuwa hingga akhir hayatnya pada tahun 1951, pada usia 81 tahun.

      [Kotak/Gambar di hlm. 637]

      A. H. Macmillan

      ”Saya telah melihat hikmat untuk bersikap sabar dalam menunggu Yehuwa menjernihkan pemahaman kita mengenai hal-hal yang berdasarkan Alkitab sebaliknya daripada merasa terganggu atas munculnya buah pikiran yang baru. Kadang-kadang penantian kita akan suatu tanggal tertentu melampaui apa yang dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan Alkitab. Bila hal-hal yang dinantikan itu ternyata tidak tergenap, hal itu tidak mengubah maksud-tujuan Allah.”

      [Gambar di hlm. 620]

      Ujian iman dalam ukuran besar menyangkut soal mengakui nilai korban Yesus yang dapat menebus dosa

      [Gambar di hlm. 625]

      Beberapa yang mengagumi Russell mendapati bahwa tanggapan mereka terhadap watak Rutherford menyingkapkan siapa yang sebenarnya mereka layani

      [Gambar di hlm. 639]

      Sewaktu dinas pengabaran lebih ditekankan banyak yang mundur; yang lain menunjukkan gairah yang bertambah

      ”Watch Tower”, 1 April 1928

      ”Watch Tower”, 15 Juni 1927

      ”Watch Tower”, 15 Agustus 1922

      [Gambar di hlm. 640]

      Seraya organisasi teokratis melangkah maju, mereka yang berupaya menjadi pribadi yang terkemuka tersaring ke luar

  • ”Sasaran Kebencian oleh Segala Bangsa”
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 29

      ”Sasaran Kebencian oleh Segala Bangsa”

      SELAMA malam terakhir Yesus berada bersama rasul-rasulnya sebelum kematiannya, ia mengingatkan mereka, ”Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firmanKu, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena namaKu, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku.”​—Yoh. 15:20, 21.

      Yang Yesus pikirkan bukanlah sekadar kejadian-kejadian secara kebetulan mengenai tidak adanya toleransi. Hanya tiga hari sebelumnya, ia berkata, ”kamu akan menjadi sasaran kebencian oleh segala bangsa oleh karena namaku.”—Mat. 24:9, NW.

      Namun, Yesus menasihatkan para pengikutnya bahwa sewaktu menghadapi penganiayaan, mereka tidak boleh menghadapinya dengan menggunakan senjata jasmani. (Mat. 26:48-52) Mereka tidak boleh mencerca orang-orang yang menganiaya mereka atau berupaya membalas dendam. (Rm. 12:14; 1 Ptr. 2:21-23) Bukankah tidak mungkin, bahwa pada suatu waktu bahkan para penganiaya tersebut akan menjadi orang-orang percaya? (Kis. 2:36-42; 7:58–8:1; 9:1-22) Pembalasan apa pun harus diserahkan kepada Allah.—Rm. 12:17-19.

      Telah diketahui umum bahwa umat Kristen masa awal dianiaya secara kejam oleh pemerintahan Romawi. Namun patut diperhatikan juga bahwa penganiaya Yesus Kristus yang paling aktif adalah para pemimpin agama dan bahwa Pontius Pilatus, gubernur Romawi, membiarkan Yesus dihukum mati atas tuntutan mereka. (Luk. 23::13-25) Sesudah kematian Yesus sekali lagi para pemimpin agama berada di baris depan sebagai penganiaya pengikut-pengikut Yesus. (Kis. 4:1-22; 5:17-32; 9:1, 2) Bukankah hal itu juga menjadi pola pada masa-masa belakangan?

      Para Pemimpin Agama Menghendaki Debat Umum

      Karena sirkulasi tulisan-tulisan C. T. Russell dengan cepat mencapai puluhan juta eksemplar dalam banyak bahasa, para pemimpin agama Katolik dan Protestan tidak dapat begitu saja mengabaikan ucapan-ucapannya. Mereka marah karena penelanjangan ajaran-ajaran mereka yang tidak berdasarkan Alkitab, dan frustrasi karena kehilangan anggota-anggota mereka, sehingga banyak di antara para pemimpin agama itu menggunakan mimbar untuk mencela tulisan-tulisan Russell. Mereka memerintahkan kawanan mereka agar tidak menerima lektur yang disebarkan oleh Siswa-Siswa Alkitab. Sejumlah orang dari antara mereka berupaya menghasut para pejabat resmi untuk menghentikan pekerjaan ini. Di beberapa tempat di Amerika Serikat—antara lain Tampa, Florida; Rock Island, Illinois; Winston-Salem, Karolina Utara; dan Scranton, Pennsylvania—mereka memimpin pembakaran buku-buku tulisan Russell di depan umum.

      Beberapa di antara para pemimpin agama merasa perlu menghancurkan pengaruh Russell dengan mengekspos dia dalam debat umum. Dekat kantor pusat kegiatan Russell, sekelompok pemimpin agama mengajukan Dr. E. L. Eaton, pastor Gereja Metodis Episkopal North Avenue di Allegheny, Pennsylvania, sebagai juru bicara mereka. Pada tahun 1903 Eaton mengusulkan suatu debat umum, dan Saudara Russell menerima undangan itu.

      Enam pokok bahasan dikemukakan sebagai berikut, Saudara Russell menegaskan, namun Dr. Eaton menyangkal, bahwa jiwa orang mati tidak sadar; bahwa ”kedatangan kedua” dari Kristus sebelum Milenium dan bahwa tujuan ”kedatangan kedua” maupun Milenium Kristus adalah untuk memberkati semua keluarga di bumi; juga bahwa hanya orang-orang kudus ”zaman Injil” yang termasuk dalam kebangkitan pertama namun kumpulan besar orang akan mendapat kesempatan untuk diselamatkan oleh kebangkitan yang terjadi setelahnya. Dr. Eaton menegaskan, namun Saudara Russell menyangkal, bahwa tidak akan ada masa pencobaan sesudah kematian bagi siapa pun; bahwa semua yang diselamatkan akan masuk surga; dan bahwa orang jahat yang tidak dapat diinsafkan lagi akan mengalami siksaan kekal. Suatu rangkaian yang terdiri dari enam debat mengenai pokok-pokok bahasan ini diadakan, setiap debat dilangsungkan di hadapan orang-orang yang memadati Balai Carnegie di Allegheny pada tahun 1903.

      Apa yang ada di balik tantangan untuk berdebat itu? Ditinjau berdasarkan perspektif sejarah, Albert Vandenberg belakangan menulis, ”Debat-debat tersebut dilangsungkan dan rohaniwan aliran Protestan yang berbeda-beda bertindak sebagai moderator dalam setiap diskusi. Selain itu, para rohaniwan dari berbagai gereja di daerah itu duduk di panggung pembicara bersama Pendeta Eaton, kemungkinan untuk memberi dukungan teks dan moral kepadanya. . . . Bahwa suatu persekutuan tidak resmi bahkan dapat terbentuk di antara para pemimpin agama Protestan menandakan bahwa mereka sebenarnya takut akan potensi Russell untuk menobatkan anggota-anggota agama mereka.”—”Charles Taze Russell: Pittsburgh Prophet, 1879-1909”, dimuat dalam The Western Pennsylvania Historical Magazine, Januari 1986, hlm. 14.

      Perdebatan seperti itu relatif sedikit. Mereka tidak memperoleh hasil yang diinginkan oleh persekutuan pemimpin agama. Beberapa jemaat Dr. Eaton sendiri, karena terkesan oleh apa yang mereka dengar selama rangkaian debat pada tahun 1903, meninggalkan gerejanya dan memilih untuk bergabung dengan Siswa-Siswa Alkitab. Bahkan seorang pemimpin agama yang hadir mengakui bahwa Russell telah ’mengarahkan pipa air ke neraka dan memadamkan apinya’. Meskipun demikian, Saudara Russell sendiri merasa bahwa perkara kebenaran dapat ditangani lebih baik dengan mengerahkan waktu dan upaya untuk kegiatan-kegiatan lain daripada perdebatan.

      Para pemimpin agama tidak berhenti menyerang. Sewaktu Saudara Russell berkhotbah di Dublin, Irlandia, dan di Otley, Yorkshire, Inggris, mereka menempatkan pria-pria di antara hadirin untuk meneriakkan sanggahan dan tuduhan palsu melawan Russell secara pribadi. Saudara Russell dengan tangkas menangani situasi-situasi tersebut, senantiasa mengandalkan Alkitab sebagai wewenang bagi jawaban-jawabannya.

      Para pemimpin agama Protestan, tidak soal dari aliran mana, bergabung dengan apa yang dikenal sebagai Perserikatan Evangelis. Wakil-wakil mereka di banyak negeri beragitasi (berpidato dengan berapi-api untuk mempengaruhi massa) menentang Russell serta orang-orang yang menyebarkan lekturnya. Sebagai contoh, di Texas (AS), Siswa-Siswa Alkitab mendapati bahwa setiap pengkhotbah, bahkan di kota-kota yang paling kecil dan distrik-distrik pedesaan, diperlengkapi dengan rangkaian tuduhan palsu yang sama terhadap Russell dan pemutarbalikan yang sama tentang apa yang diajarkannya.

      Akan tetapi, kadang-kadang serangan-serangan melawan Russell ini menghasilkan hal-hal yang tidak diharapkan oleh para pemimpin agama. Di New Brunswick, Kanada, ketika seorang pengkhotbah menggunakan mimbar untuk berkhotbah dengan kata-kata yang menghina Russell, ada seorang pria di antara hadirin yang secara pribadi telah membaca lektur yang ditulis oleh Saudara Russell. Ia merasa muak ketika pengkhotbah dengan sengaja mulai menyatakan hal-hal yang palsu. Kira-kira pada pertengahan khotbah, pria itu berdiri, memegang tangan istrinya, dan berseru kepada ketujuh putrinya yang turut menyanyi dalam paduan suara, ”Mari, anak-anak, kita pulang saja.” Kesembilan orang itu berjalan ke luar, dan sang pemimpin agama memandang seraya pria yang telah membangun gereja dan adalah penyumbang dana utama dari jemaat itu pergi. Tidak lama sesudah itu sidang jemaat tersebut menjadi berantakan, dan sang pengkhotbah pergi.

      Mengambil Langkah Mengejek dan Memfitnah

      Dalam upaya mereka yang nekad untuk memadamkan pengaruh C. T. Russell dan rekan-rekannya, para pemimpin agama melecehkan pengakuannya sebagai seorang rohaniwan Kristen. Dengan alasan-alasan yang serupa, para pemimpin agama Yahudi abad pertama memperlakukan rasul Petrus dan rasul Yohanes sebagai ”orang biasa yang tidak terpelajar”.—Kis. 4:13.

      Saudara Russell bukan lulusan dari salah satu sekolah teologi Susunan Kristen. Namun dengan berani ia mengatakan, ”Kami menantang [para pemimpin agama] untuk membuktikan bahwa mereka pernah menerima pelantikan Ilahi atau bahwa mereka pernah memikirkan hal itu. Mereka semata-mata memikirkan tentang pelantikan, atau wewenang, dalam ruang lingkup sekte, masing-masing dari sekte atau golongannya sendiri. . . . Pelantikan, atau wewenang dari Allah kepada seseorang untuk mengabar adalah dengan pencurahan Roh Kudus atas dirinya. Siapa pun yang menerima Roh Kudus menerima kuasa dan wewenang untuk mengajar dan berkhotbah dalam nama Allah. Siapa pun yang tidak menerima Roh Kudus tidak memiliki wewenang atau persetujuan Ilahi atas khotbahnya.”—Yes. 61:1, 2.

      Agar reputasinya diragukan, beberapa pemimpin agama memberitakan dan mempublikasikan dusta-dusta keji mengenai dia. Salah satu yang sering mereka gunakan—sampai sekarang—menyangkut situasi perkawinan Saudara Russell. Kesan yang ingin mereka sampaikan ialah bahwa Russell tidak bermoral. Apa fakta-faktanya?

      Pada tahun 1879, Charles Taze Russell menikahi Maria Frances Ackley. Mereka memiliki hubungan yang baik selama 13 tahun. Kemudian pujian yang bersifat menjilat terhadap Maria dan sorotan orang lain terhadap harga dirinya mulai merongrong hubungan tersebut; namun ketika tujuan para penjilat itu menjadi jelas, ia tampaknya memperoleh kembali keseimbangannya. Sesudah seorang bekas rekan menyebarkan dusta tentang Saudara Russell, ia bahkan meminta izin kepada suaminya untuk mengunjungi sejumlah sidang guna menyangkal tuduhan-tuduhan itu, karena Saudara Russell dituduh telah menganiaya dia. Akan tetapi, sambutan baik yang diberikan kepadanya dalam perjalanan tersebut pada tahun 1894 rupanya telah menyumbang kepada perubahan secara bertahap dalam pandangan mengenai dirinya sendiri. Ia berupaya memperoleh suara yang lebih banyak bagi dirinya sendiri dalam mengarahkan apa yang akan muncul dalam Watch Tower.a Ketika ia menyadari bahwa tidak satu pun tulisannya akan dimuat kecuali jika suaminya, sang redaktur majalah, menyetujui isinya (atas dasar keselarasannya dengan Alkitab), ia menjadi sangat gelisah. Saudara Russell berupaya sungguh-sungguh untuk membantu istrinya, tetapi pada bulan November 1897, sang istri meninggalkan dia. Meskipun demikian, Saudara Russell memberikan kepadanya tempat tinggal dan tunjangan hidup. Bertahun-tahun kemudian, sesudah proses perkara pengadilan yang diadukan oleh sang istri pada tahun 1903, pengadilan memberikan keputusan kepadanya pada tahun 1908, bukan perceraian mutlak, melainkan perpisahan, dengan hak mendapat tunjangan.

      Setelah gagal memaksa suaminya tunduk kepada permintaan-permintaannya, ia berupaya keras untuk mendiskreditkan nama suaminya setelah ia meninggalkannya. Pada tahun 1903, ia menerbitkan sebuah risalah yang memuat, bukan kebenaran-kebenaran Alkitab, melainkan gambaran yang sangat keliru tentang Saudara Russell. Ia berupaya memperoleh bantuan dari rohaniwan-rohaniwan berbagai aliran agama untuk menyebarkan risalah-risalah itu di tempat-tempat Siswa-Siswa Alkitab mengadakan perhimpunan-perhimpunan istimewa. Para rohaniwan tersebut patut dipuji karena tidak banyak yang rela digunakan secara demikian pada waktu itu. Akan tetapi, para pemimpin agama lain sejak itu telah memperlihatkan semangat yang berbeda.

      Sebelumnya, Maria Russell, secara lisan dan tulisan, telah mencela mereka yang menuduh Saudara Russell melakukan hal-hal yang tidak terpuji dan tuduhan inilah yang kini ia sendiri lontarkan terhadapnya. Dengan menggunakan pernyataan-pernyataan yang belum dibuktikan kebenarannya dalam proses persidangan pada tahun 1906 (dan pernyataan-pernyataan yang dihapus dari catatan atas perintah pengadilan), beberapa penentang agama dari Saudara Russell telah mempublikasikan tuduhan-tuduhan yang dirancang untuk memberi kesan bahwa ia seorang yang amoral dan karenanya tidak layak menjadi rohaniwan Allah. Akan tetapi, catatan pengadilan jelas memperlihatkan bahwa tuduhan-tuduhan demikian adalah palsu. Pengacaranya sendiri bertanya kepada Ny. Russell apakah ia percaya bahwa suaminya bersalah karena zina. Ia menjawab, ”Tidak.” Patut diperhatikan juga bahwa ketika sebuah panitia yang terdiri dari penatua-penatua Kristen mendengar tuduhan-tuduhan Ny. Russell melawan suaminya pada tahun 1897, ia tidak menyebut apa-apa tentang hal-hal yang belakangan dinyatakannya dalam pengadilan guna meyakinkan juri bahwa ada dasar untuk mensahkan perceraian, walaupun peristiwa-peristiwa yang dituduhkan itu terjadi sebelum pertemuan tersebut.

      Sembilan tahun setelah Ny. Russell pertama kali membawa perkara ini ke pengadilan, Hakim James Macfarlane menulis sepucuk surat jawaban kepada seseorang yang berusaha memperoleh tembusan dokumen pengadilan agar salah seorang rekannya dapat mengekspos Russell. Hakim itu dengan terus terang berkata kepadanya bahwa keinginannya itu hanya akan membuang waktu dan uang saja. Suratnya berbunyi, ”Alasan untuk permohonan beliau dan surat keputusan berdasarkan keputusan juri adalah ’penghinaan’ dan bukan zina dan sepanjang pengetahuan saya, tidak ada kesaksian yang menunjukkan bahwa Russell menempuh ’kehidupan zina dengan orang ketiga (orang yang disebutkan telah berzina dengan tertuduh)’. Dalam kenyataannya, tidak ada orang ketiga.”

      Pengakuan yang sudah terlambat dari Maria Russell sendiri datang pada saat pemakaman Saudara Russell di Balai Carnegie di Pittsburgh pada tahun 1916. Dengan mengenakan kerudung, ia berjalan menyusuri gang antara deretan tempat duduk menuju ke peti jenazah dan meletakkan di sana seikat bunga bakung lembah. Pada bunga itu terikat sebuah pita dengan kata-kata, ”Kepada Suamiku yang Kukasihi.”

      Jelaslah bahwa para pemimpin agama telah menggunakan taktik serupa seperti yang digunakan oleh padanan mereka pada abad pertama. Dahulu, mereka berupaya merusak reputasi Yesus dengan menuduh bahwa ia makan bersama pedosa-pedosa dan bahwa ia sendiri adalah seorang pedosa dan penghujah. (Mat. 9:11; Yoh. 9:16-24; 10:33-37) Tuduhan-tuduhan demikian tidak mengubah kebenaran tentang Yesus, tetapi justru mengekspos bahwa bapa rohani mereka yang menggunakan fitnah demikian—dan mengekspos bahwa bapa rohani mereka yang menggunakan taktik yang sama dewasa ini—adalah si Iblis, yang namanya berarti ”Pendusta”.—Yoh. 8:44.

      Menggunakan Demam Perang untuk Mencapai Tujuan Mereka

      Dengan adanya demam nasionalisme yang menyapu dunia selama perang dunia pertama, senjata baru ditemukan dan digunakan untuk melawan Siswa-Siswa Alkitab. Permusuhan para pemimpin agama Protestan dan Katolik Roma dapat dilampiaskan di balik perisai patriotisme. Mereka menarik keuntungan dari histeria masa perang untuk mencap Siswa-Siswa Alkitab sebagai orang-orang yang suka menghasut—tuduhan sama yang dilontarkan terhadap Yesus Kristus dan rasul Paulus oleh para pemimpin agama abad pertama di Yerusalem. (Luk. 23:2, 4; Kis. 24:1, 5) Tentu saja, supaya para pemimpin agama dapat melontarkan tuduhan demikian, mereka sendiri harus menjadi pejuang aktif dari kekuatan perang, tetapi hal itu agaknya tidak menjadi masalah bagi kebanyakan dari antara mereka, sekalipun itu berarti pemuda-pemuda harus dikirim untuk membunuh anggota-anggota agama mereka sendiri di negeri lain.

      Pada bulan Juli 1917, sesudah Russell meninggal, Lembaga Menara Pengawal mengumumkan terbitnya buku The Finished Mystery, sebuah pembahasan mengenai Wahyu dan Yehezkiel serta Kidung Agung. Buku tersebut dengan terus terang membeberkan kemunafikan para pemimpin agama Susunan Kristen! Buku itu disebarluaskan dalam waktu yang relatif singkat. Menjelang akhir bulan Desember 1917 dan awal tahun 1918, Siswa-Siswa Alkitab di Amerika Serikat dan Kanada juga menyebarkan 10.000.000 risalah The Bible Students Monthly yang memuat berita yang pedas. Risalah berukuran tabloid dengan empat halaman ini berjudul ”Kejatuhan Babel”, dan ada judul kecil ”Mengapa Susunan Kristen Harus Menderita Sekarang—Hasil Akhirnya”. Risalah tersebut mengidentifikasi organisasi agama Katolik maupun Protestan sebagai Babel zaman modern, yang harus segera jatuh. Untuk mendukung kata-kata tersebut, risalah itu memuat kembali pembahasan The Finished Mystery mengenai nubuat-nubuat yang menyatakan penghakiman ilahi terhadap ”Babel yang Mistik”. Pada halaman belakang terdapat gambar kartun yang memperlihatkan sebuah tembok yang runtuh. Batu-batu besar dari tembok diberi nama seperti ”Doktrin Tritunggal (’3 X 1 = 1’)”, ”Jiwa yang Tak Berkematian”, ”Teori Siksaan Kekal”, ”Protestanisme—kredo, golongan pemimpin agama, dsb.”, ”Romaisme—golongan paus, golongan kardinal, dsb., dsb.”—dan semuanya itu berjatuhan.

      Para pemimpin agama geram karena penyingkapan demikian, sama seperti para pemimpin agama Yahudi dahulu ketika Yesus menyingkapkan kemunafikan mereka. (Mat. 23:1-39; 26:3, 4) Di Kanada para pemimpin agama cepat bereaksi. Pada bulan Januari 1918, lebih dari 600 pemimpin agama di Kanada menandatangani sebuah petisi yang memohon kepada pemerintah agar memberangus publikasi-publikasi dari International Bible Students Association. Sebagaimana dilaporkan dalam surat kabar Winnipeg Evening Tribune, sesudah Charles G. Paterson, pastor dari Gereja St. Stephen di Winnipeg, mengecam The Bible Students Monthly, yang memuat artikel ”Kejatuhan Babel” dari mimbar, Jaksa Agung Johnson menghubungi dia untuk memperoleh satu eksemplar. Tidak lama kemudian, pada tanggal 12 Februari 1918, suatu dekrit pemerintah Kanada menyatakan bila seseorang didapati memiliki buku The Finished Mystery atau risalah yang ditunjukkan di atas dapat terkena hukuman denda dan pemenjaraan.

      Pada bulan itu juga, tanggal 24 Februari, Saudara Rutherford, presiden yang baru terpilih dari Lembaga Menara Pengawal, berbicara di Amerika Serikat di Temple Auditorium di Los Angeles, Kalifornia. Pokok pembicaraannya mencengangkan, ”Dunia Telah Berakhir—Jutaan Orang yang Sekarang Hidup Mungkin Tidak Pernah Mati”. Dalam mengemukakan bukti bahwa dunia sebagaimana dikenal hingga waktu itu benar-benar telah berakhir pada tahun 1914, ia menunjuk kepada peperangan yang ketika itu sedang berlangsung, bersama dengan bencana kelaparan yang menyertainya, dan mengidentifikasikannya sebagai bagian dari tanda yang dinubuatkan oleh Yesus. (Mat. 24:3-8) Kemudian ia memusatkan perhatian kepada para pemimpin agama, dengan berkata,

      ”Sebagai suatu golongan, menurut Alkitab, para pemimpin agama adalah orang-orang yang paling bertanggung jawab di bumi atas peperangan besar yang kini melanda umat manusia. Selama 1.500 tahun mereka telah mengajarkan kepada orang-orang doktrin setan tentang hak ilahi bagi raja-raja untuk memerintah. Mereka telah memadukan politik dan agama, gereja dan negara; telah terbukti tidak loyal kepada hak istimewa yang diberikan Allah untuk mengumumkan berita tentang kerajaan Mesias, dan telah merelakan diri untuk menganjurkan para penguasa agar percaya bahwa raja memerintah dengan hak ilahi dan oleh karena itu apa pun yang dilakukannya adalah benar.” Dengan menunjukkan akibatnya, ia berkata, ”Raja-raja yang ambisius di Eropa mempersenjatai diri untuk berperang, karena mereka ingin merebut daerah bangsa-bangsa lain; dan para pemimpin agama memberkati mereka dan berkata, ’Berbuatlah sesuka Anda, Anda tidak dapat berbuat salah; apa pun yang Anda lakukan adalah baik.’” Namun bukan hanya para pemimpin agama di Eropa yang melakukan hal tersebut, dan para pengkhotbah di Amerika mengetahuinya.

      Laporan yang panjang lebar tentang khotbah ini dimuat keesokan harinya dalam surat kabar Morning Tribune di Los Angeles. Para pemimpin agama begitu marah sehingga asosiasi rohaniwan mengadakan pertemuan pada hari itu juga dan mengutus presiden mereka ke para manajer surat kabar itu dan memberitahukan bahwa mereka sangat tidak senang. Setelah itu, terdapat masa yang penuh gangguan terus-menerus yang dilancarkan kepada kantor-kantor Lembaga Menara Pengawal oleh anggota-anggota biro intelijen pemerintah.

      Selama masa dengan perasaan nasionalisme yang meluap-luap ini, suatu konferensi para pemimpin agama diadakan di Philadelphia, di Amerika Serikat, dan pada konferensi tersebut sebuah resolusi diambil yang meminta diadakannya revisi atas Undang-Undang Spionase sehingga mereka yang dituduh melanggarnya dapat diadili oleh mahkamah militer dan diancam dengan hukuman mati. John Lord O’Brian, asisten khusus jaksa agung untuk urusan perang, dipilih untuk mengajukan perkara itu kepada Senat. Presiden Amerika Serikat tidak mengizinkan rancangan undang-undang tersebut menjadi undang-undang. Namun Mayor Jenderal James Franklin Bell, dari Angkatan Bersenjata AS, dalam luapan amarah membocorkan kepada J. F. Rutherford dan W. E. Van Amburgh mengenai apa yang telah terjadi pada konferensi itu dan niat untuk menggunakan rancangan undang-undang tersebut melawan para pengurus Lembaga Menara Pengawal.

      Berkas-berkas resmi dari pemerintahan AS menunjukkan bahwa sedikitnya sejak tanggal 21 Februari 1918 dan seterusnya, John Lord O’Brian secara pribadi terlibat dalam upaya menyusun suatu kasus hukum melawan Siswa-Siswa Alkitab. Dokumen Kongres tertanggal 24 April dan 4 Mei memuat memorandum-memorandum dari John Lord O’Brian yang dengan sengit berargumen bahwa jika hukum mengizinkan ucapan tentang ”apa yang benar, dengan motif yang baik, dan untuk tujuan yang dapat dibenarkan”, sebagaimana dinyatakan dalam apa yang dinamakan Amandemen Prancis untuk Undang-Undang Spionase dan sebagaimana telah didukung oleh Senat AS, maka ia tidak dapat menuntut Siswa-Siswa Alkitab dengan sukses.

      Di Worcester, Massachusetts, ”Pdt.” B. F. Wyland selanjutnya mengeksploitasi demam perang dengan menegaskan bahwa Siswa-Siswa Alkitab melancarkan propaganda untuk musuh. Ia menerbitkan sebuah artikel dalam surat kabar Daily Telegram dengan pernyataan, ”Salah satu kewajiban patriotik Anda yang dihadapkan kepada Anda sebagai warga negara adalah pemberangusan International Bible Students Association, yang berkantor pusat di Brooklyn. Dengan berkedok agama, mereka telah melancarkan propaganda Jerman di Worcester dengan menjual buku mereka, ’The Finished Mystery’.” Dengan terus terang ia mengatakan kepada kalangan berwenang bahwa mereka wajib menangkap Siswa-Siswa Alkitab dan mencegah pertemuan-pertemuan mereka selanjutnya.

      Pada musim semi dan musim panas tahun 1918 terjadilah penganiayaan di banyak tempat terhadap Siswa-Siswa Alkitab, di Amerika Utara maupun di Eropa. Penghasutnya antara lain para pemimpin agama gereja Baptis, Metodis, Episkopal, Luteran, Katolik Roma dan gereja-gereja lainnya. Lektur Alkitab dirampas oleh para petugas tanpa surat perintah, dan banyak Siswa-Siswa Alkitab dipenjarakan. Yang lain-lain dikejar oleh gerombolan, dipukul, dicambuk, dilumuri dengan ter dan ditempeli bulu ayam, atau dihajar hingga tulang rusuk patah atau kepala terluka. Beberapa menjadi cacat seumur hidup. Pria dan wanita Kristen ditahan dalam penjara tanpa tuduhan atau tanpa diadili. Lebih dari seratus kasus spesifik mengenai perlakuan yang memalukan demikian dilaporkan dalam The Golden Age tanggal 29 September 1920.

      Dituduh Sebagai Mata-Mata

      Puncak serangan terjadi pada tanggal 7 Mei 1918, ketika surat perintah federal dikeluarkan di Amerika Serikat untuk menangkap J. F. Rutherford, presiden Watch Tower Bible and Tract Society, dan rekan-rekannya yang terdekat.

      Sehari sebelumnya, di Brooklyn, New York, dua dakwaan diajukan terhadap Saudara Rutherford dan rekan-rekannya. Jika hasil-hasil yang diinginkan tidak diperoleh dari kasus yang satu, maka dakwaan lainnya dapat ditempuh. Dakwaan pertama, yang memberikan tuntutan terhadap lebih banyak orang, mencakup empat tuduhan: Dua tuduhan tentang berkomplot untuk melanggar Undang-Undang Spionase tertanggal 15 Juni 1917; dan dua tuduhan tentang upaya untuk melaksanakan rencana-rencana mereka yang tidak sah atau memang telah melakukannya. Mereka dituduh berkomplot untuk menimbulkan pembangkangan terhadap perintah dan penolakan tugas di kalangan angkatan bersenjata Amerika Serikat dan bahwa mereka berkomplot untuk menghalangi pengerahan dan pendaftaran pria-pria untuk dinas demikian pada waktu negara sedang berperang, juga bahwa mereka telah berupaya untuk melakukan atau memang telah melakukan kedua hal ini. Dakwaan itu secara khusus menyebutkan penerbitan dan pengedaran buku The Finished Mystery. Dakwaan kedua menafsirkan bahwa pengiriman sebuah cek ke Eropa (yang dimaksudkan untuk digunakan dalam pekerjaan pendidikan Alkitab di Jerman) berlawanan dengan kepentingan Amerika Serikat. Ketika para terdakwa dibawa ke pengadilan, maka dakwaan pertama, yakni dakwaan dengan empat tuduhan, yang dituduhkan.

      Namun dakwaan lain terhadap C. J. Woodworth dan J. F. Rutherford di bawah Undang-Undang Spionase pada waktu itu sedang ditangguhkan di Scranton, Pennsylvania. Namun, menurut sepucuk surat dari John Lord O’Brian tertanggal 20 Mei 1918, anggota-anggota dari Departemen Kehakiman khawatir bahwa Hakim Distrik AS, Witmer yang menangani pengadilan kasus itu, tidak akan setuju apabila mereka menggunakan Undang-Undang Spionase untuk memberangus kegiatan orang-orang yang, karena keyakinan agama yang tulus, mengatakan hal-hal yang mungkin ditafsirkan oleh orang lain sebagai propaganda anti perang. Maka Departemen Kehakiman menangguhkan kasus Scranton, menunggu hasil kasus di Brooklyn. Pemerintah juga mengendalikan situasi sehingga Hakim Harland B. Howe, dari Vermont, yang diketahui oleh John Lord O’Brian setuju dengan pendiriannya mengenai perkara-perkara demikian, ditunjuk sebagai hakim yang menangani kasus Pengadilan Distrik AS, untuk Distrik New York Bagian Timur. Pengadilan kasus itu mulai berlangsung pada tanggal 5 Juni, dengan Isaac R. Oeland dan Charles J. Buchner, seorang Katolik Roma, sebagai jaksa penuntut. Selama pengadilan berlangsung, Saudara Rutherford memperhatikan bahwa para imam Katolik sering berunding dengan Buchner dan Oeland.

      Seraya kasus itu berjalan, ditunjukkan bahwa para pengurus Lembaga dan para penyusun buku itu tidak berniat mencampuri upaya negara untuk berperang. Bukti yang diajukan selama pengadilan menunjukkan bahwa rencana penulisan buku itu—sesungguhnya, penulisan hampir seluruh manuskripnya—telah terjadi sebelum Amerika Serikat menyatakan perang (pada tanggal 6 April 1917) dan bahwa kontrak asli untuk penerbitan telah ditandatangani sebelum Amerika Serikat mensahkan undang-undang (pada tanggal 15 Juni) yang dikatakan telah dilanggar oleh mereka.

      Pihak penuntut menonjolkan bagian-bagian yang ditambahkan kepada buku itu yang dibuat selama bulan April dan Juni 1917, pada saat tahap pemrosesan buku itu dan pembacaan proofs (cetakan percobaan). Ini mencakup sebuah kutipan dari John Haynes Holmes, seorang pemimpin agama yang telah menyatakan dengan tegas bahwa perang merupakan pelanggaran atas Kekristenan. Sebagaimana dinyatakan oleh salah seorang pembela, komentar pemimpin agama itu, yang diterbitkan di bawah judul A Statement to My People on the Eve of War masih dijual di pasaran Amerika Serikat pada saat pengadilan berlangsung. Sang pemimpin agama ataupun si penerbit tidak diadili karena hal itu. Namun justru Siswa-Siswa Alkitab yang merujuk kepada khotbahnya yang dianggap bersalah karena perasaan yang tercetus di dalamnya.

      Buku ini tidak mengatakan kepada masyarakat di dunia bahwa mereka tidak berhak terlibat dalam peperangan. Namun, dalam menjelaskan nubuat, buku itu memang mengutip petikan-petikan dari terbitan The Watch Tower tahun 1915 untuk menunjukkan betapa tidak konsistennya para pemimpin agama yang mengaku sebagai rohaniwan Kristus namun bertindak sebagai agen perekrut tenaga untuk negara yang sedang berperang.

      Sewaktu diberitahu bahwa pemerintah keberatan terhadap buku itu, Saudara Rutherford segera mengirim telegram kepada percetakan untuk menghentikan produksinya, dan bersamaan waktu, seorang wakil Lembaga diutus ke seksi intelijen Angkatan Bersenjata AS untuk mencari tahu apa yang menjadi keberatan mereka. Ketika diberi tahu bahwa karena perang yang saat itu sedang berlangsung, halaman 247-53 dari buku itu dianggap tidak dapat disetujui, maka Lembaga memberi petunjuk agar halaman-halaman tersebut disingkirkan dari semua buku sebelum ditawarkan kepada umum. Dan sewaktu pemerintah memberi tahu para jaksa distrik bahwa peredaran selanjutnya merupakan pelanggaran atas Undang-Undang Spionase (walaupun pemerintah menolak menyatakan pendapatnya kepada Lembaga atas buku itu dalam bentuknya yang sudah berubah), Lembaga memberikan pengarahan agar semua pengedaran buku itu kepada umum ditangguhkan.

      Mengapa Hukumannya Begitu Berat?

      Tanpa mempedulikan semua ini, pada tanggal 20 Juni 1918, juri memberikan keputusan bersalah kepada setiap terdakwa atas setiap tuduhan dalam dakwaan. Keesokan harinya, tujuhb orang dari antara mereka dihukum dengan empat masa hukuman yang masing-masing 20 tahun lamanya, dan yang harus dijalani bersamaan waktu. Pada tanggal 10 Juli, kedelapan orang ituc dijatuhi hukuman empat masa hukuman, masing-masing selama 10 tahun yang dijalani bersamaan waktu. Seberapa beratkah hukuman-hukuman tersebut? Dalam sebuah memo kepada jaksa agung pada tanggal 12 Maret 1919, presiden AS Woodrow Wilson mengakui bahwa ”masa-masa pemenjaraan itu jelas berlebihan.” Kenyataannya, oknum yang menembak di Sarajevo yang membunuh putra mahkota Kekaisaran Austria-Hongaria—yang insidennya telah memicu peristiwa-peristiwa yang menjerumuskan bangsa-bangsa ke kancah Perang Dunia I—tidak dihukum lebih berat. Hukumannya dipenjarakan 20 tahun—bukan empat masa hukuman yang masing-masing 20 tahun lamanya, sebagaimana halnya Siswa-Siswa Alkitab!

      Motivasi apa yang ada di balik masa hukuman penjara yang begitu berat atas Siswa-Siswa Alkitab? Hakim Harland B. Howe menyatakan, ”Menurut pendapat Pengadilan, propaganda agama yang dengan penuh gairah didukung dan disebarkan oleh para terdakwa ini ke seluruh negeri maupun di kalangan sekutu kita, merupakan bahaya yang lebih besar daripada satu divisi Angkatan Bersenjata Jerman. . . . Seorang yang memberitakan agama biasanya memiliki banyak pengaruh, dan jika ia tulus, justru menjadi lebih efektif. Hal ini memberatkan, sebaliknya daripada meringankan kesalahan yang telah mereka lakukan. Oleh karena itu, sebagai satu-satunya hal bijaksana yang dapat dilakukan terhadap orang-orang demikian, maka Mahkamah telah memutuskan bahwa hukumannya harus berat.” Akan tetapi, patut pula diperhatikan, bahwa sebelum menjatuhkan hukuman, Hakim Howe mengatakan bahwa pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh para pembela bagi para terdakwa telah mempertanyakan dan memperlakukan secara pedas bukan hanya para penegak hukum pemerintahan melainkan ”semua rohaniwan di seluruh negeri”.

      Keputusan itu segera ditanggapi dengan naik banding kepada pengadilan banding AS tingkat wilayah. Namun permohonan bebas dengan uang jaminan sambil menantikan pemeriksaan naik banding tersebut ditolak secara sewenang-wenang oleh Hakim Howe,d dan pada tanggal 4 Juli, sebelum permohonan bebas dengan uang jaminan yang ketiga dan terakhir ini dapat diperiksa, tujuh orang saudara yang pertama dengan tergesa-gesa dipindahkan ke rumah tahanan federal di Atlanta, Georgia. Sesudah itu, diperlihatkan adanya 130 kesalahan dalam prosedur pengadilan yang sarat akan prasangka itu. Upaya berbulan-bulan dikerahkan untuk mempersiapkan surat-surat yang diperlukan guna pemeriksaan naik banding. Sementara itu, perang berakhir. Pada tanggal 19 Februari 1919, kedelapan saudara dalam penjara mengirimkan imbauan untuk klemensi eksekutif kepada Woodrow Wilson, presiden Amerika Serikat. Surat-surat lain yang mendesak agar saudara-saudara itu dibebaskan, dikirim oleh sejumlah besar warga negara kepada jaksa agung yang baru diangkat. Kemudian, pada tanggal 1 Maret 1919, sebagai jawaban atas pertanyaan dari jaksa agung, Hakim Howe merekomendasikan ”peringanan segera” dari hukuman penjara. Sementara ini akan meringankan hukuman, hal itu juga akan berpengaruh dalam hal mengukuhkan kesalahan para terdakwa. Sebelum hal ini dapat dilakukan, para pembela saudara-saudara menyampaikan surat perintah pengadilan kepada jaksa AS yang membawa kasus itu ke hadapan pengadilan banding.

      Sembilan bulan sesudah Rutherford dan rekan-rekannya dihukum—dan dengan berlalunya perang—pada tanggal 21 Maret 1919, pengadilan banding memerintahkan agar delapan orang terdakwa seluruhnya dibebaskan dengan uang jaminan, dan pada tanggal 26 Maret, mereka dibebaskan di Brooklyn dengan uang jaminan sebesar 10.000 dolar masing-masing. Pada tanggal 14 Mei 1919, pengadilan banding tingkat wilayah AS di New York menetapkan, ”Para terdakwa dalam kasus ini tidak menjalani pengadilan yang tidak memihak dan tidak berat sebelah yang seharusnya menjadi hak mereka, dan untuk alasan itu keputusannya diubah.” Kasus itu dilimpahkan kembali agar dapat diadakan pengadilan baru. Akan tetapi, pada tanggal 5 Mei 1920, setelah para terdakwa, karena menerima panggilan, muncul di pengadilan, lima kali, jaksa penuntut di pihak pemerintah, dalam sidang terbuka di Brooklyn, mengumumkan bahwa tuntutan ditarik kembali.e Mengapa? Sebagaimana tersingkap dalam surat-surat yang disimpan dalam Arsip Nasional AS, Departemen Kehakiman takut bahwa jika permasalahan itu dikemukakan kepada suatu juri yang tidak berat sebelah, sedangkan histeria perang sudah tidak ada lagi, dalam kasus itu mereka akan kalah. Jaksa AS yakni L. W. Ross menyatakan dalam sepucuk surat kepada jaksa agung, ”Saya pikir, demi hubungan kita dengan masyarakat umum, adalah lebih baik jika atas prakarsa kita sendiri” menyatakan bahwa kasus itu tidak akan dituntut lebih lanjut.

      Pada hari yang sama, tanggal 5 Mei 1920, dakwaan alternatif yang telah dimasukkan pada bulan Mei 1918 terhadap J. F. Rutherford dan empat orang rekannya juga dibatalkan demi hukum.

      Siapa yang Sebenarnya Menghasut?

      Apakah semua ini benar-benar hasil hasutan para pemimpin agama? John Lord O’Brian menyangkalnya. Tetapi fakta-faktanya diketahui benar oleh mereka yang hidup pada waktu itu. Pada tanggal 22 Maret 1919 Appeal to Reason, sebuah surat kabar yang terbit di Girard, Kansas, memprotes, ”Para pengikut Pastor Russell, Dikejar oleh Kedengkian Para Pemimpin Agama ’Ortodoks’, Dihukum dan Dipenjarakan Tanpa Pembebasan Dengan Uang Jaminan, Walaupun Mereka Berupaya Sedapat Mungkin untuk Memenuhi Ketentuan-Ketentuan Hukum Spionase. . . . Kami menyatakan bahwa, tidak soal apakah Undang-Undang Spionase secara teknis dibenarkan menurut konstitusi atau menurut etika atau tidak, para pengikut Pastor Russell ini dihukum secara keliru di bawah ketentuan-ketentuannya. Suatu penelitian dengan pandangan terbuka terhadap bukti ini akan dengan cepat meyakinkan siapa pun bahwa orang-orang ini bukan saja tidak berniat untuk melanggar undang-undang itu, tetapi mereka memang tidak melanggarnya.”

      Bertahun-tahun kemudian, dalam buku Preachers Present Arms, Dr. Ray Abrams mengamati, ”Adalah penting bahwa begitu banyak pemimpin agama ambil bagian secara agresif dalam usaha melenyapkan para pengikut Russell [sebagai julukan yang menghina bagi Siswa-Siswa Alkitab]. Pertengkaran dan kebencian agama yang sudah sekian lama berlangsung, yang di masa damai sama sekali tidak dipertimbangkan oleh pengadilan, kini mendapat kesempatan untuk diajukan ke meja hijau di bawah serangan histeria masa perang.” Ia juga menyatakan, ”Suatu analisis dari seluruh kasus menghasilkan kesimpulan bahwa gereja-gereja dan para pemimpin agama sejak semula berada di belakang gerakan untuk membasmi Russellites (para pengikut Russell).”—Hlm. 183-5.

      Akan tetapi, berakhirnya perang tidak mengakhiri penganiayaan terhadap Siswa-Siswa Alkitab. Itu hanya membuka suatu era baru dalam sejarah penganiayaan terhadap mereka.

      Para Imam Melancarkan Tekanan Terhadap Polisi

      Dengan berakhirnya peperangan, permasalahan lain dikobarkan oleh para pemimpin agama untuk sedapat mungkin menghentikan kegiatan Siswa-Siswa Alkitab. Di Bavaria Katolik dan di daerah-daerah lain di Jerman, sejumlah besar penangkapan dilakukan pada tahun 1920-an di bawah undang-undang perdagangan keliling. Namun ketika kasus-kasus itu mulai ditangani oleh pengadilan tingkat banding, hakim-hakim biasanya berpihak kepada Siswa-Siswa Alkitab. Akhirnya, setelah pengadilan-pengadilan dibanjiri oleh ribuan kasus demikian, Kementerian Dalam Negeri mengeluarkan suatu surat edaran pada tahun 1930 kepada semua pejabat polisi yang menyuruh mereka untuk tidak lagi memprakarsai tindakan hukum terhadap Siswa-Siswa Alkitab atas dasar undang-undang perdagangan keliling. Demikianlah, selama waktu yang singkat, tekanan dari sumber ini mengendur, dan Saksi-Saksi Yehuwa melangsungkan kegiatan mereka dalam skala yang luar biasa di ladang Jerman.

      Para pemimpin agama juga mempunyai pengaruh yang kuat di Romania selama tahun-tahun tersebut. Mereka berhasil mengupayakan diterbitkannya dekrit-dekrit yang melarang lektur dan kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa. Namun para imam khawatir bahwa orang-orang mungkin masih membaca lektur yang sudah terlanjur mereka miliki dan akibatnya mereka akan mengetahui ajaran-ajaran yang tidak berdasarkan Alkitab dan pengakuan palsu dari gereja. Untuk mencegah hal ini, para imam benar-benar pergi bersama para petugas polisi dari rumah ke rumah untuk mencari lektur apa saja yang telah disebarkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Mereka bahkan akan menanyai anak-anak kecil yang polos apakah orang-tua mereka telah menerima lektur demikian. Jika lektur ditemukan, orang-orang itu diancam dengan pemukulan dan pemenjaraan jika mereka berani menerimanya lagi. Di beberapa desa, imam juga adalah wali kota dan penegak hukum, dan hanya ada sedikit sekali keadilan bagi siapa pun yang tidak melakukan apa yang dikatakan imam.

      Catatan beberapa pejabat Amerika dalam hal melakukan kehendak para pemimpin agama selama kurun waktu ini tidaklah lebih baik. Setelah kunjungan Uskup Katolik O’Hara ke La Grange, Georgia, misalnya, walikota dan jaksa kota menangkap puluhan Saksi-Saksi Yehuwa pada tahun 1936. Selama mereka dalam penjara, mereka harus tidur bersama tumpukan kotoran hewan di kasur yang penuh percikan kencing sapi, diberi makanan yang sudah berulat, dan dipaksa bekerja di jalan dalam kelompok-kelompok orang tahanan.

      Juga di Polandia, para pemimpin agama Katolik menggunakan setiap sarana yang dapat mereka pikirkan untuk merintangi pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa. Mereka menghasut orang-orang untuk melakukan kekerasan, membakar lektur Saksi-Saksi Yehuwa di muka umum, mencerca mereka sebagai Komunis, dan menggiring mereka ke pengadilan atas tuduhan bahwa lektur mereka ”melanggar kesucian”. Akan tetapi, tidak semua pejabat bersedia mengikuti kemauan mereka. Jaksa negara dari pengadilan banding di Posen (Poznan), misalnya, menolak untuk mengadili salah seorang di antara Saksi-Saksi Yehuwa yang telah diadukan oleh para pemimpin agama atas tuduhan bahwa ia menyebut para pemimpin agama Katolik sebagai ”organisasi Setan”. Jaksa negara sendiri mengemukakan bahwa roh yang amoral yang menyebar ke seluruh Susunan Kristen dari takhta kepausan Alexander VI (tahun 1492-1503 M), adalah memang roh dari suatu organisasi yang bersifat seperti Setan. Dan ketika para pemimpin agama menuduh salah seorang di antara Saksi-Saksi Yehuwa telah menghujah Allah karena menyebarkan lektur Menara Pengawal, jaksa negara dari pengadilan banding di Thorn (Toruń) menuntut pembebasan, dengan berkata, ’Saksi-Saksi Yehuwa berpendirian tepat seperti umat Kristen yang pertama. Walau disalahartikan dan dianiaya, mereka menganut cita-cita yang sangat luhur dalam suatu organisasi dunia yang korup dan bobrok.’

      Arsip pemerintah Kanada menyingkapkan bahwa adalah sebagai tanggapan atas surat dari istana Kardinal Katolik Villeneuve, di Quebec, kepada Menteri Kehakiman, Ernest Lapointe, bahwa Saksi-Saksi Yehuwa dilarang di Kanada pada tahun 1940. Pejabat-pejabat pemerintah lainnya sesudah itu meminta penjelasan lengkap tentang alasan-alasan bagi tindakan tersebut, namun jawaban Lapointe sama sekali tidak memuaskan banyak anggota Parlemen Kanada.

      Di belahan bumi lainnya, terjadi persekongkolan serupa oleh para pemimpin agama. Dalam arsip pemerintah Australia terdapat sepucuk surat dari uskup agung Katolik Roma di Sydney kepada Jaksa Agung W. M. Hughes yang mendesak agar Saksi-Saksi Yehuwa dinyatakan tidak sah. Surat tersebut ditulis pada tanggal 20 Agustus 1940, hanya lima bulan sebelum larangan diberlakukan. Sesudah meninjau kembali apa yang diduga menjadi dasar bagi larangan itu, Tn. Justice Williams dari Pengadilan Tinggi Australia belakangan berkata bahwa itu membawa ”dampak yaitu menjadikan pembelaan akan prinsip-prinsip dan doktrin-doktrin agama Kristen tidak sah dan setiap kebaktian gereja yang diselenggarakan oleh mereka yang percaya akan kelahiran Kristus suatu pertemuan yang tidak sah.” Pada tanggal 14 Juni 1943, Pengadilan memutuskan bahwa larangan itu tidak konsisten dengan hukum Australia.

      Di Swiss, sebuah surat kabar Katolik meminta agar kalangan berwenang menyita lektur Saksi-Saksi yang dianggap gereja menyakitkan hati. Mereka mengancam bahwa jika hal ini tidak dilakukan, mereka sendiri yang akan menjalankan hukum. Dan di banyak tempat di dunia, itulah yang mereka lakukan!

      Para Pemimpin Agama Menggunakan Kekerasan

      Para pemimpin agama Katolik di Prancis merasa bahwa mereka masih menguasai masyarakat dengan kuat, dan mereka bertekad agar tidak sesuatu pun menggugat monopoli tersebut. Selama tahun 1924-25, Siswa-Siswa Alkitab di banyak negeri menyebarkan risalah Ecclesiastics Indicted (Kependetaan Didakwa). Pada tahun 1925, J. F. Rutherford dijadwalkan untuk berkhotbah di Paris mengenai pokok ”Kepalsuan Kaum Pemimpin Agama Disingkapkan”. Mengenai apa yang terjadi pada perhimpunan itu, seorang saksi mata melaporkan, ”Ruangan penuh sesak. Saudara Rutherford tampil di panggung, dan ada sambutan tepuk tangan yang hangat. Ia mulai berbicara, ketika tiba-tiba kira-kira 50 imam dan anggota Aksi Katolik, dipersenjatai dengan tongkat, menyerbu ke dalam ruangan sambil menyanyikan La Marseillaise (lagu kebangsaan Prancis). Mereka melemparkan risalah-risalah dari tingkat atas. Seorang imam naik ke atas panggung. Dua pria muda mendorongnya kembali ke bawah. Tiga kali, Saudara Rutherford meninggalkan panggung dan kemudian kembali. Akhirnya ia pergi dan tidak kembali. . . . Meja-meja tempat lektur kita dipamerkan dijungkirbalikkan dan buku-buku kita terlempar ke mana-mana. Semua serba kacau!” Namun itu bukan satu-satunya insiden.

      Jack Corr, sewaktu sedang memberi kesaksian di Irlandia, sering kali merasakan kemarahan para pemimpin agama Katolik. Pada suatu kesempatan satu gerombolan, yang dihasut oleh imam paroki, menyeretnya dari tempat tidur pada tengah malam dan kemudian membakar semua lekturnya di alun-alun kota. Di Roscrea, di Kabupaten Tipperary, Victor Gurd dan Jim Corby tiba di tempat penginapan mereka dan mendapati bahwa para penentang telah mencuri lektur mereka, menyiramnya dengan bensin, dan membakarnya. Di sekeliling nyala api itu berdirilah polisi setempat, para pemimpin agama, dan anak-anak dari daerah itu, sambil menyanyi ”Iman Para Leluhur Kami”.

      Sebelum Saksi-Saksi Yehuwa bertemu di Madison Square Garden di New York pada tahun 1939, ancaman dilancarkan oleh para pengikut imam Katolik Charles Coughlin bahwa kebaktian itu akan dibubarkan. Polisi diberi tahu. Pada tanggal 25 Juni, Saudara Rutherford berkhotbah kepada 18.000 orang atau lebih di auditorium itu, dan juga kepada sejumlah besar pendengar radio di seluruh dunia, mengenai pokok ”Pemerintahan dan Perdamaian”. Sesudah ceramah itu mulai, 200 atau lebih orang Katolik Roma dan Nazi, yang dipimpin oleh beberapa imam Katolik, berkerumun di atas balkon. Pada waktu tanda terdengar, mereka memekik keras ”Heil Hitler!” dan ”Viva Franco!” Mereka menggunakan segala macam bahasa yang tidak senonoh dan mengancam serta menyerang banyak petugas tata tertib yang bertindak mengatasi gangguan itu. Gerombolan pengacau itu tidak berhasil membubarkan pertemuan. Saudara Rutherford terus berbicara dengan penuh kuasa dan tanpa gentar. Pada waktu kegaduhan memuncak, ia menyatakan, ”Perhatikan hari ini kaum Nazi dan Katolik yang ingin membubarkan pertemuan ini, tetapi karena kemurahan Allah mereka tidak dapat melakukannya.” Hadirin memberikan dukungan dengan acap kali memberikan tepuk tangan yang riuh. Gangguan itu menjadi bagian yang permanen dari rekaman suara yang dibuat pada peristiwa tersebut, dan itu telah didengar oleh orang-orang di banyak bagian dunia.

      Akan tetapi, bila mungkin, seperti pada zaman Inkwisisi, para pemimpin agama Katolik Roma memanfaatkan Negara untuk menekan siapa pun yang berani mempermasalahkan ajaran dan praktek gereja.

      Perlakuan Brutal Dalam Kamp Konsentrasi

      Pada diri Adolf Hitler kaum pemimpin agama mempunyai sekutu yang rela. Selama tahun 1933, tahun yang sama saat suatu konkordat antara Vatikan dan Jerman Nazi ditandatangani, Hitler melancarkan suatu kampanye untuk membasmi Saksi-Saksi Yehuwa di Jerman. Menjelang tahun 1935, mereka dilarang di seluruh negeri. Namun siapa yang menghasut semua ini?

      Seorang imam Katolik, dalam tulisannya di Der Deutsche Weg (sebuah surat kabar berbahasa Jerman yang terbit di Lodz, Polandia), dalam terbitannya tanggal 29 Mei 1938 mengatakan, ”Kini ada satu negara di bumi yang melarang . . . apa yang dinamakan Siswa-Siswa Alkitab [Saksi-Saksi Yehuwa]. Itulah Jerman! . . . Sewaktu Adolf Hitler mulai berkuasa, dan Episkopat Katolik Jerman mengulangi permintaan mereka, Hitler berkata, ’Apa yang dinamakan Siswa-Siswa Alkitab yang Sungguh-Sungguh [Saksi-Saksi Yehuwa] ini adalah pengacau-pengacau; . . . Saya menganggap mereka tukang obat; saya tidak mengizinkan orang-orang Katolik Jerman dinodai secara demikian oleh Rutherford si Hakim Amerika ini; saya membubarkan [Saksi-Saksi Yehuwa] di Jerman.’”—Cetak miring dari red.

      Apakah hanya Episkopat Katolik Jerman yang menginginkan tindakan demikian? Seperti dilaporkan dalam Oschatzer Gemeinnützige tanggal 21 April 1933, dalam suatu khotbah melalui radio pada tanggal 20 April, rohaniwan Luteran bernama Otto berbicara tentang ”kerja sama yang paling erat” di pihak Gereja Luteran Jerman dari Negara Bagian Saxony dengan para pemimpin politik negara itu, dan kemudian ia menyatakan, ”Hasil-hasil pertama dari kerja sama ini sudah dapat dilaporkan berupa larangan yang pada hari ini dikenakan kepada Perkumpulan Siswa-Siswa Alkitab Internasional yang Sungguh-Sungguh [Saksi-Saksi Yehuwa] dan subdivisi di Saxony.”

      Setelah itu, Negara Nazi itu melampiaskan salah satu penganiayaan yang paling biadab terhadap orang-orang Kristen dalam sejarah yang tercatat. Ribuan Saksi-Saksi Yehuwa—dari Jerman, Austria, Polandia, Cekoslowakia, Belanda, Prancis, dan negara-negara lain—dijebloskan ke dalam kamp-kamp konsentrasi. Di sini mereka mendapat perlakuan yang paling kejam dan sadis yang dapat dibayangkan. Bukan sesuatu yang luar biasa bila mereka dimaki-maki dan ditendang, kemudian dipaksa menekuk lutut, meloncat, merangkak selama berjam-jam terus-menerus, hingga mereka pingsan atau ambruk karena kelelahan, sementara para penjaga tertawa dengan gembira. Beberapa dipaksa untuk berdiri di halaman tanpa busana atau berpakaian tipis di tengah musim salju. Banyak yang dicambuk sampai pingsan dan punggung mereka berlumuran darah. Yang lain digunakan sebagai kelinci percobaan dalam eksperimen medis. Beberapa, dengan lengan diikat di belakang punggung, digantung pada pergelangan tangan mereka. Meskipun lemah akibat lapar dan tidak berpakaian secara memadai dalam cuaca beku, mereka dipaksa melakukan pekerjaan berat, selama berjam-jam, sering menggunakan tangan mereka sendiri sebagai sekop dan perkakas lain yang dibutuhkan. Dengan demikian pria maupun wanita diperlakukan sewenang-wenang. Usia mereka berkisar dari belasan hingga tujuh puluhan tahun. Para penyiksa mereka meneriakkan kata-kata tantangan terhadap Yehuwa.

      Dalam upaya mematahkan semangat Saksi-Saksi, komandan kamp di Sachsenhausen memerintahkan agar August Dickmann, seorang Saksi muda, dieksekusi di hadapan semua tahanan, dengan Saksi-Saksi Yehuwa di barisan depan agar merasakan dampak yang sesungguhnya. Sesudah itu, para tahanan lain dibubarkan, namun Saksi-Saksi Yehuwa harus tetap tinggal. Dengan lantang sang komandan bertanya kepada mereka, ’Siapa yang sekarang siap untuk menandatangani deklarasi?’—deklarasi yang mengingkari iman dan menyatakan kesediaan untuk menjadi tentara. Tidak ada seorang pun dari antara 400 lebih Saksi-Saksi memberi tanggapan. Kemudian dua orang melangkah ke depan! Bukan, bukan untuk menandatangani, melainkan untuk meminta agar tanda tangan mereka yang diberikan kira-kira setahun yang lalu dibatalkan.

      Dalam kamp Buchenwald, tekanan serupa dilancarkan. Opsir Nazi bernama Rödl memberi tahu Saksi-Saksi, ”Jika ada di antara kamu yang menolak untuk bertempur melawan Prancis atau Inggris, kamu semua harus mati!” Dua kompi SS yang bersenjata lengkap sedang menunggu di pos pintu gerbang. Tidak seorang pun di antara Saksi-Saksi yang menyerah. Perlakuan yang kasar menyusul, tetapi ancaman sang opsir tidak dijalankan. Namun setelah diketahui umum bahwa, seraya Saksi-Saksi dalam kamp melakukan hampir apa pun jenis pekerjaan yang ditugaskan, walaupun dihukum dengan kelaparan terus-menerus dan kerja lembur, mereka dengan tegas menolak untuk melakukan apa pun yang mendukung perang atau yang dimaksudkan untuk melawan sesama tahanan.

      Apa yang mereka alami sukar dilukiskan. Ratusan dari mereka meninggal. Sesudah mereka yang selamat dibebaskan dari kamp-kamp seusai perang, seorang Saksi pria dari Flanders menulis, ”Hanya keinginan yang tak tergoyahkan untuk hidup, berharap dan mengandalkan Dia, Yehuwa, yang adalah mahakuasa, dan kasih akan sang Teokrat, yang memungkinkan untuk tekun menahan semua ini dan meraih kemenangan.—Roma 8:37.”

      Orang-tua dipisahkan dari anak-anak mereka. Pasangan suami-istri dipisahkan, dan ada yang tidak pernah lagi saling mendengar berita. Tidak lama sesudah menikah, Martin Poetzinger ditangkap dan digiring ke kamp yang terkenal mengerikan di Dachau, kemudian ke Mauthausen. Istrinya, Gertrud, meringkuk di Ravensbrück. Mereka tidak bertemu satu sama lain selama sembilan tahun. Mengenang kembali pengalaman-pengalamannya di Mauthausen, ia belakangan menulis, ”Gestapo mencoba setiap metode untuk memaksa kami mengingkari iman kami kepada Yehuwa. Kelaparan, persahabatan palsu, kebrutalan, berdiri terentang berhari-hari, digantung di sebuah tonggak setinggi tiga meter dengan pergelangan tangan dipelintir di belakang punggung, didera—semua ini dan metode-metode lain yang terlalu hina untuk disebutkan telah diupayakan.” Namun ia tetap loyal kepada Yehuwa. Ia juga berada di antara mereka yang selamat, dan belakangan ia melayani sebagai anggota Badan Pimpinan Saksi-Saksi Yehuwa.

      Dipenjarakan Karena Iman Mereka

      Saksi-Saksi Yehuwa tidak berada dalam kamp-kamp konsentrasi karena mereka penjahat. Bila para opsir mencari seseorang untuk mencukur orang-orang ini, mereka mempercayakan seorang Saksi memegang pisau cukur, karena mereka tahu bahwa tidak ada Saksi yang akan pernah menggunakan alat demikian sebagai senjata untuk mencelakakan manusia lain. Ketika para opsir SS di kamp pembantaian Auschwitz membutuhkan seseorang untuk membersihkan rumah mereka atau mengurus anak-anak mereka, mereka memilih Saksi-Saksi, karena mereka tahu bahwa orang-orang ini tidak akan berusaha meracuni mereka atau berupaya melarikan diri. Ketika kamp Sachsenhausen dikosongkan sewaktu perang usai, para pengawal memarkir sebuah mobil station wagon yang berisi barang jarahan mereka di tengah-tengah rombongan Saksi-Saksi. Mengapa? Karena mereka tahu bahwa Saksi-Saksi tidak akan mencuri barang-barang mereka.

      Saksi-Saksi Yehuwa dipenjarakan karena iman mereka. Berulang kali mereka dijanjikan akan dibebaskan dari kamp-kamp hanya dengan syarat menandatangani suatu pernyataan yang menyangkal kepercayaan-kepercayaan mereka. Tentara SS berupaya mati-matian membujuk atau memaksa Saksi-Saksi agar mau menandatangani pernyataan demikian. Inilah yang mereka inginkan di atas segala-galanya.

      Semua kecuali beberapa orang di antara Saksi-Saksi membuktikan integritas mereka yang tak terpatahkan. Namun mereka lebih daripada sekadar menderita karena loyalitas mereka kepada Yehuwa dan pengabdian mereka kepada nama Kristus. Mereka berbuat lebih daripada sekadar menahan siksaan berat yang ditimpakan kepada mereka. Mereka mempertahankan ikatan persatuan rohani yang kuat.

      Semangat mereka bukanlah semangat untuk menyelamatkan diri dengan cara apa pun. Mereka menunjukkan kasih yang rela berkorban terhadap satu sama lain. Bila salah seorang di antara mereka menjadi lemah, yang lain membagikan jatah makanan mereka yang memang amat sedikit itu. Bila tidak tersedia perawatan medis sama sekali, mereka dengan pengasih mengurus satu sama lain.

      Meskipun semua upaya dikerahkan oleh para penganiaya untuk mencegahnya, namun bahan untuk pengajaran Alkitab tetap sampai ke tangan Saksi-Saksi—tersembunyi dalam paket-paket hadiah dari luar, melalui mulut-mulut para tahanan yang baru tiba, bahkan tersembunyi dalam kaki kayu seorang tahanan baru, atau dengan cara-cara lain sewaktu mereka melakukan tugas pekerjaan di luar kamp. Salinan-salinan disampaikan secara estafet; kadang-kadang diperbanyak secara sembunyi-sembunyi dengan mesin-mesin yang justru berada di kantor-kantor para pejabat kamp. Walaupun terancam bahaya besar, beberapa perhimpunan Kristen diadakan bahkan di dalam kamp-kamp.

      Saksi-Saksi terus mengabarkan bahwa Kerajaan Allah merupakan satu-satunya harapan bagi umat manusia—dan mereka melakukannya dalam kamp-kamp konsentrasi! Di Buchenwald, sebagai hasil kegiatan yang terorganisasi, ribuan penghuni kamp mendengar kabar baik. Di kamp Neuengamme, dekat Hamburg, suatu kampanye pemberian kesaksian yang intensif direncanakan secara cermat dan dilaksanakan pada awal tahun 1943. Kartu-kartu kesaksian disiapkan dalam berbagai bahasa yang digunakan dalam kamp. Upaya-upaya dilakukan untuk mencapai setiap tahanan. Penyelenggaraan dibuat untuk pengajaran Alkitab yang tetap tentu secara pribadi dengan orang-orang yang berminat. Saksi-Saksi begitu bergairah dalam pengabaran mereka sehingga beberapa tahanan politik mengeluh, ”Ke mana pun kalian pergi, yang kalian bicarakan hanyalah tentang Yehuwa!” Ketika perintah datang dari Berlin untuk memencarkan Saksi-Saksi ke antara tahanan-tahanan lain dengan maksud melemahkan mereka, ini justru memungkinkan mereka untuk memberi kesaksian kepada lebih banyak orang.

      Mengenai 500 atau lebih Saksi-Saksi wanita yang setia di Ravensbrück, seorang kemenakan perempuan dari Jenderal Charles de Gaulle dari Prancis menulis sesudah ia sendiri dibebaskan, ”Saya betul-betul kagum kepada mereka. Mereka berasal dari berbagai kebangsaan: Jerman, Polandia, Rusia dan Ceko, dan telah bertekun menghadapi penderitaan yang sangat hebat demi kepercayaan mereka. . . . Mereka semua menunjukkan keberanian yang sangat besar dan sikap mereka pada akhirnya membangkitkan bahkan respek pasukan SS. Mereka sebenarnya dapat segera dibebaskan jika mereka menyangkal iman mereka. Namun, sebaliknya, mereka tidak menghentikan pertahanan, bahkan berhasil memasukkan buku-buku dan risalah-risalah ke dalam kamp.”

      Seperti Yesus Kristus, mereka membuktikan diri telah mengalahkan dunia yang berupaya menjadikan mereka serupa dengan karakternya yang bersifat setan. (Yoh. 16:33) Christine King, dalam buku New Religious Movements, A Perspective for Understanding Society, berkata tentang mereka, ”Saksi-Saksi Yehuwa mengajukan tantangan kepada konsep totaliter masyarakat baru, dan tantangan ini, maupun kegigihannya untuk bertahan, secara demonstratif mengganggu para arsitek tatanan baru itu. . . . Metode-metode yang sudah lama dipraktekkan berupa penganiayaan, penyiksaan, pemenjaraan dan ejekan tidaklah menghasilkan pertobatan seorang pun di antara Saksi-Saksi kepada pendirian Nazi dan pada kenyataannya menghasilkan serangan balik terhadap para penghasut mereka. . . . Di antara dua penuntun yang bersaing ini yang ingin memenangkan loyalitas, pertarungannya sengit, bahkan lebih, karena Nazi yang secara fisik lebih kuat dalam banyak hal kurang yakin, kurang berakar pada ketegasan dari keyakinan mereka sendiri, kurang pasti akan kemampuan bertahan dari Pemerintahan 1.000 tahun mereka. Saksi-Saksi tidak meragukan fondasi mereka sendiri, sebab iman mereka telah nyata sejak zaman Habel. Sementara Nazi harus membungkam oposisi dan meyakinkan para pendukung mereka, sering meminjam bahasa dan perumpamaan dari sekte kekristenan yang fanatik, Saksi-Saksi yakin mengenai loyalitas total dan tidak terpatahkan dari para anggota mereka, bahkan sampai mati.”—Diterbitkan pada tahun 1982.

      Pada akhir perang, lebih dari seribu Saksi selamat keluar dari kamp-kamp, dengan iman mereka tetap utuh dan kasih mereka seorang terhadap yang lain tetap kuat. Seraya tentara-tentara Rusia kian mendekat, para pengawal cepat mengosongkan Sachsenhausen. Mereka mengelompokkan para tahanan menurut kebangsaan. Namun Saksi-Saksi Yehuwa tetap tinggal bersama sebagai satu kelompok—230 orang di antara mereka di kamp ini. Karena pasukan Rusia berada dekat di belakang mereka, para pengawal menjadi gempar. Tidak ada makanan, dan para tahanan dalam keadaan lemah; namun, siapa pun yang tertinggal di belakang atau ambruk karena kepayahan ditembak mati. Ribuan orang yang berada dalam keadaan demikian berserakan di sepanjang jalan yang dilalui barisan. Namun Saksi-Saksi saling membantu sehingga bahkan yang paling lemah pun tidak ada yang tergeletak di jalan! Padahal beberapa berusia antara 65 dan 72 tahun. Di sepanjang jalan tahanan-tahanan lain berusaha untuk mencuri makanan, dan banyak yang ditembak ketika sedang melakukannya. Sebaliknya, Saksi-Saksi Yehuwa memanfaatkan kesempatan untuk menceritakan kepada orang-orang di sepanjang rute pengungsian tentang maksud-tujuan Yehuwa yang pengasih, dan beberapa di antara orang-orang ini, karena bersyukur atas berita yang menyejukkan hati, memberikan makanan kepada mereka dan saudara-saudara Kristen mereka.

      Para Pemimpin Agama Terus Berupaya Melawan

      Setelah Perang Dunia II, para pemimpin agama di bagian timur Cekoslowakia terus menghasut agar Saksi-Saksi Yehuwa dianiaya. Selama masa Nazi berkuasa, Saksi-Saksi dituduh Komunis; sekarang mereka menyatakan bahwa Saksi-Saksi melawan pemerintah Komunis. Kadang-kadang, bila Saksi-Saksi Yehuwa mengadakan kunjungan ke rumah orang-orang, para imam mendesak guru-guru untuk membiarkan ratusan anak ke luar sekolah untuk melempari Saksi-Saksi dengan batu.

      Sama halnya, di Santa Ana, El Salvador, para imam Katolik melancarkan hasutan terhadap Saksi-Saksi pada tahun 1947. Ketika saudara-saudara sedang mengadakan Pelajaran Watchtower mingguan mereka, anak-anak lelaki melemparkan batu-batu melalui pintu yang terbuka. Lalu datanglah arak-arakan yang dipimpin oleh imam-imam. Beberapa membawa obor; yang lain membawa patung. ”Hidup Sang Perawan!” seru mereka. ”Semoga Yehuwa mati!” Selama kurang lebih dua jam gedung itu dilempari batu.

      Pada pertengahan tahun 1940-an, Saksi-Saksi Yehuwa di Quebec, Kanada, juga menjadi sasaran perlakuan kejam yang mengerikan di tangan gerombolan Katolik dan juga para pejabat. Utusan-utusan dari istana uskup setiap hari berkunjung ke kepolisian untuk meminta agar polisi mengenyahkan Saksi-Saksi. Sering kali, sebelum penangkapan dilakukan, polisi tampak muncul dari pintu belakang gereja. Pada tahun 1949, utusan-utusan injil dari Saksi-Saksi Yehuwa dihalau ke luar dari Joliette, Quebec, oleh gerombolan Katolik.

      Namun tidak semua orang di Quebec setuju dengan apa yang sedang dilakukan. Dewasa ini, ada sebuah Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa yang indah di salah satu jalan raya utama di Joliette. Bekas seminari di situ telah ditutup, dibeli oleh pemerintah, dan diubah menjadi sebuah perguruan tinggi untuk lingkungan masyarakat setempat. Dan di Montreal, Saksi-Saksi Yehuwa telah mengadakan kebaktian internasional yang besar, dengan hadirin sebanyak 80.008 pada tahun 1978.

      Meskipun demikian, Gereja Katolik telah menggunakan setiap cara yang ada untuk mempertahankan pengawasan yang ketat atas orang-orang. Dengan menekan para pejabat pemerintah, mereka mengatur agar para utusan injil Saksi diperintahkan untuk meninggalkan Italia pada tahun 1949 dan bahwa, bila mungkin, surat izin yang telah diperoleh Saksi-Saksi untuk mengadakan kebaktian-kebaktian di sana dibatalkan selama tahun 1950-an. Meskipun demikian, jumlah Saksi-Saksi Yehuwa terus bertambah, dan menjelang tahun 1992 ada lebih dari 190.000 penginjil Saksi di Italia.

      Sebagaimana halnya pada masa Inkwisisi, para pemimpin agama di Spanyol mengajukan pengaduan dan kemudian membiarkan Negara melakukan pekerjaan kotornya. Misalnya, di Barcelona, tempat uskup agung melancarkan suatu perang salib terhadap Saksi-Saksi pada tahun 1954, para pemimpin agama menggunakan mimbar mereka maupun sekolah-sekolah dan radio untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa bila Saksi-Saksi mengunjungi mereka, mereka hendaknya mengundang Saksi-Saksi itu masuk—dan kemudian segera memanggil polisi.

      Para imam khawatir jika masyarakat Spanyol belajar Alkitab dan mungkin bahkan memperlihatkan kepada orang lain apa yang telah mereka lihat. Ketika Manuel Mula Giménez dipenjarakan di Granada pada tahun 1960 karena ”kejahatan” yakni mengajar orang lain tentang Alkitab, rohaniwan penjara (seorang imam Katolik) menyuruh agar satu-satunya Alkitab yang ada dalam perpustakaan penjara itu disingkirkan. Dan ketika seorang tahanan lain meminjamkan kepada Manuel sebuah Kitab Injil, Kitab ini dirampas dari tangannya. Namun dewasa ini Alkitab telah mencapai masyarakat umum di Spanyol, mereka telah mendapat kesempatan untuk melihat sendiri isinya, dan menjelang tahun 1992, ada lebih dari 90.000 orang yang telah berpihak kepada ibadat Yehuwa sebagai Saksi-Saksi-Nya.

      Di Republik Dominika, para pemimpin agama bekerja sama dengan Diktator Trujillo, dan menggunakan dia untuk mencapai tujuan mereka bahkan seolah-olah ia telah menggunakan mereka demi kepentingannya sendiri. Pada tahun 1950, sesudah artikel-artikel surat kabar yang ditulis oleh imam-imam mengecam Saksi-Saksi Yehuwa, pengawas cabang dari Lembaga Menara Pengawal dipanggil menghadap oleh Menteri Dalam Negeri dan Kepolisian. Seraya ia menunggu di luar kantor, pengawas cabang itu melihat dua orang imam Jesuit masuk dan kemudian pergi. Segera sesudah itu, ia dipanggil masuk ke dalam kantor Menteri, dan sang Menteri dengan gugup membacakan surat keputusan yang melarang kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa. Sesudah larangan itu dicabut untuk waktu yang singkat pada tahun 1956, para pemimpin agama menggunakan baik radio maupun pers untuk kembali memfitnah Saksi-Saksi. Sidang-sidang jemaat secara keseluruhan ditangkap dan diperintahkan untuk menandatangani sebuah pernyataan yang mengingkari iman mereka dan berjanji untuk kembali ke Gereja Katolik Roma. Ketika Saksi-Saksi menolak, mereka dipukul, ditendang, dicambuk, dan wajah mereka dihajar dengan gagang senapan. Namun mereka tetap teguh, dan jumlah mereka bertambah.

      Di Sucre, Bolivia, terjadi lebih banyak kekerasan. Ketika berlangsung suatu kebaktian Saksi-Saksi Yehuwa pada tahun 1955, segerombolan anak Sekolah Katolik Hati Kudus mengepung tempat kebaktian, meneriakkan yel-yel, dan melemparkan batu. Dari gedung gereja di seberang jalan, sebuah pengeras suara yang kuat mendesak semua orang Katolik untuk membela gereja dan ”Sang Perawan” terhadap ”orang-orang Protestan yang murtad”. Uskup dan para imam secara pribadi berupaya mengacaukan perhimpunan namun diperintahkan ke luar dari gedung oleh polisi.

      Tahun sebelumnya, ketika Saksi-Saksi Yehuwa mengadakan suatu kebaktian di Riobamba, Ekuador, acara mereka menonjolkan sebuah khotbah umum berjudul ”Kasih, Praktiskah Dalam Suatu Dunia yang Mementingkan Diri?” Namun seorang imam Jesuit telah menghasut umat Katolik, dan mendesak mereka untuk menghalangi perhimpunan tersebut. Maka, seraya khotbah itu berlangsung, terdengarlah segerombolan orang berteriak, ”Hidup Gereja Katolik!” dan, ”Ganyang Orang-Orang Protestan!” Polisi patut dipuji karena menahan mereka, dengan pedang terhunus. Namun gerombolan itu menghujani tempat perhimpunan dengan batu dan, kemudian, gedung tempat tinggal para utusan injil.

      Para pemimpin agama Katolik Roma berada dalam barisan depan dari penganiayaan tersebut, namun bukan mereka saja. Para pemimpin agama Ortodoks Yunani sama ganasnya dan menggunakan taktik-taktik yang sama, di daerah-daerah kekuasaan mereka yang lebih terbatas. Selain itu, di tempat-tempat yang mereka anggap mereka dapat melakukannya, banyak di antara para pemimpin agama Protestan telah memperlihatkan semangat yang serupa. Misalnya, di Indonesia mereka telah memimpin gerombolan-gerombolan yang membubarkan pengajaran-pengajaran Alkitab di rumah-rumah pribadi dan yang dengan ganas memukul Saksi-Saksi Yehuwa yang hadir di sana. Di beberapa negara Afrika, mereka telah berupaya mempengaruhi para pejabat agar mengusir Saksi-Saksi Yehuwa ke luar negeri atau agar mencabut kebebasan mereka untuk berbicara tentang Firman Allah kepada orang lain. Meskipun mereka tidak sependapat mengenai hal-hal lain, para pemimpin agama Katolik dan Protestan secara keseluruhan seia sekata berkenaan perlawanan mereka terhadap Saksi-Saksi Yehuwa. Kadang-kadang mereka bahkan bergabung dalam upaya mereka untuk mempengaruhi pejabat-pejabat pemerintah agar menghentikan kegiatan Saksi-Saksi. Di tempat-tempat yang didominasi oleh agama-agama non-Kristen, mereka juga sering memanfaatkan pemerintah untuk mengisolasi umat mereka dari setiap kesempatan yang terbuka bagi ajaran-ajaran yang dapat menyebabkan mereka mempertanyakan agama yang telah mereka anut sejak lahir.

      Kadang kala, kelompok-kelompok non-Kristen ini telah menggalang kekuatan dengan mereka yang mengaku Kristen dalam rencana licik untuk mempertahankan status quo agama. Di Dekin, di Dahomey (kini Benin), seorang dukun dan seorang imam Katolik berkomplot bersama untuk meminta para pejabat memberangus kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa pada awal tahun 1950-an. Karena penasaran mereka merekayasa berbagai tuduhan yang diperhitungkan dapat membangkitkan segala macam perasaan bermusuhan. Mereka menuduh Saksi-Saksi mendesak masyarakat agar memberontak terhadap pemerintah, tidak membayar pajak, menjadi penyebab mengapa juju (jimat orang Afrika) tidak mendatangkan hujan, dan bertanggung jawab atas ketidakefektifan doa-doa dari sang dukun. Semua pemimpin agama itu takut kalau penganutnya belajar hal-hal yang akan membebaskan mereka dari kepercayaan takhayul dan dari hidup dalam kepatuhan yang membabi buta.

      Akan tetapi, lama-kelamaan pengaruh para pemimpin agama telah menyusut di banyak tempat. Para pemimpin agama kini mendapati bahwa polisi tidak selalu berada di belakang mereka bila mereka mengganggu Saksi-Saksi. Ketika seorang imam Ortodoks Yunani berupaya membubarkan suatu kebaktian Saksi-Saksi Yehuwa dengan kekerasan massa di Larissa, Yunani, pada tahun 1986, jaksa wilayah bersama sepasukan besar polisi turun tangan untuk membela Saksi-Saksi. Dan kadang kala pers cukup blak-blakan dalam mengecam tindakan-tindakan agama yang tidak toleran.

      Meskipun demikian, di banyak bagian dunia, sengketa-sengketa lain telah mendatangkan gelombang-gelombang penganiayaan. Salah satu dari sengketa-sengketa ini menyangkut sikap Saksi-Saksi Yehuwa terhadap lambang-lambang nasional.

      Karena Mereka Hanya Menyembah Yehuwa

      Pada zaman modern di Jerman Nazi inilah Saksi-Saksi Yehuwa pertama kali secara mencolok dihadapkan kepada sengketa-sengketa yang menyangkut upacara nasionalistis. Hitler berupaya mendisiplin bangsa Jerman dengan mewajibkan untuk mengangkat tangan ala Nazi ”Heil Hitler!”. Sebagaimana dilaporkan oleh wartawan Swedia dan penyiar BBC Björn Hallström, ketika Saksi-Saksi Yehuwa di Jerman ditangkap selama era Nazi, tuduhan-tuduhan terhadap mereka biasanya mencakup ”penolakan untuk memberi salut kepada bendera dan mengangkat tangan ala Nazi”. Segera negara-negara lain mulai menuntut agar setiap orang memberi salut kepada bendera mereka. Saksi-Saksi Yehuwa menolak—bukan karena tidak loyal melainkan karena alasan yang menyangkut hati nurani Kristen. Mereka menaruh respek kepada bendera namun menganggap salut kepada bendera sebagai tindakan ibadat.f

      Sesudah kurang lebih 1.200 Saksi dipenjarakan di Jerman pada awal era Nazi karena menolak untuk mengangkat tangan ala Nazi dan untuk melanggar kenetralan Kristen mereka, ribuan secara fisik diperlakukan dengan kejam di Amerika Serikat karena mereka tidak mau memberi salut kepada bendera Amerika. Selama pekan 4 November 1935, sejumlah anak sekolah di Canonsburg, Pennsylvania, digiring ke ruang ketel uap sekolah dan dicambuk karena menolak memberi salut. Grace Estep, seorang guru, dicopot dari kedudukannya di sekolah tersebut karena alasan yang sama. Pada tanggal 6 November, William dan Lillian Gobitas menolak untuk memberi salut kepada bendera dan dikeluarkan dari sekolah di Minersville, Pennsylvania. Ayah mereka menggugat ke pengadilan agar anak-anaknya diterima kembali. Baik pengadilan distrik federal maupun pengadilan banding tingkat wilayah mengambil keputusan dalam kasus itu dengan memenangkan Saksi-Saksi Yehuwa. Akan tetapi, pada tahun 1940, karena negara berada di ambang perang, Mahkamah Agung AS, dalam kasus Minersville School District v. Gobitis, dengan keputusan 8 lawan 1, menegaskan wajib salut kepada bendera di sekolah-sekolah negeri. Ini mengakibatkan pecahnya tindak kekerasan di seluruh negeri itu terhadap Saksi-Saksi Yehuwa.

      Ada begitu banyak serangan yang disertai kekerasan atas Saksi-Saksi Yehuwa sehingga Ny. Eleanor Roosevelt (istri Presiden F. D. Roosevelt) mengimbau masyarakat agar menghentikannya. Pada tanggal 16 Juni 1940, pembantu jaksa agung AS, Francis Biddle, dalam sebuah siaran radio dari pantai ke pantai, menyebut secara spesifik kekejaman-kekejaman yang dilakukan terhadap Saksi-Saksi dan mengatakan bahwa hal-hal ini tidak akan ditoleransi. Namun ini tidak menghentikan arus tindakan kekejaman.

      Dalam setiap kesempatan yang memungkinkan—di jalan-jalan, di tempat-tempat bekerja, ketika Saksi-Saksi mengunjungi rumah-rumah dalam pelayanan mereka—bendera disodorkan ke hadapan mereka, dengan permintaan agar mereka memberi salut kepadanya—kalau tidak diri mereka terancam! Pada akhir tahun 1940, Yearbook of Jehovah’s Witnesses melaporkan, ”Hierarki dan Legiun Amerika, melalui gerombolan-gerombolan yang main hakim sendiri, dengan penuh kekerasan menyebabkan kerusakan yang tak terlukiskan. Saksi-Saksi Yehuwa telah diserang, dipukuli, diculik, dihalau ke luar dari kota, kabupaten dan negara bagian, dilumuri ter dan ditempeli bulu-bulu, dipaksa untuk minum kastroli (obat pencahar), diikat bersama dan dikejar di sepanjang jalan bagaikan hewan dungu, dikebiri dan dibuat cacat, diejek dan dihina oleh massa yang kerasukan, dipenjarakan dalam jumlah ratusan tanpa tuduhan dan ditahan dengan larangan untuk berhubungan dengan orang lain dan juga tidak boleh menggunakan hak untuk berunding dengan sanak-saudara, teman atau pengacara. Ratusan lainnya telah dipenjarakan dan ditahan untuk apa yang disebut alasan keamanan pribadi, ada yang ditembak pada malam hari; beberapa diancam akan digantung dan dipukuli hingga pingsan. Banyak jenis pengeroyokan telah terjadi. Banyak yang pakaiannya dikoyak-koyak, Alkitab mereka dan lektur lain dirampas dan dibakar di muka umum; mobil, trailer, rumah dan tempat kebaktian diobrak-abrik dan dibakar . . . Dalam banyak kejadian yang memungkinkan diadakannya pengadilan dalam lingkungan masyarakat yang dikuasai oleh gerombolan, para pengacara maupun saksi-saksi yang tampil telah dikeroyok dan dipukuli pada waktu mereka hadir di pengadilan. Dalam hampir setiap kasus yang menyangkut pengeroyokan, para pejabat pemerintah tidak berbuat apa-apa dan menolak untuk memberikan perlindungan, dan dalam puluhan kejadian para penegak hukum ikut serta dalam gerombolan dan kadang-kadang benar-benar memimpin gerombolan.” Sejak tahun 1940 hingga 1944, lebih dari 2.500 serangan berupa pengeroyokan menimpa Saksi-Saksi Yehuwa di Amerika Serikat.

      Karena dikeluarkannya anak-anak Saksi-Saksi Yehuwa dari sekolah secara besar-besaran, untuk beberapa waktu selama akhir tahun 1930-an dan awal tahun 1940-an mereka perlu mengelola sekolah-sekolah mereka sendiri di Amerika Serikat dan Kanada agar dapat menyediakan pendidikan bagi anak-anak mereka. Ini dinamakan Sekolah-Sekolah Kerajaan.

      Negara-negara lain juga telah menganiaya Saksi-Saksi dengan hebat karena mereka tidak mau memberi salut atau mencium emblem-emblem nasional. Pada tahun 1959, anak-anak Saksi-Saksi Yehuwa di Kosta Rika yang tidak ingin terlibat dalam apa yang dilukiskan oleh hukum sebagai ’ibadat kepada Lambang-Lambang Nasional’ dilarang masuk sekolah. Perlakuan serupa ditimpakan kepada anak-anak Saksi di Paraguay pada tahun 1984. Mahkamah Agung Filipina memutuskan pada tahun 1959 bahwa, walaupun adanya keberatan-keberatan agama, anak-anak dari Saksi-Saksi Yehuwa dapat diwajibkan untuk memberi salut kepada bendera. Meskipun demikian, kalangan berwenang sekolah yang ada di sana, dalam sebagian besar kasus, bekerja sama dengan Saksi-Saksi sehingga anak-anak mereka dapat bersekolah tanpa melanggar hati nurani mereka. Pada tahun 1963, para pejabat di Liberia, Afrika Barat, menuduh Saksi-Saksi bersikap tidak loyal kepada Negara; mereka secara paksa membubarkan sebuah kebaktian yang diselenggarakan oleh Saksi-Saksi di Gbarnga dan menuntut agar setiap orang yang hadir—orang Liberia maupun orang asing—menyatakan sumpah setia kepada bendera nasional. Pada tahun 1976 sebuah laporan berjudul ”Saksi-Saksi Yehuwa di Kuba” menyatakan bahwa selama dua tahun sebelumnya, seribu orang-tua, pria maupun wanita, telah dijebloskan ke penjara karena anak-anak mereka tidak memberi salut kepada bendera.

      Tidak setiap orang setuju dengan tindakan-tindakan represif demikian terhadap orang-orang yang, karena alasan hati nurani, dengan penuh respek tidak ambil bagian dalam upacara-upacara patriotik. The Open Forum, yang diterbitkan oleh Cabang dari Perserikatan Kemerdekaan Sipil Amerika di Kalifornia Selatan, menyatakan pada tahun 1941, ”Sudah waktunya kita mulai insaf mengenai masalah salut kepada bendera ini. Saksi-Saksi Yehuwa bukanlah orang-orang Amerika yang tidak loyal. . . . Mereka cenderung untuk tidak melanggar hukum pada umumnya, melainkan menempuh kehidupan yang sopan dan tertib, ikut menyumbang kepada kebaikan umum.” Pada tahun 1976 seorang kolumnis surat kabar di Argentina, dalam Herald Buenos Aires, dengan terus terang mengamati bahwa ”kepercayaan-kepercayaan itu hanya menyakitkan hati bagi mereka yang berpikir bahwa patriotisme terutama merupakan soal melambai-lambaikan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan, bukan soal hati.” Ia menambahkan, ”Hitler dan Stalin menganggap [Saksi-Saksi] tidak dapat dilumatkan, dan memperlakukan mereka dengan buruk sekali. Banyak diktator lain yang mendambakan kepatuhan dari mereka telah berupaya menindas mereka. Dan gagal.”

      Sudah dikenal luas bahwa beberapa kelompok agama telah mendukung kekerasan bersenjata melawan pemerintahan yang tidak mereka setujui. Namun di mana pun di bumi tidak ada Saksi-Saksi Yehuwa yang pernah terlibat dalam subversi politik. Hal itu bukan karena mereka tidak loyal—karena mendukung pemerintahan manusia lain—sehingga mereka menolak untuk memberi salut kepada suatu emblem nasional. Mereka mengambil pendirian yang sama di setiap negara tempat mereka tinggal. Sikap mereka bukanlah karena tidak respek. Mereka tidak bersiul atau berteriak mengganggu upacara patriotik; mereka tidak meludahi bendera, menginjaknya, atau membakarnya. Mereka bukan anti-pemerintah. Sikap mereka didasarkan atas ucapan Yesus sendiri, sebagaimana tercatat di Matius 4:10, ”Engkau harus menyembah Tuhan [”Yehuwa”, NW], Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”

      Pendirian yang diambil oleh Saksi-Saksi Yehuwa sama seperti yang diambil oleh umat Kristen masa awal di zaman Kekaisaran Romawi. Mengenai umat Kristen masa awal tersebut, buku Essentials of Bible History menyatakan, ”Tindakan ibadat kaisar terdiri dari menaburkan sedikit kemenyan atau memercikkan beberapa tetes anggur ke atas sebuah mezbah yang terletak di depan sebuah patung kaisar. Mungkin karena kita berada jauh dari situasi ini maka kita melihat tindakan itu tidak berbeda dengan . . . mengangkat tangan sebagai salut kepada bendera atau kepada penguasa negara yang terhormat, suatu pernyataan hormat, respek, dan patriotisme. Mungkin cukup banyak orang pada abad pertama merasa demikian namun tidak demikian halnya umat Kristen. Mereka memandang seluruh masalah itu sebagai masalah ibadat agama, yakni mengakui kaisar sebagai suatu ilah dan karena itu menjadi tidak loyal kepada Allah dan Kristus, dan mereka menolak untuk melakukannya.”—Elmer W. K. Mould, tahun 1951, hlm. 563.

      Dibenci Karena ”Bukan Bagian dari Dunia”

      Karena Yesus berkata bahwa murid-muridnya ”bukan bagian dari dunia”, maka Saksi-Saksi Yehuwa tidak ambil bagian dalam urusan-urusan politiknya. (Yoh. 17:16, NW; 6:15, NW) Dalam hal ini pula, mereka sama seperti umat Kristen masa awal, yang mengenainya para sejarawan berkata,

      ”Kekristenan masa awal kurang dipahami dan dipandang dengan perasaan kurang senang oleh mereka yang memerintah dunia kafir. . . . Umat Kristen menolak ambil bagian dalam tugas-tugas tertentu dari para warga negara Romawi. . . . Mereka tidak akan memegang jabatan politik.” (On the Road to Civilization—A World History, A. K. Heckel dan J. G. Sigman, tahun 1937, hlm. 237-8) ”Mereka menolak ambil bagian yang aktif dalam administrasi sipil atau pertahanan militer dari kekaisaran. . . . Adalah mustahil bahwa umat Kristen, tanpa mengingkari suatu tugas yang lebih suci, dapat menempati kedudukan sebagai prajurit, pejabat, atau pangeran.”—History of Christianity, Edward Gibbon, tahun 1891, hlm. 162-3.

      Pendirian ini tidak dipandang baik oleh dunia, teristimewa di negeri-negeri yang penguasanya menuntut agar setiap orang berpartisipasi dalam kegiatan tertentu sebagai bukti dukungan kepada sistem politik. Hasilnya adalah seperti yang dinyatakan oleh Yesus, ”Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan [bagian, NW] dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.”—Yoh. 15:19.

      Di beberapa negeri, memberi suara dalam pemilihan umum politik dianggap wajib. Yang tidak ikut memberi suara diancam dengan hukuman denda, penjara, atau lebih buruk lagi. Namun Saksi-Saksi Yehuwa mendukung Kerajaan Mesias Allah, yang, sebagaimana dikatakan Yesus, ”bukan bagian dari dunia ini”. Oleh sebab itu, mereka tidak berpartisipasi dalam urusan-urusan politik dari bangsa-bangsa di dunia ini. (Yoh. 18:36, NW) Keputusan ini bersifat pribadi; mereka tidak memaksakan pandangan mereka atas orang-orang lain. Di tempat tidak ada toleransi agama, karena Saksi-Saksi tidak mau berpartisipasi; pejabat-pejabat pemerintah telah menggunakan hal ini sebagai dalih untuk menganiaya mereka secara keji. Selama era Nazi, misalnya, hal ini dilakukan di negeri-negeri yang berada di bawah kendali mereka. Hal itu juga telah dilakukan di Kuba. Akan tetapi, para pejabat di banyak negeri telah bersikap lebih toleran.

      Namun, di beberapa tempat mereka yang berkuasa telah menuntut agar setiap orang menyatakan dukungan kepada partai politik yang berkuasa dengan memekikkan slogan-slogan tertentu. Karena sesuai dengan hati nurani mereka tidak dapat melakukannya, ribuan Saksi-Saksi Yehuwa di Afrika bagian timur dipukuli, nafkah mereka dirampas, dan mereka diusir dari rumah-rumah mereka selama tahun 1970-an dan 1980-an. Namun Saksi-Saksi Yehuwa di semua negeri, meskipun mereka rajin dan patuh kepada hukum, adalah orang-orang Kristen yang netral sehubungan dengan sengketa-sengketa politik.

      Di Malawi, hanya terdapat satu partai politik, dan memiliki kartu partai membuktikan keanggotaan. Walaupun Saksi-Saksi merupakan teladan dalam hal membayar pajak, selaras dengan kepercayaan agama mereka, mereka tidak mau membeli kartu partai politik. Berbuat demikian akan sama dengan mengingkari iman mereka kepada Kerajaan Allah. Karena hal ini, pada akhir tahun 1967, dengan anjuran dari para pejabat pemerintah, geng-geng orang muda di seluruh Malawi melancarkan serangan habis-habisan terhadap Saksi-Saksi Yehuwa yang tidak ada taranya dalam hal kecabulan dan kekejamannya yang sadis. Lebih dari seribu wanita Kristen yang saleh diperkosa. Pakaian beberapa orang dilucuti hingga telanjang di hadapan gerombolan-gerombolan besar, dipukuli dengan tongkat dan kepalan tinju, dan kemudian diserang secara seksual oleh orang-orang secara bergiliran. Kaki dari para pria ditembusi paku dan ruji-ruji roda sepeda, dan kemudian mereka diperintahkan untuk lari. Di seluruh negeri itu rumah, perabotan, pakaian, dan persediaan makanan mereka dihancurkan.

      Kembali, pada tahun 1972, ledakan kebrutalan demikian yang diperbarui terjadi setelah sidang tahunan dari Partai Kongres Malawi. Dalam sidang tersebut dengan resmi diputuskan agar Saksi-Saksi Yehuwa dicabut dari segala pekerjaan duniawi dan mengusir mereka dari rumah mereka. Bahkan imbauan para majikan untuk mempertahankan pekerja-pekerja yang terpercaya ini sia-sia. Tempat tinggal, panen, dan binatang piaraan disita atau dimusnahkan. Saksi-Saksi dicegah untuk mengambil air dari sumur desa. Banyak yang dipukuli, diperkosa, dibuat cacat, atau dibunuh. Sepanjang waktu mereka dicemooh dan diejek karena iman mereka. Lebih dari 34.000 orang akhirnya lari ke luar negeri untuk menghindarkan diri agar tidak dibunuh.

      Namun itu semua belum cukup. Mula-mula dari satu negara dan kemudian dari negara lain, mereka dipaksa pulang kembali melintasi perbatasan ke tangan penganiaya mereka, sehingga mengalami lebih banyak kekejaman. Namun, meskipun mengalami semua itu, mereka tidak berkompromi, dan mereka tidak meninggalkan iman mereka kepada Allah Yehuwa. Mereka terbukti seperti hamba-hamba Allah yang setia yang mengenainya Alkitab berkata, ”Ada pula yang diejek dan didera, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan. Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan. Dunia ini tidak layak bagi mereka.”—Ibr. 11:36-38.

      Dianiaya di Semua Negeri

      Apakah relatif hanya beberapa negeri di dunia yang telah mengkhianati pengakuan mereka terhadap kebebasan dengan penganiayaan agama demikian? Sama sekali tidak! Yesus Kristus memperingatkan para pengikutnya, ”Kamu akan menjadi sasaran kebencian oleh semua bangsa oleh karena namaKu.”—Mat. 24:9, NW.

      Selama hari-hari terakhir dari sistem perkara ini, sejak tahun 1914, kebencian itu khususnya telah menghebat. Kanada dan Amerika Serikat memulai serangan itu dengan mengenakan larangan atas lektur Alkitab selama perang dunia pertama, dan segera diikuti oleh India, dan Nyasaland (kini bernama Malawi). Selama tahun 1920-an, pembatasan yang sewenang-wenang dikenakan atas Siswa-Siswa Alkitab di Yunani, Hongaria, Italia, Romania, dan Spanyol. Di beberapa tempat ini, penyebaran lektur Alkitab dilarang; kadang-kadang, bahkan pertemuan-pertemuan pribadi dilarang. Lebih banyak negara bergabung dalam serangan itu selama tahun 1930-an, sewaktu larangan-larangan (beberapa atas diri Saksi-Saksi Yehuwa, yang lain atas lektur mereka) dikenakan di Albania, Austria, Bulgaria, Estonia, Latvia, Lituania, Polandia, wilayah-wilayah tertentu di Swiss, negara yang pada waktu itu disebut Yugoslavia, Pantai Emas (kini Ghana), wilayah-wilayah Prancis di Afrika, Trinidad, dan Fiji.

      Selama Perang Dunia II, ada larangan atas Saksi-Saksi Yehuwa, pelayanan umum mereka, dan lektur Alkitab mereka di banyak bagian dunia. Ini terjadi bukan hanya di Jerman, Italia, dan Jepang—semuanya berada di bawah pemerintahan diktator—melainkan juga di banyak negeri yang secara langsung atau tidak langsung berada di bawah kekuasaan mereka sebelum atau selama perang tersebut. Termasuk di antaranya adalah Albania, Austria, Belanda, Belgia, Cekoslowakia, Hindia Timur Belanda (kini Indonesia), Korea, dan Norwegia. Selama tahun-tahun perang tersebut, Argentina, Brasil, Finlandia, Hongaria, dan Prancis semuanya mengeluarkan keputusan resmi menentang Saksi-Saksi Yehuwa atau kegiatan mereka.

      Inggris tidak secara langsung melarang kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa selama perang, tetapi Inggris mendeportasi pengawas cabang Lembaga Menara Pengawal kelahiran Amerika dan berupaya menghambat kegiatan Saksi-Saksi dengan suatu embargo selama masa perang atas pengiriman lektur Alkitab mereka. Di seluruh Kerajaan Inggris dan Negara-Negara Persemakmuran Inggris, larangan langsung atas Saksi-Saksi Yehuwa atau larangan atas lektur mereka dikenakan. Afrika Selatan, Australia, Bahama, Basutoland (kini Lesotho), Bechuanaland (kini Botswana), Birma (kini Myanmar), Dominika, Fiji, Guiana Inggris (kini Guyana), India, Jamaika, Kanada, Kepulauan Leeward (B.W.I. [British West Indies]), Nigeria, Nyasaland (kini Malawi), Pantai Emas (kini Ghana), Rhodesia Selatan (kini Zimbabwe), Rhodesia Utara (kini Zambia), Sailan (kini Sri Langka), Selandia Baru, Singapura, Siprus, dan Swaziland, semuanya mengambil tindakan demikian untuk menyatakan rasa bermusuhan terhadap hamba-hamba Yehuwa.

      Setelah perang usai, penganiayaan beberapa pihak mereda, namun pihak-pihak lain meningkat. Selama 45 tahun berikutnya, selain fakta bahwa Saksi-Saksi Yehuwa tidak mendapat pengakuan resmi di banyak negeri, larangan langsung dikenakan atas diri mereka atau kegiatan mereka di 23 negeri di Afrika, 3 di Amerika Latin, 9 di Asia, 8 di Eropa, dan 4 di negeri-negeri kepulauan tertentu. Sejak tahun 1992, Saksi-Saksi Yehuwa masih dikenakan pembatasan di 24 negeri.

      Ini bukan berarti bahwa semua pejabat pemerintah secara pribadi menentang pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa. Banyak pejabat menjunjung tinggi kebebasan beragama dan mengakui bahwa Saksi-Saksi merupakan aset yang berharga bagi masyarakat. Orang-orang ini tidak setuju dengan mereka yang menghasut untuk melancarkan tindakan resmi menentang Saksi-Saksi. Misalnya, sebelum Pantai Gading (kini Côte d’Ivoire) menjadi bangsa yang merdeka, ketika seorang imam Katolik dan seorang rohaniwan Metodis berupaya mempengaruhi seorang pejabat agar mengusir Saksi-Saksi Yehuwa keluar dari negeri itu, mereka mendapati bahwa pejabat-pejabat yang mereka temui tidak bersedia menjadi kaki tangan para pemimpin agama. Ketika seorang pejabat berupaya membentuk undang-undang Namibia, pada tahun 1990, guna mendiskriminasi pengungsi-pengungsi yang dikenal sebagai Saksi-Saksi Yehuwa, Sidang Konstituante tidak mengizinkannya. Dan di banyak negara tempat Saksi-Saksi Yehuwa pernah dilarang, kini mereka menikmati pengakuan resmi.

      Namun, dengan berbagai cara, di setiap bagian bumi, Saksi-Saksi Yehuwa dianiaya. (2 Tim. 3:12) Di beberapa tempat, penganiayaan tersebut mungkin datangnya terutama dari penghuni rumah yang kasar, sanak-saudara yang menentang, atau rekan kerja atau teman sekelas yang memperlihatkan diri tidak takut kepada Allah. Akan tetapi, tidak soal siapa penganiaya itu atau bagaimana cara mereka berupaya membenarkan perbuatan mereka, Saksi-Saksi Yehuwa memahami apa yang sesungguhnya ada di belakang penganiayaan atas umat Kristen sejati.

      Sengketa

      Publikasi-publikasi Menara Pengawal sudah lama menegaskan bahwa kitab pertama Alkitab dalam bahasa lambang telah menubuatkan permusuhan, atau kebencian, Setan si Iblis dan mereka yang berada di bawah kekuasaannya terhadap organisasi surgawi Yehuwa dan wakil-wakilnya di bumi. (Kej. 3:15; Yoh. 8:38, 44; Why. 12:9, 17) Khususnya sejak tahun 1925, The Watch Tower telah memperlihatkan dari Alkitab bahwa hanya terdapat dua organisasi utama—milik Yehuwa dan milik Setan. Dan, sebagaimana dinyatakan dalam 1 Yohanes 5:19, ”seluruh dunia”—yakni seluruh umat manusia di luar organisasi Yehuwa—”berada di bawah kuasa si jahat”. Itulah sebabnya semua orang Kristen sejati mengalami penganiayaan.—Yoh. 15:20.

      Namun mengapa Allah mengizinkannya? Apakah ada hal baik yang tercapai? Yesus Kristus menjelaskan bahwa sebelum ia sebagai Raja surgawi membinasakan Setan dan organisasinya yang jahat, akan ada pemisahan orang-orang dari segala bangsa, seperti seorang gembala dari Timur Tengah memisahkan domba-domba dari kambing-kambing. Orang-orang akan diberi kesempatan untuk mendengar tentang Kerajaan Allah dan mengambil pendirian untuk berpihak padanya. Ketika para pemberita Kerajaan tersebut dianiaya, pertanyaan ini bahkan semakin ditonjolkan: Apakah mereka yang mendengar tentang Kerajaan Allah akan berbuat baik kepada ”saudara-saudara” Kristus dan rekan-rekan mereka dan dengan demikian menunjukkan kasih kepada Kristus sendiri? Atau apakah mereka akan bergabung dengan orang-orang yang telah memberi perlakuan yang sangat buruk kepada wakil-wakil dari Kerajaan Allah ini—atau mungkin tetap tinggal diam seraya yang lain berbuat demikian? (Mat. 25:31-46; 10:40; 24:14) Beberapa orang di Malawi dengan jelas melihat siapa yang melayani Allah yang benar dan oleh karena itu memilih untuk berpihak kepada Saksi-Saksi yang dianiaya. Tidak sedikit tahanan dan juga beberapa penjaga di kamp-kamp konsentrasi Jerman berbuat hal yang sama.

      Walaupun tuduhan-tuduhan palsu dilontarkan kepada mereka dan mereka dianiaya secara fisik, bahkan dicemooh karena iman mereka kepada Allah, Saksi-Saksi Yehuwa tidak merasa ditinggalkan oleh Allah. Mereka mengetahui bahwa Yesus Kristus mengalami hal yang sama. (Mat. 27:43) Mereka juga mengetahui bahwa karena loyalitas kepada Yehuwa, Yesus membuktikan si Iblis pendusta dan menyumbang kepada pengudusan nama Bapanya. Ini merupakan keinginan setiap Saksi Yehuwa untuk melakukan hal yang sama.—Mat. 6:9.

      Sengketanya bukanlah apakah mereka sanggup untuk selamat melampaui siksaan dan luput dari kematian. Yesus Kristus menubuatkan bahwa beberapa dari antara para pengikutnya akan dibunuh. (Mat. 24:9) Ia sendiri dibunuh. Namun ia tidak pernah berkompromi dengan Musuh utama Allah, Setan si Iblis, ”penguasa dunia ini”. Yesus menaklukkan dunia. (Yoh. 14:30; 16:33) Maka, sengketanya adalah, apakah para penyembah Allah yang sejati akan tetap setia kepada-Nya meskipun menghadapi keadaan buruk apa pun yang mungkin mereka derita. Saksi-Saksi Yehuwa zaman modern telah memberikan bukti yang limpah bahwa mereka sehati sepikir dengan rasul Paulus, yang menulis, ”Jika kita hidup, kita hidup bagi Yehuwa, dan juga jika kita mati, kita mati bagi Yehuwa. Karena itu jika kita hidup dan juga jika kita mati, kita adalah milik Yehuwa.”—Rm. 14:8, NW.

      [Catatan Kaki]

      a Pada waktu itu Siswa-Siswa Alkitab belum memahami dengan jelas apa yang sekarang dimengerti oleh Saksi-Saksi dari Alkitab mengenai posisi pria sebagai pengajar dalam sidang. (1 Kor. 14:33, 34; 1 Tim. 2:11, 12) Akibatnya, Maria Russell telah menjadi rekan redaktur dari Watch Tower dan secara tetap tentu menyumbang artikel untuk kolom-kolomnya.

      b Joseph F. Rutherford, presiden Lembaga Menara Pengawal; William E. Van Amburgh, sekretaris-bendahara Lembaga; Robert J. Martin, manajer kantor; Frederick H. Robison, seorang anggota panitia redaksi The Watch Tower; A. Hugh Macmillan, seorang direktur Lembaga; George H. Fisher dan Clayton J. Woodworth, para penyusun The Finished Mystery.

      c Giovanni DeCecca, yang bekerja di Departemen Italia di kantor Lembaga Menara Pengawal.

      d Hakim tingkat wilayah Martin T. Manton, seorang beragama Katolik Roma yang bergairah, menolak permohonan naik banding kedua untuk pembebasan dengan uang jaminan pada tanggal 1 Juli 1918. Ketika pengadilan banding federal belakangan mengubah hukuman atas para terdakwa, Manton memberikan satu-satunya suara tidak setuju. Patut diperhatikan bahwa pada tanggal 4 Desember 1939, sebuah pengadilan khusus yang berwenang meninjau kembali putusan hakim menguatkan vonis atas Manton karena penyalahgunaan kekuasaan pengadilan, ketidakjujuran, dan penggelapan.

      e Bahwa pria-pria ini dipenjarakan secara tidak adil, dan bukan orang-orang hukuman, ditunjukkan oleh fakta bahwa J. F. Rutherford tetap menjadi anggota organisasi para pengacara dalam lingkungan Mahkamah Agung Amerika Serikat sejak menjadi anggota pada bulan Mei 1909 hingga kematiannya pada tahun 1942. Dalam 14 kasus naik banding ke Mahkamah Agung dari tahun 1939 hingga 1942, J. F. Rutherford adalah salah seorang pengacaranya. Dalam kasus yang dikenal sebagai Schneider v. State of New Jersey (pada tahun 1939) dan Minersville School District v. Gobitis (pada tahun 1940), ia secara pribadi menyampaikan argumen lisan di hadapan Mahkamah Agung. Juga, selama Perang Dunia II, A. H. Macmillan, salah seorang di antara mereka yang secara keliru dipenjarakan pada tahun 1918-19, diterima oleh direktur Biro Kepenjaraan federal sebagai tamu tetap bagi penjara-penjara federal di Amerika Serikat guna mengurus kepentingan rohani pemuda-pemuda yang ada di situ karena telah mengambil pendirian kenetralan Kristen.

      f The Encyclopedia Americana, Jilid 11, tahun 1942, halaman 316, berkata, ”Bendera, seperti salib, adalah keramat. . . . Ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan sikap manusia terhadap lambang-lambang nasional menggunakan kata-kata yang tegas dan ekspresif, seperti, ’Upacara Bendera’, . . . ’Hormat Kepada Bendera,’ ’Setia Kepada Bendara’.” Di Brasil, Diário da Justiça, tanggal 16 Februari 1956, halaman 1904, melaporkan bahwa pada suatu upacara umum, seorang pejabat militer menyatakan, ”Bendera telah menjadi suatu ilah agama patriotik . . . Bendera dipuja dan disembah.”

      [Blurb di hlm. 642]

      Penganiaya Yesus Kristus yang paling aktif adalah para pemimpin agama

      [Blurb di hlm. 645]

      ”Pelantikan, atau wewenang dari Allah kepada seseorang untuk mengabar adalah dengan pencurahan Roh Kudus atas dirinya”

      [Blurb di hlm. 647]

      Buku ”The Finished Mystery” dengan terus terang membeberkan kemunafikan para pemimpin agama Susunan Kristen!

      [Blurb di hlm. 650]

      Pria dan wanita Kristen diserang oleh gerombolan, dijebloskan ke penjara, dan ditahan di situ tanpa tuduhan atau tanpa pengadilan

      [Blurb di hlm. 652]

      ”Masa-masa pemenjaraan itu jelas berlebihan”—Presiden Woodrow Wilson dari AS

      [Blurb di hlm. 656]

      Hanya ada sedikit sekali keadilan bagi siapa pun yang tidak melakukan apa yang dikatakan imam

      [Blurb di hlm. 666]

      Para imam mendesak guru-guru untuk membiarkan anak-anak ke luar sekolah untuk melempari Saksi-Saksi dengan batu

      [Blurb di hlm. 668]

      Para pemimpin agama bergabung untuk menentang Saksi-Saksi

      [Blurb di hlm. 671]

      Banyak pengeroyokan menimpa Saksi-Saksi Yehuwa di Amerika Serikat

      [Blurb di hlm. 676]

      Di setiap bagian bumi, Saksi-Saksi Yehuwa dianiaya

      [Kotak di hlm. 655]

      Pemimpin Agama Memperlihatkan Perasaan Mereka

      Reaksi dari majalah-majalah berkala agama terhadap hukuman yang dijatuhkan kepada J. F. Rutherford dan rekan-rekannya pada tahun 1918 menarik untuk diperhatikan:

      ◆ ”The Christian Register”, ”Apa yang di sini Pemerintah hantam secara langsung dan memautkan ialah anggapan bahwa gagasan-gagasan agama, betapapun gila dan merusak, dapat disebarluaskan tanpa mendapat hukuman. Anggapan itu adalah kekeliruan yang lama, dan hingga kini kita telah bersikap lalai sama sekali tentang hal itu. . . . Kelihatannya itulah akhir dari Russellisme.”

      ◆ ”The Western Recorder”, sebuah publikasi Baptis, berkata, ”Tidaklah mengherankan bahwa pemimpin dari aliran yang keras kepala ini harus dipenjarakan dalam salah satu tempat pengasingan bagi para pembangkang. . . . Yang benar-benar menjadi masalah rumit dalam kaitan ini ialah apakah para terdakwa harus dikirim ke sebuah rumah sakit jiwa atau sebuah penjara.”

      ◆ ”The Fortnightly Review” menarik perhatian kepada komentar surat kabar ”Evening Post” New York, yang mengatakan, ”Kami percaya bahwa guru-guru agama di mana-mana akan memberi perhatian kepada pendapat hakim ini bahwa mengajarkan suatu agama kecuali yang mutlak sesuai dengan hukum-hukum tertulis merupakan kejahatan yang serius yang semakin meningkat kadarnya jika, sebagai rohaniwan injil, Anda kebetulan harus bersikap tulus.”

      ◆ ”The Continent” dengan menghina menjuluki para tertuduh sebagai ”pengikut-pengikut dari almarhum ’Pastor’ Russell” dan memutarbalikkan kepercayaan mereka dengan mengatakan bahwa mereka mengaku ”bahwa semua kecuali para pedosa sepatutnya dibebaskan dari perang melawan kaisar Jerman.” Majalah ini menyatakan bahwa menurut jaksa agung di Washington DC, ”pemerintah Italia beberapa waktu yang lalu mengeluh kepada Amerika Serikat bahwa Rutherford dan rekan-rekannya . . . telah menyebarkan sejumlah propaganda anti perang di kalangan pasukan Italia.”

      ◆ Seminggu kemudian ”The Christian Century” mempublikasikan sebagian besar dari kutipan mengenai pokok di atas, memperlihatkan bahwa mereka setuju sepenuhnya.

      ◆ Majalah Katolik ”Truth” dengan singkat melaporkan hukuman yang dijatuhkan dan kemudian menyatakan perasaan para redakturnya, dengan berkata, ”Lektur dari perkumpulan ini sangat berbau busuk dengan serangan-serangan yang dahsyat atas Gereja Katolik dan para imamnya.” Dalam upaya mencap ”subversif” siapa pun yang kedapatan di depan umum tidak setuju terhadap Gereja Katolik, majalah ini menambahkan, ”Kian hari kian jelas bahwa semangat tidak toleran berkaitan erat dengan semangat subversif.”

      ◆ Dr. Ray Abrams, dalam bukunya ”Preachers Present Arms”, menyatakan pengamatannya, ”Ketika berita mengenai hukuman dua puluh tahun sampai ke meja para redaktur pers agama, praktis setiap orang dari publikasi-publikasi ini, besar dan kecil, bergembira atas peristiwa itu. Saya tidak berhasil menemukan sepatah pun kata simpati di setiap jurnal agama yang ortodoks.”

      [Kotak di hlm. 660]

      ”Dianiaya Karena Alasan Agama”

      ”Ada sekelompok orang di Kamp Konsentrasi Mauthausen yang dianiaya hanya karena alasan agama: anggota-anggota dari sekte ’Siswa-Siswa Alkitab yang Sungguh-Sungguh’, atau ’Saksi-Saksi Yehuwa’ . . . Penolakan mereka untuk mengucapkan sumpah setia kepada Hitler dan penolakan mereka untuk memberikan jenis apa pun dari dinas militer—konsekuensi politik dari kepercayaan mereka—adalah alasannya mereka menganiaya.”—”Die Geschichte des Konzentrationslagers Mauthausen” (Sejarah Kamp Konsentrasi Mauthausen), yang didokumentasikan oleh Hans Maršálek, Wina, Austria, tahun 1974.

      [Kotak/Gambar di hlm. 661]

      Terjemahan dari Pernyataan yang Diupayakan Oleh SS untuk Memaksa Saksi-Saksi Agar Menandatanganinya

      Kamp Konsentrasi .......................................

      Bagian ke II

      PERNYATAAN

      Saya, ...................................................

      lahir pada ..................................................

      di .......................................................

      dengan ini memberikan pernyataan sebagai berikut:

      1. Saya menyadari bahwa Perkumpulan Siswa-Siswa Alkitab Internasional memberitakan ajaran-ajaran yang salah dan di bawah selubung agama mengejar tujuan-tujuan yang memusuhi Negara.

      2. Oleh karena itu saya sama sekali meninggalkan organisasi itu dan membebaskan diri sama sekali dari ajaran-ajaran sekte ini.

      3. Dengan ini saya memberikan jaminan bahwa saya tidak pernah lagi akan ambil bagian dalam kegiatan Perkumpulan Siswa-Siswa Alkitab Internasional. Bila siapa pun mendekati saya dengan ajaran Siswa-Siswa Alkitab, atau dengan cara apa pun menyingkapkan hubungan mereka dengan Siswa-Siswa Alkitab tersebut, maka saya akan laporkan dengan segera. Semua lektur dari Siswa-Siswa Alkitab yang dikirim ke alamat saya akan segera saya sampaikan kepada kantor polisi terdekat.

      4. Mulai sekarang saya akan menghormati undang-undang Negara, teristimewa di masa perang, dengan senjata di tangan saya akan membela tanah air, dan dalam segala hal saya akan ikut serta dengan masyarakat.

      5. Saya telah diberi tahu bahwa saya akan segera ditahan jika saya didapati bertindak melawan pernyataan yang diberikan pada hari ini.

      .................................., Tanggal ................ ...........................................................

      Tanda Tangan

      [Kotak di hlm. 662]

      Surat-Surat dari Beberapa Orang yang Dihukum Mati

      Dari Franz Reiter (yang menghadapi kematian oleh ”guillotine” [alat pemenggal kepala]) kepada ibunya, pada tanggal 6 Januari 1940, dari pusat tahanan Berlin-Plötzensee,

      ”Saya sangat yakin dalam kepercayaan saya bahwa saya bertindak benar. Dengan berada di sini, saya masih dapat mengubah pikiran saya, tetapi bagi Allah hal ini akan berarti tidak loyal. Kami semua di sini ingin setia kepada Allah, demi kehormatan-Nya. . . . Dengan apa yang telah saya ketahui, jika saya mengucapkan sumpah [militer], saya melakukan dosa dan layak mati. Hal itu merupakan kejahatan bagi saya. Saya tidak akan mendapat kebangkitan. Namun saya tetap berpaut kepada kata-kata Kristus, ’Barangsiapa akan menyelamatkan kehidupannya akan kehilangan itu; tetapi barangsiapa akan kehilangan kehidupannya demi aku, ia akan menerimanya.’ Dan sekarang, Ibunda tercinta dan semua saudara-saudari, hari ini hukuman diberitahukan kepada saya, dan janganlah gentar, itu adalah hukuman mati, dan pelaksanaannya akan dilakukan besok pagi. Saya memiliki kekuatan dari Allah, sama halnya senantiasa bagi semua umat Kristen sejati di zaman lampau. Para rasul menulis, ’Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi.’ Sama halnya dengan saya. Ini saya buktikan kepada kalian, dan kalian dapat mengenalinya. Yang kusayang, janganlah bersedih. Sebaiknya kalian semua mengetahui Alkitab dengan lebih baik lagi. Jika kalian berdiri teguh hingga mati, kita akan saling berjumpa kembali dalam kebangkitan. . . .

      ”Ananda Franz

      ”Sampai jumpa kembali.”

      Dari Berthold Szabo, yang ditembak mati oleh sebuah regu tembak, di Körmend, Hongaria, pada tanggal 2 Maret 1945,

      ”Adikku sayang, Marika!

      ”Dalam satu setengah jam yang masih tersisa bagi saya, saya akan mencoba menulis kepadamu supaya kamu dapat memberi tahu orang-tua kita mengenai keadaan saya, yang segera menghadapi kematian.

      ”Saya harap agar mereka memiliki kedamaian dalam pikiran yang saya alami pada saat-saat terakhir di dunia yang penuh bencana ini. Kini sudah pukul sepuluh, dan saya akan dieksekusi pada pukul setengah dua belas; tetapi saya cukup tenang. Kehidupan saya selanjutnya saya serahkan kepada Yehuwa dan Putera Yang Dikasihinya, Yesus Kristus, sang Raja, yang tidak pernah akan melupakan orang-orang yang mengasihi mereka dengan tulus hati. Saya juga tahu akan segera ada kebangkitan bagi mereka yang telah mati atau, lebih baik, yang telah tidur dalam Kristus. Saya juga teristimewa ingin menyebutkan bahwa saya berharap semoga Yehuwa mencurahkan berkat-Nya yang limpah kepada kalian semua untuk kasih yang kalian berikan kepada saya. Tolong sampaikan peluk cium dari saya untuk Ayah dan Ibu, dan Annus juga. Mereka tidak perlu khawatir tentang saya; kita akan segera saling berjumpa kembali. Tangan saya tenang sekarang, dan saya akan beristirahat hingga Yehuwa memanggil saya kembali. Bahkan sekarang saya akan menepati ikrar saya kepada-Nya.

      ”Kini waktu saya sudah habis. Semoga Allah beserta kalian dan beserta saya.

      ”Dengan segala kasih sayangku, . . .

      ”Berthi”

      [Kotak di hlm. 663]

      Terkenal karena Tabah dan Berani serta Berkeyakinan Teguh

      ◆ ”Walaupun tampaknya mustahil sama sekali, Saksi-Saksi dalam kamp berhimpun dan berdoa bersama, memproduksi lektur dan berhasil mengajak orang-orang bergabung. Karena dikuatkan oleh persaudaraan mereka, dan, tidak seperti halnya banyak tahanan lain, sadar betul akan alasan-alasan adanya tempat-tempat demikian dan penderitaan demikian yang mereka alami, Saksi-Saksi terbukti sebagai kelompok tahanan yang kecil namun mengesankan, ditandai oleh segitiga ungu dan terkenal akan keberanian dan keyakinan mereka.” Demikian Dr. Christine King menulis, dalam ”The Nazi State and the New Religions: Five Case Studies in Non-Conformity.”

      ◆ ”Values and Violence in Auschwitz (Nilai-Nilai dan Kekerasan di Auschwitz)”, oleh Anna Pawełczyńska, menyatakan, ”Kelompok tahanan ini merupakan kekuatan ideologi yang mantap dan mereka memenangkan pertarungan mereka melawan Nazisme. Kelompok Jerman dari sekte ini telah merupakan sebuah pulau perlawanan yang tak kunjung menyerah di jantung sebuah negara yang diteror, dan dengan semangat tak gentar itu pula mereka berfungsi di dalam kamp di Auschwitz. Mereka berhasil memenangkan respek dari para sesama tahanan . . . dari petugas-petugas penjara, dan bahkan dari para opsir SS. Setiap orang tahu bahwa tidak ada ’Bible forscher’ (peneliti Alkitab) [Saksi-Saksi Yehuwa] akan melaksanakan suatu perintah yang bertentangan dengan kepercayaan agamanya.

      ◆ Rudolf Hoess, dalam otobiografinya, yang dipublikasikan dalam buku ”Komandan Auschwitz”, menuturkan tentang eksekusi orang-orang tertentu dari Saksi-Saksi Yehuwa karena menolak untuk melanggar kenetralan Kristen mereka. Ia berkata, ”Saya membayangkan bahwa demikianlah tentunya penampilan para martir Kristen yang pertama sewaktu mereka berada dalam sirkus menunggu binatang-binatang buas mencabik-cabik mereka sampai menjadi potongan-potongan kecil. Roman muka mereka sama sekali berubah, mata mereka memandang ke langit, dan mereka saling berpegangan tangan dan mengangkat tangan mereka dalam doa, mereka menyongsong maut. Semua yang melihat mereka mati sangat tergugah hati, dan bahkan regu eksekusi itu sendiri terpengaruh.” (Buku ini diterbitkan di Polandia dengan judul ”Autobiografia Rudolfa Hössa-komendanta obozu oświęcimskiego”.)

      [Kotak di hlm. 673]

      ”Mereka Tidak Anti Negara”

      ”Mereka tidak anti negara; mereka hanyalah pro-Yehuwa.” ”Mereka tidak membakar kartu tanda wajib militer, atau memberontak . . . atau ikut dalam suatu bentuk hasutan untuk memberontak.” ”Kejujuran dan integritas Saksi-Saksi merupakan ciri khas yang konstan. Apa pun yang seorang mungkin pikirkan mengenai Saksi-Saksi—dan banyak orang memikirkan banyak hal yang negatif—mereka menempuh kehidupan yang patut menjadi teladan.”—”Telegram”, Toronto, Kanada, bulan Juli 1970.

      [Kotak di hlm. 674]

      Siapa yang Memimpin?

      Saksi-Saksi Yehuwa mengetahui bahwa tanggung jawab mereka untuk mengabar tidak bergantung pada kegiatan Lembaga Menara Pengawal atau suatu badan hukum lainnya. ”Biarlah Lembaga Menara Pengawal dilarang dan kantor-kantor Cabangnya di mancanegara ditutup dengan paksa karena adanya campur tangan negara! Hal itu tidak menghapus atau mencabut perintah ilahi dari para pria dan wanita yang mengabdi untuk melakukan kehendak Allah dan yang kepadanya Ia telah berikan roh-Nya. ’Kabarkan!’ tertulis dengan tegas dalam Firman-Nya. Perintah ini lebih tinggi daripada perintah manusia mana pun.” (”The Watchtower”, 15 Desember 1949) Karena menyadari bahwa perintah-perintah yang mereka terima itu datang dari Allah Yehuwa dan Yesus Kristus, mereka bertekun dalam pengabaran berita Kerajaan tidak peduli perlawanan yang mereka hadapi.

      [Kotak di hlm. 677]

      Seperti Umat Kristen Masa Awal

      ◆ ”Saksi-Saksi Yehuwa mempunyai agama yang mereka hayati jauh lebih serius daripada kebanyakan orang. Prinsip-prinsip mereka mengingatkan kita kepada umat Kristen masa awal yang begitu tidak populer dan yang dianiaya dengan begitu kejam oleh orang-orang Romawi.”—”Akron Beacon Journal”, Akron, Ohio, 4 September 1951.

      ◆ ”Mereka [umat Kristen masa awal] menempuh kehidupan yang tenang, bermoral, benar-benar kehidupan yang patut dicontoh . . . Dalam segala segi kecuali satu hal mengenai pembakaran kemenyan mereka itu merupakan warga negara yang patut diteladani.” ”Meskipun korban kepada Kecemerlangan sang kaisar tetap merupakan ujian berkenaan patriotisme, dapatkah kalangan berwenang negara melecehkan perlawanan yang gigih dari umat Kristen yang begitu tidak-patriotis ini? Masalah yang senantiasa akrab dengan umat Kristen itu tidak jauh berbeda dengan masalah yang, selama tahun-tahun perang, menimpa sekte yang agresif itu yang dikenal sebagai Saksi-Saksi Yehuwa yaitu mengenai memberi salut kepada bendera nasional.”—”20 Centuries of Christianity”, oleh Paul Hutchinson dan Winfred Garrison, tahun 1959, hlm. 31.

      ◆ ”Mungkin hal yang paling menonjol tentang Saksi-Saksi itu adalah kegigihan mereka untuk memberikan kesetiaan mereka terutama kepada Allah, di atas kekuasaan lain mana pun di dunia.”—”These Also Believe”, oleh Dr. C. S. Braden, tahun 1949, hlm. 380.

      [Gambar di hlm. 644]

      Surat kabar ”The Pittsburgh Gazette” memberikan publisitas yang luas kepada debat-debat yang timbul karena tantangan Dr. Eaton kepada C. T. Russell

      [Gambar di hlm. 646]

      Dusta-dusta besar tentang urusan rumah tangga Charles dan Maria Russell disebarluaskan oleh para penentang

      [Gambar di hlm. 648]

      Kaum pemimpin agama marah sekali ketika 10.000.000 eksemplar risalah ini diedarkan dan membeberkan doktrin-doktrin dan praktek-praktek mereka dalam terang Firman Allah

      [Gambar di hlm. 649]

      Surat kabar mengobarkan api penganiayaan terhadap Siswa-Siswa Alkitab pada tahun 1918

      [Gambar di hlm. 651]

      Selama pengadilan di sini terhadap anggota-anggota dari staf kantor pusat Lembaga, banyak perhatian difokuskan kepada buku ”The Finished Mystery”

      Pengadilan Federal dan kantor pos, Brooklyn, NY

      [Gambar di hlm. 653]

      Dijatuhi hukuman yang lebih berat daripada pembunuh yang tembakannya menyulut Perang Dunia I. Dari kiri ke kanan: W. E. Van Amburgh, J. F. Rutherford, A. H. Macmillan, R. J. Martin, F. H. Robison, C. J. Woodworth, G. H. Fisher, G. DeCecca

      [Gambar di hlm. 657]

      Ketika kebaktian Saksi-Saksi diadakan di New York pada tahun 1939, kira-kira 200 orang yang dipimpin oleh imam-imam Katolik berupaya membubarkannya

      [Gambar di hlm. 659]

      Selama Perang Dunia II, ribuan Saksi-Saksi Yehuwa dijebloskan ke dalam kamp-kamp konsentrasi ini

      Lencana bergambar tengkorak milik penjaga-penjaga SS (kiri)

      [Gambar di hlm. 664]

      Bagian dari sebuah buku untuk pengajaran Alkitab yang diperkecil secara ”fotografis”, dimasukkan ke dalam kotak korek api, dan diselundupkan bagi Saksi-Saksi di dalam kamp konsentrasi

      [Gambar di hlm. 665]

      Beberapa Saksi memiliki iman yang bertahan terhadap ujian di kamp-kamp konsentrasi Nazi

      Mauthausen

      Wewelsburg

      [Gambar di hlm. 667]

      Kekerasan massa dekat Montreal, Quebec, pada tahun 1945. Kekerasan seperti itu yang digerakkan oleh para pemimpin agama terhadap Saksi-Saksi sering terjadi selama tahun 1940-an dan 1950-an

      [Gambar di hlm. 669]

      Ribuan Saksi-Saksi Yehuwa (termasuk John Booth, terlihat di sini) ditangkap sewaktu mereka menyebarkan lektur Alkitab

      [Gambar di hlm. 670]

      Menyusul keputusan Mahkamah Agung terhadap Saksi-Saksi pada tahun 1940, pengeroyokan melanda seluruh Amerika Serikat, perhimpunan-perhimpunan dikacaukan, Saksi-Saksi dipukuli, dan harta milik mereka dihancurkan

      [Gambar di hlm. 672]

      Di banyak tempat dianggap perlu untuk mendirikan Sekolah-Sekolah Kerajaan karena anak-anak Saksi telah dikeluarkan dari sekolah-sekolah negeri

  • ”Membela dan Secara Hukum Meneguhkan Kabar Baik”
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 30

      ”Membela dan Secara Hukum Meneguhkan Kabar Baik”

      PENGANIAYAAN hebat yang ditimpakan ke atas Saksi-Saksi Yehuwa telah mengakibatkan mereka diseret ke hadapan para petugas polisi, hakim, dan penguasa di seluruh bumi. Kasus-kasus hukum yang melibatkan Saksi-Saksi berjumlah ribuan, dan ratusan kasus telah dilimpahkan untuk naik banding ke pengadilan tinggi. Ini telah mendatangkan pengaruh yang sangat besar pada hukum itu sendiri dan sering kali telah memperkukuh jaminan hukum atas kebebasan asasi bagi orang-orang pada umumnya. Namun hal ini bukanlah tujuan utama dari Saksi-Saksi Yehuwa.

      Keinginan utama mereka adalah memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah. Tindakan hukum yang mereka ambil bukanlah karena mereka penghasut sosial atau pembaru hukum. Tujuan mereka adalah untuk ”membela dan secara hukum meneguhkan kabar baik” seperti halnya rasul Paulus. (Flp. 1:7, NW) Pemeriksaan di hadapan para pejabat pemerintah, atas permohonan Saksi-Saksi maupun karena mereka ditangkap atas tuduhan melakukan aktivitas Kristen mereka, juga dianggap sebagai kesempatan untuk memberi kesaksian. Yesus Kristus mengatakan kepada para pengikutnya, ”Karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah.”​—Mat. 10:18.

      Banjir Tindakan Hukum Seluas Dunia

      Lama sebelum perang dunia pertama, para pemimpin agama, dengan melancarkan tekanan atas para pejabat setempat, berupaya menghalangi penyebaran lektur oleh Siswa-Siswa Alkitab di daerah mereka. Akan tetapi, setelah Perang Dunia I, perlawanan semakin hebat. Di setiap negara, berbagai rintangan hukum yang dapat terlintas dalam pikiran dilancarkan ke hadapan mereka yang berupaya menaati perintah nubuat Kristus untuk memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah dengan tujuan memberi kesaksian.—Mat. 24:14.

      Karena tergerak oleh bukti penggenapan nubuat Alkitab, Siswa-Siswa Alkitab meninggalkan kebaktian mereka di Cedar Point, Ohio, pada tahun 1922, dengan tekad hendak memberi tahu dunia bahwa Zaman Orang Kafir telah berakhir dan bahwa Tuhan telah menerima kuasa yang besar dan mulai memerintah dari surga sebagai Raja. ”Umumkan, umumkan, umumkan, Raja dan kerajaannya” adalah slogan mereka. Pada tahun yang sama, para pemimpin agama di Jerman menghasut polisi agar menangkap beberapa Siswa-Siswa Alkitab pada waktu mereka sedang menyebarkan lektur Alkitab. Ini bukanlah satu-satunya insiden. Menjelang tahun 1926, ada 897 kasus semacam itu yang menunggu keputusan di pengadilan-pengadilan Jerman. Begitu banyak proses pengadilan dilakukan sehingga pada tahun 1926 Lembaga Menara Pengawal perlu mendirikan sebuah departemen hukum di kantor cabangnya di Magdeburg. Selama tahun 1928, di Jerman ada 1.660 tuntutan hukum yang diajukan terhadap Siswa-Siswa Alkitab, dan tekanan terus meningkat tahun demi tahun. Para pemimpin agama bertekad mengakhiri pekerjaan Siswa-Siswa Alkitab, dan mereka bersukacita setiap kali keputusan pengadilan menunjukkan bahwa mereka berhasil sampai taraf tertentu.

      Di Amerika Serikat, penangkapan atas Siswa-Siswa Alkitab karena melakukan pengabaran dari rumah ke rumah terjadi pada tahun 1928, di South Amboy, New Jersey. Dalam satu dekade, jumlah penangkapan setiap tahun sehubungan dengan pelayanan mereka di Amerika Serikat mencapai lebih dari 500. Selama tahun 1936, jumlah tersebut meningkat tajam—sampai 1.149. Untuk memberi nasihat yang dibutuhkan, dirasakan perlu untuk membentuk departemen hukum di kantor pusat Lembaga.

      Kegiatan pengabaran yang intensif di Romania juga mendapat perlawanan hebat dari kalangan berwenang yang pada waktu itu berkuasa. Saksi-Saksi Yehuwa yang menyebarkan lektur Alkitab sering ditangkap dan dipukuli dengan kejam. Sejak tahun 1933 sampai 1939, Saksi-Saksi di sana menghadapi 530 perkara hukum. Namun, hukum di negeri itu menjamin kebebasan, maka naik banding yang diajukan ke Mahkamah Tinggi Romania mendatangkan banyak keputusan yang menguntungkan. Ketika polisi mulai menyadari hal ini, mereka menyita lektur dan memperlakukan Saksi-Saksi dengan kejam tetapi berupaya menghindari tindakan pengadilan. Setelah Lembaga pada akhirnya diizinkan untuk mendaftarkan diri sebagai suatu badan hukum di Romania, para penentang berupaya menggagalkan tujuan pendaftaran legal ini dengan memperoleh perintah pengadilan yang melarang penyebaran lektur Menara Pengawal. Keputusan ini ditolak oleh pengadilan yang lebih tinggi, tetapi kemudian para pemimpin agama membujuk Menteri Agama agar mengambil tindakan guna menggagalkan keputusan tersebut.

      Di Italia dan Hongaria, seperti halnya di Romania, lektur Alkitab yang digunakan oleh Saksi-Saksi disita polisi di bawah pemerintahan yang berkuasa pada waktu itu. Hal yang sama terjadi di Jepang, Korea, dan Pantai Emas (sekarang disebut Ghana). Saksi-Saksi Yehuwa yang berasal dari luar negeri diperintahkan untuk meninggalkan Prancis. Selama bertahun-tahun tidak seorang pun di antara Saksi-Saksi Yehuwa diizinkan masuk ke Uni Soviet guna memberitakan Kerajaan Allah.

      Seraya semangat nasionalisme melanda seluruh dunia dari tahun 1933 terus sampai tahun 1940-an, larangan pemerintah diberlakukan atas Saksi-Saksi Yehuwa dari satu negeri ke lain negeri. Ribuan dari Saksi-Saksi ini dihadapkan ke pengadilan selama periode ini karena mereka, berdasarkan hati nurani yang terlatih, menolak untuk memberi salut kepada bendera dan teguh berpegang pada kenetralan Kristen. Pada tahun 1950, dilaporkan bahwa selama 15 tahun sebelumnya, Saksi-Saksi Yehuwa di Amerika Serikat saja telah mengalami lebih dari 10.000 penangkapan.

      Ketika lebih dari 400 Saksi dihadapkan ke pengadilan Yunani selama jangka waktu singkat pada tahun 1946, ini bukanlah awal dari tindakan semacam itu di sana. Sudah bertahun-tahun hal semacam itu berlangsung. Selain pemenjaraan, denda besar dikenakan, menguras keuangan saudara-saudara. Namun seraya mereka mengamati situasi yang mereka alami, mereka berkata, ”Tuhan membuka jalan agar pekerjaan kesaksian dapat mencapai pejabat-pejabat di Yunani, yang mendengar tentang berdirinya kerajaan yang adil-benar; juga para hakim di pengadilan yang memiliki kesempatan yang sama.” Saksi-Saksi Yehuwa dengan jelas memandang masalah ini dengan cara yang sama seperti yang Yesus katakan harus dilakukan oleh para pengikutnya.—Luk. 21:12, 13.

      Perjuangan yang Tampaknya Tidak Mungkin Dimenangkan

      Selama tahun 1940-an dan 1950-an, Propinsi Quebec di Kanada, benar-benar menjadi ajang pertempuran. Sejak tahun 1924 penangkapan demi penangkapan karena memberitakan kabar baik telah terjadi di sana. Menjelang musim dingin tahun 1931, beberapa Saksi diciduk oleh polisi setiap hari, kadang-kadang dua kali sehari. Biaya administrasi yang dikenakan kepada Saksi-Saksi di Kanada menjadi mahal. Kemudian, pada awal tahun 1947, jumlah kasus yang melibatkan Saksi-Saksi yang menunggu keputusan pengadilan di Propinsi Quebec membengkak sampai 1.300; padahal pada waktu itu hanya ada sekelompok kecil Saksi-Saksi Yehuwa di sana.

      Ini adalah era ketika Gereja Katolik Roma merupakan pengaruh yang sangat berkuasa yang harus diperhitungkan oleh setiap politikus dan setiap hakim di propinsi itu. Para pemimpin agama pada umumnya sangat dihargai di Quebec, dan orang-orang lain cepat mematuhi perintah imam setempat. Sebagaimana buku State and Salvation (1989) menggambarkan situasinya, ”Kardinal di Quebec memiliki sebuah singgasana di gedung Dewan Perwakilan Rakyat tepat di sebelah singgasana yang disiapkan untuk sang wakil gubernur. Dengan satu atau lain cara, sebagian besar Quebec berada di bawah pengawasan gereja secara langsung . . . Pada kenyataannya, misi gereja adalah untuk menjadikan kehidupan politik di Quebec selaras dengan konsep Katolik Roma yang menyatakan paham Katolik sebagai kebenaran, segala sesuatu yang bukan Katolik sebagai kekeliruan, dan kebebasan berbicara dan hidup menurut kebenaran Katolik Roma sebagai kemerdekaan.”

      Menurut sudut pandangan manusia, peluang untuk menang di pihak Saksi-Saksi di seluruh dunia, bukan hanya di Quebec, tampaknya mustahil.

      Segala Macam Tuduhan yang Terpikirkan

      Para penentang Saksi-Saksi meneliti dengan saksama kitab undang-undang untuk menemukan dalih apa pun yang mungkin guna mengakhiri kegiatan mereka. Mereka sering menuduh Saksi-Saksi berdagang tanpa memiliki surat izin, dengan demikian menyatakan bahwa pekerjaan mereka bersifat komersial. Bertentangan dengan ini, di tempat lain beberapa perintis dituduh sebagai gelandangan karena orang berpendapat bahwa mereka tidak dipekerjakan dengan imbalan upah.

      Selama beberapa dekade, para pejabat di beberapa wilayah bagian Swiss secara terus-menerus berupaya menggolongkan penyebaran lektur Alkitab yang dilakukan oleh Saksi-Saksi Yehuwa sebagai perdagangan komersial. Jaksa negara di Wilayah Vaud yang berbahasa Prancis, khususnya, bertekad membatalkan setiap keputusan pengadilan negeri yang menguntungkan Saksi-Saksi.

      Di mana-mana Saksi-Saksi Yehuwa diharuskan memiliki surat izin untuk menyebarkan lektur mereka atau untuk mengadakan pertemuan-pertemuan Alkitab. Namun apakah surat izin benar-benar dibutuhkan? Saksi-Saksi menjawab ”Tidak!” Atas dasar apa?

      Mereka menjelaskan, ’Allah Yehuwa memerintahkan saksi-saksi-Nya untuk memberitakan injil kerajaan-Nya, dan perintah-perintah Allah itu sangat unggul dan harus ditaati oleh saksi-saksi-Nya. Tidak satu pun badan legislatif atau eksekutif duniawi yang dapat dengan layak mengganggu hukum Yehuwa. Karena tidak satu pun wewenang dunia dapat dengan layak melarang pemberitaan injil, maka tak satu pun wewenang atau kuasa duniawi demikian yang dapat memberikan izin untuk memberitakan injil. Pemerintah duniawi tidak memiliki wewenang sehubungan hal ini. Meminta izin kepada manusia untuk melakukan sesuatu yang telah Allah perintahkan merupakan penghinaan kepada Allah.’

      Tuntutan yang dilontarkan kepada Saksi-Saksi sering menjadi bukti yang kuat tentang adanya kebencian agama. Karena itu, pada waktu buku kecil Face the Facts (Hadapi Fakta) dan Cure (Penyembuhan) disebarkan, pengawas cabang Lembaga di Belanda dipanggil menghadap ke pengadilan di Haarlem, pada tahun 1939, guna menjawab tuduhan yaitu menghina sekelompok rakyat Belanda. Misalnya, jaksa penuntut umum mengemukakan bahwa lektur Menara Pengawal menyatakan bahwa hierarki Katolik Roma dengan curang telah mengeduk uang orang-orang dengan menyatakan bahwa itu dapat membebaskan orang mati dari suatu tempat, padahal mereka sebenarnya tidak ada di sana—dari api penyucian yang keberadaannya menurut lektur tersebut tidak dapat dibuktikan oleh Gereja.

      Di depan pengadilan, saksi utama dari hierarki, ”Bapak” Henri de Greeve, meratap, ”Yang paling menyedihkan hati saya adalah bahwa orang-orang luar memperoleh kesan seolah-olah kami, para imam, hanyalah sekelompok penjahat dan penipu.” Pada waktu dipanggil untuk memberi kesaksian, pengawas cabang Lembaga membuka Alkitab Katolik dan memperlihatkan kepada pengadilan bahwa apa yang dikatakan dalam buku kecil tersebut mengenai ajaran Katolik selaras dengan Alkitab mereka sendiri. Ketika pengacara Lembaga kemudian menanyakan de Greeve apakah ia dapat membuktikan doktrin api neraka dan api penyucian, ia menjawab, ”Saya tidak dapat membuktikannya; saya hanya mempercayainya.” Hakim segera menyadari bahwa ini tepat seperti apa yang telah dinyatakan buku kecil itu. Perkara ini dibatalkan, dan dengan marah imam tersebut bergegas ke luar gedung pengadilan!

      Karena merasa terganggu oleh meningkatnya kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa di bagian timur negara yang pada waktu itu disebut Cekoslowakia, para pemimpin agama di sana menuduh Saksi-Saksi melakukan kegiatan mata-mata. Situasinya sama dengan situasi yang pernah dialami oleh rasul Paulus pada waktu para pemimpin agama Yahudi abad pertama menuduhnya menyebarkan hasutan. (Kis. 24:5) Ratusan kasus diajukan ke pengadilan pada tahun 1933-34, hingga akhirnya pemerintah yakin bahwa tidak ada dasar yang sah atas tuduhan tersebut. Di Propinsi Quebec, Kanada, pada tahun 1930-an dan 1940-an, Saksi-Saksi juga dihadapkan ke pengadilan atas tuduhan berkomplot untuk menghasut. Para pemimpin agama itu sendiri—Katolik maupun Protestan, tetapi terutama Katolik Roma—bahkan maju ke pengadilan sebagai saksi melawan Saksi-Saksi Yehuwa. Apa yang telah dilakukan oleh Saksi-Saksi Yehuwa? Para pemimpin agama itu memberi alasan bahwa mereka telah membahayakan persatuan nasional dengan menerbitkan hal-hal yang dapat menimbulkan ketidaksenangan terhadap Gereja Katolik Roma. Akan tetapi, Saksi-Saksi itu menjawab bahwa, sesungguhnya, mereka telah menyebarkan lektur yang memberi penghiburan dari Firman Allah kepada orang-orang yang rendah hati namun hal ini membuat para pemimpin agama naik pitam karena ajaran-ajaran dan praktek-praktek yang tidak berdasarkan Alkitab disingkapkan.

      Apa yang memungkinkan Saksi-Saksi Yehuwa dapat bertahan menghadapi tentangan yang terus-menerus demikian? Iman mereka kepada Allah dan Firman-Nya yang terilham, pembaktian mereka yang tidak mementingkan diri kepada Yehuwa dan Kerajaan-Nya, serta kekuatan yang dihasilkan dari bekerjanya roh Allah. Sebagaimana dinyatakan Alkitab, ”kekuatan yang melimpah-limpah itu [adalah] berasal dari Allah dan bukan dari diri kami.”—2 Kor. 4:7.

      Saksi-Saksi Yehuwa Berupaya Keras di Lingkungan Peradilan

      Selama beberapa dekade sebelum Perang Dunia I, Siswa-Siswa Alkitab telah melakukan penyebaran lektur Alkitab yang ekstensif secara cuma-cuma di jalan-jalan dekat gereja-gereja dan dari rumah ke rumah. Namun kemudian banyak kota kecil dan kota besar di Amerika Serikat mengeluarkan peraturan-peraturan setempat yang sangat menghalangi ”pekerjaan sukarela” tersebut. Apa yang dapat dilakukan?

      The Watch Tower 15 Desember 1919 menjelaskan, ”Karena kita percaya bahwa sudah menjadi tugas kita untuk mengerahkan segala upaya yang memungkinkan untuk memberi kesaksian tentang kerajaan Tuhan dan tidak menjadi kendur karena melihat pintu tertutup, dan mengingat fakta bahwa ada upaya sistematis demikian yang menentang pekerjaan sukarela ini, maka diatur agar sebuah majalah digunakan, . . . THE GOLDEN AGE.”a

      Akan tetapi, seraya intensitas kesaksian dari rumah ke rumah meningkat, upaya untuk menerapkan hukum yang dapat membatasi atau melarang pekerjaan tersebut pun meningkat. Tidak semua negeri memiliki ketetapan hukum yang memungkinkan adanya jaminan kebebasan bagi golongan minoritas dalam menghadapi perlawanan yang dilancarkan secara resmi. Namun Saksi-Saksi Yehuwa mengetahui bahwa Konstitusi AS menjamin kebebasan beragama, kebebasan berbicara, dan kebebasan pers. Maka, ketika hakim menafsirkan peraturan-peraturan setempat sedemikian rupa sehingga menghalangi pemberitaan Firman Allah, Saksi-Saksi mengajukan kasus mereka untuk naik banding ke pengadilan tinggi.b

      Pada waktu meninjau kembali apa yang telah terjadi, Hayden C. Covington, yang memainkan peranan penting dalam masalah hukum bagi Lembaga Menara Pengawal, belakangan menerangkan, ”Seandainya ribuan keputusan pengadilan yang dicatat oleh para hakim, pengadilan polisi, dan pengadilan negeri lain tidak diajukan untuk naik banding, tentu bertumpuknya keputusan perkara yang banyak sekali itu akan menjadi rintangan yang sangat besar dalam bidang ibadat. Dengan naik banding, kita telah mencegah munculnya rintangan semacam itu. Cara kita beribadat telah tercantum dalam hukum di Amerika Serikat dan di negara-negara lain karena ketekunan kita dalam hal naik banding untuk keputusan-keputusan yang merugikan kita.” Di Amerika Serikat, puluhan kasus naik sampai ke Mahkamah Agung.

      Memperkukuh Jaminan Kebebasan

      Salah satu dari kasus-kasus pertama yang melibatkan pelayanan Saksi-Saksi Yehuwa yang sampai ke Mahkamah Agung Amerika Serikat dimulai di Georgia dan diperdebatkan di hadapan Mahkamah pada tanggal 4 Februari 1938. Alma Lovell telah divonis dalam catatan panitera pengadilan tingkat pertama di Griffin, Georgia, karena melanggar peraturan setempat yang melarang penyebaran lektur apa pun tanpa izin pejabat kota. Antara lain, Saudari Lovell telah menawarkan kepada orang-orang lain majalah The Golden Age. Pada tanggal 28 Maret 1938, Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan bahwa peraturan setempat tersebut tidak sah karena peraturan ini membatasi kebebasan pers dalam hal lisensi dan sensor.c

      Pada tahun berikutnya J. F. Rutherford, yang bertindak sebagai pengacara bagi si pemohon, mengajukan argumen-argumen kepada Mahkamah Agung dalam kasus Clara Schneider v. State of New Jersey.d Ini disusul pada tahun 1940, oleh kasus Cantwell v. State of Connecticut,e yang laporan singkatnya untuk pengadilan disusun oleh J. F. Rutherford dan pembelaannya secara lisan disampaikan Hayden Covington di depan Mahkamah Agung. Hasil positif dari kasus-kasus ini mendukung jaminan konstitusional mengenai adanya kebebasan beragama, kebebasan berbicara, dan kebebasan pers. Namun ada beberapa kemunduran.

      Pukulan-Pukulan Hebat di Tangan Pengadilan

      Masalah memberi salut kepada bendera yang berhubungan dengan anak-anak Saksi-Saksi Yehuwa yang bersekolah pertama kali diajukan ke pengadilan Amerika pada tahun 1935 dalam kasus Carlton B. Nicholls v. Mayor and School Committee of Lynn (Massachusetts).f Kasus ini diajukan ke Mahkamah Agung Yuridis Massachusetts. Mahkamah memutuskan, pada tahun 1937, bahwa tidak soal apa pengakuan kepercayaan Carleton Nichols, Jr., dan orang-tuanya, tetap tidak ada perkecualian yang perlu dibuat untuk suatu keyakinan agama karena, seperti dikatakan, ”Salut bendera dan ikrar setia yang dipermasalahkan di sini tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama. . . . Ini bukan soal pandangan siapa pun mengenai Penciptanya. Ini juga bukan soal hubungan seseorang dengan Penciptanya.” Pada waktu masalah wajib salut bendera diajukan untuk naik banding ke Mahkamah Agung AS dalam kasus Leoles v. Landersg pada tahun 1937, dan sekali lagi dalam kasus Hering v. State Board of Educationh pada tahun 1938, Mahkamah menolak kasus-kasus ini karena, menurut pendapat mereka ini bukanlah masalah yang menyangkut hak-hak yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar Federal. Pada tahun 1939, Mahkamah sekali lagi membatalkan naik banding yang menyangkut perkara serupa, dalam kasus Gabrielli v. Knickerbocker.i Pada hari yang sama, tanpa mendengar pembelaan lisan, mereka langsung meneguhkan keputusan pengadilan negeri yang merugikan dalam kasus Johnson v. Town of Deerfield.j

      Akhirnya, pada tahun 1940, pemeriksaan lengkap dilakukan oleh Mahkamah untuk kasus yang diberi nama Minersville School District v. Gobitis.k Ini merupakan pertunjukan pengacara kenamaan dari kedua belah pihak yang membawakan pleidoi mereka dalam kasus tersebut. J. F. Rutherford mengajukan pembelaan lisannya atas nama Walter Gobitas dan anak-anaknya. Seorang anggota jurusan hukum Universitas Harvard mewakili Persatuan Pengacara Amerika dan Perserikatan Kemerdekaan Sipil dalam memberi argumen yang menentang adanya kewajiban untuk memberi salut kepada bendera. Akan tetapi, pembelaan mereka ditolak, dan hanya karena satu suara yang tidak setuju, Mahkamah Agung, pada tanggal 3 Juni, memutuskan bahwa anak-anak yang tidak memberi salut kepada bendera dapat dikeluarkan dari sekolah-sekolah negeri.

      Selama tiga tahun berikutnya, Mahkamah Agung mengeluarkan keputusan yang menentang Saksi-Saksi Yehuwa dalam 19 kasus. Yang paling mencolok adalah keputusan yang merugikan dalam kasus Jones v. City of Opelika pada tahun 1942.l Rosco Jones dijatuhi hukuman karena menyebarkan lektur di jalan-jalan Kota Opelika, Alabama, tanpa membayar pajak lisensi. Mahkamah Agung meneguhkan vonis tersebut dan mengatakan bahwa pemerintah berhak mengenakan biaya yang masuk akal atas penjualan dari rumah ke rumah dan bahwa hukum-hukum demikian tidak dapat ditantang sekalipun kalangan berwenang setempat secara sewenang-wenang mencabut lisensi itu. Ini merupakan suatu pukulan yang hebat, karena pada saat itu setiap komunitas yang dihasut oleh para pemimpin agama atau setiap orang lain yang menentang Saksi-Saksi, dapat dengan sah melarang masuk mereka dan dengan demikian, menurut jalan pikiran para penentang, menghentikan kegiatan pengabaran dari Saksi-Saksi Yehuwa. Namun suatu hal yang aneh terjadi.

      Situasi Berubah

      Justru dalam keputusan pengadilan Jones v. Opelika, yang merupakan pukulan yang sedemikian hebat bagi pelayanan umum Saksi-Saksi Yehuwa, tiga di antara majelis hakim menyatakan bahwa bukan saja mereka tidak sependapat dengan keputusan mayoritas Mahkamah dalam kasus yang sedang ditangani itu tetapi mereka juga merasa bahwa mereka telah membantu untuk meletakkan dasar bagi keputusan tersebut dalam kasus Gobitis. ”Karena kami telah ikut setuju dengan pertimbangan keputusan dalam kasus Gobitis,” mereka menambahkan, ”kami pikir ini merupakan kesempatan yang tepat untuk menyatakan bahwa kini kami percaya bahwa keputusan yang diambil tersebut juga salah.” Saksi-Saksi Yehuwa memandang hal itu sebagai isyarat untuk kembali mengajukan kasus tersebut ke Mahkamah.

      Suatu Mosi Pemeriksaan Ulang diajukan dalam kasus Jones v. Opelika. Dalam mosi itu, argumen-argumen hukum yang kuat diajukan. Mosi tersebut juga dengan tegas menyatakan, ”Mahkamah ini harus memperhitungkan fakta yang terpenting yaitu bahwa Mahkamah sedang menangani urusan pengadilan dengan hamba-hamba Allah Yang Mahakuasa.” Contoh-contoh Alkitab yang memperlihatkan implikasi dari hal ini ditinjau kembali. Perhatian diarahkan kepada nasihat yang diberikan oleh seorang guru hukum Gamaliel kepada mahkamah agung Yahudi abad pertama, dengan kata-kata, ”Jangan mencampuri perkara orang-orang ini, biarkan mereka; . . . sebaliknya, kamu mungkin ternyata didapati sebagai orang-orang yang bertarung melawan Allah.”—Kis. 5:34-39, NW.

      Akhirnya, pada tanggal 3 Mei 1943, dalam kasus yang mencolok Murdock v. Commonwealth of Pennsylvania,a Mahkamah Agung mengubah keputusan sebelumnya dalam kasus Jones v. Opelika. Keputusan tersebut menyatakan bahwa pajak lisensi apa pun yang dianggap sebagai prasyarat bagi kebebasan beragama seseorang dalam hal menyebarkan lektur agama tidaklah berdasarkan undang-undang. Kasus ini membuka kembali pintu-pintu di Amerika Serikat bagi Saksi-Saksi Yehuwa dan telah digunakan sebagai acuan yang berwenang bagi ratusan kasus yang timbul sejak saat itu. Tanggal 3 Mei 1943 benar-benar merupakan hari yang patut dikenang oleh Saksi-Saksi Yehuwa sehubungan proses pengadilan mereka di hadapan Mahkamah Agung Amerika Serikat. Pada satu hari itu, dalam 12 dari 13 kasus (semuanya disidangkan sekaligus dan 4 keputusan dihasilkan), Mahkamah mengeluarkan keputusan yang menguntungkan mereka.b

      Kira-kira sebulan kemudian—pada tanggal 14 Juni, Hari Bendera Nasional yang dirayakan setiap tahun—Mahkamah Agung sekali lagi mengubah keputusannya, kali ini sehubungan dengan keputusannya dalam kasus Gobitis, melakukannya dalam kasus yang diberi nama West Virginia State Board of Education v. Barnette.c Diputuskan bahwa ”tidak ada pejabat, tinggi ataupun rendah yang dapat menentukan apa yang tepat dan benar dalam politik, nasionalisme, agama, atau soal-soal pendirian lainnya atau memaksa warga untuk mengakui iman mereka dalam hal-hal tersebut melalui perkataan atau tindakan.” Banyak di antara alasan yang dikemukakan dalam keputusan itu selanjutnya dipakai di Kanada oleh Pengadilan Tingkat Banding Ontario dalam kasus Donald v. Hamilton Board of Education, yang keputusannya tidak ditolak oleh Mahkamah Agung Kanada.

      Selaras dengan keputusannya dalam kasus Barnette, dan pada hari yang sama, dalam kasus Taylor v. State of Mississippi,d Mahkamah Agung Amerika Serikat berpendirian bahwa Saksi-Saksi Yehuwa tidak dapat dengan sah dituduh menghasut karena menerangkan alasan mereka tidak memberi salut kepada bendera dan karena mengajarkan bahwa semua bangsa berada pada pihak yang kalah karena mereka menentang Kerajaan Allah. Keputusan-keputusan ini juga menyiapkan jalan bagi keputusan-keputusan yang menguntungkan berikutnya di pengadilan-pengadilan lain dalam kasus-kasus yang melibatkan para orang-tua Saksi karena anak-anak mereka menolak memberi salut kepada bendera di sekolah, dan juga perkara-perkara yang menyangkut pekerjaan dan pemeliharaan anak. Situasi pasti telah berubah.e

      Membuka Era Baru Bagi Kebebasan di Quebec

      Saksi-Saksi Yehuwa juga berupaya keras untuk memperoleh kebebasan beribadat di Kanada. Dari tahun 1944 sampai 1946, ratusan Saksi telah ditangkap di Quebec pada waktu mereka ambil bagian dalam pelayanan kepada umum. Hukum Kanada menjamin kebebasan beribadat, namun gerombolan mengganggu jalannya pertemuan yang membahas Alkitab. Polisi mematuhi permintaan para pemimpin agama Katolik untuk menghentikan Saksi-Saksi Yehuwa. Para hakim dari berbagai pengadilan setempat menerima banyak sekali kasus penganiayaan atas Saksi-Saksi, namun para pengacau tidak ditindak sama sekali. Apa yang dapat dilakukan?

      Lembaga mengatur diadakannya sebuah kebaktian istimewa di Montreal pada tanggal 2 dan 3 November 1946. Para pembicara meninjau kembali posisi Saksi-Saksi Yehuwa menurut Alkitab dan dari sudut pandangan hukum negara. Kemudian diumumkan pengaturan mengenai penyebaran dari pantai ke pantai selama 16 hari—dalam bahasa Inggris, Prancis, dan Ukraina—risalah Quebec’s Burning Hate for God and Christ and Freedom Is the Shame of All Canada (Kebencian Quebec yang Berkobar Kepada Allah dan Kristus dan Kebebasan Merupakan Sesuatu yang Memalukan di Seluruh Kanada). Risalah ini melaporkan secara terperinci kekerasan massa dan kekejaman lain yang dilakukan terhadap Saksi-Saksi Yehuwa di Quebec. Ini disusul dengan risalah kedua, Quebec, You Have Failed Your People! (Quebec, Anda Telah Mengabaikan Warga Anda!)

      Jumlah penangkapan di Quebec membubung tinggi. Untuk mengatasi situasi ini, kantor cabang Lembaga Menara Pengawal di Kanada mendirikan sebuah departemen hukum yang memiliki wakil-wakil di Toronto maupun Montreal. Ketika pers mendengar berita bahwa Maurice Duplessis, perdana menteri Quebec, telah dengan sengaja menghancurkan bisnis restoran Frank Roncarelli, salah seorang dari Saksi-Saksi Yehuwa, semata-mata karena ia memberi uang jaminan bagi rekan-rekan Saksi, masyarakat Kanada memprotes dengan keras. Kemudian, pada tanggal 2 Maret 1947, Saksi-Saksi Yehuwa melancarkan suatu kampanye di seluruh negeri yang mengundang warga-warga Kanada untuk mengajukan petisi kepada pemerintah memohon Pernyataan Hak-Hak Manusia. Lebih dari 500.000 tanda tangan diperoleh—petisi terbesar yang pernah diajukan ke Parlemen Kanada! Ini disusul, pada tahun berikutnya, oleh sebuah petisi yang bahkan lebih besar untuk memperkuat petisi yang pertama.

      Sementara itu, Lembaga menyeleksi dua kasus percobaan untuk naik banding ke Mahkamah Agung Kanada. Salah satunya, Aimé Boucher v. His Majesty The King, mengenai tuduhan menghasut yang telah berulang kali dilontarkan terhadap Saksi-Saksi.

      Kasus Boucher didasarkan atas peranan yang dimainkan Aimé Boucher, seorang petani yang lemah lembut, dalam menyebarkan risalah Quebec’s Burning Hate. Apakah ia menghasut bila ia memberi tahu tentang adanya pengeroyokan yang ditujukan melawan Saksi-Saksi di Quebec, pengabaian hukum di pihak para pejabat yang berurusan dengan mereka, dan bukti bahwa uskup Katolik dan para pemimpin agama Katolik lainnya yang menghasut hal itu?

      Ketika menganalisis risalah yang disebarkan, salah seorang hakim di Mahkamah Agung berkata, ”Dokumen ini berjudul ’Kebencian Quebec yang Berkobar Kepada Allah dan Kristus dan Kebebasan Merupakan Sesuatu yang Memalukan di Seluruh Kanada’; pertama-tama ini berisi doa untuk memohon ketenangan dan alasan dalam menilai masalah-masalah yang akan dihadapi sesuai dengan judulnya, kemudian berisi referensi umum mengenai penganiayaan yang merupakan pembalasan dendam terhadap Saksi-Saksi Yehuwa sebagai saudara-saudara dalam Kristus di Quebec; kisah terperinci dari insiden-insiden penganiayaan tertentu; dan terakhir berisi seruan kepada warga propinsi tersebut, sebagai protes terhadap hukum rimba dan taktik gestapo, agar, melalui penyelidikan Firman Allah dan ketaatan kepada perintah-perintahnya, ’panen yang berlimpah dari buah-buah baik dari kasih kepada Dia dan Kristus dan kasih akan kebebasan manusia’ dapat dihasilkan.”

      Keputusan Mahkamah menghapuskan vonis atas Aimé Boucher, tetapi tiga dari lima hakim hanya memerintahkan agar kasus tersebut disidangkan kembali. Apakah itu akan menghasilkan keputusan yang tidak berat sebelah di pengadilan negeri? Permohonan diajukan oleh pengacara yang mewakili Saksi-Saksi Yehuwa agar Mahkamah Agung sendiri yang memeriksa kembali kasus tersebut. Mengherankan sekali, permohonan ini dikabulkan. Sementara permohonan tersebut sedang dalam proses, jumlah hakim di Mahkamah bertambah, dan salah seorang dari majelis hakim yang semula berubah pikiran. Pada bulan Desember 1950, dihasilkan keputusan 5 banding 4 yang sepenuhnya membebaskan Saudara Boucher.

      Pada mulanya, keputusan ini ditentang oleh pengacara agung dan perdana menteri (yang adalah juga jaksa agung) Propinsi Quebec, tetapi secara perlahan keputusan tersebut diberlakukan di pengadilan-pengadilan. Dengan demikian, secara efektif terkuburlah sudah tuduhan menghasut yang telah berulang kali dilancarkan terhadap Saksi-Saksi Yehuwa di Kanada.

      Sebuah kasus percobaan lain yang diajukan untuk naik banding ke Mahkamah Agung Kanada—Laurier Saumur v. The City of Quebec. Yang ini mempermasalahkan izin peraturan organisasi yang tersangkut dalam sejumlah besar vonis di pengadilan negeri. Dalam kasus Saumur, Lembaga berupaya memperoleh keputusan yang permanen terhadap kota Quebec agar kalangan berwenang di sana tidak lagi mengganggu penyebaran lektur agama oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Pada tanggal 6 Oktober 1953, Mahkamah Agung mengeluarkan keputusan. Jawabannya adalah ”Ya” bagi Saksi-Saksi Yehuwa, ”Tidak” bagi propinsi Quebec. Keputusan itu juga membawa kemenangan bagi ribuan kasus lain yang faktor penentunya sama yaitu prinsip kebebasan beragama. Ini membuka era baru bagi pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa di Quebec.

      Pendidikan Mengenai Hak-Hak dan Prosedur Hukum

      Karena jumlah kasus pengadilan meningkat pada akhir tahun 1920-an dan seterusnya, maka Saksi-Saksi Yehuwa perlu diajar mengenai prosedur hukum. J. F. Rutherford adalah seorang pengacara dan ia sendiri sewaktu-waktu bertindak sebagai hakim, ia menyadari perlunya Saksi-Saksi diberi pengarahan dalam hal-hal ini. Terutama sejak tahun 1926 Saksi-Saksi telah menekankan pengabaran dari rumah ke rumah setiap hari Minggu, dengan menggunakan buku-buku yang menjelaskan mengenai Alkitab. Karena penyebaran lektur Alkitab yang mereka lakukan pada hari Minggu mendapat tentangan, Saudara Rutherford menyusun pamflet Liberty to Preach (Kebebasan untuk Mengabar) guna membantu mereka yang ada di Amerika Serikat memahami hak-hak mereka di bawah hukum. Akan tetapi, ia tidak dapat menangani sendiri semua urusan hukum, maka ia mengatur agar pengacara-pengacara lain melayani sebagai bagian dari staf kantor pusat Lembaga. Selain itu, orang-orang lain, yang tersebar di seluruh negeri, bekerja sama dengan erat.

      Para pengacara tidak dapat hadir pada setiap acara pengadilan yang dituntut dalam ribuan kasus yang melibatkan kegiatan pengabaran Saksi-Saksi Yehuwa, tetapi mereka dapat memberikan saran yang cocok. Untuk tujuan itu, penyelenggaraan diadakan guna mengajarkan prosedur hukum dasar kepada semua Saksi-Saksi Yehuwa. Ini dilakukan pada kebaktian-kebaktian istimewa di Amerika Serikat pada tahun 1932 dan, belakangan dalam acara Perhimpunan Dinas yang tetap tentu di sidang-sidang. ”Prosedur Pengadilan” yang disusun secara terperinci diterbitkan dalam 1933 Year Book dari Saksi-Saksi Yehuwa (belakangan dalam bentuk lembaran terpisah). Instruksi-instruksi ini disesuaikan menurut keadaan. Dalam terbitan Consolation 3 November 1937, nasihat hukum lebih lanjut diberikan berkenaan situasi spesifik yang sedang dihadapi.

      Dengan memanfaatkan informasi ini, Saksi-Saksi biasanya menangani pembelaan mereka sendiri di pengadilan-pengadilan setempat, sebaliknya daripada menggunakan jasa pengacara. Mereka mendapati bahwa dengan cara ini mereka sering dapat memberi kesaksian kepada pengadilan dan mengemukakan masalah dengan jujur kepada hakim, sebaliknya daripada membiarkan kasus diputuskan hanya menurut dasar-dasar teknis hukum. Bila ada kasus yang diputuskan secara merugikan, biasanya naik banding diajukan, meskipun beberapa Saksi menjalani pemenjaraan sebaliknya daripada menyewa seorang pengacara yang jasanya dibutuhkan dalam pengadilan tingkat banding.

      Seraya situasi baru timbul dan preseden keputusan pengadilan terkumpul, lebih banyak lagi informasi tersedia guna membantu Saksi-Saksi mengetahui perkembangan terakhir. Karena itu, pada tahun 1939 buku kecil Advice for Kingdom Publishers (Nasihat Bagi Para Penyiar Kerajaan) dicetak untuk membantu saudara-saudara yang berjuang dalam pengadilan. Dua tahun kemudian suatu pembahasan yang lebih luas diuraikan dalam buku kecil Jehovah’s Servants Defended (Hamba-Hamba Yehuwa Dibela). Buku ini mengutip atau membahas 50 keputusan pengadilan Amerika yang berbeda yang melibatkan Saksi-Saksi Yehuwa, serta banyak kasus lain, dan menjelaskan bagaimana preseden peradilan ini dapat dimanfaatkan. Belakangan, pada tahun 1943, sebuah buku Freedom of Worship (Kebebasan Beribadat) tersedia bagi setiap Saksi dan dipelajari dengan sungguh-sungguh dalam Perhimpunan Dinas di sidang-sidang. Selain menyediakan ikhtisar yang berharga mengenai kasus-kasus hukum, buku kecil ini menguraikan secara terperinci alasan-alasan Alkitab dalam menangani masalah-masalah secara khusus. Kemudian, pada tahun 1950, dilanjutkan dengan buku kecil Defending and Legally Establishing the Good News (Membela dan Secara Hukum Meneguhkan Kabar Baik) yang berisi pengetahuan terbaru.

      Ini semua merupakan pendidikan yang progresif mengenai hukum. Akan tetapi, tujuannya bukanlah untuk membuat Saksi-Saksi menjadi pengacara melainkan untuk menjaga agar pintu tetap terbuka bagi pemberitaan kabar baik Kerajaan Allah kepada umum dan dari rumah ke rumah.

      Seperti Sekawanan Belalang

      Bila para pejabat merasa diri tidak terikat pada hukum, perlakuan mereka terhadap Saksi-Saksi kadang-kadang kejam. Akan tetapi, tidak soal metode yang digunakan para penentang mereka, Saksi-Saksi Yehuwa mengetahui bahwa Firman Allah menasihatkan, ”Janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hakKu. Akulah yang menuntut pembalasan, firman Tuhan.” (Rm. 12:19) Meskipun demikian, mereka merasa sangat berkewajiban untuk memberi kesaksian. Bagaimana mereka melakukannya bila mereka menghadapi perlawanan resmi demikian?

      Meskipun setiap sidang Saksi-Saksi Yehuwa biasanya tidak begitu besar pada tahun 1930-an, namun ada ikatan yang kuat di antara mereka. Bila ada kesulitan serius di lokasi mana pun, Saksi-Saksi dari daerah sekitarnya bergairah untuk membantu. Misalnya pada tahun 1933 di Amerika Serikat, 12.600 Saksi diorganisasi ke dalam 78 kelompok besar. Bila di suatu daerah penangkapan terus-menerus terjadi, atau bila para penentang berhasil menekan pemancar radio untuk membatalkan kontrak siaran yang disiapkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa, kantor Lembaga di Brooklyn diberi tahu. Dalam seminggu, bala bantuan dikirim ke daerah itu untuk memberi kesaksian yang intensif.

      Dari 50 hingga 1.000 Saksi, tergantung kebutuhan, akan bertemu pada waktu yang telah ditentukan, biasanya di pinggiran kota dekat daerah yang akan dikerjakan. Mereka semua adalah sukarelawan; beberapa telah menempuh jarak 320 kilometer. Setiap kelompok diberi daerah yang dapat dikerjakan, kemungkinan dalam 30 menit atau bahkan dua jam. Seraya setiap kelompok bermobil mulai mengerjakan daerah yang ditugaskan, suatu panitia yang terdiri dari saudara-saudara datang menghadap polisi untuk memberi tahu mereka mengenai pekerjaan yang sedang dilakukan dan untuk memberikan daftar nama semua Saksi yang sedang bekerja di komunitas tersebut pada pagi itu. Karena menyadari bahwa kekuatan mereka sendiri kewalahan dalam menghadapi jumlah Saksi-Saksi yang begitu banyak, para pejabat di kebanyakan tempat mengizinkan pekerjaan tersebut berlanjut tanpa rintangan. Di beberapa tempat mereka memadati penjara dengan Saksi-Saksi tetapi kemudian mereka tidak dapat berbuat lain. Untuk setiap orang yang ditangkap, Saksi-Saksi telah menyiapkan pengacara serta uang jaminan. Dampaknya adalah seperti yang didatangkan oleh kawanan belalang simbolis yang disebutkan dalam Alkitab di Yoel 2:7-11 dan Wahyu 9:1-11. Dengan cara ini pemberitaan kabar baik dapat terus berlanjut meskipun menghadapi perlawanan yang gigih.

      Menyingkapkan Kepada Umum Tindakan Para Pejabat yang Sewenang-Wenang

      Dianggap bermanfaat untuk memberi tahu orang-orang di beberapa daerah mengenai apa yang dilakukan oleh para pejabat setempat. Di Quebec, pada waktu pengadilan membuat Saksi-Saksi menjalani prosedur yang mengingatkan kita kepada pengadilan bercirikan Inkwisisi, sepucuk surat yang menguraikan fakta-fakta dikirimkan kepada semua anggota badan legislatif Quebec. Jika tidak ada tindakan, Lembaga mengirimkan salinan surat tersebut kepada 14.000 pengusaha di seluruh propinsi itu. Kemudian informasi tersebut diberikan kepada redaktur surat kabar untuk dipublikasikan.

      Di Amerika Serikat bagian timur, publik diberi tahu melalui siaran radio. Di Betel Brooklyn, sejumlah aktor yang terlatih, yang mahir meniru suara dan gaya bicara, membentuk apa yang disebut Teater Sang Raja. Pada waktu Saksi-Saksi Yehuwa diajukan ke pengadilan oleh pejabat yang sewenang-wenang, catatan yang lengkap dengan huruf steno mengenai jalannya pengadilan dibuat. Para aktor hadir di pengadilan supaya mereka dapat mengenal betul nada suara dan gaya bicara polisi, jaksa penuntut, dan hakim. Setelah disebarkan iklan yang ekstensif supaya banyak orang mendengarkan siaran radio, Teater Sang Raja menampilkan kembali adegan-adegan di ruang pengadilan dengan kemiripan yang mengagumkan sehingga publik dapat mengetahui dengan tepat apa yang dilakukan oleh para pejabat mereka. Pada waktunya, karena banyaknya sorotan publisitas yang diberikan kepada mereka, beberapa dari para pejabat ini menjadi lebih berhati-hati dalam menangani kasus-kasus yang melibatkan Saksi-Saksi.

      Tindakan yang Bersatu Padu Dalam Menghadapi Penganiayaan Nazi

      Ketika pemerintah Jerman Nazi melaksanakan kampanye untuk menghentikan kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa di Jerman, upaya dikerahkan berulang kali untuk mengajukan kasus ke hadapan kalangan berwenang Jerman. Namun kelepasan tak kunjung datang. Menjelang musim panas tahun 1933, pekerjaan mereka dilarang di sebagian besar negara bagian Jerman. Karena itu, pada tanggal 25 Juni 1933, sebuah deklarasi berkenaan pelayanan mereka dan tujuan-tujuannya disetujui oleh Saksi-Saksi Yehuwa pada sebuah kebaktian di Berlin. Salinan dari deklarasi tersebut dikirimkan kepada semua pejabat tinggi pemerintah, dan jutaan lainnya disebarkan kepada publik. Meskipun demikian, pada bulan Juli 1933, pengadilan-pengadilan tidak mau memberi kesempatan untuk memeriksa demi tercapainya kebebasan. Pada awal tahun berikutnya, sepucuk surat pribadi sehubungan dengan situasi tersebut ditulis oleh J. F. Rutherford kepada Adolf Hitler dan disampaikan kepadanya oleh seorang utusan khusus. Kemudian seluruh persaudaraan seluas dunia ikut bertindak.

      Pada hari Minggu pagi, tanggal 7 Oktober 1934, pukul sembilan, setiap kelompok Saksi-Saksi di Jerman berkumpul. Mereka berdoa memohon bimbingan dan berkat Yehuwa. Kemudian setiap kelompok mengirimkan surat kepada para pejabat pemerintah yang menyatakan tekad mereka yang teguh untuk tetap melayani Yehuwa. Sebelum bubar, mereka membahas bersama kata-kata dari Tuhan mereka, Yesus Kristus, di Matius 10:16-24. Setelah itu, mereka pergi memberi kesaksian kepada tetangga mereka mengenai Yehuwa dan Kerajaan-Nya di bawah Kristus.

      Pada hari yang sama, Saksi-Saksi Yehuwa di seluruh bumi bertemu dan, setelah memanjatkan doa bersama kepada Yehuwa, mereka mengirimkan telegram yang memperingatkan pemerintahan Hitler, ”Perlakuan Anda yang buruk terhadap saksi-saksi Yehuwa mengejutkan semua orang baik di bumi dan menghina nama Allah. Jangan lagi menganiaya saksi-saksi Yehuwa; jika tidak, Allah akan menghancurkan Anda dan partai nasional Anda.” Namun masalahnya belum selesai sampai di situ.

      Gestapo meningkatkan upaya mereka untuk memorak-porandakan kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa. Setelah penangkapan secara besar-besaran terjadi pada tahun 1936, Gestapo berpikir bahwa mereka telah berhasil. Namun kemudian, pada tanggal 12 Desember 1936, sekitar 3.450 Saksi yang masih bebas di Jerman dengan cepat menyebarluaskan di seluruh negeri itu resolusi tercetak yang secara terang-terangan menyatakan maksud-tujuan Yehuwa serta mengemukakan tekad Saksi-Saksi Yehuwa untuk menaati Allah sebagai penguasa sebaliknya daripada manusia. Para penentang tidak dapat mengerti bagaimana mungkin Saksi-Saksi menyebarkan resolusi tersebut. Beberapa bulan kemudian, ketika Gestapo melecehkan tuduhan-tuduhan yang tertera dalam resolusi tersebut, Saksi-Saksi Yehuwa menyusun sepucuk surat terbuka yang tanpa ampun menyebutkan nama-nama opsir Nazi yang telah memperlakukan Saksi-Saksi Yehuwa dengan kejam. Pada tahun 1937, surat ini juga disebarluaskan di Jerman. Dengan demikian perbuatan orang-orang jahat ini disingkapkan agar semua mengetahuinya. Ini juga memberi kesempatan kepada publik untuk memutuskan haluan mana yang akan mereka ikuti secara pribadi sehubungan dengan hamba-hamba dari Yang Mahatinggi ini.—Bandingkan Matius 25:31-46.

      Publisitas Seluas Dunia Mendatangkan Kelepasan Tertentu

      Pemerintahan-pemerintahan lain juga telah memperlakukan Saksi-Saksi Yehuwa dengan kasar, melarang mereka mengadakan perhimpunan dan pengabaran umum. Dalam beberapa kasus pemerintahan-pemerintahan ini telah menyebabkan Saksi-Saksi dipaksa keluar dari pekerjaan duniawi dan anak-anak mereka dilarang bersekolah. Sejumlah pemerintahan juga menggunakan kebrutalan fisik. Padahal, negeri-negeri ini juga biasanya memiliki undang-undang yang menjamin kebebasan beragama. Karena ingin mendatangkan kelepasan bagi saudara-saudara mereka yang dianiaya, Lembaga Menara Pengawal sering mengadakan publisitas seluas dunia mengenai perincian dari perlakuan demikian. Ini dilakukan melalui majalah Menara Pengawal dan Sedarlah!, dan laporan-laporan ini kadang-kadang dipakai oleh media massa. Kemudian beribu-ribu surat yang berisi imbauan demi kepentingan Saksi-Saksi membanjiri kantor-kantor para pejabat pemerintahan di seluruh dunia.

      Sebagai hasil kampanye demikian pada tahun 1937, gubernur Georgia, di Amerika Serikat, menerima kira-kira 7.000 surat dari empat negara dalam dua hari, dan wali kota La Grange, Georgia, juga dibanjiri dengan ribuan surat. Kampanye-kampanye semacam itu juga dilakukan demi kepentingan Saksi-Saksi Yehuwa di Argentina pada tahun 1978 dan 1979, Benin tahun 1976, Burundi tahun 1989, Etiopia tahun 1957, Gabon tahun 1971, Kamerun tahun 1970, Malawi tahun 1968, 1972, 1975, dan sekali lagi tahun 1976, Malaya tahun 1952, Mozambik tahun 1976, Portugal tahun 1964 dan 1966, Republik Dominika tahun 1950 dan 1957, Singapura tahun 1972, Spanyol tahun 1961 dan sekali lagi tahun 1962, Swaziland tahun 1983, Yordania tahun 1959, juga Yunani tahun 1963 dan 1966.

      Sebagai contoh yang terjadi baru-baru ini yaitu apa yang dilakukan oleh Saksi-Saksi Yehuwa seluas dunia guna mendatangkan kelepasan bagi saudara-saudara mereka yang dianiaya, perhatikan situasi di Yunani. Karena begitu hebatnya penganiayaan yang dilancarkan terhadap Saksi-Saksi Yehuwa atas hasutan para pemimpin agama Ortodoks Yunani di sana, maka pada tahun 1986 majalah Menara Pengawal dan Sedarlah! (dengan penyebaran internasional untuk kedua majalah tersebut mencapai lebih dari 22.000.000 eksemplar) melaporkan perincian mengenai penganiayaan itu. Saksi-Saksi di negeri-negeri lain diundang untuk menulis kepada para pejabat pemerintah Yunani demi kepentingan saudara-saudara mereka. Para Saksi melakukannya; dan seperti yang dilaporkan oleh surat kabar Athena Vradyni, Menteri Kehakiman dibanjiri dengan lebih 200.000 surat dari 200 negeri lebih dan dalam 106 bahasa.

      Pada tahun berikutnya, ketika suatu kasus yang melibatkan Saksi-Saksi diperiksa Pengadilan tingkat banding di Hania, Kreta, para wakil Saksi-Saksi Yehuwa dari tujuh negeri lain (Amerika Serikat, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Prancis, dan Spanyol) hadir dalam kasus tersebut sebagai satu kelompok dan untuk mendukung saudara-saudara Kristen mereka. Belakangan, setelah keputusan yang merugikan dikeluarkan oleh Mahkamah Agung Yunani pada tahun 1988 dalam kasus lain lagi yang melibatkan Saksi-Saksi, naik banding diajukan ke Komisi Eropa untuk Hak Asasi Manusia. Di sana, pada tanggal 7 Desember 1990, kepada 16 yuris (ahli hukum) dari hampir seluruh bagian Eropa dihadapkan suatu arsip mengenai 2.000 penangkapan dan ratusan kasus pengadilan yang menjatuhkan vonis kepada Saksi-Saksi Yehuwa di Yunani karena mereka berbicara mengenai Alkitab. (Tepatnya, ada 19.147 penangkapan di Yunani dari tahun 1938 hingga 1992.) Komisi tersebut dengan suara bulat memutuskan agar kasus itu sepatutnya diperiksa oleh Mahkamah Eropa untuk Hak Asasi Manusia.

      Dalam beberapa kasus, penyingkapan tentang pelanggaran hak-hak asasi manusia sedikit banyak mendatangkan kelegaan. Akan tetapi, tidak soal tindakan apa yang diambil oleh para hakim atau penguasa, Saksi-Saksi Yehuwa terus menaati Allah sebagai Penguasa Tertinggi mereka.

      Memperoleh Pengakuan Resmi

      Wewenang untuk melaksanakan ibadat sejati jelas tidak berasal dari manusia atau pemerintahan manusia mana pun. Ini berasal dari Allah Yehuwa sendiri. Akan tetapi, di banyak negeri, untuk memperoleh perlindungan yang dijamin oleh hukum duniawi, telah terbukti menguntungkan bagi Saksi-Saksi Yehuwa untuk mendaftarkan diri ke pemerintah sebagai suatu perkumpulan agama. Rencana untuk membeli bangunan yang akan digunakan sebagai kantor cabang atau untuk melaksanakan pencetakan lektur Alkitab secara ekstensif dapat dipermudah dengan terbentuknya badan hukum setempat. Selaras dengan preseden yang diberikan oleh rasul Paulus di Filipi purba untuk ”secara hukum meneguhkan kabar baik”, Saksi-Saksi Yehuwa mengambil tindakan yang tepat untuk melaksanakan hal ini.—Flp. 1:7, NW.

      Kadang-kadang, keadaannya sangat sulit. Misalnya di Austria, tempat diadakannya suatu konkordat dengan Vatikan yang menjamin adanya dukungan finansial pemerintah bagi Gereja Katolik, upaya Saksi-Saksi Yehuwa pada mulanya ditolak oleh para pejabat yang mengatakan, ’Kalian bermaksud membentuk suatu organisasi agama, dan organisasi semacam itu tidak dapat ditetapkan di bawah hukum Austria.’ Akan tetapi, pada tahun 1930, mereka dapat mendaftarkan diri sebagai suatu perkumpulan yang menyalurkan Alkitab dan lektur Alkitab.

      Di Spanyol, kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa pada abad ke-20 sudah mulai sejak masa Perang Dunia I. Namun sejak tahun-tahun awal Inkwisisi pada abad ke-15, Gereja Katolik Roma dan Negara Spanyol, dengan beberapa perkecualian, telah bekerja sama dengan erat. Perubahan keadaan politik dan agama memungkinkan masing-masing orang menjalankan agama lain, tetapi menyatakan iman mereka kepada umum tetap dilarang. Meskipun adanya keadaan semacam ini, pada tahun 1956 dan sekali lagi pada tahun 1965, Saksi-Saksi Yehuwa berupaya memperoleh pengakuan resmi di Spanyol. Namun, kemajuan yang nyata baru dapat terlihat pada waktu Parlemen Spanyol mengeluarkan Undang-Undang Kebebasan Beragama pada tahun 1967. Akhirnya, pada tanggal 10 Juli 1970, pada waktu Saksi-Saksi sudah berjumlah lebih dari 11.000 di Spanyol, pengakuan resmi diberikan.

      Permohonan untuk pendaftaran resmi bagi Lembaga Menara Pengawal diajukan kepada gubernur kolonial Prancis di Dahomey (sekarang dikenal sebagai Benin) pada tahun 1948. Namun baru pada tahun 1966, enam tahun setelah negara tersebut menjadi republik yang independen, pendaftaran resmi demikian diberikan. Akan tetapi, pengakuan resmi itu dicabut pada tahun 1976 dan belakangan diberikan kembali pada tahun 1990 yaitu pada waktu terjadi perubahan situasi politik dan sikap para pejabat terhadap kebebasan beragama.

      Meskipun Saksi-Saksi Yehuwa telah menerima pengakuan resmi di Kanada selama bertahun-tahun, Perang Dunia II memberi kesempatan bagi para penentang untuk membujuk seorang gubernur jenderal yang baru untuk menyatakan bahwa kegiatan Saksi-Saksi tidak sah. Ini dilakukan pada tanggal 4 Juli 1940. Dua tahun kemudian, ketika Saksi-Saksi diberi kesempatan mengajukan protes kepada sebuah panitia terpilih dari Majelis Rendah, panitia tersebut dengan tegas merekomendasikan agar larangan atas Saksi-Saksi Yehuwa dan badan hukum mereka dicabut. Akan tetapi, setelah terjadi debat yang berulang dan berkepanjangan di Majelis Rendah dan setelah upaya keras dikerahkan untuk mengumpulkan tanda tangan pada dua buah petisi yang diedarkan ke seluruh penjuru negara tersebut, barulah Menteri Kehakiman, seorang Katolik Roma, merasa terpaksa mencabut sama sekali larangan itu.

      Agar Saksi-Saksi Yehuwa memperoleh pengakuan resmi di Eropa Timur, dituntut adanya perubahan mendasar dalam pandangan pemerintah di sana. Akhirnya, setelah permohonan naik banding untuk memperoleh kebebasan beragama diajukan selama beberapa dekade, Saksi-Saksi diberi pengakuan resmi di Polandia dan Hongaria pada tahun 1989, di Romania dan Jerman Timur (sebelum negara tersebut disatukan dengan Republik Federal Jerman) pada tahun 1990, di Bulgaria dan di negara yang waktu itu disebut Uni Soviet pada tahun 1991, dan di Albania pada tahun 1992.

      Saksi-Saksi Yehuwa berupaya bekerja selaras dengan hukum negara mana pun. Atas dasar Alkitab, mereka sangat menganjurkan respek kepada para pejabat pemerintah. Namun bila hukum manusia bertentangan dengan perintah-perintah Allah yang dinyatakan dengan jelas, mereka menjawab, ”Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.”—Kis. 5:29.

      Bila Rasa Takut Membuat Orang Melupakan Kebebasan Asasi

      Karena semakin banyak orang menyalahgunakan obat bius dan timbulnya inflasi, yang sering memaksa suami maupun istri bekerja duniawi, Saksi-Saksi Yehuwa di Amerika Serikat menyadari bahwa mereka dihadapkan kepada situasi baru dalam pelayanan. Banyak rumah di sekitar mereka kosong hampir sepanjang hari, dan perampokan merajalela. Orang-orang ketakutan. Pada akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an, suatu gelombang baru berupa pengesahan peraturan setempat mengenai permohonan pemberian lisensi menjadi undang-undang guna memantau orang-orang tidak dikenal yang ada di lingkungan masyarakat. Beberapa kota mengancam hendak menangkap Saksi-Saksi Yehuwa jika mereka tidak memiliki izin. Namun suatu dasar hukum yang kuat telah diletakkan sehingga upaya dapat dikerahkan untuk menangani problem-problem yang timbul di luar pengadilan.

      Bila kesulitan timbul para penatua setempat dapat menemui para pejabat kota untuk mencari jalan keluar. Saksi-Saksi Yehuwa dengan tegas menolak untuk meminta izin melakukan pekerjaan yang Allah perintahkan, dan Konstitusi AS, yang didukung oleh keputusan Mahkamah Agung, menjamin kebebasan beribadat dan kebebasan pers dalam hal tidak dikenakan pemungutan bayaran apa pun sebagai suatu prasyarat. Namun Saksi-Saksi Yehuwa memahami bahwa orang-orang ketakutan, dan mereka setuju untuk melapor kepada polisi sebelum mereka memulai pengabaran di suatu daerah tertentu, bila perlu. Akan tetapi, jika kata sepakat yang sesuai tidak dicapai, seorang pengacara dari kantor pusat Lembaga akan menghubungi pejabat setempat guna menjelaskan pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa, hukum konstitusional yang mendukung hak mereka untuk mengabar, dan kemampuan mereka untuk melaksanakan hak tersebut melalui tuntutan ganti rugi atas pelanggaran hak-hak sipil federal kepada kota praja dan para pejabatnya.f

      Di beberapa negeri bahkan terbukti perlu untuk maju ke pengadilan guna menegaskan kembali kebebasan asasi yang telah lama diabaikan. Halnya demikian di Finlandia pada tahun 1976 dan sekali lagi pada tahun 1983. Dengan dalih hendak memelihara ketenangan penghuni rumah, sejumlah besar peraturan setempat melarang kegiatan agama yang menyangkut pengabaran dari rumah ke rumah. Akan tetapi, di pengadilan Loviisa dan di Rauma dijelaskan bahwa pengabaran dari rumah ke rumah merupakan bagian dari agama Saksi-Saksi Yehuwa dan bahwa pemerintah telah menyetujui metode penginjilan ini pada waktu piagam bagi perkumpulan agama Saksi-Saksi Yehuwa disahkan. Juga diperlihatkan bahwa banyak orang menyambut baik kunjungan Saksi-Saksi dan bahwa melarang kegiatan demikian hanya karena tidak setiap orang menghargainya akan dianggap sebagai pembatasan terhadap kebebasan. Setelah diperoleh hasil yang menguntungkan dari kasus-kasus tersebut, banyak kota kecil dan kota yang lebih besar mencabut peraturan setempat mereka.

      Mempengaruhi Perkembangan Undang-Undang Konstitusional

      Kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa, di beberapa negeri, telah menjadi faktor utama dalam pembentukan undang-undang. Setiap mahasiswa hukum Amerika mengetahui betul sumbangan yang diberikan oleh Saksi-Saksi Yehuwa dalam mempertahankan hak-hak sipil di Amerika Serikat. Seberapa besar sumbangan tersebut tercermin dalam artikel-artikel seperti berikut, ”Hukum Konstitusional Berutang kepada Saksi-Saksi Yehuwa”, muncul dalam Law Review Minnesota, pada bulan Maret 1944, dan, ”Suatu Katalisator bagi Perkembangan Undang-Undang Konstitusional: Saksi-Saksi Yehuwa di Mahkamah Agung”, yang diterbitkan dalam University of Cincinnati Law Review, pada tahun 1987.

      Kasus-kasus pengadilan mereka membentuk suatu bagian penting dari undang-undang Amerika yang berhubungan dengan kebebasan beragama, kebebasan berbicara, dan kebebasan pers. Kasus-kasus ini telah berbuat banyak dalam mempertahankan kebebasan tidak hanya bagi Saksi-Saksi Yehuwa melainkan juga bagi seluruh warga. Dalam sebuah pidato di Universitas Drake, Irving Dilliard, seorang pengarang dan redaktur terkenal, mengatakan, ”Mungkin ini tidak menyenangkan Anda, namun Saksi-Saksi Yehuwa telah berbuat lebih banyak dibandingkan kelompok agama lain mana pun dalam membantu mempertahankan kebebasan kita.”

      Berkenaan situasi di Kanada, prakata dari buku State and Salvation—The Jehovah’s Witnesses and Their Fight for Civil Rights (Negara dan Kelepasan—Saksi-Saksi Yehuwa dan Perjuangan Mereka Demi Hak-Hak Sipil) menyatakan, ”Saksi-Saksi Yehuwa mengajar negara dan rakyat Kanada, bagaimana seharusnya penerapan dari proteksi hukum bagi kelompok-kelompok yang berbeda dalam pendirian. Selain itu, . . . penganiayaan [terhadap Saksi-Saksi di Propinsi Quebec] membawa kepada serangkaian kasus yang pada tahun 1940-an dan 1950-an sampai ke Mahkamah Agung Kanada. Kasus-kasus tersebut juga merupakan sumbangan penting bagi hak-hak sipil Kanada, dan hukum-hukum itu pun merupakan dasar yang kokoh bagi yurisprudensi kebebasan sipil di Kanada dewasa ini.” ”Salah satu hasil” perjuangan hukum Saksi-Saksi demi mencapai kebebasan beribadat, sebagaimana dijelaskan oleh buku tersebut, ”adalah diskusi dan debat panjang yang membawa kepada dikeluarkannya Piagam untuk Hak-Hak Asasi”, yang kini menjadi bagian dari undang-undang dasar fundamental Kanada.

      Keunggulan Hukum Allah

      Akan tetapi, yang terutama, catatan hukum dari Saksi-Saksi Yehuwa telah menjadi bukti bagi keyakinan mereka akan keunggulan hukum ilahi. Dasar pendirian yang mereka ambil adalah penghargaan mereka akan sengketa kedaulatan universal. Mereka mengakui Yehuwa sebagai satu-satunya Allah yang benar dan layak menjadi Yang Berdaulat atas alam semesta. Karena itu, mereka dengan tegas berpendirian bahwa undang-undang atau keputusan pengadilan mana pun yang melarang melakukan apa yang diperintahkan Yehuwa tidaklah sah dan bahwa lembaga manusia yang telah memberlakukan pembatasan demikian telah melampaui wewenangnya sendiri. Pendirian mereka seperti yang diperlihatkan oleh rasul-rasul Yesus Kristus, yang menyatakan, ”Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.”—Kis. 5:29.

      Dengan bantuan Allah, Saksi-Saksi Yehuwa bertekad memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah ini ke seluruh bumi yang berpenduduk sebagai kesaksian bagi semua bangsa sebelum tiba kesudahannya.—Mat. 24:14.

      [Catatan Kaki]

      a Terbitan pertama tertanggal 1 Oktober 1919. Penyebaran majalah itu dan majalah-majalah penggantinya, Consolation dan Awake!, luar biasa. Sejak tahun 1992, sirkulasi tetap majalah Sedarlah! berjumlah 13.110.000 dalam 67 bahasa.

      b Sebagai suatu kebijakan umum, pada waktu dihadapkan ke pengadilan karena memberi kesaksian, Saksi-Saksi Yehuwa mengajukan kasus mereka untuk naik banding sebaliknya dari membayar denda. Jika kasus tersebut kalah pada waktu naik banding, maka, sebaliknya dari membayar denda, mereka memilih untuk masuk penjara jika hukum memungkinkan hal itu. Penolakan yang terus-menerus oleh Saksi-Saksi untuk membayar denda membuat beberapa pejabat menjadi enggan untuk terus mempermasalahkan aktivitas pengabaran mereka. Meskipun kebijakan ini masih dapat diikuti di bawah keadaan-keadaan tertentu, The Watchtower 1 April 1975, memperlihatkan bahwa dalam banyak kasus, denda layak dipandang sebagai hukuman pengadilan, maka membayar denda tidak berarti mengaku bersalah, sebagaimana halnya masuk penjara tidak membuktikan seseorang bersalah.

      c Lovell v. City of Griffin, 303 U.S. 444 (1938).

      d Schneider v. State of New Jersey (Town of Irvington), 308 U.S. 147 (1939).

      e 310 U.S. 296 (1940).

      f 297 Mass. 65 (1935). Kasus yang melibatkan seorang murid laki-laki berusia delapan tahun, yang namanya dieja dengan benar Carleton Nichols.

      g 302 U.S. 656 (1937) (dari Georgia).

      h 303 U.S. 624 (1938) (dari New Jersey).

      i 306 U.S. 621 (1939) (dari Kalifornia).

      j 306 U.S. 621 (1939) (dari Massachusetts).

      k 310 U.S. 586 (1940). Walter Gobitas (ejaan yang benar), sang ayah, beserta anak-anaknya William dan Lillian, maju ke pengadilan agar pengurus sekolah tidak mengeluarkan kedua anak tersebut dari sekolah negeri Minersville karena anak-anak tersebut tidak memberi salut kepada bendera nasional. Pengadilan distrik federal maupun pengadilan banding tingkat wilayah keduanya memutuskan untuk memenangkan Saksi-Saksi Yehuwa. Kemudian, pengurus sekolah naik banding ke Mahkamah Agung.

      l 316 U.S. 584 (1942).

      a 319 U.S. 105 (1943).

      b Selama tahun kalender 1943, petisi dan naik banding dalam 24 kasus peradilan yang melibatkan Saksi-Saksi Yehuwa dilimpahkan ke Mahkamah Agung Amerika Serikat.

      c 319 U.S. 624 (1943).

      d 319 U.S. 583 (1943).

      e Dari tahun 1919 sampai 1988, petisi dan naik banding dalam 138 kasus yang melibatkan Saksi-Saksi Yehuwa diajukan ke Mahkamah Agung AS. Seratus tiga puluh kasus diajukan oleh Saksi-Saksi Yehuwa; delapan oleh lawan mereka dalam pengadilan. Mahkamah Agung menolak untuk meninjau 67 kasus di antaranya karena, sebagaimana Mahkamah memandang masalah tersebut pada saat itu, tidak ada pertanyaan-pertanyaan penting yang menyangkut konstitusi maupun undang-undang federal yang diajukan. Mahkamah mempertimbangkan 47 kasus di antaranya, dan semua keputusan menguntungkan Saksi-Saksi Yehuwa.

      f Jane Monell v. Department of Social Services of the City of New York, 436 U.S. 658 (1978).

      [Blurb di hlm. 680]

      Larangan pemerintah diberlakukan atas Saksi-Saksi Yehuwa dari satu negeri ke lain negeri

      [Blurb di hlm. 682]

      Perkara ini dibatalkan, dan dengan marah imam tersebut bergegas ke luar gedung pengadilan!

      [Blurb di hlm. 693]

      Beberapa pejabat menjadi lebih berhati-hati dalam menangani kasus-kasus yang melibatkan Saksi-Saksi

      [Kotak di hlm. 684]

      Kesaksian Bagi Mahkamah Agung Amerika Serikat

      Ketika tampil di hadapan Mahkamah Agung Amerika Serikat sebagai pengacara hukum dalam kasus ”Gobitis”, Joseph F. Rutherford, anggota Persatuan Pengacara New York dan presiden Lembaga Menara Pengawal, dengan jelas menarik perhatian kepada pentingnya tunduk kepada kedaulatan Allah Yehuwa. Ia mengatakan,

      ”Saksi-saksi Yehuwa adalah orang-orang yang memberi kesaksian kepada nama Allah Yang Mahakuasa, yang nama-Nya adalah YEHUWA. . . .

      ”Saya menarik perhatian kepada fakta bahwa Allah Yehuwa, lebih dari enam ribu tahun yang lalu, berjanji hendak mendirikan suatu pemerintahan yang adil-benar melalui Mesias. Ia akan menepati janji tersebut pada waktu yang telah ditentukan. Fakta-fakta yang ada dewasa ini sehubungan nubuat menunjukkan bahwa sudah dekat waktunya. . . .

      ”Allah Yehuwa, adalah satu-satunya sumber kehidupan. Tidak ada pribadi lain yang dapat memberi kehidupan. Negara bagian Pennsylvania tidak dapat memberi kehidupan. Pemerintah Amerika tidak dapat. Allah membuat hukum ini [yang melarang beribadat kepada patung-patung], seperti yang dikatakan Paulus, untuk melindungi umat-Nya terhadap penyembahan berhala. Anda katakan, itu hal kecil. Begitu pula perbuatan Adam memakan buah terlarang. Yang menjadi masalah bukanlah apel yang Adam makan, melainkan perbuatan tidak menaati Allah. Persoalannya adalah apakah manusia akan menaati Allah atau menaati lembaga manusia tertentu. . . .

      ”Saya mengingatkan Mahkamah ini (seharusnya saya tidak perlu melakukan ini) bahwa dalam kasus ”Church v. United State” Mahkamah ini berpendapat bahwa Amerika adalah bangsa Kristen; dan itu berarti bahwa Amerika harus tunduk kepada hukum Ilahi. Itu juga berarti bahwa Mahkamah ini secara hukum memberi perhatian kepada fakta bahwa hukum Allah adalah hukum tertinggi. Dan jika seseorang, berdasarkan hati nurani, percaya bahwa hukum Allah merupakan hukum tertinggi, dan berdasarkan hati nurani, berbuat selaras dengan itu, maka tidak ada wewenang manusia mana pun yang dapat mengendalikan atau mengganggu hati nuraninya. . . .

      ”Izinkan saya menarik perhatian kepada hal ini, bahwa pada pembukaan dari setiap acara di Mahkamah ini, sang protokol mengumumkan kata-kata berikut, ’Semoga Allah melindungi Amerika Serikat dan Mahkamah yang terhormat ini.’ Dan sekarang saya mengatakan, Semoga Allah melindungi Mahkamah yang terhormat ini dari kesalahan yang akan membuat rakyat Amerika Serikat menjadi bangsa yang totaliter dan menghancurkan semua kebebasan yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar. Ini merupakan masalah yang suci bagi setiap warga Amerika yang mengasihi Allah dan Firman-Nya.”

      [Kotak di hlm. 687]

      Mengatur Pentas untuk Suatu Kebalikan

      Ketika Mahkamah Agung Amerika memutuskan, pada tahun 1940, dalam kasus ”Minersville School District v. Gobitis”, bahwa siswa-siswa sekolah dapat diwajibkan untuk memberi salut kepada bendera, delapan dari sembilan orang hakim menyatakan setuju. Hanya Hakim Stone yang tidak setuju. Namun dua tahun kemudian, ketika menyampaikan ketidaksetujuan mereka dalam kasus ”Jones v. Opelika”, tiga hakim lain (Black, Douglas, dan Murphy) menggunakan kesempatan ini untuk menyatakan keyakinan mereka bahwa keputusan yang salah telah diambil dalam kasus ”Gobitis” karena kebebasan beragama telah diabaikan dalam keputusan tersebut. Itu berarti bahwa empat dari sembilan hakim setuju untuk mengubah keputusan dalam kasus ”Gobitis”. Dua dari lima hakim lain yang telah melecehkan kebebasan beragama, mengundurkan diri. Dua hakim baru (Rutledge dan Jackson) ikut dalam pengadilan pada waktu kasus salut bendera yang berikutnya diajukan ke Mahkamah Agung. Pada tahun 1943, dalam kasus ”West Virginia State Board of Education v. Barnette”, kedua hakim tersebut memberi suara yang membela kebebasan beragama sebaliknya daripada wajib salut bendera. Maka, dengan hasil suara 6 banding 3, Mahkamah mengubah pendirian yang telah diambil dalam lima kasus sebelumnya (”Gobitis”, ”Leoles”, ”Hering”, ”Gabrielli”, dan ”Johnson”) yang telah diajukan untuk naik banding ke Mahkamah ini.

      Menarik, Hakim Frankfurter, dalam ketidaksetujuannya berkenaan kasus ”Barnette”, mengatakan, ”Sebagaimana terbukti benar pada zaman dahulu, dari waktu ke waktu Mahkamah akan mengubah pendiriannya. Namun saya yakin bahwa belum pernah kasus-kasus dari Saksi-Saksi Yehuwa (kecuali penyimpangan kecil yang diketahui belakangan) berhasil membuat Mahkamah membatalkan keputusan demi membatasi wewenang pemerintahan demokrat.”

      [Kotak di hlm. 688]

      ”Bentuk Lama dari Penginjilan Utusan Injil”

      Pada tahun 1943, dalam kasus ”Murdock v. Pennsylvania”, Mahkamah Agung Amerika Serikat mengatakan, antara lain,

      ”Penyebaran risalah agama dari tangan ke tangan merupakan suatu bentuk lama dari penginjilan oleh para utusan injil—sama tuanya dengan sejarah mesin cetak. Ini telah menjadi kekuatan ampuh dalam berbagai gerakan agama dari tahun ke tahun. Bentuk penginjilan ini digunakan dewasa ini dalam skala besar oleh berbagai sekte agama dengan mengutus para kolportirnya untuk membawa Berita Injil kepada ribuan orang di ribuan rumah dan berupaya, melalui kunjungan pribadi mereka, memenangkan orang agar menganut iman mereka. Ini lebih dari sekadar mengabar; ini lebih dari sekadar penyebaran lektur agama. Ini merupakan kombinasi keduanya. Tujuannya sama dengan tujuan kebangkitan rohani yaitu memberitakan injil. Bentuk kegiatan agama ini menempati kedudukan yang mulia di bawah Amandemen Pertama yang sama seperti beribadat di gereja dan mengabar dari mimbar. Kegiatan ini memiliki hak yang sama untuk mendapat perlindungan seperti kegiatan-kegiatan dari agama yang lebih ortodoks dan konvensional. Ini juga memiliki hak yang sama seperti yang lain-lain dalam hal jaminan akan kebebasan berbicara dan kebebasan pers.”

      [Kotak di hlm. 690]

      ”Hak yang Sama Bagi Semua”

      Di bawah judul di atas, pada tahun 1953 seorang kolumnis Kanada, yang kenamaan pada waktu itu, menulis, ”Api unggun yang besar di Bukit Parlemen seharusnya dinyalakan untuk merayakan keputusan Mahkamah Agung Kanada dalam kasus Saumur [yang diajukan ke Mahkamah oleh Saksi-Saksi Yehuwa]; api unggun layak dinyalakan untuk suatu peristiwa besar. Dalam sejarah peradilan Kanada, hanya sedikit sidang pengadilan lain yang dapat membawa lebih banyak manfaat bagi Kanada. Mahkamah Agung telah membawa manfaat yang besar bagi Kanada daripada kebanyakan pengadilan lain. Sebelumnya tak satu pun yang telah membuat rakyat Kanada menghargai lebih dalam pentingnya warisan kebebasan yang mereka miliki. . . . Kelepasan tersebut layak mendapat perayaan yang lebih besar daripada sekadar menyalakan api unggun.”

      [Kotak di hlm. 694]

      Suatu Pernyataan Tegas Kepada Negara Nazi

      Pada tanggal 7 Oktober 1934, surat berikut ini dikirim ke pemerintahan Jerman oleh setiap sidang Saksi-Saksi Yehuwa di Jerman:

      ”KEPADA PARA PEJABAT PEMERINTAHAN:

      ”Firman Allah Yehuwa, sebagaimana tertulis dalam Alkitab, merupakan hukum tertinggi, dan bagi kami itu adalah pedoman tunggal kami sehingga kami mempunyai alasan untuk membaktikan diri kepada Allah dan menjadi pengikut yang benar dan tulus dari Kristus Yesus.

      ”Selama tahun yang lalu dan bertentangan dengan hukum Allah serta melanggar hak kami, Anda telah melarang kami sebagai saksi-saksi Yehuwa untuk berhimpun bersama guna belajar Firman Allah dan beribadat serta melayani Dia. Dalam Firman-Nya, Ia memerintahkan kami untuk tidak menjauhkan diri dari pertemuan ibadah kami. (Ibrani 10:25) Yehuwa memerintahkan kepada kami, ’Kamulah saksi-saksiKu, bahwa Akulah Allah. Dan pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini.’ (Yesaya 43:10, 12; Yesaya 6:9; Matius 24:14) Ada suatu konflik langsung antara hukum Anda dan hukum Allah, dan, demi mengikuti teladan para rasul yang setia, ”Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia”, dan inilah yang akan kami lakukan. (Kisah 5:29) Karena itu, surat ini hendak memberi tahu Anda bahwa dengan risiko apa pun kami akan menaati perintah-perintah Allah, akan berhimpun bersama untuk belajar Firman-Nya, dan akan beribadat serta melayani Dia seperti yang telah diperintahkan-Nya. Jika pemerintahan atau para petugas Anda melakukan kekerasan kepada kami karena kami menaati Allah, maka darah kami akan tertanggung atas Anda dan Anda akan mempertanggungjawabkannya kepada Allah Yang Mahakuasa.

      ”Kami tidak berminat kepada urusan politik, tetapi kami mengabdi sepenuhnya kepada kerajaan Allah di bawah Kristus, Raja-Nya. Kami tidak akan mencelakai atau mengganggu siapa pun. Kami akan dengan senang hati hidup dalam perdamaian dan melakukan hal-hal yang baik kepada semua orang jika kami memiliki kesempatan untuk itu, namun, karena pemerintahan Anda dan para petugasnya terus berupaya memaksa kami melanggar hukum tertinggi di alam semesta, kami terpaksa harus memberi tahu Anda sekarang bahwa kami akan, demi kemuliaan-Nya, menaati Allah Yehuwa dan percaya sepenuhnya bahwa Dia akan melepaskan kami dari semua penindasan dan para penindasnya.”

      [Kotak di hlm. 697]

      Saksi-Saksi di Bawah Larangan Dengan Tegas Menyatakan Pendirian Mereka

      Organisasi Saksi-Saksi Yehuwa dilarang oleh pemerintah di Kanada pada tahun 1940. Sejak itu, ada lebih dari 500 dakwaan. Pembelaan apa yang dapat diberikan oleh Saksi-Saksi ini? Dengan penuh hormat dan tegas, mereka membuat pernyataan kepada Mahkamah selaras dengan tema berikut ini,

      ’Saya tidak memohon pengampunan karena menawarkan buku-buku ini. Buku-buku tersebut mengajarkan jalan menuju kehidupan kekal. Dengan tulus saya percaya buku-buku tersebut menjelaskan maksud-tujuan Allah Yang Mahakuasa untuk mendirikan sebuah Kerajaan yang adil-benar di bumi. Bagi saya, ini merupakan berkat terbesar dalam kehidupan saya. Menurut pendapat saya, kita akan berdosa kepada Yang Mahakuasa bila kita menghancurkan buku-buku ini, dan berita dari Allah yang dikandungnya, sama halnya dengan dosa yang kita buat bila membakar Alkitab. Setiap orang harus memilih risiko yang akan ditanggungnya, ditolak oleh manusia atau ditolak oleh Allah Yang Mahakuasa. Saya sendiri telah berpihak kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya, dan saya berupaya memuliakan nama Yang Maha Tinggi, yaitu Yehuwa, dan jika saya harus dihukum karena itu, maka ada tanggung jawab di hadapan Allah yang harus diambil oleh orang-orang yang menjatuhkan hukuman tersebut.’

      [Kotak di hlm. 698]

      Bagaimana Anggota-Anggota Pemerintahan Kanada Memandangnya

      Ini adalah pernyataan yang dibuat oleh beberapa anggota Majelis Rendah Kanada pada tahun 1943 pada waktu mendesak Menteri Kehakiman untuk mencabut larangan atas Saksi-Saksi Yehuwa dan badan hukum mereka,

      ”Tidak ada bukti yang diajukan kepada panitia oleh Departemen Kehakiman yang menunjukkan bahwa saksi-saksi Yehuwa selamanya harus dinyatakan sebagai organisasi yang tidak sah . . . Merupakan suatu celaan bagi Dominion Kanada bila orang-orang dituntut karena tuduhan yang bersifat agama dengan cara yang dialami oleh orang-orang yang kurang beruntung ini. ”Menurut saya, jelas bahwa, prasangka agamalah yang semata-mata mempertahankan adanya larangan tersebut.”—Tn. Angus MacInnis.

      ”Pengalaman yang dimiliki oleh kebanyakan dari antara kami adalah bahwa mereka ini orang-orang yang tidak membahayakan, tidak memiliki maksud apa pun untuk mencelakakan negara. . . . Mengapa larangan belum dicabut? Ini tidak mungkin disebabkan oleh rasa takut bahwa organisasi ini merusak kesejahteraan negara, atau bahwa tindakan-tindakannya bersifat subversif terhadap upaya perang. Bahkan tidak pernah ada bukti sedikit pun bahwa halnya memang demikian.”—Tn. John G. Diefenbaker.

      ”Ini membuat seseorang bertanya-tanya mungkinkah tindakan terhadap Saksi-Saksi Yehuwa terutama didasarkan pada sikap mereka terhadap Katolik Roma, bukan didasarkan pada sikap mereka yang dikatakan subversif.”—Tn. Victor Quelch.

      [Kotak di hlm. 699]

      ”Upaya Demi Tercapainya Kebebasan Beragama”

      ”Tidak adil bila kita tidak meninjau survei singkat ini tentang kesulitan yang dialami Saksi-Saksi Yehuwa dengan Negara tanpa menunjuk kepada upaya demi tercapainya kebebasan beragama di bawah Undang-Undang kita yang telah diberikan sebagai hasil kegigihan mereka. Pada tahun-tahun belakangan, mereka lebih sering maju ke pengadilan dibandingkan kelompok agama lain, dan di hadapan umum, mereka kelihatan berpikiran picik, tetapi mereka telah berlaku benar sesuai dengan keyakinan mereka yang didasarkan atas hati nurani, dan hasilnya, Pengadilan Federal telah mengeluarkan serangkaian keputusan yang menjamin dan memperluas jaminan akan kebebasan beragama bagi warga Amerika, dan telah melindungi serta memperbanyak kebebasan sipil mereka. Kira-kira tiga puluh kasus yang melibatkan Saksi-Saksi itu diajukan ke Mahkamah Agung dalam lima tahun, dari tahun 1938 sampai 1943, dan keputusan dalam kasus-kasus ini maupun yang timbul kemudian telah sangat membantu tercapainya kebebasan yang dijamin dalam Pernyataan Hak-Hak Manusia pada umumnya, dan perlindungan atas kebebasan beragama pada khususnya.”—”Church and State in the United States”, oleh Anson Phelps Stokes, Jilid III, 1950, halaman 546.

      [Kotak/Gambar di hlm. 700, 701]

      Bersukacita Dalam Kebebasan Beribadat Mereka

      Di banyak negeri yang dahulunya tidak memberi kebebasan penuh kepada Saksi-Saksi Yehuwa, mereka sekarang secara leluasa mengadakan pertemuan ibadat dan tanpa halangan membagikan kabar baik tentang Kerajaan Allah kepada orang-orang lain.

      Quebec, Kanada

      Selama tahun 1940-an, Saksi-Saksi yang jumlahnya hanya sedikit di Châteauguay diserang oleh segerombolan massa. Pada tahun 1992, lebih dari 21.000 Saksi di Propinsi Quebec berhimpun dengan leluasa di Balai-Balai Kerajaan mereka

      St. Petersburg, Rusia

      Pada tahun 1992, ada 3.256 orang yang mengajukan diri untuk dibaptis pada kebaktian internasional Saksi-Saksi Yehuwa yang pertama di Rusia

      Palma, Spanyol

      Setelah Saksi-Saksi Yehuwa di Spanyol mendapat pengakuan resmi pada tahun 1970, papan petunjuk besar yang mencerminkan sukacita mereka karena dapat berhimpun secara terbuka terpampang di tempat perhimpunan mereka

      Tartu, Estonia

      Saksi-Saksi di Estonia berterima kasih karena telah menerima lektur Alkitab tanpa kesulitan sejak tahun 1990

      Maputo, Mozambik

      Dalam setahun setelah Saksi-Saksi Yehuwa mendapat status resmi di sini pada tahun 1991, lebih dari 50 sidang Saksi-Saksi yang bergairah melaksanakan pelayanan mereka di dalam dan di sekitar ibu kota

      Cotonou, Benin

      Pada waktu Saksi-Saksi tiba di suatu perhimpunan pada tahun 1990, banyak yang terkejut melihat sebuah spanduk yang dengan terang-terangan menyambut Saksi-Saksi Yehuwa. Pada saat itu mereka menyadari bahwa larangan atas ibadat mereka telah dicabut

      Praha, Cekoslowakia

      Ini adalah segelintir orang yang melayani Yehuwa di bawah larangan pemerintah selama 40 tahun. Pada tahun 1991, mereka bersukacita berada bersama dalam sebuah kebaktian internasional Saksi-Saksi Yehuwa di Praha

      Luanda, Angola

      Ketika larangan dicabut pada tahun 1992, lebih dari 50.000 orang maupun keluarga menyambut Saksi-Saksi untuk belajar Alkitab bersama mereka

      Kiev, Ukraina

      Perhimpunan-perhimpunan di negeri ini (sering di gedung-gedung yang disewa) dihadiri oleh banyak orang, teristimewa sejak Saksi-Saksi Yehuwa mendapat pengakuan resmi pada tahun 1991

      [Gambar di hlm. 679]

      Dalam 138 kasus yang melibatkan Saksi-Saksi Yehuwa, berulang kali naik banding dan banyak petisi dilimpahkan ke Mahkamah Agung AS. Dalam 111 kasus, dari tahun 1939 hingga 1963, Hayden Covington (tampak di sini) bertindak sebagai pengacara

      [Gambar di hlm. 681]

      Maurice Duplessis, perdana menteri Quebec, di depan umum berlutut di hadapan Kardinal Villeneuve pada akhir tahun 1930-an dan mengenakan sebuah cincin di jarinya sebagai bukti hubungan erat antara Gereja dan Negara. Di Quebec, penganiayaan terhadap Saksi-Saksi Yehuwa sangat hebat

      [Gambar di hlm. 683]

      W. K. Jackson, yang adalah staf hukum di kantor pusat Lembaga, melayani selama sepuluh tahun sebagai anggota Badan Pimpinan Saksi-Saksi Yehuwa

      [Gambar di hlm. 685]

      Rosco Jones, yang kasusnya melibatkan pelayanan Saksi-Saksi Yehuwa dua kali menghadap ke Mahkamah Agung AS

      [Gambar di hlm. 686]

      Majelis hakim Mahkamah Agung AS yang, melalui hasil pemungutan suara 6 banding 3 dalam kasus ”Barnette”, menolak wajib salut bendera demi membela kebebasan beribadat. Ini mengubah keputusan awal Mahkamah sendiri dalam kasus ”Gobitis”

      Anak-anak terlibat dalam kasus-kasus tersebut

      Lillian dan William Gobitas

      Marie dan Gathie Barnette

      [Gambar di hlm. 689]

      Aimé Boucher, dibebaskan Mahkamah Agung Kanada dalam keputusan yang membebaskan Saksi-Saksi Yehuwa dari tuduhan menghasut

      [Gambar di hlm. 691]

      Risalah ini, dalam tiga bahasa, memberi tahu seluruh Kanada tentang kekejaman yang dilancarkan terhadap Saksi-Saksi Yehuwa di Quebec

      [Gambar di hlm. 692]

      Dianggap perlu untuk mengajarkan prosedur hukum kepada Saksi-Saksi Yehuwa agar mereka dapat menghadapi tentangan atas pelayanan mereka; inilah beberapa publikasi tentang hukum yang mereka gunakan

  • Cara Dipilih dan Dibimbing oleh Allah
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 31

      Cara Dipilih dan Dibimbing oleh Allah

      ”SANGAT logis bahwa hanya akan ada satu agama yang benar. Ini selaras dengan fakta bahwa Allah yang benar bukanlah Allah ’kekacauan, tetapi damai sejahtera’. (1 Korintus 14:33) Alkitab mengatakan bahwa sebenarnya hanya ada ’satu iman’. (Efesus 4:5) Maka, siapakah orang-orang yang membentuk kumpulan penyembah yang sejati dewasa ini? Kita tidak ragu-ragu untuk mengatakan bahwa mereka adalah Saksi-Saksi Yehuwa,” kata buku Saudara Dapat Hidup Kekal Dalam Firdaus di Bumi.a

      ’Bagaimana kalian dapat begitu yakin bahwa kalian memiliki agama yang benar?’ beberapa orang mungkin bertanya. ’Kalian tidak memiliki bukti supernatural​—seperti karunia mukjizat. Dan dari tahun ke tahun bukankah kalian harus membuat penyesuaian dalam pandangan dan pengajaran kalian? Kalau begitu, bagaimana kalian dapat begitu yakin bahwa kalian dibimbing oleh Allah?’

      Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, adalah bermanfaat pertama-tama mempertimbangkan cara Yehuwa memilih dan membimbing umat-Nya pada zaman purba.

      Cara Allah Memilih Pada Zaman Alkitab

      Pada abad ke-16 SM, Yehuwa mengumpulkan bangsa Israel di Gunung Sinai dan mengundang mereka untuk menjadi umat pilihan-Nya. Namun, sebelumnya Yehuwa memberi tahu bahwa ada tuntutan-tuntutan spesifik yang harus mereka penuhi. Ia mengatakan kepada mereka, ”Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firmanKu . . . , maka kamu akan menjadi harta kesayanganKu.” (Kel. 19:5) Melalui Musa, Yehuwa dengan jelas mengemukakan tuntutan-tuntutan tersebut, yang setelah itu ditanggapi oleh bangsa tersebut dengan kata-kata, ”Segala firman yang telah diucapkan [Yehuwa] itu, akan kami lakukan.” Yehuwa kemudian membuat perjanjian dengan Israel dan memberi mereka Hukum-Nya.​—Kel. 24:3-8, 12.

      Dipilih oleh Allah​—betapa hak istimewa yang menakjubkan! Namun hak istimewa tersebut mendatangkan tanggung jawab atas bangsa Israel untuk menaati Hukum Allah dengan saksama. Gagal melakukan hal tersebut akan mengakibatkan mereka ditolak sebagai suatu bangsa. Guna menanamkan rasa takut yang sehat dalam diri mereka supaya mereka menaati Dia, Yehuwa membuat tanda-tanda supernatural yang spektakuler​—”ada guruh dan kilat”, dan ”seluruh gunung itu gemetar sangat”. (Kel. 19:9, 16-18; 20:18, 20) Selama kira-kira 1.500 tahun kemudian, bangsa Israel berada dalam kedudukan yang unik​—mereka adalah umat pilihan Allah.

      Akan tetapi, pada abad pertama M, keadaan berubah secara drastis, Israel kehilangan status istimewanya, dibuang oleh Yehuwa karena menolak Putra-Nya. (Mat. 21:43; 23:37, 38; Kis. 4:24-28) Yehuwa kemudian membentuk sidang Kristen masa awal, yang didasarkan atas Kristus. Pada Pentakosta tahun 33 M, Yehuwa mencurahkan roh kudus-Nya ke atas pengikut-pengikut Yesus di Yerusalem, menetapkan mereka sebagai ”bangsa yang terpilih, . . . bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri”. (1 Ptr. 2:9; Kis. 2:1-4; Ef. 2:19, 20) Mereka menjadi ”orang-orang pilihan Allah”.—Kol. 3:12.

      Keanggotaan dalam bangsa pilihan tersebut ada syaratnya. Yehuwa menetapkan tuntutan moral dan rohani yang ketat yang harus dipenuhi. (Gal. 5:19-24) Mereka yang menyelaraskan diri dengan tuntutan tersebut mendapat peluang untuk dipilih oleh-Nya. Akan tetapi, sekalipun mereka dipilih oleh Allah, penting untuk terus menaati hukum-hukum-Nya. Hanya ”semua orang yang mentaati Dia [sebagai penguasa, NW]” akan terus menerima roh kudus-Nya. (Kis. 5:32) Mereka yang gagal menaati Dia berada dalam bahaya dikeluarkan dari sidang dan kehilangan warisan mereka dalam Kerajaan Allah.—1 Kor. 5:11-13; 6:9, 10.

      Akan tetapi bagaimana orang-orang lain mengetahui dengan pasti bahwa Allah telah memilih sidang Kristen masa awal itu untuk menggantikan Israel sebagai ”jemaat Allah”? (Kis. 20:28) Pilihan Allah sudah jelas. Setelah kematian Yesus, Ia memberikan karunia mukjizat kepada anggota-anggota sidang Kristen masa awal untuk memperlihatkan bahwa kini merekalah orang-orang pilihan Allah.—Ibr. 2:3, 4.

      Apakah tanda supernatural, atau mukjizat, selalu perlu agar dapat mengenali orang-orang yang dipilih dan dibimbing oleh Allah pada zaman Alkitab? Tidak, sama sekali tidak. Pekerjaan mukjizat bukan merupakan kejadian yang umum sepanjang sejarah Alkitab. Kebanyakan orang yang hidup pada zaman Alkitab tidak pernah menyaksikan mukjizat. Banyak mukjizat yang dicatat dalam Alkitab terjadi pada zaman Musa dan Yosua (pada abad ke-16 dan ke-15 SM), Elia dan Elisa (pada abad ke-10 dan ke-9 SM), dan Yesus serta rasul-rasulnya (abad ke-1 M). Orang-orang setia lain yang dipilih oleh Allah untuk maksud-maksud khusus seperti Abraham dan Daud, mengamati atau mengalami pertunjukan kuasa Allah, namun tidak ada bukti bahwa mereka melakukan mukjizat. (Kej. 18:14; 19:27-29; 21:1-3; bandingkan 2 Samuel 6:21; Nehemia 9:7.) Mengenai karunia mukjizat yang diadakan pada abad pertama, Alkitab menubuatkan bahwa hal-hal ini akan ”berakhir”. (1 Kor. 13:8) Dan ini terjadi dengan meninggalnya orang terakhir dari ke-12 rasul dan orang-orang yang telah menerima karunia mukjizat melalui mereka.—Bandingkan Kisah 8:14-20.

      Bagaimana Mengenai Cara Allah Memilih Dewasa Ini?

      Setelah abad pertama, kemurtadan yang telah dinubuatkan berkembang tanpa penahan. (Kis. 20:29, 30; 2 Tes. 2:7-12) Selama berabad-abad, pelita kekristenan sejati bersinar sangat redup. (Bandingkan Matius 5:14-16.) Namun, dalam sebuah ilustrasi Yesus menunjukkan bahwa pada ’akhir sistem perkara ini’, akan ada perbedaan yang jelas antara ”gandum” (umat Kristen sejati) dan ”lalang” (umat Kristen palsu). Gandum, atau ”orang-orang pilihan” akan dikumpulkan ke dalam satu sidang Kristen yang sejati seperti pada abad pertama. (Mat. 13:24-30, 36-43; 24:31) Yesus juga menggambarkan anggota-anggota terurap dari sidang tersebut sebagai ”budak yang setia dan bijaksana” dan menunjukkan bahwa pada akhir zaman, mereka akan menyalurkan makanan rohani. (Mat. 24:3, 45-47, NW) Hamba yang setia tersebut akan disertai oleh suatu ”kumpulan besar” penyembah sejati yang berasal dari segala bangsa.—Why. 7:9, 10; bandingkan Mikha 4:1-4.

      Bagaimana para penyembah sejati yang hidup pada akhir zaman ini dapat dikenali? Apakah mereka akan selalu benar, apakah penilaian mereka sempurna? Rasul-rasul Yesus masih membutuhkan koreksi. (Luk. 22:24-27; Gal. 2:11-14) Sebagaimana halnya para rasul, pengikut-pengikut Kristus yang sejati pada zaman kita harus rendah hati, bersedia menerima disiplin dan, bila perlu, membuat penyesuaian, agar pemikiran mereka menjadi lebih selaras dengan pemikiran Allah.—1 Ptr. 5:5, 6.

      Ketika dunia memasuki hari-hari terakhir pada tahun 1914, kelompok mana yang terbukti sebagai satu-satunya organisasi Kristen yang sejati? Susunan Kristen mempunyai banyak gereja yang mengaku mewakili Kristus. Namun pertanyaannya adalah: Yang mana, jika pun ada, di antara mereka yang memenuhi tuntutan-tuntutan Alkitab?

      Satu-satunya sidang Kristen yang sejati haruslah suatu organisasi yang berpaut pada Alkitab sebagai wewenangnya yang tertinggi, bukan yang mengutip ayat-ayat tertentu secara acak tetapi menolak ayat-ayat lainnya bila ini tidak selaras dengan teologi sezamannya. (Yoh. 17:17; 2 Tim. 3:16, 17) Ini haruslah suatu organisasi yang anggota-anggotanya—bukan beberapa melainkan semua—benar-benar bukan bagian dari dunia, sama seperti Kristus. Jadi bagaimana mungkin mereka melibatkan diri dalam politik, seperti yang telah berulang kali dilakukan oleh gereja-gereja Susunan Kristen? (Yoh. 15:19; 17:16) Organisasi Kristen yang sejati harus memberi kesaksian tentang nama ilahi, Yehuwa, dan melakukan pekerjaan yang diperintahkan Yesus—pemberitaan kabar baik tentang Kerajaan Allah. Seperti sidang abad pertama, bukan hanya beberapa melainkan semua anggotanya menjadi penginjil sepenuh jiwa. (Yes. 43:10-12; Mat. 24:14; 28:19, 20; Kol. 3:23) Penyembah-penyembah sejati juga akan dikenali karena kasih rela berkorban terhadap satu sama lain, yaitu kasih yang akan melampaui batasan rasial dan nasional, dan mempersatukan mereka ke dalam persaudaraan seluas dunia. Kasih demikian harus nyata tidak hanya pada saat-saat tertentu tetapi dengan cara yang akan benar-benar membuat mereka terpisah sebagai suatu organisasi.—Yoh. 13:34, 35.

      Jelas, ketika akhir zaman mulai pada tahun 1914, tidak satu pun gereja Susunan Kristen yang memenuhi standar-standar Alkitab ini bagi satu-satunya sidang Kristen yang sejati. Namun, bagaimana dengan Siswa-Siswa Alkitab, sebagaimana Saksi-Saksi Yehuwa dikenal pada waktu itu?

      Suatu Pencarian Akan Kebenaran yang Membawa Hasil

      Ketika masih muda, C. T. Russell menyimpulkan bahwa Alkitab telah banyak disalahartikan oleh Susunan Kristen. Ia juga percaya bahwa sudah tiba waktunya Firman Allah dipahami dan bahwa orang-orang yang dengan tulus hati belajar Alkitab dan menerapkannya dalam kehidupan mereka akan memperoleh pemahaman.

      Sebuah biografi tentang Russell, yang diterbitkan tidak lama setelah kematiannya, menjelaskan, ”Ia bukan pendiri suatu agama baru dan tidak pernah membuat pengakuan demikian. Ia menghidupkan kembali kebenaran-kebenaran mulia yang diajarkan oleh Yesus dan para Rasul, dan mengalihkan terang abad kedua puluh kepada kebenaran-kebenaran ini. Ia tidak mengaku bahwa ia menerima suatu penyingkapan khusus dari Allah, tetapi percaya bahwa inilah waktu yang Allah tentukan agar Alkitab dipahami; dan bahwa, sebagai seorang yang mengabdi sepenuhnya kepada Tuhan dan kepada dinas-Nya, ia diizinkan untuk memahaminya. Karena ia membaktikan diri untuk mengembangkan buah-buah dan karunia-karunia dari Roh Kudus, maka janji Tuhan tergenap dalam dirinya, ’Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.’—2 Petrus 1:5-8.”—The Watch Tower, 1 Desember 1916, hlm. 356.

      Pencarian akan pemahaman Alkitab yang dilakukan oleh C. T. Russell dan rekan-rekannya membawa hasil. Sebagai pencinta kebenaran, mereka percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang terilham. (2 Tim. 3:16, 17) Mereka menolak gagasan evolusi dari Darwin dan pandangan-pandangan kritik tinggi yang merusak iman terhadap Alkitab. Dengan menerima Alkitab sebagai wewenang tertinggi, mereka juga menolak sebagai hal yang bertentangan dengan Alkitab ajaran-ajaran tentang Tritunggal, jiwa yang tak berkematian, dan siksaan kekal—doktrin-doktrin yang berakar pada agama kafir. Di antara ”kebenaran-kebenaran mulia” yang mereka terima terdapat kebenaran yang menyatakan bahwa Yehuwa-lah Pencipta segala sesuatu, bahwa Yesus Kristus adalah Putra Allah, yang memberikan kehidupannya sebagai tebusan bagi orang-orang lain, dan bahwa pada waktu ia kembali, Yesus akan hadir secara tidak kelihatan sebagai mahkluk roh. (Mat. 20:28; Yoh. 3:16; 14:19; Why. 4:11) Mereka juga dengan jelas memahami bahwa manusia adalah jiwa yang berkematian.—Kej. 2:7; Yeh. 18:20.

      Tidak berarti bahwa Siswa-Siswa Alkitab yang bergabung bersama Russell yang membeberkan semua kebenaran ini; banyak yang telah dipahami sebelumnya oleh orang-orang tulus yang mengaku Kristen, yang di antaranya bahkan telah mengambil pendirian pada waktu kepercayaan-kepercayaan demikian tidak populer. Namun apakah orang-orang tersebut menyelaraskan diri dengan semua tuntutan Alkitab untuk ibadat sejati? Misalnya, apakah mereka benar-benar bukan bagian dari dunia, sebagaimana dikatakan Yesus mengenai sikap pengikut-pengikutnya yang sejati?

      Selain pandangan mereka tentang Alkitab, dalam hal-hal lain apa Siswa-Siswa Alkitab pada masa permulaan yang bergabung dengan Russell nyata berbeda? Pasti dalam kegairahan yang mereka nyatakan dalam membagikan keyakinan mereka kepada orang-orang lain, dengan khusus menandaskan pemberitaan nama dan Kerajaan Allah. Meskipun jumlah mereka relatif sedikit, dengan cepat mereka menjangkau berpuluh-puluh negeri dengan kabar baik tersebut. Apakah mereka juga benar-benar bukan bagian dari dunia, sebagaimana halnya pengikut-pengikut Kristus? Dalam beberapa segi, ya. Namun kesadaran mereka akan tanggung jawab yang tercakup dalam hal ini telah berkembang sejak Perang Dunia I, hingga sekarang ini telah menjadi ciri Saksi-Saksi Yehuwa yang menonjol. Hendaknya jangan diabaikan bahwa sementara kelompok-kelompok agama lain menyanjung Liga Bangsa-Bangsa dan, belakangan, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Saksi-Saksi Yehuwa memberitakan Kerajaan Allah—bukan organisasi buatan manusia mana pun—sebagai satu-satunya harapan umat manusia.

      Namun, bukankah beberapa kepercayaan yang dianut Saksi-Saksi Yehuwa mengalami penyesuaian dari tahun ke tahun? Jika mereka benar-benar dipilih dan dibimbing oleh Allah dan jika ajaran-ajaran mereka memang didasarkan pada wewenang Alkitab, mengapa perubahan demikian perlu terjadi?

      Cara Yehuwa Membimbing Umat-Nya

      Mereka yang membentuk satu-satunya organisasi Kristen sejati dewasa ini tidak memiliki penyingkapan yang diberikan melalui malaikat atau ilham ilahi. Namun mereka memang memiliki Alkitab yang terilham, yang memuat penyingkapan tentang pikiran dan kehendak Allah. Sebagai suatu organisasi dan secara perorangan, mereka harus menerima Alkitab sebagai kebenaran ilahi, mempelajarinya dengan saksama, dan membiarkannya bekerja dalam diri mereka. (1 Tes. 2:13) Namun bagaimana mereka dapat sampai kepada pengertian yang benar tentang Firman Allah?

      Alkitab sendiri mengatakan, ”Bukankah penafsiran itu milik Allah?” (Kej. 40:8, NW) Jika dalam mempelajari Alkitab ada bagian tertentu yang sulit dimengerti, mereka harus menyelidiki untuk mendapatkan bagian-bagian terilham lain yang menjelaskan pokok tersebut. Dengan demikian mereka membiarkan Alkitab menafsirkan dirinya, dan dari Alkitab mereka berupaya memahami ”pola” kebenaran yang dikemukakan dalam Firman Allah. (2 Tim. 1:13) Yehuwa membimbing atau mengarahkan mereka kepada pemahaman demikian melalui roh kudus-Nya. Namun untuk memperoleh bimbingan roh tersebut, mereka harus memperkembangkan buah-buahnya bukan mendukakan atau menentangnya, dan terus bersikap tanggap terhadap dorongan-dorongannya. (Gal. 5:22, 23, 25; Ef. 4:30) Selain itu, dengan bergairah menerapkan apa yang mereka pelajari, mereka terus membangun iman mereka, sebagai dasar untuk memperoleh pemahaman yang semakin jelas tentang cara mereka harus melaksanakan kehendak Allah di dalam dunia yang justru mereka sendiri bukan bagian darinya.—Luk. 17:5; Flp. 1:9, 10.

      Yehuwa ternyata selalu membimbing umat-Nya kepada pemahaman yang lebih jelas mengenai kehendak-Nya. (Mzm. 43:3) Cara Ia sebenarnya membimbing mereka dapat diilustrasikan sebagai berikut: Jika seseorang berada dalam ruangan yang gelap selama suatu jangka waktu yang panjang, tidakkah yang paling baik adalah jika terang disingkapkan kepadanya secara bertahap? Yehuwa telah menyingkapkan kepada umat-Nya terang kebenaran dengan cara yang serupa; Ia telah menerangi mereka secara progresif. (Bandingkan Yohanes 16:12, 13.) Halnya seperti yang dikatakan oleh Amsal ini, ”Jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.”—Ams. 4:18.

      Cara Yehuwa berurusan dengan hamba-hamba pilihan-Nya pada zaman Alkitab menegaskan bahwa pemahaman yang jelas tentang kehendak dan maksud-tujuan-Nya sering datang secara bertahap. Karena itu, Abraham tidak mengerti sepenuhnya bagaimana maksud-tujuan Yehuwa sehubungan dengan ”keturunan” [”benih”, NW] itu akan berkembang. (Kej. 12:1-3, 7; 15:2-4; bandingkan Ibrani 11:8.) Daniel tidak memahami hasil akhir dari nubuat-nubuat yang dicatatnya. (Dan. 12:8, 9) Yesus, ketika berada di bumi, mengakui bahwa ia tidak mengetahui hari dan jam manakala sistem perkara sekarang ini akan berakhir. (Mat. 24:36) Pada mulanya para rasul tidak mengerti bahwa Kerajaan Yesus akan berada di surga, bahwa Kerajaan tersebut tidak akan didirikan pada abad pertama dan bahwa bahkan orang-orang Kafir dapat mewarisinya.—Luk. 19:11; Kis. 1:6, 7; 10:9-16, 34, 35; 2 Tim. 4:18; Why. 5:9, 10.

      Maka, seharusnya kita tidak heran bahwa pada zaman modern juga, Yehuwa sering membimbing umat-Nya sebagai suatu organisasi yang progresif, secara bertahap menerangi mereka dengan kebenaran Alkitab. Bukan kebenaran itu sendiri yang berubah. Kebenaran tetap kebenaran. Kehendak dan maksud-tujuan Yehuwa, sebagaimana digariskan dalam Alkitab, tetap tidak berubah. (Yes. 46:10) Namun pemahaman mereka tentang kebenaran-kebenaran ini secara progresif menjadi lebih jelas ”pada waktunya”, waktu yang Yehuwa tentukan. (Mat. 24:45; bandingkan Daniel 12:4, 9.) Kadang-kadang, oleh karena kesalahan manusiawi atau kegairahan yang salah arah, pandangan mereka bisa jadi perlu disesuaikan.

      Misalnya, pada berbagai waktu dalam sejarah Saksi-Saksi Yehuwa zaman modern, kegairahan dan antusias mereka akan pembenaran kedaulatan Yehuwa telah mengarah kepada penantian yang terlalu dini berkenaan bilamana akhir sistem perkara Setan yang jahat akan datang. (Yeh. 38:21-23) Namun Yehuwa belum menyingkapkan lebih dahulu waktunya yang tepat. (Kis. 1:7) Maka, umat Yehuwa harus menyesuaikan pandangan mereka dalam hal ini.

      Penyesuaian pandangan demikian tidak mengartikan bahwa maksud-tujuan Allah telah berubah. Itu pun tidak mengartikan bahwa akhir sistem ini pasti masih sangat jauh. Sebaliknya, penggenapan nubuat-nubuat Alkitab mengenai ”penutup sistem perkara” menegaskan dekatnya akhir itu. (Mat. 24:3, NW) Maka, apakah fakta bahwa Saksi-Saksi Yehuwa beberapa kali memiliki penantian yang terlalu dini mengartikan bahwa mereka tidak dibimbing oleh Allah? Sama sekali tidak, sebagaimana pertanyaan murid-murid tentang dekatnya Kerajaan pada zaman mereka tidak mengartikan bahwa mereka tidak dipilih dan dibimbing oleh Allah!—Kis. 1:6; bandingkan Kisah 2:47; 6:7.

      Mengapa Saksi-Saksi Yehuwa begitu yakin bahwa mereka memeluk agama yang benar? Karena mereka percaya dan menerima apa yang dikatakan Alkitab mengenai tanda pengenal dari para penyembah sejati. Sejarah zaman modern mereka, sebagaimana telah dibahas dalam pasal-pasal lebih awal dalam publikasi ini, memperlihatkan bahwa, bukan hanya secara perorangan melainkan secara organisasi, mereka memenuhi tuntutan: Mereka dengan loyal mendukung Alkitab sebagai Firman kebenaran Allah yang suci. (Yoh. 17:17); mereka benar-benar terpisah sepenuhnya dari urusan-urusan duniawi (Yak. 1:27; 4:4); mereka memberi kesaksian tentang nama ilahi, Yehuwa, dan memberitakan Kerajaan Allah sebagai satu-satunya harapan umat manusia (Mat. 6:9; 24:14; Yoh. 17:26); dan mereka dengan tulus mengasihi satu sama lain.—Yoh. 13:34, 35.

      Mengapa kasih merupakan tanda pengenal yang menonjol dari para penyembah Allah yang benar? Kasih macam apakah yang mencirikan umat Kristen yang sejati?

      [Catatan Kaki]

      a Diterbitkan oleh Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.

      [Blurb di hlm. 705]

      Sekalipun mereka dipilih oleh Allah, penting untuk terus menaati hukum-hukum-Nya

      [Blurb di hlm. 706]

      Bagaimana para penyembah sejati yang hidup pada akhir zaman ini dapat dikenali?

      [Blurb di hlm. 707]

      ”Ia tidak mengaku bahwa ia menerima suatu penyingkapan khusus dari Allah”

      [Blurb di hlm. 708]

      Mereka membiarkan Alkitab menafsirkan dirinya

      [Blurb di hlm. 709]

      Yehuwa membimbing umat-Nya sebagai suatu organisasi yang progresif, secara bertahap menerangi mereka dengan kebenaran Alkitab

  • ”Dengan Demikian Semua Orang Akan Tahu, Bahwa Kamu Adalah Murid-Muridku”
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 32

      ”Dengan Demikian Semua Orang Akan Tahu, Bahwa Kamu Adalah Murid-Muridku”

      SAAT itu tanggal 14 Nisan 33 M, malam terakhir dari kehidupan Yesus di bumi. Ia tahu bahwa kematiannya sudah dekat, tetapi ia tidak memikirkan dirinya sendiri. Sebaliknya, ia memanfaatkan kesempatan ini untuk menganjurkan murid-muridnya.

      Yesus mengetahui bahwa keadaan mereka akan sulit setelah kepergiannya. Mereka akan menjadi sasaran ”kebencian segala bangsa” oleh karena namanya. (Mat. 24:9, NW) Setan akan berupaya memecah-belah dan merusak mereka. (Luk. 22:31) Sebagai akibat kemurtadan, umat Kristen palsu akan muncul. (Mat. 13:24-30, 36-43) Dan ”karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin”. (Mat. 24:12) Dalam menghadapi semua ini, apa yang akan mempersatukan murid-muridnya yang sejati? Terutama sekali, kasih mereka akan Yehuwa berfungsi sebagai pengikat yang mempersatukan. (Mat. 22:37, 38) Namun mereka juga harus saling mengasihi dan melakukannya dengan suatu cara yang akan membedakan mereka dari orang-orang lain di dunia. (Kol. 3:14; 1 Yoh. 4:20) Kasih macam apakah yang Yesus katakan akan dengan jelas mencirikan pengikut-pengikutnya yang sejati?

      Pada malam terakhir itu, Yesus memberikan perintah ini kepada mereka, ”Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh. 13:34, 35) Yesus berbicara tentang kasih lebih dari 20 kali pada malam hari itu. Dan tiga kali ia menyatakan perintah agar mereka ”saling mengasihi”. (Yoh. 15:12, 17) Jelas, Yesus tidak hanya memikirkan 11 rasulnya yang setia yang berada bersamanya pada malam itu melainkan juga semua orang lain yang pada akhirnya akan memeluk kekristenan sejati. (Bandingkan Yohanes 17:20, 21.) Perintah untuk saling mengasihi akan mengikat umat Kristen yang sejati ”senantiasa sampai kepada akhir zaman”.​—Mat. 28:20.

      Namun apakah Yesus memaksudkan bahwa siapa saja di mana saja di dunia ini yang memperlihatkan kebaikan dan kasih kepada sesamanya akan dengan cara demikian dikenal sebagai seorang murid Yesus yang sejati?

      ”Milikilah Kasih di Antara Kamu Sendiri”

      Pada malam yang sama itu, Yesus juga banyak berbicara tentang persatuan. ”Tetaplah dalam persatuan bersamaku,” katanya kepada murid-muridnya. (Yoh. 15:4, NW) Ia berdoa agar pengikut-pengikutnya ”semua menjadi satu”, dan menambahkan, ”sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita”. (Yoh. 17:21) Dalam konteks ini ia memerintahkan kepada mereka, ”Milikilah kasih di antara kamu sendiri.” (Yoh. 13:35, NW) Jadi kasih mereka dinyatakan tidak hanya kepada beberapa teman dekat atau di dalam sidang. Rasul Petrus yang menggemakan perintah Yesus ini belakangan menulis, ”Milikilah kasih terhadap segenap persekutuan saudara-saudara [atau, ’persaudaraan’].” (1 Ptr. 2:17, Kingdom Interlinear; bandingkan 1 Petrus 5:9.) Maka mereka akan menjadi suatu persaudaraan yang erat seluas dunia. Kasih yang istimewa akan ditemukan di antara semua orang percaya yang tergabung dalam keluarga seluas dunia karena mereka dianggap sebagai saudara dan saudari.

      Bagaimana kasih demikian dinyatakan? Apa yang begitu mencolok, begitu berbeda, berkenaan kasih mereka terhadap satu sama lain yang akan dilihat oleh orang-orang lain sebagai bukti yang jelas dari kekristenan sejati?

      ”Seperti Aku Telah Mengasihi Kamu”

      ”Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,” demikian dinyatakan Hukum Allah kepada Israel lebih dari 1.500 tahun sebelum Yesus hidup di bumi. (Im. 19:18) Namun, kasih demikian terhadap sesama bukanlah jenis kasih yang akan membuat pengikut-pengikut Yesus berbeda. Yang Yesus maksudkan adalah kasih yang jauh melampaui kasih kepada orang-orang lain seperti kepada diri sendiri.

      Sebagaimana Yesus katakan, perintah untuk saling mengasihi merupakan ”perintah baru”. Baru, bukan karena perintah ini lebih baru daripada Hukum Musa, melainkan baru dalam hal tingkat kasih tersebut harus dilaksanakan. Saling mengasihi ”seperti Aku telah mengasihi kamu,” Yesus menjelaskan. (Yoh. 13:34) Kasihnya kepada murid-muridnya kuat dan konstan. Ini merupakan kasih yang rela berkorban. Ia mempertunjukkannya dengan melakukan lebih daripada sekadar beberapa perbuatan baik bagi mereka. Ia memberi makan secara rohani dan, bila perlu, memenuhi kebutuhan jasmani mereka. (Mat. 15:32-38; Mrk. 6:30-34) Dan sebagai bukti mutlak tentang kasihnya, ia memberikan kehidupannya bagi mereka.—Yoh. 15:13.

      Ini merupakan jenis kasih yang menonjol yang dituntut dalam ”perintah baru” tersebut, kasih yang harus dimiliki pengikut-pengikut Yesus yang sejati terhadap satu sama lain. (1 Yoh. 3:16) Siapa dewasa ini yang jelas terbukti menaati ”perintah baru” itu? Bukti yang diberikan sebelumnya dalam publikasi ini tanpa ragu menunjuk kepada satu-satunya perkumpulan umat Kristen seluas dunia.

      Mereka dikenal, bukan karena model baju yang unik atau beberapa kebiasaan yang tidak lazim, melainkan karena ikatan yang kuat dan hangat yang mereka perlihatkan terhadap satu sama lain. Mereka memiliki reputasi dalam hal memperlihatkan kasih yang melampaui perbedaan rasial dan batas nasional. Mereka terkenal karena menolak bertempur melawan satu sama lain bahkan sewaktu negara tempat mereka tinggal sedang berperang. Yang lainnya terkesan akan cara mereka membantu satu sama lain pada waktu ditimpa kemalangan, seperti misalnya sewaktu bencana alam melanda atau sewaktu beberapa anggota dari persaudaraan mereka dianiaya karena memelihara integritas kepada Allah. Mereka siap menahan kesulitan atau menghadapi bahaya guna membantu saudara dan saudari mereka yang baginya Kristus telah menyerahkan kehidupannya. Dan, ya, mereka bersedia mati demi satu sama lain. Kasih yang mereka perlihatkan ini unik dalam dunia yang semakin mementingkan diri. Mereka adalah Saksi-Saksi Yehuwa.a

      Contoh dari kasih demikian dalam praktek tampak setelah Badai Andrew, yang melanda pantai Florida, AS, pada hari Senin dini hari, 24 Agustus 1992. Segera sesudah badai ini kira-kira 250.000 orang kehilangan rumah. Di antara para korban terdapat ribuan Saksi-Saksi Yehuwa. Secepat mungkin Badan Pimpinan dari Saksi-Saksi Yehuwa bertindak dengan menetapkan suatu panitia bantuan kemanusiaan dan mengatur agar dana bantuan kemanusiaan tersedia. Para pengawas Kristen di kawasan yang tertimpa musibah segera menghubungi setiap Saksi untuk mencari tahu kebutuhan mereka dan memberikan bantuan. Bahkan pada hari Senin pagi, pada hari badai tersebut melanda, Saksi-Saksi di Karolina Selatan, yang terletak ratusan kilometer jauhnya, mengirim satu truk bermuatan generator, gergaji mesin, dan air minum ke daerah bencana. Pada hari Selasa, dengan membawa persediaan lain yang telah disumbangkan, ratusan sukarelawan yang berasal dari luar kota tiba untuk membantu saudara-saudara setempat memperbaiki Balai-Balai Kerajaan dan rumah-rumah pribadi. Sehubungan dengan upaya memberikan bantuan kemanusiaan tersebut, seorang wanita bukan Saksi yang tinggal dekat sebuah Balai Kerajaan berkata, ”Pasti ini merupakan kasih Kristen yang dikatakan dalam Alkitab.”

      Apakah kasih semacam itu memudar setelah satu atau dua perbuatan baik diperlihatkan? Apakah itu ditujukan hanya kepada orang-orang dari ras atau kebangsaan yang sama? Pasti tidak! Sebagai akibat kondisi politik dan ekonomi yang tidak stabil di Zaire, pada tahun 1992 lebih dari 1.200 Saksi di sana kehilangan rumah dan semua harta benda mereka. Saksi-Saksi lain di Zaire segera datang membantu. Meskipun mereka sendiri berada di bawah tekanan, mereka juga ikut meringankan penderitaan para pengungsi Sudan yang datang ke Zaire. Segera, persediaan bantuan kemanusiaan tiba dari Afrika Selatan dan Prancis; termasuk makanan dari jagung, ikan asin, dan persediaan obat-obatan—barang-barang yang benar-benar dapat mereka gunakan. Berulang kali, bantuan disediakan, sesuai keadaan. Dan sementara ini berlangsung, bantuan serupa tersedia di banyak negeri lain.

      Namun, memiliki kasih semacam itu tidak membuat Saksi-Saksi Yehuwa berpuas diri. Mereka menyadari bahwa, sebagai pengikut-pengikut Yesus Kristus, mereka harus tetap berjaga-jaga.

      [Catatan Kaki]

      a Lihat pasal 19, ”Bertumbuh Bersama Dalam Kasih”.

      [Blurb di hlm. 710]

      Kasih macam apakah yang Yesus katakan akan dengan jelas mencirikan pengikut-pengikutnya yang sejati?

      [Blurb di hlm. 711]

      Mereka akan menjadi suatu persaudaraan yang erat seluas dunia

      [Kotak di hlm. 712]

      ”Saksi-Saksi Mempedulikan Sesama Mereka Sendiri—Dan Orang-Orang Lain”

      Di bawah judul tersebut, ”The Miami Herald” melaporkan mengenai upaya Saksi-Saksi Yehuwa dalam memberi bantuan kemanusiaan di Florida Selatan setelah Badai Andrew menghancurkan daerah itu pada bulan Agustus 1992. Artikel itu menyatakan, ”Tidak seorang pun di Homestead membanting pintu terhadap Saksi-Saksi Yehuwa pada minggu ini—bahkan bila mereka masih memiliki pintu yang dapat dibanting. Kira-kira 3.000 sukarelawan Saksi dari seluruh penjuru negeri telah berkumpul di daerah bencana, pertama untuk membantu sesama mereka sendiri, kemudian untuk membantu orang-orang lain. . . . Kira-kira 150 ton makanan dan perbekalan telah disalurkan ke dua Balai Kerajaan di kawasan Homestead melalui sebuah pos utama di Balai Kebaktian di Kabupaten Broward bagian barat. Dari kedua balai tersebut, para pekerja menyebar setiap pagi untuk memperbaiki rumah saudara-saudara Saksi yang hancur. . . . Sebuah dapur umum memasak makanan bagi lebih dari 1.500 orang, tiga kali sehari. Dan yang disediakan bukan hanya ’hot dog’ dan donat. Para sukarelawan dihidangkan roti buatan sendiri, ’lasagna’ sejak hari pertama, selada campur, masakan rebusan, kue dadar, dan roti Prancis—semua dari bahan-bahan yang disumbangkan.”—31 Agustus 1992, halaman 15A.

  • Terus-menerus Berjaga-jaga
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Pasal 33

      Terus-menerus Berjaga-jaga

      ”KARENA Yesus dengan jelas menyatakan bahwa tidak seorang pun dapat mengetahui ’tentang hari’ atau ’saat’ bilamana sang Bapa akan memerintahkan putra-Nya untuk ’datang’ melawan sistem perkara Setan yang jahat ini, ada yang mungkin bertanya, ’Mengapa begitu mendesak untuk menantikan akhir itu?’ Hal ini mendesak karena dalam nada yang hampir sama, Yesus menambahkan, ’Tetaplah melihat, tetaplah sadar . . . Tetaplah berjaga-jaga.’ (Mrk. 13:32-35)”​—Menara Pengawal, seri 6 (1 Desember 1984 dalam bahasa Inggris).

      Saksi-Saksi Yehuwa kini telah berjaga-jaga selama beberapa dekade. Berjaga-jaga akan apa? Akan kedatangan Yesus dalam kuasa Kerajaan untuk melaksanakan penghakiman terhadap sistem perkara Setan yang jahat dan untuk mencurahkan manfaat-manfaat sepenuhnya dari pemerintahan Kerajaannya ke seluas bumi! (Mat. 6:9, 10; 24:30; Luk. 21:28; 2 Tes. 1:7-10) Orang-orang yang berjaga-jaga ini mengetahui bahwa ”tanda” kehadiran Yesus telah jelas terlihat sejak tahun 1914 dan bahwa sistem perkara yang ada sekarang ini memasuki hari-hari terakhirnya pada tahun tersebut.—Mat. 24:3–25:46.

      Namun, hingga sekarang, Yesus belum juga datang sebagai Pelaksana Penghukuman dan Pembebas. Jadi bagaimana Saksi-Saksi Yehuwa memandang situasi yang sedang mereka hadapi?

      ’Yakin Sepenuhnya’ Akan Pengertian Mereka

      Sebagai suatu sidang seluas dunia, mereka memiliki ”keyakinan penuh akan pengertian mereka”. (Kol. 2:2, NW) Ini tidak berarti mereka merasa bahwa mereka memahami setiap perincian maksud-tujuan Yehuwa. Mereka terus menyelidiki Alkitab dengan pikiran terbuka, dan mereka terus belajar. Namun apa yang mereka pelajari tidak mengubah keyakinan dasar mereka berkenaan kebenaran-kebenaran pokok Firman Allah. Mereka ’yakin sepenuhnya’ akan kebenaran-kebenaran dasar ini; mereka telah mengakui dan menerimanya selama berpuluh-puluh tahun hingga sekarang. Akan tetapi, semua yang mereka pelajari terus meningkatkan pemahaman mereka tentang bagaimana ayat-ayat tertentu cocok dengan pola keseluruhan dari kebenaran Alkitab dan bagaimana mereka dapat dengan lebih sepenuhnya menerapkan nasihat Firman Allah dalam kehidupan mereka sendiri.

      Saksi-Saksi Yehuwa juga memiliki ”keyakinan penuh” berkenaan janji-janji Allah. Mereka memiliki keyakinan mutlak bahwa tidak satu pun dari janji-janji-Nya akan gagal bahkan dalam perincian yang terkecil dan bahwa semuanya akan digenapi pada waktu yang telah Ia tentukan. Karena itu, penggenapan nubuat Alkitab yang telah mereka lihat maupun alami sendiri membuat mereka yakin sepenuhnya bahwa dunia sekarang ini berada pada ”akhir zaman” dan bahwa janji Allah berkenaan dunia baru yang adil-benar akan segera terwujud.—Dan. 12:4, 9; Why. 21:1-5.

      Maka, apa yang hendaknya mereka lakukan? ”Tetaplah melihat, tetaplah sadar,” perintah Yesus, ”karena kamu tidak tahu kapan waktu yang ditetapkan itu. Karena itu tetaplah berjaga-jaga, . . . agar pada waktu [sang Majikan] tiba dengan mendadak, ia tidak mendapati kamu sedang tidur. Akan tetapi, apa yang aku katakan kepadamu aku katakan kepada semua, Tetaplah berjaga-jaga.” (Mrk. 13:33, 35-37, NW) Saksi-Saksi Yehuwa sangat menyadari perlunya tetap berjaga-jaga.

      Kegairahan yang berlebihan yang kadang-kadang mereka perlihatkan sehubungan dengan penggenapan nubuat-nubuat tertentu tidak mengubah bukti yang bertumpuk sejak Perang Dunia I bahwa kita berada pada penutup sistem perkara ini. Pasti, adalah jauh lebih baik bergairah—bahkan bergairah secara berlebihan—untuk melihat kehendak Allah terlaksana daripada secara rohani tidak sadar akan penggenapan maksud-tujuan-Nya!—Bandingkan Lukas 19:11; Kisah 1:6; 1 Tesalonika 5:1, 2, 6.

      Apa yang tercakup dalam hal tetap berjaga-jaga?

      Tetap Berjaga-Jaga—Bagaimana?

      Orang-orang Kristen yang berjaga-jaga tidak sekadar berpangku tangan dan menunggu. Jauh dari itu! Mereka harus terus memelihara kondisi sehat secara rohani sehingga pada waktu Yesus datang sebagai Pelaksana Penghukuman, ia juga akan terbukti sebagai Pembebas mereka. (Luk. 21:28) ”Jagalah dirimu,” Yesus memperingatkan, ”supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. . . . [Tetap, NW] berjaga-jagalah.” (Luk. 21:34-36) Karena itu, orang-orang Kristen yang berjaga-jaga harus pertama-tama ’menjaga diri mereka’, berhati-hati menjalani kehidupan setiap hari sebagaimana selayaknya bagi seorang Kristen. Mereka harus benar-benar tetap waspada akan tanggung jawab Kristen dan menghindari tingkah laku yang tidak bersifat Kristen yang mencirikan dunia yang ”berada di bawah kuasa si jahat”. (1 Yoh. 5:19; Rm. 13:11-14) Pada waktu Kristus datang, mereka harus siap.

      Siapa yang telah benar-benar tetap waspada, dalam kondisi yang sehat secara rohani? Catatan sejarah yang diperlihatkan pada pasal-pasal sebelumnya dari publikasi ini menunjuk kepada Saksi-Saksi Yehuwa. Jelas, mereka secara serius memikul tanggung jawab yang tersangkut sebagai orang Kristen. Misalnya, pada masa perang mereka bersedia menanggung risiko dipenjarakan dan mati karena mereka benar-benar waspada akan kewajiban untuk tidak menjadi bagian dari dunia dan untuk saling menunjukkan kasih yang rela berkorban. (Yoh. 13:34, 35; 17:14, 16) Orang-orang yang mengamati mereka di Balai Kerajaan, di kebaktian besar, atau bahkan pada waktu bekerja duniawi terkesan akan ’cara hidup mereka yang baik’. (1 Ptr. 2:12) Dalam dunia ini yang ”telah tumpul” perasaannya, mereka memiliki reputasi dalam hal menempuh kehidupan yang jujur dan bersih secara moral.—Ef. 4:19-24; 5:3-5.

      Namun, tetap berjaga-jaga mencakup lebih daripada ’menjaga diri’. Seorang penjaga harus mengumumkan kepada orang-orang lain apa yang dilihatnya. Pada zaman akhir ini, umat Kristen yang berjaga-jaga yang dengan jelas melihat tanda kehadiran Kristus harus memberitakan ”Injil Kerajaan” kepada orang-orang lain dan harus memperingatkan mereka bahwa Kristus akan segera datang dan melaksanakan penghukuman terhadap sistem perkara yang jahat ini. (Mat. 24:14, 30, 44) Dengan cara ini mereka membantu orang-orang lain agar memenuhi syarat untuk memperoleh ’kebebasan’.—Luk. 21:28.

      Siapa yang terbukti sedang berjaga-jaga dengan menyerukan peringatan ini? Saksi-Saksi Yehuwa terkenal di seluruh dunia karena kegairahan mereka dalam memberitakan nama dan Kerajaan Allah. Mereka tidak membatasi pekerjaan pengabaran ini hanya bagi suatu golongan pemimpin agama tertentu. Mereka mengakui bahwa ini merupakan tanggung jawab semua orang yang percaya. Mereka memandangnya sebagai bagian penting dari ibadat mereka. (Rm. 10:9, 10; 1 Kor. 9:16) Apa hasilnya?

      Mereka kini membentuk suatu sidang yang sedang bertumbuh yang terdiri dari jutaan anggota yang aktif di lebih dari 220 negeri seluas bumi. (Yes. 60:22; bandingkan Kisah 2:47; 6:7; 16:5.) Beberapa pemerintahan yang paling berkuasa dalam sejarah umat manusia telah melarang pekerjaan mereka, bahkan menciduk dan menjebloskan mereka ke dalam penjara. Namun Saksi-Saksi Yehuwa terus memberitakan Kerajaan Allah! Tekad mereka sama seperti yang dimiliki oleh para rasul yang, pada waktu diperintahkan untuk berhenti mengabar, menyatakan, ”Tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.” ”Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.”—Kis. 4:18-20; 5:27-29.

      ”Tetap Nantikanlah Itu”

      Situasi yang dialami oleh Saksi-Saksi Yehuwa dewasa ini serupa dengan yang dihadapi umat Kristen di Yudea pada abad pertama. Yesus telah memberi mereka sebuah tanda sehingga mereka mengetahui bila waktunya tiba untuk melarikan diri dari Yerusalem sehingga terhindar dari kehancurannya. ”Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, . . . harus melarikan diri,” kata Yesus. (Luk. 21:20-23) Belakangan, setelah 30 tahun lebih sedikit, pada tahun 66 M, Yerusalem dikepung oleh tentara Romawi. Sewaktu pasukan Romawi tiba-tiba mundur tanpa alasan yang jelas, umat Kristen di Yudea mengikuti instruksi Yesus dan melarikan diri—tidak hanya dari Yerusalem melainkan dari seluruh tanah Yudea—ke sebuah kota di Perea yang disebut Pela.

      Di sana, mereka menunggu dengan aman. Tahun 67 M datang dan berlalu. Kemudian tahun 68 disusul dengan tahun 69 M. Namun, Yerusalem tetap merdeka. Apakah mereka sebaiknya kembali? Lagi pula, Yesus tidak mengatakan berapa lama harus menunggu. Akan tetapi, jika ada yang kembali, hal itu benar-benar celaka, karena pada tahun 70 M tentara Roma datang kembali dalam jumlah yang pengaruhnya bagaikan banjir yang tidak dapat dibendung, dan kali ini mereka tidak mundur. Sebaliknya, mereka menghancurkan kota itu dan membunuh lebih dari satu juta orang. Betapa bahagianya umat Kristen di Yudea yang berada di Pela karena mereka telah terus menantikan waktu yang ditentukan Yehuwa untuk melaksanakan penghukuman!

      Halnya serupa dengan mereka yang tetap berjaga-jaga dewasa ini. Mereka sepenuhnya menyadari bahwa semakin jauh mereka memasuki akhir zaman ini, semakin menantang keadaannya bagi mereka untuk tetap berada dalam penantian akan kedatangan Yesus. Namun mereka tidak kehilangan iman akan kata-kata Yesus, ”Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi.” (Mat. 24:34) Ungkapan ”semuanya ini” menunjuk kepada berbagai corak dari ”tanda” majemuk. Tanda ini telah terlihat jelas sejak tahun 1914 dan akan mencapai puncaknya pada ’sengsara besar’. (Mat. 24:21, Bode) ”Angkatan” yang hidup pada tahun 1914 ini cepat berkurang jumlahnya. Kesudahannya tidak mungkin masih lama.

      Sementara itu, Saksi-Saksi Yehuwa benar-benar bertekad bulat untuk tetap berjaga-jaga, dalam iman yang penuh bahwa Allah akan melaksanakan semua janji-Nya pada waktu yang telah Ia tentukan! Mereka mencamkan kata-kata Yehuwa kepada nabi Habakuk. Berkenaan kesabaran yang tampaknya Yehuwa tunjukkan terhadap kejahatan di kerajaan Yehuda pada bagian terakhir dari abad ketujuh SM, Yehuwa mengatakan kepada nabi tersebut, ”Tuliskanlah penglihatan itu [sehubungan dengan akhir dari keadaan yang menindas] dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila [tampaknya] berlambat-lambat, [tetap, NW] nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.” (Hab. 1:2, 3; 2:2, 3) Sama halnya, Saksi-Saksi Yehuwa yakin akan keadilbenaran dan keadilan Yehuwa, dan ini membantu mereka untuk menjaga agar mereka tetap seimbang dan menantikan ”saatnya” [”waktu yang telah ditentukan”, NW] Yehuwa.

      F. W. Franz, yang dibaptis pada tahun 1913, mengungkapkan dengan baik perasaan dari Saksi-Saksi Yehuwa. Pada tahun 1991, sebagai presiden dari Lembaga Menara Pengawal, ia menyatakan,

      ”Harapan kami pasti, dan akan digenapi sepenuhnya sampai kepada pribadi terakhir dari ke-144.000 anggota kawanan kecil melampaui tingkat yang bahkan telah kami bayangkan. Kami kaum sisa yang berada pada tahun 1914, pada waktu kami mengharapkan bahwa kami semua akan pergi ke surga, tidak kehilangan kesadaran akan nilai harapan itu. Namun kami sama kuatnya menantikan harapan itu seperti sediakala, dan semakin lama kami menantikannya semakin besar lagi penghargaan kami terhadapnya. Itu adalah sesuatu yang patut ditunggu, bahkan bila perlu selama sejuta tahun. Saya menilai harapan kami lebih tinggi daripada sebelumnya, dan saya tidak pernah mau kehilangan penghargaan saya terhadapnya. Harapan kawanan kecil memberi jaminan bahwa penantian kumpulan besar domba-domba lain akan, tanpa kemungkinan apa pun untuk gagal, digenapi melampaui imajinasi kita yang paling cemerlang. Itu sebabnya kita berpegang teguh sampai Allah benar-benar telah membuktikan bahwa Ia setia kepada ’janji-Nya yang sangat berharga dan sangat agung’.”—2 Ptr. 1:4; Bil. 23:19; Rm. 5:5.

      Waktunya mendekat dengan sangat cepat manakala kehadiran Kristus dalam kuasa Kerajaan akan dinyatakan dengan jelas kepada seluruh umat manusia. Maka, mereka yang berjaga-jaga akan ”memperoleh apa yang dijanjikan itu”. (Ibr. 10:36) Sesungguhnya, penantian mereka akan digenapi melampaui ’apa yang pernah mereka bayangkan’. Betapa berbahagia dan betapa bersyukurnya mereka karena dalam hari-hari penutup dari sistem perkara jahat ini, merekalah orang-orang yang tetap berjaga-jaga, orang-orang yang dengan bergairah memberitakan Kerajaan Allah!

      [Blurb di hlm. 713]

      Yakin sepenuhnya bahwa dunia sekarang ini berada pada ”akhir zaman”

      [Blurb di hlm. 714]

      Berhati-hati menjalani kehidupan setiap hari sebagaimana selayaknya bagi seorang Kristen

      [Blurb di hlm. 715]

      Siapa yang terbukti sedang berjaga-jaga dengan menyerukan peringatan ini?

      [Blurb di hlm. 716]

      ”Saya menilai harapan kami lebih tinggi daripada sebelumnya, dan saya tidak pernah mau kehilangan penghargaan saya terhadapnya”—F. W. Franz

      [Kotak/Gambar di hlm. 717]

      Laporan Tentang Kesaksian Global

      Tahun Negeri

      1920 ....... 46

      1925 ....... 83

      1930 ....... 87

      1935 ...... 115

      1940 ...... 112

      1945 ...... 107

      1950 ...... 147

      1955 ...... 164

      1960 ...... 187

      1965 ...... 201

      1970 ...... 208

      1975 ...... 212

      1980 ...... 217

      1985 ...... 222

      1992 ...... 229

      Total Negeri

      Jumlah negeri dihitung menurut caranya bumi dibagi pada awal tahun 1990-an, bukan menurut pembagian politik yang berlaku, misalnya, sewaktu bekas imperium-imperium besar menguasai wilayah yang kini dibagi menjadi sejumlah bangsa yang independen.

      Tahun Sidang

      1940 ...... 5.130

      1945 ...... 7.218

      1950 ..... 13.238

      1955 ..... 16.044

      1960 ..... 21.008

      1965 ..... 24.158

      1970 ..... 26.524

      1975 ..... 38.256

      1980 ..... 43.181

      1985 ..... 49.716

      1992 ..... 69.558

      Total Sidang

      Sebelum tahun 1938, tidak ada catatan internasional yang konsisten mengenai jumlah total sidang yang disimpan.

      Tahun Penyiar

      1935 ...... 56.153

      1940 ...... 96.418

      1945 ..... 156.299

      1950 ..... 373.430

      1955 ..... 642.929

      1960 ..... 916.332

      1965 ... 1.109.806

      1970 ... 1.483.430

      1975 ... 2.179.256

      1980 ... 2.272.278

      1985 ... 3.024.131

      1992 ... 4.472.787

      Total Penyiar Kerajaan

      Metode penghitungan penyiar mengalami sejumlah perubahan selama tahun 1920-an dan awal 1930-an. Laporan sidang dikirim ke Lembaga setiap minggu, bukan sekali sebulan. (Laporan bulanan baru berlaku setelah bulan Oktober 1932.) Agar dapat dihitung sebagai pekerja golongan (penyiar sidang), seseorang harus membaktikan sekurang-kurangnya 3 jam per minggu (atau 12 per bulan) untuk dinas pengabaran, menurut ”Bulletin” 1 Januari 1929. Para penembak jitu (penyiar yang terpencil) harus membaktikan sekurang-kurangnya dua jam per minggu untuk memberi kesaksian.

      Tahun Perintis

      1920 ......... 480

      1925 ....... 1.435

      1930 ....... 2.897

      1935 ....... 4.655

      1940 ....... 5.251

      1945 ....... 6.721

      1950 ...... 14.093

      1955 ...... 17.011

      1960 ...... 30.584

      1965 ...... 47.853

      1970 ...... 88.871

      1975 ..... 130.225

      1980 ..... 137.861

      1985 ..... 322.821

      1992 ..... 605.610

      Perintis

      Angka-angka yang terdaftar di sini mencakup perintis biasa, perintis ekstra, perintis istimewa, utusan injil, pengawas wilayah, dan pengawas distrik. Para perintis sebelumnya dikenal sebagai kolportir, dan perintis ekstra sebagai kolportir ekstra. Sebagian besar tahun angka-angka tersebut menyatakan angka rata-rata bulanan.

      Tahun PAR

      1945 ....... 104.814

      1950 ....... 234.952

      1955 ....... 337.456

      1960 ....... 646.108

      1965 ....... 770.595

      1970 ..... 1.146.378

      1975 ..... 1.411.256

      1980 ..... 1.371.584

      1985 ..... 2.379.146

      1992 ..... 4.278.127

      Pengajaran Alkitab di Rumah

      Selama tahun 1930-an, beberapa pengajaran diadakan dengan orang-orang, tetapi yang ditandaskan adalah mengajar mereka cara belajar sendiri, juga mengorganisasi pengajaran yang dapat dihadiri oleh peminat di daerah tersebut. Selanjutnya, jika orang-orang ini memperlihatkan minat yang tulus, pengajaran diadakan bersama mereka sampai mereka dibaptis. Tidak lama setelah itu, anjuran diberikan untuk meneruskan pengajaran sampai orang tersebut mendapat cukup bantuan untuk menjadi seorang Kristen yang matang.

      Tahun Jam

      1930-35 ....... 42.205.307

      1936-40 ....... 63.026.188

      1941-45 ...... 149.043.097

      1946-50 ...... 240.385.017

      1951-55 ...... 370.550.156

      1956-60 ...... 555.859.540

      1961-65 ...... 760.049.417

      1966-70 .... 1.070.677.035

      1971-75 .... 1.637.744.774

      1976-80 .... 1.646.356.541

      1981-85 .... 2.276.287.442

      1986-92 .... 5.912.814.412

      Total Jam

      Jumlah waktu pada umumnya tidak dilaporkan sampai akhir tahun 1920-an. Metode penghitungan jam mengalami sejumlah perubahan: Pada awal tahun 1930-an, hanya waktu yang dibaktikan untuk kesaksian dari rumah ke rumah yang dihitung—tidak termasuk yang digunakan untuk kunjungan kembali. Meskipun laporan yang terlihat di sini sungguh mengesankan, ini sebenarnya hanya suatu perkiraan dari begitu banyak waktu yang telah dibaktikan oleh Saksi-Saksi Yehuwa dalam pekerjaan pemberitaan Kerajaan Allah.

      Tahun Lek. Disiarkan

      1920-25 ....... 38.757.639

      1926-30 ....... 64.878.399

      1931-35 ...... 144.073.004

      1936-40 ...... 164.788.909

      1941-45 ...... 178.265.670

      1946-50 ...... 160.027.404

      1951-55 ...... 237.151.701

      1956-60 ...... 493.202.895

      1961-65 ...... 681.903.850

      1966-70 ...... 935.106.627

      1971-75 .... 1.407.578.681

      1976-80 .... 1.380.850.717

      1981-85 .... 1.504.980.839

      1986-92 .... 2.715.998.934

      Lektur yang Disiarkan

      Dengan sedikit perkecualian tertentu, selama bertahun-tahun angka-angka sebelum tahun 1940 tidak mencakup penempatan majalah, meskipun jutaan eksemplar telah disiarkan. Angka-angka sejak tahun 1940 mencakup buku, buku kecil, brosur, dan majalah, namun tidak termasuk ratusan juta risalah yang juga telah digunakan untuk membangkitkan minat akan berita Kerajaan. Lektur sejumlah 10.107.565.269 eksemplar yang telah disiarkan sejak tahun 1920 sampai 1992 dalam lebih dari 290 bahasa memberikan bukti adanya kesaksian seluas dunia yang luar biasa.

      Tahun Hadirin Ambil Bag.

      1935 ...... 63.146 ... 52.465

      1940 ...... 96.989 ... 27.711

      1945 ..... 186.247 ... 22.328

      1950 ..... 511.203 ... 22.723

      1955 ..... 878.303 ... 16.815

      1960 ... 1.519.821 ... 13.911

      1965 ... 1.933.089 ... 11.550

      1970 ... 3.226.168 ... 10.526

      1975 ... 4.925.643 ... 10.550

      1980 ... 5.726.656 .... 9.564

      1985 ... 7.792.109 .... 9.051

      1992 .. 11.431.171 .... 8.683

      Hadirin Perjamuan Malam Tuhan dan yang Ambil Bagian

      Sebelum tahun 1932, angka-angka hadirin Perjamuan Malam sering tidak lengkap. Kadang-kadang, hanya kelompok-kelompok yang terdiri dari 15, 20, 30 orang, atau lebih yang termasuk dalam catatan jumlah yang dilaporkan. Menarik, angka-angka yang dicatat untuk sebagian besar tahun memperlihatkan bahwa setidaknya beberapa dari yang hadir bukan yang ambil bagian. Menjelang tahun 1933, selisihnya kira-kira 3.000 orang.

  • Peristiwa-Peristiwa Penting dalam Sejarah Saksi-Saksi Yehuwa Zaman Modern
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Peristiwa-Peristiwa Penting dalam Sejarah Saksi-Saksi Yehuwa Zaman Modern

      1870 Charles Taze Russell dan sebuah kelompok dari Pittsburgh dan Allegheny, Pennsylvania, AS, mulai mempelajari Alkitab secara sistematis

      1870-75 Russell dan rekan-rekan belajarnya menyadari bahwa pada waktu Kristus datang kembali ia tidak akan kelihatan oleh mata manusia dan bahwa tujuan kedatangannya mencakup diberkatinya semua keluarga di bumi

      1872 Russell dan kelompok belajarnya mulai menghargai harga tebusan yang Kristus sediakan bagi umat manusia

      1876 C. T. Russell menerima sebuah eksemplar Herald of the Morning, pada bulan Januari; bertemu dengan N. H. Barbour, sang redaktur, pada musim panas di Philadelphia, Pennsylvania

      Artikel oleh C. T. Russell, diterbitkan dalam Bible Examiner terbitan Oktober, di Brooklyn, New York, menunjuk tahun 1914 sebagai akhir Zaman Orang Kafir

      1877 Buku Three Worlds diterbitkan, sebagai hasil upaya gabungan N. H. Barbour dan C. T. Russell

      C. T. Russell menerbitkan buku kecil The Object and Manner of Our Lord’s Return, di kantor Herald of the Morning, di Rochester, New York

      1879 Russell menarik seluruh dukungan dari Herald of the Morning, pada bulan Mei, karena sikap Barbour terhadap tebusan

      Terbitan pertama Zion’s Watch Tower and Herald of Christ’s Presence, tertanggal Juli 1879

      1881 Risalah-risalah pertama diterbitkan oleh Siswa-Siswa Alkitab; sebelum tahun 1914, total penyebaran risalah setiap tahun mencapai puluhan juta eksemplar dalam 30 bahasa

      Zion’s Watch Tower Tract Society diorganisasi; seruan ”Dicari 1.000 Pengabar” dikumandangkan, beberapa untuk menjadi kolportir biasa, yang lain untuk menggunakan waktu sesuai kesanggupan mereka bagi penyebaran kebenaran Alkitab

      Penyebaran 300.000 eksemplar Food for Thinking Christians

      kepada pengunjung gereja di kota-kota penting di Inggris

      1883 Watch Tower mencapai Cina; bekas misionaris Presbiterian segera mulai memberi kesaksian kepada orang-orang lain di sana

      1884 Food for Thinking Christians mencapai Liberia, Afrika; seorang pembaca yang memperlihatkan penghargaan meminta beberapa eksemplar untuk disebarkan

      Zion’s Watch Tower Tract Society menjadi badan hukum di Pennsylvania; dicatat secara resmi pada tanggal 15 Desember

      1885 Publikasi Menara Pengawal telah dibaca oleh beberapa orang yang lapar akan kebenaran di Amerika Utara dan Selatan, Eropa, Afrika, dan Asia

      1886 The Divine Plan of the Ages diterbitkan, jilid pertama dari seri yang disebut Millennial Dawn (belakangan dikenal sebagai Studies in the Scriptures)

      1889 Rumah Alkitab dibangun di Arch Street, di Allegheny, Pennsylvania, sebagai kantor pusat Lembaga

      1891 Pertemuan Siswa-Siswa Alkitab yang pertama yang mereka sebut kebaktian, di Allegheny, Pennsylvania (19-25 April)

      1894 Pengawas keliling yang belakangan dikenal sebagai musafir (sekarang, pengawas wilayah dan distrik) diutus sesuai dengan program Lembaga untuk mengunjungi sidang-sidang

      1900 Kantor cabang yang pertama Lembaga Menara Pengawal dibuka di London, Inggris

      Kesaksian oleh Siswa-Siswa Alkitab telah dilakukan di 28 negeri, dan berita yang mereka kabarkan telah mencapai 13 negeri lain

      1903 Penyebaran risalah secara gratis dari rumah ke rumah dilakukan dengan giat pada setiap hari Minggu; sebelumnya, banyak penyebaran risalah dilakukan di jalan-jalan dekat gereja

      1904 Khotbah oleh C. T. Russell mulai muncul secara tetap tentu di surat kabar; dalam satu dekade khotbah-khotbah tersebut dicetak oleh kira-kira 2.000 surat kabar

      1909 Kantor pusat Lembaga pindah ke Brooklyn, New York, pada bulan April

      1914 Pertunjukan pertama ”Drama-Foto Penciptaan”, di New York, pada bulan Januari; sebelum tahun tersebut berakhir, pertunjukan ini telah disaksikan oleh lebih dari 9.000.000 orang di Amerika Utara, Eropa, dan Australia

      Pada tanggal 2 Oktober, di ruang makan Betel di Brooklyn, C. T. Russell menegaskan, ”Zaman Orang Kafir telah berakhir”

      Siswa-Siswa Alkitab aktif mengabar di 43 negeri; 5.155 orang ambil bagian dalam memberi kesaksian kepada orang-orang lain; hadirin Perjamuan Malam yang dilaporkan adalah 18.243 orang

      1916 C. T. Russell meninggal dalam usia 64 tahun, pada tanggal 31 Oktober, sewaktu dalam perjalanan dengan kereta api melintasi Texas

      1917 J. F. Rutherford menjadi presiden Lembaga pada tanggal 6 Januari, setelah panitia eksekutif yang terdiri dari tiga orang menangani urusan Lembaga selama kira-kira dua bulan

      Buku The Finished Mystery diperkenalkan kepada keluarga Betel di Brooklyn pada tanggal 17 Juli; empat orang yang telah melayani sebagai anggota dewan direksi Lembaga semakin menggebu dalam perlawanan mereka; setelah itu banyak sidang terpecah

      1918 Ceramah ”Dunia Telah Berakhir​—Jutaan Orang yang Sekarang Hidup Mungkin Tidak Pernah Mati” pertama kali disampaikan pada tanggal 24 Februari di Los Angeles, Kalifornia. Pada tanggal 31 Maret di Boston, Massachusetts, khotbah tersebut diberi judul ”Dunia Telah Berakhir​—Jutaan Orang yang Sekarang Hidup Tidak Akan Pernah Mati”

      J. F. Rutherford dan rekan-rekan dekatnya didaftarkan dalam surat perintah penangkapan federal yang dikeluarkan pada tanggal 7 Mei; pengadilan dimulai pada tanggal 5 Juni; mereka dijatuhi masa hukuman penjara yang panjang di penjara federal pada tanggal 21 Juni (seorang pada tanggal 10 Juli)

      Kantor pusat Brooklyn ditutup pada bulan Agustus, dan kegiatannya dipindahkan kembali di Pittsburgh selama lebih dari setahun

      1919 Para pengurus Lembaga dan rekan-rekan dibebaskan dengan uang jaminan pada tanggal 26 Maret; pada tanggal 14 Mei pengadilan tingkat banding memberi keputusan yang bertolak belakang dengan pengadilan negeri, dan diperintahkan untuk mengadakan pengadilan baru; tahun berikutnya pada tanggal 5 Mei, pemerintah menarik diri dari kasus ini, menolak untuk menuntut

      Sebagai suatu ujian untuk melihat apakah pekerjaan Siswa-Siswa Alkitab dapat dihidupkan kembali, J. F. Rutherford mengatur agar disampaikannya, ceramah umum ”Harapan Bagi Umat Manusia yang Menderita”, di Auditorium Clune di Los Angeles, Kalifornia, pada tanggal 4 Mei; hadirin tidak dapat tertampung semuanya, dan khotbah tersebut harus disampaikan sekali lagi

      Siswa-Siswa Alkitab mengadakan kebaktian di Cedar Point, Ohio, tanggal 1-8 September; penerbitan mendatang dari majalah The Golden Age (sekarang dikenal sebagai Sedarlah!) diumumkan

      Bulletin (sekarang dikenal sebagai Pelayanan Kerajaan Kita) diterbitkan sebagai daya pendorong bagi dinas pengabaran

      Laporan tahun ini memperlihatkan 5.793 Siswa-Siswa Alkitab dengan aktif mengabar di 43 negeri; hadirin Peringatan yang dilaporkan, 21.411

      1920 Lembaga Menara Pengawal menjalankan kegiatan percetakannya sendiri, di Brooklyn

      1922 Radio pertama digunakan oleh J. F. Rutherford, pada tanggal 26 Februari, di Kalifornia, untuk menyiarkan ceramah Alkitab

      Kebaktian Siswa-Siswa Alkitab di Cedar Point, Ohio, tanggal 5-13 September; seruan ”Umumkan, umumkan, umumkan, Raja dan kerajaannya” dikumandangkan

      Para pemimpin agama di Jerman menghasut polisi untuk menangkap Siswa-Siswa Alkitab ketika mereka menyebarkan lektur Alkitab kepada umum

      1924 WBBR (stasiun radio pertama milik Lembaga Menara Pengawal) mulai mengudara pada tanggal 24 Februari

      1925 Watch Tower 1 Maret, sewaktu membahas kelahiran Kerajaan Allah pada tahun 1914, memperlihatkan bahwa ada dua organisasi yang berbeda dan bertentangan​—organisasi Yehuwa dan organisasi Setan

      1926 Pengabaran dari rumah ke rumah sambil menyampaikan buku-buku pada hari Minggu dianjurkan

      1928 Siswa-Siswa Alkitab ditangkap di New Jersey (AS) karena menyebarkan lektur sebagai bagian pengabaran mereka dari rumah ke rumah; dalam satu dekade, ada lebih dari 500 penangkapan semacam itu per tahun di Amerika Serikat

      1931 Nama Saksi-Saksi Yehuwa diterima setelah diadakan resolusi di sebuah kebaktian di Columbus, Ohio, pada tanggal 26 Juli, dan setelah itu di kebaktian-kebaktian di seluruh bumi

      1932 Vindication, Buku 2, menjelaskan mengapa nubuat pemulihan yang berdasarkan Alkitab tidak berlaku bagi orang-orang Yahudi jasmani melainkan bagi Israel rohani

      Penyelenggaraan ”penatua berdasarkan pemilihan” dihentikan selaras dengan keterangan dalam Watchtower terbitan 15 Agustus dan 1 September

      1933 Saksi-Saksi Yehuwa dilarang di Jerman. Selama penganiayaan yang hebat sampai akhir Perang Dunia II, 6.262 orang ditangkap, dan masa hukuman penjara mereka bila digabung mencapai 14.332 tahun; 2.074 orang dikirim ke kamp-kamp konsentrasi, tempat mereka menjalani total masa penawanan selama 8.332 tahun

      Mesin-mesin transkripsi (ada yang dipasang di atas mobil) digunakan oleh Saksi-Saksi untuk menyiarkan ceramah Alkitab di tempat umum

      1934 Fonograf portabel digunakan Saksi-Saksi untuk memperdengarkan rekaman pendek berisi ceramah Alkitab kepada orang-orang yang berminat

      1935 Dalam ceramah kebaktian di Washington, D.C., pada tanggal 31 Mei, ”perhimpunan besar” diidentifikasi sebagai golongan yang akan tinggal di bumi; 840 orang dibaptis di kebaktian ini; penandasan lebih besar diberikan secara progresif kepada harapan akan kehidupan abadi di bumi firdaus bagi hamba-hamba Allah yang setia yang kini hidup

      Tempat perhimpunan untuk pertama kali disebut Balai Kerajaan di Honolulu, Hawaii

      1936 Plakat-plakat iklan untuk pertama kali digunakan oleh para penyiar Kerajaan untuk memberi tahu kepada umum tentang ceramah-ceramah Alkitab

      Anjuran diberikan untuk memulai pengajaran dengan orang-orang berminat, menggunakan buku Lembaga Riches bersama Alkitab; ini sering kali merupakan pengajaran kelompok

      1937 Fonograf portabel digunakan oleh Saksi-Saksi untuk memperdengarkan rekaman khotbah-khotbah Alkitab tepat di depan pintu rumah

      1938 Penyelenggaraan teokratis untuk memilih para pengawas dalam sidang menggantikan prosedur demokratis, selaras dengan Watchtower terbitan 1 dan 15 Juni

      Kebaktian zona (kini dikenal sebagai kebaktian wilayah) diselenggarakan untuk beberapa kelompok sidang

      1939-45 Di seluruh Kerajaan Inggris dan negara-negara Persemakmuran Inggris, 23 negeri melarang Saksi-Saksi Yehuwa atau penyebaran lektur Alkitab mereka

      1940 Penyebaran Watchtower dan Consolation di jalan-jalan menjadi corak tetap dalam kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa

      Keputusan Mahkamah Agung AS, pada tanggal 3 Juni, yang menegaskan wajib salut bendera tanpa memandang keyakinan agama mencetuskan kekerasan oleh gerombolan massa di seluruh negeri terhadap Saksi-Saksi Yehuwa

      1941 Saksi-Saksi yang aktif melampaui angka 100.000, mencapai puncak 109.371 di 107 negeri, meskipun adanya fakta bahwa Perang Dunia II telah melanda Eropa dan menyebar di Afrika dan Asia

      1942 J. F. Rutherford meninggal pada tanggal 8 Januari di San Diego, Kalifornia

      N. H. Knorr menjadi presiden ketiga Lembaga pada tanggal 13 Januari

      Jumlah Watchtower yang dicetak dalam semua bahasa selama tahun ini adalah 11.325.143 eksemplar

      Sebuah Kursus Lanjutan Pelayanan Teokratis diresmikan bagi staf kantor pusat Lembaga, pada tanggal 16 Februari

      Lembaga Menara Pengawal mencetak Alkitab yang lengkap, King James Version, dengan mesin cetaknya sendiri (mesin cetak web rotary)

      1943 Kelas pertama Sekolah Alkitab Gilead Menara Pengawal memulai pengajarannya pada tanggal 1 Februari

      Kursus Pendidikan Pelayanan Teokratis (sekarang disebut Sekolah Pelayanan Teokratis) bagi sidang-sidang Saksi-Saksi Yehuwa diperkenalkan di kebaktian-kebaktian pada bulan April

      Mahkamah Agung AS mengeluarkan keputusan yang menguntungkan Saksi-Saksi Yehuwa dalam 20 dari 24 kasus; Mahkamah Agung di Australia mencabut larangan atas Saksi-Saksi di sana, pada tanggal 14 Juni

      1945 Mulai tanggal 1 Oktober, dewan direksi Lembaga tidak lagi dipilih oleh pemberi suara yang memenuhi syarat karena sumbangan moneter

      Jumlah rata-rata pengajaran Alkitab di rumah yang dipimpin secara cuma-cuma setiap bulan sekarang mencapai 104.814

      1946 Selama tujuh tahun sebelumnya, lebih dari 4.000 Saksi-Saksi Yehuwa di Amerika Serikat dan 1.593 Saksi-Saksi di Inggris ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara yang berkisar antara satu bulan sampai lima tahun karena kenetralan Kristen mereka

      Pada tahun pertama ini setelah Perang Dunia II, 6.504 orang ambil bagian dalam dinas sepenuh waktu sebagai perintis

      Majalah Awake! (pengganti The Golden Age dan Consolation) mulai diterbitkan; sejumlah 13.934.429 eksemplar dicetak tahun itu

      Lebih dari 470 Saksi dihadapkan ke pengadilan di Yunani karena mereka menyampaikan ajaran Alkitab kepada orang-orang lain

      1947 Di Quebec, Kanada, 1.700 kasus yang menyangkut pekerjaan penginjilan dari Saksi-Saksi Yehuwa menanti keputusan di berbagai pengadilan

      Jumlah sidang kini melampaui 10.000, mencapai jumlah 10.782 seluas dunia

      1950 New World Translation of the Christian Greek Scriptures diperkenalkan dalam bahasa Inggris, pada tanggal 2 Agustus di kebaktian di New York

      1953 Suatu program pelatihan Saksi-Saksi Yehuwa yang ekstensif untuk mengabar dari rumah ke rumah mulai berlangsung pada tanggal 1 September

      1957 Di 169 negeri, 100.135.016 jam dibaktikan oleh Saksi-Saksi Yehuwa dalam memberitakan Kerajaan Allah dan memimpin pengajaran Alkitab dengan orang-orang yang baru berminat

      1958 Kebaktian Internasional Kehendak Ilahi, di New York, dihadiri oleh 253.922 dari 123 negeri; 7.136 orang dibaptis

      1959 Acara-acara pertama Sekolah Pelayanan Kerajaan yang dimulai pada tanggal 9 Maret, di South Lansing, New York, dirancang bagi para pengawas sidang dan pengawas keliling

      1961 Kelompok pertama para pengawas cabang Lembaga menghadiri kursus pelatihan istimewa selama sepuluh bulan di Brooklyn, New York, untuk memajukan persatuan dalam pekerjaan Saksi-Saksi Yehuwa seluas dunia

      New World Translation of the Holy Scriptures, Alkitab lengkap dalam satu jilid, diperkenalkan dalam bahasa Inggris

      1963 New World Translation of the Christian Greek Scriptures diterbitkan dalam enam bahasa lain (Belanda, Italia, Jerman, Portugis, Prancis, dan Spanyol), yang semakin bertambah pada tahun-tahun belakangan

      Lebih dari sejuta Saksi-Saksi Yehuwa kini aktif di 198 negeri; puncak penyiar tahun ini adalah 1.040.836; 62.798 orang lagi dibaptis

      1965 Balai Kebaktian pertama, sebuah teater yang direnovasi, dipergunakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa di New York

      1967 Gelombang penganiayaan yang berkepanjangan dan kejam terhadap Saksi-Saksi Yehuwa melanda Malawi dan berlanjut selama bertahun-tahun setelah itu

      1969 Jumlah pengajaran Alkitab di rumah melampaui satu juta; laporan memperlihatkan rata-rata 1.097.237

      1971 Badan Pimpinan diperbesar; pada tanggal 1 Oktober, kedudukan sebagai ketua mulai bergilir di antara para anggotanya setiap tahun

      1972 Sidang-sidang Saksi-Saksi Yehuwa berada di bawah pengawasan setempat oleh badan penatua, bukan di bawah satu orang, terhitung mulai 1 Oktober

      1974 Puncak penyiar seluas dunia mencapai 2.021.432 orang; perintis meningkat dari 94.604, pada tahun 1973, menjadi 127.135 orang

      1975 Badan Pimpinan diorganisasi kembali; pada tanggal 4 Desember, tanggung jawab dari banyak pekerjaan ditugaskan kepada enam panitia, yang mulai berfungsi pada tanggal 1 Januari 1976

      1976 Setiap kantor cabang Lembaga Menara Pengawal kini diawasi oleh sebuah panitia yang terdiri dari tiga atau lebih pria yang matang secara rohani, dan bukan oleh satu orang pengawas, terhitung mulai 1 Februari

      1977 Sekolah Dinas Perintis mulai menyediakan pelatihan khusus bagi puluhan ribu perintis seluas dunia

      1984 Pengajaran Alkitab di rumah yang dipimpin oleh Saksi-Saksi Yehuwa kini mencapai rata-rata 2.047.113

      1985 Penyelenggaraan sukarelawan internasional dimulai, pekerjaan pembangunan Lembaga seluas dunia dikoordinasi dari kantor pusat

      Laporan memperlihatkan bahwa 3.024.131 orang ambil bagian dalam pekerjaan pengabaran Kerajaan di 222 negeri; jumlah perintis kini mencapai rata-rata 322.821; 189.800 orang dibaptis tahun ini

      1986 Panitia Pembangunan Regional dilantik untuk membantu mengkoordinasi pembangunan Balai-Balai Kerajaan

      1987 Pekerjaan menjadikan murid terus meluas, karena pengajaran Alkitab kini sedang diadakan dengan 3.005.048 orang dan kelompok keluarga, banyak yang dilakukan setiap minggu; yang dibaptis pada tahun ini berjumlah 230.843 orang

      Sekolah Pelatihan Pelayanan mulai berjalan pada tanggal 1 Oktober, dengan kelas pertama di Coraopolis, Pennsylvania

      1989 Kondisi-kondisi yang berubah di Eropa Timur membantu terselenggaranya tiga kebaktian internasional yang besar di Polandia, dan kemudian di negeri-negeri lain pada tahun-tahun berikutnya

      1990 Dicabutnya pembatasan atas Saksi-Saksi Yehuwa di negeri-negeri Afrika dan Eropa Timur memudahkan penginjilan di antara 100.000.000 orang lain lagi

      Penyiar Kerajaan mencapai puncak baru sebanyak 4.017.213; barisan perintis membengkak menjadi 536.508; sejumlah 895.229.424 jam dibaktikan untuk pekerjaan yang mendesak yaitu memberitakan Kerajaan

      1991 Pelarangan yang dicabut di Eropa Timur dan Afrika memudahkan kabar baik tentang Kerajaan Allah menjangkau 390.000.000 orang lagi

      1992 Watchtower rata-rata dicetak sebanyak 15.570.000 eksemplar dalam 111 bahasa; Awake!, tersedia dalam 67 bahasa, rata-rata diproduksi sebanyak 13.110.000 eksemplar

      Kesaksian terbesar yang pernah diberikan, karena 4.472.787 orang ambil bagian dalam pemberitaan Kerajaan di 229 negeri; rata-rata perintis setiap bulan 605.610 orang; 1.024.910.434 jam dibaktikan untuk kesaksian umum; 4.278.127 pengajaran Alkitab dipimpin; 301.002 murid baru dibaptis

  • Menerbitkan The Watchtower
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Menerbitkan The Watchtower

      Ketika pertama kali diterbitkan, pada bulan Juli 1879, majalah ini disebut Zion’s Watch Tower and Herald of Christ’s Presence. Majalah ini, menjadi penganjur yang gigih sehubungan korban tebusan Yesus Kristus, diterbitkan untuk menghidangkan makanan rohani kepada rumah tangga iman. Pada tanggal 1 Januari 1909, judul tersebut diubah menjadi The Watch Tower and Herald of Christ’s Presence, agar perhatian difokuskan lebih jelas kepada tujuan majalah itu. Mulai tanggal 1 Januari 1939, dengan semakin ditekankannya fakta bahwa Kristus sudah memerintah dari surga sebagai Raja, maka judul tersebut diubah menjadi The Watchtower and Herald of Christ’s Kingdom. Kemudian pada tanggal 1 Maret 1939, dengan mengubah judul menjadi The Watchtower Announcing Jehovah’s Kingdom, perhatian diarahkan secara lebih menonjol kepada Yehuwa sebagai Penguasa Universal, Pribadi yang memberi wewenang kepada Putra-Nya untuk memerintah.

      Ketika pertama kali diterbitkan, Watch Tower merupakan sebuah naskah delapan halaman, yang diproduksi sekali sebulan. Jumlahnya meningkat menjadi 16 halaman pada tahun 1891, dan menjadi majalah tengah bulanan pada tahun 1892. Format 32 halaman digunakan dalam banyak bahasa pada tahun 1950.

      Penerjemahan Watch Tower ke dalam bahasa-bahasa lain dimulai secara perlahan. Sebuah sampel majalah diterbitkan di dalam bahasa Swensk pada tahun 1883 untuk digunakan sebagai risalah. Dari tahun 1886 sampai 1889, majalah dengan edisi ukuran kecil dicetak dalam bahasa Jerman. Namun baru pada tahun 1897 Watch Tower muncul kembali dalam bahasa Jerman dan terus diterbitkan secara konsisten. Pada tahun 1916, majalah ini telah dicetak dalam tujuh bahasa​—Dansk-Norsk, Inggris, Jerman, Polski, Prancis, Suomi, dan Swensk. Ketika pemberitaan kabar baik mendapat momentum yang lebih besar pada tahun 1922, jumlah bahasa yang digunakan dalam menerbitkan majalah ini meningkat menjadi 16. Akan tetapi, sejak tahun 1993, majalah ini secara tetap tentu diterbitkan dalam 112 bahasa​—bahasa-bahasa yang digunakan oleh sebagian besar penduduk bumi. Ini bukan hanya termasuk bahasa-bahasa seperti Inggris, Spanyol, dan Jepang, yang dicetak sebanyak jutaan setiap terbitan, melainkan juga dalam bahasa Palau, Tuvalu, dan bahasa-bahasa lain yang disebarkan dengan jumlah beberapa ratus majalah saja.

      Selama bertahun-tahun The Watchtower dipandang sebagai majalah yang terutama ditujukan kepada ”kawanan kecil” dari umat Kristen yang mengabdi. Sirkulasinya agak terbatas; menjelang tahun 1916, hanya 45.000 majalah dicetak. Namun mulai tahun 1935, berulang kali ditandaskan untuk menganjurkan ”kaum Yonadab”, atau ”kumpulan besar”, agar memperoleh dan membaca The Watchtower secara tetap tentu. Pada tahun 1939, ketika sampul majalah mulai menonjolkan Kerajaan, langganan untuk The Watchtower ditawarkan kepada umum dalam suatu kampanye langganan internasional selama empat bulan. Hasilnya, daftar langganan meningkat menjadi 120.000. Tahun berikutnya The Watchtower secara tetap tentu ditawarkan kepada orang-orang di jalan. Sirkulasinya meningkat dengan pesat. Menjelang awal tahun 1993 majalah yang dicetak setiap terbitan dalam semua bahasa berjumlah 16.400.000.

  • Awake!​—Majalah yang Menarik Minat Publik secara Luas
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Awake!​—Majalah yang Menarik Minat Publik secara Luas

      Majalah ini pada mulanya menggunakan judul The Golden Age. Terbitan pertama tertanggal 1 Oktober 1919. Ini merupakan sebuah majalah yang melaporkan upaya manusia dalam banyak bidang. Majalah ini membuat orang waspada terhadap apa yang sedang berlangsung di dunia dan memperlihatkan kepada mereka bahwa jalan keluar yang sebenarnya bagi problem-problem umat manusia adalah Pemerintahan Milenium Kristus, yang akan benar-benar mengantar umat manusia ke dalam ”abad keemasan”. Disain sampul majalah mengalami perubahan-perubahan, namun beritanya tetap sama. The Golden Age dirancang untuk disebarkan kepada umum, dan selama bertahun-tahun sirkulasinya jauh melebihi sirkulasi The Watch Tower.

      Mulai dengan terbitan tanggal 6 Oktober 1937, judulnya diubah menjadi Consolation. Ini sangat tepat mengingat adanya penindasan yang dialami oleh banyak orang dan kekacauan yang melanda dunia pada Perang Dunia II. Akan tetapi, penghiburan yang ditawarkan oleh majalah ini merupakan jenis penghiburan yang hanya menarik bagi orang-orang yang memiliki kasih yang murni akan kebenaran.

      Mulai dengan terbitan tanggal 22 Agustus 1946, judul Awake! dipakai. Ditandaskan agar orang-orang menjadi sadar akan makna peristiwa-peristiwa dunia. Majalah ini menggunakan sumber-sumber berita yang konvensional, namun majalah ini juga memiliki koresponden-korespondennya sendiri di seputar dunia. Artikel-artikel mendalam yang seimbang dan praktis dalam Awake! yang membahas jangkauan luas dari pokok-pokok pembahasan menganjurkan pembaca untuk mempertimbangkan berita terpenting dalam majalah ini yaitu, bahwa peristiwa-peristiwa dunia menggenapi nubuat Alkitab yang memperlihatkan bahwa kita hidup pada hari-hari terakhir dan bahwa Kerajaan Allah akan segera mendatangkan manfaat-manfaat kekal bagi mereka yang belajar dan melakukan kehendak Allah. Majalah ini telah menjadi alat yang efektif dalam memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah ke seluruh dunia dan merupakan jembatan untuk mempelajari lebih dalam bahan-bahan yang dikemukakan dalam The Watchtower dan buku-buku berjilid.

      Menjelang awal tahun 1993, Awake! dicetak dalam 67 bahasa, 13.240.000 eksemplar setiap terbitan.

  • Memperoleh Pengetahuan yang Saksama tentang Firman Allah dan Menerapkannya
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Bagian 2

      Memperoleh Pengetahuan yang Saksama tentang Firman Allah dan Menerapkannya

      Bagaimana kepercayaan Saksi-Saksi Yehuwa berkembang? Bagaimana mereka mendapatkan nama mereka? Apa yang membedakan mereka dari golongan agama yang lain? Pertanyaan-pertanyaan ini dijawab dalam Pasal 10 sampai 14.

      [Gambar penuh di hlm. 118]

  • Persekutuan Saudara-Saudara
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Bagian 3

      Persekutuan Saudara-Saudara

      Mungkinkah jutaan orang yang berasal dari semua bangsa dan bahasa bekerja bersama-sama sebagai suatu persekutuan saudara-saudara yang sejati?

      Catatan Saksi-Saksi Yehuwa zaman modern menjawab dengan suara nyaring Ya! Bagian ini (Pasal 15 sampai 21) memberi tahu cara organisasi mereka berfungsi. Ini mencakup diperlihatkannya gairah mereka dalam mengumumkan Kerajaan Allah dan kasih yang nyata seraya mereka bekerja bersama-sama dan seraya mereka memperhatikan satu sama lain dalam masa-masa sulit.

      [Gambar penuh di hlm. 202]

  • Memberitakan Kabar Baik di Seluruh Bumi yang Berpenduduk
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Bagian 4

      Memberitakan Kabar Baik di Seluruh Bumi yang Berpenduduk

      Bagaimana pemberitaan Kerajaan Allah sebagai satu-satunya harapan umat manusia mencapai seluruh bagian bumi? Di sini, dalam Pasal 22 sampai 24, terdapat laporan yang menggetarkan, disertai pengalaman-pengalaman yang menghangatkan hati dari mereka yang ambil bagian di dalamnya.

      [Gambar penuh di hlm. 402]

  • Pengabaran Kerajaan Ditingkatkan dengan Produksi Lektur Alkitab
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Bagian 5

      Pengabaran Kerajaan Ditingkatkan dengan Produksi Lektur Alkitab

      Mengabar di seluruh bumi yang berpenduduk​—bagaimana ini dapat dilaksanakan? Sebagaimana bagian ini (Pasal 25 sampai 27) memperlihatkan, sarana yang digunakan telah mencakup perkembangan dari fasilitas internasional untuk menerbitkan Alkitab dan lektur Alkitab untuk mencapai orang-orang dari segala bangsa.

      [Gambar penuh di hlm. 554]

  • Sasaran Celaan dan Kesengsaraan
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Bagian 6

      Sasaran Celaan dan Kesengsaraan

      Yesus Kristus memperingatkan para pengikutnya bahwa mereka akan menghadapi pencobaan​—beberapa disebabkan oleh ketidaksempurnaan manusia, yang lain-lain disebabkan oleh saudara-saudara palsu, dan terlebih lagi disebabkan oleh penindasan di tangan para penentang. Pasal 28 sampai 30 dengan hidup menceritakan apa yang telah dialami oleh Saksi-Saksi Yehuwa pada zaman modern dan bagaimana iman mereka telah memungkinkan mereka untuk keluar sebagai pemenang.

      [Gambar penuh di hlm. 616]

  • Suatu Umat Khusus Milik-Nya Sendiri, yang Bergairah untuk Pekerjaan Baik
    Saksi-Saksi Yehuwa—Pemberita Kerajaan Allah
    • Bagian 7

      Suatu Umat Khusus Milik-Nya Sendiri, yang Bergairah untuk Pekerjaan Baik

      Mengapa Saksi-Saksi Yehuwa percaya bahwa mereka dibimbing oleh Allah? Apa yang menandai mereka sebagai murid-murid Yesus Kristus yang sejati? Karena mereka mengumumkan bahwa Kerajaan Allah sudah memerintah dari surga, untuk peristiwa besar selanjutnya apa mereka terus waspada dengan penuh gairah? Bagian akhir ini (Pasal 31 sampai 33) menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

      [Gambar penuh di hlm. 702]

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan