PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Jutaan Nyawa Melayang bersama Asap Rokok
    Sedarlah!—1995 | 8 Mei
    • Jutaan Nyawa Melayang bersama Asap Rokok

      DIA adalah salah satu produk konsumen terlaris di dunia. Ia memiliki sangat banyak pembeli yang loyal serta memiliki arus perdagangan yang berkembang pesat. Perusahaan-perusahaan yang memproduksinya membanggakan laba yang fantastis, kendali politik, dan prestise. Satu-satunya masalah adalah, pelanggan-pelanggan terbaiknya tewas satu demi satu!

      The Economist mengamati, ”Rokok termasuk produk konsumen yang paling menguntungkan di dunia. Rokok juga satu-satunya produk (legal) yang, bila digunakan sesuai dengan tujuannya, akan membuat kebanyakan pemakainya kecanduan dan sering kali membunuh mereka.” Hal ini berarti laba yang besar di pihak perusahaan-perusahaan tembakau namun kerugian yang sangat besar di pihak pelanggannya. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di AS, secara kolektif masa hidup para perokok Amerika berkurang lima juta tahun setiap tahunnya, kira-kira satu menit untuk setiap menit yang digunakan untuk merokok. ”Merokok membunuh 420.000 orang Amerika setiap tahun,” demikian laporan majalah Newsweek. ”Itu berarti 50 kali lebih banyak dibanding yang meninggal akibat obat bius.”

      Di seputar dunia, tiga juta orang dalam setahun​—enam orang setiap menit​—meninggal akibat merokok, kata buku Mortality From Smoking in Developed Countries 1950-2000, yang diterbitkan oleh Dana Riset Kanker Kerajaan Inggris, WHO (Organisasi Kesehatan Sedunia), dan Lembaga Kanker Amerika. Analisis terhadap kecenderungan merokok sedunia ini, yaitu analisis yang paling menyeluruh hingga saat ini, meneliti 45 negeri. ”Di kebanyakan negeri,” demikian Richard Peto dari Dana Riset Kanker Kerajaan memperingatkan, ”situasinya akan memburuk. Jika pola merokok dewasa ini bertahan, maka menjelang saat para perokok usia muda sekarang ini menginjak usia setengah abad atau manula, akan ada kira-kira 10 juta kematian setiap tahun yang disebabkan oleh tembakau​—satu kematian setiap tiga detik.”

      ”Merokok sangat berbeda dengan risiko lain,” kata Dr. Alan Lopez dari WHO. ”Merokok pada akhirnya akan membunuh satu dari dua perokok.” Martin Vessey dari Departemen Kesehatan Masyarakat pada Universitas Oxford dengan nada serupa mengatakan, ”Penemuan-penemuan selama 40 tahun ini menuntun kepada kesimpulan yang mengerikan, yaitu bahwa setengah dari semua perokok pada akhirnya akan terbunuh oleh kebiasaan mereka​—gagasan yang benar-benar menakutkan.” Sejak tahun 1950-an, 60 juta orang telah meninggal karena merokok.

      Hal itu juga merupakan gagasan yang benar-benar menakutkan bagi perusahaan-perusahaan tembakau. Jika setiap tahun tiga juta orang di seputar dunia kini hampir meninggal disebabkan hal-hal yang berhubungan dengan merokok, dan banyak orang lainnya berhenti merokok, maka lebih dari tiga juta perokok baru harus ditemukan setiap tahun.

      Satu kelompok calon konsumen baru telah muncul sebagai akibat dari apa yang dielu-elukan oleh perusahaan-perusahaan tembakau sebagai kebebasan wanita. Perokok wanita telah menjadi fakta tidak dapat dibantah selama beberapa tahun di negeri-negeri Barat dan sekarang sedang menyebar ke tempat-tempat yang dahulu pernah memandang hal itu sebagai suatu keaiban. Perusahaan-perusahaan tembakau berniat mengubah semua hal itu. Mereka ingin membantu para wanita merayakan kemakmuran dan kebebasan baru mereka. Merek-merek rokok khusus yang mengaku mengandung tar dan nikotin dalam kadar yang lebih rendah memikat para wanita perokok dan yang mendapati merokok semacam itu tidak terlalu keras. Rokok-rokok lain diberi parfum atau didesain panjang dan ramping​—postur tubuh yang mungkin diharapkan akan diperoleh para wanita tersebut dengan cara merokok. Iklan-iklan rokok di Asia menampilkan gadis Asia sebagai model, berbusana sensual dalam keanggunan Barat.

      Akan tetapi, angka kematian akibat merokok saling berpacu dengan ”kebebasan” kaum wanita. Jumlah korban kanker paru-paru di kalangan wanita telah meningkat dua kali lipat dalam 20 tahun terakhir di Inggris, Jepang, Norwegia, Polandia, dan Swedia. Di Amerika Serikat dan Kanada, angkanya telah meningkat 300 persen. ”Anda telah membuat kemajuan besar, sayang!” demikian bunyi sebuah iklan rokok.

      Beberapa perusahaan tembakau memiliki strategi mereka sendiri. Sebuah perusahaan rokok Filipina di negeri yang mayoritasnya Katolik membagikan secara gratis kalender yang memuat gambar Perawan Maria dengan moto merek rokok mereka, yang tanpa rasa malu mereka tempatkan di bawah ikon itu. ”Saya belum pernah melihat hal semacam itu sebelumnya,” kata Dr. Rosmarie Erben, penasihat kesehatan Asia untuk WHO. ”Mereka mencoba menghubungkan motif ikon itu dengan tembakau, untuk membuat wanita-wanita Filipina tidak merasa risi dengan gagasan merokok.”

      Di Cina diperkirakan 61 persen pria dewasa merokok, sedangkan hanya 7 persen wanita yang merokok. Perusahaan-perusahaan tembakau Barat memusatkan perhatian mereka kepada apa yang disebut ”kebebasan” wanita-wanita Asia yang cantik ini, yang jutaan dari antaranya telah demikian lama tidak boleh menikmati ”kesenangan” saudari-saudari Barat mereka yang glamor. Meskipun demikian, masih ada satu kendala lagi: Perusahaan tembakau pemerintah memasok sebagian besar rokok.

      Akan tetapi, perusahaan-perusahaan Barat secara bertahap berupaya masuk ke pasaran mereka. Dengan terbatasnya kesempatan periklanan, beberapa perusahaan rokok berupaya mempersiapkan calon pelanggan mereka secara diam-diam. Cina mengimpor film dari Hong Kong, dan di dalam banyak film tersebut, para aktor dibayar untuk merokok​—menjual dengan cara halus!

      Dengan meningkatnya tentangan terhadap merokok di negeri mereka sendiri, perusahaan-perusahaan tembakau Amerika yang sukses memperluas jangkauan mereka untuk menjerat korban-korban baru. Fakta memperlihatkan bahwa mereka telah mengarahkan upaya yang memautkan ini ke negeri-negeri berkembang.

      Para pejabat kesehatan sedunia mencanangkan peringatan. Tajuk utamanya menyatakan: ”Afrika Memerangi Wabah Baru​—Merokok.” ”Asap Berubah Menjadi Api di Asia seraya Pasaran Rokok Membubung Tinggi.” ”Angka Merokok Orang Asia Akan Menuntun kepada Epidemi Kanker.” ”Perjuangan Baru di Dunia Ketiga Adalah Melawan Tembakau.”

      Benua Afrika telah dihantam oleh kekeringan, perang sipil dan epidemi AIDS. Namun, Dr. Keith Ball, kardiolog Inggris, mengatakan, ”Selain perang nuklir atau kelaparan, merokok adalah ancaman tunggal terbesar terhadap kesehatan Afrika di masa depan.”

      Para konglomerat multinasional mempekerjakan petani lokal untuk menanam tembakau. Para petani menebang banyak sekali pohon yang sangat dibutuhkan untuk memasak, menghangatkan ruangan, dan perumahan dan menggunakannya sebagai bahan bakar untuk memproses tembakau. Mereka menanam tanaman tembakau yang menghasilkan keuntungan sebaliknya dari tanaman pangan yang tidak begitu menguntungkan. Orang Afrika yang sangat miskin pada umumnya menghabiskan sejumlah besar pendapatan mereka yang minim untuk membeli rokok. Maka keluarga-keluarga Afrika menjadi kurus kering karena malnutrisi sementara dompet perusahaan-perusahaan tembakau Barat semakin gemuk oleh laba.

      Afrika, Amerika Latin dan Eropa Timur semuanya dijadikan target oleh perusahaan-perusahaan tembakau Barat, yang memandang negeri-negeri berkembang sebagai salah satu kesempatan bisnis raksasa. Namun Asia yang padat penduduknya merupakan tambang emas yang jauh lebih besar dibandingkan negeri-negeri tadi. Saat ini, jumlah perokok di Cina saja lebih besar daripada jumlah seluruh penduduk Amerika Serikat​—300 juta. Jumlah rokok yang mereka isap sungguh mengagetkan yaitu 1,6 triliun batang setahun, sepertiga jumlah total yang dikonsumsi sedunia!

      ”Para dokter mengatakan bahwa dampak atas kesehatan yang disebabkan oleh larisnya rokok di Asia benar-benar mengerikan,” The New York Times melaporkan. Richard Peto memperkirakan bahwa dari sepuluh juta kematian yang diduga berkaitan dengan merokok setiap tahunnya dalam dua atau tiga dekade mendatang, dua juta akan terjadi di Cina saja. Lima puluh juta anak di Cina yang hidup sekarang kemungkinan akan meninggal disebabkan oleh penyakit yang ada kaitannya dengan merokok, kata Peto.

      Dr. Nigel Gray meringkaskannya sebagai berikut, ”Sejarah merokok selama lima dekade terakhir di Cina dan Eropa Timur mendatangkan kutukan atas negeri-negeri itu berupa epidemi besar dari penyakit yang berkaitan dengan tembakau.”

      ”Bagaimana sebuah produk yang menyebabkan 400.000 kematian prematur setiap tahunnya di AS, sebuah produk yang menyebabkan Pemerintah AS berupaya keras untuk membantu warganya agar berhenti menggunakannya, tiba-tiba menjadi sesuatu yang tidak berbahaya di luar perbatasan Amerika?” tanya Dr. Prakit Vateesatokit dari Kampanye Anti Merokok di Thailand. ”Apakah kesehatan menjadi tidak relevan jika produk yang sama tersebut diekspor ke negeri lain?”

      Bisnis tembakau yang sedang berkembang mendapat dukungan kuat dari pemerintah AS. Bersama-sama mereka telah berjuang untuk mendapat tempat berpijak di pasar luar negeri, khususnya di Asia. Selama bertahun-tahun rokok Amerika dilarang beredar di Jepang, Taiwan, Thailand, dan negeri-negeri lainnya, yang beberapa dari antaranya memiliki hak monopoli sendiri atas produk tembakau. Kelompok-kelompok antirokok memprotes impor rokok, namun agen pemerintah AS menodongkan senjata yang ampuh​—ancaman sanksi perdagangan.

      Dari tahun 1985 sampai sekarang, di bawah tekanan kuat dari pemerintah AS, banyak negeri Asia telah membuka pintu, dan rokok Amerika membanjir masuk. Ekspor rokok AS ke Asia melonjak 75 persen pada tahun 1988.

      Mungkin korban yang paling tragis dari perang tembakau adalah anak-anak. Sebuah penelitian yang dilaporkan dalam The Journal of the American Medical Association mengatakan bahwa ”90% dari semua perokok baru adalah anak-anak dan para remaja”.

      Sebuah artikel dalam U.S. News & World Report menaksir angka perokok usia belasan tahun di Amerika Serikat sejumlah 3,1 juta. Setiap hari, 3.000 pendatang baru mulai merokok​—1.000.000 setahun.

      Sebuah iklan rokok menampilkan sosok kartun berupa seekor unta yang suka bersenang-senang dan berhura-hura, sering kali dengan sebatang rokok terselip di bibirnya. Iklan rokok ini dituduh memikat anak-anak remaja ke dalam perbudakan nikotin sebelum mereka memahami risikonya atas kesehatan. Dalam waktu tiga tahun peredaran iklan ini, perusahaan rokok tersebut menikmati 64 persen peningkatan dalam penjualan kepada remaja. Sebuah penelitian di Sekolah Tinggi Medis Georgia (AS) mendapati bahwa 91 persen anak-anak berusia 6 tahun yang disurvei mengenal tokoh kartun perokok ini.

      Tokoh lain yang populer dalam iklan rokok adalah koboi macho yang hidup bebas, yang menurut seorang remaja, menyampaikan pesan, ”Sewaktu Anda merokok, tak ada yang dapat menghentikan Anda.” Konon produk konsumen dengan penjualan terbesar di dunia adalah sebuah merek rokok yang memonopoli 69 persen pasaran di kalangan perokok remaja dan merupakan merek yang paling sering diiklankan. Sebagai insentif tambahan, tiap pak rokok disertai kupon untuk ditukarkan dengan jeans, topi, dan pakaian olahraga yang populer bagi kaum muda.

      Menyadari pengaruh luar biasa dari iklan, kelompok-kelompok antirokok telah berhasil melarang iklan tembakau dari televisi dan radio di banyak negeri. Akan tetapi, satu akal bulus para pemasang iklan tembakau untuk mengelak sistem itu adalah dengan memajang papan-papan reklame di tempat-tempat yang strategis pada peristiwa-peristiwa olahraga. Oleh karena itu, sebuah siaran pertandingan sepak bola, dengan banyak penonton muda, mungkin mempertunjukkan pemain favorit mereka yang siap beraksi, dilatarbelakangi papan reklame rokok yang menjulang tinggi.

      Di pusat kota atau di depan gedung-gedung sekolah, gadis-gadis dengan pakaian yang mencolok seperti rok mini atau pakaian koboi atau safari membagikan rokok gratis kepada para remaja yang senang menyambutnya atau ingin mencoba-coba. Di tempat-tempat video game, disko, dan konser rock, sampel-sampel rokok dibagikan secara gratis. Sebuah rencana pemasaran suatu perusahaan, yang bocor ke telinga pers, memperlihatkan bahwa sebuah merek tertentu di Kanada menjadikan pemuda-pemuda berbahasa Prancis yang berusia antara 12 sampai 17 tahun sebagai target.

      Pesannya yang mencolok adalah bahwa merokok mendatangkan kesenangan, kebugaran, kejantanan, dan popularitas. ”Di tempat kerja saya,” kata seorang konsultan iklan, ”kami sedang berupaya keras untuk mempengaruhi anak-anak berusia 14 tahun untuk mulai merokok.” Iklan-iklan di Asia menampilkan anak-anak muda Barat bertubuh atletis yang bermain-main di pantai atau lapangan bola​—sambil merokok tentunya. ”Model-model dan gaya hidup Barat menciptakan standar yang glamor untuk ditiru,” demikian komentar sebuah jurnal dagang pemasaran, ”dan para perokok Asia sangat berminat meniru gaya hidup Barat.”

      Setelah menghabiskan miliaran dolar untuk iklan, para pedagang tembakau telah meraih sukses yang amat besar. Sebuah laporan khusus Reader’s Digest memperlihatkan bahwa meningkatnya jumlah perokok muda sangat mengkhawatirkan. ”Di Filipina,” kata laporan itu, ”22,7 persen orang-orang di bawah usia 18 tahun kini merokok. Di beberapa kota Amerika Latin, angka perokok remaja, sungguh mencengangkan, berjumlah 50 persen. Di Hong Kong, anak-anak yang baru berusia tujuh tahun merokok.”

      Akan tetapi, meskipun tembakau merayakan kemenangannya di luar negeri, perusahaan-perusahaan rokok dengan sakit hati sadar akan awan badai krisis yang mengancam di negeri mereka sendiri. Apakah mungkin tembakau dapat bertahan terhadap badai tersebut?

      [Blurb di hlm. 3]

      Pelanggan-pelanggan terbaiknya tewas satu demi satu

      [Blurb di hlm. 5]

      Asia, ladang pembantaian terbaru dari tembakau

      [Blurb di hlm. 6]

      90 persen dari semua perokok baru​—anak-anak dan para remaja!

      [Kotak di hlm. 4]

      Resep yang Memautkan​—Apa yang Terkandung dalam Sebatang Rokok?

      Lebih dari 700 jenis bahan kimia tambahan kemungkinan digunakan oleh perusahaan rokok, namun undang-undang mengizinkan perusahaan untuk merahasiakan resep tersebut. Akan tetapi, dalam daftar resep tersebut, terdapat logam-logam yang pekat, pestisida, dan insektisida. Beberapa bahan begitu beracun sehingga membuang bahan-bahan tersebut di pembuangan sampah merupakan pelanggaran hukum. Pusaran asap rokok yang anggun membawa serta 4.000 zat, termasuk arsenik, aseton, butan, karbon monoksida, dan sianida. Paru-paru perokok dan orang-orang yang berada di dekatnya akan terkena sedikitnya 43 zat yang diketahui menyebabkan kanker.

      [Kotak di hlm. 5]

      Bukan Perokok namun Terkena Risiko

      Apakah Anda tinggal, bekerja, atau seperjalanan dengan para perokok berat? Jika demikian, Anda mungkin memiliki risiko yang lebih besar terserang kanker paru-paru dan penyakit jantung. Sebuah penelitian pada tahun 1993 oleh Environmental Protection Agency (Lembaga Perlindungan Lingkungan) di AS (EPA) menyimpulkan bahwa asap tembakau yang ada di lingkungan kita (ETS, atau environmental tobacco smoke) adalah karsinogen Group A, yaitu yang paling berbahaya. Laporan raksasa ini menganalisis hasil dari 30 penelitian yang menyangkut asap yang mengepul melingkar dari ujung rokok maupun asap yang diembuskan ke luar.

      EPA mempersalahkan asap tembakau yang ada di lingkungan atas 3.000 kasus kematian karena kanker paru-paru setiap tahun di Amerika Serikat. Asosiasi Medis Amerika pada bulan Juni 1994 membenarkan kesimpulan tersebut dengan sebuah penelitian yang diterbitkannya yang memperlihatkan bahwa para wanita yang tidak pernah merokok namun terus terkena ETS memiliki 30 persen risiko yang lebih besar untuk mengidap kanker paru-paru dibandingkan dengan orang-orang yang tidak pernah merokok seumur hidup mereka.

      Bagi anak-anak kecil, terus terkena asap rokok tersebut mengakibatkan 150.000 hingga 300.000 kasus bronkitis dan radang paru-paru setiap tahun. Rokok memperburuk gejala-gejala asma dari 200.000 hingga 1.000.000 anak setiap tahun di Amerika Serikat.

      Lembaga Jantung Amerika memperkirakan bahwa sebanyak 40.000 kematian setahun terjadi akibat penyakit jantung dan pembuluh darah yang disebabkan oleh ETS.

      [Gambar di hlm. 7]

      Seorang model Asia yang glamor serta targetnya

  • Para Pembela Tembakau Meluncurkan Balon Omong Kosong Mereka
    Sedarlah!—1995 | 8 Mei
    • Para Pembela Tembakau Meluncurkan Balon Omong Kosong Mereka

      PADA tahun 1940-an, London adalah sebuah kota yang terkepung. Pesawat-pesawat tempur Jerman dan bom-bom terbang yang berjatuhan mengakibatkan teror dan kehancuran. Namun seandainya situasinya tidak begitu mengerikan, para penduduk mungkin akan geli melihat suatu pemandangan yang ganjil.

      Diikat dengan kawat-kawat yang panjang, ribuan balon udara melayang di angkasa. Tujuannya adalah untuk mencegah serangan udara berjarak dekat dan diharapkan dapat menghalangi beberapa bom terbang yang masih berada di udara. Balon-balon penghadang, yang kelihatannya cerdik itu, tidak mendapat banyak sukses.

      Perusahaan-perusahaan rokok juga mendapati diri terkepung. Kerajaan-kerajaan tembakau yang bertebaran, yang dahulunya merupakan kubu kekuatan politik dan ekonomi yang tidak terkalahkan, sedang diserang dari segala penjuru.

      Kalangan medis mengeluarkan banyak sekali penelitian yang memberatkan. Para pejabat kesehatan yang sedang berjuang memanfaatkan situasi ini bagi kepentingan pihak mereka. Orang-tua yang berang menuduh bahwa anak mereka dijadikan korban. Para legislator yang gigih telah memberlakukan larangan merokok di gedung perkantoran, rumah makan, pangkalan militer, dan pesawat terbang. Di banyak negeri, iklan tembakau telah dilarang di televisi dan radio. Di Amerika Serikat, negara-negara bagian secara terpadu menggugat perusahaan-perusahaan tembakau senilai jutaan dolar untuk biaya perawatan kesehatan. Bahkan para pengacara bergabung dalam pertempuran tersebut.

      Maka dalam upaya menangkis penyerang mereka, perusahaan-perusahaan tembakau meluncurkan beberapa balon pertahanan mereka sendiri. Akan tetapi, hal itu kelihatannya hanya berisi omong kosong belaka.

      Tahun lalu, masyarakat AS dapat mengamati dengan jelas sewaktu para legislator dan pejabat kesehatan pemerintah yang murka melancarkan serangan yang hebat terhadap industri tembakau. Dalam pemeriksaan demi pemeriksaan di hadapan panel kongres AS pada bulan April 1994, para eksekutif dari tujuh perusahaan besar tembakau di Amerika dikonfrontasikan dengan statistik yang memberatkan: lebih dari 400.000 orang Amerika meninggal setiap tahun dan jutaan lagi sakit, hampir meninggal, dan kecanduan.

      Apa yang mereka katakan untuk membela diri? Para eksekutif yang siap tempur mengajukan beberapa pernyataan yang menarik dalam pembelaan mereka, ”Merokok . . . belum terbukti memiliki peran yang menyebabkan berkembangnya penyakit,” seorang juru bicara Institut Tembakau menegaskan. Selain itu, kebiasaan merokok digambarkan tidak ada bahayanya sama seperti kegiatan yang menyenangkan lainnya, seperti makan permen atau minum kopi. ”Keberadaan nikotin tidak membuat rokok menjadi obat bius, atau merokok suatu kecanduan,” kata seorang kepala eksekutif perusahaan tembakau. ”Anggapan bahwa nikotin dengan kadar berapa pun dalam rokok akan menimbulkan kecanduan tidaklah tepat,” seorang ilmuwan perusahaan rokok menegaskan.

      Jika rokok tidak mencandukan, balas komite, mengapa perusahaan-perusahaan tembakau berupaya memanipulasi kadar nikotin dalam produk mereka? ”Untuk meningkatkan rasa,” seorang eksekutif perusahaan tembakau lainnya menjelaskan. Apa enaknya rokok yang tidak ada rasanya? Ketika diperlihatkan setumpuk hasil riset dari arsip perusahaannya sendiri yang menunjukkan sifat mencandukan dari nikotin, ia berkukuh pada pendapatnya.

      Kelihatannya, ia dan yang lainnya akan berkukuh pada pendapat tersebut tidak soal berapa banyak korban tembakau yang akan memenuhi kuburan-kuburan. Pada awal tahun 1993, Dr. Lonnie Bristow, ketua American Medical Association Board of Trustees mengeluarkan tantangan yang menarik. The Journal of the American Medical Association melaporkan, ”Ia mengundang para eksekutif perusahaan-perusahaan tembakau utama AS untuk berjalan bersamanya melalui bangsal-bangsal rumah sakit untuk melihat salah satu akibat merokok​—pasien-pasien kanker paru-paru dan cacat-cacat lain yang berhubungan dengan paru-paru. Tidak ada satu eksekutif pun yang menerima undangan ini.”

      Industri tembakau membanggakan diri bahwa mereka menyediakan lapangan pekerjaan yang baik dalam ekonomi sedunia yang angka penganggurannya terus meningkat. Sebagai contoh, di Argentina satu juta pekerjaan tercipta karena industri tersebut, ditambah empat juta pekerjaan lain yang secara tidak langsung berhubungan dengannya. Pendapatan pajak yang sangat besar yang diperoleh dari perusahaan-perusahaan tembakau menyenangkan banyak pemerintah.

      Sebuah perusahaan tembakau secara khusus memperhatikan kelompok-kelompok minoritas dengan sumbangan-sumbangan yang pemurah​—yang kelihatannya merupakan suatu pernyataan kepedulian sosial. Akan tetapi, dokumen-dokumen intern perusahaan menyingkapkan motif sebenarnya dari ”anggaran pengembangan jumlah pemilih (untuk pemilihan umum)” ini​—untuk menanam budi di kalangan para pemilih yang potensial.

      Perusahaan tembakau yang sama ini juga menjalin persahabatan dengan kalangan seni melalui sumbangan dalam jumlah besar kepada museum, sekolah, akademi seni tari, dan lembaga musik. Pejabat-pejabat organisasi kesenian menebalkan muka mereka untuk menerima uang hasil tembakau yang sangat mereka butuhkan. Baru-baru ini, anggota-anggota masyarakat kesenian New York City menghadapi dilema yang sulit sewaktu perusahaan tembakau yang sama ini meminta mereka memberi dukungan dalam upaya negosiasi menentang pembuatan undang-undang anti merokok.

      Dan, tentu saja, konglomerat tembakau yang kaya raya tidak malu membagi-bagikan uang kepada para politikus, yang dapat menggunakan pengaruhnya untuk menentang usul apa pun yang merugikan kepentingan perusahaan tembakau. Pejabat-pejabat pemerintah di tingkat atas mendukung perkara perusahaan-perusahaan tembakau. Beberapa pejabat memiliki ikatan finansial dengan industri tersebut atau merasakan tekanan untuk membalas budi atas dana besar-besaran dari perusahaan tembakau untuk kampanye mereka.

      Seorang anggota kongres AS dilaporkan telah menerima sumbangan senilai lebih dari 21.000 dolar dari perusahaan-perusahaan rokok dan setelah itu ia ikut mengeluarkan suara menentang sejumlah masalah antirokok.

      Seorang mantan juru negosiasi bergaji tinggi dari suatu perusahaan tembakau, yang pernah menjadi senator negara bagian dan adalah seorang perokok berat, baru-baru ini mendapati bahwa ia mengidap kanker tenggorokan, paru-paru, dan hati. Kini ia sangat menyesal dan meratap bahwa ”berbaring di tempat tidur karena penyakit yang dibuat sendiri” membuat seseorang merasa seperti orang bodoh.

      Dengan kekuasaan yang dapat dibeli dengan uang periklanan, para konglomerat tembakau dengan giat memerangi tentangan. Sebuah iklan mengibarkan bendera kebebasan, dengan peringatan yang sungguh-sungguh, ”Sekarang Rokok. Besok Apa Lagi?” Iklan tersebut memberi kesan bahwa kafein, alkohol, dan hamburger akan menjadi korban berikutnya dari apa yang dianggap larangan yang fanatik.

      Iklan-iklan surat kabar telah berupaya mendiskreditkan penelitian oleh Badan Perlindungan Lingkungan AS yang dikutip secara luas yang menggolongkan asap rokok pasif sebagai zat karsinogenik. Industri tembakau mengumumkan rencana untuk mengadakan perang secara legal. Sebuah acara televisi menuduh sebuah perusahaan telah memanipulasi kadar nikotin untuk menganjurkan kecanduan. Jaringan yang menyiarkan acara tersebut langsung dituntut secara hukum senilai 10 miliar dolar.

      Perusahaan-perusahaan tembakau telah bertempur dengan hebat, namun udara malah menjadi lebih dipenuhi asap tuduhan. Kira-kira 50.000 penelitian telah dilakukan selama empat dekade terakhir, yang menghasilkan bukti yang menggunung dan terus meninggi akan bahaya penggunaan tembakau.

      Bagaimana perusahaan-perusahaan tembakau berupaya mengelak tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada mereka? Mereka dengan keras kepala berkukuh pada sesuatu yang dianggap suatu fakta: Para perokok bisa berhenti. Maka, menurut mereka, nikotin tidak mencandukan. Akan tetapi, statistik memperlihatkan kebalikannya. Benar, 40 juta orang Amerika telah berhenti merokok. Namun lebih dari 50 juta lainnya masih merokok, dan 70 persen dari antara mereka mengatakan bahwa mereka ingin berhenti. Dari 17 juta orang yang berupaya untuk berhenti merokok setiap tahunnya, 90 persen gagal dalam kurun waktu satu tahun.

      Setelah pembedahan kanker paru-paru, hampir 50 persen dari para perokok AS kembali kepada kebiasaan mereka. Dari antara para perokok yang terkena serangan jantung, 38 persen menyulut rokok lagi bahkan sebelum meninggalkan rumah sakit. Empat puluh persen perokok yang diangkat pangkal tenggorokannya karena kanker akan mencoba merokok lagi.

      Dari jutaan perokok remaja di Amerika Serikat, tiga perempatnya mengatakan bahwa mereka telah membuat sedikitnya satu kali upaya yang serius untuk berhenti merokok namun gagal. Statistik juga memperlihatkan bahwa bagi kebanyakan remaja, mengisap tembakau adalah batu loncatan kepada obat bius yang lebih keras. Para perokok remaja memiliki kemungkinan lebih dari 50 kali lebih besar untuk menggunakan kokain dibandingkan mereka yang tidak merokok. Seorang perokok berusia 13 tahun menyetujui. ”Dalam pikiran saya tidak ada keraguan bahwa rokok adalah gerbangnya obat bius,” tulisnya. ”Hampir setiap orang yang saya kenal, kecuali tiga orang, mulai merokok sebelum menggunakan obat bius.”

      Bagaimana dengan rokok yang memiliki kadar tar rendah? Penelitian memperlihatkan bahwa rokok semacam itu sebenarnya, bisa jadi lebih berbahaya​—karena dua alasan: Pertama, si perokok sering kali mengisap lebih dalam untuk menyadap nikotin yang didambakan sistem tubuhnya, sehingga membuat lebih banyak jaringan paru-paru terkena efek beracun dari asap rokok tersebut; kedua, konsep yang keliru bahwa ia sedang mengisap rokok yang ”lebih sehat” mungkin akan mencegahnya untuk berupaya berhenti sama sekali.

      Lebih dari 2.000 penelitian telah dilakukan terhadap nikotin saja. Penelitian-penelitian tersebut menyingkapkan bahwa nikotin adalah salah satu zat yang paling bersifat mencandukan yang dikenal manusia, dan salah satu yang paling berbahaya. Nikotin mempercepat denyut jantung dan mempersempit pembuluh darah. Ia diserap ke dalam aliran darah dalam waktu tujuh detik​—bahkan lebih cepat daripada suntikan langsung ke dalam pembuluh darah. Ia menyebabkan otak menginginkan lebih banyak, suatu keinginan yang oleh beberapa pihak dikatakan dua kali lebih bersifat mencandukan dibanding dengan heroin.

      Apakah perusahaan-perusahaan tembakau, meskipun menyangkal, sadar akan sifat mencandukan dalam nikotin? Petunjuk memperlihatkan bahwa mereka telah mengetahuinya sejak dahulu. Sebagai contoh, sebuah laporan pada tahun 1983 menunjukkan bahwa seorang peneliti dari sebuah perusahaan tembakau memperhatikan bahwa tikus-tikus laboratorium memperlihatkan gejala-gejala kecanduan yang khas, dengan secara teratur menekan alat yang akan memberikan mereka lebih banyak dosis nikotin. Menurut laporan, penelitian tersebut cepat-cepat dibungkamkan oleh industri tembakau dan baru ketahuan baru-baru ini.

      Konglomerat-konglomerat tembakau tidak hanya duduk tenang sementara serangan memberondong dari segala penjuru. Dewan Riset Tembakau di New York City menyelenggarakan apa yang The Wall Street Journal sebut sebagai ”kampanye informasi yang salah yang berjalan paling lama dalam sejarah bisnis AS”.

      Di bawah panji melakukan riset independen, dewan tersebut telah menginvestasi jutaan dolar untuk memerangi para penyerang. Ini semua berawal pada tahun 1953 ketika Dr. Ernst Wynder dari Lembaga Kanker Memorial Sloan-Kettering menemukan bahwa tar tembakau yang dicat pada punggung tikus menyebabkan tumor. Industri rokok membentuk dewan tersebut untuk menetralisasi bukti-bukti yang jelas yang makin terkumpul, yang dapat menjatuhkan produk mereka, dengan menangkis serangan menggunakan bukti ilmiah mereka sendiri.

      Namun, bagaimana sampai para ilmuwan dewan tersebut memberikan hasil-hasil yang sangat bertolak belakang dengan penemuan-penemuan oleh masyarakat ilmuwan lainnya? Dokumen-dokumen yang diterbitkan baru-baru ini menyingkapkan suatu jaringan intrik yang terjalin rapi. Banyak peneliti yang bekerja untuk dewan tersebut, yang dibelenggu oleh kontrak-kontrak tertulis dan dikendalikan oleh sepasukan pengacara yang bermata tajam, mendapati bahwa meningkatnya kecemasan akan kesehatan memiliki dasar yang kuat. Namun ketika dihadapkan dengan fakta, dewan tersebut, menurut The Wall Street Journal, ”kadang-kadang mengabaikan, atau bahkan menghentikan penelitiannya sendiri yang menyingkapkan bahwa merokok membahayakan kesehatan”.

      Secara rahasia, upaya untuk menghasilkan rokok yang lebih aman terus dilakukan selama bertahun-tahun. Melakukan hal itu di depan umum akan merupakan pengakuan secara tidak langsung bahwa merokok memang membahayakan kesehatan. Menjelang akhir tahun 1970-an, seorang pengacara senior untuk sebuah perusahaan tembakau menganjurkan agar upaya untuk menghasilkan rokok yang ”aman” dihentikan karena dianggap sia-sia dan semua dokumen yang berhubungan dengan hal itu disembunyikan.

      Dua hal menjadi jelas dari eksperimen selama bertahun-tahun: Nikotin memang bersifat mencandukan, dan menghisap rokok memang mematikan. Meskipun perusahaan-perusahaan tembakau dengan pantang menyerah menyangkal fakta-fakta ini di depan umum, mereka memperlihatkan melalui tindakan bahwa mereka tahu persis fakta-fakta tersebut.

      Dengan tuduhan manipulasi secara sengaja, komisioner David Kessler dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS (FDA) mengatakan, ”Beberapa rokok zaman sekarang, sebenarnya mungkin memenuhi syarat sebagai sistem penyalur nikotin berteknologi tinggi yang menyalurkan nikotin dalam jumlah yang telah dikalkulasi dengan sangat tepat . . . cukup untuk menciptakan dan mempertahankan kecanduan.”

      Kessler menyingkapkan bahwa perusahaan-perusahaan tembakau memiliki sejumlah paten yang membuktikan niat mereka. Satu adalah untuk turunan tembakau yang secara genetik telah diubah sehingga menghasilkan nikotin dalam kadar tertinggi yang pernah dikenal. Proses lain ialah mengolesi filter dan kertas rokok dengan nikotin untuk mendapatkan kenikmatan ekstra. Proses lain lagi ialah dengan menyalurkan lebih banyak nikotin dalam pengisapan pertama oleh si perokok daripada pengisapan yang terakhir. Sebagai tambahan, dokumen-dokumen industri memperlihatkan bahwa senyawa amonia ditambahkan ke dalam rokok untuk melepaskan lebih banyak nikotin dari tembakau. ”Hampir dua kali jumlah yang biasa terisap masuk ke dalam aliran darah seorang perokok,” kata sebuah laporan New York Times. FDA telah menyatakan bahwa nikotin adalah obat bius yang bersifat mencandukan dan bermaksud mengenakan peraturan yang lebih ketat terhadap rokok.

      Pemerintah juga dalam taraf tertentu bergantung kepada rokok. Pemerintah AS, misalnya, meraup 12 miliar dolar setahun dari pajak pemerintahan pusat maupun negara bagian atas produk tembakau. Akan tetapi, Departemen Pengkajian Teknologi federal memperhitungkan kerugian pemerintah sebesar 68 miliar dolar setahun akibat merokok, didasarkan atas biaya perawatan kesehatan dan hilangnya produktivitas.

      Pernyataan-pernyataan tentang manfaat secara ekonomi dan lapangan pekerjaan yang melimpah, dukungan yang pemurah untuk kesenian, bantahan-bantahan yang keras terhadap risiko kesehatan​—sebenarnya, industri tembakau telah melepaskan balon-balon yang kelihatan ganjil untuk membela diri. Apakah balon-balon itu terbukti lebih efektif atau tidak dibandingkan dengan balon-balon penghadang di atas London masih akan kita lihat.

      Namun halnya nyata bahwa perusahaan-perusahaan raksasa tidak dapat menyembunyikan belangnya lagi. Mereka telah meraup jutaan, dan mereka telah membunuh jutaan, namun tampaknya mereka tidak terpengaruh oleh hasil akhir berupa jumlah korban yang mengerikan.

      [Blurb di hlm. 8]

      Hal itu kelihatannya hanya berisi omong kosong belaka

      [Blurb di hlm. 9]

      Sebuah penelitian pemerintah menggolongkan asap rokok pasif sebagai zat karsinogenik

      [Blurb di hlm. 10]

      Nikotin adalah salah satu zat yang paling bersifat mencandukan yang dikenal

      [Blurb di hlm. 11]

      Mereka telah meraup jutaan; mereka telah membunuh jutaan

      [Kotak di hlm. 10]

      50.000 Penelitian​—Apa yang Telah Mereka Temukan?

      Ini adalah sebuah contoh kecil dari masalah kesehatan yang diajukan oleh para peneliti sehubungan penggunaan tembakau:

      KANKER PARU-PARU: Sebesar 87 persen kematian karena kanker paru-paru didapati pada para perokok.

      PENYAKIT JANTUNG: Para perokok memiliki risiko 70 persen lebih besar terjangkit penyakit yang berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah.

      KANKER PAYUDARA: Wanita yang merokok 40 batang atau lebih setiap hari memiliki kemungkinan 74 persen lebih besar meninggal karena kanker payudara.

      KERUSAKAN PENDENGARAN: Bayi-bayi dari ibu yang merokok lebih sulit memproses suara.

      RISIKO DIABETES: Para penderita diabetes yang merokok atau mengunyah tembakau memiliki risiko yang lebih tinggi terkena kerusakan ginjal serta proses retinopathy (kerusakan pada retina) yang berkembang lebih cepat.

      KANKER USUS BESAR: Dua penelitian yang melibatkan lebih dari 150.000 orang memperlihatkan hubungan yang jelas antara merokok dan kanker usus besar.

      ASMA: Embusan asap rokok dapat memperburuk asma di kalangan remaja.

      KECENDERUNGAN UNTUK MEROKOK: Putri-putri dari para wanita yang merokok selama mengandung memiliki kemungkinan empat kali lebih besar untuk merokok.

      LEUKEMIA: Merokok tampaknya menyebabkan leukemia myeloid.

      CEDERA SEWAKTU BEROLAHRAGA: Menurut sebuah penelitian Angkatan Darat AS, para perokok memiliki kemungkinan lebih besar untuk cedera saat berolahraga.

      INGATAN: Dosis nikotin yang tinggi bisa jadi mengurangi ketangkasan mental sewaktu seseorang sedang melaksanakan tugas yang rumit.

      DEPRESI: Para psikiater sedang menyelidiki bukti adanya hubungan antara merokok dengan depresi utama serta skizofrenia.

      BUNUH DIRI: Sebuah penelitian atas para juru rawat memperlihatkan bahwa bunuh diri dua kali lebih besar kemungkinannya di antara para juru rawat yang merokok.

      Bahaya-bahaya lain untuk ditambahkan ke dalam daftar: Kanker mulut, pangkal tenggorokan, tenggorokan, esofagus, pankreas, lambung, usus kecil, kandung kemih, ginjal, dan leher rahim; stroke, serangan jantung, penyakit paru-paru yang kronis, penyakit pada sistem peredaran darah, radang dinding lambung, diabetes, kemandulan, melahirkan bayi dengan berat yang kurang, osteoporosis (keropos tulang), dan infeksi telinga. Risiko kebakaran dapat ditambahkan juga, karena merokok merupakan penyebab utama dari kebakaran rumah, hotel, dan rumah sakit.

      [Kotak di hlm. 12]

      Tembakau Tanpa Asap​—Pengganti yang Berbahaya

      Orang yang paling sukses dalam industri tembakau hidung (tembakau yang ditaruh pada lubang hidung untuk dihirup baunya), yang asetnya sebesar 1,1 miliar dolar AS, dengan lihai memikat para pemula yang masih muda dengan umpan yang dibumbui. Ada jenis-jenis tembakau hidung berbumbu yang terkenal. ”Sedikit efek awal dari tembakau” yang didapatkan dari produk-produk tadi memberikan kepuasan namun tidak untuk waktu yang lama. Seorang mantan wakil ketua perusahaan tembakau ini mengatakan, ”Banyak orang mungkin mulai dengan produk yang mengandung lebih banyak bumbu, namun pada akhirnya, mereka akan beralih kepada [jenis yang paling keras].” Produk tersebut diiklankan sebagai, ”Suatu Kunyahan Kuat bagi Pria Perkasa” dan, ”Itu Memuaskan”.

      The Wall Street Journal, yang melaporkan tentang strategi perusahaan ini, mengutip penyangkalannya bahwa ”perusahaan ini memodifikasi kadar nikotin”. Journal itu juga menyatakan bahwa dua mantan ahli kimia tembakau dari perusahaan tersebut, ketika berbicara tentang topik tersebut untuk pertama kalinya, mengatakan bahwa, ”meskipun perusahaan tersebut tidak memanipulasi kadar nikotin, perusahaan tersebut memang memanipulasi jumlah nikotin yang diserap para penggunanya”. Mereka juga mengatakan bahwa perusahaan telah menambahkan zat-zat kimia untuk menambah alkalinitas tembakau hidungnya. Semakin banyak alkalin dalam tembakau hidung, ”semakin banyak nikotin yang dilepaskan”. Journal menambahkan penjelasan berikut ini berkenaan tembakau hidung dan tembakau kunyah, ”Tembakau hidung, yang sering dikacaukan dengan tembakau kunyah, adalah tembakau irisan yang diisap oleh mereka yang menggunakannya, namun tidak dikunyah. Mereka yang menggunakannya mengambil sejumput, atau ’dip’, dan meletakkannya di antara pipi dan gusi, memindah-mindahkannya dengan lidah mereka dan sewaktu-waktu meludahkan itu.”

      Jenis-jenis yang berbumbu yang dibuat untuk para pemula hanya melepaskan dari 7 sampai 22 persen nikotinnya untuk diserap ke dalam aliran darah. Jenis yang paling kuat dapat membuat para pemula sesak napas. Tembakaunya dicincang halus untuk pria-pria ”sejati”. Tujuh puluh sembilan persen nikotinnya ”bebas”, dapat langsung diserap ke dalam aliran darah. Di Amerika Serikat, orang-orang mulai menggunakannya rata-rata pada usia sembilan tahun. Dan anak berusia sembilan tahun mana yang tidak akan mau beralih kepada jenis yang lebih keras dan bergabung dengan pria-pria ”sejati”?

      Hasil dari dosis nikotin itu sebenarnya lebih kuat daripada dosis yang berasal dari sebuah rokok. Mereka yang menggunakannya dilaporkan mempunyai kemungkinan 4 kali lebih besar terkena kanker mulut, dan risiko terkena kanker tenggorokan 50 kali lebih besar daripada mereka yang tidak menggunakannya.

      Seruan amarah publik Amerika Serikat untuk sementara waktu berkobar ketika sebuah tuntutan hukum diajukan terhadap suatu perusahaan tembakau oleh ibu seorang mantan bintang atletik sekolah menengah atas yang meninggal karena kanker mulut. Pada usia 12 tahun ia mendapat sekaleng tembakau hidung secara gratis pada sebuah rodeo dan setelah itu menggunakan tembakau ini empat kaleng setiap minggu. Setelah ia menjalani sejumlah pembedahan yang menyakitkan yang memotong lidah, rahang, dan lehernya, dokternya menyerah. Pemuda itu meninggal pada usia 19 tahun.

      [Kotak di hlm. 13]

      Cara Berhenti Merokok

      Jutaan orang telah berhasil membebaskan diri mereka dari kecanduan nikotin. Jika Anda seorang perokok, bahkan yang sudah lama, Anda juga dapat menyingkirkan kebiasaan yang berbahaya ini. Beberapa saran yang mungkin membantu:

      • Ketahuilah sebelumnya apa yang akan terjadi. Gejala-gejala awal berhenti merokok mungkin termasuk kecemasan, gampang marah, pusing, sakit kepala, susah tidur, sakit perut, lapar, keinginan yang kuat untuk merokok lagi, sulit berkonsentrasi, dan gemetaran. Ini semua tidak menyenangkan tentunya, namun gejala-gejala yang paling berat hanya berlangsung beberapa hari dan memudar secara bertahap seraya tubuh bebas dari nikotin.

      • Kini peperangan mental benar-benar mulai. Tidak hanya tubuh Anda yang merindukan nikotin namun pikiran Anda telah dibentuk oleh perilaku yang berhubungan dengan merokok. Analisislah rutinitas Anda untuk melihat kapan Anda secara otomatis meraih sebatang rokok, dan ubahlah pola itu. Sebagai contoh, jika Anda selalu merokok segera setelah makan, bertekadlah untuk segera berdiri dan berjalan-jalan atau mencuci piring.

      • Bila keinginan yang kuat datang, mungkin karena saat-saat yang menegangkan, ingatlah bahwa desakan demikian biasanya akan berlalu dalam waktu lima menit. Bersiaplah untuk menyibukkan pikiran Anda dengan menulis surat, berolahraga, atau makan makanan ringan yang sehat. Doa merupakan bantuan yang ampuh untuk mengendalikan diri.

      • Jika Anda merasa kecil hati karena upaya-upaya untuk berhenti telah gagal, jangan menyerah. Yang penting adalah terus mencoba.

      • Jika prospek bertambahnya berat badan menghalangi Anda, ingatlah bahwa manfaat berhenti merokok jauh lebih banyak daripada bahaya bertambah berat badan beberapa kilogram. Mungkin dapat membantu dengan senantiasa siap dengan buah-buahan atau sayuran. Dan minumlah air yang banyak.

      • Berhenti merokok adalah satu hal. Terus menahan diri dari tembakau merupakan hal lain. Tetapkan target waktu untuk bebas rokok​—satu hari, satu minggu, tiga bulan, selamanya.

      Yesus mengatakan, ”Engkau harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri.” (Markus 12:31) Demi kasih terhadap sesama Anda, berhentilah merokok. Demi kasih terhadap diri Anda sendiri, berhentilah merokok.​—Lihat juga ”Merokok​—Pandangan Kristen”, dalam g-IN No. 31, halaman 13-15.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan