-
Bagaimana Dunia Kita Telah Berubah?Sedarlah!—1993 | 8 Januari
-
-
Bagaimana Dunia Kita Telah Berubah?
APAKAH dunia Anda telah berubah? Filsuf Yunani purba Heracleitus berkata, ”Tidak ada sesuatu pun yang terus bertahan, kecuali perubahan.” Perubahan adalah sesuatu yang konstan dalam kehidupan kita semua.
Bila Anda meninjau kembali 10, 20, 30 tahun atau lebih, perubahan-perubahan apa yang telah Anda lihat? Anda mungkin telah melihat perubahan terjadi dalam bentuk modernisasi dan dalam bentuk tersingkirnya nilai-nilai tradisional. Tak diragukan lagi, Anda menganggap beberapa perubahan bersifat positif dan perubahan-perubahan lain bersifat negatif.
Jika Anda berusia di atas 70 tahun, perubahan-perubahan apa yang telah Anda lihat sejak masa muda Anda? Anda mengingat suatu masa manakala TV belum ada, manakala pesawat-pesawat udara terbang lamban dengan kecepatan 150 kilometer per jam, manakala kebanyakan perjalanan internasional ditempuh dengan kapal laut, manakala penyalahgunaan narkotik tampaknya terbatas pada sarang-sarang pecandu opium, manakala mobil-mobil masih sangat jarang. Ya, dunia Anda memang telah berubah.
Masyarakat Konsumen yang Berubah
Namun dunia telah berubah bahkan bagi orang-orang yang lebih muda. Baru 45 tahun yang lalu, pasar dunia didominasi produk-produk dan teknologi Barat. Sekarang, negeri-negeri Timur benua Asia di pesisir Pasifik telah menjadi pelopor dalam produksi mobil, komputer, kamera, TV, dan banyak jenis perangkat elektronik lainnya.
Ini diilustrasikan dalam apa yang diberitahukan oleh seorang pedagang Cina yang berpengalaman kepada Sedarlah!, ”Sekitar 30 atau 40 tahun yang lalu, impian rata-rata orang Cina adalah memperoleh sebuah sepeda dan sebuah mesin jahit. Barang-barang tersebut merupakan simbol status yang berlaku pada saat itu. Sekarang, impian orang-orang Cina adalah memiliki TV berwarna, VCR (video), lemari es, dan sepeda motor.” Masyarakat konsumen, tidak soal di Cina atau di tempat-tempat lain, telah mengubah selera dan permintaannya.
Perubahan sudut pandangan seperti ini telah terjadi di banyak negara seraya perekonomian mereka membaik. Pedro, seorang Katalonia dalam awal usia 40-an, menyatakan, ”Di Spanyol 30 tahun yang lalu, orang-orang berambisi untuk memiliki setidaknya mobil Seat [Fiat] kecil ukuran 600 cc. Sekarang, orang-orang Spanyol mendambakan BMW Jerman!” Jagdish Patel, seorang warga Amerika Serikat, mengomentari tentang perjalanannya baru-baru ini ke negeri asalnya, India, ”Saya tercengang melihat jumlah mobil di jalan-jalan India sekarang. Di jalan raya, Anda masih dapat melihat mobil-mobil Hindustan seperti yang dulu, tetapi sekarang ada juga mobil-mobil versi baru, skuter, dan sepeda motor buatan India di bawah lisensi perusahaan-perusahaan asing.”
Perubahan-Perubahan dalam Sains
Baru 25 tahun yang lalu, banyak orang masih menganggap bulan sebagai suatu misteri yang menggugah rasa ingin tahu. Sejak itu, manusia telah meninggalkan jejak kaki dan instrumen-instrumen ilmiahnya di permukaan bulan yang asing tersebut dan telah membawa turun sampel batu-batuan untuk dianalisis. Penerbangan pesawat ulang-alik Amerika sekarang merupakan peristiwa biasa, dan para ilmuwan A.S. membahas mengenai pembangunan stasiun ruang angkasa yang permanen dan mengenai pergi ke planet Mars.
Siapa pernah mendengar tentang AIDS 15 tahun yang lalu? Sekarang, itu adalah malapetaka sedunia, dan jutaan orang hidup dalam ketakutan terhadapnya.
Perubahan-Perubahan Politik
Baru empat tahun yang lalu, sebuah tembok yang tampaknya tidak dapat diterobos membagi kota Berlin; masih terdapat Uni Soviet Komunis dan Perang Dingin. Sekarang, Berlin telah dipilih sebagai ibu kota Jerman bersatu, dan 11 dari 15 republik bekas Uni Soviet telah membentuk Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS).
Baru beberapa tahun yang lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa terutama digunakan sebagai arena pertarungan antara negara-negara kapitalis dan komunis, disertai negara-negara yang disebut non-blok yang menghindari memihak blok mana pun dan bertindak sebagai pengamat. Sekarang, negara-negara Timur dan Barat sedang membicarakan perdamaian dan keamanan, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa dapat lebih unjuk gigi. Ia dapat mengirimkan pasukan-pasukan militer ke daerah-daerah yang dilanda krisis di seputar dunia. Tiga tahun yang lalu, masih ada negara-negara yang dikenal sebagai Yugoslavia dan Cekoslowakia. Sekarang, kedua negara tersebut telah pecah menjadi negara-negara kecil yang merdeka.
Dengan semua perubahan ini, apakah dunia telah maju begitu pesat ke arah perdamaian sejati, keadilan, serta pemerataan distribusi pangan dan sumber-sumber daya? Apakah dunia menjadi lebih beradab? Dapatkah Anda melintasi jalan-jalan tanpa takut akan penjahat? Apakah kita telah dididik sehingga kita tidak lagi membenci orang-orang lain berdasarkan ras, agama, politik, gaya hidup, atau bahasa mereka? Apakah perubahan mengarah kepada kemajuan yang nyata bagi keluarga manusia secara umum dan bagi rumah kita, bumi ini? Kita sedang menuju ke mana? Artikel-artikel berikut akan membahas hal-hal tersebut dan pertanyaan-pertanyaan lain.
-
-
Dunia Kita yang Berubah Sedang Menuju ke Mana?Sedarlah!—1993 | 8 Januari
-
-
Dunia Kita yang Berubah Sedang Menuju ke Mana?
BEBERAPA perubahan memang memiliki dampak yang dalam dan bertahan lama atas kehidupan jutaan orang, bahkan atas penduduk dunia secara keseluruhan dan generasi-generasi di masa depan. Kejahatan yang kejam, penyalahgunaan obat bius, penyebaran AIDS, polusi air dan udara, dan penggundulan hutan hanyalah beberapa perkembangan yang sedang memberi dampak atas kita semua. Berakhirnya Perang Dingin dan menyebarnya demokrasi ala-Barat dengan ekonomi pasarnya juga sedang mengubah kehidupan dan mempengaruhi masa depan. Marilah kita bahas beberapa faktor ini.
Bagaimana Kejahatan Telah Mengubah Kehidupan Kita
Bagaimana keadaan di jalan-jalan di lingkungan Anda? Apakah Anda merasa aman berjalan di luar rumah sendirian pada malam hari? Baru 30 atau 40 tahun yang lalu, banyak orang bahkan dapat meninggalkan rumah mereka tanpa dikunci. Tetapi, zaman telah berubah. Sekarang, ada pintu-pintu yang memiliki dua atau tiga gembok, dan jendela-jendela diberi terali metal.
Dewasa ini, orang-orang takut mengenakan pakaian dan perhiasan mereka yang terbaik di jalan-jalan. Beberapa penduduk kota telah dibunuh untuk diambil jaket kulit atau mantel bulunya. Orang-orang lain tewas dalam tembak-menembak antar geng-geng narkotik. Orang-orang yang tidak bersalah yang berada di sekitar, termasuk anak-anak, dibuat cedera atau dibunuh hampir setiap hari. Mobil tidak dapat ditinggal dengan aman di tepi jalan tanpa dipasangkan berbagai alat pengaman untuk menghalau pencuri yang bagaikan parasit. Dalam iklim dunia yang korup ini, orang-orang telah berubah. Kejujuran dan integritas merupakan nilai-nilai yang hampir dilupakan. Kepercayaan telah hilang.
Kejahatan dan kekerasan adalah fenomena seluas dunia. Kepala-kepala berita berikut ini dari berbagai sumber mengilustrasikan masalahnya, ”Polisi dan Perampok, Geng dan Kejahatan; Semua Itu Ternyata Ada di Moskow”; ”Suatu Era Baru Datang di Korea, Diikuti Oleh Kejahatan”; ”Kejahatan di Jalan Melanda Kehidupan Sehari-hari di Praha”; ”Jepang Menghadapi Mafia, dan Mafia Balas Menyerang”; ”Cengkeraman Gurita—Musuh Mafia Nomor Satu Italia Dibom”. Kejahatan adalah problem universal.
Kejahatan dewasa ini juga lebih kejam. Nyawa begitu murah. Di Rio de Janeiro, Brasil, suatu daerah kumuh di pinggir kota telah ”secara resmi diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai tempat paling kejam di dunia. Lebih dari 2.500 orang dibunuh di sana setiap tahun”. (World Press Review) Di Kolombia, gembong-gembong narkotik mengirim sicarios, atau pembunuh bayaran, yang masih remaja di atas sepeda motor untuk menyelesaikan urusan dengan para pesaing dan para debitur dengan cara khas mereka yakni hukuman mati secepat kilat. Dan sering kali, bencana menimpa Anda jika Anda menyaksikan suatu tindak kejahatan—tidak soal di Kolombia atau di mana pun juga. Anda mungkin akan menjadi korban berikutnya.
Perubahan besar lainnya adalah bahwa semakin banyak pelaku kejahatan membawa senjata-senjata otomatis yang memautkan, dan semakin banyak anggota masyarakat yang membawa senjata api untuk mempertahankan diri. Meningkatnya persenjataan ini secara otomatis berarti meningkatnya kematian dan luka-luka serius, karena kejahatan atau karena kecelakaan. Sekarang telah menjadi kebenaran universal bahwa sepucuk senjata api dalam saku atau di dalam rumah dapat mengubah seseorang menjadi pembunuh potensial.
Kejahatan dan Obat Bius
Lima puluh tahun yang lalu, siapa bahkan membayangkan obat bius sebagai problem sedunia? Sekarang, obat bius merupakan salah satu penyebab utama kejahatan dan kekerasan. Dalam bukunya Terrorism, Drugs and Crime in Europe after 1992, Richard Clutterbuck meramalkan bahwa ”dalam jangka panjang pertumbuhan perdagangan narkotik akan terbukti sebagai ancaman terbesar terhadap peradaban manusia. . . . Keuntungannya tidak hanya memberikan kekuasaan ekonomi dan politik yang besar kepada gembong-gembong obat bius [Kolombia adalah contoh yang jelas], tetapi juga membiayai kejahatan di seluruh dunia dalam jumlah yang menakutkan”. Ia juga menyatakan, ”Salah satu penunjang terbesar dari terorisme dan kejahatan yang kejam di dunia adalah perdagangan kokain dari ladang-ladang koka di Kolombia kepada para pecandunya di Eropa dan di Amerika Serikat.”
Meningkatnya gelombang kejahatan dan kenaikan jumlah penghuni rumah tahanan sedunia memperlihatkan bahwa terdapat jutaan orang yang memiliki niat kriminal dan sedikit keinginan untuk berubah. Terlalu banyak orang yang melihat bahwa kejahatan menguntungkan. Sebagai hasilnya, dunia kita telah berubah—menjadi lebih buruk. Ia telah menjadi lebih berbahaya.
AIDS—Suatu Penyebab Perubahan?
Apa yang pada mulanya muncul sebagai penyakit yang umumnya menyerang kaum homoseksual telah menjadi malapetaka yang merusak orang-orang dari setiap ras dan gaya hidup. AIDS tidak pandang bulu lagi. Di beberapa negara Afrika, ia membunuh sejumlah besar kaum heteroseksual. Sebagai akibatnya, promiskuitas seksual bagi beberapa orang tiba-tiba tampak ketinggalan zaman, bukan karena alasan-alasan moral, tetapi karena takut terkena infeksi. ”Seks yang aman” sekarang menjadi slogan, dan penggunaan kondom merupakan tindak pencegahan yang paling dianjurkan. Menjauhkan diri dari perbuatan seks yang amoral adalah pelindung yang paling sedikit diminati. Namun, bagaimana AIDS akan mempengaruhi keluarga manusia di masa depan yang dekat ini?
Majalah Time baru-baru ini melaporkan, ”Menjelang tahun 2000, AIDS dapat menjadi epidemi terbesar sepanjang abad, mengalahkan bencana influenza tahun 1918. Malapetaka itu membunuh 20 juta orang, atau 1% dari penduduk dunia—lebih dua kali lipat jumlah tentara yang mati pada Perang Dunia I.” Sebagaimana dikatakan seorang pakar, ”epidemi ini merupakan skala yang bersejarah”.
Meskipun jutaan dolar dan mata uang lain dicurahkan ke dalam riset AIDS, jalan keluarnya masih belum kelihatan. Suatu konferensi tentang AIDS baru-baru ini di Amsterdam, Belanda, mengumpulkan 11.000 ilmuwan dan para pakar lainnya untuk mempelajari masalahnya. ”Suasananya muram, mencerminkan frustrasi, kegagalan dan tragedi yang meningkat pada dekade ini. . . . Umat manusia mungkin tidak lebih dekat kepada penaklukan AIDS daripada ketika bencana ini mulai. Tidak ada vaksin, tidak ada pengobatan dan bahkan tidak ada perawatan yang dipastikan efektif.” (Time) Bagi orang-orang yang sekarang ini positif terjangkit HIV, mungkin sudah jatuh sakit karena AIDS, prospeknya suram. Di sini pun, telah terjadi perubahan ke arah yang lebih buruk.
Perubahan dalam Politik Dunia
Iklim politik yang berubah dalam empat tahun terakhir telah mengejutkan para pemimpin dan barangkali tidak separah yang dialami di Amerika Serikat. Tiba-tiba ia mendapati diri tanpa saingan yang seimbang dalam kancah politik. Halnya dapat dibandingkan dengan tim bola basket yang bermotivasi tinggi dan tak terkalahkan yang tiba-tiba mendapati bahwa tidak ada tim yang mau bertanding melawannya lagi. Keragu-raguan ini diringkaskan dalam sebuah artikel pada tahun 1990 oleh editor majalah Foreign Policy, Charles William Maynes, ”Dewasa ini, tugas kebijakan luar negeri A.S. bukan untuk membebaskan negara dari perang yang menghancurkan tetapi untuk melembagakan perdamaian yang di luar dugaan ini yang tiba-tiba muncul antara Amerika Serikat dan [negara yang dahulunya] Uni Soviet.”
Penyebaran teknologi nuklir menimbulkan ancaman baru, sementara perang dengan senjata-senjata konvensional terus bertumbuh—yang sangat menggembirakan agen-agen senjata dunia. Dalam dunia yang amat mendambakan perdamaian ini, banyak pemimpin politik sedang memperkuat angkatan bersenjata dan persenjataan mereka. Dan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang nyaris bangkrut terus sibuk berupaya menutup borok-borok dunia yang kronis dengan plester Band-Aids.
Kutukan Nasionalisme yang Tidak Berubah
Ketika Komunisme mulai hancur, presiden A.S. Bush mempopulerkan konsep ”suatu tatanan dunia baru”. Akan tetapi, sebagaimana telah diketahui oleh banyak pemimpin politik, slogan-slogan yang bijak mudah dibuat; perubahan-perubahan yang positif jauh lebih sulit dicapai. Dalam bukunya After the Fall—The Pursuit of Democracy in Central Europe, Jeffrey Goldfarb mengatakan, ”Tak terkatakan banyaknya harapan tentang ’suatu tatanan dunia baru’ telah diikuti dengan segera oleh kenyataan bahwa masalah-masalah yang paling kuno masih kita hadapi, dan kadang-kadang dalam skala besar. Kegembiraan karena kebebasan . . . sering kali dibayang-bayangi oleh keputusasaan karena ketegangan politik, konflik nasional, fundamentalisme agama, dan kemacetan ekonomi.” Pasti, perang saudara di daerah yang dahulu disebut Yugoslavia merupakan contoh jelas sehubungan pengaruh yang memecah-belah dari politik, agama, dan nasionalisme.
Goldfarb melanjutkan, ”Xenofobia [takut kepada orang asing] dan ketidakamanan pribadi telah menjadi kenyataan hidup di Eropa Tengah. Demokrasi tidak secara otomatis menghasilkan sesuatu yang baik secara ekonomi, politik, dan budaya, dan suatu ekonomi pasar tidak hanya menjanjikan kekayaan, ia juga menciptakan masalah-masalah yang tak dapat dipecahkan oleh orang-orang yang tidak tahu cara bekerja di dalamnya.”
Namun, sudah jelas bahwa hal-hal ini bukan saja masalah-masalah di Eropa Tengah dan di republik-republik bekas Uni Soviet saja; xenofobia dan ketidakpastian ekonomi adalah masalah sedunia. Keluarga umat manusia menanggung akibatnya dalam bentuk penderitaan dan kematian. Dan masa depan yang dekat tidak mengandung harapan akan perubahan sikap-sikap yang berakar dalam, yang menimbulkan kebencian dan kekejaman. Mengapa begitu? Karena pendidikan yang kebanyakan orang terima—dari orang-tua atau dari sistem-sistem pendidikan yang berorientasi pada nasionalisme—menanamkan kebencian, sikap tidak toleran, dan gagasan mengenai keunggulan berdasarkan nasionalisme, asal-usul etnik dan suku, atau bahasa.
Nasionalisme, yang disebut oleh majalah mingguan Asiaweek sebagai ”Isme Buruk yang Terakhir”, adalah salah satu faktor yang tidak berubah yang terus menyulut kebencian dan pertumpahan darah. Majalah tersebut menyatakan, ”Jika kebanggaan menjadi seorang Serbia berarti membenci seorang Kroasia, jika kebebasan bagi bangsa Armenia berarti balas dendam kepada bangsa Turki, jika kemerdekaan bagi orang-orang Zulu berarti menaklukkan orang-orang Xhosa dan demokrasi bagi bangsa Rumania berarti mengusir orang-orang Hungaria, maka nasionalisme telah mengenakan rupanya yang terburuk.”
Kita diingatkan akan kata-kata yang pernah diucapkan Albert Einstein, ”Nasionalisme adalah penyakit kanak-kanak. Ia adalah penyakit campak umat manusia.” Hampir setiap orang merasakannya pada suatu waktu, dan itu terus menyebar. Pada tahun 1946 yang lalu, sejarawan Inggris Arnold Toynbee menulis, ”Patriotisme . . . telah secara luas menggantikan kekristenan sebagai agama Dunia Barat.”
Apakah ada harapan bagi perubahan tingkah laku manusia dalam suasana sekarang? Beberapa orang mengatakan bahwa hal itu dapat dicapai hanya dengan perubahan radikal dalam pendidikan. Ekonom John K. Galbraith menulis, ”Masyarakat adalah penentu yang umum dari kemajuan. Jadi . . . tidak ada kemajuan yang dimungkinkan dalam masyarakat yang tidak maju, dan kemajuan akan pasti bila masyarakat itu dibebaskan dan dididik. . . . Pemberantasan buta huruf harus didahulukan.” Harapan apa yang terbentang bahwa suatu ketika sistem-sistem pendidikan dunia akan mengajarkan kasih dan toleransi sebaliknya daripada kebencian dan kecurigaan? Kapan permusuhan yang berurat-berakar antar suku atau etnik akan digantikan dengan kepercayaan dan pengertian, dengan mengakui bahwa kita semua adalah satu keluarga manusia?
Jelaslah, dibutuhkan perubahan yang positif. Sandra Postel menulis di State of the World 1992, ”Sisa dari dekade ini harus menghasilkan transformasi yang bahkan lebih dalam dan lebih meluas jika kita ingin berpegang kepada harapan yang realistis untuk suatu dunia yang lebih baik.” Dan kita sedang menuju ke mana? Richard Clutterbuck menyatakan, ”Akan tetapi, dunia tetap tidak stabil dan berbahaya. Semangat nasionalis dan agama akan berlanjut. . . . Tahun 1990-an dapat menjadi dekade yang paling berbahaya atau yang paling progresif dalam abad ini.”—Terrorism, Drugs and Crime in Europe After 1992.
Lingkungan Kita yang Berubah
Selama beberapa dekade yang lalu, umat manusia telah menjadi sadar akan fakta bahwa kegiatan manusia memiliki dampak yang berbahaya atas lingkungan. Penggundulan hutan secara besar-besaran membunuh tak terhitung banyaknya spesies binatang dan tumbuh-tumbuhan. Dan karena hutan-hutan merupakan bagian dari sistem paru-paru planet ini, kerusakan hutan-hutan juga menurunkan kapasitas bumi untuk mengubah karbon dioksida menjadi oksigen yang penting bagi kehidupan. Dampak lain adalah melemahnya lapisan humus dan akhirnya mengarah kepada ketandusan.
Beberapa seruan peringatan telah timbul berkenaan masalah ini, dan salah satunya adalah dari politisi A.S. bernama Al Gore. Dalam bukunya Earth in the Balance—Ecology and the Human Spirit, ia menulis, ”Pada tingkat penggundulan hutan yang sekarang, jelaslah semua hutan tropis basah akan lenyap secara bertahap pada abad berikut. Jika kita membiarkan kehancuran ini terjadi, dunia akan kehilangan gudang informasi genetik yang paling kaya di planet ini, sekaligus kemungkinan pengobatan bagi banyak penyakit yang menimpa kita. Sesungguhnya, ratusan obat penting yang lazim digunakan dewasa ini berasal dari tumbuh-tumbuhan dan satwa dari hutan-hutan tropis.”
Gore percaya bahwa pengaruh manusia atas lingkungan merupakan ancaman yang sudah di ambang pintu terhadap kelangsungannya. Ia menyatakan, ”Jika kita meluaskan lagi ke setiap segi lingkungan hidup, kerapuhan peradaban kita menjadi lebih kelihatan. . . . Dalam satu generasi saja, kita berada dalam bahaya perubahan susunan dari atmosfer global yang jauh lebih dramatis daripada letusan gunung mana pun dalam sejarah, dan dampaknya dapat bertahan hingga abad yang akan datang.”
Bukan hanya atmosfer kita yang terancam tetapi, menurut Gore dan yang lain-lain, persediaan air kita yang vital berada dalam bahaya, terutama di dunia yang sedang berkembang, ”tempat berbagai efek polusi air dirasakan paling hebat dan tragis dalam bentuk tingginya tingkat kematian yang disebabkan oleh kolera, tifus, disentri, dan diare”. Lalu Gore menyebut fakta bahwa ”lebih dari 1,7 miliar orang tidak memiliki persediaan air minum yang aman dan memadai. Lebih dari 3 miliar orang tidak memiliki sanitasi yang patut [fasilitas kamar kecil dan pembuangan air kotor] dan dengan demikian air mereka terkena risiko tercemar. Di India, misalnya, seratus empat belas kota kecil maupun kota besar membuang kotoran manusia dan limbah mereka langsung ke Sungai Gangga”. Padahal sungai itu merupakan sarana air yang penting bagi jutaan orang!
Gautam S. Kaji, wakil presiden Bank Dunia, memperingatkan pada suatu pertemuan resmi di Bangkok bahwa ”persediaan air di Asia Timur kemungkinan besar menjadi masalah krisis pada abad berikut. . . . Meskipun manfaat air minum yang aman bagi kesehatan dan produktivitas telah diketahui, pemerintah-pemerintah Asia Timur sekarang dihadapkan dengan sistem publik yang tidak dapat menyediakan air yang dapat diminum . . . Ini merupakan masalah yang terlupakan yaitu pembangunan yang sehat secara lingkungan”. Di seluruh dunia, salah satu elemen dasar bagi kehidupan—air bersih—sedang disia-siakan dan diboroskan.
Ini semua adalah aspek-aspek dari dunia kita yang sedang berubah, suatu dunia yang ditransformasikan menjadi kubangan kotoran yang berbahaya dalam banyak segi dan yang mengancam keberadaan umat manusia di masa depan. Pertanyaan yang utama adalah, Apakah pemerintah dan bisnis besar memiliki keinginan dan motivasi untuk mengambil langkah-langkah guna mencegah pemborosan sumber-sumber daya bumi secara besar-besaran?
Apakah Agama Sedang Mengubah Dunia?
Dalam bidang agama, barangkali kita mendapati kegagalan terbesar dari umat manusia. Jika sebuah pohon dinilai dari buahnya, maka agama harus bertanggung jawab atas buah-buah berupa kebencian, sikap tidak toleran, dan perang di antara sesamanya. Tampaknya bagi kebanyakan orang, agama bagaikan kecantikan—hanya sebatas kulit. Agama adalah suatu pernis yang segera mengelupas di bawah tekanan rasisme, nasionalisme, dan ketidakamanan ekonomi.
Karena kekristenan adalah agama yang mengajarkan ’kasihilah sesamamu dan kasihilah musuhmu’, apa yang terjadi pada orang-orang Katolik dan Orthodoks di bekas wilayah Yugoslavia? Apakah semua pembunuhan dan kebencian yang mereka lakukan akan diampuni oleh para imam mereka? Apakah pengajaran ”Kristen” selama berabad-abad hanya menghasilkan kebencian dan pembunuhan di Irlandia Utara? Dan bagaimana dengan agama-agama non-Kristen? Apakah mereka menghasilkan buah-buah yang lebih baik? Dapatkah Hinduisme, Sikhisme, Budhisme, Islam, dan Shintoisme memperlihatkan satu catatan yang damai dari sikap saling toleransi?
Sebaliknya daripada memberi pengaruh positif dalam memperadabkan umat manusia, agama telah memainkan perannya yang fanatik dalam merangsang berkobarnya patriotisme yang gila-gilaan dan dalam memberkati angkatan-angkatan bersenjata dalam kedua perang dunia maupun dalam banyak konflik lainnya. Ia belum menjadi kekuatan yang progresif bagi perubahan.
Oleh karena itu, apa yang dapat diharapkan dari agama di masa depan yang dekat ini? Sebenarnya, masa depan apa yang dapat kita harapkan dari sistem dunia kita yang sekarang—perubahan apa yang akan terjadi? Artikel kami yang ketiga akan membahas pertanyaan-pertanyaan ini dari sudut pandangan yang unik.
[Gambar di hlm. 7]
Meningkatnya kejahatan yang kejam merupakan simtom lain dari perubahan
[Gambar di hlm. 8]
Nasionalisme dan kebencian agama terus menghasilkan pertumpahan darah
[Keterangan]
Jana Schneider/Sipa
Malcom Linton/Sipa
[Gambar di hlm. 9]
Penyalahgunaan lingkungan oleh manusia sedang mengubah keseimbangan yang peka dari biosfer
[Keterangan]
Laif/Sipa
Sipa
[Gambar di hlm. 10]
Hitler disambut oleh Basallo di Torregossa, duta besar kepausan, pada tahun 1933. Menurut sejarah, agama telah terlibat dalam politik dan nasionalisme
[Keterangan]
Bundesarchiv Koblenz
-
-
Dunia Kita yang Sedang Berubah—Bagaimana Sebenarnya Masa Depannya?Sedarlah!—1993 | 8 Januari
-
-
Dunia Kita yang Sedang Berubah—Bagaimana Sebenarnya Masa Depannya?
AGAR dunia kita dapat berubah menjadi lebih baik, pilihan apa yang tersedia? Satu pilihan adalah untuk percaya bahwa para penguasa dan pemimpin dunia akhirnya akan menjadi altruistis (mendahulukan kepentingan orang lain) dan mulai memimpin umat manusia dengan cara yang saling toleransi, tenggang rasa, dan damai.
Itu berarti percaya bahwa sukuisme dan nasionalisme akan dihapus dan diganti dengan suatu sikap supranasional yang dapat membawa kerukunan kepada dunia.
Itu juga berarti percaya bahwa para pemimpin ekonomi kapitalis akan menyadari bahwa motif cari untung saja adalah etika yang tidak sesuai di dalam dunia yang dilanda pengangguran besar-besaran, krisis tempat tinggal, dan biaya medis yang tinggi.
Tambahan pula, itu berarti percaya bahwa semua pabrik senjata sedunia akan mulai mendambakan perdamaian dunia dan akan menempa pedang-pedang mereka menjadi mata-mata bajak.
Selanjutnya, itu berarti bahwa unsur-unsur kriminal di dunia, termasuk gembong-gembong Mafia, bos-bos berbagai geng kejahatan di Negeri-Negeri Timur, dan gembong-gembong narkotik Amerika Selatan, akan bertobat dan mulai bertingkah laku dengan cara yang lebih baik!
Dengan kata lain, hal itu berarti percaya pada Utopia—suatu impian yang mustahil—buatan manusia. Jika Allah dikesampingkan dari urusan ini, maka kita berada dalam situasi yang serupa dengan yang digambarkan oleh sejarawan Paul Johnson dalam bukunya A History of the Modern World. Ia menulis bahwa salah satu kejahatan dasar yang menyumbang kepada ”kegagalan dan tragedi pembawa malapetaka” pada abad kita ialah ”kepercayaan yang angkuh bahwa manusia dapat memecahkan segala misteri di alam semesta melalui kecerdasan mereka sendiri tanpa bantuan siapa pun”.—Bandingkan Yesaya 2:2-4.
Akan tetapi, ada pilihan yang sah bagi perubahan yang positif. Pilihan itu adalah percaya bahwa Pencipta bumi, Pemilik planet kita, Arsitek Agung dari perubahan, Allah Yehuwa, akan campur tangan dalam urusan-urusan umat manusia guna menyelamatkan pekerjaan tangan-Nya. Sejarah Alkitab memperlihatkan bahwa Allah telah mengambil tindakan di masa lalu untuk melaksanakan maksud-tujuan-Nya, dan nubuat Alkitab menunjukkan bahwa Ia akan segera mengambil tindakan lagi guna mewujudkan maksud-tujuan-Nya semula bagi umat manusia dan bumi.—Yesaya 45:18.
Sumber Informasi Unik yang Dapat Diandalkan
Sumber yang unik dari pengetahuan sejati tentang bagaimana masa depan bagi umat manusia digambarkan dalam kata-kata nabi Alkitab bernama Yesaya, ”Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana.”—Yesaya 46:9-11.
Mengapa Allah Yehuwa seharusnya memiliki pengetahuan jauh di muka mengenai peristiwa-peristiwa yang akan mempengaruhi umat manusia? Sekali lagi Yesaya menjawab, ”Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu.” Rancangan Allah bagi masa depan umat manusia diungkapkan dalam Alkitab.—Yesaya 55:9.
”Masa-Masa Kritis yang Sulit Dihadapi”
Apa yang dinubuatkan Firman Allah, Alkitab, bagi generasi kita? Rasul Kristen bernama Paulus memperingatkan, ”Tetapi ketahuilah hal ini, bahwa pada hari-hari terakhir akan tiba masa-masa kritis yang sulit dihadapi.” (2 Timotius 3:1, NW) Sejak 1914 dan Perang Dunia I, kita sedang hidup dalam masa-masa yang telah menjadi semakin kritis. Sifat mementingkan diri, ketamakan, dan gila kekuasaan manusia telah mengarahkannya untuk melakukan kekejaman yang semakin buruk bukan hanya terhadap sesamanya tetapi juga terhadap alam. Ketidakpedulian manusia terhadap lingkungannya mengancam kelangsungan hidup anak-cucunya di masa depan.
Bahaya yang kritis ini ditonjolkan oleh mantan presiden Cekoslowakia, Vaclav Havel, yang menulis tentang keadaan di negara tersebut. Sebenarnya, kata-katanya memiliki penerapan seluas dunia, ”Ini merupakan konsekuensi belaka dari . . . sikap manusia terhadap dunia, terhadap alam, terhadap manusia lain, terhadap kehidupan itu sendiri. Ini adalah konsekuensi . . . dari keangkuhan manusia modern, yang percaya bahwa ia mengerti segala sesuatu dan mengetahui segala-galanya, yang menjuluki dirinya sendiri penguasa atas alam dan dunia. . . . Demikianlah pemikiran manusia yang menolak mengakui siapa pun . . . lebih tinggi daripada dirinya sendiri.”
Al Gore yang telah dikutip sebelumnya menulis, ”Saya yakin bahwa banyak orang telah kehilangan iman mereka akan masa depan, karena kenyataannya dalam setiap segi peradaban kita, kita mulai bertindak seolah-olah masa depan kita sekarang begitu banyak diragukan sehingga lebih masuk akal untuk memfokuskan secara eksklusif atas kebutuhan-kebutuhan sekarang dan problem-problem jangka pendek.” (Earth in the Balance) Pastilah, pesimisme mengenai masa depan tampaknya menjadi suatu sikap yang umum.
Situasi ini sudah terjadi sebagian karena kata-kata Paulus selanjutnya telah digenapi, ”Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu.”—2 Timotius 3:2-5.
Alternatif yang Lebih Baik
Namun Allah telah merencanakan bahwa segala sesuatu akan diubah di bumi ini—menjadi lebih baik. Ia telah menjanjikan bahwa Ia akan mendatangkan ”langit yang baru dan bumi yang baru . . . , di mana terdapat kebenaran”. (2 Petrus 3:13) Untuk memulihkan bumi yang tercemar ini kepada keadaan Firdaus, Allah Yehuwa harus terlebih dahulu ”membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi”. (Wahyu 11:18) Bagaimana ini akan terjadi?
Dengan menggunakan bahasa simbolis, Alkitab menyatakan bahwa Allah akan segera menggerakkan hati unsur-unsur politik, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk menghancurkan kekuasaan dan prestise dari kekuatan yang barangkali paling negatif dalam sejarah umat manusia—pengaruh nasionalistis dan memecah-belah dari agama di seluas dunia.a Menurut Martin van Creveld, dalam bukunya The Transformation of War, ”ada alasan untuk menduga bahwa sikap, keyakinan, dan fanatisme agama akan memainkan peranan lebih besar dalam memotivasi konflik bersenjata dibandingkan sebelumnya, setidaknya di Barat, selama 300 tahun terakhir”. Kemungkinan karena mencampuri politik, agama akan menderita di tangan kuasa-kuasa politik. Namun, kuasa-kuasa tersebut tanpa disengaja akan menggenapi kehendak Allah.—Wahyu 17:16, 17; 18:21, 24.
Alkitab selanjutnya memperlihatkan bahwa Allah kemudian akan menujukan perhatian-Nya kepada unsur-unsur politik yang bersifat eksploitasi dan seperti binatang buas dari sistem dunia Setan yang bejat, dan melawan mereka dalam perang akhir-Nya, atau pertempuran di Armagedon. Setelah penyingkiran sistem politik yang kejam dan manipulator ulung mereka, Setan, jalan menuju dunia baru yang damai yang telah dijanjikan Allah akan menjadi bersih.b—Wahyu 13:1, 2; 16:14-16.
Saksi-Saksi Yehuwa telah memberitakan dari rumah ke rumah mengenai perubahan yang akan datang ini selama hampir 80 tahun. Selama waktu itu, mereka juga telah melihat dan mengalami banyaknya perubahan yang telah dibuat umat manusia. Mereka telah merasakan penjara-penjara dan kamp-kamp konsentrasi Nazi karena prinsip-prinsip mereka yang didasarkan pada Alkitab. Mereka telah mengalami kesengsaraan dan penderitaan hidup di banyak daerah di Afrika, termasuk perang saudara dan pergolakan suku. Mereka telah bertekun di bawah penindasan di tangan kebanyakan sistem politik dan agama karena kenetralan dan kegiatan pengabaran mereka yang bergairah. Namun, meskipun semua ini terjadi, mereka telah melihat berkat Allah atas pekerjaan pendidikan seluas dunia mereka seraya mereka telah bertumbuh dari beberapa ribu pada tahun 1914 hingga kira-kira empat setengah juta pada tahun 1993.
Alasan-Alasan untuk Optimis
Sebaliknya daripada merasa pesimis, Saksi-Saksi memiliki pandangan yang optimis karena mereka mengetahui bahwa perubahan yang terbaik dan terbesar segera akan terjadi di bumi ini. Peristiwa-peristiwa sejak tahun 1914 telah menggenapi nubuat-nubuat yang diberikan Yesus, menandai masa kehadirannya yang tidak kelihatan dalam kuasa Kerajaan dan menunjukkan bahwa kita sedang berada dalam masa-masa terakhir bagi ”kekacauan dunia baru” mana pun yang diilhami manusia, sebagaimana yang digambarkan seorang penulis Perancis di Le Monde sehubungan prospek-prospek masa depan yang dekat ini. Yesus berkata, ”Jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.”—Lukas 21:7-32.
”Tatanan dunia baru” manusia begitu lemah menghadapi rusaknya pola perilaku manusia—ambisi, gila kekuasaan, ketamakan, korupsi, dan ketidakadilan. Dunia baru Allah akan menjamin keadilan. Tentang Dia tertulis, ”Gunung Batu, yang pekerjaanNya sempurna, karena segala jalanNya adil; Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.”—Ulangan 32:4.
”Tatanan dunia baru” manusia bersifat terbuka bagi apa yang disebut oleh McGeorge Bundy, pakar kebijakan luar negeri A.S., sebagai ”perasaan-perasaan nasionalis yang picik yang dapat dimanfaatkan oleh penghasut-penghasut”. Selanjutnya, ia berkata, ”Kita mengetahui dari sejarah bagaimana kegagalan ekonomi dan sosial dapat memberi kekuatan kepada ekstremis-ekstremis demikian. Kita juga mengetahui bahwa tidak soal di mana itu terjadi, nasionalisme sejenis itu berbahaya.”
Dunia baru Allah menjamin kerukunan dan perdamaian di antara orang-orang dari segala suku dan bangsa karena mereka akan dididik dalam jalan-jalan Yehuwa yang tidak pandang bulu dan pengasih. Yesaya menubuatkan, ”Semua anakmu akan menjadi murid [Yehuwa], dan besarlah kesejahteraan mereka.” (Yesaya 54:13) Dan rasul Kristen bernama Petrus mengatakan, ”Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya.”—Kisah 10:34, 35.
Tak diragukan lagi, akan terdapat perkembangan yang dramatis di masa depan yang segera akan datang di dunia sebagaimana kita ketahui. Akan tetapi, perubahan terbesar, perubahan yang permanen dan bermanfaat, adalah apa yang telah dijanjikan Allah untuk dilaksanakan, dan Ia ”tidak berdusta”.—Titus 1:2.
[Catatan Kaki]
a Imperium agama palsu sedunia diidentifikasikan di dalam Alkitab sebagai ”Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur”, seorang ratu yang berlumuran darah yang ”dosa-dosanya telah bertimbun-timbun sampai ke langit”. (Wahyu 17:3-6, 16-18; 18:5-7) Untuk keterangan yang lebih terinci mengenai identifikasi Babel Besar, lihat buku Pencarian Manusia akan Allah, halaman 368-71, diterbitkan oleh the Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.
b Untuk penjelasan yang lebih terinci mengenai peristiwa-peristiwa yang dinubuatkan Alkitab ini, lihat buku Wahyu—Klimaksnya yang Menakjubkan Sudah Dekat! pasal 30-42, yang diterbitkan pada tahun 1988 oleh the Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.
-