PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • w82_No46 hlm. 23-27
  • Menyenangkan Yehuwa di Dalam Keluarga

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Menyenangkan Yehuwa di Dalam Keluarga
  • Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—1982 (No. 46)
  • Subjudul
  • PENYELENGGARAAN KELUARGA
  • PERANAN SUAMI DAN ISTRI
  • TANGGUNG JAWAB ANAK-ANAK
  • KASIH DALAM KELUARGA
Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—1982 (No. 46)
w82_No46 hlm. 23-27

Menyenangkan Yehuwa di Dalam Keluarga

”Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, . . . Hai suami-suami, kasihilah isterimu . . . Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.”—Kolose 3:18-20.

1. Apa salah satu syarat utama supaya keluarga menyenangkan bagi Yehuwa, tetapi rintangan apa yang harus dihadapi?

SALAH satu syarat utama bagi keluarga Kristen yang ingin menyenangkan Pencipta adalah ketaatan kepada wewenang yang patut. Bagaimana pandangan saudara terhadap wewenang? Dengan membaca suratkabar dan majalah-majalah, menonton siaran berita di televisi atau mendengarkan laporan berita radio, kita memperoleh bukti yang melimpah bahwa di seluruh dunia terdapat suatu sikap yang menentang terhadap wewenang. Sikap ini dapat dengan mudah mempengaruhi cara berpikir seseorang. Pada tingkat keluarga, ini dapat mengakibatkan gangguan yang hebat, jika pandangan seseorang mengenai ketaatan terhadap wewenang dibentuk oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekelilingnya dari hari ke hari.

2-4. Pertanyaan-pertanyaan apa yang dihadapi oleh keluarga-keluarga sehubungan dengan mengakui wewenang?

2 Sebagai seorang suami dan ayah, bagaimana seseorang memandang cara yang ia gunakan untuk menjalankan wewenang dalam keluarga? Apakah ia merasa bahwa kepala keluarga, suami, patut berkuasa mutlak dalam hal-hal yang menyangkut keluarga, dan bahwa dialah yang berhak untuk memerintah rumah tangganya? Atau, apakah ia lebih senang membiarkan istrinya menjalankan tanggung jawab-tanggung jawab kekepalaan demi menjaga perdamaian dalam lingkungan keluarga?

3 Sebagai seorang istri atau ibu, apakah seseorang merasa jengkel karena berada di bawah wewenang yang dijalankan oleh suaminya? Apakah ia merasa sukar menerima cara suaminya menjalankan wewenang dalam keluarga? Apakah ia akhirnya bersikap berontak, menuntut kebebasan dari wewenang ini?

4 Sebagai seorang anak laki-laki atau anak perempuan, bagaimana seseorang memandang wewenang orangtuanya, ayahnya maupun ibunya atau wewenang seorang wali? Apakah ia dengan rela menundukkan diri terhadap petunjuk-petunjuk mereka? Ataukah ia berusaha melawan wewenang mereka? Apakah ia menuntut supaya lepas dari wewenang mereka?

5. Hubungan-hubungan apa yang dipengaruhi oleh pandangan seseorang terhadap wewenang?

5 Pandangan seseorang terhadap wewenang dan ketundukannya terhadap wewenang tersebut akan berakibat dalam dan lama atas hubungannya dengan Yehuwa, sang Pencipta, dan dengan orang-orang lain, baik dalam lingkungan kita sehari-hari maupun dalam hubungan keluarga. Maka, sungguh patut diketahui bagaimana orang-orang yang mengaku Kristen dewasa ini seharusnya menanggapi wewenang, khususnya yang menyangkut penyelenggaraan keluarga. Sepatutnya kita ingin menyenangkan Pencipta di dalam keluarga.

PENYELENGGARAAN KELUARGA

6, 7. Perintah apa yang Yehuwa berikan kepada pasangan manusia pertama, dan peranan apa yang ia maksudkan bagi wanita itu?

6 Sebagai titik awal, Allah Yehuwa, Pencipta kita, Dialah Pribadi yang memulai unit keluarga. Mulainya di Eden dengan perintah Allah kepada pria dan wanita pertama supaya ”beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu”. (Kejadian 1:28) Sampai hari ini unit keluarga terus memainkan peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan maksud-tujuan Allah atas bumi ini.—Efesus 3:14, 15.

7 Kita diberitahu bahwa, dalam penyelenggaraan keluarga yang pertama yang diadakan oleh Allah, wanita dibuat sebagai pasangan bagi pria, bukan sebagai makhluk yang lebih rendah dalam segi apapun. Sebaliknya, wanita diciptakan untuk memainkan peranan yang bersifat mendukung demi membantu suaminya. (Kejadian 2:18) Bersama-sama mereka akan menghasilkan anak-anak dan membentuk unit keluarga.

PERANAN SUAMI DAN ISTRI

8. (a) Bagaimana wewenang seharusnya dijalankan? (b) Bagaimana seharusnya pandangan pria terhadap istrinya?

8 Supaya keluarga menyenangkan Pencipta, perlu ada ketertiban dan bimbingan. Pasangan manusia pertama diperintahkan untuk ”berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”. (Kejadian 1:28) Pria, Adam, adalah manusia yang pertama diciptakan Allah. Karena Yehuwa adalah Allah Yang Mahakuasa dan Pencipta, Ia punya hak untuk mengatakan bagaimana wewenang harus dijalankan di atas bumi. Allah menetapkan bahwa wewenang hendaknya dijalankan melalui pria kepada wanita dan kemudian kepada keturunan mereka. (1 Korintus 11:3) Dari sudut pandangan Alkitab jelas bahwa wewenang ini tidak boleh dijalankan dengan cara diktator atau otoriter. Perhatikan pernyataan Adam ketika pertama kali melihat pasangan yang Allah ciptakan bagi dia, ”Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.” (Kejadian 2:23) Pernyataan yang indah ini tidak menunjukkan bahwa Adam akan menjadi diktator atas seorang bawahan. Ia mengatakan bahwa wanita yang dibawa kepadanya adalah ’tulang dari tulangnya dan daging dari dagingnya’, sesuatu yang akan dirawat dan diperhatikan seperti tubuhnya sendiri. Bertahun-tahun kemudian, rasul Paulus menulis kepada orang-orang Kristen, memberikan petunjuk mengenai cara seorang pria mengasihi istrinya dan memperhatikannya. Ia mengatakan, ”Suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya.”—Efesus 5:28, 29.

9. (a) Sikap yang bagaimana hendaknya dimiliki oleh wanita terhadap suaminya? (b) Bagaimana hendaknya kedua orangtua membesarkan anak-anak dalam keluarga?

9 Yehuwa bermaksud agar pria menjadi kepala bagi wanita. (Efesus 5:23, 24) Wanita, sebagai pasangan bagi pria, harus diperlakukan dengan hormat dan kasih, agar ia sendiri selanjutnya dapat memperlihatkan ’hormat yang dalam’ kepada suaminya dan bisa dengan rela ”tunduk” kepadanya. (Efesus 5:33; 1 Petrus 3:1) Keduanya, dengan bekerja sama, akan menghasilkan keturunan, meneruskan kepada mereka secara lisan dan melalui teladan apa yang menyenangkan bagi Yehuwa supaya keluarga mendapat berkatNya. Sebagaimana belakangan ditunjukkan oleh Allah, dalam menjalankan wewenang atas anak-anak, sang ayah dan ibu harus menahan diri supaya tidak membuat anak-anak menjadi gusar. Sebaliknya, anak-anak tersebut harus dibesarkan dalam disiplin dan bimbingan mental dari Yehuwa. Mereka harus diberikan disiplin dan pengajaran. (Efesus 6:4; bandingkan Amsal 1:8, 9.) Orangtua juga diminta untuk menggunakan tongkat koreksi bila perlu. (Amsal 13:24; 29:15) Walaupun kita baru secara ringkas menyinggung tanggung jawab suami dan istri, jelas bahwa penyelenggaraan Yehuwa adalah agar, dalam keluarga, wewenang dijalankan dengan kasih dan adil.

TANGGUNG JAWAB ANAK-ANAK

10. Karena keinginan untuk bebas, bagaimana banyak orang muda memberi reaksi, dan apa tujuan dari informasi yang akan diberikan berikut ini?

10 Media berita dan sumber-sumber lain di jaman kita telah mengisi pikiran orang-orang dengan keinginan untuk berdiri sendiri. Banyak orang muda memberontak menentang pengawasan apapun atas kehidupan mereka yang dijalankan oleh orangtua mereka atau wewenang lain. Walaupun ayah dan ibu memikul tanggung jawab dalam menjalankan wewenang dengan cara yang patut dalam keluarga, anak-anak juga mendapat tanggung jawab. Karena perlunya unit-unit keluarga yang kuat, sehat secara rohani, yang menyenangkan Yehuwa, maka kita akan mempertimbangkan beberapa masalah yang menyangkut anak-anak, demikian juga penghargaan terhadap wewenang dan ketundukan yang sepatutnya di pihak anak-anak kepada wewenang.

11. (a) Apa artinya ’menghormati ayahmu dan ibumu’? (Amsal 1:8, 9; 4:1-3) (b) Bagaimana hendaknya seorang anak memberi reaksi walaupun ia menganggap bahwa hak-hak pribadinya dicampuri? (Amsal 3:11, 12)

11 ”Hormatilah ayahmu dan ibumu”: Sewaktu rasul Paulus membahas hal ini, yang kelima dari Sepuluh Perintah, ia mengatakan bahwa hal itu merupakan ”perintah pertama dari Allah yang diberikan bersama-sama dengan sebuah janji”, yaitu, ”supaya engkau berbahagia dan panjang umurmu di bumi”. (Keluaran 20:12; Efesus 6:2, 3, BIS) Seorang anak yang mengaku diri Kristen wajib mentaati perintah untuk menghormati ayah dan ibunya. Bagaimana seorang anak memberikan hormat, atau penghargaan, dan memperlihatkan respek terhadap orangtuanya? Tentu anak tersebut harus memperlihatkan kasih terhadap orangtua dan menghargai usaha yang mereka buat untuk mengasuh dan melatih anak tersebut. Anak-anak harus belajar menghormati pertimbangan dan keputusan orangtua mereka. (Amsal 22:15) Sekalipun anak-anak mungkin berpikir bahwa hak-hak pribadi dicampuri, mereka wajib mentaati ”orangtuamu di dalam Tuhan”. (Efesus 6:1) Jika anak-anak ingin ’panjang umur di bumi’ dan diperkenan oleh Yehuwa untuk kehidupan di masa depan, mereka harus menghormati orangtua mereka.

12. (a) Wewenang apa dari orangtua atau wali harus diikuti untuk menyenangkan Yehuwa? (b) Bagaimana teman-teman sebaya kadang-kadang memandang orang-orang yang mempertahankan tingkah laku yang baik? (Amsal 1:10-16)

12 Mengakui wewenang: Yang sangat erat hubungannya dengan menghormati orangtua adalah pengakuan atas wewenang mereka, hak orangtua untuk membuat batas-batas tertentu dan untuk menetapkan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan oleh anak-anak mereka. Ketundukan kepada wewenang sering kali sangat sukar bagi anak-anak dan bisa menyebabkan banyak percekcokan dalam rumah-tangga. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, media berita dan sumber-sumber lain sering memberikan informasi yang merongrong wewenang orangtua, menganjurkan kaum muda untuk menuntut kebebasan dari wewenang orangtua. Satu contoh adalah sikap yang dianut dewasa ini terhadap pergaulan bebas. Keadaan ini telah berkembang begitu rupa sehingga sering kali para pemuda dan pemudi yang memelihara keperawanan dianggap tidak beruntung oleh orang-orang yang sebaya dengan mereka. Orang-orang sedemikian menganggap mereka yang berpegang pada patokan-patokan moral yang luhur dari Alkitab kekurangan dalam satu atau lain hal, tidak menarik, ”aneh”.—Lihat 1 Petrus 4:4.

13. Kadang-kadang bagaimana beberapa hukum dari manusia menjadi anjuran untuk berbuat salah?

13 Beberapa hukum yang dibuat oleh pemerintah dengan membolehkan aborsi tanpa persetujuan orangtua justru menganjurkan wanita-wanita muda bertingkah laku bebas. Seorang gadis berusia 15 tahun menjelaskan bahwa seorang dokter telah menolak untuk membuat lobang di daun telinganya tanpa izin orangtua, tetapi bahwa Mahkamah Agung Amerika Serikat telah mengesahkan peraturan bahwa seorang gadis di bawah umum boleh melakukan aborsi tanpa izin dari orangtuanya. Baru-baru ini seorang dokter, yang menulis dalam Journal of the American Medical Association mengenai usaha penyebarluasan iklan untuk alat pencegah kehamilan, menyatakan, ”Saya kaget melihat kesediaan tokoh-tokoh kedokteran untuk menerima perilaku seks yang serba bebas—dan bahkan menganjurkannya. . . . Saya berpendapat bahwa kita sepatutnya menggunakan sebagian dari kesanggupan kita untuk mempelajari cara menganjurkan praktek-praktek seks yang bertanggung jawab dan sehat, termasuk berpantang dan menjaga kesetiaan.”

14. Bagaimana hendaknya pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang ingin menyenangkan Yehuwa memandang orangtua yang berusaha melindungi mereka terhadap imoralitas?

14 Nasihat yang tegas dari Firman Allah di Efesus 6:1 adalah, ”Hai anak-anak, turutilah perintah ibu-bapamu di dalam Tuhan, karena itulah yang sebenarnya.” (Bode) Ketaatan membutuhkan sikap yang mengakui wewenang. Para orangtua diberi tanggung jawab untuk membesarkan anak-anak mereka menurut cara-cara yang ditetapkan dalam Firman Allah, sehingga menyenangkan bagi Dia, dan Firman itu melarang pergaulan yang serba bebas, perilaku seks yang tanpa batas. (Keluaran 20:14; 1 Korintus 6:9, 10) Jika orangtua menaruh perhatian agar anak-anak mereka terlindung dari dunia yang imoral, orangtua sedemikian patut mendapat dukungan yang loyal dari anak-anak mereka. Sebaliknya dari pada merasa tertekan di bawah wewenang orangtua sedemikian, anak yang bijaksana dan takut kepada Allah akan menuruti nasihat Alkitab untuk mentaati mereka, karena mengetahui bahwa Allah memperkenan hal sedemikian, menghasilkan kebaikan bagi dia sendiri dan memberi harapan mengenai masa depan yang terjamin.—Amsal 3:1, 2.

15. Mengapa serius jika seseorang tidak mau menundukkan diri kepada wewenang orangtuanya?

15 Ketidaksudian untuk bersikap tunduk kepada orangtua sama dengan ketidaktaatan kepada Allah Yehuwa. Sebagaimana Yehuwa telah menetapkan peraturan-peraturanNya dan ketetapan-ketetapanNya untuk mengatur keluarga manusia, Ia pun telah memberikan kepada orangtua hak untuk membuat peraturan-peraturan yang adil—misalnya peraturan-peraturan di rumah,—mengenai tingkah laku unit keluarga, dengan anak-anak sebagai bagian dari padanya. Jika peraturan dan ketetapan tidak bertentangan dengan Firman Allah, anak-anak wajib mentaati wewenang orangtua.

KASIH DALAM KELUARGA

16, 17. (a) Betapa pentingkah kasih dalam keluarga yang ingin menyenangkan Yehuwa? (b) Nasihat tegas apa dimuat dalam Kolose 3:12-14? (c) Apa yang dianjurkan supaya nasihat Paulus kepada orang Kolose mencapai sasaran?

16 Kasih akan keluarga: Agar Yehuwa senang kepada unit keluarga, kasih harus diperlihatkan terhadap orangtua. Suami dinasihatkan untuk mengasihi istri seperti diri sendiri, dan istri harus memiliki rasa hormat yang dalam terhadap suami. Semuanya, orangtua maupun anak-anak, hendaknya menjalankan hukum kerajaan, yakni kasih terhadap satu sama lain. (Yakobus 2:8) Rasul Paulus memberikan suatu nasihat yang tegas mengenai hal ini sewaktu ia menulis, ”Kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam [merasa patut mengeluh] terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.”—Kolose 3:12-14.

17 Perkataan tersebut bukan hanya untuk dibaca atau diucapkan dari mulut tanpa pengertian. Perkataan ini berasal dari roh suci yang harus dipertimbangkan dengan serius. Dianjurkan agar setiap orang yang membaca bahan ini memeriksa kembali setiap tuntutan Kristen itu. Renungkanlah masing-masing. Pikirkan dengan mengingat keluarga yang di dalamnya saudara menjadi sebagian. Bagaimana perkataan Paulus ini mempengaruhi hubungan dengan suami, dengan istri, dengan ayah, dengan ibu atau dengan yang lain-lain dalam keluarga sendiri? Apakah saudara menyenangkan Yehuwa dalam setiap segi yang disebutkan oleh rasul itu? Tidak mungkin seseorang menyelaraskan hidupnya dengan kata-kata nasihat ini dan pada waktu yang sama berjuang untuk bebas dari peraturan orangtua atau balas membentak jika orangtuanya marah. Orangtua pun tidak dapat berlaku seperti itu terhadap anak-anak mereka. Supaya keluarga menjadi bahagia dan memperoleh berkat Yehuwa, anjuran yang ada dalam Firman Allah harus diperhatikan secara mendalam, sungguh-sungguh dan terus-menerus, agar dapat meniru Dia ”yang mendengarkan doa”, yang melalui roh suci mengilhamkan perkataan tersebut untuk dituliskan.—Mazmur 65:2; Efesus 4:31, 32; Kolose 3:15-17.

18. Kenyataan-kenyataan yang serius apa kita hadapi dewasa ini, yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan apa?

18 Apakah ayah atau ibu masih ada dalam keluarga, atau pun hanya satu orangtua, anjuran dan tanggung jawabnya tetap sama. Tetapi, sangat disayangkan, ada usaha yang hebat dan kadang-kadang berhasil dibuat oleh Setan untuk menghancurkan keluarga, memecah-belah dan mengalahkan. Setiap orang yang membaca bahan ini patut mengingat bahwa Iblis berjalan ke sana ke mari ”seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya”. (1 Petrus 5:8) Apakah kita akan membiarkan dia menghancurkan persatuan keluarga kita yang begitu menyenangkan bagi Yehuwa? Apakah kita akan mengalah kepada semangat ingin bebas, semangat yang mengatakan, ”Saya tidak perlu mendengarkan apa yang dikatakan oleh orangtuaku; saya akan melakukan apa yang kusukai”? Dengan menempuh haluan sedemikian kita bisa kehilangan kebahagiaan dan kehilangan perkenan Allah.

19. Bagaimana keluarga Kristen akan menikmati berkat Yehuwa?

19 Jika kita ingin menikmati perkenan Yehuwa—dan, bagaimana pun juga, Ia memegang kehidupan dan kematian dalam kuasa tanganNya—kita harus mendukung wewenang sebagaimana yang telah Ia tetapkan dalam penyelenggaraan keluarga. Kita sendiri beruntung dengan menundukkan diri kepada wewenang itu. Hanya dengan cara demikian kebahagiaan sejati dan kepuasan dapat diperoleh. ”Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN [Yehuwa]? Siapakah yang boleh berdiri di tempatNya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.”—Mazmur 24:3-5.

APA YANG AKAN SAUDARA AMBIL DARI PEMBAHASAN INI?

• Mengapa pandangan saudara terhadap wewenang tersangkut dalam mencapai kebahagiaan keluarga?

• Ayat-ayat Alkitab mana yang menyebut garis besar dari peranan suami dan istri dalam keluarga Kristen?

• Akibat-akibat baik apa yang dihasilkan bila anak-anak menghormati dan mengakui wewenang orangtua mereka?

• Dengan berusaha meningkatkan kasih dalam keluarga, bagaimana kekuatan-kekuatan yang cenderung memecah-belah banyak keluarga dapat lebih mudah diatasi?

• Dari apa yang telah dibahas, bidang apa yang akan saudara usahakan supaya keluarga saudara lebih menyenangkan Yehuwa?

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2025)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2025 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan